Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. Sebagaimana halnya bahasa.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. saudara lelaki . Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. terutama dengan pemikiran fenomenologi. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. Bahasa adalah sistem komunikasi. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. Hubungan ini sama seperti bahasa. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. 4 . karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. manusia mempunyai putusan sendiri. anakbapak. ia memiliki peran. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada.saudara perempuan. paman-keponakan. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. seperti misalnya suami-istri. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). Perbedaan lain yang cukup mendasar. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur.

Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. kategori. seorang fenomenolog. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia).Bagi Heidegger. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. tetapi justru suka menyembunyikan diri. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. Ini didapat dari Husserl. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. Melalui kajian Antropologi budaya. Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . Menurut Levi-Strauss. kecuali lewat paksaan mental tersebut. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P.

Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. tetapi justru saling melengkapi. Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. artinya tidak menguasai keadaan. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal".strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. tidak bermula dengan hidup manusia sendiri. Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam).

tersebut. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat. namun oleh Roman Jakobson. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). pada dekade 1960-an. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. 1996:513). terutama Eropa Barat. Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. 1996:513). Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut.

yang artinya adalah ”tanda”. Dalam permainan catur. sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. Kedua. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. Pertama. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens.yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. dalam pendapat Saussure. Kedua adalah langue dan parole. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. 2000 : 219 ). terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). ke kanan. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. Agar lebih jelas. 2001 : 182). sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). ke 8 . Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda.

Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. maka hancurlah struktur permainan catur itu. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . teori lain yang mempengaruhi. C. Latar belakang pendidikan. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. riwayat hidup penemunya. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. dan Oxford di Amerika. Selain itu juga dari universitas di Swedia. B. seperti universitas Harvard. B. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. Perancis maupun saat ia berada di New York. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. Selain itu. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. karena jika bergerak selain gerak “L”. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. Hal ini penting. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. Yale. Ini dapat dianggap sebagai parole. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. Kanada dan Meksiko.depan atau ke belakang. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss.

Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone.unik itu. Belgia. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Ia adalah keturunan Yahudi. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia. Brazil. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini.

11 . New York. Ruth Benedict. Kroever dan Ralph Linton. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. yaitu petugas penghubung. kesabaran. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. seperti Maz Ernst. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Di daerah Greenwich Village. A. Berkat jasanya. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. Halangan tidak hanya sampai disitu.Prancis. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Dengan ketekunan. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. ia juga mengalami diskriminasi ras. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. Levi-Strauss tinggal. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut.L. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. Franz Boas. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya.

Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan." kata LeviStrauss. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. . Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. Dalam wawancara dengan National Public Radio.. Berbicara pada radio Perancis." Hélène Carrère d'Encausse." Levi Strauss meninggalkan dua putra.. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. Aliran ini membawa 12 . yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. sekretaris abadi Académie française. Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. baik itu tanaman atau hewan. Penulis Jean d'Ormesson. Yale. "Dia adalah seorang pemikir. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis.Pada zaqmannya. berencana untuk menghormatinya. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". Goodenough (1950-an). Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. setelah dia meninggal. tidak lagi dunia yang aku suka. dikembangkan Ward H. lahir pula Antropologi Kognitif. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. seorang filsuf. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford. ia berkata. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia.

seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). C. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. dan "The Raw and the Cooked" (1964). Karyakarya pemikir abad 20 ini.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. Aliran Antropologi Simbolik. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . dalam rentang enam dekade. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. 2009 dengan usia 101 tahun. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. dalam jangkauan luas masyarakat. terutama mitos.definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. meninggal di Paris pada 31 Oktober. Dia juga seorang pecinta musik sejati. "The Savage Mind" (1963). Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme. sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang.

machines. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word. all societies and all cultures. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. 2006. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. they are therefore difficult to define. but the patterns that the words form. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. where problems are similarly set in formal terms or. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. 60). Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. Allen Lane (1968. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. any organism. rather. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan. and still more difficult to discuss. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. machines. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. Meskipun bertolak pada linguistik. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. crystals. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing. But so can a physiology.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand.” 14 .

15 . dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. 1969 dalam Fokkema. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. Seperti kata-kata hitam dan putih. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. 378). yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya. ketulusan dan lain-lain.Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). 1. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. kebersihan. 1958. 1978). Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. keburukan. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. kejahatan. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan.

Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. 1978). 1978). sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. merupakan unsur makna. 1972 dalam Fokkema. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. dan seperti fonem. seperti halnya fonem.2. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. Istilah kekerabatan. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. 16 . Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. dan mudah rusak (Fokkema. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. 1978). 3. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. 4. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. cepat berlalu.

sederhana. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. 1978). maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. 1987). Berikutnya. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. Namun demikian. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. dan bersifat menjelaskan (Levi17 . Ketiga. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Kedua. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. Koentjaraningrat. terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. 2006).Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. Pertama.

serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting.Strauss. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. sistem “terminologi” dan sistem “sikap”.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. Hastermann). sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. dalam Fokkema. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. manjauhi yang kongkret. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). apalagi ketika upacara pembakaran mayat. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. Di Bali. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. 1978). 18 . Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. 1972. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan.C. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya.

Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. Adanya langue menyebabkan adanya parole. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. Contoh: Jaran. Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. Isi bisa berubah. Langue adalah sistem tata bahasa formal. sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). tabu. Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. Sebagai contoh: babu. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. tergantung dari relasinya. kuda. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. Bahasa adalah sistem tanda (sign). Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. sabu. tetapi artinya sangat berbeda. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. karena perbedaan sistimatis tersebut. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. Elemen dasarnya adalah katakata. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier).Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. . horse adalah ”penanda”. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. namun bentuknya tidak. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics.

Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. dan lain-lain. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. 20 mencaplok. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). Suatu kategori jadi exist atau bermakna. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. naskah sastra. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. dan memproduksi suara. Kategori X ataupun kategori Y. *bangku*. Dalam sistem biner. sampai mitos dalam masyarakat. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. . kedinginan. dan bentuk komunikasi. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. cara berpakaian. dan lain sebagainya. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. kegeraman. Selanjutnya menurut Saussure. dan lain sebagainya. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. ekspresi. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan.bahasa tubuh. *pergi*. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). Disebut gunung. mengerogoti.

Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. daratan <--> lautan. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. seperti: . publik <--> privat. militer-sipil. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. separatis lawan NKRI. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. positip <--> negatip. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. Bagi Strauss. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 .karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya.

Tanpa kategori B. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. daratan dan lautan. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. begitu seterusnya. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. dan bahkan tidak akan ada kategori A. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. atau antara anak-anak dan orang dewasa. dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. dan dengan memakai pengkategorian itulah. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Ia adalah produk dari sistem penandaan. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. ia bukan bersifat 'alamiah'. Dalam sistem biner. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B.

perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Antara daratan dan lautan. Antara anak-anak dan orang dewasa. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Pantai. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). hantu. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. zombi. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Struktur terbagi dua. remaja. Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar. ada pantai. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi).sistem oposisi biner. ada posisi remaja. tapi pada struktur dalam tetap sama. vampir/hantu/zombi. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner.

Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). 2006). Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. 1995. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. Yaitu. 56). yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. 1. 1978 dalam Ahimsa 2006). dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Sebagai penemu konsep linguistik modern. a. De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth.terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. 24 . Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Signifier dan signified. Signified (tinanda) dan signifier (penanda). C. Dari ketiga pemikir linguistik ini. (Levi-Strauss. Ferdinan de Saussure.

Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. 2006 h. 1976. 19 dalam Ahimsya. Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. 35). Form (bentuk) dan content (isi). Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur.sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. tuturan). Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. 2. Langue (bahasa) dan parole (ujaran. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. Dalam konsep ini. dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. 25 . 3. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi.

Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. via Ahimsa. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. Dalam langue terdapat norma-norma. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. 2006. via Ahimsa. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. 1976. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. 47). dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler. 46). 2006. 4. 1966. 26 . Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. Namun demikian.

5. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. 1995. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Pertama. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. Koch (1981. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. via Noth. periode formalist. 2006. “memetik” dan “bunga”. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. 47). Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. b. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. Sintagmatik dan Paradigmatik. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”.

Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda.” (1985:139).. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal.. Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939... Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. a great deal more than I had bargained for. however. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). Keempat. Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006. Ketiga. 2006). Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). gave me something very different and. 2006. need I add. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. This was the revelation of structural linguistics. 52) berikut ini: “. matematika dan juga fisika (1982). Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. 28 . periode stucturalist.berpengaruh. antara tahun 1939 sampai 1949. periode Semiotic. Kedua. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. 52).His (Jacobson’s) lectures.

Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. c. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. 1977. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. Ahimsya. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. d. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. a. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. unit-unit yang bermakna. 2006). h. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. Menentukan perbedaan. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. Nikolai Troubetzkoy 29 .Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. 11. b. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. 55). c.

Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. Langkah analisis struktural dalam fonologi. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. 2006). strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. Dengan kata lain. tetapi dia harus. Selanjutnya dia perlu.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. Artinya. dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. 30 . Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. 1. (Ahimsa. kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. d. 2. 4. bukan konsep psikologis. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. 59). ciri-ciri pembeda. 2006. 3.

Marxisme dan lain-lain. 2. 2006. Ahimsa (2006. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane. 1970. dengan istilah-istilah yang lain. Yaitu kemampuan untuk structuring. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. 31 . akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. 66). Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. 13-14 Ahimsya. 1. 68). menyususun suatu struktur. 3. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. 4. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. pakaian dan sebagianya. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. (Ahimsa. pola tempat tinggal. untuk menstruktur. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. yaitu secara sinkronis.

Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. camat dan sebagainya. Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa.Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. implikasinya cukup jauh. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. gubernur. juga jika hanya secara analogis. fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). dan sebagai “tanda” (sign). melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . bukannya sebagai seorang “pesinden”. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa.

dan proses adalah soal kebetulan. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. Dalam kritik Giddens. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 .kasat mata. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. ‘camat’ dan sebagainya. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. e. berbeda merupakan identitas itu sendiri. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. Artinya. ‘gubernur’. “Kode tersembunyi” itulah struktur. ruang. misalnya. Jacques Derrida. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. Seperti telah dicontohkan di atas. waktu. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda.

Secara umum dapatlah dikatakan. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. 2. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan.

keteraturan (order). tetapi sebagai model bagi kenyataan. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. 3. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip. Menurut Levi-Strauss.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. Dalam perhatiannya mengenai mitos. yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima.

bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. Karena.mengenai masa yang lampau. maupun masa yang akan datang. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. 2. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . yaitu etos dan pandangan hidup. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. sekarang. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. kebingungan dan jiwa tertekan. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara.

Sebagai akhir kata. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. Cara menggunakan 37 . kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. a). D. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. 3. yaitu dalam rangkuman struktur sosial. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. dan didukung dalam suatu masyarakat. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. dibenarkan. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. data etnografi dan interpretasi.sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. a. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006.

tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). b. 164). Reduksi dalam proses analisis. 2006. 2006. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Ketiga. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. b). Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. Dalam persoalan ini.konsep-konsep analisis. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Menurut para 38 . Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. Kedua. 2006). Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. Karena ketidaktepatan itu. Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). 162). menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Konsistensi prosedur analisis dan c). 1967 dalam Ahimsa. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman.

Thomas. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. Lain lagi dengan pendapat Alice. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. (Ahimsa. oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni.L. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas.antropolog. (misrepresentasions of story). Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . seperti Alice Kassakoff dan John W. b). Kronenfeld. a). Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. JZ. c. 2006. L. 168). Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. Kronenfeld dan DB. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. Hasil Analisis. Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan.

“Instead of more and richer depths of understanding.aspek-aspek positif mengenai makna mitos. 20006. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. a totally new theme. and often a paltry one at that”. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. we get a surprise. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. d. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. 170). ( Douglas. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. 1967 dalam Ahimsa. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat.

Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain.Strukturalisme Levi-Strauss ini. 176). menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. struktur dan koherensi logis dalam mitos. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. Ada susunan. berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. yang tidak terduga dan menarik. 2006. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. Masuk akal. makna-makna yang sangat dalam. E. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia.

Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. ___________. Makalah seminar Arkeologi. ___________. Basis XXXIII (4) : 122-135. 2006. T. Ahimsa-Putra. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. 1998a. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. Yogyakarta : LKIS. “Lévi-Strauss. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1994. Orang-Orang PKI. 2005. ___________. Shri. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Paz. H. Ahimsa-Putra. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas.S. 1998c. Kawin Bedil dan Sobrat. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. 1984. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Makalah seminar. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. kepel Press. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. 1997. O. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. 1998b. Makalah seminar. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Nalar Jawa. Kalam 6 : 124-143. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . H.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang.. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. ___________. Universitas Gadjah Mada. ___________. 1995. Yogyakarta. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air.

2002b. ___________. 2000a. Satu Model. Mitos dan Nalar Primitif. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Terj. ___________. ___________. Rahayu S. (ed). Dua Paradigma. 2000b. Robby H. Tiga Dasawarsa. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. 1999b. ___________. Totem. Makalah Pelatihan. C. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. 2002d. 2002c. Makalah Sarasehan. Satwa. 43 . ___________. 1999a. Strukturalisme Lévi-Strauss. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Salam (ed). Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. 2006a. ke Post- ___________. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. 2002e. ___________. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Makalah seminar. ___________. 2001. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. ___________. Makalah diskusi. A. 2002a.I : 10 – 19. Makalah seminar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. ___________. September – Desember. Makalah dalam bedah buku. 1999c. Badcock. ___________. Yogyakarta : Galang Press. 2003. ___________. Abror. Tembi 1 Thn. Yogyakarta : Insight Reference. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. ___________. 2005. Mitos dan Karya Sastra. Makalah bedah buku. Jakarta : UI Press. Humaniora 12 : 1 – 13.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik.

___________. H. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Abdullah (ed. Critical Approaches to Literature. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Edisi Baru. Longman.. New York. Levi. Universitas Gadjah Mada. Ritus Penandaan. 2007).). A Reader Guide to Contemporary Literary Work. Indiana university Press. Mitos dan Karya Sastra. Ngaju. 2008b. ___________. The Theory of Culture (Teori Budaya).___________. ___________.. Selden. Daiches. ___________. Makalah bedah buku. Structural Anthropology. Bloomington and Indianapolis. Ritus Pertukaran”. Antropologi Struktural. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Kepel Press : Yogyakarta. Anthropologie Structurale (Terj. 2008a. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. ___________. 2006b. The Penguin Press. Lane. Strauss. Nasrulah. 2007a.S. T. dkk. The Harvester Press Limited. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Ngambu. 1981. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Makalah seminar nasional. 2006c. Yogyakarta. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1958. Sawerigading.). D. Strukturalisme Lévi-Strauss. Yogyakarta : Kepel Press. 2007b. Ngawa. Pustaka Pelajar. 44 . Noth. 2006d. Winfried. Hand Book of Semiotics. Jakarta. 1995. 1985. Kreasi Wacana. 1968. David. 1998. ___________. David. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Kaplan. Yogyakarta. Allen. Gramedia. Ahimsa-Putra (ed.W. Claude. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Sussex. ___________. 2008. 1999. Raman. Makalah seminar. Fokkema. 2006e. Metodologi dan Etnografi. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”.

click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . J. D. Levi. 1958. 1979. Sturrock. Sperber. Antropologi Struktural. For the best results. 2007). Oxford : Oxford University Press. Roland Barthes. Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. Oxford : Oxford University Press. J. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. Kreasi Wacana. Claude. Anthropologie Structurale (Terj. 1979. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Erdward Said. Sturrock (ed. Yogyakarta. Sturrock (ed.).). J. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme".Strauss.

penanda selalu produktif.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Dalam tulisan. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. berpikir sementara menjadi hal yang utama. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. Selain itu. yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Dalam pemikiran post strukturalis. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Aspek diakronis bahasa.

. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali . sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks.. and Play in the Discourse of the Human Sciences” . misalnya pada New Criticsm. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis. 47 .Essay Roland Barthes. Diterbitkan di: Januari 04. Sign. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin.sastra. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968.Essainya yang berjudul “Structure. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an. atau disebut para dekonstrusionis Yale. pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan.

Dengan. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL. Bahasa. TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys.com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI. Derrida.You searched for: "strukturalisme". Pada. Bahwa. • • • • • • • • • Sastra. For the best results. Dapat.blogspot. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . click here! • Kutipan • Dan. Dalam.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. jenis kelamin. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. menyadari. memahami. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. kelompok dan kelas sosial. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. dan menilai dunia sosial. Field dan Modal. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. tidak setiap orang sama kebiasaannya. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. preferensi. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. 1986 : 7). dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. 57 . Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. Tidak mengherankan. beberapa tahun kemudian. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. sastra. Dengan kata lain. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. Rolanda Barthes. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. tetapi juga ahli filsafat. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. Kedua. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. Keempat. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. Ketiga. Dengan kata lain. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. Bagaimanapun juga. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. 1979 : 1). setelah dia berkenalan dengan antropologi. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Kelima. dan filsafat. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. Namun.dengan di Inggris dan Amerika Serikat.

Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. 2. J. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. seperti Clifford Geertz. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. karena selalu sulit dan tidak biasa. Namun. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. Dr. Goodenough. Danandjaja. Lebih dair itu.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. Spradley. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. oleh lebih banyak ilmuwan. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. Dr. Prof. Saya ingat. Oleh karena itu. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. Belanda. Budi Santoso. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. yang mengajar kami teori-teori antropologi. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. Nico Kalangie. Ward H. pada tahun 1994 saya kembali. Koetjaraningrat misalnya. akhirnya saya harus kecewa. Sementara itu. Parsudi Suparlan. dan sebagainya. Prof. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. Dr. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. Antropologi Eropa (Inggris. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . James P.

dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. Koentjaraningrat. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. Postmodernisme mulai terdengar. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. Selo Soemardjan dan sebagainya. Parsudi Suparlan. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. Sartono Kartodirdjo. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Pertama. 59 . karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. Padahal. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. James Danandjaja. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. seperti misalnya Fuad Hasan. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). dan masih aktif. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. Masri Singarimbun. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. bahkan hampir tidak ada. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. bahkan sampai tahun 1980an.

yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. Kelima. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. Kedua. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. apalagi oleh kalangan yang lebih luas. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Keempat.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. ahli sosiologi Amerika Serikat. Ketiga. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. acuh tak acuh. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. atau menolak secara terang-terangan.R. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. Sementara itu. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. Memang. Sebaliknya. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya.

Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. Laksono. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. de Josselin de Jong kepada kami. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. Mungkin. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. yakni P. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu.E.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet.M. Saya tidak tahu mengapa demikian. a. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. Tesis pascasarjananya. karena pendekatannya terasa tidak lazim. mungkin juga sulit 61 . 3. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. Yang lain tidak tertarik. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. Meskipun demikian. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”.

de Josselin de Jong. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. mungkin pula karena kurang promosi. yang saat itu masih belum guru besar. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. Belanda. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. Untuk beberapa tahun. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. saya mengajar di jurusan antropologi. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. Laksono tidak dapat menggantikan. saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. Semenjak itu. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. saya kebetulan diminta Prof. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Belanda. b. Ketika itu pengajaran teori antropologi. 1984). dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. Pak Kodiran. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. yang ditulis oleh Radrianarisoa. patut dihargai. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. Amerika Serikat. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM.E. Setelah saya kembali ke UGM. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus.

1997). terutama jurusan antropologi di UGM. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. Saya menawarkan 63 . Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya.menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. seni dan filsafat. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. baik itu yang analitis maupun teoritis. terutama di Yogyakarta. Sementara itu. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. 1995). Selain melalui perkuliahan. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian.

2002c). seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. 2000a). 1998a. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. 2001). Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. tentang cara menggunakannya. Sejak itu. 64 . Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. 4. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. Dengan demikian. Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. 2000b). dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. Dengan terbitnya buku tersebut. Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. 1999c. strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

ataupun dalam diskusi-diskusi informal. baik itu secara formal lewat seminar. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. Sepengetahuan saya.Memang. yakni patung (Ahimsa-Putra. rumah tradisional Sumba (Purwadi. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. ngawa. 1999c. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . a. Oleh karena itu. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. Subiantoro. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. Kalimantan. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. 2000). 2002). dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. Kalau Dadang H. Oleh karena itu. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang.

yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. ahli arkeologi UI. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. 2000). ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. Sementara itu. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Lebih dari itu. yakni kosmologi Jawa. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. b. ternyata tidak selalu mudah dipahami. Selain arca ganesya. 66 . 2007). namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. Meskipun demikian. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. Dari pengalaman berdiskusi.Minang (Maryetti. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. 2009).

Bahkan. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. yang a-historis. diakronis. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. c. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. juga belum dapat dimengerti dengan baik. yang historis. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. dan itu berarti kepada masa lampaunya. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. Sulit rasanya 67 .

Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu).mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. Hal ini tentu sangat mengherankan. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. 5. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. jika tidak memprihatinkan. Belum pernah saya diundang dalam seminar. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. tingkat pascasarjana.

signified. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. Fakultas Ilmu Budaya. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. Basis XXXIII (4) : 122-135. dan transformasi. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Universitas Gadjah Mada. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. Universitas Gadjah Mada.membahasnya. sign. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. ___________. sintagmatik-para digmatik. T. Kalam 6 : 124-143. dan sebagainya. Makalah seminar.S. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. signifier. oposisi biner. 2005. di tingkat pascasarjana. terutama di UGM. struktur sosial. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. Ahimsa-Putra. ___________. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. Namun. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. H. 1984. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Tesis Pascasarjana Antropologi. Kawin Bedil dan Sobrat. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. 69 . 1994. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. 1995. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. Oleh karena itu pula.

1999b. 2002d. ___________. 70 . O. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. ___________. Makalah dalam bedah buku. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Strukturalisme Lévi-Strauss. Jakarta : UI Press. 1997. ___________. Orang-Orang PKI. “Lévi-Strauss. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. Mitos dan Karya Sastra. ___________. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. ___________. Makalah seminar.___________. Paz. September – Desember. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. 2002b. ___________. Tembi 1 Thn. Dua Paradigma. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. Yogyakarta : LKIS. 1998c. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. Makalah seminar Arkeologi. Makalah seminar. Salam (ed). ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. 2000b. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. ___________. 1999c. Makalah Sarasehan. Makalah Pelatihan. (ed). Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme.I : 10 – 19. 1999a. 1998a. Tiga Dasawarsa. ___________. Rahayu S. Humaniora 12 : 1 – 13. Satu Model. ___________. 2002a. Makalah seminar. 2002c. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. 2000a. A. Nalar Jawa. ___________. 2001. ___________. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. 1998b. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Yogyakarta : Galang Press.

“Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. C. Kepel Press : Yogyakarta.). “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Terj. Robby H. 2007a. Mitos dan Nalar Primitif. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2007b. ___________. Ritus Penandaan. ___________. Metodologi dan Etnografi. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. 2008b. ___________. Yogyakarta : Kepel Press. Strukturalisme Lévi-Strauss. Yogyakarta : Insight Reference. 2008a. Ritus Pertukaran”. 2004. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Abror. ___________. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. N. 2006b. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. T. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. 2006c. Ahimsa-Putra (ed. Abdullah (ed. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. ___________. Mitos dan Karya Sastra. ___________. ___________.). Edisi Baru. 71 . Makalah bedah buku. 2006e. Universitas Gadjah Mada. 2005. 2006a. Sawerigading. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Humaniora XV (3) : 239 – 264. 2002e. 2006d. Makalah seminar nasional. ___________. Makalah bedah buku. Satwa. Badcock. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. ___________. Makalah diskusi.S. Totem. Leni.___________. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf. H. 2003. ___________. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. ___________. Makalah seminar.

Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi.). Tesis Pascasarjana Antropologi. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Tesis Pascasarjana Antropologi. G. Sturrock. Yogyakarta. 2008. Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2005. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. 1986. Universitas Gadjah Mada. Nasrulah. Subiantoro. Ngambu. Universitas Gadjah Mada. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Disertasi Antropologi. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. Tesis Pascasarjana Antropologi. Distrik Kurulu. 2009. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Universitas Gadjah Mada. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss.Listia. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa.H. Tesis Pascasarjana Antropologi. Radjabana. 2007. Sperber.).K. 2003. 2000. Universitas Gadjah Mada. London : Ark Paperbacks. Sumintarsih. J. Universitas Gadjah Mada. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. 1979. Ngawa. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. D. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. S. Sturrock (ed. Analisis Struktural Lévi-Strauss.I. A. 2002. 1979. Xiao Lixian. Maryetti. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel. Universitas Gadjah Mada. D. 2004. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. 72 . Tesis Pascasarjana Antropologi. J. Sturrock (ed. Oxford : Oxford University Press. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. J. Purnama. Oxford : Oxford University Press. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Ngaju. Tesis Pascasarjana Antropologi. Kulon Progo. Numbery. 1998. Purwadi. D. Pace. 2007.

Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. 73 . in Indonesia. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta.11 readers like this article. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. During the research. jurnal. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. kematian. filsuf perempuan. kertas kerja tentang kajian budaya. makalah. Meteor Garden. tuhan. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. laporan penelitian.

Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 .More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. Bila ada kesempatan di akhir pekan. kampanye isu tertentu. maupun organisasi aktivis.

More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 .Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet.

which.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure.. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . with a great variety of sizes. yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). and functions. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi . symbolic approach. Universitas Negeri Malang. Tiga Usia Jacques Derrida.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article.. Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. 76 . according to the present writer. Tahun 31. Javanese mythology. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. Pujianto writes a book on batik semen. arguing for the myths underlying those different motifs. Februari 2003). Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain. Therefore. structural approach. In his study he employs a symbolic approach. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier . and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology. Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture. forms. sawat. Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. Fakultas Sastra.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 . 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung .. Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. Key words: batik.http://tinyurl. the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach.. motifs. The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach. Nomor 1.

yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. Tahun 32. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. di samping tokoh yang lain. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . Entitas ini muncul secara tiba-tiba. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. Nomor 2. 1986). artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. terutama menyimak relasi lambang dan arti . salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Mauss. Perspektif simbolik. M. Falsafah orang Jawa . Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. yaitu strukturalisme fungsional. Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. professor di College de France. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. Pada kaitan ini. Lenger (studi seni). Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. Bertolak dari artikel Pujianto. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. Seakan-akan unsur ornament . artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. misalnya sebagai contoh 77 . tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. referensinya telah tersedia. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. 137).Hidayat. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m.

Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. dan tari Bedhaya (halaman 133). Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. utamanya ketika sedang bertitah. dan batik parang rusak. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. dan abdidalem. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. Landung Simatupang. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. bangun tulak. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. batik cumangkiri kang calacep. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . lenga-teleng. (Yahya. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. kawulaningsun Wedana. daragam lan tumpal.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. yang saya perbolehkan dipakai Patih. batik cumangkiri yang calacep. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. modang. dan tumpal. Anadene Hidayat. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). (Pujianto. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. Wedana. 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. 1983:213). lenga-teleng. 2003: 131). bahwa Batik merupakan benda fungsional. bangun-tulak. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. dan rakyatnya. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. modang. keluarganya. 2000: 237). daragam. Adipati. maupun Abdi Dalem. terj.

Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. Sawat. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. demikian juga tentang kekuasaan . Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. yaitu: Alam atas. pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. urairan tentang bentuk Semen. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. Berdasarkan konsep Triloka. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. dan Alas-alasan. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. Sawat. Nomor 2. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. alam tengah. 1997: 80). dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. Tahun 32. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. agar benih tersebut dapat bersemi. sebagai berikut. sebagai berikut: Gambar 1. Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. Semen 79 . Berdasarkan skema tersebut di atas. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. yang dijelaskan oleh Pujianto. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. dan alam bawah. seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). Misalnya. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. Penyebara benih. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia].

gunung. roh ALAM TENGAH Manusia. (pohon hayat) Ayam jantan. Lar (sayap) bersulur bangunan. hidup. Lar (sayap). burung merak. kejayaan. kumbang. Nomor 2. angkasa. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. kegembiraa. Garuda. Awan. ALAM 80 . kapal Udara. Matahari Burung Garuda. kesaktian. Awan. Tahun 32. harimau. wahyu. kemakmuran. kakyaan. Kekuasaan. suci.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. kupukupu. kuda. Tanah Brahma Tumbuhan. Agustus 2004 Tabel 1. tumbuhtumbuhan Kehidupan. pengavoman. Kalpataru.

yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. sengsara. Matahari yang berbentuk bulat. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. Zoetmulder. Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. 2003:134). Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. 2002: 24. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . Analisis ini menunjukan. Betari Sri Laut. Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). Kalau diperhatikan. Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . laut. bukti Hidayat. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . sebagai lawan garuda. Analisis pada tabel 1 menunjukan. Wisnu. atau ular yang berrelasi dengan air. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). sacral. ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. sungguhpun tidak seluruhnya salah. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. 2000:127). yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. kedukaan. sungai. Maka dimungkinkan. kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). Apabila diubah relasinya.BAWAH Laut. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . atau tidak terbukti. Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar.

Mitos. juga berada dalam dua waktu sekaligus. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. motif Sawat. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. (Ahimsa-Putra. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. 2001: 80-81). Hidayat. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. Agustus 2004 gunakannya. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. yang relative tetap. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. kekuasaan. kesetiaan 82 . kebijakan. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. kata Levi Strauss. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. dan waktu yang tidak bisa berbalik. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. dan relasi konstan). Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. kebesaran. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. Tahun 32. karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. yaitu waktu yang bisa berbalik. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. keluhuran. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. Pemahaman di atas menunjukan.Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. cerita Garudia Kejayaan. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. 2003:105-142]. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. Nomor 2. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. realasi. (antara ornamen. (simak halaman 134-138). cerita Ramayana. yaitu diucapkan.

tanah Kejahatan. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Mitos kematinan. keluhuran. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. kesetiaan. rintangan. pikiran. Rumah. Kebebasan. pikiran Bangunan. langit. alam kegelapa. Sorga Ketentraman. harapan. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. atau pandangan para priyayi 83 .Lar (sayap) Unggas bersayap. kekuasaan. Sorga. puncak meru. kebesaran. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. kekuasaan. kebijakan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). kebijakan. Istana. harapan. Kupu-kupu. kebesaran. kasih sayang. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. Tahun 32. kekuasaan. kayon Puncak. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kelestarian. kepergiaan. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. ketentraman Burung Garuda. ketentraman. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. kekuatan perusak. Wanita (femimimitas) Kasih saying. ikatan kekerabatan. ketentraman Laut. perlindungan. kekayaan. pencerahan. kesetiaan Burung merak. Kemakmuran. ringin kurung. Kejantangan Kekuatan. Kuda. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. kekuasaan Kapal. ketenangan. mitos SriSadana Kemakmuran. penghancur. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. kesetiaan Kumbang. kekuasaan. perdamaian Awan. Nomor 2. bentuk wayang rampokan Kebebasan. keperkasan. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. kekayaan. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. keinginan. kebijakan. kekayaan. Kejantanan Kekuatan. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. Harimau. keabadian. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. pundhen desa. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. Mitos Laut selatan. mitos Sri Sadana. pencerahan. pembasmi. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. kedamaian. kalpataru. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. kecerdirkan. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. pelepasan. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI.

ucapan. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. unggas (burung garuda. pohon hayat. Akan tetapi perlu disadari. posisi motif. atau Alas-alasan. 2001:31).(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. mitos kesuburan. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. Hidayat. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. dan referentif. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. seperti motif Sulur-suluran. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. awan. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. akan tetapi lebih mendalam. Maka. ukuran. logis. yaitu tentang paham monisme dualistik. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . kupu-kupu. dipahami sebagai sebuah struktur. Sawat. garis-garis. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. mitos perjodohan. Unsur mitos. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). salah satunya adalah menggunakan teori semiotika.motif pada kain batik. gambar. antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. tanaman. mitos kekuasaan. seperti bentuk batik Semen. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. lidah api. dan lain-lain. sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). meliputi warna dasar. naga. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. dan lain sebagainya. merak). dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. salah satunya ada pada motif batik. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. dan motif-motifnya). atau Hermeneutik. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). tetapi bersamaan dengan itu.

pengendalian. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). subtansi. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. Nomor 2.untuk menemukan makna. Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. bumi.] dan duwur (atas) [ + ]. istilah ini berrelasi dengan 85 . berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. yaitu . Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. spontanitas.. Curiga manjing warangka. sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. dan bersikap adil). Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). Danaita. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi. Raja yang bersifat Saraita. dan rakyat dipandang sebagai kawula . ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . dan kreativitas yang dikarsai. seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. Woro Ariyandini S. bibit . Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . atau tunas yang harus di semai kan. yaitu Loro-loroning Atunggal. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat. bentuk. Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud.1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. Tahun 32. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). langit. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan).. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. sebuah citra yang kuat. sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi. kesejukan. Darmaita ( ahli stragegi perang. kehangatan. Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan. yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik.

Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . Relasi gunung laut .1989: 635). Gunung (merapi) berada di Utara.motif batik Semen . eksistensinya sebagai pengayom. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . Tempat arwah yang tidak beruntung. Ayah ibarat pohon. siksaan. keluarga. dan seluruh rakyat. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). Gambar 3. yang artinya semi. dan bermukimnya jin. gunung adalah sorgaloka. simbol keseimbangan ekologi. sorga tempat bersemayamnya para dewa. atau sakral. ancaman Batari Durga. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . kaitannya dengan posisi kekuasaan. keagungan. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). dan laut sebagai muara. dan juga manusia. Selatan menunjukan arah laut. atau pohon sorga (Sri Mulyana. menampakan hubungan yang bersifat duniawi. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. horizontal dan vertikal. menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. kebesaran. keramat. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . pelindung istri dan anakanaknya. Sawat. setan. Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). Barat menunjukan arah marabahaya. kebijakan atas dirinya. ora kena wula-wali. 1982:33). berrelasi dengan emas . sedangkan dunia ada percapada. yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa).kiwa (kiri)[-]. anak buah. yang tumbuh di bumi Hidayat. yang da 300 BAHASA DAN SENI. yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. tumbuhan. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. dan kejayaan. bersemayamnya ratu pantai selatan. dan roh-roh pengganggu manusia. Hutan lebih bersifat magis. Paparan relasional dari motif batik Semen. Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. tempat makluk hidup bertebaran. Nomor 2. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. atau meru . Tahun 32. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). sabda pandita ratu. raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). Gunung laut berrelasi horizontal. Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal.

seperti topeng. Terlebih. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. perdukunan. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. Pijianto mempunyai sudut pandang. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . Temuan ini menunjukan. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. bahwa motif bagik Semen. ilmu sihir. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. Sawat. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. Asumsi Pujianto perlu diuji. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. 87 . Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. Setelah dilakukan analisis unsur motif. 1997:790. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. dan Alasalasan. akibatnya aspek struktur terabaikan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. Sebagai contoh asumsi Pujianto. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. makanan tradisional. Sawat.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. relasi.

Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. narima. ini sebuah kerelaan. Setyanireng kakung. tempat arwah bersemayam. dan juga kesetiaan. Angrasa yen sinatyan. yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . Ing raga nuta saosa kersing laki. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). Niels Mulder menjelaskan. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran. swargaloka. 88 . temen. ketulusan. dan kekuatan penghancur. Tahun 32. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. sabar. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. Semunira den asumeh.1988: 56-57). isor 302 BAHASA DAN SENI. berkait dengan kedudukan rakyat kawula . yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. yaitu adanya konsep Dewa-raja . Seperti istri pertama. Dan pelayananmu bila ketemu. naga. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. Buat simpanan oleh sang raja. Nomor 2. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. Hendaknya wajahmu berseri manis.duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). Kadi garwa kawitan. berkait dengan kedudukan raja . Kinarya gedhong dening sang nata. tempat roh-roh jahat. dan budi luhur. Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. yaitu ngabekti. (2003: 139). dan sekaligus kepasrahan. Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. Hidayat. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora.

Yahya. 1997. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1. James. 1989. Ciptaprawiro. 1. Kaplan. April 2002. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Agus. Pujianto. Mochtar Pabotinggi. Juni 1983 XXXII 6. Olga.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. E. Herusatoto. Manunggaling Kawula Gusti. Yogyakarta : Yayasan P. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. Masinambow. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Zoetmulder. 2003. Nomor 2. 2001.M. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. Semiotik. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Woro. van Der. Reid. Abdullah. Aryandini S. 1986. Yogyakarta: Hanindita. Yogyakarta: Galang press. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam .). 1985. Wayang dan Lingkungan. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Universitas Negeri Malang. Claire. Yogyakarta: media Pressindo. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Kebudayaan Jawa. Sastra. Purwadi. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . Basis. Yogyakarta: Qalam. 2000. Teori Budaya dan Budaya Pop. diterjemahkan: Landung Simatupang. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran.C. P.J. Budiono. Teori Budaya.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. Februari 2003. Direktorat jendral Kebudayaan. 1967. Niels. Jakarta: Gunungagung. Yayasan Indonesiatera. 1996. Universitas Negeri Malang. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. 1994. Soedarsono. Malang: Fakultas Sastra. Sangkan paraning Dumadi. Flores: Nusa Indah. tahun 31. Ahimsa-Putra.2000. no. Falsafah Jawa. Mulder. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Agustus 2004 Koentjaraningrat. John. Filsafat dan Masa depannya. 1974. Asal-usul. Proyek Penelitian dan Pe 89 . 2001. Diterj. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Diterj. Jakarta: Balai Pustaka. 1983. Antara Alam dan Mitos. 2002. nomor 1. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. Randrianarisoa. Cremers. Jakarta: Balai Pustaka. Faufik & Leeden. Rahayu S. Storey. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . Februari 2003. Jakarta: Balai Pustaka. 1992. 304 BAHASA DAN SENI. Tahun 32.1986. Shri Heddy (ed. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia.K. 1982.2000. Holt. 2001. [tanpa kota terbit]. 2000. Memutar Taman Sri Wedari.B. 1988. vol. Semilogi Roland Barthes. 2003. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Amri. 2003. Kurniawan. Sutarno. Mulder. Ketika Orang Jawa Nyeni. Malang: Fak. nomor 1. Sri. 2002. 2001. Danandjaya. A. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Niels. Albert A. Jakarta: Universitas Indonesia Press. & Hidajat. Wayang. tahun 31. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. (Purwadi. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis. Jakarta: Gramedia. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. Mengkaji Tanda dalam Artifak. David & Monners. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Abdullah. diterj. Pujianto. Dick Hartoko. Anthony [1988].

Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. Lima cerita rakyat tersebut. dan teori. alur. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. dan legenda keagamaan. dan amanat. observasi benda-benda fisik dan dokumen.ngkajian. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. metode. dan terjadinya suatu tempat. nilai pendidikan agama (religi).G. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. (4) “Reyog Brijo Lor”. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. tema. latar. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. dan analisis dokumen. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. pencatatan. perjuangan seorang tokoh. tokoh. (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. legenda perseorangan . nilai pendidikan sejarah (historis). Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. wawancara. nilai pendidikan adat. perekaman. dan nilai pendidikan kepahlawanan. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten.

bervariasi. nilai pendidikan sejarah (historis). nilai pendidikan agama (religi). adalah Nilai pendidikan moral . Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. nilai pendidikan adat (tradisi). dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi). 91 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful