P. 1
Kdrt

Kdrt

5.0

|Views: 84|Likes:
Published by Gerald Evans
kdrt
kdrt

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Gerald Evans on Apr 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/22/2014

pdf

text

original

MAKALAH KDRT

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berperan dan berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga. Keluarga memerlukan organisasi tersendiri dan perlu kepala rumah tangga sebagai tokoh penting yang memimpin keluarga disamping beberapa anggota keluarga lainnya. Anggota keluarga terdiri dari Ayah, ibu, dan anak merupakan sebuah satu kesatuan yang memiliki hubungan yang sangat baik. Hubungan baik ini ditandai dengan adanya keserasian dalam hubungan timbal balik antar semua anggota/individu dalam keluarga. Sebuah keluarga disebut harmonis apabila seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai dengan tidak adanya konflik, ketegangan, kekecewaan dan kepuasan terhadap keadaan (fisik, mental, emosi dan sosial) seluruh anggota keluarga. Keluarga disebut disharmonis apabila terjadi sebaliknya. Ketegangan maupun konflik antara suami dan istri maupun orang tua dengan anak merupakan hal yang wajar dalam sebuah keluarga atau rumah tangga. Tidak ada rumah tangga yang berjalan tanpa konflik namun konflik dalam rumah tangga bukanlah sesuatu yang menakutkan. Hampir semua keluarga pernah mengalaminya. Yang mejadi berbeda adalah bagaimana cara mengatasi dan menyelesaikan hal tersebut. Setiap keluarga memiliki cara untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. Apabila masalah diselesaikan secara baik dan sehat maka setiap anggota keluarga akan mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu menyadari dan mengerti perasaan, kepribadian dan pengendalian emosi tiap anggota keluarga sehingga terwujudlah kebahagiaan dalam

keluarga. Penyelesaian konflik secara sehat terjadi bila masing-masing anggota keluarga tidak mengedepankan kepentingan pribadi, mencari akar permasalahan dan membuat solusi yang sama-sama menguntungkan anggota keluarga melalui komunikasi yang baik dan lancar. Disisi lain, apabila konflik diselesaikan secara tidak sehat maka konflik akan semakin sering terjadi dalam keluarga. Penyelesaian masalah dilakukan dengan marah yang berlebih-lebihan, hentakanhentakan fisik sebagai pelampiasan kemarahan, teriakan dan makian maupun ekspresi wajah menyeramkan. Terkadang muncul perilaku seperti menyerang, memaksa, mengancam atau melakukan kekerasan fisik. Perilaku seperti ini dapat dikatakan pada tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diartikan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. B. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah dari makalah di atas adalah 1. Apa yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga ? 2. Apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga ? 3. Apakah faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga ?

4. Bagaimana cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga ? 5. Apakah perlindungan bagi korban KDRT? 6. Apakah pengertian KDRT menurut UU?

C. TUJUAN Tujuan dari rumusan masalah di atas yaitu

3. 4. BAB II TINJAUAN TEORI A. Menjekaskan perlindungan bagi korban KDRT. Menjelaskan yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga.1. 2. Kekerasan dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undang-undang No. Menjelaskan apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga. 5. psikologis. Menjelaskan pengertian KDRT menurut UU. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. Menjelaskan faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. 6. memiliki arti setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga. Menjelaskan cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga. seksual. dan/atau penelantaran rumah tangga .

isteri atau anak diancam hukuman pidana” B. c. Bahwa segala bentuk kekerasan. pemaksaan. penyiksaan. dan huruf d perlu dibentuk Undang-undang tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. d. dasar hukumnya adalah KUHP (kitab undang-undang hukum pidana) pasal 356 yang secara garis besar isi pasal yang berbunyi: “Barang siapa yang melakukan penganiayaan terhadap ayah. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam : . Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai dimaksud dalam huruf a. hal itu harus mendapatkan perlindungan dari Negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasan. Masalah kekerasan dalam rumah tangga telah mendapatkan perlindungan hukum dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 yang antara lain menegaskan bahwa: a. Tindak kekerasan yang dilakukan suami terhadap isteri sebenarnya merupakan unsur yang berat dalam tindak pidana. ibu.termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. terutama Kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Menurut Undang-Undang No. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga. atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan. Bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan adalah perempuan. huruf c. b. Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebes dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-undang Republik Indonesia tahun 1945. huruf b. dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk deskriminasi yang harus dihapus.

terhina dan merasa dikendalikan. merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/jijik. Kekerasan seksual Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya. memaksa selera seksual sendiri. 2. terteror. seperti meraba. 3. dan sebagainya. menarik rambut (menjambak). c. Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai. memukul. rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. memaksa melakukan hubungan seksual. memukul/melukai dengan senjata. menyudut dengan rokok. hilangnya kemampuan untuk bertindak. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar. mengisolir istri dari dunia luar. jatuh sakit atau luka berat. .menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak. b. merendahkan dan atau menyakitkan. mencium secara paksa. hilangnya rasa percaya diri.a. menendang. gigi patah atau bekas luka lainnya. meludahi. berupa: 1. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur. mengancam atau . Kekerasan psikologis / emosional Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki. menyentuh organ seksual. Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan. Pelecehan seksual dengan kontak fisik. tidak memperhatikan kepuasan pihak istri. muka lebam. Kekerasan fisik Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. Kekerasan seksual berat.

luka. . d. ejekan dan julukan dan atau secara non verbal. Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit. perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. yakni tindakan eksploitasi. 5. bahkan menghabiskan uang istri. manipulasi dan pengendalian lewat sarana ekonomi berupa:    Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri. gurauan porno. berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.atau cedera. merampas dan atau memanipulasi harta benda korban. Kekerasan ekonomi Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi. seperti ekspresi wajah. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. 6. Kekerasan Ekonomi Berat. siulan.4. Kekerasan Seksual Ringan. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu. berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentar verbal. Mengambi l tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban. Kekerasan Ekonomi Ringan. Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat. Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya. gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban.

yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (marital violence) sebagai berikut: a. sehingga mampu mengatur dan mengendalikan wanita. Laki-laki merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib. dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan kekerasan. mengakibatkan kele-luasaan laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. Beban pengasuhan anak Istri yang tidak bekerja. Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja mengakibatkan wanita (istri) ketergantungan terhadap suami. Murray mengidentifikasi hal dominasi pria dalam konteks struktur masyarakat dan keluarga. Orientasi peradilan pidana pada laki-laki . menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. Wanita sebagai anak-anak Konsep wanita sebagai hak milik bagi laki-laki menurut hukum. Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak. Strauss A. c. b. Pembelaan atas kekuasaan laki-laki Laki-laki dianggap sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita. d. e. maka suami akan menyalah-kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam rumah tangga. Faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga.C.

c. Jika sudah ada rasa saling percaya. Jika tidak ada rasa kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu yang kadang berlebih dan rasa curiga yang kadang juga berlebih-lebihan. diterima sebagai pelanggaran hukum. antara lain: a.Posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya. Harus adanya komunikasi yang baik antara suami dan istri. D. saling menghargai dan sebagainya antar anggota keluarga. d. itu juga bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan dalam rumah tangga. b. maka mudah bagi kita untuk melakukan aktivitas. Perlunya keimanan yang kuat dan akhlaq yang baik dan berpegang teguh pada agamanya sehingga Kekerasan dalam rumah tangga tidak terjadi dan dapat diatasi dengan baik dan penuh kesabaran. dan orang lain. . Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga. bapak. pengertian. karena didalam agama itu mengajarkan tentang kasih sayang terhadap ibu. Butuh rasa saling percaya. Sehingga antara anggota keluarga dapat saling mengahargai setiap pendapat yang ada. Harus tercipta kerukunan dan kedamaian di dalam sebuah keluarga. sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda atau ditutup. Jika di dalam sebuah rumah tangga tidak ada keharmonisan dan kerukunan diantara kedua belah pihak. Untuk menghindari terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga. Cara Penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga. diperlukan cara-cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga. agar tercipta sebuah rumah tangga yang rukun dan harmonis. saudara. Sehingga rumah tangga dilandasi dengan rasa saling percaya.

E. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) maka persoalan KDRT ini menjadi domain publik. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah. perwalian dengan suami. bahwa institusi dan lembaga pemberi perlindungan itu tidak terbatas hanya lembaga penegak hukum. UU PKDRT secara substanstif memperluas institusi dan lembaga pemberi perlindungan agar mudah diakses oleh korban KDRT. Di sini terlihat. dan anak bahkan pembatu rumah tangga. agama dan sistem hukum yang belum dipahami. kepolisian. lembaga sosial. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dulu dianggap mitos dan persoalan pribadi (private). Peran itu diperlukan karena luasnya ruang dan gerak tindak KDRT. yaitu pihak keluarga. sehingga seorang istri dapat mengatasi apabila terjadi pendapatan yang minim. advokat.e. perkawinan. sehingga kekurangan ekonomi dalam keluarga dapat diatasi dengan baik. Dengan berlakunya Undang-Undang No. atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. tinggal di rumah ini. persusuan.baik perlindungan sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan. kini menjadi fakta dan relita dalam kehidupan rumah tangga. sementara institusi dan lembaga resmi yang menangani . Perlindungan bagi Korban KDRT. Peran pihak lainnya lebih bersifat individual. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya. pengadilan atau pihak lainnya. Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan dan pelakunya adalah suami. tetapi termasuk juga lembaga sosial bahkan disebutkan pihak lainnya. kejaksaan. pengasuhan. Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya. Seorang istri harus mampu mengkoordinir berapapun keuangan yang ada dalam keluarga. walaupun ada juga korban justru sebaliknya.

atau mengetahui terjadinya tindak KDRT. Bentuk perlindungan Korban KDRT atau bahkan lembaga pemberi perlindungan itu sendiri belum tentu memahami bagaimana perlindungan . Mereka diwajibkan mengupayakan pencegahan. serta berpotensi dilakukan secara berulang (pengulangan) dengan penyebab (causa) yang lebih kompleks dari tindak kekerasan pada umumnya. melihat. perlindungan. kesusilaan. serta penelantaran orang yang perlu diberi nafkah dan kehidupan. tindak kekerasan yang diatur dalam PKDRT ini mempunyai sifat khas/spesifik. misalnya peristiwa itu terjadi di dalam rumah tangga. dengan melibatkan berbagai disiplin. korban dan pelakunya terikat hubungan kekerasan atau hubungan hukum tertentu lainnya. Penyelesaiannya harus dilakukan secara komprehensif.perlindungan korban KDRT sangatlah terbatas. Itu sebabnya. Lalu mengapa masih diperlukan UU PKDRT? Memang. kesehatan. melalui proses sosial. dan agama. Pihak lainnya itu adalah setiap orang yang mendengar. tindak kekerasan ini lebih merupakan persoalan sosial yang tidak hanya dilihat dari perspektif hukum. pertolongan darurat serta membantu pengajuan permohonan penetapan perlindungan baik langsung maupun melalui institusi dan lembaga resmi yang ada. Bagaimanakah bentuk dan cara perlindungan itu.Dilihat dari stelsel hukum pidana. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana persoalan itu dipahami oleh masyarakat luas sehingga cita-cita yang hendak dicapai oleh legislator yang terkandung dalam UU PKDRT dapat terwujud sesuai harapan. lintas institusi dan lembaga. psikologi. hukum. serta bagaimanakah hubungan masingmasing institusi dan lembaga pemberi perlindungan itu secara konkret dan faktual di lapangan? Itulah pokok persoalan yang perlu dibahas lebih lanjut. tindak KDRT ini adalah tindak kekerasan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yakni tindak pidana penganiayaan.

UU PKDRT secara selektif membedakan fungsi perlindungan dengan fungsi pelayanan. Sejalan dengan itu. peran masing-masing institusi dan lembaga itu sangatlah penting dalam upaya mencegah dan menghapus tindak KDRT. perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup serta akreditasi selaku institusi dan lembaga pemberi perlindungan terhadap korban KDRT. Artinya tidak semua institusi dan lembaga itu dapat memberikan perlindungan apalagi melakukan tindakan hukum dalam rangka pemberian sanksi kepada pelaku.itu didapatkan dan bagaimana diberikan. mediasi. UU PKDRT juga membagi perlindungan itu menjadi perlindungan yang bersifat sementara dan perlindungan dengan penetapan pengadilan serta pelayanan.Pemerintah dan masyarakat perlu segera membangun rumah aman (shelter) untuk menampung. Tetapi walaupun demikian. Perlindungan sementara oleh kepolisian ini dapat dilakukan bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Pelayanan terhadap korban KDRT ini harus menggunakan ruang pelayanan khusus di kantor kepolisian dengan sistem dan mekanisme kerja sama program pelayanan yang mudah diakses oleh korban. dan dalam waktu 1 X 24 jam sejak memberikan perlindungan. Tetapi bagi institusi dan lembaga di luar itu. Perlindungan oleh institusi dan lembaga non-penegak hukum lebih bersifat pemberian pelayanan konsultasi. kepolisian sesuai tugas dan . pendampingan dan rehabilitasi. Bagi korban yang status soseknya lebih tinggi atau institusi dan lembaga yang tugas dan fungsinya selaku penegak hukum. sosial. melayani dan mengisolasi korban dari pelaku KDRT. Artinya tidak sampai kepada litigasi. Perlindungan dan pelayanan diberikan oleh institusi dan lembaga sesuai tugas dan fungsinya masing-masing: a. Perlindungan oleh kepolisian berupa perlindungan sementara yang diberikan paling lama 7 (tujuh) hari. tentu persoalan mendapatkan dan atau memberikan perlindungan itu bukanlah masalah. kepolisian wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Selain itu. relawan pendamping dan pembimbing rohani untuk mendampingi korban.

. Pengadilan juga dapat memberikan perlindungan tambahan atas pertimbangan bahaya yang mungkin timbul terhadap korban. Tenaga kesehatan sesuai profesinya wajib memberikan laporan tertulis hasil pemeriksaan medis dan membuat visum et repertum atas permintaan penyidik kepolisian atau membuat surat keterangan medis lainnya yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat bukti. Perlindungan dengan penetapan pengadilan dikeluarkan dalam bentuk perintah perlindungan yang diberikan selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang. Pelayanan tenaga kesehatan penting sekali artinya terutama dalam upaya pemberian sanksi terhadap pelaku KDRT.kewenangannya dapat melakukan penyelidikan. Bahkan kepolisian dapat melakukan penangkapan dan penahanan tanpa surat perintah terhadap pelanggaran perintah perlindungan. e. melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum. serta mengantarkan koordinasi dengan institusi dan lembaga terkait. c. dan pekerja sosial(kerja sama dan kemitraan). penangkapan dan penahanan dengan bukti permulaan yang cukup dan disertai dengan perintah penahanan terhadap pelaku KDRT. relawan pendamping. Pelayanan pekerja sosial diberikan dalam bentuk konseling untuk menguatkan dan memberi rasa aman bagi korban. Pengadilan dapat melakukan penahanan dengan surat perintah penahanan terhadap pelaku KDRT selama 30 (tiga puluh) hari apabila pelaku tersebut melakukan pelanggaran atas pernyataan yang ditandatanganinya mengenai kesanggupan untuk memenuhi perintah perlindungan dari pengadilan. dan pemeriksaan dalam sidang pengadilan (litigasi). artinya surat penangkapan dan penahanan itu dapat diberikan setelah 1 X 24 jam. melakukan mediasi dan negosiasi di antara pihak termasuk keluarga korban dan keluarga pelaku (mediasi). d. penuntutan. dan mendampingi korban di tingkat penyidikan. memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan. b. Perlindungan oleh advokat diberikan dalam bentuk konsultasi hukum.

ekonomi. karena berbagai faktor pemicu terjadinya KDRT di negeri ini amatlah subur. maka akan sangat sulit dan mustahil dapat mencegah apalagi menghapus tindak KDRT di muka bumi Indonesia ini. tenteram. hukum. agama dan hak asasi manusia. perangai dan tabiat pelaku yang kasar. bahkan berpendidikan tinggi. mendampingi korban memaparkan secara objektif tindak KDRT yang dialaminya pada tingkat penyidikan. Bahwa anggapan orang terjadinya KDRT merupakan akibat dari suatu sebab konvensional seperti disharmonisasi dari tekanan sosial ekonomi yang rendah. penuntutan dan pemeriksaan pengadilan. Pelayanan relawan pendamping diberikan kepada korban mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan seorang atau beberapa relawan pendamping. Pelayanan oleh pembimbing rohani diberikan untuk memberikan penjelasan mengenai hak. karena KDRT justru acapkali dilakukan oleh mereka yang kondisi sosial ekonominya baik. Adalah tugas pemerintah untuk merumuskan kembali pola dan strategi pelaksanaan perlindungan dan pelayanan dan mensosialisasikan kebijakan itu di lapangan. kewajiban dan memberikan penguatan iman dan takwa kepada korban. Bentuk perlindungan dan pelayanan ini masih besifat normatif. KDRT merupakan multi persoalan. termasuk persoalan sosial. budaya. Tanpa upaya sungguh-sungguh dari pemerintah dan semua pihak. . Upaya sungguh-sungguh itu diharapkan dapat mempengaruhi struktur dan karakteristik multi persoalan tadi menjadi nilai yang diyakini benar dan dapat memberi rasa aman. belum implementatif dan teknis oparasional yang mudah dipahami. mampu dijalankan dan diakses oleh korban KDRT. sukses karier dan pekerjaannya.f. mendengarkan dan memberikan penguatan secara psikologis dan fisik kepada korban. serta gagal dalam karier dan pekerjaan ternyata tidaklah sepenuhnya benar. g. adil dan bermartabat bagi keluarga dan bangsa Indonesia. khususnya kaum perempuan yang rentan menjadi korban KDRT. Upaya menghapus KDRT di muka bumi Indonesia adalah perjuangan panjang bangsa ini.

Pengertian KDRT menurut UU. 2. demikian pula untuk menangani KDRT. suami terhadap istrinya. majikan terhadap pembantu rumahtangga. Pada umumnya orang berpendapat bahwa KDRT adalah urusan intern keluarga dan rumah tangga. Namun jika seseorang (perempuan dan anak) dipukuli sampai babak belur di dalam rumahnya. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. dan definisi mengenai KDRT berkembang dalam masyarakat. maka masyarakat termasuk aparat polisi akan segera menolong dia. Jika seseorang (perempuan atau anak) disenggol di jalanan umum dan ia minta tolong. KDRT sudah diatur dalam Undang-undang. terkuak dalam surat kabar dan media masa. berabad bahkan bermilenium lamanya. . orang segan menolong karena tidak mau mencampuri urusan rumah tangga orang lain. walau pun ia sudah berteriak minta tolong. Syukurlah Undang-undangnya telah ada yaitu UU No. Anggapan ini telah membudaya bertahun. Masyarakat membantu dan aparat polisi bertindak setelah akibat kekerasan sudah fatal. dan sebaiknya masyarakat mengetahui apa dan bagaimana Undang-undang ini.23 Tahun 2004 tentang PENGHAPUSAN KDRT (UU P KDRT). KDRT SEBELUM ADANYA UNDANG-UNDANG PENGHAPUSAN KDRT. Berbagai kasus akibat fatal dari kekerasan orangtua terhadap anaknya. persepsi. korbannya sudah meninggal. seksual. Berbagai pendapat. Telah menjadi satu trend dewasa ini. bahwa masyarakat termasuk aparat penegak hukum berpendapat bahwa diperlukan undang-undang sebagai dasar hukum untuk dapat mengambil tindakan terhadap suatu kejahatan. PENGERTIAN KDRT MENURUT UNDANG-UNDANG Menurut UU P KDRT:KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan.F. di kalangan masyarakat termasuk aparat penegak hukum. atau pun cacat. 1.

yang menetap dalam rumah tangga. pemaksaan. Pasal 2 menjabarkan selanjutnya: (1) Lingkup rumahtangga dalam Undang-undang ini meliputi: i. karena dalam penegakan hukum akan melibatkan dimensi perilaku manusia. istri. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 Butir 1). orang yang bekerja membantu rumah tanggadan menetap dalam rumah tangga tersebut (2) Orang yang bekerja sebagaimana dimaksud dalam huruf c dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan. Dengan pemahaman . Catatan: Untuk anak telah diatur dalam UU No. orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah. dan perwalian. pembentukan hukum. Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan interaksi antara berbagai perilaku manusia mewakili kepentingan-kepentingan yang berbeda dalam bingkai aturan yang telah disepakati bersama. perkawinan. dan/atau iii. G. persusuan. penegakan hukum tidak dapat semata-mata dianggap sebagai proses menerapkan hukum sebagaimana pendapat kaum legalistic. dan anak ii. penegakan hukum dan evaluasi hukum. suami.23 Tahun 2002 tentang PERLINDUNGAN ANAK. dan/atau penelantaran rumah tangga termasukancaman untuk melakukan perbuatan. Penegakan hukum merupakan pusat dari seluruh “aktivitas kehidupan” hukum yang dimulai dari perencanaan hukum.psikologis. Namun proses penegakan hukum mempunyai dimensi yang lebih luas daripada pendapat tersebut. pengasuhan. Penegakan hukum uu KDRT ditinjau dalam perspektif sosiologis hukum. Oleh karena itu.

yang berkaitan dengan masalah mentalitas. Di dalam Pasal 6 dinyatakan bahwa. Kelima. Ketiga. kekerasan fisik. kekerasan seksual. atau luka berat. Perumusan norma atau kaidah di dalam undang-undang ini. komponen substansi hukum(legal substance) dan komponen budaya hukum (legal culture) serta dalam perkembangannya kemudian ditambahkan dengan komponen struktur hukum (Legal Structure). komponen struktur hukum (legal structure). setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang lingkup rumah tangganya dengan cara: a. Selanjutnya Pasal 7 memuat pernyataan bahwa. Di dalam Pasal 5 dinyatakan. Lawrence M. Sementara itu. dalam pandangan Soerjono Soekanto . Friedman melihat bahwa keberhasilan penegakan hukum selalu menyaratkan berfungsinya semua komponen system hukum. Kekerasan psikis. faktor hukum atau peraturan perundang-udangan. faktor sarana atau fasilitas yang mendukung proses penegakan hukum. jatuh sakit. yakni lingkungan sosial dimana hkum tersebut berlaku atau diterapkan. yakni pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembuatan dan penerapan hukumnya. Sistem hukum dalam pandangan Friedman terdiri dari tiga komponen.tersebut maka kita dapat mengetahui bahwa problem-problem hukum yang akan selalu menonjol adalah problema “law in action” bukan pada “law in the books” Proses penegakan hukum. faktor masyarakat. dipengaruhi oleh lima faktor. dituangkan di dalam Pasal-pasal 5 s/d 9. Pertama. faktor. Kedua. berhubungan dengan kesadaran dan kepatuhan hukum yang merefleksi dalam perilaku masyarakat. penelantaran rumah tangga. b. Keempat. faktor kebudayaan. yakni hasil karya. atau d. kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. yakni . hilangnya rasa . cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. aparat penegak hukumnya. kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perubahan yang mengakibatkan rasa sakit. c.

sama dengan mengantarkan sebuah Undang-undang ke dalam ruang kosong dan hampa udara. Ini membuat . dalam Pasal 8 dinyatakan. tindak pidana kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 yang dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya merupakandelik aduan (Pasal 53). kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi: (a) pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang menetapkan dalam lingkup rumah tangga tersebut. Sosiologi Hukum menggambarkan bahwa mengenalkan hukum ke dalam arena-arena sosial dalam masyarakat. rasa tidak berdaya. (2) Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. hilangnya kemampuan untuk bertindak. atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Di dalam Undang-undang ini juga dinyatakan bahwa. Demikian juga. yang disebut sebagai Self Regulation (Moore.percaya diri. Ketika sebuah Undang-undang diantarkan ke suatu arena sosial. perawatan. (1) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. tindak pidana kekerasan psikis sebagaimanadimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) merupakan delik aduan (Pasal 52). Demikian juga halnya. 1983). Sementara itu. (b) pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertantu. Kemudian di dalam Pasal 9 dinyatakan. dan /atau penderitaan psikis berat pada seseorang. maka di dalam arena sosial tersebut sudah penuh dengan berbagai pengaturan sendiri yang dibuat oleh masyarakat. tindak pidana kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam pasal 44 ayat (4) merupakan delik aduan (Pasal 51).

ada satu hukum yang sangat besar pengaruhnya yaitu hukum negara. tetapi juga mendapatkan pengaruh dari perkembangan dunia global saat ini. karena terjadinya saling pengaruh dan adopsi di antara berbagai aturan tersebut satu sama lain. Bila budaya yang diakomodasi dalam rumusan-rumusan hukum itu adalah budaya patriarkhis. Arena sosial itu sendiri memiliki hakekat adanya kapasitas untuk menciptakan aturanaturan sendiri beserta sanksinya. Budaya hukum yang patriarkhis ini juga bersemai dalam institusi penegakan hukum sebagai bagian dari masyarakat. Suatu aturan tidak pernah tidak setelah ditetapkan karena aturan tersebut akan terus dimodifikasi oleh masyarakat. sangat disadari bahwa aturan-aturan yang hidup dalam masyarakat. ini bukan berarti bahwa hukum negara menjadi satu-satunya hukum yang paling ditaati. maka tidak mengherankan apabila hukum yang dimunculkan adalah . Moore juga mengatakan bahwa di antara aturanaturan hukum yang saling bertumpang tindih di dalam arena sosial tersebut. harus dilakukan secara hati-hati. secara khusus di dalam kehidupan rumah tangga. dalam arti hukum itu merumuskan substansi budaya yang dianut oleh suatu masyarakat. Dalam Socio-Legal Perspectives. Namun.pembicaraan tentang masuknya suatu instrumen hukum yang bertujuan memajukan hak asasi perempuan dan keadilan gender. Hukum sangat erat kaitannya dengan budaya di mana hukum itu berada. agama dan kebiasaan kebiasaan lain. Dalam hal ini aturan aturan tersebut tidak hanya bersumber dari adat. 1983). Berbagai Self Regulation dalam arena-arena sosial tersebut sangatlah rumit. Itu sebabnya arena sosial tersebut disebut sebagai SemiAutonomous Social Field (Moore. dikarenakan himpitan hukum negara dengan kentalnya budaya patriarkhi. Disini menyatakan bahwa hukum dan budaya bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang yang sama. sangat terkait erat dengan budayanya. Aturan-aturan yang ada dalam masyarakat yang “memberi celah (loop holes)” kepada terjadinya banyak kasus tentang kekerasan terhadap perempuan.

terlebih bila hukum itu datang dari domain yang “asing”. Hukum negara merupakan entitas yang jelas batas-batasnya. diwariskan secara turuntemurun dan mudah diikuti dalam praktik sehari-hari. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai objektivitas dan netralitas dalam hukum. Dalam hal ini. sudah dapat diatasi atau bahkan dianggap selesai. Frederich von Savigny tidak dapat menerima kebenaran anggapan tentang berlakunya hukum positif yang sekali dibentuk diberlakukan sepanjang waktu dan tempat. Dalam hal ini mereka mengartikan hukum sebatas Undang-undang yang dibuat oleh negara. yang mengklaim diri sebagai otoritas tertinggi yaitu negara. maka berbagai persoalan dalam masyarakat berkenaan dengan apa yang diatur dalam hukum tersebut. Menurut Savigny.hukum yang tidak memberi keadilan terhadap perempuan. dikarenakan hukum itulah yang mereka kenal. “hukum-hukum” lain yang menjadi acuan berperilaku tersebut justru diikuti secara efektif oleh masyarakat. hidup dalam wilayah sendiri. yang disebutnya jiwa masyarakat atau jiwa bangsa atau volksgeist yaitu kesamaan pengertian dan keyakinan terhadap sesuatu. budaya menempatkan perempuan dan laki-laki dalam hubungan kekuasaan yang timpang dan hukum melegitimasinya. Sukar untuk mereka bayangkan bahwa ada hukum lain yang lebih dapat diandalkan daripada hukum yang mereka miliki sendiri. berkedudukan superior dan terpisah dari hukum-hukum yang lain. dengan mempercayai bahwa hukum yang objektif dan netral akan memberikan keadilan bagi setiap warga masyarakat. bahwa bila hukum sudah dibuat. Sebagian Sarjana Hukum percaya. Maka menurut aliran ini. sumber hukum adalah jiwa . Pendekatan Sosiologi Hukum menunjukkan bahwa hukum negara bukanlah satu-satunya acuan berperilaku dalam masyarakat. Dalam kenyataannya. masyarakat merupakan kesatuan organis yang memiliki kestuan keyakinan umum.

Permasalahan yang muncul dari Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 adalah bahwa keengganan seorang istri yang menjadi korban kekerasan melaporkan kepada pihak yang berwajib. dan isinya adalah aturan tentang kebiasaan hidup masyarakat. masa depan anakanak terancam dan lain-lain. Bahwa dengan ditetapkannya berbagai perbuatan sebagai tindak pidana (dikategorikan sebagai delik aduan ) di dalam UU PKDRT. delik aduan merupakan delik atau tindak pidana penuntutannya di pengadilan digantungkan pada adanya inisiatif dari pihak sikorban. kehilangan nafkah hidup karena suami masuk penjara. Undang-undang dibentuk hanya untuk mengatur hubungan masyarakat atas kehendak masyarakat itu melalui negara. Konsekuensi logis dari perumusan perbuatan kekerasan dalam rumah tangga sebagai delik aduan di dalam UU PKDRT ini ialah. dalam hal ini polisi. dan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi atau campur tangan dalam suatu urusan warga masyarakat yang secara yuridis dinyatakan sebagai masalah domestik. secara konseptual. pihak aparat penegak hukum hanya dapat bersifat pasif. dan penegakan ketentuan di dalam undang undang ini lebih banyak bergantung pada kemandirian dari setiap orang yang menjadi sasaran perlindungan hukum undang-undang ini. menunjukkan pendirian pembentuk undang-undang Indonesia bahwa kepentingan yang dilindungi oleh ketentuan ini lebih bersifat pribadi dari pada publik. Hukum tidak dapat dibentuk melainkan tumbuh dan berkembang bersama dengan kehidupan masyarakat. .masyarakat. Dalam hal suatu tindak pidana dikualifikasikan sebagai delik atau tindak pidana aduan. Pengkualifikasian suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana sebagai delik aduan. karena beberapa akibat yang muncul dari laporan tersebut adalah perceraian. maka pihak korban atau keluarganyalah yang harus bersikap proaktif untuk mempertimbangkan apakah peristiwa yang baru dialaminya akan diadukan kepada pihak berwajib untuk dimintakan penyelesaian menurut ketentuan hukum pidana.

Oleh karena itu. Upaya mengoptimalkan fungsi hukum administrasi negara. menjadikan tindakan-tindakan yang mengarah pada upaya pemidanaan pelakunya justru akan mengarah pada timbulnya dampak-dampak kontra produktif terhadap tujuan dasar pembentukan UU PKDRT itu sendiri. . dalam kaitan ini yang dimaksudkan adalah upaya untuk mendidik moralitas seluruh lapisan warga masyarakat ke arah yang lebih positif berupa terwujudnya masyarakat yang bermoral anti kekerasan dalam rumah tangga. peluang keberhasilan penegakan hukum UU PKDRT ini sanagat sulit untuk mencapai keberhasilan maksimal. kembali kepada ide dasar penggunaan hukum pidana sebagai sarana terakhir dalam upaya penanggulangan kejahatan (ultimum remedium). Dengan Perumusan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga dengan segala kompleksitas permasalahannya sebagai tindak pidana aduan. Merujuk pada teori sistem Friedman. maka keberadaan UU PKDRT harus lebih ditekankan pada upaya optimasi fungsi hukum administrasi negara dalam masyarakat. sebagaimana disebutkan di bagian depan. nilai nilai kultural yang terdapat di dalam masyarakat berkaitan dengan kehidupan rumah tangga itu. Negara sepatutnya kembali melihat pada kenyataan dalam masyarakat Indonesia yang sangat patriarkhis untuk selanjutnya dapat menilai dengan lebih bijak mengenai langkah lain yang patut diambil untuk dapat membuat keberlakuan UU PKDRT menjadi efektif di dalam prakteknya dan pada akhirnya dapat berujung pada tujuan pengundangan UU PKDRT. faktor kesulitan penegakan hukum itu justru bersumber pada komponen substansi hukumnya sendiri.Dengan kondisi seperti tersebut maka dilihat dari segi sosiologi hukum. yaitu menghapuskan atau setidaknya meminimalisir kasus-kasus KDRT terhadap perempuan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

seperti membaca buku yang memang isi bukunya itu bercerita tentang bagaimana cara menerapkan sebuah keluarga yang sakinah. maka mudah bagi kita untuk melakukan aktivitas. KESIMPULAN Seharusnya seorang suami dan istri harus banyak bertanya dan belajar. Seorang suami atau istri harus bisa saling menghargai pendapat pasangannya masing-masing. Jika di dalam sebuah rumah tangga tidak ada keharmonisan dan kerukunan diantara kedua belah pihak. Di dalam sebuah rumah tangga butuh komunikasi yang baik antara suami dan istri. Tidak sedikit seorang suami yang sifat seperti itu. butuh rasa saling percaya. Karena mungkin takut istrinya diambil orang atau yang lainnya. Seharusnya seorang suami dan istri bisa mengimbangi kebutuhan psikis.BAB III PENUTUP A. Jika tidak ada rasa kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu yang kadang berlebih dan rasa curiga yang kadang juga berlebihlebihan. mawaddah dan warahmah. Kurang bergaul dan berbaur dengan orang lain. Untuk mempertahankan sebuah hubungan. pengertian. agar tercipta sebuah rumah tangga yang rukun dan harmonis. Seperti halnya dalam berpacaran. Ini adalah dampak dari sikap seorang suami yang memiliki sifat . saling menghargai dan sebagainya. Jika sudah ada rasa saling percaya. terkadang suami juga melarang istrinya untuk beraktivitas di luar rumah. di mana kebutuhan itu sangat mempengaruhi keinginan kedua belah pihak yang bertentangan. jika sudah begitu kegiatan seorang istri jadi terbatas. Begitu juga halnya dalam rumah tangga harus dilandasi dengan rasa saling percaya. itu juga bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan dalam rumah tangga.

Sebenarnya apa yang terjadi pada diri kita. Banyak contoh yang kita lihat dilingkungan kita. Jalan Raya Puncak. tiba-tiba mobil digas sehingga menyerempet Cici. Sifat rasa cemburu bisa menimbukan kekerasan dalam rumah tangga. Kabupaten Bogor. sehingga menimbulkan perubahan sifat yang terjadi pada pasangan kita masing-masing. Maka dari itu. Sebelum kita melihat kesalahan orang lain. kajadian seperti itu. Kemudian atas Kekerasan yang dilakukan oleh Suhebi. CONTOH KASUS Contoh Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga yang terjadi dimasyarakat : Contoh kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga yang kami ambil adalah Kekerasan dalam Rumah Tangga yang dialami oleh Cici Paramida. Suhaebi. bisa suami maupun istri. Cici kemudian turun dari mobil.cemburu yang terlalu tinggi. marilah kita berkaca pada diri kita sendiri. Dari contoh kasus diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa seorang suami seharusnya menjaga kepercayaan yang diberikan oleh istrinya. Tidak hanya satu pihak yang bisa memicu konflik di dalam rumah tangga. wajah Cici Paramida babak belur akibat peristiwa penabarakan yang diduga dilakukan suaminya. Cisarua. Akibatnya Cici Paramida tampak terluka di bagian wajah dan lengan seperti bekas tersenggol. Cici melaporkan tindakan kekerasan itu polisi. di dalam sebuah rumah tangga kedua belah pihak harus sama-sama menjaga agar tidak terjadi konflik yang bisa menimbulkan kekerasan. Saat kedua mobil tiba di kawasan Gang Semen. mobil Cici menyalip. Dimana dalam kasus KDRTnya ini. Namun kejadian ini . Suatu hubungan akan berjalan harmonis apabila sebuah pasangan dilandasi dengan percaya kepada pasangannya. Peristiwa itu sendiri berawal ketika Cici yang mencurigai suaminya membawa perempuan lain mencoba mengejar mobil suaminya hingga ke kawasan puncak. “Saat dia mau mendekati mobil itu.

Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis. Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional . Alumni. Anton F. B. Fakih. DAFTAR PUSTAKA Esmi Warassih. . Apakah benar ia bersama perempuan lain atau hanya sekedar rekan kerjanya. Sunaryati.G. 1998. SARAN Demikian yang dapat kami jelaskan semonga bemanfaat bagi pembaca dan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan. Susanto.F. Mansour. oleh karena itu kami senantiasa menerima saran dan kritik yang sifatnya membangun. Hartono. Yogyakarta: CIDESINDO.tidak akan terjadi apabila sang istri menanyaka secara baik-baik kepada suaminya. Otje Salman. Suryandaru utama. 1991. Diskriminasi dan Beban Kerja Perempuan: Perspektif Gender. C. Bandung: Alumni. Semarang. Beberapa Asoek Sosiologi Hukum. Bandung.

html/ http://midwifejaniezt.id/sites/default/files/tmp/PEREMPUAN&KDRTMAKALAH%20PPM%20KDRT_0. hal ini juga terkait dengan ketentuan Pasal 4 UU 13/2006 yang menyatakan bahwa Perlindungan Saksi dan/atau Korban bertujuan memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban dalam memberikan keterangan pada setiap proses peradilan pidana.com Kekerasan pada Istri dalam rumah tangga http://maureenlicious. . Kemudian.uny.pdf @@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@ KDRT Hak Korban KDRT Atas Perlindungan dari LPSK Bagaimanakah sinkronisasi bentuk perlindungan hukum terhadap korban KDRT dengan perlindungan saksi dan korban? Ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (“UU 13/2006”) menyebutkan hak seorang saksi dan korban.html http://staff. hak atas restitusi atau ganti kerugian yang menjadi tanggung jawab pelaku tindak pidana. Kemu dian. Pasal 5 ayat (2) UU 13/2006 menyatakan. hak atas kompensasi dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Suheaby diperiksa Polisi http://syscomnet. bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (“KDRT”) telah diatur dalam ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga .erwinmiradi.com/2012/12/makalah-kdrt.blogspot. #erwinmiradi.com/kenapa-laki-l.wordpress. Pasal 7 UU 13/2006 menyatakan bahwa Korban melalui LPSK berhak mengajukan ke pengadilan berupa: a.Undang-undang tentang Penghapusan KDRT No.ac.info/kdrt-cici-paramida-suhaeby-diperiksa-polisi. Kenapa Laki-Laki Melakukan Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)? http://www.com/2011/04/28/kekerasan-pada-istri-dalam-rumah-tangga/ KDRT Cici Paramida. Ketentuan Undang-Undang tersebut telah mengatur sejumlah delik pidana yang dapat terjadi dalam tindakan kekerasan dalam rumah tangga. b. hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada saksi dan/atau korban tindak pidana dalam kasus-kasus tertentu sesuai dengan Keputusan LPSK. Selain itu. 23 tahun 2004. Seperti diketahui...

pdf @@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@ .Dengan demikian. berhak memperoleh hak sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 5 dan Pasal 7 dalam UU 13/2006. Dasar hukum: 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban http://www.komnasperempuan.id/wp-content/uploads/2010/12/Launching-Kasus-SPEKHAM-to-Pers-Rilis. dan tentunya berhak mendapat perlindungan dari LPSK.com/klinik/detail/lt5080e549b11da/hak-korban-kdrt-atasperlindungan-dari-lpsk http://www.or. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga 2.hukumonline. terutama saksi dan korban kekerasan dalam rumah tangga yang menghadapi situasi yang sangat mengancam jiwanya. setiap saksi dan korban dalam tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga. sinkronisasi dalam hal ini adalah terkait.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->