Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. saudara lelaki . Bahasa adalah sistem komunikasi. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari.saudara perempuan. manusia mempunyai putusan sendiri. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. ia memiliki peran. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. seperti misalnya suami-istri. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. terutama dengan pemikiran fenomenologi. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). Sebagaimana halnya bahasa. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. 4 . paman-keponakan. anakbapak. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. Hubungan ini sama seperti bahasa. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. Perbedaan lain yang cukup mendasar. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri.

Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. seorang fenomenolog. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. tetapi justru suka menyembunyikan diri. yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. kecuali lewat paksaan mental tersebut. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. Ini didapat dari Husserl. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Melalui kajian Antropologi budaya. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Menurut Levi-Strauss. kategori.Bagi Heidegger.

Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah.strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. artinya tidak menguasai keadaan. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. tidak bermula dengan hidup manusia sendiri. tetapi justru saling melengkapi. mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu.

Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. 1996:513). Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. pada dekade 1960-an. terutama Eropa Barat. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). namun oleh Roman Jakobson. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat.tersebut. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. 1996:513).

Dalam permainan catur. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. Kedua. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur.yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. 2001 : 182). sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. ke 8 . dalam pendapat Saussure. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. Pertama. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. ke kanan. Agar lebih jelas. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. yang artinya adalah ”tanda”. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. Kedua adalah langue dan parole. Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. 2000 : 219 ). Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign).

B. Yale. B. teori lain yang mempengaruhi. Ini dapat dianggap sebagai parole. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. seperti universitas Harvard. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. Selain itu. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 .depan atau ke belakang. Selain itu juga dari universitas di Swedia. C. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. riwayat hidup penemunya. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. dan Oxford di Amerika. Hal ini penting. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. karena jika bergerak selain gerak “L”. maka hancurlah struktur permainan catur itu. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. Perancis maupun saat ia berada di New York. Kanada dan Meksiko. Latar belakang pendidikan.

Brazil. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Ia adalah keturunan Yahudi. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia.unik itu. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. Belgia.

Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. Levi-Strauss tinggal. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. yaitu petugas penghubung. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. ia juga mengalami diskriminasi ras. kesabaran. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. Di daerah Greenwich Village. A. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. Kroever dan Ralph Linton. seperti Maz Ernst. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya.L. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Berkat jasanya.Prancis. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. Franz Boas. Dengan ketekunan. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. Ruth Benedict. New York. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. 11 . dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. Halangan tidak hanya sampai disitu. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya.

. lahir pula Antropologi Kognitif. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia.. dikembangkan Ward H. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. Berbicara pada radio Perancis. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan." kata LeviStrauss. baik itu tanaman atau hewan. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya.Pada zaqmannya. "Dia adalah seorang pemikir. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. sekretaris abadi Académie française." Levi Strauss meninggalkan dua putra. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. Yale. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. berencana untuk menghormatinya. seorang filsuf. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. Aliran ini membawa 12 .. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa".Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. setelah dia meninggal." Hélène Carrère d'Encausse. Goodenough (1950-an). Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss. tidak lagi dunia yang aku suka. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. ia berkata. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. Penulis Jean d'Ormesson. Dalam wawancara dengan National Public Radio.

Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. dalam jangkauan luas masyarakat. dalam rentang enam dekade. Dia juga seorang pecinta musik sejati.definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. C. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. meninggal di Paris pada 31 Oktober. dan "The Raw and the Cooked" (1964). LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. "The Savage Mind" (1963). Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. 2009 dengan usia 101 tahun. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. terutama mitos. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. Karyakarya pemikir abad 20 ini. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . Akhirnya Claude Lévi-Strauss. Aliran Antropologi Simbolik.

Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word.” 14 .8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing.machines. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. Meskipun bertolak pada linguistik. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. all societies and all cultures.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. any organism. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. But so can a physiology. they are therefore difficult to define. 60). crystals. except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. rather. Allen Lane (1968. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. and still more difficult to discuss. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. where problems are similarly set in formal terms or. machines. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan. without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. 2006. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. but the patterns that the words form.

15 . Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. 1978).Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. 1958. 1. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. 1969 dalam Fokkema. Seperti kata-kata hitam dan putih. LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. ketulusan dan lain-lain. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. keburukan. kejahatan. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. 378). melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. kebersihan. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij.

Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. Istilah kekerabatan. dan mudah rusak (Fokkema. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. 1978). Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. 1978). Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. 4. merupakan unsur makna. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema.2. Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. 1972 dalam Fokkema. 16 . cepat berlalu. 1978). dan seperti fonem. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. 3. seperti halnya fonem. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus.

2006). Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. Kedua. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. Namun demikian. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. 1987). dan bersifat menjelaskan (Levi17 . Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). sederhana. 1978). perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi.Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. Berikutnya. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. Ketiga. dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. Koentjaraningrat. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pertama. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan.

dalam Fokkema. sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. apalagi ketika upacara pembakaran mayat. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. 1972. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. 1978).Strauss. Di Bali. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. Hastermann). selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. 18 . manjauhi yang kongkret. sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam.C. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia.

jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. tabu. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. tergantung dari relasinya. karena perbedaan sistimatis tersebut. kuda. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. namun bentuknya tidak. sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. Elemen dasarnya adalah katakata. Sebagai contoh: babu. sabu. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. Contoh: Jaran. Adanya langue menyebabkan adanya parole. Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. horse adalah ”penanda”. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. . Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. tetapi artinya sangat berbeda. Isi bisa berubah. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. Langue adalah sistem tata bahasa formal. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. Bahasa adalah sistem tanda (sign). karena 19 juga menganalisa sistem simbol. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913).

sampai mitos dalam masyarakat. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. *pergi*. cara berpakaian. . 20 mencaplok. kedinginan. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis.bahasa tubuh. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. *bangku*. naskah sastra. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. dan lain sebagainya. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. kegeraman. dan bentuk komunikasi. dan lain sebagainya. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. ekspresi. Suatu kategori jadi exist atau bermakna. Selanjutnya menurut Saussure. mengerogoti. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. dan lain-lain. dan memproduksi suara. Kategori X ataupun kategori Y. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. Disebut gunung. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. Dalam sistem biner. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya.

Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. publik <--> privat. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. separatis lawan NKRI. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. daratan <--> lautan. seperti: . dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . militer-sipil.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. positip <--> negatip. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. Bagi Strauss. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner.

Ia adalah produk dari sistem penandaan. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. atau antara anak-anak dan orang dewasa. ia bukan bersifat 'alamiah'. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. dan dengan memakai pengkategorian itulah. dan bahkan tidak akan ada kategori A. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. daratan dan lautan.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Tanpa kategori B. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. begitu seterusnya. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. Dalam sistem biner. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna.

Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). ada pantai. Pantai. Antara anak-anak dan orang dewasa. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. zombi. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner. Struktur terbagi dua. hantu. ada posisi remaja. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). vampir/hantu/zombi. perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Antara daratan dan lautan. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 .sistem oposisi biner. tapi pada struktur dalam tetap sama. remaja.

a. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. Sebagai penemu konsep linguistik modern. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. Ferdinan de Saussure. Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. C. dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. Signifier dan signified. 24 . 1. De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. (Levi-Strauss. 1978 dalam Ahimsa 2006). Dari ketiga pemikir linguistik ini. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme.terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. Yaitu. 2006). 56). Signified (tinanda) dan signifier (penanda). Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. 1995.

3.sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. 35). walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. 1976. 19 dalam Ahimsya. Form (bentuk) dan content (isi). Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). 2. 25 . tuturan). bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. 2006 h. Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. Langue (bahasa) dan parole (ujaran. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. Dalam konsep ini.

Namun demikian. 47). Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. 26 . dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. 46). 2006. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. 1966. Dalam langue terdapat norma-norma. 2006. via Ahimsa. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. 1976. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. 4. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. via Ahimsa. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem.

tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. 2006. Sintagmatik dan Paradigmatik. Pertama. “memetik” dan “bunga”. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. via Noth. b. periode formalist.5. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. Koch (1981. 1995. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. 47). Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 .

. 52) berikut ini: “. This was the revelation of structural linguistics. which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics.” (1985:139). a great deal more than I had bargained for. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006.berpengaruh.. 28 . Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. need I add. however. matematika dan juga fisika (1982). Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal.His (Jacobson’s) lectures. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). gave me something very different and. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. antara tahun 1939 sampai 1949. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. 2006. Kedua. Ketiga. Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York.. Keempat. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. periode Semiotic. 2006). 52).. periode stucturalist.

perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. d. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. a. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. Menentukan perbedaan. 55). Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. 1977. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. unit-unit yang bermakna. c. h. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. Ahimsya. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. b. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain.Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. Nikolai Troubetzkoy 29 . Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. 2006). c. 11.

fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. 4. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. Dengan kata lain. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. 2006). Artinya. (Ahimsa. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. 2006.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. 2. 59). kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. 30 . tetapi dia harus. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. ciri-ciri pembeda. bukan konsep psikologis. Selanjutnya dia perlu. 3. Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. 1. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. d. Langkah analisis struktural dalam fonologi.

31 . 2. yaitu secara sinkronis. Ahimsa (2006. Yaitu kemampuan untuk structuring. 13-14 Ahimsya. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. pakaian dan sebagianya. 1. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. menyususun suatu struktur. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. (Ahimsa.Marxisme dan lain-lain. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). 2006. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. 66). 4. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. 68). akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. 1970. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. pola tempat tinggal. dengan istilah-istilah yang lain. 3. untuk menstruktur. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal.

Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . dan sebagai “tanda” (sign). camat dan sebagainya. Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. Dalam wacana ilmu-ilmu sosial.Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. gubernur. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. implikasinya cukup jauh. Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. bukannya sebagai seorang “pesinden”. dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa. juga jika hanya secara analogis.

Dalam kritik Giddens. “Kode tersembunyi” itulah struktur. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. misalnya. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. berbeda merupakan identitas itu sendiri. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. Jacques Derrida. ‘gubernur’. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . ruang.kasat mata. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. dan proses adalah soal kebetulan. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. Seperti telah dicontohkan di atas. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. Artinya. waktu. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. e. ‘camat’ dan sebagainya. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan.

yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. Secara umum dapatlah dikatakan. 2. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama.

sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. Dalam perhatiannya mengenai mitos.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. Menurut Levi-Strauss. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. tetapi sebagai model bagi kenyataan. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial.keteraturan (order). yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. 3. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan.

Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. sekarang. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. yaitu etos dan pandangan hidup. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. Karena. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran.mengenai masa yang lampau. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. 2. kebingungan dan jiwa tertekan. maupun masa yang akan datang.

Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. data etnografi dan interpretasi. yaitu dalam rangkuman struktur sosial.sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. dibenarkan. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. a). a. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. D. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. dan didukung dalam suatu masyarakat. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. 3. Cara menggunakan 37 . Sebagai akhir kata. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis.

Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan.konsep-konsep analisis. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Karena ketidaktepatan itu. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. 162). Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. 2006. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. Menurut para 38 . Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. Reduksi dalam proses analisis. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). 2006. Ketiga. 164). Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Konsistensi prosedur analisis dan c). b). 2006). 1967 dalam Ahimsa. menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Kedua. Dalam persoalan ini. b. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh.

seperti Alice Kassakoff dan John W. 168).L. a). Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan.antropolog. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni. (Ahimsa. JZ. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. (misrepresentasions of story). Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . Thomas. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Lain lagi dengan pendapat Alice. oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. c. Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. Hasil Analisis. 2006. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. L. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Kronenfeld dan DB. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. b). Kronenfeld. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan.

aspek-aspek positif mengenai makna mitos. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. ( Douglas. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. “Instead of more and richer depths of understanding. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). we get a surprise. 170). 20006. 1967 dalam Ahimsa. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. d. a totally new theme. and often a paltry one at that”. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi.

Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. E. dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. yang tidak terduga dan menarik. Ada susunan. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . Masuk akal. makna-makna yang sangat dalam. struktur dan koherensi logis dalam mitos. 176). berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia.Strukturalisme Levi-Strauss ini. 2006. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain.

Tesis Pascasarjana Antropologi. Yogyakarta. 1984. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. ___________. ___________. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. 2005. T. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . Basis XXXIII (4) : 122-135. Makalah seminar Arkeologi. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Orang-Orang PKI. Yogyakarta : LKIS.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. 1998b. 1997. kepel Press. ___________. “Lévi-Strauss.S. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Kawin Bedil dan Sobrat. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Nalar Jawa. 2006. Kalam 6 : 124-143. Paz. 1998a. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. 1995. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Makalah seminar. ___________. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. 1994.. Shri. 1998c. Universitas Gadjah Mada. H. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. Ahimsa-Putra. Ahimsa-Putra. Makalah seminar. ___________. O. H. ___________. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada.

“Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Tiga Dasawarsa. ___________. Abror. ___________. C.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. Satu Model. ___________. Satwa.I : 10 – 19. Yogyakarta : Galang Press. ___________. ___________. Yogyakarta : Insight Reference. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. ___________. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Badcock. Humaniora XV (3) : 239 – 264. 43 . Totem. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. ke Post- ___________. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Makalah Sarasehan. September – Desember. Humaniora 12 : 1 – 13. ___________. A. Makalah dalam bedah buku. Tembi 1 Thn. Makalah seminar. ___________. 2006a. 1999a. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. 1999c. Makalah Pelatihan. ___________. 2000b. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. ___________. 2002e. Salam (ed). Strukturalisme Lévi-Strauss. ___________. 2002a. Makalah diskusi. Mitos dan Karya Sastra. Robby H. 2005. Mitos dan Nalar Primitif. 2002c. 1999b. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Jakarta : UI Press. Rahayu S. ___________. 2001. Makalah bedah buku. Makalah seminar. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Dua Paradigma. 2002b. 2003. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. (ed). Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. 2002d. ___________. 2000a. Terj.

The Theory of Culture (Teori Budaya). Makalah seminar nasional. Hand Book of Semiotics. Lane. Bloomington and Indianapolis. 1968. 2008b.). To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Makalah bedah buku. Edisi Baru. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Antropologi Struktural. 1981.W. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. 1999. Structural Anthropology. D. 2007b. 2006c. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. David. Strukturalisme Lévi-Strauss. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Makalah seminar. The Penguin Press. Ritus Penandaan. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Anthropologie Structurale (Terj. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). 2007). Levi. Ngawa. Yogyakarta : Kepel Press. Yogyakarta. Yogyakarta. Longman. 2008. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Critical Approaches to Literature. Allen. Strauss. Indiana university Press. Sussex. Universitas Gadjah Mada. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Sawerigading. Winfried. Kaplan. H. Abdullah (ed. 2006b. 1985. ___________. A Reader Guide to Contemporary Literary Work. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. ___________. 1958.___________. dkk. Tesis Pascasarjana Antropologi. The Harvester Press Limited. Metodologi dan Etnografi. 2006e. Fokkema. ___________. 2008a. Jakarta. Nasrulah. Ritus Pertukaran”.). New York. 44 . Ngambu. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Pustaka Pelajar. ___________. 1998.. David. Kreasi Wacana. 1995. Ngaju. Kepel Press : Yogyakarta. 2007a.. ___________. Selden. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Claude. Daiches. Noth. Gramedia. ___________. Mitos dan Karya Sastra. T. Raman. Ahimsa-Putra (ed. 2006d.S. ___________.

). “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. 2007).). click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. J. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . 1979. Sturrock (ed. Yogyakarta. Anthropologie Structurale (Terj. Erdward Said. J. Kreasi Wacana. Sturrock. Roland Barthes. Claude. For the best results. 1958. Oxford : Oxford University Press. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme". Oxford : Oxford University Press. 1979. Antropologi Struktural. Sperber. J. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. Levi. D.Strauss. Sturrock (ed.

Dalam pemikiran post strukturalis.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. Dalam tulisan.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. Selain itu. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. berpikir sementara menjadi hal yang utama. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. penanda selalu produktif.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Aspek diakronis bahasa. dilihat sebagai bagian yang kurang penting.

pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. 47 . Sign. atau disebut para dekonstrusionis Yale. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. misalnya pada New Criticsm. 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an. Diterbitkan di: Januari 04. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks.Essay Roland Barthes.Essainya yang berjudul “Structure. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida. and Play in the Discourse of the Human Sciences” . Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida.. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis.. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali .sastra.

com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI.You searched for: "strukturalisme". click here! • Kutipan • Dan.blogspot. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . Derrida. Bahasa. Dalam. TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. • • • • • • • • • Sastra. For the best results. Bahwa. Pada. Dapat. Dengan.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. jenis kelamin. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. dan menilai dunia sosial. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. menyadari. preferensi.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. Field dan Modal. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. kelompok dan kelas sosial. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. memahami. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. tidak setiap orang sama kebiasaannya. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. Kedua. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. Tidak mengherankan. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. beberapa tahun kemudian. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. Ketiga. tetapi juga ahli filsafat. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. 57 . empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. 1979 : 1). setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. 1986 : 7).dengan di Inggris dan Amerika Serikat. dan filsafat. Namun. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Kelima. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. Bagaimanapun juga. Keempat. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. setelah dia berkenalan dengan antropologi. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. Dengan kata lain. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. Dengan kata lain. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. sastra. Rolanda Barthes. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif.

Prof. oleh lebih banyak ilmuwan. Prof. seperti Clifford Geertz.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. Antropologi Eropa (Inggris. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. Belanda. Sementara itu. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . Koetjaraningrat misalnya. Lebih dair itu. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. Ward H. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. Parsudi Suparlan. Spradley. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. Dr. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Budi Santoso. akhirnya saya harus kecewa. karena selalu sulit dan tidak biasa. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. J. Nico Kalangie. James P. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. Saya ingat. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. Dr. Goodenough. Namun. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. Dr. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. yang mengajar kami teori-teori antropologi. Oleh karena itu. 2. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. pada tahun 1994 saya kembali. Danandjaja. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. dan sebagainya. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss.

Postmodernisme mulai terdengar. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Sartono Kartodirdjo. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. 59 . strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. James Danandjaja. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. Koentjaraningrat. bahkan hampir tidak ada. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. Masri Singarimbun. seperti misalnya Fuad Hasan. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. Parsudi Suparlan. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. Selo Soemardjan dan sebagainya. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. bahkan sampai tahun 1980an. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. Padahal. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. Pertama. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. dan masih aktif.

Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. acuh tak acuh. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. apalagi oleh kalangan yang lebih luas. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia.R. Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. atau menolak secara terang-terangan. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. Sementara itu. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. Keempat. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. Kelima. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. Ketiga. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. Memang. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. Kedua. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. ahli sosiologi Amerika Serikat.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. Sebaliknya.

M. Saya tidak tahu mengapa demikian. yakni P. karena pendekatannya terasa tidak lazim. mungkin juga sulit 61 . Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. Tesis pascasarjananya. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. de Josselin de Jong kepada kami. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. Mungkin. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan.E. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. a. Meskipun demikian. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. Yang lain tidak tertarik. Laksono. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. 3.

Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. Amerika Serikat. Pak Kodiran. 1984). saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. saya kebetulan diminta Prof. yang saat itu masih belum guru besar. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. yang ditulis oleh Radrianarisoa. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. mungkin pula karena kurang promosi. Setelah saya kembali ke UGM. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi.E. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. saya mengajar di jurusan antropologi. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. b. de Josselin de Jong. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. Untuk beberapa tahun. patut dihargai. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. Semenjak itu. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. Belanda. Belanda. Ketika itu pengajaran teori antropologi. Laksono tidak dapat menggantikan. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut.

karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. seni dan filsafat. terutama di Yogyakarta. Saya menawarkan 63 . semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. Sementara itu. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. 1995).menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. Selain melalui perkuliahan. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. baik itu yang analitis maupun teoritis. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. 1997). terutama jurusan antropologi di UGM. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo.

Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. 64 . strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. Dengan terbitnya buku tersebut. Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. Dengan demikian. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. 2002c). Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. 2001). Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. 1999c. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. 1998a. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. 2000b). Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. 4. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. Sejak itu. 2000a). tentang cara menggunakannya.

ngawa. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . Subiantoro. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. rumah tradisional Sumba (Purwadi. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. Oleh karena itu. Kalau Dadang H. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. Kalimantan. a. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. baik itu secara formal lewat seminar. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. Sepengetahuan saya. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Oleh karena itu. 2000). 1999c. yakni patung (Ahimsa-Putra. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama.Memang. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. 2002). di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme.

Minang (Maryetti. 66 . pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. ahli arkeologi UI. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. Meskipun demikian. ternyata tidak selalu mudah dipahami. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. 2007). Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. Selain arca ganesya. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. 2009). karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. Lebih dari itu. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. Sementara itu. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. b. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. yakni kosmologi Jawa. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. Dari pengalaman berdiskusi. 2000). ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian.

Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. juga belum dapat dimengerti dengan baik. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. yang historis.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. Sulit rasanya 67 . dan itu berarti kepada masa lampaunya. diakronis. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. yang a-historis. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. c. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Bahkan. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

tidak demikian halnya dengan strukturalisme. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. jika tidak memprihatinkan. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. 5. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. Hal ini tentu sangat mengherankan. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi. yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada.mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. Belum pernah saya diundang dalam seminar. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. tingkat pascasarjana. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia.

signified. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. H. oposisi biner. Kalam 6 : 124-143.membahasnya. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. Basis XXXIII (4) : 122-135. Universitas Gadjah Mada.S. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Oleh karena itu pula. dan transformasi. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. ___________. Kawin Bedil dan Sobrat. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. dan sebagainya. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. struktur sosial. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. T. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. 2005. Namun. 1995. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. Ahimsa-Putra. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. signifier. ___________. Universitas Gadjah Mada. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. sintagmatik-para digmatik. terutama di UGM. sign. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. 1994. 69 . Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Makalah seminar. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. Tesis Pascasarjana Antropologi. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. Fakultas Ilmu Budaya. 1984. di tingkat pascasarjana. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat.

Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. 2002c. 1999b. ___________. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Makalah seminar. 1999a. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. “Lévi-Strauss. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. 1998a. 2002b. Makalah Pelatihan. ___________. Tiga Dasawarsa. A. ___________. 1998c. Humaniora 12 : 1 – 13. O. Salam (ed). ___________. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika.___________. ___________.I : 10 – 19. 1999c. ___________. ___________. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. 2001. Makalah seminar. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Satu Model. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. 70 . Makalah Sarasehan. Makalah seminar Arkeologi. Paz. Makalah dalam bedah buku. Nalar Jawa. 1997. 2002a. 2002d. ___________. ___________. ___________. Makalah seminar. 2000b. Jakarta : UI Press. Strukturalisme Lévi-Strauss. Dua Paradigma. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. September – Desember. Yogyakarta : LKIS. ___________. 2000a. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Yogyakarta : Galang Press. (ed). Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Tembi 1 Thn. Orang-Orang PKI. ___________. Rahayu S. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Mitos dan Karya Sastra. 1998b. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. ___________.

___________. Yogyakarta : Kepel Press. Ritus Pertukaran”. Yogyakarta : Insight Reference. ___________. Robby H. Satwa. Makalah bedah buku. 2006d. Abror. 2004. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Mitos dan Nalar Primitif. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. 2005. Terj. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Makalah seminar nasional. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. 2008a. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi.). Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Strukturalisme Lévi-Strauss. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Leni. Mitos dan Karya Sastra. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. ___________. Totem. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. C. ___________. ___________.S. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Makalah diskusi. Sawerigading. 2006b.___________. H. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Universitas Gadjah Mada. ___________. 2008b. 2003. 2007b. N. Ahimsa-Putra (ed. T. 2006e. ___________. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”.). “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Edisi Baru. ___________. Abdullah (ed. 71 . Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. 2007a. 2006c. Badcock. Makalah bedah buku. 2006a. 2002e. Kepel Press : Yogyakarta. ___________. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Makalah seminar. Metodologi dan Etnografi. ___________. Ritus Penandaan. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf.

Oxford : Oxford University Press.). 2003. Universitas Gadjah Mada.). 2004. Tesis Pascasarjana Antropologi. London : Ark Paperbacks. A. 2007. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. Universitas Gadjah Mada.I. Sturrock (ed. Pace. Analisis Struktural Lévi-Strauss. Sumintarsih. Sperber. D. Radjabana. Tesis Pascasarjana Antropologi. Oxford : Oxford University Press.K. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. 2009. Numbery. 2002. Xiao Lixian. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. Subiantoro. 1979. J. 1979. Ngawa. Purwadi. Nasrulah. Universitas Gadjah Mada. 2007. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1998. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Tesis Pascasarjana Antropologi. Sturrock. Universitas Gadjah Mada. Purnama. J. Sturrock (ed. Tesis Pascasarjana Antropologi.H. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Universitas Gadjah Mada. Kulon Progo. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. D. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. Universitas Gadjah Mada. 2000. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. G. Ngaju. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Distrik Kurulu. 72 . Tesis Pascasarjana Antropologi. S. 2005. Yogyakarta. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida.Listia. Maryetti. 1986. 2008. D. Ngambu. Tesis Pascasarjana Antropologi. Tesis Pascasarjana Antropologi. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. Disertasi Antropologi. J. Universitas Gadjah Mada.

More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. filsuf perempuan. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. in Indonesia. jurnal.11 readers like this article. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. laporan penelitian. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. kematian. tuhan. 73 . Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. During the research. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. Meteor Garden. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. kertas kerja tentang kajian budaya. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. makalah.

saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat.More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 . More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. Bila ada kesempatan di akhir pekan. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. kampanye isu tertentu. maupun organisasi aktivis.

Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat. punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 . More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari.

Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture. 76 . Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. Therefore.. according to the present writer. structural approach. Javanese mythology. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi . the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach. sawat. which. Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik..http://tinyurl. and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology.. In his study he employs a symbolic approach.. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier . motifs.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. arguing for the myths underlying those different motifs. with a great variety of sizes. yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). symbolic approach. Nomor 1. 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . forms. Universitas Negeri Malang. and functions. Fakultas Sastra.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 . Tahun 31. Pujianto writes a book on batik semen. The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article. Tiga Usia Jacques Derrida. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. Key words: batik. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. Februari 2003). Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@.

Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. misalnya sebagai contoh 77 . Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. Falsafah orang Jawa . Tahun 32. Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . Perspektif simbolik. yaitu strukturalisme fungsional. Seakan-akan unsur ornament . Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). Mauss. M. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K.Hidayat. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. 137). suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. Nomor 2. di samping tokoh yang lain. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. referensinya telah tersedia. di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Pada kaitan ini. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. Entitas ini muncul secara tiba-tiba. professor di College de France. artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. Lenger (studi seni). Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. Bertolak dari artikel Pujianto. Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. terutama menyimak relasi lambang dan arti . 1986).

Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. daragam. maupun Abdi Dalem. keluarganya. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. dan tari Bedhaya (halaman 133). Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. lenga-teleng. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. dan batik parang rusak. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. daragam lan tumpal. 1983:213). Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. bangun-tulak. lenga-teleng. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . batik cumangkiri yang calacep.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. utamanya ketika sedang bertitah. 2003: 131). batik cumangkiri kang calacep. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. Landung Simatupang. dan abdidalem. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. 2000: 237). terj. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. Adipati. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. modang. modang. Anadene Hidayat. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. (Pujianto. bangun tulak. bahwa Batik merupakan benda fungsional. kawulaningsun Wedana. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. dan tumpal. baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. yang saya perbolehkan dipakai Patih. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. (Yahya. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). Wedana. 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. dan rakyatnya.

Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. Semen 79 . sebagai berikut: Gambar 1. pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. demikian juga tentang kekuasaan . urairan tentang bentuk Semen. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. Penyebara benih. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. Misalnya. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. Berdasarkan konsep Triloka. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga .Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. dan alam bawah. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. Nomor 2. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. dan Alas-alasan. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. Sawat. alam tengah. yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. Sawat. dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. agar benih tersebut dapat bersemi. yang dijelaskan oleh Pujianto. 1997: 80). Berdasarkan skema tersebut di atas. yaitu: Alam atas. Tahun 32. sebagai berikut.

Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. ALAM 80 . kumbang. kakyaan. kegembiraa. kapal Udara. roh ALAM TENGAH Manusia. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. Agustus 2004 Tabel 1. gunung. Kekuasaan. angkasa. Lar (sayap). Tanah Brahma Tumbuhan. kupukupu. burung merak. suci. Nomor 2. kuda. pengavoman. Awan. Kalpataru. tumbuhtumbuhan Kehidupan. harimau. Lar (sayap) bersulur bangunan. Matahari Burung Garuda. Garuda. Tahun 32. (pohon hayat) Ayam jantan. kemakmuran. kesaktian. kejayaan. wahyu. Awan. hidup.

Analisis pada tabel 1 menunjukan. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. laut. dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). sebagai lawan garuda. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. sengsara. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. Kalau diperhatikan. Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. sacral. Analisis ini menunjukan. atau ular yang berrelasi dengan air. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. sungai. Apabila diubah relasinya. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. 2003:134). simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. sungguhpun tidak seluruhnya salah. yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). Betari Sri Laut. kedukaan. Maka dimungkinkan. berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari .BAWAH Laut. bukti Hidayat. Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. 2002: 24. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . Wisnu. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. Matahari yang berbentuk bulat. atau tidak terbukti. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. 2000:127). dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. Zoetmulder. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237).

motif Sawat. kebesaran. kata Levi Strauss. kesetiaan 82 . dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. realasi. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. 2001: 80-81). Tahun 32. yang relative tetap. Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. keluhuran. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. juga berada dalam dua waktu sekaligus. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. (Ahimsa-Putra. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. cerita Ramayana. 2003:105-142]. (simak halaman 134-138). Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. kebijakan. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. Hidayat. cerita Garudia Kejayaan. dan relasi konstan). Mitos. yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. (antara ornamen. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. dan waktu yang tidak bisa berbalik. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. Pemahaman di atas menunjukan. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. yaitu diucapkan. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). yaitu waktu yang bisa berbalik. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. kekuasaan. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas.Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. Nomor 2. Agustus 2004 gunakannya.

bentuk wayang rampokan Kebebasan. kasih sayang. kekuasaan. Kejantangan Kekuatan. Harimau. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. pikiran. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. Istana. kekuasaan. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. kebijakan. Mitos Laut selatan. Sorga. perdamaian Awan. kekayaan. kesetiaan Kumbang. ringin kurung. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. pundhen desa. kepergiaan. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. mitos Sri Sadana. keinginan. pencerahan. pikiran Bangunan. alam kegelapa. kekayaan. kebesaran. kekuasaan Kapal. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. penghancur. keperkasan. kesetiaan. ketentraman Laut. Wanita (femimimitas) Kasih saying. kesetiaan Burung merak. pembasmi. Mitos kematinan. Sorga Ketentraman. Kuda. Rumah. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. ketenangan. Kejantanan Kekuatan. Kebebasan. puncak meru. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. kekuatan perusak. ikatan kekerabatan. kayon Puncak. tanah Kejahatan. Kemakmuran. kalpataru. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. harapan. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. kekuasaan. Kupu-kupu. perlindungan. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. kedamaian. kekayaan. rintangan. kekuasaan. kecerdirkan. kebijakan. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. ketentraman. atau pandangan para priyayi 83 . mitos SriSadana Kemakmuran. Tahun 32. keluhuran. ketentraman Burung Garuda. langit. kebijakan. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. pelepasan. keabadian. kebesaran. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). Nomor 2. pencerahan. kelestarian. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. harapan.Lar (sayap) Unggas bersayap.

mitos perjodohan. logis. dan lain sebagainya. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. Sawat. garis-garis. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. merak). akan tetapi lebih mendalam. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). Akan tetapi perlu disadari. lidah api. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. dan motif-motifnya). sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. mitos kesuburan. seperti motif Sulur-suluran. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. gambar. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). atau Alas-alasan. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. ucapan. analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. tanaman. atau Hermeneutik. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. meliputi warna dasar. yaitu tentang paham monisme dualistik. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. kupu-kupu. dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. naga. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. 2001:31). seperti bentuk batik Semen. dan referentif. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. dan lain-lain. dipahami sebagai sebuah struktur. Hidayat. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . ukuran.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta).motif pada kain batik. pohon hayat. salah satunya ada pada motif batik. awan. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. Unsur mitos. tetapi bersamaan dengan itu. unggas (burung garuda. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). mitos kekuasaan. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. posisi motif. Maka. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif.

Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). dan kreativitas yang dikarsai. Nomor 2. langit. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan.] dan duwur (atas) [ + ]. atau tunas yang harus di semai kan. Raja yang bersifat Saraita. bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. pengendalian. yaitu . sebuah citra yang kuat. Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri.. Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. kesejukan. salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. bibit . berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . subtansi. yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat. Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. spontanitas. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi. istilah ini berrelasi dengan 85 . Danaita. Darmaita ( ahli stragegi perang. yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . Tahun 32. yaitu Loro-loroning Atunggal. kehangatan. dan rakyat dipandang sebagai kawula . seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. Curiga manjing warangka. bumi. Woro Ariyandini S. Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . dan bersikap adil). Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil)..1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud.untuk menemukan makna. bentuk. Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi.

atau meru . simbol keseimbangan ekologi. Hutan lebih bersifat magis. yang artinya semi. Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). Barat menunjukan arah marabahaya. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. dan seluruh rakyat. dan roh-roh pengganggu manusia. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . ancaman Batari Durga. gunung adalah sorgaloka.motif batik Semen . ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). sedangkan dunia ada percapada. Gunung (merapi) berada di Utara. dan juga manusia. pelindung istri dan anakanaknya. Selatan menunjukan arah laut.1989: 635). dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. dan kejayaan. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). atau pohon sorga (Sri Mulyana. dan bermukimnya jin. eksistensinya sebagai pengayom. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . tempat makluk hidup bertebaran. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). Relasi gunung laut . bersemayamnya ratu pantai selatan. dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). Ayah ibarat pohon. Gambar 3. keluarga. yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. tumbuhan. sorga tempat bersemayamnya para dewa. Tempat arwah yang tidak beruntung. Tahun 32. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. menampakan hubungan yang bersifat duniawi.kiwa (kiri)[-]. kebijakan atas dirinya. keramat. Nomor 2. Gunung laut berrelasi horizontal. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. Sawat. anak buah. dan laut sebagai muara. Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. berrelasi dengan emas . Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . horizontal dan vertikal. kaitannya dengan posisi kekuasaan. raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . ora kena wula-wali. Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. yang da 300 BAHASA DAN SENI. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . Paparan relasional dari motif batik Semen. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). kebesaran. 1982:33). keagungan. atau sakral. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. sabda pandita ratu. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). siksaan. setan. bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. yang tumbuh di bumi Hidayat.

dan juga dimungkinkan adalah motif batik. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . 87 . hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. Asumsi Pujianto perlu diuji. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. 1997:790. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. seperti topeng. dan Alasalasan. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. perdukunan. Terlebih. Sawat. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. akibatnya aspek struktur terabaikan. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. Setelah dilakukan analisis unsur motif. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. Sawat. Sebagai contoh asumsi Pujianto. ilmu sihir. makanan tradisional. PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks .Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. bahwa motif bagik Semen. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Pijianto mempunyai sudut pandang. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. Temuan ini menunjukan. relasi. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam.

Ing raga nuta saosa kersing laki. Hendaknya wajahmu berseri manis. Dan pelayananmu bila ketemu. Seperti istri pertama. yaitu adanya konsep Dewa-raja . Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. Niels Mulder menjelaskan. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. berkait dengan kedudukan rakyat kawula . Hidayat. yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. 88 . dan budi luhur. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). ini sebuah kerelaan. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung .1988: 56-57). naga. Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. sabar. tempat arwah bersemayam. narima. dan sekaligus kepasrahan.duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). Nomor 2. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. (2003: 139). ketulusan. Kinarya gedhong dening sang nata. Setyanireng kakung. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . Buat simpanan oleh sang raja. Tahun 32. isor 302 BAHASA DAN SENI. Angrasa yen sinatyan. temen. tempat roh-roh jahat. dan kekuatan penghancur. Semunira den asumeh. yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. berkait dengan kedudukan raja . Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. swargaloka. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. dan juga kesetiaan. Kadi garwa kawitan. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran. Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. yaitu ngabekti. Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut .

Memutar Taman Sri Wedari. 304 BAHASA DAN SENI. Niels. Teori Budaya dan Budaya Pop. tahun 31. Niels. 1994.K. James. Universitas Negeri Malang. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Filsafat dan Masa depannya. Mulder. 2002. Anthony [1988]. 1. P. Jakarta: Gunungagung. Sangkan paraning Dumadi. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Rahayu S. Kurniawan. Purwadi. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Herusatoto. 2003. 2001. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis. John. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Diterj. nomor 1. & Hidajat. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . Sastra. A. Diterj. 1985. Yogyakarta: Hanindita. nomor 1. Cremers. 1983. Aryandini S. Yogyakarta: Galang press. 2000. 2001. 1997. Yogyakarta : Yayasan P. Mulder. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. Woro. Tahun 32. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. 2001. Ahimsa-Putra. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Februari 2003. Pujianto. Sutarno.). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Falsafah Jawa. Ketika Orang Jawa Nyeni. 1988. Wayang dan Lingkungan. Flores: Nusa Indah. Budiono. Ciptaprawiro.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. Kaplan. 1989. Wayang. Soedarsono. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. Sri. Jakarta: Balai Pustaka. Randrianarisoa. [tanpa kota terbit]. 1982. Asal-usul. 2003. 1996. Yogyakarta: media Pressindo. diterj. Reid.C. tahun 31. 2002. Semilogi Roland Barthes. Mochtar Pabotinggi. 1. diterjemahkan: Landung Simatupang. David & Monners. Yahya. Amri. (Purwadi.2000. Semiotik.1986. Dick Hartoko. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Yogyakarta: Qalam. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . Malang: Fakultas Sastra. April 2002. Albert A. E. Abdullah. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. Manunggaling Kawula Gusti. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . Masinambow.J. 2003. Zoetmulder. van Der. Teori Budaya. Basis. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. 1986. Malang: Fak. Antara Alam dan Mitos. 1974. Storey. Nomor 2. Jakarta: Gramedia. no. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1967. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Olga. Direktorat jendral Kebudayaan. 2000.M. Agustus 2004 Koentjaraningrat.B. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Februari 2003. 1992. Juni 1983 XXXII 6. Jakarta: Balai Pustaka. Shri Heddy (ed. Mengkaji Tanda dalam Artifak. Jakarta: Balai Pustaka. Holt. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Faufik & Leeden. Danandjaya. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. Abdullah. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Claire.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Universitas Negeri Malang. 2001. vol. Pujianto. Agus.2000. Yayasan Indonesiatera.

Latar yang paling dominan adalah latar tempat. latar. observasi benda-benda fisik dan dokumen. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. dan legenda keagamaan. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. pencatatan.G. nilai pendidikan sejarah (historis). Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. metode. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. dan nilai pendidikan kepahlawanan. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. nilai pendidikan agama (religi). Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. tokoh. perjuangan seorang tokoh. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. legenda perseorangan . Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. dan amanat. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. dan teori. alur. dan terjadinya suatu tempat. dan analisis dokumen. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. tema. wawancara. Lima cerita rakyat tersebut. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik.ngkajian. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. (4) “Reyog Brijo Lor”. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. nilai pendidikan adat. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. perekaman.

Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. adalah Nilai pendidikan moral . dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi). nilai pendidikan agama (religi). nilai pendidikan adat (tradisi). 91 . nilai pendidikan sejarah (historis).bervariasi.