Zaman Neolithikum di Indonesia (Zaman Batu Muda

)
Boleh dikatakan bahwa neolithikum itu adalah suatu revolusi yang sangat besar dalam peradaban manusia. Perubahan besar ini ditandai dengan berubahnya peradaban penghidupan food-gathering menjadi foodproducing. Pada saat orang sudah mengenal bercocok tanam dan berternak. Pertanian yang mereka selenggarakan mula-mula bersifat primitif dan hanya dilakukan di tanah-tanah kering saja. Pohon-pohon dari beberapa bagian hutan di kelupak kulitnya dan kemudian dibakar. Tanahtanah yang baru dibuka untuk pertanian semacam itu untuk beberapa kali berturut-turut ditanami dan sesudah itu ditinggalkan. Orang-orang Indonesia zaman neolithikum membentuk masyarakatmasyarakat dengan pondok-pondok mereka berbentuk persegi siku-siku dan didirikan atas tiang-tiang kayu, dinding-dindingnya diberi hiasan dekoratif yang indah-indah, Walaupun alat-alat mereka masih dibuat daripada batu, tetapi alat-alat itu dibuat dengan halus, bahkan juga sudah dipoles pada kedua belah mukanya.

A.CARAHIDUP
Cara hidup zaman neolithikum membawa perubahan-perubahan besar, karena pada zaman itu manusia mulai hidup berkelompok kemudian menetap dan tinggal bersama dalam kampung. Berarti pembentukan suatu masyarakat yang memerlukan segala peraturan kerja sama. Pembagian kerja memungkinkan perkembangan berbagai macam dan cara penghidupan di dalam ikatan kerjasama itu. Dapat dikatakan pada zaman neolithikum itu terdapat dasar-dasar pertama untuk penghidupan manusia sebagai manusia, sebagaimana kita dapatkan sekarang. B.ALAT-ALAT ZAMAN NEOLITHICUM Pada zaman neolithicum ini alat-alat terbuat dari batu yang sudah dihaluskan. •Pahat Segi Panjang Daerah asal kebudayaan pahat segi panjang ini meliputi Tiongkok Tengah dan Selatan, daerah Hindia Belakang sampai ke daerah sungai gangga di India, selanjutnya sebagian besar dari Indonesia, kepulauan Philipina, Formosa, kepulauan Kuril dan Jepang. •Kapak Persegi

Asal-usul penyebaran kapak persegi melalui suatu migrasi bangsa Asia ke Indonesia. Nama kapak persegi diberikan oleh Van Heine Heldern atas

dasar penampang lintangnya yang berbentuk persegi panjang atau trapesium. Penampang kapak persegi tersedia dalam berbagai ukuran, ada yang besar dan kecil. Yang ukuran besar lazim disebut dengan beliung dan fungsinya sebagai cangkul/pacul. Sedangkan yang ukuran kecil disebut dengan Tarah/Tatah dan fungsinya sebagai alat pahat/alat untuk mengerjakan kayu sebagaimana lazimnya pahat. Bahan untuk membuat kapak tersebut selain dari batu biasa, juga dibuat dari batu api/chalcedon. Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari calsedon hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan, azimat atau tanda kebesaran. Kapak jenis ini ditemukan di daerahi Sumatera, Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan. •Kapak Lonjong

Sebagian besar kapak lonjong dibuat dari batu kali, dan warnanya kehitam-hitaman. Bentuk keseluruhan dari kapak tersebut adalah bulat telur dengan ujungnya yang lancip menjadi tempat tangkainya, sedangkan ujung lainnya diasah hingga tajam. Untuk itu bentuk keseluruhan permukaan kapak lonjong sudah diasah halus. Ukuran yang dimiliki kapak lonjong yang besar lazim disebut dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut dengan Kleinbeil, sedangkan fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi. Daerah penyebaran kapak lonjong adalah Minahasa, Gerong, Seram, Leti, Tanimbar dan Irian. Dari Irian kapak lonjong tersebar meluas sampai di Kepulauan Melanesia, sehingga para arkeolog menyebutkan istilah lain dari kapak lonjong dengan sebutan Neolithikum Papua. •Kapak Bahu Kapak jenis ini hampir sama seperti kapak persegi ,hanya saja di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Sehingga menyerupai bentuk botol yang persegi. Daerah kebudayaan kapak bahu ini meluas dari Jepang, Formosa, Filipina terus ke barat sampai sungai Gangga. Tetapi anehnya batas selatannya adalah bagian tengah Malaysia Barat. Dengan kata lain di sebelah Selatan batas ini tidak ditemukan kapak bahu, jadi neolithikum Indonesia tidak mengenalnya, meskipun juga ada beberapa buah ditemukan yaitu di Minahasa. •Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah)

Jenis perhiasan ini banyak di temukan di wilayah jawa terutama gelanggelang dari batu indah dalam jumlah besar walaupun banyak juga yang belum selesai pembuatannya. Bahan utama untuk membuat benda ini di bor dengan gurdi kayu dan sebagai alat abrasi (pengikis) menggunakan pasir. Selain gelang ditemukan juga alat-alat perhisasan lainnya seperti kalung yang dibuat dari batu indah pula. Untuk kalung ini dipergunakan juga batu-batu yang dicat atau batu-batu akik. •Pakaian dari kulit kayu Pada zaman ini mereka telah dapat membuat pakaiannya dari kulit kayu yang sederhana yang telah di perhalus. Pekerjaan membuat pakaian ini merupakan pekerjaan kaum perempuan. Pekerjaan tersebut disertai pula berbagai larangan atau pantangan yang harus di taati. Sebagai contoh di Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan beberapa tempat lainnya ditemukan alat pemukul kulit kayu. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang zaman neolithikum sudah berpakaian. •Tembikar (Periuk belanga)

Bekas-bekas yang pertama ditemukan tentang adanya barang-barang tembikar atau periuk belanga terdapat di lapisan teratas dari bukit-bukit kerang di Sumatra, tetapi yang ditemukan hanya berupa pecahanpecahan yang sangat kecil. Walaupun bentuknya hanya berupa pecahanpecahan kecil tetapi sudah dihiasi gambar-gambar. Di Melolo, Sumba banyak ditemukan periuk belanga yang ternyata berisi tulang belulang manusia. Zaman batu adalah suatu periode ketika peralatan manusia secara dominan terbut dari batu walaupun ada pula alat-alat penunjang hidup manusia yang terbuat dari kayu ataupun bambu. Namun alat-alat yang terbuat dari kayu atau tulang tersebut tidak meninggalkan bekas sama sekali. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan tersebut tidak tahan lama. Dalam zaman ini alat-alat yang dihasilkan masih sangat kasar (sederhana) karena hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup saja. Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang lalu, yaitu selama masa pleistosen (diluvium). Pada zaman paleolithikum ini, alat-alat yang mereka hasilkan masih sangat kasar. Paleolitikum atau zaman batu tua disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Manusia pendukung zaman ini adalah Pithecantropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus Paleojavanicus dan Homo Soloensis. Fosil-fosil ini ditemukan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo. Mereka memiliki kebudayaan Pacitan dan Ngandong. Kebudayaan Pacitan pada tahun 1935, Von Koenigswald menemukan alat-alat batu dan

jenis manusia purba hidup pada zaman Paleolitikum adalah Pithecanthropus Erectus. dan banyak ditemukan di Cabbenge (Sulawesi Selatan) yang terbuat dari batu-batu indah seperti kalsedon. Kapak genggam itu berbentuk kapak tetapi tidak bertangkai. Menangkap ikan B. dan Lahat (Sumatera Selatan). Homo Wajakensis. A. flakes. Sukabumi (Jawa Barat). alat penusuk dari tanduk rusa dan ujung tombak bergigi di daerah Ngandong dan Sidoarjo. Contoh alat-alat tersebut adalah: 1. Selain itu di dekat Sangiran ditemukan alat sangat kecil dari betuan yang amat indah. Kapak ini dikerjaan dengan cara masih sangat kasar. Selain di Pacitan alat-alat banyak ditemukan di Progo dan Gombong (Jawa Tengah). Kapak Genggam . CIRI-CIRI ZAMAN PALEOLITHIKUM 1. Kebudayaan Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi kebudayaan pacitan dan kebudayaan ngandong. 2.kapak genggam di daerah Pacitan. dan Lahat (Sumatera Utara) b. Cara kerjanya digenggam dengan tangan. Kapak ini masih dikerjakan dengan sangat kasar dan belum dihaluskan. Para ahli menyebut alat pada zaman Paleolithikum dengan nama chopper. von Koenigswald menemukan alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan. a. Hidup berpindah-pindah (Nomaden) 2. Sukabumi (Jawa Barat). Alat ini dinamakan Serbih Pilah. Kebudayaan Pacitan Pada tahun 1935. Fosil ini ditemukan di aliran sungai Bengawan Solo. Berburu (Food Gathering) 3. dan Homo Soliensis. Jenis Manusia Berdasarkan penemuan fosil manusia purba. Para ahli menyebutkan bahwa kapak itu adalah kapak penetak. Alat ini ditemukan di Lapisan Trinil. yakni: 1. Ciri-ciri kehidupan manusia pada zaman Paleolithikum. alat-alat dari zaman Paleplithikum ini temukan di daerah Progo dan Gombong (Jawa Tengah). Kebudayaan Ngandong juga didukung oleh penemuan lukisan pada dinding goa seperti lukisan tapak tangan berwarna merah dan babi hutan ditemukan di Goa Leang Pattae (Sulawesi Selatan) Zaman Paleolithikum ditandai dengan kebudayan manusia yang masih sangat sederhana. Selain di Pacitan. Kebudayaan Ngandong Para ahli berhasil menemukan alat-alat dari tulang. Meganthropus paleojavanicus. ALAT-ALAT ZAMAN PALEOLITHIKUM Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan.

Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa Salah satu alat peninggalan zaman paleolithikum yaitu alat dari tulang binatang. dan Goa Choukoutieen (Beijing).Kapak genggam banyak ditemukan di daerah Pacitan. Manusia kebudayan Pacitan adalah jenis Pithecanthropus. dan menguliti binatang. Fungsi dari alat ini adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah. tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengancara menggenggam. (Sumatra selatan). Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanyasebagai tempat menggenggam. Kapak genggam berfungsi menggali umbi. Kebanyakan alat dari tulang ini berupa alat penusuk (belati) dan ujung tombak bergerigi. Alat ini paling banyak ditemukan di daerah Pacitan. memotong. Jawa Tengah sehingga oleh Ralp Von Koenigswald disebut kebudayan pacitan. Selain itu alat ini juga biasa digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan. Kapak Perimbas Kapak perimbas berpungsi untuk merimbas kayu. Alat ini juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah). 3. Alat ini biasanya disebut "chopper" (alat penetak/pemotong) Alat ini dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak. 2. memahat tulang dan sebagai senjata. Sukabumi (Jawa Barat). lahat. Alat-alat dari tulang ini termasuk hasil kebudayaan Ngandong. .

zaman batu tua Reviewer: Ivan Sujatmoko .4. Flakes Flakes yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon. mengumpulkan ubi dan buah-buahan.ItemReviewed: Pra Sejarah | Paleolithikum (Zaman Batu Tua) Rating: 4. paleolithikum.5 . Kegunaan alat-alat ini pada umumnya untuk berburu. menangkap ikan. Description: paleolithikum zaman batu tua. yang dapat digunakan untuk mengupas makanan. Flakes termasuk hasil kebudayaan Ngandong sama seperti alat-alat dari tulang binatang.

. Homo Sapien yang ada di Indonesia di sebut Homo Wajakensis. Homo Sapien memiliki sifat seperti manusia sekarang.1. Homo Sapien memiliki kehidupan yang sangat sederhana dengan cara mengembara. Homo Sapien merupakan nenek moyang bangsa-bangsa di dunia. Homo Sapien Homo Sapien merupakan jenis manusia purba yang telah memiliki bentuk tubuh yang sama dengan manusia sekarang.

Gambar : .

Homo wajakensis termasuk ras yang sulit ditemukan karena memiliki ciri-ciri ras Mongoloid dan juga Austromelanesoid atau mungkin berasal dari subras Melayu Indonesia dan turut berevolusi menjadi ras Austromelanesoid sekarang.000 – 40. Gambar : .000 tahun yang lalu di Asia Tenggara. Ras wajak mungkin juga meliputi manusia yang hidup sekitar 25. Homo Wajakensis Manusia purba jenis ini mempunyai tingkatan lebih tinggi daripada Pithecanthropus Erectus dan tergolong jenis homo sapiens.2.

Yaitu menyangkut “kebudayaan”-nya yang sampai sekarang belum ditemukan utuh. Spesies manusia purba yang hidup lebih belakangan.000 – 300. Homo Soloensis Manusia Solo purba alias Homo soloensis yang pernah bermukim di wilayah sekitar Bengawan Solo purba 1.3. artefak yang menandai jejak budaya Manusia Solo tertua justru belum ditemukan. Tetapi.000 tahun lalu. diketahui telah menciptakan alat-alat. Gambar : .5 juta tahun lalu. 800. Kebudayaan menjelaskan hasil “pikir”-bisa berupa alat yang digunakan manusia purba untuk mempertahankan hidupnya. keberadaannya masih menyisakan pertanyaan besar.

Gambar : .Fosil kaum homo yang ini ditemukan Von Koenigswald.4. Homo Robustus Arti dari Robustus itu sendiri adalah manusia kera yang besar dan kuat tubuhnya ditemukan tahun 1936 di Sangiran lembah Sungai Bengawan Solo.

Gambar : . Homo Mojokertensis Kaum Homo Mojokertensis (manusia kera dari Mojokerto) Fosilnya ditemukan di Perning (Mojokerto) Jawa Timur tahun 1936 1941.Fosil kaum homo yang ini ditemukan Von Koenigswald.5.

6. Gambar : . Berbadan besar dan tegap. Meganthropus Paleojavanicus diperkirakan hidup pada dua juta tahun yang lalu. Ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus adalah sebagai berikut: - Memiliki tulang rahang yang kuat Tidak memiliki dagu Menunjukkan ciri-ciri manusia tetapi lebih mendekati kera. Megantropus Paleojavanicus Meganthropus Paleojavanicus artinya adalah "manusia bertubuh besar yang paling tua dari Pulau Jawa".

.

mukanya menonjol ke depan dengan kening yang tebal dan tulang pipi yang kuat.25 juta tahun yang lalu.7. Makhluk ini diperkirakan hidup sekitar 2. Pithecanthropus Mojokertensis Fosil Pithecanthropus Mojokertensis ditemukan oleh Von Koenigswald di desa Perning. Pithecanthropus Mojokertensis Berbadan tegap.5 sampai 2. Gambar : . Temuan tersebut berupa fosil anak-anak berusia sekitar 5 tahun. Lembah Bengawan Solo Mojokerto. Jawa Timur pada lapisan Pleistosen Bawah.

Fosil ini berasal dari lapisan Pleistosen Bawah. Lembah Bengawan Solo.8. Pithecanthropus Robustus Fosil jenis ini ditemukan oleh Weidenreich dan Von Koenigswald pada tahun 1939 di Trinil. Gambar : . Von Koenigswald menganggap fosil ini sejenis dengan Pithecanthropus Mojokertensis.

9.” Itu adalah hominid yang sangat tinggi dan kuat yang hidup berdampingan dengan ras berukuran manusia dari Homo erectus di benua besar Sundaland.Meganthropus Robustus Ini mengejutkan saya berapa banyak orang yang telah mencemooh ide raksasa di masa kuno kita belum mendengar dari spesies hominid dari 1 juta tahun yang lalu disebut “Meganthropus Robustus. Gambar : . sebagian besar yang sekarang terletak di bawah laut.

Homo Neanderthalensis Penggalian dan penelitian manusia purba di Eropa di antaranya dilakukan pada tahun 1856. dekat Dussleldorf (Jerman).10. Gambar : . Tempat penggalian tersebut adalah di Lembah Neander. Fosil-fosil yang ditemukan kemudian diteliti oleh Rudolf Virchow seorang ahli Antropologi bangsa Jerman.

Homo Africanus .11.

Awalnya hanya ditemukan tengkorak saja. Gambar : . Setelah diteliti dan direkontruksi. Ia menemukan fosil manusia purba pada tahun 1942 di sebuah daerah pertanbangan di Taung. namun karena bantuan pemilik pertambangan. Botswana.Raymond Dart ialah seorang dosen di sebuah universitas di Yohanesburg (Afrika Selatan). Raymond Dart berhasil mengumpulkan fosil-fosil dalam jumlah yang banyak. Penemuan tersebut lalu disusul oleh Robert Broom yang menemukan fosil berupa tengkorak orang dewasa. ternyata fosil itu kerangka seorang anak berusia antara 5 sampai 6 tahun.

.

.

.

Namun demikian alat-alat yang dihasilkan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan atau zaman palaeolithikum tidak ditinggalkan. manusia purba sudah tinggal menetap. terutama makanan. Ketika alam sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia. Alat-alat itu masih dipertahankan dan dikembangkan. Pada masa ini kehidupan manusia berkembang dengan mulai mengolah makanan dengan cara bercocok tanam. Ketika kebutuhan hidup manusia terpenuhi oleh alam. bahwa pada masa bercocok tanam. modding = sampah). Penemuan kjokkenmoddinger yang ada di pesisir pantai Sumatera Timur menunjukkan telah adanya penduduk yang menetap di pesisir pantai. Alat-alat yang dihasilkan Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Peralatan pada masa bercocok tanam masuk pada zaman mesolithikum (zaman batu pertengahan) dan neolithikum (zaman batu muda). atau pepohonan lainnya yang dibutuhkan oleh manusia atau masyarakat. bercocok tanam dan beternak sudah berkembang pada masa ini. Bagaimanakah proses perkembangan dari masa berburu dan mengumpulkan makanan ke bercocok tanam? a. Manusia sudah mulai menetap di suatu tempat. Kehidupan awal manusia sangat tergantung dari alam. Kehidupan sosial-ekonomi Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Kehidupan manusia senantiasa mengalami perkembangan. manusia tidak perlu susah-susah membuat dan mengolah makanan. Makanan itu antara lain buah-buahan dan binatang buruan. Binatang buruan pun sudah ada yang mulai dipelihara. mereka akan mencari daerah baru. buah-buahan. maka manusia mulai memikirkan bagaimana dapat menghasilkan makanan.Kehidupan Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam . Alam yang dipakai untuk bercocok tanam adalah hutan-hutan. Karena manusia sudah beralih pada tingkat kehidupan bercocok tanam.Kehidupan manusia setelah masa berburu dan mengumpulkan makanan adalah masa bercocok tanam. karena alam banyak menyediakan kebutuhan manusia. b. Selama bertahun-tahun. dibersihkan. Hidup mereka mengandalkan dari siput dan kerang. yang dekat dengan alam yang diolahnya. Hutan itu ditebang. maka ketika tanah itu sudah tidak subur. kemudian ditanami dengan tumbuhtumbuhan. Manusia harus mengolah alam. ratusan tahun. atau ribuan tahun. Manusia cukup mengambil dari alam. Cara yang mereka lakukan masih sangat sederhana. Perkembangan itu dapat disebabkan karena ada interaksi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Salah satu bukti adanya sisa-sisa tempat tinggal itu ialah kjokkenmoddinger (sampah-sampah dapur). Berhuma merupakan cara bercocok tanam yang sangat sederhana. 1) Kjokkenmoddinger Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Karena berhuma memerlukan tempat yang subur. Istilah ini berasal dari bahasa Denmark (kjokken = dapur. Dengan demikian hidup mereka berpindah ke tempat baru untuk waktu tertentu. Berikut ini alatalat atau benda-benda yang dihasilkan pada masa bercocok tanam. yang disebabkan populasi manusia bertambah dan sumber daya alam berkurang. maka pola hidupnya tidak lagi nomaden atau berpindah-pindah. Bukit kerang inilah yang disebut kjokkenmoddinger. bertumpuklah kulit siput dan kerang itu menyerupai bukit. . dan begitu seterusnya. Dengan demikian. Siput-siput dan kerang-kerang itu dimakan dan kulitnya dibuang di suatu tempat. seperti alat-alat dari batu sudah tidak kasar lagi tapi sudah lebih halus karena ada proses pengasahan.

Gerabah merupakan suatu alat yang terbuat dari tanah liat kemudian dibakar.6 Abris sous rosche di Lamoncong. jenis tempat tinggal lainnya ialah abris sous rosche. Dalam bentuk yang sederhana dibuat dengan tidak menggunakan roda. Teknik pembuatan semakin berkembang. dan pecahan-pecahan tengkorak. antara lain Gua Lawa di Ponorogo. Bahan yang digunakan berupa campuran tanah liat dan langsung diberi bentuk dengan menggunakan tangan. Hal ini dikarenakan fungsi gerabah di antaranya sebagai tempat meyimpan makanan. Cara pembuatan gerabah mengalami perkembangan dari mulai bentuk yang sederhana hingga ke bentuk yang kompleks. batu-batu penggiling beserta landasannya. Dalam perkembangan berikut. yaitu tempat berupa gua-gua yang menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang. pencetakan menggunakan roda. dan kapak-kapak yang sudah diasah. Peralatan yang ditemukan berupa ujung panah. agar dapat . Ditemukan juga alat-alat dari tulang dan tanduk rusa. tetapi semakin beragam. Sulawesi Selatan 3) Gerabah Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Penemuan gerabah merupakan suatu bukti adanya kemampuan manusia mengolah makanan. gerabah tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan makanan. alat-alat dari tulang belulang. seperti pebble (kapak genggam yang sudah halus). 2) Abris Sous Rosche Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Selain Kjokkenmoddinger.Gambar 4. Gambar 4. batu-batu penggiling. flakes. dan Lamoncong (Sulawesi Selatan).5 Pebble dari kjokkenmoddinger di Sumatera Timur Di tempat kjokkenmoddinger ditemukan juga alat-alat lainnya. Bojonegoro. Tempat ditemukannya abris sous rosche. bahkan menjadi barang yang memiliki nilai seni. Alat-alat itu terbuat dari batu.

Pada alat-alat tersebut terdapat tangkai yang diikatkan. Jenis lain yang termasuk dalam katagori kapak persegi seperti beliung atau pacul untuk yang ukuran besar. dan untuk ukuran yang kecil bernama tarah. Bali.memperoleh bentuk yang lebih baik bahkan lebih indah. Gambar 4. yaitu batu api. Gambar 4. Nusa Tenggara. Hiasan yang ada di antaranya hiasan anyaman. yaitu sistem barter. Sulawesi. Sisi gerabah mulai dihias dengan pola hias dan warna.com/all/gisj/o. Adanya sistem barter tersebut. Tarah berfungsi untuk mengerjakan kayu. Berdasarkan bukti ini.7 Gerabah (Sumber : itrademarket. Kapak persegi kemungkinan sudah menjadi barang yang diperjualbelikan.html) 4) Kapak persegi Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Pemberian nama kapak persegi didasarkan pada bentuknya. Kemudian gerabah dijemur sampai kering dan dibakar. pencetakan sudah memiliki nilai seni. Bentuk kapak ini yaitu batu yang garis irisannya melintangnya memperlihatkan sebuah bidang segi panjang atau ada juga yang berbentuk trapesium.8 Berbagai jenis kapak persegi Daerah-daerah tempat ditemukannya kapak persegi yaitu di Sumatra. . Untuk membuat hiasan yang demikian yaitu dengan cara menempelkan agak keras selembar anyaman atau tenunan pada gerabah yang masih basah sebelum gerabah dijemur. Batu api dan chalcedon merupakan bahan yang dipakai untuk membuat kapak persegi. Dalam perkembangan ini. Orang yang pertama memberikan nama Kapak Persegi yaitu von Heine Geldern. dan Kalimantan. Sistem jual-belinya masih sangat sederhana. para ahli menyimpulkan bahwa pada masa ini manusia sudah mengenal bercocok tanam dan orang mulai dapat menenun. kapak persegi banyak ditemukan di tempat-tempat yang tidak banyak ada bahan bakunya. Alat ini dibuat oleh sebuah pabrik tertentu di suatu tempat kemudian di bawa keluar daerah untuk diperjualbelikan. Maluku. Jawa.

Gambar 4. 6) Perhiasan Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Hiasan sudah dikenal oleh manusia pada masa bercocok tanam. Formosa. seperti hiasan kulit kerang dari sekitar pantai. Penemuan kapak lonjong dapat memberikan petunjuk mengenai penyebarannya. Penemuan-penemuan di Formosa dan Filipina memperkuat pendapat ini. Minahasa. karena jenis kapak ini banyak ditemukan di Papua (Irian). Sedangkan bentuk kapaknya sendiri bundar telor. Kapak ini ditemukan pula di daerah-daerah lainnya. dan ada pula yang terbuat dari batu. Hiasan lainnya ada yang terbuat dari yang dibuat dari tanah liat seperti gerabah. Tanimbar.10 Kapak lonjong dari muka dan samping Selain di Indonesia. kalung. Ujungnya yang agak lancip ditempatkan di tangkai dan di ujung lainnya yang bulat diasah hingga tajam. Kapak lonjong masuk ke dalam kebudayaan Neolitihikum Papua.9 Kapak persegi yang belum dihaluskan 5) Kapak lonjong Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Pemberian nama kapak lonjong berdasarkan pada bentuk. terus ke timur. yaitu dari timur mulai dari daratan Asia ke Jepang. jenis kapak lonjong ditemukan pula di negara lain.Gambar 4. seperti Walzeinbeil di temukan di Cina dan Jepang. dan Serawak. Perhiasan dibuat dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar. Gorong. Minahasa. Ada dua ukuran kapak lonjong yaitu ukuran yang besar disebut dengan walzeinbeil dan kleinbel untuk ukuran kecil. dan beliung. Filipina. seperti gelang. Bentuk alat ini yaitu garis penampang memperlihatkan sebuah bidang yang berbentuk lonjong. yaitu di Seram. daerah Assam dan Birma Utara. Dari Irian daerah persebaran meluas sampai ke Melanesia. . Leti.

pertama batu dipukul-pukul sampai menjadi bentuk gepeng. Selain dipukul. Pada daerah-daerah tersebut ditemukan alat pemukul kulit kayu. Kulit kayu yang sudah dipukul-pukul menjadi bahan pakaian yang akan dibuat. Setelah diberi air dan pasir. Jawa Timur. Daerah tempat ditemukan bukti adanya pakaian adalah di Kalimantan. c.Gambar 4.11 Berbagai perhiasan dari batu Pembuatan hiasan dari batu dilakukan dengan cara. kemudian digosok-gosok dan diasah sehingga membentuk suatu gelang. Konsep kepercayaan dan bangunan megalit Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Sebagaimana telah dikemukakan bahwa manusia pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan sudah mengenal kepercayaan. 1) Menhir Menhir merupakan tiang atau tugu batu yang dibuat untuk menghormati roh nenek moyang. Kepercayaan ini kemudian berkembang pada masa bercocok tanam dan perundagian. cara lain untuk membuat lobang pada gelang yaitu dengan cara menggunakan gurdi. Bukti peninggalan kepercayaan pada masa bercocok tanam yaitu ditemukannya bangunan-bangunan batu besar yang berfungsi untuk penyembahan. Setelah itu kedua sisi yang rata dicekungkan dengan cara dipukulpukul pula. Sulawesi Tengah. Bahan yang digunakan untuk pakaian berasal dari kulit kayu. dan beberapa tempat lainnya. 7) Pakaian Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam Kebudayaan lainnya yang dimiliki oleh manusia pada masa bercocok tanam diperkirakan mereka telah memakai pakaian. kedua cekungan itu bertemu menjadi lobang. Sumatra Selatan. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan kepercayaan baru sebatas adanya penguburan. bambu ini dengan seutas tali dan sebilah bambu lainnya diputar di atas muka batu sampai berlubang. Bentuk gelang tersebut dari dalam halus rata dan dari luar lengkung sisinya. Bangunan-bangunan batu yang dihasilkan pada zaman megalithikum antara lain sebagai berikut. Sulawesi Selatan. Jawa Tengah. dan Bali. Batu yang bulat gepeng itu digurdi dari kedua belah sisi dengan sebuah gurdi dari bambu. Daerah-daerah tempat ditemukannya menhir di Indonesia. Zaman penemuan batubatu besar ini disebut dengan zaman megalithikum. . Untuk menghaluskannya. Kalimantan. seperti di Jawa Barat. Kepercayaan manusia ini mengalami perkembangan.

Sebagai bekal untuk yang meninggal. sehingga di dalam dolmen terdapat tulang belulang manusia. 3) Dolmen Tempat lain untuk melakukan pemujaan pada arwah nenek moyang pada waktu itu ialah Dolmen. tulang dan gigi binatang. Di beberapa tempat. Adanya sarkofagus ini menandakan kepercayaan pada waktu itu. tetapi mempunyai tutup. Dolmen ini terbuat dari batu besar yang berbentuk meja.12 Menhir 2) Sarkofagus Sarkofagus menyerupai peti mayat atau keranda yang bentuknya seperti palung atau lesung. di dalam dolmen disertakan benda-benda seperti periuk. Meja ini berkaki yang menyerupai menhir. dolmen berfungsi sebagai peti mayat. dan alat-alat dari besi. Benda ini terbuat dari batu sehingga diperkirakan kehadiran sarkofagus sezaman dengan zaman megalithikum (zaman batu besar). . bahwa orang yang meninggal perlu dikubur dalam peti mayat. Di daerah Bali.Gambar 4. sarkofagus ini banyak ditemukan. Dolmen berfungsi sebagai tempat sesaji dalam rangka pemujaan kepada roh nenek moyang.

14 Sarkofagus Gambar 4.Gambar 4. Bedanya ialah kubur batu ini dibuat dari lempengan batu. ditemukan juga kubur batu yang fungsinya sebagai peti mayat. Gambar 4.13 Dolmen 4) Kubur batu Selain dolmen dan sarkofagus. Di daerah Jawa Barat.15 Sebuah keranda batu berisi kerangka manusia . penemuan kubur batu banyak ditemukan. sedangkan dolmen dan sarkofagus dibuat dari batu utuh.

Di tempat punden berundak-undak biasanya terdapat menhir.17 Kubur batu 6) Punden berundak-undak Bangunan lainnya yang dihasilkan pada zaman megalithikum adalah punden berundakundak.16 Waruga atau kubur batu banyak ditemui di daerah Minahasa (sumber : www.baliautrement. Gambar 4. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat pemujaan yang berupa batu tersusun secara bertingkat-tingkat.18 Punden berundak-undak dari Lebak Sibedug (Banten Selatan) . yaitu dibuat dari batu yang utuh. Gambar 4.5) Waruga Waruga adalah kubur batu berbentuk kubus atau bulat.2jpg) Gambar 4. Daerah ditemukannya punden berundak-undak antara lain di Lebak Sibedug (Banten Selatan) dan Ciamis (Jawa Barat).com/ minahasa. Bentuknya sama seperti dolmen dan sarkofagus.waruga. Di Sulawesi Tengah dan Utara banyak ditemukan waruga.

Lampung. dan Sumatera Selatan. Gambar 4.19 Batu Gajah. Jawa Timur. Tempat ditemukannya arca-arca antara lain di Jawa Tengah. di punggung penunggangnya (kiri atas) nampak sebuah nekara yang diikat dengan tali .7) Arca Arca ini terbuat dari batu yang berbentuk patung binatang atau manusia.