SENI BERIMPROVISASI Pengertian Improvisasi Dalam permainan musik, terutama musik instrumental, seorang pemain ada kalanya memainkan

melodi dengan bebas berdasarkan akor-akor yang sudah ditentukan. Ia mencipta nada-nada baru mengikuti perasaan hatinya, seolaholah ia pergi “mengembara” dan akhirnya pulang kembali. improvisasi disebut “improvisor”. Improvisasi atau seni berimprovisasi ini paling banyak dijumpai pada musikmusik beraliran jazz. Akan tetapi, dalam perkembangannya, musik-musik jenis lain pun ada kalanya menggunakan seni berimprovisasi untuk memvariasi permainannya, sehingga boleh dikatakan seni berimprovisasi itu bukan cuma menjadi milik sebuah aliran musik tertentu (jazz) saja. Gagasan Musikal dalam Berimprovisasi Berimprovisasi merupakan keterampilan seorang pemain yang dengan intuisinya berusaha menuangkan ide-ide musikal menurut gerak hatinya, sehingga apa pun yang muncul sesungguhnya mencerminkan kreativitasnya yang asli. Improvisasi dilakukan dengan spontan, tanpa persiapan. Di sinilah letak kecakapan seorang pemain diuji dalam arti “mampukah ia mengembangkan sebuah tema lagu dengan gagasan-gagasan musikalnya secara cermat dan elegan?” Dalam musik jazz improvisasi merupakan suatu keharusan, karena memang improvisasi adalah salah satu ciri musik tersebut. Orang berimprovisasi pada dasarnya ingin menunjukkan kecakapannya dalam menuangkan ide-ide musikalnya secara spontan dan bila pencapaiannya dalam permainannya ini berhasil maka makin puaslah ia dan juga pendengarnya. Modal untuk Berimprovisasi Di dalam musik peristiwa semacam itu disebut improvisasi, sedangkan orang yang bermain

Untuk belajar bermain improvisasi ada lima faktor yang dibutuhkan: (1) intuisi, (2) emosi, (3) kemampuan mengenal nada, (4) kebiasaan, dan (5) intelektual. Intuisi adalah suatu gerak dari dalam hati yang darinya seorang improvisor mampu memunculkan ide-ide musikalnya; emosi atau perasaan adalah gejolak di dalam hati yang sangat menentukan mood (suasana hati) pemain; kemampuan mengenal nada (sense of pitch) adalah suatu kecakapan yang sangat penting pagi improvisor agar ia mampu mewujudkan nada-nada yang dibayangkannya itu ke dalam notasi musik; kebiasaan adalah sesuatu yang sudah menjadi bagian dari pemain yang memampukan seorang improvisor dengan cepat menentukan nada-nada dengan tepat; intelektual adalah kecerdasan yang dimiliki pemain untuk mengatasi masalah-masalah teknis. Empat dari lima faktor di atas  intuisi, emosi, kemampuan mengenal nada, kebiasaan, dan intelektual  ada di bawah sadar, kecuali intelektual. Ini berarti bahwa kontrol atas sebuah improvisasi harus berasal dari kecerdasan improvisor. Sulit sekali mengatakan bahwa kelima faktor tersebut mempunyai nilai proporsi tertentu, ada faktor-faktor tertentu yang lebih menonjol daripada faktor yang lain. Hanya sedikit improvisor saja yang mampu menggantungkan dirinya pada faktor-faktor di bawah sadar, artinya bahwa sebagian besar improvisor mampu mengembangkan keterampilannya dengan belajar; yaitu belajar mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah mengakar kuat, mengatasi cara kerja yang tidak teratur hingga ketidakberdayaan mengevaluasi kekurangannya. Karena intelektual adalah satu-satunya faktor yang dapat dikontrol maka kami akan menghampiri persoalan improvisasi ini dengan faktor intelektual ini, sambil berharap keempat faktor lainnya (intuisi, emosi, kemampuan mengenal nada, kebiasaan) ikut meningkat seiiring dengan kemampuan intelektual yang terus meningkat. Jika pada mulanya Anda merasa bahwa pendekatan dalam proses pembelajaran improvisasi ini tampak dingin dan kaku, maka ingatlah bahwa prestasi seni sebagian besar membutuhkan latihan akademis. Persiapan untuk Belajar Berimprovisasi

Mari kita amati lebih jauh mengenai problema intelektual itu. Improvisor harus mengenali bingkai-bingkai dasar berimprovisasi untuk meningkatkan musikalitasnya. Selain itu, seorang inprovisor juga harus memperhatikan hal-hal berikut ini agar ia dapat berhasil dalam mempelajari seni berimprovisasi itu: 1. Berlatihlah mula-mula dengan menggunakan metronom. Hal ini amat berguna untuk mengontrol tempo permainan. Pertama atur metronom pada tempo lambat. Bermainlah menurut tempo yang bisa Anda mainkan dengan sempurna, sekalipun itu hanya ¼ atau bahkan 1/10 dari tempo asli; kemudian sedikit demi sedikit, tambahkan kecepatannya hingga mencapai kecepatan yang diinginkan. Bersabarlah! 2. Belatihlah bermain hingga mencapai seluruh jangkauan nada dari instrumen Anda. 3. Main dan latihlah tangga nada, motif dan lain-lain dalam seluruh nada dasar. 4. Atur waktu Anda untuk melatih latihan teknik ( technical etudes), tangga nada dan arpegio (broken chord), pola potongan melodi, harmoni pada keyboard atau piano, mendengarkan musik, dll. 5. Berlatihlah dengan tekun dan teratur. Ini artinya berlatih pada waktu dan tempat yang sama setiap hari. Berlatih 1 jam utuk satu hari jauh lebih bagus daripada berlatih selama 7 jam cuma untuk satu hari dalam satu minggu. 6. Latihlah materi Anda sejauh Anda mampu, tetapi bagilah menurut sesi-sesi yang menjadi prioritas Anda. 7. Berlatihlah sedikitnya 2 jam sehari, tetapi aturlah waktu sedemikian rupa untuk memvariasikan sesi latihan Anda. Misalnya, Anda butuh 30 menit untuk pemanasan, 30 menit untuk tangga nada, 45 menit untuk etude, 45 menit untuk pola melodi, dll. 8. Ada kalanya rekamlah hasil latihan Anda. Ini penting untuk mengkritisi permainan Anda sendiri sehingga Anda mengetahui kelemahan-kelemahan Anda. Ingatlah jika Anda berlatih dengan benar dan sabar, maka Anda akan merasakan kemajuannya.

INTERVAL Untuk mengetahui seluk beluk tentang melodi dan susunan akor maka Anda harus memahami “interval”. Sebab dengan rangkaian interval yang tersusun horizontal itulah terbentuk karakter sebuah melodi dan dengan rangkaian interval yang tersusun vertikal itu terbentuklah akor. Pengertian Interval Interval adalah jarak antara dua not dan interval terjadi akibat dari dua nada yang berbunyi bersama-sama dan serentak. dikelompokkan sederhana”. menjadi delapan. Interval itu Di dalam musik interval disebut sebagai “interval

Dasar pengelompokan interval ditandai oleh angka yang Berikut ini adalah contoh interval yang

menunjukkan “step” atau langkah.

dibangun pada not C dengan nama-nama ilmiahnya:

(gambar 1)

Step 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Interval (laras) Unisono (primo) 0 Nama Ilmiah Sekonda Terts Kwart Kwint Sekst Septim Oktaf 1 2 2½ 3½ 4½ 5½ 6

Jenis Interval Perfect (sempurna) Mayor Mayor Perfect Perfect Minor Mayor Perfect

Simbol P1 M2 M3 P4 P5 m6 M7 P8

(gambar 2)

Interval yang lebih dari Satu Oktaf

Interval yang jaraknya lebih besar dari satu oktaf disebut “interval majemuk”. Untuk menganalisisnya maka interval tersebut dikurangi satu oktaf. Perhatikan gambar di bawah ini:

(gambar 3)

Nama untuk interval 9 disebut “non”, interval 10 disebut “desim” dan interval 11 disebut “undesim”. Ketiga nama ini jarang dipakai dan biasanya dihitung menurut interval di dalam satu oktafnya. interval 2; interval 10, sebagai 3; dst. Interval Augmented dan Diminis Selain daftar interval di atas, sesungguhnya sebuah interval dapat diperluas menjadi “augmented” (berlebih) atau dipersempit menjadi “diminis” (berkurang). Setelah ada tambahan dua interval ini maka daftar tabel di atas menjadi lima interval, sehingga total interval ada 5 macam, yaitu: 1. Interval Mayor 2. Interval Minor 3. Interval Perfect (Sempurna) 4. Interval Augmented (Berlebih) 5. Interval Diminis (Berkurang) Adapun perluasan atau penyempitan interval mengikuti formula tertentu. Interval augmented dan diminis terjadi akibat penambahan dan pengurangan interval satu semitone (½ laras). Tabel berikut ini adalah formula perubahan interval akibat penambahan atau pengurangan itu: Jadi interval 9 dianalisis sebagai

No. Jenis Interval

Simbol Terbentuk Akibat Perubahan

1. 2. 3. 4. 5.

Perfect Mayor Minor Augmented Diminis

P M m A d

―― Minor + ½ laras Mayor - ½ laras Perfect + ½ laras; Mayor + ½ laras Perfect - ½ laras; minor - ½ laras
(gambar 4)

Dengan mengacu kepada teknik mengolah interval (Gambar 4) di atas maka tabel interval sederhana pada Gambar 2 di atas dapat ditambahkan daftar interval sebagai berikut: Step 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Interval (laras) Unisono (primo) 0 Nama Ilmiah Sekonda Terts Kwart Kwart Kwint Kwint Sekst Septim Oktaf ½ 1½ 2 3 3 4 5 5 6 Jenis Interval Perfect (sempurna) Minor Minor Diminis Augmented Diminis Augmented Mayor Minor Perfect
(gambar 5)

Simbol P1 m2 m3 d4 A4 d5 A5 M6 m7 P8

Untuk Oktaf sebenarnya interval Perfect-nya dapat diperluas atau dipersempit dengan cara menambah atau mengurangi dengan ½ laras, sehingga menjadi A8 atau d8 tetapi kedua interval tersebut jarang dipakai. berlaku untuk interval Unisono. Hal yang sama juga

Menganalisis Interval

Untuk menganalisis sebuah interval berikut ini adalah langkah-langkahnya: 1. Interval selalu dihitung dari not bawah ke not atas, bukan sebaliknya; 2. Tentukan jumlah step (langkah) antara not bawah dan atas. menunjukkan nama interval dan simbol angkanya. 3. Tentukan jumlah semitone (½ laras) yang terbentang antara not bawah dan atas. Ini untuk menentukan jenis intervalnya. Contoh soal 1 : Apakah nama interval dan simbol untuk gambar di bawah ini? Ini untuk

(gambar 6)

Jawab untuk soal (a) • Not terbawah adalah “d” dan not teratas adalah “c”, jadi ada tujuh step bila dihitung dari bawah (d-e-f-g-a-b-c). Maka simbol interval ini adalah “7” dan disebut “septim”. • Dari tabel Gambar 2 di atas nama septim hanya untuk “M7” dan jaraknya “5½ laras”. • Bila dihitung-melangkah dari not “d bawah” ke not “c atas” maka terdapat 5 laras. Jadi, di sini interval yang diminta adalah jarak 5 laras. Maka jarak 5½ laras pada tabel harus dikurangi ½ agar menjadi 5 laras, jadi M7 - ½ = m7. • Jawab soal (a) di atas adalah nama interval = septim minor; simbolnya = m7. Jawab untuk soal (b) • Not terbawah adalah “e” dan not teratas adalah “b”, jadi ada lima step bila dihitung dari bawah (e-f-g-a-b). Maka simbol interval ini adalah “5” dan disebut “kwint”. • Dari tabel Gambar 2 di atas nama kwint hanya untuk “P7” dan jaraknya “3½ laras”. • Bila dihitung-melangkah dari not “e bawah” ke not “b atas” maka terdapat 3½ laras. Jadi, di sini interval yang diminta sama dengan tabel, yaitu: 3½ laras.

• Jawab soal (b) di atas adalah nama interval = kwint sempurna; simbolnya = P5. Jawab untuk soal (c) • Not terbawah adalah “f” dan not teratas adalah “a”, jadi ada tiga step bila dihitung dari bawah (f-g-a). Maka simbol interval ini adalah “3” dan disebut “terts”. • Dari tabel Gambar 2 di atas nama terts hanya untuk “M3” dan jaraknya “2 laras”. • Bila dihitung-melangkah dari not “f bawah” ke not “a atas” maka terdapat 2 laras. Jadi, di sini interval yang diminta sama dengan tabel, yaitu: 2 laras. • Jawab soal (b) di atas adalah nama interval = terts mayor; simbolnya = M3. Dengan cara yang sama jawab soal (d) adalah Nama Interval = “Oktaf” dan simbolnya = P8. Jawab soal (e) adalah Nama Interval = “kwart sempurna” dan simbolnya = P4. Contoh soal 2 : Apakah nama interval dan simbol untuk gambar di bawah ini?

(gambar 7)

Jawab untuk soal (f) • Not terbawah adalah “g” dan not teratas adalah “bes”, jadi ada tiga step bila dihitung dari bawah (g-a-bes). Maka simbol interval ini adalah “3” dan disebut “terts”. • Dari tabel Gambar 2 di atas nama terts hanya untuk “M3” dan jaraknya “2 laras”.

• Bila dihitung-melangkah dari not “g bawah” ke not “bes atas” maka terdapat 2½ laras. Jadi, di sini interval yang diminta adalah jarak 2½ laras. Maka jarak 3 laras pada tabel harus dikurangi ½ agar menjadi 2½ laras, jadi M3 - ½ = m3. • Jawab soal (f) di atas adalah nama interval = Terts Minor; simbolnya = m3. Jawab untuk soal (g) • Not terbawah adalah “f” dan not teratas adalah “cis”, jadi ada lima step bila dihitung dari bawah (f-g-a-b-cis). Maka simbol interval ini adalah “5” dan disebut “kwint”. • Dari tabel Gambar 2 nama kwint hanya untuk “P5” dan jaraknya “3½ laras”. • Bila dihitung-melangkah dari not “f bawah” ke not “cis atas” maka terdapat 4 laras. Jadi, di sini interval yang diminta adalah jarak 4 laras. Maka jarak 3½ laras pada tabel harus ditambah ½ agar menjadi 4 laras. Menurut gambar 4 interval P5 + ½ = Augmented 5 (A5) • Jawab soal (g) di atas adalah nama interval = Kwint Augmented; simbolnya = A5. Jawab untuk soal (h) • Not terbawah adalah “des” dan not teratas adalah “b”, jadi ada enam step bila dihitung dari bawah (des-e-f-g-a-b). Maka simbol interval ini adalah “6” dan disebut “sekst”. • Dari tabel Gambar 2 nama sekst hanya untuk “m6” dan jaraknya “4½ laras”. • Bila dihitung-melangkah dari not “des bawah” ke not “b atas” maka terdapat 5 laras. Jadi, di sini interval yang diminta adalah jarak 5 laras. Maka jarak 4½ laras pada tabel harus ditambah ½ agar menjadi 5 laras. Menurut gambar 4 interval Augmented terbentuk akibat interval Mayor + ½. • Jawab soal (h) di atas adalah nama interval = Kwint Augmented; simbolnya = A6. Jawab untuk soal (i)

• Not terbawah adalah “eis” dan not teratas adalah “d”, jadi ada tujuh step bila dihitung dari bawah (eis-f-g-a-b-c-d). Maka simbol interval ini adalah “7” dan disebut “septim”. • Dari tabel Gambar 2 nama septim hanya untuk “M7” dan jaraknya “5½ laras”. • Bila dihitung-melangkah dari not “eis bawah” ke not “d atas” maka terdapat 4½ laras. Jadi, di sini interval yang diminta adalah jarak 4½ laras. Maka jarak 5½ laras pada tabel harus dikurangi ½ sebanyak dua kali agar menjadi 4½ laras. Menurut gambar 4 interval Diminis terbentuk akibat interval Minor - ½. (m7 - ½ = d7) • Jawab soal (h) di atas adalah nama interval = Septim Diminis; simbolnya = d7. Jawab untuk soal (j) • Not terbawah adalah “c” dan not teratas adalah “e’ ”, jadi ada sepuluh step bila dihitung dari bawah (c-d-e-f-g-a-b-c-d’-e’). Maka simbol interval ini adalah “10” dan disebut “desim”. • Karena interval 10 lebih dari satu oktaf maka ia sama dengan interval “3”. Dari tabel Gambar 2 interval terts hanya untuk “M3 dan jaraknya “2 laras”. • Bila dihitung-melangkah dari not “c bawah” ke not “e atas” maka terdapat 2 laras. Jadi, di sini interval yang diminta adalah jarak 2 laras. • Jawab soal (g) di atas adalah nama interval = Terts Mayor; simbolnya = M10 atau lebih populer disebut “M3”. Pembalikan Interval Sebuah interval dibalik dengan cara menuliskan not yang di atas menjadi not yang di bawah dan not yang di bawah menjadi not yang di atas. Contoh ini bisa menjelaskan:

(gambar 8)

Dari Gambar 8 di atas (baik pada gambar 1 maupun 2) tampak bahwa not “g” yang semula di bawah menjadi di atas dan not “d” yang semula di atas menjadi di bawah. Rumus pembalikan adalah sebagai berikut: Jenis Perfect Minor Mayor Augmented Dibalik menjadi Perfect Mayor Minor Diminis
(gambar 9)

Sedangkan jumlah antara step interval yang sebelum dibalik dan step interval sesudah dibalik adalah “9”. Dari contoh soal Gambar 8 di atas nama interval sebelum diubah adalah Kwint Sempurna dengan simbol P5. Proses perubahannya adalah sebagai berikut: Interval berjenis Perfect diubah tetap menjadi Perfect; step interval 5 (kwint) dibalik menjadi 4 (kwart) sebab jumlah keduanya harus “9”. dengan simbol P4. Contoh lainnya: Jadi interval yang terjadi adalah Kwart Sempurna

(gambar 10)

Pada Gambar 10 tampak bahwa interval sebelum dibalik adalah Sekst Mayor (M6), maka dengan proses pembalikan yang sama dengan Gambar 8 di atas didapati perubahan sbb.: Mayor dibalik menjadi minor; step 6 dibalik menjadi 3. jadi interval sesudah dibalik adalah “Terts minor” dengan simbol “m3”. Istilah Enharmonis

Enharmonis adalah istilah yang dipakai untuk dua buah interval yang bunyinya sama tetapi penulisannya berbeda. lihat gambar di bawah ini:

(gambar 11)

Dalam Gambar 11 tampak bahwa yang berbeda dari no, 1 dan no. 2 adalah not-not atas, yaitu “Dis” dan “Es”. Walaupun tertulis berbeda tetapi bunyi not Dis dan Es adalah sama. Maka dikatakan bahwa no.1 dan no. 2 adalah enharmonis. Selain itu, di dalam teori musik dipakai tanda “ ” (kruis ganda) yang artinya sebuah not dinaikkan dua semitone, sehingga setara dengan naik satu tone dan tanda “ ” (mol ganda) yang artinya seuah not diturunkan dua semitone, sehingga setara dengan turun satu tone.

(gambar 12)

Dalam Gambar 12 pada nomor 1a tampak bahwa not “d” dinaikkan dua seminote, sehingga ia enharmonis bila ditulis sebagai not “e” seperti tampak pada gambar 1b. Hal yang sama juga terjadi pada nomor 2a. Not “e” diturunkan dua semitone sehingga ia enharmonis bila ditulis sebagai not “d” seperti tampak nomor b.

TANGGA NADA Pengertian Tangga Nada Tangga nada, yang dalam bahasa Inggris disebut “ scale”, adalah susunan rangkaian not naik atau turun dalam satu oktaf. Ada banyak macam tangga

nada yang jenisnya ditentukan oleh hubungan interval (jarak antara nada) di antara satu not dengan not lain. Ada tujuh buah tangga-nada-dasar yang masing-masing kedengaran berbeda sebab jarak antarintervalnya juga berbeda. Ketujuh buah tangga-nada-dasar ini akan tersusun bila Anda memainkan 7 bilah tuts putih keyboard atau piano ke kanan atau ke kiri secara berurutan. Tanggatangga nada itu kadang-kadang dinamai menurut nama modus modalnya, yaitu sbb.: Tangga nada dasar yang dimulai dari not A disebut “Aeolian” Tangga nada dasar yang dimulai dari not B disebut “Locrian” Tangga nada dasar yang dimulai dari not C disebut “Ionian” Tangga nada dasar yang dimulai dari not D disebut “Dorian” Tangga nada dasar yang dimulai dari not E disebut “Phrygian” Tangga nada dasar yang dimulai dari not F disebut “Lydian” Tangga nada dasar yang dimulai dari not G disebut “Mixolydian” Berikut ini adalah daftar not dari tangga-nada-dasar Not Not Not Not Not Not Not Tangga Nada Dasar A B C D E F G A B C D E F G A B C D E F G A B C D E F G A B C D E F G A B C D E F G A B C D E F G A B C D E F G
(gambar 13)

Nama Modal Aeolian Locrian Ionian Dorian Phrygian Lydian Mixolydian

Tangga-nada-dasar yang dimulai dari not C disebut “modus Ionian” dan ini disebut juga tangga nada C Mayor; tangga-nada-dasar yang dimulai dari A disebut “modus Aeolian” dan ini disebut juga tangga nada A Minor Asli. Tangga nada minor asli ini mempunyai dua varian: yaitu tangga nada minor harmonis dan melodis Tangga Nada Mayor dan Minor

Selain 7 buah tangga nada dasar tersebut di atas masih ada tangga nada lain, misalnya: tangga nada blues, pentatonis, whole tone, diminis, dll. Akan tetapi dari seluruhnya, tangga nada mayor dan minor adalah yang terpenting, sebab dari keduanya itulah prinsip-prinsip harmoni konvensional dan susunan akor terbentuk. Rumus Interval Tangga Nada Mayor dan Minor Untuk memahami interval tangga nada mayor dan minor dengan lebih cepat maka interval sekonda mayor (M2) disimbolkan dengan “W” dan sekonda minor (m2) dengan “H”, lihat gambar potongan keyboard di bawah ini:

(gambar 14)

Sedangkan jarak interval itu bila digambarkan sebagai sebuah tangga akan tampak sebagai berikut: W-W-H-W-W-W-H.

(gambar 15)

Jadi tangga nada minor asli mempunyai rumus interval: W-W-H-W-W-W-H. Tangga nada minor harmonis mempunyai rumus interval: W-H-W-W-H-W-X-H.

(catatan: X adalah jarak W + H) Tangga nada minor melodis mempunyai rumus interval: W-H-W-W-W-W-H untuk arah naik dan arah turun mengikuti interval tangga nada minor asli dari atas ke bawah. Tangga Nada lain yang Biasa Dipakai untuk Berimprovisasi Selain tangga nada Mayor dan Minor ada beberapa tangga nada lain yang biasa digunakan untuk berimprovisasi, di antaranya ialah: tangga nada pentatonis, blues, kromatik, augmented, wholetone dan diminis. 1. Tangga Nada Pentatonis Tangga nada pentatonis didapat bila kita memainkan tuts-tuts hitam pada piano. Kata “pentatonis” berarti lima ( penta) nada (tone). Jadi, tangga nada pentatonis ialah tangga nada yang terdiri atas lima nada dalam satu oktaf. Walaupun setiap susunan lima nada dalam satu oktaf membentuk tangga nada pentatonis, namun tangga nada pentatonis dengan rumusan interval tertentu sangat lazim dipakai, yaitu: (a) Tangga Nada Pentatonis Mayor dan (b) Tangga Nada Pentatonis Minor. Berikut ini adalah tabel rumus interval untuk kedua tangga nada pentatonis tersebut:

No. Nama Tangga Nada 1. 2. Pentatonis Mayor Pentatonis Minor

Rumus Interval

Keterangan

W — W — X — W — X W = 1 laras X — W — W — X — W X = 1½ laras
(gambar 16)

Contoh Tangga nada G Pentatonis Mayor dan G Pentatonis Minor:

(gambar 17)

2. Tangga Nada Blues Tangga nada blues boleh disebut sebagai “pentatonis yang telah dimodifikasi”, artinya tangga nada pentatonis yang ditambahkan satu not ke dalamnya sehingga menjadi enam not. Ada dua tangga nada blues yang lazim, yaitu blues mayor dan blues minor. Masing-masing interval ketiganya (nada terts) direndahkan setengah, sehingga jaraknya menjadi m3 atau 1½ laras. Not ini disebut “not blues”. Berikut ini adalah tabel rumus interval untuk tangga nada blues mayor dan blues minor: No. Nama Tangga Nada 1. 2. Blues mayor Blues minor Rumus Interval W—H— H—X—W—X X—W— H— H—X—W
(gambar 18)

Kedua tangga nada itu bisa dipakai dengan akor Dominan 7. Sedangkan tangga nada kedua dapat dipakai dengan akor-akor minor. Contoh Tangga nada C Blues Mayor dan C Blues Minor:

(gambar 19)

3. Tangga Nada Kromatik dan Whole Tone Tangga nada kromatik dan whole tone adalah tangga nada yang antarnotnya berjarak sama persis. Ini disebut tangga nada simetris. Untuk tangga nada kromatik jarak interval antarnotnya dalam satu oktaf adalah ½ laras; sedangkan whole tone, 1 laras. Berikut ini adalah tabel rumus interval untuk tangga nada kromatik dan wholetone: No. 1. 2. Nama Tangga Rumus Interval Nada Kromatik Whole tone H — H — H — H — H — H — H— H — H — H— H— H W—W—W—W—W—W
(gambar 20)

Contoh Tangga nada C Kromatik:

Contoh Tangga nada C Whole Tone:

(gambar 21)

4. Tangga Nada Diminis dan Augmented Tangga nada diminis dan augmented termasuk tangga nada simetris. Tangga nada diminis ada dua macam, yaitu diminis yang jarak interval notnotnya “W-H” dan diminis yang jarak interval not-notnya “H-W”. Tangga nada augmented mempunyai jarak interval not-notnya “Augmented seconda” (A2), yang sama dengan 1½ laras, dan “H” (½ laras). Berikut ini adalah tabel rumus interval tangga nada diminis dan augmented: No. Nama Tg Nd 1. 2. 3. Diminis “W-H” Diminis “H-W” Augmented Rumus Interval W — H — W — H — W — H — W— H H — W — H — W — H— W— H — W A2 — H — A2 — H — A2 — H
(gambar 22)

Contoh tangga nada C diminis “W-H”:

Contoh tangga nada C diminis “H-W”:

Contoh tangga nada C augmented:

(gambar 23)

MELODI Berimprovisasi sesungguhnya adalah proses mencipta melodi atau progesi akor secara spontan. Bila seorang improvisor mengimprovisasi melodi maka sesungguhnya ia mencipta melodi dengan seketika di atas progesi akor yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, seorang improvisor boleh dikatakan sebagai seorang komposer, sebab pada dasarnya ia mencipta, bukan mencontoh atau memainkan not-not yang sudah tersusun. Untuk itu, seorang improvisor yang baik perlu membekali dirinya dengan pengetahuan tentang melodi: bangunan, unsur-unsur pembentuk, motif dan pengolahannya. Pengertian Motif Motif di dalam melodi bisa diumpamakan sebagai pokok kalimat (subjek) di dalam kalimat atau sebagai gagasan utama di dalam sebuah alinea. seseorang memainkan nada-nada, maka pendengar berharap Ketika ada

pengembangan terhadap nada-nada awal yang didengarnya itu. Itulah sebabnya motif di dalam konteks musik bisa disebut sebagai “ide musikal”. Motif ini bila dikembangkan dengan maksimal dan dengan teknik-teknik tertentu akan terbangunlah sebuah melodi yang utuh. Untuk itu, perlu diketahui teknik apa saja yang diperlukan untuk mengembangkan sebuah motif. Membuat Motif Karena motif adalah bagian terkecil dari sebuah bangunan melodi maka setidak-tidaknya seorang improvisor harus bisa mengenali bahkan membuat sebuah motif. Untuk belajar membuat sebuah motif seorang improvisor terlebih dahulu harus mampu mengenali motif dari melodi yang sudah ada. menjelaskan arti motif itu: Contoh pasase atau potongan melodi “Malam Kudus” yang terkenal di bawah ini bisa

(Gambar 23)

Dari Gambar 23 tampak satu unit ritme

“menjiwai” seluruh

bangunan lagu, artinya dengan ritme ini seluruh unit ritmis dibentuk atau diturunkan. Oleh karena itu, birama pertama bisa disebut sebagai “motif” lagum sebab darinya seluruh melodi lagu dibangun atau diturunkan. Memang, kebanyakan lagu mengambil satu gugusan ide musikal yang biasanya terletak pada bagian awal sebagai motif untuk seluruh bangunan lagunya. Mengembangan Motif Ada beberapa cara atau teknik yang lazim dipakai untuk mengembangkan sebuah motif, antara lain: repetisi, sekuen, inversi dan modifikasi dari ketiganya. 1. Repetisi Repetisi artinya pengulangan persis. Di dalam repetisi tidak ada perubahan apa pun. Jika sebuah motif diawali dari nada “g” maka repetisinya juga harus dimulai dari “g”; ritme yang terbangun juga harus sama; segala sesuatu harus identik. Dari Gambar 23 di atas tampak bahwa oleh karena birama 2 merupakan pengulangan persis dari birama 1 maka dapat dikatakan bahwa birama 2 merupakan repetisi dari motif birama 1. Lihat gambar di bawah ini:

(Gambar 24)

2. Sekuen Sekuen artinya pengulangan motif pada lokasi berbeda. Ada dua jenis sekuen, yaitu: sekuen diatonis ( diatonic sequence) dan sekuen konsekuen (exact sequence). Dalam sekuen diatonis motif diulang pada tempat yang berbeda tetapi intervalnya mengikuti interval dari tangga nada yang sedang berlaku, jadi tidak harus persis sama dengan interval motif; dalam sekuen konsekuen pengulangan motif pada tempat yang berbeda dengan interval yang persis sama dengan motif. Penjelasan sekuen diatonis ditunjukkan gambar di bawah ini:

(Gambar 25)

Gambar 25 adalah contoh dua buah peristiwa sekuen diatonis.

Pada

sekuen 1 unit ritmenya meniru persis motif, tetapi letaknya satu step ke bawah dari motif, sedangkan sekuen 2 letaknya dua step dari motif. Gerakan not-notnya mengikuti motif, yaitu masing-masing melangkah satu step ke bawah, tidak perduli apakah jarak intervalnya tidak sama dengan motif . Lihat tabel perubahan interval di bawah ini: Jenis motif Gerakan turun dari not “d” turun ke “c” dari not “c” turun ke “b” dari not “c” turun ke “b” dari not “b” turun ke “a” dari not “b” turun ke “a” dari not “a” turun ke “g” Interval 1 laras ½ laras ½ laras 1 laras 1 laras 1 laras

Sekuen 1

Sekuen 2

Jadi, dalam sekuen diatonis yang terpenting adalah jarak step atau jarak lompatannya, bukan lebar intervalnya. Jika sebuah not motif turun satu terts maka not sekuen juga turun satu terts, tidak perduli apakah itu mayor atau minor. Yang penting step atau lompatan itu ada di dalam tangga nadanya. Istilah diatonis menunjukkan bahwa not-not yang dipakai hanya terbatas di dalam nada dasar. Penjelasan sekuen konsekuen ditunjukkan di bawah ini:

(Gambar 26)

Gambar d adalah contoh dua buah peristiwa sekuen konsekuen. Pada dasarnya penjelasannya sama dengan Gambar 25. Gerakan not-notnya mengikuti motif, yaitu masing-masing melangkah satu step ke bawah, tetapi jarak intervalnya sama persis dengan motif . Lihat tabel perubahan interval di bawah ini: Jenis motif Gerakan turun dari not “d” turun ke “c” dari not “c” turun ke “b” dari not “c” turun ke “bes” dari not “bes” turun ke “a” dari not “b” turun ke “a” dari not “a” turun ke “gis” Interval 1 laras ½ laras 1 laras ½ laras 1 laras ½ laras

Sekuen 1

Sekuen 2

3. Inversi Inversi atau pembalikan ialah teknik menempatkan setiap not di dalam motif pada jarak yang sama tetapi dengan arah berlawanan. Gambar di bawah ini adalah contoh sebuah inversi:

(Gambar 27)

Ketika motif bergerak naik dengan melangkah, maka inversi bergerak turun dengan melangkah. Inversi tidak perlu dimulai dari not yang sama dengan motif. Inversi bisa dimulai dari not mana pun dan yang penting adalah bentuk dan arah not yang terbalik atau berlawanan. 4. Modifikasi dari Repetisi, Sekuen dan Inversi

Modifikasi repetisi berarti pengulangan motif tetapi dengan sedikit perubahan. Modifikasi bisa terletak pada nilai not atau letak not dari motif. Contoh:

(Gambar 28)

Gambar di atas menunjukkan motif yang dimodifikasi nilai notnya. Pada motif nilai not “c” pertama tampak tanpa titik, tetapi pada repetisi yang sudah dimodifikasi not “c” pertama tampak bertitik. Dengan cara sama maka modifikasi sekuen pun dapat diolah demikian. Contoh:

(Gambar 29)

Pada

birama

dua

tampak

motif

dimodifikasi

dengan

cara

menambahkan titik pada not “d”. Modifikasi inversi pun diolah dengan cara yang sama, contoh:

(Gambar 30)

Pada motif lompatan terts turun terjadi dari “b ke g”; pada Inversi yang sudah dimodifikasi langkah sekonda turun dari “d ke c”. Untuk lebih jelas maka analisis lagu “Gundul-Gundul Pacul” bisa menjelaskan teknik pengolahan melodi itu:

(Gambar 31)

AKOR Tiga unsur dalam musik adalah melodi, ritme dan harmoni. Unsur harmoni yang paling sering dijumpai adalah tiga not yang tersusun dan berbunyi serentak yang disebut “trinada”. Trinada tersusun atas kombinasi 3 macam interval yang berbeda, sedangkan akor tersusun atas kombinasi lebih dari 3 macam interval. Jadi di dalam sebuah akor pasti terkandung trinada, dan trinada pun sebetulnya adalah akor. Oleh karena itulah maka pengetahuan tentang trinada mutlak dikuasai dan penting sebelum mempelajari akor. Trinada Trinada terdiri atas sistem harmoni yang disebut “tertian”, yaitu dua interval terts yang tersusun vertikal, lihat gambar di bawah ini:

(Gambar 32)

Trinada bisa tersusun pada not-not di dalam sebuah tangga nada dasar (basic scale). Dengan merunut tiap-tiap not di dalam sebuah tangga nada maka akan dijumpai tujuh trinada dasar. Gambar di bawah ini menunjukkan tujuh trinada dasar dalam nada dasar C mayor:

(Gambar 33)

Jenis-Jenis Trinada Menentukan jenis sebuah trinada mirip dengan menentukan jenis interval. Akor dinamai dengan menggunakan huruf dan jenis (kualitas) akor. Ada empat jenis trinada yang berasal dari sistem tangga nada mayor–minor: mayor, minor, diminis dan augmented, sedangkan “trinada perfect” tidak ada.

Root (not yang terletak paling bawah) dari sebuah trinada menunjukkan nama trinada, sedangkan jenis trinada ditentukan oleh satu dari empat formula sebagai berikut: (1) trinada akan berjenis mayor jika jarak interval antara root dan not tengah adalah terts mayor (M3); interval antara not tengah dan not atas adalah terts minor (m3). Lihat gambar contoh di bawah ini:

(Gambar 34)

Nama trinada gambar di atas adalah F Mayor dengan simbol “F”; A Mayor dengan simbol “A”; Bes Mayor dengan simbol “B ” (2) trinada akan berjenis minor jika jarak interval antara root dan not tengah

adalah terts minor (m3); interval antara not tengah dan not atas adalah terts mayor (M3). Lihat gambar contoh di bawah ini:

(Gambar 35)

Nama trinada gambar di atas adalah E minor dengan simbol “Em”; F minor dengan simbol “Fm”; Cis minor dengan simbol “C#m” (3) trinada akan berjenis augmented jika jarak interval antara root dan not

tengah adalah terts mayor (M3); interval antara not tengah dan not atas adalah terts mayor (M3). Lihat gambar contoh di bawah ini:

(Gambar 36)

Nama trinada gambar di atas adalah F augmented dengan simbol “F aug” atau “F+”; Des augmented dengan simbol “D aug” atau “D +”; B augmented dengan simbol “B aug” atau “B+”. (4) trinada akan berjenis diminis jika jarak interval antara root dan not tengah

adalah terts minor (m3); interval antara not tengah dan not atas adalah terts minor (m3). Lihat gambar contoh di bawah ini:

(Gambar 37)

Nama trinada gambar di atas adalah B diminis dengan simbol “B dim” atau “B°”; Ais diminis dengan simbol “Adim”” atau “A#° ”; E diminis dengan simbol “E dim” atau “E°”. Akor Suspensi Selain empat trinada dasar di atas, pada sekitar tahun 1970-an dalam kalangan musik populer, ada satu variasi dari trinada dasar yang sering sekali dipakai dan memasukkan akor jenis ini menjadi trinada dasar, sehingga total menjadi 5 trinada dasar. Simbol untuk akor ini adalah “sus 4”. Analisis akornya adalah sebagai berikut:

(Gambar 38)

Gambar 38i atas adalah bentuk trinada C suspensi 4. C adalah root akor yang menunjukkan nama akor; terts dari trinada C mayor, yaitu not “e”, dinaikkan menjadi menjadi “f” yang jarak intervalnya dari root adalah kwart sempurna (P4). Dari sinilah simbol “4” diambil, sedangkan istilah “sus.” yang adalah kepanjangan dari kata “suspensi” (ditahan) berarti akor ini terkesan “menggantung” sebelum diselesaikan ke trinada mayor (C mayor). Memang kebanyakan trinada suspensi diselesaikan ke trinada mayor. suspensi: Berikut ini adalah beberapa bentuk trinada

(Gambar 39)

Akor Enam dan Akor Tujuh Akor enam dan tujuh merupakan perluasan dari sebuah trinada. Kalau sebuah trinada hanya terdiri atas tiga not, maka di dalam akor enam dan akor tujuh terdapat empat not. Simbol akornya adalah “6” dan “7”. Akor 6 dibentuk dengan cara menambahkan nada keenam dari tangga nada kepada sebuah trinada. Tidak perduli apakah interval yang terbentuk itu M6 atau m6. Berikut ini adalah contoh akor 6 yang terbentuk dari trinada mayor dan minor:

(Gambar 40)

Akor Tujuh (7) merupakan akor penting. Akor ini mempunyai susunan yang mengikuti formula tertentu. Ada lima jenis akor tujuh, yaitu: mayor, dominan, minor, setengah-diminis dan diminis. Tabel berikut ini menunjukkan susunan interval akor 7:

No. Jenis Akor Tujuh 1. Mayor 2. 3. 4. 5. Dominan Minor Setengah-diminis Diminis

Susunan Interval M3, m3, M3 M3, m3, m3 m3, M3, m3 m3, m3, M3 m3, m3, m3

Simbol M7 *, ma7,  7 *, 7 m7, min 7 m7 5 *, dim 7 *, ° 7, d7

Catatan: * artinya direkomendasikan

(Gambar 41)

Gambar berikut ini merupakan contoh-contoh dari akor 7:

(Gambar 42)

Pada umumnya akor terbangun menurut interval terts yang berjajar ke atas; akibatnya, hanya tujuh cara mengeja akor tujuh yang berbeda, yaitu: ACEG, BDFA, CEGB, DFAC, EGBD, FACE, dan GBDF dengan bubuhan tanda alterasi untuk menegaskan jenis akor dan nada dasar yang benar. Beberapa tanda perubahan biasanya muncul dalam akor 7. akor Mayor 7 dan Dominan 7 boleh dijadikan augmented, artinya interval kwint-nya dinaikkan satu semitone.

(Gambar 43)

Dari Gambar 43 di atas tampak bahwa interval 7 dari akor minor 7 kadangkadang dinaikkan satu semitone. Sedangkan akor mayor, minor dan dominan 7 boleh disuspensi, artinya interval tertsnya dinaikkan satu step (satu semitone). Akor Berlapis Akor sembilan, sebelas dan tigabelas dikelompokkan sebagai akor berlapis. Akor-akor di atas dibentuk dengan cara melapisi akor-tujuh ke atas dengan interval terts, sehingga kesannya lebih “berwarna” dan teksturnya lebih tebal dibandingkan dengan akor tujuh, tetapi fungsinya tidak berubah. Akor ini biasa dipakai dalam musik jazz, sebab perluasan dari akor tujuh memberikan lebih banyak pilihan harmoni.

(Gambar 44)

Perhatikan bahwa interval sembilan di atas root sama dengan dua, cuma ditulis satu oktaf lebih tinggi; dengan cara yang sama, interval 11 dan 13 sama dengan interval 4 (augmented 4, pada contoh di atas) dan interval enam. Interval-lapisan tersebut sangat terbuka untuk tanda alterasi sebagaimana dengan interval terts, kwint dan septim dari interval tujuh. Interval-lapisan tersebut dianggap tidak beralterasi apabila ia berada di dalam tangga nada yang

menyertakan akor tersebut. lain dari seri improvisasi.

Akan tetapi, uraian detail mengenai akor dan

pengolahannya bukanlah kapasitas dari buku ini dan akan diuraikan pada buku

MENCIPTA MELODI DI ATAS PROGRESI AKOR Satu hal yang menjadi ciri dari sebuah improvisasi adalah kemampuan seorang improvisor memainkan melodi bebas yang dibangun di atas progresi akor yang sudah ditentukan. Untuk mampu mencipta melodinya sendiri inprovisor harus mampu mengidentifikasi motif lagu yang sudah ada. Ini penting sebab improvisasi, walaupun mencipta melodi bebas, tetap diilhami oleh motifmotif melodi yang didengar sebelummnya dalam lagu aslinya sebelum diimprovisasi. asli. Untuk belajar mencipta melodi di atas progresi akor maka pertama-tama Anda harus mengetahui “motif” dan mengembangkan motif itu, kemudian Anda berani mencoba berimprovisasi dan mengolah motif dengan teknik transposisi. Mengembangkan Motif Hal pertama untuk mempelajari improvisasi adalah mengenali motif sebuah lagu kemudian mengembangkannya. Dalam hal ini ada kalanya improvisasi Ia boleh kedengaran kurang bebas, dan kenyataannya memang demikian. Hal ini menunjukkan bahwa sebebas-bebasnya improvisasi, namun ia tetap terikat, setidak-tidaknya oleh progresi akor yang mendasari lagu

dikatakan “memvariasi, mengembangkan” motif. Kesan pertama ialah bahwa melodi asli masih dapat dikenali dengan baik oleh pendengar walaupun sudah ada tambahan atau modifikasi di sana sini. Walaupun tampak sederhana dengan pengolahan yang tepat improvisasi seperti ini bisa sangat menarik. Untuk itu, maka ada beberapa teknik yang digunakan untuk mengolah motif melodi: 1. Membuat Artikulasi yang berbeda Setiap melodi mempunyai cita-rasanya sendiri, tetapi cita-rasa itu bisa berubah karena unsur-unsur pembentuknya dimanipulasi, tetapi tidak mengubah bentuk melodi aslinya . Ini disebut mengubah “artikulasi”. Contoh berikut ini bisa menjelaskan:

(Gambar 45)

Setelah dimanipulasi artikulasinya menjadi lain, sehingga cita-rasanya pun berbeda: Setiap melodi mempunyai cita-rasanya sendiri, tetapi cita-rasa itu bisa berubah karena unsur-unsur pembentuknya dimanipulasi, tetapi tidak mengubah melodi secara keseluruhan.

(Gambar 46)

Gambar 46 di atas tampak penambahan tanda “aksen”. “staccato”, “perubahan nilai not” dan “legato” yang mengubah cita-rasa melodi asli. Di sini yang penting letak not dan ritme tidak berubah. Membuat Variasi Ritme dan Variasi Ada beberapa cara untuk memvariasi melodi aslim yaitu dengan memvariasi ritmenya, memvariasi melodinya ( fake) dengan menyisipkan not akor dan not bukan anggota akor serta kombinasi dari ketiganya. a. Variasi Ritme Teknik variasi ritme dilakukan dengan cara mengubah pola ritme dari melodi asli tetapi tanpa mengubah alurnya. Variasi ritme bisa dilakukan dengan cara melakukan memperpanjang (suspensi) atau memperpedek ritme (antisipasi), sehingga tercipta sebuah mobilitas dalam ekspresi musikalnya. Petikan lagu “Kole-Kole” pada Gambar 6a diolah sbb.:

(Gambar 47)

Gambar 47 di atas menunjukkan tanda “ ↑” adalah suspensi dan tanda “↓” adalah antisipasi. b. Variasi Melodi (Fake) dengan Not Akor Teknik variasi melodi atau fake disebut juga variasi semu sebab ia dilakukan hanya dengan cara menambahkan not-not anggota akor kepada melodi asli. Contoh pengolahan dari lagu “Kole-Kole”:

(Gambar 48)

Gambar 48 di atas menunjukkan tanda “ ↓” adalah not-sisipan anggota akor. c. Variasi Melodi (Fake) dengan Not Bukan Akor Teknik variasi melodi yang kedua dilakukan dengan menyisipkan not-not bukan anggota akor ke dalam melodi asli. Dalam praktiknya ada banyak unsur disertakan. Contoh pengolahan dari lagu “Kole-Kole” berikut ini bisa menjelaskan:

(Gambar 49)

Gambar 49 di atas menunjukkan tanda “ ↓” adalah not-sisipan bukan anggota akor. d. Kombinasi Variasi Melodi dan Fake Untuk menciptakan variasi yang lebih bebas maka ketiga teknik variasi di atas (poin a, b dan c) bisa dipadukan, tetapi karakter melodi jangan berubah sehingga tidak mengubah aransemen lagu aslinya.

(Gambar 50)

Mencipta Melodi dengan Improvisasi Setelah mengenali motif dan bagaimana teknik mengembangkannya (ini yang disebut “variasi”) maka ternyata kebanyakan musik, baik yang tercipta spontan maupun tidak, dapat dianalisis dalam konteks motif. kepada tiap-tiap pemain (atau pencipta). Dalam bermain improvisasi dikenal ada dua macam imprivisasi: (1) improvisasi linier dan (2) improvisasi non linier. Sedangkan bagaimana bentuk motif serta seberapa lama motif itu muncul seluruhnya bergantung

1. Improvisasi Linier Improvisasi linier disebut juga improvisasi horizontal, artinya dia bergerak mengalir. Model improvisasi macam ini sulit dianalisis bangunan motifnya tetapi bisa dianalisis kontinuitasnya, kemulusan gerakannya, kontur (bentuk gerakan melodi), pilihan nada, dan penempatan aksen-aksennya, bukan melodinya itu sendiri. Gambar di bawah ini bisa menjelaskan pengertian di atas:

(Gambar 51)

Melodi linier mungkin tidak simetris bentuknya dan di dalamnya tidak terdapat variasi maupun repetisi (pengulangan). Format melodi seperti ini disebut through-composed melodies (melodi langsung jadi) dan ini bisa terjadi karena kebetulan. Dengan melodi model ini maka komunikasi dengan pendengar akan berkurang. Walaupun tampaknya efektif, tetapi lebih baik hindari model improvisasi seperti ini. 2. Improvisasi dengan Teknik Tema dan Variasi Sebagaimana seorang komposer muda banyak belajar dengan cara mendengarkan musik sementara ia menyimak score, seorang improvisor bisa belajar lebih cepat dengan cara membaca transkrip (salinan not) permainan improvisasi solo sementara ia mendengarkan rekaman musiknya.

Aktivitas tersebut akan menguntungkan dalam dua hal: (1) mentranskrip (menuliskan notasi musik) akan mengembangkan kemampuan mendengar dan mengingat nada-nada, sehingga pada suatu saat nanti Anda akan mampu mentranskrip ide-ide musikal Anda sendiri sementara berimprovisasi; (2) dengan mempelajari improvisasi solo dan gaya para improvisor beken, Anda akan dapat lebih memahami berbagai metode dan ide dalam berimprovisasi. Setelah Anda berhasil mentranskrip sebuah karya solo dengan akurat, cobalah variasikan motifnya dalam bentuk linier. Di samping belajar mentranskrip Anda bisa mulai dengan menganalisis dan mengembangkan motif-motif asli. Berikut ini adalah contoh potongan motif dan pengembangannya:

(Gambar 52)

Dengan memperhatikan gambar di atas Anda dapat melihat motifnya. Sebuah motif, walaupun pendek, memiliki gagasan melodi yang lengkap. Biasanya ritmenya diakhiri dengan logis, baik dengan not berdurasi panjang maupun dengan tanda istirahat. maka kemampuan tersebut Siapa pun, sekalipun ia seorang pemula, meningkat dan Anda akan dapat mampu menyusun motif pendek orisinal buatan sendiri. Dengan latihan teratur akan menuliskannya dengan akurat.

Untuk memulai belajar tulislah sebuah motif dalam not-not penuh (bernilai satu), kemudian bentuklah ritmenya. Lihat motif awal di bawah ini:

(Gambar 53)

Gagasan sesederhana apa pun bisa menjadi kompleks bila dikembangkan, diolah lagi dan divariasikan. Motif sederhana yang tidak rumit seringkali lebih efektif daripada motif yang rumit. Lagi pula, ide-ide musikal tersebut tidak perlu bergaya blues, yaitu merendahkan not ketiga, kelima dan ketujuh. membatasi diri Anda sendiri. Kebanyakan improvisor dan komposer secara wajar cenderung menggunakan bentuk melodi pada tahap sederhana, peranan intuisi sangat Ini akan

menentukan keberhasilan suatu permainan solo yang memuaskan. Anda harus mempelajari metode mengembangkan motif, menuliskan dan memainkannya. Jika motif yang Anda pakai itu benar-benar orisinal dan kemudian Anda kembangkan, maka seluruh materi sebahai hasil pengembangan motif itu tadi juga orisinal. Ini berarti Anda sudah mengembangkan gaya yang benar-benar orisinal. Mencipta Melodi dengan Transposisi Transposisi adalah aktivitas menulis ulang sebuah motif sehingga ia cocok dengan nada dasar lain, akor atau jenis akor tertentu. Misalnya, Anda sudah membuat sebuah motif yang tampaknya cocok dengan nada dasar C mayor. Ini berarti bahwa motif itu akan memuaskan Anda selama ia mulai dan tetap berada dalam nada dasar C mayor . Akan tetapi, biasanya tidak semua lagu dimainkan dalam nada dasar C mayor. Memang, kebanyakan lagu berisi sekurangkurangnya satu modulasi sederhana ke nada dasar lain. Di sinilah peran teknik transposisi penting, yaitu agar sebuah lagu tampak bervariasi dan tidak monoton. Misalkan sebuah motif dari lagu “Yesterday” karya The Beatles seperti ini:

(Gambar 54)

Motif itu bila ditransposisikan setengah step naik menjadi sbb.:

(Gambar 55)

Tampak bahwa motif ditranspos dengan tiap-tiap not dinaikkan dengan interval sekonda minor (m2). Ini menyebabkan nada dasar-nya ( key center) berubah atau terjadi modulasi sementara. Agar motif itu cocok dengan akor yang berbeda-beda maka motif tersebut perlu diberi tanda alterasi, misalnya seperti contoh di bawah ini:

(Gambar 56)

Pada gambar di atas tampak not “a” diturunkan setengah tone menjadi “gis” yang adalah bagian dari akor E7 (dengan anggota akor “e gis b d”); penggantian beberapa not sebagai antisipasi dari akor A7 mol 9 yang mempunyai anggota

akor “a cis e g dan bes”; not “e” dinaikkan menjadi “fis” yang adalah bagian dari akor D7 (d fis a c). Untuk menambah dimensinya maka hal yang biasa dilakukan ialah dengan meletakkan motif di tempat yang berbeda dari akor yang sama atau dari akor yang berbeda. Motif yang sedang dibicarakan di atas dimulai dari akor Em7, tetapi motif itu bisa diperbaharui dengan dimulai dari interval terts (nada ketiga dari tangga nada) atau kwint (nada kelima) atau septim (nada ketujuh), dst. Di bawah ini adalah contoh Gambar 55 yang dimulai dari terts:

(Gambar 57)

Pada gambar di atas tampak seluruh motif dinaikkan sejauh terts. Kenaikkan sejauh interval terts masih mencakup anggota akor. Pengembangan motif dengan teknik transposisi ini sangat mengagumkan dan tampaknya akan menjemukan bila ditulis. Akan tetapi, Anda akan segera mampu mentranspos dengan cepat tanpa menuliskannya. Sebuah contoh bagaimana trnasposisi bisa muncul dalam melodi solo akan tampak seperti ini:

(Gambar 58)

Ingatlah selalu bahwa variasi melodi sekurang-kurangnya memiliki dua sasaran yang akan meningkatkan komunikasi antara pemain dan pendengar,

memberikan kontras terhadap versi melodi asli dan mempertahankan kontak dengan motif. Memberikan kontras berarti variasi memperluas improvisasi tanpa resiko akan membosankan; mempertahankan kontak (ada kemiripan) dengan motif berarti variasi memberikan kesatuan bangunan kepada improvisasi. Latihan 1. Mulailah mentranskrip melodi solo 2. Mulailah menyusun motif-motif Anda yang asli 3. Belajarlah mengembangkan melodi dengan teknik mentranspos, pahamilah kumpulan motif Anda itu sebagai sumber materi.

MENGEMBANGKAN MELODI Sejauh ini Anda tentunya sudah memiliki motif-motif asli buatan Anda sendiri dan sudah terbiasa dengan kegiatan mentranspos dan mengubah motif agar cocok dengan materi dan tangga nada yang sudah ditentukan. Pada bab ini Anda akan belajar membongkar motif dan membangun materi baru yang diambil dari serpihan-serpihan motif tersebut. Menganalisis Melodi Agar Anda mengerti mengenai sebuah motif secara keseluruhan dan sadar bahwa sebuah motif sangat mungkin dikembangkan, maka pertama-tama Anda harus memahami motif dari kontur ── yaitu garis yang menjelaskan arah gerak motif ── ritme dan not-not utamanya. Perhatikan gambar analisis dari motif Gambar 54 di bawah ini:

Gambar 59

Mengolah Melodi atas Dasar Kontur, Ritme dan Not Utama Kita bahkan bisa menganalisis sebuah motif dengan lebih rinci dari intervalnya yang mencolok, harmoni, artikulasi, frase musik, dan mood-nya. Akan tetapi, dari itu semua yang lebih penting ialah: kontur, ritme dan not-not utama. Bagian-bagian motif itu bisa dicabut dan dianalisis sehingga unsurunsurnya bisa dianggap sebagai kerangka untuk membangun kembali sebuah motif lain yang berbeda tetapi tetap mirip dengan ide aslinya.

Gambar 7b di bawah ini (a dan b)menunjukkan dua contoh pengembangan motif berdasarkan konturnya. Motif lain bisa diciptakan dengan menggunakan kontur yang sama. Kontur tidak dibatasi untuk nada atau ritme yang sama, tetapi sebuah ide baru akan memberikan kesan kuat bahwa ia berasal dari kontur yang ditiru. Mainkan selalu motif-motif asli dan kembangkan dalam urut-urutan untuk memastikan apakah pengembangan tadi benar-benar sebuah tiruan.

Gambar 60

Kontur dapat juga ditemukan, bukan hanya sekedar diimitasi dari motif yang sudah ada. Caranya ialah dengan menggambar atau membayangkan sebuah kontur yang menarik kemudian Anda membuat sebuah komposisi yang cocok dengan kontur tersebut. Ulangi konturnya, temukan sekuen-sekuen nada baru akibat pengulangan tadi hingga Anda merasa mantap dengan sebuah bentuk melodi. Ritme motif juga dapat dikerjakan dengan cara yang sama sebagaimana ditunjukkan Gambar 61 di bawah ini, yaitu membuat komposisi atas ide-ide baru berdasarkan pola ritme dari motif asli, tidak perlu Anda memakai kontur dari motif pertama, juga bukan suatu keharusan untuk memakai not-not utama dari melodi pertama.

Gambar 61

Membuat sebuah melodi yang baik dengan menggunakan not-not utama sepertinya tidak mudah. Not-not utama sebuah melodi ialah not-not yang paling penting dari melodi tersebut, not-not yang barangkali tersangkut diingatan saat pertama kali terdengar. Not-not yang tidak penting dan hampir tidak bisa diingat adalah nada-nada yang segera lenyap begitu terjadi pergantian harmoni. Mencipta dan mengembangkan melodi dengan memakai not-not utama paling baik dipakai dalam lagu yang berisi ulangan-ulangan akor, sehingga nada-nada itu bisa cocok dengan harmoni untuk jangka waktu yang cukup lama dan dapat diulang-ulang beberapa kali. Jarang terjadi not-not utama tadi ditransposisi agar cocok dengan rangkaian akor berikutnya, tetapi interval yang terjadi oleh karena not-not utama tadi harus cukup kentara agar bisa dikenali dalam tatanan baru. Ketika mencipta serangkaian nada-nada sekunder yang mengitari not-not utama, tanpa disadari not-not utama itu diperlemah oleh kehadiran not-not baru yang: (1) ambitusnya lebih tinggi, (2) beraksen, (3) terletak pada posisi yang mempunyai ritme kuat, (4) durasi notnya lebih panjang, (5) diulang-ulang, dan (6) didekati dengan melompat (intervalnya lebar). not-npt sekunder (bukan not utama). Ciri-ciri poin 1 sampai 6 tadi hendaknya dipakai untuk menguatkan not-not utama dan jangan dilakai untuk Metode untuk menentukan berhasil tidaknya suatu pengembangan melodi ialah dengan mengecek, setelah

memainkannya, apakah motif-motif yang terjadi mempunyai not-not yang sama dengan motif aslinya.

Gambar 62

Tujuan mengembangkan melodi jika dikaitkan dengan transposisi, kontur, ritme, dan not-not utama ialah sama yaitu menciptakan suatu bentuk melodi dengan cara mengulang sebagian aspek dari motif asli , kemudian membuat sekuen-sekuen interval baru untuk menunjang variasi yang diingini . Sebagaimana dengan kontur, ritme bisa juga dibuat tanpa meniru ritme-ritme motif yang sudah ada. Ritme bisa dipakai sebagai kerangka untuk membuat sebuah melodi.

KAITAN TANGGA NADA DENGAN KEY CENTER Tangga nada merupakan materi pokok untuk berimprovisasi menciptakan melodi solo. Ada bermacam-macam tangga nada yang sesuai dengan akor dan progresi akor. Pada bab ini Anda akan mempelajari tangga nada dan hubungannya dengan akor dan progresi akor. Dengan modal pengetahuan ini maka Anda akan dapat mencipta melodi khas yang didasarkan atas gagasan dan rasa Anda sendiri yang orisinal, itulah improvisasi yang sesungguhnya. Key Center Walaupun seorang solis harus mengetahui progresi akor pada lagu yang dimainkannya, namun ia tidak harus memainkan tangga nada yang dimainkannya untuk setiap perubahan akor . Dengan mempelajari key center atau pusat tonal, yaitu nada dasar yang sedang berlaku pada melodi yang sedang dimainkan, seorang solis dapat memainkan satu tangga nada saja walaupun terjadi banyak perubahan akor. Di dalam musik selalu terjadi perubahan dari suasana tegang ke kendur dan sebaliknya. Kebanyakan lagu berakhir pada akor tonika (akor dari nada dasar), namun sepanjang perjalanan lagu itu mungkin saja terjadi perubahan nada dasar dan resolusinya sementara. Pemakaian Tangga Nada Seperti yang sudah dibahas pada bab-bab sebelumnya bahwa ada berbagai macam tangga nada yang bisa digunakan untuk berimprovisasi. berimprovisasi: 1. Tangga nada Mayor Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan key center dan tangga nada dalam

Gambar 63

Nada dasar: G Mayor; key center : G mayor; tangga nada : G mayor 2. Tangga nada Minor Sama dengan tangga nada mayor, maka tangga nada minor dimainkan jika key center yang dipakai adalah minor.

Gambar 64

Nada dasar: G Mayor; Key center : A mayor; tangga nada A mayor Key center : G mayor; tangga nada G mayor 3. Tangga nada Blues

Gambar 65

Nada dasar: G Mayor; Key center : G blues; tangga nada G blues 4. Tangga nada Pentatonis

Gambar 66

Nada dasar: Key center :

G Mayor; E mayor; tangga nada E pentatonis G mayor; tangga nada G pentatonis Tangga nada E dimainkan dalam progresi Bm – E (5-1) dan tangga nada G dimainkan dalam progresi Am – D – G (2 – 5 – 1) . 5. Tangga nada Diminis

Gambar 67

Nada dasar: Key center :

G Mayor; B minor; tangga nada B minor natural B dim.; tangga nada B dim. A minor; tangga nada A minor natural A dim.; tangga nada A dim.

Pada akor yang berbeda tangga nada yang dimainkan juga berbeda. Dua buah akor dominan 7 (E9 dan D7-9) diperlakukan seperti akor diminis, yang sesuai dengan pengaruh interval mol 9 (minor 9) yang membentuk akor diminis di atas root. 6. Tangga nada Augmented

Gambar 68

Nada dasar: Key center :

G Mayor; B minor; tangga nada B minor natural E augmented.; tangga nada E augmented A minor; tangga nada A minor natural F augmented; tangga nada D augmented

Tangga nada augmented dapat dipakai dengan akor augmented atau akor 5 Pada contoh di atas tangga nada E aug. dipakai untuk akor E9 dan D aug. untuk akor D7 9. 7. Tangga nada dan Potongan Akor Kadang-kadang seorang pemain solo (solis) menekankan rasa gerakan cepat perubahan akor dengan cara memainkan tangga nada yang berbeda untuk tiap-tiap akor yang berbeda pula. Maka pengetahuan tentang kaitan antara “tangga nada mini” dengan “akor mini” atau “potongan akor” sangatlah bermanfaat. Lihat contoh berikut ini:

Gambar 69

Nada dasar: Key center :

G Mayor; B minor; tangga nada B minor natural E mayor; tangga nada E mayor A minor; tangga nada A minor natural D mayor; tangga nada D mayor G mayor; tangga nada G mayor

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful