P. 1
PENDEKATAN_KONTEKSTUAL

PENDEKATAN_KONTEKSTUAL

|Views: 43|Likes:

More info:

Published by: Maz Noey Ayahe Callista on Apr 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

PENDEKATAN KONTEKSTUAL Oleh ALIYUDDIN GANING (Alumni PS PGSD FIP UNM – Peserta PPG II Program Ber-Asrama) Penerapan

pendekatan kontekstual di Amerika bermula dari pandangan ahli pendidikan klasik John Dewey pada tahun 1916. Dewey mengusulkan suatu kurikulum dan metodologi pengajaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman siswa. Filosofi pendekatan kontekstual berakar dari paham progresivisme John Dewey. Intinya, siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah (Nurhadi,2003:8). Pendekatan kontekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan, memberdayakan siswa, dan bukan mengajar siswa. Dengan prinsip pembelajaran seperti itu, pengetahuan bukan lagi seperangkat fakta, konsep, dan aturan yang siap diterima siswa, melainkan harus dikonstruksi (dibangun) sendiri oleh siswa dengan fasilitasi dari guru. Siswa belajar dengan mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Pembelajaran dengan cara seperti diatas disebut pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) (Suryati, http://educare.e-fkipunia.net, di akses 23 April 2009). Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yakni: kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan dan penilaian autentik (Trianto,2008:20). Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota kelurga dan masyarakat (Nurhadi,2003:4). Lebih tegas Blanchard dalam Trianto (2008:10), mengatakan bahwa:

yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit. Dengan kata lain. Karakteristik yang kedua yaitu saling menunjang dalam kegiatan pembelajaran. konteks politik dapat meningkatkan keterampilan komunikasi. warga Negara. kesejahteraan sosial. 2) Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. . Dalam pandangan konstruktivis.2008:26). Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan lain. Pendekatan kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 (tujuh) asas/komponen. antara siswa dengan guru sebagai fasilitator dan motivator.Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru menghubungkan konten marei ajar dengan situasi-situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuannya dan penerapannya ke dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga. Konstruktivisme (Constructivism) Kontruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual. tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: 1) Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa. dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat. materi pembelajaran menggunakan berbagai sumber bukan satu sumber saja. dan tenaga kerja. dan pemahaman siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap masyarakat. Ke tujuh asas pendekatan kontekstual tersebut. yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong (Trianto. 3) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. akan membantu lebih banyak manusia dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat. Ada sejumlah alasan mengapa pendekatan kontekstual dikembangkan sekarang ini. yaitu sebagai berikut: a. Untuk itu. konteks ekonomi. Sejumlah alasan tersebut dikemukakan oleh Nurhadi (2003:4) sebagai berikut: a. Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus. Penerapan konteks personal. b. strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Dalam pembelajaran kontekstual ada kerjasama antar siswa. menyenangkan dan tidak membosankan sehingga siswa lebih bergairah dalam belajar. penyusunan buku pedoman guru. Kelas kontekstual juga merupakan kelas yang terintegrasi. CTL adalah pembelajara yang terjadi dalam hubungan erat dengan pengalaman sebenarnya. dan buku tes akan mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan.

tetapi hasil dari menemukan sendiri. Inkuiri (Inquiry) Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. 4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca. yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat. Bertanya (Questioning) Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. d. 4) Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa. sedangkan menjawab pertanyaan adalah mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir (Sanjaya. 2) Mengamati atau melakukan observasi. baik administrasi maupun akademis. Masyarakat Belajar (Learning Community) Dalam kelas CTL.2006:266). e.b. teman sekelas. laporan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu. Pemodelan (Modeling) Dalam sebuah pembejaran keterampilan atau pengetahuan tertentu. table.orang luar yang ahli dalam bidang tertentu. bagan. ada model yang bisa ditiru oleh siswanya. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. yang tahu memberi tahu yang belum tahu. 2) Mengecek pemahaman siswa. 6) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru. atau audien yang lain. dan 8) Menyegarkan kembali pengetahuan siswa. guru bukan satusatunya model. kegiatan bertanya berguna untuk: 1) Menggali informasi. gambar. dan seterusnya. yang mempunyai gagasan segera member usul. guru. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif. atau pengetahuan yang baru . 7) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa. Refleksi (Reflection) Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. dan karya lainnya. c. Yang pandai mengajari yang lemah lemah. serta dapat juga berupa alat peraga. 3) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan. 3) Membangkitkan respon kepada siswa. Adapun langkah-langkah kegiatan inkuiri menurut Trianto (2008:30) adalah sebagai berikut: 1) Merumuskan masalah. 5) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa. aktivitas. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil menyimak seperangkat fakta-fakta. Dalam pembelaran kontekstual. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian. f. guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen.

memiliki langkah-langkah pembelajaran. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bartanya. 13) Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor. c. 4) Diskusi. 8) Menggunakan berbagai sumber. bukan keluasannya (kuantitas). Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari. f. guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. dan produk. 9) Siswa aktif. 2) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. 10) Sharing dengan teman. Adapun ciri-ciri pendekatan kontekstual yang dikemukakan oleh Kunandar (2007:299). 12) Siswa kritis. kinerja. 3) Kesan atau saran siswa mengenai pembelajaran hari itu. 6) Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa. Penerapan model pendekatan kontekstual yang dilakukan oleh guru dikelas. yaitu proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Penilaian Autentik (Authentic Assesment) Penilaian autentik adalah prosedur penilaian pada pembelajaran kontekstual pula.2008:25-26) secara garis besar langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: a. g.diterima Trianto (2008:35). g. b. Pada akhir pembelajaran. Sebagaimana yang dijabarkan oleh Depdiknas (Trianto. dan lain-lain. . 4) Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). 5) Menyenangkan. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. 11). Belajar dengan bergirah. 7) Pembelajaran terintegrasi. Karakteristik penilaian autentik menurut Kunandar (2008:315) adalah: 1) Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses. dan 5) Hasil karya. 2) Menekankan pentingmya pemecahan masalah. 6). Dinding kelas penuh dengan hasil karya siswa. menemukan sendiri. guru kreatif. 3) Bermuara pada keragaman konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda. Realisasinya berupa: 1) Penyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. laporan hasil praktikum. d. tidak membosankan. 3) Menggunakan berbagai cara dan sumber. tetapi hasil karya siswa. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. 2) Catatan atau jurnal dibuku siswa. yaitu sebagai berikut: 1) Kerja sama. 5) Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari. e. dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. 4) Saling menunjang.

Ketujuh komponen utama itu adalah konstruktivisme (Constructivism). diskusi dan saling mengoreksi dan siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok. hasil tes tertulis.2003:47). bidang studi apa saja termasuk matematika dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.Dalam pendekatan kontekstual hal-hal yang biasa digunakan sebagai dasar menilai hasil belajar siswa adalah proyek kegiatan/laporan. PR. Komponen bertanya Kegiatan yang dilakukan pada komponen bertanya adalah guru membimbing siswa untuk mengemukakan pertanyaan terhadap materi yang dipelajari. kuis. salah satunya adalah tes tertulis sebagai sumber data untuk meihat kemampuan/prestasi siswa. dan penilaian sebenarnya (Autentik Assessment) (Trianto. pemodelan (Modeling). b. masyarakat belajar (Learning Community). Dengan penilaian sebenarnya siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara. laporan. bertanya (Questioning). demonstrasi. menemukan (Inquiry). jurnal. karya tulis. Dari uraian di atas. ada beberapa kelebihan dalam penggunaan model pembelajaran CTL yaitu siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. karya siswa. Penerapan Pendekatan Kontesktual dalam Pembelajaran Matematika Khususnya Pada Konsep Volum Kubus di Sekolah Dasar Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pendekatan kontekstual di kelas. diskusi dan adanya saling mengoreksi diharapkan dapat terbantu (Nurhadi. Komponen konstruktivisme Kegiatan yang dilakukan pada komponen ini adalah Siswa memberi komentar atau tanggapan terhadap alat peraga yang diberikan berdasar pada pertanyaan yang diberikan pada guru atau siswa lainnya. Solusinya yaitu bagi siswa yang kurang pandai. refleksi (Reflection). Dalam kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.dan guru mengarahkan siswa dalam menemukan konsep volum kubus. c. Komponen menemukan Kegiatan yang dilakukan pada komponen menemukan adalah guru membimbing siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai melalui . presentasi atau penampilan siswa. dengan adanya belajar kelompok. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan guru dan siswa pada setiap komponenkomponen pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut: a. Untuk melaksanakan pendekatan kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja.2008:25). untuk siswa yang kurang mampu dalam belajar ia akan merasa kesulitan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Sedangkan kelemahan dalam penggunaan model pembelajaran kontekstual yaitu siswa dituntut belajar melalui pengalaman sendiri bukan menghafal.

f.observasi dan memanipulasi alat peraga dengan mengaitkan antara masalah dengan konteks keseharian siswa sehingga dari mengamati siswa dapat memahami masalah tersebut d. Komponen penilaian yang sebenarnya Kegiatan yang dilakukan pada komponen penilaian yang sebenarnya adalah dengan mengukur dan mengevaluasi penyelidikan siswa dan proses-proses yang mereka gunakan. Komponen masyarakat belajar Kegiatan yang dilakukan pada komponen masyarakat belajar adalah guru membimbing siswa dalam kelompok-kelompok belajar dalam mengatasi masalah e. g. . Komponen refleksi Melakukan refleksi terhadap proses pemecahan masalah yang dilakukan berupa membahas hasil pekerjaan siswa serta menyimpulkan isi materi yang telah diajarkan. Komponen pemodelan Kegiatan yang dilakukan pada komponen pemodelan adalah guru membagikan alat peraga yang sesuai dengan materi yang diajarkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->