Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

manusia mempunyai putusan sendiri. ia memiliki peran. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. 4 . anakbapak. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. seperti misalnya suami-istri. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. Hubungan ini sama seperti bahasa. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. Perbedaan lain yang cukup mendasar. Bahasa adalah sistem komunikasi. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. saudara lelaki . Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). terutama dengan pemikiran fenomenologi. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. paman-keponakan. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi.saudara perempuan. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. Sebagaimana halnya bahasa. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain.Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh.

Menurut Levi-Strauss. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. kecuali lewat paksaan mental tersebut. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. kategori. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. seorang fenomenolog. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan.Bagi Heidegger. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. tetapi justru suka menyembunyikan diri. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. Melalui kajian Antropologi budaya. Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Ini didapat dari Husserl. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 .

Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya.strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. tidak bermula dengan hidup manusia sendiri. mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). artinya tidak menguasai keadaan. Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. tetapi justru saling melengkapi. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada.

ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu.tersebut. 1996:513). eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. namun oleh Roman Jakobson. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. terutama Eropa Barat. sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. 1996:513). Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. pada dekade 1960-an. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat.

Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger. Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. ke 8 . Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. 2000 : 219 ).yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. 2001 : 182). sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. Agar lebih jelas. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. Pertama. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. Kedua adalah langue dan parole. Kedua. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. ke kanan. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. dalam pendapat Saussure. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. Dalam permainan catur. yang artinya adalah ”tanda”.

badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. maka hancurlah struktur permainan catur itu. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. Kanada dan Meksiko. Ini dapat dianggap sebagai parole. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. Selain itu. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun. seperti universitas Harvard. riwayat hidup penemunya. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. Hal ini penting. dan Oxford di Amerika. teori lain yang mempengaruhi. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka.depan atau ke belakang. Yale. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. karena jika bergerak selain gerak “L”. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. B. C. Selain itu juga dari universitas di Swedia. Latar belakang pendidikan. akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. Perancis maupun saat ia berada di New York. B.

memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Belgia. Brazil. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Ia adalah keturunan Yahudi. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia.unik itu. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil.

Kroever dan Ralph Linton. Berkat jasanya. Ruth Benedict. yaitu petugas penghubung. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. ia juga mengalami diskriminasi ras. Levi-Strauss tinggal.L. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. Dengan ketekunan. Franz Boas. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. New York. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. seperti Maz Ernst. Di daerah Greenwich Village. A. kesabaran. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. 11 . dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat.Prancis. Halangan tidak hanya sampai disitu. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor.

" Hélène Carrère d'Encausse. Penulis Jean d'Ormesson. seorang filsuf. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan National Public Radio. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar.Pada zaqmannya.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. ia berkata. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil." Levi Strauss meninggalkan dua putra. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. lahir pula Antropologi Kognitif. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford.. dikembangkan Ward H. Yale. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. sekretaris abadi Académie française. Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan. baik itu tanaman atau hewan. Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. . Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. setelah dia meninggal. tidak lagi dunia yang aku suka. Berbicara pada radio Perancis. Goodenough (1950-an). berencana untuk menghormatinya. "Dia adalah seorang pemikir. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". Aliran ini membawa 12 ." kata LeviStrauss. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri..

terutama mitos. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC. konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. dalam rentang enam dekade. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . dan "The Raw and the Cooked" (1964).definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. "The Savage Mind" (1963). seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). Karyakarya pemikir abad 20 ini. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. C. 2009 dengan usia 101 tahun. dalam jangkauan luas masyarakat. Aliran Antropologi Simbolik.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas.Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. meninggal di Paris pada 31 Oktober. sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. Dia juga seorang pecinta musik sejati. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu.

without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. they are therefore difficult to define. where problems are similarly set in formal terms or. But so can a physiology. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. and still more difficult to discuss.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. Meskipun bertolak pada linguistik. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing. 2006. crystals. tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu.” 14 . Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. 60). Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. any organism. rather. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik.and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. but the patterns that the words form. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. machines. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. all societies and all cultures. except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. Allen Lane (1968.machines.

Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. 1978). dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. Seperti kata-kata hitam dan putih. ketulusan dan lain-lain. 378). sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris.Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. 1. LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. 1958. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. 15 . kebersihan. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. kejahatan. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. 1969 dalam Fokkema. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. keburukan.

2. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. 1978). sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. 1978). 16 . Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. Istilah kekerabatan. Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. seperti halnya fonem. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. 1978). Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. dan mudah rusak (Fokkema. cepat berlalu. 3. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. 4. dan seperti fonem. merupakan unsur makna. 1972 dalam Fokkema.

Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. dan bersifat menjelaskan (Levi17 .Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. sederhana. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. Berikutnya. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. 1987). dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Koentjaraningrat. Namun demikian. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. Pertama. Kedua. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. Ketiga. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. 2006). Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. 1978). Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan.

selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. 18 . Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia.Strauss. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. 1978). Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. Hastermann). sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya. dalam Fokkema. sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. manjauhi yang kongkret. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. 1972. Di Bali.C. sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. apalagi ketika upacara pembakaran mayat. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda.

yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. Bahasa adalah sistem tanda (sign). menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. tetapi artinya sangat berbeda. namun bentuknya tidak. horse adalah ”penanda”. karena perbedaan sistimatis tersebut. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. Sebagai contoh: babu. sabu. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. tabu. Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. Isi bisa berubah. kuda. Contoh: Jaran. Elemen dasarnya adalah katakata. Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. tergantung dari relasinya. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. . Langue adalah sistem tata bahasa formal. Adanya langue menyebabkan adanya parole.

dan lain-lain. Selanjutnya menurut Saussure. dan bentuk komunikasi. cara berpakaian. dan memproduksi suara. sampai mitos dalam masyarakat. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. Disebut gunung. Dalam sistem biner. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. *bangku*. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. Kategori X ataupun kategori Y. Suatu kategori jadi exist atau bermakna. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. ekspresi. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. 20 mencaplok. naskah sastra. *pergi*. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). dan lain sebagainya. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya.bahasa tubuh. kedinginan. mengerogoti. . mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. dan lain sebagainya. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. kegeraman.

seperti: . oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. positip <--> negatip. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. separatis lawan NKRI.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya. Bagi Strauss. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. militer-sipil. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . publik <--> privat. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. daratan <--> lautan. diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya.

dan bahkan tidak akan ada kategori A. Dalam sistem biner. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. Tanpa kategori B. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B. Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. ia bukan bersifat 'alamiah'. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna. tidak akan ada ikatan dengan kategori A.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. Ia adalah produk dari sistem penandaan. atau antara anak-anak dan orang dewasa. daratan dan lautan. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. begitu seterusnya. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. dan dengan memakai pengkategorian itulah. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak).

Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. hantu. Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). vampir/hantu/zombi. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Antara daratan dan lautan. tapi pada struktur dalam tetap sama. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. remaja. ada pantai. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Pantai. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada.sistem oposisi biner. Struktur terbagi dua. ada posisi remaja. zombi. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). Antara anak-anak dan orang dewasa. perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini.

1. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). Ferdinan de Saussure. (Levi-Strauss. Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Yaitu. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. Signifier dan signified. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. C. yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. Signified (tinanda) dan signifier (penanda). a. Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. 1978 dalam Ahimsa 2006). 24 . 1995. Sebagai penemu konsep linguistik modern. Dari ketiga pemikir linguistik ini. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. 2006).terhadap pandangan Levi-Strauss adalah. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. 56).

Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. 19 dalam Ahimsya. 2006 h. walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. 35). akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. 25 . Langue (bahasa) dan parole (ujaran. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). 2. isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. 3. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama.sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. tuturan). Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). Dalam konsep ini. Form (bentuk) dan content (isi). Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. 1976. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut.

Namun demikian. 4. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. Dalam langue terdapat norma-norma. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. 1966. 47). 2006. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. via Ahimsa. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler. via Ahimsa. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. 2006. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. 26 . kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure. 1976. 46). aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis.

47). yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan.5. b. Koch (1981. 2006. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. periode formalist. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 . Pertama. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. 1995. via Noth. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. Sintagmatik dan Paradigmatik. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. “memetik” dan “bunga”. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja.

berpengaruh.. 2006.” (1985:139). Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa. Kedua. periode Semiotic. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal. 52). which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). Keempat. matematika dan juga fisika (1982).His (Jacobson’s) lectures. 28 . Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006.. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). gave me something very different and. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. This was the revelation of structural linguistics. 2006).. antara tahun 1939 sampai 1949. Ketiga. 52) berikut ini: “. Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. a great deal more than I had bargained for. however. periode stucturalist.. need I add. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa.

Ahimsya. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah. h. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. Menentukan perbedaan. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. 1977. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. b. 2006).Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. d. 55). c. unit-unit yang bermakna. a. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. Nikolai Troubetzkoy 29 . Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. 11. c.

strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. 59). Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. 2006. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa. 4. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. Dengan kata lain. tetapi dia harus. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. 3. Langkah analisis struktural dalam fonologi. (Ahimsa. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. 30 . Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. ciri-ciri pembeda. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. Artinya. 2.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. 2006). kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. d. bukan konsep psikologis. Selanjutnya dia perlu. 1.

dengan istilah-istilah yang lain. secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan.Marxisme dan lain-lain. yaitu secara sinkronis. 1. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. 2. 2006. seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. 66). 1970. pola tempat tinggal. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. 31 . Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. (Ahimsa. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. untuk menstruktur. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. Yaitu kemampuan untuk structuring. pakaian dan sebagianya. 3. 68). Ahimsa (2006. 13-14 Ahimsya. menyususun suatu struktur. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. 4. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut.

Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. implikasinya cukup jauh. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). bukannya sebagai seorang “pesinden”. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). dan sebagai “tanda” (sign). Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial.Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. juga jika hanya secara analogis. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . gubernur. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. camat dan sebagainya. Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas.

perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. Jacques Derrida.kasat mata. dan proses adalah soal kebetulan. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). berbeda merupakan identitas itu sendiri. waktu. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 . Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. ruang. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. ‘camat’ dan sebagainya. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu. e. sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. Seperti telah dicontohkan di atas. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. Artinya. ‘gubernur’. Dalam kritik Giddens. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. “Kode tersembunyi” itulah struktur. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. misalnya. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan.

Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. Secara umum dapatlah dikatakan. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. 2.

maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. 3. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia. tetapi sebagai model bagi kenyataan. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. Dalam perhatiannya mengenai mitos. Menurut Levi-Strauss. agama adalah suatu bagian dari struktur sosial. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati.keteraturan (order).

mengenai masa yang lampau. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. sekarang. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. kebingungan dan jiwa tertekan. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. 2. Karena. yaitu etos dan pandangan hidup. maupun masa yang akan datang. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran.

Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. yaitu dalam rangkuman struktur sosial. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis. data etnografi dan interpretasi. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. dibenarkan. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. Sebagai akhir kata. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. dan didukung dalam suatu masyarakat. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. D. kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini.sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. Cara menggunakan 37 . a. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. a). 3.

162). Karena ketidaktepatan itu. Konsistensi prosedur analisis dan c). Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). 2006).konsep-konsep analisis. Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. 2006. Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. b. 164). Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Menurut para 38 . Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. b). Ketiga. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Kedua. 1967 dalam Ahimsa. tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Dalam persoalan ini. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. Reduksi dalam proses analisis. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. 2006.

Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. L. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. 2006.L. Kronenfeld. Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. (misrepresentasions of story). Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. seperti Alice Kassakoff dan John W. b).antropolog. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. JZ. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. Thomas. Lain lagi dengan pendapat Alice. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. a). Hasil Analisis. c. 168). (Ahimsa. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. Kronenfeld dan DB.

Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. 1967 dalam Ahimsa. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss. “Instead of more and richer depths of understanding. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . ( Douglas. 170). karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. a totally new theme. we get a surprise. and often a paltry one at that”. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat.aspek-aspek positif mengenai makna mitos. d. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. 20006.

2006. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. struktur dan koherensi logis dalam mitos. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. makna-makna yang sangat dalam. dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. E. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . Masuk akal. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. yang tidak terduga dan menarik. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. 176). Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. Ada susunan. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain.Strukturalisme Levi-Strauss ini.

Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. “Lévi-Strauss. 1994. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. 1998b. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. T. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . Makalah seminar Arkeologi. Shri. Nalar Jawa. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Ahimsa-Putra. Yogyakarta. Ahimsa-Putra. 2006. H. kepel Press. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. Orang-Orang PKI. Universitas Gadjah Mada. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. ___________. Paz. 1995. ___________. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Kawin Bedil dan Sobrat. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. ___________. 1984. ___________. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi.S.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. 1998c.. H. 2005. Makalah seminar. Makalah seminar. ___________. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Yogyakarta : LKIS. 1998a. Kalam 6 : 124-143. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. Basis XXXIII (4) : 122-135. O. 1997. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural.

(ed). ___________. Tiga Dasawarsa. 2005. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. 2003. ___________. 2000b. Humaniora 12 : 1 – 13. Mitos dan Nalar Primitif. Badcock. Abror. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. ___________. Dua Paradigma. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. ___________. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Yogyakarta : Insight Reference. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. C. Makalah Pelatihan. Mitos dan Karya Sastra. Totem. Robby H. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. Yogyakarta : Galang Press. 2000a. 2002e. 2002a. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. 1999a. Makalah diskusi. 2002b.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. ___________. Satwa.I : 10 – 19. Jakarta : UI Press. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Makalah Sarasehan. Makalah seminar. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Makalah bedah buku. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. 2002d. 2002c. ke Post- ___________. ___________. Terj. ___________. ___________. Makalah seminar. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. 1999c. A. 2001. Satu Model. ___________. 43 . Makalah dalam bedah buku. Tembi 1 Thn. ___________. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. 1999b. ___________. 2006a. ___________. September – Desember. ___________. Salam (ed). Strukturalisme Lévi-Strauss. Rahayu S.

2006b. Strauss. Indiana university Press.. 44 . Longman. Ritus Penandaan. Allen. 1999. Ngambu. Hand Book of Semiotics. Winfried. 2007). The Harvester Press Limited. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. David. ___________. 2006c. Universitas Gadjah Mada. Metodologi dan Etnografi. Edisi Baru. Yogyakarta. 2007a. Levi. Nasrulah. Makalah bedah buku. Yogyakarta. Anthropologie Structurale (Terj. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). ___________. Kreasi Wacana. Claude.W. ___________. Ritus Pertukaran”. 1985. Jakarta. Kepel Press : Yogyakarta. Kaplan. David. Antropologi Struktural. Ngawa. H. D. The Penguin Press. ___________. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Lane. A Reader Guide to Contemporary Literary Work.). Structural Anthropology. 1995. 1968. The Theory of Culture (Teori Budaya). Gramedia. New York. Strukturalisme Lévi-Strauss.___________. ___________. ___________. Pustaka Pelajar. 2008. Ngaju. 2006e. Mitos dan Karya Sastra. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. dkk. Raman. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. 2007b.. Bloomington and Indianapolis. 1998. Ahimsa-Putra (ed. Fokkema.S. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. ___________. Makalah seminar. Jakarta : Rajagrafindo Persada. 2008b. Makalah seminar nasional. Noth. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Tesis Pascasarjana Antropologi. Sussex. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Yogyakarta : Kepel Press. 2008a. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Sawerigading. Critical Approaches to Literature. 1981. Abdullah (ed.). Daiches. 1958. 2006d. Selden. T.

“Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. 1979. Sperber. 1958. Oxford : Oxford University Press. J. click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . 1979. Antropologi Struktural. Oxford : Oxford University Press. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Levi. Yogyakarta. Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. 2007). Kreasi Wacana. J.). Anthropologie Structurale (Terj. Roland Barthes.). For the best results. D. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme". J. Claude. Sturrock.Strauss. Sturrock (ed. Erdward Said. Sturrock (ed.

mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Selain itu. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Dalam pemikiran post strukturalis. Dalam tulisan. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Aspek diakronis bahasa.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. dilihat sebagai bagian yang kurang penting.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). berpikir sementara menjadi hal yang utama. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. penanda selalu produktif. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut.

. Diterbitkan di: Januari 04. “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968. and Play in the Discourse of the Human Sciences” . mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis.Essainya yang berjudul “Structure.sastra.Essay Roland Barthes. pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. Sign. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali . atau disebut para dekonstrusionis Yale. 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks. 47 . Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida.. misalnya pada New Criticsm.

Dalam. Bahasa. Bahwa.blogspot. • • • • • • • • • Sastra. Pada. For the best results.You searched for: "strukturalisme". TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 . Derrida. Dengan. Dapat. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL.com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI. click here! • Kutipan • Dan.

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. menyadari. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. preferensi. memahami. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. tidak setiap orang sama kebiasaannya. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. kelompok dan kelas sosial. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. Field dan Modal. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. jenis kelamin. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . dan menilai dunia sosial. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

Kelima. sastra. 1979 : 1). empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme. dialah seorang penganut strukturalisme tulen. Tidak mengherankan. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. dan filsafat. Keempat. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. 1986 : 7). 57 . Kedua. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. beberapa tahun kemudian. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. Dengan kata lain. tetapi juga ahli filsafat. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock.dengan di Inggris dan Amerika Serikat. setelah dia berkenalan dengan antropologi. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. Rolanda Barthes. Bagaimanapun juga. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. Dengan kata lain. Ketiga. Namun.

ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. 2. oleh lebih banyak ilmuwan. Lebih dair itu. Danandjaja. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. karena selalu sulit dan tidak biasa. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . Prof. Goodenough. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. Koetjaraningrat misalnya. Dr. Oleh karena itu. Sementara itu. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. Namun. Nico Kalangie. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. J. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. pada tahun 1994 saya kembali. Ward H. Belanda. Prof. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. Dr. dan sebagainya. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. Parsudi Suparlan. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. Saya ingat. Spradley. Dr. Budi Santoso. seperti Clifford Geertz. yang mengajar kami teori-teori antropologi.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. Antropologi Eropa (Inggris. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. James P. akhirnya saya harus kecewa. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya.

tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. Masri Singarimbun. Sartono Kartodirdjo. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. seperti misalnya Fuad Hasan. bahkan sampai tahun 1980an. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. Postmodernisme mulai terdengar. bahkan hampir tidak ada. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. Koentjaraningrat. strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. Pertama. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). James Danandjaja. Parsudi Suparlan. 59 . karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. Padahal. dan masih aktif. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Selo Soemardjan dan sebagainya. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia.

Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik.R. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. apalagi oleh kalangan yang lebih luas. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. Memang. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . Ketiga. Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. Sebaliknya. Kedua. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Sementara itu. acuh tak acuh. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A. Keempat. ahli sosiologi Amerika Serikat. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. Kelima. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. atau menolak secara terang-terangan. sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik.

Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. de Josselin de Jong kepada kami. karena pendekatannya terasa tidak lazim. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. yakni P.E. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan.M. tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. Mungkin. Meskipun demikian. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. Saya tidak tahu mengapa demikian. Yang lain tidak tertarik. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. Tesis pascasarjananya. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. 3. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. mungkin juga sulit 61 . Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. Laksono. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. a. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda.

Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York.E. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. yang saat itu masih belum guru besar. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. 1984). Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. de Josselin de Jong. saya mengajar di jurusan antropologi. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. Ketika itu pengajaran teori antropologi. mungkin pula karena kurang promosi. saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. Laksono tidak dapat menggantikan. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. Semenjak itu. Belanda.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. Pak Kodiran. yang ditulis oleh Radrianarisoa. Setelah saya kembali ke UGM. b. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . Belanda. patut dihargai. Amerika Serikat. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. Untuk beberapa tahun. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. saya kebetulan diminta Prof. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus.

atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra. Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. terutama di Yogyakarta. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. Selain melalui perkuliahan. Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. Saya menawarkan 63 . karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. baik itu yang analitis maupun teoritis. tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. terutama jurusan antropologi di UGM. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. 1997).menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. seni dan filsafat. 1995). Sementara itu. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra.

2000a). 2001). strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. 4. tentang cara menggunakannya. Sejak itu. Dengan demikian. 2000b). yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. 1999c. 2002c). Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. 64 . yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. 1998a. Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. Dengan terbitnya buku tersebut. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra.

ataupun dalam diskusi-diskusi informal. Subiantoro. baik itu secara formal lewat seminar. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. yakni patung (Ahimsa-Putra. ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . Oleh karena itu. rumah tradisional Sumba (Purwadi. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. 2000). a. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu.Memang. 2002). analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. Sepengetahuan saya. dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. Kalau Dadang H. 1999c. Kalimantan. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. ngawa. Oleh karena itu. di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang.

karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya.Minang (Maryetti. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. b. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. Sementara itu. Meskipun demikian. 2000). namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. 2009). ternyata tidak selalu mudah dipahami. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. 66 . yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana. yakni kosmologi Jawa. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. 2007). Lebih dari itu. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas. Selain arca ganesya. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. ahli arkeologi UI. Dari pengalaman berdiskusi.

ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. Bahkan. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. dan itu berarti kepada masa lampaunya. yang a-historis. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. yang historis. yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. juga belum dapat dimengerti dengan baik. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. Sulit rasanya 67 . Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. diakronis. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. c. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya.

Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies.mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. tingkat pascasarjana. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. Hal ini tentu sangat mengherankan. tidak demikian halnya dengan strukturalisme. 5. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. Belum pernah saya diundang dalam seminar. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. jika tidak memprihatinkan. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi.

Oleh karena itu pula. ___________. Kawin Bedil dan Sobrat. oposisi biner. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. terutama di UGM. struktur sosial. signifier. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. 69 . Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. dan transformasi. H. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi.S. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. ___________. Basis XXXIII (4) : 122-135. 1994. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. signified. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. dan sebagainya. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. sintagmatik-para digmatik. T. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. Kalam 6 : 124-143. Fakultas Ilmu Budaya. 1984. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2005. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. Namun. Ahimsa-Putra. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. sign. di tingkat pascasarjana.membahasnya. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Makalah seminar. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. 1995.

Jakarta : UI Press. Nalar Jawa. ___________. 1998a. Orang-Orang PKI. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Rahayu S. ___________. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. 1998b. Strukturalisme Lévi-Strauss. Makalah Pelatihan. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. 1998c. Makalah seminar Arkeologi. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. 2000a. Yogyakarta : LKIS. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. 2002c. Tembi 1 Thn. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Makalah Sarasehan. ___________. A. 1999c. 2002a. Salam (ed). Makalah seminar. ___________. Makalah seminar. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik.I : 10 – 19. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. ___________.___________. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. ___________. 2002b. 1999b. Makalah seminar. “Lévi-Strauss. 1997. ___________. Makalah dalam bedah buku. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. 2000b. O. Paz. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. ___________. 2002d. Satu Model. 2001. Mitos dan Karya Sastra. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. ___________. 70 . Gerbang 5 (2) : 88 – 97. ___________. Yogyakarta : Galang Press. Dua Paradigma. ___________. Humaniora 12 : 1 – 13. September – Desember. 1999a. (ed). Tiga Dasawarsa.

Robby H.). Edisi Baru. Makalah seminar. ___________. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. 2007a. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. Makalah bedah buku. Ritus Pertukaran”. T. Satwa. H. Strukturalisme Lévi-Strauss. Abror.). 2003. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. 2006d. Jakarta : Rajagrafindo Persada.___________. ___________. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2006c. Yogyakarta : Kepel Press. Totem. ___________. Mitos dan Karya Sastra. N. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Ahimsa-Putra (ed. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. ___________. ___________. 71 . Abdullah (ed. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. 2006b. Mitos dan Nalar Primitif. Terj. Leni. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. 2007b. 2008b. 2005. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. 2008a. Yogyakarta : Insight Reference. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. 2006e. 2004. Makalah seminar nasional. Makalah diskusi. ___________. Humaniora XV (3) : 239 – 264. Universitas Gadjah Mada. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf.S. 2002e. Ritus Penandaan. Badcock. Metodologi dan Etnografi. ___________. Sawerigading. C. 2006a. ___________. Kepel Press : Yogyakarta. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Makalah bedah buku. ___________.

London : Ark Paperbacks. 2003. 2004. Tesis Pascasarjana Antropologi. Sperber. A. Tesis Pascasarjana Antropologi.I.). Purnama. Ngawa. Analisis Struktural Lévi-Strauss. Sumintarsih. 1986. Kulon Progo. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. Sturrock (ed. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. J. S. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. Universitas Gadjah Mada. D. 1998. Tesis Pascasarjana Antropologi. Nasrulah. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. 1979. D. J. Purwadi. 72 . Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel. Yogyakarta.K. D. Universitas Gadjah Mada. Ngaju. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida.Listia. Tesis Pascasarjana Antropologi. Disertasi Antropologi. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”.H. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. 2005. Tesis Pascasarjana Antropologi. Sturrock. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. 2007. Tesis Pascasarjana Antropologi. Tesis Pascasarjana Antropologi. 2009. 2002. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Universitas Gadjah Mada. Subiantoro. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. G. 2000. Universitas Gadjah Mada. Maryetti. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Distrik Kurulu. J. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. Tesis Pascasarjana Antropologi. Radjabana. Sturrock (ed. Xiao Lixian. 2007. Oxford : Oxford University Press.). Universitas Gadjah Mada. Pace. Numbery. Ngambu. Universitas Gadjah Mada. Oxford : Oxford University Press. 1979. Yogyakarta. 2008.

kertas kerja tentang kajian budaya. in Indonesia. laporan penelitian. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. makalah. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. During the research. Laporan ini dibuat pada tahun 2006.11 readers like this article. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. filsuf perempuan. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. 73 . KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. tuhan. jurnal. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. kematian. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. Meteor Garden. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi.

lengkap dari bagian I sampai bagian IV. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas.More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. maupun organisasi aktivis. kampanye isu tertentu. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi. Bila ada kesempatan di akhir pekan. merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 .

seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat. More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 .Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet.

and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology. Februari 2003). with a great variety of sizes. forms. Javanese mythology. From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung .http://tinyurl. sawat. yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture. 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . Universitas Negeri Malang.Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article. Therefore. motifs.. In his study he employs a symbolic approach. structural approach. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. Key words: batik. Tiga Usia Jacques Derrida. Tahun 31. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain. and functions. The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 . symbolic approach. which. Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. Nomor 1.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@.. the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure.. 76 . according to the present writer. Pujianto writes a book on batik semen. Fakultas Sastra. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier . Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. arguing for the myths underlying those different motifs.. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi .

yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. M. tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. misalnya sebagai contoh 77 . dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Bertolak dari artikel Pujianto. referensinya telah tersedia. Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. Seakan-akan unsur ornament . Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna. Falsafah orang Jawa . terutama menyimak relasi lambang dan arti . artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . Perspektif simbolik. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. yaitu strukturalisme fungsional. Nomor 2. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . 137). Entitas ini muncul secara tiba-tiba. Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim.Hidayat. Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. Lenger (studi seni). Pujianto telah memaparkan panjang lebar. yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. di samping tokoh yang lain. Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. 1986). Tahun 32. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. professor di College de France. Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. Pada kaitan ini. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . Mauss. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol.

Wedana. 1983:213). bahwa Batik merupakan benda fungsional. batik cumangkiri yang calacep. dan batik parang rusak. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. daragam. BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . keluarganya. Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. Anadene Hidayat. baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. modang. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. Landung Simatupang. lenga-teleng. Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. 2003: 131). bangun tulak. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. (Yahya. lenga-teleng. kawulaningsun Wedana. batik cumangkiri kang calacep. yang saya perbolehkan dipakai Patih. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya. utamanya ketika sedang bertitah. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. modang. dan tumpal. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. Adipati. fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. terj. 2000: 237). Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. (Pujianto. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). daragam lan tumpal. bangun-tulak. dan tari Bedhaya (halaman 133). 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. maupun Abdi Dalem. dan rakyatnya. sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. dan abdidalem. sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas.

sebagai berikut: Gambar 1. Sawat. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. yaitu: Alam atas.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. Misalnya. urairan tentang bentuk Semen. agar benih tersebut dapat bersemi. Berdasarkan konsep Triloka. sebagai berikut. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. Tahun 32. Berdasarkan skema tersebut di atas. yang dijelaskan oleh Pujianto. sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. dan alam bawah. 1997: 80). selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. alam tengah. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. demikian juga tentang kekuasaan . Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. Penyebara benih. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. Nomor 2. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . dan Alas-alasan. Semen 79 . Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. Sawat. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi.

Lar (sayap). Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. Tahun 32. Awan. Agustus 2004 Tabel 1. tumbuhtumbuhan Kehidupan. kakyaan. Nomor 2. Garuda. kegembiraa. suci. kejayaan. Tanah Brahma Tumbuhan.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. (pohon hayat) Ayam jantan. gunung. kupukupu. kapal Udara. Awan. roh ALAM TENGAH Manusia. harimau. Kekuasaan. wahyu. Kalpataru. pengavoman. Lar (sayap) bersulur bangunan. kumbang. angkasa. burung merak. ALAM 80 . kemakmuran. kesaktian. Matahari Burung Garuda. kuda. hidup.

Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. laut. Analisis pada tabel 1 menunjukan. Zoetmulder. yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). 2003:134). atau tidak terbukti. sacral. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. sungai. Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. Maka dimungkinkan. Analisis ini menunjukan. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . atau ular yang berrelasi dengan air. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. Kalau diperhatikan. Apabila diubah relasinya. Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . 2002: 24. berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir.BAWAH Laut. sebagai lawan garuda. Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. Matahari yang berbentuk bulat. kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). 2000:127). yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. bukti Hidayat. Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. Wisnu. Betari Sri Laut. sengsara. kedukaan. ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. sungguhpun tidak seluruhnya salah. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno.

karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. kebijakan. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time).Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. juga berada dalam dua waktu sekaligus. Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. dan relasi konstan). Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. keluhuran. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. Agustus 2004 gunakannya. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. 2001: 80-81). yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. dan waktu yang tidak bisa berbalik. kesetiaan 82 . tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. (Ahimsa-Putra. cerita Garudia Kejayaan. yaitu waktu yang bisa berbalik. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. Hidayat. yaitu diucapkan. lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. realasi. cerita Ramayana. Mitos. yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. yang relative tetap. kekuasaan. Nomor 2. yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. 2003:105-142]. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. motif Sawat. (simak halaman 134-138). perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. Pemahaman di atas menunjukan. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. kebesaran. Tahun 32. kata Levi Strauss. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). (antara ornamen.

pundhen desa. kebesaran. kebijakan. kelestarian. kedamaian. keabadian. pikiran Bangunan. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. kekuasaan. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. Istana. Kejantangan Kekuatan. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. mitos SriSadana Kemakmuran. penghancur. keluhuran. Wanita (femimimitas) Kasih saying. kebesaran. Harimau. kekayaan. kebijakan. ketentraman Laut. pembasmi. perlindungan. Nomor 2. Mitos Laut selatan. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. harapan. kayon Puncak. pencerahan. ikatan kekerabatan. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. perdamaian Awan. kepergiaan. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. Tahun 32. pelepasan. Kuda. bentuk wayang rampokan Kebebasan. kalpataru. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. Sorga Ketentraman. Mitos kematinan. kesetiaan Kumbang. kekuatan perusak. Kebebasan. langit. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. Kejantanan Kekuatan. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. harapan. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan.Lar (sayap) Unggas bersayap. kekuasaan Kapal. kesetiaan. kekayaan. ketenangan. Rumah. keperkasan. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. atau pandangan para priyayi 83 . kesetiaan Burung merak. ringin kurung. Kupu-kupu. kekuasaan. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. ketentraman Burung Garuda. kebijakan. kekuasaan. puncak meru. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. tanah Kejahatan. kekuasaan. kekayaan. rintangan. ketentraman. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. pencerahan. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. alam kegelapa. kecerdirkan. mitos Sri Sadana. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). keinginan. Kemakmuran. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. pikiran. kasih sayang. Sorga. Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. belencong (lampu/sinar) Kekuatan.

meliputi warna dasar. dan motif-motifnya). atau Alas-alasan. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa. sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. posisi motif. mitos kekuasaan. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. dipahami sebagai sebuah struktur. lidah api. garis-garis. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. logis. analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. Sawat. salah satunya ada pada motif batik. merak). pohon hayat. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. yaitu tentang paham monisme dualistik. naga. dan lain-lain. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. seperti motif Sulur-suluran. awan. akan tetapi lebih mendalam. sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). atau Hermeneutik. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. ucapan. tanaman. mitos perjodohan. mitos kesuburan. kupu-kupu. dan referentif. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. Akan tetapi perlu disadari. antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . ukuran. Unsur mitos. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. unggas (burung garuda. 2001:31). melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata).(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . dan lain sebagainya. tetapi bersamaan dengan itu. Maka. Hidayat. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk.motif pada kain batik. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. gambar. seperti bentuk batik Semen.

Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi. dan bersikap adil). Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. Woro Ariyandini S. bentuk. bibit . Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. Curiga manjing warangka. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . dan rakyat dipandang sebagai kawula . Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. bumi. dan kreativitas yang dikarsai. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat. Nomor 2. salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat.1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. Darmaita ( ahli stragegi perang.. Danaita. sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan.untuk menemukan makna. bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). langit. sebuah citra yang kuat.. atau tunas yang harus di semai kan. yaitu Loro-loroning Atunggal. yaitu . subtansi. ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). pengendalian. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi. Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. Tahun 32. Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. istilah ini berrelasi dengan 85 . yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). kehangatan. Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. kesejukan. bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101).] dan duwur (atas) [ + ]. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . spontanitas. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). Raja yang bersifat Saraita.

Selatan menunjukan arah laut. yang da 300 BAHASA DAN SENI. kaitannya dengan posisi kekuasaan. dan seluruh rakyat. yang tumbuh di bumi Hidayat. Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. Barat menunjukan arah marabahaya. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). bersemayamnya ratu pantai selatan. dan juga manusia. gunung adalah sorgaloka. yang artinya semi.motif batik Semen . keramat. dan kejayaan. Sawat. keluarga. 1982:33). berrelasi dengan emas . raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). Tempat arwah yang tidak beruntung. bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. horizontal dan vertikal. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. atau meru . ora kena wula-wali. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. tempat makluk hidup bertebaran. Paparan relasional dari motif batik Semen. Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . Gunung (merapi) berada di Utara. keagungan.kiwa (kiri)[-]. Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. setan. sorga tempat bersemayamnya para dewa. dan roh-roh pengganggu manusia. Relasi gunung laut . Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. kebesaran. yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. pelindung istri dan anakanaknya. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). dan laut sebagai muara. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. sabda pandita ratu. Hutan lebih bersifat magis. siksaan. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . dan bermukimnya jin. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). anak buah. atau pohon sorga (Sri Mulyana. simbol keseimbangan ekologi. Gambar 3. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . atau sakral. eksistensinya sebagai pengayom. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). Nomor 2. ancaman Batari Durga. Ayah ibarat pohon. ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram).1989: 635). Gunung laut berrelasi horizontal. menampakan hubungan yang bersifat duniawi. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). kebijakan atas dirinya. yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. sedangkan dunia ada percapada. Tahun 32. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . tumbuhan.

dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . seperti topeng. Sawat. Setelah dilakukan analisis unsur motif. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. Asumsi Pujianto perlu diuji. Pijianto mempunyai sudut pandang. akibatnya aspek struktur terabaikan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. dan Alasalasan. Sawat. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. bahwa motif bagik Semen. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. 87 . Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. relasi.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. ilmu sihir. makanan tradisional. Terlebih. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. Temuan ini menunjukan. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. Sebagai contoh asumsi Pujianto. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. 1997:790. perdukunan. PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen.

Dan pelayananmu bila ketemu. Buat simpanan oleh sang raja. sabar. narima. Angrasa yen sinatyan. berkait dengan kedudukan rakyat kawula . temen. Tahun 32. Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. ketulusan. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. dan sekaligus kepasrahan.duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. Nomor 2. Kinarya gedhong dening sang nata. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. dan juga kesetiaan. swargaloka. isor 302 BAHASA DAN SENI. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. 88 . Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. Hendaknya wajahmu berseri manis. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. Semunira den asumeh. tempat arwah bersemayam. Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. Kadi garwa kawitan. Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu.1988: 56-57). berkait dengan kedudukan raja . Niels Mulder menjelaskan. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. ini sebuah kerelaan. tempat roh-roh jahat. dan budi luhur. naga. Setyanireng kakung. Seperti istri pertama. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga. yaitu adanya konsep Dewa-raja . (2003: 139). dan kekuatan penghancur. Ing raga nuta saosa kersing laki. yaitu ngabekti. Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . Hidayat. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti).

P. Malang: Fak. Storey. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Wayang. Abdullah. Ketika Orang Jawa Nyeni. Teori Budaya. Faufik & Leeden. (Purwadi. Nomor 2.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. Aryandini S. Mochtar Pabotinggi. James. 2003. Pujianto.2000. 1967. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia .Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Shri Heddy (ed. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. 1974. A. 2002. Reid. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Balai Pustaka. Ciptaprawiro. Mulder. Kurniawan. Danandjaya. 2000. 1994. Anthony [1988]. Cremers. Juni 1983 XXXII 6. 304 BAHASA DAN SENI. 2001. 2003. Sangkan paraning Dumadi. Niels.). Niels. 1996.C. Asal-usul. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Februari 2003. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Basis. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. Budiono. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Yogyakarta: Qalam. Jakarta: Balai Pustaka. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. Herusatoto. Yogyakarta: Galang press. diterjemahkan: Landung Simatupang. Jakarta: Gunungagung. Universitas Negeri Malang. Yogyakarta : Yayasan P. Purwadi. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Dick Hartoko. Semilogi Roland Barthes. Claire. April 2002. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Februari 2003. Flores: Nusa Indah.2000. 1992. Universitas Negeri Malang. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis. 1986. Pujianto. diterj. Malang: Fakultas Sastra. 1982. [tanpa kota terbit]. Memutar Taman Sri Wedari. Albert A. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam . Jakarta: Gramedia. & Hidajat. Kebudayaan Jawa. vol.K. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas.1986. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. Kaplan. Randrianarisoa. Agus. nomor 1. 2002. Yogyakarta: Hanindita. Mengkaji Tanda dalam Artifak. 2001. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. 2003. 2001. 1997. Semiotik. Amri. Olga. John. van Der. Sutarno. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. 1983. Jakarta: Balai Pustaka. nomor 1. Manunggaling Kawula Gusti.M. Holt. David & Monners. Tahun 32. Yogyakarta: media Pressindo. Rahayu S. Diterj. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Antara Alam dan Mitos. 2000. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yayasan Indonesiatera. Abdullah. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Direktorat jendral Kebudayaan. Yahya. 1988. tahun 31. Ahimsa-Putra. Soedarsono. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 1. Teori Budaya dan Budaya Pop. no. Diterj. Filsafat dan Masa depannya. 2001. 1985. E.B. 1.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Mulder. Masinambow. tahun 31. 1989. Falsafah Jawa. Woro. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Agustus 2004 Koentjaraningrat. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . Sri.J. Zoetmulder. Sastra. Wayang dan Lingkungan.

dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. pencatatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. latar. dan amanat.G. dan analisis dokumen. alur. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. dan teori. tema. Lima cerita rakyat tersebut. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. metode. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. perjuangan seorang tokoh. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. dan terjadinya suatu tempat. observasi benda-benda fisik dan dokumen. dan nilai pendidikan kepahlawanan.ngkajian. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. nilai pendidikan agama (religi). Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. dan legenda keagamaan. (4) “Reyog Brijo Lor”. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. perekaman. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. tokoh. legenda perseorangan . wawancara. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. nilai pendidikan sejarah (historis). nilai pendidikan adat. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti.

nilai pendidikan agama (religi). Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi).bervariasi. nilai pendidikan sejarah (historis). 91 . nilai pendidikan adat (tradisi). adalah Nilai pendidikan moral .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful