P. 1
Proposal Inkuiri Penelitian Pendidikan Matematika Open Ended

Proposal Inkuiri Penelitian Pendidikan Matematika Open Ended

|Views: 466|Likes:
Published by Alfa Seventen

More info:

Published by: Alfa Seventen on Apr 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/19/2015

pdf

text

original

PROPOSAL PENELITIAN PENDIDIKAN MATEMATIKA open ended-inquiry untuk meningkatkan berpikir kritis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Bila tujuan pendidikan matematika yang tercantum pada kurikulum 1975, 1984, 1994, 1999 dan kurikulum berbasis kompetensi kita cermati, dapat kita katakan bahwa tujuannya sama. Tujuan yang ingin dicapai pada intinya adalah agar siswa mampu menggunakan atau menerapkan matematika yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam belajar pengetahuan lain. Dengan belajar matematika diharapkan siswa mampu memperoleh kemampuan yang tercermin melalui berpikir sistematis, kritis, obyektif, jujur, dan disipilin. Selain itu juga dengan belajar matematika diharapkan siswa dapat memanfaatkan matematika untuk berkomunikasi dan mengemukakan gagasan.

Pada awal abad yang lalu, John Dewey mengatakan bahwa sekolah harus mengajarkan cara berpikir yang benar pada anak-anak. Vincent Ruggiero (1988) mengartikan berpikir sebagai segala aktivitas mental yang membantu merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi keinginan untuk memahami; berpikir adalah sebuah pencarian jawaban, sebuah pencapaian makna.

Menurut Fraenkel (Tarwin, 2005: 8) tahapan berpikir terdiri dari :

1. Tahapan berpikir konvergen, yaitu tahapan berpikir yang mengorganisasikan informasi atau pengetahuan yang diperoleh untuk mendapatkan jawaban yang benar

2. Tahapan berpikir divergen, yaitu tahapan berpikir dimana kita mengajukan beberapa alternatif sebagai jawaban

3. Tahapan berpikir kritis

4. Tahapan berpikir kreatif, yaitu tahapan berpikir yang tidak memerlukan penyesuaian dengan kenyataan

Dari tahapan berpikir di atas, berpikir kritis berada pada tahap tiga. Ujung dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif yang merupakan tindak lanjut dari berpikir kritis. Artinya untuk berpikir kreatif seseorang harus lebih dahulu berpikir kritis.

Carole Wade dan Carol Travis (2007) mengungkapkan bahwa berpikir kritis adalah kemampuan dan kesediaan untuk membuat penilaian terhadap sejumlah pernyataan dan membuat keputusan objektif berdasarkan pada pertimbangan yang sehat dan faktafakta yang mendukung, bukan berdasarkan pada emosi dan anekdot. Berpikir kritis adalah kemampuan seseorang untuk mencari berdasarkan masalah yang ada dengan pertimbangan yang sehat.

Tyler (Sugiyarti, 2005:13) berpendapat bahwa pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah dapat merangsang keterampilan berpikir kritis siswa.

Hal lain yang tidak bisa dipungkiri bahwa proses pembelajaran matematika di sekolah kurang diminati oleh siswa. Di kelas siswa kurang bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran matematika. Ada yang mengobrol dengan teman, keluar masuk kelas, melakukan aktivitas di luar matematika dan hanya sedikit yang benar-benar mengikuti apa yang dijelaskan guru. Dari pengalaman peneliti sebagai seorang guru les privat, ada beberapa anak yang mengeluh saat belajar matematika dan merasa kurang paham dengan pelajaran matematika karna tidak merasakan manfaatnya dalam kehidupan nyata. Ada pula yang mengerjakan soal matematika hanya dengan melihat contoh soal yang ada di buku tanpa menelusuri prosesnya.

Kondisi itu tentu saja tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Guru sebagai salah satu komponen pendidikan yang berperan secara langsung dalam membelajarkan siswa, harus dapat mengatasi masalah seperti ini dan mengupayakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disajikan.

Salah satu metode pembelajaran matematika yang dapat diterapkan dalam mengantisipasi masalah yang timbul selama proses pembelajaran matematika adalah metode pembelajaran inkuiri. Diharapkan dengan metode pembelajaran inkuiri, siswa dapat berpikir kritis, logis, sistematis dan kreatif untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah atau problem yang dipertanyakan. Dengan adanya metode

memiliki jawaban benar atau salah dan jawaban yang benar bersifat unik (hanya ada satu solusi). Setiap siswa diberikan kebebasan untuk menyelesaikan permasalahan yang sama sesuai dengan kemampuannya. Namun demikian. Menurut Martha Yunanda dengan problem terbuka atau open ended yang dapat memberikan keleluasaan pada siswa dalam mengerjakan permasalahan dan metode pembelajaran inkuiri yang menuntut siswa untuk menemukan jawaban sendiri disertai dengan bimbingan guru. diharapkan berpikir kritis siswa dapat semakin terasah lebih lagi. permasalahan penting utama dengan digunakannya jenis ini adalah siswa dapat belajar berbagai macam strategi dan hal ini bergantung pada pengetahuan matematika serta pengembangan berpikir kritis matematika mereka. . Menurut Rama Klavir (O’Neil & Brown.pembelajaran inkuiri diharapkan mampu menarik perhatian dan minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran matematika. Problem tradisional yang diterapkan dalam pembelajaran matematika adalah dalam bentuk problem lengkap atau problem tertutup. 1998. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Berpikir Kritis Siswa Dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dan Pendekatan Open Ended Dalam Pembelajaran Matematika”. 1995) problem open-ended ini membuka pandangan baru bahwa setiap permasalahan tidak harus memiliki satu jawaban benar. Problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga problem openended atau problem terbuka. Shepard. yaitu memberikan permasalahan yang telah diformulasikan dengan baik.

maka secara umum permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. Apakah strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dan pendekatan open ended dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika? 3. Bagaimanakah kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dan pendekatan open ended? C.B. . Apakah strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dan pendekatan open ended dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa? 2. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan. maka tujuan penelitian dengan menggunakan kombinasi pembelajaran matematika open-ended dan pembelajaran inkuiri adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan.

2. Manfaat Penelitian Sebagai sumber informasi bagi pihak yang memberi perhatian terhadap pelaksanaan dan pengembangan strategi pengajaran pada semua jenjang pendidikan Sebagai alternatif bagi guru dalam memilih strategi-strategi. Berpikir kritis adalah menelaah. penerapan model pembelajaran di kelas Sebagai bahan masukan bagi peneliti lainnya dalam mengkaji masalah yang serupa Bagi penulis secara pribadi yaitu sebagai sarana perluasan wawasan mengenai pembelajaran matematika open-ended dan pembelajaran inkuiri E.D. dan mengorganisasikan terhadap informasi yang diterimanya. menganalisis. ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan agar tidak terjadi salah penafsiran. Problem Open-ended adalah problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar atau disebut problem tak lengkap . 1. diperiksa dan dibandingkan dulu kebenarannya dengan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki sebelumnya sehingga seseorang tersebut mampu memberikan kumpulan terhadap informasi tersebut dengan alasan yang tepat. Definisi Operasional Dengan memperhatikan judul penelitian.

karena dalam kehidupan di masyarakat manusia selalu dihadapkan pada permasalahan yang memerlukan pemecahan. Berpikir Kritis Berpikir kritis diperlukan dalam kehidupan di masyarakat. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Untuk memecahkan suatu permasalahan tentu diperlukan data-data agar dapat dibuat keputusan yang logis. kritis. . diperlukan kemampuan berpikir kritis yang baik. dan untuk membuat suatu keputusan yang tepat. analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. logis. Pembelajaran Inkuiri adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda.3. manusia atau peristiwa) secara sistematis.

memfokuskan pada bagian dari sebuah situasi atau masalah. yaitu menguji. dan objektif) yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah. Pendapat tersebut sesuai pula dengan tujuan pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah seperti tertuang baik dalam Kurikulum 1994 maupun Kurikulum 2004. Berdasarkan sintesis terhadap hasil-hasil penelitian yang relevan. Costa dan Ennis (dalam Marzano dkk. menghubungkan. Berpikir kritis seringkali dibicarakan sebagai suatu kemampuan manusia yang sangat umum sehingga menyentuh hampir setiap aktivitas berpikir yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. 1988) mendifinisikan berpikir kritis sebagai suatu . dan berpikir kreatif (creative thinking). mengingat dan menganalisis informasi. khususnya pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian dan berpikir analitis (Watson dan Glaser (1980:1)).Karena begitu pentingnya. berpikir kritis (critical thinking). Terdapat delapan buah deskripsi yang dapat dihubungkan dengan berpikir kritis. Selain itu berpikir kritis memainkan peranan yang penting dalam banyak macam pekerjaan. mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi. dan mengevaluasi semua aspek dari sebuah situasi atau masalah. menarik kesimpulan yang valid.. Menurut Krulik dan Rudnick (1995: 2) penalaran meliputi berpikir dasar (basic thinking). kritis. memvalidasi dan menganalisis informasi. yang bertujuan agar siswa dapat menggunakan matematika sebagai cara bernalar (berpikir logis. sistematis. memiliki sifat analitis dan refleksif. berpikir kritis pada umumnya dianggap sebagai tujuan utama dari pembelajaran. menentukan masuk akal tidaknya sebuah jawaban. baik masalah dalam kehidupan seharihari maupun dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

berpikir kritis (critical thinking).proses penggunaan kemampuan berpikir secara efektif yang dapat membantu seseorang untuk membuat. menganalisis. Berpikir kritis merupakan salah satu tahapan berpikir tingkat tinggi. pengambilan keputusan (decision making). Pengertian yang lain diberikan oleh Ennis (1996) yaitu: berpikir kritis merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk membuat keputusan yang masuk akal mengenai apa yang kita percayai dan apa yang kita kerjakan. 2000: 136) mengkategorikan proses berpikir kompleks atau berpikir tingkat tinggi kedalam empat kelompok yang meliputi pemecahan masalah (problem solving). dan berpikir kreatif (creative thinking). dan mengatasi masalah serta kekurangannya. Menurut Ruber (Romlah. Sedangkan pengertian berpikir kritis menurut penulis adalah menelaah. serta mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau dilakukan. mengevaluasi. Costa (Liliasari. diperiksa dan dibandingkan dulu kebenarannya dengan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki sebelumnya sehingga seseorang tersebut mampu memberikan kumpulan terhadap informasi tersebut dengan alasan yang tepat. pemecahan masalah. 2002: 9) dalam berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan. mereka perlu memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik. Hal ini sejalan dengan pendapat Tapilouw . dan mengorganisasikan terhadap informasi yang diterimanya. Dengan demikian agar para siswa tidak salah pada waktu membuat keputusan dalam kehidupannya.

mengikuti alur logis sesuai dengan fakta yang diketahui”. ditemukan bahwa apabila siswa menggunakan berpikir kritisnya maka mereka melakukan di antara hal berikut: (1) memilih kata dan ungkapan yang tepat dalam setiap pernyataan penting yang diungkapkan serta bertanya tentang hal yang memerlukan pendefinisian secara jelas. . Berdasarkan hal-hal yang sudah diutarakan di atas. 1993). 2002:9). (6) mengevaluasi argumen terhadap suatu kesim-pulan yang menjadi dasar untuk menerima atau menolak kesimpulan tersebut. dan (7) menguji kembali asumsiasumsi yang melatarbelakangi pandangan serta proses pengambilan kesimpulan yang telah dilakukan. (4) memperhatikan asumsi-asumsi penting berkenaan dengan kesimpulan baik yang dinyatakan secara eksplisit maupun tidak. sebelum kesimpulan tersebut diterima atau dibuat. (3) menganalisis bukti-bukti tersebut serta membedakan antara fakta dan asumsi. Cara berpikir ini merupakan cara berpikir yang terarah. Berdasarkan hasil penelitian Fawcett (dalam O’Daffer dan Thornquist. (2) mencari buktibukti yang dapat mendukung suatu kesimpulan. selanjutnya O’Daffer dan Thornquist (1993) mengajukan suatu model dari proses berpikir kritis seperti tampak pada gambar di bawah ini. terencana. (5) mengevaluasi asumsi-asumsi tersebut serta menerima sebagian atau menolak sebagian lainnya.(Romlah. bahwa “berpikir kritis merupakan berpikir disiplin yang dikendalikan oleh kesadaran.

data dan asumsi Menyatakan dan mendukung suatu kesimpulan.Menerapkan kesimpulan. keputusan atau solusi Memahami masalah Melakukan pengkajian terhadap hal di luar bukti . data dan asumsi di atas Melakukan pengkajian terhadap bukti. keputusan atau solusi .

” Dalam studi tersebut Fawcett mencoba menggunakan contoh-contoh permasalahan nyata sehari-hari untuk membantu siswa melakukan transfer berpikir kritisnya yang biasa digunakan dalam proses bembuktian geometri terhadap situasi . (3) Terdapat sejumlah bukti kuat bahwa upaya untuk melakukan pembelajaran berpikir kritis dapat dilakukan secara efektif. sejumlah peneliti mencoba mencari jawaban melalui studi yang berfokus pada penggunaan matematika sebagai bidang studi untuk meningkatkan kemampuan tersebut. h. 1993. Fawcett (dalam O’Daffer dan Thornquist. dan (4) Kemampuan berpikir kritis dapat diterapkan secara efektif pada suatu tugas akademik manakala dikembangkan tiga hal berikut: kemampuan berpikir kritis. pengetahuan materi subyek.O’Daffer dan Thornquist (1993) juga mencoba melakukan sintesis terhadap hasil-hasil penelitian yang berfokus pada berpikir kritis sehingga diperoleh beberapa kesimpulan berikut: (1) siswa pada umumnya menunjukkan hasil belajar yang kurang memuaskan dalam menghadapi tugas-tugas akademik yang memuat tuntutan penerapan kemampuan berpikir kritis. (2) Disposisi untuk berpikir secara kritis merupakan suatu komponen berpikir kritis yang sangat efektif. walaupun masih sedikit bukti yang diketahui tentang penyebab utama berkembangnya kemampuan berpikir kritis seseorang. Karena kurangnya bukti tentang penyebab berkembangnya kemampuan berpikir kritis seseorang. dan pengalaman untuk menerapkan kedua hal tersebut. Sebagai contoh.41) menyatakan dalam studinya bahwa “It is the purpose of this study to describe classroom procedures by which geometric proof may be used as a means for cultivating critical and reflective thought and to evaluate the effect of such experiences on the thinking of the pupils.

menemukan bahwa pendekatan tersebut dapat mempengaruhi secara signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam argumen yang valid sebuah kesimpulan harus ditarik secara logis dari premis-premis yang ada. dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan bagian dari penalaran. Selanjutnya bagaimana cara mengajar para siswa agar mereka memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik? Menurut Bonnie dan Potts (2003) secara singkat dapat disimpulkan bahwa ada tiga buah strategi untuk mengajarkan kemampuan-kemampuan berpikir kritis. 1993) yang melakukan studi tentang pengaruh penggunaan pendekatan penemuan dan pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematik. Studi tersebut menemukan bahwa cara yang dilakukan dapat secara efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. telah dilakukan wawancara dengan orangtua siswa yang antara lain menunjukkan keyakinannya bahwa cara tersebut berdampak positif pada kemampuan berpikir kritis anak-anaknya. Dari pendapat para ahli seperti telah diutarakan di atas. 1993) juga mencoba mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran pembuktian dan logika pada bidang geometri yang dikaitkan dengan situasi sehari-hari. (2) Finding Problem . Sementara Price (dalam O’Daffer dan Thornquist.sehari-hari. Studi lain yang dilakukan Lewis (O’Daffer dan Thornquist. karena argumen sendiri adalah serangkaian pernyataan yang mengandung pernyataan penarikan kesimpulan. Untuk mengetahui dampak dari upaya tersebut. yaitu : (1) Building Categories (Membuat Klasifikasi). Seperti diketahui kesimpulan biasanya ditarik berdasarkan pernyataan-pernyataan yang diberikan sebelumnya atau yang disebut premis. Dari uraian di atas tampak bahwa berpikir kritis berkaitan erat dengan argumen.

umum atau khusus. Suherman (1993:221) menyatakan pula bahwa . Hal yang dapat digaris bawahi adalah perlunya memberi kesempatan siswa untuk berpikir dengan bebas sesuai dengan minat dan kemampuannya. cara atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran dilihat dari sudut bagaimana proses pembelajaran atau materi pembelajaran itu. Dengan kata lain kegiatan kreatif dan pola pikir matematis siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa. B. (2) Dengan mengajukan pertanyaan open-ended. dan (4) Teaching for transfer (Mengajar untuk dapat menggunakan kemampuan yang baru saja diperoleh terhadap situasi-situasi lain dan terhadap pengalaman sendiri yang para siswa miliki).(Menemukan Masalah). Disebutkan pula bahwa beberapa “ciri khas” dari mengajar untuk berpikir kritis meliputi : (1) Meningkatkan interaksi di antara para siswa sebagai pebelajar. Suherman (1993:220) mengemukakan pendekatan dalam pembelajaran adalah suatu jalan. (3) Memberikan waktu yang memadai kepada para siswa untuk memberikan refleksi terhadap pertanyaan yang diajukan atau masalahmasalah yang diberikan. Aktivitas kelas yang penuh dengan ide-ide matematika ini pada gilirannya akan memacu kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. dan (3) Enhancing the Environment (Mengkondusifkan lingkungan). Pendekatan Open-ended Tujuan pembelajaran menurut Nohda (2000) adalah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematis siswa melalui problem solving yang simultan.

Siswa yang dihadapkan dengan Open-Ended problem. Dan yang kedua adalah masalah-masalah matematika terbuka (open problems). Pendekatan pemecahan masalah matematika c. Pendekatan Open Ended d. Dengan demikian bukanlah hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan jawaban. Menurut Suherman dkk (2003) jenis-jenis pendekatan dalam pembelajaran matematika adalah: a. permasalahan atau soal-soal dalam matematika pun secara garis besar dapat diklasifikasi menjadi menjadi dua bagian. Menurut Suherman dkk (2003. Pendekatan realistik Sama halnya seperti ilmu-ilmu sosial. namun beberapa atau banyak. . Yang pertama adalah masalah-masalah matematika tetutup (closed problems). tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban.pendekatan pembelajaran merupakan suatu konsep atau prosedur yang digunakan dalam membahas suatu bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. 123) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga Open-Ended problem atau soal terbuka. Pendekatan Konstruktivis b.

Tujuan dari pembelajaran Open-Ended problem menurut Nohda (Suherman. 2003. Dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended. dkk. yaitu pembelajaran yang membangun kegiatan interaktif antara matematika dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi. Dengan kata lain. Contoh penerapan masalah Open-Ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode. Tujuannya tiada lain adalah agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan kreatif dari setiap siswa terkomunikasi melalui proses pembelajaran. kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa. siswa diharapkan bukan hanya mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada proses pencarian suatu jawaban. Inilah yang menjadi pokok pikiran pembelajaran dengan Open-Ended. Pendekatan Open-Ended menjanjikan kepada suatu kesempatan kepada siswa untuk meginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan mengelaborasi permasalahan. cara atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada jawaban (hasil) akhir. .Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut. 124) ialah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa melalui problem posing secara simultan.

Kegiatan siswa harus terbuka Yang dimaksud kegiatan siswa harus terbuka adalah kegiatan pembelajaran harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka. b. Meskipun pada umumnya guru akan mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan pengalaman dan pertimbangan masing-masing. guru diharapkan dapat mengangkat pemahaman dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan individu. Kegiatan matematika merupakan ragam berpikir Kegiatan matematik adalah kegiatan yang didalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia matematika atau sebaliknya. Guru bisa membelajarkan siswa melalui kegiatan-kegiatan matematika tingkat tinggi yang sistematis atau melalui kegiatankegiatan matematika yang mendasar untuk melayani siswa yang kemampuannya .Menurut Suherman dkk (2003:124) mengemukakan bahwa dalam kegiatan matematik dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut: a. Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan satu kesatuan Dalam pembelajaran matematika. c.

masalah-masalah matematika terbuka (open problems) sendiri hampir tidak tersentuh. open problems sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Secara sederhana. Model Pembelajaran Inkuiri . soal atau permasalahan itu dianggap ‘salah soal’ atau soal yang tidak lengkap. Untuk open-ended problems sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Yakni open-ended problems dan pure open problems. hampir tidak pernah muncul dan disajikan dalam proses pembelajaran matematika di sekolah. Akibatnya timbul persepsi yang agak keliru terhadap matematika. prosedure yang digunakannya sudah hampir bisa dikatakan standar alias baku.rendah. C. Yang selama ini muncul di permukaan dan banyak diajarkan di sekolah adalah masalahmasalah matematika yang tertutup (closed problems). Pendekatan uniteral semacam ini dapat dikatakan terbuka terhadap kebutuhan siswa ataupun terbuka terhadap ide-ide matematika. prosedural. Matematika dianggap sebagai pengetahuan yang pasti. Akibatnya bila ada permasalahan matematika macam ini. Yakni: (1) problems dengan satu jawaban banyak cara penyelesaian. dan (2) problems dengan banyak cara penyelesaian juga banyak jawaban. Sementara itu. dan saklek. Di mana memang dalam menyelesaikan masalah-maslah matematika tertutup ini.

Tujuan dari pembelajaran setidak-tidaknya seorang guru menanamkan tiga domain. kognitif. Ia menambahkan bahwa pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir reflektif. Rasa ingin tahu tentang alam sekitar di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. pada tingkat paling dasar dapat dipandang sebagai proses menjawab . maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk membangun kemampuan itu. Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta. atau terlibat. inkuiri atau induktif. dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan. mencari informasi. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. afektif dan psikomotor dan ketiga domian itu secara langsung akan tertanam pada setiap siswa yang mengikuti suatu proses pembelajaran. dan melakukan penyelidikan. Demikian pula halnya dengan strategi pembelajaran penemuan. Didasari hal inilah suatu strategi pembelajaran yang dikenal dengan inkuiri dikembangkan. Oleh karena itu. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu. manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. yang paling mendasar di pahami oleh guru adalah melatih siswa untuk berpikir. Inkuiri. pengecapan dan indera-indera lainnya. pendengaran. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan. yakni. memecahkan masalah dan menemukan sesuatu bukan merupakan tujuan pendidikan yang baru.Menurut Herdian (2010) sejak manusia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera penglihatan.

mencari jawaban atau pemecahan untuk memuaskan keingintahuannya dan untuk membantu teori dan gagasannya tentang dunia. (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya.kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa. artinya pendekatan inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi.196) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri. strategi inkuiri menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal. Selanjutnya Sanjaya (2008. menyelidiki.pertanyaan atau memecahkan permasalahan berdasarkan fakta dan pengamatan. Kedua. sehingga diharapkan dapat menumbuhkan . Siklus inkuiri terdiri dari kegiatan mengamati. sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis. Pada prinsipnya tujuan pengajaran inkuiri membantu siswa bagaimana merumuskan pertanyaan. Dalam proses pembelajaran. 2005) mengemukakan kondisi. tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta. Pertama. bertanya. baik secara individu maupun bersama-sama dengan teman lainnya. menganalisa dan merumuskan teori. seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa pembelajaran inkuiri bertujuan untuk mengembangkan tingkat berpikir dan juga keterampilan berpikir kritis. Joyce (Gulo.

Menjelaskan topik.sikap percaya diri (self belief). tujuan. sehingga kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah: i. akibatnya dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran. Aktvitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah. mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan . akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa ii. Orientasi Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Artinya dalam pendekatan inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar. Sanjaya (2008:202) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Ketiga.

Merumuskan hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa. Sebagai jawaban sementara.iii. 2. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. 3. Merumuskan masalah Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya. oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Mengumpulkan data . hipotesis perlu diuji kebenarannya. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri. 4. dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat.

akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan. akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan. 6. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar. Menguji hipotesis Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Artinya. Dalam pembelajaran inkuiri. Merumuskan kesimpulan Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Alasan rasional penggunaan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai matematika dan akan lebih tertarik terhadap matematika jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” penyelidikan. 5. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang . mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional.

Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Ketiga jenis pendekatan inkuiri tersebut adalah: 1) Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach) Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Bimbingan yang diberikan dapat . Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Pada tahap awal. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri. Sehingga diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berpikir ilmiah tersebut. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep matematika dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. guru banyak memberikan bimbingan. Pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya. kemudian pada tahap-tahap berikutnya. bimbingan tersebut dikurangi.punggung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri.

merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan. Pada umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. 2) Inkuiri Bebas (free inquiry approach). Selain itu. 2) karena diberi kebebasan untuk menentukan . antara lain: 1) waktu yang diperlukan untuk menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu yang sudah ditetapkan dalam kurikulum. Di samping itu. bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak diberikan sama sekali. Siswa diberi kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki. Sedangkan belajar dengan metode ini mempunyai beberapa kelemahan. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa. Salah satu keuntungan belajar dengan metode ini adalah adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih dari satu cara. sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafolding yang diperlukan oleh siswa.berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran matematika. menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Selama proses ini. ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah yang diselidiki. karena tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi jawabannya sendiri.

dalam pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri. maka bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi. sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. sehingga guru akan membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh siswa. . 3) Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan ( modified free inquiry approach) Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri sebelumnya. ada kemungkinan topik yang diplih oleh siswa di luar konteks yang ada dalam kurikulum. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur. Artinya. Namun. 4) karena topik yang diselidiki antara kelompok atau individual berbeda. yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. agar siswa berupaya terlebih dahulu secara mandiri. 3) ada kemungkinan setiap kelompok atau individual mempunyai topik berbeda. dengan harapan agar siswa dapat menemukan sendiri penyelesaiannya. namun siswa yang belajar dengan pendekatan ini menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada.sendiri permasalahan yang diselidiki. apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya. Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan. ada kemungkinan kelompok atau individual lainnya kurang memahami topik yang diselidiki oleh kelompok atau individual tertentu. atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.

. penulis berpendapat bahwa pendekatan inkuiri bebas kurang sesuai diterapkan dalam pembelajaran matematika. dimana tingkat perkembangan kognitif siswa masih pada tahap peralihan dari operasi konkrit ke operasi formal. sehingga siswa tidak perlu mencari atau menetapkan sendiri permasalahan yang akan dipelajari. Pemilihan ini penulis lakukan dengan pertimbangan bahwa penelitian yang akan dilakukan terhadap siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP).Berdasarkan pengertian dan uraian dari ketiga jenis pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. karena dalam proses pembelajaran matematika topik yang diajarkan sudah ditetapkan dalam silabus kurikulum matematika. sehingga penulis beranggapan pendekatan inkuiri terbimbing lebih cocok untuk diterapkan. dan siswa masih belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri serta karena siswa masih dalam taraf belajar proses ilmiah. penulis memilih Pendekatan Inkuiri Terbimbing yang akan digunakan dalam penelitian ini. Selain itu.

Sebelum mendapatkan perlakuan. Waktu pelaksanaan penelitian adalah mulai dari tanggal 21 Juni-19 Juli 2011.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII-7 SMP Negeri 21 Kota Bandung. Sementara itu. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen dengan menggunakan desain penelitian berbentuk “pretest-postest control group”. Adapun desain penelitian ini digambarkan sebagai berikut : A O X1 O . dengan jumlah siswa 40 orang yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 22 orang siswa perempuan. dilakukan pretest (tes awal) dan setelah mendapatkan perlakuan dilakukan postest (tes akhir). yakni kelas yang pembelajarannya dengan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan pendekatan open ended dan kelas yang pembelajarannya biasa. tujuan dilaksanakan pretest dan postest adalah untuk melihat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis pada kedua kelas tersebut. Penelian ini melibatkan dua kelas. B.

A O X2 O Keterangan : A : Menunjukkan pengelompokkan subjek O : Pretest dan postest X1 : Pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan pendekatan open ended X2 : Pembelajaran matematika biasa C. Tes Kemampuan Berpikir Kritis . Instrumen Instrumen yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1.

Observasi sangat mendukung data pokok yang mengungkap tingkat pemahaman siswa. Lembar Kerja Siswa Observasi ini digunakan oleh peneliti sekaligus guru sebagai alat bantu dalam menganalisis dan merefleksi setiap tahapan tindakan pembelajaran untuk merencanakan tindakan pembelajaran berikutnya bila tindakan yang sudah dilakukan dinilai memiliki kekuarangan. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa. 2. . Angket Angket adalah jenis evaluasi yang berisi daftar pernyataan yang harus diisi oleh siswa dengan tujuan untuk mengetahui atau mengukur aspek afektif siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan. atau pun aspirasi dari siswa terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Jurnal Harian Siswa Jurnal Harian Siswa ini bertujuan untuk mengetahui kesan. pesan. Postest digunakan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa setelah mendapatkan perlakuan. 4. Jurnal ini diberikan kepada masing-masing siswa setiap akhir pertemuan.Tes kemampuan berpikir kritis yang digunakan berbentuk uraian. 3. Pretest digunakan untuk mengetahui kemampuan awal berpikir kritis siswa. yang meliputi pretest dan postest.

Wawancara ini dilakukan setelah pembelajaran berakhir. Wawancara Wawancara adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari responden dengan tanya jawab. 7. Angket (Questionare) Angket adalah sebuah daftar pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab oleh orang yang akan dievaluasi (responden). 6. Lembar Observasi Lembar observasi merupakan alat untuk mengetahui sikap serta aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung.5. mengenai sesuatu hal. pengalaman. sikap. Teknik Pengumpulan Data . Data ini dapat bersifat relatif karena dapat dipengaruhi oleh subjektivitas observer. pendapat. pengetahuan. D. Data tersebut berupa keadaan atau data diri. Wawancara ini dilakukan terhadap siswa untuk mengetahui kesan pembelajaran yang dilaksanakan mengacu pada pedoman wawancara. Angket berfungsi sebagai alat pengumpul data.

sikap terhadap penampilan guru dan sikap terhadap bahan ajar. jurnal harian siswa. Untuk menunjang kebenaran dari jawaban siswa maka dilengkapi dengan lembar observasi yang diisi oleh observer dan wawancara terhadap beberapa siswa. Uji coba instrumen tes kemampuan berpikir kritis pada siswa (pretest) kemudian menghitung validitas. daya pembeda. . dan indeks kesukaran. RPP) dan instrumen d.Pengumpulan data dilakukan pada setiap kegiatan siswa dan situasi yang berkaitan dengan penelitian menggunakan instrumen berupa tes. sikap terhadap pembelajaran inkuiri terbimbing dengan pendekatan open ended. realibitas. angket. Prosedur Penelitian Penelitian ini secara garis besar dilakukan dalam tiga tahap. Begitu pula dengan angket dan jurnal siswa diberikan kepada kedua kelas eksperimen untuk melihat respon dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran matematika yang meliputi sikap terhadap matematika. Tahap Persiapan a. lembar observasi. dan wawancara. Membuat bahan ajar (LAS. media. Test berupa pretest dan postest diberikan kepada kedua kelas eksperimen. Merencanakan bahan ajar dan instrumen c. yaitu : 1. E. Observasi awal dan Identifikasi masalah b.

menjaring respon siswa terhadap pembelajaran Matematika menggunakan pendekatan keterampilan melalui pedoman wawancara. f. . Kegiatan Akhir Menganalisis dan mengevaluasi peningkatan kemampuan akhir yaitu pemahaman siswa setelah diterapkan pendekatan keterampilan proses melalui alat evaluasi berupa tes tulis dan menganalisis aspek keterampilan proses apa saja yang dipahami siswa melalui pedoman observasi dan lembar kerja siswa.v Validitas v Realibitas v Daya pembeda v Indeks kesukaran e. Evaluasi Tindakan Hasil seluruh tindakan yang dilakukan dianalisis dan direfleksi sehingga nantinya akan diperoleh apakah pelaksanaan tindakan-tindakan ini telah mencapai tujuan yang diharapkan atau belum untuk menentukan kejelasan tindakan selanjutnya.

1997. (2003). R. (1996). Critical Thinking. Practical Assesment. New Jersey: Prentice-Hall Inc. Research & Evaluation.DAFTAR PUSTAKA Becker. The Open-Ended Approach. Strategies for Teaching Critical Thinking. . H. Shimada. NCTM Bonnie dan Potts. Ennis.

Wina. J. Peningkatan Berpikir Kritis dan Analisis dalam Pembelajaran Bryophyta. (2008). S. Tidak diterbitkan. . Nurdiansyah. Romlah. N. Liliasari. Skripsi pada Universitas Negeri Semarang. Massachusetts: Allyn & Bacon A Simon & Schuster Company. Sanjaya. Dalam Proceeding Nasional Science Education Seminar. Skripsi. Kencana Prenada Media Group. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah.T. 2005. (1998). Dr. Russeffendi. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Jakarta Sugiyarti. Model Pembelajaran untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Konseptual Tingkat Tinggi Calon Guru IPA. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya.A (1995). (2000). The Problem of Mathematics and Science Education and Alternative to Solve the Problems. (2002). Skripsi FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak Diterbitkan.Krulik. S dan Rudnick. Malang: JICA-IMSTEP FMIPA UM. Semarang : IKIP Semarang Press. Henik. Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Hasil Belajar Siswa SMPN 1 Tambakromo Kabupaten Pati Melalui Pembelajaran Matenatika Berbasis Masalah. H. Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI. Budi (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Tidak diterbitkan. E.

dkk. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. JICA. Watson. (1980). 2003. Critical Thinking Appraisal. Strategi Pembelajaran Matematika Kotemporer. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Erman. Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI. Y. Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui Pendekatan Open Ended Dalam Pembelajaran Matematika. et al. G dan Glaser. (2001). E. Tarwin. . W (2005). Suherman. Bandung: UPI. Inc. Skripsi. M.Suherman. Tidak diterbitkan. FPMIPA UPI.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->