KEBUDAYAAN LOKAL BANYUMAS

Introduction dari sebuah Kajian Tentang Identitas

Oleh: Yusmanto

NEGERI CAWAN

Banyumas adalah sebuah kawasan berbentuk cawan dengan dikelilingi gunung-gunung: • Gunung Slamet di sebelah utara • Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah timur • Pegunungan Kendheng di sebelah barat dan selatan.

MASA PRASEJARAH
Pada awal peradaban wilayah Banyumas diperkirakan berupa rawa-rawa dengan sebuah aliran sungai (Serayu) yang menerabas pegunungan Kendheng dan mengalir ke laut selatan. Masyarakatnya tinggal secara terpisah-pisah, dibatasi oleh hutan, gunung, sungai, rawa, dan semak belukar.
Peninggalan-peninggalan yang tersisa di antaranya situs Batur Agung di wilayah Kecamatan Kedungbanteng dan situs Datar di wilayah Kecamatan Sumbang. Kedua situs ini terdapat di wilayah perbukitan yang bukan merupakan wilayah rawa.

Kediri. dan Majapahit) maupun kerajaankerajaan besar di sisi barat (Galuh dan Pejajaran). Singasari. Kalingga. Wilayah Banyumas tidak pernah berada di bawah kekuasaan secara langsung dari kerajaan-kerajaan besar tersebut. Kediri. Kalingga. Hal tersebut diperkirakan karena wilayah ini terdapat di “wilayah antara” dari kerajaankerajaan besar di sisi timur (Mataram Kuno. Pada masa klasik di Pulau Jawa berdiri berbagai kerajaan: Mataram Kuno. Galuh. .MASA KLASIK Masa klasik adalah istilah arkeologis untuk menyebut masa persebaran Hindu-Budha di wilayah nusantara. dan Pejajaran. Singasari. Majapahit.

MASA ISLAM Islam masuk ke wilayah Banyumas melalui dua cara. Melalui jalur struktural terjadi pada masa pemerintahan Kadipaten Pasir dipimpin oleh Adipati Banyak Blanak. yaitu melalui jalur struktural (pemerintahan) dan nonstruktural. Berkat perannya itu Adipati Banyak Blanak mendapat beberapa anugrah: . Utusan dari Demak bernama Syeh Makdum Wali diterima dengan baik oleh pihak Pasir. Bahkan Adipati Banyak Blanak ikut berperan dalam proses Islamisasi sampai ke daerah Krawang (arah barat) dan Ponorogo dan sekitarnya hingga wilayah pantai selatan (arah timur).

• Kadipaten Pasir lestari sebagai daerah perdikan. • Diberi gelar Kanjeng Adipati Mangkubumi.Atas perannya itu Adipati Banyak Blanak mendapat tiga anugrah dari Kerajaan Demak: • Wilayah kekuasaan mulai dari Tugu Mangangkang (Sindoro-Sumbing) hingga Udhug-udhug Karawang (sisi timur sungai Citarum). yaitu sebagai daerah otonom dan tidak berkewajiban menyetorkan pajak. .

Salah satu ulama terkenal yang menyebarkan Islam sampai wilayah Banyumas adalah Sunan Panggung yang konon merupakan salah satu murid Syeh Siti Jenar dengan ajaran tasawufnya. Masyarakat Banyumas menyebutnya sebagai kaum maulana.Penyebaran Islam melalui jalur non-struktural dilakukan oleh para ulama yang terjun langsung ke masyarakat dari satu daerah ke daerah lain. . Landmark yang masih bisa dijumpai sampai saat ini adalah adanya Masjid Saka Tunggal di Cikakak Kecamatan Wangon.

dan Inggris. Pada masa kolonial. . wilayah Banyumas tidak tersentuh atau setidak-tidaknya tidak menjadi wilayah kekuasaan yang diperhitungkan.MASA KOLONIAL Ketika wilayah pusat-pusat kekuasaan di nusantara telah dikuasai oleh Belanda. hingga Surakarta-Yogyakarta. yaitu mulai Kerajaan Pajang. Portugis. wilayah Banyumas justru menjadi wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan Jawa. Mataram.

Pada tahun 1830 mulailah diterapkan sistem cultuurstelsel yang memanfaatkan wilayah Banyumas sebagai kawasan emas hijau. . Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai pihak yang kalah perang berkewajiban membayar pampasan perang kepada Belanda. Banyumas). maka diserahkannyalah wilayah Dulangmas (Kedu. berupa hasil bumi yang dijadikan sebagai sumber pendapatan Belanda di nusantara. Magelang.Wilayah Banyumas mulai secara resmi menjadi kekuasaan Belanda baru dimulai pasca perang Diponegoro tahun 1830.

tebu. khususnya kopi. dan tarum (nila). Wilayah yang digunakan untuk . adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor.• Cultuurstelsel (harafiah: Sistem Kultivasi) yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak. • Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda. Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial.

Batavia menjadi sumber modal. . Wilayah Banyumas pun menjadi ladang yang sangat subur bagi pendapatan Belanda. Misalnya. Pada 1860-an.Sistem ini berhasil luar biasa. Antara 1831-1871 Batavia tidak hanya bisa membangun sendiri. membiayai kereta api nasional Belanda yang serba mewah dan kas kerajaan Belanda pun mengalami surplus. 72% penerimaan Kerajaan Belanda disumbang dari Oost Indische atau Hindia Belanda. melainkan punya hasil bersih 823 juta gulden untuk kas di Kerajaan Belanda. yaitu mampu memberikan 30% dari seluruh penerimaan Oost Indische di nusantara.

• Ekonomi.Di wilayah Banyumas Pemerintah memetakan tiga kekuatan yang sangat berpengaruh bagi perkembangan masyarakat Banyumas: • Pemerintahan. Melayu. diserahkan kepada Tionghoa. diserahkan kepada trah ningrat yang tetap lestari dijadikan sebagai bagian dari kekuasaan Kraton Surakarta Hadiningrat dan Yogyakarta Hadiningrat. diserahkan kepada pribumi. . bahkan Suriname. Pemerintah Hindia-Belanda membangun rumah-rumah sewa dan pasar untuk tempat usaha dagang bagi kaum Tionghoa. Sejak diterapkannya sistem tanam paksa banyak di antara pekerja dari Banyumas dijadikan sebagai kuli kontrak (welver kontrak atau disingkat werk) disebar ke berbagai daerah atau negara seeperti Deli (Sumatra Utara). • Tenaga kerja pertanian dan buruh.

.

rasa dan karsa. . sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta. Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.APA YANG DIMAKSUD DENGAN KEBUDAYAAN? Menurut Koentjaraningrat (1990:181) kebudayaan dengan kata dasar budaya berasal dari bahasa sangsakerta ”buddhayah”. Semua itu merupakan keseluruhan sistem gagasan. yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. karsa dan rasa itu.

B Taylor: kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks. dan (3) artifact. hukum. J.J. E. yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan. . Honigmann membedakan adanya tiga gejala kebudayaan. kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.Clifford Geertz: kebudayaan merupakan sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk simbolik. adat istiadat. melestarikan. moral. (2) activities. dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan. yang dengan cara ini manusia dapat berkomunikasi. kepercayaan. kesenian. yaitu: (1) ideas.

Tujuh Unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat: • Bahasa • Sistem Pengetahuan • Organisasi Sosial • Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi • Sistem Mata Pencaharian • Sistem Religi • Kesenian .

Kekuatan kedirian semacam ini direpresentasikan melalui berbagai media. baik secara fisik maupun non-fisik. pandangan terhadap kekuatan adikodrati dan alam. mulai dari pola pikir. hingga hal-hal fisik.IDENTITAS KEBUDAYAAN Pergulatan kehidupan suatu kelompok masyarakat membentuk suatu kekuatan yang terpancar dalam berbagai dimensi. . Inilah sesungguhnya substansi dari identitas kebudayaan bangsa-bangsa yang tertuang di dalam wujud kearifan lokal (local geniuous). Semua itu menjadi penanda eksistensi masyarakat yang bersangkutan yang membedakannya dengan kelompok masyarakat lainnya. cara bertindak.

dengan mencatat dan menunjuk perbedaan penting dengan kelompok dan kebudayaan yang lain. Esensi dari konsep yang ditawarkan Judith Starkey adalah pada perasaan seorang individu sebagai bagian integral dari kebudayaan miliknya serta kemampuan kebudayaan mendefinisikan dirinya sendiri sebagai sebuah sistem yang berbeda dengan kebudayaan yang lain. tetapi secara esensial ditentukan oleh perbedaan: kita merasakan menjadi milik kelompok. .Judith Starkey: Karakteristik umum dan gagasan-gagasan dapat menjadi penanda yang jelas bagi identitas kebudayaan. dan kelompok mendefinisikan dirinya sendiri sebagai sebuah kelompok.

Hal terakhir ini dapat dilihat dari karakter. • Kedua. kemampuan kebudayaan Banyumas sebagai suatu obyek sekaligus subyek yang dinamis di tengah pergulatan interaksi kebudayaan. Kedua hal tersebut secara bersamasama menunjukkan karakteristik umum dan gagasangagasan yang dengan jelas menjadi penanda bagi munculnya identitas. kekhasan dan atau ciri khusus di dalam aspek-aspek tertentu dari kebudayaan Banyumas yang dapat dijadikan sebagai pembeda dengan ragam kebudayaan lain. Hal ini dapat dilihat dari pola pikir. pola rasa dan tindakan atau aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan dirinya adalah orang Banyumas. . kemampuan masyarakat Banyumas mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian kebudayaan Banyumas.Berdasarkan pendapat Judith Starkey tersebut maka terdapat dua hal penting yang secara bersama-sama berperan bagi hadirnya identitas kebudayaan Banyumas: • Pertama.

Dalam kehidupan masyarakat Banyumas.Masyarakat pendukung kebudayaan Banyumas adalah kaum penginyongan. baik sistem gagasan. yakni kalangan masyarakat kecil yang umumnya hidup di lingkungan pedesaan. Ketika individu-individu itu bergabung menjadi kelompok. cara bertindak serta totalitas pengalaman empirik tentang hidup. tindakan maupun hasil karya manusia tersebut merupakan bagian terpenting bagi munculnya karakter individu yang secara umum memiliki kesamaan antara yang satu dengan lainnya. Inilah yang kemudian melahirkan identitas kebudayaan Banyumas. Di dalam diri mereka tersimpan ide-ide atau gagasan-gagasan. maka secara sadar maupun tak sadar akan membentuk suatu karakter yang berlaku secara umum. .

akar kerakyatan di dalamnya hadir sebagai pembeda yang sangat tegas dengan ciri adiluhung pada kebudayaan Jawa (kraton). Dengan kata lain esensi kebudayaan Banyumas adalah nafas kerakyatan.Di sisi lain kebudayaan Banyumas yang terbentuk dari sebuah tradisi kerakyatan secara umum memiliki karakter khas sebagai kebudayaan wong cilik. Oleh karena itu sekalipun kebudayaan Banyumas masuk dalam ranah kebudayaan Jawa. . Semua itu mampu menjadi satukesatuan kekuatan yang berhasil menjadi pembeda dengan kebudayaan Jawa (kraton). Pada kebudayaan Banyumas dengan jelas dapat dilihat akar kerakyatan sebagai kekuatan utama pembentuk kebudayaan itu.

. 1984) yang berkonotasi kasar. tertinggal dan tidak lebih beradab dibanding dengan kebudayaan yang berkembang wilayah negarigung (pusat kekuasaan kraton) yang dijiwai oleh konsep adiluhung. Banyumas seringkali dipandang sebagai wilayah marginal (Koentjaraningrat.GELIAT KEBUDAYAAN PINGGIRAN Dalam konteks perkembangan kebudayaan Jawa. Kebudayaan Banyumas hadir sebagai kebudayaan rakyat yang berkembang di kalangan rakyat jelata yang jauh dari hegemoni kehidupan kraton.

Khasanah budaya ini tumbuh berkembang di kampung-kampung. Dalam perjalanannya kebudayaan Banyumas dipengaruhi oleh kultur Jawa baru.Kebudayaan Banyumas terbentuk dari perpaduan antara unsurunsur kebudayaan Jawa lama dengan pola kehidupan masyarakat setempat. dilandasi oleh semangat kerakyatan. kultur Islami. dan kultur Barat. Perkembangan kebudayaan di daerah ini secara umum berlangsung lebih lambat dibanding dengan kebudayaan yang hidup di lingkungan kraton sebagai pusat kekuasaan raja. kultur Sunda. Kecenderungan demikian terutama disebabkan oleh karena wilayah Banyumas merupakan wilayah pinggiran dari kerajaan-kerajaan besar tempo dulu. exposure (terbuka) dan dibangun dari masyarakat yang berpola kehidupan tradisional-agraris. cablaka (transparency). Kebudayaan Banyumas berlangsung dalam pola kesederhanaan. dusun-dusun atau dukuh-dukuh. . sebagai wujud local genious dan menjadi bagian integral dari kehidupan komunitas wong cilik.

Letak geografis Banyumas yang berada di daerah perbatasan sebaran budaya Jawa dan Sunda telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan Banyumas. . Kedua kebudayaan ini mengalami akulturasi yang demikian kental yang bermuara pada terbentuknya ragam budaya tersendiri yang justru berbeda dengan kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda yang notabene adalah kebudayaan induknya. Pada berbagai aspek dapat dilihat dengan jelas lekatnya percampuran antara kedua kutub budaya tersebut di dalam budaya Banyumas.

Pengakuan demikian bukan dalam situasi kejiwaan yang jumawa dan tinggi hati. wong cilik. situasi psikologis yang hanya dialami oleh orangorang yang tengah dalam keadaan menang. kekalahan dan kepasrahan di sana. orang kebanyakan. keadaan seseorang yang mencitrakan kualitas diri yang hebat. yang berpengaruh. istilah penginyongan atau disebut juga pekulaan merupakan pengakuan secara sadar tentang “siapa saya”. tidak menempatkan diri dalam posisi lebih unggul dibanding dengan orang atau kelompok lain. melainkan ungkapan sadar untuk mengakui diri sebagai masyarakat lumrah. Situasi demikian sangat jauh berbeda dengan “keakuan” yang lebih berkonotasi “inilah saya”.SPIRIT PENGINYONGAN DI TENGAH HEGEMONI KRATON Dalam kehidupan masyarakat Banyumas. . Ada nuansa kegetiran. yang agung. memiliki pengaruh dan kekuasaan atau memiliki posisi lebih unggul dibanding pihak lain.

seolah-olah hebat. seolah-olah kaya. tidak ngungkul-ungkuli (tidak memandang diri sendiri lebih unggul dibanding orang lain). maka kaum penginyongan dapat lepas dari kebohongan dan kamuflase untuk menutupi kelemahan diri. tapi juga tidak rendah). sikap semadya (tidak lebih unggul.Penginyongan bagi orang Banyumas adalah sebuah konsep hidup yang berisi cara berpikir orang Banyumas di tengah kehidupan sosial yang heterogen. sikap merendah. Mereka lepas dari hidup “seolah-olah”. Kedua. Pertama. sikap jujur. mengakui hal-hal umum yang melekat pada dirinya baik berupa kekurangan maupun kelebihan. seolah-olah menang. Ada dua sikap dasar di balik makna kata penginyongan. Dengan kedua sikap ini. . seolah-olah kuasa dan seterusnya.

Kekuasan secara kultural inilah yang paling memiliki dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas. yaitu sejak Majapahit atau bahkan mungkin jauh sebelum itu. . Hal ini karena hegemoni kekuasaan kerajaankerajaan besar itu berimbas pada dua hal penting. Namun demikian kekuasaan secara kultural sudah terjadi sejak lama. Kekuasaan secara teritorial terhadap Banyumas sebenarnya baru dimulai pasca Demak yang ditandai Banyumas menjadi bagian dari wilayah kekuasaan dari kerajaan Pajang.Konsep penginyongan merupakan wujud resistensi masyarakat Banyumas terhadap hegemoni kekuasaan kerajaan-kerajaan besar pada masa lalu baik kerajaankerajaan Jawa maupun kerajaan-kerajaan di tanah Pasundan. yaitu kekuasaan secara teritorial dan secara kultural.

Penginyongan dalam tataran konsep lahir menjadi bentuk resistensi terhadap keberadaan priyayi di Banyumas. lebih beradab dan lebih unggul dibanding dengan wong cilik. Hal ini mengakibatkan geliat wong cilik untuk mampu eksis di tengah jagad sesrawungan (pergaulan). Kehadiran kebudayaan kraton di Banyumas menyisakan tradisi priyayi yang menganggap diri mereka sebagai kelompok yang lebih santun. adat dan tradisi yang berbeda dengan kaum priyayi. . Mereka pun mengukuhkan jatidiri sebagai sebuah komunitas masyarakat yang memiliki wewaton atau paugeran (konvensi).

terbelakang.Konsep penginyongan menjadi spirit yang mendasari setiap gerak langkah seseorang ketika ia menyadari dirinya sebagai orang Banyumas. Mereka menyadari sebagai kaum yang kalah. . Dua hal inilah yang tak terjamah oleh hegemoni kraton. Di sisi lain mereka sadar bahwa mereka memiliki warisan nenek-moyang yang harus mereka jadikan sebagai wewaton dalam hidup. dan kurang informasi. Bahwa kekalahan dan keterjajahan dapat menyulut api semangat untuk berjuang (struggle) serta mampu survive di segala macam situasi dan kondisi. terjajah.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai punakawan. berbicara.Semua itu terangkum dalam wujud tokoh Bawor dalam pakeliran wayang kulit purwa. apabila bendara yang diikutinya melakukan kesalahan dan kekeliruan dalam berpikir. berani dan jujur (cablaka). . Bawor senantiasa memberikan saran dan tuntunan bagi bendara-nya agar mampu menjalankan peran dan tugasnya sebagai pembela kebenaran dan keadilan. bersikap dan bertindak yang akan menodai citranya sebagai seorang ksatria. Bawor dikenal sebagai tokoh punakawan yang lugas. Ia tidak segan-segan mengingatkan. Semua itu merupakan sikap batin yang senantiasa ditunjukkan melalui sikap lahir selama mengikuti para ksatria yang menjadi tempat mengabdi.

yang berlangsung hingga era Mataram dan era Surakarta-Yogyakarta. Tragisnya lagi. . tetapi juga oleh bangsa sendiri pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Jawa.MEMBEBASKAN DIRI DARI IMPERIUM KEBUDAYAAN Salah satu persoalan yang sangat pelik dalam perkembangan sejarah kebudayaan Banyumas adalah wilayah ini begitu lama mengalami masa-masa keterjajahan. Banyumas mulai berada di bawah kekuasaan kerajaan Jawa. imperialisme di Banyumas tidak sekedar dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat pada masa kolonialisme. Paling tidak semenjak era Pajang.

ideologi. Sultan Agung di Negeri Mataram memberikan sanepa bagi orang Banyumas sebagai “kebo cinancangan dhadhung adi” (kerbau yang diikat dengan tali berkualitas bagus). fisik-mental. Namun. juga dikuasai dari sisi kehormatan. . hingga harapan hidup. perumpamaan demikian adalah sebuah penghinaan Mataram terhadap Banyumas dalam arti yang sesungguhnya. Bagi mereka yang menganut sinkretisme. Wilayah Banyumas selain dikuasai dari sisi kewilayahan dan ekonomi. perumpamaan tersebut diterima dengan baik sebagai sebuah realita yang tidak dapat disangkal. bagi sebagian sesepuh yang merupakan intelektual lokal.Penjajahan budaya lebih berupa penguasaan psikologis untuk kepentingan kekuasaan raja. harkat dan martabat kemanusiaan. apabila orang Banyumas diberi cukup makan dan dipiara dengan baik. Penguasaan secara psikologis ini berimbas pada hampir seluruh sisi kehidupan. maka akan dengan mudah ditaklukkan. Perumpamaan tersebut memiliki makna.

dan tidak suka melawan kekuasaan. Semua itu dapat bermakna sebagai usaha pembedaan kelas dan pembodohan. menjadi memori otak kecil yang tergambar melalui perilaku bawah sadar dalam kehidupan sehari-hari. . Perasaan menderita dan terjajah telah mendarah-daging. umumnya mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan kekuasan Mataram. Orang Banyumas umumnya memiliki ciri nrima ing pandum (menerima semua keadaan yang menimpa dirinya). apatis (masa bodoh). Namun demikian.Masyarakat Banyumas merasakan betapa kuatnya kekuasaan kraton telah menempatkan Banyumas dalam posisi yang lemah.

Kelompok pertama adalah kelompok priyayi yang terdiri dari para ambtenaar (pegawai pemerintah) dan para trahing aluhur (keturunan ningrat). hidup sehat. Kelompok kedua adalah wong cilik atau kaum penginyongan yang terdiri dari buruh tani. berpendidikan serta pola tindakan dan tutur kata halus yang mengacu pada budaya tinggi. balai desa dan sekolah. memiliki tempat tinggal yang strategis. petani kecil. Mereka adalah kelompok minoritas yang umumnya memegang kendali sistem kehidupan yang dianut bersama. Kalangan kaum penginyongan cenderung hidup sederhana.Di kalangan masyarakat Banyumas sendiri kemudian tumbuh dua kelompok masyarakat. apa adanya dan lebih mengutamakan kebersamaan dalam suasana hidup yang berdiri sama tinggi duduk sama rendah. dekat dengan fasilitas umum seperti pasar. Kalangan kelompok priyayi memiliki pola hidup yang teratur. Mereka adalah kelompok mayoritas yang mendiami wilayah-wialayah pinggiran dan cenderung berada dalam posisi siap diperintah oleh kaum priyayi. . dan para pedagang.

Orang Banyumas memiliki sikap yang khas. . Ungkapanungkapan semacam ini ditujukan untuk diri sendiri yang bertujuan untuk menyadari ketidakmampuan dan kekurangannya di dalam pergaulan sosial. Di daerah ini banyak terdapat ungkapan-ungkapan yang dimaksudkan untuk madani. yaitu pinter madani awake dhewek (pintar mencela diri sendiri). balung cilik (orang yang memiliki kekuatan terbatas sehingga tidak mampu melakukan hal-hal besar) dan lain-lain. Misalnya: anak turune si kemrunggi (orang yang dalam hidupnya senantiasa merugikan orang lain). anak turune wong gelung unthil (keturunan orang kecil/rakyat kebanyakan).

misalnya. tersirat adanya usaha masyarakat Banyumas menjadi dirinya sendiri. Kenyataan demikian dapat menjadi sarana uji kebenaran pendapat Ernst Cassier (1987:240) yang menyatakan bahwa seni merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling hakiki yang menjadikan manusia merasa lebih hidup. . atraktif dan semangat. di Banyumas justru lahir banyak aktivitas estetik yang langsung maupun tidak langsung menjadi media ungkap dalam upaya membebaskan diri dari peristiwa imposisi tersebut. Di dalam musik calung. nglenggana atau nrima ing pandum atau minder terhadap keadaan yang menimpa dirinya. dengan irama dan tempo yang dinamis.Di tengah kuatnya pengaruh imperialisme budaya itu. Dengan kesenian pula manusia dapat lepas dari beban hidup yang senantiasa menimpa dirinya. Tetapi semua itu tidak tampak pada tampilan musiknya. Orang Banyumas bisa saja apatis. Calung justru tampil begitu dahsyat. tanpa diliputi perasaan tertekan atau terancam oleh pihak luar.

Determinasi yang datang dari dalam diri sendiri terjadi karena adanya harapan. Adapun determinasi yang merupakan nilai dari obyek dapat dibedakan menjadi dua macam. yaitu: (1) determinan yang berasal dari lingkungan. dan lain-lain. Determinasi yang berasal dari lingkungan dapat dilihat pada perkembangan kebudayaan asing yang merambah ke wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. dan berasal dari luar individu seperti halnya yang dijumpai ketika seseorang mengharapkan perolehan status dan uang. Dalam hal ini ada faktor-faktor determinan (penentu) yang berpengaruh terhadap timbulnya motivasi bagi perilaku seseorang yang dapat digolongkan tiga determinan perilaku. emosi. dan (3) determinan yang merupakan nilai dari obyek. . insting. disiplin. keinginan. yaitu berasal dari dalam diri individu seperti dijumpai pada kepuasan kerja.Farida (1994:25) mengemukakan bahwa dalam pembentukan jatidiri seseorang dipengaruhi berbagai macam pengalaman yang dijumpai dalam kehidupannya. (2) determinan yang berasal dari dalam diri sendiri. tanggung jawab.

Dengan demikian Banyumas sebenarnya bukan sekedar menunjuk wilayah. tindakan-tindakan maupun hasil karya dari tindakan-tindakan diharapkan dapat ditampakkan pada „tampilan perwajahan‟ yang dapat diketahui kehadirannya melalui panca indera serta keseluruhan karakter yang lebih bersifat psikologis. tetapi juga manusia.Usaha membangkitkan kembali identitas Banyumas tidak lain adalah membangkitkan totalitas karakter yang tinggal menetap di dalam setiap diri pribadi masyarakat Banyumas dalam konteks kebudayaan dan peradaban masa kini dan masa yang akan datang. Nilai-nilai budaya sebagaimana tercermin melalui ide-ide. . sekaligus mind set manusia yang menghuni wilayah tersebut.

efektif. Sedangkan semangat kekinian dijiwai oleh nilai-nilai modernisme yang berakar pada konsep berpikir yang rasional. .Pada masa sekarang ini. efisien dan terstruktur. Semua itu diarahkan pada terciptanya kebudayaan Banyumas yang mengindonesia serta berorientasi ke depan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang berbudaya dan bermartabat dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal yang merupakan warisan nenek-moyang yang telah menjadi pedoman hidup secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. wujud identitas kebudayaan Banyumas yang hendak direngkuh kembali merupakan perpaduan antara konsep lama dan konsep kekinian. Konsep lama terdiri dari spirit Banyumas yang tidak lain adalah spirit masyarakat penginyongan yang tercermin pada semangat kerakyatan yang dibangun dari pola kehidupan tradisional-agraris.

SEKIAN .