P. 1
Hukum Mendel

Hukum Mendel

|Views: 306|Likes:
Published by Murdiono Mn

More info:

Published by: Murdiono Mn on Apr 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2014

pdf

text

original

HUKUM MENDEL

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Genetika merupakan ilmu yang mempelajari segala hal mengenai keturunan. Dalam ilmu genetika di pelajari tentang bagaiman perkawinan antara dua jenis individu yang sama dengan jenis kelamin yang berbeda dan bagimana keturunan yang akan dihasilkan nanti. Setiap keturunan yang di hasilkan tentunya memilki sifat yang diturunkan oleh induk akepada anaknya. Menurut hokum Mendel setiap sifat dikendalikan oleh sepasang sifat genetic yang disebut genkode pembentukan gamet dalam peristiwa meiosis, pasangan kedua gen akan berpisah dan pada proses fertilisasi gamet-gamet yang mengandung gen tersebut akan melebur secara acak. Persilangan - persilangan antar individu sejenis yang terjadi tersebut merupakan persilangan dengan satu sifat beda ataupun lebih. Persilangan dengan satu sifat beda di sebut monohybrid dan persilangan dengan dua sifat beda di sebut dihibrid. Setiap persilangan tentunya akan menghasilkan kombinasi ketirunan teertentu. Berdasarkan hipotesi Mendel, persilangan monohybrid akan menghasilkan ppola 3:1 dan dihibrid dengan pola 9:3:3:1. Dalam praktikum ini kita kan mencari atau menemukan angka-angka perbandingan menurut hokum Mendel I melalui teori kemungkinan dan kita juga akan menentukan dan membuktikan angka-angka perbandingan menurut Hukum Mendel II.

2. Tujuan  Menemukan angka-angka perbandingan sesuai dengan hukum Mendel.  Menentukan dan membuktikan angka-angka perbandingan menurut hukum Mendel pada persilangan dua sifat beda.

B.

TINJAUAN PUSTAKA Genetika sebagai ilmu yang mempelajari segala hal yang mengenai keturunan

dimulai sejak purbakala, ketika para petani mengetahui bahwa hasil pertaniannya dan ternaknya dapat ditingkatkan melalui persilangan. Meskipun pengetahuan mereka masih sangat primitif namun mereka menyadari bahwa beberapa sifat yang baik pada tumbuhan dan hewan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka menjalankan berbagai persilangan tanpa disadari pengetahuan karena belum di kenal adanya gen, apalagi hukum-hukum keturunan. (Suryo, 1990). Genetika yang sesungguhnya baru dimulai pada decade kedua dari abad ke-19 setelah mendel menyajikan secara hati-hati hasil analisis beberapa percobaan persilangan yang dibuatnya pada tamanan ercis/kapri (Pisum sativum). (Suryo, 1990). Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian: 1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan 2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel. Gregor Johann Mendel lahir tanggal 22 Juli 1822 di kota kecil Heinzendorf di Silesia, Austria. (Sekarang kota itu bernama Hranice wilayah Republik Ceko.) Johann memunyai dua saudara perempuan. Ayahnya adalah seorang petani. Minatnya dalam bidang hortikultura ternyata dimulai sejak dia masih kecil. (Paskah,2010).

1.

Hukum Mendel I Hukum Mendel I dikenal juga dengan Hukum Segregasi yang menyatakan: ‘pada

pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan dalam dua sel anak’. Hukum ini berlaku untuk persilangan monohibrid (persilangan dengan satu sifat beda).

Selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas itu dikenal sebagai segregasi gen. Dengan demikian setiap sel gamet hanya mengandung satu gen dari alelnya. Pada waktu fertilisasi, sperma yang jumlahnya banyak bersatu secara acak dengan ovum untuk membentuk individu baru. (Syamsuri, 2004). Dalam percobaannya, Mendel memilih tumbuhan biasa, yaitu tanaman ercis/kapri (Pisum sativum). Dia mengidentifikasi tujuh sifat berbeda yang kemudian dia teliti, sifatsifat tersebut memperlihatkan perbedaan yang kontras sehingga mudah untuk diamati, sifat- tersebut adalah :        Batang tinggi dan pendek Bunga letaknya terminal dan aksial Bunga warna ungu dan putih Buah polong berwarna hijau dan kuning Buah polong rata dan bergelombang Biji bulat dan keriput Kotiledon hijau dan kuning.

Alasan Mendel mengggunakan tanaman ercis dikarenakan beberapa hal yaitu      Memiliki pasangan sifat yang menyolok Bisa melakukan penyerbukan sendiri Segera menghasilkan keturunan atau umurnya pendek Mampu menghasilkan banyak keturunan, dan Mudah disilangkan

Pada galur murni akan menampilkan sifat-sifat dominan (alel AA) maupun sifat resesif (aa) dari suatu karakter tertentu. Bila disilangkan, F1 akan mempunyai kedua macam alel (Aa) tetapi menampakkan sifat dominan (apabila dominant lengkap). Sedangkan individu heterozigot (F1) menghasilkan gamet-gamet, setengahnya

mempunyai alele dominant A dan setengahnya mempunyai alel resesif a. Dengan rekomendasi antara gamet-gamet secara rambang populasi F2 menampilkan sifat-sifat dominant dan resesif dengan nisbah yang diramalkan. Nisbah fenotif yaitu 3 dominan (AA atau Aa) : 1 resesif (aa). ). Nisbah geneotif yaitu 1 dominan lengkap (AA) : 2 hibrida (Aa) : 1 resesif lengkap (aa). Mendel juga mengemukakan bahwa pada saat pembentukan gamet (sel kelamin) terjadi pemisahan bebas dari sifat/gen yang dikandung oleh induknya. Artinya setiap gamet akan akan mendapatkan gen yang telah memisah secara acak. Misalnya induk Bb akan menghasilkan gamet B dan b. prinsip tersebut dikenal sebagai prinsip segregasi bebas. Sedangkan induk BbPp (biji bulat, batang panjang) akan menghasilkan gamet BP, Bp, bP, bp. Prinsip ini disebut prinsip kombinasi secara bebas. (Syamsuri, 2004). Individu yang mengandung notasi dominan-dominan atau dominan-resesif akan menampakkan fenotipe dominan. Hanya individu yang mengandung notasi resesif-resesif yang menampakkan fenotipe resesif. Jadi, genotype BB dan Bb menampakkan penotipe bulat, sedangkan genotype bb akan menampakan fenotipe keriput. Mendel menarik beberapa kesimpulan dari hasil penelitiannya. Dia menyatakan bahwa setiap ciri dikendalikan oleh dua macam informasi, satu dari sel jantan (tepung sari) dan satu dari sel betina (indung telur di dalam bunga). Kedua informasi ini (kelak disebut plasma pembawa sifat keturunan atau gen) menentukan ciri-ciri yang akan muncul pada keturunan. (Paskah, 2010). Contoh :Disilangkan antara mawar merah yang bersifat dominan dengan mawar putih yang bersifat resesif.

Persilangan monohibrid dengan kasus intermediet Sifat intermediet adalah sifat yang sama kuat, jadi tidak ada yang dominan ataupun resesif. Contoh: disilangkan antara mawar merah dengan mawar putih

2.

Hukum Mendel II Hukum mendel II menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang

atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak saling memengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang menentukan e.g. tinggi tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling memengaruhi.(Wiki, 2011).

Hukum Mendel II ini dapat dijelaskan melalui persilangan dihibrida, yaitu persilangan dengan dua sifat beda, dengan dua alel berbeda. Hukum Mendel II ini hanya berlaku untuk gen yang letaknya berjauhan. Jika kedua gen itu letaknya berdekatan hukum ini tidak berlaku. Hukum Mendel 2 ini juga tidak berlaku untuk persilangan monohybrid Contoh : Disilangkan ercis berbiji bulat warna kuning dengan ercis biji kisut warna hijau

Dalam percobaannya, Mendel kadang-kadang mengetahui bahwa ada gen yang tidak dominant dan tidak pula resesif. Dengan kata lain gen –gen tersebut tidak memperlihatkan sifat dominant sepenuhnya. Maka akibatnya, keturunan yang dihasilkan dari perkawinan tersebut akan memiliki sifat antara dominant dan resesif. Dalam persilangan monohybrid yaitu persilangan dengan satu sifat beda, keturunan tersebut juga akan memiliki sifat antara dari kedua induknya.begitu juga dengan persilangan dihibrid

C. BAHAN DAN METODE o Alat dan bahan Praktikum a. Hukum Mendel I 1. kancing genetic warna merah dan putih masing-masing 50 pasang

2. kotak genetic 3. alat tulis b. Hukum Mendel II. 1. kancing genetic warna merah, putih, hijau dan kuning masing-masing 25 pasang 2. kotak genetic 3. alat tulis. o Metode Praktikum a) Hukum Mendel I a. Setiap kelompok mengambil model gen merah dan model gen putih masing-masing 50 pasang atau 100 biji. b. Sisihkan model gen merah dan model gen putih dalam keadaan terpasang. Ini dimisalkan individu merah dan individu putih. c. Bukalah pasangan gen yang ada pada cara no 2. ini dimisalkan pemisahan gen pada pembentukan gamet baik oleh individu jantan ataupun individu betina. d. Gabungkan model gen jantan merah dengan model gen betina putih dan begitu juga sebaliknya maka yang terbentuk adalah f1, keturunannya individu merah dan putih e. Pisahkan kembali model gen merah dan putih. Hali ini menggambarkan pemisahan gen pada pembentukan gamet pada F1. f. Kemudian semua gen jantan baik merah maupun putih dimasukkan dalam kotak yang sama yaitu kotak jantan dang en betina merah dan putih juga dimasiukkan k dalam kotak betina. Hal ini menggambarkan pemisahan gen pada pembentukan gamet pada F1. g. Ambillah satu gen jantan dan satu gen betina dengan mata tertutup

kemudian pasangkan. Lakukan terus sampai semua gen habis dan terpasang. h. Catat hasil dalam table hasil.

b) Hukum Mendel II a. ambil model gen merah, putih, hijau dan kuning masing-masing 25 pasang atau 50 biji.anggap gen merah dang fen putih sebagai pembawa sifat tinggi dan pendek pada tanman dang en hijau serta kuning sebagai penentu sifat bulat dan kisut pada biji. b. bukalah pasangan gen tersebut. Ini dianggap sebagai pemisahan gen pada pembentukan gamet dari kedua induk, kemudian anggaplah terjadi fertilisasi. Tentukan kombinasi genotip yang terbentuk pada F1. c. buat pasangan model gen untuk meneruskan macam gamet yang terbentuk pada F1. 1 pasang model gen adalah satu macam gamet. d. setelah mengetahui macam gametnya, maka pisahkan lagi pasangan model gen tadi. e. pisahkan semua pasangan model gen tersebut. Letakkan gen jantan merah dan putih pada satu kotak dan gen betina merah dan putih juga pada satu kotak. Begitu juga Untuk model gen hijau dan kuning . gen jantan hiojau di campur dengan gn jantan kuning dan untuk gen betina juga seperti itu. f. secara serentakdan dengan mata tertutup ambillah satu gen dari kotak jantan dan betina kemudian pasangkan dan tentukan kombinasi genotif serta fenotif yang terbentuk. g. catat hasil kombinasi dari setiap pasangan gen tadi dalam table hasil.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN  Hukum Mendel I No. 1. 2. Pasangan Merah-merah Merah-putih Tabulasi IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII 3. Putih-putih  Pembahasan Dalam praktikum Genetika mengenai Hukum Mendel I dilakukan kegiatan persilangan dengan satu sifat beda dengan menggunakan model gen/kancing genetika yang berwarna merah dan putih. Jumlah model gen merah dan putih masing-masing 50 pasang atau 100 biji. Praktikum dilakukan dengan cara mengambil kancing genetic tersebut kemudian tiap kancing dikelompokkan berdasarkan warnanya. Model gen merah dimisalkan sebagai gen penentu batang tinggi pada tanaman ercis sedangkan gen putih sebagai penentu gen batang pendek. Sisihkan satu model gen merah dang en putih, ini dimisalkan sebagai individu merah dan putih yang disilangkan, kemudian pasangan gen tadi dibuka, hal ini dimisalkan pemisahan gen pada pembentukan gamet. Maka setelah itu akan didapatkan keturunan F1 dengan memasangkan gen jantan merah dan gen betina putih atau sebaliknya. Setelah itu pisahkan lagi pasangan merah dan putih tersebut, hal ini dimisalkan pemisahan gen pada pembentukan gamet pada F1. Setelah didapatkan macam gamet, maka semua pasangan gen dibuka atau dipisahkan maka akan diperoleh gen jantan merah dan gen betina merah serta gen jantan putih dan gen betina putih. Kemudian letakkan gen jantan dan betina dikotak yang berbeda. Gen jantan merah dan gen jantan putih diletakkan di kotak yang sama begitu juga dengan gen bretina merah dan gen betina putih juga diletakkan dalam kotak yang sama. Kemudian dengan mata tertutup, salah seorang praktikan mengambil satu kancing dari kotak jantan dan kotak betina untuk dipasangkan.. kemudian hasilnya ditulis dalam table hasil. Pengambilan pasangan kancing dilakukan sampai semua kancing habis. Pada pengamatan yang dilakukan dalam praktikum dengan menggunakan masing-masing 50 buah kancing IIII IIII IIII IIII IIII 25 Jumlah 25 50

berwarna berbeda (merah dan putih) sebagai model gen, dibuat perumpamaan fenotif Merah homozigot dominan terhadap fenotif Putih dengan cara sebagai berikut : Parental (P) : MM >< mm

Merah >< Putih Gamet F1 `: : Mm Mm (Merah Putih) F2 ♀♂ M m M MM (Merah) Mm (Merah Putih) M Mm (Merah Putih) Mm (Putih) Mm

1. Perbandingan fenotif jika fenotif merah (M) dominan terhadap fenotif putih (m) adalah : Merah : Putih 75 : 25

2. Perbandingan fenotif jika sifat gen dominan tidak penuh (Intermediet) yaitu : Merah : Merah Putih : Putih 25 : 50 : 25

Persilangan monohibrid memiliki ciri-ciri antara lain adalah semua individu keturunan F1 dari gasil persilangan seragam atau sama, lalu pada waktu individu F1 yang heterozigot membentuk gamet, terjadi pemisahan alel sehingga gamet memiliki salah satu alel saja, kemudian jika dominasi tampak sepenuhnya, maka individu F1 memiliki fenotif seperti induk yang dominan, dan ketika gen dominan intermedier (tidak penuh), maka fenotif individu F1 tidak seperti salah satu fenotif galur murni, melainkan mempunyai sifat fenotif diantara kedua induknya. Selain itu dalam perumpamaan, ketika dominasi nampak sepenuhnya maka perkawinan monohibrid (MM >< mm) menghasilkan

keturunan yang menghasilkan perbandingan fenotif 3 : 1 (¾ Merah : ¼ Putih), tetapi menghasilkan perbandingan genotif 1 : 2 : 1 (¼ MM : 2/4 Mm : ¼ mm) 1997). Dengan perumpamaan jika fenotif Merah (M) homozigot dominan terhadap fenotif Putih (m), maka jumlah perbandingan fenotif Merah (M) dengan fenotif Putih (m) adalah 75 : 25. Kemudian pada perumpamaan jika sifat gen dominan intermediet, maka sifat dominan yang paling sering muncul adalah fenotif Merah-Putih (Mm) dengan jumlah fenotif 50. Hal tersebut terjadi karena sifat dominan pada fenotif Merah (M) menutupi sifat resesif pada fenotif Putih (m) (Suryo, 2001). Uji X2 (Chi-Square test) Hasil atau data yang diperoleh dari perobaan seringkali tidak sesuai benar dengan yang diharapkan. Untuk memantapkan hasil yang diperoleh perlu dilakukan pengujian X2. Uji X2 ini bertujuan untuk mengevaluasi atau menguji terhadap benar atau tidaknya hasil percobaan yang telah dilakukan dibandingkan dengan keadaan secara teoritis. Rumus tes X2: = ∑ ( d2 ) e d = deviasi /penyimpangan antara asil (observed = o ) dengan hasil yang diharapkan ( expected = e) Merah yang diperoleh (observed) =o 75 75 0 X Putih 25 25 0 Jumlah 100 100 0 0 X2 (Pratiwi,

yang diharapkan ( expected) = e deviasi /penyimpangan
2

=d

d = 0 0 e X2 = ∑ ( d2 ) = 0 e dk (derajat kebebasan) = jumlah kelas fenotip – 1 =2–1 =1

Dari hasil uji X2 yang telah dilakukan diperoleh bahwa hasil atau data percobaan yang diperoleh tidak berbeda nyata dengan dengan hasil yang diharapkan atau sesuai dengan teori yang ada.  Hukum Mendel II No. Kombinasi Gen/gamet 1. 2. . 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.  TTBB TTBb TtBB TtBb TTbb Ttbb ttBB ttBb Ttbb Genotif Fenotif Tinggi-bulat Tinggi-bulat Tinggi-bulat Tinggi-bulat Tinggi-kisut Tinggi kisut Pendek-bulat Pendek-bulat Pendek-kisut Ijiran III IIIII IIIIIIII IIIIIIIIIIII IIII IIIIII I IIIIIIIII II Jumlah 3 5 8 12 4 6 1 9 2

Pembahasan Dalam praktikum genetika ini dilakukan percobaan persilangan dengan dua sifat

beda atau dihibrid. Percobaan dilakukan dengan menggunakan model gen/kancing genetika juga namun dengan lebih banyak warna. Kancing genetic yang digunakan terdiri dari empat warna yaitu warna merah, puti, hijau dan kuning. Jumlah setiap warna kancing adalah 25 pasang atau 50 biji. Kancing berwarna merah dimisalkan sebagai penentu sifat tinggi batang, warna putih dimisalkan sebagai penentu sifat pendek batang, warna hijau dimisalkan sebagai penentu sifat bulat pada biji dan warna kuning dimisalkan sebagai penentu sifat kisut pada biji. Praktikum dilakukan dengan terlebih dahulu mengambil 25 pasang kancing warna merah, putih, hijau dan kuning. Sisihkan satu pasang kancing, kemudian kancing tersebut dibuka, ini dimisalkan pemisahan gen pada pembentukan gamet dari kedua induk, kemudian terjadi fertilisasi dan setelah itu akan diperoleh macam gamet pada F1. setelah diketahui F1 maka ditentukan kombinasi keturunan yang dihasilkan dari F1. kemudian

macam gamet dicatat. Kemudian buka semua kancing agar terpisah dari pasangannya. Bedakan gen jantan dan gen betinanya. Gen jantan merah dan gen jantan putih diletakkan dalam kotak yang sama begitu juga untuk gen betina merah dan putih juga diletakkan dalam satu kotak. Sedangkan untuk gen jantan hijau dicampur dengan gen jantan kuning dan sebaliknya gen betina hijau disatukan dngan gen betina kuning.setelah itu, salah seorang praktikan menutup mata dan mengambil satu gen jantan dan betina dari kotak merah putih untuk dipasangkan. Lakukan hal yang sama untuk kotak hijua dan kuning. Setelah dipasangkan, ditentukan pasangan tersebut merupakan macam gamet yang bagaimana sesuai dengan macam gamet yang telah ditentuka diawal. Kemudian catat hasilnya di tabel. Hal ini dilakukan terus sampai semua kancing habis dan terpasang Pada pengamatan yang dilakukan dalam praktikum dengan menggunakan masingmasing 50 buah kancing berwarna berbeda (merah, putih, hijau dan kuning) sebagai model gen, dibuat perumpamaan fenotif Tinggi-Bulat homozigot dominan terhadap fenotif Pendek-Kisut dengan cara sebagai berikut : Parental (P) : TTBB >< ttbb

Tinggi-bulat >< Pendek-kisut Gamet F1 `: : TB tb TtBb (Tinggi-Bulat) F2 ♀♂ TB tB Tb tb TB TTBB (Tinggi-Bulat) TtBB (Tinggi-Bulat) TTBb (Tinggi-Bulat) TtBb (Tinggi-Bulat) tB TtBB (Tinggi-Bulat) ttBB (Pendek-Bulat) TtBb (Tinggi-Bulat) ttBb (Pendek-Bulat) Tb TTBb (Tinggi-Bulat) TtBb TTbb (Tinggi-Kisut) Ttbb (Tinggi-Kisut) Tb TtBb (Tinggi-Bulat) ttBb (Pendek-Bulat) Ttbb (Tinggi-Kisut) ttbb (Pendek-Kisut)

1. Perbandingan fenotif jika fenotif Tinggi-Bulat (TTBB) dominan terhadap fenotif Pendek-Kisut (ttbb) adalah : Tinggi-Bulat : Tinggi-Kisut : Pendek-Bulat : Pendek-Kisut 28 : 10 : 10 : 2

2. Perbandingan genotif jika sifat Tinggi-Bulat (TTBB) dominan terhadap fenotif Pendek-Kisut (ttbb) adalah TTBB : TTBb : TtBB : TtBb : TTbb : Ttbb : ttBB : ttBb : ttbb 3 : 5 : 8 25 : : 12 : 50 4 : 6 : 25 : 1 : 9 : 2

Dari percobaan yang dilakukan kali ini dilakukan persilangan dihibrid (persilangan dengan dua sifat beda) yaitu antara bentuk biji dan tinggi tanaman. Dalam hal ini warna gen merah (B) pembawa sifat untuk biji bulat dan dominan, (b) pembawa sifat untuk biji kisut. Sedangkan warna gen kuning (T) adalah pembawa sifat untuk tinggi dan dominan terhadap pendek (t) pembawa sifat untuk pendek. Persilangan antara tinggi-bulat (TTBB), yang diwakili kancing genetic berwarna merah dengan pendek-keriput (ttbb) diperoleh F1 yang 100% tinggi-bulat (TtBb), karena biji bulat dan tinggi bersifat dominan terhadap biji kisut dan pendek. Jika F1 disilangkan dengan sesamanya (F1), maka diperoleh empat macam fenotipe yaitu Tinggi-Bulat, Tinggi-kisut, Pendek-Bulat, dan Pendek-Kisut. Dengan genotipe untuk Tinggi-Bulat (3 TTBB; 5 TTBb; 8 TtBB dan 12 TtBb), Tinggi-Kisut (4 TTbb; 6 Ttbb), Pendek-Bulat (1 ttBB; 9 ttBb) serta Pendek-Bulat (ttbb). Menurut hukum Mendel II, perbandingan fenotipe untuk persilangan dihibrid pada F2 adalah 9:3:3:1. Tgi--Bulat : Tgi-Kisut : Pndek-Bulat : Pndek-Kisut yang diperoleh (observed) =o 28 : 10 9,375 0,625 0,042 : : : : 10 : 2 3,125 -1,125 0,405

yang diharapkan ( expected) = e deviasi /penyimpangan =d d2 = e

28,125 : -0.125 : 0,00056 :

9,375 : 0,625 : 0,042 :

X2 = ∑ ( d2 ) = 0, 4899 e dk (derajat kebebasan) = jumlah kelas fenotip – 1 =4–1 =3 Hasil dari percobaan yang dilakukan, diperoleh data rasio fenotifnya, yaitu sifat Tinggi-Bulat sebanyak 28 kali, sifat Tinggi-kisut sebanyak 10 kali, dan sifat PendekBulat sebanyak 10 kali dan Pendek-Kisut sebanyak 2 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 28 : 10 : 10 : 2 yang mendekati angka ratio 9:3:3:1. Dengan deviasi -0, 125 untuk Tinggi-Bulat, 0,625 untuk Tinggi-Kisut dan Pendek-Bulat, dan -1,125 untuk Pendek-Kisut . Deviasi menyatakan besarnya penyimpangan hasil pengamatan terhadap besarnya harapan. Jika hasil percobaan mendekati nilai teoritis dapat disebut data yang diambil itu bagus, dan tak ada faktor lain yang mengganggu. Tapi kalau perbangdingan o/e makin menjauhi angka 1, data itu buruk, dan pernyataan fenotif tentang karakter yang diselidiki berarti dipengaruhi oleh faktor lain. Selanjutnya digunakan tabel X2, dan diperoleh bahwa hasil atau data percobaan yang diperoleh sesuai dengan hasil yang diharapkan. Walaupun terdapat sedikit perbedaan, tetapi data tersebut masih dapat digunakan. E. KESIMPULAN Dari praktikum yang kami lakukan dapat kami tarik kesimpulan bahwa : 1. Dari percobaan Hukum Mendel I yang telah dilakukan diperoleh perbandingan genotip pada keturunannya adalah MM : Mm : mm = 1 : 2 : 1 dengan perbandingan fenotip Merah : Putih = 3 : 1. 2. Dari percobaan Hukum Mendel II yang telah dilakukan diperoleh perbandingan genotip pada keturunannya adalah TTBB : TTBb : TtBB : TtBb : TTbb : Ttbb : ttBB : ttBb : ttbb = 3 : 5 : 8 : 12 : 4 : 6 : 1 ; 9 : 2 dengan perbandingan fenotip Tinggi-Bulat : Tinggi-Kisut : Pendek-Bulat : Pendek-Kisut = 28 : 10 : 10 : 2, mendekati perbandingan fenotip Hukum II Mendel yaitu 9 : 3 : 3 : 1

DAFTAR PUSTAKA Anonym. 2009. Genetika. Diakses 30 April 2011 di

http://biologimediacentre.com/genetika-hukum-mendel/ Nuri, isa . 2011. Hukum Mendell. Diakses 30 April 2011 di

http://waykananweb.blogspot.com/2011/03/hukum-mendel-1.html Musthofa, Arif Hendra. 2011. Hukum Mendel. Diakses 30 April 2011 di http://thegloryofunited.blogspot.com/2011/01/hukum-mendel.html Samudra, Fandri Lekiawan. 2009. Hukum Mendel I. Diakses 30 April 2011 di

http://samudra-fox.blogspot.com/2009/05/hukum-mendel-1.html Wikipedia. 2009. Hukum Pewarisan Mendel. Diakses 30 April 2011 di

http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Pewarisan_Mendel

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->