Hubungan Internasional Kontemporer: Globalitas vs.

Lokalitas

Baiq L.S.W.Wardhani (wardhani@unair.ac.id) Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga

Pendahuluan Bagaimanakah hubungan internasional dewasa ini? Mengapa muncul banyak persoalan baru secara bersamaan, mampukah teori-teori yang telah ada saat ini menjelaskan perubahan-perubahan yang begitu cepat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering dilontarkan oleh berbagai pengamat, pemelajar dan pelaku hubungan internasional. Dinamika internasional yang berlangsung setelah Perang Dingin telah mengubah sifat, bentuk, aktor, struktur, dan isu hubungan internasional tradisional. Pola hubungan baru tersebut mengharuskan peninjauan kembali atas berbagai teori dalam disiplin ilmu ini. Berbagai univesitas berbenah melakukan reorientasi, redifinisi dan reformulasi HI sebagai disiplin ilmu untuk memenuhi tuntutan perubahan jaman. Sebagai suatu disiplin, ilmu hubungan internasional dapat dikatakan sebagai ‘pendatang baru’ setelah ilmu-ilmu humaniora yang lain (politik, hukum, ekonomi, sosiologi) berkembang dengan paradigmanya masing-masing. Keterlambatan perkembangan hubungan internasional sebagai suatu ilmu tidak lepas dari asal-usul kelahiran ilmu ini, yang baru muncul pada pasca perang dunia II. Selama beberapa saat setelah itu hubungan internasional

1

memuaskan dan secara mendasar menjawab kehausan para pengamat. hubungan internasional berkembang dengan paradigmanya sendiri tanpa menghilangkan sifat interdisipliner yang menjadi keunikannya. yang kemuadian dapat dianggap sebagai ‘induk’ ilmu hubungan internasional. Hal ini cukup menjadi bukti mengakarnya 2 . Diperlukan penjelasan-penjelasan baru yang lebih memadai. Bahkan sampai dengan akhir tahun 1990an masih belum terlihat diversifikasi tema pembelajaran HI di tingkat lokal. ‘Ancaman’ globalitas atas pembelajaran HI Kuatnya pandangan kaum realis tentang konsep kedaulatan dan negara berpengaruh dominan atas metodologi pengajaran ilmu HI.masih didominasi oleh ilmu politik. seperti masih dipertanyakannya apakah HI itu dapat dianggap ilmu. bagi hubungan internasional. Namun paradigma yang dicoba dikembangkan oleh para sarjana HI ternyata masih belum dapat menjawab secara memuaskan persoalan-persoalan HI yang berkembang akhir-akhir ini. bukan semata-mata karena faktor teknis. namun berkaitan dengan persoalan epistemologi tersebut. Banyak universitas masih menggabungkan HI dalam jurusan politik. Setelah kurang lebih enam dasawarsa dan telah mengalami berbagai dinamika yang memantapkannya sebagai sebuah disiplin. Makalah ini mencoba mendiskusikan pengaruh globalitas atas persoalanpersoalan pembelajaran ilmu hubungan internasional di tingkat lokal. Penulis berargumen bahwa terjadi kesenjangan yang lebar antara pesatnya perkembangan isu-isu global dengan terbatasnya alat-alat penjelas yang memadai di ranah teoritik yang menyebabkan lulusan seringkali gagap dalam merespon isu-isu kontemporer. Dominasi ini membawa konsekuensi epistemologis. pemelajar dan pelaku HI.

yang secara nyata mengancam keselamatan. staf pengajar yang masih menggunakan perspektif dan ‘paradigma’ lama. seperti Penanganan bersama (collective action) penyakit global seperti HIV/AIDS dan Avian Influenza. teori kebijakan luar negeri. masalah kejahatan lintas negara. masalah kelangkaan sumber alam dan sebagainya. Isu-isu global kekinian memerlukan pembaruan teori. Tiga hal tersebut secara bersamaan menjadi kendala bagi pengembangan hubungan internasional sebagai bidang ilmu yang senantiasa 3 . seperti penyelundupan manusia. penebangan. masalah konflik etnis. Akibatnya mahasiswa mengalami kendala dalam kemampuan menjelaskan secara memadai gejala-gejala baru tersebut. pembalakan dan perdagangan liar atas kayu. rendahnya minat baca dan kemauan melakukan pembelajaran mandiri di kalangan mahasiswa. teori image. pencurian ikan. perompakan. dan teori-teori established lain yang hingga kini masih digunakan untuk mengupas persoalan-persoalan kekinian. Hal ini diperparah dengan kendala-kendala teknis-struktural seperti terbatasnya sarana perpustakaan yang menyediakan bahan bacaan yang mendukung.paradigma klasik yang tidak degan mudah mampu digoyahkan oleh isu-isu global kontemporer yang memerlukan jawaban mendesak dengan pendekatan holistik. teori interaksi. diantaranya meliputi isu-isu yang termasuk kategori isu ‘non-tradisional’. pencucian uang. teori krisis. Salah satu hal yang dihadapi oleh mahasiswa HI adalah kesenjangan antara fakta yang terjadi di tataran empiris dengan ketersediaan teori yang memadai untuk menjelaskan berbagai persoalan baru yang muncul hampir bersamaan dalam waktu yang dekat. masalah migrasi manusia. tentu saja secara substansial tidak memenuhi lagi karena daya penjelasnya yang tidak lagi relevan dengan persoalan kekinian itu. Teori-teori HI yang sudah established seperti teori game.

dan isu hubungan internasional. Kendala semacam ini lebih bersifat khas Indonesia karena pada umumnya ‘jurusan’ belum diberi kewenangan mengelola program dan resources secara mandiri. Dengan demikian. pada tahun 2004 menjadi lebih mandiri dengan diubahnya struktur kelembagaan di tingkat fakultas. Perkembangan kehidupan yang semakin global menuntut HI lebih berkembang secara otonom yang memungkinkannya menjadi jembatan sekaligus wadah bagi kolaborasi dan fasilitasi interseksi ilmu-ilmu sosial dalam paradigma global (Roadmap 2020. di sisi lain kompleksitas itu telah menyebabkan kepanikan pada tingkat tertentu.harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan baru yang dapat terjadi sewaktu-waktu. 2005: 2-3). Dengan kata lain. kompleksitas berbagai persoalan global di satu sisi memberi keuntungan bagi pengayaan atas sifat. Namun menjadi jurusan belum dengan sendirinya menjadikan HI berperan memfasilitasi studi interseksi berparadigma global seperti termaksud di atas. bentuk. sebagai disiplin yang paling terkena dampak perubahan sistem internasonal. sementara peran ini semakin urgen terkait dengan kompleksitas persoalan global. Studi hubungan internasional Universitas Airlangga yang berdiri tahun 1982 juga terkena dampak perubahan di tingkat global tersebut. Terdapat kendala struktural kelembagaan yang belum memungkinkan Hi berkembang seperti yang diharapkan. struktur. aktor. Selama bertahuntahun di bawah naungan jurusan ilmu politik. Sementara itu sifat interdisipliner tidak akan berkembang dalam sekat-sekat sektoral. Kepanikan itu memerlukan jawaban yang mengharuskan HI bergerak lebih interdisipliner dengan pendekatan holistik. 4 . HI dituntut semakin meningkatkan perannya sebagai jembatan kolaborasi lintas disiplin ilmu yang sosial yang berperspekif global.

kajian bidang ilmu HI semakin meluas dengan keanekaragaman dan topik tanpa sudut meninggalkan pandangnya. Sementara jumlah lulusan semakin meningkat. HI dipandang sebagai bidang ilmu yang tidak menjanjikan masa depan yang cerah. dan sejenisnya. daya tampung Deplu semakin berkurang bagi lulusan HI karena Deplu juga harus membagi-bagi “kaplingnya” bagi bidang ilmu yang lain. Perubahan mendasar dalam perkembangan studi hubungan internasional yang ditandai dengan berakhirnya perseteruan blok Barat dan Timur pada akhir 1980-an membawa transformasi mendasar pada HI sebagai kajian ilmu. bahkan tidak bersinggungan sama sekali dengan ilmu HI. Mereka tidak saja dituntut berubah pada level kognitif namun juga mereka harus beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yang mengharuskan mereka berubah di level psikomotorik. adalah subyek yang paling merasakan berbagai perubahan tersebut. dalam hal ini mahasiswa. perbankan. Sejak saat itu banyak universitas membuka jurusan HI dengan jumlah peminat yang sangat tinggi. Akibatnya banyak lulusan HI bekerja di sektor yang bidang kerjanya hanya sedikit sekali bersinggungan. Di satu pihak. Output sistem pembelajaran. kecuali jika lulusannya dapat diterima di Departemen Luar Negeri (Deplu). sifatnya yang ini melintasbatas mengglobal Transformasi menjadikan HI sebagai bidang ilmu yang lebih menarik dan dengan sendirinya lebih banyak diminati.Lulusan HI: mau kemana? Pertanyaan klasik yang selalu dilemparkan ketika seorang mahasiswa berhasil lulus HI adalah: mau bekerja apa? Lembaga mana yang bersedia menampung lulusan HI yang dianggap “tidak memiliki keahlian khusus?” Kegamangan ini sempat mempengaruhi minat siswa untuk memilih HI sebagai tujuan belajar di perguruan tinggi. seperti pekerjaan di bidang asuransi. perubahan ini merupakan keharusan yang tak 5 . Seperti telah dikemukakan di atas.

Sifat interdisipliner kajian HI memang merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki oleh lulusan. Kompetensi ini memerlukan penguasaan terhadap sarana komunikasi global yang berupa lingua franca internasional serta penguasaan nilai-nilai bersama (common ground) sebagai etika standar komunikasi global. 6 . sosilogi. Artinya. sastra. dan manajerial global.dapat ditawar. Sebagai ‘art’ kajian hubungan internasional berorientasi pada pengembangan kompetensi di tiga bidang. namun di lain pihak memberi keleluasaan lebih banyak bagi lulusan HI untuk memperoleh kesempatan bekerja di profesi-profesi nontradisional HI seperti menjadi diplomat. Output yang bekerja di bidang-bidang yang beorientasi saintifik disebut sebagai international/global analyst. seperti sarjana ilmu hukum. negosiasi. psikologi. Kompetensi yang berorientasi komunikasi ini disebut dengan global communicator. namun sifat interdisipliner itu pulalah yang justru dapat menjadi kelemahan. studi HI berorientasi pada pengembangan pemahaman terhadap konsep-konsep dasar dan kerangka analisis umum yang diperlukan untuk memaknai dan menjelaskan fenomena keseharian hubungan internasional. Agar memiliki daya saing tinggi lulusan HI harus memiliki keunggulan komparasi dan keunggulan kompetitif. seorang lulusan HI harus bersaing dengan kompetitornya yang memiliki kemampuan dan keahlian lebih spesifik. antropologi. yaitu komunikasi. Jurusan HI Universitas Airlangga melakukan reorientasi pada pengembangan studi HI sebagai ‘science’ sekaligus ‘art’’. Persoalan baru yang dihadapi oleh para lulusan HI akibat perubahan di tingkat global tersebut adalah semakin kompetitifnya persaingan di dunia kerja. komunikasi dan ilmu administrasi. ilmu ekonomi. Kompetensi komunikasi global adalah kemampuan mengembangkan hubungan secara tidak terbatas dengan anggota masyarakat global yang lain. Sebagai ‘science’. ilmu politik.

(Roadmap 2020. Hal ini memerlukan kemampuan mengambil dan mengelola keputusan secara tepat agar tidak menjadi korban perubahan global tersebut. Keahlian yang berorientasi negosiasi ini disebut global negotiator. Dibutuhkan skill untuk menyiasati perubahan-perubahan global yang menghadirkan tantangan dan peluang. Mahasiswa HI juga perlu dibekali dengan ketrampilan manajerial. Untuk tercapainya hal itu diperlukan keahlian bernegosiasi. Ketrampilan ini disebut global manager. 7 . Kompetensi ini meliputi kemampuan mengembangkan pertukaran yang menguntungkan dalam sebuah pertukaran. yaitu kemampuan untuk ‘mentansformasikan pengetahuan dan wawasan global yang dimiliki ke dalam pengambilan dan pengelolaan keputusan secara efektif dan efisien’. Untuk memenuhi kebutuhan itu mahasiswa dibekali dengan kemampuan manajerial. 2005: 6).Keahlian lain yang diperlukan lulusan adalah kemampuan melakukan negosiasi untuk memenangkan tujuan dan mengambil keuntungan maksimal di tengah kerasnya persaingan global.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful