PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

I.

KONSEP BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. Pengertian Budaya dan Iklim Sekolah 1. Budaya Sekolah Secara etimologis pengertian budaya (culture) berasal dari kata latin colere, yang berarti membajak tanah, mengolah, memelihara ladang (Poespowardojo, 1993). Namun pengertian yang semula agraris lebih lanjut diterapkan pada hal-hal yang lebih rohani (Langeveld, 1993). Selanjutnya secara terminologis pengertian budaya menurut Montago dan Dawson (1993) merupakan way of life, yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu pula dari suatu bangsa. Kemudian Kotter dan Heskett (1992) yang dikutip dalam The American Herritage Dictionary mendefinisikan kebudayaan secara formal, “sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan dan segala hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia”. Selanjutnya Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”. Lebih lanjut Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tiga wujud yaitu: a. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, nilainilai, norma-norma, peraturan dan lain-lain; b. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat dan; c. wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa budaya adalah sesuatu yang abstrak tetapi tetap memiliki dimensi yang mencolok, dapat didefinisikan dan dapat diukur berdasarkan karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Robbins (1994) sebagai berikut: (1) inisiatif individual, (2) toleransi terhadap tindakan beresiko, (3) arah, (4) integrasi, (5) dukungan dari manajemen, (6) kontrol, (7) identitas, (8) sistem imbalan, (9) toleransi terhadap konflik dan (10) polapola komunikasi. Dalam lingkup tatanan dan pola yang menjadi karakteristik sebuah sekolah, kebudayaan memiliki dimensi yang dapat di ukur yang menjadi ciri budaya sekolah seperti: a. Tingkat tanggung jawab, kebebasan dan independensi warga atau personil sekolah, komite sekolah dan lainnya dalam berinisiatif. b. Sejauh mana para personil sekolah dianjurkan dalam bertindak progresif, inovatif dan berani mengambil resiko. c. Sejauh mana sekolah menciptakan dengan jelas visi, misi, tujuan, sasaran sekolah, dan upaya mewujudkannya. d. Sejauh mana unit-unit dalam sekolah didorong untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

1

Tingkat sejauh mana kepala sekolah memberi informasi yang jelas, bantuan serta dukungan terhadap personil sekolah. f. Jumlah pengaturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku personil sekolah. g. Sejauh mana para personil sekolah mengidentifkasi dirinya secara keseluruhan dengan sekolah ketimbang dengan kelompok kerja tertentu atau bidang keahlian profesional. h. Sejauh mana alokasi imbalan diberikan didasarkan atas kriteria prestasi. i. Sejauh mana personil sekolah didorong untuk mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka. j. Sejauh mana komunikasi antar personil sekolah dibatasi oleh hierarki yang formal (diadopsi dari karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Stephen P. Robbins). Dari sekian karakteristik yang ada, dapat dikatakan bahwa budaya sekolah bukan hanya refleksi dari sikap para personil sekolah, namun juga merupakan cerminan kepribadian sekolah yang ditunjukan oleh perilaku individu dan kelompok dalam sebuah komunitas sekolah. Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Setiap sekolah memiliki kepribadian atau karakteristik tersendiri yang diciptakan dan dipertahankan serta mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan terhadap unsur dan komponen sekolah yang merupakan budaya dan iklim suatu sekolah. Jadi peran kepala sekolah pada dasarnya harus dapat menciptakan budaya bagaimana orang belajar dan bagaimana kita bisa membantu mereka belajar. Budaya dan iklim sekolah bukanlah suatu sistem yang lahir sebagai aturan yang logis atau tidak logis, pantas atau tidak pantas yang harus dan patut ditaati dalam lingkungan sekolah, tetapi budaya dan iklim sekolah harus lahir dari lingkungan suasana budaya yang mendukung seseorang melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, rela, alami dan sadar bahwa apa yang dilakukan (ketaatan itu muncul dengan sendirinya tanpa harus menunggu perintah atau dibawah tekanan) merupakan spontanitas berdasarkan kata hati karena didukung oleh iklim lingkungan yang menciptakan kesadaran kita dalam lingkungan sekolah. Misalnya budaya disiplin, budaya berprestasi dan budaya bersih 2. Iklim Sekolah Secara konseptual, iklim lingkungan atau suasana di sekolah didefinisikan sebagai seperangkat atribut yang memberi warna atau karakter, spirit, etos, suasana batin, setiap sekolah (Fisher & Fraser, 1990; Tye, 1974). Secara operasional, sebagaimana halnya pengertian iklim pada cuaca, iklim lingkungan di sekolah dapat dilihat dari faktor seperti kurikulum, sarana, dan kepemimpinan kepala sekolah, dan lingkungan pembelajaran di kelas. Beberapa pengertian lain mengenai iklim sekolah yang hampir memiliki makna serupa dikemukakan berikut ini. Hoy dan Miskel (1987) merumuskan pengertian iklim
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

e.

2

sekolah sebagai persepsi guru terhadap lingkungan kerja umum sekolah. De Roche (1985) mengemukakan iklim sebagai hubungan antar-personil, sosial dan faktor-faktor kultural yang mempengaruhi perilaku individu dan kelompok dalam lingkungan sekolah. Selama dua dasawarsa lingkungan pembelajaran di sekolah dipandang sebagai salah satu faktor penentu keefektifan suatu sekolah (Creemer et al., 1989). Fisher dan Fraser (1990) juga menyatakan bahwa peningkatan mutu lingkungan kerja di sekolah dapat menjadikan sekolah lebih efektif dalam memberikan proses pembelajaran yang lebih baik. Freiberg (1998) menegaskan bahwa lingkungan yang sehat di suatu sekolah memberikan kontribusi yang signifikan terhadapan proses kegiatan belajar mengajar yang efektif. Ia memberikan argumen bahwa pembentukan lingkungan kerja sekolah yang kondusif menjadikan seluruh anggota sekolah melakukan tugas dan peran mereka secara optimal. Hasil-hasil penelitian selaras dan mendukung penegasan tersebut. Misalnya, penelitian oleh Van de Grift dan kawan-kawan (1997) di 121 sekolah menengah di Belanda menunjukkan bahwa prestasi akademik siswa untuk bidang matematika dipengaruhi oleh sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika, apresiasi terhadap usaha guru, serta lingkungan pembelajaran yang terstruktur. Atwool (1999) menyatakan bahwa lingkungan pembelajaran sekolah, dimana siswa mempunyai kesempatan untuk melakukan hubungan yang bermakna di dalam lingkungan sekolahnya, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa, memfasilitasi siswa untuk bertingkah laku yang sopan, serta berpotensi untuk membantu siswa dalam menghadapi masalah yang dibawa dari rumah. Selanjutnya Samdal dan kawan-kawan (1999) juga telah mengidentifikasi tiga aspek lingkungan psikososial sekolah yang menentukan prestasi akademik siswa. Ketiga aspek tersebut adalah tingkat kepuasan siswa terhadap sekolah, terhadap keinginan guru, serta hubungan yang baik dengan sesama siswa. Mereka juga menyarankan bahwa intervensi sekolah yang meningkatkan rasa kepuasan sekolah akan dapat meningkatkan prestasi akademik siswa. Hoy dan Hannum (1997) menemukan bahwa lingkungan sekolah dimana rasa kebersamaan sesama guru tinggi, dukungan sarana memadai, target akademik tinggi, dan kemantapan integritas sekolah sebagai suatu institusi mendukung pencapaian prestasi akademik siswa yang lebih baik. Selain dari itu, Sweetland dan Hoy (2000) menyatakan bahwa iklim lingkungan sekolah dimana pemberdayaan guru menjadi prioritas adalah sangat esensial bagi keefektifan sekolah yang pada muaranya mempengaruhi prestasi siswa secara keseluruhan. Hasil-hasil penelitian juga menunjukkan hubungan antara iklim lingkungan sekolah dengan sikap siswa terhadap mata pelajaran. Papanastaiou (2002) menyatakan bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung, iklim lingkungan sekolah memberi efek terhadap sikap siswa terhadap mata pelajaran IPA di sekolah menengah. B. Tujuan Dan Manfaat Pengembangan Budaya Sekolah Hasil pengembangan budaya sekolah adalah meningkatkan perilaku yang konsisten dan untuk menyampaikan kepada personil sekolah tentang bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan untuk membangun kepribadian mereka dalam lingkungan sekolah yang sesuai dengan iklim lingkungan yang tercipta di sekolah baik itu lingkungan fisik maupun iklim kultur yang ada. Pemahaman bahwa budaya dan iklim sekolah mempunyai sifat yang sama, tidak berarti bahwa tidak akan terdapat sub-budaya di dalam budaya sekolah. Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam lingkungan sekolah yang merupakan karakteristik sekolah adalah budaya
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

3

dominan atau budaya yang kuat, dianut, diatur dengan baik dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak personil sekolah yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui gagasan berdasarkan kepentingannya, dan merasa sangat terikat pada nilai yang ada maka makin kuat budaya tersebut. Karena para personil sekolah memiliki pengalaman yang diterima bersama, sehingga dapat menciptakan pengertian yang sama. Hal ini bukan berarti bahwa anggota yang stabil memiliki budaya yang kuat, karena nilai inti dari budaya sekolah harus dipertahankan dan dijunjung tinggi, namun juga harus dinamis. Untuk menciptakan budaya sekolah yang kuat dan positif perlu dibarengi dengan rasa saling percaya dan saling memiliki yang tinggi terhadap sekolah, memerlukan perasaan bersama dan intensitas nilai yang memungkinkan adanya kontrol perilaku individu dan kelompok serta memiliki satu tujuan dalam menciptakan perasaan sebagai satu keluarga. Dengan kondisi seperti ini dan dibarengi dengan kontribusi yang besar terhadap harapan dan cita-cita individu dan kelompok sebagai wujud dan harapan sekolah yang tertuang dalam visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah ditunjang oleh iklim sekolah yang mendukung kontribusi tersebut. Manfaat yang diperoleh dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kuat, intim, kondusif dan bertanggung jawab adalah: 1. Menjamin kualitas kerja yang lebih baik. 2. Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. 3. Lebih terbuka dan transparan 4. Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi 5. Meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan 6. Jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki 7. Dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK Manfaat ini bukan hanya dirasakan dalam lingkungan sekolah tetapi dimana saja karena dibentuk oleh norma pribadi dan bukan oleh aturan yang kaku dengan berbagai hukuman jika terjadi pelanggaran yang dilakukan. Selain beberapa manfaat diatas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : 1. Meningkatkan kepuasan kerja 2. Pergaulan lebih akrab 3. Disiplin meningkat 4. Pengawasan fungsional bisa lebih ringan 5. Muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif 6. Belajar dan berprestasi terus serta 7. Selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri. C. Model Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Model pengembangan budaya dan iklim sekolah yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik itu kepala sekolah, guru dan staf sekolah dan utamanya siswa itu sendiri dapat dijadikan dasar dalam upaya memperbaiki iklim sekolah. Model tersebut merupakan integrasi komponen-komponen seperti budaya sekolah, iklim organisasi, dan pranata sistem sekolah. Komponen pengembangan budaya dan iklim sekolah secara umum dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori dengan beberapa aspek sebagai berikut: 1) Budaya sekolah meliputi aspek-aspek: a. Nilai b. Norma c. Perilaku
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

4

Lingkungan fisik sekolah meliputi: a. Keindahan b. Keamanan c. Kenyamanan d. Ketentraman e. Kebersihan 3) Lingkungan sistem sekolah meliputi: a. Berbasis mutu b. Kepemimpinan kepala sekolah c. Disiplin dan tata tertib d. Penghargaan dan insentif e. Harapan untuk berprestasi f. Akses informasi g. Evaluasi h. Komunikasi yang intensif dan terbuka Model berikut ini menjelaskan tentang bagaimana membangun sebuah budaya dan iklim sekolah berdasarkan unsur-unsur di atas. Model tersebut menggambarkan bahwa budaya dan iklim organisasi merupakan kumpulan nilai-nilai, norma dan perilaku yang mengontrol interaksi-personil sekolah dengan orang diluar sekolah. Budaya organisasi sekolah tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh individu-induidu yang memiliki kepentingan dengan sekolah, atau dengan kata lain budaya dan iklim sekolah merupakan hasil interaksi nilai-nilai yang dianut individu didalam dan diluar sekolah. Sekolah merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif terus-menerus untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah.
2)

PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

5

Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah. 1. Akses informasi g. Visi tentang keunggulan mutu misalnya. siswa dan masyarakat. Misi dan Tujuan Sekolah Pengembangan budaya dan iklim sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi. Budaya dan iklim sekolah yang efektif akan memberikan efek positif bagi semua unsur dan personil sekolah seperti kepala sekolah. Nilai b. Harapan berprestasi f. b. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko PIKIR.1 Model dalam Membangun Budaya dan iklim Sekolah D. c. dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya dan iklim sekolah.1990). Evaluasi h. Norma c. Perilaku a. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal.PEMBERDAYAAN SEKOLAH BUDAYA PEMBERDAYAAN SEKOLAH LINGKUNGAN FISIK SEKOLAH a. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien. 3. Berbasis mutu Kepemimpinan Disiplin dan tata tertib Penghargaan dan insentif e. Indah Aman Nyaman Tentram Bersih BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Gambar 19. yang memberikan suatu petunjuk kepada pemikiran atau tindakan” (Moekijat . termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya budaya dan iklim sekolah. IKHTIAR 6 . d. staf. c. Prinsip-Prinsip Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Prinsip adalah ”suatu pernyataan atau suatu kebenaran yang pokok. Lebih jauh dijelaskan pengertian prinsip yakni pedoman-pedoman yang dapat membantu dalam penerapan manajemen yang harus dipergunakan secara cermat dan bijaksana. misi dan tujuan sekolah. Komunikasi formal dan informal a. 2. Fungsi visi. b. harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya dan iklim sekolah. d. e. Prinsip-prinsip yang menjadi acuan dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah sebagai berikut. guru. DZIKIR. misi. Berfokus Pada Visi.

9. Asas-Asas Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Definisi budaya dan iklim sekolah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan sebuah pola asumsi dasar dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah efektif. 7. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. IKHTIAR 7 . Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. PIKIR. 8. sehingga unsur dan prinsip-prinsipnya dianggap valid untuk dilaksanakan secara terus menerus serta diterapkan bukan hanya dianggap sebagai strategi tetapi lebih condong dipandang sebagai budaya. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. Sistem Evaluasi yang Jelas Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya dan iklim sekolah. 5. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. E. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. 6. Memiliki Komitmen yang Kuat Komitemen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya dan iklim sekolah. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah. Sistem Imbalan yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya dan iklim sekolah. sedang. Keputusan Berdasarkan Konsensus Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Oleh karena itu peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah harus senantiasa dibarengi dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dengan menerapkan nilai-nilai dasar sebagai asas kehidupan sekolah. Memiliki Strategi yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. Berorientasi Kinerja Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. 10. DZIKIR. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. dan jangka panjang. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. Evaluasi Diri Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi di sekolah.Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. 4.

jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang baik. Tanpa kejujuran. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat.Secara umum asas-asas pengembangan budaya dan iklim sekolah dapat diuraikan sebagai berikut: 1. kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. Kegembiraan (happiness) Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. Kerjasama tim (team work) Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. DZIKIR. Untuk itu. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. jujur dalam mengelola keuangan. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. 6. Kemampuan Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. 2. 3. kepercayaan tidak akan diperoleh. 4. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. asri dan menyenangkan. 7. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. 5. nyaman. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. Jujur dalam memberikan penilaian. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Disiplin (discipline) PIKIR. Dalam lingkungan pembelajaran. Hormat (respect) Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. guru. Keinginan Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. IKHTIAR 8 . nyaman. Jujur (honesty) Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah.

II. yang akan mempengaruhi keberhasilan proses kegiatan pembelajaran di kelas. kemampuan adaptasi dan keluwesan. kurikulum. staf dan kepala sekolah tarmpil. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. Lebih lanjut Hughes (1991) menegaskan bahwa setiap sekolah mempunyai karakter suasana kerja. 9. Pengetahuan dan Kesopanan Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Kekondusifan iklim kerja suatu sekolah mempengaruhi sikap dan tindakan seluruh komunitas sekolah tersebut. serta lingkungan pembelajaran baik lingkungan alam. Ditegaskan bahwa jika guru merasakan suasana kerja yang kondusif di sekolahnya. Penelitian Cheng (1993) menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya organisasi (cita-cita. dan misi) yang kokoh cenderung dipandang lebih efektif dalam hal produktivitas. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. metode pembelajaran yang dipakai. Dimensi ini menuntut para guru. keyakinan. Dapat diartikan disini bahwa lingkungan sosial pembelajaran di kelas maupun di sekolah PIKIR. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. khususnya pada pencapaian prestasi akademik siswa. guru dan staf. Empati (empathy) Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Pembentukan suasana pembelajaran yang kondusif perlu diciptakan dalam seluruh lingkungan sekolah termasuk didalamnya lingkungan kelas. IKHTIAR 9 . DZIKIR. Secara eksplisit faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah kompetensi guru. orang tua dan masyarakat. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. riset tentang iklim kerja di sekolah telah berkembang dengan mapan dan memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi pembentukan sekolah-sekolah yang berhasil. 1994). Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya dan iklim sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. Purkey dan Smith (1985) menyatakan bahwa prestasi akademik siswa dipengaruhi sangat kuat oleh suasana kejiwaan atau iklim kerja sekolah. kinerja sekolah ditentukan oleh suasana atau iklim lingkungan kerja pada sekolah tersebut. Di negara-negara maju. Demikian juga halnya. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. psikososial dan budaya (Depdikbud. sarana dan prasarana. maka dapat diharapkan siswanya akan mencapai prestasi akademik yang memuaskan.Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. INDIKATOR-INDIKATOR DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Budaya dan iklim organisasi sekolah secara konsisten ditemukan berkorelasi positif dengan prestasi belajar. 8.

DZIKIR. 1985). dan (e) terdapat juga sekolah yang mengadakan “kultum” setiap hari dan menugaskan siswa berceramah sekali seminggu. (b) menumbuhkan budaya relegius dengan membiasakan murid mengucapkan dan membalas salam setiap bertemu. Apabila gaya hidup itu dapat ditingkatkan. (3) iklim terkontrol (4) iklim familier (kekeluargaan). Ia mengitari dan mempengaruhi segala hal yang terjadi dalam suatu organisasi. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dikemukakan berikut ini. siswa dengan guru. (c) mengadakan pengajian secara rutin. PIKIR. seperti: (a) berdoa sebelum pelajaran dimulai. indah dan nyaman. yaitu budaya sekolah yang perlu ditumbuhkan berupa suasana saling hormat antara siswa dengan siswa. Budaya dan iklim sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa tenang. serta dimanfaatkan untuk menanam sayuran dan apotik hidup. 1990). nyaman. (5) iklim parternal. perhatian khusus diberikan kepada penciptaan dan pemeliharaan iklim yang kondusif untuk belajar (Reynolds. Iklim tidak dapat dilihat dan disentuh. 1994). kawasan bebas narkoba dan rokok. Selain itu. Pandangan ini mengindikasikan kualitas iklim yang memungkinkan meningkatnya prestasi kerja. Iklim dapat mepengaruhi motivasi. tetapi ia ada seperti udara dalam ruangan. guru dengan guru. dan kawasan wajib bahasa Inggris (English area). Dalam sekolah efektif. agar guru merasakan diri dihargai. dan tertib di dalam belajarnya. Sehubungan dengan itu maka budaya dan iklim sekolah dapat digolongkan menjadi enam kondisi yaitu: (1) iklim terbuka. Iklim yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman. Hal yang sama dikemukakan oleh Wijaya (2005). (2) iklim bebas. aman dan bersikap positif terhadap sekolahnya. Penampilan fisik sekolah selalu bersih. dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. Iklim adalah konsep sistem yang mencerminkan keseluruhan gaya hidup suatu organisasi. IKHTIAR 10 . Hal ini ditandai dengan fasilitas-fasilitas fisik sekolah terawat dengan baik. c Dalam lingkungan sekolah terdapat beberapa kawasan khusus seperti: kawasan wajib senyum. tertib. Hal ini dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut: a Pekarangan dan lingkungan sekolah yang tertata sedemikian rupa sehingga memberi kesan asri. 1985). iklim sekolah yang kondusif mendorong setiap personil yang terlibat dalam organisasi sekolah untuk bertindak dan melakukan yang terbaik yang mengarah pada prestasi siswa yang tinggi. 1994). hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghargai satu sama lain. kemungkinan besar tercapai peningkatan prestasi kerja (Davis dan Newstrom. b Budaya bersih juga senantiasa ditumbuhkan di kalangan warga sekolah dengan membiasakan perilaku membuang sampah pada tempatnya.(kantor guru dan staf tata usaha) mempunyai pengaruh baik langsung maupun tak langsung terhadap proses kegiatan pembelajaran. dan dengan pihak lainnya. teduh. dan agar orangtua dan masyarakat merasa dirinya diterima dan dilibatkan (Townsend. prestasi. d Adanya pembiasaan-pembiasaan yang bernuansa moral dan akhlak yang mendorong meningkatnya kecerdasan spritual peserta didik. Hal ini dapat terjadi melalui penciptaan norma dan kebiasaan yang positif. Perawatan Fasilitas Fisik Sekolah Salah satu ciri sekolah efektif adalah terciptanya budaya dan iklim sekolah yang menyenangkan sehingga siswa merasa aman. dan kepuasan kerja (Davis dan Newstrom. dan nyaman. rapi. Penataan Lingkungan Fisik Sekolah 1. dan (6) iklim tertutup (Halpin & B Croft dalam Burhanunudin. (d) shalat berjamaah pada waktu shalat duhur. A.

Untuk menjamin keamanan sekolah maka harus didukung adanya tata tertib sekolah yang menjadi acuan dari semua warga sekolah. siswa. guru. sehingga satu sama lain saling berbagi dan memberi bantuan. Penggunaan Sistem Kelas Berpindah (Moving-Class) Moving-class adalah sistem pengelolaan aktivitas pembelajaran di mana kelaskelas tertentu ditata khusus menjadi sentra pembelajaran bidang studi/mata pelajaran tertentu. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. ruang-ruang kelas tertentu dapat ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. 4. Hubungan kekeluargaan ini dapat digambarkan sebagai berikut: PIKIR. Penggunaan Poster Afirmasi Poster-poster afirmasi. baik pada saat siswa belajar di kelas maupun pada saat mereka melakukan berbagai aktivitas lainnya di luar kelas. dan sebagainya. Dalam hubungan dengan ciri ”I Thou Relationship”. Ada kelas sains. guru. kursi. kelas kesenian. DZIKIR. IKHTIAR 11 . hadist. Sekolah membangun budaya setara di kalangan warga sekolah. adalah pengadaan dan penempatan poster afirmasi ini jangan sampai terkesan berlebihan atau menjadi pesan sloganis belaka. pajangan. Penggunaan sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. Karena itu kepala sekolah. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. pesan pujangga. Penataan Lingkungan Sosial Sekolah 1. yaitu poster yang berisi pesan-pesan positif digunakan dan dipajang di berbagai tempat strategis yang mudah dan dapat selalu dilihat oleh siswa. Penciptaan Keamanan di Lingkungan Sekolah Sekolah yang efektif perlu memperhatikan keamanan sekitar. dihormati. dan orangtua. Penggunaan musik instrumentalia yang lembut dapat lebih menciptakan suasana menyenangkan dan memberi efek penenteraman emosi. 3. dan staf harus menjadi model dan teladan untuk penegakan tata tertib dan disiplin. Sekolah terbebas dari gangguan keamanan baik dari dalam maupun dari luar sekolah.2. pribadi yang patut dihargai. Dalam sistem moving-class ini. atau puisi-puisi spiritual. karyawan. Penataan Ruang Kelas Penataan ruang kelas ditujukan untuk memperoleh kondisi kelas yang menyenangkan sehingga tercipta suasana yang mendorong siswa lebih tenang belajar. B. apabila didukung oleh seluruh penyelenggara sekolah. media. Yang perlu diperhatikan. Tata tertib sekolah dapat terlaksana dengan baik. dan memiliki kebutuhan dan kewenangan sendiri untuk menentukan keputusan dan pilihannya sendiri. kelas bahasa. setiap individu memandang dan memperlakukan individu lainnya sebagai subjek. Poster afirmasi ini dapat digunakan untuk mensosialisasikan dan menanamkan pesanpesan spiritual kepada siswa dan warga sekolah. Meja. 2. Penciptaan Relasi Kekeluargaan dan Kebersamaan Sekolah menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan antara kepala sekolah. Pesan-pesan spiritual untuk poster afirmasi dapat berupa petikan ayat Al-Quran. termasuk semua siswa. peralatan. Budaya dan iklim sekolah yang bercirikan model hubungan seperti ini akan dapat membangun rasa kebersamaan dan dapat memicu berkembangnya rasa percaya diri dan kreativitas semua warga sekolah. kelas matematika. Iklim interaksi antar warga sekolah dibangun atas dasar prinsip ”I Thou Relationship” bukan hubungan yang bersifat ”I-it Relationship”.

Pengembangan Rasa Memiliki Terhadap Sekolah Sekolah menciptakan rasa memiliki sehingga guru. Memaksimalkan buku penghubung sebagai alat pengontrol kemajuan siswa sekaligus wadah menjalin komunikasi dengan orang tua. staf administrasi dan siswa menunjukkan rasa bangga terhadap sekolahnya. 2. Keputusan yang dibuat hendaknya juga dapat memenuhi prinsip keadilan dan PIKIR. pada diri siswa. seperti menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan sekolah. C. d. katakanlah guru tertentu. c. e. Pemberian Ganjaran Positif bagi Karya Terbaik Siswa Karya-karya cemerlang siswa dipajang di kelas atau ruang kepala sekolah dan diberi ganjaran positif. penegakan kedisiplinan di sekolah. antara lain dengan memberi tanggung jawab pengelolaan dan perawatan wilayah tertentu kepada kelompok kelas atau ruang tertentu. bahkan anti sosial. Ganjaran akan efektif jika diberikan sesegara mungkin dan dilakukan secara konsisten pada setiap siswa yang menunjukkan prestasi. Orangtua dan masayarakat dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan strategis di sekolah. mengontrol perkembangan belajar anaknya. seperti pembuatan tata tertib. pertemuan berkala antara orangtua dan pihak sekolah. dan kondisi khusus siswa. 3. Pelibatan tokoh masyarakat. Penataan Personil Sekolah 1. Ini bisa dicapai. Ganjaran hendaknya diberikan sesegara mungkin dan diarahkan untuk memberi rasa kebanggaaan dan untuk mempertahankan motivasi siswa yang diberi ganjaran serta menstimulasi siswa lainnya untuk menghasilkan prestasi yang sama.a. mendorong dunia usaha dan industri untuk berpartisipasi dalam pengembangan sekolah. memberikan sumbangan dalam bentuk materi. Ganjaran juga dibutuhkan untuk mempertahankan motivasi dan gairah berprestasi di kalangan siswa. memandang individu lain (katakanlah siswa) sebagai objek. kepentingan. Setiap keputusan yang dibuat di sekolah hendaknya memperhatikan kebutuhan. Ciri hubungan seperti ini akan mematikan kretivitas dan rasa percaya diri sisiwa. Orangtua siswa diberi kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan. dan dapat diperlakukan sesuai kemauan dan determinasi sang guru. Orang tua siswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan. Pemberian Jaminan Atas Kemaslahatan Siswa Kemaslahatan siswa merupakan kriteria penting yang digunakan dalam pembuatan keputusan tentang mereka. tidak berhak untuk menyatakan kebutuhan dan kepentingannya. Setiap warga sekolah merasa bertanggung jawab untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekolah. ikut serta memutuskan sanksi terhadap pelanggaran di sekolah. DZIKIR. pengadaan sarana sekolah. dan cenderung mengembangkan sikap asosial. Sebaliknya dalam hubungan yang dicirikan dengan ”I-it Relationship”. b. dan memberdayakan orang tua siswa yang memiliki kemampuan finansil atau peran penting di lembaga pemerintah dan swasta dalam berbagai kegiatan sekolah. individu tertentu. IKHTIAR 12 . Prosedur untuk melibatkan orang tua disampaikan secara jelas. Sekolah senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan orangtua dan masyarakat melalui wadah Komite Sekolah. perlu dituntun. Keterlibatan komite sekolah secara nyata ditemukan pada semua sekolah dalam berbagai aspek dan kegiatan.

(d) hubungan antar pribadi. Akseptabilitas Guru Terhadap Metode Pembelajaran Terbaru Guru bersedia mengubah metode-metode mengajar. harapan yang tinggi yang ditransmisikan ke dalam kelas berperan dalam meningkatkan ekspektasi diri siswa terutama berkenan dengan peningkatan prestasi akademik mereka. Dengan demikian. agama. mading. Penataan Lingkungan Kerja Sekolah 1. (b) supervisi. IKHTIAR 13 . Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa semua aktivitas sekolah harus dijadwalkan sehingga kegiatan yang dilaksanakan di sekolah maupun di dalam kelas dapat berjalan lancar.Lingkungan. ataupun varian-varian latar siswa lainnya. misalnya: acara perpisahan sekolah. Atau dengan kata lain semua kegiatan baik kegiatan kurikuler. seperti buku. peringatan hari-hari besar. Aktivitas bersifat regular dan dilakukan setiap semester/tahun di sekolah. yaitu: (1) pekerjaan itu sendiri. Hal ini sejalan dengan teori motivasi-iklim baik dari Herzberg (Hersey dan Blanchard. misalnya: penyuluhan tentang anti narkoba. Karakteristik ini berkenaan dengan penciptaan etos positif yang dapat mendorong siswa berprestasi. Harapan yang Tinggi Untuk Berprestasi Karakteristik ini pada umumnya ditemukan dalam sekolah efektif. termasuk keadilan dan kesetaraan gender. kegiatan OSIS. guru perlu mengadopsi dan mencoba menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran tersebut untuk lebih mengefektifkan proses pembelajarannya. (4) persyaratan promosi dan penjenjang-an. agar kegiatan proses belajar-mengajar tidak terganggu. (b) pengakuan akan keberhasilan. 5. PIKIR. Berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif telah ditawarkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. dan pelatihan. bila metode yang lebih baik diperkenalkan kepadanya. (e) penghargaan. (c) kondiisi kerja. Penelitian Moedjiarto (1990) dan Witte dan Walsh (1990) mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara harapan yang tinggi untuk berprestasi dan prestasi akademik siswa. Dijelaskan bahwa faktor-faktor motivasi-iklim baik. Sehubungan dengan itu. D. terdiri dari: (a) kebijaksanaan dan administrasi. 4. kelas sosial.kesetaraan di kalangan siswa. dan (5) pemberian perhatian pribadi kepada siswa perorangan. (d) meningkatnya tanggung jawab. kondisi fisik. sebaiknya dijadwal dan disesuaikan dengan kalender pembelajaran agar jadwal proses belajar-mengajar dan implemantasi kurikulum tidak terganggu. dkk. internet. Pengaturan Jadwal Acara dan Aktivitas Sekolah Semua aktivitas di sekolah harus dijadwalkan secara baik. 1992). PMR. Murphy (1985) seperti dikutip oleh Wayson. etnis. (c) pekerjaan yang menantang. (e) pertumbuhan dan perkembangan. Menurut Mortimore (1993). ras. Aktivitas yang bersifat insidental dan tidak terjadwal dalam program semester/tahunan. (3) harapan yang tinggi akan pekerjaan yang berkualitas tinggi. maka seluruh kegiatan nonteaching yang bersifat regular dan yang bersifat insidental perlu diidentifikasi. karya tulis remaja. yang meliputi: (a) prestasi. (2) tanggung jawab bagi pembelajaran siswa. dan keamanan. DZIKIR. Penerapan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif dan telah teruji perlu menjadi bagian yang mencoraki iklim pembelajaran di sekolah. status. porseni. dan lain-lain sedapat mungkin dilaksanakan pada waktu-waktu yang tidak mengganggu aktivitas proses belajarmengajar. (1988) mengungkapkan bahwa harapan dan standar untuk berprestasi yang tinggi juga perlu bagi para staf sekolah yang ditandai dengan adanya: (1) keyakinan bahwa semua siswa dapat belajar.

Dalam rangka menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif. DZIKIR. Penciptaan Budaya Kerja Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian dalam upaya penciptaan budaya kerja yang positif seperti: a. Salah satu bentuk pengembangan budaya kerja yang positif adalah budaya mutu. Memberikan kesempatan kepada para guru. sebagai wahana saling mengkomunikasikan ide. kebutuhan. hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tumpang tindih. h. Kepala sekolah. yang dalam konteks pembelajaran berarti perbaikan secara berkelanjutan “proses pembelajaran. Penerapan disiplin dan tata tertib sesuai dengan mentaati jam kerja yang berlaku di lingkungan sekolah. Turner. yang diartikan sebagai proses manajemen dalam konteks ini adalah manajemen mutu. menanamkan budaya pengawasan melekat (WASKAT) terhadap seluruh personil sekolah secara intensif. guru dan staf menyusun mekanisme proses pelayanan yang direncanakan maupun mekanisme pelayanan langsung/spontan berhubungan proses belajar mengajar dan kegiatan yang dapat menunjang kelancaran proses belajar mengajar. g. siswa. kepala sekolah. dan kegiatan sebaiknya ditata secara baik sehingga tidak saling mengganggu. 1992). seperti komite sekolah. Senantiasa melakukan pembinaan dan motivasi kepada guru. Filosofi utama budaya mutu adalah “perbaiki prosesnya sebelum hasilnya jelek” (Paine.kokurikuler. Penerapan manajemen mutu dalam organisasi nonprofit termasuk sekolah. guru. Setiap guru bidang studi dan wali kelas senantiasa melakukan pemantauan dan evaluasi secara periodik terhadap peningkatan disiplin dan prestasi belajar siswa c. rencana. e. baik yang bersifat formal maupun informal. Di kalangan bisnis. menurut Brough (1992) perlu memperhatikan hal berikut. Hal ini membawa implikasi bahwa sekolah perlu didorong untuk tidak hanya melihat aspek input manajemen tetapi jauh lebih penting adalah proses manajemennya. ternyata 35 persen dari biaya operasionalnya dipakai untuk memperbaiki dan menyelesaikan pekerjaan yang ternyata salah atau keliru dilakukan (Crosby. IKHTIAR 14 . yaitu: (1) kualitas adalah pekerjaan setiap orang. (2) kualitas muncul dari pencegahan. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Menyiapkan buku bacaan sekolah di setiap sudut atau ruang sekolah dalam bentuk taman bacaan atau ruang tunggu yang bisa digunakan oleh siapa saja tanpa harus dijaga karena didasari oleh kebutuhan dan kejujuran. maupun ekstrakurikuler. d.” Sehubungan dengan itu maka. guru dan wali kelas wajib menciptakan iklim kerja dan iklim belajar yang kondusif dalam rangka untuk meningkatkan kinerja guru dan prestasi belajar siswa. (4) kualitas PIKIR. staf dan siswa dengan menggunakan prinsip pemberian penghargaan mereka yang berprestasi dan penerapan sanksi disiplin untuk mereka yang melakukan pelanggaran disiplin sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku di sekolah tidak terkecuali kepada siapapun. Pryke. 2. dan selera konsumen. b. bukan hasil dari suatu pemeriksaan atau inspeksi. Pertemuan antara kepala sekolah dengan berbagai pihak. staf dan siswa untuk meningkatkan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas melalui pendidikan dan pelatihan. 1990). program. (3) kualitas berarti memenuhi keinginan. f.

staf dan siswa untuk mengelola perubahan. Prosesenya diawali dengan visi dan misi mutu dalam lingkungan sekolah yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan pemakai. Sekolah yang menerapkan maanjemen mutu terpadu akan membangun budaya dan iklim sekolah yang memungkinkan setiap orang membawa ukuran perbaikan mutu terhadap proses kerjanya yang dapat dinilai bagaimana kontribusinya dalam mengembangkan kompotensi siswa dari segi intelektual. Beberapa pandangan Juran yang dikutip oleh Jerome S Arcaro (2005) tentang mutu adalah: (1) meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir (2) perbaikan mutu merupakan proses berkelanjutan. Karena pendekatan sistem merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam pilar mutu maka dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah yang bermutu maka juga harus berfokus pada semua pilar sekaligus. dapat diterapkan di semua sekolah.menuntut kerja sama yang erat. siswa. Pilar mutu memberikan fokus dan arahan yang diperlukan oleh seluruh personil sekolah untuk setiap prakarsa mutu. Arcaro (2005) dengan konsep “pilar mutu” menggambarkan kriteria sekolah yang memiliki mutu mulai dari kegiatan di ruang kelas sampai pada perawatan bangunan sekolah sebagaimana digambarkan pada halaman berikut. Dengan konsep ini memungkinkan bagi guru dan staf untuk mengukur dan mendokumentasikan nilai tambah parakarsa mutu kepada siswa dan masyarakat. kepala sekolah. dan (5) setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. mendorong keterlibatan total warga dalam setiap program. (6) kualitas harus didasarkan atas perencanaan strategik. bukan program sekali jalan (3) mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan dan administrator (4) pelatihan merupakan prasyarat mutu. guru. Sebuah model sekolah bermutu terpadu yang dikembangkan oleh Jarome S. (5) kualitas menuntut perbaikan yang berkelanjutan. menunjang sistem yang diperlukan oleh guru. Transformasi menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan komitmen bersama terhadap mutu oleh komite sekolah. IKHTIAR 15 . mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan di sekolah. Yang dimaksud dengan budaya mutu adalah terciptanya kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang positif terutama dalam aspek sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja sekolah yang tinggi. staf. orang tua siswa dan masyarakat. bisnis dan pemerintah untuk memastikan apakah para professional sekolah memberikan fokus pada sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan program-program pendidikan di sekolah. PIKIR. Pilar-pilar ini merupakan model penting bagi setiap prakarsa mutu yang berhasil dan pilar mutu ini bersifat universal. emosional dan spiritual agar lebih siap dalam menghndapi tantangan akademik dan bisnis dimasa yang akan dating. serta perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat program pendidikan di sekolah menjadi lebih baik. Pengembangan budaya mutu antara lain dapat dilakukan melalui penciptaan harapan yang tinggi untuk berprestasi di kalangan warga sekolah. Fokus dan arahan pada setiap pilar tidak dapat dibatasi oleh satu pilar dalam mengembangkan budaya dan iklim mutu dalam lingkungan sekolah. Manajemen mutu terpadu merupakan metode yang dapat membantu sekolah untuk membangun aliansi antara pendidikan. DZIKIR.

guru.2 Model Sekolah Bermutu Terpadu Sekolah yang memiliki budaya mutu. Sekolah menekankan kepada siswa dan guru bahwa belajar merupakan alasan yang paling penting untuk bersekolah. dan kinerja yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang menodai komitmen terhadap mutu. menyusun standar kinerja yang tinggi bagi guru. di mana para guru percaya bahwa siswa dapat mencapai tingkat prestasi yang tinggi. staf dan siswa. c. IKHTIAR 16 . dan sebagainya. b. d. Merumuskan standar sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja tinggi baik bagi kepala sekolah. PIKIR. komitmen dan kerajinan yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang tidak fair seperti menyontek. DZIKIR. a. maupun siswa. komitmen. staf administrasi. Guru yang berorientasi budaya mutu memiliki motivasi kerja. a. Sekolah menciptakan suasana yang memberikan harapan dan semangat. Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh orangtua siswa.Gambar 19. Siswa yang memiliki budaya mutu memiliki motivasi belajar. Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh siswa. Beberapa indikator penciptaan budaya mutu di sekolah adalah. Beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah dalam menciptakan budaya mutu di sekolah adalah sebagai berikut.

Contoh Budaya dan iklim Sekolah Bakti Mulya 400 Visi : Menjadi pusat pengembangan pendidikan yang melahirkan kader pemimpin dan intelektual muslim dengan wawasan luas serta tanggap terhadap lingkungan dan mampu bersaing di era globalisasi sehingga mampu memperbaiki kualitas bangsa Indonesia Misi: Dikembangkan dari visi. kompeten/mampu dan terampil. Kegiatan sekolah dilaksanakan pagi hari dengan 5 hari belajar dalam seminggu. Pemanfaatan sumber dana baik yang bersumber dari APBN maupun APBD ataupun seumber lain dilakukan dengan berlandaskan kepada prinsip efektivitas dan efisiensi. guru. e. Peningkatan akuntabilitas Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penciptaan budaya akuntabilitas di sekolah sebagai berikut: a. Setiap staf dan guru agar menyusun laporan akuntabilitas secara periodik setiap triwulan b. Budaya Sekolah: Untuk merealisasikan visi. Memampukan warga sekolah untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas guna memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna lulusan (masyarakat). serta berorientasi kepada hasil (output) dan manfaat (outcomes) dari setiap program yang diselenggarakan di sekolah c. Melaksanakan berbagai lomba untuk mendorong siswa. maka pembinaan siswa dilakukan melalui proses pembinaan sikap dan prilaku sehari-hari di sekolah yang diarahkan kepada terwujudnya budaya sekolah Bakti Mulya 400. nusa. Standar pelayanan prima meliputi elemen berikut: kecepatan. d. IKHTIAR b.Merumuskan standar pelayanan prima yang dipatuhi semua warga sekolah guna meningkatkan mutu pelayanan kepada pelanggan sekolah. ketanggapan. DZIKIR. Menyelenggarakan pendidikan yang menumbuhkembangkan potensi siswa untuk menjadi manusia seutuhnya. C. misi pendidikan serta sifat-sifat umum siswa Bakti Mulya 400. B. c. Menghasilkan sumber daya manusia yang berguna bagi dirinya. khususnya siswa dan orangtuanya. Menghasilkan lulusan yang unggul. D. 3. 17 . dan pemberian jaminan mutu sekolah. keramahan. bangsa dan negara E. Menghasilkan lembaga pendidikan yang memiliki predikat sekolah unggul. kemudian diuraikan dalam beberapa misi sebagai berikut: A. PIKIR. Menciptakan sistem penghargaan bagi warga sekolah yang berprestasi tinggi dan pembinaan serta hukuman bagi yang berprestasi rendah. Setiap orang yang melakukan perjalanan dinas baik ke daerah maupun ke luar negeri wajib melaporkan hasil perjalanan Dinasnya kepada bendahara atau kepala sekolah Berikut ini dikemukakan contoh-contoh penerapan indikator budaya dan iklim sekolah pada salah satu sekolah. ketepatan. Menyelenggarakan pendidikan umum yang bernafaskan Islam. Pembiasaan dan tata prilaku dimaksudkan sebagai Budaya Sekolah Bakti Mulya 400 adalah sebagai berikut: a. dan staf dalam berkompetisi.

diantaranya do‟a keluar rumah. x. Membiasakan mengucap kalimat-kalimat thayyibah dan dzikir dalam rangka mendekatkan diri dan mengagungkan Asma Allah SWT. Ramah dalam bergaul m. å. h. Ikhlas beramal k. pakaian dan lingkungan. Setiap pagi siswa dilepas pergi ke sekolah oleh kedua orang tua dengan iringan salam dan do‟a. Menyelenggarakan latihan manasik haji. t. bangun tidur. ö. 18 PIKIR. do‟a untuk kedua orang tua. Setibanya di sekolah saat bertemu dengan guru maupun teman berjabat tangan dan memberi salam “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” Demikian halnya bila menerima salam maka segera menjawab salam “Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh”. Amanah. IKHTIAR . DZIKIR. Lemah lembut dalam tutur kata r. Ulet dalam mencapai cita-cita n. bulan dan tahun hijriah di samping tanggal. Membiasakan memakmurkan Mushalla dengan kegiatan keagamaan dan shalat Dzuhur/Jumat. santunan anak yatim. bulan dan tahun masehi. w. ä. SLTP. Nadzafah. Membiasakan menulis dan mengucapkan “Basmallah” setiap memulai pekerjaan dan atau “Hamdallah” setelah selesai melakukan pekerjaan. minta tambah ilmu. dan juga dilakukan dalam setiap kesempatan suatu acara resmi sekolah. teguh dalam keyakinan s. Membiasakan menulis tanggal. do‟a bercermin. Logis dalam berpikir o. Melaksanakan pesantren kilat setiap awal Bulan Ramadhan. u. y. Menyelenggarakan peringatan hari-hari besar Islam. atau yang lainnya. Pada pagi hari membaca “Ikrar” dalam bahasa Arab dan terjemahannya bersama dengan guru. dan setelah jam pelajaran terakhir membaca surat “Al Ashr” dipimpin guru yang mengajar pada jam terakhir. Rajin beramal l. bersih diri. pembagian sembako. Memberangkatkan ibadah haji bagi guru/karyawan sesuai dengan kemampuan keuangan Yayasan BKSP Bakti Mulya 400. z. mengawali dan mengakhiri pekerjaan. khitanan masal. Melafalkan dan membiasakan mengamalkan 10 do‟a amaliah harian. Melaksanakan khataman pelajaran Al Quran. c. e. f. pemberian beasiswa). Berbakti kepada orang tua j. dapat dipercaya q. dan SMU. Dengan bimbingan guru yang mengajar pada jam pertama.b. Nasional dan bakti sosial kemasyarakatan (seperti donor darah. Mengikuti pemantapan pelajaran Al Quran dengan metode Iqra. d. bagi siswa yang telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang SD. masuk dan keluar masjid Melakukan 11 amalan yang tercermin dalam “Birrulwalidain” yakni: i. masuk dan keluar kamar mandi/wc. v. sebelum tidur. Waspada terhadap naza p. Membiasakan melaksanakan puasa sunat seperti puasa Senin dan Kamis. mejelang datangnya Hari Raya Idul Adha. siswa melafalkan surat “Al Fatihah” dan “Do’a” sebelum pelajaran dimulai. g. Istiqomah.

Strategi belajar apapun yang ditempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. Bertaqwa kepada Allah SWT. Berjiwa pejuang. diharapkan siswa/siswi Bakti Mulya 400 memiliki sifat-sifat umum. 8. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran. serta aktif menjalankan ibadah dan amaliah.aa. mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya. Pengelolaan kelas yang baik. 9. dapat dilakukan dengan enam cara sebagai berikut. ltulah sebabnya. 11. Cukup tanggap dan peka terhadap masalah yang ada di lingkungannya. sebagai berikut : 1. untuk siswa setiap hari sesuai jadwal. Berpengetahuan tinggi dan cerdas. dan menstimulasi setiap anak agar terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran. langkah dan tindakan di manapun berada dan dalam suasana yang bagaimanapun semata-mata karena ibadah kepada Allah SWT. IKHTIAR 19 . akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. Kreatif dan bertanggung jawab. 3. Berbudi luhur dan berakhlak mulia. Oleh karena itu guru perlu menata dan mengelola lingkungan belajar di kelas sedemikian rupa sehingga menyenangkan. 6. Untuk lebih jelasnya ke enam cara tersebut di atas akan dijelaskan dalam uraian berikut. Sehat jasmani dan rohani. cinta kebersihan dan keindahan alam sekitar. STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. 4. aman. Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Menjalin kerja sama yang harmonis dengan orangtua/wali siswa. 12. Mengenakan pakaian seragam. 5. 2. dan karena itu. Berjiwa gotong royong. 10. 7. bb. Pembelajaran yang efektif membutuhkan kondisi kelas yang kondusif. emosional. Kelas yang kondusif adalah lingkungan belajar yang mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. Demokratis dan penuh tenggang rasa. (1) penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif (2) penataan ruang belajar sebagai sentra belajar (3) penciptaan atmosfir belajar yang kondusif. Dengan pelaksanaan budaya tersebut. III. DZIKIR. (4) penetapan strategi pembelajaran dan (5) pemanfaatan media dan sumber belajar. Disiplin. seperti lingkungan fisik dan sistem pembelajaran di kelas. dan (6) penilaian hasil belajar. rendah hati dan berpola hidup sederhana. Memiliki pengetahuan dan keterampilan. dengan senantiasa dijiwai ajaran Agama Islam. dan mental dalam proses belajar. mencintai bangsa dan sesamanya. PIKIR. Setiap gerak.

saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. Lingkungan Fisik Kelas Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan baik seperti: pengaturan meja. dan memungkinkan mereka bisa saling berhadapan langsung. Selain itu juga posisi tempat duduk siswa sebaiknya tidak tetap pada posisi tertentu. Beri keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masingmasing. Dalam model ini. akan lebih baik jika posisi tempat duduk siswa dirubah setiap saat agar interaksi diantara siswa dalam kelas lebih terasa dan hal ini akan menumbuhkan sosialisasi diantara mereka serta mengatasi kebosanan siswa dengan posisi tempat duduk yang tetap. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan. Susunan model ini juga memudahkan untuk membagi bahan pelajaran kepada siswa secara cepat. dapat melihat guru atau media visual dengan mudah. dipindahkan. PIKIR. Di samping itu. Berikut dikemukakan beberapa bentuk penataan meja-kursi yang dapat dipilih oleh guru guna meningkatkan keterlibatan dan interaksi antar siswa dalam proses pembelajaran. Dengan ruang kelas yang baik. dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa. menumbuhkan.1 lainnya sehingga kelompok kecil siswa yang terdiri atas tiga Model Huruf U orang atau lebih dapat keluar-masuk dari tempatnya dengan mudah. DZIKIR. gambargambar afirmasi. Dalam menyusun meja-kursi model U. dimana guru dapat masuk ke dalam huruf U dan berjalan ke berbagai arah. dengan ruang kelas yang tertata dengan baik. IKHTIAR 20 . sediakan ruangan yang cukup antara satu tempat duduk dengan yang Gambar 4. kursi. Meja-kursi juga hendaknya dapat digerakkan. dan disusun secara fleksibel. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. pajangan hasil karya siswa yang berprestasi. media pembelajaran dan jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa.A. Disain ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan. para siswa memiliki alas untuk menulis dan membaca. alat-alat peraga. Pengaturan meja-kursi Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa dapat saling dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. lemari. 1. Model huruf U Model susunan meja-kursi model U dapat dipilih untuk berbagai tujuan. a. para siswa dapat berkomunikasi secara bebas. guru akan leluasa memberikan perhatian yang maksimal terhadap setiap aktivitas siswa.

3 Model Meja Konferensi d. Sediakan ruangan yang cukup. Gambar 4.2 Model Corak Tim c. Model Corak Tim Pada model ini. berdebat. Gambar 4. DZIKIR. Susunan ini mengurangi dominasi pengajar dan meningkatkan keterlibatan siswa.5 Model Fishbowl PIKIR.4 Model Lingkaran e. namun jika mereka berdiskusi. Gambar 4. mereka dapat menghadap ke meja masing-masing. atau mengobservasi aktivitas kelompok. Siswa juga dapat memutar kursi melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru atau papan tulis. meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran atau oblong di ruang tengah kelas agar memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa) dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna menciptakan suasana yang akrab. sehingga guru dapat menyuruh siswa menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil. Guru juga dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah. Model Fishbowl Susunan ini memungkinkan guru melakukan kegiatan diskusi untuk menyusun permainan peran.b. Susunan yang paling khusus terdiri atas dua konsentrasi lingkaran kursi. Model lingkaran seperti ini cocok untuk diskusi kelompok penuh. Jika mereka ingin menulis. Model Lingkaran Dalam model ini. mereka dapat memutar kursi untuk berhadap-hadapan satu sama lain. Model Meja Konferensi Model ini cocok jika meja relatif persegi panjang. IKHTIAR 21 . dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar. tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi berhadaphadapan secara langsung. Gambar 4.

Siswa perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan dalam kelas. guru perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau posterposter tersebut.7 bahasan melibatkan tugas mandiri (seat work) sekaligus tugas Model Workstation kelompok kecil. misalnya. letakkan meja-meja dan kursi di mana kelompok-kelompok kecil siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang didasarkan pada tugas tim. dimana setiap siswa duduk secara berpasangan pada meja tertentu untuk mengerjakan suatu tugas (seperti mengoperasikan komputer. Di samping itu itu. b. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan. poster.  Memberikan keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih mejakursinya masing-masing. dapat diminta membuat gambar. atau petikan ayat. 2. Beberapa hal yang perlu diperhatikan berikut ini dalam menerapkan model ini. berpasangan. dan sebagainya. melakukan kerja laboral. benda asli. c. dipindahkan. maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. Model Breakout groupings Jika kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan. karya-karya terpilih siswa yang dipajang dapat PIKIR. Guna mengoptimalkan penataan ruang. dan pesan tokoh tertentu.6 Model Breakout Groupings g. Siswa. dapat membantu guru dalam proses pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.  Pengaturan meja-kursi sebaiknya dapat digerakkan. Model Workstation Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan. Gambar 4. hadis. puisi. Meja diatur sedemikian rupa. Pemajangan gambar dan warna Pemajangan gambar dan pemilihan warna perlu saran-saran berikut: a. DZIKIR. diagram. dan ditata dengan baik. dsb) sesaat setelah dimenostrasikan. Susunan seperti ini tepat digunakan bila pokok Gambar 4. puisi.f. motto.  Susunan meja-kursi yang baik adalah yang memungkinkan siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas utama sehingga hubungan di antara mereka dapat tetap terjaga. model. Pajangan dapat berupa gambar. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. atau kelompok. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. karangan. dan disusun secara fleksibel. mesin. sehingga siswa dapat bekerja secara berpasangan sebagai partner belajar. IKHTIAR 22 . Guna menghindari kejenuhan terhadap gambar dan isi poster afirmasi yang sama. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa. untuk dipilih dan dipajang dalam kelas. peta.

Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. kelas bahasa. B. pilihlah yang mengandung pesan positif. kelas matematika. dan karya siswa yang terkait dengan pokok bahasan. media. Semua elemen dalam kelas menjadi semacam reinforcer (penguat) dan stimulator untuk membangkitkan gairah dan aktivitas belajar terhadap mata pelajaran tertentu. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. Beberapa praktik yang baik dalam menata sentra-sentra belajar (good practice) dikemukakan berikut ini:  Dalam menata kelas menjadi sentra belajar. sejumlah guru bidang studi melibatkan siswa terutama dalam perencanaan dan pengadaan sumber-sumber belajar yang diperlukan. Sentra belajar bisa berlokasi di atas meja. 3. Sentra belajar bisa bersifat permanen atau hanya terkait dengan kegiatan atau bidang pembelajaran tertentu. Hanya pada saat jeda atau untuk maksud memberi efek khusus dapat dipilih musik yang berisi lirik lagu. PIKIR. belajar sambil mendengar musik dapat menciptakan suasana menyenangkan dan rasa betah tinggal di kelas.berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. kelas kesenian. Meja. sentra pembelajaran matematika. Secara umum. dan sebagainya. Pelibatan siswa dalam merancang ruang kelas menjadi sentra-sentra belajar dapat membangun rasa kebanggaan dan kebersamaan di kalangan siswa. Pemanfaatan musik Kehadiran suara musik lembut di kelas juga diyakini dapat memperkuat daya tahan dan konsentrasi belajar siswa. Disamping itu. kursi. misalnya sentra penerbitan. Untuk masud tersebut. jika di kelas telah dipersiapkan dengan sound-system yang baik. ruang-ruang kelas tertentu ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. perlengkapan. Penataan Ruang Kelas sebagai Sentra Belajar Sentra belajar merupakan area khusus di ruang kelas untuk menata materi. DZIKIR. IKHTIAR 23 . peralatan. keterampilan atau kegiatan tertentu. kafe baca. Dan jika harus menggunakan musik dengan lirik. Sentra belajar juga bisa bersifat fleksibel dan sementara (ditata untuk keperluan tema atau unit tertentu yang dipelajari). jika dana memungkinkan. sebagai berikut:  Atmosfir dan tatanan kelas dapat memperlancar aktivitas dan proses pembelajaran. rak buku. Oleh karena itu. atau bahkan di kolong meja. Dalam sistem moving-class ini. guru dapat mendorong siswa untuk memiliki dan mengemukakan beberapa pilihan dalam menyusun aturan dasar bagi kegiatan berbasissentra mereka. dsb. khususnya saat siswa mengerjakan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi dan daya pikir yang tinggi. pajangan. semua pilihan musik untuk menopang aktivitas pembelajaran di kelas adalah jenis musik instrumentalia. pelibatan siswa tersebut juga membantu membangun keterampilan “perawatan rumah” yang dipelukan untuk mempertahankan suasana kelas yang aktif dan berorientasi pada siswa. Akan lebih baik. di setiap kelas dapat disediakan radio tape untuk memutar dan memperdengarkan musik-musik lembut. Di samping itu. Penggunaan sistem moving-class seperti itu memiliki beberapa keuntungan.  Sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. Ada kelas sains. peralatan. sudut ruang.

dan berbagai sikap prososial siswa lainnya. misalnya.  Pergerakan-pergerakan yang dialami siswa saat perpindahan kelas memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih aktif dan hidup di kalangan siswa. Media dan peralatan pembelajaran Sains. Hal ini diharapkan mampu memacu motivasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri. fasilitas. Mobilitas gerak seperti Ini dapat menghindarkan siswa dari kejenuhan akibat tata ruang kelas yang monoton. Memungkinkan penggunaan sarana. Memberikan peluang kepada siswa untuk belajar (bekerja) sesuai dengan kecepatan belajar yang dimilikinya. keterlibatan siswa. Pengelolaan Aktivitas Belajar Siswa Biasanya. kerjasama. Untuk itu. berpasangan. Hal yang sangat penting perIu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik siswa. atau klasikal. Memberikan peluang kepada siswa untuk berkreasi sesuai dengan minat dan motivasi belajar terlepas dari kompetensi yang sama atau berbeda. dan ketersediaan sarana/prasarana. Guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. serta berbagai media dan peralatan belajar secara lebih efisien. serta kegiatan yang dilakukan siswa. Berikut ini beberapa contoh perbedaan karakteristik masing-masing siswa Tabel 19. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran. waktu belajar. tidak perlu ada di semua kelas. perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap siswa memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya. kelompok kecil. Memberikan peluang kepada siswa untuk menunjukkan 24 . IKHTIAR Memberikan peluang kepada setiap siswa untuk mencapai kompetensi secara maksimal sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki. Ini dapat menstimulasi dan mengembangkan sikap-sikap empati. Beberapa pertimbangan perIu diperhitungkan sewaktu melakukan pengelolaan siswa.3 Faktor Keberagaman Karekteristik Siswa dan Implikasi bagi Pengelolaan Siswa Faktor Keberagaman Isi (by content) Pengelolaan Siswa Memberikan peluang kepada siswa untuk mempelajari materi yang berbeda dalam sasaran kompetensi yang sama ataupun berbeda. DZIKIR. Minat dan motivasi siswa (by interest) Kecepatan tahapan belajar (by piece) Tingkat kemampuan (by level) Reaksi yang diberikan PIKIR. pengelolaan aktivitas belajar siswa dilakukan dalam beragam bentuk seperti individual. tujuan kegiatan. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/isi materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan siswa. semua kebutuhan pembelajaran mata pelajaran tersebut cukup ditempatkan dan ditata khusus pada kelas tertentu. siswa dapat menikmati dan mengalami proses belajar pada tempat dan lingkungan belajar yang bervariasi. kepedulian. 1.  Setiap hari. Demikian pula kebutuhan media dan alat bantu belajar pada mata-mata pelajaran lainnya ditata khusus pada kelas-kelas tersendiri. Antara lain jenis kegiatan.

respon melalui presentasi/penyajian hasil karyanya secara lisan. Waktu merupakan sumber terbatas yang perlu dialokasi dan dimanfaatkan secara efesien dan efektif. Jika skenario pembelajaran disiapkan dengan baik. Guru perlu menemukan cara-cara kerja yang efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas administratif yang memang perlu. sebagainya. misalnya: dari yang mudah ke sulit. Memberikan perhatian kepada setiap individu siswa yang kemungkinannya memiliki perbedaan durasi untuk mencapai ketuntasan dalam belajar. atau dilimpahkan ke konselor sekolah. DZIKIR. Penataan ruang kelas PIKIR.  Hindari terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu selama proses pembelajaran. Struktur pengetahuan (by structure) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih (menyeleksi) materi berdasarkan cara yang dikuasai. Gunakan petunjuk tertulis.  Dilakukan untuk menunjung program pembelajarannya.siswa (by respond) Siklus cara berpikir (by circular sequence) Waktu (by time) Pendekatan pembelajaran (by teaching style) 2. sumber-sumber waktu yang disediakan untuk setiap jam pembelajaran dapat digunakan secara efektif dan efisien. atau gambar untuk membantu siswa memahami apa yang harus dilakukan.  Hindari menghentikan PBM sebelum waktunya. Dengan demikian. Guru terkadang terlalu banyak menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa terlambat atau menampilkan perilaku salah-suai lainnya. dari dekat ke jauh. benda kreasi.  Mulai pembelajaran pada waktunya. guru perlu memperhatikan beberapa petunjuk berikut ini. dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. penundaan memulai awal pembelajaran. atau terlalu banyak menggunakan waktu untuk menyelesaikan tugas administratif. IKHTIAR 25 . Hindari menghabiskan terlalu banyak waktu menghadapi siswa terlambat atau problem siswa lain. Kondisikan agar prosedur dan kegiatan rutin siswa di kelas dapat dilakukan dengan lancar dan cepat.  Hindari waktu terbuang akibat keterlambatan penyiapan sumber atau media. Penggunaan komputer merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh. Siswa-siswa semacam itu sebaiknya ditangani setelah waktu pembelajaran. Alokasi jam pembelajaran tersebut harus dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan perubahan belajar pada diri siswa. Pengelolaan Waktu Pembelajaran berlangsung selama priode waktu tertentu. denah. Tata peralatan dan bahan yang diperlukan sedemikian rupa di lokasi yang mudah dijangkau dan digunakan oleh semua siswa saat dibutuhkan. Memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap individu sesuai dengan keadaan siswa. Guna mengoptimalkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran. tertulis. bagaimana dan dimana suatu tugas harus dilakukan. Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menguasai materi melalui cara-cara berdasarkan perspektif yang mereka pilih. Alokasi waktu pelaksanaan pembelajaran setiap mata pelajaran telah dialokasikan dalam satuan jam tertentu. guru dapat mememperkirakan macam dan kuantitas kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan.

guru dilatih: PIKIR. Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran. Guru hendaknya dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. kesempatan. (3) mencerdaskan. 1. Ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pelajaran dengan hal-hal yang menarik.  yang baik. Mencerdaskan dan menguatkan Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif. dan (4) menguatkan. atau saat khusus tertentu dimana kelas sedang berada pada kondisi sangat kondusif dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. IKHTIAR 26 . Menyenangkan dan mengasyikkan Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif perasaan. Momentum belajar adalah momen. Oleh karena itu. sebagaimana diuraikan sebelumnya. DZIKIR. C. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan hidup (life skill). Tingkatkan time on-task setiap siswa untuk mengikuti setiap sesi pembelajartan. dapat membantu memperlancar aktivitas pembelajaran di kelas. dan sesuai dengan minat siswa. Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yang (1) menyenangkan. 2. penggunaan metode dan strategi belajar yang bervariasi. siswa selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan dan begitu pekerjaan dimulai tidak ada lagi gangguan yang merusak konsentrasi belajar. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru. Mempertahan momentum belajar selama proses pembelajaran merupakan salah satu kunci untuk menjaga tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. Pertahankan momentum belajar.  menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa. (2) mengasyikkan. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam keseharian anak. melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Penciptaan Atmosfir Belajar Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran. Setiap siswa bergiat untuk saling belajar. bersifat melibatkan. yaitu curah waktu dimana siswa secara aktif terlibat secara mental pada proses belajar. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:  bersikap ramah  membiasakan diri selalu tersenyum  berkomunikasi dengan santun dan patut  adil terhadap semua siswa  senantiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya. Time on-task siswa. Dalam kelas yang menjaga momentum dengan baik.

 Sebelum memulai pelajaran. guru membiasakan siswa untuk berdoa secara bersama agar Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam memahami pelajaran. dan saling menjelaskan.Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir. kejujuran dan tanggung jawab bagi setiap tugas yang diberikan. saling bertanya. Selanjutnya. DZIKIR. D.  Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam. memperdalam.  Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi.  Selama proses pembelajaran berlangsung. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. guru juga tidak lupa memberikan pencerahan-pencerahan rohani kepada para siswa agar mereka senantiasa saling menghormati dan menghargai.  Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau kepada gurunya. guru senantiasa mengembangkan bentuk komunikasi yang efektif. Dengan demikian pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat. membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. IKHTIAR 27 . tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh. atau menyempumakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau gurunya.  Dalam proses pembelajaran siswa senantiasa perIu didorong untuk mengkomunikasikan gagasan.  Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran. guru atau pihakpihak lain. memantapkan.  Di awal pelajaran. Dengan kata lain. agar siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat dalam suasana yang menyenangkan dan merasa tidak tertekan. Artinya.  Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah.  Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran. kemampuan. pembelajaran itu diharapkan dapat  PIKIR. dengan sikap yang ramah dan penuh senyuman guru menyapa beberapa orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan dan kesiapan masing-masing siswa untuk belajar. karena jika anak senang dan asyik. sikap. tidak takut atau merasa bersalah. hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain. Beberapa praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik (good practice) dikemukakan berikut ini. melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar. melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. terlebih dahulu perlu dipahami tentang konsep belajar seperti berikut ini. prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. Penerapan Strategi Pembelajaran Sebelum membahas tentang strategi pembelajaran. Bahkan ada guru yang membuka pelajaran diawali dengan nyanyian pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang siswa melanjutkan lagu tersebut.

dan motivasi siswa untuk terus belajar sampai dapat PIKIR. IKHTIAR 28 . 1. dan evaluasi. Karena itu. minat. guru-guru menyadari bahwa strategi pembelajaran merupakan hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. maka siswa dapat belajar mengembangkan cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. dengan menggunakan fenomena di dunia nyata sekitarnya. Melalui dunia nyata yang terjadi di sekitar mereka. Tahap 3: membimbing penyelidikan individual dan kelompok. (4) pembelajaran kooperatif. melakukan percobaan. serta memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. seperti dapat membangkitkan curiosity. Pembelajaran bermakna hanya dimungkinkan terjadi bila siswa dapat mengerahkan proses berpikir tingkat tinggi. 2. d. b. Pembelajaran berbasis masalah dapat ditempuh melalui lima tahap sebagai berikut. serta membantu mereka mambagi tugas dengan temannya. karena strategi dapat menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan pemahaman seperti hal tersebut di atas. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. Tahap 2: mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya. (5) pembelajaran partisipatory. Tahap 1: orientasi siswa kepada masalah. DZIKIR. Strategi pembelajaran inquiry & discovery memiliki beberapa keuntungan. strategi pembelajaran yang dipilih dan dipergunakan dengan baik oleh guru dapat mendorong siswa untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas. dan menemukan sendiri prinsip-prinsip dan konsep yang diajarkan. seperti pada level analisis. Tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. c. Para siswa akan tertantang bagaimana belajar. dan penggunaan strategi pembelajaran secara baik dapat berdampak pada meningkatnya keterampilan mengajar guru dan rasa percaya dirinya. maka seorang guru sebaiknya menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks pembelajaran. e. dan (6) pembelajaran scaffolding. Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya.mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya. dan model. (2) pembelajaran inquiry. a. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan. (3) pembelajaran berbasis proyek/tugas. sintesis. mereka perlu diorientasikan pada situasi/dunia nyata dengan segala problemanya. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan logistik yang dibutuhkan. Beberapa strategi pembelajaran yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah dapat dikemukakan antara lain (1) pembelajaran berbasis masalah. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran berbasis masalah. video. guna merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi dari siswa. Strategi Pembelajaran Inquiri Pembelajaran inquiry mendorong siswa untuk mengalami. Selain itu.

cukup sulit. Siswa perlu mengetahui dengan tepat apa yang mereka harus kerjakan. i. gambar. maka tugas yang diberikan kepada siswa harus cukup bermakna dan memiliki tujuan yang jelas. Hadapkan mereka dengan demonstrasi-demonstrasi tambahan untuk mengeksplorasi lebih jauh fenomena. misalnya dalam bentuk penyajian di kelas. Jika tugas belajar yang diberikan cukup bervariasi. atau karya lain. tanggung jawab. kepercayaan diri. Minta siswa mengkomunikasikan dan menyajikan hasil karyanya. PIKIR. menempelkan di majalah dinding. penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek/tugas ini mendorong tumbuhnya kompetensi pengiring (nurturant) seperti kreativitas. bangkitkan tanggapan dan penjelasan siswa lain. tabel. Secara operasional. bagan. Minta siswa menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan. Sajikan tugas-tugas yang berkaitan kemudian cermati dan beri balikan atas pemikiran yang diajukan siswa. Dalam penyajian di kelas. b. menulis di koran. IKHTIAR 29 . melalui penerapan strategi inquiry & discovery. j. Dalam pembelajaran berbasis proyek. Selalu minta siswa memberi alasan atas jawaban-jawaban mereka. Di samping itu. Membuat tugas bermakna. 3. mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu. g. Implementasi pembelajaran berbasis proyek/tugas didasarkan kepada empat prinsip berikut ini. dsb. h. Di samping itu. dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. dan menantang Guna mempertahankan tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. pembelajaran inquiry & discovery dapat ditempuh melalui tahapan berikut: f. Ciptakan lingkungan yang dapat menerima jawaban salah tapi masuk akal. lengkap. Jelaskan prosedur inkuiri dan sajikan masalah. jelas. DZIKIR. siswa dapat lebih termotivasi dan lebih terlibat aktif dalam mengerjakannya.menemukan jawaban. Minta tanggapan balik (counter-suggestions) dan selidiki tanggapan siswa. tetapi realistik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. dan berpikir kritis dan analitis. siswa diberikan tugas atau proyek yang kompleks. a. kemandirian. k. Menganekaragamkan tugas-tugas Pilihan tugas yang beraneka ragam dapat menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Pilihan mengenai tugas belajar tidak terbatas dan tidak ada alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari. Minta siswa mengumpulkan informasi melalui observasi atau berdasar pengalaman masing-masing. Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek/Tugas Pembelajaran berbasis proyek/tugas (project-based/task learning) ditandai dengan pengelolaan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa melakukan penyelidikan terhadap masalah otentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran. dan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Sajikan situasi teka-teki (puzzling situation) yang sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. siswa juga dapat belajar memecahkan masalah secara mandiri dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis sebab mereka harus menganalisis dan mengutak-atik data dan informasi.

3. dan penyesuaian sosial. Mengoptimalkan penggunaan sumber belajar dan pencapaian hasil belajar. kepekaan sosial. rasa harga diri. Setiap tim memiliki anggota heterogen (jenis kelamin. Tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya sebagai sesuatu yang menantang. tugas yang diberikan harus memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan berhasil tinggi. tenggang rasa. Membangun persahabatan. 2. Menaruh perhatian pada tingkat kesulitan Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan satu bahan baku penting untuk menjamin keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. ras. maka guru hendaknya berada dalam kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang bekerja secara mandiri. keyakinan terhadap gagasan sendiri. Apabila siswa bekerja berkelompok. dan sikap prososial. Memperluas perspektif wawasan. kerja sama. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan terlalu mudah. pembelajaran kooperatif dapat diterapkan melalui metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) Pelaksanaan metode STAD ditempuh dengan beberapa tahapan sebagai berikut: 1. Memungkinkan sharing pengalaman dan saling membantu dalam memecahkan masalah pembelajaran. termasuk memberi reinforcement dalam bentuk reward bagi hasil karya yang baik dan catatan-catatan penyempurnaan bagi karya yang belum optimal. dan penerimaan diri. Jika siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri. d. etnik. seperti: 1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. PIKIR. tanggung jawab.c. kebiasaan bekerja sama. guru perlu menyiapkan waktu untuk mengoreksi pekerjaan yang dihasilkan siswa dan mengembalikan kepada mereka dengan umpan balik. Strategi pembelajaran ini. namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri. Monitoring tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah siswa memahami tugas mereka melalui pemeriksaan pekerjaan siswa dan pengembalian tugas dengan umpan balik? Guru harus selalu menyediakan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka memahami dan mengerjakan dengan benar tugas yang diberikan. 4. rasa saling percaya. Mengembangkan keterampilan komunikasi. 2. Selanjutnya. Tiap anggota menggunakan lembar kerja akademik. Secara operasional. Strategi Pembelajaran Kooperatif Dalam pembelajaran kooperatif. memungkinkan pengembangan sejumlah kompetensi nurturant pada diri siswa. 3. IKHTIAR 30 . 5. siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk saling membantu belajar satu sama lain. DZIKIR. kemampuan belajar). Memonitor kemajuan siswa Salah satu tugas penting guru adalah memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. 4.

siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh dan membuat ringkasan untuk disajikan di depan kelas. Disamping itu.  Organisasi. dsb. Gunakan berbagai teknik. IKHTIAR 31 . Setiap siswa adalah subjek yang kepentingannya perlu diperhatikan dan diakomodasi dalam proses pembelajaran. meta-plan.4. Pelaksanaan pembelajaran partisipatori dapat ditempuh melalui strategi sebagai berikut: 1. tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan yang telah dipelajari. atau keduanya. Evaluasi setiap alternatif berdasarkan kelayakan (kemampuan. siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus.  Analisis dan sintesis. Libatkan siswa dalam membuat perencanaan dan pilihan tindakan yang diperlukan dalam proses pembelajaran. dalam memutuskan mengenai strategi umum yang perlu ditempuh.6 orang dengan komposisi heterogen.  Penyajian hasil akhir. PIKIR. fasilitas). 6. guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. DZIKIR. baik di dalam maupun di luar sekolah. cara-cara menyelesaikan tugas. tugas. 3. Siswa atau tim yang meraih prestasi tertinggi atau mencapai standar tertentu diberi penghargaan. Strategi Pembelajaran Partisipatori Pembelajaran partisipatori menekankan pelibatan siswa untuk berpartisipasi dan ikut menentukan berbagai aktivitas pembelajaran. Setiap siswa dan setiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar. 5. Metode Invistigasi Kelompok dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:  Seleksi topik. diskusi kelompok fokus untuk mendorong semua siswa mengemukakan gagasan masing-masing. sumber pembelajaran.  Tahap implementasi.  Evaluasi. Misalnya. Siswa melaksanakan rencana yang telah disusun. waktu. kemudian sepakati pilihan yang dapat diterima semua pihak.  Merencanakan kegiatan kerjasama. bentuk dan tugas kelompok. Tiap anggota saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi. Secara individual atau tim. Dimungkinkan setiap individu atau kelompok memilih caranya masingmasing untuk mencapai tujuan sepanjang berkontribusi pada pencapaian tujuan pembelajaran. Pelibatan siswa dalam perencanaan dan penentuan berbagai pilihan tindakan pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan komitmen siswa untuk menekuni setiap tugas pembelajaran. para siswa memilih berbagai sub-topik dalam satu wilayah masalah umum terkait dengan tujuan pembelajaran. Dorong siswa menggunakan berbagai sumber. Evaluasi dapat mencakup siswa secara individu atau secara berkelompok. dan tujuan umum yang sesuai dengan sub-topik yang telah dipilih. strategi ini dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya jiwa demokratis serta kemampuan mengemukakan dan menerima pendapat di kalangan siswa. setiap kelompok menyajikan hasil investigasi kelompoknya di depan kelas. 2. para siswa dibagi ke dalam kelompok yang berorientasi pada tugas dan beranggotakan 2 . sumberdaya. seperti brainstorming. 5.

(4) menjelaskan dan mengklarifikasi pemahaman siswa.  Jabarkan tugas pemecahan masalah ke dalam tahap-tahap yang rinci sehingga dapat membantu siswa melihat zona yang akan di-scaffold. peringatan. dorongan (motivasi). DZIKIR. dorongan. Secara operasional. guru kembali ke sistem dukungan untuk membantu siswa memperoleh kemajuan sampai mereka mampu mencapai kemandirian. kemudian secara berjenjang sebagai peranan guru dalam mendukung perkembangan siswa dan menyediakan struktur dukungan untuk mencapai tahap atau level berikutnya.  Memberi model dan mendefenisikan dengan jelas harapan mengenai aktivitas yang akan dilakukan. Ketika pengetahuan dan kompetensi belajar siswa meningkat. dan pemberian contoh (modeling). contoh.  Menyederhanakan tugas belajar sehingga bisa lebih terkelola dan bisa dicapai oleh anak. (3) mengundang siswa berpartisipasi. IKHTIAR 32 .  Memberi petunjuk untuk membantu anak berfokus pada pencapaian tujuan. Teknik pembelajaran scaffolding dapat dilakukan dengan format: (1) pemberian model perilaku yang diharapkan.  Berikan dukungan dalam bentuk pemberian isyarat. Jika siswa belum mampu mencapai kemandirian. dan perubahan rencana tindakan. Beberapa keuntungan pembelajaran Scaffolding adalah:  Memotivasi dan mangaitkan minat siswa dengan tugas belajar.4. kata kunci. guru secara berangsurangsur mengurangi pemberian dukungan. strategi pembelajaran scaffolding dapat ditempuh melalui tahapan berikut.  Dorong siswa untuk menyelesaikan tugas belajar secara mandiri. Dorong siswa melaksanakan alternatif tindakan secara konsisten.  Mengurangi frustasi dan resiko. (2) pemberian penjelasan. atau hal lain yang dapat memancing siswa bergerak ke arah kemandirian belajar dan pengarahan diri. penguraian masalah ke dalam langkah pemecahan. dan (5) mengundang siswa untuk mengemukakan pendapat.  Asesmen kemampuan dan taraf perkembangan setiap siswa untuk menentukan Zone of Proximal Development (ZPD). guru harus selalu mengingat bahwa kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya senantiasa diarahkan untuk pencapaian dampak instruksional dan dampak pengiring. yakni teknik pemberian dukungan belajar yang pada tahap awal diberikan secara lebih terstruktur. revisi. tanda mata (reminders). Sesungguhnya. Strategi Pembelajaran Scaffolding Pembelajaran scaffolding merupakan praktik assisted learning.  Secara jelas menunjukkan perbedaan antara pekerjaan anak dan solusi standar atau yang diharapkan. diharapkan guru dapat memilih dan merancang serta PIKIR. namun tetap memberi peluang dilakukannya refleksi. Dalam mengimplementasikan strategi-strategi pembelajaran yang disarankan. strategi pembelajaran scaffolding mendorong siswa menjadi pelajar yang mandiri dan mengatur diri sendiri (self-regulating).  Sajikan tugas belajar secara berjenjang sesuatu taraf perkembangan siswa. Dampak instruksional bermuara pada kecerdasan intelektual (IQ). 6. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui penjelasan. Untuk keperluan itu. sedangkan dampak pengiring bermuara pada kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

fakta. berkomentar. IKHTIAR 33 .mengembangkan media pembelajaran agar dapat memudahkan pencapaian IQ. dan PIKIR. dalam menentukan strategi pembelajaran. strategi pembelajaran yang diberikan hanya sebatas pada ceramah. siswa mampu berkreasi seni suara dengan baik serta menanggapi beragam karya musik sesuai sifat dan karakteristik setiap jenis musik.  Pada umumnya guru bidang studi menyadari sepenuhnya bahwa strategi pembelajaran yang dipilih adalah strategi yang dapat membuat siswanya mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar dan dapat memanfaatkan potensi siswa seluas-luasnya. mengajukan hipotesis.  Dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran. dan SQ tersebut. Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar Untuk mendukung pembelajaran dengan baik. diskusi. Beberapa praktik penerapan strategi pembelajaran yang baik (good practice) yang telah dilaksanakan di sekolah dikemukakan berikut ini.  Meskipun belum semua guru SMA unggulan telah menerapkan strategi pembelajaran seperti yang diharapkan. IPS.  Sejumlah guru telah berhasil menggunakan berbagai variasi strategi pembelajaran dalam pencapaian kompetensi dasar tertentu yang terdapat di dalam kurikulum. serta lama waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan yang dimaksud. materi penggunaan media dan sumber belajar yang diberikan dalam pelatihan tersebut meliputi:  Pengenalan berbagai jenis media pembelajaran dan fungsinya masing-masing dalam pembelajaran. namun sejumlah guru telah berhasil menerapkan berbagai strategi pembelajaran di sekolah masing-masing. mempertanyakan. E. EQ. jumlah siswa yang terlibat di dalam proses pembelajaran. mengumpulkan data. dan sejumlah kegiatan mental lainnya. Pengetahuan dan pengalaman tersebut akan membantu guru dalam menentukan media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. pada umumnya guru bidang studi melibatkan siswa. maka guru perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai media dan sumber belajar. Ada banyak informasi. Di samping itu.  Latihan mencari berbagai sumber belajar yang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. serta menyesuaikan dengan tingkat kesulitan kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum. Sumber Situasi Nyata (Sumber Berbasis Lingkungan) Situasi kehidupan nyata dan lingkungan sekitar yang ada di sekitar siswa merupakan sumber belajar yang sangat penting dan dapat memberi informasi dan pengalaman belajar yang tidak terbatas bagi siswa. atau olah raga memadukan strategi kooperatif dengan berbasis masalah dan strategi inquiry. senantiasa diawali dengan pembacaan doa sebelum dan sesudah berolahraga. Untuk keperluan itu. bertanya. seperti kegiatan mengamati. Media dan sumber belajar yang disediakan guru hendaknya dapat mendorong dan membantu siswa untuk melibatkan mental secara aktif melalui beragam kegiatan. 1. DZIKIR.  Semua strategi yang dipilih dan diterapkan oleh guru.  Dengan memadukan strategi partisipatorik-penugasan. kesenian. guru juga mencermati tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. dan pemberian tugas. menjelaskan. Misalnya dalam pembelajaran bidang studi IPA. Mereka mengakui bahwa selama ini.

Seperti juga pada model situasi nyata. peningkatan pemahaman siswa tentang berbagai ihwal kehidupan pasar. 5. siswa yang memiliki daya abstraksi lemah dapat terbantu dengan keberadaan ilustrasi/gambar tersebut. cart. Materi yang diceramahkan pun perlu bersifat kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) berfungsi sebagai bahan dan alat pembelajaran. dapat dilakukan guru dengan menyediakan kegiatan simulasi. 2. misalnya. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. Penggunaan Media Audio Verbal Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. guru harus mengurangi cara ini. guru tetap dapat menghadirkan situasi kehidupan dan fenomena lingkungan dengan membuat situasi buatan. Pada kondisi ini. DZIKIR. Dalam keadaan seperti ini. Penciuman. Penggunaan Media Audio-Visual Sumber belajar dapat pula dihadirkan melalui berbagai media. Sebagai bahan. peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. Pada keadaan ini. seperti media audio-visual. Pada beberapa buku biasanya tidak hanya menyajikan uraian teks. 3. tabel. atau kalau terpaksa perIu berceramah cukup antara 2025 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong penggunaan indera “Lihat. cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. Kalau keadaan ini berkelanjutan. tetapi juga dilengkapi dengan beragam ilustrasi (gambar).pengetahuan yang dapat digali situasi nyata dan lingkungan sekitar guna mendukung rekonstruksi dan mempekaya pemahan dan pengalaman belajar siswa. 6. Dengan demikian. Cara ini banyak berkaitan dengan membaca buku pelajaran. Tentu saja. video). buku sumber. 4. guru dianjurkan untuk memanfaatkan PIKIR. Dengan demikian. siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. Guru dapat mencari dan menyeleksi film atau video yang berisi ceritera atau laporan dokumenter yang sesuai atau ada kaitan dengan pokok bahasan tertentu dalam mata pelajaran yang diasuh. lembar kegiatan/kerja. Media Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). TIK menjadi sebuah mata pelajaran yang diperkenalkan mulai pada jenjang sekolah dasar sampai pada sekolah menengah atas. Film atau video seperti itu kemudian ditayangkan di kelas atau temta khusus tertetu diikuti dengan diskusi bersama siswa sekaitan dengan tema dan spot-spot cerita serta kaitannya dengan pokok bahasan mata pelajaran. sebagian siswa berperan sebagai pembeli dan sebagian lainnya sebagai penjual. Untuk mengatasinya. Situasi dan aktivitas kelas ditata sedemikian rupa menyerupai apa yang terjadi dalam lingkungan nyata. ensiklopedia. Kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menyajikan situasi nyata untuk belajar seringkali tidak tersedia atau sulit dilakukan. pada model ini pun dapat dibedakan menjadi situasi buatan dengan siswa terlibat langsung dan situasi buatan dengan siswa tidak terlibat langsung. Sumber Menggunakan Situasi Buatan Guru tidak selalu mampu menyediakan situasi nyata. IKHTIAR 34 . yakni membuat situasi buatan. Raba. Penggunaan Media Visualisasi Verbal Sumber belajar yang paling umum digunakan dalam mendukung pemahaman mengenai pokok bahasan adalah melalui media visualisasi-verbal. grafik. Rasa”. kelas dapat dirancang seperti pasar. Sebagai alat pembelajaran.

 Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. komputer dapat berfungsi sebagai tutor.  Penjadwalan bisa lebih fleksibel apabila laboratorium komputer diperlakukan sebagai sumber yang dapat diakses sendiri oleh setiap siswa (self-access learning resources). akhir-akhir ini komputer telah banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. F. Media komputer memiliki banyak kelebihan dibandingkan media lainnya. yakni kecerdasan IQ. Beberapa jenis yang potensial dan sering digunakan sebagai alat bantu pembelajaran.  Harus mengukur semua aspek pembelajaran. bukan untuk mengukur pada hasil semata.  Siswa merasa lebih bebas tanpa merasa diamati oleh orang lain. seperti mengetik. Beberapa prinsip penilaian dalam pembelajaran efektif yang perlu diketahui oleh guru dalam menyusun dan melaksanakan penilaian sebagai berikut berikut.  Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber. media komputer juga dapat berfungsi sebagai perangkat untuk jaringan komunikasi. Bentuk penilaian yang dianjurkan dalam pembelajaran efektif adalah penilaian sebenarnya (authentic assessment). alat (tool). Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar sebaiknya ditekankan pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. menganalisis.  Tugas-tugas yang diberikan dan dijadikan bahan evaluasi siswa haruslah mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari. dan produk. audio. atau mendokumentasi data dan informasi. Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:  Siswa belajar sesuai kemampuan dan kecepatan masing-masing. email. intranet. oral. DZIKIR.fasilitas TIK untuk memfasilitasi pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu. dan gerak (kinestetik).  Peluang untuk menyulang materi terbuka luas dan lebih banyak. yaitu proses.  Format pembelajaran dapat mencakup semua indera dan aktivitas belajar. Yang paling ditekankan adalah bagaimana guru senantiasa menyadari sejak awal bahwa tujuan akhir dari penilaian pembelajaran adalah agar untuk mengukur dan menilai keberhasilan pencapaian tiga jenis kecerdasan secara seimbang. televisi.  Siswa menerima balikan segera (instant feedback). atau stimulator. yaitu visual. EQ. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. PBK meliputi berbagai kegiatan belajar dan aplikasi dengan menggunakan komputer. yang biasa disebut sebagai pembelajaran berbasis komputer (PBK). Soalsoal atau tugas memancing munculnya cara jawab atau cara penyelesaian yang bervariasi. horisontal. dan sebagainya. dan komputer. kinerja. sebagai lawan cara berpikir konvergen dan vertikal) oleh siswa. dan SQ.  Menstimulasi muncul dan digunakannya cara berpikir divergen (berpikir lateral. misalnya radio. Mereka PIKIR. Di samping memudahkan dan memperlancar pekerjaan. seperti melalui internet. Dari hasil pendampingan dan refleksi terhadap kemampuan guru menggunakan media dan sumber belajar di dalam proses pembelajaran. IKHTIAR 35 .  Siswa belajar menurut masalah yang dihadapinya. bukan hanya satu jawaban kunci.  Menawarkan materi dan kegiatan yang otentik dan interaktif. ditemukan sejumlah keberhasilan di samping sejumlah kendala sebagaimana yang dipaparkan berikut ini.

Witte dan Walsh (1990) mengemukakan dua dimensi penting kedisiplinan yang dilaksanakan dalam sekolah efektif. Bentuk penilaian meliputi jenis tagihan seperti kuis. siapapun tidak diperbolehkan untuk masuk ke lingkungan sekolah jika terlambat. dan (4) memberikan penilaian secara seimbang terhadap kecerdasan IQ. laporan untuk kerja. biasanya tersimpan pada buku khusus (catatan anekdot). biasanya dikumpulkan oleh guru dan didokumentasikan. dan SQ.00-07. Pada dasarnya tata tertib dan disiplin merupakan harapan yang dinyatakan secara eksplisit yang mengandung peraturan tertulis mengenai perilaku siswa yang dapat diterima. kecuali tamu yang akan berkunjung kesekolah atau ada hal lain yang mendesak sehingga pintu gerbang sekolah dapat dibuka.  Laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar. ulangan semester. atau bentuk tagihan pilihan ganda. serta tagihan dalam bentuk soal yang akan diberikan pada peserta didik. kerja praktik/unjuk kerja. (2) penilaian berkala dan berkesinambungan. bukan keluasannya (kuantitas). yaitu: (1) persetujuan kepala sekolah dan guru terhadap kebijakan disiplin sekolah. 1987 seperti dikutip oleh Moedjiarto. dan sanksisanksinya (ESCN. pekerjaan rumah.  Catatan perilaku harian para siswa.  Penilaian harus menekankan pada kedalaman pengetahuan (kualitas) dan keahlian siswa. Penilaian secara umum bertujuan untuk mengetahui kemajuan hasil belajar siswa dan menetapkan tingkat penguasaan kompetensi suatu keahlian tertentu sesuai dengan indikator yang dipersyaratkan standar kompetensi. Penelitian Moedjiarto (1990) mengungkapkan bahwa karakteristik tata tertib dan kebijakan disiplin sekolah mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi akademik siswa.  Tugas-tugas terstruktur biasanya dikumpulkan oleh guru dan disimpan dalam map atau loker khusus. Untuk menjalankan prinsip-prinsip penilaian. dan bila melewati jam tersebut pintu gerbang sekolah ditutup rapat. tugas individu. (1) penilaian proses dan hasil. dan (2) dukungan yang diberikan kepada guru bilamana mereka melaksanakan peraturan disiplin sekolah. prosedur disiplin. (3) penilaian yang jujur dan adil. Disiplin sebenarnya bukan hanya sekedar aturan yang harus ditaati untuk merubah perilaku siswa di sekolah dan bukan sekedar sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan.harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari. 1990). ulangan harian.15. paspor keterampilan. ijazah. guru harus mempertimbangkan beberapa hal penting antara lain. IKHTIAR 36 . EQ. Biasanya dicatat dalam buku rapor siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menciptakan kondisi sekolah yang dapat membuat semua personil sekolah untuk taat dan patuh secara sadar untuk mengikuti tata tertib yang ada disekolah tersebut. IV. DZIKIR. tetapi lebih dari itu untuk membentuk mental disiplin kepada siswa. uraian singkat. Berdasarkan hasil penilaian itu diberikan penghargaan kepada peserta didik dalam bentuk rapor. portofolio. tugas kelompok. Misalnya tata tertib untuk masuk sekolah jam 07. pertanyaan lisan di kelas. atau sertifikat kompetensi. Aturan itu harus konsisten PIKIR. TATA TERTIB DAN KEDISIPLINAN DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Tata tertib dan kedisiplinan sangat penting artinya dalam mewujudkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif melalui penciptaan kedisiplinan belajar. Komponen proses dan hasil belajar yang penting dinilai antara lain:  Hasil ulangan harian dan ulangan umum.

d) Tata tertib sekolah hendaknya tetap memberi ruang untuk pengembangan kreativitas warga sekolah dalam mengespresikan diri dan mengembangkan potensi dan kompetensi yang dimilikinya. dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan beserta sanksi atas pelanggarannya. guru. ditetapkan skor denda maksimum. staf dan kepala sekolah.  Model pengurangan skor. sasaran seperti ini dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran pembiasaan pada kelas-kelas awal. merupakan hasil kompromi semua pihak (siswa. Dalam model ini setiap siswa diberi skor modal awal. yaitu penyusunan tata tertib. guru pembimbing. e) Tata tertib sekolah jangan hanya dibuat berupa konsep yang harus dipatuhi oleh warga sekolah dengan sanksi yang sangat jelas yang dapat membuat aturan menjadi kaku. DZIKIR. dan kepala sekolah). tetapi lebih kepada kesadaran bahwa tata tertib itu memiliki nilai kebenaran sehingga perlu untuk ditaati. perlu ada kesepakatan mengenai batas wajar tentang perilaku yang dapat dikategorikan nakal atau melanggar tata tertib. IKHTIAR 37 . misalnya 100 poin. c) Penyusunan tata tertib harus didasarkan pada komitmen yang kuat antara semua unsur dan komponen sekolah dan konsisten dengan peraturan dan tata tertib yang berlaku. Siswa yang mencapai skor 100 akan terancam dikeluarkan dari sekolah. Di SD. Contoh model yang dapat digunakan untuk siswa adalah model penambahan skor dan pengurangan skor:  Model penambahan skor. Dalam model ini. Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam menegakkan tata tertib dan kedisiplinan meliputi tiga kegiatan pokok. sebagai batas toleransi. Setiap pelanggaran akan berakibat pengurangan PIKIR. b) Semua aturan disiplin dan tata-tertib yang berkaitan dengan apa yang dikehendaki. a) Penyusunan tata tertib melibatkan atau mengakomodasi aspirasi siswa dan aspirasi orangtua siswa yang dianggap sesuai dengan visi dan misi sekolah. h) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya hendaknya tetap memberi ruang bagi berkembangnya kreativitas dan sikap kritis warga sekolah. g) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya terutama diarahkan untuk membangun budaya perilaku positif dan sikap disiplin di kalangan siswa (selfdicipline) dan warga sekolah lainnya. sosialisasi tata tertib. tetapi bagaimana mengkondisikan sekolah yang bisa membuat orang untuk tidak melakukan pelanggaran. tetapi juga untuk membentuk mental disiplin agar disiplin yang terjadi bukan kedisiplinan semu yang dilakukan karena takut menerima sanksi. pegawai dan kepala sekolah dalam rangka pengembangan sekolah. A. f) Tata tertib yang ada jangan sampai hanya dilakukan untuk menertibkan warga sekolah dari segi fisik saja. i) Format penyusunan aturan disiplin dan tata tertib dapat dibuat dalam berbagai bentuk. misalnya 100 poin.dilaksanakan dan diberlakukan kepada semua personil sekolah termasuk guru. Penyusunan Tata Tertib Sekolah Beberapa pedoman umum dalam menyusun tata tertib sekolah dikemukakan sebagai berikut. Jika perlu dibuat satu hari tertentu di mana pada hari itu siswa diberikan kesempatan untuk berkreasi atau memberi saran kepada guru. orangtua. Untuk siswa misalnya. dan penegakan tata tertib.

PIKIR. penundaan. 3. Butir-butir tata tertib sekolah dapat dibuat dalam bentuk poster afirmasi yang dipajang di majalah dinding sekolah dan/atau lokasi-lokasi strategis di lingkungan sekolah agar dapat senantiasa dilihat. Memberikan penghargaan sebagai teladan kepada guru. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam melaksanakan sosialisasi tata tertib dikemukakan berikut ini. Jangan sampai. DZIKIR. percobaan. dan pengurus komite sekolah.10. dalam hal ini siswa. dan tindakan kepala sekolah. 4. 2. yang perlu diperhatikan adalah konsekuensi yang muncul dari setiap penambahan dan/atau pengurangan skor. dan warga sekolah lainnya. dibaca dan dipahami oleh seluruh warga sekolah. Karena itu sosialisasi tata tertib perlu dilakukan untuk memastikan bahwa semua pihak memahami dengan baik isi tata tertib tersebut. sekolah juga dapat membuat peraturan tentang pemberian penghargaan kepada warga sekolah untuk memotivasi mereka mentaati disiplin dan tata tertib sekolah. orangtua siswa. Sosialisasi untuk orang tua siswa dan pengurus komite sekolah dapat dilakukan dengan cara mengirimkan tata tertib yang telah dibuat dalam bentuk tertulis kepada mereka. disepakati dan disahkan kepala sekolah hendaknya disosialisasikan secara berkelanjutan kepada seluruh warga sekolah. Dalam model seperti yang disebutkan di atas. IKHTIAR 38 . 11. hendaknya menjadi model dan teladan bagi penegakan perilaku tertib dan disiplin di sekolah. Sebab betapapun baiknya tata tertib tapi jika tidak ditegakkan secara konsekuen maka tidak akan banyak artinya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. siswa dan staf yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama kurun waktu tertentu dan diumumkan secara aklamasi pada saat pelaksanaan upacara. 1. Sekolah perlu memastikan bahwa mereka memiliki pemahaman yang sama tentang butir-butir tata tertib yang telah disepakati dan disahkan tersebut. mental disiplin yang ingin ditanamkan menjadi hilang karena terlalu fokus pada skor yang ada. 2. dan siswa yang mencapai skor nihil akan terancam dikeluarkan dari sekolah. Sikap. agar semua pihak mengetahui dan memahami setiap butir aturan disiplin tersebut. Penegakan Tata Tertib Kegiatan terpenting dalam menguji efektivitas tata tertib adalah pada pelaksanaannya. Aturan disiplin dan tata tertib yang telah disusun. 1. Selain peraturan tentang pemberian sanksi. guru. guru. demosi dan PHK atau dikeluarkan sampai masalah itu terpecahkan atau dihilangkan. Sosialisasi Tata Tertib Pelaksanaan tata tertib sekolah sangat tergantung pada pemahaman pihak-pihak terkait terhadap tata tertib yang disusun. perilaku. pegawai. Beberapa pertimbangan dalam penegakan tata tertib dikemukakan berikut ini. skor. teguran. C. Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya dibuat dalam bentuk tertulis dan disahkan oleh kepala sekolah. Di sini terkait dengan sejauh mana upaya pihak sekolah dalam menegakkan tata tertib yang telah disusun. Disiplin dan tata tertib sekolah berlaku untuk semua unsur yang ada disekolah tidak terkecuali kepala sekolah ataupun guru dan staf harus patuh dan taat pada peraturan sekolah yang berlaku dan menjadi komitmen yang kuat dan mengikat. B. Penegakan disiplin dilakukan secara bertahap kepada semua unsur yang ada disekolah mulai dari peringatan.

V. Agar budaya dan iklim sekolah kondusif dan tercipta harmonisasi kerja. Konsep Pemberian Penghargaan dan Insentif Penelitian Moedjiarto menemukan signifikansi karakteristik ini dalam menciptakan sekolah efektif. dan tentunya upaya mewujudkan kesejahteraan anggota. pengurus OSIS.5. IKHTIAR 39 . saling asah-asih dan asuh sangat diyakini PIKIR. satu semester sampai satu tahun. sekolah yang sukses menyadari bahwa pemberian penghargaan jauh lebih penting ketimbang menghukum atau menyalahkan siswa. Ada konsistensi/kesepakatan di antara para guru dan kepala sekolah mengenai prosedur-prosedur dan bentuk hukuman bagi siswa pelannggar disiplin dan tata tertib. Penegakan tata tertib terutama difokuskan pada upaya membantu siswa dan semua warga sekolah untuk menyesuaikan diri dengan setiap butir dalam aturan tata-tertib tersebut. mengubah perilaku siswa (dan juga guru). Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan dilakukan oleh kepala sekolah setelah semua upaya persuasi untuk perbaikan perilaku telah dilakukan secara maksimal. konselor sekolah. Terhadap pelanggaran-pelanggaran. guru. Orangtua siswa perlu diberikan pemhamanan tentang kebijakana sekolah tentang kedisiplinan agar orang tua merasa dihargai dan dilibatkan sehingga dapat memberikan dukungan terhadap dukungan pelaksanaan tata tertib sekolah. dalam beberapa hal. khususnya yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan. Dengan pendekatan manusiawi. 7. ditetapkan melalui pertemuan konferensi kasus (caseconference) yang diikuti oleh kepala sekolah. Demi efektitas layanan BK di sekolah guru pembimbing diharapkan tidak ditugaskan untuk pemberian sanksi terhadap siswa. 9. baik di lingkungan internal sekolah maupun di lingkungan luar sekolah. Sanksi penegakan tata tertib sekolah dilakukan kepala sekolah atau wakil kepala sekolah urusan kesiswaan. Siswa yang menerima sanksi harus dibantu memahami dan menerima bentuk sanksi tersebut sebagai bentuk intervensi bagi kebaikan yang bersangkutan. DZIKIR. dengan cepat dilakukan tindakan kedisiplinan. 13. Penghargaan dan insentif mendorong munculnya perilaku positif dan. Penjatuhan hukuman (eksekusi) atas pelanggaran tata-tertib hendaknya disertai dengan penjelasan mengenai alasan dan maksud positif dari pengambilan tindakan tersebut. 6. Berilah penghargaan yang sesuai untuk guru. 8. 14. 12. Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat. Penghargaan dapat diberikan kepada warga sekolah dalam rangka penegakan tata tertib sekolah seperti pemberian reward kepada mereka yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama tiga bulan. 10. Hal ini dinilai oleh Reynolds sebagai suatu strategi motivasi yang penting untuk meningkatkan citra diri (self-image) siswa dan berkembangnya atmosfir yang bersahabat dan suportif. karyawan dan siswa yang benar-benar pantas untuk mereka terima sebagai hadiah atas usaha dan hasil kerja mereka. PENGHARGAAN DAN INSENTIF DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. dan wakil komite sekolah. di sekolah perlu dibangun suasana keterbukaan. Penegakan tata tertib merupakan bagian dan terintegrasi dengan upaya membangun budaya perilaku etik dan sikap disiplin. obyektivitas penilaian. Dijelaskan oleh Reynolds (1990). 11.

DZIKIR. 2. Dalam konteks psikologi. Hargai mereka yang ditempatkan di tempat lain dan tidak punya kesempatan untuk sering ke ruang kepala sekolah. pada akhir bulan biarkan penerima memilih anggota berikutnya untuk diberi penghargaan dan jelaskan mengapa dia dipilih. Untuk membantu memastikan keadilan dan dukungan. staf dan siswa yang dilakukan secara sistematik.” 4. akui peran yang dimainkan oleh guru. 10. Berikan foto tersebut kepadanya dan tempatkan foto sejenis lainnya pada lokasi menyolok agar dapat dilihat oleh semua orang. Dalam beberapa hal. Perhatikan semua orang yang melakukan hal yang benar dan beritahu mereka kalau pekerjaan itu baik dan benar. Jika anda mendengar ucapan positif mengenai seseorang. Siapkan tropi dan berikan kepada mereka yang paling layak menerimanya baik untuk siswa. seperti halnya tidak pernah kenyang dengan makanan dan uang. 7. semakin banyak penghargaan yang mereka peroleh maka akan semakin banyak juga yang mereka inginkan. Personil sekolah tidak pernah bosan dengan penghargaan. 5. 11. Beberapa cara paling mudah dan terjangkau untuk menghargai seseorang: 1.staf dan siswa pendukung anda dengan mengajak mereka makan siang atau makan malam yang indah. Saat anda mendapat promosi. Ambil foto seseorang yang sedang diberi selamat oleh kepala sekolah atau orang yang berwewenang karena prestasi yang diraih. atau meninggalkan voice mail untuk orang dengan kata ”terima kasih atas kerja yang baik. Interaksi tersebut difokuskan hanya pada penghargaan dan tidak pada hal lain sehingga pengaruhnya tidak berkurang karena membahas masalah lain. Praktekkan pemberian penghargaan yang berkonsentrasi dan fokus pada memanggil guru staf atau siswa yang layak untuk menerima penghargaan ke kantor anda dan mengucapkan terima kasih karena melakukan pekerjaan yang bagus. mereka sepertinya tidak kenyang atau merasa dipuaskan dengan penghargaan. Undang tim kerja atau personil sekolah ke rumah anda pada hari sabtu atau hari lain untuk merayakan keberhasilan dalam melaksanakan tugas atau pencapaian hasil kinerja sekolah. 12. ulangi hal tersebut pada orang yang bersangkutan secepat mungkin. jauh di pikiran” dengan faksimile. 6. 3. Atasi masalah ”jauh di mata. Untungnya tidak sulit menghargai seseorang dan terdapat banyak cara untuk melakukan hal tersebut. e-mail. IKHTIAR 40 . 9. 8. Tulis cacatan kecil yang menghargai kontribusi seseorang pada periode gaji terakhir dan lampirkan catatan tersebut pada daftar gaji seseorang. Tuliskan nama orang itu pada tropi dan berilah nama julukan di belakangnya. Hargai keahlian menonjol atau keahlian individu dengan menugaskan mereka menjadi mentor personil lainnya agar dapat menunjukkan kepercayaan dan hormat anda kepadanya. guru maupun staf. Terus memperhatikan jenis pujian dan penghargaan yang paling disukai oleh seluruh personil sekolah dan gunakan sesering mungkin pada mereka pada saat yang tepat.kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan tercapai dan hal ini akan sangat menunjang pencapaian tujuan sekolah yang telah ditetapkan. PIKIR. akan meningkatkan kinerja mereka lebih baik dari pada yang tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Sistem penghargaan upah/insentif yang dikombinasikan dengan penghargaan sosial dan umpan balik untuk kinerja guru.

staf dan siswa. rencana-rencana perangsang. semesteran. Mortomore. undangan minum kopi bersama atau makan bersama. rotasi kerja. sedikit kenaikan upah. DZIKIR. sehingga mereka memiliki peluang yang sama untuk berprestasi. 4. seperti pemberian hadiah. 3. staf dan siswa dirangsang untuk meningkatkan kinerja positif dan produktif. Syarat-syarat insentif sebaiknya menjadi bagian dari perencanaan kinerja. rencana-rencana bonus. senyum. bulanan. 5. dan plakat dinding. 2. promosi jabatan. dan bonus. Penghargaan sosial berupa penghargaan informal. seperti pemberian sertifikat penghargaan dan lencana. Melalui penghargaan ini guru. Imbalan diluar gaji berupa istirahat kerja. dan nonmateril. B. Penghargaan ini perlu dilakukan secara tepat.Masih banyak lagi bentuk-bentuk penghargaan yang bisa diterapkan di sekolah dalam memotivasi personil sekolah untuk berprestasi. agar tidak meninmbulkan dampak negatif. meminta saran. 41 . penghargaan formal. C. Penghargaan sangat penting untuk meningkatkan produktifitas kerja dan untuk mengurangi kegiatan yang kurang produktif. staf dan siswa dalam organisasi. insentif adalah sesuatu yang ditentukan dimuka sementara imbalan/hadiah diberikan setelah kita menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan karena insentif ditujukan untuk memotivasi karyawan maka karyawan harus tahu hal ini sejak awal. ucapan selamat untuk diri sendiri. Bentuk-bentuk penghargaan kepada guru dan siswa berprestasi dapat berupa materil. Penghargaan ini akan bermakna jika dikaitkan dengan prestasi guru. pujian. pekerjaan dengan tanggung jawab lebih besar. Bentuk-Bentuk Penghargaan dan Insentif Menurut Winardi Bentuk-bentuk penghargaan atau insentif dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. umpan balik evaluatif. Material berupa gaji atau upah. Penghargaan nonmateril dapat pula diberikan dalam bentuk nominasi guru terbaik dan siswa terbaik secara berkala (misalnya: mingguan. tepukan dibahu. dan sebagainya. atau tahunan) dan diumumkan secara luas di sekolah yang bersangkutan dengan cara menempel label yang memuat hasil nominasi tersebut pada semua sudut sekolah. Akses untuk melaksanakan pelatihan. staf dan siswa secara terbuka. (1988) sebagaimana dikutip Mortimore (1993) mengidentifikasi beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah efektif dalam pemberian insentif. isyarat-isyarat nonverbal. Penghargaan dan insentif diberikan dalam beberapa cara. Insentif sedikit berbeda dengan imbalan. efektif dan efesien. Bentuk-bentuk penghargaan ini dengan sendirinya membangkitkan dan menularkan semangat kerja dan meningkatkan etos kerja bagi guru dan menumbuhkan minat dan semangat belajar bagi siswa. IKHTIAR 13. seperti memberi penghargaan kepada individu yang menunjukkan pekerjaan atau perilaku yang baik dan penghargaan yang diberikan berdasarkan prestasi dalam kegiatan olahraga dan sosial. dkk. pujian untuk diri sendiri. bahkan makan malam yang menyenangkan dapat menjadi insentif yang berbiaya rendah dan paling berharga bagi guru. kenaikan gaji/upah. Kenyataannya bonus yang besar dapat berakibat negatif jika tidak diterapkan dengan tepat karena dapat menimbulkan konflik diantara guru. Indikator-Indikator yang Perlu diperhatikan dalam Pemberian Penghargaan dan Insentif Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam pemberian penghargaan dan insentif sebagai berikut: PIKIR. Diterapkan sendiri berupa penghargaan terhadap diri sendiri. Tugas itu sendiri seperti perasaan berprestasi.

atau guru yang mendapatkan penghargaan atas prestasi yang membanggakan diumumkan dan. siswa atau staf yang berprestasi dalam bentuk royalti sebagai uang muka sebelum tugas/pekerjaan mereka selesaikan. Prestasi yang tinggi dari guru dan staf mendapatkan penghargaan dari sekolah. Memberikan penghargaan yang positif kepada guru. Staf atau guru yang telah menunjukkan kinerja yang unggul diberi prioritas untuk menikmati kesempatan promosi atau pilihan program lain untuk pengembangan karier. staf. jika perlu. Menggunakan penghargaan dan insentif sebagai hadiah atau ganjaran sebagai teknik manajemen dalam pelaksanaan kinerja guru dan staf serta hasil karya bagi siswa.                 Sekolah memiliki prosedur pemberian penghargaan dan insentif terhadap guru. Penghargaan dan hadiah ditentukan berdasarkan prestasi yang diraih dan memberikan kesempatan pada siswa untuk meraihnya. siswa dan staf. agar mereka dapat mendapatkan informasi yang langsung dan jelas mengenai hasil karya dan efektifitas kerjanya serta sekaligus akan memotivasi mereka untuk berkarya dan bekerja lebih baik lagi. penugasan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menyenagkan. siswa dan staf dapat dilakukan dalam bentuk umpan balik yang segera. Karena ini akan menimbulkan dampak seperti perilaku konflik yang menyebabkan guru. siswa dan staf dan tidak diwarnai oleh faktor-faktor lain atau kepentingan tertentu. Dinas Pendidikan kabupaten/kota mengambil peran nyata dalam pemberian penghargaan atas prestasi siswa dan guru yang tinggi. IKHTIAR 42 . Memberikan penghargaan atau insentif yang setara dengan prestasi atau hasil kerja yang dilakukan oleh guru. siswa dan staf atas tindakan yang mereka anggap menguntungkan dan bukan memberikan hukuman atau sangsi jika sebaliknya. Imbalan atau insentif yang diberikan kepada guru. Guru mendapatkan insentif atas pekerjaan tambahan yang dilakukan. dan siswa yang berprestasi. kondisi kerja yang lebih baik. siswa dan staf menghindari dalam bentuk tidak hadir. siswa dan staf dapat dilakukan dalam berbagai bentuk selain materi. Prestasi yang tinggi dari siswa mendapatkan penghargaan dari sekolah. Penghargaan kepada guru yang berprestasi diumumkan dan dipajang pada papan pengumuman seperti papan guru dan siswa yang berprestasi setiap setiap bulan. dan waktu luang lebih banyak juga dapat merupakan wujud dari imbalan atas hasil kerja yang dilakukan Otonomi dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan kepada guru dan staf merupakan salah satu bentuk penghargaan. Setiap siswa. Melakukan promosi secara adil berdasarkan mutu dan kualitas kompetensi yang dimiliki oleh guru. Penghargaan harus segera dilakukan kepada guru. PIKIR. penguatan juga dapat dilakukan dalam bentuk pujian. Penghargaan atau insentif yang diberikan kepada guru. dirayakan. DZIKIR. staf.

IKHTIAR 43 . Sejauh mana budaya dan iklim sekolah dalam bidang kepemimipin sekolah dapat memberdayakan atau malah menghambat potensi yang ada. Pertanyaannya adalah bagaimana membangkitkan mutu pendidikan. Kunci untuk ekspresi diri adalah pengetian tentang diri sendiri dan dunia kerja serta lingkungan sekolah dimana kita berada. mengetahui keinginan dan harapan mereka dan mengapa dia menginginkan hal itu. staf dan siswa setiap harinya. Dewasa ini orang bekerja cenderung mencari lebih dari sekedar gaji. Kondisi ini mungkin kedengaran klise tetapi banyak pemimpin yang kurang menyadari hal ini. DZIKIR. Peters dan Austin pernah meneliti karakteristik tersebut dalam bukunya A Passion for Excellence. mereka ingin diperlakukan sebagai manusia. tetapi cara ini tidak akan percuma dilakukan jika dapat menghasilkan produktifitas kerja yang meningkat. penghormatan serta pertimbangan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah kepada guru. Hal ini mungkin akan memerlukan biaya yang tidak sedikit. (1991) menunjukkan bahwa prestasi akademik dapat diprediksi berdasarkan pengetahuan terhadap perilaku kepemimpinan pengajaran kepala sekolah. memberikan jadwal yang pleksibel atau peralatan terbaik untuk melaksanakan tugas dengan benar. Akhirnya kepala sekolah tahu bagaimana cara mencapai sasaran mereka. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinan di sekolah sehingga tercipta iklim dan buaya sekolah yang kondusip: Kepemimpinan adalah unsur terpenting dalam TQM. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu karakteristik yang paling konsisten hubungannya dengan prestasi belajar. Inti budaya dan iklim sekolah yang bersemangat adalah terletak pada kualitas hubungan antara individu dalam sebuah komunitas sekolah dan kepercayaan. Untuk memaksimalkan potensi personil sekolah terutama tergantung pada bagaimana seseorang diperlakukan. pemberian dukungan kepada guru. kepemimpinan pengajaran berperan dalam kegiatan pembinaan personil guru. dkk. apa kekuatan mereka dan mengimbangi kelemahan mereka. penyediaan waktu dan energi untuk perbaikan sekolah. Cuntoh sederhana yang dapat dilakukan dalam menggairahkan iklim sekolah adalah dengan sesekali mengadakan perayaan untuk membangun moral atau budaya sekolah yang bisa menghasilkan perubahan. Temuan penelitian Heck. Pemimpin harusmemiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik. Menurut Townsend (1994).VI. diberi inspirasi dan ditantang untuk menghasilkan prestasi kerja terbaik mereka dengan dukungan sumber daya serta bimbingan yang diberikan oleh kepala sekolah untuk membantu menjadikan performa personil sekolah menjadi luar biasa. 1993). perlindungan sekolah dari tekanan eksternal yang kurang mendukung. Dan kunci untuk pengertian adalah belajar dari kehidupan dan pengalaman pribadi. bagaimana cara mengemukakan keinginan tersebut kepada personil sekolah guna memperolah kerja sama dan mendapatkan dukungan dari personil sekolah. Penelitian tersebut meyakinkan mereka bahwa yang menentukan mutu dalam sebuah institusi PIKIR. Menjadi pemimpin sekolah yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah didasarkan pada asumsi bahwa para pemimpin sekolah adalah orang-orang yang mampu mengespresikan diri sepenuhnya atau dengan kata lain mereka mengetahui siapa diri mereka. Pemimpin Pendidikan Mutu terpadu merupakan sebuah gairah dan pandangan hidup bagi organisasi yang menerapkannya. pemantauan prestasi sekolah. dan pencarian sumber daya ekstra untuk sekolahnya (Mortimore. Lebih spesifik. proses kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap semua aspek kinerja sekolah.

Sifat-sifat tersebut mrupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan. guru dan staf institusi.  Memimpin inovasi dalam institusi  Mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggungjawab dan mampu mempersiapkan delegasi yang tepat  Memiliki komitmen untuk menghilangkan rintangan.  Otonomi. serta berbaur dengan para staf dan pelanggan. Peran Pemimpin dalam mengembangkan sebuah budaya mutu Apakah peran pemimpin dalam sebuah institusi yang mengusahakan inisiatif mutu terpadu? Tidak ada satupun yang menyatakan hal itu secara keseluruhan. Spanbauer telah menyampaikan pengarahan bagi para pemimpin dalm menciptakn lingkungan pendidikan yang baru.Pemimpin pendidikan harus melakukan inovasi diantara staf-stafnya dan bersiap-siap mengantisifasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut. Keinginan untuk unggul tidak bisa dikomunikasikan dari balik meja.  Ketulusan.Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan membutuhkan perspektif-perspektif berikut ini :  Visi dan simbol-simbol.adalah kepemimpinan. Dia berpendapat bahwa pemimpin institusi pendidikan harus memandu dan membantu pihak lain dalam mengembangkan karekteristik yang serupa. Sikap tersebut mendorong terciptanya tanggungjawab bersama-sama serta sebuah gaya kepemimpinan yang melahirkan lingkungan kerja yang interaktif. DZIKIR.  MBWA adalah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan bagi sebuah instansi.Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf. intensitas. Dia menggambarkan sebuah gaya kepemimpinan dimana pemimpin “ harus menjalankan dan membicarakan mutu PIKIR. Kebanyakan persoalan yang muncul adalah hasil dari kebijakan institusi dan bukan kesalahan staf. orang tua.  „Untuk para pelajar‟ istilah ini sama dengan dekat dengan pelanggan dalam pendidikan. eksprimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan. para pelajar dan kepada komunitas yang lebih luas. Gaya kepemimpinan ini mementingkan komunikasi visi dan nilai-nilai institusi kepada pihak-pihak lian.  Menciptakan rasa kekeluargaan. semangat.sebuah gaya yang mereka singkat dengan MBWA ( Management by Walking About / manajemen dengan melaksanakan ). Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan diantara para pelajar. MBWA menekankan pentingnya kehadiran pemimpin dan pemahaman atau pandangan mereka terhadap karyawan dan proses institusi. Ini memastikan bahwa institusi memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya. baik yang bersifat organisasional maupun kultural  Membangun tim yang efektif  Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan. namun fungsi utama pemimpin adalah sebagai berikut :  memiliki visi mutu terpadu bagi institusi  memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu  mengkomunikasikan pesan mutu  memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek institusi  mengarahkan perkembangan karyawan  berhati-hati dengan tidak menyalahkan orang lainsaat persoalan muncul tanpa buktibukti yang nyata. IKHTIAR 44 . kesabaran. dan antusiasme. Mereka berpendpat bahwa gaya kepemimpinan tertentu dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu.

Kerjasama tim merupakan salah satu unsur fundamental dalam TQM. 1. DZIKIR. orang tua dan masyararat terjalin dengan baik atau tidak? Hal ini dapat dilakukan melalui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut. yaitu bahwa hasil keseluruhan (tim) jauh lebih baik daripada jumlah bagiannya(anggota individual) A. Apakah anda dapat memahami kebutuhan mereka dan menjalin hubungan saling pengertian diantara mereka untuk meraih saran-saran dalam meningkatkan kualitas kerja mereka? 5. Apakah anda pernah menyentuh hati mereka untuk memberikan yang terbaik dari hasil kerja dan karya mereka selama ini? Jika jawaban terhadap pertanyaan tersebut menunjukkan sikap bahwa kita peduli terhadap mereka dan membutuhkan suasana gembira. salah satu faktor yang paling menentukan adalah membangkitkan semangat orang-orang yang berada dalam lingkungan sekolah khususnya guru. Oakland. staf dan siswa. Tim merupakan sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama. Karena ketika semua unsur dan personil sekolah merasa senang dan semangat yang tercipta lahir dari iklim dalam budaya sekolah maka mereka akan lebih produktif. bukan dengan serta merta. Kerjasama Tim Bagi Mutu Kerjasama tim/kerja tim dalam sebuah organisasi merupakan komponen penting dari implementasi TQM. akan memberikan motivasi yang paling kuat bagi mereka. Hal ini disebabkan karena moral dapat memberikan dampak langsung terhadap kualitas sekolah dan dapat meningkatkan prestasi belajar bagi siswa serta meningkatkan profesionalitas para guru dan staf dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. Personil sekolah akan lebih menerima program-program sekolah yang telah disusun bersama. komunikasi. staf. Membangun Moral Kerja Dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah.( John S. siswa. dan mengembangkan kemandirian. Total Quality Management. Apakah mereka yakin bahwa mereka mendapatkan informasi yang tepat waktu tentang hal-hal yang berhubungan dengan program-program sekolah dan tugas mereka? 3. IKHTIAR 45 .  Konsep sinergi ( 1+1 > 2 ).serta mampu memahami bahwa perubahan terjadi sedikit demi sedikit. 1989 ). Apakah personil sekolah merasa bebas memberikan pendapat mereka dan mengetahui bahwa pendapat mereka dihargai? 2. Faktor yang mendasari perlunya dibentuk tim tertentu dalm suatu perusahaan adalah :  Pemikiran 2 orang atau lebih cenderung lebih baik daripada pemikiran satu orang saja. Apakah anda memberikan kesempatan bukan hanya dalam melaksanakan tugas tetapi juga memberikan efek sehingga mereka tanggap dan berusaha untuk memastikan apa yang telah terjadi? 6. Kepala sekolah selaku pimpinan dalam lingkungan organisasi sekolah harus mengetahui apakah hubungan mereka dengan guru. komite. jika mereka yakin bahwa kepala sekolah benar-benar perduli secara pribadi setiap hari di sekolah dan sikap peduli ini diwujudakan dengan ekspresif lewat mimik wajah yang PIKIR. mengingat kerjasama tim akan meningkatkan kepercayaan diri. Apakah anda dapat membangkitkan komitmen mereka atau mereka tidak merasa dirinya sebagai bagian dari sekolah? 4.

Kebijakan dan Prosedur Cukup banyak sekolah yang berhasil memiliki cara mudah untuk membangkitkan semangat guru dalam mengajar. Setiap kali anda menetapkan satu kebijakan baru. Tujuan yang Jelas dan Sasaran yang Didefinisikan dengan Baik Gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam mencitakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan memberdayakan seluruh personil sekolah sebagai tim kerja. IKHTIAR 46 . 2. lebih singkat dan sederhana adalah lebih baik dari pada lebih panjang dan rumit. tidak ada kebijakan tunggal yang uraiannya terdiri lebih dari satu halaman. Dalam hal kebijakan. Uang bukanlah satu-satunya cara yang dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang tetapi lebih dari itu memberikan kepercayaan kepada mereka akan menemukan kembali nilai kesetiaan mereka. C. Hubungan yang dibangun dalam budaya dan iklim sekolah yang berdasarkan atas hubungan saling percaya. Sekolah yang memiliki budaya dan iklim yang baik menyadari bahwa person sekolah yang dapat dipercaya untuk melakukan apa yang benar ketika mereka di izinkan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. semangat staf dalam bekerja dan semangat siswa dalam belajar dan berprestasi dengan cara meminimalisir beberapa kebijakan dan prosedur yang dapat menghambat upaya untuk menjadikan personil sekolah bersemangat dan menggantikannya dengan kebijakan dan prosedur yang lebih sederhana dan tidak menghambat. Karakteristik struktur organisasi sekolah yang baik adalah jika struktur tersebut dapat menghasilkan kerja yang baik dan tidak berbelitbelit. Dengan PIKIR. Seberapa besarpun ukuran organisasi. Karena pada dasarnya setiap orang ingin merasa berguna atau penting bagi orang lain. Karena jika person sekolah merasa tidak senang otomatis akan memberikan hasil kerja dan karya yang buruk. dan nilai kesetiaan ini merupakan modal yang paling berharga dalam mencapai produktivitas kerja yang lebih baik karena lahir dari rasa memiliki yang tertanam dalam benak mereka. 5. ada beberapa saran dalam menetapkan kebijakan dan prosedur kerja dalam organisasi sebagai berikut: 1. Cara terbaik untuk mendukung moral kerja personil dalam lingkungan sekolah dan untuk menginspirasi mereka sehingga memiliki kinerja prima adalah dengan cara meyakinkan mereka dengan segala yang anda lakukan dan bersikap dengan sepenuh hati bahwa anda sangat mendukung mereka. DZIKIR. Penetapan kebijakan di atas dapat diadopsi dalam lingkungan budaya sekolah apabila ditunjang oleh struktur organisasi sekolah yang baik. 4. hapuslah dua kebijakan lama. 3. Pastikan kebijakan dan prosedur organisasi disusun untuk melayani para karyawan dan pelanggan anda bukan hanya organisasi anda saja. Menurut Bob Nelson (2007). hal ini merupakan efek dari kebijakan dan prosedur kerja yang kurang baik.mendukung atau ucapan-ucapan selamat dan sekali-sekali diberikan hadiah atau bonus pada saat moment penting seperti pada perayaan ulang tahun akan menambah semangat dan motivasi mereka untuk selalu berbuat yang terbaik. saling menghormati dan mau mendengarkan pendapat orang lain serta dapat mengekspresikan diri dalam tugas dan karya adalah sarana yang kuat bagi personil sekolah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Waspadai kemungkinan menetapkan kebijakan atau prosedur baru sebagai reaksi terhadap suatu insiden tunggal. mungkin saja masalahnya tidak pernah muncul lagi. B.

Pastikan agar tim mengembangkan sasaran-sasaran yang spesifik dan agar tim secara berkala mengevaluasi serta memperbaharui sasaran-sasarannya. Untuk menciptakan sekolah yang sukses dan memiliki kualitas perlu adanya proses pembentukan budaya. 4. 2. Selain itu juga sekolah yang sukses diwarnai oleh semangat yang menarik para personil sekolah sebagai satu unit yang utuh. sasaran serta pendekatan relevan dan bermakna. menetapkan sasaran-sasaran. emosional dan spritual. Smith yang dikutip Nelson (2007) menyarankan enam hal penting bagi pemimpin dalam membangun semangat tim dalam organisasi sebagai berikut: 1. Agar tercipta sebuah tim work yang baik dalam lingkungan sekolah. karena mereka dapat mengendalikan dan memberi efek pada pekerjaannya. Ketika batasan-batasan ini tidak jelas dan tidak di ingatkan secara rutin maka tim akan kehilangan semangat dan komitmennya. Hindarkan praktikpraktik yang menghasilkan anggapan bahwa sebagian orang adalah tim kelas satu dan anggota tim yang lain adalah tim kelas dua. Membangun Semangat Kerja yang Solid Untuk membangun semngat kerja yang solid dalam sebuah komunitas sekolah bukan hanya memberikan tugas atau menempatkan mereka pada posisi dan jabatan yang sesuai dengan potensi mereka tetapi lebih dari itu. moral dan perilaku yang tidak bertentangan dengan falsafah bangsa yang diwarnai kecerdasan intelektual. Pastikan agar maksud. serta mengetahui posisi mereka dalam tim atau prinsip-prinsip operasional dalam tim tersebut.pemberdayaan ini akan memberikan semangat yang kuat diantara personil sekolah. 2. dimana mereka dapat berkontribusi untuk mencapai sutu tujuan dan sasaran bersama. IKHTIAR 47 . Selanjutnya Jon R. Nyatakan maksud dan aturan-aturan tim untuk operasionalnya pada setiap rapat. Kuatkan perpaduan dan tingkatkan keterampilan. 4. Katzenbach dan Douglas K. D. Membangun iklim seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan instant. Kelola hubungan dengan orang luar. Bangun komitmen serta keyakinan. Banyak cara untuk dapat membangun semangat kerja yang solid dalam organisasi sekolah seperti dengan cara membangun budaya dan menciptakan iklim bekerja sama dengan PIKIR. Lakukan pekerjaan yang nyata. 6. hal ini akan mendefinisikan maksud anda dan menetapkan batasan-batasan bagi cakupan cakupan kerja tim. 3. Beberapa saran yang diajukan oleh Nelson (2007) dalam menentukan tujuan yang jelas dan sasaran didefinisikan dengan baik adalah sebagai berikut. metode dan strategi mengajar yang tepat dalam proses belajar mengajar. Misalnya tim guru bidang studi di sekolah dapat menunjukkan kualitas kerja tim yang tinggi jika mereka memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Jelaskan bahwa semua orang berada dalam tim yang sama. Ciptakan kesempatan bagi orang lain. 5. 3. Tentukan misi bagi tim. Dengan tujuan sekolah yang jelas dan sasaran-sasaran sekolah yang didefinisikan dengan baik serta diketahui setiap anggota sekolah dan melibatkan mereka sepenuhnya dalam program-program sekolah akan memberikan hasil kerja yang lebih baik dan berkualitas. karena harus ditumbuhkan dalam kondisi yang menyenangkan. DZIKIR. 1. termasuk mengatasi hambatan. Beberapa saran di atas dapat di adopsi oleh pemimpin sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif. maka setiap setiap personil sekolah sebagai bagian dari anggota tim perlu memiliki maksud dan tujuan yang jelas serta menetapkan sasaran sekolah dengan melibatkan seluruh anggota agar mereka mengetahui dan paham apa tujuan dan sasaran sekolah.

prosedur atu aspekaspek yang berkaitan dengan peningkatan proses belajar mengajar baik itu di dalam kelas dan lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Ketika guru dan staf menunjukkan hasil kerja atau karya yang baik dan meraih sukses/prestasi.penuh semangat. Berikut beberapa cara yang dapat ditempuh sekolah untuk membangkitkan semangat personil sekolah dalam membangun budaya dan iklim sekolah yang memiliki semangat yang solid adalah: 1. Akan masuk akal jika para kepala sekolah mengetahui bahwa pemberdayaan. IKHTIAR 48 . Kepemimpinan kepala sekolah yang menekankan pada pemberdayaan dalam budaya dan iklim sekolah akan memberikan kesempatan. 2. mungkin saja itu awal dari keberhasilan yang tertunda. maka hubungan antara mereka harus jelas baik dari segi PIKIR. 2. 3. staf. Senantiasa mengkomunikasikan segala informasi baru kepada seluruh personil sekolah terutama hal-hal yang menyangkut peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah. meskipun sekali-sekali mereka membuat kesalahan bukan berarti mereka gagal dalam tugas. Senantiasa mendorong mereka untuk memperbaiki proses. akan membuat mereka lebih senang dalam bekerja dan berkarya. kemandirian dan otonomi dalam kepemimpinan kepala sekolah sebagai berikut: 1. Kekuatan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kerja sama dan semangat kerja yang solid diantara personil sekolah. staf dan siswa. kecuali inisiatif pribadi atau usaha kerasnya untuk memberikan hasilkerja dan karya yang lebih baik jika mereka dihargai. staf dan siswa dalam berprestasi dan membangun sekolah yang berkualitas dalam iklim dan suasana yang menyenangkan. Jika memungkinkan untuk memberikan mereka fleksibilitas jam kerja. Kepemimpinan dalam Pemberdayaan. Kepala sekolah senantiasa dapat menunmbuhkan dan mendukung pertumbuhan pribadi maupun profesionalisme guru. 3. Tidak ada yang dapat memompa personil sekolah lebih total. berilah dia kesempatan untuk melaksanakan kerja berikutnya. setiap personilnya ingin dipercaya dan dihargai. Untuk menjalin iklim dan hubungan yang baik antara kepala sekolah dengan guru. Faktor-faktor yang dapat diperhatikan oleh kepala sekolah dalam menerapkan prinsipprinsip pemberdayaan. komite dan masyarakat dalam jamuan makan siang bersama di sekolah dan menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan program sekolah terutama jika terjadi perubahan dalam program dan lingkungan sekolah dan melibatkan mereka dalam proses perubahan tersebut. mengejar sasaran ketika mereka terdorong oleh visi dan misi sekolah yang jelas dengan kekuatan serta ketersedian sarana belajar yang memadai untuk mencapai tujuan sekolah. kemandirian dan otonomi yang besar kepada seluruh personil sekolah akan meningkatkan produktifitas mereka. diberikan kebebasan untuk mandiri. maka fokuskan pada hasil kerja atau karya mereka bukan pada kehadiran mereka. beri kesempatan kepada mereka bekerja dirumah dan menetapkan jadwal mereka sendiri. E. dan siswa juga orang tua siswa. Kemandirian dan Otonomi Setiap orang ingin diperlakukan sebagai bagian dari organisasi demikian halnya di dalam sekolah. 4. Mengajak seluruh personil sekolah seperti guru. tanggung jawab dan kewenangan kepada personil sekolah untuk melaksanakan segala sesuatu menurut cara mereka sendiri dan diberi kesempatan dalam pengambilan keputusan dengan resiko dari efek keputusan yang dilakukan. Jika mereka memiliki kinerja yang tinggi. 4. DZIKIR.

staf dan siswa yang paling jarang berinteraksi dengan anda. IKHTIAR 49 . professional dan dinamis. Memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya (sekolah akan menjadi apa) dan mendorong stafnya untuk bekerja dan berusaha untuk merealisasikan visi sekolah. 2. 4. Contoh kongkrit dapat dilihat dari peran guru dalam proses belajar mengajar yang cukup komunikatif dan memiliki inisiatif-inisiatif yang senantiasa dikomunikasikan dengan kepala sekolah dan guru lainnya akan tampil prima dan produktif dalam melaksanakan peran mereka dan hal ini sangat mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal dapat ditentukan oleh informasiinformasi baru yang diperoleh. F. karena melalui komunikasi dapat diperoleh informasi secara vertikal maupun horisontal. Cukup banyak sekolah yang berhasil menemukan cara mudah untuk membanguan semangat guru. Deskripsi singkat kualitas dan perilaku yang menandai sekolah yang berhasil antara lain: 1. Komunikasi. staf dan siswa melalui komunikasi dan inisiatif seperti cara berikut: 1. tekun menyediakan program-program pendidikan yang dianggap penting. Inisiatif dan Fleksibilitas Apa yang membuat budaya dan iklim sekolah menjadi lebih baik dan kondusif? Dasarnya adalah implementasi kepemimpinan sekolah yang menghargai inisiatif personil sekolah sehingga semangat dan tanggung jawab moral dalam bekerja dan berkarya tumbuh dan berkembang dan secara otomatis produktivitas kerja mereka akan meningkat. Hal ini dapat membangkitkan semangat mereka. 4. PIKIR. 3. evaluasi dan hasil serta kualitas mutu pendidikan secara kontinu. Mengamati guru dalam kelas dan memberikan masukan yang positif dan konstruktif dalam menyelesaikan masalah peningkatan pembelajaran. 2. Budaya dan iklim sekolah yang membangun komunikasi diantara personil sekolah akan membentuk hubungan yang lebih baik diantara mereka sekaligus memberikan informasi dalam perbaikan proses. hasil diskusi dan tukar pikiran akan menambah semangat mereka dalam bekerja. Bila perubahan sistemik dilaksanakan tanpa perubahan budaya dan iklim organisasi sekolah. Insiatif yang dibangun dari proses komunikasi terbuka. Mendorong pemanfaatan waktu mengajar yang efisien dan merancang prosedur untuk meminimalkan gangguan. DZIKIR. Seperti semua inisiatif yang lain. Memiliki harapan yang tinggi baik terhadap prestasi siswa maupun kinerja para guru dan staf sekolah. Sisihkan sedikit waktu luang anda untuk mengunjungi setiap ruang kelas. Memberikan tugas kepada mereka dan ikuti perkembangan mereka dalam melaksanakan tugas tersebut. Sekolah adalah suatu organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin dengan jabatan kepala sekolah. Menurut Davis & Thomas (1989) dalam suatu sekolah yang bagus kita dapat menjumpai kepala sekolah yang agresif.struktur maupun wewenang dan tanggung jawab mereka agar mereka lebih fokus dalam melaksanakan tugas dalam bidangnya. metode dan strategi. Gunakan waktu anda lebih banyak dengan personil sekolah selama sekolah melewati masa-masa krisis seperti nilai ujian nasional rendah atau prestasi belajar siswa menurun. kepemimpinan yang bagus adalah kunci untuk implementasi yang afektif. Mengupayakan pertemuan dengan guru. Komunikasi merupakan mata rantai yang paling penting dalam mempersatukan sebuah komunitas sekolah. implementasinya sering gagal dan kembali ke keadaan sebelumnya. ruang guru dan staf serta layanan pendukung siswa di sekolah untuk berinteraksi langsung dengan mereka yang sebelumnya tidak pernah anda jumpai. 3.

2. Kepala sekolah tidak seharusnya melakukan kegiatan administrasi sekolah sendiri. Tindakan ini secara instrinsik mencerminkan fokus dan nilai akademis. memiliki keahlian dan pemahaman yang mendalam terhadap kurikulum dan pengajaran. Kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang dapat melakukan langkahlangkah kongkrit untuk membantu pengembangan orientasi harapan yang tinggi yang mencerminkan peran kepemimpinan pengajaran. mengorganisasi dan mengalokasikan sumber-sumber dan menangani masalah keselamatan dan keteretiban. Peran aktif kepala sekolah dalam menciptakan sekolah yang efektif dimana setiap orang memperhatikan perbaikan dan peningkatan pembelajaran. 6. pekerjaan kepada orang lain dalam organisasi sekolah. Seorang kepala sekolah yang efektif adalah seseorang yang memilki kecakapan dalam hubungan antara manusia. khususnya dalam nilai tes setiap siswa dalam setiap tingkatan dan kelas. 10. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penciptaan lingkungan sekolah yang tertip dan aman. 9. Kepala sekolah juga harus bisa bertindak sebagai perantara yang mengalirkan informasi dan menjawab berbagai pertanyaan dalam berbagai hal karena sebagian pekerjaan kepala sekolah adalah pekerjaaan verbal. guru kelas maupun sebagai wali kelas dan setiap guru akan mengelola kelasnya dengan baik. Kepala sekolah dapat memonitor faktor-faktor lain yang terkait dengan prestasi. sehingga tujuan akhir sekolah dapat tercapai dengan baik. Kepala sekolah sebaiknya menilai tugas-tugas harian guru dan meyakinkan bahwa setiap kelas ada gurunya baik sebaagai guru bidang studi. Kepala sekolah dapat memperoleh sumber-sumber material yang diperlukan untuk pengajaran yang efektif dan menggunakannya secara kreatif sesuai dengan prioritas akademik. Kepala sekolah juga dapat melibatkan orang tua dalam upaya pengajaran di sekolah. menjadwal. PIKIR. DZIKIR. Kepala sekolah dapat memainkan peran dalam meningkatkan kesadaran perlunya perbaikan sekolah dan harapan prestasi yang tinggi dan pencapaian konsensus untuk perubahan tersebut. 8. tetapi kepala sekolah harus dapat membagi tugas. hal ini dapat dilakukan pada setiap akhir bulan atau setiap triwulan dalam program sekolah. Fungsi utama kepala sekolah yang efektif adalah mengamati guru dalam kelas dan merundingkan dengan mereka tentang cara menangani masalah dan perbaikan pengajaran. Tingkah laku yang sentral kepala sekolah yang efektif adalah memonitoring perkembangan siswa. 7. faktor yang terkait dengan perbaikan yang secara implisit menekankan suasana dan budaya akademik. Kepala sekolah dapat menciptakan sistem hadiah untuk setiap siswa dan guru yang medukung orientasi akademik dan merangsang keunggulan (excellence) dan penampilan siswa dan guru. 7. 8. 6. 4. Memanfaatkan bahan dan tenaga secara kreatif Memonitor prestasi individu dan kelompok siswa dan memanfaatkan informasi untuk perencanaan pendidikan sekolah dan pembelajaran. IKHTIAR 50 . Kepala sekolah dapat aktif dalam penciptaan dan perbaikan yang konkrit. Sepanjang hari kepala sekolah memonitor jalannya pekerjaan. 5. 9.5. 3. Terdapat delapan kategori kepala sekolah efektif berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan lapangan: 1.

kepatuhan dan kesungguhan guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan kepatuhan dan tanggung jawab staf sekolah dalam memberikan pelayanan kepada siswa. guru dan staf sekolah. b) Menciptakan suasana sekolah yang kreatif/dinamis serta meningkatkan kelancaran komunikasi.Kepemimpinan instruksional kepala sekolah dalam menentukan iklim dan budaya sekolah sangat erat kaitannya dengan kemampuan mengajar guru dan motivasi belajar siswa bahkan sangat berkaitan dengan mutu lulusan. guru dan kepala sekolah. e) Kepala sekolah bersemangat dalam melaksanakan tugas sehari-hari. PIKIR. Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut: a) Sebagai manajer perencana. f) Kepala sekolah memiliki sikap bersahabat. Kepemimpinan kepala sekolah sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar yang menarik dan kondusif. lomba dan latihan-latihan yang bersifat edukatif. IKHTIAR 51 . g) Kepala sekolah melibatkan para siswa. Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut : 1) Memiliki visi dan pandangan yang jelas dan tegas dalam kepemimpinan sekolah. 6) Kepala sekolah memiliki sikap suka membantu siswa belajar dan menghadapi kesulitan. c) Kepala sekolah suka menerima dan mempertimbangkan ide atau gagasan yang disampaikan oleh guru dan siswa. komitmen dan tanggung jawab guru serta kepatuhan dan kesungguhan para siswa untuk belajar. secara langsung kepala sekolah bertugas mengawasi pelaksanaan tugas-tugas aparat sekolah secara berkesinambungan b) Kepala sekolah sebagai panutan bagi siswa. Hal ini dapat dilihat dari implementasi dan pemeliharaan perubahan yang positif terhadap proses dan hasil belajar siswa. 3) Kepala sekolah mengerahkan sumber belajar dan dukungannya demi pencapaian tujuan pembelajaran. 5) Kepala sekolah mempunyai perhatian terhadap permasalahan belajar siswa. 7) Kepala sekolah menciptakan suasana kerja yang kreatif dan produktif dengan menyediakan berbagai fasilitas dan perlengkapan yang dapat mendorong siswa mengembangkan bakat minat dan ketrampilannya. 2) Kepala sekolah sangat perhatian terhadap kemajuan belajar siswa. 9) Kepala sekolah mendorong semangat belajar siswa dengan menumbuhkan keyakinan dalam mencapai prestasi yang tinggi. Dapat dikatakan bahwa kualitas mutu lulusan suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen pengelolaan sekolah. 8) Kepala sekolah membuat program secara teratur untuk mengembangkan pengetahuan siswa melalui les/kursus-kursus. terutama dalam upaya peningkatan mutu pengajaran disekolah. d) Kepala sekolah sering mengunjungi guru mengajar. guru dan staf sekolah sebagai pemimpin sekolah. 4) Kepala sekolah selalu memberi penjelasan kepada siswa dalam menghadapi hal-hal yang baru. guru dan orangtua siswa dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sekolah. Karakter kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya dan iklim yang kondusif dapat dilihat pada beberpa indikator sebagai berikut: 1. Membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan mendorong semangat belajar siswa. ramah dan dekat dengan siswa. DZIKIR.

guru dan orangtua siswa dalam menyusun peraturan-peraturan sekolah. IKHTIAR h) 52 . khususnya bakat dan kemampuannya yang unik melalui penglihatan. Buat proyek lain untuk mempromosikan konsep belajar sepanjang hayat:  Sebuah sekolah/kelas tanpa dinding sehingga para murid bisa belajar dari berbagai pengalaman. Dirikan sebuah pelabuhan ilmu sebagai pusat teknologi informasi dengan tiga cabang: a) Sebuah pusat produksi dan komunikasi multimedia. d. dengan penekanan khusus pada teknologi baru. b. 5. Kembangkan konsep kecerdasan ganda pada setiap pembelajaran dengan melibatkan panca indera supaya pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik siswa. b) Sebuah penerbit multimedia.  Sebuah pusat multimedia yang berfungsi sebagai sumber daya keluarga dan masyarakat. c. Kepala sekolah bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan peningkatan mutu program pengajaran. khususnya dibidang materi belajar. Kerja sama dengan orangtua dan masyarakat baik dalam merespon minat dan kebutuhan masyarakat maupun untuk meningkatkan peran serta masyarakat di sekolah. PIKIR. Mengembangkan pola perilaku dan tindakan yang didasari oleh integritas dan etika dalam bersikap.Kepala sekolah melibatkan para siswa. Selain itu kepemimpinan kepala sekolah akan sangat menentukan kualitas iklim sekolah yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar dan kerja sama antar aparat sekolah yang baik sehingga penyelenggaraan pendidikan di sekolah bisa berhasil. terbuka dalam memimpin sekolah. DZIKIR. 4. Bangun jaringan informasi rumah-sekolah-multimedia yang bersifat hangat dan personal. e. Mengatur.  Metode pembelajaran Spider Web. Menghubungkan satu pelajaran dengan pelajaran yang lain. a. Mengembangkan perencanaan pembelajaran yang mendukung sekolah berbasis masyarakat. c) Sebuah pusat pembelajaran bagi guru dan kalangan lain yang berurusan dengan siswa. Kepala sekolah bertugas untuk memperbaiki manajemen sekolah serta bertanggung jawab dalam pelaksanaan keputusan manajemen dan kebijakan sekolah melalui upaya-upaya berikut. Ciptakan pusat kecerdasan ganda untuk melayani setiap gaya belajar. Mengembangkan manajemen sekolah melalui proses pengorganisasian. j) Kepala sekolah sangat tegas terhadap peraturan-peraturan sekolah (disiplin) dan tanpa pandang bulu. 3. pendengaran dan perasaannya. pelaksanaan dan penggunaan berbagai sumber daya yang tepat. 2. namun tetap bersikap terbuka untuk kritik dan saran 1. i) Kepala sekolah menunjukkan kepribadian yang menyenangkan. Mengembangkan kepemimpinan administratif. efesien dan penciptaan lingkungan belajar yang efektif. memelihara dan memungkinkan terciptanya budaya sekolah dan program pembelajaran yang kondusif bagi pengajaran siswa dan mengembangkan kompetensi staf. Berikut ini dikemukakan beberapa saran mengenai model kepemimpinan kepala sekolah dalam manciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif sebagai berikut: 1.

Situasi itu antara lain tingkat kematangan para bawahan. Kematangan Rendah (Tidak mampu dan tidak mau) M2 Kematangan RendahSedang (Tidak mampu tetapi mau) M3 f.1 berikut. Hal ini digambarkan pada tabel 7. G1 c. Proses kepemimpinan mencakup dua dimensi penting. DZIKIR. M3. Tabel 19. Gaya kepemimpinan situasional didasarkan pada anggapan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik. yaitu beban kepemimpinan dan bentuk atau gaya kepemimpinan (Townsend. IKHTIAR . melainkan tergantung pada situasi yang menyertainya. dan M4. Beban kepemimpinan berkaitan dengan sejauhmana tanggung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah terhadap semua aspek operasi sekolah. Tingkat kematangan seseorang dapat dilihat dari dua dimensi. Kombinasi kedua dimensi ini melahirkan empat tipe kematangan manusia sebagaimana digambarkan pada kuadran berikut. gaya kepemimpinan yang tepat bervariasi menurut tingkat kematangan tersebut. Kemampuan Tinggi Kemauan Rendah (M3) Kemampuan Tinggi Kemauan Tinggi (M4) Gaya Kepemimpinan yang Tepat b. kepemimpinan juga dapat dilihat dari prosesnya. Kematangan Sedang-Tinggi (Mampu tetapi tidak mau) d. Beberapa penelitian yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan otokratik dan gaya yang terlalu demokratik kurang efektif dibandingkan dengan gaya kepemimpinan situasional (Mortimore. berorientasi tugas atau berorientasi manusia. Partisipatif (Perilaku tugas rendah dan hubungan manusia tinggi) 53 PIKIR. M2. tingkat kematangan manusia digolongkan ke dalam empat kategori: M1. Adapun gaya kepemimpinan yang dikembangkan tergantung pada kondisi operasional sekolah. 1982:152) Dari gambar tersebut. (Tinggi) Kemampu an Kemampuan Rendah Kemampuan Rendah Kemauan Rendah Kemauan Tinggi (Rendah) (M1) (M2) (Rendah) Kemauan (Tinggi) Gambar 19. Bentuk kepemimpinan berkaitan dengan gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah.5 Gaya Kepemimpinan dan Kematangan Bawahan (Hersey dan Blancard.4 Tingkat Kematangan Manusia (Hersey dan Blancard.Selain beberapa cara di atas yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah. Dimensi pertama adalah kemampuan (keterampilan dan pengetahuan) dan dimensi kedua adalah kemauan (tanggung jawab dan komitmen). 1994). apakah otoritarian. Konsultatif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia tinggi) G3 g. demokratis. Menurut teori kepemimpinan situasional. Direktif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia rendah) G2 e. 1982:152) Tingkat Kematangan M1 a. hierakis. 1993).

bawahan dengan tingkat kematangan sedang-tinggi (M3) lebih cocok dipimpin dengan gaya partisipatif. dan (6) lingkungan sekolah. sedangkan secara informal dilakukan melalui pertemuan-pertemuan insidentil seperti arisan. Demikian pula. M4 Kematangan Tinggi (Mampu dan mau) G4 Delegatif (Perilaku tugas rendah dan perilaku hubungan rendah) i. (3) dapat memberikan penghargaan kepada guru dan staf atas pendapat-pendapat mereka. Dari tabel 2 tersebut dijelaskan bahwa bawahan yang kematangannya rendah (M1) lebih cocok dipimpin dengan gaya direktif. khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah perlu melibatkan para guru dan staf. Melakukan pengambilan keputusan partisipatif Keputusan penting. Efektivitas sebuah proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) siswa. dan lingkungan kerja. Kapan diperlukan dan dirasakan perlunya peningkatan. Mekanisme pengambilan keputusan partisipatif dapat dilakukan secara formal maupun informal. Kegiatan supervisi tidak hanya terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas saja. Biasanya. (2) guru. kurikulum. olahraga. tetapi juga pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran yeng efektif. Selain itu. 2. khususnya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. Di samping kecenderungan mempraktekkan gaya kepemimpinan situasional. 1. Lingkungan sekolah dibagi ke dalam empat aspek seperti lingkungan fisik. (4) sarana dan prasarana. bawahan dengan tingkat kematangannya rendahsedang (M2) lebih cocok dipimpin dengan gaya konsultatif. Waktu pelaksanaan supervisi kadang-kadang tidak perlu dirancang waktunya. (3). (2) dapat meningkatkan kualitas keputusan. supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas. ketersediaan administrasi kesiswaan yang rapi dan informatif. DZIKIR. namun perlu dilakukan secara berkesinambungan. kegiatan yang sudah baik diupayakan untuk dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. dan lain sebagainya. sedangkan bawahan dengan tingkat kematangan tinggi (M4) lebih cocok dipimpin dengan gaya delegatif. Keterlibatan mereka menjadi sangat penting karena: (1) kepala sekolah sebagai pimpinan dapat menerima masukan dari berbagai sudut pandang. kepala sekolah yang efektif dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah melakukan hal-hal berikut. dan (4) dapat mengikat komitmen mereka dalam melaksanakan dan mengawasi keputusan. Faktorfaktor inilah yang menjadi ruang lingkup kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah. Kegiatan supervisi adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan di sekolah. kumpulan soal. maka supervisi dilaksanakan. Secara formal dilakukan melalui rapat-rapat sekolah.h. administrasi penilaian. lingkungan sosial. Aspek-aspek administrasi yang dimaksud misalnya. PIKIR. Melakukan kegiatan supervisi. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yang masih kurang dan diupayakan untuk diperbaiki. IKHTIAR 54 . dan lain-lain. lingkungan personil. kepala sekolah juga perlu melibatkan pengurus komite sekolah bahkan orangtua dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pengembangan sekolah.

Beberapa sekolah yang sukses menerapkan strategi pemberdayaan melalui berbagai program-program pengembangan profesional guru. kepala sekolah melibatkan stafnya dalam berbagai pengambilan keputusan penting. pemerintah dan pihak terkait lainnya. 4. perlu mendapat kepuasan. kemauan kepala sekolah mendelegasikan sebagian pekerjaan juga merupakan salah satu strategi yang banyak terbukti mendorong semangat tim di sekolah. pengelolaan kelas maupun materi pembelajaran. a Kepala sekolah menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbuka dengan para guru. Identifikasi kebutuhan pelanggan ini dapat dilakukan melalui analisis SWOT. beberapa indikator kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dikemukakan berikut ini. masyarakat. DZIKIR. 3. Kunjungan kelas dapat dilakukan secara tiba-tiba atau atas kesepakatan antara kepala sekolah dan guru. Karena itu kepala sekolah sebagai manajer perlu mengembangkan cara-cara baru dalam memenuhi kepuasan pelanggannya. Dalam situasi yang lain. guru. terlebih dari luar sekolah. Definisi tentang pelanggan meliputi pelanggan dari dalam sekolah dan dari luar sekolah. khususnya guru. d Contoh lembar kegiatan supervisi dapat dilihat pada lampiran kegiatan supervisi yang terdapat di bagian akhir dari bab ini. Di sekolah terdapat sejumlah tenaga profesional. Semakin puas pelanggan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan. c Kepala sekolah bersama guru mendiskusikan cara-cara pemecahan masalah guru. Selain itu. Baik pelanggan dari dalam sekolah. b Kepala sekolah menekankan kepada guru dan staf untuk memenuhi normanorma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi. Karena itu penerapan strategi pelanggan akan memaksa sekolah dalam memperbaiki kinerjanya. tenaga administrasi sedangkan pelanggan dari luar sekolah meliputi orangtua. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia dalam organisasi merupakan aset yang perlu dipelihara dan dikembangkan bagi peningkatan organisasi. Di samping keempat karakteristik tersebut. yang perlu dikembangkan dan didayagunakan. PIKIR. semakin akuntabel suatu lembaga. IKHTIAR 55 . Akuntabilitas berarti sejauhmana suatu lembaga bertanggung jawab kepada pelanggan produk atau jasa yang dihasilkan. Kesulitan-kesulitan itu dapat berhubungan dengan strategi pembelajaran. b Kepala sekolah membantu guru dalam mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajaran dan faktor penciptaan budaya dan iklim belajar siswa. Memperhatikan kebutuhan pelanggan Osborne dan Plastrik (1997) mengembangkan gagasan mengenai perlunya organisasi pemerintah memiliki strategi pelanggan dalam meningkatkan akuntabilitasnya. c Kepala sekolah memantau kemajuan belajar siswa melalui guru sesering mungkin berdasarkan pada data prestasi belajarnya. Memberdayakan warga sekolah Strategi pemberdayaan merupakan inspirasi banyak organisasi dewasa ini.Beberapa cara yang dapat digunakan oleh kepala sekolah dalam melakukan kegiatan supervisi budaya dan iklim sekolah adalah: a Kepala sekolah melakukan kunjungan-kunjungan kelas untuk mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan budaya serta iklim sekolah yang tercipta. Diskusi diharapkan menghasilkan diagnosis pemecahan dan secara bersama mengupayakan tindak lanjut untuk memperbaikinya. staf dan siswa. Pelanggan dari dalam sekolah meliputi: siswa.

h Ruang kepala sekolah terbuka bagi guru. Kepala sekolah yang memahami perasaan guru d. guru. staf dan siswa melakukan inovasi di sekolah. Kepala sekolah yang tulus. IKHTIAR d 56 . senang dengan perbedaan dan ketikpastian sehingga menumbuhkan kreatifitas dan inovatif guru dalam proses pembelajaran. u Proaktif. f Kepala sekolah peka terhadap kebutuhan siswa. siswa. o Membentuk budaya organisasi agar kreatifitas otonom dan proses belajar secara berkelanjutan menggunakan pertumbuhan jangka panjang sebagai sasaran. Kepala sekolah yang terampil dan tertib e. di mana jaringan-jaringan berkembang dari unit-unit otonom. c. Kepala sekolah yang membagi tugas secara adil kepada guru. t Berfikir secara global. Kepala sekolah yang berkemampuan dan efisien f. staf. orangtua dan masyarakat. akuntabel dan profesional khususnya dalam pengelolaan keuangan. i Kepala sekolah transparan. Kepala sekolah yang memiliki dedikasi dan rajin g. q Menganjurkan inovasi. dalam penelitian sekolah efektif. dan orangtua untuk berkonsultasi atau berdiskusi secara pribadi mengenai permasalahan yang mereka hadapi berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. k Kepala sekolah membangun kelompok kerja aktif. b. m Kepala sekolah mengidentifikasi misi organisasi supaya dapat menyusun tugas-tugas dan memberitahukan kepada seluruh karyawan. r Mengantisipasi masa depan dengan membaca masa sekarang s Secara konstan mempelajari organisasi dari dalam dan luar organisasi dan mengidentifikasi hubungan-hubungan yang lemah dalam rangkaian seluruh kegiatan yang ada serta memperbaikinya. tetapi dianjurkan untuk mengembangkan potensi mereka secara penuh. DZIKIR. l Kepala sekolah memiliki komitmen yang jelas terhadap penjaminan mutu sekolah. n Kepala sekolah menciptakan lingkungan yang fleksibel yang di dalamnya orang-orang tidak hanya dinilai dari. Di samping memenuhi indikator-indikator tersebut. g Kepala sekolah menunjukkan sikap dan perilaku yang dapat menjadi anutan atau model bagi guru dan siswa. kompetensi kepemimpinan yang diperlukan di sekolah tercermin dari beberapa karakteristik kepemimpinan berikut ini (Tiong. bukan hanya secara nasional dan lokal dalam menerima dan mengelola setiap informasi dan kegiatan yang ada dalam oraganisasi. PIKIR. j Kepala sekolah mendorong guru. e Kepala Sekolah memberikan dukungan pada guru untuk menegakkan kedisiplinan siswa. p Mengubah organisasi dari piramid yang kaku menjadi lingkaran yang lentur. bukan keuntungan jangka pendek. eksperimentasi dan menanggung resiko dari perubahan yang terjadi. Kepala sekolah yang adil dan tegas dalam mengambil keputusan. 1997): a.Kepala sekolah menyediakan dana yang diperlukan untuk menjamin pelaksanaan program-program pembelajaran sesuai dengan prioritasprioritas program yang telah ditentukan.

Dalam dokumen The School Leadership Context beberapa karakteristik kepemimpinan kepala sekolah yang baik menurut guru adalah: a Memiliki komitmen b Memiliki energi c Diterima oleh guru. Poster afirmasi Kelas 3. 7. Cara guru Hubungan berkomunikasi sosial dengan dengan siswa siswa 8. Supervisor: (Nama dan tandatang PIKIR. Penanaman budaya prestasi pada siswa 11. IKHTIAR 57 . Kesesuaian strategi Strategi pembelajaran dalam pembelajaran menciptakan budaya belajar 5.h. staf. Teknik pengaturan kelas yang memudahkan berkomunikasi 9. Dsb 4. Dsb Budaya kelas 10. siswa dan orangtua d Pendengar yang baik e Dapat menyesuaikan diri dengan perubahan f Menyediakan waktu bagi siswa g Konsisten dan jujur h Memiliki selera humor i Mengekspresikan perasaan j Berbagi tanggung jawab dan kekuasaan k Terampil dalam hubungan manusia l Mendorong individu dan kelompok untuk mengambil alih kepemimpinan LAMPIRAN (CONTOH) LEMBAR KEGIATAN SUPERVISI BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Nama Guru/Kelas : / Semester / Tahun Ajaran: Mata Pelajaran : Tanggal : PraktekBentuk Rencana praktek yang Permasalahan Komponen Aspek yang Diobservasi Tindak baik yang telah dan Kendala Lanjut dilakukan yang Dialami 1. Kepala sekolah yang percaya diri. Dsb. DZIKIR. Dsb. Pemilihan strategi yang bervariasi 6. Pengaturan kelas Pengelolaan 2.

1991. Desain & Aplikasi). Profiles of organizational culture and effective schools. USA Koentjoroningrat. & Smith. Moekijat.DAFTAR RUJUKAN Anonim 1. Manajemen Jilid II (Edisi bahasa Indonesia). 2002. 1001 Cara Untuk Menjadikan Karyawan Bersemangat. 1992. Fisher & Fraser. Studies in Educational Evaluation. 4(2):85-110. Mandar Maju. Gramedia. Papanastasiou. & Mary Coulter. Nelson 2007. 2002. Teori Organisasi ( Struktur. 296-320. 1998. . Asas-asas Perilaku Organisasi. School Effectiveness and School Improvement. 1991. 1990. Phi Delta Kappan. dan Levine. Toward a theory of school effectiveness and leadership. PT. The McGraw-Hill Companies. 1990. Budaya Kerja Perbankan (Jalan Lurus Menuju Integritas ) Sambutan Burhanuddin Abdullah. Too soon to cheer? Synthesis of research on effective schools. IKHTIAR 58 . Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara. School Effectiveness and School Improvement. Alih Bahasa Agus Darma. 394-397. School Effectiveness and School Improvement. O. Drs. B. Moedjiarto. & Vermeulen. Melbourne: Australian Council for Educational Research. teaching and family influence on student attitudes toward science: Based on TIMSS data for Cyprus. Organization Behavior 10th Edition. Karisma Publishing Group. Disertasi. Jakarta Robins. Measuring school climate: Let me count the ways. Januari. 1985. Prenhallindo. Tidak diterbitkan: Malang: Fakultas Pasca Sarjana Intitut Keguruan dan llmu Pendidikan Malang. Purkey. Jakarta Cheng. Supriyanto. Jakarta Samdal. Melbourne. Arcan. Hoy. Jakarta. Juran. School. Manajemen Jilid I (Edisi bahasa Indonesia). Wold. Manajemen Perilaku Organisasi : Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. 1999. Relationship between students' perceptions of school environment. Houtveen. Taylor. Anonim 3. Robins. Jakarta Van de Grift. Freiberg. Mandar Maju. Y. V.2). & Hannum. Bandung Anonim 2. Jakarta Luthans. 2006. 1990. 1999. P. 1989. Kebudayaan Mentaliter dan Pemberdayaan. 2005. 1997. PIKIR. Educational Leadership. C. Victoria: Australian Council for Educational Research. Educational Administration Quarterly. Diterbitkan Kementrian Pendayagunaan Budaya Kerja Aparatur Negara RI. 1993. 1974. School effectiveness and the management of effective learning and teaching. Mc. Edisi keempat. On Leadeship Of Quality Free Press. School Effectiveness and School Improvement. Millan Inc. 1999. their satisfaction with school and perceived academic achievement: An international study. Erlangga. Persepsi terhadap Karakteristik yang Membedakan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Aki:zdemik Tinggi dan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Akademik Rendah di Surabaya. F. Pendidikan Berbasis Mutu. Middle school climate: An empirical assessment of organisational health and studentc achievement. Inc. 1994. Bandung Mortimore. Educational Leadership. Kamus manajemen. School Effectiveness and School Improvement. Hughes. 1993. Karisma Publishing Group. Jakarta. 1001 Cara Untuk Memberikan Imbalan Kepada Karyawan. Cv. 1997. Slater. Paul dan Ken Blancher. & Bronis. 1990. dan Teddlie. (SET research information for teachers No. School Climate. 3(4):242-257. Teachers' professional development. Jakarta Arcaro. 2006. Batam Center. 1992. Pustaka LP3ES. DZIKIR. Prenhallindo. Batam Center. 4(4):290-310. PT. D. Effective school project and school-based management. 10(3). Instructional climate in Dutch secondary education. 2007. Pustaka Pelajar.

Witte.Townsend. 1994. DZIKIR. IKHTIAR 59 . Effecting Schooling For the CommUllity. 1990. Routledge. J. F. D. Educational Evaluation and Policy Analysis. PIKIR. dan Walsh. J. London and New York. A systematic test of the effective school model. 12(2):188-212. T.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful