AMBROXOL 30 MG FM

Ambroxol 30 MG

Komposisi : Ambril* tablet Ambril* sirup Tiap tablet mengandung Ambroxol HCI 30 mg Satu sendok takaran (5 ml) mengandung Ambroxol HCI 15 m

Karakteristik : Ambril mengandung ambroxol, yang berefek mukokinetik dan sekretolitik, dapat mengeluarkan lendir yang kental dan lengket dari saluran pernafasan dan mengurangi staknasi cairan sekresi. Pengeluaran lendir dipermudah sehingga melegakan pernafasan. Sekresi lendir menjadi normal kembali selama pengobatan dengan Ambril. Baik batuk maupun volume dahak dapat berkurang secara bermakna. Dengan demikian cairan sekresi yang berupa selaput pada permukaan mukosa saluran pernafasan dapat melaksanakan fungsi proteksi secara normal kembali. Penggunaan jangka panjang dimungkinkan karena preparat ini mempunyai toleransi yang baik.

Indikasi : Gangguan saluran pernafasan sehubungan dengan sekresi bronkial yang abnormal baik akut maupun kronis, khususnya pada keadaan-keadaan eksaserbasi dari penyakit-penyakit bronkitis kronis, bronkitis asmatis, asma bronkial.

Takaran pemakaian :

Bila tidak dianjurkan lain oleh dokter, anjuran pemakaian untuk anak berdasarkan jumlah dosis perhari yaitu 1,2 - 1,6 mg Ambroxol HCI per kg berat badan.

Tablet : Dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun Anak-anak antara 5-12 tahun tablet 3 kali sehari. 1/2 tablet 3 kali sehari.

pada pemakaian jangka panjang dosis pemberian sebaiknya dikurangi menjadi 2 kali sehari.Tablet sebaiknya ditelan sesudah makan bersama sedikit air.

Sirup : Anak-anaks/d 2 tahun Anak-anak2-5 tahun Anak-anakdi atas 5 tahun Dewasa 2,5 ml (V; sendok takaran), 2 kali sehari 2,5 ml (V2 sendok takaran), 3 kali sehari. 5ml{ 1 sendok takaran), 2- 3 kali sehari. 10 ml (2 sendok takaran), 3 kali sehari.

Takaran pemakaian di atas cocok untuk pengobatan gangguan saluran pernafasan akut dan untuk pengobatan awal pada keadaan kronis sampai 14 hari. Pada pemakaian lebih lama takaran pemakaian bisa diturunkan menjadi separuhnya. Sirup sebaiknya diminum sesudah makan.

Peringatan dan perhatian : Pada studi preklinis tidak menunjukkan adanya efek yang mengkhawatirkan, akan tetapi keamanan pemakaian pada wanita hamil/menyusui belum diketahui dengan pasti. Meskipun demikian, seperti halnya dengan penggunaan obat-obat lain, pemakaian pada kehamilan trimester I harus hati-hati.

Efek samping : Ambril umumnya mempunyai toleransi yang baik. Efek samping ringan pada saluran pencernaan pernah dilaporkan walaupun jarang. Reaksi alergi jarang terjadi, beberapa pasien yang alergi tersebut juga menunjukkan reaksi alergi terhadap preparat lain.

Kemasan : Tablet : Kotak berisi lOx lOtabletdalamblister Sirup : Botol 100ml. .Kontraindikasi : Tidak diketahui adanya kontraindikasi.

Adrenokortikoid: Sebagai adrenokortikoid. antiinflamasi dan imunosupresan. berikatan dengan DNA. Efek Glukokortikoid: Anti-inflamasi (steroidal) Glukokortikoid menurunkan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi.Methylprednisolone Injeksi IM/IV Komposisi Methylprednisolone 125 mg Tiap vial mengandung: Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan Metilprednisolon 125 mg Methylprednisolone 500 mg Tiap vial mengandung: Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan Metilprednisolon 500 mg Farmakologi: Metilprednisolon merupakan kortikosteroid dengan kerja intermediate yang termasuk kategori adrenokortikoid. . karena itu menurunkan gejala inflamasi tanpa dipengaruhi penyebabnya. Bagaimanapun. dan menstimulasi rekaman messenger RNA (mRNA) dan selanjutnya sintesis protein dari berbagai enzim akan bertanggung jawab pada efek sistemik adrenokortikoid. obat ini dapat menekan perekaman mRNA di beberapa sel (contohnya: limfosit). Komplek tersebut kemudian memasuki inti sel. metilprednisolon berdifusi melewati membran dan membentuk komplek dengan reseptor sitoplasmik spesifik.

pelepasan enzim lisosomal. Reaksi anafilaktik atau anaphytold (pengobatan tambahan) Penggunaan glukokortikoid umumnya untuk reaksi lambat (yang tidak berhasil dengan tindakan lain dalam 1 jam). sintesis dan atau pelepasan beberapa mediator kimia inflamasi.  Insufisiensi adrenokortikoid sekunder: Penggantian dengan glukokortikoid umumnya mencukupi. menghambat pembentukan edema dan migrasi leukosit. Glukokortikoid mengurangi konsentrasi limfosit timus (T-limfosit). Metilprednisolon juga menghambat fagositosis. konsentrasi komponen pelengkap dan immunoglobulin. dan eosinofil. Kerja immunosupresan juga dapat mempengaruhi efek antiinflamasi. termasuk makrofag dan leukosit pada lokasi inflamasi. sehingga T-limfosit blastogenesis menurun dan mengurangi perluasan respon immun primer. dan meningkatkan sintesis lipomodulin (macrocortin). Rinitis alergi parennial (tahunan) atau seasonal (musiman). kemungkinan efeknya melalui blokade faktor penghambat makrofag (MIF). menghambat lokalisasi makrofag: reduksi atau dilatasi permeabilitas kapiler yang terinflamasi dan mengurangi lekatan leukosit pada endotelium kapiler. atau situasi dimana dapat timbul resiko kekambuhan. untuk pengobatan: Insufisiensi adrenokortikal akut dan kronik primer: Hidrokortison dan kortison lebih dipilih sebagai terapi pengganti karena aktivitas mineralokortikoidnya yang berarti. Pada beberapa pasien penggantian mineralokortikoid tambahan juga mungkin diperlukan. Immunosupresan Mekanisme kerja immunosupresan belum dimengerti secara lengkap tetapi kemungkinan dengan pencegahan atau penekanan sel mediasi (hipersensitivitas tertunda) reaksi imun seperti halnya tindakan yang lebih spesifik yang mempengaruhi respon imun. . dan hambatan selanjutnya terhadap sintesis asam arakhidonatmediator inflamasi derivat (prostaglandin.      Angioderma (pengobatan tambahan) Laringeal edema akut non infeksi. Reaksi transfusi urtikaria. Meskipun mekanisme yang pasti belum diketahui secara lengkap. mineralokortikoid tidak selalu dibutuhkan. suatu inhibitor fosfolipase A2-mediasi pelepasan asam arakhidonat dari membran fosfolipid.    Gangguan alergi: Reaksi alergi karena obat. tromboksan dan leukotrien). monosit. Glukokortikoid juga dapat menurunkan lintasan kompleks immun melalui dasar membran. Indikasi:   Abnormalitas fungsi adrenokortikal. Pengobatan sakit karena serum.Glukokortikoid menghambat akumulasi sel inflamasi. Metilprednisolon juga menurunkan ikatan immunoglobulin ke reseptor permukaan sel dan menghambat sintesis dan atau pelepasan interleukin. Penggantian sodium dan cairan juga dibutuhkan.

Gangguan saluran pencernaan: Diindikasikan untuk pengobatan inflamasi pada usus besar seperti di bawah ini:     Inflamasi pada usus besar. Dermatitis inflamatori berat. Eritema multiforma berat (sindrom Stevens-Johnson) Mikosis fungoides. kontraindikasi untuk injeksi i. Dermatitis seboreik berat. Dermatitis herpetiformis bullous. pemberian dalam jangka waktu lama tidak direkomendasikan. Gangguan pada kulit: Dermatitis yang bersifat atopik. Penyakit jaringan ikat campuran. Psoriasis berat.v. Phemphigus. Enteritis regional (penyakit Crohn) Penyakit celiac berat. Gangguan darah: Anemia hemolitik yang diperoleh (oto imun) Anemia hipoplastik bawaan (eritroid) Anemia sel darah merah (eritoblastopenia) Trombositopenia sekunder (pada orang dewasa) Trombositopenia purpura idiopatik pada orang dewasa (secara oral atau i. Poliarteritis nodosa. Pemberian secara oral atau parenteral diindikasikan bila terapi sistemik dibutuhkan selama periode kritis penyakit. Vaskulitis. termasuk colitis ulceratif. Polikondritis kambuhan. eksfoliatif.) Hemolisis.m. Pemphigoid. Arteritis giant-cell (temporal). kontak. Gangguan kolagen: Diindikasikan selama eksaserbasi akut atau terapi perawatan pada kasus-kasus berikut:   Carditis rheumatik (atau non rheumatik) akut. Penyakit hati:         . Dermatomiositis sistemik (polimiositis): Glukokortikoid mungkin merupakan obat pilihan pada anak dengan kondisi demikian. Sarkoid kutan lokalisasi. Polimialgia rheumatik. Saja.                    Lupus eritematosus sistemik.

Epikondilitis. Herpes zoster.      Penyakit neurologik: Meningitis tuberkulosa (pengobatan tambahan). Hiperkalsemia yang berhubungan dengan neoplasma (atau sarkoidosis). seperti:          Klorioretinitis. Koroiditis posterior difusi.           Hepatitis alkoholik dengan enselofati. Kanker payudara. Mieloma ganda. diindikasikan untuk pengobatan penyakit eksaserbasi akut. Bursitis akut atau sub akut. Limfoma Hodgkin atau non-Hodgkin. Nekrosis hepatik sub akut. Keratis yang tidak berhubungan dengan herpes simpleks atau infeksi fungal. Sindroma nefrotik: Diindikasikan untuk menginduksi diuresis atau mengurangi gejala proteinuria pada sindrom idiopatik nefrotik. Hepatitis kronis aktif. Penyakit neoplastik (pengobatan tambahan): Diindikasikan bersama dengan terapi penyakit antineoplastik spesifik yang sesuai. untuk meringankan penyakit neoplastik berikut ini beserta problem yang berhubungan:        Leukemia akut atau limfositik kronik. terapi jangka panjang mungkin diperlukan untuk mencegah kekambuhan. Demam yang disebabkan kanker ganas. Oftalmia simpatika. Iridosiklitis. Konjungtivitis alergi (yang tidak dapat diatasi secara topikal). Injeksi lokal lebih baik dilakukan bila hanya beberapa sendi atau daerah yang terkena. Gangguan pada mata: Diindikasikan untuk pengobatan alergi kronis atau akut dan kondisi inflamasi oftalmik. Hepatitis non alkoholik pada wanita. . Uveitis posterior difusi. Sklerosis ganda. Inflamasi non rheumatik: Diindikasikan selama episode akut atau eksaserbasi dari gangguan-gangguan di bawah ini. Neurotrauma: luka pada tulang belakang. Kanker prostat. Tenosinovitis nonspesifik akut. Neuritis optik. diindikasikan untuk pemberian bersama dengan kemoterapi anti tuberkulosa pada pasien dengan blok subarakhnoid.

facial. Sarkoidosis simptomatik. Pneumonia. Pengobatan:               Asma bronkial Berillosis Sindrom Loeffler (pneumonitis eosinofil atau sindrom hipereosinofil). Penyakit paru-paru.   Perikarditis: digunakan untuk menghilangkan inflamasi dan demam. Tuberkulose paru-paru yang tersebar atau fulminant (pengobatan tambahan): diberikan bersamaan dengan kemoterapi anti tuberkulosa yang sesuai. Sinovitis osteoarthritis. Polip nasal. Osteoarthritis post traumatik. istirahat. Penyakit reiter. atau i.v. Penyakit deposisi kalsium pirofosfat akut (pseudogout. antiinflamasi non steroidal. Hemangioma. yang disebabkan oleh kristal).v. Arthritis reumatoid (termasuk arthritis pada anak-anak). atau i.v. Untuk pasien yang tidak dapat lagi diobati dengan aspirin. Profilaksis: Diberikan sebelum atau selama pembedahan jantung jika pasien mempunyai gangguan pre-exiting pulmonary dan diberikan sebelum. dan terapi fisik. obstruksi kronis (yang tidak dapat dikontrol dengan teofilin dan β -adrenergik agonis).m. . Diindikasikan sebagai terapi tambahan selama episode akut atau eksaserbasi gangguan rheumatik seperti:    Ankilosing spondilitis. Polimialgia rheumatik. sinovitis. Pada penderita AIDS atau yang mengidap infeksi HIV yang terkena pneumonia pneumocystis.m. obstruksi saluran nafas pada anak: pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i. yang berhubungan dengan sindrom immunodefisiensi yang diperoleh (pengobatan tambahan). atau i. selama dan setelah pembedahan oral. Bronkitis asmatik akut dan kronik. Pneumonia aspirasi. atau leher untuk mencegah edema yang dapat menghambat jalan nafas. kondrokalsinosis artikularis. pneumosistitis carinii. Edema pulmonari nonkardiogenik (disebabkan sensitivitas protamin): pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i. Arthritis psoriatik. Gangguan pernafasan: Untuk pengobatan dan profilaksis. Status asmatikus: pemberian harus secara i.       Gout arthritis akut.m. Gangguan rheumatik: Injeksi lokal dilakukan bila hanya beberapa sendi atau area yang terlibat.

4 mg per kg berat badan per jam. selama 23 jam. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit. 30 mg sekali sehari pada hari keenam sampai kesepuluh. diikuti selama 45 menit dengan infus 5.66 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sekali sehari. Anak-anak berusia lebih dari 13 tahun: sama dengan dosis dewasa.   Pengobatan shock: akibat insufisiensi adrenokortikal. herpes.117 mg) (base) per kg berat badan atau 3. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit. Dosis dapat diulangi setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan.16-25 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh setiap 12 sampai 24 jam. Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: intravena.0585 mg) (base) per kg berat badan atau 1. diikuti dengan 45 menit infus. penderita dengan riwayat penyakit jiwa. Bayi dan anak:  Insufisiensi adrenokortikal: intramuskular.    . Kontraindikasi:     Infeksi jamur sistemik dan hipersensitivitas terhadap bahan obat. Indikasi lain: intramuskular. Bayi prematur.039 sampai 0. Dosis: Dewasa Secara intramuskular atau intravena. 117 mikrogram (0. 15 mg sekali sehari pada hari ke sebelas sampai dua puluh satu. 5.139-0.11 sampai 1.4 mg per kg berat badan per jam. Untuk eksaserbasi akut pada sklerosis ganda: intramuskular atau intravena.  Pengobatan trikinosis. Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: Anakanak berusia 13 tahun atau kurang: dosis belum ditentukan secara pasti. atau 39 sampai 58. Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena.33 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sehari (dalam dosis terbagi tiga) setiap hari ke tiga. Pasien yang sedang diimunisasi. osteoporosis berat. 30 mg (base) dua kali sehari pada hari pertama sampai kelima. Pencegahan dan pengobatan penolakan pencangkokan organ: diberikan bersamaan dengan immunosupresan lainnya seperti azathioprine atau siklosporin. selama 23 jam. diulangi sesuai keperluan. 139-835 mikrogram (0.835 mg) (base) per kg berat badan atau 4. 10-40 mg (base).     Untuk dosis tinggi (pulse terapi): intravena. diikuti dengan 64 mg setiap hari selama satu bulan. Pemberian jangka lama pada penderita ulkus duodenum dan peptikum. Pengobatan tiroiditis non supuratif.5 mikrogram (0. 160 mg (base) perhari selama satu minggu. Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan sekurangkurangnya 30 menit.

atau dapat diberikan secara infus intravena dalam 5% dekstrosa.   Juga menimbulkan reaktivasi.9% selama sekurang-kurangnya 30 menit. penyembuhan luka yang tertunda. Larutan stabil secara fisika dan kimia selama 48 jam. bahaya diabetes mellitus. eksoftalmus.  Efek endokrin: Menstruasi yang tidak teratur. glaukoma. distensi abdominal.Cara pemberian: Untuk intramuskular atau intravena: Rekonstitusi serbuk dengan larutan injeksi yang telah disediakan (mengandung benzyl alkohol 0.  Efek muskuloskeletal: Nyeri atau lemah otot. nekrosis aseptik pangkal humerat atau femorat.9%).  Gangguan cairan dan elektrolit: Retensi sodium yang menimbulkan edema. atau retak patologi tulang panjang. hambatan pertumbuhan pada anak. perforasi. hiperglikemia. dan atropi matriks protein tulang yang menyebabkan osteoporosis. peningkatan selera makan yang berakibat naiknya berat badan. Efek sistem syaraf: . toleransi glukosa menurun. diare atau konstipasi. pankreatitis. iritasi lambung.9% atau dektrosa 0. anoreksia yang berakibat turunnya berat badan. NACl 0. serangan jantung kongestif. Pemberian dengan intravena langsung dapat diberikan selama sekurang-kurangnya 1 menit.5% dalam NaCl 0.  Efek pada saluran cerna: Mual. hipokalemik alkalosis. timbulnya keadaan cushingoid. perdarahan dan penyembuhan peptik ulcer yang tertunda. muntah. peningkatan tekanan intra okular. kekurangan kalium. ulceratif esofagitis. retak tulang belakang karena tekanan. Efek samping:  Insufisiensi adrenokortikal: Dosis tinggi untuk periode lama dapat terjadi penurunan sekresi endogeneous kortikosteroid dengan menekan pelepasan kortikotropin pituitary insufisiensi adrenokortikal sekunder. hipertensi.  Efek pada mata: Katarak subkapsular posterior. kocok hingga larut.

iskemik neuropati. letargi. hirsutisme. Dapat menyebabkan kerusakan fetus bila diberikan pada wanita hamil. peningkatan keringat. urtikaria. abnormalitas EEG. Peringatan dan perhatian:  Wanita hamil dan ibu menyusui. Interaksi obat: . demam. nyeri sendi. kehilangan nafsu makan. Pasien lanjut usia. Alternate-day therapy. alergi dermatitis. jerawat.  Efek samping lain: Penghentian pemakaian glukokortikoid secara tiba-tiba akan menimbulkan efek mual. vertigo. deskuamasi. yaitu pemberian dosis tunggal setiap pagi hari. dianjurkan tidak divaksinasi terhadap Smalpox juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi. eritema fasial. Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinik dari suatu penyakit infeksi. Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC laten atau tuberculin reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi. peningkatan aktivitas motor. karena obat dapat menghambat pertumbuhan tulang. konvulsi. mialgia. terutama wanita postmenopausal. Dosis tinggi glukokortikoid pada anak dapat menyebabkan pankreatitis akut yang kemudian menyebabkan kerusakan pankreas.  Anak-anak Pemberian dosis farmakologi glukokortikoid pada anak-anak bila mungkin sebaiknya dihindari. dan atau hipotensi.Sakit kepala. Jika terapi diperlukan harus diamati pertumbuhan bayi dan anak secara seksama. insomnia.  Pasien lanjut usia. Kortikosteroid dapat berdifusi ke air susu dan dapat menekan pertumbuhan atau efek samping lainnya pada bayi yang disusui. meminimalkan hambatan pertumbuhan dan sebaiknya diganti bila terjadi hambatan pertumbuhan. Tidak dianjurkan pada pasien dengan ocular herpes simplex karena kemungkinan terjadi perforasi korneal.  Efek dermatologi: Atropi kulit. untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi. kehilangan berat badan. angiodema. Dapat terjadi hipertensi selama terapi adrenokortikoid. akan lebih mudah terkena osteoporosis yang diinduksi glukokortikoid. muntah. striae.      Sementara pasien menerima terapi kortikosteroid. sakit kepala.

Pemberian bersamaan dengan obat ulcerogenik seperti indometasin dapat meningkatkan resiko ulcerasi saluran pencernaan. Kemasan dan Nomor Registrasi: METHYLPREDNISOLONE 125 Kotak. atau pyridostigmin dapat menimbulkan kelemahan pada pasien dengan myasthenia gravis. simpan pada suhu antara 15-30�C. Gunakan larutan sebelum 48 jam setelah direkonstitusi.  Anti inflamasi nonsteroidal. neostigmin. terlindung dari cahaya. Diuretik yang mengurangi kadar kalium (contoh: thiazida.  Vaksin dan toksoid. fenitoin dan rifampin yang menginduksi enzim hepatik dapat meningkatkan metabolisme glukokortikoid. Jika mungkin. kemungkinan efek ini harus dipertimbangkan. 1 vial @ 125 mg metilprednisolon kering dan 1 ampul @ 2 ml pelarut. Meskipun pemberian bersamaan dengan salisilat tidak tampak meningkatkan terjadinya ulcerasi saluran pencernaan. pengobatan antikolinesterase harus dihentikan 24 jam sebelum pemberian awal terapi glukokortikoid. Interaksi antara glukokortikoid dan antikolinesterase seperti ambenonium. Serum kalium harus dimonitor secara seksama bila pasien diberikan obat bersamaan dengan obat yang mengurangi kalium.  Obat yang mengurangi kalium. Aspirin harus diberikan secara hati-hati pada pasien hipotrombinernia. Sebelum dan sesudah rekonstitusi. sehingga mungkin diperlukan dosis tambahan atau obat tersebut tidak diberikan bersamaan. Obat seperti barbiturat. asam etakrinat) dan obat lainnya yang mengurangi kalium oleh glukokortikoid. Karena kortikosteroid menghambat respon antibodi. Enzim penginduksi mikrosom hepatik.  Bahan antikolinesterase. obat dapat menyebabkan pengurangan respon toksoid dan vaksin inaktivasi atau hidup. furosemida. GKL0405037244A1 . Cara penyimpanan: Simpan ditempat kering dan sejuk.

TERLINDUNG DARI CAHAYA � METHYLPREDNISOLONE TABLET Komposisi: METHYLPREDNISOLONE 4 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 4 mg METHYLPREDNISOLONE 8 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 8 mg METHYLPREDNISOLONE 16 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 16 mg . GKL0405037244B1 HARUS DENGAN RESEP DOKTER SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30)�C. 1 vial @ 500 mg metilprednisolon kering dan 1 ampul @ 8 ml pelarut.METHYLPREDNISOLONE 500 Kotak.

Pasien yang sedang diimunisasi.117 mg/kg bobot tubuh atau 3. dosis tunggal atau terbagi. Indikasi: Abnormalitas fungsi adrenokortikal. Dosis:  Dewasa: Dosis awal dari metilprednisolon dapat bermacam-macam dari 4 mg � 48 mg per hari.  Indikasi lain: 2 2 Oral 0.417 mg � 1. Metilprednisolon tidak mempunyai aktivitas retensi natrium seperti glukokortikoid yang lain. .  Anak-anak: Insufisiensi � adrenokortikal: Oral 0. kemudian 64 mg setiap 2 hari sekali dalam 1 bulan. penderita dengan riwayat penyakit jiwa. herpes. Dalam multiple sklerosis: Oral 160 mg sehari selama 1 minggu.33 mg per m luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi tiga. tergantung keadaan penyakit. penyakit hematologik.67 mg per kg berat tubuh atau 12. osteoporosis berat.5 mg � 50 mg per m luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi 3 atau 4. hiperkalsemia sehubungan dengan kanker.Farmakologi: Metilprednisolon adalah glukokortioid turunan prednisolon yang mempunyai efek kerja dan penggunaan yang sama seperti senyawa induknya. Pemberian kortikosterooid yang lama merupakan kontraindikasi pada ulkus duodenum dan peptikum. keadaan alergi dan peradangan pada kulit dan saluran pernafasan tertentu. Kontraindikasi:    Infeksi jamur sistemik dan pasien yang hipersensitif. penyakit kolagen.

cushing syndrome. Tidak dianjurkan penggunaan pada penderita ocular herpes simplex. Peringatan dan perhatian:         Tidak dianjurkan untuk wanita hamil dan menyusui.Efek samping: Efek samping biasanya terlihat pada pemberian jangka panjang atau pemberian dalam dosis besar. karena penggunaaan jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Kemungkinan adanya gejala hipoadrenalism. misalnya gangguan elektrolit dan cairan tubuh. gangguan penyembuhan luka. Pasien yang menerima vaksinasi terhadap smallpox. Reg. Interaksi obat:     Berikan dengan makanan untuk meminumkan iritasi gastrointestinal. dan bayi yang lahir dari ibu yang ketika hamil menerima terapi kortikosteroid ini harus diperiksa. insufisiensi adrenal. Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinis dari suatu penyakit infeksi. Ada peningkatan efek kortikosteroid pada pasien dengan hipotiroidi dari cirrhosis. juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis. Pasien yang menerima terapi kortikosteroid ini dianjurkan tidak divaksinasi terhadap smallpox. Penggunaan bersama-sama dengan anti-diabetes harus dilakukan penyesuaian dosis. untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi. karena kemungkinan terjadi perforasi corneal. Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC latent atau Tuber Culin Reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi. Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. perdarahan gastrointestinal. tukak lambung. meningkatnya tekanan darah. 10 blister @ 10 tablet: No. GKL0305035210C1 . Kemasan dan Nomor Registrasi: METHYLPREDNISOLONE 4 mg : Kotak. Reg. gaangguan pertumbuhan pada anak-anak. kecuali memang benar-benar dibutuhkan. Penggunaan bersama-sama dengan antiinflamasi non-steroid atau antirematik lain dapat mengakibatkan risiko gastrointestinal. GKL0305035210B1 METHYLPREDNISOLONE 16 mg : Kotak. Reg. 10 blister @ 10 tablet: No. juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi. Tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak. katarak. osteoporosis. kelemahan otot. 10 blister @ 10 tablet: No. resistensi terhadap infeksi menurun. GKL0305035210A1 METHYLPREDNISOLONE 8 mg : Kotak.

Tidak salah jika obat ini banyak digunakan untuk pengobatan asma. untuk gejala menetap boleh diberikan sampai 4 kali sehari. berwarna putih atau hampir putih. Profilaksis pada exercise. dosis maksimal 8mg dalam dosis tunggal ( tetapi jarang memberikan keuntungan ekstra atau dapat ditoleransi dengan baik).2tert-Butylamino-1-(4-hydroxy-3hydroxymethylphenyl)ethanol. dosis awal 5mcg/menit. disesuaikan dengan respon dan nadi. anak-anak 100mcg (1 semprot). Dosis. Larut dalam alkohol. sedikit larut dalam air. sedikit larut dalam air. 2-6 tahun 1-2 mg 3-4 kali sehari. Anak-anak dibawah 2 tahun : 100 mcg/kg 4 kali sehari (unlicensed). 2. ditingkatkan sampai 200mcg (2 semprot) . Deskripsi Salbutamol   Nama & Struktur Kimia : 2Hydroxy 4-1-cl Hydroxy . 3. Selain untuk membuka saluran pernafasan yang menyempit.c / i. dapat ditingkatkan sampai 200 mcg (2 semprot) bila perlu. Terlindung dari cahaya. Injeksi injeksi IV bolus pelan 250 mcg diulangi bila perlu. Terlindung dari cahaya Salbutamol merupakan agen beta adrenergik yang digunakan sebagai bronkodilator yang efektif untuk meringankan gejala asma akut dan bronkokonstriksi. Injeksi s. biasanya dalam interval 3-20 mcg/menit. untuk gejala yang menetap boleh diberikan sampai 4 kali sehari. 6-12 tahun 2 mg 3-4 kali sehari. Dewasa 200mcg (2 semprot). Salbutamol termasuk dalam golongan Antiasma dan obat untuk penyakit paru obstruktif kronik B. obat ini juga efektif untuk mencegah timbulnya exercise. Inhalasi Dewasa : 100-200 mcg (1-2 semprot).induced bronchospasm. berwarna putih atau hampir putih. atau lebih bila perlu. Secara umum sifat fisikokimia dari salbutamol adalah serbuk berbentuk kristal. (1) C13H21NO3 – Sifat Fisikokimia : Serbuk berbentuk kristal.SALBUTAMOL" A.1-1 mcg/kg/menit (unlicensed).m 500mcg ulangi tiap 4 jam bila perlu. Larut dalam alkohol. Anak-anak : 100mcg (1 semprot). Salbutamol juga merupakan salah satu bronkodilator yang paling aman dan paling efektif. Anak-anak 1-12 bulan 0.induced broncospasm (penyempitan saluran pernafasan akibat olahraga). Oral (Lebih dipilih dengan inhalasi) : Dewasa : dosis 4mg (orang lanjut usia dan penderita yang peka awali dengan dosis awal 2 mg) 3-4 kali sehari. IV infus. Cara Pemberian dan Lama Pemberian Salbutamol 1.

Penetapan kadar dengan menimbang seksama lebih kurang 400 mg. ditandai dengan nafas berbunyi. tersengal. anak-anak 200mcg. Penggunaan Salbutamol / Indikasi Obat Indikasi :     Asma bronchial Bronchitis cronis Empisema Pengobatan dan pencegahan asma serta pencegahan timbulnya asma akibat olah tubuh. 5'-adenosine monophosphate (cyclic AMP). anakanak 200 mcg.bila perlu. Mekanisme ini meningkatkan jumlah cyclic AMP yang berdampak pada relaksasi otot polos bronkial serta menghambat pelepasan mediator penyebab reaksi hipersensitivitas dari mast cells F. Salbutamol digunakan untuk meringankan bronkospasm yang berhubungan dengan asma E. Reaksi terhadap benda asing berupa penyempitan atau pemblokan saluran napas. Adenyl cyclase merupakan katalis dalam proses perubahan adenosine triphosphate (ATP) menjadi cyclic3'.2tert-Butylamino-1-(4-hydroxy-3.500) menunjukkan maksimum dan minimum pada panjang gelombang yang sama seperti salbutamol BPFI.1 N (1 dalam 12. 1 ml asam perklorat 0. dan penyempitan rongga dada. Kondisi yang . Identifikasi : Serapan inframerah zat yang didespersikan dalam kalium bromide P. Identifikasi serta penetapan kadar Nama lain : 2Hydroxy 4-1-cl Hydroxy . Enzim ini memperkuat perubahan adenosintrifosfat (ATP) yang kaya energi menjadi cAMP dengan pembebasan energi yang digunakan untuk proses-proses dalam sel. batuk. Serbuk inhalasi : Dewasa 200-400 mcg. untuk gejala yang menetap boleh diberikan sampai 4 kali sehari. titrasi dengan asam perklorat 0. Pasien asma memiliki kepekaan saluran pernafasan yang berlebih (hipersensitif) sehingga mudah bereaksi pada zat yang masuk ke saluran napas. Mekanisma Kerja Mekanisme kerjanya melalui stimulasi reseptor B2 di bronki yang menyebabkan aktivasi dari adenilsiklase.hydroxymethylphenyl). larutkan dalam 50 ml asam asetat glacial P. Mekanisme Aksi Salbutamol merupakan sympathomimetic amine termasuk golongan beta-adrenergic agonist yang memiliki efek secara khusus terhadap reseptor beta(2)-adrenergic yang terdapat didalam adenyl cyclase. Gejalagejala yang menyertai asma menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari.1 N LV mernggunaka indikator 2 tetes Kristal violet LP. C. Spektrum serapan ultraviolet larutan dalam asam klorida 0. Lakukan penetapanblangko.93 mg salbutamol (Dinkes.1 N setara dengan 23. D. menunjukkan maksimum hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada Salbutamol BPFI. Asma merupakan penyakit kronik saluran pernafasan yang dapat menjangkiti semua usia. 1995). Profilaksis untuk exercise-induced bronchospasm Dewasa 400mcg.

insomnia). pabrik menyarankan untuk dihindari kecuali manfaat jauh lebih besar dari risiko.jumlah dari obat yang diinhalasi pada ASI mungkin terlalu kecil untuk membahayakan. nyeri dada mual muntah diare anorexia mulut kering iritasi tenggorokan batuk gatal tachicardia ruam pada kulit (skin rush). kehamilan (dosis tinggi sebaiknya diberikan melalui inhalasi karena pemberian melalui pembuluh darah dapat mempengaruhi miometrium dan dapat mengakibatkan gangguan jantung). salbutamol telah banyak beredar di pasaran dengan berbagai merk dagang. I. rentan terhadap perpanjangan interval QT. antara lain:             gangguan sistem saraf (gelisah. Kontraindikasi Salbutamol Pada hipertiroid. terutama pemberian melalui pembuluh darah (pantau kadar gula darah. dilaporkan ketoasidosis) . gemetar. sakit kepala. G. H. Merk Dagang / Obat Paten Saat ini. inflamasi (iritasi atau peradangan) atau bronchoconstriction (penciutan atau kontraksi otot di saluran pernafasan) (farmacia. Selain untuk membuka saluran pernafasan yang menyempit. antara lain:       Asmacare Bronchosal Buventol Easyhaler Glisend (konimex) Ventolin Volmax .Untuk asma jika dosis tinggi diperlukan selama kehamilan maka sebaiknya diberikan dengan inhalasi kaerna pemberian intravena dapat mempengaruhi miometrium. pusing. Mungkin muncul di ASI. kejang. diabetes mellitus. hipertensi. insufisiensi miokardial. 2006) Pada terapi pengobatan gangguan pernafasan obat salbutamol sudah tidak asing lagi dipergunakan. Salbutamol merupakan salah satu bronkodilator yang paling aman dan paling efektif. Efek Samping Efek samping yang mungkin timbul karena pamakaian salbutamol.memicu asma adalah. aritmia. obat ini juga efektif untuk mencegah timbulnya exercise-induced broncospasm (penyempitan saluran pernafasan akibat olahraga). menyusui. Tidak salah jika obat ini banyak digunakan untuk pengobatan asma.

Peningkatan efek pada kardiovaskular dengan penggunaan MAO Inhibitor. Nevirapine. Peningkatkan risiko terjadinya malignant arrhythmia jika salbutamol digunakan bersamaan dengan inhaled anesthetic (contohnya: enflurane.5 ml NaCl Digunakan Dengan Nebulizer.1 mg/tiap Semprot Aerosol Inhalasi. 0. serta obat-obat sympathomimetic (misalnya: Amfetamin.5 mg/2. Sediaan Obat Sirup 2 mg/5ml. Serbuk Inhalasi. Antidepresan Trisiklik. Easyhaler 200 mcg/dosis. Carbamazepine. inhalasi cair sampai injeksi.5 mg/ml Injeksi. dan 8 mg. 4 mg. 200 dosis MDI 10 ml. 2. Salbutamol juga telah tersedia dalam berbagai bentuk sediaan mulai dari sediaan oral (tablet. Phenobarbital. Nafcillin. inhalasi aerosol. Interaksi Obat  Beta blockers Pasien dengan asma bisa menyebabkan bronkospasm hebat  Digoxin Salbutamol menurunkan level serum digoxin  Diuretik Salbutamol akan memperburuk kondisi penderita hipokalemia  Interaksi Dengan Obat Lain :Peningkatan efek / toksisitas :Peningkatan durasi efek bronkodilasi mungkin terjadi jika salbutamol digunakan bersama Ipratropium inhalasi. (5. direkomendasikan sebagai pengobatan untuk semua pasien asma dalam terapi asma akut. Rifamycins dan obat lain yang dapat menginduksi CYP3A4. Dobutamin) secara bersamaan. Albuterol atau salbutamol.6). Kaplet 4 mg. Tablet 2 mg. 1 mg/5ml. sirup. Phenytoin. 0. . Penurunan efek: Penggunaan bersama dengan Beta-Adrenergic Blocker (contohnya: Propranolol) dapat menurunkan efek Salbutamol. Kapsul 2 mg. Dopamin. Level/efek Salbutamol dapat turun bersama dengan penggunaan: Aminoglutethimide. Inhaler Dosis 200 dan Dosis 400.           Suprasma (Dexa Medica) Ventide ( Glaxo Welcome) Ventab (Ikapharmindo Putramas k) Venesma ( Hexpharm) Respolin ( Darya varia) Salvasma ( First Medipharma) Salbron ( Dankos) Lasal ( Lapi ) Librentin ( Westmont ) Grafalin ( Graha Farma) Fartolin ( Fahrenheit ) J. K. kapsul). halothane).

dll bisa menurunkan efek salbutamol. sehingga dapat menyebabkan: tocolytic effects. (2) Tidak diketahui apakah terdistribusi dalam ASI. Tanggung Jawab Perawat . Sebaiknya berkumur setiap kali sehabis mengkonsumsi salbutamol supaya tenggorokan dan mulut tidak kering. Namun jika waktu yang ada hampir mendekati waktu pengonsumsian selanjutnya. Pabrik produsen Ventolin menyatakan penggunaan inhalasi aerosol pada anak-anak perlu dilakukan dengan supervisi orang dewasa. sebaiknya diminum 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. sehingga secara teoritis jumlah yang terekskresi dalam ASI sangat sedikit. Penggunaan salbutamol bersama dengan obat golongan MAO-inhibitor (misal: isocarboxazid. L. segera minum salbutamol yang terlewat. Terhadap Ibu Menyusui : Pengaruh terhadap bayi belum dapat dipastikan sehingga perlu dipertimbangkan antara risk dan benefit.3) Pada penggunaan inhaler hanya sedikit yang masuk dalam sirkulasi sistemik ibu. inhalasi Salbutamol masih dapat direkomendasikan sebagai inhalasi Beta-2 Agonist yang dipilih. atenolol. Penggunaan salbutamol dosis tinggi bersamaan dengan kortikosteroid dosis tinggi akan meningkatkan resiko hipokalemia. Hindari pemakaian obat-obat golongan ini 2 minggu sebelum. meningkatkan aldosterone. metoprolol. (2) Untuk penggunaan bronkodilator pada terapi asma. Simpan obat pada suhu kamar agar stabil (aerosol: 15-25o C. fetal tachycardia. (2. N. fetal hypoglycemia secondary to maternal hyperglycemia dengan pemakaian oral maupun intravena. maka beri jarak waktu minimal 1 menit untuk setiap hisapan. diuretik kuat dan thiazida dosis tinggi akan meningkatkan resiko hipokalemia jika diberikan bersamaan dengan salbutamol dosis tinggi pula. inhalasi cair: 2-25o C dan sirup: 230o C) Jika ada dosis yang terlewat. (2) Salbutamol dapat masuk ke dalam plasenta. Obat-obat golongan beta blocker. M. Jika dibutuhkan lebih dari 1 hisapan dalam sekali pemakaian. Hal Yang Harus Diwaspadai           Memiliki riwayat alergi terhadap salbutamol atau bahan-bahan lain yang terkandung di dalamnya. Telan tablet salbutamol dan jangan memecah maupun mengunyahnya. Dengan Makanan :Batasi penggunaan Caffein (dapat menyebabkan stimulasi CNS). Terhadap Anak-anak : Lihat leaflet dari pabrik mengenai keamanan penggunaan pada anakanak. Asetazolamid. Terhadap Hasil Laboratorium : Meningkatkan renin. Pengaruh Obat     Terhadap Kehamilan : Termasuk dalam kategori C. phenelzine) bisa menimbulkan reaksi yang serius. selama maupun sesudah konsumsi salbutamol. Jangan pernah mengkonsumsi 2 dosis dalam sekali pemakaian. Untuk sediaan oral. lewati pengonsumsian yang tertinggal kemudian lanjutkan mengkonsumsi salbutamol seperti biasa. seperti: propanolol.

medscape.com/ppa/albuterol.html • http://www. Daftar Pustaka • http://www.html • http://www. efek samping yang mungkin terjadi atau reaksi yang merugikan dari pengobatan.com/doc/29094726/makalah-tentang-salbutamol • http://www.Perawat bertanggung-jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman.com/medline/abstract/17276051 • http://www. Secara hukum perawat bertanggung iawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien.scribd. Perawat wajib membaca buku-buku refrensi obat untuk mendapatkan kejelasan mengenai efek terapiutik yang yang diharapkan.com/pro/albuterol.drugs. dosis.com/ppa/albuterol. Caranya adalah perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap/jelas atau dosis yang diberikan diluar batas yang direkomendasikan.drugs.medscape.drugs.htm . kontraindikasi.com/viewarticle/406101 • http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful