Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. saudara lelaki . semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. 4 . Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. ia memiliki peran. terutama dengan pemikiran fenomenologi. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. Bahasa adalah sistem komunikasi. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. paman-keponakan. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. Perbedaan lain yang cukup mendasar. seperti misalnya suami-istri.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Hubungan ini sama seperti bahasa. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu.saudara perempuan. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. anakbapak. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. Sebagaimana halnya bahasa. manusia mempunyai putusan sendiri.

Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. Menurut Levi-Strauss. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. tetapi justru suka menyembunyikan diri. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. Ini didapat dari Husserl. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. kategori.Bagi Heidegger. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. Melalui kajian Antropologi budaya. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. seorang fenomenolog. Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. kecuali lewat paksaan mental tersebut. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak.

tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". tidak bermula dengan hidup manusia sendiri. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. artinya tidak menguasai keadaan. Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. tetapi justru saling melengkapi.strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 .

1996:513). Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. 1996:513). sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. namun oleh Roman Jakobson. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme.tersebut. terutama Eropa Barat. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . pada dekade 1960-an. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat.

Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa.yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. ke 8 . Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. Kedua. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. 2001 : 182). sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. dalam pendapat Saussure. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. Agar lebih jelas. Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. ke kanan. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. Pertama. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. Dalam permainan catur. Kedua adalah langue dan parole. sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. yang artinya adalah ”tanda”. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). 2000 : 219 ). Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”.

Ini dapat dianggap sebagai parole. B. Latar belakang pendidikan. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. B. Yale. C. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . karena jika bergerak selain gerak “L”.depan atau ke belakang. Selain itu. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. seperti universitas Harvard. Selain itu juga dari universitas di Swedia. Perancis maupun saat ia berada di New York. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. teori lain yang mempengaruhi. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. Hal ini penting. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. riwayat hidup penemunya. dan Oxford di Amerika. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. Kanada dan Meksiko. maka hancurlah struktur permainan catur itu. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise.

Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia.unik itu. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Brazil. Ia adalah keturunan Yahudi. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Belgia. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo.

ia juga mengalami diskriminasi ras. dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. Di daerah Greenwich Village. yaitu petugas penghubung. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya. kesabaran. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. Ruth Benedict. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. Franz Boas. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. 11 . A. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Dengan ketekunan. Berkat jasanya. Kroever dan Ralph Linton. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita.L.Prancis. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. New York. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. seperti Maz Ernst. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Levi-Strauss tinggal. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Halangan tidak hanya sampai disitu. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer.

Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. lahir pula Antropologi Kognitif. . dikembangkan Ward H. tidak lagi dunia yang aku suka. ia berkata." Hélène Carrère d'Encausse. sekretaris abadi Académie française. Goodenough (1950-an).. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. Dalam wawancara dengan National Public Radio." kata LeviStrauss. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. "Dia adalah seorang pemikir. baik itu tanaman atau hewan. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. Yale.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss. Penulis Jean d'Ormesson.Pada zaqmannya. Aliran ini membawa 12 . Berbicara pada radio Perancis." Levi Strauss meninggalkan dua putra. setelah dia meninggal. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. seorang filsuf. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan. berencana untuk menghormatinya.. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford.

seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. Aliran Antropologi Simbolik. 2009 dengan usia 101 tahun. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC. dalam rentang enam dekade. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. C. sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. Dia juga seorang pecinta musik sejati. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). dalam jangkauan luas masyarakat. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. terutama mitos. seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). dan "The Raw and the Cooked" (1964). Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas.definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. meninggal di Paris pada 31 Oktober. Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. Karyakarya pemikir abad 20 ini. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. "The Savage Mind" (1963).

struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. all societies and all cultures. Meskipun bertolak pada linguistik. machines. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan.machines. 2006. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. But so can a physiology. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. Allen Lane (1968. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. where problems are similarly set in formal terms or.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. rather. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. Of course a typical personality can be viewed as having a structure.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. they are therefore difficult to define. any organism. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing. but the patterns that the words form. tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. 60). crystals. without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss.” 14 . and still more difficult to discuss. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word.

dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. 378). 1969 dalam Fokkema. 1. LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. kejahatan. 15 . melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. 1978). Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. ketulusan dan lain-lain. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial.Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). keburukan. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. kebersihan. 1958. Seperti kata-kata hitam dan putih.

bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson.2. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. 3. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. Istilah kekerabatan. 1972 dalam Fokkema. seperti halnya fonem. dan seperti fonem. dan mudah rusak (Fokkema. cepat berlalu. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. 16 . 1978). LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. 1978). di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. merupakan unsur makna. 1978). Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. 4.

menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. sederhana. dan bersifat menjelaskan (Levi17 . maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. 1978). Koentjaraningrat. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. Kedua. dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963).Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. 2006). bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan. Namun demikian. Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Pertama. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. Ketiga. 1987). Berikutnya.

ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. dalam Fokkema. sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. manjauhi yang kongkret. 1978). apalagi ketika upacara pembakaran mayat. sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. 1972. Hastermann).Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia.C. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya. Di Bali. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. 18 .Strauss. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi.

Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). kuda. Bahasa adalah sistem tanda (sign). Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. tabu. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. Langue adalah sistem tata bahasa formal. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. Contoh: Jaran. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). Adanya langue menyebabkan adanya parole. sabu. Isi bisa berubah. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. horse adalah ”penanda”. Elemen dasarnya adalah katakata. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. karena perbedaan sistimatis tersebut. konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). namun bentuknya tidak. Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. tetapi artinya sangat berbeda. . tergantung dari relasinya. sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. Sebagai contoh: babu. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme.

text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. sampai mitos dalam masyarakat. kedinginan. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). dan memproduksi suara. dan lain sebagainya. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. Disebut gunung. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). naskah sastra. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. Kategori X ataupun kategori Y. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. mengerogoti. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. dan lain sebagainya. . serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. Selanjutnya menurut Saussure. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. dan lain-lain. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. 20 mencaplok. *bangku*. cara berpakaian. Suatu kategori jadi exist atau bermakna. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. kegeraman. dan bentuk komunikasi. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. ekspresi.bahasa tubuh. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. Dalam sistem biner. *pergi*.

oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. publik <--> privat. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. separatis lawan NKRI. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. positip <--> negatip. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. daratan <--> lautan. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. seperti: . Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. Bagi Strauss. militer-sipil.

ia bukan bersifat 'alamiah'. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. dan dengan memakai pengkategorian itulah. begitu seterusnya. dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. atau antara anak-anak dan orang dewasa. dan bahkan tidak akan ada kategori A. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Ia adalah produk dari sistem penandaan. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. Dalam sistem biner.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . daratan dan lautan. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. Tanpa kategori B. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna.

Antara anak-anak dan orang dewasa. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. tapi pada struktur dalam tetap sama. Struktur terbagi dua. Pantai. Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar.sistem oposisi biner. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. Antara daratan dan lautan. vampir/hantu/zombi. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. remaja. Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). ada pantai. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. zombi. ada posisi remaja. hantu. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir.

1. Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. Yaitu. Ferdinan de Saussure. 24 . dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. 1978 dalam Ahimsa 2006). Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). 2006). C. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. (Levi-Strauss. Dari ketiga pemikir linguistik ini. 1995. De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). Signified (tinanda) dan signifier (penanda). a. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). 56). Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. Sebagai penemu konsep linguistik modern. Signifier dan signified. Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa.terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy.

dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. Form (bentuk) dan content (isi).sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). 25 . tuturan). Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. 2. walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. Langue (bahasa) dan parole (ujaran. akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. 19 dalam Ahimsya. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. Dalam konsep ini. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. 35). 2006 h. Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. 3. 1976.

via Ahimsa.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. Namun demikian. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. 4. via Ahimsa. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. Dalam langue terdapat norma-norma. 2006. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. 1966. 46). 2006. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. 1976. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. 47). 26 .

Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Sintagmatik dan Paradigmatik. Pertama. 2006. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat.5. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. b. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. 1995. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. Koch (1981. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. periode formalist. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. via Noth. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . “memetik” dan “bunga”. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). 47). Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan.

. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. Ketiga. Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. periode stucturalist. gave me something very different and. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. 52).. which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. 28 . need I add. This was the revelation of structural linguistics. Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006. 52) berikut ini: “. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. 2006. however. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939.berpengaruh. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. periode Semiotic. Kedua. 2006). a great deal more than I had bargained for. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. Keempat. antara tahun 1939 sampai 1949.His (Jacobson’s) lectures.. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). matematika dan juga fisika (1982).. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal. Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna.” (1985:139).

Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. Menentukan perbedaan. c. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. b. 1977. a. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. h. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. Nikolai Troubetzkoy 29 . 11. 55). dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. c. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah.Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. Ahimsya. d. 2006). Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. unit-unit yang bermakna. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi.

30 . Selanjutnya dia perlu. 2006). Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). 1. kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. (Ahimsa. ciri-ciri pembeda. Artinya. 2006. 59). berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. bukan konsep psikologis. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. d. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. Dengan kata lain. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. Langkah analisis struktural dalam fonologi. dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. tetapi dia harus. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. 3. 4. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. 2. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya.

untuk menstruktur. dengan istilah-istilah yang lain. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. 3. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. (Ahimsa. 31 . akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. 2. 68). sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. yaitu secara sinkronis. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). 66). Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. 2006.Marxisme dan lain-lain. Yaitu kemampuan untuk structuring. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. 1970. 13-14 Ahimsya. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. Ahimsa (2006. 4. menyususun suatu struktur. pakaian dan sebagianya. 1. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. pola tempat tinggal. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane.

Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. dan sebagai “tanda” (sign). Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. juga jika hanya secara analogis. Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). camat dan sebagainya. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial.Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. implikasinya cukup jauh. Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. gubernur. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). bukannya sebagai seorang “pesinden”. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa.

sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. Dalam kritik Giddens. Artinya. waktu. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk.kasat mata. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. misalnya. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. dan proses adalah soal kebetulan. Seperti telah dicontohkan di atas. Jacques Derrida. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). “Kode tersembunyi” itulah struktur. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. ‘gubernur’. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. berbeda merupakan identitas itu sendiri. ruang. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. e. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. ‘camat’ dan sebagainya.

Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. Secara umum dapatlah dikatakan. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. 2. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama.

Menurut Levi-Strauss. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. 3. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. tetapi sebagai model bagi kenyataan.keteraturan (order). Dalam perhatiannya mengenai mitos. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia. maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner.

kebingungan dan jiwa tertekan. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya.mengenai masa yang lampau. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. Karena. 2. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. maupun masa yang akan datang. sekarang. yaitu etos dan pandangan hidup. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada.

sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. a. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. data etnografi dan interpretasi. dibenarkan. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. yaitu dalam rangkuman struktur sosial. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. D. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. a). dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. Cara menggunakan 37 . Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. 3. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. dan didukung dalam suatu masyarakat. Sebagai akhir kata.

Reduksi dalam proses analisis. Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. Menurut para 38 . tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. 1967 dalam Ahimsa. Dalam persoalan ini. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). 162). Konsistensi prosedur analisis dan c). b. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Kedua. 2006. Karena ketidaktepatan itu. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa.konsep-konsep analisis. 2006. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Ketiga. 2006). Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. b). 164). menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa.

a). seperti Alice Kassakoff dan John W. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. Thomas. (Ahimsa.L. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. L. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. Kronenfeld. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. Kronenfeld dan DB. b). (misrepresentasions of story). Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. Hasil Analisis. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. JZ.antropolog. c. 2006. oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . Lain lagi dengan pendapat Alice. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. 168).

Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. and often a paltry one at that”. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. 20006. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. 170). Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . 1967 dalam Ahimsa. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. d. ( Douglas. we get a surprise. a totally new theme. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini.aspek-aspek positif mengenai makna mitos. “Instead of more and richer depths of understanding.

E. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain.Strukturalisme Levi-Strauss ini. yang tidak terduga dan menarik. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. Ada susunan. struktur dan koherensi logis dalam mitos. makna-makna yang sangat dalam. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. Masuk akal. 2006. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . 176). Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis.

baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. Yogyakarta. ___________. ___________. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. ___________. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. ___________. 1995. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. ___________. T. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. Nalar Jawa. 2005. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. Ahimsa-Putra. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Kawin Bedil dan Sobrat. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. 1994. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”.. 1997. Makalah seminar. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Shri. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. Basis XXXIII (4) : 122-135. Paz. Ahimsa-Putra. Orang-Orang PKI. 1998a. 1998b. 2006. “Lévi-Strauss. H. kepel Press. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. ___________. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Tesis Pascasarjana Antropologi. Makalah seminar. H. 1998c. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. O.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. Universitas Gadjah Mada. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika.S. Makalah seminar Arkeologi. 1984. Yogyakarta : LKIS. Kalam 6 : 124-143.

___________. Makalah diskusi. Strukturalisme Lévi-Strauss. 1999b. 2002b. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. ___________. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. ___________. ___________. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Dua Paradigma. 2000b. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. 2000a. ___________. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Makalah dalam bedah buku. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. Makalah Pelatihan. Makalah Sarasehan. ke Post- ___________. A. Abror. 1999c. Badcock. ___________. ___________. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Humaniora XV (3) : 239 – 264.I : 10 – 19. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. (ed).Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. Jakarta : UI Press. ___________. Robby H. September – Desember. ___________. 2006a. ___________. C. Yogyakarta : Insight Reference. 2002d. 2001. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. ___________. 2003. 2005. 2002e. Salam (ed). Terj. Mitos dan Nalar Primitif. 2002c. Totem. Mitos dan Karya Sastra. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. Satu Model. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. 1999a. Tembi 1 Thn. Makalah seminar. Tiga Dasawarsa. Makalah seminar. Rahayu S. Makalah bedah buku. Humaniora 12 : 1 – 13. ___________. Satwa. Yogyakarta : Galang Press. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. 2002a. 43 .

2006c. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Jakarta. Raman. Metodologi dan Etnografi. 1968. Ahimsa-Putra (ed. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Structural Anthropology. Levi. Ritus Pertukaran”. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1985. Hand Book of Semiotics. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Kaplan. Makalah seminar nasional. Mitos dan Karya Sastra. David. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. 2006b. 1995. Yogyakarta : Kepel Press. ___________. ___________. 2008b. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Universitas Gadjah Mada. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. 2007). Winfried. 2006d. Bloomington and Indianapolis. The Harvester Press Limited. The Penguin Press. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). Gramedia..). Anthropologie Structurale (Terj. Kepel Press : Yogyakarta. Critical Approaches to Literature. Kreasi Wacana. New York. 2008. Yogyakarta. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Ritus Penandaan. Makalah seminar. Makalah bedah buku. T. David. Ngawa. Yogyakarta. ___________. 1999. Strukturalisme Lévi-Strauss. Antropologi Struktural. 2006e.___________. Abdullah (ed. Fokkema. Daiches. Longman. dkk. 1958. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. 1981. The Theory of Culture (Teori Budaya).W. Noth. ___________. Nasrulah. A Reader Guide to Contemporary Literary Work. Indiana university Press. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Pustaka Pelajar. Claude. 2007a. Ngambu. D. Selden. Allen. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. ___________. Lane. 2008a. Ngaju. Edisi Baru. ___________.. 2007b. Sussex. H. ___________. Sawerigading.S. 1998.). Strauss. 44 .

Claude. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. J. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme". Antropologi Struktural. 1979. J. Roland Barthes. Oxford : Oxford University Press. For the best results. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. D. Sturrock (ed. Anthropologie Structurale (Terj. Erdward Said. Sturrock.Strauss. Levi. click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. Sperber. Kreasi Wacana.).). Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. Oxford : Oxford University Press. Sturrock (ed. 1958. Yogyakarta. 1979. J. 2007). Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 .

buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). berpikir sementara menjadi hal yang utama. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Selain itu. Dalam tulisan.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. penanda selalu produktif. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Dalam pemikiran post strukturalis. yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. Aspek diakronis bahasa. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. dilihat sebagai bagian yang kurang penting.

. misalnya pada New Criticsm. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968. 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin. Sign. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. Diterbitkan di: Januari 04.. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida.Essainya yang berjudul “Structure. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an.sastra. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks. atau disebut para dekonstrusionis Yale. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. and Play in the Discourse of the Human Sciences” . De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali .Essay Roland Barthes. 47 .

Bahasa. TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. Dapat. Derrida. • • • • • • • • • Sastra. Pada. Dengan. Dalam. Bahwa. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL. For the best results.You searched for: "strukturalisme". Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 .com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI. click here! • Kutipan • Dan.blogspot.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. preferensi. jenis kelamin.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. dan menilai dunia sosial. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. menyadari. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. kelompok dan kelas sosial. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. memahami. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. Field dan Modal. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. tidak setiap orang sama kebiasaannya. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. 1979 : 1). tetapi juga ahli filsafat. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. Keempat. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. Kedua. Namun. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. beberapa tahun kemudian. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. Tidak mengherankan. Bagaimanapun juga. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. Rolanda Barthes. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. 57 . Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. 1986 : 7). Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme.dengan di Inggris dan Amerika Serikat. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Dengan kata lain. dan filsafat. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. setelah dia berkenalan dengan antropologi. Dengan kata lain. Ketiga. sastra. Kelima. seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru.

Koetjaraningrat misalnya. dan sebagainya. Dr. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . Sementara itu. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. Belanda. seperti Clifford Geertz. 2. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. Saya ingat. Prof. Parsudi Suparlan. yang mengajar kami teori-teori antropologi. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. pada tahun 1994 saya kembali. J. Budi Santoso. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. Goodenough. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. karena selalu sulit dan tidak biasa. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. Danandjaja. oleh lebih banyak ilmuwan. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. Dr. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. James P. akhirnya saya harus kecewa. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. Lebih dair itu. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. Spradley. Dr. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. Antropologi Eropa (Inggris. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. Nico Kalangie. Namun. Oleh karena itu. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. Ward H. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. Prof.

Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. Parsudi Suparlan. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Selo Soemardjan dan sebagainya. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. Pertama. Koentjaraningrat. seperti misalnya Fuad Hasan. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. dan masih aktif. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. 59 . Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). bahkan hampir tidak ada. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. Padahal. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. Postmodernisme mulai terdengar. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. James Danandjaja. bahkan sampai tahun 1980an. Masri Singarimbun. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. Sartono Kartodirdjo.

strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. Kelima. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. ahli sosiologi Amerika Serikat. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Ketiga. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. atau menolak secara terang-terangan. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. acuh tak acuh. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. Memang. apalagi oleh kalangan yang lebih luas. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. Kedua. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. Keempat. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. Sebaliknya. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik.R. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . Sementara itu.

tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu.M. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. Tesis pascasarjananya. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. a. Yang lain tidak tertarik. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. Laksono. karena pendekatannya terasa tidak lazim. Meskipun demikian. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. de Josselin de Jong kepada kami. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. yakni P. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. mungkin juga sulit 61 . maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. 3. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat.E. Saya tidak tahu mengapa demikian. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Mungkin. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram.

tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. Belanda. Amerika Serikat. saya mengajar di jurusan antropologi. Untuk beberapa tahun. b. saya kebetulan diminta Prof. Semenjak itu. 1984). karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Laksono tidak dapat menggantikan. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. yang saat itu masih belum guru besar. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. patut dihargai. yang ditulis oleh Radrianarisoa. mungkin pula karena kurang promosi. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. Setelah saya kembali ke UGM. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. Pak Kodiran. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis.E. saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. Ketika itu pengajaran teori antropologi. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. de Josselin de Jong. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. Belanda. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit.

Saya menawarkan 63 . Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. terutama jurusan antropologi di UGM. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. seni dan filsafat. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. terutama di Yogyakarta. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. 1995). Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. 1997). Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. Sementara itu. baik itu yang analitis maupun teoritis. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut.menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. Selain melalui perkuliahan. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra.

dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. 1998a. yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. 2002c). Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. 2000b). Dengan demikian. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. 1999c. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. Sejak itu. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. 2001). strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. tentang cara menggunakannya. Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. Dengan terbitnya buku tersebut. 2000a). 4. dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. 64 . Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra.

Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. baik itu secara formal lewat seminar. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang. a. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. Subiantoro. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. 2000). Oleh karena itu. Oleh karena itu. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. Sepengetahuan saya. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. 2002). Kalau Dadang H. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. Kalimantan. rumah tradisional Sumba (Purwadi. yakni patung (Ahimsa-Putra. 1999c.Memang. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . ngawa. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008).

yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. 2007). ahli arkeologi UI. dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. b. 66 . memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. yakni kosmologi Jawa. Dari pengalaman berdiskusi. Lebih dari itu. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. ternyata tidak selalu mudah dipahami. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. Meskipun demikian. namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. Sementara itu. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. 2009). Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. Selain arca ganesya. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. 2000). yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas.Minang (Maryetti.

namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya. yang historis. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Sulit rasanya 67 . Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). Bahkan. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. c. juga belum dapat dimengerti dengan baik. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. diakronis. yang a-historis. dan itu berarti kepada masa lampaunya. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada.

dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. 5. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu).mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. Hal ini tentu sangat mengherankan. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. Belum pernah saya diundang dalam seminar. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. tingkat pascasarjana. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. jika tidak memprihatinkan. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa.

sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. T. dan sebagainya. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. ___________. 69 . (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. sintagmatik-para digmatik. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. Namun. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. 2005.membahasnya. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. 1994. Universitas Gadjah Mada. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. signified. terutama di UGM. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. Kawin Bedil dan Sobrat. di tingkat pascasarjana. sign. dan transformasi. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. 1995. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. ___________. Fakultas Ilmu Budaya. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. Oleh karena itu pula. struktur sosial. Makalah seminar. Tesis Pascasarjana Antropologi. signifier. Basis XXXIII (4) : 122-135. Ahimsa-Putra.S. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Universitas Gadjah Mada. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. oposisi biner. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. Kalam 6 : 124-143. H. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. 1984.

Makalah seminar. Rahayu S. ___________. September – Desember. ___________. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Humaniora 12 : 1 – 13. 1998a. O. Makalah dalam bedah buku. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Jakarta : UI Press. Makalah seminar. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. 1999b. Dua Paradigma. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Mitos dan Karya Sastra. ___________. ___________. Yogyakarta : Galang Press. 2002a. Strukturalisme Lévi-Strauss. ___________. 70 . “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Salam (ed). Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. 1999c. Paz. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. (ed). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1999a. 2001. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. 1998c. 1998b. Makalah seminar. Tiga Dasawarsa. 2000a. ___________. ___________. ___________. ___________. Tembi 1 Thn. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. ___________. 2002b. Makalah Pelatihan. Nalar Jawa. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Makalah seminar Arkeologi. 2002d.___________.I : 10 – 19. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. 2000b. ___________. A. ___________. Yogyakarta : LKIS. Satu Model. 2002c. ___________. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. 1997. Orang-Orang PKI. “Lévi-Strauss. Makalah Sarasehan.

Makalah seminar nasional. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. ___________. Leni. Sawerigading. Yogyakarta : Kepel Press. Kepel Press : Yogyakarta. 2008a. ___________.S. Metodologi dan Etnografi. ___________. 2007a. 2007b. H. 2006c. Terj. Ahimsa-Putra (ed. Makalah diskusi.___________. N. 2006e. C. Universitas Gadjah Mada. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf. Yogyakarta : Insight Reference. T. 2005. 2002e. Makalah seminar. Mitos dan Karya Sastra. ___________. ___________. Robby H. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. 2004. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Tesis Pascasarjana Antropologi. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. ___________. Abror. 2003. Makalah bedah buku. Strukturalisme Lévi-Strauss. Satwa. Ritus Penandaan. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. 2008b. Mitos dan Nalar Primitif. Ritus Pertukaran”. Edisi Baru. Badcock. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. 2006d. 71 . To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. ___________. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. ___________. Abdullah (ed. ___________.). Totem. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Jakarta : Rajagrafindo Persada. 2006b. ___________. Makalah bedah buku. 2006a. ___________.).

Radjabana. Sturrock (ed. 72 . Tesis Pascasarjana Antropologi. Pace. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. Oxford : Oxford University Press. Universitas Gadjah Mada. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. J. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Yogyakarta. Ngaju. Distrik Kurulu. Tesis Pascasarjana Antropologi. J. 2007.). J. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Disertasi Antropologi.I. Sturrock (ed.). Purnama. 2000. Numbery. Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1998. 1979. Universitas Gadjah Mada. D. D. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2002. Tesis Pascasarjana Antropologi. Ngawa. S. 2007. Universitas Gadjah Mada. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel. Sperber.K. Nasrulah. Universitas Gadjah Mada. Oxford : Oxford University Press. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. 2005. 1986. Ngambu. Universitas Gadjah Mada. G. London : Ark Paperbacks. Sumintarsih. Tesis Pascasarjana Antropologi. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Analisis Struktural Lévi-Strauss. 2008. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. 2004. Xiao Lixian.Listia. 1979. Sturrock. 2009. Subiantoro. Purwadi. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Maryetti. A. D. Kulon Progo. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. Yogyakarta. 2003.H. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang.

KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. tuhan. in Indonesia. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. makalah. filsuf perempuan. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. kematian. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. Meteor Garden. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. laporan penelitian. During the research.11 readers like this article. kertas kerja tentang kajian budaya. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. 73 . jurnal. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly.

More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. Bila ada kesempatan di akhir pekan. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. maupun organisasi aktivis.More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 . merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. kampanye isu tertentu. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat.

praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 . mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet. More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari.Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat.

Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . motifs. structural approach.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@. Nomor 1. 76 . which.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. with a great variety of sizes. arguing for the myths underlying those different motifs. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi .Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article.. Tahun 31. Therefore. Key words: batik. forms.. 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier .. according to the present writer. In his study he employs a symbolic approach. and functions. Fakultas Sastra. Tiga Usia Jacques Derrida.. and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 . Universitas Negeri Malang. Pujianto writes a book on batik semen. Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach. The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. symbolic approach. sawat. Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture.http://tinyurl. Februari 2003). Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. Javanese mythology.

artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. Falsafah orang Jawa . Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. M. yaitu strukturalisme fungsional. Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. misalnya sebagai contoh 77 . salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . Mauss. referensinya telah tersedia. Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. Bertolak dari artikel Pujianto. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. Lenger (studi seni). Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. Entitas ini muncul secara tiba-tiba. 1986). yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402).Hidayat. Pada kaitan ini. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. Perspektif simbolik. 137). Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . terutama menyimak relasi lambang dan arti . Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. Nomor 2. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. professor di College de France. Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. di samping tokoh yang lain. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. Seakan-akan unsur ornament . Tahun 32.

Adipati. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. (Yahya. sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. dan tumpal. daragam. daragam lan tumpal. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. modang. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. dan abdidalem. 1983:213). dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. yang saya perbolehkan dipakai Patih. Wedana. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. 2000: 237). sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. kawulaningsun Wedana. (Pujianto. lenga-teleng. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. dan batik parang rusak. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. Anadene Hidayat. terj. dan tari Bedhaya (halaman 133). Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. 2003: 131). Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. lenga-teleng. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. maupun Abdi Dalem. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. batik cumangkiri kang calacep. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. modang. bangun-tulak. Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. bahwa Batik merupakan benda fungsional.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. Landung Simatupang. dan rakyatnya. utamanya ketika sedang bertitah. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. batik cumangkiri yang calacep. keluarganya. bangun tulak.

1997: 80). yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . Sawat. Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). Penyebara benih. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. agar benih tersebut dapat bersemi. dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. dan alam bawah. Nomor 2. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. Sawat. Tahun 32. tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. alam tengah. Berdasarkan skema tersebut di atas. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. yaitu: Alam atas.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. urairan tentang bentuk Semen. Berdasarkan konsep Triloka. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. Misalnya. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. yang dijelaskan oleh Pujianto. sebagai berikut: Gambar 1. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. demikian juga tentang kekuasaan . Semen 79 . sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. sebagai berikut. Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. dan Alas-alasan. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan).

harimau. hidup. kejayaan. Lar (sayap). kuda. ALAM 80 . kupukupu. kumbang. Agustus 2004 Tabel 1. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. kakyaan. Awan. Lar (sayap) bersulur bangunan. pengavoman. gunung. kapal Udara. burung merak. Garuda.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. Kalpataru. kesaktian. Matahari Burung Garuda. Tanah Brahma Tumbuhan. kemakmuran. Tahun 32. roh ALAM TENGAH Manusia. tumbuhtumbuhan Kehidupan. angkasa. Nomor 2. wahyu. kegembiraa. suci. Kekuasaan. Awan. (pohon hayat) Ayam jantan.

Wisnu. berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. 2003:134). kedukaan. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. sungguhpun tidak seluruhnya salah. sungai. sebagai lawan garuda. Apabila diubah relasinya. Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. Analisis pada tabel 1 menunjukan.BAWAH Laut. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). Maka dimungkinkan. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . atau tidak terbukti. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. laut. atau ular yang berrelasi dengan air. sacral. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). Zoetmulder. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. Matahari yang berbentuk bulat. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). Kalau diperhatikan. bukti Hidayat. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. 2002: 24. 2000:127). sengsara. sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. Analisis ini menunjukan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). Betari Sri Laut. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan.

yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. kebijakan. (simak halaman 134-138). Mitos. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. dan waktu yang tidak bisa berbalik. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. dan relasi konstan). realasi. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut.Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. Pemahaman di atas menunjukan. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. (antara ornamen. lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. Nomor 2. karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. 2003:105-142]. yaitu waktu yang bisa berbalik. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. yaitu diucapkan. 2001: 80-81). kekuasaan. motif Sawat. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. keluhuran. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. Tahun 32. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. cerita Ramayana. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). kebesaran. yang relative tetap. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. juga berada dalam dua waktu sekaligus. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. Hidayat. Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. Agustus 2004 gunakannya. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. kesetiaan 82 . bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. (Ahimsa-Putra. Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. cerita Garudia Kejayaan. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. kata Levi Strauss. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa.

Kejantangan Kekuatan. kalpataru. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. ketentraman Laut. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. Kupu-kupu. puncak meru. kesetiaan Kumbang. keinginan. pembasmi. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. pencerahan. penghancur. kebesaran. Kuda. Harimau. kekayaan. harapan. Sorga Ketentraman. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. Mitos Laut selatan. keabadian. keluhuran. pikiran Bangunan. perdamaian Awan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa).Lar (sayap) Unggas bersayap. kelestarian. kekuasaan. langit. pundhen desa. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kekuasaan. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. Wanita (femimimitas) Kasih saying. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. ringin kurung. bentuk wayang rampokan Kebebasan. kedamaian. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. pelepasan. mitos Sri Sadana. Kebebasan. kayon Puncak. kebijakan. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kesetiaan Burung merak. tanah Kejahatan. kekuasaan Kapal. perlindungan. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. Kemakmuran. keperkasan. mitos SriSadana Kemakmuran. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. Tahun 32. kekuasaan. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. kebijakan. pikiran. ketentraman. kekuasaan. rintangan. kebesaran. Istana. Mitos kematinan. kepergiaan. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. Sorga. Rumah. kecerdirkan. kesetiaan. Kejantanan Kekuatan. kebijakan. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. Nomor 2. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. kekayaan. atau pandangan para priyayi 83 . pencerahan. kasih sayang. harapan. kekuatan perusak. kekayaan. alam kegelapa. ikatan kekerabatan. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. ketentraman Burung Garuda. ketenangan.

Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). dan lain sebagainya. lidah api. Maka. dipahami sebagai sebuah struktur. pohon hayat. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. atau Hermeneutik. naga. ucapan. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. gambar. seperti bentuk batik Semen. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. Sawat. dan referentif. analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. kupu-kupu. dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. akan tetapi lebih mendalam. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. atau Alas-alasan. awan. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. dan lain-lain. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. mitos kesuburan. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). garis-garis.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. unggas (burung garuda. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. mitos kekuasaan. Hidayat. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). posisi motif. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. dan motif-motifnya). salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. 2001:31).motif pada kain batik. tanaman. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. salah satunya ada pada motif batik. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . seperti motif Sulur-suluran. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. merak). Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). mitos perjodohan. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. Akan tetapi perlu disadari. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. yaitu tentang paham monisme dualistik. Unsur mitos. meliputi warna dasar. tetapi bersamaan dengan itu. logis. sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. ukuran.

yaitu Loro-loroning Atunggal. Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan. Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI.1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. bibit . paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. Tahun 32. Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. dan kreativitas yang dikarsai. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). spontanitas. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi. bentuk. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). dan bersikap adil). atau tunas yang harus di semai kan. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi.] dan duwur (atas) [ + ]. Danaita. istilah ini berrelasi dengan 85 . Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. langit. Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. dan rakyat dipandang sebagai kawula . kesejukan. pengendalian. Darmaita ( ahli stragegi perang.untuk menemukan makna. bumi. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). yaitu . seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. kehangatan.. Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. Woro Ariyandini S. sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . sebuah citra yang kuat. Raja yang bersifat Saraita. Nomor 2. Curiga manjing warangka. subtansi. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji .. Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat.

Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . keramat. Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). Gunung laut berrelasi horizontal.kiwa (kiri)[-].1989: 635). menampakan hubungan yang bersifat duniawi. Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). yang da 300 BAHASA DAN SENI. Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. keluarga. Ayah ibarat pohon. siksaan. sorga tempat bersemayamnya para dewa. Hutan lebih bersifat magis. dan roh-roh pengganggu manusia. pelindung istri dan anakanaknya. Relasi gunung laut . ancaman Batari Durga. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). atau sakral. 1982:33). raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). dan kejayaan. Gambar 3. Tahun 32. dan juga manusia. yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). sedangkan dunia ada percapada. kebijakan atas dirinya. dan seluruh rakyat. Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. tempat makluk hidup bertebaran. sabda pandita ratu. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . Gunung (merapi) berada di Utara. bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . horizontal dan vertikal. Sawat. menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. dan laut sebagai muara. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang.motif batik Semen . kebesaran. eksistensinya sebagai pengayom. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. kaitannya dengan posisi kekuasaan. keagungan. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). atau pohon sorga (Sri Mulyana. Selatan menunjukan arah laut. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . yang tumbuh di bumi Hidayat. Paparan relasional dari motif batik Semen. simbol keseimbangan ekologi. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. bersemayamnya ratu pantai selatan. ora kena wula-wali. anak buah. tumbuhan. Nomor 2. gunung adalah sorgaloka. berrelasi dengan emas . atau meru . Tempat arwah yang tidak beruntung. yang artinya semi. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). dan bermukimnya jin. setan. yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. Barat menunjukan arah marabahaya.

Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. perdukunan. 87 . di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. Pijianto mempunyai sudut pandang. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. 1997:790. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. akibatnya aspek struktur terabaikan.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. Terlebih. Sawat. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. ilmu sihir. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. Asumsi Pujianto perlu diuji. Sawat. Temuan ini menunjukan. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. Sebagai contoh asumsi Pujianto. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. bahwa motif bagik Semen. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. seperti topeng. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. makanan tradisional. Setelah dilakukan analisis unsur motif. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. relasi. dan Alasalasan.

tempat roh-roh jahat. Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. Hidayat. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. yaitu adanya konsep Dewa-raja . isor 302 BAHASA DAN SENI. Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. ini sebuah kerelaan. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. Seperti istri pertama. dan kekuatan penghancur. yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . (2003: 139). Tahun 32. tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. dan budi luhur. berkait dengan kedudukan raja . Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. dan sekaligus kepasrahan. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. berkait dengan kedudukan rakyat kawula . Angrasa yen sinatyan. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. naga. Buat simpanan oleh sang raja. Nomor 2. dan juga kesetiaan. Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. Semunira den asumeh.duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . yaitu ngabekti. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). Setyanireng kakung. ketulusan. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. 88 . swargaloka. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. Kadi garwa kawitan. Ing raga nuta saosa kersing laki. Dan pelayananmu bila ketemu.1988: 56-57). Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. temen. narima. Hendaknya wajahmu berseri manis. Niels Mulder menjelaskan. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. Kinarya gedhong dening sang nata. sabar. tempat arwah bersemayam. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti).

2003. Woro. Jakarta: Balai Pustaka. Teori Budaya. Herusatoto. 2002. Danandjaya. 1983. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. diterj.B. Faufik & Leeden. 2003. Flores: Nusa Indah. Reid.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. Basis. E. Albert A. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . Olga. Wayang. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Mulder. Soedarsono. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Jakarta: Balai Pustaka. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Jakarta: Universitas Indonesia Press. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. 2002. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Pujianto. Malang: Fakultas Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Yayasan Indonesiatera. Abdullah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Holt. James. nomor 1. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Yogyakarta: media Pressindo. 1994. Manunggaling Kawula Gusti. Falsafah Jawa. Malang: Fak.2000.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. Sastra. 2000. Yahya. 1982.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . Universitas Negeri Malang.). Pujianto. Amri. Jakarta: Gunungagung. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. Dick Hartoko.J. Direktorat jendral Kebudayaan. 304 BAHASA DAN SENI. 1985. Rahayu S.C. 1997. 1996. 1. Masinambow. Kaplan. Purwadi. 1989. Randrianarisoa. Tahun 32. Februari 2003. 2003. Jakarta: Gramedia. Yogyakarta : Yayasan P. Niels. 1967. Februari 2003. Yogyakarta: Galang press. 1992. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. & Hidajat. diterjemahkan: Landung Simatupang.2000. tahun 31. Diterj. Jakarta: Balai Pustaka.M. Mulder.K. Semilogi Roland Barthes. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 2000. Universitas Negeri Malang. Filsafat dan Masa depannya. Yogyakarta: Qalam. Memutar Taman Sri Wedari. P. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. [tanpa kota terbit]. 1974. Agustus 2004 Koentjaraningrat. Nomor 2. Juni 1983 XXXII 6. Asal-usul.1986. 2001. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. Semiotik. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. 2001. Ahimsa-Putra. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Agus. no. Shri Heddy (ed. Kebudayaan Jawa. Budiono. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Ciptaprawiro. David & Monners. Aryandini S. (Purwadi. Diterj. 2001. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. vol. Mochtar Pabotinggi. Claire. A. 2001. Kurniawan. Mengkaji Tanda dalam Artifak. Sangkan paraning Dumadi. Abdullah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Yogyakarta: Hanindita. Antara Alam dan Mitos. 1986. Storey. John. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Sri. Sutarno. 1. Anthony [1988]. Teori Budaya dan Budaya Pop. Wayang dan Lingkungan. Niels. Ketika Orang Jawa Nyeni. 1988. nomor 1. tahun 31. Cremers. van Der. April 2002. Zoetmulder.

KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. dan nilai pendidikan kepahlawanan. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. nilai pendidikan agama (religi). Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. Lima cerita rakyat tersebut. dan terjadinya suatu tempat. observasi benda-benda fisik dan dokumen. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. dan legenda keagamaan. alur. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. dan amanat. (4) “Reyog Brijo Lor”. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. nilai pendidikan sejarah (historis). dan analisis dokumen. metode. latar. perekaman. dan teori. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. perjuangan seorang tokoh. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. wawancara. legenda perseorangan . nilai pendidikan adat.G. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. tema.ngkajian. tokoh. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. pencatatan. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten.

dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi). nilai pendidikan adat (tradisi). Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. 91 . adalah Nilai pendidikan moral .bervariasi. nilai pendidikan sejarah (historis). nilai pendidikan agama (religi).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful