Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi, sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam

berkomunikasi itu. Bahasa adalah objek kajian linguistic, sedangkan berbahasa adalah objek kajian psikologi. 1. Hakikat Bahasa Para pakar linguistik deskriptif mendefinisikan bahasa sebagai “satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidenfikasi diri.” (Chaer, 1994). “Satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer” menyatakan hakikat bahasa. Definisi bagian pertama ini menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang bersifat sistematis dan sistemis. Jadi bahasa bukan merupakan satu sistem tunggal, melainkan dibangun oleh sejumlah subsistem (fonologi, sintaksis, dan leksikon). Sistem bahasa ini merupakan sistem lambang yang berupa bunyi. Selain itu, sistem bahasa ini juga bersifat arbitrer. Artinya, antara lambang yang berupa bunyi itu tidak memiliki hubungan wajib dengan konsep yang dilambangkannya. Tidak ada alasan mengapa benda yang dipakai untuk duduk dinamakan kursi, dan yang diminum dinamakan air. Kata-kata tersebut tidak mempunyai alasan mengapa demikian wujudnya. Definisi tersebut juga menyiratkan bahwa setiap lambang bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat maupun wacana memiliki makna tertentu, yang bisa saja berubah pada satu waktu tertentu. Sistem simbol lisan yang arbitrer dipakai oleh masyarakat bahasa tersebut, yakni masyarakat yang memiliki bahasa itu. Orang dari masyarakat bahasa lain tentu tidak dapat memakai sistem ini. Pemakai bahasa 1 1 1 1 1

menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antara sesama mereka, tetapi dalam berinteraksi itu mereka secara tidak sadar dikendala oleh budaya yang mereka junjung. Perilaku bahasa mereka merupakan cerminan dari budaya mereka. Penolakan terhadap kalimat Tutik mengawini Ahmad bukan disebabkan oleh kekeliruan tatabahasa, tetapi ketidaklayakan pada budaya masyarakat Indonesia. Definisi tambahan “yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidenfikasi diri” menyatakan fungsi bahasa dilihat dari segi sosial, yaitu bahwa bahasa itu adalah alat interaksi atau alat komunikasi di dalam masyarakat. Definisi bahasa dari Kridalaksana bahwa: “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri”, dan yang sejalan dengan definisi mengenai bahasa dari beberapa pakar lain, kalau dibutiri akan didapatkan beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa. Sifat atau ciri itu, antara lain: a. Bahasa sebagai sistem Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistemis, artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola: tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-sub sistem; atau sistem bawahan. Di sini dapat disebutkan, antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis dan subsistem semantik. Tiap unsur dalam setiap subsistem juga tersusun menurut aturan atau pola tertentu, yang secara keseluruhan membentuk satu sistem. Jika tidak tersusun menurut aturan atau pola tertentu, maka subsistem itu pun tidak dapat berfungsi. b. Bahasa sebagai lambang 2 2 2 2 2

termasuk bahasa. yaitu. yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. c. Termasuk alat komunikasi verbal yang disebut bahasa. Berbeda dengan tanda. Bunyi bahasa atau bunyi uajaran ( speech sound) adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”. tidak bersifat arbiter. Earns Cassier. Lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional. Bahasa itu bermakna 3 3 3 3 3 . menurut Kridalaksana (1983:27) bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. yang sering sukar dibedakan dengan kata suara. tanda serperti yang sudah dibicarakan di atas. tidak secara alamiah dan langsung. dan ikon. indeks. Yang dimaksud arbiter adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya. gerak isyarat (gesture). Bahasa adalah bunyi Kata bunyi. Oleh karena itulah. Hampir tidak ada kegiatan yang tidak terlepas dari simbol. lambang (simbol). antara lain tanda (sign). Secara teknis. lambang atau simbol tidak bersifat langsung dan alamiah. sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam semiotika atau semiologi (yang di Amerika ditokohi oleh Charles Sanders Peirce dan di Eropa oleh Fendinand de Saussure) dibedakan adanya beberapa jenis tanda. kode. Karena itu lambang sering disebut bersifat arbiter. sinyal (signal). seorang sarjana dan filosof mengatakan bahwa manusia adalah makhluk bersimbol (animal simbolicum). gejala (symptom). d.Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi. sebaliknya.

tidak punya rujukan. mana suka. Yang dimaksud dengan istilah arbiter itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. maka kekonvensionalan bahasa 4 4 4 4 4 . f. klausa. ide. Makna yang berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal. dan kalimat disebut makna gramatikal. Bahasa itu arbiter Kata arbiter diartikan sewenang-wenang. dan yang berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatik. atau makna konteks. Bahasa itu konvensional Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbiter. Lebih umum dikatakan lambang bunyi tersebut tidak punya referen. Jadi kalau kearbiteran bahasa pada hubungan antara lambanag-lamabang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya. sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant. e. Ferdinand de Saussure (1966:67) dalam dikotominya membedakan apa yang disebut significant (Inggris: signifier) dan signifie (Inggris: signified). tidak tetap. Signifiant adalah lambang bunyi itu. berubah-ubah. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. tetapi penerimaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu yang bersifat konvensional. atau pikiran. maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna. yang berkenaan dengan frase.Oleh karena lambang-lambang itu mengacu pada suatu konsep.

Lalu. kalau pada kata 5 5 5 5 5 . kalau bahasa dikatakan bersifat unik. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi . maksudnya. Bahasa itu produktif Bahasa itu dikatakan produktif. melainkan sintaksis. yaitu keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue. termasuk juga kalimat-kalimat yang belum pernah ada atau pernah dibuat orang. Bahasa itu unik Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain.terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya. atau sistem-sistem lainnya. setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. sistem pembentukkan kata. Keterbatasan pada tingkat parole adalah pada ketidak laziman atau kebelumlaziman bentukbentuk yang dihasilkan. meskipun unsur-unsur itu terbatas.000 buah. sistem pembentukkan kalimat.. Maksudnya. g. maka artinya. Keproduktifan bahasa memang ada batasnya dalam hal ini dapat dibedakan adanya dua macam keterbatasan. h. Keproduktifan bahasa Indonesia dapat juga dilihat pada jmumlah yang dapat dibuat. Dengan kosa kata yang menurut Kamus Besar Huruf Bahasa Indonesia hanya berjumlah lebih kurang 60. Sedangkan pada tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku. Salah satu keunikkan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis. meski secara relatif sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa. tapi dengan unsur-unsur dengan jumlahnya yang terbatas terdapat di luar satuan-satuan bahasa yang jumlahnya yang tidak terbatas. kita dapat membuat kalimat bahasa Indonesia yang mungkin puluhan juta banyaknya.

yakni mempunyai sifat atau ciri masingmasing.tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan. Kalau pembentukan itu bersifat khas. maka ciri tersebut menjadi ciri universal dan keunikan rumpun atau subrumpun bahasa tersebut. i. Karena bahasa itu berupa ujaran. sedangkan dalam kehidupannya kegiatan manusia tidak tetap dan berubah. bukanlah persoalan keuniversalan. maka makna itu tetap. yang biasa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain. Namun. entah satuan yang maknanya kata. Yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat. sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa. ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. kalimat. Bahasa itu dinamis Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu. j. Kalau ciri itu dimiliki oleh sejumlah bahasa dalam satu hukum atau satu golongan bahasa. hanya dimiliki sebuah bahasa maka hal itu merupakan keunikan dari bahasa. Bukti dari keuniversalan bahasa adalah bahwa setiap bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna. Artinya. maka bahasa itu juga menjadi 6 6 6 6 6 . Bahasa itu universal Selain bersifat unik. Tetapi berapa banyak vokal dan konsonan yang dimiliki oleh setiap bahasa. Karena keterkaitan dan keterikatan bahasa itu dengan manusia. klausa. frase. Ciri-ciri yang universal ini merupakan unsur bahasa yang paling umum. maka ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan. bahasa itu bersifat universal. bagaimana satuan-satuan itu terbentuk mungkin tidak sama. dan wacana.

atau dialek geografi. Oleh karena itu. Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui. Dengan terjadinya perkembangan kebudayaan. yaitu kata-kata atau istilah-istilah baru. dialek. maka bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam. Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi. Sedangkan variasi bahasa yang digunakan sekelompok anggota masyarakat dengan status sosial tertentu disebut dialek sosial atau sosiolek. Dialek adalah variasi bahasa yang di gunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. atau ada kata-kata lama yang muncul dengan makna baru. Barang kali. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Hal ini juga dipahami.ikut berubah. tentu bermunculan konsep-konsep baru. k. karena latar belakang dan lingkungannya yang tidak sama. atau untuk 7 7 7 7 7 . dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain sering kali mempunyai perbedaan yang besar. dialek area. Perubahahan yang paling jelas. Karena itulah. Setiap orang tentu mempunyai ciri khas bahasanya masing-masing. adalah sarana atau wadah untuk menampung suatu konsep yang ada dalam masyarakat bahasa. perkembangan ilmu dan teknologi. hampir setiap saat ada kata-kata baru muncul sebagai akibat perubahan dan ilmu. dan paling banyak adalah pada bidang leksikon dan semantik. yaitu idiolek. Variasi bahasa berdasarkan tempat ini lazim disebut dengan nama dialek regional . karena kata sebagai satuan bahasa terkecil. Bahasa itu bervariasi Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. dan ragam. yang tentunya disertai wadah penampungnya. keadaan. menjadi tidak tetap. menjadi tidak statis. bahasa itu disebut dinamis.

keperluan tertentu. bermakna. dan ragam bahasa hukum. Untuk keperluan pemakaiannya dapat dibedakan adanya ragam bahasa ilmiah. yaitu bahasa. Bahwa binatang dapat berkomunikasi dengan sesama jenisnya. untuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar. bukanlah terletak pada bahasa itu dan alat komunikasi binatang itu. l. ragam bahasa jujrnalistik. maka dapat dikatakan bahwa binatang tidak mempunyai bahasa. dan produktif. Dari sarana yang digunakan dapat dibedakan adanya ragam lisan dan ragam tulisan. bahwa bahasa itu adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa alat komunikasi manusia 8 8 8 8 8 . Untuk situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar. berbeda dengan alat komunikasi binatang. yang sudah dibicarakan dimuka. bersifat arbitrer. alat komunikasinya tidaiklah sama dengan alat komunikasi manusia. Dari penelitian para pakar terhadap alat komunikasi binatang bisa disimpulkan bahwa satu-satuan komunikasi yang dimiliki binatang-binatang itu bersifat tetap. Bahasa itu manusiawi Kalau kita menyimak kembali ciri-ciri bahasa. tidak dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru. ragam bahasa sastra. Sebetulnya yang membuat alat komunikasi manusia itu. adalah memang suatu kenyataan. ragam bahasa militer. bahkan juga dengan manusia. Namun. dalam arti dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru. produktif dan dinamis. yaitu bahasa. yang hanya itu-itu saja dan statis . melainkan pada perbedaan besar hakikat manusia dan hakikat binatang.

Berikut ini merupakan hakikat bahasa menurut pendapat Brown yang juga dikutip dari Tarigan (1990:4). dan (8) bahasa itu berubah-ubah. Sementara itu. Jadi. (2) bahasa adalah seperangkat lambanglambang arbitrari. Pendapat ini tidak berbeda dengan yang dikatakan Brown juga dalam Tarigan (1990:2-3) yang apabila dilihat banyak sekali persamaan gagasan mengenai bahasa itu walaupun dengan kata-kata yang sedikit berbeda. (2) bahasa adalah vokal. tanpa struktur (sistem) proses akan kacau’. antara 9 9 9 9 9 . 1997:34). iaitu hakikat dan fungsinya (Nababan. Bahasa dapat dilihat daripada dua aspek. (6) bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa atau budaya. 1993. barang kali juga untuk sistem generatif. (5) bahasa dibangun daripada kebiasaankebiasaan. iaitu (1) bahasa adalah suatu sistem yang sistematik. terutama sekali bersifat vokal tetapi mungkin juga bersifat visual. (4) lambang-lambang itu mengandung makna konvensional. (5) bahasa dipergunakan sebagai alat komunikasi. dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia. Kleden. adalah bersifat manusiawi. Tarigan (1990:2-3) mengemukakan adanya delapan prinsip dasar hakikat bahasa. Hubungan kedekatan yang tidak dapat dipisahkan antara sistem dengan proses ini dilukiskan oleh Kleden dengan kalimat: ’Tanpa proses sebuah struktur (sistem) akan mati. 1991:46). (7) bahasa pada hakikatnya bersifat kemanusiaan. sedangkan fungsi bahasa menyangkut pula pembicaraan proses atau parole (Saussure. walaupun mungkin tidak terbatas pada manusia sahaja.yang namanya bahasa. (4) setiap bahasa bersifat unik. (3) lambang-lambang tersebut. (6) bahasa ialah alat komunikasi. (3) bahasa tersusun daripada lambang-lambang arbitrari. yaitu (1) bahasa adalah suatu sistem. Hakikat bahasa mengacu pada pembicaraan sistem/struktur atau Langue. (7) bahasa berhubungan erat dengan tempatnya berada. (8) bahasa diperoleh semua orang/bangsa dengan cara yang hampir/banyak persamaan dan (9) bahasa dan belajar bahasa mempunyai ciri kesejagatan.

bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang. 1997: 3). Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Dalam perkembangannya. Sebenarnya. 2. Kita memilih cara berbahasa yang 10 10 10 10 10 . sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu. Pada saat kita menulis. Setelah kita dewasa. Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri Pada awalnya. a. yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri. Fungsi-Fungsi Bahasa Pada dasarnya. kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu. Akan tetapi. dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf. sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. kita menggunakan bahasa. kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. tulisan kita dalam sebuah buku. kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. merupakan hasil ekspresi diri kita. baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. pada saat kita menulis surat kepada orang lain. melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Sebagai contoh lainnya. sebagai alat untuk berkomunikasi. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak.hakikat bahasa dan fungsi bahasa itu sendiri merupakan suatu konsep dua fungsi bahasa. Jadi. seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya. seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap. yakni ayah-ibunya.

melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Sebagai alat komunikasi. si pemakai bahasa Ia tidak perlu mempertimbangkan bahasa hanya atau untuk memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya. Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri. 1997 : 4). b. pembacanya. bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita. serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita. bahasa pada anak-anak sebagian berkembang sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf. 2) keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi Pada taraf permulaan. bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita. merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf. sekurangkurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. atau khalayak sasarannya. yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain : 1) agar menarik perhatian orang lain terhadap kita. Bahasa sebagai Alat Komunikasi Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri.berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita. menggunakan kepentingannya pribadi. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan. 11 11 11 11 11 . Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya. Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri. 1997 :4).

misalnya. pendidikan kita. Bahasa menjadi cermin diri kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita. nuansa keilmuan. misalnya. Melalui bahasa. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu. lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. kita dapat menunjukkan sudut pandang kita. Sebaliknya. Kita ingin dipahami oleh orang lain. kita sudah memiliki tujuan tertentu. seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman12 12 12 12 12 . baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri. kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita. Kata griya. asal usul bangsa dan negara kita. nuansa intelektualitas. antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. rumah. Lebih jauh lagi. Jadi. Kita ingin mempengaruhi orang lain.Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu. dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. atau nuansa tradisional. kata besar. pemahaman kita atas suatu hal. kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. wisma. bahkan sifat kita. c. Dengan kata lain. luas. Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Misalnya. Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan. memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka.

Misalnya. kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu. kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokanbentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu. 13 13 13 13 13 . Pada saat kita mempelajari bahasa asing.pengalaman itu. Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing. pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya. kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. 1997 : 5). Bahasa sebagai alat komunikasi. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa. kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf.

Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Berbagai penerangan. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. pada akhirnya. rangka. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. 3. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. informasi. Struktur Bahasa Struktur secara bahasa adalah kaedah bagaimana sesuatu disusun. cara penyusunan (sesuatu). Di samping itu. Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial Sebagai alat kontrol sosial. struktur 14 14 14 14 14 . Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi. Sedangkan struktur bahasa adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituten kalimat secara linear. perilaku dan tindakan yang baik. kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru. bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Pendek kata. Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Biasanya.d. susunan (sesuatu). rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang. Adapun Struktur luar adalah susunan kalimat atau himpunan kalimat suatu teks atau bagian teks yang akan dibaca atau didengar. sikap baru.

mengembalikan struktur “bergaya” menjadi struktur yang sederhana. Apa yang tersirat dalam struktur luar tidak senantiasa dapat diterangkan melalui parafrase saja. Jadi. transformasi dalam teori teks ialah perubahan struktur dalam menjadi struktur luar. parafrase dipergunakan untuk mengembalikan struktur dalam. Penjelasan lebih lanjut masih diperlukan mengenai konteks dan situasi serta kondisinya.luar sama dengan struktur yang tersurat sebagaimana yang tersaji dalam kondisi siap-pakai. dapat dikatakan bahwa struktur dalam berhubungan dengan isi. Tahap transformasi ini menjadi bagian utama dalam teori teks. Melalui transformasi. struktur dalam menjelma menjadi struktur luar. Representasi struktur dalam yang abstrak ini dihubungkan oleh rumus-rumus transformasi dengan representasi struktur luar. yaitu kalimat-kalimat yang kita dengar atau kita lahirkan. Sebagai sebuah istilah. dengan kata lain struktur luar adalah struktur kalimat itu ketika diucapkan yang dapat kita dengar. Hal ini disebabkan bahwa interpretasi merupakan penjelasan struktur dalam berdasarkan atau memperhatikan konteksnya. yakni hal-hal yang ada sangkut-pautnya dengan struktur luar dan struktur dalam tersebut. Jadi. siap-baca. interpretasi diperlukan. Perhatikan bagan berikut: STRUKTUR-LUAR (Representasi fonetik kalimat) 15 15 15 15 15 . Sedangkan struktur dalam dapat disebut sebagai struktur tersirat. Oleh karena itu. Untuk mudahnya. Parafrase membuka jalan untuk mengetahui deviasi dan foregrounding yang terdapat pada struktur luar. Struktur dalam belum mengalami proses lebih lanjut dalam perumusannya. dari bentuk tersirat menjadi bentuk tersurat. Dalam teori teks. bersifat konkrit Menurut teori ini di dalam otak kita terdapat satu peringkat representasi yang abstrak untuk kalimat yang kita lahirkan. Oleh karena itu.

Mulut Rumus-rumus Transformasi Otak STRUKTUR-DALAM (Representasi dalam : Abstrak) Untuk Memahami bagan tersebut. simaklah dua kalimat berikut : (1) Murid itu mudah diajar (2) Murid itu senang diajar Kalimat (1) dan kalimat (2) memiliki struktur luar yang sama Kalimat (1) K FN FV N Murid Kalimat (2) Art itu A Mudah V diajar K FN FV 16 16 16 16 16 .

Suatu tata bahasa yang memadai harus mampu memberi keterangan struktural mengapa kedua kalimat itu berbeda sebagaimana yang dirasakan oleh penutur asli bahasa itu. kita. Sedangkan proses reseptif terjadi pada mitra tutur yang ditandai 17 17 17 17 17 . yaitu proses produktif dan proses reseptif (Chaer. tetapi struktur dalamnya jauh berbeda. bukan yang mengajar. Sedangkan pada kalimat 2 yang mengalami rasa senang adalah muriditu. sebagai penutur bahasa indonesia dapat merasakan bahwa yang mengalami sesuatu sebagai akibat “murid itu diajar” adalah dua pihak yang berlainan.N Murid Keterangan : K FN FV A Art Art itu A Senang V diajar = Kalimat = Frase Nominal = Frase Verbal = Adjektiva = Artikel Dari kedua diagram pohon itu tampak bahwa struktur luar kalimat 1 dan kalimat 2 adalah percis sama. Proses produktif terjadi pada penutur yang menghasilkan kode-kode bahasa yang memiliki makna. 4. Proses Berbahasa Proses berbahasa merupakan gabungan berurutan antara dua proses. meskipun struktur luarnya sama. dalam hal kalimat 1 dan kalimat 2 di atas. Maka. Pada kalimat 1 yang mengalami sesuatu yang mudah adalah yang mengajar murid itu. Namun. 2003:45).

Konsep dari enkode dan dekode ini adalah pengomunikasian makna dari penutur ke mitra tutur. Proses berbahasa produktif dan reseptif dapat dianalisis dengan pendekatan perilaku dan pendekatan kognitif. Penutur yang menghasilkan kode-kode melalui organ tutur dan diterima oleh mitra tutur melalui organ pendengaran. Dalam psikolinguistik. aspek reseptif lebih banyak disorot dan dibicarakan oleh pakar psikolinguistik (Parera dalam Chaer. dan 3) enkode fonologi. yakni penyusunan unsur bunyi dari kode itu. a. Proses produksi atau juga bisa disebut enkode memiliki tahapan proses berawal dari enkode semantik. Kemudian lanjut dengan dekode gramatikal. Dilanjutkan dengan enkode gramatikal. Komponen Sintaksis Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antar kata dalam tuturan Zainal Ariffin (2008:1). Proses reseptif atau disebut juga dekode memiliki tahapan dari dekode fonologi. 2003: 46). dan 1) dekode semantik. ide. dekode gramatikal. Sintaksis merupakan 18 18 18 18 18 . yakni bagi penutur 1) enkode semantik. atau pengertian. 2) enkode gramatikal. yakni dengan cara mengamati reseptif setelah menerima isyarat bahasa. setiap orang yang sedang berkomunikasi. yakni proses penyusunan konsep. Dekode fonologi merupakan proses menerima bunyi-bunyi tersebut melalui organ pendengaran. Sedangkan bagi mitra tutur 3) dekode fonologi. 2) dekode gramatikal. yakni menyusun enkode semantik ke dalam susunan gramatikal. Reseptif merupakan aspek yang lebih mudah dikenali daripada aspek produktif. ide. Selanjutnya adalah dekode semantik. yakni memahami konsep. dan dekode semantik. Selanjutnya adalah enkode fonologi. Dengan demikian dapat diartikan bahwa.dengan menangkap kode-kode bahasa dari penutur. atau pengertian dari kode-kode bahasa tersebut. yakni memahami bunyi sebagai satuan gramatikal. pada dasar sama-sama menyampaikan makna dengan dikemas secara berurutan. lengkap dengan maknanya.

Kemampuan seperti ini menunjukkan tata bahasa Indonesia yang dinuranikan secara tidak sadar.:39). Bagian-bagian dari kalimat (1). yakni FN+V+FN dengan rincian sebagai berikut: Frase Nominal (FN) : Mobil itu 19 19 19 19 19 . Kalimat (1) terdiri dari beberapa kata c. Tugas utama komponen sintaksis adalah menentukkan hubungan antar pola-pola bunyi bahasa itu dengan maknamaknanya dengan cara mengatur urutan kata-kata yang membentuk frase atau kalimat itu agar sesuai dengan makna yang diinginkan penuturnya (…. Setiap penutur bahasa Indonesia jika akan memanggal suatu kalimat pastilah cara pemenggalannya sebagai berikut: Mobil itu/ menabrak pemulung itu Tidak mungkin menjadi Mobil itu menabrak/ pemulung itu atau Mobil/ itu menabrak pemulung itu Jadi. d. Dalam kalimat (1) mobil dan pemulung tergolong nominal. a. misal pada kalimat (1) Mobil itu menabrak pemulung itu. Setiap penutur bahasa Indonesia dengan kompetensinya mengenai bahasa Indonesia yang telah dinuranikan akan mampu menentukkan hal berikut. setiap penutur bahasa Indonesia akan merasakan bahwa kata itu yang pertama lebih natural bergabung kata mobil dari pada dengan kata menabrak. Cara kerja komponen sintaksis. Kalimat (1) di atas tergolong baik dan lengkap b.komponen sentral dalam pembentukan kalimat disamping komponen semantik dan komponen fonologi. dan itu adalah menunjukkan sesuatu yang dimaksud. menabrak tergolong verba.

Verba (V) :Menambrak Frase Nominal (FN) : Pemulung itu Dengan demikian. organisasi kalimat (1). yang sesuai dengan kompetensi bahasa Indonesia merupakan satu hierarki sebagi berikut 1 2 3 4 5 N Mobil FN Art itu V menabrak (K) KALIMAT FV FN N pemulung Art itu 20 20 20 20 20 .

(c) intonasi. (c) kalimat sebelum dan sesudah yang menyertai kalimat itu. cara kalimat diucapkan atau dituliskan.Hierarki Kalimat (1) jika digambarkan dengan diagram pohon sebagai berikut. Namun. Umpamanya kalimat 21 21 21 21 21 . dan (f) faktor-faktor lain. K FN N Art V FV FN N Art Kuda Itu menendang Petani Itu Dari bagan tersebut terlihat bahwa komponen sintaksis membentuk suatu kalimat berdasarkan urutan dan organisasi kata-kata yang diatur oleh rumus kebetulan sama dengan penanda frase (PF) struktur luarnya. sehingga kalimat itu mudah dipahami. pada umunya banyak praktik kebahasaan yang struktur dalam dan struktur luarnya berbeda. b. Komponen Semantik Teori linguistik generatif transformasi standar mengakui bahwa makna suatu kalimat sangat tergantung pada beberapa faktor yang saling berkaitan dengan lainnya. Faktor-faktor itu antara lain (a) makna leksikal kata yang membentuk kalimat. (b) urutan kata dalam organisasi kalimat. (d) konteks situasi tempat kalimat itu diucapkan.

dan [+beranak]. tetapi dapat juga bermakna ‘baik’. [+manusia]. dan [+beranak]. Untuk bisa menghasilkan kalimat yang gramatikal dan berterima secara semantik. Dari fitur-fitur yang yang disebut. [+dewasa]. (4) Gadis itu sangat manis. (6) Gadis itu sangat manis budinya. (3) Kucing makan tikus / mati. teori linguistik generatif transformasi standar mengajukan teori fitur-fitur semantik (semantics features) atau disebut juga penanda semantik (semantics marker). [-laki-laki].kucing makan tikus mati dengan intonasi/jeda seperti berikut menjadi berbeda maknanya. (5) Gadis itu sangat manis rupanya. [+konkret]. pada kalimat (5) dan kalimat (6) sudah agak tertentu. [+dewasa]. [+konkret]. Namun. ‘menarik’. [+manusia]. (2) Kucing makan / tikus mati. tampak bedanya bapak dan ibu. dan makna ini pun bisa saja terlepas apabila kata itu berada dalam konteks frase yang berlainan. [+menikah]. [+laki-laki]. Kata manis pada kalimat (4) masih bermakna ganda ‘cantik’. [+menikah]. ‘cantik’ dan sebagainya. Sedangkan kata ibu memiliki fitur-fitur [+benda]. Umpamanya kata bapak memiliki fitur [+benda]. Kalau bapak memiliki fitur 22 22 22 22 22 . atau ‘baik hati’. (1) Kucing / makan tikus mati. Umpamanya kata manis secara leksikal mengacu pada rasa seperti rasa gula. yaitu ‘cantik’ untuk kalimat (5) dan ‘baik hati’ untuk kalimat (6). Teori ini mengansumsikan bahwa setiap kata memiliki sejumlah fitur semantik yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Kalimat di atas menjadi semakin rumit karena banyak kata memiliki dari satu makna.

tidak mempunyai garis pemisah yang tegas. (balaŋ). sejumlah pakar pengikut generatif transformasi yang lain menganggap kedua komponen itu. makna kalimat (7) berterima. maka kita dapat mencatat bahwa pada 23 23 23 23 23 . sebagai komponen ketiga dalam tata bahasa generatif transformasi memiliki rumus-rumus fonologi yang bertugas mengubah struktur-luar sintaksis menjadi representasi fonetik yaitu bunyi-bunyi bahasa yang kita dengar yang diucapkan oleh seorang penutur. sedangkan ibu memiliki fitur[-laki-laki]. sintaksis dan semantik. setiap penutur suatu bahasa dapat mengenal mana kalimat yang secara semantik berterima dan mana pula yang tidak berterima.[+laki-laki]. Untuk dapat memahami bagaimana cara kerja rumus-rumus fonologi itu kita perlu mengenal dulu representasi fonetik itu. (palaŋ). Komponen fonologi ini. dan (pəraŋ) diucapkan. (8) *Bapak itu sedang hamil. (bəraŋ). Kalau kita mendengar kata-kata (baraŋ). (paraŋ). Karena itulah. (7) Ibu itu sedang hamil. Pengenalan fitur-fitur semantik ini sebenarnya juga telah ternuranikan oleh setiap penutur suatu bahasa sebagai bagian dari kompetensi bahasanya. Oleh karena itu. Namun. Komponen Fonologi Yang dimaksud dengan komponen fonologi adalah sistem bunyi suatu bahasa. Teori linguistik generatif transformasi standar dan yang diperluas menyatakan adanya komponen semantik ini sebagai komponen dalam otak yang terpisah dari komponen sintaksis dengan garis yang tegas. c. sedangkan kalimat (8) tidak berterima.

[g ə roba?] Meskipun ucapannya berbeda. tetapi maknanya tidak berubah. [g ə robak] 2.ketiga kata pertama terdapat bunyi [b] pada awal katanya. Unit bunyi. dan [?]. dan [?] hanya dilambangkan sebagai satu bunyi saja di dalam otak manusia Indonesia. sehingga lafalnya: <gerobak> ======> 1. Sedangkan kalau kita bandingkan kata kelima dan keenam. Ketiga bunyi akhir itu [k]. yaitu pada kata kelima bunyi kedua dan ketiganya berupa [a] dan [l]. atau fon yang membentuk kata ini di dalam studi fonologi. Bunyi-bunyi yang membentuk kata ini disebut unit bunyi. perbedaannya hanya terletak pada pada bunyi kedua. Pertanyaannya sekarang apa yang dimaksud dengan rumus-rumus fonologi? Untuk dapat memahaminya mari kita ambil contoh kata gerobak dalam bahasa Indonesia. Misalnya kata [baraŋ] dan [paraŋ] yang mirip. Bunyi [k] pada akhir kata gerobak itu paling tidak dipresentasikan menjadi [k]. letak bedanya hanya pada fon pertama yaitu [b] dan [p]. dan masingmasing dibangun oleh lima buah fon. Dalam studi fonologi ciri-ciri bunyi itu disebut fitur-fitur. Kedua fon ini termasuk bunyi hambat bilabial. Kata pertama dan kata kedua bunyinya hampir sama. maka kita lihat ada 2 buah bunyi yang berbeda. Pada ketiga kata berikutnya terdapat bunyi [p] pada awal katanya. segmen fonetik. dideskripsikan berdasarkan tempat dan cara artikulasinya. sedangkan pada kata keenam bunyi kedua dan ketiganya berupa [e] dan [r]. Perbedaannya terletak pada bunyi ketiga yaitu [r] pada kata pertama dan [l] pada kata kedua. segmen fonetik. Kata pertama dan ketiga bunyinya juga hampir sama. Bedanya bunyi [b] dalah bersuara dan bunyi [p] adalah bunyi tak bersuara. [g]. [g ə robag] 3. dan ciri bunyi yang membedakan disebut fitur distingtif. atau dalam studi fonologi disebut fon. yaitu [a] kata pertama dan [ə] pada kata ketiga. [g]. yaitu /k/ sebagai sebuah 24 24 24 24 24 .

com/2011/12/contoh-makalah-bahasa-danberbahasa. pada tanggal 17 September 2012.com/2011/11/12/hakikat-dan-fungsibahasa/. 2003.blogspot.com/2010/06/09/hakikat-bahasa/. yaitu dalam dan luar. Kedua peringkat ini dihubungkan oleh rumus fonologi. Psikolinguistik Kajian Teoritik. 2011. tetapi didalam kajian fonologi generatif dianggap sebagai bunyi yang masih bisa dipecah atas beberapa fitur distingtif. tetapi dalam bentuk peringkat luarnya seperti orang di Jakarta adalah [gərobag]. 2010. Dari keterangan di atas bisa dikatakan komponen fonologi mempunyai 2 peringkat. 2011. “Struktur Luar” dalam http://bebaslandas. 25 25 25 25 25 .wordpress. 2008. Ramlan.wordpress.fonem.com/2008/11/struktur-luar-pengertian-strukturluar. Khairil. “Hakikat dan Fungsi Bahasa” dalam http://khairilusman. Abdul. DAFTAR REFERENSI Chaer.html. Sebagai contoh kata gerobak dalam bahasa Indonesia yang bentuk pada peringkat dalamnya /gərobak/. Jakarta: Rineka Cipta. “Bahasa dan Berbahasa” dalam http://mustykamustyka.blogspot. Peringkat dalam berupa abstraksi dari representasi fonetik yang berada di peringkat luar. Diakses pada tanggal 17 September 2012. Diakses pada tanggal 16 September 2012. Hikmatul. Luthfi. “Hakikat Bahasa” dalam Diakses http://ramlannarie. Diakses pada tanggal 17 September 2012. Mustyka.html. Dalam kajian fonologi taksonomi. fonem dianggap sebagai satuan bunyi terkecil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful