P. 1
KELEMBAGAAN Kemitraan UKM

KELEMBAGAAN Kemitraan UKM

|Views: 291|Likes:
Published by Raisa Diti

More info:

Published by: Raisa Diti on Apr 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/11/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1. UKM

PROSES PEMBANGUNAN DAN PEMBANGUNAN

Pembangunan

pada

hakikatnya

merupakan

proses

berkesinambungan untuk menciptakan peluang seluas-luasnya bagi semua warga masyarakat, agar mewujudkan aspirasinya yang paling manusiawi (humanistik). Pembangunan juga dapat diartikan sebagai proses baik dalam mencapai dinamis menuju keadaan yang lebih tujuan-tujuan dari berbagai aspek

kehidupan bangsa. Proses pem-bangunan merupakan upaya dari kekuatankekuatan-kekuatan pembaharuan yang ada dalam masyarakat dengan dukungan dari pemerintah. Oleh sebab itu dalam pembangunan yang berorientasi optimasi sumberdaya tersedia usaha menggerakkan partisipasi masyarakat menjadi faktor yang menentukan. Demikian juga sebaliknya dalam pembangunan yang menggunakan pendekatan tersebut peluang masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan dibuka seluas-luasnya. Kepentingan partisipasi masyarakat dalam pembangunan,

berkaitan langsung dengan tujuan pembangunan itu sendiri yang mengoptimalkan potensi sumberdaya tersedia untuk mendapatkan manfaat yang sesuai dengan partisipasi yang disumbangkan. Dalam konsepsi pembangunan ini, Kelompok Keynesian (penganut paham Adam Smith), membuat beberapa
Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM

1

indikator keberhasilan pembangunan yang bersifat kuantitatif, yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per jiwa. Indikator tersebut juga banyak digunakan dalam menilai keberhasilan pembangunan di negara-negara berkembang, tetapi sering kali pertumbuhan itu sendiri bersifat semu karena terpusat pada daerah-daerah atau kelompokkelompok tertentu saja. Dalam konsepsi pembangunan yang demikian dampak yang terjadi adalah inefisiensi dan tidak optimal-nya pemanfaatan sumber daya pembangunan, yang berakibat akhir terjadinya pencucian sumberdaya di daerah belakang (hinterland), serta timbulnya kesenjangan yang memicu kerawanan sosial dan ekonomi. Hasil-hasil pembangunan dalam beberapa kali Pelita (pada era orde baru) yang lalu, juga menilai keberhasilan pembangunan berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pendapatan per jiwa. Tolok ukur keberhasilan pembangunan tersebut mengarahkan sekelompok kegiatan pengusaha kegiatan besar pembangunan yang pada karena industrialisasi yang padat modal dan dikuasai hanya oleh (konglomerat) ketidakmampuannya dalam bersaing dipasar internasional dan keterikatannya pada bahan baku impor menyebab merka hancur terimbas krisis ekonomi yang yang terjadi sejak tahun 1997 yang lalu. Akibat lain yang terlihat adalah melebarnya kesenjangan ekonomi baik antar daerah maupun antar kelompok dalam masyarakat dan kemiskinan struktural dalam masyarakat. Ironisnya gejala tersebut juga belum pupus di era reformasi sekarang ini. Kondisi yang demikian diduga tidak hanya dipicu oleh belum terwujudnya stabillitas kondisi perekonomian nasional dan desakan perubahan paradigma perekonomian global yang mengarah pada pasar bebas, namun
Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM

2

juga dikarenakan belum tercapainya stabilitasdi bidang politik yang berdampak pada ketidak seimbangan antar sektor. Krisis Ekonomi yang berkepanjangan yang berdampak sangat luas terhadap kondisi perekonomian berharga bagi nasional bangsa juga telah memberikan pelajaran Indonesia.

Kejadian tersebut telah menyadarkan banyak orang bahwa usaha besar yang selama ini diunggulkan sebagai penopang utama produksi dan pendapatan nasional ternyata sangat rapuh dalam menghadapi badai perekonomian dunia. Sebaliknya usaha kecil dan usaha menengah (UKM) yang kurang mendapat perhatian, malah dapat bertahan dan menjadi jaring pengaman perekonomian nasional yang sudah sangat terpuruk. dari keadaan tersebut maka TAP MPR RI tahun Belajar 1998

memprioritaskan pembinaan terhadap koperasi dan usaha kecil sebagai pilar perekonomian nasional. Komitmen pemerintah untuk memperkuat kedududukan dan peran usaha kecil dan usaha menengah (UKM) di era reformasi sekarang ini nampaknya juga sangat beralasan dan sudah sewajarnya mendapat perhatian yang lebih dari semua pihak. Justifikasi yang dapat dikemukakan disini adalah bahwa fakta menunjukan dalam masa krisis dimana hampir semua Perusahaan besar mengalami kebangkrutan, sebagian besar (64,1%) pengusaha kecil malah dapat bertahan, dan bahkan ada yang mampu mengembangkan usahanya (0,9%). Sedangkan yang terpaksa mengurangi kegiatannya sebesar 31 % dan yang terpaksa menghentikan kegiatannya hanya 4% (depkop dan UKM 1998/1999). Data tersebut menjadi indikator bahwa UKM yang memiliki keunggulan relatif tersendiri lebih antara lain karena sedikit
3

efisiensiinya

yang

tinggi

hanya

Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM

Misalnya saja jika disatu sisi UKM sebagai produsen peranannya relatif sudah cukup besar UKM yang produsen tersebut menghadapi permasalahan di bidang pemasaran karena harus berhadapan dengan pengusaha besar yang bargainingnya lebiih kuat sehingga UKM tersebut selalu hanya diperankan sebbagi penerima harga (price tacker). Permasalahan yang dihadapi UKM sebenarnya merupakan masalah struktural karena belum adanya sistem kelembagaan yang mampu menghimpun potensi yang ada pada kelompok ini. pengolahan sampai dengan pemasaran maka kaitan kerjasama usaha yang dapat dibangun diantara UKM sebenarnya sangat mungkin. bahan setengah jadi maupun barang jadi. Dengan demikian adalah wajar bila kelompok ini dijadikan pelaku utama perekonomian nasional.menggunakan banan-bahan baku impor dan produk yang dihasilkannya mempunyai daya saing yang cukup tinggi baik di pasar lokal maupun pasar internasional. Demikian juga karena cakupan usaha KUM yang sangat mulai dari produsi bahan baku. walaupun sampai dengan akhir tahun tahun 1999 diperkirakan kontribusi UKM terhadap ekonomi nasional baru sekitar 45%. Sedangkan disisi yang lain cukup banyak UKM yang bergerak dibidang pemasaran tetapi harus Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 4 . Jumlah UKM yangsangat besar dengan jenis kegitan yang sangat beragan serta tersebar luas diseluruh wilayah Indonesia luas merupakan potensi yangsangat besar untuk dikembangkan. Mengingat kedudukannya yang sangat strategis khususnya dalam proses penyembuhan maka perekomian nasional (national economics recovery) pengembangan UKM harus dilaksanakan sejalankan dengan kebijakan pemerintah untuk menumbuhkan kembali berbagai kegiatan yang berbasis ekonomi rakyat berorientasi ekspor.

teknologi dan modal sehingga UKM tidak mampu memenuhi permintaan pasar. Berkaitan dengan masalah pemasaran yang dihadapi UKM perdagangan bebas disamping memberikan peluang bagi PKM untuk memperluas pasar sekaligus juga merupakan tantangan yang perlu diwaspadai bagi UKM. Dengan adanya sinergi antar UKM ini.mendapatkan bahan untuk dipasarkan dari pengusaha besar. garmen dan handicraf.Umumnya UKM yang bergerak di sektor pertanian. maupun dengan UKM yang bergerak di sektor hilir ataupun sektor hulu. Salah satu cara yang dianggap cukup efektif adalah dengan menjalin kemitraan dengan sesama UKM. karena persaingan akan semakin ketat.diharapkan UKM akan lebih kuat dan mampu bersaing tidak hanya dipasar domestik akan tetapi juga di pasar global. disamping masalah kualitas. baik dengan UKM sejenis. disini juga UKM yang pedagangtersebut harus menerima kedudukannya sebagai price tacker. relatif yang UKM Kemampuan masihsangat UKM kecil. Demikian juga umumnya kemampuan pemasaran yang dilakukan oleh UKM umumnya masih di lingkungan lokal dan hal inilah yang menjadi kendala bagi sebagian UKM dalam mengembangkan melaksanakan tahun 1998/1998 usahanya. Oleh karena itu UKM harus berupaya memperkuat dirinya. kelemahan UKM selama ini kurangnya akses terhadap informasi pasar. dalam Selama ekspor melakukan ekspor secara langsung masih sangat kecil yakni sekitar 284 UKM. Belum dapat dikembangkannya peranan UKM dalam mendukung Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 5 . tidak hanya dengan kompetitor didalam negri akan tetapi juga harus berhadapan dengan kompetitor luar. agribisnis. Kenyataan empirik menunjukkan bahwa.

Belum terlihatnya dampak nyata dari bantuan luar negeri (hutang) yang semakin hari jumlahnya semakin bertambah. e) g) Penyebaran dan kualitas penduduk yang tidak merata. merupakan indikator bahwa konsep operasional pembangunan yang dilaksanakan dalam era reformasi sekarang ini juga belum mampu menjawab tantangan pembangunan secara tuntas.hasil laut dan bahan galian secara optimal. b) c) Ketimpangan distribusi pendapatan dalam masyarakat dan terkonsentrasinya modal pada sekelompok orang Terkurasnya dan tidak efisienya penggunaan sumbersumber-sumber daya potensial terutama sumber daya mineral dan sumbersumber-daya hutan d) Belum dapat dimanfaatkannya berbagai sumber daya potensial seperti hasilhasil. Adanya berbagai masalah dalam pembangunan khususnya dalam upaya perkuatan peran UKM dalam sistem perekonomian nasional tersebut diatas. baik antara desa dengan kota maupun antara daerah pusatpusat-pusat pertumbuhan yang berada di Indonesia bagian Barat (KBI). Sebaliknya ada indikasi bahwa konsep pembangunan yang lebih berorientasi pada pengembangan ekonomi kerakyatan di era reformasi sekarang ini juga sudah terjebak dalam berbagai permasalahan yang Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM dengan hinterlandnya (KTI). Dikarenakan prasarana dan sarana pembangunan di daerah tersebut pada era orde baru kurang mendapat 6 .pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun belakangan ini lebih disebabkan oleh masih banyaknya permasalahan dalam lingkup pembangunan yang belum dapat teratasi antara lain : a) Proses (kegiatan) pembangunan yang kurang merata. ketersediaan perhatian.

Pandangan dari aspek ekonomi positif juga meng indikasikan bahwa perkuatan UKM secara langsung akan berdampak pada keberhasilan mengoptimalkan pemanfaatan guna sumberdaya mengejar dari nasional. Fakta juga menunjukan bahwa baik dalam hal jumlah orang yang terlibat maupun tenaga kerja yang terserap dalam kluster usaha ekonomi KUKM ini adalah sedemikian besar yaitu mencapai 59.6 juta orang atau 88.menyangkut kehidupan sosial ekonomi dalam masyarakat yang tidak mungkin dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah tetapi harus mendapat bantuan sepenuhnya dari masyarakat (kelompok UKM). dan informasi. yang sekaligus merupakan kebijakan perimbangan eksistensi antar kluster usaha ekonomi orde baru sangat banyak mendapat ketertinggalan UKM dari kelompok usaha besar yang selama era kemudahan pemerintah. Berbagai solusi untuk menyelesaikan masalah ini dapat 7 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . yang tidak berdampak pada timbulnya masalah-masalah baru baik bagi UKM sendiri maupun bagi lingkungan perekonomian nasional . Namun demikian usaha membangun dan mengembangan UKM bukanlah hal mudah karena masih banyak kendala dan permasalahan yang dihadapi UKM juga cukup banyak untuk itu perludicarikan solusi pemecahan masalah yang tepat.1 juta jiwa Bertolak dari fakta tersebut maka dalam rangka mewujudkan keadilan ekonomi adalah wajar bila orientasi pembangunan diarahkan pada upaya perkuatan UKM.9 % dari jumlah tenaga kerja produktif yang pada tahun 1999 diperkirakan mencapai 67. permodalan. Salah satu kendala yang menonjol dan perlu diselesaikan sesegera mungkin adalah kelemahan yang ada dalam kluster UKM ini yaitu kelemahan aksesnya baik terhadap teknologi dan manajemen produksi.

Berbagai kondisi yang tidak menguntungkan bagi UKM seperti diuaraikan di atas sudah terjadi selama masa orde baru. keterbatasan informasi serta. 1) Skala usaha (economics of scale) kecil-kecil sebagai akibat dari 2) lemahnya KUK terhadap akses permodalan dan keluasan pasar dari komoditas yang diusahakan. juga telah terjadi fragmentasi kegiatan ekonomi Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 8 . Yang lebih parah lagi selama masa dimana pembangunan diarahkan pada upaya industrialisasi yang tidak memper-hatikan kondisi sumberdaya (terutama manusia dan alam) tersebut berlangsung. 3) Akses terhadap pasar relatif rendah karena lemahnya permodalan.dikemukakan tetapi pada prinsipnya harus disepakati dulu pendekatan yang akan digunakan dalam penyusunan solusi menghilangkan kendala tersebut dengan memperkuat potensi dan posisi UKM. Dalam upaya perkuatan usaha UKM perlu diperhatikan ciri-ciri dan permasalahan kluster usaha ekonomi tersebut terutama koperasi dan kelompok usaha kecil (KUK) yang antara lain . Kualitas produk relatif rendah dan kesinambungan produksi tidak terjamin sebagai akibat dari sifat komoditas yang sebagian masih merupakan bahan mentah. Untuk itu perlu diperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilannya terutama menyangkut unsur-unsur yang akan dilibatkan dalam mengatasi kendala tersebut. penggunaan teknologi sederhana. serta faktor lingkungan fisik (alam) dan kondisi sosial ekonomi yang tidak kondusif . kualitas SDM (keahlian) rendah. sifat pasar yang cenderung kearah Monopsoni bahkan untuk beberapa komoditas ada kecenderungan terjadinya kasus Monopoli.

dan bersifat temporer atau sewaktu-waktu. untuk mengetahui lebih jauh bagaimana bentuk-bentuk kerjasama yang sudah ada diantara UKM. yang hanya dapat diselesaikan melalui reformasi kelembagaan antara lain dengan membangun sistem jaringan usaha antar KUM dalam berbagai bentuk yang mempererat kaitan antar UKM. perlu dilakukan suatu pengkajian yang akan dapat menyajikan informasi secara rinci mengenai model-model kemitraan antar UKM. untuk Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM Salah satu alternatif yangdapat dijadikan solusi adalah dengan membangun lembaga kemitraan usaha 9 . Sedangkan kemitraan antar UKM walaupun sudah ada tetapi masih sebagian kecil UKM pada umumnya belum terpola dengan baik. bapak angkat. Model Kemitraan yang selama ini banyak dikenal adalah antara perusahaan besar dengan pengusaha kecil seperti Sub Kontraktor.yang dilaksanakan oleh UKM. antar UKM. Berkaitan dengan hal tersebut. sehingga kaitan usaha antar UKM dibuat semakin tidak jelas. Berkaitan dengan hal tersebut. pola PIR. dan bersifat temporer atau sewaktu-waktu. Kondisi tersebut secara yang jelas menggambarkan merupakan bahwa masalah permasalahan pokok dihadapi struktural. Modal kemitraan yang selama ini banyak dikenal adalah antara perusahaan besar dengan pengusaha kecil seperti sub kontraktor. Sedangkan kemitraan antar UKM walaupun sedah ada tapi masih sebagian kecil UKM misalnya pola francise es teler. Bapak angkat. Pola PIR. sedangkan usaha besar ditempatkan pada posisi yang sangat menguntungkan. Akan tetapi kemitraan antar UKM pada umumnya belum terpola dengan baik.

b. OUTPUT Output yang diharapkan dari pengkajian ini adalah model dan rekomendasi mendukung tentang kebijakan peran kemitraan dan kinerja UKM UKM yang pada peningkatan perekonomian nasional. TUJUAN 1.2. c. sehingga UKM perlu melakukan sinergi diantara UKM itu sendiri.3. Mengindentifikasi kemitraan usaha antar UKM Mengetahui faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam melakukan kemitraan usaha antar UKM 1. model-model kemitraan yang bagaimana yang dapat mengembangkan usaha UKM apa dampak kemitraan tersebut terhadap kinerja UKM secara keseluruhan bagaimana prospek kemitraan usaha dalam mengembangkan usaha UKM 1. Dalam hal ini permasalahan yang perlu dikaji adalah: a.mengetahui lebih jauh bagaimana suatu pengkajian yang akan dapat menyajikan informasi secara rinci mengenai model-model kemitraan antar UKM. Permasalahan umum yang dihadapi oleh UKM diantaranya adalah terbatasnya kemampuan UKM untuk mengakses permodalan. 2. teknologi dan informasi pasar. manajemen dan organisasi. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 10 .

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 2. Ketertinggalan dan Kemiskinan Pertambahan jumlah penduduk yang cepat di masa lampau. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 11 . khususnya pedesaan di Jawa.1.1.1. menyebabkan menyebabkan saat ini pemerintah menghadapi adanya situasi sulit yang menimpa masyarakat.

kurang memiliki kemampuan melihat potensi/peluang yang ada. Dalam rangka program pengentasan kemiskinan telah dirancang berbagai sekaligus program pembinaan tingkat sumberdaya manusia Hal dan ini 12 memperbaiki kesejahteraannya. tidak memiliki keberanian menanggung resiko. buta informasi dan akhirnya dapat menjurus menjadi fatalis. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila ada intervensi pemerintah secara langsung dan cukup intense. Proses pengentasan masyarakat dari fenomena involusi pertani an akan berhasil apabila terjadi pendinamisan masyarakat secara keseluruhan. Proses semacam ini disebut terjangkit oleh Geertz disebut "involusi yang pertanian". Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM .Hal ini telihat dari kenyataan banyaknya potensi sumberdaya alam menjadi semakin terbatas. Masyarakat yang penyakit involusi inilah sumberdaya yang kapabilitasnya rendah. yang ditujukan untuk pengentasan kemiskinan dengan jalan pembangunan yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan dasar. Akibat dari keadaan ini terjadi proses pemiskinan sumberdaya manusia. jumlah kelompok miskin menjadi semakin banyak dan bahkan cenderung terjadi pada sebagian besar masyarakat masyarakat pedesaan. Pada umumnya dalam jangka panjang akan menyebabkan para warganya memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke depan. berkurangnya pemilikan lahan pertanian. mewarisi yang potensi tidak merupakan proses pembagian kemiskinan. dan nilai tukar yang semakin buruk antara hasil pertanian dengan hasil industri. kurang memiliki inisia tif. Disamping itu pola adaptasi baru akan dapat dilalui masyarkat apabila tidak ada perintang yang dapat menghambat terjadinya perkembangan tersebut. kemiskinan.

pemenuhan prasarana dasar sosial. kemampuan berusaha.peluang peluang yang tersedia. Mengembangkan dan membuka usaha produk tif yang dapat diakses oleh kelompok masyarakat miskin secara berkelanjutan. (d). Penanganan kemiskinan pada prinsipnya prinsipnya merupakan pemecahan masalahmasalah yang berkaitan dengan kondisi sumberdaya alam yang tidak menguntungkan dan rendahnya rendahnya akses kelompok masyarakat miskin terhadap peluang . (e). upaya meringankan beban hidup masyarakat. pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi. pemberian pemberian modal kerja melalui 13 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . melalui jalur pelayanan pendidikan (transfer IPTEK). Oleh karena itu upaya pengentasan yang harus diarahkan pada: (a). (b). Pemihakan kebijakan publik yang mampu mendorong peningkatan daya beli masyarakat miskin Dengan mengacu kepada lima arah tersebut maka bantuan program pembangunan harus diberikan dalam bentuk kegiatan yang dapat meningkatkan penghasilan.dimaksudkan untuk lebih memeratakan akses seluruh masyarakat terhadap proses pembangunan dan hasil-hasilnya. Selain itu perlu adanya perhatian khusus terhadap kelompok masyarakat miskin yang relatif tertinggal dan belum beruntung dibandingkan dengan kelompok lainnya. Mengembangkan tingkat partisipasi penduduk miskin secara sinergis untuk membentuk kelompok sehingga mempunyai posisi tawar yang lebih kuat dalam bernegosiasi dengan pihak lain (c). Meningkatkan kualitas dan kemampuan sumberdaya manusia. Memperbesar akses masyarakat miskin dalam penguasaan faktor p faktor produksi.

proyek yang dibutuhkan untuk kelompok masyarakat miskin." Keadaan sosial ekonomi masyarakat miskin di wilayah pedesaan masih ditandai oleh pertambahan penduduk yang cukup pesat. yang terjadi bukan karena dikehendaki dikehendaki oleh mereka. Usaha lain yang sedang dirancang Pemerintah pada awal PJPT II. pada yakni kenyataannya (a) Kurangnya masih data menghadapi aktual untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi kelompok miskin . (c) belum diketahuinya katagori kelompok sasaran yang relevan dengan jenis proyek yang akan diintroduksikan. Beberapa Permasalahan "Kemiskinan dapat dirumuskan sebagai keadaan dari masyarakat yang hidup serba kekurangan. (b) belum diketahuinya proyek. pemasaran hasil produksi pedesaan.kelompok swadaya masyarakat (KSM) untuk dapat digulirkan lebih lanjut dan pembangunan /rehabilitasi sarana dan prasarana fisik yang menunjang kegiatan produktif. dan sebagian terbesar masih tergantung pada sektor pertanian dan sektor-sektor tradisional. dan perbaikan mutu lingkungan pemukiman hidup.1. Usaha Pemerintah permasalahan. yakni melalui konsep Program bantuan khusus untuk wilayah dengan kelompok masyarakat miskin yang cukup besar.2. Dalam situasi seperti ini tekanan terhadap sumberdaya lahan semakin besar dan rata-rata Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 14 . 2.

baik melalui program intensifikasi pertanian. Kebijaksanaan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 15 . bahkan banyak rumahtangga yang tidak memiliki lahan garapan. perumahan. Penduduk yang tetap tinggal di desa harus bersedia hidup dalam situasi subsistensi dan involutif. sandang. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak keterbatasan lahan pertanian tersebut. atau rendahnya tingkat kesehatan dan gizi. Seseorang termasuk miskin kalau tingkat pendapatannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum yang antara lain meliputi pangan. Hal yang memprihatinkan ialah bahwa kemiskinan tersebut dapat "menurun" kepada generasi berikutnya. semakin terpusat di kantong. Upaya untuk mengurangi jumlah penduduk miskin lebih lanjut akan semakin sulit karena penduduk miskin tersisa tersisa adalah yang yang peling rendah kemampuannya untuk dapat menolong menolong diri. seperti mengangggur atau terbatasnya ketrampilan. (2). maupun pengembangan pengembangan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dalam sektor non-pertanian di pedesaan. setengah Rendahnya menganggur.penguasaan aset lahan setiap rumah tangga semakin minim.kantong kemiskinan dan semakin sulit jangkauannya. Hal ini dapat produktivitas produktivitas rendahnya atau kombinasi dapat dan disebabkan oleh terlalu besarnya jumlah anggota keluarga keduanya. Sementara itu sejumlah penduduk pedesaan mengambil jalan pintas untuk menolong dirinya sendiri sendiri melalui urbanisasi ke kota. transmigrasi. Beberapa permasalahan epenting adalah sbb: (1). pendidikan atau karena rendahnya dan kesehatan. tersebut pendidikan disebabkan oleh banyak faktor.

Keberhasilan dan efektivitas program kemiskinan berbagai penanggulangan dalam menjangkau orang miskin ditentukan program anti kemiskinan. dan telah diperoleh gambaran mengenai kemiskinan. Pemantauan profil penduduk miskin telah mulai dilakukan. kepada masalah- Pedoman tersebut pada dasarnya 16 . atau karena lingkungan selanjutnya merumuskan program khusus untuk mengatasi penyebab kemiskinan tersebut. kultural. Langkah sumber penyebab adalah kemiskinan. kegiatan dan bentuk bantuan yang akan dilak Hal ini menegaskan bahwa program penang gulangan kemiskinan perlu sesuai dengan kondisi masingmasing daerah. harus berisi Program pedoman- oleh keterpaduan dalam peren canaan dan pelaksanaan penanggulangan masalah berisi: Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM kemiskinan pedoman umum peningkatan perhatian kemiskinan. bersifat struktural atau kultural. Untuk itu pertama-taha kondisi harus diketahui fisik. Harus dapat dikembangkan strategi yang diarahkan secara khusus kepada wilayah dan kelompok miskin. dan pengentasan dan wilayah miskin yang ada pada kita penanggulangan penanggulangan perlu kemiskinan di jenis perkotaan. (4). (3).yang berlaku umum kana semakin tidak efektif dan peran utamanya harus digantikan dengan kebijaksanaan khusus yang langsung ditujukan ditujukan kepada dan untuk orang miskin. dibedakan mengindikasikan bahwa programnya. persebaran Profil penduduk miskin yang dapat digunakan untuk merumuskan kebijaksanaan rumahtangga pedesaan sanakan.

Masalah ketimpangan ini sangat rumit dan hanya dapat diatasi secara bertahap berkesinbambungan. Kesempatan Kesempatan yang terbuka oleh berbagai kegiatan pembangunan telah dapat dimanfaatkan secara lebih baik oleh sekelompok masya rakat Prakarsa kelas dibandingkan dengan masyarakat lainnya.3. Peningkatan masyarakat secara aktif dengan pendampingan yang perorangan seperti ini telah mengem bangkan pengusaha nasional yang selama ini telah menyum bang kepada pertumbuhan pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja khususnya di sektor industri. (c). Pada hakekatnya masalah kemiskinan tidak terlepas dari masalah yang lebih besar. berkesinbambungan. yaitu masalah ketimpangan antar wilayah dan antar golongan penduduk. masyarakat. 2.(a). Peningkatan desentralisasi dan otonomi peran dalam serta pengambilan keputusan. yang melibatkan berbagai lapisan masyarakayt merupakan masalah yang mendesak. (b).1. Ketimpangan sosial. Peningkatan dan penyempurnaan program-program pembangunan pembangunan pedesaan yang telah ada baik yang bersifat sektoral maupun regional termasuk program Inpres dan swadaya masyarakat. Faktor Penyebab Kemiskinan Beberapa hal yang diperkirakan menjadi penyebab kemiskinan di pedesaan adalah: Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 17 . (5). efektif.

Permasalahan rendahnya Kapabilitas dan Ketersediaan Sumber daya Alam bagi proses produksi primer. diperhatikan adanya fakta bahwa mereka juga "miskin" terhadap makna kemiskinan itu sendiri. Sejumlah besar rumah tangga petani tidak memi-liki lahan garapan (sawah) atau hanya menguasai lahan sangat sempit (kurang dari 0. Setiap usaha mengentas kemiskinan menjadi pekerjaan yang tidak mudah dan bahkan dipandang aneh dan mungkin dianggap "asosial".(1). tetapi pendapatan.05ha). pekerjaan. Rendahnya kqalitas sumberdaya lahan megakibatkan tingginya biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh petani produsen. fungsi Dalam situasi budaya seperti ini maka gejala dari keterbatasan dan kesehatan pekerjaan. (3). (2). Kemiskinan diterima sebagai keniscayaan yang tidak perlu dipermasalahkan lagi. juga harus kemiskin an tidak cukup kalau hanya dievaluasi sebagai pendidikan. akibat selanjutnya selanjutnya ialah proses produksi kurang efisien dan harga jual produk yang relatif tinggi dibandingkan dengna produk sejenis dari tempat lain. dan telah mewarnai pengalaman kesejarahan berjuta penduduk. Surplus tenagakerja pedesaan dengan ketrampilan teknis Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 18 . ternyata telah menyebabkan kemiskinan diterima sebagai bagian yang sah dari kehidupan dan mewarnai sistem nilai dan struktur sosial masyarakat. (4). saja. khususnya lahan usaha. Keterbatasan penguasaan faktor produksi pertanian. Kemiskinan yang telah berjalan dalam dimensi ruang dan waktu yang luas dan lama. Permasalahan tata nilai (etos).

proteksi setiap usaha dan kesempatan mereka harus (opportunity). (6). Keterbatasan alternatif pilihan teknologi budidaya untuk komoditi pertanian yang ekonomis. serta teknologi non pertanian. memadai. Keterbatasan lapangan kerja dan lapangan usaha di sektor pertanian. melakukan suatu secara lingkaran lingkaran yang lazim dalam bisnis modern.60%). teknologi pasca panen dan pengolahan hasil. atau masih bersifat kecil-kecilan dan sederhana sekali. Sebagian besar tenagakerja tenagakerja (penduduk usia produktif) sedang menganggur dalam berbagai tingkat pengangguran. (7). namun hampir separuh (40-45%) dari pekerja ini bekerja pada keluarga sendiri yang tidak dibayar. fasilitas permodalan. Kelompok masyarakat miskin di desa akses yang memadai untuk marginalnya sangat rendah. tidak mempunyai menentukan alternatif usaha Perkem-bangan lapangan tanaman dan agro-teknologinya. Keterbatasan informasi.dan manajemen yang terbatas. baik akibat keterbatasan lahan pertanian maupun sebagai akibat "keterlemparan" akibat masuknya input pertanian modern. Hampir dalam kegiatannya swakarsa dan bersedia untuk harus puas dengan apa yang Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 19 . sehingga produktivitas kerja non pertanian juga belum didukung oleh teknologi tepat guna yang memadai. Sementara itu lapangan pekerjaan non pertanian belum cukup ditunjang oleh tradisi bisnis desa. pembinaan. Walaupun tenagakerja paling banyak di sektor perta nian (50. karena keterbatasan berlatih (bukan keterbatasan pendidikan). (5).

(10). teknologi dan fasilitas per-kreditan. Terbatasnya volume uang yang beredar di pedesaan. Sebagian besar penduduk di pedesaan miskin jika memer lukan kredit untuk tambahan modal akan mencari pada saluran kredit atau lembaga keuangan non. keterbatasan akses untuk menentukan pilihan ekonomis. tanpa keinginan untuk lebih dari apa yang mungkin. tersebut Sementara itu faktor produksi unggulan oleh sektor perkotaan industrial. hampir dalam semua lapangan pekerjaan yang dilakukan. Kebijakan pemerintah yang lebih menitik beratkan pada laju pertumbuhan ekonomi. ternyata berdampak negatif terhadap kelompok masyarakat miskin. Hal ini mengakibatkan warga desa kurang memperoleh surplus yang berarti. (9). Nilai tukar perdagangan (term of trade) barang produk perdesaan lebih rendah terhadap barang produk perkotaan atau sektor modern.menjadi miliknya miliknya saja. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 20 . mungkin.formal. (8). hal ini merupakan dampak dari produktivitas marjinal yang sangat rendah atau nol dan keterbatasan fasilitas kredit resmi yang masuk ke desa. sehingga tidak memungkinkan memungkinkan melakukan akumulasi kapital. kebijakan kepada pertanian pangan pemenuhan yang nasional swasembada dan Demikian juga kepada mengacu telah dengan dititikberatkan kurang pedesaan konsumsi menyebabkan sektor pedesaan/pertanian hanya berfungsi seba-gai penyangga stabilitas ekonomi nasional. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya nilai tukar pdtani. dikuasai terutama dalam wujud informasi.

Masalah Gizi dan pangan. Masalah Masalah Masalah lingkungan pemukiman. kematian. (9). Belum berfungsinya kelembagaan swadaya masyarakat di perdesaan yang mampu menampung prakarsa. Pada kenyataannya masalah-masalah tersebut di atas dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan. Kesempatan penguasaan Masalah IPTEK/Ketrampilan. misalnya tak mencukupi dalam mendukung hidup sejumlah penduduk yang bertambah dan hidup dari alam itu. serta kelimpahan tenagakerja. khususnya keterbatasan penguasaan sumberdaya dan faktor produksi pertanian. Masalah (6). Pendidikan. (2). Masalah (7). Masalah pemilikan lahan. kesehatan. disebabkan oleh lingkungan sosial ekonomi dan budaya. (8). (2) masalahmasalah struktural. Rendahnya tingkat kesejahteraan rumah tangga miskin yang pada kenyataannya sangat berhubungan erat dengan (1). (5). (12).(11). Masalah dan (4). (10). Sedangkan fenomena kemiskinan buatan manusia (masyarakat sendiri). prasarana/sarana kebutuhan dasar. (3). Kelembagaan yang ada masih kurang fungsional dan/atau tingkat swadaya rendah. Masalah pendapatan yang diperoleh. kerja. Ada struktur kemiskinan yang menjadikan sebagian orang miskin (lapisan bawah) sedang Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 21 . yaitu (1) masalahmasalah sistem nilai (etos) dan kelembagaan infrastruktur. peran-serta dan swadaya swadaya masyarakat untuk mengentas diri sendiri. dan (3) masalah-masalah kebijakan dan pendekatan model pembangunan. Fenomena kemiskinan buatan (atau pengaruh) lingkungan alam berpangkal dari sumberdaya alam yang gersang. Pendidikan.

Dalam upaya pemberdayaan masyarakat tersebut. teknologi. bahkan kaya.2. 2. 2. Tergantung dari sisi mana pendekatan orang. Sebaliknya golongan kaya mempunyai motivasi kuat dan sifatsifat terpuji (positif) lainnya dan mencapai kesejahteraan kesejahteraan tinggi. mampu mengembangkan kekayaan yang sebagian berasal dari upaya nafkah golongan miskin. serba kuasa. sangat mutlak penciptaan kondisi yang dapat mendorong kemampuan masyarakat untuk memperoleh dan memanfaatkan hak-hak ekonomi. dan politik dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat.sebagian lain (lapisan atas) serba cukup.2. upaya orang luar dalam membantu mengatasinya menunjukkan menunjukkan corak yang berbeda-beda. keunggulan sumberdaya alam. cepat menyerah kalah). KELEMBAGAAN SOSIAL EKONOMI DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Aspirasi masyarakat yang berkembang saat ini mengisyaratkan perlunya kerangka mempercepat pemberdayaan penguasaan pembangunan masyarakat.1. sosial. Permasalahan Permasalahan pemberdayaan masyarakat ditinjau dari aspek Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 22 . Ada juga fihak yang mengalihkan perhatian pada "budaya miskin" (miskin karena malas atau berciri negatif lain: fatalistik. Dua pencirian itu dikontraskan dan dipisahkan satu dari yang lain. pengembangan kelembagaan pengelola sumberdaya. pedesaan melalui dan dalam penyediaan pemanfaatan sarana/ prasarana.

berusaha/ teknologi produksi. dan (5) belum berkembangnya kelembagaan yang mampu mempromosikan asas kemanusiaan. keadilan. dan perlindungan bagi masyarakat rentan.ekonomi adalah: (1) kurang berkembangnya sistem kelembagaan ekonomi untuk memberikan kesempatan kecil akses usaha. persamaan hak. (4) belum mantapnya kelembagaan yang dapat memberikan ketahanan dan perlindungan bagi masyarakat yang terkena musibah dampak krisis ekonomi. yang permasalahan dapat pemberdayaan pengaruh masyarakat adalah: (1) kurangnya mengurangi lingkungan sosial-budaya yang mengungkung masyarakat dalam kondisi kemiskinan struktural. sumberdaya alam. masyarakat informasi sumberdaya ekonomi berupa kapital. dll-nya. Ditinjau dari aspek upaya sosial. dan (3) lemahnya kemampuan masyarakat ekonomi mengembangkan kelembagaan meningkatkan posisi tawar dan daya saingnya. (2) kurangnya peningkatan informasi. dapat menjadi sarana interaksi akses masyarakat dan untuk memperoleh termasuk pengetahuan ketrampilan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 23 . berkembangnya kelembagaan masyarakat dan organisasi sosial yang. kecil yang input dan untuk dapat kegiatan usaha yang kompetitif. khususnya (2) kurangnya lokasi masyarakat penciptaan lahan dalam mengembangkan ke pasar. (3) kurang sosial. bagi masyarakat.

untuk dan masyarakat dan untuk memperoleh berasal sendiri. Pengembangan Kelembagaan Pengembangan Kelembagaan Sosial-Ekonomi Masyarakat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kelembagaan yang dibentuk oleh masyarakat setempat agar mampu menjadi Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 24 . dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan publik. strategi kebijakan umum yang perlu diambil adalah: 1. 2. Mengembangkan memfasilitasi memanfaatkan pemerintah meningkatkan kelembagaan sumberdaya dari kesejahteraan yang sosial yang dari dapat dan alam.2. 3.3. kebebasan menyampaikan pendapat. keberadaannya. serta memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan publik.2. Tantangan Tantangan utama dalam upaya pemberdayaan masyarakat adalah bagaimana membangun kelembagaan sosial-ekonomi yang mampu memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk dapat mengelola sumberdaya ekonomi secara optimal dan pendapatan yang layak.2. 2.2. martabat masyarakat sosial. Mengembangkan lembaga keswadayaan untuk membangun solidaritas dan ketahanan sosial masyarakat. martabat dan eksistensi pribadi. Dengan melihat permasalahan dan tantangan yang ada dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Mengembangkan kapasitas organisasi ekonomi masyarakat untuk dapat mengelola kegiatan usaha ekonomi secara kompetitif dan menguntungkan yang dapat memberikan lapangan kerja dan pendapatan yang layak. berkelompok dan berorganisasi.

Sasaran yang ingin dicapai adalah berkembangnya kelembagaan sosial-ekonomi masyarakat setempat yang dapat memberikan sarana bagi masyarakat dalam mengembangkan kesejahteraan sosial. (3) pengembangan forum komunikasi dan konsultasi antara pemerintah lembaga dan lembaga masyarakat kegiatan maupun antar masyarakat dalam pengambilan sosial-ekonomi yang dibentuk oleh keputusan publik. Kegiatan prioritas dalam Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM dan meningkatkan ketahanan sosial 25 . organisasi yayasan. kelompok asosiasi. Pengembangan Kelembagaan Keswadayaan dilakukan untuk mengembangkan kelembagaan keswadayaan atau volunter yang berfungsi dalam penggalangan solidaritas sosial dan partisipasi masyarakat luas untuk memecahkan masalah sosial kemasyarakatan masyarakat. dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan publik. (2) penyediaan bantuan pendampingan dalam pengembangan lembaga sosial-ekonomi masyarakat.wahana bagi masyarakat dalam mengembangkan kehidupan ekonomi. martabat dan keberadaan. Sasaran yang ingin dicapai dari program ini adalah terwujudnya sistem kelembagaan keswadayaan di masyarakat dan keaktifan kelompok masyarakat. Kegiatan prioritas dalam pengembangan kapasitas kelembagaan sosial masyarakat adalah: (1) penghapusan peraturan yang menghambat berkembangnya kelembagaan masyarakat. lembaga swadaya masyarakat dalam membantu pemecahan masalah pengelolaan sumberdaya.

pengembangan kelembagan keswadayaan masyarakat adalah : (1) pengembangan keswadayaan. terutama bidang agrokompleks yang melibatkan masyarakat pedesaan dengan berbagai bentuk usaha kecilnya. organisasi masyarakat setempat. (3) pengembangan forum komunikasi antar tokoh penggerak dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam kegiatan keswadayaan. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM skema jaringan kerja kegiatan 26 . (4) pengembangan kemitraan antar organisasi keswadayaan. 2. dan pemerintah.4. Makna Kelembagaan Kelembagaan (=institusi) seringkali dianggap sebagai kendala serius dalam menentukan keberhasilan pembangunan masyarakat pedesaan. Menurut Hathaway (1977). keberhasilan program pembangunan dalam perbaikan penyediaan pangan di negara-negara berkembang ditentukan oleh kemampuan “kelembagaan” untuk mengembangkan dan meningkatkan laju adopsi teknologi oleh para petani kecil di pedesaan. Sementara itu hasil kajian ADB (1978) menyimpulkan bahwa laju perkembangan sektor agraris di wilayah pedesaan tidak dibatasi oleh sikap dan perilaku petani. melainkan ditentukan oleh ketersediaan teknologi tepat guna dan lingkungan kelembagaan yang sesuai dan kondusif bagi petani. manpower development dan agricultural education ”. Dalam kaitan ini “key institutions ” nya adalah berkaitan dengan “ applied research. (5) pengurangan hambatan regulasi dan iklim yang menyangkut keberadaan peran organisasi keswadayaan.2. (2) pengembangan kapasitas lembaga-lembaga keswadayaan.

Berdasarkan hasil kajian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang membatasi pembangunan pertanian dan kesejahteraan Commons masyarakat di wilayah pedesaan adalah sebagai kelemahan kelembagaan yang berfungsi melayani masyarakat. (1959) mendefinisikan “kelembagaan” “collective action in restraint, liberation, and expansion of individual action ”. Definisi ini mengandung makna bahwa eksistensi kelembagaan dilandasi oleh adanya perbedaan antara perspektif bersama (kelompok) dengan perspektif individu (personal). Makna kelembagaan ini sangat penting dalam kaitannya dengan “pengembangan/perubahan kelembagaan untuk mencapai redistribusi kesejahteraan yang lenih baik”. Ruttan (1978) mendefinisikan “kelembagaan” sebagai “ the set of behavioural rules that govern a particular pattern of action and relationship”; sedangkan “organisasi” didefinisikan sebagai “a decision-making resources”. Wengert (1972) membedakan makna “kelembagaan” dan unit …… that exercises control over

“organisasi” seperti berikut. “Organisasi” merupakan struktur yang mampu mengubah, mengadopsikan, atau meniadakan perilaku individu/kelompok melalui legislasi; sedangkan “kelembagaan” menyangkut tata-nilai, kepercayaan, dan sosiopsiko-politik yang mempengaruhi perilaku individu/kelompok.

2.2.5. Institutional Change Berbagai literatur tentang pembangunan menggariskan wilayah dan pemberdayaan masyarakat pentingnya
27

Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM

“pengembangan/perubahan sistem kelembagaan” yang ada. Paling tidak ada tiga macam pola , yaitu: (1). Transformasi kelembagaan tradisional Salah satu alasan perlunya mentransformasi kelembagaan tradisional yang ada adalah agar mereka mampu menjadi lebih supportif terhadap proses pembangunan dan pengelolaan sumberdaya alam. Dalam kaitan ini biasanya fungsi kelembagaan tradisional adalah melestarikan law & order, mendorong survival dan akomodasi lingkungan, serta meningkatkan revenue-pajak (Dorner, 1974). Dalam banyak kasus, kelembagaan tradisional seperti keluarga dan kerabatnya, faksi-faksi desa, dan tokoh masyarakat sangat mempengaruhi inovasi seperti partisipasi masyarakat secara luas, voluntary leadership, dan inisiatif (Owens dan Shaw, 1972). Untuk mencapai keberhasilan pembangunan dan

pemberdayaan

masyarakat,

kelembagaan

tradisional

seperti di atas “harus dapat dikembangkan” menjadi kelembagaan yang mampu men-support proses perubahan, yaitu kelembagaan yang dinamis dan mampu menyediakan insentif bagi perubahan yang diperlukan, seperti pengelolaan sumberdaya DAS yang lestari. (2). Perubahan kelembagaan untuk me-redistribusi pendapatan dan kesejahteraan Dorner (1974) mengemukakan suatu model reformasi kelembagaan, politik, untuk yang melibatkan perubahan PROPERTY yang ada.
28

RIGHTS, penguasaan sumberdaya, dan kekuatan ekonomi & mengoreksi kesenjangan

Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM

Sementara

itu,

menurut

Dantwala

(1973),

perubahan

kelembagaan tanpa didahului

oleh perubahan teknologi ,

tidak akan menghasilkan dampak apa-apa. Taylor dan Parker (1977) memperbaiki distribusi air yang tidak merata dalam suatu sistem irigasi dengan jalan menata struktur kelembagaannya yang mampu mengalokasikan sumberdaya air yang “langka”. (3). Dinamika perubahan kelembagaan Perubahan kelembagaan hanya akan terjadi kalau ada tekanan-tekanan terhadapnya. Beberapa “tekanan” seperti ini adalah penduduk dinamika masyarakat introduksi teknologi dan peningkatan populasi (Dorner, 1974). akan untuk Menurut semakin Schultz (1968), dan pembangunan pedesaan mendorong petani

membutuhkan

adanya penyesuaian kelembagaan. Misalnya, mereka akan membutuhkan fasilitas kredit yang lebih banyak dan lebih tepat waktu, kontrak tenancy yang lebih fleksibel, dan akses yang lebih baik terhadap fasilitas irigasi, serta inovasi teknologi. Hayami dan Ruttan (1971) mengemukakan disebut model

pengembangan teknologi menjadi akan

kelembagaan mendorong sistem yang

yang

INDUCED melakukan yang ada Namun perubahan

DEVELOPMENT MODEL . perubahan-perubahan kelembagaan untuk

Menurut model ini, introduksi masyarakat kelembagaan lebih relevan.

demikian, menurut Powell (1971), intervensi eksternal diperlukan mempercepat terjadinya kelembagan tersebut.
Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM

29

implementasi. Demikian pula halnya dalam tahap pelaksanaan. dimana masyarkat hanya dilibatkan pada studi awal dalam proses identifikasi sedangkan kebutuhan-kebutuhan pengambilan keputusan yang dirasakannya. pemanfaatan.3.3. PEMBERDAYAAN USAHA & SDM 2. Hal ini misalnya terjadi pada tahap perencanaan. Namun dalam hal ini. yang secara garis besar akan mencakup tahapan perencanaan. Pelaksanaan kegiatan Pemberdayaan Ekonomi secara partisipatif UKM pada dalam hakekatnya adalah berbasis UKM upaya untuk mengikutsertakan semua pihak terkait. khususnya dari pihak masyarakat keseluruhan tahapan kegiatan pelaksanaan kegiatan Pemerdayaan Ekonomi Masyarakat. Pendekatan partisipatif dilaksanakan untuk dapat lebih menjamin keberhasilan pelaksanaan program pembangunan maupun dalam rangka menjaga kesinambungan kondisi dan pemanfaatan hasil yang telah dicapai dari programprogram pembangunan tersebut. perlu dihindari kecenderungan implementasi yang tidak mengikutsertakan partisipatif masyarakat dalam pembangunan (cenderung bersifat parsial).1. dimana keterlibatan aktif masyarakat terbatas Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 30 . program terhadap pembangunan yang akan dijalankan tetap dilakukan oleh pihak lain (top down planning ). dan pengendalian (monitoring dan evaluasi).2. Pendekatan Partisipatif Pendekatan partisipatif masyarakat dalam pembangunan pada dasarnya merupakan pencerminan dari konsep bottom up planning serta salah satu perwujudan dari upaya pemberdayaan masyarakat.

membimbing. Hasil maupun dampak dari kegiatan pemberdayaan ekonomi. merumuskan rencana konsekwensinya. akan lebih banyak dirasakan oleh masyarakat UKM sendiri. perumusan alternatif. Berangkat dari hal tersebut. dalam pengambilan terhadap bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam konteks ini. tetapi juga menyangkut kepentingan masyarakat UKM sendiri. serta rencana/langkah yang dipilih selama berada dalam konteks pelaksanaan kegiatan pendekatan tanggungjawab ini. kemitraan partisipatif pelaksanaan kegiatan pemberdayaan UKM disebabkan karena tindakan yang akan diambil serta hasil pelaksanaan program pada hakekatnya bukanlah ditujukan untuk kepentingan pihak proyek. hingga keputusan dalam monitoring masyarakat pendekatan dan evaluasi program. tim konsultan bersama aparat pemerintah daerah akan berperan sebagai fasilitator yang akan mendampingi. aparat pemerintahan daerah atau pihak konsultan pelaksana saja. Melalui dan dan 31 rencana/memilih keputusan. alternatif menyusun dan membantu pemecahan masyarakat berikut dalam mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan. maka kegiatan-kegiatan Pemberdayaan Ekonomi UKM harus dirancang sedemikian rupa sehingga masyarakatlah yang akan lebih banyak menentukan arah dan langkah pelaksanaan kegiatan Ekonomi UKM. Konsep partisipatif masyarakat ini harus diterjemahkan secara lebih luas.pada pekerjaan pembangunan fisik sehingga lebih tepat disebut sebagai mobilisasi fisik daripada partisipatif. proses analisis. mewujudkan UKM. langsung ataupun tidak. mulai dari pengumpulan pelaksanaan keterlibatan Pentingnya data. Pemerdayaan Ekonomi rasa dalam diharapkan masyarakat kepemilikan pelaksanaan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM .

pemeliharaan kegiatan-kegiatan UKM akan meningkat.3. karena pada dasarnya kegiatan-kegiatan tersebut direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat sendiri. serta pihak sewasta baik dari kalangan pengusaha besar. Upaya untuk meningkatkan keterkaitan ekonomi tersebut diwujudkan melalui pembentukan jaringan kemitraan diantara aktor-aktor terkait. atau cara implementasi yang lebih baik lagi di masa mendatang. dilakukannya serta bagaimana memonitor dan menciptakan mengevaluasi terhadap apa yang telah direncanakan dan sebagai bahan masukan untuk kondisi.2 Pendekatan satu Kemitraan Antara Masyarakat. yaitu masyarakat. Dalam konteks upaya pemberdayaan masyarakat. jaringan kemitraan yang dibentuk dapat ditinjau dalam konteks keterkaitan antar sektor komoditas serta konteks perwilayahan. rencana. pendekatan partisipatif masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. maupun pengusaha kecil. 2. Dalam hal ini. pengelolaan. keterkaitan ini dapat dibedakan menjadi keterkaitan kebelakang (backward Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 32 . aparat pemerintah daerah. dan pemasaran sumber daya kelautan. bagaimana Masyarakat menyusun akan belajar kegiatan dan yang mengetahui baik. Dalam tinjauan keterkaitan agar sektor komoditas. Aparat kegiatan Pemerdayaan dan Pemda dan Swasta Salah strategi linkages) pelaksanaan dalam Ekonomi (economic UKM adalah untuk memperbaiki keterkaitan ekonomi rangka meningkatkan memperlancar proses produksi. menengah. cara rencana melaksanakan rencana.

baik dalam lingkup lokal. Sedangkan keterkaitan ke depan akan lebih terkait pada pembentukan jaringan kemitraan dalam pemasaran hasil produksi sumber daya kelautan hingga sampai ke tangan konsumen. Keterkaitan kebelakang akan berhubungan dengan jaringan kemitraan dalam pengadaan input serta pelaksanaan proses produksi. peralatan budidaya atau peralatan pengolahan hasil produksi lebih lanjut (pengolahan pasca panen). maupun internasional.Oleh karena itu.Yang terjadi adalah pola-pola hubungan desa-kota yang cenderung menjadikan desa hanya sebagai wilayah eksploitasi pemenuhan pemenuhan dari kota dan penduduknya.linkage) serta keterkaitan kedepan (forword linkage). Orientasi yang dengan pelaksanaan kemudian kewilayah dikawasan menularkan dapat perkotaan berjalan diharapkan perkembangannya sempurna. hubungan keterkaitan ini diarahkanuntuk dapat mengurangi kesenjangan desa dan kota. hubungan kemitraan ini akan terkait dalam tinjauan antara daerah produksi dengan wilayah pemasarannya. Sedangkan dalam konteks perwilayahan. regional. nasional. seperti pemenuhan kebutuhan alat tangkap.tidak yang dicita-citakan. Dalam lingkup lokal (yaitu dalam tinjauan hubungan desa/pesisir – kota). Salah satu penyebab timbulnya kesenjangan desa-kota tersebut adalah akibat tidak berjalannya konsep tricle down effect sebagaimana pembangunan akan disekitarnya.pembangunan jaringan kemitraan Pemerdayaan Ekonomi Kawasan Pesisir (PEKP) berbasis sumber daya kelautan unggulan dalam konteks pendekatan hubungan pewilayah desa-kota harus mampu menciptakan hubungan timbal balik yang seimbang dan saling menguntungkan sehingga pada akhirnya dapat mengurangi kesenjangan antara Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 33 .

yaitu dari unsur masyarakat. serta masyarakat dalam kapasitasnya sebagai plasma yang akan berkaitan langsung proses budi daya paupun penangkapan sumber daya laut. pihak swasta dalam kapasitasnya sebagai inti maupun bapak angkat dalam proses produksi dan distribusi sumber daya laut.dan pihak aparat pemerintah daerah. Ketiga aktor ini akan dihimpun dalam suatu wadah jaringan kemitraan sedemikian rupa sehingga diantara ketiganya terbentuk kapasitas pemerintahan suatu kesepakatan sesuai dalam dengan masingkebijakan pengembangan fungsi.dan penyelenggara ekonomi kawasan pesisir kewenangannya dan pembuat masing. Upaya untuk menciptakan jaringan kemitraan tersebut (baik dalam lingkup kemitraan sektoral maupun perwilayahan) difasilitasi dengan mempertemukan antara semua aktor terkait dalam pembangunan dan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. BAB II METODOLOGI PENELITIAN Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 34 .yaitu pemerintah daerah dalam kapasitasnya sebagai pembangunan di daerah.desa-kota.pihak swasta.peran.

modal. tetapi bisa dalam bentuk non formal berupa aturan main atau model-model kerjasama antar KUKM. melalui lembaga permodalan Kelembagaan memperkuat yangdibangun tidak harus selalu dalam bentuk kelembagaan formal. pasar. atau bentukbentuk lainnya. KERANGKA KONSEPSIONAL PENGKAJIAN Perkuatan koperasi. Dalam upaya memperkuat posisi dan peran KUKM tersebut di atas Nasution (2000) berpendapat ada beberapa langkah strategis harus ditempuh adalah membangun kelembagaan yang mampu berperan mempersatukan KUKM sehingga KUKM dapat meningkatkan akses terhadap. adalah pembentukan Langkah pertama dalam membangun KUKM akses terhadap permodalan KUKM.2. informasi dan teknologi. Sebaliknya dalam kondisi aktual mereka tereksploitasi oleh usaha besar yang formal dan modern. usaha kecil dan usaha menengah (KUKM) secara langsung mendorong pertumbuhan perekonomian rakyat untuk secepatnya terintegrasi dalam perekonomian perekonomian nasional secara keseluruhan. Model kerjasama tersebut dapat berbentuk kemitraaan.1. Demikian juga memberdayakan KUKM mendorong percepatan struktural ekonomi tradisional ke ekonomi modern. Untuk itu diperlukan penyusunan sistem pola Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 35 . serta dari ekonomi lemah ke ekonomi yang tangguh. Dalam era keterbukaan sekarang ini KUKM harus diperkuat berarti untuk secara aktual menjadi perubahan basis menjadi dari perekonomian nasional. arisan. Kebijakan ini sangat diperlukan karena perekonomian rakyat yang didominasi oleh usaha kecil selama era orde baru hanya menjadi bagian (subsistem/marginal) dan hanya di dengung-dengungkan secara normatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

sindikasi. Yang harus diwaspadai adalah bahwa lembaga profit yang tetapi dibentuk yang tidak hanya adalah diorientasikan pasar dapat diperlukan. Membangun kelembagaan kerjasama kemitraan dalam bentuk formal maupun non formal harus dilakukan sendiri oleh KUKM agar terbangun rasa memiliki. lembaga kemitraan usaha baik dalam bentuk asosiasi dan sindikasi selama ini sebagian besar terkecuali telah gagal melaksanakan amanat dari para anggotanya. Dalam bentuk formal. sesuai dengan kondisi KUKM. untuk itu juga harus dikelola dan hasilnya dinikmati oleh KUKM sendiri. Dibidang kelembagaan untuk pembangunan sistem kemitraan ini pemerintah mutlak harus melakukan reformasi sesuai dengan semangat dan jiwa GBHN 1999 untuk memberdayakan Usaha Kecil. Lebih jauh dikatakan oleh Nasution (2000).dan model kerjasama yang sesuai dengan kondisi KUKM akan berdampak efektif efisien bagi perkuatan KUKM. Pemerintah seharusnya juga mau memberikan dukungan untuk memperkokoh lembaga keuangan KUKM seperti dalam pembentukan lembaga kemitraan bahkan seharusnya di era Reformasi seperti sekarang ini keperpihakan kepadaUsaha Kecil menengah dan koperasi harus jelas-jelas diwujudkan. asosiasi dan sebagainya. Hal ini misalnya Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 36 . Pendekatan ini (swakarsa dan swadaya KUKM) adalah sangat strategis sedangkan bantuan yang diperlukan dari pemerintah hanyalah pemberian yang kesempatan melalui peraturan perundang-undangan pada terpenting perkuatan akses KUKM terhadap berbagai faktor produksi dan lebih mudah diperoleh oleh KUKM pada saat kondusif. kerjasama ini dapat dilembagkan dalam bentuk koperasi.

Kondisi yang demikian juga merupakan dampak dari tidak adanya keterkaitan struktural yang jelas antar KUM karena pada banyak komoditas pengusaha besar hanya bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan dua kelompok KUKM yaitu KUKM yang berlaku sebagai produsen dan KUKM yang berlaku sebagai konsumen. Sebagai contoh misalnya asosiasi eksportir textil membantu para pengusaha kecil dibidang kerajinan berbahan textil sulaman. Dalam hal pemasaran kondisi pasar yang dihadapi KUKM juga masih belum kondusif hal ini dikarenakan lemahnya kondisi yang menyebabkan lemahnya posisii KUKM dalam pasar.dengan menetapkan salah satu asosiasi yang sehat dikembangkan peranya untuk mendukung KUKM pada satu sektor usaha tertentu. Kerjasama tersebut juga dapat dilakukan dalam berbagai bentuk yang didasarkan pada saling ketergantungan dan kesetaraan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 37 . Dengan perkataan lain untuk mendukung pembangunan KUKM yang diperlukan adalah pembangunan sistem kerjasama usaha antar UKM baik dalam dalam lingkup sektoral maupun kewilayahan. Kondisi yang demikian juga tidak akan terjadi jika terbangun satu sistem kelembagaan yang menghubungkan kedua kelompok KUKM tersebut. yang sesuai dengan bidang usaha asosiasi yang bersangkutan. Ironisnya marjin terbesar dalam kegiatan ekonomi tersebut jatuh di pasar dan pasar dikuasai oleh pengusaha besar dengan perkataan lain pengusaha besarlah yang mendapat keuntungan terbesar dalam proses ekonomi tersebut. renda tenun dan lain-lain. Sekali lagi disini diperlukan adanya suatu kelembagaan antara yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi produsen dan penekanan harga bagi konsumen yang kedua-duanya mungkin adalah KUKM. KUM selalu dihadapkan pada ketidakpastian pasardan ketidak-pastian harga.

Kenyataan menunjukan campur tangan pemerintah dalam pasar malah tidak akan dapat memecahkan masalah. Penyatuan yang KUKM dalam dan suatu kelembagaan lokasi usaha nampaknya dari KUKM. Adanya saling ketergantungan merupakan modal dasar bagi KUKM untuk untuk membangun kerjasama sedangkan adanya kesetaraan memungkinkan terjadinya kesesuaian tune in. monopsoni. Pengalaman selama era orde baru memperlihatkan bahwa mekanisme pasar seakan-akan tidak dapat diperbaikai tanpa intervensi pemerintah. kartel bagi masuknya usaha kecil ke pasar sebagian juga merupakan kesempatan yang diberikan pemerintah kepada kelompok usaha besar. Hambatan memperbesar kesenjangan dan terhadap kuatnya menopoli.posisi diantara KUKM-KUKM. Oleh sebab itu untuk membuka peluang masuknya KUKM ke dalam pasar mutlak diperlukan kebijaksanaan pemerintah yang lebih transparan dan konsisten dan usaha KUKM sendiri melalui penyatuan potensi yang cukup besar yang ada dalam kelompok usaha ekonomi ini. dan dapat menghindari adanya eksploitasi atau penindasan antar unsur yang melakukan kerjasama. sebaliknya semakin ketidak-merataan. bukanlah hal yang mudah karena sangat beragamnya usaha dilakukan luasnya Keberagaman dan penyebaran KUKM di satu sisi merupakan kendala untuk mempersatukan KUKM tetapi dilihatdari sisi yang lain hal tersebut merupakan potensi yang sangat besar yang Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 38 . Dengan perkataan lain yang diperlukan adalah kebijakan yang memungkinkan KUKM dapat bersaing sehat dan KUKM sendiri harus mempersatukan kekuatan untuk mampu bersaing dengan usaha besar.

Kelancaran distribusi arus barang dan jasa serta kebutuhan pokok amat penting pula bagi semua dapat ditanggulangi melalui pola kemitraan yang saling diantara KUKM dilapisan paling bawah.. dari ekonomi subsisten ke demikian meliputi mensyaratkan pengalokasian ekonomi pasar dan dari mendasar yang ketergantungan kepada kemandirian. KUKM tidak banyak lagi mengharapkan prasarana bantuan pemerintah untuk untuk membangun perhubungan mendukung kelancaran produksi dan pemasaran.bila diarahkan akan menjadi satu kekuatan yang sulit tertandingi. Perubahan struktural yang langkah-langkah sumberdaya tersedia. Dengan demikian memperkuat sektor perdagangan eceran adalah sangat strategis sifatnya dalam upaya memperkuat Usaha Kecil. Perubahan struktural ini meliputi proses perubahan dari ekonomi tradisional ke ekonomi modern. Salah satu cara yang paling efektif dalam hal ini adalah membangun suatu sistem kemitraan antar KUKM yang dikuti dengan penyusunan berbagai model kemitraan yangsesuai dengan kondisi dan potensi KUKM. Dengan adanya sistem kemitran KUKM. perlu ditempuh upaya mendorong percepatan perubahan struktural (Structural adjusment and structural tranformation) . Pembangunan sistem dan model kemitraan antar KUKM ini juga secara langsung dapat mengatasi masalah keterbatasan sarana dan prasarana perhubungan juga menghambat berkembang KUKM. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 39 . penguatan kelembagaan serta pemberdayaan sumberdaya manusia. dari ekonomi lemah ke ekonomi yang tangguh. Untuk memperkuat kedudukan dan peran pengusaha kecil dalam perekonomian nasional tersebut.

Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 40 . Dengan berpegang pada asas optimalitas maka pemakaian tenaga kerja lokal merupakan bentuk parisipasi masyarakat setempat. teknologi. permodal. terutama melalui kegiatan agribisnis yang agroindustri yang kuat. modal. serta pemupukan usaha kecil. yang berbeda dengan cara-cara bank konvensional (yang menerapkan konsep The Five C of cridite ). dengan memanfaatkan potensi sumberdaya ditopang lokal. Demikian juag lembaga-lembaga sosial ekonomi yang ada perlu diikut-sertakan. Pemanfaatan oleh sumberdaya lokal harus dilakukan dengan tetap memperhatikan asas optimalitas dan kelestarian sumberdaya dan lingkungannya. Kedua. Dalam hal ini perlu dihindari kasus persyaratan perbankan yang selama ini menjadi kendala bagi karena kelompok pelaku ekonomi ini tidak bankable. memyediakan permodalan melalui usaha perkreditan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi usaha kecil dan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan mereka. Pengembangan usaha kecil terutama arahkan ke daerah perdesaaan untuk mendukung transformasi ekonomi perdesaan melalui proses industrialisasi.Dalam mengupayakan transformasi struktural perlu ditempuh beberapa langkah strategis yang antara lain : Pertama . dan memperkuat akses usaha kecil dari aspek. dengan mengembangkan lembaga keuangan alternatif misalnya lembaga keuangan syariah (sistem bagi hasil). Untuk itu dibidang perkreditan diperlukan pendekatan yang lebih progresif. serta dari aspek informasi dan pasar. Reformasi kebijaksanaan pengembangan dunia usaha yang harus diarahkan pada penguatan kedudukan dan peran usaha kecil sebagai bagian terbesar dari rakyat Indonesia. penggetahuan.

Untuk tujuan secara dan harus disediakan teknis keterampilan manajemen keterampilan bisnis. mereka dalam pasar. Pemerataan pembangunan antar daerah dalam rangka pengembangan eksistensi usaha kecil tersebut. Dengan dilatarbelakangi pada kondisi-kondisi yang telah diuraikan dimuka serta pemahaman tentang arah. Kelima. Untuk tujuan tersebut maka sumberdaya manusia dan sumberdaya maya (instusi-institusi) yang ada di daerah perlu diperankan dan terus diperkuat eksistensinya. untuk itu kualitas produk usaha kecil harus ditingkatkan dan para pengusaha kecil harus diorganisasikan untuk bersamasama memasarkan hasil produksinya sehingga dapat memperkuat posisi tawar ( bargaining position ). Untuk tujuan tersebut nampaknya wadah koperasi amat cocok untuk kegiatan ini. yang diharapkan dapat berkembang menjadi wirausaha menengah tersebut keterampilan kecil maka dan seterusnya luas akan menjadi wirausaha pelatihan serta yang kuat dan saling menujang. memperkuat posisi transaksi dan kemitraaan usaha kecil. termasuk pengetahuan mengenai pasar serta cara untuk memperoleh pendanaan-nya.Ketiga. mekipun demikian koperasi bukan satu-satunya wadah yang disarankan untuk membantu pengembangan usaha kecil. dinamika Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 41 . diaplikasikan dengan memberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang usaha kecil dan koperasi terutama di daerahdaerah terbelakang. Keempat. Kebijaksanaan ketenaga-kerjaan yang mendorong tumbuhnya tenaga kerja mandiri sebagai cikal bakal lapisan wirausaha baru.

tersebut unsur terdapat yang perbedaan dapat Sebaliknya kemitraan akan berjalan timpang jika diantara yang yang bermitra berakkibat satu mengekspoloitir unsur lainnya yang berada pada posisi lebih 42 . Dalam hal kemitraan sebagai suatu sistem dapat dikemukan pendapat Nasution (1986) yang menyatakan bahwa dalam suatu sistem usaha yang dilaksanakan oleh beberapa komponen sistem maka resiko terbesar akan ditanggung oleh komponen sistem yang berada pada posisi terlemah. Model kemitraan ini memungkinkan KUKM mampu melakukan kegiatan-kegiatan melalui dukungan jaringan infrastruktur komunikasi dan koordinasi antar KUKM. Demikian juga pendapat pareto (1927) yang mengemukakan bahwa dalam suatu sistem kepuasan maksimal dari satu komponen sistem akan mengurangi kepuasan dari komponen sistem lainnya. 2. Dengan demikian menurut Anwar (1992) untuk mendapatkan oiptimalitas kemanfaatan dari semua komponen sistem tersebut diperlukan adanya konsepsi dasar perimbangan dan pengaturan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM memeliki kesamaan bagainibg.2.interaksi kedepan khususnya dalam pemberdayaan pengusaha kecil inilah yang menjadi salah satu dasar diperlukannya suatu model kemitraan yang dapat menjadi wadah pengembangan eksistensi mereka. Kemitraan akan berjalan efektif dan efisien serta salaing menguntungkan jika diantara unsur-unsur yang bermitra unsur--unsur bagaianing lemah. KERANGKA OPERASIONAL Kemitraan merupakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan diantara dua atau lebih unsur pemitra yang dibangun berdasarkan kesamaan tujuan dan terdapat faktor ketergantungan diantara keduanya.

Kelima faktor diatas akan menjadi variabel bebas yang secara langsung dan tidak langsung diduga dapat mempengaruhi keberhasilan pola kemitraan yang akan disusun. Keberhasilan itu sendiri dapat diindikasikan dari : a) peningkatan omzet usaha dan keuntungan KUKM dan b) Perluasan jangkauan usaha KUKM. Dari pendapat ketiga pakar diatas. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM lebih dahulu perlu dikaji unsur unsur kemitraan yang dapat mendukung efisien dan efektifitas tersebut anatara unsur-unsur dalam kebijakan pembinaan dari 43 . Pembuktian dari dugaan tersebut baru dapat dilakukan setelah konsep yang disusun diujucobakan di lapang setelah terlebih dahulu dilkukan pola yang akan disusun disempurnakan melalui diskusi-diskusi dan loka karya. Unsur lingkungan yang dapat dirinci menjadi kondisi ekonomi dan sosial serta pemerintah. Mengingat bahwa kajian ini masih dalam taraf penyusunan konsep maka kewberhasilan pola pelaksanaan dan pengaruh dari tiap unsur (variabel bebas) terhadap keberhasilan tersebut masih bersifat dugaan.melalui kelembagaan yang kondusif dalam arti mampu mendistribusikan sumber daya secara efisien. maka untuk membangun suatu pola kemitraan sebagai suatu suatu sistem yang efisien dan efektif. lain : a) b) c) d) e) kesamaan persepsi tujuan dan harapan kemanfaatan : Kesamaan bargaining diantara para pelaku kemitraan Adanya saling ketergatungan antara sistem Ada tidaknya potensi Konflik dan.

Sumatera Selatan. DI. serta melibatkan para peneliti dan narasumber dengan bidang keahliannya.6.4. b. PELAKSANAAN Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan oleh Deputi Sumberdaya Koperasi dan UKM. Kementerian Koperasi dan UKM bekerjasama dengan Lembaga yang Pengabdian sesuai Kepada Masyarakat (LPM) Universitas Brawijaya. RUANG LINGKUP KAJIAN a. Nusa Tenggara Barat. Yogyakarta.1 Data Primer Sumber data primer adalah instansi-instansi terkait.2.2. hasil penelitian dari berbagai lembaga.2. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.3. Menginventarisasi pengembangan UKM Menganalisisi dampak kemitraan terhadap kinerja UKM Menganalisis Prospek kemitraan usaha dalam pengembangan usaha UKM model-model kemitraan dalam 3. Jawa Timur. 3.5. 3. Bali. LOKASI Lokasi kegiatan ini akan dilaksanakan di Sumatera Barat.3. Data diperoleh dengan cara interview langsung. 3. c. DATA YANG DIPAKAI 3. Data Sekunder Data sekunder diperoleh melalui kajian literatur. 44 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . berbagai buku dan laporan penelitian yang sudah dipublikasikan.

1. BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS 4. (baik modal.Operasionalisasi pengkajian dilaksanakan oleh Tim peneliti dari Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) Universitas Brawijaya. Kesenjangan tersebut terutama Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 45 . KONDISI DAN PEMBANGUNAN UKM Pembangunan ekonomi yang dilaksanakan selama era orde yang berorientasi pada usaha mengejar pertumbuhan (dengan menerapkan kemajuan teknologi dan informasi) dalam kondisi kepincangan pemilikan faktorfaktor-faktor produksi di masyarakat. Hasil dari berbagai program pembangunan ekonomi memang terlihat nyata. berupa peningkatan produksi (terutama peningkatan gross national produck dan in come per kapita yang pada tahun 1996 telah mencapai US $ 967). Waktu dan Kegiatan Penelitian ini merlukan waktu 5 (lima) bulan yaitu dimulai bulan Juli 2002 dan selesai pada bulan November 2002. 3. maupun teknologi dan keahlian) telah melahirkan keberhasilan semu berupa peningkatan preoduksi dan pendapatan masyarakat yangsangat tidak merata. ternyata juga secara langsung telah memperlebar kesenjangan ekonomi dan sosial antar kelompok dalam masyarakat.7.

Pada masa masa awal reformasi terlihat bahwa kondisi perekonomian nasional sudah berada pada titik nadir. Kemajuan kebudayaan manusia tersebut ternyata merugikan mereka (Baik sebagai petani berlahan sempit dan usaha bermodal gurem). (Capital intensive) dan terkonsentarasinya pemilikan faktor-faktor produksi pada sekelompok pemilik modal.dengan perkotaan Ketimpangan tersebut jelas sangat diperbesar dengan masuknya teknologi baru di berbagai bidang sehingga cenderung mengarah pada pembangunan yang bersifat padat modal. Kondisi pembangunan yang demikian. terutama dengan kehadiran teknologi maju. Bagi kelompok KUKM yang ternyata tidak banyak terimbas oleh krisis moneter pembangunan yang tidak membuka peluang patisipasi bagi mereka. dan antar daerah serta antara pedesaaan. tidak termanfaatkannya sumberdaya manusia. sejak dini telah dirasakan. yang antara lain diindikasikan dari rusaknya sumber daya alam (terutama pertambangan dan hutan). serta pencemaran lingkungan yang cukup parah. dengan skala ekonomi yang relatif kecilkecil-kecil mereka (sebagian besar warga masyarakat yang tergolong KUKM memang tidak mampu memanfaatkan kemajuan teknologi yang memerlukan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 46 . dalam jangka pendek memang belum memperlihatkan dampak yang mencemaskan. namun dengan terjadinya krisis moneter (yang salah satu penyebabnya juga kesalahan dalam menentukan orientasi pembangunan kearah usaha-usaha yang bersifat padat modal dan berjangka panjang seperti usaha property) terlihat bahwa inefisiensi sumber daya pembangunan tersebut telah memporak porandakan sistem perekonomian nasional.berupa ketimpangan peluang berusaha yang secara langsung mempengaruhi distribusi pendapatan antar golongan dalam masyarakat.

berkembangnya UKM akan dapat membantu mengurangi kesenjangan pendapatan antara pusatdan Daerah Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 47 . Namun kelemahan mereka ternyata membawa hikmah tersendiri. Oleh karenanya.tambahan modal). Kedua. dibandingkan dengan usaha besar. Hal tersebut sejalan dengan yang tersirat dalam GBHN (1999) yang menggaris bawahi bahwa pengembangan Koperasi usaha kecil dan Menengah mempunyai dalam pembangunan peranan yang sangat penting ekonomi rakyat. Hal ini berarti bahwa pembentukan dan distribusi pendapatan daerah juag akan tergantung pada perkembangan UKM dari segala sektor ekonomi. Pertama. usaha skala kecil lebih bersifat padat tenaga kerja ( labour-intensive) dengan demikian pengembangan usaha kecil atau usaha rumah tangga dapat digunakan sebagai salah satu instrumen kebijaksanaan dalam menanggulangi masalah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Hasil pengamatan lapang lebih lanjut mengindikasikan bahwa perkuatan KUKM bersifat linier dengan pembangunan pada upaya perekonomian nasional yang berorientasi mengoptimalkan semua potensi sumberdaya nasional. Oleh karena itu ada lintassektoral dalam upaya empat alasan yang perlu dikemukakan dalam mendukung pembangunan kelembgaan pengembangan UKM adalah . karena mereka dalam kondisi krisis ekonomi ternyata mampu bersaing karena skala usaha yang kecil-kecil tersebut ternyata malah dapat melampaui titik marjinal produktivity . sebagian besar UKM di Indonesia terdapat di daerah.

Pengembangan usaha kecil terutama arahkan ke daerah perdesaaan untuk mendukung transformasi ekonomi perdesaan melalui proses industrialisasi. Reformasi kebijaksanaan pengembangan dunia usaha yang harus diarahkan pada penguatan kedudukan dan peran usaha kecil sebagai bagian terbesar dari rakyat Indonesia. dari ekonomi subsisten ke ekonomi pasar dan dari ketergantungan kepada kemandirian. dengan memanfaatkan potensi sumberdaya ditopang lokal. proses produksi pada UKM relatif intensif dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang tersedia secara lokal atau barang-barang masukan yang bisa dibuat di dalam negeri. Keempat. barang-barang Untuk memperkuat kedudukan dan peran pengusahha kecil dalam perekonomian nasional tersebut.Ketiga. pengembangan UKM dapat mendukung usaha-usaha peningkatan ekspor non-migas seperti misalnya sepatu. Perubahan struktural yang demikian mensyaratkan langkah-langkah mendasar yang meliputi pengalokasian sumberdaya tersedia. Dengan demikian pertumbuhan UKM tidak akan membebani atau berdampak negatif terhadap neraca pembayaran negara. perlu ditempuh upaya mendorong percepatan perubahan struktural (Structural adjusment and structural tranformation) . Pemanfaatan oleh sumberdaya lokal harus dilakukan dengan tetap memperhatikan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 48 . pakaian jadi. penguatan kelembagaan serta pemberdayaan sumberdaya manusia. Dalam mengupayakan transformasi struktural perlu ditempuh beberapa langkah strategis yang antara lain : Pertama . terutama melalui kegiatan agribisnis yang agroindustri yang kuat. Perubahan struktural ini meliputi proses perubahan dari ekonomi tradisional ke ekonomi modern. dari ekonomi lemah ke ekonomi yang tangguh.

mereka dalam pasar. teknologi. dengan mengembangkan lembaga keuangan alternatif misalnya lembaga keuangan syariah (sistem bagi hasil). Untuk itu kualitas produk usaha kecil harus ditingkatkan dan para pengusaha kecil harus diorganisasikan untuk berasmasama memasarkan hasil produksinya sehingga dapat memperkuat posisi tawar ( bargaining position ). mekipun demikian koperasi bukan satu-satunya wadah yang disarankan untuk membantu pengembangan usaha kecil. Dalam hal ini perlu dihindari kasus persyaratan perbankan yang selama ini menjadi kendala bagi karena kelompok pelaku ekonomi ini tidak bankable. memperkuat posisi transaksi dan kemitraaan usaha kecil. penggetahuan. yang berbeda dengan cara-cara bank konvensional (yang menerapkan konsep The Five C of cridite ). Keempat. Untuk tujuan tersebut nampaknya wadah koperasi amat cocok untuk kegiatan ini. Ketiga.. permodal. Kebijaksanaan ketenaga-kerjaan yang mendorong Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 49 . Untuk itu dibidang perkreditan diperlukan pendekatan yang lebih progresif. Demikian juag lembaga-lembaga sosial ekonomi yang ada perlu diikutsertakan.asas optimalitas dan kelestarian sumberdaya dan lingkungannya. serta pemupukan usaha kecil. menyediakan permodalan melalui usaha perkreditan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi usaha kecil dan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan mereka. Dengan berpegang pada asas optimalitas maka pememakai tenaga kerja lokal merupakan bentuk parisipasi masyarakat setempat. modal. serta dari aspek informasi dan pasar Kedua. dan memperkuat akses usaha kecil dari aspek.

dinamika interaksi kedepan khususnya dalam pemberdayaan pengusaha kecil inilah yang menjadi salah satu dasar diperlu-kannya suatu model kemitraan yang dapat menjadi wadah pengembangan eksistensi mereka. Kelima. yang diharapkan dapat berkembang menjadi wirausaha menengah tersebut keterampilan kecil maka dan seterusnya luas kan menjadi disediakan wirausaha pelatihan serta yang kuat dan saling menujang. Pemerataan pembangunan antar daerah dalam rangka pengembangan eksistensi usaha kecil tersebut. Dengan dilatar-belakangi pada konsisi-kondisi yang telah diuraikan dimuka serta pemahaman tentang arah. termasuk pengetahuan mengenai pasar serta cara untuk memperoleh pendanaannya. Untuk tujuan tersebut maka sumberdaya manusia dan sumberdaya maya (instusi-institusi) yang ada di daerah perlu diperankan dan terus diperkuat eksiastensinya. Model kemitraan ini memungkinkan UKM mampu melakukan kegiatan-kegiatan melalui dukungan jaringan infrastruktur komunikasi dan koordinasi antar UKM Hasil pengamatan lapang memperlihatkan bahwa kemitraan sebagai hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara UKM maupun UKM dengan unsur lainnya sampai terbagun dengan baik. Untuk tujuan secara dan harus teknis keterampilan manajemen keterampilan bisnis.tumbuhnya tenaga kerja mandiri sebagai cikal bakal lapisan wirausaha baru. diaplikasikan dengan memberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang usaha kecil dan koperasi terutama di daerahdaerah terbelakang. Berbagai kemitraan yang sudah dibentuk yang biasanya antara usaha besar dengan UKM umumnya Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 50 .

hanya bersifat politis atau karena alasan belas kasihan.T. dari ekonomi subsisten ke ekonomi pasar dan dari ketergantungan kepada mendasar yang meliputi pengalokasian serta dapat kemandirian. dari ekonomi lemah ke ekonomi yang tangguh. Karakatau stell bermitra dengan pengrajin emping melinjo. Kemitraan dalam hal ini menjadi kelembagaan mengalokasikan sumberdaya secara efisien. Perubahan struktural yang demikian mensyaratkan langkah-langkah sumberdaya diharapkan tersedia. tersebut unsur terdapat yang perbedaan hanya Sebaliknya kemitraan terlihat berjalan timpang karena diantara satu mengekspoloitir unsur lainnya yang berada pada posisi lebih perubahan dari ekonomi tradisional ke ekonomi modern. Dengan dilatar-belakangi pada konsisi-kondisi yang telah diuraikan dimuka serta pemahaman tentang arah. Kemitraan tidak akan berjalan efektif dan efisien karena tidak ada saling ketergantungan yang menguntungkan diantara unsur-unsur yang bermitra unsur-unsur bagaining lemah. Kemitraan tidak dibangun berdasarkan kesamaan tujuan dan terdapatnya faktor ketergantungan diantara keduanya. (Structural adjusment and structural struktural ini meliputi proses Perubahan yang yang bermitra berakkibat memeliki kesamaan bagainibg. Dalam hal ini kemitraan merupakan upaya yang ditempuh untuk mendorong percepatan perubahan struktural tranformation) . dinamika Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 51 . seperti misalnya P. dapat penguatan kelembagaan yang pemberdayaan sumberdaya manusia. Memang kemitraan yang akan dibangun pada hakikatnya adalah ditujukan untuk memperkuat kedudukan dan peran pengusahha kecil dalam perekonomian nasional.

pada kondisi Hal tersebut tersebut. Studi-studi empiris menunjukkan bahwa pengusaha industri skala kecil tidak selalu menghadapi masalah yang sama. teknologi. Pembangunan kemitraan antar UKM hendaknya tidak terlepas dari kerangka pembangunan nasional yang didalamya juga mengandung unsur pembangunan koperasi. bahan baku. 52 tergantung pengusaha-pengusaha Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . Pengembangan koperasi idealnya dapat diarahkan sebagai pembangunan lembaga kemitraan antar UKM. Model kemitraan ini memungkinkan UKM mampu melakukan kegiatan-kegiatan melalui dukungan jaringan infrastruktur komunikasi dan koordinasi antar UKM. koperasi adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial. Sedangkan GBHN 1993-1998 secara jelas menegaskan bahwa koperasi sebagai badan usaha perlu untuk terus dikembangkan. Menurut Undangundang Pokok Perkoperasian No. dan manajemen.interaksi kedepan khususnya dalam pemberdayaan pengusaha kecil inilah yang menjadi salah satu dasar diperlu-kannya suatu model kemitraan yang dapat menjadi wadah pengembangan eksistensi mereka. Masalah-masalah utama yang sering dihadapi oleh pengusaha kecil antara lain adalah modal. berdasarkan prinsip gotong usaha royong dan beranggotakan orang-orang/badan hukum yang melandaskan kegiatannya kekeluargaan. Koperasi sebagai badan mempunyai tujuan untuk memajukan kepentingan ekonomi dan sosial dari anggota-anggotanya. sehingga tidak perlu lagi mereka-reka bentuk kelembagaan lain yang belum tentu efektif untuk mendukung kerjasama antar UKM. permintaan/pemasaran. tenaga ahli. Namun tujuan koperasi ini sampai sekarang belum sepenuhnya terlaksana. 25 tahun 1992.

sehingga dapat dipastikan bahwa pengusaha yang bermodal lemah akan menghadapi banyak kesulitan untuk mendapatkan bahan baku dalam rangka perluasan usahanya.3 persen yang menyatakan kesulitan dalam memperoleh modal dan hanya 4. Dengan terbangunnya kemitraan usaha diantara UKM di tempat tersebut ternyata hasil angket berikutnya menunjukan bahwa hanya tinggal 6.2 persen yang menyatakan kesulitan dalam pemasaran. Modal sebagai lembaga masalah utama dapat disebabkan oleh faktor formal lainnya. pengaman dari perbankan atau keuangan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . Berdasarkan penelitian yang dilakukannya di Bogor. Tambunan mengemukakan bahwa masalah kekurangan modal merupakan hal yang paling banyak disebut oleh responden (49 persen).5 persen). Disini terlihat adanya efektifitas dari sistem kemitraan yang cukup tinggi. Masalah pemasaran 53 kesulitan dalam mendapatkan. Lebih lanjut Tambunan juga berpendapat bahwa masalah yang penting diperhatikan adalah pemasaran yang tidak baik (26 persen) dan sulitnya mendapatkan bahan baku (16. Hasil pengamatan lapang menunjukan bahwa kemitraan antara UKM yang memperoduksi bahan baku (petani kelapa) dengan UKM yang memanfaatkan bahan baku (pengrajin arang batok kelapa) di propinsi Lampung ternyata sangat bermanfaat dan dapat memperluas usahanya selama lima tahun sebesar 180 persen Hasil penelitian Steel dan Webster (1991) di Ghana memperlihatkan bahwa 23 persen dari jumlah responden menyatakan modal yang terbatas untuk membeli bahan baku sebagai masalah utama dan 17 persen menyebutkan bahwa permintaan di pasar yang sedikit terhadap produksi mereka adalah masalah utama.

antara lain. sindikasi maupun koperasi (Nerlove. Kualitas rendah ini dapat disebabkan. teknologi yang terbatas. dan kualitas bahan baku yang rendah.2. 1995). serta (ii) kurang terorganisirnya lemahnya posisi rebut-tawar pengusaha kecil ini dapat diperkecil dengan cara peningkatan skala usaha ( economics melalui pengorganisasian dalam berbagai bentuk baik bentuk kemitraan. rebut tawar ini disebabkan oleh (Saragih. Untuk menstimulir permasalahan tersebut menjadi tantangan yang bila teratasi dapat mendukung keberhasilan perkuatan UKM sebagai unsur basis ekonomi rakyat maka perlu di analisis dan dicermati beberapa faktor yang berperan strategis diantaranya adalah efektifitas dari pola kerjasama antara UKM dalam bentuk kemitrran. oleh tenaga kerja yang kurang terampil. Kondisi tersebut di atas pada dasarnya masalah atau kendala yang dihadapi oleh pengusaha kecil bersumber pada lemahnya posisi rebut-tawar (bargaining position ) dari usaha kecil.berkaitan dengan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. seperti misalnya permintaan kurang karena kualitas produk yang rendah. Dari uraian di atas dan dari hasil pengamatan lapang dapat dikemukakan bahwa perkuatan UKM melalui pola kemitraan dibidang usaha ekonomi adalah bersifat linier dengan pengembangan usaha untuk menghadapi permasalahan yang cukup rumit. FAKTOR-FAKTOR STRATEGIS DALAM 54 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . asosiasi. Kedua penyebab of scale ) Lemahnya posisi atau tidak kerjasama 1995) : (i) usaha kecil yang terlalu kecil sehingga tidak memiliki mampu menyimpan diantara pengusaha bergerak secara leluasa. 4. energi yang cukup untuk kecil.

usaha kecil walaupun tidak dapat lagi dikatakan sebagai usaha subsisten. Peningkatan kemampuan usha dari UKM kemudian dapat mengimbas kepada UKM lainnya baik berupa imbas maupun negatif. Demikian juga masukny teknologi telah mempengaruhi kelangsungan usaha kecil telah menyebabkan penguasaan teknis usaha dan pola kerja usaha kecil yang bersifat tradisional harus dikembangkan.1. tetapi masih memiliki ciri yang jelas yaitu dari aktifitas ekonomi yang hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sesaat. Dari saspek kesetaraan usaha. tetapi juga berkorelasi positif dengan pendidikan dan pelatihan. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 55 .2. Kesamaan keterkaitan dan Kesetaraan Usaha Kesamaan dan keterkaitan bidang usaha merupakan unsur pembangun kemitraan yang sangat diperlukan karena dari adanya salah satu faktor tersebut akan timbul ketergantungan antara satu UKM dengan UKM lainnya atau antar UKM dengan koperasi. Kemajuan teknologi yang secara langsung mengimbas karakteristik usaha sehingga terbentuk klaster-klaster atau segmentasi usaha dari kelompok UKM. Untuk membangun imbas positif diperlukan kesamaan persepsi yang dapat dirintis melalui kemitraan usaha.PENYUSUNAN KONSEP KEMITRAAN ANTAR UKM Beberapa faktor yang dinilai strategis dalam penyusunan Kemitraan antar UKM adalah 4. Untuk memenuhi tuntutan tersebut penguasaan pengetahuan pada berbagai usaha kecil tidak lagi hanya diperoleh dari pengalaman. Penguasaan materi usaha baik dari aspek teknis maupun manajemen dalam hal ini amat diperlukan karena secara langsung mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan dan kemampuan kewirausahaan dari para pengusaha kecil. keterampilan dan atau kewiraswastaan.

4. maka jumlah modal yang kecil tersebut juga menjadi masalah besar buat mereka. Dengan demikian usaha kecil umumnya dilaksanakan dalam skala usaha yang relatif kecil.2.2. posisi transaksi dan kemitraan usaha. Kesamaan Bargaining Kesamaan Bargaining antar para pelaku kemitraan dilihat dari beberapa aspek anatra lain : a) Pemilikan Modal Usaha kecil memang dilaksanakan dengan menggunakan modal yang relatif sedikit dan tteknologi yang sederhana. Modal dalam usaha kecil secara langsung berkaitan dengan akses terhadap faktor produksi. sebagai akibat perubahan harga bahan baku maupun minat konsumen terhadap produk yang dihasilkan. Hasil analisis seperti diuraikan di muka mengindikasikan bahwa pemilikan modal akan memperkuat bargaining para pengusaha kecil dalam transaksi modal juga memperbesar daya tahan mereka dalam menghadapi gejolak pasar. perbedaan ini menjadi significant Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 56 . Permodalan para pengusaha kecil masih sangat lemah sedangkan bantuan modal dari pemerintah tidaklah semulus seperti yang digariskan dalam berbagai peraturan kebijaksanaan. Walaupun modal yang diperlukan bagi usaha kecil tidaklah besar tetapi mengingat bahwa sebahagian besar dari para pengusaha kecil adalah kelompok masyakat yang kehidupan perekonomiannya berada di bawah ambang batas marjinal. Perbedaan pemilikian modal diantara para pengusaha kecil memang tidaklah signifikan tetapi bila PK harus bermitra dengan usaha menengah.

dan bisanya secara langsung berdampak terhadap bargaining PK terhadap PM yang menjadi mitra usahanya. yang menempatkan pengusaha kecil sebagai client. sedangkan pemilik tempat pengolahan berperan sebagai price maker. yang harganya ditentukan oleh para pedagang yang menjadi agen-agen dari para pemilik tempat pengolahan gabah. Hal tersebut adalah wajar mengingat bahwa dalam ikatan kemitraan tersebut bargaining antara pengusaha kecil dengan pengusaha besar sebagai mitra usahanya rata-rata sangat timpang dalam kemitraan. Disini petani selalu hanya berperan sebagai price taker (penerima harga). Pengembangan kemampuan permodalan para pengusaha kecil melalui program kemitraan juga dalam hal ini diharapkan mampu membangun permodalan usaha kecil agar dapat lebih cepat berkembang. Hal twersebut terjadi karena petani selalu didesak oleh kebutuhan hidup sehingga sering harus menjual padinya sebelum panen. Dalam banyak kasus walaupun modal bagi usaha kecil dapat diperoleh dari para pengusaha menengah yang menjadi mitra usahanyam tetapi kemitraan disini dalam kenyatannya lebih diwarnai oleh sifat paternalistik. Sebagai contoh dapat dikemukanan hubungan kemitraan antara petani padi dengan pemilik tempat pengolahan. Kesulitan permodalan juga telah membawa para pengusaha kecil dalam masalah ketergantungan pemasok kepada para pedagang yang sekaligus sarana produksi. Secara teoritis dalam hal kemitraan kedua pihak baru akan mendapat keuntungan yang sepadan dan akan berjalan baik jika kedua unsur yang bermitra memiliki kekuatan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 57 .

dengan teknologi yang sederhana. Sebaliknya inovasi teknologi maju bila digunakan oleh usaha besar dapat menjadi ancaman bagi pengusaha kecil. Ketersedian dan kualitas SDM 58 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . Dasar pemikirannya adalah bahwa disatu sisi koperasi merupakan milik anggota dimana setiap anggota dapat mengemukan aspirasinya secara terbuka sedangkan disisi yang lain bargaining koperasi terhadap pengusaha besar relatif lebih kuat dibandingkan dengan para pengusaha kecil secara sendiri-sendiri . b) Pemilikan Sarana Faktor ini terkait erat dengan kemampuan permodalan. c.yang sama. baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat luas. Berkaitan dengan pengelolaan sarana baik alat maupun bahan produksi pengetahuan penguasaan teknologi dari yang digunakan serta adalah berpengaruh cukup besar. oleh sebab itu diperlukan pemikiran untuk pengembangannya. walaupun kualitas produk yang dihasil maju oleh tersebut sarana tidak yang orisinil menggunakan teknologi sehingga dapat mengurangi minat pembeli. Dalam hal ini inovasi teknologi tepat guna terhadap sarana yang digunakan oleh para pengusaha kecil nampaknya sangat lambat. Sebagai jalan keluar mungkin disinilah koperasi perlu diperankan untuk bermitra dengan usaha besar. walaupun sebagian usaha kecil menggunakan sarana yang sangat sedikit dan sebagian besar sarana yang digunakan dalam usaha kecil bersifat tradisional. Namun demikian pemilikan sarana nampaknya berpengaruh nyata terhadap kemampuan dan kualitas produksi.

Kemampuan Manajemen dan kewirausahaan Pengembangan kewirausahaan dari para pengusaha kecil. Pengembangan kewirausahaan pada kelompok pengusaha kecil biasanya diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan non formal. Pembinaan dalam 59 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . Penggunaaan bertanggung tenaga kerja dari luar keluarga dalam usaha kecil juga biasanya terbatas pada tetangga atau kerabat sekampung. memegang peranan yang cukup penting dalam pengembangan usaha kecil karena resiko yang ditanggung oleh usaha kecil biasanya lebih fatal dan menyangkut kepentingan tersebut mitra kehidupan keluarga. Berapa sifat unggul dari penggunaan tenaga kerja keluarga ini antara lain : a) tidak terikat oleh waktu dan tempat. juga kecil.Sumberdaya maupun keluarga merupakan modal utama dari sebagian besar pengusaha kecil baik di sektor produksi jasa. baik atas usaha sendiri maupun dari kalangan pembina dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM). Di samping alasan kewirausahaan sesama secara maupun langsung dengan mempengaruhi kemampuan usaha kecil untuk melakukan dengan usaha pengusaha pada tingkat di atasnya. mengingat bahwa masalah kepercayaan masyarakat merupakan potensi yang diandalkan dalam usaha kecil. d. penggunakan tenaga kerja keluarga merupakan keunggulan komparatitif dari pengusaha kecil. sehingga dapat memperkecil permodalan yang diperlukan dan mempermudah sistem manajemen keuangan yang lebih penting lain adalah bahwa setiap tenaga kerja lebih merasa memiliki usaha yang dilaksanakan dan lebih jawab terhadap pekerjaan.

Hasil pengamatan lapang memperlihatkan bahwa masalah rendahnya penguasaan kewiraswastaan masih menjadi kendala dalam pengembangan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah.bentuk pengembangan kewiraswastaan baik secara sektoral maupun terpadu juga telah dilaksanakan oleh pemerintah BUMN dan kalangan swasta.3. Mereka pada umumnya belum mampu menghadapi kendala struktural yang tidak seluruhnya harus diselesaikan melalui kebijaksanaan pemerintah masalah yang tidak mungkin dapat diatasi sendiri oleh pengusaha kecil. Dampak dari keadaan tersebut adalah bahwa sampai sekarang ini usaha kecil belum mampu menginduksi iklim usaha untuk lebih kondusif bagi pengembangan usaha mereka. Kepentingan kepastian pasar dan harga sangat terasa pada usaha di sektor pertanian yang produknya bersifat mudah rusak.2. Unsur Lingkungan a). Sistem Pasar Dari berbagai jenis usaha strategis kecil yang diteliti dapat disimpulkan bahwa kondisi pasar (sistem dan polanya) merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi nilai tambah yang diperoleh produsen. 4. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 60 . tanpa campur tangan pemerintah misalnya masalah oligopoli oleh sindikasi tertentu dalam penyediaan bahan baku dan pemasaran. dan pemiliknya umumnya adalah kelompok masyarakat yang tergolong miskin.

Kondisi pasar yang demikian sudah merupakan masalah klasik yang secara konsepsual seharusnya dapat dipecahkan oleh koperasi. atau koperasi hanyalah agen dari para pengusaha tersebut di tingkat desa atau tingkat kecamatan. b). Tetapi dalam hal ini juga perlu diingat bahwa pasar dari produk ekonomi rakyat tersebut sebagian sudah merupakan bagian dari sindikasi pasar internasional. Dalam kasus yang demikian rasanya sulit bagi koperasi untuk mampu bersaing membantu anggotanya yang pengusaha kecil. Kasus yang demikian adalah ironis oleh sebab itu disarankan jika koperasi hendak berperan aktif dalam suatu usaha pemasaran produk anggotanya. yang dikuasai oleh kelompok masyarakat tertentu. Pasar bebas hanya ditemui pada produk jasa dan sedikit pada kerajianan rumah tangga. Dalam beberapa kasus ditemui bahwa koperasi sendiri sudah terjebak dalam sistem pasar yang oligopoli. terlebih dahulu koperasi harus mempelajari sistem dan pola pemasaran dari komoditas yang dihasilkan tersebut minimal sampai dengan tingkat kabupaten. dengan demikian peran koperasi tidak lebih dari kepanjangan tangan para pengusaha. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek yang kesemuanya Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 61 .Sebagian besar produk usaha kecil memiliki pasar yang bersifat oligopoli bahkan monopoli dan hanya sedikit yang bersifat pasar bebas. Kebijaksanaan Pemerintah Kebijaksanaan yang berkaitan dengan pembinaan dari aspek produksi dan pemasaran berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan usaha kecil.

dalam arti tidak menggunakan prosedur yang berbelit-belit. strategi dan Sistem pembangunan. Didasarkan atas kelayakan usaha dan atau berdasarkan kepercayaan secara individual. mencukupi jumlahnya serta dapat diberikan dalam waktu yang tepat. Beberapa kebijak-sanaan tersebut antara bekaitan dengan alokasi sumberdaya manusia antara lain dalam bentuk kebijaksanaan moneter dan fiskal menyangkut masalah : 1) Permodalan/perkreditan dudah sering dibahas tetapi yang perlu digaris bawahi bahwa dalam hal ini kredit yang diberikan kepada para pengusaha kecil harus memenuhi kriteria perkreditan yang tidak berorientasi pada konsep 5C (the Five C of credits ) dari bank komersial atau yang perbankan. tetapi efektifitas kebijaksanaan yang tersebut Kebijaksanaan dikeluarkan sebagaian tertentu. sudah memang sudah banyak dikeluarkan. memenuhi Sebaliknya persyaratan biasa digunakan oleh pihak bentuk 4P perkreditan yaiti tidak yang terikat diperlukan oleh para pengusaha kecil adalah yang penggunaannya. yang berkaitan dengan pendistribusian faktor modal baik modal fisik maupun dari pengembangan kemampuan belum usaha terlihat kecil nyata. mudah prosedur mendapatkannya.berkaitan dengan arah. Konsep pembangunan yang posisi lain : a) Lokasi Sumberdaya Kebijaksanaan alokasi sumber daya. dapat nempatkan usaha kecil pada merugikan atau sebaliknya menguntungkan. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 62 .

5) Peraturan/kebijaksanaan yang berkaitan dengan: pendidikan/pelatihan bagi usaha kecil. dari pemerintah tersebut akan lebih efektif jika bantuan tersebut tidak mengikat dan mampu menjadi stimulan bagi pengembangan usaha mereka. UndangUndang-undang perkoperasian menempatkan koperasi pengembangan dan iklim usaha bagi bentuk kecil koperasi dalam sebagai unsur penting dalam sistem perekonmian yang terutama berkaitan dengan upaya mempersatukan potensi kecikeci-kecil dari ekonomi rakyat yang sangat banyak dan tersebar sangat luas. Diterbitkannya UU no 25 tahun 1992 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 63 . Dalam kasus pengusaha kecil tidak mampu bersaing karena harga bahan baku yang tinggi atau harga produk yang rendah. pemerintah penanaman modal seperti pembangunan prasana dan prnyediaan bahan baku. pemerintah pemerintah tentang tentang pengembangan pengembangan kesempatan usaha dan. b) Kebijaksanaan pengusaha kebijaksanaan . UndangUndang-undang tentang pengusaha kecil . 4) berbagai kebijaksanaan tentang ketenaga kerjaan dan. 1) UndangUndang-undang 2) peraturan 3) peraturan tentang perkoperasiaan . pemerintah juga dimungkinkan untuk memberikan subsidi. teknologi dan informasi .2) juga Di samping masalah pendistribusian sumberdaya dapat memberikan bantuan dalam bentuk (modal) melalui kebijaksanaan perkreditan.

Demikian juga UU tersebut banyak memberikan kesempatan kepada koperasi untuk bergerak di segala aspek usaha ekonomi yang sesuai dengan kebutuhan dari para anggotanya. dari pemerintah tersebut hidup Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 64 . Kebijaksanaan pengembangan kesempatan usaha dikaitkan langsung dengan kebijaksanaan perkreditan penanaman modal memberikan kesempatan yang lebih besar bagi para pengusaha kecil untuk berperan langsung dalam programprogram-program pembangunan dari pemerintah. Kebijaksanaan pengembangan teknologi dan informasi yang dituangkan lebih dalam berbagai peraturan sektoral banyak dan untuk interdepartemental tersebut memberikan peluang yang besar kepada masyarakat memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disebarluaskan melalui lembaga ilmiah dan sektoral.menghilangkan pemetakpemetak-petakan bidang usaha dan wilayah kerja koperasi. sehingga koperasi dapat leluasa berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kelompok masyarakat miskin. kecil tersebut dan kecil struktural pengusaha sekedar sekali Ketidakmampuan jiwa yang pengembangan dengan kewiraswastaan sering dan langsung hambatan memanfaatkan bukan untuk kesempatan yang diberikan untuk membangun kehidupan. Peluang keikutsertaan para pengusaha kecil dalam hal ini mendapat prioritas langsung pada berbagai aktifitas pembangunan yang dibiayai oleh masih berkaitan rendahnya sendiri bertahan pemerintah. sedikit namun yang dalam dapat usaha dari pelaksanaannya dimanfaatkan.

HambatanHambatan-hambatan tersebut lebih disebabkan oleh masih besarnya perbedaan persepsi diantara para pembina dan persingan antara pengusaha kecil sendiri. Faktor ini secara langsung mempengaruhi kemampuan usaha kecil untuk tumbuh dan berkembang serta bersaing dengan usaha menegah dan usaha besar yang telah lebih dulu maju melalui akses pengusaha kecil. Kebijaksanaan yang demikian sudah cukup banyak. 2) Posisi transaksi dan kemitraan usaha . Dalam memanfaatkan peluang usaha. namun nampaknya belum mampu mendukung pemberdayaan kelompok ekonomi rakyat. 5) Pengembangan kewirausahaan akan lebih dapat dikembangkan lagi. terutama juga dikarenakan banyaknya hambatan yang bersifat struktural. kolusi antara pengusaha debgab pembina juga bisa terjadi sehingga persaingan dalam kesempatan tersebut sering tidak sehat. 4) Penciptaan iklim usaha dan . 3) Pendidikan dan pelatihan . Sebaliknya kerancuan dalam sistem pelaksana kebijaksanaan tersebut sering dimanipulasikan oleh kelompok tertentu yang berakibat terjadinya eksploitasi para pengusaha kecil oleh kelompok tertentu di atasnya (pengusaha menengah dan besar) yang sudah lebih mapan. Dari ke lima komponen tersebut di atas yaitu . Iklim usaha menurut sektor dan regional diciptakan dari berbagai kebijaksnaan yang dikeluarkan secara sektoral baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 65 . 1) Akses terhadap aset produksi (productive assets) .c) Penciptaan iklim usaha menurut sektor dan daerah.

telah menyebabkan terjebaknya pengembangan usaha kecil dalam struktur ekonomi dan sosial yang merugikan pembangunan kemampuan mereka. Di sisi yang lain terlihat bahwa berbagai kelembagaan introduksi seperti kelompok tani. Hsil pengamatan lapang di keempat propinsi contoh mengendalikan bahwa pengembangan kemitraan antar UKM sistem kelembagaan usaha kecil relatif sangat lamban perkembangannya. serta Sistem tersebut kepastian ketersedian bahan baku dan pendistribusian kelembagaan nilai dalam tambah. kelompok pengrajin kelompok akseptor KB dan banyak jenis kelembagaan memproduksi lainnya. lebih bersifat sektoral sehingga sering memberikan tumpang tindih tugas dan tanggung jawabnya. pememberian pasar. Sebaliknya anggapan bahwa sistem kelembagaan merupakan unsur yang tetap ( given) dan dianggap sebagai unsur external yang tidak dimasukan dalam kalkulus perencanaan menyebabkan mekanisme yang terjadi dalam proses pembangunan tersebut dapat keluar dan berjalan diluar jalur yang lebih ditetapkan.Kelembagaan strategis dan merupakan unsur yang ternyata dari paling mememegang kendali unsurunsur-unsur lainnya. mengatur mekanisme harga yang berdampak langsung terhadap Ketidakmampuan keempat hal menyebabkan posisi para pengusaha kecil sulit untuk di bangun. Kondisi yang demikian mempersulit Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 66 . Demikian juga dengan membiarkan kelembagaan tradisional mengatur mekanisme sistem perekonomian yang sedang pesar berkembang. Kenyataan tersebut diindikasikan dengan peran kelembagaan dalam mengatasi masalah masalah struktural seperti pendistribusian aset produksi.

Akibatnya kelembagaan yang demikian tidak memiliki kemampuan untuk membangkitkan partisipasi ideal dari kelompok masyarakat yang ada di dalamnya. pembangunan Demikian juga pembinaan non fisik banyak dirintis melalui program pendidikan dan pelatihan bersama. Kelembagaan yang diciptakan sebagai sarana penyelenggaraan konsep pembangunan baik secara sektoral.2.4. a) Pembinaan Non Fisik Pembinaan non fisik antara lain dilakukan dalam bentuk kebijakan dikeluarkan perundang-undangan untuk mendukung dan peraturan yang KUKM. Pembinaan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 67 . Kelembagaan tersebut lebih dipandang sebagai program pemerintah yang berperan sebagai pelaksana kegiatan pembangunan dari pemerintah. sebagai bagian terbesar dari ekonomi rakyat untuk menjadi gerakan yang tangguh. fungsional maupun perwilayahan adakalanya juga tidak memiliki batas tugas yang jelas. Kelembagaan sebagai unsur strategis ternyata lebih sering dibangun tidak atas dasar kesamaan motivasi dari kelompok masyarakat yang ada didalamnya. Kebijakan Pembinaan Sampai sekarang ini faktor pembinaan masih tetap merupakan unsur esensial dalam pengemnbangan KUKM termasuk dalam hal pembangunan kemitraan usaha.pengembangan kelembagaan ekonomi yang kondusif yang diperlukan dalam rangka pemberdayaan usaha kecil. 4.

Prinsip tersebut tidak selamanya diaplikasi dengan baik dalam perencanaan wilayah. b). Penyediaan prasarana dan sarana Prasarana pembinaan usaha. kelemahan tetapi pada lain baik umumnya . terlebih lagi karena sifat dari sebagian usaha kecil adalah temporer (dinamis). mereka ini cenderung menjadikan para pengusaha kecil hanya sebagai objek dan tidak sekaligus sebagai subyek dalam usaha peningkatan kemampuannya sendiri. ataupun perubahan jenis usaha yang dilakukan oleh si pengusaha kecil sendiri. merupakan (pembangunan secara unsur pendukung oleh sebab yang itu iklim ketersediaanya lebih banyak ditentukan oleh kebijaksanaan wilayah). Keberhasilan dari pembinaan yang demikian nampaknya masih sangat terbatas. orientasi pembinaan. beberapa tidak perubahan antara dilakukan sering berkesinambungan. Pelaksanaan pendidikan dan atau pelatihan juga adakalanya hanya untuk memenuhi tuntutan rencana pembangunan. a) karena memiliki pergiliran. ketersediaannya langsung prasarana mempengaruhi seharusnya Pembangunan sejalan (sinkron) dengan potensi ekonomi wailayah.bagi pengusaha kecil melalui pendidikan dan pelatihan telah banyak dilakukan baik secara sektoral maupun terpadu. Akibat akhir yang sering terlihat adalah bahwa dampak positif dari pola pembinaan yang demikian belum terlihat nyata. Di samping itu teknis cara dan materi pendidikan tidak selalu tepat dengan kebutuhan sehingga cenderung tidak dapat menutupi kekurangan pengetahuan para pengusaha kecil. karena adakalanya perencanaan pembangunan sarana berorientasi pada unsur lain sehingga kurang sesuai Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 68 .

Prasarana ini memang bersifat umum oleh sebab itu penyediaannya relatif lebih baik di bandingkan dengan prasarana lain yang seharusnya juga tersedia. Dalam kasus serupa di atas peran Koperasi nampak sangat diperlukan mengingat koperasi berkemampuan untuk membangun gudanggudang-gudang dengan skala yang lebih kecil tetapi dapat dikembangkan di banyak tempat konsep ini nampaknya akan lebih efektif sesuai dengan kebutuhan para pengusaha kecil.dengan kebutuhan pengembangan usaha kecil. Hasil pengamatan lapang memperhatikan bahwa sebagian besar (68. Oleh sebab itu untuk menjaga penyediaan bahan baku dan memasarkan produknya yang sebagian besar (81.25 %) adalah keluar daerah ketersedian prasarana terutama jalan memegang peranaan sangat penting. Tetapi prasarana tersebut dinilai belum terlalu penting dibandingkan dengan penyedian MCK yang secara langsung berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan oleh sebab itu priotas pembangunannya di nomor duakan. Keunggulan koperasi dalam hal ini secara konsepsional akan terlihat dari rasa memiliki dari anggotanya. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 69 .125 %) industri kecil berorientasi pada keahlian dan bukan pada ketersedian bahan baku atau ketersedian pasar. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahhwa untuk pengembangan kemampuan usaha kecil di sektor perkebunan di kalimantan barat diperlukan gudang penyimpanan karet dan atau kelapa sawit yang sulit di biayai dengan dana swadaya masyarakat.

Yang perlu diingat dalam hal ini adalah bahwa koperasi hendaknya menjadi pemilik yang syah dalam arti bukan titipan pemerintah atau pihakpihak lain seperti pemilikan Gudang Lantai Jemur dan Kios (GLK) pada waktuwaktu-waktu yang lalu. Masalah penyedian informasi semakin mendesak dengan semakin berkembangnya sering globasi. terutama yang berkaitan dengan masalah Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 70 . mengalami stagnasi karena prasarana sedang sudah mulai ini demikian merupakan ironi karena pembangunan yang dilaksanakan sekarang secara dinyatakan berpihak pada pengembangan usaha kecil. waktu Kondisi normatif sebelumnya relatif sudah maju.Konsekuensi dari rasa memiliki ini adalah semua merasa bertanggung jawab untuk menjaga prasarana yang dibangun oleh koperasi tersebut. di Kasus daerah keterlambatan informasi dijumpai pedesaan yang berakibat kerugian bagi para petani sebagai pengusaha kecil. prasarana yang sangat diperlukan dalam waktu dekat adalah pasar dan prasarana informasi. Dalam beberapa kasus yang ditemui di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan dapat dilaporkan bahwa jenis-jenis usaha dari para pengusaha yang tersedia kecil yang beberapa rusak. Jika koperasi hanya ketitipan barang yang dianggap milik pemerintah maka ada kecendrungan bahwa para anggota tidak menganggap barang tersebut milik mereka. Di samping masalah prioritas dalam penyedian prasarana oleh pemerintah perlu dikaji bahwa penyediaan prasarana juga berkaitan dengan kesinambungan usaha. Beberapa prasarana penting bagi pengembangan produksi usaha kecil di samping jalan.

serta keahlian. Permasalahan Arah strategi dan sistem pembangunan secara langsung dipengaruhi oleh kondisi ekonomi sosial dan politis. a) Keterbatasan penguasaan faktor produksi terutama modal bahan baku peralatan. teknologi dan informasi. masalah pengembangan KUKM secara tegas diwujudkan secepat dan pembangunan kelompok sebaik mungkin. Penjabaran dari tujuan tersebut GBHN 1999 berpihak masyarakat UKM yang sekarang ini diprediksikan eksistensinya dalam pemulihan perekonomian nasional adalah cukup besar namun kondisinya masih sangat lemah. Masalah klasik ini tidak terlepas dari dualisme pembangunan ekonomi yang sudah ada sejak zaman kolonialisme tersebut ternyata belum dapat terhapus.1. bahkan cenderung berkembang Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 71 . 4. MASALAH KENDALA DAN PELUANG PENYUSUNAN POLA KEMITRAAN ANTAR UKM 4.3. Dalam masa pembangunan sekarang ini dimana GBHN 1999 menempatkan pemerataan melalui perkuatan ekonomi kerakyatan sebagai unsur utama dari tujuan harus dapat pada pembangunan.3.informasi pasar. Garis besar kebijaksanaan yang demikian adalah sangat mendukung usaha perkuatan KUKM pada era reformasi sekarang ini merupakan momentum yang tepat Permasalahan umum yang dihadapi dalam perkuatan KUKM disemua sektor hampir sama yaitu .

dalam era pembangunan. pengertian yang dibangun untuk menjelaskan eksistensi kelembagaan membawa berbagai dampak yang Untuk dapat memahami makna dari kelembagaan tersebut di atas dalam kajian ini akan digunakan pengertian kelembagaan seperti yang dikemukakan oleh Nasution 1991 untuk memahami pengertian kelembagaan Nasution. Pengkajian terhadap masalah tersebut menuntut kesadaran tentang pentingnya kelembagaan yang dapat mengalokasikan sumberdaya secara efisien. Penyusunan pola kemitraan tidaklah sulit tetapi untuk faktor mendapatkan endogen pola dalam kemitraandianggap sebagai pembangunan. Salah satu sebab berkembangnya dualisme dalam pembangunan ekonomi tersebut adalah karena orientasi pembangunan pada tahapan sebelumnya lebih ditekankan pada usaha mengejar pertumbuhan. barangkali dapat dikatakan karakteristik yang tercakup dalam kelembagaan tersebut itu mengacu pada pengelolaan sumberdaya. Yang menjadi pertanyaan dalam hal ini adalah bagaimana mendefenisikan kelembagaan itu secara tegas adalah masih sukar dan kompleks. Pendapat Nasution tersebut dipertegas oleh mengabaikan berkembangnya berpendapat bahwa tanpa penafsiran mengenai kelembagaan. Salah satu bentuk kelembagaan yang diduga dapat mempersatukan potensi yang tersebar dilingkungan KUKM adalah pola kemitraan. Penguasaan faktor produksi yang sangat sedikit bahkan dapat dikatakan marjinal oleh para pengusaha merupakan dampak dari sistem alokasi sumberdaya yang terkait dengan ketidakmampuan sistem kelembagaan sebagai institusi. karena itu disadari bahwa beragam berbeda. Dalam hal ini Pakpahan (1990) memberikan batasan bahwa kelembagaan adalah suatu sistem Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 72 .

sebagai kelembagaan. Refleksi kelembagaan dengan sendirinya sangat luas dan beragam. Karakteristik lainnya yang penting dalam kelembagaan adalah bagaimana aturan reprensentasi. pranata sosial (sosial(sosial-budaya). belum dapat dikatakan 73 . Banyak masalah pembangunan ekonomi muncul karena terkait dengan batas yuridiksi tersebut. Kejelasan hakhak-hak properti dalam kelembagaan adalah sebagai sumber kekuatan partisipan pembangunan dan partisipasi dalam mengembangkan akses dan pengontrolan lalu lintas alokasi sumberdaya.organisasi yang dapat mengontrol sumberdaya. Dari uraian di atas dapatlah kita nyatakan bahwa kelembagaan itu sangat berdimensi normatif. Termasuk di dalam analisis kelembagaan adalah bentukbentuk-bentuk organisasi (badan hukum). yang dapat memastikan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa. adat. seperti LKMD. organisasi massa. Unsur lain yang tercakup dalam sistem kelembagaan adalah "hak"hak-hak properti". secara Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM selama ketiga karakterisitik di atas belum menjiwai lembaga tersebut. peraturan perundangperundang-undangan. serta lainya. Kelembagaan mempunyai karakteristik batas yuridiksi yang menentukan siapa dan apa yang tercakup dalam sistem. Hal ini menyangkut batas otoritas dan kekuasaan. dalam setiap proses pengambilan keputusan. dan keagamaan dengan sendirinya menjawab masalah kelembagaan. dan kebijakan pembangunan. dan/atau konsensus. KUD. di samping dimensi positif. organisasi sosial. Ditinjau dari sudut pandang sejarah pemikiran ekonomi. mencakup nilai (baik(baik-buruknya dan benarbenar-salahnya). Namun bukan berarti berdirinya begitu banyak organisasi di pedesaan. Ciri ini mengacu pada kepastian masalah hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum.

Masalah ketimpangan pendapatan dan jurang kayakaya-miskin menjadi produk dari situasi seperti itu. Dalam konsep ekonomi klasik tersebut produksi nasional ditentukan oleh input kapital dan tenaga kerja maka adalah wajar jika mereka pertumbuhan Asumsi dan yang pembangunan ekonomi dapat dijelaskan.jelas dapat terlihat bagaimana kelembagaan memberikan arti pada pembangunan ekonomi. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 74 . yang harus dimasukan kedalam kalkulus pembangunan. yang besarnya sangat komplesk sehingga mau kelembagaan harus dianggap sebagai adalah Kerancuan dalam menempat faktor endogen. Kelebihan tenaga kerja non skil pada sistem ekonomi rakyat terutama di sektor pertanian menyebabkan terjadinya inefiseiensi dalam sistem produksi. Di samping masalah pendistribusian sumberdaya masalah lain yang terkait dengan ketidak mampuan sistem kelembagaan adalah masalah tenaga kerja. Paham neo klasik yang teori -teori ekonominya menjelaskan pertumbuhan dijiwai oleh semangat ekonomi individualisme hanya neo melalui klasik dapat teori yang pembangunan ekonomi. hanya mampu menerangkan fenomena ekonomi hanya dengan membangun suatu fungsi produksi agregat. mengabaikan masalah kelembagaan menurut neo klasikalis dengan sendirinya dapat menurunkan bagaimana pembangunan ekonomi terjadi. Dalam banyak kasus pembangunan atau tidak mau perencanaan di negara berkembang terdapat masalah kelembagaan. Para penganut diprakasai oleh Adam Smith. kelembagaan dapat menyebabkan efek menetes ke bawah yang digunakan oleh neoneo-klasikalis dalam menjelaskan pembangunan tidak berjalan dengan sendirinya. Tetapi asumsi yang sangat restriktif ini dalam negara berkembang tidak dapat diterima.

atau untuk apakah modernisasi pendapatan. sebagaimana yang juga pernah kita alami dalam upaya pembangunan pertanian. Disisi yang lain terlihat bahwa dampak modernisasi menyebabkan usaha besar yang seharusnya mampu menyerap tenaga kerja yang berlebih dari kelompok usaha kecil ternyata tidak berjalan. Pertanyaan yang sepadan dapat diajukan disini adalah apakah produksi dengan modernisasi secara pranata hanya menyangkut (b) pada (a) dimensi perubahan teknologi semata dalam mengejar ketersediaan nasional. Pertanyaan pertama barangkali sudah menjadi pengalaman dibanyak negara sedang berkembang. Kecenderungan tersebut akan berlanjut lagi pada masa yang akan datang jika orientasi pembangunan tidak secepatnya dialihkan pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat yang dibangun secara dominan oleh para pengusaha kecil. menyangkut pada perubahan teknologi yang berkesesuaian peningkatan kesejahteraan dan mempersempit jurang pemisah antara usaha besar dan usaha kecil. sosial.Kondisi tersebut berdampak terhadap ratarata-rata produktifitas ekonomi rakyat yang umumnya rendah dan akses kepada faktor produksi tidak berkembang. Kecenderungan mengikuti perkembangan teknologi dan orientasi pada keuntungan yang sebesar -besarnya (dengan mengejar skala usaha) menyebabkan pengusaha besar berorientasi pada kegiatan yang menyerap teknologi maju yang bersifat padat modal. Lebih Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 75 . Kedua pertanyaan tersebut kiranya harus dijawab dengan sangat hati-hati dan harus mengacu pada amanat konstutusi (UUD 45).

lanjut kita sebaiknya memberikan itu apakah acuan modernisasi telah padapertanyaan keduanya modernisasi diarahkan pada upaya mendayagunakan semua aset nasional yang bagian terbesarnya adalah sumber daya manusia. Pilihan atas koperasi sebagai sistem kelembagaan disini didasarkan pada pemikiran bahwa koperasi adalah badan usaha ekonomi yang berasaskan gotong royong dan kekeluargaan. Terkait langsung dengan permasalahan tersebut di atas adalah pemikiran menjadikan Koperasi sebagai alternatif lembaga pendukung pemberdayaan kemampuan usaha kecil sebagai bagian dominan dari ekonomi rakyat. usaha nasional. sehingga timbul kesulitan untuk membangun potensi usaha mereka. usaha serta kecil yaitu sistem kebijaksanaan iklim usaha. Dalam hal ini diasumsikan bahwa koperasi adalah mitra usaha yang ideal bagi usaha kecil. Sifat yang demikian secara normatif maupun positif adalah sesuai dengan tujuan pembangunan dan sifat usaha kecil yang umumnya kurang individualis. membatasi dari pengembangan kecil. rendahnya potensi ekonomi dan pengusaha lemahnya kelembagaan dalam kelompok usaha kecil. Kajian empiris terhadap pembangunan ekonomi rakyat yang didominasi oleh pengusaha kecil selama era orde baru yang lalu mengindikasikan bahwa Sistem dan pola mitra usaha serta Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 76 . Akibatnya kelompok ini belum mampu beradaptasi terhadap iklim. Berbagai studi empiris mengindikasikan adanya tiga kendala yang sosial. Ketiga kendala di atas bersifat struktural dan cenderung berpangkal dari belum mantapnya institusi dalam kelompok usaha kecil.

Hal ini tercermin juga dari target pembangunan pada Repelita VI. Secara jelas terlihat bahwa target pertumbuhan ekonomi selama Repelita VI adalah sebesar 9.Sebagai contoh misalnya dalam pola PIR dan Bapak angkat. Sistem kelembagaan tidak sepenuhnya berorientasi pada upaya mengadakan pengusaha kecil untuk berdiri sejajar dengan mitra usahanya. Dari keadaan seperti disebutkan di atas jelas bahwa pemberdayaan ekonomi rakyat melalui pengembangan usaha kecil yang melibatkan koperasi dapat diandalkan sebagai pendorong pembangunan nasional pada beberapa Repelita mendatang. Kerjasama diantara kedua pihak dalam sistemsistem-sistem tersebut tidak di bangun berdasarkan kesamaan tujuan dan kemampuan (bargaining diantara keduanya). konsep kemitraan yang diupayakan menimbulkan dalam rangka pemerataan dampak yang tersebut malah berbagai menghambat pemberdayaan ekonomi rakyat. Akibatnya kemungkinan terjadinya eksploitasi dari yang lebih kuat terhadap yang lemah menjadi semakin besar. Tetapi isyu dan sinyalemen malah mengindikasikan bahwa pola mitra usaha yang diterapkan malah menyebabkan tingkat pertumbuhan usaha kecil jauh dan sistem tertinggal usaha dibandingkan yang tidak dengan usaha menengah tindihnya besar menjadi mitranya. sistem Ketertinggalan tersebut juga tidak terlepas dari tumpang pembinaan dan efektifnya kelembagaan.pembinaannya melalui jalur program pemerintah diaharapkan dapat memampukan usaha kecil untuk eksis dan berdiri sejajar dengan usaha menengah dan usaha besar.5 % per tahun yang terutama bersumber dari pertumbuhan sektor Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 77 . Pada beberapa pola perkuatan koperasi usaha kecil dan menengah melalui sistem kemitraan yang ada dibentuk pada waktu itu.

6 % per tahun.3 juta orang. Dalam situasi perekonomian dewasa ini. Sementara tantangan terkuat yang akan kita hadapi pada masa akan datang adalah bagaimana mengatasi kesempatan kerja bagi pertumbuhan angkatan kerja ratarata-rata 2. Hal tersebut amat penting karena peran migas sebagai sumber pendapatan negara tidak dapat diandalkan lagi pada masa yang akan datang. Walaupun diversifikasi usaha yang dilakukan oleh konglomerasi adalah sebagai salah satu cara mengantisipasi ketidakpastian usaha mereka akibat globalisasi dalam perdagangan internasional. Hal yang demikian ditandai oleh kecenderungan perusahaan besar membentuk grupgrup-grup perusahaan (konglomerasi).4 juta orang per tahun (Situmorang. Pada saat yang sama pembangunan usaha besar akan dihadapkan pada suatu dilema. 1990).5 % dan sektor pertanian 4. Di samping itu juga usaha besar mulai melakukan diversifikasi ke arah usaha -usaha yang lebih kecil. Di samping masalah-masalah yang dikemukakan di atas itu peneterasi eksternal (seperti telah disebutkan pada awal tulisan ini) telah memaksa perhatian diarahkan pada ekspor non -migas. Tetapi karena yang direbut adalah segonen pasar dari pengusaha maka (seperti aktifitas Indofood mereka 78 memproduksi kecap dan sambel) Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . Namun.industri sebesar 11. penciptaan kesempatan kerja terbesar diharapkan dari sektor pertanian sebesar 4. efek globalisasi secara cepat akan dirasakan oleh perusahaan besar. karena iklim liberalisasi dikhawatirkan kurang efektif untuk mengangkat usaha besar dalam perspektif pembangunan ekonomi nasional.0 juta orang. khususnya produk pertanian. sedangkan sektor industri hanya sebesar 2.

BAB V POLA KEMITRAAN ANTAR UKM Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 79 . karena usaha kecil memiliki nilai komparativ yang lebih besar dalam persaingan di pasaran internasional.mengancam pengembangan usaha kecil. Walaupun demikian secara konsepsional dapat dikemukakan bahwa pada akhirnya dapat diperkirakan bahwa berkembangnya perekonomian global pada saatnya akan ditentukan dan dinikmati oleh para pengusaha kecil.

Namun peraturan perudang undangan yang dikeluarkan (sebagai bentuk kebijakan kelembagaan) juga tidak selalu berhasil mencapai tujuannya bahkan dapat terjadi sebaliknya yaitu malah memperkuat posisi unsur yang sudah kuat. bargaining. Sebagai gambaran kongkrit dari penyamaan bargaining dalam upaya membangun kemitraan antara unsur yang kuat dan yang lemah dalam kajian ini akan dianalisis efektifitas dari beberapa unsur institusi yang penting dalam bentuk perundangperundang-undangan yang telah dikeluarkan berikut ini. unsur yang bargainingnya lebih lemah konsep harus dipersatukan yang untuk dibentuk mencapai melalui kesamaan pengaturan. proteksi dan subsidi kepada unsur yang bargainingnya lebih lemah.5. Untuk sampai pada kajian tersebut dan penyusunan pola kemitraan antar UKM perlu terlebih dahulu diketahui kondisi faktor-faktor yang diduga Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 80 . kemudahan. PENYUSUNAN POLA KEMITRAAN ANTAR UKM Seperti telah diuraikan di muka. Kesamaan bargaining juga dapat dilakukan dalam kelembagaan pemberian prioritas.1. oleh sebab dalam banyak kasus sering terlihat bahwa kemitraan berubah menjadi eksploitasi dari yang kuat kepada yang. oleh sebab itu dalam penyusunan pola kemitraan disini disarankan unsur-unsur yang bermitra adalah mereka yang memiliki bargaining sama dan bila terjadi berlainan bargaining. Hal yang demikian harus dihindari. Idealnya kemitraan akan berjalan efektif dan efisien serta saling menguntungkan jika diantara unsur-unsur yang bermitra memiliki kesamaan bargaining. kemitraan merupakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan diantara dua atau lebih unsur pemitra yang dibangun berdasarkan kesamaan tujuan dan terdapat faktor ketergantungan diantara unsur-unsur yang bermitra.

Untuk mengkaji kondisi kebijakan di bidang ekonomi ini dapat dimulai dengan dikeluarkannya UndangUndang-Undang Pokok Agraria tahun 1960 (UUPA/1962). dan UndangUndang-Undang Pokok tahun 1967 yang diperbaharui dengan UU no 25 tahun 1992 dan UndangUndang-undang Pengusaha kecil (UUPK/1996) keempat undang yang terakhir dikeluarkan oleh pemerintah tersebut diatas memang sudah dapat dikatakan sebagai suatu reformasi kelembagaan dalam yang terkait pada pengertian aturan representatif. UndangUndang-Undang Pokok Penanaman Modal Asing dan Dalam Negeri tahun 1967 dan 1968 (UUPMA/1967 Pokok dan UUPMDN/1968). UU ini dapat mengatasi pemerataan. Namun yang disayangkan. karena keempat UU inilah yang menentukan arah perekonomian nasional dari Repelita ke Repelita berikutnya. Lalu lintas dana dan moneter baik domestik maupun internasional ditentukan oleh kekuatan UU ini. Sedangkan potensi yang terkandung dalam UUPA dan UUPK masih belum tergali secara sempurna. dan UUPP. UUPMDN. dari ke lima UU itu yang paling berkembang dan memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional adalah UUPMA. Ketidakefektifan pengaplikasian kedua Undang-Undang 81 Padahal kapasitas kedua kemiskinan dan masalah Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . tahun 1967 Perkoperasian UndangUndang-Undang Perbankan (UUPB/1967).dapat mempengaruhi efektifitas yang akan di bangun antara lain : a) Reformasi kelembagaan ekonomi dalam bentuk kebijaksanaan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk membangun suatu pola kemitraan sebagai suatu suatu sistem yang efisien dan efektif. Pandangan tersebut adalah sebagai berikut (Situmorang. 1987): Pertama : Di dalam masyarakat industri yang modern. karakteristik dari bentuk organisasinya bukanlah berwujud unit yang perusahaan kecilkecil-kecil melainkan "giant corporation" akhirnya berkembang menjadi "conglomerate corporation". Dalam hal ini pandangan John K. Kondisi yang demikian nampaknya sejalan dengan pendapat Nasution (1986) yang menyatakan bahwa dalam suatu sistem usaha yang dilaksanakan oleh beberapa komponen sistem maka resiko terbesar akan ditanggung oleh komponen sistem yang berada pada posisi terlemah. Kedua : Mengingat besarnya jumlah modal dan "gestation period" maka perusahaan sangat berkepentingan bahwa produknya dapat dijual dan jalur suplai faktor produksinya tidak macet sehingga kedua pasar itu akan berada di bawah kekuasaannya.yang secara konkrit dapat membantu usaha pemerataan tersebut diatas menyebabkan berkembangnya secara pesat bentukbentuk-bentuk berpengaruh akan sangat korporasi kuat yang pada gilirannya akan pada pengambilan kebijakan pembangunan. Pengaruh tersebut bila sudah berkembang sukar dikendalikan dan menjurus kepada monopoli. Galbraith mengenai korporasi tampaknya menjadi kekhawatiran kita. lebih dahulu perlu dikaji 82 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM .

Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 83 . lembaga pemasaran. Pasar dijuruskan ke bentuk Pasar Bebas ( free Market).unsur unsur kemitraan yang dapat mendukung efisien dan efektifitas tersebut antara lain : a) Kesamaan persepsi tujuan dan harapan kemanfaatan : b) Kesamaan bargaining diantara para pelaku kemitraan c) Adanya saling ketergantungan antara dalam sistem d) Ada tidaknya potensi Konflik dan : e) Unsur lingkungan yang dapat dirinci menjadi kondisi kebijakan pembinaan dari ekonomi dan sosial serta pemerintah. mana dalam pasar bentuk ini penentuan harga dilakukan bersama antara produsen (UK) dengan konsumen baik primer maupun sekunder. Untuk mendukung keberhasilan lembaga kemitraan diperlukan adanya lembaga pendukung yang terdiri dari lembaga produksi dan pengembangan teknologi. lembaga permodalan. permodalan teknologi dan pasar. Perubahan bentuk pasar tersebut hanya dimungkinkan jika KUKM memiliki bargaining yangsama dengan pengusaha besar untuk itu potensi KUKM yang banyak dan tersebar harus dipersatukan melalui pembentukan rancang bangun kelembagaan Lintas Sektoral KUKM Pembentukan lembaga kemitraan dapat dirinci sebagai berikut : dimulai dengan . lembaga informasi dan lembaga pendidikan pelatihan serta lembaga penelian dan pengembangan Perkuatan KUKM melalui penyusunan rancang bangun unsur-unsur Kemitraan antar KUKM pada dasarnya adalah usaha Penyediaan kelembagaan informasai.

oleh sebab itu reorientasi kebijaksanaan ekonomi perlu diarahkan ke sana. dalam bentuk kebijakan dan pengaturan yang berorientasi pada kepentingan optimalitas pemanfaatan sumberdaya nasional. Menyadari kondisi dan peluang seperti yang diuraikan diatas kiranya sudah saatnya kebijaksanaan tidak didasarkan pada peningkatan produksi dari pendapatan nasional saja. Yang secara langsung berpihak pada upaya pengembangan kemampuan usaha kecil. Untuk itu perlu diperhatikan menghindari terjadinya kesalahan sasaran dalam mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat ini ekspansi kebijaksanaan pemerintah yang usaha kecil diera reformasi diprioritas pada pembangunan sekarang ini sesungguhnya harus diarahkan pada sektor -sektor potensial seperti sektor pertanian. Tetapi untuk mendukung orientasi pembangunan kearah sana perlu dikeluarkan lagi beberapa kebijaksanaan dasar.a) pengumpulan calon anggota yang dilanjutkan dengan p b) Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan c) Penetapan pendekatan dan strategi usaha d) Pembangunan Jaringan Kemitraan Untuk mendapatkan efektifitas dan efisiensi dari kemitraan antara UKM dengan usaha besar adalam arti kata mendapatkan dampak positif yang optimal tetap diperlukan adanya dukungan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Berbagai kebijaksanaan tersebut idealnya sudah dapat langsung dirasakan oleh sektor perdesaan yang mengacu pada peningkatan produktivitas dan produksi usaha kecil. Pada sektor atau subsektor-subsektor yang secara langsung berpihak pada upaya pengembangan kemampuan usaha kecil tersebut potensi komparatif yang ada dapat digali. sektor industri rumah tangga dan usahausaha-usaha berskala kecil lainnya di perdesaan. Tetapi Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 84 .

seperti KUD. Hal ini dapat juga semakin meningkatnya Namun. kelompok tani. Dari aspek formalitas usaha UKM. untuk itu diperlukan kesejahteraan secara empirik belum diketahui walaupun secara Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 85 . adanya rekayasa lembaga penunjang. produksi pedesaan.8 % usaha kecil yang telah berbadan hukum. kelompok kesehatan. LembagaLembaga-lembaga penunjang ekonomi yang sudah dibangun dalam upaya perkuatan UKM.. kebijaksanaan Salah satu yang sebab bersifat yang bantuan dari diduga mendorong terciptanya kondisi tersebut adalah karena lemahnya sistem dapat kelembagaan. dan ironisnya usahausaha-usaha ini yang paling sedikit menikmati pemerintah.. Demikian juga upaya pengembangan UKM secara dilihat kuantitas dengan daerah berdasarkan target pertumbuhan produktivitas dan dan pembobotan inovasi teknologi telah tercapai. data statistik memberikan gambaran bahwa hanya 1.berbai kajian empiris mengindikasikan bahwa walupun telah dikeluarkan kebijaksanaan bagi pengembangan ekonomi rakyat tersebut. tetapi sampai sekarang ini hasilnya masih dipertanyakan. koperasi primer nonnon-KUD. peningkatan dimensi Namun keberhasilannya juga belum optimal.Oleh sebab itu maka pengembangan industri dan kerajinan dengan pendekatan kelembagaan diharapkan lebih memberikan jaminan proses industrialisasi. pembangunan unsur penunjang pembangunan dipedesaan juga telah dilaksanakan. kelompok pendengar dan pirsawan televisi (kelompen capir). dan keluarga berencana dalam era orde baru dari aspek jumlahnya memang telah berkembang sangat pesat namun efektifitasnya sangatsangat diragukan. Di samping pembangunan sektoral di atas.

Salah satu indikator selama ketidakberpihakan masa orde baru sangat adalah program-program terhadap pembangunan pemberdayaan ekonomi rakyat sedikitnya pembangunan prasarana dan sarana yang dapat dimanfaatkan oleh koperasi pengusaha kecil dan menengah. Berkembangnya lembaga artifisial dan memudarnya lembaga Ad Hoc disangsikan keberhasilannya mewujudkan sistem partisipatif. eksistensinya lambat laun memudar. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 86 .Artinya orang masuk dalam sistem karena faktor insentif temporer dan jika terjadi kejadian yang bersifat disinsentif maka mereka akan keluar dari sistem tersebut. Atau sebaliknya hal tersebut dapat meningkatkan "partisipasi semu"."common sense" telah dinyatakan berhasil. 1990). Demikian juga penyediaan prsarana seperti pelabuhan dan air bersih tidak pernah mendapat porsi yang memadai. Sementara itu di sisi yang lain terlihat bahwa lembaga yang bersifat Ad Hocracy (Ad Hoc) yang secara alamiah tumbuh di tengah masyarakat Padahal secara lembaga turunturun-temurun Ad Hoc akibat dari secara restrukturisasi ekonomi dan sosial. Di samping pembangunan lembaga penunjang untuk mendukung keberhasilan program kemitraaan juga diperlukan adanya bantuan dari aspek penyediaan prasarana dan sarana bagi pengembangan sistem kerjasama koperasi pengusaha kecil dan menengah. Sebagai contoh misalnya pembangunan rel kereta api yang sangat diperlukan oleh kelompok ekonomi rakyat ternyata tidak mendapat perhatian sebesar pembangunan jalan TOL atau Bandar Udara. tersebut meyakinkan pada waktu-waktu yang lalu mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan (Nasution.

Jenis sarana yang disediakan juga harus disesuaikan kondisi sumberdaya manusia pada pengusaha kecil dan menengah.Keperluan dan ketersedian prasarana dan sarana usaha bagi koperasi pengusaha jenisnya. Demikian juga teknologi yang sesuai (tepat guna) yang mudah diperoleh dan dioperasionalkan. antar perkembangan kecil pengusaha menengah dan koperasi. Hal ini terutama disebabkan karena penataan di dalam konsep kemitraan sendiri belum memadai untuk melakukan ekspansi pelayanan yang lebih baik kepada unsur-unsur yang bermitra Untuk mewujudkan tumbuh berkembangnya pola kemitraan pengusaha kecil dan menengah agar berperan menjadi kekuatan ekonomi yang berakar dalam klaster UKM. 5. kecil dan menengah tidak hanya masalah menyangkut tetapi juga menyangkut penyebaran dan lokasi penempatannya. Hal yang sangat mendesak sekarang ini adalah penyediaan prasana transportasi dan fasilitas-fasilaitas pendukung usaha kecil lainnya serta penyeba--luasan informasi tentang teknologi perkembangan dan peluang permintaan kerjasama pasar. maka perlu Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 87 . PENGEMBANGAN KEMITRAAN USAHA ANTAR UKM Pengembangan peran kemitraan dalam upaya perkuatan pengusaha kecil dan menengah baik secara sektoral/fungsional maupun perwilayahan selama era orde baru relatif masih belum optimal. Program kemitraan dalam mendukung perkuatan UKM dalam banyak kasus terlihat masih bersifat potensial sedangkan aktualisasinya masih sangat terbatas.2.

pengkajian terhadap berbagai berkesinambungan kebijaksanaan makro. sektoral dan regional yang berkaitan dengan upaya memperkuat posisi dan peran koperasi dan pengusaha kecil dalam kerangka perkutan KUKM dalam perekonomian nasional juga harus dilakukan. sebaliknya juga dapat saling dapat menutupi kelemahan unsur lainnya. Pola pembinaan yang diorientasikan pada kondisi riil UKM di lapangan tersebut diperlukan karena adanya spesifikasi kondisi usaha UKM. komprehensif dan harus terpadu sebagai sub sistem dalam sistem pembinaan UKM secara keseluruhan sesuai dengan kondisi riil UKM. terutama berkaitan dengan operasionalisasi keputusan GATT dan APEC. Yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa dengan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 88 . iklim terutama yang yang sangat bertujuan sangat untuk tidak memperkuat kedudukan dan perannya sebagai kelembagaan kondisi usaha menguntungkan bagi UKM. Sejalan dengan konsepsi di atas juga perlu dilakukan pembinaan yang oleh pemerintah harus bersifat lintas sektoral.dikaji lebih lanjut konsepsi dan aktualisasi kemitraan pengusaha kecil dalam dan menengah.. Dari aspek kondisi UKM sendiri integralitas antar pelaku ekonomi ini juga perlu dikembangan untuk itu salah satu pemikiran yang dapat dikemukan adalah membangun suatu sistem jaringan usaha antar KUM yang dapat saling mendukung potensi dari tiap unsur yang ada didalamnya. peluang dan tantangan koperai pengusaha kecil dan menghadapi sistem perdagangan bebas. Demikian pula perlu dikaji kekuatan. Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas maka dalam kajian ini disarankan. kelemahan. Secara perlu dilakukannya pembenahan iklim usaha.

Dalam upaya memberdayakan UKM kiranya konsepsi tersebut yang disesuikan dengan kondisi dan situasi pertekonomian sekaran ini seperti diperlihatkan pada gambar 1 di bawah ini dapat dijadikan salah satu alternatif untuk diujicobakan. baik pedagang. Salah satu solusi yang dapat "bagaimana membangun untuk menghadapi pasar?".terbangunnya jaringan sistem usaha KUKM maka nilai tambah ekonomi yang terjadi sebagai akibat dari aktifitas usaha KUKM dapat ditingkatkan. untuk komoditas tertentu dan usaha Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM UK untuk menghadapi pembeli di 89 . Pengembangan konsepsi tersebut relatif tidak memerlukan biaya yang besar karena dapat dicobakan dalam lingkungan mikro (lokasi tertentu). Kondisi tersebut membentuk satu ingkaran setan ( The Vicious circle) yang selama ini sulit terpecahkan. sebaliknya kebocoran nilai tambah yang selama ini banyak dinikmati oleh pihak lain dapat dikembalikan ke lingkungan KUKM. Akibatnya UK dalam mekanisme pasar dan pembentukan harga. pengusaha pengolahan hasil (industri). selalu hanya menjadi penerima harga (price taker) dan pembeli yang menjadi penentu harga ( price maker). Dari adanya kelemahan-kelemahan tersebut maka bargaining UK sebagai produsen terhadap konsumen. Konsepsi ini menurut Todaro (1989) dan Isard (1958) sudah berhasil mengangkat kemampuan India dan Costarica. maupun konsumen akhir. dijalankan adalah dengan membangun Trading House yang kemudian dilengkapi dengan pembentukan Forum Pemasaran Bersama (UBK). menjadi lemah. Untuk memecahkan permasalahan tersebut yang menjadi pertanyaan dan harus dijawab disini adalah kekuatan UK sebagai produsen.

B. Banyak kasus dan hasil penelitian membuktikan bahwa kemantapan sistem ekonomi juga secara langsung dipengaruhi oleh polarisasi pemilikan kapital. bahkan dapat menjurus ketidakstabilan sistem sosial. terjadi proses 90 Sebaliknyan proteksi yang tinggi terhadap industri sangat produsennya Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . Jelas bahwa kelabilan ekonomi. maka restrukturisasi industri dengan menghilangkan proteksi perlu dilakukan (Nasution dan Situmorang. untuk langkah modernisasi pertanian dan menciptakan keterkaitan sektoral. 1990). Ranudihardjo tahun 1982 menyatakan bahwa bilamana kita menerima industrialisasi sebagai basis lepas landas perekonomian nasional. Pengembangan agroindustri sebagai bagian dari pengembangan sistem komoditi tersebut masih relevan. Pemikiran di atas juga relevan dengan situasi sekarang ini. namun sebagian besar masih bersifat normatif dan sebagian lagi tidak sejalan dengan strategi pembangunan bahwa yang masih Nasional lebih diarahkan tahun pada 1942 upaya telah mengejar pertumbuhan sebagai contoh dapat dikemukakan Konperensi Perhepi merekomendasikan pengembangan agroindustri. S.besar tertentu dalam bentuk pola kemitraan Solusi dari permasalahan kelembagaan seperti dikemukakan diatas telah banyak juga diajukan. apalagi dalam kondisi perekonomian yang sangat terkait dengan tata perekonomian dunia. Judono telah menyatakan bahwa pembentukan kelompok orang yang berkapital kecil merupakan pilihan yang tepat untuk mengantisipasi gejolak ekonomi. Pada tahun 1978. Kondisi ini memungkinkan akses pada golongan ekonomi lemah semakin pudar menguntungkan karena kehilangan saja. Di samping itu. S. "resource kurang endowment".

berdasarkan hamparan usaha tani. Pengoptimalan kemitraan sebagai kelembagaan memberikan hasil yang baik dalam perekonomian UKM dapat ditunjukkan oleh pembangunan irigasi. W. Pengalaman pengelolaan irigasi di Asia Tenggara yang diungkapkan oleh E. hasil Pengelolaan sumberdaya air dari pembangunan irigasi telah menunjukkan performa yang baik melalui sitem Subak di Bali. seperti yang diungkapkan oleh I B. Kemitraan akan dapat berkembang dengan baik dan dapat mengatasi tantangan dan hambatan. jika disusun sesuai dengan kondisi dan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 91 . 1988) juga memperlihatkan keberhasilan dari kelembagaan kelembagaan ad hoc tersebut. Teken dengan kawankawan-kawan. Sistem Subak adalah suatu bentuk kelembagaan tradisional yang telah berkembang secara turun temurun. Modal cukup tersedia dengan jumlah yang memadai dan usaha sudah berjalan atas kekuatan sendiri. Kepastian hak -hak properti serta sanksi pelanggaran yang secara tegas juga biasanya telah ditetapkan dalam sistem kelembagaan Ad Hoc tersebut. W. Bromley dengan kawan kawan (Pasandaran dan Taylor. karena proses Pengoptimalan sistem Subak tidak keputusan dan pelaksanaan diragukan lagi akan mampu mengontrol alokasi sumberdaya. Coward Jr dan pengelolaan yang sama di negara sedang berkembang seperti yang diungkapkan oleh D. pengambilan dilakukan oleh anggota kelompok.pendidikan dan alih teknologi yang menuju kepada kemandirian. Dalam tahap ini diharapkan organisasi dan manajemen KUD beserta sekundernya/koperasi sekunder dari KUD yaitu pusat KUD dan induk KUD sudah efektif dan efisien. baik masa kini maupun yang akan datang.

Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 92 . tetapi juga mental dan moral serta kemampuan berpikirnya. Hal inilah yang menyebabkan membangun koperasi memerlukan waktu yang panjang dan berkesinambungan.tuntutan kebutuhan KUKM. Sejarah di negara barat juga menunjukkan bahwa mereka baru dapat menikmati hasil pembangunannya seperti sekarang setelah tanpa kenal lelah selama kurang lebih 100 tahun. maka perkuatan UKM melalui pola kemitraan adalah simultan dengan upaya pembangunan KUKM. ialah bukan seperti dan rumah. dari semua sektor usaha ekonomi. Dengan merujuk pada kondisi pembangunan koperasi pada masa lalu dan peluang koperasi di masa datang. karena tetapi membangun gedung yang kemitraan bertingkat. jembatan dibangun kelembagaan menyangkut sistem ekonomi dan sosial sekaligus lebih spesifik lagi disini dapat dikemukakan bahwa membangun kemitraan lebih cenderung kepada membangun manusianya sebagai sumber daya utama. dan koperasi (pengelompokan) berdasarkan peluang koperasi. Oleh sebab itu pola kemitraan yang akan dibangun diupayakan untuk mampu menangkap berbagai peluang usaha yang berkaitan dengan usaha para pengusaha kecil sejak dari pra produksi sampai dengan pemasarannya. serta dibangun sendiri oleh KUKM. Membangun manusia ini tidak hanya fisiknya saja. Hal ini diperlukan membangun sebagainya. Dalam upaya tersebut yang perlu dilakukan kemampuan pertamapertama-tama koperasi internal adalah menyusun sistematika usaha. perwilayahan penyesuaian waktu pelaksanaanya. Untuk itu maka dibutuhkan kebulatan tekad dan motivasi ideal yang didasarkan persepsi yang sama dari semua pihak.

Dari pengalaman selama PJP-I kita melihat bahwa menciptakan keterkaitan Koperasi dan Pengusaha Kecil Dengan Swasta dan BUMN bukanlah hal yang mudah. Di samping masalah di atas pengembangan lembaga kemitraan juga berkaitan dengan penetrasi usaha sektor tradisional ke dalam sektor modern. pemilihan Kemitraan KUKM contoh contoh harus dilakukan dengan pola stratifikasi yang memungkinkan contoh -contoh yang terpilih dapat mewakili kondisi koperasi berdasarkan kelompok kegiatan usaha. yaitu koperasi dan pengusaha kecil. dalam arti usaha kecil. dan badan usaha milik swasta (BUMS) juga sudah menjadi masalah yang pelik. Pembahasan hubungan antarpilar perekonomian nasional. perwilayahan dan waktu pelaksanaan kegiatan. Kegiatan penelitian tersebut adalah bertujuan untuk mengetahui secara lebih spesifik kemampuan lembaga kemitraan. Sampai saat ini masalah itu masih dalam perdebatan. perlu lebih dulu dilakukan kaji tindak (action researh).Memperhatikan permasalahan yang dihadapi dan kondisi UKM. permasalahan yang dihadapi. Dalam kegiatan action reaserch. maka untuk dapat menyusun rencana yang akurat sesuai dengan tujuan yang ideal tersebut di atas. tentang bagaimana konsepsi ideal yang dapat menggambarkan 93 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . Demikian juga. usaha menengah dan koperasi ke dalam usaha besar baik BUMN maupun BUMS. dan pembinaan yang diperlukan untuk memampukan kelembagaan tersebut. dengan badan usaha milik negara (BUMN). Oleh sebab itu aspek kemitraaan usaha sesungguhnya dapat memegang peranan penting dalam upaya pemberdayaan ekonomi rakyat.

Meskipun demikian secara parsial terlihat adanya berbagai hubungan secara fisik antarketiganya dalam kegiatan ekonomi.hubungan antar ketiga pilar atau pelaku ekonomi tersebut. Namun telah penafsiran yang berkembang meyakinkan membangunformasi seperti telah perekonomian nasional ke dalam tiga pilar dapat kita elakkan lagi. Berkaitan dengan hal tersebut maka tulisan ini mencoba mengemukakan konsepsi kelembagaan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya ekonomi. Tampaknya eksistensi ketiga pilar itu tak Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional maka hubungan antar ketiga pilar perekonomian di atas harus dapat di defenisikan. Hal ini dapat kita tafsirkan secara implisit dari pemikiran Bung Hatta. Beliau sebagai Bapak koperasi Indonesia pernah mengemukakan bahwa sifat kooperatif dalam ekonomi merupakan perluasan dari sifat gotonggotong-royong dan kekeluargaan. disebutkan di atas. Beberapa ahli hukum bahkan menyatakan bahwa sifat kooperatif dalam sistem perekonomian Indonesia dapat menjadi asumsi premis mayor dalam pengelolaan secara ekonomi. Formasi perekonomian yang didasarkan prinsip demokrasi ekonomi yang sesuai dengan amanat konstitusi sesungguhnya menetapkan hubungan ketiga pilar perekonomian tersebut berada sistem kelembagaan yang bersifat kooperatif. yaitu (1) pengertian kelembagaan ekonomi dan (2) begaimana eksistensi koperasi sehubungan dengan pengelolaan sumber daya dalam sistem ekonomi nasional dalam kerangka pemberdayaan ekonomi Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 94 . Sifat ini telah mengakar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kelembagaan kooperatif pada awalnya merupakan suatu asumsi yang dibangun untuk mewujudkan sistem kekeluargaan.

secara kumulatif memang mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. 5. sebaliknya produktifitas mereka sulit ditingkatkan karena usaha peningkatan kualitas sumberdaya jarang difikirkan. Tetapi jumlah jumlah tenaga kerja yang terserap tersebut secara prosentatif terhadap jumlah angkatan kerja. Dalam kondisi yang demikian Sistem Free fight liberalism yang menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia.3. PROSPEK OPERASIONALISASI POLA KEMITRAAN UKM Pembangunan ekonomi yang ditujukan pada usaha pemerataan pembangunan dan penanggulangan kemiskinan ditandai oleh mantapnya dasar demokrasi ekonomi yang menumbuhkan ekonomi rakyat.rakyat. Demikian juga rata-rata tingkat kesejahteraan para pekerja relatif rendah karena memang upah yang rendah dijadikan andalan dalam menekan biaya produksi. relatif sangat kecil. Demikian juga Sistem Demokrasi ekonomi dapat menghindari kelemahan dari Sistem Etatisme yang mematikan potensi serta daya kreasi masyarakat di luar sektor negara. kelompok. Pada akhirnya yang terlihat adalah harga produk produsen dalam negeri relatif lebih tinggi Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 95 . Dalam hal ini penetapan upah minimal regional (UMR) relatif belum mampu memperbaiki kesejahteraan mereka. maupun bangsa dapat ditekan sekecil mungkin. Sektor industri yang padat modal dan banyak mendapat proteksi karena diprioritaskan sebagai substitusi produk impor. Upaya mengejar pemerataan melalui pertumbuhan seperti pengembangan sektor industri untuk menyerap tenaga kerja belum dapat dinyatakan berhasil sepenuhnya.

bahkan sebaliknya peluang yang diberikan untuk mereka dapat dimanipulir untuk dimanfatkan oleh usaha menengah dan usaha besar. gerakan ekonomi rakyat. Pada akhirnya dapat dikemukakan bahwa dengan melaksanakan sistem demokrasi ekonomi secara konsekuen. dengan menciptakan iklim dan sistem usaha yang efektif bagi mereka. persaingan tidak sehat. Kebijaksanaan moneter dan fiskal belum sepenuhnya menjamin usaha mereka. serta pemusatan kekuatan ekonomi pada suatu kelompok dalam berbagai bentuk monopoli dan monopsoni sekecil yang merugikan masyarakat dapat ditekan mungkin. Dalam hal ini juga mandiri terlihat bahwa koperasi belum secara peran nyata sebagai sistem yang mampu memberdayakan memperlihatkan kelembagaan yang ideal.terhadap produk impor sehingga sebagian besar produksi hanya untuk konsumen lokal. 96 Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM . Di sisi yang lain terlihat bahwa produk dari para pengusaha kecil yang merupakan gerakan ekonomi rakyat tidak mendapat kesempatan seperti apa yang diperoleh oleh industri besar. tetapi yang cukup mencolok adalah belum adanya keberanian untuk secara tegas memberikan prioritas tinggi kepada gerakan ekonomi rakyat tersebut. Kondisi yang demikian sudah menggejala misalnya dalam penyediaan modal dengan ketentuan batas aset yang relatif masih cukup besar dan kurang proporsional dengan asset (Rp 200 juta dinyatakan sebagai pengusaha kecil) yang dimiliki oleh sebahagian besar dari pengusaha kecil. Kondisi seperti di atas permasalahannya dapat dilihat dari berbagai aspek.

Pemerataan pembangunan sebagai wujud pelaksanaan budaya dan politik. ciri pembangunan Kondisi tersebut ekonomi yang bertujuan pada pembangunan yang berkeadilan diindikasikan dengan tidak berdayanya gerakan ekonomi rakyat untuk tumbuh dan berkembang sejajar dengan usaha besar. Seperti diuraikan di atas maka permasalahan yang diduga dapat dikemukakan. walaupun usia kemerdekaan sudah hampir mencapai 50 yang masih lebih berorientasi pada demokrasi ekonomi adalah upaya pembangunan yang dilandasi dengan jiwa dan semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Kondisi koperasi yang terlihat sekarang ini masih jauh dari yang Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 97 . c) d) Tidak efektifnya institusi yang tersedia untuk mendorong pemberdayaan gerakan ekonomi rakyat serta . Tetapi sosial tersebut belum terlihat nyata. ekonomi untuk menjadi pendukung utama gerakan rakyat yang tangguh kuat dan Mandiri.Demikian juga iklim usaha harus dapat mendorong pengembangan gerakan ekonomi rakyat. Masih adanya berbagai kendala struktural yang menandai belum selesainya transformasi sosial tahun. Dalam konsep normatif yang demikian koperasi sebagai badan usaha ekonomi yang diamanatkan dalam konstitusi mutlak perlu dikembangkan. b) ketidakmerataan potensi ekonomi antar anggota masyarakat serta ketidakmerataan pembangunan antar sektor dan antar daerah. bahwa menghambat pengembangan gerakan koperasi sebagai badan usaha ekonomi yang ideal dengan amanat konstitusi tersebut adalah : a) kebijaksanaan Iklim usaha. serta strategi dan pendekatan pembangunan pertumbuhan .

yaitu bagaimana menciptakan kondisi yang lebih progresif untuk mendukung pemberdayaan pengusaha kecil sebagai gerakan ekonomi rakyat melalui pengembangan peran serta koperasi. hal ini perlu difikirkan karena dalam menghadapi keterbukaan mengharuskan pasar dengan daya liberalisasi saing yang perdagangan peluangnya peningkatan terbuka luas melalui pemberdayaan gerakan ekonomi rakyat yang di dukung oleh berperannya koperasi akan semakin besar. Pengembangan kemampuan komparatif yang diharapkan akan mampu meningkatkan daya saing dengan meningkatkan efisiensi dan produktivitas dari gerakan ekonomi rakyat serta pengembangan gerakan koperasi sebagai pendukung dari usaha tersebut pada dasarnya ada dalam satu lingkup permasalahan. dan politik yang kukuh yang dicerminkan oleh pemberian kesempatan yang lebih besar kepda koperasi. Pertanyaan tersebut hanya akan terjawab Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 98 . Peningkatan efisiensi dan produktivitas membutuhkan adanya dukungan terdapat sumber hanya daya dalam manusia gerakan yang berkualitas. Keadaan seperti di atas adalah menjadi pokok permasalahan dalam kajian ini. Peningkatan daya saing memerlukan pranata sosial. Sebaliknya sebagai institusi koperasi memerlukan partisipasi yang ideal dari para anggotanya. dan untuk itu masih diperlukan berbagai penataan. berkorelasi yang tingkat keeratan disamping ditentukan oleh kesadaran kedua pihak. rakyat yang yang ekonomi tertampung dalam satu wadah institusi.diharapkan. juga oleh kondisi sosial ekonomi dan politik lingkungannya. Kondisi yang demikian belum nyata terlihat dalam struktur perekonomian Indonesia pada awal PJP II sekarang ini. ekonomi. Antara partisipasi dan kemampuan koperasi untuk memberikan pelayanan.

BAB VI Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 99 .melalui pengkajian terhadap berbagai aspek perekonomian sejak dari pengusaan ekonomi sumberdaya global yang sampai dengan kebijaksanaan memungkinkan pengembangan eksistensi para pengusaha kecil dan pengusaha menengah yang selama ini masih tertinggal.

KESIMPULAN DAN SARAN 6. 2) Keragaman usaha dan penyebaran lokasi UKM yang sedemikian luas menyebabkan UKM sulit untuk meperbesar eksisistensinya sebagian produksi baku. tetapi menyentuh masalah institusional. KESIMPULAN 1) Aktifitas ekonomi UKM merupakan suatu sub sistem dalam sistem ekonomi nasional yang seharusnya memiliki kaitan struktural yang sangat erat antara satu dengan lainnya. besar tanpa konsumen maupun sumber. 4) Lembaga kemitraan usaha baik dalam bentuk asosiasi dan sindikasi selama ini sebagian besar terkecuali telah gagal melaksanakan amanat dari para anggotanya. 5) Adanya saling ketergantungan merupakan modal dasar bagi UKM untuk untuk membangun kerjasama sedangkan adanya kesetaraan memungkinkan terjadinya kesesuaian tune in. ketersediaan dan harga bahan 100 . tetapi kaitan tersebut tidak terbentuk atau belum melembaga. 3) Kajian mendalam terhadap permasalahan yang dihadapi UKM menunjukan adanya indikasi bahwa permasalahan yang dihadapi UKM tidak hanya terbatas pada masalah ekonomi pasar.1. yaitu belum adanya suatu sistem yang mampu mengembangkan potensi yang tersebar dalam UKM antara lain melalui pembangunan sistem kemitraan usaha . Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM Kondisinya menjadi semakin rumit karena UKM masih menggunakan kondisi pendekatan selera memperhatikan pasar.

dan dapat menghindari adanya eksploitasi atau penindasan antar unsur yang melakukan kerjasama. Kerjasama tersebut juga dapat dilakukan dalam berbagai bentuk yang didasarkan pada saling ketergantungan dan kesetaraan posisi diantara UKM10). melalui sesuai dengan kondisi UKM. Pembangunan sistem dan model kemitraan antar KUKM secara langsung dapat mengatasi masalah Keterbatasan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 101 . lembaga informasi dan lembaga pendidikan pelatihan serta lembaga penelian dan pengembangan 7) Membangun kelembagaan kerjasama kemitraan dalam bentuk formal maupun non formal harus dilakukan sendiri oleh UKM agar terbangun rasa memiliki. Pemerintah seharusnya juga mau memberikan dukungan untuk memperkokoh lembaga keuangan UKM seperti dalam pembentukan lembaga kemitraan 9) Untuk mendukung pembangunan UKM yang diperlukan adalah pembangunan sistem kerjasama usaha antar UKM baik dalam dalam lingkup sektoral maupun kewilayahan. 8) Bantuan pemberian undangan yang diperlukan dari pemerintah peraturan hanyalah perundang- kesempatan yang kondusif. untuk itu juga harus dikelola dan hasilnya dinikmati oleh KUKM sendiri. 6) Untuk mendukung keberhasilan lembaga kemitraan diperlukan adanya lembaga pendukung yang terdiri dari lembaga produksi dan pengembangan teknologi. lembaga permodalan. lembaga pemasaran.

Masalah kelancaran distribusi arus barang dan jasa serta kebutuhan pokok amat yang penting bagi UKM juga dapat ditanggulangi melalui pola kemitraan yang saling menguntungkan diantara UKM dilapisan paling bawah. UKM tidak banyak lagi mengharapkan bantuan pemerintah untuk membangun prasarana perhubungan untuk mendukung kelancaran produksi dan pemasaran. 6. 2). Dengan demikian memperkuat sektor perdagangan eceran adalah sangat strategis sifatnya dalam upaya memperkuat Usaha Kecil. SARAN 1). diperhatikan usaha menumbuh-kembangkan sinergi UKM melalui pembangunan suatu sistem perkuatan UKM yang dapat mempersatukan potensi UKM yang selama ini terfragmentasi menjadi suatu kekuatan utuh yang sekaligus mampu mengeleminir kendala-kendala yang dihadapi UKM dalam persaingan pasar. Diperlukan usaha melembagakan kaitan struktural antar UKM dalam bentuk kemitraan yang didasarkan pada prinsip saling menguntungkan dalam upaya memanfaatlan potensi sumberdaya UKM.2. 11). Dengan adanya sistem kemitran UKM.sarana dan prasarana perhubungan juga menghambat berkembang UKM. Dalam upaya upaya perkuatan posisi UKM yang diperlukan bukan dengan hanya memperkuat atau permodalan mengkatkan tetapi UKM juga dengan SDM penting program perkreditan kualitas pendidikan/pelatihan. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 102 .

3). Disarankan agar lembaga kemitraan dapat memberikan informasi pasar yang akurat sehingga pendekatan dalam memproduksi barang UKM didasarkan pada permintaan pasar agar bargaining produk UKM di pasar dapat ditingkatkan 4). Dalam membangun suatu pola kemitraan sebagai suatu suatu sistem yang efisien dan efektif, lebih dahulu perlu dikaji unsur unsur kemitraan yang dapat mendukung efisien dan efektifitas tersebut antara lain :a) kesamaan persepsi tujuan dan harapan kemanfaatan :b) Kesamaan bargaining diantara para pelaku kemitraan c) Adanya saling ketergantungan antara unsur-unsur dalam sistem d) Ada lingkungan yang

tidaknya potensi Konflik dan : e) Unsur kebijakan pembinaan dari pemerintah.

dapat dirinci menjadi kondisi ekonomi dan sosial serta

5). Kemitraan usaha besar dengan UKM harus bersifat spesifik misalnya dengan menetapkan salah satu asosiasi yang sehat dikembangkan peranya untuk mendukung UKM pada satu sektor usaha tertentu, yang sesuai dengan bidang usaha asosiasi yang bersangkutan.

Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM

103

DAFTAR PUSTAKA

Annonymous, 1992. UndangUndang-Undang Nomor 25 Tahun 1992, tentang PokokPokok-Pokok Jakarta. 1993 Anonymus 1996 Undang-Undang nomor. tahun 1996 tentang Usaha Kecil Departemen Koperasi dan Pembinaan Usaha Kecil, Jakarta ---------- 2002 Laporan Bulanan Kementeraian Koperasi PK dan M Perbulan Juli 2002, Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta
Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM

Perkoperasian.

Direktorat

Jenderal

Koperasi,

104

------------- , 2001. Statistik Indonesia 2000. Badan Pusat Statistik. Jakarta Sutrisno, Nur & Beddu Amang. 1986. Koperasi dan Efisiensi : Suatu Tinjauan Teoritis : Koperasi dalam Era Efisiensi Nasional. Badan Penelitian dan Pengembangan Koperasi. Departemen Koperasi Sutrisno, PH. Penelitian Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Kehidupan Perkoperasian (Studi Perbandingan) LPM dan Direktorat Jenderal Koperasi, Departemen Perdagangan dan Koperasi.Jakarta. 1981 Asmon. 1987. "Proposal for Employes Purchases of 15 % the Shaves of State Owned Exterprizes of "ESOP" (Executive Summary) Publication of the National Contex for Employes Ownership; "The Employes Ownership Export" Asher, H.B. 1976. Causal Modeling. Sage Pub. Beverly Hills, London Djojohadikusumo, Sumitro. i989. Kredit Rakyat: Rakyat: Dimasa Depresi (Judul Asli: Het Volkscredietwesen in de depressie). LP3ES, Jakarta. Dulfer, E. ed. 1979. Cooperative. Quiler Press, London Esman, Milton J. 1972. The Element of Institution Building. Dalam Eaton, Joseph W. Institution Building and Development. SAGE Publications, Beverly Hills, London Franklin,J.L. 1976. Characteristics of Successful and Unsuccessful Organization Development. J. of Applied Behav. Science 11 (4):
Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM

105

. J. 1986. Donald F. Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Pertanian Bogor. Boston Heflebower. Process. 1985. Business Publications Inc. Edward Arnold Publisher Ltd London Grosskopf. 1974. Teritory and function the evolution of regional planning.F. Geneva Gibson. J. Agriculture Development and Economic Growth. McGraw Hill Kogakusha Ltd. Werner. and Clyde Weaver 1979. Bogor Miller. 1980. Richard B.. Cornell University Press. London Morrison.. 1978. Madison Koeswardhono. The University of Wisconsin Press. l976.. 1986. Organization: Behavior. 1979. CoCo-operatives ToDay ToDay (selected Essays from various Fields of CoCo-operative Activities). The International International Alliance. Japan Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 106 . J. Ivancevich. L. and J. Dallas. 1976. Multivariate Statistical Methods: 2 nd Edition. H. Cooperatives and Mutual in The Market System. Concentration in the CoCo-operative System the Abolition ofCoofCo-operative Principles ? Dalam Laakkonen.B. Donnelly. V. E. Dalam Southworth and Johnston. M. Texas Harrison. Ekonomi Sumber Daya. Structure. J.471-492 Friedmand. Management and Organization. Houghton Mifflin Company.

J. K. Los Angeles University. 1984. New Experiences in People's Participation and EconomicDevelopment in SouthSouth-East Asia. Yogya. Dalam. J. W. Pedersen. Departemen Koperasi Nikolaus. 1985. 1986. N. Dalam. 1972.. 1972. Dalam Memperkokoh PilarPilar-Pilar Kemandirian Koperasi. Perencanaan Pengembangan Regional Sebagai Suatu Pendekatan Terpadu. Agus.Nasoetion. 1990. 1975. Cooperative. Cambridge Publishing Co. From Tribe to Multinational cooperation and approach to Study of urbanisation. Potensinya. 1977.London Pakpahan. June Powelson. Jakarta Stukey. Quiller Press.I. tanggal 2 Nopember1992 ----------. A proposed Model for Evaluation Studies. Princeton University Press. ASQ. M. New Jersey Siffin. Unsur Manusia dalam Wawasan Koperasi antara Persepsi dan Potensinya. London Soetrisno. Ceramah di Departemen Ilmu-Ilmu Tanah IPB. Lembaga Lembaga Penelitian dan Pengembangan Perbankan Indonesia. 1978. Loekman. Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 107 .. Lutfi Ibrahim. The Institution Building Perspective: A Model for Applied Social Change. Perspektif Ekonomi Institusi dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (Tidak Dipublikasikan). Lembaga Dana dan Kredit Pedesaan di D. Institution of Economic Growth : A Theory of Conflict Management in Developing Countries. Barbara. 1992.P. Dulfer.

Michael P. 1984. NY & London Pengkajian Tentang Pegembangan Kemitraan antar UKM Dalam Peningkatan Peran Dan Kinerja UKM 108 .California Swenson. Estimating Gini Ratios with Varying Proportionate Stratified Sampling Todaro. Geoffrey. Longman. 1978. Economic Development in The Third World 2nd Edition. C.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->