P. 1
Prak.kisi Difraksi(3)

Prak.kisi Difraksi(3)

|Views: 2,230|Likes:
Published by SyiZae
Laporan Fisika PLMO
Laporan Fisika PLMO

More info:

Published by: SyiZae on Apr 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2014

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR LISTRIK

MAGNET DAN OPTIKA

KISI DIFRAKSI





Disusun Oleh :
Siti Zainab (12302241030)




JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013



PERCOBAAN III
KISI DIFRAKSI

A. Tujuan
1. Menentukan panjang gelombang warna tertentu pada spektrum cahaya.
2. Menentukan frekuensi warna spektrum cahaya.

B. Alat dan Bahan
1. Kisi difraksi
2. Sumber cahaya polikromatis
3. Mistar
4. Layar panjang berskala

C. Dasar teori
Difraksi merupakan gejala pembelokan (penyebaran) gelombang ketika menjalar
melalui celah sempit atau tepi tajam suatu benda. Difraksi terjadi bila ukuran celah lebih
kecil dari pada panjang gelombang yang melaluinya. Sedangkan interferensi merupakan
perpaduan dua atau lebih gelombang sebagai akibat berlakunya prinsip superposisi.
Interferensi terjadi bila gelombang-gelombang tersebut koheren, yakni mempunyai
perbedaan fase yang tetap. Interferensi dan difraksi dianggap sebagai suatu ciri khas dari
gelombang, dan tidak dimiliki oleh partikel. Dua atau lebih partikel yang bertemu dalam
suatu medium, tidak akan terjadi perpaduan. Demikian pula partikel yang bergerak bebas
melalui celah, tidak akan dibelokkan. Cirri khas ini tak lain sebagai akibat prinsip
superposisi linier, yang merupakan sifat gelombang. (Taufik Ramlan Ramalis, 2001).
Teori yang mendasari dari gejala difraksi ini adalah prinsip Huygens-Fresnel.
Prinsip ini menyatakan bahwa dalam proses perambatan gelombang bebas, setiap titik
pada suatu muka gelombang berfungsi sebagai sumber sekunder sferis untuk anak
gelombang (wavelet), dengan frekuensi yang sama dengan gelombang primernya.
(Taufik Ramlan Ramalis, 2001).
Kisi difraksi merupakan sistem N buah celah, dengan lebar celah dan jarak antara
celah yang teratur. Difraksi oleh kisi seperti ini akan menghasilkan pola yang merupakan
gabungan antara pola difraksi tunggal sempit dengan pola interferensi N buah sumber
yang sinkron. (Taufik Ramlan Ramalis, 2001).
Pola pada kisi difraksi dapat menghasilkan warna yang beraneka macam. Warna
cahaya berhubungan dengan panjang gelombang atau frekuensi cahaya tersebut. Cahaya
tampak yaitu cahaya yang sensitif bagi mata kita- jatuh pada kisaran 400 nm-750 nm.
Kisaran ini dikenal sebagai spektrum tampak, dan di dalamnya terdapat warna-warna dari
ungu sampai merah, seperti pada Gambar 2. Warna- warna inilah yang kemudian dikenal
dengan pelangi, sebagai spektrum gelombang elektromagnetik (GEM). Cahaya dengan
panjang gelombang lebih pendek dari 400 nm disebut Ultraviolet (UV) dan cahaya
dengan panjang gelombang lebih besar dari 750 nm disebut inframerah (IR-Infra Red).
Walaupun mata manusia tidak sensitif terhadap UV dan IR, beberapa jenis film fotografi
bereaksi terhadap cahaya-cahaya ini. (Douglas C. Giancoli, 2001: 297)
Berikut gambar kisi difraksi :






Jika suatu celah sempit diberi berkas sinar sejajar, maka dibelakang celah tersebut
akan terjadi garis terang yang dibatasi oleh garis gelap. Demikian juga berkas cahaya
yang dijatuhkan kisi akan terjadi spektrum cahaya, dengan menggunakan persamaan:
ì u n d = sin dan ì f c =
Dengan :
d= lebar celah (cm)
λ=panjang gelombang cahaya (cm)
f=frekuensi gelombang cahaya (Hz)
c=cepat rambat cahaya (c=3.10
8
m/s) (Tim fisika Dasar, 2013).
Persamaan untuk mencari panjang gelombang menggunakan persamaan:
2 2
L p
dp
n
+
= ì
Dengan :
n= jumlah kisi
λ=panjang gelombang cahaya (cm)
d= lebar celah (m)
p=jarak celah dengan warna (m)
L=jarak kisi dengan celah (m) (Tim fisika Dasar, 2013).
Besar panjang gelombang masing- masing warna cahaya adalah:
Warna ()
Ungu 380-450
Biru 450-495
Hijau 495-570
Kuning 570-590
Jingga 590-620
Merah 620-750
Pink 750-1000
Tabel 1. Spektrum Kasat Mata
(Sumber: http://id.wikipedia. org/wiki/Spektrum_kasat_mata)
Gambar panjang gelombang dan frekuensi dari beberapa spectrum cahaya tampak:










(sumber: http://Image-edukasi-pustaka.blogspot.com.)

D. Data percobaan
No. L (cm) d=1/N (cm) Orde (n) Warna P (cm)
1.

100

10
-3

1

Merah 5,5
Kuning 5,25
Hijau 5
Biru 4,5
2

Merah 11,25
Kuning 11
Hijau 10,25
Biru 7,5
2. 100 1
3
10
−3

1

Merah 18
Kuning 16
Hijau 14
Biru 13
2

Merah 38
Kuning 35
Hijau 31,5
Biru 26
3. 100 1
6
10
−3

1

Merah 38
Kuning 34
Hijau 30
Biru 27
Keterangan:
1. cm lines mm lines N / 10 / 100
3
1
= =
2. cm lines mm lines N / 10 3 / 300
3
2
× = =
3. cm lines mm lines N / 10 6 / 100
3
3
× = =

E. Analisis
a. Ketidakpastian L
m cm L 1 100 = =

m cm nst L
4
10 5 ) 1 , 0 (
2
1
2
1
÷
× = = = A

b. Ketidakpastiaan p
m cm nst p
3
10 5 , 2 ) 5 , 0 (
2
1
2
1
÷
× = = = A

c. Persamaan Panjang Gelombang (λ)
2 2
L p
dp
n
+
= ì

2 2
L p n
dp
+
= ì

d. Ralat panjang gelombang (Δλ)
L
L
p
p
A
c
c
+ A
c
c
= A
ì ì
ì

∆ =

2
+
2

∆ +

2
+
2



Penurunan terhadap p
v
u
x f = ) ( maka
2
' '
) (
v
uv vu
x f
x
÷
=
c
c

|
|
.
|

\
|
+
c
c
=
c
c
2 2
L p n
dp
p p
ì

|
|
.
|

\
|
+
c
c
=
c
c
2 2
L p
p
p n
d
p
ì

1 ' =
c
c
= ÷÷ ÷ = p
p
u p u
2
1
2 2 2 2
) ( '
÷
+ = ÷÷ ÷ + = L p p v L p v
( ) ( ) ( )
2
1
2 2
) 1
2
1
(
2 2
2
1
2 2
) 2 (
2
1
'
÷ ÷
+ = + = +
c
c
=
c
c
= L p p p L p L p
p p
v
v

|
|
|
.
|

\
|
+
+ · ÷ +
=
|
.
|

\
| ÷
=
c
c
÷
2 2 2
2
1
2 2 2 2
2
) (
) ( ) 1 ( ' '
L p
L p p p L p
n
d
v
uv vu
n
d
p
ì

2 2
2
1
2 2 2 2 2
) (
L p
L p p
n
d
L p
n
d
p +
|
|
.
|

\
|
+ ÷ |
.
|

\
|
+
=
c
c
÷
ì




Penurunan terhadap L
|
|
.
|

\
|
+
c
c
=
c
c
2 2
1
L p
L n
dp
L
ì

( )
2
1
2 2
÷
+
c
c
=
c
c
L p
L n
dp
L
ì

( ) ( ) ( )
2
3
2 2
) 1
2
1
(
2 2
2
1
2 2
) 2 (
2
1 ÷ ÷ ÷ ÷
+ ÷ = + ÷ = +
c
c
L p L L L p L p
L

( )
|
|
.
|

\
|
+ ÷ =
c
c ÷
2
3
2 2
L p L
n
dp
L
ì

( )
2
3
2 2
÷
+ ÷ =
c
c
L p
n
dpL
L
ì

Sehingga:
L
L
p
p
A
c
c
+ A
c
c
= A
ì ì
ì

( ) L L p
n
dpL
p
L p
L p p
n
d
L p
n
d
A + ÷ + A
· +
|
|
.
|

\
|
+ ÷
|
.
|

\
|
+
= A
÷
÷
2
3
2 2
2 2
2
1
2 2 2 2 2
) (
) (
ì

e. Ketidakpastian panjang gelombang orde pertama (n=1)
( )
( )
4
2
3
2 3
2
2
1
2 2 2
10 5 1 10 5 , 2
) 1 (
) 1 ( 1
÷
÷
÷
÷
× + ÷ + ×
· +
|
|
.
|

\
|
+ · ÷ +
= A p dp
p
p p d p d
ì

f. Ketidakpastian panjang gelombang orde kedua (n=2)
( )
4
2
3
2 3
2
2
1
2 2 2
10 5 1
2
10 5 , 2
) 1 (
) 1 (
2
1
2
÷
÷
÷
÷
× + ÷ + ×
· +
|
|
.
|

\
|
+ · ÷
|
.
|

\
|
+
= A p
dp
p
p p
d
p
d
ì

g. Perhitungan panjang gelombang beserta ketidakpastiannya
 Data 1 (orde 1)
m lines mm lines N / 10 / 100
5
1
= =

m
N
d
5
5
1
1
10
10
1 1
÷
= = =

1) Merah (p=5,5 cm =0,055 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 4917 , 5
1 ) 055 , 0 (
055 , 0 10
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
( )
4
10 5
2
3
1
2
055 , 0 055 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
055 , 0 (
2
1
) 1
2
055 , 0 (
2
055 , 0
5
10 1
2
055 , 0
5
10
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
8 10 8
10 5161 , 2 10 7376 , 2 10 4887 , 2
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 2 , 0 5 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
2) Kuning (p=5,25 cm =0,0525 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 2428 , 5
1 ) 0525 , 0 (
0525 , 0 10
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
( )
4
10 5
2
3
1
2
0525 , 0 0525 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
0525 , 0 (
2
1
) 1
2
0525 , 0 (
2
0525 , 0
5
10 1
2
0525 , 0
5
10
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
8 10 8
10 4976 , 2 10 6142 , 2 10 4715 , 2
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 2 , 0 2 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
3) Hijau (p=5 cm =0,05 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 9938 , 4
1 ) 05 , 0 (
05 , 0 10
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
( )
4
10 5
2
3
1
2
05 , 0 05 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
05 , 0 (
2
1
) 1
2
05 , 0 (
2
05 , 0
5
10 1
2
05 , 0
5
10
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
8 10 8
10 5156 , 2 10 4906 , 2 10 4907 , 2
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 2 , 0 0 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
4) Biru (p=4,5 cm =0,045 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 4954 , 4
1 ) 045 , 0 (
045 , 0 10
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
( )
4
10 5
2
3
1
2
045 , 0 045 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
045 , 0 (
2
1
) 1
2
045 , 0 (
2
045 , 0
5
10 1
2
045 , 0
5
10
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
8 10 8
10 5148 , 2 10 2432 , 2 10 4924 , 2
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 2 , 0 5 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
 Data 1 (orde 2)
m lines mm lines N / 10 / 100
5
1
= =

m
N
d
5
5
1
1
10
10
1 1
÷
= = =

1) Merah (p=11,25 cm =0,1125 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 6605 , 5
1 ) 1125 , 0 ( 2
1125 , 0 10
2
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
1125 , 0
2
1125 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
1125 , 0 (
2
1
) 1
2
1125 , 0 (
2
1125 , 0
2
5
10
1
2
1125 , 0
2
5
10
÷
×
÷
+
·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
8 10 8
10 2544 , 1 10 7599 , 2 10 2268 , 1
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 1 , 0 7 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
2) Kuning (p=11 cm =0,11 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 5332 , 5
1 ) 11 , 0 ( 2
11 , 0 10
2
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
11 , 0
2
11 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
11 , 0 (
2
1
) 1
2
11 , 0 (
2
11 , 0
2
5
10
1
2
11 , 0
2
5
10
÷
×
÷
+
·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
8 11 8
10 2306 , 1 10 9709 , 2 10 2276 , 1
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 1 , 0 5 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
3) Hijau (p=10,25 cm =0,1025 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 1518 , 5
1 ) 1025 , 0 ( 2
1025 , 0 10
2
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
1025 , 0
2
1025 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
1025 , 0 (
2
1
) 1
2
1025 , 0 (
2
1025 , 0
2
5
10
1
2
1025 , 0
2
5
10
÷
×
÷
+
·
÷
÷ +
÷
×
· +
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
8 10 8
10 2558 , 1 10 5226 , 2 10 2306 , 1
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 1 , 0 2 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
5) Biru (p=7,5 cm =0,075 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 7605 , 3
1 ) 075 , 0 ( 2
075 , 0 10
2
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
075 , 0
2
075 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
075 , 0 (
2
1
) 1
2
075 , 0 (
2
075 , 0
2
5
10
1
2
075 , 0
2
5
10
÷
×
÷
+
·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
8 10 8
10 2581 , 1 10 8592 , 1 10 2395 , 1
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 1 , 0 8 , 3 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
 Data 2 (orde 1)
m lines mm lines N / 10 . 3 / 300
5
2
= =
m
N
d
5
5
2
1
10 .
3
1
10 . 3
1 1
÷
= = =
1) Merah(p=18 cm =0,18 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 9051 , 5
1 ) 18 , 0 (
18 , 0 10
3
1
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
18 , 0 18 , 0
5
10
3
1 3
10 5 , 2
) 1
2
18 , 0 (
2
1
) 1
2
18 , 0 (
2
18 , 0
5
10
3
1
1
2
18 , 0
5
10
3
1
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 2301 , 8 10 8599 , 2 10 9441 , 7
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 1 , 0 9 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
2) Kuning (p=16 cm =0,16 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 2664 , 5
1 ) 16 , 0 (
16 , 0 10
3
1
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
16 , 0 16 , 0
5
10
3
1
3
10 5 , 2
) 1
2
16 , 0 (
2
1
) 1
2
16 , 0 (
2
16 , 0
5
10
3
1
1
2
16 , 0
5
10
3
1
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 4854 , 8 10 5674 , 2 10 2287 , 8
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 1 , 0 3 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
3) Hijau (p=14 cm =0,14 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 6216 , 4
1 ) 14 , 0 (
14 , 0 10
3
1
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
14 , 0 14 , 0
5
10
3
1
3
10 5 , 2
) 1
2
14 , 0 (
2
1
) 1
2
14 , 0 (
2
14 , 0
5
10
3
1
1
2
14 , 0
5
10
3
1
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 3208 , 8 10 2664 , 2 10 0942 , 8
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 1 , 0 6 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
4) Biru (p=13 cm =0,13 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 2972 , 4
1 ) 13 , 0 (
13 , 0 10
3
1
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì
( )
4
10 5
2
3
1
2
13 , 0 13 , 0
5
10
3
1
3
10 5 , 2
) 1
2
13 , 0 (
2
1
) 1
2
13 , 0 (
2
13 , 0
5
10
3
1
1
2
13 , 0
5
10
3
1
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 3377 , 8 10 1129 , 2 10 1264 , 8
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 1 , 0 3 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
 Data 2 (orde 2)
m lines mm lines N / 10 . 3 / 300
5
2
= =

m
N
d
5
5
2
2
10 .
3
1
10 . 3
1 1
÷
= = =
1) Merah (p=38 cm =0,38 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 7752 , 6
1 ) 38 , 0 ( 2
38 , 0 10
3
1
2
÷
÷
× =
+
· ×
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
38 , 0
3 2
38 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
38 , 0 (
2
1
) 1
2
38 , 0 (
2
38 , 0
3 2
5
10
1
2
38 , 0
3 2
5
10
÷
×
÷
+
·
·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
·
÷
÷ +
·
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 6621 , 3 10 5866 , 2 10 4034 , 3
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 04 , 0 78 , 6 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
2) Kuning (p=35 cm =0,35 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 38839 , 6
1 ) 35 , 0 ( 2
35 , 0 10
3
1
2
÷
÷
× =
+
· ×
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
35 , 0
3 2
35 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
35 , 0 (
2
1
) 1
2
35 , 0 (
2
35 , 0
3 2
5
10
1
2
35 , 0
3 2
5
10
÷
×
÷
+
·
·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
·
÷
÷ +
·
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 55732 , 3 10 74306 , 2 10 28301 , 3
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 04 , 0 39 , 6 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì

3) Hijau (p=31,5 cm =0,315 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 5043 , 5
1 ) 315 , 0 ( 2
315 , 0 10
3
1
2
÷
÷
× =
+
· ×
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
315 , 0
3 2
315 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
315 , 0 (
2
1
) 1
2
315 , 0 (
2
315 , 0
3 2
5
10
1
2
315 , 0
3 2
5
10
÷
×
÷
+
·
·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
·
÷
÷ +
·
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 8432 , 3 10 2777 , 2 10 6154 , 3
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 04 , 0 50 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
4) Biru (p=26 cm =0,26 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 4774 , 4
1 ) 26 , 0 ( 2
26 , 0 10
3
1
2
÷
÷
× =
+
· ×
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
26 , 0
3 2
26 , 0
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
26 , 0 (
2
1
) 1
2
26 , 0 (
2
26 , 0
3 2
5
10
1
2
26 , 0
3 2
5
10
÷
×
÷
+
·
·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
·
÷
÷ +
·
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 9736 , 3 10 9642 , 1 10 7772 , 3
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 04 , 0 48 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
 Data 3 (orde 1)
m lines mm lines N / 10 . 6 / 600
5
3
= =
m
N
d
5
5
3
3
10 .
6
1
10 . 6
1 1
÷
= = =
1) Merah (p=38 cm =0,38 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 9202 , 5
1 ) 38 , 0 (
38 , 0 10
6
1
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
38 , 0 38 , 0
6
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
38 , 0 (
2
1
) 1
2
38 , 0 (
2
38 , 0
5
10
6
1
1
2
38 , 0
6
5
10
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 6622 , 3 10 5866 , 2 10 4035 , 3
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 04 , 0 92 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
2) Kuning (p=34 cm =0,34 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 3650 , 5
1 ) 34 , 0 (
34 , 0 10
6
1
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
34 , 0 34 , 0
6
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
34 , 0 (
2
1
) 1
2
34 , 0 (
2
34 , 0
6
5
10
1
2
34 , 0
6
5
10
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 6414 , 4 10 4056 , 2 10 4009 , 4
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 05 , 0 36 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
3) Hijau (p=30 cm =0,30 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 7891 , 4
1 ) 30 , 0 (
30 , 0 10
6
1
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì
( )
4
10 5
2
3
1
2
30 , 0 30 , 0
6
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
30 , 0 (
2
1
) 1
2
30 , 0 (
2
30 , 0
6
5
10
1
2
30 , 0
6
5
10
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 8811 , 3 10 1969 , 2 10 6614 , 3
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 04 , 0 79 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
4) Biru (p=27 cm =0,27 m)
m
L p
dp
7
2
5
2 2
10 3444 , 4
1 ) 27 , 0 (
27 , 0 10
6
1
÷
÷
× =
+
·
=
+
= ì

( )
4
10 5
2
3
1
2
27 , 0 27 , 0
6
5
10
3
10 5 , 2
) 1
2
27 , 0 (
2
1
) 1
2
27 , 0 (
2
27 , 0
6
5
10
1
2
27 , 0
6
5
10
÷
×
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
×
+
÷
+ ·
÷
÷ +
÷
= A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
ì
m m m
9 10 9
10 9518 , 3 10 0246 , 2 10 7493 , 3
÷ ÷ ÷
× = × + × = Aì

m
7
10 ) 04 , 0 34 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì


h. Rata-rata berbobot panjang gelombang cahaya warna merah
No. ± (x10
-7
m)
|
|
.
|

\
|
A
=
2
1
i
Wi
ì
W
i

i

1. (5,5 ± 0,2) 25 137,5
2. (5,7 ± 0,1) 100 570
3. (5,9 ± 0,1) 100 590
4. (6,78 ± 0,04) 625 4237,5
5. (5,92 ± 0,04) 625 3700
Jumlah 1475 9235

m
W
W
i
i i 7 7
10 2610 , 6 10
1475
9235
÷ ÷
× = × =
·
=
¿
¿
ì
ì
m
W
i
7 7
10 0260 , 0 10
1475
1 1
÷ ÷
× = × = = A
¿
ì
m
7
10 ) 03 , 0 26 , 6 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
Jadi panjang gelombang cahaya warna merah adalah
m
7
10 ) 03 , 0 26 , 6 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
i. Rata-rata berbobot panjang gelombang cahaya warna kuning
No. ± (x10
-7
m)
|
|
.
|

\
|
A
=
2
1
i
Wi
ì

W
i

i

1. (5,2 ± 0,2) 25 130
2. (5,5 ± 0,1) 100 550
3. (5,3 ± 0,1) 100 530
4. (6,39 ± 0,04) 625 3993,75
5. (5,36 ± 0,05) 400 2144
Jumlah 1250 7347,75

m
W
W
i
i i 7 7
10 8782 , 5 10
1250
75 , 7347
÷ ÷
× = × =
·
=
¿
¿
ì
ì
m
W
i
7 7
10 0283 , 0 10
1250
1 1
÷ ÷
× = × = = A
¿
ì
m
7
10 ) 03 , 0 88 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
Jadi panjang gelombang cahaya warna merah adalah m
7
10 ) 03 , 0 88 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì

j. Rata-rata berbobot panjang gelombang cahaya warna hijau
No. ± (x10
-7
m)
|
|
.
|

\
|
A
=
2
1
i
Wi
ì

W
i

i

1. (5,0 ± 0,2) 25 125
2. (5,2 ± 0,1) 100 520
3. (4,6 ± 0,1) 100 460
4. (5,50 ± 0,04) 625 3437,5
5. (4,79 ± 0,04) 625 2993,75
Jumlah 1475 7536,25

m
W
W
i
i i 7 7
10 1093 , 5 10
1475
25 , 7536
÷ ÷
× = × =
·
=
¿
¿
ì
ì
m
W
i
7 7
10 0260 , 0 10
1475
1 1
÷ ÷
× = × = = A
¿
ì
m
7
10 ) 03 , 0 11 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
Jadi panjang gelombang cahaya warna merah adalah m
7
10 ) 03 , 0 11 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
k. Rata-rata berbobot panjang gelombang cahaya warna Biru
No. ± (x10
-7
m)
|
|
.
|

\
|
A
=
2
1
i
Wi
ì
W
i

i

1. (4,5 ± 0,2) 25 112,5
2. (3,8 ± 0,1) 100 380
3. (4,3 ± 0,1) 100 430
4. (4,48 ± 0,04) 625 2800
5. (4,43 ± 0,04) 625 2768,75
Jumlah 1475 6491,25

m
W
W
i
i i 7 7
10 4008 , 4 10
1475
25 , 6491
÷ ÷
× = × =
·
=
¿
¿
ì
ì
m
W
i
7 7
10 0260 , 0 10
1475
1 1
÷ ÷
× = × = = A
¿
ì
m
7
10 ) 03 , 0 40 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
Jadi panjang gelombang cahaya warna merah adalah
m
7
10 ) 03 , 0 40 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì

l. Menghitung frekuensi spektrum cahaya
Persamaan:
ì · = f c
ì
c
f =
Ralat:
ì
ì
A
c
c
+ A
c
c
= A
f
c
c
f
f
ì
ì ì
A ÷ + A = A
2
1 c
c f
Karena c merupakan ketetapan cahaya,maka nilainya tidak memiliki ralat, sehingga:
ì
ì
A ÷ = A
2
c
f
 Frekuensi spektrum cahaya warna merah
s m c / 10 3
8
× =
m
7
10 ) 03 , 0 26 , 6 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
Hz s
m
s m c
f
14 1 14
7
8
10 7923 , 4 10 7923 , 4
10 26 , 6
/ 10 3
× = × =
×
×
= =
÷
÷
ì

Hz
c
f
12 7
2 7
8
2
10 2966 , 2 10 03 , 0
) 10 26 , 6 (
10 3
× = ×
×
×
÷ = A ÷ = A
÷
÷
ì
ì

Hz f f
14
10 ) 02 , 0 79 , 4 ( ) ( × ± = A ±
 Frekuensi spektrum cahaya warna kuning
s m c / 10 3
8
× =
m
7
10 ) 03 , 0 88 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
Hz s
m
s m c
f
14 1 14
7
8
10 1020 , 5 10 1020 , 5
10 88 , 5
/ 10 3
× = × =
×
×
= =
÷
÷
ì

Hz
c
f
12 7
2 7
8
2
10 6031 , 2 10 03 , 0
) 10 88 , 5 (
10 3
× = ×
×
×
÷ = A ÷ = A
÷
÷
ì
ì

Hz f f
14
10 ) 03 , 0 10 , 5 ( ) ( × ± = A ±
 Frekuensi spektrum cahaya warna hijau
s m c / 10 3
8
× =
m
7
10 ) 03 , 0 11 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
Hz s
m
s m c
f
14 1 14
7
8
10 8708 , 5 10 8708 , 5
10 11 , 5
/ 10 3
× = × =
×
×
= =
÷
÷
ì

Hz
c
f
12 7
2 7
8
2
10 4467 , 3 10 03 , 0
) 10 11 , 5 (
10 3
× = ×
×
×
÷ = A ÷ = A
÷
÷
ì
ì

Hz f f
14
10 ) 03 , 0 87 , 5 ( ) ( × ± = A ±
 Frekuensi spektrum cahaya warna biru
s m c / 10 3
8
× =
m
7
10 ) 03 , 0 40 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì
Hz s
m
s m c
f
14 1 14
7
8
10 8182 , 6 10 8182 , 6
10 40 , 4
/ 10 3
× = × =
×
×
= =
÷
÷
ì

Hz
c
f
12 7
2 7
8
2
10 6488 , 4 10 03 , 0
) 10 40 , 4 (
10 3
× = ×
×
×
÷ = A ÷ = A
÷
÷
ì
ì

Hz f f
14
10 ) 05 , 0 82 , 6 ( ) ( × ± = A ±
m. Panjang gelombang dan frekuensi cahaya warna merah
m
7
10 ) 03 , 0 26 , 6 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì

Hz f f
14
10 ) 02 , 0 79 , 4 ( ) ( × ± = A ±
n. Panjang gelombang dan frekuensi cahaya warna kuning
m
7
10 ) 03 , 0 88 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì

Hz f f
14
10 ) 03 , 0 10 , 5 ( ) ( × ± = A ±
o. Panjang gelombang dan frekuensi cahaya warna hijau
m
7
10 ) 03 , 0 11 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì

Hz f f
14
10 ) 03 , 0 87 , 5 ( ) ( × ± = A ±
p. Panjang gelombang dan frekuensi cahaya warna biru
m
7
10 ) 03 , 0 40 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì

Hz f f
14
10 ) 05 , 0 82 , 6 ( ) ( × ± = A ±

F. Jawaban pertanyaan
1. Tentukan panjang gelombang cahaya untuk setiap spektrum pada setiap orde
a. Panjang gelombang warna merah orde 1
 Dengan N = 100 lines/mm (λ±Δλ)=(5,5±0,2)x10
-7
m
 Dengan N = 300 lines/mm (λ±Δλ)=(5,9±0,1)x10
-7
m
 Dengan N = 600 lines/mm (λ±Δλ)=(5,92±0,04)x10
-7
m
b. Panjang gelombang warna merah orde 2
 Dengan N = 100 lines/mm (λ±Δλ)=(5,7±0,1)x10
-7
m
 Dengan N = 300 lines/mm (λ±Δλ)=(6,78±0,04)x10
-7
m
c. Panjang gelombang warna kuning orde 1
 Dengan N = 100 lines/mm (λ±Δλ)=(5,2±0,2)x10
-7
m
 Dengan N = 300 lines/mm (λ±Δλ)=(5,3±0,1)x10
-7
m
 Dengan N = 600 lines/mm (λ±Δλ)=(5,36±0,05)x10
-7
m
d. Panjang gelombang warna kuning orde 2
 Dengan N = 100 lines/mm (λ±Δλ)=(5,5±0,1)x10
-7
m
 Dengan N = 300 lines/mm (λ±Δλ)=(6,39±0,04)x10
-7
m
e. Panjang gelombang warna hijau orde 1
 Dengan N = 100 lines/mm (λ±Δλ)=(5,0±0,2)x10
-7
m
 Dengan N = 300 lines/mm (λ±Δλ)=(4,6±0,1)x10
-7
m
 Dengan N = 600 lines/mm (λ±Δλ)=(4,79±0,04)x10
-7
m
f. Panjang gelombang warna hijau orde 2
 Dengan N = 100 lines/mm (λ±Δλ)=(5,2±0,1)x10
-7
m
 Dengan N = 300 lines/mm (λ±Δλ)=(5,50±0,04)x10
-7
m
g. Panjang gelombang warna biru orde 1
 Dengan N = 100 lines/mm (λ±Δλ)=(4,5±0,2)x10
-7
m
 Dengan N = 300 lines/mm (λ±Δλ)=(4,3±0,1)x10
-7
m
 Dengan N = 600 lines/mm (λ±Δλ)=(4,43±0,04)x10
-7
m
h. Panjang gelombang warna biru orde 2
 Dengan N = 100 lines/mm (λ±Δλ)=(3,8±0,1)x10
-7
m
 Dengan N = 300 lines/mm (λ±Δλ)=(4,48±0,04)x10
-7
m
2. Tentukan pula frekuensi gelombang cahaya masing-masing warna tersebut
Jawab:
 Frekuensi gelombang cahaya warna merah Hz f f
14
10 ) 02 , 0 79 , 4 ( ) ( × ± = A ±
 Frekuensi gelombang cahaya warna kuning Hz f f
14
10 ) 03 , 0 10 , 5 ( ) ( × ± = A ±
 Frekuensi gelombang cahaya warna hijau Hz f f
14
10 ) 03 , 0 87 , 5 ( ) ( × ± = A ±
 Frekuensi gelombang cahaya warna biru Hz f f
14
10 ) 05 , 0 82 , 6 ( ) ( × ± = A ±

G. Kesimpulan
1. Panjang gelombang berbagai spektrum cahaya:

Gelombang warna merah
m
7
10 ) 03 , 0 26 , 6 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì


Gelombang warna kuning m
7
10 ) 03 , 0 88 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì


Gelombang warna hijau m
7
10 ) 03 , 0 11 , 5 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì


Gelombang warna biru m
7
10 ) 03 , 0 40 , 4 ( ) (
÷
× ± = A ± ì ì

2. Frekuensi gelombang berbagai spectrum cahaya:
a. Gelombang warna merah Hz f f
14
10 ) 02 , 0 79 , 4 ( ) ( × ± = A ±
b. Gelombang warna kuning Hz f f
14
10 ) 03 , 0 10 , 5 ( ) ( × ± = A ±
c. Gelombang warna hijau Hz f f
14
10 ) 03 , 0 87 , 5 ( ) ( × ± = A ±
d. Gelombang warna biru Hz f f
14
10 ) 05 , 0 82 , 5 ( ) ( × ± = A ±

H. Pembahasan
Percobaan yang berjudul kisi difraksi ini antara lain bertujuan untuk menentukan
panjang gelombang warna tertentu pada spectrum cahaya dan menentukan frekuensi
warna spectrum cahaya. Dalam percobaan kali ini, kami melakukan pengamatan
menggunakan celah tunggal. Adapun jumlah kisi yang kami gunakan bermacam-macam,
yaitu terdiri dari N=100line/mm, N=300line/mm, dan N=600line/mm.
Data yang kami ambil berupa panjang gelombang dan frekuensi dari cahaya yang
terdifraksi menjadi beberapa spektrum cahaya tampak. Namun, yang kami amati
hanyalah spektrum cahaya warna merah, kuning, hijau dan biru. Setiap kisi kami ambil 2
orde kecuali untuk kisi yang 600 line/mm hanya 1 orde saja.
Untuk jarak antara kisi dengan celah kami buat tetap yaitu sepanjang 100 cm. data
yang kami ambil berupa jarak antara celah dengan spektrum warna yang terbentuk (p).
berdasarkan data yang kami peroleh kemudian saya analisis menggunakan persamaan
2 2
L p n
dp
+
= ì

untuk mencari panjang gelombangnya, dengan n= jumlah orde. Lalu
dengan persamaan
ì
c
f =

untuk mencari frekuensinya. Adapun panjang gelombang (λ)
yang digunakan untuk mencari frekuensi dari masing-masing spektrum cahaya yang akan
dicari adalah hasil dari nilai terbaik dari panjang gelombang spektrum tersebut untuk
semua orde. Lalu c atau cepat rambat cahaya menggunakan cepat rambat cahaya diudara
yaitu sebesar 3x10
8
m/s.
Berdasarkan analisis yang saya lakukan, maka diperoleh hasil panjang gelombang
untuk cahaya warna merah pada orde pertama dengan menggunakan kisi N=100line/mm
diperoleh hasil m
7
10 ). 2 , 0 5 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì , lalu untuk N=300line/mm diperoleh hasil
m
7
10 ). 1 , 0 9 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Sedangkan untuk N=600line/mm diperoleh hasil hasil
m
7
10 ). 04 , 0 92 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Kemudian untuk orde kedua dengan N=100line/mm
diperoleh hasil m
7
10 ). 1 , 0 7 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì dan untuk N=300line/mm diperoleh hasil
m
7
10 ). 04 , 0 78 , 6 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Dari beberapa hasil tersebut kemudian saya rata-rata
berbobot sehingga diperoleh hasil perhitungan terbaik dari panjang gelombang spektrum
cahaya warna merah sebesar hasil m
7
10 ). 03 , 0 26 , 6 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Lalu untuk frekuensi
dari spektrum cahaya warna merah sebesar Hz f f
14
10 ) 02 , 0 79 , 4 ( ) ( × ± = A ±

Untuk hasil panjang gelombang cahaya warna kuning pada orde pertama dengan
menggunakan kisi N=100line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 2 , 0 2 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì , lalu
untuk N=300line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 1 , 0 3 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Sedangkan untuk
N=600line/mm diperoleh hasil hasil m
7
10 ). 05 , 0 36 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Kemudian untuk
orde kedua dengan N=100line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 1 , 0 5 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì dan
untuk N=300line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 04 , 0 39 , 6 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Dari beberapa
hasil tersebut kemudian saya rata-rata berbobot sehingga diperoleh hasil perhitungan
terbaik dari panjang gelombang spektrum cahaya warna merah sebesar hasil
m
7
10 ). 03 , 0 88 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Lalu untuk frekuensi dari spektrum cahaya warna merah
sebesar Hz f f
14
10 ) 03 , 0 10 , 5 ( ) ( × ± = A ±

Selanjutnya untuk hasil panjang gelombang cahaya warna hijau pada orde pertama
dengan menggunakan kisi N=100line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 2 , 0 0 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì ,
lalu untuk N=300line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 1 , 0 6 , 4 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Sedangkan
untuk N=600line/mm diperoleh hasil hasil m
7
10 ). 04 , 0 79 , 4 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Kemudian
untuk orde kedua dengan N=100line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 1 , 0 2 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì
dan untuk N=300line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 04 , 0 50 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Dari beberapa
hasil tersebut kemudian saya rata-rata berbobot sehingga diperoleh hasil perhitungan
terbaik dari panjang gelombang spektrum cahaya warna merah sebesar hasil
m
7
10 ). 03 , 0 11 , 5 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Lalu untuk frekuensi dari spektrum cahaya warna merah
sebesar Hz f f
14
10 ) 03 , 0 87 , 5 ( ) ( × ± = A ±

Yang terakhir hasil panjang gelombang untuk cahaya warna biru pada orde pertama
dengan menggunakan kisi N=100line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 2 , 0 5 , 4 ( ) (
÷
± = A ± ì ì ,
lalu untuk N=300line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 1 , 0 3 , 4 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Sedangkan
untuk N=600line/mm diperoleh hasil hasil m
7
10 ). 04 , 0 43 , 4 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Kemudian
untuk orde kedua dengan N=100line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 1 , 0 8 , 3 ( ) (
÷
± = A ± ì ì
dan untuk N=300line/mm diperoleh hasil m
7
10 ). 04 , 0 48 , 4 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Dari beberapa
hasil tersebut kemudian saya rata-rata berbobot sehingga diperoleh hasil perhitungan
terbaik dari panjang gelombang spektrum cahaya warna merah sebesar hasil
m
7
10 ). 03 , 0 40 , 4 ( ) (
÷
± = A ± ì ì . Lalu untuk frekuensi dari spektrum cahaya warna merah
sebesar Hz f f
14
10 ) 025 , 0 82 , 6 ( ) ( × ± = A ±

Dari semua hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa spektrum cahaya yang
terbentuk akibat pembelokan cahaya membentuk spektrum cahaya yang terdiri dari sinar-
sinar cahaya tampak yang apabila diurutkan dari atas yaitu merah, jingga, kuning, hijau,
biru, nila , ungu mempunyai panjang gelombang dari besar ke kecil, namun sebaliknya
apabila diurutkan dari atas mempunyai frekuensi dari kecil ke besar. Hal ini sesuai
dengan analisis data yang kami peroleh menunjukkan hal seperti itu. Dan sudah sesuai
dengan dasar teori yang ada.
Adapun hasil dari percobaan ang kami lakukan apabila diurutkan dari yang
mempunyai panjang gelombang dari besar ke kecil adalah spektrum warna merah,
kuning, hijau dan biru. Begitu juga sebaliknya apabila diurutkan dari yang mempunyai
frekuensi dari yang besar ke kecil adalah spektrum warna biru, hijau, kuning lalu merah.
Hasil yang kami peroleh mengenai panjang gelombang dan frekuensi dari beberapa
spektrum cahaya yang terbentuk dari percobaan kisi difraksi ini sudah sesuai dengan
dasar teori yang ada, meskipun masih terdapat selisih yang tidak terlalu besar pula. Hal
ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
a. Ketelitian dari alat ukur yang kami gunakan sangat besar sekali, sehingga akan
mempengaruhi hasil yang diperoleh.
b. Jarak antara kisi dan celah yang dimungkinkan tergeser ketika mengamati cahaya
yang terbentuk pada kisi sehingga akan berpengaruh juga.
c. Karena pengamatan seseorang tentang warna cahaya yang terbentuk berbeda-beda.
Bisa saja ketika alat penunjuk sudah menunjukkan tepat pada cahaya yang dimaksud,
tetapi menurut pengamatan pengamat kurang sehingga akan berpengaruh pada hasil
p(jarak antara celah dengan warna).
d. Karena bayangan yang terbentuk buram, sehingga kami kesulitan untuk menentukan
dimana letak penunjuk yang ditempatkan pada spektrum cahaya yang terbentuk pada
jarak tertentu.
e. Karena setting alat yang sedemikian, sehingga tidak memungkinkan kita untuk bisa
mengamati spektrum cahaya yang terbentuk secara dekat, sehingga hasil yang
diperoleh akan berpengaruh pada hasil perhitungan.
f. Pada hasil pembulatan angka di analisis perhitungan akan berpengaruh pada hasil
akhir yang diperoleh.








I. Daftar Pustaka
Anonim.-.Spektrum Kasat Mata. http://id.wikipedia.org/wiki/Spektrum_kasat_mata.
Diakses pada tanggal 17 April 2013 pukul 09.00 WIB.
Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Tim Fisika Dasar. 2013. Petunjuk Praktikum Pengantar lastrik magnet dan Optika.
Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY.

Ramalis, Taufik Ramlan. 2001. Gelombang dan Optik.. Bandung: Jurusan Pendidikan
Fisika FMIPA UPI.

http://Image-edukasi-pustaka.blogspot.com. Diakses tanggal 17 April 2013.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->