P. 1
Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di RS Bab 3

Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di RS Bab 3

|Views: 19|Likes:
Published by Yovan Prakosa

More info:

Published by: Yovan Prakosa on Apr 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2014

pdf

text

original

HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit

BAB III SKRINING BAYI BARU LAHIR
A. Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Pada Bayi Baru Lahir 1. Gejala gangguan pendengaran pada bayi dan anak Gejala gangguan pendengaran pada bayi sulit diketahui mengingat ketulian tidak terlihat. Biasanya keluhan orangtua adalah bayi tidak memberi respons terhadap bunyi. Umumnya orangtua melaporkan sebagai terlambat bicara (delayed speech), tidak memberi respons saat dipanggil atau ada suara/bunyi. Dapat pula sebagai keluhan perkembangan kosakata yang tidak sesuai dengan usia anak, berbicara tidak jelas, atau meminta sesuatu dengan isyarat. Gangguan pendengaran dibedakan menjadi : - tuli sebagian (hearing impaired) yaitu penurunan fungsí pendengaran tetapi masih bisa berkomunikasi dengan atau tanpa alat bantu dengar; - tuli total (deaf ) adalah gangguan fungsí pendengaran yang sedemikian terganggu sehingga tidak dapat berkomunikasi sekalipun mendapat pengerasan bunyi. 2. Perkembangan sistem pendengaran Pada usia gestasi 9 minggu, mulai terbentuk ketiga lapisan pada gendang telinga, dan pada minggu ke-20 sudah terjadi pematangan koklea dengan fungsi menyamai dewasa dan dapat memberi respons terhadap suara. Pada saat yang sama, bentuk daun telinga sudah menyerupai daun telinga orang dewasa walaupun masih terus berkembang sampai usia 9 tahun. Pada usia gestasi 30 minggu terjadi pneumatisasi dari timpanum, demikian juga dengan liang telinga luar yang terus berkembang sampai usia 7 tahun. Perkembangan auditorik berhubungan erat dengan perkembangan otak. Neuron dibagian korteks mengalami pematangan dalam waktu 3 tahun pertama kehidupan dan masa 12 bulan pertama kehidupan terjadi perkembangan otak yang sangat cepat. Berdasarkan hal tersebut, maka upaya melakukan deteksi dini gangguan pendengaran sampai habilitasi dapat dimulai pada saat perkembangan otak masih berlangsung. 2.a. Perkembangan mendengar Usia 0 – 4 bulan Kemampuan Auditorik Bila diberikan stimulus bunyi, respon mendengar yang terjadi masih bersifat refleks (behavioral responses) seperti: - Refleks auropalpebral (mengejapkan mata) - Heart rate meningkat - Eye widening (melebarkan mata) - Cessation (berhenti menyusu) - Grimacing (mengerutkan wajah) 4 bulan : memutar kepala pada arah horizontal; masih lemah (belum konsisten)

4 – 7 bulan

20

HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit

7 - 9 bulan 9 - 13 bulan

7 bulan : memutar kepala pada arah horizontal dengan cepat; namun pada arah bawah masih lemah Memutar kepala dengan cepat; mengidentifikasi sumber bunyi dengan tepat 12 bulan : keingintahuan terhadap bunyi lebih besar; mencari sumber bunyi yang berasal dari arah atas 13 bulan : dapat mengidentifikasi bunyi dari semua arah dengan cepat

2.b. Perkembangan Bicara dan Bahasa Perkembangan bicara seorang anak sejalan dengan pertambahan usianya dan perkembangan mendengar. Usia Neonatus 2 - 3 bulan 4 - 6 bulan Kemampuan menangis ,suara mendengkur (cooing),suara berkumur (gurgles) tertawa dan mengoceh tanpa arti (babbling) : aaa, ooo mengeluarkan suara kombinasi vokal dan konsonan. - ocehan bermakna (true babling) atau lalling (pa..pa.., da..da) - memberi respons terhadap suara marah atau bersahabat - belajar menangis dengan suara yang bervariasi sesuai kebutuhan menggabungkan kata/suku kata yang tidak mengandung arti, seperti bahasa asing (jargon); usia 10 bulan : mampu meniru suara (echolalia) - mengerti kata perintah sederhana : kesini - mengerti nama obyek sederhana : sepatu, cangkir - menjawab pertanyaan sederhana - mengerti instruksi sederhana, menunjukkan bagian tubuh dan nama mainan - kata yang diucapkan antara 150 -300 kata - volume dan pitch suara belum terkontrol -mengenali warna, mengerti konsep besar - kecil, sekarang nanti - jumlah kata yang diucapkan mencapai 900 – 1.200 kata -memberi respons pada 2 kalimat perintah yang tidak berhubungan seperti:ambil sepatu, letakkan gelas di atas meja - mulai bertanya kenapa dan bagaimana?

7 - 11 bulan

12 - 18 bulan 24 - 35 bulan 36 - 47 bulan

3. Etiologi dan Faktor Resiko Gangguan pendengaran pada bayi dan anak dibedakan berdasarkan saat terjadinya yaitu : Masa Prenatal Dibagi menjadi genetik dan nongenetik seperti gangguan/kelainan masa kehamilan, kelainan struktur anatomi (atresia liang telinga, aplasia koklea), dan kekurangan zat gizi (misal : defisiensi Iodium).

21

HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Yang paling penting adalah trimester I kehamilan. herpes dan sifilis). . Disamping itu. . Usia 29 hari – 2 tahun : . sitomegalovirus. 22 . misalnya sindroma Rubela. campak. . dan asfiksia.Kelainan kraniofasial termasuk kelainan morfologi pinna (daun telinga) atau liang telinga. termasuk meningitis bakterialis.Kecurigaan orangtua/pengasuh terhadap gangguan pendengaran. herpes. perdarahan telinga tengah. tuli konduktif atau gangguan fungsi tuba Eustachius. sitomegalovirus. Faktor faktor risiko yang perlu dipertimbangkan dan telah ditetapkan oleh American Joint Committée on Infant Hearing pada tahun 2000 : Usia 0 – 28 hari : . berat badan lahir rendah (< 2500 gram). Infeksi postnatal yang menyebabkan gangguan pendengaran sensorineural. . trauma tulang temporal yang mengakibatkan tuli saraf atau tuli konduktif. rubela. hiperbilirubinemia. keterlambatan bicara.Keadaan yang berhubungan dengan sindroma tertentu yang mempunyai hubungan dengan tuli sensorineural atau tuli konduktif. . . infeksi otak).Infeksi intra uterin seperti TORCHS (toksoplasma. hipertensi pulmonal yang membutuhkan ventilator serta kondisi lainnya yang membutuhkan ECMO (extra corporeal membrana oxygenation). Gangguan pendengaran pada masa prenatal dan perinatal biasanya adalah tuli sensorineural bilateral derajat berat/sangat berat. terutama hiperbilirubinemia yang memerlukan transfusi tukar. . seperti TORCHS (toksoplasma. . beberapa jenis obat ototoksik dan teratogenik berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran. neurofibromatosis dan lain-lain.Keadaan yang berhubungan dengan sindroma tertentu yang diketahui mempunyai hubungan dengan tuli sensorineural.Sindroma tertentu yang berhubungan dengan gangguan pendengaran yang progresif seperti sindroma Usher.Infeksi intra uterin. Masa Postnatal Adanya infeksi bakteri atau virus (rubela. rubella.Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran yang menetap masa anak-anak. misalnya akibat infeksi bakteri atau virus (TORCHS).Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran sensorineural yang menetap sejak masa anak-anak. afasia atau keterlambatan perkembangan lain.Adanya faktor risiko tertentu pada masa neonatus. sífilis). Masa Perinatal Prematur . parotitis.Menjalani perawatan di NICU selama ≥ 48 jam .

Hasil skrining pendengaran yang telah dilakukan oleh suatu unit/kelompok masyarakat atau fasilitas kesehatan (RS. 4. Pemeriksaan pendengaran yang lengkap bertujuan menentukan status pendengaran bayi dan anak berdasarkan prinsip : Ear spesific Frequency specific (penentuan ambang dengar pada setiap frekuensi) 23 . Skrining pendengaran bukan diagnosis pasti karena selain kelompok Pass/lulus dan kelompok Refer/tidak lulus masih ada 2 kelompok lain.Adanya kelainan neurodegeneratif seperti sindroma Hunter dan kelainan neuropati sensomotorik (Friederich’s ataxia.2. praktik dokter.belum dapat merangkai 2 kata 4.1. Skrining gangguan pendengaran pada bayi baru lahir 4. Hasil skrining pendengaran harus diterangkan dengan jelas kepada pihak orangtua untuk mencegah kecemasan yang tidak perlu.Trauma kapitis. . puskesmas. Prinsip dasar skrining pendengaran pada bayi Skrining pendengaran dilakukan dengan maksud membedakan populasi bayi menjadi kelompok yang tidak mempunyai masalah gangguan pendengaran (Pass/lulus) dengan kelompok bayi yang mungkin mengalami gangguan pendengaran (Refer/tidak lulus).Otitis media yang berulang atau menetap disertai efusi telinga tengah minimal 3 bulan.tidak dapat menyebut 1 kata berarti 24 bulan -.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit . yaitu kelompok positif palsu (hasil refer namun sebenarnya pendengaran normal) dan negatif palsu (hasil pass tetapi sebenarnya ada gangguan pendengaran).perbendaharaan kata kurang dari 10 kata 30 bulan -. Tujuan Menemukan gangguan pendengaran sedini mungkin pada bayi baru lahir agar dapat segera dilakukan habilitasi pendengaran yang optimal sehingga dampak negatif cacat pendengaran dapat dibatasi. klinik. balai kesehatan ibu dan anak/BKIA) harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki sarana pemeriksaan pendengaran yang lengkap dan mampu melaksanakan habilitasi pendengaran dan wicara.Marie Tooth) .belum dapat mengoceh (babbling) atau meniru 18 bulan -. sindroma Charcot . Kapan kita curiga ada gangguan pendengaran ? 12 bulan -.

skrining gangguan pendengaran dapat dikelompokkan menjadi : I. Skrining. Bayi dengan hasil skrining Pass (lulus) maupun Refer (tidak lulus) harus menjalani pemeriksaan BERA (atau BERA otomatis) pada usia 1 – 3 bulan. agar diperoleh informasi ambang dengar pada masing-masing frekuensi. 3. Pada usia 3 bulan.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Berdasarkan fasilitas yang tersedia. Tersedia intervensi untuk habilitasi gangguan pendengaran. Skrining gangguan pendengaran pada komunitas ( community based hearing screening) Skrining gangguan pendengaran di rumah sakit (hospital based hearing screening) dikelompokan menjadi : 1. Khusus untuk bayi yang tidak memiliki liang telinga (atresia) diperlukan pemeriksaan tambahan berupa BERA hantaran tulang (bone conduction). Skrining awal dilakukan dengan pemeriksaan Otoacoustic Emission (OAE) sebelum bayi keluar dari rumah sakit (usia 2 hari). perlu dilakukan pemeriksaan ASSR (Auditory Steady State Response) atau BERA dengan stimulus tone burst. 2.Universal Newborn Hearing Screening (UNHS) Dilakukan pada semua bayi baru lahir (dengan atau tanpa faktor risiko terhadap gangguan pendengaran). 4. paling lambat pada usia 1 bulan telah melakukan pemeriksaan OAE di tempat lain. Berdasarkan tahapan waktu tersebut di atas. Targeted Newborn Hearing Screening 1. Skrining gangguan pendengaran di rumah sakit (hospital based hearing screening) II. diagnosis harus sudah dipastikan berdasarkan hasil pemeriksaan: OAE. Universal Newborn Hearing Screening (UNHS) 2. BERA. deteksi dan intervensi yang dilakukan secara dini akan menghasilkan outcome yang baik. Mudah dikerjakan serta memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi sehingga kejadian refer minimal. Untuk bayi yang telah dipastikan mengalami gangguan pendengaran sensorineural. Kriteria keberhasilan : cakupan (coverage) 95 %. Kelemahan metode ini adalah sekitar 50 % bayi yang lahir tuli tidak 24 . Kriteria UNHS: 1. nilai refferal : < 4 % 2. habilitasi pendengaran sudah harus dimulai pada usia 6 bulan. Bila bayi lahir pada fasilitas kesehatan yang tidak memiliki sarana OAE. Cost-effective. timpanometri (menilai kondisi telinga tengah). hal ini akan membantu proses pengukuran alat bantu dengar yang optimal.Targeted Newborn Hearing Screening Skrining pendengaran yang dilakukan hanya pada bayi yang mempunyai faktor risiko terhadap gangguan pendengaran (Gambar 10).

Pemeriksaan skrining pendengaran Sampai saat ini pemeriksaan pendengaran yang terbaik adalah audiometri karena dapat memberikan informasi ambang pendengaran yang bersifat spesific frequency. Model ini biasanya dilakukan di NICU (Neonatal ICU) atau ruangan Perinatologi. Baku emas pemeriksaan skrining pendengaran pada bayi (1) Otoacoustic Emission(OAE) (2) Automated ABR ( BERA Otomatik) U. akibatnya pemeriksaan audiometri tidak dapat dilakukan pada pasien berusia dibawah 6 bulan. SKRINING PENDENGARAN BAYI BARU LAHIR Hospital based Community based UNIVERSAL NEWBORN HEARING SCREENING (UNHS) Semua bayi TARGETED NEWBORN HEARING SCREENING Hanya bayi dengan faktor risiko Gambar 10. Kelemahan pemeriksaan audiometri adalah besarnya faktor subyektif dan membutuhkan kerja sama (pasien kooperatif) dan membutuhkan respons yang dapat dipercaya dari pasien.S Joint Committee on Infant Hearing Screening (JCIH 2000) 25 .3. Klasifikasi skrining pendengaran bayi baru lahir 4.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit mempunyai faktor risiko.

Hasil Pass menunjukkan keadaan koklea baik. otomatis. Untuk skrining pendengaran. Hasil OAE dipengaruhi oleh gangguan (sumbatan) liang telinga dan kelainan pada telinga tengah (misalnya cairan).1.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Pemeriksaan objektif (Elektrofisiologis) OAE (mulai 2 hari) Pemeriksaan subyektif (Behavioral) Behavioral Observation Test Behavioral Observation Audiometry (0 – 6 bulan) Visual Reinforcement Audiometry (7 -30 bulan) Conditioned Play Audiometry (30 bulan – 5 tahun) Tes Daya Dengar /TDD modifikasi BERA Otomatis (≤ 3 bulan) Click (≥ 3 bulan) Tone burst (≥ 3 bulan) Bone conduction Timpanometri ASSR a. 26 .6 frekuensi. praktis. Pemeriksaan obyektif a. Sedangkan untuk diagnostik digunakan OAE yang mampu memeriksa lebih banyak lagi frekuensi tinggi. Hasil pemeriksaan mudah dibaca karena dinyatakan dengan kriteria Pass (lulus) atau Refer (tidak lulus). OAE bukan pemeriksaan pendengaran karena hanya memberi informasi tentang sehat tidaknya koklea. Pemeriksaan ini mudah. sedangkan hasil Refer artinya adanya gangguan koklea sehingga dibutuhkan pemeriksaan lanjutan berupa AABR atau BERA pada usia 3 bulan. noninvasif. digunakan OAE skrining (OAE screener) yang memberikan informasi kondisi rumah siput koklea pada 4 . tidak membutuhkan ruangan kedap suara maupun obat sedatif.Otoacoustic Emission (OAE) Menilai integritas telinga luar dan tengah serta sel rambut luar ( outer hair cells) koklea.

Pada bayi usia kurang dari 6 bulan digunakan probe khusus yang bergerigi (tree tip) untuk mencegah kolaps liang telinga. Pemeriksaan BERA yang dilakukan umumnya menggunakan stimulus suara jenis click. OAE Diagnostik a. 5. pemeriksaan ini tidak frequency spesific artinya hanya diketahui ambang respons pada frekuensi rata-rata (2000 .HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Persiapan pemeriksaan OAE 1. Gambar 11. sebaiknya diulang beberapa kali sampai dipastikan memang hasilnya Refer. Bila hasil Refer. Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) atau Auditory Brainstem Response (ABR) BERA menilai perubahan potensial listrik di otak yang timbul setelah pemberian stimulus suara. 3. ABR berfungsi untuk menilai integritas saraf sepanjang jalur pendengaran. 2. OAE Skrining 6 frekuensi Gambar 12. Lingkungan dan bayi harus tenang. Menggunakan probe yang sesuai dengan ukuran telinga bayi. 4. Pemeriksaan BERA sebaiknya dilakukan pada ruang kedap suara. Pada 27 . Pemeriksaan dilakukan pada bayi baru lahir yang berusia > 24 jam. Agar dapat memperoleh ambang pada masing-masing frekuensi harus ditambahkan pemeriksaan BERA dengan stimulus tone burst.4000 Hz). Liang telinga harus bersih dari kotoran (serumen) maupun cairan.2. 6. Posisi probe mengarah ke membran timpani.

pada kasus seperti ini perlu dilakukan BERA ulangan pada saat usia lebih dari 3 bulan dan dilakukan koreksi usia (pada prematur). Perlu diperhatikan agar pemeriksaan BERA pada bayi dibawah usia 3 bulan atau bayi lahir prematur. BERA Otomatis 28 . BERA tone burst Gambar 15. Ada 5 gelombang BERA yang dapat dibaca. Pemeriksaan ini sama dengan BERA konvensional yaitu menggunakan elektroda permukaan dengan pemberian stimulus click. Parameter yang dinilai berdasarkan morfologi gelombang. Respons neural terhadap stimulus bunyi yang diterima akan direkam komputer melalui elektroda pemukaan (surface electrode) yang ditempelkan pada kepala (dahi dan prosesus mastoid). Bila digunakan BERA otomatis. Pemeriksaan BERA Otomatis (Automated ABR) Merupakan pemeriksaan BERA otomatis sehingga tidak diperlukan analisis gelombang evoked potential karena hasil pencatatan mudah dibaca. praktis. mungkin terjadi pemanjangan masa laten sehingga didapat kesan adanya tuli konduktif. Pemeriksaan pendengaran secara obyektif juga perlu dilakukan dan disesuikan dengan usia anak. Apabila terdapat kelainan maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut yang disesuaikan dengan alur HTA (Health Technology Assesment) skrining pendengaran bayi 2006.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit bayi diperlukan sedatif untuk mencegah internal noise. amplitudo dan masa laten. Gambar 13. tidak invasif dan hanya dapat menggunakan intensitas 30 – 40 dB. berdasarkan kriteria pass atau refer (tidak lulus). Hasil penilaian adalah intensitas stimulus terkecil (desibel/dB) yang masih memberikan gelombang BERA. Umumnya digunakan untuk keperluan skrining pendengaran. mudah dilakukan. masing masing menggambarkan respons dari bagian-bagian jaras auditorik mulai dari nervus akustikus sampai kolikulus inferior. BERA Click Gambar 14. karena waktunya singkat dapat dilakukan tanpa sedatif. Pada bayi yang paling mudah diidentifikasi adalah gelombang V (kolikulus inferior).

Gambar 17. Auditory Steady State Response 29 . tekanan negatif. Bila perlu dapat di setting untuk frekuensi lainnya. Gambar 16.Timpanogram Auditory Steady State Response (ASSR) Dengan ASSR dapat dibuat prediksi atau estimasi audiometri (predicting audiometry) atau evoked potential audiometry karena dapat memberikan gambaran audiogram pada bayi dan anak. Hal ini dimungkinkan karena ASSR memberikan informasi ambang pendengaran pada frekuensi spesifik secara otomatis dan simultan. yaitu pada frekuensi 500. 1. 2.000 dan 4.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Pemeriksaan Timpanometri Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai keadaan telinga tengah (normal. cairan) dan fungsi tuba Eustachius. ASSR sangat bermanfaat untuk fitting alat bantu dengar pada bayi dan menilai sisa pendengaran sebagai pertimbangan untuk implantasi koklea. Stimulasi berupa bunyi modulasi yang kontinu berupa AM ( Amplitude Modulation) dan FM (Frequency Modulated) melalui insert phone. Selain dapat memberikan informasi ambang pendengaran. Intensitas stimulus dapat mencapai 127 dB HL.000 Hz. Pada bayi berusia kurang dari 6 bulan digunakan timpanometri frekuensi tinggi (High Frequency Tympanometry) dengan pertimbangan pada usia tersebut liang telinga masih lentur/ kolaps sehingga menghalangi stimulus suara yang masuk.000.

misalnya refleks behavioral. tetap dianjurkan untuk mengkonfirmasi hasilnya dengan pemeriksaan obyektif. Bila tidak tersedia sarana pemeriksaan yang lebih obyektif. Frekuensi stimulus : range speech frequency.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit b. dapat dimanfaatkan untuk bayi dibawah 6 bulan misalnya pemeriksaan Behavioral Observation Test (BOT) atau Behavioral Observation Audiometry (BOA). Idealnya dilakukan di ruang kedap suara. nilai sensitivitas dan spesifitasnya kurang dibandingkan pemeriksaan obyektif seperti OAE dan BERA. Pada anak usia 6 bulan atau lebih pemeriksaan behavioral juga dapat dilakukan untuk konfirmasi pemeriksaan obyektif yang telah dilakukan. Namun bila memungkinkan. antara lain pemeriksaan Behavioral Observation Test (BOT) atau Behavioral Observation Audiometry (BOA).1. Persyaratan Pemeriksaan di ruang kedap suara/cukup tenang Respon bayi dinilai oleh 2 orang pemeriksa Stimulus berjarak 1 meter dari dari telinga. Tentu saja. Pemeriksaan Subyektif Bila sarana pemeriksaan yang bersifat obyektif atau elektrofisiologis tidak tersedia. terutama bila menghadapi kendala untuk memperoleh pemeriksaan yang bersifat frequency spesific. Behavioral Observation Audiometry (BOA) Tujuan : menentukan ambang pendengaran berdasarkan unconditioned responses terhadap bunyi. dapat dilakukan pemeriksaan subyektif yang mengandalkan respons behavioral sebagai reaksi bayi terhadap stimulus bunyi. b. di belakang garis lapang pandangan Stimulus : Audiometer + loud speaker Intensitas stimulus dikalibrasi dengan sound level meter Respon yang dinilai : respon behavioral /refleks( unconditioned response): mengejapkan mata (refleks auropalpebral) ritme jantung bertambah cepat berhenti meyusu (cessation reflex) mengerutkan wajah (grimacing) terkejut (refleks Moro) 30 . Untuk menilai bayi/anak 0 – 6 bulan. Visual Reinforcement Audiometry (VRA) dan Conditioned Play Audiometry (CPA). Namun demikian pemeriksaan behavioral memiliki kemampuan frequency spesific. Pemeriksaan Behavioral Pemeriksaan pendengaran yang subyektif karena respon dari bayi dan anak tidak konsisten. bila tidak tersedia dapat di ruangan biasa tetapi cukup tenang.

maka ambang yang diperoleh menunjukkan kondisi telinga yang lebih baik.  Orangtua tidak ikut mambantu respons  Respons harus konsisten dan dapat diulang  Pada saat terjadi respons. Gambar 18. Bila ketakutan : tunda. P : Orang tua( memangku bayi). Keterbatasan : karena stimulus berasal dari pengeras suara (loudspeaker).HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Prosedur Pemeriksaan BOA  Bayi dipangku dalam kondisi siap memberi respons/setengah tidur  Dapat sambil menyusu  Bila tidur nyenyak. tetapi menggunakan stimulus yang tidak terukur frekuensi dan intensitasnya( misalnya bertepuk tangan). catat intensitas  Bila respon (-) catat intensitas paling besar Keterbatasan : tidak menentukan threshold (ambang pendengaran). Prosedur Behavioral Obsevation Test sama dengan BOA. VR : Visual reinforcer. A : Pemeriksa. Visual Reinforcement Audiometry (VRA) Tujuan : Menentukan ambang pendengaran bayi 7 -30 bulan dengan menilai conditioned response (respons yang telah dilatih terlebih dahulu). Visual Reinforcement Audiometry (VRA) Keterangan Gambar 8 S : Speaker. I : Bayi. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk menentukan ambang pendengaran. TA : Observer Conditioned Play Audiometry (CPA) Tujuan : Menilai ambang pendengaran berdasarkan respons yang telah dilatih (conditioned) melalui kegiatan bermain terhadap stimulus bunyi. Bila bayi memberikan respons. Stimulus bunyi diberikan melalui ear phone sehingga dapat diperoleh 31 . berikan hadiah berupa cahaya lampu. Kemudian pemeriksaan diulang dengan intensitas yang lebih rendah sampai tercapai ambang dengar yaitu stimulus terkecil yang masih menghasilkan respons. bangunkan. Cara Pemeriksaan Bayi dilatih terlebih dahulu untuk memberikan respons khusus (misal memutar kepala) terhadap stimulus bunyi dengan kekerasan bunyi (intensitas) tertentu.

Daftar pertanyaan Tes Daya Dengar (modifikasi) dapat dilihat pada lampiran 2. b. bayi yang gagal pada skrining awal.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit ambang pada masing masing frekuensi (frequency-specific) dan masingmasing telinga (ear specific). dan bila dilakukan tes dibawah kelompok usianya.pertanyaan ada tidaknya respons (daya dengar) bayi atau anak terhadap stimulus bunyi. Bila terdapat minimal 1 (satu) jawaban “Tidak” berarti kita harus hatihati terhadap kemungkinan gangguan daya dengar (Kode HTN/Hatihati Tidak Normal).2. dilakukan pemeriksaan timpanometri. (1) Ekspresif. Tes Daya Dengar (Modifikasi) Merupakan pemeriksaan subyektif untuk deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi dan anak dengan menggunakan kuesioner berisikan pertanyaan. Tes harus diulang 1 (satu) bulan lagi. (2) Reseptif dan (3) Visual. 4. Dilakukan untuk anak usia 30 bulan – 5 tahun. Bila semua jawaban adalah “Tidak” mungkin terdapat gangguan lain dengan atau tanpa kelainan daya dengar (ada gangguan lain dan tidak normal). misalnya memasukkan sebuah balok ke dalam kotak. Tindak Lanjut setelah Skrining Pendengaran Bayi yang tidak lulus skrining tahap kedua harus dirujuk untuk pemeriksaan audiologi lengkap termasuk pemeriksaan OAE.ABR dan Behavioral Audiometry. Cara penilaian 1. masing-masing terdiri dari 3 pertanyaan dengan jawaban “Ya” atau “Tidak”. bila anak mendengar suara dengan intensitas (kekerasan bunyi) tertentu. Prosedur Pemeriksaan Terlebih dahulu anak dilatih memberikan respons melalui kegiatan bermain. Diagnosis pasti idealnya telah selesai dikerjakan pada saat bayi berusia 3 bulan. Anak dengan kode HTN. dapat ditentukan jenis dan derajat ganggguan pendengaran. GTN. Bila suara diganti dengan ucapan (kata-kata) dapat juga ditentukan speech reception threshold (SRT). Bila semua pertanyaan (3 buah) dijawab “Ya” berarti tidak terdapat kelainan daya dengar (Kode N/normal). 32 . Selanjutnya intensitas diturunkan sampai diperoleh intensitas terkecil di mana anak masih memberikan respons terhadap bunyi. dan TN dicatat pada kemampuan mana anak tidak bisa mengerjakan. daftar pertanyaan terbagi menjadi 3 kelompok penilaian kemampuan. Bila semua jawaban pada kemampuan ekspresif dan reseptif adalah “Tidak” dengan kemampuan visual normal berarti ada kelainan pada daya dengar (Kode TN/Tidak Normal). Pertanyaan berbeda untuk 8 kelompok usia. 4. sehingga dapat dipastikan ambang pendengaran pada kedua telinga dan lokasi lesi auditorik. 2. Dengan teknik ini.4. Berdasarkan alur skrining pendengaran bayi HTA 2006 (Lampiran 1). sampai usia mana anak bisa mengerjakan tes tersebut. 3. Untuk tiap kelompok usia.

Tatalaksana Apabila ditemukan adanya gangguan pendengaran sensorineural harus dilakukan habilitasi berupa amplifikasi pendengaran. pemeriksaan perkembangan motorik. pemeriksaan THT. Untuk bayi yang lulus skrining namun mempunyai faktor risiko terhadap gangguan pendengaran. Selain itu. Bila tidak lulus. Bila tetap tidak lulus. dapat terjadi pada ibu hamil dan misalnya untuk rubela. 6. sehingga proses fitting ABD bayi lebih optimal. Sebaiknya pemeriksaan tersebut diatas dikonfirmasi dengan Behavioral Audiometry. Bila ternyata ABD tidak dapat membantu. Dalam hal pemasangan ABD harus dilakukan seleksi ABD yang tepat dan proses fitting yang sesuai dengan kebutuhan sehingga diperoleh amplifikasi yang optimal. Akhir-akhir ini ambang pendengaran yang spesifik pada bayi dapat ditentukan melalui teknik Auditory Steady State Response (ASSR). maka pada usia 36 bulan kemampuan wicara anak tidak berbeda jauh dengan anak yang memiliki pendengaran normal. misalnya dengan alat bantu dengar (ABD). yang hasilnya dianggap sebagai prediksi audiogram. Rekomendasi dari American Joint Committee on Infant Hearing (JCIH) yang ditetapkan berdasarkan banyak penelitian menyatakan bahwa bila skrining pendengaran pada bayi telah dimulai pada usia 2 hari. bayi/anak juga perlu mendapat habilitasi wicara berupa terapi wicara atau terapi audioverbal (AVT) sehingga dapat belajar mendeteksi suara dan memahami percakapan agar mampu berkomunikasi dengan optimal. sehingga untuk dilakukan secara teratur. kemudian diagnosis dipastikan pada usia 3 bulan sehingga habilitasi yang optimal dapat dimulai pada usia 6 bulan. Proses fitting ABD pada bayi/anak jauh lebih sulit dibandingkan orang dewasa. sedangkan BERA bone conduction diperiksa bila ada pemanjangan masa laten (gangguan pendengaran konduktif). faktor genetik . salah satu alternatif adalah implantasi koklea. 5. pemeriksaan pendengaran baik secara subyektif maupun obyektif. tetap dilakukan pemeriksaan DPOAE dan AABR pada usia 3 bulan. Diagnosis Ditegakkan berdasarkan anamnesis. kemampuan berbicara serta psikologis. segera dilanjutkan dengan pemeriksaan audiologi lengkap. maka dianjurkan 33 . Pencegahan Mengingat tingginya angka infeksi yang anak maka perlu dilakukan imunisasi pemeriksaan kehamilanpun dianjurkan Apabila diketahui kemungkinan adanya untuk konseling genetik. segera dilakukan pemeriksaan BERA stimulus click + tone burst 500 Hz atau ASSR. Terhadap bayi yang lulus skrining awal. 7.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit DPOAE dan AABR pada usia 3 bulan. dianjurkan untuk follow up sampai anak bisa berbicara.

Willianson RE.edu. Kebidanan dan Kandungan. Diagnosis gangguan pendengaran ditegakkan sebelum usia tiga bulan dan dilanjutkan dengan tatalaksana sebelum usia enam bulan. and Guidelines for Early Hearing Detection and Intervention Programs.106:789-817. (Rekomendasi B LoE IIb) 2. Harvard Medical School Center for hereditary deafness. (Rekomendasi C LoE IV) 3. Joint Committee on infant hearing.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit REKOMENDASI HTA 1. 7. dan ahli audiologi dalam hal penatalaksaan pasien. 5. (Rekomendasi B LoE IIb) 4. Keana MA. h. h. Suwento R. Skrining pendengaran dilakukan pada semua bayi baru lahir dengan atau tanpa faktor risiko. Clinical Audiology: An introduction. Zizlavsky S. Year 2000 Position Statement: Principles 2. San Diego: Singular Publishing Group. Pediatrics 2000. 34 . Daftar Pustaka 1. dan bimbingan teknologi untuk meningkatkan jumlah dan kompetensi SDM berkaitan dengan skrining pendengaran pada bayi baru lahir. 5. Diunduh dari: http://hearing. 4. Skrining dilakukan sebelum bayi meninggalkan RS pada bayi yang lahir di RS dan sebelum usia satu bulan pada bayi yang lahir selain di RS. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Stach BA. pelatihan. Corey DP. Institusi pendidikan dan PERHATI-KL menyelenggarakan kursus.2006 3. Understanding the genetics of deafness. 31-42 Rehm HL. Departemen THT meningkatkan kerjasama dengan cabang ilmu terkait yaitu Departemen Ilmu Kesehatan Anak (Perinatologi dan Neurologi). Edisi ke-6. Dalam: Soepardi EA. Diakses tanggal 10 April 2004. Gangguan pendengaran pada bayi dan anak. Korf BR. penyunting. Iskandar N. Rehabilitasi Medik. Buku ajar ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. 117-61. 6. Fatmawaty. a guide for parents and families. Dalam: Stach BA. 1998. Causes of hearing impairment. Departemen Kesehatan RI berdasarkan asupan dari PERHATI-KL menyusun kebijakan penyediaan fasilitas skrining pendengaran pada bayi dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi setempat. Hendarmin H. 2007. Peranan Tes Daya Dengar (TDD) untuk deteksi dini gangguan pendengaran pada anak dengan keterlambatan wicara.harvard. Psikiatri. Skrining pendengaran di Indonesia dilaksanakan dengan alur sebagai berikut: (terlampir dalam lampiran 2). Tesis S2 Departemen IKA FKUI/ RSCM.

6 Hipotiroid kongenital memberikan menifestasi klinis sebagai berikut: 1. dan sering tersedak pada satu bulan pertama) 2. banyak tidur (somnolen). Pada sejumlah kasus defisiensi tiroid dapat menunjukkan gejala yang berat yang tampak pada minggu-minggu pertama kehidupan dan pada derajat defisiensi yang ringan gangguan baru bermanifestasi setelah usia beberapa bulan.000 bayi dilahirkan setiap tahunnya.3% kasus berumur 1-5 tahun.000. Tangisan parau (hoarse cry) 5. HK merupakan suatu penyakit bawaan yang dapat disembuhkan secara total jika pengobatan dilakukan sejak dini.2 Di Indonesia dengan populasi 200 juta penduduk dan angka kelahiran 2% berarti ada 4. Disfungsi hipotalamus pituitari (10-15%) Manifestasi klinis Sebagian besar BBL dengan HK adalah asimtomatik karena adanya T4 transplasenta maternal. Agenesis tiroid (20-50%) 3. Konstipasi 4.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit B. Skrining Hipotiroid Kongenital Definisi Hipotiroid kongenital (HK) merupakan kelainan pada bayi sejak lahir yang disebabkan defisiensi sekresi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Berdasarkan data tersebut setiap tahun di Indonesia diperkirakan lahir 1. Prevalensi HK di Jawa Barat adalah 1:3.3 Dalam suatu penelitian deskriptif retrospektif ditemukan 30 kasus HK di Poli Endokrinologi Anak dan Remaja FKUI/RSCM pada tahun 1992-2002 yang terdiri dari 9 anak laki-laki (30%) dan 21 anak perempuan (70%). Dishormogenesis (4-15%) 4. Di antara penyebab-penyebab retardasi mental yang dapat dicegah yang dapat dikenali melalui uji saring pada bayi baru lahir (BBL).7 6.885. lingkar kepala sedikit melebar 7. Ikterus fisiologis yang memanjang 8. kurang nafsu makan. HK merupakan penyebab yang tersering. Berat dan panjang lahir normal.4 Etiologi Etiologi yang spesifik bervariasi pada berbagai negara. Di RSCM pada tahun 1992-2004 terdapat 93 kasus dengan perbandingan perempuan terhadap lakilaki adalah 57:36 (61%:39%). dan tampak lamban6 3.500. Jarang menangis.1 HK merupakan salah satu penyebab terjadinya retardasi mental pada anak. Pada saat datang pertama kali didapatkan 53.1 Epidemiologi Angka kejadian HK di dunia adalah sekitar 1:3. Gangguan makan (malas. Tiroid ektopik (25-50%) 2.143 bayi dengan HK. Lidah besar (makroglosia) sehingga menimbulkan gangguan pernafasan 35 . dan berkurangnya kerja hormon tiroid pada tingkat selular. sementara penyebab lain misalnya phenylketonuria (PKU) lebih jarang. Hanya 3 kasus HK yang terdiagnosis di bawah umur 3 bulan. Pucat5. yang tersering menurut Bourgeois yaitu:5 1.

Pemeriksaan primer TSH merupakan uji fungsi tiroid yang paling sensitif. Peningkatan kadar TSH sebagai marka hormonal. (2) kadar T4 atau free T4 (FT4). 14. 17. dan hipertimpani Pada usia sekitar tiga hingga enam bulan gambaran klinis telah sepenuhnya terlihat. 21. Proton magnetic resonance spectroscopy6 Prosedur skrining Sampel darah dapat berupa darah kapiler dari tusukan tumit bayi (heel stick). Dokter harus mampu mengenali gejala klinis dan tanda hipotiroidisme serta riwayat gangguan tiroid pada keluarga yang mengindikasikan perlunya dilakukan uji tiroid lengkap. 20. Elektromiografi (EMG)9 6.8 Pemeriksaan pencitraan yang dapat menunjang diagnosis hipotiroid adalah sebagai berikut : 1. 10. kardiomegali. 11. regio genitalia. Sebaiknya darah diambil pada hari ke-3 s/d 5 untuk menghindarkan TSH 36 . bahkan bila perlu dilakukan uji tambahan. Elektrokardiografi (EKG) dan ekokardiografi (ECG)5. Pada BBL dari kehamilan multipel yang salah satunya didiagnosis HK maka terhadap bayi lainnya juga perlu dilakukan uji saring ulang. sedangkan selebihnya diketahui berdasarkan pemeriksaan klinis. Ukuran abdomen besar dengan hernia umbilikalis Temperatur tubuh subnormal. Scanning tiroid (menggunakan 99mTc atau 123I)6 2. dan efusi perikardium Anemia (makrositik) yang membaik dengan terapi hematinik Letargi Coarse facial features Fontanel anterior dan posterior paten dengan sutura kranialis lebar8 Retardasi perkembangan fisik dan mental Hipotonia Tanda ileus paralitik: hipomotilitas.6 Diagnosis dan tatalaksana HK harus dilakukan sedini mungkin pada periode neonatal yaitu untuk mencapai perkembangan otak maupun pertumbuhan fisik yang normal. 18. seringkali <35ºC Kulit (terutama ekstremitas) dingin. dari permukaan lateral atau medial dari tumit bayi (Gambar 20 dan 21). Brain Evoke Response Audiometry (BERA)9 8.7 Skrining Hampir 90% kasus HK terdeteksi dengan uji saring. 19. apapun hasil uji saringnya saat lahir. Radiografi (Rontgen tulang/bone age) 4. kering dan berbercak Miksedema kelopak mata. Sebagian kecil anak dapat saja memiliki hasil pemeriksaan yang negatif tetapi selanjutnya ternyata dinyatakan menderita HK. distensi abdomen. karena terapi efektif bila dimulai pada minggu-minggu pertama kehidupan.6 5. 16. Elektroensefalogram (EEG)6 7. 13. dan ekstremitas Frekuensi nadi lambat Murmur. cukup akurat digunakan untuk menapis hipotiroid kongenital primer.7 Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk mendeteksi dini HK adalah (1) kadar TSH. 15. Ultrasonografi (USG)6 3.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit 9. 12.

10 Tetesan darah ditempelkan pada kertas saring Schleicher & Schuell #903TM (S & S 903). Lokasi tusukan tumit Gambar 20.8 Deteksi dini HK akan mencegah keterlambatan perkembangan neurologis dan retardasi mental akibat HK yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Hasil false negative dapat terjadi pada bayi dengan kondisi sakit berat atau setelah mendapat transfusi.3 skrining dilakukan sebelum pemulangan dari rumah sakit atau sebelum transfusi. Spesimen dikeringkan selama 3-4 jam pada suhu kamar Sumber: Rustama DS 37 . tetapi tidak melebihi umur 7 hari. Cara pengambilan spesimen Gambar 21. pengambilan darah bisa ditangguhkan.11 Cara pengambilan spesimen diperlihatkan dalam gambar berikut: Gambar 19. dapat dikirimkan perpos dalam amplop surat. Pada bayi prematur atau bayi yang sakit berat. Spesimen dibungkus dalam amplop Gambar 22. Cara meneteskan darah pada kertas saring Gambar 23.8 Dengan demikian hasil bisa cepat diperoleh dan pada kasus positif memungkinkan pengobatan sebelum bayi berumur 1 bulan.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit surge. Setelah dibiarkan kering selama 3-4 jam.

Bila nilai TSH <20mIU/L dianggap normal. Nilai T4 yang rendah dengan TSH normal atau sedikit meningkat ditemukan pada bayi berat lahir rendah kemudian akan menjadi normal setelah status nutrisinya diperbaiki. Sebagian besar kelainan ini biasanya bersifat sementara. Nilai TSH yang mencapai 10 mIU/l dianggap normal. Semua bayi dengan kadar TSH diatas nilai cut-off dipanggil kembali/recall (Gambar 24). dan T4 rendah.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Kriteria skrining Nilai TSH neonatus diperkirakan dengan metode ELISA menggunakan peroksidase yang dilabeli dengan monoclonal antibody antiTSH ke dalam micro well yang kemudian diukur kadarnya dengan menghitung tingkat absorpsinya. iodida). kadar TSH >20 mIU/L. bayi diberi terapi tiroksin dan dilakukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis.12 Nilai tersebut dapat bervariasi. Bila kadar TSH tinggi. Frekuensi hipotiroidisme sekunder diperkirakan 1:60. dengan double antibody radioimmunoassay. < 6 µg/dL. prematuritas. dan tiroiditis maternal.000 dan sebagai akibat kelainan hipofisis atau hipotalamus. dianggap abnormal dan perlu pemeriksaan lebih lanjut. 10-20 mIU/L dianggap sebagai nilai batas dan >20 mIU/L dianggap abrnormal. hipotiroidisme sementara yang idiopatik.8 Mayoritas bayi hipotiroidisme primer mempunyai nilai TSH >80 μIU/mL. Bila kadar TSH > 50 IU/L perlu dilakukan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan TSH dan T4 serum. Reagen yang digunakan dalam bentuk kit (contoh kit Skybio Ltd dan DPC).13 Gambar 24. terapi maternal (dengan lithium. Tes uji saring dilakukan dengan pengukuran TSH IRMA. penyakit berat. tergantung pada reagen yang digunakan. dan pemeriksaan T4 dengan coated tube radioimmunoassay. Beberapa kondisi hipotiroidisme nonprimer yang berhubungan dengan nilai T4 rendah misalnya hipotiroidisme sekunder. Algoritma skrining hipotiroid kongenital8 38 . > 50 mIU/L. thyroid binding globulin (TBG) rendah.

Penjelasan/penyuluhan kepada orangtua bayi mengenai : • penyebab HK dari bayi mereka. 39 . Tabel 2. atau mengkonsumsi obat antitiroid. apakah ada penyakit tiroid pada ibu atau keluarga. • pentingnya pemeriksaan secara teratur sesuai jadwal yang dianjurkan dokter. bila ada riwayat penyakit autoimun tiroid. • cara pemberian obat tiroksin.  Pemeriksaan fisis untuk mencari tanda dan gejala HK (Tabel 2).  Anamnesis tentang bayi. Bayi dengan hasil TSH tinggi (≥ 50 mIU/L) dan T4 rendah (< 6 µg/dL). Follow up jangka panjang diawali sejak pemberian obat dan berlangsung seumur hidup pada kelainan yang permanen. • Pencitraan. Penatalaksanaan selanjutnya adalah sebagai berikut :  Anamnesis pada ibu. pemeriksaan pertumbuhan tulang (sendi lutut dan panggul).HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Follow up hasil skrining Follow up jangka pendek dimulai dari hasil laboratorium (hasil positif) dan berakhir dengan pemberian terapi hormon tiroid (tiroksin). • pentingnya diagnosis dan terapi dini untuk mencegah hambatan tumbuh kembang bayi. harus dianggap menderita HK sampai diagnosis pasti ditegakkan. harus segera dipanggil kembali untuk pemeriksaan TSH dan T4 serum. lakukan pemeriksaan penunjang : • Sidik tiroid (dengan 123I atau TC99m). Daftar isian pemeriksaan fisis follow up hasil skrining8 Gejala Letargi Konstipasi Kesulitan minum (sering tersedak) Kulit teraba dingin Ya Tidak Tanda Kulit burik Ikterus Hernia umbilikalis Makroglosi Fontanel melebar Perut buncit Tangisan serak Kulit kering Refleks lambat Refleks lambat Ya Tidak   Bila memungkinkan. • Pemeriksaan anti tiroid antibodi bayi dan ibu. Pada bayi dengan hasil tes positif. Tidak tampaknya epifisis pada lutut menunjukkan derajat hipotiroid dalam kandungan. Hasil tes positif membutuhkan penilaian oleh klinisi dan petugas laboratorium yang kompeten dan menjamin diagnosis yang tepat dan akurat.

Untuk mencapai kecukupan obat. Neonatal hypotiroid index 0 Manifestasi klinis 1. kadar T4 harus segera mencapai nilai normal.0 mIU/L).5 1. Konstipasi 3.Hipotonia 5. Seluruh bayi dengan skor > 2 kemudian diperiksa nilai FT4 & TSHs.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Skrining untuk fasilitas terbatas Untuk tingkat pelayanan kesehatan dengan fasilitas terbatas.5cm) 6.Gangguan makan 2. Skrining ini didasarkan pada penilaian terhadap klinis bayi. bayi normal jika skor <2.5 µg/hari (p.11 Pemberian ASI dapat dilanjutkan. dianjurkan selama pengobatan.).o. Garagorri (1989) Pengobatan Setelah dikonfirmasi.3 ng/dL).Makroglosia 7. dapat dipergunakan neonatal hipotyroid index untuk skrining HK (Tabel 3). tujuan terapi adalah menormalisasi kadar TSH sesegera mungkin.Hernia umbilikalis (>0.Typical Fascies Total Skor 1 1 1 1 1 1 1 1. Target terapi adalah mencapai kadar T4 normal dalam 2 minggu dan TSH dalam 1 bulan.10 Sebagai tanda bahwa bayi mendapatkan terapi yang mencukupi.10. Terapi untuk bayi cukup bulan dimulai dengan 50 µg/hari selama 1-2 minggu.Large fontanelle (>0.4-2. Tablet levothyroxine sintetis dilarutkan dalam 5-10 ml air dan diminumkan kepada bayi dengan spuit pada awal menyusu untuk memastikan seluruh obatnya terminum dengan baik.Kulit kering 9. Pemeriksaan ini tidak valid setelah bayi berusia > 6 bulan.5-2. nilai T4 berada diatas nilai tengah rentang kadar T4 normal.5cm) 10. yaitu 130-206 nmol/L (10-16 µg/dL) dan nilai TSH < 5 mIU/L (0. kemudian dosis diturunkan menjadi 37. diagnosis HK ditentukan jika skor 4. Tabel 3. terapi dengan hormon tiroid pada penderita HK harus diberikan secepat mungkin.5 3 13 Sumber : Letarte.11 Dianjurkan untuk memberikan selang waktu minimal 1 jam antara terapi dengan konsumsi susu formula yang mengandung kedelai atau suplementasi besi dan serat. Kondisi ini 40 . Bayi tidak aktif 4.10 Bayi baru lahir biasanya membutuhkan dosis 8-15 µg/kg/hari.Cutis marmorata 8. FT4 18-30 pmol/L (1.

Kondisi hipertiroidisme yang berkepanjangan akibat terapi. agar tercapai IQ mendekati normal.0 mIU/L). tetap harus mempertimbangkan efek samping dari pengobatan yang berlebihan terhadap bayi. dengan konsentrasi TSH serum yang optimal (0. Dosis tiroksin harus disesuaikan dengan klinis bayi.10 Tujuan terapi adalah mencapai tumbuh kembang normal dengan mempertahankan konsentrasi total T4 dan FT4 serum dalam nilai tengah rentang normal sepanjang 1 tahun pertama kehidupan bayi.8. serta harus dilakukan pemantauan konsentrasi FT4 serum secara berkala. Dianjurkan memberikan dosis awal tidak kurang dari 10 ug/kg/hari. Sebagai pedoman.10 Pada umumnya dosis tiroksin bervariasi tergantung berat badan dan disesuaikan respons masing-masing anak dalam menormalkan kadar T4.5-2. dosis yang umum dipergunakan adalah : 0 – 6 bulan 6 – 12 bulan 1 – 5 tahun 5 – 10 tahun > 10 – 12 tahun 25-50 µg/hari 50-75 µg/hari 50-100 µg/hari 100-150 µg/hari 100-200 µg/hari atau 8-15 µg/kg/hari atau 7-10 µg/kg/hari atau 5-7 µg/kg/hari atau 3-5 µg/kg/hari atau 2-4 µg/kg/hari Pemantauan Pemantauan fungsi tiroid dengan pemeriksaan TSH dan T4 atau FT4 dilakukan : Setelah pemberian tiroksin 1-12 bulan 1-2 tahun 2 – 3 tahun > 3 tahun Tiap 2 T4 normal minggu. FT4 > 2 ng/dl dalam 2 minggu pascaterapi inisial. Pemeriksaan FT4 pada 1 minggu pascaterapi inisial dapat mengkonfirmasi peningkatan konsentrasi T4 serum. diharapkan kadar T4 meningkat mencapai > 10 µg/dL. 41 . terkait dengan kejadian premature craniosynostosis.10 Setelah terapi. TSH diharapkan normal dalam 1 bulan pascaterapi inisial.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit dipertahankan terus selama terapi sampai bayi berusia 3 tahun.10 Segala upaya terapi untuk mencapai target tersebut. sampai kadar Tiap 2 bulan Tiap 3 bulan Tiap 4 bulan Tiap 6 bulan Sebaiknya T4 dan TSH diperiksa setelah 2 minggu perubahan dosis tiroksin. serta konsentrasi FT4 serum dan TSH. Kegagalan mencapai target konsentrasi FT4 serum tersebut dalam 2 minggu pascaterapi dan atau kegagalan menurunkan nilai TSH sampai < 20 mIU/L dalam 4 minggu pascaterapi – harus dipikirkan bahwa bayi tidak mendapat dosis terapi yang adekuat.

Alur follow up hasil skrining hipotiroid kongenital Sumber : Pedoman Umum Pelaksanaan Skrining Hipotiroid Kongenital (Pokjanas Hipotiroid Kongenital Kementrian Kesehatan) 42 .HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit • • • • • • Pemantauan lainnya meliputi : Pertumbuhan Perkembangan Fungsi mental dan kognitif Gejala kekurangan/kelebihan dosis tiroksin Tes pendengaran Umur tulang Gambar 25.

1(2):1-5. 95-104. Rustama DS. Tridjaja B. Summer 2009. UKK Endokrinologi IDAI. Fadil MR. Texas Tech University School of Medicine. Silao CL. Dalam : Suryaatmadja M. Primadi A. Departemen Kesehatan. 2. 12. H. Grade of Recommendation B) 5. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI Jakarta. Thyroid function in preterm infant. (Devi) 13. Deliana M. (Deliana) 10. 11. Pulungan AB. 2004. 2005. Newborn S.) 43 . Murray MA. h. Department of Pediatrics. 4. (Level of Evidence IIB. Hipotiroid kongenital (HK).1-13. 9. Primary TSH screen for congenital hypothyroidism. 3. Jakarta: Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Newborn screening in Indonesia. Thyroid 1999. Penapisan hipotiroid congenital. 34 Suppl 3:76-9. Pendidikan berkesinambungan patologi klinik 2005. National Guideline Clearinghouse. 6. 5(2):79-84. Satyawirawan FS. LaFranchi S. Southeast Asian J Tropical Med and Public Health 2003. Bourgeois MJ. 9: 71-8 7. tahun 19922002. (Satyawirawan FS.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Daftar Pustaka 1. Pedoman Umum Pelaksanaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Harahap ER. Prog 8. Sari Pediatri 2003. Pulungan AB. Division of Pediatric Endocrinology and Metabolism. Therell BL. Abad L. Komite Nasional Skrining Hipotiroid Kongenital. 2005. Congenital hypothyroidism. Dalam: David-Padilla C. Hipotiroidisme kongenital di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta. Batubara JR. Update of newborn screening and therapy for congenital hypothyroidism (2006).

3 Shah VA (2005) menyatakan insidens ROP diantara bayi dengan berat lahir sangat rendah sebesar 29. Kejadian ROP menurun pada usia kehamilan 26-28 minggu (OR:4.27. Demikian juga spesialis anak yang merawat bayi prematur dengan risiko ini menyadari akan pengaturan jadwal ini. perkembangan retina yang berjalan dari papil nervus optikus ke anterior selama masa gestasi berlangsung secara tidak lengkap. atau sakit. semakin muda (imatur). Studi yang dilakukan Karna. Perhatian dan perawatan yang efektif diperlukan. Skrining Retinopathy of Prematurity Definisi Retinopathy of Prematurity (ROP) adalah suatu kelainan retina dari bayi prematur berat badan lahir rendah (BBLR) yang dapat berpotensi mengakibatkan kebutaan. berat lahir. durasi ventilasi dan ventilasi tekanan positif yang berlanjut.66). 95% IK: 2.4 Skrining Pada bayi aterm retina berkembang sempurna. 44 . 95% IK: 1. Bayi dengan usia gestasi < 30 minggu dan atau bayi dengan berat lahir < 1. Dilaporkan juga bahwa pemberian oksigen lebih dari 2 minggu meningkatkan insidens ROP berat (OR:4.2%. Faktor risiko utama untuk terjadinya hal tersebut antara lain preeklamsia maternal. serta menggunakan ventilasi dan terapi oksigen secara bijaksana.61 –48. Untuk mencegah ROP. ROP berkembang menjadi suatu masalah yang berarti.52–11.09. Pemeriksaan ini dianjurkan dilakukan oleh seorang spesialis mata yang terlatih dalam skrining ROP pada bayi prematur. Terdapat hubungan bermakna antara ROP dan bayi dengan berat badan yang semakin rendah. mengontrol preeklamsia. dengan tingkat imaturitas retina bergantung terutama pada derajat prematuritas saat lahir.03). dimana bayi prematur yang berisiko mendapatkan pemeriksaan retina yang terjadwal baik.1 %. dan kejadian perdarahan pulmonal.2 Namun dengan meningkatnya harapan hidup bayi prematur dengan berat badan lahir sangat rendah di negara berkembang akibat kemajuan teknologi perawatan neonatus. sindroma distress respiratori. diperlukan pencegahan terhadap kejadian prematuritas. Epidemiologi Prevalensi ROP pada studi di Panti Netra di Indonesia melaporkan prevalensi ROP sebesar 1. Usia median untuk onset ROP adalah 35 minggu (dari 3140 minggu) usia postmenstrual.11) dibandingkan pada usia kehamilan 25 minggu (OR:11.1 Faktor risiko Beberapa keadaan dilaporkan sebagai faktor risiko berkembangnya ROP pada bayi prematur/BBLR. pada bayi prematur.05–16. 95% IK: 1. dkk (2004) terhadap faktor risiko terjadinya ROP.1. dikatakan bahwa jenis kelamin.12. dan ROP tidak dapat terjadi.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit C.000 g merupakan ambang batas risiko ROP. terapi 36 minggu usia pasca konsepsi dan penggunaan steroid prenatal tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap ROP berat. Namun.

85% di antaranya berespon baik dengan terapi laser ataupun krioterapi. Perlu diingat bahwa parameter skrining ini dapat berbeda antar negara yang satu dengan lainnya. Pengakhiran skrining: Skrining dilanjutkan sampai tidak mempunyai risiko lagi terhadap berkembangnya ROP secara serius: • Regresi ROP dengan terapi • Vaskularisasi matur secara lengkap di seluruh retina • Matur sampai zona 3 tanpa ROP • Usia gestasi 45 minggu dan tanpa adanya threshold disease atau perburukan ROP 45 . Identifikasi dini dilanjutkan dengan terapi yang dilakukan dalam kerangka waktu yang tepat. Tujuan skrining Tujuan suatu program skrining yang efektif adalah untuk mengidentifikasi bayi prematur yang memerlukan terapi ROP (ROP threshold.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit a. akan dapat mencegah kebutaan. namun sebetulnya kebutaannya dapat dicegah. dan dari 15% yang mengalami progresi . alternatif teknik baru skrining • Penulisan dan penyimpanan data sesuai stand • Informasi untuk orang tua oleh spesialis mata.5%. ROP prethreshold). • RetCam 120. Komite/Pokja Nasional ROP yang dibentuk pada Indonesia National ROP Workshops bulan Januari 2009 di Jakarta merekomendasikan beberapa hal berkaitan dengan bayi prematur dan ROP. dengan didampingi seorang staf NICU/ruang rawat intermediate d. tapi juga dengan meminimalisasi sejumlah pemeriksaan yang penuh stres ini bagi si bayi sakit.Pemeriksaan harus dimulai selama minggu ke 4 atau pada usia postmenstrual 32-33 minggu . Walaupun tanpa terapi. ROP merupakan kelainan yang berpotensi menyebabkan kebutaan. b. Teknik Pemeriksaan Sarana /Prasarana: • Dilatasi pupil dengan tetes mata siklopentolat 0. diantaranya adalah Parameter Skrining ROP pada bayi prematur sebagai berikut:5 .Pemeriksaan terhadap bayi dengan berat lahir lebih besar atau usia gestasi lebih tinggi daripada yang disebutkan di atas dapat dilakukan sesuai permintaan neonatologis/spesialis anak Data bayi yang diperiksa harus dilakukan menurut standar pelaporan yang sudah ditetapkan dan dikeluarkan oleh Komite/Pokja Nasional ROP (lihat lampiran).5% dan fenilefrin 2. 85% kasus ROP dapat mengalami regresi spontan. paling tidak 30 menit sebelum pemeriksaan.Bayi dengan berat lahir <1500g atau usia gestasi <34 minggu harus diperiksa untuk kemungkinan terjadinya ROP .6 c. • Oftalmoskopi indirek sebagai standar baku emas. Pedoman skrining Pedoman Skrining ROP ditetapkan pada banyak negara.

lihat lampiran) Gambar 26. Penundaaan skrining: Apabila keputusan untuk melakukan penundaan skrining dibuat atas alasan klinis. Newborn Services Clinical Guideline. luasnya keterlibatan retina berdasarkan arah jarum jam. (Gambar klasifikasi ROP. Dai S. Klasifikasi Zona ROP Sumber: Kuschel C. stadium atau beratnya retinopati pada persambungan retina vaskuler dan avaskuler (stadium 1-5). maka hal tersebut haruslah merupakan keputusan bersama antara dokter mata dengan tim dokter perinatologi dengan mempertimbangkan risiko penundaan tersebut.Buatlah perencanaan jadwal yang baik untuk pemeriksaan follow-up pada saat pasien akan dipulangkan: 46 . Catatan penting: . Retinopathy of Prematurity. ada/tidaknya dilatasi vena serta lekukan pembuluh darah polus posterior. Keputusan tersebut harus ditulis dalam catatan medik bayi dengan menjelaskan secara jelas alasan ditundanya skrining dan pemeriksaan harus dijadwalkan kembali dalam segera setelah waktu pemeriksaan yang seharusnya.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit • Regresi tanpa terapi dengan pemeriksaan yang stabil e. Klasifikasi ROP The International Classification of ROP (ICROP) mengklasifikasikan kelainan pada ROP berdasarkan : 7 lokasi keterlibatan retina berdasarkan zona (zona 1-3).Kerjasama yang baik antara spesialis mata dan neonatologis/spesialis anak sangat penting untuk mendapatkan hasil yang baik . 2007.

Bayi dengan berat lahir <1500g atau usia gestasi <34 minggu harus diperiksa untuk kemungkinan terjadinya ROP.  Buatlah pasien menyadari tanggung jawabnya untuk membawa bayinya pada pemeriksaan follow-up mata seperti dijadwalkan. Pemeriksaan harus dimulai selama minggu ke 4 postmenstrual 32-33 minggu. Pemeriksaan terhadap bayi dengan berat lahir lebih besar atau usia gestasi lebih tinggi daripada yang disebutkan di atas dapat dilakukan sesuai permintaan neonatologis/spesialis anak.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit  Dokter spesialis anak (neonatologis) dan dokter spesialis mata perlu membuat rencana follow-up pasien.  Sebaiknya tunda pemulangan pasien apabila follow-up mata belum dijadwalkan. (Rekomendasi C LoE IV) Sumber : Komite/Pokja Nasional ROP 2009 47 . Tatalaksana Observasi8 Scleral Buckle Vitrektomi Cryotherapy8 Laser8 Komplikasi Katarak Glaukoma Kerusakan kornea Atrofi nervus optikus Kerusakan pigmen fovea Miopia8 Strabismus8 Ablasi retina8 REKOMENDASI HTA 1. (Rekomendasi C LoE IV) atau pada usia 3. (Rekomendasi C LoE IV) 2.

Jakarta. 123(7):991-999. Risk Factors of Retinopathy of Prematurity Among Very Low Birth Weight Infants in Singapore. Lorenz B. 48 . 5:18. BMC Pediatrics 2005.91(9):1109-13 3 Karna P. Abidin MS.doi: 10. 2009. Muttineni J. Prihartono.098582. 5 Indonesia National Committee on ROP.34:16978. The international classification of retinopathy of prematurity revisited. Br J Ophthalmol.90:1378-82. Karmaus W. Arch Ophthalmol 2005. 4 Shah VA. Ann Acad Med Singapore 2005. Report on The first National ROP Workshops. The Early Treatment for Retinopathy of Prematurity Study: structural findings at age 2 years. Retinopathy of prematurity and risk factors:a prospective cohort study. Prevalence of ROP in Indonesia: results from School for the Blind studies in Java island. Acta Medica Lithuanica 2006. Prihartono J. 8 The Early Treatment for Retinopathy of Prematurity Comparative Group. 7 International Committee for the Classification of Retinopathy of Prematurity. Br J Ophthalmology 2006. 6 International Committee for the Classification of Retinopathy of Prematurity. Arch Ophthalmol 2005. Causes and temporal trends of childhood blindness in Indonesia: study at schools for the blind in Java.HTA Indonesia_2010_Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Daftar pustaka 1 Sitorus RS.13:204-6 2 Sitorus RS. 2007 Sep. 123(7):991-999.1136/bjo. Incidence. The international classification of retinopathy of prematurity revisited. Abidin MS.2006. Angell L.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->