P. 1
Luka Bakar

Luka Bakar

|Views: 286|Likes:
Published by Yudhi Aulia
luka bakar
luka bakar

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Yudhi Aulia on Apr 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/08/2015

pdf

text

original

Luka bakar

Introduction
Dr. M. Jailani SpBP-RE(K) FK Unsyiah-FK USU/ RSUDZA-RSUPHAM

Pendahuluan.
Luka bakar merupakan suatu jenis cedera paling berat dibandingkan dengan jenis cedera lainnya; dengan kompleksitas permasalahan dan angka mortalitas maupun morbiditas yang tinggi. Menurut data The World Health Organization (WHO) tahun 2000, angka mortalitas akibat luka bakar sangat bervariasi dengan perbedaan jelas terlihat di antara negara-negara berpendapatan tinggi dan berpendapatan rendah-sedang Upaya menekan tingginya mortalitas akibat luka bakar ini dilakukan dengan mengadakan pendekatan yang berorientasi masalah dan berusaha mengatasi setiap masalah yang ada. Untuk mengatasinya, diperlukan strategi dalam penatalaksanaan melalui pendekatan multidisipliner.

Permasalahan di seputar luka bakar
Kompleksitas permasalahan pada luka bakar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain 1) faktor host (fisik, kebiasaan dan faktor premorbid sebelum cedera), 2) faktor cedera (berat-ringan, adanya cedera lain, multi-trauma) dan 3) faktor tatalaksana, baik tatalaksana pra rumah sakit maupun di rumah sakit dimana penderita ditolong. Kondisi-kondisi host yang mempengaruhi berat-ringannya cedera antara lain usia (bayi, balita dan orang tua di atas usia 50 tahun memiliki prognosis buruk), status gizi (obesitas, malnutrisi) dan gender khususnya dikaitkan dengan kehamilan oleh sebab yang tidak diketahui. Faktor kebiasaan seperti merokok, jarang berolah raga sangat berpengaruh buruk terhadap prognosis. Adanya beberapa kondisi premorbid seperti penyakit paru dan sistim pernafasan, kelainan endokrin seperti diabetes melitus dan gangguan tiroid, penyakit hati, penyakit ginjal, penyakit jantung dan kelainan sistim pencernaan akan memperburuk prognosis. Berat-ringan luka bakar ditentukan oleh penyebab, luas luka bakar, kedalaman luka bakar dan permasalahan yang ada. Luka bakar yang disebabkan oleh api lebih berat dibandingkan air panas, tapi lebih ringan dibandingkan luka bakar listrik dan kimia.

Page

1

Luka bakar dengan derajat tiga <10% pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka. Demikian pula bila disertai cedera lain seperti fraktur iga maupun tulang ekstremitas/lainnya akibat terjatuh setelah proses kombusio. tangan. 3 Luka bakar ringan a. Derajat II-III >20% pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun b. telinga. mekanisme bernafas (breathing mechanism) dan gangguan sirkulasi. kaki dan Terdapat perbedaan kriteria berat-ringan luka bakar menurut kategori tahun 2000 dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebelumnya. 2 Page Cedera inhalasi timbul akibat paparan sumber (terutama sisa pembakaran yang tidak sempurna) khususnya pada luka bakar mengenai daerah muka dan leher. Luka bakar dengan luas 15-25% pada dewasa. Luka bakar pada muka. Luka bakar dengan luas <2% pada segala usia. Luka bakar dengan luas <15% pada dewasa b. tidak mengenai muka. Luka bakar dengan luas <10% pada anak dan usia lanjut c. Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka bakar e. tangan. Penatalaksanaan awal sangat berperan dalam menentukan prognosis dan menjadi kunci dari permasalahan yang timbul kemudian. kaki dan perineum d.Klasifikasi luka bakar Berat / ringan luka bakar. Adanya cedera lain seperti ledakan atau hentakan yang menyebabkan kerusakan organ dalaman ( blast injury) memperburuk prognosis. Derajat II-III >25% pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama. tangan. kaki dan perineum. menurut American Burn Association (2000) yang diadopsi dari American College of Surgeon 1 Luka bakar berat / kritis (major burn) a. Luka bakar listrik tegangan tinggi f. Luka bakar dengan luas 10-20% pada anak usia <10 tahun atau dewasa >40 tahun. Hal ini menandakan lebih kritisnya konsensus dalam asosiasi merinci permasalahan yang terjadi di seputar luka bakar. Masalah pada fase pertama Pada fase pertama (fase awal. perineum. saat ini dan sebagainya. dengan luka bakar derajat tiga kurang dari 10% b. c. umumnya pada kecelakaan yang terjadi di . usia sebelumnya > 60 tahun. dengan luka bakar derajat tiga kurang dari 10% c. misalnya untuk kriteria luka bakar berat sebelumnya mengacu pada luas permukaan tubuh >40%. Pasien-pasien dengan risiko tinggi 2 Luka bakar sedang (moderate burn) a. fase akut atau fase syok) permasalahan yang dijumpai adalah gangguan jalan nafas (airway). saat ini >25%. Disertai cedera lainnya g.

2) infeksi luka dan 3) tindakan perawatan. Permasalahan akibat gangguan sirkulasi ini demikian kompleks dan menjadi faktor utama penyebab timbulnya Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS). SIRS. b. septikemia) adalah SIRS yang disebabkan infeksi. cast dan mucus-plug. menyebabkan respons sistemik. sepsis dan MODS adalah masalah yang merupakan bencana. kondisi ini dikenal sebagai syok. Akibat cedera ini. 3 . proses iskemia dan pankreatitis. eksotoksin/enterotoksin dari bakteri. Kedua jenis gangguan ini (gangguan jalan nafas dan gangguan mekanisme bernafas) menimbulkan distres pernafasan dan menyebabkan berkurangnya suplai oksigen ke jaringan. antigen virus/ jamur). yang menyebabkan obstruksi jalan nafas atau pembentukan sloughing mucosa. Cedera termis menyebabkan berbagai kerusakan pada jaringan. Angka mortalitas akibat sindrom ini sangat tinggi (>80%). dikaitkan dengan hipoperfusi splangnikus dan eksagerasi stres metabolisme dengan konsep lean body mass yang memicu arginine-nitric oxyde pathway. Eskar pada dinding toraks menyebabkan gangguan pengembangan rongga toraks disertai penurunan compliance paru. sepsis dan Multi-system Organ Dysfunction (MODS). Sepsis terjadi karena: 1) translokasi bakteri. Pada daerah kontak langsung. endotoksin dari bakteri gram negatif yang lisis. infeksi (nidus infeksi. Berbagai materi rumah tangga seperti plastik. SIRS SIRS merupakan eksagerasi respons klinis terhadap cedera berat. terjadi gangguan permeabilitas kapilar diikuti ekstrapasasi cairan intravaskular ke jaringan interstisiel (edema) dan penurunan volume intravaskular. reaksi autoimun dan sirosis. Pada fase pasca syok (fase kedua). Masalah pada fase kedua a. terjadi koagulasi protein yang berlanjut dengan nekrosis jaringan (zona nekrosis) dikelilingi oleh zona statis (tidak ada sirkulasi) dan zona hiperemia (dilatasi kompensatorik berupa proses inflamasi akut). Bila mencakup area luas. merupakan hal yang umum terjadi pada luka bakar maupun cedera berat lainnya. berlanjut dengan disfungsi organ multi-sistem dan berakhir dengan kematian. Sepsis Page Sepsis (bakteremia.ruang tertutup dimana penderita tidak sadarkan diri. kontak mukosa saluran pernafasan dengan zat / bahan ini menyebabkan proses inflamasi akut dalam berbagai derajat (mulai dari hiperemia mukosa sampai nekrotik-hemoragik). Keduanya (hipovolemia intravaskular dan edema interstisiel) mengakibatkan gangguan perfusi sehingga metabolisme sel terganggu dan siklus Kreb tidak berlangsung sebagaimana mestinya. karpet atau bahan lainnya menghasilkan produk sisa pembakaran yang bersifat toksik (toxic fumes).

kaya akan protein dan lembab merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroba dan tidak berfungsi sebagai barrier sebagaimana fungsi kulit (epitel) yang utuh. permukaan luka umumnya berada dalam keadaan steril. 3) pemberian antibiotika baik yang bekerja lokal maupun sistemik. Perubahan suasana dalam kumen saluran cerna disebabkan 1) dipuasakan. Infeksi dan sepsis luka. Oleh karenanya. Lebih lanjut. Bentuk cedera ini menyebabkan kerusakan kulit dan jaringan dibawahnya. tidak memungkinkan berlangsungnya migrasi sel-sel imun dan sulit ditembus oleh antibiotika sistemik. Beberapa saat setelah cedera termis. berupa koagulasi protein (eskar) dengan bagian nekrosis yang dikelilingi oleh proses inflamasi dan hiperemia. Pada keadaan ini terjadi ketidakmampuan sel-sel fagositik dan aktifitas bakterisidal karena berbagai sebab. khususnya yang ditujukan untuk bakteri anaerob. Page 4 . lipase dan elastase yang memungkinkan mereka mengalami proliferasi dan penetrasi ke jaringan sub-eskar. 3) bakteri komensal yang merupakan flora normal usus berubah menjadi oportunistik. eikosanoid) yang sangat bermakna pada luka bakar (sebagaimana dijelaskan sebelumnya). Penurunan aktivitas T-cell. invasi ke jaringan vital berlangsung. Derajat imunosupresi sebanding dengan ketinggian suhu dan lama kontak dengan sumber panas. banyak fakta menunjukan adanya peningkatan mediator pro-inflamasi (sitokin. Selain disebabkan gangguan sirkulasi di daerah tersebut. Translokasi bakteri. Dengan membasmi bakteri anaerob. zat-zat toksik yang berasal dari eskar akan mempengaruhi (pengaruh negatif) respon imun. apendises kulit lain maupun dari lingkungan. semakin banyak toksin dilepas. Bakteri gram-negatif biasanya memiliki motilitas lebih besar. Pada luka bakar (dan cedera berat lainnya) terjadi peningkatan toleransi makrofag terhadap lipopolisakarida (LPS) dari mikroba yang menginvasi dan berubah menjadi anergik. resisten terhadap berbagai macam antibiotika dan mengeluarkan kolagenase. Meski banyak kemajuan dicapai dalam tatalaksana lokal luka (terutama penggunaan antibiotika). namun dalam 48 jam biasanya terdapat populasi bakteri gram-positif yang umumnya berasal dari folikel rambut. yaitu 1) disrupsi mukosa saluran cerna yang terjadi pada syok (dimana fungsi mukosa sebagai barier berkurang. keseimbangan kuman terganggu. 2) pemberian antasida dan atau antagonis reseptor H2 yang menyebabkan suasana lambung bersifat alkali (asam lambung berperan sebagai bakterisid. masih sering dijumpai komplikasi infeksi dan infeksi sekunder (infeksi jamur dsb) yang kerap dijumpai pada luka bakar luas yang memperoleh terapi antibiotika.1. penurunan level sitokin dan level sitim complement menyebabkan kelemahan mekanisme pertahanan tubuh. berat-ringan suatu bentuk trauma berhubungan langsung dengan derajat imunosupresi yang terjadi. Cedera termis berdampak berat pada sistem imun (baik selular maupun humoral) host. 2. dengan berkurangnya keasaman lambung maka efek bakterisid berkurang bahkan hilang). dominasi bakteri aerob yang lebih virulen meningkatkan potensi terjadinya proses translokasi. Cedera termis menyebabkan kerusakan pada kulit dan jaringan dibawahnya. Eskar yang merupakan jaringan avaskular. protease. Bakteri gram-negatif yang lebih virulen biasanya menggantikan bakteri gram-positif dalam 5-7 hari.dan 2) perubahan suasana dalam lumen saluran cerna. Dengan semakin banyak bakteri mati. Kunci permasalahan pada proses ini tentunya terletak pada proses inflamasi lokal yang kemudian mengundang suatu bentuk respon sistemik (anti inflamasi). Translokasi bakteri terjadi karena beberapa hal. Di saat daya tahan host menurun. semakin besar kemungkinan terjadi toksemia.

MODS MODS adalah fase akhir perjalanan SIRS. dalam rangka penatalakanaan. istilah MODS yang masih bersifat reversibel menjadi acuan dalam penatalaksanaan. Full-thickness burn (derajat dua dalam dan derajat tiga). Oleh karenanya. Insidens MODS pada kasuskasus cedera berkisar antara >11% sampai dengan > 30% dan menjadi penyebab kematian yang bervariasi antara > 50% sampai dengan 100%. Hal ini terjadi karena gangguan perfusi ke organ. secara umum MODS menyebabkan CHAOS (Cardiovascular compromized. Kegagalan skin graft. tidak ada sesuatu yang dapat dikerjakan pada fase terminal ini. Sebelumnya MODS disebut multiple organ failure (MOF) yang mencerminkan fase atau tahap akhir dari gambaran kegagalan itu sendiri. dan 6) bercak kehitaman di jaringan yang tidak mengalami cedera termis (ektima gangrenosum). antara lain: — — — — — — Faktor predisposisi (faktor host dan premorbid). Infeksi oleh mikroba dengan virulensi tinggi dan resisten terhadap antibiotika. 3) konversi luka. bahwa dengan melakukan netralisasi mediator tertentu. api. Pada kasus luka bakar secara kasar dijumpai 30% kasus mengalami MODS.Berdasarkan konsep ini. c. 4) meluasnya eritema di sekitar luka. fungsi organ-organ sistemik terganggu dan berakhir dengan kegagalan menjalankan fungsi. Luka dengan proses penyembuhan berkepanjangan: luka bakar karena listrik. Organ failure. Page 5 . 2) separasi eskar berlangsung cepat. Infeksi luka dan sepsis umumnya dijumpai / terjadi pada kasus-kasus yang memiliki faktor risiko dan predisposisi. immune Suppression). kekacauan sistim metabolisme dan peran destruktif beberapa mediator pro-inflamasi. pasien dapat terselamatkan dari ancaman severe sepsis. sementara respon anti inflamasi sistemik yang timbul berperan untuk mengatasi/mencegah jangan sampai mediator pro-inflamasi yang beredar di sirkulasi (dihasilkan oleh jaringan rusak/iskemik) menyebabkan kerusakan pada jaringan (lain) yang tidak mengalami cedera (cedera reperfusi). Hal ini dapat dibuktikan. Manifestasi klinik Tergantung organ terkena. Tanda-tanda lokal klinis yang dapat dijumpai antara lain: 1) bercak kecoklatan atau kehitaman. Penatalaksanaan awal luka yang tidak tepat. Luka bakar dengan luas > 30%. Homeostasis disturbance. kimia. proses inflamasi lokal sangat diperlukan untuk mengendalikan invasi mikroba di tempat terjadinya cedera (lokal). 5) bercak hemoragik pada lapisan sub-eskar. Apoptosis.

Saat ini. diagnosis MODS ditegakkan berdasarkan beberapa parameter seperti diajukan oleh Knauss dkk. . ventricular fibrilation. parut kontraktur) yang merupakan morbiditas dengan derajat disabilitas tinggi sehingga berpengaruh pada kehidupan psikososial Prosedur lengkap Page 6 Saat penderita datang dilakukan penilaian dalamnya luka bakar dan luasnya luka bakar. atau keduanya  Serum pH <7. maka ia dihadapkan pada permasalahan penyembuhan luka yang dikaitkan dengan proses penutupan luka dan parut yang timbul (parut hipertrofik.24 dengan PaCO2 <49mmHg b) Respiratory failure  Frekuensi pernafasan < 5 or > 49 kali per menit  PaCO2 >50mmHg  AaDO2 >350mmHg (AaDO2 = 713 FiO2 – PaCO2 – PaO2)  Kebutuhan penggunaan ventilator sebelum hari keempat saat diagnosis organ failure ditegakkan (catatan: kriteria organ failure sebelum 72 jam tidak dapat diterima) c) Renal failure  Produksi urin < 479ml/24jam or <159ml/8 jam  Blood Urea Nitrogen >100mg/dl  Serum Creatinine > 3.5mg/dl d) Hematologic failure  Leukosit < 1000/mm3 3  Trombosit < 20. keloid.000 sel/mm  Hematocryte < 20% e) Neurologic failure  Glassgow Coma Scale <6 (without sedation) Masalah pada fase lanjut Bila seorang penderita terhindar dari permasalahan SIRS dan MODS atau berhasil melampauinya (survive). yaitu bila dijumpai satu atau lebih kriteria sebagai berikut: a) Cardiovascular failure  Frekuensi jantung < 54 kali per menit  Mean Arterial Pressure <49mmHg  Ventricular tachycardia.

sisa-sisa jaringan epitel tinggal sedikit. tidak adalagi elemen epitel kulit. tanpa terbentuk sikatrik.1. Tingkat Klinis Tusukan jarum I II A II B III hiperaemi basah + bulla hiperesthesi hiperestesi basah + bulla + Keputihan hipoesthesi kering + putih + hitam anasthesi 2. Dalamnya luka bakar. Tingkat II B. Sembuh dalam tempo 3-4 minggu dan disertai dengan parut hipertropi. Luka bakar yang lebih dalam sampai ke subkutan dan tulang disebut juga tingat III. Tingkat III: mengenai seluruh ketebalan kulit. Oleh Dupuytren dibagi 6 tingkat. Page 7 Kepala dan leher ……………………………………. Deep. karenanya penyembuhan ( epitelialisasi ) akan mudah dalam 1-2minggu. Tingkat II A. 9% Lengan masng-masing 9%………………………………18% . penyebab dan lamanya kontak dengan kulit. lemak dan folikel rmbut masih banyak. Superfisial.. Dalamnya luka bakar tergantung tingginya panas. Elemen – elemen epitelial yaitu dinding dri kelenjar keringat. mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. Tingkat I : hanya mengenai epidermis. Luasnya luka bakar. Bagian tubuh dibagi atas bagian-bagian 9 atau dikenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace. tetapi sekarang telah umum dan praktis dengan hanya dibagi 3 tingkat atau derajat.

Ringan ( Minor ). Tingkat II kurang 15%. a. Tingkat III pada tangan. 3. Berat ringannya luka bakar. b. d. Antara umur 15 tahun dan 5 tahun. perineum……………………………………… 1% Jumlah 100% Perlu diingat bahwa 1 telapak tangan seorang adalah 1 % dari permukaan tubuhnya.4%. tiap tungkai berselisih 0. American College of Surgeon membagi dalam. Dengan adanya komplikasi pernafasan. b. PROSEDUR PENANGANAN LUKA BAKAR. A. Parah ( Critical ). muka.. Page 8 Saat penderita datang ke IRD setelah kejadian. kadang datang dengan problem pernafasan dan problem kehilangan cairan (shok).18% Tungkai masing-masing 18%……………………………36% Genetalia. Tingkat III 5-10%. 1. c. 2. trauma soft tissue yang luas. untuk tiap tungkai berselisih 0. . Tingkat III 10% atau lebih. kaki. fraktur. Sedang ( Moderate ). Penanganan Fase Akut.Badan depan 18%………………………………………. Definisi. a. Tingkat III kurang 5%.2 %.18% Badan belakang 18%……………………………………. jantung. 3. Tingkat II 15-30% b. Antara umur 5 tahun dan 1 tahun. Tingkat II 30% atau lebih. a. untuk tiap tahun.

dewasa 4ccxkgBBx% luka bakar dalam 24 jam. a. Beri antasida untuk mengurangi kemungkinan strees ulcer pada gaster. Penderita dengan kriteria ringan diizinkan dirawat poliklinis. Lakukan penanganan seperti menangani kasus gawat darurat pada umumnya. Pada anak-anak 2 cc x kgBB x % luka bakar + kebutuhan cairan basal dengan perbandingan kristaloid : koloid = 17 : 3 ( menurut Mincrief ). Olesi luka dengan sulfa siverdiazine cream dan dibalut dengan verban tebal ( perawatan tertutup ). 7. Prosedur lengkap. b. cuci luka dengan savlon 1:30. keloid dan kontraktur. sampai di yakini oedema saluran pernafasan sudah berkurang. 4. Bulla boleh dipecahkan tidak melebihi 20% luas permukaan tubuh. 11. yaitu resusitasi sesuai urutan ABC. 1. Cairan yang dipilih adalah Ringer Laktat berdasarkan rumus Baxter. Orang dewasa >20% dan Anak-anak >15% pada tingkat II dan III harus diberi cairan. 5. Penderita yang perlu dirawat sambil resusitasi dievaluasi lagi bila ada cedera jalan nafas. Tutup dengan verban ( perawatan secara tertutup ). Endotrakheal tube dipertahankan bila ada trauma inhalasi. Beri antibiotik bila ada indikasi dan penderita bisa dipulangkan. !/2 sisanya diberikan dalam 16 jam kemudian. c. bila urine belum keluar cek posisi kateter apakah sudah masuk buli-buli bila sudah lakukan tes manitol ( lihat cara tes manitol ). 9. pasang kateter. Saat penderita dirawat di Burn Unit. Bilas dengan NaCl 0. d. Beri cream silver sulfadiazine diatas luka bakar. bila dalam 2 jam berturut tidak ada urine beri tambahan RL 500 cc dalam 1 jam. problem hipertropik scar. Beri antibiotik bila luka bakar di cuci melebihi 6 jam pasca trauma. pasang CVP bila kriteria berat. ½ nya diberikan 8 jam pertama. 10. 2. Observasi produksi urine setiap jam sebanyak 1 cc/kgBB/jam. observasi urine dan vital sign. 3. Cairan . kriteria berat harus dirawat. Penanganan Fase Lanjut.9%.Penanganan Fase Subakut. Konsultasi ke bagian anastesi untuk bius umum karena cuci luka dilakukan di kamar operasi ( untuk mengurangi nyeri saat cuci luka dan mengurangi kontaminasi ). 8. Page 9 . bila ada lakukan endotrakheal tube. Untuk penderita yang poliklinis dilakukan perawatan secara tertutup di IRD dengan. 6. Saat penderita berobat jalan. problem perawatan luka dan infeksi.

14. Penderita di beri analgetika kuat. Buat status Burn Unit secara lengkap. Posisi nyaman (position of comfort) adalah posisi kontraktur. saat tidur (Night Splinting). biasanya diberikan morfin. Splint yang dipergunakan selalu harus berada ditempatnya dan dilepas hanya pada waktu latihan. posisi ekstensi. Rehabilitasi. 4. penderita dikirim ke Burn Unit untuk perawatan lebih lanjut. Intake tinggi kalori dan protein. 11. RAWAT JALAN. 5. latihan atau kombinasi keduanya. Profilaksis tetanus diberikan toksoid. Antibiotik tidak diberikan secara rutin kecuali ada indikasi. darah lengkap. Persiapkan pasien yang perlu dilakukan eskarektomi ( tingkat IIB ) usahakan dilakukan dalam general anstesi.12. Setelah penderita diperbolehkan poliklinis problem yang mungkin terjadi adalah kontraktur. Setelah ekstubasi ( bila cedera jalan nafas ). memakai collar neck. urine lengkap. sesudah bersih dibilas dengan savlon 1. Untuk luka bakar listrik dan bahan kimia prinsipnya sama dengan luka bakar pada umumnya. 3. Luka akan mengkerut sampai menemukan kekuatan yang melawannya seperti splint. kemudian dipasang kembali. Resusitasi diteruskan dengan observasi produksi urine tiap jam. kultur luka. Jika mengganggu aktifitas dianjurkan pemasangan pada malam hari. hipertropik scar atau keloid. 8. foto thorak bila ada trauma inhalasi. BURN UNIT 1. EKG bila trauma listrik. Pada fase akut yang paling utama adalah monitor produksi urine dan ukur CVP. Mandi atau keramas dengan air kran dan sabun. 6. baik saat pencucian luka ( mandi ) atau rutin bila ada keluhan. analisa gas darah. Periksa. 10. 10 Page Kepala dan leher tidur tidak memakai bantal. Mandi 1 kali setiap hari. 7. 9. 13. Siku ekstensi dengan splint. Skin graft atau skin flap dilakukan pasca eksisi skar ( tingkat 3 ). 2. koloid dapat diberikan 500-1000 ml dalan 1-2 jam setelah 18 jam.30. .

World Health Organization. p. . Tindakan berupa release kontraktur dan skin graft atau flap.21-22. Pelayanan luka bakar di RSUD dr Sutomo.whqlibdoc. 5.who. Burns. 4. Asia Connection. Vol. The University of Washington approach to burns managements. Burn mortality rate.Vol. Critical care of burns patients. 1 Issue 2. Presentasi pada pertemuan Asosiasi Luka Bakar Indonesia (ALBI) 2003. Artz CP. Asia Connection. Bila terjadi kontraktur dilakukan tindakan release bila perlu sebelum terbentuk kontraktur berat sebelum 6 bulan pasca perawatan. Moenadjat Y. 1996. a team approach. 1996Vol. 2. 2004. Moncrief JA.int/publications/924156220X. ekstensi . 1 Issue 2. Tangan posisi fungsional atau posisi lumbrikal plus.pdf.kaki . 1996. ekstensi dan abduksi 15 derajat. Unpublished. The injury chart book: A graphical overview of the global burden injuries. 7. Profil luka bakar RSUPN CM.lutut . 3. p.9.4. Noor S. available in website: http://www. Jakarta. Page 11 . Tungkai bawah-panggul. Department of injuries and violence prevention. Asia Connection. p. Daftar pustaka 1. 1 Issue 2. Major advances in burns care announced at Asia Pasific conference. p. Philadelphia: 1979.Bahu aduksi 90 derajat dan fleksi 30 derajat. Pruitt BA. WB Saunders & Co. Komunikasi pribadi. 6. pergelangan kaki posisi netral atau 900 dipasang foot board atau Dennis Brown splint.5.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->