P. 1
METODE-PENELITIAN

METODE-PENELITIAN

|Views: 17|Likes:
Published by Try Rusdianto

More info:

Published by: Try Rusdianto on Apr 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2014

pdf

text

original

Resensi: METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mengumpulkan data dengan tujuan dan kegunaan

tertentu. Ciri ilmiah : • Rasional • Empiris • Sistematis Syarat data untuk penelitian : • Valid (derajat ketepatan) • Reliabel (derajat konsistensi/keajegan) • Objektif (interpersonal agreement) Data yang valid maka reliabel dan objektif, tetapi tidak sebaliknya. Data valid diperoleh dengan cara : • Menggunakan instrumen penelitian yang valid. • Mengunakan sumber data yang tepat dan cukup jumlahnya. • Menggunakan metode pengumpulan data yang tepat/benar. Data reliabel diperoleh dengan cara : • Menggunakan instrumen penelitian yang reliabel. Data objektif diperoleh dengan cara : • Menggunakan sampel atau sumber data yang besar (jumlahnya mendekati populasi). Jenis data menurut sifatnya : 1. Data kualitatif 2. Data kuantitatif • Data diskrit / nominal • Data kontinum - data ordinal - data interval - data rasio Tujuan Penelitian, secara umum : 1. Penemuan 2. Pembuktian 3. Pengembangan Kegunaan Penelitian, secara umum : 1. Memahami masalah 2. Memecahkan masalah 3. Mengantisipasi masalah

JENIS / RAGAM PENELITIAN A. Menurut Fungsi / Kedudukan 1. Penelitian Akademik (Mahasiswa S1, S2, S3), ciri/penekanan : • Merupakan sarana edukasi • Mengutamakan validitas internal (cara yang harus benar) • Variabel penelitian terbatas • Kecanggihan analisis disesuaikan dengan jenjang (S1, S2, S3) 2. Penelitian Profesional (pengembangan ilmu, teknologi dan seni), ciri/ penekanan : • Bertujuan mendapatkan pengetahuan baru yang berkenaan dan ilmu, teknologi dan seni. • Variabel penelitian lengkap • Kecanggihan analisis disesuaikan kepentingan masyarakat ilmiah • Validitas internal (cara yang benar) dan validitas eksternal (kegunaan dan generalisasi) diutamakan 3. Penelitian Institusional (perumusan kebijakan atau pengambilan keputusan), ciri/penekanan : • Bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengembangan kelembagaan • Mengutamakan validitas eksternal (kegunaan) • Variabel penelitian lengkap (kelengkapan informasi) • Kecanggihan analisis disesuaikan untuk pengambilan keputusan. B. Menurut Kegunaan 1. Penelitian Murni (Pure Research) / Penelitian Dasar Penelitian yang kegunaannya diarahkan dalam rangka penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan. 2. Penelitian Terapan (Applied Research) Penelitian yang kegunaannya diarahkan dalam rangka memecahkan masalahmasalah kehidupan praktis. C. Menurut Tujuan 1. Penelitian Eksploratif Bertujuan untuk mengungkap secara luas dan mendalam tentang sebab-sebab dan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. 2. Penelitian Pengembangan Bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan suatu prototipe baru atau yang sudah ada dalam rangka penyempurnaan dan pengembangan sehingga diperoleh hasil yang lebih produktif, efektif dan efisien. 3. Penelitian Verifikatif Bertujuan untuk mengecek kebenaran hasil penelitian yang dilakukan terdahulu/ sebelumnya. 4. Penelitian Kebijakan Penelitian yang dilakukan suatu institusi/lembaga dengan tujuan untuk membuat langkah-langkah antisipatif guna mengatasi permasalahan yang mungkin timbul di kemudian hari.

D. Menurut Pendekatan 1. Penelitian Longitudinal (Bujur) Penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan melalui proses dan waktu yang lama terhadap sekelompok subjek penelitian tertentu (tetap) dan diamati/diukur terus menerus mengikuti masa perkembangannya (menembak beberapa kali terhadap kasus yang sama). 2. Penelitian Cross-Sectional (Silang) Penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan melalui proses kompromi (silang) terhadap beberapa kelompok subjek penelitian dan diamati/diukur satu kali untuk tiap kelompok subjek penelitian tersebut sebagai wakil perkembangan dari tiap tahapan perkembangan subjek (menembak satu kali terhadap satu kasus). E. Menurut Tempat 1. Penelitian Laboratorium Eksperimen, tindakan, dll 2. Penelitian Perpustakaan Studi dokumentasi (analisis isi buku, penelitian historis, dll). 3. Penelitian Kancah / Lapangan Survei, dll. F. Menurut Kehadiran Variabel Variabel = hal-hal yang menjadi objek penelitian yang nilainya belum spesifik (bervariasi). 1. Penelitian Deskriptif Penelitian yang dilakukan terhadap variabel yang data-datanya sudah ada tanpa proses manipulasi (data masa lalu dan sekarang). 2. Penelitian Eksperimen Penelitian yang dilakukan terhadap variabel yang data-datanya belum ada sehingga perlu dilakukan proses manipulasi melalui pemberian treatment/ perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian yang kemudian diamati/diukur dampaknya (data yang akan datang). G. Menurut Tingkat Eksplanasi 1. Penelitian Deskriptif Penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan suatu variabel secara mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan variabel dengan variabel lainnya. 2. Penelitian Komparatif Penelitian yang dilakukan untuk membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda. 3. Penelitian Asosiatif Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara 2 variabel atau lebih. Penelitian asosiatif merupakan penelitian dengan tingkatan tertinggi dibanding penelitian deskriptif dan komparatif. Dengan penelitian asosiatif dapat dibangun suatu teori yang berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala/fenomena.

Ada 3 jenis hubungan antar variabel : a. Simetris (karena munculnya bersama-sama) X Y X tidak mempengaruhi Y atau sebaliknya. b. Kausal / sebab akibat X X mempengaruhi Y c. Interaktif / Resiprokal (timbal balik) X Y X dan Y saling mempengaruhi H. Menurut Caranya 1. Penelitian Operasional Penelitian yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja pada suatu bidang tertentu terhadap proses kegiatannya yang sedang berlangsung tanpa mengubah sistem pelaksanaannya. 2. Penelitian Tindakan Penelitian yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja pada suatu bidang tertentu terhadap proses kegiatannya yang sedang berlangsung dengan cara memberikan tindakan/action tertentu dan diamati terus menerus dilihat plusminusnya, kemudian diadakan pengubahan terkontrol sampai pada upaya maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tepat. 3. Penelitian Eksperimen (dari caranya) Penelitian yang dilakukan secara sengaja oleh peneliti dengan cara memberikan treatment/perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian guna membangkitkan sesuatu kejadian/keadaan yang akan diteliti bagaimana akibatnya. Penelitian ini merupakan penelitian kausal (sebab akibat) yang pembuktiannya diperoleh melalui komparasi/perbandingan antara : a. Kelompok eksperimen (diberi perlakuan) dengan kelompok kontrol (tanpa perlakukan); atau ; b. Kondisi subjek sebelum perlakuan dengan sesudah diberi perlakuan. I. Menurut Metodenya (Jenis-jenis Penelitian 1. Metode Survei 2. Metode Eksperimen 3. Metode Expose Facto 4. Metode Naturalistik/Alamiah 5. Metode Tindakan 6. Metode Evaluasi 7. Metode Kebijakan 8. Metode Sejarah/Historis Marzuki, C. 1999. Metodologi Riset. Jakarta: Erlangga. Y

Penelitian ilmiah adalah rangkaian pengamatan yang sambung menyambung, berakumulasi dan melahirkan teori-teori yang mampu menjelaskan dan meramalkan fenomena-fenomena [1]. Penelitian ilmiah sering diasosiasikan dengan metode ilmiah sebagai tata cara sistimatis yang digunakan untuk melakukan penelitian. Penelitian ilmiah juga menjadi salah satu cara untuk menjelaskan gejala-gejala alam. Adanya penelitian ilmiah membuat ilmu berkembang, karena hipotesis-hipotesis yang dihasilkan oleh penelitian ilmiah seringkali mengalami retroduksi. Rakhmat, Jalaluddin, Metode Penelitian Komunikasi. Mei 2007. Remaja Rosdakarya.

Penelitian dapat digolongkan dalam dua, sesuai dengan ukuran kwalitasnya yaitu penelitian ilmiah dan penelitian tidak ilmiah atau yang dilakukan oleh orang awam. Penelitian tidak ilmiah mempunyai ciri-ciri dilakukan tidak sistematik, data yang dikumpulkan dan cara-cara pengumpulan data bersifat subyektif yang sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan dari si peneliti. Karena itu penelitian tidak ilmiah adalah penelitian yang coraknya subyektif. Sedangkan Penelitian ilmiah adalah suatu kegiatan yang sistematik dan obyektif untuk mengkaji suatu masalah dalam usaha untuk mencapai suatu pengertian mengenai prinsip-prinsipnya yang mendasar dan berlaku umum (teori) mengenai masalah tersebut. Penelitian yang dilakukan, berpedoman pada berbagai informasi (yang terwujud sebagai teori-teori) yang telah dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu, dan tujuannya adalah untuk menambah atau menyempurnakan teori yang telah ada mengenai masalah yang menjadi sasaran kajian. Berbeda dengan penelitian tidak ilmiah, penelitian ilmiah dilakukan dengan berlandaskan pada metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Dalam sains dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya, yang terbanyak dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengamatan; eksperimen, generalisasi, dan verifikasi juga dilakukan dalam kegiatan-kegiatan penelitian oleh para ahli dalam bidang-bidang ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan budaya untuk memperoleh hasil-hasil penelitian tertentu sesuai dengan tujuan penelitiannya. Metode ilmiah berlandaskan pada pemikiran bahwa pengetahuan itu terwujud melalui apa yang dialami oleh pancaindera, khususnya melalui pengamatan dan pendengaran. Sehingga jika suatu pernyataan mengenai gejala-gejala itu harus diterima sebagai kebenaran, maka gejala-gejala itu harus dapat di verifikasi secara empirik. Jadi, setiap hukum atau rumus atau teori ilmiah haruslah dibuat berdasarkan atas adanya bukti-bukti empirik. B. Perbedaan Penelitian Berdasarkan Keilmiahan : 1. Penelitian Ilmiah Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar/tinggirendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu: a. Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti. b. Kemampuan untuk meramalkan: sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat/waktu lain; 2. Penelitian non ilmiah a. Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya : Sebagian penelitian yang non ilmiah didapati pada bidang garapan sebagai berikut : 1. Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen Pemasaran)

2. Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan / PR, Periklanan) 3. Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional) 4. Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman) 5. Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll. b. Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) : variabel adalah hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang. Penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan/ menggambar-kan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe = membeberkan/ menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen. C. Syarat-syarat/kriteria agar suatu penelitian dikatakan sebagai Penelitian Ilmiah Sifat atau ciri dari penelitian : 1. Pasif, hanya ingin memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan. 2. aktif, ingin memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesa. 3. Posisi penelitian sendiri pada umumnya adalah menghubungkan : (1) Keinginan manusia, (2) permasalahan yang timbul, (3) ilmu pengetahuan, dan (4) metode ilmiah. Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah : 1. Purposiveness, fokus tujuan yang jelas, 2. Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik, 3. Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas, 4. Replicability, Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis, 5. Objectivity, Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional, 6. Generalizability, Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna, 7. Precision, Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat , 8. Parsimony, Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya. Penelitian yang dilakukan dengan metode ilmiah disebut penelitian ilmiah. Suatu penelitian harus memenuhi beberapa karakteristik untuk dapat dikatakan sebagai penelitian ilmiah. Umumnya ada lima karakteristik penelitian ilmiah, yaitu : 1. Sistematik Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks. 2. Logis Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal, yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bisa prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus) atau prosedur

deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum. 3. Empirik artinya suatu penelitian biasanya didasarkan pada pengalaman sehari-hari yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian. Landasan penelitian empirik ada tiga yaitu : a. Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain). b. Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu c. Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya (ada hubungan sebab akibat). 4. Obyektif, artinya suatu penelitian menjahui aspek-aspek subyektif yaitu tidak mencampurkannya dengan nilai-nilai etis. 5. Replikatif artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus diuji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variabel menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.

Berpikir Deduktif dan Berpikir Induktif
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi. Menurut Jujun Suriasumantri, Penalaran adalah suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai suatu kegiatan berfikir penalaran memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri pertama adalah proses berpikir logis, dimana berpikir logis diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut pola tertentu atau dengan kata lain menurut logika tertentu. Ciri yang kedua adalah sifat analitik dari proses berpikirnya. Sifat analitik ini merupakan konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir tertentu. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkahlangkah tertentu. Pengetahuan yang dipergunakan dalam penalaran pada dasarnya bersumber pada rasio atau fakta. Mereka yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran mengembangkan paham rasionalisme, sedangkan mereka yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran mengembangkan paham empirisme. Berpikir Deduktif Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum, lawannya induksi (Kamus Umum Bahasa Indonesia hal 273 W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006) Deduksi adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. (Filsafat Ilmu.hal 48-49 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005) Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. (www.id.wikipedia.com). Pada induksi kita berjalan dari bukti naik ke undang. Pada cara deduksi adalah sebaliknya. Kita berjalan dari Undang ke bukti. Kalau kita bertemu kecocokan antara undang dan bukti, maka barulah kita bisa bilang, bahwa undang itu benar. Kalau kita sudah terima, bahwa semua benda kehilangan berat dalam semua cair, maka kita ambil satu benda dan satu zat cair buat penglaksanaan. Kita ambil sepotong timah,

kita timbang beratnya di udara. Kita dapat B gram. Kita masukkan timah tadi ke dalam air. Kita timbang beratnya air yang dipindahkan oleh timah tadi, kita dapati b gram. Menurut undang Archimedes timah tadi mesti kehilangan berat b gram. Jadi ditimbang dalam air, beratnya menurut Archimedes mestinya (B-b) gram. Sekarang kita ambil beratnya dan timbangan timah yang terbenam tadi. Betul kita dapat (B-b) gr. Jadi betul cocok dengan undang Archimedes. Sekarang induction sudah beralasan deduction, kebenaran undang sudah di sokong oleh penglaksanaan. Berulang-ulang kita lakukan pemeriksaan kita dengan benda dan zat cair berlainan dan berulang-ulang kita saksikan kebenaran undangnya Archimedes, pemikir Yunani itu. (Madilog. hal 104. Tan Malaka, Pusat Data Indikator). Berpikir Induktif Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum (Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 444 W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006) Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005) Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. (www.id.wikipedia.com) Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia benar pula.

Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya

PANDUAN MUDAH UNTUK MENULIS ABSTAK BAGI PEMULA APAKAH ABSTRAK ITU? Abstrak adalah ringkasan singkat dari sebuah proyek penelitian. Sebuah abstrak ditulis dengan baik akan membuat pembaca ingin mempelajari lebih lanjut tentang penelitian Anda, membaca makalah Anda, atau menghadiri presentasi Anda. Abstrak juga berfungsi sebagai ringkasan dari penelitian sehingga makalah atau karya tulis Anda dapat dikategorikan dan dicari kata kuncinya. Abstrak merupakan bagian penting dari laporan Anda karena abstrak mungkin merupakan bagian yang dibaca oleh orang-orang yang ining mengetahi karya tulis ilmiah anda. Abstrak merupakan gambaran yang menyediakan pembaca sebuah poin utama dan hasil dari karya tulis ilmiah anda. Abstak juga bisa dikatakan sebagai ringkasan dari esensi laporan. Untuk alasan ini, maka abstrak harus dibuat untuk menyajikan informasi yang paling lengkap dan semenarik mungkin.

BERAPA PANJANG SEBUAH ABSTAK? Umumnya, abstrak dibatasi untuk 200 sampai 300 kata. Namun batas kata tersebut dapat berubah ubah sesuai dengan permintaan dan ketentuan yang ada.

BAGAIMANA MEMBUAT ABSTAK YANG BENAR? Tidak ada format tunggal untuk menulis abstrak yang bagus dan benar. Namun Format umum untuk membuat abstak terdiri 4 komponen dari: -Latar Belakang -Metode -Hasil -Implikasi/Kesimpulan Penekanan ditempatkan pada masing-masing komponen akan tergantung pada bidang atau disiplin yang anda tekuni atau buat. Dalam beberapa kasus, latar belakang dan metode akan membutuhkan lebih banyak penekanan dan penjelasan, sedangkan dalam kasus lain, hasil dan implikasi akan membutuhkan lebih banyak penjelasan dan penekanan. Anda tidak diharuskan untuk mengikuti urutan keempat komponen di atas.Setiap kompoenen tersebut harus ditulis sebaik mungkin dan ditulis secara benar. Lebih jelas mengenai maksud dari 4 komponen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Latar Belakang: Latar belakang adalah motivasi untuk membuat karya tulis. Mengapa kita peduli tentang masalah ini? Apa arti perbedaan praktis, teoritis, ilmiah, dari penelitian Anda?

2. Metode atau Pendekatan: Apa yang lakukan untuk mendapatkan hasil dari karya tulis Anda? Bagaimana anda mendapatkan hasil dari karya tulis Anda? Apakah Anda menggunakan kerangka teori tertentu, prosedur teknis, atau metodologi? 3. Hasil atau Produk: Sebagai hasil dari metode atau pendekatan yang anda gunakan, hal apa yang Anda dapat, pelajari, buat, atau ciptakan? 4. Kesimpulan atau Implikasi: Apa dampak yang lebih besar dari temuan Anda?

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->