KRITERIA & DESAIN TEKNIS KEGIATAN LINGKUNGAN

1. JALAN DAN BANGUNAN PELENGKAPNYA
Jalan disini adalah jalan yang dapat berfungsi sebagai penghubung antar desa/kelurahan atau ke lokasi produksi/pemasaran, atau berfungsi sebagai penghubung hunian/perumahan, serta juga berfungsi sebagai penghubung desa/kelurahan ke pusat kegiatan yang lebih tinggi tingkatannya (kecamatan/kab/kota). Jalan dibangun atau ditingkatkan untuk membangkitkan manfaat-manfaat bagi masyarakat, seperti : Membuka isolasi, Mempermudah pengiriman sarana produksi; Mempermudah pengiriman hasil produksi ke pasar, baik yang di desa maupun yang diluar, dan Meningkatkan jasa pelayanan sosial, termasuk kesehatan, pendidikan dan penyuluhan. Pembangunan jalan disarankan pada peningkatan jalan lama yang sudah ada. Hal ini untuk menghindari kesulitan pembebasan lahan, dampak lingkungan yang tidak dianalisis lebih mendalam serta banyaknya volume pekerjaan pada pembukaan jalan baru. Namun demikian, kadang-kadang tidak dapat dihindari untuk membuat jalan baru atau peningkatan jalan lingkungan. A. KRITERIA PEMILIHAN TEKNOLOGI KONSTRUKSI JALAN Pembangunan jalan baik berupa pembangunan baru, peningkatan atau rehabilitasi Jalan Tanah, Jalan Telford, Jalan Makadam, Jalan Beton, Jalan Aspal agar mempertimbangkan kriteria-kriteria, pemilihan teknologi & Jenis Konstruksi Jalan berikut.

1

Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jalan baru, antara lain : o o o o o Trase Jalan mudah untuk dibuat; Pekerjaan tanahnya relatif cepat dan murah; Tidak banyak bangunan tambahan (jembatan, gorong-gorong, penahan longsor, dll); Penyediaan/pembebasan lahan tidak sulit; Tidak merusak Lingkungan atau memerlukan studi lingkungan yang lebih mendalam; Memungkinkan untuk pelebaran jalan; Standar Geometrik untuk pelebaran jalan; Tanjakan yang melewati batas standar teknik harus diubah sesuai dengan standar teknis; Sistem drainase dan pekerjaan tanah tidak akan merusak lingkungan;

Yang perlu diperhatikan dalam peningkatan Jalan lama, antara lain : o o o o

B. BAGIAN-BAGIAN JALAN Suatu Jalan umumnya terdiri dari bagian-bagian, yaitu : Dawasja, Damaja, Damija, Badan Jalan, Lapis Perkerasan, Bahu Jalan dan saluran tepi.

Gambar 1. Bagian-Bagian Jalan 1. Dawasja (Daerah Pengawasan Jalan), Daerah ini merupakan ruang sepanjang jalan yang dimaksudkan agar pengemudi mempunyai pandangan bebas dan badan jalan aman dari pengaruh lingkungan, misalnya oleh air dan bangunan liar (tanpa izin) 2. Damaja (Daerah Manfaat Jalan), Daerah ini merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi, dan kedalaman ruang bebas tertentu yang ditetapkan oleh Pembina Jalan. Daerah Manfaat Jalan hanya diperuntukkan bagi perkerasan jalan, bahu jalan, saluran samping, lereng, ambang pengaman, timbunan dan galian, gorong-gorong, perlengkapan jalan, dan bangunan pelengkap lainnya. 3. Damija (Daerah Milik Jalan), Daerah ini merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu yang dikuasai oleh Pembina Jalan dengan suatu hak tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Daerah Milik Jalan diperuntukkan bagi Daerah Manfaat Jalan dan pelebaran jalan maupun penambahan jalur lalu-lintas di kemudian hari, serta kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan. 4. Bahu Jalan, Bahu jalan adalah bagian jalan yang berdampingan dan sama tinggi dengan perkerasan jalan.

2

5. Saluran Samping Jalan, Saluran Samping Jalan adalah bagian jalan yang berdampingan dengan bahu yang berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air secepatnya. 6. Badan Jalan, Badan jalan merupakan bagian jalan dimana jalur lalu-lintas, bahu, dan saluran samping dibangun. 7. Perkerasan Jalan, Perkerasan jalan merupakan konstruksi jalan yang diperuntukkan bagi jalur lalu-lintas yang umumnya terdiri dari tanah dasar, lapisan pondasi bawah, lapisan pondasi atas, dan lapisan permukaan. Untuk jalan dengan lalu lintas ringan, lebar perkerasan diambil 2,5 – 3 meter.

C. DESAIN
Standar teknis jalan mengacu pada Pedoman Teknis Pembangunan Jalan yang diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum yang sudah ada, seperti Pedoman Sederhana Pembangunan Jalan dan Jembatan Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, Puslitbang Dep. PU, 1996. 1). Perlindungan Lingkungan dan Sosial Pembangunan jalan, selain perlu memperhatikan aspek teknis konstruksi jalan, juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan (konservasi tanah), terutama pada kondisi wilayah dengan topografi yang sering berbukit dan dengan tanah yang peka erosi. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit erosi tanah yang berasal dari jalan, khususnya berupa longsoran dari tampingan dan tebing jalan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian erosi pada jalan untuk mengamankan jalan dan membangun jalan yang tidak menjadi sumber erosi. Pengendalian erosi dapat dilakukan secara sipil teknis (pembangunan konstruksi penahan, drainase atau secara vegetatif (penanaman bahan-bahan vegetatif), dan masing-masing mempunyai kelebihan. Perencana harus memilih tindakan-tindakan pengendalian erosi dengan pertimbangan lingkungan dan biaya, yang tidak terbatas pada waktu penyelesaian konstruksi jalan saja, tetapi harus dipikirkan sampai masa pemeliharaan. Selain itu, tingginya curah hujan, lereng-lereng curam dan tanah rapuh menimbulkan banyak kesulitan dalam perencanaan dan pembangunan jalan berkualitas tinggi, terutama bila dimaksudkan untuk membangun jalan dengan biaya rendah dan tidak membahayakan lingkungan. Dalam konteks seperti ini, kita harus menyadari bahwa masalah erosi akan terus muncul walaupun dapat dikurangi dan diatasi ketika terjadi. Alternatif lainnya adalah Trase jalan harus dipilih untuk mengurangi masalah lingkungan, misalnya dengan mengurangi galian dan timbunan bilamana mungkin. Karena tidak mungkin di kawasan perbukitan untuk menghilangkan masalah dengan pemilihan trase (dengan pemindahan trase atau mengurangi tanjakan), maka perlu diusahakan teknik-teknik pengendalian erosi termasuk pembangunan tembok penahan tanah dan bronjong atau penanaman bahan-bahan vegetatif untuk menstabilkan lereng atau mengurangi erosi percik atau alur kecil. Kegiatan pengendalian erosi juga tidak dibatasi pada pengamanan dampak lingkungan, tetapi juga harus mempertimbangkan akibatnya terhadap sosial masyarakat sekitarnya/diluar daerah milik jalan (misalnya, pembuangan dari saluran merusak lahan produktif warga). Terkait dengan masalah pengamanan dampak lingkungan dan sosial pada pembangunan jalan ini, secara khusus diuraikan pada buku Pedoman Teknis Pengamanan Dampak Lingkungan & Sosial (Safeguards).
Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

3

2). Geometrik Jalan Geometrik adalah bentuk dari potongan melintang dan memanjang suatu alur jalan yang mempunyai lebar jalan dan bahu jalan tertentu dan dapat dilalui oleh kendaraan rencana. Alur jalan adalah bagian jalan yang terdiri dari permukaan jalan yang diperkeras, bahu jalan, dan saluran samping. 1. Pandangan Bebas dan Tempat Persimpangan a) Pandangan Bebas Pandangan bebas harus diperhatikan demi keselamatan pemakai jalan, baik kendaraan maupun pejalan kaki, yaitu : ¾ Tanjakan/Lengkung vertikal dengan pandangan bebas 30 meter.

¾ Tikungan/Lengkung horisontal dibuat dengan pandangan bebas 30 meter.

b) Tempat Persimpangan Perkerasan yang hanya selebar tiga meter kurang lebar untuk dua kendaraan saling melewati, maka harus disediakan tempat sebuah kendaraan dapat menunggu kendaraan berjalan dari lain arah. Setiap tempat ini harus kelihatan dari tempat yang sebelumnya.

Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

4

Jarak antara titik perpotongan (T) dua alur jalan yang lurus sampai dengan titik tengah lengkungan lingkaran (A) disebut jarak E dan panjangnya tidak kurang dari 5 meter. jalan harus dibuat seperti yang tercantum dalam gambar: Bagian . Lengkungan merupakan bagian dari lingkaran yang memiliki jari-jari yang sama.2. a. kemiringan melintang hanya ke satu arah (ke dalam) dengan kemiringan berkisar antara 3 – 5%. Jarak antara titik perpotongan (T) dua alur jalan yang lurus sampai dengan titik awal perubahan lengkung (A) disebut jarak L dan panjangnya tidak kurang dari 15 meter. 5. Tikungan tajam dibuat dengan pelebaran perkerasan dan kemiringan melintang miring ke dalam. Apabila terdapat tikungan tajam di daerah tersebut. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 5 . 3. Pada tikungan. Tentukan titik pertemuan dua alur yang lurus (T). Tikungan/Lengkung Horisontal dan Tikungan Pada Tanjakan Curam.1. Bagi sudut yang terbentuk antara dua garis lurus tadi dengan sama besar. b. Tikungan adalah alur jalan yang melengkung. titik B. yaitu : 1. 3. Jarak antar tikungan diusahakan minimal 100 meter. lakukanlah langkah-langkah berikut : 1. 2. Tentukan titik B pada garis pembagi tersebut sejauh E dari titik T. 4. Tentukan titik lengkungan sebelah kiri (A) dan kanan (B) sepanjang L dari titik T. Panjang jari-jari sebaiknya cukup besar dan tidak kurang dari 15 meter. Ada beberapa ketentuan dalam membuat tikungan. 5. Buat lengkungan yang menghubungkan titik awal lengkungan (A awal). 2. dan titik lengkungan (A akhir). Lengkung Horisontal Jari-jari tikungan minimal 10 meter. di atas 10%. Tikungan pada Tanjakan Curam Di daerah perbukitan sering dijumpai jalan yang menanjak dengan kemiringan yang cukup berat. Untuk membuat tikungan. 4.

Pada daerah yang relatif datar dan lurus. harus disediakan bagian datar atau bagian menurun. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 6 . Setelah itu. Pada keadaan biasa. Ukuran saluran samping minimal 50 cm dalam x 30 cm lebar dasar. seharusnya dipindahkan supaya trasenya lebih ringan. Apabila trase jalan belum memenuhi persyaratan ini. badan jalan dibuat dengan bentuk "punggung sapi" (bagian tengah lebih tinggi + 68cm). Pengukuran tanjakan adalah dengan rumus "jumlah meter naik per set tap seratus meter horizontal" (10 meter naik per 100 meter horisontal sama dengan tanjakan 10%). Bagian . bentuk jalan dibuat miring (4%-6%) kesaluran tepi jalan. Bentuk Badan Jalan di Daerah Datar Jalan harus dibuat dengan bentuk yang tepat. tanjakan maksimum dibatasi 7%. Pembuangan air dari saluran pinggir jalan diatur supaya air tidak melintangi jalan dan mengganggu kendaraan : saluran dari atas diteruskan lurus ke depan dan airnya dibuang jauh dari jalan. Tikungan dibuat pada bagian datar untuk mempermudah perjalanan bagi yang naik atau turun. berbentuk trapesium. saluran pada jalan bagian bawah dimulai di luar bagian datar (sesudah tikungan). Tanjakan/Lengkung Vertikal Tanjakan membatasi muatan yang dapat diangkut pada suatu jalan. dan permukaan jalan dan saluran air lebih sering harus dipelihara dan diperbaiki. Jalan yang sangat curam juga lebih sulit dipadatkan dengan mesin gilas. pilih trase jalan supaya tanjakan tidak terlalu curam.1. serta membuat jalan lebih berbahaya. Untuk meningkatkan kenyamanan serta keselamatan pengguna jalan. Bentuk Badan Jalan a. Tanjakan maksimum dibatasi 20% dengan panjang 150 m. Jika jalan menanjak terus.3. 4.

penamanan rumput atau perdu. dan demi keselamatan. agar dapat mengalirkan air dengan cepat ke saluran tepi jalan. bronjong kawat atau turap kayu.1. maka timbunan maksimal dibatasi 1. saluran diversi. Tanah hasil pemotongan harus dibuang secara aman untuk mencegah erosi dan longsor. lapisan batu kosong. b. Timbunan tinggi sering mengalami longsor dan erosi berat. Bentuk Badan Jalan di Daerah Curam Konstruksi jalan daerah perbukitan perlu perhatian khusus untuk menjamin stabilitas. saluran samping dibuat di arah bukit. Perkerasan Jalan Jenis-jenis konsrtuksi jalan dibedakan atas 3. agar air tidak merembes dan dapat menahan beban kendaraan. galian dan timbunan atau campuran tanah dengan bahan bangunan yang lebih baik (pasir. Jalan tanah sangat peka terhadap air. merupakan badan jalan tanah yang tidak diberikan lapis perkerasan sebagai penutup. ‰ Harus dipadatkan.Pada badan jalan di daerah bukit. karena lereng yang semakin landai akan semakin stabil dan tanaman tidak bertumbuh dengan baik pada tebing yang hanipir vertikal.4% . antara lain: pembuatan teras. maka permukaan jalan harus dibuat dengan : Kemiringan 2% . ‰ Untuk dapat melindungi badan jalan dari pengaruh lalu lintas atau perubahan alam. yaitu Jalan Tanah. Jalan Diperkeras dan Jalan Beraspal. Jalan ini merupakan jalan yang paling sederhana.50 meter. Umumnya untuk lalulintas kurang dari 50 kendaraan roda 4 perhari. A. untuk mengurangi longsor dan erosi. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 7 .00 meter. Tebing gundul perlu dilindungi dengan salali satu cara yang efektif dan efisien. pasangan batu. disarankan perkerasan tidak dibuat di atas timbunan baru. kapur/gamping dll). Bila perkerasan terpaksa harus dibuat di atas timbunan. maka diatas badan jalan diberi lapisan perkerasan (Jalan Diperkeras dan Bagian . Disarankan kemiringan tebing 1:1. Tinggi pemotongan tebing maksimal disarankan 4. Kemiringan tebing maksinial 2:1 dan dilindungi dengan cara yang efektif. Karena timbunan sulit dipadatkan secara padat karya. dapat dibuat dari tanah asli. 5. Jalan Tanah.

Perkerasan batu belah (telford). Perkerasan Telford harus bebas dari akar. agregat pengunci dengan ukuran 1 – 2 cm dan pasir penutup. Di atas batu belah kemudian diberi batu pengisi/batu pengunci berupa batu pecah dengan ukuran 5—7 cm. Badan jalan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum pasir dihamparkan. bahan perkerasan Makadam terdiri atas agregat kasar/pokok ukuran 2-5cm. Diatas lapisan batu pecah ini dipasang batu pengunci berupa batu pecah dengan ukuraran antara 1-2 cm. dihamparkan pada permukaan jalan tanah yang telah padat. kemudian dipukul dengan palu. Ketebalan minimum perkerasan Sirtu ini adalah 12-20 cm dan dipadatkan dengan mesin gilas. Perkerasan Makadam Ikat Basah ini menggunakan agregat kasar dengan gradasi hampir seragam dengan ukuran butir 3-5 cm dengan dipasang setebal kurang lebih 3/2 dari ukuran butir batu pecah. Tebal perkerasan + 20 cm. batu pengisi dan batu tepi. Perkerasan Sirtu/ Kerikil (pasir campur batu). Sebelum pasir urug dihamparkan terlebih dahulu dipasang Batu Pinggir yang ukurannya lebih besar dan lebih tinggi dari batu belah. Agregat (Kerikil) perkerasan sirtu ini harus bebas dari gumpalan lempung. rumput atau sampah dan kotoran lain. Perkerasan Makadam Ikat Basah (Waterbound Macadam). Adapun jenis lapis perkerasan yang umum dipergunakan dalam pembangunan jalan adalah : B. Batu belah yang dipergunakan diperoleh dan batu besar yang dibelah-belah. kemudian dilakukan pemadatan dengan mesin gilas. batu belah. material organik atau lainnya yang tidak dikehendaki dan harus dipadatkan sehingga dapat menghasilkan lapis permukaan yang kuat dan stabil. Bagian . Batu belah dipasang tegak. sehingga mempunyai permukaan banyak dan kasar dengan tinggi 15-20 cm. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 8 . terdiri atas pasir urug. dengan tangan. Batu belah disusun diatas alas pasir urug dengan ketebalan 10-15cm. dimana bahan perkerasan Sirtu terdiri dari campuran pasir batu yang langsung diambil dari alam (sungai) atau campuran antara kerikil ukuran 2–5cm dengan pasir urug. 3. 2. Jalan Diperkeras : 1. Sebagai langkah terakhir dilakukan pemadatan dengan alat pemadat mesin gilas.1. stemper atau timbris. bagian tumpul di bawah dan yang runcing di atas.Jalan Beraspal). stamper atau timbris. Jalan Diperkeras biasanya untuk lalu lintas 50-100 kendaraan roda 4 perhari dan Jalan Beraspal untuk lalulintas lebih dari 100 kendaraan roda 4 perhari.

5. Tebal paving blok sekitar 6-10cm. Setiap 1 meter memanjang dibuat alur lebar 1cm dan dalam 2cm. Perkerasan ini dipergunakan untuk jalan lingkungan/ permukiman atau di daerah yang tanah dasarnya labil. kerikil atau batu pecah harus dipilih yang keras. Untuk membuat lapisan beton. Pemberian air untuk campuran beton tumbuk ini secukupnya saja. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 9 . sebelumnya dipasang cetakan untuk membatasi lebar dan ketebalan yang diinginkan. Perkerasan Beton. Setiap 2 meter memanjang diberi pemisah selebar 1cm untuk membatasi retak memanjang beton. Adukan beton kemudian dituangkan ke dalam cetakan dan dipadatkan dengan alat penggetar atau ditusuk-tusuk dengan kayu. fc’= 27. Jalan dengan paving blok dapat digunakan didaerah lingkungan/permukiman. mudah pecah. kemudian diratakan. Bagian . Susunan blok beton yang memilki penguncian paling baik adalah pola Tulangan Ikan (TI : 90/45 derajat) dan bentuk blok beton tipe A dan tipe C.37. Jalan Paving Blok/Beton Terkunci. pada turunan/tanjakan dan diatas singkapan batu. Pemakaian jalan pada perkerasan beton ini baru dapat dilakukan paling cepat setelah 7 hari terhitung dari selesainya pengecoran beton. dibuat dari bahan semen pasir dan kerikil dengan perbandingan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 kerilil/batu pecah atau beton tumbuk campuran 1 semen : 3 pasir : 5 kerikil/batu pecah ditambah Air secukupnya. Paving blok diletakan diatas lapis pondasi jalan yang terlebih dahulu dihamparkan pasir urug setebal 6-10cm. sampah dan bahan kotoran. lapis perkerasan dari blok beton/paving blok dengan bahan pengisi celah/pengunci antar blok beton dari pasir.4. Material pasir dan batu pecah yang dipergunakan untuk perkerasan beton ini harus bersih dari tanah lempung.1. Tebal konstruksi perkerasan beton ini kurang lebih 10 cm. Permukaan dibuat kasar dengan menggunakan sapu lidi ke arah menyamping.35 MPA. pada bagian sisi/pinggir perkerasannya diberikan beton pembatas. lembek. Mutu blok beton kelas I/II.

¾ Memperindah lapis permukaan tanah/lingkungan. ¾ Mudah ketersediaannya. C. Perbaikan jalan beraspal yang telah ada (2). ¾ Mengurangi kecepatan erosi tanah. Lingkup pekerjaan Pembangunan Jalan Beraspal dibatasi dengan prioritas (1). dimana bahan perkerasan terdiri dari campuran agregat kasar (batu 3-5cm). dimana bahan perkerasan terdiri dari susunan batu pokok (3-5cm). ¾ Tidak mudah rusak oleh perubahan cuaca. Jalan Beraspal : 6. Peningkatan jalan Diperkeras yang telah ada. 6. Lapis Penetrasi (Lapen). Adapun persyaratan teknis untuk bahu jalan. kemudian ditabur dengan pasir dan dipadatkan sebagai lapis penutup. khususnya pada tanah yang miring. batu pengunci (1-2cm) dan batu penutup (pasir) dan campuran aspal panas sebagai pengikat diantara tiap lapisan dan dipadatkan sebagai lapis penutup. sebagai berikut : ¾ Bahu jalan dibuat disebelah kiri dan sebelah kanan sepanjang jalan.Penggunaan paving blok ini sudah dijumpai secara luas. agregat halus (batu 2-3cm). terutama karena bermanfaat : ¾ Mudah dalam pemasangan dan pemeliharaannya. 8.0 meter lari). dengan lebar minimal 50 cm.6 % (sama dengan turun 4 . Bagian . ¾ Mengurangi kecepatan pengaliran air permukaan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 10 . ¾ Ukuran paving blok lebih terjamin.6 cm per 1. biasanya 4 . Bahu jalan juga berfungsi sebagai tempat pemberhentian sementara bagi kendaraan. Lapis Permukaan Buras (Pelaburan Aspal). Bahu jalan tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan jalan.1. bahan pelunak/peremaja dan aspal buton yang dicampur secara dingin sebagai pengikat dan dipadatkan sebagai lapis penutup. Lapis Asbuton Agregat (Lasbutag). Lebar standar 1. ¾ Antislip bagi kendaraan.0 m. demi kelancaran pembuangan air hujan. ¾ Bahu jalan dibuat dengan kemiringan sedikit lebih miring dari pada kemiringan permukaan jalan. 7. ¾ Celah-celah antara paving blok dapat mengalirkan air hujan/air permukaan kedalam tanah sehingga menjaga keseimbangan air tanah. Bahu Jalan Bahu jalan berfungsi sebagai pelindung perkerasan jalan dan sebagai perantara aliran air hujan yang ada di permukaan jalan menuju saluran tepi jalan. dapat diproduksi baik secara mekanis maupun manual. merupakan hasil penyiraman/penyomprotan aspal diatas permukaan jalan.

dimulai sekitar 20 cm dari pinggir. Pemadatan secara padat karya dilaksanakan dengan timbris. Mesin gilas 6-8 ton dapat digunakan apabila dapat masuk kelokasi. maka badan jalan harus diadakan perkuatan. Bila dipadatkan dengan lapisan lebih tebal. Tanaman tersebut akan membantu stabilitas timbunan baru. jalan hampir pasti mengalami masalah berat. misalnya dengan cerucuk kayu atau stabilisasi misalnya dengan semen/kapur. Jalan yang tidak dipadatkan juga mudah terkikis oleh pengaliran air. Tanah biasa yang terlalu basah tidak dapat dipadatkan. tidak akan ada masalah drainase. Pemadatan Tanah Tanah pada bagian galian tidak perlu di padatkan lagi kecuali pernah mengalami gangguan yang mengakibatkan tanah menjadi kurang padat. dengan setiap lapis maksimum 20 cm. Di tempat lain. ¾ Ada baiknya kalau rumput ditanam di sebelah luar bahu jalan. Jalan menjadi terputus apabila air dibiarkan melintasi permukaan jalan. tetapi tidak boleh terlalu dekat dengan jalan. Rumput tersebut akan membantu stabilitas pinggir jalan.¾ Bahan untuk bahu seharusnya terdiri dari tanah yang dapat meresap air sehingga pondasi jalan dapat dikeringkan melalui proses perembesan.1. Pemadatan secara mesin dapat dilaksanakan dengan stemper atau dengan mesin gilas yang berukuran 4-6 ton. atau timbris. Kadar air harus optimal sebelum dipadatkan. tetapi kalau digenggam tidak ada air mengalir keluar. Sebelum kegiatan pemasangan perkerasan jalan. Kadar optimal adalah sedikit basah. Mesin gilas dua ton yang bergetaran dianggap sama dengan mesin gilas 4-6 ton. bagian dalam kurang padat. bila ada). Tanah yang terlalu kering memerlukan tenaga jauh lebih banyak untuk dipadatkan. semua daerah timbunan harus dipadatkan dengan mesin gilas. stemper. dan mudah terkena erosi dan longsor. 8. Pemadatan harus secara lapis demi lapis. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 11 . Perbaikan kerusakan akibat masalah di atas cukup mahal dan sulit. ¾ Penanaman perdu atau pohon diharapkan diluar bahu jalan (luar saluran. Di tempat tertentu. Pertimbangan yang paling sederhana adalah sebagai berikut : Bagian . Pemadatan ini sangat membantu menjaga stabillitas dan daya tahan badan jalan. Jalan menjadi rusak apabila air dibiarkan mengalir ditengah jalan. Jalan menjadi jelek jika badan jalan tidak cepat kering sehabis hujan. 7. tetapi masalah seperti ini dapat dihindari apabila masalah drainase dipertimbangkan pada waktu prasurvai. ¾ Tanah pada bahu jalan harus dipadatkan. tetapi harus dipangkas secara rutin supaya tidak terlalu tinggi. Jalan menjadi bergelombang apabila pondasi jalan tidak kering. Drainase Air adalah musuh yang paling besar. Untuk daerah dimana tanah dasarnya jelek.

gorong gorong dan sebagainya. Bagian . Keadaan seperti ini harus dihindari karena masalah drainase (pembuangan) air. • Jalan dibuat di lereng bukit. dengan biaya konstruksi yang lebih besar. Jalan yang dibuat pada lereng bukit. batu kosong. Saluran yang peka erosi perlu dilindungi. Perlindungan terdiri dari penguatan talud dan dasar saluran serta pemberian bangunan drop struktur. turap. karena air tidak akan mengalir sama sekali. karena air tidak perlu melintangi jalan. Saluran dibuat lebih besar apabila diperkiraan debit air yang harus dibuang sangat besar. dengan bentuk trapesium. talud. Bronjong dapat digunakan terutama pada tikungan di tanah yang sangat peka terhadap erosi. maka perlu terjunan atau pasangan apabila terlalu cepat. atau pasangan. Kecepatan tinggi menyebabkan erosi tanah. Kemungkinannya jalan tidak bisa dikeringkan. Jenis perlindungan dipilih setelah dipertimbangkan: 1) kemiringan saluran dan kecepatan air. kecuali: • Jalan dibuat di punggung bukit. 3) perubahan arah pengaliran pada belokan. terpaksa harus ada galian dan timbunan tanah. a). Tidak benar jika dasar saluran datar. setiap saluran harus berukuran minimum 50 cm (h/dalam) x 30 cm (b/lebar dasar) x (B/lebar atas 50 cm). Jenis perlindungan terdiri dari rumput (gebalan). Tujuan untuk perlindungan saluran adalah untuk mengurangi erosi tanah pada saluran supaya saluran tetap berfungsi dan jalan tidak terkikis. Saluran tidak diperlukan apabila terdapat kemiringan tanah asli lebih dari 1 % yang membawa air ke arah luar dari jalan. tidak perlu saluran di sebelah bawah. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 12 . Saluran Samping Saluran samping diperlukan di sebelah kiri dan kanan badan jalan. Kemungkinan terkena erosi dan longsor lebih besar Jalan yang dibuat pada daerah cekungan harus dihindari. dan 4) debit air.Jalan yang dapat mengikuti punggung bukit tidak akan mengalami masalah drainase. dan dasar saluran harus dibuat dengan kemiringan sangat rendah untuk mengendalikan kecepatan aliran. Pada keadaan biasa. Ketinggian dasar saluran harus lebih rendah daripada lapisan pasir yang ada di bawah batu perkerasan. Saluran dibuat sejajar dengan jalan. 2) jenis tanah (harus yaug peka terhadap erosi). Ukuran saluran dan perlindungan saluran minimum adalah 50 (dalam) x 30 cm (lebar dasar) dengan bentuk trapesium. selokan pinggir jalan. tidak perlu saluran sama sekali. demi kelancaran proses perembesan dan pengeringan.1.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 13 . Kebutuhan ini dapat dilihat pada gambar ini: Dasar gorong-gorong dibuat dengan kemiringan 2 % untuk memperlancar aliran air. dan air harus melewati jalan untuk dibuang. Gorong-gorong Gorong-gorong adalah jenis bangunan pelengkap jalan yang berfungsi untuk mengalirkan air yang harus lewat di bawah jalan. Jika garis alamiah tidak diikuti. Gorong-gorong diperlukan: ¾ Di mana sungai kecil atau saluran irigasi melewati jalan. setiap tempat terendah pada profil jalan.b). Batu. Untuk mengurangi aliran alamiah diganggu. dengan ukuran garis tengah 40 cm s. kayu dan sebagainya.gorong mengikuti garis aliran yang alamiah. saluran dan bak harus dilindungi. Ukuran gorong-gorong tergantung debit air yang akan mengalir. 80 cm.1. Luas lahan yang dapat dikeringkan goronggorong pipa beton dan gorong-gorong persegi beton diperkirakan sebagai berikut : Jenis gorong-gorong yang layak untuk jalan desa/kelurahan adalah gorong-gorong: 1) Pipa beton (bulat). pas. Bagian . dan dapat dibuat dari bahan beton. baik didenah maupun di profil kedua ujung gorong . ¾ Di mana saluran samping memotong jalan lain pada persimpangan ¾ Di daerah perbukitan.d. ¾ Di mana kapasitas saluran samping kurang mampu mengalirkan volume air yang diperkirakan.

2) Teras bangku sangat layak untuk tebing. saluran pinggir jalan yang sudah melebihi kapasitasnya.1. dengan diberi pasangan batu. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 14 . Gorong-gorong plat beton lebih layak di mana buis beton tidak dapat ditanam cukup dalam. Tidak dibatasi panjang saluran pembuangan. Teras dibuat sejajar dengan kontur (hampir datar. Perlindungan Tebing Tebing merupakan bagian yang sering menjadi masalah karena longsoran atau erosi tanah.00 m. c). Saluran pembuangan harus dilindungi seperti saluran-saluran yang lain. asal lahan dapat dikorbankan untuk membentuk teras dan jenis tanah dapat dibentuk dengan stabil. Pembuangan tersebut dapat melalui sebuah saluran baru khusus untuk pembuangan. Gorong-gorong pipa beton. dengan ukuran minimal sama dengan ukuran saluran pinggir jalan yang standar (50 x 30 cm). air diterjunkan dari saluran teras ke bawah. dan ditanami rumput. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperbaiki stabilitas tebing.2) Plat beton. Pembuangan air dengan aman tetap menjadi tanggung jawab perencana jalan. demi kelancaran pengaliran air dan untuk mencegah erosi. lebar maksimal 1. Cara tersebut dapat digunakan secara tunggal atau gabungan. yang dibuat dengan fondasi dari pasangan batu dan lantai dari beton bertulang. dan penerjunan harus diperkuat seperti bangunan terjun Bagian . Di bawah ini dibahas jenis-jenis perlindungan yang dapat diterapkan pada tebing. Saluran pembuangan dimulai dari gorong-gorong. Saluran tersebut berhenti pada sungai atau saluran besar yang sudah ada. Pembuangan yang aman adalah pembuangan yang mengantarkan aliran air ke sungai atau ke saluran yang mampu mengalirkan volume air tanpa merusak lingkungannya. dengan dimensi lebar minimal 0.60 m (untuk kemudahan pemeliharaan). atau saluran pinggir jalan yang tidak dapat diteruskan. Saluran pembuangan disesuaikan dengan debit air yang terbesar.60 m. diteras. Pembuangan air dari semua saluran dan gorong-gorong harus aman dan dipikirkan untuk mencegah kerusakan akibat pengaliran air yang tidak terkendali. supaya air tidak terbuang melalui tebing. dan tinggi minimal 0. misalnya dibuat saluran diversi. seperti yang digambar di bawah ini: Tiap gorong-gorong dilengkapi bak penampungan air dan bak pembuangan di ujungnya. panjangnya menurut kebutuhan setempat. 1) Saluran diversi digunakan untuk menangkap air yang mengalir dari lereng di atas menuju tebing. dengan kemiringan maksimal 2%). Setiap 10 meter lari. berukuran sisi antara 60 cm sampai 1. terjunan. rumput. terutama lahan petani atau rumah penduduk. atau kayu harus ditanam supaya ada lapisan tanah di atasnya minimal 30 cm atau setengah ukuran garis tengahnya. 3) Gorong-gorong persegi kayu. Air saluran diversi harus dibuang ke tempat yang lebih aman. dan sebagainya untuk mencegah erosi dasar dan talud saluran.00 meter.

Tujuan dari pembangunan jembatan di sini adalah untuk sarana penghubung pejalan kaki atau lalu-lintas kendaraan ringan. 9 Jembatan pada jalan desa/kelurahan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi (seperti pasar. 3) Talud batu kosong dapat disusun pada tebing. sebab umumnya merupakan bahan lokal. Jembatan yang dibangun dalam program ini adalah jembatan yang melengkapi system lalulintas ekonomi dan transportasi masyarakat : 9 Jembatan pada jalan desa/kelurahan yang menghubungkan desa/kelurahan dengan wilayah desa/kelurahan lain sebagai prasarana perhubungan ekonomi dan sosial masyarakat. serta dan ukuran 12-15 cm. Penanaman bahan-bahan vegetatif untuk menstabilkan lereng atau mengurangi erosi (murah dan mudah sekaligus memiliki fungsi estetika).1. Pasangan batu harus dibuat dengan pondasi yang kuat. teknologi) sehingga mampu dilaksanakan oleh masyarakat setempat. material. dengan mempertimbangkan sumberdaya setempat (tenaga kerja. Konstruksinya sederhana. Bahan kayu bisa berupa balok atau persegi. karena pasangan batu tidak fleksibel sama sekali. Ujung suling harus diberi saringan kecil dari ijuk. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 15 . JEMBATAN Jembatan adalah suatu bangunan konstruksi di atas sungai atau jurang yang digunakan sebagai prasarana lalu lintas darat. 2. Pasangan batu harus dibuatkan sulingan untuk membuang air tanah dari belakang tembok. tetapi relatif mahal. Aliran air permukaan harus dialihkan dari talud batu kosong melalui saluran diversi. serta dipancang sampai lapisan tanah keras. beruas pendek dan hanya diambil bagian pangkalnya saja. 6) Turap kayu/bambu. Turap ini bisa dibuat pada posisi tegak. Ukuran bawah pasangan batu harus disesuaikan dengan kondisi tanah setempat. Bronjong dibuat lapis demi lapis dan disambung. relatif murah. 7) Perlakuan Vegetatif. 4) Talud pasangan batu relatif kuat. dengan jarak setiap tiang pancang 1-114 m. tetapi sebelumnya tebing harus dikepras supaya tidak tegak lurus. tetapi relatif mahal. Bahan bambu harus yang sudah tua. dengan tinggi 1.5m dengan jarak tiang 0.0 hingga 1. dasar bronjong yang paling bawah didukung dengan tiang pancang. Teras dibuat dengan lebar minimal 50 cm dan tinggi maksimal 1.00 meter. Bagian . TPI. peralatan.75 1.00m. 5) Bronjong adalah cara yang kuat dan cukup fleksibel. Supaya posisi bronjong stabil dan tidak lari.yang lain. Setiap lapis (baris) harus dibuat datar (sama tingginya). dll) ke outlet (jalan poros desa/kelurahan/jalan dengan fungsi yang lebih tinggi/dermaga).

PU Tahun 1996 . Pemilihan Lokasi & Layout Jembatan Panjang pendek bentang jembatan akan disesuaikan dengan lokasi setempat. persyaratan teknis dan estetika-arsitektural. ¾ Pendetailan struktur atas.5m ringan (as tunggal 5 ton) . 6 m Jembatan Gantung . 9 Jembatan pada jalan desa/jalan lingkungan yang menghubungkan desa/kelurahan dengan pusat kegiatan produksi (seperti pertanian. Perencanaan yang kurang tepat terhadap kapasitas lalu lintas harus dihindari.9 Jembatan pada jalan desa/jalan lingkungan yang menghubungkan RW/dusun/perkampungan dengan pusat pemerintahan. 12 m Jembatan Beton Kendaraan roda 4 beban . ¾ Pemilihan sistem utama jembatan dan posisi lantai/dek. produksi. Tabel Alternatif Pemilihan Jenis Konstruksi Jembatan Jenis Konstruksi Fungsi Ukuran Konstruksi Jembatan Kayu Kendaraan roda 4 beban . ¾ Penentuan panjang bentang optimum sesuai syarat teknik. perletakan. 3.5m . perkebunan. 1. antara lain : ¾ Penentuan geometri struktur. balok jembatan. Jembatan Beton dan Jembatan Gantung hendaknya mempertimbangkan kriteria-kriteria.Kendaraan roda 2 .Pejalan Kaki . outlet. 3. seperti sandaran.Panjang Bentang maks. ¾ Pemilihan elemen-elemen struktur atas dan struktur bawah. Pemilihan lokasi mempertimbangkan kebutuhan transportasi.Panjang Bentang maks. pusat kegiatan ekonomi. Standar teknis jembatan mengacu pada Pedoman Sederhana Pembangunan Jalan dan Jembatan Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan. sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Persyaratan teknis yang perlu dipertimbangkan.Panjang Bentang maks.Lebar maks. alinemen horisontal dan vertikal. 3. Pertimbangan aspek transportasi berkaitan dengan kelancaran arus lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki.Panjang Bentang maks. Penentuan bentangnya dipilih yang sangat layak dari beberapa lokasi yang telah diusulkan. dll). 6m (dapat 12m dgn pilar ditengah) Jembatan Gelagar Besi Kendaraan roda 4 beban . peningkatan atau rehabilitasi Jembatan Kayu. Jembatan Gelagar Besi. 60 m ¾ Untuk bentang yang lebih besar maka desain konstruksi harus mendapat persetujuan Tenaga Ahli/Konsultan dan Dinas Teknis/PU setempat.Lebar maks. ¾ Pemilihan bahan yang paling tepat untuk struktur jembatan berdasarkan pertimbangan struktural dan estetika. Puslitbang Jalan. Sebagai misal. Selain karena hal itu akan mempengaruhi lebar jembatan juga pemilihan type/jenis konstruksi jembatannya. karena jembatan dibangun pada jalan yang menghubungkan pusat kegiatan perekonomian masyarakat maka mungkin lebih diperlukan adalah jembatan beton bukan jembatan kayu karena pertimbangan perkembangan lalu lintas kedepan. penerangan. lantai. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 16 .1. pemilihan Jenis Konstruksi Jembatan berikut. Pembangunan jembatan baik berupa pembangunan baru. 1).Dep. arsitektur dan biaya.Lebar maks. terutama tipe pilar dan pondasi/abutmen.5m (lantai kayu) ringan (as tunggal 5 ton) .Lebar maks. Bagian .5m ringan (as tunggal 5 ton) .

situasi geografis & geologi ketersediaan bahan.5 m 2). alat dan transportasi kelokasi. pondasi Bagian . Pembebanan Jembatan sederhana untuk lalu lintas ringan volume rendah direncanakan dengan pembebanan : beban merata 300 kg/m2 dan beban kendaraan ringan roda 4 : as depan 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 17 . terutama jembatan yang berada ditengah-tengah kelurahan/desa.5 ton. singkapan batu. Untuk mengetahui kondisi pondasi setempat.5 ton & as belakang 3. 4). Syarat minimum ruang bebas 1). Ruang bebas untuk lalu lintas air dibawah jembatan harus disediakan sesuai kebutuhan lalu lintas yang bersangkutan (misalnya untuk lalu lintas perahu. pada tebing sungai yang tidak terlalu tinggi Pada sungai yang lurus Pada tanah keras Setelah dilakukan layout.5 m 0. seperti : kepala jembatan.6 m 1. Posisi jembatan tidak berada di tanjakan/turunan jalan dan tikungan sungai. kondisi lapangan yang kurang menguntungkan seperti daerah patahan geologi.0 m 1.0 m 1. tinggi bebas minimum terhadap banjir 50 tahunan direncanakan sebagai berikut : Kondisi Daerah Datar Daerah Perbukitan Irigasi Sifat Aliran Air/Sungai Tenang Deras Tenang Deras Tenang Tinggi Jagaan dari Muka Air Banjir (MAB) 0.Aspek estetika (pandangan yang sesuai dan harmonis dengan lokasi) jembatan merupakan salah satu faktor penting pula dipertimbangkan dalam perencanaan. misalnya keadaan lereng. pilar. Bangunan Bawah Jembatan Bagian jembatan yang berfungsi memikul bangunan atas jembatan dan meneruskannya ketanah. selanjutnya dilakukan penyelidikan/survey lokasi : Untuk mengetahui kondisi fisik lokasi. termasuk titik-titik pilar pada potongan melintang sungai. Tinggi Jagaan minimum. 2). tanah lunak. 3).1. Kesesuaian estetika dan arsitektural akan memberikan nilai lebih kepada jembatan yang dibangun. dsb). dll. pondasi dapat dibuat sehemat mungkin. pada umumnya berada di dalam tanah. Pertimbangan layout jembatan terhadap topografi setempat : tempat yang ideal untuk memungkinkan bentang jembatan sangat pendek.

18 Bagian . 9 Kayu yang digunakan harus kayu mutu klas kuat I. kemudian diklem dengan plat besi 3cmx0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . Jika tanahnya lembek/gambut.dan sayap jembatan. Pondasi Langsung Kayu c. Pondasi Langsung Pasangan Batu Kali b. Ukuran kayu : o Ukuran balok kayu persegi 15 x 15 cm s/d 30 x 30 cm o Ukuran kayu gelondongan/bulat. jumlah penurunan kumulatif 5cm. kecuali jika tanahnya lembek/gambut menggunakan tiang pancang kayu.1. dipancangkan dengan cara dipukul dengan palu beton berat 80-100kg (ukuran 30x30x50cm).3mm atau diperkuat dengan paku. Pemukulan tiang pancang dengan gravitasi : 9 Ujung tiang pancang kayu diruncingkan dan diberi sepatu (kepala tiang pancang). 9 Penghentian pemancangan apabila pada 10 kali pemukulan terakhir dengan tinggi jatuh 100cm. Jembatan untuk kendaraan beban ringan umumnya menggunakan pondasi langsung. diameter 24cm s/d 34cm 9 Kedalaman pancang yang disyaratkan minimal 3 m dan maks. a. 6m 9 Rumus Engineering News. dengan tinggi jatuh 50-100cm. Pondasi Tiang Pancang Kayu untuk tanah lembek/gambut.3cm dan diikat dengan kawat dia. 9 Penyambungan tiang pancang dengan cara sambungan lidah (memotong kedua ujung tiang pada ujungnya setebal ½ tebal tiang dengan panjang sambungan 3kali tebal tiang). pondasi jembatan kayu dapat menggunakan tiang pancang kayu.

Bangunan Atas Jembatan Bangunan jembatan yang langsung memikul beban lalulintas. seperti meranti merah. misalnya pada sambungan cukup dengan menggunakan bor. ¾ Lantai kayu dapat dipasang tanpa menggunakan besi beton dan begesting sehingga menghemat biaya. ¾ Kayu tidak mudah dipengaruhi oleh korosi seperti baja/besi dan beton.1. Jembatan Kayu Konstruksi bangunan atas terdiri dari gelagar kayu dengan lantai kayu. 5). biaya transportasi dan konstruksi lebih murah. seperti : lantai. kruing. Kayu yang digunakan untuk konstruksi harus dari kayu kualitas baik. dan dapat dikerjakan dengan peralatan yang sederhana. minimal kayu klas 2. rasamala atau kayu lokal yang kualitasnya sesuai persyaratan. perletakan. Kayu mempunyai beberapa keuntungan : ¾ Kayu relatif ringan. ¾ Pekerjaan-pekerjaan detail dapat dikerjakan tanpa memerlukan peralatan khusus dan tenaga ahli tinggi. sandaran. Bagian . Panjang bentang maksimum 6 meter (untuk satu bentang) dan lokasi memungkinkan dapat dibuat lebih dari satu bentang dengan menambah pondasi pilar ditengah. balok jembatan. pada umumnya berada diatas permukaan tanah. sedangkan bangunan bawah bisa pondasi langsung kayu. a).9 Diatas tiang dipasang balok kayu 30x30cm yang menghubungkan 2 tiang pancang dengan cara diklem dengan plat atau menggunakan paku pengapit dari besi beton 6mm. pasangan batu atau tiang pancang kayu. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 19 .

20 Bagian . pelapukan dan mudah ditumbuhi lumut/jamur sehingga kebutuhan pemeliharaan lebih sering dilakukan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . biaya pemeliharaan cukup tinggi disbanding beton/baja. Sandaran kayu Kaso 5/7 cm dipaku pada balok tepi. bila lebih panjang harus menambah pilar jembatan (biaya mahal). Tabel Dimensi Gelagar Kayu untuk Jembatan Kayu Lalulintas Ringan ¾ ¾ ¾ ¾ Kayu papan lantai ukuran 8/25 cm. papan 4/30 cm sepanjang jembatan. akan cenderung mendorong masyarakat untuk menggunakan kayu yang tersedia disekitar (local) meskipun kualitas rendah (pengawasan kualitas bahan harus lebih tinggi). Kerugiannya antara lain : ¾ Relatif mudah rusak oleh perubahan cuaca.1. Lintasan Roda Kendaraan. Oprit pada pangkal jembatan menggunakan tanah pilihan/sirtu dipadatkan. ¾ Lemahnya pengetahuan mutu kayu yang baik. ¾ Kayu menjadi terbatas terutama karena panjangnya terbatas sehingga lebih cocok hanya untuk jembatan dengan bentang pendek.¾ Kayu merupakan bahan yang sangat estetik. ¾ Ukuran kayu gelagar yang digunakan tidak umum tersedia dipasaran (pesanan khusus) sehingga menjadi sulit tersedia dan biaya lebih tinggi terutama pada daerah perkotaan/daerah tidak memiliki kayu. bila didesain dengan benar dan dipadukan dengan lingkungan sekitar.

Tabel Dimensi Gelagar Kayu untuk Jembatan Kayu Lalulintas Ringan ¾ Penyambungan/ikatan antara gelagar besi dengan balok lantai menggunakan baut dengan plat siku pengaku dan tidak melubangi sayap besi gelagar karena akan mengurangi kekuatan strukturnya. ¾ Pekerjaan konstruksi cukup berat sehingga memerlukan peralatan/tenaga khusus untuk pemasangan dilapangan. ¾ Besi gelagar yang digunakan adalah besi profil I. ¾ Sandaran Besi L.b). ¾ Lantai kayu dapat dipasang tanpa menggunakan besi beton dan begesting sehingga menghemat biaya. papan 4/30 cm sepanjang jembatan. ¾ Kayu papan lantai ukuran 8/25 cm.60. ¾ Pekerjaan-pekerjaan detail dikerjakan memerlukan peralatan khusus dan tenaga ahli misalnya pada sambungan dengan pengelasan. L.7. diantaranya : Beberapa keuntungan : ¾ Gelagar besi memberikan kekuatan yang lebih besar dan masa pakai yang lebih lama dibandingkan kayu. ¾ Lintasan Roda Kendaraan. Penggunaan jembatan gelagar besi mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian dibandingkan jembatan kayu. ¾ Besi dipengaruhi oleh korosi sehingga pada daerah tertentu perlu antisipasi/pemeliharaan khusus untuk hal ini.10mm ¾ Oprit pada pangkal jembatan menggunakan tanah pilihan/sirtu dipadatkan. Jembatan Gelagar Besi Konstruksi bangunan atas adalah gelagar besi. penghematan biaya pondasi. biaya mahal dan sulit dibangun.70. ¾ Gelagar Besi tersedia dengan ukuran yang lebih panjang dari kayu sehingga dapat dibangun untuk bentang yang lebih panjang tanpa pilar (tiang tengah). ¾ Gelagar besi memberikan masa pakai yang relative lebih lama dibandingkan kayu (pemeliharaan lebih ringan dari gelagar kayu). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 21 . lantai kayu sedangkan bangunan bawah adalah pondasi langsung pasangan batu. biaya dan pengawasan tinggi. ¾ Ketersediaan dipasaran.150. ¾ Panjang bentang adalah 6m s/d 15m ¾ Konstruksi jembatan gelagar besi dengan dua perletakan sistem simple beam. pengikatan dengan 2 baut sekrup diameter 10mm dan plat pengapit kegelagar jembatan.90.40. Bagian .70. Beberapa Kerugian : ¾ Gelagar besi cukup berat dan panjang sehingga memerlukan alat angkut khusus dan ketersediaan jalan kelokasi yang cukup (biaya transport mahal bahkan mungkin sulit didatangkan kelokasi yang terpencil). ¾ Biaya gelagar besi lebih mahal dibandingkan beton dan kayu.5. khusus didaerah luar jawa masih terbatas.1. L.

Beberapa Kerugian : ¾ Perencana desain dan pelaksanaan (pengawasan) memerlukan tenaga ahli/berpengalaman dimana terbatas didaerah setempat. ¾ Memerlukan perancah untuk bisa mengerjakan beton sehingga ada biaya tambahan untuk pekerjaan beton. Pada lokasi tebing yang tingginya tidak sama. kabel penggantung dengan lantai dan pagar pengaman/sandaran. ¾ Tanpa pengawasan yang tinggi.1. minimum mutu beton K-225. Jembatan Gantung Konstruksi bangunan atas jembatan gantung berupa : tiang pilon/menara. kabel pengaku. d). maka perlu pondasi yang terjamin kuat (struktur dan tanahnya). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 22 . maka lebih berbahaya. khususnya pekerjaan beton dan pembesian agar menjamin kualitas.5m. ¾ Sangat peka terhadap penurunan pondasi. sandaran. yaitu cara menggunakan bahan beton. Konstruksi jembatan gantung lebih cocok untuk bentang yang panjang dengan dasar sungai yang dalam. Lebar jembatan 1. kabel utama. sangat beresiko kegagalan. ¾ Lebih sulit dipelihara bila ada kerusakan. penentuan bentang jembatan diusahakan agar kemiringan bentang utama jembatan maksimum 1:20. ¾ Masyarakat mendapat keterampilan baru.20m. ¾ Harga tidak terlalu jauh berbeda dengan kayu dan lebih murah dari gelagar besi. Kerusakan sulit diketahui sampai dengan jembatan ambruk. ¾ Dapat dibangun dilokasi yang tidak tersedia kayu dan pengangkutan gelagar besi sulit. Bagian . Sedangkan pondasinya adalah pondasi pasangan batu (meskipun juga dapat digunakan beton bertulang). ¾ Kebutuhan pemeliharaan seharusnya lebih ringan. Panjang jembatan gantung disini adalah 15-60m dengan perbedaan panjang kelipatan 5 m. kerb dan perletakan yang semuanya terbuat dari beton bertulang dengan mutu beton struktur. diantaranya : Beberapa keuntungan : ¾ Lantai dan gelagar beton bertulang yang menyatu memberikan kekuatan yang lebih besar dan masa pakai yang lebih lama dibandingkan gelagar/lantai kayu.15m. terutama untuk bentang yang lebih besar/panjang. seperti paket 10m. lantai. Penggunaan jembatan beton mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian dibandingkan jembatan kayu dan jembatan gelagar baja. Bangunan atas jembatan beton adalah : Balok.c). Sedangkan bangunan bawah berupa pondasi dari pasangan batu/beton. ¾ Perlu keterampilan dan ketelitian tenaga kerja.25m. ¾ Perlu pengawasan intensif selama pelaksanaan dilapangan sehingga terjamin kualitasnya. material dan tenaga kerja relative mudah diperoleh didaerah setempat. Jembatan Beton Untuk desain dan konstruksi jembatan beton dapat mengacu pada standar Bina Marga untuk jalan/jembatan kabupaten. ¾ Besi/Beton dipengaruhi oleh korosi sehingga pada daerah tertentu perlu antisipasi/pemeliharaan khusus untuk hal ini. Bentuk umum yang masih cukup sederhana dan ekonomis dari jembatan beton bertulang ini adalah type slab dan type balok-T cor ditempat dengan bentang 6-8m.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 23 .1.Bagian .

Bagian .. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 24 .1.

dibangun menjalar ketengah. Terdapat 2 tipe tambatan perahu : 1. digunakan apabila dasar sungai atau pantai cukup landai. Tambatan tepi. Sedangkan dari konstruksinya dibedakan atas : Bagian . TAMBATAN PERAHU Yang dimaksud dengan tambatan perahu adalah tempat untuk mengikat/ menambat perahu-perahu saat berlabuh. Tambatan dermaga. 2.3. digunakan apabila dasar tepi sungai atau pantai cukup dalam. dibangun searah tepi sungai atau pantai. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 25 .1.

tempat parkir. ƒ Lokasi untuk penempatan bahan bangunan. tempat kerja dan tambatan perahu harus tersedia. ƒ Tidak pada pantai yang ombaknya cukup besar (pantai dengan tinggi gelombang maksimum 40 cm). 50 meter 2. Landai Landai Curam Curam Kurang dari 2 meter Lebih dari 2 meter Kurang dari 2 meter Lebih dari 2 meter Tambatan Dermaga berlantai Satu Tambatan Dermaga berlantai Dua Tambatan Tepi berlantai Satu Tambatan Tepi berlantai Dua ‰ ‰ Kekuatan standar untuk tambatan perahu pada beban lantai maksimum 300kg/m2. dimana perbedaan muka air pasang dan surut tidak terlalu besar. ƒ Pada lalu linta sungai yang padat dan sempit tidak menggunakan tipe tambatan dermaga. Jenis kayu yang yang digunakan untuk tambatan perahu adalah kayu kuat kelas I dan kayu awet kelas I. 75 meter 2. Persyaratan teknis tambatan perahu : ‰ ‰ Tambatan yang digunakan untuk perahu berukuran maksimum panjang 16m. Kriteria yang perlu diperhatikan dalam penempatan/pemilihan lokasi tambatan perahu : ƒ Sedapat mungkin ditempat yang strategis sehingga sehingga warga pengguna mempunya jarak pencapaian yang relatif sama. gudang dan jalan penghubung ke permukiman. 4. 4. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . ƒ Lalulintas perahu dan kegiatan berada disekitar tamabatan perahu. ƒ Pada sungai/pantai yang lurus / tidak pada bagian berbelok dan tidak terletak didaerah dengan kondisi erosi yang aktif/besar. ƒ Kedalaman tepi sungai/pantai tidak lebih dari 6m. seperti : TPI. lebar 3m. dimana perbedaan muka air pasang dan surut cukup besar.Æ type 1 lantai. 50 meter 2. Ukuran-ukuran bagian konstruksi tambatan perahu : No Jenis Konstruksi Ukuran (cm) Jarak antara maksimal 1. 00 meter Rapat Rapat 26 Bagian . Æ type 2 lantai. ƒ Sekitar lokasi harus bersih. 50 meter 2. dermaga bongkar muat. Perencanaan tambatan perahu haruslah merupakan bagian kelengkapan sistem pelayanan masyarakat. 2. 00 meter 1. bobot mati perahu 2 ton. baik sudah ada maupun yang akan direncanakan akan dibangun. karena dipengaruhi oleh pasang surut air laut.1. Kriteria pemilihan jenis konstruksi tambatan perahu No Bentuk Tepi Pantai/Sungai Perbedaan Muka Air Pasang Surut (MAP) Jenis Konstruksi 1. 00 meter 1. 5. 3. 00 meter 1. 00 meter 1. Tipe ini cocok untuk daerah hilir sungai. 50 meter 1. Tiang 2. 3. Sekur (menyilang antar tiang pancang) Gelagar Melintang Gelagar Memanjang Lantai 6 x 12 8 x 12 8 x 15 15 x 15 5 x 10 6 x 12 8 x 12 8 x 15 8 x 12 8 x 15 3 x 20 3 x 30 1. Tipe ini cocok untuk daerah hulu sungai.

‰ ‰ Pada tiang pancang bagian luar di pasang balok fender sebagai pengaman terhadap tumbukan perahu. Pada bagian tepi papan lantai dipasang patok tambat dari bahan baja ulir dengan jarak antara patok 2 meter.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 27 . Bagian .

Bagian .1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 28 .

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 29 .1.Bagian .

Kriteria desain untuk setiap jenis infrastruktur yang direncanakan harus mengacu pada kriteria desian standar yang dikeluarkan oleh instansi teknis terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum atau instansi teknis terkait lainnya. ƒ Kuat dan tahan lama. ƒ Menghitung dimensi konstruksi sesuai dengan tingkat pelayanannya. antara lain : Bagian .1. ƒ Tidak merusak lingkungan. Beberapa hal yang dianjurkan dalam pemilihan jenis konstruksi prasarana : ƒ Mendorong peningkatan keswadayaan masyarakat. Berdasarkan hasil survey teknis prasarana yang telah dilakukan sebelumnya maka KSM melakukan pembuatan desain dan gambar rencana bangunan yang akan dibuat. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 30 . ƒ Sedapat mungkin menggunakan konstruksi dan atau teknologi sederhana. sehingga pembangunan dan pemeliharaannya dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat. ƒ Menyiapkan sketsa hasil perhitungan. Berikut diuraikan kriteria desain untuk beberapa jenis infrastruktur yang umum dibangun. namun harus dapat dipakai untuk menghitung rencana biaya pelaksanaan yang akan dilaksanakan/dikelola oleh Masyarakat melalui wadah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) setempat. termasuk spesifikasinya. ƒ Dapat dibangun oleh masyarakat dengan harga yang seimbang. dll. Sasaran utama dalam tahap desain ini adalah : ƒ Menentukan tingkat pelayanan prasarana sesuai dengan kebutuhan. PEMBUATAN DESAIN/GAMBAR/SPESIFIKASI TEKNIS Perencanaan teknis prasarana lingkungan yang akan dilaksanakan melalui bantuan PNPM MP adalah merupakan perencanaan sederhana. Untuk pelaksanaan PNPM MP ini maka dapat dapat dilihat atau mengacu pada buku Pedoman Teknis Sederhana Pembangunan Sarana & Prasarana yang telah diperbanyak ulang oleh PNPM MP. ƒ Sebanyak mungkin menggunakan material dan tenaga kerja setempat. seperti : kekuatan. ukuran. ƒ Mudah dalam pengadaan material/alat/tenaga kerja.1. ƒ Memberikan manfaat yang paling besar bagi masyarakat. ƒ Tidak mempunyai masalah teknis yang sangat berat.

Ukuran saluran ditentukan berdasarkan kapasitas volume air yang akan ditampung (luas daerah tangkapan) dan intensitas curah hujan 5 tahunan. mengakibatkan makin berkurangnya daerah resapan air hujan. ¾ Pembangunan drainase diusahakan mengindari perlintasan dengan bangunan yang telah ada.45/90 100 750 Tersier 4. namun bila terpaksa maka desain dan pelaksanaannya wajib mendapat persetujuan dari instansi pengelola bangunan tersebut. T. Kebutuhan pembangunan drainase permukiman. Ketentuan umum pembangunan drainase permukiman adalah : ¾ Drainase permukiman yang dibangun pada proyek ini harus terintegrasi dengan sistem/jaringan drainase yang sudah ada atau harus sampai pada tempat pembuangan air (saluran drainase/sungai/laut).36/75 120 720 Tersier 3. debit air dan daya resap tanah (permeabilitas >/= 2cm/jam). jaringan/bangunan listrik. Hal ini sering ditunjukan dengan terjadinya air yang meluap dari saluran drainase bahkan banjirpun dapat terjadi yang mengganggu aktivitas masyarakat. ¾ Air hujan yang masuk kesaluran air hujan adalah air hujan yang tidak tercemar dan bukan air limbah Jenis drainase disini dapat meliputi saluran air hujan dan sumur resapan di permukiman. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana .600 Tersier 31 No 1. T. antara lain: ¾ Berkurangnya kapasitas drainase yang ada atau tidak tersedia drainase yang akan mengalirkan air permukaan. berkurangnya kesempatan air hujan untuk berinfiltrasi kedalam tanah.70/110 28 224 Tersier Luas area (catchment area) maksimum 25 Hektar Type Rumah/Luas Jumlah Panjang Sistem Pengaliran Tanah rumah (unit) Saluran (m) T. 1).4. ¾ Timbulnya genangan air didaerah permukiman. sehingga akumulasi air hujan yang terkumpul melampaui kapasitas drainase yang ada. Bagian . Saluran Resapan Air Hujan Fungsi saluran untuk mengalirkan air hujan ke saluran yang lebih besar/badan air dan meresapkan sebagian air. Luas area (catchment area) maksimum 5 Hektar Type Rumah/Luas Jumlah Panjang No Sistem Pengaliran Tanah rumah (unit) Saluran (m) 1.36/75 600 3. dll.730 Tersier T. karena meningkatnya luas daerah yang ditutupi oleh perkerasan dan mengakibatkan waktu berkumpulnya air jauh lebih pendek.21/60 750 3. T. Misalnya melintasi jalan kab/provinsi/nasional. Saluran resapan air hujan ditempatkan dengan luas daerah maksimum 5Ha dengan sistem pengaliran tersier dan maksimum 25Ha dengan sistem pengaliran tersier dan sekunder. ¾ Prioritas pembangunan drainase dengan urutan : perbaikan/peningkatan drainase lama karena kapasitas/fungsinya sudah berkurang dan pembangunan baru. irigasi teknis. Pengembangan permukiman diperkotaan yang demikian pesatnya.21/60 150 750 Tersier 2.1. 2. DRAINASE PERMUKIMAN Drainase permukiman merupakan sarana atau prasarana dipermukiman untuk mengalirkan air hujan dari suatu tempat ketempat lain agar lingkungan perumahan bebas dari genangan air. telepon. T.

trapesium. beton.86 m Kemiringan saluran type I dan II = 2% Mutu Beton (K225) atau campuran 1 semen : 2pasir : 3 kerikil Besi tulangan yang digunakan. bila dilalui kendaraan roda dua (motor) atau roda 4 (mobil) maka saluran tersebut harus ditutup dengan plat beton bertulang tebal 10-12cm.02 m . Saluran Tersier dan Sekunder dari Pasangan Bata dan Batu Kali ¾ Saluran dibuat kedap air.1.70/110 Jumlah rumah (unit) 750 140 Panjang Saluran (m) 3.5 cm) Bahan-bahan yang digunakan adalah semen. batu kali. batu bata. Saluran air hujan didesain untuk digunakan atau dipakai hanya untuk dilingkungan permukiman. diratakan dan dipadatkan.730 1. maka dasar galian tanah dasar saluran harus dipasang pasir urug atau kerikil diameter 1cm setebal 10 cm.120 Sistem Pengaliran Tersier & Sekunder Tersier & Sekunder Sitem saluran dapat terbuka atau tertutup : Persyaratan saluran terbuka : o Saluran berbentuk persegi. o Kedalaman saluran minimum 40cm. Sebelum pemasangan model saluran dilapangan. Untuk kepentingan pemasangan/penanganan maka pada kedua dinding samping (kiri/kanan) diberi lubang secukupnya. sedangkan untuk kedalamannya 1 – 1. o Kedalaman saluran minimum 30cm. batu kali. Bagian . o Kemiringan saluran minimum 2%. o Bahan bangunan : tanah liat. Type II = 0. maka pada jarak tertentu harus diberi sumur resapan (misalnya saluran hujan tersier dapat diberi sumur resapan setiap jaran 25 m dan untuk saluran air hujan sekunder dapat diberi sumur resapan setiap jarak 50 meter). Setelah pemasangan dilapangan. kerikil/batu pecah dan pasir beton. type I = 1.12 m2 Keliling Basah (O).No 3. Diameter sumur resapan dapat dibuat dengan menyesuaikan lebar saluran. minimum 20cm. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 32 . a. Tebal selimut beton = 25 mm (2. beton. ukuran butir kerikil atau batu pecah 5 – 10 cm. type I = 0.45/90 T.16 m2 .5 meter. Type I : besi diameter 6mm berulir. Type Rumah/Luas Tanah T. Beban hidup pada umumnya adalah orang. Type II besi diameter 6 mm tanpa ulir/polos. Persyaratan Saluran tertutup : o Saluran dilengkapi dengan lubang kontrol pada setiap jarak minimal 10meter dan pada setiap belokan. o Bahan bangunan : PVC. Agar saluran dapat meresapkan sebahagian air hujan kedalam tanah. dll. ½ lingkaran dia. Saluran air hujan tidak direkomendasikan untuk pemakaian dipinggir jalan raya yang dapat dilewati oleh kendaraan berat seperti truk. Saluran tersier tipe I dan II dari beton pracetak berlubang : ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ Luas penampang (A). o Kemiringan saluran minimum 2%. batu bata. Type II = 0. 4. b. Sumur resapan tersebut harus diberi kerikil atau batu pecah sampai pada permukaan sumur resapan atau bagian dasar saluran. tanah liat. lubang ini ditutup/ditambal dengan adukan semen dan pasir.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 33 .2).1. atap bangunan dan permukaan tanah yang dikedapkan/perkeras untuk menjaga keseimbangan system tata air dilingkungan dan menyelamatkan sumberdaya air untuk jangka panjang. Bagian . Air hujan yang diresapkan berasal dari bidang tanah. Sumur Resapan Air Hujan Sumur Resapan Air Hujan (SRAH) adalah prasarana untuk menampung dan meresapkan air hujan (bukan air limbah) kedalam tanah.

4. Tersedianya data sumber air baku mencakup kuantitas. Persyaratan umum yang harus dipenuhi dalam penyusunan perencanaan Sistem penyediaan air bersih adalah sebagai berikut : 1. SRAH pada luas area maksimum 5 Hektar Luas bid.45/90 100 32 2 buah T. Perencanaan sistem air bersih harus memenuhi persyaratan teknis air bersih yang berlaku. 4. Tadah Minimum SRAH yang Type Rumah/Luas Jumlah tiap rumah terpasang ditiap Tanah rumah (unit) minimum (m2) rumah. khususnya warga miskin.5m dari muka tanah dan nilai permeabilitas tanah min. sesuai Keputusan Menteri Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Ø 80cm T. Bagian . kecuali ada ijin dan kesepakatan bersama untuk mata air dan jalur yang akan dilalui pipa.21/60 150 18 1 buah T. jarak ke pondasi bangunan min. 5. 2. Evaluasi Lokasi Mata Air : 1. 1. Persyaratan teknis yang harus dipenuhi dalam penyusunan perencanaan sistem penyediaan air bersih. dan kontinuitas yang dapat diolah secara sederhana. kuantitas. 2. kualitas dan kontinuitas.70/110 28 47 3 buah No 1. mencakup : 1).36/75 120 27 1 buah T. Persyaratan Lokasi Lokasi yang dapat diusulkan untuk perencanaan sistem air bersih adalah lokasi yang mempunyai sumber air yang memenuhi syarat kualitas. Pembangunan prasarana Air Bersih ini bersifat mendekatkan akses air bersih dan atau memberikan pelayanan penuh kepada masyarakat. 2cm/jam. PRASARANA AIR BERSIH Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. 3. 1m dan tangki septik min. Dilakukan oleh masyarakat setempat dengan pendampingan oleh Konsultan pendamping. 3. Kualitas Air minum harus memenuhi standar kualitas air minum yang berlaku. Jika lokasi mata air berada didesa lain atau jalur pipa melalui desa lain. 5m). Perencanaan sistem harus merupakan karya yang terbaik dan termurah dalam pembangunan dan operasi & pemeliharaan. Hitung Jarak Mata air. jika jarak mata air kedaerah pelayanan memenuhi ketentuan (kurang dari 6 km).1. Bentuk SRAH dapat berupa sumur persegi/bulat dan dapat diterapkan pada lahan datar/pekarangan dengan permukaan air tanah min.Persyaratan pembangunan SRAH harus mempertimbangkan keamanan bangunan disekitar (jarak kesumber air 3m. maka mata air belum dapat dipergunakan. 2. maka mata air dapat dipergunakan. terutama pada tahap survai lapangan (data lapangan) dan penentuan ketersediaan air baku. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 34 .

Air Permukaan) dipilih yang berpotensi baik dari segi kualitas. Bagian . Lokasinya bukan didaerah yang terkena banjir. tangki septik/cubluk). Tanah Lokasi harus sudah mendapat ijin atau dihibahkan oleh pemiliknya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umum. Air Hujan. 6. jarak dengan sumber pencemaran air (resapan. Bandingkan beda tinggi antara mata air dan daerah pelayanan. Pemilihan Sumber Air Baku Dari masyarakat diperoleh informasi sumber-sumber air baku yang berpotensi. kuantitas maupun kontinuitasnya. Untuk SGL/SPT. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 35 . 5.1. Air Tanah. Sumber air baku (Mata Air. galian sampah minimum 15 meter.3. 2). dapat dikategorikan sebagai berikut : 4.

yaitu diagram untuk jenis sistem yang dilayani secara perpipaan (Gambar 1A) dan diagram untuk jenis sistem yang dilayani secara non perpipaan (Gambar 1B).Untuk menetapkan jenis sumber yang akan digunakan. Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 36 .1. Diagram ini terdiri atas dua jenis diagram. maka dipilih jenis teknologi yang sesuai dengan jenis sumber air baku dan yang layak untuk diterapkan dengan menggunakan teknologi yang sederhana. maka dapat digunakan alat bantu berupa diagram pemilihan teknologi penyediaan air bersih perdesaan. serta murah dan muddah dalam pengoperasian dan perawatan. Berdasarkan jenis sumber yang dapat dimanfaatkan tersebut.

1 Kebutuhan Air Bersih 4 2 Apakah Penduduknya >3000 Tidak Apakah ada Mata Air Gravitasi pada jarak 5 km dengan kualitas & kuantitas Baik ? Ya Konsentrasikan pada Program Sistem Perpipaan MA Gravitasi Ya 3 Masyarakat mampu & mau membiayai konstruksi operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Tidak Tidak Penelitian untuk Sistem Non perpipaan Ya Penelitian untuk Sistem Perpipaan 5 Apakah ada mata air dg debit 5 l/s dan berjarak < 10 km? Tidak Ya 6 Apakah30 m lebih tinggi dari desa? 7 Apakah potensi Tidak sumur dalam di desa ini <5 l/s ? 8 Tidak Apakah Tersedia air permukaan sepanjang tahun? Tidak Buat Studi Khusus Ya Konsentrasikan pada sistem MA Gravitasi Ya Pilih yang paling ekonomis antara sistem Mata Air dan Sumur Bor Ya Pilih yang paling ekonomis antara Saringan Pasir cepat dan saringan pasir lambat Catatan : Kotak No.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 37 . 5 Debit Mata Air Kualitas Baik setelah dikurangi pemakaian (Lokal) dan tersedia sepanjang tahun Gambar 1 A Diagram Pemilihan Sumber Air Baku Sistem Penyediaan Air Bersih Perdesaan Sistem Perpipaan Bagian .

6 : Kualitas Baik & Kuantitas tersedia sepanjang tahun (2) Kotak 3. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 38 . bila dlm pemakaian yg layak Gambar 1B Diagram Pemilihan Sumber Air Baku Sistem Penyediaan Air Bersih Perdesaan Sistem Non Perpipaan Bagian .Kebutuhan Air Bersih 1 2 Ya Penduduknya >3000 3 Ya Apakah Masyarakat cukup mampu & mau untuk membantu kons operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Ya Penelitian untuk Sistem perpipaan Tidak 4 Masyarakat cukup mampu & mau membiayai konstruksi operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Tidak Ya Konsentrasi pada program sistem perpipaan MA Gravitasi Tidak Penelitian untuk Sistem Non perpipaan Tidak Masyarakat cukup mampu 4 & mau membiayai konstruksi operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Ya 5 Adakah Air Tanah dangkal dengan kualitas Baik ? Ya Konsentrasikan pada program pembuatan & perbaikan sumur gali/pantek Tidak Adakah MA sekitar 1 km? Ya Konsentrasikan pada program sistem MA Gravitasi Tidak 6 Adakah air tanah dalam kualitas & kuantitas baik? Ya Konsentrasikan pada sumur dalam Tidak 7 Apakah Air Hujan dengan debit cukup mudah didapat Ya Konsentrasikan pada PAH Tidak 8 Apakah Air Permukaan mudah diperoleh? Ya Konsentrasikan pada Saringan Rumah Tangga Tidak Konsentrasikan pada Pelayanan Terminal (Hidran Umum) Catatan : (1) Kotak No 4.1. 5.

• Letakan ember kosong dibawah pancuran air. Hitung kecepatan aliran (m/detik) dengan cara membagi jarak pengukuran (m) dengan waktu pengukuran (detik). Sebagai misal. lalu buat pancuran air. • Sumber air dibendung sementara.3). • Hitung Debit Air (dalam liter per detik) dengan cara volume air/isi ember (dalam liter) dibagi jumlah waktu yang dipergunakan mengisi ember sampai penuh (dalam detik). • Perhitungan kecepatan aliran air sungai : • Hanyutkan pelampung (batang pisang atau botol diisi air) ke dalam aliran sungai sampai sebagiannya tenggelam untuk mengetahui waktu tempuh sesuai dengan jarak yang sudah ditentukan (50-100m). Bagian . Agar supaya pengapung itu. b. Isi ember 20 liter. • Untuk mendapatkan nilai rata-rata debit air. • Siapkan pita ukur • Siapkan pengukur waktu (jam/stopwatch).8-0. Sumber Air Permukaan (Sungai) Cara pengukuran debit air sungai secara sederhana. Waktu yang dibutuhkan oleh pengapung tersebut untuk melalui jarak tersebut dicatat (dalam detik). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 39 .1. • Tentukan lokasi pengukuran pada bagian sungai yang lurus dan permukaannya relatif datar. maka lakukan pengukuran tersebut 3-5. Pengukuran Debit a. Catat waktu (dalam detik) mulai air masuk sampai ember penuh. • Tentukan jarak pengukuran (50100m). • Tentukan luas penampang aliran dengan mengukur kedalaman (tinggi muka air) dikalikan dengan lebar penampang (m2) di daerah lokasi pengukuran yang telah ditetapkan. maka lakukan pengukuran tersebut 3-5. • Untuk mendapatkan nilai rata-rata kecepatan air permukaan. penuh terisi air selama 5 detik maka debit airnya adalah 20 dibagi 5 sama dengan 4 liter/detik. Selanjutnya kecepatan rata-rata diperhitungkan sama dengan 0. seperti dijelaskan pada bagian berikut ini : • Siapkan alat pelampung (batang pisang atau botol diisi air) untuk kecepatan permukaan air sungai. Selanjutnya hitung Debit Air rata-rata hasil pengukuran tersebut.9 kali hasil pengukuran kecepatan permukaan tersebut. Jarak ini tidak boleh terlalu besar untuk mencegah agar pengapung tidak menyimpang dari arahnya karena pengaruh angin. Sumber Mata Air Secara sederhana cara pengukuran debit air yang berasal dari Mata Air dapat dilakukan sebagai berikut : • Siapkan ember kosong dan ukur terlebih dahulu volume/isinya (dalam liter). meempunyai kecepatan sama dengan kecepatan air maka ia harus dilepas pada jarak 25-40m sebelum titik awal perhitungan waktu.

kemudian hasilnya dibandingkan dengan standar kualitas yang berlaku. Pengukuran Kualitas Air Baku Pengukuran kualitas air baku dilakukan dilaboratorium. dan pemeliharaan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 40 .• Hitung Debit Air (Q) sungai dengan rumus : Kecepatan Aliran Rata-rata (V) dikali Luas Penampang Air (A) : 4). sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Bagian .1. operasi. maka sungai dapat dipakai dengan memperhitungkan biaya investasi. Kekeruhan Perhatikan kekeruhan bilamana kekeruhan tinggi dalam periode yang lama. Secara umum ada beberapa indikator yang secara visual dapat diukur di lapangan di antaranya: 1.

(EC Meter adalah salah satu alat pengukur suhu yang digunakan untuk mengukur daya hantar listrik dan dapat memberi informasi tentang kadar garam). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 41 . maka penyebab timbulnya harus diperiksa. maka cek hasil laboratorium terhadap kandungan Klorida.500 micro S/cm. kekeruhan dan berwarna diperlukan pengolahan air. jika rasa air payau atau asin. berasa. Pada umumnya air yang berasal dari air permukaan (sungai. Bagian . lihat nilai EC. Rasa Tes rasa air. jika hasil laboratorium tidak ada. Untuk bahan yang berbau.2. air tidak dapat dipergunakan sebagai sumber air. Warna dan Bau Periksa warna dan bau air. jika ditemukan warna dan bau. Jika nilai EC menunjukkan lebih dari 1. 3.1. maka ada salinitas. Untuk menjamin kualitas air tersebut dapat digunakan sebagai sumber air.

Q = Pxq Qmd = Q x fmd Dimana : Qmd = kebutuhan air minimum (liter/hari) P = jumlah jiwa yang akan dilayani sesuai tahun perencanaan (jiwa) q = kebutuhan air per orang per hari (liter/orang/hari) fmd = faktor maksimum ( 1. 5). embung. 2. Saringan (Saringan Pasir Lambat. Hitung kebutuhan air bersih dengan mengkalikan jumlah jiwa yang akan dilayani sesuai dengan tahun perencanaan (P) dikali kebutuhan air perorang perhari (q) dikali faktor hari maksimum (fmd = 1. Cari data jumlah penduduk awal perencanaan. Penentuan Kebutuhan Air Bersih Kebutuhan air total dihitung berdasarkan jumlah pemakai air yang telah diproyeksikan untuk 5 – 10 tahun mendatang dan kebutuhan rata-rata setiap pemakai setelah ditambahkan 20 % sebagai faktor kehilangan air (kebocoran).05-1.1. Perhitungan Kebutuhan Air b). Kebutuhan total ini dipakai untuk mengecek apakah sumber air yang dipilih dapat digunakan. saluran irigasi) berwarna keruh sehingga perlu diolah terlebih dahulu.waduk. Bahan Kimia atau Koagulan Pengolahan air dengan bahan kimia tergolong lebih sulit dan penentuan pengolahannya harus dilakukan percobaan dan menguji tingkat keasaman air terlebih dahulu untuk menentukan bahan koagulan. a.15) Bagian . kondisi air terlalu banyak kapur. Hitung pertambahan nilai penduduk sampai akhir tahun perencanaan (misal 5 tahun) dengan menggunakan salah satu metode. misalnya metode geometrik. yaitu bila air mengandung zat mangaan (Mn) atau zat besi (Fe) yang biasanya ditandai dengan : Air berwarna kuning setelah ditampung.05 – 1. Tentukan nilai prosentase pertambahan penduduk pertahunnya (r). P = Po (1 + r )n Dimana : P = jumlah penduduk sampai akhir tahun perencanaan Po = jumlah penduduk awal perencanaan r = prosentase pertambahan penduduk pertahun n = umur perencanaan c). kondisi air rasa tanah dan rasa besi. Penentuan Jumlah Penduduk (Pemanfaat) Data jumlah penduduk dan kepadatan penduduk dipakai untuk menentukan daerah pelayanan dengan rumus perhitungan adalah sebagai berikut : 1. Contoh pengeolahan air dengan koagulan. Kebutuhan air bersih ini didasarkan atas pelayanan dengan menggunakan Hidran Umum (HU) dengan perhitungan sebagai berikut : 1. Saringan Karbon Aktif) Pengolahan jenis ini dapat dilakukan bila kualitas air mempunyai kondisi : kondisi air bau tanah dan bau besi. 3. kotoran mengumpal dan tidak mudah larut dalam air.15). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 42 . b.

Alternatif Jenis Sarana & Prasarana Jenis prasarana dan sarana yang diperlukan dalam sistem penyediaan air bersih/minum sesuai dengan sumber air baku serta sistem pengolahannya dapat dilihat pada tabel berikut : Bagian . Hitung kebutuhan total air bersih (Qt). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 43 . yaitu gravitasi atau pemompaan. air permukaan dan air hujan dengan membandingkan kehandalan (kualitas. kuantias dan kontnuitas) air baku. 6). jika tidak mencukupi cari alternatif sumber air baku lain. yaitu pengolahan lengkap atau tidak lengkap.1. a). Penentuan Sistem Penyediaan Air Sistem penyediaan air minum didasarkan pada : a) Ketersediaan sumber air baku dengan prioritas air baku dari mata air. yang berdasarkan dari hasil pemeriksaan kualitas air baku. Bandingkan dengan hasil pengukuran debit sumber air baku apakah dapat mencukupi atau tidak. dengan faktor kehilangan air 20 % dengan persamaan : Qt = Qmd x 100/80 3. c) Sistem pendistribusian. d) Sistem pelayanan yang berupa sambungan rumah/langsung dan hidran umum/kran umum. b) Pengolahan air. air tanah.2.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 44 . Kriteria Desain Kriteria disain untuk setiap sistem penyediaan air minum.1.b). pipa transmisi dan pipa distribusi disajikan dalam tabel-tabel berikut ini : Bagian .

Bangunan Saringan Pasir Lambat (SPL) Luas Permukaan (A) = = Qt (m3/dtk) v filtrasi P (m) x L(m) Jumlah unit bangunan SPL minimum = 2 unit. murah dalam biaya pembangunan dan pemeliharaan serta mudah dalam pembangunan dan operasional & pemeliharaanya. instalasi pengolahan air sederhana yang umum ada dan digunakan diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan pengalaman. Bagian .4) x Lebar (L) • Kedalaman (T) = 1 – 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 45 . Bangunan Bak Pengumpul : Volume bak pengumpul Volume bak pengumpul = = Waktu detensi (td) x Qt Panjang (P) x Lebar (L) x Tinggi (T) Dimensi bak pengumpul : • Panjang (P)= (3 .5 m 3. Sistem Pengolahan Air Dalam menentukan Sistem Pengolahan Air Bersih akan tergantung oleh kualitas sumber air baku. Bangunan Intake (Penyadap) Berupa pipa sadap (PVC/GI) yang dihitung dengan formula sebagai berikut : Dimana : 4Q ф = Diameter pipa (m) φ = Q = Debit aliran (m/detik) πv v = Kecepatan aliran (m/detik) 2.1.d). namun demikian pada umumnya diusahakan harus sederhana.

Sistem Pelayanan (Bangunan HU/KU) Bangunan Hidran Umum cara perhitungannya sama dengan bak penampung. b).1 m e).785 x D2 Dimana : 3 Q = Debit Air (m /detik) V = Kecepatan pengaliran (m/detik) 2 A = Luas Penampang Pipa (m ) D = Diameter pipa (m) Kualitas pipa berdasarkan tekanan yang direncanakan. 8 s/d 10 kg/cm2) atau pipa berdasarkan SNI.1. mengingat jarak maksimum antara hidran umum maksimum 200 meter. Pompa Hitung Daya Pompa yang diperlukan berdasarkan data total tekanan (head) yang tersedia dengan rumus : Q. seri (10-12.5). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 46 .w. Bagian .Dimensi SPL : • Panjang (P) • Tinggi media pasir = (2 . a).H Daya Pompa (P) = 75 . maka umumnya jumlah HU lebih dari satu.7 . Penentuan dimensi perpipaan transmisi dan distribusi dapat mengunakan rumus : Q A = = VxA 0. untuk pipa bertekanan tinggi dapat menggunakan pipa Galvanis (GI) medium atau pipa PVC kelas AW. namun umumnya bangunan HU berupa tabung dari fiberglass dengan volumenya sudah ditetapkan (2 m3 dan 4 m3). л Dimana : P = Daya Pompa (tenaga kuda) Q = Debit Air (m3/detik) w = Density (kg/cm3) H = Total Tekanan (m) л = efisiensi pompa (60-75%) f). Sistem Pendistribuasian Penyaluran air dapat dilakukan dengan sistem perpipaan gravitasi maupn dengan cara mekanis/pompa.3) x Lebar (L) = 0.

6. PRASARANA IRIGASI
Irigasi yang dimaksud dalam program ini adalah sebagai berikut : ♦ Irigasi yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat kelurahan/desa ♦ Irigasi ini bukan bagian dari irigasi teknis atau irigasi yang telah masuk dalam inventarisasi DPU Pengairan Tujuan pembangunan jaringan irigasi perdesaan, yaitu; ƒ Meningkatkan produksi pangan terutama beras. ƒ Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan air irigasi. ƒ Meningkatkan intensitas tanam. ƒ Meningkatkan dan memberdayakan masyarakat dalam pembangunan jaringan irigasi perdesaan. Lingkup pekerjaan Pembangunan Jaringan Irigasi sederhana dibatasi dengan prioritas sebagai berikut : 1. Perbaikan/ rehabilitasi jaringan irigasi yang telah ada. 2. Peningkatan irigasi perdesaan yang telah ada. 3. Pembangunan baru irigasi perdesaan. Karena proses pelaksanaan pembangunan jaringan irigasi peredesaan (mulai dari penyuluhan, survai, desain sampai pelaksanaan konstruksi) harus dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran, maka urutan prioritas ditetapkan sebagai berikut : 1. Diutamakan pekerjaan perbaikan atau rehabilitasi jaringan irigasi yang telah ada, dan tidak memerlukan kajian teknis yang berat. 2. Pekerjaan peningkatan jaringan irigasi yang telah ada, yang benar-benar diperlukan. 3. Pembangunan jaringan irigasi baru yang sangat diperlukan. Meskipun membangun irigasi baru dimungkinkan (sekalipun merupakan prioritas terakhir), harus dihindari pembangunan bendung baru. Pembangunan bendung baru memerlukan kajian teknis yang berat seperti: Pengumpulan data hidrologi dan hidrometri, penyelidikan tanah, dsb. secara akurat dan kajian teknik yang berat, yang kesemuanya itu memerlukan waktu panjang. Maka sangat sulit mempertanggungjawabkannya jika harus membuat bendung sejak persiapan perencanaan sampai selesai konstruksi hanya dalam waktu satu tahun saja. Jenis infrastruktur Bangunan Pengairan/Irigasi yang dapat dibangun antara lain : Embung, Bendung Cerucuk, Bendung Bronjong, Saluran Pembawa & Boks Bagi, Bangunan Pelindung Pantai Sederhana dgn Turap, Bangunan Penahan Longsoran Tanah, dll. Standar Irigasi sederhana mengacu pada Pedoman Teknis Sederhana Pembangunan Bangunan Pengairan untuk Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, Puslitbang Pengairan - Dep. PU Tahun 1995. Kriteria pembangunan Irigasi yang perlu diperhatikan : 1. Irigasi tidak tercatat dalam buku inventaris PU Pengairan 2. Luas areal irigasi perdesaan maksimum 60-100 Ha 3. Pengelolaan, Operasi dan Pemeliharaan jaringan irigasi perdesaan dilaksanakan oleh P3A atau kelompok tani. 4. Pembangunan irigasi baru sederhana harus memenuhi ketentuan : ƒ ada sumber air cukup, adanya sawah (tadah hujan); ƒ ada petani, kualitas air memenuhi; ƒ tanah/sawah baik untuk pertanian (padi); ƒ ada pemasaran hasil produksi; ƒ daerah irigasi bukan merupakan daerah banjir rutin, ƒ kapasitas bangunan mampu untuk mengalirkan debit air yang direncanakan,
Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

47

ƒ pembagian air akan lebih adil/merata. 5. Usulan bendung baru dari pasangan batu atau beton terbatas pada : ƒ panjang bendung maksimum :5 m, sedangkan untuk panjang > 5 m sebaiknya dikoordinasikan dengan instansi teknis terkait. ƒ tinggi bendung maksimum : 3m ƒ debit banjir rencana : 30 m/dtk 6. Pembangunan Embung harus memenuhi ketentuan : ƒ Berada didaerah tadah hujan paling luas 100Ha; ƒ Kolam embung berkapsitas maksimum 100.000 M3 ƒ Tinggi maksimum tubuh embung 5 m ƒ Pelimpah Tanah, berupa saluran terbuka kapasitas paling besar sama dengan banjir 50 tahun; ƒ Embng milik masyarakat, dikelola oleh masyarakat dan bukan termasuk dalam daftar inventarisasi PU; 7. Rehabilitasi Irigasi harus memenuhi ketentuan : ƒ Lingkup Kegiatan : Æ saluran atau bangunan yang fungsi pelayanan sudah berkurang; Æ perbaikan saluran talud atau penahan tebing; Æ perbaikan bangunan terjun, pembagi dan bangunan sadap ƒ Kriteria Kegiatan : Æ bangunan masih kuat dan akan bertahan lama; Æ bangunan akan tetap stabil; Æ kapasitas bangunan akan mampu mengalirkan debit rencana; Æ mudah dioperasikan petani; Æ dapat menjamin pembagian air; Æ melindungi irigasi dari pengaruh alam; 1. Perhitungan Debit Andalan Debit andalan dihitung 80 % dari debit rata-rata minimum sumber air untuk setiap 2 minggu. Debit andalan akan rnenentukan luas areal sawah irigasi yang dapat dilayani oleh sumber air. Luas maksimum area yang dapat dilayani irigasi dapat dihitung dengan rumus : A = Qp / IWR Dirnana : A = Maksimum luas area pelayanan irigasi (ha) Qp = Debit andalan (m3/det) IWR = Kebutuhan air irigasi (lt/det/ha) Untuk irigasi desa IWR = 1.75 lt/det/ha (NWR=1,4 lt/dt/ha), diambilkan dari data irigasi teknis yang berada dekat den lokasi proyek. Untuk keperluan perencanaan Bendung pada Irigasi perdesaan perhitungan debit air tersedia di sungai dapat digunakan cara yang praktis dan sederhana yaitu dengan cara estimasi/pendekatan berdasarkan tinggi muka sungai : a) Dengan menanyakan kepada penduduk setempat yang terdekat den lokasi sungai mengenai keadaan tinggi elevasi muka air pada kea air banjir tertinggi, muka air normal, muka air rendah(tinggi muk di sungai yang sering terjadi selama 1 tahun). Informasi ini digun untuk menggambarkan penampang basah sungai. Untuk menghitung debit andalan digunakan data tinggi air dari an pengamatan 5-6 bulan. b) Dalam menghitung debit dibutuhkan data luas tampang melintang kecepatan air : Qa = Ar . V
Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

48

Dimana : Qa = Debit air (m3/det) Ar = Luas penampang basah rata-rata (m2), V = Kecapatan air (m/det) Kecepatan air dapat dihitung dengan cara sederhana, yaitu pengukuran kecepatan air secara langsung dengan menggunakan pelampung (lihat metode pengukuran debit air baku, perencanaan air bersih). 2. Desain A. Bangunan Utama 1) Bendung Sederhana (1) Bendung berfungsi untuk meninggikan permukaan air sungai sesuai dengan kebutuhan dan membelokkan air ke saluran pembawa sesuai dengan debit yang dibutuhkan. (2) Digunakan pada daerah irigasi yang elevasi permukaan sawahnya lebih tinggi dibanding dengan elevasi permukaan air sungai rendah. (3) Bendung ditempatkan pada alur sungai yang lurus dan dasar sungai relative stabil (4) Panjang bendung tidak lebih dari 0,8 lebar rata-rata dasar sungai. (5) Bendung sederhana dapat terbuat dari pasangan batu, bronjong dan cerucuk. a) Bendung Pasang Batu (1) Umum • Bendung harus stabil pada kondisi air normal maupun air banjir. • Bendung harus aman terhadap pengaruh gaya geser; • Tanah pondasi harus mampu memikul berat tubuh bendung; • Pondasi Bendung diusahakan ditempatkan di atas batu atau tanah liat, Untuk pondasi tanah berpasir (pasir) tidak disarankan bendung pasa batu. (2) Perencanaan Teknis (a) Menentukan Elevasi Tinggi Mercu Menentukan mercu bendung ditentukan oleh muka air rencana bangunan bagi atau sadap pertama di tambah kemiringan panjang saluran (L x I) dan kehilangan tinggi energi pada pengambilan (15cm). Sedangkan tinggi muka air yang diinginkan pada saluran utama ditentukan oleh tinggi muka air yang diperlukan di sawah yang terjauh dan yang tertinggi elevasinya. Adapun ilustrasi cara perhitungannya adalah sebagai berikut :

Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

49

P = A + a + b + m.c + d + n.e + f + g + ∆h + z P = Muka air yang dibutuhkan di saluran utama A = Elevasi sawah dengan elevasi yang menentukan a = lapisan air di sawah ± 10 cm b = kehilangan tinggi energi dari sal. kuarter sampai sawah ± 5 cm c = kehilangan tinggi energi di boks kuarter ± 5 cm d = kehilangan air pada bangunan pembawa di saluran irigasi (I x L) e = kehilangan tinggi energi di boks bagi tersier ± 5 cm f = kehilangan tinggi energi di gorong-gorong ± 5 cm g = kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier ± 5 cm ∆h = variasi muka air = 0,18h100 (sekitar 0,05 - 0,30 cm) z = kehilangan tinggi energi di bangunan petak tersier lainnya m = jumlah boks kuarter di trase tersebut n = jumlah boks tersier di trase saluran (b) Panjang Bendung Panjang bendung tergantung dari pada rata-rata lebar sungai, secara umum 0,8 lebar sungai Dalam hal ini ditentukan panjang bendung maksimum 5.00 m, termasuk lebar pintu penguras. (c) Lantai Olak dan Mercu Bendung Untuk disain lantai olak dan mercu bendung memakai metode perhitungan MDO yang sudah dikembangkan oleh Puslitbang Air Dalam mendisain bendung perdesaan dengan metode MDO dilakukan beberapa penyederhanaan, sebagai berikut : • Bentuk mercu bulat dengan jari-jari R1 = 1.00 - 1 50 m • Tubuh bendung bagian hilir dibuat miring 1 : 1 • Elevasi lantai olak adalah fungsi dari tinggi muka air di hilir bendung (Ds) H1 = X1 . Ds Ds = Elevasi lantai olak dihitung dari puncak mercu H1 = Tinggi air di hilir bendung X1 = Parameter 1.50 - 1,80 yang dipengaruhi oleh debit permeter lebar dan selisih muka air di udik dan di hilir bendung. (a) Panjang lantai olak (L) adalah fungsi dari kedalaman lantai olak (Ds) dihitung dari puncak mercu bendung. L = X2 . Ds L = Panjang lantai olak Ds = kedalaman lantai olak dari puncak mercu X2 = parameter 1.00 - 1.20 (b) Jari-jari pertemuan antara bidang miring tubuh bendung dan lantai olak R2 = 1.00-1.50m

Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

50

z = kehilangan tinggi g = grafitass (9.b. tinggi tembok samping dan penampung sungai di bagian hulu bendung. Lobang balok sekat maksimum 1.d Vg d dimana : Q = debit banjir b = panjang bendung d = tinggi peluapan = 2/3 . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 51 .(d) Bangunan pengambilan ¾ Letak bangunan pengambilan diusahakan dekat dengan bendung. ¾ Bangunan penguras tidak dilengkapi dengan pintu tetapi dilengkapi dengan balok sekat setinggi mercu bendung. lebar pintu minimum 0.3-1.8 m/det2) A = luas penampang pintu C = koefisien pengaliran (0. Rumus pengaturan pintu pengambilan : Dimana : Q = debit (m3/det). (f) Perhitungan Debit Banjir Rencana Debit Banjir Rencana dihitung guna menentukan panjang bendung.81 m/dt2) Bagian .20 m.180° terhadap as bendung. Dihitung dari bangunan-bangunan air yang terdapat di dalam sungai.40 cm. As bangunan pengambilan diusahakan 135° .35) g = gravitasi (9. Bangunan pengambilan dilengkapi dengan pintu. bendung dan lain-lain. ¾ Ukuran lobang pengambilan disesuaikan dengan besarnya debit kebutuhan irigasi.1. ¾ Bangunan pengaras berfungsi meriguras endapan yang berada didepan pintu pengambilan.H H = tinggi air di atas mercu. serta menentukan kedalaman dan panjang lantat olak.8) (e) Bangunan penguras ¾ Bangunan penguras ditempatkan dekat dengan bangunan pengambilan. take water depth m = angka penaliran (1. Rumus Bendung : Q = m. misalnya.

2. kayu dan air sungai agresif. Pada arus surgai yang mengangkut batu. • Untuk mengurangi bocoran pada bendung bronjong dapat dipakai lapisan ijuk yang dipasang diantara kotak bronjong. Perencanaan Teknis Bendung : • Kemiringan bagian hilir bendung 1:1 sampai 1:2dan untuk hulu dengan kemiringan 1:1. melintang sungai yang lebarnya lebih kecil dari 15 m dan berfungsi menaikkan muka air sungai sehingga air sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi tadah hujan yang akan dikembangkan. • Tinggi bendung maksimum 2. • Ukuran bronjong dapat disesaaikan dengan kebutuhan dengan ketebalan 0. • Elevasi mercu bendung direncanakan berdasarkan perhitungan tinggi air saluran ditambah 20 cm. dibuat dari susunan atau tumpukan bronjong kawat diisi batu kali.5 m. Dengan demikian butir-butir tanah akan tertahan. bandung bronjong tidak disarankan pemakaiannya. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 52 .50 m. kawat yang digunakan adaiah kawat yang digalvanis dengan diameter minimal 3 mm.b) Bendung Bronjong Bendung bronjong adalah bangunan air sederhana yang sifatnya tidak permanen.1. Panjang tubuh bendung kurang dari 15 m.5 tinggi bendung. Panjang lantai 2 . Bagian . sebagai kehilangan tinggi pada mercu bendung karena tubuh bendung terbuat dari bronjong yang lolos air.

Panjang lantai hilir paling pendek adalah 3 m f. Bambu mendatar ukuran + Ø 12 cm Bagian . (d) Tiap baris cerucuk terdiri dari tiang-tiang yang dipancang secar vertikal dengan jarak antara tiang paling jauh adalah 1 meter. Tinggi bendung paling tinggi adalah 1 m b. • Pada sekitar rencana lokasi bangunan tidak terdapat sumber batu (b) Bendung cerucuk sederhana adalah bendung sederhana yang sifatnya tidak permanen (tidak tahan lama).50 meter. Debit sungai dalam keadaan banjir maksimum 10 m3/det. Lebar mercu bendung paling pendek adalah 1 m d.1. (c) Banyaknya baris cerucuk tidak kurang dari 3 baris dengan jarak antar baris cerucuk paling lebar 0.c) Bendung Cerucuk (a) Kriteria : • Luas daerah irigasi maksimum 20 ha. Panjang tubuh bendung paling panjang adalah 10 m c. (g) Ukuran-ukuran : a. Tiang tegak kayu keras (dolken) ukuran + Ø 12 cm h. terbuat dari baris-baris ceruc yang dipancang melintang sungai yang ditempatkan pada ruas sungai yang relatif lurus dan dasarnya tidak terlalu keras dengan lebar dasar sungai tidak lebih dari 10 meter. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 53 . (e) Tiap baris cerucuk ditutup dengan dmdmg pemitup yang terdiri dari kayu yang dipasang mendatar secara rapai satis sama lain agar bahan pengisi yang diletakkan pada ruang antara baris cerucuk tidak lolos. (f) Tiap tiang pada baris cerucuk dihubungkan ke tiap tiang pada baris cerucuk lainnya dengan kayu mendaiar yang diikatkan pada ujung atas tiang-tiang baris cerucuk dengan tali pengikat agar baris-baris cerucuk menjadi satu kesatuan yang kokoh. Lebar tepi udik mulut bangunan pengambilan dari sisi udik tubuh bendung minimal adalah 2 m e. Umur bendung paling sedikit 1 tahun g.

KONSTRUKSI SAYAP BENDUNG CERUCUK 2) Pada bagian belakang sayap diperkuat dengan kayu/bambu mendatar yang diikatkan pada tiang-tiang sayap dengan tali pengikat dan diberi tiang penunjang agar sayap menjadi satu kesatuan yang kokoh. 54 Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . Jumlah baris penguat sayap paling sedikit 2 baris dan jarak tiang-tiang penunjang paling panjang 1 m 3) Panjang sayap bagian udik yang sejajar tebing sungai dibuat paling sampai ke tepi udik mulut bangunan pengambilan (intake) yang selanjutnya sayap dibuat miring dengan sudut ± 45 º.1.SAYAP BENDUNG 1) Sayap bendung terdiri dari tiang-tiang cerucuk yang dipancang tegak secara rapat satu sama lain pada pertemuan dasar sungai dengan tebing sungai.

tanah. Bagian . c) Jika pada sungai yang lurus. plastik). Tali sebaiknya dari bahan yang tahan lapuk (tali ijuk. pengambilan dilengkapi pengarah arus. (h) Bahan yang digunakan untuk bendung cerucuk ini diusahakan bahan setempat yang mudah diperoleh. Guna lantai hilir adalah untuk menahan gerusan air yang jatuh di hilir bendung. ¾ Lantai Hilir dari bahan batu kali diameter 15-30cm dan anyaman bambu gelondongan. ¾ Tali pengikat dari tali plastik. dolken dengan menyesuaikan dengan konstruksi bangunan pengambilan bebas dan sumber material yang ada. ¾ Pengisi tubuh bendung dari bahan batu kali. kawat. 2) Pengambilan Bebas a) Bangunan ini tidak memerlukan bangunan melintang sungai untuk membelokkan air ke saluran pembawa. e) Elevasi muka air pada saat debit minimum rata-rata mempunyai tekanan yang cukup untuk mengairi lahan yang direncanakan.4) Panjang sayap hilir yang sejajar dengan tebing sungai dibuat paling sedikit sampai ke ujung lantai hilir. tambang ijuk. 5) Rongga antara tebing sungai dengan sayap bendung ditimbun dengan tanah yang sedikit dipadatkan LANTAI BENDUNG Lantai hilir bendung terbuat dari hamparan bahan pengisi yang berupa batu kali Ø 15 – 30 cm anyaman bambu. d) Bangunan ini biasa dipakai di daerah pegunungan yang kemiringan dasar sungainya cukup curam dan dasar sungainya cukup stabil. ¾ Kayu dolken/bambu tua diameter sekurang-kurangnya 12cm.1. b) Bangunan ini ditempatkan pada akhir belokan luar sungai untuk menghindari masuknya sedimen. sudut ± 45 º. kemudian sayap dibuat miring. Pengarah arus dibuat secara semi permanen dari bronjong atau cerucuk bambu. yang digunakan adalah jenis keras. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 55 .

00 m.00 m dari dasar tanah pondasi dibuat paritan (cut off) lebar paritan 2.5. h) Pengambilan bebas. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana f) 56 . c) Lapisan tanah yang mengandung air tanah biasanya dibatasi oleh : o Bagian bawah dengan lapisan kedap air Bagian .Kemiringan badan embung. hulu = 1: 3.Tinggi jagaan minimum 1.00 m . Stabilitas lereng dan penurunan. dialirkan ke jaringan irigasi. .Pembuatan peta situasi genangan maupun lokasi bangunan embung dilaksana dengan alat optik atau pipa (slang) plastik.1. . b) Untuk mata air ini biasanya dibuatkan bangunan penampung air. g) Konstruksi bangunan pengambilan bebas dapat dibuat dari pasangan batu kali atau cerucuk bambu. (2) Waduk/embung dibuat pada daerah cekung atau pada alur sungai kecil yang memungkinkan untuk menjadi penampung air. b) Kandungan air tanah terdapat pada lapisan tanah yang terbentuk dari bahan-bahan tanah berpasir dan kerikil.Bangunan pengambilan dibuat permanen dengan pembatas debit dan dilengkapi dengan pintu. tinggi elevasi lantai pengambilan berada 10 cm dibawah muka air terendah atau 50 cm diatas dasar sungai. (7) Untuk keperluan air irigasi perlu dibuat bangunan pengambilan. maka diatasi dengan cara : o Menebalkan tanggul bagian luar o Membuat inti lapisan kedap air o Dibuat pasangan batu atau diberi lapisan kedap air di bagian dalam tanggul o Membuat drain filter di kaki tanggul luar dari pasangan batu kosong atau bronjong. d) Apabila diperlukan dibuat bangunan pelimpah untuk membuang limpahan (over topping). c) Konstruksi bangunan penampung air dibuat dari pasangan batu. melalui bangunan pengambilan yang dapat diatur. (4) Tubuh tanggul waduk/embung pada umumnya dibuat dari timbunan tanah pudel. (3) Dipilih pada daerah yang berjenis tanah tidak porous (lolos air).Bila lapisan kedap air berada < 2.Koefisien rembesan maksimum K < 10 -5 m/det. Catalan : Dalam menentukan elevasi dasar bangunan pengambilan harus hati-hati agar mata air nantinya tidak berpidah atau mati. (5) Bila terjadi bocoran pada tanggul. (6) Stabilitas tanggul diperhitungkan terhadap : Rembesan.00 pada tinggi air minimal 4) Mata Air a) Sumber air ini berfungsi sebagai sumber air utama atau sebagai suplesi. dolken. 3) Waduk/Embung (1) Pada umumnya bangunan waduk/embung berfungsi untuk menampung air hujan dan digunakan untuk irigasi air minum dan lain-lain.Lebar puncak embung minimum 4. .Tinggi embung > 3 m dibuat berem selebar 2 m . 5) Air Tanah a) Air tanah adalah air yang berada pada lapisan bagian bawah tanah. (8) Disain Teknis : . . bangunan intake dan pelimpah dibuat dari pasangan batu yang ditempatkan pada tanah asli.Daya dukung tanah pondasi minimum 1 kg/cm2 (1 ton/m2) . minimum hilir =1:3.

(2) Saluran pembawa juga harus mempertimbangkan debit air hujan yang masuk. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 57 .1. f) Disain Teknik : o Cara mengumpulkan air tanah dilakukan dengan membuat sumur gali yang dapat diperkuat dengan pipa beton Ø 0. (3) Saluran pasangan hanya digunakan pada tempat-tempat yang porous (tanah berongga) sedangkan pada tempat-tempat rawan dapat dibuat saluran tertutup. serta aman terhadap erosi dan sedimentasi. Kapasitas saluran irigasi ditentukan oleh kebutuhan air irigasi sehingga perencanaan saluran harus diperhitungkan dengan biaya murah.80 .00 m atau pasangan batu/batu bata. o Pada tanah yang banyak mengandung pasir disarankan pada dasar sumur di beri lapisan ijuk yang diberi pemberat batu. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas yang paling umum dibuat adalah saluran berbentuk trapesium a) Pemilihan jenis saluran hendaknya mempertimbangkan Fungsi jaringan irigasi dengan kondisi fisik dalam keadaan baik Saluran lama yang ada Biaya pemeliharaan murah Pengoperasian mudah " Aspirasi atau tradisi masyarakat setempat.1. o Dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan pertanian. Alat Ukur Debit dan Bangunan Penguras Saluran 1) Saluran Pembawa Untuk pengaliran air irigasi diperlukan saluran pembawa.00 m. e) Pemanfaatan dan syarat-syarat : o Letak air tanah tidak lebih dari 2. (1) Kapasitas rencana saluran dihitung berdasarkan kebutuhan air irigasi dengan memperhatikan faktor efisiensi dan dimensi saluran yang ada. o Pemanfaatan untuk pertanian terbatas pada tanaman palawija dan sayuran. ditimba. Saluran Pembawa. o Kedalaman air dalam sumur 1. (4) Kriteria perencanaan saluran : Bagian . o Untuk menaikkan air dapat dilakukan dengan : Pompa air mekanis (pompa dragon).00 m dari permukaan tanah. pemeliharaan paling rendah.50 . b) Perencanaan Saluran Saluran pembawa dapat berupa saluran tanah.o Bagian atas muka air tanah berhubungan dengan atmosfir d) Air tanah terdapat di daerah cekungan atau di daerah datar dekat pantai. pasangan batu atau beton. system senggot (jawa) B.2.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 58 .1.(5) Untuk perencanaan aliran saluran digunakan rumus Strickler : Dimana : Q = debit saluran (m3/dt) I = kemiringan saluran V = kecepatan aliran (m/dt) K = koefisien kekasaran (m1/3/dt) R = jari-jari hidrolis (m) w = tinggi jagaan tanggul (m) A = luas potongan melintang basah(m2) b = lebar dasar saluran (m) P = keliling basah(m) h = tinggi air (m) m = kemiringan talut (1 vertical : m horizontal) Bagian .

b.100 m3/dt ƒ Ditempatkan pada saluran utama 5-10 m dihilir bangunan pengambilan. ƒ Ditempatkan pada saluran utama yang lurus.80 m Bagian . Papan ukur dapat dibuat dari plesteran yang diberi tanda setia ƒ Alat Ukur Debit Ambang Datar ƒ Gambar disain seperti gambar dibawah ini: 3) Bangunan Penguras Saluran Bangunan penguras yang dimaksud disini adalah bangunan penguras endapan yang terdapat pada saluran utama.00 m Konstruksi bangunan penguras tidak dilengkapi dengan pintu.h 3/2 ƒ Lebar ambang dibuat sama dengan lebar dasar saluran ƒ Papan ukur ketinggian air pasang pada jarak 1.00 m dari bangunan pengambilan Lokasi bangunan penguras (saluran utama) berdekatan dengan sungai atau saluran pembuang yang berfungsi tempat pembuang endapan Panjang saluran penguras yang menghubungkan bangunan penguras dan saluran pembuang maksimum 25.1.100 m3/det Dipasang pada jarak < 5. a) Kriteria Dimensi saluran untuk debit minimum Q = 0.20 m dari ambang ƒ hulu. guna mendapatkan aliran air yang teratur b) Disain ƒ Alat ukur debit berupa bangunan berbentuk ambang rata segi empas ƒ Rumus debit pengaliran Q= 1. tetapi dilengkapi balok sekat.71 . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 59 .2) Alat Ukur Debit a) Kriteria ƒ Saluran dengan dimensi debit > 0. Panjang balok sekat maksimum 0.

3) Saluran pembuang dapat berupa. Saluran Pembuang 1) Berfungsi untuk membuang kelebihan air hujan dan irigasi yang telah di pada lahan sawah.1. C. Dm = Modulus pembuang (Idt/ha) A = Luas daerah yang dibuang airnya (ha) Jika data tidak tersedia dapat dipakai debit min. tersier dan kuarter untuk tanpa pasangan : Bagian . A dimana : Qd = debit rencana.b) Disain Tidak diperlukan kolam pengendapan sedimen Perbedaan elevasi dasar saluran pembawa dan saluran pembuang atau sungai minimum 1. rencana 5–6 l/dt/ha.50 m Disain bangunan penguras seperti pada gambar dibawah ini. f = faktor pengurangan (reduksi) daerah yang dibuang airnya (1 untuk petak tersier). 4) Debit drainase rencana dari sawah di petak tersier dihitung dengan rumus Qd = f. I 1 7 2 6) Kriteria perencanaan saluran pembuang utama. saluran tanah atau pasangan batu. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 60 . 2) Saluran pembuang direncana di tempat-tempat yang rendah. R2/3 . Dm. 5) Untuk perencanaan aliran saluran digunakan rumus Strickler (seperti pada pembawa): V = K.

Bagian . Boks pembagi berfungsi untuk membagi air dari saluran tersier kesaluran kuarter b) Bangunan bagi atau boks pembagi ditempatkan di lokasi yang sesuai dengan hasil kesepakatan dalam diskusi perencanaan petani. Bangunan Sadap 1) Bangunan Bagi atau Boks Pembagi a) Bangunan bagi berfungsi untuk membagi air dari saluran primer ke saluran sekunder atau dari saluran sekunder ke saluran tertier. diambil sama atau mendekati kecepatan D. sedangkan untuk bangunan boks pembagi cukup dengan balok sekat. d) Perencanaan teknis : (1) Lebar bukaan lubang pembagian berbanding lurus terhadap luas areal yang diairi dengan elevasi ambang yang sama serta diusahakan tidak terlalu tinggi.Kecepatan rencana sebaiknya maksimum yang diijinkan.1. Bangunan Bagi. Hal ini dapat dicapai dengan merencanakan elevasi ambang dan bentuk ambang dibuat sama. Bangunan bagi dapat dilengkapi dengan pintu sorong sederhana yang terbuat dari baja. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 61 . c) Pembagian air dalam bangunan bagi hendaknya dibuat secara proporsional dengan jenis pengaliran yang sama (pengaliran sempurna).

47 H.010 0.10 0 15 0.70 0.008 0.032 0.084 0.126 0.030 0.50 m. (3) Rumus pengaliran melewati ambang: Aliran sempurna : Q = 1.107 0.009 0.030 0.019 0.006 0.40 0.50 ha.027 0.038 0.012 0.05 0.096 0. a) Bangunan Sadap/Corongan Type ini untuk menyadap air langsung dari Saluran Pembawa Utama untuk areal 5 .6h (h = tinggi air di saluran) ¾ Panjang sayap hulu dan hilir bervariasi disesuaikan dengan tinggi air dan keadaan tanah.011 0.040 0.035 0.183 0.076 0.054 0.50 0. ¾ Panjang ruang olakan Lb = 4 .128 0.197 2) Bangunan Sadap/Corongan Bangunan Sadap/Corongan dibangun untuk menyadap air langsung dari Saluran Pembawa Utama ke petak sawah yang luasnya 5 .098 Q = Discharge(m3/dt) 0.055 0.084 0.1.107 0.061 0.075 0. b dan c).118 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 62 . E.065 0.25 0. Bangunan Terjun a) Bangunan terjun type ini adalah bangunan terjun dengan tembok tegak lurus atau dengan kemiringan 1 : 5 seperti (Gambar 16) yang digunakan bila t inggi terjun.070 0.10 ha ke sebelah kiri atau kanan saluran tanpa melalui boks pembagi.022 0.011 0.30 m dan lebar bawah diambil 0. Gambar a dan b.140 0.35 0007 0. Bangunan Pembawa 1).046 0.71 b. b) Penyadapan dengan pipa beton atau pipa PVC 75 mm untuk areal 5 .069 0.086 0.169 0.45 0.20 0. Bagian .060 0.035 0. b) Syarat-syarat perhitungan untuk Bangunan Terjun Type ini secara praktis dapat didasarkan pada : ¾ Lebar atas tembok penahan 0.3 0. Apa bila terjadi tinggi terjun H > 1 50 m. maka digunakan 2 buah bangunan terjun.112 0.064 0.016 0. Hmax (A .10 ha.045 0.55 0.60 0.150 0.155 0.(2) Ditinjau dari banyak dan arah pembagiannya ada tiga macam bangunan bagi atau boks pembagi (Gambar a. c) Pintu Sadap/Corongan dapat dilengkapi dengan lubang balok sekat d) Bangunan Sadap dapat dikombinasikan dengan bangunan boks pada bagian ujung keluaran (outlet).h 3/2 h(m) 0.013 0.050 0.B) = 1.30 b=0.65 0.024 0.139 0.092 0.099 0.7ha dan dengan pipa beton atau pipa PVC 100 mm untuk areal 8-12.

084 0.535 0.5 V=1.7 0. Panjang pasangan Bagian .80 (dari Supplemental to Guidelines No.165 0.330 0.054 0.322 0.50 m.242 0.585 0.632 0. Gorong-gorong Pembawa a) Gorong-gorong Pembawa berfungsi untuk menyeberangkan saluran bila terpaksa memotong jalan.285 0.3042 D D (m) 0.216 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 63 .337 0.427 0.6 0.8 h D = Diameter pipa (m) B = Lebar saluran (m) H = Tinggi air (m) 3).2). timbunan tanah diatas gorong2 min. Design o and Kecil Project) A=0. 0.273 0.674 R 0. sehingga ukuran pipa/gorong-gorong diambil agak besar dengan kemiringan dasar pipa mengikuti saluran irigasi.422 0.183 0. Gorong-gorong Pembuang a) Untuk gorong-gorong pembuang aliran masuk pada inlet adalah full pressure.678 e) Dengan pertimbangan diatas maka diambil besarnya diameter pipa.431 0.5 0. b) Gorong2 yang menyilang jalan.152 0.183 0. d) Dengan pengaliran bebas (freeflowtype) biasanya ketinggian air diambil h = 0.213 0.6736 D2. c) Untuk mencegah bocoran air saluran pembawa masuk kedalam saluran pembuang maka pada saluran pembawa diberi pasangan talud. b) Gorong-gorong pembuang diganakan untuk melintas Saluran Pembuang (Drainase) di bawah Saluran Irigasi. sehingga tinggi air (h) sama dengan diameter pipa (D). c) Prinsip hitungan hidrolis air masuk gorong-gorong pada inlet adalah bebas (freeflow).368 0.213 0.1. D = b + 0.168 0.108 0.483 0.0 V=1.452 Discharge (m3/dt) V=0.274 0.8 0.0 A (m2) 0.304 R 2/3 0.243 0.122 0.357 0390 0.4 0.246 0.152 0.9 1.546 0.122 0. R=0.304 0.121 0.243 0274 0. 7.5 0.

0100 0.20 meter dapat dibangun Jembatan Pelat Beton.100 0.5 0. 5 D (m) 0.342 0.178 4).8 0.294 0. Q = Ap x Vo Ap = 1/4 л.9 1.1.200 0.4 0. Jembatan & Talang a) Untuk penyeberangan jalan terhadap saluran.D2.talud (L) minimum = 6-8.385 0.7 0.126 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 64 .282 0.0078 0. Untuk Vo rencana diambil minimum = 1.D R = Ap / P = 1/ л.175 0. ¾ Perhitungan hidrolis untuk Talang Pipa Besi dapat dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus aliran melalui pipa dengan kondisi tekanan penuh (full pressure condition). Vo / R2/3 )2 Dimana : Q = Debit Saluran Pembuang (m3/dt) Ap = Luas penampang basah pipa (m2) D = Diameter pipa (m). tinggi tanah antara dasar pasangan talud saluran dan pipa.754 0.370 0.150 0. Untuk bentang diatas 4m harus dipasang tiang/pilar ditengah.313 0.0167 atau K = 60 Vo = 1.6 0.215 0.954 1.250 R2/3 0.D2/ л.397 I 0. P = Keliling basah aliran dalam pipa (m) R = Jari-jari hidrolis (m).577 0.636 0. apabila lebar dasar lebih besar daripada 1.785 R 0. Bagian . n = 0. Vo = Kecepatan aliran dalam pipa. I = Kemiringan pipa.0 Ap (m2) 0.225 0. P = л.0053 0.0135 0.283 0.0040 Q (m3/dt) 0.50 m/dt. b) Untuk menyeberangkan saluran irigasi di atas sungai atau melewati lembah yang tidak terlalu lebar digunakan talang dari pipa besi.250 0.0064 0.502 0. Perhitungan tebal plat dan pembesiannya sesuai dengan standar teknis jembatan beton bertulang.D = 1/4 D I = ( n.196 0.424 0.0046 0.188 0.125 0.

Vt = 1/n .090 0.10 0.3 0. air lewat talang (m/dt) I = Kemiringan dasar talang n = Koefisien kekarasan bahan.1333 0.4 0.3029 0.¾ Untuk menghitung tinggi tekanan hilang/head digunakan formula-formula seperti berikut : ∆h = (fo + fi + hf) (Vp2/2g) Dimana : ∆h : Tinggi tekanan hilang (m) L : Panjang pipa (m) D : Diameter pipa (m) Vp : Kec.800 2.2610 0.283 0.375 0.0115 0.466 0.1667 0.00) fi : Koefisien peralihan inlet (0.6 0. Vt.250 0.036 0.0884 0.900 1. fi=0.360 0.174 0. untuk besi = 0. untuk pipa bulat f = (19.0058 0.7 0.872 0.636 0.2000 0.385 0. n2)/R1/3.5 0.50 m/dt R = A/P. maka kecepatan air yang lewat di atas talang. P = b + 2 h Dimana : Q = Debit air lewat talang (m3/dt) R = Jari-jari hidrolis (m) A = Luas tampang basah (m2) P = Keliling basah (m) Vt = Kec. n2)/D1/3.5 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 65 .196 0.1000 0.0.2333 R2/3 0.50 m/dt dan tinggi tekanan hilang. z = 0.540 0.60 .4 0.13 0. fo=1.7 h 0.1W 0.126 0.1071 0.09 0.7 A 0.0609 I 0. ditetapkan minimum 1.60 .039 0.502 0.3420 0.0 m/dt. Bagian . L=10m.160 0.100 R 0.346 ∆h 0.15 meter. untuk beton diambil n = 0.0154 or K = 65 Vt=1.11 0.4 0.135 0.40 .0675 0. b = h b 0.5 0.0762 0.5 A f hf 0. untuk boks hf : kehilangan tekanan akibat gesekan = f.044 0.014285) losses (∆tt) dapat fo : Koefisien peralihan outlet (0.785 0.684 0.047 1.500 1.398 0.09 c) Talang beton.0 Vp= 1.240 0.0078 0.5m/dt.200 1. gesekan (sesuai bahan.3790 I1/2 0. R 2/3.735 ¾ Agar dimensi talang ekonomis.70-1.041 0.12 0.6 0. air dalam pipa (m/dt) n : Koef.0037 Q 0.037 0. bentuk talang beton bertulang yang biasanya digunakan berbentuk segi empat ¾ Perhitungan hidrolis digunakan formula-formula : Q = A x Vt. I 1/2 > 1.50) f = (124. L / D D 0.490 P 0.035 0.9 1.1.3 0.8 0. A = b x h.2154 0.6 0.557 0.0046 0.0.

¾ Perencanaan krib pada sungai-sungai besar perm diadakan survai morpologi sungai.1. ¾ Panjang krib tidak lebih dari 1/3 lebar sungai. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 66 . Bangunan ngunan Lainnya 1) Krib pengarah aliran ¾ Krib pengarah aliran berguna untuk mengarahkan aliran air agar dapat dengan mudah masuk kedalam pintu pengambilan (bebas) ¾ Krib pengarah aliran berguna untuk meluruskan aliran pada lokasi sungai yang berbelok-belok. ¾ Krib dapat dipasang tegak lurus aliran. ¾ Pangkal krib dibuat setinggi rata-rata tinggi muka banjir sepai panjang krib. ¾ Bangunan krib dapat terbuat dari bronjong cerucuk kayu atau bambu. Penahan Talud Saluran Penahan talud saluran ini umumnya dipasang pada daerah : Tanah porous Melewati perumahan/kampung Belahan Lereng Bentuk-bentuk talud diberikan sesuai type saluran. seperti contoh berikut : Bagian . 2).F. miring searah aliran atau miring mengongsong arah aliran.

kadang-kadang perlu juga dibangun konstruksi Penahan Tebing Sungai.1.25 kali tinggi (H) sedangkan tebal pasangan bawah 0. Bila Konstruksi penahan tebing dibuat dari pasangan batu kali. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 67 . G. Pintu Air Sederhana Pintu air sederhana (pintu sorong sederhana) untuk melengkapi bangunan bagi. ukuran untuk tebal pasangan atas cukup 0.3). Konstruksi ini terjadi karena saluran irigasi berada dilereng tebing dan sejajar dengan sungai. Penahan Tebing Sungai Disamping penahan tebing saluran.47 kali H. Pintu sorong sederhana (tanpa stank ulir) mempunyai sistem kerja yang hanya buka dan tutup saja. berfungsi untuk mengatur tinggi muka air dibagian hulu dan menguruangi/mencegah (dengan cara menutup pintu) air yang berlebihan masuk kedalam saluran. Bagian .

Untuk menentukan bukaan pintu berdasarkan debit air yang dikehendaki (petani) dapat menggunakan table berikut. Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 68 .1.

Sumber air di MCK harus terjamin (tersedia dalam 24 jam). PRASARANA MANDI. kuat dan kedap air sampai ketinggian 0.75 meter keatas dan 2 meter kebawah permukaan lantai. 5. kakus 10 lt/org/hr. KAKUS 1).7.5 mm. berbau. MCK Komunal yang dibangun merupakan kebutuhan bagi warga miskin dan warga pengguna bersedia untuk memelihara. 2). cuci 15 lt/org/hr. Air Bersih Perpipaan/PDAM dengan ketentuan : o Pipa air bersih dapat digunakan pipa PVC diameter sekurang-kurangnya 12. Limbah MCK harus dikontrol dengan baik sehingga tidak mengganggu dan mencemari lingkungan. 2. sumur bor/gali/mata air dan kuantitas air sekurang-kurangnya untuk mandi 20 ltr/orang/hari.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . o Pipa sebaiknya tertanam dalam tanah atau dilindungi dengan baik. Sumur pompa tangan/mesin. Bangunannya sederhana. dengan ketentuan : o Sekeliling sumur pompa harus ada lantai kedap air selebar 1. Resapan dan saluran pembuangan harus lancar dan tidak meresap ke sumur disekitarnya. Air Hujan dengan Bak Penampung Air Hujan. Lokasi dan waktu tempuh dari rumah warga pemanfaat adalah 2 menit (jarak kurang/lebih 100m) dan luas daerah pelayanan maksimum untuk 1 MCK adalah 3Ha. Penyediaan air bersih dapat dari PDAM. Mata Air dilengkapi dengan bak penangkap air. berwarna dan tidak pula keruh. Keperluan wanita dan laki-laki terpisah dan kapasitas satu unit MCK sebagai berikut. Lokasi sumur minimal 10 meter dari sumber pengotoran (cubluk/resepan). 3. 69 2) Kamar Mandi dan WC ‰ Bagian . CUCI. Kamar Mandi/WC boleh tanpa atap bila sesuai kebiasaan masyarakat setempat. air tanah. Bagian-bagian MCK 1) Sumber Air Sumber air MCK harus memenuhi syarat air bersih : ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ Kualitas air tidak berasa. 6. sesuai dengan standar teknis yang berlaku dan mempertimbangkan budaya setempat.20 m o Pipa selubung sumur harus terbuat dari bahan kedap air dengan kedalaman minimum 2 meter dari permukaan lantai Sumur Gali dengan ketentuan : o Sekeliling sumur gali harus ada lantai kedap air selebar 1. kualitas (air bersih) dan kuantitasnya agar prasarana MCK dapat berfungsi dengan baik. Ketentuan Umum 1.20 m o Dinding sumur gali harus terbuat dari konstruksi yang aman. 4.

Pintu dari Bahan tahan air atau PVC dengan ukuran lebar 60-80cm dan tinggi 160cm. ‰ Luas lantai sekurang-kurangnya 10m2. keperluan wanita dan laki-laki terpisah. Kemiringan sekurang-kurangnya 2%. Tinggi dinding sekurang-kurangnya 160 cm. ‰ Konstruksi dapat dibuat dari pasangan batu bata. ‰ Tempat menggilas pakaian dapat berdiri atau jongkok.0m x 2.5m2. campuran 1semen : 2 pasir : 3 kerikil ‰ Volume konstruksi tergantung dari jumlah pemakai. Pipa saluran. Luas lantai KM sekurang-kurangnya 2m2 (1. Ventilasi udara dan sinar/cahaya alami tersedia sekurang-kurangnya seluas 0. dapat dihitung dengan pendekatan berikut : Bagian . ‰ Bila dilengkapi dengan dinding. ‰ Diameter minimum 10 cm.5m2 . ‰ Saluran dibuat kedap air bila disekitarnya terdapat sumur air bersih dengan jarak 8 meter agar tidak merembes ke sumur. Septicktank Berfungsi untuk menampung tinja. Bak kontrol. Air bekas mandi dapat dibuang ke saluran atau peresapan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 70 . bila tidak cahaya alami tidak memungkinkan maka disediakan penerangan lampu/listrik secukupnya. 5) Septictank dan Peresapan a. PVC diameter sekurang-kurangnya 10cm. ‰ Air bekas cuci dapat dibuang ke saluran atau peresapan. Kloset Jongkok untuk WC.0m) dengan ukuran bak sekurang-kurangnya 0. bak untuk memeriksa dan membersihkan pipa saluran. 4) Saluran Pembuangan Air Limbah ‰ Air yang masuk ke saluran pembuangan air limbah harus mengalir dengan lancar sampai ketempat pembuangan akhir/drainase.1. Luas lantai WC sekurang-kurangnya 2m2 (1.0m x 2. pintu. spesi campuran 1semen : 3pasir atau Beton. pipa untuk menyalurkan air limbah dari jamban ke cubluk atau tangki septic. Belokan 90 derajat sebaiknya dihindari dengan membuat 2 kali belokan 45 derajat atau bak kontrol. urine dan air gelontoran sekaligus mematikan bakteri aerob dan anaerob.‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ Lantai dibuat tidak licin dengan kemiringan kearah tempat pembuangan +1%. Lantai dibuat tidak licin dengan kemiringan kearah tempat pembuangan +1%. ventilasi dan penerangan maka berlaku ketentuan-ketentuan seperti pada KM/WC juga dapat diterapkan.0m) dengan ukuran bak sekurang-kurangnya 0.1m2 . 3) Tempat Cuci Umum ‰ Tempat Cuci boleh terbuka atau diberi atap.

Jarak ke pondasi bangunan minimal 1.‰ ‰ ‰ ‰ Tangki septik empat persegi panjang dengan perbandingan panjang dan lebar 2 : 1 sampai 3 : 1. Penutup tangki septik maksimum terbenam ke dalam tanah 0.40 m. ‰ Jarak peresapan dengan sumur air bersih. Lebar tangki sekurang-kurangnya 0.00 m.20 – 0. Peresapan Berfungsi untuk membuang air limbah dari septictank sehingga didalam septictank tinggal material pada saja. b.50 cm.5m dan jarak ke pipa air bersih minimal 3m. Tangki septik ukuran kecil yang hanya melayani satu keluarga dapat berbentuk bulat dengan diameter sekurang-kurangnya 1.40) m dan ruang penyimpanan lumpur.00 m dan keadalaman maksimum 2.10 m. Bagian . elevasi letak resapan harus lebih rendah dari elevasi sumur air bersih agar air resapan tidak masuk ke sumur. Syarat teknis peresapan : ‰ Konstruksi dapat dibuat dari pasangan batu/bata tanpa spesi/plesteran agar air dapat masuk meresap kesela-sela batu tapi konstruksi harus cukup kuat untuk menahan tanah tidak runtuh. Tinggi tangki septik adalah tinggi air dalam tangki.20 m dan tinggi sekurang-kurangnya 1. sekurang-kurangnya untuk : tanah lempung 6 m .75 m dan panjang tangki sekurang-kurangnya 1. Dasar tangki dapat dibuat horizontal atau dengan kemiringan tertentu untuk memudahkan pengurasan lumpur. tanah normal 10 m dan tanah berpasir 25 m. Tangki air dalam tangki sekurang-kurangnya 1. Dinding tangki septik harus dibuat tegak. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 71 .1. ‰ Pada daerah dengan topografi yang miring. ditambah dengan ruang bebas air sebesar (0.

B 10 60 15 T. BATU KALI 60 60 URUGAN TANAH 10 KE SUMUR RESAPAN PIPA Ø 3" 25 50 10 ± 0.80 . BATU BATA 10 20 LANTAI KERJA PASIR URUG PAS.0.A PASIR Bagian . DINDING BATA PAS. BATA KEDAP AIR 200 BETON BERTULANG BAK KONTROL PAS.00 .00 60 10 10 115 60 10 135 10 60 10 175 PAS. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 72 .1.1.0.00 PAS. BATU KOSONG 20 20 90 20 180 20 20 POTONGAN A . CUCI BAK KONTROL DRAIN 20 100 BAK AIR POMPA A 200 PIPA Ø 3" 15 385 A 10 50 10 100 20 20 90 20 330 180 20 15 60 10 15 100 15 120 440 15 165 10 DENAH MCK TYPE A RING BALOK + 2.20 150 10 .

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 73 .1.VENTILASI Ø 1 1/4" TANAH URUG LAPISAN IJUK MANHOLE MANHOLE KERIKIL PVC Ø4" BERLUBANG BATU PECAH PIPA DARI KLOSET PVC Ø4" OUTLET PVC Ø4" BETON (1PC : 2PS : 4KR) PASANGAN BATA (1 PC : 2 PS) POTONGAN A PIPA DARI KLOSET PVC Ø4" VENTILASI Ø1 1/4" OUTLET PVC Ø4" PVC Ø4" A MANHOLE MANHOLE A DENAH TANGKI SEPTIK & RESAPAN (1) Bagian .

Persyaratan umum pembangunan prasarana persampahan : ¾ Lokasi dipilih pada tempat yang jauh dari sumber air bersih. Ukuran TPS sekurang-kurangnya mempunyai kapasitas (isi) 2 m3 dengan jarak antar TPS sekurang-kurangnya 150m. Bagian .1. pembungan sampah dapat dilakukan dengan cara menggali lubang sampah ditanah dipekarangan untuk dibakar atau ditimbun tanah kembali setelah penuh. Dengan cara tersebut diharapkan memperoleh lingkungan permukiman yang bersih dan sehat. Pemilihan prioritas kegiatan persampahan diprioritaskan pada pembangunan tempat penampungan sementara (TPS) sebagai tempat pengumpul pembuangan sampah dari rumah-rumah dan Gerobak sampah sebagai alat pengumpul sampah sedangkan untuk penyediaan tempat sampah ditiap rumah dapat disediakan sendiri secara swadaya. mencegah pencemaran lingkungan dan kemungkinan sarang vektor penyakit (lalat). ¾ Lokasi TPS harus dimusyawarahkan dan sepakati bersama oleh warga. ¾ Penyediaan TPS berikut Gerobak Sampah diutamakan bagi kelurahan/desa yang terjangkau oleh jaringan/sistem persampahan kota atau mempunyai akses yang dekat ke tempat pembuangan akhir sampah (dengan gerobak sampah mampu dibuang sendiri ke lokasi TPA). Sedangkan untuk daerah dengan kepadatan penduduk yang masih rendah dan tanah cukup luas (perdesaan). seperti dari pasangan batu/batu bata. untuk menghindari bau. Anggota masyarakat yang menggunakan jasa pengelolaan sampah akan dimintai kontribusi berupa dana/iuran sampah. ¾ Masyarakat bersedia membentuk kelembagaan pengelola pemanfaatan dan pemeliharaan prasarana berikut pembiayaannya secara swadaya. ¾ Pengumpulan sampah dari rumah-rumah sekurang-kurangnya 2 hari sekali dan pembungan sampah dari TPS sekurang-kurangnya seminggu sekali dengan volume sampah minimal. sesuai kondisi sosial setempat dan dapat menggunakan bahan lokal. PRASARANA PERSAMPAHAN Prasarana persampahan yang dimaksudkan disini adalah prasarana persampahan dilingkungan permukiman. Bangunan TPS dibuat dari konstruksi sederhana. bukan didaerah banjir dan mudah dijangkau oleh alat transportasi sampah (mobil angkutan sampah) untuk memudahkan pengangkuatan ketempat pembuangan akhir (TPA). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 74 . terutama warga disekitar lokasi TPS akan dibangun sehingga tidak menimbulkan konflik sosial.8.

Pembinaan teknis medis secara periodik dilakukan oleh Puskesmas. ¾ Kegiatan yang dilaksanakan harus dikoordinasikan dengan pemerintah desa/kelurahan dan instansi teknis kesehatan setempat. transportasi. penanganan kegawat daruratan kesehatan. ¾ Pembangunan Poskesdes tidak diprioritaskan bagi Desa/kelurahan yang terdapat sarana kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit). dikembangkan suatu bentuk UKBM yang dapat berfungsi mengkoordinasikan seluruh UKBM yang ada. pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans penyakit. PRASARANA KESEHATAN Prasarana kesehatan yang dimaksud disini adalah prasarana dan saran untuk menunjang pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat. UKBM yang berfungsi koordinatif di desa tersebut adalah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan dasar. Poskesdes Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan berbagai UKBM yang ada di desa. dalam cakupan layanan wilayah kelurahan/desa. Kegiatan Poskesdes. Perwujudan Desa Siaga ini adalah dalam rangka mempercepat pencapaian Desa Sehat.9. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pos bersalin desa (Polindes). Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan gedung sederhana tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU sedangkan terkait dengan kebutuhan ruangan bangunan mengacu pada standar teknis yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan. tetapi tidak termasuk penyediaan tenaga/peralatan medis. 1). serta ditetapkan oleh Kepada Desa. surveilans gizi. Lingkup pembangunan sarana/prasarana kesehatan dasar disini hanyalah mencakup penyediaan fisik/bangunan sederhana termasuk meubelair yang diperlukan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 75 . sedangkan hal-hal non teknis medis dilakukan oleh Pemerintah Desa/Kelurahan dan lintas sektor di tingkat Kecamatan.1. Pembinaan Poskesdes dilaksanakan secara terpadu dengan lintas sektor. Kegiatan UKBM yang dikembangkan dalam program ini antara lain adalah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). ¾ Kelurahan/desa yang telah memiliki kelembagaan/kepengurusan tetapi belum memiliki bangunan/masih menumpang pada bangunan lain dalam menjalankan kegiatan utama sesuai fungsinya. Bendahara dan Anggota. dan masalah kesehatan lainnya). agar penyelenggaraan UKBM tersebut dapat sinergis dalam upaya mewujudkan Desa Siaga. komunikasi dan obat-obatan. Kepengurusan Poskesdes dipilih melalui musyawarah dan mufakat masyarakat desa. Susunan pengurus Poskesdes bersifat Bagian . Ketua. melalui upaya kesehatan yang berbasis masyarakat (UKBM). surveilans perilaku beresiko. Tenaga kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan di Poskesdes minimal seorang Bidan. Prioritas pemilihan pembangunan prasarana kesehatan dasar adalah sebagai berikut: ¾ Rehabilitasi/perbaikan bangunan yang telah ada karena fungsi bangunan berkurang. ¾ Peningkatan bangunan yang telah ada agar mampu mendukung penyelenggaraan kegiatan utama sesuai fungsi organisasinya. Sekretaris. dan surveilans lingkungan. relawan dengan bimbingan tenaga kesehatan. misalnya gedung Polindes yang ada dikembangkan menjadi Poskesdes. utamanya adalah. Fungsi koordinasi ini diperlukan. Poskesdes dikelola oleh masyarakat yang dalam hal ini kader. Struktur pengurus minimal terdiri dari Pembina.

Pengurus Posyandu sekurang-kurangnya terdiri dari Pembina. antara lain pelayanan kegawat daruratan. Laporan kesehatan disampaikan kepada Puskesmas. Poskesdes berada di bawah pengawasan dan bimbingan Puksesmas setempat. dimungkinkan untuk didirikan di RW. Pengelola Posyandu dipilih dari dan oleh masyarakat melalui musyawarah pada saat pembentukan Posyandu. maka Poskesdes bertugas pula membina kelestarian UKBM lain tersebut. Pelayanan yang dilaksanakan terutama mencakup pelayanan : Kesehatan Ibu & Anak. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 76 . kondisi dan permasalahan setempat. Poskesdes dibawah pembinaan Kabupaten/Kota melalui Puskesmas. 4. 3. Jika di wilayah desa tersebut terdapat Puskesmas Pembantu. KB. 2). atau sebutan lainnya yang sesuai. Bayi & Anak Balita. Dengan demikian. ambulan desa). sehingga dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. adapun laporan yang menyangkut pertanggungjawabab keuangan disampaikan kepada Kepala Desa. Imunisasi. seorang sekertaris dan seorang bendahara ditambah Bagian . Kedudukan dan hubungan kerja antara Poskesdes dengan unit-unit serta masyarakat.fleksibel. Kedudukan Posyandu terhadap pemerintahan desa/kelurahan adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan yang secara kelembagaan dibina oleh pemerintah desa/kelurahan. Kedudukan Posyandu terhadap UKBM dan berbagai lembaga kemasyarakatan/LSM desa/kelurahan yang bergerak dibidang kesehatan adalah sebagai mitra. Poskesdes merupakan koordinator dari UKBM yang ada (misalnya: Posyandu. gizi dan penanggulangan diare kepada masyarakat setempat. Posyandu berlokasi di setiap desa/kelurahan/nagari. guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).1. Pelaksana Poskesdes wajib melaporkan kegiatannya kepada Puskesmas ataupun kepada sektor terkait lainnya sesuai dengan bidangnya. Posyandu Posyandu merupakan salah satu UKBM dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Poskestren. Pada keadaan tertentu Poskesdes dapat melakukan rujukan langsung ke Rumah Sakit dengan sepengetahuan Puskesmas. dusun. Pembinaan dalam aspek upaya kesehatan masyarakat maupun upaya kesehatan perorangan. maka Poskesdes berkoordinasi dengan Puskesmas Pembantu tersebut. dapat digambarkan sebagai berikut: 1. 2. Kedudukan Posyandu terhadap Puskesmas adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang secara teknis medis dibina oleh Puskesmas. Bila diperlukan dan memiliki kemampuan. seorang ketua. Apabila Poskesdes tidak mampu memberikan pelayanan maka perlu melakukan rujukan ke Puskesmas.

Lokasi pembangunan posyandu sebaiknya ditempat yang relatif datar dan ditengahtengah lingkungan sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat.dengan kader posyandu yang selanjutnya ditetapkan oleh Lurah/Kades.60 Pos Kesehatan Desa LUAS BANGUNAN: ± 60 m2 SKALA 1m O 100 200 300 400 500 2m 3m 4m 5m Bagian .1. Susunan pengurus bersifat fleksibel. MODEL POSKESDES . kondisi dan permasalahan setempat. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 77 . sehingga dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.

11. termasuk meubeler (seperti meja. TK termasuk fasilitas bermain. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 78 . ¾ Peningkatan bangunan yang telah ada agar mampu mendukung penyelenggaraan kegiatan utama sesuai fungsinya.10. ¾ Pembangunan baru untuk PAUD.1. ekonomi dan Bagian . PRASARANA PERUMAHAN/PERMUKIMAN Prasarana/kegiatan lingkungan permukiman yang dibangun dalam PNPM merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat individu bagi masyarakat miskin. ¾ Pembangunan baru untuk PAUD. tetapi tidak termasuk prasarana pendidikan dasar yang dikelola oleh swasta/yayasan. Rehabilitasi bangunan Sekolah Dasar/sederajat. Calon pemanfaat haruslah dilibatkan sebagai pelaku utama dalam proses pengambilan keputusan pada saat perencanaan. Taman Kanakkanan (TK). Dalam pemilihan bahan bangunan. teknologi konstruksi dan pelayanan prasarana harus menerapkan kriteria keberlanjutan dari aspek sosial. Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan gedung (sederhana) tahan gempa atau untuk rehabilitasi SD mengacu pada standar teknis bangunan SD tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU sedangkan terkait dengan kebutuhan ruangan dan kelengkapan fasilitas bangunan mengacu pada standar teknis yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. pelaksanaan dan pemantauan perumahan mereka. papan tulis) tetapi tidak termasuk tenaga pengajar dan bukubuku pelajaran. bagi kelurahan yang belum memiliki kelembagaan/kepengurusan tetapi bersedia membentuk pengelola pemanfaatan & pemeliharaan bangunan segera setelah usulan kegiatan disetujui. misalnya penambahan ruangan belajar/ruang guru termasuk fasilitas sanitasi. misalnya rehabilitasi/perbaikan rumah tinggal. terutama bagi kelurahan yang telah memiliki kelembagaan/kepengurusan tetapi belum memiliki bangunan/masih menumpang pada bangunan lain dalam menjalankan kegiatan utamanya. PRASARANA PENDIDIKAN Prasarana pendidikan yang dimaksud disini adalah prasarana dan saran untuk menunjang pelayanan pendidikan dasar bagi masyarakat yang dikelola oleh masyarakat/pemerintah. Prioritas pemilihan pembangunan prasarana pendidikan dasar adalah : ¾ Rehabilitasi/perbaikan bangunan pendidikan dasar yang telah ada karena fungsi bangunan berkurang. TK termasuk fasilitas bermain. Seluruh pembangunan prasarana pendidikan yang dibangun disini harus dikoordinasikan dan tidak bertentangan dengan kebijakan/perencanaan umum dari pemerintah desa/kelurahan dan dinas/sektor Pendidikan dan Kebudayaan di daerah setempat. bangku. Pembangunan sarana/prasarana pendidikan dasar yang dikembangkan dalam program ini antara lain adalah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Ketentuan umum prasarana perumahan/permukiman adalah : ƒ ƒ ƒ Rumah warga miskin yang direhabilitasi/dibangun harus memenuhi persyaratan kelayakan teknik dan persyaratan kesehatan minimum.

Lingkup kegiatan pembangunan pasar desa/kelurahan diprioritaskan pada : 1) Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pasar lama yang telah ada. 2) Peningkatan bangunan/fasilitas pasar yang telah ada sehingga mampu memberikan pelayanan secara lebih optimal. 4) Ada komoditas/barang dagangan setempat yang akan diperjual-belikan. misalnya Pasar Desa (termasuk Kios didalamnya) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). antara lain : 1) Belum tersedia pasar terdekat. Bagian .ƒ lingkungan serta harus mempertimbangkan kemungkinan bencana alam khususnya gempa. a). yaitu RIT-1. 5) Tersedia lahan yang siap dipergunakan sesuai kebutuhan luas pasar tanpa menimbulkan dampak lingkungan dan social bagi warga. Apabila ketersediaan dana terbatas. Pengembangan pola RIT ini adalah untuk mengoptimalkan ketersedian sumberdaya termasuk dana awal yang ada dalam upaya untuk mewujudkan pembangunan rumah yang memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan terlebih dahulu menuju rumah sehat layak huni. antara lain : 1) Pasar lama yang ada masih terdapat aktivitas perdagangan dan pedagang yang ada/calon pedagang bersedia memanfaatkan pasar secara rutin. dengan jarak kurang lebih 5 km. 4) Lokasi pasar lama tidak bertentangan dengan rencana tata ruang wilayah setempat. Kriteria pembangunan baru pasar desa/kelurahan. Persyaratan utama untuk pembangunan pasar adalah adanya penjual dan pembeli serta barang/komoditas yang diperjual belikan. 6) Lokasi pasar sesuai dengan rencana tata ruang wilayah setempat. RIT-2.1. 12. RsS-2. 2) Bangunan pasar lama masih kuat dan akan tetap stabil. 3) Tersedia lokasi yang cukup untuk peningkatan bangunan/fasilitas pasar lama sehingga mampu meningkatkan pelayanannya. Kriteria rehabilitasi/peningkatan pasar lama yang perlu diperhatikan. PRASARANA PERDAGANGAN Prasarana/kegiatan Perdagangan yang dibangun dalam proyek ini merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat umum/kepentingan umum bagi masyarakat miskin. Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan rumah tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU. Pasar Pasar yang dimaksudkan disini adalah pasar desa/kelurahan yang merupakan suatu tempat yang digunakan oleh masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi jual beli. Selanjutnya pembangunan/pengembangannya menjadi Rumah Sederhana Sehat nantinya dilaksanakan oleh Pemilik secara swadaya sesuai kemampuannya. RsS1. dll. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 79 . 3) Pembangunan pasar baru yang benar-benar dibutuhkan. maka Rancangan Pola Pembangunan Rumah diarahkan pada pembangunan secara bertahap horizontal dengan penyediaan desain rumah antara/Rumah Inti Tumbuh (RIT) yang pertumbuhannya diarahkan menjadi Rumah Sederhana Sehat (RsS) sebagaimana yang dikembangkan oleh Departemen PU. 3) Jumlah yang cukup dari calon pedagang yang bersedia dan terdaftar untuk memanfaatkan pasar secara rutin. 2) Sudah ada beberapa bakal calon (embrio) pedagang.

jenis dagangan serta iuran yang disepakati untuk retribusi dan tanda tangannya. Jumlahnya adalah jumlah pedagang pada embrio pasar ditambah dengan calon pedagang baru yang bersedia dan terdaftar pada saat sosialisasi/survey khusus yang dilaksanakan. b. c) Lokasinya strategis (pertigaan jalan/perempatan jalan kendaraan atau tempat persinggahan kendaraan umum). maka untuk menentukan kebutuhan luas bangunan pasar bisa ditentukan dengan mamperkirakan secara rata-rata kebutuhan lahan berdagang untuk tiap satu orang pedagang = 4 m2. Pendaftaran bagi para calon pengguna pasar dilakukan dengan formulir/blanko. Calon pengguna pasar Calon pengguna pasar adalah pedagang yang akan menggunakan pasar tersebut secara rutin. maks. b) Jarak kepasar yang terdekat dengan lokasi rencana kurang lebih 5 km. Bagian .1). a) Di lokasi rencana sudah ada beberapa (embrio) pedagang di tempat calon pasar tersebut. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 80 . Calon Pengguna dan Kebutuhan Luas Bangunan Pasar a. Potensi dan Lokasi Pasar Survey potensi dan kebutuhan terhadap pembangunan baru pasar secara sederhana dapat dilakukan pada beberapa penduduk dan tokoh masyarakat di sekitar lokasi pasar di dalam desa maupun di luar desa dengan menggunakan peta desa lengkap serta jalan porosnya. alamat. e) Secara umum untuk Jumlah Pembeli = Jumlah Penduduk x Koefisien (koef. = 1) 2). Kebutuhan Luas Bangunan Pasar Setelah diketahui jumlah calon pedagang yang mendaftarkan. pedagang harian atau mingguan. d) Jumlah yang cukup untuk calon pedagang yang mendaftar (untuk menentukan luas pasar). diantaranya mencakup tentang : nama.1. dekat pemukiman penduduk dan transportasinya mudah di jangkau.

5m. laut. bangunan yang bagian atas maupun sisi-sisinya terlindungi dan pada sisi bagian depannya bisa di tutup dan dibuka. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 81 . danau. dll). Penataan ruang pasar dapat diatur seperti contoh gambar beriku : Bagian . Bila diperlukan maka pasar dapat disediakan listrik berdasarkan kebutuhan rata-rata per orang pedagang di Los Pasar sebesar 100VA dan per Kios rata-rata 450 VA. Pasar juga harus dilengkapi dengan drainase air hujan yang terintegrasi dengan system drainase kota yang ada atau tempat pembuangan air (sungai. MCK. Drainase dapat dibuat terbuka atau ditutup. Tata Ruang Pasar Penataan ruang pasar memperhatikan letak pasar dengan jalan masuk utama yang ada disekitarnya. dimana angka 15 merupakan perkiraan kemampuan pelayanan 1 unit per hari. Setiap kios berukuran sekurang-kurangnya 3m x 4m. Ukuran Bak sampah ditentukan berdasarkan volume timbulan sampah per pedagang (sebesar 0. a) MCK. kuantitas dan kontinuitasnya. Bak Sampah dan Listrik. Luas lahan per kapita pedagang sekurang-korangnya 10 m2. Untuk lebar lahan parkir sekurang-kurangnya 10m.Maka kcbutuhan luas bangunan Pasar = Jumlah calon pedagang x 4 m2. 1) Los pasar. Jumlah kebutuhan MCK sama dengan Jumlah Calon Pedagang dibagi 15. MCK harus tersedia air bersih yang memenuhi persyaratan kualitas.1 m3 dibagi 1. Untuk menentukan jumlah kios bisa diambil angka 50% x jumlah pedagang harian. Ada dua jenis bangunan yang dibutuhkan di dalam pasar. 3).1. d) Listrik. Untuk tinggi bak 1. walaupun angka sebenarnya perlu di sepakati Iebih lanjut dengan para calon pedagang terutama menyangkut dana yang tersedia. 2) Kios-kios. 4). Kebutuhan Sarana Penunjang Pasar Pada setiap bangunan pasar memerlukan sarana penunjang yaitu. sumur resapan. c) Bak Sampah. b) Parkir. Untuk menentukan kebutuhan sarana penunjang tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan berikut. luas lahan (m2) kebutuhan parkir sama dengan Jumlah Pedagang dikali luas lahan per kapita pedangan (m2).5 m maka luas bak sampah yang diperlukan adalah Jumlah pedagang dikali 0.1m3/hari). Parkir Kendaraan. sedangkan sisi-sisinya terbuka. bangunan besar yang digunakan bersama-sama antar pedagang yang bagian atasnya terlindungi.

Bagian . namun apabila daya dukung tanahnya kurang baik maka perlu dilakukan perhitungan. Kemudahan pelaksanaan konstruksi d. Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan gedung (sederhana) tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU. TEKNIS 1. Bahan bangunan yang digunakan harus memenuhi persyaratan bahan bangunan yang tercantum dalam SNI b. seperti diuraikan pada table berikut : 5. Kemudahan penyediaan bahan bangunan c. Keandalan konstruksi 2. Bahan Bangunan Bahan bangunan yang digunakan adalah bahan setempat yang tersedia dengan kriteria sebagai berikut : a. Konstruksi Konstruksi bangunan dibuat sederhana sehingga tidak diperlukan perhitunganperhitungan konstruksi.1.Beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan terkait dengan penataan ruang pasar tersebut. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 82 .

Bagian .1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 83 .

1. bentuk kegiatannya dibatasi pada penerangan jalan/tempat umum (Tiang + Lampu) dan Pembangkit Listrik (Genset/PLTM + Jaringan + Rumah Genset).13. PRASARANA PENERANGAN UMUM Prasarana/kegiatan lingkungan penerangan umum yang dibangun dalam PNPM merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat umum/kepentingan umum bagi masyarakat miskin yang pengelolaannya dilakukan sendiri oleh masyarakat. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 84 . Bagian .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful