P. 1
Strukturalisme Dan Pascastrukturalisme

Strukturalisme Dan Pascastrukturalisme

|Views: 693|Likes:
Published by Alfian Rokhmansyah

More info:

Published by: Alfian Rokhmansyah on Apr 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2014

pdf

text

original

STRUKTURALISME DAN PASCASTRUKTURALISME: SEBUAH PERJALANAN TEORI SASTRA Oleh Alfian Rokhmansyah, S.S.

Abstrak Dalam kurun waktu satu abad, perkembangan teori sastra tampaknya sangat pesat. Ketika pertama kali muncul, teori sastra hanya berkutat pada struktur karya sastra yang sering disebut teori strukturalisme. Teori strukturalisme merupakan teori yang telah ada sejak jaman Aristoteles, tetapi secara terus-menerus diperbaharui sampai awal abad ke-20. Pergerakan kaum-kaum yang menolak tradisi strukturalis merupakan penyebab utama perkembangan teori sastra. Perkembangan teori sastra diawali dengan teori strukturalisme yang melihat karya sastra adalah struktur yang otonom. Dalam perkembangan selanjutnya, teori strukturalisme mulai ditinggalkan dan dan digantikan teori pascastrukturalis yang menolak serta ingin melepaskan diri dari belenggu struktural. Teori pascastrukturalisme berupaya untuk memberikan teori sastra yang tidak hanya berkutat pada struktur karya sastra, tetapi juga pada struktur ekstrinsik dan hubungan sastra dengan lingkungan. Beberapa teori strukturalisme adalah formalisme Rusia, New Criticism, strukturalisme dinamik, strukturalisme genetik, naratologi, dan semiotika. Sedangkan teori pascastrukturalisme adalah postmodernisme, postkolonialisme, dekonstruksi, resepsi sastra, intertekstual, feminisme sastra, dan teori-teori naratologi pascastrukturalis. Teori strukturalisme dan pascastrukturalisme dapat digunakan untuk menganalisis sastra klasik maupun modern. Hal ini karena teori-teori sastra dapat digunakan untuk memahami objek yang berbeda. Selain itu, perkembangan teori sastra juga disebabkan oleh kebutuhan teoriteori dari disiplin ilmu lain yang dapat mendukung studi sastra. Hal ini yang menyebabkan munculnya teori interdisipliner dalam sastra. Kata kunci : teori sastra, strukturalisme, pascastrukturalisme PENGANTAR Dalam suatu disiplin ilmu pengetahuan, istilah teori memang sudah tidak asing. Teori dapat dianggap sebagai suatu bumbu, sedangkan ilmu pengetahuan adalah masakan. Secara umum, yang dimaksudkan dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan hubungan antara gejalagejala yang diamati. Teori berisi konsep atau uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari sudut pandang tertentu. Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya atau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala yang diamati tersebut.

1

Hal ini menunjukkan bahwa teori sastra mengalami perkembangan yang besar. kriteria yang dapat diacu dan dijadikan titik tolak dalam telaah di bidang sastra. yang sering disebut dengan periode strukturalisme. antara lain (1) medium sastra adalah bahasa yang mempunyai problematika yang luas. Teori-teori strukturalisme merupakan teori yang secara genesis telah ada sejak zaman Aristoteles. Hal ini karena teori sastra dapat dimodifikasi sebagai upaya memahami objek-objek yang berbeda.Teori sastra adalah studi prinsip. (4) kesulitan dalam memahami gejala sastra memicu para ilmuwan untuk menemukan teori baru. Akan tetapi istilah kritik strukturalisme secara khusus mengacu kepada praktik kritik sastra yang mendasarkan model analisisnya pada teori linguistik modern. Perkembangan teori sastra ini sejalan dengan berkembangnya genre sastra. Menurut Ratna (2009: 15–16) pesatnya perkembangan teori sastra hingga saat ini dipicu oleh beberapa sebab. (2) sastra memasukkan berbagai dimensi kebudayaan yang mengandung permasalahan yang beragam. (3) teori-teori utama dalam bidang sastra telah berkembang sejak zama Aristoteles yang telah dimatangkan dalam berbagai displin ilmu. IKHTISAR TEORI SASTRA MODERN Teori-Teori Strukturalisme Perkembangan teori sastra dimulai sejak awal abad ke-20. Sedangkan studi terhadap karya konkret disebut kritik sastra dan sejarah sastra. Pada awal kemunculannya. kritik sastra tanpa teori sastra dan sejarah sastra (Wellek dan Warren 1989: 38–39). tetapi secara terus-menerus diperbaharui sepanjang sejarahnya hingga awal abad ke-20 (Ratna 2009: 5). Perkembangan teori strukturalisme sejak zaman Formalisme Rusia hingga pascastrukturalisme mengalami banyak perubahan yang dilakukan para pembawa teorinya. Tidak mungkin kita menyusun teori sastra tanpa kritik sastra dan teori sastra. Ketiganya berkaitan erat sekali. teori sastra berkutat pada struktur karya sastra. Hal ini menunjukkan bahwa 2 . Teori-teori strukturalisme maupun pascastrukturalisme dapat digunakan untuk menganalisis sastra lama dan sastra modern. dan (5) ragam sastra berkembang secara dinamis sehingga memerlukan cara peahaman yang berbeda. Sebenarnya semua teori sastra sejak zaman Aristoteles telah menekankan pentingnya pemahaman struktur dalam analisis sebuah karya sastra. kategori.

Pada umumnya Formalisme Rusia dianggap sebagai pelopor bagi tumbuh dan berkembangnya teori-teori strukturalisme. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap kritik sastra sebelumnya yang terlalu fokus pada aspek-aspek kehidupan dan psikologi pengarang serta sejarah sastra. unik dan lengkap seperti yang ditawarkan kepada kita oleh sastra agung (Van Luxemburg dkk. Sebelum muncul teori-teori strukturalisme muncul teori yang berkembang di Rusia. muncul teori baru karena ketidakpuasan terhadap formalisme. 3 .dengan berkembangnya suatu genre sastra akan memengaruhi berkembang dan munculnya teori sastra baru agar lebih relevan. Meskipun strukturalisme masih berhubungan dengan formalisme Rusia. Tugas kritik sastra adalah memperlihatkan dan memelihara pengetahuan yang khas. Sebelum perkembangan strukturalisme. Tujuan utama formalisme adalah studi ilmiah mengenai sastra. 1988: 52-54). Pada masa awal ini strukturalisme berhasil menjadi daya pikat dalam penelitian terhadap karya sastra masa itu. ilmu tidak memadai dalam mencerminkan kehidupan manusia. Istilah new criticism pertama kali dikemukakan oleh John Crowe Ransom dalam bukunya The New Criticism (1940) dan ditopang oleh I. Mereka percaya bahwa studi mereka akan meningkatkan kemampuan pembaca untuk membaca teks sastra dengan caya yang tepat.A. strukturalisme pada umumnya dianggap sebagai perkembangan dari formalisme. Setelah banyak tokoh yang menolak teori formalis. Para new criticism menuduh ilmu dan teknologi menghilangkan nilai perikemanusiaan dari masyarakat dan menjadikannya berat sebelah. yaitu pengetahuan lewat pengalaman. Kaum formalis mulai memproduksi teori sastra yang bersangkutan dengan kecakapan teknis penulis dan keterampilan kerja tangan (Selden 1993: 2). Teori formalisme muncul sebagai akibat penolakan pada paradigma positivme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas dan sebagai reaksi terhadap studi biografi. yaitu teori strukturalisme. Richard dan T.S. Persepsi lewat bentuk artistik memperbaiki kesadaran dunia dan membangkitkan banyak hal (Nuryatin 2005: 3). Manurut mereka. yaitu teori formalisme yang dibawa oleh kelompok Formalisme Rusia. Tokoh utama formalis adalah Roman Jakobson yang kemudian membantu mendirikan Kalangan Linguistik Praha pada tahun 1926. Eliot. di Amerika Serikat berkembang sebuah teori dan model aliran sastra baru. yaitu New Criticism. Sastra dan terutama puisi merupakan suatu jenis pengetahuan.

dan semiotik. didasarkan atas kelemahan-kelemahan perkembangan karya sastra. sebagaimana Strukturalisme yang dinamik dianggap bertujuan sebagai untuk menyempurnakan strukturalisme yang hanya memprioritaskan unsur-unsur intrinsik 4 . seperti teori-teori strukturalisme dinamik. baik relasi asosiasi ataupun relasi oposisi. Teori-teori tersebut mempunyai ciri khas masing-masing yang dipergunakan dalam penelitian sastra.Strukturalisme sebenarnya merupakan paham filsafat yang memandang dunia sebagai realitas berstruktur. Hal ini yang diterapkan dalam sastra sehingga menganggap karya sastra adalah suatu struktur yang otonom. strukturalisme dinamik hanya terbatas pada peranan penulis dan pembaca sastra. kalimat). Relasi-relasi yang dipelajari dapat berkaitan dengan mikroteks (kata. bab). Tetapi dalam lingkup komunikasi sastra. Dalam perkembangan selanjutnya muncul beberapa kelompok teori strukturalisme. Untuk itu objek penelitiannya. maupun intertekstual (karya-karya lain dalam periode tertentu). Strukturalisme genetik senada dengan strukturalisme dinamik yang dikembangkan atas dasar penolakan terhadap analisis strukturalisme murni. sedangkan strukturalisme genetik dapat melangkah lebih jauh ke struktur sosial. Dalam teori-teori strukturalisme terdapat sebuah konsep antarhubungan yang menyatakan bahwa karya sastra adalah sebuah struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang berhubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. yakni karya sastra diidentifikasi sebagai suatu benda seni yang indah karena penggunaan bahasanya yang khusus. Dengan sistem ini kita menghimpun dan menemukan hubungan-hubungan yang ada dalam realitas yang diamati. strukturalisme genetik. Strukturalisme dinamik (Ratna 2009: 93). Sktrukturalisme dinamik dan strukturalisme genetik menolak fungsi bahasa sastra sebagai bahasa yang khas. Strukturalisme sastra mengupayakan adanya suatu dasar yang ilmiah bagi teori sastra. strukturalisme naratologi. sebagaimana dituntut oleh disiplin-disiplin ilmiah lainnya. Strukturalisme genetik dari strukturalisme formalisme. yaitu analisis pada unsur intrinsik. keseluruhan yang lebih luas (bait. Objek studi teori strukturalisme itu ditempatkan dalam suatu sistem atau susunan relasi yang memudahkan pengaturannya. Unsur-unsur itu hanya memperoleh artinya di dalam relasi. Tokoh utama dalam strukturalisme genetik adalah Lucien Goldmann. yang pertama kali dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka.

Hal ini berbeda dengan pendapat Culler (dalam Ratna 2009: 97) yang menyebutkan bahwa strukturalisme dan semiotika adalah dua teori yang hampir sama. Pikiran 5 . Sedangkan Selden (1993: 55) mengungkapkan bahwa strukturalisme dan semiotika adalah dua bidang ilmu yang sama sehingga keduannya dapat dioperasikan secara bersama-sama. Teori-Teori Pascastrukturalisme Pada akhir tahun 1960-an lahir paham baru yang dianggap sebagai penyempurna dan tindak lanjut dari paham sebelumnya. Awal perkembangan teori narasi terdapat beberapa tokoh pelopornya. di mana setiap gejala memiliki arti apabila dikaitkan dengan struktur yang lebih luas. Claude Bremond (struktur dan fungsi). strukturalisme memusatkan pada karya sedangkan semiotika pada tanda. harus disempurnakan agar memiliki makna. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. seperti: Poetica Aristoteles (cerita dan teks). narration). Greimas (tata bahasa naratif dan struktur aktan). yaitu pascastrukturalisme.memiliki implikasi yang lebih dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu-ilmu kemanusiaan pada umumnya. story. Sebuah struktur. dan Shlomith Rimmon-Kenan (story. dan objek penderita (Ratna 2009: 128). Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. Analisis semiotika merupakan tindak lanjut dari analisis strukturalisme. sebagaimana hubungan antara subjek. Sebetulnya apa yang dinamakan semiotik sastra bukan merupakan suatu aliran ilmu sastra. Dalam perkembangan strukturalisme. text). Vladimir Propp (peran dan fungsi). Mieke Bal (fabula. bagi Goldmann. text. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. seperti model sintaksis. Strukturalisme dan semiotik umumnya dipandang termasuk dalam suatu bukan teoritis yang sama. Henry James (tokoh dan cerita). predikat. terdapat kelompok strukturalisme naratologi. Teori dalam periode struktural terdapat istilah teori semiotik. Percy Lubbock (teknik naratif). Forster (tokoh bundar dan datar). Claude LeviStrauss (struktur mitos). 1984: 44–46). Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). demikian seterusnya hingga setiap unsur menopang totalitasnya (Ratna 2009: 121–122). Tzvetan Todorov (historie dan discours). Berbagai aliran seperti strukturalisma dan ilmu sastra linguistik dapat dinamakan semiotik (Van Luxemburg dkk.

dalam sistem bahasa yang berlaku untuk menegaskan struktur. Dekontruksi merupakan ragam teori sastra yang tidak begitu menghiraukan struktur karya sastra. menolak adanya logosentrisme dan fonosentrisme yang secara keseluruhan melahirkan oposisi biner dan cara-cara berpikir lain yang bersifat hierarkis dikotomis. (2) strukturalisme lebih memberikan perhatian pada karya sastra sebagai suatu sistem yang otonom sehingga melupakan pengarang dan pembacanya. tertentu. dekonstruksi. seperti teori postmodernisme. Pada masa pascastrukturalis muncul beberapa teori yang banyak berkembang hingga saat ini. dan makna yang telah menentu. dan (3) hasil analisis seolah-olah hanya untuk kepentingan karya sastra itu dan melupakan kepentingan masyarakat. keutuhan. Hal ini disebabkan karena postmodernis merupakan lawan dari modernisme yang masih memanfaatkan teori-teori struktural dalam analisis karya sastra. Paham modernisme yang dibawa kaum modernis akan berhenti pada kajian struktural sastra. dan konstan sebagaimana halnya pandangan strukturalisme klasik (dalam Nurgiyantoro 1998: 59). metanarasi. postkolonialisme. Kelahiran pascastrukturalisme dimaksudkan untuk mengantisipasi berbagai distorsi sistem semantis sehingga karya sastra dapat berfungs dalam masyarakat. Dibalik munculnya paham pascastrukturalisme adalah karena kelemahan strukturalisme. 6 . seperti (1) model analisis strukturalisme dianggap kaku karena hanya didasarkan pada struktur dan sistem tertentu. yang dipelopori oleh Jaques Derrida. feminisme sastra. Menurut Ratna (2009: 222) dekonstruksi.pascastrukturalis telah menemukan kodrat pemaknaan yang tidak stabil secara esensial. gerak sejarah yang monolinier. Munculnya pascastrukturalis secara otomatis akan melupakan struktur dan akan mendekonstruksi karya sastra sehingga pascastrukturalis juga sering disebut dengan istilah dekonstruksi. Teori ini menolak anggapan bahwa bahasa telah memiliki makna yang pasti. Ciri utama postmodernis adalah penolakan terhadap adanya satu pusat. Abrams mengungkapkan bahwa dekonstruksi pada hakikatnya merupakan cara membaca teks yang menumbangkan anggapan bahwa sebuah teks itu memiliki landasan. kemutlakan. narasi-narasi besar. resepsi sastra. intertekstual. Menurut Endraswara (2008b: 167–168) pascastrkturalis dapat dikatakan sebagai periode postmodernis. dan naratologi pascastrukturalis.

termasuk feminis dan psikoanalisis. homogenitas. sedangkan interteks pada hubungan antara karya yang satu dengan yang lain. Dalam perkembangan selanjutnya. Menurut Riffaterre (dalam Endraswara 2008b: 132) hipogram adalah modal utama dalam sastra yang akan melahirkan karya sastra berikutnya. interdisipliner. teori resepsi yang banyak digunakan adalah teori resepsi Hans Robert Jauss (horizon harapan) dan Wolfgang Iser (pembaca implisit). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). dan totalitas dengan memberikan intensitas pada perbedaan-perbedaan. dan suara). modus. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Jadi dapat diartikan bahwa hipogram merupakan karya sastra yang akan menjadi latar belakang munculnya karya sastra berikutnya yang dinamakan karya transformasi. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. dan perempuan sebagai makhluk kedua. fabula. Para pelopornya. seperti Jonathan Culler dengan teori konvensi pembaca. Sejalan dengan 7 . di antaranya: Gerard Gennet (urutan. Gerald Prince (struktur narratee). teori resepsi dan interteks berkembang dengan pesat. durasi. Dalam dunia kesusastraan.Postmodernis mensubversi uniformitas. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Dalam arti luas. perempuan adalah pelengkap. relativitas. pastiche). Naratologi yang berkembang pada masa pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. yaitu teori feminis yang dipelopori oleh Virginia Woolf (Ratna 2009: 183). dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. Namun pada perkembangannya banyak tokoh yang memunculkan teori resepsi sastra. Prinsip dasar intertekstualitas adalah karya sastra hanya dapat dipahami maknanya secara utuh dalam kaitannya dengan teks lain yang menjadi hipogram. frekuensi. Konsep feminisme adalah membalikkan paradigma bahwa perempuan berada di bawah dominasi laki-laki. Teori interteks tidak akan lepas dari teori Riffaterre mengenai konsep hipogram. Resepsi memberikan perhatian pada pembaca. Hayden White (wacana sejarah). resepsi sastra merupakan pengolahan teks yaitu cara-cara pemberian makna terhadap karya sastra sehingga dapat memberika respon terhadap karya sastra itu. Roland Barthes (kernels dan satellits). teori-teori pascastrukturalis juga mendapat kontribusi dari teori kontemporer pada tahun 1960-an. Marry Louise Pratt (tindak kata). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Jonathan Culler (kompetensi sastra). Seymoeur Chatman (struktur naratif). (Ratna 2009: 242) Dalam periode pascastrukturalis. dan pluralisme.

Dalam buku tersebut Wellek dan Warren memberikan hubungan antara karya sastra dengan bidang lain. sastra dan masyarakat. Tokoh psikologi yang banyak dimanfaatkan teorinya dalam studi sastra adalah Sigmund Freud dengan teori psikoanalisisnya. Hubungan antara sastra dengan ilmu jiwa dan masyarakat banyak berkembang hingga saat ini. Dalam hubungan inilah. lembaga. sastra dan ilmu jiwa. sastra. pengarang perempuan. 8 . tokoh perempuan. Teori pascastrukturalis yang dapat dikatakan masih baru adalah teori-teori postkolonialisme. dan beberapa tokoh lainnya. selain itu untuk membongkar disiplin. Dalam praktiknya. Tetapi pada perkembangannya. Sebenarnya teori interdispliner ini sudah dibicarakan sejak zaman strukturalis yaitu oleh Wellek dan Warren dalam buku Teori Kesusastraan. Hurlock (psikologi perkembangan). Analisis menggunakan teori postkolonial dapat digunakan untuk menelusuri aspek-aspek tersembunyi atau dengan sengaja disembunyikan sehingga dapat diketahui bagaimana kekuasaan itu bekerja. Dalam penerapannya dalam studi sastra. Selain itu juga banyak digunakan teori psikologi lain seperti Carl Gustav Jung (psikologi kepribadian). Teori postkolonial dapat didefinisikan sebagai teori kritis yang mencoba mengungkapkan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kolonialisme (Ratna 2008: 120). studi feminisme dalam sastra adalah studi literer perempuan. dan kebudayaan dapat memainkan peranan sebab dalam ketiga gejala tersebut mengandung wacana sebagaimana diintensikan oleh kelompok kolonialis (2008: 104). dan ideologi yang mendasarinya. Teori-teori interdisipliner dalam sastra yang banyak ditemukan adalah teoriteori dalam bidang psikologi sastra. dan antropologi sastra. sastra dan biografi. yaitu sastra dan pemikiran.konsep itu. postkolonialisme dianggap telah berpengaruh secara global. Bidang psikologi sastra adalah bidang interdisipliner ilmu sastra dengan ilmu-ilmu psikologi. bahasa. Teori-Teori Interdisipliner Perkembangan teori-teori interdisipliner muncul akibat adanya kebutuhan para peneliti sastra terhadap teori-teori disiplin ilmu lain yang dapat dimanfaat dalam studi sastra. Teori postkolonial awalnya dikhususkan bagi penelitian negara-negara yang secara langsung pernah menjadi koloni. dan sebagainya. penelitian interdisipliner ini menggunakan teori-teori strukturalisme dan pascastrukturalisme di samping teori-teori disiplin ilmu lain. pembaca perempuan. sosiologi sastra.

9 . teori ideologi.psikologi dapat digunakan untuk menganalisis psikologi pengarang. Teori-teori ilmu sosial yang banyak dimanfaatkan dalam studi sastra adalah teori hegemoni yang dibawa Antonio Gramsci. Karya sastra dengan masalah mitos. baik folklor lisan maupun folklor yang telah dibukukan. Dalam perkembangannya antropologi sastra juga berkembang ke dalam kajian etnografi dan kebudayaan yang ada dalam sastra. teori trilogi pengarang-karya-pembaca. Umumnya teori-teori antropologi sastra digunakan untuk menganalisis folklor. Dengan munculnya teori-teori pascastrukturalis tidak berarti bahwa teori strukturalis tidak relevan lagi dan harus ditinggalkan. Pergerakan-pergerakan kaum-kaum yang menolak tradisi strukturalis merupakan akibat utama berkembangnya teori-teori sastra. Banyak penelitian sastra yang menggabungkan dua teori yang berbeda masa ini sehingga dapat menciptakan karya penelitian yang lebih mendalam. PENUTUP Dalam kurun waktu satu abad. Dalam bidang ini banyak berkembang studi-studi yang memanfaatkan teori-teori naratologi strukturalis maupun pascastrukturalis. Hal ini juga dipengaruhi adanya kontribusi teori-teori dari disiplin ilmu lain. Perbedaan pendapat tentang teori sastra tidak pernah akan ada akhirnya. Menurut Ratna (2009: 353) antropologi sastra cenderung memusatkan perhatiannya pada masyarakat kuno. dan pesikologi pembaca. teori strukturalisme genetik oleh Lucian Goldmann. Teori-teori sastra yang ada sekarang dapat mengalami perkembangan apabila para peneliti sastra membutkan teori-teori sastra yang lebih relevan untuk karya sastra di masa mendatang. dan memang seharusnya tidak perlu diakhiri. perkembangan teori sastra dapat dikatakan sangat pesat. Bidang antopologi sastra merupakan bidang interdisipliner antara sastra dengan ilmu antropologi. psikologi tokoh. teori-teori Marxis oleh Karl Marx. dan teori dialogis (Ratna 2009: 339). Bidang sosiologi sastra merupakan bidang interdisipliner ilmu sastra dengan teoriteori ilmu sosial. Hal ini menunjukkan bahwa antropologi sastra memiliki relevansi dengan sastra yang bercorak lokal. khususnya bidang kajian antropologi budaya. bahasa dengan kata-kata arkhais banyak digunakan sebagai objek kajian antropologi sastra.

Jakarta: Gramedia. Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: UGM Press. Sapardi Djoko. 1989. Teori Pengkajian Fiksi. Nyoma Kutha. dan Teknik Penelitian Sastra. 1999. Unnes. 2008b. “Teori Sastra I”. Endraswara. 2006. Yogyakarta: UGM Press. Yogyakarta: Media Pressindo. 2005. Nurgiyantoro. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini . Nuryatin. Faruk. Formalisme Rusia: Mengolah Fakta dalam Fiksi. FBS. _________. 1998. 2005. Teori Kesusastraan. Tata Sastra. Jakarta: P3B Dekdikbud. Teeuw. 10 . Todorov. Teori. Metode. Metodologi Penelitian Sastra. Metodologi Penelitian Psikologi Sastra. Jakarta: Penerbit Djambatan. Tzvetan. Pengantar Sosiologi Sastra. _________. Sugihastuti. Rene dan Austin Warren. 1988.DAFTAR PUSTAKA Damono. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas . Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1993. Semarang: Rumah Indonesia. Diterjemahkan oleh Rachmat Djoko Pradopo. 2008. Modul. Raman. Burhan. Postkolonialisme Indonesia: Relevansi Sastra Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _________. 1973. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008a. Sastra dan Ilmu Sastra. Wellek. 2009. Agus. 1985. Suwardi. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Yogyakarta: Media Pressindo. Selden. A. Ratna. Jakarta: Dunia Pustaka.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->