P. 1
05. PTK Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Tematik

05. PTK Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Tematik

|Views: 50|Likes:
Published by Sangkala Peace
jgkj jk l
jgkj jk l

More info:

Published by: Sangkala Peace on Apr 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2013

pdf

text

original

Sections

  • KATA PENGANTAR
  • B. Identifikasi Masalah
  • C. Pembatasan Masalah
  • E. Tujuan Penelitian
  • F. Manfaat Penelitian
  • g. Batasan Istilah
  • A. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar
  • a. Tinjauan Tentang Pelajaran IPA
  • b. Tinjauan Tentang Siswa
  • c. Kerangka Berfikir
  • A. Pendekatan Penelitian
  • C. Subjek penelitian
  • D. Setting Penelitian
  • E. Teknik Pengumpulan Data
  • F. Analisis dan Validasi Data
  • G. Indikator Keberhasilan Penelitian
  • A. Hasil Penelitian
  • A. Simpulan
  • B. Saran
  • DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Penelitian yang berjudul “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Tematik pada Pelajaran IPA Kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga” dibuat dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa. Dalam penyusunan penelitian tindakan kelas ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dalam bentuk bimbingan, saran, maupun dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, selayaknya apabila dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu penulis. Terima kasih penulis ucapkan kepada Burhanuddin, S.Pd., selaku Kepala Sekolah dan St. Aminah selaku observer yang telah mengamati dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus penulis sampaikan kepada rekan-rekan mengajar yang telah memotivasi, mengarahkan, dan memberikan saran selama Penulis melakukan penelitian. Dan juga kepada seluruh siswa kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan yang telah memudahkan Penulis mengurus segala hal yang terkait dengan persoalan administrasi. Semoga Allah Wata’ala memberikan imbalan yang setimpal atas segala bantuan yang diberikan kepada penulis. Akhirnya, besar harapan penulis, kiranya

1

hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan untuk meningkatkan pengajaran IPA.

Bontoala,

Juli 2010

Penulis

2

DAFTAR ISI

Halaman judul Halaman pengesahan Kata Pengantar ………………………………………………………… Daftar isi ………………………………………………………………… 1 3

BAB I

Pendahuluan 4 9 9 10 10 10 11

A. Latar Belakang Masalah ………………………………… B. Identifikasi Masalah ……………………………………… C. Pembatasan Masalah ……………………………………… D. Perumusan Masalah ……………………………………… E. Tujuan Penelitian ………………………………………… F. Manfaat Penelitian ………………………………………… G. Batasan Istilah ………………………………………………

BAB II

Kajian Teori 13 15 20 20 21 22

A. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar …….……………………... B. Tinjauan Tentang Model Pembelajaran Tematik ………… C. Tinjauan Tentang Pelajaran IPA …..…………………….. D. Tinjauan Tentang Siswa ……………………………..……. E. Kerangka Berfikir …………………………………..……. F. Hipotesis Tindakan ………………………………….………

BAB III.

Metode Penelitian 23 23 24 28 28 28

A. Pendekatan Penelitian ……………………………………… B. Desain Penelitian dan Proses tindakan …………………….. C. Pengembangan dan Pengkajian Instrumen Tindakan ………. D. Subjek Penelitian ………………………………………… E. Setting Penelitian …………………………………………… F. Teknik Pengumpulan data …………………………….……

3

G. Analisis dan Validasi Data …………………………………………. H. Indikator Keberhasilan Penelitian…………………………………..

29 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian……………………………………………………… B. Pembahasan…………………………………………………………. 33 39

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan……………………………………………………………... B. Saran………………………………………………………………….. DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….. 46 46

48

4

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Tidak dapat dipungkiri bahwa yang turut menentukan sikap, mental, perilaku, kepribadian dan kecerdasan anak adalah pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang diberikan dan dialami serta dilalui mereka sejak kecil. Jika diijinkan saya mengutip sebuah kalimat indah atau kata bijak yang dikemukakan oleh Carla Rinaldi dalam 30 Kiat Mencetak Anak Kreatif Mandiri (2006.5), “Kesuksesan dalam pendidikan anak sejak dini bergantung pada apakah pendidikan itu dapat berhubungan dengan lingkungan belajar di rumah dan di sekolah. Hal itu di dasarkan pada interaksi dan komunikasi antara anak, guru dan orang tua”. Kalimat di atas saya hubungkan dengan kegiatan pembelajaran yang di lakukan oleh guru. Suatu kegiatan pembelajaran akan sangat bermakna bagi peserta didik, apabila kegiatan pembelajaran tersebut mengutamakan interaksi dan komunikasi yang baik antara guru dan peserta didiknya, artinya kegiatan pembelajaran yang dilakukan merupakan tempat bagi peserta didik dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, sehingga tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat terlaksana. Usia 6-8 tahun otak anak masih dalam tahap perkembangan atau mengalami masa kematangan. Pada usia delapan tahun normalnya anak berada pada jenjang kelas dua atau tiga SD yang sebenarnya masih merupakan masa-masa keemasan bagi anak, karena proses menerima dan menyerap berbagai bentuk pengalaman baik dari guru ataupun lingkungan sekitar akan dengan mudah mereka terima. Salah satu komponen yang sangat penting dalam dunia pendidikan adalah guru, guru merupakan ujung tombak pendidikan. Dalam konteks ini, guru mempunyai peranan yang sangat besar dan strategis, karena gurulah yang berada di barisan paling depan dalam pelaksanaan pendidikan. Guru langsung berhadapan dengan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran

5

perbuatan dan perkataan seorang guru harus berkaitan dengan upaya menumbuhkan minat dan interest siswa terhadap sesuatu yang baru dan baik. diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi 6 . Lebih jelasnya kita membaca pemaparan peran guru seperti yang dikemukakan oleh tokoh pendidikan nasional kita Ki Hajar Dewantara. Guru diposisikan sebagai seorang motivator. guru sebagai komponen utama dalam pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi atau bahkan diharapkan mampu melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologiyang berkembang di masyarakat. Guru harus menjadi ihsan yang memiliki integritas sehingga dapat diterima di lingkungannya. yaitu : 1. Jika dilihat dari paparan diatas.yang di dalamnya mencakup kegiatan pentransferan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penanaman nilai-nilai positif melalui bimbingan dan juga tauladan. sudah selayaknya guru memiliki berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugasnya. 2. Ing madya mangun karsa. Guru tidak hanya memberikan suatu pengawasan. Seorang guru merupakan sosok yang memiliki kepribadian yang kuat. Ing ngarsa sung tuladha. maka tugas yang diemban oleh guru memang sangat berat. Apalagi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. tetapi juga selalu memantau perjalanan akademik dan psikis siswa. namun sangatlah mulia. Melalui sentuhan-sentuhan guru di sekolah. Baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkungan sosial. Guru secara terus-menerus harus selalu memberikan sumbangan yang positif kepada dunia pendidikan. agar menjadi guru yang profesional. 3. Untuk itu. Tut wuri handayani. Artinya bahwa seorang guru harus menjadi contoh yang baik. Setiap gerak.

salah satu masalah yang sering dijumpai dalam dunia pendidikan kita adalah tentang prestasi belajar siswa. pendidikan direduksi menjadi sebuah modifikasi behavioral”. harus benar-benar kreatif dalam mengemas dan mendesain proses pembelajaran peserta didik sedapatnya harus dikembangkan secara 7 . perilaku. justru menjadi masa-masa penumpulan otak anak hanya karena strategi. Jika membicarakan anak atau peserta didik. guru sebagai orang yang memberikan stimulus. tujuh kecerdasan proporsional. Masalah ini sepertinya menjadi momok yang cukup menakutkan bagi pelaku-pelaku pendidikan kita. Untuk itu. Guru dan juga dunia pendidikan pada umumnya diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas baik secara keilmuan maupun secara sikap mental yang positif. Guru yang secara langsung bertanggung jawab terhadap bagaimana cara meningkatkan prestasi belajar siswanya. dalam hal ini. untuk memperoleh hasil yang maksimal sesuai dengan tahap perkembangan anak. kepribadian maupun kecerdasan harus tepat sasaran.tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup yang semakin keras. teknik. satuan pendidikan. metode. “Ketidaktahuan akan sesuatu adalah penyakit yang dapat disembuhkan. namun yang paling berhubungan dengan masalah itu adalah guru dan siswanya. maka strategi yang guru gunakan dalam menyampaikan sesuatu. mental. Yang sangat kita khawatirkan dan harus dihindari adalah jangan sampai masa-masa keemasan anak tersebut malah terbalik. strategi atau kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru seyogyanya adalah sesuatu yang benar-benar tepat dan bermakna. Menurut Wilhelm Maxt Wundt. termasuk guru dan siswa juga terkait dalam hal tersebut. metode atau model pembelajaran yang guru sampaikan tidak tepat dan tidak sesuai dengan masa perkembangan anak. Baik itu pemerintah. seorang ahli psikologi menyatakan bahwa pendidikan adalah masalah respons dari stimulus luar. baik yang berupa penanaman sikap. Dari pernyataan Wundt tersebut. dalam proses pembelajaraan.

Atau sambil belajar mengenal hewan ia juga belajar mewarnai. Misalnya. Berdasarkan pemasalahan diatas. mengerti konsep dari tematik. peserta didik tidak merasa sedang mempelajari satu mata pelajaran saja. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. maka guru sebelumnya harus benar-benar mengerti dan paham tentang model pembelajaran tematik. memahami cara menerapkan model pembelajaran tematik. 2. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna. model pembelajaran tematik memiliki beberapa kelebihan. Agar tujuan dari proses pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan yang diinginkan. Menurut Kunandar (2007 : 315). 3. agar dalam aplikasinya tidak terjadi kekeliruan sehingga berpengaruh pada keluaran “hasil” bagi peserta didik. Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik. sambil belajar menyanyi seorang anak belajar alfabet. 8 . Hal itu diharapkan agar peserta didik dapat memperoleh berbagai pengetahuan atau keterampilan hanya dalam satu pertemuan saja. peneliti akan mencoba menerapkan model pembelajaran tematik dalam pelajaran IPA di kelas II SD. Ketika proses pembelajaran berlangsung. yaitu : 1. Artinya guru dapat menerapkan berbagai cara yang baik sebagai stimulus bagi siswa agar kekurangan yang dimiliki oleh siswa yang dianggap Wundt sebagai penyakit dapat disembuhkan dengan cara yang guru lakukan.agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Karena menurut Kunandar dalam Guru Profesional (2007 : 331) model pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Pendekatan tematik adalah sebuah cara untuk tidak membatasi anak dalam sebuah mata pelajaran dalam mempelajari sesuatu.

Pembatasan Masalah 9 .4. Memiliki sikap toleransi. C. Kurangnya kreativitas guru untuk menciptakan model pembelajaran yang tepat. komunikasi. agar dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman belajar siswa yang kurang mendukung terciptanya kemauan belajar siswa. 4. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas. Kurangnya minat guru untuk menerapkan model pembelajaran yang tepat. maka identifikasi masalah yang dapat ditentukan adalah sebagai berikut : 1. Tujuan akhirnya adalah agar peserta didik dapat mengaplikasikan apa yang dipelajarinya. 7. Berdasarkan uraian diatas. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik. peneliti bermaksud mengadakan penelitian di kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga. 2. dan tanggap terhadap gagasan orang lain. Peneliti ingin mengetahui sekaligus membuktikan apakah model pembelajaran tematik merupakan salah satu langkah yang digunakan guru di SD tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar para siswanya. 5. B. 3. Rendahnya prestasi belajar siswa. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerjasama. 6. Mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi. sehingga SD tersebut mendapatkan predikat favorit dan dapat menghasilkan peserta didik yang benar-benar berkualitas serta memahami materi ajar.

yaitu : a. 2. yaitu : 1. F. Tujuan Penelitian Tujuan utama dari penelitian ini peneliti bagi menjadi dua. Manfaat Penelitian Penelitian yang dilaksanakan di SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga ini menurut peneliti memiliki beberapa manfaat. b. Tujuan umum Sebagai motivasi bagi guru agar mau melaksanakan model pembelajaran tematik dan mendorong minat belajar siswa karena menggunakan model pembelajaran yang menarik. Bagi Peneliti Penelitian ini menjadi pengalaman. Tujuan khusus Untuk mengetahui apakah dengan menerapkan model pembelajaran tematik prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan. D. sebagai masukan sekaligus sebagai pengetahuan untuk mengetahui upaya meningkatkan prestasi belajar siswa melalui model pembelajaran tematik. maka pembatasan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran tematik pada pelajaran IPA di Kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga. dan diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan para 10 . Perumusan Masalah Dari batasan masalah diatas maka perumusan masalah yang dapat peneliti rumuskan adalah “Apakah dengan penerapan model pembelajaran tematik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga?” E.Berdasarkan identifikasi masalah diatas. Bagi Guru Hasil penelitian ini dapat membantu proses pembelajaran menjadi lebih baik.

pembelajaran adalah usaha membantu siswa atau anak didik mencapai perubahan struktur kognitif melalui pemahaman. 3. g. berdasarkan aliran psikologi tertentu.guru agar dapat menerapkan model pembelajaran tematik sebagai usaha memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran. Bagi Pembaca Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian berikutnya.baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal . prestasi belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian. perbuatan. Pengertian pembelajaran menurut aliran-aliran tersebut sebagai berikut: Menurut psikologi daya pembelajaran adalah upaya melatih daya-daya yang ada pada jiwa manusia supaya menjadi lebih tajam atau lebih berfungsi. Sedangkan menurut psikologi kognitif. Menurut W. Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian pembelajaran dapat diartikan secara khusus. 11 . Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Jadi prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai menurut kemampuan yang tidak dimiliki dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu.hal yang dikerjakan atau dilakukan“. Bagi Siswa Dengan penelitian ini diharapkan prestasi belajar siswa meningkat 4. Batasan Istilah. Psikologi humanistik.J.S Purwadarminto ( 1987: 767 ) menyatakan bahwa “prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik . 1. yang berarti proses. cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. pembelajaran 2. ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”.

Definisi lain dari model adalah abstraksi dari sistem sebenarnya. 1984:75). 2001: 24-25). ragam) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan (Departemen P dan K. 12 . dalam gambaran yang lebih sederhana serta mempunyai tingkat presentase yang bersifat menyeluruh. 1983: ix – xii). Model adalah pola (contoh. atau model adalah abstraksi dari realitas dengan hanya memusatkan perhatian pada beberapa sifat dari kehidupan sebenarnya (Simamarta. 3.adalah usaha guru untuk menciptakan suasana yang menyenangkan untuk belajar (enjoy learning). acuan. yang membuat siswa dipanggil untuk belajar (Darsono.

” Kemudian Hamalik (1983:2). 13 . Berdasarkan pendapat diatas. penulis berkesimpulan bahwa prestasi adalah segala usaha yang dicapai manusia secara maksimal dengan hasil yang memuaskan. keterampilan dan nilai sikap.S Purwadarminto ( 1987: 767 ) menyatakan bahwa “prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik . Tinjauan Tentang Prestasi Belajar Menurut Adi Negoro.baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal . yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah laku manusia. mendefinisikan belajar adalah “suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Perubahan itu bersifat secara relatif konstant. belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. pemahaman. sedangkan menurut W.J. berpendapat belajar adalah “suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.” Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan.” Selanjutnya Winkel (1996:53). Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.hal yang dikerjakan atau dilakukan“. prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasil dan prestasi itu rnenunjukkan kecakapan suatu bangsa. Menurut Slameto (1995:2).BAB II KAJIAN TEORI A.

Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. prestasi belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian. maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima.Sehubungan dengan prestasi belajar. Pengertian lainnya. Poerwanto (1986:2) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.” Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai menurut kemampuan yang tidak dimiliki dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas. karena kegiatan belajar merupakan proses. affektif dan psikomotor. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif. sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. 14 .” Sedangkan menurut S. merasa dan berbuat. sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir.

aspek kurikulum. Menurut Yunanto (2004:4). Dengan kata lain pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang 15 .” Dalam pembelajaran. Dasar pertimbangan pelaksanaan pembelajaran tematik ini merujuk pada tiga landasan. atau sikap baru pada saat seseorang individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan. pembelajaran tematik adalah pembelajatan terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi yang terdapat di dalam beberapa mata pelajaran dan diberikan dalam satu kali tatap muka. yaitu landasan filosofis. Selanjutnya menurut Kunandar (2007:311). keterampilan. dan aspek belajar mengajar. pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu. tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh. “Tema merupakan alat atau wadah untuk mengedepankan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh. Pembelajaran tematik dikemas dalam suatu tema atau bisa disebut dengan istilah tematik. Tinjauan Tentang model pembelajaran Tematik 1. “Pembelajaran merupakan pendekatan belajar yang memberi ruang kepada anak untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar. Pendekatan tematik ini merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan. Ditinjau dari pengertiannya. dan yuridis.B. Pengertian Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik merupakan implementasi dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jadi.” “Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraa” Depdiknas (2007:226). memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. kemahiran dan nilai pembelajaran serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. psikologis.

4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik. Pendekatan pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). 3) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan. 5) Peserta didik lebih mampu merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas. Tema tersebut diharapkan akan memberikan banyak keuntungan. 16 . termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama peserta didik dengan memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik. Tema dalam pembelajaran tematik menjadi sentral yang harus dikembangkan. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Dalam pelaksanaannya. 2) Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt. di antaranya: 1) Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu.menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik.

6) Peserta didik mampu lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata. komunikasi. dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa. 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui peserta didik di lingkungannya. Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat. indikator serta isi mata pelajaran dalam pembelajaran tematik akan terjadi penghematan karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan. misalnya: kerjasama. 17 . bukan merupakan tujuan akhir. untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain. Adapun ciri khas pembelajaran tematik di antaranya: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa sekolah dasar. Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi pelajaran secara utuh pula. pemantapan. Pembelajaran tematik mempunyai ciri khas dan karakteristik tersendiri. waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial. 4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa. atau pengayaan. 3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama. Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat. 7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan. Penggabungan beberapa kompetensi dasar. 2) Kegiatan yang dipilih dalam pembelajaran tematik bertitik tolak dari minat dan kebutuhan siswa. dan tanggap terhadap gagasan orang lain. toleransi.

biologi. kimia. 2. maka dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. jam pelajaran. dan seni. tema “Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran fisika. Hubungan antar mata pelajaran dan topik dapat diajarkan secara logis dan alami. atau topik dari berbagai sudut pandang. Sebagai contoh. bahasa. Pengembangan masyarakat belajar terfasilitasi. Tersedia waktu lebih banyak untuk pembelajaran. Adapun keuntungan pembelajaran tematik bagi siswa antara lain adalah sebagai berikut: 18 . Materi pelajaran tidak dibatasi oleh jam pelajaran.Karena pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. 3. melainkan dapat dilanjutkan sepanjang hari. menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. atau bahkan empat dinding kelas. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum. Lebih luas lagi. 4. tidak terbatas pada buku paket. dan matematika. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka. Keuntungan pembelajaran tematik bagi guru antara lain adalah sebagai berikut: 1. seperti IPS. 5. situasi. tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain. Dapat ditunjukkan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kontinyu. mencakup berbagai mata pelajaran. Guru dapat membantu siswa memperluas kesempatan belajar ke berbagai aspek kehidupan. Penekanan pada kompetisi bisa dikurangi dan diganti dengan kerja sama dan kolaborasi. Guru bebas membantu siswa melihat masalah.

4. sehingga meningkatkan apresiasi dan pemahaman. Sesuai dengan petunjuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). 4. Pendidikan jasmani. dan 8. 2. dan III SD pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan tematik. daripada hasil belajar. 5. olah raga dan kesehatan. mereka didorong untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan belajar. Matematika. dan kecerdasan. standar itu dapat diperkaya dengan muatan lokal atau ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan. 2. Pendidikan agama. Seni budaya dan keterampilan. Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar kelas. Menghilangkan batas semu antar bagian-bagian kurikulum dan menyediakan pendekatan proses belajar yang integratif. Ilmu pengetahuan alam. 3. Bahasa Indonesia. Ilmu pengetahuna sosial. 3. Mata pelajaran yang harus dicakup adalah : 1. Kaitan Pembelajaran Tematik dengan Standar Isi Dalam kerangka dasar dan struktur kurikulum yang dikeluarkan Badan Standar Nasional Pendidikan. Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa – yang dikaitkan dengan minat. Pendidikan kewarganegaraan. dijelaskan bahwa untuk kelas I. Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide. Dalam pembelajaran tematik. 19 . 2. 5. kebutuhan.1. II. standar kompetensi dan kompetensi dasar yang termuat dalam standar isi harus dapat tercakup seluruhnya karena sifatnya masih minimal. Bisa lebih memfokuskan diri pada proses belajar. 7. 6.

tekun. dan penuh tanggung jawab. Sementara itu Hungerford dan Volk (1990) mendefinisikan IPA sebagai. takni : 20 . gagasan-gagasan. (2005:52). teori dan hukum. terbuka. kritis. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam bentuk kumpulan konsep. b. anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau kelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. cermat. objektif. konsep-konsep yang merupakan representasi dari hal-hal yang telah dialami dan disimpan secara mental. bahwa anak didik mempunyai karakteristik tertentu. dkk (dalam Syaiful bahri Djamarah. Sedangkan sikap yang dibutuhkan dalam metode ilmiah berupa sikap ilmiah yang antara lain berupa hasrat ingin tahu. (1) proses menguji informasi yang diperoleh melalui metode empiris. Tinjauan Tentang Siswa Menurut Yaumil Achir. menguraikan bahwa fokus perkembangan anak pada usia 5-7 tahun ada pada dunia akademis dan intelektual. IPA dapat dipandang sebagai produk yaitu sebagai ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah. yang menonjol adalah banyaknya kata-kata. Menurut Syaiful bahri Djamarah (2005:51). dan (3) kombinasi antara proses berfikir kritis yang menghasilkan produk informasi yang sahih. dalam Reni Akbar-Hawadi (2001 : 39). prinsip. baik melalui pengalaman atau yang diterima secara tidak langsung.a. Untuk periode ini. Menurut Sutari Imam Barnadib. Tinjauan Tentang Pelajaran IPA Carin (1985) mendefinisikan IPA sebagai sistem pengetahuan alam semesta melalui pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi dan eksperimen. jujur. dan dapat juga dipandang sebagai proses yaitu sebagai pola berfikir atau metode berfikirnya. (2) informasi yang diberikan oleh suatu proses yang menggunakan pelatihan yang dirancang secara logis. kerendahan hati.

tema yang disampaikan adalah tentang binatang. Dengan 21 . c. matematika. Kerangka Berfikir MATEMATIKA BAHASA INDONESIA Membaca puisi tentang seekor binatang PENGETAHUAN ALAM Menghitung jumlah binatang yang ada pada gambar Tema : Binatang KERAJINAN TANGAN DAN KESENIAN PENDIDIKAN AGAMA Mewarnai gambar binatang PRESTASI BELAJAR SISWA? Mengajarkan siswa untuk menyayangi semua ciptaan Tuhan Gambar 1. Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu yaitu kebutuhan biologis. dalam proses pembelajaran tematik pada mata pelajaran IPA guru memberikan sebuah tema. intelegensi. rohani. latar belakang sosial. Seperti contoh diatas. pendidikan agama dan kerajinan tangan dan kesenian.1. seperti bahasa indonesia. emosi. 2. Berdasarkan tema tersebut guru mengaitkannya dengan beberapa mata pelajaran lainnya. sosial. Belum mempunyai pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik (guru). latar belakang biologis serta perbedaan individual. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya. Bagan Kerangka Berfikir Berdasarkan gambar 1 tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. kemampuan berbicara. anggota tubuh untuk bekerja. atau dapat juga dihubungkan dengan mata pelajaran yang lainnya. 3.

melatih keterampilan dan kreativitasnya. diharapkan siswa dapat berpikir secara divergen. berpikir kritis. d.melakukan hal tersebut. 22 . Siswa dapat melatih kemampuan berpikirnya. Sehingga dapat menambah pengetahuan siswa. yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajarnya. dalam waktu yang bersamaan siswa dapat belajar beberapa mata pelajaran sekaligus. Hipotesis Tindakan Hipotesis dari penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran tematik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

(2007:3). penelitian tindakan kelas merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Berdasarkan beberapa definisi oleh para pakar di atas. Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini. B. Menurut Kasihani Kasbolah (1998:13). model yang digunakan adalah model Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.BAB III METODE PENELITIAN A. Menurut Suharsimi Arikunto. bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama-sama. desain penelitian merupakan rencana tentang cara mengumpulkan dan menganalisis data agar dapat dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan tujuan penelitian itu. Nasution (2006:23). dkk. Artinya. Desain Penelitian Menurut S. penelitian tindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilakukan di kelas dan bertujuan untuk memperbaiki praktik pembelajaran yang ada. Model penelitian pada penelitian ini merujuk pada proses pelaksanaan penelitian yang dikemukakan oleh Kemmis & Taggart. Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yang langsung berhubungan dengan tugas guru di lapangan. dimana peneliti melakukan observasi dalam kegiatan pembelajaran guru dan siswa di kelas. Suharsimi Arikunto (2007:16-19). maka dapat disimpulkan bahwa pengertian tindakan kelas adalah segala daya upaya yang dilakukan oleh guru berupa kegiatan penelitian tindakan atau arahan dengan tujuan dapat memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pembelajaran. yang meliputi menyusun rancangan 23 .

Perencanaan 2.tindakan (planning). Refleksi II C. Pengembangan dan Pengkajian Instrumen Tindakan 1. Proses penelitian tindakan Keterangan : 1. Putaran pertama atau siklus I a. 2) Observasi Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran awal tentang pembelajaran tematik. Refleksi I 4. pelaksanaan tindakan (acting). pengamatan (observing). dan refleksi (reflecting). Kegiatannya divisualisasikan pada gambar dibawah ini. 24 . Rencana revisi 5. Tindakan dan observasi I 3. Perencanaan Sebelum melaksanakan model pembelajaran tematik direncanakan beberapa kegiatan. Tindakan dan observasi II 6. Gambar 2. yaitu : 1) Pembuatan persiapan pembelajaran tematik pelajaran IPA kelas II SD.

b) Siswa menyebutkan nama-nama binatang tersebut. binatang tersebut adalah kuda.3) Identifikasi permasalahan dalam pembelajaran tematik Kegiatan ini dilakukan agar mengetahui permasalahan apa yang akan dihadapi oleh siswa dan dapat menentukan cara menyelesaikan masalah tersebut. 2) Kegiatan inti a) Guru menampilkan gambar-gambar binatang. badak. g) Siswa membaca puisi secara bersama-sama. kita sebagai manusia harus selalu menyayangi semua ciptaannya. c) Siswa menghitung jumlah binatang yang ada pada gambar. kambing. d) Siswa mewarnai gambar binatang yang telah disiapkan oleh guru. e) Guru menampilkan sebuah puisi yang berjudul kuda. i) Guru memberikan penjelasan bahwa sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. pertanyaannya adalah sebutkan tiga jenis makhluk hidup yang hidup dibumi. f) Guru memberikan contoh cara membaca puisi dengan intonasi yang tepat. dan rusa. 4) Menentukan cara atau metode dalam melaksanakan pembelajaran tematik. Salah satunya adalah menyayangi binatang. h) Beberapa orang siswa maju untuk membacakan puisi tesebut dengan gaya masing-masing. Tindakan dan observasi I 1) Kegiatan awal Pretes : Guru bertanya kepada siswa. sapi. 25 . 5) Menyusun rencana penelitian Pada tahap ini peneliti menyusun serangkaian kegiatan secara menyeluruh berupa siklus tindakan kelas. b.

karena terlihat masih ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam penerapan model pembelajaran tematik. Putaran kedua atau siklus II Putaran kedua atau siklus II dilakukan setelah apa yang dilakukan pada putaran pertama belum sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Refleksi I Dalam kegiatan refleksi ini. maka akan disusun skenario baru untuk melakukan siklus berikutnya. 2. Observasi Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran awal tentang pembelajaran tematik. Di sini. Menentukan cara atau metode dalam melaksanakan pembelajaran tematik. 3). modifikiasi dan atau jika dirasakan sangat perlu. Identifikasi permasalahan dalam pembelajaran tematik Kegiatan ini dilakukan agar mengetahui permasalahan apa yang akan dihadapi oleh siswa dan dapat menentukan cara menyelesaikan masalah tersebut. Pembuatan persiapan pembelajaran tematik pelajaran IPA kelas II SD. peneliti melakukan diskusi dengan guru untuk melihat kendala yang dialami siswa dalam pembelajaran tesebut. c. terlihat pula bahwa guru yang melakukan penerapan model pembelajaran tematik belum bisa menguasai sepenuhnya model pembelajaran tersebut. 5). 4). 1). dan mencari solusi bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi kendala tersebut yang ternyata belum sesuai dengan yang diharapkan maka perlu adanya rancangan ulang berupa perbaikian.3) Kegiatan akhir Pemberian postes Siswa diberi tugas untuk menuliskan lima ekor binatang peliharaan yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. 2). Menyusun rencana penelitian 26 .

binatang tersebut adalah ikan. Salah satunya adalah menyayangi binatang. kelinci. Beberapa orang siswa maju untuk membacakan teks tesebut dengan intonasi yang tepat. Kegiatan akhir Pemberian postes Siswa diberi tugas untuk menuliskan lima ekor binatang peliharaan yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Siswa menyebutkan bagian-bagian binatang tersebut. Guru teks dengan intonasi yang tepat. 4. kambing. Siswa mewarnai gambar binatang yang telah disiapkan oleh guru. c. Kegiatan awal Pretes : Guru bertanya kepada siswa. i. h. d. d. peneliti merasa telah mendapatkan hasil yang memuasakan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran tematik. b. 3. kita sebagai manusia harus selalu menyayangi semua ciptaannya. pertanyaannya adalah sebutkan nama-nama hewan yang ada di sekitarnya. g. 2. e. Hal ini dapat terlihat 27 . Tindakan dan observasi I 1. Guru menampilkan sebuah lagu yang berjudul kucing. Guru memberikan penjelasan bahwa sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.Pada tahap ini peneliti menyusun serangkaian kegiatan secara menyeluruh berupa siklus II tindakan kelas. Siswa menghitung jumlah binatang yang ada pada gambar. Siswa membaca puisi secara bersama-sama. Refleksi II Dalam kegiatan refleksi ini. Guru menampilkan gambar-gambar hewan peliharaan. kucing. Kegiatan inti a. f.

Subjek penelitian Dalam penelitian ini.pada peningkatan nilai ketuntasan belajar yang sudah tercapai pada siklus II. akan menjadi sumber informasi awal tentang prestasi belajar IPA siswa kelas II dan sekaligus menjadi acuan bagi peneliti pada langkah selanjutnya. dimana jumlah siswanya adalah 30 orang siswa. Setting Penelitian Setting penelitian ini adalah lingkungan kelas tempat subjek melakukan kegiatan pembelajaran. E. data yang diambil adalah dokumen hasil belajar siswa (Mata Pelajaran IPA) pada semester sebelumnya. peneliti menutup penelitian tindakan kelas tersebut pada siklus ke dua. Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian tindakan kelas ini. Dari dokumen ini. subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas II A SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga. D. Dokumentasi Dokumentasi adalah riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan yang memuat data dan keterangan. adalah: a. melalui dokumen daftar nilai siswa. 28 . Dalam penelitian ini. Oleh karena itu. C.

Tes Teknik ini pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal dari subjek penelitian (siswa) pada masalah yang akan diteliti. keberanian mengemukakan pendapat dalam diskusi) serta data kendala yang dialami oleh guru dan siswa (perkembangan dan peningkatan hasil belajar dalam setiap akhir siklus). tes (ulangan formatif) diadakan untuk mengetahui dan mengevaluasi keberhasilan tindakan yang dilakukan. 2. beberan (display) data. dan 2. maka penulis menggunakan teknik analisis kualitatif. Analisis dan Validasi Data Untuk menghindari subyektivitas dalam menganalisis data dalam penelitian ini. kerjasama. F. observasi dimaksudkan untuk mencari dan mengamati aspek tingkah laku siswa dalam belajar (meliputi: keaktifan. dan penarikan kesimpulan. 29 . Analisis data tersebut terdiri atas tiga komponen kegiatan yang saling terkait satu sama lain: reduksi data. yang salah satu modelnya adalah teknik analisis interaktif.1. Observasi Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data kehadiran dan pengamatan pelaksanaan tindakan pada tahapan-tahapan siklus 1. Selain itu. dan selanjutnya pada akhir pertemuan setiap siklus.

b. Kriteria yang digunakan adalah teknik kategorisasi standar yang sesuai dengan penentuan Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) Mata Pelajaran IPA dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SD Inpres Bontoala II. dilakukan pula teknik pengumpulan data aktivitas siswa yang diperoleh dengan lembar observasi dan dianalisis dengan langkah sebagai berikut.Reduksi data merupakan proses penyeleksi. Artinya. Berbagai macam data penelitian tindakan yang telah direduksi disajikan dengan rapi dalam bentuk narasi. data siap dibeberkan (disajikan). menyederhanakan. Menganalisa data dan mendeskripsi aktivitas siswa dalam penerapan model pembelajaran tematik dan prestasi belajar siswa. meringkas dan merubah bentuk data mentah yang ada dalam catatan observasi. a. menentukan langkah-langkah guru dalam menerapkan model pembelajaran tematik. tahap analisis sampai pada penyajian data. Setelah direduksi. sebagai berikut: 30 . Menganalisa data. Disamping itu. ke kesimpulan yang telah direvisi pada akhir siklus II. Kesimpulan yang pertama sampai dengan yang terakhir saling terkait dan kesimpulan pertama sebagai pijakan. menentukan fokus. Data yang terkumpul selanjutnya diolah dan dianalisis secara cermat. Penarikan kesimpulan tentang peningkatan atau perubahan yang terjadi dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan sementara yang ditarik pada akhir siklus I.

a.34% dikategorikan sangat rendah b.00) pada setiap akhir pelajaran IPA (Dalam pencapaian presentase daya serap).100% dikategorikan sangat tinggi Adapun SKBM mata pelajaran IPA yang ditentukan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SD Inpres Bontoala II adalah 65. Tingkat penguasaan 35% .54% dikategorikan rendah c. peneliti perlu merumuskan indikator-indikator tercapainya. Tingkat penguasaan 55% . yaitu belum pernah menggunakan model pembelajaran tematik. Indikator Keberhasilan Penelitian Untuk mengukur keberhasilan tindakan.00. Tingkat penguasaan 85% .84% dikategorikan tinggi e. Tingkat penguasaan 65% . ini berarti bahwa setiap siswa di SD Inpres Bontoala II harus mencapai batas standar minimal (65. untuk ketuntasan belajarnya. G.64% dikategorikan sedang d. Indikator keberhasilan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 31 . Berdasarkan prosedur pembelajaran yang dilakukan selama ini. Tingkat penguasaan 0 % .

Tabel 3.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase serta Kategori Ketercapaian Ketuntasan Belajar Peningkatan Prestasi Belajar IPA dengan Penerapan Model Pembelajaran Tematik Bagi Siswa Kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa pada Siklus I dan II Tes Belajar Siklus I Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%) Nilai 65 ke atas Nilai 65 ke bawah Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Siklus II Nilai 65 ke atas Nilai 65 ke bawah 32 .

83 %. tindakan yang dilakukan adalah memberikan tes awal. siswa kelas II SD Inpres Bontoala II penguasaan materinya sekitar 54. Adapun skor prestasi belajar siswa dari tes awal dapat dilihat dari tabel 4.1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar IPA siswa sebelum diberi tindakan adalah 54. sedangkan nilai tertinggi adalah 80 dari nilai tertinggi yang mungkin dicapai yaitu 100 dan nilai terendah adalah 45 dan mungkin nilai terendah yang mungkin dicapai adalah 0.83 % 33 . Nilai Statistik 30 80 45 54. Hasil Penelitian 1. Hal ini menunjukkan bahwa secara klasikal.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. ini menunjukkan bahwa hasil belajar IPA pada tes awal siswa kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa tergolong rendah.1 berikut: Tabel 4.1 Statistik Nilai Hasil Tes Awal Mata Pelajaran IPA Kelas Kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa Statistik Subjek Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-rata Sumber : SD Inpres Bontoala II Dari tabel 4. Hasil Tes Awal Sebelum menerapkan model pembelajaran tematik.83 % sedangkan secara individual nilai yang dicapai terbesar antara 45 sampai dengan 80.

maka rata-rata nilai siswa masuk ke dalam kategori rendah tingkat penguasaan 0 % . 3. 4.100 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi 0 18 6 6 0 0 60 20 20 0 Sumber : SD Inpres Bontoala II Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 30 siswa tidak terdapat siswa yang tingkat penguasaan materinya masuk ke dalam kategori sangat rendah. 0.0 – 34 35-54 55-64 65-84 85.54 %.3 dibawah ini: 34 . 5. 6 orang siswa atau 20 % tingkat penguasaan materinya termasuk kategori sedang. begitupula dengan siswa yang dikategorikan tinggi sebanyak 6 orang siswa atau 20 % dari 30 siswa dan tidak ada satupun siswa yang dikategorikan sangat tinggi. Deskripsi Hasil Siklus I Pada akhir siklus I diadakan tes kemampuan siswa untuk mengetahi hasil belajar IPA dengan materi Bagian-bagian tubuh Hewan yang hasilnya sebagaimana diuraikan pada tabel 4. 2. 2. Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase 1. Bila rata-rata belajar IPAsiswa dimasukkan ke dalam kategorisasinya.Tabel 4. sementara 18 (60 %) siswa yang dikategorikan rendah.2 Distribusi Frekuensi dan Presentase Hasil Belajar Siswa Pada Tes Awal No.

sedangkan nilai tertinggi adalah 85 dari nilai tertinggi yang mungkin dicapai yaitu 100 dan nilai terendah 50 dari nilai terendah yang mungkin dicapai adalah 0.66 % sedangkan secara individual nilai yang dicapai tersebar antara 50 sampai dengan 85 atau dalam rentangan 25 ini menunjukkan bahwa hasil belajar IPA pada akhir siklus I kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa terus meningkat bila dibandingkan dengan nilai rata-rata pada Tes Kemampuan Awal. Jika nilai hasil belajar IPA dimasukkan ke dalam kategori penguasaan.3 Statistik Nilai Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA Kelas Kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa Siklus I Statistik Subjek Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rentang Nilai Rata-rata Sumber : SD Inpres Bontoala II Dari tabel 4. Hasil analisis nilai menunjukkan bahwa secara klasikal siswa kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa penguasaan materinya sekitar 66.66 % 35 .66 % . maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase hasil belajar yang disajikan tabel 4.Tabel 4.4 di bawah ini: Nilai Statistik 30 85 50 25 66.3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar IPA setelah diadakan tindakan pada siklus I adalah 66.

tidak ada siswa yang tingkat penguasaan materinya yang sangat rendah dan 3 orang (10 %) siswa tingkat penguasaan materinya rendah.67 66. 3. adapun skor hasil belajar siswa dari tes siklus II pada tabel 4.5 berikut: 36 .34 Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah 2 20 5 3 0 6. 4.67 % yang tingkat penguasaan materinya tinggi. 85 .100 65-84 55-64 35-54 0.66 10 0 Sumber : SD Inpres Bontoala II Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 30 siswa. Deskripsi Hasil Siklus II Pada siklus ini dilaksanakan tes hasil belajar IPA dengan menggunakan penerapan Model Pembelajaran Tematik yang merupakan kelanjutan dari siklus I. 20 orang siswa atau 66. Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%) 1. 5 orang siswa atau 16.4 Distribusi Frekuensi dan Presentase Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I No.67%) dengan tingkat penguasaan materinya sangat tinggi. 3.66 % yang tingkat penguasaan materinya sedang. dan 2 orang siswa (6.Tabel 4. 5. 2.0 .67 16.

5 Statistik Nilai Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA Kelas Kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa Siklus II Statistik Subjek Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rentang Nilai Rata-rata Sumber : SD Inpres Bontoala II Dari tabel 4.16 % sedangkan nilai tertinggi adalah 95 dari nilai tertinggi yang mungkin dicapai yaitu 100 dan nilai terendah adalah 65 dari nilai terendah yang mungkin dicapai yaitu 0.16 % 37 . maka diperoleh distribusi frekuensi dan presentasi nilai hasil belajar yang disajikan tabel 4.6 di bawah ini: Nilai Statistik 30 95 65 30 75. Jika nilai hasil belajar IPA dimasukkan ke dalam kategori penguasaan.Tabel 4. Hasil analisis nilai siswa menunjukkan bahwa secara klasikal siswa kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa penguasaan materinya sekitar 75.5 di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar IPA setelah diadakan tindakan pada siklus II adalah 75.16 % sedangkan secara individual nilai yang dicapai tersebut antara 65 sampai dengan 95 atau dalam rentangan 30 ini menunjukkan bahwa hasil belajar IPA pada akhir siklus II dibandingkan dengan nilai rata-rata siklus II tinggi.

3. Secara rinci peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa dari siklus I dan II dapat dilihat dalam tabel 4. 4. 4 orang siswa atau 13.6 Distribusi Frekuensi dan Presentase Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II No.0 .67 % yang tingkat penguasaan materinya tinggi.7 berikut ini: Tabel 4.66 0 0 0 26 4 30 2255 75. 26 orang siswa atau 86. Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%) 1.66 66.16 % 75.34 35 . tidak ada siswa yang tingkat penguasaan materinya yang sangat rendah dan juga rendah.16 % 38 .67 0 0 0 Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 30 siswa.34 Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah 4 26 0 0 0 13. Interval Nilai Kategori Siklus / Frekuensi I II 1. 3. 5.6 Distribusi Frekuensi dan Presentase Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II No. 5. 2. 4. 85 .Tabel 4. tidak ada lagi siswa (0 %) yang tingkat penguasaan materinya sedang.54 55-64 65-84 85 .100 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Jumlah Siswa Jumlah Nilai Rata-Rata Prosentase 0 3 5 20 2 30 2000 66. 0 . 2.100 65-84 55-64 35-54 0.33 % yang tingkat penguasaan materinya sangat tinggi.33 86.

Hasil Pelaksanaan Siklus I Pelaksanaan sikus I dengan pokok bahasan “ Mengidentifikasi bagianbagian yang tampak pada hewan dan tumbuhan sekitar rumah/sekolah” dilakukan selama tiga kali pertemuan. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Perilaku siswa dalam kegiatan belajar 1) Dalam penerapan model pembelajaran tematik terlihat bahwa ada 1-3 orang siswa yang kurang aktif mengikuti pembelajaran sehingga kurang 39 . Pada akhir siklus diadakan tes kemampuan siswa yagn hasilnya sebagaimana diuraikan berikut ini: Hal-hal yang teramati pada siklus I ini adalah: a. b. B. Pelaksanaan pembelajaran dengan melakukan kegiatan dan pengamatan oleh siswa sendiri untuk memahami bagian-bagian yang tampak pada hewan dan tumbuhan di sekitar rumah/sekolah di bawah bimbingan dan pengawasan guru selama 6 jam pelajaran. Hal ini mungkin menjadi penyebab kurang seriusnya sebagian siswa melakukan kegiatan dan pengamatan selama proses belajar berlangsung.Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata perolehan siswa setelah dua kali pelaksanaan tes akhir siklus ternyata hasil belajar IPA siswa kelas II SD Inpres Bontoala II melalui penerapan model pembelajaran tematik mengalami peningkatan. yaitu guru dalam pemberian materi pada siswa belum bisa menggabungkan dan memadukan setiap mata pelajaran dalam satu tema. Perilaku guru dalam melaksanakan tiap tahap siklus I Penerapan model pembelajaran tematik belum berjalan sepenuhnya.

2) Tugas siswa belum menampakkan hasil yang cukup signifikan. 2. 40 . Pelaksanaan pembelajaran dengan melakukan kegiatan dan pengamatan oleh siswa sendiri untuk memahami bagian-bagian yang tampak pada hewan dan tumbuhan di sekitar rumah/sekolah di bawah bimbingan dan pengawasan guru selama 6 jam pelajaran. Perilaku guru dalam melaksanakan tiap tahap siklus II Guru telah melaksanakan tahapan siklus II dengan baik yang dibuktikan dengan keberhasilan menampakkan indikator setiap siklus dari model pembelajaran ini hasil kerja siswa menunjukkan peningkatan yang diperlihatkan dengan tidak adanya lagi siswa yang dikategorikan penguasaan materinya rendah. Pada akhir siklus diadakan tes kemampuan siswa yagn hasilnya sebagaimana diuraikan berikut ini: Hal-hal yang teramati pada siklus II ini adalah: a. Hasil Pelaksanaan Siklus II Pelaksanaan sikus I dengan pokok bahasan “ Mengidentifikasi bagianbagian yang tampak pada hewan dan tumbuhan sekitar rumah / sekolah ” dilakukan selama tiga kali pertemuan.mampu berinteraksi dan kurang memahami tujuan dari pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal ini ada kaitannya dengan 1-3 orang siswa yang kurang aktif dalam pembelajan tematik. Hal ini menyebabkan teman-temannya merasa terganggu dan proses pembelajaran tidak terlaksana dengan baik sehingga Standar Ketuntasan Belajar Minimum IPA (SKBM IPA) pada Kurikulum Tingkatan Satuan Pendidikan (KTSP) belum tuntas.

guru tidak memberikan penjelasan tugas setiap siswa dan belum bisa memadukan beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema.7 berikut ini: 41 . Perilaku siswa dalam kegiatan belajar Murid antusias melaksanakan kegiatan dan pengamatan tentang Mengidentifikasi bagian-bagian yang tampak pada hewan dan tumbuhan sekitar rumah/sekolah. Pada siklus I terdapat 1.b.3 murid yang keaktifannya tidak mendukung penyelesaian tugasnya. hasil analisis menunjukkan ketuntasan belajar. setelah dilaksanakan tes / penilaian pada akhir pelajaran. dapat dilihat pada tabel 4. tugas siswa 100 % selesai dan pelaksanaan tes akhir selesai sesuai waktu yang telah ditetapkan. hasil belajar sudah sesuai dengan yang diharapkan sebagaimana ditunjukkan pada penyelesaian tugas dan hasil kerja siswa. Hasil tugas siswa meningkat dari tidak selesai pada siklus I. Semua siswa memperoleh nilai 70 ke atas (SKBM IPA dalam KTSP SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa tercapai / TUNTAS). dan tuntas pada siklus II dengan baik. Gambaran tentang pelaksanaan setiap siklus dan indikator perkembangan dan keberhasilannya. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa pelaksanaan siklus I oleh guru belum sepenuhnya sesuai dengan perencanaan. Pada siklus II berlangsung sesuai rencana.

dengan baik Bahasa Indonesia dengan pelajaran IPA. Perencanaaan Membuat RPP dengan model pembelajaran tematik. Terlaksana 42 .7 Pelaksanaan setiap siklu dan indicator keberhasilannya Siklus Tahap Penerapan Model Pembelajaran Tematik I 1. Model Tematik -Memadukan kegiatan ini Pelajaran terlaksana Matematika. Observasi kegiatan terlaksana dengan baik. Masih terdapat beberapa siswa yang terlihat kuran g aktif dalam proses pembelajaran ini IPA. RPP dengan Terlaksana model pembelajaran tematik (memadukan beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema yang diangkat dari silabus dengan tema “Makhluk Hidup” Kegiatan Indikator Keberhasilan Keterangan * Pelaksanaan 1.Tabel 4. ke dalam satu tema yaitu : Diri Sendiri Membuat RPP namun tidak sesuai dengan model pembelajaran tematik 2.

II 3. bersama dengan Guru menyadari guru melakukan masih ada tes hasil belajar kelemahannya * Refleksi Pembuatan RPP dengan penerapan model pembelajaran tematik. * Observasi Melakukan Sama dengan wawancara siklus guru dengan sebelumnya ketua peneliti. Refleksi Kegiatan ini terlaksana dengan baik Terlaksana * Perencanaan Ulang Disesuaikan dengan hasil observasirefleksi pada siklus I Kegiatan sesuai dengan tahap penerapan model pembelajaran pada siklus I * Pelaksanaan Untuk bahan perencanaan ulang. Sama dengan siklus 43 .

100 Sangat Tinggi Jumlah Siswa Jumlah Nilai Rata-Rata Prosentase 0 3 5 20 2 30 2000 66. sebelumnya Ada ungkapan kepuasan guru Terlaksana dan murid dengan baik melaksanakan model/tipe pembelajaran ini.16 % 75. sebagaimana yagn tersaji berikut ini: Tabel 4. 5.67 6. 3.67 100 II 0 0 0 26 4 30 2255 75. Selanjutnya peneliti memaparkan dalam tabel 4.8 Statistik Perkembangan Prosentase Hasil Belajar Siswa No.16 % % 0 0 0 86.33 100 44 . Tes hasil belajar terlaksana.34 Sangat Rendah 35 .66 66. 4. Interval Nilai Kategori I 1. Guru puas karena semua tahapan di setiap siklus dapat dilaksanakan dengan baik. 8 untuk member gambaran nyata tentang perkembangan keberhasilan siklus per siklus. 2.66 Siklus / Frekuensi % 0 10 16 66.54 Rendah 55-64 Sedang 65-84 Tinggi 85 . 0 .67 13.-Melakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran tematik kepada siswa -Mengetahui hasil belajar siswa kelas II dengan menerapkan model pembelajaran tematik.

33 6.Tes hasil belajar yang dilakukan pada akhir pelajaran menunjukkan adanya peningkatan dari skor rata-rata prestasi belajar sebelumnya 51 % meningkat menjadi 66. meningkat menjadi 75. 65.67 66.00 maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran tematik efektif dalam meningkatkan prestasi belajar (semua siswa mencapai ketuntasan belajar pada siklus II).66 % pada siklus I.16 % pada siklus II. 45 .67 0 sangat tinggi Bila mengacu pada Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) IPA SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa yang tercantum dalam KTSP yakni. 4. Perkembangan prosentase hasil belajar siswa dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik.1 Grafik Perkembangan Prosentase Prestasi Belajar Siswa 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 sangat rendah rendah tes awal sedang siklus I tinggi Siklus II 0 0 0 10 0 0 20 16 20 86.67 60 13.

kami sarankan kepada seluruh stake holder pendidikan untuk segera mensosialisasikan strategi pembelajaran ini.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Saran Berdasarkan hasil analisis penelitian yang dikemukakan di atas. yang pada akhirnya menjadi salah satu soludi peningkatan mutu pendidikan secara global. maka diberikan saran sebagai berikut: 1. 2. Penerapan Model Pembelajaran Tematik perlu diterapkan dalam upaya meningkatkan hasil dan prestasi belajar IPA di SD. maka dapat ditarik kesimpulan antara lain: 1. Pada penelitian ini didapatkan bahwa penerapan model pembelajaran tematik dapat dikembangkan di sekolah-sekolah dasar dan menjadi salah satu strategi belajar yang dapat meningkatkan minat belajar siswa serta profesionalisme guru. Untuk itu. hal ini dapat dilihat dari perkembangan prestasi belajar siswa dari siklus I dan II yang memperlihatkan grafik peningkatan. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dan analisis data yang telah dilakukan dalam dua siklus. Penerapan model pembelajaran tematik efektif meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas II SD Inpres Bontoala II Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. agar dapat segera tersebar 46 . B.

Untuk menerapkan pendekatan tersebut perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan agar ada pemahaman dan komitmen guru menerapkan model pembelajaran tematik tersebut. utamanya guru-guru yang mengajarkan IPS. kiranya serius menangani masalah ini. 2. 3. Untuk itu kami sarankan kepada para penentu kebijakan dalam bidang pendidikan. Semakin sering anda mencoba. Perlu penelitian lanjutan untuk berbagai pokok bahasan dan tingkat kelas untuk melihat sejauh mana efektifitas Model Pembelajaran Tematik tersebut pada setiap bahasansa dan kelas. terutama penyiapan tenaga pelatih/instruktur yang kompoten. semakin banyak pengalaman dan bukti kebenaran tentang keefektifan penerapan model pembelajaran tematik. 47 .luas kepada kalangan pendidik.. Kepada setiap guru kelas kami sarankan silakan coba menerapkan model pembelajaran ini kepada setiap pokok bahasan dan kelas dan kepada semua mata pelajaran.

php?option=com_content&task=view&id=26& temid=9 http://tarmizi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.com/2008/12/04/model-pembelajaran-tematik-kelebihandan-kelemahannya/ http://www. Sugiyono.or.DAFTAR PUSTAKA http://elmuttaqie.damandiri. 2007.wordpress.com/2008/11/18/pengertian-dan-hakekatpembelajaran/ http://ktiguru.com/2008/07/pembelajaran-tematik.blogspot.id/id/index.html http://mgmpips.php?id=323 Kunandar.com/2008/04/09/implikasi-pembelajaran-tematik/ http://mgmpips.com/2008/04/07/arti-penting-pembelajaran-tematik/ http://re-searchengines.wordpress. 2007. 2008.wordpress. Suharsimi Arikunto.id/detail. Metode Penelitian Pendidikan.sch. Jakarta : Rineka Cipta 48 .html http://smamda.wordpress.com/rustanti30708. Bandung : Alfabeta. Manajemen Penelitian. Guru Profesional.

49 .

.Teks Pendek (Cerita Pendek) .Bilangan F. Indikator .Tanya jawab . . D. Materi Pelajaran .RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Tema Kelas / Semester Alokasi Waktu : Keluarga : II / I (Satu) : 5 Jam Pelajaran A.Merupakan nilai tempat ratusan puluhan dan satuan. B.Memahami teks pendek dan puisi anak yang dilisankan . Metode Pembelajaran . dan satuan.Siswa dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan isi bacaan yang didengar.Menyebutkan bagian-bagian tubuh hewan . E. .Bagian-bagian hewan .Melakukan penjumlahan dan pengurangan sampai 500. Kompetensi Dasar: . puluhan.Menulis lambang bilangan ratusan.Penerapan Model Tematik . . . . Standar Kompetensi : .Menyimak cerita bacaan pendek . puluhan dan satuan.Mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.Siswa dapat menulis lambang bilangan ratusan. .Demonstrasi - 50 .Siswa dapat membuat model hewan (ikan) dari kertas . C.Menyebutkan kembali dengan kata-kata atau kalimat sendiri isi teks pendek.Mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan pertumbuhan hewan dan tumbuhan serta berbagai tempat makhluk hidup. Tujuan Pembelajaran .Siswa dapat mendengarkan cerita bacaan pendek yang dibacakan oleh guru.Observasi .Membuat model hewan (ikan) pada papan tulis .Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian tubuh hewan.Menjawab pertanyaan bacaan sesuai dengan isi teks yang didengar.

Uji Petik kerja Produk Kriteria yang dinilai 1. Tes Unjuk Kerja .Pengembangan guru .Buku Pendamping 2. . . Kegiatan Akhir .Guru mendemonstrasikan cara membuat model ikan dari kertas dengan teknik lipat. b. Sumber dan Media Pembelajaran 1.Guru membimbing siswa untuk membuat rangkuman terhadap materi pelajaran yang telah dipelajari.Gambar hewan di lingkungan .Guru menunjukkan gambar hewan dan meminta siswa untuk menyebutkan nama hewan dan bagian-bagiannya. .Kertas .Mengabsen siswa .Memberikan motivasi dengan cara mengajak siswa menyanyi bersama lagu “Kucingku” kemudian mengadakan tanya jawab tentang binatang kucing yang telah dipelajari sebelumnya.Majalah anak-anak . puluhan dan satuan. Tes Unjuk Kerja 2. Tes Tertulis b. . dan urutan kejadiannya.Siswa melakukan kegiatan yang sama. Penilaian 1.Siswa menjawab pertanyaan tentan gisi bacaan.G. .Salam dan berdoa bersama . Kegiatan Awal . . c. Kegiatan Inti . .Buku pembelajaran terpadu tematik untuk kelas 2 SD/MI Tim Bilas. Bentuk Instrumen a. Teknik Penilaian a.Guru membacakan cerita yang dibacakan oleh guru kemudian mencatat nama tokoh.Siswa menuliskan lambang bilangan ratusan. peristiwa. Langkah-langkah Pembelajaran a. Sumber Pembelajaran .Menutup kegiatan dengan memberikan penguatan.Kartu Bilangan H. seperti yang dilakukan guru dan memberikan bimibngan kepada peserta didik yang mendapat kesulitan. Media Pembelajaran . Kerapian lipatan Skor 1–4 51 .

Kepala SDI Bontoala II Bontoala. 19510803 198012 1 001 Sitti Rohani NIP. serta tuliskan bagian tubuh hewan yang ditunjuk. Bentuk 3.Pd. Mengetahui. NIP. Tes Tertulis 1. 19650902 198611 2 001 52 . Juli 2010 Guru Kelas III.S. Amatilah gambar ikan di bawah ini tebalkan dengan menggunakan pensil. Kelengkapan Bagian 4.2. Kreativitas 1–4 1–4 1–4 b. BURHANUDDIN. warnai dan beri nama hewan tersebut.

RUSLI 5 MUH. 53 . IRWAN SIKKI 15 NURHANISA SAFITRI 16 MUHLISA MONTERO 17 ARNITA SARI 18 FENI 19 SYAHRIANI 20 ST. NUZUL WAHID 13 MUSLIM 14 MUH.ZULKARNAIN 9 ALIF RANDI PRATAMA 10 RUSLI 11 ALDIANSYAH 12 MUH.67 SIKLUS II 70 80 65 95 75 75 75 70 70 75 85 75 75 70 75 75 75 90 95 80 70 70 75 70 65 75 70 75 70 70 2255 65 95 75. GOWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK NO. NAMA 1 NUR KHAIDIR 2 MUH.83 SIKLUS I 65 60 50 85 50 65 70 65 50 70 75 70 70 65 60 70 75 75 85 75 60 60 70 65 60 70 65 70 65 65 2000 50 85 66.IQRAM 3 MUJAHID 4 MUH.DAFTAR NILAI MATA PELAJARAN IPA KELAS II SD INPRES BONTOALA II KEC.17 KET. FAHMI 6 RAHMATULLAH 7 ERWIN 8 MUH. FATIMAH 21 RESKI RAMADANI 22 MITA JUNI ANTISARI 23 INDRI 24 NURUL SABRINA 25 MEYHIRA 26 DEWIYANTI 27 NUR EMI 28 KHUSNUL FINNI 29 NUR ALFIRA YANTI 30 NURUL HIKMAH JUMLAH NILAI TERTINGGI NILAI TERENDAH RATA-RATA TES AWAL 50 50 50 80 55 45 45 50 45 50 60 60 50 50 45 65 70 50 60 70 50 50 65 50 55 65 50 50 50 60 1645 45 80 54. PALLANGGA KAB.

54 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->