P. 1
2.+Materi+Desain+Teknis+Kegiatan+Infrastruktur

2.+Materi+Desain+Teknis+Kegiatan+Infrastruktur

|Views: 50|Likes:
Published by msuarman5871

More info:

Published by: msuarman5871 on Apr 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. JALAN DAN BANGUNAN PELENGKAPNYA 1. JALAN DAN BANGUNAN PELENGKAPNYA
  • 2. JEMBATAN
  • 3. TAMBATAN PERAHU
  • 4. DRAINASE PERMUKIMAN
  • 5. PRASARANA AIR BERSIH
  • 6. PRASARANA IRIGASI
  • 7. PRASARANA MANDI, CUCI, KAKUS
  • 8. PRASARANA PERSAMPAHAN
  • 9. PRASARANA KESEHATAN
  • 10. PRASARANA PENDIDIKAN
  • 11. PRASARANA PERUMAHAN/PERMUKIMAN
  • 12. PRASARANA PERDAGANGAN
  • 13. PRASARANA PENERANGAN UMUM

KRITERIA & DESAIN TEKNIS KEGIATAN LINGKUNGAN

1. JALAN DAN BANGUNAN PELENGKAPNYA
Jalan disini adalah jalan yang dapat berfungsi sebagai penghubung antar desa/kelurahan atau ke lokasi produksi/pemasaran, atau berfungsi sebagai penghubung hunian/perumahan, serta juga berfungsi sebagai penghubung desa/kelurahan ke pusat kegiatan yang lebih tinggi tingkatannya (kecamatan/kab/kota). Jalan dibangun atau ditingkatkan untuk membangkitkan manfaat-manfaat bagi masyarakat, seperti : Membuka isolasi, Mempermudah pengiriman sarana produksi; Mempermudah pengiriman hasil produksi ke pasar, baik yang di desa maupun yang diluar, dan Meningkatkan jasa pelayanan sosial, termasuk kesehatan, pendidikan dan penyuluhan. Pembangunan jalan disarankan pada peningkatan jalan lama yang sudah ada. Hal ini untuk menghindari kesulitan pembebasan lahan, dampak lingkungan yang tidak dianalisis lebih mendalam serta banyaknya volume pekerjaan pada pembukaan jalan baru. Namun demikian, kadang-kadang tidak dapat dihindari untuk membuat jalan baru atau peningkatan jalan lingkungan. A. KRITERIA PEMILIHAN TEKNOLOGI KONSTRUKSI JALAN Pembangunan jalan baik berupa pembangunan baru, peningkatan atau rehabilitasi Jalan Tanah, Jalan Telford, Jalan Makadam, Jalan Beton, Jalan Aspal agar mempertimbangkan kriteria-kriteria, pemilihan teknologi & Jenis Konstruksi Jalan berikut.

1

Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jalan baru, antara lain : o o o o o Trase Jalan mudah untuk dibuat; Pekerjaan tanahnya relatif cepat dan murah; Tidak banyak bangunan tambahan (jembatan, gorong-gorong, penahan longsor, dll); Penyediaan/pembebasan lahan tidak sulit; Tidak merusak Lingkungan atau memerlukan studi lingkungan yang lebih mendalam; Memungkinkan untuk pelebaran jalan; Standar Geometrik untuk pelebaran jalan; Tanjakan yang melewati batas standar teknik harus diubah sesuai dengan standar teknis; Sistem drainase dan pekerjaan tanah tidak akan merusak lingkungan;

Yang perlu diperhatikan dalam peningkatan Jalan lama, antara lain : o o o o

B. BAGIAN-BAGIAN JALAN Suatu Jalan umumnya terdiri dari bagian-bagian, yaitu : Dawasja, Damaja, Damija, Badan Jalan, Lapis Perkerasan, Bahu Jalan dan saluran tepi.

Gambar 1. Bagian-Bagian Jalan 1. Dawasja (Daerah Pengawasan Jalan), Daerah ini merupakan ruang sepanjang jalan yang dimaksudkan agar pengemudi mempunyai pandangan bebas dan badan jalan aman dari pengaruh lingkungan, misalnya oleh air dan bangunan liar (tanpa izin) 2. Damaja (Daerah Manfaat Jalan), Daerah ini merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi, dan kedalaman ruang bebas tertentu yang ditetapkan oleh Pembina Jalan. Daerah Manfaat Jalan hanya diperuntukkan bagi perkerasan jalan, bahu jalan, saluran samping, lereng, ambang pengaman, timbunan dan galian, gorong-gorong, perlengkapan jalan, dan bangunan pelengkap lainnya. 3. Damija (Daerah Milik Jalan), Daerah ini merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu yang dikuasai oleh Pembina Jalan dengan suatu hak tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Daerah Milik Jalan diperuntukkan bagi Daerah Manfaat Jalan dan pelebaran jalan maupun penambahan jalur lalu-lintas di kemudian hari, serta kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan. 4. Bahu Jalan, Bahu jalan adalah bagian jalan yang berdampingan dan sama tinggi dengan perkerasan jalan.

2

5. Saluran Samping Jalan, Saluran Samping Jalan adalah bagian jalan yang berdampingan dengan bahu yang berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air secepatnya. 6. Badan Jalan, Badan jalan merupakan bagian jalan dimana jalur lalu-lintas, bahu, dan saluran samping dibangun. 7. Perkerasan Jalan, Perkerasan jalan merupakan konstruksi jalan yang diperuntukkan bagi jalur lalu-lintas yang umumnya terdiri dari tanah dasar, lapisan pondasi bawah, lapisan pondasi atas, dan lapisan permukaan. Untuk jalan dengan lalu lintas ringan, lebar perkerasan diambil 2,5 – 3 meter.

C. DESAIN
Standar teknis jalan mengacu pada Pedoman Teknis Pembangunan Jalan yang diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum yang sudah ada, seperti Pedoman Sederhana Pembangunan Jalan dan Jembatan Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, Puslitbang Dep. PU, 1996. 1). Perlindungan Lingkungan dan Sosial Pembangunan jalan, selain perlu memperhatikan aspek teknis konstruksi jalan, juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan (konservasi tanah), terutama pada kondisi wilayah dengan topografi yang sering berbukit dan dengan tanah yang peka erosi. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit erosi tanah yang berasal dari jalan, khususnya berupa longsoran dari tampingan dan tebing jalan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian erosi pada jalan untuk mengamankan jalan dan membangun jalan yang tidak menjadi sumber erosi. Pengendalian erosi dapat dilakukan secara sipil teknis (pembangunan konstruksi penahan, drainase atau secara vegetatif (penanaman bahan-bahan vegetatif), dan masing-masing mempunyai kelebihan. Perencana harus memilih tindakan-tindakan pengendalian erosi dengan pertimbangan lingkungan dan biaya, yang tidak terbatas pada waktu penyelesaian konstruksi jalan saja, tetapi harus dipikirkan sampai masa pemeliharaan. Selain itu, tingginya curah hujan, lereng-lereng curam dan tanah rapuh menimbulkan banyak kesulitan dalam perencanaan dan pembangunan jalan berkualitas tinggi, terutama bila dimaksudkan untuk membangun jalan dengan biaya rendah dan tidak membahayakan lingkungan. Dalam konteks seperti ini, kita harus menyadari bahwa masalah erosi akan terus muncul walaupun dapat dikurangi dan diatasi ketika terjadi. Alternatif lainnya adalah Trase jalan harus dipilih untuk mengurangi masalah lingkungan, misalnya dengan mengurangi galian dan timbunan bilamana mungkin. Karena tidak mungkin di kawasan perbukitan untuk menghilangkan masalah dengan pemilihan trase (dengan pemindahan trase atau mengurangi tanjakan), maka perlu diusahakan teknik-teknik pengendalian erosi termasuk pembangunan tembok penahan tanah dan bronjong atau penanaman bahan-bahan vegetatif untuk menstabilkan lereng atau mengurangi erosi percik atau alur kecil. Kegiatan pengendalian erosi juga tidak dibatasi pada pengamanan dampak lingkungan, tetapi juga harus mempertimbangkan akibatnya terhadap sosial masyarakat sekitarnya/diluar daerah milik jalan (misalnya, pembuangan dari saluran merusak lahan produktif warga). Terkait dengan masalah pengamanan dampak lingkungan dan sosial pada pembangunan jalan ini, secara khusus diuraikan pada buku Pedoman Teknis Pengamanan Dampak Lingkungan & Sosial (Safeguards).
Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

3

2). Geometrik Jalan Geometrik adalah bentuk dari potongan melintang dan memanjang suatu alur jalan yang mempunyai lebar jalan dan bahu jalan tertentu dan dapat dilalui oleh kendaraan rencana. Alur jalan adalah bagian jalan yang terdiri dari permukaan jalan yang diperkeras, bahu jalan, dan saluran samping. 1. Pandangan Bebas dan Tempat Persimpangan a) Pandangan Bebas Pandangan bebas harus diperhatikan demi keselamatan pemakai jalan, baik kendaraan maupun pejalan kaki, yaitu : ¾ Tanjakan/Lengkung vertikal dengan pandangan bebas 30 meter.

¾ Tikungan/Lengkung horisontal dibuat dengan pandangan bebas 30 meter.

b) Tempat Persimpangan Perkerasan yang hanya selebar tiga meter kurang lebar untuk dua kendaraan saling melewati, maka harus disediakan tempat sebuah kendaraan dapat menunggu kendaraan berjalan dari lain arah. Setiap tempat ini harus kelihatan dari tempat yang sebelumnya.

Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

4

Tikungan tajam dibuat dengan pelebaran perkerasan dan kemiringan melintang miring ke dalam. 2. 5. 4. 4. Jarak antar tikungan diusahakan minimal 100 meter. yaitu : 1. 5. 3. Untuk membuat tikungan. Jarak antara titik perpotongan (T) dua alur jalan yang lurus sampai dengan titik tengah lengkungan lingkaran (A) disebut jarak E dan panjangnya tidak kurang dari 5 meter. a. dan titik lengkungan (A akhir). Jarak antara titik perpotongan (T) dua alur jalan yang lurus sampai dengan titik awal perubahan lengkung (A) disebut jarak L dan panjangnya tidak kurang dari 15 meter. Tentukan titik pertemuan dua alur yang lurus (T).2. di atas 10%. Bagi sudut yang terbentuk antara dua garis lurus tadi dengan sama besar. Tentukan titik B pada garis pembagi tersebut sejauh E dari titik T. 3. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 5 . Tikungan pada Tanjakan Curam Di daerah perbukitan sering dijumpai jalan yang menanjak dengan kemiringan yang cukup berat. kemiringan melintang hanya ke satu arah (ke dalam) dengan kemiringan berkisar antara 3 – 5%. lakukanlah langkah-langkah berikut : 1. Tikungan/Lengkung Horisontal dan Tikungan Pada Tanjakan Curam.1. Pada tikungan. jalan harus dibuat seperti yang tercantum dalam gambar: Bagian . Tentukan titik lengkungan sebelah kiri (A) dan kanan (B) sepanjang L dari titik T. b. Lengkung Horisontal Jari-jari tikungan minimal 10 meter. 2. titik B. Ada beberapa ketentuan dalam membuat tikungan. Apabila terdapat tikungan tajam di daerah tersebut. Buat lengkungan yang menghubungkan titik awal lengkungan (A awal). Panjang jari-jari sebaiknya cukup besar dan tidak kurang dari 15 meter. Lengkungan merupakan bagian dari lingkaran yang memiliki jari-jari yang sama. Tikungan adalah alur jalan yang melengkung.

Pembuangan air dari saluran pinggir jalan diatur supaya air tidak melintangi jalan dan mengganggu kendaraan : saluran dari atas diteruskan lurus ke depan dan airnya dibuang jauh dari jalan. badan jalan dibuat dengan bentuk "punggung sapi" (bagian tengah lebih tinggi + 68cm). Jalan yang sangat curam juga lebih sulit dipadatkan dengan mesin gilas. Pada keadaan biasa. 4. pilih trase jalan supaya tanjakan tidak terlalu curam. Apabila trase jalan belum memenuhi persyaratan ini. Bentuk Badan Jalan a. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 6 . Jika jalan menanjak terus. Pada daerah yang relatif datar dan lurus. harus disediakan bagian datar atau bagian menurun. seharusnya dipindahkan supaya trasenya lebih ringan. dan permukaan jalan dan saluran air lebih sering harus dipelihara dan diperbaiki. tanjakan maksimum dibatasi 7%. berbentuk trapesium. Setelah itu. Ukuran saluran samping minimal 50 cm dalam x 30 cm lebar dasar.3. Untuk meningkatkan kenyamanan serta keselamatan pengguna jalan. Bentuk Badan Jalan di Daerah Datar Jalan harus dibuat dengan bentuk yang tepat. Pengukuran tanjakan adalah dengan rumus "jumlah meter naik per set tap seratus meter horizontal" (10 meter naik per 100 meter horisontal sama dengan tanjakan 10%). Bagian .1. Tikungan dibuat pada bagian datar untuk mempermudah perjalanan bagi yang naik atau turun. Tanjakan maksimum dibatasi 20% dengan panjang 150 m. Tanjakan/Lengkung Vertikal Tanjakan membatasi muatan yang dapat diangkut pada suatu jalan. saluran pada jalan bagian bawah dimulai di luar bagian datar (sesudah tikungan). bentuk jalan dibuat miring (4%-6%) kesaluran tepi jalan. serta membuat jalan lebih berbahaya.

dapat dibuat dari tanah asli. Perkerasan Jalan Jenis-jenis konsrtuksi jalan dibedakan atas 3. Timbunan tinggi sering mengalami longsor dan erosi berat. pasangan batu. Disarankan kemiringan tebing 1:1. Jalan Diperkeras dan Jalan Beraspal. A. maka permukaan jalan harus dibuat dengan : Kemiringan 2% . galian dan timbunan atau campuran tanah dengan bahan bangunan yang lebih baik (pasir. karena lereng yang semakin landai akan semakin stabil dan tanaman tidak bertumbuh dengan baik pada tebing yang hanipir vertikal. Jalan Tanah. untuk mengurangi longsor dan erosi. Tebing gundul perlu dilindungi dengan salali satu cara yang efektif dan efisien. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 7 . Umumnya untuk lalulintas kurang dari 50 kendaraan roda 4 perhari. agar dapat mengalirkan air dengan cepat ke saluran tepi jalan.1. disarankan perkerasan tidak dibuat di atas timbunan baru. Kemiringan tebing maksinial 2:1 dan dilindungi dengan cara yang efektif. Karena timbunan sulit dipadatkan secara padat karya. Jalan tanah sangat peka terhadap air. saluran samping dibuat di arah bukit. dan demi keselamatan. Jalan ini merupakan jalan yang paling sederhana. kapur/gamping dll). maka diatas badan jalan diberi lapisan perkerasan (Jalan Diperkeras dan Bagian . Bila perkerasan terpaksa harus dibuat di atas timbunan. ‰ Untuk dapat melindungi badan jalan dari pengaruh lalu lintas atau perubahan alam. yaitu Jalan Tanah.00 meter.Pada badan jalan di daerah bukit.50 meter. Tinggi pemotongan tebing maksimal disarankan 4. penamanan rumput atau perdu. bronjong kawat atau turap kayu. agar air tidak merembes dan dapat menahan beban kendaraan. Tanah hasil pemotongan harus dibuang secara aman untuk mencegah erosi dan longsor. b. Bentuk Badan Jalan di Daerah Curam Konstruksi jalan daerah perbukitan perlu perhatian khusus untuk menjamin stabilitas. 5. maka timbunan maksimal dibatasi 1. merupakan badan jalan tanah yang tidak diberikan lapis perkerasan sebagai penutup. ‰ Harus dipadatkan. saluran diversi. lapisan batu kosong.4% . antara lain: pembuatan teras.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 8 . Bagian . 2.Jalan Beraspal). Sebagai langkah terakhir dilakukan pemadatan dengan alat pemadat mesin gilas. terdiri atas pasir urug. agregat pengunci dengan ukuran 1 – 2 cm dan pasir penutup. bahan perkerasan Makadam terdiri atas agregat kasar/pokok ukuran 2-5cm. 3.1. material organik atau lainnya yang tidak dikehendaki dan harus dipadatkan sehingga dapat menghasilkan lapis permukaan yang kuat dan stabil. stamper atau timbris. Jalan Diperkeras biasanya untuk lalu lintas 50-100 kendaraan roda 4 perhari dan Jalan Beraspal untuk lalulintas lebih dari 100 kendaraan roda 4 perhari. Perkerasan batu belah (telford). batu pengisi dan batu tepi. Perkerasan Makadam Ikat Basah ini menggunakan agregat kasar dengan gradasi hampir seragam dengan ukuran butir 3-5 cm dengan dipasang setebal kurang lebih 3/2 dari ukuran butir batu pecah. rumput atau sampah dan kotoran lain. Batu belah yang dipergunakan diperoleh dan batu besar yang dibelah-belah. Adapun jenis lapis perkerasan yang umum dipergunakan dalam pembangunan jalan adalah : B. Badan jalan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum pasir dihamparkan. Perkerasan Telford harus bebas dari akar. dengan tangan. Ketebalan minimum perkerasan Sirtu ini adalah 12-20 cm dan dipadatkan dengan mesin gilas. dimana bahan perkerasan Sirtu terdiri dari campuran pasir batu yang langsung diambil dari alam (sungai) atau campuran antara kerikil ukuran 2–5cm dengan pasir urug. Batu belah disusun diatas alas pasir urug dengan ketebalan 10-15cm. Agregat (Kerikil) perkerasan sirtu ini harus bebas dari gumpalan lempung. dihamparkan pada permukaan jalan tanah yang telah padat. Perkerasan Sirtu/ Kerikil (pasir campur batu). Perkerasan Makadam Ikat Basah (Waterbound Macadam). batu belah. kemudian dipukul dengan palu. Diatas lapisan batu pecah ini dipasang batu pengunci berupa batu pecah dengan ukuraran antara 1-2 cm. Di atas batu belah kemudian diberi batu pengisi/batu pengunci berupa batu pecah dengan ukuran 5—7 cm. Jalan Diperkeras : 1. Tebal perkerasan + 20 cm. sehingga mempunyai permukaan banyak dan kasar dengan tinggi 15-20 cm. bagian tumpul di bawah dan yang runcing di atas. stemper atau timbris. Sebelum pasir urug dihamparkan terlebih dahulu dipasang Batu Pinggir yang ukurannya lebih besar dan lebih tinggi dari batu belah. kemudian dilakukan pemadatan dengan mesin gilas. Batu belah dipasang tegak.

Tebal paving blok sekitar 6-10cm. sampah dan bahan kotoran. pada bagian sisi/pinggir perkerasannya diberikan beton pembatas. 5. Adukan beton kemudian dituangkan ke dalam cetakan dan dipadatkan dengan alat penggetar atau ditusuk-tusuk dengan kayu. Mutu blok beton kelas I/II. Susunan blok beton yang memilki penguncian paling baik adalah pola Tulangan Ikan (TI : 90/45 derajat) dan bentuk blok beton tipe A dan tipe C. dibuat dari bahan semen pasir dan kerikil dengan perbandingan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 kerilil/batu pecah atau beton tumbuk campuran 1 semen : 3 pasir : 5 kerikil/batu pecah ditambah Air secukupnya. lembek.37. mudah pecah. Perkerasan ini dipergunakan untuk jalan lingkungan/ permukiman atau di daerah yang tanah dasarnya labil. Setiap 2 meter memanjang diberi pemisah selebar 1cm untuk membatasi retak memanjang beton. Untuk membuat lapisan beton. kemudian diratakan. Paving blok diletakan diatas lapis pondasi jalan yang terlebih dahulu dihamparkan pasir urug setebal 6-10cm. lapis perkerasan dari blok beton/paving blok dengan bahan pengisi celah/pengunci antar blok beton dari pasir. Jalan Paving Blok/Beton Terkunci. Setiap 1 meter memanjang dibuat alur lebar 1cm dan dalam 2cm.4.1. Pemberian air untuk campuran beton tumbuk ini secukupnya saja.35 MPA. fc’= 27. Pemakaian jalan pada perkerasan beton ini baru dapat dilakukan paling cepat setelah 7 hari terhitung dari selesainya pengecoran beton. sebelumnya dipasang cetakan untuk membatasi lebar dan ketebalan yang diinginkan. Material pasir dan batu pecah yang dipergunakan untuk perkerasan beton ini harus bersih dari tanah lempung. pada turunan/tanjakan dan diatas singkapan batu. Jalan dengan paving blok dapat digunakan didaerah lingkungan/permukiman. Bagian . Tebal konstruksi perkerasan beton ini kurang lebih 10 cm. kerikil atau batu pecah harus dipilih yang keras. Perkerasan Beton. Permukaan dibuat kasar dengan menggunakan sapu lidi ke arah menyamping. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 9 .

merupakan hasil penyiraman/penyomprotan aspal diatas permukaan jalan. dimana bahan perkerasan terdiri dari susunan batu pokok (3-5cm). bahan pelunak/peremaja dan aspal buton yang dicampur secara dingin sebagai pengikat dan dipadatkan sebagai lapis penutup. dengan lebar minimal 50 cm. Bahu jalan tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan jalan. Bagian . Bahu Jalan Bahu jalan berfungsi sebagai pelindung perkerasan jalan dan sebagai perantara aliran air hujan yang ada di permukaan jalan menuju saluran tepi jalan. ¾ Ukuran paving blok lebih terjamin. ¾ Memperindah lapis permukaan tanah/lingkungan. Adapun persyaratan teknis untuk bahu jalan. khususnya pada tanah yang miring. Lebar standar 1. sebagai berikut : ¾ Bahu jalan dibuat disebelah kiri dan sebelah kanan sepanjang jalan. terutama karena bermanfaat : ¾ Mudah dalam pemasangan dan pemeliharaannya. dimana bahan perkerasan terdiri dari campuran agregat kasar (batu 3-5cm). Jalan Beraspal : 6.6 cm per 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 10 . Lapis Permukaan Buras (Pelaburan Aspal). batu pengunci (1-2cm) dan batu penutup (pasir) dan campuran aspal panas sebagai pengikat diantara tiap lapisan dan dipadatkan sebagai lapis penutup.0 meter lari). dapat diproduksi baik secara mekanis maupun manual. ¾ Mengurangi kecepatan erosi tanah. Peningkatan jalan Diperkeras yang telah ada. ¾ Mudah ketersediaannya. ¾ Mengurangi kecepatan pengaliran air permukaan.6 % (sama dengan turun 4 . Bahu jalan juga berfungsi sebagai tempat pemberhentian sementara bagi kendaraan. ¾ Tidak mudah rusak oleh perubahan cuaca. C. Lapis Asbuton Agregat (Lasbutag). 7. ¾ Bahu jalan dibuat dengan kemiringan sedikit lebih miring dari pada kemiringan permukaan jalan.Penggunaan paving blok ini sudah dijumpai secara luas. 6. Lapis Penetrasi (Lapen). ¾ Antislip bagi kendaraan.0 m. 8. Lingkup pekerjaan Pembangunan Jalan Beraspal dibatasi dengan prioritas (1).1. agregat halus (batu 2-3cm). ¾ Celah-celah antara paving blok dapat mengalirkan air hujan/air permukaan kedalam tanah sehingga menjaga keseimbangan air tanah. biasanya 4 . kemudian ditabur dengan pasir dan dipadatkan sebagai lapis penutup. Perbaikan jalan beraspal yang telah ada (2). demi kelancaran pembuangan air hujan.

Tanah yang terlalu kering memerlukan tenaga jauh lebih banyak untuk dipadatkan. Perbaikan kerusakan akibat masalah di atas cukup mahal dan sulit. atau timbris. Drainase Air adalah musuh yang paling besar. maka badan jalan harus diadakan perkuatan. tetapi kalau digenggam tidak ada air mengalir keluar. dimulai sekitar 20 cm dari pinggir. stemper. Pemadatan secara padat karya dilaksanakan dengan timbris. ¾ Tanah pada bahu jalan harus dipadatkan. semua daerah timbunan harus dipadatkan dengan mesin gilas. Pemadatan harus secara lapis demi lapis. dengan setiap lapis maksimum 20 cm. Di tempat lain. Di tempat tertentu. Pertimbangan yang paling sederhana adalah sebagai berikut : Bagian . Rumput tersebut akan membantu stabilitas pinggir jalan. Pemadatan Tanah Tanah pada bagian galian tidak perlu di padatkan lagi kecuali pernah mengalami gangguan yang mengakibatkan tanah menjadi kurang padat. Sebelum kegiatan pemasangan perkerasan jalan. Kadar optimal adalah sedikit basah. Pemadatan secara mesin dapat dilaksanakan dengan stemper atau dengan mesin gilas yang berukuran 4-6 ton. misalnya dengan cerucuk kayu atau stabilisasi misalnya dengan semen/kapur. tetapi masalah seperti ini dapat dihindari apabila masalah drainase dipertimbangkan pada waktu prasurvai. ¾ Penanaman perdu atau pohon diharapkan diluar bahu jalan (luar saluran. Kadar air harus optimal sebelum dipadatkan. tetapi tidak boleh terlalu dekat dengan jalan. bagian dalam kurang padat. 8. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 11 . ¾ Ada baiknya kalau rumput ditanam di sebelah luar bahu jalan.1. Bila dipadatkan dengan lapisan lebih tebal. tidak akan ada masalah drainase. Jalan menjadi bergelombang apabila pondasi jalan tidak kering. bila ada). Jalan menjadi jelek jika badan jalan tidak cepat kering sehabis hujan. Mesin gilas dua ton yang bergetaran dianggap sama dengan mesin gilas 4-6 ton. Tanaman tersebut akan membantu stabilitas timbunan baru. Tanah biasa yang terlalu basah tidak dapat dipadatkan. Pemadatan ini sangat membantu menjaga stabillitas dan daya tahan badan jalan. Jalan menjadi terputus apabila air dibiarkan melintasi permukaan jalan. jalan hampir pasti mengalami masalah berat. tetapi harus dipangkas secara rutin supaya tidak terlalu tinggi. Jalan yang tidak dipadatkan juga mudah terkikis oleh pengaliran air. Jalan menjadi rusak apabila air dibiarkan mengalir ditengah jalan. dan mudah terkena erosi dan longsor. Mesin gilas 6-8 ton dapat digunakan apabila dapat masuk kelokasi. Untuk daerah dimana tanah dasarnya jelek. 7.¾ Bahan untuk bahu seharusnya terdiri dari tanah yang dapat meresap air sehingga pondasi jalan dapat dikeringkan melalui proses perembesan.

Jenis perlindungan dipilih setelah dipertimbangkan: 1) kemiringan saluran dan kecepatan air. 3) perubahan arah pengaliran pada belokan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 12 . tidak perlu saluran sama sekali. Pada keadaan biasa. Jenis perlindungan terdiri dari rumput (gebalan). Ketinggian dasar saluran harus lebih rendah daripada lapisan pasir yang ada di bawah batu perkerasan. tidak perlu saluran di sebelah bawah. setiap saluran harus berukuran minimum 50 cm (h/dalam) x 30 cm (b/lebar dasar) x (B/lebar atas 50 cm). • Jalan dibuat di lereng bukit. Kecepatan tinggi menyebabkan erosi tanah. dengan bentuk trapesium. maka perlu terjunan atau pasangan apabila terlalu cepat. dengan biaya konstruksi yang lebih besar. Saluran yang peka erosi perlu dilindungi. selokan pinggir jalan.Jalan yang dapat mengikuti punggung bukit tidak akan mengalami masalah drainase. kecuali: • Jalan dibuat di punggung bukit. terpaksa harus ada galian dan timbunan tanah. karena air tidak akan mengalir sama sekali. Jalan yang dibuat pada lereng bukit. Saluran tidak diperlukan apabila terdapat kemiringan tanah asli lebih dari 1 % yang membawa air ke arah luar dari jalan. Ukuran saluran dan perlindungan saluran minimum adalah 50 (dalam) x 30 cm (lebar dasar) dengan bentuk trapesium. talud. karena air tidak perlu melintangi jalan. turap. demi kelancaran proses perembesan dan pengeringan. Tujuan untuk perlindungan saluran adalah untuk mengurangi erosi tanah pada saluran supaya saluran tetap berfungsi dan jalan tidak terkikis. dan dasar saluran harus dibuat dengan kemiringan sangat rendah untuk mengendalikan kecepatan aliran. Bronjong dapat digunakan terutama pada tikungan di tanah yang sangat peka terhadap erosi. Saluran dibuat lebih besar apabila diperkiraan debit air yang harus dibuang sangat besar. 2) jenis tanah (harus yaug peka terhadap erosi). Kemungkinannya jalan tidak bisa dikeringkan. Kemungkinan terkena erosi dan longsor lebih besar Jalan yang dibuat pada daerah cekungan harus dihindari. Saluran dibuat sejajar dengan jalan. Tidak benar jika dasar saluran datar.1. Keadaan seperti ini harus dihindari karena masalah drainase (pembuangan) air. a). batu kosong. Bagian . Saluran Samping Saluran samping diperlukan di sebelah kiri dan kanan badan jalan. dan 4) debit air. gorong gorong dan sebagainya. Perlindungan terdiri dari penguatan talud dan dasar saluran serta pemberian bangunan drop struktur. atau pasangan.

dan dapat dibuat dari bahan beton. ¾ Di mana saluran samping memotong jalan lain pada persimpangan ¾ Di daerah perbukitan. Ukuran gorong-gorong tergantung debit air yang akan mengalir. Gorong-gorong diperlukan: ¾ Di mana sungai kecil atau saluran irigasi melewati jalan. dan air harus melewati jalan untuk dibuang. setiap tempat terendah pada profil jalan.gorong mengikuti garis aliran yang alamiah.d. Untuk mengurangi aliran alamiah diganggu. ¾ Di mana kapasitas saluran samping kurang mampu mengalirkan volume air yang diperkirakan. Luas lahan yang dapat dikeringkan goronggorong pipa beton dan gorong-gorong persegi beton diperkirakan sebagai berikut : Jenis gorong-gorong yang layak untuk jalan desa/kelurahan adalah gorong-gorong: 1) Pipa beton (bulat). kayu dan sebagainya. Jika garis alamiah tidak diikuti. Kebutuhan ini dapat dilihat pada gambar ini: Dasar gorong-gorong dibuat dengan kemiringan 2 % untuk memperlancar aliran air. Batu.b). dengan ukuran garis tengah 40 cm s. baik didenah maupun di profil kedua ujung gorong . pas. 80 cm. saluran dan bak harus dilindungi. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 13 .1. Bagian . Gorong-gorong Gorong-gorong adalah jenis bangunan pelengkap jalan yang berfungsi untuk mengalirkan air yang harus lewat di bawah jalan.

Di bawah ini dibahas jenis-jenis perlindungan yang dapat diterapkan pada tebing.00 m. atau saluran pinggir jalan yang tidak dapat diteruskan. supaya air tidak terbuang melalui tebing. asal lahan dapat dikorbankan untuk membentuk teras dan jenis tanah dapat dibentuk dengan stabil. Saluran pembuangan disesuaikan dengan debit air yang terbesar. dengan dimensi lebar minimal 0.2) Plat beton. Pembuangan tersebut dapat melalui sebuah saluran baru khusus untuk pembuangan. Perlindungan Tebing Tebing merupakan bagian yang sering menjadi masalah karena longsoran atau erosi tanah. terjunan.60 m (untuk kemudahan pemeliharaan). Pembuangan air dengan aman tetap menjadi tanggung jawab perencana jalan. misalnya dibuat saluran diversi. Pembuangan yang aman adalah pembuangan yang mengantarkan aliran air ke sungai atau ke saluran yang mampu mengalirkan volume air tanpa merusak lingkungannya. Setiap 10 meter lari. Saluran tersebut berhenti pada sungai atau saluran besar yang sudah ada.60 m. Saluran pembuangan harus dilindungi seperti saluran-saluran yang lain. dan tinggi minimal 0. lebar maksimal 1. diteras. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperbaiki stabilitas tebing. yang dibuat dengan fondasi dari pasangan batu dan lantai dari beton bertulang. dan ditanami rumput. dengan kemiringan maksimal 2%). 1) Saluran diversi digunakan untuk menangkap air yang mengalir dari lereng di atas menuju tebing. saluran pinggir jalan yang sudah melebihi kapasitasnya. panjangnya menurut kebutuhan setempat. Teras dibuat sejajar dengan kontur (hampir datar. terutama lahan petani atau rumah penduduk. demi kelancaran pengaliran air dan untuk mencegah erosi. dan penerjunan harus diperkuat seperti bangunan terjun Bagian . Pembuangan air dari semua saluran dan gorong-gorong harus aman dan dipikirkan untuk mencegah kerusakan akibat pengaliran air yang tidak terkendali. air diterjunkan dari saluran teras ke bawah. seperti yang digambar di bawah ini: Tiap gorong-gorong dilengkapi bak penampungan air dan bak pembuangan di ujungnya. Cara tersebut dapat digunakan secara tunggal atau gabungan. 2) Teras bangku sangat layak untuk tebing. Gorong-gorong plat beton lebih layak di mana buis beton tidak dapat ditanam cukup dalam.1.00 meter. rumput. atau kayu harus ditanam supaya ada lapisan tanah di atasnya minimal 30 cm atau setengah ukuran garis tengahnya. berukuran sisi antara 60 cm sampai 1. dengan diberi pasangan batu. dan sebagainya untuk mencegah erosi dasar dan talud saluran. dengan ukuran minimal sama dengan ukuran saluran pinggir jalan yang standar (50 x 30 cm). Air saluran diversi harus dibuang ke tempat yang lebih aman. Tidak dibatasi panjang saluran pembuangan. Saluran pembuangan dimulai dari gorong-gorong. c). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 14 . 3) Gorong-gorong persegi kayu. Gorong-gorong pipa beton.

0 hingga 1. Bahan bambu harus yang sudah tua. peralatan. Konstruksinya sederhana. JEMBATAN Jembatan adalah suatu bangunan konstruksi di atas sungai atau jurang yang digunakan sebagai prasarana lalu lintas darat. 6) Turap kayu/bambu. Tujuan dari pembangunan jembatan di sini adalah untuk sarana penghubung pejalan kaki atau lalu-lintas kendaraan ringan. serta dan ukuran 12-15 cm. beruas pendek dan hanya diambil bagian pangkalnya saja. Penanaman bahan-bahan vegetatif untuk menstabilkan lereng atau mengurangi erosi (murah dan mudah sekaligus memiliki fungsi estetika). 3) Talud batu kosong dapat disusun pada tebing. Supaya posisi bronjong stabil dan tidak lari. sebab umumnya merupakan bahan lokal. tetapi relatif mahal.00m. karena pasangan batu tidak fleksibel sama sekali. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 15 . relatif murah. tetapi sebelumnya tebing harus dikepras supaya tidak tegak lurus. dasar bronjong yang paling bawah didukung dengan tiang pancang. Teras dibuat dengan lebar minimal 50 cm dan tinggi maksimal 1.1. Bronjong dibuat lapis demi lapis dan disambung. dengan mempertimbangkan sumberdaya setempat (tenaga kerja.00 meter. dengan jarak setiap tiang pancang 1-114 m. teknologi) sehingga mampu dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Ujung suling harus diberi saringan kecil dari ijuk. material.5m dengan jarak tiang 0. Bahan kayu bisa berupa balok atau persegi. Aliran air permukaan harus dialihkan dari talud batu kosong melalui saluran diversi. Bagian . dengan tinggi 1. 7) Perlakuan Vegetatif.75 1. serta dipancang sampai lapisan tanah keras. Setiap lapis (baris) harus dibuat datar (sama tingginya). 2.yang lain. 5) Bronjong adalah cara yang kuat dan cukup fleksibel. TPI. dll) ke outlet (jalan poros desa/kelurahan/jalan dengan fungsi yang lebih tinggi/dermaga). Turap ini bisa dibuat pada posisi tegak. 9 Jembatan pada jalan desa/kelurahan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi (seperti pasar. 4) Talud pasangan batu relatif kuat. tetapi relatif mahal. Ukuran bawah pasangan batu harus disesuaikan dengan kondisi tanah setempat. Jembatan yang dibangun dalam program ini adalah jembatan yang melengkapi system lalulintas ekonomi dan transportasi masyarakat : 9 Jembatan pada jalan desa/kelurahan yang menghubungkan desa/kelurahan dengan wilayah desa/kelurahan lain sebagai prasarana perhubungan ekonomi dan sosial masyarakat. Pasangan batu harus dibuatkan sulingan untuk membuang air tanah dari belakang tembok. Pasangan batu harus dibuat dengan pondasi yang kuat.

Pemilihan lokasi mempertimbangkan kebutuhan transportasi. 60 m ¾ Untuk bentang yang lebih besar maka desain konstruksi harus mendapat persetujuan Tenaga Ahli/Konsultan dan Dinas Teknis/PU setempat. alinemen horisontal dan vertikal.5m ringan (as tunggal 5 ton) .Panjang Bentang maks. Perencanaan yang kurang tepat terhadap kapasitas lalu lintas harus dihindari. penerangan. seperti sandaran. balok jembatan. ¾ Pendetailan struktur atas. 1). produksi. Puslitbang Jalan. perkebunan. Pembangunan jembatan baik berupa pembangunan baru. PU Tahun 1996 . 3.5m (lantai kayu) ringan (as tunggal 5 ton) .Pejalan Kaki . pusat kegiatan ekonomi. persyaratan teknis dan estetika-arsitektural. Persyaratan teknis yang perlu dipertimbangkan.9 Jembatan pada jalan desa/jalan lingkungan yang menghubungkan RW/dusun/perkampungan dengan pusat pemerintahan.Kendaraan roda 2 . Bagian . 9 Jembatan pada jalan desa/jalan lingkungan yang menghubungkan desa/kelurahan dengan pusat kegiatan produksi (seperti pertanian. 6 m Jembatan Gantung .Lebar maks. 6m (dapat 12m dgn pilar ditengah) Jembatan Gelagar Besi Kendaraan roda 4 beban . ¾ Penentuan panjang bentang optimum sesuai syarat teknik. arsitektur dan biaya. Selain karena hal itu akan mempengaruhi lebar jembatan juga pemilihan type/jenis konstruksi jembatannya. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 16 . dll). Jembatan Beton dan Jembatan Gantung hendaknya mempertimbangkan kriteria-kriteria.Lebar maks.Panjang Bentang maks. 12 m Jembatan Beton Kendaraan roda 4 beban . peningkatan atau rehabilitasi Jembatan Kayu. Pertimbangan aspek transportasi berkaitan dengan kelancaran arus lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki.Dep. sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Penentuan bentangnya dipilih yang sangat layak dari beberapa lokasi yang telah diusulkan.Lebar maks. lantai. 3.5m . ¾ Pemilihan elemen-elemen struktur atas dan struktur bawah. 3. Standar teknis jembatan mengacu pada Pedoman Sederhana Pembangunan Jalan dan Jembatan Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan. perletakan.5m ringan (as tunggal 5 ton) .Panjang Bentang maks.1. ¾ Pemilihan sistem utama jembatan dan posisi lantai/dek. Jembatan Gelagar Besi. ¾ Pemilihan bahan yang paling tepat untuk struktur jembatan berdasarkan pertimbangan struktural dan estetika. terutama tipe pilar dan pondasi/abutmen. karena jembatan dibangun pada jalan yang menghubungkan pusat kegiatan perekonomian masyarakat maka mungkin lebih diperlukan adalah jembatan beton bukan jembatan kayu karena pertimbangan perkembangan lalu lintas kedepan.Lebar maks. pemilihan Jenis Konstruksi Jembatan berikut. 1. outlet. Sebagai misal. antara lain : ¾ Penentuan geometri struktur. Pemilihan Lokasi & Layout Jembatan Panjang pendek bentang jembatan akan disesuaikan dengan lokasi setempat. Tabel Alternatif Pemilihan Jenis Konstruksi Jembatan Jenis Konstruksi Fungsi Ukuran Konstruksi Jembatan Kayu Kendaraan roda 4 beban .Panjang Bentang maks.

Ruang bebas untuk lalu lintas air dibawah jembatan harus disediakan sesuai kebutuhan lalu lintas yang bersangkutan (misalnya untuk lalu lintas perahu. misalnya keadaan lereng. pondasi dapat dibuat sehemat mungkin.0 m 1. Bangunan Bawah Jembatan Bagian jembatan yang berfungsi memikul bangunan atas jembatan dan meneruskannya ketanah.6 m 1. 2). tinggi bebas minimum terhadap banjir 50 tahunan direncanakan sebagai berikut : Kondisi Daerah Datar Daerah Perbukitan Irigasi Sifat Aliran Air/Sungai Tenang Deras Tenang Deras Tenang Tinggi Jagaan dari Muka Air Banjir (MAB) 0. dll. situasi geografis & geologi ketersediaan bahan. Pembebanan Jembatan sederhana untuk lalu lintas ringan volume rendah direncanakan dengan pembebanan : beban merata 300 kg/m2 dan beban kendaraan ringan roda 4 : as depan 1. singkapan batu. dsb). selanjutnya dilakukan penyelidikan/survey lokasi : Untuk mengetahui kondisi fisik lokasi.5 m 0.Aspek estetika (pandangan yang sesuai dan harmonis dengan lokasi) jembatan merupakan salah satu faktor penting pula dipertimbangkan dalam perencanaan. seperti : kepala jembatan. terutama jembatan yang berada ditengah-tengah kelurahan/desa. pada tebing sungai yang tidak terlalu tinggi Pada sungai yang lurus Pada tanah keras Setelah dilakukan layout. tanah lunak. Syarat minimum ruang bebas 1). 3). pada umumnya berada di dalam tanah. termasuk titik-titik pilar pada potongan melintang sungai. Pertimbangan layout jembatan terhadap topografi setempat : tempat yang ideal untuk memungkinkan bentang jembatan sangat pendek.5 ton & as belakang 3. Kesesuaian estetika dan arsitektural akan memberikan nilai lebih kepada jembatan yang dibangun. Posisi jembatan tidak berada di tanjakan/turunan jalan dan tikungan sungai.5 ton. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 17 .5 m 2). 4). kondisi lapangan yang kurang menguntungkan seperti daerah patahan geologi. alat dan transportasi kelokasi. Tinggi Jagaan minimum.1.0 m 1. pilar. Untuk mengetahui kondisi pondasi setempat. pondasi Bagian .

9 Kayu yang digunakan harus kayu mutu klas kuat I. dipancangkan dengan cara dipukul dengan palu beton berat 80-100kg (ukuran 30x30x50cm). Jika tanahnya lembek/gambut. Pemukulan tiang pancang dengan gravitasi : 9 Ujung tiang pancang kayu diruncingkan dan diberi sepatu (kepala tiang pancang).dan sayap jembatan. 9 Penghentian pemancangan apabila pada 10 kali pemukulan terakhir dengan tinggi jatuh 100cm. 6m 9 Rumus Engineering News. 18 Bagian . kecuali jika tanahnya lembek/gambut menggunakan tiang pancang kayu. dengan tinggi jatuh 50-100cm. kemudian diklem dengan plat besi 3cmx0. Pondasi Langsung Pasangan Batu Kali b. 9 Penyambungan tiang pancang dengan cara sambungan lidah (memotong kedua ujung tiang pada ujungnya setebal ½ tebal tiang dengan panjang sambungan 3kali tebal tiang). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana .1. a. jumlah penurunan kumulatif 5cm. diameter 24cm s/d 34cm 9 Kedalaman pancang yang disyaratkan minimal 3 m dan maks. pondasi jembatan kayu dapat menggunakan tiang pancang kayu.3cm dan diikat dengan kawat dia. Jembatan untuk kendaraan beban ringan umumnya menggunakan pondasi langsung. Pondasi Tiang Pancang Kayu untuk tanah lembek/gambut. Pondasi Langsung Kayu c.3mm atau diperkuat dengan paku. Ukuran kayu : o Ukuran balok kayu persegi 15 x 15 cm s/d 30 x 30 cm o Ukuran kayu gelondongan/bulat.

seperti meranti merah. perletakan. Bangunan Atas Jembatan Bangunan jembatan yang langsung memikul beban lalulintas. seperti : lantai. sedangkan bangunan bawah bisa pondasi langsung kayu. misalnya pada sambungan cukup dengan menggunakan bor. pada umumnya berada diatas permukaan tanah. ¾ Lantai kayu dapat dipasang tanpa menggunakan besi beton dan begesting sehingga menghemat biaya. balok jembatan. Kayu yang digunakan untuk konstruksi harus dari kayu kualitas baik. kruing. rasamala atau kayu lokal yang kualitasnya sesuai persyaratan. Panjang bentang maksimum 6 meter (untuk satu bentang) dan lokasi memungkinkan dapat dibuat lebih dari satu bentang dengan menambah pondasi pilar ditengah.1. ¾ Kayu tidak mudah dipengaruhi oleh korosi seperti baja/besi dan beton. biaya transportasi dan konstruksi lebih murah. a). Jembatan Kayu Konstruksi bangunan atas terdiri dari gelagar kayu dengan lantai kayu. sandaran. dan dapat dikerjakan dengan peralatan yang sederhana.9 Diatas tiang dipasang balok kayu 30x30cm yang menghubungkan 2 tiang pancang dengan cara diklem dengan plat atau menggunakan paku pengapit dari besi beton 6mm. pasangan batu atau tiang pancang kayu. Bagian . 5). minimal kayu klas 2. ¾ Pekerjaan-pekerjaan detail dapat dikerjakan tanpa memerlukan peralatan khusus dan tenaga ahli tinggi. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 19 . Kayu mempunyai beberapa keuntungan : ¾ Kayu relatif ringan.

Kerugiannya antara lain : ¾ Relatif mudah rusak oleh perubahan cuaca. papan 4/30 cm sepanjang jembatan. 20 Bagian .¾ Kayu merupakan bahan yang sangat estetik. pelapukan dan mudah ditumbuhi lumut/jamur sehingga kebutuhan pemeliharaan lebih sering dilakukan. Oprit pada pangkal jembatan menggunakan tanah pilihan/sirtu dipadatkan. ¾ Kayu menjadi terbatas terutama karena panjangnya terbatas sehingga lebih cocok hanya untuk jembatan dengan bentang pendek. bila didesain dengan benar dan dipadukan dengan lingkungan sekitar. Lintasan Roda Kendaraan. akan cenderung mendorong masyarakat untuk menggunakan kayu yang tersedia disekitar (local) meskipun kualitas rendah (pengawasan kualitas bahan harus lebih tinggi). biaya pemeliharaan cukup tinggi disbanding beton/baja. ¾ Ukuran kayu gelagar yang digunakan tidak umum tersedia dipasaran (pesanan khusus) sehingga menjadi sulit tersedia dan biaya lebih tinggi terutama pada daerah perkotaan/daerah tidak memiliki kayu. bila lebih panjang harus menambah pilar jembatan (biaya mahal). Sandaran kayu Kaso 5/7 cm dipaku pada balok tepi. Tabel Dimensi Gelagar Kayu untuk Jembatan Kayu Lalulintas Ringan ¾ ¾ ¾ ¾ Kayu papan lantai ukuran 8/25 cm. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana .1. ¾ Lemahnya pengetahuan mutu kayu yang baik.

¾ Besi gelagar yang digunakan adalah besi profil I. ¾ Gelagar Besi tersedia dengan ukuran yang lebih panjang dari kayu sehingga dapat dibangun untuk bentang yang lebih panjang tanpa pilar (tiang tengah). ¾ Lantai kayu dapat dipasang tanpa menggunakan besi beton dan begesting sehingga menghemat biaya.40.10mm ¾ Oprit pada pangkal jembatan menggunakan tanah pilihan/sirtu dipadatkan.1. Jembatan Gelagar Besi Konstruksi bangunan atas adalah gelagar besi. diantaranya : Beberapa keuntungan : ¾ Gelagar besi memberikan kekuatan yang lebih besar dan masa pakai yang lebih lama dibandingkan kayu. L. lantai kayu sedangkan bangunan bawah adalah pondasi langsung pasangan batu.60.70. ¾ Biaya gelagar besi lebih mahal dibandingkan beton dan kayu. ¾ Gelagar besi memberikan masa pakai yang relative lebih lama dibandingkan kayu (pemeliharaan lebih ringan dari gelagar kayu).150.7.90.b). ¾ Besi dipengaruhi oleh korosi sehingga pada daerah tertentu perlu antisipasi/pemeliharaan khusus untuk hal ini. ¾ Panjang bentang adalah 6m s/d 15m ¾ Konstruksi jembatan gelagar besi dengan dua perletakan sistem simple beam.70. Tabel Dimensi Gelagar Kayu untuk Jembatan Kayu Lalulintas Ringan ¾ Penyambungan/ikatan antara gelagar besi dengan balok lantai menggunakan baut dengan plat siku pengaku dan tidak melubangi sayap besi gelagar karena akan mengurangi kekuatan strukturnya. pengikatan dengan 2 baut sekrup diameter 10mm dan plat pengapit kegelagar jembatan. ¾ Ketersediaan dipasaran. penghematan biaya pondasi. biaya mahal dan sulit dibangun. Bagian . biaya dan pengawasan tinggi. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 21 . Beberapa Kerugian : ¾ Gelagar besi cukup berat dan panjang sehingga memerlukan alat angkut khusus dan ketersediaan jalan kelokasi yang cukup (biaya transport mahal bahkan mungkin sulit didatangkan kelokasi yang terpencil). ¾ Lintasan Roda Kendaraan. ¾ Sandaran Besi L.5. L. khusus didaerah luar jawa masih terbatas. ¾ Pekerjaan konstruksi cukup berat sehingga memerlukan peralatan/tenaga khusus untuk pemasangan dilapangan. papan 4/30 cm sepanjang jembatan. ¾ Pekerjaan-pekerjaan detail dikerjakan memerlukan peralatan khusus dan tenaga ahli misalnya pada sambungan dengan pengelasan. Penggunaan jembatan gelagar besi mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian dibandingkan jembatan kayu. ¾ Kayu papan lantai ukuran 8/25 cm.

Bangunan atas jembatan beton adalah : Balok. lantai.1. Bentuk umum yang masih cukup sederhana dan ekonomis dari jembatan beton bertulang ini adalah type slab dan type balok-T cor ditempat dengan bentang 6-8m. diantaranya : Beberapa keuntungan : ¾ Lantai dan gelagar beton bertulang yang menyatu memberikan kekuatan yang lebih besar dan masa pakai yang lebih lama dibandingkan gelagar/lantai kayu. kabel utama. minimum mutu beton K-225. ¾ Perlu pengawasan intensif selama pelaksanaan dilapangan sehingga terjamin kualitasnya. ¾ Memerlukan perancah untuk bisa mengerjakan beton sehingga ada biaya tambahan untuk pekerjaan beton. ¾ Kebutuhan pemeliharaan seharusnya lebih ringan. Beberapa Kerugian : ¾ Perencana desain dan pelaksanaan (pengawasan) memerlukan tenaga ahli/berpengalaman dimana terbatas didaerah setempat. maka lebih berbahaya. sandaran. ¾ Masyarakat mendapat keterampilan baru. Panjang jembatan gantung disini adalah 15-60m dengan perbedaan panjang kelipatan 5 m. maka perlu pondasi yang terjamin kuat (struktur dan tanahnya).25m. kerb dan perletakan yang semuanya terbuat dari beton bertulang dengan mutu beton struktur. d). terutama untuk bentang yang lebih besar/panjang. sangat beresiko kegagalan.20m. seperti paket 10m. Lebar jembatan 1. material dan tenaga kerja relative mudah diperoleh didaerah setempat. Jembatan Gantung Konstruksi bangunan atas jembatan gantung berupa : tiang pilon/menara. ¾ Besi/Beton dipengaruhi oleh korosi sehingga pada daerah tertentu perlu antisipasi/pemeliharaan khusus untuk hal ini. ¾ Harga tidak terlalu jauh berbeda dengan kayu dan lebih murah dari gelagar besi. Jembatan Beton Untuk desain dan konstruksi jembatan beton dapat mengacu pada standar Bina Marga untuk jalan/jembatan kabupaten. Sedangkan bangunan bawah berupa pondasi dari pasangan batu/beton. ¾ Sangat peka terhadap penurunan pondasi. kabel penggantung dengan lantai dan pagar pengaman/sandaran. Sedangkan pondasinya adalah pondasi pasangan batu (meskipun juga dapat digunakan beton bertulang). ¾ Perlu keterampilan dan ketelitian tenaga kerja. Penggunaan jembatan beton mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian dibandingkan jembatan kayu dan jembatan gelagar baja.15m. khususnya pekerjaan beton dan pembesian agar menjamin kualitas. Konstruksi jembatan gantung lebih cocok untuk bentang yang panjang dengan dasar sungai yang dalam. Kerusakan sulit diketahui sampai dengan jembatan ambruk. ¾ Tanpa pengawasan yang tinggi. Bagian . yaitu cara menggunakan bahan beton.c). ¾ Lebih sulit dipelihara bila ada kerusakan. Pada lokasi tebing yang tingginya tidak sama. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 22 .5m. kabel pengaku. ¾ Dapat dibangun dilokasi yang tidak tersedia kayu dan pengangkutan gelagar besi sulit. penentuan bentang jembatan diusahakan agar kemiringan bentang utama jembatan maksimum 1:20.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 23 .Bagian .1.

. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 24 .1. Bagian .

Terdapat 2 tipe tambatan perahu : 1.1. Sedangkan dari konstruksinya dibedakan atas : Bagian . dibangun searah tepi sungai atau pantai. dibangun menjalar ketengah. TAMBATAN PERAHU Yang dimaksud dengan tambatan perahu adalah tempat untuk mengikat/ menambat perahu-perahu saat berlabuh. digunakan apabila dasar tepi sungai atau pantai cukup dalam. 2. digunakan apabila dasar sungai atau pantai cukup landai. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 25 . Tambatan dermaga. Tambatan tepi.3.

75 meter 2. Persyaratan teknis tambatan perahu : ‰ ‰ Tambatan yang digunakan untuk perahu berukuran maksimum panjang 16m. dimana perbedaan muka air pasang dan surut cukup besar. 3. Tipe ini cocok untuk daerah hulu sungai. 5. Landai Landai Curam Curam Kurang dari 2 meter Lebih dari 2 meter Kurang dari 2 meter Lebih dari 2 meter Tambatan Dermaga berlantai Satu Tambatan Dermaga berlantai Dua Tambatan Tepi berlantai Satu Tambatan Tepi berlantai Dua ‰ ‰ Kekuatan standar untuk tambatan perahu pada beban lantai maksimum 300kg/m2. bobot mati perahu 2 ton. 00 meter 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . 50 meter 2. ƒ Sekitar lokasi harus bersih.1. baik sudah ada maupun yang akan direncanakan akan dibangun. lebar 3m. dermaga bongkar muat.Æ type 1 lantai. seperti : TPI. Jenis kayu yang yang digunakan untuk tambatan perahu adalah kayu kuat kelas I dan kayu awet kelas I. Æ type 2 lantai. 00 meter 1. 50 meter 2. karena dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Tiang 2. Ukuran-ukuran bagian konstruksi tambatan perahu : No Jenis Konstruksi Ukuran (cm) Jarak antara maksimal 1. Kriteria pemilihan jenis konstruksi tambatan perahu No Bentuk Tepi Pantai/Sungai Perbedaan Muka Air Pasang Surut (MAP) Jenis Konstruksi 1. 2. 00 meter Rapat Rapat 26 Bagian . dimana perbedaan muka air pasang dan surut tidak terlalu besar. Kriteria yang perlu diperhatikan dalam penempatan/pemilihan lokasi tambatan perahu : ƒ Sedapat mungkin ditempat yang strategis sehingga sehingga warga pengguna mempunya jarak pencapaian yang relatif sama. ƒ Pada lalu linta sungai yang padat dan sempit tidak menggunakan tipe tambatan dermaga. ƒ Lokasi untuk penempatan bahan bangunan. ƒ Lalulintas perahu dan kegiatan berada disekitar tamabatan perahu. tempat parkir. ƒ Tidak pada pantai yang ombaknya cukup besar (pantai dengan tinggi gelombang maksimum 40 cm). tempat kerja dan tambatan perahu harus tersedia. 00 meter 1. 3. 50 meter 1. 4. 4. 00 meter 1. Tipe ini cocok untuk daerah hilir sungai. Perencanaan tambatan perahu haruslah merupakan bagian kelengkapan sistem pelayanan masyarakat. Sekur (menyilang antar tiang pancang) Gelagar Melintang Gelagar Memanjang Lantai 6 x 12 8 x 12 8 x 15 15 x 15 5 x 10 6 x 12 8 x 12 8 x 15 8 x 12 8 x 15 3 x 20 3 x 30 1. ƒ Pada sungai/pantai yang lurus / tidak pada bagian berbelok dan tidak terletak didaerah dengan kondisi erosi yang aktif/besar. gudang dan jalan penghubung ke permukiman. ƒ Kedalaman tepi sungai/pantai tidak lebih dari 6m. 50 meter 2.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 27 . Pada bagian tepi papan lantai dipasang patok tambat dari bahan baja ulir dengan jarak antara patok 2 meter.1. Bagian .‰ ‰ Pada tiang pancang bagian luar di pasang balok fender sebagai pengaman terhadap tumbukan perahu.

1.Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 28 .

1.Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 29 .

dll. seperti : kekuatan. ƒ Dapat dibangun oleh masyarakat dengan harga yang seimbang. Beberapa hal yang dianjurkan dalam pemilihan jenis konstruksi prasarana : ƒ Mendorong peningkatan keswadayaan masyarakat. ƒ Tidak mempunyai masalah teknis yang sangat berat. sehingga pembangunan dan pemeliharaannya dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat. ƒ Mudah dalam pengadaan material/alat/tenaga kerja. PEMBUATAN DESAIN/GAMBAR/SPESIFIKASI TEKNIS Perencanaan teknis prasarana lingkungan yang akan dilaksanakan melalui bantuan PNPM MP adalah merupakan perencanaan sederhana. ƒ Sebanyak mungkin menggunakan material dan tenaga kerja setempat.1. ƒ Menyiapkan sketsa hasil perhitungan.1. namun harus dapat dipakai untuk menghitung rencana biaya pelaksanaan yang akan dilaksanakan/dikelola oleh Masyarakat melalui wadah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) setempat. ƒ Kuat dan tahan lama. Berikut diuraikan kriteria desain untuk beberapa jenis infrastruktur yang umum dibangun. ƒ Sedapat mungkin menggunakan konstruksi dan atau teknologi sederhana. ƒ Memberikan manfaat yang paling besar bagi masyarakat. ƒ Tidak merusak lingkungan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 30 . Berdasarkan hasil survey teknis prasarana yang telah dilakukan sebelumnya maka KSM melakukan pembuatan desain dan gambar rencana bangunan yang akan dibuat. ukuran. Kriteria desain untuk setiap jenis infrastruktur yang direncanakan harus mengacu pada kriteria desian standar yang dikeluarkan oleh instansi teknis terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum atau instansi teknis terkait lainnya. termasuk spesifikasinya. ƒ Menghitung dimensi konstruksi sesuai dengan tingkat pelayanannya. antara lain : Bagian . Sasaran utama dalam tahap desain ini adalah : ƒ Menentukan tingkat pelayanan prasarana sesuai dengan kebutuhan. Untuk pelaksanaan PNPM MP ini maka dapat dapat dilihat atau mengacu pada buku Pedoman Teknis Sederhana Pembangunan Sarana & Prasarana yang telah diperbanyak ulang oleh PNPM MP.

¾ Air hujan yang masuk kesaluran air hujan adalah air hujan yang tidak tercemar dan bukan air limbah Jenis drainase disini dapat meliputi saluran air hujan dan sumur resapan di permukiman. dll. namun bila terpaksa maka desain dan pelaksanaannya wajib mendapat persetujuan dari instansi pengelola bangunan tersebut. jaringan/bangunan listrik. debit air dan daya resap tanah (permeabilitas >/= 2cm/jam). Ukuran saluran ditentukan berdasarkan kapasitas volume air yang akan ditampung (luas daerah tangkapan) dan intensitas curah hujan 5 tahunan. antara lain: ¾ Berkurangnya kapasitas drainase yang ada atau tidak tersedia drainase yang akan mengalirkan air permukaan. mengakibatkan makin berkurangnya daerah resapan air hujan.45/90 100 750 Tersier 4. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . Misalnya melintasi jalan kab/provinsi/nasional. T.70/110 28 224 Tersier Luas area (catchment area) maksimum 25 Hektar Type Rumah/Luas Jumlah Panjang Sistem Pengaliran Tanah rumah (unit) Saluran (m) T. T. Bagian . Saluran Resapan Air Hujan Fungsi saluran untuk mengalirkan air hujan ke saluran yang lebih besar/badan air dan meresapkan sebagian air.1.600 Tersier 31 No 1.36/75 120 720 Tersier 3. berkurangnya kesempatan air hujan untuk berinfiltrasi kedalam tanah. T. irigasi teknis.730 Tersier T. Luas area (catchment area) maksimum 5 Hektar Type Rumah/Luas Jumlah Panjang No Sistem Pengaliran Tanah rumah (unit) Saluran (m) 1. DRAINASE PERMUKIMAN Drainase permukiman merupakan sarana atau prasarana dipermukiman untuk mengalirkan air hujan dari suatu tempat ketempat lain agar lingkungan perumahan bebas dari genangan air. ¾ Timbulnya genangan air didaerah permukiman. Hal ini sering ditunjukan dengan terjadinya air yang meluap dari saluran drainase bahkan banjirpun dapat terjadi yang mengganggu aktivitas masyarakat. ¾ Pembangunan drainase diusahakan mengindari perlintasan dengan bangunan yang telah ada. Ketentuan umum pembangunan drainase permukiman adalah : ¾ Drainase permukiman yang dibangun pada proyek ini harus terintegrasi dengan sistem/jaringan drainase yang sudah ada atau harus sampai pada tempat pembuangan air (saluran drainase/sungai/laut).21/60 750 3.36/75 600 3. ¾ Prioritas pembangunan drainase dengan urutan : perbaikan/peningkatan drainase lama karena kapasitas/fungsinya sudah berkurang dan pembangunan baru.4. karena meningkatnya luas daerah yang ditutupi oleh perkerasan dan mengakibatkan waktu berkumpulnya air jauh lebih pendek.21/60 150 750 Tersier 2. Pengembangan permukiman diperkotaan yang demikian pesatnya. 2. sehingga akumulasi air hujan yang terkumpul melampaui kapasitas drainase yang ada. telepon. Kebutuhan pembangunan drainase permukiman. 1). T. Saluran resapan air hujan ditempatkan dengan luas daerah maksimum 5Ha dengan sistem pengaliran tersier dan maksimum 25Ha dengan sistem pengaliran tersier dan sekunder.

120 Sistem Pengaliran Tersier & Sekunder Tersier & Sekunder Sitem saluran dapat terbuka atau tertutup : Persyaratan saluran terbuka : o Saluran berbentuk persegi.45/90 T. lubang ini ditutup/ditambal dengan adukan semen dan pasir. Persyaratan Saluran tertutup : o Saluran dilengkapi dengan lubang kontrol pada setiap jarak minimal 10meter dan pada setiap belokan.70/110 Jumlah rumah (unit) 750 140 Panjang Saluran (m) 3. Bagian . batu bata. Untuk kepentingan pemasangan/penanganan maka pada kedua dinding samping (kiri/kanan) diberi lubang secukupnya. Type II = 0. Saluran air hujan tidak direkomendasikan untuk pemakaian dipinggir jalan raya yang dapat dilewati oleh kendaraan berat seperti truk. Type II = 0.16 m2 . type I = 1.86 m Kemiringan saluran type I dan II = 2% Mutu Beton (K225) atau campuran 1 semen : 2pasir : 3 kerikil Besi tulangan yang digunakan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 32 . o Bahan bangunan : tanah liat. o Kedalaman saluran minimum 30cm. Diameter sumur resapan dapat dibuat dengan menyesuaikan lebar saluran. Type II besi diameter 6 mm tanpa ulir/polos. o Kemiringan saluran minimum 2%. Type Rumah/Luas Tanah T. beton. maka dasar galian tanah dasar saluran harus dipasang pasir urug atau kerikil diameter 1cm setebal 10 cm. ukuran butir kerikil atau batu pecah 5 – 10 cm. tanah liat.1. dll. minimum 20cm. Agar saluran dapat meresapkan sebahagian air hujan kedalam tanah. 4. batu bata. kerikil/batu pecah dan pasir beton. Saluran tersier tipe I dan II dari beton pracetak berlubang : ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ Luas penampang (A).730 1. Beban hidup pada umumnya adalah orang.02 m . Type I : besi diameter 6mm berulir.12 m2 Keliling Basah (O). batu kali. Saluran Tersier dan Sekunder dari Pasangan Bata dan Batu Kali ¾ Saluran dibuat kedap air. diratakan dan dipadatkan. type I = 0.No 3. ½ lingkaran dia.5 cm) Bahan-bahan yang digunakan adalah semen.5 meter. a. o Bahan bangunan : PVC. Tebal selimut beton = 25 mm (2. trapesium. Saluran air hujan didesain untuk digunakan atau dipakai hanya untuk dilingkungan permukiman. Sumur resapan tersebut harus diberi kerikil atau batu pecah sampai pada permukaan sumur resapan atau bagian dasar saluran. Setelah pemasangan dilapangan. bila dilalui kendaraan roda dua (motor) atau roda 4 (mobil) maka saluran tersebut harus ditutup dengan plat beton bertulang tebal 10-12cm. Sebelum pemasangan model saluran dilapangan. sedangkan untuk kedalamannya 1 – 1. batu kali. o Kedalaman saluran minimum 40cm. b. beton. maka pada jarak tertentu harus diberi sumur resapan (misalnya saluran hujan tersier dapat diberi sumur resapan setiap jaran 25 m dan untuk saluran air hujan sekunder dapat diberi sumur resapan setiap jarak 50 meter). o Kemiringan saluran minimum 2%.

Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 33 . atap bangunan dan permukaan tanah yang dikedapkan/perkeras untuk menjaga keseimbangan system tata air dilingkungan dan menyelamatkan sumberdaya air untuk jangka panjang.1.2). Air hujan yang diresapkan berasal dari bidang tanah. Sumur Resapan Air Hujan Sumur Resapan Air Hujan (SRAH) adalah prasarana untuk menampung dan meresapkan air hujan (bukan air limbah) kedalam tanah.

Bagian . 5m). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 34 . Tadah Minimum SRAH yang Type Rumah/Luas Jumlah tiap rumah terpasang ditiap Tanah rumah (unit) minimum (m2) rumah. 2. kualitas dan kontinuitas. 4. Persyaratan umum yang harus dipenuhi dalam penyusunan perencanaan Sistem penyediaan air bersih adalah sebagai berikut : 1. jarak ke pondasi bangunan min.36/75 120 27 1 buah T. SRAH pada luas area maksimum 5 Hektar Luas bid. terutama pada tahap survai lapangan (data lapangan) dan penentuan ketersediaan air baku. Dilakukan oleh masyarakat setempat dengan pendampingan oleh Konsultan pendamping. 3. Hitung Jarak Mata air.45/90 100 32 2 buah T. Evaluasi Lokasi Mata Air : 1. 2. 2cm/jam. sesuai Keputusan Menteri Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. kuantitas. 5. Persyaratan Lokasi Lokasi yang dapat diusulkan untuk perencanaan sistem air bersih adalah lokasi yang mempunyai sumber air yang memenuhi syarat kualitas. mencakup : 1). Persyaratan teknis yang harus dipenuhi dalam penyusunan perencanaan sistem penyediaan air bersih.70/110 28 47 3 buah No 1. khususnya warga miskin.1.Persyaratan pembangunan SRAH harus mempertimbangkan keamanan bangunan disekitar (jarak kesumber air 3m. 1m dan tangki septik min. Perencanaan sistem harus merupakan karya yang terbaik dan termurah dalam pembangunan dan operasi & pemeliharaan. kecuali ada ijin dan kesepakatan bersama untuk mata air dan jalur yang akan dilalui pipa. Perencanaan sistem air bersih harus memenuhi persyaratan teknis air bersih yang berlaku. maka mata air belum dapat dipergunakan. maka mata air dapat dipergunakan. 1. jika jarak mata air kedaerah pelayanan memenuhi ketentuan (kurang dari 6 km). Pembangunan prasarana Air Bersih ini bersifat mendekatkan akses air bersih dan atau memberikan pelayanan penuh kepada masyarakat. Kualitas Air minum harus memenuhi standar kualitas air minum yang berlaku. dan kontinuitas yang dapat diolah secara sederhana. 3.21/60 150 18 1 buah T. Tersedianya data sumber air baku mencakup kuantitas. Bentuk SRAH dapat berupa sumur persegi/bulat dan dapat diterapkan pada lahan datar/pekarangan dengan permukaan air tanah min. Ø 80cm T. 4.5m dari muka tanah dan nilai permeabilitas tanah min. PRASARANA AIR BERSIH Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Jika lokasi mata air berada didesa lain atau jalur pipa melalui desa lain. 2.

Bandingkan beda tinggi antara mata air dan daerah pelayanan. 2). 5. tangki septik/cubluk).3. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 35 . dapat dikategorikan sebagai berikut : 4. jarak dengan sumber pencemaran air (resapan. Tanah Lokasi harus sudah mendapat ijin atau dihibahkan oleh pemiliknya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umum. kuantitas maupun kontinuitasnya. Lokasinya bukan didaerah yang terkena banjir. 6. Air Permukaan) dipilih yang berpotensi baik dari segi kualitas. Air Hujan. Bagian . galian sampah minimum 15 meter.1. Air Tanah. Sumber air baku (Mata Air. Pemilihan Sumber Air Baku Dari masyarakat diperoleh informasi sumber-sumber air baku yang berpotensi. Untuk SGL/SPT.

Bagian . serta murah dan muddah dalam pengoperasian dan perawatan.1.Untuk menetapkan jenis sumber yang akan digunakan. Diagram ini terdiri atas dua jenis diagram. maka dipilih jenis teknologi yang sesuai dengan jenis sumber air baku dan yang layak untuk diterapkan dengan menggunakan teknologi yang sederhana. yaitu diagram untuk jenis sistem yang dilayani secara perpipaan (Gambar 1A) dan diagram untuk jenis sistem yang dilayani secara non perpipaan (Gambar 1B). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 36 . Berdasarkan jenis sumber yang dapat dimanfaatkan tersebut. maka dapat digunakan alat bantu berupa diagram pemilihan teknologi penyediaan air bersih perdesaan.

1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 37 .1 Kebutuhan Air Bersih 4 2 Apakah Penduduknya >3000 Tidak Apakah ada Mata Air Gravitasi pada jarak 5 km dengan kualitas & kuantitas Baik ? Ya Konsentrasikan pada Program Sistem Perpipaan MA Gravitasi Ya 3 Masyarakat mampu & mau membiayai konstruksi operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Tidak Tidak Penelitian untuk Sistem Non perpipaan Ya Penelitian untuk Sistem Perpipaan 5 Apakah ada mata air dg debit 5 l/s dan berjarak < 10 km? Tidak Ya 6 Apakah30 m lebih tinggi dari desa? 7 Apakah potensi Tidak sumur dalam di desa ini <5 l/s ? 8 Tidak Apakah Tersedia air permukaan sepanjang tahun? Tidak Buat Studi Khusus Ya Konsentrasikan pada sistem MA Gravitasi Ya Pilih yang paling ekonomis antara sistem Mata Air dan Sumur Bor Ya Pilih yang paling ekonomis antara Saringan Pasir cepat dan saringan pasir lambat Catatan : Kotak No. 5 Debit Mata Air Kualitas Baik setelah dikurangi pemakaian (Lokal) dan tersedia sepanjang tahun Gambar 1 A Diagram Pemilihan Sumber Air Baku Sistem Penyediaan Air Bersih Perdesaan Sistem Perpipaan Bagian .

bila dlm pemakaian yg layak Gambar 1B Diagram Pemilihan Sumber Air Baku Sistem Penyediaan Air Bersih Perdesaan Sistem Non Perpipaan Bagian . 5. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 38 .1. 6 : Kualitas Baik & Kuantitas tersedia sepanjang tahun (2) Kotak 3.Kebutuhan Air Bersih 1 2 Ya Penduduknya >3000 3 Ya Apakah Masyarakat cukup mampu & mau untuk membantu kons operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Ya Penelitian untuk Sistem perpipaan Tidak 4 Masyarakat cukup mampu & mau membiayai konstruksi operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Tidak Ya Konsentrasi pada program sistem perpipaan MA Gravitasi Tidak Penelitian untuk Sistem Non perpipaan Tidak Masyarakat cukup mampu 4 & mau membiayai konstruksi operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Ya 5 Adakah Air Tanah dangkal dengan kualitas Baik ? Ya Konsentrasikan pada program pembuatan & perbaikan sumur gali/pantek Tidak Adakah MA sekitar 1 km? Ya Konsentrasikan pada program sistem MA Gravitasi Tidak 6 Adakah air tanah dalam kualitas & kuantitas baik? Ya Konsentrasikan pada sumur dalam Tidak 7 Apakah Air Hujan dengan debit cukup mudah didapat Ya Konsentrasikan pada PAH Tidak 8 Apakah Air Permukaan mudah diperoleh? Ya Konsentrasikan pada Saringan Rumah Tangga Tidak Konsentrasikan pada Pelayanan Terminal (Hidran Umum) Catatan : (1) Kotak No 4.

• Hitung Debit Air (dalam liter per detik) dengan cara volume air/isi ember (dalam liter) dibagi jumlah waktu yang dipergunakan mengisi ember sampai penuh (dalam detik). • Untuk mendapatkan nilai rata-rata kecepatan air permukaan. Pengukuran Debit a. • Tentukan luas penampang aliran dengan mengukur kedalaman (tinggi muka air) dikalikan dengan lebar penampang (m2) di daerah lokasi pengukuran yang telah ditetapkan.1. Agar supaya pengapung itu.8-0. • Sumber air dibendung sementara. Sumber Mata Air Secara sederhana cara pengukuran debit air yang berasal dari Mata Air dapat dilakukan sebagai berikut : • Siapkan ember kosong dan ukur terlebih dahulu volume/isinya (dalam liter). meempunyai kecepatan sama dengan kecepatan air maka ia harus dilepas pada jarak 25-40m sebelum titik awal perhitungan waktu. • Tentukan jarak pengukuran (50100m). Waktu yang dibutuhkan oleh pengapung tersebut untuk melalui jarak tersebut dicatat (dalam detik). • Perhitungan kecepatan aliran air sungai : • Hanyutkan pelampung (batang pisang atau botol diisi air) ke dalam aliran sungai sampai sebagiannya tenggelam untuk mengetahui waktu tempuh sesuai dengan jarak yang sudah ditentukan (50-100m). Jarak ini tidak boleh terlalu besar untuk mencegah agar pengapung tidak menyimpang dari arahnya karena pengaruh angin. • Siapkan pita ukur • Siapkan pengukur waktu (jam/stopwatch). maka lakukan pengukuran tersebut 3-5. lalu buat pancuran air. seperti dijelaskan pada bagian berikut ini : • Siapkan alat pelampung (batang pisang atau botol diisi air) untuk kecepatan permukaan air sungai. Selanjutnya hitung Debit Air rata-rata hasil pengukuran tersebut. • Letakan ember kosong dibawah pancuran air. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 39 . Bagian . Sebagai misal.3). penuh terisi air selama 5 detik maka debit airnya adalah 20 dibagi 5 sama dengan 4 liter/detik. • Tentukan lokasi pengukuran pada bagian sungai yang lurus dan permukaannya relatif datar. Sumber Air Permukaan (Sungai) Cara pengukuran debit air sungai secara sederhana. Hitung kecepatan aliran (m/detik) dengan cara membagi jarak pengukuran (m) dengan waktu pengukuran (detik). Catat waktu (dalam detik) mulai air masuk sampai ember penuh. • Untuk mendapatkan nilai rata-rata debit air. Selanjutnya kecepatan rata-rata diperhitungkan sama dengan 0. maka lakukan pengukuran tersebut 3-5. Isi ember 20 liter.9 kali hasil pengukuran kecepatan permukaan tersebut. b.

Pengukuran Kualitas Air Baku Pengukuran kualitas air baku dilakukan dilaboratorium. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 40 . maka sungai dapat dipakai dengan memperhitungkan biaya investasi. kemudian hasilnya dibandingkan dengan standar kualitas yang berlaku. dan pemeliharaan. Bagian . Secara umum ada beberapa indikator yang secara visual dapat diukur di lapangan di antaranya: 1.• Hitung Debit Air (Q) sungai dengan rumus : Kecepatan Aliran Rata-rata (V) dikali Luas Penampang Air (A) : 4). sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. operasi.1. Kekeruhan Perhatikan kekeruhan bilamana kekeruhan tinggi dalam periode yang lama.

jika rasa air payau atau asin. Untuk menjamin kualitas air tersebut dapat digunakan sebagai sumber air.1. Jika nilai EC menunjukkan lebih dari 1. Rasa Tes rasa air. maka ada salinitas. maka penyebab timbulnya harus diperiksa. Untuk bahan yang berbau. (EC Meter adalah salah satu alat pengukur suhu yang digunakan untuk mengukur daya hantar listrik dan dapat memberi informasi tentang kadar garam). jika hasil laboratorium tidak ada.500 micro S/cm. kekeruhan dan berwarna diperlukan pengolahan air. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 41 . berasa. Bagian . jika ditemukan warna dan bau.2. 3. Warna dan Bau Periksa warna dan bau air. Pada umumnya air yang berasal dari air permukaan (sungai. lihat nilai EC. maka cek hasil laboratorium terhadap kandungan Klorida. air tidak dapat dipergunakan sebagai sumber air.

Penentuan Jumlah Penduduk (Pemanfaat) Data jumlah penduduk dan kepadatan penduduk dipakai untuk menentukan daerah pelayanan dengan rumus perhitungan adalah sebagai berikut : 1. Cari data jumlah penduduk awal perencanaan.15). 2. 5). Hitung pertambahan nilai penduduk sampai akhir tahun perencanaan (misal 5 tahun) dengan menggunakan salah satu metode. Bahan Kimia atau Koagulan Pengolahan air dengan bahan kimia tergolong lebih sulit dan penentuan pengolahannya harus dilakukan percobaan dan menguji tingkat keasaman air terlebih dahulu untuk menentukan bahan koagulan. Tentukan nilai prosentase pertambahan penduduk pertahunnya (r).05 – 1.1. kotoran mengumpal dan tidak mudah larut dalam air. a. P = Po (1 + r )n Dimana : P = jumlah penduduk sampai akhir tahun perencanaan Po = jumlah penduduk awal perencanaan r = prosentase pertambahan penduduk pertahun n = umur perencanaan c). Saringan Karbon Aktif) Pengolahan jenis ini dapat dilakukan bila kualitas air mempunyai kondisi : kondisi air bau tanah dan bau besi. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 42 . kondisi air rasa tanah dan rasa besi. b. kondisi air terlalu banyak kapur.waduk. Perhitungan Kebutuhan Air b). Kebutuhan total ini dipakai untuk mengecek apakah sumber air yang dipilih dapat digunakan. Contoh pengeolahan air dengan koagulan. 3. Q = Pxq Qmd = Q x fmd Dimana : Qmd = kebutuhan air minimum (liter/hari) P = jumlah jiwa yang akan dilayani sesuai tahun perencanaan (jiwa) q = kebutuhan air per orang per hari (liter/orang/hari) fmd = faktor maksimum ( 1. Hitung kebutuhan air bersih dengan mengkalikan jumlah jiwa yang akan dilayani sesuai dengan tahun perencanaan (P) dikali kebutuhan air perorang perhari (q) dikali faktor hari maksimum (fmd = 1. saluran irigasi) berwarna keruh sehingga perlu diolah terlebih dahulu.15) Bagian . Saringan (Saringan Pasir Lambat. embung.05-1. Kebutuhan air bersih ini didasarkan atas pelayanan dengan menggunakan Hidran Umum (HU) dengan perhitungan sebagai berikut : 1. yaitu bila air mengandung zat mangaan (Mn) atau zat besi (Fe) yang biasanya ditandai dengan : Air berwarna kuning setelah ditampung. Penentuan Kebutuhan Air Bersih Kebutuhan air total dihitung berdasarkan jumlah pemakai air yang telah diproyeksikan untuk 5 – 10 tahun mendatang dan kebutuhan rata-rata setiap pemakai setelah ditambahkan 20 % sebagai faktor kehilangan air (kebocoran). misalnya metode geometrik.

yang berdasarkan dari hasil pemeriksaan kualitas air baku. yaitu pengolahan lengkap atau tidak lengkap. jika tidak mencukupi cari alternatif sumber air baku lain. d) Sistem pelayanan yang berupa sambungan rumah/langsung dan hidran umum/kran umum. yaitu gravitasi atau pemompaan. dengan faktor kehilangan air 20 % dengan persamaan : Qt = Qmd x 100/80 3. kuantias dan kontnuitas) air baku. Penentuan Sistem Penyediaan Air Sistem penyediaan air minum didasarkan pada : a) Ketersediaan sumber air baku dengan prioritas air baku dari mata air. Bandingkan dengan hasil pengukuran debit sumber air baku apakah dapat mencukupi atau tidak.2. air permukaan dan air hujan dengan membandingkan kehandalan (kualitas. Hitung kebutuhan total air bersih (Qt). a).1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 43 . air tanah. 6). Alternatif Jenis Sarana & Prasarana Jenis prasarana dan sarana yang diperlukan dalam sistem penyediaan air bersih/minum sesuai dengan sumber air baku serta sistem pengolahannya dapat dilihat pada tabel berikut : Bagian . b) Pengolahan air. c) Sistem pendistribusian.

1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 44 . pipa transmisi dan pipa distribusi disajikan dalam tabel-tabel berikut ini : Bagian . Kriteria Desain Kriteria disain untuk setiap sistem penyediaan air minum.b).

5 m 3. namun demikian pada umumnya diusahakan harus sederhana. instalasi pengolahan air sederhana yang umum ada dan digunakan diantaranya adalah sebagai berikut : 1. murah dalam biaya pembangunan dan pemeliharaan serta mudah dalam pembangunan dan operasional & pemeliharaanya.1.4) x Lebar (L) • Kedalaman (T) = 1 – 1. Bangunan Bak Pengumpul : Volume bak pengumpul Volume bak pengumpul = = Waktu detensi (td) x Qt Panjang (P) x Lebar (L) x Tinggi (T) Dimensi bak pengumpul : • Panjang (P)= (3 . Sistem Pengolahan Air Dalam menentukan Sistem Pengolahan Air Bersih akan tergantung oleh kualitas sumber air baku.d). Bangunan Saringan Pasir Lambat (SPL) Luas Permukaan (A) = = Qt (m3/dtk) v filtrasi P (m) x L(m) Jumlah unit bangunan SPL minimum = 2 unit. Berdasarkan pengalaman. Bangunan Intake (Penyadap) Berupa pipa sadap (PVC/GI) yang dihitung dengan formula sebagai berikut : Dimana : 4Q ф = Diameter pipa (m) φ = Q = Debit aliran (m/detik) πv v = Kecepatan aliran (m/detik) 2. Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 45 .

a). л Dimana : P = Daya Pompa (tenaga kuda) Q = Debit Air (m3/detik) w = Density (kg/cm3) H = Total Tekanan (m) л = efisiensi pompa (60-75%) f). Sistem Pendistribuasian Penyaluran air dapat dilakukan dengan sistem perpipaan gravitasi maupn dengan cara mekanis/pompa.7 . Bagian .1 m e). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 46 .1. Penentuan dimensi perpipaan transmisi dan distribusi dapat mengunakan rumus : Q A = = VxA 0. namun umumnya bangunan HU berupa tabung dari fiberglass dengan volumenya sudah ditetapkan (2 m3 dan 4 m3).Dimensi SPL : • Panjang (P) • Tinggi media pasir = (2 . maka umumnya jumlah HU lebih dari satu.H Daya Pompa (P) = 75 .w.785 x D2 Dimana : 3 Q = Debit Air (m /detik) V = Kecepatan pengaliran (m/detik) 2 A = Luas Penampang Pipa (m ) D = Diameter pipa (m) Kualitas pipa berdasarkan tekanan yang direncanakan.3) x Lebar (L) = 0. Sistem Pelayanan (Bangunan HU/KU) Bangunan Hidran Umum cara perhitungannya sama dengan bak penampung. untuk pipa bertekanan tinggi dapat menggunakan pipa Galvanis (GI) medium atau pipa PVC kelas AW. seri (10-12. mengingat jarak maksimum antara hidran umum maksimum 200 meter. b). 8 s/d 10 kg/cm2) atau pipa berdasarkan SNI.5). Pompa Hitung Daya Pompa yang diperlukan berdasarkan data total tekanan (head) yang tersedia dengan rumus : Q.

6. PRASARANA IRIGASI
Irigasi yang dimaksud dalam program ini adalah sebagai berikut : ♦ Irigasi yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat kelurahan/desa ♦ Irigasi ini bukan bagian dari irigasi teknis atau irigasi yang telah masuk dalam inventarisasi DPU Pengairan Tujuan pembangunan jaringan irigasi perdesaan, yaitu; ƒ Meningkatkan produksi pangan terutama beras. ƒ Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan air irigasi. ƒ Meningkatkan intensitas tanam. ƒ Meningkatkan dan memberdayakan masyarakat dalam pembangunan jaringan irigasi perdesaan. Lingkup pekerjaan Pembangunan Jaringan Irigasi sederhana dibatasi dengan prioritas sebagai berikut : 1. Perbaikan/ rehabilitasi jaringan irigasi yang telah ada. 2. Peningkatan irigasi perdesaan yang telah ada. 3. Pembangunan baru irigasi perdesaan. Karena proses pelaksanaan pembangunan jaringan irigasi peredesaan (mulai dari penyuluhan, survai, desain sampai pelaksanaan konstruksi) harus dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran, maka urutan prioritas ditetapkan sebagai berikut : 1. Diutamakan pekerjaan perbaikan atau rehabilitasi jaringan irigasi yang telah ada, dan tidak memerlukan kajian teknis yang berat. 2. Pekerjaan peningkatan jaringan irigasi yang telah ada, yang benar-benar diperlukan. 3. Pembangunan jaringan irigasi baru yang sangat diperlukan. Meskipun membangun irigasi baru dimungkinkan (sekalipun merupakan prioritas terakhir), harus dihindari pembangunan bendung baru. Pembangunan bendung baru memerlukan kajian teknis yang berat seperti: Pengumpulan data hidrologi dan hidrometri, penyelidikan tanah, dsb. secara akurat dan kajian teknik yang berat, yang kesemuanya itu memerlukan waktu panjang. Maka sangat sulit mempertanggungjawabkannya jika harus membuat bendung sejak persiapan perencanaan sampai selesai konstruksi hanya dalam waktu satu tahun saja. Jenis infrastruktur Bangunan Pengairan/Irigasi yang dapat dibangun antara lain : Embung, Bendung Cerucuk, Bendung Bronjong, Saluran Pembawa & Boks Bagi, Bangunan Pelindung Pantai Sederhana dgn Turap, Bangunan Penahan Longsoran Tanah, dll. Standar Irigasi sederhana mengacu pada Pedoman Teknis Sederhana Pembangunan Bangunan Pengairan untuk Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, Puslitbang Pengairan - Dep. PU Tahun 1995. Kriteria pembangunan Irigasi yang perlu diperhatikan : 1. Irigasi tidak tercatat dalam buku inventaris PU Pengairan 2. Luas areal irigasi perdesaan maksimum 60-100 Ha 3. Pengelolaan, Operasi dan Pemeliharaan jaringan irigasi perdesaan dilaksanakan oleh P3A atau kelompok tani. 4. Pembangunan irigasi baru sederhana harus memenuhi ketentuan : ƒ ada sumber air cukup, adanya sawah (tadah hujan); ƒ ada petani, kualitas air memenuhi; ƒ tanah/sawah baik untuk pertanian (padi); ƒ ada pemasaran hasil produksi; ƒ daerah irigasi bukan merupakan daerah banjir rutin, ƒ kapasitas bangunan mampu untuk mengalirkan debit air yang direncanakan,
Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

47

ƒ pembagian air akan lebih adil/merata. 5. Usulan bendung baru dari pasangan batu atau beton terbatas pada : ƒ panjang bendung maksimum :5 m, sedangkan untuk panjang > 5 m sebaiknya dikoordinasikan dengan instansi teknis terkait. ƒ tinggi bendung maksimum : 3m ƒ debit banjir rencana : 30 m/dtk 6. Pembangunan Embung harus memenuhi ketentuan : ƒ Berada didaerah tadah hujan paling luas 100Ha; ƒ Kolam embung berkapsitas maksimum 100.000 M3 ƒ Tinggi maksimum tubuh embung 5 m ƒ Pelimpah Tanah, berupa saluran terbuka kapasitas paling besar sama dengan banjir 50 tahun; ƒ Embng milik masyarakat, dikelola oleh masyarakat dan bukan termasuk dalam daftar inventarisasi PU; 7. Rehabilitasi Irigasi harus memenuhi ketentuan : ƒ Lingkup Kegiatan : Æ saluran atau bangunan yang fungsi pelayanan sudah berkurang; Æ perbaikan saluran talud atau penahan tebing; Æ perbaikan bangunan terjun, pembagi dan bangunan sadap ƒ Kriteria Kegiatan : Æ bangunan masih kuat dan akan bertahan lama; Æ bangunan akan tetap stabil; Æ kapasitas bangunan akan mampu mengalirkan debit rencana; Æ mudah dioperasikan petani; Æ dapat menjamin pembagian air; Æ melindungi irigasi dari pengaruh alam; 1. Perhitungan Debit Andalan Debit andalan dihitung 80 % dari debit rata-rata minimum sumber air untuk setiap 2 minggu. Debit andalan akan rnenentukan luas areal sawah irigasi yang dapat dilayani oleh sumber air. Luas maksimum area yang dapat dilayani irigasi dapat dihitung dengan rumus : A = Qp / IWR Dirnana : A = Maksimum luas area pelayanan irigasi (ha) Qp = Debit andalan (m3/det) IWR = Kebutuhan air irigasi (lt/det/ha) Untuk irigasi desa IWR = 1.75 lt/det/ha (NWR=1,4 lt/dt/ha), diambilkan dari data irigasi teknis yang berada dekat den lokasi proyek. Untuk keperluan perencanaan Bendung pada Irigasi perdesaan perhitungan debit air tersedia di sungai dapat digunakan cara yang praktis dan sederhana yaitu dengan cara estimasi/pendekatan berdasarkan tinggi muka sungai : a) Dengan menanyakan kepada penduduk setempat yang terdekat den lokasi sungai mengenai keadaan tinggi elevasi muka air pada kea air banjir tertinggi, muka air normal, muka air rendah(tinggi muk di sungai yang sering terjadi selama 1 tahun). Informasi ini digun untuk menggambarkan penampang basah sungai. Untuk menghitung debit andalan digunakan data tinggi air dari an pengamatan 5-6 bulan. b) Dalam menghitung debit dibutuhkan data luas tampang melintang kecepatan air : Qa = Ar . V
Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

48

Dimana : Qa = Debit air (m3/det) Ar = Luas penampang basah rata-rata (m2), V = Kecapatan air (m/det) Kecepatan air dapat dihitung dengan cara sederhana, yaitu pengukuran kecepatan air secara langsung dengan menggunakan pelampung (lihat metode pengukuran debit air baku, perencanaan air bersih). 2. Desain A. Bangunan Utama 1) Bendung Sederhana (1) Bendung berfungsi untuk meninggikan permukaan air sungai sesuai dengan kebutuhan dan membelokkan air ke saluran pembawa sesuai dengan debit yang dibutuhkan. (2) Digunakan pada daerah irigasi yang elevasi permukaan sawahnya lebih tinggi dibanding dengan elevasi permukaan air sungai rendah. (3) Bendung ditempatkan pada alur sungai yang lurus dan dasar sungai relative stabil (4) Panjang bendung tidak lebih dari 0,8 lebar rata-rata dasar sungai. (5) Bendung sederhana dapat terbuat dari pasangan batu, bronjong dan cerucuk. a) Bendung Pasang Batu (1) Umum • Bendung harus stabil pada kondisi air normal maupun air banjir. • Bendung harus aman terhadap pengaruh gaya geser; • Tanah pondasi harus mampu memikul berat tubuh bendung; • Pondasi Bendung diusahakan ditempatkan di atas batu atau tanah liat, Untuk pondasi tanah berpasir (pasir) tidak disarankan bendung pasa batu. (2) Perencanaan Teknis (a) Menentukan Elevasi Tinggi Mercu Menentukan mercu bendung ditentukan oleh muka air rencana bangunan bagi atau sadap pertama di tambah kemiringan panjang saluran (L x I) dan kehilangan tinggi energi pada pengambilan (15cm). Sedangkan tinggi muka air yang diinginkan pada saluran utama ditentukan oleh tinggi muka air yang diperlukan di sawah yang terjauh dan yang tertinggi elevasinya. Adapun ilustrasi cara perhitungannya adalah sebagai berikut :

Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

49

P = A + a + b + m.c + d + n.e + f + g + ∆h + z P = Muka air yang dibutuhkan di saluran utama A = Elevasi sawah dengan elevasi yang menentukan a = lapisan air di sawah ± 10 cm b = kehilangan tinggi energi dari sal. kuarter sampai sawah ± 5 cm c = kehilangan tinggi energi di boks kuarter ± 5 cm d = kehilangan air pada bangunan pembawa di saluran irigasi (I x L) e = kehilangan tinggi energi di boks bagi tersier ± 5 cm f = kehilangan tinggi energi di gorong-gorong ± 5 cm g = kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier ± 5 cm ∆h = variasi muka air = 0,18h100 (sekitar 0,05 - 0,30 cm) z = kehilangan tinggi energi di bangunan petak tersier lainnya m = jumlah boks kuarter di trase tersebut n = jumlah boks tersier di trase saluran (b) Panjang Bendung Panjang bendung tergantung dari pada rata-rata lebar sungai, secara umum 0,8 lebar sungai Dalam hal ini ditentukan panjang bendung maksimum 5.00 m, termasuk lebar pintu penguras. (c) Lantai Olak dan Mercu Bendung Untuk disain lantai olak dan mercu bendung memakai metode perhitungan MDO yang sudah dikembangkan oleh Puslitbang Air Dalam mendisain bendung perdesaan dengan metode MDO dilakukan beberapa penyederhanaan, sebagai berikut : • Bentuk mercu bulat dengan jari-jari R1 = 1.00 - 1 50 m • Tubuh bendung bagian hilir dibuat miring 1 : 1 • Elevasi lantai olak adalah fungsi dari tinggi muka air di hilir bendung (Ds) H1 = X1 . Ds Ds = Elevasi lantai olak dihitung dari puncak mercu H1 = Tinggi air di hilir bendung X1 = Parameter 1.50 - 1,80 yang dipengaruhi oleh debit permeter lebar dan selisih muka air di udik dan di hilir bendung. (a) Panjang lantai olak (L) adalah fungsi dari kedalaman lantai olak (Ds) dihitung dari puncak mercu bendung. L = X2 . Ds L = Panjang lantai olak Ds = kedalaman lantai olak dari puncak mercu X2 = parameter 1.00 - 1.20 (b) Jari-jari pertemuan antara bidang miring tubuh bendung dan lantai olak R2 = 1.00-1.50m

Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

50

20 m.1.8 m/det2) A = luas penampang pintu C = koefisien pengaliran (0. take water depth m = angka penaliran (1. Lobang balok sekat maksimum 1.8) (e) Bangunan penguras ¾ Bangunan penguras ditempatkan dekat dengan bangunan pengambilan. ¾ Bangunan penguras tidak dilengkapi dengan pintu tetapi dilengkapi dengan balok sekat setinggi mercu bendung. z = kehilangan tinggi g = grafitass (9.3-1.35) g = gravitasi (9.81 m/dt2) Bagian . Dihitung dari bangunan-bangunan air yang terdapat di dalam sungai.(d) Bangunan pengambilan ¾ Letak bangunan pengambilan diusahakan dekat dengan bendung.b. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 51 . As bangunan pengambilan diusahakan 135° . ¾ Bangunan pengaras berfungsi meriguras endapan yang berada didepan pintu pengambilan. lebar pintu minimum 0. Bangunan pengambilan dilengkapi dengan pintu. bendung dan lain-lain. misalnya.H H = tinggi air di atas mercu.180° terhadap as bendung. serta menentukan kedalaman dan panjang lantat olak. Rumus pengaturan pintu pengambilan : Dimana : Q = debit (m3/det). ¾ Ukuran lobang pengambilan disesuaikan dengan besarnya debit kebutuhan irigasi. Rumus Bendung : Q = m.40 cm. tinggi tembok samping dan penampung sungai di bagian hulu bendung. (f) Perhitungan Debit Banjir Rencana Debit Banjir Rencana dihitung guna menentukan panjang bendung.d Vg d dimana : Q = debit banjir b = panjang bendung d = tinggi peluapan = 2/3 .

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 52 . dibuat dari susunan atau tumpukan bronjong kawat diisi batu kali.2. Panjang lantai 2 . melintang sungai yang lebarnya lebih kecil dari 15 m dan berfungsi menaikkan muka air sungai sehingga air sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi tadah hujan yang akan dikembangkan. kayu dan air sungai agresif. sebagai kehilangan tinggi pada mercu bendung karena tubuh bendung terbuat dari bronjong yang lolos air.5 m. Pada arus surgai yang mengangkut batu. • Tinggi bendung maksimum 2. bandung bronjong tidak disarankan pemakaiannya. • Ukuran bronjong dapat disesaaikan dengan kebutuhan dengan ketebalan 0. • Untuk mengurangi bocoran pada bendung bronjong dapat dipakai lapisan ijuk yang dipasang diantara kotak bronjong.b) Bendung Bronjong Bendung bronjong adalah bangunan air sederhana yang sifatnya tidak permanen.5 tinggi bendung. Dengan demikian butir-butir tanah akan tertahan. • Elevasi mercu bendung direncanakan berdasarkan perhitungan tinggi air saluran ditambah 20 cm. kawat yang digunakan adaiah kawat yang digalvanis dengan diameter minimal 3 mm.50 m.1. Panjang tubuh bendung kurang dari 15 m. Perencanaan Teknis Bendung : • Kemiringan bagian hilir bendung 1:1 sampai 1:2dan untuk hulu dengan kemiringan 1:1. Bagian .

c) Bendung Cerucuk (a) Kriteria : • Luas daerah irigasi maksimum 20 ha. Lebar tepi udik mulut bangunan pengambilan dari sisi udik tubuh bendung minimal adalah 2 m e.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 53 .50 meter. (d) Tiap baris cerucuk terdiri dari tiang-tiang yang dipancang secar vertikal dengan jarak antara tiang paling jauh adalah 1 meter. (c) Banyaknya baris cerucuk tidak kurang dari 3 baris dengan jarak antar baris cerucuk paling lebar 0. • Pada sekitar rencana lokasi bangunan tidak terdapat sumber batu (b) Bendung cerucuk sederhana adalah bendung sederhana yang sifatnya tidak permanen (tidak tahan lama). (g) Ukuran-ukuran : a. Bambu mendatar ukuran + Ø 12 cm Bagian . (e) Tiap baris cerucuk ditutup dengan dmdmg pemitup yang terdiri dari kayu yang dipasang mendatar secara rapai satis sama lain agar bahan pengisi yang diletakkan pada ruang antara baris cerucuk tidak lolos. terbuat dari baris-baris ceruc yang dipancang melintang sungai yang ditempatkan pada ruas sungai yang relatif lurus dan dasarnya tidak terlalu keras dengan lebar dasar sungai tidak lebih dari 10 meter. Panjang tubuh bendung paling panjang adalah 10 m c. Debit sungai dalam keadaan banjir maksimum 10 m3/det. (f) Tiap tiang pada baris cerucuk dihubungkan ke tiap tiang pada baris cerucuk lainnya dengan kayu mendaiar yang diikatkan pada ujung atas tiang-tiang baris cerucuk dengan tali pengikat agar baris-baris cerucuk menjadi satu kesatuan yang kokoh. Umur bendung paling sedikit 1 tahun g. Panjang lantai hilir paling pendek adalah 3 m f. Tinggi bendung paling tinggi adalah 1 m b. Lebar mercu bendung paling pendek adalah 1 m d. Tiang tegak kayu keras (dolken) ukuran + Ø 12 cm h.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana .SAYAP BENDUNG 1) Sayap bendung terdiri dari tiang-tiang cerucuk yang dipancang tegak secara rapat satu sama lain pada pertemuan dasar sungai dengan tebing sungai.1. Jumlah baris penguat sayap paling sedikit 2 baris dan jarak tiang-tiang penunjang paling panjang 1 m 3) Panjang sayap bagian udik yang sejajar tebing sungai dibuat paling sampai ke tepi udik mulut bangunan pengambilan (intake) yang selanjutnya sayap dibuat miring dengan sudut ± 45 º. KONSTRUKSI SAYAP BENDUNG CERUCUK 2) Pada bagian belakang sayap diperkuat dengan kayu/bambu mendatar yang diikatkan pada tiang-tiang sayap dengan tali pengikat dan diberi tiang penunjang agar sayap menjadi satu kesatuan yang kokoh. 54 Bagian .

¾ Kayu dolken/bambu tua diameter sekurang-kurangnya 12cm. ¾ Tali pengikat dari tali plastik. 2) Pengambilan Bebas a) Bangunan ini tidak memerlukan bangunan melintang sungai untuk membelokkan air ke saluran pembawa. plastik). pengambilan dilengkapi pengarah arus. Guna lantai hilir adalah untuk menahan gerusan air yang jatuh di hilir bendung. tanah. b) Bangunan ini ditempatkan pada akhir belokan luar sungai untuk menghindari masuknya sedimen. kemudian sayap dibuat miring. d) Bangunan ini biasa dipakai di daerah pegunungan yang kemiringan dasar sungainya cukup curam dan dasar sungainya cukup stabil.1. Tali sebaiknya dari bahan yang tahan lapuk (tali ijuk. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 55 .4) Panjang sayap hilir yang sejajar dengan tebing sungai dibuat paling sedikit sampai ke ujung lantai hilir. kawat. c) Jika pada sungai yang lurus. ¾ Lantai Hilir dari bahan batu kali diameter 15-30cm dan anyaman bambu gelondongan. 5) Rongga antara tebing sungai dengan sayap bendung ditimbun dengan tanah yang sedikit dipadatkan LANTAI BENDUNG Lantai hilir bendung terbuat dari hamparan bahan pengisi yang berupa batu kali Ø 15 – 30 cm anyaman bambu. (h) Bahan yang digunakan untuk bendung cerucuk ini diusahakan bahan setempat yang mudah diperoleh. sudut ± 45 º. yang digunakan adalah jenis keras. Bagian . tambang ijuk. Pengarah arus dibuat secara semi permanen dari bronjong atau cerucuk bambu. dolken dengan menyesuaikan dengan konstruksi bangunan pengambilan bebas dan sumber material yang ada. e) Elevasi muka air pada saat debit minimum rata-rata mempunyai tekanan yang cukup untuk mengairi lahan yang direncanakan. ¾ Pengisi tubuh bendung dari bahan batu kali.

3) Waduk/Embung (1) Pada umumnya bangunan waduk/embung berfungsi untuk menampung air hujan dan digunakan untuk irigasi air minum dan lain-lain.Bila lapisan kedap air berada < 2.Tinggi embung > 3 m dibuat berem selebar 2 m .5. b) Untuk mata air ini biasanya dibuatkan bangunan penampung air. dialirkan ke jaringan irigasi. melalui bangunan pengambilan yang dapat diatur. d) Apabila diperlukan dibuat bangunan pelimpah untuk membuang limpahan (over topping).00 pada tinggi air minimal 4) Mata Air a) Sumber air ini berfungsi sebagai sumber air utama atau sebagai suplesi. . dolken. Stabilitas lereng dan penurunan. . bangunan intake dan pelimpah dibuat dari pasangan batu yang ditempatkan pada tanah asli.Bangunan pengambilan dibuat permanen dengan pembatas debit dan dilengkapi dengan pintu. . maka diatasi dengan cara : o Menebalkan tanggul bagian luar o Membuat inti lapisan kedap air o Dibuat pasangan batu atau diberi lapisan kedap air di bagian dalam tanggul o Membuat drain filter di kaki tanggul luar dari pasangan batu kosong atau bronjong. c) Konstruksi bangunan penampung air dibuat dari pasangan batu. g) Konstruksi bangunan pengambilan bebas dapat dibuat dari pasangan batu kali atau cerucuk bambu. (5) Bila terjadi bocoran pada tanggul. (4) Tubuh tanggul waduk/embung pada umumnya dibuat dari timbunan tanah pudel. . (2) Waduk/embung dibuat pada daerah cekung atau pada alur sungai kecil yang memungkinkan untuk menjadi penampung air. (8) Disain Teknis : . (3) Dipilih pada daerah yang berjenis tanah tidak porous (lolos air). hulu = 1: 3.00 m dari dasar tanah pondasi dibuat paritan (cut off) lebar paritan 2.Koefisien rembesan maksimum K < 10 -5 m/det. Catalan : Dalam menentukan elevasi dasar bangunan pengambilan harus hati-hati agar mata air nantinya tidak berpidah atau mati.Lebar puncak embung minimum 4. (7) Untuk keperluan air irigasi perlu dibuat bangunan pengambilan. (6) Stabilitas tanggul diperhitungkan terhadap : Rembesan.00 m .00 m.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana f) 56 . tinggi elevasi lantai pengambilan berada 10 cm dibawah muka air terendah atau 50 cm diatas dasar sungai.Tinggi jagaan minimum 1.Daya dukung tanah pondasi minimum 1 kg/cm2 (1 ton/m2) .Pembuatan peta situasi genangan maupun lokasi bangunan embung dilaksana dengan alat optik atau pipa (slang) plastik. h) Pengambilan bebas. minimum hilir =1:3. c) Lapisan tanah yang mengandung air tanah biasanya dibatasi oleh : o Bagian bawah dengan lapisan kedap air Bagian .Kemiringan badan embung. b) Kandungan air tanah terdapat pada lapisan tanah yang terbentuk dari bahan-bahan tanah berpasir dan kerikil. 5) Air Tanah a) Air tanah adalah air yang berada pada lapisan bagian bawah tanah.

system senggot (jawa) B. (4) Kriteria perencanaan saluran : Bagian . (1) Kapasitas rencana saluran dihitung berdasarkan kebutuhan air irigasi dengan memperhatikan faktor efisiensi dan dimensi saluran yang ada. o Pemanfaatan untuk pertanian terbatas pada tanaman palawija dan sayuran.50 . Untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas yang paling umum dibuat adalah saluran berbentuk trapesium a) Pemilihan jenis saluran hendaknya mempertimbangkan Fungsi jaringan irigasi dengan kondisi fisik dalam keadaan baik Saluran lama yang ada Biaya pemeliharaan murah Pengoperasian mudah " Aspirasi atau tradisi masyarakat setempat.1.o Bagian atas muka air tanah berhubungan dengan atmosfir d) Air tanah terdapat di daerah cekungan atau di daerah datar dekat pantai. pemeliharaan paling rendah. e) Pemanfaatan dan syarat-syarat : o Letak air tanah tidak lebih dari 2. f) Disain Teknik : o Cara mengumpulkan air tanah dilakukan dengan membuat sumur gali yang dapat diperkuat dengan pipa beton Ø 0. (2) Saluran pembawa juga harus mempertimbangkan debit air hujan yang masuk. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 57 . pasangan batu atau beton.00 m atau pasangan batu/batu bata. o Pada tanah yang banyak mengandung pasir disarankan pada dasar sumur di beri lapisan ijuk yang diberi pemberat batu.2. b) Perencanaan Saluran Saluran pembawa dapat berupa saluran tanah. Alat Ukur Debit dan Bangunan Penguras Saluran 1) Saluran Pembawa Untuk pengaliran air irigasi diperlukan saluran pembawa. o Kedalaman air dalam sumur 1. o Untuk menaikkan air dapat dilakukan dengan : Pompa air mekanis (pompa dragon).80 . (3) Saluran pasangan hanya digunakan pada tempat-tempat yang porous (tanah berongga) sedangkan pada tempat-tempat rawan dapat dibuat saluran tertutup. Saluran Pembawa. ditimba.00 m.1. Kapasitas saluran irigasi ditentukan oleh kebutuhan air irigasi sehingga perencanaan saluran harus diperhitungkan dengan biaya murah.00 m dari permukaan tanah. serta aman terhadap erosi dan sedimentasi. o Dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan pertanian.

(5) Untuk perencanaan aliran saluran digunakan rumus Strickler : Dimana : Q = debit saluran (m3/dt) I = kemiringan saluran V = kecepatan aliran (m/dt) K = koefisien kekasaran (m1/3/dt) R = jari-jari hidrolis (m) w = tinggi jagaan tanggul (m) A = luas potongan melintang basah(m2) b = lebar dasar saluran (m) P = keliling basah(m) h = tinggi air (m) m = kemiringan talut (1 vertical : m horizontal) Bagian .1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 58 .

guna mendapatkan aliran air yang teratur b) Disain ƒ Alat ukur debit berupa bangunan berbentuk ambang rata segi empas ƒ Rumus debit pengaliran Q= 1. Papan ukur dapat dibuat dari plesteran yang diberi tanda setia ƒ Alat Ukur Debit Ambang Datar ƒ Gambar disain seperti gambar dibawah ini: 3) Bangunan Penguras Saluran Bangunan penguras yang dimaksud disini adalah bangunan penguras endapan yang terdapat pada saluran utama.b.71 .100 m3/det Dipasang pada jarak < 5.1. ƒ Ditempatkan pada saluran utama yang lurus.20 m dari ambang ƒ hulu. Panjang balok sekat maksimum 0.100 m3/dt ƒ Ditempatkan pada saluran utama 5-10 m dihilir bangunan pengambilan.h 3/2 ƒ Lebar ambang dibuat sama dengan lebar dasar saluran ƒ Papan ukur ketinggian air pasang pada jarak 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 59 .2) Alat Ukur Debit a) Kriteria ƒ Saluran dengan dimensi debit > 0.80 m Bagian .00 m dari bangunan pengambilan Lokasi bangunan penguras (saluran utama) berdekatan dengan sungai atau saluran pembuang yang berfungsi tempat pembuang endapan Panjang saluran penguras yang menghubungkan bangunan penguras dan saluran pembuang maksimum 25. tetapi dilengkapi balok sekat. a) Kriteria Dimensi saluran untuk debit minimum Q = 0.00 m Konstruksi bangunan penguras tidak dilengkapi dengan pintu.

50 m Disain bangunan penguras seperti pada gambar dibawah ini. tersier dan kuarter untuk tanpa pasangan : Bagian . Dm. 2) Saluran pembuang direncana di tempat-tempat yang rendah. 5) Untuk perencanaan aliran saluran digunakan rumus Strickler (seperti pada pembawa): V = K. rencana 5–6 l/dt/ha. Saluran Pembuang 1) Berfungsi untuk membuang kelebihan air hujan dan irigasi yang telah di pada lahan sawah. 3) Saluran pembuang dapat berupa.b) Disain Tidak diperlukan kolam pengendapan sedimen Perbedaan elevasi dasar saluran pembawa dan saluran pembuang atau sungai minimum 1. C.1. R2/3 . saluran tanah atau pasangan batu. f = faktor pengurangan (reduksi) daerah yang dibuang airnya (1 untuk petak tersier). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 60 . A dimana : Qd = debit rencana. 4) Debit drainase rencana dari sawah di petak tersier dihitung dengan rumus Qd = f. I 1 7 2 6) Kriteria perencanaan saluran pembuang utama. Dm = Modulus pembuang (Idt/ha) A = Luas daerah yang dibuang airnya (ha) Jika data tidak tersedia dapat dipakai debit min.

Bangunan Sadap 1) Bangunan Bagi atau Boks Pembagi a) Bangunan bagi berfungsi untuk membagi air dari saluran primer ke saluran sekunder atau dari saluran sekunder ke saluran tertier. Bangunan bagi dapat dilengkapi dengan pintu sorong sederhana yang terbuat dari baja.1. Boks pembagi berfungsi untuk membagi air dari saluran tersier kesaluran kuarter b) Bangunan bagi atau boks pembagi ditempatkan di lokasi yang sesuai dengan hasil kesepakatan dalam diskusi perencanaan petani. Hal ini dapat dicapai dengan merencanakan elevasi ambang dan bentuk ambang dibuat sama. c) Pembagian air dalam bangunan bagi hendaknya dibuat secara proporsional dengan jenis pengaliran yang sama (pengaliran sempurna). sedangkan untuk bangunan boks pembagi cukup dengan balok sekat. Bagian .Kecepatan rencana sebaiknya maksimum yang diijinkan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 61 . Bangunan Bagi. d) Perencanaan teknis : (1) Lebar bukaan lubang pembagian berbanding lurus terhadap luas areal yang diairi dengan elevasi ambang yang sama serta diusahakan tidak terlalu tinggi. diambil sama atau mendekati kecepatan D.

b dan c).065 0.016 0. Hmax (A .35 0007 0.118 0.055 0.40 0. b) Syarat-syarat perhitungan untuk Bangunan Terjun Type ini secara praktis dapat didasarkan pada : ¾ Lebar atas tembok penahan 0.084 0.45 0. maka digunakan 2 buah bangunan terjun.126 0.050 0. Bangunan Pembawa 1).060 0.061 0.012 0.1.096 0.035 0.035 0.47 H.030 0.070 0.50 m. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 62 .030 0.10 ha.045 0.008 0. Bagian . Apa bila terjadi tinggi terjun H > 1 50 m.107 0. Gambar a dan b.024 0.20 0.038 0.B) = 1.027 0.70 0.064 0.076 0.084 0.006 0.60 0.112 0.50 0.10 ha ke sebelah kiri atau kanan saluran tanpa melalui boks pembagi.30 b=0.092 0.054 0.086 0.25 0.10 0 15 0. E.3 0.(2) Ditinjau dari banyak dan arah pembagiannya ada tiga macam bangunan bagi atau boks pembagi (Gambar a.107 0.197 2) Bangunan Sadap/Corongan Bangunan Sadap/Corongan dibangun untuk menyadap air langsung dari Saluran Pembawa Utama ke petak sawah yang luasnya 5 .009 0.6h (h = tinggi air di saluran) ¾ Panjang sayap hulu dan hilir bervariasi disesuaikan dengan tinggi air dan keadaan tanah.040 0.139 0.55 0.032 0.183 0.50 ha.155 0. c) Pintu Sadap/Corongan dapat dilengkapi dengan lubang balok sekat d) Bangunan Sadap dapat dikombinasikan dengan bangunan boks pada bagian ujung keluaran (outlet). a) Bangunan Sadap/Corongan Type ini untuk menyadap air langsung dari Saluran Pembawa Utama untuk areal 5 .010 0.05 0. ¾ Panjang ruang olakan Lb = 4 .075 0.046 0.069 0.022 0.71 b. b) Penyadapan dengan pipa beton atau pipa PVC 75 mm untuk areal 5 .h 3/2 h(m) 0.011 0.011 0.013 0.128 0.099 0.65 0.098 Q = Discharge(m3/dt) 0.150 0.7ha dan dengan pipa beton atau pipa PVC 100 mm untuk areal 8-12.30 m dan lebar bawah diambil 0.019 0.140 0.169 0. Bangunan Terjun a) Bangunan terjun type ini adalah bangunan terjun dengan tembok tegak lurus atau dengan kemiringan 1 : 5 seperti (Gambar 16) yang digunakan bila t inggi terjun. (3) Rumus pengaliran melewati ambang: Aliran sempurna : Q = 1.

216 0.304 R 2/3 0.108 0.5 0.483 0.152 0.084 0. sehingga tinggi air (h) sama dengan diameter pipa (D).535 0. sehingga ukuran pipa/gorong-gorong diambil agak besar dengan kemiringan dasar pipa mengikuti saluran irigasi.50 m. b) Gorong-gorong pembuang diganakan untuk melintas Saluran Pembuang (Drainase) di bawah Saluran Irigasi.2).273 0.5 V=1.243 0.5 0.6736 D2. D = b + 0.242 0.9 1.585 0. Design o and Kecil Project) A=0.1.246 0.168 0. Gorong-gorong Pembuang a) Untuk gorong-gorong pembuang aliran masuk pada inlet adalah full pressure.422 0.546 0. Gorong-gorong Pembawa a) Gorong-gorong Pembawa berfungsi untuk menyeberangkan saluran bila terpaksa memotong jalan.0 A (m2) 0. R=0.7 0.452 Discharge (m3/dt) V=0.8 h D = Diameter pipa (m) B = Lebar saluran (m) H = Tinggi air (m) 3).427 0. d) Dengan pengaliran bebas (freeflowtype) biasanya ketinggian air diambil h = 0.121 0.183 0.678 e) Dengan pertimbangan diatas maka diambil besarnya diameter pipa. c) Untuk mencegah bocoran air saluran pembawa masuk kedalam saluran pembuang maka pada saluran pembawa diberi pasangan talud.80 (dari Supplemental to Guidelines No.0 V=1.213 0.122 0.054 0. 0.304 0.632 0.165 0.322 0.285 0.213 0.8 0.337 0.6 0. c) Prinsip hitungan hidrolis air masuk gorong-gorong pada inlet adalah bebas (freeflow).183 0. b) Gorong2 yang menyilang jalan.3042 D D (m) 0.4 0.674 R 0. 7.152 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 63 . timbunan tanah diatas gorong2 min.122 0.243 0274 0.431 0. Panjang pasangan Bagian .368 0.274 0.330 0.357 0390 0.

0167 atau K = 60 Vo = 1.370 0.502 0.385 0.125 0.0135 0.200 0.8 0.0 Ap (m2) 0. Jembatan & Talang a) Untuk penyeberangan jalan terhadap saluran.0040 Q (m3/dt) 0.6 0. Q = Ap x Vo Ap = 1/4 л.424 0.4 0.0064 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 64 .150 0.283 0.50 m/dt.577 0. apabila lebar dasar lebih besar daripada 1. P = Keliling basah aliran dalam pipa (m) R = Jari-jari hidrolis (m).178 4).D = 1/4 D I = ( n.D2/ л. tinggi tanah antara dasar pasangan talud saluran dan pipa.7 0.D2.175 0. Bagian . P = л.9 1.1.636 0.5 0. Untuk Vo rencana diambil minimum = 1.313 0.250 0.100 0.126 0.D R = Ap / P = 1/ л.196 0.0100 0. I = Kemiringan pipa.785 R 0. Untuk bentang diatas 4m harus dipasang tiang/pilar ditengah. ¾ Perhitungan hidrolis untuk Talang Pipa Besi dapat dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus aliran melalui pipa dengan kondisi tekanan penuh (full pressure condition).talud (L) minimum = 6-8.342 0. Vo = Kecepatan aliran dalam pipa. Perhitungan tebal plat dan pembesiannya sesuai dengan standar teknis jembatan beton bertulang. n = 0.954 1.215 0. b) Untuk menyeberangkan saluran irigasi di atas sungai atau melewati lembah yang tidak terlalu lebar digunakan talang dari pipa besi. Vo / R2/3 )2 Dimana : Q = Debit Saluran Pembuang (m3/dt) Ap = Luas penampang basah pipa (m2) D = Diameter pipa (m).282 0.397 I 0.188 0.20 meter dapat dibangun Jembatan Pelat Beton. 5 D (m) 0.225 0.0046 0.0078 0.294 0.0053 0.250 R2/3 0.754 0.

557 0.3420 0.0154 or K = 65 Vt=1.1.12 0.0.¾ Untuk menghitung tinggi tekanan hilang/head digunakan formula-formula seperti berikut : ∆h = (fo + fi + hf) (Vp2/2g) Dimana : ∆h : Tinggi tekanan hilang (m) L : Panjang pipa (m) D : Diameter pipa (m) Vp : Kec.09 c) Talang beton.5m/dt.6 0. air dalam pipa (m/dt) n : Koef.398 0.900 1.6 0.3 0.135 0.8 0.7 0.50 m/dt R = A/P.3 0.13 0.490 P 0.5 A f hf 0.4 0.2000 0.0675 0.1W 0. L / D D 0.60 . untuk beton diambil n = 0.0115 0.360 0.3790 I1/2 0.283 0. untuk pipa bulat f = (19.0884 0.200 1.50) f = (124.196 0.5 0.1071 0.0037 Q 0.50 m/dt dan tinggi tekanan hilang.0 Vp= 1. R 2/3.375 0.502 0.0 m/dt.5 0.1333 0. L=10m.100 R 0.385 0.346 ∆h 0.160 0.126 0.00) fi : Koefisien peralihan inlet (0.0078 0.10 0. Bagian .684 0.250 0. maka kecepatan air yang lewat di atas talang.0762 0. A = b x h.0046 0.174 0. fi=0.7 A 0.636 0.15 meter. Vt. Vt = 1/n .1000 0.039 0. I 1/2 > 1.014285) losses (∆tt) dapat fo : Koefisien peralihan outlet (0.044 0.5 0.047 1. n2)/D1/3.2333 R2/3 0.11 0. P = b + 2 h Dimana : Q = Debit air lewat talang (m3/dt) R = Jari-jari hidrolis (m) A = Luas tampang basah (m2) P = Keliling basah (m) Vt = Kec.2154 0. bentuk talang beton bertulang yang biasanya digunakan berbentuk segi empat ¾ Perhitungan hidrolis digunakan formula-formula : Q = A x Vt.9 1.872 0. untuk besi = 0. z = 0.70-1.7 h 0.0609 I 0.6 0.735 ¾ Agar dimensi talang ekonomis. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 65 .035 0.1667 0. air lewat talang (m/dt) I = Kemiringan dasar talang n = Koefisien kekarasan bahan.40 .041 0.4 0.4 0.0058 0.540 0. n2)/R1/3.2610 0.785 0. ditetapkan minimum 1. untuk boks hf : kehilangan tekanan akibat gesekan = f. fo=1.500 1.090 0.240 0.800 2.036 0.3029 0.466 0. b = h b 0. gesekan (sesuai bahan.09 0.037 0.0.60 .

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 66 . ¾ Bangunan krib dapat terbuat dari bronjong cerucuk kayu atau bambu. ¾ Perencanaan krib pada sungai-sungai besar perm diadakan survai morpologi sungai. Penahan Talud Saluran Penahan talud saluran ini umumnya dipasang pada daerah : Tanah porous Melewati perumahan/kampung Belahan Lereng Bentuk-bentuk talud diberikan sesuai type saluran. ¾ Panjang krib tidak lebih dari 1/3 lebar sungai. seperti contoh berikut : Bagian . miring searah aliran atau miring mengongsong arah aliran. 2). Bangunan ngunan Lainnya 1) Krib pengarah aliran ¾ Krib pengarah aliran berguna untuk mengarahkan aliran air agar dapat dengan mudah masuk kedalam pintu pengambilan (bebas) ¾ Krib pengarah aliran berguna untuk meluruskan aliran pada lokasi sungai yang berbelok-belok.F.1. ¾ Krib dapat dipasang tegak lurus aliran. ¾ Pangkal krib dibuat setinggi rata-rata tinggi muka banjir sepai panjang krib.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 67 . Pintu sorong sederhana (tanpa stank ulir) mempunyai sistem kerja yang hanya buka dan tutup saja. kadang-kadang perlu juga dibangun konstruksi Penahan Tebing Sungai.25 kali tinggi (H) sedangkan tebal pasangan bawah 0. Konstruksi ini terjadi karena saluran irigasi berada dilereng tebing dan sejajar dengan sungai. Pintu Air Sederhana Pintu air sederhana (pintu sorong sederhana) untuk melengkapi bangunan bagi. ukuran untuk tebal pasangan atas cukup 0.3). Penahan Tebing Sungai Disamping penahan tebing saluran. berfungsi untuk mengatur tinggi muka air dibagian hulu dan menguruangi/mencegah (dengan cara menutup pintu) air yang berlebihan masuk kedalam saluran.1.47 kali H. Bila Konstruksi penahan tebing dibuat dari pasangan batu kali. Bagian . G.

Untuk menentukan bukaan pintu berdasarkan debit air yang dikehendaki (petani) dapat menggunakan table berikut. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 68 .1. Bagian .

1. Bangunannya sederhana. Lokasi sumur minimal 10 meter dari sumber pengotoran (cubluk/resepan). kakus 10 lt/org/hr. kuat dan kedap air sampai ketinggian 0. 5. 2). PRASARANA MANDI. air tanah. Bagian-bagian MCK 1) Sumber Air Sumber air MCK harus memenuhi syarat air bersih : ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ Kualitas air tidak berasa. MCK Komunal yang dibangun merupakan kebutuhan bagi warga miskin dan warga pengguna bersedia untuk memelihara. Resapan dan saluran pembuangan harus lancar dan tidak meresap ke sumur disekitarnya. 4. o Pipa sebaiknya tertanam dalam tanah atau dilindungi dengan baik. Sumber air di MCK harus terjamin (tersedia dalam 24 jam). 3. 6.5 mm. Penyediaan air bersih dapat dari PDAM. Sumur pompa tangan/mesin.20 m o Pipa selubung sumur harus terbuat dari bahan kedap air dengan kedalaman minimum 2 meter dari permukaan lantai Sumur Gali dengan ketentuan : o Sekeliling sumur gali harus ada lantai kedap air selebar 1. CUCI. Air Bersih Perpipaan/PDAM dengan ketentuan : o Pipa air bersih dapat digunakan pipa PVC diameter sekurang-kurangnya 12. 2. kualitas (air bersih) dan kuantitasnya agar prasarana MCK dapat berfungsi dengan baik. KAKUS 1). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . cuci 15 lt/org/hr. Keperluan wanita dan laki-laki terpisah dan kapasitas satu unit MCK sebagai berikut. berwarna dan tidak pula keruh. Kamar Mandi/WC boleh tanpa atap bila sesuai kebiasaan masyarakat setempat. 69 2) Kamar Mandi dan WC ‰ Bagian .7. berbau. Limbah MCK harus dikontrol dengan baik sehingga tidak mengganggu dan mencemari lingkungan. sumur bor/gali/mata air dan kuantitas air sekurang-kurangnya untuk mandi 20 ltr/orang/hari. Mata Air dilengkapi dengan bak penangkap air. sesuai dengan standar teknis yang berlaku dan mempertimbangkan budaya setempat. dengan ketentuan : o Sekeliling sumur pompa harus ada lantai kedap air selebar 1.20 m o Dinding sumur gali harus terbuat dari konstruksi yang aman. Lokasi dan waktu tempuh dari rumah warga pemanfaat adalah 2 menit (jarak kurang/lebih 100m) dan luas daerah pelayanan maksimum untuk 1 MCK adalah 3Ha. Air Hujan dengan Bak Penampung Air Hujan. Ketentuan Umum 1.75 meter keatas dan 2 meter kebawah permukaan lantai.

Luas lantai KM sekurang-kurangnya 2m2 (1.5m2. pipa untuk menyalurkan air limbah dari jamban ke cubluk atau tangki septic. ‰ Luas lantai sekurang-kurangnya 10m2.0m) dengan ukuran bak sekurang-kurangnya 0. ‰ Tempat menggilas pakaian dapat berdiri atau jongkok. 4) Saluran Pembuangan Air Limbah ‰ Air yang masuk ke saluran pembuangan air limbah harus mengalir dengan lancar sampai ketempat pembuangan akhir/drainase. Pipa saluran. ‰ Air bekas cuci dapat dibuang ke saluran atau peresapan. Ventilasi udara dan sinar/cahaya alami tersedia sekurang-kurangnya seluas 0.1. ‰ Diameter minimum 10 cm.0m) dengan ukuran bak sekurang-kurangnya 0. pintu. dapat dihitung dengan pendekatan berikut : Bagian . spesi campuran 1semen : 3pasir atau Beton. Kemiringan sekurang-kurangnya 2%. Septicktank Berfungsi untuk menampung tinja. Belokan 90 derajat sebaiknya dihindari dengan membuat 2 kali belokan 45 derajat atau bak kontrol. Air bekas mandi dapat dibuang ke saluran atau peresapan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 70 .0m x 2. 5) Septictank dan Peresapan a. PVC diameter sekurang-kurangnya 10cm.‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ Lantai dibuat tidak licin dengan kemiringan kearah tempat pembuangan +1%. ventilasi dan penerangan maka berlaku ketentuan-ketentuan seperti pada KM/WC juga dapat diterapkan. Bak kontrol. bila tidak cahaya alami tidak memungkinkan maka disediakan penerangan lampu/listrik secukupnya.1m2 . Pintu dari Bahan tahan air atau PVC dengan ukuran lebar 60-80cm dan tinggi 160cm. Tinggi dinding sekurang-kurangnya 160 cm. urine dan air gelontoran sekaligus mematikan bakteri aerob dan anaerob.0m x 2. Lantai dibuat tidak licin dengan kemiringan kearah tempat pembuangan +1%. Luas lantai WC sekurang-kurangnya 2m2 (1. ‰ Saluran dibuat kedap air bila disekitarnya terdapat sumur air bersih dengan jarak 8 meter agar tidak merembes ke sumur.5m2 . Kloset Jongkok untuk WC. ‰ Bila dilengkapi dengan dinding. keperluan wanita dan laki-laki terpisah. bak untuk memeriksa dan membersihkan pipa saluran. ‰ Konstruksi dapat dibuat dari pasangan batu bata. 3) Tempat Cuci Umum ‰ Tempat Cuci boleh terbuka atau diberi atap. campuran 1semen : 2 pasir : 3 kerikil ‰ Volume konstruksi tergantung dari jumlah pemakai.

‰ Jarak peresapan dengan sumur air bersih. tanah normal 10 m dan tanah berpasir 25 m. Syarat teknis peresapan : ‰ Konstruksi dapat dibuat dari pasangan batu/bata tanpa spesi/plesteran agar air dapat masuk meresap kesela-sela batu tapi konstruksi harus cukup kuat untuk menahan tanah tidak runtuh.20 m dan tinggi sekurang-kurangnya 1. Lebar tangki sekurang-kurangnya 0.10 m. elevasi letak resapan harus lebih rendah dari elevasi sumur air bersih agar air resapan tidak masuk ke sumur.00 m dan keadalaman maksimum 2. Tinggi tangki septik adalah tinggi air dalam tangki. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 71 . Tangki air dalam tangki sekurang-kurangnya 1. sekurang-kurangnya untuk : tanah lempung 6 m . Jarak ke pondasi bangunan minimal 1. Dinding tangki septik harus dibuat tegak. Tangki septik ukuran kecil yang hanya melayani satu keluarga dapat berbentuk bulat dengan diameter sekurang-kurangnya 1. Peresapan Berfungsi untuk membuang air limbah dari septictank sehingga didalam septictank tinggal material pada saja. Bagian .20 – 0. Dasar tangki dapat dibuat horizontal atau dengan kemiringan tertentu untuk memudahkan pengurasan lumpur.1. Penutup tangki septik maksimum terbenam ke dalam tanah 0. ‰ Pada daerah dengan topografi yang miring.5m dan jarak ke pipa air bersih minimal 3m.75 m dan panjang tangki sekurang-kurangnya 1.‰ ‰ ‰ ‰ Tangki septik empat persegi panjang dengan perbandingan panjang dan lebar 2 : 1 sampai 3 : 1. b. ditambah dengan ruang bebas air sebesar (0.50 cm.00 m.40) m dan ruang penyimpanan lumpur.40 m.

00 60 10 10 115 60 10 135 10 60 10 175 PAS.B 10 60 15 T. BATU KOSONG 20 20 90 20 180 20 20 POTONGAN A .A PASIR Bagian .0. CUCI BAK KONTROL DRAIN 20 100 BAK AIR POMPA A 200 PIPA Ø 3" 15 385 A 10 50 10 100 20 20 90 20 330 180 20 15 60 10 15 100 15 120 440 15 165 10 DENAH MCK TYPE A RING BALOK + 2.20 150 10 . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 72 .0. BATU KALI 60 60 URUGAN TANAH 10 KE SUMUR RESAPAN PIPA Ø 3" 25 50 10 ± 0.1. DINDING BATA PAS.80 . BATU BATA 10 20 LANTAI KERJA PASIR URUG PAS.00 PAS. BATA KEDAP AIR 200 BETON BERTULANG BAK KONTROL PAS.00 .1.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 73 .VENTILASI Ø 1 1/4" TANAH URUG LAPISAN IJUK MANHOLE MANHOLE KERIKIL PVC Ø4" BERLUBANG BATU PECAH PIPA DARI KLOSET PVC Ø4" OUTLET PVC Ø4" BETON (1PC : 2PS : 4KR) PASANGAN BATA (1 PC : 2 PS) POTONGAN A PIPA DARI KLOSET PVC Ø4" VENTILASI Ø1 1/4" OUTLET PVC Ø4" PVC Ø4" A MANHOLE MANHOLE A DENAH TANGKI SEPTIK & RESAPAN (1) Bagian .1.

terutama warga disekitar lokasi TPS akan dibangun sehingga tidak menimbulkan konflik sosial. mencegah pencemaran lingkungan dan kemungkinan sarang vektor penyakit (lalat). ¾ Penyediaan TPS berikut Gerobak Sampah diutamakan bagi kelurahan/desa yang terjangkau oleh jaringan/sistem persampahan kota atau mempunyai akses yang dekat ke tempat pembuangan akhir sampah (dengan gerobak sampah mampu dibuang sendiri ke lokasi TPA). Pemilihan prioritas kegiatan persampahan diprioritaskan pada pembangunan tempat penampungan sementara (TPS) sebagai tempat pengumpul pembuangan sampah dari rumah-rumah dan Gerobak sampah sebagai alat pengumpul sampah sedangkan untuk penyediaan tempat sampah ditiap rumah dapat disediakan sendiri secara swadaya. Anggota masyarakat yang menggunakan jasa pengelolaan sampah akan dimintai kontribusi berupa dana/iuran sampah. pembungan sampah dapat dilakukan dengan cara menggali lubang sampah ditanah dipekarangan untuk dibakar atau ditimbun tanah kembali setelah penuh. Sedangkan untuk daerah dengan kepadatan penduduk yang masih rendah dan tanah cukup luas (perdesaan). ¾ Lokasi TPS harus dimusyawarahkan dan sepakati bersama oleh warga. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 74 . seperti dari pasangan batu/batu bata. Bangunan TPS dibuat dari konstruksi sederhana. sesuai kondisi sosial setempat dan dapat menggunakan bahan lokal. ¾ Pengumpulan sampah dari rumah-rumah sekurang-kurangnya 2 hari sekali dan pembungan sampah dari TPS sekurang-kurangnya seminggu sekali dengan volume sampah minimal.1. untuk menghindari bau. Ukuran TPS sekurang-kurangnya mempunyai kapasitas (isi) 2 m3 dengan jarak antar TPS sekurang-kurangnya 150m. ¾ Masyarakat bersedia membentuk kelembagaan pengelola pemanfaatan dan pemeliharaan prasarana berikut pembiayaannya secara swadaya. PRASARANA PERSAMPAHAN Prasarana persampahan yang dimaksudkan disini adalah prasarana persampahan dilingkungan permukiman. Bagian . bukan didaerah banjir dan mudah dijangkau oleh alat transportasi sampah (mobil angkutan sampah) untuk memudahkan pengangkuatan ketempat pembuangan akhir (TPA). Dengan cara tersebut diharapkan memperoleh lingkungan permukiman yang bersih dan sehat.8. Persyaratan umum pembangunan prasarana persampahan : ¾ Lokasi dipilih pada tempat yang jauh dari sumber air bersih.

agar penyelenggaraan UKBM tersebut dapat sinergis dalam upaya mewujudkan Desa Siaga. PRASARANA KESEHATAN Prasarana kesehatan yang dimaksud disini adalah prasarana dan saran untuk menunjang pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat. serta ditetapkan oleh Kepada Desa. Poskesdes dikelola oleh masyarakat yang dalam hal ini kader. Ketua. relawan dengan bimbingan tenaga kesehatan. Susunan pengurus Poskesdes bersifat Bagian . Struktur pengurus minimal terdiri dari Pembina.1. pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans penyakit. Sekretaris. Poskesdes Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan berbagai UKBM yang ada di desa. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pos bersalin desa (Polindes). Pembinaan teknis medis secara periodik dilakukan oleh Puskesmas. tetapi tidak termasuk penyediaan tenaga/peralatan medis. Prioritas pemilihan pembangunan prasarana kesehatan dasar adalah sebagai berikut: ¾ Rehabilitasi/perbaikan bangunan yang telah ada karena fungsi bangunan berkurang. dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan dasar. sedangkan hal-hal non teknis medis dilakukan oleh Pemerintah Desa/Kelurahan dan lintas sektor di tingkat Kecamatan. Kegiatan Poskesdes. ¾ Peningkatan bangunan yang telah ada agar mampu mendukung penyelenggaraan kegiatan utama sesuai fungsi organisasinya. dalam cakupan layanan wilayah kelurahan/desa. Lingkup pembangunan sarana/prasarana kesehatan dasar disini hanyalah mencakup penyediaan fisik/bangunan sederhana termasuk meubelair yang diperlukan. 1). melalui upaya kesehatan yang berbasis masyarakat (UKBM). transportasi.9. ¾ Kelurahan/desa yang telah memiliki kelembagaan/kepengurusan tetapi belum memiliki bangunan/masih menumpang pada bangunan lain dalam menjalankan kegiatan utama sesuai fungsinya. surveilans perilaku beresiko. utamanya adalah. Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan gedung sederhana tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU sedangkan terkait dengan kebutuhan ruangan bangunan mengacu pada standar teknis yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan. surveilans gizi. ¾ Kegiatan yang dilaksanakan harus dikoordinasikan dengan pemerintah desa/kelurahan dan instansi teknis kesehatan setempat. Perwujudan Desa Siaga ini adalah dalam rangka mempercepat pencapaian Desa Sehat. Bendahara dan Anggota. Tenaga kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan di Poskesdes minimal seorang Bidan. dikembangkan suatu bentuk UKBM yang dapat berfungsi mengkoordinasikan seluruh UKBM yang ada. Kegiatan UKBM yang dikembangkan dalam program ini antara lain adalah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). UKBM yang berfungsi koordinatif di desa tersebut adalah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Kepengurusan Poskesdes dipilih melalui musyawarah dan mufakat masyarakat desa. komunikasi dan obat-obatan. dan masalah kesehatan lainnya). misalnya gedung Polindes yang ada dikembangkan menjadi Poskesdes. ¾ Pembangunan Poskesdes tidak diprioritaskan bagi Desa/kelurahan yang terdapat sarana kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit). Fungsi koordinasi ini diperlukan. penanganan kegawat daruratan kesehatan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 75 . Pembinaan Poskesdes dilaksanakan secara terpadu dengan lintas sektor. dan surveilans lingkungan.

atau sebutan lainnya yang sesuai.fleksibel. Poskesdes berada di bawah pengawasan dan bimbingan Puksesmas setempat. Kedudukan dan hubungan kerja antara Poskesdes dengan unit-unit serta masyarakat. maka Poskesdes berkoordinasi dengan Puskesmas Pembantu tersebut. dusun. dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 76 . Pelaksana Poskesdes wajib melaporkan kegiatannya kepada Puskesmas ataupun kepada sektor terkait lainnya sesuai dengan bidangnya. 3. Bayi & Anak Balita. guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). seorang sekertaris dan seorang bendahara ditambah Bagian .1. dimungkinkan untuk didirikan di RW. Apabila Poskesdes tidak mampu memberikan pelayanan maka perlu melakukan rujukan ke Puskesmas. Dengan demikian. 4. Jika di wilayah desa tersebut terdapat Puskesmas Pembantu. maka Poskesdes bertugas pula membina kelestarian UKBM lain tersebut. seorang ketua. 2. Pelayanan yang dilaksanakan terutama mencakup pelayanan : Kesehatan Ibu & Anak. Poskesdes merupakan koordinator dari UKBM yang ada (misalnya: Posyandu. ambulan desa). Pembinaan dalam aspek upaya kesehatan masyarakat maupun upaya kesehatan perorangan. Poskestren. antara lain pelayanan kegawat daruratan. Posyandu berlokasi di setiap desa/kelurahan/nagari. Imunisasi. Kedudukan Posyandu terhadap UKBM dan berbagai lembaga kemasyarakatan/LSM desa/kelurahan yang bergerak dibidang kesehatan adalah sebagai mitra. 2). KB. Bila diperlukan dan memiliki kemampuan. gizi dan penanggulangan diare kepada masyarakat setempat. Pengelola Posyandu dipilih dari dan oleh masyarakat melalui musyawarah pada saat pembentukan Posyandu. Kedudukan Posyandu terhadap Puskesmas adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang secara teknis medis dibina oleh Puskesmas. Poskesdes dibawah pembinaan Kabupaten/Kota melalui Puskesmas. kondisi dan permasalahan setempat. Laporan kesehatan disampaikan kepada Puskesmas. Pada keadaan tertentu Poskesdes dapat melakukan rujukan langsung ke Rumah Sakit dengan sepengetahuan Puskesmas. Kedudukan Posyandu terhadap pemerintahan desa/kelurahan adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan yang secara kelembagaan dibina oleh pemerintah desa/kelurahan. adapun laporan yang menyangkut pertanggungjawabab keuangan disampaikan kepada Kepala Desa. Pengurus Posyandu sekurang-kurangnya terdiri dari Pembina. Posyandu Posyandu merupakan salah satu UKBM dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. sehingga dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 77 .1. Susunan pengurus bersifat fleksibel.dengan kader posyandu yang selanjutnya ditetapkan oleh Lurah/Kades.60 Pos Kesehatan Desa LUAS BANGUNAN: ± 60 m2 SKALA 1m O 100 200 300 400 500 2m 3m 4m 5m Bagian . sehingga dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. kondisi dan permasalahan setempat. Lokasi pembangunan posyandu sebaiknya ditempat yang relatif datar dan ditengahtengah lingkungan sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat. MODEL POSKESDES .

ekonomi dan Bagian . papan tulis) tetapi tidak termasuk tenaga pengajar dan bukubuku pelajaran. termasuk meubeler (seperti meja. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 78 . terutama bagi kelurahan yang telah memiliki kelembagaan/kepengurusan tetapi belum memiliki bangunan/masih menumpang pada bangunan lain dalam menjalankan kegiatan utamanya. Prioritas pemilihan pembangunan prasarana pendidikan dasar adalah : ¾ Rehabilitasi/perbaikan bangunan pendidikan dasar yang telah ada karena fungsi bangunan berkurang. Seluruh pembangunan prasarana pendidikan yang dibangun disini harus dikoordinasikan dan tidak bertentangan dengan kebijakan/perencanaan umum dari pemerintah desa/kelurahan dan dinas/sektor Pendidikan dan Kebudayaan di daerah setempat. bagi kelurahan yang belum memiliki kelembagaan/kepengurusan tetapi bersedia membentuk pengelola pemanfaatan & pemeliharaan bangunan segera setelah usulan kegiatan disetujui. Ketentuan umum prasarana perumahan/permukiman adalah : ƒ ƒ ƒ Rumah warga miskin yang direhabilitasi/dibangun harus memenuhi persyaratan kelayakan teknik dan persyaratan kesehatan minimum. pelaksanaan dan pemantauan perumahan mereka. Pembangunan sarana/prasarana pendidikan dasar yang dikembangkan dalam program ini antara lain adalah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). ¾ Pembangunan baru untuk PAUD.1. TK termasuk fasilitas bermain. tetapi tidak termasuk prasarana pendidikan dasar yang dikelola oleh swasta/yayasan. teknologi konstruksi dan pelayanan prasarana harus menerapkan kriteria keberlanjutan dari aspek sosial. Rehabilitasi bangunan Sekolah Dasar/sederajat. ¾ Peningkatan bangunan yang telah ada agar mampu mendukung penyelenggaraan kegiatan utama sesuai fungsinya. Dalam pemilihan bahan bangunan. misalnya rehabilitasi/perbaikan rumah tinggal. TK termasuk fasilitas bermain. misalnya penambahan ruangan belajar/ruang guru termasuk fasilitas sanitasi. PRASARANA PERUMAHAN/PERMUKIMAN Prasarana/kegiatan lingkungan permukiman yang dibangun dalam PNPM merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat individu bagi masyarakat miskin. bangku. 11.10. Taman Kanakkanan (TK). Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan gedung (sederhana) tahan gempa atau untuk rehabilitasi SD mengacu pada standar teknis bangunan SD tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU sedangkan terkait dengan kebutuhan ruangan dan kelengkapan fasilitas bangunan mengacu pada standar teknis yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PRASARANA PENDIDIKAN Prasarana pendidikan yang dimaksud disini adalah prasarana dan saran untuk menunjang pelayanan pendidikan dasar bagi masyarakat yang dikelola oleh masyarakat/pemerintah. ¾ Pembangunan baru untuk PAUD. Calon pemanfaat haruslah dilibatkan sebagai pelaku utama dalam proses pengambilan keputusan pada saat perencanaan.

Kriteria rehabilitasi/peningkatan pasar lama yang perlu diperhatikan. Kriteria pembangunan baru pasar desa/kelurahan. misalnya Pasar Desa (termasuk Kios didalamnya) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). yaitu RIT-1. PRASARANA PERDAGANGAN Prasarana/kegiatan Perdagangan yang dibangun dalam proyek ini merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat umum/kepentingan umum bagi masyarakat miskin. 5) Tersedia lahan yang siap dipergunakan sesuai kebutuhan luas pasar tanpa menimbulkan dampak lingkungan dan social bagi warga. 2) Sudah ada beberapa bakal calon (embrio) pedagang. 3) Pembangunan pasar baru yang benar-benar dibutuhkan. 3) Jumlah yang cukup dari calon pedagang yang bersedia dan terdaftar untuk memanfaatkan pasar secara rutin. 2) Peningkatan bangunan/fasilitas pasar yang telah ada sehingga mampu memberikan pelayanan secara lebih optimal. 6) Lokasi pasar sesuai dengan rencana tata ruang wilayah setempat. dengan jarak kurang lebih 5 km. RsS-2. Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan rumah tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU. Pengembangan pola RIT ini adalah untuk mengoptimalkan ketersedian sumberdaya termasuk dana awal yang ada dalam upaya untuk mewujudkan pembangunan rumah yang memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan terlebih dahulu menuju rumah sehat layak huni. 3) Tersedia lokasi yang cukup untuk peningkatan bangunan/fasilitas pasar lama sehingga mampu meningkatkan pelayanannya. 2) Bangunan pasar lama masih kuat dan akan tetap stabil.ƒ lingkungan serta harus mempertimbangkan kemungkinan bencana alam khususnya gempa. Lingkup kegiatan pembangunan pasar desa/kelurahan diprioritaskan pada : 1) Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pasar lama yang telah ada. maka Rancangan Pola Pembangunan Rumah diarahkan pada pembangunan secara bertahap horizontal dengan penyediaan desain rumah antara/Rumah Inti Tumbuh (RIT) yang pertumbuhannya diarahkan menjadi Rumah Sederhana Sehat (RsS) sebagaimana yang dikembangkan oleh Departemen PU. 4) Ada komoditas/barang dagangan setempat yang akan diperjual-belikan. a). Pasar Pasar yang dimaksudkan disini adalah pasar desa/kelurahan yang merupakan suatu tempat yang digunakan oleh masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi jual beli. 12. RsS1. Apabila ketersediaan dana terbatas. RIT-2. Persyaratan utama untuk pembangunan pasar adalah adanya penjual dan pembeli serta barang/komoditas yang diperjual belikan. Selanjutnya pembangunan/pengembangannya menjadi Rumah Sederhana Sehat nantinya dilaksanakan oleh Pemilik secara swadaya sesuai kemampuannya. Bagian . dll. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 79 . antara lain : 1) Pasar lama yang ada masih terdapat aktivitas perdagangan dan pedagang yang ada/calon pedagang bersedia memanfaatkan pasar secara rutin. antara lain : 1) Belum tersedia pasar terdekat. 4) Lokasi pasar lama tidak bertentangan dengan rencana tata ruang wilayah setempat.1.

Calon Pengguna dan Kebutuhan Luas Bangunan Pasar a. Potensi dan Lokasi Pasar Survey potensi dan kebutuhan terhadap pembangunan baru pasar secara sederhana dapat dilakukan pada beberapa penduduk dan tokoh masyarakat di sekitar lokasi pasar di dalam desa maupun di luar desa dengan menggunakan peta desa lengkap serta jalan porosnya. b) Jarak kepasar yang terdekat dengan lokasi rencana kurang lebih 5 km. a) Di lokasi rencana sudah ada beberapa (embrio) pedagang di tempat calon pasar tersebut. pedagang harian atau mingguan. alamat. c) Lokasinya strategis (pertigaan jalan/perempatan jalan kendaraan atau tempat persinggahan kendaraan umum). b. = 1) 2). Pendaftaran bagi para calon pengguna pasar dilakukan dengan formulir/blanko. d) Jumlah yang cukup untuk calon pedagang yang mendaftar (untuk menentukan luas pasar). maks. Jumlahnya adalah jumlah pedagang pada embrio pasar ditambah dengan calon pedagang baru yang bersedia dan terdaftar pada saat sosialisasi/survey khusus yang dilaksanakan. maka untuk menentukan kebutuhan luas bangunan pasar bisa ditentukan dengan mamperkirakan secara rata-rata kebutuhan lahan berdagang untuk tiap satu orang pedagang = 4 m2. jenis dagangan serta iuran yang disepakati untuk retribusi dan tanda tangannya. Calon pengguna pasar Calon pengguna pasar adalah pedagang yang akan menggunakan pasar tersebut secara rutin. dekat pemukiman penduduk dan transportasinya mudah di jangkau. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 80 . e) Secara umum untuk Jumlah Pembeli = Jumlah Penduduk x Koefisien (koef. Kebutuhan Luas Bangunan Pasar Setelah diketahui jumlah calon pedagang yang mendaftarkan.1. Bagian . diantaranya mencakup tentang : nama.1).

d) Listrik. Tata Ruang Pasar Penataan ruang pasar memperhatikan letak pasar dengan jalan masuk utama yang ada disekitarnya.1. laut.5 m maka luas bak sampah yang diperlukan adalah Jumlah pedagang dikali 0. Bila diperlukan maka pasar dapat disediakan listrik berdasarkan kebutuhan rata-rata per orang pedagang di Los Pasar sebesar 100VA dan per Kios rata-rata 450 VA. c) Bak Sampah.1m3/hari). Setiap kios berukuran sekurang-kurangnya 3m x 4m. danau. b) Parkir. sedangkan sisi-sisinya terbuka. Luas lahan per kapita pedagang sekurang-korangnya 10 m2. MCK harus tersedia air bersih yang memenuhi persyaratan kualitas. walaupun angka sebenarnya perlu di sepakati Iebih lanjut dengan para calon pedagang terutama menyangkut dana yang tersedia. bangunan yang bagian atas maupun sisi-sisinya terlindungi dan pada sisi bagian depannya bisa di tutup dan dibuka. Untuk menentukan jumlah kios bisa diambil angka 50% x jumlah pedagang harian. Untuk menentukan kebutuhan sarana penunjang tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan berikut. bangunan besar yang digunakan bersama-sama antar pedagang yang bagian atasnya terlindungi. Jumlah kebutuhan MCK sama dengan Jumlah Calon Pedagang dibagi 15. Ukuran Bak sampah ditentukan berdasarkan volume timbulan sampah per pedagang (sebesar 0. luas lahan (m2) kebutuhan parkir sama dengan Jumlah Pedagang dikali luas lahan per kapita pedangan (m2). Pasar juga harus dilengkapi dengan drainase air hujan yang terintegrasi dengan system drainase kota yang ada atau tempat pembuangan air (sungai. 4). Untuk lebar lahan parkir sekurang-kurangnya 10m. 3). Kebutuhan Sarana Penunjang Pasar Pada setiap bangunan pasar memerlukan sarana penunjang yaitu. Parkir Kendaraan. sumur resapan. Bak Sampah dan Listrik. dimana angka 15 merupakan perkiraan kemampuan pelayanan 1 unit per hari. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 81 . a) MCK.5m. Penataan ruang pasar dapat diatur seperti contoh gambar beriku : Bagian . 2) Kios-kios. MCK. dll).Maka kcbutuhan luas bangunan Pasar = Jumlah calon pedagang x 4 m2.1 m3 dibagi 1. 1) Los pasar. Ada dua jenis bangunan yang dibutuhkan di dalam pasar. Drainase dapat dibuat terbuka atau ditutup. Untuk tinggi bak 1. kuantitas dan kontinuitasnya.

Konstruksi Konstruksi bangunan dibuat sederhana sehingga tidak diperlukan perhitunganperhitungan konstruksi. Kemudahan penyediaan bahan bangunan c.1. Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan gedung (sederhana) tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU. Bahan bangunan yang digunakan harus memenuhi persyaratan bahan bangunan yang tercantum dalam SNI b. TEKNIS 1. Bahan Bangunan Bahan bangunan yang digunakan adalah bahan setempat yang tersedia dengan kriteria sebagai berikut : a. Keandalan konstruksi 2.Beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan terkait dengan penataan ruang pasar tersebut. namun apabila daya dukung tanahnya kurang baik maka perlu dilakukan perhitungan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 82 . Bagian . Kemudahan pelaksanaan konstruksi d. seperti diuraikan pada table berikut : 5.

Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 83 .1.

bentuk kegiatannya dibatasi pada penerangan jalan/tempat umum (Tiang + Lampu) dan Pembangkit Listrik (Genset/PLTM + Jaringan + Rumah Genset). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 84 . Bagian .1. PRASARANA PENERANGAN UMUM Prasarana/kegiatan lingkungan penerangan umum yang dibangun dalam PNPM merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat umum/kepentingan umum bagi masyarakat miskin yang pengelolaannya dilakukan sendiri oleh masyarakat.13.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->