PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

I.

KONSEP BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. Pengertian Budaya dan Iklim Sekolah 1. Budaya Sekolah Secara etimologis pengertian budaya (culture) berasal dari kata latin colere, yang berarti membajak tanah, mengolah, memelihara ladang (Poespowardojo, 1993). Namun pengertian yang semula agraris lebih lanjut diterapkan pada hal-hal yang lebih rohani (Langeveld, 1993). Selanjutnya secara terminologis pengertian budaya menurut Montago dan Dawson (1993) merupakan way of life, yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu pula dari suatu bangsa. Kemudian Kotter dan Heskett (1992) yang dikutip dalam The American Herritage Dictionary mendefinisikan kebudayaan secara formal, “sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan dan segala hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia”. Selanjutnya Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”. Lebih lanjut Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tiga wujud yaitu: a. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, nilainilai, norma-norma, peraturan dan lain-lain; b. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat dan; c. wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa budaya adalah sesuatu yang abstrak tetapi tetap memiliki dimensi yang mencolok, dapat didefinisikan dan dapat diukur berdasarkan karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Robbins (1994) sebagai berikut: (1) inisiatif individual, (2) toleransi terhadap tindakan beresiko, (3) arah, (4) integrasi, (5) dukungan dari manajemen, (6) kontrol, (7) identitas, (8) sistem imbalan, (9) toleransi terhadap konflik dan (10) polapola komunikasi. Dalam lingkup tatanan dan pola yang menjadi karakteristik sebuah sekolah, kebudayaan memiliki dimensi yang dapat di ukur yang menjadi ciri budaya sekolah seperti: a. Tingkat tanggung jawab, kebebasan dan independensi warga atau personil sekolah, komite sekolah dan lainnya dalam berinisiatif. b. Sejauh mana para personil sekolah dianjurkan dalam bertindak progresif, inovatif dan berani mengambil resiko. c. Sejauh mana sekolah menciptakan dengan jelas visi, misi, tujuan, sasaran sekolah, dan upaya mewujudkannya. d. Sejauh mana unit-unit dalam sekolah didorong untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

1

Tingkat sejauh mana kepala sekolah memberi informasi yang jelas, bantuan serta dukungan terhadap personil sekolah. f. Jumlah pengaturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku personil sekolah. g. Sejauh mana para personil sekolah mengidentifkasi dirinya secara keseluruhan dengan sekolah ketimbang dengan kelompok kerja tertentu atau bidang keahlian profesional. h. Sejauh mana alokasi imbalan diberikan didasarkan atas kriteria prestasi. i. Sejauh mana personil sekolah didorong untuk mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka. j. Sejauh mana komunikasi antar personil sekolah dibatasi oleh hierarki yang formal (diadopsi dari karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Stephen P. Robbins). Dari sekian karakteristik yang ada, dapat dikatakan bahwa budaya sekolah bukan hanya refleksi dari sikap para personil sekolah, namun juga merupakan cerminan kepribadian sekolah yang ditunjukan oleh perilaku individu dan kelompok dalam sebuah komunitas sekolah. Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Setiap sekolah memiliki kepribadian atau karakteristik tersendiri yang diciptakan dan dipertahankan serta mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan terhadap unsur dan komponen sekolah yang merupakan budaya dan iklim suatu sekolah. Jadi peran kepala sekolah pada dasarnya harus dapat menciptakan budaya bagaimana orang belajar dan bagaimana kita bisa membantu mereka belajar. Budaya dan iklim sekolah bukanlah suatu sistem yang lahir sebagai aturan yang logis atau tidak logis, pantas atau tidak pantas yang harus dan patut ditaati dalam lingkungan sekolah, tetapi budaya dan iklim sekolah harus lahir dari lingkungan suasana budaya yang mendukung seseorang melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, rela, alami dan sadar bahwa apa yang dilakukan (ketaatan itu muncul dengan sendirinya tanpa harus menunggu perintah atau dibawah tekanan) merupakan spontanitas berdasarkan kata hati karena didukung oleh iklim lingkungan yang menciptakan kesadaran kita dalam lingkungan sekolah. Misalnya budaya disiplin, budaya berprestasi dan budaya bersih 2. Iklim Sekolah Secara konseptual, iklim lingkungan atau suasana di sekolah didefinisikan sebagai seperangkat atribut yang memberi warna atau karakter, spirit, etos, suasana batin, setiap sekolah (Fisher & Fraser, 1990; Tye, 1974). Secara operasional, sebagaimana halnya pengertian iklim pada cuaca, iklim lingkungan di sekolah dapat dilihat dari faktor seperti kurikulum, sarana, dan kepemimpinan kepala sekolah, dan lingkungan pembelajaran di kelas. Beberapa pengertian lain mengenai iklim sekolah yang hampir memiliki makna serupa dikemukakan berikut ini. Hoy dan Miskel (1987) merumuskan pengertian iklim
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

e.

2

sekolah sebagai persepsi guru terhadap lingkungan kerja umum sekolah. De Roche (1985) mengemukakan iklim sebagai hubungan antar-personil, sosial dan faktor-faktor kultural yang mempengaruhi perilaku individu dan kelompok dalam lingkungan sekolah. Selama dua dasawarsa lingkungan pembelajaran di sekolah dipandang sebagai salah satu faktor penentu keefektifan suatu sekolah (Creemer et al., 1989). Fisher dan Fraser (1990) juga menyatakan bahwa peningkatan mutu lingkungan kerja di sekolah dapat menjadikan sekolah lebih efektif dalam memberikan proses pembelajaran yang lebih baik. Freiberg (1998) menegaskan bahwa lingkungan yang sehat di suatu sekolah memberikan kontribusi yang signifikan terhadapan proses kegiatan belajar mengajar yang efektif. Ia memberikan argumen bahwa pembentukan lingkungan kerja sekolah yang kondusif menjadikan seluruh anggota sekolah melakukan tugas dan peran mereka secara optimal. Hasil-hasil penelitian selaras dan mendukung penegasan tersebut. Misalnya, penelitian oleh Van de Grift dan kawan-kawan (1997) di 121 sekolah menengah di Belanda menunjukkan bahwa prestasi akademik siswa untuk bidang matematika dipengaruhi oleh sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika, apresiasi terhadap usaha guru, serta lingkungan pembelajaran yang terstruktur. Atwool (1999) menyatakan bahwa lingkungan pembelajaran sekolah, dimana siswa mempunyai kesempatan untuk melakukan hubungan yang bermakna di dalam lingkungan sekolahnya, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa, memfasilitasi siswa untuk bertingkah laku yang sopan, serta berpotensi untuk membantu siswa dalam menghadapi masalah yang dibawa dari rumah. Selanjutnya Samdal dan kawan-kawan (1999) juga telah mengidentifikasi tiga aspek lingkungan psikososial sekolah yang menentukan prestasi akademik siswa. Ketiga aspek tersebut adalah tingkat kepuasan siswa terhadap sekolah, terhadap keinginan guru, serta hubungan yang baik dengan sesama siswa. Mereka juga menyarankan bahwa intervensi sekolah yang meningkatkan rasa kepuasan sekolah akan dapat meningkatkan prestasi akademik siswa. Hoy dan Hannum (1997) menemukan bahwa lingkungan sekolah dimana rasa kebersamaan sesama guru tinggi, dukungan sarana memadai, target akademik tinggi, dan kemantapan integritas sekolah sebagai suatu institusi mendukung pencapaian prestasi akademik siswa yang lebih baik. Selain dari itu, Sweetland dan Hoy (2000) menyatakan bahwa iklim lingkungan sekolah dimana pemberdayaan guru menjadi prioritas adalah sangat esensial bagi keefektifan sekolah yang pada muaranya mempengaruhi prestasi siswa secara keseluruhan. Hasil-hasil penelitian juga menunjukkan hubungan antara iklim lingkungan sekolah dengan sikap siswa terhadap mata pelajaran. Papanastaiou (2002) menyatakan bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung, iklim lingkungan sekolah memberi efek terhadap sikap siswa terhadap mata pelajaran IPA di sekolah menengah. B. Tujuan Dan Manfaat Pengembangan Budaya Sekolah Hasil pengembangan budaya sekolah adalah meningkatkan perilaku yang konsisten dan untuk menyampaikan kepada personil sekolah tentang bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan untuk membangun kepribadian mereka dalam lingkungan sekolah yang sesuai dengan iklim lingkungan yang tercipta di sekolah baik itu lingkungan fisik maupun iklim kultur yang ada. Pemahaman bahwa budaya dan iklim sekolah mempunyai sifat yang sama, tidak berarti bahwa tidak akan terdapat sub-budaya di dalam budaya sekolah. Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam lingkungan sekolah yang merupakan karakteristik sekolah adalah budaya
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

3

dominan atau budaya yang kuat, dianut, diatur dengan baik dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak personil sekolah yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui gagasan berdasarkan kepentingannya, dan merasa sangat terikat pada nilai yang ada maka makin kuat budaya tersebut. Karena para personil sekolah memiliki pengalaman yang diterima bersama, sehingga dapat menciptakan pengertian yang sama. Hal ini bukan berarti bahwa anggota yang stabil memiliki budaya yang kuat, karena nilai inti dari budaya sekolah harus dipertahankan dan dijunjung tinggi, namun juga harus dinamis. Untuk menciptakan budaya sekolah yang kuat dan positif perlu dibarengi dengan rasa saling percaya dan saling memiliki yang tinggi terhadap sekolah, memerlukan perasaan bersama dan intensitas nilai yang memungkinkan adanya kontrol perilaku individu dan kelompok serta memiliki satu tujuan dalam menciptakan perasaan sebagai satu keluarga. Dengan kondisi seperti ini dan dibarengi dengan kontribusi yang besar terhadap harapan dan cita-cita individu dan kelompok sebagai wujud dan harapan sekolah yang tertuang dalam visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah ditunjang oleh iklim sekolah yang mendukung kontribusi tersebut. Manfaat yang diperoleh dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kuat, intim, kondusif dan bertanggung jawab adalah: 1. Menjamin kualitas kerja yang lebih baik. 2. Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. 3. Lebih terbuka dan transparan 4. Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi 5. Meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan 6. Jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki 7. Dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK Manfaat ini bukan hanya dirasakan dalam lingkungan sekolah tetapi dimana saja karena dibentuk oleh norma pribadi dan bukan oleh aturan yang kaku dengan berbagai hukuman jika terjadi pelanggaran yang dilakukan. Selain beberapa manfaat diatas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : 1. Meningkatkan kepuasan kerja 2. Pergaulan lebih akrab 3. Disiplin meningkat 4. Pengawasan fungsional bisa lebih ringan 5. Muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif 6. Belajar dan berprestasi terus serta 7. Selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri. C. Model Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Model pengembangan budaya dan iklim sekolah yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik itu kepala sekolah, guru dan staf sekolah dan utamanya siswa itu sendiri dapat dijadikan dasar dalam upaya memperbaiki iklim sekolah. Model tersebut merupakan integrasi komponen-komponen seperti budaya sekolah, iklim organisasi, dan pranata sistem sekolah. Komponen pengembangan budaya dan iklim sekolah secara umum dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori dengan beberapa aspek sebagai berikut: 1) Budaya sekolah meliputi aspek-aspek: a. Nilai b. Norma c. Perilaku
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

4

Lingkungan fisik sekolah meliputi: a. Keindahan b. Keamanan c. Kenyamanan d. Ketentraman e. Kebersihan 3) Lingkungan sistem sekolah meliputi: a. Berbasis mutu b. Kepemimpinan kepala sekolah c. Disiplin dan tata tertib d. Penghargaan dan insentif e. Harapan untuk berprestasi f. Akses informasi g. Evaluasi h. Komunikasi yang intensif dan terbuka Model berikut ini menjelaskan tentang bagaimana membangun sebuah budaya dan iklim sekolah berdasarkan unsur-unsur di atas. Model tersebut menggambarkan bahwa budaya dan iklim organisasi merupakan kumpulan nilai-nilai, norma dan perilaku yang mengontrol interaksi-personil sekolah dengan orang diluar sekolah. Budaya organisasi sekolah tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh individu-induidu yang memiliki kepentingan dengan sekolah, atau dengan kata lain budaya dan iklim sekolah merupakan hasil interaksi nilai-nilai yang dianut individu didalam dan diluar sekolah. Sekolah merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif terus-menerus untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah.
2)

PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

5

Harapan berprestasi f. misi. IKHTIAR 6 . Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko PIKIR. c. Berbasis mutu Kepemimpinan Disiplin dan tata tertib Penghargaan dan insentif e. Komunikasi formal dan informal a. misi dan tujuan sekolah. b.1 Model dalam Membangun Budaya dan iklim Sekolah D. termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya budaya dan iklim sekolah. e. siswa dan masyarakat.PEMBERDAYAAN SEKOLAH BUDAYA PEMBERDAYAAN SEKOLAH LINGKUNGAN FISIK SEKOLAH a. staf.1990). Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. Misi dan Tujuan Sekolah Pengembangan budaya dan iklim sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi. Akses informasi g. guru. harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya dan iklim sekolah. 3. d. 1. Indah Aman Nyaman Tentram Bersih BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Gambar 19. Lebih jauh dijelaskan pengertian prinsip yakni pedoman-pedoman yang dapat membantu dalam penerapan manajemen yang harus dipergunakan secara cermat dan bijaksana. Budaya dan iklim sekolah yang efektif akan memberikan efek positif bagi semua unsur dan personil sekolah seperti kepala sekolah. DZIKIR. Nilai b. dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya dan iklim sekolah. 2. d. Prinsip-prinsip yang menjadi acuan dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah sebagai berikut. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien. Evaluasi h. Prinsip-Prinsip Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Prinsip adalah ”suatu pernyataan atau suatu kebenaran yang pokok. Norma c. b. yang memberikan suatu petunjuk kepada pemikiran atau tindakan” (Moekijat . c. Visi tentang keunggulan mutu misalnya. Perilaku a. Fungsi visi. Berfokus Pada Visi.

Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. Berorientasi Kinerja Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. 9. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah. Keputusan Berdasarkan Konsensus Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. 5. DZIKIR. PIKIR. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. E. 8. Oleh karena itu peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah harus senantiasa dibarengi dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dengan menerapkan nilai-nilai dasar sebagai asas kehidupan sekolah. Evaluasi Diri Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi di sekolah. Sistem Imbalan yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang.Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. dan jangka panjang. Memiliki Komitmen yang Kuat Komitemen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya dan iklim sekolah. sedang. IKHTIAR 7 . 10. Memiliki Strategi yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. Asas-Asas Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Definisi budaya dan iklim sekolah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan sebuah pola asumsi dasar dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah efektif. 4. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya dan iklim sekolah. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. 7. sehingga unsur dan prinsip-prinsipnya dianggap valid untuk dilaksanakan secara terus menerus serta diterapkan bukan hanya dianggap sebagai strategi tetapi lebih condong dipandang sebagai budaya. 6. Sistem Evaluasi yang Jelas Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya dan iklim sekolah. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan.

nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Kegembiraan (happiness) Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. asri dan menyenangkan.Secara umum asas-asas pengembangan budaya dan iklim sekolah dapat diuraikan sebagai berikut: 1. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. 2. kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. 5. jujur dalam mengelola keuangan. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. Tanpa kejujuran. nyaman. Hormat (respect) Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. Keinginan Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. Jujur dalam memberikan penilaian. Disiplin (discipline) PIKIR. nyaman. baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang baik. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. Kemampuan Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. kepercayaan tidak akan diperoleh. Kerjasama tim (team work) Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. 4. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. DZIKIR. guru. Dalam lingkungan pembelajaran. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. IKHTIAR 8 . seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. 3. 6. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Untuk itu. Jujur (honesty) Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. 7.

INDIKATOR-INDIKATOR DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Budaya dan iklim organisasi sekolah secara konsisten ditemukan berkorelasi positif dengan prestasi belajar. yang akan mempengaruhi keberhasilan proses kegiatan pembelajaran di kelas. Dapat diartikan disini bahwa lingkungan sosial pembelajaran di kelas maupun di sekolah PIKIR. keyakinan. Pengetahuan dan Kesopanan Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. metode pembelajaran yang dipakai. orang tua dan masyarakat. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya dan iklim sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. 9. Purkey dan Smith (1985) menyatakan bahwa prestasi akademik siswa dipengaruhi sangat kuat oleh suasana kejiwaan atau iklim kerja sekolah. Empati (empathy) Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. IKHTIAR 9 . Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. kinerja sekolah ditentukan oleh suasana atau iklim lingkungan kerja pada sekolah tersebut. DZIKIR. Penelitian Cheng (1993) menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya organisasi (cita-cita. serta lingkungan pembelajaran baik lingkungan alam. Dimensi ini menuntut para guru. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. II. Ditegaskan bahwa jika guru merasakan suasana kerja yang kondusif di sekolahnya. psikososial dan budaya (Depdikbud. kurikulum. kemampuan adaptasi dan keluwesan. 1994). Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. guru dan staf. 8. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. Pembentukan suasana pembelajaran yang kondusif perlu diciptakan dalam seluruh lingkungan sekolah termasuk didalamnya lingkungan kelas. staf dan kepala sekolah tarmpil. Di negara-negara maju. dan misi) yang kokoh cenderung dipandang lebih efektif dalam hal produktivitas. khususnya pada pencapaian prestasi akademik siswa. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah.Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. Kekondusifan iklim kerja suatu sekolah mempengaruhi sikap dan tindakan seluruh komunitas sekolah tersebut. Lebih lanjut Hughes (1991) menegaskan bahwa setiap sekolah mempunyai karakter suasana kerja. Demikian juga halnya. riset tentang iklim kerja di sekolah telah berkembang dengan mapan dan memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi pembentukan sekolah-sekolah yang berhasil. Secara eksplisit faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah kompetensi guru. maka dapat diharapkan siswanya akan mencapai prestasi akademik yang memuaskan. sarana dan prasarana.

Selain itu. guru dengan guru. 1994). perhatian khusus diberikan kepada penciptaan dan pemeliharaan iklim yang kondusif untuk belajar (Reynolds. Hal ini dapat terjadi melalui penciptaan norma dan kebiasaan yang positif. Iklim tidak dapat dilihat dan disentuh. DZIKIR. Pandangan ini mengindikasikan kualitas iklim yang memungkinkan meningkatnya prestasi kerja. aman dan bersikap positif terhadap sekolahnya. prestasi. nyaman. dan (e) terdapat juga sekolah yang mengadakan “kultum” setiap hari dan menugaskan siswa berceramah sekali seminggu. (3) iklim terkontrol (4) iklim familier (kekeluargaan). hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghargai satu sama lain. Apabila gaya hidup itu dapat ditingkatkan. Ia mengitari dan mempengaruhi segala hal yang terjadi dalam suatu organisasi. Hal ini dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut: a Pekarangan dan lingkungan sekolah yang tertata sedemikian rupa sehingga memberi kesan asri. IKHTIAR 10 . Penataan Lingkungan Fisik Sekolah 1. siswa dengan guru. dan dengan pihak lainnya. Hal ini ditandai dengan fasilitas-fasilitas fisik sekolah terawat dengan baik. dan nyaman. Iklim yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman. yaitu budaya sekolah yang perlu ditumbuhkan berupa suasana saling hormat antara siswa dengan siswa. 1985). iklim sekolah yang kondusif mendorong setiap personil yang terlibat dalam organisasi sekolah untuk bertindak dan melakukan yang terbaik yang mengarah pada prestasi siswa yang tinggi. dan agar orangtua dan masyarakat merasa dirinya diterima dan dilibatkan (Townsend. Iklim adalah konsep sistem yang mencerminkan keseluruhan gaya hidup suatu organisasi. c Dalam lingkungan sekolah terdapat beberapa kawasan khusus seperti: kawasan wajib senyum. serta dimanfaatkan untuk menanam sayuran dan apotik hidup. teduh. Penampilan fisik sekolah selalu bersih. (5) iklim parternal. indah dan nyaman. Budaya dan iklim sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa tenang. Hal yang sama dikemukakan oleh Wijaya (2005). tetapi ia ada seperti udara dalam ruangan. A. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dikemukakan berikut ini. kawasan bebas narkoba dan rokok. Iklim dapat mepengaruhi motivasi.(kantor guru dan staf tata usaha) mempunyai pengaruh baik langsung maupun tak langsung terhadap proses kegiatan pembelajaran. rapi. Perawatan Fasilitas Fisik Sekolah Salah satu ciri sekolah efektif adalah terciptanya budaya dan iklim sekolah yang menyenangkan sehingga siswa merasa aman. (b) menumbuhkan budaya relegius dengan membiasakan murid mengucapkan dan membalas salam setiap bertemu. Sehubungan dengan itu maka budaya dan iklim sekolah dapat digolongkan menjadi enam kondisi yaitu: (1) iklim terbuka. 1985). (c) mengadakan pengajian secara rutin. d Adanya pembiasaan-pembiasaan yang bernuansa moral dan akhlak yang mendorong meningkatnya kecerdasan spritual peserta didik. b Budaya bersih juga senantiasa ditumbuhkan di kalangan warga sekolah dengan membiasakan perilaku membuang sampah pada tempatnya. dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. 1994). 1990). dan (6) iklim tertutup (Halpin & B Croft dalam Burhanunudin. Dalam sekolah efektif. PIKIR. dan kepuasan kerja (Davis dan Newstrom. seperti: (a) berdoa sebelum pelajaran dimulai. tertib. dan kawasan wajib bahasa Inggris (English area). kemungkinan besar tercapai peningkatan prestasi kerja (Davis dan Newstrom. dan tertib di dalam belajarnya. (2) iklim bebas. (d) shalat berjamaah pada waktu shalat duhur. agar guru merasakan diri dihargai.

Penggunaan sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. dan memiliki kebutuhan dan kewenangan sendiri untuk menentukan keputusan dan pilihannya sendiri. adalah pengadaan dan penempatan poster afirmasi ini jangan sampai terkesan berlebihan atau menjadi pesan sloganis belaka. kelas bahasa. Yang perlu diperhatikan. pribadi yang patut dihargai. Untuk menjamin keamanan sekolah maka harus didukung adanya tata tertib sekolah yang menjadi acuan dari semua warga sekolah. dan staf harus menjadi model dan teladan untuk penegakan tata tertib dan disiplin. Karena itu kepala sekolah. Iklim interaksi antar warga sekolah dibangun atas dasar prinsip ”I Thou Relationship” bukan hubungan yang bersifat ”I-it Relationship”. Sekolah membangun budaya setara di kalangan warga sekolah. Hubungan kekeluargaan ini dapat digambarkan sebagai berikut: PIKIR. hadist. Meja. kelas matematika. 2. Penataan Ruang Kelas Penataan ruang kelas ditujukan untuk memperoleh kondisi kelas yang menyenangkan sehingga tercipta suasana yang mendorong siswa lebih tenang belajar. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. guru. Poster afirmasi ini dapat digunakan untuk mensosialisasikan dan menanamkan pesanpesan spiritual kepada siswa dan warga sekolah. karyawan. Ada kelas sains. termasuk semua siswa. setiap individu memandang dan memperlakukan individu lainnya sebagai subjek. pajangan. dan orangtua. Penggunaan Sistem Kelas Berpindah (Moving-Class) Moving-class adalah sistem pengelolaan aktivitas pembelajaran di mana kelaskelas tertentu ditata khusus menjadi sentra pembelajaran bidang studi/mata pelajaran tertentu. DZIKIR. pesan pujangga. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. apabila didukung oleh seluruh penyelenggara sekolah. guru. Penggunaan Poster Afirmasi Poster-poster afirmasi. yaitu poster yang berisi pesan-pesan positif digunakan dan dipajang di berbagai tempat strategis yang mudah dan dapat selalu dilihat oleh siswa. Penciptaan Relasi Kekeluargaan dan Kebersamaan Sekolah menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan antara kepala sekolah. atau puisi-puisi spiritual. Tata tertib sekolah dapat terlaksana dengan baik. siswa. sehingga satu sama lain saling berbagi dan memberi bantuan. 3. kursi. media. Dalam hubungan dengan ciri ”I Thou Relationship”. IKHTIAR 11 . ruang-ruang kelas tertentu dapat ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. Sekolah terbebas dari gangguan keamanan baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Dalam sistem moving-class ini. 4. kelas kesenian.2. Budaya dan iklim sekolah yang bercirikan model hubungan seperti ini akan dapat membangun rasa kebersamaan dan dapat memicu berkembangnya rasa percaya diri dan kreativitas semua warga sekolah. dan sebagainya. baik pada saat siswa belajar di kelas maupun pada saat mereka melakukan berbagai aktivitas lainnya di luar kelas. Pesan-pesan spiritual untuk poster afirmasi dapat berupa petikan ayat Al-Quran. peralatan. dihormati. Penciptaan Keamanan di Lingkungan Sekolah Sekolah yang efektif perlu memperhatikan keamanan sekitar. Penggunaan musik instrumentalia yang lembut dapat lebih menciptakan suasana menyenangkan dan memberi efek penenteraman emosi. B. Penataan Lingkungan Sosial Sekolah 1.

3. dan memberdayakan orang tua siswa yang memiliki kemampuan finansil atau peran penting di lembaga pemerintah dan swasta dalam berbagai kegiatan sekolah. d. Pengembangan Rasa Memiliki Terhadap Sekolah Sekolah menciptakan rasa memiliki sehingga guru. Prosedur untuk melibatkan orang tua disampaikan secara jelas. seperti pembuatan tata tertib. 2. Sekolah senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan orangtua dan masyarakat melalui wadah Komite Sekolah. Penataan Personil Sekolah 1.a. Memaksimalkan buku penghubung sebagai alat pengontrol kemajuan siswa sekaligus wadah menjalin komunikasi dengan orang tua. penegakan kedisiplinan di sekolah. ikut serta memutuskan sanksi terhadap pelanggaran di sekolah. Pemberian Jaminan Atas Kemaslahatan Siswa Kemaslahatan siswa merupakan kriteria penting yang digunakan dalam pembuatan keputusan tentang mereka. staf administrasi dan siswa menunjukkan rasa bangga terhadap sekolahnya. Keterlibatan komite sekolah secara nyata ditemukan pada semua sekolah dalam berbagai aspek dan kegiatan. Orang tua siswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan. mendorong dunia usaha dan industri untuk berpartisipasi dalam pengembangan sekolah. c. Ini bisa dicapai. Ganjaran hendaknya diberikan sesegara mungkin dan diarahkan untuk memberi rasa kebanggaaan dan untuk mempertahankan motivasi siswa yang diberi ganjaran serta menstimulasi siswa lainnya untuk menghasilkan prestasi yang sama. mengontrol perkembangan belajar anaknya. pengadaan sarana sekolah. dan cenderung mengembangkan sikap asosial. Setiap warga sekolah merasa bertanggung jawab untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekolah. memandang individu lain (katakanlah siswa) sebagai objek. Ganjaran juga dibutuhkan untuk mempertahankan motivasi dan gairah berprestasi di kalangan siswa. dan dapat diperlakukan sesuai kemauan dan determinasi sang guru. antara lain dengan memberi tanggung jawab pengelolaan dan perawatan wilayah tertentu kepada kelompok kelas atau ruang tertentu. Pelibatan tokoh masyarakat. e. Ciri hubungan seperti ini akan mematikan kretivitas dan rasa percaya diri sisiwa. IKHTIAR 12 . Keputusan yang dibuat hendaknya juga dapat memenuhi prinsip keadilan dan PIKIR. perlu dituntun. DZIKIR. C. katakanlah guru tertentu. kepentingan. pada diri siswa. b. dan kondisi khusus siswa. Setiap keputusan yang dibuat di sekolah hendaknya memperhatikan kebutuhan. memberikan sumbangan dalam bentuk materi. Pemberian Ganjaran Positif bagi Karya Terbaik Siswa Karya-karya cemerlang siswa dipajang di kelas atau ruang kepala sekolah dan diberi ganjaran positif. individu tertentu. tidak berhak untuk menyatakan kebutuhan dan kepentingannya. Orangtua siswa diberi kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan. bahkan anti sosial. Orangtua dan masayarakat dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan strategis di sekolah. Sebaliknya dalam hubungan yang dicirikan dengan ”I-it Relationship”. pertemuan berkala antara orangtua dan pihak sekolah. Ganjaran akan efektif jika diberikan sesegara mungkin dan dilakukan secara konsisten pada setiap siswa yang menunjukkan prestasi. seperti menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan sekolah.

karya tulis remaja. (2) tanggung jawab bagi pembelajaran siswa. terdiri dari: (a) kebijaksanaan dan administrasi. yang meliputi: (a) prestasi. Karakteristik ini berkenaan dengan penciptaan etos positif yang dapat mendorong siswa berprestasi. (3) harapan yang tinggi akan pekerjaan yang berkualitas tinggi. Murphy (1985) seperti dikutip oleh Wayson. etnis. Berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif telah ditawarkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. 4. internet. dan keamanan. 5. (c) kondiisi kerja. PMR. agar kegiatan proses belajar-mengajar tidak terganggu. porseni. Atau dengan kata lain semua kegiatan baik kegiatan kurikuler. Menurut Mortimore (1993). Harapan yang Tinggi Untuk Berprestasi Karakteristik ini pada umumnya ditemukan dalam sekolah efektif. Pengaturan Jadwal Acara dan Aktivitas Sekolah Semua aktivitas di sekolah harus dijadwalkan secara baik. (b) pengakuan akan keberhasilan. (e) pertumbuhan dan perkembangan. D. guru perlu mengadopsi dan mencoba menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran tersebut untuk lebih mengefektifkan proses pembelajarannya. dkk. Penataan Lingkungan Kerja Sekolah 1.Lingkungan. Sehubungan dengan itu. 1992). dan lain-lain sedapat mungkin dilaksanakan pada waktu-waktu yang tidak mengganggu aktivitas proses belajarmengajar. ataupun varian-varian latar siswa lainnya. termasuk keadilan dan kesetaraan gender. agama. Penelitian Moedjiarto (1990) dan Witte dan Walsh (1990) mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara harapan yang tinggi untuk berprestasi dan prestasi akademik siswa. (d) hubungan antar pribadi.kesetaraan di kalangan siswa. Aktivitas bersifat regular dan dilakukan setiap semester/tahun di sekolah. (1988) mengungkapkan bahwa harapan dan standar untuk berprestasi yang tinggi juga perlu bagi para staf sekolah yang ditandai dengan adanya: (1) keyakinan bahwa semua siswa dapat belajar. peringatan hari-hari besar. PIKIR. Dengan demikian. ras. sebaiknya dijadwal dan disesuaikan dengan kalender pembelajaran agar jadwal proses belajar-mengajar dan implemantasi kurikulum tidak terganggu. Hal ini sejalan dengan teori motivasi-iklim baik dari Herzberg (Hersey dan Blanchard. seperti buku. misalnya: acara perpisahan sekolah. dan pelatihan. maka seluruh kegiatan nonteaching yang bersifat regular dan yang bersifat insidental perlu diidentifikasi. Penerapan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif dan telah teruji perlu menjadi bagian yang mencoraki iklim pembelajaran di sekolah. kegiatan OSIS. Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa semua aktivitas sekolah harus dijadwalkan sehingga kegiatan yang dilaksanakan di sekolah maupun di dalam kelas dapat berjalan lancar. harapan yang tinggi yang ditransmisikan ke dalam kelas berperan dalam meningkatkan ekspektasi diri siswa terutama berkenan dengan peningkatan prestasi akademik mereka. (d) meningkatnya tanggung jawab. IKHTIAR 13 . dan (5) pemberian perhatian pribadi kepada siswa perorangan. kelas sosial. (4) persyaratan promosi dan penjenjang-an. Akseptabilitas Guru Terhadap Metode Pembelajaran Terbaru Guru bersedia mengubah metode-metode mengajar. (c) pekerjaan yang menantang. DZIKIR. kondisi fisik. mading. bila metode yang lebih baik diperkenalkan kepadanya. yaitu: (1) pekerjaan itu sendiri. status. (e) penghargaan. Dijelaskan bahwa faktor-faktor motivasi-iklim baik. misalnya: penyuluhan tentang anti narkoba. (b) supervisi. Aktivitas yang bersifat insidental dan tidak terjadwal dalam program semester/tahunan.

Salah satu bentuk pengembangan budaya kerja yang positif adalah budaya mutu. e. bukan hasil dari suatu pemeriksaan atau inspeksi. Pertemuan antara kepala sekolah dengan berbagai pihak. guru dan wali kelas wajib menciptakan iklim kerja dan iklim belajar yang kondusif dalam rangka untuk meningkatkan kinerja guru dan prestasi belajar siswa. (2) kualitas muncul dari pencegahan. menurut Brough (1992) perlu memperhatikan hal berikut. guru. hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tumpang tindih. (4) kualitas PIKIR. 2. siswa. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kepada siswa dan masyarakat. f. b. d. Pryke. maupun ekstrakurikuler. Senantiasa melakukan pembinaan dan motivasi kepada guru. sebagai wahana saling mengkomunikasikan ide. yang dalam konteks pembelajaran berarti perbaikan secara berkelanjutan “proses pembelajaran. guru dan staf menyusun mekanisme proses pelayanan yang direncanakan maupun mekanisme pelayanan langsung/spontan berhubungan proses belajar mengajar dan kegiatan yang dapat menunjang kelancaran proses belajar mengajar. Turner. dan kegiatan sebaiknya ditata secara baik sehingga tidak saling mengganggu. yang diartikan sebagai proses manajemen dalam konteks ini adalah manajemen mutu. baik yang bersifat formal maupun informal. Memberikan kesempatan kepada para guru. dan selera konsumen. Filosofi utama budaya mutu adalah “perbaiki prosesnya sebelum hasilnya jelek” (Paine.kokurikuler. program. Di kalangan bisnis. staf dan siswa untuk meningkatkan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas melalui pendidikan dan pelatihan. Penciptaan Budaya Kerja Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian dalam upaya penciptaan budaya kerja yang positif seperti: a. Setiap guru bidang studi dan wali kelas senantiasa melakukan pemantauan dan evaluasi secara periodik terhadap peningkatan disiplin dan prestasi belajar siswa c. IKHTIAR 14 . Penerapan manajemen mutu dalam organisasi nonprofit termasuk sekolah.” Sehubungan dengan itu maka. 1990). Menyiapkan buku bacaan sekolah di setiap sudut atau ruang sekolah dalam bentuk taman bacaan atau ruang tunggu yang bisa digunakan oleh siapa saja tanpa harus dijaga karena didasari oleh kebutuhan dan kejujuran. Penerapan disiplin dan tata tertib sesuai dengan mentaati jam kerja yang berlaku di lingkungan sekolah. kebutuhan. Kepala sekolah. yaitu: (1) kualitas adalah pekerjaan setiap orang. DZIKIR. Hal ini membawa implikasi bahwa sekolah perlu didorong untuk tidak hanya melihat aspek input manajemen tetapi jauh lebih penting adalah proses manajemennya. h. (3) kualitas berarti memenuhi keinginan. kepala sekolah. 1992). seperti komite sekolah. Dalam rangka menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif. ternyata 35 persen dari biaya operasionalnya dipakai untuk memperbaiki dan menyelesaikan pekerjaan yang ternyata salah atau keliru dilakukan (Crosby. staf dan siswa dengan menggunakan prinsip pemberian penghargaan mereka yang berprestasi dan penerapan sanksi disiplin untuk mereka yang melakukan pelanggaran disiplin sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku di sekolah tidak terkecuali kepada siapapun. g. menanamkan budaya pengawasan melekat (WASKAT) terhadap seluruh personil sekolah secara intensif. rencana.

Pilar-pilar ini merupakan model penting bagi setiap prakarsa mutu yang berhasil dan pilar mutu ini bersifat universal. DZIKIR. Sekolah yang menerapkan maanjemen mutu terpadu akan membangun budaya dan iklim sekolah yang memungkinkan setiap orang membawa ukuran perbaikan mutu terhadap proses kerjanya yang dapat dinilai bagaimana kontribusinya dalam mengembangkan kompotensi siswa dari segi intelektual. Pengembangan budaya mutu antara lain dapat dilakukan melalui penciptaan harapan yang tinggi untuk berprestasi di kalangan warga sekolah. PIKIR. Sebuah model sekolah bermutu terpadu yang dikembangkan oleh Jarome S. emosional dan spiritual agar lebih siap dalam menghndapi tantangan akademik dan bisnis dimasa yang akan dating. siswa. menunjang sistem yang diperlukan oleh guru. Transformasi menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan komitmen bersama terhadap mutu oleh komite sekolah. Arcaro (2005) dengan konsep “pilar mutu” menggambarkan kriteria sekolah yang memiliki mutu mulai dari kegiatan di ruang kelas sampai pada perawatan bangunan sekolah sebagaimana digambarkan pada halaman berikut. Karena pendekatan sistem merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam pilar mutu maka dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah yang bermutu maka juga harus berfokus pada semua pilar sekaligus. Yang dimaksud dengan budaya mutu adalah terciptanya kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang positif terutama dalam aspek sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja sekolah yang tinggi. dapat diterapkan di semua sekolah. Prosesenya diawali dengan visi dan misi mutu dalam lingkungan sekolah yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan pemakai. Dengan konsep ini memungkinkan bagi guru dan staf untuk mengukur dan mendokumentasikan nilai tambah parakarsa mutu kepada siswa dan masyarakat. mendorong keterlibatan total warga dalam setiap program. IKHTIAR 15 . Manajemen mutu terpadu merupakan metode yang dapat membantu sekolah untuk membangun aliansi antara pendidikan. serta perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat program pendidikan di sekolah menjadi lebih baik. Beberapa pandangan Juran yang dikutip oleh Jerome S Arcaro (2005) tentang mutu adalah: (1) meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir (2) perbaikan mutu merupakan proses berkelanjutan. kepala sekolah. guru. (6) kualitas harus didasarkan atas perencanaan strategik. bisnis dan pemerintah untuk memastikan apakah para professional sekolah memberikan fokus pada sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan program-program pendidikan di sekolah. staf. mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan di sekolah. orang tua siswa dan masyarakat. Pilar mutu memberikan fokus dan arahan yang diperlukan oleh seluruh personil sekolah untuk setiap prakarsa mutu.menuntut kerja sama yang erat. Fokus dan arahan pada setiap pilar tidak dapat dibatasi oleh satu pilar dalam mengembangkan budaya dan iklim mutu dalam lingkungan sekolah. dan (5) setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. staf dan siswa untuk mengelola perubahan. (5) kualitas menuntut perbaikan yang berkelanjutan. bukan program sekali jalan (3) mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan dan administrator (4) pelatihan merupakan prasyarat mutu.

Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh siswa. IKHTIAR 16 . dan sebagainya. komitmen. komitmen dan kerajinan yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang tidak fair seperti menyontek. dan kinerja yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang menodai komitmen terhadap mutu. PIKIR. Beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah dalam menciptakan budaya mutu di sekolah adalah sebagai berikut. d. guru. staf administrasi.2 Model Sekolah Bermutu Terpadu Sekolah yang memiliki budaya mutu. Sekolah menciptakan suasana yang memberikan harapan dan semangat. DZIKIR. a. menyusun standar kinerja yang tinggi bagi guru. Merumuskan standar sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja tinggi baik bagi kepala sekolah. maupun siswa. di mana para guru percaya bahwa siswa dapat mencapai tingkat prestasi yang tinggi.Gambar 19. Beberapa indikator penciptaan budaya mutu di sekolah adalah. c. Guru yang berorientasi budaya mutu memiliki motivasi kerja. a. staf dan siswa. Sekolah menekankan kepada siswa dan guru bahwa belajar merupakan alasan yang paling penting untuk bersekolah. Siswa yang memiliki budaya mutu memiliki motivasi belajar. Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh orangtua siswa. b.

IKHTIAR b. bangsa dan negara E. c. Kegiatan sekolah dilaksanakan pagi hari dengan 5 hari belajar dalam seminggu. C. Menghasilkan sumber daya manusia yang berguna bagi dirinya. Peningkatan akuntabilitas Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penciptaan budaya akuntabilitas di sekolah sebagai berikut: a.Merumuskan standar pelayanan prima yang dipatuhi semua warga sekolah guna meningkatkan mutu pelayanan kepada pelanggan sekolah. nusa. Menghasilkan lembaga pendidikan yang memiliki predikat sekolah unggul. dan staf dalam berkompetisi. PIKIR. dan pemberian jaminan mutu sekolah. Setiap staf dan guru agar menyusun laporan akuntabilitas secara periodik setiap triwulan b. Menciptakan sistem penghargaan bagi warga sekolah yang berprestasi tinggi dan pembinaan serta hukuman bagi yang berprestasi rendah. d. misi pendidikan serta sifat-sifat umum siswa Bakti Mulya 400. Setiap orang yang melakukan perjalanan dinas baik ke daerah maupun ke luar negeri wajib melaporkan hasil perjalanan Dinasnya kepada bendahara atau kepala sekolah Berikut ini dikemukakan contoh-contoh penerapan indikator budaya dan iklim sekolah pada salah satu sekolah. Contoh Budaya dan iklim Sekolah Bakti Mulya 400 Visi : Menjadi pusat pengembangan pendidikan yang melahirkan kader pemimpin dan intelektual muslim dengan wawasan luas serta tanggap terhadap lingkungan dan mampu bersaing di era globalisasi sehingga mampu memperbaiki kualitas bangsa Indonesia Misi: Dikembangkan dari visi. khususnya siswa dan orangtuanya. kemudian diuraikan dalam beberapa misi sebagai berikut: A. Standar pelayanan prima meliputi elemen berikut: kecepatan. Pembiasaan dan tata prilaku dimaksudkan sebagai Budaya Sekolah Bakti Mulya 400 adalah sebagai berikut: a. 17 . kompeten/mampu dan terampil. Memampukan warga sekolah untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas guna memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna lulusan (masyarakat). keramahan. D. 3. Pemanfaatan sumber dana baik yang bersumber dari APBN maupun APBD ataupun seumber lain dilakukan dengan berlandaskan kepada prinsip efektivitas dan efisiensi. Menyelenggarakan pendidikan umum yang bernafaskan Islam. Melaksanakan berbagai lomba untuk mendorong siswa. ketepatan. ketanggapan. Menghasilkan lulusan yang unggul. B. e. serta berorientasi kepada hasil (output) dan manfaat (outcomes) dari setiap program yang diselenggarakan di sekolah c. DZIKIR. maka pembinaan siswa dilakukan melalui proses pembinaan sikap dan prilaku sehari-hari di sekolah yang diarahkan kepada terwujudnya budaya sekolah Bakti Mulya 400. Budaya Sekolah: Untuk merealisasikan visi. guru. Menyelenggarakan pendidikan yang menumbuhkembangkan potensi siswa untuk menjadi manusia seutuhnya.

dan setelah jam pelajaran terakhir membaca surat “Al Ashr” dipimpin guru yang mengajar pada jam terakhir. bulan dan tahun hijriah di samping tanggal. u. do‟a bercermin. Pada pagi hari membaca “Ikrar” dalam bahasa Arab dan terjemahannya bersama dengan guru. Nasional dan bakti sosial kemasyarakatan (seperti donor darah. masuk dan keluar masjid Melakukan 11 amalan yang tercermin dalam “Birrulwalidain” yakni: i. Membiasakan mengucap kalimat-kalimat thayyibah dan dzikir dalam rangka mendekatkan diri dan mengagungkan Asma Allah SWT. z. Dengan bimbingan guru yang mengajar pada jam pertama. dan juga dilakukan dalam setiap kesempatan suatu acara resmi sekolah. DZIKIR. Nadzafah. santunan anak yatim. Menyelenggarakan peringatan hari-hari besar Islam. mengawali dan mengakhiri pekerjaan. pembagian sembako. Membiasakan menulis tanggal. t. Lemah lembut dalam tutur kata r. y. teguh dalam keyakinan s. Melaksanakan khataman pelajaran Al Quran. Berbakti kepada orang tua j. SLTP. Waspada terhadap naza p. bangun tidur. bagi siswa yang telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang SD. Menyelenggarakan latihan manasik haji. ä. c. diantaranya do‟a keluar rumah. ö. Amanah. g. khitanan masal. siswa melafalkan surat “Al Fatihah” dan “Do’a” sebelum pelajaran dimulai.b. Rajin beramal l. do‟a untuk kedua orang tua. Ulet dalam mencapai cita-cita n. Ramah dalam bergaul m. Membiasakan melaksanakan puasa sunat seperti puasa Senin dan Kamis. dan SMU. Ikhlas beramal k. 18 PIKIR. bersih diri. v. atau yang lainnya. pemberian beasiswa). Melafalkan dan membiasakan mengamalkan 10 do‟a amaliah harian. f. mejelang datangnya Hari Raya Idul Adha. d. e. Setibanya di sekolah saat bertemu dengan guru maupun teman berjabat tangan dan memberi salam “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” Demikian halnya bila menerima salam maka segera menjawab salam “Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh”. w. Memberangkatkan ibadah haji bagi guru/karyawan sesuai dengan kemampuan keuangan Yayasan BKSP Bakti Mulya 400. bulan dan tahun masehi. Istiqomah. x. minta tambah ilmu. Membiasakan menulis dan mengucapkan “Basmallah” setiap memulai pekerjaan dan atau “Hamdallah” setelah selesai melakukan pekerjaan. Setiap pagi siswa dilepas pergi ke sekolah oleh kedua orang tua dengan iringan salam dan do‟a. Mengikuti pemantapan pelajaran Al Quran dengan metode Iqra. sebelum tidur. Logis dalam berpikir o. Membiasakan memakmurkan Mushalla dengan kegiatan keagamaan dan shalat Dzuhur/Jumat. dapat dipercaya q. IKHTIAR . pakaian dan lingkungan. å. Melaksanakan pesantren kilat setiap awal Bulan Ramadhan. h. masuk dan keluar kamar mandi/wc.

6. Berpengetahuan tinggi dan cerdas. dengan senantiasa dijiwai ajaran Agama Islam. dan menstimulasi setiap anak agar terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran. Menjalin kerja sama yang harmonis dengan orangtua/wali siswa. (4) penetapan strategi pembelajaran dan (5) pemanfaatan media dan sumber belajar. 2. STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. serta aktif menjalankan ibadah dan amaliah. Demokratis dan penuh tenggang rasa. Kelas yang kondusif adalah lingkungan belajar yang mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. Berbudi luhur dan berakhlak mulia. 8. Disiplin. Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Cukup tanggap dan peka terhadap masalah yang ada di lingkungannya. dapat dilakukan dengan enam cara sebagai berikut. sebagai berikut : 1. Untuk lebih jelasnya ke enam cara tersebut di atas akan dijelaskan dalam uraian berikut. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran. 7. mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya. PIKIR. cinta kebersihan dan keindahan alam sekitar. 12. DZIKIR. emosional. (1) penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif (2) penataan ruang belajar sebagai sentra belajar (3) penciptaan atmosfir belajar yang kondusif. 3. 5. dan (6) penilaian hasil belajar. akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. aman. Kreatif dan bertanggung jawab. Berjiwa gotong royong. langkah dan tindakan di manapun berada dan dalam suasana yang bagaimanapun semata-mata karena ibadah kepada Allah SWT. 11. dan mental dalam proses belajar. Pengelolaan kelas yang baik. seperti lingkungan fisik dan sistem pembelajaran di kelas. Pembelajaran yang efektif membutuhkan kondisi kelas yang kondusif. Oleh karena itu guru perlu menata dan mengelola lingkungan belajar di kelas sedemikian rupa sehingga menyenangkan. dan karena itu. Berjiwa pejuang. Dengan pelaksanaan budaya tersebut. Mengenakan pakaian seragam. Sehat jasmani dan rohani. 4. diharapkan siswa/siswi Bakti Mulya 400 memiliki sifat-sifat umum. Memiliki pengetahuan dan keterampilan. rendah hati dan berpola hidup sederhana.aa. IKHTIAR 19 . Strategi belajar apapun yang ditempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. mencintai bangsa dan sesamanya. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik. bb. untuk siswa setiap hari sesuai jadwal. 10. III. Setiap gerak. 9. Bertaqwa kepada Allah SWT. ltulah sebabnya.

saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. pajangan hasil karya siswa yang berprestasi. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan. dengan ruang kelas yang tertata dengan baik. dapat melihat guru atau media visual dengan mudah. Di samping itu. Model huruf U Model susunan meja-kursi model U dapat dipilih untuk berbagai tujuan. Selain itu juga posisi tempat duduk siswa sebaiknya tidak tetap pada posisi tertentu. gambargambar afirmasi. Dalam model ini. Beri keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masingmasing. dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa. para siswa memiliki alas untuk menulis dan membaca.A. dan disusun secara fleksibel. Susunan model ini juga memudahkan untuk membagi bahan pelajaran kepada siswa secara cepat. a. kursi. dan memungkinkan mereka bisa saling berhadapan langsung. Pengaturan meja-kursi Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa dapat saling dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. DZIKIR. 1. dimana guru dapat masuk ke dalam huruf U dan berjalan ke berbagai arah. menumbuhkan. para siswa dapat berkomunikasi secara bebas. sediakan ruangan yang cukup antara satu tempat duduk dengan yang Gambar 4. Meja-kursi juga hendaknya dapat digerakkan. IKHTIAR 20 . guru akan leluasa memberikan perhatian yang maksimal terhadap setiap aktivitas siswa. alat-alat peraga. Dengan ruang kelas yang baik. dipindahkan. media pembelajaran dan jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa. Lingkungan Fisik Kelas Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan baik seperti: pengaturan meja. Disain ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan. PIKIR. akan lebih baik jika posisi tempat duduk siswa dirubah setiap saat agar interaksi diantara siswa dalam kelas lebih terasa dan hal ini akan menumbuhkan sosialisasi diantara mereka serta mengatasi kebosanan siswa dengan posisi tempat duduk yang tetap. Berikut dikemukakan beberapa bentuk penataan meja-kursi yang dapat dipilih oleh guru guna meningkatkan keterlibatan dan interaksi antar siswa dalam proses pembelajaran. lemari.1 lainnya sehingga kelompok kecil siswa yang terdiri atas tiga Model Huruf U orang atau lebih dapat keluar-masuk dari tempatnya dengan mudah. Dalam menyusun meja-kursi model U. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi.

tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi berhadaphadapan secara langsung. Gambar 4. namun jika mereka berdiskusi. Model Meja Konferensi Model ini cocok jika meja relatif persegi panjang. Gambar 4. Model lingkaran seperti ini cocok untuk diskusi kelompok penuh. Model Corak Tim Pada model ini. mereka dapat menghadap ke meja masing-masing. Gambar 4. berdebat. DZIKIR. Guru juga dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah.3 Model Meja Konferensi d.4 Model Lingkaran e. Model Fishbowl Susunan ini memungkinkan guru melakukan kegiatan diskusi untuk menyusun permainan peran. atau mengobservasi aktivitas kelompok. dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar. mereka dapat memutar kursi untuk berhadap-hadapan satu sama lain. Sediakan ruangan yang cukup. Model Lingkaran Dalam model ini.2 Model Corak Tim c.5 Model Fishbowl PIKIR. meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran atau oblong di ruang tengah kelas agar memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa) dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna menciptakan suasana yang akrab. sehingga guru dapat menyuruh siswa menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil.b. IKHTIAR 21 . Gambar 4. Susunan ini mengurangi dominasi pengajar dan meningkatkan keterlibatan siswa. Susunan yang paling khusus terdiri atas dua konsentrasi lingkaran kursi. Siswa juga dapat memutar kursi melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru atau papan tulis. Jika mereka ingin menulis.

Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas utama sehingga hubungan di antara mereka dapat tetap terjaga. dan sebagainya.  Pengaturan meja-kursi sebaiknya dapat digerakkan. peta. Susunan seperti ini tepat digunakan bila pokok Gambar 4. dan disusun secara fleksibel. motto. berpasangan. dapat membantu guru dalam proses pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. 2. dsb) sesaat setelah dimenostrasikan. Model Workstation Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium. mesin. karangan.  Susunan meja-kursi yang baik adalah yang memungkinkan siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan berikut ini dalam menerapkan model ini. Gambar 4.6 Model Breakout Groupings g. Meja diatur sedemikian rupa. atau kelompok. Di samping itu itu. hadis. poster. puisi. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan. benda asli. maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. c. karya-karya terpilih siswa yang dipajang dapat PIKIR. dan pesan tokoh tertentu. Model Breakout groupings Jika kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan. IKHTIAR 22 . dan ditata dengan baik. Pemajangan gambar dan warna Pemajangan gambar dan pemilihan warna perlu saran-saran berikut: a. Guna mengoptimalkan penataan ruang. Guna menghindari kejenuhan terhadap gambar dan isi poster afirmasi yang sama. model.7 bahasan melibatkan tugas mandiri (seat work) sekaligus tugas Model Workstation kelompok kecil. diagram.  Memberikan keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih mejakursinya masing-masing. dipindahkan. sehingga siswa dapat bekerja secara berpasangan sebagai partner belajar. guru perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau posterposter tersebut. Siswa perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan dalam kelas. atau petikan ayat. b. misalnya. letakkan meja-meja dan kursi di mana kelompok-kelompok kecil siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang didasarkan pada tugas tim. untuk dipilih dan dipajang dalam kelas. Pajangan dapat berupa gambar. dimana setiap siswa duduk secara berpasangan pada meja tertentu untuk mengerjakan suatu tugas (seperti mengoperasikan komputer. puisi. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. DZIKIR.f. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa. melakukan kerja laboral. Siswa. dapat diminta membuat gambar.

sebagai berikut:  Atmosfir dan tatanan kelas dapat memperlancar aktivitas dan proses pembelajaran. atau bahkan di kolong meja. ruang-ruang kelas tertentu ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. guru dapat mendorong siswa untuk memiliki dan mengemukakan beberapa pilihan dalam menyusun aturan dasar bagi kegiatan berbasissentra mereka. Penataan Ruang Kelas sebagai Sentra Belajar Sentra belajar merupakan area khusus di ruang kelas untuk menata materi. Beberapa praktik yang baik dalam menata sentra-sentra belajar (good practice) dikemukakan berikut ini:  Dalam menata kelas menjadi sentra belajar. di setiap kelas dapat disediakan radio tape untuk memutar dan memperdengarkan musik-musik lembut. jika di kelas telah dipersiapkan dengan sound-system yang baik. Ada kelas sains. 3. kelas matematika. Hanya pada saat jeda atau untuk maksud memberi efek khusus dapat dipilih musik yang berisi lirik lagu. IKHTIAR 23 .  Sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. khususnya saat siswa mengerjakan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi dan daya pikir yang tinggi. pelibatan siswa tersebut juga membantu membangun keterampilan “perawatan rumah” yang dipelukan untuk mempertahankan suasana kelas yang aktif dan berorientasi pada siswa. belajar sambil mendengar musik dapat menciptakan suasana menyenangkan dan rasa betah tinggal di kelas. Dan jika harus menggunakan musik dengan lirik. sejumlah guru bidang studi melibatkan siswa terutama dalam perencanaan dan pengadaan sumber-sumber belajar yang diperlukan.berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. semua pilihan musik untuk menopang aktivitas pembelajaran di kelas adalah jenis musik instrumentalia. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. kursi. rak buku. sentra pembelajaran matematika. Akan lebih baik. PIKIR. pajangan. Dalam sistem moving-class ini. Pelibatan siswa dalam merancang ruang kelas menjadi sentra-sentra belajar dapat membangun rasa kebanggaan dan kebersamaan di kalangan siswa. Disamping itu. keterampilan atau kegiatan tertentu. media. B. Sentra belajar bisa berlokasi di atas meja. Meja. Untuk masud tersebut. Oleh karena itu. sudut ruang. Sentra belajar bisa bersifat permanen atau hanya terkait dengan kegiatan atau bidang pembelajaran tertentu. peralatan. kelas kesenian. Secara umum. Di samping itu. dan sebagainya. pilihlah yang mengandung pesan positif. Sentra belajar juga bisa bersifat fleksibel dan sementara (ditata untuk keperluan tema atau unit tertentu yang dipelajari). Penggunaan sistem moving-class seperti itu memiliki beberapa keuntungan. Pemanfaatan musik Kehadiran suara musik lembut di kelas juga diyakini dapat memperkuat daya tahan dan konsentrasi belajar siswa. dan karya siswa yang terkait dengan pokok bahasan. peralatan. misalnya sentra penerbitan. dsb. DZIKIR. kafe baca. Semua elemen dalam kelas menjadi semacam reinforcer (penguat) dan stimulator untuk membangkitkan gairah dan aktivitas belajar terhadap mata pelajaran tertentu. jika dana memungkinkan. kelas bahasa. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. perlengkapan.

tidak perlu ada di semua kelas. Beberapa pertimbangan perIu diperhitungkan sewaktu melakukan pengelolaan siswa. Mobilitas gerak seperti Ini dapat menghindarkan siswa dari kejenuhan akibat tata ruang kelas yang monoton. tujuan kegiatan. kepedulian. Memungkinkan penggunaan sarana. Hal ini diharapkan mampu memacu motivasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri.3 Faktor Keberagaman Karekteristik Siswa dan Implikasi bagi Pengelolaan Siswa Faktor Keberagaman Isi (by content) Pengelolaan Siswa Memberikan peluang kepada siswa untuk mempelajari materi yang berbeda dalam sasaran kompetensi yang sama ataupun berbeda. dan ketersediaan sarana/prasarana. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran. IKHTIAR Memberikan peluang kepada setiap siswa untuk mencapai kompetensi secara maksimal sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki. siswa dapat menikmati dan mengalami proses belajar pada tempat dan lingkungan belajar yang bervariasi. perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap siswa memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya. keterlibatan siswa. kerjasama. Memberikan peluang kepada siswa untuk berkreasi sesuai dengan minat dan motivasi belajar terlepas dari kompetensi yang sama atau berbeda.  Pergerakan-pergerakan yang dialami siswa saat perpindahan kelas memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih aktif dan hidup di kalangan siswa. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/isi materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan siswa. Media dan peralatan pembelajaran Sains. serta kegiatan yang dilakukan siswa. pengelolaan aktivitas belajar siswa dilakukan dalam beragam bentuk seperti individual. serta berbagai media dan peralatan belajar secara lebih efisien. dan berbagai sikap prososial siswa lainnya. Memberikan peluang kepada siswa untuk belajar (bekerja) sesuai dengan kecepatan belajar yang dimilikinya. berpasangan. Hal yang sangat penting perIu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik siswa. misalnya. DZIKIR. Berikut ini beberapa contoh perbedaan karakteristik masing-masing siswa Tabel 19. Ini dapat menstimulasi dan mengembangkan sikap-sikap empati. Pengelolaan Aktivitas Belajar Siswa Biasanya. semua kebutuhan pembelajaran mata pelajaran tersebut cukup ditempatkan dan ditata khusus pada kelas tertentu. atau klasikal. Demikian pula kebutuhan media dan alat bantu belajar pada mata-mata pelajaran lainnya ditata khusus pada kelas-kelas tersendiri. fasilitas. Untuk itu. waktu belajar.  Setiap hari. 1. Guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. kelompok kecil. Minat dan motivasi siswa (by interest) Kecepatan tahapan belajar (by piece) Tingkat kemampuan (by level) Reaksi yang diberikan PIKIR. Antara lain jenis kegiatan. Memberikan peluang kepada siswa untuk menunjukkan 24 .

sebagainya. Memberikan perhatian kepada setiap individu siswa yang kemungkinannya memiliki perbedaan durasi untuk mencapai ketuntasan dalam belajar. Guna mengoptimalkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran. guru perlu memperhatikan beberapa petunjuk berikut ini. Memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap individu sesuai dengan keadaan siswa. Jika skenario pembelajaran disiapkan dengan baik.  Hindari terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu selama proses pembelajaran. Tata peralatan dan bahan yang diperlukan sedemikian rupa di lokasi yang mudah dijangkau dan digunakan oleh semua siswa saat dibutuhkan. Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menguasai materi melalui cara-cara berdasarkan perspektif yang mereka pilih. sumber-sumber waktu yang disediakan untuk setiap jam pembelajaran dapat digunakan secara efektif dan efisien. Penggunaan komputer merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh. misalnya: dari yang mudah ke sulit. Struktur pengetahuan (by structure) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih (menyeleksi) materi berdasarkan cara yang dikuasai. guru dapat mememperkirakan macam dan kuantitas kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan. Siswa-siswa semacam itu sebaiknya ditangani setelah waktu pembelajaran. Pengelolaan Waktu Pembelajaran berlangsung selama priode waktu tertentu. atau terlalu banyak menggunakan waktu untuk menyelesaikan tugas administratif. DZIKIR. benda kreasi. denah.  Mulai pembelajaran pada waktunya. dari yang diketahui ke yang tidak diketahui.  Hindari menghentikan PBM sebelum waktunya. Hindari menghabiskan terlalu banyak waktu menghadapi siswa terlambat atau problem siswa lain. bagaimana dan dimana suatu tugas harus dilakukan.  Hindari waktu terbuang akibat keterlambatan penyiapan sumber atau media. IKHTIAR 25 . tertulis. atau dilimpahkan ke konselor sekolah. Waktu merupakan sumber terbatas yang perlu dialokasi dan dimanfaatkan secara efesien dan efektif. Dengan demikian. dari dekat ke jauh. Alokasi jam pembelajaran tersebut harus dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan perubahan belajar pada diri siswa. Alokasi waktu pelaksanaan pembelajaran setiap mata pelajaran telah dialokasikan dalam satuan jam tertentu. Guru terkadang terlalu banyak menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa terlambat atau menampilkan perilaku salah-suai lainnya. Gunakan petunjuk tertulis.  Dilakukan untuk menunjung program pembelajarannya.siswa (by respond) Siklus cara berpikir (by circular sequence) Waktu (by time) Pendekatan pembelajaran (by teaching style) 2. Penataan ruang kelas PIKIR. respon melalui presentasi/penyajian hasil karyanya secara lisan. atau gambar untuk membantu siswa memahami apa yang harus dilakukan. Guru perlu menemukan cara-cara kerja yang efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas administratif yang memang perlu. penundaan memulai awal pembelajaran. Kondisikan agar prosedur dan kegiatan rutin siswa di kelas dapat dilakukan dengan lancar dan cepat.

Guru hendaknya dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. DZIKIR. penggunaan metode dan strategi belajar yang bervariasi. C. Mempertahan momentum belajar selama proses pembelajaran merupakan salah satu kunci untuk menjaga tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan hidup (life skill). kesempatan. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:  bersikap ramah  membiasakan diri selalu tersenyum  berkomunikasi dengan santun dan patut  adil terhadap semua siswa  senantiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya. Pertahankan momentum belajar. IKHTIAR 26 . Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam keseharian anak. Time on-task siswa. Mencerdaskan dan menguatkan Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif. 2. (2) mengasyikkan. pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. dapat membantu memperlancar aktivitas pembelajaran di kelas. Oleh karena itu. Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran.  menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa. Setiap siswa bergiat untuk saling belajar. bersifat melibatkan. Ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pelajaran dengan hal-hal yang menarik. Momentum belajar adalah momen. melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence). siswa selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan dan begitu pekerjaan dimulai tidak ada lagi gangguan yang merusak konsentrasi belajar. Menyenangkan dan mengasyikkan Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif perasaan. (3) mencerdaskan.  yang baik. Tingkatkan time on-task setiap siswa untuk mengikuti setiap sesi pembelajartan. Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yang (1) menyenangkan. sebagaimana diuraikan sebelumnya. atau saat khusus tertentu dimana kelas sedang berada pada kondisi sangat kondusif dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. guru dilatih: PIKIR. 1. Penciptaan Atmosfir Belajar Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran. yaitu curah waktu dimana siswa secara aktif terlibat secara mental pada proses belajar. dan (4) menguatkan. dan sesuai dengan minat siswa. Dalam kelas yang menjaga momentum dengan baik.

dan saling menjelaskan. tidak takut atau merasa bersalah. prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. Dengan kata lain. D. karena jika anak senang dan asyik. Bahkan ada guru yang membuka pelajaran diawali dengan nyanyian pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang siswa melanjutkan lagu tersebut. atau menyempumakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau gurunya.Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir.  Di awal pelajaran. saling bertanya.  Sebelum memulai pelajaran.  Selama proses pembelajaran berlangsung. guru membiasakan siswa untuk berdoa secara bersama agar Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam memahami pelajaran. Selanjutnya. sikap. guru senantiasa mengembangkan bentuk komunikasi yang efektif. guru juga tidak lupa memberikan pencerahan-pencerahan rohani kepada para siswa agar mereka senantiasa saling menghormati dan menghargai. terlebih dahulu perlu dipahami tentang konsep belajar seperti berikut ini.  Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran. melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar. memperdalam.  Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau kepada gurunya. melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. dengan sikap yang ramah dan penuh senyuman guru menyapa beberapa orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan dan kesiapan masing-masing siswa untuk belajar. IKHTIAR 27 . hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain. Dengan demikian pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat. kemampuan. Penerapan Strategi Pembelajaran Sebelum membahas tentang strategi pembelajaran.  Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah.  Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam.  Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok.  Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi. guru atau pihakpihak lain. agar siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat dalam suasana yang menyenangkan dan merasa tidak tertekan. memantapkan. kejujuran dan tanggung jawab bagi setiap tugas yang diberikan. tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh. DZIKIR. pembelajaran itu diharapkan dapat  PIKIR. Artinya. Beberapa praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik (good practice) dikemukakan berikut ini.  Dalam proses pembelajaran siswa senantiasa perIu didorong untuk mengkomunikasikan gagasan.

mereka perlu diorientasikan pada situasi/dunia nyata dengan segala problemanya. Karena itu. guna merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi dari siswa. melakukan percobaan. (5) pembelajaran partisipatory. dan menemukan sendiri prinsip-prinsip dan konsep yang diajarkan. a. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. sintesis. serta memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. (2) pembelajaran inquiry. IKHTIAR 28 . Tahap 2: mengorganisasi siswa untuk belajar. Selain itu. e. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran berbasis masalah. b. dan (6) pembelajaran scaffolding. Tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Para siswa akan tertantang bagaimana belajar. (3) pembelajaran berbasis proyek/tugas. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya. serta membantu mereka mambagi tugas dengan temannya. Tahap 1: orientasi siswa kepada masalah. dengan menggunakan fenomena di dunia nyata sekitarnya. Beberapa strategi pembelajaran yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah dapat dikemukakan antara lain (1) pembelajaran berbasis masalah. maka siswa dapat belajar mengembangkan cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran. Strategi pembelajaran inquiry & discovery memiliki beberapa keuntungan. Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya. seperti dapat membangkitkan curiosity. Strategi Pembelajaran Inquiri Pembelajaran inquiry mendorong siswa untuk mengalami. Pembelajaran berbasis masalah dapat ditempuh melalui lima tahap sebagai berikut. c. 2. dan motivasi siswa untuk terus belajar sampai dapat PIKIR. video. dan penggunaan strategi pembelajaran secara baik dapat berdampak pada meningkatnya keterampilan mengajar guru dan rasa percaya dirinya. strategi pembelajaran yang dipilih dan dipergunakan dengan baik oleh guru dapat mendorong siswa untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. karena strategi dapat menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran.mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya. seperti pada level analisis. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan logistik yang dibutuhkan. minat. Dengan pemahaman seperti hal tersebut di atas. guru-guru menyadari bahwa strategi pembelajaran merupakan hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. (4) pembelajaran kooperatif. maka seorang guru sebaiknya menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks pembelajaran. 1. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan. dan model. DZIKIR. dan evaluasi. Melalui dunia nyata yang terjadi di sekitar mereka. Tahap 3: membimbing penyelidikan individual dan kelompok. Pembelajaran bermakna hanya dimungkinkan terjadi bila siswa dapat mengerahkan proses berpikir tingkat tinggi. d.

bagan. Ciptakan lingkungan yang dapat menerima jawaban salah tapi masuk akal. Secara operasional. siswa juga dapat belajar memecahkan masalah secara mandiri dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis sebab mereka harus menganalisis dan mengutak-atik data dan informasi. maka tugas yang diberikan kepada siswa harus cukup bermakna dan memiliki tujuan yang jelas. i. mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu. siswa dapat lebih termotivasi dan lebih terlibat aktif dalam mengerjakannya. Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek/Tugas Pembelajaran berbasis proyek/tugas (project-based/task learning) ditandai dengan pengelolaan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa melakukan penyelidikan terhadap masalah otentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran. cukup sulit. gambar. Selalu minta siswa memberi alasan atas jawaban-jawaban mereka. Dalam pembelajaran berbasis proyek. Jika tugas belajar yang diberikan cukup bervariasi. menempelkan di majalah dinding. tetapi realistik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. g. Hadapkan mereka dengan demonstrasi-demonstrasi tambahan untuk mengeksplorasi lebih jauh fenomena. siswa diberikan tugas atau proyek yang kompleks. Implementasi pembelajaran berbasis proyek/tugas didasarkan kepada empat prinsip berikut ini. IKHTIAR 29 . Minta siswa mengumpulkan informasi melalui observasi atau berdasar pengalaman masing-masing. h. atau karya lain. Siswa perlu mengetahui dengan tepat apa yang mereka harus kerjakan. Sajikan situasi teka-teki (puzzling situation) yang sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Membuat tugas bermakna. pembelajaran inquiry & discovery dapat ditempuh melalui tahapan berikut: f. penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek/tugas ini mendorong tumbuhnya kompetensi pengiring (nurturant) seperti kreativitas. tanggung jawab. Minta siswa menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan. DZIKIR. Menganekaragamkan tugas-tugas Pilihan tugas yang beraneka ragam dapat menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Dalam penyajian di kelas. Jelaskan prosedur inkuiri dan sajikan masalah. dan menantang Guna mempertahankan tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. melalui penerapan strategi inquiry & discovery. bangkitkan tanggapan dan penjelasan siswa lain. dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. dan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. dan berpikir kritis dan analitis. 3. dsb. b. Minta siswa mengkomunikasikan dan menyajikan hasil karyanya. Minta tanggapan balik (counter-suggestions) dan selidiki tanggapan siswa. PIKIR. j. tabel. misalnya dalam bentuk penyajian di kelas. kemandirian. kepercayaan diri. menulis di koran. Pilihan mengenai tugas belajar tidak terbatas dan tidak ada alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari. Di samping itu. lengkap. Sajikan tugas-tugas yang berkaitan kemudian cermati dan beri balikan atas pemikiran yang diajukan siswa.menemukan jawaban. a. k. Di samping itu. jelas.

tenggang rasa. 4. memungkinkan pengembangan sejumlah kompetensi nurturant pada diri siswa. dan penerimaan diri. masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. etnik. Strategi pembelajaran ini. 2. pembelajaran kooperatif dapat diterapkan melalui metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) Pelaksanaan metode STAD ditempuh dengan beberapa tahapan sebagai berikut: 1. Mengembangkan keterampilan komunikasi. Secara operasional. Memperluas perspektif wawasan. Jika siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri. 3. Apabila siswa bekerja berkelompok. dan sikap prososial. kemampuan belajar). Monitoring tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah siswa memahami tugas mereka melalui pemeriksaan pekerjaan siswa dan pengembalian tugas dengan umpan balik? Guru harus selalu menyediakan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka memahami dan mengerjakan dengan benar tugas yang diberikan. Menaruh perhatian pada tingkat kesulitan Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan satu bahan baku penting untuk menjamin keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. Strategi Pembelajaran Kooperatif Dalam pembelajaran kooperatif. keyakinan terhadap gagasan sendiri. Tiap anggota menggunakan lembar kerja akademik. dan penyesuaian sosial. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan terlalu mudah. siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk saling membantu belajar satu sama lain. termasuk memberi reinforcement dalam bentuk reward bagi hasil karya yang baik dan catatan-catatan penyempurnaan bagi karya yang belum optimal. guru perlu menyiapkan waktu untuk mengoreksi pekerjaan yang dihasilkan siswa dan mengembalikan kepada mereka dengan umpan balik. 4. Tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya sebagai sesuatu yang menantang. IKHTIAR 30 . rasa harga diri. Memonitor kemajuan siswa Salah satu tugas penting guru adalah memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. d. kerja sama. Mengoptimalkan penggunaan sumber belajar dan pencapaian hasil belajar. DZIKIR. kepekaan sosial. tanggung jawab. maka guru hendaknya berada dalam kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang bekerja secara mandiri. 2. 3. namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri. Memungkinkan sharing pengalaman dan saling membantu dalam memecahkan masalah pembelajaran. Setiap tim memiliki anggota heterogen (jenis kelamin. 5. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. tugas yang diberikan harus memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan berhasil tinggi.c. seperti: 1. PIKIR. rasa saling percaya. ras. Membangun persahabatan. kebiasaan bekerja sama. Selanjutnya.

Setiap siswa adalah subjek yang kepentingannya perlu diperhatikan dan diakomodasi dalam proses pembelajaran.  Analisis dan sintesis.  Evaluasi. baik di dalam maupun di luar sekolah. Libatkan siswa dalam membuat perencanaan dan pilihan tindakan yang diperlukan dalam proses pembelajaran. kemudian sepakati pilihan yang dapat diterima semua pihak. 5. dan tujuan umum yang sesuai dengan sub-topik yang telah dipilih. dalam memutuskan mengenai strategi umum yang perlu ditempuh. 3. tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan yang telah dipelajari. tugas. Secara individual atau tim. DZIKIR. siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus. Tiap anggota saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi. siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh dan membuat ringkasan untuk disajikan di depan kelas. Misalnya. seperti brainstorming. Evaluasi setiap alternatif berdasarkan kelayakan (kemampuan. Metode Invistigasi Kelompok dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:  Seleksi topik. Evaluasi dapat mencakup siswa secara individu atau secara berkelompok.  Tahap implementasi. meta-plan. 6.4. Siswa atau tim yang meraih prestasi tertinggi atau mencapai standar tertentu diberi penghargaan. Gunakan berbagai teknik. Dorong siswa menggunakan berbagai sumber. IKHTIAR 31 . guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. setiap kelompok menyajikan hasil investigasi kelompoknya di depan kelas. Strategi Pembelajaran Partisipatori Pembelajaran partisipatori menekankan pelibatan siswa untuk berpartisipasi dan ikut menentukan berbagai aktivitas pembelajaran. PIKIR. dsb. bentuk dan tugas kelompok. cara-cara menyelesaikan tugas. Dimungkinkan setiap individu atau kelompok memilih caranya masingmasing untuk mencapai tujuan sepanjang berkontribusi pada pencapaian tujuan pembelajaran. Siswa melaksanakan rencana yang telah disusun.  Organisasi. strategi ini dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya jiwa demokratis serta kemampuan mengemukakan dan menerima pendapat di kalangan siswa. atau keduanya. Pelaksanaan pembelajaran partisipatori dapat ditempuh melalui strategi sebagai berikut: 1. diskusi kelompok fokus untuk mendorong semua siswa mengemukakan gagasan masing-masing. Setiap siswa dan setiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar. waktu. fasilitas). Disamping itu. para siswa memilih berbagai sub-topik dalam satu wilayah masalah umum terkait dengan tujuan pembelajaran. para siswa dibagi ke dalam kelompok yang berorientasi pada tugas dan beranggotakan 2 . Pelibatan siswa dalam perencanaan dan penentuan berbagai pilihan tindakan pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan komitmen siswa untuk menekuni setiap tugas pembelajaran.  Penyajian hasil akhir.6 orang dengan komposisi heterogen. 2. sumber pembelajaran. 5. sumberdaya.  Merencanakan kegiatan kerjasama.

guru kembali ke sistem dukungan untuk membantu siswa memperoleh kemajuan sampai mereka mampu mencapai kemandirian.  Memberi petunjuk untuk membantu anak berfokus pada pencapaian tujuan.4.  Secara jelas menunjukkan perbedaan antara pekerjaan anak dan solusi standar atau yang diharapkan. (4) menjelaskan dan mengklarifikasi pemahaman siswa. namun tetap memberi peluang dilakukannya refleksi. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui penjelasan. dorongan (motivasi). Dalam mengimplementasikan strategi-strategi pembelajaran yang disarankan. revisi. strategi pembelajaran scaffolding dapat ditempuh melalui tahapan berikut. guru secara berangsurangsur mengurangi pemberian dukungan. dan perubahan rencana tindakan. kata kunci. Beberapa keuntungan pembelajaran Scaffolding adalah:  Memotivasi dan mangaitkan minat siswa dengan tugas belajar.  Menyederhanakan tugas belajar sehingga bisa lebih terkelola dan bisa dicapai oleh anak. guru harus selalu mengingat bahwa kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya senantiasa diarahkan untuk pencapaian dampak instruksional dan dampak pengiring. kemudian secara berjenjang sebagai peranan guru dalam mendukung perkembangan siswa dan menyediakan struktur dukungan untuk mencapai tahap atau level berikutnya. 6. (3) mengundang siswa berpartisipasi. (2) pemberian penjelasan. tanda mata (reminders). IKHTIAR 32 .  Sajikan tugas belajar secara berjenjang sesuatu taraf perkembangan siswa. Dampak instruksional bermuara pada kecerdasan intelektual (IQ). contoh. dan pemberian contoh (modeling). DZIKIR. strategi pembelajaran scaffolding mendorong siswa menjadi pelajar yang mandiri dan mengatur diri sendiri (self-regulating).  Jabarkan tugas pemecahan masalah ke dalam tahap-tahap yang rinci sehingga dapat membantu siswa melihat zona yang akan di-scaffold. sedangkan dampak pengiring bermuara pada kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). atau hal lain yang dapat memancing siswa bergerak ke arah kemandirian belajar dan pengarahan diri. dan (5) mengundang siswa untuk mengemukakan pendapat.  Mengurangi frustasi dan resiko. penguraian masalah ke dalam langkah pemecahan. Dorong siswa melaksanakan alternatif tindakan secara konsisten. Secara operasional. Untuk keperluan itu. Jika siswa belum mampu mencapai kemandirian. yakni teknik pemberian dukungan belajar yang pada tahap awal diberikan secara lebih terstruktur. Sesungguhnya. Teknik pembelajaran scaffolding dapat dilakukan dengan format: (1) pemberian model perilaku yang diharapkan. peringatan. dorongan. Strategi Pembelajaran Scaffolding Pembelajaran scaffolding merupakan praktik assisted learning.  Memberi model dan mendefenisikan dengan jelas harapan mengenai aktivitas yang akan dilakukan. Ketika pengetahuan dan kompetensi belajar siswa meningkat.  Berikan dukungan dalam bentuk pemberian isyarat.  Asesmen kemampuan dan taraf perkembangan setiap siswa untuk menentukan Zone of Proximal Development (ZPD). diharapkan guru dapat memilih dan merancang serta PIKIR.  Dorong siswa untuk menyelesaikan tugas belajar secara mandiri.

materi penggunaan media dan sumber belajar yang diberikan dalam pelatihan tersebut meliputi:  Pengenalan berbagai jenis media pembelajaran dan fungsinya masing-masing dalam pembelajaran. mengumpulkan data. menjelaskan.  Meskipun belum semua guru SMA unggulan telah menerapkan strategi pembelajaran seperti yang diharapkan. bertanya.  Semua strategi yang dipilih dan diterapkan oleh guru. maka guru perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai media dan sumber belajar. senantiasa diawali dengan pembacaan doa sebelum dan sesudah berolahraga. namun sejumlah guru telah berhasil menerapkan berbagai strategi pembelajaran di sekolah masing-masing. siswa mampu berkreasi seni suara dengan baik serta menanggapi beragam karya musik sesuai sifat dan karakteristik setiap jenis musik.  Dengan memadukan strategi partisipatorik-penugasan. kesenian. IPS. E. Sumber Situasi Nyata (Sumber Berbasis Lingkungan) Situasi kehidupan nyata dan lingkungan sekitar yang ada di sekitar siswa merupakan sumber belajar yang sangat penting dan dapat memberi informasi dan pengalaman belajar yang tidak terbatas bagi siswa. strategi pembelajaran yang diberikan hanya sebatas pada ceramah. dan PIKIR. dalam menentukan strategi pembelajaran. mengajukan hipotesis.  Sejumlah guru telah berhasil menggunakan berbagai variasi strategi pembelajaran dalam pencapaian kompetensi dasar tertentu yang terdapat di dalam kurikulum. dan SQ tersebut.  Pada umumnya guru bidang studi menyadari sepenuhnya bahwa strategi pembelajaran yang dipilih adalah strategi yang dapat membuat siswanya mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar dan dapat memanfaatkan potensi siswa seluas-luasnya. mempertanyakan. fakta.  Dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran. berkomentar. Beberapa praktik penerapan strategi pembelajaran yang baik (good practice) yang telah dilaksanakan di sekolah dikemukakan berikut ini. dan pemberian tugas. 1. Media dan sumber belajar yang disediakan guru hendaknya dapat mendorong dan membantu siswa untuk melibatkan mental secara aktif melalui beragam kegiatan. Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar Untuk mendukung pembelajaran dengan baik. guru juga mencermati tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.mengembangkan media pembelajaran agar dapat memudahkan pencapaian IQ. jumlah siswa yang terlibat di dalam proses pembelajaran.  Latihan mencari berbagai sumber belajar yang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. Untuk keperluan itu. serta menyesuaikan dengan tingkat kesulitan kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum. IKHTIAR 33 . serta lama waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Di samping itu. Misalnya dalam pembelajaran bidang studi IPA. dan sejumlah kegiatan mental lainnya. Pengetahuan dan pengalaman tersebut akan membantu guru dalam menentukan media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Ada banyak informasi. pada umumnya guru bidang studi melibatkan siswa. Mereka mengakui bahwa selama ini. EQ. atau olah raga memadukan strategi kooperatif dengan berbasis masalah dan strategi inquiry. DZIKIR. diskusi. seperti kegiatan mengamati.

Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. dapat dilakukan guru dengan menyediakan kegiatan simulasi. Penggunaan Media Audio-Visual Sumber belajar dapat pula dihadirkan melalui berbagai media. Pada beberapa buku biasanya tidak hanya menyajikan uraian teks. Media Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). grafik. video). Sebagai bahan. guru tetap dapat menghadirkan situasi kehidupan dan fenomena lingkungan dengan membuat situasi buatan. Sebagai alat pembelajaran. DZIKIR. Penciuman. pada model ini pun dapat dibedakan menjadi situasi buatan dengan siswa terlibat langsung dan situasi buatan dengan siswa tidak terlibat langsung. Pada kondisi ini. Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film. tabel. cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. yakni membuat situasi buatan. lembar kegiatan/kerja. Kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menyajikan situasi nyata untuk belajar seringkali tidak tersedia atau sulit dilakukan. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) berfungsi sebagai bahan dan alat pembelajaran. Materi yang diceramahkan pun perlu bersifat kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. IKHTIAR 34 . Penggunaan Media Audio Verbal Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. Dengan demikian. 6. Guru dapat mencari dan menyeleksi film atau video yang berisi ceritera atau laporan dokumenter yang sesuai atau ada kaitan dengan pokok bahasan tertentu dalam mata pelajaran yang diasuh. guru dianjurkan untuk memanfaatkan PIKIR. Dalam keadaan seperti ini. tetapi juga dilengkapi dengan beragam ilustrasi (gambar). buku sumber. Rasa”. Kalau keadaan ini berkelanjutan. misalnya. Sumber Menggunakan Situasi Buatan Guru tidak selalu mampu menyediakan situasi nyata. 4. TIK menjadi sebuah mata pelajaran yang diperkenalkan mulai pada jenjang sekolah dasar sampai pada sekolah menengah atas. Dengan demikian. peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. Pada keadaan ini. seperti media audio-visual. siswa yang memiliki daya abstraksi lemah dapat terbantu dengan keberadaan ilustrasi/gambar tersebut. atau kalau terpaksa perIu berceramah cukup antara 2025 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong penggunaan indera “Lihat. Untuk mengatasinya. Raba. Film atau video seperti itu kemudian ditayangkan di kelas atau temta khusus tertetu diikuti dengan diskusi bersama siswa sekaitan dengan tema dan spot-spot cerita serta kaitannya dengan pokok bahasan mata pelajaran. kelas dapat dirancang seperti pasar. peningkatan pemahaman siswa tentang berbagai ihwal kehidupan pasar. sebagian siswa berperan sebagai pembeli dan sebagian lainnya sebagai penjual. Cara ini banyak berkaitan dengan membaca buku pelajaran. guru harus mengurangi cara ini.pengetahuan yang dapat digali situasi nyata dan lingkungan sekitar guna mendukung rekonstruksi dan mempekaya pemahan dan pengalaman belajar siswa. 2. siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. Penggunaan Media Visualisasi Verbal Sumber belajar yang paling umum digunakan dalam mendukung pemahaman mengenai pokok bahasan adalah melalui media visualisasi-verbal. 5. 3. Situasi dan aktivitas kelas ditata sedemikian rupa menyerupai apa yang terjadi dalam lingkungan nyata. Seperti juga pada model situasi nyata. cart. Tentu saja. ensiklopedia.

EQ. audio. komputer dapat berfungsi sebagai tutor. menganalisis. seperti melalui internet. dan komputer.  Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.  Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber. horisontal.fasilitas TIK untuk memfasilitasi pembelajaran di kelas. DZIKIR. intranet. dan SQ. email.  Siswa belajar menurut masalah yang dihadapinya. ditemukan sejumlah keberhasilan di samping sejumlah kendala sebagaimana yang dipaparkan berikut ini. kinerja. Oleh karena itu. PBK meliputi berbagai kegiatan belajar dan aplikasi dengan menggunakan komputer. IKHTIAR 35 . televisi. Beberapa prinsip penilaian dalam pembelajaran efektif yang perlu diketahui oleh guru dalam menyusun dan melaksanakan penilaian sebagai berikut berikut. atau stimulator.  Siswa menerima balikan segera (instant feedback). yaitu proses.  Tugas-tugas yang diberikan dan dijadikan bahan evaluasi siswa haruslah mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari.  Harus mengukur semua aspek pembelajaran.  Penjadwalan bisa lebih fleksibel apabila laboratorium komputer diperlakukan sebagai sumber yang dapat diakses sendiri oleh setiap siswa (self-access learning resources). media komputer juga dapat berfungsi sebagai perangkat untuk jaringan komunikasi.  Siswa merasa lebih bebas tanpa merasa diamati oleh orang lain. dan sebagainya. sebagai lawan cara berpikir konvergen dan vertikal) oleh siswa. Soalsoal atau tugas memancing munculnya cara jawab atau cara penyelesaian yang bervariasi. F. yakni kecerdasan IQ. Mereka PIKIR. misalnya radio. bukan untuk mengukur pada hasil semata. Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:  Siswa belajar sesuai kemampuan dan kecepatan masing-masing. Media komputer memiliki banyak kelebihan dibandingkan media lainnya. Bentuk penilaian yang dianjurkan dalam pembelajaran efektif adalah penilaian sebenarnya (authentic assessment). Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar sebaiknya ditekankan pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. yang biasa disebut sebagai pembelajaran berbasis komputer (PBK). Dalam kegiatan pembelajaran. atau mendokumentasi data dan informasi. oral. Di samping memudahkan dan memperlancar pekerjaan. akhir-akhir ini komputer telah banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.  Peluang untuk menyulang materi terbuka luas dan lebih banyak. yaitu visual.  Format pembelajaran dapat mencakup semua indera dan aktivitas belajar.  Menawarkan materi dan kegiatan yang otentik dan interaktif. dan gerak (kinestetik). Dari hasil pendampingan dan refleksi terhadap kemampuan guru menggunakan media dan sumber belajar di dalam proses pembelajaran. dan produk.  Menstimulasi muncul dan digunakannya cara berpikir divergen (berpikir lateral. seperti mengetik. Beberapa jenis yang potensial dan sering digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. bukan hanya satu jawaban kunci. Yang paling ditekankan adalah bagaimana guru senantiasa menyadari sejak awal bahwa tujuan akhir dari penilaian pembelajaran adalah agar untuk mengukur dan menilai keberhasilan pencapaian tiga jenis kecerdasan secara seimbang. alat (tool). Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian.

Komponen proses dan hasil belajar yang penting dinilai antara lain:  Hasil ulangan harian dan ulangan umum. Berdasarkan hasil penilaian itu diberikan penghargaan kepada peserta didik dalam bentuk rapor. paspor keterampilan.  Tugas-tugas terstruktur biasanya dikumpulkan oleh guru dan disimpan dalam map atau loker khusus. Untuk menjalankan prinsip-prinsip penilaian. dan sanksisanksinya (ESCN. Aturan itu harus konsisten PIKIR. biasanya dikumpulkan oleh guru dan didokumentasikan. ulangan harian.  Catatan perilaku harian para siswa. yaitu: (1) persetujuan kepala sekolah dan guru terhadap kebijakan disiplin sekolah.  Laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar. EQ. dan (4) memberikan penilaian secara seimbang terhadap kecerdasan IQ. atau sertifikat kompetensi. kecuali tamu yang akan berkunjung kesekolah atau ada hal lain yang mendesak sehingga pintu gerbang sekolah dapat dibuka. Bentuk penilaian meliputi jenis tagihan seperti kuis. (1) penilaian proses dan hasil. prosedur disiplin. guru harus mempertimbangkan beberapa hal penting antara lain. kerja praktik/unjuk kerja. laporan untuk kerja. atau bentuk tagihan pilihan ganda. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menciptakan kondisi sekolah yang dapat membuat semua personil sekolah untuk taat dan patuh secara sadar untuk mengikuti tata tertib yang ada disekolah tersebut. ijazah. Disiplin sebenarnya bukan hanya sekedar aturan yang harus ditaati untuk merubah perilaku siswa di sekolah dan bukan sekedar sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan. portofolio. bukan keluasannya (kuantitas).00-07. ulangan semester. (3) penilaian yang jujur dan adil. siapapun tidak diperbolehkan untuk masuk ke lingkungan sekolah jika terlambat. 1990). dan bila melewati jam tersebut pintu gerbang sekolah ditutup rapat. tetapi lebih dari itu untuk membentuk mental disiplin kepada siswa.15. IV. (2) penilaian berkala dan berkesinambungan. Misalnya tata tertib untuk masuk sekolah jam 07. dan (2) dukungan yang diberikan kepada guru bilamana mereka melaksanakan peraturan disiplin sekolah. Penelitian Moedjiarto (1990) mengungkapkan bahwa karakteristik tata tertib dan kebijakan disiplin sekolah mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi akademik siswa. IKHTIAR 36 . uraian singkat.  Penilaian harus menekankan pada kedalaman pengetahuan (kualitas) dan keahlian siswa. pertanyaan lisan di kelas. serta tagihan dalam bentuk soal yang akan diberikan pada peserta didik. tugas individu.harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari. Pada dasarnya tata tertib dan disiplin merupakan harapan yang dinyatakan secara eksplisit yang mengandung peraturan tertulis mengenai perilaku siswa yang dapat diterima. TATA TERTIB DAN KEDISIPLINAN DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Tata tertib dan kedisiplinan sangat penting artinya dalam mewujudkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif melalui penciptaan kedisiplinan belajar. Biasanya dicatat dalam buku rapor siswa. Penilaian secara umum bertujuan untuk mengetahui kemajuan hasil belajar siswa dan menetapkan tingkat penguasaan kompetensi suatu keahlian tertentu sesuai dengan indikator yang dipersyaratkan standar kompetensi. DZIKIR. 1987 seperti dikutip oleh Moedjiarto. dan SQ. pekerjaan rumah. biasanya tersimpan pada buku khusus (catatan anekdot). tugas kelompok. Witte dan Walsh (1990) mengemukakan dua dimensi penting kedisiplinan yang dilaksanakan dalam sekolah efektif.

Dalam model ini setiap siswa diberi skor modal awal. dan penegakan tata tertib. i) Format penyusunan aturan disiplin dan tata tertib dapat dibuat dalam berbagai bentuk. tetapi bagaimana mengkondisikan sekolah yang bisa membuat orang untuk tidak melakukan pelanggaran. Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam menegakkan tata tertib dan kedisiplinan meliputi tiga kegiatan pokok. sasaran seperti ini dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran pembiasaan pada kelas-kelas awal. tetapi lebih kepada kesadaran bahwa tata tertib itu memiliki nilai kebenaran sehingga perlu untuk ditaati. guru. d) Tata tertib sekolah hendaknya tetap memberi ruang untuk pengembangan kreativitas warga sekolah dalam mengespresikan diri dan mengembangkan potensi dan kompetensi yang dimilikinya. h) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya hendaknya tetap memberi ruang bagi berkembangnya kreativitas dan sikap kritis warga sekolah. Di SD.dilaksanakan dan diberlakukan kepada semua personil sekolah termasuk guru. perlu ada kesepakatan mengenai batas wajar tentang perilaku yang dapat dikategorikan nakal atau melanggar tata tertib. A. misalnya 100 poin. staf dan kepala sekolah. Untuk siswa misalnya. merupakan hasil kompromi semua pihak (siswa.  Model pengurangan skor. Jika perlu dibuat satu hari tertentu di mana pada hari itu siswa diberikan kesempatan untuk berkreasi atau memberi saran kepada guru. Contoh model yang dapat digunakan untuk siswa adalah model penambahan skor dan pengurangan skor:  Model penambahan skor. Penyusunan Tata Tertib Sekolah Beberapa pedoman umum dalam menyusun tata tertib sekolah dikemukakan sebagai berikut. misalnya 100 poin. g) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya terutama diarahkan untuk membangun budaya perilaku positif dan sikap disiplin di kalangan siswa (selfdicipline) dan warga sekolah lainnya. pegawai dan kepala sekolah dalam rangka pengembangan sekolah. dan kepala sekolah). Dalam model ini. c) Penyusunan tata tertib harus didasarkan pada komitmen yang kuat antara semua unsur dan komponen sekolah dan konsisten dengan peraturan dan tata tertib yang berlaku. ditetapkan skor denda maksimum. b) Semua aturan disiplin dan tata-tertib yang berkaitan dengan apa yang dikehendaki. sosialisasi tata tertib. Siswa yang mencapai skor 100 akan terancam dikeluarkan dari sekolah. yaitu penyusunan tata tertib. a) Penyusunan tata tertib melibatkan atau mengakomodasi aspirasi siswa dan aspirasi orangtua siswa yang dianggap sesuai dengan visi dan misi sekolah. f) Tata tertib yang ada jangan sampai hanya dilakukan untuk menertibkan warga sekolah dari segi fisik saja. guru pembimbing. dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan beserta sanksi atas pelanggarannya. sebagai batas toleransi. DZIKIR. IKHTIAR 37 . orangtua. tetapi juga untuk membentuk mental disiplin agar disiplin yang terjadi bukan kedisiplinan semu yang dilakukan karena takut menerima sanksi. Setiap pelanggaran akan berakibat pengurangan PIKIR. e) Tata tertib sekolah jangan hanya dibuat berupa konsep yang harus dipatuhi oleh warga sekolah dengan sanksi yang sangat jelas yang dapat membuat aturan menjadi kaku.

Jangan sampai. Sosialisasi untuk orang tua siswa dan pengurus komite sekolah dapat dilakukan dengan cara mengirimkan tata tertib yang telah dibuat dalam bentuk tertulis kepada mereka. Aturan disiplin dan tata tertib yang telah disusun. 4. Sebab betapapun baiknya tata tertib tapi jika tidak ditegakkan secara konsekuen maka tidak akan banyak artinya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. dan pengurus komite sekolah. 11. dan tindakan kepala sekolah. Di sini terkait dengan sejauh mana upaya pihak sekolah dalam menegakkan tata tertib yang telah disusun. pegawai. agar semua pihak mengetahui dan memahami setiap butir aturan disiplin tersebut. demosi dan PHK atau dikeluarkan sampai masalah itu terpecahkan atau dihilangkan. 1. orangtua siswa. Memberikan penghargaan sebagai teladan kepada guru. yang perlu diperhatikan adalah konsekuensi yang muncul dari setiap penambahan dan/atau pengurangan skor. hendaknya menjadi model dan teladan bagi penegakan perilaku tertib dan disiplin di sekolah. penundaan. PIKIR. Beberapa pertimbangan dalam penegakan tata tertib dikemukakan berikut ini.10. Disiplin dan tata tertib sekolah berlaku untuk semua unsur yang ada disekolah tidak terkecuali kepala sekolah ataupun guru dan staf harus patuh dan taat pada peraturan sekolah yang berlaku dan menjadi komitmen yang kuat dan mengikat. dan warga sekolah lainnya. Karena itu sosialisasi tata tertib perlu dilakukan untuk memastikan bahwa semua pihak memahami dengan baik isi tata tertib tersebut. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam melaksanakan sosialisasi tata tertib dikemukakan berikut ini. skor. teguran. mental disiplin yang ingin ditanamkan menjadi hilang karena terlalu fokus pada skor yang ada. Penegakan Tata Tertib Kegiatan terpenting dalam menguji efektivitas tata tertib adalah pada pelaksanaannya. 1. dalam hal ini siswa. Sekolah perlu memastikan bahwa mereka memiliki pemahaman yang sama tentang butir-butir tata tertib yang telah disepakati dan disahkan tersebut. 2. B. percobaan. dibaca dan dipahami oleh seluruh warga sekolah. Butir-butir tata tertib sekolah dapat dibuat dalam bentuk poster afirmasi yang dipajang di majalah dinding sekolah dan/atau lokasi-lokasi strategis di lingkungan sekolah agar dapat senantiasa dilihat. DZIKIR. guru. Selain peraturan tentang pemberian sanksi. guru. Penegakan disiplin dilakukan secara bertahap kepada semua unsur yang ada disekolah mulai dari peringatan. dan siswa yang mencapai skor nihil akan terancam dikeluarkan dari sekolah. Sosialisasi Tata Tertib Pelaksanaan tata tertib sekolah sangat tergantung pada pemahaman pihak-pihak terkait terhadap tata tertib yang disusun. Dalam model seperti yang disebutkan di atas. siswa dan staf yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama kurun waktu tertentu dan diumumkan secara aklamasi pada saat pelaksanaan upacara. 3. perilaku. sekolah juga dapat membuat peraturan tentang pemberian penghargaan kepada warga sekolah untuk memotivasi mereka mentaati disiplin dan tata tertib sekolah. Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya dibuat dalam bentuk tertulis dan disahkan oleh kepala sekolah. disepakati dan disahkan kepala sekolah hendaknya disosialisasikan secara berkelanjutan kepada seluruh warga sekolah. IKHTIAR 38 . C. 2. Sikap.

Terhadap pelanggaran-pelanggaran. Dijelaskan oleh Reynolds (1990). dalam beberapa hal. 12. 7. guru. Agar budaya dan iklim sekolah kondusif dan tercipta harmonisasi kerja. Penegakan tata tertib terutama difokuskan pada upaya membantu siswa dan semua warga sekolah untuk menyesuaikan diri dengan setiap butir dalam aturan tata-tertib tersebut. sekolah yang sukses menyadari bahwa pemberian penghargaan jauh lebih penting ketimbang menghukum atau menyalahkan siswa. konselor sekolah. saling asah-asih dan asuh sangat diyakini PIKIR. 9. Orangtua siswa perlu diberikan pemhamanan tentang kebijakana sekolah tentang kedisiplinan agar orang tua merasa dihargai dan dilibatkan sehingga dapat memberikan dukungan terhadap dukungan pelaksanaan tata tertib sekolah. Penghargaan dapat diberikan kepada warga sekolah dalam rangka penegakan tata tertib sekolah seperti pemberian reward kepada mereka yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama tiga bulan. Dengan pendekatan manusiawi. Penegakan tata tertib merupakan bagian dan terintegrasi dengan upaya membangun budaya perilaku etik dan sikap disiplin. Penghargaan dan insentif mendorong munculnya perilaku positif dan. obyektivitas penilaian. Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan dilakukan oleh kepala sekolah setelah semua upaya persuasi untuk perbaikan perilaku telah dilakukan secara maksimal. ditetapkan melalui pertemuan konferensi kasus (caseconference) yang diikuti oleh kepala sekolah. dan tentunya upaya mewujudkan kesejahteraan anggota. 8. 11.5. IKHTIAR 39 . satu semester sampai satu tahun. Ada konsistensi/kesepakatan di antara para guru dan kepala sekolah mengenai prosedur-prosedur dan bentuk hukuman bagi siswa pelannggar disiplin dan tata tertib. Berilah penghargaan yang sesuai untuk guru. dan wakil komite sekolah. karyawan dan siswa yang benar-benar pantas untuk mereka terima sebagai hadiah atas usaha dan hasil kerja mereka. dengan cepat dilakukan tindakan kedisiplinan. Hal ini dinilai oleh Reynolds sebagai suatu strategi motivasi yang penting untuk meningkatkan citra diri (self-image) siswa dan berkembangnya atmosfir yang bersahabat dan suportif. 10. Konsep Pemberian Penghargaan dan Insentif Penelitian Moedjiarto menemukan signifikansi karakteristik ini dalam menciptakan sekolah efektif. mengubah perilaku siswa (dan juga guru). PENGHARGAAN DAN INSENTIF DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. 13. Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat. pengurus OSIS. Penjatuhan hukuman (eksekusi) atas pelanggaran tata-tertib hendaknya disertai dengan penjelasan mengenai alasan dan maksud positif dari pengambilan tindakan tersebut. di sekolah perlu dibangun suasana keterbukaan. khususnya yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan. DZIKIR. 14. baik di lingkungan internal sekolah maupun di lingkungan luar sekolah. Siswa yang menerima sanksi harus dibantu memahami dan menerima bentuk sanksi tersebut sebagai bentuk intervensi bagi kebaikan yang bersangkutan. Sanksi penegakan tata tertib sekolah dilakukan kepala sekolah atau wakil kepala sekolah urusan kesiswaan. Demi efektitas layanan BK di sekolah guru pembimbing diharapkan tidak ditugaskan untuk pemberian sanksi terhadap siswa. V. 6.

Undang tim kerja atau personil sekolah ke rumah anda pada hari sabtu atau hari lain untuk merayakan keberhasilan dalam melaksanakan tugas atau pencapaian hasil kinerja sekolah. Untuk membantu memastikan keadilan dan dukungan. IKHTIAR 40 .staf dan siswa pendukung anda dengan mengajak mereka makan siang atau makan malam yang indah. atau meninggalkan voice mail untuk orang dengan kata ”terima kasih atas kerja yang baik. Terus memperhatikan jenis pujian dan penghargaan yang paling disukai oleh seluruh personil sekolah dan gunakan sesering mungkin pada mereka pada saat yang tepat. Tuliskan nama orang itu pada tropi dan berilah nama julukan di belakangnya. 12. Praktekkan pemberian penghargaan yang berkonsentrasi dan fokus pada memanggil guru staf atau siswa yang layak untuk menerima penghargaan ke kantor anda dan mengucapkan terima kasih karena melakukan pekerjaan yang bagus. 9. 11. mereka sepertinya tidak kenyang atau merasa dipuaskan dengan penghargaan. 7. 3. 5. Dalam beberapa hal. DZIKIR. 8. Interaksi tersebut difokuskan hanya pada penghargaan dan tidak pada hal lain sehingga pengaruhnya tidak berkurang karena membahas masalah lain.” 4. Personil sekolah tidak pernah bosan dengan penghargaan. Hargai keahlian menonjol atau keahlian individu dengan menugaskan mereka menjadi mentor personil lainnya agar dapat menunjukkan kepercayaan dan hormat anda kepadanya. Beberapa cara paling mudah dan terjangkau untuk menghargai seseorang: 1. 6. PIKIR. Atasi masalah ”jauh di mata. e-mail. Hargai mereka yang ditempatkan di tempat lain dan tidak punya kesempatan untuk sering ke ruang kepala sekolah. Tulis cacatan kecil yang menghargai kontribusi seseorang pada periode gaji terakhir dan lampirkan catatan tersebut pada daftar gaji seseorang. Saat anda mendapat promosi. Berikan foto tersebut kepadanya dan tempatkan foto sejenis lainnya pada lokasi menyolok agar dapat dilihat oleh semua orang. Untungnya tidak sulit menghargai seseorang dan terdapat banyak cara untuk melakukan hal tersebut. semakin banyak penghargaan yang mereka peroleh maka akan semakin banyak juga yang mereka inginkan. Dalam konteks psikologi. Sistem penghargaan upah/insentif yang dikombinasikan dengan penghargaan sosial dan umpan balik untuk kinerja guru. staf dan siswa yang dilakukan secara sistematik. ulangi hal tersebut pada orang yang bersangkutan secepat mungkin. Ambil foto seseorang yang sedang diberi selamat oleh kepala sekolah atau orang yang berwewenang karena prestasi yang diraih.kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan tercapai dan hal ini akan sangat menunjang pencapaian tujuan sekolah yang telah ditetapkan. jauh di pikiran” dengan faksimile. guru maupun staf. Jika anda mendengar ucapan positif mengenai seseorang. seperti halnya tidak pernah kenyang dengan makanan dan uang. pada akhir bulan biarkan penerima memilih anggota berikutnya untuk diberi penghargaan dan jelaskan mengapa dia dipilih. akan meningkatkan kinerja mereka lebih baik dari pada yang tidak mendapatkan perlakuan yang sama. akui peran yang dimainkan oleh guru. Perhatikan semua orang yang melakukan hal yang benar dan beritahu mereka kalau pekerjaan itu baik dan benar. Siapkan tropi dan berikan kepada mereka yang paling layak menerimanya baik untuk siswa. 10. 2.

Bentuk-bentuk penghargaan ini dengan sendirinya membangkitkan dan menularkan semangat kerja dan meningkatkan etos kerja bagi guru dan menumbuhkan minat dan semangat belajar bagi siswa. rencana-rencana perangsang. pujian. dan sebagainya. isyarat-isyarat nonverbal. dkk. Indikator-Indikator yang Perlu diperhatikan dalam Pemberian Penghargaan dan Insentif Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam pemberian penghargaan dan insentif sebagai berikut: PIKIR. Penghargaan ini akan bermakna jika dikaitkan dengan prestasi guru. dan bonus. C. meminta saran. 41 . 4. Insentif sedikit berbeda dengan imbalan. DZIKIR. seperti pemberian sertifikat penghargaan dan lencana. B. Syarat-syarat insentif sebaiknya menjadi bagian dari perencanaan kinerja. bulanan. Imbalan diluar gaji berupa istirahat kerja. IKHTIAR 13. semesteran. pujian untuk diri sendiri. Penghargaan sosial berupa penghargaan informal. Penghargaan sangat penting untuk meningkatkan produktifitas kerja dan untuk mengurangi kegiatan yang kurang produktif. agar tidak meninmbulkan dampak negatif. Bentuk-Bentuk Penghargaan dan Insentif Menurut Winardi Bentuk-bentuk penghargaan atau insentif dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. undangan minum kopi bersama atau makan bersama. pekerjaan dengan tanggung jawab lebih besar. rotasi kerja. kenaikan gaji/upah. atau tahunan) dan diumumkan secara luas di sekolah yang bersangkutan dengan cara menempel label yang memuat hasil nominasi tersebut pada semua sudut sekolah. Material berupa gaji atau upah. staf dan siswa dalam organisasi. insentif adalah sesuatu yang ditentukan dimuka sementara imbalan/hadiah diberikan setelah kita menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan karena insentif ditujukan untuk memotivasi karyawan maka karyawan harus tahu hal ini sejak awal. bahkan makan malam yang menyenangkan dapat menjadi insentif yang berbiaya rendah dan paling berharga bagi guru. rencana-rencana bonus. staf dan siswa dirangsang untuk meningkatkan kinerja positif dan produktif. Kenyataannya bonus yang besar dapat berakibat negatif jika tidak diterapkan dengan tepat karena dapat menimbulkan konflik diantara guru. staf dan siswa secara terbuka. umpan balik evaluatif. Penghargaan ini perlu dilakukan secara tepat. Mortomore. Bentuk-bentuk penghargaan kepada guru dan siswa berprestasi dapat berupa materil. 5. seperti memberi penghargaan kepada individu yang menunjukkan pekerjaan atau perilaku yang baik dan penghargaan yang diberikan berdasarkan prestasi dalam kegiatan olahraga dan sosial. 2. dan nonmateril. sedikit kenaikan upah. 3. Melalui penghargaan ini guru. efektif dan efesien. Penghargaan nonmateril dapat pula diberikan dalam bentuk nominasi guru terbaik dan siswa terbaik secara berkala (misalnya: mingguan. sehingga mereka memiliki peluang yang sama untuk berprestasi. Akses untuk melaksanakan pelatihan. Penghargaan dan insentif diberikan dalam beberapa cara.Masih banyak lagi bentuk-bentuk penghargaan yang bisa diterapkan di sekolah dalam memotivasi personil sekolah untuk berprestasi. staf dan siswa. tepukan dibahu. penghargaan formal. seperti pemberian hadiah. promosi jabatan. dan plakat dinding. senyum. (1988) sebagaimana dikutip Mortimore (1993) mengidentifikasi beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah efektif dalam pemberian insentif. ucapan selamat untuk diri sendiri. Tugas itu sendiri seperti perasaan berprestasi. Diterapkan sendiri berupa penghargaan terhadap diri sendiri.

DZIKIR. atau guru yang mendapatkan penghargaan atas prestasi yang membanggakan diumumkan dan. Guru mendapatkan insentif atas pekerjaan tambahan yang dilakukan. Karena ini akan menimbulkan dampak seperti perilaku konflik yang menyebabkan guru. agar mereka dapat mendapatkan informasi yang langsung dan jelas mengenai hasil karya dan efektifitas kerjanya serta sekaligus akan memotivasi mereka untuk berkarya dan bekerja lebih baik lagi. penugasan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menyenagkan. Prestasi yang tinggi dari guru dan staf mendapatkan penghargaan dari sekolah. Staf atau guru yang telah menunjukkan kinerja yang unggul diberi prioritas untuk menikmati kesempatan promosi atau pilihan program lain untuk pengembangan karier. Melakukan promosi secara adil berdasarkan mutu dan kualitas kompetensi yang dimiliki oleh guru. Prestasi yang tinggi dari siswa mendapatkan penghargaan dari sekolah. Setiap siswa. siswa dan staf atas tindakan yang mereka anggap menguntungkan dan bukan memberikan hukuman atau sangsi jika sebaliknya. Penghargaan dan hadiah ditentukan berdasarkan prestasi yang diraih dan memberikan kesempatan pada siswa untuk meraihnya. siswa dan staf dan tidak diwarnai oleh faktor-faktor lain atau kepentingan tertentu. kondisi kerja yang lebih baik. dirayakan. Penghargaan atau insentif yang diberikan kepada guru. siswa dan staf.                 Sekolah memiliki prosedur pemberian penghargaan dan insentif terhadap guru. siswa dan staf dapat dilakukan dalam berbagai bentuk selain materi. Memberikan penghargaan yang positif kepada guru. staf. Penghargaan kepada guru yang berprestasi diumumkan dan dipajang pada papan pengumuman seperti papan guru dan siswa yang berprestasi setiap setiap bulan. siswa dan staf dapat dilakukan dalam bentuk umpan balik yang segera. IKHTIAR 42 . dan waktu luang lebih banyak juga dapat merupakan wujud dari imbalan atas hasil kerja yang dilakukan Otonomi dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan kepada guru dan staf merupakan salah satu bentuk penghargaan. Dinas Pendidikan kabupaten/kota mengambil peran nyata dalam pemberian penghargaan atas prestasi siswa dan guru yang tinggi. Menggunakan penghargaan dan insentif sebagai hadiah atau ganjaran sebagai teknik manajemen dalam pelaksanaan kinerja guru dan staf serta hasil karya bagi siswa. siswa dan staf menghindari dalam bentuk tidak hadir. jika perlu. penguatan juga dapat dilakukan dalam bentuk pujian. staf. Penghargaan harus segera dilakukan kepada guru. PIKIR. Imbalan atau insentif yang diberikan kepada guru. Memberikan penghargaan atau insentif yang setara dengan prestasi atau hasil kerja yang dilakukan oleh guru. dan siswa yang berprestasi. siswa atau staf yang berprestasi dalam bentuk royalti sebagai uang muka sebelum tugas/pekerjaan mereka selesaikan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinan di sekolah sehingga tercipta iklim dan buaya sekolah yang kondusip: Kepemimpinan adalah unsur terpenting dalam TQM. bagaimana cara mengemukakan keinginan tersebut kepada personil sekolah guna memperolah kerja sama dan mendapatkan dukungan dari personil sekolah. proses kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap semua aspek kinerja sekolah. Dewasa ini orang bekerja cenderung mencari lebih dari sekedar gaji. diberi inspirasi dan ditantang untuk menghasilkan prestasi kerja terbaik mereka dengan dukungan sumber daya serta bimbingan yang diberikan oleh kepala sekolah untuk membantu menjadikan performa personil sekolah menjadi luar biasa. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu karakteristik yang paling konsisten hubungannya dengan prestasi belajar. DZIKIR. Menurut Townsend (1994). apa kekuatan mereka dan mengimbangi kelemahan mereka. Temuan penelitian Heck. tetapi cara ini tidak akan percuma dilakukan jika dapat menghasilkan produktifitas kerja yang meningkat. Lebih spesifik. perlindungan sekolah dari tekanan eksternal yang kurang mendukung. Kondisi ini mungkin kedengaran klise tetapi banyak pemimpin yang kurang menyadari hal ini. staf dan siswa setiap harinya. Pemimpin harusmemiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik. Menjadi pemimpin sekolah yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah didasarkan pada asumsi bahwa para pemimpin sekolah adalah orang-orang yang mampu mengespresikan diri sepenuhnya atau dengan kata lain mereka mengetahui siapa diri mereka. Dan kunci untuk pengertian adalah belajar dari kehidupan dan pengalaman pribadi. Kunci untuk ekspresi diri adalah pengetian tentang diri sendiri dan dunia kerja serta lingkungan sekolah dimana kita berada. Sejauh mana budaya dan iklim sekolah dalam bidang kepemimipin sekolah dapat memberdayakan atau malah menghambat potensi yang ada. Penelitian tersebut meyakinkan mereka bahwa yang menentukan mutu dalam sebuah institusi PIKIR. pemantauan prestasi sekolah. dan pencarian sumber daya ekstra untuk sekolahnya (Mortimore. memberikan jadwal yang pleksibel atau peralatan terbaik untuk melaksanakan tugas dengan benar. Pemimpin Pendidikan Mutu terpadu merupakan sebuah gairah dan pandangan hidup bagi organisasi yang menerapkannya. 1993). Inti budaya dan iklim sekolah yang bersemangat adalah terletak pada kualitas hubungan antara individu dalam sebuah komunitas sekolah dan kepercayaan. kepemimpinan pengajaran berperan dalam kegiatan pembinaan personil guru.VI. penyediaan waktu dan energi untuk perbaikan sekolah. Peters dan Austin pernah meneliti karakteristik tersebut dalam bukunya A Passion for Excellence. pemberian dukungan kepada guru. mereka ingin diperlakukan sebagai manusia. dkk. mengetahui keinginan dan harapan mereka dan mengapa dia menginginkan hal itu. (1991) menunjukkan bahwa prestasi akademik dapat diprediksi berdasarkan pengetahuan terhadap perilaku kepemimpinan pengajaran kepala sekolah. penghormatan serta pertimbangan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah kepada guru. Cuntoh sederhana yang dapat dilakukan dalam menggairahkan iklim sekolah adalah dengan sesekali mengadakan perayaan untuk membangun moral atau budaya sekolah yang bisa menghasilkan perubahan. Hal ini mungkin akan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Akhirnya kepala sekolah tahu bagaimana cara mencapai sasaran mereka. Pertanyaannya adalah bagaimana membangkitkan mutu pendidikan. Untuk memaksimalkan potensi personil sekolah terutama tergantung pada bagaimana seseorang diperlakukan. IKHTIAR 43 .

guru dan staf institusi. dan antusiasme. Ini memastikan bahwa institusi memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya.  Ketulusan. Mereka berpendpat bahwa gaya kepemimpinan tertentu dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu. baik yang bersifat organisasional maupun kultural  Membangun tim yang efektif  Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan diantara para pelajar. MBWA menekankan pentingnya kehadiran pemimpin dan pemahaman atau pandangan mereka terhadap karyawan dan proses institusi. Dia berpendapat bahwa pemimpin institusi pendidikan harus memandu dan membantu pihak lain dalam mengembangkan karekteristik yang serupa. DZIKIR.  Menciptakan rasa kekeluargaan.  Memimpin inovasi dalam institusi  Mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggungjawab dan mampu mempersiapkan delegasi yang tepat  Memiliki komitmen untuk menghilangkan rintangan. semangat. para pelajar dan kepada komunitas yang lebih luas.  „Untuk para pelajar‟ istilah ini sama dengan dekat dengan pelanggan dalam pendidikan.adalah kepemimpinan. kesabaran. serta berbaur dengan para staf dan pelanggan. Peran Pemimpin dalam mengembangkan sebuah budaya mutu Apakah peran pemimpin dalam sebuah institusi yang mengusahakan inisiatif mutu terpadu? Tidak ada satupun yang menyatakan hal itu secara keseluruhan. Dia menggambarkan sebuah gaya kepemimpinan dimana pemimpin “ harus menjalankan dan membicarakan mutu PIKIR. intensitas. namun fungsi utama pemimpin adalah sebagai berikut :  memiliki visi mutu terpadu bagi institusi  memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu  mengkomunikasikan pesan mutu  memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek institusi  mengarahkan perkembangan karyawan  berhati-hati dengan tidak menyalahkan orang lainsaat persoalan muncul tanpa buktibukti yang nyata.sebuah gaya yang mereka singkat dengan MBWA ( Management by Walking About / manajemen dengan melaksanakan ). eksprimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan.  Otonomi. Sifat-sifat tersebut mrupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan. Sikap tersebut mendorong terciptanya tanggungjawab bersama-sama serta sebuah gaya kepemimpinan yang melahirkan lingkungan kerja yang interaktif.Pemimpin pendidikan harus melakukan inovasi diantara staf-stafnya dan bersiap-siap mengantisifasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut. IKHTIAR 44 . orang tua.Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf. Kebanyakan persoalan yang muncul adalah hasil dari kebijakan institusi dan bukan kesalahan staf. Gaya kepemimpinan ini mementingkan komunikasi visi dan nilai-nilai institusi kepada pihak-pihak lian. Keinginan untuk unggul tidak bisa dikomunikasikan dari balik meja. Spanbauer telah menyampaikan pengarahan bagi para pemimpin dalm menciptakn lingkungan pendidikan yang baru.Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan membutuhkan perspektif-perspektif berikut ini :  Visi dan simbol-simbol.  MBWA adalah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan bagi sebuah instansi.

Membangun Moral Kerja Dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah. bukan dengan serta merta. Hal ini disebabkan karena moral dapat memberikan dampak langsung terhadap kualitas sekolah dan dapat meningkatkan prestasi belajar bagi siswa serta meningkatkan profesionalitas para guru dan staf dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. Kerjasama Tim Bagi Mutu Kerjasama tim/kerja tim dalam sebuah organisasi merupakan komponen penting dari implementasi TQM. DZIKIR. IKHTIAR 45 . siswa. 1989 ). staf. komunikasi. salah satu faktor yang paling menentukan adalah membangkitkan semangat orang-orang yang berada dalam lingkungan sekolah khususnya guru. mengingat kerjasama tim akan meningkatkan kepercayaan diri.( John S. Oakland. Apakah personil sekolah merasa bebas memberikan pendapat mereka dan mengetahui bahwa pendapat mereka dihargai? 2. Personil sekolah akan lebih menerima program-program sekolah yang telah disusun bersama. Apakah anda dapat memahami kebutuhan mereka dan menjalin hubungan saling pengertian diantara mereka untuk meraih saran-saran dalam meningkatkan kualitas kerja mereka? 5.  Konsep sinergi ( 1+1 > 2 ). Apakah anda dapat membangkitkan komitmen mereka atau mereka tidak merasa dirinya sebagai bagian dari sekolah? 4. komite.serta mampu memahami bahwa perubahan terjadi sedikit demi sedikit. yaitu bahwa hasil keseluruhan (tim) jauh lebih baik daripada jumlah bagiannya(anggota individual) A. dan mengembangkan kemandirian. akan memberikan motivasi yang paling kuat bagi mereka. Apakah mereka yakin bahwa mereka mendapatkan informasi yang tepat waktu tentang hal-hal yang berhubungan dengan program-program sekolah dan tugas mereka? 3. jika mereka yakin bahwa kepala sekolah benar-benar perduli secara pribadi setiap hari di sekolah dan sikap peduli ini diwujudakan dengan ekspresif lewat mimik wajah yang PIKIR. staf dan siswa. Total Quality Management. Kepala sekolah selaku pimpinan dalam lingkungan organisasi sekolah harus mengetahui apakah hubungan mereka dengan guru. Tim merupakan sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama. Kerjasama tim merupakan salah satu unsur fundamental dalam TQM. Karena ketika semua unsur dan personil sekolah merasa senang dan semangat yang tercipta lahir dari iklim dalam budaya sekolah maka mereka akan lebih produktif. orang tua dan masyararat terjalin dengan baik atau tidak? Hal ini dapat dilakukan melalui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut. Faktor yang mendasari perlunya dibentuk tim tertentu dalm suatu perusahaan adalah :  Pemikiran 2 orang atau lebih cenderung lebih baik daripada pemikiran satu orang saja. Apakah anda memberikan kesempatan bukan hanya dalam melaksanakan tugas tetapi juga memberikan efek sehingga mereka tanggap dan berusaha untuk memastikan apa yang telah terjadi? 6. 1. Apakah anda pernah menyentuh hati mereka untuk memberikan yang terbaik dari hasil kerja dan karya mereka selama ini? Jika jawaban terhadap pertanyaan tersebut menunjukkan sikap bahwa kita peduli terhadap mereka dan membutuhkan suasana gembira.

DZIKIR. 2. Kebijakan dan Prosedur Cukup banyak sekolah yang berhasil memiliki cara mudah untuk membangkitkan semangat guru dalam mengajar. 5. Uang bukanlah satu-satunya cara yang dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang tetapi lebih dari itu memberikan kepercayaan kepada mereka akan menemukan kembali nilai kesetiaan mereka. Waspadai kemungkinan menetapkan kebijakan atau prosedur baru sebagai reaksi terhadap suatu insiden tunggal. Menurut Bob Nelson (2007). Hubungan yang dibangun dalam budaya dan iklim sekolah yang berdasarkan atas hubungan saling percaya. Dalam hal kebijakan. mungkin saja masalahnya tidak pernah muncul lagi. IKHTIAR 46 . semangat staf dalam bekerja dan semangat siswa dalam belajar dan berprestasi dengan cara meminimalisir beberapa kebijakan dan prosedur yang dapat menghambat upaya untuk menjadikan personil sekolah bersemangat dan menggantikannya dengan kebijakan dan prosedur yang lebih sederhana dan tidak menghambat. Cara terbaik untuk mendukung moral kerja personil dalam lingkungan sekolah dan untuk menginspirasi mereka sehingga memiliki kinerja prima adalah dengan cara meyakinkan mereka dengan segala yang anda lakukan dan bersikap dengan sepenuh hati bahwa anda sangat mendukung mereka. Sekolah yang memiliki budaya dan iklim yang baik menyadari bahwa person sekolah yang dapat dipercaya untuk melakukan apa yang benar ketika mereka di izinkan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. dan nilai kesetiaan ini merupakan modal yang paling berharga dalam mencapai produktivitas kerja yang lebih baik karena lahir dari rasa memiliki yang tertanam dalam benak mereka. Setiap kali anda menetapkan satu kebijakan baru. Karena pada dasarnya setiap orang ingin merasa berguna atau penting bagi orang lain. 4. saling menghormati dan mau mendengarkan pendapat orang lain serta dapat mengekspresikan diri dalam tugas dan karya adalah sarana yang kuat bagi personil sekolah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. B. C. Tujuan yang Jelas dan Sasaran yang Didefinisikan dengan Baik Gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam mencitakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan memberdayakan seluruh personil sekolah sebagai tim kerja. tidak ada kebijakan tunggal yang uraiannya terdiri lebih dari satu halaman.mendukung atau ucapan-ucapan selamat dan sekali-sekali diberikan hadiah atau bonus pada saat moment penting seperti pada perayaan ulang tahun akan menambah semangat dan motivasi mereka untuk selalu berbuat yang terbaik. hapuslah dua kebijakan lama. ada beberapa saran dalam menetapkan kebijakan dan prosedur kerja dalam organisasi sebagai berikut: 1. Dengan PIKIR. 3. Seberapa besarpun ukuran organisasi. hal ini merupakan efek dari kebijakan dan prosedur kerja yang kurang baik. lebih singkat dan sederhana adalah lebih baik dari pada lebih panjang dan rumit. Penetapan kebijakan di atas dapat diadopsi dalam lingkungan budaya sekolah apabila ditunjang oleh struktur organisasi sekolah yang baik. Pastikan kebijakan dan prosedur organisasi disusun untuk melayani para karyawan dan pelanggan anda bukan hanya organisasi anda saja. Karakteristik struktur organisasi sekolah yang baik adalah jika struktur tersebut dapat menghasilkan kerja yang baik dan tidak berbelitbelit. Karena jika person sekolah merasa tidak senang otomatis akan memberikan hasil kerja dan karya yang buruk.

menetapkan sasaran-sasaran. D. Jelaskan bahwa semua orang berada dalam tim yang sama. Misalnya tim guru bidang studi di sekolah dapat menunjukkan kualitas kerja tim yang tinggi jika mereka memiliki maksud dan tujuan yang jelas.pemberdayaan ini akan memberikan semangat yang kuat diantara personil sekolah. Ketika batasan-batasan ini tidak jelas dan tidak di ingatkan secara rutin maka tim akan kehilangan semangat dan komitmennya. Membangun iklim seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan instant. Pastikan agar maksud. 3. Lakukan pekerjaan yang nyata. moral dan perilaku yang tidak bertentangan dengan falsafah bangsa yang diwarnai kecerdasan intelektual. Tentukan misi bagi tim. Banyak cara untuk dapat membangun semangat kerja yang solid dalam organisasi sekolah seperti dengan cara membangun budaya dan menciptakan iklim bekerja sama dengan PIKIR. 4. Untuk menciptakan sekolah yang sukses dan memiliki kualitas perlu adanya proses pembentukan budaya. emosional dan spritual. Agar tercipta sebuah tim work yang baik dalam lingkungan sekolah. sasaran serta pendekatan relevan dan bermakna. Kelola hubungan dengan orang luar. maka setiap setiap personil sekolah sebagai bagian dari anggota tim perlu memiliki maksud dan tujuan yang jelas serta menetapkan sasaran sekolah dengan melibatkan seluruh anggota agar mereka mengetahui dan paham apa tujuan dan sasaran sekolah. 2. karena mereka dapat mengendalikan dan memberi efek pada pekerjaannya. Membangun Semangat Kerja yang Solid Untuk membangun semngat kerja yang solid dalam sebuah komunitas sekolah bukan hanya memberikan tugas atau menempatkan mereka pada posisi dan jabatan yang sesuai dengan potensi mereka tetapi lebih dari itu. 6. Selain itu juga sekolah yang sukses diwarnai oleh semangat yang menarik para personil sekolah sebagai satu unit yang utuh. 2. Bangun komitmen serta keyakinan. metode dan strategi mengajar yang tepat dalam proses belajar mengajar. karena harus ditumbuhkan dalam kondisi yang menyenangkan. 1. Beberapa saran yang diajukan oleh Nelson (2007) dalam menentukan tujuan yang jelas dan sasaran didefinisikan dengan baik adalah sebagai berikut. IKHTIAR 47 . Kuatkan perpaduan dan tingkatkan keterampilan. Dengan tujuan sekolah yang jelas dan sasaran-sasaran sekolah yang didefinisikan dengan baik serta diketahui setiap anggota sekolah dan melibatkan mereka sepenuhnya dalam program-program sekolah akan memberikan hasil kerja yang lebih baik dan berkualitas. Hindarkan praktikpraktik yang menghasilkan anggapan bahwa sebagian orang adalah tim kelas satu dan anggota tim yang lain adalah tim kelas dua. termasuk mengatasi hambatan. Katzenbach dan Douglas K. Nyatakan maksud dan aturan-aturan tim untuk operasionalnya pada setiap rapat. hal ini akan mendefinisikan maksud anda dan menetapkan batasan-batasan bagi cakupan cakupan kerja tim. Pastikan agar tim mengembangkan sasaran-sasaran yang spesifik dan agar tim secara berkala mengevaluasi serta memperbaharui sasaran-sasarannya. 3. dimana mereka dapat berkontribusi untuk mencapai sutu tujuan dan sasaran bersama. 5. Ciptakan kesempatan bagi orang lain. Selanjutnya Jon R. serta mengetahui posisi mereka dalam tim atau prinsip-prinsip operasional dalam tim tersebut. DZIKIR. 4. Smith yang dikutip Nelson (2007) menyarankan enam hal penting bagi pemimpin dalam membangun semangat tim dalam organisasi sebagai berikut: 1. Beberapa saran di atas dapat di adopsi oleh pemimpin sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif.

2. staf dan siswa. komite dan masyarakat dalam jamuan makan siang bersama di sekolah dan menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan program sekolah terutama jika terjadi perubahan dalam program dan lingkungan sekolah dan melibatkan mereka dalam proses perubahan tersebut. meskipun sekali-sekali mereka membuat kesalahan bukan berarti mereka gagal dalam tugas. Senantiasa mengkomunikasikan segala informasi baru kepada seluruh personil sekolah terutama hal-hal yang menyangkut peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah. Kemandirian dan Otonomi Setiap orang ingin diperlakukan sebagai bagian dari organisasi demikian halnya di dalam sekolah. maka fokuskan pada hasil kerja atau karya mereka bukan pada kehadiran mereka. 4. berilah dia kesempatan untuk melaksanakan kerja berikutnya. 2. staf dan siswa dalam berprestasi dan membangun sekolah yang berkualitas dalam iklim dan suasana yang menyenangkan. IKHTIAR 48 . kecuali inisiatif pribadi atau usaha kerasnya untuk memberikan hasilkerja dan karya yang lebih baik jika mereka dihargai. Untuk menjalin iklim dan hubungan yang baik antara kepala sekolah dengan guru. Jika memungkinkan untuk memberikan mereka fleksibilitas jam kerja. Mengajak seluruh personil sekolah seperti guru. prosedur atu aspekaspek yang berkaitan dengan peningkatan proses belajar mengajar baik itu di dalam kelas dan lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. 3. beri kesempatan kepada mereka bekerja dirumah dan menetapkan jadwal mereka sendiri. Akan masuk akal jika para kepala sekolah mengetahui bahwa pemberdayaan.penuh semangat. tanggung jawab dan kewenangan kepada personil sekolah untuk melaksanakan segala sesuatu menurut cara mereka sendiri dan diberi kesempatan dalam pengambilan keputusan dengan resiko dari efek keputusan yang dilakukan. 3. Tidak ada yang dapat memompa personil sekolah lebih total. Jika mereka memiliki kinerja yang tinggi. Kekuatan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kerja sama dan semangat kerja yang solid diantara personil sekolah. mengejar sasaran ketika mereka terdorong oleh visi dan misi sekolah yang jelas dengan kekuatan serta ketersedian sarana belajar yang memadai untuk mencapai tujuan sekolah. Faktor-faktor yang dapat diperhatikan oleh kepala sekolah dalam menerapkan prinsipprinsip pemberdayaan. diberikan kebebasan untuk mandiri. staf. akan membuat mereka lebih senang dalam bekerja dan berkarya. Berikut beberapa cara yang dapat ditempuh sekolah untuk membangkitkan semangat personil sekolah dalam membangun budaya dan iklim sekolah yang memiliki semangat yang solid adalah: 1. Ketika guru dan staf menunjukkan hasil kerja atau karya yang baik dan meraih sukses/prestasi. Kepemimpinan kepala sekolah yang menekankan pada pemberdayaan dalam budaya dan iklim sekolah akan memberikan kesempatan. DZIKIR. setiap personilnya ingin dipercaya dan dihargai. 4. kemandirian dan otonomi yang besar kepada seluruh personil sekolah akan meningkatkan produktifitas mereka. E. Senantiasa mendorong mereka untuk memperbaiki proses. kemandirian dan otonomi dalam kepemimpinan kepala sekolah sebagai berikut: 1. maka hubungan antara mereka harus jelas baik dari segi PIKIR. mungkin saja itu awal dari keberhasilan yang tertunda. dan siswa juga orang tua siswa. Kepemimpinan dalam Pemberdayaan. Kepala sekolah senantiasa dapat menunmbuhkan dan mendukung pertumbuhan pribadi maupun profesionalisme guru.

Cukup banyak sekolah yang berhasil menemukan cara mudah untuk membanguan semangat guru. Contoh kongkrit dapat dilihat dari peran guru dalam proses belajar mengajar yang cukup komunikatif dan memiliki inisiatif-inisiatif yang senantiasa dikomunikasikan dengan kepala sekolah dan guru lainnya akan tampil prima dan produktif dalam melaksanakan peran mereka dan hal ini sangat mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal dapat ditentukan oleh informasiinformasi baru yang diperoleh. ruang guru dan staf serta layanan pendukung siswa di sekolah untuk berinteraksi langsung dengan mereka yang sebelumnya tidak pernah anda jumpai. evaluasi dan hasil serta kualitas mutu pendidikan secara kontinu. Sekolah adalah suatu organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin dengan jabatan kepala sekolah. staf dan siswa yang paling jarang berinteraksi dengan anda. PIKIR. tekun menyediakan program-program pendidikan yang dianggap penting. 2. metode dan strategi. Mengupayakan pertemuan dengan guru. Sisihkan sedikit waktu luang anda untuk mengunjungi setiap ruang kelas. Memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya (sekolah akan menjadi apa) dan mendorong stafnya untuk bekerja dan berusaha untuk merealisasikan visi sekolah. 4. 3. professional dan dinamis. Inisiatif dan Fleksibilitas Apa yang membuat budaya dan iklim sekolah menjadi lebih baik dan kondusif? Dasarnya adalah implementasi kepemimpinan sekolah yang menghargai inisiatif personil sekolah sehingga semangat dan tanggung jawab moral dalam bekerja dan berkarya tumbuh dan berkembang dan secara otomatis produktivitas kerja mereka akan meningkat.struktur maupun wewenang dan tanggung jawab mereka agar mereka lebih fokus dalam melaksanakan tugas dalam bidangnya. Menurut Davis & Thomas (1989) dalam suatu sekolah yang bagus kita dapat menjumpai kepala sekolah yang agresif. 2. kepemimpinan yang bagus adalah kunci untuk implementasi yang afektif. 4. F. Insiatif yang dibangun dari proses komunikasi terbuka. karena melalui komunikasi dapat diperoleh informasi secara vertikal maupun horisontal. 3. Deskripsi singkat kualitas dan perilaku yang menandai sekolah yang berhasil antara lain: 1. Mengamati guru dalam kelas dan memberikan masukan yang positif dan konstruktif dalam menyelesaikan masalah peningkatan pembelajaran. implementasinya sering gagal dan kembali ke keadaan sebelumnya. Seperti semua inisiatif yang lain. Hal ini dapat membangkitkan semangat mereka. IKHTIAR 49 . Memberikan tugas kepada mereka dan ikuti perkembangan mereka dalam melaksanakan tugas tersebut. Komunikasi. Mendorong pemanfaatan waktu mengajar yang efisien dan merancang prosedur untuk meminimalkan gangguan. DZIKIR. Bila perubahan sistemik dilaksanakan tanpa perubahan budaya dan iklim organisasi sekolah. hasil diskusi dan tukar pikiran akan menambah semangat mereka dalam bekerja. Budaya dan iklim sekolah yang membangun komunikasi diantara personil sekolah akan membentuk hubungan yang lebih baik diantara mereka sekaligus memberikan informasi dalam perbaikan proses. Memiliki harapan yang tinggi baik terhadap prestasi siswa maupun kinerja para guru dan staf sekolah. Gunakan waktu anda lebih banyak dengan personil sekolah selama sekolah melewati masa-masa krisis seperti nilai ujian nasional rendah atau prestasi belajar siswa menurun. Komunikasi merupakan mata rantai yang paling penting dalam mempersatukan sebuah komunitas sekolah. staf dan siswa melalui komunikasi dan inisiatif seperti cara berikut: 1.

8. khususnya dalam nilai tes setiap siswa dalam setiap tingkatan dan kelas. Kepala sekolah dapat memonitor faktor-faktor lain yang terkait dengan prestasi. 5. Seorang kepala sekolah yang efektif adalah seseorang yang memilki kecakapan dalam hubungan antara manusia. Memanfaatkan bahan dan tenaga secara kreatif Memonitor prestasi individu dan kelompok siswa dan memanfaatkan informasi untuk perencanaan pendidikan sekolah dan pembelajaran. 8. pekerjaan kepada orang lain dalam organisasi sekolah. 3. DZIKIR. Kepala sekolah juga harus bisa bertindak sebagai perantara yang mengalirkan informasi dan menjawab berbagai pertanyaan dalam berbagai hal karena sebagian pekerjaan kepala sekolah adalah pekerjaaan verbal. Kepala sekolah dapat memainkan peran dalam meningkatkan kesadaran perlunya perbaikan sekolah dan harapan prestasi yang tinggi dan pencapaian konsensus untuk perubahan tersebut. 2. hal ini dapat dilakukan pada setiap akhir bulan atau setiap triwulan dalam program sekolah. Kepala sekolah tidak seharusnya melakukan kegiatan administrasi sekolah sendiri. 7. sehingga tujuan akhir sekolah dapat tercapai dengan baik. Fungsi utama kepala sekolah yang efektif adalah mengamati guru dalam kelas dan merundingkan dengan mereka tentang cara menangani masalah dan perbaikan pengajaran. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penciptaan lingkungan sekolah yang tertip dan aman. 4. 9. 10. 7. 6. Tindakan ini secara instrinsik mencerminkan fokus dan nilai akademis. tetapi kepala sekolah harus dapat membagi tugas.5. 6. Kepala sekolah dapat aktif dalam penciptaan dan perbaikan yang konkrit. PIKIR. Terdapat delapan kategori kepala sekolah efektif berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan lapangan: 1. Kepala sekolah sebaiknya menilai tugas-tugas harian guru dan meyakinkan bahwa setiap kelas ada gurunya baik sebaagai guru bidang studi. Peran aktif kepala sekolah dalam menciptakan sekolah yang efektif dimana setiap orang memperhatikan perbaikan dan peningkatan pembelajaran. Kepala sekolah juga dapat melibatkan orang tua dalam upaya pengajaran di sekolah. Kepala sekolah dapat menciptakan sistem hadiah untuk setiap siswa dan guru yang medukung orientasi akademik dan merangsang keunggulan (excellence) dan penampilan siswa dan guru. faktor yang terkait dengan perbaikan yang secara implisit menekankan suasana dan budaya akademik. Kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang dapat melakukan langkahlangkah kongkrit untuk membantu pengembangan orientasi harapan yang tinggi yang mencerminkan peran kepemimpinan pengajaran. Kepala sekolah dapat memperoleh sumber-sumber material yang diperlukan untuk pengajaran yang efektif dan menggunakannya secara kreatif sesuai dengan prioritas akademik. mengorganisasi dan mengalokasikan sumber-sumber dan menangani masalah keselamatan dan keteretiban. 9. IKHTIAR 50 . Sepanjang hari kepala sekolah memonitor jalannya pekerjaan. guru kelas maupun sebagai wali kelas dan setiap guru akan mengelola kelasnya dengan baik. menjadwal. memiliki keahlian dan pemahaman yang mendalam terhadap kurikulum dan pengajaran. Tingkah laku yang sentral kepala sekolah yang efektif adalah memonitoring perkembangan siswa.

Dapat dikatakan bahwa kualitas mutu lulusan suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen pengelolaan sekolah. DZIKIR. lomba dan latihan-latihan yang bersifat edukatif. IKHTIAR 51 . 8) Kepala sekolah membuat program secara teratur untuk mengembangkan pengetahuan siswa melalui les/kursus-kursus. guru dan orangtua siswa dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sekolah. g) Kepala sekolah melibatkan para siswa. 7) Kepala sekolah menciptakan suasana kerja yang kreatif dan produktif dengan menyediakan berbagai fasilitas dan perlengkapan yang dapat mendorong siswa mengembangkan bakat minat dan ketrampilannya. PIKIR. secara langsung kepala sekolah bertugas mengawasi pelaksanaan tugas-tugas aparat sekolah secara berkesinambungan b) Kepala sekolah sebagai panutan bagi siswa. komitmen dan tanggung jawab guru serta kepatuhan dan kesungguhan para siswa untuk belajar. guru dan staf sekolah sebagai pemimpin sekolah. ramah dan dekat dengan siswa. d) Kepala sekolah sering mengunjungi guru mengajar. terutama dalam upaya peningkatan mutu pengajaran disekolah. kepatuhan dan kesungguhan guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan kepatuhan dan tanggung jawab staf sekolah dalam memberikan pelayanan kepada siswa. Hal ini dapat dilihat dari implementasi dan pemeliharaan perubahan yang positif terhadap proses dan hasil belajar siswa. 4) Kepala sekolah selalu memberi penjelasan kepada siswa dalam menghadapi hal-hal yang baru. c) Kepala sekolah suka menerima dan mempertimbangkan ide atau gagasan yang disampaikan oleh guru dan siswa. e) Kepala sekolah bersemangat dalam melaksanakan tugas sehari-hari. 2) Kepala sekolah sangat perhatian terhadap kemajuan belajar siswa. 3) Kepala sekolah mengerahkan sumber belajar dan dukungannya demi pencapaian tujuan pembelajaran. 5) Kepala sekolah mempunyai perhatian terhadap permasalahan belajar siswa. 6) Kepala sekolah memiliki sikap suka membantu siswa belajar dan menghadapi kesulitan. 9) Kepala sekolah mendorong semangat belajar siswa dengan menumbuhkan keyakinan dalam mencapai prestasi yang tinggi. guru dan kepala sekolah. Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut: a) Sebagai manajer perencana. Membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan mendorong semangat belajar siswa.Kepemimpinan instruksional kepala sekolah dalam menentukan iklim dan budaya sekolah sangat erat kaitannya dengan kemampuan mengajar guru dan motivasi belajar siswa bahkan sangat berkaitan dengan mutu lulusan. Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut : 1) Memiliki visi dan pandangan yang jelas dan tegas dalam kepemimpinan sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar yang menarik dan kondusif. guru dan staf sekolah. b) Menciptakan suasana sekolah yang kreatif/dinamis serta meningkatkan kelancaran komunikasi. f) Kepala sekolah memiliki sikap bersahabat. Karakter kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya dan iklim yang kondusif dapat dilihat pada beberpa indikator sebagai berikut: 1.

guru dan orangtua siswa dalam menyusun peraturan-peraturan sekolah. Berikut ini dikemukakan beberapa saran mengenai model kepemimpinan kepala sekolah dalam manciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif sebagai berikut: 1. terbuka dalam memimpin sekolah. e. a. Menghubungkan satu pelajaran dengan pelajaran yang lain. Selain itu kepemimpinan kepala sekolah akan sangat menentukan kualitas iklim sekolah yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar dan kerja sama antar aparat sekolah yang baik sehingga penyelenggaraan pendidikan di sekolah bisa berhasil. khususnya dibidang materi belajar. DZIKIR. b. dengan penekanan khusus pada teknologi baru. Mengembangkan manajemen sekolah melalui proses pengorganisasian. 3. 5. Kepala sekolah bertugas untuk memperbaiki manajemen sekolah serta bertanggung jawab dalam pelaksanaan keputusan manajemen dan kebijakan sekolah melalui upaya-upaya berikut. c. i) Kepala sekolah menunjukkan kepribadian yang menyenangkan. namun tetap bersikap terbuka untuk kritik dan saran 1. IKHTIAR h) 52 . Mengembangkan kepemimpinan administratif. d. c) Sebuah pusat pembelajaran bagi guru dan kalangan lain yang berurusan dengan siswa. PIKIR. Dirikan sebuah pelabuhan ilmu sebagai pusat teknologi informasi dengan tiga cabang: a) Sebuah pusat produksi dan komunikasi multimedia. Kepala sekolah bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan peningkatan mutu program pengajaran. Mengembangkan pola perilaku dan tindakan yang didasari oleh integritas dan etika dalam bersikap. 2. efesien dan penciptaan lingkungan belajar yang efektif. pendengaran dan perasaannya.  Sebuah pusat multimedia yang berfungsi sebagai sumber daya keluarga dan masyarakat. Mengembangkan perencanaan pembelajaran yang mendukung sekolah berbasis masyarakat.Kepala sekolah melibatkan para siswa. Kembangkan konsep kecerdasan ganda pada setiap pembelajaran dengan melibatkan panca indera supaya pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik siswa. b) Sebuah penerbit multimedia. Ciptakan pusat kecerdasan ganda untuk melayani setiap gaya belajar. j) Kepala sekolah sangat tegas terhadap peraturan-peraturan sekolah (disiplin) dan tanpa pandang bulu. pelaksanaan dan penggunaan berbagai sumber daya yang tepat. Mengatur. khususnya bakat dan kemampuannya yang unik melalui penglihatan. Buat proyek lain untuk mempromosikan konsep belajar sepanjang hayat:  Sebuah sekolah/kelas tanpa dinding sehingga para murid bisa belajar dari berbagai pengalaman. 4. Kerja sama dengan orangtua dan masyarakat baik dalam merespon minat dan kebutuhan masyarakat maupun untuk meningkatkan peran serta masyarakat di sekolah.  Metode pembelajaran Spider Web. memelihara dan memungkinkan terciptanya budaya sekolah dan program pembelajaran yang kondusif bagi pengajaran siswa dan mengembangkan kompetensi staf. Bangun jaringan informasi rumah-sekolah-multimedia yang bersifat hangat dan personal.

kepemimpinan juga dapat dilihat dari prosesnya. Hal ini digambarkan pada tabel 7. Situasi itu antara lain tingkat kematangan para bawahan. apakah otoritarian. Kematangan Sedang-Tinggi (Mampu tetapi tidak mau) d. Kombinasi kedua dimensi ini melahirkan empat tipe kematangan manusia sebagaimana digambarkan pada kuadran berikut.5 Gaya Kepemimpinan dan Kematangan Bawahan (Hersey dan Blancard. Bentuk kepemimpinan berkaitan dengan gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah. 1982:152) Dari gambar tersebut. Gaya kepemimpinan situasional didasarkan pada anggapan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik. gaya kepemimpinan yang tepat bervariasi menurut tingkat kematangan tersebut. Tingkat kematangan seseorang dapat dilihat dari dua dimensi. dan M4. Dimensi pertama adalah kemampuan (keterampilan dan pengetahuan) dan dimensi kedua adalah kemauan (tanggung jawab dan komitmen). tingkat kematangan manusia digolongkan ke dalam empat kategori: M1. demokratis. Kematangan Rendah (Tidak mampu dan tidak mau) M2 Kematangan RendahSedang (Tidak mampu tetapi mau) M3 f. Proses kepemimpinan mencakup dua dimensi penting. Direktif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia rendah) G2 e. Tabel 19. Kemampuan Tinggi Kemauan Rendah (M3) Kemampuan Tinggi Kemauan Tinggi (M4) Gaya Kepemimpinan yang Tepat b. (Tinggi) Kemampu an Kemampuan Rendah Kemampuan Rendah Kemauan Rendah Kemauan Tinggi (Rendah) (M1) (M2) (Rendah) Kemauan (Tinggi) Gambar 19. melainkan tergantung pada situasi yang menyertainya.Selain beberapa cara di atas yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah. 1994). IKHTIAR . DZIKIR. Beban kepemimpinan berkaitan dengan sejauhmana tanggung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah terhadap semua aspek operasi sekolah. M2. Menurut teori kepemimpinan situasional. Beberapa penelitian yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan otokratik dan gaya yang terlalu demokratik kurang efektif dibandingkan dengan gaya kepemimpinan situasional (Mortimore. Adapun gaya kepemimpinan yang dikembangkan tergantung pada kondisi operasional sekolah. hierakis.4 Tingkat Kematangan Manusia (Hersey dan Blancard. Partisipatif (Perilaku tugas rendah dan hubungan manusia tinggi) 53 PIKIR. G1 c. M3. Konsultatif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia tinggi) G3 g. 1982:152) Tingkat Kematangan M1 a. berorientasi tugas atau berorientasi manusia. 1993).1 berikut. yaitu beban kepemimpinan dan bentuk atau gaya kepemimpinan (Townsend.

Lingkungan sekolah dibagi ke dalam empat aspek seperti lingkungan fisik.h. Kapan diperlukan dan dirasakan perlunya peningkatan. Kegiatan supervisi tidak hanya terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas saja. DZIKIR. Secara formal dilakukan melalui rapat-rapat sekolah. Keterlibatan mereka menjadi sangat penting karena: (1) kepala sekolah sebagai pimpinan dapat menerima masukan dari berbagai sudut pandang. ketersediaan administrasi kesiswaan yang rapi dan informatif. olahraga. kurikulum. lingkungan personil. maka supervisi dilaksanakan. Dari tabel 2 tersebut dijelaskan bahwa bawahan yang kematangannya rendah (M1) lebih cocok dipimpin dengan gaya direktif. PIKIR. kepala sekolah juga perlu melibatkan pengurus komite sekolah bahkan orangtua dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pengembangan sekolah. kegiatan yang sudah baik diupayakan untuk dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. dan lain sebagainya. Waktu pelaksanaan supervisi kadang-kadang tidak perlu dirancang waktunya. Faktorfaktor inilah yang menjadi ruang lingkup kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah. namun perlu dilakukan secara berkesinambungan. M4 Kematangan Tinggi (Mampu dan mau) G4 Delegatif (Perilaku tugas rendah dan perilaku hubungan rendah) i. khususnya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. (3) dapat memberikan penghargaan kepada guru dan staf atas pendapat-pendapat mereka. Melakukan pengambilan keputusan partisipatif Keputusan penting. Mekanisme pengambilan keputusan partisipatif dapat dilakukan secara formal maupun informal. Biasanya. dan (6) lingkungan sekolah. khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah perlu melibatkan para guru dan staf. (4) sarana dan prasarana. Di samping kecenderungan mempraktekkan gaya kepemimpinan situasional. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yang masih kurang dan diupayakan untuk diperbaiki. Aspek-aspek administrasi yang dimaksud misalnya. dan lain-lain. lingkungan sosial. Efektivitas sebuah proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) siswa. (2) guru. dan (4) dapat mengikat komitmen mereka dalam melaksanakan dan mengawasi keputusan. bawahan dengan tingkat kematangan sedang-tinggi (M3) lebih cocok dipimpin dengan gaya partisipatif. Demikian pula. Melakukan kegiatan supervisi. Kegiatan supervisi adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan di sekolah. tetapi juga pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran yeng efektif. (3). (2) dapat meningkatkan kualitas keputusan. bawahan dengan tingkat kematangannya rendahsedang (M2) lebih cocok dipimpin dengan gaya konsultatif. kumpulan soal. dan lingkungan kerja. administrasi penilaian. supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas. 1. sedangkan secara informal dilakukan melalui pertemuan-pertemuan insidentil seperti arisan. Selain itu. IKHTIAR 54 . 2. kepala sekolah yang efektif dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah melakukan hal-hal berikut. sedangkan bawahan dengan tingkat kematangan tinggi (M4) lebih cocok dipimpin dengan gaya delegatif.

a Kepala sekolah menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbuka dengan para guru. perlu mendapat kepuasan. c Kepala sekolah bersama guru mendiskusikan cara-cara pemecahan masalah guru. Kesulitan-kesulitan itu dapat berhubungan dengan strategi pembelajaran. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia dalam organisasi merupakan aset yang perlu dipelihara dan dikembangkan bagi peningkatan organisasi. PIKIR. Semakin puas pelanggan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan. Memperhatikan kebutuhan pelanggan Osborne dan Plastrik (1997) mengembangkan gagasan mengenai perlunya organisasi pemerintah memiliki strategi pelanggan dalam meningkatkan akuntabilitasnya. kemauan kepala sekolah mendelegasikan sebagian pekerjaan juga merupakan salah satu strategi yang banyak terbukti mendorong semangat tim di sekolah. b Kepala sekolah menekankan kepada guru dan staf untuk memenuhi normanorma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi. semakin akuntabel suatu lembaga.Beberapa cara yang dapat digunakan oleh kepala sekolah dalam melakukan kegiatan supervisi budaya dan iklim sekolah adalah: a Kepala sekolah melakukan kunjungan-kunjungan kelas untuk mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan budaya serta iklim sekolah yang tercipta. Karena itu penerapan strategi pelanggan akan memaksa sekolah dalam memperbaiki kinerjanya. Akuntabilitas berarti sejauhmana suatu lembaga bertanggung jawab kepada pelanggan produk atau jasa yang dihasilkan. Diskusi diharapkan menghasilkan diagnosis pemecahan dan secara bersama mengupayakan tindak lanjut untuk memperbaikinya. yang perlu dikembangkan dan didayagunakan. c Kepala sekolah memantau kemajuan belajar siswa melalui guru sesering mungkin berdasarkan pada data prestasi belajarnya. DZIKIR. b Kepala sekolah membantu guru dalam mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajaran dan faktor penciptaan budaya dan iklim belajar siswa. Memberdayakan warga sekolah Strategi pemberdayaan merupakan inspirasi banyak organisasi dewasa ini. Dalam situasi yang lain. staf dan siswa. Baik pelanggan dari dalam sekolah. Karena itu kepala sekolah sebagai manajer perlu mengembangkan cara-cara baru dalam memenuhi kepuasan pelanggannya. Definisi tentang pelanggan meliputi pelanggan dari dalam sekolah dan dari luar sekolah. 3. Di samping keempat karakteristik tersebut. terlebih dari luar sekolah. d Contoh lembar kegiatan supervisi dapat dilihat pada lampiran kegiatan supervisi yang terdapat di bagian akhir dari bab ini. 4. Pelanggan dari dalam sekolah meliputi: siswa. Identifikasi kebutuhan pelanggan ini dapat dilakukan melalui analisis SWOT. Selain itu. Di sekolah terdapat sejumlah tenaga profesional. beberapa indikator kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dikemukakan berikut ini. tenaga administrasi sedangkan pelanggan dari luar sekolah meliputi orangtua. guru. kepala sekolah melibatkan stafnya dalam berbagai pengambilan keputusan penting. Beberapa sekolah yang sukses menerapkan strategi pemberdayaan melalui berbagai program-program pengembangan profesional guru. pengelolaan kelas maupun materi pembelajaran. Kunjungan kelas dapat dilakukan secara tiba-tiba atau atas kesepakatan antara kepala sekolah dan guru. pemerintah dan pihak terkait lainnya. IKHTIAR 55 . masyarakat. khususnya guru.

orangtua dan masyarakat.Kepala sekolah menyediakan dana yang diperlukan untuk menjamin pelaksanaan program-program pembelajaran sesuai dengan prioritasprioritas program yang telah ditentukan. b. p Mengubah organisasi dari piramid yang kaku menjadi lingkaran yang lentur. c. Kepala sekolah yang adil dan tegas dalam mengambil keputusan. senang dengan perbedaan dan ketikpastian sehingga menumbuhkan kreatifitas dan inovatif guru dalam proses pembelajaran. IKHTIAR d 56 . Kepala sekolah yang tulus. PIKIR. Kepala sekolah yang memiliki dedikasi dan rajin g. di mana jaringan-jaringan berkembang dari unit-unit otonom. 1997): a. j Kepala sekolah mendorong guru. Kepala sekolah yang membagi tugas secara adil kepada guru. dan orangtua untuk berkonsultasi atau berdiskusi secara pribadi mengenai permasalahan yang mereka hadapi berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. staf dan siswa melakukan inovasi di sekolah. Kepala sekolah yang terampil dan tertib e. l Kepala sekolah memiliki komitmen yang jelas terhadap penjaminan mutu sekolah. f Kepala sekolah peka terhadap kebutuhan siswa. DZIKIR. guru. akuntabel dan profesional khususnya dalam pengelolaan keuangan. k Kepala sekolah membangun kelompok kerja aktif. Di samping memenuhi indikator-indikator tersebut. dalam penelitian sekolah efektif. t Berfikir secara global. g Kepala sekolah menunjukkan sikap dan perilaku yang dapat menjadi anutan atau model bagi guru dan siswa. staf. q Menganjurkan inovasi. siswa. i Kepala sekolah transparan. r Mengantisipasi masa depan dengan membaca masa sekarang s Secara konstan mempelajari organisasi dari dalam dan luar organisasi dan mengidentifikasi hubungan-hubungan yang lemah dalam rangkaian seluruh kegiatan yang ada serta memperbaikinya. tetapi dianjurkan untuk mengembangkan potensi mereka secara penuh. m Kepala sekolah mengidentifikasi misi organisasi supaya dapat menyusun tugas-tugas dan memberitahukan kepada seluruh karyawan. n Kepala sekolah menciptakan lingkungan yang fleksibel yang di dalamnya orang-orang tidak hanya dinilai dari. e Kepala Sekolah memberikan dukungan pada guru untuk menegakkan kedisiplinan siswa. Kepala sekolah yang memahami perasaan guru d. bukan keuntungan jangka pendek. bukan hanya secara nasional dan lokal dalam menerima dan mengelola setiap informasi dan kegiatan yang ada dalam oraganisasi. kompetensi kepemimpinan yang diperlukan di sekolah tercermin dari beberapa karakteristik kepemimpinan berikut ini (Tiong. h Ruang kepala sekolah terbuka bagi guru. eksperimentasi dan menanggung resiko dari perubahan yang terjadi. o Membentuk budaya organisasi agar kreatifitas otonom dan proses belajar secara berkelanjutan menggunakan pertumbuhan jangka panjang sebagai sasaran. Kepala sekolah yang berkemampuan dan efisien f. u Proaktif.

Dsb 4. 7. Dsb. Dsb Budaya kelas 10. Poster afirmasi Kelas 3. DZIKIR.h. Dsb. Dalam dokumen The School Leadership Context beberapa karakteristik kepemimpinan kepala sekolah yang baik menurut guru adalah: a Memiliki komitmen b Memiliki energi c Diterima oleh guru. siswa dan orangtua d Pendengar yang baik e Dapat menyesuaikan diri dengan perubahan f Menyediakan waktu bagi siswa g Konsisten dan jujur h Memiliki selera humor i Mengekspresikan perasaan j Berbagi tanggung jawab dan kekuasaan k Terampil dalam hubungan manusia l Mendorong individu dan kelompok untuk mengambil alih kepemimpinan LAMPIRAN (CONTOH) LEMBAR KEGIATAN SUPERVISI BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Nama Guru/Kelas : / Semester / Tahun Ajaran: Mata Pelajaran : Tanggal : PraktekBentuk Rencana praktek yang Permasalahan Komponen Aspek yang Diobservasi Tindak baik yang telah dan Kendala Lanjut dilakukan yang Dialami 1. Teknik pengaturan kelas yang memudahkan berkomunikasi 9. staf. Penanaman budaya prestasi pada siswa 11. Cara guru Hubungan berkomunikasi sosial dengan dengan siswa siswa 8. Kepala sekolah yang percaya diri. IKHTIAR 57 . Pemilihan strategi yang bervariasi 6. Pengaturan kelas Pengelolaan 2. Supervisor: (Nama dan tandatang PIKIR. Kesesuaian strategi Strategi pembelajaran dalam pembelajaran menciptakan budaya belajar 5.

Middle school climate: An empirical assessment of organisational health and studentc achievement. On Leadeship Of Quality Free Press. Jakarta Robins. 1992. & Vermeulen. Batam Center. Fisher & Fraser. Robins. 1997. & Mary Coulter. Persepsi terhadap Karakteristik yang Membedakan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Aki:zdemik Tinggi dan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Akademik Rendah di Surabaya. 2006. V. Mc. Manajemen Jilid II (Edisi bahasa Indonesia). Jakarta Samdal. Pustaka Pelajar. 1993. Teachers' professional development. Melbourne. PIKIR. 1999. Kebudayaan Mentaliter dan Pemberdayaan. dan Levine. Inc. 1994. Juran. DZIKIR. Moekijat. O. Manajemen Perilaku Organisasi : Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Relationship between students' perceptions of school environment. Kamus manajemen. 10(3). 394-397. Edisi keempat. 3(4):242-257. Pustaka LP3ES. Paul dan Ken Blancher. Toward a theory of school effectiveness and leadership. School Effectiveness and School Improvement. Hughes. Instructional climate in Dutch secondary education. 296-320. Y. Diterbitkan Kementrian Pendayagunaan Budaya Kerja Aparatur Negara RI. 1999. 1985. The McGraw-Hill Companies. 1990. School Effectiveness and School Improvement. 2007. Prenhallindo. Desain & Aplikasi). School effectiveness and the management of effective learning and teaching. dan Teddlie. Moedjiarto. 1999. Educational Leadership. Too soon to cheer? Synthesis of research on effective schools. 2002. Tidak diterbitkan: Malang: Fakultas Pasca Sarjana Intitut Keguruan dan llmu Pendidikan Malang. F. 1992. 1990. Effective school project and school-based management. 1998. Batam Center. Januari. Educational Administration Quarterly. School Effectiveness and School Improvement. & Hannum. Prenhallindo. Papanastasiou. PT. Jakarta. & Bronis. Alih Bahasa Agus Darma. Jakarta Luthans. School. 1974. Phi Delta Kappan. Bandung Mortimore. Cv. Arcan. Nelson 2007. Mandar Maju. Millan Inc. Bandung Anonim 2. Budaya Kerja Perbankan (Jalan Lurus Menuju Integritas ) Sambutan Burhanuddin Abdullah. Measuring school climate: Let me count the ways. IKHTIAR 58 . Purkey. . Wold. PT. 1990. School Effectiveness and School Improvement. Victoria: Australian Council for Educational Research.DAFTAR RUJUKAN Anonim 1. Studies in Educational Evaluation. Taylor. (SET research information for teachers No. 1997. Pendidikan Berbasis Mutu. 1991. D. Karisma Publishing Group. Anonim 3. P. Profiles of organizational culture and effective schools. Freiberg. 4(4):290-310. their satisfaction with school and perceived academic achievement: An international study. Asas-asas Perilaku Organisasi. 1001 Cara Untuk Menjadikan Karyawan Bersemangat. B. 1989. School Climate. Drs. 4(2):85-110. 2006. Mandar Maju. 1991. School Effectiveness and School Improvement. 1001 Cara Untuk Memberikan Imbalan Kepada Karyawan. Disertasi.2). Gramedia. Hoy. Melbourne: Australian Council for Educational Research. C. Erlangga. 1990. Karisma Publishing Group. Organization Behavior 10th Edition. Houtveen. & Smith. Slater. Jakarta Cheng. Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara. 2002. Manajemen Jilid I (Edisi bahasa Indonesia). USA Koentjoroningrat. Educational Leadership. Teori Organisasi ( Struktur. Jakarta. 1993. Jakarta Van de Grift. Jakarta Arcaro. teaching and family influence on student attitudes toward science: Based on TIMSS data for Cyprus. Supriyanto. 2005.

T. London and New York. J. PIKIR. 1994. F. A systematic test of the effective school model.Townsend. Effecting Schooling For the CommUllity. 1990. DZIKIR. IKHTIAR 59 . Witte. dan Walsh. Routledge. Educational Evaluation and Policy Analysis. 12(2):188-212. D. J.