P. 1
Teori Strukturalisme

Teori Strukturalisme

|Views: 212|Likes:
Published by Muhammad Nur Giri

More info:

Published by: Muhammad Nur Giri on Apr 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2015

pdf

text

original

Teori Strukturalisme – Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

“Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists……”. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

2

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

3

terutama dengan pemikiran fenomenologi. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. 4 .Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi. Bahasa adalah sistem komunikasi. manusia mempunyai putusan sendiri. anakbapak. LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. paman-keponakan. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia. Hubungan ini sama seperti bahasa. karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur. hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. ia memiliki peran. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh.saudara perempuan. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. saudara lelaki . adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada. Sebagaimana halnya bahasa. meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi. ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. Perbedaan lain yang cukup mendasar. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi). seperti misalnya suami-istri.

Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan. seorang fenomenolog. Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola 5 . kecuali lewat paksaan mental tersebut.Bagi Heidegger. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. tetapi justru suka menyembunyikan diri. "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam. yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: ”apa yang menampakkan diri”. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya. ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme. ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. Ini didapat dari Husserl. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain. Menurut Levi-Strauss. Melalui kajian Antropologi budaya. sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan. karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam. kategori. antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat).

Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme 6 . artinya tidak menguasai keadaan. Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. tetapi justru saling melengkapi. Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup. tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan.strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal. Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan. mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri". Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). tidak bermula dengan hidup manusia sendiri.

Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata.tersebut. ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme. Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa. terutama Eropa Barat. seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne. Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society. eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme. sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. 1996:513). namun oleh Roman Jakobson. ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne. 1996:513). Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat. walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure. pada dekade 1960-an. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition) 7 . sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai “nabi” yang menginspirasi gerakan mereka. Kata “struktur” yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa.

Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa.yang dapat diterapkan hampir ke semua tanda bahasa. dalam pendapat Saussure. para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. 2000 : 219 ). Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain. Kedua adalah langue dan parole. sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan. yang artinya adalah ”tanda”. sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf “L” baik ke kiri. merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan ”tanda” (sign). Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf “L”. Agar lebih jelas. ke kanan. Dalam permainan catur. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. ke 8 . 2001 : 182). Kedua. Pertama. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya. terdiri dari unsur ”penanda” (signifier) dan ”petanda” (signified). di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon. Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa. kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger.

karena jika bergerak selain gerak “L”. penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut. badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. Selain itu juga dari universitas di Swedia. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise. Perancis maupun saat ia berada di New York. C. B. dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun.depan atau ke belakang. Yang penting masih dalam bentuk huruf “L”. Ini dapat dianggap sebagai parole. Selain itu. Hal ini penting. Latar belakang pendidikan. Kanada dan Meksiko. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi. seperti universitas Harvard. dan Oxford di Amerika. maka hancurlah struktur permainan catur itu. teori lain yang mempengaruhi. Yale. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss. mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf “L” dan tidak boleh keluar dari aturan ini. LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat 9 . akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. B. riwayat hidup penemunya.

Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia. memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo. Ia adalah keturunan Yahudi. serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat.unik itu. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Brazil. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Belgia. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni 10 . Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family).

Kroever dan Ralph Linton. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes. New York. ia juga mengalami diskriminasi ras. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Franz Boas. A. 11 . Dengan ketekunan. Berkat jasanya. Di daerah Greenwich Village. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram.L. yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan. Levi-Strauss tinggal. seperti Maz Ernst. dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. Ruth Benedict. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut. ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. yaitu petugas penghubung. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis. Halangan tidak hanya sampai disitu. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya.Prancis. kesabaran. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya.

Académie française adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss.. tidak lagi dunia yang aku suka. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. seorang filsuf." Levi Strauss meninggalkan dua putra. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude. setelah dia meninggal. salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. Goodenough (1950-an). Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil.. mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. baik itu tanaman atau hewan. "Dia adalah seorang pemikir. memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". Dalam wawancara dengan National Public Radio. Berbicara pada radio Perancis. dikembangkan Ward H. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan." kata LeviStrauss. ia berkata. Yale. Aliran ini membawa 12 . Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia. berencana untuk menghormatinya. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan strukturalisme sebagai perspektifnya. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research.Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. sekretaris abadi Académie française. Penulis Jean d'Ormesson. ." Hélène Carrère d'Encausse. menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis. lahir pula Antropologi Kognitif. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar.Pada zaqmannya.

2009 dengan usia 101 tahun. Dia juga seorang pecinta musik sejati. Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC. terutama mitos. Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme. seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20. "The Savage Mind" (1963). Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. dan "The Raw and the Cooked" (1964). konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences).Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. Aliran Antropologi Simbolik. antara lain "Tristes Tropiques" (1955). meninggal di Paris pada 31 Oktober. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial. sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang. dalam rentang enam dekade. Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang 13 . sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. Akhirnya Claude Lévi-Strauss. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu. C. konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku. dalam jangkauan luas masyarakat.definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. Karyakarya pemikir abad 20 ini.

and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. 2006. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. machines. “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word. they are therefore difficult to define.machines. yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing. any organism. studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena. Meskipun bertolak pada linguistik. Allen Lane (1968. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. but the patterns that the words form.” 14 . tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu.8) menyatakan sebagai berikut: ”On the other hand. where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment”. and still more difficult to discuss. all societies and all cultures. rather.bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. where problems are similarly set in formal terms or. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: “Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”. fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata. without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences. except to provoke a degree of pleasant puzzlement’. 60). Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan.in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. But so can a physiology. crystals. struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan.

Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya. Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas. yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya. 1958. 1978). LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. kebersihan. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij. 1. Seperti kata-kata hitam dan putih. keburukan. ketulusan dan lain-lain. kejahatan. Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja. dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial.Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial. 378). Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss. 15 . Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos. 1969 dalam Fokkema. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian.

kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. dan seperti fonem. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya.2. merupakan unsur makna. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema. seperti halnya fonem. 1978). 4. 1978). Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. Istilah kekerabatan. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain. Dalam bukunya yang berjudul ”Trites Tropique” (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. 16 . sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model. Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. dan mudah rusak (Fokkema. 3. 1972 dalam Fokkema. yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi. 1978). cepat berlalu. di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama. Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri.

Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa. menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan. Namun demikian. 1987). dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat. 2006). Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata. Koentjaraningrat. sederhana. 1978). korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan. Ketiga.Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. dan bersifat menjelaskan (Levi17 . Berikutnya. maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Pertama. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema. Kedua. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963). bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi.

Hastermann). sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan. sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan. analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan. misalnya ketika persiapan menguburkan mayat. ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis.Strauss. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J.C. dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia. 1978). manjauhi yang kongkret. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). dalam Fokkema. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya.Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. apalagi ketika upacara pembakaran mayat. Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. 1972. tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi. sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. 18 . Di Bali.

Elemen dasarnya adalah katakata. namun bentuknya tidak. konsep suara tersebut adalah ”tinanda” (signified). sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913). Studi tentang struktur bahasa melalui “tanda” melahirkan Semiotics. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya. tetapi artinya sangat berbeda. . tabu. yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan. Langue adalah sistem tata bahasa formal. ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. Isi bisa berubah. Sedangkan ”binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah ”tinanda”. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah ”penanda” (signifier). Bahasa adalah sistem tanda (sign). jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama. kuda. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja.Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. Contoh: Jaran. karena 19 juga menganalisa sistem simbol. horse adalah ”penanda”. karena perbedaan sistimatis tersebut. sabu. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. Sebagai contoh: babu. menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. Saussure juga membedakan antara konsep “langue” & “parole”. Hubungan antara penanda & tinanda disebut ”arbiter”. tergantung dari relasinya. Adanya langue menyebabkan adanya parole. yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis).

mungkin lewat “gerengan” atau “raungan” sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'). Suatu kategori jadi exist atau bermakna. Saussure menyebutnya sebagai “oposisi biner”. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing. mengerogoti. Dalam sistem biner. hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. Kategori X ataupun kategori Y. *bangku*. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya). dan lain sebagainya. kedinginan. cara berpakaian. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. kegeraman. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. ekspresi. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan. adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan. dan lain-lain. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. *pergi*.bahasa tubuh. . segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. dan bentuk komunikasi. dan lain sebagainya. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak. sampai mitos dalam masyarakat. Disebut gunung. serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. naskah sastra. text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*. 20 mencaplok. Selanjutnya menurut Saussure. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. dan memproduksi suara. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis.

militer-sipil. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI. separatis lawan NKRI. daratan <--> lautan. tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication). Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka. oposisi biner adalah 'the essence of sense making'. yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak. baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. Bagi Strauss. positip <--> negatip. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah. publik <--> privat. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang 21 . diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. seperti: . Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak.karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya.

Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. dan dengan memakai pengkategorian itulah. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya. ia bukan bersifat 'alamiah'. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. daratan dan lautan. Tanpa kategori B. dan bahkan tidak akan ada kategori A. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain. tidak akan ada ikatan dengan kategori A. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. yang bisa disebut dengan atau ‘kategori ambigu’ atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category‘. atau antara anak-anak dan orang dewasa.‘Kategori anomali’ ini muncul dan mengganggu 22 . dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B. hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. Ia adalah produk dari sistem penandaan. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya'. sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan. begitu seterusnya. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak.membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Dalam sistem biner. bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki. kita mengatur pemahaman dunia di luar kita.

Pantai. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). vampir/hantu/zombi. yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). remaja. Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner. tapi pada struktur dalam tetap sama. perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. ada posisi remaja. Diantara mereka yang sangat berpengaruh 23 . Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Struktur terbagi dua. zombi. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda. atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. Antara anak-anak dan orang dewasa. ada pantai. Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Antara daratan dan lautan. Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar.sistem oposisi biner. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir. hantu. Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. Perbedaan “t” dan “th” inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut.

Ferdinan de Saussure. 1. Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Signifier dan signified. De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign). Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. (Levi-Strauss. Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”. Dari ketiga pemikir linguistik ini. Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). Sebagai penemu konsep linguistik modern. 2006). 1978 dalam Ahimsa 2006). Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. 24 . C. Signified (tinanda) dan signifier (penanda). Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata. yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. Yaitu. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa. wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. 1995. a. Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth. 56).terhadap pandangan Levi-Strauss adalah.

25 . walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier). 35). Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier. Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image). Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”. akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. 2. Fungsi “kuda” ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Dalam konsep ini. meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”. Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. sedang konsepnya adalah tinanda (signified). Form (bentuk) dan content (isi). 3. dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified. 1976. tuturan). 2006 h.sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. 19 dalam Ahimsya. Langue (bahasa) dan parole (ujaran.

Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. Dalam langue terdapat norma-norma. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure.Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. 46). Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. 1976. via Ahimsa. Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis. 2006. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu. via Ahimsa. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa. 26 . Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. 47). Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. 2006. 1966. Namun demikian. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem. 4. ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler.

Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”. ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure. Pertama. yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. “memetik” dan “bunga”. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. Koch (1981. tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. 1995.5. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. 47). Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. 2006. via Noth. 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa. b. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja. Atau gabungan kata “bunga mengalir” gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. Sintagmatik dan Paradigmatik. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). periode formalist. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat 27 .

Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. however. need I add. which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940. 52). 2006. periode Semiotic. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). periode stucturalist. Kedua. Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. Ketiga. matematika dan juga fisika (1982). gave me something very different and. This was the revelation of structural linguistics. Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York.His (Jacobson’s) lectures. periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory). “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa.berpengaruh... antara tahun 1939 sampai 1949. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. 52) berikut ini: “. 28 . Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006. a great deal more than I had bargained for. Keempat. Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna.” (1985:139). Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. yaitu antara tahun 1920 sampai 1939.. meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. 2006). Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal..

dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. 1977. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. 2006). 11.perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis. c. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya. 55). Ahimsya. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian. b. unit-unit yang bermakna. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit. c. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. Menentukan perbedaan. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut. h. d. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah.Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi. a. Nikolai Troubetzkoy 29 .

Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural. d. 2. 2006). dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. Langkah analisis struktural dalam fonologi. Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa). strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi.Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. 3. (Ahimsa. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik. dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. 59). Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri. Dengan kata lain. 30 . 2006. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis. karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa. ciri-ciri pembeda. tetapi dia harus. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas. Selanjutnya dia perlu. yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. Artinya. 1. bukan konsep psikologis. 4. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature. berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut. dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa.

para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu. melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala. pola tempat tinggal. 68). yaitu secara sinkronis. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane.Marxisme dan lain-lain. 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. 13-14 Ahimsya. 1. 2. atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak. Yaitu kemampuan untuk structuring. akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi. 66). seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. 3. 31 . 2006. sistemsistem kekerabatan dan perkawinan. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. pakaian dan sebagianya. Ahimsa (2006. dengan istilah-istilah yang lain. (Ahimsa. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut. 1970. menyususun suatu struktur. 4. untuk menstruktur.

camat dan sebagainya.Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol. dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” ( signifier) dan “petanda” (signified). Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa. Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai ”presiden”. fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk). Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). dan sebagai “tanda” (sign). bukannya sebagai seorang “pesinden”. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala 32 . juga jika hanya secara analogis. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial. dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. gubernur. Dalam wacana ilmu-ilmu sosial. melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. implikasinya cukup jauh. Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa). Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun.

Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. ‘gubernur’. dan proses adalah soal kebetulan. perbedaan kata ‘presiden’ dan ‘camat’ bukan sekedar bahwa ‘presiden’ ialah apa yang ‘bukan camat’. kata ‘presiden’ terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu.kasat mata. Dalam kritik Giddens. melainkan karena perbedaannya dengan kata ‘raja’. e. melainkan bahwa ‘bukan camat’ itu sendiri merupakan pokok eksistensi. sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis. perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”. misalnya. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan. berbeda merupakan identitas itu sendiri. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. waktu. yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku. Derrida melihat ‘perbedaan’ bukan hanya sebagai cara menunjuk. Artinya. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda. ruang. bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis. “Kode tersembunyi” itulah struktur. Seperti telah dicontohkan di atas. ‘camat’ dan sebagainya. Jacques Derrida. yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan 33 .

yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham. tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama.serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. 2. mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya. dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama. Secara umum dapatlah dikatakan. yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari. yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan. struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu 34 . yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi.

Dalam perhatiannya mengenai mitos. Menurut Levi-Strauss. maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik 35 . agama adalah suatu bagian dari struktur sosial.prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner. tetapi sebagai model bagi kenyataan. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama.keteraturan (order). Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip. 3. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia.

Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran. maupun masa yang akan datang. Karena. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka 36 . yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. sekarang. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya.mengenai masa yang lampau. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara. kebingungan dan jiwa tertekan. yaitu etos dan pandangan hidup. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat. sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. 2.

Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh. a. dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial. yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis.sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi. ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. data etnografi dan interpretasi. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. dan didukung dalam suatu masyarakat. D. Cara menggunakan 37 . Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006. dibenarkan. a). yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. Sebagai akhir kata. pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan. kita dapat mempelajari dan mengkaji agama. yaitu dalam rangkuman struktur sosial. 3. serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut.

2006. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan.konsep-konsep analisis. Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. 164). menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. 162). b). Menurut para 38 . Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa. Dalam persoalan ini. Kedua. 1967 dalam Ahimsa. Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). Karena ketidaktepatan itu. Ketiga. Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. 2006). Konsistensi prosedur analisis dan c). 2006. b. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis. Reduksi dalam proses analisis. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga.

Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. seperti Alice Kassakoff dan John W.antropolog. Douglas beranggapan bahwa masih ada 39 . Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal. Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. Kronenfeld. Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. 2006. L. JZ. a). Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. 168). Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada. Hasil Analisis. c. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni.L. Thomas. (misrepresentasions of story). oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. Lain lagi dengan pendapat Alice. (Ahimsa. Kronenfeld dan DB. b). Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi.

Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. and often a paltry one at that”. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. 20006. d. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari 40 . “Instead of more and richer depths of understanding. we get a surprise. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi. tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. ( Douglas. 170).aspek-aspek positif mengenai makna mitos. a totally new theme. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. 1967 dalam Ahimsa. sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss.

makna-makna yang sangat dalam. 2006. Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. Ada susunan. yang tidak terduga dan menarik. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. struktur dan koherensi logis dalam mitos. menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. E. karena teorinya selalu dirujuk oleh 41 . dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa. Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis. Masuk akal.Strukturalisme Levi-Strauss ini. 176). Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu. berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss.

Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur. Yogyakarta. 1994. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. DAFTAR PUSTAKA Abdullah.para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. ___________. “Lévi-Strauss. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Paz. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. 2006. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. ___________. relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. 1998c. 1995. sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial. Kawin Bedil dan Sobrat. kepel Press. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. 1997.. 1998a. Universitas Gadjah Mada. 1998b. H. T. H. Makalah seminar. O. Nalar Jawa. Makalah seminar Arkeologi. Ahimsa-Putra. ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. Basis XXXIII (4) : 122-135. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik.S. 1984. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42 . “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. ___________. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. Kalam 6 : 124-143. Yogyakarta : LKIS. ___________. 2005. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada. ___________. Makalah seminar. Ahimsa-Putra. Shri. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Orang-Orang PKI.

Makalah Sarasehan. (ed). Badcock. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. ___________. “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. Makalah seminar. Makalah diskusi. A.I : 10 – 19. Dua Paradigma. 2000a. Tembi 1 Thn. ___________. Humaniora 12 : 1 – 13. ___________. 2006a. Satwa. ___________. 2005. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. ___________. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1999c. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. 1999b. Mitos dan Nalar Primitif. Makalah seminar. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. 2002e. 1999a. C. Yogyakarta : Insight Reference. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss. Totem. ___________. Yogyakarta : Galang Press. Terj. Tiga Dasawarsa. Rahayu S. Makalah Pelatihan. 2002a. Makalah dalam bedah buku. ___________. ___________. ke Post- ___________. Humaniora XV (3) : 239 – 264. “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”. Salam (ed). September – Desember. Abror.Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. ___________. Jakarta : UI Press. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. ___________. 2003. 2002c. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. Robby H. 2002d. Makalah bedah buku. Mitos dan Karya Sastra. Satu Model. ___________. 43 . 2001. 2000b. ___________. 2002b.

Yogyakarta : Kepel Press. 44 .W. Jakarta : Rajagrafindo Persada. D. Abdullah (ed. 1968. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. ___________. 2006b. New York. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. The Harvester Press Limited. Jakarta. Makalah seminar.S. Edisi Baru. Winfried. David. Fokkema. Selden. ___________. Kepel Press : Yogyakarta. Levi. Allen. 2008b. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Sawerigading. Tesis Pascasarjana Antropologi. Liwa : Analisis Strukturalisme LéviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito..). Universitas Gadjah Mada. 2006e. Critical Approaches to Literature. ___________. Raman.___________. Lane. Anthropologie Structurale (Terj. Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). Makalah bedah buku. A Reader Guide to Contemporary Literary Work. 2007). 2007b. Strauss. Kreasi Wacana. Claude. Bloomington and Indianapolis. ___________. Makalah seminar nasional. Ngaju. Noth. Kaplan. 1998. Pustaka Pelajar. Ahimsa-Putra (ed. Metodologi dan Etnografi. T. 1999. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Gramedia. 2007a. Ngambu. David. ___________. 2006c. ___________. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Ngawa. Daiches. 1995.. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. 1958. 2006d. The Theory of Culture (Teori Budaya). Mitos dan Karya Sastra. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori.). 2008a. Yogyakarta. 1985. Longman. Sussex. Structural Anthropology. Nasrulah. Indiana university Press. Hand Book of Semiotics. ___________. Ritus Penandaan. 2008. Strukturalisme Lévi-Strauss. Antropologi Struktural. 1981. Yogyakarta. dkk. Ritus Pertukaran”. The Penguin Press. H.

Yogyakarta. Kreasi Wacana. Berkenalan dengan Poststrukturalisme oleh : easternwriter Pengarang : Jacques Derrida. J. Oxford : Oxford University Press.). D. Sturrock. 1979. Anthropologie Structurale (Terj. “Introduction” dalam Structuralism and Since : From LéviStrauss to Derrida. Ferdinand de Saussure • • • • Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600 You searched for: "strukturalisme". Erdward Said. Sturrock (ed. Claude.). click here! • • • • Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong. J. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Antropologi Struktural. For the best results. Oxford : Oxford University Press. Levi. Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45 . 2007). Sturrock (ed. Sperber. 1979. Roland Barthes. J.Strauss. 1958.

Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46 . yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa. berpikir sementara menjadi hal yang utama. sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. penanda selalu produktif. Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Dalam tulisan. mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Selain itu. buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. Aspek diakronis bahasa. yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda. Dalam pemikiran post strukturalis.tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan.Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’. Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi.

Sign. mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966. misalnya pada New Criticsm. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis. 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan : • http://sulhanudin. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. Diterbitkan di: Januari 04. sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra. khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale. 47 .Essay Roland Barthes. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali . atau disebut para dekonstrusionis Yale.Essainya yang berjudul “Structure..sastra. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an. and Play in the Discourse of the Human Sciences” . “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968..

Bahwa. click here! • Kutipan • Dan. Pada.com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua “Kiblat” dalam Sastra Indonesia Lainnya tentang Ilmu Sosial • • • • • • PRRI.You searched for: "strukturalisme". Bahasa. Dapat. Dalam. Derrida. • • • • • • • • • Sastra. Dengan. For the best results.blogspot. TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys. Post Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca: • • • • • • PERS NASIONAL. Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir 48 .

Paling populer Ringkasan lain oleh easternwriter • • • • • Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1) More Berikut Yang paling banyak dicari • • • • • • • • • • • • • • • tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat Tulis dan dapatkan bayaran 49 .

.

Strukturalisme dan Implikasinya
8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. yaitu: • • • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. preferensi. orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. tidak setiap orang sama kebiasaannya. menyadari.Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. memahami. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. dan menilai dunia sosial. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur. kelompok dan kelas sosial. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. jenis kelamin. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging 53 . Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Field dan Modal.

• • •

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:
• • • • •

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lévi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lévi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, “siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya – menurut anda – paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?”. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lévi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

sastra. seperti post-modernisme atau post-strukturalisme – ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran – atau semiotika yang kini populer di Barat. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme. Bagaimanapun juga. Rolanda Barthes. dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace. 1986 : 7). Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan. Dengan kata lain. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif. Namun. empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. Kelima. setelah dia berkenalan dengan antropologi. tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lévi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis. Oleh karena itu strukturalisme Lévi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi. tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. tetapi – sebagaimana dikatakan oleh Lévi-Strauss sendiri – adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme. Dengan kata lain. yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. Keempat. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lévi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi. menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lévi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang. strukturalisme Lévi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. atau “makan siang para strukturalis” (Sturrock. strukturalisme Lévi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru. sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. Michel Foucault dan tentu saja Claude Lévi-Strauss. kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. 57 . dialah seorang penganut strukturalisme tulen. Judul karikatur ini adalah “Le déjeuner des structuralistes”. tetapi juga ahli filsafat. dan akhirnya tinggal Lévi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977. Tidak mengherankan. aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme.dengan di Inggris dan Amerika Serikat. 1979 : 1). beberapa tahun kemudian. dan filsafat. Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu. dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lévi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi. Kedua. walaupun Lévi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal. Ketiga.

yang mengajar kami teori-teori antropologi. karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika. pada tahun 1994 saya kembali.Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LéviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lévi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Claude Lévi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. dan sebagainya. Dalam Sejarah Teori Antropologi II. 2. karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LéviStrauss. Belanda. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. Oleh karena itu. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LéviStrauss di Indonesia. Spradley. sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. Budi Santoso. seperti Clifford Geertz. karena selalu sulit dan tidak biasa. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lévi-Strauss. yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an. James P. walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. dosen-dosen antropologi yang lain – yang ketika itu belum Professor – seperti Dr. Prof. Lebih dair itu. Dr. Parsudi Suparlan. Koetjaraningrat misalnya. Nico Kalangie. Dr. sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. Danandjaja. Goodenough. Prof. akhirnya saya harus kecewa. Saya ingat. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang. Ward H. oleh lebih banyak ilmuwan. karena situasi dan kondisi pemikiran dalam 58 . tidak terlihat menyukai strukturalisme Lévi-Strauss. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3. terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika. Sementara itu. Antropologi Eropa (Inggris. sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lévi-Strauss. teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lévi-Strauss. Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. J. Namun. Dr.

Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat. bahkan hampir tidak ada. strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia. Sartono Kartodirdjo. karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada. tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan. karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an. dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda.ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. Padahal. tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis. karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). bahkan sampai tahun 1980an. Pertama. seperti misalnya Fuad Hasan. sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia. Lévi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans. akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu. Nama Lévi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. Masri Singarimbun. dan masih aktif. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. strukturalisme Lévi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Postmodernisme mulai terdengar. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu. Koentjaraningrat. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. dan sempat populer dalam dua-tiga tahun. karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia. James Danandjaja. 59 . strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. Parsudi Suparlan. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis. Selo Soemardjan dan sebagainya. tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi.

ahli sosiologi Amerika Serikat. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini – bahkan sampai sekarang – . Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an.Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons. analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lévi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik. di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. Keempat. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi. atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja. Kelima. yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lévi-Strauss sudah tidak begitu dikenal. strukturalisme Lévi-Strauss dalam antropologi. yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Kedua. dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi. Memang. Analisis struktural Lévi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi 60 . apalagi oleh kalangan yang lebih luas. acuh tak acuh. strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. Sebaliknya. Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme – Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. Sementara itu. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme. sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lévi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif.R. ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia. strukturalisme Lévi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru. seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. atau menolak secara terang-terangan. Ketiga. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A.

Mungkin. Mengingat pentingnya strukturalisme Lévi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat. Mengusung Strukturalisme Lévi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LéviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut “statis”. walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LéviStrauss. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. karena pendekatannya terasa tidak lazim. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri. saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis. bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P. Yang lain tidak tertarik. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural – yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda – untuk menulis tesis S-2 nya. karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda.M. karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme. a. maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lévi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lévi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. Meskipun demikian. Saya tidak tahu mengapa demikian. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz. yakni P. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lévi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. mungkin juga sulit 61 . tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. yang kemudian diterbitkan menjadi buku. de Josselin de Jong kepada kami. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis. adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia. 3.dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. Laksono. Lévi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. Tesis pascasarjananya.E. dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan.

de Josselin de Jong. karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM. dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. tambahan dan “pelurusan” beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra. 1984). Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM. Belanda. Belanda. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lévi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Pak Kodiran. saya kebetulan diminta Prof. Laksono tidak dapat menggantikan. dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM.E. yang ditulis oleh Radrianarisoa. termasuk di dalamnya strukturalisme Lévi-Strauss. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi.dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme. Untuk beberapa tahun. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P. sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. Setelah saya kembali ke UGM. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. Ketika itu pengajaran teori antropologi. b. Amerika Serikat. Semenjak itu. Baroroh Baried – yang ketika itu 62 . Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. yang saat itu masih belum guru besar. patut dihargai. mungkin pula karena kurang promosi. saya mengajar di jurusan antropologi. tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lévi-Strauss dan strukturalismenya. maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden. saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden. karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan. saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural.

Analisis struktural ala Lévi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat. tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. Saya menawarkan 63 .menjadi ketua program pascasarjana sastra – untuk mengampu matakuliah mitologi. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lévi-Strauss yang belum banyak diketahui. terutama di Yogyakarta. Sementara itu. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian. Selain melalui perkuliahan. dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A). tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme. semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lévi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa – antropologi maupun bukan – di luar UGM. seni dan filsafat. karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut. 1995). maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. baik itu yang analitis maupun teoritis. saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra. Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lévi-Strauss lebih dari yang lain. yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lévi-Strauss. terutama jurusan antropologi di UGM. saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. karena – sebagaimana kita ketahui – majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. Nama Lévi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa. 1997). Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LéviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan. atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra.

dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa – Putra. tentang cara menggunakannya. Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural. strukturalisme Lévi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. 2000b). Strukturalisme Lévi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra. 64 . Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. strukturalisme Lévi-Strauss semakin dikenal di Indonesia. Dengan terbitnya buku tersebut. 1998a. 2000a). 1999c. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan. Dengan demikian. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lévi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM. yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa – Putra. dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. 2001). Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lévi-Strauss. Strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang. Sejak itu. 4. Paradigma strukturalisme Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lévi-Strauss. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lévi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia. Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa – Putra.pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa – Putra. 2002c).

yakni patung (Ahimsa-Putra. 1999c. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material. rumah tradisional Sumba (Purwadi.Memang. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang. Oleh karena itu. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. Subiantoro. baik itu secara formal lewat seminar. Kalau Dadang H. Sepengetahuan saya. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis. a. saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi. untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. strukturalisme Lévi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. 2009) dan makanan tradisional orang 65 . Kalimantan. Oleh karena itu. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008). ngambu dan liwa untuk menunjuk arah. yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi. terutama strukturalisme Lévi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya. ataupun dalam diskusi-diskusi informal. karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius. 2000). ngawa. dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai. dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme. 2002). dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lévi-Strauss sebagai sebuah paradigma. analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lévi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. Strukturalisme Lévi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural.

Sementara itu. Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari. namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut. Meskipun demikian. Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. ternyata tidak selalu mudah dipahami. 2000). dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lévi-Strauss secara khusus. yakni kosmologi Jawa. karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya. pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. b. dan pengertian struktur sebagai sistem relasi. karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lévi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. 2009). namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. 2007). Dari pengalaman berdiskusi. Selain arca ganesya. yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas.Minang (Maryetti. yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas. Lebih dari itu. analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro. ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S. 66 . ahli arkeologi UI. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut. Pemahaman tentang “Struktur” (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur. memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lévi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana.

c. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima. dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis. dan itu berarti kepada masa lampaunya. diakronis. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier. konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional. karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya. yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. yakni “struktur sosial” menurut padangan Lévi-Strauss (yang berbeda dengan “struktur sosial” menurut Radcliffe-Brown). Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme. namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda. yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga. juga belum dapat dimengerti dengan baik. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan). diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. yang a-historis. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. Bahkan. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial.Konsep turunan yang berasal dari “struktur”. yang historis. Sulit rasanya 67 . ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural. walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami.

tidak demikian halnya dengan strukturalisme. diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lévi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. 5. tingkat pascasarjana. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia. jika tidak memprihatinkan. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri. wacana serius tentang strukturalisme (Lévi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia.mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut. Hal ini tentu sangat mengherankan. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma. dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk 68 . terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. Belum pernah saya diundang dalam seminar. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lévi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal. atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia. Walaupun Lévi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat. maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. Di UGM pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi.

oposisi biner. (b) strukturalisme Lévi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi. Fakultas Ilmu Budaya. Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu. itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. H. karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. 1984. Namun.membahasnya. (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat. Ahimsa-Putra. ___________. 2005. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss. dan sebagainya. Oleh karena itu pula. signifier. Analisis Struktural Lévi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya. Basis XXXIII (4) : 122-135. (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur. 1994.S. terutama di UGM. 1995. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Sebuah Tanggapan”. signified. sign. struktur sosial. dan transformasi. Kalam 6 : 124-143. dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat. “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. sintagmatik-para digmatik. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air. 69 . Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Makalah seminar. di tingkat pascasarjana. Kawin Bedil dan Sobrat. 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah. di samping konsep-konsep seperti nirsadar. sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia. T. Tesis Pascasarjana Antropologi. ___________. karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lévi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester.

“Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik”.I : 10 – 19. Makalah seminar. Makalah Sarasehan. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Makalah dalam bedah buku. 1998a. Tari “Srimpi” dan Struktur Simbolisme Jawa. September – Desember. dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam” dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik. 70 . Paz. 1998c. ___________. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Nalar Jawa. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss. ___________. ___________. ___________. Dua Paradigma. 2001. ___________. Makalah seminar Arkeologi. Tembi 1 Thn. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2000a. O. 2002c. 1997. Satu Model. 2002d. Humaniora 12 : 1 – 13. Gerbang 5 (2) : 88 – 97. 2002b. ___________. Orang-Orang PKI. “Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural”. Rahayu S. Mitos dan Karya Sastra. Tiga Dasawarsa. Salam (ed). “Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal” dalam Cerlang Budaya. dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika. “Lévi-Strauss. Yogyakarta : Galang Press. 1999c. Makalah seminar. 2000b. Yogyakarta : LKIS. Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. ___________. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. 1999a. ___________. 1999b.___________. ___________. Makalah seminar. ___________. ___________. Strukturalisme Lévi-Strauss dan Sastra. 1998b. (ed). A. “Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa”. Makalah Pelatihan. “Claude Lévi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi” dalam Lévi-Strauss : Empu Antropologi Struktural. 2002a. ___________. Jakarta : UI Press.

Ritus Pertukaran”. 71 . Abror. Ahimsa-Putra (ed. Sawerigading. “Structural Anthropology in America and France : A Comparison”. ___________. ___________. ___________. Analisis Struktural Lévi-Strauss dan Mitos Tasawuf. Strukturalisme Lévi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Humaniora XV (3) : 239 – 264. N. “Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural” dalam Esei-esei Antropologi : Teori. Yogyakarta : Insight Reference. Makalah seminar. ___________. 2008a. Mitos dan Nalar Primitif. “Ritus Kematian : Ritus Peralihan. T.___________. ___________. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Kepel Press : Yogyakarta. 2006d. Makalah seminar nasional. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. ___________. “Strukturalisme Lévi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis” dalam Lévi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi. 2006a. Leni. Totem. To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. ___________. Universitas Gadjah Mada.). ___________. Makalah bedah buku. 2007b. 2006c. Metodologi dan Etnografi. Terj. 2006b. Strukturalisme Lévi-Strauss. 2005. “Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi” dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman. Abdullah (ed. Robby H. Makalah bedah buku. 2003. 2004. 2002e. 2006e. C. Yogyakarta : Kepel Press.S. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. ___________. Edisi Baru. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. 2007a. 2008b. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos “Dewi Sri”. Ritus Penandaan. Badcock. ___________. Makalah workshop “Pemikiran Melayu Jawa”. Satwa. H. Makalah diskusi.). ___________. Tesis Pascasarjana Antropologi. Mitos dan Karya Sastra.

Tesis Pascasarjana Antropologi. D. 1979. Radjabana.K. Universitas Gadjah Mada. 1979. Universitas Gadjah Mada. Tesis Pascasarjana Antropologi. Sturrock (ed. Sturrock (ed. J. 2000.H. Oxford : Oxford University Press. Yogyakarta. Tesis Pascasarjana Antropologi. Ngambu.). Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu.). “Introduction” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. A. 2004. Universitas Gadjah Mada. Distrik Kurulu. Tesis Pascasarjana Antropologi. J. Tesis Pascasarjana Antropologi. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Ngawa. 1986. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Yogyakarta. D. Purwadi. 2005. Sumintarsih.I. Analisis Struktural Lévi-Strauss. Disertasi Antropologi. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. Tesis Pascasarjana Antropologi. Maryetti. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. 72 . Ngaju. Sturrock. D. London : Ark Paperbacks. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. S. Subiantoro. 2008. Kulon Progo. Tesis Pascasarjana Antropologi. 1998. Universitas Gadjah Mada. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel.Listia. Tesis Pascasarjana Antropologi. Liwa : Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Oxford : Oxford University Press. Xiao Lixian. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lévi-Strauss. 2007. Numbery. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. Universitas Gadjah Mada. 2007. J. 2002. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika. 2003. “Claude Lévi-Strauss” dalam Structuralism and Since : From Lévi-Strauss to Derrida. Claude Lévi-Strauss : The Bearer of Ashes. Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel “Hong Lou Meng”. G. 2009. Universitas Gadjah Mada. Purnama. Nasrulah. Pace. Sperber.

73 . makalah. More articles » Kertas Kerja » Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. in Indonesia. KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series. Audio Archive : FGD Meteor Garden On 2002. jurnal. filsuf perempuan. kematian. During the research.11 readers like this article. Laporan ini dibuat pada tahun 2006. KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. kertas kerja tentang kajian budaya. tuhan. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama … More articles » General » Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi. … More articles » Buku » Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly. laporan penelitian. Meteor Garden.

lengkap dari bagian I sampai bagian IV. saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. More articles » PDF » VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas. merebahkan badan … More articles » Magazine » Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar “Purloined Letter” oleh JACQUES LACAN. Bila ada kesempatan di akhir pekan. maupun organisasi aktivis. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi … More articles » Public Culture Series » Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA 74 . Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi.More articles » Kolom » Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. kampanye isu tertentu.

Adakah pengaruh strukturalisme Lévi-Strauss di Indonesia? Kalau ada. More articles » Review » “Kalaupun punk mati…” oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan ”tampak muka” rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari. punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal) … Comments • • Avatar Play « ŚĨβĔŔРŔŐÚŚŤ ŤĔŔĂ on Avatar: “Visualizes yourself!” (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet. mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat. praktikkan gaya membaca “penyusutan” | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15 Space/Scape Project • • Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning ANONYMOUS WRITERS CLUB • aku ingin hidup aku ingin hidup […] Archives • • • • • • • December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75 .

Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. Fakultas Sastra. which.. Universitas Negeri Malang.. according to the present writer. Tahun 31.http://tinyurl. Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain.. the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach. Key words: batik. In his study he employs a symbolic approach. and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology. forms. sawat. Februari 2003).Networks • • • • Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music Twitter ‘New article.Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@. still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni. Javanese mythology. arguing for the myths underlying those different motifs.. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier . Pujianto writes a book on batik semen. Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. and functions.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03. 2009 from WordTwit KUNCI-List • Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung . Date: […] KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM Robby Hidajat Abstract: Batik is a product of Javanese culture. structural approach. motifs. with a great variety of sizes. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. Therefore. 76 . yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation). The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach. symbolic approach. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi . Tiga Usia Jacques Derrida. Nomor 1.Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 .

Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau. Perspektif simbolik. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik . dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. di samping tokoh yang lain. Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Pada kaitan ini. Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. Seakan-akan unsur ornament . dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual. yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. Bertolak dari artikel Pujianto. lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Falsafah orang Jawa . tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. professor di College de France. Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. 1986). artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. Tahun 32. Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik.Hidayat. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional. terutama menyimak relasi lambang dan arti . M. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. 137). Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim. Entitas ini muncul secara tiba-tiba. di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim. referensinya telah tersedia. Pujianto telah memaparkan panjang lebar. Kajian Strukturalisme-Simbolik 287 Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes. Mauss. Agustus 2004 simbol tidak melakukan kajian struktur. Lenger (studi seni). Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa . yaitu strukturalisme fungsional. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. salah seorang tokoh strukturalisme Prancis. Nomor 2. bahwa kajian 288 BAHASA DAN SENI. suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. misalnya sebagai contoh 77 . Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss. sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna.

2000: 237). batik cumangkiri kang calacep. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM 78 . fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta. lenga-teleng. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners. Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa. Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja. 1983:213). dan abdidalem. daragam. Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. bangun-tulak. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan). sebagai berikut: Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak. ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun. keluarganya. 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat. Adipati. dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). maupun Abdi Dalem. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung. dan tari Bedhaya (halaman 133). Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas. Landung Simatupang. bahwa Batik merupakan benda fungsional. tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. 2003: 131). Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. (Pujianto. kawulaningsun Wedana. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu. modang. lenga-teleng. dan rakyatnya. Wedana. bangun tulak. batik cumangkiri yang calacep. Motif Sawat secara etimologis dipahami semi . utamanya ketika sedang bertitah. yang saya perbolehkan dipakai Patih. Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis. Anadene Hidayat. tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. terj. (Yahya. (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik. Kajian Strukturalisme-Simbolik 289 batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan. sebagai berikut: Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran. baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. daragam lan tumpal. seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya.uraian tentang fungsi batik alas-alasan. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural. dan batik parang rusak. modang. dan tumpal.

Kajian Strukturalisme-Simbolik 291 dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. dan Alas-alasan. yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi. Sawat. Misalnya. sebagai berikut. yaitu: Alam atas. Agustus 2004 ran dan kekuasaan Apabila benar. Berdasarkan skema tersebut di atas. 1997: 80). Nomor 2. sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto.Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen. Berdasarkan konsep Triloka. pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. Sawat. seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan). sebagai berikut: Gambar 1. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko. agar benih tersebut dapat bersemi. Penyebara benih. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut Gambar 2. yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . Semen 79 . Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan 290 BAHASA DAN SENI. seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga . sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis. Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya). demikian juga tentang kekuasaan . Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk. yang dijelaskan oleh Pujianto. yaitu Semen Sawat Alas-alasan Hidayat. dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. alam tengah. Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas. dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers. dan alam bawah. dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. urairan tentang bentuk Semen. dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. Tahun 32. dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia]. tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen. selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas.

hidup. harimau. Garuda. kegembiraa. kejayaan. wahyu. roh ALAM TENGAH Manusia. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung. kemakmuran. kuda. gunung.Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah 292 BAHASA DAN SENI. angkasa. kupukupu. Kalpataru. kapal Udara. Tanah Brahma Tumbuhan. ALAM 80 . Kekuasaan. Agustus 2004 Tabel 1. pengavoman. Matahari Burung Garuda. Tahun 32. tumbuhtumbuhan Kehidupan. suci. Awan. (pohon hayat) Ayam jantan. burung merak. Lar (sayap). kakyaan. Awan. kesaktian. kumbang. Lar (sayap) bersulur bangunan. Nomor 2.

Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi. Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu.BAWAH Laut. sacral. ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka. Betari Sri Laut. Wisnu. Kalau diperhatikan. bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat. sebagai lawan garuda. sengsara. Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81 . Kajian Strukturalisme-Simbolik 293 nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas . sungguhpun tidak seluruhnya salah. Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan). atau ular yang berrelasi dengan air. kedukaan. Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1. simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang. laut. bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya. sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto. Apabila diubah relasinya. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. Analisis ini menunjukan. Maka dimungkinkan. Matahari yang berbentuk bulat. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). Zoetmulder. bukti Hidayat. dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . Analisis pada tabel 1 menunjukan. atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat. yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan. ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok. yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. 2003:134). 2002: 24. bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . kematian Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237). berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari . tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. 2000:127). atau tidak terbukti. sungai. Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa . Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik. yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya.

seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari. tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. juga berada dalam dua waktu sekaligus. keluhuran. sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. kebesaran. lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen. (simak halaman 134-138). Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time). Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Nomor 2. Pemahaman di atas menunjukan. Kajian Strukturalisme-Simbolik 295 Tabel 2. yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan. kekuasaan. yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud. dan relasi konstan). yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294 BAHASA DAN SENI. cerita Ramayana. realasi. (Ahimsa-Putra. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam Wujud Motif Relasi Simbol Burung. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen. tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. (antara ornamen. dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut. motif Sawat. Tabel yang dibuat oleh Pujianto. 2001: 80-81). kebijakan. yaitu waktu yang bisa berbalik. karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis. Hidayat. Mitos. yaitu diucapkan. Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. Tahun 32. dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. dan waktu yang tidak bisa berbalik. Agustus 2004 gunakannya. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata). kesetiaan 82 . yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya. perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas. kata Levi Strauss. 2003:105-142].Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. cerita Garudia Kejayaan. bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. yang relative tetap.

kebesaran. pembasmi. Harimau. kebijakan. angkasa (langit) Maskulinitas (bapa). Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan. kekayaan. kekuasaan. ketentraman.Lar (sayap) Unggas bersayap. kesetiaan. kekuatan penakluk Motif Alasalasan Ular (naga) Dewa Siwa. kekuasaan. alam kegelapa. penghancur. ringin kurung. kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. ketentraman Motif Sawat Pohon hayat Pohon beringin. langit. kebijakan. Agustus 2004 tentang mitologi Jawa. kegelapan 296 BAHASA DAN SENI. kekuatan perusak. Kemakmuran. keinginan. kayon Puncak. tujuan Motif Semen Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. Sorga Ketentraman. Sorga. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. kekuasaan. Tahun 32. pencerahan. kebebasan Gunung Mitos tentang sorga. Kejantanan Kekuatan. keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan. belencong (lampu/sinar) Kekuatan. pelepasan. tanah Kejahatan. ketentraman Laut. kebijakan. Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan. kekuasaan. kelestarian. harapan. Wanita (femimimitas) Kasih saying. Nomor 2. Kupu-kupu. pundhen desa. mitos Sri Sadana. Mitos Laut selatan. Istana. bentuk wayang rampokan Kebebasan. puncak meru. kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan. Kebebasan. kecerdirkan. perlindungan. gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan. kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap. kepergiaan. kalpataru. pikiran Bangunan. kebesaran. keluhuran. keabadian. kekayaan. kesetiaan Burung merak. ikatan kekerabatan. rintangan. pikiran. Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan. Mitos kematinan. kedamaian. keperkasan. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. ketentraman Burung Garuda. Mitos tentang kesejodohan Kecantikan. Mitos Sri Sardono Kemakmuran. ketenangan. pencerahan. kesetiaan Kumbang. Kejantangan Kekuatan. kekayaan. mitos SriSadana Kemakmuran. harapan. Kuda. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram. Rumah. kasih sayang. perdamaian Awan. kekuasaan Kapal. atau pandangan para priyayi 83 .

Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. salah satunya ada pada motif batik. sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas. Paparan tersebut merupakan interpertasi 84 . tetapi bersamaan dengan itu. Sawat. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata). Artinya selembar kain batik yang disebut Semen. mitos kekuasaan. makna tidaklah dicari pada dunia eksteral. dipahami sebagai sebuah struktur. Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik. secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa). kupu-kupu. seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya. pohon hayat. logis. posisi motif. Akan tetapi perlu disadari. yaitu tentang paham monisme dualistik. gambar. kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya. ukuran. garis-garis. dan referentif. analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional. sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas. yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk. dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. mitos kesuburan. unggas (burung garuda. seperti bentuk batik Semen. melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. lidah api. kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif. salah satunya adalah menggunakan teori semiotika. Unsur mitos. seperti motif Sulur-suluran. 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara. Maka. meliputi warna dasar. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa.(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). atau Hermeneutik. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam. Kajian Strukturalisme-Simbolik 297 dan keputusan sesorang. Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat. atau Alas-alasan. Hidayat. mitos perjodohan. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis. awan. ucapan.motif pada kain batik. naga. merak). Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . akan tetapi lebih mendalam. tanaman. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis. 2001:31). Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. dan motif-motifnya). dan lain sebagainya. kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur. dan lain-lain.

seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut: Dalam pikiran orang Jawa. Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. pengendalian.] dan duwur (atas) [ + ]. yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah). Danaita.1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan. Tahun 32. Woro Ariyandini S. bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap. yaitu Loro-loroning Atunggal. Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti . Raja yang bersifat Saraita. langit. yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim).. dan bersikap adil). Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat. Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan. Curiga manjing warangka.. dan rakyat dipandang sebagai kawula . siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan. salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat. dan kreativitas yang dikarsai. kehangatan. Agustus 2004 presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . spontanitas. istilah ini berrelasi dengan 85 . paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud. Darmaita ( ahli stragegi perang. yaitu . tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi. sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. bibit . atau tunas yang harus di semai kan. bentuk. bumi. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan). Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. sebuah citra yang kuat. sebagai berikut: Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani). Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram. maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik. bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental). Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri. Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . Hakekatnya adalah sebuah 298 BAHASA DAN SENI. subtansi. Nomor 2. berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101).untuk menemukan makna. (1992:186) Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji . Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . ANALISIS STRUKTUR Relasi isor (bawah) [ . kesejukan. Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi.

ora kena wula-wali. Gunung laut berrelasi horizontal. Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman. Sawat. setan. Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). tumbuhan. kaitannya dengan posisi kekuasaan. Tahun 32. Ayah ibarat pohon. menampakan hubungan yang bersifat duniawi. yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya. berrelasi dengan emas . keluarga. Kajian Strukturalisme-Simbolik 299 (tanah). Selatan menunjukan arah laut. sorga tempat bersemayamnya para dewa. Agustus 2004 pat dipahami sebagai hutan . siksaan. Gunung laut menunjukan posisi horizontal. sedangkan dunia ada percapada.motif batik Semen . ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram).1989: 635). 1982:33). Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa. Tempat arwah yang tidak beruntung. eksistensinya sebagai pengayom. dan kejayaan. kebesaran. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat). anak buah. kebijakan atas dirinya. ancaman Batari Durga. yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan. atau meru . Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. gunung adalah sorgaloka. dan laut berada di selatan (pantai parangtritis). dan juga manusia. dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang. pelindung istri dan anakanaknya. Gunung (merapi) berada di Utara. Nomor 2. bersemayamnya ratu pantai selatan. raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur). yang da 300 BAHASA DAN SENI. atau pohon sorga (Sri Mulyana. atau sakral. Paparan relasional dari motif batik Semen. Relasi gunung laut . Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi . dan bermukimnya jin. Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]. dan roh-roh pengganggu manusia. keramat. dan seluruh rakyat. tempat makluk hidup bertebaran. yang artinya semi. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan . keagungan. yang tumbuh di bumi Hidayat. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal Tengen (kanan) 86 . Hutan lebih bersifat magis. horizontal dan vertikal. bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana. Gambar 3.kiwa (kiri)[-]. Barat menunjukan arah marabahaya. simbol keseimbangan ekologi. dan laut sebagai muara. Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan . sabda pandita ratu. sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari).

makanan tradisional. dan juga dimungkinkan adalah motif batik. ilmu sihir. Terlebih. dan Alasalasan. dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna.Kiwa (kiri) Isor (bawah) Duwur (atas) (-) (+) Batik Batik AlasBatik Semen (+ ) (-) Gusti Kawula Gunun Laut Hidayat. 87 . Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. Kajian Strukturalisme-Simbolik 301 Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks . tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. bahwa motif bagik Semen. relasi. Setelah dilakukan analisis unsur motif. dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko . Sebagai contoh asumsi Pujianto. akibatnya aspek struktur terabaikan. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen. Pijianto mempunyai sudut pandang. Sawat. berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. seperti topeng. Temuan ini menunjukan. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya. perdukunan. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural. setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical. di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. PENUTUP Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya. 1997:790. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme. hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. Sawat. dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. Asumsi Pujianto perlu diuji.

Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut . Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri. berkait dengan kedudukan raja . yaitu adanya konsep Dewa-raja . dan sekaligus kepasrahan. yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia . Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri. swargaloka. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela. Setyanireng kakung. sabar. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi . Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung . Dan pelayananmu bila ketemu. Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. Agustus 2004 (bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane. Kadi garwa kawitan. narima. Ing raga nuta saosa kersing laki. Seperti istri pertama. 88 . ketulusan. Hidayat. Tahun 32. dan juga kesetiaan. gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). Semunira den asumeh. Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora.duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental. ini sebuah kerelaan. dan kekuatan penghancur. isor 302 BAHASA DAN SENI. Pasrahlah dalam segala kehendaknya. tempat roh-roh jahat. yaitu ngabekti. Hendaknya wajahmu berseri manis. Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31). Nomor 2. Angrasa yen sinatyan. dan budi luhur. (2003: 139). Niels Mulder menjelaskan. tempat arwah bersemayam. sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. temen. Buat simpanan oleh sang raja. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu. naga. Kajian Strukturalisme-Simbolik 303 Mang salokanira kepanggih. Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical. yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran.1988: 56-57). berkait dengan kedudukan rakyat kawula . Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan. Kinarya gedhong dening sang nata. yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga.

2000. Direktorat jendral Kebudayaan.Yogyakrta: Pustaka Pelajar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Antara Alam dan Mitos. Manunggaling Kawula Gusti. P. & Hidajat. nomor 1. 1986. Yogyakarta: media Pressindo. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . Teori Budaya. Flores: Nusa Indah. Mochtar Pabotinggi. A. Mulder. 2002. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Jakarta: Gunungagung.). Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci. Faufik & Leeden. Memutar Taman Sri Wedari. Olga. Yogyakarta: Qalam. Filsafat dan Masa depannya. 1967. 2001:8-9) DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. 2003. 1983. diterj. 2001. Reid. (Purwadi. Basis. Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Diterj. 1974. Teori Budaya dan Budaya Pop. 2000. Yahya. Sastra. tahun 31.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Yayasan Indonesiatera. Diterj. Februari 2003. 1989. Mengkaji Tanda dalam Artifak. 304 BAHASA DAN SENI.Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. [tanpa kota terbit]. tahun 31. Budiono. 2003. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Albert A. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam .C. Randrianarisoa.2000. 2001. diterjemahkan: Landung Simatupang. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta.1986. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia .M. Abdullah. Soedarsono. nomor 1. 2003. Ketika Orang Jawa Nyeni. Wayang. Agus. 1982. Pujianto. Danandjaya. Purwadi. 1992. Ahimsa-Putra. Sri. Simbolisme dalam Budaya Jawa. 1997. 1. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas.K. Semilogi Roland Barthes. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Masinambow. E. Jakarta: Balai Pustaka. James. Jakarta: Gramedia. artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni. Claire. Falsafah Jawa. Februari 2003. Wayang dan Lingkungan. vol. Anthony [1988]. Jakarta: Balai Pustaka. Yogyakarta : Yayasan P. Rahayu S. Juni 1983 XXXII 6. Niels.B. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Holt. 1988. Shri Heddy (ed. Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Kebudayaan Jawa. Proyek Penelitian dan Pe 89 . Tahun 32. 1. Asal-usul. Yogyakarta: Galang press. Universitas Negeri Malang. John. Storey. no. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis. Zoetmulder. 2002. Pujianto. April 2002. Nomor 2. 1996. Yogyakarta: Hanindita. David & Monners. Jakarta: Balai Pustaka. Universitas Negeri Malang. Sangkan paraning Dumadi. 1994. 2001. Dick Hartoko.J. Ciptaprawiro. Cremers. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1985. Amri. van Der. Niels. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Malang: Fak. pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Sutarno. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Agustus 2004 Koentjaraningrat.2000. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana. Aryandini S. Mulder. Herusatoto. Kurniawan. Woro. Kaplan. 2001. Semiotik. Abdullah. Malang: Fakultas Sastra.

(4) “Reyog Brijo Lor”. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup 90 . (2) “Petilasan Sunan Kalijaga”. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten. perekaman. nilai pendidikan sejarah (historis).ngkajian. dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. tema. dan terjadinya suatu tempat. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. dan analisis dokumen. KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat kabupaten Klaten L. yaitu: (1) “Ki Ageng Padang Aran”. nilai pendidikan adat. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan. dan legenda keagamaan. metode. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. dan nilai pendidikan kepahlawanan. observasi benda-benda fisik dan dokumen. dan teori.G. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. legenda perseorangan . tokoh. alur. wawancara. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita. (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung. dan (5) “Kyai Ageng Gribig”. Lima cerita rakyat tersebut. (3) “Raden Ngabehi Ronggo Warsito”. yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama. pencatatan. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat. latar. nilai pendidikan agama (religi). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. dan amanat. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. perjuangan seorang tokoh. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik.

nilai pendidikan sejarah (historis). nilai pendidikan adat (tradisi). dan nilai Kepahlawanan 1/1dayaan Nusantara (Javanologi). nilai pendidikan agama (religi). 91 . Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten.bervariasi. adalah Nilai pendidikan moral .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->