Nama : Ilham Arrum Y.

M Nim : 1120004 Prodi : D3 Keperawatan/semester 4

GAYA KEPEMIMPINAN Konsep Gaya Kepemimpinan Menurut William H.Newman (1968) dalam Miftah Thoha (2003;262) kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Dan kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan. Kepemimpinan bisa terjadi dimana saja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi perilaku orang lain kearah tercapainya suatu tujuan tertentu. Bahasan mengenai pemimpin dan kepemimpinan pada umumnya menjelaskan bagaimana untuk menjadi pemimpin yang baik, gaya dan sifat yang sesuai dengan kepemimpinan serta syarat-syarat apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik. Kepemimpinan dapat dikategorikan sebagai ilmu sosial terapan (applied social sciences). Hal ini didasarkan kepada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan prinsip-prinsipnya mempunyai manfaat langsung dan tidak langsung terhadap upaya mewujudkan kesejahteraan umat manusia. Kepemimpinan seperti halnya ilmu-ilmu yang lain, mempunyai berbagai fungsi antara lain, menyajikan berbagai hal yang berkaitan dengan permasalahan dalam kepemimpinan dan memberikan pengaruh dalam menggunakan berbagai pendekatan dalam hubungannya dengan pemecahan aneka macam persoalan. Hal ini didasarkan kepada pemikiran bahwa peran seorang pemimpin merupakan implementasi atau penjabaran dari fungsi kepemimpinan. Fungsi kepemimpinan merupakan salah satu di antara peran administrator dalam rangka mempengaruhi orang lain atau para bawahan agar mau dengan senang hati untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Gaya kepemimpinan, mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995).

1

yaitu pemimpin itu sendiri. memberi saran bagaimana menyelesaikan tugastugas itu. pada dasarnya di dalam setiap gaya kepemimpinan terdapat 2 unsur utama. pemimpin hendaknya menghabiskan waktu 2 . Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. 1. bawahan. di mana seorang pimpinan berusaha mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Mengarahkan (directing) Gaya kepemimpinan yang mengarahkan. pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. dan kendali bebas (delegating). Oleh karena itu. serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan.Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya. yaitu unsur pengarahan (directive behavior) dan unsur bantuan (supporting behavior). Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif. yaitu otokrasi (directing). Menurut Hersey dan Blanchard. Dari dua unsur tersebut gaya kepemimpinan dapat menjadi 4 kelompok. minat dan komitmenya. Melatih (coaching) Pada kondisi karyawan menghadapi kesulitan menyelesaikan tugas-tugas. pembinaan (coaching). bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis. Dalam situasi seperti ini Hersey and Blancard menyarankan agar manajer memainkan peran directive yang tinggi. merupakan respon kepemimpinan yang perlu dilakukan oleh manajer pada kondisi karyawan lemah dalam kemampuan. demokrasi (supporting). Dengan demikian pemimpin harus memberi arahan dalam penyelesaian tugas dengan terus menumbuhkan motivasi dan optimismenya. takut untuk mencoba melakukannya. Teori Gaya Kepemimpinan Klasik Teori klasik gaya kepemimpinan mengemukakan. 2. Macam – Macam Pemikiran Gaya Kepemimpinan A. Dalam suatu organisasi.

Pada gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran utama yang ingin dicapai saja. Partisipasi (participation) Gaya kepemimpinan partisipasi. anggota juga diberi keleluasaan untuk menyelesaikan masalahnya. gaya kepemimpinan pembinaan. anggota yang menentukan. Pada gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin masih menunjukkan sasaran yang ingin dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut. Dalam kasus ini pemimpin perlu membuka komunikasi dua arah dan secara aktif mendegarkan dan mengapresiasi para karyawan. Beberapa macam gaya kepemimpinan klasik adalah gaya kepemimpinan otokrasi. Selain itu. maka gaya kepemimpinan yang sesuai adalah gaya “delegasi”. Gaya kepemimpinan kendali bebas merupakan model kepemimpinan yang paling dinamis. 3 . karena dianggap sudah mampu dan mau melaksanakan tugas/tanggung jawabnya. pemimpin mengendalikan semua aspek kegiatan juga berperan sebagai pengawas terhadap semua aktivitas anggotanya . dan membantu karyawan untuk memperoleh keterampilan melalui metode pembinaan. Gaya kepemimpinan demokrasi. Mendelegasikan (delegating) Selanjutnya. sehingga bawahan merasa dirinya penting dan senang menyelesaikan tugas. anggota memiliki peranan yang lebih besar. Dengan gaya delegasi ini pimpinan sedikit memberi pengarahan maupun dukungan. Gaya kepemimpinan pembinaan mirip dengan otokrasi. baik itu sasaran utama maupun sasaran minornya. Gaya kepemimpinan otokrasi. untuk tingkat karyawan dengan kemampuan dan kemauan yang tinggi. adalah respon manajer yang harus diperankan ketika karyawan memiliki tingkat kemampuan yang cukup.mendengarkan dan menasihati. 4. juga anggota diajak untuk ikut memecahkan masalah yang sedang dihadapi. cukup memberikan untuk terus berkembang saja dengan terus diawasi. gaya kepemimpinan demokrasi dan gaya kepemimpinan kendali bebas. tetapi tidak memiliki kemauan untuk melakukan tanggung jawab. Pada gaya delegasi ini tidak terlalu diperlukan komunikasi dua arah. Pemimpin memberitahukan sasaran apa saja yang ingin dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut. Pada kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran yang ingin dicapai saja. 3.

ada empat gaya yang ekstrim dan ada satu gaya yang berada di tengah-tengah gaya ekstrim tersebut. Manajer seperti ini dapat dikatakan sebagai “manajer tim” yang riel (The real team manajer). yaitu:   Bidang pengaruh pimpinan (pemimpin lebih menggunakan otoritas) Bidang pengaruh kebebasan bawahan. Gaya Managerial Grid Gaya managerial grid lebih menekankan kepada pendekatan dua aspek yaitu aspek produksi di satu pihak. dan orang-orang di pihak lain.  Grid 3 manajer memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap orang-orang dalam organisasi. Dalam grid ini manajer hanya berfungsi sebagai perantara menyampaikan informasi dari atasan kepada bawahannya.A. Mengambil contoh kepada manajer dari suatu perusahaan yang berhasil menerapkan gaya kepemimpinan situasional di perusahaan yang dipimpinnya 1. Gaya Kepemimpinan Kontinum Gaya ini pertama sekali dikembangkan oleh Robert Tannenbaum dan warren Schmidt. tetapi perhatian terhadap produksi adalah rendah. Menurut kedua ahli ini ada dua bidang pengaruh yang ekstrim. Manajer seperti ini disebut sebagai “pemimpin club”. Dalam managerial grid. (Pemimpin lebih menekankan gaya demokratis) 2.  Grid 1 manajer sedikit sekali memikirkan produksi yang harus dicapai.  Grid 2 manajer mempunyai perhatian yang tinggi terhadap produksi yang akan dicapai juga terhadap orang-orang yang bekerja dengannya. Blake dan Mouton menghendaki bagaimana perhatian pemimpin terhadap bawahannya. Gaya kepemimpinan situasional model Hersey dan Blancard. 4 .

Ada 4 tingkat kematangan bawahan. M 3 : bawahan mampu tetapi tidak mempunyai kemauan dan tidak yakin. tetapi tidak mempunyai sedikit perhatian terhadap bawahan. maka bawahan atau pegawai merasa diperhatikan oleh pemimpin. Hal ini didukung oleh Sinungan (1987) yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang termasuk di dalam lingkungan organisasi merupakan faktor potensi dalam meningkatkan produktivitas kerja. Secara langsung maupun tidak langsung mempunyai pengaruh yang positif terhadap peningkatan produktivitas kerja karyawan atau pegawai. Harsey & Blanchard mengembangkan model kepemimpinan situasional efektif dengan memadukan tingkat kematangan anak buah dengan pola perilaku yang dimiliki pimpinannya. baik melalui efisiensi atau efektivitas pelaksanaan kerja. banyak para ahli yang menawarkan gaya Kepemimpinan yang dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Dalam hal ini pimpinan atau pemimpin perlu membuka komunikasi dua arah (two way communications). Dewasa ini. 5 . dalam hal ini pemimpin harus aktif membuka komunikasi dua arah dan mendengarkan apa yang diinginkan oleh bawahan. sehingga diharapkan produktivitas kerjanya akan meningkat. yang mampu tetapi tidak mau melaksanakan tugas atau tangung jawabnya. karena manejer seperti ini lebih menekankan produksi yang harus dicapai organisasinya. adalah manajer yang menggunakan gaya kepemimpinan yang otokratis (autrocratic task managers). dimulai dari yang paling klasik yaitu teori sifat sampai kepada teori situasional. Untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Grid 4. Dengan penerapan gaya kepemimpinan situasional ini. GAYA KEPEMIMPINAN SITUASIONAL DAN PRODUKTIVITAS KERJA Gaya kepemimpinan. Selanjutnya. Gaya kepemimpinan situasional dianggap para ahli manajemen sebagai gaya yang sangat cocok untuk diterapkan saat ini. yaitu untuk membantu bawahan dalam meningkatkan motivasi kerjanya. maka gaya kepemimpinan situasional yang paling baru dan sering di gunakan pemimpin saat ini. M 2 : bawahan tidak mampu tetapi memiliki kemauan dan keyakinan bahwa ia bisa. yaitu:    M 1 : bawahan tidak mampu dan tidak mau atau tidak ada keyakinan. Dari beberapa gaya yang di tawarkan para ahli di atas.

perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. Ada 4 gaya yang efektif untuk diterapkan yaitu:   Gaya 1 : telling. pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan untuk bertanya bila kurang jelas. Model Kepemimpinan Kontinum (Otokratis-Demokratis). pertama bidang pengaruh pimpinan kedua bidang pengaruh kebebasan bawahan. di mana wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan. Kedua ahli menggambarkan gagasannya bahwa ada dua bidang pengaruh yang ekstrem . Managerial Grid menekankan bagaimana manajer memikirkan produksi dan hubungan manajer serta memikirkan produksi dan hubungan kerja dengan manusianya. Gaya kepemimpinan managerial grid dipelopori oleh Robert R Blake dan Jane S Mouton. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama untuk mencapai tujuan. di mana si pemimpin senang menerima saran. 4. M 4 : bawahan mampu dan memiliki kemauan dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas. pada umumnya dinilai bersifat negatif. pengambilan keputusan cepat. pemimpin memberikan kesempatan untuk menyampaikan ide-ide sebagai dasar pengambilan keputusan. pemimpin memberi instruksi dan mengawasi pelaksanaan tugas dan kinerja anak buahnya. gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain. Selain bersifat negatif. yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis. pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas kepada bawahannya.   Gaya 3 : participating. Gaya 4 : delegating. Perilaku otokratis. KONTINUM GAYA KEPEMIMPINAN Gaya kepemimpinan kontinum dipelopori oleh Robert Tannenbaum dan Warren Schmidt. pendapat dan bahkan 6 . Gaya 2 : selling. dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. Perilaku demokratis. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara.

melainkan memiliki kecenderungan yang terdapat di antara dua sisi ekstrim tersebut. Ketujuh perilaku inipun tidak mutlak melainkan akan memiliki kecenderungan perilaku kepemimpinan mengikuti suatu garis kontinum dari sisi otokratis. b. Aspek Positif Dalam Konflik Konflik bisa jadi merupakan sumber energi dan kreativitas yang positif apabila dikelola dengan baik. resistensi terhadap perubahan. Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif. MANAJEMEN KONFLIK Definisi Konflik merupakan situasi yang terjadi ketika ada perbedaan pendapat atau perbedaan cara pandang diantara beberapa orang. Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka. 7 . kenyataannya perilaku kepemimpinan ini tidak mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan yang ekstrim di atas. Penyebab Konflik dapat berkembang karena berbagai sebab sebagai berikut: 1. d. apatis. Memberikan saluran baru untuk komunikasi. dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalam organisasi baik secara perorangan maupun kelompok. bukan kerjasama. berupa penolakan. dalam upaya mencapai satu tujuan sehingga mereka berada dalam posisi oposisi. Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi. Menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi. c. acuh tak acuh. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) mengelompokkannya menjadi tujuh kecenderungan perilaku kepemimpinan. kelompok atau organisasi yang memiliki tujuan dan pandangan berbeda.kritik dari bawahannya. Misalnya: a. 1. Batasan pekerjaan yang tidak jelas dapat memicu suatu konflik dikarenakan adanya individu yang tidak tahu pekerjaanya dan dapat mengganggu kinerja dari orang lain.

6. 5. departemen atau organisasi.2. Konflik ini sering terjadi karena seseorang secara konstan berinteraksi dengan orang lain. seperti: Manajer sering mengalami konflik dengan teman sesama manajer. Hambatan komunikasi jika komunikasi dalam suatu komunitas tidak berjalan lancer dapat terjadi konflik. Misalnya. juga dapat memicu konflik dikarenakan adanya standar. 4. jika dalam suatu komunitas tidak dapat memanagi waktu dengan baik dalam mencapai target yang ditentukan. Intrapersonal Konflik yang terjadi pada individu sendiri. Tekanan waktu Tekanan waktu juga memicu adanya konflik. peraturan dan kebijakan yang tidak dapat diwujudkan. 8 . Perbedaan status Perbedaan status juga termasuk pemicu munculnya konflik. Antar kelompok ( inter grup ) Konflik terjadi antara dua atau lebih dari kelompok orang. atasan dan bawahannya. KATEGORI KONFLIK Kategori konflik terbagi menjadi 3 antara lain yaitu: 1. peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal. 3. peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal Standar. Pertikaian antar individu Pertikaian antar individu juga dapat memicu adanya konflik karena akan muncul apabila tidak adanya kerjasama atau mencari pembenaran antar individu masing-masing. 2. Sumber konflik jenis ini adalah hambatan dalam mencapai kekuasaan dan otoritas ( kualitas jasa layanan ). karena adanya yang merasa superioritas/diatas dari pada yang lain. dan kondisi seperti ini dapat menimbulkan kesalahpahaman. Keadaan ini merupakan masalah internal untuk mengklarifikasi nilai dari konflik yang terjadi.tujuan dan keyakinan berbeda.manajer mungkin merasa konflik intrapersonal dengan loyalitas terhadap profesi keperawatan. 3. Interpersonal Konfik interpersonal terjadi antara dua orang atau lebih dimana nilai . loyalitas terhadap pekerjaan dan loyalitas kepada pasien. Standar.

E. Konflik ini disebut juga sebagi konflik “affective”s. C. B. ketakutan . PENGELOLAAN KONFLIK Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan: 1. Konflik yang Nampak atau sengaja dimunculkan Konflik yang sengaja dimunculkan untuk dicari solusi. Manajer perawat harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi. memerlukan suatu upaya dan strategi untuk mencapai ujuan organisasi. Kondisi tersebut memicu pada ketidak stabilan suatu organisasi dan kualitas produksi. ketidakpercayaan dan marah. Flet Konflik ( Konflik yang dirasakan ) Konflik yang terjadi karena adanya suatu yang dirasakn sebagai ancaman . Konflik Laten Tahapan konflik yang terjadi terus menerus ( laten ) dalam suatu organisasi. Misalnya kondisi tentang keterbatasan staff dan perubahan yang cepat. D.PROSES KONFLIK Proses konflik dibagi menjadi beberapa tahapan : A. Misalnya. Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan: Konflik dapat dikelola dengan mendukung perawat untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya. Sedangkan penyelesaian konflik dalam suatu organisasi . Setiap orang secara tidak sadar belajar menggunakan kompetisi . kekuatan dan agresivitas dalam menyelesaikan konflik. 9 . Perawat junior maupun senior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang atau jabatan yang lebih tinggi. hal ini penting bagi seseorang untuk menerima konflik dan tidak merasakan konflik tersebut sebagai suatu masalah atau ancaman terhadap keberadaannya. Konflik ini akan menjadi masalah besar kalau tidak segera diatasi. Konflik “ aftermath “ Konflik yang terjadi akibat dari tidak terselesaikannya konflik yang pertama. Disiplin: Mempertahankan disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik. Tindakan yang dilaksanakan mungkin mencari penyelesaian konflik. 2. Resolusi Konflik Adalah suatu penyelesaian masalah dengan cara memuaskan semua orang yang terlibat di dalamnya denga prinsip “ win – win solution “ .

Metode ini mungkin bisa memicu konflik tetapi bisa jadi merupakan metode yang penting untuk alasan-alasan keamanan. Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari.masing saling memberi dan menerima. E. Menghindar Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri. Kompetisi Gunakan metode ini jika anda percaya bahwa anda memiliki lebih banyak informasi dan keahlian yang lebih dibanding yang lainnya. Kompromi atau Negosiasi Masing . kedua unsure yang terlibat menentukan tujuan bersama dalam mencapai suatu tujuan. Tetapi untuk konflik yang besar misalnya hasil produksi dan tidak dapat dipergunakan. Karena keduanya meyakini akan tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan. mereka dapat merumuskan permasalahan para pegawai sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan. Komunikasi: Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapeutik dan kondusif. Untuk memastikan para manajer perawat telah memiliki pemahaman yang benar. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan mereka untuk membuat keputusan. Smoothing Penyelesaian konflik dengan mengurangi komponen emosional dalam konflik.3. Manajer perawat yang terlibat didalam konflik dapat menepiskan isu dengan mengatakan “Biarlah kedua pihak mengambil waktu untuk memikirkan hal ini dan menentukan tanggal untuk melakukan diskusi” B. 4. Kolaborasi Strategi ini merupakan strategi win-win solution. D. Pada strategi ini individu yang terlibat dalam konflik berupaya mencapai kebersamaan. Pada kolaborasi. F. C. Perawat yang menjadi bagian dalam konflik dapat mengakomodasikan pihak lain. Mengakomodasi Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah. masing-masing meyakininy. serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak. Mendengarkan secara aktif: Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik. Strategi 10 . Strategi konflik A.

Selama negosiasi berlangsung.  Berfikirlah positif dan selalu terbuka untuk menerima semua alternative informasi yang disampaikan dan jujur. anggaran dan pegawai yang terlibat perlu juga diperlihatkan oleh manajer.  SELAMA NEGOSIASI Ada beberapa strategi dan cara yang perlu dilaksanakan dalam menciptakan kondisi yang persuasive. masing-masing yang terlibat menyerah dan lebih menekankan pada mengakomodasi perbedaan-perbedaan antar keduanya. G. maka sebagai negotiator. kelompok yang terlibat tidak mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan. semakin banyak informasi yang didapat maka semakin besar kemungkinan untuk menawarkan negosiasi. Suatu agenda negosiasi yang akan ditawarkan jika alternative negosiasi tidak dapat disepakati. 11 . Karena pengetahuan adalah kekuatan. Langkah-langkah sebelum melaksanakan negosiasi adalah :  Mengumpulkan informasi tentang masalah sebanyak mungkin.  Mempunyai agenda yang disembunyikan. asertif dan komunikasi terbuka:  Pilih fakta-fakta yang rasional dan berdasarkan hasil suatu penelitian. Smeltzer (1991 ) mengidentifikasi dua tipe dasar negosiasi :  Kooperatif (setiap orang menang ). penting untuk Memaksimalkan kemenangan kedua belah pihak untuk mencapai tujuan bersama dan Membuat kedua belah pihak merasa puas terhadap hasil negosiasi. Negosiasi Negosiasi pada umumnya sama dengan kolaborasi dan pada organisasi negosiasi juga diartikan sebagai suatu pendekatan yang kompetitif ( Marquis & Huston.  Dengarkan dengan seksama dan perhatikan respon nonverbal yang Nampak. Efisiensi dan efektifitas terhadap penggunakan waktu.  Kompetitif (hanya satu orang yang menang ).  Memilih alternative yang terbaik tentang sarana dan prasarana. Meskipun dalam negosiasi ada unsur yang menang dan kalah antara kedua belah pihak. 1998 ).kolaborasi tidak akan bisa berjalan bila kompetisi intensif sebagai bagian dari situasi tersebut.

Atur dan rencanakan pertemuan antara individu-individu yang terlibat konflik. 6.  Dengarkan dan tanyakan tentang pendapat yang Anda belum begitu memahami. Merencanakan pelaksanaannya. 3. Diawali melalui penilaian diri sendiri. 7. Mengembangkan dan menguraikan solusi. Hindarkan masalah-masalah pribadi yang disampaikan pada saat negosiasi. PETUNJUK PENDEKATAN SITUASI KONFLIK : 1.  Usahakan bersikap bahwa anda memerlukan suatu penyelesaian yang terbaik. Tinjau kembali dan sesuaikan dengan hasil eksplorasi diri sendiri. tetapi berpikir dan mintalah waktu untuk menjawabnya. Analisa isu-isu seputar konflik. Bersabarlah.  Jangan langsung menyetujui terhadap solusi yang ditawarkan. 12 . 5. tidak hanya memberikan persetujuan. Konsentrasi dan perhatikan. Memilih solusi dan melakukan tindakan. 4. 2.  Selalu diskusikan tentang konflik yang terjadi. Upaya untuk memahami pandangan apa yang disampaikan lawan bicara anda.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful