P. 1
Teori Naratologi Greimas

Teori Naratologi Greimas

|Views: 419|Likes:
Published by Alfian Rokhmansyah

More info:

Published by: Alfian Rokhmansyah on Apr 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2015

pdf

text

original

TEORI STRUKTURALME NARATOLOGI A.J.

GREIMAS
Oleh Alfian Rokhmansyah, S.S.*)

Strukturalisme adalah cara berfikir tentang dunia yang terutama berkaitan dengan persepsi dan deskripsi struktur (Hawkes dalam Jabrohim, 1996:9). Tentang strukturalisme dalam penelitian sastra, Pradopo (melalui Jabrohim, 2003:71) mengemukakan bahwa satu konsep dasar yang menjadi ciri khas teori strukturalisme adalah adanya anggapan bahwa di dalam dirinya sendiri. Karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom yang dapat dipahami sebagai kesatuan yang bulat dengan unsurunsur pembangunnya yang saling berjalinan. Oleh karena itu, lanjut pradopo, untuk memahami. Maknanya, karya sastra harus dikaji berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari latar belakang sejarah, lepas dari diri dan niat penulis, dan lepas pula efeknya pada pembaca.

Strukturalisme model A.J. Greimas dianggap memiliki kelebihan dalam menyajikan secara terperinci kehidupan tokoh-tokoh dalam cerita dari awal sampai akhir. Selain itu, strukturalisme model ini mampu menunjukkan secara jelas dan dikotomis antara tokoh protagonis dan antagonis. Naratologi disebut juga teori wacana (teks) naratif. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan (Ratna, 2004:128).

Dalam strukturalisme naratologi yang dikembangkan oleh A.J. Greimas, pada pengkajiannya, yang lebih diperhatikan adalah aksi dibandingkan pelaku. Subjek yang terdapat dalam wacana merupakan manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Menurut Rimon-Kenan, baik actans maupun acteurs dapat berupa suatu tindakan, tetapi tidak selalu harus merupakan manusia, melainkan juga nonmanusia. (dalam Ratna, 2004:138). Kemudian menurut Jabrohim (1996:21), teori struktural naratif dipergunakan untuk menganalisis karya prosa fiksi berdasarkan pada
Penulis adalah alumni program studi Sastra Indonesia konsentrasi Ilmu Sastra di Universitas Negeri Semarang (UNNES).
*)

atau sekelompok tokoh. ia telah berhasil mengembangkan teori strukturalisme menjadi strukturalisme naratif dan memperkenalkan konsep satuan naratif terkecil dalam karya sastra yang disebut aktan. Teori ini dikembangkan atas dasar analogianalogi struktural dalam Linguistik yang berasal dari Ferdinand de Saussure. (4) penerima atau receiver. Algirdas Julien Greimas adalah seorang ahli sastra yang berasal dari Perancis. dalam suatu skema aktan suatu fungsi dapat menduduki beberapa peran. dan (6) penentang atau opposant. (5) penolong atau helper. dan dari karakter peran kriteria tokoh dapat diamati. ditinjau dari segi tata cerita menunjukkan hubungan yang berbeda-beda. 1996:13) Pengirim (sender) Objek Penerima (receiver) Penolong (helper) Subjek Penentang (opposant) . dan analisis struktur aktan dan fungsional merupakan konsep dasar langkah kerja yang dikemukakan Greimas. Keenam fungsi aktan yang juga dapat disebut sebagai tiga pasangan oposisional tersebut. yaitu unsur sintaksis yang mempunyai fungsi–fungsi tertentu. Aktan dalam teori Greimas. (3) pengirim atau sender. 1996:12) Aktan adalah sesuatu yang abstrak seperti cinta. dan Greimas menerapkan teorinya dalam dongeng atau cerita rakyat Rusia. apabila disusun dalam sebuah skema dapat digambarkan sebagai berikut. seorang tokoh dapat menduduki beberapa fungsi dan peran di dalam suatu skema aktan. Fungsi itu sendiri dapat diartikan sebagai satuan dasar cerita yang menerangkan tindakan bermakna yang membentuk narasi. yaitu (1) subjek.struktur cerita. Sebagai seorang penganut teori struktural. Aktan dalam teori Greimas menempati enam fungsi. kebebasan. Maksudnya. (Jabrohim. (Jabrohim. Menurut teori Greimas. (2) objek. Pengertian aktan dihubungkan dengan satuan sintaksis naratif.

Penghalang (opposant) adalah seseorang atau sesuatu yang menghalangi usaha atau perjuangan subjek dalam mendapatkan objek. yang kemudian disebutnya . Subjek adalah seseorang atau sesuatu yang ditugasi oleh sender untuk mendapatkan objek yang diinginkannya. maka suatu aktan dalam struktur tertentu dapat menduduki fungsi aktan yang lain. Bergantung pada siapa yang menduduki fungsi subjek. Adapun penjelasan dari fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut. 2. Tanda panah dari sender yang mengarah pada objek mengandung arti bahwa dari sender ada keinginan untuk mendapatkan objek. Objek adalah seseorang atau sesuatu yang diinginkan atau dicari oleh subjek. Tanda panah subjek ke objek mengandung arti subjek bertugas menemukan objek yang dibebankan oleh sender. A. Penerima (receiver) adalah sesuatu atau seseorang yang menerima objek hasil perjuangan subjek. 4. 7. 1.J. Pengirim (sender) adalah seseorang atau sesuatu yang menjadi sumber ide dan berfungsi sebagai penggerak cerita. Penolong (helper) adalah seseorang atau sesuatu yang membantu memudahkan usaha subjek dalam mendapatkan objek sebagai keinginannya 6. 9. 5. 8. Selain analisis aktan dan skema aktansial seperti yang dipaparkan di atas. Greimas pun mengemukakan model cerita yang tetap sebagai alur. menentang dan merusak usaha subjek. menghalangi. Sender ini yang menimbulkan keinginan bagi subjek untuk mendapatkan objek. Tanda panah dari helper ke subjek mengandung arti bahwa helper memberikan bantuan kepada subjek dalam rangka menunaikan tugas yang dibebankan oleh sender. Tanda panah dari objek ke receiver mengandung arti bahwa sesuatu yang dicari subjek atas keinginan sender diberikan pada receiver. Tanda panah dari opposant ke subjek mengandung arti bahwa opposant mengganggu.Tanda panah dalam skema menjadi unsur penting yang menghubungkan fungsi sintaksis naratif masing-masing aktan. 3. atau suatu aktan dapat berfungsi ganda sehingga seorang tokoh dalam suatu cerita dapat menduduki fungsi aktan yang berbeda.

2. Moh. Diterjemahan oleh Dick Hartoko. 10. tahap utama. 1984. yaitu (1) bagian pertama merupakan deskripsi dari situasi awal. Kamus Istilah Sastra.W. 5. dan Teknik Penelitian Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Jan Van & Mieke Bal Willem G. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996. Ratna. Teori Pengkajian Sastra. 6. Model fungsional mempunyai tugas menguraikan peran subjek dalam rangka melaksanakan tugas dari sender atau pengirim yang terdapat dalam aktan. Panuti. Semantique Structurale. Pasar dalam Perspektif Greimas. Luxemburg. 2004. Bagian Pertama Bagian Kedua Transformasi Bagia Ketiga Situasi Awal Tahap Uji Kecakapan Tahap Utama Tahap Kegemilangan Situasi Akhir Referensi: 1. 4.J. dan (3) bagian ketiga merupakan situasi akhir. 8. Nyoman Kutha. Piaget. 1984.dengan istilah model fungsional. Jakarta: Gramedia Daftar Pustaka. Jean. dan tahap kegemilangan. 2005. 2003. Jakarta: Gramedia. 1972. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005. A. Burhan. Umar. Jabrohim. maka ketiga bagian tersebut menjadi bagan sebagai berikut. Pengantar Pengkajian Sastra. Noor. Metode. 11. yaitu tahap uji kecakapan. Sudjiman. 1983. Bila dijelaskan dalam bagan. (Jabrohim. Greimas. Strukturalisme. 9. Redyanto. . Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia. Teori. Semarang: Fasindo. Nurgiyantoro. Pengantar Strukturalisme. Paris: Larousse. 1996:16) Operasi struktur model fungsional terbagi menjadi tiga bagian. Diterjemahan oleh Hermoyo. Greimas menyebut model fungsional sebagai suatu jalan cerita yang tidak berubah-ubah. 1988. 3. Metode Penelitian. 7. Jakarta: Ghalia Indonesia. (2) bagian kedua merupakan tahap transformasi yang terbagi lagi dalam tiga tahap. Karya Sebagai Sumber Makna. . 1995. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Junus. Pengantar Ilmu Sastra. Nazir. Metodologi Penelitian Sastra.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->