PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

I.

KONSEP BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. Pengertian Budaya dan Iklim Sekolah 1. Budaya Sekolah Secara etimologis pengertian budaya (culture) berasal dari kata latin colere, yang berarti membajak tanah, mengolah, memelihara ladang (Poespowardojo, 1993). Namun pengertian yang semula agraris lebih lanjut diterapkan pada hal-hal yang lebih rohani (Langeveld, 1993). Selanjutnya secara terminologis pengertian budaya menurut Montago dan Dawson (1993) merupakan way of life, yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu pula dari suatu bangsa. Kemudian Kotter dan Heskett (1992) yang dikutip dalam The American Herritage Dictionary mendefinisikan kebudayaan secara formal, “sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan dan segala hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia”. Selanjutnya Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”. Lebih lanjut Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tiga wujud yaitu: a. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, nilainilai, norma-norma, peraturan dan lain-lain; b. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat dan; c. wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa budaya adalah sesuatu yang abstrak tetapi tetap memiliki dimensi yang mencolok, dapat didefinisikan dan dapat diukur berdasarkan karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Robbins (1994) sebagai berikut: (1) inisiatif individual, (2) toleransi terhadap tindakan beresiko, (3) arah, (4) integrasi, (5) dukungan dari manajemen, (6) kontrol, (7) identitas, (8) sistem imbalan, (9) toleransi terhadap konflik dan (10) polapola komunikasi. Dalam lingkup tatanan dan pola yang menjadi karakteristik sebuah sekolah, kebudayaan memiliki dimensi yang dapat di ukur yang menjadi ciri budaya sekolah seperti: a. Tingkat tanggung jawab, kebebasan dan independensi warga atau personil sekolah, komite sekolah dan lainnya dalam berinisiatif. b. Sejauh mana para personil sekolah dianjurkan dalam bertindak progresif, inovatif dan berani mengambil resiko. c. Sejauh mana sekolah menciptakan dengan jelas visi, misi, tujuan, sasaran sekolah, dan upaya mewujudkannya. d. Sejauh mana unit-unit dalam sekolah didorong untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

1

Tingkat sejauh mana kepala sekolah memberi informasi yang jelas, bantuan serta dukungan terhadap personil sekolah. f. Jumlah pengaturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku personil sekolah. g. Sejauh mana para personil sekolah mengidentifkasi dirinya secara keseluruhan dengan sekolah ketimbang dengan kelompok kerja tertentu atau bidang keahlian profesional. h. Sejauh mana alokasi imbalan diberikan didasarkan atas kriteria prestasi. i. Sejauh mana personil sekolah didorong untuk mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka. j. Sejauh mana komunikasi antar personil sekolah dibatasi oleh hierarki yang formal (diadopsi dari karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Stephen P. Robbins). Dari sekian karakteristik yang ada, dapat dikatakan bahwa budaya sekolah bukan hanya refleksi dari sikap para personil sekolah, namun juga merupakan cerminan kepribadian sekolah yang ditunjukan oleh perilaku individu dan kelompok dalam sebuah komunitas sekolah. Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Setiap sekolah memiliki kepribadian atau karakteristik tersendiri yang diciptakan dan dipertahankan serta mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan terhadap unsur dan komponen sekolah yang merupakan budaya dan iklim suatu sekolah. Jadi peran kepala sekolah pada dasarnya harus dapat menciptakan budaya bagaimana orang belajar dan bagaimana kita bisa membantu mereka belajar. Budaya dan iklim sekolah bukanlah suatu sistem yang lahir sebagai aturan yang logis atau tidak logis, pantas atau tidak pantas yang harus dan patut ditaati dalam lingkungan sekolah, tetapi budaya dan iklim sekolah harus lahir dari lingkungan suasana budaya yang mendukung seseorang melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, rela, alami dan sadar bahwa apa yang dilakukan (ketaatan itu muncul dengan sendirinya tanpa harus menunggu perintah atau dibawah tekanan) merupakan spontanitas berdasarkan kata hati karena didukung oleh iklim lingkungan yang menciptakan kesadaran kita dalam lingkungan sekolah. Misalnya budaya disiplin, budaya berprestasi dan budaya bersih 2. Iklim Sekolah Secara konseptual, iklim lingkungan atau suasana di sekolah didefinisikan sebagai seperangkat atribut yang memberi warna atau karakter, spirit, etos, suasana batin, setiap sekolah (Fisher & Fraser, 1990; Tye, 1974). Secara operasional, sebagaimana halnya pengertian iklim pada cuaca, iklim lingkungan di sekolah dapat dilihat dari faktor seperti kurikulum, sarana, dan kepemimpinan kepala sekolah, dan lingkungan pembelajaran di kelas. Beberapa pengertian lain mengenai iklim sekolah yang hampir memiliki makna serupa dikemukakan berikut ini. Hoy dan Miskel (1987) merumuskan pengertian iklim
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

e.

2

sekolah sebagai persepsi guru terhadap lingkungan kerja umum sekolah. De Roche (1985) mengemukakan iklim sebagai hubungan antar-personil, sosial dan faktor-faktor kultural yang mempengaruhi perilaku individu dan kelompok dalam lingkungan sekolah. Selama dua dasawarsa lingkungan pembelajaran di sekolah dipandang sebagai salah satu faktor penentu keefektifan suatu sekolah (Creemer et al., 1989). Fisher dan Fraser (1990) juga menyatakan bahwa peningkatan mutu lingkungan kerja di sekolah dapat menjadikan sekolah lebih efektif dalam memberikan proses pembelajaran yang lebih baik. Freiberg (1998) menegaskan bahwa lingkungan yang sehat di suatu sekolah memberikan kontribusi yang signifikan terhadapan proses kegiatan belajar mengajar yang efektif. Ia memberikan argumen bahwa pembentukan lingkungan kerja sekolah yang kondusif menjadikan seluruh anggota sekolah melakukan tugas dan peran mereka secara optimal. Hasil-hasil penelitian selaras dan mendukung penegasan tersebut. Misalnya, penelitian oleh Van de Grift dan kawan-kawan (1997) di 121 sekolah menengah di Belanda menunjukkan bahwa prestasi akademik siswa untuk bidang matematika dipengaruhi oleh sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika, apresiasi terhadap usaha guru, serta lingkungan pembelajaran yang terstruktur. Atwool (1999) menyatakan bahwa lingkungan pembelajaran sekolah, dimana siswa mempunyai kesempatan untuk melakukan hubungan yang bermakna di dalam lingkungan sekolahnya, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa, memfasilitasi siswa untuk bertingkah laku yang sopan, serta berpotensi untuk membantu siswa dalam menghadapi masalah yang dibawa dari rumah. Selanjutnya Samdal dan kawan-kawan (1999) juga telah mengidentifikasi tiga aspek lingkungan psikososial sekolah yang menentukan prestasi akademik siswa. Ketiga aspek tersebut adalah tingkat kepuasan siswa terhadap sekolah, terhadap keinginan guru, serta hubungan yang baik dengan sesama siswa. Mereka juga menyarankan bahwa intervensi sekolah yang meningkatkan rasa kepuasan sekolah akan dapat meningkatkan prestasi akademik siswa. Hoy dan Hannum (1997) menemukan bahwa lingkungan sekolah dimana rasa kebersamaan sesama guru tinggi, dukungan sarana memadai, target akademik tinggi, dan kemantapan integritas sekolah sebagai suatu institusi mendukung pencapaian prestasi akademik siswa yang lebih baik. Selain dari itu, Sweetland dan Hoy (2000) menyatakan bahwa iklim lingkungan sekolah dimana pemberdayaan guru menjadi prioritas adalah sangat esensial bagi keefektifan sekolah yang pada muaranya mempengaruhi prestasi siswa secara keseluruhan. Hasil-hasil penelitian juga menunjukkan hubungan antara iklim lingkungan sekolah dengan sikap siswa terhadap mata pelajaran. Papanastaiou (2002) menyatakan bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung, iklim lingkungan sekolah memberi efek terhadap sikap siswa terhadap mata pelajaran IPA di sekolah menengah. B. Tujuan Dan Manfaat Pengembangan Budaya Sekolah Hasil pengembangan budaya sekolah adalah meningkatkan perilaku yang konsisten dan untuk menyampaikan kepada personil sekolah tentang bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan untuk membangun kepribadian mereka dalam lingkungan sekolah yang sesuai dengan iklim lingkungan yang tercipta di sekolah baik itu lingkungan fisik maupun iklim kultur yang ada. Pemahaman bahwa budaya dan iklim sekolah mempunyai sifat yang sama, tidak berarti bahwa tidak akan terdapat sub-budaya di dalam budaya sekolah. Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam lingkungan sekolah yang merupakan karakteristik sekolah adalah budaya
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

3

dominan atau budaya yang kuat, dianut, diatur dengan baik dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak personil sekolah yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui gagasan berdasarkan kepentingannya, dan merasa sangat terikat pada nilai yang ada maka makin kuat budaya tersebut. Karena para personil sekolah memiliki pengalaman yang diterima bersama, sehingga dapat menciptakan pengertian yang sama. Hal ini bukan berarti bahwa anggota yang stabil memiliki budaya yang kuat, karena nilai inti dari budaya sekolah harus dipertahankan dan dijunjung tinggi, namun juga harus dinamis. Untuk menciptakan budaya sekolah yang kuat dan positif perlu dibarengi dengan rasa saling percaya dan saling memiliki yang tinggi terhadap sekolah, memerlukan perasaan bersama dan intensitas nilai yang memungkinkan adanya kontrol perilaku individu dan kelompok serta memiliki satu tujuan dalam menciptakan perasaan sebagai satu keluarga. Dengan kondisi seperti ini dan dibarengi dengan kontribusi yang besar terhadap harapan dan cita-cita individu dan kelompok sebagai wujud dan harapan sekolah yang tertuang dalam visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah ditunjang oleh iklim sekolah yang mendukung kontribusi tersebut. Manfaat yang diperoleh dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kuat, intim, kondusif dan bertanggung jawab adalah: 1. Menjamin kualitas kerja yang lebih baik. 2. Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. 3. Lebih terbuka dan transparan 4. Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi 5. Meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan 6. Jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki 7. Dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK Manfaat ini bukan hanya dirasakan dalam lingkungan sekolah tetapi dimana saja karena dibentuk oleh norma pribadi dan bukan oleh aturan yang kaku dengan berbagai hukuman jika terjadi pelanggaran yang dilakukan. Selain beberapa manfaat diatas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : 1. Meningkatkan kepuasan kerja 2. Pergaulan lebih akrab 3. Disiplin meningkat 4. Pengawasan fungsional bisa lebih ringan 5. Muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif 6. Belajar dan berprestasi terus serta 7. Selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri. C. Model Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Model pengembangan budaya dan iklim sekolah yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik itu kepala sekolah, guru dan staf sekolah dan utamanya siswa itu sendiri dapat dijadikan dasar dalam upaya memperbaiki iklim sekolah. Model tersebut merupakan integrasi komponen-komponen seperti budaya sekolah, iklim organisasi, dan pranata sistem sekolah. Komponen pengembangan budaya dan iklim sekolah secara umum dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori dengan beberapa aspek sebagai berikut: 1) Budaya sekolah meliputi aspek-aspek: a. Nilai b. Norma c. Perilaku
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

4

Lingkungan fisik sekolah meliputi: a. Keindahan b. Keamanan c. Kenyamanan d. Ketentraman e. Kebersihan 3) Lingkungan sistem sekolah meliputi: a. Berbasis mutu b. Kepemimpinan kepala sekolah c. Disiplin dan tata tertib d. Penghargaan dan insentif e. Harapan untuk berprestasi f. Akses informasi g. Evaluasi h. Komunikasi yang intensif dan terbuka Model berikut ini menjelaskan tentang bagaimana membangun sebuah budaya dan iklim sekolah berdasarkan unsur-unsur di atas. Model tersebut menggambarkan bahwa budaya dan iklim organisasi merupakan kumpulan nilai-nilai, norma dan perilaku yang mengontrol interaksi-personil sekolah dengan orang diluar sekolah. Budaya organisasi sekolah tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh individu-induidu yang memiliki kepentingan dengan sekolah, atau dengan kata lain budaya dan iklim sekolah merupakan hasil interaksi nilai-nilai yang dianut individu didalam dan diluar sekolah. Sekolah merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif terus-menerus untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah.
2)

PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

5

harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya dan iklim sekolah. yang memberikan suatu petunjuk kepada pemikiran atau tindakan” (Moekijat . Evaluasi h. IKHTIAR 6 . dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya dan iklim sekolah. Norma c. 2. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. Akses informasi g. Perilaku a. Misi dan Tujuan Sekolah Pengembangan budaya dan iklim sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi. Nilai b.PEMBERDAYAAN SEKOLAH BUDAYA PEMBERDAYAAN SEKOLAH LINGKUNGAN FISIK SEKOLAH a. siswa dan masyarakat. termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya budaya dan iklim sekolah. Visi tentang keunggulan mutu misalnya. Lebih jauh dijelaskan pengertian prinsip yakni pedoman-pedoman yang dapat membantu dalam penerapan manajemen yang harus dipergunakan secara cermat dan bijaksana. 3. misi dan tujuan sekolah. 1. e. d. b. Indah Aman Nyaman Tentram Bersih BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Gambar 19. guru. Berfokus Pada Visi. staf. Fungsi visi. c. c. Budaya dan iklim sekolah yang efektif akan memberikan efek positif bagi semua unsur dan personil sekolah seperti kepala sekolah. Berbasis mutu Kepemimpinan Disiplin dan tata tertib Penghargaan dan insentif e. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah. Prinsip-Prinsip Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Prinsip adalah ”suatu pernyataan atau suatu kebenaran yang pokok. b. DZIKIR.1990). Komunikasi formal dan informal a.1 Model dalam Membangun Budaya dan iklim Sekolah D. d. misi. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko PIKIR. Harapan berprestasi f. Prinsip-prinsip yang menjadi acuan dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah sebagai berikut. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien.

Sistem Imbalan yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. sedang.Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya dan iklim sekolah. 10. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah. IKHTIAR 7 . dan jangka panjang. Berorientasi Kinerja Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. 6. sehingga unsur dan prinsip-prinsipnya dianggap valid untuk dilaksanakan secara terus menerus serta diterapkan bukan hanya dianggap sebagai strategi tetapi lebih condong dipandang sebagai budaya. 7. 5. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. DZIKIR. Keputusan Berdasarkan Konsensus Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Oleh karena itu peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah harus senantiasa dibarengi dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dengan menerapkan nilai-nilai dasar sebagai asas kehidupan sekolah. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. Memiliki Strategi yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. Sistem Evaluasi yang Jelas Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. PIKIR. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya dan iklim sekolah. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. Evaluasi Diri Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi di sekolah. 8. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. Memiliki Komitmen yang Kuat Komitemen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya dan iklim sekolah. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. 9. 4. Asas-Asas Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Definisi budaya dan iklim sekolah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan sebuah pola asumsi dasar dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah efektif. E.

2. 4. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. DZIKIR. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. Untuk itu. 3. Tanpa kejujuran. IKHTIAR 8 . baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. Kerjasama tim (team work) Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Keinginan Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. Kemampuan Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Dalam lingkungan pembelajaran. Hormat (respect) Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya.Secara umum asas-asas pengembangan budaya dan iklim sekolah dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. nyaman. 5. Jujur (honesty) Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. Kegembiraan (happiness) Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Jujur dalam memberikan penilaian. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. kepercayaan tidak akan diperoleh. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. jujur dalam mengelola keuangan. Disiplin (discipline) PIKIR. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. 7. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang baik. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. nyaman. guru. 6. asri dan menyenangkan. bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah.

guru dan staf. yang akan mempengaruhi keberhasilan proses kegiatan pembelajaran di kelas. metode pembelajaran yang dipakai. khususnya pada pencapaian prestasi akademik siswa. kurikulum. kinerja sekolah ditentukan oleh suasana atau iklim lingkungan kerja pada sekolah tersebut. psikososial dan budaya (Depdikbud. DZIKIR. IKHTIAR 9 . Lebih lanjut Hughes (1991) menegaskan bahwa setiap sekolah mempunyai karakter suasana kerja. Secara eksplisit faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah kompetensi guru. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. 8. Pengetahuan dan Kesopanan Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. riset tentang iklim kerja di sekolah telah berkembang dengan mapan dan memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi pembentukan sekolah-sekolah yang berhasil. Purkey dan Smith (1985) menyatakan bahwa prestasi akademik siswa dipengaruhi sangat kuat oleh suasana kejiwaan atau iklim kerja sekolah. INDIKATOR-INDIKATOR DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Budaya dan iklim organisasi sekolah secara konsisten ditemukan berkorelasi positif dengan prestasi belajar. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. Ditegaskan bahwa jika guru merasakan suasana kerja yang kondusif di sekolahnya. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. keyakinan. kemampuan adaptasi dan keluwesan. Kekondusifan iklim kerja suatu sekolah mempengaruhi sikap dan tindakan seluruh komunitas sekolah tersebut. 1994). serta lingkungan pembelajaran baik lingkungan alam. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. Pembentukan suasana pembelajaran yang kondusif perlu diciptakan dalam seluruh lingkungan sekolah termasuk didalamnya lingkungan kelas. staf dan kepala sekolah tarmpil. orang tua dan masyarakat. sarana dan prasarana.Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. 9. Penelitian Cheng (1993) menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya organisasi (cita-cita. Demikian juga halnya. Empati (empathy) Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. maka dapat diharapkan siswanya akan mencapai prestasi akademik yang memuaskan. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Di negara-negara maju. dan misi) yang kokoh cenderung dipandang lebih efektif dalam hal produktivitas. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya dan iklim sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. II. Dimensi ini menuntut para guru. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. Dapat diartikan disini bahwa lingkungan sosial pembelajaran di kelas maupun di sekolah PIKIR.

Iklim dapat mepengaruhi motivasi. (c) mengadakan pengajian secara rutin. Perawatan Fasilitas Fisik Sekolah Salah satu ciri sekolah efektif adalah terciptanya budaya dan iklim sekolah yang menyenangkan sehingga siswa merasa aman. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dikemukakan berikut ini. IKHTIAR 10 . (b) menumbuhkan budaya relegius dengan membiasakan murid mengucapkan dan membalas salam setiap bertemu. dan kawasan wajib bahasa Inggris (English area). Ia mengitari dan mempengaruhi segala hal yang terjadi dalam suatu organisasi. dan (e) terdapat juga sekolah yang mengadakan “kultum” setiap hari dan menugaskan siswa berceramah sekali seminggu. Dalam sekolah efektif. d Adanya pembiasaan-pembiasaan yang bernuansa moral dan akhlak yang mendorong meningkatnya kecerdasan spritual peserta didik. 1994). 1990). Hal ini ditandai dengan fasilitas-fasilitas fisik sekolah terawat dengan baik. Iklim adalah konsep sistem yang mencerminkan keseluruhan gaya hidup suatu organisasi. A. tertib. b Budaya bersih juga senantiasa ditumbuhkan di kalangan warga sekolah dengan membiasakan perilaku membuang sampah pada tempatnya. serta dimanfaatkan untuk menanam sayuran dan apotik hidup. Pandangan ini mengindikasikan kualitas iklim yang memungkinkan meningkatnya prestasi kerja. PIKIR. Hal yang sama dikemukakan oleh Wijaya (2005). Selain itu. indah dan nyaman. Hal ini dapat terjadi melalui penciptaan norma dan kebiasaan yang positif. prestasi. c Dalam lingkungan sekolah terdapat beberapa kawasan khusus seperti: kawasan wajib senyum. dan agar orangtua dan masyarakat merasa dirinya diterima dan dilibatkan (Townsend.(kantor guru dan staf tata usaha) mempunyai pengaruh baik langsung maupun tak langsung terhadap proses kegiatan pembelajaran. perhatian khusus diberikan kepada penciptaan dan pemeliharaan iklim yang kondusif untuk belajar (Reynolds. yaitu budaya sekolah yang perlu ditumbuhkan berupa suasana saling hormat antara siswa dengan siswa. (5) iklim parternal. Apabila gaya hidup itu dapat ditingkatkan. iklim sekolah yang kondusif mendorong setiap personil yang terlibat dalam organisasi sekolah untuk bertindak dan melakukan yang terbaik yang mengarah pada prestasi siswa yang tinggi. 1985). agar guru merasakan diri dihargai. nyaman. 1985). dan dengan pihak lainnya. Hal ini dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut: a Pekarangan dan lingkungan sekolah yang tertata sedemikian rupa sehingga memberi kesan asri. kemungkinan besar tercapai peningkatan prestasi kerja (Davis dan Newstrom. seperti: (a) berdoa sebelum pelajaran dimulai. Sehubungan dengan itu maka budaya dan iklim sekolah dapat digolongkan menjadi enam kondisi yaitu: (1) iklim terbuka. Penampilan fisik sekolah selalu bersih. Budaya dan iklim sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa tenang. 1994). dan kepuasan kerja (Davis dan Newstrom. teduh. kawasan bebas narkoba dan rokok. rapi. DZIKIR. guru dengan guru. aman dan bersikap positif terhadap sekolahnya. tetapi ia ada seperti udara dalam ruangan. siswa dengan guru. Iklim tidak dapat dilihat dan disentuh. hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghargai satu sama lain. (d) shalat berjamaah pada waktu shalat duhur. Iklim yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman. dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. dan tertib di dalam belajarnya. Penataan Lingkungan Fisik Sekolah 1. (2) iklim bebas. (3) iklim terkontrol (4) iklim familier (kekeluargaan). dan nyaman. dan (6) iklim tertutup (Halpin & B Croft dalam Burhanunudin.

kursi. Hubungan kekeluargaan ini dapat digambarkan sebagai berikut: PIKIR. termasuk semua siswa. Karena itu kepala sekolah. Penggunaan musik instrumentalia yang lembut dapat lebih menciptakan suasana menyenangkan dan memberi efek penenteraman emosi. pribadi yang patut dihargai. adalah pengadaan dan penempatan poster afirmasi ini jangan sampai terkesan berlebihan atau menjadi pesan sloganis belaka. DZIKIR. Meja. dihormati. dan sebagainya. Untuk menjamin keamanan sekolah maka harus didukung adanya tata tertib sekolah yang menjadi acuan dari semua warga sekolah. 4. IKHTIAR 11 . Penciptaan Keamanan di Lingkungan Sekolah Sekolah yang efektif perlu memperhatikan keamanan sekitar. 3. Ada kelas sains. atau puisi-puisi spiritual. apabila didukung oleh seluruh penyelenggara sekolah. dan orangtua. Budaya dan iklim sekolah yang bercirikan model hubungan seperti ini akan dapat membangun rasa kebersamaan dan dapat memicu berkembangnya rasa percaya diri dan kreativitas semua warga sekolah. dan staf harus menjadi model dan teladan untuk penegakan tata tertib dan disiplin. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. Penggunaan sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. Penataan Ruang Kelas Penataan ruang kelas ditujukan untuk memperoleh kondisi kelas yang menyenangkan sehingga tercipta suasana yang mendorong siswa lebih tenang belajar. karyawan. peralatan. Sekolah membangun budaya setara di kalangan warga sekolah. guru. Penggunaan Sistem Kelas Berpindah (Moving-Class) Moving-class adalah sistem pengelolaan aktivitas pembelajaran di mana kelaskelas tertentu ditata khusus menjadi sentra pembelajaran bidang studi/mata pelajaran tertentu. baik pada saat siswa belajar di kelas maupun pada saat mereka melakukan berbagai aktivitas lainnya di luar kelas. setiap individu memandang dan memperlakukan individu lainnya sebagai subjek. Dalam sistem moving-class ini. B. sehingga satu sama lain saling berbagi dan memberi bantuan. Penciptaan Relasi Kekeluargaan dan Kebersamaan Sekolah menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan antara kepala sekolah. Pesan-pesan spiritual untuk poster afirmasi dapat berupa petikan ayat Al-Quran. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. kelas bahasa. Penggunaan Poster Afirmasi Poster-poster afirmasi. Dalam hubungan dengan ciri ”I Thou Relationship”. Iklim interaksi antar warga sekolah dibangun atas dasar prinsip ”I Thou Relationship” bukan hubungan yang bersifat ”I-it Relationship”. guru. hadist. Yang perlu diperhatikan. kelas kesenian.2. 2. Sekolah terbebas dari gangguan keamanan baik dari dalam maupun dari luar sekolah. yaitu poster yang berisi pesan-pesan positif digunakan dan dipajang di berbagai tempat strategis yang mudah dan dapat selalu dilihat oleh siswa. dan memiliki kebutuhan dan kewenangan sendiri untuk menentukan keputusan dan pilihannya sendiri. Penataan Lingkungan Sosial Sekolah 1. kelas matematika. pajangan. pesan pujangga. Tata tertib sekolah dapat terlaksana dengan baik. Poster afirmasi ini dapat digunakan untuk mensosialisasikan dan menanamkan pesanpesan spiritual kepada siswa dan warga sekolah. ruang-ruang kelas tertentu dapat ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. media. siswa.

a. Keputusan yang dibuat hendaknya juga dapat memenuhi prinsip keadilan dan PIKIR. C. Ganjaran akan efektif jika diberikan sesegara mungkin dan dilakukan secara konsisten pada setiap siswa yang menunjukkan prestasi. Orang tua siswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan. b. individu tertentu. Memaksimalkan buku penghubung sebagai alat pengontrol kemajuan siswa sekaligus wadah menjalin komunikasi dengan orang tua. staf administrasi dan siswa menunjukkan rasa bangga terhadap sekolahnya. Penataan Personil Sekolah 1. ikut serta memutuskan sanksi terhadap pelanggaran di sekolah. kepentingan. memandang individu lain (katakanlah siswa) sebagai objek. IKHTIAR 12 . Pengembangan Rasa Memiliki Terhadap Sekolah Sekolah menciptakan rasa memiliki sehingga guru. dan memberdayakan orang tua siswa yang memiliki kemampuan finansil atau peran penting di lembaga pemerintah dan swasta dalam berbagai kegiatan sekolah. katakanlah guru tertentu. penegakan kedisiplinan di sekolah. pada diri siswa. bahkan anti sosial. memberikan sumbangan dalam bentuk materi. dan cenderung mengembangkan sikap asosial. d. Pemberian Ganjaran Positif bagi Karya Terbaik Siswa Karya-karya cemerlang siswa dipajang di kelas atau ruang kepala sekolah dan diberi ganjaran positif. Prosedur untuk melibatkan orang tua disampaikan secara jelas. Keterlibatan komite sekolah secara nyata ditemukan pada semua sekolah dalam berbagai aspek dan kegiatan. c. Ganjaran juga dibutuhkan untuk mempertahankan motivasi dan gairah berprestasi di kalangan siswa. dan kondisi khusus siswa. pertemuan berkala antara orangtua dan pihak sekolah. Pelibatan tokoh masyarakat. mendorong dunia usaha dan industri untuk berpartisipasi dalam pengembangan sekolah. 2. Ini bisa dicapai. seperti pembuatan tata tertib. mengontrol perkembangan belajar anaknya. seperti menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan sekolah. Sebaliknya dalam hubungan yang dicirikan dengan ”I-it Relationship”. Ciri hubungan seperti ini akan mematikan kretivitas dan rasa percaya diri sisiwa. DZIKIR. antara lain dengan memberi tanggung jawab pengelolaan dan perawatan wilayah tertentu kepada kelompok kelas atau ruang tertentu. pengadaan sarana sekolah. dan dapat diperlakukan sesuai kemauan dan determinasi sang guru. Setiap keputusan yang dibuat di sekolah hendaknya memperhatikan kebutuhan. 3. Pemberian Jaminan Atas Kemaslahatan Siswa Kemaslahatan siswa merupakan kriteria penting yang digunakan dalam pembuatan keputusan tentang mereka. Orangtua siswa diberi kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan. Sekolah senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan orangtua dan masyarakat melalui wadah Komite Sekolah. Orangtua dan masayarakat dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan strategis di sekolah. tidak berhak untuk menyatakan kebutuhan dan kepentingannya. Setiap warga sekolah merasa bertanggung jawab untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekolah. e. perlu dituntun. Ganjaran hendaknya diberikan sesegara mungkin dan diarahkan untuk memberi rasa kebanggaaan dan untuk mempertahankan motivasi siswa yang diberi ganjaran serta menstimulasi siswa lainnya untuk menghasilkan prestasi yang sama.

kesetaraan di kalangan siswa. Atau dengan kata lain semua kegiatan baik kegiatan kurikuler. (c) kondiisi kerja. dan lain-lain sedapat mungkin dilaksanakan pada waktu-waktu yang tidak mengganggu aktivitas proses belajarmengajar. Akseptabilitas Guru Terhadap Metode Pembelajaran Terbaru Guru bersedia mengubah metode-metode mengajar. (2) tanggung jawab bagi pembelajaran siswa. Dengan demikian. (c) pekerjaan yang menantang. 4. maka seluruh kegiatan nonteaching yang bersifat regular dan yang bersifat insidental perlu diidentifikasi. kegiatan OSIS. (b) supervisi. Penataan Lingkungan Kerja Sekolah 1. karya tulis remaja. ataupun varian-varian latar siswa lainnya. agama. kelas sosial. bila metode yang lebih baik diperkenalkan kepadanya. dan keamanan. seperti buku. ras. (b) pengakuan akan keberhasilan. (e) penghargaan. mading. peringatan hari-hari besar. Sehubungan dengan itu. harapan yang tinggi yang ditransmisikan ke dalam kelas berperan dalam meningkatkan ekspektasi diri siswa terutama berkenan dengan peningkatan prestasi akademik mereka. D. Dijelaskan bahwa faktor-faktor motivasi-iklim baik. PIKIR. dkk. 5. Penelitian Moedjiarto (1990) dan Witte dan Walsh (1990) mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara harapan yang tinggi untuk berprestasi dan prestasi akademik siswa. yaitu: (1) pekerjaan itu sendiri. agar kegiatan proses belajar-mengajar tidak terganggu. porseni. etnis. Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa semua aktivitas sekolah harus dijadwalkan sehingga kegiatan yang dilaksanakan di sekolah maupun di dalam kelas dapat berjalan lancar. termasuk keadilan dan kesetaraan gender. sebaiknya dijadwal dan disesuaikan dengan kalender pembelajaran agar jadwal proses belajar-mengajar dan implemantasi kurikulum tidak terganggu. (e) pertumbuhan dan perkembangan. PMR. terdiri dari: (a) kebijaksanaan dan administrasi. guru perlu mengadopsi dan mencoba menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran tersebut untuk lebih mengefektifkan proses pembelajarannya. (3) harapan yang tinggi akan pekerjaan yang berkualitas tinggi. Berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif telah ditawarkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. (1988) mengungkapkan bahwa harapan dan standar untuk berprestasi yang tinggi juga perlu bagi para staf sekolah yang ditandai dengan adanya: (1) keyakinan bahwa semua siswa dapat belajar. status. DZIKIR. Pengaturan Jadwal Acara dan Aktivitas Sekolah Semua aktivitas di sekolah harus dijadwalkan secara baik. misalnya: penyuluhan tentang anti narkoba. Karakteristik ini berkenaan dengan penciptaan etos positif yang dapat mendorong siswa berprestasi. misalnya: acara perpisahan sekolah. Hal ini sejalan dengan teori motivasi-iklim baik dari Herzberg (Hersey dan Blanchard. dan (5) pemberian perhatian pribadi kepada siswa perorangan. 1992). Murphy (1985) seperti dikutip oleh Wayson.Lingkungan. kondisi fisik. dan pelatihan. (d) hubungan antar pribadi. (4) persyaratan promosi dan penjenjang-an. (d) meningkatnya tanggung jawab. internet. Penerapan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif dan telah teruji perlu menjadi bagian yang mencoraki iklim pembelajaran di sekolah. yang meliputi: (a) prestasi. Menurut Mortimore (1993). Aktivitas yang bersifat insidental dan tidak terjadwal dalam program semester/tahunan. Aktivitas bersifat regular dan dilakukan setiap semester/tahun di sekolah. Harapan yang Tinggi Untuk Berprestasi Karakteristik ini pada umumnya ditemukan dalam sekolah efektif. IKHTIAR 13 .

1992). program. Penciptaan Budaya Kerja Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian dalam upaya penciptaan budaya kerja yang positif seperti: a. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Pryke. Pertemuan antara kepala sekolah dengan berbagai pihak. DZIKIR. Memberikan kesempatan kepada para guru. (3) kualitas berarti memenuhi keinginan.kokurikuler. guru. b. maupun ekstrakurikuler. yaitu: (1) kualitas adalah pekerjaan setiap orang. Salah satu bentuk pengembangan budaya kerja yang positif adalah budaya mutu. d. siswa. menurut Brough (1992) perlu memperhatikan hal berikut. ternyata 35 persen dari biaya operasionalnya dipakai untuk memperbaiki dan menyelesaikan pekerjaan yang ternyata salah atau keliru dilakukan (Crosby. kebutuhan. Senantiasa melakukan pembinaan dan motivasi kepada guru. Turner. seperti komite sekolah. (4) kualitas PIKIR. f. hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tumpang tindih. dan selera konsumen. menanamkan budaya pengawasan melekat (WASKAT) terhadap seluruh personil sekolah secara intensif. Kepala sekolah. IKHTIAR 14 . Di kalangan bisnis. Menyiapkan buku bacaan sekolah di setiap sudut atau ruang sekolah dalam bentuk taman bacaan atau ruang tunggu yang bisa digunakan oleh siapa saja tanpa harus dijaga karena didasari oleh kebutuhan dan kejujuran. baik yang bersifat formal maupun informal. rencana. staf dan siswa dengan menggunakan prinsip pemberian penghargaan mereka yang berprestasi dan penerapan sanksi disiplin untuk mereka yang melakukan pelanggaran disiplin sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku di sekolah tidak terkecuali kepada siapapun. guru dan staf menyusun mekanisme proses pelayanan yang direncanakan maupun mekanisme pelayanan langsung/spontan berhubungan proses belajar mengajar dan kegiatan yang dapat menunjang kelancaran proses belajar mengajar. (2) kualitas muncul dari pencegahan. 1990). Dalam rangka menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif. e. Hal ini membawa implikasi bahwa sekolah perlu didorong untuk tidak hanya melihat aspek input manajemen tetapi jauh lebih penting adalah proses manajemennya. 2. dan kegiatan sebaiknya ditata secara baik sehingga tidak saling mengganggu. yang dalam konteks pembelajaran berarti perbaikan secara berkelanjutan “proses pembelajaran. Filosofi utama budaya mutu adalah “perbaiki prosesnya sebelum hasilnya jelek” (Paine. h. Penerapan disiplin dan tata tertib sesuai dengan mentaati jam kerja yang berlaku di lingkungan sekolah. kepala sekolah. yang diartikan sebagai proses manajemen dalam konteks ini adalah manajemen mutu. guru dan wali kelas wajib menciptakan iklim kerja dan iklim belajar yang kondusif dalam rangka untuk meningkatkan kinerja guru dan prestasi belajar siswa. staf dan siswa untuk meningkatkan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas melalui pendidikan dan pelatihan. g. sebagai wahana saling mengkomunikasikan ide. Setiap guru bidang studi dan wali kelas senantiasa melakukan pemantauan dan evaluasi secara periodik terhadap peningkatan disiplin dan prestasi belajar siswa c. Penerapan manajemen mutu dalam organisasi nonprofit termasuk sekolah. bukan hasil dari suatu pemeriksaan atau inspeksi.” Sehubungan dengan itu maka.

Fokus dan arahan pada setiap pilar tidak dapat dibatasi oleh satu pilar dalam mengembangkan budaya dan iklim mutu dalam lingkungan sekolah. Dengan konsep ini memungkinkan bagi guru dan staf untuk mengukur dan mendokumentasikan nilai tambah parakarsa mutu kepada siswa dan masyarakat.menuntut kerja sama yang erat. Pengembangan budaya mutu antara lain dapat dilakukan melalui penciptaan harapan yang tinggi untuk berprestasi di kalangan warga sekolah. Prosesenya diawali dengan visi dan misi mutu dalam lingkungan sekolah yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan pemakai. mendorong keterlibatan total warga dalam setiap program. Arcaro (2005) dengan konsep “pilar mutu” menggambarkan kriteria sekolah yang memiliki mutu mulai dari kegiatan di ruang kelas sampai pada perawatan bangunan sekolah sebagaimana digambarkan pada halaman berikut. Pilar mutu memberikan fokus dan arahan yang diperlukan oleh seluruh personil sekolah untuk setiap prakarsa mutu. Transformasi menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan komitmen bersama terhadap mutu oleh komite sekolah. dapat diterapkan di semua sekolah. (6) kualitas harus didasarkan atas perencanaan strategik. DZIKIR. Karena pendekatan sistem merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam pilar mutu maka dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah yang bermutu maka juga harus berfokus pada semua pilar sekaligus. Manajemen mutu terpadu merupakan metode yang dapat membantu sekolah untuk membangun aliansi antara pendidikan. kepala sekolah. serta perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat program pendidikan di sekolah menjadi lebih baik. IKHTIAR 15 . menunjang sistem yang diperlukan oleh guru. Sekolah yang menerapkan maanjemen mutu terpadu akan membangun budaya dan iklim sekolah yang memungkinkan setiap orang membawa ukuran perbaikan mutu terhadap proses kerjanya yang dapat dinilai bagaimana kontribusinya dalam mengembangkan kompotensi siswa dari segi intelektual. staf. siswa. PIKIR. staf dan siswa untuk mengelola perubahan. bisnis dan pemerintah untuk memastikan apakah para professional sekolah memberikan fokus pada sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan program-program pendidikan di sekolah. Yang dimaksud dengan budaya mutu adalah terciptanya kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang positif terutama dalam aspek sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja sekolah yang tinggi. guru. Beberapa pandangan Juran yang dikutip oleh Jerome S Arcaro (2005) tentang mutu adalah: (1) meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir (2) perbaikan mutu merupakan proses berkelanjutan. Pilar-pilar ini merupakan model penting bagi setiap prakarsa mutu yang berhasil dan pilar mutu ini bersifat universal. Sebuah model sekolah bermutu terpadu yang dikembangkan oleh Jarome S. bukan program sekali jalan (3) mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan dan administrator (4) pelatihan merupakan prasyarat mutu. (5) kualitas menuntut perbaikan yang berkelanjutan. emosional dan spiritual agar lebih siap dalam menghndapi tantangan akademik dan bisnis dimasa yang akan dating. dan (5) setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan di sekolah. orang tua siswa dan masyarakat.

guru. di mana para guru percaya bahwa siswa dapat mencapai tingkat prestasi yang tinggi. DZIKIR.Gambar 19. menyusun standar kinerja yang tinggi bagi guru. komitmen dan kerajinan yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang tidak fair seperti menyontek. staf administrasi. maupun siswa. PIKIR. d. Merumuskan standar sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja tinggi baik bagi kepala sekolah. Guru yang berorientasi budaya mutu memiliki motivasi kerja. Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh orangtua siswa. Sekolah menekankan kepada siswa dan guru bahwa belajar merupakan alasan yang paling penting untuk bersekolah. a. dan kinerja yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang menodai komitmen terhadap mutu. staf dan siswa. Siswa yang memiliki budaya mutu memiliki motivasi belajar. b. Sekolah menciptakan suasana yang memberikan harapan dan semangat. c. Beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah dalam menciptakan budaya mutu di sekolah adalah sebagai berikut. Beberapa indikator penciptaan budaya mutu di sekolah adalah. a. IKHTIAR 16 .2 Model Sekolah Bermutu Terpadu Sekolah yang memiliki budaya mutu. dan sebagainya. Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh siswa. komitmen.

Pembiasaan dan tata prilaku dimaksudkan sebagai Budaya Sekolah Bakti Mulya 400 adalah sebagai berikut: a. e. khususnya siswa dan orangtuanya. C. Menyelenggarakan pendidikan yang menumbuhkembangkan potensi siswa untuk menjadi manusia seutuhnya. maka pembinaan siswa dilakukan melalui proses pembinaan sikap dan prilaku sehari-hari di sekolah yang diarahkan kepada terwujudnya budaya sekolah Bakti Mulya 400. dan pemberian jaminan mutu sekolah. 3. B. d. Setiap staf dan guru agar menyusun laporan akuntabilitas secara periodik setiap triwulan b. keramahan. kemudian diuraikan dalam beberapa misi sebagai berikut: A. Menghasilkan lembaga pendidikan yang memiliki predikat sekolah unggul. Standar pelayanan prima meliputi elemen berikut: kecepatan. kompeten/mampu dan terampil. Menciptakan sistem penghargaan bagi warga sekolah yang berprestasi tinggi dan pembinaan serta hukuman bagi yang berprestasi rendah. Melaksanakan berbagai lomba untuk mendorong siswa. Setiap orang yang melakukan perjalanan dinas baik ke daerah maupun ke luar negeri wajib melaporkan hasil perjalanan Dinasnya kepada bendahara atau kepala sekolah Berikut ini dikemukakan contoh-contoh penerapan indikator budaya dan iklim sekolah pada salah satu sekolah. ketepatan. dan staf dalam berkompetisi. Contoh Budaya dan iklim Sekolah Bakti Mulya 400 Visi : Menjadi pusat pengembangan pendidikan yang melahirkan kader pemimpin dan intelektual muslim dengan wawasan luas serta tanggap terhadap lingkungan dan mampu bersaing di era globalisasi sehingga mampu memperbaiki kualitas bangsa Indonesia Misi: Dikembangkan dari visi. PIKIR. bangsa dan negara E. Menghasilkan lulusan yang unggul. DZIKIR. ketanggapan. guru. c. 17 . Pemanfaatan sumber dana baik yang bersumber dari APBN maupun APBD ataupun seumber lain dilakukan dengan berlandaskan kepada prinsip efektivitas dan efisiensi. Budaya Sekolah: Untuk merealisasikan visi. Menyelenggarakan pendidikan umum yang bernafaskan Islam.Merumuskan standar pelayanan prima yang dipatuhi semua warga sekolah guna meningkatkan mutu pelayanan kepada pelanggan sekolah. Memampukan warga sekolah untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas guna memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna lulusan (masyarakat). Peningkatan akuntabilitas Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penciptaan budaya akuntabilitas di sekolah sebagai berikut: a. Menghasilkan sumber daya manusia yang berguna bagi dirinya. IKHTIAR b. nusa. D. serta berorientasi kepada hasil (output) dan manfaat (outcomes) dari setiap program yang diselenggarakan di sekolah c. Kegiatan sekolah dilaksanakan pagi hari dengan 5 hari belajar dalam seminggu. misi pendidikan serta sifat-sifat umum siswa Bakti Mulya 400.

Istiqomah. d. ä. bulan dan tahun hijriah di samping tanggal. sebelum tidur. Membiasakan melaksanakan puasa sunat seperti puasa Senin dan Kamis. ö. Ikhlas beramal k. Nasional dan bakti sosial kemasyarakatan (seperti donor darah. Nadzafah. Amanah. minta tambah ilmu. h. pembagian sembako. Melafalkan dan membiasakan mengamalkan 10 do‟a amaliah harian. Berbakti kepada orang tua j. f. Logis dalam berpikir o. Memberangkatkan ibadah haji bagi guru/karyawan sesuai dengan kemampuan keuangan Yayasan BKSP Bakti Mulya 400. Setibanya di sekolah saat bertemu dengan guru maupun teman berjabat tangan dan memberi salam “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” Demikian halnya bila menerima salam maka segera menjawab salam “Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh”. bangun tidur. DZIKIR. Rajin beramal l. mejelang datangnya Hari Raya Idul Adha. siswa melafalkan surat “Al Fatihah” dan “Do’a” sebelum pelajaran dimulai. Melaksanakan pesantren kilat setiap awal Bulan Ramadhan. Menyelenggarakan latihan manasik haji. å. SLTP. IKHTIAR . bagi siswa yang telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang SD. do‟a bercermin. pakaian dan lingkungan. Lemah lembut dalam tutur kata r. dapat dipercaya q. Membiasakan menulis dan mengucapkan “Basmallah” setiap memulai pekerjaan dan atau “Hamdallah” setelah selesai melakukan pekerjaan. Ramah dalam bergaul m. Dengan bimbingan guru yang mengajar pada jam pertama. y. bulan dan tahun masehi. Membiasakan mengucap kalimat-kalimat thayyibah dan dzikir dalam rangka mendekatkan diri dan mengagungkan Asma Allah SWT. masuk dan keluar masjid Melakukan 11 amalan yang tercermin dalam “Birrulwalidain” yakni: i. c. dan setelah jam pelajaran terakhir membaca surat “Al Ashr” dipimpin guru yang mengajar pada jam terakhir. dan juga dilakukan dalam setiap kesempatan suatu acara resmi sekolah. khitanan masal. diantaranya do‟a keluar rumah. mengawali dan mengakhiri pekerjaan. bersih diri. 18 PIKIR. masuk dan keluar kamar mandi/wc. Setiap pagi siswa dilepas pergi ke sekolah oleh kedua orang tua dengan iringan salam dan do‟a. Melaksanakan khataman pelajaran Al Quran. t. z. u. w. dan SMU. g. Membiasakan menulis tanggal. v. Waspada terhadap naza p. Membiasakan memakmurkan Mushalla dengan kegiatan keagamaan dan shalat Dzuhur/Jumat. e. Menyelenggarakan peringatan hari-hari besar Islam.b. Ulet dalam mencapai cita-cita n. Pada pagi hari membaca “Ikrar” dalam bahasa Arab dan terjemahannya bersama dengan guru. atau yang lainnya. do‟a untuk kedua orang tua. pemberian beasiswa). x. teguh dalam keyakinan s. Mengikuti pemantapan pelajaran Al Quran dengan metode Iqra. santunan anak yatim.

Berjiwa gotong royong. III. Strategi belajar apapun yang ditempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. Untuk lebih jelasnya ke enam cara tersebut di atas akan dijelaskan dalam uraian berikut. 12. aman. langkah dan tindakan di manapun berada dan dalam suasana yang bagaimanapun semata-mata karena ibadah kepada Allah SWT. 11. 4. dan (6) penilaian hasil belajar. Oleh karena itu guru perlu menata dan mengelola lingkungan belajar di kelas sedemikian rupa sehingga menyenangkan. Demokratis dan penuh tenggang rasa. Setiap gerak. dan karena itu. mencintai bangsa dan sesamanya. Mengenakan pakaian seragam. seperti lingkungan fisik dan sistem pembelajaran di kelas. Berbudi luhur dan berakhlak mulia. sebagai berikut : 1. Disiplin. dan menstimulasi setiap anak agar terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran. cinta kebersihan dan keindahan alam sekitar. 9. 8. serta aktif menjalankan ibadah dan amaliah. Bertaqwa kepada Allah SWT. Berpengetahuan tinggi dan cerdas. diharapkan siswa/siswi Bakti Mulya 400 memiliki sifat-sifat umum. 10. mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya. Pengelolaan kelas yang baik. Memiliki pengetahuan dan keterampilan. bb. Kreatif dan bertanggung jawab. dengan senantiasa dijiwai ajaran Agama Islam. Berjiwa pejuang. 3. dapat dilakukan dengan enam cara sebagai berikut. Cukup tanggap dan peka terhadap masalah yang ada di lingkungannya. ltulah sebabnya. 5. Dengan pelaksanaan budaya tersebut. (4) penetapan strategi pembelajaran dan (5) pemanfaatan media dan sumber belajar. dan mental dalam proses belajar. STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. untuk siswa setiap hari sesuai jadwal. rendah hati dan berpola hidup sederhana. IKHTIAR 19 . (1) penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif (2) penataan ruang belajar sebagai sentra belajar (3) penciptaan atmosfir belajar yang kondusif. 2. Sehat jasmani dan rohani. DZIKIR. Pembelajaran yang efektif membutuhkan kondisi kelas yang kondusif. akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. 7. 6.aa. Kelas yang kondusif adalah lingkungan belajar yang mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. Menjalin kerja sama yang harmonis dengan orangtua/wali siswa. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik. PIKIR. Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. emosional. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran.

dengan ruang kelas yang tertata dengan baik. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan. gambargambar afirmasi. Disain ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan. Dengan ruang kelas yang baik. alat-alat peraga. pajangan hasil karya siswa yang berprestasi. media pembelajaran dan jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa. dipindahkan. guru akan leluasa memberikan perhatian yang maksimal terhadap setiap aktivitas siswa. Dalam menyusun meja-kursi model U. a. dimana guru dapat masuk ke dalam huruf U dan berjalan ke berbagai arah. dan disusun secara fleksibel. Lingkungan Fisik Kelas Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan baik seperti: pengaturan meja. Model huruf U Model susunan meja-kursi model U dapat dipilih untuk berbagai tujuan.A.1 lainnya sehingga kelompok kecil siswa yang terdiri atas tiga Model Huruf U orang atau lebih dapat keluar-masuk dari tempatnya dengan mudah. para siswa memiliki alas untuk menulis dan membaca. dan memungkinkan mereka bisa saling berhadapan langsung. Meja-kursi juga hendaknya dapat digerakkan. Selain itu juga posisi tempat duduk siswa sebaiknya tidak tetap pada posisi tertentu. Dalam model ini. Pengaturan meja-kursi Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa dapat saling dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Beri keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masingmasing. dapat melihat guru atau media visual dengan mudah. menumbuhkan. lemari. kursi. Di samping itu. Berikut dikemukakan beberapa bentuk penataan meja-kursi yang dapat dipilih oleh guru guna meningkatkan keterlibatan dan interaksi antar siswa dalam proses pembelajaran. IKHTIAR 20 . sediakan ruangan yang cukup antara satu tempat duduk dengan yang Gambar 4. para siswa dapat berkomunikasi secara bebas. PIKIR. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. Susunan model ini juga memudahkan untuk membagi bahan pelajaran kepada siswa secara cepat. DZIKIR. akan lebih baik jika posisi tempat duduk siswa dirubah setiap saat agar interaksi diantara siswa dalam kelas lebih terasa dan hal ini akan menumbuhkan sosialisasi diantara mereka serta mengatasi kebosanan siswa dengan posisi tempat duduk yang tetap. 1. saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa.

4 Model Lingkaran e. mereka dapat menghadap ke meja masing-masing.2 Model Corak Tim c. mereka dapat memutar kursi untuk berhadap-hadapan satu sama lain. Model lingkaran seperti ini cocok untuk diskusi kelompok penuh. Gambar 4. Jika mereka ingin menulis. DZIKIR. meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran atau oblong di ruang tengah kelas agar memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa) dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna menciptakan suasana yang akrab. Gambar 4. Sediakan ruangan yang cukup. Gambar 4. tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi berhadaphadapan secara langsung.b. Model Fishbowl Susunan ini memungkinkan guru melakukan kegiatan diskusi untuk menyusun permainan peran. Model Lingkaran Dalam model ini. Gambar 4. atau mengobservasi aktivitas kelompok. IKHTIAR 21 . Susunan yang paling khusus terdiri atas dua konsentrasi lingkaran kursi. namun jika mereka berdiskusi. Model Meja Konferensi Model ini cocok jika meja relatif persegi panjang. Guru juga dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah. berdebat. Susunan ini mengurangi dominasi pengajar dan meningkatkan keterlibatan siswa. Siswa juga dapat memutar kursi melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru atau papan tulis.5 Model Fishbowl PIKIR. Model Corak Tim Pada model ini.3 Model Meja Konferensi d. dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar. sehingga guru dapat menyuruh siswa menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil.

Model Workstation Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium.6 Model Breakout Groupings g. Pemajangan gambar dan warna Pemajangan gambar dan pemilihan warna perlu saran-saran berikut: a. dimana setiap siswa duduk secara berpasangan pada meja tertentu untuk mengerjakan suatu tugas (seperti mengoperasikan komputer. dsb) sesaat setelah dimenostrasikan. dapat diminta membuat gambar. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan. karangan. b. Susunan seperti ini tepat digunakan bila pokok Gambar 4. dan disusun secara fleksibel. Siswa perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan dalam kelas. atau petikan ayat. sehingga siswa dapat bekerja secara berpasangan sebagai partner belajar. dan pesan tokoh tertentu. guru perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau posterposter tersebut. dan sebagainya. diagram. Meja diatur sedemikian rupa.  Pengaturan meja-kursi sebaiknya dapat digerakkan. untuk dipilih dan dipajang dalam kelas. 2. puisi. atau kelompok. dapat membantu guru dalam proses pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. DZIKIR. dipindahkan. c. maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan berikut ini dalam menerapkan model ini. dan ditata dengan baik.  Memberikan keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih mejakursinya masing-masing. IKHTIAR 22 . letakkan meja-meja dan kursi di mana kelompok-kelompok kecil siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang didasarkan pada tugas tim. Gambar 4. melakukan kerja laboral. Guna menghindari kejenuhan terhadap gambar dan isi poster afirmasi yang sama.f. Pajangan dapat berupa gambar. hadis.  Susunan meja-kursi yang baik adalah yang memungkinkan siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Siswa. benda asli. Model Breakout groupings Jika kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan. berpasangan. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. model. misalnya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa. karya-karya terpilih siswa yang dipajang dapat PIKIR. motto. puisi. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas utama sehingga hubungan di antara mereka dapat tetap terjaga. peta. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan.7 bahasan melibatkan tugas mandiri (seat work) sekaligus tugas Model Workstation kelompok kecil. Di samping itu itu. Guna mengoptimalkan penataan ruang. mesin. poster.

rak buku. Secara umum. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. IKHTIAR 23 . keterampilan atau kegiatan tertentu. Hanya pada saat jeda atau untuk maksud memberi efek khusus dapat dipilih musik yang berisi lirik lagu. jika dana memungkinkan. Akan lebih baik. sejumlah guru bidang studi melibatkan siswa terutama dalam perencanaan dan pengadaan sumber-sumber belajar yang diperlukan. kelas kesenian. khususnya saat siswa mengerjakan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi dan daya pikir yang tinggi. B. Beberapa praktik yang baik dalam menata sentra-sentra belajar (good practice) dikemukakan berikut ini:  Dalam menata kelas menjadi sentra belajar. Sentra belajar bisa berlokasi di atas meja. perlengkapan. atau bahkan di kolong meja. Dalam sistem moving-class ini. ruang-ruang kelas tertentu ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. dan sebagainya. Oleh karena itu. Sentra belajar juga bisa bersifat fleksibel dan sementara (ditata untuk keperluan tema atau unit tertentu yang dipelajari). Di samping itu. sebagai berikut:  Atmosfir dan tatanan kelas dapat memperlancar aktivitas dan proses pembelajaran. Untuk masud tersebut. Semua elemen dalam kelas menjadi semacam reinforcer (penguat) dan stimulator untuk membangkitkan gairah dan aktivitas belajar terhadap mata pelajaran tertentu.  Sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. Penggunaan sistem moving-class seperti itu memiliki beberapa keuntungan. guru dapat mendorong siswa untuk memiliki dan mengemukakan beberapa pilihan dalam menyusun aturan dasar bagi kegiatan berbasissentra mereka. kelas matematika. dsb. pelibatan siswa tersebut juga membantu membangun keterampilan “perawatan rumah” yang dipelukan untuk mempertahankan suasana kelas yang aktif dan berorientasi pada siswa. Ada kelas sains. sudut ruang. Penataan Ruang Kelas sebagai Sentra Belajar Sentra belajar merupakan area khusus di ruang kelas untuk menata materi. Meja. pilihlah yang mengandung pesan positif. Disamping itu. Pelibatan siswa dalam merancang ruang kelas menjadi sentra-sentra belajar dapat membangun rasa kebanggaan dan kebersamaan di kalangan siswa. media. pajangan. di setiap kelas dapat disediakan radio tape untuk memutar dan memperdengarkan musik-musik lembut. Dan jika harus menggunakan musik dengan lirik. DZIKIR. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. dan karya siswa yang terkait dengan pokok bahasan. 3. jika di kelas telah dipersiapkan dengan sound-system yang baik. kelas bahasa. peralatan. kafe baca. semua pilihan musik untuk menopang aktivitas pembelajaran di kelas adalah jenis musik instrumentalia. PIKIR.berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. misalnya sentra penerbitan. kursi. belajar sambil mendengar musik dapat menciptakan suasana menyenangkan dan rasa betah tinggal di kelas. sentra pembelajaran matematika. Pemanfaatan musik Kehadiran suara musik lembut di kelas juga diyakini dapat memperkuat daya tahan dan konsentrasi belajar siswa. Sentra belajar bisa bersifat permanen atau hanya terkait dengan kegiatan atau bidang pembelajaran tertentu. peralatan.

dan ketersediaan sarana/prasarana. Hal yang sangat penting perIu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik siswa. IKHTIAR Memberikan peluang kepada setiap siswa untuk mencapai kompetensi secara maksimal sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki.3 Faktor Keberagaman Karekteristik Siswa dan Implikasi bagi Pengelolaan Siswa Faktor Keberagaman Isi (by content) Pengelolaan Siswa Memberikan peluang kepada siswa untuk mempelajari materi yang berbeda dalam sasaran kompetensi yang sama ataupun berbeda. kerjasama. DZIKIR. Minat dan motivasi siswa (by interest) Kecepatan tahapan belajar (by piece) Tingkat kemampuan (by level) Reaksi yang diberikan PIKIR. berpasangan. Media dan peralatan pembelajaran Sains. misalnya. Untuk itu. tujuan kegiatan. Demikian pula kebutuhan media dan alat bantu belajar pada mata-mata pelajaran lainnya ditata khusus pada kelas-kelas tersendiri.  Setiap hari.  Pergerakan-pergerakan yang dialami siswa saat perpindahan kelas memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih aktif dan hidup di kalangan siswa. dan berbagai sikap prososial siswa lainnya. serta kegiatan yang dilakukan siswa. kelompok kecil. atau klasikal. waktu belajar. Memungkinkan penggunaan sarana. Hal ini diharapkan mampu memacu motivasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri. Memberikan peluang kepada siswa untuk belajar (bekerja) sesuai dengan kecepatan belajar yang dimilikinya. Memberikan peluang kepada siswa untuk berkreasi sesuai dengan minat dan motivasi belajar terlepas dari kompetensi yang sama atau berbeda. keterlibatan siswa. Mobilitas gerak seperti Ini dapat menghindarkan siswa dari kejenuhan akibat tata ruang kelas yang monoton. perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap siswa memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya. 1. siswa dapat menikmati dan mengalami proses belajar pada tempat dan lingkungan belajar yang bervariasi. Beberapa pertimbangan perIu diperhitungkan sewaktu melakukan pengelolaan siswa. Pengelolaan Aktivitas Belajar Siswa Biasanya. Berikut ini beberapa contoh perbedaan karakteristik masing-masing siswa Tabel 19. Guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. kepedulian. tidak perlu ada di semua kelas. pengelolaan aktivitas belajar siswa dilakukan dalam beragam bentuk seperti individual. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran. Antara lain jenis kegiatan. Memberikan peluang kepada siswa untuk menunjukkan 24 . semua kebutuhan pembelajaran mata pelajaran tersebut cukup ditempatkan dan ditata khusus pada kelas tertentu. fasilitas. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/isi materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan siswa. Ini dapat menstimulasi dan mengembangkan sikap-sikap empati. serta berbagai media dan peralatan belajar secara lebih efisien.

Alokasi jam pembelajaran tersebut harus dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan perubahan belajar pada diri siswa. Penggunaan komputer merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh. Dengan demikian. sumber-sumber waktu yang disediakan untuk setiap jam pembelajaran dapat digunakan secara efektif dan efisien.  Dilakukan untuk menunjung program pembelajarannya. atau terlalu banyak menggunakan waktu untuk menyelesaikan tugas administratif. Jika skenario pembelajaran disiapkan dengan baik. guru dapat mememperkirakan macam dan kuantitas kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan.  Mulai pembelajaran pada waktunya. Waktu merupakan sumber terbatas yang perlu dialokasi dan dimanfaatkan secara efesien dan efektif. dari dekat ke jauh. Struktur pengetahuan (by structure) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih (menyeleksi) materi berdasarkan cara yang dikuasai.  Hindari waktu terbuang akibat keterlambatan penyiapan sumber atau media. sebagainya. penundaan memulai awal pembelajaran. Hindari menghabiskan terlalu banyak waktu menghadapi siswa terlambat atau problem siswa lain. Pengelolaan Waktu Pembelajaran berlangsung selama priode waktu tertentu.  Hindari terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu selama proses pembelajaran. atau gambar untuk membantu siswa memahami apa yang harus dilakukan.siswa (by respond) Siklus cara berpikir (by circular sequence) Waktu (by time) Pendekatan pembelajaran (by teaching style) 2. Tata peralatan dan bahan yang diperlukan sedemikian rupa di lokasi yang mudah dijangkau dan digunakan oleh semua siswa saat dibutuhkan. dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. bagaimana dan dimana suatu tugas harus dilakukan. IKHTIAR 25 . DZIKIR. tertulis.  Hindari menghentikan PBM sebelum waktunya. Memberikan perhatian kepada setiap individu siswa yang kemungkinannya memiliki perbedaan durasi untuk mencapai ketuntasan dalam belajar. misalnya: dari yang mudah ke sulit. Memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap individu sesuai dengan keadaan siswa. Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menguasai materi melalui cara-cara berdasarkan perspektif yang mereka pilih. atau dilimpahkan ke konselor sekolah. Kondisikan agar prosedur dan kegiatan rutin siswa di kelas dapat dilakukan dengan lancar dan cepat. Guru terkadang terlalu banyak menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa terlambat atau menampilkan perilaku salah-suai lainnya. Siswa-siswa semacam itu sebaiknya ditangani setelah waktu pembelajaran. Gunakan petunjuk tertulis. Alokasi waktu pelaksanaan pembelajaran setiap mata pelajaran telah dialokasikan dalam satuan jam tertentu. Penataan ruang kelas PIKIR. Guna mengoptimalkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran. respon melalui presentasi/penyajian hasil karyanya secara lisan. guru perlu memperhatikan beberapa petunjuk berikut ini. benda kreasi. denah. Guru perlu menemukan cara-cara kerja yang efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas administratif yang memang perlu.

Mempertahan momentum belajar selama proses pembelajaran merupakan salah satu kunci untuk menjaga tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. sebagaimana diuraikan sebelumnya. Mencerdaskan dan menguatkan Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif. IKHTIAR 26 . Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yang (1) menyenangkan. DZIKIR. Guru hendaknya dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. Momentum belajar adalah momen. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam keseharian anak. Time on-task siswa.  menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa. dan sesuai dengan minat siswa. 1. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa.  yang baik. Ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pelajaran dengan hal-hal yang menarik. pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan hidup (life skill). dan (4) menguatkan. dapat membantu memperlancar aktivitas pembelajaran di kelas. Oleh karena itu. kesempatan. (2) mengasyikkan. guru dilatih: PIKIR. (3) mencerdaskan. Menyenangkan dan mengasyikkan Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif perasaan. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru. yaitu curah waktu dimana siswa secara aktif terlibat secara mental pada proses belajar. Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran. bersifat melibatkan. C. 2. siswa selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan dan begitu pekerjaan dimulai tidak ada lagi gangguan yang merusak konsentrasi belajar. Tingkatkan time on-task setiap siswa untuk mengikuti setiap sesi pembelajartan. atau saat khusus tertentu dimana kelas sedang berada pada kondisi sangat kondusif dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Pertahankan momentum belajar. Dalam kelas yang menjaga momentum dengan baik. Penciptaan Atmosfir Belajar Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran. melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Setiap siswa bergiat untuk saling belajar. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:  bersikap ramah  membiasakan diri selalu tersenyum  berkomunikasi dengan santun dan patut  adil terhadap semua siswa  senantiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya. penggunaan metode dan strategi belajar yang bervariasi.

Bahkan ada guru yang membuka pelajaran diawali dengan nyanyian pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang siswa melanjutkan lagu tersebut. Beberapa praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik (good practice) dikemukakan berikut ini. D. dan saling menjelaskan. karena jika anak senang dan asyik.Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir. melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.  Sebelum memulai pelajaran. memantapkan. guru atau pihakpihak lain. IKHTIAR 27 . tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh. hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain. dengan sikap yang ramah dan penuh senyuman guru menyapa beberapa orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan dan kesiapan masing-masing siswa untuk belajar. prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. guru membiasakan siswa untuk berdoa secara bersama agar Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam memahami pelajaran.  Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau kepada gurunya. Dengan kata lain.  Dalam proses pembelajaran siswa senantiasa perIu didorong untuk mengkomunikasikan gagasan. kemampuan. DZIKIR.  Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam.  Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran.  Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi. membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. Penerapan Strategi Pembelajaran Sebelum membahas tentang strategi pembelajaran. terlebih dahulu perlu dipahami tentang konsep belajar seperti berikut ini.  Selama proses pembelajaran berlangsung. sikap. kejujuran dan tanggung jawab bagi setiap tugas yang diberikan. agar siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat dalam suasana yang menyenangkan dan merasa tidak tertekan. saling bertanya. Selanjutnya. guru juga tidak lupa memberikan pencerahan-pencerahan rohani kepada para siswa agar mereka senantiasa saling menghormati dan menghargai. memperdalam.  Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah. tidak takut atau merasa bersalah. Artinya. Dengan demikian pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat. melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar. atau menyempumakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau gurunya.  Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran. guru senantiasa mengembangkan bentuk komunikasi yang efektif.  Di awal pelajaran. pembelajaran itu diharapkan dapat  PIKIR. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok.

b. Karena itu. 2. Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya. video. dan (6) pembelajaran scaffolding. mereka perlu diorientasikan pada situasi/dunia nyata dengan segala problemanya. dan evaluasi. maka seorang guru sebaiknya menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks pembelajaran.mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya. Tahap 2: mengorganisasi siswa untuk belajar. Pembelajaran bermakna hanya dimungkinkan terjadi bila siswa dapat mengerahkan proses berpikir tingkat tinggi. dan menemukan sendiri prinsip-prinsip dan konsep yang diajarkan. 1. (2) pembelajaran inquiry. dan penggunaan strategi pembelajaran secara baik dapat berdampak pada meningkatnya keterampilan mengajar guru dan rasa percaya dirinya. dengan menggunakan fenomena di dunia nyata sekitarnya. seperti dapat membangkitkan curiosity. Melalui dunia nyata yang terjadi di sekitar mereka. Tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. serta memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan. Tahap 3: membimbing penyelidikan individual dan kelompok. melakukan percobaan. strategi pembelajaran yang dipilih dan dipergunakan dengan baik oleh guru dapat mendorong siswa untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas. seperti pada level analisis. guru-guru menyadari bahwa strategi pembelajaran merupakan hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. (5) pembelajaran partisipatory. (4) pembelajaran kooperatif. maka siswa dapat belajar mengembangkan cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran. guna merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi dari siswa. IKHTIAR 28 . Beberapa strategi pembelajaran yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah dapat dikemukakan antara lain (1) pembelajaran berbasis masalah. d. Strategi Pembelajaran Inquiri Pembelajaran inquiry mendorong siswa untuk mengalami. Pembelajaran berbasis masalah dapat ditempuh melalui lima tahap sebagai berikut. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya. dan model. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan logistik yang dibutuhkan. dan motivasi siswa untuk terus belajar sampai dapat PIKIR. serta membantu mereka mambagi tugas dengan temannya. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. sintesis. e. Para siswa akan tertantang bagaimana belajar. DZIKIR. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. karena strategi dapat menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. minat. c. Selain itu. a. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran berbasis masalah. Dengan pemahaman seperti hal tersebut di atas. Strategi pembelajaran inquiry & discovery memiliki beberapa keuntungan. (3) pembelajaran berbasis proyek/tugas. Tahap 1: orientasi siswa kepada masalah.

Di samping itu. IKHTIAR 29 . h.menemukan jawaban. Hadapkan mereka dengan demonstrasi-demonstrasi tambahan untuk mengeksplorasi lebih jauh fenomena. dan menantang Guna mempertahankan tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sajikan tugas-tugas yang berkaitan kemudian cermati dan beri balikan atas pemikiran yang diajukan siswa. Siswa perlu mengetahui dengan tepat apa yang mereka harus kerjakan. b. Membuat tugas bermakna. bagan. Menganekaragamkan tugas-tugas Pilihan tugas yang beraneka ragam dapat menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Jika tugas belajar yang diberikan cukup bervariasi. tabel. menulis di koran. k. Minta siswa mengumpulkan informasi melalui observasi atau berdasar pengalaman masing-masing. a. melalui penerapan strategi inquiry & discovery. dan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. DZIKIR. lengkap. misalnya dalam bentuk penyajian di kelas. menempelkan di majalah dinding. siswa juga dapat belajar memecahkan masalah secara mandiri dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis sebab mereka harus menganalisis dan mengutak-atik data dan informasi. Secara operasional. gambar. siswa dapat lebih termotivasi dan lebih terlibat aktif dalam mengerjakannya. dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Dalam pembelajaran berbasis proyek. mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu. Dalam penyajian di kelas. pembelajaran inquiry & discovery dapat ditempuh melalui tahapan berikut: f. Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek/Tugas Pembelajaran berbasis proyek/tugas (project-based/task learning) ditandai dengan pengelolaan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa melakukan penyelidikan terhadap masalah otentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran. Minta siswa mengkomunikasikan dan menyajikan hasil karyanya. penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek/tugas ini mendorong tumbuhnya kompetensi pengiring (nurturant) seperti kreativitas. tanggung jawab. j. Selalu minta siswa memberi alasan atas jawaban-jawaban mereka. maka tugas yang diberikan kepada siswa harus cukup bermakna dan memiliki tujuan yang jelas. Di samping itu. Jelaskan prosedur inkuiri dan sajikan masalah. dan berpikir kritis dan analitis. kemandirian. jelas. Implementasi pembelajaran berbasis proyek/tugas didasarkan kepada empat prinsip berikut ini. siswa diberikan tugas atau proyek yang kompleks. Pilihan mengenai tugas belajar tidak terbatas dan tidak ada alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari. tetapi realistik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. PIKIR. atau karya lain. g. i. Minta tanggapan balik (counter-suggestions) dan selidiki tanggapan siswa. cukup sulit. 3. dsb. bangkitkan tanggapan dan penjelasan siswa lain. Sajikan situasi teka-teki (puzzling situation) yang sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Ciptakan lingkungan yang dapat menerima jawaban salah tapi masuk akal. kepercayaan diri. Minta siswa menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan.

Apabila siswa bekerja berkelompok. rasa harga diri. Setiap tim memiliki anggota heterogen (jenis kelamin. kebiasaan bekerja sama. dan penyesuaian sosial. Strategi Pembelajaran Kooperatif Dalam pembelajaran kooperatif. tugas yang diberikan harus memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan berhasil tinggi. Menaruh perhatian pada tingkat kesulitan Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan satu bahan baku penting untuk menjamin keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri. memungkinkan pengembangan sejumlah kompetensi nurturant pada diri siswa. masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. Monitoring tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah siswa memahami tugas mereka melalui pemeriksaan pekerjaan siswa dan pengembalian tugas dengan umpan balik? Guru harus selalu menyediakan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka memahami dan mengerjakan dengan benar tugas yang diberikan. 5. 3. kemampuan belajar). 2. 2. Memungkinkan sharing pengalaman dan saling membantu dalam memecahkan masalah pembelajaran. PIKIR. Jika siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri. Strategi pembelajaran ini. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. dan sikap prososial. Memonitor kemajuan siswa Salah satu tugas penting guru adalah memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. 3. kepekaan sosial. Tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya sebagai sesuatu yang menantang. Tiap anggota menggunakan lembar kerja akademik. tenggang rasa. guru perlu menyiapkan waktu untuk mengoreksi pekerjaan yang dihasilkan siswa dan mengembalikan kepada mereka dengan umpan balik. DZIKIR. tanggung jawab. Mengembangkan keterampilan komunikasi. ras. maka guru hendaknya berada dalam kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang bekerja secara mandiri. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan terlalu mudah. termasuk memberi reinforcement dalam bentuk reward bagi hasil karya yang baik dan catatan-catatan penyempurnaan bagi karya yang belum optimal.c. Secara operasional. d. 4. siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk saling membantu belajar satu sama lain. pembelajaran kooperatif dapat diterapkan melalui metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) Pelaksanaan metode STAD ditempuh dengan beberapa tahapan sebagai berikut: 1. kerja sama. Membangun persahabatan. keyakinan terhadap gagasan sendiri. dan penerimaan diri. Memperluas perspektif wawasan. 4. seperti: 1. Selanjutnya. Mengoptimalkan penggunaan sumber belajar dan pencapaian hasil belajar. IKHTIAR 30 . rasa saling percaya. etnik.

para siswa dibagi ke dalam kelompok yang berorientasi pada tugas dan beranggotakan 2 . Disamping itu. Gunakan berbagai teknik. diskusi kelompok fokus untuk mendorong semua siswa mengemukakan gagasan masing-masing. Siswa atau tim yang meraih prestasi tertinggi atau mencapai standar tertentu diberi penghargaan.  Tahap implementasi. sumberdaya. Misalnya. Dorong siswa menggunakan berbagai sumber. Pelaksanaan pembelajaran partisipatori dapat ditempuh melalui strategi sebagai berikut: 1. dalam memutuskan mengenai strategi umum yang perlu ditempuh. Secara individual atau tim. atau keduanya. dan tujuan umum yang sesuai dengan sub-topik yang telah dipilih. tugas.6 orang dengan komposisi heterogen. bentuk dan tugas kelompok.  Evaluasi. cara-cara menyelesaikan tugas. 3. seperti brainstorming. setiap kelompok menyajikan hasil investigasi kelompoknya di depan kelas. sumber pembelajaran. kemudian sepakati pilihan yang dapat diterima semua pihak. 5.4. para siswa memilih berbagai sub-topik dalam satu wilayah masalah umum terkait dengan tujuan pembelajaran. guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Setiap siswa adalah subjek yang kepentingannya perlu diperhatikan dan diakomodasi dalam proses pembelajaran. baik di dalam maupun di luar sekolah. Siswa melaksanakan rencana yang telah disusun. Libatkan siswa dalam membuat perencanaan dan pilihan tindakan yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Setiap siswa dan setiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar. IKHTIAR 31 . 5.  Merencanakan kegiatan kerjasama. Pelibatan siswa dalam perencanaan dan penentuan berbagai pilihan tindakan pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan komitmen siswa untuk menekuni setiap tugas pembelajaran. Tiap anggota saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi. 6. Evaluasi setiap alternatif berdasarkan kelayakan (kemampuan. DZIKIR. Strategi Pembelajaran Partisipatori Pembelajaran partisipatori menekankan pelibatan siswa untuk berpartisipasi dan ikut menentukan berbagai aktivitas pembelajaran. Dimungkinkan setiap individu atau kelompok memilih caranya masingmasing untuk mencapai tujuan sepanjang berkontribusi pada pencapaian tujuan pembelajaran.  Organisasi. PIKIR. meta-plan. fasilitas).  Penyajian hasil akhir. 2. strategi ini dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya jiwa demokratis serta kemampuan mengemukakan dan menerima pendapat di kalangan siswa. siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh dan membuat ringkasan untuk disajikan di depan kelas. Metode Invistigasi Kelompok dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:  Seleksi topik. tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan yang telah dipelajari. waktu. dsb. Evaluasi dapat mencakup siswa secara individu atau secara berkelompok.  Analisis dan sintesis. siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus.

Teknik pembelajaran scaffolding dapat dilakukan dengan format: (1) pemberian model perilaku yang diharapkan.  Secara jelas menunjukkan perbedaan antara pekerjaan anak dan solusi standar atau yang diharapkan. guru harus selalu mengingat bahwa kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya senantiasa diarahkan untuk pencapaian dampak instruksional dan dampak pengiring. dan pemberian contoh (modeling). dan (5) mengundang siswa untuk mengemukakan pendapat. Ketika pengetahuan dan kompetensi belajar siswa meningkat. Dampak instruksional bermuara pada kecerdasan intelektual (IQ).  Dorong siswa untuk menyelesaikan tugas belajar secara mandiri. atau hal lain yang dapat memancing siswa bergerak ke arah kemandirian belajar dan pengarahan diri.  Memberi model dan mendefenisikan dengan jelas harapan mengenai aktivitas yang akan dilakukan. sedangkan dampak pengiring bermuara pada kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). diharapkan guru dapat memilih dan merancang serta PIKIR. strategi pembelajaran scaffolding dapat ditempuh melalui tahapan berikut. kata kunci. guru secara berangsurangsur mengurangi pemberian dukungan. contoh. (4) menjelaskan dan mengklarifikasi pemahaman siswa. DZIKIR. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui penjelasan.  Memberi petunjuk untuk membantu anak berfokus pada pencapaian tujuan. Secara operasional. tanda mata (reminders).  Berikan dukungan dalam bentuk pemberian isyarat. Dorong siswa melaksanakan alternatif tindakan secara konsisten. (3) mengundang siswa berpartisipasi. dorongan (motivasi). kemudian secara berjenjang sebagai peranan guru dalam mendukung perkembangan siswa dan menyediakan struktur dukungan untuk mencapai tahap atau level berikutnya. guru kembali ke sistem dukungan untuk membantu siswa memperoleh kemajuan sampai mereka mampu mencapai kemandirian. 6. revisi. Strategi Pembelajaran Scaffolding Pembelajaran scaffolding merupakan praktik assisted learning.  Menyederhanakan tugas belajar sehingga bisa lebih terkelola dan bisa dicapai oleh anak. dorongan.  Asesmen kemampuan dan taraf perkembangan setiap siswa untuk menentukan Zone of Proximal Development (ZPD). dan perubahan rencana tindakan. strategi pembelajaran scaffolding mendorong siswa menjadi pelajar yang mandiri dan mengatur diri sendiri (self-regulating). (2) pemberian penjelasan. IKHTIAR 32 . Sesungguhnya. peringatan.  Sajikan tugas belajar secara berjenjang sesuatu taraf perkembangan siswa. namun tetap memberi peluang dilakukannya refleksi. Untuk keperluan itu. Beberapa keuntungan pembelajaran Scaffolding adalah:  Memotivasi dan mangaitkan minat siswa dengan tugas belajar.  Jabarkan tugas pemecahan masalah ke dalam tahap-tahap yang rinci sehingga dapat membantu siswa melihat zona yang akan di-scaffold.  Mengurangi frustasi dan resiko. penguraian masalah ke dalam langkah pemecahan. Dalam mengimplementasikan strategi-strategi pembelajaran yang disarankan. Jika siswa belum mampu mencapai kemandirian. yakni teknik pemberian dukungan belajar yang pada tahap awal diberikan secara lebih terstruktur.4.

 Semua strategi yang dipilih dan diterapkan oleh guru. Untuk keperluan itu. dan SQ tersebut. IKHTIAR 33 . Mereka mengakui bahwa selama ini. guru juga mencermati tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. jumlah siswa yang terlibat di dalam proses pembelajaran. Media dan sumber belajar yang disediakan guru hendaknya dapat mendorong dan membantu siswa untuk melibatkan mental secara aktif melalui beragam kegiatan. pada umumnya guru bidang studi melibatkan siswa. namun sejumlah guru telah berhasil menerapkan berbagai strategi pembelajaran di sekolah masing-masing. DZIKIR. Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar Untuk mendukung pembelajaran dengan baik. mempertanyakan.  Sejumlah guru telah berhasil menggunakan berbagai variasi strategi pembelajaran dalam pencapaian kompetensi dasar tertentu yang terdapat di dalam kurikulum. Pengetahuan dan pengalaman tersebut akan membantu guru dalam menentukan media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. dan sejumlah kegiatan mental lainnya. strategi pembelajaran yang diberikan hanya sebatas pada ceramah. kesenian. serta lama waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan yang dimaksud. atau olah raga memadukan strategi kooperatif dengan berbasis masalah dan strategi inquiry. senantiasa diawali dengan pembacaan doa sebelum dan sesudah berolahraga. bertanya. materi penggunaan media dan sumber belajar yang diberikan dalam pelatihan tersebut meliputi:  Pengenalan berbagai jenis media pembelajaran dan fungsinya masing-masing dalam pembelajaran.  Pada umumnya guru bidang studi menyadari sepenuhnya bahwa strategi pembelajaran yang dipilih adalah strategi yang dapat membuat siswanya mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar dan dapat memanfaatkan potensi siswa seluas-luasnya. dan pemberian tugas. diskusi. Di samping itu. berkomentar. dalam menentukan strategi pembelajaran. 1.  Latihan mencari berbagai sumber belajar yang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. fakta. mengajukan hipotesis.  Meskipun belum semua guru SMA unggulan telah menerapkan strategi pembelajaran seperti yang diharapkan. mengumpulkan data. menjelaskan.  Dengan memadukan strategi partisipatorik-penugasan. maka guru perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai media dan sumber belajar. Sumber Situasi Nyata (Sumber Berbasis Lingkungan) Situasi kehidupan nyata dan lingkungan sekitar yang ada di sekitar siswa merupakan sumber belajar yang sangat penting dan dapat memberi informasi dan pengalaman belajar yang tidak terbatas bagi siswa. EQ. seperti kegiatan mengamati. Ada banyak informasi. IPS. Misalnya dalam pembelajaran bidang studi IPA. E. dan PIKIR.mengembangkan media pembelajaran agar dapat memudahkan pencapaian IQ. serta menyesuaikan dengan tingkat kesulitan kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum.  Dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran. Beberapa praktik penerapan strategi pembelajaran yang baik (good practice) yang telah dilaksanakan di sekolah dikemukakan berikut ini. siswa mampu berkreasi seni suara dengan baik serta menanggapi beragam karya musik sesuai sifat dan karakteristik setiap jenis musik.

misalnya. 5. tabel. Rasa”. peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. yakni membuat situasi buatan. Penggunaan Media Visualisasi Verbal Sumber belajar yang paling umum digunakan dalam mendukung pemahaman mengenai pokok bahasan adalah melalui media visualisasi-verbal. Guru dapat mencari dan menyeleksi film atau video yang berisi ceritera atau laporan dokumenter yang sesuai atau ada kaitan dengan pokok bahasan tertentu dalam mata pelajaran yang diasuh. buku sumber. Materi yang diceramahkan pun perlu bersifat kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. guru tetap dapat menghadirkan situasi kehidupan dan fenomena lingkungan dengan membuat situasi buatan. siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. 4. Dengan demikian. Film atau video seperti itu kemudian ditayangkan di kelas atau temta khusus tertetu diikuti dengan diskusi bersama siswa sekaitan dengan tema dan spot-spot cerita serta kaitannya dengan pokok bahasan mata pelajaran. Pada beberapa buku biasanya tidak hanya menyajikan uraian teks. Raba. Media Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). seperti media audio-visual. Situasi dan aktivitas kelas ditata sedemikian rupa menyerupai apa yang terjadi dalam lingkungan nyata. Untuk mengatasinya. video). 6. tetapi juga dilengkapi dengan beragam ilustrasi (gambar). Sebagai bahan. Pada keadaan ini. cart. DZIKIR. 2. Penciuman. Tentu saja. cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) berfungsi sebagai bahan dan alat pembelajaran. Cara ini banyak berkaitan dengan membaca buku pelajaran. 3. siswa yang memiliki daya abstraksi lemah dapat terbantu dengan keberadaan ilustrasi/gambar tersebut. pada model ini pun dapat dibedakan menjadi situasi buatan dengan siswa terlibat langsung dan situasi buatan dengan siswa tidak terlibat langsung. TIK menjadi sebuah mata pelajaran yang diperkenalkan mulai pada jenjang sekolah dasar sampai pada sekolah menengah atas. grafik. peningkatan pemahaman siswa tentang berbagai ihwal kehidupan pasar. guru dianjurkan untuk memanfaatkan PIKIR. Penggunaan Media Audio-Visual Sumber belajar dapat pula dihadirkan melalui berbagai media. Sumber Menggunakan Situasi Buatan Guru tidak selalu mampu menyediakan situasi nyata. Kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menyajikan situasi nyata untuk belajar seringkali tidak tersedia atau sulit dilakukan. ensiklopedia. Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film. dapat dilakukan guru dengan menyediakan kegiatan simulasi. Sebagai alat pembelajaran. Dalam keadaan seperti ini. Dengan demikian. lembar kegiatan/kerja. Seperti juga pada model situasi nyata. Pada kondisi ini. Kalau keadaan ini berkelanjutan. atau kalau terpaksa perIu berceramah cukup antara 2025 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong penggunaan indera “Lihat. IKHTIAR 34 . Penggunaan Media Audio Verbal Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. guru harus mengurangi cara ini. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa.pengetahuan yang dapat digali situasi nyata dan lingkungan sekitar guna mendukung rekonstruksi dan mempekaya pemahan dan pengalaman belajar siswa. sebagian siswa berperan sebagai pembeli dan sebagian lainnya sebagai penjual. kelas dapat dirancang seperti pasar.

F. dan komputer. intranet. dan produk. media komputer juga dapat berfungsi sebagai perangkat untuk jaringan komunikasi. komputer dapat berfungsi sebagai tutor. televisi. alat (tool). Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar sebaiknya ditekankan pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. yaitu visual. DZIKIR.  Menawarkan materi dan kegiatan yang otentik dan interaktif. Dari hasil pendampingan dan refleksi terhadap kemampuan guru menggunakan media dan sumber belajar di dalam proses pembelajaran.  Siswa menerima balikan segera (instant feedback). Yang paling ditekankan adalah bagaimana guru senantiasa menyadari sejak awal bahwa tujuan akhir dari penilaian pembelajaran adalah agar untuk mengukur dan menilai keberhasilan pencapaian tiga jenis kecerdasan secara seimbang. dan SQ. Mereka PIKIR. Di samping memudahkan dan memperlancar pekerjaan. audio. bukan hanya satu jawaban kunci. bukan untuk mengukur pada hasil semata.  Tugas-tugas yang diberikan dan dijadikan bahan evaluasi siswa haruslah mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari. seperti mengetik. Bentuk penilaian yang dianjurkan dalam pembelajaran efektif adalah penilaian sebenarnya (authentic assessment). seperti melalui internet. EQ. Beberapa jenis yang potensial dan sering digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Oleh karena itu.  Siswa merasa lebih bebas tanpa merasa diamati oleh orang lain. Dalam kegiatan pembelajaran.  Format pembelajaran dapat mencakup semua indera dan aktivitas belajar. dan sebagainya. yaitu proses. horisontal. sebagai lawan cara berpikir konvergen dan vertikal) oleh siswa. akhir-akhir ini komputer telah banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.  Siswa belajar menurut masalah yang dihadapinya.  Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber. IKHTIAR 35 .fasilitas TIK untuk memfasilitasi pembelajaran di kelas. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian.  Menstimulasi muncul dan digunakannya cara berpikir divergen (berpikir lateral.  Penjadwalan bisa lebih fleksibel apabila laboratorium komputer diperlakukan sebagai sumber yang dapat diakses sendiri oleh setiap siswa (self-access learning resources). atau stimulator. email. Media komputer memiliki banyak kelebihan dibandingkan media lainnya. atau mendokumentasi data dan informasi. yang biasa disebut sebagai pembelajaran berbasis komputer (PBK). Soalsoal atau tugas memancing munculnya cara jawab atau cara penyelesaian yang bervariasi. PBK meliputi berbagai kegiatan belajar dan aplikasi dengan menggunakan komputer. Beberapa prinsip penilaian dalam pembelajaran efektif yang perlu diketahui oleh guru dalam menyusun dan melaksanakan penilaian sebagai berikut berikut. Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:  Siswa belajar sesuai kemampuan dan kecepatan masing-masing. yakni kecerdasan IQ. misalnya radio. kinerja.  Peluang untuk menyulang materi terbuka luas dan lebih banyak. dan gerak (kinestetik).  Harus mengukur semua aspek pembelajaran. ditemukan sejumlah keberhasilan di samping sejumlah kendala sebagaimana yang dipaparkan berikut ini.  Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. oral. menganalisis.

atau bentuk tagihan pilihan ganda. Misalnya tata tertib untuk masuk sekolah jam 07. (2) penilaian berkala dan berkesinambungan. Berdasarkan hasil penilaian itu diberikan penghargaan kepada peserta didik dalam bentuk rapor. dan bila melewati jam tersebut pintu gerbang sekolah ditutup rapat. Untuk menjalankan prinsip-prinsip penilaian. laporan untuk kerja. biasanya tersimpan pada buku khusus (catatan anekdot). IV.15. 1987 seperti dikutip oleh Moedjiarto.  Penilaian harus menekankan pada kedalaman pengetahuan (kualitas) dan keahlian siswa.  Tugas-tugas terstruktur biasanya dikumpulkan oleh guru dan disimpan dalam map atau loker khusus. 1990). Aturan itu harus konsisten PIKIR. dan (2) dukungan yang diberikan kepada guru bilamana mereka melaksanakan peraturan disiplin sekolah. kecuali tamu yang akan berkunjung kesekolah atau ada hal lain yang mendesak sehingga pintu gerbang sekolah dapat dibuka. paspor keterampilan. Bentuk penilaian meliputi jenis tagihan seperti kuis.harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari. portofolio. Penelitian Moedjiarto (1990) mengungkapkan bahwa karakteristik tata tertib dan kebijakan disiplin sekolah mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi akademik siswa. kerja praktik/unjuk kerja. ulangan harian. atau sertifikat kompetensi. TATA TERTIB DAN KEDISIPLINAN DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Tata tertib dan kedisiplinan sangat penting artinya dalam mewujudkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif melalui penciptaan kedisiplinan belajar. prosedur disiplin. dan (4) memberikan penilaian secara seimbang terhadap kecerdasan IQ. Pada dasarnya tata tertib dan disiplin merupakan harapan yang dinyatakan secara eksplisit yang mengandung peraturan tertulis mengenai perilaku siswa yang dapat diterima. yaitu: (1) persetujuan kepala sekolah dan guru terhadap kebijakan disiplin sekolah. pekerjaan rumah. EQ. (3) penilaian yang jujur dan adil. bukan keluasannya (kuantitas). dan SQ. Biasanya dicatat dalam buku rapor siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menciptakan kondisi sekolah yang dapat membuat semua personil sekolah untuk taat dan patuh secara sadar untuk mengikuti tata tertib yang ada disekolah tersebut. IKHTIAR 36 . tetapi lebih dari itu untuk membentuk mental disiplin kepada siswa. dan sanksisanksinya (ESCN. guru harus mempertimbangkan beberapa hal penting antara lain. tugas kelompok. Witte dan Walsh (1990) mengemukakan dua dimensi penting kedisiplinan yang dilaksanakan dalam sekolah efektif.  Catatan perilaku harian para siswa. DZIKIR. siapapun tidak diperbolehkan untuk masuk ke lingkungan sekolah jika terlambat. pertanyaan lisan di kelas. biasanya dikumpulkan oleh guru dan didokumentasikan.00-07. Disiplin sebenarnya bukan hanya sekedar aturan yang harus ditaati untuk merubah perilaku siswa di sekolah dan bukan sekedar sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan. ulangan semester. ijazah. uraian singkat. serta tagihan dalam bentuk soal yang akan diberikan pada peserta didik. tugas individu. Komponen proses dan hasil belajar yang penting dinilai antara lain:  Hasil ulangan harian dan ulangan umum. Penilaian secara umum bertujuan untuk mengetahui kemajuan hasil belajar siswa dan menetapkan tingkat penguasaan kompetensi suatu keahlian tertentu sesuai dengan indikator yang dipersyaratkan standar kompetensi.  Laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar. (1) penilaian proses dan hasil.

Contoh model yang dapat digunakan untuk siswa adalah model penambahan skor dan pengurangan skor:  Model penambahan skor. g) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya terutama diarahkan untuk membangun budaya perilaku positif dan sikap disiplin di kalangan siswa (selfdicipline) dan warga sekolah lainnya.  Model pengurangan skor. b) Semua aturan disiplin dan tata-tertib yang berkaitan dengan apa yang dikehendaki. Penyusunan Tata Tertib Sekolah Beberapa pedoman umum dalam menyusun tata tertib sekolah dikemukakan sebagai berikut. merupakan hasil kompromi semua pihak (siswa. i) Format penyusunan aturan disiplin dan tata tertib dapat dibuat dalam berbagai bentuk. tetapi juga untuk membentuk mental disiplin agar disiplin yang terjadi bukan kedisiplinan semu yang dilakukan karena takut menerima sanksi. tetapi lebih kepada kesadaran bahwa tata tertib itu memiliki nilai kebenaran sehingga perlu untuk ditaati. ditetapkan skor denda maksimum. Jika perlu dibuat satu hari tertentu di mana pada hari itu siswa diberikan kesempatan untuk berkreasi atau memberi saran kepada guru. Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam menegakkan tata tertib dan kedisiplinan meliputi tiga kegiatan pokok. Dalam model ini setiap siswa diberi skor modal awal. dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan beserta sanksi atas pelanggarannya. misalnya 100 poin. misalnya 100 poin. Dalam model ini. sosialisasi tata tertib. c) Penyusunan tata tertib harus didasarkan pada komitmen yang kuat antara semua unsur dan komponen sekolah dan konsisten dengan peraturan dan tata tertib yang berlaku. a) Penyusunan tata tertib melibatkan atau mengakomodasi aspirasi siswa dan aspirasi orangtua siswa yang dianggap sesuai dengan visi dan misi sekolah. d) Tata tertib sekolah hendaknya tetap memberi ruang untuk pengembangan kreativitas warga sekolah dalam mengespresikan diri dan mengembangkan potensi dan kompetensi yang dimilikinya. f) Tata tertib yang ada jangan sampai hanya dilakukan untuk menertibkan warga sekolah dari segi fisik saja. DZIKIR. h) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya hendaknya tetap memberi ruang bagi berkembangnya kreativitas dan sikap kritis warga sekolah. IKHTIAR 37 . guru. orangtua. dan penegakan tata tertib. Setiap pelanggaran akan berakibat pengurangan PIKIR. yaitu penyusunan tata tertib. Untuk siswa misalnya. guru pembimbing. Siswa yang mencapai skor 100 akan terancam dikeluarkan dari sekolah. pegawai dan kepala sekolah dalam rangka pengembangan sekolah. sasaran seperti ini dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran pembiasaan pada kelas-kelas awal. sebagai batas toleransi.dilaksanakan dan diberlakukan kepada semua personil sekolah termasuk guru. perlu ada kesepakatan mengenai batas wajar tentang perilaku yang dapat dikategorikan nakal atau melanggar tata tertib. staf dan kepala sekolah. e) Tata tertib sekolah jangan hanya dibuat berupa konsep yang harus dipatuhi oleh warga sekolah dengan sanksi yang sangat jelas yang dapat membuat aturan menjadi kaku. A. tetapi bagaimana mengkondisikan sekolah yang bisa membuat orang untuk tidak melakukan pelanggaran. dan kepala sekolah). Di SD.

agar semua pihak mengetahui dan memahami setiap butir aturan disiplin tersebut. Sosialisasi untuk orang tua siswa dan pengurus komite sekolah dapat dilakukan dengan cara mengirimkan tata tertib yang telah dibuat dalam bentuk tertulis kepada mereka. DZIKIR. Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya dibuat dalam bentuk tertulis dan disahkan oleh kepala sekolah. 1. Disiplin dan tata tertib sekolah berlaku untuk semua unsur yang ada disekolah tidak terkecuali kepala sekolah ataupun guru dan staf harus patuh dan taat pada peraturan sekolah yang berlaku dan menjadi komitmen yang kuat dan mengikat. pegawai. perilaku. Beberapa pertimbangan dalam penegakan tata tertib dikemukakan berikut ini. percobaan. IKHTIAR 38 . Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam melaksanakan sosialisasi tata tertib dikemukakan berikut ini. Dalam model seperti yang disebutkan di atas. B. disepakati dan disahkan kepala sekolah hendaknya disosialisasikan secara berkelanjutan kepada seluruh warga sekolah. Karena itu sosialisasi tata tertib perlu dilakukan untuk memastikan bahwa semua pihak memahami dengan baik isi tata tertib tersebut. orangtua siswa. Sikap. Penegakan Tata Tertib Kegiatan terpenting dalam menguji efektivitas tata tertib adalah pada pelaksanaannya. Aturan disiplin dan tata tertib yang telah disusun. guru. guru. dan warga sekolah lainnya. hendaknya menjadi model dan teladan bagi penegakan perilaku tertib dan disiplin di sekolah. PIKIR. Memberikan penghargaan sebagai teladan kepada guru. Di sini terkait dengan sejauh mana upaya pihak sekolah dalam menegakkan tata tertib yang telah disusun. dan siswa yang mencapai skor nihil akan terancam dikeluarkan dari sekolah. mental disiplin yang ingin ditanamkan menjadi hilang karena terlalu fokus pada skor yang ada. skor. Butir-butir tata tertib sekolah dapat dibuat dalam bentuk poster afirmasi yang dipajang di majalah dinding sekolah dan/atau lokasi-lokasi strategis di lingkungan sekolah agar dapat senantiasa dilihat.10. demosi dan PHK atau dikeluarkan sampai masalah itu terpecahkan atau dihilangkan. Sebab betapapun baiknya tata tertib tapi jika tidak ditegakkan secara konsekuen maka tidak akan banyak artinya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. Penegakan disiplin dilakukan secara bertahap kepada semua unsur yang ada disekolah mulai dari peringatan. Sosialisasi Tata Tertib Pelaksanaan tata tertib sekolah sangat tergantung pada pemahaman pihak-pihak terkait terhadap tata tertib yang disusun. sekolah juga dapat membuat peraturan tentang pemberian penghargaan kepada warga sekolah untuk memotivasi mereka mentaati disiplin dan tata tertib sekolah. dibaca dan dipahami oleh seluruh warga sekolah. yang perlu diperhatikan adalah konsekuensi yang muncul dari setiap penambahan dan/atau pengurangan skor. 3. 2. dan pengurus komite sekolah. siswa dan staf yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama kurun waktu tertentu dan diumumkan secara aklamasi pada saat pelaksanaan upacara. 2. 11. 4. C. Sekolah perlu memastikan bahwa mereka memiliki pemahaman yang sama tentang butir-butir tata tertib yang telah disepakati dan disahkan tersebut. 1. dan tindakan kepala sekolah. Selain peraturan tentang pemberian sanksi. dalam hal ini siswa. penundaan. teguran. Jangan sampai.

khususnya yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan. dan tentunya upaya mewujudkan kesejahteraan anggota. Penegakan tata tertib terutama difokuskan pada upaya membantu siswa dan semua warga sekolah untuk menyesuaikan diri dengan setiap butir dalam aturan tata-tertib tersebut. dan wakil komite sekolah. obyektivitas penilaian. dalam beberapa hal. Penegakan tata tertib merupakan bagian dan terintegrasi dengan upaya membangun budaya perilaku etik dan sikap disiplin. Sanksi penegakan tata tertib sekolah dilakukan kepala sekolah atau wakil kepala sekolah urusan kesiswaan. Agar budaya dan iklim sekolah kondusif dan tercipta harmonisasi kerja. Penghargaan dan insentif mendorong munculnya perilaku positif dan. Orangtua siswa perlu diberikan pemhamanan tentang kebijakana sekolah tentang kedisiplinan agar orang tua merasa dihargai dan dilibatkan sehingga dapat memberikan dukungan terhadap dukungan pelaksanaan tata tertib sekolah. karyawan dan siswa yang benar-benar pantas untuk mereka terima sebagai hadiah atas usaha dan hasil kerja mereka. Siswa yang menerima sanksi harus dibantu memahami dan menerima bentuk sanksi tersebut sebagai bentuk intervensi bagi kebaikan yang bersangkutan. guru. Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat. satu semester sampai satu tahun. mengubah perilaku siswa (dan juga guru). Penjatuhan hukuman (eksekusi) atas pelanggaran tata-tertib hendaknya disertai dengan penjelasan mengenai alasan dan maksud positif dari pengambilan tindakan tersebut. Konsep Pemberian Penghargaan dan Insentif Penelitian Moedjiarto menemukan signifikansi karakteristik ini dalam menciptakan sekolah efektif. Dengan pendekatan manusiawi. DZIKIR. Hal ini dinilai oleh Reynolds sebagai suatu strategi motivasi yang penting untuk meningkatkan citra diri (self-image) siswa dan berkembangnya atmosfir yang bersahabat dan suportif. 13. Penghargaan dapat diberikan kepada warga sekolah dalam rangka penegakan tata tertib sekolah seperti pemberian reward kepada mereka yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama tiga bulan. 7. 6. 8. Dijelaskan oleh Reynolds (1990). V. Berilah penghargaan yang sesuai untuk guru.5. konselor sekolah. sekolah yang sukses menyadari bahwa pemberian penghargaan jauh lebih penting ketimbang menghukum atau menyalahkan siswa. pengurus OSIS. Terhadap pelanggaran-pelanggaran. 10. 14. baik di lingkungan internal sekolah maupun di lingkungan luar sekolah. 12. saling asah-asih dan asuh sangat diyakini PIKIR. PENGHARGAAN DAN INSENTIF DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. di sekolah perlu dibangun suasana keterbukaan. dengan cepat dilakukan tindakan kedisiplinan. IKHTIAR 39 . ditetapkan melalui pertemuan konferensi kasus (caseconference) yang diikuti oleh kepala sekolah. Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan dilakukan oleh kepala sekolah setelah semua upaya persuasi untuk perbaikan perilaku telah dilakukan secara maksimal. 11. Demi efektitas layanan BK di sekolah guru pembimbing diharapkan tidak ditugaskan untuk pemberian sanksi terhadap siswa. 9. Ada konsistensi/kesepakatan di antara para guru dan kepala sekolah mengenai prosedur-prosedur dan bentuk hukuman bagi siswa pelannggar disiplin dan tata tertib.

Berikan foto tersebut kepadanya dan tempatkan foto sejenis lainnya pada lokasi menyolok agar dapat dilihat oleh semua orang. Tuliskan nama orang itu pada tropi dan berilah nama julukan di belakangnya. akan meningkatkan kinerja mereka lebih baik dari pada yang tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Sistem penghargaan upah/insentif yang dikombinasikan dengan penghargaan sosial dan umpan balik untuk kinerja guru. seperti halnya tidak pernah kenyang dengan makanan dan uang. pada akhir bulan biarkan penerima memilih anggota berikutnya untuk diberi penghargaan dan jelaskan mengapa dia dipilih. Tulis cacatan kecil yang menghargai kontribusi seseorang pada periode gaji terakhir dan lampirkan catatan tersebut pada daftar gaji seseorang.” 4. 3. staf dan siswa yang dilakukan secara sistematik. IKHTIAR 40 . Atasi masalah ”jauh di mata. PIKIR. Perhatikan semua orang yang melakukan hal yang benar dan beritahu mereka kalau pekerjaan itu baik dan benar. 2. DZIKIR. mereka sepertinya tidak kenyang atau merasa dipuaskan dengan penghargaan. e-mail. Jika anda mendengar ucapan positif mengenai seseorang. Undang tim kerja atau personil sekolah ke rumah anda pada hari sabtu atau hari lain untuk merayakan keberhasilan dalam melaksanakan tugas atau pencapaian hasil kinerja sekolah. 11. 9. Siapkan tropi dan berikan kepada mereka yang paling layak menerimanya baik untuk siswa. semakin banyak penghargaan yang mereka peroleh maka akan semakin banyak juga yang mereka inginkan. Beberapa cara paling mudah dan terjangkau untuk menghargai seseorang: 1. 12. Personil sekolah tidak pernah bosan dengan penghargaan. 5. Interaksi tersebut difokuskan hanya pada penghargaan dan tidak pada hal lain sehingga pengaruhnya tidak berkurang karena membahas masalah lain. Praktekkan pemberian penghargaan yang berkonsentrasi dan fokus pada memanggil guru staf atau siswa yang layak untuk menerima penghargaan ke kantor anda dan mengucapkan terima kasih karena melakukan pekerjaan yang bagus. Untuk membantu memastikan keadilan dan dukungan. akui peran yang dimainkan oleh guru. Dalam beberapa hal. 6. ulangi hal tersebut pada orang yang bersangkutan secepat mungkin. atau meninggalkan voice mail untuk orang dengan kata ”terima kasih atas kerja yang baik. Untungnya tidak sulit menghargai seseorang dan terdapat banyak cara untuk melakukan hal tersebut.staf dan siswa pendukung anda dengan mengajak mereka makan siang atau makan malam yang indah. Ambil foto seseorang yang sedang diberi selamat oleh kepala sekolah atau orang yang berwewenang karena prestasi yang diraih. guru maupun staf. Terus memperhatikan jenis pujian dan penghargaan yang paling disukai oleh seluruh personil sekolah dan gunakan sesering mungkin pada mereka pada saat yang tepat. 8. 10. Dalam konteks psikologi. Hargai keahlian menonjol atau keahlian individu dengan menugaskan mereka menjadi mentor personil lainnya agar dapat menunjukkan kepercayaan dan hormat anda kepadanya. Saat anda mendapat promosi.kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan tercapai dan hal ini akan sangat menunjang pencapaian tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Hargai mereka yang ditempatkan di tempat lain dan tidak punya kesempatan untuk sering ke ruang kepala sekolah. 7. jauh di pikiran” dengan faksimile.

isyarat-isyarat nonverbal. Mortomore. 41 . dan bonus. efektif dan efesien. 4. Imbalan diluar gaji berupa istirahat kerja. seperti pemberian hadiah. Penghargaan dan insentif diberikan dalam beberapa cara. Akses untuk melaksanakan pelatihan. Penghargaan ini perlu dilakukan secara tepat. penghargaan formal. Melalui penghargaan ini guru. rencana-rencana perangsang. Syarat-syarat insentif sebaiknya menjadi bagian dari perencanaan kinerja. meminta saran. kenaikan gaji/upah. Material berupa gaji atau upah. bahkan makan malam yang menyenangkan dapat menjadi insentif yang berbiaya rendah dan paling berharga bagi guru. agar tidak meninmbulkan dampak negatif. staf dan siswa dalam organisasi. B. semesteran. dan nonmateril. atau tahunan) dan diumumkan secara luas di sekolah yang bersangkutan dengan cara menempel label yang memuat hasil nominasi tersebut pada semua sudut sekolah. dan sebagainya. staf dan siswa dirangsang untuk meningkatkan kinerja positif dan produktif. (1988) sebagaimana dikutip Mortimore (1993) mengidentifikasi beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah efektif dalam pemberian insentif. Penghargaan sangat penting untuk meningkatkan produktifitas kerja dan untuk mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Bentuk-bentuk penghargaan ini dengan sendirinya membangkitkan dan menularkan semangat kerja dan meningkatkan etos kerja bagi guru dan menumbuhkan minat dan semangat belajar bagi siswa. promosi jabatan. dan plakat dinding. Bentuk-bentuk penghargaan kepada guru dan siswa berprestasi dapat berupa materil. 5.Masih banyak lagi bentuk-bentuk penghargaan yang bisa diterapkan di sekolah dalam memotivasi personil sekolah untuk berprestasi. dkk. Tugas itu sendiri seperti perasaan berprestasi. DZIKIR. sehingga mereka memiliki peluang yang sama untuk berprestasi. Indikator-Indikator yang Perlu diperhatikan dalam Pemberian Penghargaan dan Insentif Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam pemberian penghargaan dan insentif sebagai berikut: PIKIR. Diterapkan sendiri berupa penghargaan terhadap diri sendiri. bulanan. Insentif sedikit berbeda dengan imbalan. pujian untuk diri sendiri. 2. rencana-rencana bonus. 3. staf dan siswa. Penghargaan nonmateril dapat pula diberikan dalam bentuk nominasi guru terbaik dan siswa terbaik secara berkala (misalnya: mingguan. pekerjaan dengan tanggung jawab lebih besar. umpan balik evaluatif. senyum. staf dan siswa secara terbuka. insentif adalah sesuatu yang ditentukan dimuka sementara imbalan/hadiah diberikan setelah kita menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan karena insentif ditujukan untuk memotivasi karyawan maka karyawan harus tahu hal ini sejak awal. pujian. IKHTIAR 13. C. seperti pemberian sertifikat penghargaan dan lencana. Kenyataannya bonus yang besar dapat berakibat negatif jika tidak diterapkan dengan tepat karena dapat menimbulkan konflik diantara guru. Bentuk-Bentuk Penghargaan dan Insentif Menurut Winardi Bentuk-bentuk penghargaan atau insentif dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. sedikit kenaikan upah. ucapan selamat untuk diri sendiri. undangan minum kopi bersama atau makan bersama. Penghargaan sosial berupa penghargaan informal. rotasi kerja. seperti memberi penghargaan kepada individu yang menunjukkan pekerjaan atau perilaku yang baik dan penghargaan yang diberikan berdasarkan prestasi dalam kegiatan olahraga dan sosial. tepukan dibahu. Penghargaan ini akan bermakna jika dikaitkan dengan prestasi guru.

siswa atau staf yang berprestasi dalam bentuk royalti sebagai uang muka sebelum tugas/pekerjaan mereka selesaikan. penguatan juga dapat dilakukan dalam bentuk pujian. penugasan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menyenagkan. atau guru yang mendapatkan penghargaan atas prestasi yang membanggakan diumumkan dan. Prestasi yang tinggi dari siswa mendapatkan penghargaan dari sekolah. Penghargaan harus segera dilakukan kepada guru. IKHTIAR 42 . Staf atau guru yang telah menunjukkan kinerja yang unggul diberi prioritas untuk menikmati kesempatan promosi atau pilihan program lain untuk pengembangan karier. siswa dan staf. Karena ini akan menimbulkan dampak seperti perilaku konflik yang menyebabkan guru. DZIKIR. Melakukan promosi secara adil berdasarkan mutu dan kualitas kompetensi yang dimiliki oleh guru. Menggunakan penghargaan dan insentif sebagai hadiah atau ganjaran sebagai teknik manajemen dalam pelaksanaan kinerja guru dan staf serta hasil karya bagi siswa. Penghargaan kepada guru yang berprestasi diumumkan dan dipajang pada papan pengumuman seperti papan guru dan siswa yang berprestasi setiap setiap bulan. Imbalan atau insentif yang diberikan kepada guru. Memberikan penghargaan yang positif kepada guru. dirayakan. siswa dan staf menghindari dalam bentuk tidak hadir. siswa dan staf dapat dilakukan dalam berbagai bentuk selain materi. dan siswa yang berprestasi. PIKIR. Dinas Pendidikan kabupaten/kota mengambil peran nyata dalam pemberian penghargaan atas prestasi siswa dan guru yang tinggi. Penghargaan atau insentif yang diberikan kepada guru. Penghargaan dan hadiah ditentukan berdasarkan prestasi yang diraih dan memberikan kesempatan pada siswa untuk meraihnya. siswa dan staf dan tidak diwarnai oleh faktor-faktor lain atau kepentingan tertentu. siswa dan staf atas tindakan yang mereka anggap menguntungkan dan bukan memberikan hukuman atau sangsi jika sebaliknya. siswa dan staf dapat dilakukan dalam bentuk umpan balik yang segera. staf. dan waktu luang lebih banyak juga dapat merupakan wujud dari imbalan atas hasil kerja yang dilakukan Otonomi dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan kepada guru dan staf merupakan salah satu bentuk penghargaan. agar mereka dapat mendapatkan informasi yang langsung dan jelas mengenai hasil karya dan efektifitas kerjanya serta sekaligus akan memotivasi mereka untuk berkarya dan bekerja lebih baik lagi. kondisi kerja yang lebih baik. Guru mendapatkan insentif atas pekerjaan tambahan yang dilakukan.                 Sekolah memiliki prosedur pemberian penghargaan dan insentif terhadap guru. jika perlu. staf. Prestasi yang tinggi dari guru dan staf mendapatkan penghargaan dari sekolah. Setiap siswa. Memberikan penghargaan atau insentif yang setara dengan prestasi atau hasil kerja yang dilakukan oleh guru.

kepemimpinan pengajaran berperan dalam kegiatan pembinaan personil guru. perlindungan sekolah dari tekanan eksternal yang kurang mendukung. memberikan jadwal yang pleksibel atau peralatan terbaik untuk melaksanakan tugas dengan benar. DZIKIR. (1991) menunjukkan bahwa prestasi akademik dapat diprediksi berdasarkan pengetahuan terhadap perilaku kepemimpinan pengajaran kepala sekolah. Dan kunci untuk pengertian adalah belajar dari kehidupan dan pengalaman pribadi. mereka ingin diperlakukan sebagai manusia. Pemimpin Pendidikan Mutu terpadu merupakan sebuah gairah dan pandangan hidup bagi organisasi yang menerapkannya. Temuan penelitian Heck. mengetahui keinginan dan harapan mereka dan mengapa dia menginginkan hal itu. bagaimana cara mengemukakan keinginan tersebut kepada personil sekolah guna memperolah kerja sama dan mendapatkan dukungan dari personil sekolah. Lebih spesifik. Pemimpin harusmemiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu karakteristik yang paling konsisten hubungannya dengan prestasi belajar. Cuntoh sederhana yang dapat dilakukan dalam menggairahkan iklim sekolah adalah dengan sesekali mengadakan perayaan untuk membangun moral atau budaya sekolah yang bisa menghasilkan perubahan. staf dan siswa setiap harinya. pemantauan prestasi sekolah. Sejauh mana budaya dan iklim sekolah dalam bidang kepemimipin sekolah dapat memberdayakan atau malah menghambat potensi yang ada. penghormatan serta pertimbangan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah kepada guru. apa kekuatan mereka dan mengimbangi kelemahan mereka. Hal ini mungkin akan memerlukan biaya yang tidak sedikit. penyediaan waktu dan energi untuk perbaikan sekolah. Akhirnya kepala sekolah tahu bagaimana cara mencapai sasaran mereka. Menurut Townsend (1994). pemberian dukungan kepada guru. Kondisi ini mungkin kedengaran klise tetapi banyak pemimpin yang kurang menyadari hal ini. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinan di sekolah sehingga tercipta iklim dan buaya sekolah yang kondusip: Kepemimpinan adalah unsur terpenting dalam TQM. Menjadi pemimpin sekolah yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah didasarkan pada asumsi bahwa para pemimpin sekolah adalah orang-orang yang mampu mengespresikan diri sepenuhnya atau dengan kata lain mereka mengetahui siapa diri mereka. dkk. dan pencarian sumber daya ekstra untuk sekolahnya (Mortimore. Untuk memaksimalkan potensi personil sekolah terutama tergantung pada bagaimana seseorang diperlakukan. Peters dan Austin pernah meneliti karakteristik tersebut dalam bukunya A Passion for Excellence. Inti budaya dan iklim sekolah yang bersemangat adalah terletak pada kualitas hubungan antara individu dalam sebuah komunitas sekolah dan kepercayaan. Pertanyaannya adalah bagaimana membangkitkan mutu pendidikan. 1993). diberi inspirasi dan ditantang untuk menghasilkan prestasi kerja terbaik mereka dengan dukungan sumber daya serta bimbingan yang diberikan oleh kepala sekolah untuk membantu menjadikan performa personil sekolah menjadi luar biasa. IKHTIAR 43 .VI. Penelitian tersebut meyakinkan mereka bahwa yang menentukan mutu dalam sebuah institusi PIKIR. Dewasa ini orang bekerja cenderung mencari lebih dari sekedar gaji. Kunci untuk ekspresi diri adalah pengetian tentang diri sendiri dan dunia kerja serta lingkungan sekolah dimana kita berada. proses kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap semua aspek kinerja sekolah. tetapi cara ini tidak akan percuma dilakukan jika dapat menghasilkan produktifitas kerja yang meningkat.

eksprimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan. Ini memastikan bahwa institusi memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya. orang tua. baik yang bersifat organisasional maupun kultural  Membangun tim yang efektif  Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan. intensitas.sebuah gaya yang mereka singkat dengan MBWA ( Management by Walking About / manajemen dengan melaksanakan ). Dia menggambarkan sebuah gaya kepemimpinan dimana pemimpin “ harus menjalankan dan membicarakan mutu PIKIR. Dia berpendapat bahwa pemimpin institusi pendidikan harus memandu dan membantu pihak lain dalam mengembangkan karekteristik yang serupa. DZIKIR.  Otonomi. MBWA menekankan pentingnya kehadiran pemimpin dan pemahaman atau pandangan mereka terhadap karyawan dan proses institusi. Kebanyakan persoalan yang muncul adalah hasil dari kebijakan institusi dan bukan kesalahan staf. para pelajar dan kepada komunitas yang lebih luas. guru dan staf institusi.adalah kepemimpinan.  Menciptakan rasa kekeluargaan. semangat.  Ketulusan. Sifat-sifat tersebut mrupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan. dan antusiasme.  MBWA adalah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan bagi sebuah instansi.  „Untuk para pelajar‟ istilah ini sama dengan dekat dengan pelanggan dalam pendidikan. Mereka berpendpat bahwa gaya kepemimpinan tertentu dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu. Spanbauer telah menyampaikan pengarahan bagi para pemimpin dalm menciptakn lingkungan pendidikan yang baru. Peran Pemimpin dalam mengembangkan sebuah budaya mutu Apakah peran pemimpin dalam sebuah institusi yang mengusahakan inisiatif mutu terpadu? Tidak ada satupun yang menyatakan hal itu secara keseluruhan. kesabaran. namun fungsi utama pemimpin adalah sebagai berikut :  memiliki visi mutu terpadu bagi institusi  memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu  mengkomunikasikan pesan mutu  memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek institusi  mengarahkan perkembangan karyawan  berhati-hati dengan tidak menyalahkan orang lainsaat persoalan muncul tanpa buktibukti yang nyata.Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan membutuhkan perspektif-perspektif berikut ini :  Visi dan simbol-simbol. Sikap tersebut mendorong terciptanya tanggungjawab bersama-sama serta sebuah gaya kepemimpinan yang melahirkan lingkungan kerja yang interaktif. Gaya kepemimpinan ini mementingkan komunikasi visi dan nilai-nilai institusi kepada pihak-pihak lian. serta berbaur dengan para staf dan pelanggan. IKHTIAR 44 .Pemimpin pendidikan harus melakukan inovasi diantara staf-stafnya dan bersiap-siap mengantisifasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut.  Memimpin inovasi dalam institusi  Mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggungjawab dan mampu mempersiapkan delegasi yang tepat  Memiliki komitmen untuk menghilangkan rintangan. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan diantara para pelajar. Keinginan untuk unggul tidak bisa dikomunikasikan dari balik meja.Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf.

Kerjasama tim merupakan salah satu unsur fundamental dalam TQM. Personil sekolah akan lebih menerima program-program sekolah yang telah disusun bersama. Membangun Moral Kerja Dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah. Kerjasama Tim Bagi Mutu Kerjasama tim/kerja tim dalam sebuah organisasi merupakan komponen penting dari implementasi TQM. IKHTIAR 45 . siswa. Kepala sekolah selaku pimpinan dalam lingkungan organisasi sekolah harus mengetahui apakah hubungan mereka dengan guru. komunikasi. Total Quality Management. Tim merupakan sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama. 1989 ).serta mampu memahami bahwa perubahan terjadi sedikit demi sedikit. Apakah mereka yakin bahwa mereka mendapatkan informasi yang tepat waktu tentang hal-hal yang berhubungan dengan program-program sekolah dan tugas mereka? 3. 1. Faktor yang mendasari perlunya dibentuk tim tertentu dalm suatu perusahaan adalah :  Pemikiran 2 orang atau lebih cenderung lebih baik daripada pemikiran satu orang saja. salah satu faktor yang paling menentukan adalah membangkitkan semangat orang-orang yang berada dalam lingkungan sekolah khususnya guru. Apakah personil sekolah merasa bebas memberikan pendapat mereka dan mengetahui bahwa pendapat mereka dihargai? 2. Karena ketika semua unsur dan personil sekolah merasa senang dan semangat yang tercipta lahir dari iklim dalam budaya sekolah maka mereka akan lebih produktif. DZIKIR. Apakah anda dapat membangkitkan komitmen mereka atau mereka tidak merasa dirinya sebagai bagian dari sekolah? 4. bukan dengan serta merta. Apakah anda pernah menyentuh hati mereka untuk memberikan yang terbaik dari hasil kerja dan karya mereka selama ini? Jika jawaban terhadap pertanyaan tersebut menunjukkan sikap bahwa kita peduli terhadap mereka dan membutuhkan suasana gembira. yaitu bahwa hasil keseluruhan (tim) jauh lebih baik daripada jumlah bagiannya(anggota individual) A. staf dan siswa.( John S.  Konsep sinergi ( 1+1 > 2 ). Apakah anda memberikan kesempatan bukan hanya dalam melaksanakan tugas tetapi juga memberikan efek sehingga mereka tanggap dan berusaha untuk memastikan apa yang telah terjadi? 6. staf. mengingat kerjasama tim akan meningkatkan kepercayaan diri. orang tua dan masyararat terjalin dengan baik atau tidak? Hal ini dapat dilakukan melalui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut. jika mereka yakin bahwa kepala sekolah benar-benar perduli secara pribadi setiap hari di sekolah dan sikap peduli ini diwujudakan dengan ekspresif lewat mimik wajah yang PIKIR. Oakland. komite. dan mengembangkan kemandirian. Hal ini disebabkan karena moral dapat memberikan dampak langsung terhadap kualitas sekolah dan dapat meningkatkan prestasi belajar bagi siswa serta meningkatkan profesionalitas para guru dan staf dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. akan memberikan motivasi yang paling kuat bagi mereka. Apakah anda dapat memahami kebutuhan mereka dan menjalin hubungan saling pengertian diantara mereka untuk meraih saran-saran dalam meningkatkan kualitas kerja mereka? 5.

hapuslah dua kebijakan lama. Menurut Bob Nelson (2007). Karakteristik struktur organisasi sekolah yang baik adalah jika struktur tersebut dapat menghasilkan kerja yang baik dan tidak berbelitbelit. Cara terbaik untuk mendukung moral kerja personil dalam lingkungan sekolah dan untuk menginspirasi mereka sehingga memiliki kinerja prima adalah dengan cara meyakinkan mereka dengan segala yang anda lakukan dan bersikap dengan sepenuh hati bahwa anda sangat mendukung mereka. hal ini merupakan efek dari kebijakan dan prosedur kerja yang kurang baik. 5. ada beberapa saran dalam menetapkan kebijakan dan prosedur kerja dalam organisasi sebagai berikut: 1. Hubungan yang dibangun dalam budaya dan iklim sekolah yang berdasarkan atas hubungan saling percaya. IKHTIAR 46 . Uang bukanlah satu-satunya cara yang dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang tetapi lebih dari itu memberikan kepercayaan kepada mereka akan menemukan kembali nilai kesetiaan mereka. lebih singkat dan sederhana adalah lebih baik dari pada lebih panjang dan rumit. 2. Sekolah yang memiliki budaya dan iklim yang baik menyadari bahwa person sekolah yang dapat dipercaya untuk melakukan apa yang benar ketika mereka di izinkan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. 3. Pastikan kebijakan dan prosedur organisasi disusun untuk melayani para karyawan dan pelanggan anda bukan hanya organisasi anda saja. Setiap kali anda menetapkan satu kebijakan baru. DZIKIR. Kebijakan dan Prosedur Cukup banyak sekolah yang berhasil memiliki cara mudah untuk membangkitkan semangat guru dalam mengajar. tidak ada kebijakan tunggal yang uraiannya terdiri lebih dari satu halaman. 4. Waspadai kemungkinan menetapkan kebijakan atau prosedur baru sebagai reaksi terhadap suatu insiden tunggal. Dalam hal kebijakan. Penetapan kebijakan di atas dapat diadopsi dalam lingkungan budaya sekolah apabila ditunjang oleh struktur organisasi sekolah yang baik. dan nilai kesetiaan ini merupakan modal yang paling berharga dalam mencapai produktivitas kerja yang lebih baik karena lahir dari rasa memiliki yang tertanam dalam benak mereka. Karena pada dasarnya setiap orang ingin merasa berguna atau penting bagi orang lain. mungkin saja masalahnya tidak pernah muncul lagi. B. Tujuan yang Jelas dan Sasaran yang Didefinisikan dengan Baik Gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam mencitakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan memberdayakan seluruh personil sekolah sebagai tim kerja. semangat staf dalam bekerja dan semangat siswa dalam belajar dan berprestasi dengan cara meminimalisir beberapa kebijakan dan prosedur yang dapat menghambat upaya untuk menjadikan personil sekolah bersemangat dan menggantikannya dengan kebijakan dan prosedur yang lebih sederhana dan tidak menghambat. Dengan PIKIR. Karena jika person sekolah merasa tidak senang otomatis akan memberikan hasil kerja dan karya yang buruk. C. Seberapa besarpun ukuran organisasi.mendukung atau ucapan-ucapan selamat dan sekali-sekali diberikan hadiah atau bonus pada saat moment penting seperti pada perayaan ulang tahun akan menambah semangat dan motivasi mereka untuk selalu berbuat yang terbaik. saling menghormati dan mau mendengarkan pendapat orang lain serta dapat mengekspresikan diri dalam tugas dan karya adalah sarana yang kuat bagi personil sekolah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

sasaran serta pendekatan relevan dan bermakna. Kuatkan perpaduan dan tingkatkan keterampilan. 4. Pastikan agar tim mengembangkan sasaran-sasaran yang spesifik dan agar tim secara berkala mengevaluasi serta memperbaharui sasaran-sasarannya. Hindarkan praktikpraktik yang menghasilkan anggapan bahwa sebagian orang adalah tim kelas satu dan anggota tim yang lain adalah tim kelas dua. Banyak cara untuk dapat membangun semangat kerja yang solid dalam organisasi sekolah seperti dengan cara membangun budaya dan menciptakan iklim bekerja sama dengan PIKIR. Katzenbach dan Douglas K. serta mengetahui posisi mereka dalam tim atau prinsip-prinsip operasional dalam tim tersebut. maka setiap setiap personil sekolah sebagai bagian dari anggota tim perlu memiliki maksud dan tujuan yang jelas serta menetapkan sasaran sekolah dengan melibatkan seluruh anggota agar mereka mengetahui dan paham apa tujuan dan sasaran sekolah. D. Ketika batasan-batasan ini tidak jelas dan tidak di ingatkan secara rutin maka tim akan kehilangan semangat dan komitmennya. Dengan tujuan sekolah yang jelas dan sasaran-sasaran sekolah yang didefinisikan dengan baik serta diketahui setiap anggota sekolah dan melibatkan mereka sepenuhnya dalam program-program sekolah akan memberikan hasil kerja yang lebih baik dan berkualitas. DZIKIR. 1. Selain itu juga sekolah yang sukses diwarnai oleh semangat yang menarik para personil sekolah sebagai satu unit yang utuh. Smith yang dikutip Nelson (2007) menyarankan enam hal penting bagi pemimpin dalam membangun semangat tim dalam organisasi sebagai berikut: 1. Nyatakan maksud dan aturan-aturan tim untuk operasionalnya pada setiap rapat. termasuk mengatasi hambatan. moral dan perilaku yang tidak bertentangan dengan falsafah bangsa yang diwarnai kecerdasan intelektual. Membangun Semangat Kerja yang Solid Untuk membangun semngat kerja yang solid dalam sebuah komunitas sekolah bukan hanya memberikan tugas atau menempatkan mereka pada posisi dan jabatan yang sesuai dengan potensi mereka tetapi lebih dari itu. 2. dimana mereka dapat berkontribusi untuk mencapai sutu tujuan dan sasaran bersama. Kelola hubungan dengan orang luar. Misalnya tim guru bidang studi di sekolah dapat menunjukkan kualitas kerja tim yang tinggi jika mereka memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Agar tercipta sebuah tim work yang baik dalam lingkungan sekolah. Pastikan agar maksud. hal ini akan mendefinisikan maksud anda dan menetapkan batasan-batasan bagi cakupan cakupan kerja tim. 2. Tentukan misi bagi tim. Beberapa saran yang diajukan oleh Nelson (2007) dalam menentukan tujuan yang jelas dan sasaran didefinisikan dengan baik adalah sebagai berikut. emosional dan spritual. Ciptakan kesempatan bagi orang lain. karena harus ditumbuhkan dalam kondisi yang menyenangkan. 3. 5. menetapkan sasaran-sasaran.pemberdayaan ini akan memberikan semangat yang kuat diantara personil sekolah. Lakukan pekerjaan yang nyata. Membangun iklim seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan instant. 3. metode dan strategi mengajar yang tepat dalam proses belajar mengajar. Untuk menciptakan sekolah yang sukses dan memiliki kualitas perlu adanya proses pembentukan budaya. Selanjutnya Jon R. 6. Jelaskan bahwa semua orang berada dalam tim yang sama. IKHTIAR 47 . 4. karena mereka dapat mengendalikan dan memberi efek pada pekerjaannya. Bangun komitmen serta keyakinan. Beberapa saran di atas dapat di adopsi oleh pemimpin sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif.

3. Kekuatan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kerja sama dan semangat kerja yang solid diantara personil sekolah. Kepemimpinan dalam Pemberdayaan. 2. prosedur atu aspekaspek yang berkaitan dengan peningkatan proses belajar mengajar baik itu di dalam kelas dan lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. kemandirian dan otonomi yang besar kepada seluruh personil sekolah akan meningkatkan produktifitas mereka. Jika mereka memiliki kinerja yang tinggi. staf. meskipun sekali-sekali mereka membuat kesalahan bukan berarti mereka gagal dalam tugas. 3. staf dan siswa. Untuk menjalin iklim dan hubungan yang baik antara kepala sekolah dengan guru. 4. Berikut beberapa cara yang dapat ditempuh sekolah untuk membangkitkan semangat personil sekolah dalam membangun budaya dan iklim sekolah yang memiliki semangat yang solid adalah: 1. Kemandirian dan Otonomi Setiap orang ingin diperlakukan sebagai bagian dari organisasi demikian halnya di dalam sekolah. maka fokuskan pada hasil kerja atau karya mereka bukan pada kehadiran mereka. Kepemimpinan kepala sekolah yang menekankan pada pemberdayaan dalam budaya dan iklim sekolah akan memberikan kesempatan. tanggung jawab dan kewenangan kepada personil sekolah untuk melaksanakan segala sesuatu menurut cara mereka sendiri dan diberi kesempatan dalam pengambilan keputusan dengan resiko dari efek keputusan yang dilakukan. mungkin saja itu awal dari keberhasilan yang tertunda. komite dan masyarakat dalam jamuan makan siang bersama di sekolah dan menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan program sekolah terutama jika terjadi perubahan dalam program dan lingkungan sekolah dan melibatkan mereka dalam proses perubahan tersebut. Faktor-faktor yang dapat diperhatikan oleh kepala sekolah dalam menerapkan prinsipprinsip pemberdayaan. E. dan siswa juga orang tua siswa. kemandirian dan otonomi dalam kepemimpinan kepala sekolah sebagai berikut: 1.penuh semangat. diberikan kebebasan untuk mandiri. beri kesempatan kepada mereka bekerja dirumah dan menetapkan jadwal mereka sendiri. IKHTIAR 48 . 4. DZIKIR. Mengajak seluruh personil sekolah seperti guru. Senantiasa mendorong mereka untuk memperbaiki proses. Jika memungkinkan untuk memberikan mereka fleksibilitas jam kerja. maka hubungan antara mereka harus jelas baik dari segi PIKIR. akan membuat mereka lebih senang dalam bekerja dan berkarya. Kepala sekolah senantiasa dapat menunmbuhkan dan mendukung pertumbuhan pribadi maupun profesionalisme guru. Akan masuk akal jika para kepala sekolah mengetahui bahwa pemberdayaan. mengejar sasaran ketika mereka terdorong oleh visi dan misi sekolah yang jelas dengan kekuatan serta ketersedian sarana belajar yang memadai untuk mencapai tujuan sekolah. 2. Tidak ada yang dapat memompa personil sekolah lebih total. Ketika guru dan staf menunjukkan hasil kerja atau karya yang baik dan meraih sukses/prestasi. staf dan siswa dalam berprestasi dan membangun sekolah yang berkualitas dalam iklim dan suasana yang menyenangkan. setiap personilnya ingin dipercaya dan dihargai. berilah dia kesempatan untuk melaksanakan kerja berikutnya. Senantiasa mengkomunikasikan segala informasi baru kepada seluruh personil sekolah terutama hal-hal yang menyangkut peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah. kecuali inisiatif pribadi atau usaha kerasnya untuk memberikan hasilkerja dan karya yang lebih baik jika mereka dihargai.

4. Komunikasi. implementasinya sering gagal dan kembali ke keadaan sebelumnya. IKHTIAR 49 . tekun menyediakan program-program pendidikan yang dianggap penting. Komunikasi merupakan mata rantai yang paling penting dalam mempersatukan sebuah komunitas sekolah. karena melalui komunikasi dapat diperoleh informasi secara vertikal maupun horisontal. Memberikan tugas kepada mereka dan ikuti perkembangan mereka dalam melaksanakan tugas tersebut. PIKIR.struktur maupun wewenang dan tanggung jawab mereka agar mereka lebih fokus dalam melaksanakan tugas dalam bidangnya. 4. Inisiatif dan Fleksibilitas Apa yang membuat budaya dan iklim sekolah menjadi lebih baik dan kondusif? Dasarnya adalah implementasi kepemimpinan sekolah yang menghargai inisiatif personil sekolah sehingga semangat dan tanggung jawab moral dalam bekerja dan berkarya tumbuh dan berkembang dan secara otomatis produktivitas kerja mereka akan meningkat. Seperti semua inisiatif yang lain. Memiliki harapan yang tinggi baik terhadap prestasi siswa maupun kinerja para guru dan staf sekolah. hasil diskusi dan tukar pikiran akan menambah semangat mereka dalam bekerja. Contoh kongkrit dapat dilihat dari peran guru dalam proses belajar mengajar yang cukup komunikatif dan memiliki inisiatif-inisiatif yang senantiasa dikomunikasikan dengan kepala sekolah dan guru lainnya akan tampil prima dan produktif dalam melaksanakan peran mereka dan hal ini sangat mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal dapat ditentukan oleh informasiinformasi baru yang diperoleh. Sekolah adalah suatu organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin dengan jabatan kepala sekolah. Bila perubahan sistemik dilaksanakan tanpa perubahan budaya dan iklim organisasi sekolah. Budaya dan iklim sekolah yang membangun komunikasi diantara personil sekolah akan membentuk hubungan yang lebih baik diantara mereka sekaligus memberikan informasi dalam perbaikan proses. Hal ini dapat membangkitkan semangat mereka. Sisihkan sedikit waktu luang anda untuk mengunjungi setiap ruang kelas. Mendorong pemanfaatan waktu mengajar yang efisien dan merancang prosedur untuk meminimalkan gangguan. professional dan dinamis. kepemimpinan yang bagus adalah kunci untuk implementasi yang afektif. ruang guru dan staf serta layanan pendukung siswa di sekolah untuk berinteraksi langsung dengan mereka yang sebelumnya tidak pernah anda jumpai. F. 3. Mengamati guru dalam kelas dan memberikan masukan yang positif dan konstruktif dalam menyelesaikan masalah peningkatan pembelajaran. Memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya (sekolah akan menjadi apa) dan mendorong stafnya untuk bekerja dan berusaha untuk merealisasikan visi sekolah. Insiatif yang dibangun dari proses komunikasi terbuka. Menurut Davis & Thomas (1989) dalam suatu sekolah yang bagus kita dapat menjumpai kepala sekolah yang agresif. DZIKIR. Mengupayakan pertemuan dengan guru. staf dan siswa melalui komunikasi dan inisiatif seperti cara berikut: 1. 2. staf dan siswa yang paling jarang berinteraksi dengan anda. 3. 2. Cukup banyak sekolah yang berhasil menemukan cara mudah untuk membanguan semangat guru. Deskripsi singkat kualitas dan perilaku yang menandai sekolah yang berhasil antara lain: 1. Gunakan waktu anda lebih banyak dengan personil sekolah selama sekolah melewati masa-masa krisis seperti nilai ujian nasional rendah atau prestasi belajar siswa menurun. evaluasi dan hasil serta kualitas mutu pendidikan secara kontinu. metode dan strategi.

2. Kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang dapat melakukan langkahlangkah kongkrit untuk membantu pengembangan orientasi harapan yang tinggi yang mencerminkan peran kepemimpinan pengajaran. PIKIR. 7. pekerjaan kepada orang lain dalam organisasi sekolah. mengorganisasi dan mengalokasikan sumber-sumber dan menangani masalah keselamatan dan keteretiban. Tingkah laku yang sentral kepala sekolah yang efektif adalah memonitoring perkembangan siswa. tetapi kepala sekolah harus dapat membagi tugas. 7. hal ini dapat dilakukan pada setiap akhir bulan atau setiap triwulan dalam program sekolah. Kepala sekolah juga dapat melibatkan orang tua dalam upaya pengajaran di sekolah. memiliki keahlian dan pemahaman yang mendalam terhadap kurikulum dan pengajaran. menjadwal. 9. 5. Sepanjang hari kepala sekolah memonitor jalannya pekerjaan. Seorang kepala sekolah yang efektif adalah seseorang yang memilki kecakapan dalam hubungan antara manusia. Kepala sekolah dapat memainkan peran dalam meningkatkan kesadaran perlunya perbaikan sekolah dan harapan prestasi yang tinggi dan pencapaian konsensus untuk perubahan tersebut. 9. Terdapat delapan kategori kepala sekolah efektif berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan lapangan: 1. Kepala sekolah dapat memonitor faktor-faktor lain yang terkait dengan prestasi. Kepala sekolah dapat menciptakan sistem hadiah untuk setiap siswa dan guru yang medukung orientasi akademik dan merangsang keunggulan (excellence) dan penampilan siswa dan guru. faktor yang terkait dengan perbaikan yang secara implisit menekankan suasana dan budaya akademik. 6. khususnya dalam nilai tes setiap siswa dalam setiap tingkatan dan kelas. Peran aktif kepala sekolah dalam menciptakan sekolah yang efektif dimana setiap orang memperhatikan perbaikan dan peningkatan pembelajaran. 6. 4. IKHTIAR 50 . Tindakan ini secara instrinsik mencerminkan fokus dan nilai akademis. Fungsi utama kepala sekolah yang efektif adalah mengamati guru dalam kelas dan merundingkan dengan mereka tentang cara menangani masalah dan perbaikan pengajaran. Kepala sekolah tidak seharusnya melakukan kegiatan administrasi sekolah sendiri. 8. Kepala sekolah dapat memperoleh sumber-sumber material yang diperlukan untuk pengajaran yang efektif dan menggunakannya secara kreatif sesuai dengan prioritas akademik. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penciptaan lingkungan sekolah yang tertip dan aman. Kepala sekolah dapat aktif dalam penciptaan dan perbaikan yang konkrit.5. 3. Kepala sekolah sebaiknya menilai tugas-tugas harian guru dan meyakinkan bahwa setiap kelas ada gurunya baik sebaagai guru bidang studi. 8. Memanfaatkan bahan dan tenaga secara kreatif Memonitor prestasi individu dan kelompok siswa dan memanfaatkan informasi untuk perencanaan pendidikan sekolah dan pembelajaran. DZIKIR. Kepala sekolah juga harus bisa bertindak sebagai perantara yang mengalirkan informasi dan menjawab berbagai pertanyaan dalam berbagai hal karena sebagian pekerjaan kepala sekolah adalah pekerjaaan verbal. sehingga tujuan akhir sekolah dapat tercapai dengan baik. 10. guru kelas maupun sebagai wali kelas dan setiap guru akan mengelola kelasnya dengan baik.

Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut : 1) Memiliki visi dan pandangan yang jelas dan tegas dalam kepemimpinan sekolah. g) Kepala sekolah melibatkan para siswa. PIKIR. Dapat dikatakan bahwa kualitas mutu lulusan suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen pengelolaan sekolah. 3) Kepala sekolah mengerahkan sumber belajar dan dukungannya demi pencapaian tujuan pembelajaran. 5) Kepala sekolah mempunyai perhatian terhadap permasalahan belajar siswa.Kepemimpinan instruksional kepala sekolah dalam menentukan iklim dan budaya sekolah sangat erat kaitannya dengan kemampuan mengajar guru dan motivasi belajar siswa bahkan sangat berkaitan dengan mutu lulusan. guru dan kepala sekolah. guru dan orangtua siswa dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sekolah. Karakter kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya dan iklim yang kondusif dapat dilihat pada beberpa indikator sebagai berikut: 1. Membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan mendorong semangat belajar siswa. 2) Kepala sekolah sangat perhatian terhadap kemajuan belajar siswa. DZIKIR. 7) Kepala sekolah menciptakan suasana kerja yang kreatif dan produktif dengan menyediakan berbagai fasilitas dan perlengkapan yang dapat mendorong siswa mengembangkan bakat minat dan ketrampilannya. 6) Kepala sekolah memiliki sikap suka membantu siswa belajar dan menghadapi kesulitan. 4) Kepala sekolah selalu memberi penjelasan kepada siswa dalam menghadapi hal-hal yang baru. c) Kepala sekolah suka menerima dan mempertimbangkan ide atau gagasan yang disampaikan oleh guru dan siswa. komitmen dan tanggung jawab guru serta kepatuhan dan kesungguhan para siswa untuk belajar. ramah dan dekat dengan siswa. Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut: a) Sebagai manajer perencana. kepatuhan dan kesungguhan guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan kepatuhan dan tanggung jawab staf sekolah dalam memberikan pelayanan kepada siswa. lomba dan latihan-latihan yang bersifat edukatif. e) Kepala sekolah bersemangat dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Kepemimpinan kepala sekolah sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar yang menarik dan kondusif. guru dan staf sekolah. IKHTIAR 51 . Hal ini dapat dilihat dari implementasi dan pemeliharaan perubahan yang positif terhadap proses dan hasil belajar siswa. 9) Kepala sekolah mendorong semangat belajar siswa dengan menumbuhkan keyakinan dalam mencapai prestasi yang tinggi. secara langsung kepala sekolah bertugas mengawasi pelaksanaan tugas-tugas aparat sekolah secara berkesinambungan b) Kepala sekolah sebagai panutan bagi siswa. terutama dalam upaya peningkatan mutu pengajaran disekolah. b) Menciptakan suasana sekolah yang kreatif/dinamis serta meningkatkan kelancaran komunikasi. f) Kepala sekolah memiliki sikap bersahabat. d) Kepala sekolah sering mengunjungi guru mengajar. 8) Kepala sekolah membuat program secara teratur untuk mengembangkan pengetahuan siswa melalui les/kursus-kursus. guru dan staf sekolah sebagai pemimpin sekolah.

Ciptakan pusat kecerdasan ganda untuk melayani setiap gaya belajar. b) Sebuah penerbit multimedia. dengan penekanan khusus pada teknologi baru. Buat proyek lain untuk mempromosikan konsep belajar sepanjang hayat:  Sebuah sekolah/kelas tanpa dinding sehingga para murid bisa belajar dari berbagai pengalaman. e. Kepala sekolah bertugas untuk memperbaiki manajemen sekolah serta bertanggung jawab dalam pelaksanaan keputusan manajemen dan kebijakan sekolah melalui upaya-upaya berikut. Kepala sekolah bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan peningkatan mutu program pengajaran.  Sebuah pusat multimedia yang berfungsi sebagai sumber daya keluarga dan masyarakat. khususnya dibidang materi belajar. terbuka dalam memimpin sekolah. j) Kepala sekolah sangat tegas terhadap peraturan-peraturan sekolah (disiplin) dan tanpa pandang bulu. IKHTIAR h) 52 . guru dan orangtua siswa dalam menyusun peraturan-peraturan sekolah. Kembangkan konsep kecerdasan ganda pada setiap pembelajaran dengan melibatkan panca indera supaya pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik siswa. Dirikan sebuah pelabuhan ilmu sebagai pusat teknologi informasi dengan tiga cabang: a) Sebuah pusat produksi dan komunikasi multimedia. d. a. 3. pelaksanaan dan penggunaan berbagai sumber daya yang tepat. Mengatur. 2.Kepala sekolah melibatkan para siswa. 4. Bangun jaringan informasi rumah-sekolah-multimedia yang bersifat hangat dan personal. Kerja sama dengan orangtua dan masyarakat baik dalam merespon minat dan kebutuhan masyarakat maupun untuk meningkatkan peran serta masyarakat di sekolah. c. PIKIR. namun tetap bersikap terbuka untuk kritik dan saran 1. i) Kepala sekolah menunjukkan kepribadian yang menyenangkan. DZIKIR. Mengembangkan pola perilaku dan tindakan yang didasari oleh integritas dan etika dalam bersikap. Berikut ini dikemukakan beberapa saran mengenai model kepemimpinan kepala sekolah dalam manciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif sebagai berikut: 1. Mengembangkan manajemen sekolah melalui proses pengorganisasian. khususnya bakat dan kemampuannya yang unik melalui penglihatan. c) Sebuah pusat pembelajaran bagi guru dan kalangan lain yang berurusan dengan siswa.  Metode pembelajaran Spider Web. pendengaran dan perasaannya. Mengembangkan kepemimpinan administratif. Mengembangkan perencanaan pembelajaran yang mendukung sekolah berbasis masyarakat. 5. Menghubungkan satu pelajaran dengan pelajaran yang lain. memelihara dan memungkinkan terciptanya budaya sekolah dan program pembelajaran yang kondusif bagi pengajaran siswa dan mengembangkan kompetensi staf. Selain itu kepemimpinan kepala sekolah akan sangat menentukan kualitas iklim sekolah yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar dan kerja sama antar aparat sekolah yang baik sehingga penyelenggaraan pendidikan di sekolah bisa berhasil. efesien dan penciptaan lingkungan belajar yang efektif. b.

Tabel 19. Bentuk kepemimpinan berkaitan dengan gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah. Kematangan Rendah (Tidak mampu dan tidak mau) M2 Kematangan RendahSedang (Tidak mampu tetapi mau) M3 f. dan M4. Proses kepemimpinan mencakup dua dimensi penting. demokratis. 1994). hierakis. tingkat kematangan manusia digolongkan ke dalam empat kategori: M1. Menurut teori kepemimpinan situasional. M3. Konsultatif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia tinggi) G3 g. 1982:152) Tingkat Kematangan M1 a. Adapun gaya kepemimpinan yang dikembangkan tergantung pada kondisi operasional sekolah. gaya kepemimpinan yang tepat bervariasi menurut tingkat kematangan tersebut. kepemimpinan juga dapat dilihat dari prosesnya. M2. Direktif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia rendah) G2 e. IKHTIAR . (Tinggi) Kemampu an Kemampuan Rendah Kemampuan Rendah Kemauan Rendah Kemauan Tinggi (Rendah) (M1) (M2) (Rendah) Kemauan (Tinggi) Gambar 19. DZIKIR. Partisipatif (Perilaku tugas rendah dan hubungan manusia tinggi) 53 PIKIR. yaitu beban kepemimpinan dan bentuk atau gaya kepemimpinan (Townsend. G1 c. Beberapa penelitian yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan otokratik dan gaya yang terlalu demokratik kurang efektif dibandingkan dengan gaya kepemimpinan situasional (Mortimore. apakah otoritarian. Kemampuan Tinggi Kemauan Rendah (M3) Kemampuan Tinggi Kemauan Tinggi (M4) Gaya Kepemimpinan yang Tepat b. Tingkat kematangan seseorang dapat dilihat dari dua dimensi.1 berikut. 1982:152) Dari gambar tersebut.5 Gaya Kepemimpinan dan Kematangan Bawahan (Hersey dan Blancard. Kombinasi kedua dimensi ini melahirkan empat tipe kematangan manusia sebagaimana digambarkan pada kuadran berikut. melainkan tergantung pada situasi yang menyertainya. 1993).Selain beberapa cara di atas yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah. Situasi itu antara lain tingkat kematangan para bawahan. Hal ini digambarkan pada tabel 7. Gaya kepemimpinan situasional didasarkan pada anggapan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik. berorientasi tugas atau berorientasi manusia. Beban kepemimpinan berkaitan dengan sejauhmana tanggung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah terhadap semua aspek operasi sekolah. Kematangan Sedang-Tinggi (Mampu tetapi tidak mau) d.4 Tingkat Kematangan Manusia (Hersey dan Blancard. Dimensi pertama adalah kemampuan (keterampilan dan pengetahuan) dan dimensi kedua adalah kemauan (tanggung jawab dan komitmen).

(3). ketersediaan administrasi kesiswaan yang rapi dan informatif. sedangkan secara informal dilakukan melalui pertemuan-pertemuan insidentil seperti arisan. sedangkan bawahan dengan tingkat kematangan tinggi (M4) lebih cocok dipimpin dengan gaya delegatif. 2. PIKIR. dan lain sebagainya. kepala sekolah juga perlu melibatkan pengurus komite sekolah bahkan orangtua dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pengembangan sekolah. Di samping kecenderungan mempraktekkan gaya kepemimpinan situasional. Biasanya. Demikian pula. M4 Kematangan Tinggi (Mampu dan mau) G4 Delegatif (Perilaku tugas rendah dan perilaku hubungan rendah) i. dan (6) lingkungan sekolah. Melakukan pengambilan keputusan partisipatif Keputusan penting. Melakukan kegiatan supervisi. tetapi juga pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran yeng efektif. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yang masih kurang dan diupayakan untuk diperbaiki. namun perlu dilakukan secara berkesinambungan. (3) dapat memberikan penghargaan kepada guru dan staf atas pendapat-pendapat mereka. Kegiatan supervisi tidak hanya terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas saja. supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas. lingkungan sosial. olahraga. Kapan diperlukan dan dirasakan perlunya peningkatan. Mekanisme pengambilan keputusan partisipatif dapat dilakukan secara formal maupun informal. kumpulan soal. Faktorfaktor inilah yang menjadi ruang lingkup kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah. Waktu pelaksanaan supervisi kadang-kadang tidak perlu dirancang waktunya. Keterlibatan mereka menjadi sangat penting karena: (1) kepala sekolah sebagai pimpinan dapat menerima masukan dari berbagai sudut pandang. Efektivitas sebuah proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) siswa. Secara formal dilakukan melalui rapat-rapat sekolah. dan lingkungan kerja. lingkungan personil. (4) sarana dan prasarana. khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah perlu melibatkan para guru dan staf. administrasi penilaian. maka supervisi dilaksanakan. Kegiatan supervisi adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan di sekolah. 1. khususnya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. Dari tabel 2 tersebut dijelaskan bahwa bawahan yang kematangannya rendah (M1) lebih cocok dipimpin dengan gaya direktif.h. Lingkungan sekolah dibagi ke dalam empat aspek seperti lingkungan fisik. IKHTIAR 54 . (2) guru. kurikulum. (2) dapat meningkatkan kualitas keputusan. kegiatan yang sudah baik diupayakan untuk dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. bawahan dengan tingkat kematangan sedang-tinggi (M3) lebih cocok dipimpin dengan gaya partisipatif. kepala sekolah yang efektif dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah melakukan hal-hal berikut. dan (4) dapat mengikat komitmen mereka dalam melaksanakan dan mengawasi keputusan. DZIKIR. Aspek-aspek administrasi yang dimaksud misalnya. Selain itu. dan lain-lain. bawahan dengan tingkat kematangannya rendahsedang (M2) lebih cocok dipimpin dengan gaya konsultatif.

beberapa indikator kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dikemukakan berikut ini. kepala sekolah melibatkan stafnya dalam berbagai pengambilan keputusan penting. Di sekolah terdapat sejumlah tenaga profesional. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia dalam organisasi merupakan aset yang perlu dipelihara dan dikembangkan bagi peningkatan organisasi. Karena itu kepala sekolah sebagai manajer perlu mengembangkan cara-cara baru dalam memenuhi kepuasan pelanggannya. Identifikasi kebutuhan pelanggan ini dapat dilakukan melalui analisis SWOT. 4. pemerintah dan pihak terkait lainnya. Kunjungan kelas dapat dilakukan secara tiba-tiba atau atas kesepakatan antara kepala sekolah dan guru. khususnya guru. d Contoh lembar kegiatan supervisi dapat dilihat pada lampiran kegiatan supervisi yang terdapat di bagian akhir dari bab ini. Dalam situasi yang lain. semakin akuntabel suatu lembaga. masyarakat. Diskusi diharapkan menghasilkan diagnosis pemecahan dan secara bersama mengupayakan tindak lanjut untuk memperbaikinya. Akuntabilitas berarti sejauhmana suatu lembaga bertanggung jawab kepada pelanggan produk atau jasa yang dihasilkan. tenaga administrasi sedangkan pelanggan dari luar sekolah meliputi orangtua. Baik pelanggan dari dalam sekolah. Di samping keempat karakteristik tersebut. Beberapa sekolah yang sukses menerapkan strategi pemberdayaan melalui berbagai program-program pengembangan profesional guru. Memperhatikan kebutuhan pelanggan Osborne dan Plastrik (1997) mengembangkan gagasan mengenai perlunya organisasi pemerintah memiliki strategi pelanggan dalam meningkatkan akuntabilitasnya. Definisi tentang pelanggan meliputi pelanggan dari dalam sekolah dan dari luar sekolah. staf dan siswa. b Kepala sekolah membantu guru dalam mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajaran dan faktor penciptaan budaya dan iklim belajar siswa. Kesulitan-kesulitan itu dapat berhubungan dengan strategi pembelajaran. DZIKIR. kemauan kepala sekolah mendelegasikan sebagian pekerjaan juga merupakan salah satu strategi yang banyak terbukti mendorong semangat tim di sekolah. perlu mendapat kepuasan. c Kepala sekolah bersama guru mendiskusikan cara-cara pemecahan masalah guru. Karena itu penerapan strategi pelanggan akan memaksa sekolah dalam memperbaiki kinerjanya. b Kepala sekolah menekankan kepada guru dan staf untuk memenuhi normanorma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi. Semakin puas pelanggan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan. a Kepala sekolah menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbuka dengan para guru. guru. Pelanggan dari dalam sekolah meliputi: siswa. yang perlu dikembangkan dan didayagunakan. Memberdayakan warga sekolah Strategi pemberdayaan merupakan inspirasi banyak organisasi dewasa ini. 3. pengelolaan kelas maupun materi pembelajaran. IKHTIAR 55 . Selain itu. terlebih dari luar sekolah. PIKIR. c Kepala sekolah memantau kemajuan belajar siswa melalui guru sesering mungkin berdasarkan pada data prestasi belajarnya.Beberapa cara yang dapat digunakan oleh kepala sekolah dalam melakukan kegiatan supervisi budaya dan iklim sekolah adalah: a Kepala sekolah melakukan kunjungan-kunjungan kelas untuk mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan budaya serta iklim sekolah yang tercipta.

staf dan siswa melakukan inovasi di sekolah. bukan hanya secara nasional dan lokal dalam menerima dan mengelola setiap informasi dan kegiatan yang ada dalam oraganisasi. j Kepala sekolah mendorong guru. q Menganjurkan inovasi. g Kepala sekolah menunjukkan sikap dan perilaku yang dapat menjadi anutan atau model bagi guru dan siswa. tetapi dianjurkan untuk mengembangkan potensi mereka secara penuh. 1997): a. u Proaktif. h Ruang kepala sekolah terbuka bagi guru. n Kepala sekolah menciptakan lingkungan yang fleksibel yang di dalamnya orang-orang tidak hanya dinilai dari. f Kepala sekolah peka terhadap kebutuhan siswa. senang dengan perbedaan dan ketikpastian sehingga menumbuhkan kreatifitas dan inovatif guru dalam proses pembelajaran. staf. Di samping memenuhi indikator-indikator tersebut. guru. Kepala sekolah yang tulus. bukan keuntungan jangka pendek. akuntabel dan profesional khususnya dalam pengelolaan keuangan. Kepala sekolah yang memiliki dedikasi dan rajin g. t Berfikir secara global. Kepala sekolah yang adil dan tegas dalam mengambil keputusan. Kepala sekolah yang memahami perasaan guru d. b. dan orangtua untuk berkonsultasi atau berdiskusi secara pribadi mengenai permasalahan yang mereka hadapi berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. i Kepala sekolah transparan. c. o Membentuk budaya organisasi agar kreatifitas otonom dan proses belajar secara berkelanjutan menggunakan pertumbuhan jangka panjang sebagai sasaran. dalam penelitian sekolah efektif.Kepala sekolah menyediakan dana yang diperlukan untuk menjamin pelaksanaan program-program pembelajaran sesuai dengan prioritasprioritas program yang telah ditentukan. orangtua dan masyarakat. Kepala sekolah yang membagi tugas secara adil kepada guru. siswa. e Kepala Sekolah memberikan dukungan pada guru untuk menegakkan kedisiplinan siswa. eksperimentasi dan menanggung resiko dari perubahan yang terjadi. kompetensi kepemimpinan yang diperlukan di sekolah tercermin dari beberapa karakteristik kepemimpinan berikut ini (Tiong. k Kepala sekolah membangun kelompok kerja aktif. p Mengubah organisasi dari piramid yang kaku menjadi lingkaran yang lentur. IKHTIAR d 56 . di mana jaringan-jaringan berkembang dari unit-unit otonom. l Kepala sekolah memiliki komitmen yang jelas terhadap penjaminan mutu sekolah. PIKIR. m Kepala sekolah mengidentifikasi misi organisasi supaya dapat menyusun tugas-tugas dan memberitahukan kepada seluruh karyawan. DZIKIR. Kepala sekolah yang berkemampuan dan efisien f. Kepala sekolah yang terampil dan tertib e. r Mengantisipasi masa depan dengan membaca masa sekarang s Secara konstan mempelajari organisasi dari dalam dan luar organisasi dan mengidentifikasi hubungan-hubungan yang lemah dalam rangkaian seluruh kegiatan yang ada serta memperbaikinya.

Supervisor: (Nama dan tandatang PIKIR. Dsb 4. Penanaman budaya prestasi pada siswa 11. Dsb. Dsb. Cara guru Hubungan berkomunikasi sosial dengan dengan siswa siswa 8. 7. siswa dan orangtua d Pendengar yang baik e Dapat menyesuaikan diri dengan perubahan f Menyediakan waktu bagi siswa g Konsisten dan jujur h Memiliki selera humor i Mengekspresikan perasaan j Berbagi tanggung jawab dan kekuasaan k Terampil dalam hubungan manusia l Mendorong individu dan kelompok untuk mengambil alih kepemimpinan LAMPIRAN (CONTOH) LEMBAR KEGIATAN SUPERVISI BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Nama Guru/Kelas : / Semester / Tahun Ajaran: Mata Pelajaran : Tanggal : PraktekBentuk Rencana praktek yang Permasalahan Komponen Aspek yang Diobservasi Tindak baik yang telah dan Kendala Lanjut dilakukan yang Dialami 1. Teknik pengaturan kelas yang memudahkan berkomunikasi 9.h. DZIKIR. Dalam dokumen The School Leadership Context beberapa karakteristik kepemimpinan kepala sekolah yang baik menurut guru adalah: a Memiliki komitmen b Memiliki energi c Diterima oleh guru. IKHTIAR 57 . Kepala sekolah yang percaya diri. Dsb Budaya kelas 10. Pengaturan kelas Pengelolaan 2. Pemilihan strategi yang bervariasi 6. Kesesuaian strategi Strategi pembelajaran dalam pembelajaran menciptakan budaya belajar 5. Poster afirmasi Kelas 3. staf.

Educational Leadership. Anonim 3. USA Koentjoroningrat. Educational Administration Quarterly. Mandar Maju. 1991. 2005. Jakarta Arcaro. Studies in Educational Evaluation. Bandung Mortimore. Supriyanto. Y. 1985. Manajemen Jilid I (Edisi bahasa Indonesia). Jakarta Van de Grift. Paul dan Ken Blancher. Toward a theory of school effectiveness and leadership. 1990. Moedjiarto. Jakarta Samdal. 1993. Relationship between students' perceptions of school environment. IKHTIAR 58 . Kebudayaan Mentaliter dan Pemberdayaan. & Mary Coulter. 1989. & Hannum. 1999.2). Edisi keempat. Moekijat. 3(4):242-257. 2002. 296-320. PT. 4(2):85-110. 1993. Millan Inc. Victoria: Australian Council for Educational Research. C. School Effectiveness and School Improvement. Manajemen Jilid II (Edisi bahasa Indonesia). 1998.DAFTAR RUJUKAN Anonim 1. Houtveen. 4(4):290-310. Tidak diterbitkan: Malang: Fakultas Pasca Sarjana Intitut Keguruan dan llmu Pendidikan Malang. F. Freiberg. Arcan. 10(3). B. 1994. Educational Leadership. 2006. Jakarta Robins. 1990. Jakarta. 1997. Mc. PIKIR. 1990. Batam Center. 2006. Melbourne: Australian Council for Educational Research. Desain & Aplikasi). Jakarta Luthans. Wold. Bandung Anonim 2. teaching and family influence on student attitudes toward science: Based on TIMSS data for Cyprus. . The McGraw-Hill Companies. D. their satisfaction with school and perceived academic achievement: An international study. Nelson 2007. School Effectiveness and School Improvement. School Effectiveness and School Improvement. School Effectiveness and School Improvement. 1999. DZIKIR. Persepsi terhadap Karakteristik yang Membedakan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Aki:zdemik Tinggi dan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Akademik Rendah di Surabaya. & Smith. 2007. Robins. & Vermeulen. School Climate. dan Levine. Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara. Purkey. Organization Behavior 10th Edition. School Effectiveness and School Improvement. Drs. Kamus manajemen. Prenhallindo. Too soon to cheer? Synthesis of research on effective schools. Fisher & Fraser. 1991. O. Disertasi. Teachers' professional development. (SET research information for teachers No. Mandar Maju. Karisma Publishing Group. Gramedia. Manajemen Perilaku Organisasi : Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. dan Teddlie. 1001 Cara Untuk Menjadikan Karyawan Bersemangat. Papanastasiou. Hughes. Januari. Hoy. Pustaka LP3ES. Prenhallindo. School effectiveness and the management of effective learning and teaching. School. Karisma Publishing Group. 1990. 2002. & Bronis. Budaya Kerja Perbankan (Jalan Lurus Menuju Integritas ) Sambutan Burhanuddin Abdullah. On Leadeship Of Quality Free Press. Cv. Slater. Measuring school climate: Let me count the ways. Juran. V. Phi Delta Kappan. Profiles of organizational culture and effective schools. Jakarta Cheng. Teori Organisasi ( Struktur. Erlangga. Instructional climate in Dutch secondary education. Jakarta. 1974. Diterbitkan Kementrian Pendayagunaan Budaya Kerja Aparatur Negara RI. Middle school climate: An empirical assessment of organisational health and studentc achievement. P. Melbourne. Effective school project and school-based management. Pendidikan Berbasis Mutu. Alih Bahasa Agus Darma. Asas-asas Perilaku Organisasi. Pustaka Pelajar. Taylor. 1001 Cara Untuk Memberikan Imbalan Kepada Karyawan. Inc. Batam Center. 394-397. 1999. PT. 1992. 1992. 1997.

Educational Evaluation and Policy Analysis. A systematic test of the effective school model. 1994. dan Walsh. D. IKHTIAR 59 . Effecting Schooling For the CommUllity. Routledge. F. J. T. 1990. 12(2):188-212.Townsend. PIKIR. Witte. DZIKIR. London and New York. J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful