P. 1
Pengukuran Mental Workload

Pengukuran Mental Workload

|Views: 20|Likes:
Published by Aisyah Unni

More info:

Published by: Aisyah Unni on Apr 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2013

pdf

text

original

Pengukuran Mental Workload dengan NASA-TLX

Apakah anda pernah mendengar istilah mental workload atau beban kerja mental? Berbeda dengan beban kerja fisik, beban kerja mental adalah beban kerja yang tidak hanya memanfaatkan kinerja fisik tetapi lebih dipusatkan pada pemikiran sehingga mempengaruhi mental si pekerja. Untuk lebih mudah membedakannya, berikut adalah contoh perbandingan beban kerja mental dan beban kerja fisik. Beban kerja fisik bisa kita temui pada pekerja-pekerja yang lebih memanfaatkan fisik untuk menyelesaikan pekerjaannya. Salah satu contohnya adalah seorang pelinting rokok. Dalam melaksanakan pekerjaannya, pelinting rokok akan merasa beban kerja mereka terpusat pada fisik tanpa terbebani tanggung jawab yang besar. Berbeda dengan seorang pilot yang memiliki beban kerja mental lebih besar. Pilot memiliki tanggung jawab dan beban yang besar dalam menjalankan pekerjaannya. Mental pilot akan terbebani bahwa ia harus menerbangkan pesawat dengan benar karena membawa banyak penumpang dan bertanggung jawab untuk menjaga mereka selamat sampai tujuan. Selain pada pusat bebannya, perbedaan beban kerja mental dengan fisik bisa dilihat dari output yang dihasilkan. Hasil pekerjaan dari tipe beban kerja fisik bisa diukur dengan mudah. Sedangkan pada pekerjaan dengan beban mental, output sulit untuk diukur dan dibandingkan. Misalnya pada contoh pelinting rokok dan pilot. Antara pelinting rokok satu dengan lainnya bisa diukur seberapa besar beban fisik yang dihadapi berdasarkan jumlah lintingan rokok yang dihasilkan. Sedangkan pada seorang pilot, besarnya beban mental yang dihadapi tidak bisa terukur secara jelas. Misalkan beban mental seorang pilot pesawat Surabaya-Jakarta tidak bisa dikatakan dua kali lebih berat dibandingkan beban mental pilot pesawat Surabaya-Jogjakarta meskipun jarak Surabaya-Jakarta dua kali lebih jauh daripada Surabaya-Jogjakarta.

Pengukuran perbedaan beban kerja mental yang dialami oleh para pekerja bisa dilakukan dengan berbagai metode baik secara subyektif maupun secara obyektif. Contoh pengukuran beban mental secara obyektif adalah dengan mngukur denyut jantung sesorang ketika bekerja. Pengukuran ini digunakan untuk mengukur beban kerja dinamis seseorang sebagai manifestasi gerakan otot. Semakin cepat denyut jantung mengindikasikan bahwa beban mental yang dialami pekerja tersebut semakin berat. Namun, tingkat kecepatan denyut jantung tersebut tidak menunjukkan secara tepat besarnya beban kerja mental yang dialami. Misalkan Diansastro yang memiliki denyut jantung 100 kali per menit saat bekerja belum tentu memiliki beban mental yang

sama besar dengan Luna Maya yang memiliki denyut jantung 100 kali per menit juga. Selain itu masih ada pula beberapa pengukuran beban kerja mental secara obyektif yang lainnya antara lain pengukuran cairan dalam tubuh, kecepatan kedipan mata, dan sebagainya. Pengukuran obyektif seperti telah disebutkan di atas jarang digunakan karena membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk peralatan pengukurannya. Selain itu pengukuran ini juga dianggap tidak sebanding dengan hasilnya yang belum tentu akurat. Dari sini muncul alternatif lain yaitu pengukuran dengan menggunakan cara subyektif. Metode pengukuran beban kerja mental subyektif yang populer digunakan adalah metode NASA-TLX (NASA Task Load Index). Metode NASA-TLX dikembangkan oleh Sandra G. Hart dari NASA-Ames Research Center serta Lowell E. Staveland dari San Jose State University pada tahun 1981 (Hancock dan Meshkati, 1988). Metode ini berupa kuesioner dikembangkan berdasarkan munculnya kebutuhan pengukuran subjektif yang lebih mudah tetapi lebih sensitif pada pengukuran beban kerja. Metode NASA-TLX merupakan prosedur rating multi dimensional, yang membagi workload atas dasar rata-rata pembebanan 6 dimensi, yaitu Mental Demand, Physical Demand, Temporal Demand, Effort, Own Performance, dan Frustation. NASA-TLX dibagi menjadi dua tahap, yaitu perbandingan tiap skala (Paired Comparison) dan pemberian nilai terhadap pekerjaan (Event Scoring). Metode pengukuran dengan NASA-TLX ini banyak digunakan dibandingkan metode obyektif karena cukup sederhana dan tidak membutuhkan banyak waktu serta biaya. Peneliti cukup membuat kuesioner dan menyebarkannya pada para pekerja dalam yang akan diukur beban mentalnya. Perlu digarisbawahi bahwa yang diukur disini merupakan beban kerja dari jenis pekerjaannya, bukan beban kerja yang dimiliki oleh masing-masing pekerja. Contoh sederhananya, beban kerja yang diukur bukan antara staf marketing 1 dengan staf marketing 2 melainkan antara staf marketing dengan staf accounting. Karena bersifat subyektif, data yang diambil harus lebih dari satu sumber untuk meminimasi subyektifitas. Selain itu dalam proses pengolahan kuesioner juga harus memperhatikan kevalidan dari data yang digunakan. Data yang dianggap tidak sesuai atau outlier harus dieliminasi agar tidak mengganggu hasil pengukuran. Hancock dan Meshkati (1988) menjelaskan langkah-langkah dalam pengukuran beban kerja mental dengan menggunakan metode NASA-TLX. 1. Penjelasan indikator beban mental yang akan diukur

2. Pembobotan Pada bagian ini responden diminta untuk melingkari salah satu dari dua indikator yang dirasakan lebih dominan menimbulkan beban kerja mental terhadap pekerjaan tersebut. Kuesioner NASA-TLX yang diberikan berupa perbandingan berpasangan. Dari kuesioner ini dihitung jumlah tally dari setiap indikator yang dirasakan paling berpengaruh. Jumlahtally menjadi bobot untuk tiap indikator beban mental. 3. Pemberian Rating Pada bagian ini responden diminta memberi rating terhadap keenam indikator beban mental. Rating yang diberikan adalah subyektif tergantung pada beban mental yang dirasakan oleh responden tersebut. Untuk mendapatkan skor beban mental NASA-TLX, bobot dan rating untuk setiap indikator dikalikan kemudian dijumlahkan dan dibagi dengan 15 (jumlah perbandingan berpasangan). 4. Menghitung nilai produk Diperoleh dengan mengalikan rating dengan bobot faktor untuk masing-masing deskriptor. Dengan demikian dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator (MD, PD, TD, CE, FR, EF) Produk = rating x bobot faktor 5. Menghitung Weighted Workload (WWL) Diperoleh dengan menjumlahkan keenam nilai produk

6. Menghitung rata-rata WWL Diperoleh dengan membagi WWL dengan jumlah bobot total

7. Interpretasi Skor

Berdasarkan penjelasan Hart dan Staveland (1981) dalam teori NASA-TLX, skor beban kerja yang diperoleh terbagi dalam tiga bagian yaitu pekerjaan menurut para responden tergolong agak berat jika nilai >80, nilai 50-80 menyatakan beban pekerjaan sedang, sedangkan nilai <50 menyatakan beban pekerjaan agak ringan. Output yang dihasilkan dari pengukuran dengan NASA-TLX ini berupa tingkat beban kerja mental yang dialami oleh pekerja. Hasil pengukuran ini bisa menjadi pertimbangan manajemen untuk melakukan langkah lebih lanjut, misalnya dengan mengurangi beban kerja untuk pekerjaan yang memiliki skor di atas 80, kemudian mengalokasikannya pada pekerjaan yang memiliki beban kerja di bawah 50 atau langkah-langkah yang lainnya. Semoga bermanfaat :)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->