P. 1
pengembangan-budaya

pengembangan-budaya

|Views: 43|Likes:
Published by Sangkala Peace
4rt45 45y 54
4rt45 45y 54

More info:

Published by: Sangkala Peace on Apr 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2013

pdf

text

original

PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

I.

KONSEP BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. Pengertian Budaya dan Iklim Sekolah 1. Budaya Sekolah Secara etimologis pengertian budaya (culture) berasal dari kata latin colere, yang berarti membajak tanah, mengolah, memelihara ladang (Poespowardojo, 1993). Namun pengertian yang semula agraris lebih lanjut diterapkan pada hal-hal yang lebih rohani (Langeveld, 1993). Selanjutnya secara terminologis pengertian budaya menurut Montago dan Dawson (1993) merupakan way of life, yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu pula dari suatu bangsa. Kemudian Kotter dan Heskett (1992) yang dikutip dalam The American Herritage Dictionary mendefinisikan kebudayaan secara formal, “sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan dan segala hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia”. Selanjutnya Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”. Lebih lanjut Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tiga wujud yaitu: a. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, nilainilai, norma-norma, peraturan dan lain-lain; b. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat dan; c. wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa budaya adalah sesuatu yang abstrak tetapi tetap memiliki dimensi yang mencolok, dapat didefinisikan dan dapat diukur berdasarkan karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Robbins (1994) sebagai berikut: (1) inisiatif individual, (2) toleransi terhadap tindakan beresiko, (3) arah, (4) integrasi, (5) dukungan dari manajemen, (6) kontrol, (7) identitas, (8) sistem imbalan, (9) toleransi terhadap konflik dan (10) polapola komunikasi. Dalam lingkup tatanan dan pola yang menjadi karakteristik sebuah sekolah, kebudayaan memiliki dimensi yang dapat di ukur yang menjadi ciri budaya sekolah seperti: a. Tingkat tanggung jawab, kebebasan dan independensi warga atau personil sekolah, komite sekolah dan lainnya dalam berinisiatif. b. Sejauh mana para personil sekolah dianjurkan dalam bertindak progresif, inovatif dan berani mengambil resiko. c. Sejauh mana sekolah menciptakan dengan jelas visi, misi, tujuan, sasaran sekolah, dan upaya mewujudkannya. d. Sejauh mana unit-unit dalam sekolah didorong untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

1

Tingkat sejauh mana kepala sekolah memberi informasi yang jelas, bantuan serta dukungan terhadap personil sekolah. f. Jumlah pengaturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku personil sekolah. g. Sejauh mana para personil sekolah mengidentifkasi dirinya secara keseluruhan dengan sekolah ketimbang dengan kelompok kerja tertentu atau bidang keahlian profesional. h. Sejauh mana alokasi imbalan diberikan didasarkan atas kriteria prestasi. i. Sejauh mana personil sekolah didorong untuk mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka. j. Sejauh mana komunikasi antar personil sekolah dibatasi oleh hierarki yang formal (diadopsi dari karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Stephen P. Robbins). Dari sekian karakteristik yang ada, dapat dikatakan bahwa budaya sekolah bukan hanya refleksi dari sikap para personil sekolah, namun juga merupakan cerminan kepribadian sekolah yang ditunjukan oleh perilaku individu dan kelompok dalam sebuah komunitas sekolah. Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Setiap sekolah memiliki kepribadian atau karakteristik tersendiri yang diciptakan dan dipertahankan serta mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan terhadap unsur dan komponen sekolah yang merupakan budaya dan iklim suatu sekolah. Jadi peran kepala sekolah pada dasarnya harus dapat menciptakan budaya bagaimana orang belajar dan bagaimana kita bisa membantu mereka belajar. Budaya dan iklim sekolah bukanlah suatu sistem yang lahir sebagai aturan yang logis atau tidak logis, pantas atau tidak pantas yang harus dan patut ditaati dalam lingkungan sekolah, tetapi budaya dan iklim sekolah harus lahir dari lingkungan suasana budaya yang mendukung seseorang melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, rela, alami dan sadar bahwa apa yang dilakukan (ketaatan itu muncul dengan sendirinya tanpa harus menunggu perintah atau dibawah tekanan) merupakan spontanitas berdasarkan kata hati karena didukung oleh iklim lingkungan yang menciptakan kesadaran kita dalam lingkungan sekolah. Misalnya budaya disiplin, budaya berprestasi dan budaya bersih 2. Iklim Sekolah Secara konseptual, iklim lingkungan atau suasana di sekolah didefinisikan sebagai seperangkat atribut yang memberi warna atau karakter, spirit, etos, suasana batin, setiap sekolah (Fisher & Fraser, 1990; Tye, 1974). Secara operasional, sebagaimana halnya pengertian iklim pada cuaca, iklim lingkungan di sekolah dapat dilihat dari faktor seperti kurikulum, sarana, dan kepemimpinan kepala sekolah, dan lingkungan pembelajaran di kelas. Beberapa pengertian lain mengenai iklim sekolah yang hampir memiliki makna serupa dikemukakan berikut ini. Hoy dan Miskel (1987) merumuskan pengertian iklim
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

e.

2

sekolah sebagai persepsi guru terhadap lingkungan kerja umum sekolah. De Roche (1985) mengemukakan iklim sebagai hubungan antar-personil, sosial dan faktor-faktor kultural yang mempengaruhi perilaku individu dan kelompok dalam lingkungan sekolah. Selama dua dasawarsa lingkungan pembelajaran di sekolah dipandang sebagai salah satu faktor penentu keefektifan suatu sekolah (Creemer et al., 1989). Fisher dan Fraser (1990) juga menyatakan bahwa peningkatan mutu lingkungan kerja di sekolah dapat menjadikan sekolah lebih efektif dalam memberikan proses pembelajaran yang lebih baik. Freiberg (1998) menegaskan bahwa lingkungan yang sehat di suatu sekolah memberikan kontribusi yang signifikan terhadapan proses kegiatan belajar mengajar yang efektif. Ia memberikan argumen bahwa pembentukan lingkungan kerja sekolah yang kondusif menjadikan seluruh anggota sekolah melakukan tugas dan peran mereka secara optimal. Hasil-hasil penelitian selaras dan mendukung penegasan tersebut. Misalnya, penelitian oleh Van de Grift dan kawan-kawan (1997) di 121 sekolah menengah di Belanda menunjukkan bahwa prestasi akademik siswa untuk bidang matematika dipengaruhi oleh sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika, apresiasi terhadap usaha guru, serta lingkungan pembelajaran yang terstruktur. Atwool (1999) menyatakan bahwa lingkungan pembelajaran sekolah, dimana siswa mempunyai kesempatan untuk melakukan hubungan yang bermakna di dalam lingkungan sekolahnya, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa, memfasilitasi siswa untuk bertingkah laku yang sopan, serta berpotensi untuk membantu siswa dalam menghadapi masalah yang dibawa dari rumah. Selanjutnya Samdal dan kawan-kawan (1999) juga telah mengidentifikasi tiga aspek lingkungan psikososial sekolah yang menentukan prestasi akademik siswa. Ketiga aspek tersebut adalah tingkat kepuasan siswa terhadap sekolah, terhadap keinginan guru, serta hubungan yang baik dengan sesama siswa. Mereka juga menyarankan bahwa intervensi sekolah yang meningkatkan rasa kepuasan sekolah akan dapat meningkatkan prestasi akademik siswa. Hoy dan Hannum (1997) menemukan bahwa lingkungan sekolah dimana rasa kebersamaan sesama guru tinggi, dukungan sarana memadai, target akademik tinggi, dan kemantapan integritas sekolah sebagai suatu institusi mendukung pencapaian prestasi akademik siswa yang lebih baik. Selain dari itu, Sweetland dan Hoy (2000) menyatakan bahwa iklim lingkungan sekolah dimana pemberdayaan guru menjadi prioritas adalah sangat esensial bagi keefektifan sekolah yang pada muaranya mempengaruhi prestasi siswa secara keseluruhan. Hasil-hasil penelitian juga menunjukkan hubungan antara iklim lingkungan sekolah dengan sikap siswa terhadap mata pelajaran. Papanastaiou (2002) menyatakan bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung, iklim lingkungan sekolah memberi efek terhadap sikap siswa terhadap mata pelajaran IPA di sekolah menengah. B. Tujuan Dan Manfaat Pengembangan Budaya Sekolah Hasil pengembangan budaya sekolah adalah meningkatkan perilaku yang konsisten dan untuk menyampaikan kepada personil sekolah tentang bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan untuk membangun kepribadian mereka dalam lingkungan sekolah yang sesuai dengan iklim lingkungan yang tercipta di sekolah baik itu lingkungan fisik maupun iklim kultur yang ada. Pemahaman bahwa budaya dan iklim sekolah mempunyai sifat yang sama, tidak berarti bahwa tidak akan terdapat sub-budaya di dalam budaya sekolah. Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam lingkungan sekolah yang merupakan karakteristik sekolah adalah budaya
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

3

dominan atau budaya yang kuat, dianut, diatur dengan baik dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak personil sekolah yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui gagasan berdasarkan kepentingannya, dan merasa sangat terikat pada nilai yang ada maka makin kuat budaya tersebut. Karena para personil sekolah memiliki pengalaman yang diterima bersama, sehingga dapat menciptakan pengertian yang sama. Hal ini bukan berarti bahwa anggota yang stabil memiliki budaya yang kuat, karena nilai inti dari budaya sekolah harus dipertahankan dan dijunjung tinggi, namun juga harus dinamis. Untuk menciptakan budaya sekolah yang kuat dan positif perlu dibarengi dengan rasa saling percaya dan saling memiliki yang tinggi terhadap sekolah, memerlukan perasaan bersama dan intensitas nilai yang memungkinkan adanya kontrol perilaku individu dan kelompok serta memiliki satu tujuan dalam menciptakan perasaan sebagai satu keluarga. Dengan kondisi seperti ini dan dibarengi dengan kontribusi yang besar terhadap harapan dan cita-cita individu dan kelompok sebagai wujud dan harapan sekolah yang tertuang dalam visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah ditunjang oleh iklim sekolah yang mendukung kontribusi tersebut. Manfaat yang diperoleh dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kuat, intim, kondusif dan bertanggung jawab adalah: 1. Menjamin kualitas kerja yang lebih baik. 2. Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. 3. Lebih terbuka dan transparan 4. Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi 5. Meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan 6. Jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki 7. Dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK Manfaat ini bukan hanya dirasakan dalam lingkungan sekolah tetapi dimana saja karena dibentuk oleh norma pribadi dan bukan oleh aturan yang kaku dengan berbagai hukuman jika terjadi pelanggaran yang dilakukan. Selain beberapa manfaat diatas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : 1. Meningkatkan kepuasan kerja 2. Pergaulan lebih akrab 3. Disiplin meningkat 4. Pengawasan fungsional bisa lebih ringan 5. Muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif 6. Belajar dan berprestasi terus serta 7. Selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri. C. Model Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Model pengembangan budaya dan iklim sekolah yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik itu kepala sekolah, guru dan staf sekolah dan utamanya siswa itu sendiri dapat dijadikan dasar dalam upaya memperbaiki iklim sekolah. Model tersebut merupakan integrasi komponen-komponen seperti budaya sekolah, iklim organisasi, dan pranata sistem sekolah. Komponen pengembangan budaya dan iklim sekolah secara umum dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori dengan beberapa aspek sebagai berikut: 1) Budaya sekolah meliputi aspek-aspek: a. Nilai b. Norma c. Perilaku
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

4

Lingkungan fisik sekolah meliputi: a. Keindahan b. Keamanan c. Kenyamanan d. Ketentraman e. Kebersihan 3) Lingkungan sistem sekolah meliputi: a. Berbasis mutu b. Kepemimpinan kepala sekolah c. Disiplin dan tata tertib d. Penghargaan dan insentif e. Harapan untuk berprestasi f. Akses informasi g. Evaluasi h. Komunikasi yang intensif dan terbuka Model berikut ini menjelaskan tentang bagaimana membangun sebuah budaya dan iklim sekolah berdasarkan unsur-unsur di atas. Model tersebut menggambarkan bahwa budaya dan iklim organisasi merupakan kumpulan nilai-nilai, norma dan perilaku yang mengontrol interaksi-personil sekolah dengan orang diluar sekolah. Budaya organisasi sekolah tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh individu-induidu yang memiliki kepentingan dengan sekolah, atau dengan kata lain budaya dan iklim sekolah merupakan hasil interaksi nilai-nilai yang dianut individu didalam dan diluar sekolah. Sekolah merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif terus-menerus untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah.
2)

PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

5

b. siswa dan masyarakat. Indah Aman Nyaman Tentram Bersih BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Gambar 19. dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya dan iklim sekolah. Prinsip-Prinsip Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Prinsip adalah ”suatu pernyataan atau suatu kebenaran yang pokok. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko PIKIR. c. Berbasis mutu Kepemimpinan Disiplin dan tata tertib Penghargaan dan insentif e. DZIKIR. Visi tentang keunggulan mutu misalnya. yang memberikan suatu petunjuk kepada pemikiran atau tindakan” (Moekijat . staf.PEMBERDAYAAN SEKOLAH BUDAYA PEMBERDAYAAN SEKOLAH LINGKUNGAN FISIK SEKOLAH a. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah. Harapan berprestasi f.1 Model dalam Membangun Budaya dan iklim Sekolah D. Lebih jauh dijelaskan pengertian prinsip yakni pedoman-pedoman yang dapat membantu dalam penerapan manajemen yang harus dipergunakan secara cermat dan bijaksana.1990). Nilai b. guru. 1. 3. termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya budaya dan iklim sekolah. IKHTIAR 6 . Norma c. harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya dan iklim sekolah. misi. Komunikasi formal dan informal a. e. misi dan tujuan sekolah. Evaluasi h. Prinsip-prinsip yang menjadi acuan dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah sebagai berikut. Akses informasi g. Berfokus Pada Visi. 2. Fungsi visi. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. Perilaku a. d. b. d. c. Misi dan Tujuan Sekolah Pengembangan budaya dan iklim sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi. Budaya dan iklim sekolah yang efektif akan memberikan efek positif bagi semua unsur dan personil sekolah seperti kepala sekolah.

Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. PIKIR. Asas-Asas Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Definisi budaya dan iklim sekolah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan sebuah pola asumsi dasar dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah efektif. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. Oleh karena itu peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah harus senantiasa dibarengi dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dengan menerapkan nilai-nilai dasar sebagai asas kehidupan sekolah. 7. E. sehingga unsur dan prinsip-prinsipnya dianggap valid untuk dilaksanakan secara terus menerus serta diterapkan bukan hanya dianggap sebagai strategi tetapi lebih condong dipandang sebagai budaya. dan jangka panjang. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. Sistem Evaluasi yang Jelas Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. 9. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. 10. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya dan iklim sekolah. 4. 8. DZIKIR. 6. Berorientasi Kinerja Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Sistem Imbalan yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Memiliki Komitmen yang Kuat Komitemen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya dan iklim sekolah. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah. Evaluasi Diri Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi di sekolah. Memiliki Strategi yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. sedang. IKHTIAR 7 . Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. 5. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya dan iklim sekolah. Keputusan Berdasarkan Konsensus Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik.Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko.

kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. IKHTIAR 8 . Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang baik. nyaman. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. 6. Disiplin (discipline) PIKIR. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Jujur (honesty) Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. Kerjasama tim (team work) Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. jujur dalam mengelola keuangan. Hormat (respect) Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. Kemampuan Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. 3. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. 5. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Tanpa kejujuran. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. nyaman. Jujur dalam memberikan penilaian. 2. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. DZIKIR. baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. 4. asri dan menyenangkan. Keinginan Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya.Secara umum asas-asas pengembangan budaya dan iklim sekolah dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Dalam lingkungan pembelajaran. Kegembiraan (happiness) Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. 7. kepercayaan tidak akan diperoleh. Untuk itu. guru. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif.

kinerja sekolah ditentukan oleh suasana atau iklim lingkungan kerja pada sekolah tersebut. Demikian juga halnya. 9. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. Empati (empathy) Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Di negara-negara maju. riset tentang iklim kerja di sekolah telah berkembang dengan mapan dan memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi pembentukan sekolah-sekolah yang berhasil. Lebih lanjut Hughes (1991) menegaskan bahwa setiap sekolah mempunyai karakter suasana kerja. guru dan staf. INDIKATOR-INDIKATOR DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Budaya dan iklim organisasi sekolah secara konsisten ditemukan berkorelasi positif dengan prestasi belajar. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. kurikulum. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya dan iklim sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. IKHTIAR 9 . Purkey dan Smith (1985) menyatakan bahwa prestasi akademik siswa dipengaruhi sangat kuat oleh suasana kejiwaan atau iklim kerja sekolah. Dimensi ini menuntut para guru. 1994). orang tua dan masyarakat. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. dan misi) yang kokoh cenderung dipandang lebih efektif dalam hal produktivitas. metode pembelajaran yang dipakai. Dapat diartikan disini bahwa lingkungan sosial pembelajaran di kelas maupun di sekolah PIKIR. khususnya pada pencapaian prestasi akademik siswa. sarana dan prasarana. kemampuan adaptasi dan keluwesan. II. Pembentukan suasana pembelajaran yang kondusif perlu diciptakan dalam seluruh lingkungan sekolah termasuk didalamnya lingkungan kelas. yang akan mempengaruhi keberhasilan proses kegiatan pembelajaran di kelas.Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. staf dan kepala sekolah tarmpil. Ditegaskan bahwa jika guru merasakan suasana kerja yang kondusif di sekolahnya. Secara eksplisit faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah kompetensi guru. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. Pengetahuan dan Kesopanan Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. keyakinan. serta lingkungan pembelajaran baik lingkungan alam. psikososial dan budaya (Depdikbud. maka dapat diharapkan siswanya akan mencapai prestasi akademik yang memuaskan. DZIKIR. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Kekondusifan iklim kerja suatu sekolah mempengaruhi sikap dan tindakan seluruh komunitas sekolah tersebut. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. 8. Penelitian Cheng (1993) menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya organisasi (cita-cita.

Sehubungan dengan itu maka budaya dan iklim sekolah dapat digolongkan menjadi enam kondisi yaitu: (1) iklim terbuka. Dalam sekolah efektif. iklim sekolah yang kondusif mendorong setiap personil yang terlibat dalam organisasi sekolah untuk bertindak dan melakukan yang terbaik yang mengarah pada prestasi siswa yang tinggi. tetapi ia ada seperti udara dalam ruangan. nyaman. 1994). PIKIR. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dikemukakan berikut ini. prestasi. Selain itu. dan tertib di dalam belajarnya. rapi. Penampilan fisik sekolah selalu bersih. DZIKIR. Iklim adalah konsep sistem yang mencerminkan keseluruhan gaya hidup suatu organisasi. IKHTIAR 10 . 1990). guru dengan guru. (2) iklim bebas. dan dengan pihak lainnya. dan agar orangtua dan masyarakat merasa dirinya diterima dan dilibatkan (Townsend. c Dalam lingkungan sekolah terdapat beberapa kawasan khusus seperti: kawasan wajib senyum. Hal ini dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut: a Pekarangan dan lingkungan sekolah yang tertata sedemikian rupa sehingga memberi kesan asri. Hal ini ditandai dengan fasilitas-fasilitas fisik sekolah terawat dengan baik. (3) iklim terkontrol (4) iklim familier (kekeluargaan). dan (6) iklim tertutup (Halpin & B Croft dalam Burhanunudin. tertib. agar guru merasakan diri dihargai. Perawatan Fasilitas Fisik Sekolah Salah satu ciri sekolah efektif adalah terciptanya budaya dan iklim sekolah yang menyenangkan sehingga siswa merasa aman. d Adanya pembiasaan-pembiasaan yang bernuansa moral dan akhlak yang mendorong meningkatnya kecerdasan spritual peserta didik. b Budaya bersih juga senantiasa ditumbuhkan di kalangan warga sekolah dengan membiasakan perilaku membuang sampah pada tempatnya. Budaya dan iklim sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa tenang. dan kawasan wajib bahasa Inggris (English area). Pandangan ini mengindikasikan kualitas iklim yang memungkinkan meningkatnya prestasi kerja. 1985). perhatian khusus diberikan kepada penciptaan dan pemeliharaan iklim yang kondusif untuk belajar (Reynolds. dan (e) terdapat juga sekolah yang mengadakan “kultum” setiap hari dan menugaskan siswa berceramah sekali seminggu. indah dan nyaman. yaitu budaya sekolah yang perlu ditumbuhkan berupa suasana saling hormat antara siswa dengan siswa. (5) iklim parternal. 1985). (d) shalat berjamaah pada waktu shalat duhur. Iklim yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman. Apabila gaya hidup itu dapat ditingkatkan. Hal yang sama dikemukakan oleh Wijaya (2005). hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghargai satu sama lain. kemungkinan besar tercapai peningkatan prestasi kerja (Davis dan Newstrom. Hal ini dapat terjadi melalui penciptaan norma dan kebiasaan yang positif. (b) menumbuhkan budaya relegius dengan membiasakan murid mengucapkan dan membalas salam setiap bertemu. teduh. siswa dengan guru. dan kepuasan kerja (Davis dan Newstrom. Iklim dapat mepengaruhi motivasi. Iklim tidak dapat dilihat dan disentuh. kawasan bebas narkoba dan rokok. seperti: (a) berdoa sebelum pelajaran dimulai. dan nyaman. aman dan bersikap positif terhadap sekolahnya. (c) mengadakan pengajian secara rutin. A. Penataan Lingkungan Fisik Sekolah 1.(kantor guru dan staf tata usaha) mempunyai pengaruh baik langsung maupun tak langsung terhadap proses kegiatan pembelajaran. serta dimanfaatkan untuk menanam sayuran dan apotik hidup. Ia mengitari dan mempengaruhi segala hal yang terjadi dalam suatu organisasi. 1994). dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik.

baik pada saat siswa belajar di kelas maupun pada saat mereka melakukan berbagai aktivitas lainnya di luar kelas. adalah pengadaan dan penempatan poster afirmasi ini jangan sampai terkesan berlebihan atau menjadi pesan sloganis belaka. Sekolah terbebas dari gangguan keamanan baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Yang perlu diperhatikan. Dalam hubungan dengan ciri ”I Thou Relationship”. kelas kesenian. kelas bahasa. Penataan Ruang Kelas Penataan ruang kelas ditujukan untuk memperoleh kondisi kelas yang menyenangkan sehingga tercipta suasana yang mendorong siswa lebih tenang belajar. kursi. yaitu poster yang berisi pesan-pesan positif digunakan dan dipajang di berbagai tempat strategis yang mudah dan dapat selalu dilihat oleh siswa. Untuk menjamin keamanan sekolah maka harus didukung adanya tata tertib sekolah yang menjadi acuan dari semua warga sekolah. Penggunaan musik instrumentalia yang lembut dapat lebih menciptakan suasana menyenangkan dan memberi efek penenteraman emosi. Penggunaan Sistem Kelas Berpindah (Moving-Class) Moving-class adalah sistem pengelolaan aktivitas pembelajaran di mana kelaskelas tertentu ditata khusus menjadi sentra pembelajaran bidang studi/mata pelajaran tertentu. IKHTIAR 11 .2. dan memiliki kebutuhan dan kewenangan sendiri untuk menentukan keputusan dan pilihannya sendiri. Ada kelas sains. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. pesan pujangga. Poster afirmasi ini dapat digunakan untuk mensosialisasikan dan menanamkan pesanpesan spiritual kepada siswa dan warga sekolah. siswa. peralatan. Iklim interaksi antar warga sekolah dibangun atas dasar prinsip ”I Thou Relationship” bukan hubungan yang bersifat ”I-it Relationship”. Dalam sistem moving-class ini. atau puisi-puisi spiritual. B. dan staf harus menjadi model dan teladan untuk penegakan tata tertib dan disiplin. guru. kelas matematika. Penciptaan Keamanan di Lingkungan Sekolah Sekolah yang efektif perlu memperhatikan keamanan sekitar. 3. Karena itu kepala sekolah. pribadi yang patut dihargai. ruang-ruang kelas tertentu dapat ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. dan sebagainya. pajangan. media. hadist. Penataan Lingkungan Sosial Sekolah 1. Tata tertib sekolah dapat terlaksana dengan baik. Penciptaan Relasi Kekeluargaan dan Kebersamaan Sekolah menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan antara kepala sekolah. dan orangtua. 2. Penggunaan Poster Afirmasi Poster-poster afirmasi. Penggunaan sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. apabila didukung oleh seluruh penyelenggara sekolah. setiap individu memandang dan memperlakukan individu lainnya sebagai subjek. sehingga satu sama lain saling berbagi dan memberi bantuan. guru. Budaya dan iklim sekolah yang bercirikan model hubungan seperti ini akan dapat membangun rasa kebersamaan dan dapat memicu berkembangnya rasa percaya diri dan kreativitas semua warga sekolah. dihormati. karyawan. Hubungan kekeluargaan ini dapat digambarkan sebagai berikut: PIKIR. DZIKIR. Sekolah membangun budaya setara di kalangan warga sekolah. Pesan-pesan spiritual untuk poster afirmasi dapat berupa petikan ayat Al-Quran. Meja. termasuk semua siswa. 4.

katakanlah guru tertentu. Memaksimalkan buku penghubung sebagai alat pengontrol kemajuan siswa sekaligus wadah menjalin komunikasi dengan orang tua. staf administrasi dan siswa menunjukkan rasa bangga terhadap sekolahnya. Ganjaran akan efektif jika diberikan sesegara mungkin dan dilakukan secara konsisten pada setiap siswa yang menunjukkan prestasi. 3. Prosedur untuk melibatkan orang tua disampaikan secara jelas. dan memberdayakan orang tua siswa yang memiliki kemampuan finansil atau peran penting di lembaga pemerintah dan swasta dalam berbagai kegiatan sekolah. d. mendorong dunia usaha dan industri untuk berpartisipasi dalam pengembangan sekolah. penegakan kedisiplinan di sekolah. Orangtua siswa diberi kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan. Setiap warga sekolah merasa bertanggung jawab untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekolah. memandang individu lain (katakanlah siswa) sebagai objek. Pengembangan Rasa Memiliki Terhadap Sekolah Sekolah menciptakan rasa memiliki sehingga guru. pertemuan berkala antara orangtua dan pihak sekolah. Penataan Personil Sekolah 1. dan dapat diperlakukan sesuai kemauan dan determinasi sang guru. dan cenderung mengembangkan sikap asosial. c. mengontrol perkembangan belajar anaknya. Pelibatan tokoh masyarakat. Orang tua siswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan. seperti pembuatan tata tertib. kepentingan. Ini bisa dicapai. Pemberian Jaminan Atas Kemaslahatan Siswa Kemaslahatan siswa merupakan kriteria penting yang digunakan dalam pembuatan keputusan tentang mereka. e. Ganjaran juga dibutuhkan untuk mempertahankan motivasi dan gairah berprestasi di kalangan siswa. C. Keputusan yang dibuat hendaknya juga dapat memenuhi prinsip keadilan dan PIKIR. Pemberian Ganjaran Positif bagi Karya Terbaik Siswa Karya-karya cemerlang siswa dipajang di kelas atau ruang kepala sekolah dan diberi ganjaran positif. pengadaan sarana sekolah. Ciri hubungan seperti ini akan mematikan kretivitas dan rasa percaya diri sisiwa. dan kondisi khusus siswa. seperti menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan sekolah. tidak berhak untuk menyatakan kebutuhan dan kepentingannya. perlu dituntun. memberikan sumbangan dalam bentuk materi. Orangtua dan masayarakat dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan strategis di sekolah. Ganjaran hendaknya diberikan sesegara mungkin dan diarahkan untuk memberi rasa kebanggaaan dan untuk mempertahankan motivasi siswa yang diberi ganjaran serta menstimulasi siswa lainnya untuk menghasilkan prestasi yang sama. individu tertentu. b. bahkan anti sosial. antara lain dengan memberi tanggung jawab pengelolaan dan perawatan wilayah tertentu kepada kelompok kelas atau ruang tertentu. pada diri siswa. Setiap keputusan yang dibuat di sekolah hendaknya memperhatikan kebutuhan.a. IKHTIAR 12 . 2. Sekolah senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan orangtua dan masyarakat melalui wadah Komite Sekolah. Sebaliknya dalam hubungan yang dicirikan dengan ”I-it Relationship”. Keterlibatan komite sekolah secara nyata ditemukan pada semua sekolah dalam berbagai aspek dan kegiatan. ikut serta memutuskan sanksi terhadap pelanggaran di sekolah. DZIKIR.

peringatan hari-hari besar. Atau dengan kata lain semua kegiatan baik kegiatan kurikuler. Berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif telah ditawarkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. misalnya: acara perpisahan sekolah. misalnya: penyuluhan tentang anti narkoba. yaitu: (1) pekerjaan itu sendiri. kelas sosial. Karakteristik ini berkenaan dengan penciptaan etos positif yang dapat mendorong siswa berprestasi. (c) pekerjaan yang menantang. Harapan yang Tinggi Untuk Berprestasi Karakteristik ini pada umumnya ditemukan dalam sekolah efektif. sebaiknya dijadwal dan disesuaikan dengan kalender pembelajaran agar jadwal proses belajar-mengajar dan implemantasi kurikulum tidak terganggu. D.Lingkungan. bila metode yang lebih baik diperkenalkan kepadanya. harapan yang tinggi yang ditransmisikan ke dalam kelas berperan dalam meningkatkan ekspektasi diri siswa terutama berkenan dengan peningkatan prestasi akademik mereka. Aktivitas yang bersifat insidental dan tidak terjadwal dalam program semester/tahunan. internet. (b) pengakuan akan keberhasilan. PIKIR. Hal ini sejalan dengan teori motivasi-iklim baik dari Herzberg (Hersey dan Blanchard. (d) hubungan antar pribadi. Dijelaskan bahwa faktor-faktor motivasi-iklim baik. dan pelatihan. (4) persyaratan promosi dan penjenjang-an. (1988) mengungkapkan bahwa harapan dan standar untuk berprestasi yang tinggi juga perlu bagi para staf sekolah yang ditandai dengan adanya: (1) keyakinan bahwa semua siswa dapat belajar. guru perlu mengadopsi dan mencoba menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran tersebut untuk lebih mengefektifkan proses pembelajarannya. IKHTIAR 13 . (3) harapan yang tinggi akan pekerjaan yang berkualitas tinggi. (d) meningkatnya tanggung jawab. Penerapan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif dan telah teruji perlu menjadi bagian yang mencoraki iklim pembelajaran di sekolah. Penataan Lingkungan Kerja Sekolah 1. agar kegiatan proses belajar-mengajar tidak terganggu. ras. ataupun varian-varian latar siswa lainnya. 4. 5. kegiatan OSIS. seperti buku. karya tulis remaja. 1992). etnis. Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa semua aktivitas sekolah harus dijadwalkan sehingga kegiatan yang dilaksanakan di sekolah maupun di dalam kelas dapat berjalan lancar. mading. Sehubungan dengan itu. Murphy (1985) seperti dikutip oleh Wayson. dkk. (2) tanggung jawab bagi pembelajaran siswa. maka seluruh kegiatan nonteaching yang bersifat regular dan yang bersifat insidental perlu diidentifikasi. kondisi fisik. Akseptabilitas Guru Terhadap Metode Pembelajaran Terbaru Guru bersedia mengubah metode-metode mengajar. PMR. (e) penghargaan. termasuk keadilan dan kesetaraan gender. Penelitian Moedjiarto (1990) dan Witte dan Walsh (1990) mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara harapan yang tinggi untuk berprestasi dan prestasi akademik siswa. dan lain-lain sedapat mungkin dilaksanakan pada waktu-waktu yang tidak mengganggu aktivitas proses belajarmengajar. dan (5) pemberian perhatian pribadi kepada siswa perorangan. yang meliputi: (a) prestasi. DZIKIR. Menurut Mortimore (1993). porseni. dan keamanan. terdiri dari: (a) kebijaksanaan dan administrasi. Pengaturan Jadwal Acara dan Aktivitas Sekolah Semua aktivitas di sekolah harus dijadwalkan secara baik. (c) kondiisi kerja. (e) pertumbuhan dan perkembangan. Dengan demikian. Aktivitas bersifat regular dan dilakukan setiap semester/tahun di sekolah.kesetaraan di kalangan siswa. (b) supervisi. status. agama.

Penciptaan Budaya Kerja Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian dalam upaya penciptaan budaya kerja yang positif seperti: a. yang diartikan sebagai proses manajemen dalam konteks ini adalah manajemen mutu. baik yang bersifat formal maupun informal. b. Penerapan disiplin dan tata tertib sesuai dengan mentaati jam kerja yang berlaku di lingkungan sekolah. kepala sekolah. dan kegiatan sebaiknya ditata secara baik sehingga tidak saling mengganggu. bukan hasil dari suatu pemeriksaan atau inspeksi. Salah satu bentuk pengembangan budaya kerja yang positif adalah budaya mutu. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kepada siswa dan masyarakat. rencana. (4) kualitas PIKIR. 1992). yang dalam konteks pembelajaran berarti perbaikan secara berkelanjutan “proses pembelajaran. kebutuhan. Setiap guru bidang studi dan wali kelas senantiasa melakukan pemantauan dan evaluasi secara periodik terhadap peningkatan disiplin dan prestasi belajar siswa c. Di kalangan bisnis. maupun ekstrakurikuler. Dalam rangka menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif. 2. staf dan siswa untuk meningkatkan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas melalui pendidikan dan pelatihan. siswa.kokurikuler. program. guru dan wali kelas wajib menciptakan iklim kerja dan iklim belajar yang kondusif dalam rangka untuk meningkatkan kinerja guru dan prestasi belajar siswa. ternyata 35 persen dari biaya operasionalnya dipakai untuk memperbaiki dan menyelesaikan pekerjaan yang ternyata salah atau keliru dilakukan (Crosby. (3) kualitas berarti memenuhi keinginan. hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tumpang tindih. 1990). Turner. Memberikan kesempatan kepada para guru. sebagai wahana saling mengkomunikasikan ide. guru. seperti komite sekolah. DZIKIR. IKHTIAR 14 . Hal ini membawa implikasi bahwa sekolah perlu didorong untuk tidak hanya melihat aspek input manajemen tetapi jauh lebih penting adalah proses manajemennya. menurut Brough (1992) perlu memperhatikan hal berikut. staf dan siswa dengan menggunakan prinsip pemberian penghargaan mereka yang berprestasi dan penerapan sanksi disiplin untuk mereka yang melakukan pelanggaran disiplin sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku di sekolah tidak terkecuali kepada siapapun. (2) kualitas muncul dari pencegahan.” Sehubungan dengan itu maka. dan selera konsumen. menanamkan budaya pengawasan melekat (WASKAT) terhadap seluruh personil sekolah secara intensif. Penerapan manajemen mutu dalam organisasi nonprofit termasuk sekolah. Senantiasa melakukan pembinaan dan motivasi kepada guru. Pryke. d. e. h. guru dan staf menyusun mekanisme proses pelayanan yang direncanakan maupun mekanisme pelayanan langsung/spontan berhubungan proses belajar mengajar dan kegiatan yang dapat menunjang kelancaran proses belajar mengajar. g. Menyiapkan buku bacaan sekolah di setiap sudut atau ruang sekolah dalam bentuk taman bacaan atau ruang tunggu yang bisa digunakan oleh siapa saja tanpa harus dijaga karena didasari oleh kebutuhan dan kejujuran. Pertemuan antara kepala sekolah dengan berbagai pihak. f. Kepala sekolah. yaitu: (1) kualitas adalah pekerjaan setiap orang. Filosofi utama budaya mutu adalah “perbaiki prosesnya sebelum hasilnya jelek” (Paine.

menunjang sistem yang diperlukan oleh guru. Manajemen mutu terpadu merupakan metode yang dapat membantu sekolah untuk membangun aliansi antara pendidikan. Beberapa pandangan Juran yang dikutip oleh Jerome S Arcaro (2005) tentang mutu adalah: (1) meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir (2) perbaikan mutu merupakan proses berkelanjutan. Pengembangan budaya mutu antara lain dapat dilakukan melalui penciptaan harapan yang tinggi untuk berprestasi di kalangan warga sekolah. siswa. (6) kualitas harus didasarkan atas perencanaan strategik. kepala sekolah. PIKIR. mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan di sekolah. emosional dan spiritual agar lebih siap dalam menghndapi tantangan akademik dan bisnis dimasa yang akan dating. Arcaro (2005) dengan konsep “pilar mutu” menggambarkan kriteria sekolah yang memiliki mutu mulai dari kegiatan di ruang kelas sampai pada perawatan bangunan sekolah sebagaimana digambarkan pada halaman berikut. staf dan siswa untuk mengelola perubahan. Sebuah model sekolah bermutu terpadu yang dikembangkan oleh Jarome S.menuntut kerja sama yang erat. Prosesenya diawali dengan visi dan misi mutu dalam lingkungan sekolah yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan pemakai. serta perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat program pendidikan di sekolah menjadi lebih baik. Transformasi menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan komitmen bersama terhadap mutu oleh komite sekolah. orang tua siswa dan masyarakat. IKHTIAR 15 . bukan program sekali jalan (3) mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan dan administrator (4) pelatihan merupakan prasyarat mutu. dan (5) setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. DZIKIR. Pilar-pilar ini merupakan model penting bagi setiap prakarsa mutu yang berhasil dan pilar mutu ini bersifat universal. staf. guru. mendorong keterlibatan total warga dalam setiap program. Karena pendekatan sistem merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam pilar mutu maka dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah yang bermutu maka juga harus berfokus pada semua pilar sekaligus. Yang dimaksud dengan budaya mutu adalah terciptanya kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang positif terutama dalam aspek sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja sekolah yang tinggi. (5) kualitas menuntut perbaikan yang berkelanjutan. bisnis dan pemerintah untuk memastikan apakah para professional sekolah memberikan fokus pada sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan program-program pendidikan di sekolah. Pilar mutu memberikan fokus dan arahan yang diperlukan oleh seluruh personil sekolah untuk setiap prakarsa mutu. Fokus dan arahan pada setiap pilar tidak dapat dibatasi oleh satu pilar dalam mengembangkan budaya dan iklim mutu dalam lingkungan sekolah. Sekolah yang menerapkan maanjemen mutu terpadu akan membangun budaya dan iklim sekolah yang memungkinkan setiap orang membawa ukuran perbaikan mutu terhadap proses kerjanya yang dapat dinilai bagaimana kontribusinya dalam mengembangkan kompotensi siswa dari segi intelektual. Dengan konsep ini memungkinkan bagi guru dan staf untuk mengukur dan mendokumentasikan nilai tambah parakarsa mutu kepada siswa dan masyarakat. dapat diterapkan di semua sekolah.

maupun siswa. Beberapa indikator penciptaan budaya mutu di sekolah adalah. di mana para guru percaya bahwa siswa dapat mencapai tingkat prestasi yang tinggi. menyusun standar kinerja yang tinggi bagi guru. dan sebagainya. staf dan siswa. a. c. b. d. komitmen dan kerajinan yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang tidak fair seperti menyontek. Beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah dalam menciptakan budaya mutu di sekolah adalah sebagai berikut.Gambar 19. Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh siswa. Siswa yang memiliki budaya mutu memiliki motivasi belajar. IKHTIAR 16 .2 Model Sekolah Bermutu Terpadu Sekolah yang memiliki budaya mutu. dan kinerja yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang menodai komitmen terhadap mutu. komitmen. Merumuskan standar sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja tinggi baik bagi kepala sekolah. staf administrasi. Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh orangtua siswa. Sekolah menciptakan suasana yang memberikan harapan dan semangat. Guru yang berorientasi budaya mutu memiliki motivasi kerja. a. PIKIR. DZIKIR. Sekolah menekankan kepada siswa dan guru bahwa belajar merupakan alasan yang paling penting untuk bersekolah. guru.

Memampukan warga sekolah untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas guna memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna lulusan (masyarakat). B. Budaya Sekolah: Untuk merealisasikan visi. c. 3. dan staf dalam berkompetisi. kemudian diuraikan dalam beberapa misi sebagai berikut: A. kompeten/mampu dan terampil. ketepatan. Setiap orang yang melakukan perjalanan dinas baik ke daerah maupun ke luar negeri wajib melaporkan hasil perjalanan Dinasnya kepada bendahara atau kepala sekolah Berikut ini dikemukakan contoh-contoh penerapan indikator budaya dan iklim sekolah pada salah satu sekolah. 17 . bangsa dan negara E. keramahan. Menghasilkan lembaga pendidikan yang memiliki predikat sekolah unggul. Contoh Budaya dan iklim Sekolah Bakti Mulya 400 Visi : Menjadi pusat pengembangan pendidikan yang melahirkan kader pemimpin dan intelektual muslim dengan wawasan luas serta tanggap terhadap lingkungan dan mampu bersaing di era globalisasi sehingga mampu memperbaiki kualitas bangsa Indonesia Misi: Dikembangkan dari visi. Menghasilkan sumber daya manusia yang berguna bagi dirinya. Setiap staf dan guru agar menyusun laporan akuntabilitas secara periodik setiap triwulan b. Menyelenggarakan pendidikan yang menumbuhkembangkan potensi siswa untuk menjadi manusia seutuhnya. serta berorientasi kepada hasil (output) dan manfaat (outcomes) dari setiap program yang diselenggarakan di sekolah c. maka pembinaan siswa dilakukan melalui proses pembinaan sikap dan prilaku sehari-hari di sekolah yang diarahkan kepada terwujudnya budaya sekolah Bakti Mulya 400. e. khususnya siswa dan orangtuanya. guru. Menciptakan sistem penghargaan bagi warga sekolah yang berprestasi tinggi dan pembinaan serta hukuman bagi yang berprestasi rendah. Kegiatan sekolah dilaksanakan pagi hari dengan 5 hari belajar dalam seminggu. misi pendidikan serta sifat-sifat umum siswa Bakti Mulya 400. C. DZIKIR. nusa. Peningkatan akuntabilitas Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penciptaan budaya akuntabilitas di sekolah sebagai berikut: a. Pemanfaatan sumber dana baik yang bersumber dari APBN maupun APBD ataupun seumber lain dilakukan dengan berlandaskan kepada prinsip efektivitas dan efisiensi. dan pemberian jaminan mutu sekolah. ketanggapan. Menghasilkan lulusan yang unggul. PIKIR. IKHTIAR b. Menyelenggarakan pendidikan umum yang bernafaskan Islam. d. D. Pembiasaan dan tata prilaku dimaksudkan sebagai Budaya Sekolah Bakti Mulya 400 adalah sebagai berikut: a. Melaksanakan berbagai lomba untuk mendorong siswa.Merumuskan standar pelayanan prima yang dipatuhi semua warga sekolah guna meningkatkan mutu pelayanan kepada pelanggan sekolah. Standar pelayanan prima meliputi elemen berikut: kecepatan.

pakaian dan lingkungan. atau yang lainnya. pembagian sembako. Istiqomah. IKHTIAR . Ulet dalam mencapai cita-cita n. do‟a bercermin. d. Membiasakan menulis dan mengucapkan “Basmallah” setiap memulai pekerjaan dan atau “Hamdallah” setelah selesai melakukan pekerjaan. Setiap pagi siswa dilepas pergi ke sekolah oleh kedua orang tua dengan iringan salam dan do‟a. Membiasakan menulis tanggal. Melaksanakan khataman pelajaran Al Quran. dan SMU. e. Menyelenggarakan latihan manasik haji. h. y. santunan anak yatim. teguh dalam keyakinan s. Nasional dan bakti sosial kemasyarakatan (seperti donor darah. Ramah dalam bergaul m. mejelang datangnya Hari Raya Idul Adha. Ikhlas beramal k. u. Setibanya di sekolah saat bertemu dengan guru maupun teman berjabat tangan dan memberi salam “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” Demikian halnya bila menerima salam maka segera menjawab salam “Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh”. siswa melafalkan surat “Al Fatihah” dan “Do’a” sebelum pelajaran dimulai. w. å. Amanah. c. Rajin beramal l. bulan dan tahun hijriah di samping tanggal. v. Waspada terhadap naza p.b. Logis dalam berpikir o. Pada pagi hari membaca “Ikrar” dalam bahasa Arab dan terjemahannya bersama dengan guru. Membiasakan melaksanakan puasa sunat seperti puasa Senin dan Kamis. bersih diri. dan setelah jam pelajaran terakhir membaca surat “Al Ashr” dipimpin guru yang mengajar pada jam terakhir. masuk dan keluar kamar mandi/wc. g. bagi siswa yang telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang SD. f. Membiasakan memakmurkan Mushalla dengan kegiatan keagamaan dan shalat Dzuhur/Jumat. bulan dan tahun masehi. Berbakti kepada orang tua j. pemberian beasiswa). Melafalkan dan membiasakan mengamalkan 10 do‟a amaliah harian. masuk dan keluar masjid Melakukan 11 amalan yang tercermin dalam “Birrulwalidain” yakni: i. Menyelenggarakan peringatan hari-hari besar Islam. t. sebelum tidur. DZIKIR. ö. ä. Dengan bimbingan guru yang mengajar pada jam pertama. khitanan masal. Membiasakan mengucap kalimat-kalimat thayyibah dan dzikir dalam rangka mendekatkan diri dan mengagungkan Asma Allah SWT. mengawali dan mengakhiri pekerjaan. z. do‟a untuk kedua orang tua. Lemah lembut dalam tutur kata r. Memberangkatkan ibadah haji bagi guru/karyawan sesuai dengan kemampuan keuangan Yayasan BKSP Bakti Mulya 400. SLTP. dan juga dilakukan dalam setiap kesempatan suatu acara resmi sekolah. minta tambah ilmu. dapat dipercaya q. diantaranya do‟a keluar rumah. 18 PIKIR. Mengikuti pemantapan pelajaran Al Quran dengan metode Iqra. Nadzafah. bangun tidur. Melaksanakan pesantren kilat setiap awal Bulan Ramadhan. x.

Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran. 2. 9. Kreatif dan bertanggung jawab. DZIKIR. Mengenakan pakaian seragam. dan menstimulasi setiap anak agar terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran. Berpengetahuan tinggi dan cerdas. bb. 8. Sehat jasmani dan rohani. langkah dan tindakan di manapun berada dan dalam suasana yang bagaimanapun semata-mata karena ibadah kepada Allah SWT. 11. mencintai bangsa dan sesamanya. Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Dengan pelaksanaan budaya tersebut. diharapkan siswa/siswi Bakti Mulya 400 memiliki sifat-sifat umum. Kelas yang kondusif adalah lingkungan belajar yang mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. dengan senantiasa dijiwai ajaran Agama Islam. rendah hati dan berpola hidup sederhana. 10. Pembelajaran yang efektif membutuhkan kondisi kelas yang kondusif. Disiplin. Berbudi luhur dan berakhlak mulia. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik. aman. (1) penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif (2) penataan ruang belajar sebagai sentra belajar (3) penciptaan atmosfir belajar yang kondusif. serta aktif menjalankan ibadah dan amaliah. akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. 12. Berjiwa pejuang. ltulah sebabnya. 7. (4) penetapan strategi pembelajaran dan (5) pemanfaatan media dan sumber belajar.aa. emosional. dan mental dalam proses belajar. PIKIR. 3. dapat dilakukan dengan enam cara sebagai berikut. mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya. Setiap gerak. seperti lingkungan fisik dan sistem pembelajaran di kelas. Strategi belajar apapun yang ditempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. Pengelolaan kelas yang baik. Bertaqwa kepada Allah SWT. Demokratis dan penuh tenggang rasa. Berjiwa gotong royong. cinta kebersihan dan keindahan alam sekitar. untuk siswa setiap hari sesuai jadwal. Menjalin kerja sama yang harmonis dengan orangtua/wali siswa. STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. 6. Untuk lebih jelasnya ke enam cara tersebut di atas akan dijelaskan dalam uraian berikut. Oleh karena itu guru perlu menata dan mengelola lingkungan belajar di kelas sedemikian rupa sehingga menyenangkan. 5. dan (6) penilaian hasil belajar. 4. IKHTIAR 19 . III. Memiliki pengetahuan dan keterampilan. sebagai berikut : 1. Cukup tanggap dan peka terhadap masalah yang ada di lingkungannya. dan karena itu.

1 lainnya sehingga kelompok kecil siswa yang terdiri atas tiga Model Huruf U orang atau lebih dapat keluar-masuk dari tempatnya dengan mudah. sediakan ruangan yang cukup antara satu tempat duduk dengan yang Gambar 4. Selain itu juga posisi tempat duduk siswa sebaiknya tidak tetap pada posisi tertentu. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan. para siswa memiliki alas untuk menulis dan membaca. dipindahkan. Model huruf U Model susunan meja-kursi model U dapat dipilih untuk berbagai tujuan. Berikut dikemukakan beberapa bentuk penataan meja-kursi yang dapat dipilih oleh guru guna meningkatkan keterlibatan dan interaksi antar siswa dalam proses pembelajaran. PIKIR. pajangan hasil karya siswa yang berprestasi. Pengaturan meja-kursi Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa dapat saling dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar.A. Dalam model ini. dengan ruang kelas yang tertata dengan baik. saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. dapat melihat guru atau media visual dengan mudah. Dalam menyusun meja-kursi model U. 1. IKHTIAR 20 . Dengan ruang kelas yang baik. akan lebih baik jika posisi tempat duduk siswa dirubah setiap saat agar interaksi diantara siswa dalam kelas lebih terasa dan hal ini akan menumbuhkan sosialisasi diantara mereka serta mengatasi kebosanan siswa dengan posisi tempat duduk yang tetap. dimana guru dapat masuk ke dalam huruf U dan berjalan ke berbagai arah. a. Disain ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan. Meja-kursi juga hendaknya dapat digerakkan. gambargambar afirmasi. Beri keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masingmasing. lemari. Lingkungan Fisik Kelas Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan baik seperti: pengaturan meja. dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa. media pembelajaran dan jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa. DZIKIR. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. kursi. Susunan model ini juga memudahkan untuk membagi bahan pelajaran kepada siswa secara cepat. menumbuhkan. dan memungkinkan mereka bisa saling berhadapan langsung. alat-alat peraga. dan disusun secara fleksibel. para siswa dapat berkomunikasi secara bebas. Di samping itu. guru akan leluasa memberikan perhatian yang maksimal terhadap setiap aktivitas siswa.

mereka dapat menghadap ke meja masing-masing. Gambar 4. meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran atau oblong di ruang tengah kelas agar memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa) dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna menciptakan suasana yang akrab. Gambar 4. berdebat. Sediakan ruangan yang cukup. Model Fishbowl Susunan ini memungkinkan guru melakukan kegiatan diskusi untuk menyusun permainan peran. Susunan ini mengurangi dominasi pengajar dan meningkatkan keterlibatan siswa. tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi berhadaphadapan secara langsung. dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar. Model Meja Konferensi Model ini cocok jika meja relatif persegi panjang. Siswa juga dapat memutar kursi melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru atau papan tulis.4 Model Lingkaran e. Guru juga dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah. Susunan yang paling khusus terdiri atas dua konsentrasi lingkaran kursi. Model Corak Tim Pada model ini. Model lingkaran seperti ini cocok untuk diskusi kelompok penuh.5 Model Fishbowl PIKIR.3 Model Meja Konferensi d. mereka dapat memutar kursi untuk berhadap-hadapan satu sama lain. Gambar 4. Jika mereka ingin menulis. Gambar 4.2 Model Corak Tim c. sehingga guru dapat menyuruh siswa menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil. DZIKIR. IKHTIAR 21 .b. Model Lingkaran Dalam model ini. namun jika mereka berdiskusi. atau mengobservasi aktivitas kelompok.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan berikut ini dalam menerapkan model ini. puisi. maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. DZIKIR. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa. dan pesan tokoh tertentu. motto. guru perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau posterposter tersebut. b. dapat diminta membuat gambar. untuk dipilih dan dipajang dalam kelas. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan.f. misalnya. atau kelompok. melakukan kerja laboral. Di samping itu itu. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Meja diatur sedemikian rupa. dan sebagainya. dapat membantu guru dalam proses pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan. peta. letakkan meja-meja dan kursi di mana kelompok-kelompok kecil siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang didasarkan pada tugas tim.7 bahasan melibatkan tugas mandiri (seat work) sekaligus tugas Model Workstation kelompok kecil. poster. Model Breakout groupings Jika kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan. Gambar 4. dan ditata dengan baik. sehingga siswa dapat bekerja secara berpasangan sebagai partner belajar. karangan. hadis. dipindahkan. Pemajangan gambar dan warna Pemajangan gambar dan pemilihan warna perlu saran-saran berikut: a. Guna mengoptimalkan penataan ruang. Model Workstation Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium.  Susunan meja-kursi yang baik adalah yang memungkinkan siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. c.  Memberikan keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih mejakursinya masing-masing. Guna menghindari kejenuhan terhadap gambar dan isi poster afirmasi yang sama. karya-karya terpilih siswa yang dipajang dapat PIKIR. berpasangan. IKHTIAR 22 . 2. diagram. dimana setiap siswa duduk secara berpasangan pada meja tertentu untuk mengerjakan suatu tugas (seperti mengoperasikan komputer. Siswa perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan dalam kelas. mesin. Pajangan dapat berupa gambar. model. Siswa.  Pengaturan meja-kursi sebaiknya dapat digerakkan. dan disusun secara fleksibel. puisi. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas utama sehingga hubungan di antara mereka dapat tetap terjaga.6 Model Breakout Groupings g. dsb) sesaat setelah dimenostrasikan. atau petikan ayat. Susunan seperti ini tepat digunakan bila pokok Gambar 4. benda asli. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi.

misalnya sentra penerbitan. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. Beberapa praktik yang baik dalam menata sentra-sentra belajar (good practice) dikemukakan berikut ini:  Dalam menata kelas menjadi sentra belajar. DZIKIR. B. Hanya pada saat jeda atau untuk maksud memberi efek khusus dapat dipilih musik yang berisi lirik lagu. Meja. dan karya siswa yang terkait dengan pokok bahasan. perlengkapan. PIKIR. kelas matematika. kelas kesenian. atau bahkan di kolong meja. semua pilihan musik untuk menopang aktivitas pembelajaran di kelas adalah jenis musik instrumentalia.berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Dalam sistem moving-class ini. pajangan. di setiap kelas dapat disediakan radio tape untuk memutar dan memperdengarkan musik-musik lembut. sejumlah guru bidang studi melibatkan siswa terutama dalam perencanaan dan pengadaan sumber-sumber belajar yang diperlukan. pelibatan siswa tersebut juga membantu membangun keterampilan “perawatan rumah” yang dipelukan untuk mempertahankan suasana kelas yang aktif dan berorientasi pada siswa. Oleh karena itu. Di samping itu. kursi. Sentra belajar bisa berlokasi di atas meja. Pemanfaatan musik Kehadiran suara musik lembut di kelas juga diyakini dapat memperkuat daya tahan dan konsentrasi belajar siswa. Ada kelas sains. rak buku. khususnya saat siswa mengerjakan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi dan daya pikir yang tinggi.  Sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. jika di kelas telah dipersiapkan dengan sound-system yang baik. sebagai berikut:  Atmosfir dan tatanan kelas dapat memperlancar aktivitas dan proses pembelajaran. pilihlah yang mengandung pesan positif. kafe baca. sudut ruang. dsb. sentra pembelajaran matematika. ruang-ruang kelas tertentu ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. dan sebagainya. Disamping itu. Dan jika harus menggunakan musik dengan lirik. Secara umum. Sentra belajar bisa bersifat permanen atau hanya terkait dengan kegiatan atau bidang pembelajaran tertentu. Penataan Ruang Kelas sebagai Sentra Belajar Sentra belajar merupakan area khusus di ruang kelas untuk menata materi. 3. guru dapat mendorong siswa untuk memiliki dan mengemukakan beberapa pilihan dalam menyusun aturan dasar bagi kegiatan berbasissentra mereka. kelas bahasa. Penggunaan sistem moving-class seperti itu memiliki beberapa keuntungan. keterampilan atau kegiatan tertentu. Akan lebih baik. IKHTIAR 23 . media. Pelibatan siswa dalam merancang ruang kelas menjadi sentra-sentra belajar dapat membangun rasa kebanggaan dan kebersamaan di kalangan siswa. belajar sambil mendengar musik dapat menciptakan suasana menyenangkan dan rasa betah tinggal di kelas. Semua elemen dalam kelas menjadi semacam reinforcer (penguat) dan stimulator untuk membangkitkan gairah dan aktivitas belajar terhadap mata pelajaran tertentu. Sentra belajar juga bisa bersifat fleksibel dan sementara (ditata untuk keperluan tema atau unit tertentu yang dipelajari). Untuk masud tersebut. jika dana memungkinkan. peralatan. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. peralatan.

 Memungkinkan penggunaan sarana. Untuk itu. berpasangan. Hal yang sangat penting perIu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik siswa. misalnya.3 Faktor Keberagaman Karekteristik Siswa dan Implikasi bagi Pengelolaan Siswa Faktor Keberagaman Isi (by content) Pengelolaan Siswa Memberikan peluang kepada siswa untuk mempelajari materi yang berbeda dalam sasaran kompetensi yang sama ataupun berbeda. Media dan peralatan pembelajaran Sains. atau klasikal. waktu belajar. serta berbagai media dan peralatan belajar secara lebih efisien. Mobilitas gerak seperti Ini dapat menghindarkan siswa dari kejenuhan akibat tata ruang kelas yang monoton. Ini dapat menstimulasi dan mengembangkan sikap-sikap empati. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/isi materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan siswa. serta kegiatan yang dilakukan siswa. keterlibatan siswa. Memberikan peluang kepada siswa untuk berkreasi sesuai dengan minat dan motivasi belajar terlepas dari kompetensi yang sama atau berbeda. Pengelolaan Aktivitas Belajar Siswa Biasanya. Guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda.  Setiap hari. IKHTIAR Memberikan peluang kepada setiap siswa untuk mencapai kompetensi secara maksimal sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki. Beberapa pertimbangan perIu diperhitungkan sewaktu melakukan pengelolaan siswa. Memberikan peluang kepada siswa untuk menunjukkan 24 . fasilitas. kelompok kecil. semua kebutuhan pembelajaran mata pelajaran tersebut cukup ditempatkan dan ditata khusus pada kelas tertentu. tujuan kegiatan. Hal ini diharapkan mampu memacu motivasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri. Antara lain jenis kegiatan. dan ketersediaan sarana/prasarana. 1. perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap siswa memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya. Berikut ini beberapa contoh perbedaan karakteristik masing-masing siswa Tabel 19. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran. siswa dapat menikmati dan mengalami proses belajar pada tempat dan lingkungan belajar yang bervariasi. Memberikan peluang kepada siswa untuk belajar (bekerja) sesuai dengan kecepatan belajar yang dimilikinya. dan berbagai sikap prososial siswa lainnya. tidak perlu ada di semua kelas. pengelolaan aktivitas belajar siswa dilakukan dalam beragam bentuk seperti individual. kerjasama. kepedulian. Minat dan motivasi siswa (by interest) Kecepatan tahapan belajar (by piece) Tingkat kemampuan (by level) Reaksi yang diberikan PIKIR.  Pergerakan-pergerakan yang dialami siswa saat perpindahan kelas memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih aktif dan hidup di kalangan siswa. Demikian pula kebutuhan media dan alat bantu belajar pada mata-mata pelajaran lainnya ditata khusus pada kelas-kelas tersendiri. DZIKIR.

sebagainya. Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menguasai materi melalui cara-cara berdasarkan perspektif yang mereka pilih.  Dilakukan untuk menunjung program pembelajarannya. IKHTIAR 25 . denah. dari dekat ke jauh.  Mulai pembelajaran pada waktunya. penundaan memulai awal pembelajaran. tertulis.siswa (by respond) Siklus cara berpikir (by circular sequence) Waktu (by time) Pendekatan pembelajaran (by teaching style) 2. Kondisikan agar prosedur dan kegiatan rutin siswa di kelas dapat dilakukan dengan lancar dan cepat. Guru terkadang terlalu banyak menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa terlambat atau menampilkan perilaku salah-suai lainnya. Gunakan petunjuk tertulis. guru dapat mememperkirakan macam dan kuantitas kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan. sumber-sumber waktu yang disediakan untuk setiap jam pembelajaran dapat digunakan secara efektif dan efisien. Dengan demikian.  Hindari waktu terbuang akibat keterlambatan penyiapan sumber atau media. Alokasi waktu pelaksanaan pembelajaran setiap mata pelajaran telah dialokasikan dalam satuan jam tertentu. Penggunaan komputer merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh. dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. Memberikan perhatian kepada setiap individu siswa yang kemungkinannya memiliki perbedaan durasi untuk mencapai ketuntasan dalam belajar. Waktu merupakan sumber terbatas yang perlu dialokasi dan dimanfaatkan secara efesien dan efektif. Hindari menghabiskan terlalu banyak waktu menghadapi siswa terlambat atau problem siswa lain. Guru perlu menemukan cara-cara kerja yang efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas administratif yang memang perlu. atau dilimpahkan ke konselor sekolah. Jika skenario pembelajaran disiapkan dengan baik. atau terlalu banyak menggunakan waktu untuk menyelesaikan tugas administratif. Guna mengoptimalkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran. atau gambar untuk membantu siswa memahami apa yang harus dilakukan. bagaimana dan dimana suatu tugas harus dilakukan. Penataan ruang kelas PIKIR. Alokasi jam pembelajaran tersebut harus dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan perubahan belajar pada diri siswa. Struktur pengetahuan (by structure) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih (menyeleksi) materi berdasarkan cara yang dikuasai. respon melalui presentasi/penyajian hasil karyanya secara lisan. guru perlu memperhatikan beberapa petunjuk berikut ini. Memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap individu sesuai dengan keadaan siswa. Tata peralatan dan bahan yang diperlukan sedemikian rupa di lokasi yang mudah dijangkau dan digunakan oleh semua siswa saat dibutuhkan. Siswa-siswa semacam itu sebaiknya ditangani setelah waktu pembelajaran.  Hindari terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu selama proses pembelajaran. DZIKIR. Pengelolaan Waktu Pembelajaran berlangsung selama priode waktu tertentu. misalnya: dari yang mudah ke sulit.  Hindari menghentikan PBM sebelum waktunya. benda kreasi.

bersifat melibatkan. Oleh karena itu. Mempertahan momentum belajar selama proses pembelajaran merupakan salah satu kunci untuk menjaga tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. DZIKIR. Mencerdaskan dan menguatkan Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif. siswa selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan dan begitu pekerjaan dimulai tidak ada lagi gangguan yang merusak konsentrasi belajar. dan sesuai dengan minat siswa. penggunaan metode dan strategi belajar yang bervariasi. sebagaimana diuraikan sebelumnya. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. Pertahankan momentum belajar. guru dilatih: PIKIR. Tingkatkan time on-task setiap siswa untuk mengikuti setiap sesi pembelajartan. Setiap siswa bergiat untuk saling belajar. Time on-task siswa. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan hidup (life skill).  yang baik. Dalam kelas yang menjaga momentum dengan baik. melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence). C. dapat membantu memperlancar aktivitas pembelajaran di kelas. Ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pelajaran dengan hal-hal yang menarik. atau saat khusus tertentu dimana kelas sedang berada pada kondisi sangat kondusif dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. kesempatan. (3) mencerdaskan. Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran.  menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa. pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. yaitu curah waktu dimana siswa secara aktif terlibat secara mental pada proses belajar. IKHTIAR 26 . Momentum belajar adalah momen. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam keseharian anak. 2. (2) mengasyikkan. Menyenangkan dan mengasyikkan Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif perasaan. 1. Guru hendaknya dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:  bersikap ramah  membiasakan diri selalu tersenyum  berkomunikasi dengan santun dan patut  adil terhadap semua siswa  senantiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya. Penciptaan Atmosfir Belajar Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran. dan (4) menguatkan. Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yang (1) menyenangkan. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru.

melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Artinya. prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama.Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir.  Sebelum memulai pelajaran.  Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran.  Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam. guru juga tidak lupa memberikan pencerahan-pencerahan rohani kepada para siswa agar mereka senantiasa saling menghormati dan menghargai. DZIKIR.  Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah.  Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau kepada gurunya. hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain. Penerapan Strategi Pembelajaran Sebelum membahas tentang strategi pembelajaran. melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar. guru atau pihakpihak lain. IKHTIAR 27 . karena jika anak senang dan asyik. tidak takut atau merasa bersalah.  Selama proses pembelajaran berlangsung. dengan sikap yang ramah dan penuh senyuman guru menyapa beberapa orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan dan kesiapan masing-masing siswa untuk belajar. Dengan demikian pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat. tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh.  Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi. terlebih dahulu perlu dipahami tentang konsep belajar seperti berikut ini. memantapkan. D. kejujuran dan tanggung jawab bagi setiap tugas yang diberikan.  Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran. Bahkan ada guru yang membuka pelajaran diawali dengan nyanyian pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang siswa melanjutkan lagu tersebut. atau menyempumakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau gurunya. sikap. Selanjutnya. guru senantiasa mengembangkan bentuk komunikasi yang efektif. memperdalam. guru membiasakan siswa untuk berdoa secara bersama agar Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam memahami pelajaran. saling bertanya. pembelajaran itu diharapkan dapat  PIKIR.  Dalam proses pembelajaran siswa senantiasa perIu didorong untuk mengkomunikasikan gagasan. Beberapa praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik (good practice) dikemukakan berikut ini.  Di awal pelajaran. kemampuan. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. Dengan kata lain. membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. agar siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat dalam suasana yang menyenangkan dan merasa tidak tertekan. dan saling menjelaskan.

Karena itu. Tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. (2) pembelajaran inquiry. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran berbasis masalah. dan penggunaan strategi pembelajaran secara baik dapat berdampak pada meningkatnya keterampilan mengajar guru dan rasa percaya dirinya. dan menemukan sendiri prinsip-prinsip dan konsep yang diajarkan. serta membantu mereka mambagi tugas dengan temannya. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya. dan model. Tahap 3: membimbing penyelidikan individual dan kelompok. seperti pada level analisis.mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya. melakukan percobaan. serta memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. karena strategi dapat menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. seperti dapat membangkitkan curiosity. video. maka seorang guru sebaiknya menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks pembelajaran. maka siswa dapat belajar mengembangkan cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran. b. Beberapa strategi pembelajaran yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah dapat dikemukakan antara lain (1) pembelajaran berbasis masalah. c. guna merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi dari siswa. Melalui dunia nyata yang terjadi di sekitar mereka. IKHTIAR 28 . 2. Para siswa akan tertantang bagaimana belajar. Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya. minat. Pembelajaran bermakna hanya dimungkinkan terjadi bila siswa dapat mengerahkan proses berpikir tingkat tinggi. (3) pembelajaran berbasis proyek/tugas. (4) pembelajaran kooperatif. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. dan (6) pembelajaran scaffolding. e. (5) pembelajaran partisipatory. dan motivasi siswa untuk terus belajar sampai dapat PIKIR. DZIKIR. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan. Tahap 2: mengorganisasi siswa untuk belajar. strategi pembelajaran yang dipilih dan dipergunakan dengan baik oleh guru dapat mendorong siswa untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas. 1. mereka perlu diorientasikan pada situasi/dunia nyata dengan segala problemanya. guru-guru menyadari bahwa strategi pembelajaran merupakan hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Tahap 1: orientasi siswa kepada masalah. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan logistik yang dibutuhkan. d. Strategi pembelajaran inquiry & discovery memiliki beberapa keuntungan. dengan menggunakan fenomena di dunia nyata sekitarnya. sintesis. Pembelajaran berbasis masalah dapat ditempuh melalui lima tahap sebagai berikut. Selain itu. a. Dengan pemahaman seperti hal tersebut di atas. Strategi Pembelajaran Inquiri Pembelajaran inquiry mendorong siswa untuk mengalami. dan evaluasi.

Jika tugas belajar yang diberikan cukup bervariasi. siswa dapat lebih termotivasi dan lebih terlibat aktif dalam mengerjakannya. Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek/Tugas Pembelajaran berbasis proyek/tugas (project-based/task learning) ditandai dengan pengelolaan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa melakukan penyelidikan terhadap masalah otentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran. Menganekaragamkan tugas-tugas Pilihan tugas yang beraneka ragam dapat menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. h. gambar. Siswa perlu mengetahui dengan tepat apa yang mereka harus kerjakan. PIKIR. Sajikan tugas-tugas yang berkaitan kemudian cermati dan beri balikan atas pemikiran yang diajukan siswa. g. lengkap. j. melalui penerapan strategi inquiry & discovery. Minta siswa menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan. pembelajaran inquiry & discovery dapat ditempuh melalui tahapan berikut: f. maka tugas yang diberikan kepada siswa harus cukup bermakna dan memiliki tujuan yang jelas. atau karya lain. 3. kemandirian. Di samping itu. tanggung jawab. DZIKIR. Dalam pembelajaran berbasis proyek. Di samping itu. cukup sulit. Minta siswa mengumpulkan informasi melalui observasi atau berdasar pengalaman masing-masing. tabel. Hadapkan mereka dengan demonstrasi-demonstrasi tambahan untuk mengeksplorasi lebih jauh fenomena. penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek/tugas ini mendorong tumbuhnya kompetensi pengiring (nurturant) seperti kreativitas.menemukan jawaban. Jelaskan prosedur inkuiri dan sajikan masalah. Implementasi pembelajaran berbasis proyek/tugas didasarkan kepada empat prinsip berikut ini. dan menantang Guna mempertahankan tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. k. menulis di koran. Membuat tugas bermakna. Secara operasional. kepercayaan diri. IKHTIAR 29 . Minta tanggapan balik (counter-suggestions) dan selidiki tanggapan siswa. Minta siswa mengkomunikasikan dan menyajikan hasil karyanya. dsb. bangkitkan tanggapan dan penjelasan siswa lain. dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. bagan. misalnya dalam bentuk penyajian di kelas. Selalu minta siswa memberi alasan atas jawaban-jawaban mereka. Sajikan situasi teka-teki (puzzling situation) yang sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. siswa juga dapat belajar memecahkan masalah secara mandiri dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis sebab mereka harus menganalisis dan mengutak-atik data dan informasi. jelas. mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu. tetapi realistik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. dan berpikir kritis dan analitis. b. Ciptakan lingkungan yang dapat menerima jawaban salah tapi masuk akal. dan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. siswa diberikan tugas atau proyek yang kompleks. menempelkan di majalah dinding. i. a. Dalam penyajian di kelas. Pilihan mengenai tugas belajar tidak terbatas dan tidak ada alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari.

dan penerimaan diri. dan penyesuaian sosial. Tiap anggota menggunakan lembar kerja akademik. Memperluas perspektif wawasan. pembelajaran kooperatif dapat diterapkan melalui metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) Pelaksanaan metode STAD ditempuh dengan beberapa tahapan sebagai berikut: 1. 5. Apabila siswa bekerja berkelompok. IKHTIAR 30 . Strategi Pembelajaran Kooperatif Dalam pembelajaran kooperatif. Memungkinkan sharing pengalaman dan saling membantu dalam memecahkan masalah pembelajaran. maka guru hendaknya berada dalam kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang bekerja secara mandiri. kerja sama. 4. keyakinan terhadap gagasan sendiri. siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk saling membantu belajar satu sama lain. 2. guru perlu menyiapkan waktu untuk mengoreksi pekerjaan yang dihasilkan siswa dan mengembalikan kepada mereka dengan umpan balik. ras. Mengembangkan keterampilan komunikasi. 3. 3. termasuk memberi reinforcement dalam bentuk reward bagi hasil karya yang baik dan catatan-catatan penyempurnaan bagi karya yang belum optimal. Tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya sebagai sesuatu yang menantang. Membangun persahabatan. PIKIR.c. namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri. Secara operasional. dan sikap prososial. masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. Mengoptimalkan penggunaan sumber belajar dan pencapaian hasil belajar. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Selanjutnya. Monitoring tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah siswa memahami tugas mereka melalui pemeriksaan pekerjaan siswa dan pengembalian tugas dengan umpan balik? Guru harus selalu menyediakan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka memahami dan mengerjakan dengan benar tugas yang diberikan. seperti: 1. kepekaan sosial. Memonitor kemajuan siswa Salah satu tugas penting guru adalah memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. rasa saling percaya. memungkinkan pengembangan sejumlah kompetensi nurturant pada diri siswa. tenggang rasa. Menaruh perhatian pada tingkat kesulitan Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan satu bahan baku penting untuk menjamin keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. Strategi pembelajaran ini. 2. tugas yang diberikan harus memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan berhasil tinggi. DZIKIR. Setiap tim memiliki anggota heterogen (jenis kelamin. etnik. kebiasaan bekerja sama. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan terlalu mudah. rasa harga diri. kemampuan belajar). d. 4. Jika siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri. tanggung jawab.

Evaluasi setiap alternatif berdasarkan kelayakan (kemampuan.4. dsb. Setiap siswa adalah subjek yang kepentingannya perlu diperhatikan dan diakomodasi dalam proses pembelajaran. tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan yang telah dipelajari. Strategi Pembelajaran Partisipatori Pembelajaran partisipatori menekankan pelibatan siswa untuk berpartisipasi dan ikut menentukan berbagai aktivitas pembelajaran. dalam memutuskan mengenai strategi umum yang perlu ditempuh. para siswa memilih berbagai sub-topik dalam satu wilayah masalah umum terkait dengan tujuan pembelajaran. Secara individual atau tim. 2. Libatkan siswa dalam membuat perencanaan dan pilihan tindakan yang diperlukan dalam proses pembelajaran. meta-plan. bentuk dan tugas kelompok.  Evaluasi.  Analisis dan sintesis.  Merencanakan kegiatan kerjasama. Metode Invistigasi Kelompok dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:  Seleksi topik. Disamping itu. Evaluasi dapat mencakup siswa secara individu atau secara berkelompok. Setiap siswa dan setiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar. Pelaksanaan pembelajaran partisipatori dapat ditempuh melalui strategi sebagai berikut: 1. dan tujuan umum yang sesuai dengan sub-topik yang telah dipilih. PIKIR. tugas. 5. Gunakan berbagai teknik. sumber pembelajaran. fasilitas).  Tahap implementasi. IKHTIAR 31 . para siswa dibagi ke dalam kelompok yang berorientasi pada tugas dan beranggotakan 2 .  Organisasi. Dimungkinkan setiap individu atau kelompok memilih caranya masingmasing untuk mencapai tujuan sepanjang berkontribusi pada pencapaian tujuan pembelajaran. diskusi kelompok fokus untuk mendorong semua siswa mengemukakan gagasan masing-masing. sumberdaya. DZIKIR. seperti brainstorming. waktu. guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Misalnya. Tiap anggota saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi. cara-cara menyelesaikan tugas. setiap kelompok menyajikan hasil investigasi kelompoknya di depan kelas. Siswa melaksanakan rencana yang telah disusun. strategi ini dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya jiwa demokratis serta kemampuan mengemukakan dan menerima pendapat di kalangan siswa. kemudian sepakati pilihan yang dapat diterima semua pihak. Siswa atau tim yang meraih prestasi tertinggi atau mencapai standar tertentu diberi penghargaan. 3. siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh dan membuat ringkasan untuk disajikan di depan kelas. siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus. 5.6 orang dengan komposisi heterogen. baik di dalam maupun di luar sekolah. Dorong siswa menggunakan berbagai sumber. Pelibatan siswa dalam perencanaan dan penentuan berbagai pilihan tindakan pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan komitmen siswa untuk menekuni setiap tugas pembelajaran.  Penyajian hasil akhir. 6. atau keduanya.

 Dorong siswa untuk menyelesaikan tugas belajar secara mandiri. yakni teknik pemberian dukungan belajar yang pada tahap awal diberikan secara lebih terstruktur. Secara operasional. dan pemberian contoh (modeling).  Jabarkan tugas pemecahan masalah ke dalam tahap-tahap yang rinci sehingga dapat membantu siswa melihat zona yang akan di-scaffold. Ketika pengetahuan dan kompetensi belajar siswa meningkat. dan (5) mengundang siswa untuk mengemukakan pendapat.  Asesmen kemampuan dan taraf perkembangan setiap siswa untuk menentukan Zone of Proximal Development (ZPD). guru kembali ke sistem dukungan untuk membantu siswa memperoleh kemajuan sampai mereka mampu mencapai kemandirian. guru secara berangsurangsur mengurangi pemberian dukungan. Teknik pembelajaran scaffolding dapat dilakukan dengan format: (1) pemberian model perilaku yang diharapkan. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui penjelasan.  Secara jelas menunjukkan perbedaan antara pekerjaan anak dan solusi standar atau yang diharapkan. namun tetap memberi peluang dilakukannya refleksi. revisi.  Berikan dukungan dalam bentuk pemberian isyarat. tanda mata (reminders).  Menyederhanakan tugas belajar sehingga bisa lebih terkelola dan bisa dicapai oleh anak.  Memberi model dan mendefenisikan dengan jelas harapan mengenai aktivitas yang akan dilakukan. dan perubahan rencana tindakan. strategi pembelajaran scaffolding mendorong siswa menjadi pelajar yang mandiri dan mengatur diri sendiri (self-regulating). peringatan. contoh. Strategi Pembelajaran Scaffolding Pembelajaran scaffolding merupakan praktik assisted learning. IKHTIAR 32 .4. (2) pemberian penjelasan. Untuk keperluan itu. strategi pembelajaran scaffolding dapat ditempuh melalui tahapan berikut. atau hal lain yang dapat memancing siswa bergerak ke arah kemandirian belajar dan pengarahan diri. guru harus selalu mengingat bahwa kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya senantiasa diarahkan untuk pencapaian dampak instruksional dan dampak pengiring. diharapkan guru dapat memilih dan merancang serta PIKIR. Beberapa keuntungan pembelajaran Scaffolding adalah:  Memotivasi dan mangaitkan minat siswa dengan tugas belajar.  Mengurangi frustasi dan resiko.  Sajikan tugas belajar secara berjenjang sesuatu taraf perkembangan siswa.  Memberi petunjuk untuk membantu anak berfokus pada pencapaian tujuan. kemudian secara berjenjang sebagai peranan guru dalam mendukung perkembangan siswa dan menyediakan struktur dukungan untuk mencapai tahap atau level berikutnya. (3) mengundang siswa berpartisipasi. 6. dorongan. dorongan (motivasi). Dalam mengimplementasikan strategi-strategi pembelajaran yang disarankan. DZIKIR. penguraian masalah ke dalam langkah pemecahan. Dorong siswa melaksanakan alternatif tindakan secara konsisten. sedangkan dampak pengiring bermuara pada kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). (4) menjelaskan dan mengklarifikasi pemahaman siswa. kata kunci. Dampak instruksional bermuara pada kecerdasan intelektual (IQ). Jika siswa belum mampu mencapai kemandirian. Sesungguhnya.

Beberapa praktik penerapan strategi pembelajaran yang baik (good practice) yang telah dilaksanakan di sekolah dikemukakan berikut ini.mengembangkan media pembelajaran agar dapat memudahkan pencapaian IQ. seperti kegiatan mengamati. strategi pembelajaran yang diberikan hanya sebatas pada ceramah. mengajukan hipotesis. IPS. mengumpulkan data.  Semua strategi yang dipilih dan diterapkan oleh guru. Di samping itu. maka guru perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai media dan sumber belajar. DZIKIR.  Dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran.  Meskipun belum semua guru SMA unggulan telah menerapkan strategi pembelajaran seperti yang diharapkan. serta lama waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan yang dimaksud. 1. Misalnya dalam pembelajaran bidang studi IPA. siswa mampu berkreasi seni suara dengan baik serta menanggapi beragam karya musik sesuai sifat dan karakteristik setiap jenis musik. pada umumnya guru bidang studi melibatkan siswa. Media dan sumber belajar yang disediakan guru hendaknya dapat mendorong dan membantu siswa untuk melibatkan mental secara aktif melalui beragam kegiatan. namun sejumlah guru telah berhasil menerapkan berbagai strategi pembelajaran di sekolah masing-masing.  Pada umumnya guru bidang studi menyadari sepenuhnya bahwa strategi pembelajaran yang dipilih adalah strategi yang dapat membuat siswanya mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar dan dapat memanfaatkan potensi siswa seluas-luasnya. Untuk keperluan itu. jumlah siswa yang terlibat di dalam proses pembelajaran. kesenian.  Sejumlah guru telah berhasil menggunakan berbagai variasi strategi pembelajaran dalam pencapaian kompetensi dasar tertentu yang terdapat di dalam kurikulum. serta menyesuaikan dengan tingkat kesulitan kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum. Sumber Situasi Nyata (Sumber Berbasis Lingkungan) Situasi kehidupan nyata dan lingkungan sekitar yang ada di sekitar siswa merupakan sumber belajar yang sangat penting dan dapat memberi informasi dan pengalaman belajar yang tidak terbatas bagi siswa. Mereka mengakui bahwa selama ini. IKHTIAR 33 . dan SQ tersebut. dalam menentukan strategi pembelajaran. dan pemberian tugas. diskusi. berkomentar. atau olah raga memadukan strategi kooperatif dengan berbasis masalah dan strategi inquiry. Pengetahuan dan pengalaman tersebut akan membantu guru dalam menentukan media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. materi penggunaan media dan sumber belajar yang diberikan dalam pelatihan tersebut meliputi:  Pengenalan berbagai jenis media pembelajaran dan fungsinya masing-masing dalam pembelajaran. dan PIKIR. E. guru juga mencermati tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. dan sejumlah kegiatan mental lainnya. Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar Untuk mendukung pembelajaran dengan baik. EQ. fakta.  Dengan memadukan strategi partisipatorik-penugasan. mempertanyakan. Ada banyak informasi. menjelaskan. bertanya. senantiasa diawali dengan pembacaan doa sebelum dan sesudah berolahraga.  Latihan mencari berbagai sumber belajar yang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.

Pada keadaan ini. ensiklopedia. cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) berfungsi sebagai bahan dan alat pembelajaran. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film. TIK menjadi sebuah mata pelajaran yang diperkenalkan mulai pada jenjang sekolah dasar sampai pada sekolah menengah atas. Materi yang diceramahkan pun perlu bersifat kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. Penggunaan Media Audio Verbal Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. yakni membuat situasi buatan. cart. Rasa”. siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. buku sumber. Sebagai alat pembelajaran. sebagian siswa berperan sebagai pembeli dan sebagian lainnya sebagai penjual. Situasi dan aktivitas kelas ditata sedemikian rupa menyerupai apa yang terjadi dalam lingkungan nyata. guru harus mengurangi cara ini. Media Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam keadaan seperti ini. 3. Penciuman. Untuk mengatasinya. Pada beberapa buku biasanya tidak hanya menyajikan uraian teks. dapat dilakukan guru dengan menyediakan kegiatan simulasi. tetapi juga dilengkapi dengan beragam ilustrasi (gambar). Dengan demikian. Dengan demikian. grafik. DZIKIR. Sumber Menggunakan Situasi Buatan Guru tidak selalu mampu menyediakan situasi nyata. Cara ini banyak berkaitan dengan membaca buku pelajaran. atau kalau terpaksa perIu berceramah cukup antara 2025 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong penggunaan indera “Lihat. peningkatan pemahaman siswa tentang berbagai ihwal kehidupan pasar. Tentu saja. Pada kondisi ini. Film atau video seperti itu kemudian ditayangkan di kelas atau temta khusus tertetu diikuti dengan diskusi bersama siswa sekaitan dengan tema dan spot-spot cerita serta kaitannya dengan pokok bahasan mata pelajaran. Guru dapat mencari dan menyeleksi film atau video yang berisi ceritera atau laporan dokumenter yang sesuai atau ada kaitan dengan pokok bahasan tertentu dalam mata pelajaran yang diasuh. peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. seperti media audio-visual. Raba. 5. lembar kegiatan/kerja. Sebagai bahan. misalnya. siswa yang memiliki daya abstraksi lemah dapat terbantu dengan keberadaan ilustrasi/gambar tersebut. Seperti juga pada model situasi nyata. guru tetap dapat menghadirkan situasi kehidupan dan fenomena lingkungan dengan membuat situasi buatan. Penggunaan Media Audio-Visual Sumber belajar dapat pula dihadirkan melalui berbagai media. 6. 2. Kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menyajikan situasi nyata untuk belajar seringkali tidak tersedia atau sulit dilakukan. 4. kelas dapat dirancang seperti pasar. guru dianjurkan untuk memanfaatkan PIKIR. tabel. pada model ini pun dapat dibedakan menjadi situasi buatan dengan siswa terlibat langsung dan situasi buatan dengan siswa tidak terlibat langsung.pengetahuan yang dapat digali situasi nyata dan lingkungan sekitar guna mendukung rekonstruksi dan mempekaya pemahan dan pengalaman belajar siswa. video). Kalau keadaan ini berkelanjutan. Penggunaan Media Visualisasi Verbal Sumber belajar yang paling umum digunakan dalam mendukung pemahaman mengenai pokok bahasan adalah melalui media visualisasi-verbal. IKHTIAR 34 .

Soalsoal atau tugas memancing munculnya cara jawab atau cara penyelesaian yang bervariasi.  Tugas-tugas yang diberikan dan dijadikan bahan evaluasi siswa haruslah mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari. media komputer juga dapat berfungsi sebagai perangkat untuk jaringan komunikasi. televisi.  Peluang untuk menyulang materi terbuka luas dan lebih banyak. F. dan sebagainya.  Siswa merasa lebih bebas tanpa merasa diamati oleh orang lain. Di samping memudahkan dan memperlancar pekerjaan. atau mendokumentasi data dan informasi.fasilitas TIK untuk memfasilitasi pembelajaran di kelas. sebagai lawan cara berpikir konvergen dan vertikal) oleh siswa. Media komputer memiliki banyak kelebihan dibandingkan media lainnya. dan SQ. yakni kecerdasan IQ. email. komputer dapat berfungsi sebagai tutor. Bentuk penilaian yang dianjurkan dalam pembelajaran efektif adalah penilaian sebenarnya (authentic assessment). Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar sebaiknya ditekankan pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. dan komputer. bukan untuk mengukur pada hasil semata. kinerja.  Format pembelajaran dapat mencakup semua indera dan aktivitas belajar. akhir-akhir ini komputer telah banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. yaitu proses. oral. dan gerak (kinestetik). Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:  Siswa belajar sesuai kemampuan dan kecepatan masing-masing. Yang paling ditekankan adalah bagaimana guru senantiasa menyadari sejak awal bahwa tujuan akhir dari penilaian pembelajaran adalah agar untuk mengukur dan menilai keberhasilan pencapaian tiga jenis kecerdasan secara seimbang. IKHTIAR 35 . bukan hanya satu jawaban kunci. yaitu visual. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian.  Harus mengukur semua aspek pembelajaran. dan produk. ditemukan sejumlah keberhasilan di samping sejumlah kendala sebagaimana yang dipaparkan berikut ini. seperti melalui internet.  Penjadwalan bisa lebih fleksibel apabila laboratorium komputer diperlakukan sebagai sumber yang dapat diakses sendiri oleh setiap siswa (self-access learning resources). Oleh karena itu. alat (tool). yang biasa disebut sebagai pembelajaran berbasis komputer (PBK). seperti mengetik. intranet. horisontal. Beberapa jenis yang potensial dan sering digunakan sebagai alat bantu pembelajaran.  Siswa menerima balikan segera (instant feedback). Mereka PIKIR. audio. menganalisis. misalnya radio. DZIKIR.  Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. PBK meliputi berbagai kegiatan belajar dan aplikasi dengan menggunakan komputer.  Menawarkan materi dan kegiatan yang otentik dan interaktif. Dalam kegiatan pembelajaran. EQ. Dari hasil pendampingan dan refleksi terhadap kemampuan guru menggunakan media dan sumber belajar di dalam proses pembelajaran.  Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber.  Siswa belajar menurut masalah yang dihadapinya.  Menstimulasi muncul dan digunakannya cara berpikir divergen (berpikir lateral. Beberapa prinsip penilaian dalam pembelajaran efektif yang perlu diketahui oleh guru dalam menyusun dan melaksanakan penilaian sebagai berikut berikut. atau stimulator.

Komponen proses dan hasil belajar yang penting dinilai antara lain:  Hasil ulangan harian dan ulangan umum. (2) penilaian berkala dan berkesinambungan. paspor keterampilan. Pada dasarnya tata tertib dan disiplin merupakan harapan yang dinyatakan secara eksplisit yang mengandung peraturan tertulis mengenai perilaku siswa yang dapat diterima. Aturan itu harus konsisten PIKIR. Untuk menjalankan prinsip-prinsip penilaian. IKHTIAR 36 . (1) penilaian proses dan hasil. TATA TERTIB DAN KEDISIPLINAN DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Tata tertib dan kedisiplinan sangat penting artinya dalam mewujudkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif melalui penciptaan kedisiplinan belajar. 1987 seperti dikutip oleh Moedjiarto.  Penilaian harus menekankan pada kedalaman pengetahuan (kualitas) dan keahlian siswa. portofolio. guru harus mempertimbangkan beberapa hal penting antara lain. dan sanksisanksinya (ESCN. atau sertifikat kompetensi.harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari. tetapi lebih dari itu untuk membentuk mental disiplin kepada siswa. Biasanya dicatat dalam buku rapor siswa. ulangan harian. yaitu: (1) persetujuan kepala sekolah dan guru terhadap kebijakan disiplin sekolah.  Catatan perilaku harian para siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menciptakan kondisi sekolah yang dapat membuat semua personil sekolah untuk taat dan patuh secara sadar untuk mengikuti tata tertib yang ada disekolah tersebut. EQ. Penelitian Moedjiarto (1990) mengungkapkan bahwa karakteristik tata tertib dan kebijakan disiplin sekolah mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi akademik siswa. serta tagihan dalam bentuk soal yang akan diberikan pada peserta didik. kerja praktik/unjuk kerja. tugas individu. DZIKIR. IV. dan bila melewati jam tersebut pintu gerbang sekolah ditutup rapat.00-07. Berdasarkan hasil penilaian itu diberikan penghargaan kepada peserta didik dalam bentuk rapor. ijazah. uraian singkat. pekerjaan rumah. laporan untuk kerja. Witte dan Walsh (1990) mengemukakan dua dimensi penting kedisiplinan yang dilaksanakan dalam sekolah efektif. atau bentuk tagihan pilihan ganda. dan (4) memberikan penilaian secara seimbang terhadap kecerdasan IQ. biasanya dikumpulkan oleh guru dan didokumentasikan. dan SQ. 1990). biasanya tersimpan pada buku khusus (catatan anekdot). tugas kelompok. Disiplin sebenarnya bukan hanya sekedar aturan yang harus ditaati untuk merubah perilaku siswa di sekolah dan bukan sekedar sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan.15.  Tugas-tugas terstruktur biasanya dikumpulkan oleh guru dan disimpan dalam map atau loker khusus.  Laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar. kecuali tamu yang akan berkunjung kesekolah atau ada hal lain yang mendesak sehingga pintu gerbang sekolah dapat dibuka. siapapun tidak diperbolehkan untuk masuk ke lingkungan sekolah jika terlambat. bukan keluasannya (kuantitas). (3) penilaian yang jujur dan adil. Bentuk penilaian meliputi jenis tagihan seperti kuis. Misalnya tata tertib untuk masuk sekolah jam 07. dan (2) dukungan yang diberikan kepada guru bilamana mereka melaksanakan peraturan disiplin sekolah. pertanyaan lisan di kelas. prosedur disiplin. ulangan semester. Penilaian secara umum bertujuan untuk mengetahui kemajuan hasil belajar siswa dan menetapkan tingkat penguasaan kompetensi suatu keahlian tertentu sesuai dengan indikator yang dipersyaratkan standar kompetensi.

DZIKIR. Dalam model ini. c) Penyusunan tata tertib harus didasarkan pada komitmen yang kuat antara semua unsur dan komponen sekolah dan konsisten dengan peraturan dan tata tertib yang berlaku. ditetapkan skor denda maksimum.  Model pengurangan skor. Siswa yang mencapai skor 100 akan terancam dikeluarkan dari sekolah. h) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya hendaknya tetap memberi ruang bagi berkembangnya kreativitas dan sikap kritis warga sekolah. dan kepala sekolah). merupakan hasil kompromi semua pihak (siswa. tetapi juga untuk membentuk mental disiplin agar disiplin yang terjadi bukan kedisiplinan semu yang dilakukan karena takut menerima sanksi. Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam menegakkan tata tertib dan kedisiplinan meliputi tiga kegiatan pokok. A. guru. Untuk siswa misalnya. sebagai batas toleransi. tetapi bagaimana mengkondisikan sekolah yang bisa membuat orang untuk tidak melakukan pelanggaran. Penyusunan Tata Tertib Sekolah Beberapa pedoman umum dalam menyusun tata tertib sekolah dikemukakan sebagai berikut. e) Tata tertib sekolah jangan hanya dibuat berupa konsep yang harus dipatuhi oleh warga sekolah dengan sanksi yang sangat jelas yang dapat membuat aturan menjadi kaku. Di SD. g) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya terutama diarahkan untuk membangun budaya perilaku positif dan sikap disiplin di kalangan siswa (selfdicipline) dan warga sekolah lainnya. yaitu penyusunan tata tertib. IKHTIAR 37 . Jika perlu dibuat satu hari tertentu di mana pada hari itu siswa diberikan kesempatan untuk berkreasi atau memberi saran kepada guru. dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan beserta sanksi atas pelanggarannya. f) Tata tertib yang ada jangan sampai hanya dilakukan untuk menertibkan warga sekolah dari segi fisik saja. perlu ada kesepakatan mengenai batas wajar tentang perilaku yang dapat dikategorikan nakal atau melanggar tata tertib. dan penegakan tata tertib. sosialisasi tata tertib. d) Tata tertib sekolah hendaknya tetap memberi ruang untuk pengembangan kreativitas warga sekolah dalam mengespresikan diri dan mengembangkan potensi dan kompetensi yang dimilikinya. orangtua. tetapi lebih kepada kesadaran bahwa tata tertib itu memiliki nilai kebenaran sehingga perlu untuk ditaati. Contoh model yang dapat digunakan untuk siswa adalah model penambahan skor dan pengurangan skor:  Model penambahan skor. guru pembimbing. Setiap pelanggaran akan berakibat pengurangan PIKIR. staf dan kepala sekolah.dilaksanakan dan diberlakukan kepada semua personil sekolah termasuk guru. misalnya 100 poin. Dalam model ini setiap siswa diberi skor modal awal. a) Penyusunan tata tertib melibatkan atau mengakomodasi aspirasi siswa dan aspirasi orangtua siswa yang dianggap sesuai dengan visi dan misi sekolah. i) Format penyusunan aturan disiplin dan tata tertib dapat dibuat dalam berbagai bentuk. pegawai dan kepala sekolah dalam rangka pengembangan sekolah. misalnya 100 poin. sasaran seperti ini dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran pembiasaan pada kelas-kelas awal. b) Semua aturan disiplin dan tata-tertib yang berkaitan dengan apa yang dikehendaki.

Karena itu sosialisasi tata tertib perlu dilakukan untuk memastikan bahwa semua pihak memahami dengan baik isi tata tertib tersebut. Penegakan Tata Tertib Kegiatan terpenting dalam menguji efektivitas tata tertib adalah pada pelaksanaannya. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam melaksanakan sosialisasi tata tertib dikemukakan berikut ini. IKHTIAR 38 . Sosialisasi untuk orang tua siswa dan pengurus komite sekolah dapat dilakukan dengan cara mengirimkan tata tertib yang telah dibuat dalam bentuk tertulis kepada mereka. dibaca dan dipahami oleh seluruh warga sekolah. yang perlu diperhatikan adalah konsekuensi yang muncul dari setiap penambahan dan/atau pengurangan skor. Sikap. Aturan disiplin dan tata tertib yang telah disusun. 2. Butir-butir tata tertib sekolah dapat dibuat dalam bentuk poster afirmasi yang dipajang di majalah dinding sekolah dan/atau lokasi-lokasi strategis di lingkungan sekolah agar dapat senantiasa dilihat. Sekolah perlu memastikan bahwa mereka memiliki pemahaman yang sama tentang butir-butir tata tertib yang telah disepakati dan disahkan tersebut. Selain peraturan tentang pemberian sanksi. teguran. mental disiplin yang ingin ditanamkan menjadi hilang karena terlalu fokus pada skor yang ada. Sebab betapapun baiknya tata tertib tapi jika tidak ditegakkan secara konsekuen maka tidak akan banyak artinya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. DZIKIR. skor. Dalam model seperti yang disebutkan di atas. Beberapa pertimbangan dalam penegakan tata tertib dikemukakan berikut ini. Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya dibuat dalam bentuk tertulis dan disahkan oleh kepala sekolah. demosi dan PHK atau dikeluarkan sampai masalah itu terpecahkan atau dihilangkan. 1. B. penundaan. Sosialisasi Tata Tertib Pelaksanaan tata tertib sekolah sangat tergantung pada pemahaman pihak-pihak terkait terhadap tata tertib yang disusun. guru. disepakati dan disahkan kepala sekolah hendaknya disosialisasikan secara berkelanjutan kepada seluruh warga sekolah. pegawai. Penegakan disiplin dilakukan secara bertahap kepada semua unsur yang ada disekolah mulai dari peringatan. dan pengurus komite sekolah. C. dalam hal ini siswa. percobaan. 4. 11. agar semua pihak mengetahui dan memahami setiap butir aturan disiplin tersebut. PIKIR. dan siswa yang mencapai skor nihil akan terancam dikeluarkan dari sekolah. 2. guru. orangtua siswa. dan tindakan kepala sekolah. perilaku. 1. Di sini terkait dengan sejauh mana upaya pihak sekolah dalam menegakkan tata tertib yang telah disusun. hendaknya menjadi model dan teladan bagi penegakan perilaku tertib dan disiplin di sekolah. Jangan sampai. siswa dan staf yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama kurun waktu tertentu dan diumumkan secara aklamasi pada saat pelaksanaan upacara. sekolah juga dapat membuat peraturan tentang pemberian penghargaan kepada warga sekolah untuk memotivasi mereka mentaati disiplin dan tata tertib sekolah. Memberikan penghargaan sebagai teladan kepada guru. 3. dan warga sekolah lainnya. Disiplin dan tata tertib sekolah berlaku untuk semua unsur yang ada disekolah tidak terkecuali kepala sekolah ataupun guru dan staf harus patuh dan taat pada peraturan sekolah yang berlaku dan menjadi komitmen yang kuat dan mengikat.10.

khususnya yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan. konselor sekolah. Siswa yang menerima sanksi harus dibantu memahami dan menerima bentuk sanksi tersebut sebagai bentuk intervensi bagi kebaikan yang bersangkutan. obyektivitas penilaian. Terhadap pelanggaran-pelanggaran. Penjatuhan hukuman (eksekusi) atas pelanggaran tata-tertib hendaknya disertai dengan penjelasan mengenai alasan dan maksud positif dari pengambilan tindakan tersebut. Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat. V. Berilah penghargaan yang sesuai untuk guru. di sekolah perlu dibangun suasana keterbukaan. Hal ini dinilai oleh Reynolds sebagai suatu strategi motivasi yang penting untuk meningkatkan citra diri (self-image) siswa dan berkembangnya atmosfir yang bersahabat dan suportif. Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan dilakukan oleh kepala sekolah setelah semua upaya persuasi untuk perbaikan perilaku telah dilakukan secara maksimal. mengubah perilaku siswa (dan juga guru). Demi efektitas layanan BK di sekolah guru pembimbing diharapkan tidak ditugaskan untuk pemberian sanksi terhadap siswa. Penegakan tata tertib terutama difokuskan pada upaya membantu siswa dan semua warga sekolah untuk menyesuaikan diri dengan setiap butir dalam aturan tata-tertib tersebut. ditetapkan melalui pertemuan konferensi kasus (caseconference) yang diikuti oleh kepala sekolah. 13. 6. IKHTIAR 39 . Penegakan tata tertib merupakan bagian dan terintegrasi dengan upaya membangun budaya perilaku etik dan sikap disiplin. karyawan dan siswa yang benar-benar pantas untuk mereka terima sebagai hadiah atas usaha dan hasil kerja mereka. dalam beberapa hal. Ada konsistensi/kesepakatan di antara para guru dan kepala sekolah mengenai prosedur-prosedur dan bentuk hukuman bagi siswa pelannggar disiplin dan tata tertib. 8. Sanksi penegakan tata tertib sekolah dilakukan kepala sekolah atau wakil kepala sekolah urusan kesiswaan. DZIKIR. PENGHARGAAN DAN INSENTIF DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. 10. guru. Orangtua siswa perlu diberikan pemhamanan tentang kebijakana sekolah tentang kedisiplinan agar orang tua merasa dihargai dan dilibatkan sehingga dapat memberikan dukungan terhadap dukungan pelaksanaan tata tertib sekolah. Dijelaskan oleh Reynolds (1990). dan wakil komite sekolah. baik di lingkungan internal sekolah maupun di lingkungan luar sekolah. satu semester sampai satu tahun. saling asah-asih dan asuh sangat diyakini PIKIR. sekolah yang sukses menyadari bahwa pemberian penghargaan jauh lebih penting ketimbang menghukum atau menyalahkan siswa. pengurus OSIS. dengan cepat dilakukan tindakan kedisiplinan. 12. 9. dan tentunya upaya mewujudkan kesejahteraan anggota. Penghargaan dapat diberikan kepada warga sekolah dalam rangka penegakan tata tertib sekolah seperti pemberian reward kepada mereka yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama tiga bulan. Penghargaan dan insentif mendorong munculnya perilaku positif dan.5. 14. Konsep Pemberian Penghargaan dan Insentif Penelitian Moedjiarto menemukan signifikansi karakteristik ini dalam menciptakan sekolah efektif. Agar budaya dan iklim sekolah kondusif dan tercipta harmonisasi kerja. 7. 11. Dengan pendekatan manusiawi.

Tuliskan nama orang itu pada tropi dan berilah nama julukan di belakangnya. DZIKIR. 9. staf dan siswa yang dilakukan secara sistematik. PIKIR.” 4. semakin banyak penghargaan yang mereka peroleh maka akan semakin banyak juga yang mereka inginkan. Hargai mereka yang ditempatkan di tempat lain dan tidak punya kesempatan untuk sering ke ruang kepala sekolah. Dalam beberapa hal. 6. Praktekkan pemberian penghargaan yang berkonsentrasi dan fokus pada memanggil guru staf atau siswa yang layak untuk menerima penghargaan ke kantor anda dan mengucapkan terima kasih karena melakukan pekerjaan yang bagus. Interaksi tersebut difokuskan hanya pada penghargaan dan tidak pada hal lain sehingga pengaruhnya tidak berkurang karena membahas masalah lain. 3. e-mail. jauh di pikiran” dengan faksimile.kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan tercapai dan hal ini akan sangat menunjang pencapaian tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Untungnya tidak sulit menghargai seseorang dan terdapat banyak cara untuk melakukan hal tersebut. Saat anda mendapat promosi. Ambil foto seseorang yang sedang diberi selamat oleh kepala sekolah atau orang yang berwewenang karena prestasi yang diraih.staf dan siswa pendukung anda dengan mengajak mereka makan siang atau makan malam yang indah. Untuk membantu memastikan keadilan dan dukungan. Jika anda mendengar ucapan positif mengenai seseorang. Beberapa cara paling mudah dan terjangkau untuk menghargai seseorang: 1. 2. Berikan foto tersebut kepadanya dan tempatkan foto sejenis lainnya pada lokasi menyolok agar dapat dilihat oleh semua orang. mereka sepertinya tidak kenyang atau merasa dipuaskan dengan penghargaan. Undang tim kerja atau personil sekolah ke rumah anda pada hari sabtu atau hari lain untuk merayakan keberhasilan dalam melaksanakan tugas atau pencapaian hasil kinerja sekolah. IKHTIAR 40 . 8. Sistem penghargaan upah/insentif yang dikombinasikan dengan penghargaan sosial dan umpan balik untuk kinerja guru. akan meningkatkan kinerja mereka lebih baik dari pada yang tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Siapkan tropi dan berikan kepada mereka yang paling layak menerimanya baik untuk siswa. pada akhir bulan biarkan penerima memilih anggota berikutnya untuk diberi penghargaan dan jelaskan mengapa dia dipilih. atau meninggalkan voice mail untuk orang dengan kata ”terima kasih atas kerja yang baik. Hargai keahlian menonjol atau keahlian individu dengan menugaskan mereka menjadi mentor personil lainnya agar dapat menunjukkan kepercayaan dan hormat anda kepadanya. 11. Personil sekolah tidak pernah bosan dengan penghargaan. 7. akui peran yang dimainkan oleh guru. seperti halnya tidak pernah kenyang dengan makanan dan uang. guru maupun staf. Terus memperhatikan jenis pujian dan penghargaan yang paling disukai oleh seluruh personil sekolah dan gunakan sesering mungkin pada mereka pada saat yang tepat. 12. Dalam konteks psikologi. Perhatikan semua orang yang melakukan hal yang benar dan beritahu mereka kalau pekerjaan itu baik dan benar. 5. ulangi hal tersebut pada orang yang bersangkutan secepat mungkin. 10. Atasi masalah ”jauh di mata. Tulis cacatan kecil yang menghargai kontribusi seseorang pada periode gaji terakhir dan lampirkan catatan tersebut pada daftar gaji seseorang.

semesteran. efektif dan efesien. Penghargaan dan insentif diberikan dalam beberapa cara. meminta saran. rencana-rencana bonus. 2. umpan balik evaluatif. 3. Bentuk-bentuk penghargaan kepada guru dan siswa berprestasi dapat berupa materil. kenaikan gaji/upah. insentif adalah sesuatu yang ditentukan dimuka sementara imbalan/hadiah diberikan setelah kita menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan karena insentif ditujukan untuk memotivasi karyawan maka karyawan harus tahu hal ini sejak awal. tepukan dibahu. atau tahunan) dan diumumkan secara luas di sekolah yang bersangkutan dengan cara menempel label yang memuat hasil nominasi tersebut pada semua sudut sekolah. dan sebagainya. Bentuk-Bentuk Penghargaan dan Insentif Menurut Winardi Bentuk-bentuk penghargaan atau insentif dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Indikator-Indikator yang Perlu diperhatikan dalam Pemberian Penghargaan dan Insentif Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam pemberian penghargaan dan insentif sebagai berikut: PIKIR. Akses untuk melaksanakan pelatihan. dan nonmateril. sedikit kenaikan upah. Penghargaan sosial berupa penghargaan informal. agar tidak meninmbulkan dampak negatif. undangan minum kopi bersama atau makan bersama. 41 . Bentuk-bentuk penghargaan ini dengan sendirinya membangkitkan dan menularkan semangat kerja dan meningkatkan etos kerja bagi guru dan menumbuhkan minat dan semangat belajar bagi siswa. dan bonus. pujian untuk diri sendiri. sehingga mereka memiliki peluang yang sama untuk berprestasi. Tugas itu sendiri seperti perasaan berprestasi. staf dan siswa dirangsang untuk meningkatkan kinerja positif dan produktif. C. Diterapkan sendiri berupa penghargaan terhadap diri sendiri. DZIKIR. ucapan selamat untuk diri sendiri. Mortomore. 4. Penghargaan nonmateril dapat pula diberikan dalam bentuk nominasi guru terbaik dan siswa terbaik secara berkala (misalnya: mingguan. staf dan siswa dalam organisasi. staf dan siswa. 5. senyum. Syarat-syarat insentif sebaiknya menjadi bagian dari perencanaan kinerja. B. penghargaan formal. rotasi kerja. pujian. pekerjaan dengan tanggung jawab lebih besar. promosi jabatan. seperti pemberian sertifikat penghargaan dan lencana. isyarat-isyarat nonverbal. bahkan makan malam yang menyenangkan dapat menjadi insentif yang berbiaya rendah dan paling berharga bagi guru. staf dan siswa secara terbuka. dan plakat dinding. (1988) sebagaimana dikutip Mortimore (1993) mengidentifikasi beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah efektif dalam pemberian insentif. Melalui penghargaan ini guru. Material berupa gaji atau upah. Kenyataannya bonus yang besar dapat berakibat negatif jika tidak diterapkan dengan tepat karena dapat menimbulkan konflik diantara guru. Penghargaan ini perlu dilakukan secara tepat. Penghargaan ini akan bermakna jika dikaitkan dengan prestasi guru. bulanan.Masih banyak lagi bentuk-bentuk penghargaan yang bisa diterapkan di sekolah dalam memotivasi personil sekolah untuk berprestasi. dkk. IKHTIAR 13. Insentif sedikit berbeda dengan imbalan. Imbalan diluar gaji berupa istirahat kerja. seperti memberi penghargaan kepada individu yang menunjukkan pekerjaan atau perilaku yang baik dan penghargaan yang diberikan berdasarkan prestasi dalam kegiatan olahraga dan sosial. seperti pemberian hadiah. rencana-rencana perangsang. Penghargaan sangat penting untuk meningkatkan produktifitas kerja dan untuk mengurangi kegiatan yang kurang produktif.

agar mereka dapat mendapatkan informasi yang langsung dan jelas mengenai hasil karya dan efektifitas kerjanya serta sekaligus akan memotivasi mereka untuk berkarya dan bekerja lebih baik lagi. dirayakan. Penghargaan atau insentif yang diberikan kepada guru. kondisi kerja yang lebih baik. Penghargaan harus segera dilakukan kepada guru. siswa dan staf dapat dilakukan dalam bentuk umpan balik yang segera. Memberikan penghargaan yang positif kepada guru. Dinas Pendidikan kabupaten/kota mengambil peran nyata dalam pemberian penghargaan atas prestasi siswa dan guru yang tinggi. Memberikan penghargaan atau insentif yang setara dengan prestasi atau hasil kerja yang dilakukan oleh guru. DZIKIR. siswa dan staf dapat dilakukan dalam berbagai bentuk selain materi. Setiap siswa. IKHTIAR 42 . dan siswa yang berprestasi. atau guru yang mendapatkan penghargaan atas prestasi yang membanggakan diumumkan dan. jika perlu.                 Sekolah memiliki prosedur pemberian penghargaan dan insentif terhadap guru. dan waktu luang lebih banyak juga dapat merupakan wujud dari imbalan atas hasil kerja yang dilakukan Otonomi dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan kepada guru dan staf merupakan salah satu bentuk penghargaan. siswa atau staf yang berprestasi dalam bentuk royalti sebagai uang muka sebelum tugas/pekerjaan mereka selesaikan. siswa dan staf. Prestasi yang tinggi dari siswa mendapatkan penghargaan dari sekolah. Penghargaan kepada guru yang berprestasi diumumkan dan dipajang pada papan pengumuman seperti papan guru dan siswa yang berprestasi setiap setiap bulan. Staf atau guru yang telah menunjukkan kinerja yang unggul diberi prioritas untuk menikmati kesempatan promosi atau pilihan program lain untuk pengembangan karier. Karena ini akan menimbulkan dampak seperti perilaku konflik yang menyebabkan guru. Melakukan promosi secara adil berdasarkan mutu dan kualitas kompetensi yang dimiliki oleh guru. staf. Menggunakan penghargaan dan insentif sebagai hadiah atau ganjaran sebagai teknik manajemen dalam pelaksanaan kinerja guru dan staf serta hasil karya bagi siswa. penugasan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menyenagkan. Prestasi yang tinggi dari guru dan staf mendapatkan penghargaan dari sekolah. siswa dan staf menghindari dalam bentuk tidak hadir. siswa dan staf dan tidak diwarnai oleh faktor-faktor lain atau kepentingan tertentu. Imbalan atau insentif yang diberikan kepada guru. Guru mendapatkan insentif atas pekerjaan tambahan yang dilakukan. Penghargaan dan hadiah ditentukan berdasarkan prestasi yang diraih dan memberikan kesempatan pada siswa untuk meraihnya. staf. siswa dan staf atas tindakan yang mereka anggap menguntungkan dan bukan memberikan hukuman atau sangsi jika sebaliknya. PIKIR. penguatan juga dapat dilakukan dalam bentuk pujian.

Pemimpin Pendidikan Mutu terpadu merupakan sebuah gairah dan pandangan hidup bagi organisasi yang menerapkannya. proses kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap semua aspek kinerja sekolah. mengetahui keinginan dan harapan mereka dan mengapa dia menginginkan hal itu. Menurut Townsend (1994). Temuan penelitian Heck. Sejauh mana budaya dan iklim sekolah dalam bidang kepemimipin sekolah dapat memberdayakan atau malah menghambat potensi yang ada. (1991) menunjukkan bahwa prestasi akademik dapat diprediksi berdasarkan pengetahuan terhadap perilaku kepemimpinan pengajaran kepala sekolah. pemantauan prestasi sekolah. perlindungan sekolah dari tekanan eksternal yang kurang mendukung. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu karakteristik yang paling konsisten hubungannya dengan prestasi belajar. Cuntoh sederhana yang dapat dilakukan dalam menggairahkan iklim sekolah adalah dengan sesekali mengadakan perayaan untuk membangun moral atau budaya sekolah yang bisa menghasilkan perubahan. staf dan siswa setiap harinya. Hal ini mungkin akan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Penelitian tersebut meyakinkan mereka bahwa yang menentukan mutu dalam sebuah institusi PIKIR. Menjadi pemimpin sekolah yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah didasarkan pada asumsi bahwa para pemimpin sekolah adalah orang-orang yang mampu mengespresikan diri sepenuhnya atau dengan kata lain mereka mengetahui siapa diri mereka. dkk.VI. Dan kunci untuk pengertian adalah belajar dari kehidupan dan pengalaman pribadi. mereka ingin diperlakukan sebagai manusia. memberikan jadwal yang pleksibel atau peralatan terbaik untuk melaksanakan tugas dengan benar. pemberian dukungan kepada guru. Inti budaya dan iklim sekolah yang bersemangat adalah terletak pada kualitas hubungan antara individu dalam sebuah komunitas sekolah dan kepercayaan. apa kekuatan mereka dan mengimbangi kelemahan mereka. Kondisi ini mungkin kedengaran klise tetapi banyak pemimpin yang kurang menyadari hal ini. Lebih spesifik. Pemimpin harusmemiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik. Pertanyaannya adalah bagaimana membangkitkan mutu pendidikan. dan pencarian sumber daya ekstra untuk sekolahnya (Mortimore. Peters dan Austin pernah meneliti karakteristik tersebut dalam bukunya A Passion for Excellence. Kunci untuk ekspresi diri adalah pengetian tentang diri sendiri dan dunia kerja serta lingkungan sekolah dimana kita berada. tetapi cara ini tidak akan percuma dilakukan jika dapat menghasilkan produktifitas kerja yang meningkat. Untuk memaksimalkan potensi personil sekolah terutama tergantung pada bagaimana seseorang diperlakukan. penghormatan serta pertimbangan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah kepada guru. IKHTIAR 43 . DZIKIR. Dewasa ini orang bekerja cenderung mencari lebih dari sekedar gaji. Akhirnya kepala sekolah tahu bagaimana cara mencapai sasaran mereka. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinan di sekolah sehingga tercipta iklim dan buaya sekolah yang kondusip: Kepemimpinan adalah unsur terpenting dalam TQM. 1993). diberi inspirasi dan ditantang untuk menghasilkan prestasi kerja terbaik mereka dengan dukungan sumber daya serta bimbingan yang diberikan oleh kepala sekolah untuk membantu menjadikan performa personil sekolah menjadi luar biasa. penyediaan waktu dan energi untuk perbaikan sekolah. kepemimpinan pengajaran berperan dalam kegiatan pembinaan personil guru. bagaimana cara mengemukakan keinginan tersebut kepada personil sekolah guna memperolah kerja sama dan mendapatkan dukungan dari personil sekolah.

sebuah gaya yang mereka singkat dengan MBWA ( Management by Walking About / manajemen dengan melaksanakan ). Gaya kepemimpinan ini mementingkan komunikasi visi dan nilai-nilai institusi kepada pihak-pihak lian.adalah kepemimpinan.  Memimpin inovasi dalam institusi  Mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggungjawab dan mampu mempersiapkan delegasi yang tepat  Memiliki komitmen untuk menghilangkan rintangan. baik yang bersifat organisasional maupun kultural  Membangun tim yang efektif  Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan. DZIKIR. namun fungsi utama pemimpin adalah sebagai berikut :  memiliki visi mutu terpadu bagi institusi  memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu  mengkomunikasikan pesan mutu  memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek institusi  mengarahkan perkembangan karyawan  berhati-hati dengan tidak menyalahkan orang lainsaat persoalan muncul tanpa buktibukti yang nyata.  „Untuk para pelajar‟ istilah ini sama dengan dekat dengan pelanggan dalam pendidikan. Peran Pemimpin dalam mengembangkan sebuah budaya mutu Apakah peran pemimpin dalam sebuah institusi yang mengusahakan inisiatif mutu terpadu? Tidak ada satupun yang menyatakan hal itu secara keseluruhan.Pemimpin pendidikan harus melakukan inovasi diantara staf-stafnya dan bersiap-siap mengantisifasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut. Dia berpendapat bahwa pemimpin institusi pendidikan harus memandu dan membantu pihak lain dalam mengembangkan karekteristik yang serupa. orang tua. Sifat-sifat tersebut mrupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan.  MBWA adalah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan bagi sebuah instansi. Sikap tersebut mendorong terciptanya tanggungjawab bersama-sama serta sebuah gaya kepemimpinan yang melahirkan lingkungan kerja yang interaktif.  Menciptakan rasa kekeluargaan. serta berbaur dengan para staf dan pelanggan. Mereka berpendpat bahwa gaya kepemimpinan tertentu dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu. Dia menggambarkan sebuah gaya kepemimpinan dimana pemimpin “ harus menjalankan dan membicarakan mutu PIKIR. semangat. Spanbauer telah menyampaikan pengarahan bagi para pemimpin dalm menciptakn lingkungan pendidikan yang baru. para pelajar dan kepada komunitas yang lebih luas. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan diantara para pelajar.Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan membutuhkan perspektif-perspektif berikut ini :  Visi dan simbol-simbol. eksprimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan. dan antusiasme. Keinginan untuk unggul tidak bisa dikomunikasikan dari balik meja.  Otonomi. Ini memastikan bahwa institusi memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya. IKHTIAR 44 . kesabaran. Kebanyakan persoalan yang muncul adalah hasil dari kebijakan institusi dan bukan kesalahan staf. guru dan staf institusi. MBWA menekankan pentingnya kehadiran pemimpin dan pemahaman atau pandangan mereka terhadap karyawan dan proses institusi.Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf.  Ketulusan. intensitas.

Kerjasama tim merupakan salah satu unsur fundamental dalam TQM. akan memberikan motivasi yang paling kuat bagi mereka. komunikasi. jika mereka yakin bahwa kepala sekolah benar-benar perduli secara pribadi setiap hari di sekolah dan sikap peduli ini diwujudakan dengan ekspresif lewat mimik wajah yang PIKIR. salah satu faktor yang paling menentukan adalah membangkitkan semangat orang-orang yang berada dalam lingkungan sekolah khususnya guru. Hal ini disebabkan karena moral dapat memberikan dampak langsung terhadap kualitas sekolah dan dapat meningkatkan prestasi belajar bagi siswa serta meningkatkan profesionalitas para guru dan staf dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. Apakah anda memberikan kesempatan bukan hanya dalam melaksanakan tugas tetapi juga memberikan efek sehingga mereka tanggap dan berusaha untuk memastikan apa yang telah terjadi? 6. staf dan siswa. staf. 1. IKHTIAR 45 . Karena ketika semua unsur dan personil sekolah merasa senang dan semangat yang tercipta lahir dari iklim dalam budaya sekolah maka mereka akan lebih produktif. yaitu bahwa hasil keseluruhan (tim) jauh lebih baik daripada jumlah bagiannya(anggota individual) A. Personil sekolah akan lebih menerima program-program sekolah yang telah disusun bersama. orang tua dan masyararat terjalin dengan baik atau tidak? Hal ini dapat dilakukan melalui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut. siswa. Kepala sekolah selaku pimpinan dalam lingkungan organisasi sekolah harus mengetahui apakah hubungan mereka dengan guru. bukan dengan serta merta. mengingat kerjasama tim akan meningkatkan kepercayaan diri. 1989 ). Oakland. Faktor yang mendasari perlunya dibentuk tim tertentu dalm suatu perusahaan adalah :  Pemikiran 2 orang atau lebih cenderung lebih baik daripada pemikiran satu orang saja.serta mampu memahami bahwa perubahan terjadi sedikit demi sedikit. Membangun Moral Kerja Dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah. Apakah anda dapat membangkitkan komitmen mereka atau mereka tidak merasa dirinya sebagai bagian dari sekolah? 4. dan mengembangkan kemandirian. Tim merupakan sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama.( John S. Apakah personil sekolah merasa bebas memberikan pendapat mereka dan mengetahui bahwa pendapat mereka dihargai? 2. Kerjasama Tim Bagi Mutu Kerjasama tim/kerja tim dalam sebuah organisasi merupakan komponen penting dari implementasi TQM. Apakah mereka yakin bahwa mereka mendapatkan informasi yang tepat waktu tentang hal-hal yang berhubungan dengan program-program sekolah dan tugas mereka? 3. Apakah anda dapat memahami kebutuhan mereka dan menjalin hubungan saling pengertian diantara mereka untuk meraih saran-saran dalam meningkatkan kualitas kerja mereka? 5. DZIKIR. Apakah anda pernah menyentuh hati mereka untuk memberikan yang terbaik dari hasil kerja dan karya mereka selama ini? Jika jawaban terhadap pertanyaan tersebut menunjukkan sikap bahwa kita peduli terhadap mereka dan membutuhkan suasana gembira. Total Quality Management. komite.  Konsep sinergi ( 1+1 > 2 ).

5. hapuslah dua kebijakan lama. Hubungan yang dibangun dalam budaya dan iklim sekolah yang berdasarkan atas hubungan saling percaya. dan nilai kesetiaan ini merupakan modal yang paling berharga dalam mencapai produktivitas kerja yang lebih baik karena lahir dari rasa memiliki yang tertanam dalam benak mereka. B. Tujuan yang Jelas dan Sasaran yang Didefinisikan dengan Baik Gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam mencitakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan memberdayakan seluruh personil sekolah sebagai tim kerja. hal ini merupakan efek dari kebijakan dan prosedur kerja yang kurang baik. Dalam hal kebijakan. Kebijakan dan Prosedur Cukup banyak sekolah yang berhasil memiliki cara mudah untuk membangkitkan semangat guru dalam mengajar. DZIKIR. lebih singkat dan sederhana adalah lebih baik dari pada lebih panjang dan rumit. Penetapan kebijakan di atas dapat diadopsi dalam lingkungan budaya sekolah apabila ditunjang oleh struktur organisasi sekolah yang baik. Uang bukanlah satu-satunya cara yang dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang tetapi lebih dari itu memberikan kepercayaan kepada mereka akan menemukan kembali nilai kesetiaan mereka. IKHTIAR 46 . 4. Dengan PIKIR. Karena jika person sekolah merasa tidak senang otomatis akan memberikan hasil kerja dan karya yang buruk. Pastikan kebijakan dan prosedur organisasi disusun untuk melayani para karyawan dan pelanggan anda bukan hanya organisasi anda saja. C. 3. tidak ada kebijakan tunggal yang uraiannya terdiri lebih dari satu halaman. Seberapa besarpun ukuran organisasi.mendukung atau ucapan-ucapan selamat dan sekali-sekali diberikan hadiah atau bonus pada saat moment penting seperti pada perayaan ulang tahun akan menambah semangat dan motivasi mereka untuk selalu berbuat yang terbaik. Sekolah yang memiliki budaya dan iklim yang baik menyadari bahwa person sekolah yang dapat dipercaya untuk melakukan apa yang benar ketika mereka di izinkan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Karakteristik struktur organisasi sekolah yang baik adalah jika struktur tersebut dapat menghasilkan kerja yang baik dan tidak berbelitbelit. Karena pada dasarnya setiap orang ingin merasa berguna atau penting bagi orang lain. mungkin saja masalahnya tidak pernah muncul lagi. Menurut Bob Nelson (2007). Cara terbaik untuk mendukung moral kerja personil dalam lingkungan sekolah dan untuk menginspirasi mereka sehingga memiliki kinerja prima adalah dengan cara meyakinkan mereka dengan segala yang anda lakukan dan bersikap dengan sepenuh hati bahwa anda sangat mendukung mereka. 2. Setiap kali anda menetapkan satu kebijakan baru. semangat staf dalam bekerja dan semangat siswa dalam belajar dan berprestasi dengan cara meminimalisir beberapa kebijakan dan prosedur yang dapat menghambat upaya untuk menjadikan personil sekolah bersemangat dan menggantikannya dengan kebijakan dan prosedur yang lebih sederhana dan tidak menghambat. saling menghormati dan mau mendengarkan pendapat orang lain serta dapat mengekspresikan diri dalam tugas dan karya adalah sarana yang kuat bagi personil sekolah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. ada beberapa saran dalam menetapkan kebijakan dan prosedur kerja dalam organisasi sebagai berikut: 1. Waspadai kemungkinan menetapkan kebijakan atau prosedur baru sebagai reaksi terhadap suatu insiden tunggal.

maka setiap setiap personil sekolah sebagai bagian dari anggota tim perlu memiliki maksud dan tujuan yang jelas serta menetapkan sasaran sekolah dengan melibatkan seluruh anggota agar mereka mengetahui dan paham apa tujuan dan sasaran sekolah. Kelola hubungan dengan orang luar. Pastikan agar tim mengembangkan sasaran-sasaran yang spesifik dan agar tim secara berkala mengevaluasi serta memperbaharui sasaran-sasarannya.pemberdayaan ini akan memberikan semangat yang kuat diantara personil sekolah. 3. hal ini akan mendefinisikan maksud anda dan menetapkan batasan-batasan bagi cakupan cakupan kerja tim. karena harus ditumbuhkan dalam kondisi yang menyenangkan. metode dan strategi mengajar yang tepat dalam proses belajar mengajar. Dengan tujuan sekolah yang jelas dan sasaran-sasaran sekolah yang didefinisikan dengan baik serta diketahui setiap anggota sekolah dan melibatkan mereka sepenuhnya dalam program-program sekolah akan memberikan hasil kerja yang lebih baik dan berkualitas. Beberapa saran di atas dapat di adopsi oleh pemimpin sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif. Lakukan pekerjaan yang nyata. 6. 3. Bangun komitmen serta keyakinan. Kuatkan perpaduan dan tingkatkan keterampilan. Selain itu juga sekolah yang sukses diwarnai oleh semangat yang menarik para personil sekolah sebagai satu unit yang utuh. Agar tercipta sebuah tim work yang baik dalam lingkungan sekolah. 2. 4. 1. Pastikan agar maksud. moral dan perilaku yang tidak bertentangan dengan falsafah bangsa yang diwarnai kecerdasan intelektual. Untuk menciptakan sekolah yang sukses dan memiliki kualitas perlu adanya proses pembentukan budaya. Nyatakan maksud dan aturan-aturan tim untuk operasionalnya pada setiap rapat. Hindarkan praktikpraktik yang menghasilkan anggapan bahwa sebagian orang adalah tim kelas satu dan anggota tim yang lain adalah tim kelas dua. Membangun iklim seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan instant. Ciptakan kesempatan bagi orang lain. Jelaskan bahwa semua orang berada dalam tim yang sama. dimana mereka dapat berkontribusi untuk mencapai sutu tujuan dan sasaran bersama. 5. karena mereka dapat mengendalikan dan memberi efek pada pekerjaannya. menetapkan sasaran-sasaran. serta mengetahui posisi mereka dalam tim atau prinsip-prinsip operasional dalam tim tersebut. 2. Selanjutnya Jon R. emosional dan spritual. Misalnya tim guru bidang studi di sekolah dapat menunjukkan kualitas kerja tim yang tinggi jika mereka memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Tentukan misi bagi tim. sasaran serta pendekatan relevan dan bermakna. Membangun Semangat Kerja yang Solid Untuk membangun semngat kerja yang solid dalam sebuah komunitas sekolah bukan hanya memberikan tugas atau menempatkan mereka pada posisi dan jabatan yang sesuai dengan potensi mereka tetapi lebih dari itu. Smith yang dikutip Nelson (2007) menyarankan enam hal penting bagi pemimpin dalam membangun semangat tim dalam organisasi sebagai berikut: 1. Ketika batasan-batasan ini tidak jelas dan tidak di ingatkan secara rutin maka tim akan kehilangan semangat dan komitmennya. Banyak cara untuk dapat membangun semangat kerja yang solid dalam organisasi sekolah seperti dengan cara membangun budaya dan menciptakan iklim bekerja sama dengan PIKIR. IKHTIAR 47 . Katzenbach dan Douglas K. D. 4. Beberapa saran yang diajukan oleh Nelson (2007) dalam menentukan tujuan yang jelas dan sasaran didefinisikan dengan baik adalah sebagai berikut. DZIKIR. termasuk mengatasi hambatan.

Akan masuk akal jika para kepala sekolah mengetahui bahwa pemberdayaan. Jika mereka memiliki kinerja yang tinggi.penuh semangat. prosedur atu aspekaspek yang berkaitan dengan peningkatan proses belajar mengajar baik itu di dalam kelas dan lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. maka fokuskan pada hasil kerja atau karya mereka bukan pada kehadiran mereka. staf dan siswa. meskipun sekali-sekali mereka membuat kesalahan bukan berarti mereka gagal dalam tugas. 4. Untuk menjalin iklim dan hubungan yang baik antara kepala sekolah dengan guru. Senantiasa mendorong mereka untuk memperbaiki proses. dan siswa juga orang tua siswa. 2. maka hubungan antara mereka harus jelas baik dari segi PIKIR. Senantiasa mengkomunikasikan segala informasi baru kepada seluruh personil sekolah terutama hal-hal yang menyangkut peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah. mengejar sasaran ketika mereka terdorong oleh visi dan misi sekolah yang jelas dengan kekuatan serta ketersedian sarana belajar yang memadai untuk mencapai tujuan sekolah. kecuali inisiatif pribadi atau usaha kerasnya untuk memberikan hasilkerja dan karya yang lebih baik jika mereka dihargai. Tidak ada yang dapat memompa personil sekolah lebih total. Kepemimpinan dalam Pemberdayaan. 2. Kemandirian dan Otonomi Setiap orang ingin diperlakukan sebagai bagian dari organisasi demikian halnya di dalam sekolah. diberikan kebebasan untuk mandiri. staf dan siswa dalam berprestasi dan membangun sekolah yang berkualitas dalam iklim dan suasana yang menyenangkan. tanggung jawab dan kewenangan kepada personil sekolah untuk melaksanakan segala sesuatu menurut cara mereka sendiri dan diberi kesempatan dalam pengambilan keputusan dengan resiko dari efek keputusan yang dilakukan. setiap personilnya ingin dipercaya dan dihargai. berilah dia kesempatan untuk melaksanakan kerja berikutnya. 3. Jika memungkinkan untuk memberikan mereka fleksibilitas jam kerja. IKHTIAR 48 . Mengajak seluruh personil sekolah seperti guru. kemandirian dan otonomi dalam kepemimpinan kepala sekolah sebagai berikut: 1. mungkin saja itu awal dari keberhasilan yang tertunda. 4. Kekuatan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kerja sama dan semangat kerja yang solid diantara personil sekolah. Ketika guru dan staf menunjukkan hasil kerja atau karya yang baik dan meraih sukses/prestasi. Kepemimpinan kepala sekolah yang menekankan pada pemberdayaan dalam budaya dan iklim sekolah akan memberikan kesempatan. 3. komite dan masyarakat dalam jamuan makan siang bersama di sekolah dan menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan program sekolah terutama jika terjadi perubahan dalam program dan lingkungan sekolah dan melibatkan mereka dalam proses perubahan tersebut. akan membuat mereka lebih senang dalam bekerja dan berkarya. beri kesempatan kepada mereka bekerja dirumah dan menetapkan jadwal mereka sendiri. DZIKIR. Berikut beberapa cara yang dapat ditempuh sekolah untuk membangkitkan semangat personil sekolah dalam membangun budaya dan iklim sekolah yang memiliki semangat yang solid adalah: 1. kemandirian dan otonomi yang besar kepada seluruh personil sekolah akan meningkatkan produktifitas mereka. Faktor-faktor yang dapat diperhatikan oleh kepala sekolah dalam menerapkan prinsipprinsip pemberdayaan. staf. Kepala sekolah senantiasa dapat menunmbuhkan dan mendukung pertumbuhan pribadi maupun profesionalisme guru. E.

4. Insiatif yang dibangun dari proses komunikasi terbuka. Sekolah adalah suatu organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin dengan jabatan kepala sekolah. 2. Inisiatif dan Fleksibilitas Apa yang membuat budaya dan iklim sekolah menjadi lebih baik dan kondusif? Dasarnya adalah implementasi kepemimpinan sekolah yang menghargai inisiatif personil sekolah sehingga semangat dan tanggung jawab moral dalam bekerja dan berkarya tumbuh dan berkembang dan secara otomatis produktivitas kerja mereka akan meningkat. Contoh kongkrit dapat dilihat dari peran guru dalam proses belajar mengajar yang cukup komunikatif dan memiliki inisiatif-inisiatif yang senantiasa dikomunikasikan dengan kepala sekolah dan guru lainnya akan tampil prima dan produktif dalam melaksanakan peran mereka dan hal ini sangat mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal dapat ditentukan oleh informasiinformasi baru yang diperoleh. Memiliki harapan yang tinggi baik terhadap prestasi siswa maupun kinerja para guru dan staf sekolah. F. PIKIR. Hal ini dapat membangkitkan semangat mereka. Seperti semua inisiatif yang lain. professional dan dinamis. Memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya (sekolah akan menjadi apa) dan mendorong stafnya untuk bekerja dan berusaha untuk merealisasikan visi sekolah. Deskripsi singkat kualitas dan perilaku yang menandai sekolah yang berhasil antara lain: 1. Mengupayakan pertemuan dengan guru. 3. Bila perubahan sistemik dilaksanakan tanpa perubahan budaya dan iklim organisasi sekolah. Mendorong pemanfaatan waktu mengajar yang efisien dan merancang prosedur untuk meminimalkan gangguan. karena melalui komunikasi dapat diperoleh informasi secara vertikal maupun horisontal. Menurut Davis & Thomas (1989) dalam suatu sekolah yang bagus kita dapat menjumpai kepala sekolah yang agresif. 2. 3. Komunikasi. Memberikan tugas kepada mereka dan ikuti perkembangan mereka dalam melaksanakan tugas tersebut. staf dan siswa melalui komunikasi dan inisiatif seperti cara berikut: 1. Gunakan waktu anda lebih banyak dengan personil sekolah selama sekolah melewati masa-masa krisis seperti nilai ujian nasional rendah atau prestasi belajar siswa menurun. implementasinya sering gagal dan kembali ke keadaan sebelumnya. Mengamati guru dalam kelas dan memberikan masukan yang positif dan konstruktif dalam menyelesaikan masalah peningkatan pembelajaran. ruang guru dan staf serta layanan pendukung siswa di sekolah untuk berinteraksi langsung dengan mereka yang sebelumnya tidak pernah anda jumpai.struktur maupun wewenang dan tanggung jawab mereka agar mereka lebih fokus dalam melaksanakan tugas dalam bidangnya. evaluasi dan hasil serta kualitas mutu pendidikan secara kontinu. IKHTIAR 49 . tekun menyediakan program-program pendidikan yang dianggap penting. kepemimpinan yang bagus adalah kunci untuk implementasi yang afektif. 4. DZIKIR. Sisihkan sedikit waktu luang anda untuk mengunjungi setiap ruang kelas. Cukup banyak sekolah yang berhasil menemukan cara mudah untuk membanguan semangat guru. staf dan siswa yang paling jarang berinteraksi dengan anda. Budaya dan iklim sekolah yang membangun komunikasi diantara personil sekolah akan membentuk hubungan yang lebih baik diantara mereka sekaligus memberikan informasi dalam perbaikan proses. Komunikasi merupakan mata rantai yang paling penting dalam mempersatukan sebuah komunitas sekolah. metode dan strategi. hasil diskusi dan tukar pikiran akan menambah semangat mereka dalam bekerja.

2. Kepala sekolah juga harus bisa bertindak sebagai perantara yang mengalirkan informasi dan menjawab berbagai pertanyaan dalam berbagai hal karena sebagian pekerjaan kepala sekolah adalah pekerjaaan verbal. Kepala sekolah dapat aktif dalam penciptaan dan perbaikan yang konkrit. guru kelas maupun sebagai wali kelas dan setiap guru akan mengelola kelasnya dengan baik. Memanfaatkan bahan dan tenaga secara kreatif Memonitor prestasi individu dan kelompok siswa dan memanfaatkan informasi untuk perencanaan pendidikan sekolah dan pembelajaran. memiliki keahlian dan pemahaman yang mendalam terhadap kurikulum dan pengajaran. 7. hal ini dapat dilakukan pada setiap akhir bulan atau setiap triwulan dalam program sekolah. sehingga tujuan akhir sekolah dapat tercapai dengan baik. DZIKIR. Terdapat delapan kategori kepala sekolah efektif berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan lapangan: 1. Tingkah laku yang sentral kepala sekolah yang efektif adalah memonitoring perkembangan siswa. Kepala sekolah dapat memonitor faktor-faktor lain yang terkait dengan prestasi. Kepala sekolah dapat menciptakan sistem hadiah untuk setiap siswa dan guru yang medukung orientasi akademik dan merangsang keunggulan (excellence) dan penampilan siswa dan guru. IKHTIAR 50 . Kepala sekolah sebaiknya menilai tugas-tugas harian guru dan meyakinkan bahwa setiap kelas ada gurunya baik sebaagai guru bidang studi. 3. 10. Seorang kepala sekolah yang efektif adalah seseorang yang memilki kecakapan dalam hubungan antara manusia. Fungsi utama kepala sekolah yang efektif adalah mengamati guru dalam kelas dan merundingkan dengan mereka tentang cara menangani masalah dan perbaikan pengajaran. khususnya dalam nilai tes setiap siswa dalam setiap tingkatan dan kelas. Tindakan ini secara instrinsik mencerminkan fokus dan nilai akademis. tetapi kepala sekolah harus dapat membagi tugas. mengorganisasi dan mengalokasikan sumber-sumber dan menangani masalah keselamatan dan keteretiban. faktor yang terkait dengan perbaikan yang secara implisit menekankan suasana dan budaya akademik. 4. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penciptaan lingkungan sekolah yang tertip dan aman. 6. pekerjaan kepada orang lain dalam organisasi sekolah. Kepala sekolah dapat memperoleh sumber-sumber material yang diperlukan untuk pengajaran yang efektif dan menggunakannya secara kreatif sesuai dengan prioritas akademik. 9. 5. Peran aktif kepala sekolah dalam menciptakan sekolah yang efektif dimana setiap orang memperhatikan perbaikan dan peningkatan pembelajaran. Sepanjang hari kepala sekolah memonitor jalannya pekerjaan. 7. Kepala sekolah tidak seharusnya melakukan kegiatan administrasi sekolah sendiri. Kepala sekolah dapat memainkan peran dalam meningkatkan kesadaran perlunya perbaikan sekolah dan harapan prestasi yang tinggi dan pencapaian konsensus untuk perubahan tersebut. PIKIR. menjadwal. Kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang dapat melakukan langkahlangkah kongkrit untuk membantu pengembangan orientasi harapan yang tinggi yang mencerminkan peran kepemimpinan pengajaran. 8. 6. 8.5. 9. Kepala sekolah juga dapat melibatkan orang tua dalam upaya pengajaran di sekolah.

6) Kepala sekolah memiliki sikap suka membantu siswa belajar dan menghadapi kesulitan. 9) Kepala sekolah mendorong semangat belajar siswa dengan menumbuhkan keyakinan dalam mencapai prestasi yang tinggi. guru dan orangtua siswa dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sekolah. Karakter kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya dan iklim yang kondusif dapat dilihat pada beberpa indikator sebagai berikut: 1. 5) Kepala sekolah mempunyai perhatian terhadap permasalahan belajar siswa. komitmen dan tanggung jawab guru serta kepatuhan dan kesungguhan para siswa untuk belajar. 7) Kepala sekolah menciptakan suasana kerja yang kreatif dan produktif dengan menyediakan berbagai fasilitas dan perlengkapan yang dapat mendorong siswa mengembangkan bakat minat dan ketrampilannya. terutama dalam upaya peningkatan mutu pengajaran disekolah. g) Kepala sekolah melibatkan para siswa. 8) Kepala sekolah membuat program secara teratur untuk mengembangkan pengetahuan siswa melalui les/kursus-kursus. 2) Kepala sekolah sangat perhatian terhadap kemajuan belajar siswa. guru dan staf sekolah. kepatuhan dan kesungguhan guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan kepatuhan dan tanggung jawab staf sekolah dalam memberikan pelayanan kepada siswa. 4) Kepala sekolah selalu memberi penjelasan kepada siswa dalam menghadapi hal-hal yang baru. secara langsung kepala sekolah bertugas mengawasi pelaksanaan tugas-tugas aparat sekolah secara berkesinambungan b) Kepala sekolah sebagai panutan bagi siswa. Kepemimpinan kepala sekolah sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar yang menarik dan kondusif. IKHTIAR 51 . Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut : 1) Memiliki visi dan pandangan yang jelas dan tegas dalam kepemimpinan sekolah. c) Kepala sekolah suka menerima dan mempertimbangkan ide atau gagasan yang disampaikan oleh guru dan siswa. e) Kepala sekolah bersemangat dalam melaksanakan tugas sehari-hari. guru dan kepala sekolah. Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut: a) Sebagai manajer perencana. lomba dan latihan-latihan yang bersifat edukatif. guru dan staf sekolah sebagai pemimpin sekolah. f) Kepala sekolah memiliki sikap bersahabat. DZIKIR. ramah dan dekat dengan siswa.Kepemimpinan instruksional kepala sekolah dalam menentukan iklim dan budaya sekolah sangat erat kaitannya dengan kemampuan mengajar guru dan motivasi belajar siswa bahkan sangat berkaitan dengan mutu lulusan. 3) Kepala sekolah mengerahkan sumber belajar dan dukungannya demi pencapaian tujuan pembelajaran. d) Kepala sekolah sering mengunjungi guru mengajar. Dapat dikatakan bahwa kualitas mutu lulusan suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen pengelolaan sekolah. Hal ini dapat dilihat dari implementasi dan pemeliharaan perubahan yang positif terhadap proses dan hasil belajar siswa. b) Menciptakan suasana sekolah yang kreatif/dinamis serta meningkatkan kelancaran komunikasi. Membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan mendorong semangat belajar siswa. PIKIR.

e. c) Sebuah pusat pembelajaran bagi guru dan kalangan lain yang berurusan dengan siswa. b) Sebuah penerbit multimedia. 3. Mengembangkan manajemen sekolah melalui proses pengorganisasian. dengan penekanan khusus pada teknologi baru. Kembangkan konsep kecerdasan ganda pada setiap pembelajaran dengan melibatkan panca indera supaya pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik siswa. Berikut ini dikemukakan beberapa saran mengenai model kepemimpinan kepala sekolah dalam manciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif sebagai berikut: 1. Kerja sama dengan orangtua dan masyarakat baik dalam merespon minat dan kebutuhan masyarakat maupun untuk meningkatkan peran serta masyarakat di sekolah. Mengembangkan pola perilaku dan tindakan yang didasari oleh integritas dan etika dalam bersikap. IKHTIAR h) 52 . PIKIR. guru dan orangtua siswa dalam menyusun peraturan-peraturan sekolah. Mengembangkan kepemimpinan administratif. memelihara dan memungkinkan terciptanya budaya sekolah dan program pembelajaran yang kondusif bagi pengajaran siswa dan mengembangkan kompetensi staf. Mengatur. Menghubungkan satu pelajaran dengan pelajaran yang lain. Selain itu kepemimpinan kepala sekolah akan sangat menentukan kualitas iklim sekolah yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar dan kerja sama antar aparat sekolah yang baik sehingga penyelenggaraan pendidikan di sekolah bisa berhasil. terbuka dalam memimpin sekolah. khususnya dibidang materi belajar. 4. pendengaran dan perasaannya. Bangun jaringan informasi rumah-sekolah-multimedia yang bersifat hangat dan personal. efesien dan penciptaan lingkungan belajar yang efektif. DZIKIR. Dirikan sebuah pelabuhan ilmu sebagai pusat teknologi informasi dengan tiga cabang: a) Sebuah pusat produksi dan komunikasi multimedia. b. pelaksanaan dan penggunaan berbagai sumber daya yang tepat. Mengembangkan perencanaan pembelajaran yang mendukung sekolah berbasis masyarakat.  Sebuah pusat multimedia yang berfungsi sebagai sumber daya keluarga dan masyarakat.  Metode pembelajaran Spider Web. khususnya bakat dan kemampuannya yang unik melalui penglihatan. a. d. Ciptakan pusat kecerdasan ganda untuk melayani setiap gaya belajar. 2. Kepala sekolah bertugas untuk memperbaiki manajemen sekolah serta bertanggung jawab dalam pelaksanaan keputusan manajemen dan kebijakan sekolah melalui upaya-upaya berikut. c. j) Kepala sekolah sangat tegas terhadap peraturan-peraturan sekolah (disiplin) dan tanpa pandang bulu. Buat proyek lain untuk mempromosikan konsep belajar sepanjang hayat:  Sebuah sekolah/kelas tanpa dinding sehingga para murid bisa belajar dari berbagai pengalaman. 5. i) Kepala sekolah menunjukkan kepribadian yang menyenangkan.Kepala sekolah melibatkan para siswa. namun tetap bersikap terbuka untuk kritik dan saran 1. Kepala sekolah bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan peningkatan mutu program pengajaran.

melainkan tergantung pada situasi yang menyertainya. M2. Hal ini digambarkan pada tabel 7.4 Tingkat Kematangan Manusia (Hersey dan Blancard. Dimensi pertama adalah kemampuan (keterampilan dan pengetahuan) dan dimensi kedua adalah kemauan (tanggung jawab dan komitmen). Kemampuan Tinggi Kemauan Rendah (M3) Kemampuan Tinggi Kemauan Tinggi (M4) Gaya Kepemimpinan yang Tepat b. berorientasi tugas atau berorientasi manusia. apakah otoritarian. 1994). Konsultatif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia tinggi) G3 g. Proses kepemimpinan mencakup dua dimensi penting. IKHTIAR . DZIKIR. Beberapa penelitian yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan otokratik dan gaya yang terlalu demokratik kurang efektif dibandingkan dengan gaya kepemimpinan situasional (Mortimore.Selain beberapa cara di atas yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah. 1982:152) Tingkat Kematangan M1 a. 1993). Partisipatif (Perilaku tugas rendah dan hubungan manusia tinggi) 53 PIKIR. 1982:152) Dari gambar tersebut. Tingkat kematangan seseorang dapat dilihat dari dua dimensi.1 berikut. Kematangan Rendah (Tidak mampu dan tidak mau) M2 Kematangan RendahSedang (Tidak mampu tetapi mau) M3 f. dan M4. demokratis. Kematangan Sedang-Tinggi (Mampu tetapi tidak mau) d. gaya kepemimpinan yang tepat bervariasi menurut tingkat kematangan tersebut. M3. yaitu beban kepemimpinan dan bentuk atau gaya kepemimpinan (Townsend. Tabel 19. Kombinasi kedua dimensi ini melahirkan empat tipe kematangan manusia sebagaimana digambarkan pada kuadran berikut. kepemimpinan juga dapat dilihat dari prosesnya. Beban kepemimpinan berkaitan dengan sejauhmana tanggung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah terhadap semua aspek operasi sekolah. tingkat kematangan manusia digolongkan ke dalam empat kategori: M1. Direktif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia rendah) G2 e. hierakis. Situasi itu antara lain tingkat kematangan para bawahan. G1 c. Menurut teori kepemimpinan situasional. (Tinggi) Kemampu an Kemampuan Rendah Kemampuan Rendah Kemauan Rendah Kemauan Tinggi (Rendah) (M1) (M2) (Rendah) Kemauan (Tinggi) Gambar 19.5 Gaya Kepemimpinan dan Kematangan Bawahan (Hersey dan Blancard. Adapun gaya kepemimpinan yang dikembangkan tergantung pada kondisi operasional sekolah. Bentuk kepemimpinan berkaitan dengan gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah. Gaya kepemimpinan situasional didasarkan pada anggapan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik.

Keterlibatan mereka menjadi sangat penting karena: (1) kepala sekolah sebagai pimpinan dapat menerima masukan dari berbagai sudut pandang. ketersediaan administrasi kesiswaan yang rapi dan informatif. 2. dan lingkungan kerja. (4) sarana dan prasarana. Aspek-aspek administrasi yang dimaksud misalnya. Waktu pelaksanaan supervisi kadang-kadang tidak perlu dirancang waktunya. administrasi penilaian. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yang masih kurang dan diupayakan untuk diperbaiki. Dari tabel 2 tersebut dijelaskan bahwa bawahan yang kematangannya rendah (M1) lebih cocok dipimpin dengan gaya direktif. (3) dapat memberikan penghargaan kepada guru dan staf atas pendapat-pendapat mereka. dan lain-lain. Selain itu. Efektivitas sebuah proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) siswa. dan (6) lingkungan sekolah. DZIKIR. 1. sedangkan bawahan dengan tingkat kematangan tinggi (M4) lebih cocok dipimpin dengan gaya delegatif. Mekanisme pengambilan keputusan partisipatif dapat dilakukan secara formal maupun informal. (3). Melakukan pengambilan keputusan partisipatif Keputusan penting. bawahan dengan tingkat kematangannya rendahsedang (M2) lebih cocok dipimpin dengan gaya konsultatif. kepala sekolah yang efektif dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah melakukan hal-hal berikut. IKHTIAR 54 . kurikulum. namun perlu dilakukan secara berkesinambungan. Kegiatan supervisi adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan di sekolah. Kapan diperlukan dan dirasakan perlunya peningkatan.h. (2) guru. bawahan dengan tingkat kematangan sedang-tinggi (M3) lebih cocok dipimpin dengan gaya partisipatif. (2) dapat meningkatkan kualitas keputusan. khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah perlu melibatkan para guru dan staf. dan (4) dapat mengikat komitmen mereka dalam melaksanakan dan mengawasi keputusan. kegiatan yang sudah baik diupayakan untuk dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. kumpulan soal. lingkungan sosial. Biasanya. Secara formal dilakukan melalui rapat-rapat sekolah. M4 Kematangan Tinggi (Mampu dan mau) G4 Delegatif (Perilaku tugas rendah dan perilaku hubungan rendah) i. dan lain sebagainya. supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas. tetapi juga pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran yeng efektif. lingkungan personil. Di samping kecenderungan mempraktekkan gaya kepemimpinan situasional. Faktorfaktor inilah yang menjadi ruang lingkup kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah. sedangkan secara informal dilakukan melalui pertemuan-pertemuan insidentil seperti arisan. khususnya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. PIKIR. Lingkungan sekolah dibagi ke dalam empat aspek seperti lingkungan fisik. kepala sekolah juga perlu melibatkan pengurus komite sekolah bahkan orangtua dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pengembangan sekolah. Kegiatan supervisi tidak hanya terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas saja. Melakukan kegiatan supervisi. Demikian pula. olahraga. maka supervisi dilaksanakan.

pengelolaan kelas maupun materi pembelajaran. Semakin puas pelanggan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan. Memperhatikan kebutuhan pelanggan Osborne dan Plastrik (1997) mengembangkan gagasan mengenai perlunya organisasi pemerintah memiliki strategi pelanggan dalam meningkatkan akuntabilitasnya. masyarakat. Kesulitan-kesulitan itu dapat berhubungan dengan strategi pembelajaran. Kunjungan kelas dapat dilakukan secara tiba-tiba atau atas kesepakatan antara kepala sekolah dan guru. Karena itu penerapan strategi pelanggan akan memaksa sekolah dalam memperbaiki kinerjanya. b Kepala sekolah membantu guru dalam mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajaran dan faktor penciptaan budaya dan iklim belajar siswa. pemerintah dan pihak terkait lainnya. guru. Definisi tentang pelanggan meliputi pelanggan dari dalam sekolah dan dari luar sekolah. Identifikasi kebutuhan pelanggan ini dapat dilakukan melalui analisis SWOT. Diskusi diharapkan menghasilkan diagnosis pemecahan dan secara bersama mengupayakan tindak lanjut untuk memperbaikinya. khususnya guru. IKHTIAR 55 . Akuntabilitas berarti sejauhmana suatu lembaga bertanggung jawab kepada pelanggan produk atau jasa yang dihasilkan. Karena itu kepala sekolah sebagai manajer perlu mengembangkan cara-cara baru dalam memenuhi kepuasan pelanggannya. Dalam situasi yang lain. tenaga administrasi sedangkan pelanggan dari luar sekolah meliputi orangtua. Di sekolah terdapat sejumlah tenaga profesional.Beberapa cara yang dapat digunakan oleh kepala sekolah dalam melakukan kegiatan supervisi budaya dan iklim sekolah adalah: a Kepala sekolah melakukan kunjungan-kunjungan kelas untuk mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan budaya serta iklim sekolah yang tercipta. Selain itu. yang perlu dikembangkan dan didayagunakan. 4. kepala sekolah melibatkan stafnya dalam berbagai pengambilan keputusan penting. c Kepala sekolah bersama guru mendiskusikan cara-cara pemecahan masalah guru. terlebih dari luar sekolah. b Kepala sekolah menekankan kepada guru dan staf untuk memenuhi normanorma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi. d Contoh lembar kegiatan supervisi dapat dilihat pada lampiran kegiatan supervisi yang terdapat di bagian akhir dari bab ini. staf dan siswa. Pelanggan dari dalam sekolah meliputi: siswa. DZIKIR. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia dalam organisasi merupakan aset yang perlu dipelihara dan dikembangkan bagi peningkatan organisasi. Memberdayakan warga sekolah Strategi pemberdayaan merupakan inspirasi banyak organisasi dewasa ini. PIKIR. Di samping keempat karakteristik tersebut. 3. kemauan kepala sekolah mendelegasikan sebagian pekerjaan juga merupakan salah satu strategi yang banyak terbukti mendorong semangat tim di sekolah. Beberapa sekolah yang sukses menerapkan strategi pemberdayaan melalui berbagai program-program pengembangan profesional guru. semakin akuntabel suatu lembaga. a Kepala sekolah menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbuka dengan para guru. perlu mendapat kepuasan. c Kepala sekolah memantau kemajuan belajar siswa melalui guru sesering mungkin berdasarkan pada data prestasi belajarnya. beberapa indikator kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dikemukakan berikut ini. Baik pelanggan dari dalam sekolah.

u Proaktif. eksperimentasi dan menanggung resiko dari perubahan yang terjadi. g Kepala sekolah menunjukkan sikap dan perilaku yang dapat menjadi anutan atau model bagi guru dan siswa. tetapi dianjurkan untuk mengembangkan potensi mereka secara penuh. Kepala sekolah yang memahami perasaan guru d. Kepala sekolah yang adil dan tegas dalam mengambil keputusan. bukan hanya secara nasional dan lokal dalam menerima dan mengelola setiap informasi dan kegiatan yang ada dalam oraganisasi. f Kepala sekolah peka terhadap kebutuhan siswa. n Kepala sekolah menciptakan lingkungan yang fleksibel yang di dalamnya orang-orang tidak hanya dinilai dari. k Kepala sekolah membangun kelompok kerja aktif. staf. j Kepala sekolah mendorong guru. Kepala sekolah yang terampil dan tertib e. dalam penelitian sekolah efektif. DZIKIR. guru. kompetensi kepemimpinan yang diperlukan di sekolah tercermin dari beberapa karakteristik kepemimpinan berikut ini (Tiong. e Kepala Sekolah memberikan dukungan pada guru untuk menegakkan kedisiplinan siswa. b. dan orangtua untuk berkonsultasi atau berdiskusi secara pribadi mengenai permasalahan yang mereka hadapi berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. di mana jaringan-jaringan berkembang dari unit-unit otonom. Kepala sekolah yang memiliki dedikasi dan rajin g. 1997): a. m Kepala sekolah mengidentifikasi misi organisasi supaya dapat menyusun tugas-tugas dan memberitahukan kepada seluruh karyawan. i Kepala sekolah transparan. q Menganjurkan inovasi. t Berfikir secara global. Kepala sekolah yang berkemampuan dan efisien f. PIKIR. Kepala sekolah yang tulus. IKHTIAR d 56 . Kepala sekolah yang membagi tugas secara adil kepada guru. c. orangtua dan masyarakat. h Ruang kepala sekolah terbuka bagi guru. senang dengan perbedaan dan ketikpastian sehingga menumbuhkan kreatifitas dan inovatif guru dalam proses pembelajaran. siswa. o Membentuk budaya organisasi agar kreatifitas otonom dan proses belajar secara berkelanjutan menggunakan pertumbuhan jangka panjang sebagai sasaran. Di samping memenuhi indikator-indikator tersebut. staf dan siswa melakukan inovasi di sekolah. akuntabel dan profesional khususnya dalam pengelolaan keuangan. r Mengantisipasi masa depan dengan membaca masa sekarang s Secara konstan mempelajari organisasi dari dalam dan luar organisasi dan mengidentifikasi hubungan-hubungan yang lemah dalam rangkaian seluruh kegiatan yang ada serta memperbaikinya. bukan keuntungan jangka pendek.Kepala sekolah menyediakan dana yang diperlukan untuk menjamin pelaksanaan program-program pembelajaran sesuai dengan prioritasprioritas program yang telah ditentukan. l Kepala sekolah memiliki komitmen yang jelas terhadap penjaminan mutu sekolah. p Mengubah organisasi dari piramid yang kaku menjadi lingkaran yang lentur.

Supervisor: (Nama dan tandatang PIKIR. Dalam dokumen The School Leadership Context beberapa karakteristik kepemimpinan kepala sekolah yang baik menurut guru adalah: a Memiliki komitmen b Memiliki energi c Diterima oleh guru. Pemilihan strategi yang bervariasi 6. Dsb Budaya kelas 10. Penanaman budaya prestasi pada siswa 11. Teknik pengaturan kelas yang memudahkan berkomunikasi 9. Cara guru Hubungan berkomunikasi sosial dengan dengan siswa siswa 8. IKHTIAR 57 . Dsb 4.h. siswa dan orangtua d Pendengar yang baik e Dapat menyesuaikan diri dengan perubahan f Menyediakan waktu bagi siswa g Konsisten dan jujur h Memiliki selera humor i Mengekspresikan perasaan j Berbagi tanggung jawab dan kekuasaan k Terampil dalam hubungan manusia l Mendorong individu dan kelompok untuk mengambil alih kepemimpinan LAMPIRAN (CONTOH) LEMBAR KEGIATAN SUPERVISI BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Nama Guru/Kelas : / Semester / Tahun Ajaran: Mata Pelajaran : Tanggal : PraktekBentuk Rencana praktek yang Permasalahan Komponen Aspek yang Diobservasi Tindak baik yang telah dan Kendala Lanjut dilakukan yang Dialami 1. Dsb. staf. DZIKIR. Pengaturan kelas Pengelolaan 2. Kepala sekolah yang percaya diri. Dsb. 7. Kesesuaian strategi Strategi pembelajaran dalam pembelajaran menciptakan budaya belajar 5. Poster afirmasi Kelas 3.

Y. Millan Inc. Educational Leadership. Budaya Kerja Perbankan (Jalan Lurus Menuju Integritas ) Sambutan Burhanuddin Abdullah. & Mary Coulter. F. Paul dan Ken Blancher. Jakarta Luthans. 1001 Cara Untuk Memberikan Imbalan Kepada Karyawan. Jakarta. Jakarta Van de Grift. Hoy. Hughes. Moedjiarto. Profiles of organizational culture and effective schools. 2002. 1991. School Effectiveness and School Improvement. 1990. Too soon to cheer? Synthesis of research on effective schools. Bandung Mortimore. Studies in Educational Evaluation. dan Teddlie. D. Bandung Anonim 2. Slater. Fisher & Fraser. 1985. Educational Leadership. 2005. School Effectiveness and School Improvement. 1992. Papanastasiou. Melbourne. Taylor. Karisma Publishing Group. Gramedia. 3(4):242-257. Mandar Maju. School Effectiveness and School Improvement. Pustaka LP3ES. Arcan. PT. Cv. Middle school climate: An empirical assessment of organisational health and studentc achievement. PIKIR. Robins. Manajemen Perilaku Organisasi : Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Nelson 2007. P. Jakarta Samdal. Melbourne: Australian Council for Educational Research. 1991. 1998. V. Drs. 1990. Wold. School effectiveness and the management of effective learning and teaching. 1990. School Climate. Prenhallindo. (SET research information for teachers No. 1999. Erlangga. Effective school project and school-based management. On Leadeship Of Quality Free Press. Organization Behavior 10th Edition. Purkey. The McGraw-Hill Companies. Batam Center. Persepsi terhadap Karakteristik yang Membedakan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Aki:zdemik Tinggi dan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Akademik Rendah di Surabaya. 4(4):290-310. Mandar Maju. DZIKIR. Toward a theory of school effectiveness and leadership. Jakarta Arcaro. Batam Center. 296-320. & Bronis. Anonim 3. Asas-asas Perilaku Organisasi. 2006. 10(3). School. Prenhallindo. Juran. 1999. Victoria: Australian Council for Educational Research. 1997. Relationship between students' perceptions of school environment. & Smith. Manajemen Jilid I (Edisi bahasa Indonesia). 1990. Diterbitkan Kementrian Pendayagunaan Budaya Kerja Aparatur Negara RI. School Effectiveness and School Improvement. & Vermeulen. 2002. Phi Delta Kappan. Educational Administration Quarterly. Teori Organisasi ( Struktur. 1992. 1001 Cara Untuk Menjadikan Karyawan Bersemangat. Inc. Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara. Pustaka Pelajar. 394-397. their satisfaction with school and perceived academic achievement: An international study. Desain & Aplikasi). Jakarta. C. 1974. B. 1993. School Effectiveness and School Improvement.2). O. Kamus manajemen. Mc. 4(2):85-110. 1999.DAFTAR RUJUKAN Anonim 1. Instructional climate in Dutch secondary education. Jakarta Robins. 1989. 2007. Disertasi. Supriyanto. Freiberg. dan Levine. Januari. IKHTIAR 58 . Jakarta Cheng. Edisi keempat. Houtveen. & Hannum. Moekijat. Manajemen Jilid II (Edisi bahasa Indonesia). 2006. 1997. 1993. Tidak diterbitkan: Malang: Fakultas Pasca Sarjana Intitut Keguruan dan llmu Pendidikan Malang. PT. 1994. teaching and family influence on student attitudes toward science: Based on TIMSS data for Cyprus. USA Koentjoroningrat. Pendidikan Berbasis Mutu. Measuring school climate: Let me count the ways. Kebudayaan Mentaliter dan Pemberdayaan. . Karisma Publishing Group. Alih Bahasa Agus Darma. Teachers' professional development.

Witte. London and New York. J. 1994. PIKIR. A systematic test of the effective school model. Educational Evaluation and Policy Analysis. F. T. Effecting Schooling For the CommUllity. dan Walsh. 1990. DZIKIR. Routledge. IKHTIAR 59 . 12(2):188-212. J.Townsend. D.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->