Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

manusia mempunyai putusan sendiri. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. saudara lelaki . LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. paman-keponakan. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. Perbedaan lain yang cukup mendasar. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. seperti misalnya suami-istri. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. 4 . ia memiliki peran. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya.saudara perempuan. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. Sebagaimana halnya bahasa. anakbapak. Bahasa adalah sistem komunikasi. terutama dengan pemikiran fenomenologi. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. Hubungan ini sama seperti bahasa. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain.

yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . Menurut Levi-Strauss. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori.Bagi Heidegger. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. seorang fenomenolog. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. kategori. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. kecuali lewat paksaan mental tersebut. Ini didapat dari Husserl. tetapi justru suka menyembunyikan diri. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. Melalui kajian Antropologi budaya.

Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". artinya tidak menguasai keadaan. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. tetapi justru saling melengkapi. Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup.strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. tidak bermula dengan hidup manusia sendiri.

Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. 1996:513). Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure.tersebut. Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. pada dekade 1960-an. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . terutama Eropa Barat. Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. namun oleh Roman Jakobson. 1996:513).

sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. dalam pendapat Saussure. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. ke 8 . Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign).yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. ke kanan. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. Kedua. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. Pertama. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. yang artinya adalah ”tanda”. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. Dalam permainan catur. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. 2000 : 219 ). Kedua adalah langue dan parole. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. 2001 : 182). para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. Agar lebih jelas.

seperti universitas Harvard. Ini dapat dianggap sebagai parole. Hal ini penting. karena jika bergerak selain gerak “L”. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. teori lain yang mempengaruhi. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. Selain itu. Yale. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. B. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. C. Latar belakang pendidikan. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. maka hancurlah struktur permainan catur itu. B. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. Kanada dan Meksiko. dan Oxford di Amerika. Perancis maupun saat ia berada di New York. riwayat hidup penemunya. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. Selain itu juga dari universitas di Swedia. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun.depan atau ke belakang.

Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family).unik itu. Ia adalah keturunan Yahudi. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Brazil. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Belgia. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique.

11 . yaitu petugas penghubung. New York. kesabaran. Ruth Benedict. Berkat jasanya. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. ia juga mengalami diskriminasi ras. dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. seperti Maz Ernst. Dengan ketekunan. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Halangan tidak hanya sampai disitu. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. A. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. Franz Boas. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya.Prancis. Kroever dan Ralph Linton. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. Di daerah Greenwich Village.L. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Levi-Strauss tinggal. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut.

. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. berencana untuk menghormatinya. Aliran ini membawa 12 . Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar. baik itu tanaman atau hewan. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford." Levi Strauss meninggalkan dua putra.Pada zaqmannya. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. Penulis Jean d'Ormesson.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan.. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan. Berbicara pada radio Perancis. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. setelah dia meninggal. Yale. seorang filsuf. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. sekretaris abadi Académie française. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. "Dia adalah seorang pemikir. Dalam wawancara dengan National Public Radio. Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya. tidak lagi dunia yang aku suka. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa"." Hélène Carrère d'Encausse.. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil." kata LeviStrauss. Goodenough (1950-an). ia berkata. lahir pula Antropologi Kognitif. dikembangkan Ward H.

dalam jangkauan luas masyarakat. C. Aliran Antropologi Simbolik. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC. 2009 dengan usia 101 tahun. Karyakarya pemikir abad 20 ini. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. dan "The Raw and the Cooked" (1964). sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. dalam rentang enam dekade. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme. "The Savage Mind" (1963). seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya.definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. terutama mitos. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. Dia juga seorang pecinta musik sejati. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. meninggal di Paris pada 31 Oktober. Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas.

except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. crystals. 2006. they are therefore difficult to define. all societies and all cultures. and still more difficult to discuss.” 14 . without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan.machines. any organism. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. Allen Lane (1968. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. but the patterns that the words form. Meskipun bertolak pada linguistik.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. 60). Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. But so can a physiology. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. machines. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. rather. where problems are similarly set in formal terms or. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand.

LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. ketulusan dan lain-lain. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij.Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. kejahatan. 15 . 1978). keburukan. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. 378). Seperti kata-kata hitam dan putih. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. 1958. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. 1. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. kebersihan. 1969 dalam Fokkema. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki.

1978). cepat berlalu. Istilah kekerabatan. 16 . Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. 4. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. 1978). Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. seperti halnya fonem. sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. merupakan unsur makna. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. dan mudah rusak (Fokkema. dan seperti fonem. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus.2. 3. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. 1978). kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. 1972 dalam Fokkema. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan.

menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Koentjaraningrat. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. sederhana.Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). 2006). dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. 1987). Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Ketiga. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. Kedua. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan. Pertama. Berikutnya. dan bersifat menjelaskan (Levi17 . bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. Namun demikian. Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. 1978). Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema.

Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. manjauhi yang kongkret.C. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. 1972. 18 . apalagi ketika upacara pembakaran mayat. sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. 1978). sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. Di Bali. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. dalam Fokkema. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi.Strauss. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). Hastermann). Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan.

kuda.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. Isi bisa berubah. sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. tetapi artinya sangat berbeda. Adanya langue menyebabkan adanya parole. Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. Bahasa adalah sistem tanda (sign). Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. sabu. Sebagai contoh: babu. tergantung dari relasinya. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. karena perbedaan sistimatis tersebut. horse adalah ”penanda”. Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). Elemen dasarnya adalah katakata. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. Contoh: Jaran. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. tabu. namun bentuknya tidak. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. Langue adalah sistem tata bahasa formal. menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. . Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata.

Disebut gunung. dan bentuk komunikasi. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. naskah sastra. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). Kategori X ataupun kategori Y.bahasa tubuh. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. . Contoh lain adalah gunung <--> lembah. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. mengerogoti. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. *pergi*. Dalam sistem biner. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. dan lain sebagainya. dan memproduksi suara. Selanjutnya menurut Saussure. kedinginan. mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. dan lain-lain. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. cara berpakaian. *bangku*. dan lain sebagainya. 20 mencaplok. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). kegeraman. Suatu kategori jadi exist atau bermakna. sampai mitos dalam masyarakat. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. ekspresi. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori.

publik <--> privat. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. seperti: . karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. militer-sipil. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. separatis lawan NKRI. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. daratan <--> lautan. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. positip <--> negatip. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. Bagi Strauss. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI.

dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. begitu seterusnya. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. Tanpa kategori B.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Dalam sistem biner. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. dan bahkan tidak akan ada kategori A. ia bukan bersifat 'alamiah'. dan dengan memakai pengkategorian itulah. daratan dan lautan. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. Ia adalah produk dari sistem penandaan. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. atau antara anak-anak dan orang dewasa. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . Dalam struktur oposisi biner yang sempurna.

Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. vampir/hantu/zombi. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Antara anak-anak dan orang dewasa. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. zombi. Struktur terbagi dua. ada posisi remaja. Pantai. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'.sistem oposisi biner. remaja. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. hantu. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. ada pantai. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. tapi pada struktur dalam tetap sama. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. Antara daratan dan lautan. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner.

a.terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. Ferdinan de Saussure. De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. 56). 1995. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). Signified (tinanda) dan signifier (penanda). Yaitu. yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. (Levi-Strauss. 2006). Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Sebagai penemu konsep linguistik modern. C. Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Signifier dan signified. 1978 dalam Ahimsa 2006). Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. 1. Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. Dari ketiga pemikir linguistik ini. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). 24 .

Dalam konsep ini. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. 25 . Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama.sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. 19 dalam Ahimsya. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). 2006 h. tuturan). 1976. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). 2. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. 35). Form (bentuk) dan content (isi). 3. Langue (bahasa) dan parole (ujaran. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu.

Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. 1976. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. Namun demikian. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. 1966. via Ahimsa. 2006. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. via Ahimsa. 47). Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler. 4. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. 2006.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. 26 . Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. 46). Dalam langue terdapat norma-norma. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain.

Pertama. “memetik” dan “bunga”. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). 47). 2006. 1995. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. Koch (1981. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. via Noth. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Sintagmatik dan Paradigmatik. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. periode formalist. b.5. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna.

2006). which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. a great deal more than I had bargained for. need I add. matematika dan juga fisika (1982).” (1985:139). 52) berikut ini: “. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya.. antara tahun 1939 sampai 1949.. This was the revelation of structural linguistics. Ketiga. however. Kedua. Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006. periode Semiotic. 2006. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory)..His (Jacobson’s) lectures. gave me something very different and. Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics.. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. 52). Keempat. Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi.berpengaruh. 28 . Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. periode stucturalist.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. c. a. c. h. 2006). yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. Menentukan perbedaan. 55).perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. b. 1977. Nikolai Troubetzkoy 29 . unit-unit yang bermakna. d. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. Ahimsya. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. 11. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi.

Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. 30 . (Ahimsa. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. Artinya. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. 59). 2006). Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. 1. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. Selanjutnya dia perlu. dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. Langkah analisis struktural dalam fonologi. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. 3. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). ciri-ciri pembeda. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. 2006. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. 4.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. d. fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. tetapi dia harus. bukan konsep psikologis. strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. 2. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. Dengan kata lain. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature.

atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. 2. 1970. untuk menstruktur. akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. 13-14 Ahimsya. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane. 2006. 4. 1. yaitu secara sinkronis. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. dengan istilah-istilah yang lain. 68). 31 . Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. pakaian dan sebagianya. Ahimsa (2006. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut.Marxisme dan lain-lain. menyususun suatu struktur. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. pola tempat tinggal. Yaitu kemampuan untuk structuring. (Ahimsa. 3. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. 66). Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara.

Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa. dan sebagai “tanda” (sign). Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. camat dan sebagainya. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. gubernur. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. bukannya sebagai seorang “pesinden”. implikasinya cukup jauh. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial.Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . juga jika hanya secara analogis.

Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. ‘camat’ dan sebagainya. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis.kasat mata. Artinya. ruang. Jacques Derrida. Seperti telah dicontohkan di atas. dan proses adalah soal kebetulan. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . “Kode tersembunyi” itulah struktur. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. Dalam kritik Giddens. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. misalnya. berbeda merupakan identitas itu sendiri. e. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. ‘gubernur’. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. waktu. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme.

tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. 2.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. Secara umum dapatlah dikatakan.

yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. tetapi sebagai model bagi kenyataan.keteraturan (order). Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip. Dalam perhatiannya mengenai mitos. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia. Menurut Levi-Strauss. maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. 3. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial.

agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . sekarang. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. kebingungan dan jiwa tertekan. maupun masa yang akan datang. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. Karena. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. yaitu etos dan pandangan hidup. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. 2.mengenai masa yang lampau. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara.

D. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. yaitu dalam rangkuman struktur sosial.sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. dibenarkan. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. Sebagai akhir kata. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. a. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. dan didukung dalam suatu masyarakat. Cara menggunakan 37 . data etnografi dan interpretasi. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. 3. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. a). kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan.

2006). Reduksi dalam proses analisis. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. b). 2006. Kedua. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. 162). Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut.konsep-konsep analisis. 2006. b. 164). Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Ketiga. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. Konsistensi prosedur analisis dan c). Karena ketidaktepatan itu. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Dalam persoalan ini. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Menurut para 38 . menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. 1967 dalam Ahimsa.

Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni. (misrepresentasions of story). Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. b). Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. L. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. Kronenfeld dan DB. oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. Hasil Analisis. Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada.L. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. Lain lagi dengan pendapat Alice. 2006. Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 .antropolog. 168). Kronenfeld. JZ. seperti Alice Kassakoff dan John W. c. Thomas. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. a). (Ahimsa. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya.

Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. a totally new theme. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. d. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . and often a paltry one at that”. 170). we get a surprise. 20006.aspek-aspek positif mengenai makna mitos. ( Douglas. “Instead of more and richer depths of understanding. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. 1967 dalam Ahimsa. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif.

Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. E. struktur dan koherensi logis dalam mitos. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss.Strukturalisme Levi-Strauss ini. Masuk akal. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. 176). makna-makna yang sangat dalam. yang tidak terduga dan menarik. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. 2006. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. Ada susunan. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia.

H. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Kawin Bedil dan Sobrat. Shri.S. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. Kalam 6 : 124-143. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. Yogyakarta : LKIS. Makalah seminar Arkeologi. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. Universitas Gadjah Mada. kepel Press. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Nalar Jawa. 1984. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur.. ___________. Yogyakarta. T. 2006. H. ___________. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Ahimsa-Putra. Tesis Pascasarjana Antropologi. ___________. Ahimsa-Putra. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. ___________. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. Makalah seminar. “Lévi-Strauss. O. ___________. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . 1998a. Paz.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. 1997. 1998b. 1998c. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. Orang-Orang PKI. ___________. Makalah seminar. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. 2005. Basis XXXIII (4) : 122-135. 1994. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. 1995.

“Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. 2002d. Terj. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. (ed). Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Makalah diskusi. Strukturalisme Lévi-Strauss. ___________. 2001. Yogyakarta : Galang Press. September – Desember. Rahayu S. Totem. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. ___________. ke Post- ___________. 2002e. A. Satwa. Makalah dalam bedah buku. ___________.I : 10 – 19.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. 2006a. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. Yogyakarta : Insight Reference. 1999c. Makalah bedah buku. ___________. Makalah seminar. ___________. 1999a. Mitos dan Nalar Primitif. ___________. Satu Model. Makalah Pelatihan. ___________. Humaniora 12 : 1 – 13. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2003. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. 2002c. Mitos dan Karya Sastra. ___________. ___________. Humaniora XV (3) : 239 – 264. 2002a. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. Dua Paradigma. ___________. Jakarta : UI Press. Tembi 1 Thn. Robby H. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Makalah seminar. C. Tiga Dasawarsa. ___________. 2000a. Badcock. 1999b. 2000b. Makalah Sarasehan. 2002b. 2005. Salam (ed). “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Abror. ___________. 43 .

___________. ___________. 1958. 1998. 2006b. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Ahimsa-Putra (ed. Structural Anthropology. Hand Book of Semiotics. Makalah seminar. 2006c.). Fokkema. Anthropologie Structurale (Terj. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Lane. Raman. Metodologi dan Etnografi. 2006e. Sawerigading. 2007). Pustaka Pelajar. Ngambu. dkk. 2007b.. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century).W. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Ngaju. ___________. 1995. Kaplan. Kreasi Wacana. 44 . 1968. Yogyakarta : Kepel Press.).. The Harvester Press Limited. Yogyakarta. Daiches. Strukturalisme Lévi-Strauss. Selden. 2006d. Yogyakarta. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. David. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Indiana university Press. ___________. 1981. Antropologi Struktural. Universitas Gadjah Mada. Critical Approaches to Literature. 1999. Strauss. Gramedia. Winfried. Kepel Press : Yogyakarta.___________. Makalah bedah buku. T. Abdullah (ed. Ritus Penandaan. Sussex. Longman. Jakarta. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. ___________. Nasrulah. Levi. 2007a. 1985. Mitos dan Karya Sastra. Ritus Pertukaran”. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Claude. Ngawa. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. ___________. Jakarta : Rajagrafindo Persada. The Penguin Press. H. Bloomington and Indianapolis. Noth. The Theory of Culture (Teori Budaya). ___________. Allen.S. New York. 2008b. Edisi Baru. Makalah seminar nasional. David. 2008. Tesis Pascasarjana Antropologi. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. 2008a. D. A Reader Guide to Contemporary Literary Work.

). Sturrock (ed. J. 1979. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. D. Yogyakarta. Oxford : Oxford University Press. Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. J. For the best results. 1958. Anthropologie Structurale (Terj. Oxford : Oxford University Press. Sturrock (ed. Erdward Said. click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. Roland Barthes.). Sperber. J.Strauss. Kreasi Wacana. 1979. Claude. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . Antropologi Struktural. Levi. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme". 2007). Sturrock. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida.

Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Dalam tulisan. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Dalam pemikiran post strukturalis. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 .Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. Selain itu. berpikir sementara menjadi hal yang utama. Aspek diakronis bahasa. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). penanda selalu produktif. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’.

Essainya yang berjudul “Structure. Diterbitkan di: Januari 04. Sign. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali . pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra.Essay Roland Barthes. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. 47 . and Play in the Discourse of the Human Sciences” .sastra.. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968. misalnya pada New Criticsm. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida. atau disebut para dekonstrusionis Yale.. 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin.

com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . Dalam. Derrida. • • • • • • • • • Sastra. click here! • Kutipan • Dan. TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL.blogspot. Bahwa. Dengan. For the best results. Dapat.You searched for: "strukturalisme". Pada. Bahasa.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. kelompok dan kelas sosial. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. memahami. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. dan menilai dunia sosial. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. jenis kelamin. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Field dan Modal. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. menyadari. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. preferensi. tidak setiap orang sama kebiasaannya. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

Dengan kata lain. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. Kelima. beberapa tahun kemudian. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. 1986 : 7). sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. Rolanda Barthes. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. setelah dia berkenalan dengan antropologi. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal.dengan di Inggris dan Amerika Serikat. Bagaimanapun juga. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. Kedua. Ketiga. Tidak mengherankan. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. Dengan kata lain. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. Namun. tetapi juga ahli filsafat. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. 1979 : 1). tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. dan filsafat. sastra. 57 . seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. Keempat. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss.

Prof. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. seperti Clifford Geertz. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. dan sebagainya. Antropologi Eropa (Inggris. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . Belanda. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. James P. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. Nico Kalangie. Spradley. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. Ward H. oleh lebih banyak ilmuwan. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. Oleh karena itu. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. karena selalu sulit dan tidak biasa. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. akhirnya saya harus kecewa. Goodenough. Sementara itu. Parsudi Suparlan. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. 2. Dr. Namun. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. pada tahun 1994 saya kembali. Lebih dair itu. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. Prof. Budi Santoso. Koetjaraningrat misalnya. Saya ingat. J. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. Danandjaja. Dr. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. yang mengajar kami teori-teori antropologi. Dr.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini.

dan masih aktif. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). Padahal. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. Koentjaraningrat. seperti misalnya Fuad Hasan. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. bahkan sampai tahun 1980an. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. Masri Singarimbun. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. Postmodernisme mulai terdengar. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. James Danandjaja. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. Selo Soemardjan dan sebagainya. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. Pertama. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Sartono Kartodirdjo. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. Parsudi Suparlan. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. bahkan hampir tidak ada. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. 59 .

Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. Sementara itu. Kelima. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. Ketiga. acuh tak acuh. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. apalagi oleh kalangan yang lebih luas. atau menolak secara terang-terangan. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. Sebaliknya.R. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. Kedua. Memang. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. Keempat. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. ahli sosiologi Amerika Serikat.

E. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. Mungkin. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. Meskipun demikian. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. a. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. Saya tidak tahu mengapa demikian. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. 3. mungkin juga sulit 61 . dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. de Josselin de Jong kepada kami. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. Yang lain tidak tertarik.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. Laksono. Tesis pascasarjananya. yakni P. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia.M. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. karena pendekatannya terasa tidak lazim.

Belanda. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Laksono tidak dapat menggantikan. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. yang saat itu masih belum guru besar. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Setelah saya kembali ke UGM. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. Belanda. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. Untuk beberapa tahun. Amerika Serikat. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . yang ditulis oleh Radrianarisoa. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. 1984). saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis.E. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. b. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. Pak Kodiran. mungkin pula karena kurang promosi. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. Ketika itu pengajaran teori antropologi.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. saya mengajar di jurusan antropologi. patut dihargai. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. Semenjak itu. saya kebetulan diminta Prof. de Josselin de Jong. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia.

semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. 1997). Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. Sementara itu. terutama jurusan antropologi di UGM. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. seni dan filsafat. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan.menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. terutama di Yogyakarta. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. Selain melalui perkuliahan. Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. baik itu yang analitis maupun teoritis. Saya menawarkan 63 . 1995). Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural.

Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. 64 . Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. 1998a. 2000a). para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. Sejak itu. seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. 4. tentang cara menggunakannya. yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. Dengan demikian. Dengan terbitnya buku tersebut. 1999c. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. 2000b). dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. 2001). Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. 2002c). Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja.

yakni patung (Ahimsa-Putra. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. baik itu secara formal lewat seminar. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. Oleh karena itu. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. rumah tradisional Sumba (Purwadi. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua.Memang. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. 2000). Kalimantan. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. Kalau Dadang H. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. a. Subiantoro. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. Oleh karena itu. 2002). 1999c. ngawa. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. Sepengetahuan saya. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi.

namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. Selain arca ganesya. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. ahli arkeologi UI. Lebih dari itu. ternyata tidak selalu mudah dipahami. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. Dari pengalaman berdiskusi. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. Sementara itu. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. 2007). 66 . Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya. yakni kosmologi Jawa. b.Minang (Maryetti. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. 2000). namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. Meskipun demikian. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. 2009).

Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. diakronis. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Sulit rasanya 67 . dan itu berarti kepada masa lampaunya.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. c. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. juga belum dapat dimengerti dengan baik. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). yang historis. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. yang a-historis. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Bahkan. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya.

tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. Belum pernah saya diundang dalam seminar. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. Hal ini tentu sangat mengherankan. Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. jika tidak memprihatinkan. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. tingkat pascasarjana. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 .mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). 5. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri.

di tingkat pascasarjana.S. ___________. Basis XXXIII (4) : 122-135. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. Universitas Gadjah Mada. Namun. sintagmatik-para digmatik. Kawin Bedil dan Sobrat. oposisi biner. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. Ahimsa-Putra. Fakultas Ilmu Budaya. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. 1984. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. 1994. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. 1995. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. dan transformasi. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. Kalam 6 : 124-143. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. terutama di UGM. ___________. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. Makalah seminar. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. 2005. T. Tesis Pascasarjana Antropologi. struktur sosial. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. 69 . sign. Oleh karena itu pula. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. dan sebagainya. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. signifier. H. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Universitas Gadjah Mada. signified.membahasnya.

Makalah seminar Arkeologi. ___________. 2002c. Paz. Strukturalisme Lévi-Strauss. Satu Model. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. (ed). ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Dua Paradigma. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Makalah dalam bedah buku. ___________. Orang-Orang PKI. ___________. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. 1999c. O. 1999a. Makalah seminar. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Makalah seminar. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. 2000b. Makalah Pelatihan. Makalah seminar. Humaniora 12 : 1 – 13. 1999b. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. 2000a. Rahayu S. Makalah Sarasehan. ___________.___________. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. 70 . ___________. 2002a. Gerbang 5 (2) : 88 – 97.I : 10 – 19. September – Desember. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. ___________. 1998b. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Jakarta : UI Press. ___________. ___________. 2001. ___________. ___________. 2002b. Yogyakarta : Galang Press. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. Tembi 1 Thn. Salam (ed). 1998c. 1998a. ___________. Yogyakarta : LKIS. 2002d. Tiga Dasawarsa. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. Nalar Jawa. “Lévi-Strauss. Mitos dan Karya Sastra. 1997. ___________. A.

Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. 2008a. ___________. 2006d. 2004. Kepel Press : Yogyakarta. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Strukturalisme Lévi-Strauss. Totem. ___________. N. Satwa. ___________. ___________. C.). Makalah diskusi. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Ritus Pertukaran”. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. 71 . 2006c. Mitos dan Nalar Primitif. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Sawerigading. Tesis Pascasarjana Antropologi. Edisi Baru. ___________. 2007a. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. Mitos dan Karya Sastra. Ahimsa-Putra (ed. Makalah bedah buku. Universitas Gadjah Mada. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman.S. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf. Makalah seminar nasional. Abror.). “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Yogyakarta : Insight Reference. Badcock. ___________. Metodologi dan Etnografi. Leni. 2006b. 2005. H. 2006e. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. ___________. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. ___________.___________. ___________. Robby H. ___________. 2006a. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Makalah bedah buku. Abdullah (ed. Ritus Penandaan. ___________. Terj. 2008b. 2002e. 2007b. Yogyakarta : Kepel Press. T. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. 2003. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Makalah seminar.

). Yogyakarta. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. 2000. Ngambu. S. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. 2007.I.H. 2008. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. Universitas Gadjah Mada. 1979. Tesis Pascasarjana Antropologi. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. J. Subiantoro. Universitas Gadjah Mada. Purnama. Universitas Gadjah Mada. 2002.). 1979. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1998. Nasrulah. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. Sturrock (ed. 2003.K. 2007. D. Analisis Struktural Lévi-Strauss. Tesis Pascasarjana Antropologi. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. J. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. 1986. Tesis Pascasarjana Antropologi. Sturrock (ed. Ngaju. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. Disertasi Antropologi. Pace. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Universitas Gadjah Mada. D. Maryetti. Distrik Kurulu. Sturrock. 2009. D. Sumintarsih. 2004. Tesis Pascasarjana Antropologi. G. Purwadi. London : Ark Paperbacks. Sperber. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. Tesis Pascasarjana Antropologi.Listia. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel. A. Ngawa. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Tesis Pascasarjana Antropologi. Numbery. 72 . Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Oxford : Oxford University Press. Tesis Pascasarjana Antropologi. Xiao Lixian. Kulon Progo. J. 2005. Universitas Gadjah Mada. Radjabana. Universitas Gadjah Mada. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Oxford : Oxford University Press.

tuhan. in Indonesia. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. kertas kerja tentang kajian budaya. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta.11 readers like this article. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. kematian. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. 73 . laporan penelitian. jurnal. During the research. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. filsuf perempuan. Meteor Garden. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. makalah.

Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 . Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. kampanye isu tertentu. lengkap dari bagian I sampai bagian IV. maupun organisasi aktivis.More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. Bila ada kesempatan di akhir pekan.

punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 . More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat.Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tahun 31. forms. Pujianto writes a book on batik semen. Fakultas Sastra. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni.. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier .http://tinyurl.. arguing for the myths underlying those different motifs. Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. Key words: batik. 76 . the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach. motifs.. sawat.. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. according to the present writer. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. Nomor 1. yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). Februari 2003). Tiga Usia Jacques Derrida. Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. Universitas Negeri Malang. symbolic approach. 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . with a great variety of sizes. and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach. and functions. In his study he employs a symbolic approach. Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@. which. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi .Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 . Therefore. Javanese mythology. structural approach.

artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. 1986). Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. Seakan-akan unsur ornament . lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Lenger (studi seni). di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. Bertolak dari artikel Pujianto. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. yaitu strukturalisme fungsional. dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. Falsafah orang Jawa . bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . Entitas ini muncul secara tiba-tiba. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). Perspektif simbolik. salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. di samping tokoh yang lain. Pada kaitan ini. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . Tahun 32. Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. misalnya sebagai contoh 77 . 137). Nomor 2. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa.Hidayat. Mauss. Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . M. terutama menyimak relasi lambang dan arti . professor di College de France. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. referensinya telah tersedia. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni.

Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. dan abdidalem. dan tumpal. yang saya perbolehkan dipakai Patih. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. Anadene Hidayat. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). Landung Simatupang. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. 2003: 131). dan tari Bedhaya (halaman 133). sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. daragam. utamanya ketika sedang bertitah. daragam lan tumpal. Wedana. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. Adipati. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. 2000: 237). 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. modang. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. bangun-tulak. baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. lenga-teleng. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. dan rakyatnya. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. batik cumangkiri yang calacep. dan batik parang rusak. 1983:213). Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. kawulaningsun Wedana. batik cumangkiri kang calacep. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . keluarganya. terj. maupun Abdi Dalem. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. bangun tulak. lenga-teleng. bahwa Batik merupakan benda fungsional. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. modang. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. (Yahya. (Pujianto.

seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). 1997: 80). Semen 79 . Berdasarkan konsep Triloka. yaitu: Alam atas. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. sebagai berikut: Gambar 1. dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. yang dijelaskan oleh Pujianto.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. Sawat. sebagai berikut. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). agar benih tersebut dapat bersemi. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. Nomor 2. Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut. urairan tentang bentuk Semen. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. dan alam bawah. Berdasarkan skema tersebut di atas. Misalnya. Sawat. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. alam tengah. dan Alas-alasan. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. demikian juga tentang kekuasaan . selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. Tahun 32. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Penyebara benih. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan.

kegembiraa. kejayaan. Tahun 32. tumbuhtumbuhan Kehidupan. Kalpataru. Awan. Kekuasaan. kumbang. kemakmuran. kesaktian. Lar (sayap) bersulur bangunan. kupukupu. Nomor 2. suci. Agustus 2004 Tabel 1. roh ALAM TENGAH Manusia. Tanah Brahma Tumbuhan. Lar (sayap). gunung. ALAM 80 . wahyu. burung merak. kakyaan. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. Garuda. angkasa.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. hidup. kapal Udara. pengavoman. (pohon hayat) Ayam jantan. Awan. kuda. harimau. Matahari Burung Garuda.

Wisnu. sungguhpun tidak seluruhnya salah. Betari Sri Laut. Kalau diperhatikan. Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. sungai. tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. bukti Hidayat. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas .BAWAH Laut. Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. sacral. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. Zoetmulder. Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. Analisis pada tabel 1 menunjukan. laut. Maka dimungkinkan. kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. Analisis ini menunjukan. 2000:127). Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. Apabila diubah relasinya. dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. 2002: 24. atau tidak terbukti. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. sebagai lawan garuda. atau ular yang berrelasi dengan air. sengsara. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . Matahari yang berbentuk bulat. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. kedukaan. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. 2003:134). Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa .

Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). Agustus 2004 gunakannya. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. dan waktu yang tidak bisa berbalik. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. (Ahimsa-Putra. yaitu diucapkan. motif Sawat. Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. yang relative tetap. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. cerita Garudia Kejayaan. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. kebesaran. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. Hidayat. kekuasaan. kata Levi Strauss. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). (simak halaman 134-138). 2003:105-142]. realasi. Tahun 32. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. kebijakan. cerita Ramayana. yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. keluhuran. kesetiaan 82 . Mitos. yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. Nomor 2. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time).Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. (antara ornamen. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. yaitu waktu yang bisa berbalik. juga berada dalam dua waktu sekaligus. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. 2001: 80-81). lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. dan relasi konstan). Pemahaman di atas menunjukan. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber.

perlindungan. kekuasaan. keluhuran. ringin kurung. mitos SriSadana Kemakmuran. Sorga Ketentraman. kekuatan perusak. bentuk wayang rampokan Kebebasan. Mitos Laut selatan. kekayaan. pembasmi. Harimau. kasih sayang. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. kepergiaan. kesetiaan Kumbang. Tahun 32. rintangan. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. Nomor 2. Kebebasan. kekuasaan. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. kalpataru. kekuasaan Kapal. langit. pundhen desa. kebijakan. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. keinginan. tanah Kejahatan. harapan. kelestarian. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. harapan.Lar (sayap) Unggas bersayap. kesetiaan Burung merak. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kayon Puncak. pencerahan. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. kekuasaan. kesetiaan. keperkasan. pencerahan. Kejantanan Kekuatan. Kemakmuran. puncak meru. Istana. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Wanita (femimimitas) Kasih saying. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. penghancur. kecerdirkan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). belencong (lampu/sinar) Kekuatan. pikiran. kekuasaan. ketenangan. Kupu-kupu. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. ketentraman Burung Garuda. pikiran Bangunan. pelepasan. ketentraman Laut. kebesaran. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. Kuda. atau pandangan para priyayi 83 . Rumah. mitos Sri Sadana. kekayaan. kebesaran. keabadian. Mitos kematinan. Sorga. kebijakan. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. ikatan kekerabatan. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. alam kegelapa. kebijakan. kedamaian. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. ketentraman. Kejantangan Kekuatan. perdamaian Awan. kekayaan. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan.

Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. tetapi bersamaan dengan itu. sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. mitos kesuburan.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. tanaman. dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). Hidayat. awan. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. atau Hermeneutik. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. Akan tetapi perlu disadari. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. Sawat. gambar. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. mitos perjodohan. melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. salah satunya ada pada motif batik. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. garis-garis. yaitu tentang paham monisme dualistik. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. ukuran. dan referentif. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . naga. unggas (burung garuda. pohon hayat. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. 2001:31). seperti motif Sulur-suluran. merak). mitos kekuasaan. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. dipahami sebagai sebuah struktur. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. kupu-kupu. dan lain-lain. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. posisi motif. ucapan. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. akan tetapi lebih mendalam. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). seperti bentuk batik Semen. Unsur mitos. dan lain sebagainya. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. atau Alas-alasan. meliputi warna dasar. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. lidah api. antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. logis. Maka.motif pada kain batik. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). dan motif-motifnya). salah satunya adalah menggunakan teori semiotika.

bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan.. salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . atau tunas yang harus di semai kan. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. Darmaita ( ahli stragegi perang.untuk menemukan makna. yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. kesejukan. bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). Nomor 2. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat. Danaita. spontanitas. Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. bentuk. Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . subtansi. Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. Woro Ariyandini S. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. Curiga manjing warangka. berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101). dan bersikap adil). Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Raja yang bersifat Saraita. sebuah citra yang kuat. bumi. dan kreativitas yang dikarsai. sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi.] dan duwur (atas) [ + ]. paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. istilah ini berrelasi dengan 85 . yaitu . yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). dan rakyat dipandang sebagai kawula . Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. pengendalian. langit. Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. yaitu Loro-loroning Atunggal. bibit .. kehangatan. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. Tahun 32.1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi.

horizontal dan vertikal. Relasi gunung laut . Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. Gambar 3. keagungan. dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). Barat menunjukan arah marabahaya. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). 1982:33). yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. yang tumbuh di bumi Hidayat. gunung adalah sorgaloka. Sawat. sedangkan dunia ada percapada. atau meru . menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. tumbuhan. atau sakral. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). bersemayamnya ratu pantai selatan. ancaman Batari Durga. dan roh-roh pengganggu manusia. Paparan relasional dari motif batik Semen. simbol keseimbangan ekologi. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . dan seluruh rakyat. anak buah. kaitannya dengan posisi kekuasaan. Tempat arwah yang tidak beruntung. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. yang da 300 BAHASA DAN SENI. tempat makluk hidup bertebaran. dan kejayaan. Tahun 32. setan. dan laut sebagai muara. Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). dan juga manusia. eksistensinya sebagai pengayom. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . Ayah ibarat pohon. yang artinya semi. Selatan menunjukan arah laut. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . siksaan. Gunung (merapi) berada di Utara. Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. pelindung istri dan anakanaknya. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. keramat. kebesaran. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). atau pohon sorga (Sri Mulyana. Nomor 2. sorga tempat bersemayamnya para dewa. raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur).kiwa (kiri)[-]. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. dan bermukimnya jin. ora kena wula-wali. Hutan lebih bersifat magis. menampakan hubungan yang bersifat duniawi. berrelasi dengan emas .1989: 635). kebijakan atas dirinya.motif batik Semen . yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). keluarga. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. sabda pandita ratu. Gunung laut berrelasi horizontal.

Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. bahwa motif bagik Semen. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. akibatnya aspek struktur terabaikan. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. dan Alasalasan. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. Setelah dilakukan analisis unsur motif. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. perdukunan. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. 87 . Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. Sawat. Terlebih. seperti topeng. 1997:790. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. Temuan ini menunjukan. Sebagai contoh asumsi Pujianto. relasi. Pijianto mempunyai sudut pandang. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. ilmu sihir. Asumsi Pujianto perlu diuji. Sawat. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. makanan tradisional.

Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . swargaloka. Tahun 32. Semunira den asumeh. naga. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. ini sebuah kerelaan. Hendaknya wajahmu berseri manis. Nomor 2. ketulusan. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal.1988: 56-57). tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . Dan pelayananmu bila ketemu. Kinarya gedhong dening sang nata.duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. dan sekaligus kepasrahan. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . isor 302 BAHASA DAN SENI. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. temen. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. dan budi luhur. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. Setyanireng kakung. Ing raga nuta saosa kersing laki. tempat arwah bersemayam. berkait dengan kedudukan rakyat kawula . yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. narima. yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. yaitu ngabekti. sabar. dan kekuatan penghancur. yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. Angrasa yen sinatyan. dan juga kesetiaan. Niels Mulder menjelaskan. Buat simpanan oleh sang raja. yaitu adanya konsep Dewa-raja . Pasrahlah dalam segala kehendaknya. tempat roh-roh jahat. Hidayat. Seperti istri pertama. 88 . Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. berkait dengan kedudukan raja . Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. (2003: 139). Kadi garwa kawitan.

David & Monners. Februari 2003. Jakarta: Gramedia. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. 1982. no. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. 1994. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Danandjaya. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Anthony [1988]. Faufik & Leeden. 1983. Dick Hartoko. Purwadi. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis.2000. Teori Budaya. Nomor 2. Sastra. Rahayu S. A. Yogyakarta : Yayasan P. Claire. 2001. diterj. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Sri. Amri. Flores: Nusa Indah. [tanpa kota terbit]. Shri Heddy (ed. Semiotik. Kebudayaan Jawa. 2003. Memutar Taman Sri Wedari. Filsafat dan Masa depannya. Cremers. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Abdullah. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. Jakarta: Balai Pustaka. Niels. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . 1986. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Agus. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. Ketika Orang Jawa Nyeni. nomor 1. Budiono. Herusatoto. John.). Jakarta: Gunungagung. 2000. 2002.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. Olga. April 2002. Abdullah. & Hidajat. James. 2002. Storey.J.2000. Mengkaji Tanda dalam Artifak. Semilogi Roland Barthes. 2001. Albert A. Yogyakarta: media Pressindo. vol. 1988. 2000. van Der. Jakarta: Balai Pustaka.C. Yogyakarta: Galang press. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Mulder. 1996. Niels. Asal-usul. Universitas Negeri Malang. Falsafah Jawa. tahun 31. Ahimsa-Putra. Randrianarisoa. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. 2001. 1997. Teori Budaya dan Budaya Pop.M. Yogyakarta: Qalam. Holt. Malang: Fak. 2003. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas.K. Kurniawan. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. 1. Malang: Fakultas Sastra. Pujianto. Antara Alam dan Mitos. Jakarta: Universitas Indonesia Press.B. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Manunggaling Kawula Gusti. Soedarsono. Sangkan paraning Dumadi. Woro. Tahun 32. 304 BAHASA DAN SENI. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Juni 1983 XXXII 6. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . tahun 31. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. E. Kaplan. Aryandini S. Februari 2003. nomor 1. 1992. Sutarno. 1989. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yogyakarta: Hanindita. Masinambow. 1. Diterj. P. Yahya. 2003. Zoetmulder. Mochtar Pabotinggi. 1967. Wayang dan Lingkungan. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Jakarta: Balai Pustaka. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . Direktorat jendral Kebudayaan. Universitas Negeri Malang. Pujianto. Agustus 2004 Koentjaraningrat. 2001. Ciptaprawiro. Mulder. (Purwadi. Reid. 1985. Basis. Yayasan Indonesiatera.1986.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. diterjemahkan: Landung Simatupang. Wayang. 1974. Diterj.

Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. nilai pendidikan agama (religi). dan teori. nilai pendidikan sejarah (historis). legenda perseorangan . dan analisis dokumen.G. pencatatan. perekaman. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. dan nilai pendidikan kepahlawanan. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. metode. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”.ngkajian. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . Latar yang paling dominan adalah latar tempat. alur. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. observasi benda-benda fisik dan dokumen. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik. dan legenda keagamaan. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. latar. perjuangan seorang tokoh. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. dan amanat. (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. wawancara. (4) “Reyog Brijo Lor”. tokoh. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. tema. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. nilai pendidikan adat. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. dan terjadinya suatu tempat. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. Lima cerita rakyat tersebut. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis.

nilai pendidikan agama (religi). 91 . Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi).bervariasi. nilai pendidikan sejarah (historis). adalah Nilai pendidikan moral . nilai pendidikan adat (tradisi).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful