1. Berfilsafat pasti berfikir, tapi tidak smua berfikir berfilsafat, apa maksudnya? Jelaskan..!!! 2.

Jelaskan persamaan dan perbedaan antar : filsafat, agama dan ilmu pengetahuan, Dalam hal mempersoalkan bidang garapan/kajiannya....!!! 3. Jelaskan perebedaan aliran materialisme, spiritualisme, eksistensialisme 4. dalam memandang. Bagaimana implikasinya dalam

Apakah filsafat itu? Bagaimana definisinya? Demikianlah pertanyaan pertamayang kita hadapi tatkala akan mempelajari ilmu filsafat. Istilah "filsafat" dapat ditinjau dari dua segi, yakni: a. Segi semantik: perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab 'falsafah', yang berasal dari bahasa Yunani, 'philosophia', yang berarti 'philos' = cinta, suka (loving), dan 'sophia' = pengetahuan, hikmah(wisdom). Jadi 'philosophia' berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut 'philosopher', dalam bahasa Arabnya 'failasuf". Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan. b. Segi praktis : dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat bererti 'alam pikiran' atau 'alam berpikir'. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir bererti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa "setiap manusia adalah filsuf". Semboyan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Beberapa definisi Kerana luasnya lingkungan pembahasan ilmu filsafat, maka tidak mustahil kalau banyak di antara para filsafat memberikan definisinya secara berbeda-beda. Coba perhatikan definisi-definisi ilmu filsafat dari filsuf Barat dan Timur di bawah ini: a. Plato (427SM - 347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli). b. Aristoteles (384 SM - 322SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda). d. Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan :

mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan. yaitu: " apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika) " apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika) " sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi) f. Dr. yaitu: " hakikat Tuhan. Perlu ditambah bahwa definisi-definisi itu sebenarnya tidak bertentangan. dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. e. menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal. " hakikat alam semesta. artinya mulai dari radiksnya suatu gejala. Immanuel Kant (1724 -1804). dan " hakikat manusia. . yang sering disebut raksasa pikir Barat. guru besar psikologi UI. Fuad Hasan. Prof. b.Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya. hanya cara mengesahkannya saja yang berbeda. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada. serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut. Filsafat adalah 'ilmu istimewa' yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa kerana masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal. Kesimpulan Setelah mempelajari rumusan-rumusan tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa: a.

dan kebenaran adalah pengetahuan. ―Bagaimana caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar? ―Mudah saja‖. Dari ilustrasi ini dapat digambarkan bahwa pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu dan merupakan hasil proses dari usaha manusia. riset dan experimental (Anshari. ―Ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang kau tidak tahu‖ (Jujun. FILSAFAT DAN AGAMA Posted on Juni 2. kedua. pertama. Agama tak dapat dipisahkan dari bagian-bagian lain dari kehidupan manusia. yang kebenarannya diuji secara empiris. sifat spekulatif. (20 satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu. mendefiniisikan filsafat sebagai hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dan integral hakikat sarwa yang ada: (a) Hakekat Tuhan. maka di dalam kehidupannya manusia dapat memiliki berbagai pengetahuan dan kebenaran. yaitu: 1. 1979:158). titik perbedaan dan titik singgung yang satu terhadap yang lainnnya. Ilmu Pengetahuan Sebagai ilustrasi dikisahkan. Adapun–sebagaimana dikatakan Burhanuddin Salam (1995:5)–beberapa pengetahuan yang dimiliki manusia. (b) hakekat alam semesta. Pengetahuan filsafat 4. serta sikap manusia termasuk sebagai konsekwensi daripada faham (pemahamnnya) tersebut. filsafat dan agama.RELASI DAN RELEVANSI ANTARA ILMU. pembagian. dan keraguan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang dialami manusia dalam kehidupannya (Rapar. tapi juga mampu membongkar tempat berpijak secara fundamental. artinya bahwa seorang yang berfikirfilsafat tidak sekedar melihat ke atas. FILSAFAT DAN AGAMA Oleh Imam Mawardi Jalan untuk mencari. Hal yang menyebabkan manusia berfilsafat karena dirangsang oleh: ketakjuban. dan juga agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran manusia yang dibantu penginderaannya. Agama berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi. 2. tetapi melihat hakekat ilmu dalam konstalasi pengetahuan yang lainnya. (c) hakekat manusia. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada obyek yang ia sembah. Untuk itulah dalam berfikir filsafat perlu dipahami karakteristik yang menyertainya. bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ikhwal yang diselidiinya (alam. Seseorang yang religius merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan. adalah sifat menyeluruh artinya seorang ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu sendiri. Dari serangkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari perjelajahan pengetahuan (Jujun. ketidakpuasan. (3) satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya. menghampiri dan menemukan kebenaran dapat ditempuh dengan jalan. struktur. jika ia merupakan reaksi terhadap . bahwa untuk dapat mengambil suatu kebenaran kita perlu spekulasi. 1979:157). 1990:21-22) Agama Agama–pada umumnya– merupakan (10 satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia. 2008 by mawardiumm RELASI DAN RELEVANSI ANTARA ILMU. bertanyalah seorang kawan kepada ahli filsafat yang arif dan bijaksana. Pengetahuan religi Sedang ilmu pengetahuan sendiri mempunyai pengertian sebagai hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistematika mengenai kenyataan. dan ciri ketiga. Filsafat Endang Saifuddin Anshari. Pengetahuan biasa atau common sense. Ketiga jalan ini mempunyai titik persamaan. yaitu: ilmu. jawab filosof itu. 1996:16). 1990:19). sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan (Anshari. hasrat bertanya. sifat mendasar. Pengetahuan ilmu atau science 3. Beranjak dari pada pengetahuan adalah kebenaran. manusia. MA (1979:157).

M. George F. cet. dan ilmu pengetahuan a. Filsafat kehidupan (Prakata). Terj. sedangkan memikirkan rasa cintanya disebut 'contemplation'.. Endang Saifuddin. Jujun S. riset dan eksperimental). . Kneller. Poedjawijatna.. Butler. Sumiasumantri (ed). filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memahami. New York: Horper and Brothers. N. Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci. cet. 1987. Lewis membedakan 'enjoyment' dan 'contemplation'.keseluruhan wujud manusia terhadap loyalitasnya yang tertinggi. I. kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika.. J: Intext International Publisher. Sedangkan agama bersumberkan wahyu. Harold H. nous. 4) Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang. 1995. agama. 1985. Namun titik perbedaannya terletak pada sumbernya. 1990. vertand. 3) C. Baik ilmu maupun filsafat dimulai dengan sikap sanksi dan tidak percaya. Filsafat dan agama Dalam buku Filsafat Agama karangan Dr. Filsafat 1) Filsafat berarti berpikir. H. Jakarata: Pustaka Sinar harapan. 1996 Richard Pratte. research). DAFTAR PUSTAKA Anshari. Pengantar ke IImu dan Filsafat. Yogyakarta: kanisius. iii. filsafat ataupun agama bertujuan–sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang–sama yaitu kebenaran. Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat kedua-duanya nisbi (relatif). 1979. Rasa cinta disebut 'enjoyment'. Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut) karena agama adalah wahyu yang diturunkan Allah. Persoalan-Persoalan Filsafat. 1987. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya atau iman (Annshari.Sebuah Pengantar Populer. Inu kencana Syafi’i. 6. Scranton. dijelaskan dalam tindakan (Titus. Titik Persamaan dan Perbedaan Baik ilmu. rasio. jadi yang penting ialah ia dapat berpikir. ilmu dan filsafat berumur pada ra’yu (akal. dkk. Movement of Thought in Modern Education. 1996:158-160). Conteporary Theories of Education. 1951. Jakarta: Bumi Aksara. 2) Menurut William Temple. agama harus dapat dirasakan dan difikirkan: ia harus diyakini. vernunft) manusia. reason. H. Jakarta: Bumi Aksara. Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini).S. J. Ilmu. Filsafat. Filasafat menghampiri kebenaran dengan exploirasi akal budi secara radikal (mengakar). Jakarta: Bina Aksara. Pengantar Filsafat. budi. Jan Hendrik. Sebaiknya. Burhanuddin Salam. Living Issues in Philasophy. 1987:414). 1995. Filsafat Ilmu. Four Philosophies and Their Practice in Education and Religion. sebab kedua kata tersebut sering dipahami secara keliru. Titus. pengalaman (empiri) dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. misalnya laki-laki mencintai perempuan. Donald. kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiri. ———-. Jakarta: Gramedia. vede.R. Ilmu dalam Prespektif. Jakarta: Bulan Bintang. Pengantar Filsafat. 1984 Rapar. tidak merasa terikat oleh ikatan apapun. Disamping itu ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset. Tahu dan Pengetahuan. Surabaya: Bina Ilmu. Rosjidi diuraikan tentang perbedaan filsafat dengan agama. New York: John Witey and Sound. Filsafat dan Agama. yaitu pikiran si pecinta tentang rasa cintanya itu. 1977. Rasyidi.

sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan ide yang terpisahpisah. Berbeda dengan iman. 6) Seorang ahli filsafat. 8) Filsafat penting dalam mempelajari agama. dapat diukur. Bahwa prinsip-prinsip metafisis obyek menyingkapkan dirinya sendiri kepada kita dalam prosedur ilmu secara lamban. didasarkan pada sifat khusus intelek kita yang tidak dapat dicarikan oleh visi ruhani terhadap realitas tetapi oleh berpikir  Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran perorangan. Agama 1) Agama berarti mengabdikan diri. 8) Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen. juga mempunyai efek yang menenangkan jiwa pemeluknya. 6) Agama. biasanya bersikap lunak. di samping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri. Prinsip-prinsip obyek dan hubungan-hubungannya yang tercermin dalam kaitan-kaiatan logis yang dapat dilihat dengan jelas. 7) Filsafat. oleh pemeluk-pemeluknya. ilmu menuntut pengamatan dan berpikir metodis. sering mengeruhkan pikiran pemeluknya. sebab mereka telah terikat dn mengabdikan diri. 5) Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya. empiris. sebab ilmu dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapan  Ciri hakiki lainnya dari ilmu ialah metodologi. walaupun argumenya sendiri. yaitu pengetahuan didasarkan atas keyakinan kepada yang gaib dan penghayatan serta pengalaman pribadi  Berbeda dengan pengetahuan. akan dipertahankan dengan habis-habisan. jadi yang penting ialah hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.5) Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya. Sebaliknya. rasa pengabdian (dedication) atau 'contentment'. sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke obyek [atau alam obyek] yang sama dan saling berkaitan secara logis. walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya. Bahwa prinsip-prinsip logis yang dapat dilihat dengan jelas. Karena itu. tertata rapi. dan dibuktikan. sistematis. 7) Agama. CIRI UTAMA ILMU:  Ilmu adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren. 4) Agama banyak berhubungan dengan hati. ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusan tersendiri. 2) Agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan. 3) Agama dapat dikiaskan dengan 'enjoyment' atau rasa cinta seseorang. koherensi sistematik adalajh hakikat ilmu. Alat Bantu . jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain.

dan intensif. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN FILSAFAT DAN ILMU PERSAMAAN:  Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki obyek selengkap-lengkapnya sampai ke-akar-akarnya  Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-akibatnya   Keduanya hendak memberikan sistesis. Artinya. kategori dan hukum-hukum. dan keempatnya serentak  Karl Pearson. ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak. spesifik. Yang disebut belakangan ini mencoba konsepkonsep ilmu.maka…‖  Afanasyef. PERBEDAAN:  Obyek material [lapangan] filsafat itu bersifat universal [umum]. yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita . studi dan percobaan untuk menetukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji. Di samping itu. Guru Besar Antropolo di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disususn dalam satu system yang berasal dari pengamatan. obyek formal itu bersifatv teknik. yaitu segala sesuatu yang ada [realita] sedangkan obyek material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris. DIFINISI ILMU MENURUT PARA AHLI  Mohammad Hatta. yang ketetapnnya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis. maupun menurut kdudukannya tampak dari luar. akan pengetahuan yang lebih mendasar. karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas.  Harsojo. mengatakan ilmu adalah yang empiris. menerangkan bahwa ilmu adalah: Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan -------Suatu pendekatan atau mmetode pendekatan terhadap seluruh dunia empirisyaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia -------Suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk: ―jika. yaitu suatu pandangan yang bergandengan Keduanya mempunyai metode dan sistem  Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia [obyektivitas].…. masyarakat. mendalam dan mendasar. mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana  Ashely Montagu. rasional. sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu Obyek formal [sudut pandangan] filsafat itu bersifat non fragmentaris. seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris. amupun menurut hubungannya dari dalam  Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag.metodologis yang penting adalah terminology ilmiah. umum dan sistematik. mendifinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya. dan pikiran. Guru Besar antropolog di Universitas Pajajaran.

yang lebih dekat. yang mutlak. sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. kritis. sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainnya  Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari. nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis. Oleh karena itu. dan mendalam sampai mendasar [primary cause] sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam. yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu  Filsafat memberikan penjelasan yang terakhri. yang sekunder [secondary cause] . dan pengawasan. Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi. sedangkan ilmu bersifat diskursif. yaitu menguraikan secara logis.

Realisme rasional. Eksistensialisme Mengagungkan keberadaan manusia yang konkret. rasionalisme. idealisme mengemukakan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti dan tidak lengkap karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka. yaitu neorealisme dan realisme kritis. cantik atau jelek secara fundamental tidak berubah. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat. benar. Filsafat aliran idealisme. masing-masing pengertiannya. Apa yang dikatakan baik. salah. Spiritualisme Mengagungkan ruh (spiritual) sebagai hakikatnya. terdiri dari realisme klasik dan realisme religius. menurut pandangan idealisme. yaitu manusia yang mampu mencapai dunia cita. nilai adalah absolut. sebab akibat. ada pula pandangan lain mengenai realisme. Kemudian tahap perkembangan berikutnya bermunculan corak pemikiran atau aliran Filsafat baru lainnya. Naturalisme Mengagungkan aspek alami. secara garis besar terdapat dua aliran utama. yang berpahamkan bahwa pengetahuan manusia ti dak lain apa yang tergambar di dalam jiwanya. Pragmatisme Mengagungkan aspek kefaedahan. melainkan tetap dan tidak diciptakan manusia. di mana tujuan itu berada di luar kehidupan manusia. dan supernaturalisme. Sedangkan realisme kritis didasarkan atas pemikiran Immanuel Kant yang mensintesiskan pandangan . Selain realisme rasional dan realisme natural ilmiah. merupakan aliran yang berpandangan bahwa pengetahuan manusia yang benar adalah apa sesungguhnya ada yang baik dalam arti realita atau kenampakan.Aliran dalam filsafat. b. sedangkan yang nyata terlihat tersebut adalah bukan sebenarnya melainkan gambaran luarnya semata (Subagio:1992 : 47). Realisme natural ilmiah. yaitu pertama. dan substansialitas. memandang bahwa dunia materi adalah nyata dan berada di luar pikiran yang mengamatinya. memandang bahwa dunia yang kita amati bukan hasil kreasi akal manusia. manusia yang mampu mencapai dan menikmati kehidupan abadi yang berasal dari Tuhan. Tentang teori pengetahuan. yaitu menghormati hak-hak individu. serta aturan-aturan alam merupakan suatu penampakan dari dunia itu sendiri. Idealisme memiliki tujuan pendidikan yang pasti dan abadi. maka filsafat pendidikan memiliki berbagai aliran atau mazhab. di antaranya : 1. Selain itu. Berikutnya mengenai aliran idealisme. Neo-realisme adalah pandangan dari Frederick Breed mengenai filsafat pendidikan yang hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi. yaitu bercorak aliran realisme. Filsafat pendidikan realisme Aliran ini berpendapat bahwa dunia rohani dan dunia materi merupakan hakikat yang asli dan abadi. Kedua aliran tersebut. Kneller membagi realisme menjadi dua : a. Filsafat pendidikan idealisme Idealisme berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegensi. Termasuk dalam paham idealisme adalah spiritualisme. Materialisme Mengagungkan aspek kebendaan. Rasionalisme Mengagungkan aspek akal budi dan rasional. yakni sebagai berikut:         Positivisme Mengagungkan aspek kenyataan yang konkret (indera). Filsafat aliran realisme dan kedua. 2. melainkan dunia sebagaimana adanya. sifatnya maya yang menyimpang dari kenyataan sebenarnya. Empirisme Mengagungkan aspek pengalaman dunia luar (inderawi).

tidak doktriner. pengetahuan manusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas. Oleh karena itu. atau supernatural. melainkan proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman individu.” . dan tindakan konkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. pendidikan hendaknya dijadikan suatu pencarian dan penanaman kebenaran nilai tersebut.” Aristoteles : “Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya. bukan rohani. dan teori. Dalam pragmatisme. Filsafat pendidikan materialisme Materialisme berpandangan bahwa realisme adalah materi. makna segala sesuatu dilihat dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan. atau benar tidaknya suatu ucapan. tetapi untuk alat pekembangan dan pemenuhan diri secara pribadi. Gerakan ini bertumpu pada mazhab idealisme dan realisme. Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Filsafat pendidikan progresivisme Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak. 6. tetapi relatif atau tergantung pada kemampuan manusia. pendidikan bukan merupakan proses pembentukan dari luar dan juga bukan pemerkahan kekuatan laten dengan sendirinya. sematamata bergantung pada manusia dalam bertindak. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah berasaskan nilai yang telah teruji keteguhan dan kekuatannya sepanjang masa. spiritual. c. Filsafat pendidikan perenialisme Perenialisme adalah aliran yang berorientasi dari neo-thomisme dan memandang bahwa nilai universal itu ada. positivisme hanya mempelajari yang berdasarkan fakta atau data yang nyata. Cabang materialisme yang banyak dijadikan landasan berpikir adalah positivisme yang menganggap jika sesuatu itu memang ada. skeptimisme dan absolutisme. Filsafat pendidikan eksistensialisme Eksistensialisme adalah aliran yang menekankan pilihan kreatif. b. dan akal. Berikut adalah beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan : a. pengalaman bersifat dinamis dan temporal sehingga nilai pun terus berkembang. dan pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan. subjektivitas pengalaman manusia. serta eudaemonisme dengan prutanisme untuk filsafat yang kuat. 8. dalil. interpretasinya terhadap realitas. Thomas Aquina : “Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. 3. 4. sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru atau bahan pelajaran yang didasari oleh filosofi realisme religius dan humanisme. Menurut pragmatisme. 7. Plato : “Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu. Filsafat pendidikan pragmatisme Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak. kemauan. Menurut eksistensialisme. 5.berbeda antara empirisme dan rasionalisme. maka adanya itu adalah jumlah yang dapat diamati dan diukur. Filsafat pendidikan esensialisme Esensialisme dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes skeptisisme dan sinisme dari progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial.

mendalam. mencari orientasi dasar bagi kehidupan manusia. Counts yang keduanya adalah bersumber pada pragmatisme. Berfilsafat.9. karena para filsuf adalah kumpulan pengelamun saja? Lagipula. KODRAT Cara terpenting untuk memahami apa itu filsafat tidak lain adalah dengan berfilsafat. evaluatif atau normatif. dan menyeluruh. mendasar. artinya menyelidiki suatu permasalahan dengan menerapkan argumen-argumen yang filosofis. Filsafat pendidikan rekonstruksionisme Rekonstruksionisme adalah paham yang memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. benarkah juga proposisi bahwa filsafat tidak mungkin dapat mempertanggungjawabkan pemikiranpemikiran yang dihasilkan darinya. atau “Untuk apa seseorang berfilsafat?”. Dengan perkataan lain. Pertanyaan mendasarnya. sistematis. berfilsafat berarti: mempertanyakan dasar dan asal-usul dari segala-galanya. tidak peduli sekonyol apa pun tampaknya tanggapan kita pada saat itu. secara khusus dianalisis dalam bagian ini. “Mengapa (manusia) berfilsafat ?” Benarkah anggapan bahwa filsafat tidak membawa apa-apa bagi kepentingan manusia atau masyarakat pada umumnya? Bahwa filsafat hanya milik para filsuf dan mahasiswa filsafat? Kemudian. Rekonstruksionisme dapat dibedakan menjadi rekonstruksionisme individual dari John Dewey dan rekonstruksionisme sosial dari George S. ada empat sikap batin yang diperlukan:  Keberanian untuk menguji secara kritis hal-hal yang kita yakini. . mengapa harus filsafat yang berperanan dalam hal-hal yang kini “ditangani” oleh filsafat? Apakah tidak ada hal lain di luar filsafat yang mampu menyelidikinya? Pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut akan dicoba diperiksa pada keseluruhan sub-sub menu Mengapa Berfilsafat? ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa seseorang perlu berfilsafat?”.  Tekad untuk menempatkan upaya mencari kebenaran di atas kepuasan karena “menang” atau kekecewaan karena “kalah” dalam perdebatan. spekulatif. Dalam rangka berfilsafat itu. Yang dimaksud dengan argumen-argumen yang filosofis adalah argumen-argumen yang memiliki sifatsifat: deskriptif.  Kesediaan untuk mengajukan hipotesis-hipotesis tentatif dan memberikan tanggapan awal terhadap suatu pernyataan filsafat. kritis atau analitis. rasional. yang terkadang bernada curiga ini.

orang bisa kehabisan akal. tetapi dalam sistem itu perusahaan yang lebih besar dan lebih kuat bisa mendapatkan perlakuan khusus dari Pemerintah. atau non-Kristiani lain mengenai hal itu.. Yahudi.” Meskipun kita tidak memiliki minat untuk belajar filsafat. Kita hidup dalam sistem yang konon berprinsip perdagangan bebas. Lalu. bagaimana dengan mereka yang meyakini adanya U. sementara perusahaan-perusahaan yang lebih kecil tertindas dan berguguran. Kita mungkin akan terserap dalam suatu pembahasan filsafat walaupun persoalan yang dibahas kelihatannya sama sekali tidak “filosofis”. kita dapat saja terbawa ke arah pemikiran filsafat. Misalnya. agar tidak menyebabkan kekaburan berpikir atau konflik pribadi sehingga dapat menghambat proses diskusi filsafat. orang ateis mana yang tidak akan tergelitik oleh pernyataan. di tingkat akar rumput maca m inilah. “Allah benar -benar ada. “Mengapa (kita) berfilsafat?” atau “Untuk apa (kita) berfilsafat?” Salah satu jawaban yang terkesan spekulatif namun paling mungkin adalah. kita pasti akan terusik ketika mendengar pernyataan sembrono semacam ini: “Orang tidak harus bertanggungjawab atas perbuatannya. dan saya telah menemukan alasan-alasan untuk membuktikannya”? Jika suatu pernyataan ternyata didukung oleh argumentasi yang masuk akal. “Karena pada suatu saat kita secara tidak sadar sudah bergelut dengan suatu permasalahan filsafat. ada masalah-masalah filsafat yang mau tak mau menarik perhatian kita. Ada orang-orang dewasa yang kerap menguliahi anak-anak mereka tentang betapa jahatnya pengaruh ganja. Di bawah ini.” Contoh lain. Entah kita seorang mahasiswa filsafat atau bukan. Ringkasnya. yang dengan sendirinya jadi bahan pemikiran kita.O.? Orang-orang gila? Akan tetapi. awal mula berkembangnya persoalan besar filsafat. pertanyaannya bukan lagi haruskah kita menangani permasalahan filsafat. Dengan demikian. sementara mereka sendiri sibuk membereskan meja dan mempersiapkan minuman alkohol untuk pesta akhir pekan bersama kawan-kawan.O. melainkan bagaimanakah caranya. Rangsangan untuk mulai berfilsafat seringkali muncul ketika orang berhadapan dengan sebuah pernyataan yang dirasanya sebagai keliru.F. Masalah persisnya tentu berbeda dari orang ke orang. meskipun nyatanya orang-orang kaya mempunyai posisi yang lebih baik untuk menghindar dari tuntutan hukum dibanding mereka yang miskin. yakni ketika atau apabila suatu saat nanti terungkap bahwa ternyata “kita tidak sendirian” di alam raya ini. Pokok pertanyaan kita adalah. kita semua tentu setuju. Kemampuan untuk memisahkan kepribadian seseorang dari materi diskusi. Dalam benaknya berkecamuk: .F. bagaimana dengan “semua sama di depan hukum”? Benar. Contoh lain. kemungkinan mereka mengalami gegar budaya ternyata jauh lebih kecil dibanding kita yang tidak percaya U. setiap orang pasti menyimpan asumsi-asumsi atau keyakinan-keyakinan filsafat. Beberapa kita yang Kristen mungkin termasuk orang-orang yang sedari kecil terbiasa mengucapkan doa “Bapak Kami” setiap pagi di sekolah tanpa pernah memikirkan bagaimana pendapat orang-orang ateis. Daya tarik filsafat seringkali membuat kita lebih peka terhadap hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

tapi sepertinya alasan-alasan yang masuk akal juga untuk mempercayai kebenarannya. yang semakin berhasil memprediksikan perilaku manusia. terpaksa harus bergelut dengan pertanyaan tentang hakikat dan fungsi seni. mulai bertanyatanya. mereka tidak mengadakan masalah. setelah berketetapan bahwa materi sebagian besar adalah ruang hampa yang di dalamnya terjadi transformasi-transformasi energi tanpa warna. Seorang psikolog aliran behaviorisme.pernyataan itu mustahil benar. Di pinggiran-pinggiran wilayah keseharian inilah para filsuf menemukan soal-soal yang tersembunyi. . mari kita lihat bagaimana orang-orang yang bukan filsuf dapat terbawa kepada pemikiran filsafat. Seorang neuropsikolog. yang sedang meneliti korelasi antara fungsi-fungsi tertentu otak manusia dan rasa sakit. Tidak jarang. mulai sangsi. 3. biasanya melalui persoalan-persoalan yang secara langsung relevan dengan kepentingan mereka. adakah tindakan manusia yang dapat dikatakan “bebas”. teori-teori tersebut pada dasarnya adalah tanggapan terhadap masalah-masalah biasa seni. Percuma memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum diajukan. ketika merumuskan suatu peraturan tentang karya seni yang sopan dan yang tidak sopan. Bahkan. mereka yang tidak menaruh minat pada teori-teori filsafat bisa saja tertarik pada satu dua permasalahan filsafat tertentu. tidak peduli sekompleks dan seberat apapun. dan berwarna seperti yang kita persepsikan ini berkaitan dengan keberadaannya yang sesungguhnya dan manakah di antara keduanya itu yang lebih “nyata”. Perhatikan contoh-contoh berikut: 1. para filsuf seringkali menulis dalam bahasa khusus menurut spesialisasi bidangnya dalam mempertahankan atau mengkritik suatu teori. Untuk memberi gambaran. kiranya tidak akan menarik minat sebelum seseorang tahu bagaimana teori-teori tersebut sebenarnya menjawab permasalahan filsafat yang dihadapinya. Seorang ahli fisika nuklir. Namun. Tujuan utama pengantar filsafat biasanya adalah mengamati beberapa contoh penting permasalahan filsafat. apakah “akal budi” sungguh berbeda dengan otak. ilmu pengetahuan. berkeluasan. dan akal sehat. Sama seperti kaum profesional lainnya. Di dalam wilayah keseharian itu tersimpan masalah-masalah yang sangat mungkin akan membawa seseorang masuk ke dalam suatu kajian filsafat secara umum. yang seringkali kompleks dan tak jarang rumusannya aneh-aneh itu. 4. Mahkamah Agung. agama. moralitas. teori-teori yang disoroti merupakan reaksi atas masalah-masalah yang lain lagi. sejauh manakah dunia yang padat. 2. Teori-teori filsafat. bertanya-tanya.

1. Jika orang yang bukan filsuf itu tetap tidak dapat melihat pentingnya tujuan bidang filsafat. Daftar itu masih bisa kita tambahi dengan sekian banyak contoh lain. mulai mempertanyakan apa sebenarnya yang membedakan antara sudut pandang moral dan sudut pandang bukan moral. menyatakan bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk mengetahui apapun. Seorang skeptis sejati. Seorang kepala perpajakan. cobalah mengajukan suatu permasalahan filsafat yang secara khusus berkaitan dengan minat atau kepentingannya. yang telah terbiasa menuntut dan menolak bukti-bukti absolut bagi setiap sudut pandang yang ditemuinya. 1. kita sudah dapat melihat bahwa ketika dihadapkan dengan suatu persoalan yang relevan. karena lingkungan dan bahkan kita sendiri sesungguhnya telah menyimpan permasalahan- . 8. Seorang antropolog. mulai bertanya-tanya. terpaksa harus merumuskan kembali seluruh tujuan dan cakupan teologi tradisional. ketika harus menentukan organisasi-organisasi religius mana saja yang harus dibebaskan dari pajak. apakah akibat ataukah maksud (ataukah keduanya) yang menyebabkan peraturan itu diskriminatif. mungkin ia akan menemukan kecenderungan atau kertertarikan pada suatu tesis filsafat tertentu. bahkan orang yang bukan filsuf pun sangat mungkin tergiring ke dalam suatu pemikiran filsafat.5. Bolehlah dikatakan bahwa kodrat berfilsafat telah ada di dalam diri setiap manusia. tidak hanya berdiri di luar dan menunggu sampai diyakinkan bahwa kita harus terlibat di dalamnya. 6. terpaksa harus merumuskan apa yang dimaksudkan dengan “religius” dan apa “kelompok religius”. terpaksa harus membaca Comunist Mainfesto dan belajar mengenai ideologi Marx dan kapitalis. Kita mungkin baru sadar bahwa diri kita sudah ada di dalam filsafat dan terlibat dalam persoalanpersoalannya. 1. ketika harus menentukan peraturan baru mengenai pembatasan wilayah. yang mengamati bahwa setiap masyarakat ternyata memiliki konsepsinya sendiri tentang kode moral. Seorang ibu. yang bertekad untuk “mempertobatkan” anaknya yang komunis. dalam penyelidikannya tentang bagaimana bahasa membentuk pandangan kita terhadap dunia. menyatakan bahwa tidak ada satu “kenyataan sejati” karena semua pandangan mengenai kenyataan dikondisikan dan dibatasi oleh bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pandangan-pandangan itu. 7. Ketika ia menguji kemungkinan-kemungkinan jawaban atas permasalahannya. Seorang ahli bahasa. setelah kalah perang melawan sains mengenai arti harfiah alam semesta (atau “kenyataan”). Yang jelas. Seorang komisaris daerah. Seorang teolog.

Contoh lain lagi. biarpun dapat barangkali kita jual kepada orang awam sebagai „kebijaksanaan‟. Perubahan sistem nilai atau pandangan-pandangan dunia kita itu dapat mengubah perspektif kebahagiaan kita. Kita dapati di sini sebagian dari kebenaran pernyataan bahwa “Semua orang memang filsuf”. pilihan yang kita jatuhkan dalam pemungutan suara berkaitan dengan pro-kontra suatu masalah atas pemilihan seorang kandidat dapat sangat dipengaruhi oleh pandangan filsafat politik tertentu yang kita miliki. dan kita pun mungkin tidak akan terlalu menderita akibat tindakan perusakan alam. tujuan yang hendak kita kejar dalam profesi kita. Biarpun laku dalam masyarakat. termasuk sistem nilai yang kita miliki dan bagaimana kita memandang dunia secara umum. maka kita harus mempertimbangkan kembali pandangan kita mengenai hukuman mati dan rehabilitasi para narapidana. manfaat-manfaat itu lebih merupakan hasil sampingan saja. Contoh lain. barangkali kita tidak akan terlalu bernafsu menguasai dan menaklukkannya. jika betul keindahan itu hanya ada di mata pengamat. yaitu “Apa manfaat filsafat untukku. Namun. jika dalam arti tertentu pandangan dunia Barat dapat “di-Timur-kan”. kalau filsafat dipakai sebagai pentil untuk mengelamun.permasalahan filsafat. “Kalau berfilsafat disamakan dengan berkhayal saja. Keterlibatan kita secara kritis dalam filsafat dapat mengubah keyakinan-keyakinan dasar kita. pertanyaan “Untuk apa berfilsafat?” menyiratkan suatu kepentingan praktis. Kita akan menjadi tukang candu sebagaimana dituduhkan Marx kepada agama. jika betul tidak ada tindakan yang benar-benar bebas. saya kira filsafat semacam itu tidak kita perlukan. dengan berpikir berputar -putar tanpa tertib. (Mengapa harus menghukum orang yang tidak mampu mengendalikan perbuatannya?) Contoh lain. Tidak sulit untuk mencari contoh relevansi praktis yang muncul ketika kita mengambil pandangan filsafat tertentu. atau sekadar gaya hidup kita. Demikian Magnis. sebenarnya kita mengibulkan masyarakat dengan itu. Lebih lanjut. seandainya saja kita melihat bahwa diri kita merupakan bagian tak terpisahkan dari alam.” MANFAAT (1) Bagi banyak orang. dari kajian filsafat. selain pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri?” Ada sebuah jawaban yang juga praktis untuk pertanyaan itu. bukan tujuan yang spesifik. Namun harus dicatat juga bahwa sedikit sekali orang yang berfilsafat secara sistematis. maka akan lebih mudah bagi orang Barat untuk . bagaimana kita dapat menentukan bahwa suatu karya seni layak dianugerahi penghargaan sebagai karya seni “terbaik”? dan konsepsi kita mengenai perilaku mana yang bermoral dan mana yang tidak bermoral niscaya akan berakibat sangat jauh bagi relasi personal kita dengan orang lain. Karena disadari bahwa untuk itu diandaikan suatu sikap ilmiah yang baru diperoleh setelah studi bertahun-tahun. Misalnya.

dan tidak dapat ditangani oleh seorang filsuf. Di situ kita mungkin akan menjumpai artikel-artikel dengan judul semacam ini: “IQ: Keturunan dan Ketidakadilan”. sekali lagi. atau “Rudal dan Moral: Pandangan Utilitarian tentang Perlucutan Senjata Nuklir”. Pertama. dan semakin membebaskan diri dari dogmatisme. kelangsungan hidup spesies manusia. bukan tugas filsafat. Menyadari bahwa selain pandangan diri sendiri ternyata ada pandangan-pandangan lain yang argumennnya kokoh. sama seperti karena ia mempelajari bidang studi lain atau karena ia mendapat tekanan dari teman-teman sebayanya. Namun. atau apapun yang menurut masyarakat benar. MANFAAT (2) Kita akan memetik manfaat bukan hanya dari keterlibatan diri kita dalam filsafat pada umumnya. Ada orang yang merasa bahwa dengan mempelajari filsafat keyakinan agamanya semakin diteguhkan. mendalam. ada satu hal yang perlu diingat. namun tidak jarang didukung dengan argumen-argumen yang kuat. Juga tidak bisa dikatakan bahwa memang sebaiknya terjadi perubahan. kepentingan pribadi. Sudut pandang orang lain itu mungkin nampaknya tidak masuk akal. Tidak satupun dari jawaban itu mutlak harus diterima oleh semua filsuf. dengan melakukan telaah filsafat. Sebelum kita beranjak lebih jauh. Singkatnya. desakan suara hati. tidak ada jaminan bahwa keyakinankeyakinan seseorang akan berubah. “Eutanasia”. Penelusuran sebab-sebab terjadinya perubahan pada keyakinan-keyakinan dasar seseorang seringkali adalah persoalan psikologi. dengan berfilsafat atau melibatkan diri secara kritis dalam persoalan-persoalan filsafat. “Apakah yang menjadikan tindakan yang benar itu benar?” Banyak jawaban yang secara sepintas nampaknya dapat diterima: besarnya kebahagiaan yang dihasilkan oleh suatu tindakan. kesadaran itu membuka pintu bagi sikap toleran dan bebas dari dogmatisme. Bacalah juga beberapa jurnal filsafat. kita akan semakin mandiri secara intelektual. sementara orang lain justru mengalami guncangan. bersifat luas. dapat menjadi pengalaman yang membuat frustrasi atau justru membebaskan.menjelaskan dan menerima fenomena akupuntur. “Perilaku Paternalistik”. lebih toleran terhadap perbedan sudut pandang. Itu semua hanya beberapa contoh untuk menunjukkan relevansi kajian permasalahan filsafat dengan kehidupan sehari-hari. Relevansi kritis dari penelaahan semacam itu tidak dapat dipungkiri. dan kritis. Penelaahan filsafat yang efektif. Perhatikan pertanyaan. Apapun hasilnya. “Memaklumi Pemerkosaan”. Memang perubahan semacam itu dapat terjadi karena seseorang mempelajari filsafat. sikap-sikap yang disebutkan di atas dapat berkembang karena luasnya kajian filsafat yang kita lakukan. . Barangkali tidak ada disiplin lain yang sedemikian setia untuk melakukan telaah yang ketat dan tidak berat sebelah terhadap “sudut pandang orang lain”. Para filsuf tidak pernah berusaha dengan sengaja menimbulkan kedua macam reaksi itu. melainkan juga secara khusus dari kegiatan melakukan telaah atau kajian filsafat.

Ringkasnya. tidak ada jaminan bahwa pengkajian filsafat pasti akan menghasilkan buahbuah itu. kebebasan intelektual dan sikap-sikap lainnya yang berkaitan. taruhlah dalam soal mencari pekerjaan? Memang. toleransi terhadap pandangan-pandangan yang berbeda. selain mempersiapkan kita untuk studi tingkat pasca-sarjana atau mengajar. akan kita peroleh dengan mengkaji persoalan-persoalan filsafat secara mendalam. menolak ikut arus pendapat umum. Dalam kuliah seni. bukan sekadar mengisi kepala dengan fakta-fakta. kita tetap dapat mengembangkan sikap yang kritis secara umum. mengajak kita untuk mengambil posisi dan menetapkan pendirian. tetapi juga menilainya secara kritis. Mungkin. ataupun perubahan nilai dan keyakinan dasar seseorang. beberapa dari kita ada yang mempertanyakan apa sebenarnya manfaat praktis yang “nyata” dari mempelajari filsafat. Inilah unsur-unsur kemandirian intelektual. yang ada hanyalah suka atau tidak suka pada yang kita lihat. Entah apapun kesimpulan akhir kita mengenai persoalan tertentu. Yang ketiga adalah penilaian kritis. gelar sarjana dalam bidang filsafat tidak akan mempersiapkan kita untuk suatu pekerjaan tertentu. Dalam suatu kuliah filsafat. pengkajian filsafat dapat membuahkan kebebasan dari dogmatisme. dan masih dapat ditambah dengan banyak contoh lain. Inti filsafat adalah membentuk pemikiran. yang pada gilirannya dapat mempengaruhi arah kehidupan pribadi maupun profesinya. Kelebihan filsafat adalah bahwa ia memperlengkapi kita untuk berbagai bidang . Kedua. Masing-masing pernyataan tesebut. dalam kuliah pengantar ilmu pengetahuan kerap dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan didasarkan pada prinsip determinisme. Sikap kritis berarti tidak menerima sesuatu begitu saja hanya berdasarkan autoritas. Dalam kuliah sosiologi dan antropologi. seorang mahasiswa mungkin akan mengatakan bahwa tidak ada kriteria untuk membedakan seni yang baik dari yang buruk. Tentu ada hal-hal lain yang juga dapat mengembangkan toleransi. Filsafat mengajak kita untuk menguji dan mempersoalkan kembali dogma-dogma yang telah kita anggap benar. Filsafat hanyalah salah satu alternatif terbaik. mencermati asumsi-asumsi dan ambiguitasambiguitas dalam setiap pernyataan yang dapat dipersoalkan (termasuk pernyataan kita sendiri). Lain halnya dengan bidang-bidang studi lain yang lebih teknis sifatnya. Misalnya. kemandirian intelektual. sudah disinggung sebelumnya. Pernyataan-pernyataan semacam itu kerap diterima begitu saja secara tidak kritis sebagai “kebenaran”. tesis bahwa moral berbeda-beda dalam setiap kebudayaan sering dinyatakan sebagai bukti atas klaim kontroversial bahwa benar dan salah semata-mata adalah soal kesukaan dan ketidaksukaan seseorang atau sekelompok orang belaka. Tujuan berfilsafat bukan sekadar meninjau berbagai macam teori.Kedua. implikasi. misalnya. pengkajian filsafat dapat membawa kepada perubahan keyakinan dan nilainilai dasar seseorang. Pertama. kita berkesempatan untuk menyelidiki tema-tema yang dalam kuliah lain hanya dibicarakan sambil lalu. dan ambiguitas yang biasanya jarang disentuh.Namun. dan mencari penjelasan dan alasan-alasan bagi hal-hal yang oleh orang lain dianggap sudah jelas. serta kemandirian intelektual. berfilsafat – mengkaji permasalahan filsafat secara serius – memberikan manfaat pribadi dalam dua cara. mengandung berbagai asumsi. yakni keyakinan bahwa segala persitiwa pasti memiliki sebab.

jelas dan inovatif. diuji. Filsafat hanyalah salah satu alternatif terbaik. jelas. entah dari bidang manapun fakta-faktanya berasal. hukum. disingkirkan. dan inovatif. pengkajian filsafat dapat membuahkan kebebasan dari dogmatisme. diuji dan ditimbang terus secara logis. ditinjau dari berbagai perspektif. baik biasa maupun ilmiah. kemandiran intelektual ataupun perubahan nilai dan keyakinan dasar seseorang. sebagaimana yang biasa kita lakukan di sekolah dulu. jika kita memang ingin berhasil dan unggul. yang pada gilirannya dapat mempengaruhi arah kehidupan pribadi maupun profesinya. dan sebagainya. teologi. bisnis. secara sistematis. dan lain-lain – menuntut seseorang untuk bergulat dengan permasalahan filsafat. disusun ulang. tentang hakikat kebenaran dan pengetahuan. mengkaji permasalah filsafat secara serius memberikan manfaat pribadi dalam dua cara. dipungut lagi. Tentu ada hal-hal lain yang juga dapat mengembangkan toleransi. Namun. Pertama. Artinya. filsafat menawarkan metode-metode mutakhir untuk menangani masalah-masalah mendalam manusia. disingkirkan. Posisi-posisi kepemimpinan dan yang memikul tanggung jawab dalam berbagai profesi – kedokteran. toleransi terhadap pandangan-pandangan yang berbeda. Ringkasnya. Kedua. “Fakta-fakta” masih perlu dipertanyakan. Setiap orang bisa menghafalkan fakta-fakta. disusun ulang. tentang tanggung jawab dan keadilan. lapangan kerja di dunia nyata menuntut jauh lebih banyak dari sekadar menghafalkan fakta-fakta.non-akademis. Kemampuan itu dipelajarinya dari dua jalur: secara sistematis dan secara historis. “Fakta-fakta” masih perlu dipertanyakan. dipungut lagi. . dan ditimbangtimbang terus secara logis. tidak ada jaminan bahwa pengkajian filsafat pasti akan menghasilkan buah-buah itu. entah dari bidang mana pun fakta-faktanya berasal. pengkajian filsafat dapat membawa kepada perubahan keyakinan dan nilai-niali dasar seseorang. serta kemandirian intelektual. FUNGSI Pada umumnya dapat dikatakan bahwa studi filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menangani pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metodis ilmu-ilmu spesial. dan dalam banyak hal dapat membantu kita mengembangkan diri dalam karier yang kita pilih. sudah disinggung di atas. ditinjau dari berbagai perspektif. Namun. Kemampuan untuk melakukan semua itulah yang hendak dikembangkan melalui kegiatan berfilsafat itu sendiri – yang pada hakikatnya merupakan sebuah latihan juga. Kemampuan untuk melakukan semua itulah yang hendak diperoleh dari belajar filsafat ataupun berfilsafat. Jadi berfilsafat membantu untuk mendalami pertanyaan-pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas (filsafat teoretis) dan lingkup tanggung jawabnya (filsafat praktis). Pertama.

dan filsafat Indonesia untuk mengaktualisasikannya bagi Indonesia modern yang sedang kita bangun. Filsafat merupakan sarana baik untuk menggali kembali kekayaan kebudayaan. filsafat juga mempunyai fungsi khusus dalam lingkungan sosial budaya Indonesia 1. 1. filsafat membantu untuk mengambil sikap yang sekaligus terbuka dan kritis. Dengan mempertimbangkan hal di atas. budayawan. serta belajar dari jawaban-jawaban yang sampai sekarang ditawarkan oleh para pemikir dan filsuf terkemuka terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. tradisi-tradisi. termasuk teologi. Dalam situasi ini sangat diperlukan kemampuan untuk tidak sekadar menolak ideologi-ideologi itu secara dogmatis dan dari luar. tuntutan-tuntutan dan legitimasi-legitimasi dari berbagai agama. 2. bimbingan. serta mendalami jawaban-jawaban yang diberikan oleh para pemikir terbesar umat manusia. waawasan dan pengertian kita sendiri diperluas. filsafat selalu juga merupakan kritik ideologi. nilainilai dan norma-norma itu. melainkan untuk menanggapinya secara kritis dan argumentatif. Kemampuan ini memberikan sekurang-kurangnya tiga kemampuan yang memang sangat dibutuhkan oleh segenap orang yang di jaman sekarang harus atau mau memberikan pengarahan. ideologi dan pandangan dunia. Pendasaran metodis dan wawasan lebih mendalam dan kritis dalam menjalani studi-studi di ilmu-ilmu spesial. dan teolog. sosiolog. menanggapi. sangat diperlukan oleh profesi-profesi seperti pendidik. Menghadapi tantangan modernisasi dengan perubahan pandangan hidup. pengarang dan penerbit. demikian kegiatan berfilsafat. Kemampuan untuk menganalisis secara terbuka dan kritis argumentasi-argumentasi. Di situ orang belajar untuk mendalami. . ilmuwan politik. agamawan. dapat dikatakan bahwa filsafat. 2. Bangsa Indonesia berada di tengah-tengah dinamika proses modernisasi yang meliputi semakin banyaknya bidang dan hanya untuk sebagiannya dapat dikemudikan melalui kebijakan pembangunan. 3. Suatu pengertian lebih mendalam tentang manusia dan dunia. pendapatpendapat. Secara singkat.Jalur kedua adalah sejarah filsafat. dan kepemimpinan spiritual dan intelektual dalam masyarakat. Di samping itu. psikolog. Justru kemampuan ini sangat diperlukan dewasa ini di mana kebudayaan merupakan pasaran ide-ide dan ideologi-ideologi religius dan politis yang mau membujuk manusia untuk mempercayakan diri secara buta kepada mereka. Dengan mempelajari pendekatan-pendekatan pokok terhadap pertanyaan-pertanyaan manusia yang paling hakiki. wartawan.

tentang asal bahasa. filsafat membangun kesanggupan untuk mendeteksi dan membuka kedok-kedok ideologis pelbagai bentuk ketidakadilan sosial dan pelanggaran-pelanggaran terhadap martabat dan hak-hak asasi manusia yang masih terjadi. Filsafatlah yang paling sanggup untuk mendekati warisan rohani tidak hanya secara museal dan verbalistik. itu pun tanpa mengurangi pentingnya sikap beragama. . Di universitas-universitas. pertanyaan tentang batas-batas pengetahuan kita. Misalnya.3. sehingga kekayaan rohani bangsa dapat menjadi modal dalam pembentukan terus-menerus identitas modern bangsa Indonesia. 6. tempat bertemunya berbagai disiplin ilmu pengetahuan. TUGAS Salah satu alasan mengapa seorang berfilsafat adalah karena memang dalam diri filsafat itu sendiri mengandung suatu tugas. Salah satu fungsi terpenting filsafat adalah bahwa ia menyediakan dasar dan sarana sekaligus bagi diadakannya dialog di anatara agama-agama yang ada di Indonesia pada umumnya dan secara khsus dalam rangka kerja sama antar-agama dalam membangun masyarakat adilmakmur. tentang hakikat materi. 5. tentang hubungan badan dan jiwa. karena semua fakultas lain. tidak terbatas pada pendekatan salah satu agama tertentu. kritis dan refleksif. Kita sudah mengetahui bahwa filsafat didasari oleh suatu kebebasan berpikir. karena argumentasinya mengacu pada manusia dan rasionalitas pada umumnya. Filsafat dapat berfungsi sebagai interdisipliner sistem. Jadi filsafat adalah dasar bagus bagi dialog antar-agama. menjumpai pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan refleksi yang tidak lagi termasuk bidang khusus mereka. 4. namun suatu kebebasan berpikir yang ditandai oleh hasrat keakraban dengan kebenaran yang dikandung oleh penampilan realitas. Justru para agamawan memerlukan filsafat supaya dapat bicara satu sama lain dan bersama-sama memecahkan masalah-masalah sosial dan masalah-masalah nasional. Jadi filsafat membuat sanggup untuk melihat secara terbuka masalah-masalah sosial serta percaturan kekuasaan yang sedang berlangsung. tidak semua bentuk berpikir dalam filsafat harus terus-menerus dijamin oleh kesungguhan dan kejujuran dalam menempuh tahap-tahap pikiran menuju kebenaran. Sebagai kritik ideologi. fakultas filsafat sering disebut “fakultas sentral” atau “inter-fakultas”. Filsafat merupakan dasar paling luas untuk berpartisipasi secara kritis dalam kehidupan intelektual bangsa pada umumnya dan khususnya dalam kehidupan intelektual di universitasuniversitas dan lingkungan akademis. Sementara. sedangkan kesaksian terhadap kesungguhan dan kejujuran ini tidak bisa diterapkan oleh orang lain kecuali oleh nurani filsuf yang bersangkutan. melainkan secara evaluatif. tentang dasar moral. tentang hakikat hidup. yang selalu menyelidiki salah satu segi dari kenyataan.

Kita cenderung untuk melupakan itu dengan memandanganya sebagai sesuatu yang murah. Kedua arti ini dari “reconaissance” (dalam bahasa Inggris “recognation” dan “acknowledgement”) memperlihatkan kedua dimensi pengetahuan manusia: masa lampau dan masa depan. Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang terbalik juga dapat dikemukakan. hlm. 55. . yang terpenting. yaitu bahwa kita dapat kehilangan hidup. 55. karena hidup ini akan berakhir. Bontempo – S. Di sinilah letak tugasnya.Oleh karenanya. “menyelidiki” dan “berterima kasih”. lebih-lebih “berpikir kritis tentang alam raya dan tentang tempat manusia di dalamnya. Kata Perancis ini berarti sekaligus “mengingat”. dan bahwa bahaya yang selalu hadir. Refleksi tentang ini diuraikan dengan bagus oleh sejumlah pemikir jaman kita. Sikap ini berarti suatu devaluasi dari semua sistem yang mendahului sistem satu-satunya yang didewakan itu. Hidup mempunyai nilai sebagai sesuatu yang sangat istimewa. “Reconaissance” ini dilupakan oleh para teknokrat dan ideolog. Dan bagian kecil ini – misalnya ajaran Marx – kemudian didewakan. yaitu “penyelidikan” dan “sikap berterima kasih” atau “penghargaan”. Jack Odell. · Terhadap masa lampau kita harus berterima kasih. yaitu bahwa – kalau hidup tidak akan berakhir – hidup tanpa harga. seperti Karl Popper. Ada orang yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga. Gabriel Marcel dan Alfred North Whitehead. hlm. Gabriel Marcel menekankan dua arti. Selandia Baru dan Amerika Serikat). The Owl of Minerva.) * Gabriel Marcel Gabriel Marcel (lahir di Paris 1889. “Semua orang adalah filsuf. mengajar filsafat di Inggris. menurut Sir Kal Popper (lahir di Wina 1902. New York 1975. (K. * Karl Popper Tugas filsafat sekarang ini. mengakui bahwa kita berhutang. meninggal 1973) melihat filsafat sebagai “reconaissance” . dalam: Ch. “mengakui”. “How I See Philosophy”. Hidup itu mahal. Karena mereka hanya memilih salah satu unsur atau ajaran dari seluruh warisan sejarah filsafat.) Hidup kita di dunia ini – sebuah planet kecil dalam kosmos yang sebagian besar kosong – merupakan suatu misteri besar. orang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sambil bertanggungjawab. berpikir tentang kemampuan-kemampuan pengetahuan kita dan kemampuankemampuan kita terhadap kebaikan dan kejahatan”. Philosophers on Philosophy. karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian. Popper. yang sudah menjadi sifat filsafat itu sendiri. “How I See Philosophy”. Terhadap masa depan kita harus terbuka: siap untuk menyelidiki dan menerima. sekurang-kurangnya ikut menolong untuk menyadari nilai dari hidup.” (K. Popper.

“penciptaan suatu bahasa umum yang dapat di pakai sebagai . “re -thinking” dengan “sikap keterbukaan dan penghargaan” (Marcel). Jack Odell. Definisi Whitehead ini – filsafat sebagai “survey of sciences” – diterima oleh banyak orang dewasa ini. Amerika Serikat) menguraikan tugas filsafat dengan kata-kata ini: Filsafat itu tidak salah satu ilmu di antara ilmu-ilmu lain.) Gabriel Marcel mengemukakan sesuatu yang sangat klasik. suatu refleksi kedua yang dapat mengatasi jurang yang dialami manusia dalam jaman kita. Science and the Modern World.Tugas filsafat sekarang ini. dan dari seluruh kenyataan manusiawi.) Filsafat mempunyai dua tugas: menekankan bahwa abstraksi-abstraksi dari ilmu-ilmu betul-betul hanya bersifat abstraksi (maka tidak merupakan keterangan yang menyeluruh). dan melengkapi ilmuilmu dengan cara ini: membandingkan hasil ilmu-ilmu dengan pengetahuan intuitif mengenai alam raya. Definisi Whitehead masih dapat diperluas sedikit: filsafat itu tidak hanya “survey of sciences”. “Philosophy as I See it Today”. Cambridge 1953. “Filsafat itu pemeriksaan („survey‟) dari ilmu ilmu. Plato sudah mengajar bahwa “mengetahui” sebetulnya “mengingat”. dan di Harvard. Marcel dan Whitehead dapat dibaca sebagai satu definisi: Tugas filsafat itu “berpikir kritis tentang alam raya dan tentang tempat kita di dalamnya (Popper). Philosophers on Philosophy. Berpikir itu sesuatu yang dianugerahkan kepada kit a. melainkan juga “survey” (atau”re-thinking”) dari semua ideologi. * Alfred North Whitehead Alfred North Whitehead (1861-1947 mengajar matematika dan filsafat di Cambridge. penyelidikan kritis mengenai hasil ilmu -ilmu abstrak untuk mencapai suatu gambaran yang lebih menyeluruh (Whitehead).” (A. hlm. 108. “acceptance”. The Owl of Minerva. pengetahuan yang lebih konkret. Istilah-istilah lain yang sekarang sering terdengar dalam uraian-uraian mengenai tugas filsafat: “reinterpretasi” kenyataan manusiawi. bahasa Inggris “to thank”). 119-122. kata Gabriel Marcel. (G. Marcel. Bontempo – S. New york 1975.N. kerelaan untuk menerima. semua interpretasi mengenai dunia. Dengan demikian filsafat menjadi suatu “re-thinking”. Ketiga uraian dari Popper. sesuatu yang harus dihargai dan diterima. dan tujuan khusus dari filsafat itu menyelaraskan ilmu-ilmu dan melengkapinya. hlm. Whitehead. Inggris. dan Hediegger mengatakan bahwa “berpikir” (dalam bahasa Jerman “denken. dalam Ch. bahasa Inggris “to think”) harus bersifat “berterima kasih” (dalam bahasa Jerman “danken”. sambil mendukung pembentukan skema-skema berpikir yang lebih menyeluruh. yaitu jurang antara sikap teknis dan analitis di satu pihak dan hidup di lain pihak. terdiri dari kedua jenis “reconaissance” ini: sikap penghargaan dan sikap keterbukaan.

dan itu mulai dengan menyadari betapa sedikit yang sungguh kita ketahui. (Sumber : http://www. melainkan berpikir secara radikal sampai ke akar-akarnya. maka kita tidak akan mampu berpikir secara bebas. Namun kita tidak boleh melupakan bahwa pengetahuan yang luas ini tidak pernah utuh. pada saat itulah kita mulai belajar filsafat.bagian dari semua ilmu khusus”. Sebab filsafat adalah usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hakiki mengenai suatu hal dengan tidak dogmatis dan ceroboh. Tidak begitu penting uraian mana yang dipilih. Mengapa filsafat dirasakan oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang rumit?. “dialog yang mendamaikan abstraksi -abstraksi dan spesialismespesialisme ilmu-ilmu”. Ini dikarenakan mereka sejak awal sudah kurang tepat dalam mengartikan filsafat.net) Saat kita menemukan halangan dalam usaha mencapai sebuah jawaban yang jelas dan pasti mengenai suatu hal. Berpikir dalam filsafat juga harus mengacu pada kaidah-kaidah tertentu.filsafatkita. dan “mencari hikmat di tengah semua pengetahuan”. yaitu sikap keterbukaan dalam berfilsafat dan memikul tugas yang memang sudah melekat padanya. Yang penting adalah suatu sikap tertentu. Segala sesuatu yang ada dan yang mungkin untuk dipikirkan dapat menjadi objek filsafat apabila selalu dipertanyakan. Filsafat mencari kebenaran.f2g. Namun kegiatan berpikir dalam berfilsafat bukan sembarang berpikir. Dapat juga diartikan sebagai kegiatan berpikir guna mencapai kebaikan dan kebenaran. tidak hanya pada bagian-bagian tertentu atau khusus saja yang sifatnya terbatas. Berfilsafat berarti berpikir dengan tidak terbelenggu dengan pemikiran-pemikiran yang sudah diterima umum. . Ditambah lagi dalam berpikir serta melihat suatu gejala tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Di mana usaha-usaha menjawab pertanyaan tersebut dilakukan secara kritis. melainkan dari berbagai sudut pandang (komprehensif). Di samping itu berpikir filsafat harus sistematis tentang keterkaitan antara satu unsur dengan unsur-unsur lain sehingga tersusun sebuah pola pemikiran yang mana di antara unsur-unsur yang dipikirkan tersebut tidak terjadi sesuatu yang bertentangan dan tersusun secara logis. Sebab apabila kita berpikir dengan terbelenggu oleh pemikiran-pemikiran umum. Sebab baik disadari ataupun tidak berfilsafat bukanlah sesuatu yang asing dan terlepas dari kehidupan sehari-hari. Beberapa dari kaidah tersebut sudah saya sebutkan di atas. Kita tidak “memiliki” kebenaran. difikirkan dan ditelaah secara mendalam guna mencapai suatu kebenaran. Di samping itu berpikir filfasat juga harus berpikir secara menyeluruh. Cakrawala pengetahuan kita semakin luas. yaitu berpikir secara mendalam (radikal) serta berpikir secara menyeluruh (universal).

Sebab justru dengan berfilsafat maka dari pencarian suatu pertanyaan maka akan muncul pertanyaan-pertanyaan lain. Tanpa menyadari bahwa segala kebaikan untuk tubuh sama baiknya dengan segala kebaikan untuk jiwa. LATAR BELAKANG Berpikir adalah tingkah laku yang menggunakan ide-ide yaitu proses simbolis contohnya. Namun bagi saya disitulah asiknya berfilsafat. LATAR BELAKANG B. Manusia praktis yaitu orang yang hanya mengenal kebutuhan materi. Begitu seterusnya. III PENUTUP A. Apabila satu level telah selesai. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB. tapi tidak peduli dengan makanan untuk pikirannya.Langkah awal untuk masuk ke dalam dunia filsafat adalah pertama-tama kita harus membebaskan diri kita dari apa yang biasa disebut sebagai “manusia praktis”. PENGERTIAN BERPIKIR DAN MENGINGAT BAB. Filsafat seperti sebuah game di play station yang tak memiliki game over serta menyebabkan kecanduan untuk terus memainkannya. SARAN DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN A. Namun bukan berarti dengan berfilsafat maka kita akan menemukan akhir pencarian dari sebuah pertanyaan. I PENDAHULUAN A. maka kita akan diantarkan pada level selanjutnya. II PEMBAHASAN MASALAH A. Orang-orang yang paham mengenai ini tidak akan memiliki asumsi bahwa berfilsafat adalah kegiatan yang membuang-buang waktu. Khususnya dalam kebaikan pikiranlah nilai-nilai filsafat bisa ditemukan. Kalau kita membayangkan suatu makanan yang tidak ada maka kita menggunakan ide (berpikir) atau simbol-simbol tertentu. yang hanya menyadari bahwa manusia harus mengonsumsi makanan untuk jasmaninya. . TUJUAN MASALAH BAB. KESIMPULAN B.

Ini sering dilakukan oleh para seniman dalam mencipta karya-karya seninya. 2. TUJUAN MASALAH Sesuai tugas yang diberikan dosen mata kuliah psikologi umum semester satu. tetapi kadang-kadang masih dapat diingat. polisi lalu lintas. nasi atau anak yang belum sempat diberi makanan atau hal lainnya. dan sebagainya. Dan diarahkan pada sesuatu. Asosiasi bebas: Suatu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain. d. e. Misalnya. sebebas-bebasnya tanpa batas. Melamun: yaitu menghayal bebas. Asosiasi terkontrol: Satu ide tertentu menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas-batas tertentu. taufik. Berpikir terarah. apabila menurut pembaca masih ada kekurangan dan kesalahan. dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini tepat waktu yang telah ditentukan. tetapi tidak merangsang ide tentang hal-hal lain di luar itu seperti peraturan lalu lintas. biasanya diarahkan a. B. Demi kesempurnaan karya tulis selanjutnya. atau modelnya. bahwa tujuan penulisan ini untuk memenuhi tugas pelajaran psikologi umum serta untuk menambah nilai psikologi umum. bahwa tujuan penulisan psikologi umum semester satu. piutang yang belum ditagih. Jenisjenis berpikir asosiatif: a. Mimpi ini kadangkadang terlupakan pada waktu terbangun. ide tentang makan dapat merangsang timbulnya ide tentang restoran dapur. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Makalah ini disusun untuk menambah nilai ulangan umum semester ganjil (satu) di Perguruan Tinggi STAI AlHauld Ketapang. yaitu membuat keputusan atau Dua macam berpikir pemeliharaan terhadap terarah. yaitu: suatu keadaan. Berpikir asosiatif.Mengingat adalah bukti bahwa seseorang telah belajar untuk mengingat banyak hal setiap harinya. akan merangsang ide-ide lain tentang harganya. Serta memberikan masukan kepada para mahasiswa/ mahasiswi STAI AlHauld Ketapang tentang bagaimana caranya membedakan antara berpikir dan mengingat. jadi ide-ide timbul secara bebas. . berikut: tingkah laku yang menggunakan kegiatan berpikir dapat 1. Kami harapkan saran perbaikan yang sifatnya membangun. Jalan pikiran dalam proses berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya. pemeliharaannya. yaitu proses berpikir di mana suatu ide merangsang timbulnya ide lain. pajaknya. juga mengenai hal-hal yang tidak realistis. Berpikir artistik: yaitu proses berpikir yang sangat subjektif. yaitu proses berpikir yang sudah ditentukan sebelumya. tanpa ada batasnya. mereknya. Mimpi: ide-ide tentang berbagai hal yang timbul secara tidak disadari pada waktu tidur. Berkat limpahan rahmat. KATA PENGANTAR Alhamdullilah. Misalnya. Jalan pikiran sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa menghiraukan keadaan sekitar. c. ide tentang membeli mobil. Ketapang. Namun. Makalah ini telah disusun oleh kami dengan usaha yang maksimal. mertua sering meminjam barang-barang. PENGERTIAN a. b. Pengertian Berpikir Berpikir adalah Macam-macam BERPIKIR DAN ide untuk membantu kita golongkan II MASLAAH MENGINGAT seseorang sebagai berpikir. Berpikir kritis pada pemecahannya persoalan. 20 Oktober 2008 Penyusun Download Lengkap Makalah via Ziddu BAB PEMBAHASAN A.

Tentu saja ia akan mengalami kegagalan. Pengertian Mengingat Mengingat adalah tingkah laku manusia yang selalu diperoleh pengalaman masa lampau yang diingatnya. 2. menemukan sistem baru. yaitu mengingat kembali suatu hal. Ada dua macam strategi umum dalam memecahkan persoalan: 1. simbol simbol yang dipergunakan dalam peraturan lalu lintas. Misalnya dalam contoh di atas ingatan timbul setelah pria tersebut secara kebetulan berjumpa kembali dengan gadis yang bersangkut. seseorang harus membentuk kebiasaan. Kesulitan dalam memecahkan persoalan dapat ditimbulkan oleh: 1. Lebih sukar lagi ialah mengingat dengan cukup tepat untuk memproduksi bahan yang pernah dipelajari. seseorang hanya melihat satu kemungkinan jalan keluar. Suatu bentuk memperoleh materi tertentu dikaitkan dengan tiap bentuk mengingat. seseorang perlu belajar. 2. recall. Untuk mengarahkan jalan pikiran kepada pemecahan persoalan. Untuk merekognisi dan merecall. Padahal belum tentu persoalan berikut itu dapat dipecahkan dengan cara yang sama. Sehingga tidak dapat melihat adanya beberapa kemungkinan jalan keluar. hampir sama dengan rekoleksi. lukisan. seseorang harus mempersepsi. 3. menemukan pemecahan baru dari suatu soal. Strategi detailistis: di sini persoalan di bagi-bagi dalam bagian-bagian dan dipecahkan bagian demi bagian. sedangkan untuk memperoduksi. Kesulitan seperti ini disebabkan oleh sempitnya padangan orang tersebut. pertama-tama kita harus memperoleh materinya. yaitu berpikir untuk menentukan hubungan-hubungan baru antara berbagai hal. Dalam hal ini akan timbul kesulitan-kesulitan terutama kalau orang yang bersangkutan tidak mau mengubah dirinya. Di samping kata-kata. Kita me-recall sesuatu apabila kita sadar bahwa kita telah mengalami sesuatu di masa yang lalu. sama sekali terlepas dari hal-hal lain di masa . 2. Apabila kita melakukan rekognisi. komposisi musik. Bentuk ini disebut rekognisi. dan sebagainya. Misalnya anda mengenal kembali (rekognisi) sebuah nyanyian dan ingat juga bahwa anda pernah mempelajari nyanyian itu (recall).tanpa mengenakan sesuatu itu pada indera kita. mata uang. Meskipun ternyata kemungkinan yang satu ini tidak benar. Bentuk mengingat yang lebih sukar adalah recall. orang tersebut akan mencobanya terus. Telah dikatakan di atas. Misalnya perkataan buku adalah simbol uang mewakili benda yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang dijilid dan tertulis huruf-huruf. tetapi ingatannya hanya timbul kalau ada hal yang merangsang ingatan itu. Memperoleh materi merupakan langkah pertama dalam keseluruhan proses yang bertitik puncak pada mengingat. Rekoleksi. 1. reproduksi ataupun performance. Karena itu. Mengingat dapat didefinisikan sebagai pengetahuan sekarang tentang pengalaman masa lampau. Misalnya: seorang pria mengingat peristiwa pertama kali ia pergi dengan seorang gadis. lengkap dengan segala detail dan hal-hal yang terjadi di sekitar tempat peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Bentuk mengingat yang keempat ialah melakukan (performance) kebiasaan-kebiasaan yang sangat otomatis.b. kita mengingat wajah kawan. Misalnya. Strategi menyeluruh: di sini persoalan dipandang sebagai suatu keseluruhan dan dipecahkan untuk keseluruhan itu. bentuk-bentuk simbol antara laibn angka-angka dan simbol matematika. Berpikir kreatif. bahwa berpikir terarah diperlukan dalam memecahkan persoalan-persoalan. Ada beberapa cara untuk mengingat kembali hal-hal yang sudah pernah diketahui sebelumnya. yaitu menimbulkan kembali ingatan suatu peristiwa. Memanggil kembali ingatan. c. Bentuk yang paling sederhana adalah mengingat sesuatu apabila sesuatu itu dikenakan pada indera. 3. Set: pemecahan persoalan yang berhasil biasanya cenderung dipertahankan pada persoalan-persoalan yang berikutnya (timbul: set). 1. Sempitnya pandangan: sering dalam memecahkan persoalan. karena ia tidak melihat jalan keluar yang lain. maka terlebih dahulu diperlukan penyusunan strategi. kita me-recall nama buku yang telah selesai kita baca minggu lalu. Mengingat dapat terjadi dalam beberapa bentuk. yaitu sesuatu yang dapat mewakili segala hal dalam alam pikiran. Misalnya. menemukan bentuk artistik baru dan sebagainya. Pembauran ingatan. 2. tetapi apakah anda menyanyikannya kembali (reproduksi)? 4. dan sebagainya. Dalam berpkir selalu dipergunakan simbol. not musik.

DAFTAR PUSTAKA Fauzi. Yang diingat di sini hanya sajaknya saja. tidak diperhatikan lagi. Ahmad. Yang dianggap sebagai kaum pelajar. yang telah terjadi pada diri kita sendiri maupun orang lain. yaitu mengingat kembali suatu hal setelah menjumpai sebagian dari hal tersebut. Misalnya ingat suatu lagu. terjadi kalau kita mempelajari hal sama untuk kedua kalinya. 3. H. III A. Berpikir adalah seseorang yang berpikir bukan saja dengan otaknya tetapi berpengaruh juga dengan keseluruhan anggota tubuhnya. sehingga tempo belajar dapat menjadi jauh lebih singkat. tetapi pada suatu saat apa saja yang dipelajari untuk pertama kalinya. 2. . Mempelajari kembali. Oleh karena itu sebagai kaum pelajar kita harus mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari. setelah mendengar sebagian dari nada lagu tersebut. KESIMPULAN Dari hasil penelitian kami yang telah diuraikan pada bab pembahasan masalah dapatlah disimpulkan hal-hal berikut: 1. 2. Berpikir selalu berdampingan dalam mengingat suatu peristiwa/ kejadian masa lampau. 1999. 4. bhanyak hal-hal yang akan diingat BAB PENUTUP kembali. karena mereka telah mengetahui apa itu berpikir dan mengingat. mengingat sajak.lalu.Drs. Berpikir dan mengingat merupakan cara yang baik dalam proses belajar. Pelajar adalah masyarakan yang terpelajar. Berpikir dan mengingat juga mempunyai perbedaan B. Bandung: Penerbit: Pustaka Setia. Misalnya. Berpikir dan mengingat yang bermanfaat maka akan menghasilakn hal yang sangat baik (positif) apabila berpikir dan mengingat yang tidak bermanfaat maka akan menghasilkan hal yang buruk (negatif) 4. Rekognisi. 5. SARAN 1. Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful