PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

I.

KONSEP BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. Pengertian Budaya dan Iklim Sekolah 1. Budaya Sekolah Secara etimologis pengertian budaya (culture) berasal dari kata latin colere, yang berarti membajak tanah, mengolah, memelihara ladang (Poespowardojo, 1993). Namun pengertian yang semula agraris lebih lanjut diterapkan pada hal-hal yang lebih rohani (Langeveld, 1993). Selanjutnya secara terminologis pengertian budaya menurut Montago dan Dawson (1993) merupakan way of life, yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu pula dari suatu bangsa. Kemudian Kotter dan Heskett (1992) yang dikutip dalam The American Herritage Dictionary mendefinisikan kebudayaan secara formal, “sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan dan segala hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia”. Selanjutnya Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”. Lebih lanjut Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tiga wujud yaitu: a. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, nilainilai, norma-norma, peraturan dan lain-lain; b. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat dan; c. wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa budaya adalah sesuatu yang abstrak tetapi tetap memiliki dimensi yang mencolok, dapat didefinisikan dan dapat diukur berdasarkan karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Robbins (1994) sebagai berikut: (1) inisiatif individual, (2) toleransi terhadap tindakan beresiko, (3) arah, (4) integrasi, (5) dukungan dari manajemen, (6) kontrol, (7) identitas, (8) sistem imbalan, (9) toleransi terhadap konflik dan (10) polapola komunikasi. Dalam lingkup tatanan dan pola yang menjadi karakteristik sebuah sekolah, kebudayaan memiliki dimensi yang dapat di ukur yang menjadi ciri budaya sekolah seperti: a. Tingkat tanggung jawab, kebebasan dan independensi warga atau personil sekolah, komite sekolah dan lainnya dalam berinisiatif. b. Sejauh mana para personil sekolah dianjurkan dalam bertindak progresif, inovatif dan berani mengambil resiko. c. Sejauh mana sekolah menciptakan dengan jelas visi, misi, tujuan, sasaran sekolah, dan upaya mewujudkannya. d. Sejauh mana unit-unit dalam sekolah didorong untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

1

Tingkat sejauh mana kepala sekolah memberi informasi yang jelas, bantuan serta dukungan terhadap personil sekolah. f. Jumlah pengaturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku personil sekolah. g. Sejauh mana para personil sekolah mengidentifkasi dirinya secara keseluruhan dengan sekolah ketimbang dengan kelompok kerja tertentu atau bidang keahlian profesional. h. Sejauh mana alokasi imbalan diberikan didasarkan atas kriteria prestasi. i. Sejauh mana personil sekolah didorong untuk mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka. j. Sejauh mana komunikasi antar personil sekolah dibatasi oleh hierarki yang formal (diadopsi dari karakteristik umum seperti yang dikemukakan oleh Stephen P. Robbins). Dari sekian karakteristik yang ada, dapat dikatakan bahwa budaya sekolah bukan hanya refleksi dari sikap para personil sekolah, namun juga merupakan cerminan kepribadian sekolah yang ditunjukan oleh perilaku individu dan kelompok dalam sebuah komunitas sekolah. Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Setiap sekolah memiliki kepribadian atau karakteristik tersendiri yang diciptakan dan dipertahankan serta mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan terhadap unsur dan komponen sekolah yang merupakan budaya dan iklim suatu sekolah. Jadi peran kepala sekolah pada dasarnya harus dapat menciptakan budaya bagaimana orang belajar dan bagaimana kita bisa membantu mereka belajar. Budaya dan iklim sekolah bukanlah suatu sistem yang lahir sebagai aturan yang logis atau tidak logis, pantas atau tidak pantas yang harus dan patut ditaati dalam lingkungan sekolah, tetapi budaya dan iklim sekolah harus lahir dari lingkungan suasana budaya yang mendukung seseorang melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, rela, alami dan sadar bahwa apa yang dilakukan (ketaatan itu muncul dengan sendirinya tanpa harus menunggu perintah atau dibawah tekanan) merupakan spontanitas berdasarkan kata hati karena didukung oleh iklim lingkungan yang menciptakan kesadaran kita dalam lingkungan sekolah. Misalnya budaya disiplin, budaya berprestasi dan budaya bersih 2. Iklim Sekolah Secara konseptual, iklim lingkungan atau suasana di sekolah didefinisikan sebagai seperangkat atribut yang memberi warna atau karakter, spirit, etos, suasana batin, setiap sekolah (Fisher & Fraser, 1990; Tye, 1974). Secara operasional, sebagaimana halnya pengertian iklim pada cuaca, iklim lingkungan di sekolah dapat dilihat dari faktor seperti kurikulum, sarana, dan kepemimpinan kepala sekolah, dan lingkungan pembelajaran di kelas. Beberapa pengertian lain mengenai iklim sekolah yang hampir memiliki makna serupa dikemukakan berikut ini. Hoy dan Miskel (1987) merumuskan pengertian iklim
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

e.

2

sekolah sebagai persepsi guru terhadap lingkungan kerja umum sekolah. De Roche (1985) mengemukakan iklim sebagai hubungan antar-personil, sosial dan faktor-faktor kultural yang mempengaruhi perilaku individu dan kelompok dalam lingkungan sekolah. Selama dua dasawarsa lingkungan pembelajaran di sekolah dipandang sebagai salah satu faktor penentu keefektifan suatu sekolah (Creemer et al., 1989). Fisher dan Fraser (1990) juga menyatakan bahwa peningkatan mutu lingkungan kerja di sekolah dapat menjadikan sekolah lebih efektif dalam memberikan proses pembelajaran yang lebih baik. Freiberg (1998) menegaskan bahwa lingkungan yang sehat di suatu sekolah memberikan kontribusi yang signifikan terhadapan proses kegiatan belajar mengajar yang efektif. Ia memberikan argumen bahwa pembentukan lingkungan kerja sekolah yang kondusif menjadikan seluruh anggota sekolah melakukan tugas dan peran mereka secara optimal. Hasil-hasil penelitian selaras dan mendukung penegasan tersebut. Misalnya, penelitian oleh Van de Grift dan kawan-kawan (1997) di 121 sekolah menengah di Belanda menunjukkan bahwa prestasi akademik siswa untuk bidang matematika dipengaruhi oleh sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika, apresiasi terhadap usaha guru, serta lingkungan pembelajaran yang terstruktur. Atwool (1999) menyatakan bahwa lingkungan pembelajaran sekolah, dimana siswa mempunyai kesempatan untuk melakukan hubungan yang bermakna di dalam lingkungan sekolahnya, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa, memfasilitasi siswa untuk bertingkah laku yang sopan, serta berpotensi untuk membantu siswa dalam menghadapi masalah yang dibawa dari rumah. Selanjutnya Samdal dan kawan-kawan (1999) juga telah mengidentifikasi tiga aspek lingkungan psikososial sekolah yang menentukan prestasi akademik siswa. Ketiga aspek tersebut adalah tingkat kepuasan siswa terhadap sekolah, terhadap keinginan guru, serta hubungan yang baik dengan sesama siswa. Mereka juga menyarankan bahwa intervensi sekolah yang meningkatkan rasa kepuasan sekolah akan dapat meningkatkan prestasi akademik siswa. Hoy dan Hannum (1997) menemukan bahwa lingkungan sekolah dimana rasa kebersamaan sesama guru tinggi, dukungan sarana memadai, target akademik tinggi, dan kemantapan integritas sekolah sebagai suatu institusi mendukung pencapaian prestasi akademik siswa yang lebih baik. Selain dari itu, Sweetland dan Hoy (2000) menyatakan bahwa iklim lingkungan sekolah dimana pemberdayaan guru menjadi prioritas adalah sangat esensial bagi keefektifan sekolah yang pada muaranya mempengaruhi prestasi siswa secara keseluruhan. Hasil-hasil penelitian juga menunjukkan hubungan antara iklim lingkungan sekolah dengan sikap siswa terhadap mata pelajaran. Papanastaiou (2002) menyatakan bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung, iklim lingkungan sekolah memberi efek terhadap sikap siswa terhadap mata pelajaran IPA di sekolah menengah. B. Tujuan Dan Manfaat Pengembangan Budaya Sekolah Hasil pengembangan budaya sekolah adalah meningkatkan perilaku yang konsisten dan untuk menyampaikan kepada personil sekolah tentang bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan untuk membangun kepribadian mereka dalam lingkungan sekolah yang sesuai dengan iklim lingkungan yang tercipta di sekolah baik itu lingkungan fisik maupun iklim kultur yang ada. Pemahaman bahwa budaya dan iklim sekolah mempunyai sifat yang sama, tidak berarti bahwa tidak akan terdapat sub-budaya di dalam budaya sekolah. Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam lingkungan sekolah yang merupakan karakteristik sekolah adalah budaya
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

3

dominan atau budaya yang kuat, dianut, diatur dengan baik dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak personil sekolah yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui gagasan berdasarkan kepentingannya, dan merasa sangat terikat pada nilai yang ada maka makin kuat budaya tersebut. Karena para personil sekolah memiliki pengalaman yang diterima bersama, sehingga dapat menciptakan pengertian yang sama. Hal ini bukan berarti bahwa anggota yang stabil memiliki budaya yang kuat, karena nilai inti dari budaya sekolah harus dipertahankan dan dijunjung tinggi, namun juga harus dinamis. Untuk menciptakan budaya sekolah yang kuat dan positif perlu dibarengi dengan rasa saling percaya dan saling memiliki yang tinggi terhadap sekolah, memerlukan perasaan bersama dan intensitas nilai yang memungkinkan adanya kontrol perilaku individu dan kelompok serta memiliki satu tujuan dalam menciptakan perasaan sebagai satu keluarga. Dengan kondisi seperti ini dan dibarengi dengan kontribusi yang besar terhadap harapan dan cita-cita individu dan kelompok sebagai wujud dan harapan sekolah yang tertuang dalam visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah ditunjang oleh iklim sekolah yang mendukung kontribusi tersebut. Manfaat yang diperoleh dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kuat, intim, kondusif dan bertanggung jawab adalah: 1. Menjamin kualitas kerja yang lebih baik. 2. Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. 3. Lebih terbuka dan transparan 4. Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi 5. Meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan 6. Jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki 7. Dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK Manfaat ini bukan hanya dirasakan dalam lingkungan sekolah tetapi dimana saja karena dibentuk oleh norma pribadi dan bukan oleh aturan yang kaku dengan berbagai hukuman jika terjadi pelanggaran yang dilakukan. Selain beberapa manfaat diatas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : 1. Meningkatkan kepuasan kerja 2. Pergaulan lebih akrab 3. Disiplin meningkat 4. Pengawasan fungsional bisa lebih ringan 5. Muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif 6. Belajar dan berprestasi terus serta 7. Selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri. C. Model Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Model pengembangan budaya dan iklim sekolah yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik itu kepala sekolah, guru dan staf sekolah dan utamanya siswa itu sendiri dapat dijadikan dasar dalam upaya memperbaiki iklim sekolah. Model tersebut merupakan integrasi komponen-komponen seperti budaya sekolah, iklim organisasi, dan pranata sistem sekolah. Komponen pengembangan budaya dan iklim sekolah secara umum dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori dengan beberapa aspek sebagai berikut: 1) Budaya sekolah meliputi aspek-aspek: a. Nilai b. Norma c. Perilaku
PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

4

Lingkungan fisik sekolah meliputi: a. Keindahan b. Keamanan c. Kenyamanan d. Ketentraman e. Kebersihan 3) Lingkungan sistem sekolah meliputi: a. Berbasis mutu b. Kepemimpinan kepala sekolah c. Disiplin dan tata tertib d. Penghargaan dan insentif e. Harapan untuk berprestasi f. Akses informasi g. Evaluasi h. Komunikasi yang intensif dan terbuka Model berikut ini menjelaskan tentang bagaimana membangun sebuah budaya dan iklim sekolah berdasarkan unsur-unsur di atas. Model tersebut menggambarkan bahwa budaya dan iklim organisasi merupakan kumpulan nilai-nilai, norma dan perilaku yang mengontrol interaksi-personil sekolah dengan orang diluar sekolah. Budaya organisasi sekolah tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh individu-induidu yang memiliki kepentingan dengan sekolah, atau dengan kata lain budaya dan iklim sekolah merupakan hasil interaksi nilai-nilai yang dianut individu didalam dan diluar sekolah. Sekolah merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif terus-menerus untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah.
2)

PIKIR, DZIKIR, IKHTIAR

5

staf. b. IKHTIAR 6 . DZIKIR. termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya budaya dan iklim sekolah. Komunikasi formal dan informal a. dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya dan iklim sekolah. misi dan tujuan sekolah. 3. d. Visi tentang keunggulan mutu misalnya. c. Fungsi visi. Berfokus Pada Visi. Berbasis mutu Kepemimpinan Disiplin dan tata tertib Penghargaan dan insentif e. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko PIKIR. Perilaku a. Norma c. Prinsip-Prinsip Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Prinsip adalah ”suatu pernyataan atau suatu kebenaran yang pokok. c. b. 2. 1. Misi dan Tujuan Sekolah Pengembangan budaya dan iklim sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi. yang memberikan suatu petunjuk kepada pemikiran atau tindakan” (Moekijat . Prinsip-prinsip yang menjadi acuan dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah sebagai berikut. Lebih jauh dijelaskan pengertian prinsip yakni pedoman-pedoman yang dapat membantu dalam penerapan manajemen yang harus dipergunakan secara cermat dan bijaksana. Budaya dan iklim sekolah yang efektif akan memberikan efek positif bagi semua unsur dan personil sekolah seperti kepala sekolah. d. Indah Aman Nyaman Tentram Bersih BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Gambar 19. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya dan iklim sekolah. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien. siswa dan masyarakat. Akses informasi g. guru. e.1990). Harapan berprestasi f.PEMBERDAYAAN SEKOLAH BUDAYA PEMBERDAYAAN SEKOLAH LINGKUNGAN FISIK SEKOLAH a. Nilai b.1 Model dalam Membangun Budaya dan iklim Sekolah D. misi. Evaluasi h.

Asas-Asas Pengembangan Budaya dan Iklim Sekolah Definisi budaya dan iklim sekolah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan sebuah pola asumsi dasar dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah efektif. Memiliki Komitmen yang Kuat Komitemen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya dan iklim sekolah. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. Evaluasi Diri Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi di sekolah. Sistem Imbalan yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. PIKIR. sedang. Keputusan Berdasarkan Konsensus Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya dan iklim sekolah. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. IKHTIAR 7 . 8. 5. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. E. 4. 9. 7. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya dan iklim sekolah. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. dan jangka panjang. Memiliki Strategi yang Jelas Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program.Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. DZIKIR. Berorientasi Kinerja Pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. 6. sehingga unsur dan prinsip-prinsipnya dianggap valid untuk dilaksanakan secara terus menerus serta diterapkan bukan hanya dianggap sebagai strategi tetapi lebih condong dipandang sebagai budaya. 10. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. Sistem Evaluasi yang Jelas Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya dan iklim sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah. Oleh karena itu peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah harus senantiasa dibarengi dengan pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dengan menerapkan nilai-nilai dasar sebagai asas kehidupan sekolah. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan.

Tanpa kejujuran. Jujur dalam memberikan penilaian. guru. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. 6. 7. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. kepercayaan tidak akan diperoleh. Disiplin (discipline) PIKIR. baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. Untuk itu. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. jujur dalam mengelola keuangan. Kerjasama tim (team work) Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. Hormat (respect) Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Jujur (honesty) Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Kemampuan Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. 2. DZIKIR. nyaman. asri dan menyenangkan. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. Keinginan Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. 4. Kegembiraan (happiness) Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. IKHTIAR 8 . 3. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. Dalam lingkungan pembelajaran. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang baik. bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. nyaman. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. 5.Secara umum asas-asas pengembangan budaya dan iklim sekolah dapat diuraikan sebagai berikut: 1.

Demikian juga halnya. keyakinan. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. Dimensi ini menuntut para guru. 8. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. II. Purkey dan Smith (1985) menyatakan bahwa prestasi akademik siswa dipengaruhi sangat kuat oleh suasana kejiwaan atau iklim kerja sekolah. Empati (empathy) Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. serta lingkungan pembelajaran baik lingkungan alam. psikososial dan budaya (Depdikbud. Secara eksplisit faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah kompetensi guru. maka dapat diharapkan siswanya akan mencapai prestasi akademik yang memuaskan. 1994). Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. orang tua dan masyarakat. IKHTIAR 9 . kurikulum. Pembentukan suasana pembelajaran yang kondusif perlu diciptakan dalam seluruh lingkungan sekolah termasuk didalamnya lingkungan kelas. 9. Penelitian Cheng (1993) menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya organisasi (cita-cita. kemampuan adaptasi dan keluwesan. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. DZIKIR. riset tentang iklim kerja di sekolah telah berkembang dengan mapan dan memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi pembentukan sekolah-sekolah yang berhasil. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya dan iklim sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. sarana dan prasarana. INDIKATOR-INDIKATOR DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Budaya dan iklim organisasi sekolah secara konsisten ditemukan berkorelasi positif dengan prestasi belajar. Lebih lanjut Hughes (1991) menegaskan bahwa setiap sekolah mempunyai karakter suasana kerja. Dapat diartikan disini bahwa lingkungan sosial pembelajaran di kelas maupun di sekolah PIKIR. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. kinerja sekolah ditentukan oleh suasana atau iklim lingkungan kerja pada sekolah tersebut. staf dan kepala sekolah tarmpil. Di negara-negara maju. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Ditegaskan bahwa jika guru merasakan suasana kerja yang kondusif di sekolahnya. Kekondusifan iklim kerja suatu sekolah mempengaruhi sikap dan tindakan seluruh komunitas sekolah tersebut. yang akan mempengaruhi keberhasilan proses kegiatan pembelajaran di kelas. metode pembelajaran yang dipakai.Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. dan misi) yang kokoh cenderung dipandang lebih efektif dalam hal produktivitas. guru dan staf. khususnya pada pencapaian prestasi akademik siswa. Pengetahuan dan Kesopanan Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain.

dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. (3) iklim terkontrol (4) iklim familier (kekeluargaan). dan (6) iklim tertutup (Halpin & B Croft dalam Burhanunudin. dan dengan pihak lainnya. Penampilan fisik sekolah selalu bersih. perhatian khusus diberikan kepada penciptaan dan pemeliharaan iklim yang kondusif untuk belajar (Reynolds. 1994). hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghargai satu sama lain. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dikemukakan berikut ini. rapi. Iklim yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman. 1990). c Dalam lingkungan sekolah terdapat beberapa kawasan khusus seperti: kawasan wajib senyum. (b) menumbuhkan budaya relegius dengan membiasakan murid mengucapkan dan membalas salam setiap bertemu. tertib. kawasan bebas narkoba dan rokok. Ia mengitari dan mempengaruhi segala hal yang terjadi dalam suatu organisasi. teduh. tetapi ia ada seperti udara dalam ruangan. dan kawasan wajib bahasa Inggris (English area). kemungkinan besar tercapai peningkatan prestasi kerja (Davis dan Newstrom. dan (e) terdapat juga sekolah yang mengadakan “kultum” setiap hari dan menugaskan siswa berceramah sekali seminggu. dan tertib di dalam belajarnya.(kantor guru dan staf tata usaha) mempunyai pengaruh baik langsung maupun tak langsung terhadap proses kegiatan pembelajaran. Dalam sekolah efektif. Perawatan Fasilitas Fisik Sekolah Salah satu ciri sekolah efektif adalah terciptanya budaya dan iklim sekolah yang menyenangkan sehingga siswa merasa aman. seperti: (a) berdoa sebelum pelajaran dimulai. aman dan bersikap positif terhadap sekolahnya. serta dimanfaatkan untuk menanam sayuran dan apotik hidup. dan nyaman. indah dan nyaman. agar guru merasakan diri dihargai. Hal ini ditandai dengan fasilitas-fasilitas fisik sekolah terawat dengan baik. DZIKIR. d Adanya pembiasaan-pembiasaan yang bernuansa moral dan akhlak yang mendorong meningkatnya kecerdasan spritual peserta didik. (c) mengadakan pengajian secara rutin. Hal yang sama dikemukakan oleh Wijaya (2005). (2) iklim bebas. IKHTIAR 10 . Iklim adalah konsep sistem yang mencerminkan keseluruhan gaya hidup suatu organisasi. iklim sekolah yang kondusif mendorong setiap personil yang terlibat dalam organisasi sekolah untuk bertindak dan melakukan yang terbaik yang mengarah pada prestasi siswa yang tinggi. yaitu budaya sekolah yang perlu ditumbuhkan berupa suasana saling hormat antara siswa dengan siswa. Hal ini dapat terjadi melalui penciptaan norma dan kebiasaan yang positif. 1985). A. PIKIR. Iklim tidak dapat dilihat dan disentuh. Apabila gaya hidup itu dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut: a Pekarangan dan lingkungan sekolah yang tertata sedemikian rupa sehingga memberi kesan asri. Budaya dan iklim sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa tenang. b Budaya bersih juga senantiasa ditumbuhkan di kalangan warga sekolah dengan membiasakan perilaku membuang sampah pada tempatnya. 1994). Sehubungan dengan itu maka budaya dan iklim sekolah dapat digolongkan menjadi enam kondisi yaitu: (1) iklim terbuka. Penataan Lingkungan Fisik Sekolah 1. (d) shalat berjamaah pada waktu shalat duhur. dan kepuasan kerja (Davis dan Newstrom. guru dengan guru. nyaman. dan agar orangtua dan masyarakat merasa dirinya diterima dan dilibatkan (Townsend. Pandangan ini mengindikasikan kualitas iklim yang memungkinkan meningkatnya prestasi kerja. 1985). siswa dengan guru. Iklim dapat mepengaruhi motivasi. prestasi. (5) iklim parternal. Selain itu.

karyawan.2. Hubungan kekeluargaan ini dapat digambarkan sebagai berikut: PIKIR. dan staf harus menjadi model dan teladan untuk penegakan tata tertib dan disiplin. siswa. Pesan-pesan spiritual untuk poster afirmasi dapat berupa petikan ayat Al-Quran. peralatan. Yang perlu diperhatikan. dan sebagainya. Sekolah terbebas dari gangguan keamanan baik dari dalam maupun dari luar sekolah. atau puisi-puisi spiritual. pribadi yang patut dihargai. Meja. DZIKIR. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. Iklim interaksi antar warga sekolah dibangun atas dasar prinsip ”I Thou Relationship” bukan hubungan yang bersifat ”I-it Relationship”. IKHTIAR 11 . 4. yaitu poster yang berisi pesan-pesan positif digunakan dan dipajang di berbagai tempat strategis yang mudah dan dapat selalu dilihat oleh siswa. B. kursi. kelas kesenian. baik pada saat siswa belajar di kelas maupun pada saat mereka melakukan berbagai aktivitas lainnya di luar kelas. 3. pajangan. dan orangtua. Penggunaan musik instrumentalia yang lembut dapat lebih menciptakan suasana menyenangkan dan memberi efek penenteraman emosi. pesan pujangga. 2. Karena itu kepala sekolah. guru. kelas bahasa. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. apabila didukung oleh seluruh penyelenggara sekolah. hadist. termasuk semua siswa. Untuk menjamin keamanan sekolah maka harus didukung adanya tata tertib sekolah yang menjadi acuan dari semua warga sekolah. setiap individu memandang dan memperlakukan individu lainnya sebagai subjek. Ada kelas sains. Penciptaan Relasi Kekeluargaan dan Kebersamaan Sekolah menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan antara kepala sekolah. ruang-ruang kelas tertentu dapat ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. adalah pengadaan dan penempatan poster afirmasi ini jangan sampai terkesan berlebihan atau menjadi pesan sloganis belaka. Penggunaan sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. Dalam hubungan dengan ciri ”I Thou Relationship”. Penciptaan Keamanan di Lingkungan Sekolah Sekolah yang efektif perlu memperhatikan keamanan sekitar. sehingga satu sama lain saling berbagi dan memberi bantuan. Poster afirmasi ini dapat digunakan untuk mensosialisasikan dan menanamkan pesanpesan spiritual kepada siswa dan warga sekolah. Sekolah membangun budaya setara di kalangan warga sekolah. Dalam sistem moving-class ini. dan memiliki kebutuhan dan kewenangan sendiri untuk menentukan keputusan dan pilihannya sendiri. kelas matematika. Penataan Ruang Kelas Penataan ruang kelas ditujukan untuk memperoleh kondisi kelas yang menyenangkan sehingga tercipta suasana yang mendorong siswa lebih tenang belajar. Budaya dan iklim sekolah yang bercirikan model hubungan seperti ini akan dapat membangun rasa kebersamaan dan dapat memicu berkembangnya rasa percaya diri dan kreativitas semua warga sekolah. Penggunaan Poster Afirmasi Poster-poster afirmasi. Penggunaan Sistem Kelas Berpindah (Moving-Class) Moving-class adalah sistem pengelolaan aktivitas pembelajaran di mana kelaskelas tertentu ditata khusus menjadi sentra pembelajaran bidang studi/mata pelajaran tertentu. dihormati. media. guru. Penataan Lingkungan Sosial Sekolah 1. Tata tertib sekolah dapat terlaksana dengan baik.

Ganjaran akan efektif jika diberikan sesegara mungkin dan dilakukan secara konsisten pada setiap siswa yang menunjukkan prestasi. Sebaliknya dalam hubungan yang dicirikan dengan ”I-it Relationship”. kepentingan. Setiap warga sekolah merasa bertanggung jawab untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekolah. individu tertentu. Penataan Personil Sekolah 1. Setiap keputusan yang dibuat di sekolah hendaknya memperhatikan kebutuhan. memberikan sumbangan dalam bentuk materi. d. pertemuan berkala antara orangtua dan pihak sekolah. Ini bisa dicapai. katakanlah guru tertentu. pengadaan sarana sekolah. tidak berhak untuk menyatakan kebutuhan dan kepentingannya. dan cenderung mengembangkan sikap asosial. c. C. Ganjaran hendaknya diberikan sesegara mungkin dan diarahkan untuk memberi rasa kebanggaaan dan untuk mempertahankan motivasi siswa yang diberi ganjaran serta menstimulasi siswa lainnya untuk menghasilkan prestasi yang sama. Keterlibatan komite sekolah secara nyata ditemukan pada semua sekolah dalam berbagai aspek dan kegiatan. IKHTIAR 12 . pada diri siswa. antara lain dengan memberi tanggung jawab pengelolaan dan perawatan wilayah tertentu kepada kelompok kelas atau ruang tertentu. Ciri hubungan seperti ini akan mematikan kretivitas dan rasa percaya diri sisiwa. Keputusan yang dibuat hendaknya juga dapat memenuhi prinsip keadilan dan PIKIR. dan kondisi khusus siswa. ikut serta memutuskan sanksi terhadap pelanggaran di sekolah. seperti menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan sekolah. staf administrasi dan siswa menunjukkan rasa bangga terhadap sekolahnya. Orangtua dan masayarakat dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan strategis di sekolah. Sekolah senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan orangtua dan masyarakat melalui wadah Komite Sekolah. 2. Ganjaran juga dibutuhkan untuk mempertahankan motivasi dan gairah berprestasi di kalangan siswa. 3. dan dapat diperlakukan sesuai kemauan dan determinasi sang guru.a. Pemberian Jaminan Atas Kemaslahatan Siswa Kemaslahatan siswa merupakan kriteria penting yang digunakan dalam pembuatan keputusan tentang mereka. Prosedur untuk melibatkan orang tua disampaikan secara jelas. Orangtua siswa diberi kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan. Orang tua siswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan. b. perlu dituntun. dan memberdayakan orang tua siswa yang memiliki kemampuan finansil atau peran penting di lembaga pemerintah dan swasta dalam berbagai kegiatan sekolah. bahkan anti sosial. seperti pembuatan tata tertib. mengontrol perkembangan belajar anaknya. e. Pemberian Ganjaran Positif bagi Karya Terbaik Siswa Karya-karya cemerlang siswa dipajang di kelas atau ruang kepala sekolah dan diberi ganjaran positif. Memaksimalkan buku penghubung sebagai alat pengontrol kemajuan siswa sekaligus wadah menjalin komunikasi dengan orang tua. DZIKIR. mendorong dunia usaha dan industri untuk berpartisipasi dalam pengembangan sekolah. memandang individu lain (katakanlah siswa) sebagai objek. Pelibatan tokoh masyarakat. Pengembangan Rasa Memiliki Terhadap Sekolah Sekolah menciptakan rasa memiliki sehingga guru. penegakan kedisiplinan di sekolah.

misalnya: acara perpisahan sekolah.kesetaraan di kalangan siswa. D. (d) hubungan antar pribadi. agama. Sehubungan dengan itu. Murphy (1985) seperti dikutip oleh Wayson. Penelitian Moedjiarto (1990) dan Witte dan Walsh (1990) mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara harapan yang tinggi untuk berprestasi dan prestasi akademik siswa. (d) meningkatnya tanggung jawab. (e) penghargaan. termasuk keadilan dan kesetaraan gender. yang meliputi: (a) prestasi. Aktivitas bersifat regular dan dilakukan setiap semester/tahun di sekolah. Harapan yang Tinggi Untuk Berprestasi Karakteristik ini pada umumnya ditemukan dalam sekolah efektif. Dijelaskan bahwa faktor-faktor motivasi-iklim baik. Akseptabilitas Guru Terhadap Metode Pembelajaran Terbaru Guru bersedia mengubah metode-metode mengajar. (1988) mengungkapkan bahwa harapan dan standar untuk berprestasi yang tinggi juga perlu bagi para staf sekolah yang ditandai dengan adanya: (1) keyakinan bahwa semua siswa dapat belajar. agar kegiatan proses belajar-mengajar tidak terganggu. PIKIR. kegiatan OSIS. (2) tanggung jawab bagi pembelajaran siswa. seperti buku. peringatan hari-hari besar. kondisi fisik. ataupun varian-varian latar siswa lainnya. maka seluruh kegiatan nonteaching yang bersifat regular dan yang bersifat insidental perlu diidentifikasi. internet. (3) harapan yang tinggi akan pekerjaan yang berkualitas tinggi. Karakteristik ini berkenaan dengan penciptaan etos positif yang dapat mendorong siswa berprestasi. IKHTIAR 13 . Menurut Mortimore (1993). (b) supervisi. (e) pertumbuhan dan perkembangan. kelas sosial. dan keamanan. karya tulis remaja. Aktivitas yang bersifat insidental dan tidak terjadwal dalam program semester/tahunan. PMR. porseni. yaitu: (1) pekerjaan itu sendiri. Berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif telah ditawarkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. (c) pekerjaan yang menantang. dan (5) pemberian perhatian pribadi kepada siswa perorangan. DZIKIR. (c) kondiisi kerja. 1992). Penerapan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif dan telah teruji perlu menjadi bagian yang mencoraki iklim pembelajaran di sekolah. dan lain-lain sedapat mungkin dilaksanakan pada waktu-waktu yang tidak mengganggu aktivitas proses belajarmengajar. sebaiknya dijadwal dan disesuaikan dengan kalender pembelajaran agar jadwal proses belajar-mengajar dan implemantasi kurikulum tidak terganggu. (4) persyaratan promosi dan penjenjang-an. Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa semua aktivitas sekolah harus dijadwalkan sehingga kegiatan yang dilaksanakan di sekolah maupun di dalam kelas dapat berjalan lancar. Hal ini sejalan dengan teori motivasi-iklim baik dari Herzberg (Hersey dan Blanchard. Penataan Lingkungan Kerja Sekolah 1. Dengan demikian. bila metode yang lebih baik diperkenalkan kepadanya. 4. status. ras. etnis.Lingkungan. Atau dengan kata lain semua kegiatan baik kegiatan kurikuler. misalnya: penyuluhan tentang anti narkoba. Pengaturan Jadwal Acara dan Aktivitas Sekolah Semua aktivitas di sekolah harus dijadwalkan secara baik. mading. guru perlu mengadopsi dan mencoba menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran tersebut untuk lebih mengefektifkan proses pembelajarannya. (b) pengakuan akan keberhasilan. harapan yang tinggi yang ditransmisikan ke dalam kelas berperan dalam meningkatkan ekspektasi diri siswa terutama berkenan dengan peningkatan prestasi akademik mereka. terdiri dari: (a) kebijaksanaan dan administrasi. 5. dkk. dan pelatihan.

Penerapan manajemen mutu dalam organisasi nonprofit termasuk sekolah. Penerapan disiplin dan tata tertib sesuai dengan mentaati jam kerja yang berlaku di lingkungan sekolah. g. guru dan wali kelas wajib menciptakan iklim kerja dan iklim belajar yang kondusif dalam rangka untuk meningkatkan kinerja guru dan prestasi belajar siswa. baik yang bersifat formal maupun informal. IKHTIAR 14 . Salah satu bentuk pengembangan budaya kerja yang positif adalah budaya mutu. h. menanamkan budaya pengawasan melekat (WASKAT) terhadap seluruh personil sekolah secara intensif. d. dan selera konsumen. staf dan siswa dengan menggunakan prinsip pemberian penghargaan mereka yang berprestasi dan penerapan sanksi disiplin untuk mereka yang melakukan pelanggaran disiplin sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku di sekolah tidak terkecuali kepada siapapun. hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tumpang tindih. Pryke. rencana. yang diartikan sebagai proses manajemen dalam konteks ini adalah manajemen mutu. guru. DZIKIR. f.” Sehubungan dengan itu maka. e. dan kegiatan sebaiknya ditata secara baik sehingga tidak saling mengganggu. kepala sekolah. 1992). seperti komite sekolah. ternyata 35 persen dari biaya operasionalnya dipakai untuk memperbaiki dan menyelesaikan pekerjaan yang ternyata salah atau keliru dilakukan (Crosby. Setiap guru bidang studi dan wali kelas senantiasa melakukan pemantauan dan evaluasi secara periodik terhadap peningkatan disiplin dan prestasi belajar siswa c. Penciptaan Budaya Kerja Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian dalam upaya penciptaan budaya kerja yang positif seperti: a. Menyiapkan buku bacaan sekolah di setiap sudut atau ruang sekolah dalam bentuk taman bacaan atau ruang tunggu yang bisa digunakan oleh siapa saja tanpa harus dijaga karena didasari oleh kebutuhan dan kejujuran. Dalam rangka menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif. siswa. 2. Filosofi utama budaya mutu adalah “perbaiki prosesnya sebelum hasilnya jelek” (Paine. staf dan siswa untuk meningkatkan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas melalui pendidikan dan pelatihan. guru dan staf menyusun mekanisme proses pelayanan yang direncanakan maupun mekanisme pelayanan langsung/spontan berhubungan proses belajar mengajar dan kegiatan yang dapat menunjang kelancaran proses belajar mengajar. Kepala sekolah. Turner. 1990). Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kepada siswa dan masyarakat. b.kokurikuler. (4) kualitas PIKIR. Di kalangan bisnis. bukan hasil dari suatu pemeriksaan atau inspeksi. yaitu: (1) kualitas adalah pekerjaan setiap orang. program. menurut Brough (1992) perlu memperhatikan hal berikut. Memberikan kesempatan kepada para guru. yang dalam konteks pembelajaran berarti perbaikan secara berkelanjutan “proses pembelajaran. (2) kualitas muncul dari pencegahan. (3) kualitas berarti memenuhi keinginan. Hal ini membawa implikasi bahwa sekolah perlu didorong untuk tidak hanya melihat aspek input manajemen tetapi jauh lebih penting adalah proses manajemennya. maupun ekstrakurikuler. Senantiasa melakukan pembinaan dan motivasi kepada guru. sebagai wahana saling mengkomunikasikan ide. kebutuhan. Pertemuan antara kepala sekolah dengan berbagai pihak.

(5) kualitas menuntut perbaikan yang berkelanjutan. PIKIR. emosional dan spiritual agar lebih siap dalam menghndapi tantangan akademik dan bisnis dimasa yang akan dating. Dengan konsep ini memungkinkan bagi guru dan staf untuk mengukur dan mendokumentasikan nilai tambah parakarsa mutu kepada siswa dan masyarakat. Karena pendekatan sistem merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam pilar mutu maka dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah yang bermutu maka juga harus berfokus pada semua pilar sekaligus. DZIKIR. mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan di sekolah. Sebuah model sekolah bermutu terpadu yang dikembangkan oleh Jarome S. bisnis dan pemerintah untuk memastikan apakah para professional sekolah memberikan fokus pada sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan program-program pendidikan di sekolah. Sekolah yang menerapkan maanjemen mutu terpadu akan membangun budaya dan iklim sekolah yang memungkinkan setiap orang membawa ukuran perbaikan mutu terhadap proses kerjanya yang dapat dinilai bagaimana kontribusinya dalam mengembangkan kompotensi siswa dari segi intelektual. Pilar mutu memberikan fokus dan arahan yang diperlukan oleh seluruh personil sekolah untuk setiap prakarsa mutu. mendorong keterlibatan total warga dalam setiap program. (6) kualitas harus didasarkan atas perencanaan strategik. Yang dimaksud dengan budaya mutu adalah terciptanya kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang positif terutama dalam aspek sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja sekolah yang tinggi. Pilar-pilar ini merupakan model penting bagi setiap prakarsa mutu yang berhasil dan pilar mutu ini bersifat universal.menuntut kerja sama yang erat. menunjang sistem yang diperlukan oleh guru. staf. Prosesenya diawali dengan visi dan misi mutu dalam lingkungan sekolah yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan pemakai. Fokus dan arahan pada setiap pilar tidak dapat dibatasi oleh satu pilar dalam mengembangkan budaya dan iklim mutu dalam lingkungan sekolah. serta perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat program pendidikan di sekolah menjadi lebih baik. bukan program sekali jalan (3) mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan dan administrator (4) pelatihan merupakan prasyarat mutu. dan (5) setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. Manajemen mutu terpadu merupakan metode yang dapat membantu sekolah untuk membangun aliansi antara pendidikan. dapat diterapkan di semua sekolah. staf dan siswa untuk mengelola perubahan. IKHTIAR 15 . Pengembangan budaya mutu antara lain dapat dilakukan melalui penciptaan harapan yang tinggi untuk berprestasi di kalangan warga sekolah. kepala sekolah. Arcaro (2005) dengan konsep “pilar mutu” menggambarkan kriteria sekolah yang memiliki mutu mulai dari kegiatan di ruang kelas sampai pada perawatan bangunan sekolah sebagaimana digambarkan pada halaman berikut. orang tua siswa dan masyarakat. Beberapa pandangan Juran yang dikutip oleh Jerome S Arcaro (2005) tentang mutu adalah: (1) meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir (2) perbaikan mutu merupakan proses berkelanjutan. guru. Transformasi menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan komitmen bersama terhadap mutu oleh komite sekolah. siswa.

dan sebagainya. staf dan siswa. a. Beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah dalam menciptakan budaya mutu di sekolah adalah sebagai berikut. maupun siswa. dan kinerja yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang menodai komitmen terhadap mutu. Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh siswa. DZIKIR. menyusun standar kinerja yang tinggi bagi guru. Beberapa indikator penciptaan budaya mutu di sekolah adalah. a. komitmen dan kerajinan yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang tidak fair seperti menyontek. c. komitmen. Sekolah menciptakan suasana yang memberikan harapan dan semangat. staf administrasi. Siswa yang memiliki budaya mutu memiliki motivasi belajar.Gambar 19. d. b. PIKIR.2 Model Sekolah Bermutu Terpadu Sekolah yang memiliki budaya mutu. IKHTIAR 16 . guru. Guru yang berorientasi budaya mutu memiliki motivasi kerja. Merumuskan standar sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja tinggi baik bagi kepala sekolah. Sekolah menekankan kepada siswa dan guru bahwa belajar merupakan alasan yang paling penting untuk bersekolah. Harapan terhadap prestasi siswa yang tinggi disampaikan kepada seluruh orangtua siswa. di mana para guru percaya bahwa siswa dapat mencapai tingkat prestasi yang tinggi.

e. guru. Menghasilkan lulusan yang unggul. 3. D. d. Peningkatan akuntabilitas Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penciptaan budaya akuntabilitas di sekolah sebagai berikut: a. Pembiasaan dan tata prilaku dimaksudkan sebagai Budaya Sekolah Bakti Mulya 400 adalah sebagai berikut: a. PIKIR. nusa. Menghasilkan lembaga pendidikan yang memiliki predikat sekolah unggul. Menyelenggarakan pendidikan yang menumbuhkembangkan potensi siswa untuk menjadi manusia seutuhnya. Setiap staf dan guru agar menyusun laporan akuntabilitas secara periodik setiap triwulan b. keramahan. maka pembinaan siswa dilakukan melalui proses pembinaan sikap dan prilaku sehari-hari di sekolah yang diarahkan kepada terwujudnya budaya sekolah Bakti Mulya 400. DZIKIR. Standar pelayanan prima meliputi elemen berikut: kecepatan. kompeten/mampu dan terampil. Menyelenggarakan pendidikan umum yang bernafaskan Islam. kemudian diuraikan dalam beberapa misi sebagai berikut: A. Contoh Budaya dan iklim Sekolah Bakti Mulya 400 Visi : Menjadi pusat pengembangan pendidikan yang melahirkan kader pemimpin dan intelektual muslim dengan wawasan luas serta tanggap terhadap lingkungan dan mampu bersaing di era globalisasi sehingga mampu memperbaiki kualitas bangsa Indonesia Misi: Dikembangkan dari visi. Pemanfaatan sumber dana baik yang bersumber dari APBN maupun APBD ataupun seumber lain dilakukan dengan berlandaskan kepada prinsip efektivitas dan efisiensi. 17 .Merumuskan standar pelayanan prima yang dipatuhi semua warga sekolah guna meningkatkan mutu pelayanan kepada pelanggan sekolah. C. dan staf dalam berkompetisi. dan pemberian jaminan mutu sekolah. B. ketepatan. misi pendidikan serta sifat-sifat umum siswa Bakti Mulya 400. IKHTIAR b. ketanggapan. bangsa dan negara E. Kegiatan sekolah dilaksanakan pagi hari dengan 5 hari belajar dalam seminggu. Menghasilkan sumber daya manusia yang berguna bagi dirinya. khususnya siswa dan orangtuanya. serta berorientasi kepada hasil (output) dan manfaat (outcomes) dari setiap program yang diselenggarakan di sekolah c. c. Memampukan warga sekolah untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas guna memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna lulusan (masyarakat). Budaya Sekolah: Untuk merealisasikan visi. Menciptakan sistem penghargaan bagi warga sekolah yang berprestasi tinggi dan pembinaan serta hukuman bagi yang berprestasi rendah. Melaksanakan berbagai lomba untuk mendorong siswa. Setiap orang yang melakukan perjalanan dinas baik ke daerah maupun ke luar negeri wajib melaporkan hasil perjalanan Dinasnya kepada bendahara atau kepala sekolah Berikut ini dikemukakan contoh-contoh penerapan indikator budaya dan iklim sekolah pada salah satu sekolah.

Amanah. SLTP. bagi siswa yang telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang SD. Setiap pagi siswa dilepas pergi ke sekolah oleh kedua orang tua dengan iringan salam dan do‟a. khitanan masal. u. y. Membiasakan menulis tanggal. mejelang datangnya Hari Raya Idul Adha. siswa melafalkan surat “Al Fatihah” dan “Do’a” sebelum pelajaran dimulai. Nasional dan bakti sosial kemasyarakatan (seperti donor darah. å. Ramah dalam bergaul m. Istiqomah. dan SMU. Memberangkatkan ibadah haji bagi guru/karyawan sesuai dengan kemampuan keuangan Yayasan BKSP Bakti Mulya 400. dan juga dilakukan dalam setiap kesempatan suatu acara resmi sekolah. santunan anak yatim. Membiasakan memakmurkan Mushalla dengan kegiatan keagamaan dan shalat Dzuhur/Jumat. v. g. Mengikuti pemantapan pelajaran Al Quran dengan metode Iqra. z. Membiasakan melaksanakan puasa sunat seperti puasa Senin dan Kamis. Melaksanakan khataman pelajaran Al Quran. dapat dipercaya q. bulan dan tahun hijriah di samping tanggal. pemberian beasiswa). pembagian sembako. Menyelenggarakan latihan manasik haji. Membiasakan menulis dan mengucapkan “Basmallah” setiap memulai pekerjaan dan atau “Hamdallah” setelah selesai melakukan pekerjaan. Waspada terhadap naza p. ö. Berbakti kepada orang tua j.b. IKHTIAR . dan setelah jam pelajaran terakhir membaca surat “Al Ashr” dipimpin guru yang mengajar pada jam terakhir. do‟a bercermin. ä. do‟a untuk kedua orang tua. sebelum tidur. e. bangun tidur. Melafalkan dan membiasakan mengamalkan 10 do‟a amaliah harian. Logis dalam berpikir o. t. 18 PIKIR. mengawali dan mengakhiri pekerjaan. atau yang lainnya. DZIKIR. Lemah lembut dalam tutur kata r. Ulet dalam mencapai cita-cita n. f. teguh dalam keyakinan s. x. Rajin beramal l. c. w. Setibanya di sekolah saat bertemu dengan guru maupun teman berjabat tangan dan memberi salam “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” Demikian halnya bila menerima salam maka segera menjawab salam “Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh”. masuk dan keluar masjid Melakukan 11 amalan yang tercermin dalam “Birrulwalidain” yakni: i. h. Dengan bimbingan guru yang mengajar pada jam pertama. Nadzafah. Ikhlas beramal k. pakaian dan lingkungan. Pada pagi hari membaca “Ikrar” dalam bahasa Arab dan terjemahannya bersama dengan guru. minta tambah ilmu. diantaranya do‟a keluar rumah. bulan dan tahun masehi. Melaksanakan pesantren kilat setiap awal Bulan Ramadhan. Membiasakan mengucap kalimat-kalimat thayyibah dan dzikir dalam rangka mendekatkan diri dan mengagungkan Asma Allah SWT. d. Menyelenggarakan peringatan hari-hari besar Islam. masuk dan keluar kamar mandi/wc. bersih diri.

aman. emosional. Demokratis dan penuh tenggang rasa. dengan senantiasa dijiwai ajaran Agama Islam. 8.aa. dan karena itu. Kelas yang kondusif adalah lingkungan belajar yang mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. dan mental dalam proses belajar. seperti lingkungan fisik dan sistem pembelajaran di kelas. 12. serta aktif menjalankan ibadah dan amaliah. 6. 3. Sehat jasmani dan rohani. Berjiwa gotong royong. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik. Dengan pelaksanaan budaya tersebut. 9. Cukup tanggap dan peka terhadap masalah yang ada di lingkungannya. sebagai berikut : 1. STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Pengelolaan kelas dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. mencintai bangsa dan sesamanya. mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya. III. untuk siswa setiap hari sesuai jadwal. Strategi belajar apapun yang ditempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. dan menstimulasi setiap anak agar terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang efektif membutuhkan kondisi kelas yang kondusif. PIKIR. Kreatif dan bertanggung jawab. ltulah sebabnya. Pengelolaan kelas yang baik. 11. Untuk lebih jelasnya ke enam cara tersebut di atas akan dijelaskan dalam uraian berikut. Disiplin. 7. rendah hati dan berpola hidup sederhana. akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. cinta kebersihan dan keindahan alam sekitar. Dengan kata lain pengelolaan kelas merupakan usaha dalam mengatur segala hal dalam proses pembelajaran. 10. bb. Berjiwa pejuang. dapat dilakukan dengan enam cara sebagai berikut. Setiap gerak. 5. (4) penetapan strategi pembelajaran dan (5) pemanfaatan media dan sumber belajar. langkah dan tindakan di manapun berada dan dalam suasana yang bagaimanapun semata-mata karena ibadah kepada Allah SWT. Memiliki pengetahuan dan keterampilan. 2. Mengenakan pakaian seragam. Berbudi luhur dan berakhlak mulia. Oleh karena itu guru perlu menata dan mengelola lingkungan belajar di kelas sedemikian rupa sehingga menyenangkan. 4. Berpengetahuan tinggi dan cerdas. Menjalin kerja sama yang harmonis dengan orangtua/wali siswa. Bertaqwa kepada Allah SWT. (1) penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif (2) penataan ruang belajar sebagai sentra belajar (3) penciptaan atmosfir belajar yang kondusif. diharapkan siswa/siswi Bakti Mulya 400 memiliki sifat-sifat umum. IKHTIAR 19 . DZIKIR. dan (6) penilaian hasil belajar.

dan memungkinkan mereka bisa saling berhadapan langsung. dan disusun secara fleksibel. Disain ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan. Dalam menyusun meja-kursi model U. dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spritual siswa. kursi. Pengaturan meja-kursi Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan siswa-siswa dapat saling dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. sediakan ruangan yang cukup antara satu tempat duduk dengan yang Gambar 4. Model huruf U Model susunan meja-kursi model U dapat dipilih untuk berbagai tujuan. alat-alat peraga.1 lainnya sehingga kelompok kecil siswa yang terdiri atas tiga Model Huruf U orang atau lebih dapat keluar-masuk dari tempatnya dengan mudah. para siswa dapat berkomunikasi secara bebas. Susunan model ini juga memudahkan untuk membagi bahan pelajaran kepada siswa secara cepat. dipindahkan. PIKIR. 1. Berikut dikemukakan beberapa bentuk penataan meja-kursi yang dapat dipilih oleh guru guna meningkatkan keterlibatan dan interaksi antar siswa dalam proses pembelajaran. para siswa memiliki alas untuk menulis dan membaca. Dengan ruang kelas yang baik. Di samping itu. Selain itu juga posisi tempat duduk siswa sebaiknya tidak tetap pada posisi tertentu. media pembelajaran dan jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa. Dalam model ini. a. guru akan leluasa memberikan perhatian yang maksimal terhadap setiap aktivitas siswa. IKHTIAR 20 . lemari. menumbuhkan. Beri keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masingmasing. Meja-kursi juga hendaknya dapat digerakkan. dapat melihat guru atau media visual dengan mudah. pajangan hasil karya siswa yang berprestasi. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan. gambargambar afirmasi. dimana guru dapat masuk ke dalam huruf U dan berjalan ke berbagai arah. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. akan lebih baik jika posisi tempat duduk siswa dirubah setiap saat agar interaksi diantara siswa dalam kelas lebih terasa dan hal ini akan menumbuhkan sosialisasi diantara mereka serta mengatasi kebosanan siswa dengan posisi tempat duduk yang tetap. dengan ruang kelas yang tertata dengan baik. Lingkungan Fisik Kelas Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan baik seperti: pengaturan meja. DZIKIR.A.

sehingga guru dapat menyuruh siswa menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil.5 Model Fishbowl PIKIR. Model Fishbowl Susunan ini memungkinkan guru melakukan kegiatan diskusi untuk menyusun permainan peran. atau mengobservasi aktivitas kelompok. Gambar 4. Susunan ini mengurangi dominasi pengajar dan meningkatkan keterlibatan siswa.4 Model Lingkaran e. DZIKIR. Gambar 4. dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar. Siswa juga dapat memutar kursi melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru atau papan tulis. mereka dapat memutar kursi untuk berhadap-hadapan satu sama lain.b. meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran atau oblong di ruang tengah kelas agar memungkinkan guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa) dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna menciptakan suasana yang akrab. Jika mereka ingin menulis. Susunan yang paling khusus terdiri atas dua konsentrasi lingkaran kursi. mereka dapat menghadap ke meja masing-masing. Guru juga dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah. IKHTIAR 21 . Gambar 4.2 Model Corak Tim c. Model Corak Tim Pada model ini. Model Lingkaran Dalam model ini.3 Model Meja Konferensi d. namun jika mereka berdiskusi. Gambar 4. Model Meja Konferensi Model ini cocok jika meja relatif persegi panjang. Model lingkaran seperti ini cocok untuk diskusi kelompok penuh. tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi berhadaphadapan secara langsung. Sediakan ruangan yang cukup. berdebat.

 Susunan meja-kursi yang baik adalah yang memungkinkan siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. puisi. diagram. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan. mesin. sehingga siswa dapat bekerja secara berpasangan sebagai partner belajar. dan ditata dengan baik. dapat diminta membuat gambar.  Memberikan keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih mejakursinya masing-masing. Di samping itu itu.  Pengaturan meja-kursi sebaiknya dapat digerakkan. 2. atau petikan ayat. hadis. Meja diatur sedemikian rupa. karangan. Model Breakout groupings Jika kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan. dan pesan tokoh tertentu. Siswa. Pemajangan gambar dan warna Pemajangan gambar dan pemilihan warna perlu saran-saran berikut: a. Guna mengoptimalkan penataan ruang.f. maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. puisi. Prinsip pokok yang perlu diperhatikan dalam pengaturan meja-kursi adalah tatanan mana yang dapat menstimulasi dan mempertahakan tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. DZIKIR. Siswa perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan dalam kelas. c.7 bahasan melibatkan tugas mandiri (seat work) sekaligus tugas Model Workstation kelompok kecil. dapat membantu guru dalam proses pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. dan disusun secara fleksibel. melakukan kerja laboral. Beberapa hal yang perlu diperhatikan berikut ini dalam menerapkan model ini. Model Workstation Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium. model. Gambar 4. Susunan seperti ini tepat digunakan bila pokok Gambar 4. untuk dipilih dan dipajang dalam kelas. IKHTIAR 22 . atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa. berpasangan. dipindahkan. poster. benda asli. dsb) sesaat setelah dimenostrasikan. karya-karya terpilih siswa yang dipajang dapat PIKIR. dan sebagainya. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas utama sehingga hubungan di antara mereka dapat tetap terjaga. b. letakkan meja-meja dan kursi di mana kelompok-kelompok kecil siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang didasarkan pada tugas tim.6 Model Breakout Groupings g. peta. misalnya. guru perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau posterposter tersebut. Guna menghindari kejenuhan terhadap gambar dan isi poster afirmasi yang sama. walaupun mungkin akan tampak acak-acakan dan tidak beraturan. dimana setiap siswa duduk secara berpasangan pada meja tertentu untuk mengerjakan suatu tugas (seperti mengoperasikan komputer. motto.

pelibatan siswa tersebut juga membantu membangun keterampilan “perawatan rumah” yang dipelukan untuk mempertahankan suasana kelas yang aktif dan berorientasi pada siswa. B. pilihlah yang mengandung pesan positif. Sentra belajar juga bisa bersifat fleksibel dan sementara (ditata untuk keperluan tema atau unit tertentu yang dipelajari). jika di kelas telah dipersiapkan dengan sound-system yang baik. Akan lebih baik. Sentra belajar bisa berlokasi di atas meja. kelas bahasa. belajar sambil mendengar musik dapat menciptakan suasana menyenangkan dan rasa betah tinggal di kelas. Secara umum. Penggunaan sistem moving-class seperti itu memiliki beberapa keuntungan. Pelibatan siswa dalam merancang ruang kelas menjadi sentra-sentra belajar dapat membangun rasa kebanggaan dan kebersamaan di kalangan siswa. 3. sentra pembelajaran matematika. kelas matematika. sebagai berikut:  Atmosfir dan tatanan kelas dapat memperlancar aktivitas dan proses pembelajaran. rak buku. Disamping itu. khususnya saat siswa mengerjakan tugas-tugas yang menuntut konsentrasi dan daya pikir yang tinggi. DZIKIR. ruang-ruang kelas tertentu ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. Dan jika harus menggunakan musik dengan lirik. Oleh karena itu. kursi. dan sebagainya. dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembelajaran mata pelajaran tertentu. PIKIR. kelas kesenian. peralatan. Beberapa praktik yang baik dalam menata sentra-sentra belajar (good practice) dikemukakan berikut ini:  Dalam menata kelas menjadi sentra belajar. Meja. Di samping itu. misalnya sentra penerbitan. kafe baca. Semua elemen dalam kelas menjadi semacam reinforcer (penguat) dan stimulator untuk membangkitkan gairah dan aktivitas belajar terhadap mata pelajaran tertentu. media. Dalam sistem moving-class ini. Hanya pada saat jeda atau untuk maksud memberi efek khusus dapat dipilih musik yang berisi lirik lagu. sudut ruang. Ada kelas sains. Pemanfaatan musik Kehadiran suara musik lembut di kelas juga diyakini dapat memperkuat daya tahan dan konsentrasi belajar siswa. dan karya siswa yang terkait dengan pokok bahasan.  Sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefektifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar. di setiap kelas dapat disediakan radio tape untuk memutar dan memperdengarkan musik-musik lembut. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. pajangan. IKHTIAR 23 . Penataan Ruang Kelas sebagai Sentra Belajar Sentra belajar merupakan area khusus di ruang kelas untuk menata materi. semua pilihan musik untuk menopang aktivitas pembelajaran di kelas adalah jenis musik instrumentalia. Untuk masud tersebut. peralatan. guru dapat mendorong siswa untuk memiliki dan mengemukakan beberapa pilihan dalam menyusun aturan dasar bagi kegiatan berbasissentra mereka. Sentra belajar bisa bersifat permanen atau hanya terkait dengan kegiatan atau bidang pembelajaran tertentu. sejumlah guru bidang studi melibatkan siswa terutama dalam perencanaan dan pengadaan sumber-sumber belajar yang diperlukan.berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. jika dana memungkinkan. atau bahkan di kolong meja. perlengkapan. keterampilan atau kegiatan tertentu. dsb.

misalnya. Memberikan peluang kepada siswa untuk belajar (bekerja) sesuai dengan kecepatan belajar yang dimilikinya. atau klasikal. kerjasama. Mobilitas gerak seperti Ini dapat menghindarkan siswa dari kejenuhan akibat tata ruang kelas yang monoton. serta berbagai media dan peralatan belajar secara lebih efisien. Media dan peralatan pembelajaran Sains.  Setiap hari. waktu belajar. Berikut ini beberapa contoh perbedaan karakteristik masing-masing siswa Tabel 19. Antara lain jenis kegiatan. dan berbagai sikap prososial siswa lainnya. dan ketersediaan sarana/prasarana.  Pergerakan-pergerakan yang dialami siswa saat perpindahan kelas memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih aktif dan hidup di kalangan siswa. kepedulian. Ini dapat menstimulasi dan mengembangkan sikap-sikap empati. pengelolaan aktivitas belajar siswa dilakukan dalam beragam bentuk seperti individual. fasilitas. Beberapa pertimbangan perIu diperhitungkan sewaktu melakukan pengelolaan siswa. DZIKIR. Memberikan peluang kepada siswa untuk menunjukkan 24 . serta kegiatan yang dilakukan siswa. Hal ini diharapkan mampu memacu motivasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri. Memberikan peluang kepada siswa untuk berkreasi sesuai dengan minat dan motivasi belajar terlepas dari kompetensi yang sama atau berbeda. kelompok kecil. keterlibatan siswa. Minat dan motivasi siswa (by interest) Kecepatan tahapan belajar (by piece) Tingkat kemampuan (by level) Reaksi yang diberikan PIKIR. Hal yang sangat penting perIu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik siswa. siswa dapat menikmati dan mengalami proses belajar pada tempat dan lingkungan belajar yang bervariasi. 1. perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap siswa memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya. Pengelolaan Aktivitas Belajar Siswa Biasanya. Guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. semua kebutuhan pembelajaran mata pelajaran tersebut cukup ditempatkan dan ditata khusus pada kelas tertentu.3 Faktor Keberagaman Karekteristik Siswa dan Implikasi bagi Pengelolaan Siswa Faktor Keberagaman Isi (by content) Pengelolaan Siswa Memberikan peluang kepada siswa untuk mempelajari materi yang berbeda dalam sasaran kompetensi yang sama ataupun berbeda. tidak perlu ada di semua kelas. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran. Demikian pula kebutuhan media dan alat bantu belajar pada mata-mata pelajaran lainnya ditata khusus pada kelas-kelas tersendiri. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/isi materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan siswa. Memungkinkan penggunaan sarana. tujuan kegiatan. berpasangan. Untuk itu. IKHTIAR Memberikan peluang kepada setiap siswa untuk mencapai kompetensi secara maksimal sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki.

Pengelolaan Waktu Pembelajaran berlangsung selama priode waktu tertentu. Guna mengoptimalkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran. benda kreasi. respon melalui presentasi/penyajian hasil karyanya secara lisan. dari dekat ke jauh. Gunakan petunjuk tertulis.  Hindari terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu selama proses pembelajaran. atau gambar untuk membantu siswa memahami apa yang harus dilakukan.  Hindari waktu terbuang akibat keterlambatan penyiapan sumber atau media. IKHTIAR 25 . tertulis. guru perlu memperhatikan beberapa petunjuk berikut ini. dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. Struktur pengetahuan (by structure) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih (menyeleksi) materi berdasarkan cara yang dikuasai. Kondisikan agar prosedur dan kegiatan rutin siswa di kelas dapat dilakukan dengan lancar dan cepat. Penataan ruang kelas PIKIR. penundaan memulai awal pembelajaran. denah. Tata peralatan dan bahan yang diperlukan sedemikian rupa di lokasi yang mudah dijangkau dan digunakan oleh semua siswa saat dibutuhkan. Siswa-siswa semacam itu sebaiknya ditangani setelah waktu pembelajaran. misalnya: dari yang mudah ke sulit. Hindari menghabiskan terlalu banyak waktu menghadapi siswa terlambat atau problem siswa lain. atau terlalu banyak menggunakan waktu untuk menyelesaikan tugas administratif.  Mulai pembelajaran pada waktunya. DZIKIR. Alokasi waktu pelaksanaan pembelajaran setiap mata pelajaran telah dialokasikan dalam satuan jam tertentu. Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menguasai materi melalui cara-cara berdasarkan perspektif yang mereka pilih. Dengan demikian. guru dapat mememperkirakan macam dan kuantitas kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan. sebagainya.  Dilakukan untuk menunjung program pembelajarannya. Guru perlu menemukan cara-cara kerja yang efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas administratif yang memang perlu. Jika skenario pembelajaran disiapkan dengan baik. Waktu merupakan sumber terbatas yang perlu dialokasi dan dimanfaatkan secara efesien dan efektif. bagaimana dan dimana suatu tugas harus dilakukan. sumber-sumber waktu yang disediakan untuk setiap jam pembelajaran dapat digunakan secara efektif dan efisien. Memberikan perhatian kepada setiap individu siswa yang kemungkinannya memiliki perbedaan durasi untuk mencapai ketuntasan dalam belajar. Alokasi jam pembelajaran tersebut harus dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan perubahan belajar pada diri siswa. Guru terkadang terlalu banyak menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa terlambat atau menampilkan perilaku salah-suai lainnya.siswa (by respond) Siklus cara berpikir (by circular sequence) Waktu (by time) Pendekatan pembelajaran (by teaching style) 2. Memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap individu sesuai dengan keadaan siswa. atau dilimpahkan ke konselor sekolah.  Hindari menghentikan PBM sebelum waktunya. Penggunaan komputer merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh.

dan (4) menguatkan. dan sesuai dengan minat siswa. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan hidup (life skill). yaitu curah waktu dimana siswa secara aktif terlibat secara mental pada proses belajar. atau saat khusus tertentu dimana kelas sedang berada pada kondisi sangat kondusif dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. 1. Menyenangkan dan mengasyikkan Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif perasaan. penggunaan metode dan strategi belajar yang bervariasi. guru dilatih: PIKIR. Ini dapat dilakukan dengan mengaitkan pelajaran dengan hal-hal yang menarik.  menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa. (2) mengasyikkan. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam keseharian anak. Oleh karena itu. siswa selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan dan begitu pekerjaan dimulai tidak ada lagi gangguan yang merusak konsentrasi belajar. Tingkatkan time on-task setiap siswa untuk mengikuti setiap sesi pembelajartan. pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. IKHTIAR 26 . Momentum belajar adalah momen. C. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru.  yang baik. Time on-task siswa. Dalam kelas yang menjaga momentum dengan baik. Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran. 2. Penciptaan Atmosfir Belajar Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran. dapat membantu memperlancar aktivitas pembelajaran di kelas. Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yang (1) menyenangkan. DZIKIR. Setiap siswa bergiat untuk saling belajar. Pertahankan momentum belajar. Mempertahan momentum belajar selama proses pembelajaran merupakan salah satu kunci untuk menjaga tingkat keterlibatan belajar yang tinggi. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:  bersikap ramah  membiasakan diri selalu tersenyum  berkomunikasi dengan santun dan patut  adil terhadap semua siswa  senantiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya. bersifat melibatkan. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. kesempatan. sebagaimana diuraikan sebelumnya. Mencerdaskan dan menguatkan Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif. Guru hendaknya dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. (3) mencerdaskan. melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence).

agar siswa dapat bertanya atau mengemukakan pendapat dalam suasana yang menyenangkan dan merasa tidak tertekan. saling bertanya. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain. pembelajaran itu diharapkan dapat  PIKIR. Bahkan ada guru yang membuka pelajaran diawali dengan nyanyian pendek dan selanjutnya menugaskan seseorang siswa melanjutkan lagu tersebut.  Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau kepada gurunya. memantapkan.  Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran. membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. tidak takut atau merasa bersalah. dan saling menjelaskan.  Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi. guru membiasakan siswa untuk berdoa secara bersama agar Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan kemudahan dalam memahami pelajaran. guru juga tidak lupa memberikan pencerahan-pencerahan rohani kepada para siswa agar mereka senantiasa saling menghormati dan menghargai.  Dalam proses pembelajaran siswa senantiasa perIu didorong untuk mengkomunikasikan gagasan. dengan sikap yang ramah dan penuh senyuman guru menyapa beberapa orang siswa dan menanyakan mengenai keadaan dan kesiapan masing-masing siswa untuk belajar. karena jika anak senang dan asyik. Dengan demikian pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat.  Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam. tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh.  Sebelum memulai pelajaran. Penerapan Strategi Pembelajaran Sebelum membahas tentang strategi pembelajaran. Artinya.  Di awal pelajaran. melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar.  Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah. D. Beberapa praktik penciptaan atmosfir belajar yang baik (good practice) dikemukakan berikut ini. IKHTIAR 27 . guru senantiasa mengembangkan bentuk komunikasi yang efektif. terlebih dahulu perlu dipahami tentang konsep belajar seperti berikut ini. melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. kejujuran dan tanggung jawab bagi setiap tugas yang diberikan. kemampuan.Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir. Selanjutnya. guru atau pihakpihak lain. memperdalam.  Selama proses pembelajaran berlangsung.  Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran. atau menyempumakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau gurunya. sikap. Dengan kata lain. DZIKIR.

dan menemukan sendiri prinsip-prinsip dan konsep yang diajarkan. Strategi pembelajaran inquiry & discovery memiliki beberapa keuntungan. Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. 1. video. Karena itu. Para siswa akan tertantang bagaimana belajar. Pembelajaran berbasis masalah dapat ditempuh melalui lima tahap sebagai berikut. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran berbasis masalah. guna merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi dari siswa. (4) pembelajaran kooperatif. d. guru-guru menyadari bahwa strategi pembelajaran merupakan hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. a. seperti pada level analisis. Beberapa strategi pembelajaran yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah dapat dikemukakan antara lain (1) pembelajaran berbasis masalah. maka seorang guru sebaiknya menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks pembelajaran. minat. maka siswa dapat belajar mengembangkan cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran. dan model. melakukan percobaan. e. dan penggunaan strategi pembelajaran secara baik dapat berdampak pada meningkatnya keterampilan mengajar guru dan rasa percaya dirinya. seperti dapat membangkitkan curiosity. dan motivasi siswa untuk terus belajar sampai dapat PIKIR. 2.mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya. dan evaluasi. Dengan pemahaman seperti hal tersebut di atas. Tahap 3: membimbing penyelidikan individual dan kelompok. IKHTIAR 28 . strategi pembelajaran yang dipilih dan dipergunakan dengan baik oleh guru dapat mendorong siswa untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas. Tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Strategi Pembelajaran Inquiri Pembelajaran inquiry mendorong siswa untuk mengalami. dan (6) pembelajaran scaffolding. serta memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. dengan menggunakan fenomena di dunia nyata sekitarnya. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan logistik yang dibutuhkan. (2) pembelajaran inquiry. Tahap 1: orientasi siswa kepada masalah. Tahap 2: mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. (3) pembelajaran berbasis proyek/tugas. Selain itu. karena strategi dapat menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. sintesis. Melalui dunia nyata yang terjadi di sekitar mereka. serta membantu mereka mambagi tugas dengan temannya. Pembelajaran bermakna hanya dimungkinkan terjadi bila siswa dapat mengerahkan proses berpikir tingkat tinggi. DZIKIR. c. mereka perlu diorientasikan pada situasi/dunia nyata dengan segala problemanya. (5) pembelajaran partisipatory. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan. b. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya.

k. penerapan strategi pembelajaran berbasis proyek/tugas ini mendorong tumbuhnya kompetensi pengiring (nurturant) seperti kreativitas. h. bangkitkan tanggapan dan penjelasan siswa lain. Implementasi pembelajaran berbasis proyek/tugas didasarkan kepada empat prinsip berikut ini. kepercayaan diri. a. Di samping itu. b. tetapi realistik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. Sajikan tugas-tugas yang berkaitan kemudian cermati dan beri balikan atas pemikiran yang diajukan siswa. Jika tugas belajar yang diberikan cukup bervariasi. PIKIR. maka tugas yang diberikan kepada siswa harus cukup bermakna dan memiliki tujuan yang jelas. Ciptakan lingkungan yang dapat menerima jawaban salah tapi masuk akal. menempelkan di majalah dinding. lengkap. siswa juga dapat belajar memecahkan masalah secara mandiri dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis sebab mereka harus menganalisis dan mengutak-atik data dan informasi. mengapa mereka mengerjakan pekerjaan itu. jelas. g. dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. tanggung jawab. Membuat tugas bermakna. Minta siswa mengkomunikasikan dan menyajikan hasil karyanya. tabel. misalnya dalam bentuk penyajian di kelas. IKHTIAR 29 . DZIKIR. Dalam penyajian di kelas. kemandirian. dan menantang Guna mempertahankan tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. siswa diberikan tugas atau proyek yang kompleks. Minta siswa menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan. Dalam pembelajaran berbasis proyek. atau karya lain. dsb. melalui penerapan strategi inquiry & discovery. Minta siswa mengumpulkan informasi melalui observasi atau berdasar pengalaman masing-masing. cukup sulit. Selalu minta siswa memberi alasan atas jawaban-jawaban mereka. gambar. Hadapkan mereka dengan demonstrasi-demonstrasi tambahan untuk mengeksplorasi lebih jauh fenomena. j. menulis di koran. Siswa perlu mengetahui dengan tepat apa yang mereka harus kerjakan. dan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. bagan. siswa dapat lebih termotivasi dan lebih terlibat aktif dalam mengerjakannya. Jelaskan prosedur inkuiri dan sajikan masalah.menemukan jawaban. Minta tanggapan balik (counter-suggestions) dan selidiki tanggapan siswa. Menganekaragamkan tugas-tugas Pilihan tugas yang beraneka ragam dapat menambah daya tarik tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Secara operasional. pembelajaran inquiry & discovery dapat ditempuh melalui tahapan berikut: f. 3. Sajikan situasi teka-teki (puzzling situation) yang sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Di samping itu. i. Pilihan mengenai tugas belajar tidak terbatas dan tidak ada alasan bagi guru untuk membuat jenis tugas yang sama dari hari ke hari. dan berpikir kritis dan analitis. Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek/Tugas Pembelajaran berbasis proyek/tugas (project-based/task learning) ditandai dengan pengelolaan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa melakukan penyelidikan terhadap masalah otentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran.

kerja sama. 3. Secara operasional. Strategi Pembelajaran Kooperatif Dalam pembelajaran kooperatif. dan penyesuaian sosial. tenggang rasa. rasa saling percaya. kemampuan belajar). kebiasaan bekerja sama. 5. Monitoring tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah siswa memahami tugas mereka melalui pemeriksaan pekerjaan siswa dan pengembalian tugas dengan umpan balik? Guru harus selalu menyediakan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka memahami dan mengerjakan dengan benar tugas yang diberikan. siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk saling membantu belajar satu sama lain. PIKIR. namun cukup mudah sehingga kebanyakan siswa akan menemukan pemecahannya dan mengerjakan tugas tersebut atas jerih payah sendiri. Selanjutnya. masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. etnik. Memungkinkan sharing pengalaman dan saling membantu dalam memecahkan masalah pembelajaran. 4. keyakinan terhadap gagasan sendiri. d. dan sikap prososial. Membangun persahabatan. Memonitor kemajuan siswa Salah satu tugas penting guru adalah memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. 2. kepekaan sosial. ras. Menaruh perhatian pada tingkat kesulitan Menetapkan tingkat kesulitan yang cocok atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan satu bahan baku penting untuk menjamin keterlibatan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. dan penerimaan diri. memungkinkan pengembangan sejumlah kompetensi nurturant pada diri siswa. tanggung jawab. Siswa tidak akan tertantang ketika tugas-tugas yang diberikan terlalu mudah. pembelajaran kooperatif dapat diterapkan melalui metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) Pelaksanaan metode STAD ditempuh dengan beberapa tahapan sebagai berikut: 1. 3. Tugas yang baik perlu memiliki tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya sebagai sesuatu yang menantang.c. Strategi pembelajaran ini. Memperluas perspektif wawasan. Tiap anggota menggunakan lembar kerja akademik. termasuk memberi reinforcement dalam bentuk reward bagi hasil karya yang baik dan catatan-catatan penyempurnaan bagi karya yang belum optimal. tugas yang diberikan harus memiliki tingkat kesulitan yang menjamin kemungkinan berhasil tinggi. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. 2. seperti: 1. Mengoptimalkan penggunaan sumber belajar dan pencapaian hasil belajar. guru perlu menyiapkan waktu untuk mengoreksi pekerjaan yang dihasilkan siswa dan mengembalikan kepada mereka dengan umpan balik. Mengembangkan keterampilan komunikasi. 4. rasa harga diri. IKHTIAR 30 . Setiap tim memiliki anggota heterogen (jenis kelamin. DZIKIR. Apabila siswa bekerja berkelompok. Jika siswa diharapkan untuk bekerja secara mandiri. maka guru hendaknya berada dalam kelompok tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang bekerja secara mandiri.

siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh dan membuat ringkasan untuk disajikan di depan kelas. Setiap siswa adalah subjek yang kepentingannya perlu diperhatikan dan diakomodasi dalam proses pembelajaran. Pelibatan siswa dalam perencanaan dan penentuan berbagai pilihan tindakan pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan komitmen siswa untuk menekuni setiap tugas pembelajaran. guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. atau keduanya. IKHTIAR 31 . meta-plan. bentuk dan tugas kelompok. sumber pembelajaran. Evaluasi setiap alternatif berdasarkan kelayakan (kemampuan. dan tujuan umum yang sesuai dengan sub-topik yang telah dipilih. dsb. waktu. 6. Pelaksanaan pembelajaran partisipatori dapat ditempuh melalui strategi sebagai berikut: 1.  Organisasi. baik di dalam maupun di luar sekolah.  Merencanakan kegiatan kerjasama.  Evaluasi. Evaluasi dapat mencakup siswa secara individu atau secara berkelompok. Metode Invistigasi Kelompok dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:  Seleksi topik. tiap minggu atau tiap dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan yang telah dipelajari. Misalnya. Tiap anggota saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi. para siswa dibagi ke dalam kelompok yang berorientasi pada tugas dan beranggotakan 2 . Disamping itu. Siswa melaksanakan rencana yang telah disusun. setiap kelompok menyajikan hasil investigasi kelompoknya di depan kelas. dalam memutuskan mengenai strategi umum yang perlu ditempuh. PIKIR.  Analisis dan sintesis.6 orang dengan komposisi heterogen. fasilitas).  Tahap implementasi. diskusi kelompok fokus untuk mendorong semua siswa mengemukakan gagasan masing-masing. Siswa atau tim yang meraih prestasi tertinggi atau mencapai standar tertentu diberi penghargaan. strategi ini dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya jiwa demokratis serta kemampuan mengemukakan dan menerima pendapat di kalangan siswa. sumberdaya. tugas. Secara individual atau tim. seperti brainstorming. para siswa memilih berbagai sub-topik dalam satu wilayah masalah umum terkait dengan tujuan pembelajaran. Dimungkinkan setiap individu atau kelompok memilih caranya masingmasing untuk mencapai tujuan sepanjang berkontribusi pada pencapaian tujuan pembelajaran. Gunakan berbagai teknik. Dorong siswa menggunakan berbagai sumber. siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus. 5. cara-cara menyelesaikan tugas. 3. 2. Libatkan siswa dalam membuat perencanaan dan pilihan tindakan yang diperlukan dalam proses pembelajaran.  Penyajian hasil akhir. DZIKIR. Strategi Pembelajaran Partisipatori Pembelajaran partisipatori menekankan pelibatan siswa untuk berpartisipasi dan ikut menentukan berbagai aktivitas pembelajaran.4. Setiap siswa dan setiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar. kemudian sepakati pilihan yang dapat diterima semua pihak. 5.

 Menyederhanakan tugas belajar sehingga bisa lebih terkelola dan bisa dicapai oleh anak.  Memberi model dan mendefenisikan dengan jelas harapan mengenai aktivitas yang akan dilakukan. dan (5) mengundang siswa untuk mengemukakan pendapat. diharapkan guru dapat memilih dan merancang serta PIKIR. dan perubahan rencana tindakan. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melalui penjelasan.  Mengurangi frustasi dan resiko. Teknik pembelajaran scaffolding dapat dilakukan dengan format: (1) pemberian model perilaku yang diharapkan.4.  Sajikan tugas belajar secara berjenjang sesuatu taraf perkembangan siswa. kemudian secara berjenjang sebagai peranan guru dalam mendukung perkembangan siswa dan menyediakan struktur dukungan untuk mencapai tahap atau level berikutnya. namun tetap memberi peluang dilakukannya refleksi. kata kunci. Beberapa keuntungan pembelajaran Scaffolding adalah:  Memotivasi dan mangaitkan minat siswa dengan tugas belajar. strategi pembelajaran scaffolding dapat ditempuh melalui tahapan berikut. peringatan. dorongan (motivasi). contoh. penguraian masalah ke dalam langkah pemecahan. Dorong siswa melaksanakan alternatif tindakan secara konsisten.  Jabarkan tugas pemecahan masalah ke dalam tahap-tahap yang rinci sehingga dapat membantu siswa melihat zona yang akan di-scaffold. 6. yakni teknik pemberian dukungan belajar yang pada tahap awal diberikan secara lebih terstruktur.  Secara jelas menunjukkan perbedaan antara pekerjaan anak dan solusi standar atau yang diharapkan. guru secara berangsurangsur mengurangi pemberian dukungan. revisi. dan pemberian contoh (modeling). sedangkan dampak pengiring bermuara pada kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Jika siswa belum mampu mencapai kemandirian. Secara operasional. Untuk keperluan itu. atau hal lain yang dapat memancing siswa bergerak ke arah kemandirian belajar dan pengarahan diri.  Memberi petunjuk untuk membantu anak berfokus pada pencapaian tujuan. Dalam mengimplementasikan strategi-strategi pembelajaran yang disarankan. dorongan. Ketika pengetahuan dan kompetensi belajar siswa meningkat. IKHTIAR 32 .  Berikan dukungan dalam bentuk pemberian isyarat. guru kembali ke sistem dukungan untuk membantu siswa memperoleh kemajuan sampai mereka mampu mencapai kemandirian. Strategi Pembelajaran Scaffolding Pembelajaran scaffolding merupakan praktik assisted learning. Dampak instruksional bermuara pada kecerdasan intelektual (IQ). strategi pembelajaran scaffolding mendorong siswa menjadi pelajar yang mandiri dan mengatur diri sendiri (self-regulating). guru harus selalu mengingat bahwa kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya senantiasa diarahkan untuk pencapaian dampak instruksional dan dampak pengiring. Sesungguhnya. (2) pemberian penjelasan. DZIKIR. tanda mata (reminders). (3) mengundang siswa berpartisipasi. (4) menjelaskan dan mengklarifikasi pemahaman siswa.  Asesmen kemampuan dan taraf perkembangan setiap siswa untuk menentukan Zone of Proximal Development (ZPD).  Dorong siswa untuk menyelesaikan tugas belajar secara mandiri.

Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar Untuk mendukung pembelajaran dengan baik. dan PIKIR.  Sejumlah guru telah berhasil menggunakan berbagai variasi strategi pembelajaran dalam pencapaian kompetensi dasar tertentu yang terdapat di dalam kurikulum. strategi pembelajaran yang diberikan hanya sebatas pada ceramah.  Semua strategi yang dipilih dan diterapkan oleh guru. mengajukan hipotesis.  Meskipun belum semua guru SMA unggulan telah menerapkan strategi pembelajaran seperti yang diharapkan. maka guru perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai media dan sumber belajar. Misalnya dalam pembelajaran bidang studi IPA. pada umumnya guru bidang studi melibatkan siswa.mengembangkan media pembelajaran agar dapat memudahkan pencapaian IQ. atau olah raga memadukan strategi kooperatif dengan berbasis masalah dan strategi inquiry. mengumpulkan data. menjelaskan. Beberapa praktik penerapan strategi pembelajaran yang baik (good practice) yang telah dilaksanakan di sekolah dikemukakan berikut ini. namun sejumlah guru telah berhasil menerapkan berbagai strategi pembelajaran di sekolah masing-masing. dan SQ tersebut. 1. Sumber Situasi Nyata (Sumber Berbasis Lingkungan) Situasi kehidupan nyata dan lingkungan sekitar yang ada di sekitar siswa merupakan sumber belajar yang sangat penting dan dapat memberi informasi dan pengalaman belajar yang tidak terbatas bagi siswa. EQ. senantiasa diawali dengan pembacaan doa sebelum dan sesudah berolahraga. E. berkomentar. dan sejumlah kegiatan mental lainnya.  Dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran. seperti kegiatan mengamati. Media dan sumber belajar yang disediakan guru hendaknya dapat mendorong dan membantu siswa untuk melibatkan mental secara aktif melalui beragam kegiatan. kesenian. diskusi. serta lama waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan yang dimaksud. DZIKIR. IPS. dan pemberian tugas. Pengetahuan dan pengalaman tersebut akan membantu guru dalam menentukan media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. guru juga mencermati tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. dalam menentukan strategi pembelajaran.  Pada umumnya guru bidang studi menyadari sepenuhnya bahwa strategi pembelajaran yang dipilih adalah strategi yang dapat membuat siswanya mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar dan dapat memanfaatkan potensi siswa seluas-luasnya.  Latihan mencari berbagai sumber belajar yang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. siswa mampu berkreasi seni suara dengan baik serta menanggapi beragam karya musik sesuai sifat dan karakteristik setiap jenis musik. IKHTIAR 33 . materi penggunaan media dan sumber belajar yang diberikan dalam pelatihan tersebut meliputi:  Pengenalan berbagai jenis media pembelajaran dan fungsinya masing-masing dalam pembelajaran. Ada banyak informasi. bertanya. Untuk keperluan itu. fakta. Mereka mengakui bahwa selama ini. jumlah siswa yang terlibat di dalam proses pembelajaran.  Dengan memadukan strategi partisipatorik-penugasan. serta menyesuaikan dengan tingkat kesulitan kompetensi dasar yang terdapat dalam kurikulum. Di samping itu. mempertanyakan.

seperti media audio-visual. Cara ini banyak berkaitan dengan membaca buku pelajaran. Kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menyajikan situasi nyata untuk belajar seringkali tidak tersedia atau sulit dilakukan. buku sumber. Penggunaan Media Visualisasi Verbal Sumber belajar yang paling umum digunakan dalam mendukung pemahaman mengenai pokok bahasan adalah melalui media visualisasi-verbal. IKHTIAR 34 . Media Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 5. 4. cart. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. Film atau video seperti itu kemudian ditayangkan di kelas atau temta khusus tertetu diikuti dengan diskusi bersama siswa sekaitan dengan tema dan spot-spot cerita serta kaitannya dengan pokok bahasan mata pelajaran. yakni membuat situasi buatan. Materi yang diceramahkan pun perlu bersifat kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. misalnya. Seperti juga pada model situasi nyata. Dengan demikian. sebagian siswa berperan sebagai pembeli dan sebagian lainnya sebagai penjual. Pada kondisi ini. Raba. Sebagai alat pembelajaran. Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film. tabel. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) berfungsi sebagai bahan dan alat pembelajaran. Penggunaan Media Audio-Visual Sumber belajar dapat pula dihadirkan melalui berbagai media. 2. DZIKIR.pengetahuan yang dapat digali situasi nyata dan lingkungan sekitar guna mendukung rekonstruksi dan mempekaya pemahan dan pengalaman belajar siswa. atau kalau terpaksa perIu berceramah cukup antara 2025 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong penggunaan indera “Lihat. Situasi dan aktivitas kelas ditata sedemikian rupa menyerupai apa yang terjadi dalam lingkungan nyata. 3. Pada beberapa buku biasanya tidak hanya menyajikan uraian teks. siswa yang memiliki daya abstraksi lemah dapat terbantu dengan keberadaan ilustrasi/gambar tersebut. pada model ini pun dapat dibedakan menjadi situasi buatan dengan siswa terlibat langsung dan situasi buatan dengan siswa tidak terlibat langsung. Pada keadaan ini. peningkatan pemahaman siswa tentang berbagai ihwal kehidupan pasar. Penciuman. Untuk mengatasinya. guru tetap dapat menghadirkan situasi kehidupan dan fenomena lingkungan dengan membuat situasi buatan. Sumber Menggunakan Situasi Buatan Guru tidak selalu mampu menyediakan situasi nyata. kelas dapat dirancang seperti pasar. Sebagai bahan. video). Penggunaan Media Audio Verbal Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. Dengan demikian. TIK menjadi sebuah mata pelajaran yang diperkenalkan mulai pada jenjang sekolah dasar sampai pada sekolah menengah atas. Tentu saja. Guru dapat mencari dan menyeleksi film atau video yang berisi ceritera atau laporan dokumenter yang sesuai atau ada kaitan dengan pokok bahasan tertentu dalam mata pelajaran yang diasuh. peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. dapat dilakukan guru dengan menyediakan kegiatan simulasi. Kalau keadaan ini berkelanjutan. guru harus mengurangi cara ini. siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. Dalam keadaan seperti ini. tetapi juga dilengkapi dengan beragam ilustrasi (gambar). Rasa”. cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. ensiklopedia. guru dianjurkan untuk memanfaatkan PIKIR. 6. grafik. lembar kegiatan/kerja.

 Siswa menerima balikan segera (instant feedback).  Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber. Yang paling ditekankan adalah bagaimana guru senantiasa menyadari sejak awal bahwa tujuan akhir dari penilaian pembelajaran adalah agar untuk mengukur dan menilai keberhasilan pencapaian tiga jenis kecerdasan secara seimbang. bukan hanya satu jawaban kunci. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. sebagai lawan cara berpikir konvergen dan vertikal) oleh siswa. intranet. menganalisis. PBK meliputi berbagai kegiatan belajar dan aplikasi dengan menggunakan komputer. komputer dapat berfungsi sebagai tutor. dan gerak (kinestetik). yaitu visual. misalnya radio. Dari hasil pendampingan dan refleksi terhadap kemampuan guru menggunakan media dan sumber belajar di dalam proses pembelajaran. IKHTIAR 35 .  Harus mengukur semua aspek pembelajaran. Media komputer memiliki banyak kelebihan dibandingkan media lainnya. Bentuk penilaian yang dianjurkan dalam pembelajaran efektif adalah penilaian sebenarnya (authentic assessment). Dalam kegiatan pembelajaran. oral.  Tugas-tugas yang diberikan dan dijadikan bahan evaluasi siswa haruslah mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari. Beberapa prinsip penilaian dalam pembelajaran efektif yang perlu diketahui oleh guru dalam menyusun dan melaksanakan penilaian sebagai berikut berikut. yang biasa disebut sebagai pembelajaran berbasis komputer (PBK). akhir-akhir ini komputer telah banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.  Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. dan sebagainya. seperti mengetik. yakni kecerdasan IQ.  Penjadwalan bisa lebih fleksibel apabila laboratorium komputer diperlakukan sebagai sumber yang dapat diakses sendiri oleh setiap siswa (self-access learning resources). DZIKIR. atau stimulator. dan produk.  Format pembelajaran dapat mencakup semua indera dan aktivitas belajar. Oleh karena itu. Beberapa jenis yang potensial dan sering digunakan sebagai alat bantu pembelajaran.  Siswa belajar menurut masalah yang dihadapinya.  Menawarkan materi dan kegiatan yang otentik dan interaktif. televisi. dan komputer. yaitu proses. audio. email.fasilitas TIK untuk memfasilitasi pembelajaran di kelas. seperti melalui internet. Mereka PIKIR. alat (tool). Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:  Siswa belajar sesuai kemampuan dan kecepatan masing-masing. kinerja. Di samping memudahkan dan memperlancar pekerjaan. media komputer juga dapat berfungsi sebagai perangkat untuk jaringan komunikasi. ditemukan sejumlah keberhasilan di samping sejumlah kendala sebagaimana yang dipaparkan berikut ini. atau mendokumentasi data dan informasi. horisontal. F.  Peluang untuk menyulang materi terbuka luas dan lebih banyak. Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar sebaiknya ditekankan pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa.  Siswa merasa lebih bebas tanpa merasa diamati oleh orang lain.  Menstimulasi muncul dan digunakannya cara berpikir divergen (berpikir lateral. EQ. dan SQ. bukan untuk mengukur pada hasil semata. Soalsoal atau tugas memancing munculnya cara jawab atau cara penyelesaian yang bervariasi.

DZIKIR. uraian singkat. ulangan semester. yaitu: (1) persetujuan kepala sekolah dan guru terhadap kebijakan disiplin sekolah. (3) penilaian yang jujur dan adil.  Penilaian harus menekankan pada kedalaman pengetahuan (kualitas) dan keahlian siswa. (1) penilaian proses dan hasil. kecuali tamu yang akan berkunjung kesekolah atau ada hal lain yang mendesak sehingga pintu gerbang sekolah dapat dibuka. dan (4) memberikan penilaian secara seimbang terhadap kecerdasan IQ. guru harus mempertimbangkan beberapa hal penting antara lain. serta tagihan dalam bentuk soal yang akan diberikan pada peserta didik. tugas kelompok. Untuk menjalankan prinsip-prinsip penilaian. Bentuk penilaian meliputi jenis tagihan seperti kuis. dan bila melewati jam tersebut pintu gerbang sekolah ditutup rapat. kerja praktik/unjuk kerja. laporan untuk kerja. ulangan harian. (2) penilaian berkala dan berkesinambungan. IKHTIAR 36 . pekerjaan rumah. Witte dan Walsh (1990) mengemukakan dua dimensi penting kedisiplinan yang dilaksanakan dalam sekolah efektif. atau sertifikat kompetensi. Penilaian secara umum bertujuan untuk mengetahui kemajuan hasil belajar siswa dan menetapkan tingkat penguasaan kompetensi suatu keahlian tertentu sesuai dengan indikator yang dipersyaratkan standar kompetensi.  Tugas-tugas terstruktur biasanya dikumpulkan oleh guru dan disimpan dalam map atau loker khusus. Penelitian Moedjiarto (1990) mengungkapkan bahwa karakteristik tata tertib dan kebijakan disiplin sekolah mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi akademik siswa.  Laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar. Pada dasarnya tata tertib dan disiplin merupakan harapan yang dinyatakan secara eksplisit yang mengandung peraturan tertulis mengenai perilaku siswa yang dapat diterima.00-07. portofolio. Aturan itu harus konsisten PIKIR. atau bentuk tagihan pilihan ganda. pertanyaan lisan di kelas. bukan keluasannya (kuantitas). biasanya tersimpan pada buku khusus (catatan anekdot). dan SQ. siapapun tidak diperbolehkan untuk masuk ke lingkungan sekolah jika terlambat.harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari. Misalnya tata tertib untuk masuk sekolah jam 07. 1987 seperti dikutip oleh Moedjiarto. ijazah. TATA TERTIB DAN KEDISIPLINAN DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Tata tertib dan kedisiplinan sangat penting artinya dalam mewujudkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif melalui penciptaan kedisiplinan belajar. biasanya dikumpulkan oleh guru dan didokumentasikan. Berdasarkan hasil penilaian itu diberikan penghargaan kepada peserta didik dalam bentuk rapor. prosedur disiplin. IV.15. dan (2) dukungan yang diberikan kepada guru bilamana mereka melaksanakan peraturan disiplin sekolah. EQ. Disiplin sebenarnya bukan hanya sekedar aturan yang harus ditaati untuk merubah perilaku siswa di sekolah dan bukan sekedar sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan. Komponen proses dan hasil belajar yang penting dinilai antara lain:  Hasil ulangan harian dan ulangan umum. 1990). paspor keterampilan.  Catatan perilaku harian para siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menciptakan kondisi sekolah yang dapat membuat semua personil sekolah untuk taat dan patuh secara sadar untuk mengikuti tata tertib yang ada disekolah tersebut. dan sanksisanksinya (ESCN. Biasanya dicatat dalam buku rapor siswa. tetapi lebih dari itu untuk membentuk mental disiplin kepada siswa. tugas individu.

tetapi bagaimana mengkondisikan sekolah yang bisa membuat orang untuk tidak melakukan pelanggaran. staf dan kepala sekolah. Di SD. i) Format penyusunan aturan disiplin dan tata tertib dapat dibuat dalam berbagai bentuk. yaitu penyusunan tata tertib. Penyusunan Tata Tertib Sekolah Beberapa pedoman umum dalam menyusun tata tertib sekolah dikemukakan sebagai berikut. a) Penyusunan tata tertib melibatkan atau mengakomodasi aspirasi siswa dan aspirasi orangtua siswa yang dianggap sesuai dengan visi dan misi sekolah. tetapi juga untuk membentuk mental disiplin agar disiplin yang terjadi bukan kedisiplinan semu yang dilakukan karena takut menerima sanksi. b) Semua aturan disiplin dan tata-tertib yang berkaitan dengan apa yang dikehendaki. d) Tata tertib sekolah hendaknya tetap memberi ruang untuk pengembangan kreativitas warga sekolah dalam mengespresikan diri dan mengembangkan potensi dan kompetensi yang dimilikinya. ditetapkan skor denda maksimum. merupakan hasil kompromi semua pihak (siswa. tetapi lebih kepada kesadaran bahwa tata tertib itu memiliki nilai kebenaran sehingga perlu untuk ditaati. e) Tata tertib sekolah jangan hanya dibuat berupa konsep yang harus dipatuhi oleh warga sekolah dengan sanksi yang sangat jelas yang dapat membuat aturan menjadi kaku. guru pembimbing. dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan beserta sanksi atas pelanggarannya. A. IKHTIAR 37 . Siswa yang mencapai skor 100 akan terancam dikeluarkan dari sekolah. misalnya 100 poin. orangtua. sosialisasi tata tertib. dan penegakan tata tertib. sasaran seperti ini dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran pembiasaan pada kelas-kelas awal.dilaksanakan dan diberlakukan kepada semua personil sekolah termasuk guru. g) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya terutama diarahkan untuk membangun budaya perilaku positif dan sikap disiplin di kalangan siswa (selfdicipline) dan warga sekolah lainnya. h) Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya hendaknya tetap memberi ruang bagi berkembangnya kreativitas dan sikap kritis warga sekolah. sebagai batas toleransi. Untuk siswa misalnya. dan kepala sekolah).  Model pengurangan skor. perlu ada kesepakatan mengenai batas wajar tentang perilaku yang dapat dikategorikan nakal atau melanggar tata tertib. Contoh model yang dapat digunakan untuk siswa adalah model penambahan skor dan pengurangan skor:  Model penambahan skor. Dalam model ini setiap siswa diberi skor modal awal. pegawai dan kepala sekolah dalam rangka pengembangan sekolah. Dalam model ini. Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam menegakkan tata tertib dan kedisiplinan meliputi tiga kegiatan pokok. Setiap pelanggaran akan berakibat pengurangan PIKIR. guru. f) Tata tertib yang ada jangan sampai hanya dilakukan untuk menertibkan warga sekolah dari segi fisik saja. misalnya 100 poin. DZIKIR. c) Penyusunan tata tertib harus didasarkan pada komitmen yang kuat antara semua unsur dan komponen sekolah dan konsisten dengan peraturan dan tata tertib yang berlaku. Jika perlu dibuat satu hari tertentu di mana pada hari itu siswa diberikan kesempatan untuk berkreasi atau memberi saran kepada guru.

orangtua siswa. demosi dan PHK atau dikeluarkan sampai masalah itu terpecahkan atau dihilangkan. 3. disepakati dan disahkan kepala sekolah hendaknya disosialisasikan secara berkelanjutan kepada seluruh warga sekolah. 4. dan pengurus komite sekolah. PIKIR. agar semua pihak mengetahui dan memahami setiap butir aturan disiplin tersebut. Sosialisasi Tata Tertib Pelaksanaan tata tertib sekolah sangat tergantung pada pemahaman pihak-pihak terkait terhadap tata tertib yang disusun. teguran. 2. Aturan disiplin dan tata tertib beserta sanksi-sanksinya dibuat dalam bentuk tertulis dan disahkan oleh kepala sekolah. percobaan. skor. Aturan disiplin dan tata tertib yang telah disusun. dalam hal ini siswa. mental disiplin yang ingin ditanamkan menjadi hilang karena terlalu fokus pada skor yang ada. 2. Karena itu sosialisasi tata tertib perlu dilakukan untuk memastikan bahwa semua pihak memahami dengan baik isi tata tertib tersebut.10. Dalam model seperti yang disebutkan di atas. yang perlu diperhatikan adalah konsekuensi yang muncul dari setiap penambahan dan/atau pengurangan skor. penundaan. Sekolah perlu memastikan bahwa mereka memiliki pemahaman yang sama tentang butir-butir tata tertib yang telah disepakati dan disahkan tersebut. IKHTIAR 38 . 1. Jangan sampai. Sosialisasi untuk orang tua siswa dan pengurus komite sekolah dapat dilakukan dengan cara mengirimkan tata tertib yang telah dibuat dalam bentuk tertulis kepada mereka. Butir-butir tata tertib sekolah dapat dibuat dalam bentuk poster afirmasi yang dipajang di majalah dinding sekolah dan/atau lokasi-lokasi strategis di lingkungan sekolah agar dapat senantiasa dilihat. dibaca dan dipahami oleh seluruh warga sekolah. guru. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam melaksanakan sosialisasi tata tertib dikemukakan berikut ini. DZIKIR. Penegakan Tata Tertib Kegiatan terpenting dalam menguji efektivitas tata tertib adalah pada pelaksanaannya. perilaku. Selain peraturan tentang pemberian sanksi. sekolah juga dapat membuat peraturan tentang pemberian penghargaan kepada warga sekolah untuk memotivasi mereka mentaati disiplin dan tata tertib sekolah. dan warga sekolah lainnya. dan siswa yang mencapai skor nihil akan terancam dikeluarkan dari sekolah. Di sini terkait dengan sejauh mana upaya pihak sekolah dalam menegakkan tata tertib yang telah disusun. Sikap. hendaknya menjadi model dan teladan bagi penegakan perilaku tertib dan disiplin di sekolah. C. 11. guru. Beberapa pertimbangan dalam penegakan tata tertib dikemukakan berikut ini. Disiplin dan tata tertib sekolah berlaku untuk semua unsur yang ada disekolah tidak terkecuali kepala sekolah ataupun guru dan staf harus patuh dan taat pada peraturan sekolah yang berlaku dan menjadi komitmen yang kuat dan mengikat. B. dan tindakan kepala sekolah. Sebab betapapun baiknya tata tertib tapi jika tidak ditegakkan secara konsekuen maka tidak akan banyak artinya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. 1. pegawai. siswa dan staf yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama kurun waktu tertentu dan diumumkan secara aklamasi pada saat pelaksanaan upacara. Penegakan disiplin dilakukan secara bertahap kepada semua unsur yang ada disekolah mulai dari peringatan. Memberikan penghargaan sebagai teladan kepada guru.

V. PENGHARGAAN DAN INSENTIF DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH A. Siswa yang menerima sanksi harus dibantu memahami dan menerima bentuk sanksi tersebut sebagai bentuk intervensi bagi kebaikan yang bersangkutan. dan tentunya upaya mewujudkan kesejahteraan anggota. sekolah yang sukses menyadari bahwa pemberian penghargaan jauh lebih penting ketimbang menghukum atau menyalahkan siswa.5. Penegakan tata tertib merupakan bagian dan terintegrasi dengan upaya membangun budaya perilaku etik dan sikap disiplin. Dengan pendekatan manusiawi. dan wakil komite sekolah. saling asah-asih dan asuh sangat diyakini PIKIR. Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan dilakukan oleh kepala sekolah setelah semua upaya persuasi untuk perbaikan perilaku telah dilakukan secara maksimal. 9. 12. Sanksi penegakan tata tertib sekolah dilakukan kepala sekolah atau wakil kepala sekolah urusan kesiswaan. 8. Konsep Pemberian Penghargaan dan Insentif Penelitian Moedjiarto menemukan signifikansi karakteristik ini dalam menciptakan sekolah efektif. dengan cepat dilakukan tindakan kedisiplinan. pengurus OSIS. Berilah penghargaan yang sesuai untuk guru. Dijelaskan oleh Reynolds (1990). di sekolah perlu dibangun suasana keterbukaan. Terhadap pelanggaran-pelanggaran. karyawan dan siswa yang benar-benar pantas untuk mereka terima sebagai hadiah atas usaha dan hasil kerja mereka. IKHTIAR 39 . DZIKIR. guru. Agar budaya dan iklim sekolah kondusif dan tercipta harmonisasi kerja. baik di lingkungan internal sekolah maupun di lingkungan luar sekolah. ditetapkan melalui pertemuan konferensi kasus (caseconference) yang diikuti oleh kepala sekolah. Eksekusi terhadap pelanggar tata tertib berat. Demi efektitas layanan BK di sekolah guru pembimbing diharapkan tidak ditugaskan untuk pemberian sanksi terhadap siswa. mengubah perilaku siswa (dan juga guru). dalam beberapa hal. Penghargaan dapat diberikan kepada warga sekolah dalam rangka penegakan tata tertib sekolah seperti pemberian reward kepada mereka yang tidak pernah melakukan pelanggaran selama tiga bulan. 11. 6. 7. 13. Hal ini dinilai oleh Reynolds sebagai suatu strategi motivasi yang penting untuk meningkatkan citra diri (self-image) siswa dan berkembangnya atmosfir yang bersahabat dan suportif. 14. satu semester sampai satu tahun. Orangtua siswa perlu diberikan pemhamanan tentang kebijakana sekolah tentang kedisiplinan agar orang tua merasa dihargai dan dilibatkan sehingga dapat memberikan dukungan terhadap dukungan pelaksanaan tata tertib sekolah. Penjatuhan hukuman (eksekusi) atas pelanggaran tata-tertib hendaknya disertai dengan penjelasan mengenai alasan dan maksud positif dari pengambilan tindakan tersebut. obyektivitas penilaian. konselor sekolah. Penghargaan dan insentif mendorong munculnya perilaku positif dan. 10. Penegakan tata tertib terutama difokuskan pada upaya membantu siswa dan semua warga sekolah untuk menyesuaikan diri dengan setiap butir dalam aturan tata-tertib tersebut. khususnya yang berkonsekuensi skorsing atau pemecatan. Ada konsistensi/kesepakatan di antara para guru dan kepala sekolah mengenai prosedur-prosedur dan bentuk hukuman bagi siswa pelannggar disiplin dan tata tertib.

2. e-mail. Tuliskan nama orang itu pada tropi dan berilah nama julukan di belakangnya. seperti halnya tidak pernah kenyang dengan makanan dan uang. Praktekkan pemberian penghargaan yang berkonsentrasi dan fokus pada memanggil guru staf atau siswa yang layak untuk menerima penghargaan ke kantor anda dan mengucapkan terima kasih karena melakukan pekerjaan yang bagus. guru maupun staf. Dalam konteks psikologi. Jika anda mendengar ucapan positif mengenai seseorang. Tulis cacatan kecil yang menghargai kontribusi seseorang pada periode gaji terakhir dan lampirkan catatan tersebut pada daftar gaji seseorang. Undang tim kerja atau personil sekolah ke rumah anda pada hari sabtu atau hari lain untuk merayakan keberhasilan dalam melaksanakan tugas atau pencapaian hasil kinerja sekolah. 11. semakin banyak penghargaan yang mereka peroleh maka akan semakin banyak juga yang mereka inginkan. Untuk membantu memastikan keadilan dan dukungan. 6. IKHTIAR 40 . 8. Terus memperhatikan jenis pujian dan penghargaan yang paling disukai oleh seluruh personil sekolah dan gunakan sesering mungkin pada mereka pada saat yang tepat. Sistem penghargaan upah/insentif yang dikombinasikan dengan penghargaan sosial dan umpan balik untuk kinerja guru. Beberapa cara paling mudah dan terjangkau untuk menghargai seseorang: 1. Dalam beberapa hal. 5. 12. Untungnya tidak sulit menghargai seseorang dan terdapat banyak cara untuk melakukan hal tersebut. Interaksi tersebut difokuskan hanya pada penghargaan dan tidak pada hal lain sehingga pengaruhnya tidak berkurang karena membahas masalah lain. Personil sekolah tidak pernah bosan dengan penghargaan.kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan tercapai dan hal ini akan sangat menunjang pencapaian tujuan sekolah yang telah ditetapkan. DZIKIR.staf dan siswa pendukung anda dengan mengajak mereka makan siang atau makan malam yang indah. Perhatikan semua orang yang melakukan hal yang benar dan beritahu mereka kalau pekerjaan itu baik dan benar. PIKIR. Berikan foto tersebut kepadanya dan tempatkan foto sejenis lainnya pada lokasi menyolok agar dapat dilihat oleh semua orang.” 4. 7. 10. Siapkan tropi dan berikan kepada mereka yang paling layak menerimanya baik untuk siswa. Atasi masalah ”jauh di mata. pada akhir bulan biarkan penerima memilih anggota berikutnya untuk diberi penghargaan dan jelaskan mengapa dia dipilih. atau meninggalkan voice mail untuk orang dengan kata ”terima kasih atas kerja yang baik. akan meningkatkan kinerja mereka lebih baik dari pada yang tidak mendapatkan perlakuan yang sama. jauh di pikiran” dengan faksimile. ulangi hal tersebut pada orang yang bersangkutan secepat mungkin. 3. mereka sepertinya tidak kenyang atau merasa dipuaskan dengan penghargaan. Hargai mereka yang ditempatkan di tempat lain dan tidak punya kesempatan untuk sering ke ruang kepala sekolah. Ambil foto seseorang yang sedang diberi selamat oleh kepala sekolah atau orang yang berwewenang karena prestasi yang diraih. staf dan siswa yang dilakukan secara sistematik. Saat anda mendapat promosi. 9. Hargai keahlian menonjol atau keahlian individu dengan menugaskan mereka menjadi mentor personil lainnya agar dapat menunjukkan kepercayaan dan hormat anda kepadanya. akui peran yang dimainkan oleh guru.

Bentuk-bentuk penghargaan kepada guru dan siswa berprestasi dapat berupa materil. umpan balik evaluatif. Imbalan diluar gaji berupa istirahat kerja. ucapan selamat untuk diri sendiri. C. Bentuk-bentuk penghargaan ini dengan sendirinya membangkitkan dan menularkan semangat kerja dan meningkatkan etos kerja bagi guru dan menumbuhkan minat dan semangat belajar bagi siswa. 3. Indikator-Indikator yang Perlu diperhatikan dalam Pemberian Penghargaan dan Insentif Indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam pemberian penghargaan dan insentif sebagai berikut: PIKIR. dan bonus. undangan minum kopi bersama atau makan bersama. 2. sedikit kenaikan upah. Insentif sedikit berbeda dengan imbalan. staf dan siswa dalam organisasi. Penghargaan ini akan bermakna jika dikaitkan dengan prestasi guru. tepukan dibahu. Penghargaan dan insentif diberikan dalam beberapa cara. Diterapkan sendiri berupa penghargaan terhadap diri sendiri. Akses untuk melaksanakan pelatihan. 4. bulanan. seperti pemberian hadiah. Bentuk-Bentuk Penghargaan dan Insentif Menurut Winardi Bentuk-bentuk penghargaan atau insentif dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. dan plakat dinding. semesteran. sehingga mereka memiliki peluang yang sama untuk berprestasi. staf dan siswa secara terbuka. kenaikan gaji/upah. IKHTIAR 13. dan nonmateril. Penghargaan sosial berupa penghargaan informal. seperti pemberian sertifikat penghargaan dan lencana. pujian untuk diri sendiri. Melalui penghargaan ini guru. insentif adalah sesuatu yang ditentukan dimuka sementara imbalan/hadiah diberikan setelah kita menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan karena insentif ditujukan untuk memotivasi karyawan maka karyawan harus tahu hal ini sejak awal. isyarat-isyarat nonverbal. pujian. meminta saran. efektif dan efesien. Penghargaan ini perlu dilakukan secara tepat. Penghargaan sangat penting untuk meningkatkan produktifitas kerja dan untuk mengurangi kegiatan yang kurang produktif. seperti memberi penghargaan kepada individu yang menunjukkan pekerjaan atau perilaku yang baik dan penghargaan yang diberikan berdasarkan prestasi dalam kegiatan olahraga dan sosial. dan sebagainya. B. pekerjaan dengan tanggung jawab lebih besar. atau tahunan) dan diumumkan secara luas di sekolah yang bersangkutan dengan cara menempel label yang memuat hasil nominasi tersebut pada semua sudut sekolah. 41 . rencana-rencana bonus. agar tidak meninmbulkan dampak negatif. (1988) sebagaimana dikutip Mortimore (1993) mengidentifikasi beberapa cara yang dilakukan oleh sekolah efektif dalam pemberian insentif. penghargaan formal.Masih banyak lagi bentuk-bentuk penghargaan yang bisa diterapkan di sekolah dalam memotivasi personil sekolah untuk berprestasi. DZIKIR. rencana-rencana perangsang. bahkan makan malam yang menyenangkan dapat menjadi insentif yang berbiaya rendah dan paling berharga bagi guru. Mortomore. staf dan siswa. Kenyataannya bonus yang besar dapat berakibat negatif jika tidak diterapkan dengan tepat karena dapat menimbulkan konflik diantara guru. Syarat-syarat insentif sebaiknya menjadi bagian dari perencanaan kinerja. Tugas itu sendiri seperti perasaan berprestasi. Penghargaan nonmateril dapat pula diberikan dalam bentuk nominasi guru terbaik dan siswa terbaik secara berkala (misalnya: mingguan. rotasi kerja. promosi jabatan. 5. dkk. senyum. Material berupa gaji atau upah. staf dan siswa dirangsang untuk meningkatkan kinerja positif dan produktif.

siswa dan staf dapat dilakukan dalam bentuk umpan balik yang segera. siswa atau staf yang berprestasi dalam bentuk royalti sebagai uang muka sebelum tugas/pekerjaan mereka selesaikan. Karena ini akan menimbulkan dampak seperti perilaku konflik yang menyebabkan guru. dan siswa yang berprestasi. jika perlu. Penghargaan atau insentif yang diberikan kepada guru. IKHTIAR 42 . staf. agar mereka dapat mendapatkan informasi yang langsung dan jelas mengenai hasil karya dan efektifitas kerjanya serta sekaligus akan memotivasi mereka untuk berkarya dan bekerja lebih baik lagi. Staf atau guru yang telah menunjukkan kinerja yang unggul diberi prioritas untuk menikmati kesempatan promosi atau pilihan program lain untuk pengembangan karier. penugasan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menyenagkan. siswa dan staf atas tindakan yang mereka anggap menguntungkan dan bukan memberikan hukuman atau sangsi jika sebaliknya.                 Sekolah memiliki prosedur pemberian penghargaan dan insentif terhadap guru. Prestasi yang tinggi dari siswa mendapatkan penghargaan dari sekolah. dirayakan. siswa dan staf. staf. Melakukan promosi secara adil berdasarkan mutu dan kualitas kompetensi yang dimiliki oleh guru. Prestasi yang tinggi dari guru dan staf mendapatkan penghargaan dari sekolah. DZIKIR. Dinas Pendidikan kabupaten/kota mengambil peran nyata dalam pemberian penghargaan atas prestasi siswa dan guru yang tinggi. dan waktu luang lebih banyak juga dapat merupakan wujud dari imbalan atas hasil kerja yang dilakukan Otonomi dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan kepada guru dan staf merupakan salah satu bentuk penghargaan. PIKIR. kondisi kerja yang lebih baik. atau guru yang mendapatkan penghargaan atas prestasi yang membanggakan diumumkan dan. Memberikan penghargaan atau insentif yang setara dengan prestasi atau hasil kerja yang dilakukan oleh guru. Penghargaan harus segera dilakukan kepada guru. Setiap siswa. siswa dan staf menghindari dalam bentuk tidak hadir. Penghargaan kepada guru yang berprestasi diumumkan dan dipajang pada papan pengumuman seperti papan guru dan siswa yang berprestasi setiap setiap bulan. Menggunakan penghargaan dan insentif sebagai hadiah atau ganjaran sebagai teknik manajemen dalam pelaksanaan kinerja guru dan staf serta hasil karya bagi siswa. Imbalan atau insentif yang diberikan kepada guru. Memberikan penghargaan yang positif kepada guru. penguatan juga dapat dilakukan dalam bentuk pujian. Penghargaan dan hadiah ditentukan berdasarkan prestasi yang diraih dan memberikan kesempatan pada siswa untuk meraihnya. Guru mendapatkan insentif atas pekerjaan tambahan yang dilakukan. siswa dan staf dapat dilakukan dalam berbagai bentuk selain materi. siswa dan staf dan tidak diwarnai oleh faktor-faktor lain atau kepentingan tertentu.

kepemimpinan pengajaran berperan dalam kegiatan pembinaan personil guru. Kondisi ini mungkin kedengaran klise tetapi banyak pemimpin yang kurang menyadari hal ini. apa kekuatan mereka dan mengimbangi kelemahan mereka. pemberian dukungan kepada guru. Pertanyaannya adalah bagaimana membangkitkan mutu pendidikan. Pemimpin Pendidikan Mutu terpadu merupakan sebuah gairah dan pandangan hidup bagi organisasi yang menerapkannya. Cuntoh sederhana yang dapat dilakukan dalam menggairahkan iklim sekolah adalah dengan sesekali mengadakan perayaan untuk membangun moral atau budaya sekolah yang bisa menghasilkan perubahan. Hal ini mungkin akan memerlukan biaya yang tidak sedikit. diberi inspirasi dan ditantang untuk menghasilkan prestasi kerja terbaik mereka dengan dukungan sumber daya serta bimbingan yang diberikan oleh kepala sekolah untuk membantu menjadikan performa personil sekolah menjadi luar biasa. Sejauh mana budaya dan iklim sekolah dalam bidang kepemimipin sekolah dapat memberdayakan atau malah menghambat potensi yang ada. Peters dan Austin pernah meneliti karakteristik tersebut dalam bukunya A Passion for Excellence. Lebih spesifik. IKHTIAR 43 . Menurut Townsend (1994). proses kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap semua aspek kinerja sekolah. staf dan siswa setiap harinya.VI. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinan di sekolah sehingga tercipta iklim dan buaya sekolah yang kondusip: Kepemimpinan adalah unsur terpenting dalam TQM. pemantauan prestasi sekolah. bagaimana cara mengemukakan keinginan tersebut kepada personil sekolah guna memperolah kerja sama dan mendapatkan dukungan dari personil sekolah. tetapi cara ini tidak akan percuma dilakukan jika dapat menghasilkan produktifitas kerja yang meningkat. mereka ingin diperlakukan sebagai manusia. mengetahui keinginan dan harapan mereka dan mengapa dia menginginkan hal itu. Kunci untuk ekspresi diri adalah pengetian tentang diri sendiri dan dunia kerja serta lingkungan sekolah dimana kita berada. Dewasa ini orang bekerja cenderung mencari lebih dari sekedar gaji. Dan kunci untuk pengertian adalah belajar dari kehidupan dan pengalaman pribadi. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu karakteristik yang paling konsisten hubungannya dengan prestasi belajar. (1991) menunjukkan bahwa prestasi akademik dapat diprediksi berdasarkan pengetahuan terhadap perilaku kepemimpinan pengajaran kepala sekolah. 1993). Temuan penelitian Heck. dan pencarian sumber daya ekstra untuk sekolahnya (Mortimore. Penelitian tersebut meyakinkan mereka bahwa yang menentukan mutu dalam sebuah institusi PIKIR. penghormatan serta pertimbangan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah kepada guru. Menjadi pemimpin sekolah yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah didasarkan pada asumsi bahwa para pemimpin sekolah adalah orang-orang yang mampu mengespresikan diri sepenuhnya atau dengan kata lain mereka mengetahui siapa diri mereka. Pemimpin harusmemiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik. Inti budaya dan iklim sekolah yang bersemangat adalah terletak pada kualitas hubungan antara individu dalam sebuah komunitas sekolah dan kepercayaan. dkk. memberikan jadwal yang pleksibel atau peralatan terbaik untuk melaksanakan tugas dengan benar. DZIKIR. Akhirnya kepala sekolah tahu bagaimana cara mencapai sasaran mereka. penyediaan waktu dan energi untuk perbaikan sekolah. Untuk memaksimalkan potensi personil sekolah terutama tergantung pada bagaimana seseorang diperlakukan. perlindungan sekolah dari tekanan eksternal yang kurang mendukung.

semangat. intensitas. Mereka berpendpat bahwa gaya kepemimpinan tertentu dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu. dan antusiasme.Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf. eksprimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan. Ini memastikan bahwa institusi memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya.adalah kepemimpinan.  MBWA adalah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan bagi sebuah instansi.  Ketulusan. Spanbauer telah menyampaikan pengarahan bagi para pemimpin dalm menciptakn lingkungan pendidikan yang baru. orang tua.  Menciptakan rasa kekeluargaan. IKHTIAR 44 . Gaya kepemimpinan ini mementingkan komunikasi visi dan nilai-nilai institusi kepada pihak-pihak lian. Dia berpendapat bahwa pemimpin institusi pendidikan harus memandu dan membantu pihak lain dalam mengembangkan karekteristik yang serupa. MBWA menekankan pentingnya kehadiran pemimpin dan pemahaman atau pandangan mereka terhadap karyawan dan proses institusi.sebuah gaya yang mereka singkat dengan MBWA ( Management by Walking About / manajemen dengan melaksanakan ). para pelajar dan kepada komunitas yang lebih luas. Sikap tersebut mendorong terciptanya tanggungjawab bersama-sama serta sebuah gaya kepemimpinan yang melahirkan lingkungan kerja yang interaktif.  Memimpin inovasi dalam institusi  Mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggungjawab dan mampu mempersiapkan delegasi yang tepat  Memiliki komitmen untuk menghilangkan rintangan. Sifat-sifat tersebut mrupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan.  „Untuk para pelajar‟ istilah ini sama dengan dekat dengan pelanggan dalam pendidikan. DZIKIR. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan diantara para pelajar.Pemimpin pendidikan harus melakukan inovasi diantara staf-stafnya dan bersiap-siap mengantisifasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut. Peran Pemimpin dalam mengembangkan sebuah budaya mutu Apakah peran pemimpin dalam sebuah institusi yang mengusahakan inisiatif mutu terpadu? Tidak ada satupun yang menyatakan hal itu secara keseluruhan. baik yang bersifat organisasional maupun kultural  Membangun tim yang efektif  Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan. kesabaran. guru dan staf institusi. namun fungsi utama pemimpin adalah sebagai berikut :  memiliki visi mutu terpadu bagi institusi  memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu  mengkomunikasikan pesan mutu  memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek institusi  mengarahkan perkembangan karyawan  berhati-hati dengan tidak menyalahkan orang lainsaat persoalan muncul tanpa buktibukti yang nyata. Kebanyakan persoalan yang muncul adalah hasil dari kebijakan institusi dan bukan kesalahan staf. serta berbaur dengan para staf dan pelanggan.Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan membutuhkan perspektif-perspektif berikut ini :  Visi dan simbol-simbol.  Otonomi. Keinginan untuk unggul tidak bisa dikomunikasikan dari balik meja. Dia menggambarkan sebuah gaya kepemimpinan dimana pemimpin “ harus menjalankan dan membicarakan mutu PIKIR.

Apakah mereka yakin bahwa mereka mendapatkan informasi yang tepat waktu tentang hal-hal yang berhubungan dengan program-program sekolah dan tugas mereka? 3. Hal ini disebabkan karena moral dapat memberikan dampak langsung terhadap kualitas sekolah dan dapat meningkatkan prestasi belajar bagi siswa serta meningkatkan profesionalitas para guru dan staf dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. DZIKIR. Karena ketika semua unsur dan personil sekolah merasa senang dan semangat yang tercipta lahir dari iklim dalam budaya sekolah maka mereka akan lebih produktif. Apakah anda dapat memahami kebutuhan mereka dan menjalin hubungan saling pengertian diantara mereka untuk meraih saran-saran dalam meningkatkan kualitas kerja mereka? 5. Faktor yang mendasari perlunya dibentuk tim tertentu dalm suatu perusahaan adalah :  Pemikiran 2 orang atau lebih cenderung lebih baik daripada pemikiran satu orang saja. Tim merupakan sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama. orang tua dan masyararat terjalin dengan baik atau tidak? Hal ini dapat dilakukan melalui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut. staf dan siswa. jika mereka yakin bahwa kepala sekolah benar-benar perduli secara pribadi setiap hari di sekolah dan sikap peduli ini diwujudakan dengan ekspresif lewat mimik wajah yang PIKIR. Kerjasama Tim Bagi Mutu Kerjasama tim/kerja tim dalam sebuah organisasi merupakan komponen penting dari implementasi TQM. bukan dengan serta merta. komite. siswa. IKHTIAR 45 . Apakah personil sekolah merasa bebas memberikan pendapat mereka dan mengetahui bahwa pendapat mereka dihargai? 2. staf. Personil sekolah akan lebih menerima program-program sekolah yang telah disusun bersama.( John S. Kerjasama tim merupakan salah satu unsur fundamental dalam TQM. Apakah anda pernah menyentuh hati mereka untuk memberikan yang terbaik dari hasil kerja dan karya mereka selama ini? Jika jawaban terhadap pertanyaan tersebut menunjukkan sikap bahwa kita peduli terhadap mereka dan membutuhkan suasana gembira. 1989 ). mengingat kerjasama tim akan meningkatkan kepercayaan diri. Apakah anda dapat membangkitkan komitmen mereka atau mereka tidak merasa dirinya sebagai bagian dari sekolah? 4. yaitu bahwa hasil keseluruhan (tim) jauh lebih baik daripada jumlah bagiannya(anggota individual) A. salah satu faktor yang paling menentukan adalah membangkitkan semangat orang-orang yang berada dalam lingkungan sekolah khususnya guru. dan mengembangkan kemandirian. komunikasi. akan memberikan motivasi yang paling kuat bagi mereka. 1. Apakah anda memberikan kesempatan bukan hanya dalam melaksanakan tugas tetapi juga memberikan efek sehingga mereka tanggap dan berusaha untuk memastikan apa yang telah terjadi? 6.  Konsep sinergi ( 1+1 > 2 ). Kepala sekolah selaku pimpinan dalam lingkungan organisasi sekolah harus mengetahui apakah hubungan mereka dengan guru.serta mampu memahami bahwa perubahan terjadi sedikit demi sedikit. Membangun Moral Kerja Dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah. Oakland. Total Quality Management.

Karena jika person sekolah merasa tidak senang otomatis akan memberikan hasil kerja dan karya yang buruk. semangat staf dalam bekerja dan semangat siswa dalam belajar dan berprestasi dengan cara meminimalisir beberapa kebijakan dan prosedur yang dapat menghambat upaya untuk menjadikan personil sekolah bersemangat dan menggantikannya dengan kebijakan dan prosedur yang lebih sederhana dan tidak menghambat. 4. Dengan PIKIR. lebih singkat dan sederhana adalah lebih baik dari pada lebih panjang dan rumit. DZIKIR. Setiap kali anda menetapkan satu kebijakan baru. ada beberapa saran dalam menetapkan kebijakan dan prosedur kerja dalam organisasi sebagai berikut: 1. tidak ada kebijakan tunggal yang uraiannya terdiri lebih dari satu halaman. Karena pada dasarnya setiap orang ingin merasa berguna atau penting bagi orang lain. Hubungan yang dibangun dalam budaya dan iklim sekolah yang berdasarkan atas hubungan saling percaya. Tujuan yang Jelas dan Sasaran yang Didefinisikan dengan Baik Gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam mencitakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan memberdayakan seluruh personil sekolah sebagai tim kerja. C. 5. Uang bukanlah satu-satunya cara yang dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang tetapi lebih dari itu memberikan kepercayaan kepada mereka akan menemukan kembali nilai kesetiaan mereka. hal ini merupakan efek dari kebijakan dan prosedur kerja yang kurang baik. mungkin saja masalahnya tidak pernah muncul lagi. dan nilai kesetiaan ini merupakan modal yang paling berharga dalam mencapai produktivitas kerja yang lebih baik karena lahir dari rasa memiliki yang tertanam dalam benak mereka. 3. Pastikan kebijakan dan prosedur organisasi disusun untuk melayani para karyawan dan pelanggan anda bukan hanya organisasi anda saja. Kebijakan dan Prosedur Cukup banyak sekolah yang berhasil memiliki cara mudah untuk membangkitkan semangat guru dalam mengajar.mendukung atau ucapan-ucapan selamat dan sekali-sekali diberikan hadiah atau bonus pada saat moment penting seperti pada perayaan ulang tahun akan menambah semangat dan motivasi mereka untuk selalu berbuat yang terbaik. saling menghormati dan mau mendengarkan pendapat orang lain serta dapat mengekspresikan diri dalam tugas dan karya adalah sarana yang kuat bagi personil sekolah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Waspadai kemungkinan menetapkan kebijakan atau prosedur baru sebagai reaksi terhadap suatu insiden tunggal. Karakteristik struktur organisasi sekolah yang baik adalah jika struktur tersebut dapat menghasilkan kerja yang baik dan tidak berbelitbelit. Cara terbaik untuk mendukung moral kerja personil dalam lingkungan sekolah dan untuk menginspirasi mereka sehingga memiliki kinerja prima adalah dengan cara meyakinkan mereka dengan segala yang anda lakukan dan bersikap dengan sepenuh hati bahwa anda sangat mendukung mereka. Menurut Bob Nelson (2007). hapuslah dua kebijakan lama. IKHTIAR 46 . Penetapan kebijakan di atas dapat diadopsi dalam lingkungan budaya sekolah apabila ditunjang oleh struktur organisasi sekolah yang baik. 2. Sekolah yang memiliki budaya dan iklim yang baik menyadari bahwa person sekolah yang dapat dipercaya untuk melakukan apa yang benar ketika mereka di izinkan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Seberapa besarpun ukuran organisasi. Dalam hal kebijakan. B.

karena harus ditumbuhkan dalam kondisi yang menyenangkan. Bangun komitmen serta keyakinan. Beberapa saran yang diajukan oleh Nelson (2007) dalam menentukan tujuan yang jelas dan sasaran didefinisikan dengan baik adalah sebagai berikut. Pastikan agar tim mengembangkan sasaran-sasaran yang spesifik dan agar tim secara berkala mengevaluasi serta memperbaharui sasaran-sasarannya. 3. Katzenbach dan Douglas K. serta mengetahui posisi mereka dalam tim atau prinsip-prinsip operasional dalam tim tersebut. emosional dan spritual. dimana mereka dapat berkontribusi untuk mencapai sutu tujuan dan sasaran bersama. Beberapa saran di atas dapat di adopsi oleh pemimpin sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif. menetapkan sasaran-sasaran. 6. Ciptakan kesempatan bagi orang lain. IKHTIAR 47 . D. moral dan perilaku yang tidak bertentangan dengan falsafah bangsa yang diwarnai kecerdasan intelektual. 5. 3. Selanjutnya Jon R.pemberdayaan ini akan memberikan semangat yang kuat diantara personil sekolah. Untuk menciptakan sekolah yang sukses dan memiliki kualitas perlu adanya proses pembentukan budaya. Lakukan pekerjaan yang nyata. termasuk mengatasi hambatan. Kelola hubungan dengan orang luar. Misalnya tim guru bidang studi di sekolah dapat menunjukkan kualitas kerja tim yang tinggi jika mereka memiliki maksud dan tujuan yang jelas. metode dan strategi mengajar yang tepat dalam proses belajar mengajar. Smith yang dikutip Nelson (2007) menyarankan enam hal penting bagi pemimpin dalam membangun semangat tim dalam organisasi sebagai berikut: 1. Banyak cara untuk dapat membangun semangat kerja yang solid dalam organisasi sekolah seperti dengan cara membangun budaya dan menciptakan iklim bekerja sama dengan PIKIR. 2. maka setiap setiap personil sekolah sebagai bagian dari anggota tim perlu memiliki maksud dan tujuan yang jelas serta menetapkan sasaran sekolah dengan melibatkan seluruh anggota agar mereka mengetahui dan paham apa tujuan dan sasaran sekolah. Dengan tujuan sekolah yang jelas dan sasaran-sasaran sekolah yang didefinisikan dengan baik serta diketahui setiap anggota sekolah dan melibatkan mereka sepenuhnya dalam program-program sekolah akan memberikan hasil kerja yang lebih baik dan berkualitas. Membangun Semangat Kerja yang Solid Untuk membangun semngat kerja yang solid dalam sebuah komunitas sekolah bukan hanya memberikan tugas atau menempatkan mereka pada posisi dan jabatan yang sesuai dengan potensi mereka tetapi lebih dari itu. Kuatkan perpaduan dan tingkatkan keterampilan. 1. 4. Ketika batasan-batasan ini tidak jelas dan tidak di ingatkan secara rutin maka tim akan kehilangan semangat dan komitmennya. Jelaskan bahwa semua orang berada dalam tim yang sama. 4. hal ini akan mendefinisikan maksud anda dan menetapkan batasan-batasan bagi cakupan cakupan kerja tim. Hindarkan praktikpraktik yang menghasilkan anggapan bahwa sebagian orang adalah tim kelas satu dan anggota tim yang lain adalah tim kelas dua. Tentukan misi bagi tim. sasaran serta pendekatan relevan dan bermakna. Agar tercipta sebuah tim work yang baik dalam lingkungan sekolah. Nyatakan maksud dan aturan-aturan tim untuk operasionalnya pada setiap rapat. karena mereka dapat mengendalikan dan memberi efek pada pekerjaannya. DZIKIR. Pastikan agar maksud. Selain itu juga sekolah yang sukses diwarnai oleh semangat yang menarik para personil sekolah sebagai satu unit yang utuh. 2. Membangun iklim seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan instant.

Akan masuk akal jika para kepala sekolah mengetahui bahwa pemberdayaan. berilah dia kesempatan untuk melaksanakan kerja berikutnya. DZIKIR. mengejar sasaran ketika mereka terdorong oleh visi dan misi sekolah yang jelas dengan kekuatan serta ketersedian sarana belajar yang memadai untuk mencapai tujuan sekolah. Kekuatan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kerja sama dan semangat kerja yang solid diantara personil sekolah. kemandirian dan otonomi dalam kepemimpinan kepala sekolah sebagai berikut: 1. 4. Tidak ada yang dapat memompa personil sekolah lebih total. akan membuat mereka lebih senang dalam bekerja dan berkarya. IKHTIAR 48 . diberikan kebebasan untuk mandiri. staf dan siswa. 2. Faktor-faktor yang dapat diperhatikan oleh kepala sekolah dalam menerapkan prinsipprinsip pemberdayaan. Kepemimpinan dalam Pemberdayaan. staf dan siswa dalam berprestasi dan membangun sekolah yang berkualitas dalam iklim dan suasana yang menyenangkan. Jika mereka memiliki kinerja yang tinggi. E. 3. tanggung jawab dan kewenangan kepada personil sekolah untuk melaksanakan segala sesuatu menurut cara mereka sendiri dan diberi kesempatan dalam pengambilan keputusan dengan resiko dari efek keputusan yang dilakukan. 4. Kepala sekolah senantiasa dapat menunmbuhkan dan mendukung pertumbuhan pribadi maupun profesionalisme guru. Berikut beberapa cara yang dapat ditempuh sekolah untuk membangkitkan semangat personil sekolah dalam membangun budaya dan iklim sekolah yang memiliki semangat yang solid adalah: 1.penuh semangat. prosedur atu aspekaspek yang berkaitan dengan peningkatan proses belajar mengajar baik itu di dalam kelas dan lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. maka fokuskan pada hasil kerja atau karya mereka bukan pada kehadiran mereka. kemandirian dan otonomi yang besar kepada seluruh personil sekolah akan meningkatkan produktifitas mereka. beri kesempatan kepada mereka bekerja dirumah dan menetapkan jadwal mereka sendiri. setiap personilnya ingin dipercaya dan dihargai. Senantiasa mendorong mereka untuk memperbaiki proses. 3. mungkin saja itu awal dari keberhasilan yang tertunda. Kepemimpinan kepala sekolah yang menekankan pada pemberdayaan dalam budaya dan iklim sekolah akan memberikan kesempatan. kecuali inisiatif pribadi atau usaha kerasnya untuk memberikan hasilkerja dan karya yang lebih baik jika mereka dihargai. staf. Jika memungkinkan untuk memberikan mereka fleksibilitas jam kerja. komite dan masyarakat dalam jamuan makan siang bersama di sekolah dan menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan program sekolah terutama jika terjadi perubahan dalam program dan lingkungan sekolah dan melibatkan mereka dalam proses perubahan tersebut. Untuk menjalin iklim dan hubungan yang baik antara kepala sekolah dengan guru. 2. Mengajak seluruh personil sekolah seperti guru. dan siswa juga orang tua siswa. Senantiasa mengkomunikasikan segala informasi baru kepada seluruh personil sekolah terutama hal-hal yang menyangkut peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah. Kemandirian dan Otonomi Setiap orang ingin diperlakukan sebagai bagian dari organisasi demikian halnya di dalam sekolah. Ketika guru dan staf menunjukkan hasil kerja atau karya yang baik dan meraih sukses/prestasi. maka hubungan antara mereka harus jelas baik dari segi PIKIR. meskipun sekali-sekali mereka membuat kesalahan bukan berarti mereka gagal dalam tugas.

Inisiatif dan Fleksibilitas Apa yang membuat budaya dan iklim sekolah menjadi lebih baik dan kondusif? Dasarnya adalah implementasi kepemimpinan sekolah yang menghargai inisiatif personil sekolah sehingga semangat dan tanggung jawab moral dalam bekerja dan berkarya tumbuh dan berkembang dan secara otomatis produktivitas kerja mereka akan meningkat. professional dan dinamis. kepemimpinan yang bagus adalah kunci untuk implementasi yang afektif. tekun menyediakan program-program pendidikan yang dianggap penting. 4. 4. F. Komunikasi. evaluasi dan hasil serta kualitas mutu pendidikan secara kontinu. implementasinya sering gagal dan kembali ke keadaan sebelumnya. Bila perubahan sistemik dilaksanakan tanpa perubahan budaya dan iklim organisasi sekolah. Memiliki harapan yang tinggi baik terhadap prestasi siswa maupun kinerja para guru dan staf sekolah. 3. ruang guru dan staf serta layanan pendukung siswa di sekolah untuk berinteraksi langsung dengan mereka yang sebelumnya tidak pernah anda jumpai. Seperti semua inisiatif yang lain. Hal ini dapat membangkitkan semangat mereka. Menurut Davis & Thomas (1989) dalam suatu sekolah yang bagus kita dapat menjumpai kepala sekolah yang agresif. Mengupayakan pertemuan dengan guru. 3. IKHTIAR 49 . 2. Budaya dan iklim sekolah yang membangun komunikasi diantara personil sekolah akan membentuk hubungan yang lebih baik diantara mereka sekaligus memberikan informasi dalam perbaikan proses. Insiatif yang dibangun dari proses komunikasi terbuka. hasil diskusi dan tukar pikiran akan menambah semangat mereka dalam bekerja. staf dan siswa yang paling jarang berinteraksi dengan anda. Sisihkan sedikit waktu luang anda untuk mengunjungi setiap ruang kelas.struktur maupun wewenang dan tanggung jawab mereka agar mereka lebih fokus dalam melaksanakan tugas dalam bidangnya. Mengamati guru dalam kelas dan memberikan masukan yang positif dan konstruktif dalam menyelesaikan masalah peningkatan pembelajaran. DZIKIR. Mendorong pemanfaatan waktu mengajar yang efisien dan merancang prosedur untuk meminimalkan gangguan. PIKIR. Komunikasi merupakan mata rantai yang paling penting dalam mempersatukan sebuah komunitas sekolah. Cukup banyak sekolah yang berhasil menemukan cara mudah untuk membanguan semangat guru. Contoh kongkrit dapat dilihat dari peran guru dalam proses belajar mengajar yang cukup komunikatif dan memiliki inisiatif-inisiatif yang senantiasa dikomunikasikan dengan kepala sekolah dan guru lainnya akan tampil prima dan produktif dalam melaksanakan peran mereka dan hal ini sangat mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal dapat ditentukan oleh informasiinformasi baru yang diperoleh. karena melalui komunikasi dapat diperoleh informasi secara vertikal maupun horisontal. Gunakan waktu anda lebih banyak dengan personil sekolah selama sekolah melewati masa-masa krisis seperti nilai ujian nasional rendah atau prestasi belajar siswa menurun. Memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya (sekolah akan menjadi apa) dan mendorong stafnya untuk bekerja dan berusaha untuk merealisasikan visi sekolah. staf dan siswa melalui komunikasi dan inisiatif seperti cara berikut: 1. Deskripsi singkat kualitas dan perilaku yang menandai sekolah yang berhasil antara lain: 1. Sekolah adalah suatu organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin dengan jabatan kepala sekolah. Memberikan tugas kepada mereka dan ikuti perkembangan mereka dalam melaksanakan tugas tersebut. metode dan strategi. 2.

sehingga tujuan akhir sekolah dapat tercapai dengan baik. hal ini dapat dilakukan pada setiap akhir bulan atau setiap triwulan dalam program sekolah. PIKIR. IKHTIAR 50 . 9. DZIKIR. 6. Fungsi utama kepala sekolah yang efektif adalah mengamati guru dalam kelas dan merundingkan dengan mereka tentang cara menangani masalah dan perbaikan pengajaran. 3. 6. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penciptaan lingkungan sekolah yang tertip dan aman. 8. Kepala sekolah dapat memonitor faktor-faktor lain yang terkait dengan prestasi. 9. Tindakan ini secara instrinsik mencerminkan fokus dan nilai akademis. pekerjaan kepada orang lain dalam organisasi sekolah. 7. Kepala sekolah dapat menciptakan sistem hadiah untuk setiap siswa dan guru yang medukung orientasi akademik dan merangsang keunggulan (excellence) dan penampilan siswa dan guru. guru kelas maupun sebagai wali kelas dan setiap guru akan mengelola kelasnya dengan baik. 5. Kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang dapat melakukan langkahlangkah kongkrit untuk membantu pengembangan orientasi harapan yang tinggi yang mencerminkan peran kepemimpinan pengajaran. Kepala sekolah dapat memainkan peran dalam meningkatkan kesadaran perlunya perbaikan sekolah dan harapan prestasi yang tinggi dan pencapaian konsensus untuk perubahan tersebut. 2. Kepala sekolah juga dapat melibatkan orang tua dalam upaya pengajaran di sekolah. Kepala sekolah dapat memperoleh sumber-sumber material yang diperlukan untuk pengajaran yang efektif dan menggunakannya secara kreatif sesuai dengan prioritas akademik. 7. Kepala sekolah sebaiknya menilai tugas-tugas harian guru dan meyakinkan bahwa setiap kelas ada gurunya baik sebaagai guru bidang studi. mengorganisasi dan mengalokasikan sumber-sumber dan menangani masalah keselamatan dan keteretiban. 8. khususnya dalam nilai tes setiap siswa dalam setiap tingkatan dan kelas. menjadwal. tetapi kepala sekolah harus dapat membagi tugas. memiliki keahlian dan pemahaman yang mendalam terhadap kurikulum dan pengajaran. Terdapat delapan kategori kepala sekolah efektif berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan lapangan: 1. faktor yang terkait dengan perbaikan yang secara implisit menekankan suasana dan budaya akademik. Kepala sekolah dapat aktif dalam penciptaan dan perbaikan yang konkrit. Kepala sekolah juga harus bisa bertindak sebagai perantara yang mengalirkan informasi dan menjawab berbagai pertanyaan dalam berbagai hal karena sebagian pekerjaan kepala sekolah adalah pekerjaaan verbal. Tingkah laku yang sentral kepala sekolah yang efektif adalah memonitoring perkembangan siswa. Seorang kepala sekolah yang efektif adalah seseorang yang memilki kecakapan dalam hubungan antara manusia. Peran aktif kepala sekolah dalam menciptakan sekolah yang efektif dimana setiap orang memperhatikan perbaikan dan peningkatan pembelajaran. Memanfaatkan bahan dan tenaga secara kreatif Memonitor prestasi individu dan kelompok siswa dan memanfaatkan informasi untuk perencanaan pendidikan sekolah dan pembelajaran. 10. 4. Kepala sekolah tidak seharusnya melakukan kegiatan administrasi sekolah sendiri. Sepanjang hari kepala sekolah memonitor jalannya pekerjaan.5.

e) Kepala sekolah bersemangat dalam melaksanakan tugas sehari-hari. 6) Kepala sekolah memiliki sikap suka membantu siswa belajar dan menghadapi kesulitan. Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut: a) Sebagai manajer perencana. lomba dan latihan-latihan yang bersifat edukatif. guru dan kepala sekolah. 9) Kepala sekolah mendorong semangat belajar siswa dengan menumbuhkan keyakinan dalam mencapai prestasi yang tinggi. 3) Kepala sekolah mengerahkan sumber belajar dan dukungannya demi pencapaian tujuan pembelajaran. secara langsung kepala sekolah bertugas mengawasi pelaksanaan tugas-tugas aparat sekolah secara berkesinambungan b) Kepala sekolah sebagai panutan bagi siswa. 8) Kepala sekolah membuat program secara teratur untuk mengembangkan pengetahuan siswa melalui les/kursus-kursus. guru dan orangtua siswa dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sekolah. d) Kepala sekolah sering mengunjungi guru mengajar. b) Menciptakan suasana sekolah yang kreatif/dinamis serta meningkatkan kelancaran komunikasi. guru dan staf sekolah sebagai pemimpin sekolah. IKHTIAR 51 . terutama dalam upaya peningkatan mutu pengajaran disekolah. Membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan mendorong semangat belajar siswa. 4) Kepala sekolah selalu memberi penjelasan kepada siswa dalam menghadapi hal-hal yang baru. DZIKIR. Karakter kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya dan iklim yang kondusif dapat dilihat pada beberpa indikator sebagai berikut: 1. Kepemimpinan kepala sekolah sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar yang menarik dan kondusif. g) Kepala sekolah melibatkan para siswa. c) Kepala sekolah suka menerima dan mempertimbangkan ide atau gagasan yang disampaikan oleh guru dan siswa. Hal ini dapat dilihat dari implementasi dan pemeliharaan perubahan yang positif terhadap proses dan hasil belajar siswa. kepatuhan dan kesungguhan guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan kepatuhan dan tanggung jawab staf sekolah dalam memberikan pelayanan kepada siswa. ramah dan dekat dengan siswa. 7) Kepala sekolah menciptakan suasana kerja yang kreatif dan produktif dengan menyediakan berbagai fasilitas dan perlengkapan yang dapat mendorong siswa mengembangkan bakat minat dan ketrampilannya. f) Kepala sekolah memiliki sikap bersahabat. komitmen dan tanggung jawab guru serta kepatuhan dan kesungguhan para siswa untuk belajar.Kepemimpinan instruksional kepala sekolah dalam menentukan iklim dan budaya sekolah sangat erat kaitannya dengan kemampuan mengajar guru dan motivasi belajar siswa bahkan sangat berkaitan dengan mutu lulusan. Dapat dikatakan bahwa kualitas mutu lulusan suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen pengelolaan sekolah. Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut : 1) Memiliki visi dan pandangan yang jelas dan tegas dalam kepemimpinan sekolah. 5) Kepala sekolah mempunyai perhatian terhadap permasalahan belajar siswa. 2) Kepala sekolah sangat perhatian terhadap kemajuan belajar siswa. guru dan staf sekolah. PIKIR.

Selain itu kepemimpinan kepala sekolah akan sangat menentukan kualitas iklim sekolah yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar dan kerja sama antar aparat sekolah yang baik sehingga penyelenggaraan pendidikan di sekolah bisa berhasil.  Metode pembelajaran Spider Web. Mengembangkan manajemen sekolah melalui proses pengorganisasian. 3. Buat proyek lain untuk mempromosikan konsep belajar sepanjang hayat:  Sebuah sekolah/kelas tanpa dinding sehingga para murid bisa belajar dari berbagai pengalaman.Kepala sekolah melibatkan para siswa. e. terbuka dalam memimpin sekolah. Kembangkan konsep kecerdasan ganda pada setiap pembelajaran dengan melibatkan panca indera supaya pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik siswa. d. b) Sebuah penerbit multimedia. guru dan orangtua siswa dalam menyusun peraturan-peraturan sekolah. PIKIR. Mengembangkan perencanaan pembelajaran yang mendukung sekolah berbasis masyarakat. Kerja sama dengan orangtua dan masyarakat baik dalam merespon minat dan kebutuhan masyarakat maupun untuk meningkatkan peran serta masyarakat di sekolah. DZIKIR. Mengembangkan pola perilaku dan tindakan yang didasari oleh integritas dan etika dalam bersikap. Dirikan sebuah pelabuhan ilmu sebagai pusat teknologi informasi dengan tiga cabang: a) Sebuah pusat produksi dan komunikasi multimedia. IKHTIAR h) 52 . khususnya dibidang materi belajar. 4. khususnya bakat dan kemampuannya yang unik melalui penglihatan. pendengaran dan perasaannya. Kepala sekolah bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan peningkatan mutu program pengajaran. c) Sebuah pusat pembelajaran bagi guru dan kalangan lain yang berurusan dengan siswa. c. efesien dan penciptaan lingkungan belajar yang efektif. Ciptakan pusat kecerdasan ganda untuk melayani setiap gaya belajar. pelaksanaan dan penggunaan berbagai sumber daya yang tepat. j) Kepala sekolah sangat tegas terhadap peraturan-peraturan sekolah (disiplin) dan tanpa pandang bulu. a.  Sebuah pusat multimedia yang berfungsi sebagai sumber daya keluarga dan masyarakat. memelihara dan memungkinkan terciptanya budaya sekolah dan program pembelajaran yang kondusif bagi pengajaran siswa dan mengembangkan kompetensi staf. Menghubungkan satu pelajaran dengan pelajaran yang lain. b. Kepala sekolah bertugas untuk memperbaiki manajemen sekolah serta bertanggung jawab dalam pelaksanaan keputusan manajemen dan kebijakan sekolah melalui upaya-upaya berikut. 5. Berikut ini dikemukakan beberapa saran mengenai model kepemimpinan kepala sekolah dalam manciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif sebagai berikut: 1. dengan penekanan khusus pada teknologi baru. Mengatur. Mengembangkan kepemimpinan administratif. i) Kepala sekolah menunjukkan kepribadian yang menyenangkan. 2. Bangun jaringan informasi rumah-sekolah-multimedia yang bersifat hangat dan personal. namun tetap bersikap terbuka untuk kritik dan saran 1.

(Tinggi) Kemampu an Kemampuan Rendah Kemampuan Rendah Kemauan Rendah Kemauan Tinggi (Rendah) (M1) (M2) (Rendah) Kemauan (Tinggi) Gambar 19. 1982:152) Dari gambar tersebut. melainkan tergantung pada situasi yang menyertainya.5 Gaya Kepemimpinan dan Kematangan Bawahan (Hersey dan Blancard. Kombinasi kedua dimensi ini melahirkan empat tipe kematangan manusia sebagaimana digambarkan pada kuadran berikut. Situasi itu antara lain tingkat kematangan para bawahan. berorientasi tugas atau berorientasi manusia. G1 c.4 Tingkat Kematangan Manusia (Hersey dan Blancard. Menurut teori kepemimpinan situasional.1 berikut. Gaya kepemimpinan situasional didasarkan pada anggapan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik. M2. Tingkat kematangan seseorang dapat dilihat dari dua dimensi. Kemampuan Tinggi Kemauan Rendah (M3) Kemampuan Tinggi Kemauan Tinggi (M4) Gaya Kepemimpinan yang Tepat b. Beban kepemimpinan berkaitan dengan sejauhmana tanggung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah terhadap semua aspek operasi sekolah. 1982:152) Tingkat Kematangan M1 a. 1994). Tabel 19. Partisipatif (Perilaku tugas rendah dan hubungan manusia tinggi) 53 PIKIR. Dimensi pertama adalah kemampuan (keterampilan dan pengetahuan) dan dimensi kedua adalah kemauan (tanggung jawab dan komitmen). Adapun gaya kepemimpinan yang dikembangkan tergantung pada kondisi operasional sekolah. Hal ini digambarkan pada tabel 7. Proses kepemimpinan mencakup dua dimensi penting. 1993). Kematangan Rendah (Tidak mampu dan tidak mau) M2 Kematangan RendahSedang (Tidak mampu tetapi mau) M3 f. Direktif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia rendah) G2 e. demokratis. kepemimpinan juga dapat dilihat dari prosesnya. Kematangan Sedang-Tinggi (Mampu tetapi tidak mau) d. tingkat kematangan manusia digolongkan ke dalam empat kategori: M1. DZIKIR. yaitu beban kepemimpinan dan bentuk atau gaya kepemimpinan (Townsend. dan M4. M3. Beberapa penelitian yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan otokratik dan gaya yang terlalu demokratik kurang efektif dibandingkan dengan gaya kepemimpinan situasional (Mortimore. hierakis. gaya kepemimpinan yang tepat bervariasi menurut tingkat kematangan tersebut. IKHTIAR .Selain beberapa cara di atas yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah. Konsultatif (Perilaku tugas tinggi dan hubungan manusia tinggi) G3 g. Bentuk kepemimpinan berkaitan dengan gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah. apakah otoritarian.

Aspek-aspek administrasi yang dimaksud misalnya. bawahan dengan tingkat kematangan sedang-tinggi (M3) lebih cocok dipimpin dengan gaya partisipatif. kumpulan soal. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yang masih kurang dan diupayakan untuk diperbaiki. tetapi juga pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran yeng efektif. Biasanya. dan (6) lingkungan sekolah. Efektivitas sebuah proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) siswa. Dari tabel 2 tersebut dijelaskan bahwa bawahan yang kematangannya rendah (M1) lebih cocok dipimpin dengan gaya direktif. kegiatan yang sudah baik diupayakan untuk dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. (4) sarana dan prasarana. Kegiatan supervisi adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan di sekolah. administrasi penilaian. bawahan dengan tingkat kematangannya rendahsedang (M2) lebih cocok dipimpin dengan gaya konsultatif. Kegiatan supervisi tidak hanya terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas saja. kepala sekolah yang efektif dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah melakukan hal-hal berikut. 1. Keterlibatan mereka menjadi sangat penting karena: (1) kepala sekolah sebagai pimpinan dapat menerima masukan dari berbagai sudut pandang. (2) dapat meningkatkan kualitas keputusan. Mekanisme pengambilan keputusan partisipatif dapat dilakukan secara formal maupun informal. lingkungan personil. lingkungan sosial. kurikulum.h. sedangkan bawahan dengan tingkat kematangan tinggi (M4) lebih cocok dipimpin dengan gaya delegatif. dan lingkungan kerja. Di samping kecenderungan mempraktekkan gaya kepemimpinan situasional. (3). Melakukan kegiatan supervisi. Selain itu. Demikian pula. M4 Kematangan Tinggi (Mampu dan mau) G4 Delegatif (Perilaku tugas rendah dan perilaku hubungan rendah) i. dan (4) dapat mengikat komitmen mereka dalam melaksanakan dan mengawasi keputusan. khususnya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas. kepala sekolah juga perlu melibatkan pengurus komite sekolah bahkan orangtua dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pengembangan sekolah. ketersediaan administrasi kesiswaan yang rapi dan informatif. DZIKIR. PIKIR. Secara formal dilakukan melalui rapat-rapat sekolah. dan lain sebagainya. (2) guru. khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah perlu melibatkan para guru dan staf. Faktorfaktor inilah yang menjadi ruang lingkup kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah. maka supervisi dilaksanakan. sedangkan secara informal dilakukan melalui pertemuan-pertemuan insidentil seperti arisan. 2. IKHTIAR 54 . (3) dapat memberikan penghargaan kepada guru dan staf atas pendapat-pendapat mereka. Melakukan pengambilan keputusan partisipatif Keputusan penting. Lingkungan sekolah dibagi ke dalam empat aspek seperti lingkungan fisik. dan lain-lain. olahraga. Kapan diperlukan dan dirasakan perlunya peningkatan. Waktu pelaksanaan supervisi kadang-kadang tidak perlu dirancang waktunya. namun perlu dilakukan secara berkesinambungan.

Diskusi diharapkan menghasilkan diagnosis pemecahan dan secara bersama mengupayakan tindak lanjut untuk memperbaikinya. beberapa indikator kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dikemukakan berikut ini. guru. d Contoh lembar kegiatan supervisi dapat dilihat pada lampiran kegiatan supervisi yang terdapat di bagian akhir dari bab ini.Beberapa cara yang dapat digunakan oleh kepala sekolah dalam melakukan kegiatan supervisi budaya dan iklim sekolah adalah: a Kepala sekolah melakukan kunjungan-kunjungan kelas untuk mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan budaya serta iklim sekolah yang tercipta. pengelolaan kelas maupun materi pembelajaran. yang perlu dikembangkan dan didayagunakan. Di sekolah terdapat sejumlah tenaga profesional. a Kepala sekolah menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbuka dengan para guru. Baik pelanggan dari dalam sekolah. tenaga administrasi sedangkan pelanggan dari luar sekolah meliputi orangtua. b Kepala sekolah menekankan kepada guru dan staf untuk memenuhi normanorma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi. Memperhatikan kebutuhan pelanggan Osborne dan Plastrik (1997) mengembangkan gagasan mengenai perlunya organisasi pemerintah memiliki strategi pelanggan dalam meningkatkan akuntabilitasnya. c Kepala sekolah memantau kemajuan belajar siswa melalui guru sesering mungkin berdasarkan pada data prestasi belajarnya. Beberapa sekolah yang sukses menerapkan strategi pemberdayaan melalui berbagai program-program pengembangan profesional guru. kemauan kepala sekolah mendelegasikan sebagian pekerjaan juga merupakan salah satu strategi yang banyak terbukti mendorong semangat tim di sekolah. Memberdayakan warga sekolah Strategi pemberdayaan merupakan inspirasi banyak organisasi dewasa ini. Selain itu. perlu mendapat kepuasan. 3. Definisi tentang pelanggan meliputi pelanggan dari dalam sekolah dan dari luar sekolah. Karena itu penerapan strategi pelanggan akan memaksa sekolah dalam memperbaiki kinerjanya. c Kepala sekolah bersama guru mendiskusikan cara-cara pemecahan masalah guru. Kunjungan kelas dapat dilakukan secara tiba-tiba atau atas kesepakatan antara kepala sekolah dan guru. PIKIR. Pelanggan dari dalam sekolah meliputi: siswa. semakin akuntabel suatu lembaga. Identifikasi kebutuhan pelanggan ini dapat dilakukan melalui analisis SWOT. Dalam situasi yang lain. IKHTIAR 55 . Semakin puas pelanggan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan. pemerintah dan pihak terkait lainnya. staf dan siswa. DZIKIR. kepala sekolah melibatkan stafnya dalam berbagai pengambilan keputusan penting. Akuntabilitas berarti sejauhmana suatu lembaga bertanggung jawab kepada pelanggan produk atau jasa yang dihasilkan. terlebih dari luar sekolah. b Kepala sekolah membantu guru dalam mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajaran dan faktor penciptaan budaya dan iklim belajar siswa. Di samping keempat karakteristik tersebut. masyarakat. 4. khususnya guru. Kesulitan-kesulitan itu dapat berhubungan dengan strategi pembelajaran. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia dalam organisasi merupakan aset yang perlu dipelihara dan dikembangkan bagi peningkatan organisasi. Karena itu kepala sekolah sebagai manajer perlu mengembangkan cara-cara baru dalam memenuhi kepuasan pelanggannya.

r Mengantisipasi masa depan dengan membaca masa sekarang s Secara konstan mempelajari organisasi dari dalam dan luar organisasi dan mengidentifikasi hubungan-hubungan yang lemah dalam rangkaian seluruh kegiatan yang ada serta memperbaikinya. guru. bukan hanya secara nasional dan lokal dalam menerima dan mengelola setiap informasi dan kegiatan yang ada dalam oraganisasi. Kepala sekolah yang membagi tugas secara adil kepada guru. 1997): a. u Proaktif. akuntabel dan profesional khususnya dalam pengelolaan keuangan. t Berfikir secara global. Kepala sekolah yang tulus. i Kepala sekolah transparan. staf dan siswa melakukan inovasi di sekolah. staf. Kepala sekolah yang terampil dan tertib e. dan orangtua untuk berkonsultasi atau berdiskusi secara pribadi mengenai permasalahan yang mereka hadapi berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran di sekolah.Kepala sekolah menyediakan dana yang diperlukan untuk menjamin pelaksanaan program-program pembelajaran sesuai dengan prioritasprioritas program yang telah ditentukan. siswa. p Mengubah organisasi dari piramid yang kaku menjadi lingkaran yang lentur. DZIKIR. o Membentuk budaya organisasi agar kreatifitas otonom dan proses belajar secara berkelanjutan menggunakan pertumbuhan jangka panjang sebagai sasaran. b. Di samping memenuhi indikator-indikator tersebut. n Kepala sekolah menciptakan lingkungan yang fleksibel yang di dalamnya orang-orang tidak hanya dinilai dari. senang dengan perbedaan dan ketikpastian sehingga menumbuhkan kreatifitas dan inovatif guru dalam proses pembelajaran. j Kepala sekolah mendorong guru. Kepala sekolah yang berkemampuan dan efisien f. c. di mana jaringan-jaringan berkembang dari unit-unit otonom. Kepala sekolah yang memahami perasaan guru d. tetapi dianjurkan untuk mengembangkan potensi mereka secara penuh. kompetensi kepemimpinan yang diperlukan di sekolah tercermin dari beberapa karakteristik kepemimpinan berikut ini (Tiong. IKHTIAR d 56 . Kepala sekolah yang memiliki dedikasi dan rajin g. PIKIR. k Kepala sekolah membangun kelompok kerja aktif. bukan keuntungan jangka pendek. eksperimentasi dan menanggung resiko dari perubahan yang terjadi. Kepala sekolah yang adil dan tegas dalam mengambil keputusan. q Menganjurkan inovasi. dalam penelitian sekolah efektif. m Kepala sekolah mengidentifikasi misi organisasi supaya dapat menyusun tugas-tugas dan memberitahukan kepada seluruh karyawan. orangtua dan masyarakat. f Kepala sekolah peka terhadap kebutuhan siswa. h Ruang kepala sekolah terbuka bagi guru. l Kepala sekolah memiliki komitmen yang jelas terhadap penjaminan mutu sekolah. e Kepala Sekolah memberikan dukungan pada guru untuk menegakkan kedisiplinan siswa. g Kepala sekolah menunjukkan sikap dan perilaku yang dapat menjadi anutan atau model bagi guru dan siswa.

Penanaman budaya prestasi pada siswa 11. IKHTIAR 57 . siswa dan orangtua d Pendengar yang baik e Dapat menyesuaikan diri dengan perubahan f Menyediakan waktu bagi siswa g Konsisten dan jujur h Memiliki selera humor i Mengekspresikan perasaan j Berbagi tanggung jawab dan kekuasaan k Terampil dalam hubungan manusia l Mendorong individu dan kelompok untuk mengambil alih kepemimpinan LAMPIRAN (CONTOH) LEMBAR KEGIATAN SUPERVISI BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH Nama Guru/Kelas : / Semester / Tahun Ajaran: Mata Pelajaran : Tanggal : PraktekBentuk Rencana praktek yang Permasalahan Komponen Aspek yang Diobservasi Tindak baik yang telah dan Kendala Lanjut dilakukan yang Dialami 1. Dsb. Dalam dokumen The School Leadership Context beberapa karakteristik kepemimpinan kepala sekolah yang baik menurut guru adalah: a Memiliki komitmen b Memiliki energi c Diterima oleh guru. Pemilihan strategi yang bervariasi 6. Dsb 4. Cara guru Hubungan berkomunikasi sosial dengan dengan siswa siswa 8. Pengaturan kelas Pengelolaan 2. 7. Kesesuaian strategi Strategi pembelajaran dalam pembelajaran menciptakan budaya belajar 5. Dsb.h. Poster afirmasi Kelas 3. Kepala sekolah yang percaya diri. staf. Teknik pengaturan kelas yang memudahkan berkomunikasi 9. Supervisor: (Nama dan tandatang PIKIR. Dsb Budaya kelas 10. DZIKIR.

1998. Juran. Too soon to cheer? Synthesis of research on effective schools. Effective school project and school-based management. Drs. Educational Leadership. Organization Behavior 10th Edition. 2002. Jakarta Samdal. IKHTIAR 58 . Robins. Fisher & Fraser. C. Arcan. Phi Delta Kappan. Y. School Effectiveness and School Improvement. Purkey. Pustaka LP3ES. School. 394-397. D. Mandar Maju. Studies in Educational Evaluation. 296-320. 1997. Jakarta. Kamus manajemen. Diterbitkan Kementrian Pendayagunaan Budaya Kerja Aparatur Negara RI. 10(3). Prenhallindo. Inc. Manajemen Jilid I (Edisi bahasa Indonesia). Toward a theory of school effectiveness and leadership. F. Jakarta Van de Grift. (SET research information for teachers No. Millan Inc. Victoria: Australian Council for Educational Research. Manajemen Jilid II (Edisi bahasa Indonesia). Bandung Anonim 2. dan Teddlie. 1999. 1992. Moedjiarto. Prenhallindo. Teachers' professional development. 1990. 2006. School Effectiveness and School Improvement. Nelson 2007. & Mary Coulter. 1990. Asas-asas Perilaku Organisasi. Melbourne: Australian Council for Educational Research. Houtveen. School Effectiveness and School Improvement. Desain & Aplikasi). School Effectiveness and School Improvement. PT. School Effectiveness and School Improvement. Paul dan Ken Blancher. 1997. Educational Leadership. 4(4):290-310. 1992. their satisfaction with school and perceived academic achievement: An international study. DZIKIR. Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara. Wold. 2007. Anonim 3. Middle school climate: An empirical assessment of organisational health and studentc achievement.2). & Vermeulen. Mc. The McGraw-Hill Companies. Supriyanto. Tidak diterbitkan: Malang: Fakultas Pasca Sarjana Intitut Keguruan dan llmu Pendidikan Malang. 4(2):85-110. 1001 Cara Untuk Memberikan Imbalan Kepada Karyawan. & Smith. Hughes. 3(4):242-257. Educational Administration Quarterly. Persepsi terhadap Karakteristik yang Membedakan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Aki:zdemik Tinggi dan Sekolah Menengah Atas dengan Prestasi Akademik Rendah di Surabaya. 1985. . 1991. 2002. Taylor. Karisma Publishing Group. Batam Center. 1974. 1993. Edisi keempat. Batam Center. Kebudayaan Mentaliter dan Pemberdayaan. School effectiveness and the management of effective learning and teaching. Mandar Maju. 1999. Relationship between students' perceptions of school environment. School Climate. Gramedia. 1993. P. Instructional climate in Dutch secondary education. Papanastasiou. Jakarta Luthans. 1994. 1990. 2006.DAFTAR RUJUKAN Anonim 1. Measuring school climate: Let me count the ways. Cv. Jakarta Robins. Erlangga. Jakarta Arcaro. Jakarta Cheng. 1001 Cara Untuk Menjadikan Karyawan Bersemangat. Slater. Januari. V. Jakarta. Pendidikan Berbasis Mutu. Manajemen Perilaku Organisasi : Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. 2005. Freiberg. Disertasi. On Leadeship Of Quality Free Press. PT. Pustaka Pelajar. Hoy. Karisma Publishing Group. & Bronis. Alih Bahasa Agus Darma. Melbourne. Bandung Mortimore. Moekijat. O. & Hannum. 1990. dan Levine. 1999. PIKIR. Budaya Kerja Perbankan (Jalan Lurus Menuju Integritas ) Sambutan Burhanuddin Abdullah. 1989. teaching and family influence on student attitudes toward science: Based on TIMSS data for Cyprus. Profiles of organizational culture and effective schools. 1991. B. USA Koentjoroningrat. Teori Organisasi ( Struktur.

Routledge. J. London and New York. dan Walsh. Effecting Schooling For the CommUllity. T. A systematic test of the effective school model. Witte. DZIKIR. 1994. 12(2):188-212. J. D. IKHTIAR 59 . F.Townsend. 1990. PIKIR. Educational Evaluation and Policy Analysis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful