P. 1
Mahabharata 1 Txt

Mahabharata 1 Txt

|Views: 375|Likes:
Published by Padjero

More info:

Published by: Padjero on Apr 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/26/2014

pdf

text

original

Mahabharata Veda Rgveda · Yajurveda Samaveda · Atharvaveda Pembagian Veda Samhita · Brahmana Aranyaka · Upanisad Upanishad Aitareya · Bhadarayaka

Ia · Taittiriya · Chandogya Kena · Muaka Maukya ·Prasna Svetasvatara Wedangga Siksha · Chanda Vyakarana · Nirukta Jyotisha · Kalpa Itihasa Mahabharata · Ramayana Susastra lainnya Smrti · Purana Bhagavad Gita · Sutra Pancaratra · Tantra Kumara Vyasa Bharata · Stotra Hanuman Chalisa · Ramacharitamanas Shikshapatri · Vachanamrut Mahabharata (Sansekerta: ???????) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon dit ulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas ki tab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula ya ng meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi. Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra da n pertempuran berlangsung selama delapan belas hari. Pengaruh dalam budaya Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahabharata juga mengandung nila i-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah yang semula ditulis d alam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara . Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirata parwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah d alam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pad a masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifat nya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa. Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dal am

bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwaha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa. Karya sastra lain yang juga terkenal adalah Kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir ma sa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangsa di masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gatotkacasraya di masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri. Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Krsnayana (karya mpu Triguna) dan Bhomantaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari zaman kerajaan Kediri, dan Parthayajña (mpu Tanakung) di ak hir zaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar da un lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali. Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspira si bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, terutama di Jawa dan Bali, mu lai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakart a Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18. Dalam dunia sastera popular Indonesia, cerita Mahabharata juga disajikan melalui bentuk komik yang membuat cerita ini dikenal luas di kalangan awam. Salah satu yang ter kenal adalah karya dari R.A. Kosasih. Versi-versi Mahabharata Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi Selatan". Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua. Daftar kitab Mahabharata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau s ering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam ki sah Mahabharata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di su rga. Nama kitab Keterangan Adiparwa Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskan Hindu, seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang menguji ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah tewasnya rakshasa Hidimba di tangan Bhimasena, dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi. Sabhaparwa

Kitab Sabhaparwa berisi kisah pertemuan Pandawa dan Korawa di sebuah balairung untuk main judi, atas rencana Duryodana. Karena usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan selama dua kali oleh Korawa sehingga sesuai perjanjian, Pandawa harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama 1 tahun. Wanaparwa Kitab Wanaparwa berisi kisah Pandawa selama masa 12 tahun pengasingan diri di hutan. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di gunung Himalaya untuk memperoleh senjata sakti. Kisah Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjunawiwaha. Wirataparwa Kitab Wirataparwa berisi kisah masa satu tahun penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata setelah mengalami pengasingan selama 12 tahun. Yudistira menyamar sebagai ahli agama, Bhima sebagai juru masak, Arjuna sebagai guru tari, Nakula sebagai penjinak kuda, Sahadewa sebagai pengembala, dan Dropadi sebagai penata rias. Udyogaparwa Kitab Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga Bharata (Bharatayuddha). Kresna yang bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa. Pandawa dan Korawa mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha, dan hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi menjadi dua kelompok. Bhismaparwa Kitab Bhismaparwa merupakan kitab awal yang menceritakan tentang pertempuran di Kurukshetra. Dalam beberapa bagiannya terselip suatu percakapan suci antara Kresna dan Arjuna menjelang perang berlangsung. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagavad Gita. Dalam kitab Bhismaparwa juga diceritakan gugurnya Resi Bhisma pada hari kesepuluh karena usaha Arjuna yang dibantu oleh Srikandi. Dronaparwa Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang Korawa. Drona berusaha menangkap Yudistira, namun gagal. Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar yang menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca. Karnaparwa Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh Duryodana setelah gugurnya Bhisma, Drona, dan sekutunya yang lain. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana oleh Bhima. Salya menjadi kusir kereta Karna, kemudian terjadi pertengkaran antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17. Salyaparwa Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18. Pada hari itu juga, Salya gugur di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya, Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima. Sauptikaparwa

Kitab Sauptikaparwa berisi kisah pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa. Pada malam hari, ia bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu ia melarikan diri ke pertapaan Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa. Striparwa Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya. Santiparwa Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja. Anusasanaparwa Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Resi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang. Aswamedhikaparwa Kitab Aswamedhikaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. Kitab tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna. Asramawasikaparwa Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan, untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira. Akhirnya Resi Narada datang membawa kabar bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri. Mosalaparwa Kitab Mosalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresni. Sri Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwarawati dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Atas nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup sanyasin atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana. Mahaprastanikaparwa Kitab Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunung Himalaya, sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya, Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan. Swargarohanaparwa Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan

wujudnya yang sebenanrnya, yaitu Dewa Dharma. Suntingan teks Antara tahun 1919 dan 1966, para pakar di Bhandarkar Oriental Research Institute , Pune, membandingkan banyak naskah dari wiracarita ini yang asalnya dari India dan luar India untuk menerbitkan suntingan teks kritis dari Mahabharata. Suntingan teks ini ter diri dari 13.000 halaman yang dibagi menjadi 19 jilid. Lalu suntingan ini diikuti dengan H arivasa dalam 2 jilid dan 6 jilid indeks. Suntingan teks inilah yang biasa dirujuk untuk telaah mengenai Mahabharata.[1] Ringkasan cerita Peta "Bharatawarsha" (India Kuno) atau wilayah kekuasaan Maharaja Bharata Latar belakang Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana un tuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berad a di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kake k moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrangada, Wicitrawiry a, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya. Para Raja India Kuno Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno sepert i Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kis ah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan toko htokoh utama dalam Mahabharata. Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukka n, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaj a Bharata (konon meliputi Asia Selatan)[2]. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, ya ng kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, ya ng menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak d i negara bagian Haryana, India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wang sa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santa nu, leluhur Pandawa dan Korawa. Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berput era

Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa. Prabu Santanu dan keturunannya Prabu Santanu dan Dewi Satyawati, leluhur para Pandawa dan Korawa Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasa l dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, nam un Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citranggada dan Wicitrawirya. Citranggada wafat di usi a muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitraw irya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas b antuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masi ngmasing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika). Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandu, adikn ya. Pandu menikahi Kunti dan memiliki tiga orang putera bernama Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madri, dan memili ki putera kembar bernama Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Gandari, dan memiliki seratus or ang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretaras tra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, d an masa depan. Keluarga Dretarastra, Pandu, dan Widura membangun jalan cerita Mahabharata. Pandawa dan Korawa Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa (khususnya Duryod ana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa b ersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihas ut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa. Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingg a mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca. Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala. Di sana tersia r

kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandaw a pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahm ana. Arjuna mewakili para Pandawa untuk memenangkan sayembara dan ia berhasil melakukannya. Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu seb ab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa. Permainan dadu Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain ter sebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kr esna Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kep ada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepad a para Pandawa. Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira secara perlahan namun pasti, Duryo dana mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Yudistir a yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura dengan harapan dapat merebut harta dan istana milik Duryodana. Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni yang memiliki kesaktian untuk b erbuat curang. Satu persatu kekayaan Yudistira jatuh ke tangan Duryodana, termasuk saud ara dan istrinya sendiri. Dalam peristiwa tersebut, pakaian Dropadi berusaha ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna. Kar ena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan. Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yan g kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus menyerahkan kerajaan dan mengasi ngkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama se tahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yu distira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut

, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun. Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, wala u seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dila kukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat die lakkan lagi. Pertempuran di Kurukshetra Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Keraj aan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Satyaki, Drestadyumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryodana me minta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Korawa dibantu oleh Resi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kretawarma, Salya, Sud aksina, Burisrawas, Bahlika, Sangkuni, Karna, dan masih banyak lagi. Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksat ria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, R aja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni, dan masih banyak lagi. Sel ama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaska n. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma. Penerus Wangsa Kuru Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himala ya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai su rga. Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madraw ati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura. Tokoh tokoh penting dalam Mahabharata. Pancawala Pancawala atau Pancakumara adalah sebutan untuk lima orang putra Dropadi dari ha sil perkawinannya dengan Pancapandawa dalam wiracarita Mahabharata. Istilah Pancakumara berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu pañca yang bermakna lima dan kumara yang bermakna putra. Nama-nama Pancakumara Nama kelima orang Pancakumara yang dilahirkan oleh Dropadi tersebut antara lain adalah: 1. Pratiwindya putra Yudistira

2. Sutasoma putra Bimasena 3. Srutasena putra Arjuna 4. Satanika putra Nakula 5. Srutakerti putra Sahadewa Kisah Kematian Peran Pancakumara dalam cerita Mahabharata jika dibandingkan dengan putra Pandaw a lainnya, terutama Abimanyu dan Gatotkaca. Meskipun demikian, Pratiwindya berhasi l membunuh Dursasanaputra, yaitu tokoh yang mengakhiri nyawa Abimanyu dalam perang di Kurukshetra. Setelah perang berakhir, Duryodana sang pemimpin Korawa dalam keadaan sekarat sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima untuk meneruskan pertempuran. Aswatama disertai dua orang rekannya yang masih hidup, yaitu Krepa dan Kretawarm a menyusup ke dalam perkemahan pihak Pandawa. Di dalam kemah tersebut, Aswatama membunuh Drestadyumna, pangeran dari Kerajaan Pancala. Ia kemudian menemukan lima orang pria dalam keadaan tertidur. karena mengira kelimanya adalah Pandawa, Aswatama pun langsung membunuh mereka. Selain itu Aswatama juga membunuh Srikandi, kakak Drestadyumna. Ternyata lima orang yang tewas dibunuh Aswatama sewaktu tidur bukan para Pandawa , melainkan Pancakumara. Versi pewayangan Pancawala atau Pancakumara dalam pewayangan, terutama di Jawa bukan terdiri dari lima orang, tetapi hanya seorang saja. Pancawala versi ini adalah putra Yudistir a dan Drupadi. Menurut Mulyono dalam artikelnya yang berjudul Dewi Dropadi: Antara kitab Mahabh arata dan Pewayangan Jawa, menyatakan bahwa terjadinya perbedaan cerita antara kitab Mahabharata dengan versi pewayangan Jawa adalah karena pengaruh perkembangan agama Islam[1]. Setelah Kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu runtuh, munculah Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Pada masa itu, segala sesuatu harus disesuai kan dengan hukum agama Islam. Pertunjukan wayang yang pada saat itu sangat digemari oleh masyarakat, tidak diberantas ataupun dilarang melainkan disesuaikan dengan ajaran Islam. Dalam nersi aslinya, Dropadi menikah dengan kelima Pandawa karena perintah ibu mereka yang menyuruh tanpa sengaja. Meskipun demikian, para pujangga Islam tetap saja memandang poliandri sebagai hal yang kurang baik. Oleh karena itu, Dropadi versi Jawa pun dikisahkan hanya menikah dengan Yudistira saja, dan berputra satu orang bernama Pancawala. Dalam versi ini, Pancawala menikah dengan sepupunya, yaitu Pregiwati putri Arjun a. Pregiwati memiliki kakak bernama Pregiwa yang menjadi istri Gatotkaca putra Bima sena. Sadewa Sadewa Sadewa dalam pewayangan Jawa Tokoh dalam mitologi Hindu Nama: Sadewa Nama lain: Tantipala Ejaan Sanskerta: Sahadéva Muncul dalam kitab: Mahabharata, Purana, Bhagawadgita Asal: Hastinapura, Kerajaan Kuru

Kediaman: Hastinapura dan Indraprastha Kasta: Ksatriya Senjata: Pedang Dinasti: Kuru, Candrawangsa Pasangan: Dropadi, Wijaya Anak: Srutakama (dengan Dropadi), Suhotra (dengan Wijaya) Sahadewa (ejaan Sanskerta: ?????, Sahadéva), atau yang biasa disingkat Sadewa, adalah salah satu tokoh utama dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan anggota Pandawa yang paling muda, yang memiliki saudara kembar bernama Nakula. Meskipun kembar, Nakula dikisahkan memiliki wajah yang lebih tampan daripada Sad ewa, sedangkan Sadewa lebih pandai daripada kakaknya itu. Terutama dalam hal perbinta ngan atau astronomi, kepandaian Sadewa jauh di atas murid-murid Resi Drona lainnya. S elain itu ia juga pandai dalam hal ilmu peternakan sapi. Maka ketika para Pandawa menj alani hukuman menyamar selama setahun di Kerajaan Matsya akibat kalah bermain dadu melawan Korawa, Sadewa pun memilih peran sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala. Asal-Usul Sadewa merupakan yang termuda di antara para Pandawa, yaitu sebutan untuk kelima putra Pandu, raja Kerajaan Hastinapura. Sadewa dan saudara kembarnya, Nakula, la hir dari rahim putri Kerajaan Madra yang bernama Madri (dalam pewayangan disebut Madrim). Sementara itu ketiga kakak mereka, yaitu Yudistira, Bimasena, dan Arjun a lahir dari rahim Kunti. Meskipun demikian, Sadewa dikisahkan sebagai putra yang paling disayangi Kunti. Nakula dan Sadewa lahir sebagai anugerah dewa kembar bernama Aswino untuk Madri, karena Pandu saat itu sedang menjalani kutukan tidak bisa bersetubuh dengan istr inya. Keduanya lahir di tengah hutan ketika Pandu sedang menjalani kehidupan sebagai pertapa. Kepribadian Meskipun Sadewa merupakan Pandawa yang paling muda, namun ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka. Yudistira bahkan pernah berkata bahwa Sadewa leb ih bijak daripada Brihaspati, guru para dewa. Sadewa merupakan ahli perbintangan yang ulung dan mampu mengetahui kejadian yang akan datang. Namun ia pernah dikutuk apabila sampai membeberkan rahasia takdir, maka kepalanya akan terbelah menjadi dua. Keluarga Setelah kemenangan Arjuna atas sayembara memanah di Kerajaan Pancala, maka semua Pandawa bersama-sama menikah dengan Dropadi, putri negeri tersebut. Dari perkawinan tersebut Sadewa memiliki putra bernama Srutakirti. selain itu, Sadewa juga menikahi puteri Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Kemudi an dari istrinya yang bernama Wijaya, lahir seorang putra bernama Suhotra. Membunuh Sangkuni Sangkuni adalah paman para Korawa dari pihak ibu. Ia merupakan tokoh licik yang menciptakan permusuhan antara Pandawa dan Korawa, sehingga meletus perang saudara besar-besaran yang terkenal dengan sebutan Baratayuda. Melalui permainan dadu, Sangkuni secara licik berhasil merebut Kerajaan Indrapra stha dari tangan para Pandawa. Setelah itu Pandawa dan Dropadi dihukum menjalani pembuangan selama 12 tahun di hutan, serta setahun menyamar. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya, Sadewa berperan sebagai seorang gembala sap i

bernama Tantripala. Ia menyadari bahwa penderitaan para Pandawa adalah akibat ul ah licik Sangkuni. Maka ia pun bersumpah akan membunuh orang itu apabila meletus pe rang saudara melawan Korawa. Setelah masa hukuman berakhir, pihak Korawa menolak mengembalikan hak-hak Pandawa. Upaya perundingan pun mengalami kegagalan. Perang di Kurukshetra pun meletus. Meskipun jumlah kekuatan pihak Pandawa lebih sedikit, namun mereka memperoleh kemenangan. Pada hari ke-18 Sangkuni bertempur melawan Sahadewa. Dengan mengandalkan ilmu sihirnya, Sangkuni menciptakan banjir besar melanda dataran Kurukshetra. Sadewa dengan susah payah akhirnya berhasil mangalahkan Sangkuni. Tokoh licik itu tewas terkena pedang Sadewa. Sementara itu dalam pewayangan Jawa, Sangkuni bukan mati di tangan Sadewa, melainkan di tangan Bimasena. Tokoh Utama Sudamala Sadewa merupakan tokoh utama dalam Kakawin Sudamala, yaitu karya sastra berbahas a Jawa Kuna peninggalan Kerajaan Majapahit. Naskah ini bercerita tentang kutukan y ang menimpa istri Batara Guru bernama Umayi, akibat perbuatannya berselingkuh dengan Batara Brahma. Umayi dikisahkan berubah menjadi Rakshasi bernama Ra Nini, dan hanya bisa kembal i ke wujud asal apabila diruwat oleh bungsu Pandawa. Maka, Sadewa pun diculik dan dip aksa memimpin prosesi ruwatan. Setelah dirasuki Batara Guru, barulah Sadewa mampu menjalankan permintaan Ra Nini. Sadewa pun mendapat julukan baru, yaitu Sudamala yang bermakna "menghilangkan penyakit". Atas petunjuk Ra Nini yang telah kembali menjadi Umayi, Sadewa pun pe rgi ke desa Prangalas menikahi putri seorang pertapa bernama Tambrapetra. Gadis itu ber nama Predapa. Versi Pewayangan Jawa Dalam pewayangan Jawa, Sadewa dikisahkan lahir di dalam istana Kerajaan Hastina, bukan di dalam hutan. Kelahirannya bersamaan dengan peristiwa perang antara Pand u melawan Tremboko, raja raksasa dari Kerajaan Pringgadani. Dalam perang tersebut keduanya tewas. Madrim ibu Sadewa melakukan bela pati dengan cara terjun ke dala m api pancaka. Versi lain menyebutkan, Sadewa sejak lahir sudah kehilangan ibunya, karena Madri m meninggal dunia setelah melahirkan dirinya dan Nakula. Sewaktu kecil, Sadewa memiliki nama panggilan Tangsen. Setelah para Pandawa membangun Kerajaan Amarta, Sadewa mendapatkan Kasatrian Baweratalun sebagai tempat tinggalnya. Istri Sadewa versi pewayangan hanya seorang, yaitu Perdapa putri Resi Tambrapetr a. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak bernama Niken Sayekti dan Bambang Sabek ti. Masing-masing menikah dengan anak-anak Nakula yang bernama Pramusinta dan Pramuwati. Versi lain menyebutkan Sadewa memiliki anak perempuan bernama Rayungwulan, yang baru muncul jauh setelah perang Baratayuda berakhir, atau tepatnya pada saat Par ikesit cucu Arjuna dilantik menjadi raja Kerajaan Hastina. Rayungwulan ini menikah deng an putra Nakula yang bernama Widapaksa.

Tokoh Lain Bernama Sama Dalam mitologi Hindu dan sejarah India, terdapat beberapa tokoh lain yang bernam a Sahadewa, yaitu: Putra Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Dengan demikian ia adalah saudara ipar Sahadewa putra Pandu. Dalam perang Baratayuda ia memihak para Pandawa. Salah satu raja dari kalangan Dinasti Surya, putera Dharmanandana juga bernama Sahadewa. Sahadewa juga merupakan nama putra Sudasa atau ayah Somaka, raja Kerajaan Pancala. Seorang raksasa putera Dumraksa dan juga ayah dari Kresawa. Paman Gautama Buddha. Dalam legenda Jawa juga terdapat seorang bernama Sadewa dari zaman yang lebih tu a. Ia merupakan cucu dari Watugunung raja Kerajaan Gilingwesi. Sadewa yang ini mend erita kelainan seksual, yaitu mencintai sesama laki-laki atau homoseksual. Ia akhirnya berhasil menjadi raja di Kerajaan Medangkamulan bergelar Cingkaradewa. Cingkaradewa merupakan raja serakah yang ingin menguasai seluruh Pulau Jawa. Ant ara lain ia berhasil merebut Kerajaan Gilingwesi peninggalan kakeknya, yang saat itu dikuasai oleh Parikenan. Parikenan yang merupakan leluhur para Pandawa versi Jawa dikisah kan tewas di tangan Cingkaradewa. Cingkaradewa sendiri akhirnya berhasil dikalahkan seorang pertapa dari India ber nama Resi Wisaka, yang merupakan samaran dari Aji Saka, seorang manusia setengah dewa yang melegenda. Semar Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebu t yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. Sejarah Semar Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan d alam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kak awin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439. Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Saha dewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang. Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam mem ori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Su nan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala. Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujan gga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jela ta

biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa . Asal-Usul dan Kelahiran Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa. Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar. Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diber i nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, ata u tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingka t Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat meras uki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para de wa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya. Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu har i terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh . Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjad i Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Mana n mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian berge lar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru. Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur y ang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya ma singmasing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningn ya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masin g ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namu

n justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit . Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun b ertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dun ia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar. Silsilah dan Keluarga Dalam pewayangan dikisahkan, Batara Ismaya sewaktu masih di kahyangan sempat dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Senggani. Dari perkawinan itu lahi r sepuluh orang anak, yaitu: Batara Wungkuham Batara Surya Batara Candra Batara Tamburu Batara Siwah Batara Kuwera Batara Yamadipati Batara Kamajaya Batara Mahyanti Batari Darmanastiti Semar sebagai penjelmaan Ismaya mengabdi untuk pertama kali kepada Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Pada suatu hari Semar diserang dua ekor harima u berwarna merah dan putih. Manumanasa memanah keduanya sehingga berubah ke wujud asli, yaitu sepasang bidadari bernama Kanistri dan Kaniraras. Berkat pertolongan Manumanasa, kedua bidadari tersebut telah terbebas dari kutukan yang mereka jala ni. Kanistri kemudian menjadi istri Semar, dan biasa dipanggil dengan sebutan Kanast ren. Sementara itu, Kaniraras menjadi istri Manumanasa, dan namanya diganti menjadi Retnawati, karena kakak perempuan Manumanasa juga bernama Kaniraras. Pasangan Panakawan Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas o leh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong terci pta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa. Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut. Bentuk Fisik Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suk a dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak keci l, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara sep erti

perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebag ai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan. Keistimewaan Semar Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hany a sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar. Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-ola h Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul ya ng sedang dikisahkan. Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dap at mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabil a para pemerintah - yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa. Kartawirya Arjuna Kartawirya Arjuna Lukisan pertempuran antara Parasurama dengan Kartawirya Arjuna dalam lukisan India. Tokoh dalam mitologi Hindu Nama: Kartawirya Arjuna Nama lain: Sahasrarjuna; Arjuna Sahasrabahu Ejaan Sanskerta: Kartavirya Arjuna Asal: Kerajaan Heheya Kartawirya Arjuna (bahasa Sanskerta: ?????????? ??????; Kartavirya Arjuna) atau Sahasrarjuna (Sanskerta: ?????????; Sahasrarjuna) adalah nama seorang tokoh dalam mitologi Hi ndu yang dikenal sebagai raja Kerajaan Hehaya yang beribu kota di Mahismati. Konon, ia dilukiskan memiliki seribu lengan sehingga dikenal pula dengan sebutan Arjuna Sahasrabahu, atau "Arjuna yang Berlengan Seribu" Kartawirya Arjuna merupakan pemuja setia Dewa Dattatreya. Ia pernah mengalahkan Rahwana, musuh besar Sri Rama dalam kisah Ramayana. Ia sendiri akhirnya mati di tangan awatara Wisnu yang bernama Parasurama. Akan tetapi, dalam pewayangan Jawa yang disebut sebagai awatara Wisnu justru Kartawirya Arjuna sendiri. Dalam versi ini, Kartawirya Arjuna lebih sering diseb ut dengan nama Arjuna Sasrabahu, yang dikenal sebagai raja Kerajaan Mahespati. Arti Nama Secara harfiah nama Kartawirya Arjuna bermakna "Arjuna putra Kretawirya". Ayahny a tersebut adalah raja Kerajaan Hehaya sebelum dirinya. Makna lain yang lebih dala m dari istilah Kartawirya adalah "kekuatan membasmi", sedangkan istilah Arjuna bermakna "bersih"; "bersinar"; atau "terang". Selain itu, Kartawirya Arjuna juga dikenal dengan nama Sahasrabahu dan Sahasrado

s. Dalam bahasa Sanskerta, istilah Sahasrabahu secara harfiah bermakna "bersenjata seribu", sedangkan Sahsrados bermakna "berlengan seribu". Mengalahkan Rahwana Rahwana adalah tokoh antagonis utama dalam kisah wiracarita Ramayana. Sebelum terbunuh di tangan Sri Rama, beberapa tahun sebelumnya ia pernah dikalahkan oleh Kartawirya Arjuna. Kisah ini terdapat dalam naskah Uttarakanda atau kitab ketuju h dari seri Ramayana. Suatu hari Rahwana dikisahkan sedang dalam perjalanan menaklukkan negara-negara di berbagai penjuru sebagai jajahan Kerajaan Alengka. Tiba-tiba perkemahan tempat pasukannya beristirahat tergenang oleh banjir yang disebabkan karena meluapnya S ungai Narmada. Rahwana pun mencari penyebab meluapnya sungai tersebut. Dilihatnya Kartawirya Ar juna sedang tidur di muara sambil seribu lengannya membendung aliran Sungai Narmada. Rahwana marah dan menyerang Arjuna. Pertempuran pun terjadi. Rahwana akhirnya kalah dan diikat tubuhnya oleh Arjuna. Kakek Rahwana yang bernama Resi Pulastya datang memohon agar cucunya itu dibebaskan dan diampuni. Arjuna pun mengabulkan permohonan Pulastya. Rahwana dilepaskannya sehingga kembali ke istana alengka dengan perasaan malu. Kisah kemenangan Arjuna putra Kretawirya terhadap Rahwana tersebut dikisahkan kembali dalam bahasa Jawa Kuna oleh pujangga bernama Mpu Tantular pada zaman Kerajaan Majapahit, dalam sebuah naskah berjudul Kakawin Arjunawijaya. Kematian Kisah kematian Kartawirya Arjuna antara lain terdapat dalam kitab Mahabharata da n Purana. Pada suatu hari, Arjuna putra Kretawirya beserta pasukannya datang mengunjungi asrama Resi Jamadagni. Sang resi menjamu tamunya dengan penuh hormat. Ketika Arjuna menyaksikan sapi ajaib bernama Kamadhenu milik Jamadagni, ia pun berambisi untuk memilikinya. Arjuna memohon agar Jamadagni memberikan sapiny a, namun permohonan tersebut ditolak. Akhirnya sapi Kamadhenu pun dirampas secara paksa oleh Arjuna. Putra Jamadagni yang bernama Parasurama muncul. Saat mengetahui sapi ayahnya dirampas, ia segera mengejar Arjuna. Parasurama yang marah menyerang Arjuna menggunakan senjata kapak pemberian Dewa Siwa. Dengan menggunakan pusaka tersebut, Parasurama memotong seribu lengan Arjuna dan memenggal kepalanya. Putra-putra Arjuna membalas dendam atas kematian ayah mereka. Jamadagni pun dibunuh saat Parasurama tidak berada di asrama. Kematian Jamadagni ini membuat Parasurama marah besar. Ia pun mengamuk menumpas keluarga besar Kartawirya Arjuna. Versi pewayangan Jawa Dalam pewayangan Jawa, Kartawiryarjuna lebih sering disebut dengan nama Prabu Arjuna Sasrabahu. Ia disebut sebagai putra Kartawirya dan masih keturunan Batara Surya. Kakeknya yang bernama Herriya adalah pendiri Kerajaan Mahespati. Herriya memiliki adik bernama Resi Wisageni yang mempunyai dua orang putra bernama Suwandagni dan Jamadagni. Suwandagni memiliki putra bernama Sumantri dan Sukasrana, sedangkan Jamadagni memiliki putra bernama Ramabargawa alias Parasurama. Dengan demikian, antara Arjuna dan Parasurama masih terjalin hubunga n sepupu. Arjuna Sasrabahu versi Jawa dianggap sebagai awatara Batara Wisnu. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana di Kerajaan Mahespati. Istrinya bernama Citrawati putr i dari Kerajaan Magadha. Orang yang ditugasi melamar putri tersebut adalah Sumantri. Keberhasilan Sumantri sempat membuatnya lupa diri. Ia pun menantang Arjuna apabi

la ingin memperistri Citrawati harus merebutnya sendiri. Setelah melalui pertarunga n seru akhirnya Sumantri pun mengaku kalah. Arjuna bersedia mengampuni asalkan Sumantri bisa memindahkan Taman Sriwedari dari Gunung Untarayana ke dalam istana Mahespat i. Sumantri berhasil memenuhi permintaan tersebut berkat bantuan adiknya, yaitu Sukasrana. Arjuna yang sangat gembira memutuskan untuk mengangkat Sumantri sebagai patih bergelar Suwanda. Pada suatu hari Arjuna bertamasya dengan istrinya di sebuah sungai. Ia bertriwik rama mengubah wujudnya menjadi raksasa yang sangat besar dan sambil berbaring dibendungnya aliran sungai tersebut sehingga tercipta kolam sebagai tempat peman dian Citrawati. Akibatnya, aliran sungai pun meluap membanjiri perkemahan Rahwana raj a Kerajaan Alengka yang sedang dalam perjalanan memperluas wilayah jajahan. Rahwana yang marah mendatangi perkemahan Arjuna. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Alengka melawan Mahespati. Kebetulan Citrawati adalah reinkarnasi dari Widawati, perempuan yang dicintai Rahwana. Hal itu membuat Rahwana semakin bernafsu untuk menumpas pihak Mahespati. Dalam pertempuran itu Suwanda tewas di tangan Rahwana. Arjuna Sasrabahu pun bangun dari tidurnya dan segera manyerang Rahwana. melalui perkelahian sengit Ar juna berhasil mengalahkan Rahwana. Tubuh Rahwana pun diikat menggunakan rantai dan diseret di belakang kereta Arjuna mengelilingi dunia. Melihat penyiksaan tersebut Batara Narada turun untuk menyampaikan pesan kahyang an agar Arjuna membebaskan Rahwana karena raja raksasa tersebut belum ditakdirkan untuk mati. Kelak, awatara Wisnu yang lain yang akan membunuh Rahwana. Arjuna pu n membebaskan Rahwana dengan syarat ia harus berhenti mengumbar angkara murka. Rahwana bersedia. Sejak saat itu Rahwana pun hidup sebagai bawahan Arjuna Sasrabahu. Dengan berbagai muslihat Rahwana berusaha melenyapkan Arjuna demi untuk melancarkan aksi serakahnya kembali serta menikahi Citrawati. Sejak kematian Suw anda, Arjuna tampak kehilangan semangat hidupnya. Hal ini dikarenakan Suwanda alias Sumantri merupakan sepupu kesayangannya. Pada suatu hari ketika Arjuna berburu sendirian di hutan untuk menghibur diri, R ahwana datang melapor kepada Citrawati bahwa suaminya itu tewas karena kecelakaan. Di l uar rencana Rahwana, Citrawati justru melakukan bela pati dengan cara terjun ke dala m kobaran api. Setelah mendengar kematian istrinya, Arjuna semakin sedih. Dalam ke adaan tersebut Batara Wisnu keluar meninggalkan tubuh Arjuna untuk kembali ke kahyanga n. Arjuna yang sudah kehilangan gairah hidup pergi menelantarkan kerajaannya. Di te ngah jalan ia bertemu sepupunya yang lain, yaitu Ramabargawa alias Parasurama. Brahma na gagah tersebut berkelana untuk mencari kematian yang sempurna. Rupanya ia telah mendapat petunjuk dewata bahwa dirinya bisa masuk surga apabila mati di tangan penjelmaan Wisnu melalui sebuah pertarungan. Melihat adanya kesempatan baik, Ramabargawa pun menantang Arjuna Sasrabahu. Pertarungan terjadi dan tentu saja dimenangkan oleh Rama. Arjuna yang sudah tak bergairah hidup tersebut akhirnya tewas terkena kapak milik Ramabargawa.

Ramabargawa kecewa berat. Batara Narada turun dari kahyangan untuk menjelaskan bahwa Wisnu sudah lama meninggalkan tubuh Arjuna. Kelak Wisnu akan muncul kembal i sebagai pangeran dari Kerajaan Ayodhya yang bernama Sri Rama. Tokoh inilah yang nanti akan mengantarkan Ramabargawa menuju alam kehidupan abadi. Dropadi Dropadi Dewi Dropadi membawa kendi madu. Lukisan India karya Raja Ravi Varma. Tokoh dalam mitologi Hindu Nama: Dropadi Nama lain: Kresna; Sailandri; Yadnyaseni Ejaan Sanskerta: Draupadi Asal: Kampilya, Kerajaan Panchala Pasangan: Panca Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) Dropadi, Drupadi, atau Draupadi (Sanskerta: ?????; Draupadi) adalah salah satu t okoh dari wiracarita Mahabharata. Ia adalah puteri Prabu Drupada, raja di kerajaan Panchal a. Pada kitab Mahabharata versi aslinya, Dropadi adalah istri para Pandawa lima semuanya . Tetapi dalam tradisi pewayangan Jawa di kemudian hari, ia hanyalah permaisuri Pr abu Yudistira saja. Arti nama Pada mulanya, Dropadi diberi nama "Kresna", merujuk kepada warna kulitnya yang kehitam-hitaman. Dalam bahasa Sanskerta, kata "Krishna" secara harfiah berarti g elap atau hitam. Lambat laun ia lebih dikenal sebagai "Dropadi" (ejaan Sanskerta: Dra upadi), yang secara harfiah berarti "puteri Drupada". Nama "Pañcali" juga diberikan kepada nya, yang secara harfiah berarti "puteri kerajaan Panchala". Karena ia merupakan saud ari dari Drestadyumna, maka ia juga disebut "Yadnyaseni" (Yajñaseni). Kelahiran Dropadi merupakan anak yang lahir dari hasil Putrakama Yadnya, yaitu ritual untu k memperoleh keturunan. Dalam kitab Mahabharata diceritakan bahwa setelah Drupada dipermalukan oleh Drona, ia pergi ke dalam hutan untuk merencanakan pembalasan dendam. Kemudian ia memutuskan untuk memperoleh seorang putera yang akan membunuh Drona, serta seorang puteri yang akan menikah dengan Arjuna. Atas bantu an dari Resi Jaya dan Upajaya, Drupada melangsungkan Putrakama Yadnya dengan sarana api suci. Dropadi lahir dari api suci tersebut. Perkawinan dengan para Pandawa Dalam kitab Mahabharata versi India dan dalam tradisi pewayangan di Bali, Dewi D ropadi bersuamikan lima orang, yaitu Panca Pandawa. Pernikahan tersebut terjadi setelah para Pandawa mengunjungi Kerajaan Panchala dan mengikuti sayembara di sana. Sayembara tersebut diikuti oleh para kesatria terkemuka di seluruh penjuru daratan Bharata warsha (India Kuno), seperti misalnya Karna dan Salya. Para Pandawa berkumpul bersama p ara kesatria lain di arena, namun mereka tidak berpakaian selayaknya seorang kesatri a,

melainkan menyamar sebagai brahmana. Di tengah-tengah arena ditempatkan sebuah sasaran yang harus dipanah dengan tepat oleh para peserta dan yang berhasil melakukannya akan menjadi istri Dewi Dropadi. Para peserta pun mencoba untuk memanah sasaran di arena, namun satu per satu gag al. Karna berhasil melakukannya, namun Dropadi menolaknya dengan alasan bahwa ia tid ak mau menikah dengan putera seorang kusir. Karna pun kecewa dan perasaannya sangat kesal. Setelah Karna ditolak, Arjuna tampil ke muka dan mencoba memanah sasaran dengan tepat. Panah yang dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai dengan persyaratan, maka Dewi Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun para peserta lainnya menggerutu karena seorang brahmana mengikuti sayembara sedangkan para peserta ingin agar sayembara tersebut hanya diikuti oleh golongan kesatria. Karena adanya keluhan tersebut maka keributan tak dapat dihindari lagi. Arjuna dan Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya sedangkan Yudistira, Nakula, dan Sadew a pulang menjaga Dewi Kunti, ibu mereka. Kresna yang turut hadir dalam sayembara tersebut tahu siapa sebenarnya para brahmana yang telah mendapatkan Dropadi dan ia berkata kepada para peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut mendapatkan Dropadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara dengan baik. Setelah keributan usai, Arjuna dan Bima pulang ke rumahnya dengan membawa serta Dewi Dropadi. Sesampainya di rumah didapatinya ibu mereka sedang tidur berselimu t sambil memikirkan keadaan kedua anaknya yang sedang bertarung di arena sayembara . Arjuna dan Bima datang menghadap dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang serta membawa hasil meminta-minta. Dewi Kunti menyuruh agar mereka membagi rata apa yang mereka peroleh. Namun Dewi Kunti terkejut ketika tahu bahwa putera-puterany a tidak hanya membawa hasil meminta-minta saja, namun juga seorang wanita. Dewi Ku nti tidak mau berdusta maka Dropadi pun menjadi istri Panca Pandawa. Upacara Rajasuya Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain ter sebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kr esna. Gambar diambil dari kitab Bhagawadgita yang diterbitkan oleh yayasan ISKCON. Pada saat Yudistira menyelenggarakan upacara Rajasuya di Indraprastha, seluruh kesatria di penjuru Bharatawarsha diundang, termasuk sepupunya yang licik dan se lalu iri, yaitu Duryodana. Duryodana dan Dursasana terkagum-kagum dengan suasana balairung Istana Indraprastha. Mereka tidak tahu bahwa di tengah-tengah istana ada kolam. Air kolam begitu jernih sehingga dasarnya kelihatan sehingga tidak tampak seperti ko lam. Duryodana dan Dursasana tidak mengetahuinya lalu mereka tercebur. Melihat hal it u, Dropadi tertawa terbahak-bahak. Duryodana dan Dursasana sangat malu. Mereka tida k dapat melupakan penghinaan tersebut, apalagi yang menertawai mereka adalah Dropa di yang sangat mereka kagumi kecantikannya. Ketika tiba waktunya untuk memberikan jamuan kepada para undangan, sudah menjadi tradisi bahwa tamu yang paling dihormati yang pertama kali mendapat jamuan. Atas usul Bisma, Yudistira memberikan jamuan pertama kepada Sri Kresna. Melihat hal itu,

Sisupala, saudara sepupu Sri Kresna, menjadi keberatan dan menghina Sri Kresna. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi sampai kemarahannya memuncak. Sisupala dibunuh dengan Cakra Sudarsana. Pada waktu menarik Cakra, tangan Sri Kresna mengeluarkan darah. Melihat hal tersebut, Dewi Dropadi segera menyobek ka in sari-nya untuk membalut luka Sri Kresna. Pertolongan itu tidak dapat dilupakan S ri Kresna. Permainan dadu Setelah menghadiri upacara Rajasuya, Duryodana merasa iri kepada Yudistira yang memiliki harta berlimpah dan istana yang megah. Melihat keponakannya termenung, muncul gagasan jahat dari Sangkuni. Ia menyuruh keponakannya, Duryodana, agar mengundang Yudistira main dadu dengan taruhan harta, istana, dan kerajaan di Indraprastha. Duryodana menerima usul tersebut karena yakin pamannya, Sangkuni, merupakan ahlinya permainan dadu dan harapan untuk merebut kekayaan Yudistira ad a di tangan pamannya. Duryodana menghasut ayahnya, Dretarastra, agar mengizinkanny a bermain dadu. Yudistira yang juga suka main dadu, tidak menolak untuk diundang. Yudistira mempertaruhkan harta, istana, dan kerajaannya setelah dihasut oleh Dur yodana dan Sangkuni. Karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, maka ia mempertaruhkan saudara-saudaranya, termasuk istrinya, Dropadi. Akhirnya Yudistir a kalah dan Dropadi diminta untuk hadir di arena judi karena sudah menjadi milik Duryodana. Duryodana mengutus para pengawalnya untuk menjemput Dropadi, namun Dropadi menolak. Setelah gagal, Duryodana menyuruh Dursasana, adiknya, untuk menjemput Dropadi. Dropadi yang menolak untuk datang, diseret oleh Dursasana yan g tidak memiliki rasa kemanusiaan. Rambutnya ditarik sampai ke arena judi, tempat suami dan para iparnya berkumpul. Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh adiknya di minta untuk menanggalkan bajunya, namun Dropadi menolak. Dursasana yang berwatak kasar , menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan ta k habishabis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna yang melihat Dropadi dalam bahaya. Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara Rajasuya di Indraprastha. Kematian Dalam kitab Mahaprasthanikaparwa diceritakan, setelah Dinasti Yadu musnah, para Pandawa beserta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjalanan suci mengelilingi Bharatawarsha. Sebagai tujuan akhir perjalanan, mereka menuju pegunungan Himalay a setelah melewati gurun yang terbentang di utara Bharatawarsha. Dalam perjalanan menuju ke sana, Dropadi meninggal dunia. Suami dan keturunan Dalam kitab Mahabharata versi aslinya, dan dalam tradisi pewayangan di Bali, sua mi Dropadi berjumlah lima orang yang disebut lima Pandawa. Dari hasil hubungannya dengan kelima Pandawa ia memiliki lima putera, yakni: 1. Pratiwinda (dari hubungannya dengan Yudistira) 2. Sutasoma (dari hubungannya dengan Bima) 3. Srutakirti (dari hubungannya dengan Arjuna) 4. Satanika (dari hubungannya dengan Nakula) 5. Srutakama (dari hubungannya dengan Sadewa) Kelima putera Pandawa tersebut disebut Pancawala atau Pancakumara. Dropadi dalam pewayangan Jawa Dalam budaya pewayangan Jawa, khususnya setelah mendapat pengaruh Islam, Dewi

Dropadi diceritakan agak berbeda dengan kisah dalam kitab Mahabharata versi asli nya. Dalam cerita pewayangan, Dewi Dropadi dinikahi oleh Yudistira saja dan bukan mil ik kelima Pandawa. Cerita tersebut dapat disimak dalam lakon Sayembara Gandamana. Dalam lakon tersebut dikisahkan, Yudistira mengikuti sayembara mengalahkan Gandamana yang diselenggarakan Raja Dropada. Siapa yang berhasil memenangkan sayembara, berhak memiliki Dropadi. Yudistira ikut serta namun ia tidak terjun k e arena sendirian melainkan diwakili oleh Bima. Bima berhasil mengalahkan Gandamana dan akhirnya Dropadi berhasil didapatkan. Karena Bima mewakili Yudistira, maka Yudis tiralah yang menjadi suami Dropadi. Dalam tradisi pewayangan Jawa, putera Dropadi dengan Yudistira bernama Raden Pancawala. Pancawala sendiri merupakan sebutan untuk lim a putera Pandawa. Terjadinya perbedaan cerita antara kitab Mahabharata dengan cerita dalam pewayan gan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Setelah kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu runtuh, munculah Kerajaan Demak yang bercorak Isla m. Pada masa itu, segala sesuatu harus disesuaikan dengan hukum agama Islam. Pertunjukan wayang yang pada saat itu sangat digemari oleh masyarakat, tidak dib erantas ataupun dilarang melainkan disesuaikan dengan ajaran Islam. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab Mahabharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum I slam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam. Santanu Prabu Santanu jatuh cinta kepada Satyawati (alias Gandawati, alias Durgandini), si anak nelayan (dilukis oleh Raja Ravi Varma) Santanu (Sansekerta: ??????; Sa?tanu) adalah tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Beliau adalah putera Raja Pratipa, Raja dari trah Candrawangsa, ket urunan Maharaja Kuru, yang memiliki tegal bernama Kurukshetra, letaknya di India Utara. Prabu Santanu merupakan ayah Bisma dan secara legal, kakek daripada Pandu dan Dretaras tra. Beliau memerintah di Hastinapura, ibukota sekaligus pusat pemerintahan para ketu runan Kuru, di Kerajaan Kuru. Kelahiran Prabu Santanu merupakan putera dari pasangan Raja Pratipa dengan Ratu Sunanda, keturunan Raja Kuru, yang menurunkan keluarga para Pandawa dan Korawa. Santanu berasal dari kata çanta yang berarti tenang, sebab Prabu Pratipa dalam keadaan ten ang pada saat puteranya lahir. Prabu Santanu sangat tampan, sangat cakap dalam memainkan senjata, dan senang berburu ke hutan. Ia menggantikan ayahnya, Raja Pratipa, sebagai Raja di Hastinapura. Pernikahan dengan Dewi Gangga Pada saat Prabu Santanu berburu ke tepi sungai Gangga, ia bertemu dengan wanita yang sangat cantik dan tubuhnya sangat indah. Wanita tersebut adalah Dewi Gangga (dal am tradisi Jawa disebut Jahnawi). Ia kena kutuk Dewa Brahma untuk turun ke bumi dan menjadi pasangan keturunan Raja Kuru. Karena terpikat oleh kecantikannya, Prabu

Santanu merasa jatuh cinta. Dewi Gangga pun bersedia menjadi permaisurinya denga n syarat bahwa apapun yang ia lakukan terhadap anaknya, Prabu Santanu tidak boleh melarangnya. Jika Prabu Santanu melanggar janjinya, maka Dewi Gangga akan meninggalkannya. Karena perasaan cinta yang meluap-luap, maka syarat tersebut dipenuhi. Setelah menikah, Dewi Gangga mengandung puteranya yang pertama. Namun begitu puteranya lahir, ia ditenggelamkan ke sungai Gangga. Begitu pula pada putera-put eranya yang selanjutnya, semua mengalami nasib yang sama. Sang Raja mengetahui hal tersebut dan selalu membuntutinya, namun ia tak kuasa mencegah karena terikat ak an janji pernikahannya. Ketika Sang Dewi mengandung puteranya yang kedelapan, Prabu Santanu tak tahan lagi lalu menghentikan perbuatan permaisurinya yang ia anggap sebagai perbuatan biadab dan tidak berperikemanusiaan. Dewi Gangga menghentikan perbuatannya lalu menjelaskan bahwa putera-putera yang ia lahirkan merupakan inkarnasi dari Astawasu atau delapan Wasu. Tindakannya menenggelamkan bayi-bayi tersebut adalah untuk melepaskan jiwa mereka agar mencapai surga, kediaman para Wasu. Delapan Wasu tersebut pernah mencuri lembu sakti miliki Resi Wasista. Karena ketahuan, mereka dikutuk oleh Resi Wasista sup aya kekuatan Dewata mereka hilang dan menjelma sebagai manusia. Salah satu dari dela pan Wasu tersebut bernama Prabhata yang merupakan pemimpin daripada rencana pencuria n tersebut. Karena ia merupakan pelaku utama dan ketujuh Wasu lainnya hanya ikut-i kutan, maka Prabhata yang menjelma paling lama sebagai manusia. Kelak Prabhata menjelma sebagai seorang manusia sakti yang bernama Dewabrata. Namun semenjak ia bersumpah tidak akan kawin namanya menjadi Bisma. Setelah menjelaskan hal terseb ut kepada Prabu Santanu, Dewi Gangga yang masih mengandung lenyap di sungai Gangga. Kemunculan Bisma Prabu Santanu akhirnya merelakan kepergian permaisurinya dan kembali lagi ke ist ana, memerintah kerajaan Hastinapura. 36 tahun kemudian, Prabu Santanu yang sedang bosan, jalan-jalan ke tepi sungai Gangga. Di sana ia melihat seorang putera yang sangat kuat, mampu membendung air sungai Gangga. Anak tersebut adalah Dewabrata, putera kedelapan Prabu Santanu dengan Dewi Gangga. Setelah ibunya (Dewi Gangga) muncul dan menjelaskan asal usul anak tersebut, Prabu Santanu mengajak anak tersebut ke istana. Dewabrata tumbuh menjadi putera yang berbakti kepada orangtua dan memili ki jiwa ksatria tinggi. Ia bahkan dicalonkan sebagai penerus tahta. Pernikahan dengan Gandawati Pada suatu ketika Prabu Santanu mendengar desas-desus bahwa di sekitar sungai Yamuna tersebar bau yang sangat harum semerbak. Dengan rasa penasaran Prabu Santanu jalan-jalan ke sungai Yamuna. Ia menemukan sumber bau harum tersebut dar i seorang gadis desa, bernama Gandhawati (lebih dikenal sebagai Satyawati atau Durgandini). Gadis tersebut sangat elok parasnya dan harum tubuhnya. Prabu Santa nu jatuh cinta dan hendak melamar gadis tersebut. Ayah gadis tersebut bernama Dasab ala. Ketika Sang Raja melamar gadis tersebut, orangtuanya mengajukan syarat bahwa jik a Gandhawati (Satyawati) menjadi permaisuri Prabu Santanu, ia harus diperlakukan s esuai dengan Dharma dan keturunan Gandhawati-lah yang haurs menjadi penerus tahta.

Mendengar syarat tersebut, Sang Raja pulang dengan kecewa dan menahan sakit hati . Ia menjadi jatuh sakit karena terus memikirkan gadis pujaannya yang tak kunjung ia dapatkan. Melihat ayahnya jatuh sakit, Dewabrata menyelidikinya. Ia bertanya kepada kusir yang mengantarkan ayahnya jalan-jalan. Dari sana ia memperoleh informasi bahwa ayahny a jatuh cinta kepada seorang gadis. Akhirnya, ia berangkat ke sungai Yamuna. Ia me wakili ayahnya untuk melawar puteri Dasabala, Gandhawati, yang sangat diinginkan ayahny a. Ia menuruti segala persyaratan yang diajukan Dasabala. Ia juga bersumpah tidak akan menikah seumur hidup dan tidak akan meneruskan tahta keturunan Raja Kuru agar ke lak tidak terjadi perebutan kekuasan antara keturunannya dengan keturunan Gandhawati . Sumpahnya disaksikan oleh para Dewa dan semenjak saat itu, namanya berubah menja di Bisma. Akhirnya Prabu Santanu dan Dewi Gandhawati menikah lalu memiliki dua oran g putera bernama Citranggada dan Wicitrawirya. Prabu Santanu wafat dan Bisma menun juk Citranggada sebagai penerus tahta Hastinapura. Kelak Wicitrawirya akan menurunka n keluarga besar Pandawa dan Korawa. Gangga (Hindu) Gangga atau Ganga (Sansekerta dan Hindi: ???? ; Ga?ga) atau Ganges (ejaan orang barat) adalah nama seorang Dewi dalam agama Hindu yang dipuja sebagai Dewi kesuburan dan pembersih segala dosa dengan air suci yang dicurahkannya. Ia juga merupakan Dewi sungai suci Sungai Gangga di India. Dewi Gangga sering dilukiskan sebagai wanita cantik yang mencurahkan air di dalam guci. Umat Hindu percaya bah wa jika mandi di sungai Gangga pada saat yang tepat akan memperoleh pengampunan dos a dan memudahkan seseorang untuk mendapat keselamatan. Banyak orang percaya bahwa hasil tersebut didapatkan dengan mandi di sungai Gangga sewaktu-waktu. Orang-ora ng melakukan perjalanan dari tempat yang jauh untuk mencelupkan abu dari jenazah anggota keluarga mereka ke dalam air sungai Ganga; pencelupan itu dipercaya seba gai jasa untuk mengantarkan abu tersebut menuju surga. Beberapa tempat suci bagi uma t Hindu berada di sepanjang tepi sungai Gangga, meliputi Haridwar, Allahabad dan Benares. Mitologi Menurut sastra Hindu, Dewi Gangga merupakan ibu asuh Dewa Kartikeya (Murugan), yang sebenarnya merupakan putera Siwa dan Parwati. Ia juga merupakan ibu Dewabra ta (juga dikenal sebagai Bisma), yang merupakan salah satu tokoh yang paling dihorm ati dalam Mahabharata. Kadangkala dipercaya bahwa air sungai Gangga akan mengering pada akhir Kali Yuga (zaman kegelapan, zaman sekarang) bersama dengan sungai Saraswati, dan masa sekarang akan segera berakhir. Kemudian (siklus) zaman selanjutnya adalah Satya Yuga atau zaman kebenaran. Kelahiran Dewi Gangga Terdapat beberapa kepercayaan Hindu yang memberikan beragam versi mengenai kelahiran Gangga. Menurut salah satu versi, air suci di Kamandalu Brahma (kendi

air) menjelma sebagai seorang gadis, bernama Gangga. Menurut legenda lain (legenda Waisnawa), Brahma dengan takzim mencuci kaki Wisnu dan mengumpulkan airnya dalam Kamandalu miliknya. Menurut versi yang ketiga, Gangga merupakan puteri Himawan, raja gunung, dan istrinya, Mena; maka ia merupakan adik Dewi Parwati. Setiap versi mengatakan bahwa ia lahir di surga, di bawah asuhan Brahma. Turunnya Gangga ke bumi Seorang raja yang bernama Sagara dengan ajaib memiliki enam puluh ribu putera. P ada suatu hari, Raja Sagara melaksanakan upacara demi kemakmuran di kerajaan. Salah satu bagian terpenting dalam upacara tersebut adalah kuda, yang kemudian dicuri oleh Indra yang cemburu. Sagara mengutus seluruh puteranya ke seluruh pelosok bumi demi mencari kuda tersebut. Akhirnya mereka menemukan kuda tersebut di dunia bawah ta nah (Patala), tepat di depan Resi Kapila yang sedang bermeditasi. Karena mereka menganggap bahwa sang resi yang telah mencuri kuda itu, mereka memaki sang resi sehingga sang resi merasa terganggu. Sang resi membuka mata untuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dan memandang para putera Sagara. Dengan tatapannya, seluruh putera Sagara terbakar dan meninggal. Roh para putera Sagara gentayangan seperti hantu semenjak upacara terakhir bagi mereka tidak dilaksanakan. Ketika Bhagiratha, salah satu keturunan Sagara, puter a Dilip, mengetahui nasib tersebut, ia bersumpah akan membawa Gangga turun ke bumi sehingga airnya mampu membersihkan roh leluhurnya dan mengantar mereka ke surga. Bhagiratha menyembah Brahma agar Gangga turun ke bumi. Brahma bersedia, dan ia menyuruh Gangga agar turun ke bumi kemudian menuju dunia bawah tanah sehingga ro h para leluhur Bhagiratha dapat diterima di surga. Gangga yang sombong merasa bahw a itu adalah penghinaan dan ia ingin menyapu seluruh isi dunia saat ia turun ke bumi. Dengan siaga, Bhagiratha menyembah Siwa agar mau mengatasi keangkuhan Gangga saat turun . Gangga dengan congkak turun ke rambut Siwa. Namun dengan tenang Siwa berhasil menjebaknya dan membiarkannya keluar hanya lewat arus kecil. Kemudian sentuhan Siwa menyucikan Gangga. Dalam perjalanan Gangga melewati dunia bawah tanah, ia sempat membuat aliran yang bercabang-cabang di muka bumi untuk menolong jiwa-jiw a malang yang ada disana. Karena usaha Bhagiratha sehingga sungai Gangga turun ke bumi, sejak itu sungai tersebut juga dikenal sebagai Bhagirathi, dan istilah Bhagirath prayatna dipakai u ntuk melukiskan usaha yang berani atau hasil yang sulit. Legenda Dewi Jahnawi Nama lain Gangga adalah Jahnawi. Kisahnya terjadi saat Gangga turun ke bumi, dal am perjalanannya mengikuti Bhagiratha, airnya yang deras mengakibatkan gelompang pasang dan menghancurkan halaman dan sadhana milik pertapa yang bernama Jahnu. I a marah karena hal tersebut dan meminum seluruh air Gangga. Atas hal ini, para dew a memuja-muja Jahnu agar membebaskan Gangga sehingga ia bisa menyelesaikan tujuannya. Karena berkenan dengan pujian para dewa, Jahnu mengeluarkan Gangga (airnya) dari telinganya. Semenjak itu kata "Jahnawi" (puteri Jahnu) ditujukan k epada Gangga. Gangga dalam Rigveda

Gangga disebutkan secara terbatas dalam Rigveda, susastra Hindu yang paling awal dan yang tersuci secara teoritis. Gangga disebut dalam Nadistuti (RigVeda 10.75), ya ng memaparkan sungai-sungai dari timur ke barat. Dalam RigVeda 6.45.31, kata Ganga juga disebutkan, namun tidak jelas apakah merujuk kepada sungai. RigVeda 3.58.6 berkata bahwa, "rumahmu yang dulu, persahabatanmu yang memberi banyak harapan, O para pahlawan, kekayaanmu berada di tepi sungai Jahnawi (JahnAvyAm)". Sloka ini mungkin saja merujuk kepada Gangga.[1] Dalam RigVeda 1.116.18-19, Jahnawi dan lumba-lumba Gangga muncul dalam dua sloka yang berdekatan.[2][3] Penggambaran Dalam aturan seni di India, Gangga digambarkan sebagai wanita mewah dan cantik, membawa sebuah kendi di tangan dan mencurahkan airnya. Kendi melambangkan citaci ta akan kemakmuran hidup dan kesuburan, yang memberi makan dan menopang alam semesta. Aspek kedua yang memberi perbedaan terhadap penggambaran wujud Gangga adalah hewan yang menjadi kendaraannya, yang seringkali memberi tempat pijakan bagi dir inya. Hewan itu adalah makara, makhluk campuran yang memiliki tubuh dari buaya dan eko r dari ikan. Makara dalam Hindu diperkirakan memiliki hubungan dengan Capricorn da lam astrologi barat. Makara juga merupakan kendaraan dewa air dalam Weda, yaitu Baruna. Bisma Bisma (Sansekerta: ????, Bhishma) terlahir sebagai Dewabrata (Sansekerta: ?????, Dévavrata), adalah salah satu tokoh utama dalam Mahabharata. Ia merupakan putera d ari pasangan Prabu Santanu dan Satyawati. Ia juga merupakan kakek dari Pandawa maupu n Korawa. Semasa muda ia bernama Dewabrata, namun berganti menjadi Bisma semenjak ia bersumpah bahwa tidak akan menikah seumur hidup. Bisma ahli dalam segala modu s peperangan dan sangat disegani oleh Pandawa dan Korawa. Ia gugur dalam sebuah pertempuran besar di Kurukshetra oleh panah dahsyat yang dilepaskan oleh Srikand i dengan bantuan Arjuna. namun ia tidak meninggal pada saat itu juga. Ia sempat hi dup selama beberapa hari dan menyaksikan kehancuran para Korawa. Ia menghembuskan nafas terkahirnya saat garis balik matahari berada di utara (Uttarayana). Arti nama Nama Bhishma dalam bahasa Sansekerta berarti "Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat) ", karena ia bersumpah akan hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih d engan keturunan Satyawati, ibu tirinya. Kelahiran Bisma merupakan penjelmaan salah satu Delapan Wasu yang berinkarnasi sebagai manusia yang lahir dari pasangan Dewi Gangga dan Prabu Santanu. Menurut kitab Adiparwa, Delapan Wasu menjelma menjadi manusia karena dikutuk atas perbuatannya yang telah mencuri lembu sakti milik Resi Wasistha. Dalam perjalanannya menuju b umi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga mau turun ke dunia untuk menjadi ist ri

putera Raja Pratipa, yaitu Santanu. Delapan Wasu kemudian membuat kesepakatan dengan Dewi Gangga bahwa mereka akan menjelma sebagai delapan putera Prabu Santanu dan dilahirkan oleh Dewi Gangga. Bisma merupakan penjelmaan Wasu yang bernama Prabhata.[1] Kehidupan awal Sementara tujuh kakaknya yang telah lahir meninggal karena ditenggelamkan ke sun gai Gangga oleh ibu mereka sendiri, Bisma berhasil selamat karena perbuatan ibunya dicegah oleh ayahnya. Kemudian, sang ibu membawa Bisma yang masih bayi ke surga, meninggalkan Prabu Santanu sendirian. Setelah 36 tahun kemudian, Sang Prabu menemukan puteranya secara tidak sengaja di hilir sungai Gangga. Dewi Gangga kemudian menyerahkan anak tersebut kepada Sang Prabu, dan memberinya nama Dewabrata. Dewabrata kemudian menjadi pangeran yang cerdas dan gagah, dan dicalonkan sebagai pewaris kerajaan. Namun karena janjinya terhadap Sang Dasapat i, ayah Satyawati (ibu tirinya), ia rela untuk tidak mewarisi tahta serta tidak men ikah seumur hidup agar kelak keturunannya tidak memperebutkan tahta kerajaan dengan keturuna n Satyawati. Karena ketulusannya tersebut, ia diberi nama Bisma dan dianugerahi ag ar mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu sehingga ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Bisma memiliki dua adik tiri dari ibu tirinya yang bernama Satyawati. Mereka ber nama Citranggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaa n Kasi dan memenagkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya. Karena Citranggada wafat, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya sedangka n Amba mencintai Bisma namun Bisma menolak cintanya karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Demi usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya, tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Atas kematian it u, Bisma diberitahu bahwa kelak Amba bereinkarnasi menjadi seorang pangeran yang memiliki sifat kewanitaan, yaitu putera Raja Drupada yang bernama Srikandi. Kela k kematiannya juga berada di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempura n akbar di Kurukshetra. Pendidikan Bisma mempelajari ilmu politik dari Brihaspati (guru para Dewa), ilmu Veda dan V edangga dari Resi Wasistha, dan ilmu perang dari Parasurama (Ramaparasu; Rama Bargawa), seorang ksatria legendaris sekaligus salah satu Chiranjiwin yang hidup abadi sej ak zaman Treta Yuga. Dengan berguru kepadanya Bisma mahir dalam menggunakan segala jenis senjata dan karena kepandaiannya tersebut ia ditakuti oleh segala lawannya. Bism a berhenti belajar kepada Parasurama karena perdebatan mereka di asrama tentang masalah Amba. Pada saat itu dengan sengaja Bisma mendorong Parasurama sampai terjatuh, dan semenjak itu Parasurama bersumpah untuk tidak lagi menerima murid dari kasta Kshatriya karena membuat susah.[1] Peran dalam Dinasti Kuru Di lingkungan keraton Hastinapura, Bisma sangat dihormati oleh anak-cucunya. Tid ak hanya karena ia tua, namun juga karena kemahirannya dalam bidang militer dan peperangan. Dalam setiap pertempuran, pastilah ia selalu menang karena sudah san

gat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan, bahwa tidak ada yang sanggup menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan laskar Asura menggabungkan kekuatan dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang.[2] Bisma sangat dicintai oleh Pandawa maupun Korawa. Mereka menghormatinya sebagai seorang kakek sekaligus kepala keluarga yang bijaksana. Kadangkala Pandawa menganggap Bisma sebagai ayah mereka (Pandu), yang sebenarnya telah wafat. Perang di Kurukshetra Saat perang antara Pandawa dan Korawa meletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya telah dipe rbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Korawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdo'a agar kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk ditaklukkan. Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana , bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa, kemenangan sudah pasti berada di pih ak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terd apat kejayaan.[2] Dalam pertempuran akbar di dataran keramat Kurukshetra, Bisma bertarung dengan dahsyat. Prajurit dan ksatria yang melawannya pasti binasa atau mengalami luka b erat. Dalam kitab Bismaparwa dikatakan bahwa di dunia ini para ksatria sulit menanding i kekuatannya dan tidak ada yang mampu melawannya selain Arjuna ksatria berpanah yang terkemuka dan Kresna penjelmaan Wisnu. Meskipun Arjuna mendapatkan kesempatan untuk melawan Bisma, namun ia sering bertarung dengan setengah hati, mengingat bahwa Bisma adalah kakek kandungnya sendiri. Hal yang sama juga dirasa kan oleh Bisma, yang masih sayang dengan Arjuna, cucu yang sangat dicintainya. Kresna yang menjadi kusir kereta Arjuna dalam peperangan, menjadi marah dengan s ikap Arjuna yang masih segan untuk menghabisi nyawa Bisma, dan ia nekat untuk menghab isi nyawa Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata yang menyorot tajam memancarkan kemarahan, ia memutar-mutar chakra di atas tangannya dan memusatkan perhatian untuk membidik leher Bisma. Bisma tidak menghindar, namun justru bahag ia jika gugur di tangan Madhawa (Kresna). Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna d an berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya. Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, "O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresn a), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!..." Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, ia mengurungkan niatny a dan naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya. Kematian Sebelum hari kematiannya, Pandawa dan Kresna mendatangi kemah Bisma di malam har i untuk mencari tahu kelemahannya. Bisma mengetahui bahwa Pandawa dan Kresna telah masuk ke dalam kemahnya dan ia menyambut mereka dengan ramah. Ketika Yudistira

menanyakan apa yang bisa diperbuat untuk menaklukkan Bisma yang sangat mereka hormati, Bisma menjawab: ...ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung...[2] Bisma juga mengatakan apabila pihak Pandawa ingin mengalahkannya, mereka harus menempatkan seseorang yang membuat Bisma enggan untuk bertarung di depan kereta Arjuna, karena ia yakin hanya Arjuna dan Kresna yang mampu mengalahkannya dalam peperangan. Dengan bersembunyi di belakang orang yang membuat Bisma enggan berperang, Arjuna harus mampu melumpuhkan Bisma dengan panah-panahnya. Berpedoman kepada pernyataan tersebut, Kresna menyadarkan Arjuna akan kewajibannya. Meski Arjuna masih segan, namun ia menuntaskan tugas tersebut. Pad a hari kesepuluh, Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak melawan. Di belakang Srikandi, Arjuna menembakkan panah-panahnya yang dahsyat dan melumpuhkan Bisma. Panah-panah tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kemudian Bisma terjatu h dari keretanya, tetapi badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluh an panah yang menancap di tubuhnya. Namun Bisma tidak gugur seketika karena ia bole h menentukan waktu kematiannya sendiri. Bisma menghembuskan nafasnya setelah ia menyaksikan kehancuran pasukan Korawa dan setelah ia memberikan wejangan suci kepada Yudistira setelah perang Bharatayuddha selesai. Bisma dalam pewayangan Jawa Antara Bisma dalam kitab Mahabharata dan pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan, namun tidak terlalu besar karena inti ceritanya sama. Perbedaan-perbe daan tersebut antara lain disebabkan oleh proses Jawanisasi, yaitu membuat kisah wira carita dari India bagaikan terjadi di pulau Jawa. Riwayat Bisma adalah anak Prabu Santanu, Raja Astina dengan Dewi Gangga alias Dewi Jahna wi (dalam versi Jawa). Waktu kecil bernama Raden Dewabrata yang berarti keturunan Bharata yang luhur. Ia juga mempunyai nama lain Ganggadata. Dia adalah salah sat u tokoh wayang yang tidak menikah yang disebut dengan istilah Brahmacarin. Berkedi aman di pertapaan Talkanda. Bisma dalam tokoh perwayangan digambarkan seorang yang sakti, dimana sebenarnya ia berhak atas tahta Astina akan tetapi karena keingina n yang luhur dari dirinya demi menghindari perpecahan dalam negara Astina ia rela tidak menjadi raja. Resi Bisma sangat sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut kepadanya. Ia mengikuti sayembara untuk mendapatkan putri bagi Raja Hastina dan memboyong 3 Dewi. Salah satu putri yang dimenangkannya adalah Dewi Amba dan Dewi Amba ternya ta mencintai Bisma. Bisma tidak bisa menerima cinta Dewi Amba karena dia hanya waki l untuk mendapatkan Dewi Amba. Namun Dewi Amba tetap berkeras hanya mau menikah dengan Bisma. Bisma pun menakut-nakuti Dewi Amba dengan senjata saktinya yang justru tidak sengaja membunuh Dewi Amba. Dewi Amba yang sedang sekarat dipeluk o

leh Bisma sambil menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai Dewi Amba. Setelah roh Dewi Amba keluar dari jasadnya kemudian mengatakan bahwa dia akan menjemput Bisma suatu saat agar bisa bersama di alam lain dan Bisma pun menyangupinya. Diceritakan roh Dewi Amba menitis kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha. Dikisahkan, saat ia lahir, ibunya moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Ayahnya prabu Santanu kemudian mencari wanita yang bersedia menyusui Dewabrata hingga ke negara Wirata bertemu dengan Dewi Durgandini atau Dewi Satyawati, istri Parasara yang telah berputra Resi Wyasa. Setelah Durgandini ber cerai, ia dijadikan permaisuri Prabu Santanu dan melahirkan Citranggada dan Wicitrawirya, yang menjadi saudara Bisma seayah lain ibu. Setelah menikahkan Citranggada dan Wicitrawirya, Prabu Santanu turun tahta menja di pertapa, dan digantikan anaknya. Sayang kedua anaknya kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta kerajaan Astina dan janda Citranggada dan Wicitrawirya diserahkan pada Wyasa, putra Durgandini dari suami pertama. Wyasa-lah yang kemud ian menurunkan Pandu dan Dretarata, orangtua Pandawa dan Kurawa. Demi janjinya membela Astina, Bisma berpihak pada Korawa dan mati terbunuh oleh Srikandi di perang Bharatayuddha. Bisma memiliki kesaktian tertentu, yaitu ia bisa menentukan waktu kematiannya se ndiri. Maka ketika sudah sekarat terkena panah, ia minta sebuah tempat untuk berbaring. Korawa memberinya tempat pembaringan mewah namun ditolaknya, akhirnya Pandawa memberikan ujung panah sebagai alas tidurnya (kasur panah) (sarpatala). Tetapi i a belum ingin meninggal, ingin melihat akhir daripada perang Bharatayuddha. Satyawati Satyawati (Sansekerta: ???????; Satyavati) (juga disebut Durghandini dan Gandhaw ati) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata. Ia adalah istri prabu Santanu dan ibu dari Citranggada dan Wicitrawirya. Sewaktu kecil ia berbau amis, tetapi disembuhkan oleh Resi Parasara, dan kemudia n menikahinya lalu melahirkan seorang putra dan diberi nama Wyasa. Dalam versi pewayangan, ia disembuhkan oleh Resi Wyasa. Kelahiran Ada seorang Raja bernama Basuparisara, bertahta di Kerajaan Chedi. Raja tersebut masih seorang keturunan Puru dan memiliki permaisuri bernama Girika. Pada suatu hari, Sang Raja pergi berburu. Di tengah hutan, ia melihat bunga-bunga bermekaran, kem udian ia teringat akan kecantikan wajah permaisurinya, Girika. Tanpa sadar air kama-ny a menetes, kemudian ia tampung pada sehelai daun. Ia memanggil seekor elang yang sedang terbang di udara, bernama Çyena, untuk mengantarkan air tersebut kepada permaisurinya. Di tengah jalan air yang ditampung dalam daun tersebut jatuh di s ungai Yamuna. Di sana hidup seekor ikan besar yang merupakan penjelmaan bidadari yang dikutuk. Air kama tersebut ditelan oleh Sang Ikan kemudian ikan tersebut hamil. Di tepi sungai Yamuna, hiduplah keluarga nelayan. Kepala keluarga tersebut berna ma Dasabala. Suatu hari Dasabala pergi menangkap ikan lalu ditangkapnya seekor ikan besar yang telah menelan air kama seorang raja. Karena sabda dewata, ikan terseb ut tidak dimakan oleh Dasabala. Dari dalam perut ikan keluarlah dua bayi, lelaki da

n perempuan. Sang ikan kemudian berubah wujudnya menjadi bidadari kembali lalu ter bang ke surga. Kedua anak yang dilahirkan tersebut diserahkan kepada Raja Basuparisar a. Anak yang laki-laki diberi nama Matsyapati dan diangkat menjadi Raja di Kerajaan Wirata, sedangkan anak yang perempuan dikembalikan oleh Sang Raja karena baunya amis. Anak tersebut kemudian diberi nama Durghandini karena baunya amis seperti ikan. Orangtuanya memberi Durghandini pekerjaan sebagai tukang menyeberangkan orang di Sungai Yamuna. Pertemuan dengan Resi Parasara Pada suatu hari, Bagawan Parasara, putera Bagawan Çakri yang merupakan cucu Maharsi Wasistha, berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan pera hu. Durghandini menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu. Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Durghandini. Durghandini kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia terke na penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk. Ayahnya berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya dijadikan suami. Mendengar hal i tu, Resi Parasara mengatakan bahwa ia bersedia menyembuhkan penyakitnya, lalu ia meraba kulit Durghandini. Tak berapa lama kemudian, bau harum semerbak tersebar dan bahkan dapat tercium pada jarak seratus "Yojana". Karena Resi Parasara berhasil menyembuhkannya, maka ia berhak menjadikan Durghandini sebagai istri. Dari hasil hubungannya, lahirlah Rsi Byasa yang sangat luar biasa. Beliau mampu mengucapkan ayat-ayat Veda bahkan ketika baru lahir. Pertemuan dengan Prabu Santanu Pada suatu ketika Prabu Santanu dari Hastinapura mendengar desas-desus bahwa di sekitar sungai Yamuna tersebar bau yang sangat harum semerbak. Dengan rasa penasaran Prabu Santanu jalan-jalan ke sungai Yamuna. Ia menemukan sumber bau harum tersebut dari seorang gadis desa, bernama Durgandini. Prabu Santanu jatuh cinta dan hendak melamar Durghandini. Ketika Sang Raja melamar gadis tersebut, orangtuanya mengajukan syarat bahwa jika Durghandini (Gandhawati atau Satyawati) menjadi permaisuri Prabu Santanu, ia harus diperlakukan sesuai dengan Dharma dan keturunan Durghandini-lah yang haurs menjadi penerus tahta. Mendengar syarat ter sebut, Sang Raja pulang dengan kecewa dan menahan sakit hati. Ia menjadi jatuh sakit ka rena terus memikirkan gadis pujaannya yang tak kunjung ia dapatkan. Melihat ayahnya jatuh sakit, Dewabrata menyelidikinya. Ia bertanya kepada kusir yang mengantarkan ayahnya jalan-jalan. Dari sana ia memperoleh informasi bahwa ayahny a jatuh cinta kepada seorang gadis. Akhirnya, ia berangkat ke sungai Yamuna. Ia me wakili ayahnya untuk melamar puteri Dasabala yang sangat diinginkan ayahnya. Ia menurut i segala persyaratan yang diajukan Dasabala. Ia juga bersumpah tidak akan menikah seumur hidup dan tidak akan meneruskan tahta keturunan Raja Kuru agar kelak tida k terjadi perebutan kekuasan antara keturunannya dengan keturunan Durghandini. Sumpahnya disaksikan oleh para Dewa dan semenjak saat itu, namanya berubah menja di Bisma. Akhirnya Prabu Santanu dan Dewi Durghandini menikah lalu memiliki dua ora ng putera bernama Chitrangada dan Wicitrawirya.

Citranggada Citranggada adalah putera sulung pasangan Raja Santanu dan Satyawati dalam wiracarita Mahabharata. Semenjak Bisma (kakak tirinya) mengucapkan sumpah bahwa ia tidak akan menikah dan meneruskan tahta Hastinapura, Citranggada menjadi raja menggantikan ayahnya dan pemerintahannya berhasil. Saat Citranggada naik tahta, Hastinapura merasakan ketentraman, khususnya bagi Satyawati, namun hanya sesaat. Tanpa diduga, petaka muncul di Hastinapura. Surat tantangan diberikan oleh seora ng raja gandarwa yang juga bernama Citranggada. Ia marah karena merasa dua raja dengan nama yang sama tidak mungkin akan hidup bersama dalam satu zaman, maka ia berpik ir bahwa salah satu di antaranya harus mati. Citranggada putera Santanu menerima tantangan tersebut. Setelah itu, meletuslah pertempuran antara Citranggada manus ia dengan Citranggada gandarwa di "medan Kuru" atau Kurukshetra. Setelah pertempura n besar terjadi selama tiga bulan, Citranggada putera Santanu gugur dan kekuasaann ya digantikan oleh adiknya, Wicitrawirya. Sebelum wafat, Citranggada belum menikah sehingga tidak memiliki keturunan. Wicitrawirya Dalam wiracarita Mahabharata, Wicitrawirya (Sansekerta: ??????????; Vichitraviry a) adalah salah satu putera Prabu Santanu, Raja di Hastinapura. Ibunya Dewi Satyawati, ist ri kedua Prabu Santanu. Ia merupakan adik Citranggada, dan kakak tirinya (lain ibu satu a yah) bernama Bisma (Dewabrata). Manurut silsilah keluarga Kuru, Wicitrawirya merupaka n kakek dari Pandawa, Sanjaya, dan Korawa. Arti nama Dalam bahasa Sansekerta, kata Wicitrawirya secara harfiah berarti "sikap kepahla wanan yang mengagumkan". Riwayat Wicitrawirya lahir sebagai putra bungsu dari pasangan Prabu Santanu dengan Dewi Satyawati. Citranggada adalah nama kakak kandungnya yang menggantikan kekuasaan ayahnya dan memerintah di Hastinapura dengan baik. Namun, Citranggada gugur di u sia muda dalam suatu pertempuran dan sesuai dengan tradisi, maka Wicitrawirya menggantikan kekuasaannya. Pada waktu itu usia Wicitrawirya juga masih muda. Karena Wicitrawirya masih muda untuk melanjutkan pemerintahan, maka ia dibantu o leh saudara tirinya, Bisma. Ketika sudah cukup usia baginya untuk menikah, Bisma mem ilih calon pengantin yang tepat untuknya. Kemudian ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara yang diselenggarakan di sana. Ia membawa tiga putri Raja yang akan dipersembahkan kepada adiknya, Wicitrawirya. Ketiga putri tersebut ber nama Amba, Ambika, dan Ambalika. Namun Amba tidak ingin menikah dengan Wicitrawirya karena cintanya tertuju kepada orang lain, maka hanya Ambika dan Ambalika yang menikahi Wicitrawirya. Tak lama kemudian setelah pernikahannya, Wicitrawirya wafat karena mengidap peny akit paru-paru. Ia meninggal tanpa keturunan. Kedua janda Wicitrawirya akan dinikahka n kepada Bisma agar memiliki keturunan, namun ia menolak untuk menikah dan menolak untuk memiliki keturunan karena terikat terhadap sumpahnya. Akhirnya kedua janda tersebut diserahkan kepada Rsi Byasa karena ia mampu memberikan putra kepada ked

ua janda tersebut dan masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan para Raja Hastinapura. Janda dan keturunan Kedua janda Wicitrawirya Ambika dan Ambalika akan menyelenggarakan upacara "Putrotpadana" untuk memohon anak, dan upacara tersebut dipimpin oleh Resi Byasa . Sebelumnya, Byasa menyuruh agar kedua janda tersebut mendatanginya sendirian unt uk melakukan ritual suci tersebut. Pertama Ambika datang. Namun karena ia takut, ma ka selama proses ritual ia menutup matanya. Lalu Byasa berkata bahwa kelak anaknya akan terlahir buta. Anak tersebut diberi nama Drestarastra. Kemudian Ambalika datang. Namun karena ia takut, maka selama proses ritual wajahnya pucat. Lalu Byasa berkata ba hwa anaknya akan terlahir dengan muka pucat sebagai penderita anemia dan tidak cukup sehat untuk memerintah kerajaan. Anak tersebut diberi nama Pandu. Atas permohona n Dewi Satyawati, Byasa menyuruh agar salah satu dari mereka menghadap kembali supaya Byasa bisa melakukan ritual lagi dan anak yang sehat bisa lahir. Ambika d an Ambalika menyuruh salah satu dari pelayannya untuk menghadap. Pelayan tersebut sangat tenang pada saat proses ritual dan anak yang akan dilahirkan bisa menjadi sehat. Anak tersebut kemudian diberi nama Widura. Ambika Dalam Mahabharata, Ambika (Sanskerta: ???????) merupakan puteri dari Raja Kasi d an istri dari Wicitrawirya, Raja Hastinapura. Bersama dengan saudaranya, Amba dan Ambalika, ia direbut oleh Bisma dalam sebuah sayembara (Bisma menantang para raja dan pangeran yang berkumpul lalu menaklukka n mereka). Bisma mempersembahkan mereka kepada Satyawati untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya. Namun Wicitrawirya wafat dalam usia muda sebelum memberikan keturu nan bagi Ambika. Setelah kematian Wicitrawirya, ibunya Bisma yaitu Satyawati, mengajukan permohon an pertamanya kepada Resi Weda Wyasa (Bagawan Byasa) untuk melanjutkan garis keturunan Dinasti Kuru. Sesuai dengan keinginan Satyawati, Sang Bagawan mengunju ngi kedua istri Wicitrawirya untuk menganugerahkan mereka masing-masing seorang pute ra. Ketika Byasa mengunjungi Ambika, ia melihat rupa Byasa sangat menakutkan dan penampilannya sangar dengan mata yang menyala-nyala. Dalam keadaannya yang ketakutan, ia menutup matanya dan tidak berani membukanya. Maka dari itu, Dretar astra (puteranya), ayah para Korawa, terlahir buta. Setelah kelahiran Dretarastra, ketika Satyawati meminta Byasa untuk mengunjungi Ambika untuk kedua kalinya, Ambika tidak mau datang dan mengirimkan pelayan menggantikan dirinya. Maka si pelayan melahirkan Widura, yang kemudian diasuh sebagai adik Dretarastra dan Pandu. Ambika hidup beberapa lama sampai memiliki cucu, yaitu Pandawa dan Korawa. Ketik a Pandu mangkat, Satyawati mengajak Ambika untuk mengasingkan diri ke dalam hutan bersama-sama, demi meninggalkan kehidupan duniawi. Keinginan tersebut disetujui oleh Ambika. Bersama dengan Ambalika, mereka bertiga pergi ke dalam hutan meninggalka

n Hastinapura, dan membiarkan penerus Dinasti Kuru menentukan nasibnya sendiri. Ambalika Dalam Mahabharata, Ambalika (Sanskerta: ?????????) merupakan puteri Raja Kasi da n istri dari Wicitrawirya, Raja Hastinapura. Bersama dengan saudaranya, yaitu Amba dan Ambika, ia direbut oleh Bisma dalam sebuah sayembara (Bisma menantang para raja dan pangeran yang berkumpul lalu menaklukkan mereka.) Bisma mempersembahkan mereka kepada Satyawati untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya. Namun Wicitrawirya wafat dalam usia muda sebelum memberikan keturunan kepada Ambalika. Setelah kematian Wicitrawirya, ibunya Bisma yaitu Satyawati, mengajukan permohon an pertamanya kepada Resi Weda Wyasa (Bagawan Byasa) untuk melanjutkan garis keturunan Dinasti Kuru. Sesuai dengan permohonan Satyawati, Sang Bagawan mengunjungi istri Wicitrawirya untuk menganugerahi mereka seorang putera. Ambali ka disuruh oleh Satyawati untuk terus membuka matanya supaya jangan melahirkan pute ra yang buta seperti yang telah dilakukan oleh Ambika (Ambika melahirkan putera but a bernama Dretarastra). Karena taat dengan perintah mertuanya, ia terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan yang luar biasa . Maka dari itu, Pandu (puteranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat. Ambalika hidup beberapa lama di Hastinapura sampai ia memiliki cucu, yaitu para Pandawa dan Korawa. Ketika puteranya yang bernama Pandu telah wafat, perasaan Ambalika terpukul. Atas saran dari Satyawati, Ambalika meninggalkan kehidupan du niawi dan pergi ke dalam hutan. Bersama dengan Ambika, mereka betiga meninggalkan para penerus Dinasti Kuru di Hastinapura. Widura Widura (Sansekerta: ????? ; Vidura) adalah salah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia adalah adik tiri bagi Pandu dan Dretarasta karena mem iliki ayah yang sama, tetapi lain ibu. Ayah Widura adalah Resi Kresna Dwipayana Wyasa atau Resi Byasa (Abyasa), tetapi ibunya adalah seorang perempuan dari kasta sudra. Wi dura tidak turut terjun ke dalam medan pertempuran di Kurukshetra, yaitu perang antar a Pandawa dan Korawa. Kelahiran Dalam kitab pertama Mahabharata, yaitu Adiparwa, diceritakan bahwa pada saat Ambalika diminta untuk menghadap Resi Byasa untuk memperoleh keturunan, ia menol ak karena merasa takut dengan raut wajah sang resi yang sangat dahsyat. Demi memenu hi permintaan mertuanya, yaitu Satyawati, Ambalika mengirimkan seorang pelayan untu k menemui Resi Byasa sendirian di dalam sebuah kamar. Pelayan tersebut melayani sa ng resi dengan baik sehingga sang resi berkata bahwa kelak anak yang akan dilahirka n dari rahim pelayan tersebut akan berperilaku mulia. Resi Byasa juga berkata bahwa ana k yang akan dilahirkan sang pelayan merupakan penjelmaan Dewa Dharma. Namun satu hal yang membuat Satawati kecewa yakni putera tersebut bukanlah keturunan menantunya , melainkan keturunan seorang pelayan dari kasta sudra.

Masa muda dan pendidikan Saat Widura masih muda, ia belajar di bawah bimbingan Bisma bersama dengan kedua orang saudaranya. Menurut Mahabharata, ia paling bijaksana jika dibandingkan den gan saudara-saudaranya. Ia belajar menjadi menteri raja, sementara Pandu diangkat me njadi panglima perang, sedangkan Dretarastra dipilih sebagai putera mahkota. Karena Dretarastra buta, Pandu menggantikannya dan memerintah atas nama Dretarastra, sedangkan Widura menjadi penasihat raja dan menemani Dretarastra. Peran dalam Dinasti Kuru Widura merupakan orang yang tanggap ketika timbul niat jahat di hati Dretarastra dan Duryodana untuk menyingkirkan para Pandawa. Maka sebelum Pandawa berangkat ke Waranawata untuk berlibur, Widura memperingati Yudistira agar berhati-hati terha dap para Korawa dan ayah mereka, yaitu Dretarastra. Saat keselamatan para Pandawa da n ibunya terancam di Waranawata, berkali-kali Widura mengirimkan pesuruh untuk membantu para Pandawa meloloskan diri dari setiap bencana yang menimpanya. Dalam pertikaian antara Korawa dan Pandawa mengenai masalah Hastinapura, Widura telah berusaha untuk mendamaikannya, mengingat bahwa kedua belah pihak adalah sa tu keluarga dan saudara. Dalam usahanya mencari perdamaian ia menghubungi sesepuhse sepuh Pandawa dan Korawa, antara lain Resi Bisma, Resi Drona, Prabu Dretarasta, Sri Kresna, Yudistira dan Duryodana serta menyatakan bahwa ialah yang menulis piagam penyerahan Hastinapura dari Resi Byasa (Abiyasa) kepada Prabu Dretarasta sebagai pemangku kerajaan setelah Prabu Pandudewanata mangkat. Ketika perang di Kurukshetra berkecamuk, Widura tetap tinggal di Hastinapura meskipun ia tidak me mihak para Korawa. Dretarastra Dretarastra (Sansekerta:??????????; Dhritarashtra) dalam wiracarita Mahabharata, adalah putera Wicitrawirya dan Ambika. Ia buta semenjak lahir, karena ibunya menutup ma ta sewaktu mengikuti upacara Putrotpadana yang diselenggarakan oleh Resi Byasa untu k memperoleh keturunan. Ia merupakan saudara tiri Pandu, dan lebih tua darinya. Sebenarnya Dretarastra yang berhak menjadi Raja Hastinapura karena ia merupakan putera Wicitrawirya yang tertua. Akan tetapi beliau buta sehingga pemerintahan h arus diserahkan adiknya. Setelah Pandu wafat, ia menggantikan jabatan adiknya tersebu t. Dretarastra adalah bapak dari para Korawa dan suami Dewi Gandari. Kelahiran Ayah Dretarastra adalah Wicitrawirya dan ibunya adalah Ambika. Setelah Wicitrawi rya wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati mengirim kedua istri Wicitrawirya, yai tu Ambika dan Ambalika, untuk menemui Resi Byasa, sebab Sang Resi akan mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan. Satyawati menyuruh Ambika agar menemui Resi Byasa di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Dretarastra. Masa pemerintahan Karena Dretarastra terlahir buta, maka tahta kerajaan diserahkan kepada adiknya, yaitu Pandu. Setelah Pandu wafat, Dretarastra menggantikannya sebagai raja (kadangkala

disebut sebagai pejabat pemerintahan untuk sementara waktu). Dalam memerintah, Dretarastra didampingi oleh keluarga dan kerabatnya, yaitu sesepuh Wangsa Kuru s eperti misalnya Bisma, Widura, Drona, dan Krepa. Saat putera pertamanya yaitu Duryodana lahir, Widura dan Bisma menasihati Dretar astra agar membuang putera tersebut karena tanda-tanda buruk menyelimuti saat-saat kelahirannya. Namun karena rasa cintanya terhadap putera pertamanya tersebut, ia tidak tega melakukannya dan tetap mengasuh Duryodana sebagai puteranya. Perebutan kekuasaan Duryodana berambisi agar dirinya menjadi penerus tahta Kerajaan Kuru di Hastinap ura. Dretarastra juga menginginkan hal yang sama, namun ia harus bersikap adil terhad ap Yudistira, yang lebih dewasa daripada Duryodana. Saat Dretarastra mencalonkan Yudistira sebagai raja, hal itu justru menimbulkan rasa kecewa yang sangat dalam bagi Duryodana. Setelah melalui perundingan, dan atas saran Bisma, Kerajaan Kuru diba gi dua. Wilayah Hastinapura diberikan kepada Duryodana sedangkan Yudistira diberika n wilayah yang kering, miskin, dan berpenduduk jarang, yang dikenal sebagai Kandawaprasta. Atas bantuan dari sepupu Yudistira, yaitu Kresna dan Baladewa, me reka mengubah daerah gersang tersebut menjadi makmur dan megah, dan dikenal sebagai Indraprastha. Permainan dadu Dretarastra adalah salah satu dari beberapa sesepuh Wangsa Kuru yang hadir menyaksikan permainan dadu antara Duryodana, Dursasana, dan Karna yang diwaklili oleh Sangkuni, melawan Pandawa yang diwakili Yudistira. Yudistira kehilangan seg ala kekayaannya dalam permainan dadu tersebut, termasuk kehialngan saudara dan istri nya. Saat Dropadi berusaha ditelanjangi di depan para hadirin dalam balairung permain an dadu, Dretarastra tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak melarang tindakan Dursasana yang hendak melepaskan pakaian Dropadi. Setelah usaha Dursasana untuk menelanjangi Dropadi tidak berhasil, Bima bersumpah bahwa kelak ia akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya. Kemudian Dretarastra merasakan firasat buruk bahwa keturunannya akan binasa. Ia segera membuat suatu kebijakan, agar segala h arta Yudistira yang akan menjadi milik Duryodana segera dikembalikan. Ia juga menyuru h agar Yudistira dan saudaranya segera pulang segera ke Indraprastha. Namun, karena bujukan Duryodana dan Sangkuni, permainan dadu diselenggarakan untuk yang kedua kalinya. Kali ini taruhannya bukan harta, melainkan siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu diperbolehkan untuk kembali ke kerajaannya. Yudistira pun tidak menolak dengan harapan akan memperoleh kemenangan, namun keberuntungan tidak memihak Yudistira. Akhirnya, Yudistira bes erta istri dan saudara-saudaranya mengasingkan diri ke hutan dan meninggalkan kerajaa n mereka. Saat Pandawa meninggalkan kerajaannya, Dretarastra masih dibayangi oleh dendam p ara Pandawa atas penghinaan yang dilakukan oleh putera-puteranya. Karena tindakan Dretarastra yang tidak berbicara sepatah kata pun saat Dropadi berusaha ditelanj

angi di depan umum, ia dikritik agar lebih mementingkan kewajiban sebagai raja daripada rasa cinta sebagai seorang ayah. Pertempuran di Kurukshetra Dretarastra memiliki seorang pemandu yang bernama Sanjaya. Sanjaya adalah keponakan Dretarastra karena ia merupakan putera Widura, yaitu adik tiri Dretara stra. Sanjaya diberi anugerah oleh Resi Byasa agar ia bisa melihat masa lalu, masa sek arang, dan masa depan. Ialah yang menjadi reporter perang di Kurukshetra bagi Dretarast ra. Ia pula yang turut menyaksikan wujud Wiswarupa dari Sri Kresna menjelang pertempura n di Kurukshetra berlangsung. Saat Dretarastra dihantui kecemasan akan kehancuran putera-puteranya, ia selalu bertanya kepada Sanjaya mengenai keadaan di medan Kuru atau Kurukshetra. Berita yang dilaporkan oleh Sanjaya kebanyakan berupa berita duka bagi Dretarastra, seb ab satu-persatu puteranya dibunuh oleh Arjuna dan Bima. Sanjaya juga berkata bahwa apabila Kresna dan Arjuna berada di pihak Pandawa, maka di sanalah terdapat keja yaan, kemashyuran, kekuatan luar biasa, dan moralitas. Meskipun laporan Sanjaya sering mengecilkan hati Dretarastra dan memojokkan putera-puteranya, namun Dretarastra tetap setia mengikuti setiap perkembangan yang terjadi dalam pertempuran di Kurukshetr a. Penghancuran patung Bima Pada akhir pertempuran, Dretarastra menahan rasa duka dan kemarahannya atas kematian seratus puteranya. Saat ia bertemu para Pandawa yang meminta restunya karena mereka menjadi pewaris tahta, ia memeluk mereka satu persatu. Ketika tiba giliran Bima, pikiran jahat merasuki Dretarastra dan rasa dendamnya muncul kepada Bima a tas kematian putera-puteranya, terutama Duryodana dan Dursasana. Kresna tahu bahwa meskipun Dretarastra buta, ia memiliki kekuatan yang setara dengan seratus gajah . Maka dengan cepat Kresna menggeser Bima dan menggantinya dengan sebuah patung menyerupai Bima. Pada saat itu juga Dretarastra menghancurkan patung tersebut sa mpai menjadi debu. Akhirnya Bima selamat dan Dretarastra mulai mengubah perasaannya serta memberikan anugerahnya kepada Pandawa. Kehidupan selanjutnya dan kematian Setelah pertempuran besar di Kurukshetra berakhir, Yudistira diangkat menjadi Ra ja Indraprastha sekaligus Hastinapura. Meskipun demikian, Yudistira tetap menunjukk an rasa hormatnya kepada Dretarastra dengan menetapkan bahwa tahta Raja Hastinapura masih dipegang oleh Dretarastra. Akhirnya Dretarastra memutuskan untuk meninggal kan kehidupan duniawai dan mengembara di hutan sebagai pertapa bersama Gandari, Widura, Sanjaya, dan Kunti. Di dalam hutan di Himalaya, mereka meninggal ditelan api karena hutan terbakar oleh api suci yang dikeluarkan oleh Dretarastra. Gandari Gandari (Sansekerta:???????; Gandhari) adalah nama seorang tokoh dalam wiracarit a Hindu, Mahabharata. Dalam kisah, ia merupakan puteri Subala, Raja Gandhara (di m asa sekarang disebut Kandhahar), yaitu wilayah yang meliputi Pakistan barat daya dan

Afghanistan timur, dan namanya diambil dari sana. Gandari menikahi Dretarastra, pangeran tertua di Kerajaan Kuru. Semenjak bersuami, Gandari sengaja menutup matanya sendiri agar tidak bisa menikmati keindahan dunia karena ingin mengikuti jejak suaminya. Ibu para Korawa Gandari melahirkan seratus putera, (secara keseluruhan dikenal sebagai Korawa), dan seorang puteri bernama Dursala yang menikahi Jayadrata. Pada saat kehamilannya, ia merasa iri dengan Kunti yang sudah memiliki anak, sedangkan ia sendiri belum dik aruniai anak. Ketika anaknya lahir, ternyata yang keluar dari rahim bukan bayi melainkan sebongkah daging. Gandari kemudian bersujud pada Byasa, seorang resi sakti yang telah meramalkan ia akan memiliki seratus anak. Byasa kemudian membelah-belah daging tersebut menjadi seratus potong, dan dimasukkan ke dalam guci kemudian dikubur selama setahun. Setelah guci-guci tersebut digali kembali, dari setiap potongan daging itu kemudian tumbuh seorang anak, yang kemudian menjadi Korawa. Di antara Korawa, yang terkemuka adalah Duryodana dan Dursasana, tokoh antagonis dalam Mahabharata, dan mereka semua terbunuh dalam pertempuran melawan sepupu mereka, yaitu Pandawa, di Kurukshetra. Meskipun putera-putera Gandari disebut sebagai tokoh jahat, ajaran moral yang ti nggi dalam Mahabharata mengacu kepada Gandari. Ia berulang kali menasihati puteranya agar mengkikuti dharma dan berdamai dengan Pandawa. Gandari dekat dengan Kunti yang menghormatinya seperti seorang kakak. Anugerah Gandari Pada saat perang antara Korawa dan Pandawa berkecamuk, satu-persatu putera Ganda ri gugur dalam pertempuran, hingga akhirnya hanya Duryodana yang tersisa. Takut aka n kehancuran keturunannya, Gandari memberi anugerah kepada Duryodana agar puterany a tersebut mendapat kekebalan terhadap berbagai serangan musuh. Ia menyuruh agar Duryodana mandi dan setelah itu datang menemui ibunya dalam keadaan telanjang bu lat. Pada saat Duryodana pergi untuk menemui ibunya, ia berpapasan dengan Kresna yang baru saja mengunjungi Gandari. Kresna mencemooh Duryodana yang tak tahu malu karena mau menghadap ibunya sendiri dalam keadaan telanjang bulat. Oleh karena m alu terhadap ejekan Kresna, Duryodana mengambil kain dan menutupi wilayah kemaluanny a, termasuk paha. Setelah itu ia pergi menemui ibunya. Ketika Duryodana tiba, Gandari langsung membuka penutup matanya dan melihat Duryodana. Pada saat matanya terbuka, sinar ajaib muncul dan memberi kekuatan kepada Duryodana. Namun ketika ia mengetahui bahwa puteranya menutupi wilayah kemaluannya termasuk paha, Gandari mengatakan bahwa wilayah tersebut tidak akan kebal oleh serangan musuh karena tidak mendapat siraman kekuatan. Prediksi Ganda ri menjadi kenyataan. Pada saat Duryodana bertarung dengan Bima pada pertempuran di hari kedelapan belas, Duryodana gugur perlahan-lahan karena pahanya yang tidak k ebal dihantam oleh gada Bima. Kutukan Gandari Setelah pertempuran besar di Kurukshetra berakhir, Gandari meratapi kematian ser atus putera-puteranya. Gandari menghujat Kresna yang membiarkan perang berkecamuk. Ia

juga menyalahkan Kresna yang tidak mampu mencegah peperangan dan tidak bisa mendamaikan kedua pihak. Kresna berkata bahwa kewajibannya adalah melindungi kebenaran, bukan mencegah peperangan. Kemudian Gandari mengutuk Kresna, bahwa keluarga Krena, yaitu Wangsa Wresni, akan binasa karena saling membantai sesaman ya. Kresna menerima kutukan tersebut dengan senyuman dan sadar bahwa Wangsa Wresni tidak akan terkalahkan kecuali oleh sesamanya. Tiga puluh enam tahun setelah kut ukan tersebut diucapkan, Wangsa Wresni melakukan pembantaian besar-besaran terhadap keluarga mereka sendiri. Mereka saling membunuh sesama. Hanya Kresna, Baladewa, dan para wanita yang bertahan hidup. Setelah itu, kediaman Wangsa Wresni, yaitu Kerajaan Dwaraka, tenggelam ke dalam lautan dan memusnahkan jejak mereka. Kresna dan Baladewa bertapa ke dalam hutan dan moksa di sana, sementara para wanita mengungsi ke Kurukshetra. Kematian Setelah Pandawa memenangkan pertempuran di Kurukshetra, Yudistira mendapat restu untuk menjadi raja. Sementara itu, Dretarastra mulai menyadari umurnya yang tua dan memutuskan untuk mengembara sebagai pertapa ke dalam hutan di Himalaya. Gandari menemaininya bersama dengan saudara dan iparnya, seperti Widura, Kunti, dan Sanj aya. Di sana, tubuh Dretarastra mengeluarkan api dan membakar hutan tempat mereka tin ggal. Gandari dan saudara-saudaranya meninggal ditelan api tersebut. Sangkuni Sangkuni (Sanskerta: ??? ?? ; sakuni) atau Sakuni adalah seorang tokoh antagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Korawa, sebab beliau adalah kaka k lelaki dari Dewi Gandari, ibu para Korawa. Ketika para Pandawa berjudi melawan p ara Korawa, ialah yang menjadi pemain pada pihak Korawa. Di India, Sangkuni disebut Syakuni, sedangkan di tanah Sunda, ia disebut Patih Sangkuning. Permainan dadu Untuk membantu keponakannya merebut kekayaan Yudistira di Indraprastha, Sangkuni berencana agar Duryodana mengundang Yudistira bermain dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Dalam permainan tersebut, Sangkuni berjanji akan mewakili Duryodan a agar ia bisa menang dengan menggunakan kelicikannya. Niat tersebut disetujui ole h Duryodana. Dretarastra ingin mempertimbangkan niat tersebut matang-matang dengan para pemuka keluarga yang lain, namun karena hasutan Sangkuni, ia merelakan renc ana tersebut. Undangan pun dikirim ke Indraprastha dan pada hari yang ditentukan, Yu distira bersama keempat adiknya beserta istri mereka datang ke Hastinapura. Pada awal permainan, Sangkuni mengalah dan membiarkan Yudistira menikmati kemenangan kecilnya. Tak berapa lama kemudian, Sangkuni selalu memenangkan permainan. Angka dadu yang diminta Sangkuni pasti akan muncul sesuai dengan harapannya dan tak pernah meleset, karena ia menggunakan kesaktiannya. Harta dan kerajaan milik Yudistira pun jatuh ke tangan Duryodana, termasuk saudara-saudara nya beserta istri mereka, yaitu Dropadi. Namun berkat pertolongan dari Dretarastra, Yudistira memperoleh kebebasannya kembali. Hartanya pun dikembalikan. Karena kecewa, permainan dadu pun diselenggarakan untuk yang kedua kalinya. Kali ini taruhannya adalah siapa yang kalah harus meninggalkan kerajaan dan mengasingkan diri

di dalam hutan selama 12 tahun, dan setelah itu hidup dengan penyamaran di keraj aan lain selama setahun, dan setelah itu baru diperbolehkan kembali ke kerajaannya. Setelah menerima persyaratan tersebut, Yudistira bermain dadu untuk yang kedua kalinya d engan Duryodana yang diwakilkan oleh Sangkuni. Namun kali ini pun ia kalah dan terpaks a mengasingkan diri ke dalam hutan selama 12 tahun dan hidup dalam penyamaran sela ma setahun, bersama dengan adik-adiknya dan istri mereka. Kematian Dalam pertempuran besar di Kurukshetra, Sangkuni memihak Duryodana. Ia gugur di tangan Sahadewa. Sangkuni dalam pewayangan Jawa Menurut pewayangan Jawa, Sakuni yang waktu mudanya bernama Trigantalpati. Ia diceritakan sebagai putera kedua Prabu Gandara, raja negara Gandaradesa dengan permaisuri Dewi Gandini. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung masing-masing bernama Gandari, Surabasata dan Gajaksa. Sakuni menikah dengan Dewi Sukesti, puteri Prabu Keswara, raja negara Plasajenar . Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putera bernama Antisura alias Surak esti, Surabasa, dan Dewi Antiwati yang kemudian diperistri Udawa, patih negara Dwarawa ti. Sakuni mempunyai sifat atau watak yang tangkas, pandai bicara, buruk hati, dengk i dan licik. Ia bukan saja ahli dalam siasat dan tata pemerintahan serta ketatanegaraa n, tetapi juga mahir dalam olah keprajuritan. Sakuni mempunyai pusaka berwujud Cis (tombak pendek untuk memerintah gajah) yang mempunyai khasiat dapat menimbulkan air bila ditancapkan ke tanah. Dalam perang Bharatayuddha, Sakuni diangkat menjadi "Senapati Agung Korawa" sete lah gugurnya Prabu Salya, raja negara Mandaraka. Ia mati dengan sangat menyedihkan d i tangan Bima. Tubuhnya dikuliti dan kulitnya diberikan kepada Dewi Kunti untuk me lunasi sumpahnya. Mayat Sakuni kemudian dihancurkan dengan Gada Rujakpala. Subadra Subadra (Sansekerta: ?????) atau Sembadra (dalam tradisi pewayangan Jawa) merupakan salah satu tokoh penting dalam Wiracarita Mahabharata, kisah epik Hind u. Ia merupakan puteri Prabu Basudewa (Raja di Kerajaan Surasena), dan juga merupakan saudara tiri Krishna atau Kresna. Subadra (Dewi Sumbadra menurut ucapan Jawa) in i yang merupakan penjelmaan dari Dewi Sri adalah istri pertama dari Arjuna (putra Pandu ketiga), dan ibu dari Abimanyu. Ia juga terkenal dalam budaya pewayangan Jawa sebagai seorang putri anggun, lemb ut, tenang, setia dan patuh pada suaminya. Ia merupakan sosok ideal priyayi putri Ja wa. Subadra yang sewaktu kecil bernama Rara Ireng mempunyai dua orang kakak yaitu Kakrasana yang kemudian menjadi raja Mandura bergelar Prabu Baladewa dan Narayan a yang kemudian menjadi raja di Dwarawati dengan gelar Prabu Sri Batara Kresna. Su badra menikah dengan salah satu anggota Pandawa yakni Arjuna. Dari rahim Sumbadra inil ah

lahir Abimanyu yang kelak kemudian akan menurunkan Prabu Parikesit. Riwayat Subadra lahir sebagai puteri bungsu pasangan Basudewa dan Rohini, istrinya yang lain. Subadra dilahirkan setelah kedua kakaknya, yaitu Kresna dan Baladewa, membebaska n Basudewa yang dikurung oleh Kamsa di penjara bawah tanah. Kemudian Ugrasena, aya h Kamsa, diangkat menjadi raja di Mathura dan Subadra hidup sebagai puteri bangsaw an di kerajaan tersebut bersama dengan keluarganya. Saat Arjuna menjalani masa pembuangannya karena tanpa sengaja mengganggu Yudistira yang sedang tidur dengan Dropadi, ia berkunjung ke Dwaraka, yaitu kedi aman sepupunya yang bernama Kresna, karena ibu Arjuna (Kunti) bersaudara dengan ayah Kresna (Basudewa). Di sana Arjuna bertemu dengan Subadra dan mengalami nuansa romantis bersamanya. Kresna pun mengetahui hal tersebut dan berharap Arjuna meni kahi Subadra, demi yang terbaik bagi Subadra. Pada saat itu status Arjuna adalah suam i yang memiliki tiga istri, yaitu Dropadi, Chitrangada, dan Ulupi. Maka pernikahannya d engan Subadra menjadikan Subadra sebagai istrinya yang keempat. Subadra dan Arjuna memiliki seorang putera, bernama Abimanyu. Saat Pandawa kalah main dadu dengan Korawa, mereka harus menjalani masa pembuangan selama dua belas tahun, ditambah masa penyamaran selama satu tahun. Subadra dan Abimanyu tinggal di Dwaraka sementara ayah mereka mengasingkan diri di hutan. Pada masa-masa itu Abimanyu tumbuh menjadi pria yang gagah dan setara dengan ayahnya. Ketika perang besar di Kurukshetra berkecamuk, para pria terjun ke peperangan sementara para wanita diam di rumah mereka. Abimanyu dan Arjuna turut serta ke m edan laga dan meninggalkan Subadra di Dwaraka. Pada waktu itu umur Abimanyu 16 tahun. Saat pertempuran berakhir, hanya Arjuna yang selamat sementara seluruh puteranya yang turut berperang gugur, termasuk Abimanyu yang sangat dicintai Arjuna dan Su badra. Namun sebelum gugur, Abimanyu sudah menikah dengan Utara dan memiliki seorang putera bernama Parikesit. Parikesit kemudian menjadi raja Hastinapura menggantik an Yudistira, pamannya. Subadra menjadi penasihat serta guru bagi cucunya tersebut. Pemujaan Di India, Subhadra (????? ) menjadi salah satu dari tiga dewa yang dipuja di Kui l Jagannath di Puri, bersama dengan kakaknya yang bernama Krishna (sebagai Jagannatha) dan Balarama (atau Balabhadra). Salah satu kereta dalam Ratha Yatra yang diselenggarakan secara tahunan didedikasikan untuknya. Menurut beberapa interpre tasi, Subhadra dianggap sebagai inkarnasi dari YogMaya. Pandu Pandu (Sanskerta: ???? ??; dieja Pa??u) adalah nama salah satu tokoh dalam wirac arita Mahabharata, ayah dari para Pandawa. Pandu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yaitu Dretarasta yang sebenarnya merupakan pewaris dari Kerajaan Kur u dengan pusat pemerintahan di Hastinapura, tetapi karena buta maka tahta diserahk an kepada Pandu dan Widura, yang tidak memiliki ilmu kesaktian apapun tetapi memili ki ilmu kebijaksanaan yang luar biasa terutama bidang ketatanegaraan.

Pandu memiliki dua orang istri, yaitu Kunti dan Madri. Sebenarnya Pandu Dewanata tidak bisa mempunyai anak karena dikutuk oleh seorang resi, karena pada saat resi ters ebut menyamar menjadi kijang untuk bercinta, Pandu memanah hingga resi itu tewas. Ked ua istri Pandu Dewanata mengandung dengan cara meminta kepada Dewa. Pandu Dewanata akhirnya tewas karena kutukan yang ditimpa kepadanya, dan Madri menyusu l suaminya dengan membakar dirinya. Arti nama Nama Pandu atau pa??u dalam bahasa Sansekerta berarti pucat, dan kulit beliau memang pucat, karena ketika ibunya (Ambalika) menyelenggarakan upacara putrotpadana untuk memperoleh anak, ia berwajah pucat. Kelahiran Ayah Pandu adalah Wicitrawirya dan ibunya adalah Ambalika. Saat Wicitrawirya waf at, ia belum memiliki keturunan. Maka Ambalika diserahkan kepada Bagawan Byasa agar diupacarai sehingga memperoleh anak. Ambalika disuruh oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putera yang but a (Dretarastra) seperti yang telah dilakukan Ambika. Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan (Byasa) yang lu ar biasa. Maka dari itu, Pandu (puteranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat. Kehidupan Pandu merupakan seorang pemanah yang mahir. Ia memimpin tentara Dretarastra dan juga memerintah kerajaan untuknya. Pandu menaklukkan wilayah Dasarna, Kashi, Ang a, Wanga, Kalinga, Magadha, dan lain-lain. Pandu menikahi Kunti, puteri Raja Kuntibhoja dari Wangsa Wresni, dan Madri, pute ri Raja Madra. Saat berburu di hutan, tanpa sengaja Pandu memanah seorang resi yang seda ng bersenggama dengan istrinya. Atas perbuatan tersebut, Sang Resi mengutuk Pandu a gar kelak ia meninggal saat bersenggama dengan istrinya. Maka dari itu, Pandu tidak bisa memiliki anak dengan cara bersenggama dengan istrinya. Dengan kecewa, Pandu meninggalkan hutan bersama istrinya dan hidup seperti pertapa. Di dalam hutan, K unti mengeluarkan mantra rahasianya dan memanggil tiga Dewa, Yaitu Yama, Bayu, dan Indra. Dari ketiga Dewa tersebut, ia meminta masing-masing seorang putera. Ketig a putera tersebut adalah Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kunti juga memberi kesempata n kepada Madri untuk meminta seorang putera dari Dewa yang dipanggilnya, dan Madri memanggil Dewa Aswin. Dari Dewa tersebut, Madri menerima putera kembar, diberi n ama Nakula dan Sadewa. Kelima putra pandu dikenal sebagai Pandawa. Kematian Lima belas tahun setelah ia hidup membujang, ketika Kunti dan putera-puteranya b erada jauh, Pandu mencoba untuk bersenggama dengan Madri. Atas tindakan tersebut, Pand u wafat sesuai dengan kutukan yang diucapkan oleh resi yang pernah dibunuhnya.

Kemudian Madri menitipkan putera kembarnya, Nakula dan Sadewa, agar dirawat oleh Kunti sementara ia membakar dirinya sendiri untuk menyusul suaminya ke alam baka . Kunti Kunti (Sansekerta: ??? ??; Kunti) dalam kisah Mahabharata adalah puteri dari Pra bu Kuntiboja. Ia adalah saudara dari Basudewa yang merupakan ayah dari Baladewa, Kr esna dan Subadra. Ia juga adalah ibu daripada Yudistira, Werkodara, dan Arjuna dan ju ga adalah istri pertama Pandu Dewanata. Selain itu Kunti juga ibu dari Karna. Sepeninggal Pandu Dewanata, ia mengasuh Nakula dan Sadewa, anak Pandu Dewanata dari Dewi Madri. Seusai Bharatayuddha, ia dan iparnya Dretarastra, Gandari, dan Widura pergi bertapa sampai akhir hayatnya. Asal-usul Ayah Kunti adalah Raja Surasena dari Wangsa Yadawa, dan saat bayi ia diberi nama Pritha. Ia merupakan adik Basudewa, ayah Kresna. Kemudian ia diadopsi oleh Raja Kuntiboja yang tidak memiliki anak, dan semenjak itu ia diberi nama Kunti. Setel ah Kunti menjadi puterinya, Raja Kuntibhoja dianugerahi anak. Masa muda Pada saat Kunti masih muda, ia diberi sebuah mantra sakti oleh Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewi sesuai dengan yang dikehendakinya. Pada suatu hari, Kunti ingin mencoba naugerah tersebut dan memanggil salah satu Dewa, yaitu Surya . Surya yang merasa terpanggil, bertanya kepada Kunti, apa yang diinginkannya. Nam un Kunti menyuruh Sang Dewa untuk kembali ke kediamannya. Karena Kunti sudah memanggil dewa tersebut agar datang ke bumi namun tidak menginginkan berkah apapun, Sang Dewa memberikan seorang putera kepada Kunti. Kunti tidak ingin memiliki putera semasih muda, maka ia memasukkan anak tersebut ke dalam keranjang dan enghanyutkannya di sungai Aswa. Kemudian putera tersebut dipungut oleh seorang kusir di keraton Hastinapura yang bernama Adirata, dan ana k tersebut diberi nama Karna. Kehidupan selanjutnya Kemudian, Kunti menikahi Pandu, seorang raja di Hastinapura. Pandu juga menikahi Madri sebagai istri kedua, namun tidak mampu memiliki anak. Akhirnya Pandu dan k dua istrinya hidup di hutan. Disanalah Kunti mengeluarkan mantra rahasianya. Ia mema nggil tiga Dewa dan meminta tiga putera dari mereka. Putera pertama diberi nama Yudist ira dari Dewa Yama, kedua bernama Bima dari Dewa Bayu, dan yang terakhir bernama Arjuna dari Dewa Indra. Kemudian Kunti memberitahu mantra tersebut kepada Madri. Madri memangil Dewa Aswin dan menerima putera kembar, dan diberi nama Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal dengan nama Pandawa. Setelah kematian Pandu dan Madri, Kunti mengasuh kelima putera tersebut sendiria n. Sesuai dengan amanat Madri, Kunti berjanji akan memperlakukan Nakula dan Sadewa seperti puteranya sendiri. Setelah pertempuran besar di Kurukshetra berkecamuk d an usianya sudah sangat tua, Kunti pergi ke hutan bersama dengan ipar-iparnya yang lain seperti Dretarastra, Widura, dan Gandari untuk meninggalkan kehidupan duniawi. M ereka menyerahkan kerajaan kepada Yudistira. Di dalam hutan, Kunti dan yang lainnya te rbakar

oleh api suci mereka sendiri dan wafat di sana. Madri Madri (Sanskerta: ????; Madri) adalah salah satu tokoh dalam wiracarita Mahabhar ata. Dia putri dari Kerajaan Madra, adik dari Prabu Salya yang di berikan kepada Prabu Pa ndu, setelah Salya kalah tanding dengan Pandu. Dalam kisah Mahabharata, Prabu Pandu berhasil memenangkan sayembara untuk mendapatkan Kunti putri dari Prabu Kuntiboja. Prabu Salya yang terlambat datang menantang Pandu untuk mendapatkan Dewi Kunti dengan taruhannya adalah Dewi Madri adiknya. Salya dan Pandu kemudian mendapatkan Madri dan menikahinya. Dari Madri, Pandu memiliki dua orang anak kembar, Nakula dan Sadewa. Riwayat Madri adalah istri kedua Pandu. Ia dinikahkan dengan Pandu untuk mempererat hubu ngan antara Hastinapura dengan Kerajaan Madra. Namun karena Pandu menanggung kutukan bahwa ia akan meninggal apabila bersenggama, maka ia tidak bisa memiliki keturun an. Akhirnya Pandu dan istrinya mengembara di hutan sebagai pertapa dan meninggalkan Hastinapura. Di sana, Kunti mengeluarkan mantra rahasianya untuk memangil para D ewa. Ia menggunakan mantra tersebut tiga kali untuk memanggil Dewa Yama, Bayu, dan In dra. Dari ketiga Dewa tersebut ia memperoleh tiga putera, yaitu Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kunti juga memberikan kesempatan bagi Madri untuk memanggil Dewa. Madri memanggi l Dewa Aswin, dan mendapatkan putera kembar bernama Nakula dan Sadewa. Kematian Pada suatu hari, ketika Kunti dan putera-puteranya yang lain berada jauh, Pandu mencoba untuk bercinta dengan Madri. Karena kutukan yang diberikan kepadanya, ia meninggal saat menjalin hubungan asmara dengan Madri. Kemudian Madri berpesan kepada Kunti, agar ia merawat Nakula dan Sadewa seperti anak kandungnya sendiri. Setelah itu, Madri menceburkan dirinya sendiri ke dalam api kremasi untuk menyus ul suaminya. Yudistira Yudistira (Sansekerta: ?????????; Yudhi??hira) adalah seorang tokoh protagonis d ari wiracarita Mahabharata. Beliau adalah raja Indraprasta, kemudian memerintah Hast ina setelah memenangkan pertempuran akbar di Kurukshetra. Yudistira merupakan putera sulung Pandu dengan Kunti. Beberapa sumber mengatakan bahwa ia memiliki kepandaian memakai senjata tombak. Arti nama Nama Yudistira dalam bahasa Sansekerta dieja Yudhi??hira, yang artinya adalah "t eguh atau kokoh dalam peperangan". Ia juga dikenal sebagai Dharmaraja yang artinya Ra ja Dharma, sebab konon Yudistira selalu menegakkan Dharma sepanjang hidupnya. Beberapa nama julukan juga dimilikinya, seperti misalnya: Ajatasatru (seseorang yang tidak memiliki musuh) Bharata (keturunan Raja Bharata Dharmawangsa (keturunan/trah Dewa Dharma) Kurumukhya (pemimpin para keturunan Kuru) Kurunandana (putera kesayangan Dinasti Kuru) Kurupati (raja dari Dinasti Kuru) Beberapa nama julukan tersebut juga dimiliki oleh beberapa tokoh Dinasti Kuru ya ng lain, seperti misalnya Arjuna, Bisma dan Duryodana.

Kelahiran, kepribadian, dan pendidikan Ayah Yudistira bernama Pandu, menikahi Dewi Kunti, puteri Raja Surasena, adik Basudewa. Setelah pernikahannya, tanpa sengaja Pandu memanah seorang Brahmana dan istrinya, yang dikira sebagai seekor rusa yang sedang bercinta. Sebelum kematiannya, Sang Brahmana mengutuk Pandu supaya kelak ia meninggal jika sedang bercinta dengan istrinya. Pandu menerima sumpah tersebut, yang menyebabkannya ti dak bisa bercinta dengan istrinya sehingga tidak mampu memperoleh keturunan. Kunti, istri Pandu, memperoleh kesaktian dari seorang Rishi (orang suci) bernama Durwasa, sehingga ia mampu memanggil Dewa-Dewa. Dengan memanfaatkan kemampuan Kunti tersebut, Pandu dan istrinya memperoleh keturunan dengan memangg il Dewa-Dewa yang mampu menganugerahi mereka putera. Mereka memanggil tiga Dewa, yaitu: Yamaraja (Dharmaraja, Dewa Dharma), Marut (Bayu, Dewa Angin), dan Sakra (Indra, Raja surga). Yudistira lahir dari Yamaraja, yaitu Dewa Dharma, kebenaran , kebijaksanaan dan keadilan. Yudistira memiliki empat adik, yaitu: Bhima (lahir dari Dewa Bayu), Arjuna (lahi r dari Dewa Indra), dan si kembar Nakula dan Sahadewa (lahir dari Dewa Aswin). Karna, merupa kan putera pertama Dewi Kunti yang diperoleh tanpa sengaja pada masih gadis. Jadi, K arna merupakan saudara tua Yudistira dan para Pandawa (lima putera Pandu). Sebagai penitisan Dewa Dharma (keadilan dan kebijaksanaan) Yudistira berperilaku mulia dan berpengetahuan luas di bidang kerohanian. Karena perilakunya yang mulia, Yud istira layak untuk mewarisi tahta Hastinapura. Namun hal itu menimbulkan perdebatan bag i putera Drestarastra, yaitu Duryodana dan para Korawa. Yudistira menuntut ilmu agama, sains, dan senjata bersama saudara-saudaranya dan para Korawa di bawah asuhan Dronacharya (Bagawan Drona) dan Kripacharya (Bagawan Kripa). Ia mahir dengan senjata tombak dan memperoleh gelar "Maharatha", yaitu k satria yang mampu menumpas 10.000 musuh dalam sekejap. Raja Indraprastha Yudistira dan Pandawa lainnya amat disayangi oleh sesepuh Wangsa Kuru, seperti Bisma, Drona, Krepa, daripada Duryodana dan para Korawa karena kebaikan hati Yudistira dan rasa hormatnya terhadap sesepuh tersebut. Saat Yudistira dan Panda wa tumbuh dewasa, Dretarastra mengalami konflik dengan putera-puteranya, yaitu para Korawa. Yudistira adalah pangeran yang tertua dalam garis keturunan Kuru dan ber hak menjadi raja, namun Dretarastra ingin bersikap adil juga terhadap anaknya. Akhir nya Dretarastra memberi sebagian wilayah Kerajaan Kuru, yaitu sebuah daerah yang ger sang dan berpenduduk jarang yang disebut Kandawaprastha. Dengan bantuan sepupunya yang bernama Kresna, Yudistira memperbarui daerah tersebut. Kresna memanggil Wiswakarma, arsitek para dewa, untuk membangun daerah tersebut menjadi kota megah. Arsitek Mayasura membangun balairung besar yang dik enal sebagai Mayasabha. Akhirnya Kandawaprastha menjadi kota yang megah dan berganti nama menjadi "Indraprastha" atau "kota Dewa Indra". Perlahan-lahan penduduk baru berdatangan dan Indraprastha menjadi kota yang ramai. Rajasuya Setelah diangkat menjadi Raja Indraprastha, Yudistira melaksanakan upacara Rajas uya untuk menyebarkan dharma dan menyingkirkan raja-raja jahat. Arjuna, Bima, Nakula

dan Sadewa memimpin tentara masing-masing ke setiap empat penjuru Bharatawarsha untu k mengumpulkan upeti saat penyelenggaraan Rajasuya. Raja-raja yang mengakui pemerintahan Yudistira menjadi sekutu dan datang ke Indraprastha. Saat upacara berlangsung, Yudistira bertanya kepada Bisma untuk mempertimbangkan siapa yang a kan menerima hadiah terlebih dahulu. Bisma menunjuk Kresna, namun Sisupala menggerut u karena menurutnya seorang pengembala sapi seperti Kresna tidak berhak menjadi or ang yang paling dihormati dalam Rajasuya. Kemudian Sisupala menghina Kresna bertubitubi. Karena hinaan Sisupala sudah melebihi seratus kali, Kresna mengakhiri nyawa Sisu pala sesuai janji Kresna kepada ibu Sisupala. Pembuangan selama 13 tahun Selain berkepribadian mulia, Yudistira juga senang main dadu. Hal itulah yang dimanfaatkan Duryodana untuk mengambil alih kekuasaan Yudistira. Bersama dengan pamannya Sangkuni mereka menyusun rencana licik, yaitu mengajak Yudistira main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Permainan dadu sudah disetel sedemikian rupa sehingga kemenangan berpihak pada Korawa. Mula-mula Yudistira mempertaruhkan harta, kemudian ia dihasut oleh Duryodana dan Sangkuni untuk mempertaruhkan ista na dan kerajaannya. Karena pikirannya sudah dibelenggu oleh hasutan mereka, maka Yudistira merelakan istana dan kerajaannya untuk dipertaruhkan. Karena permainan dadu sudah disetel sedemikian rupa, maka Korawa menang dan memperoleh istana dan kerajaan yang dipimpin Yudistira. Yudistira yang merasa tidak memiliki apa-apa lagi, mempertaruhkan saudara-saudar anya, yaitu para Pandawa. Akhirnya Yudistira kalah sehingga saudara-saudaranya menjadi milik Duryodana. Kemudian Yudistira mempertaruhkan dirinya sendiri. Karena ia kalah la gi, maka dirinya menjadi milik Duryodana. Yudistira yang sudah kehabisan harta untuk dipertaruhkan, akhirnya dibujuk oleh Duryodana untuk mempertaruhkan istrinya yai tu Dropadi. Yudistira menyetujuinya. Akhirnya segala harta milik Yudistira, termasu k saudara, istri, dan dirinya sendiri menjadi budak Duryodana. Namun karena bujuka n Drestarastra, Pandawa beserta istrinya mendapatkan kebebasan mereka kembali. Namun sekali lagi Duryodana mengajak main dadu, dan taruhannya siapa yang kalah harus megasingkan diri ke hutan selama 13 tahun. Untuk kedua kalinya, Yudistira kalah sehingga ia dan saudara-saudaranya terpaksa mengasingkan diri ke hutan. Meletusnya perang Pandawa telah menjalani hukuman buang selama 13 tahun, sesuai dengan perjanjian, mereka menginginkan kembali tahta Kerajaan Besar Hastinapura yang menjadi haknya secara turun-temurun. Akan tetapi pihak Kurawa yang merupakan sepupu Pandawa tid ak mau menyerahkan tahta Hastinapura. Setelah semua upaya damai menemui jalan buntu , terjadilah perang selama 18 hari di medan Kuru atau Kurukshetra. Yudistira saat Bharatayuddha Yudistira terkenal akan sifatnya yang selalu bersikap sopan dan santun, bahkan k etika peperangan sekalipun, Yudistira masih menghaturkan sembah kepada Bhisma, yang

seharusnya ia hadapi dalam pertempuran. Karena tindakannya tersebut, Bhisma menganugerahinya kemenangan. Penghormatan Yudistira Pada hari pertama perang di Kurukshetra, kedua belah pihak sudah saling berhadap an, siap untuk membunuh satu sama lain. Pada hari itu pula Arjuna mendapatkan wejang an suci dari Sri Kresna sebelum perang, bernama Bhagavad Gita. Setelah kedua belah pihak selesai melakukan inspeksi terhadap pasukannya masing-masing dan siap untuk berperang, Yudistira melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia menanggalkan baju zirahnya, meletakkan semua senjatanya, dan turun dari kereta. Dengan mencakupkan tangan ia berjalan menuju barisan musuh. Semua pihak yang melihat tindakannya ti dak percaya terhadap apa yang sudah dilakukan Yudistira. Para Pandawa mengikutinya, mereka bertanya-tanya, namun Yudistira hanya membisu. Hanya Kresna yang tersenyu m karena ia mengetahui maksud Yudistira. Ketika Yudistira sudah mencapai barisan musuh, semua musuh sudah siaga dan tidak melepaskan pandangannya dari Yudistira. Dengan rasa bakti yang tulus, Yudistira menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang sangat dihormatinya, seraya berkata, "Hamba datang untuk memberi hormat kepadamu, o paduka nan gagah tak terkalahkan. Kami akan menghadapi paduka dalam pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini. Dan kami pun memohon do'a dan restu paduka". Bisma menjawab, "Apabila engkau, o Maharaja, dalam menghadapi pertempuran yang akan berlangsung ini tidak datang kepadaku seperti ini, pasti akan kukutuk dirim u agar menderita kekalahan. Aku puas, o putera mulia. Berperanglah dan dapatkan kemenan gan, hai putera Pandu. Apa lagi cita-cita yang ingin kaucapai dalam pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, o putera Pritha, pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku itu pastilah, o Maharaja, kekalahan takkan menimpa dirimu". Setelah menghaturkan sembah kepada Bisma, Yudistira menyembah Guru Drona, Krepa, dan Salya. Semuanya memberikan restu dan mendo'akan kemenangan agar berpihak kepada Yudistira karena tindakan sopan yang sudah dilakukannya. Setelah mendapat do'a restu, Yudistira kembali menuju pasukannya, memakai baju zirahnya, naik ker eta, dan siap untuk bertempur. Yuyutsu memihak Yudistira Sebelum pertempuran dimulai, Yudistira berseru, "Siapa pun yang memilih kami, it ulah yang kupilih menjadi sekutu". Susana hening sejenak setelah mendengarkan seruan Yudistira. Tiba-tiba di dalam pasukan Korawa, terdengar sebuah jawaban dari Yuyutsu. Yuyutsu berseru, "Hamba bersedia bertempur di bawah panji-panji paduka, demi kemenangan paduka sekalian. Hamba akan menghadapai para putera Drestarastra, itu pun apabila paduka Raja berkenan menerima hamba, o paduka Raja nan suci". Dengan gembira, Yudistira berseru, "Mari, kemarilah! Kami semua ingin bertempur menghadapi saudara-saudaramu yang tolol itu! O Yuyutsu, baik Vasudewa (Kresna) maupun kami berlima menyatakan kepadamu bahwa aku menerimamu, o pahlawan perkasa. Berjuanglah bersama kami, untuk kepentinganku, menegakkan Dharma. Rupanya hanya kau sendiri orang yang harus melanjutkan garis keturunan Drestaras tra, sekaligus melakukan upacara persembahan kepada para leluhur mereka. O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang juga menerimamu. Duryodana yang kejam itu akan segera menemui ajalnya". Setelah berseru demikian, maka Yuyutsu meninggalkan para Korawa dan memihak Pandawa. Kedatangannya disambut gembira. Tak lama kemudian, pertempuran dimulai.

Kematian Bagawan Drona Sebelum perang, Bagawan Drona pernah berkata, "Hal yang membuatku lemas dan tida k mau mengangkat senjata adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya". Berpedoman kepada petunjuk tersebut, Sri Kr esna memerintahkan Bhima untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama, nama yang sama dengan putera Bagawan Drona. Bhima berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-kerasnya bahwa Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepas tian Yudistira yang terkenal akan kejujurannya. Yudistira hanya berkata, "Aswatama ma ti". Sebetulnya Yudistira tidak berbohong karena dia berkata kepada Drona bahwa Aswat ama mati, entah itu gajah ataukah manusia (dalam keterangannya ia berkata, "naro va, kunjaro va" "entah gajah atau manusia"). Gajah bernama Aswatama itu sendiri sengaja dibu nuh oleh Pendawa agar Yudistira bisa mengatakan hal itu kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan Korawa bisa dikalahkan dalam perang Bharatayuddha. Walaupun tidak pernah berbohong, karena perbuatannya ini Yudistira tetap mendapa t 'hukuman'. Kereta perangnya, yang semula dikaruniai kemampuan melayang sejengkal di atas tanah, kini terpaksa harus turun menginjak tanah. Dan kelak, di hari kembal inya Pandawa ke sorga, Yudistira tidak diperbolehkan memasuki kahyangan terlebih dahu lu melainkan harus menunggu saudara-saudaranya. Cerita ini dikisahkan dalam episode Swargarohanaparwa, atau kitab terakhir Mahabharata. Maharaja dunia Setelah perang berakhir, Yudistira dan pasukan Pandawa mendapatkan kemenangan, namun anak Yudistira, para putera Dropadi, dan banyak jagoan di pihak Pandawa se perti misalnya Drestadyumna, Abimanyu, Wirata, Drupada, Gatotkaca, gugur. Jutaan tenta ra dari kedua belah pihak telah gugur. Yudistira melaksanakan upacara Tarpana kepada jiwa-jiwa yang pergi ke akhirat. S etelah kedatangannya di Hastinapura, dia diangkat menjadi Raja Indraprastha sekaligus R aja Hastinapura. Sebagaimana sifatnya yang penyabar, Yudistira masih menerima Dretarastra sebagai Raja di kota Hastinapura, dan mempersembahkan rasa baktinya yang mendalam dan ra sa hormatnya kepada yang tua, meskipun perbuatannya jahat dan biang keladi yang menyebabkan putera-puteranya mati. Aswamedha Kemudian Yudistira melangsungkan Aswamedha Yadnya (upacara pengorbanan) untuk menegakkan kembali aturan Dharma di seluruh dunia. Pada upacara ini, seekor kuda dilepas untuk mengembara selama setahun, dan Arjuna sang adik Yudistira memimpin pasukan Pandawa, mengikuti kuda tersebut. Para Raja di seluruh negara yang telah dilalui oleh kuda tersebut harus memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau maju berp erang. Semuanya membayar upeti, sekali lagi Yudistira dinobatkan sebagai Maharaja Dunia dan tak dapat dipungkiri lagi. Mangkat lalu naik ke surga Setelah masa permulaan Kali Yuga dan wafatnya Kresna, Yudistira dan saudarasauda

ranya mengundurkan diri, meninggalkan tahta kerajaan kepada satu-satunya keturunan mereka yang selamat dari peperangan di Kurukshetra, Parikesit, Sang cu cu Arjuna. Dengan meninggalkan segala harta dan sifat keterikatan, para Pandawa melakukan perjalanan terkahir mereka dengan berziarah ke Himalaya. Saat mendaki puncak, satu persatu Dropadi dan Pandawa bersaudara gugur menuju maut, terseret oleh kesalahan dan dosa mereka yang sesungguhnya. Namun Yudistira mampu mencapai puncak gunung, karena ia tidak cacat oleh dosa dan kebohongan. Watak Yudistira yang sesungguhnya muncul saat akhir Mahabharata. Di atas puncak gunung, Indra, Raja para Dewa, datang untuk membawa Yudistira ke Surga dengan kereta kencananya. Saat Yudistira melangkah mendekati kereta, sang Dewa menyuruhnya agar meninggalkan anjing yang menjadi teman perjalanannya, karena makhluk tak suci tidak layak masuk Surga. Yudistira melangkah ke belakang, menol ak untuk meninggalkan makhluk yang selama ini dilindunginya. Indra heran dengannya "Kau mampu meninggalkan saudara-saudaramu dan tidak melakukan pembakaran jenazah yang layak untuk mereka...namun kau menolak untuk meninggalkan anjing ya ng tak tahu jalan!" Yudistira menjawab, "Dopadi dan saudara-saudaraku telah meninggalkanku, bukan ak u [mereka]." Dan ia menolak untuk pergi ke surga tanpa anjing tersebut. Pada saat itu si anjing berubah wujud menjadi Dewa Dharma, ayahnya, yang sedang menguji dirinya.. .dan Yudistira melewatinya dengan tenang. Yudistira dibawa pergi dengan kereta Indra. Pada saat mencapai surga ia tidak menemukan saudara-saudaranya yang saleh maupun istrinya, Dropadi. Namun ia melihat Duryodana dan sekutunya yang jahat. Sang Dew a memberitahu bahwa saudaranya sedang berada di neraka untuk menebus dosa kecil mereka, sementara Duryodana berada di surga semenjak ia gugur di tanah yang dibe rkati, Kurukshetra. Yudistira dengan tulus ikhlas pergi ke Neraka untuk bertemu dengan saudaranya, n amun pemandangan dan suara yang menyayat serta darah kental membuatnya ngeri. Saat tergoda untuk kabur, ia menguasai diri dan sayup-sayup mendengar suara Dropadi d an saudaranya tercinta...memanggil-manggil dirinya, menyuruhnya untuk tinggal di si si mereka dalam penderitaan. Yudistira memutuskan untuk tinggal, dan menyuruh supay a kusir keretanya untuk kembali ke surga...sebab ia memilih untuk tinggal di nerak a dengan orang-orang baik daripada tinggal di surga dengan orang jahat. Pada saat itu pemandangan berubah. Kemudian Indra berkata bahwa Yudistira sedang diuji kembali , dan sebenarnya saudara-saudaranya sudah berada di surga. Setelah menerima kenyataan tersebut, Yudistira melepaskan jasadnya dan menerima surga. Yudistira dalam versi pewayangan Jawa Dalam kisah versi Jawa, Yudistira beristrikan Dewi Dropadi, puteri Prabu Drupada dengan Dewi Gandawati dari negara Panchala, dan berputera Pancawala (Pancawala). (Menur ut kisah India, Drupadi diperistri oleh kelima Pandawa bersama-sama). Ia adalah putera sulung Prabu Pandu raja negara Hastina dengan dengan permaisuri Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Ia mempunyai dua orang adik kandung masing-masing bernama: Bima (Werkudara) dan

Arjuna, dan dua orang adik kembar lain ibu, bernama Nakula (Pinten) dan Sadewa ( atau Sahadewa alias Tansen), putra Prabu Pandu dengan Dewi Madri, puteri Prabu Mandra pati dari negara Mandaraka. Kelima orang bersaudara ini disebut sebagai Pandawa. Yudistira dianggap sebagai keturunan (titisan) Dewa Keadilan, Batara Dharma oleh karena itu salah satu julukannya adalah Dharmasuta, Dharmaputra atau Dharmawangs a. Selain itu ia juga disebut Puntadewa atau Samiaji. Nama Yudistira sendiri diambi l karena dalam tubuhnya menunggal arwah Prabu Yudistira, raja jin negara Mertani (menurut kisah pewayangan Jawa). Yudistira mempunyai pusaka kerajaan berwujud payung bernama "Kyai Tunggulnaga" dan sebuah tombak bernama "Kyai Karawelang". Ia adalah tipe murni raja yang baik. Darah putih (Seta ludira. Seta berarti puti h, ludira berarti darah) mengalir di nadinya. Tak pernah murka, tak pernah bertarung, tak pernah juga menolak permintaan siapa pun, betapapun rendahnya sang peminta. Waktunya dilewatkan untuk meditasi dan penghimpunan kebijakan. Tak seperti kesatria yang lain, yang pusaka saktinya berupa senjata, pusaka andalan Yudistira adalah Kalimasada yang misterius, naskah keramat yang memuat rahasia agama dan semesta. Dia, pada dasarnya, adalah cendikiawan tanpa pamrih, yang memerintah dengan keadilan sempurna dan kemurah hatinya yang luhur. Dengan kenampakan yang sama sekali tanp a perhiasan mencolok, dengan kepala merunduk yang mawas diri, dan raut muka keningratan yang halus, dia tampil sebagai gambaran ideal tentang "Pandita Ratu" (Raja Pendeta) yang telah menyingkirkan nafsu dunia. Akan tetapi ada pula kelemahannya, yakni gemar berjudi. Oleh karena kegemarannya ini, Yudistira beberapa kali tertipu dan dikalahkan dalam adu judi dengan Duryodana, Raja Hastina dan pemuka Korawa. Dalam salah satu kekalahannya, terpaksa Yudistira (da n Pandawa keseluruhannya) menyerahkan negaranya dan membuang diri ke hutan selama 13 tahun. Bima (tokoh Mahabharata) Bimasena (Sansekerta: ??????, bhimaséna) adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Ia adalah putr a Dewi Kunti dan dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya hatinya lembut. Ia merupakan keluarga Pandawa di urutan yang kedua, dari lima bersaudara. Saudara se'ayah'-nya ialah w anara yang terkenal dalam epos Ramayana dan sering dipanggil dengan nama Hanoman. Akhi r dari riwayat Bima diceritakan bahwa dia mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuddha. Cerita ini dikisahkan dalam episo de atau lakon Prasthanikaparwa. Bima setia pada satu sikap, yaitu tidak suka berbasa bas i dan tak pernah bersikap mendua serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri. Arti nama Kata bhima dalam bahasa Sansekerta artinya kurang lebih adalah "mengerikan". Sedangkan nama lain Bima yaitu Wrekodara dalam bahasa Sansekerta v?kodara artiny a ialah "perut serigala" dan merujuk ke kegemarannya makan.

Kelahiran Dalam wiracarita Mahabharata diceritakan bahwa karena Pandu tidak dapat membuat keturunan (akibat kutukan dari seorang resi hutan), maka Kunti (istri Pandu) ber seru kepada Bayu, dewa angin. Dari hubungan Kunti dengan Bayu, lahirlah Bima. Atas anugerah dari Bayu, Bima akan menjadi orang yang paling kuat dan penuh dengan ka sih sayang. Masa muda Pada masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kekuatan Bima tidak ada tandingannya d i antara anak-anak sebayanya. Kekuatan tersebut sering dipakai untuk menjahili par a sepupunya, yaitu Korawa. Salah satu Korawa yaitu Duryodana, menjadi sangat benci dengan sikap Bima yang selalu jahil. Kebencian tersebut tumbuh subur sehingga Duryodana berniat untuk membunuh Bima. Pada suatu hari ketika para Korawa serta Pandawa pergi bertamasya di daerah sung ai Gangga, Duryodana menyuguhkan makanan dan minuman kepada Bima, yang sebelumnya telah dicampur dengan racun. Karena Bima tidak senang mencurigai seseorang, ia memakan makanan yang diberikan oleh Duryodana. Tak lama kemudian, Bima pingsan. Lalu tubuhnya diikat kuat-kuat oleh Duryodana dengan menggunakan tanaman menjalar, setelah itu dihanyutkan ke sungai Gangga dengan rakit. Saat ra kit yang membawa Bima sampai di tengah sungai, ular-ular yang hidup di sekitar sunga i tersebut mematuk badan Bima. Ajaibnya, bisa ular tersebut berubah menjadi penang kal bagi racun yang dimakan Bima. Ketika sadar, Bima langsung melepaskan ikatan tana man menjalar yang melilit tubuhnya, lalu ia membunuh ular-ular yang menggigit badann ya. Beberapa ular menyelamatkan diri untuk menemui rajanya, yaitu Naga Basuki. Saat Naga Basuki mendengar kabar bahwa putera Pandu yang bernama Bima telah membunuh anak buahnya, ia segera menyambut Bima dan memberinya minuman ilahi. Minuman tersebut diminum beberapa mangkuk oleh Bima, sehingga tubuhnya menjadi sangat kuat. Bima tinggal di istana Naga Basuki selama delapan hari, dan setelah itu ia pulang. Saat Bima pulang, Duryodana kesal karena orang yang dibencinya masih hid up. Ketika para Pandawa menyadari bahwa kebencian dalam hati Duryodana mulai bertuna s, mereka mulai berhati-hati. Pendidikan Pada usia remaja, Bima dan saudara-saudaranya dididik dan dilatih dalam bidang m iliter oleh Drona. Dalam mempelajari senjata, Bima lebih memusatkan perhatiannya untuk menguasai ilmu menggunakan gada, seperti Duryodana. Mereka berdua menjadi murid Baladewa, yaitu saudara Kresna yang sangat mahir dalam menggunakan senjata gada. Dibandingkan dengan Bima, Baladewa lebih menyayangi Duryodana, dan Duryodana jug a setia kepada Baladewa. Peristiwa di Waranawata Ketika para Bima beserta ibu dan saudara-saudaranya berlibur di Waranawata, ia d an Yudistira sadar bahwa rumah penginapan yang disediakan untuk mereka, telah diran cang untuk membunuh mereka serta ibu mereka. Pesuruh Duryodana, yaitu Purocana, telah membangun rumah tersebut sedemikian rupa dengan bahan seperti lilin sehingga cep at

terbakar. Bima hendak segera pergi, namun atas saran Yudistira mereka tinggal di sana selama beberapa bulan. Pada suatu malam, Kunti mengadakan pesta dan seorang wanita yang dekat dengan Purocana turut hadir di pesta itu bersama dengan kelima orang puteranya. Ketika Purocana beserta wanita dan kelima anaknya tersebut tertidur lelap karena makana n yang disuguhkan oleh Kunti, Bima segera menyuruh agar ibu dan saudara-saudaranya melarikan diri dengan melewati terowongan yang telah dibuat sebelumnya. Kemudian , Bima mulai membakar rumah lilin yang ditinggalkan mereka. Oleh karena ibu dan saudara-saudaranya merasa mengantuk dan lelah, Bima membawa mereka sekaligus dengan kekuatannya yang dahsyat. Kunti digendong di punggungnya, Nakula dan Sadewa berada di pahanya, sedangkan Yudistira dan Arjuna berada di lengannya. Ketika keluar dari ujung terowongan, Bima dan saudaranya tiba di sungai Gangga. Di sana mereka diantar menyeberangi sungai oleh pesuruh Widura, yaitu menteri Hastinapura yang mengkhwatirkan keadaan mereka. Setelah menyeberangi sungai Gangga, mereka melewati Sidawata sampai Hidimbawana. Dalam perjalanan tersebut, Bima memikul semua saudaranya dan ibunya melewati jarak kurang lebih tujuh puluh dua mil. Peristiwa di Hidimbawana Di Hidimbawana, Bima bertemu dengan Hidimbi yang jatuh cinta dengannya. Kakak Hidimbi yang bernama Hidimba, menjadi marah karena Hidimbi telah jatuh cinta den gan seseorang yang seharusnya menjadi santapan mereka. Kemudian Bima dan Hidimba berkelahi. Dalam perkelahian tersebut, Bima memenangkan pertarungan dan berhasil membunuh Hidimba dengan tangannya sendiri. Lalu, Bima menikah dengan Hidimbi. Da ri perkawinan mereka, lahirlah seorang putera yang diberi nama Gatotkaca. Bima dan keluarganya tinggal selama beberapa bulan bersama dengan Hidimbi dan Gatotkaca, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan. Pembunuh Raksasa Baka Setelah melewati Hidimbawana, Bima dan saudara-saudaranya beserta ibunya tiba disebuah kota yang bernama Ekacakra. Di sana mereka menumpang di rumah keluarga brahmana. Pada suatu hari ketika Bima dan ibunya sedang sendiri, sementara keemp at Pandawa lainnya pergi mengemis, brahmana pemilik rumah memberitahu mereka bahwa seorang raksasa yang bernama Bakasura meneror kota Ekacakra. Atas permohonan penduduk desa, raksasa tersebut berhenti mengganggu kota, namun sebaliknya selur uh penduduk kota diharuskan untuk mempersembahkan makanan yang enak serta seorang manusia setiap minggunya. Kini, keluarga brahmana yang menyediakan tempat tingga l bagi mereka yang mendapat giliran untuk mempersembahkan salah seorang keluargany a. Merasa berhutang budi dengan kebaikan hati keluarga brahmana tersebut, Kunti ber kata bahwa ia akan menyerahkan Bima yang nantinya akan membunuh raksasa Baka. Mulanya Yudistira sangsi, namun akhirnya ia setuju. Pada hari yang telah ditentukan, Bima membawa segerobak makanan ke gua Bakasura. Di sana ia menghabiskan makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada sang raksasa. Setelah itu, Bima memanggil-manggil raksasa tersebut untuk berduel deng annya. Bakasura yang merasa dihina, marah lalu menerjang Bima. Seketika terjadilah pertarungan sengit. Setelah pertempuran berlangsung lama, Bima meremukkan tubuh Bakasura seperti memotong sebatang tebu. Lalu ia menyeret tubuh Bakasura sampai di pintu gerbang Ekacakra. Atas pertolongan dari Bima, kota Ekacakra tenang kembali

. Ia tinggal di sana selama beberapa lama, sampai akhirnya Pandawa memutuskan untuk pergi ke Kampilya, ibukota Kerajaan Panchala, karena mendengar cerita mengenai Dropadi dari seorang brahmana. Bima dalam Bharatayuddha Dalam perang di Kurukshetra, Bima berperan sebagai komandan tentara Pandawa. Ia berperang dengan menggunakan senjata gadanya yang sangat mengerikan. Pada hari terakhir Bharatayuddha, Bima berkelahi melawan Duryodana dengan menggunakan senjata gada. Pertarungan berlangsung dengan sengit dan lama, sampai akhirnya Kresna mengingatkan Bima bahwa ia telah bersumpah akan mematahkan paha Duryodana. Seketika Bima mengayunkan gadanya ke arah paha Duryodana. Setelah pahanya diremukkan, Duryodana jatuh ke tanah, dan beberapa lama kemudian ia mati . Bima dalam pewayangan Jawa Bima adalah seorang tokoh yang populer dalam khazanah pewayangan Jawa. Suatu saa t mantan presiden Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyatakan bahwa ia sangat senang dan mengidentifikasikan dirinya mirip dengan karakter Bima. Sifat Bima memiliki beberapa sifat dan perwatakan: gagah berani, teguh, kuat, tabah, p atuh dan jujur serta menganggap semua orang sama derajadnya, sehingga dia digambarkan tid ak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan krama inggil dan duduk) h anya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada (semacam senjata godam) ser ta memiliki berbagai macam senjata antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alu gara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya ada lah: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak pangantol-ant ol. Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksateg al, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana , Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem. Istri dan keturunan Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta. Ia mempunyai tiga ora ng isteri dan 3 orang anak, yaitu: 1. Dewi Nagagini, berputera (mempunyai putera bernama) Arya Anantareja, 2. Dewi Arimbi, berputera Raden Gatotkaca dan 3. Dewi Urangayu, berputera Arya Anantasena. Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Retokotowati, berputera Srenggini (Gagrag Banyumasan) Nama lain Bratasena Balawa Birawa Dandungwacana Nagata Kusumayuda Kowara

Kusumadilaga Pandusiwi Bayusuta Sena Wijasena Jagal Abilowo Werkodara (julukan atau nama panggilan Werkodara atau Wrekudara atau Werkudara), berasal dari bahasa Sansekerta v?kodarah yang artinya "perut serigala". Sedangka n nama julukan yang lain adalah Bhimasena yang berarti panglima perang. Arjuna Arjuna (Sanskerta: ??????; Arjuna) adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. Ia adalah putera Prabu Pandudewanata, raja di Hastinapura dengan Dewi Kunti atau Dewi Prita, yaitu puteri Prabu Surasena, Raja Wangsa Yadawa di Mandura. Arjuna merupakan teman dekat Kresna, yaitu awatara (penjelmaan) Bhatara Wisnu yang turun ke dunia demi menyelamatkan dunia dari kejahatan. Arjuna juga merupakan salah orang yang sempat menyaksikan "wujud semesta" Kresna menjelang Bharatayuddha berlangsung. Ia juga menerima Bhagawadgita atau "Nyanyian Orang Suci", yaitu wejangan suci yang disampaikan oleh Kresna kepadanya sesaat sebelum Bharatayuddha berlangsung karena Arjuna masih segan untuk menunaikan kewajibannya. Arti nama Dalam bahasa Sanskerta, secara harfiah kata Arjuna berarti "bersinar terang", "putih" , "bersih". Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti "jujur di dalam wajah dan pikira n". Arjuna mendapat julukan "Kurusre??ha" yang berarti "keturunan dinasti Kuru yang terbaik". Ia merupakan manusia pilihan yang mendapat kesempatan untuk mendapat wejangan suci yang sangat mulia dari Kresna, yang terkenal sebagai Bhagawadgita (nyanyian Tuhan). Ia memiliki sepuluh nama: Arjuna, Phalguna, Jishnu, Kirti, Shwetawahana, Wibhats u, Wijaya, Partha, Sawyashachi (juga disamakan dengan Sabyasachi), dan Dhananjaya. Ketika ia ditanya tentang sepuluh namanya sebagai bukti identitas, maka ia menja wab: Sepuluh namaku adalah: Arjuna, Phalguna, Jishnu, Kirti, Shwetawahana, Wibhatsu, Wijaya, Partha, Sawyashachi dan Dhananjaya. Aku dipanggil Dhananjaya ketika aku menaklukkan seluruh raja pada saat Yadnya Rajasuya dan mengumpulkan harta mereka. Aku selalu bertarung sampai akhir dan aku selalu menang, itulah sebabnya aku dipanggil Wijaya. Kuda yang diberikan Dewa Agni kepadaku berwarna putih, itulah sebabnya aku dipanggil Shwetawahana. Ayahku Indra memberiku mahkota indah ketika aku bersamanya, itulah sebabnya aku dipanggil Kriti. Aku tidak pernah bertarung dengan curang dalam pertempuran, itulah sebabnya aku dipanggil Wibhatsu. Aku tidak pernah menakuti musuhku dengan keji, aku bisa menggunakan Ilustrasi Arjuna menurut seorang seniman. kedua tanganku ketika menembakkan anah panah, itulah sebabnya aku disebut Sawyashachi. Raut wajahku unik bagaikan pohon Arjun, dan namaku adalah "yang tak pernah lapuk", itulah sebabnya aku dipanggil Arjuna. Aku

lahir di lereng gunung Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari ketika bintang Uttara Phalguni berada di atas, itulah sebabnya aku disebut Phalguna. Aku disebut Jishnu karena aku menjadi hebat ketika marah. Ibuku bernama Pritha, sehingga aku disebut juga Partha. Aku bersumpah bahwa aku akan menghancurkan setiap orang yang melukai kakakku Yudistira dan menaburkan darahnya di bumi. Aku tak bisa ditaklukkan oleh siapa pun. Kelahiran Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Raja Hastinapura yang bernama Pandu tidak bi sa melanjutkan keturunan karena dikutuk oleh seorang resi. Kunti (istri pertamanya) menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu da n Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Yama (Dharmaraja; Yamadipati), Dewa Bayu (Marut), dan Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka tiga putera. Arjuna merupakan putera ketiga, lahir dari Indra, pemimpin p ara Dewa. Sifat dan kepribadian Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terha dap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga dibe ri julukan "Dananjaya". Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan "Parantapa", yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturun an Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki "Kurunandana", yang artinya putera k esayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain "Kuruprawira", yang berarti "kesatria Dinasti K uru yang terbaik", sedangkan arti harfiahnya adalah "Perwira Kuru". Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat kusuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya. Maka dari itu, Sri Kresna sangat kagum pa danya, karena ia merupakan kawan yang sangat dicintai Kresna sekaligus pemuja Tuhan yan g sangat tulus. Sri Kresna pernah berkata padanya, "Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah kepada-Ku, dan serahkanlah dirimu pada-Ku, maka kau akan datang kepa daKu. Aku berkata demikian, karena kaulah kawan-Ku yang sangat Kucintai".[1] Masa muda dan pendidikan Arjuna didik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Koraw a) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar "Maharathi" atau "kesatria terkemuka". Ke tika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat poho n, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menany akan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar. Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang

mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara m uridmuridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama "Brahmasirsa". Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut Mahabharata, Brahmasi rsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat jahat, agar dampaknya tidak berbahaya. Pusaka Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapa annya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) berna ma Dewadatta, yang berarti "anugerah Dewa". Arjuna mendapatkan Dropadi Pada suatu ketika, Raja Drupada dari Kerajaan Panchala mengadakan sayembara untu k mendapatkan Dropadi, puterinya. Sebuah ikan kayu diletakkan di atas kubah balair ung, dan di bawahnya terdapat kolam yang memantulkan bayangan ikan yang berada di ata s. Kesatria yang berhaisl memanah ikan tersebut dengan hanya melihat pantulannya di kolam, berhak mendapatkan Dropadi. Berbagai kesatria mencoba melakukannya, namun tidak berhasil. Ketika Karna yang hadir pada saat itu ikut mencoba, ia berhasil memanah ikan tersebut dengan baik. Namun ia ditolak oleh Dropadi dengan alasan Karna lahir di kasta rendah. Arjuna bersama saudaranya yang lain menyamar sebagai Brahmana, turut serta menghadiri sayembara tersebut. Arjuna berhasil memanah ikan tepat sasaran dengan hanya melihat pantul an bayangannya di kolam, dan ia berhak mendapatkan Dropadi. Ketika para Pandawa pulang membawa Dropadi, mereka berkata, "Ibu, engkau pasti t idak akan percaya dengan apa yang kami bawa!". Kunti (Ibu para Pandawa) yang sedang sibuk, menjawab "Bagi dengan rata apa yang sudah kalian peroleh". Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kunti, maka para Pandawa bersepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri mereka. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman dari perbuat an yang menggangu adalah pembuangan selama 1 tahun. Perjalanan menjelajahi Bharatawarsha Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh par a raksasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna r ela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sed ang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 1 tahun. Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha

atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan U lupi, puteri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecan tikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang pu tera yang diberi nama Irawan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilaya h pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja nege ri tersebut bernama Citrasena. Beliau memiliki seorang puteri yang sangat cantik be rnama Citranggada. Arjuna jatuh cinta kepada puteri tersebut dan hendak menikahinya, n amun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila puterinya tersebut melahirkan se orang putera, maka anak puterinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh k arena Citrasena tidak memiliki seorang putera. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citranggada memiliki seorang putera yang diberi nama Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citranggada setelah beberapa bulan tinggal di Manipura. Ia tidak me ngajak istrinya pergi ke Hastinapura. Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra, tanpa diketahui oleh s iapa pun. Atas perhatian dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang la yak di taman Subadra. Meskipun rencana untuk membiarkan dua pemuda tersebut tinggal bersama ditentang oleh Kresna, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadr a. Dengan kereta yang sudah disiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha unt uk melangsungkan pernikahan. Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendi ri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa. Setelah Baladew a sadar, ia membuat keputusan untuk menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turu t hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum

Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwar aka, namun Kresna tidak turut serta. Terbakarnya hutan Kandawa Pada suatu ketika, Arjuna dan Kresna berkemah di tepi sungai Yamuna. Di tepi hut an tersebut terdapat hutan lebat yang bernama Kandawa. Di sana mereka bertemu denga n Agni, Dewa Api. Agni berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya telah musnah dilalap api, namun Dewa Indra selalu menurunkan hujannya untuk melindungi temannya yang bernama Taksaka, yang hidup di hutan tersebut. Maka, Agni memohon agar Kresna da n Arjuna bersedia membantunya menghancurkan hutan Kandawa. Kresna dan Arjuna bersedia membantu Agni, namun terlebih dahulu mereka meminta Agni agar menyediak an senjata kuat bagi mereka berdua untuk menghalau gangguan yang akan muncul. Kemudian Agni memanggil Baruna, Dewa Lautan. Baruna memberikan busur suci bernama Gandiwa serta tabung berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas kepada Arjuna. Untuk Kresna, Baruna memberikan Cakra Sudarsana. Dengan senjata tersebut , mereka berdua menjaga agar Agni mampu melalap hutan Kandawa sampai habis. Arjuna dalam masa pembuangan Setelah Yudistira kalah bermain dadu, para Pandawa beserta Dropadi mengasingkan diri ke hutan. Kesempatan tersebut dimanfa'atkan oleh Arjuna untuk bertapa demi memperoleh kesaktian dalam peperangan melawan para sepupunya yang jahat. Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti. Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut me mbuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengga nggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. D i saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang De wa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu. Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa s i pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemb uru, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma'af ke pada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Ar

juna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah ber upa panah sakti bernama "Pasupati". Setelah menerima anugerah tersebut, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Indra, raja para dewa. Di sana Arjuna menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi. Karen a Arjuna tidak mau menikahi bidadari Urwasi, maka Urwasi mengutuk Arjuna agar menj adi banci. Kutukan itu dimanfaatkan oleh Arjuna pada saat para Pandawa menyelesaikan hukuman pembuangan mereka dalam hutan. Sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa harus hidup dalam penyamaran selama satu tahun. Pandawa beserta Dropadi menuju ke kerajaan Wirata. Di sana Arjuna menyamar sebagai guru tari yang banci, dengan nama samaran Brihanala. Meskipun demikian, Arjuna telah berhasil membentu putera mahkota kerajaan Wirata, yaitu pangeran Utara, dengan menghalau musuh yan g hendak menyerbu kerajaan Wirata. Meletusnya perang Setelah menjalani masa pembuangan selama 13 tahun para Pandawa ingin memperoleh kembali kerajaannya. Namun ketika sampai di sana, hak mereka ditolak dengan tega s oleh Duryodana, bahkan ia menantang untuk berperang. Demi kerajaannya, para Pandawa menyetujui untuk melakukan perang. Arjuna menerima Bhagawadgita Arjuna melihat wujud Wishwarupa Sri Bhatara Kresna pada saat menerima wejangan s uci Bhagawadgita. Kresna, adik Baladewa, tidak ingin terlibat langsung dalam peperangan antara Pan dawa dan Korawa, melainkan ia memilih untuk menjadi kusir kereta Arjuna selama delapa n belas hari pertarungan di Medan Kuru atau Kurukshetra. Dalam Mahabharata, peran Kresna sebagai kusir bermakna "pemandu" atau "penunjuk jalan", yaitu memandu Arj una melewati segala kebimbangan hatinya dan menunjukkan jalan kebenaran kepada Arjun a. Ajaran kebenaran yang diuraikan Kresna kepada Arjuna disebut Bhagawadgita. Hal itu bermula beberapa saat sebelum perang di Kurukshetra. Arjuna melakukan in speksi terhadap pasukannya, agar ia bisa mengetahui siapa yang harus ia bunuh dalam pertempuran nanti. Tiba-tiba Arjuna dilanda pergolakan batin ketika ia melihat k akeknya, guru besarnya, saudara sepupu, teman sepermainan, ipar, dan kerabatnya yang lain berkumpul di Kurukshetra untuk melakukan pembantaian besar-besaran. Arjuna menja di tak tega untuk membunuh mereka semua. Dilanda oleh masalah batin, antara mana ya ng benar dan mana yang salah, Arjuna bertekad untuk mengundurkan diri dari pertempu ran. Arjuna berkata: Kresna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering.....Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Drestarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Dewi Laksmi, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?[2][3] Melihat hal itu, Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama Hindu, menguraikan ajaran-ajaran kebenaran agar semua keraguan di hati Arjuna sirna. Kr

esna menjelaskan, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sepantasnya dilakuka n Arjuna sebagai kewajibannya di medan perang. Selain itu Kresna menunjukkan bentu k semestanya kepada Arjuna. Ajaran kebenaran yang dijabarkan Kresna tersebut diken al sebagai Bhagawadgita, yang berarti "Nyanyian Tuhan". Kitab Bhagawad Gita yang sebenarnya merupakan suatu bagian dari Bhismaparwa, menjadi kitab tersendiri yan g sangat terkenal dalam ajaran Hindu, karena dianggap merupakan intisari dari ajar anajaran Weda. Arjuna dalam Bharatayuddha Dalam pertempuran di Kurukshetra, atau Bharatayuddha, Arjuna bertarung dengan pa ra kesatria hebat dari pihak Korawa, dan tidak jarang ia membunuh mereka, termasuk panglima besar pihak Korawa yaitu Bisma. Di awal pertempuran, Arjuna masih dibay angi oleh kasih sayang Bisma sehingga ia masih segan untuk membunuhnya. Hal itu membu at Kresna marah berkali-kali, dan Arjuna berjanji bahwa kelak ia akan mengakhiri ny awa Bisma. Pada pertempuran di hari kesepuluh, Arjuna berhasil membunuh Bisma, dan usaha tersebut dilakukan atas bantuan dari Srikandi. Setelah Abimanyu putera Arj una gugur pada hari ketiga belas, Arjuna bertarung dengan Jayadrata untuk membalas dendam atas kematian puteranya. Pertarungan antara Arjuna dan Jayadrata diakhiri menjelang senja hari, dengan bantuan dari Kresna. Pada pertempuran di hari ketujuh belas, Arjuna terlibat dalam duel sengit melawa n Karna. Ketika panah Karna melesat menuju kepala Arjuna, Kresna menekan kereta Arjuna ke dalam tanah dengan kekuatan saktinya sehingga panah Karna meleset beberapa inci dari kepala Arjuna. Saat Arjuna menyerang Karna kembali, kereta Karna terperosok ke d alam lubang (karena sebuah kutukan). Karna turun untuk mengangkat kembali keretanya y ang terperosok. Salya, kusir keretanya, menolak untuk membantunya. Karena mematuhi e tika peperangan, Arjuna menghentikan penyerangannya bila kereta Karna belum berhasil diangkat. Pada saat itulah Kresna mengingatkan Arjuna atas kematian Abimanyu, ya ng terbunuh dalam keadaan tanpa senjata dan tanpa kereta. Dilanda oleh pergolakan b atin, Arjuna melepaskan panahnya yang mematikan ke kepala Karna. Senjata itu memenggal kepala Karna. Kehidupan setelah Bharatayuddha Tak lama setelah Bharatayuddha berakhir, Yudistira diangkat menjadi Raja Kuru de ngan pusat pemerintahan di Hastinapura. Untuk menengakkan dharma di seluruh Bharatawarsha, sekaligus menaklukkan para raja kejam dengan pemerintahan tiran, maka Yudistira menyelenggarakan Aswamedha Yadnya. Upacara tersebut dilakukan dengan melepaskan seekor kuda dan kuda itu diikuti oleh Arjuna beserta para prajurit. D aerah yang dilalui oleh kuda tersebut menjadi wilayah Kerajaan Kuru. Ketika Arjuna sam pai di Manipura, ia bertemu dengan Babruwahana, putera Arjuna yang tidak pernah melihat wajah ayahnya semenjak kecil. Babruwahana bertarung dengan Arjuna, dan berhasil

membunuhnya. Ketika Babruwahana mengetahui hal yang sebenarnya, ia sangat menyesal. Atas bantuan Ulupi dari negeri Naga, Arjuna hidup kembali. Tiga puluh enam tahun setelah Bharatayuddha berakhir, Dinasti Yadu musnah di Prabhasatirtha karena perang saudara. Kresna dan Baladewa, yang konon merupakan kesatria paling sakti dalam dinasti tersebut, ikut tewas namun tidak dalam waktu yang bersamaan. Setelah berita kehancuran itu disampaikan oleh Daruka, Arjuna datang ke kerajaan Dwaraka untuk menjemput para wanita dan anak-anak. Sesampainya di Dwaraka, Arjuna melihat bahwa kota gemerlap tersebut telah sepi. Basudewa yang m asih hidup, tampak terkulai lemas dan kemudian wafat di mata Arjuna. Sesuai dengan am anat yang ditinggalkan Kresna, Arjuna mengajak para wanita dan anak-anak untuk mengun gsi ke Kurukshetra. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh segerombolan perampok. Ar juna berusaha untuk menghalau serbuan tersebut, namun kekuatannya menghilang pada saa t ia sangat membutuhkannya. Dengan sedikit pengungsi dan sisa harta yang masih bis a diselamatkan, Arjuna menyebar mereka di wilayah Kurukshetra. Setelah Arjuna berhasil menjalankan misinya untuk menyelamatkan sisa penghuni Dwaraka, ia pergi menemui Resi Byasa demi memperoleh petunjuk. Arjuna mengadu kepada Byasa bahwa kekuatannya menghilang pada saat ia sangat membutuhkannya. Byasa yang bijaksana sadar bahwa itu semua adalah takdir Yang Maha Kuasa. Byasa menyarankan bahwa sudah selayaknya para Pandawa meninggalkan kehidupan duniawi. Setelah mendapat nasihat dari Byasa, para Pandawa spakat untuk melakukan perjala nan suci menjelajahi Bharatawarsha. Perjalanan suci dan kematian Perjalanan suci yang dilakukan oleh para Pandawa diceritakan dalam kitab Prasthanikaparwa atau Mahaprasthanikaparwa. Dalam perjalanan sucinya, para Panda wa dihadang oleh api yang sangat besar, yaitu Agni. Ia meminta Arjuna agar senjata Gandiwa beserta tabung anak panahnya yang tak pernah habis dikembalikan kepada Baruna, sebab tugas Nara sebagai Arjuna sudah berakhir di zaman Dwaparayuga tersebut. Dengan berat hati, Arjuna melemparkan senjata saktinya ke lautan, ke kediaman Ba runa. Setelah itu, Agni lenyap dari hadapannya dan para Pandawa melanjutkan perjalanan nya. Ketika para Pandawa serta istrinya memilih untuk mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka, Arjuna gugur di tengah perjalanan setelah kemati an Nakula, Sahadewa, dan Dropadi. Arjuna di Nusantara Di Nusantara, tokoh Arjuna juga dikenal dan sudah terkenal dari dahulu kala. Arj una terutama menjadi populer di daerah Jawa, Bali, Madura, dan Lombok. Di Jawa dan kemudian di Bali, Arjuna menjadi tokoh utama dalam beberapa kakawin, seperti mis alnya Kakawin Arjunawiwaha, Kakawin Parthayajña, dan Kakawin Parthayana (juga dikenal dengan nama Kakawin Subhadrawiwaha. Selain itu Arjuna juga didapatkan dalam beberapa relief candi di pulau Jawa misalkan candi Surowono. Arjuna dalam dunia pewayangan Jawa Arjuna juga merupakan seorang tokoh ternama dalam dunia pewayangan dalam budaya Jawa Baru. Di bawah ini disajikan beberapa ciri khas yang mungkin berbeda dengan ciri khas Arjuna dalam kitab Mahabharata versi India dengan bahasa Sansekerta.

Sifat dan kepribadian Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Res i Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Pr abu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: G endewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik ( dari Bhatara Narada). Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani d an suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amar ta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) b ersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya. Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, d ia sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang J awa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Konon Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begit u, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Dia menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbag ai generasi. Pusaka Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain: Keris Kiai Kalanad ah diberikan pada Gatotkaca saat mempersunting Dewi Pergiwa (putera Arjuna), Panah Sangkali (dari Resi Drona), Panah Candranila, Panah Sirsha, Panah Kiai Sarotama, Panah Pasupati, Panah Naracabala, Panah Ardhadhedhali, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antar a lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama. Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta da n Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung). Istri dan keturunan Dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah: 1. Dewi Subadra, berputera Raden Abimanyu 2. Dewi Larasati, berputera Raden Sumitra dan Bratalaras

3. Dewi Ulupi atau Palupi, berputera Bambang Irawan 4. Dewi Jimambang, berputera Kumaladewa dan Kumalasakti 5. Dewi Ratri, berputera Bambang Wijanarka 6. Dewi Dresanala, berputera Raden Wisanggeni 7. Dewi Wilutama, berputera Bambang Wilugangga 8. Dewi Manuhara, berputera Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati 9. Dewi Supraba, berputera Raden Prabakusuma 10. Dewi Antakawulan, berputera Bambang Antakadewa 11. Dewi Juwitaningrat, berputera Bambang Sumbada 12. Dewi Maheswara 13. Dewi Retno Kasimpar 14. Dewi Dyah Sarimaya 15. Dewi Srikandi Julukan Dalam wiracarita Mahabharata versi nusantara, Arjuna banyak memiliki nama dan na ma julukan, antara lain: Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), P emadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Indrasuta , Danasmara (perayu ulung) dan Margana (suka menolong). "Begawan Mintaraga" adalah nama yang digunakan oleh Arjuna saat menjalani laku tapa di puncak Indrakila dal am rangka memperoleh senjata sakti dari dewata, yang akan digunakan dalam perang ya ng tak terhindarkan melawan musuh-musuhnya, yaitu keluarga Korawa. Nama lain Nama lain Arjuna di bawah ini merupakan nama lain Arjuna yang sering muncul dala m kitab-kitab Mahabharata atau Bhagawad Gita yang merupakan bagian daripadanya, da lam versi bahasa Sanskerta. Nama-nama lain di bawah ini memiliki makna yang sangat d alam, mengandung pujian, dan untuk menyatakan rasa kekeluargaan (nama-nama yang diceta k tebal dan miring merupakan sepuluh nama Arjuna). 1. Anagha (Anaga, yang tak berdosa) 2. Bharata (Barata, keturunan Bharata) 3. Bharatasre??ha (Barata-sresta, keturunan Bharata yang terbaik) 4. Bharatasattama (Bharata-satama, keturunan Bharata yang utama) 5. Bharatasabha (Barata-saba, keturunan Bharata yang mulia) 6. Dhanañjaya (perebut kekayaan)* 7. Gandivi (Gandiwi, pemilik Gandiwa, senjata panahnya) 8. Gudakesa (penakluk rasa kantuk, yang berambut halus) 9. Jishnu (hebat ketika marah)* 10. Kapidhwaja (yang memakai panji berlambang monyet) 11. Kaunteya / Kuntiputra (putera Dewi Kunti) 12. Kirti (yang bermahkota indah)* 13. Kurunandana (putera kesayangan dinasti Kuru) 14. Kurupravira (Kuru-prawira, perwira Kuru, ksatria dinasti Kuru yang terbaik) 15. Kurusattama (Kuru-satama, keturunan dinasti Kuru yang utama) 16. Kurusre??ha (Kuru-sresta, keturunan dinasti Kuru yang terbaik) 17. Mahabahu (Maha-bahu, yang berlengan perkasa) 18. Pa??ava (Pandawa, putera Pandu) 19. Parantapa (penakluk musuh)* 20. Partha (keturunan Partha atau Dewi Kunti)* 21. Phalguna (yang lahir saat bintang Uttara Phalguna muncul)* 22. Puru?ar?abha (Purusa-rsaba, manusia terbaik) 23. Sawyashachi (Sawya-saci, yang mampu memanah dengan tangan kanan maupun

kiri)* 24. Shwetwahana (Swe-twahana, yang memiliki kuda berwarna putih)* 25. Wibhatsu (yang bertarung dengan jujur)* 26. Wijaya (yang selalu memenangkan setiap pertempuran)* Nakula Nakula (Sansekerta: ??? ?, Nakula), adalah seorang tokoh protagonis dari wiracar ita Mahabharata. Ia merupakan putera Dewi Madri, kakak ipar Dewi Kunti. Ia adalah sa udara kembar Sadewa dan dianggap putera Dewa Aswin, Dewa tabib kembar. Menurut kitab Mahabharata, Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menuru t Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. Namun, sifat buruk Nakula adalah membanggakan ketampanan yang dimilikinya. Hal itu diungkapkan oleh Yudistira dalam kitab Prasthanikaparwa. Arti nama Secara harfiah, kata nakula dalam bahasa Sansekerta merujuk kepada warna Ichneum on, sejenis tikus atau binatang pengerat dari Mesir. Nakula juga dapat berarti "cerp elai", atau dapat juga berarti "tikus benggala". Nakula juga merupakan nama lain dari Dewa S iwa. Nakula dalam Mahabharata Menurut Mahabharata, si kembar Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat kuda dan sapi. Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi kenakalan kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Na kula juga memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang. Saat para Pandawa mengalami pengasingan di dalam hutan, keempat Pandawa (Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) meninggal karena meminum air beracun dari sebuah danau. Ketika sesosok roh gaib memberi kesempatan kepada Yudistira untuk memilih salah satu dari keempat saudaranya untuk dihidupkan kembali, Nakula-lah dipilih oleh Yudist ira untuk hidup kembali. Ini karena Nakula merupakan putera Madri, dan Yudistira, yang mer upakan putera Kunti, ingin bersikap adil terhadap kedua ibu tersebut. Apabila ia memili h Bima atau Arjuna, maka tidak ada lagi putera Madri yang akan melanjutkan keturunan. Ketika para Pandawa harus menjalani masa penyamaran di Kerajaan Wirata, Nakula menyamar sebagai perawat kuda dengan nama samaran "Grantika". Nakula turut serta dalam pertempuran akbar di Kurukshetra, dan memenangkan perang besar tersebut. Dalam kitab Prasthanikaparwa, yaitu kitab ketujuh belas dari seri Astadasaparwa Mahabharata, diceritakan bahwa Nakula tewas dalam perjalanan ketika para Pandawa hendak mencapai puncak gunung Himalaya. Sebelumnya, Dropadi tewas dan disusul ol eh saudara kembar Nakula yang bernama Sadewa. Ketika Nakula terjerembab ke tanah, Bima bertanya kepada Yudistira, "Kakakku, adik kita ini sangat rajin dan penurut . Ia juga sangat tampan dan tidak ada yang menandinginya. Mengapa ia meninggal sampai di sini?". Yudistira yang bijaksana menjawab, "Memang benar bahwa ia sangat rajin d an senang menjalankan perintah kita. Namun ketahuilah, bahwa Nakula sangat membanggakan ketampanan yang dimilikinya, dan tidak mau mengalah. Karena sikapny a tersebut, ia hanya hidup sampai di sini". Setelah mendengar penjelasan Yudistira , maka Bima dan Arjuna melanjutkan perjalanan mereka. Mereka meninggalkan jenazah Nakul a

di sana, tanpa upacara pembakaran yang layak, namun arwah Nakula mencapai kedamaian. Nakula dalam pewayangan Jawa Nakula dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuhtumbuha n yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat). Ia merupakan putera keempat Prabu Pandudewanata, raja negara Hastinapura dengan permaisuri Dewi Madr i, puteri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Ia lahir ke mbar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa. Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama Puntadewa (Yudistira), Bima alias Werkudara dan Arjuna Nakula adalah titisan Batara Aswin, Dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pan dai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang se gala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi "Banyu Panguripan" atau " Air kehidupan" pemberian Bhatara Indra. Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan d apat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nak ula mempunyai dua orang isteri yaitu: Dewi Sayati puteri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putera masing-masing bernama Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati. Dewi Srengganawati, puteri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra alias Ekapratala) dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung. Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik. Setelah selesai perang Bharatayuddha, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandar aka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritaka n, Nakula mati moksa di gunung Himalaya bersama keempat saudaranya. Sadewa Sadewa atau Sahadewa (Sansekerta: ?????, sahadéva), adalah seorang protagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia adalah seorang Pandawa pula, tetapi berbeda dengan Yudistira, Bima, dan Arjuna ia adalah putra Dewi Madrim, adik Dewi Kunti. Ia ada lah saudara kembar Nakula dan dianggap penitisan Aswino, Dewa Kembar. Sadewa pandai dalam ilmu astronomi yang ia pelajari di bawah bimbingan resi Dron a. Sementara itu juga mengerti banyak mengenai penggembalaan sapi. Oleh karena itu ia bisa menyamar menjadi seorang gembala pada saat di negeri Wirata yang dikisahkan pada Wirataparwa. Selama masa penyamarannya di Kerajaan Matsya yang dipimpin Raj a Wirata, Sadewa bertanggung jawab merawat sapi dan bersumpah akan membunuh Raja Gandhara, Sangkuni, yang telah memperdaya mereka sepanjang hidup. Ia berhasil memenuhi sumpahnya untuk membunuh Sangkuni, pada saat hari kedua menjelang perang Bharatayuddha berakhir. Kepribadian Dari kelima Pandawa, Sadewa yang termuda. Meski demikian ia dianggap sebagai yan g terbijak di antara mereka. Yudistira bahkan berkata bahwa ia lebih bijak daripad

a Brihaspati, guru para dewa. Sadewa adalah seorang ahli perbintangan yang ulung dan dianggap mengetahui kejad ian yang akan terjadi dalam Mahabharata namun ia dikutuk bahwa apabila ia membeberka n apa yang diketahuinya, kepalanya akan terbelah. Maka dari itu, selama dalam kisa h ia cenderung diam saja dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Seperti Nakula (kakaknya), Sadewa adalah ksatria berpedang yang ulung. Ia juga menikahi puteri Jarasanda, Raja di Magadha dan adik iparnya juga bernama Sadewa. Keturunan Seluruh Pandawa bersama-sama menikahi Dropadi, dan Dropadi memberikan masingmasi ng seorang putera kepada mereka. Dari hasil hubungannya dengan Dropadi, Sadewa memiliki putera bernama Srutakama. Selain itu, Sadewa memiliki putra yang bernama Suhotra, dari istrinya Wijaya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->