P. 1
JARINGAN PENGUAT.docx

JARINGAN PENGUAT.docx

|Views: 217|Likes:
Published by Kiki Damayanti

More info:

Published by: Kiki Damayanti on Apr 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2015

pdf

text

original

JARINGAN PENGUAT

Jaringan penunjang tumbuhan terdiri dari kolenkima dan parenkima. Berdasarkan fungsinya juga dinamakan stereom. Kedua bentuk jaringan ini merupakan jaringan sederhana karena sel-sel penyusunnya hanya terdiri dari satu tipe. A. KOLENKIMA Kolenkima terdiri atas sel-sel hidup yang lebih kurang memanjang, yang pada umunya mempunyai dinding yang menebal tidak rata. Kolenkima berfungsi sebagai jaringan penunjang dalam organ musa yang sedang tumbuh, dan pada tumbuhan herba dan pada organ dewasa. Kolenkima bersifat plastis sehingga dapat merenggang secara irrefersibel (tidak kembali kebentuk semula) dengan adanya pertumbuhan organ. Kolenkima dewasa sifatnya tidak lentur, lebih keras, dan lebih rapuh dibandingkan dengan kolenkima muda. Kolenkima memiliki hubungan sifat fisiologis dan morfologi yang sama dengan parenkima. Kolenkima seperti halnya parenkima, dapat mengandung kloroplas, sedangkan kolenkim khusus yang terdiri atas sel yang tipis memanjang, hanya sedikit atau tidak mengandung kloroplas sama sekali. Sel kolenkim dapat juga berisi tanin. Kolenkima terdapat pada batang, daun, bagian-bagian bunga, buah dan akar. Kolenkim berkembang terutama jika mendapat sinar. Kolenkim tidak ada pada batang dan daun monokotil yang sklerenkimnya berkembang pada tingkat awal pertumbuhan. Kolenkim biasanya dibentuk tepat di bawah epidermis dan bila kolenkim berada tepat dibawah epidermis, seringkali dinding epidermis juga menebal dengan cara yang sama dengan dinding sel kolenkim. Pada batang, kolenkim dapat dijumpai sebagai silinder penuh atau dalam jalur-jalur yang membujur. Pada daun, kolenkim terjadi di salah satu atau kedua sisi tulang daun dan sepanjang pinggir helaian daun, dan di bawah berkas pengangkut. Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam. Selnya dapat berupa prisma pendek dan serupa dengan sel parenkim yang berdekatan, atau panjang dan seperti serat dengan ujung meruncing, tetapi terdapat juga bentuk dan ukuran tanggung. Berdasarkan tipe penebalan pada dinding sel, kolenkim dibedakan atas: 1. Kolenkim menyudut (angulur) : penebalan dinding sel terdapat pada sudut sel dan memanjang mengikuti sumbu sel. Pada irisan melintang penebalan tersebut terlihat di sudut sel tempat bertemunya tiga atau lebih sel. Contoh kolenkim bersudut ditemukan pada tangkai daun Vitis, Begonia, Cucurbitas dan pada batang Solanum tuberosum dan Atropa belladona. 2. Kolenkima lamelar (kolenkim lempeng) ; penebalan dinding sel terutama terjadi pada dinding tengensial (sejajar permukaan organ) sehingga pada irisan melintang terlihat seperti papan berderetderet. Kolenkim tersebut ditemukan pada korteks batang Sambucus nigra serta tangkai daun Cochlearia armoracia. 3. Kolenkim lakunar ; penebalan terdapat pada bagian dinding sel yang menghadap ke ruang interseluler. Kolenkima yang demikian terdapat pada tangkai daun berbagai spesies Compositae, Salvia, Malva, dll. 4. Kolenkima anular(kolenkim tubular) ; penebalan dinding sel merata ke ruang sel (lumen) menjadi berbentuk pita. Dinding sel kolenkim terdiri atas lapisan yang berselang-seling, kaya selulosa dengan sedikit pektin, dan lapisan lain dengan sedikit selulosa dan kaya pektin. Dinding sel kolenkim dapat mengalami sklerifikasi (penebalan dengan lignin), dengan cara mengendapkannya secara sentripetal maupun sentrifugal. Dengan adanya penebalan sentrifugal dengan lignin itu, lapisan selulosa-pektin semula akan larut dan digantikan oleh lignin. Dengan terjadinya penebalan sentripetal lebih lanjut, lumen sel akan menyempit. Proses ini menunjukkan bahwa kolenkim berdinding selulosa terutama terdapat pada organ muda dan dan pada perkembangan lebih lanjut lapisan selulosa digantikan oleh lignin.

B. SKLERENKIM Sklerenkim adalah jaringan yang terjadi dari sel-sel dengan penebalan dinding sekunder, yang berlignin atau tidak berlignin dan bersifat elastis. Fungsi utamanya adalah menopang kadang-kadang juga sebagai pelindung. Sel-selnya mengalami penebalan sekunder dengan lignin atau senyawa lain dan menunjukkan sifat elastis. Bentuk sel penyusun sklerenkim bermacam-macam karena bentuk, struktur, asal usul dan perkembangannya berbeda-beda, tetapi pada dasarnya dapat dibagi atas dua kelompok yaitu serabut dan sklereid. Serat biasanya didefinisikan sebagai sel panjang dan sklereid sebagai sel pendek. Sklereid berkembang dari sel parenkim yang dindingnya mengalami penebalan sekunder, sedangkan serat berkembang dari sel meristem. a. Serat Serat umumnya terdapat diantara jaringan vaskular tetapi banyak pada tumbuhan juga dapat berkembang pada jaringan dasar. Sesuai dengan letaknya pada tubuh tumbuhan, serat diklasifikan dalam dua tipe dasar yaitu serat xilem dan serat ekstrasilem.  Serat xilem merupakan bagian terpadu pada xilem dan berkembang dari jaringan meristem yang sama sebagaimana unsur-unsur xilem yang lain. Berdasarkan ketebalan dinding, tipe, maupun noktah, serat xilem, yaitu serat libriform(kulit dalam) dan trakeid serat. Serabut berserat mirip erabut floem dan biasanya lebih panjang dari trakeid. Trakeida serabut merupakan peralihan antara trakeida dan serabut berserat. Tipe serat yang lain pada xilem sekunder tumbuhan dikotil adalah serat gelatin dan serat lendir. Serabut merupakan lapisanpaling dlam dinding sekunder, berisi banyak selulosa dan sedikit lignin.  Serat ekstrasiler; terdapat pada korteks, disekitar floem dan selain unsur xilem. Pada kebanyakan batang monokotil, serat ekstrasiler terdapat dalam silinder kosong di jaringan dasar, dan dapat juga dijumpai dalam epidermis pada jarak tertentu serta mengelilingi berkas pembuluh yang paling luar. Serat biasanya merupakan sel-sel sangat panjang dan sempit dengan ujung yang tirus atau kadangkadang bercabang. Panjang serat sangat beragam dan bisanya serat ekstrasiler lebih panjang dari serat. Secara ontogenetik serat berkembang dari meristem yang berbeda, seperti prokambium, kambium, dan meristem dasar dan bahkan dari protoderm seperti pada spesies Gramineae dan Cyperaceae. Serat dapat pula berkembang dari sel parenkim. Serat yang terbentuk oleh kambium berkembang dari inisial fusiform dan hanya bertambah panjang sedikit atau tidak bertambah panjang sama sekali selama pendewasaannya. Istilah serat yang digunakan dalam industri tidak seluruhnya mempunyai arti sama dengan yang didefenisikan oleh ahli botani. Sebagia contoh, serabut komersial dari Linum, Bochmeria, merupakan seikat serabut yang berasal dari daun monokotil, biasanya berupa serabut pembuluh dengan selubung yang dikelilingi oleh serabut. Serabut komersial dibedakan menjadi dua tipe yaitu:  Serabut keras adalah serabut yang berisi lignin tinggi dan bertekstur kaku. Serabut keras ini terdapat pada Monokotil misalnya pada Musa tekstilis, Agave, Ananas comoscus. Serabut keras dari monokotil (bersama dengan xilem) merupakan bahan mentah dalam pembuatan kertas yaitu Zea mays, Saccharum officinarum.  Serabut lunak Serabut lunak ada yang berisi lignin tetapi ada juga yang tidak,fleksibel dan elastis, serabut lunak terdapat pada Dikotil misalnya pada Linum usitatissimum, Ceiba pentandra. Serabut floem pad beberapa dikotil digunakan untuk pembuatan kertas. Berdasarkan penggunaanya, serabut dikelompokkan menjadi:  Serabut tekstil, digunakan dalam produksi pabrik. Pada industri tekstil, serabut yang terutama digunakan adalah serabut kapas dan sejumlah kecil flaks, rami, dan hemp.  Serabut cordage, untuk tali. Pabrik pemintalan biasanya menggunakan kapas dan hemp.

 Serabut sikat, digunakan dalam produksi sikat dan sapu.  Serabut pengisi, digunakan untuk perkakas rumah, misalnya matras, plastik, dst. b. Sklereid Pada banyak tumbuhan, sklereid terbentuk sebagai kumpulan sel yang padat di bagian dalam jaringan parenkim yang lunak. Organ tertentu seperti tempurung kelapa dan kulit biji keras lainnya, seluruhnya tersusun atas sklereida. Pada tumbuhan, sklereid dikenal sebagai idioblas, yaitu sebagai sel-sel yang dengan mudah dibedakan dari sel-sel jaringan sekitar karena ukuran, bentuk, dan ketebalan dindingnya. Pada beberapa tumbuhan, misalnya pada Magnoliaceae, sklereid dijumpai hampir dalam seluruh organ, dalam korteks dan empulur batang, daun (pada ujung tulang daun yang tersusun baur/difus) , stipula, perhiasan bunga, reseptakel, buah dan jarang ditemukan pada akar. Diantara tipe-tipe sklereid idioblast terdapat juga suatu tipe yang mirip trakeid, yaitu idioblast trakeoid. Meskipun berbagai macam bentuknya, sklereid dibagi dalam 5 kelompok yaitu: 1. Brakisklereid (sel batu); bentuknya isodiometrik atau membulat, biasanya terdapat pada floem,korteks dan kulit batang serta dalam daging buah beberpa jenis tumbuhan seperti Pyrus communis 2. Makrosklereid, berbentuk seperti batang/tongkat, sering membentuk suatu lapisan kontinyu dalam testa biji Leguminosae yang keras. 3. Osteosklereid, sklereid berbentuk kumparan atau tulang, ujungnya membesar, bercuping dan kadangkadang bahkan bercabang, terdapat pada kulit biji dan mesofil daun dikotiledon tertentu 4. Asterosklereid, mempunyai percabangan beragam dan sering kali berbentuk bintang, terutama terdapat pada daun 5. Trikosklereid, sklereid ini memanjang, agak seperti rambut dan biasanya berupa sklereid dengan suatu percabangan yang teratur, terdapat di mesofil daun.

Hasil penyelidikan perkembangan ontogeni tipe sklereida bercabang dalam daun Trochodendron aralioides dan dalam akar udara dari monstera menunjukkan bahwa sklereida berkembang dari kristal yang kecil dengan dinding tipis. Tahap awal perkembangan mulai bercabang dan membentuk sklereida dewasa.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sel merupakan unit terkecil dari organisme. Ukuran dan struktur sel demikian kecilnya untuk dapat dilihat, didengar, atau disentuh. Sel merupakan suatu sistem yang sangat kompleks dan memiliki mekamisme kerja yang sangat terkoordinasi dan hidup. Kumpulan dari dua atau lebih sel, membentuk suatu jaringan yang di dalamnya saling bertautan antara satu sel yang satu dengan sel yang lain. Salah satu contoh jaringan yang memiliki dua jenis sel yang berbeda, yaitu jarin gan sklerenkim yang terdapat pada tumbuhan. Jaringan sklerenkim terbagi menjadi dua jenis sel, yaitu fiber yang berbentuk serat dan terdapat pada padi, rami, eceng gondok dan lain-lain. Dan yang kedua adalah

sklereid yang biasa disebut sel batu. Disebut sel batu karena bentuknya yang keras dan tidak beraturan. Sel batu memiliki banyak jenis sehingga untuk mengetahui jenis sel batu, perlu dipelajari lebih dalam tentang sel batu. Di dalam makalah ini akan dibahas lebih dalam tentang sel batu dan jenis-jenisnya. 1.2 Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu agar mahasiaswa dapat : 1. 2. 3. 4. mengetahui pengertian sklereid, mengetahui jenis-jenis sklereid, mengetahui letak dan fungsi sklereid, mengetahui contoh sklereid pada tumbuhan.

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN 2.1 Pengertian

Jaringan sklerenkim merupakan jaringan yang fungsi utamanya adalah juga sebagai jaringan penguat tumbuhan (jaringan mekanik). Jaringan sklerenkim hanya terdapat pada organ tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan, jadi pada organ tumbuhan yang telah tetap. Dengan terdapatnya jaringan ini pada tumbuhan, akan memungkinkan alat-alat tumbuhannya bertahan menghadapi segala macam tekanan dan desakan tanpa menimbulkan akibat atau berpengaruh pada sel-sel atau jaringan yang keadaannya lebih lemah (tekanan, desakan, lentingan, pembentangan, pukulan, berat, dan gaya mekanik lainnya). Perlu diketahui bahwa sebutan sklerenkim diambil dari kata Yunani yang merupakan kombinasi dari kata sclerous yang artinya keras, dan kata enchyma yang berarti ”infusion”, yang arti keseluruhannya dimaksudkan pada kerasnya dinding sel. Adapun sel-sel yang menyusun jaringan sklerenkim adalah sel-sel sklerenkim. Sklerenkim merupakan bagian dari jaringan mekanik yang pada umumnya terdiri atas (a) fiber atau serat-serat Dalam hal ini sklerenkim, kami dan lebih (b) lanjut sclereid tentang atau sklereid sel-sel atau sel-sel batu. batu.

membahas

Sklereid merupakan sel-sel batu, hal ini perlu dijelaskan lebih lanjut karena ada pula yang disebut sclerotic (a) cells atau sel-sel sklerotik.

Disebut sel-sel batu (stone cells) yaitu apabila sklereid itu tidak bercabang-cabang, tidak

mempunyai bentuk yang ekstrim, bersifat soliter, ataupun berkumpul merupakan suatu jaringan atau organ. (b) 2.2 Disebut sel-sel sklerotik, yaitu apabila sel-selnya terjadi dalam jaringan-jaringan yang lunak. Ciri-Ciri

Sel sklerenkim dapat berbeda dalam bentuk,struktur, asal, dan perkembangannya. Banyak di dapati bentuk-bentuk transisi diantara berbagai variasi bentuk, kerena itu sukar untuk mengklasifikasikan berbagai tipe sklerenkima. Biasanya sklerenkim dibagi menjadi serat dan sklereid. Serat biasanya didefinisikan sebagai sel panjang dan sklereid sebagai sel pendek. Namun batasan ini tidak memadai, sebab ada sklereid yang sangat panjang dan ada serat ang relatif pendek. Noktah pada sklerenkima sangat sempit, dengan apertur bulat, dan pada sklereid jumlahnya lebih banyak. Rongga noktah pada sklereid sering kali berbentuk saluran bercabang-cabang yang diakibatkan oleh bertambah tebalnya dinding sel. Telah diusahakan untuk membedakan serat dan sklereid berdasarkan asal-muasal unsur-unsurnya. Sklereid berkembang dari sel parenkima yang dindingnya mengalami penebalan sekunder, sedangkan serat berkembang dari sel meristm da denga demikian mereka itu ditentukan dari asalnya. Akan tetapi, penelitian yang lain menunjukkan bahwa definisi tersebut juga tidak memadai karena kurang konsisten. Tidak hanya sulit untuk membedakan di antara berbagai tipe sel-sel sklerenkima karena adanya bentuk-bentuk transisi, tetapi juga agak sukar untuk membedakan antara sklerenkima dan parenkima karena adanya sel parenkima berdinding sekunder yang yang tebal, seperti misalnya parenkima xilem. 2.3 Bentuk

Sklereid ternyata mempunyai bentuk, penebalan dinding sel, ukuran, dan jumlah noktah yang bermacam-macam pula. Jadi bentuk dan besar diameternya berbeda-beda. Beberapa sel sklereid berbentuk agak memanjang dan beberapa lainnya berebentuk seperti sel-sel parenkim, misalnya selsel sklereid pda dinding buah dan biji-biji.

Sklereid bentuknya sangat bervariasi dari isodiametrik sehingga sangat tidak beraturan, bahkan ada yang bercabang. Sklereid berdindinding sanat tebal dan berlignin, kadang-kadang memperlihatkan lapisan konsentrik yang dikoyak-koyak oleh noktah sederhana. Noktah ini sering bercabang karena fungsinya dua atau lebih rongga noktah selama proses penebalan dinding sekunder. Mungkin sekali dijumpai sklereid tunggal ata dalam kelompok kecil diantara sel-sel lain, misalnya butiran seperti

pasir-pasir pada daging buah jambu biji ( Psidium guajava), atau suatu masa sinambung seperti pada tempurung kelapa ( Cocos nucifera) yang keras. Dibawah ini merupakan contoh gambar sklereid Sel sklerenkim, serat (kiri) dan sklereid (kanan) (Campbell, 2006). Pada organ-organ tumbuhan yang telah tetap Sebagai penguat pada organ-organ tumbuhan yang telah Gambar: . 2.4 Jenis-Jenis Sklereid (1889) mengusulkan pembagian sklereid ke dalam empat tipe: tetap

Tschirc 1.

brakisklereid atau sel batu, yang bentuknya lebih kurang isodiametrik; sklereid semacam itu

biasanya dijumpai dalam floem, korteks, dan kulit batang serta dalam daging buah pada buah tertentu 2. seperti pir (Pyrus communis) dan Cydonia oblonga.

makrosklereid, sklereid bentuk tongkat; sklereid seperti itu serimg kali memebentuk suatu kontinyu dal;am testa biji Leguminoseae.

lapisan 3.

osteosklereid, sklereid bentuk kumparan atau tulang, ujungnya membesar, bercuping, dan

kadang-kadang bahkan agar bercabang; sklereid sepeti itu terutama dijumpai daam kulit biji dan kadang-kadang 4. juga dalam daun dikotiledon tertentu.

asterosklereid, yang mempunyai percabangan beragan dan sering kali berbentuk bintang, seperti itu terutama dijumpai dalam daun.

sklereid 5.

trikosklereid, diusulkan oleh Bloch (1946). Sklereied ini sangat memanjang, agak seperti rambut,

dan biasanya berupa sklereid dengan satu percabangan yang teratur. Istilah-istlah tambahan untuk tipe-tipe sklereid, seperti misalnya filiform, fibriform, kolumnar, dan polimorfik, yamg terdapat dalam daun, digunakan oleh banyak pengarang (misalnya Rao & Chin, 1996) 2.5 Letak

Dalam tubuh tumbuhan, sklereid terbentuk di berbagai tempat yang berbeda. Pada banyak tumbuhan sklereid terbentuk sebagai kumpulan sel yang padat di bagian dalam jaringan parenkima yang lunak. Organ-organ tertentu seperti misalnya kulit kenari serta banyak biji batu dan selaput biji lainnya, seluruhnya dibentuk dari sklereid. Pada banyak tumbuhan sklereid kelihatan sebagai idioblas, yakni sebagai sel-sel yang dengan mudah dibedakan dari sel-sel jaringan sekitar karena ukuran, bentuk,

dan

ketebalan

dindingnya.

Sklereid

idioblas

sangat

beragam

bentuknya.

Sklereid dengan bentuk yang istimewa dijumpai dalam daun berbagai tumbuhan, misalnya Gnetum, Camellia, Trochodendron, Nymphaea, Cyatocalyx, Desmos, Phaeanthus, Horsfielda, Salvadora, Monstera, dan Olea dan dalam akar udara Monstera. Dalam mesofil daun sklereid dapat juga tidak dapat tersebar secara tidak teratur (sklereid tersebar), misalnya dalam Trochodendron, Olea, Osmanthus, dan Nymphaea; atau sklereid itu berbatasan dengan ujung pembuluh (sklereid terminal), misalnya dalam Mouriri, Boronia, Arthrocnemum, Capparis spinosa dan spesies dari Salvadoraceae. Sel-sel sklerenkima memanjang yang terdapat dalam mesofil Myrtaceae dan beberapa famili lainnya sering kali dikenal sebagai serat. Pada beberapa tumbuhan, misalnya Magnoliaceae, sklereid dijumpai dalam hampir seluruh organ; dalam korteks dan empulur batang, daun, stipula, perhiasan bunga, reseptakel, buah, dan jarang dalam akar. Di antara tipe-yipe sklereid idioblas terdapat juga suatu tipe sel yang mirip trakeid, yakni idioblas trakeoid. Trakeoid-trakeoid semacam itu dijumpai, misalnya, dalam spesies Salicornia dan dalam tangkai perbungaan beberapa anggrek. Mengenai sel-sel batu ini sering disebut sebagai ”grit cells” atau sel -sel pasir yaitu yang terdapat dalam buah yang berdaging karena berukuran kecil-kecil dan tidak jarang pula disebut sebagai brachysclereid, yaitu sel batu yang bentuknya seperti insang ikan, macrosclereid atau ”rodcell” adalah sebutan bagi sklereid yang mempunyai bentuk ekstrim seperti bentuk tongkat, osteosclereid atau ”bone cells” adalah sebutan bagi sklereid yang berbentuk tulang, astroscklereid atau ”stelate cells” adalah sebutan bagi sklereid yang berbentuk bintang, trichosclereid atau ”internal hairs” yaitu sebutan bagi sklereid yang berbentuk rambut dalam suatu alat atau jaringan. Sklereid terdapat dalam semua bagian dari tumbuhan, terutama di dalam kulit kayu, pembuluh tapis, dalam buah atau biji. Mengenai hal ini rupanya sama halnya dengan serat-serat sklerenkim yaitu selselnya ada yang terdapat secara soliter, dalam kumpulan beberapa sel atau yang terdapat dalam suatu jumlah yang besar. Sklereid ini disebut sebagai sel-sel batu, sebutan ini dikaitkan dengan sifat bagian-bagian yang keras seperti tempurung, biji-biji atau bagian-bagian yang keras pada buah. Gambaran-gambaran selanjutnya tentang sel-sel sklereid ini dapat dikemukakan sebagai berikut : a. b. Dalam daun dan buah yang berdging banyak terdapat sel-sel batu yang letaknya tersebar, Dinding sel-sel sklereid tersususn dari selulosa dan banyak mengandung zat lignin yang tebal dan dan zat inilah sel-sel yang sklereid menjadikan mengandung jaringannya pula zat kuat suberin dan dan kaku, kutin,

keras, c.

Kadang-kadang

d.

Mempunyai noktah-noktah yang sempit yang celah-celahnya bundar sehingga merupakan

saluran, disebut ”pit canal” atau saluran noktah, noktah-noktah ini dapat bercabang-cabang. e. 2.6 Lumen sel sangat sempit sehubungan dengan terbentuknya penebalan-penebalan dinding selnya. Perkembangan Sklereid

Perkembangan sklereid bercabang serta sel serat yang panjang menimbulkan penyesuain di antara sel serat mengindikasikan kebebasan dari pengaruh sel di sekelilingnya. Mula-mula bakal sel sklereid bercabang tidak berbeda dari sel parenkim di sekitarnya. Namun, selanjutnya cabang sel sklereid tumbuh memasuki ruang antarsel di hadapannya bahkan menyelinap di antara sel lain.

Dengan demikian, sklereid mmperoleh kontak baru dengan sel lain. Pertumbuhan sel sklereid dimulai dengan pertumbuhan terkoordinasi dan dilanjutkan dengan pertumbuhan intrusif pada cabangnya. Brakisklereid yang khas berkembang dari sel-sel parenkima melalui penebalan sekunder dnding selnya. Dinding sekunder ini sangat tebal, dan lapisan-lapisan konsentris yang sangat banyak serta noktah yang bercabang biasanya dapat dibedakan di dalamnya. Selama proses penebalan dinding, permukaan sebelah dinding itu menyusut dan noktah yang mulai berkembang di sisi luar dinding sekunder tadi terkumpul. Pertimbangan secara fisiologik untuk terjadinya sklerifikasi sel-sel parenkima tidaklah diketahui, tetapi Bloch (1944) melihat adanya suatru kenyataan bahwa sel-sel batu sering kali muncul dekat jaringan-jaringan luka sehingga diduga bahwa mereka berkembang sebagai reaksi terhadap beberapa gangguan fisiologik. Dalam kulit pohon perubahan sel-sel parenkima menjadi sklereid, dalam hal ini, diduga adalah usia jaringannya. Penelitian yang baru-baru ini dilakukan menyingkapkan bahwa walaupun dalam meriste luka dari daun yang terluka adala sel-sel tertentu berkembang menjadi sklereid, jaringsan luka mempunyai pengaruh pencegah terhadap diferensiasi sklereid dalam lamina daun yang sedang berkembang yang biasanya membentuk sklereid.

Contoh menarik lainnya dari perkembangan sel-sel batu ialah dalam sel bersinambung dalam seratserat floem. Sewaktu batang tumbuhan dengan silinder seperti itu tumbuh melebar, maka sel-sel parenkima yang bertetangga menembus ke dalam ruangan-ruangan yang terbentuk diantara seratserat silinder tersebut. Sel-sel parenkima kemudian berbelah dan mengalami sklerifikasi dasn denga demikian menutupi celah yang terbentuk dalam sili nder (haberlandt, 1918). Sebagai suiatu hasil penyelidiukan tentang perkembangan ontogenetik dari tipe sklereid bercabang dalam daun Terochodendron aralioides dan Mourira huberi, daun Memecylon sp., daun Olea,

Nymphaea

odorata,

dan

dalam

akar

udara

Monstera

telah

dipahami

kenyataan-kenyataan

hisyogenetik yang berikut. Dalam semua contoh di atas, sklereid berkembang dari inisial-inisial kecil berdinding tipis. Inisialinisial ini mula-mula dibedakan dari sel-sel sekitarnya oleh adanya nukleus dan nukleolus yang lebih besar. Sejak tahap-tahap awal perkembangannya, inisial itu mulai bercabang dan dengan demikian memperoleh bentuk skelreid dewasa. Cabang dan tonjolan sklereid menembus ke dalam ruang-ruang antarsel, tetapi pertumbuhan intrusif dari cabang-cabang tersebut, di antara dinding yang bersatu dengan dinding sel-sel tetangga, juga umum terjadi. Tingkatan penoktahan sklereid-sklereid ini bersifat tidak tetap.

Sklereid biasanya diteranbgkan sebagai sel-sel mati sewaktu dewsa, tetapi telah diketahui bahwa protoplas dapat tetap aktif sepanjang hidup organ yang mengandun g sklereid tersebut. Dalam daun yang tidak gugur dan dalam batang-batang tertentu sklereid kadang-kadang dapat hidup selama 4-5 tahun. Protoplas sel batu dalam buah pir dan Cydonia oblonga juga tetap hidup untuk periode yang cukup panjang. Menurut Alexandrov dan Djapareidze (1927), selama proses pemasakan buah Cydona oblonga, sel-sel atu menjalani proses deliknifikasi, yang diperkirakan merupakan indikasi aktivitas enzimatik dari protoplas sel batu itu sendiri. BAB III KESIMPULAN Kesimpulan 1. atau 2. yang 3. yang dapat diambil dari pembahasan tentang sel batu atau sklereid yaitu:

sklerenkim merupakan bagian dari jaringan mekanik yang pada umumnya terdiri atas (a) fiber serat-serat sklerenkim dan (b) sklereid atau sel-sel batu.

disebut sel-sel batu yaitu apabila sklereid itu tidak bercabang –cabang, tidak mempunyai bentuk ekstrim, bersifat soliter ataupun berkumpul, merupakan suatu jaringan atau organ.

jenis-jenis sel batu, yaitu brachisclereid, macrosclereid, osteosclereid, astrosclereid, dan

tricosclereid. 4. sklereid terdapat di dalam semua bagian pada tumbuhan, terutama di dalam kulit kayu, tapis, dan dalam buah atau biji.

pembuluh 5.

fungsi sklereid yaitu sebagai penguat tumbuhan dan terdapat pada organ tumbuhan yang tidak

lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. DAFTAR PUSTAKA A.R. Loveless. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 1. Alihbahasa kuswata Kartawinata dkk. Jakarta: PT Gramedia.

Fahn. A. 1965. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Alihbahasa Ir. Ahmad Sudiarto dkk. Yogyakarta: Gadjah Mada Press. Hidayat, Estiti. 1955. Anatomi tumbuhan Berbiji. Bandung: Institut Teknik Bandung. Sutrian, Yayan. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan. Jakarta: http://:www.google.com Rineka Cipta.

Minggu, 28 Agustus 2011 - Kemunculan sel eukariotik adalah sebuah hal penting dalam evolusi kehidupan. Eukariota berbeda dari prokariota dalam sejumlah hal. Perbedaan utamanya adalah mereka mengandung sistem selaput dalam yang ekstensif yang menyelubungi inti dan memperjelas organel, dan kompartementalisasi ini memerlukan sejumlah inovasi eukariotik yang unik. Inti sel dan asal usulnya berkaitan erat dengan asal usul eukariota karena inti sel selalu ada dalam semua sel eukariota, dan hanya pada eukariota saja. Faktanya, ia merupakan karakteristik penentu dari nama eukariota itu sendiri. Eu artinya sejati dan kariota berarti bijih.
Kemampuan ekuariota dan prokariota untuk mentransfer gen sudah cukup dipahami. Sejumlah gen pada awalnya berada di genom mitokondria dan kloroplas telah dikirim dan sekarang tersandi di dalam inti sel. Karenanya tidak semua gen inti merupakan indikasi kepurbaan gen inti, dan bahkan mekanisme pembentukan inti sel sendiri belum diketahui. Beberapa teori ada untuk menjelaskan asal usul inti sel. Sebagian besar ilmuan masih percaya denganhipotesis kariogenik atau teori autogen. Dalam teori ini, inti sel dan selaput penyelubungnya secara bertahap terbentuk lewat proses pengumpulan yang masih misterius. Teori lawannya, hipotesis endokariotik atau teori fusi, masih kurang terkenal. Teori ini berdasarkan gagasan kalau inti sel, seperti organel eukariotik lainnya yang terselubung dalam selaput ganda (kloroplas dan mitokondria), berasal dari penangkapan bakteri penelan. Proposal ini sederhana dan berpotensi menjelaskan semua asal usul organel dengan selaput ganda dalam satu mekanisme bukannya dua mekanisme (satu untuk mitokondria dan kloroplas dan satunya lagi untuk inti sel). Hingga sekarang ada sedikit data yang mendukung baik teori autogen ataupun teori fusi.

Dua Teori Mengenai Asal Usul Eukariota

Teori fusi sebagai asal usul eukariotik memperoleh dukungan yang semakin banyak dari data molekul. Teori ini diajukan sejalan dengan ketidak sesuaian dalam rekonstruksi pohon silsilah evolusi dari berbagai tipe data. Proposal chimera pertama dimotivasi oleh ketidak sesuaian antara distribusi lemak selaput (ester pada eubakteria dan eukariota, versus pada halobakteria, metanogen, dan eosit), dan struktur ribosom (ada pada eosit dan eukariota namun tidak ada pada eubakteria, halobakteria, dan metanogen). Dipengaruhi oleh data ini, dan juga oleh pengamatan sebelumnya kalau inti sel diselubungi oleh selaput ganda, diajukan kalau sebuah eukariota hasil fusi dapat diperoleh dengan penelanan satu prokariota oleh prokariota lainnya.

Pertukaran gen pada eukariota

Jelas ada bukti kalau asal usul eukariota itu rumit dan mungkin melibatkan setidaknya dua anteseden prokariotik, sejenis eubakteri mirip E.coli dan sejenis eosit pemetabolis belerang hipertermofilik, dan prosesnya dapat lebih rumit lagi. Tampak kalau gen individual tidak lagi cocok untuk menjelaskan proses ini dan yang dibutuhkan adalah mengikuti pewarisan genom, khususnya pada kelas-kelas gen yang mungkin diwariskan secara berkelompok. Karenanya, studi seluruh genom dibutuhkan untuk memahami proses ini secara komprehensif. Sumber Lake, J.A., Jain, R., Moore, J.E., and Rivera, M.C. (2003). Hyperthermophilic and Mesophilic Origins of the Eukaryotic Genome. Dalam Thermophiles: The Keys to Molecular Evolution and the Origin of Life? Edited by Juergen Wiegel and Michael W.W.Adams. Hal. 147-162 Referensi lanjut 1. BALDAUF, S.L. and PALMER, J.D. (1990) Evolutionary transfer of the chloroplast tufA gene to the nucleus. Nature, 344, 262–263. 2. GOLDING, G.B. and GUPTA, R.S. (1994) Protein-based phylogenies support a chimeric origin for the eukaryotic genome. Mol Biol Evol., 12, 1–6 3. GRAY, M.W. (1993) Origin and evolution of organelle genomes. Curr. Opin. Genet. Dev., 3, 884–890 4. GUPTA, R.S., AITKEN, K., FALAH, M. and SINGH, B. (1994) Cloning of Giardia lamblia heat shock protein HSP70 homologues: implications regarding origin of eukaryotic cells and of endoplasmic reticulum. Proc. Natl Acad. Sci. USA, 91, 2895–2899.

5. HENZE, K., BADR., A., WETTERN, M., CERFF, R. and MARTIN, W. (1995) A nuclear gene of eubacterial origin in Euglena gracilis reflects cryptic endosymbioses during protist evolution.Proc. Natl Acad. Sci. USA, 92, 9122–9126. 6. LAKE, J.A. (1982) Mapping evolution with ribosome structure: intralineage constancy and interlineage variation. Proc. Natl. Acad. Sci. USA, 79, 5948–5952. 7. LAKE, J.A. and RIVERA, M.C. (1994) Was the nucleus the first endosymbiont? Proc. Natl Acad. Sci. USA, 91, 2880–2881. 8. RILEY, M. (1993) Functions of the gene products of Escherichia Coli. Microbiol Rev., 57, 862–893 9. RIVERA, M.C. and LAKE, J.A. (1992) Evidence that eukaryotes and eocytes prokaryotes are immediate relatives. Science, 257, 74–76. 10. SMITH, M.W., FENG, D.F. and DOOLITTLE, R.F. (1992) Evolution by acquisition: the case for horizontal gene transfers. Trends Biochem. Sci., 17, 489–493. 11. SOGIN, M.L. (1991) Early evolution and the origin of eukaryotes. Curr. Opin. Genet. Dev., 1, 457– 463. 12. SYVANEN, M. and KADO, C. (eds) (1997) Horizontal Gene Transfer (London: Chapman and Hall) 13. ZILLIG, W., PALM, P. and KLENK, H.-P. (1992) A model of the early evolution of organisms: the arisal of the three domains of life from the common ancestor. In The Origin and Evolution of the Cell, ed. H.Hartman, and K.Matsuno, pp. 47–78 (Singapore: World Scientific).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->