KRITERIA & DESAIN TEKNIS KEGIATAN LINGKUNGAN

1. JALAN DAN BANGUNAN PELENGKAPNYA
Jalan disini adalah jalan yang dapat berfungsi sebagai penghubung antar desa/kelurahan atau ke lokasi produksi/pemasaran, atau berfungsi sebagai penghubung hunian/perumahan, serta juga berfungsi sebagai penghubung desa/kelurahan ke pusat kegiatan yang lebih tinggi tingkatannya (kecamatan/kab/kota). Jalan dibangun atau ditingkatkan untuk membangkitkan manfaat-manfaat bagi masyarakat, seperti : Membuka isolasi, Mempermudah pengiriman sarana produksi; Mempermudah pengiriman hasil produksi ke pasar, baik yang di desa maupun yang diluar, dan Meningkatkan jasa pelayanan sosial, termasuk kesehatan, pendidikan dan penyuluhan. Pembangunan jalan disarankan pada peningkatan jalan lama yang sudah ada. Hal ini untuk menghindari kesulitan pembebasan lahan, dampak lingkungan yang tidak dianalisis lebih mendalam serta banyaknya volume pekerjaan pada pembukaan jalan baru. Namun demikian, kadang-kadang tidak dapat dihindari untuk membuat jalan baru atau peningkatan jalan lingkungan. A. KRITERIA PEMILIHAN TEKNOLOGI KONSTRUKSI JALAN Pembangunan jalan baik berupa pembangunan baru, peningkatan atau rehabilitasi Jalan Tanah, Jalan Telford, Jalan Makadam, Jalan Beton, Jalan Aspal agar mempertimbangkan kriteria-kriteria, pemilihan teknologi & Jenis Konstruksi Jalan berikut.

1

Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jalan baru, antara lain : o o o o o Trase Jalan mudah untuk dibuat; Pekerjaan tanahnya relatif cepat dan murah; Tidak banyak bangunan tambahan (jembatan, gorong-gorong, penahan longsor, dll); Penyediaan/pembebasan lahan tidak sulit; Tidak merusak Lingkungan atau memerlukan studi lingkungan yang lebih mendalam; Memungkinkan untuk pelebaran jalan; Standar Geometrik untuk pelebaran jalan; Tanjakan yang melewati batas standar teknik harus diubah sesuai dengan standar teknis; Sistem drainase dan pekerjaan tanah tidak akan merusak lingkungan;

Yang perlu diperhatikan dalam peningkatan Jalan lama, antara lain : o o o o

B. BAGIAN-BAGIAN JALAN Suatu Jalan umumnya terdiri dari bagian-bagian, yaitu : Dawasja, Damaja, Damija, Badan Jalan, Lapis Perkerasan, Bahu Jalan dan saluran tepi.

Gambar 1. Bagian-Bagian Jalan 1. Dawasja (Daerah Pengawasan Jalan), Daerah ini merupakan ruang sepanjang jalan yang dimaksudkan agar pengemudi mempunyai pandangan bebas dan badan jalan aman dari pengaruh lingkungan, misalnya oleh air dan bangunan liar (tanpa izin) 2. Damaja (Daerah Manfaat Jalan), Daerah ini merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi, dan kedalaman ruang bebas tertentu yang ditetapkan oleh Pembina Jalan. Daerah Manfaat Jalan hanya diperuntukkan bagi perkerasan jalan, bahu jalan, saluran samping, lereng, ambang pengaman, timbunan dan galian, gorong-gorong, perlengkapan jalan, dan bangunan pelengkap lainnya. 3. Damija (Daerah Milik Jalan), Daerah ini merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu yang dikuasai oleh Pembina Jalan dengan suatu hak tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Daerah Milik Jalan diperuntukkan bagi Daerah Manfaat Jalan dan pelebaran jalan maupun penambahan jalur lalu-lintas di kemudian hari, serta kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan. 4. Bahu Jalan, Bahu jalan adalah bagian jalan yang berdampingan dan sama tinggi dengan perkerasan jalan.

2

5. Saluran Samping Jalan, Saluran Samping Jalan adalah bagian jalan yang berdampingan dengan bahu yang berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air secepatnya. 6. Badan Jalan, Badan jalan merupakan bagian jalan dimana jalur lalu-lintas, bahu, dan saluran samping dibangun. 7. Perkerasan Jalan, Perkerasan jalan merupakan konstruksi jalan yang diperuntukkan bagi jalur lalu-lintas yang umumnya terdiri dari tanah dasar, lapisan pondasi bawah, lapisan pondasi atas, dan lapisan permukaan. Untuk jalan dengan lalu lintas ringan, lebar perkerasan diambil 2,5 – 3 meter.

C. DESAIN
Standar teknis jalan mengacu pada Pedoman Teknis Pembangunan Jalan yang diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum yang sudah ada, seperti Pedoman Sederhana Pembangunan Jalan dan Jembatan Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, Puslitbang Dep. PU, 1996. 1). Perlindungan Lingkungan dan Sosial Pembangunan jalan, selain perlu memperhatikan aspek teknis konstruksi jalan, juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan (konservasi tanah), terutama pada kondisi wilayah dengan topografi yang sering berbukit dan dengan tanah yang peka erosi. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit erosi tanah yang berasal dari jalan, khususnya berupa longsoran dari tampingan dan tebing jalan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian erosi pada jalan untuk mengamankan jalan dan membangun jalan yang tidak menjadi sumber erosi. Pengendalian erosi dapat dilakukan secara sipil teknis (pembangunan konstruksi penahan, drainase atau secara vegetatif (penanaman bahan-bahan vegetatif), dan masing-masing mempunyai kelebihan. Perencana harus memilih tindakan-tindakan pengendalian erosi dengan pertimbangan lingkungan dan biaya, yang tidak terbatas pada waktu penyelesaian konstruksi jalan saja, tetapi harus dipikirkan sampai masa pemeliharaan. Selain itu, tingginya curah hujan, lereng-lereng curam dan tanah rapuh menimbulkan banyak kesulitan dalam perencanaan dan pembangunan jalan berkualitas tinggi, terutama bila dimaksudkan untuk membangun jalan dengan biaya rendah dan tidak membahayakan lingkungan. Dalam konteks seperti ini, kita harus menyadari bahwa masalah erosi akan terus muncul walaupun dapat dikurangi dan diatasi ketika terjadi. Alternatif lainnya adalah Trase jalan harus dipilih untuk mengurangi masalah lingkungan, misalnya dengan mengurangi galian dan timbunan bilamana mungkin. Karena tidak mungkin di kawasan perbukitan untuk menghilangkan masalah dengan pemilihan trase (dengan pemindahan trase atau mengurangi tanjakan), maka perlu diusahakan teknik-teknik pengendalian erosi termasuk pembangunan tembok penahan tanah dan bronjong atau penanaman bahan-bahan vegetatif untuk menstabilkan lereng atau mengurangi erosi percik atau alur kecil. Kegiatan pengendalian erosi juga tidak dibatasi pada pengamanan dampak lingkungan, tetapi juga harus mempertimbangkan akibatnya terhadap sosial masyarakat sekitarnya/diluar daerah milik jalan (misalnya, pembuangan dari saluran merusak lahan produktif warga). Terkait dengan masalah pengamanan dampak lingkungan dan sosial pada pembangunan jalan ini, secara khusus diuraikan pada buku Pedoman Teknis Pengamanan Dampak Lingkungan & Sosial (Safeguards).
Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

3

2). Geometrik Jalan Geometrik adalah bentuk dari potongan melintang dan memanjang suatu alur jalan yang mempunyai lebar jalan dan bahu jalan tertentu dan dapat dilalui oleh kendaraan rencana. Alur jalan adalah bagian jalan yang terdiri dari permukaan jalan yang diperkeras, bahu jalan, dan saluran samping. 1. Pandangan Bebas dan Tempat Persimpangan a) Pandangan Bebas Pandangan bebas harus diperhatikan demi keselamatan pemakai jalan, baik kendaraan maupun pejalan kaki, yaitu : ¾ Tanjakan/Lengkung vertikal dengan pandangan bebas 30 meter.

¾ Tikungan/Lengkung horisontal dibuat dengan pandangan bebas 30 meter.

b) Tempat Persimpangan Perkerasan yang hanya selebar tiga meter kurang lebar untuk dua kendaraan saling melewati, maka harus disediakan tempat sebuah kendaraan dapat menunggu kendaraan berjalan dari lain arah. Setiap tempat ini harus kelihatan dari tempat yang sebelumnya.

Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

4

b. Untuk membuat tikungan. 2. 2. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 5 . Panjang jari-jari sebaiknya cukup besar dan tidak kurang dari 15 meter. Tentukan titik pertemuan dua alur yang lurus (T). Tentukan titik B pada garis pembagi tersebut sejauh E dari titik T. yaitu : 1. a. kemiringan melintang hanya ke satu arah (ke dalam) dengan kemiringan berkisar antara 3 – 5%. Tikungan/Lengkung Horisontal dan Tikungan Pada Tanjakan Curam. Lengkungan merupakan bagian dari lingkaran yang memiliki jari-jari yang sama. 4. Bagi sudut yang terbentuk antara dua garis lurus tadi dengan sama besar. Tikungan adalah alur jalan yang melengkung. 5. Lengkung Horisontal Jari-jari tikungan minimal 10 meter. di atas 10%.1. Tikungan tajam dibuat dengan pelebaran perkerasan dan kemiringan melintang miring ke dalam. Apabila terdapat tikungan tajam di daerah tersebut.2. 5. titik B. lakukanlah langkah-langkah berikut : 1. Jarak antara titik perpotongan (T) dua alur jalan yang lurus sampai dengan titik awal perubahan lengkung (A) disebut jarak L dan panjangnya tidak kurang dari 15 meter. 3. 4. Pada tikungan. Ada beberapa ketentuan dalam membuat tikungan. dan titik lengkungan (A akhir). jalan harus dibuat seperti yang tercantum dalam gambar: Bagian . Tentukan titik lengkungan sebelah kiri (A) dan kanan (B) sepanjang L dari titik T. 3. Tikungan pada Tanjakan Curam Di daerah perbukitan sering dijumpai jalan yang menanjak dengan kemiringan yang cukup berat. Buat lengkungan yang menghubungkan titik awal lengkungan (A awal). Jarak antar tikungan diusahakan minimal 100 meter. Jarak antara titik perpotongan (T) dua alur jalan yang lurus sampai dengan titik tengah lengkungan lingkaran (A) disebut jarak E dan panjangnya tidak kurang dari 5 meter.

Pembuangan air dari saluran pinggir jalan diatur supaya air tidak melintangi jalan dan mengganggu kendaraan : saluran dari atas diteruskan lurus ke depan dan airnya dibuang jauh dari jalan. dan permukaan jalan dan saluran air lebih sering harus dipelihara dan diperbaiki. saluran pada jalan bagian bawah dimulai di luar bagian datar (sesudah tikungan). Tikungan dibuat pada bagian datar untuk mempermudah perjalanan bagi yang naik atau turun. tanjakan maksimum dibatasi 7%. serta membuat jalan lebih berbahaya. Bentuk Badan Jalan di Daerah Datar Jalan harus dibuat dengan bentuk yang tepat. badan jalan dibuat dengan bentuk "punggung sapi" (bagian tengah lebih tinggi + 68cm). harus disediakan bagian datar atau bagian menurun. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 6 . 4. Bentuk Badan Jalan a. Jalan yang sangat curam juga lebih sulit dipadatkan dengan mesin gilas. Ukuran saluran samping minimal 50 cm dalam x 30 cm lebar dasar.1. pilih trase jalan supaya tanjakan tidak terlalu curam. berbentuk trapesium. Untuk meningkatkan kenyamanan serta keselamatan pengguna jalan. Setelah itu. Jika jalan menanjak terus. Tanjakan maksimum dibatasi 20% dengan panjang 150 m. Pada daerah yang relatif datar dan lurus. seharusnya dipindahkan supaya trasenya lebih ringan. Apabila trase jalan belum memenuhi persyaratan ini. bentuk jalan dibuat miring (4%-6%) kesaluran tepi jalan. Pada keadaan biasa. Tanjakan/Lengkung Vertikal Tanjakan membatasi muatan yang dapat diangkut pada suatu jalan.3. Pengukuran tanjakan adalah dengan rumus "jumlah meter naik per set tap seratus meter horizontal" (10 meter naik per 100 meter horisontal sama dengan tanjakan 10%). Bagian .

4% . kapur/gamping dll). Kemiringan tebing maksinial 2:1 dan dilindungi dengan cara yang efektif. saluran samping dibuat di arah bukit. bronjong kawat atau turap kayu.00 meter. Jalan Tanah. penamanan rumput atau perdu. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 7 . Tanah hasil pemotongan harus dibuang secara aman untuk mencegah erosi dan longsor. Jalan tanah sangat peka terhadap air. saluran diversi.1. lapisan batu kosong. agar air tidak merembes dan dapat menahan beban kendaraan. untuk mengurangi longsor dan erosi. 5. Timbunan tinggi sering mengalami longsor dan erosi berat. maka timbunan maksimal dibatasi 1. Karena timbunan sulit dipadatkan secara padat karya. dapat dibuat dari tanah asli. Jalan Diperkeras dan Jalan Beraspal. b. Bila perkerasan terpaksa harus dibuat di atas timbunan. karena lereng yang semakin landai akan semakin stabil dan tanaman tidak bertumbuh dengan baik pada tebing yang hanipir vertikal. ‰ Harus dipadatkan.50 meter. Tinggi pemotongan tebing maksimal disarankan 4. maka permukaan jalan harus dibuat dengan : Kemiringan 2% . A. Bentuk Badan Jalan di Daerah Curam Konstruksi jalan daerah perbukitan perlu perhatian khusus untuk menjamin stabilitas. Tebing gundul perlu dilindungi dengan salali satu cara yang efektif dan efisien. Jalan ini merupakan jalan yang paling sederhana. merupakan badan jalan tanah yang tidak diberikan lapis perkerasan sebagai penutup. yaitu Jalan Tanah. Disarankan kemiringan tebing 1:1. dan demi keselamatan. disarankan perkerasan tidak dibuat di atas timbunan baru. agar dapat mengalirkan air dengan cepat ke saluran tepi jalan. antara lain: pembuatan teras.Pada badan jalan di daerah bukit. maka diatas badan jalan diberi lapisan perkerasan (Jalan Diperkeras dan Bagian . ‰ Untuk dapat melindungi badan jalan dari pengaruh lalu lintas atau perubahan alam. Perkerasan Jalan Jenis-jenis konsrtuksi jalan dibedakan atas 3. pasangan batu. galian dan timbunan atau campuran tanah dengan bahan bangunan yang lebih baik (pasir. Umumnya untuk lalulintas kurang dari 50 kendaraan roda 4 perhari.

3. 2. rumput atau sampah dan kotoran lain. Agregat (Kerikil) perkerasan sirtu ini harus bebas dari gumpalan lempung. Perkerasan Makadam Ikat Basah ini menggunakan agregat kasar dengan gradasi hampir seragam dengan ukuran butir 3-5 cm dengan dipasang setebal kurang lebih 3/2 dari ukuran butir batu pecah. Perkerasan batu belah (telford). material organik atau lainnya yang tidak dikehendaki dan harus dipadatkan sehingga dapat menghasilkan lapis permukaan yang kuat dan stabil. Jalan Diperkeras : 1. Bagian . Batu belah disusun diatas alas pasir urug dengan ketebalan 10-15cm. kemudian dilakukan pemadatan dengan mesin gilas. Batu belah yang dipergunakan diperoleh dan batu besar yang dibelah-belah. Sebelum pasir urug dihamparkan terlebih dahulu dipasang Batu Pinggir yang ukurannya lebih besar dan lebih tinggi dari batu belah. bagian tumpul di bawah dan yang runcing di atas. dengan tangan. stemper atau timbris. dimana bahan perkerasan Sirtu terdiri dari campuran pasir batu yang langsung diambil dari alam (sungai) atau campuran antara kerikil ukuran 2–5cm dengan pasir urug. Di atas batu belah kemudian diberi batu pengisi/batu pengunci berupa batu pecah dengan ukuran 5—7 cm.1. Adapun jenis lapis perkerasan yang umum dipergunakan dalam pembangunan jalan adalah : B. Sebagai langkah terakhir dilakukan pemadatan dengan alat pemadat mesin gilas. Perkerasan Sirtu/ Kerikil (pasir campur batu). batu belah. terdiri atas pasir urug. stamper atau timbris. dihamparkan pada permukaan jalan tanah yang telah padat.Jalan Beraspal). Badan jalan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum pasir dihamparkan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 8 . kemudian dipukul dengan palu. Jalan Diperkeras biasanya untuk lalu lintas 50-100 kendaraan roda 4 perhari dan Jalan Beraspal untuk lalulintas lebih dari 100 kendaraan roda 4 perhari. Perkerasan Telford harus bebas dari akar. batu pengisi dan batu tepi. Ketebalan minimum perkerasan Sirtu ini adalah 12-20 cm dan dipadatkan dengan mesin gilas. Diatas lapisan batu pecah ini dipasang batu pengunci berupa batu pecah dengan ukuraran antara 1-2 cm. Perkerasan Makadam Ikat Basah (Waterbound Macadam). sehingga mempunyai permukaan banyak dan kasar dengan tinggi 15-20 cm. bahan perkerasan Makadam terdiri atas agregat kasar/pokok ukuran 2-5cm. Tebal perkerasan + 20 cm. Batu belah dipasang tegak. agregat pengunci dengan ukuran 1 – 2 cm dan pasir penutup.

5. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 9 . fc’= 27. Perkerasan ini dipergunakan untuk jalan lingkungan/ permukiman atau di daerah yang tanah dasarnya labil. pada bagian sisi/pinggir perkerasannya diberikan beton pembatas. mudah pecah. Pemberian air untuk campuran beton tumbuk ini secukupnya saja. sampah dan bahan kotoran.4. Adukan beton kemudian dituangkan ke dalam cetakan dan dipadatkan dengan alat penggetar atau ditusuk-tusuk dengan kayu. lapis perkerasan dari blok beton/paving blok dengan bahan pengisi celah/pengunci antar blok beton dari pasir.1. Pemakaian jalan pada perkerasan beton ini baru dapat dilakukan paling cepat setelah 7 hari terhitung dari selesainya pengecoran beton. Jalan dengan paving blok dapat digunakan didaerah lingkungan/permukiman. Paving blok diletakan diatas lapis pondasi jalan yang terlebih dahulu dihamparkan pasir urug setebal 6-10cm. sebelumnya dipasang cetakan untuk membatasi lebar dan ketebalan yang diinginkan. kerikil atau batu pecah harus dipilih yang keras. Mutu blok beton kelas I/II. Setiap 2 meter memanjang diberi pemisah selebar 1cm untuk membatasi retak memanjang beton. Bagian .35 MPA. kemudian diratakan. Setiap 1 meter memanjang dibuat alur lebar 1cm dan dalam 2cm. Untuk membuat lapisan beton. Tebal paving blok sekitar 6-10cm. pada turunan/tanjakan dan diatas singkapan batu. Permukaan dibuat kasar dengan menggunakan sapu lidi ke arah menyamping. Susunan blok beton yang memilki penguncian paling baik adalah pola Tulangan Ikan (TI : 90/45 derajat) dan bentuk blok beton tipe A dan tipe C. Tebal konstruksi perkerasan beton ini kurang lebih 10 cm. dibuat dari bahan semen pasir dan kerikil dengan perbandingan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 kerilil/batu pecah atau beton tumbuk campuran 1 semen : 3 pasir : 5 kerikil/batu pecah ditambah Air secukupnya. lembek. Jalan Paving Blok/Beton Terkunci.37. Material pasir dan batu pecah yang dipergunakan untuk perkerasan beton ini harus bersih dari tanah lempung. Perkerasan Beton.

6 % (sama dengan turun 4 . Lapis Permukaan Buras (Pelaburan Aspal). biasanya 4 . dimana bahan perkerasan terdiri dari campuran agregat kasar (batu 3-5cm). demi kelancaran pembuangan air hujan. batu pengunci (1-2cm) dan batu penutup (pasir) dan campuran aspal panas sebagai pengikat diantara tiap lapisan dan dipadatkan sebagai lapis penutup. ¾ Mengurangi kecepatan pengaliran air permukaan. Peningkatan jalan Diperkeras yang telah ada.0 m. dimana bahan perkerasan terdiri dari susunan batu pokok (3-5cm). Lebar standar 1.6 cm per 1. Bahu jalan juga berfungsi sebagai tempat pemberhentian sementara bagi kendaraan. C. bahan pelunak/peremaja dan aspal buton yang dicampur secara dingin sebagai pengikat dan dipadatkan sebagai lapis penutup. agregat halus (batu 2-3cm). terutama karena bermanfaat : ¾ Mudah dalam pemasangan dan pemeliharaannya.Penggunaan paving blok ini sudah dijumpai secara luas. Jalan Beraspal : 6. ¾ Ukuran paving blok lebih terjamin. ¾ Memperindah lapis permukaan tanah/lingkungan. ¾ Celah-celah antara paving blok dapat mengalirkan air hujan/air permukaan kedalam tanah sehingga menjaga keseimbangan air tanah. Lapis Penetrasi (Lapen). Perbaikan jalan beraspal yang telah ada (2). Adapun persyaratan teknis untuk bahu jalan. dengan lebar minimal 50 cm. Bahu Jalan Bahu jalan berfungsi sebagai pelindung perkerasan jalan dan sebagai perantara aliran air hujan yang ada di permukaan jalan menuju saluran tepi jalan. Bahu jalan tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan jalan.1. ¾ Tidak mudah rusak oleh perubahan cuaca. ¾ Mudah ketersediaannya. ¾ Bahu jalan dibuat dengan kemiringan sedikit lebih miring dari pada kemiringan permukaan jalan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 10 . kemudian ditabur dengan pasir dan dipadatkan sebagai lapis penutup. Lapis Asbuton Agregat (Lasbutag). ¾ Antislip bagi kendaraan. sebagai berikut : ¾ Bahu jalan dibuat disebelah kiri dan sebelah kanan sepanjang jalan. ¾ Mengurangi kecepatan erosi tanah. dapat diproduksi baik secara mekanis maupun manual. Bagian .0 meter lari). merupakan hasil penyiraman/penyomprotan aspal diatas permukaan jalan. khususnya pada tanah yang miring. 6. 7. 8. Lingkup pekerjaan Pembangunan Jalan Beraspal dibatasi dengan prioritas (1).

Pemadatan secara mesin dapat dilaksanakan dengan stemper atau dengan mesin gilas yang berukuran 4-6 ton. Di tempat lain. Untuk daerah dimana tanah dasarnya jelek. Pertimbangan yang paling sederhana adalah sebagai berikut : Bagian . dengan setiap lapis maksimum 20 cm. tetapi tidak boleh terlalu dekat dengan jalan. dimulai sekitar 20 cm dari pinggir. maka badan jalan harus diadakan perkuatan. Perbaikan kerusakan akibat masalah di atas cukup mahal dan sulit. jalan hampir pasti mengalami masalah berat. Sebelum kegiatan pemasangan perkerasan jalan. ¾ Penanaman perdu atau pohon diharapkan diluar bahu jalan (luar saluran. tidak akan ada masalah drainase. Bila dipadatkan dengan lapisan lebih tebal. Jalan menjadi rusak apabila air dibiarkan mengalir ditengah jalan. ¾ Ada baiknya kalau rumput ditanam di sebelah luar bahu jalan. Kadar air harus optimal sebelum dipadatkan. atau timbris. Tanaman tersebut akan membantu stabilitas timbunan baru. dan mudah terkena erosi dan longsor. Di tempat tertentu. Jalan menjadi terputus apabila air dibiarkan melintasi permukaan jalan. Pemadatan secara padat karya dilaksanakan dengan timbris. Pemadatan harus secara lapis demi lapis. Kadar optimal adalah sedikit basah.¾ Bahan untuk bahu seharusnya terdiri dari tanah yang dapat meresap air sehingga pondasi jalan dapat dikeringkan melalui proses perembesan. stemper. tetapi masalah seperti ini dapat dihindari apabila masalah drainase dipertimbangkan pada waktu prasurvai. tetapi harus dipangkas secara rutin supaya tidak terlalu tinggi. Tanah yang terlalu kering memerlukan tenaga jauh lebih banyak untuk dipadatkan. 8. Mesin gilas dua ton yang bergetaran dianggap sama dengan mesin gilas 4-6 ton. bila ada). tetapi kalau digenggam tidak ada air mengalir keluar. Mesin gilas 6-8 ton dapat digunakan apabila dapat masuk kelokasi. Tanah biasa yang terlalu basah tidak dapat dipadatkan. Jalan menjadi jelek jika badan jalan tidak cepat kering sehabis hujan. Pemadatan ini sangat membantu menjaga stabillitas dan daya tahan badan jalan. semua daerah timbunan harus dipadatkan dengan mesin gilas. misalnya dengan cerucuk kayu atau stabilisasi misalnya dengan semen/kapur. 7.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 11 . bagian dalam kurang padat. Rumput tersebut akan membantu stabilitas pinggir jalan. Jalan menjadi bergelombang apabila pondasi jalan tidak kering. Drainase Air adalah musuh yang paling besar. Pemadatan Tanah Tanah pada bagian galian tidak perlu di padatkan lagi kecuali pernah mengalami gangguan yang mengakibatkan tanah menjadi kurang padat. Jalan yang tidak dipadatkan juga mudah terkikis oleh pengaliran air. ¾ Tanah pada bahu jalan harus dipadatkan.

maka perlu terjunan atau pasangan apabila terlalu cepat. karena air tidak akan mengalir sama sekali. setiap saluran harus berukuran minimum 50 cm (h/dalam) x 30 cm (b/lebar dasar) x (B/lebar atas 50 cm).1. Ukuran saluran dan perlindungan saluran minimum adalah 50 (dalam) x 30 cm (lebar dasar) dengan bentuk trapesium. Saluran dibuat lebih besar apabila diperkiraan debit air yang harus dibuang sangat besar. kecuali: • Jalan dibuat di punggung bukit. Perlindungan terdiri dari penguatan talud dan dasar saluran serta pemberian bangunan drop struktur. Ketinggian dasar saluran harus lebih rendah daripada lapisan pasir yang ada di bawah batu perkerasan. selokan pinggir jalan. talud. dan dasar saluran harus dibuat dengan kemiringan sangat rendah untuk mengendalikan kecepatan aliran. Kemungkinannya jalan tidak bisa dikeringkan. Kecepatan tinggi menyebabkan erosi tanah. dan 4) debit air. Jalan yang dibuat pada lereng bukit. dengan bentuk trapesium. Keadaan seperti ini harus dihindari karena masalah drainase (pembuangan) air. turap. dengan biaya konstruksi yang lebih besar. tidak perlu saluran di sebelah bawah. karena air tidak perlu melintangi jalan. 3) perubahan arah pengaliran pada belokan. Bronjong dapat digunakan terutama pada tikungan di tanah yang sangat peka terhadap erosi. a). tidak perlu saluran sama sekali. Saluran dibuat sejajar dengan jalan. demi kelancaran proses perembesan dan pengeringan. batu kosong.Jalan yang dapat mengikuti punggung bukit tidak akan mengalami masalah drainase. Saluran Samping Saluran samping diperlukan di sebelah kiri dan kanan badan jalan. Jenis perlindungan terdiri dari rumput (gebalan). Jenis perlindungan dipilih setelah dipertimbangkan: 1) kemiringan saluran dan kecepatan air. terpaksa harus ada galian dan timbunan tanah. Tujuan untuk perlindungan saluran adalah untuk mengurangi erosi tanah pada saluran supaya saluran tetap berfungsi dan jalan tidak terkikis. 2) jenis tanah (harus yaug peka terhadap erosi). Tidak benar jika dasar saluran datar. atau pasangan. Saluran yang peka erosi perlu dilindungi. • Jalan dibuat di lereng bukit. Saluran tidak diperlukan apabila terdapat kemiringan tanah asli lebih dari 1 % yang membawa air ke arah luar dari jalan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 12 . Kemungkinan terkena erosi dan longsor lebih besar Jalan yang dibuat pada daerah cekungan harus dihindari. Bagian . gorong gorong dan sebagainya. Pada keadaan biasa.

80 cm. kayu dan sebagainya. Luas lahan yang dapat dikeringkan goronggorong pipa beton dan gorong-gorong persegi beton diperkirakan sebagai berikut : Jenis gorong-gorong yang layak untuk jalan desa/kelurahan adalah gorong-gorong: 1) Pipa beton (bulat). Batu. dengan ukuran garis tengah 40 cm s. Gorong-gorong Gorong-gorong adalah jenis bangunan pelengkap jalan yang berfungsi untuk mengalirkan air yang harus lewat di bawah jalan. Jika garis alamiah tidak diikuti. Bagian . ¾ Di mana kapasitas saluran samping kurang mampu mengalirkan volume air yang diperkirakan. ¾ Di mana saluran samping memotong jalan lain pada persimpangan ¾ Di daerah perbukitan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 13 .gorong mengikuti garis aliran yang alamiah. Untuk mengurangi aliran alamiah diganggu. saluran dan bak harus dilindungi. dan air harus melewati jalan untuk dibuang. baik didenah maupun di profil kedua ujung gorong .1. dan dapat dibuat dari bahan beton.b). setiap tempat terendah pada profil jalan. pas. Ukuran gorong-gorong tergantung debit air yang akan mengalir. Kebutuhan ini dapat dilihat pada gambar ini: Dasar gorong-gorong dibuat dengan kemiringan 2 % untuk memperlancar aliran air.d. Gorong-gorong diperlukan: ¾ Di mana sungai kecil atau saluran irigasi melewati jalan.

00 meter. panjangnya menurut kebutuhan setempat. misalnya dibuat saluran diversi. terjunan. atau saluran pinggir jalan yang tidak dapat diteruskan. Gorong-gorong plat beton lebih layak di mana buis beton tidak dapat ditanam cukup dalam. atau kayu harus ditanam supaya ada lapisan tanah di atasnya minimal 30 cm atau setengah ukuran garis tengahnya. dan tinggi minimal 0. terutama lahan petani atau rumah penduduk. dengan ukuran minimal sama dengan ukuran saluran pinggir jalan yang standar (50 x 30 cm). Pembuangan air dari semua saluran dan gorong-gorong harus aman dan dipikirkan untuk mencegah kerusakan akibat pengaliran air yang tidak terkendali. dan penerjunan harus diperkuat seperti bangunan terjun Bagian . Pembuangan air dengan aman tetap menjadi tanggung jawab perencana jalan. Pembuangan tersebut dapat melalui sebuah saluran baru khusus untuk pembuangan. Cara tersebut dapat digunakan secara tunggal atau gabungan. dan ditanami rumput. seperti yang digambar di bawah ini: Tiap gorong-gorong dilengkapi bak penampungan air dan bak pembuangan di ujungnya. diteras. berukuran sisi antara 60 cm sampai 1.60 m (untuk kemudahan pemeliharaan). Perlindungan Tebing Tebing merupakan bagian yang sering menjadi masalah karena longsoran atau erosi tanah. Teras dibuat sejajar dengan kontur (hampir datar. saluran pinggir jalan yang sudah melebihi kapasitasnya. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 14 . dengan dimensi lebar minimal 0.1.2) Plat beton. dan sebagainya untuk mencegah erosi dasar dan talud saluran.60 m. lebar maksimal 1. air diterjunkan dari saluran teras ke bawah. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperbaiki stabilitas tebing. yang dibuat dengan fondasi dari pasangan batu dan lantai dari beton bertulang. dengan diberi pasangan batu. 1) Saluran diversi digunakan untuk menangkap air yang mengalir dari lereng di atas menuju tebing. supaya air tidak terbuang melalui tebing. demi kelancaran pengaliran air dan untuk mencegah erosi.00 m. c). 2) Teras bangku sangat layak untuk tebing. Saluran pembuangan harus dilindungi seperti saluran-saluran yang lain. Gorong-gorong pipa beton. Di bawah ini dibahas jenis-jenis perlindungan yang dapat diterapkan pada tebing. dengan kemiringan maksimal 2%). Saluran pembuangan dimulai dari gorong-gorong. Pembuangan yang aman adalah pembuangan yang mengantarkan aliran air ke sungai atau ke saluran yang mampu mengalirkan volume air tanpa merusak lingkungannya. Saluran pembuangan disesuaikan dengan debit air yang terbesar. Air saluran diversi harus dibuang ke tempat yang lebih aman. Tidak dibatasi panjang saluran pembuangan. Setiap 10 meter lari. Saluran tersebut berhenti pada sungai atau saluran besar yang sudah ada. 3) Gorong-gorong persegi kayu. asal lahan dapat dikorbankan untuk membentuk teras dan jenis tanah dapat dibentuk dengan stabil. rumput.

JEMBATAN Jembatan adalah suatu bangunan konstruksi di atas sungai atau jurang yang digunakan sebagai prasarana lalu lintas darat. teknologi) sehingga mampu dilaksanakan oleh masyarakat setempat. 4) Talud pasangan batu relatif kuat. TPI. Ukuran bawah pasangan batu harus disesuaikan dengan kondisi tanah setempat. tetapi relatif mahal. peralatan.yang lain. Ujung suling harus diberi saringan kecil dari ijuk. Setiap lapis (baris) harus dibuat datar (sama tingginya). 7) Perlakuan Vegetatif. Turap ini bisa dibuat pada posisi tegak. Aliran air permukaan harus dialihkan dari talud batu kosong melalui saluran diversi.0 hingga 1. tetapi relatif mahal.00 meter. karena pasangan batu tidak fleksibel sama sekali. relatif murah. Bahan kayu bisa berupa balok atau persegi. Penanaman bahan-bahan vegetatif untuk menstabilkan lereng atau mengurangi erosi (murah dan mudah sekaligus memiliki fungsi estetika). serta dipancang sampai lapisan tanah keras.1. 9 Jembatan pada jalan desa/kelurahan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi (seperti pasar. 2. 5) Bronjong adalah cara yang kuat dan cukup fleksibel. Pasangan batu harus dibuat dengan pondasi yang kuat. 3) Talud batu kosong dapat disusun pada tebing.00m. Jembatan yang dibangun dalam program ini adalah jembatan yang melengkapi system lalulintas ekonomi dan transportasi masyarakat : 9 Jembatan pada jalan desa/kelurahan yang menghubungkan desa/kelurahan dengan wilayah desa/kelurahan lain sebagai prasarana perhubungan ekonomi dan sosial masyarakat. serta dan ukuran 12-15 cm. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 15 . beruas pendek dan hanya diambil bagian pangkalnya saja. Konstruksinya sederhana. Tujuan dari pembangunan jembatan di sini adalah untuk sarana penghubung pejalan kaki atau lalu-lintas kendaraan ringan. Bagian .75 1. Supaya posisi bronjong stabil dan tidak lari. material. sebab umumnya merupakan bahan lokal. Bronjong dibuat lapis demi lapis dan disambung.5m dengan jarak tiang 0. dasar bronjong yang paling bawah didukung dengan tiang pancang. dll) ke outlet (jalan poros desa/kelurahan/jalan dengan fungsi yang lebih tinggi/dermaga). Bahan bambu harus yang sudah tua. tetapi sebelumnya tebing harus dikepras supaya tidak tegak lurus. Teras dibuat dengan lebar minimal 50 cm dan tinggi maksimal 1. Pasangan batu harus dibuatkan sulingan untuk membuang air tanah dari belakang tembok. dengan jarak setiap tiang pancang 1-114 m. 6) Turap kayu/bambu. dengan mempertimbangkan sumberdaya setempat (tenaga kerja. dengan tinggi 1.

PU Tahun 1996 . 3. Pembangunan jembatan baik berupa pembangunan baru.Panjang Bentang maks. Jembatan Gelagar Besi. peningkatan atau rehabilitasi Jembatan Kayu.5m (lantai kayu) ringan (as tunggal 5 ton) .Panjang Bentang maks.Pejalan Kaki . penerangan.5m ringan (as tunggal 5 ton) . seperti sandaran. Pemilihan lokasi mempertimbangkan kebutuhan transportasi. pusat kegiatan ekonomi. 1). perkebunan. Standar teknis jembatan mengacu pada Pedoman Sederhana Pembangunan Jalan dan Jembatan Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan. terutama tipe pilar dan pondasi/abutmen. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 16 . 6 m Jembatan Gantung . Pemilihan Lokasi & Layout Jembatan Panjang pendek bentang jembatan akan disesuaikan dengan lokasi setempat. Tabel Alternatif Pemilihan Jenis Konstruksi Jembatan Jenis Konstruksi Fungsi Ukuran Konstruksi Jembatan Kayu Kendaraan roda 4 beban . Jembatan Beton dan Jembatan Gantung hendaknya mempertimbangkan kriteria-kriteria. ¾ Penentuan panjang bentang optimum sesuai syarat teknik.Lebar maks. outlet.Lebar maks. karena jembatan dibangun pada jalan yang menghubungkan pusat kegiatan perekonomian masyarakat maka mungkin lebih diperlukan adalah jembatan beton bukan jembatan kayu karena pertimbangan perkembangan lalu lintas kedepan. Selain karena hal itu akan mempengaruhi lebar jembatan juga pemilihan type/jenis konstruksi jembatannya. 3. 9 Jembatan pada jalan desa/jalan lingkungan yang menghubungkan desa/kelurahan dengan pusat kegiatan produksi (seperti pertanian. 1. persyaratan teknis dan estetika-arsitektural. Perencanaan yang kurang tepat terhadap kapasitas lalu lintas harus dihindari. balok jembatan.1. alinemen horisontal dan vertikal. Penentuan bentangnya dipilih yang sangat layak dari beberapa lokasi yang telah diusulkan.Lebar maks. produksi. perletakan. Sebagai misal. ¾ Pendetailan struktur atas.5m . Persyaratan teknis yang perlu dipertimbangkan.Lebar maks.Kendaraan roda 2 .5m ringan (as tunggal 5 ton) .9 Jembatan pada jalan desa/jalan lingkungan yang menghubungkan RW/dusun/perkampungan dengan pusat pemerintahan. 3. 6m (dapat 12m dgn pilar ditengah) Jembatan Gelagar Besi Kendaraan roda 4 beban . sesuai dengan lingkungan sekitarnya.Dep. dll). antara lain : ¾ Penentuan geometri struktur. Puslitbang Jalan. 60 m ¾ Untuk bentang yang lebih besar maka desain konstruksi harus mendapat persetujuan Tenaga Ahli/Konsultan dan Dinas Teknis/PU setempat.Panjang Bentang maks. 12 m Jembatan Beton Kendaraan roda 4 beban . arsitektur dan biaya. ¾ Pemilihan elemen-elemen struktur atas dan struktur bawah. Bagian . ¾ Pemilihan sistem utama jembatan dan posisi lantai/dek.Panjang Bentang maks. ¾ Pemilihan bahan yang paling tepat untuk struktur jembatan berdasarkan pertimbangan struktural dan estetika. lantai. Pertimbangan aspek transportasi berkaitan dengan kelancaran arus lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki. pemilihan Jenis Konstruksi Jembatan berikut.

0 m 1. 4). Bangunan Bawah Jembatan Bagian jembatan yang berfungsi memikul bangunan atas jembatan dan meneruskannya ketanah. singkapan batu.6 m 1. selanjutnya dilakukan penyelidikan/survey lokasi : Untuk mengetahui kondisi fisik lokasi.1.Aspek estetika (pandangan yang sesuai dan harmonis dengan lokasi) jembatan merupakan salah satu faktor penting pula dipertimbangkan dalam perencanaan. tinggi bebas minimum terhadap banjir 50 tahunan direncanakan sebagai berikut : Kondisi Daerah Datar Daerah Perbukitan Irigasi Sifat Aliran Air/Sungai Tenang Deras Tenang Deras Tenang Tinggi Jagaan dari Muka Air Banjir (MAB) 0. Untuk mengetahui kondisi pondasi setempat.5 ton. dsb). pondasi dapat dibuat sehemat mungkin. pada umumnya berada di dalam tanah. Pertimbangan layout jembatan terhadap topografi setempat : tempat yang ideal untuk memungkinkan bentang jembatan sangat pendek.5 ton & as belakang 3. terutama jembatan yang berada ditengah-tengah kelurahan/desa. kondisi lapangan yang kurang menguntungkan seperti daerah patahan geologi. 2). 3). Ruang bebas untuk lalu lintas air dibawah jembatan harus disediakan sesuai kebutuhan lalu lintas yang bersangkutan (misalnya untuk lalu lintas perahu. alat dan transportasi kelokasi. pilar.5 m 2). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 17 . pondasi Bagian . Tinggi Jagaan minimum. tanah lunak. seperti : kepala jembatan. misalnya keadaan lereng. Kesesuaian estetika dan arsitektural akan memberikan nilai lebih kepada jembatan yang dibangun.0 m 1. termasuk titik-titik pilar pada potongan melintang sungai.5 m 0. dll. Posisi jembatan tidak berada di tanjakan/turunan jalan dan tikungan sungai. pada tebing sungai yang tidak terlalu tinggi Pada sungai yang lurus Pada tanah keras Setelah dilakukan layout. Syarat minimum ruang bebas 1). situasi geografis & geologi ketersediaan bahan. Pembebanan Jembatan sederhana untuk lalu lintas ringan volume rendah direncanakan dengan pembebanan : beban merata 300 kg/m2 dan beban kendaraan ringan roda 4 : as depan 1.

a. Jika tanahnya lembek/gambut.3mm atau diperkuat dengan paku. kecuali jika tanahnya lembek/gambut menggunakan tiang pancang kayu. pondasi jembatan kayu dapat menggunakan tiang pancang kayu. kemudian diklem dengan plat besi 3cmx0.dan sayap jembatan. Pondasi Tiang Pancang Kayu untuk tanah lembek/gambut. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . Jembatan untuk kendaraan beban ringan umumnya menggunakan pondasi langsung.1. 18 Bagian . 9 Penyambungan tiang pancang dengan cara sambungan lidah (memotong kedua ujung tiang pada ujungnya setebal ½ tebal tiang dengan panjang sambungan 3kali tebal tiang). diameter 24cm s/d 34cm 9 Kedalaman pancang yang disyaratkan minimal 3 m dan maks. 9 Penghentian pemancangan apabila pada 10 kali pemukulan terakhir dengan tinggi jatuh 100cm. Pondasi Langsung Pasangan Batu Kali b.3cm dan diikat dengan kawat dia. Pemukulan tiang pancang dengan gravitasi : 9 Ujung tiang pancang kayu diruncingkan dan diberi sepatu (kepala tiang pancang). dipancangkan dengan cara dipukul dengan palu beton berat 80-100kg (ukuran 30x30x50cm). Pondasi Langsung Kayu c. 9 Kayu yang digunakan harus kayu mutu klas kuat I. Ukuran kayu : o Ukuran balok kayu persegi 15 x 15 cm s/d 30 x 30 cm o Ukuran kayu gelondongan/bulat. jumlah penurunan kumulatif 5cm. dengan tinggi jatuh 50-100cm. 6m 9 Rumus Engineering News.

rasamala atau kayu lokal yang kualitasnya sesuai persyaratan. biaya transportasi dan konstruksi lebih murah. Kayu mempunyai beberapa keuntungan : ¾ Kayu relatif ringan. balok jembatan. a). kruing. seperti meranti merah. ¾ Pekerjaan-pekerjaan detail dapat dikerjakan tanpa memerlukan peralatan khusus dan tenaga ahli tinggi. seperti : lantai. Bagian . Panjang bentang maksimum 6 meter (untuk satu bentang) dan lokasi memungkinkan dapat dibuat lebih dari satu bentang dengan menambah pondasi pilar ditengah. ¾ Lantai kayu dapat dipasang tanpa menggunakan besi beton dan begesting sehingga menghemat biaya. sandaran. misalnya pada sambungan cukup dengan menggunakan bor. ¾ Kayu tidak mudah dipengaruhi oleh korosi seperti baja/besi dan beton. pasangan batu atau tiang pancang kayu. dan dapat dikerjakan dengan peralatan yang sederhana. Bangunan Atas Jembatan Bangunan jembatan yang langsung memikul beban lalulintas. perletakan. pada umumnya berada diatas permukaan tanah. 5). sedangkan bangunan bawah bisa pondasi langsung kayu. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 19 . Kayu yang digunakan untuk konstruksi harus dari kayu kualitas baik. minimal kayu klas 2.9 Diatas tiang dipasang balok kayu 30x30cm yang menghubungkan 2 tiang pancang dengan cara diklem dengan plat atau menggunakan paku pengapit dari besi beton 6mm.1. Jembatan Kayu Konstruksi bangunan atas terdiri dari gelagar kayu dengan lantai kayu.

1. biaya pemeliharaan cukup tinggi disbanding beton/baja. Kerugiannya antara lain : ¾ Relatif mudah rusak oleh perubahan cuaca. ¾ Lemahnya pengetahuan mutu kayu yang baik. bila lebih panjang harus menambah pilar jembatan (biaya mahal). Sandaran kayu Kaso 5/7 cm dipaku pada balok tepi.¾ Kayu merupakan bahan yang sangat estetik. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . akan cenderung mendorong masyarakat untuk menggunakan kayu yang tersedia disekitar (local) meskipun kualitas rendah (pengawasan kualitas bahan harus lebih tinggi). Lintasan Roda Kendaraan. Tabel Dimensi Gelagar Kayu untuk Jembatan Kayu Lalulintas Ringan ¾ ¾ ¾ ¾ Kayu papan lantai ukuran 8/25 cm. ¾ Kayu menjadi terbatas terutama karena panjangnya terbatas sehingga lebih cocok hanya untuk jembatan dengan bentang pendek. ¾ Ukuran kayu gelagar yang digunakan tidak umum tersedia dipasaran (pesanan khusus) sehingga menjadi sulit tersedia dan biaya lebih tinggi terutama pada daerah perkotaan/daerah tidak memiliki kayu. pelapukan dan mudah ditumbuhi lumut/jamur sehingga kebutuhan pemeliharaan lebih sering dilakukan. bila didesain dengan benar dan dipadukan dengan lingkungan sekitar. papan 4/30 cm sepanjang jembatan. Oprit pada pangkal jembatan menggunakan tanah pilihan/sirtu dipadatkan. 20 Bagian .

5. biaya dan pengawasan tinggi.1. ¾ Lintasan Roda Kendaraan. penghematan biaya pondasi. ¾ Kayu papan lantai ukuran 8/25 cm. papan 4/30 cm sepanjang jembatan. ¾ Pekerjaan konstruksi cukup berat sehingga memerlukan peralatan/tenaga khusus untuk pemasangan dilapangan.60. L.90. ¾ Lantai kayu dapat dipasang tanpa menggunakan besi beton dan begesting sehingga menghemat biaya.b).7. Bagian . biaya mahal dan sulit dibangun. ¾ Panjang bentang adalah 6m s/d 15m ¾ Konstruksi jembatan gelagar besi dengan dua perletakan sistem simple beam. Tabel Dimensi Gelagar Kayu untuk Jembatan Kayu Lalulintas Ringan ¾ Penyambungan/ikatan antara gelagar besi dengan balok lantai menggunakan baut dengan plat siku pengaku dan tidak melubangi sayap besi gelagar karena akan mengurangi kekuatan strukturnya.70. diantaranya : Beberapa keuntungan : ¾ Gelagar besi memberikan kekuatan yang lebih besar dan masa pakai yang lebih lama dibandingkan kayu. khusus didaerah luar jawa masih terbatas. Jembatan Gelagar Besi Konstruksi bangunan atas adalah gelagar besi. Beberapa Kerugian : ¾ Gelagar besi cukup berat dan panjang sehingga memerlukan alat angkut khusus dan ketersediaan jalan kelokasi yang cukup (biaya transport mahal bahkan mungkin sulit didatangkan kelokasi yang terpencil). pengikatan dengan 2 baut sekrup diameter 10mm dan plat pengapit kegelagar jembatan. ¾ Gelagar besi memberikan masa pakai yang relative lebih lama dibandingkan kayu (pemeliharaan lebih ringan dari gelagar kayu).70. lantai kayu sedangkan bangunan bawah adalah pondasi langsung pasangan batu. Penggunaan jembatan gelagar besi mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian dibandingkan jembatan kayu.10mm ¾ Oprit pada pangkal jembatan menggunakan tanah pilihan/sirtu dipadatkan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 21 .150. ¾ Ketersediaan dipasaran. ¾ Biaya gelagar besi lebih mahal dibandingkan beton dan kayu. ¾ Pekerjaan-pekerjaan detail dikerjakan memerlukan peralatan khusus dan tenaga ahli misalnya pada sambungan dengan pengelasan. ¾ Besi gelagar yang digunakan adalah besi profil I. ¾ Besi dipengaruhi oleh korosi sehingga pada daerah tertentu perlu antisipasi/pemeliharaan khusus untuk hal ini. ¾ Sandaran Besi L. L.40. ¾ Gelagar Besi tersedia dengan ukuran yang lebih panjang dari kayu sehingga dapat dibangun untuk bentang yang lebih panjang tanpa pilar (tiang tengah).

¾ Kebutuhan pemeliharaan seharusnya lebih ringan. kabel penggantung dengan lantai dan pagar pengaman/sandaran. kabel utama.c).25m.15m. Konstruksi jembatan gantung lebih cocok untuk bentang yang panjang dengan dasar sungai yang dalam. Bangunan atas jembatan beton adalah : Balok. kabel pengaku. Bagian . d). ¾ Harga tidak terlalu jauh berbeda dengan kayu dan lebih murah dari gelagar besi. kerb dan perletakan yang semuanya terbuat dari beton bertulang dengan mutu beton struktur.20m. Sedangkan bangunan bawah berupa pondasi dari pasangan batu/beton. yaitu cara menggunakan bahan beton. Jembatan Gantung Konstruksi bangunan atas jembatan gantung berupa : tiang pilon/menara. ¾ Sangat peka terhadap penurunan pondasi. penentuan bentang jembatan diusahakan agar kemiringan bentang utama jembatan maksimum 1:20. Panjang jembatan gantung disini adalah 15-60m dengan perbedaan panjang kelipatan 5 m.1. seperti paket 10m. Sedangkan pondasinya adalah pondasi pasangan batu (meskipun juga dapat digunakan beton bertulang).5m. ¾ Besi/Beton dipengaruhi oleh korosi sehingga pada daerah tertentu perlu antisipasi/pemeliharaan khusus untuk hal ini. ¾ Tanpa pengawasan yang tinggi. ¾ Memerlukan perancah untuk bisa mengerjakan beton sehingga ada biaya tambahan untuk pekerjaan beton. ¾ Dapat dibangun dilokasi yang tidak tersedia kayu dan pengangkutan gelagar besi sulit. Bentuk umum yang masih cukup sederhana dan ekonomis dari jembatan beton bertulang ini adalah type slab dan type balok-T cor ditempat dengan bentang 6-8m. sangat beresiko kegagalan. lantai. diantaranya : Beberapa keuntungan : ¾ Lantai dan gelagar beton bertulang yang menyatu memberikan kekuatan yang lebih besar dan masa pakai yang lebih lama dibandingkan gelagar/lantai kayu. Jembatan Beton Untuk desain dan konstruksi jembatan beton dapat mengacu pada standar Bina Marga untuk jalan/jembatan kabupaten. material dan tenaga kerja relative mudah diperoleh didaerah setempat. maka perlu pondasi yang terjamin kuat (struktur dan tanahnya). Beberapa Kerugian : ¾ Perencana desain dan pelaksanaan (pengawasan) memerlukan tenaga ahli/berpengalaman dimana terbatas didaerah setempat. ¾ Perlu pengawasan intensif selama pelaksanaan dilapangan sehingga terjamin kualitasnya. ¾ Lebih sulit dipelihara bila ada kerusakan. maka lebih berbahaya. terutama untuk bentang yang lebih besar/panjang. Kerusakan sulit diketahui sampai dengan jembatan ambruk. ¾ Perlu keterampilan dan ketelitian tenaga kerja. khususnya pekerjaan beton dan pembesian agar menjamin kualitas. Pada lokasi tebing yang tingginya tidak sama. Penggunaan jembatan beton mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian dibandingkan jembatan kayu dan jembatan gelagar baja. minimum mutu beton K-225. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 22 . sandaran. ¾ Masyarakat mendapat keterampilan baru. Lebar jembatan 1.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 23 .1.Bagian .

Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 24 .1..

dibangun searah tepi sungai atau pantai. Sedangkan dari konstruksinya dibedakan atas : Bagian . 2. digunakan apabila dasar tepi sungai atau pantai cukup dalam. Tambatan tepi. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 25 . Terdapat 2 tipe tambatan perahu : 1. digunakan apabila dasar sungai atau pantai cukup landai.1. Tambatan dermaga. TAMBATAN PERAHU Yang dimaksud dengan tambatan perahu adalah tempat untuk mengikat/ menambat perahu-perahu saat berlabuh. dibangun menjalar ketengah.3.

50 meter 2. dimana perbedaan muka air pasang dan surut cukup besar. ƒ Lalulintas perahu dan kegiatan berada disekitar tamabatan perahu. Persyaratan teknis tambatan perahu : ‰ ‰ Tambatan yang digunakan untuk perahu berukuran maksimum panjang 16m. dermaga bongkar muat. Kriteria yang perlu diperhatikan dalam penempatan/pemilihan lokasi tambatan perahu : ƒ Sedapat mungkin ditempat yang strategis sehingga sehingga warga pengguna mempunya jarak pencapaian yang relatif sama. ƒ Pada sungai/pantai yang lurus / tidak pada bagian berbelok dan tidak terletak didaerah dengan kondisi erosi yang aktif/besar. karena dipengaruhi oleh pasang surut air laut. lebar 3m. gudang dan jalan penghubung ke permukiman. tempat parkir. 00 meter 1. Kriteria pemilihan jenis konstruksi tambatan perahu No Bentuk Tepi Pantai/Sungai Perbedaan Muka Air Pasang Surut (MAP) Jenis Konstruksi 1.1. 50 meter 1. ƒ Kedalaman tepi sungai/pantai tidak lebih dari 6m. 4. Landai Landai Curam Curam Kurang dari 2 meter Lebih dari 2 meter Kurang dari 2 meter Lebih dari 2 meter Tambatan Dermaga berlantai Satu Tambatan Dermaga berlantai Dua Tambatan Tepi berlantai Satu Tambatan Tepi berlantai Dua ‰ ‰ Kekuatan standar untuk tambatan perahu pada beban lantai maksimum 300kg/m2. bobot mati perahu 2 ton. 3. 5. ƒ Pada lalu linta sungai yang padat dan sempit tidak menggunakan tipe tambatan dermaga. dimana perbedaan muka air pasang dan surut tidak terlalu besar. Tiang 2. 3.Æ type 1 lantai. 00 meter Rapat Rapat 26 Bagian . 00 meter 1. tempat kerja dan tambatan perahu harus tersedia. ƒ Lokasi untuk penempatan bahan bangunan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . seperti : TPI. Æ type 2 lantai. Ukuran-ukuran bagian konstruksi tambatan perahu : No Jenis Konstruksi Ukuran (cm) Jarak antara maksimal 1. 4. 50 meter 2. Perencanaan tambatan perahu haruslah merupakan bagian kelengkapan sistem pelayanan masyarakat. 50 meter 2. 00 meter 1. 00 meter 1. 75 meter 2. ƒ Sekitar lokasi harus bersih. baik sudah ada maupun yang akan direncanakan akan dibangun. ƒ Tidak pada pantai yang ombaknya cukup besar (pantai dengan tinggi gelombang maksimum 40 cm). Sekur (menyilang antar tiang pancang) Gelagar Melintang Gelagar Memanjang Lantai 6 x 12 8 x 12 8 x 15 15 x 15 5 x 10 6 x 12 8 x 12 8 x 15 8 x 12 8 x 15 3 x 20 3 x 30 1. Jenis kayu yang yang digunakan untuk tambatan perahu adalah kayu kuat kelas I dan kayu awet kelas I. Tipe ini cocok untuk daerah hulu sungai. 2. Tipe ini cocok untuk daerah hilir sungai.

Pada bagian tepi papan lantai dipasang patok tambat dari bahan baja ulir dengan jarak antara patok 2 meter.‰ ‰ Pada tiang pancang bagian luar di pasang balok fender sebagai pengaman terhadap tumbukan perahu.1. Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 27 .

Bagian .1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 28 .

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 29 .Bagian .1.

1. ƒ Tidak merusak lingkungan. ƒ Menyiapkan sketsa hasil perhitungan. Beberapa hal yang dianjurkan dalam pemilihan jenis konstruksi prasarana : ƒ Mendorong peningkatan keswadayaan masyarakat. ƒ Menghitung dimensi konstruksi sesuai dengan tingkat pelayanannya. namun harus dapat dipakai untuk menghitung rencana biaya pelaksanaan yang akan dilaksanakan/dikelola oleh Masyarakat melalui wadah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) setempat. ƒ Sedapat mungkin menggunakan konstruksi dan atau teknologi sederhana. ƒ Sebanyak mungkin menggunakan material dan tenaga kerja setempat. Berdasarkan hasil survey teknis prasarana yang telah dilakukan sebelumnya maka KSM melakukan pembuatan desain dan gambar rencana bangunan yang akan dibuat. sehingga pembangunan dan pemeliharaannya dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat. ƒ Kuat dan tahan lama. dll. ƒ Tidak mempunyai masalah teknis yang sangat berat. ukuran. ƒ Dapat dibangun oleh masyarakat dengan harga yang seimbang. ƒ Mudah dalam pengadaan material/alat/tenaga kerja. termasuk spesifikasinya. Berikut diuraikan kriteria desain untuk beberapa jenis infrastruktur yang umum dibangun. ƒ Memberikan manfaat yang paling besar bagi masyarakat. PEMBUATAN DESAIN/GAMBAR/SPESIFIKASI TEKNIS Perencanaan teknis prasarana lingkungan yang akan dilaksanakan melalui bantuan PNPM MP adalah merupakan perencanaan sederhana. antara lain : Bagian .1. Kriteria desain untuk setiap jenis infrastruktur yang direncanakan harus mengacu pada kriteria desian standar yang dikeluarkan oleh instansi teknis terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum atau instansi teknis terkait lainnya. seperti : kekuatan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 30 . Untuk pelaksanaan PNPM MP ini maka dapat dapat dilihat atau mengacu pada buku Pedoman Teknis Sederhana Pembangunan Sarana & Prasarana yang telah diperbanyak ulang oleh PNPM MP. Sasaran utama dalam tahap desain ini adalah : ƒ Menentukan tingkat pelayanan prasarana sesuai dengan kebutuhan.

jaringan/bangunan listrik. ¾ Air hujan yang masuk kesaluran air hujan adalah air hujan yang tidak tercemar dan bukan air limbah Jenis drainase disini dapat meliputi saluran air hujan dan sumur resapan di permukiman.21/60 150 750 Tersier 2. ¾ Prioritas pembangunan drainase dengan urutan : perbaikan/peningkatan drainase lama karena kapasitas/fungsinya sudah berkurang dan pembangunan baru. T. berkurangnya kesempatan air hujan untuk berinfiltrasi kedalam tanah.45/90 100 750 Tersier 4. Luas area (catchment area) maksimum 5 Hektar Type Rumah/Luas Jumlah Panjang No Sistem Pengaliran Tanah rumah (unit) Saluran (m) 1. Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . Saluran resapan air hujan ditempatkan dengan luas daerah maksimum 5Ha dengan sistem pengaliran tersier dan maksimum 25Ha dengan sistem pengaliran tersier dan sekunder. sehingga akumulasi air hujan yang terkumpul melampaui kapasitas drainase yang ada. antara lain: ¾ Berkurangnya kapasitas drainase yang ada atau tidak tersedia drainase yang akan mengalirkan air permukaan.70/110 28 224 Tersier Luas area (catchment area) maksimum 25 Hektar Type Rumah/Luas Jumlah Panjang Sistem Pengaliran Tanah rumah (unit) Saluran (m) T. dll. T. irigasi teknis.600 Tersier 31 No 1.36/75 120 720 Tersier 3. namun bila terpaksa maka desain dan pelaksanaannya wajib mendapat persetujuan dari instansi pengelola bangunan tersebut.4. DRAINASE PERMUKIMAN Drainase permukiman merupakan sarana atau prasarana dipermukiman untuk mengalirkan air hujan dari suatu tempat ketempat lain agar lingkungan perumahan bebas dari genangan air. ¾ Pembangunan drainase diusahakan mengindari perlintasan dengan bangunan yang telah ada. Ukuran saluran ditentukan berdasarkan kapasitas volume air yang akan ditampung (luas daerah tangkapan) dan intensitas curah hujan 5 tahunan. karena meningkatnya luas daerah yang ditutupi oleh perkerasan dan mengakibatkan waktu berkumpulnya air jauh lebih pendek. Saluran Resapan Air Hujan Fungsi saluran untuk mengalirkan air hujan ke saluran yang lebih besar/badan air dan meresapkan sebagian air. 2. T. Ketentuan umum pembangunan drainase permukiman adalah : ¾ Drainase permukiman yang dibangun pada proyek ini harus terintegrasi dengan sistem/jaringan drainase yang sudah ada atau harus sampai pada tempat pembuangan air (saluran drainase/sungai/laut). Pengembangan permukiman diperkotaan yang demikian pesatnya. 1). debit air dan daya resap tanah (permeabilitas >/= 2cm/jam). ¾ Timbulnya genangan air didaerah permukiman.730 Tersier T. Hal ini sering ditunjukan dengan terjadinya air yang meluap dari saluran drainase bahkan banjirpun dapat terjadi yang mengganggu aktivitas masyarakat. T. Misalnya melintasi jalan kab/provinsi/nasional.1. mengakibatkan makin berkurangnya daerah resapan air hujan.36/75 600 3.21/60 750 3. telepon. Kebutuhan pembangunan drainase permukiman.

kerikil/batu pecah dan pasir beton. Saluran air hujan didesain untuk digunakan atau dipakai hanya untuk dilingkungan permukiman. Type II besi diameter 6 mm tanpa ulir/polos. Sebelum pemasangan model saluran dilapangan. batu bata. Type II = 0. batu kali. Type Rumah/Luas Tanah T. maka dasar galian tanah dasar saluran harus dipasang pasir urug atau kerikil diameter 1cm setebal 10 cm. beton. o Kedalaman saluran minimum 30cm. o Kedalaman saluran minimum 40cm. Saluran air hujan tidak direkomendasikan untuk pemakaian dipinggir jalan raya yang dapat dilewati oleh kendaraan berat seperti truk. batu kali.12 m2 Keliling Basah (O). o Kemiringan saluran minimum 2%. bila dilalui kendaraan roda dua (motor) atau roda 4 (mobil) maka saluran tersebut harus ditutup dengan plat beton bertulang tebal 10-12cm. o Bahan bangunan : PVC. Untuk kepentingan pemasangan/penanganan maka pada kedua dinding samping (kiri/kanan) diberi lubang secukupnya. a. ½ lingkaran dia. Setelah pemasangan dilapangan. Type II = 0. dll. Tebal selimut beton = 25 mm (2. Bagian . batu bata. minimum 20cm.45/90 T. Saluran Tersier dan Sekunder dari Pasangan Bata dan Batu Kali ¾ Saluran dibuat kedap air.No 3. lubang ini ditutup/ditambal dengan adukan semen dan pasir.16 m2 .70/110 Jumlah rumah (unit) 750 140 Panjang Saluran (m) 3. maka pada jarak tertentu harus diberi sumur resapan (misalnya saluran hujan tersier dapat diberi sumur resapan setiap jaran 25 m dan untuk saluran air hujan sekunder dapat diberi sumur resapan setiap jarak 50 meter). trapesium. Sumur resapan tersebut harus diberi kerikil atau batu pecah sampai pada permukaan sumur resapan atau bagian dasar saluran.730 1. type I = 1. ukuran butir kerikil atau batu pecah 5 – 10 cm. diratakan dan dipadatkan. Type I : besi diameter 6mm berulir.5 cm) Bahan-bahan yang digunakan adalah semen. type I = 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 32 . Beban hidup pada umumnya adalah orang.86 m Kemiringan saluran type I dan II = 2% Mutu Beton (K225) atau campuran 1 semen : 2pasir : 3 kerikil Besi tulangan yang digunakan. Persyaratan Saluran tertutup : o Saluran dilengkapi dengan lubang kontrol pada setiap jarak minimal 10meter dan pada setiap belokan. o Kemiringan saluran minimum 2%. o Bahan bangunan : tanah liat. 4.1. tanah liat.02 m . Saluran tersier tipe I dan II dari beton pracetak berlubang : ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ ¾ Luas penampang (A). Diameter sumur resapan dapat dibuat dengan menyesuaikan lebar saluran. Agar saluran dapat meresapkan sebahagian air hujan kedalam tanah. sedangkan untuk kedalamannya 1 – 1.120 Sistem Pengaliran Tersier & Sekunder Tersier & Sekunder Sitem saluran dapat terbuka atau tertutup : Persyaratan saluran terbuka : o Saluran berbentuk persegi. b. beton.5 meter.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 33 . Air hujan yang diresapkan berasal dari bidang tanah.2).1. Bagian . atap bangunan dan permukaan tanah yang dikedapkan/perkeras untuk menjaga keseimbangan system tata air dilingkungan dan menyelamatkan sumberdaya air untuk jangka panjang. Sumur Resapan Air Hujan Sumur Resapan Air Hujan (SRAH) adalah prasarana untuk menampung dan meresapkan air hujan (bukan air limbah) kedalam tanah.

21/60 150 18 1 buah T.Persyaratan pembangunan SRAH harus mempertimbangkan keamanan bangunan disekitar (jarak kesumber air 3m. 2cm/jam. Hitung Jarak Mata air. 1m dan tangki septik min. Perencanaan sistem air bersih harus memenuhi persyaratan teknis air bersih yang berlaku. 2. 4. sesuai Keputusan Menteri Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Perencanaan sistem harus merupakan karya yang terbaik dan termurah dalam pembangunan dan operasi & pemeliharaan. Pembangunan prasarana Air Bersih ini bersifat mendekatkan akses air bersih dan atau memberikan pelayanan penuh kepada masyarakat. Persyaratan teknis yang harus dipenuhi dalam penyusunan perencanaan sistem penyediaan air bersih. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 34 . 3. 3. PRASARANA AIR BERSIH Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. jika jarak mata air kedaerah pelayanan memenuhi ketentuan (kurang dari 6 km). Bagian . Dilakukan oleh masyarakat setempat dengan pendampingan oleh Konsultan pendamping. 1. Tadah Minimum SRAH yang Type Rumah/Luas Jumlah tiap rumah terpasang ditiap Tanah rumah (unit) minimum (m2) rumah. Jika lokasi mata air berada didesa lain atau jalur pipa melalui desa lain. Ø 80cm T. 4.70/110 28 47 3 buah No 1. 5m). 5.5m dari muka tanah dan nilai permeabilitas tanah min. Bentuk SRAH dapat berupa sumur persegi/bulat dan dapat diterapkan pada lahan datar/pekarangan dengan permukaan air tanah min. kualitas dan kontinuitas. jarak ke pondasi bangunan min. 2. mencakup : 1). Persyaratan Lokasi Lokasi yang dapat diusulkan untuk perencanaan sistem air bersih adalah lokasi yang mempunyai sumber air yang memenuhi syarat kualitas. Persyaratan umum yang harus dipenuhi dalam penyusunan perencanaan Sistem penyediaan air bersih adalah sebagai berikut : 1. khususnya warga miskin. Evaluasi Lokasi Mata Air : 1. kecuali ada ijin dan kesepakatan bersama untuk mata air dan jalur yang akan dilalui pipa. maka mata air dapat dipergunakan. Tersedianya data sumber air baku mencakup kuantitas.45/90 100 32 2 buah T. 2. Kualitas Air minum harus memenuhi standar kualitas air minum yang berlaku. maka mata air belum dapat dipergunakan.36/75 120 27 1 buah T. kuantitas. SRAH pada luas area maksimum 5 Hektar Luas bid.1. dan kontinuitas yang dapat diolah secara sederhana. terutama pada tahap survai lapangan (data lapangan) dan penentuan ketersediaan air baku.

Air Hujan. galian sampah minimum 15 meter. Tanah Lokasi harus sudah mendapat ijin atau dihibahkan oleh pemiliknya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umum.3. tangki septik/cubluk). Lokasinya bukan didaerah yang terkena banjir. Bandingkan beda tinggi antara mata air dan daerah pelayanan. Pemilihan Sumber Air Baku Dari masyarakat diperoleh informasi sumber-sumber air baku yang berpotensi. Sumber air baku (Mata Air. dapat dikategorikan sebagai berikut : 4. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 35 . 2). Bagian . 5. kuantitas maupun kontinuitasnya. Air Permukaan) dipilih yang berpotensi baik dari segi kualitas. Untuk SGL/SPT. jarak dengan sumber pencemaran air (resapan.1. Air Tanah. 6.

Berdasarkan jenis sumber yang dapat dimanfaatkan tersebut.1. serta murah dan muddah dalam pengoperasian dan perawatan. Bagian . Diagram ini terdiri atas dua jenis diagram.Untuk menetapkan jenis sumber yang akan digunakan. yaitu diagram untuk jenis sistem yang dilayani secara perpipaan (Gambar 1A) dan diagram untuk jenis sistem yang dilayani secara non perpipaan (Gambar 1B). maka dipilih jenis teknologi yang sesuai dengan jenis sumber air baku dan yang layak untuk diterapkan dengan menggunakan teknologi yang sederhana. maka dapat digunakan alat bantu berupa diagram pemilihan teknologi penyediaan air bersih perdesaan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 36 .

1. 5 Debit Mata Air Kualitas Baik setelah dikurangi pemakaian (Lokal) dan tersedia sepanjang tahun Gambar 1 A Diagram Pemilihan Sumber Air Baku Sistem Penyediaan Air Bersih Perdesaan Sistem Perpipaan Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 37 .1 Kebutuhan Air Bersih 4 2 Apakah Penduduknya >3000 Tidak Apakah ada Mata Air Gravitasi pada jarak 5 km dengan kualitas & kuantitas Baik ? Ya Konsentrasikan pada Program Sistem Perpipaan MA Gravitasi Ya 3 Masyarakat mampu & mau membiayai konstruksi operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Tidak Tidak Penelitian untuk Sistem Non perpipaan Ya Penelitian untuk Sistem Perpipaan 5 Apakah ada mata air dg debit 5 l/s dan berjarak < 10 km? Tidak Ya 6 Apakah30 m lebih tinggi dari desa? 7 Apakah potensi Tidak sumur dalam di desa ini <5 l/s ? 8 Tidak Apakah Tersedia air permukaan sepanjang tahun? Tidak Buat Studi Khusus Ya Konsentrasikan pada sistem MA Gravitasi Ya Pilih yang paling ekonomis antara sistem Mata Air dan Sumur Bor Ya Pilih yang paling ekonomis antara Saringan Pasir cepat dan saringan pasir lambat Catatan : Kotak No.

1. 5. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 38 . 6 : Kualitas Baik & Kuantitas tersedia sepanjang tahun (2) Kotak 3. bila dlm pemakaian yg layak Gambar 1B Diagram Pemilihan Sumber Air Baku Sistem Penyediaan Air Bersih Perdesaan Sistem Non Perpipaan Bagian .Kebutuhan Air Bersih 1 2 Ya Penduduknya >3000 3 Ya Apakah Masyarakat cukup mampu & mau untuk membantu kons operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Ya Penelitian untuk Sistem perpipaan Tidak 4 Masyarakat cukup mampu & mau membiayai konstruksi operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Tidak Ya Konsentrasi pada program sistem perpipaan MA Gravitasi Tidak Penelitian untuk Sistem Non perpipaan Tidak Masyarakat cukup mampu 4 & mau membiayai konstruksi operasi & pemeliharaan sistem perpipaan? Ya 5 Adakah Air Tanah dangkal dengan kualitas Baik ? Ya Konsentrasikan pada program pembuatan & perbaikan sumur gali/pantek Tidak Adakah MA sekitar 1 km? Ya Konsentrasikan pada program sistem MA Gravitasi Tidak 6 Adakah air tanah dalam kualitas & kuantitas baik? Ya Konsentrasikan pada sumur dalam Tidak 7 Apakah Air Hujan dengan debit cukup mudah didapat Ya Konsentrasikan pada PAH Tidak 8 Apakah Air Permukaan mudah diperoleh? Ya Konsentrasikan pada Saringan Rumah Tangga Tidak Konsentrasikan pada Pelayanan Terminal (Hidran Umum) Catatan : (1) Kotak No 4.

Agar supaya pengapung itu. • Untuk mendapatkan nilai rata-rata debit air. Pengukuran Debit a. • Tentukan luas penampang aliran dengan mengukur kedalaman (tinggi muka air) dikalikan dengan lebar penampang (m2) di daerah lokasi pengukuran yang telah ditetapkan. Selanjutnya hitung Debit Air rata-rata hasil pengukuran tersebut. • Untuk mendapatkan nilai rata-rata kecepatan air permukaan. • Tentukan jarak pengukuran (50100m). Sumber Air Permukaan (Sungai) Cara pengukuran debit air sungai secara sederhana. lalu buat pancuran air.3).8-0.9 kali hasil pengukuran kecepatan permukaan tersebut. Bagian . meempunyai kecepatan sama dengan kecepatan air maka ia harus dilepas pada jarak 25-40m sebelum titik awal perhitungan waktu. maka lakukan pengukuran tersebut 3-5. Catat waktu (dalam detik) mulai air masuk sampai ember penuh. • Hitung Debit Air (dalam liter per detik) dengan cara volume air/isi ember (dalam liter) dibagi jumlah waktu yang dipergunakan mengisi ember sampai penuh (dalam detik). Hitung kecepatan aliran (m/detik) dengan cara membagi jarak pengukuran (m) dengan waktu pengukuran (detik). maka lakukan pengukuran tersebut 3-5. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 39 . Sebagai misal. penuh terisi air selama 5 detik maka debit airnya adalah 20 dibagi 5 sama dengan 4 liter/detik. • Letakan ember kosong dibawah pancuran air.1. • Tentukan lokasi pengukuran pada bagian sungai yang lurus dan permukaannya relatif datar. Waktu yang dibutuhkan oleh pengapung tersebut untuk melalui jarak tersebut dicatat (dalam detik). b. Sumber Mata Air Secara sederhana cara pengukuran debit air yang berasal dari Mata Air dapat dilakukan sebagai berikut : • Siapkan ember kosong dan ukur terlebih dahulu volume/isinya (dalam liter). seperti dijelaskan pada bagian berikut ini : • Siapkan alat pelampung (batang pisang atau botol diisi air) untuk kecepatan permukaan air sungai. • Sumber air dibendung sementara. Jarak ini tidak boleh terlalu besar untuk mencegah agar pengapung tidak menyimpang dari arahnya karena pengaruh angin. • Perhitungan kecepatan aliran air sungai : • Hanyutkan pelampung (batang pisang atau botol diisi air) ke dalam aliran sungai sampai sebagiannya tenggelam untuk mengetahui waktu tempuh sesuai dengan jarak yang sudah ditentukan (50-100m). • Siapkan pita ukur • Siapkan pengukur waktu (jam/stopwatch). Isi ember 20 liter. Selanjutnya kecepatan rata-rata diperhitungkan sama dengan 0.

operasi. Kekeruhan Perhatikan kekeruhan bilamana kekeruhan tinggi dalam periode yang lama.• Hitung Debit Air (Q) sungai dengan rumus : Kecepatan Aliran Rata-rata (V) dikali Luas Penampang Air (A) : 4). Pengukuran Kualitas Air Baku Pengukuran kualitas air baku dilakukan dilaboratorium. Bagian . sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan 907/Menkes/SK/VII/2002. Secara umum ada beberapa indikator yang secara visual dapat diukur di lapangan di antaranya: 1. kemudian hasilnya dibandingkan dengan standar kualitas yang berlaku. maka sungai dapat dipakai dengan memperhitungkan biaya investasi. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 40 . dan pemeliharaan.1.

kekeruhan dan berwarna diperlukan pengolahan air. Warna dan Bau Periksa warna dan bau air. maka ada salinitas. jika ditemukan warna dan bau. jika hasil laboratorium tidak ada. jika rasa air payau atau asin. lihat nilai EC.1. berasa. maka cek hasil laboratorium terhadap kandungan Klorida. air tidak dapat dipergunakan sebagai sumber air.500 micro S/cm. maka penyebab timbulnya harus diperiksa. Rasa Tes rasa air. 3. Untuk menjamin kualitas air tersebut dapat digunakan sebagai sumber air. (EC Meter adalah salah satu alat pengukur suhu yang digunakan untuk mengukur daya hantar listrik dan dapat memberi informasi tentang kadar garam). Jika nilai EC menunjukkan lebih dari 1. Pada umumnya air yang berasal dari air permukaan (sungai. Untuk bahan yang berbau. Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 41 .2.

saluran irigasi) berwarna keruh sehingga perlu diolah terlebih dahulu. P = Po (1 + r )n Dimana : P = jumlah penduduk sampai akhir tahun perencanaan Po = jumlah penduduk awal perencanaan r = prosentase pertambahan penduduk pertahun n = umur perencanaan c). Saringan (Saringan Pasir Lambat. 2.15) Bagian . embung. Kebutuhan air bersih ini didasarkan atas pelayanan dengan menggunakan Hidran Umum (HU) dengan perhitungan sebagai berikut : 1.1. 3. Saringan Karbon Aktif) Pengolahan jenis ini dapat dilakukan bila kualitas air mempunyai kondisi : kondisi air bau tanah dan bau besi. Cari data jumlah penduduk awal perencanaan. kondisi air terlalu banyak kapur. Q = Pxq Qmd = Q x fmd Dimana : Qmd = kebutuhan air minimum (liter/hari) P = jumlah jiwa yang akan dilayani sesuai tahun perencanaan (jiwa) q = kebutuhan air per orang per hari (liter/orang/hari) fmd = faktor maksimum ( 1. misalnya metode geometrik.15). kondisi air rasa tanah dan rasa besi. b. Hitung pertambahan nilai penduduk sampai akhir tahun perencanaan (misal 5 tahun) dengan menggunakan salah satu metode. Bahan Kimia atau Koagulan Pengolahan air dengan bahan kimia tergolong lebih sulit dan penentuan pengolahannya harus dilakukan percobaan dan menguji tingkat keasaman air terlebih dahulu untuk menentukan bahan koagulan. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 42 . a. Contoh pengeolahan air dengan koagulan.waduk. Tentukan nilai prosentase pertambahan penduduk pertahunnya (r).05 – 1. Kebutuhan total ini dipakai untuk mengecek apakah sumber air yang dipilih dapat digunakan. Penentuan Kebutuhan Air Bersih Kebutuhan air total dihitung berdasarkan jumlah pemakai air yang telah diproyeksikan untuk 5 – 10 tahun mendatang dan kebutuhan rata-rata setiap pemakai setelah ditambahkan 20 % sebagai faktor kehilangan air (kebocoran). Penentuan Jumlah Penduduk (Pemanfaat) Data jumlah penduduk dan kepadatan penduduk dipakai untuk menentukan daerah pelayanan dengan rumus perhitungan adalah sebagai berikut : 1.05-1. 5). Perhitungan Kebutuhan Air b). kotoran mengumpal dan tidak mudah larut dalam air. Hitung kebutuhan air bersih dengan mengkalikan jumlah jiwa yang akan dilayani sesuai dengan tahun perencanaan (P) dikali kebutuhan air perorang perhari (q) dikali faktor hari maksimum (fmd = 1. yaitu bila air mengandung zat mangaan (Mn) atau zat besi (Fe) yang biasanya ditandai dengan : Air berwarna kuning setelah ditampung.

yang berdasarkan dari hasil pemeriksaan kualitas air baku. dengan faktor kehilangan air 20 % dengan persamaan : Qt = Qmd x 100/80 3. b) Pengolahan air. kuantias dan kontnuitas) air baku. Hitung kebutuhan total air bersih (Qt). d) Sistem pelayanan yang berupa sambungan rumah/langsung dan hidran umum/kran umum. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 43 .2. Alternatif Jenis Sarana & Prasarana Jenis prasarana dan sarana yang diperlukan dalam sistem penyediaan air bersih/minum sesuai dengan sumber air baku serta sistem pengolahannya dapat dilihat pada tabel berikut : Bagian . air tanah. c) Sistem pendistribusian. air permukaan dan air hujan dengan membandingkan kehandalan (kualitas. Bandingkan dengan hasil pengukuran debit sumber air baku apakah dapat mencukupi atau tidak. yaitu pengolahan lengkap atau tidak lengkap.1. 6). a). yaitu gravitasi atau pemompaan. Penentuan Sistem Penyediaan Air Sistem penyediaan air minum didasarkan pada : a) Ketersediaan sumber air baku dengan prioritas air baku dari mata air. jika tidak mencukupi cari alternatif sumber air baku lain.

b). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 44 . pipa transmisi dan pipa distribusi disajikan dalam tabel-tabel berikut ini : Bagian . Kriteria Desain Kriteria disain untuk setiap sistem penyediaan air minum.1.

Sistem Pengolahan Air Dalam menentukan Sistem Pengolahan Air Bersih akan tergantung oleh kualitas sumber air baku. namun demikian pada umumnya diusahakan harus sederhana. Bagian . murah dalam biaya pembangunan dan pemeliharaan serta mudah dalam pembangunan dan operasional & pemeliharaanya. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 45 . instalasi pengolahan air sederhana yang umum ada dan digunakan diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Bangunan Saringan Pasir Lambat (SPL) Luas Permukaan (A) = = Qt (m3/dtk) v filtrasi P (m) x L(m) Jumlah unit bangunan SPL minimum = 2 unit. Bangunan Intake (Penyadap) Berupa pipa sadap (PVC/GI) yang dihitung dengan formula sebagai berikut : Dimana : 4Q ф = Diameter pipa (m) φ = Q = Debit aliran (m/detik) πv v = Kecepatan aliran (m/detik) 2. Bangunan Bak Pengumpul : Volume bak pengumpul Volume bak pengumpul = = Waktu detensi (td) x Qt Panjang (P) x Lebar (L) x Tinggi (T) Dimensi bak pengumpul : • Panjang (P)= (3 .5 m 3.4) x Lebar (L) • Kedalaman (T) = 1 – 1. Berdasarkan pengalaman.1.d).

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 46 . л Dimana : P = Daya Pompa (tenaga kuda) Q = Debit Air (m3/detik) w = Density (kg/cm3) H = Total Tekanan (m) л = efisiensi pompa (60-75%) f). 8 s/d 10 kg/cm2) atau pipa berdasarkan SNI.H Daya Pompa (P) = 75 .1 m e).7 . b). untuk pipa bertekanan tinggi dapat menggunakan pipa Galvanis (GI) medium atau pipa PVC kelas AW.785 x D2 Dimana : 3 Q = Debit Air (m /detik) V = Kecepatan pengaliran (m/detik) 2 A = Luas Penampang Pipa (m ) D = Diameter pipa (m) Kualitas pipa berdasarkan tekanan yang direncanakan. Penentuan dimensi perpipaan transmisi dan distribusi dapat mengunakan rumus : Q A = = VxA 0. Sistem Pendistribuasian Penyaluran air dapat dilakukan dengan sistem perpipaan gravitasi maupn dengan cara mekanis/pompa.3) x Lebar (L) = 0. namun umumnya bangunan HU berupa tabung dari fiberglass dengan volumenya sudah ditetapkan (2 m3 dan 4 m3). Pompa Hitung Daya Pompa yang diperlukan berdasarkan data total tekanan (head) yang tersedia dengan rumus : Q.Dimensi SPL : • Panjang (P) • Tinggi media pasir = (2 . mengingat jarak maksimum antara hidran umum maksimum 200 meter. a).5). maka umumnya jumlah HU lebih dari satu. Bagian .w. seri (10-12. Sistem Pelayanan (Bangunan HU/KU) Bangunan Hidran Umum cara perhitungannya sama dengan bak penampung.1.

6. PRASARANA IRIGASI
Irigasi yang dimaksud dalam program ini adalah sebagai berikut : ♦ Irigasi yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat kelurahan/desa ♦ Irigasi ini bukan bagian dari irigasi teknis atau irigasi yang telah masuk dalam inventarisasi DPU Pengairan Tujuan pembangunan jaringan irigasi perdesaan, yaitu; ƒ Meningkatkan produksi pangan terutama beras. ƒ Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan air irigasi. ƒ Meningkatkan intensitas tanam. ƒ Meningkatkan dan memberdayakan masyarakat dalam pembangunan jaringan irigasi perdesaan. Lingkup pekerjaan Pembangunan Jaringan Irigasi sederhana dibatasi dengan prioritas sebagai berikut : 1. Perbaikan/ rehabilitasi jaringan irigasi yang telah ada. 2. Peningkatan irigasi perdesaan yang telah ada. 3. Pembangunan baru irigasi perdesaan. Karena proses pelaksanaan pembangunan jaringan irigasi peredesaan (mulai dari penyuluhan, survai, desain sampai pelaksanaan konstruksi) harus dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran, maka urutan prioritas ditetapkan sebagai berikut : 1. Diutamakan pekerjaan perbaikan atau rehabilitasi jaringan irigasi yang telah ada, dan tidak memerlukan kajian teknis yang berat. 2. Pekerjaan peningkatan jaringan irigasi yang telah ada, yang benar-benar diperlukan. 3. Pembangunan jaringan irigasi baru yang sangat diperlukan. Meskipun membangun irigasi baru dimungkinkan (sekalipun merupakan prioritas terakhir), harus dihindari pembangunan bendung baru. Pembangunan bendung baru memerlukan kajian teknis yang berat seperti: Pengumpulan data hidrologi dan hidrometri, penyelidikan tanah, dsb. secara akurat dan kajian teknik yang berat, yang kesemuanya itu memerlukan waktu panjang. Maka sangat sulit mempertanggungjawabkannya jika harus membuat bendung sejak persiapan perencanaan sampai selesai konstruksi hanya dalam waktu satu tahun saja. Jenis infrastruktur Bangunan Pengairan/Irigasi yang dapat dibangun antara lain : Embung, Bendung Cerucuk, Bendung Bronjong, Saluran Pembawa & Boks Bagi, Bangunan Pelindung Pantai Sederhana dgn Turap, Bangunan Penahan Longsoran Tanah, dll. Standar Irigasi sederhana mengacu pada Pedoman Teknis Sederhana Pembangunan Bangunan Pengairan untuk Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, Puslitbang Pengairan - Dep. PU Tahun 1995. Kriteria pembangunan Irigasi yang perlu diperhatikan : 1. Irigasi tidak tercatat dalam buku inventaris PU Pengairan 2. Luas areal irigasi perdesaan maksimum 60-100 Ha 3. Pengelolaan, Operasi dan Pemeliharaan jaringan irigasi perdesaan dilaksanakan oleh P3A atau kelompok tani. 4. Pembangunan irigasi baru sederhana harus memenuhi ketentuan : ƒ ada sumber air cukup, adanya sawah (tadah hujan); ƒ ada petani, kualitas air memenuhi; ƒ tanah/sawah baik untuk pertanian (padi); ƒ ada pemasaran hasil produksi; ƒ daerah irigasi bukan merupakan daerah banjir rutin, ƒ kapasitas bangunan mampu untuk mengalirkan debit air yang direncanakan,
Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

47

ƒ pembagian air akan lebih adil/merata. 5. Usulan bendung baru dari pasangan batu atau beton terbatas pada : ƒ panjang bendung maksimum :5 m, sedangkan untuk panjang > 5 m sebaiknya dikoordinasikan dengan instansi teknis terkait. ƒ tinggi bendung maksimum : 3m ƒ debit banjir rencana : 30 m/dtk 6. Pembangunan Embung harus memenuhi ketentuan : ƒ Berada didaerah tadah hujan paling luas 100Ha; ƒ Kolam embung berkapsitas maksimum 100.000 M3 ƒ Tinggi maksimum tubuh embung 5 m ƒ Pelimpah Tanah, berupa saluran terbuka kapasitas paling besar sama dengan banjir 50 tahun; ƒ Embng milik masyarakat, dikelola oleh masyarakat dan bukan termasuk dalam daftar inventarisasi PU; 7. Rehabilitasi Irigasi harus memenuhi ketentuan : ƒ Lingkup Kegiatan : Æ saluran atau bangunan yang fungsi pelayanan sudah berkurang; Æ perbaikan saluran talud atau penahan tebing; Æ perbaikan bangunan terjun, pembagi dan bangunan sadap ƒ Kriteria Kegiatan : Æ bangunan masih kuat dan akan bertahan lama; Æ bangunan akan tetap stabil; Æ kapasitas bangunan akan mampu mengalirkan debit rencana; Æ mudah dioperasikan petani; Æ dapat menjamin pembagian air; Æ melindungi irigasi dari pengaruh alam; 1. Perhitungan Debit Andalan Debit andalan dihitung 80 % dari debit rata-rata minimum sumber air untuk setiap 2 minggu. Debit andalan akan rnenentukan luas areal sawah irigasi yang dapat dilayani oleh sumber air. Luas maksimum area yang dapat dilayani irigasi dapat dihitung dengan rumus : A = Qp / IWR Dirnana : A = Maksimum luas area pelayanan irigasi (ha) Qp = Debit andalan (m3/det) IWR = Kebutuhan air irigasi (lt/det/ha) Untuk irigasi desa IWR = 1.75 lt/det/ha (NWR=1,4 lt/dt/ha), diambilkan dari data irigasi teknis yang berada dekat den lokasi proyek. Untuk keperluan perencanaan Bendung pada Irigasi perdesaan perhitungan debit air tersedia di sungai dapat digunakan cara yang praktis dan sederhana yaitu dengan cara estimasi/pendekatan berdasarkan tinggi muka sungai : a) Dengan menanyakan kepada penduduk setempat yang terdekat den lokasi sungai mengenai keadaan tinggi elevasi muka air pada kea air banjir tertinggi, muka air normal, muka air rendah(tinggi muk di sungai yang sering terjadi selama 1 tahun). Informasi ini digun untuk menggambarkan penampang basah sungai. Untuk menghitung debit andalan digunakan data tinggi air dari an pengamatan 5-6 bulan. b) Dalam menghitung debit dibutuhkan data luas tampang melintang kecepatan air : Qa = Ar . V
Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

48

Dimana : Qa = Debit air (m3/det) Ar = Luas penampang basah rata-rata (m2), V = Kecapatan air (m/det) Kecepatan air dapat dihitung dengan cara sederhana, yaitu pengukuran kecepatan air secara langsung dengan menggunakan pelampung (lihat metode pengukuran debit air baku, perencanaan air bersih). 2. Desain A. Bangunan Utama 1) Bendung Sederhana (1) Bendung berfungsi untuk meninggikan permukaan air sungai sesuai dengan kebutuhan dan membelokkan air ke saluran pembawa sesuai dengan debit yang dibutuhkan. (2) Digunakan pada daerah irigasi yang elevasi permukaan sawahnya lebih tinggi dibanding dengan elevasi permukaan air sungai rendah. (3) Bendung ditempatkan pada alur sungai yang lurus dan dasar sungai relative stabil (4) Panjang bendung tidak lebih dari 0,8 lebar rata-rata dasar sungai. (5) Bendung sederhana dapat terbuat dari pasangan batu, bronjong dan cerucuk. a) Bendung Pasang Batu (1) Umum • Bendung harus stabil pada kondisi air normal maupun air banjir. • Bendung harus aman terhadap pengaruh gaya geser; • Tanah pondasi harus mampu memikul berat tubuh bendung; • Pondasi Bendung diusahakan ditempatkan di atas batu atau tanah liat, Untuk pondasi tanah berpasir (pasir) tidak disarankan bendung pasa batu. (2) Perencanaan Teknis (a) Menentukan Elevasi Tinggi Mercu Menentukan mercu bendung ditentukan oleh muka air rencana bangunan bagi atau sadap pertama di tambah kemiringan panjang saluran (L x I) dan kehilangan tinggi energi pada pengambilan (15cm). Sedangkan tinggi muka air yang diinginkan pada saluran utama ditentukan oleh tinggi muka air yang diperlukan di sawah yang terjauh dan yang tertinggi elevasinya. Adapun ilustrasi cara perhitungannya adalah sebagai berikut :

Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

49

P = A + a + b + m.c + d + n.e + f + g + ∆h + z P = Muka air yang dibutuhkan di saluran utama A = Elevasi sawah dengan elevasi yang menentukan a = lapisan air di sawah ± 10 cm b = kehilangan tinggi energi dari sal. kuarter sampai sawah ± 5 cm c = kehilangan tinggi energi di boks kuarter ± 5 cm d = kehilangan air pada bangunan pembawa di saluran irigasi (I x L) e = kehilangan tinggi energi di boks bagi tersier ± 5 cm f = kehilangan tinggi energi di gorong-gorong ± 5 cm g = kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier ± 5 cm ∆h = variasi muka air = 0,18h100 (sekitar 0,05 - 0,30 cm) z = kehilangan tinggi energi di bangunan petak tersier lainnya m = jumlah boks kuarter di trase tersebut n = jumlah boks tersier di trase saluran (b) Panjang Bendung Panjang bendung tergantung dari pada rata-rata lebar sungai, secara umum 0,8 lebar sungai Dalam hal ini ditentukan panjang bendung maksimum 5.00 m, termasuk lebar pintu penguras. (c) Lantai Olak dan Mercu Bendung Untuk disain lantai olak dan mercu bendung memakai metode perhitungan MDO yang sudah dikembangkan oleh Puslitbang Air Dalam mendisain bendung perdesaan dengan metode MDO dilakukan beberapa penyederhanaan, sebagai berikut : • Bentuk mercu bulat dengan jari-jari R1 = 1.00 - 1 50 m • Tubuh bendung bagian hilir dibuat miring 1 : 1 • Elevasi lantai olak adalah fungsi dari tinggi muka air di hilir bendung (Ds) H1 = X1 . Ds Ds = Elevasi lantai olak dihitung dari puncak mercu H1 = Tinggi air di hilir bendung X1 = Parameter 1.50 - 1,80 yang dipengaruhi oleh debit permeter lebar dan selisih muka air di udik dan di hilir bendung. (a) Panjang lantai olak (L) adalah fungsi dari kedalaman lantai olak (Ds) dihitung dari puncak mercu bendung. L = X2 . Ds L = Panjang lantai olak Ds = kedalaman lantai olak dari puncak mercu X2 = parameter 1.00 - 1.20 (b) Jari-jari pertemuan antara bidang miring tubuh bendung dan lantai olak R2 = 1.00-1.50m

Bagian - 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana

50

bendung dan lain-lain.1. z = kehilangan tinggi g = grafitass (9. take water depth m = angka penaliran (1.8 m/det2) A = luas penampang pintu C = koefisien pengaliran (0. tinggi tembok samping dan penampung sungai di bagian hulu bendung. ¾ Bangunan pengaras berfungsi meriguras endapan yang berada didepan pintu pengambilan.40 cm. ¾ Bangunan penguras tidak dilengkapi dengan pintu tetapi dilengkapi dengan balok sekat setinggi mercu bendung. (f) Perhitungan Debit Banjir Rencana Debit Banjir Rencana dihitung guna menentukan panjang bendung.d Vg d dimana : Q = debit banjir b = panjang bendung d = tinggi peluapan = 2/3 . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 51 . As bangunan pengambilan diusahakan 135° .180° terhadap as bendung.3-1.b.81 m/dt2) Bagian .(d) Bangunan pengambilan ¾ Letak bangunan pengambilan diusahakan dekat dengan bendung. ¾ Ukuran lobang pengambilan disesuaikan dengan besarnya debit kebutuhan irigasi.20 m. serta menentukan kedalaman dan panjang lantat olak. Lobang balok sekat maksimum 1. Dihitung dari bangunan-bangunan air yang terdapat di dalam sungai. Bangunan pengambilan dilengkapi dengan pintu. Rumus Bendung : Q = m. Rumus pengaturan pintu pengambilan : Dimana : Q = debit (m3/det).H H = tinggi air di atas mercu.35) g = gravitasi (9. lebar pintu minimum 0. misalnya.8) (e) Bangunan penguras ¾ Bangunan penguras ditempatkan dekat dengan bangunan pengambilan.

• Untuk mengurangi bocoran pada bendung bronjong dapat dipakai lapisan ijuk yang dipasang diantara kotak bronjong.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 52 . kayu dan air sungai agresif. Bagian . Pada arus surgai yang mengangkut batu. Panjang tubuh bendung kurang dari 15 m. Panjang lantai 2 . • Tinggi bendung maksimum 2. dibuat dari susunan atau tumpukan bronjong kawat diisi batu kali.5 m. • Ukuran bronjong dapat disesaaikan dengan kebutuhan dengan ketebalan 0.50 m. • Elevasi mercu bendung direncanakan berdasarkan perhitungan tinggi air saluran ditambah 20 cm. kawat yang digunakan adaiah kawat yang digalvanis dengan diameter minimal 3 mm. Dengan demikian butir-butir tanah akan tertahan.5 tinggi bendung.b) Bendung Bronjong Bendung bronjong adalah bangunan air sederhana yang sifatnya tidak permanen. sebagai kehilangan tinggi pada mercu bendung karena tubuh bendung terbuat dari bronjong yang lolos air.2. bandung bronjong tidak disarankan pemakaiannya. melintang sungai yang lebarnya lebih kecil dari 15 m dan berfungsi menaikkan muka air sungai sehingga air sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi tadah hujan yang akan dikembangkan. Perencanaan Teknis Bendung : • Kemiringan bagian hilir bendung 1:1 sampai 1:2dan untuk hulu dengan kemiringan 1:1.

Panjang lantai hilir paling pendek adalah 3 m f. Umur bendung paling sedikit 1 tahun g. Lebar tepi udik mulut bangunan pengambilan dari sisi udik tubuh bendung minimal adalah 2 m e. • Pada sekitar rencana lokasi bangunan tidak terdapat sumber batu (b) Bendung cerucuk sederhana adalah bendung sederhana yang sifatnya tidak permanen (tidak tahan lama).50 meter. terbuat dari baris-baris ceruc yang dipancang melintang sungai yang ditempatkan pada ruas sungai yang relatif lurus dan dasarnya tidak terlalu keras dengan lebar dasar sungai tidak lebih dari 10 meter. (d) Tiap baris cerucuk terdiri dari tiang-tiang yang dipancang secar vertikal dengan jarak antara tiang paling jauh adalah 1 meter. Lebar mercu bendung paling pendek adalah 1 m d. Tiang tegak kayu keras (dolken) ukuran + Ø 12 cm h. Panjang tubuh bendung paling panjang adalah 10 m c.c) Bendung Cerucuk (a) Kriteria : • Luas daerah irigasi maksimum 20 ha. Debit sungai dalam keadaan banjir maksimum 10 m3/det. (f) Tiap tiang pada baris cerucuk dihubungkan ke tiap tiang pada baris cerucuk lainnya dengan kayu mendaiar yang diikatkan pada ujung atas tiang-tiang baris cerucuk dengan tali pengikat agar baris-baris cerucuk menjadi satu kesatuan yang kokoh. (e) Tiap baris cerucuk ditutup dengan dmdmg pemitup yang terdiri dari kayu yang dipasang mendatar secara rapai satis sama lain agar bahan pengisi yang diletakkan pada ruang antara baris cerucuk tidak lolos.1. Tinggi bendung paling tinggi adalah 1 m b. Bambu mendatar ukuran + Ø 12 cm Bagian . (c) Banyaknya baris cerucuk tidak kurang dari 3 baris dengan jarak antar baris cerucuk paling lebar 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 53 . (g) Ukuran-ukuran : a.

KONSTRUKSI SAYAP BENDUNG CERUCUK 2) Pada bagian belakang sayap diperkuat dengan kayu/bambu mendatar yang diikatkan pada tiang-tiang sayap dengan tali pengikat dan diberi tiang penunjang agar sayap menjadi satu kesatuan yang kokoh. Jumlah baris penguat sayap paling sedikit 2 baris dan jarak tiang-tiang penunjang paling panjang 1 m 3) Panjang sayap bagian udik yang sejajar tebing sungai dibuat paling sampai ke tepi udik mulut bangunan pengambilan (intake) yang selanjutnya sayap dibuat miring dengan sudut ± 45 º.1. 54 Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana .SAYAP BENDUNG 1) Sayap bendung terdiri dari tiang-tiang cerucuk yang dipancang tegak secara rapat satu sama lain pada pertemuan dasar sungai dengan tebing sungai.

5) Rongga antara tebing sungai dengan sayap bendung ditimbun dengan tanah yang sedikit dipadatkan LANTAI BENDUNG Lantai hilir bendung terbuat dari hamparan bahan pengisi yang berupa batu kali Ø 15 – 30 cm anyaman bambu. pengambilan dilengkapi pengarah arus. c) Jika pada sungai yang lurus. Guna lantai hilir adalah untuk menahan gerusan air yang jatuh di hilir bendung. tambang ijuk. Bagian . b) Bangunan ini ditempatkan pada akhir belokan luar sungai untuk menghindari masuknya sedimen.4) Panjang sayap hilir yang sejajar dengan tebing sungai dibuat paling sedikit sampai ke ujung lantai hilir. plastik). sudut ± 45 º. e) Elevasi muka air pada saat debit minimum rata-rata mempunyai tekanan yang cukup untuk mengairi lahan yang direncanakan. ¾ Pengisi tubuh bendung dari bahan batu kali. Tali sebaiknya dari bahan yang tahan lapuk (tali ijuk. d) Bangunan ini biasa dipakai di daerah pegunungan yang kemiringan dasar sungainya cukup curam dan dasar sungainya cukup stabil. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 55 . ¾ Lantai Hilir dari bahan batu kali diameter 15-30cm dan anyaman bambu gelondongan. ¾ Kayu dolken/bambu tua diameter sekurang-kurangnya 12cm. Pengarah arus dibuat secara semi permanen dari bronjong atau cerucuk bambu. dolken dengan menyesuaikan dengan konstruksi bangunan pengambilan bebas dan sumber material yang ada. kawat. 2) Pengambilan Bebas a) Bangunan ini tidak memerlukan bangunan melintang sungai untuk membelokkan air ke saluran pembawa. ¾ Tali pengikat dari tali plastik.1. kemudian sayap dibuat miring. tanah. yang digunakan adalah jenis keras. (h) Bahan yang digunakan untuk bendung cerucuk ini diusahakan bahan setempat yang mudah diperoleh.

. (4) Tubuh tanggul waduk/embung pada umumnya dibuat dari timbunan tanah pudel. (7) Untuk keperluan air irigasi perlu dibuat bangunan pengambilan. b) Untuk mata air ini biasanya dibuatkan bangunan penampung air. (6) Stabilitas tanggul diperhitungkan terhadap : Rembesan. hulu = 1: 3.00 pada tinggi air minimal 4) Mata Air a) Sumber air ini berfungsi sebagai sumber air utama atau sebagai suplesi. (5) Bila terjadi bocoran pada tanggul. dialirkan ke jaringan irigasi. dolken.Bila lapisan kedap air berada < 2. tinggi elevasi lantai pengambilan berada 10 cm dibawah muka air terendah atau 50 cm diatas dasar sungai. c) Konstruksi bangunan penampung air dibuat dari pasangan batu. maka diatasi dengan cara : o Menebalkan tanggul bagian luar o Membuat inti lapisan kedap air o Dibuat pasangan batu atau diberi lapisan kedap air di bagian dalam tanggul o Membuat drain filter di kaki tanggul luar dari pasangan batu kosong atau bronjong.Kemiringan badan embung.00 m. . Stabilitas lereng dan penurunan. h) Pengambilan bebas.Koefisien rembesan maksimum K < 10 -5 m/det. . . 5) Air Tanah a) Air tanah adalah air yang berada pada lapisan bagian bawah tanah. d) Apabila diperlukan dibuat bangunan pelimpah untuk membuang limpahan (over topping).Lebar puncak embung minimum 4. melalui bangunan pengambilan yang dapat diatur. g) Konstruksi bangunan pengambilan bebas dapat dibuat dari pasangan batu kali atau cerucuk bambu. bangunan intake dan pelimpah dibuat dari pasangan batu yang ditempatkan pada tanah asli.Bangunan pengambilan dibuat permanen dengan pembatas debit dan dilengkapi dengan pintu. minimum hilir =1:3.Daya dukung tanah pondasi minimum 1 kg/cm2 (1 ton/m2) . Catalan : Dalam menentukan elevasi dasar bangunan pengambilan harus hati-hati agar mata air nantinya tidak berpidah atau mati.00 m .Tinggi jagaan minimum 1.Tinggi embung > 3 m dibuat berem selebar 2 m .00 m dari dasar tanah pondasi dibuat paritan (cut off) lebar paritan 2. (3) Dipilih pada daerah yang berjenis tanah tidak porous (lolos air). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana f) 56 .5. 3) Waduk/Embung (1) Pada umumnya bangunan waduk/embung berfungsi untuk menampung air hujan dan digunakan untuk irigasi air minum dan lain-lain. b) Kandungan air tanah terdapat pada lapisan tanah yang terbentuk dari bahan-bahan tanah berpasir dan kerikil.Pembuatan peta situasi genangan maupun lokasi bangunan embung dilaksana dengan alat optik atau pipa (slang) plastik. c) Lapisan tanah yang mengandung air tanah biasanya dibatasi oleh : o Bagian bawah dengan lapisan kedap air Bagian .1. (8) Disain Teknis : . (2) Waduk/embung dibuat pada daerah cekung atau pada alur sungai kecil yang memungkinkan untuk menjadi penampung air.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas yang paling umum dibuat adalah saluran berbentuk trapesium a) Pemilihan jenis saluran hendaknya mempertimbangkan Fungsi jaringan irigasi dengan kondisi fisik dalam keadaan baik Saluran lama yang ada Biaya pemeliharaan murah Pengoperasian mudah " Aspirasi atau tradisi masyarakat setempat. Alat Ukur Debit dan Bangunan Penguras Saluran 1) Saluran Pembawa Untuk pengaliran air irigasi diperlukan saluran pembawa.2. (2) Saluran pembawa juga harus mempertimbangkan debit air hujan yang masuk. o Pada tanah yang banyak mengandung pasir disarankan pada dasar sumur di beri lapisan ijuk yang diberi pemberat batu. Saluran Pembawa. (4) Kriteria perencanaan saluran : Bagian .1. b) Perencanaan Saluran Saluran pembawa dapat berupa saluran tanah. e) Pemanfaatan dan syarat-syarat : o Letak air tanah tidak lebih dari 2. serta aman terhadap erosi dan sedimentasi. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 57 . (3) Saluran pasangan hanya digunakan pada tempat-tempat yang porous (tanah berongga) sedangkan pada tempat-tempat rawan dapat dibuat saluran tertutup.50 . system senggot (jawa) B. f) Disain Teknik : o Cara mengumpulkan air tanah dilakukan dengan membuat sumur gali yang dapat diperkuat dengan pipa beton Ø 0.o Bagian atas muka air tanah berhubungan dengan atmosfir d) Air tanah terdapat di daerah cekungan atau di daerah datar dekat pantai. Kapasitas saluran irigasi ditentukan oleh kebutuhan air irigasi sehingga perencanaan saluran harus diperhitungkan dengan biaya murah.00 m dari permukaan tanah. o Untuk menaikkan air dapat dilakukan dengan : Pompa air mekanis (pompa dragon). o Kedalaman air dalam sumur 1. pasangan batu atau beton. (1) Kapasitas rencana saluran dihitung berdasarkan kebutuhan air irigasi dengan memperhatikan faktor efisiensi dan dimensi saluran yang ada. pemeliharaan paling rendah. ditimba.00 m.00 m atau pasangan batu/batu bata. o Dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan pertanian.80 .1. o Pemanfaatan untuk pertanian terbatas pada tanaman palawija dan sayuran.

1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 58 .(5) Untuk perencanaan aliran saluran digunakan rumus Strickler : Dimana : Q = debit saluran (m3/dt) I = kemiringan saluran V = kecepatan aliran (m/dt) K = koefisien kekasaran (m1/3/dt) R = jari-jari hidrolis (m) w = tinggi jagaan tanggul (m) A = luas potongan melintang basah(m2) b = lebar dasar saluran (m) P = keliling basah(m) h = tinggi air (m) m = kemiringan talut (1 vertical : m horizontal) Bagian .

ƒ Ditempatkan pada saluran utama yang lurus. a) Kriteria Dimensi saluran untuk debit minimum Q = 0.1.100 m3/det Dipasang pada jarak < 5.80 m Bagian .h 3/2 ƒ Lebar ambang dibuat sama dengan lebar dasar saluran ƒ Papan ukur ketinggian air pasang pada jarak 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 59 . guna mendapatkan aliran air yang teratur b) Disain ƒ Alat ukur debit berupa bangunan berbentuk ambang rata segi empas ƒ Rumus debit pengaliran Q= 1.b.00 m Konstruksi bangunan penguras tidak dilengkapi dengan pintu.71 . tetapi dilengkapi balok sekat. Papan ukur dapat dibuat dari plesteran yang diberi tanda setia ƒ Alat Ukur Debit Ambang Datar ƒ Gambar disain seperti gambar dibawah ini: 3) Bangunan Penguras Saluran Bangunan penguras yang dimaksud disini adalah bangunan penguras endapan yang terdapat pada saluran utama.100 m3/dt ƒ Ditempatkan pada saluran utama 5-10 m dihilir bangunan pengambilan.20 m dari ambang ƒ hulu. Panjang balok sekat maksimum 0.00 m dari bangunan pengambilan Lokasi bangunan penguras (saluran utama) berdekatan dengan sungai atau saluran pembuang yang berfungsi tempat pembuang endapan Panjang saluran penguras yang menghubungkan bangunan penguras dan saluran pembuang maksimum 25.2) Alat Ukur Debit a) Kriteria ƒ Saluran dengan dimensi debit > 0.

50 m Disain bangunan penguras seperti pada gambar dibawah ini. 2) Saluran pembuang direncana di tempat-tempat yang rendah.1. 3) Saluran pembuang dapat berupa. 5) Untuk perencanaan aliran saluran digunakan rumus Strickler (seperti pada pembawa): V = K. C. Saluran Pembuang 1) Berfungsi untuk membuang kelebihan air hujan dan irigasi yang telah di pada lahan sawah. rencana 5–6 l/dt/ha. f = faktor pengurangan (reduksi) daerah yang dibuang airnya (1 untuk petak tersier). A dimana : Qd = debit rencana. tersier dan kuarter untuk tanpa pasangan : Bagian . saluran tanah atau pasangan batu. Dm. I 1 7 2 6) Kriteria perencanaan saluran pembuang utama.b) Disain Tidak diperlukan kolam pengendapan sedimen Perbedaan elevasi dasar saluran pembawa dan saluran pembuang atau sungai minimum 1. Dm = Modulus pembuang (Idt/ha) A = Luas daerah yang dibuang airnya (ha) Jika data tidak tersedia dapat dipakai debit min. R2/3 . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 60 . 4) Debit drainase rencana dari sawah di petak tersier dihitung dengan rumus Qd = f.

sedangkan untuk bangunan boks pembagi cukup dengan balok sekat. Hal ini dapat dicapai dengan merencanakan elevasi ambang dan bentuk ambang dibuat sama. Bangunan bagi dapat dilengkapi dengan pintu sorong sederhana yang terbuat dari baja. Bangunan Bagi.Kecepatan rencana sebaiknya maksimum yang diijinkan. Boks pembagi berfungsi untuk membagi air dari saluran tersier kesaluran kuarter b) Bangunan bagi atau boks pembagi ditempatkan di lokasi yang sesuai dengan hasil kesepakatan dalam diskusi perencanaan petani. diambil sama atau mendekati kecepatan D. Bangunan Sadap 1) Bangunan Bagi atau Boks Pembagi a) Bangunan bagi berfungsi untuk membagi air dari saluran primer ke saluran sekunder atau dari saluran sekunder ke saluran tertier. d) Perencanaan teknis : (1) Lebar bukaan lubang pembagian berbanding lurus terhadap luas areal yang diairi dengan elevasi ambang yang sama serta diusahakan tidak terlalu tinggi.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 61 . c) Pembagian air dalam bangunan bagi hendaknya dibuat secara proporsional dengan jenis pengaliran yang sama (pengaliran sempurna). Bagian .

a) Bangunan Sadap/Corongan Type ini untuk menyadap air langsung dari Saluran Pembawa Utama untuk areal 5 .139 0.65 0.086 0. Gambar a dan b.107 0.098 Q = Discharge(m3/dt) 0.009 0. c) Pintu Sadap/Corongan dapat dilengkapi dengan lubang balok sekat d) Bangunan Sadap dapat dikombinasikan dengan bangunan boks pada bagian ujung keluaran (outlet). Hmax (A .075 0.30 b=0. Apa bila terjadi tinggi terjun H > 1 50 m.70 0.032 0.10 ha.055 0.030 0.10 0 15 0.05 0.069 0.h 3/2 h(m) 0.092 0.013 0.60 0.076 0.47 H.046 0.064 0.30 m dan lebar bawah diambil 0.016 0. E.7ha dan dengan pipa beton atau pipa PVC 100 mm untuk areal 8-12.197 2) Bangunan Sadap/Corongan Bangunan Sadap/Corongan dibangun untuk menyadap air langsung dari Saluran Pembawa Utama ke petak sawah yang luasnya 5 .3 0.010 0.112 0.027 0.140 0.012 0.054 0.50 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 62 . Bangunan Terjun a) Bangunan terjun type ini adalah bangunan terjun dengan tembok tegak lurus atau dengan kemiringan 1 : 5 seperti (Gambar 16) yang digunakan bila t inggi terjun.126 0.(2) Ditinjau dari banyak dan arah pembagiannya ada tiga macam bangunan bagi atau boks pembagi (Gambar a.006 0.050 0. b) Penyadapan dengan pipa beton atau pipa PVC 75 mm untuk areal 5 .099 0.1. (3) Rumus pengaliran melewati ambang: Aliran sempurna : Q = 1.35 0007 0. Bagian .096 0.035 0. b dan c).55 0.084 0.45 0.040 0.024 0.060 0. maka digunakan 2 buah bangunan terjun.50 ha.008 0.183 0.20 0.070 0.107 0.035 0.011 0.118 0.061 0.019 0.71 b.25 0.038 0. ¾ Panjang ruang olakan Lb = 4 .065 0.169 0.6h (h = tinggi air di saluran) ¾ Panjang sayap hulu dan hilir bervariasi disesuaikan dengan tinggi air dan keadaan tanah.50 m.128 0. Bangunan Pembawa 1).40 0. b) Syarat-syarat perhitungan untuk Bangunan Terjun Type ini secara praktis dapat didasarkan pada : ¾ Lebar atas tembok penahan 0.011 0.045 0.084 0.B) = 1.022 0.10 ha ke sebelah kiri atau kanan saluran tanpa melalui boks pembagi.030 0.150 0.155 0.

330 0.5 0.357 0390 0.322 0.8 0.483 0. timbunan tanah diatas gorong2 min.80 (dari Supplemental to Guidelines No.108 0.5 V=1.4 0.535 0.304 R 2/3 0. 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 63 .3042 D D (m) 0.5 0.242 0. Panjang pasangan Bagian .546 0. 7.6 0.216 0. d) Dengan pengaliran bebas (freeflowtype) biasanya ketinggian air diambil h = 0.213 0. Gorong-gorong Pembawa a) Gorong-gorong Pembawa berfungsi untuk menyeberangkan saluran bila terpaksa memotong jalan.183 0.0 V=1. R=0.273 0. b) Gorong-gorong pembuang diganakan untuk melintas Saluran Pembuang (Drainase) di bawah Saluran Irigasi.246 0.8 h D = Diameter pipa (m) B = Lebar saluran (m) H = Tinggi air (m) 3).165 0. b) Gorong2 yang menyilang jalan.168 0.274 0.632 0. c) Untuk mencegah bocoran air saluran pembawa masuk kedalam saluran pembuang maka pada saluran pembawa diberi pasangan talud.7 0.122 0.2).674 R 0.122 0.6736 D2.084 0.422 0.121 0.368 0.678 e) Dengan pertimbangan diatas maka diambil besarnya diameter pipa.243 0274 0.183 0.50 m.585 0.427 0.337 0. c) Prinsip hitungan hidrolis air masuk gorong-gorong pada inlet adalah bebas (freeflow). Design o and Kecil Project) A=0.304 0. Gorong-gorong Pembuang a) Untuk gorong-gorong pembuang aliran masuk pada inlet adalah full pressure.431 0.152 0.0 A (m2) 0.213 0.243 0.9 1. sehingga ukuran pipa/gorong-gorong diambil agak besar dengan kemiringan dasar pipa mengikuti saluran irigasi.152 0.452 Discharge (m3/dt) V=0.1.285 0.054 0. D = b + 0. sehingga tinggi air (h) sama dengan diameter pipa (D).

126 0. n = 0.754 0.0064 0. Bagian .8 0.250 R2/3 0.20 meter dapat dibangun Jembatan Pelat Beton.424 0.385 0.250 0.125 0.200 0. Untuk Vo rencana diambil minimum = 1. b) Untuk menyeberangkan saluran irigasi di atas sungai atau melewati lembah yang tidak terlalu lebar digunakan talang dari pipa besi.282 0.196 0.7 0.0053 0. I = Kemiringan pipa.188 0. Untuk bentang diatas 4m harus dipasang tiang/pilar ditengah.215 0.225 0.954 1.4 0.50 m/dt.283 0.6 0.294 0.342 0.178 4).0046 0.0135 0.636 0.785 R 0.397 I 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 64 . P = Keliling basah aliran dalam pipa (m) R = Jari-jari hidrolis (m). Vo / R2/3 )2 Dimana : Q = Debit Saluran Pembuang (m3/dt) Ap = Luas penampang basah pipa (m2) D = Diameter pipa (m).D2. Perhitungan tebal plat dan pembesiannya sesuai dengan standar teknis jembatan beton bertulang.175 0. P = л.5 0.9 1.0078 0. tinggi tanah antara dasar pasangan talud saluran dan pipa.370 0.D R = Ap / P = 1/ л.talud (L) minimum = 6-8.0040 Q (m3/dt) 0. apabila lebar dasar lebih besar daripada 1. Vo = Kecepatan aliran dalam pipa.313 0. 5 D (m) 0.0 Ap (m2) 0.150 0.0100 0.D = 1/4 D I = ( n.577 0.100 0.1.D2/ л. Q = Ap x Vo Ap = 1/4 л.0167 atau K = 60 Vo = 1. Jembatan & Talang a) Untuk penyeberangan jalan terhadap saluran.502 0. ¾ Perhitungan hidrolis untuk Talang Pipa Besi dapat dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus aliran melalui pipa dengan kondisi tekanan penuh (full pressure condition).

6 0. maka kecepatan air yang lewat di atas talang.385 0. fo=1. bentuk talang beton bertulang yang biasanya digunakan berbentuk segi empat ¾ Perhitungan hidrolis digunakan formula-formula : Q = A x Vt. fi=0. untuk beton diambil n = 0.60 .15 meter.7 A 0.50 m/dt dan tinggi tekanan hilang.1000 0.0675 0.014285) losses (∆tt) dapat fo : Koefisien peralihan outlet (0. R 2/3.0884 0.037 0. ditetapkan minimum 1.8 0.872 0.2333 R2/3 0.3420 0.100 R 0. air dalam pipa (m/dt) n : Koef.6 0.735 ¾ Agar dimensi talang ekonomis. air lewat talang (m/dt) I = Kemiringan dasar talang n = Koefisien kekarasan bahan.0. untuk boks hf : kehilangan tekanan akibat gesekan = f.1667 0.9 1.375 0.6 0.636 0.2154 0. z = 0.3029 0.135 0.240 0.039 0.50 m/dt R = A/P.09 0.00) fi : Koefisien peralihan inlet (0.3 0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 65 .500 1.40 .5 0. L / D D 0.540 0.60 .09 c) Talang beton.684 0.346 ∆h 0.2000 0.0046 0.0 m/dt.3790 I1/2 0.50) f = (124. untuk besi = 0.0154 or K = 65 Vt=1.800 2.0115 0.200 1. L=10m.0762 0. b = h b 0.035 0.7 h 0.4 0.12 0.283 0.13 0.047 1.¾ Untuk menghitung tinggi tekanan hilang/head digunakan formula-formula seperti berikut : ∆h = (fo + fi + hf) (Vp2/2g) Dimana : ∆h : Tinggi tekanan hilang (m) L : Panjang pipa (m) D : Diameter pipa (m) Vp : Kec.1333 0. P = b + 2 h Dimana : Q = Debit air lewat talang (m3/dt) R = Jari-jari hidrolis (m) A = Luas tampang basah (m2) P = Keliling basah (m) Vt = Kec.785 0.7 0. gesekan (sesuai bahan.398 0.466 0.160 0.174 0.900 1.5m/dt. n2)/R1/3.0037 Q 0.3 0.196 0.1W 0. A = b x h.70-1.2610 0. untuk pipa bulat f = (19.1.11 0.036 0.1071 0. Vt.126 0.0058 0.5 0. n2)/D1/3.0.090 0.490 P 0.5 0.4 0.0609 I 0. I 1/2 > 1. Bagian .0 Vp= 1.041 0.502 0. Vt = 1/n .250 0.0078 0.557 0.360 0.044 0.5 A f hf 0.4 0.10 0.

¾ Krib dapat dipasang tegak lurus aliran. ¾ Pangkal krib dibuat setinggi rata-rata tinggi muka banjir sepai panjang krib. Bangunan ngunan Lainnya 1) Krib pengarah aliran ¾ Krib pengarah aliran berguna untuk mengarahkan aliran air agar dapat dengan mudah masuk kedalam pintu pengambilan (bebas) ¾ Krib pengarah aliran berguna untuk meluruskan aliran pada lokasi sungai yang berbelok-belok.1. Penahan Talud Saluran Penahan talud saluran ini umumnya dipasang pada daerah : Tanah porous Melewati perumahan/kampung Belahan Lereng Bentuk-bentuk talud diberikan sesuai type saluran. ¾ Panjang krib tidak lebih dari 1/3 lebar sungai. ¾ Bangunan krib dapat terbuat dari bronjong cerucuk kayu atau bambu. ¾ Perencanaan krib pada sungai-sungai besar perm diadakan survai morpologi sungai. miring searah aliran atau miring mengongsong arah aliran. 2).F. seperti contoh berikut : Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 66 .

25 kali tinggi (H) sedangkan tebal pasangan bawah 0. Pintu sorong sederhana (tanpa stank ulir) mempunyai sistem kerja yang hanya buka dan tutup saja.47 kali H. Konstruksi ini terjadi karena saluran irigasi berada dilereng tebing dan sejajar dengan sungai. G. kadang-kadang perlu juga dibangun konstruksi Penahan Tebing Sungai. ukuran untuk tebal pasangan atas cukup 0.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 67 . berfungsi untuk mengatur tinggi muka air dibagian hulu dan menguruangi/mencegah (dengan cara menutup pintu) air yang berlebihan masuk kedalam saluran. Pintu Air Sederhana Pintu air sederhana (pintu sorong sederhana) untuk melengkapi bangunan bagi.3). Penahan Tebing Sungai Disamping penahan tebing saluran. Bagian . Bila Konstruksi penahan tebing dibuat dari pasangan batu kali.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 68 .1.Untuk menentukan bukaan pintu berdasarkan debit air yang dikehendaki (petani) dapat menggunakan table berikut. Bagian .

o Pipa sebaiknya tertanam dalam tanah atau dilindungi dengan baik. Penyediaan air bersih dapat dari PDAM. 2). Resapan dan saluran pembuangan harus lancar dan tidak meresap ke sumur disekitarnya. Kamar Mandi/WC boleh tanpa atap bila sesuai kebiasaan masyarakat setempat.1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana . Sumur pompa tangan/mesin. 3.20 m o Dinding sumur gali harus terbuat dari konstruksi yang aman. sesuai dengan standar teknis yang berlaku dan mempertimbangkan budaya setempat. Air Bersih Perpipaan/PDAM dengan ketentuan : o Pipa air bersih dapat digunakan pipa PVC diameter sekurang-kurangnya 12. Lokasi dan waktu tempuh dari rumah warga pemanfaat adalah 2 menit (jarak kurang/lebih 100m) dan luas daerah pelayanan maksimum untuk 1 MCK adalah 3Ha. Bangunannya sederhana.20 m o Pipa selubung sumur harus terbuat dari bahan kedap air dengan kedalaman minimum 2 meter dari permukaan lantai Sumur Gali dengan ketentuan : o Sekeliling sumur gali harus ada lantai kedap air selebar 1.5 mm. Mata Air dilengkapi dengan bak penangkap air. Ketentuan Umum 1. KAKUS 1). dengan ketentuan : o Sekeliling sumur pompa harus ada lantai kedap air selebar 1. Limbah MCK harus dikontrol dengan baik sehingga tidak mengganggu dan mencemari lingkungan. CUCI. Sumber air di MCK harus terjamin (tersedia dalam 24 jam). 69 2) Kamar Mandi dan WC ‰ Bagian . sumur bor/gali/mata air dan kuantitas air sekurang-kurangnya untuk mandi 20 ltr/orang/hari. Bagian-bagian MCK 1) Sumber Air Sumber air MCK harus memenuhi syarat air bersih : ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ Kualitas air tidak berasa. berwarna dan tidak pula keruh. 4. 2. cuci 15 lt/org/hr. PRASARANA MANDI. air tanah. MCK Komunal yang dibangun merupakan kebutuhan bagi warga miskin dan warga pengguna bersedia untuk memelihara. kualitas (air bersih) dan kuantitasnya agar prasarana MCK dapat berfungsi dengan baik. kuat dan kedap air sampai ketinggian 0. 5.75 meter keatas dan 2 meter kebawah permukaan lantai. Lokasi sumur minimal 10 meter dari sumber pengotoran (cubluk/resepan). Keperluan wanita dan laki-laki terpisah dan kapasitas satu unit MCK sebagai berikut. 6. kakus 10 lt/org/hr. berbau.7. Air Hujan dengan Bak Penampung Air Hujan.

5m2 . Septicktank Berfungsi untuk menampung tinja. pintu. 5) Septictank dan Peresapan a. Belokan 90 derajat sebaiknya dihindari dengan membuat 2 kali belokan 45 derajat atau bak kontrol. ‰ Diameter minimum 10 cm. ‰ Tempat menggilas pakaian dapat berdiri atau jongkok. Ventilasi udara dan sinar/cahaya alami tersedia sekurang-kurangnya seluas 0. campuran 1semen : 2 pasir : 3 kerikil ‰ Volume konstruksi tergantung dari jumlah pemakai. ‰ Luas lantai sekurang-kurangnya 10m2. bila tidak cahaya alami tidak memungkinkan maka disediakan penerangan lampu/listrik secukupnya. 4) Saluran Pembuangan Air Limbah ‰ Air yang masuk ke saluran pembuangan air limbah harus mengalir dengan lancar sampai ketempat pembuangan akhir/drainase. urine dan air gelontoran sekaligus mematikan bakteri aerob dan anaerob. Pipa saluran.0m) dengan ukuran bak sekurang-kurangnya 0. spesi campuran 1semen : 3pasir atau Beton. Kemiringan sekurang-kurangnya 2%. Kloset Jongkok untuk WC. ‰ Saluran dibuat kedap air bila disekitarnya terdapat sumur air bersih dengan jarak 8 meter agar tidak merembes ke sumur.0m) dengan ukuran bak sekurang-kurangnya 0. bak untuk memeriksa dan membersihkan pipa saluran. 3) Tempat Cuci Umum ‰ Tempat Cuci boleh terbuka atau diberi atap. ‰ Konstruksi dapat dibuat dari pasangan batu bata. pipa untuk menyalurkan air limbah dari jamban ke cubluk atau tangki septic. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 70 . ‰ Air bekas cuci dapat dibuang ke saluran atau peresapan.1. Bak kontrol. Luas lantai WC sekurang-kurangnya 2m2 (1. PVC diameter sekurang-kurangnya 10cm. Air bekas mandi dapat dibuang ke saluran atau peresapan. Lantai dibuat tidak licin dengan kemiringan kearah tempat pembuangan +1%. dapat dihitung dengan pendekatan berikut : Bagian . ‰ Bila dilengkapi dengan dinding. Pintu dari Bahan tahan air atau PVC dengan ukuran lebar 60-80cm dan tinggi 160cm.0m x 2.0m x 2.5m2. Tinggi dinding sekurang-kurangnya 160 cm. ventilasi dan penerangan maka berlaku ketentuan-ketentuan seperti pada KM/WC juga dapat diterapkan. Luas lantai KM sekurang-kurangnya 2m2 (1. keperluan wanita dan laki-laki terpisah.1m2 .‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ ‰ Lantai dibuat tidak licin dengan kemiringan kearah tempat pembuangan +1%.

Tinggi tangki septik adalah tinggi air dalam tangki.00 m dan keadalaman maksimum 2.5m dan jarak ke pipa air bersih minimal 3m. ditambah dengan ruang bebas air sebesar (0.40) m dan ruang penyimpanan lumpur. Dasar tangki dapat dibuat horizontal atau dengan kemiringan tertentu untuk memudahkan pengurasan lumpur.50 cm. Penutup tangki septik maksimum terbenam ke dalam tanah 0.‰ ‰ ‰ ‰ Tangki septik empat persegi panjang dengan perbandingan panjang dan lebar 2 : 1 sampai 3 : 1. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 71 . Syarat teknis peresapan : ‰ Konstruksi dapat dibuat dari pasangan batu/bata tanpa spesi/plesteran agar air dapat masuk meresap kesela-sela batu tapi konstruksi harus cukup kuat untuk menahan tanah tidak runtuh. elevasi letak resapan harus lebih rendah dari elevasi sumur air bersih agar air resapan tidak masuk ke sumur.75 m dan panjang tangki sekurang-kurangnya 1. Tangki air dalam tangki sekurang-kurangnya 1. tanah normal 10 m dan tanah berpasir 25 m.1.20 – 0. ‰ Jarak peresapan dengan sumur air bersih. sekurang-kurangnya untuk : tanah lempung 6 m . Tangki septik ukuran kecil yang hanya melayani satu keluarga dapat berbentuk bulat dengan diameter sekurang-kurangnya 1. b.00 m. Jarak ke pondasi bangunan minimal 1.40 m. Bagian . Lebar tangki sekurang-kurangnya 0. ‰ Pada daerah dengan topografi yang miring. Peresapan Berfungsi untuk membuang air limbah dari septictank sehingga didalam septictank tinggal material pada saja. Dinding tangki septik harus dibuat tegak.10 m.20 m dan tinggi sekurang-kurangnya 1.

00 60 10 10 115 60 10 135 10 60 10 175 PAS. CUCI BAK KONTROL DRAIN 20 100 BAK AIR POMPA A 200 PIPA Ø 3" 15 385 A 10 50 10 100 20 20 90 20 330 180 20 15 60 10 15 100 15 120 440 15 165 10 DENAH MCK TYPE A RING BALOK + 2. BATU KALI 60 60 URUGAN TANAH 10 KE SUMUR RESAPAN PIPA Ø 3" 25 50 10 ± 0.00 PAS. DINDING BATA PAS.00 . BATU KOSONG 20 20 90 20 180 20 20 POTONGAN A .0. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 72 . BATU BATA 10 20 LANTAI KERJA PASIR URUG PAS.1.80 .1. BATA KEDAP AIR 200 BETON BERTULANG BAK KONTROL PAS.A PASIR Bagian .0.20 150 10 .B 10 60 15 T.

VENTILASI Ø 1 1/4" TANAH URUG LAPISAN IJUK MANHOLE MANHOLE KERIKIL PVC Ø4" BERLUBANG BATU PECAH PIPA DARI KLOSET PVC Ø4" OUTLET PVC Ø4" BETON (1PC : 2PS : 4KR) PASANGAN BATA (1 PC : 2 PS) POTONGAN A PIPA DARI KLOSET PVC Ø4" VENTILASI Ø1 1/4" OUTLET PVC Ø4" PVC Ø4" A MANHOLE MANHOLE A DENAH TANGKI SEPTIK & RESAPAN (1) Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 73 .1.

seperti dari pasangan batu/batu bata. Persyaratan umum pembangunan prasarana persampahan : ¾ Lokasi dipilih pada tempat yang jauh dari sumber air bersih. ¾ Lokasi TPS harus dimusyawarahkan dan sepakati bersama oleh warga. Ukuran TPS sekurang-kurangnya mempunyai kapasitas (isi) 2 m3 dengan jarak antar TPS sekurang-kurangnya 150m. Anggota masyarakat yang menggunakan jasa pengelolaan sampah akan dimintai kontribusi berupa dana/iuran sampah.1. Sedangkan untuk daerah dengan kepadatan penduduk yang masih rendah dan tanah cukup luas (perdesaan). Bagian . mencegah pencemaran lingkungan dan kemungkinan sarang vektor penyakit (lalat). pembungan sampah dapat dilakukan dengan cara menggali lubang sampah ditanah dipekarangan untuk dibakar atau ditimbun tanah kembali setelah penuh. Dengan cara tersebut diharapkan memperoleh lingkungan permukiman yang bersih dan sehat.8. Bangunan TPS dibuat dari konstruksi sederhana. ¾ Masyarakat bersedia membentuk kelembagaan pengelola pemanfaatan dan pemeliharaan prasarana berikut pembiayaannya secara swadaya. ¾ Penyediaan TPS berikut Gerobak Sampah diutamakan bagi kelurahan/desa yang terjangkau oleh jaringan/sistem persampahan kota atau mempunyai akses yang dekat ke tempat pembuangan akhir sampah (dengan gerobak sampah mampu dibuang sendiri ke lokasi TPA). PRASARANA PERSAMPAHAN Prasarana persampahan yang dimaksudkan disini adalah prasarana persampahan dilingkungan permukiman. Pemilihan prioritas kegiatan persampahan diprioritaskan pada pembangunan tempat penampungan sementara (TPS) sebagai tempat pengumpul pembuangan sampah dari rumah-rumah dan Gerobak sampah sebagai alat pengumpul sampah sedangkan untuk penyediaan tempat sampah ditiap rumah dapat disediakan sendiri secara swadaya. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 74 . ¾ Pengumpulan sampah dari rumah-rumah sekurang-kurangnya 2 hari sekali dan pembungan sampah dari TPS sekurang-kurangnya seminggu sekali dengan volume sampah minimal. terutama warga disekitar lokasi TPS akan dibangun sehingga tidak menimbulkan konflik sosial. sesuai kondisi sosial setempat dan dapat menggunakan bahan lokal. bukan didaerah banjir dan mudah dijangkau oleh alat transportasi sampah (mobil angkutan sampah) untuk memudahkan pengangkuatan ketempat pembuangan akhir (TPA). untuk menghindari bau.

Pembinaan Poskesdes dilaksanakan secara terpadu dengan lintas sektor. dikembangkan suatu bentuk UKBM yang dapat berfungsi mengkoordinasikan seluruh UKBM yang ada. UKBM yang berfungsi koordinatif di desa tersebut adalah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). ¾ Kelurahan/desa yang telah memiliki kelembagaan/kepengurusan tetapi belum memiliki bangunan/masih menumpang pada bangunan lain dalam menjalankan kegiatan utama sesuai fungsinya. Lingkup pembangunan sarana/prasarana kesehatan dasar disini hanyalah mencakup penyediaan fisik/bangunan sederhana termasuk meubelair yang diperlukan. Sekretaris. penanganan kegawat daruratan kesehatan. serta ditetapkan oleh Kepada Desa.1. Poskesdes dikelola oleh masyarakat yang dalam hal ini kader. dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan dasar. ¾ Kegiatan yang dilaksanakan harus dikoordinasikan dengan pemerintah desa/kelurahan dan instansi teknis kesehatan setempat. 1). Perwujudan Desa Siaga ini adalah dalam rangka mempercepat pencapaian Desa Sehat. Kegiatan Poskesdes. Prioritas pemilihan pembangunan prasarana kesehatan dasar adalah sebagai berikut: ¾ Rehabilitasi/perbaikan bangunan yang telah ada karena fungsi bangunan berkurang. Fungsi koordinasi ini diperlukan. Ketua. agar penyelenggaraan UKBM tersebut dapat sinergis dalam upaya mewujudkan Desa Siaga. ¾ Peningkatan bangunan yang telah ada agar mampu mendukung penyelenggaraan kegiatan utama sesuai fungsi organisasinya. Bendahara dan Anggota. Tenaga kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan di Poskesdes minimal seorang Bidan. surveilans gizi. misalnya gedung Polindes yang ada dikembangkan menjadi Poskesdes. utamanya adalah. melalui upaya kesehatan yang berbasis masyarakat (UKBM). Poskesdes Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan berbagai UKBM yang ada di desa. dan surveilans lingkungan. Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan gedung sederhana tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU sedangkan terkait dengan kebutuhan ruangan bangunan mengacu pada standar teknis yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan. PRASARANA KESEHATAN Prasarana kesehatan yang dimaksud disini adalah prasarana dan saran untuk menunjang pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat. dan masalah kesehatan lainnya). komunikasi dan obat-obatan. Struktur pengurus minimal terdiri dari Pembina. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 75 .9. transportasi. ¾ Pembangunan Poskesdes tidak diprioritaskan bagi Desa/kelurahan yang terdapat sarana kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit). pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans penyakit. tetapi tidak termasuk penyediaan tenaga/peralatan medis. Susunan pengurus Poskesdes bersifat Bagian . surveilans perilaku beresiko. Pembinaan teknis medis secara periodik dilakukan oleh Puskesmas. Kegiatan UKBM yang dikembangkan dalam program ini antara lain adalah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). sedangkan hal-hal non teknis medis dilakukan oleh Pemerintah Desa/Kelurahan dan lintas sektor di tingkat Kecamatan. dalam cakupan layanan wilayah kelurahan/desa. Kepengurusan Poskesdes dipilih melalui musyawarah dan mufakat masyarakat desa. relawan dengan bimbingan tenaga kesehatan. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pos bersalin desa (Polindes).

4. Pelayanan yang dilaksanakan terutama mencakup pelayanan : Kesehatan Ibu & Anak. Posyandu Posyandu merupakan salah satu UKBM dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. antara lain pelayanan kegawat daruratan. kondisi dan permasalahan setempat. Bayi & Anak Balita. KB. Kedudukan Posyandu terhadap UKBM dan berbagai lembaga kemasyarakatan/LSM desa/kelurahan yang bergerak dibidang kesehatan adalah sebagai mitra. maka Poskesdes bertugas pula membina kelestarian UKBM lain tersebut. Pembinaan dalam aspek upaya kesehatan masyarakat maupun upaya kesehatan perorangan. Poskesdes berada di bawah pengawasan dan bimbingan Puksesmas setempat. Kedudukan Posyandu terhadap Puskesmas adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang secara teknis medis dibina oleh Puskesmas. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 76 . dimungkinkan untuk didirikan di RW. Pengurus Posyandu sekurang-kurangnya terdiri dari Pembina. guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Laporan kesehatan disampaikan kepada Puskesmas.1. 3. Imunisasi. Jika di wilayah desa tersebut terdapat Puskesmas Pembantu. Poskestren. seorang sekertaris dan seorang bendahara ditambah Bagian . Apabila Poskesdes tidak mampu memberikan pelayanan maka perlu melakukan rujukan ke Puskesmas. sehingga dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. 2.fleksibel. Pelaksana Poskesdes wajib melaporkan kegiatannya kepada Puskesmas ataupun kepada sektor terkait lainnya sesuai dengan bidangnya. dusun. atau sebutan lainnya yang sesuai. gizi dan penanggulangan diare kepada masyarakat setempat. maka Poskesdes berkoordinasi dengan Puskesmas Pembantu tersebut. 2). ambulan desa). Posyandu berlokasi di setiap desa/kelurahan/nagari. Kedudukan dan hubungan kerja antara Poskesdes dengan unit-unit serta masyarakat. dapat digambarkan sebagai berikut: 1. adapun laporan yang menyangkut pertanggungjawabab keuangan disampaikan kepada Kepala Desa. Kedudukan Posyandu terhadap pemerintahan desa/kelurahan adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan yang secara kelembagaan dibina oleh pemerintah desa/kelurahan. Bila diperlukan dan memiliki kemampuan. Pada keadaan tertentu Poskesdes dapat melakukan rujukan langsung ke Rumah Sakit dengan sepengetahuan Puskesmas. Poskesdes dibawah pembinaan Kabupaten/Kota melalui Puskesmas. Pengelola Posyandu dipilih dari dan oleh masyarakat melalui musyawarah pada saat pembentukan Posyandu. seorang ketua. Dengan demikian. Poskesdes merupakan koordinator dari UKBM yang ada (misalnya: Posyandu.

Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 77 .60 Pos Kesehatan Desa LUAS BANGUNAN: ± 60 m2 SKALA 1m O 100 200 300 400 500 2m 3m 4m 5m Bagian .1. sehingga dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.dengan kader posyandu yang selanjutnya ditetapkan oleh Lurah/Kades. MODEL POSKESDES . Lokasi pembangunan posyandu sebaiknya ditempat yang relatif datar dan ditengahtengah lingkungan sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat. Susunan pengurus bersifat fleksibel. kondisi dan permasalahan setempat.

Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan gedung (sederhana) tahan gempa atau untuk rehabilitasi SD mengacu pada standar teknis bangunan SD tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU sedangkan terkait dengan kebutuhan ruangan dan kelengkapan fasilitas bangunan mengacu pada standar teknis yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. bangku. PRASARANA PENDIDIKAN Prasarana pendidikan yang dimaksud disini adalah prasarana dan saran untuk menunjang pelayanan pendidikan dasar bagi masyarakat yang dikelola oleh masyarakat/pemerintah. terutama bagi kelurahan yang telah memiliki kelembagaan/kepengurusan tetapi belum memiliki bangunan/masih menumpang pada bangunan lain dalam menjalankan kegiatan utamanya. Pembangunan sarana/prasarana pendidikan dasar yang dikembangkan dalam program ini antara lain adalah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). teknologi konstruksi dan pelayanan prasarana harus menerapkan kriteria keberlanjutan dari aspek sosial. Ketentuan umum prasarana perumahan/permukiman adalah : ƒ ƒ ƒ Rumah warga miskin yang direhabilitasi/dibangun harus memenuhi persyaratan kelayakan teknik dan persyaratan kesehatan minimum. PRASARANA PERUMAHAN/PERMUKIMAN Prasarana/kegiatan lingkungan permukiman yang dibangun dalam PNPM merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat individu bagi masyarakat miskin. 11. tetapi tidak termasuk prasarana pendidikan dasar yang dikelola oleh swasta/yayasan. bagi kelurahan yang belum memiliki kelembagaan/kepengurusan tetapi bersedia membentuk pengelola pemanfaatan & pemeliharaan bangunan segera setelah usulan kegiatan disetujui. ¾ Peningkatan bangunan yang telah ada agar mampu mendukung penyelenggaraan kegiatan utama sesuai fungsinya. Rehabilitasi bangunan Sekolah Dasar/sederajat. termasuk meubeler (seperti meja. ¾ Pembangunan baru untuk PAUD.1. TK termasuk fasilitas bermain. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 78 . Taman Kanakkanan (TK). Dalam pemilihan bahan bangunan. papan tulis) tetapi tidak termasuk tenaga pengajar dan bukubuku pelajaran. misalnya penambahan ruangan belajar/ruang guru termasuk fasilitas sanitasi. Prioritas pemilihan pembangunan prasarana pendidikan dasar adalah : ¾ Rehabilitasi/perbaikan bangunan pendidikan dasar yang telah ada karena fungsi bangunan berkurang. ekonomi dan Bagian . Calon pemanfaat haruslah dilibatkan sebagai pelaku utama dalam proses pengambilan keputusan pada saat perencanaan. pelaksanaan dan pemantauan perumahan mereka. misalnya rehabilitasi/perbaikan rumah tinggal. TK termasuk fasilitas bermain.10. Seluruh pembangunan prasarana pendidikan yang dibangun disini harus dikoordinasikan dan tidak bertentangan dengan kebijakan/perencanaan umum dari pemerintah desa/kelurahan dan dinas/sektor Pendidikan dan Kebudayaan di daerah setempat. ¾ Pembangunan baru untuk PAUD.

Selanjutnya pembangunan/pengembangannya menjadi Rumah Sederhana Sehat nantinya dilaksanakan oleh Pemilik secara swadaya sesuai kemampuannya. 3) Pembangunan pasar baru yang benar-benar dibutuhkan.ƒ lingkungan serta harus mempertimbangkan kemungkinan bencana alam khususnya gempa. 3) Tersedia lokasi yang cukup untuk peningkatan bangunan/fasilitas pasar lama sehingga mampu meningkatkan pelayanannya. PRASARANA PERDAGANGAN Prasarana/kegiatan Perdagangan yang dibangun dalam proyek ini merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat umum/kepentingan umum bagi masyarakat miskin. Pengembangan pola RIT ini adalah untuk mengoptimalkan ketersedian sumberdaya termasuk dana awal yang ada dalam upaya untuk mewujudkan pembangunan rumah yang memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan terlebih dahulu menuju rumah sehat layak huni. 4) Lokasi pasar lama tidak bertentangan dengan rencana tata ruang wilayah setempat. Pasar Pasar yang dimaksudkan disini adalah pasar desa/kelurahan yang merupakan suatu tempat yang digunakan oleh masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi jual beli. dll. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 79 . 4) Ada komoditas/barang dagangan setempat yang akan diperjual-belikan. Bagian . antara lain : 1) Pasar lama yang ada masih terdapat aktivitas perdagangan dan pedagang yang ada/calon pedagang bersedia memanfaatkan pasar secara rutin. 2) Bangunan pasar lama masih kuat dan akan tetap stabil. Kriteria rehabilitasi/peningkatan pasar lama yang perlu diperhatikan. RsS1. yaitu RIT-1. misalnya Pasar Desa (termasuk Kios didalamnya) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). RsS-2. 6) Lokasi pasar sesuai dengan rencana tata ruang wilayah setempat. Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan rumah tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU. antara lain : 1) Belum tersedia pasar terdekat. Kriteria pembangunan baru pasar desa/kelurahan. Apabila ketersediaan dana terbatas. 3) Jumlah yang cukup dari calon pedagang yang bersedia dan terdaftar untuk memanfaatkan pasar secara rutin. RIT-2. a). maka Rancangan Pola Pembangunan Rumah diarahkan pada pembangunan secara bertahap horizontal dengan penyediaan desain rumah antara/Rumah Inti Tumbuh (RIT) yang pertumbuhannya diarahkan menjadi Rumah Sederhana Sehat (RsS) sebagaimana yang dikembangkan oleh Departemen PU. 5) Tersedia lahan yang siap dipergunakan sesuai kebutuhan luas pasar tanpa menimbulkan dampak lingkungan dan social bagi warga.1. Lingkup kegiatan pembangunan pasar desa/kelurahan diprioritaskan pada : 1) Rehabilitasi atau perbaikan bangunan pasar lama yang telah ada. Persyaratan utama untuk pembangunan pasar adalah adanya penjual dan pembeli serta barang/komoditas yang diperjual belikan. dengan jarak kurang lebih 5 km. 2) Sudah ada beberapa bakal calon (embrio) pedagang. 12. 2) Peningkatan bangunan/fasilitas pasar yang telah ada sehingga mampu memberikan pelayanan secara lebih optimal.

maks. b. e) Secara umum untuk Jumlah Pembeli = Jumlah Penduduk x Koefisien (koef. b) Jarak kepasar yang terdekat dengan lokasi rencana kurang lebih 5 km. dekat pemukiman penduduk dan transportasinya mudah di jangkau. Calon pengguna pasar Calon pengguna pasar adalah pedagang yang akan menggunakan pasar tersebut secara rutin. Calon Pengguna dan Kebutuhan Luas Bangunan Pasar a. jenis dagangan serta iuran yang disepakati untuk retribusi dan tanda tangannya. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 80 . Potensi dan Lokasi Pasar Survey potensi dan kebutuhan terhadap pembangunan baru pasar secara sederhana dapat dilakukan pada beberapa penduduk dan tokoh masyarakat di sekitar lokasi pasar di dalam desa maupun di luar desa dengan menggunakan peta desa lengkap serta jalan porosnya. diantaranya mencakup tentang : nama. maka untuk menentukan kebutuhan luas bangunan pasar bisa ditentukan dengan mamperkirakan secara rata-rata kebutuhan lahan berdagang untuk tiap satu orang pedagang = 4 m2. d) Jumlah yang cukup untuk calon pedagang yang mendaftar (untuk menentukan luas pasar).1). c) Lokasinya strategis (pertigaan jalan/perempatan jalan kendaraan atau tempat persinggahan kendaraan umum).1. a) Di lokasi rencana sudah ada beberapa (embrio) pedagang di tempat calon pasar tersebut. Bagian . pedagang harian atau mingguan. Jumlahnya adalah jumlah pedagang pada embrio pasar ditambah dengan calon pedagang baru yang bersedia dan terdaftar pada saat sosialisasi/survey khusus yang dilaksanakan. = 1) 2). Kebutuhan Luas Bangunan Pasar Setelah diketahui jumlah calon pedagang yang mendaftarkan. Pendaftaran bagi para calon pengguna pasar dilakukan dengan formulir/blanko. alamat.

bangunan yang bagian atas maupun sisi-sisinya terlindungi dan pada sisi bagian depannya bisa di tutup dan dibuka.1. b) Parkir. bangunan besar yang digunakan bersama-sama antar pedagang yang bagian atasnya terlindungi.Maka kcbutuhan luas bangunan Pasar = Jumlah calon pedagang x 4 m2. c) Bak Sampah. walaupun angka sebenarnya perlu di sepakati Iebih lanjut dengan para calon pedagang terutama menyangkut dana yang tersedia. a) MCK. MCK. laut. Penataan ruang pasar dapat diatur seperti contoh gambar beriku : Bagian . 2) Kios-kios. Kebutuhan Sarana Penunjang Pasar Pada setiap bangunan pasar memerlukan sarana penunjang yaitu. Drainase dapat dibuat terbuka atau ditutup. Ada dua jenis bangunan yang dibutuhkan di dalam pasar. danau. 3). Pasar juga harus dilengkapi dengan drainase air hujan yang terintegrasi dengan system drainase kota yang ada atau tempat pembuangan air (sungai. MCK harus tersedia air bersih yang memenuhi persyaratan kualitas. sumur resapan. Jumlah kebutuhan MCK sama dengan Jumlah Calon Pedagang dibagi 15. Untuk lebar lahan parkir sekurang-kurangnya 10m. Parkir Kendaraan. d) Listrik. dimana angka 15 merupakan perkiraan kemampuan pelayanan 1 unit per hari. Tata Ruang Pasar Penataan ruang pasar memperhatikan letak pasar dengan jalan masuk utama yang ada disekitarnya.5 m maka luas bak sampah yang diperlukan adalah Jumlah pedagang dikali 0. sedangkan sisi-sisinya terbuka. Untuk tinggi bak 1. dll). luas lahan (m2) kebutuhan parkir sama dengan Jumlah Pedagang dikali luas lahan per kapita pedangan (m2).1m3/hari). Untuk menentukan kebutuhan sarana penunjang tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan berikut. Luas lahan per kapita pedagang sekurang-korangnya 10 m2. Setiap kios berukuran sekurang-kurangnya 3m x 4m. Bila diperlukan maka pasar dapat disediakan listrik berdasarkan kebutuhan rata-rata per orang pedagang di Los Pasar sebesar 100VA dan per Kios rata-rata 450 VA. Bak Sampah dan Listrik. kuantitas dan kontinuitasnya. 1) Los pasar. Ukuran Bak sampah ditentukan berdasarkan volume timbulan sampah per pedagang (sebesar 0. 4). Untuk menentukan jumlah kios bisa diambil angka 50% x jumlah pedagang harian. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 81 .5m.1 m3 dibagi 1.

Kemudahan penyediaan bahan bangunan c. Bagian . Bahan Bangunan Bahan bangunan yang digunakan adalah bahan setempat yang tersedia dengan kriteria sebagai berikut : a. Kemudahan pelaksanaan konstruksi d. namun apabila daya dukung tanahnya kurang baik maka perlu dilakukan perhitungan.1. TEKNIS 1. Konstruksi Konstruksi bangunan dibuat sederhana sehingga tidak diperlukan perhitunganperhitungan konstruksi.Beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan terkait dengan penataan ruang pasar tersebut. Persyaratan teknis bangunan mengacu pada standar teknis bangunan gedung (sederhana) tahan gempa yang ditetapkan Departemen PU. Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 82 . Keandalan konstruksi 2. seperti diuraikan pada table berikut : 5. Bahan bangunan yang digunakan harus memenuhi persyaratan bahan bangunan yang tercantum dalam SNI b.

Bagian . Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 83 .1.

1.13. PRASARANA PENERANGAN UMUM Prasarana/kegiatan lingkungan penerangan umum yang dibangun dalam PNPM merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat umum/kepentingan umum bagi masyarakat miskin yang pengelolaannya dilakukan sendiri oleh masyarakat. Bagian . bentuk kegiatannya dibatasi pada penerangan jalan/tempat umum (Tiang + Lampu) dan Pembangkit Listrik (Genset/PLTM + Jaringan + Rumah Genset). Persiapan & Perencanaan Teknis Kegiatan Sarana & Prasarana 84 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful