Kdrt

MAKALAH KDRT

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berperan dan berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga. Keluarga memerlukan organisasi tersendiri dan perlu kepala rumah tangga sebagai tokoh penting yang memimpin keluarga disamping beberapa anggota keluarga lainnya. Anggota keluarga terdiri dari Ayah, ibu, dan anak merupakan sebuah satu kesatuan yang memiliki hubungan yang sangat baik. Hubungan baik ini ditandai dengan adanya keserasian dalam hubungan timbal balik antar semua anggota/individu dalam keluarga. Sebuah keluarga disebut harmonis apabila seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai dengan tidak adanya konflik, ketegangan, kekecewaan dan kepuasan terhadap keadaan (fisik, mental, emosi dan sosial) seluruh anggota keluarga. Keluarga disebut disharmonis apabila terjadi sebaliknya. Ketegangan maupun konflik antara suami dan istri maupun orang tua dengan anak merupakan hal yang wajar dalam sebuah keluarga atau rumah tangga. Tidak ada rumah tangga yang berjalan tanpa konflik namun konflik dalam rumah tangga bukanlah sesuatu yang menakutkan. Hampir semua keluarga pernah mengalaminya. Yang mejadi berbeda adalah bagaimana cara mengatasi dan menyelesaikan hal tersebut. Setiap keluarga memiliki cara untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. Apabila masalah diselesaikan secara baik dan sehat maka setiap anggota keluarga akan mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu menyadari dan mengerti perasaan, kepribadian dan pengendalian emosi tiap anggota keluarga sehingga terwujudlah kebahagiaan dalam

keluarga. Penyelesaian konflik secara sehat terjadi bila masing-masing anggota keluarga tidak mengedepankan kepentingan pribadi, mencari akar permasalahan dan membuat solusi yang sama-sama menguntungkan anggota keluarga melalui komunikasi yang baik dan lancar. Disisi lain, apabila konflik diselesaikan secara tidak sehat maka konflik akan semakin sering terjadi dalam keluarga. Penyelesaian masalah dilakukan dengan marah yang berlebih-lebihan, hentakanhentakan fisik sebagai pelampiasan kemarahan, teriakan dan makian maupun ekspresi wajah menyeramkan. Terkadang muncul perilaku seperti menyerang, memaksa, mengancam atau melakukan kekerasan fisik. Perilaku seperti ini dapat dikatakan pada tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diartikan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. B. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah dari makalah di atas adalah 1. Apa yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga ? 2. Apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga ? 3. Apakah faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga ?

4. Bagaimana cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga ? 5. Apakah perlindungan bagi korban KDRT? 6. Apakah pengertian KDRT menurut UU?

C. TUJUAN Tujuan dari rumusan masalah di atas yaitu

yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. memiliki arti setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. Menjelaskan apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga. Menjelaskan faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga. 3. psikologis. Menjekaskan perlindungan bagi korban KDRT. 4. Menjelaskan yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga. 2. 5. Menjelaskan pengertian KDRT menurut UU.1. seksual. Menjelaskan cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga. 6. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga. dan/atau penelantaran rumah tangga .23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. BAB II TINJAUAN TEORI A. Kekerasan dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undang-undang No.

terutama Kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia. dan huruf d perlu dibentuk Undang-undang tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. b. Masalah kekerasan dalam rumah tangga telah mendapatkan perlindungan hukum dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 yang antara lain menegaskan bahwa: a. ibu. Tindak kekerasan yang dilakukan suami terhadap isteri sebenarnya merupakan unsur yang berat dalam tindak pidana. isteri atau anak diancam hukuman pidana” B. pemaksaan. huruf b.termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. Bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan adalah perempuan. atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan. huruf c. d. c. dasar hukumnya adalah KUHP (kitab undang-undang hukum pidana) pasal 356 yang secara garis besar isi pasal yang berbunyi: “Barang siapa yang melakukan penganiayaan terhadap ayah. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. penyiksaan. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai dimaksud dalam huruf a. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga. dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk deskriminasi yang harus dihapus. Bahwa segala bentuk kekerasan. Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam : . hal itu harus mendapatkan perlindungan dari Negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasan. Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebes dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-undang Republik Indonesia tahun 1945.

Pelecehan seksual dengan kontak fisik. merendahkan dan atau menyakitkan. mencium secara paksa. Kekerasan seksual Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya. hilangnya rasa percaya diri. tidak memperhatikan kepuasan pihak istri. gigi patah atau bekas luka lainnya. b. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur. meludahi. menyentuh organ seksual. komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri. merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/jijik. memukul. terteror. 3. 2. mengancam atau .menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak. mengisolir istri dari dunia luar. c. dan sebagainya. memaksa melakukan hubungan seksual. berupa: 1. menyudut dengan rokok. seperti meraba. rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Kekerasan seksual berat. jatuh sakit atau luka berat.a. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki. Kekerasan fisik Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. muka lebam. Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai. memukul/melukai dengan senjata. . Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar. Kekerasan psikologis / emosional Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. menarik rambut (menjambak). menendang. hilangnya kemampuan untuk bertindak. Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan. memaksa selera seksual sendiri. terhina dan merasa dikendalikan.

. manipulasi dan pengendalian lewat sarana ekonomi berupa:    Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran. Kekerasan Ekonomi Berat. perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit. yakni tindakan eksploitasi. Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi. ejekan dan julukan dan atau secara non verbal. Mengambi l tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban. Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya. bahkan menghabiskan uang istri. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. Kekerasan Ekonomi Ringan. 5. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri. seperti ekspresi wajah. berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentar verbal. merampas dan atau memanipulasi harta benda korban. Kekerasan Seksual Ringan.4. Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat.atau cedera. gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban. luka. siulan. Kekerasan ekonomi Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. 6. d. berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya. gurauan porno. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu.

Laki-laki merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib. Wanita sebagai anak-anak Konsep wanita sebagai hak milik bagi laki-laki menurut hukum. Murray mengidentifikasi hal dominasi pria dalam konteks struktur masyarakat dan keluarga. yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (marital violence) sebagai berikut: a. Pembelaan atas kekuasaan laki-laki Laki-laki dianggap sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita.C. Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak. c. menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. d. dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan kekerasan. mengakibatkan kele-luasaan laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. Orientasi peradilan pidana pada laki-laki . Faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga. Beban pengasuhan anak Istri yang tidak bekerja. maka suami akan menyalah-kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam rumah tangga. sehingga mampu mengatur dan mengendalikan wanita. Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja mengakibatkan wanita (istri) ketergantungan terhadap suami. Strauss A. e. b.

itu juga bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan dalam rumah tangga. saling menghargai dan sebagainya antar anggota keluarga. Untuk menghindari terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga. Cara Penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga. d. Sehingga antara anggota keluarga dapat saling mengahargai setiap pendapat yang ada. D. agar tercipta sebuah rumah tangga yang rukun dan harmonis. Butuh rasa saling percaya. Harus adanya komunikasi yang baik antara suami dan istri. . karena didalam agama itu mengajarkan tentang kasih sayang terhadap ibu. Sehingga rumah tangga dilandasi dengan rasa saling percaya. antara lain: a. b. c. Harus tercipta kerukunan dan kedamaian di dalam sebuah keluarga. maka mudah bagi kita untuk melakukan aktivitas. Jika tidak ada rasa kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu yang kadang berlebih dan rasa curiga yang kadang juga berlebih-lebihan. saudara. bapak.Posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya. diterima sebagai pelanggaran hukum. diperlukan cara-cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga. dan orang lain. Perlunya keimanan yang kuat dan akhlaq yang baik dan berpegang teguh pada agamanya sehingga Kekerasan dalam rumah tangga tidak terjadi dan dapat diatasi dengan baik dan penuh kesabaran. Jika sudah ada rasa saling percaya. sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda atau ditutup. Jika di dalam sebuah rumah tangga tidak ada keharmonisan dan kerukunan diantara kedua belah pihak. pengertian.

sehingga kekurangan ekonomi dalam keluarga dapat diatasi dengan baik. atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. tetapi termasuk juga lembaga sosial bahkan disebutkan pihak lainnya. kepolisian. dan anak bahkan pembatu rumah tangga. UU PKDRT secara substanstif memperluas institusi dan lembaga pemberi perlindungan agar mudah diakses oleh korban KDRT. agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Di sini terlihat.baik perlindungan sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan. E. lembaga sosial. Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya. bahwa institusi dan lembaga pemberi perlindungan itu tidak terbatas hanya lembaga penegak hukum. tinggal di rumah ini. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah. Dengan berlakunya Undang-Undang No. pengadilan atau pihak lainnya. Peran pihak lainnya lebih bersifat individual. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) maka persoalan KDRT ini menjadi domain publik. kini menjadi fakta dan relita dalam kehidupan rumah tangga.e. walaupun ada juga korban justru sebaliknya. Perlindungan bagi Korban KDRT. perkawinan. Peran itu diperlukan karena luasnya ruang dan gerak tindak KDRT. yaitu pihak keluarga. Seorang istri harus mampu mengkoordinir berapapun keuangan yang ada dalam keluarga. advokat. kejaksaan. sehingga seorang istri dapat mengatasi apabila terjadi pendapatan yang minim. sementara institusi dan lembaga resmi yang menangani . Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan dan pelakunya adalah suami. perwalian dengan suami. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dulu dianggap mitos dan persoalan pribadi (private). persusuan. pengasuhan.

tindak kekerasan ini lebih merupakan persoalan sosial yang tidak hanya dilihat dari perspektif hukum. dan agama. serta penelantaran orang yang perlu diberi nafkah dan kehidupan. misalnya peristiwa itu terjadi di dalam rumah tangga. dengan melibatkan berbagai disiplin.perlindungan korban KDRT sangatlah terbatas. pertolongan darurat serta membantu pengajuan permohonan penetapan perlindungan baik langsung maupun melalui institusi dan lembaga resmi yang ada. tindak KDRT ini adalah tindak kekerasan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yakni tindak pidana penganiayaan. Pihak lainnya itu adalah setiap orang yang mendengar. kesehatan. melalui proses sosial. melihat. hukum. Bentuk perlindungan Korban KDRT atau bahkan lembaga pemberi perlindungan itu sendiri belum tentu memahami bagaimana perlindungan . Lalu mengapa masih diperlukan UU PKDRT? Memang. Mereka diwajibkan mengupayakan pencegahan. atau mengetahui terjadinya tindak KDRT. kesusilaan. serta berpotensi dilakukan secara berulang (pengulangan) dengan penyebab (causa) yang lebih kompleks dari tindak kekerasan pada umumnya. Penyelesaiannya harus dilakukan secara komprehensif. korban dan pelakunya terikat hubungan kekerasan atau hubungan hukum tertentu lainnya. serta bagaimanakah hubungan masingmasing institusi dan lembaga pemberi perlindungan itu secara konkret dan faktual di lapangan? Itulah pokok persoalan yang perlu dibahas lebih lanjut. Bagaimanakah bentuk dan cara perlindungan itu. psikologi.Dilihat dari stelsel hukum pidana. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana persoalan itu dipahami oleh masyarakat luas sehingga cita-cita yang hendak dicapai oleh legislator yang terkandung dalam UU PKDRT dapat terwujud sesuai harapan. lintas institusi dan lembaga. tindak kekerasan yang diatur dalam PKDRT ini mempunyai sifat khas/spesifik. perlindungan. Itu sebabnya.

Sejalan dengan itu. peran masing-masing institusi dan lembaga itu sangatlah penting dalam upaya mencegah dan menghapus tindak KDRT. Perlindungan oleh institusi dan lembaga non-penegak hukum lebih bersifat pemberian pelayanan konsultasi. tentu persoalan mendapatkan dan atau memberikan perlindungan itu bukanlah masalah. relawan pendamping dan pembimbing rohani untuk mendampingi korban. kepolisian wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Selain itu. Tetapi bagi institusi dan lembaga di luar itu. Artinya tidak semua institusi dan lembaga itu dapat memberikan perlindungan apalagi melakukan tindakan hukum dalam rangka pemberian sanksi kepada pelaku. Perlindungan sementara oleh kepolisian ini dapat dilakukan bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Tetapi walaupun demikian. Artinya tidak sampai kepada litigasi. melayani dan mengisolasi korban dari pelaku KDRT.Pemerintah dan masyarakat perlu segera membangun rumah aman (shelter) untuk menampung. UU PKDRT juga membagi perlindungan itu menjadi perlindungan yang bersifat sementara dan perlindungan dengan penetapan pengadilan serta pelayanan. sosial. Pelayanan terhadap korban KDRT ini harus menggunakan ruang pelayanan khusus di kantor kepolisian dengan sistem dan mekanisme kerja sama program pelayanan yang mudah diakses oleh korban. mediasi. Bagi korban yang status soseknya lebih tinggi atau institusi dan lembaga yang tugas dan fungsinya selaku penegak hukum. UU PKDRT secara selektif membedakan fungsi perlindungan dengan fungsi pelayanan. pendampingan dan rehabilitasi.itu didapatkan dan bagaimana diberikan. dan dalam waktu 1 X 24 jam sejak memberikan perlindungan. Perlindungan oleh kepolisian berupa perlindungan sementara yang diberikan paling lama 7 (tujuh) hari. kepolisian sesuai tugas dan . Perlindungan dan pelayanan diberikan oleh institusi dan lembaga sesuai tugas dan fungsinya masing-masing: a. perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup serta akreditasi selaku institusi dan lembaga pemberi perlindungan terhadap korban KDRT.

relawan pendamping. serta mengantarkan koordinasi dengan institusi dan lembaga terkait. memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan. dan mendampingi korban di tingkat penyidikan. Tenaga kesehatan sesuai profesinya wajib memberikan laporan tertulis hasil pemeriksaan medis dan membuat visum et repertum atas permintaan penyidik kepolisian atau membuat surat keterangan medis lainnya yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat bukti. Pelayanan tenaga kesehatan penting sekali artinya terutama dalam upaya pemberian sanksi terhadap pelaku KDRT. Perlindungan dengan penetapan pengadilan dikeluarkan dalam bentuk perintah perlindungan yang diberikan selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang. melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum. Pengadilan juga dapat memberikan perlindungan tambahan atas pertimbangan bahaya yang mungkin timbul terhadap korban. Pengadilan dapat melakukan penahanan dengan surat perintah penahanan terhadap pelaku KDRT selama 30 (tiga puluh) hari apabila pelaku tersebut melakukan pelanggaran atas pernyataan yang ditandatanganinya mengenai kesanggupan untuk memenuhi perintah perlindungan dari pengadilan. dan pemeriksaan dalam sidang pengadilan (litigasi). dan pekerja sosial(kerja sama dan kemitraan). Bahkan kepolisian dapat melakukan penangkapan dan penahanan tanpa surat perintah terhadap pelanggaran perintah perlindungan. penuntutan. e. . d.kewenangannya dapat melakukan penyelidikan. b. artinya surat penangkapan dan penahanan itu dapat diberikan setelah 1 X 24 jam. Perlindungan oleh advokat diberikan dalam bentuk konsultasi hukum. melakukan mediasi dan negosiasi di antara pihak termasuk keluarga korban dan keluarga pelaku (mediasi). penangkapan dan penahanan dengan bukti permulaan yang cukup dan disertai dengan perintah penahanan terhadap pelaku KDRT. c. Pelayanan pekerja sosial diberikan dalam bentuk konseling untuk menguatkan dan memberi rasa aman bagi korban.

Pelayanan oleh pembimbing rohani diberikan untuk memberikan penjelasan mengenai hak. g. Pelayanan relawan pendamping diberikan kepada korban mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan seorang atau beberapa relawan pendamping. Bentuk perlindungan dan pelayanan ini masih besifat normatif. Upaya menghapus KDRT di muka bumi Indonesia adalah perjuangan panjang bangsa ini. penuntutan dan pemeriksaan pengadilan. agama dan hak asasi manusia. sukses karier dan pekerjaannya. kewajiban dan memberikan penguatan iman dan takwa kepada korban. mampu dijalankan dan diakses oleh korban KDRT. tenteram.f. mendampingi korban memaparkan secara objektif tindak KDRT yang dialaminya pada tingkat penyidikan. . karena KDRT justru acapkali dilakukan oleh mereka yang kondisi sosial ekonominya baik. termasuk persoalan sosial. karena berbagai faktor pemicu terjadinya KDRT di negeri ini amatlah subur. hukum. mendengarkan dan memberikan penguatan secara psikologis dan fisik kepada korban. belum implementatif dan teknis oparasional yang mudah dipahami. khususnya kaum perempuan yang rentan menjadi korban KDRT. Adalah tugas pemerintah untuk merumuskan kembali pola dan strategi pelaksanaan perlindungan dan pelayanan dan mensosialisasikan kebijakan itu di lapangan. KDRT merupakan multi persoalan. adil dan bermartabat bagi keluarga dan bangsa Indonesia. Tanpa upaya sungguh-sungguh dari pemerintah dan semua pihak. serta gagal dalam karier dan pekerjaan ternyata tidaklah sepenuhnya benar. ekonomi. Upaya sungguh-sungguh itu diharapkan dapat mempengaruhi struktur dan karakteristik multi persoalan tadi menjadi nilai yang diyakini benar dan dapat memberi rasa aman. maka akan sangat sulit dan mustahil dapat mencegah apalagi menghapus tindak KDRT di muka bumi Indonesia ini. perangai dan tabiat pelaku yang kasar. Bahwa anggapan orang terjadinya KDRT merupakan akibat dari suatu sebab konvensional seperti disharmonisasi dari tekanan sosial ekonomi yang rendah. budaya. bahkan berpendidikan tinggi.

1. Berbagai kasus akibat fatal dari kekerasan orangtua terhadap anaknya. seksual. PENGERTIAN KDRT MENURUT UNDANG-UNDANG Menurut UU P KDRT:KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan.F. Masyarakat membantu dan aparat polisi bertindak setelah akibat kekerasan sudah fatal. berabad bahkan bermilenium lamanya. suami terhadap istrinya. bahwa masyarakat termasuk aparat penegak hukum berpendapat bahwa diperlukan undang-undang sebagai dasar hukum untuk dapat mengambil tindakan terhadap suatu kejahatan. walau pun ia sudah berteriak minta tolong. KDRT SEBELUM ADANYA UNDANG-UNDANG PENGHAPUSAN KDRT. Telah menjadi satu trend dewasa ini. dan sebaiknya masyarakat mengetahui apa dan bagaimana Undang-undang ini. terkuak dalam surat kabar dan media masa. atau pun cacat.23 Tahun 2004 tentang PENGHAPUSAN KDRT (UU P KDRT). Berbagai pendapat. Syukurlah Undang-undangnya telah ada yaitu UU No. korbannya sudah meninggal. Anggapan ini telah membudaya bertahun. KDRT sudah diatur dalam Undang-undang. Pengertian KDRT menurut UU. maka masyarakat termasuk aparat polisi akan segera menolong dia. Namun jika seseorang (perempuan dan anak) dipukuli sampai babak belur di dalam rumahnya. 2. di kalangan masyarakat termasuk aparat penegak hukum. . yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. demikian pula untuk menangani KDRT. dan definisi mengenai KDRT berkembang dalam masyarakat. orang segan menolong karena tidak mau mencampuri urusan rumah tangga orang lain. persepsi. majikan terhadap pembantu rumahtangga. Jika seseorang (perempuan atau anak) disenggol di jalanan umum dan ia minta tolong. Pada umumnya orang berpendapat bahwa KDRT adalah urusan intern keluarga dan rumah tangga.

23 Tahun 2002 tentang PERLINDUNGAN ANAK. Penegakan hukum merupakan pusat dari seluruh “aktivitas kehidupan” hukum yang dimulai dari perencanaan hukum. orang yang bekerja membantu rumah tanggadan menetap dalam rumah tangga tersebut (2) Orang yang bekerja sebagaimana dimaksud dalam huruf c dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan. persusuan. istri. penegakan hukum dan evaluasi hukum. dan anak ii. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 Butir 1). dan perwalian. dan/atau penelantaran rumah tangga termasukancaman untuk melakukan perbuatan. G. karena dalam penegakan hukum akan melibatkan dimensi perilaku manusia. pemaksaan. penegakan hukum tidak dapat semata-mata dianggap sebagai proses menerapkan hukum sebagaimana pendapat kaum legalistic. pembentukan hukum. perkawinan. Namun proses penegakan hukum mempunyai dimensi yang lebih luas daripada pendapat tersebut. orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah. Penegakan hukum uu KDRT ditinjau dalam perspektif sosiologis hukum. suami. Oleh karena itu. Catatan: Untuk anak telah diatur dalam UU No. Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan interaksi antara berbagai perilaku manusia mewakili kepentingan-kepentingan yang berbeda dalam bingkai aturan yang telah disepakati bersama. Pasal 2 menjabarkan selanjutnya: (1) Lingkup rumahtangga dalam Undang-undang ini meliputi: i. yang menetap dalam rumah tangga. Dengan pemahaman . dan/atau iii.psikologis. pengasuhan.

Sementara itu. komponen struktur hukum (legal structure). berhubungan dengan kesadaran dan kepatuhan hukum yang merefleksi dalam perilaku masyarakat. Sistem hukum dalam pandangan Friedman terdiri dari tiga komponen. Keempat. Perumusan norma atau kaidah di dalam undang-undang ini. atau luka berat. yakni hasil karya. Kedua. aparat penegak hukumnya. Friedman melihat bahwa keberhasilan penegakan hukum selalu menyaratkan berfungsinya semua komponen system hukum. Ketiga. komponen substansi hukum(legal substance) dan komponen budaya hukum (legal culture) serta dalam perkembangannya kemudian ditambahkan dengan komponen struktur hukum (Legal Structure). Di dalam Pasal 6 dinyatakan bahwa. dituangkan di dalam Pasal-pasal 5 s/d 9. kekerasan fisik. setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang lingkup rumah tangganya dengan cara: a. faktor hukum atau peraturan perundang-udangan. b. Kekerasan psikis. hilangnya rasa . Kelima. kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. faktor kebudayaan. dalam pandangan Soerjono Soekanto . atau d. yakni pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembuatan dan penerapan hukumnya. penelantaran rumah tangga. Lawrence M. yang berkaitan dengan masalah mentalitas. kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perubahan yang mengakibatkan rasa sakit. faktor masyarakat. dipengaruhi oleh lima faktor. jatuh sakit. faktor sarana atau fasilitas yang mendukung proses penegakan hukum. kekerasan seksual.tersebut maka kita dapat mengetahui bahwa problem-problem hukum yang akan selalu menonjol adalah problema “law in action” bukan pada “law in the books” Proses penegakan hukum. c. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Di dalam Pasal 5 dinyatakan. Pertama. faktor. yakni lingkungan sosial dimana hkum tersebut berlaku atau diterapkan. yakni . Selanjutnya Pasal 7 memuat pernyataan bahwa.

(1) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. maka di dalam arena sosial tersebut sudah penuh dengan berbagai pengaturan sendiri yang dibuat oleh masyarakat. Kemudian di dalam Pasal 9 dinyatakan. tindak pidana kekerasan psikis sebagaimanadimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) merupakan delik aduan (Pasal 52). (b) pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertantu. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. (2) Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. tindak pidana kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam pasal 44 ayat (4) merupakan delik aduan (Pasal 51). Di dalam Undang-undang ini juga dinyatakan bahwa. perawatan. yang disebut sebagai Self Regulation (Moore. kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi: (a) pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang menetapkan dalam lingkup rumah tangga tersebut. tindak pidana kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 yang dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya merupakandelik aduan (Pasal 53). hilangnya kemampuan untuk bertindak. Demikian juga halnya. dan /atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Sosiologi Hukum menggambarkan bahwa mengenalkan hukum ke dalam arena-arena sosial dalam masyarakat. dalam Pasal 8 dinyatakan. atau pemeliharaan kepada orang tersebut. rasa tidak berdaya. Sementara itu. sama dengan mengantarkan sebuah Undang-undang ke dalam ruang kosong dan hampa udara. 1983). Ketika sebuah Undang-undang diantarkan ke suatu arena sosial. Demikian juga.percaya diri. Ini membuat .

sangat terkait erat dengan budayanya. dalam arti hukum itu merumuskan substansi budaya yang dianut oleh suatu masyarakat. Bila budaya yang diakomodasi dalam rumusan-rumusan hukum itu adalah budaya patriarkhis. Disini menyatakan bahwa hukum dan budaya bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang yang sama. Namun. tetapi juga mendapatkan pengaruh dari perkembangan dunia global saat ini. ada satu hukum yang sangat besar pengaruhnya yaitu hukum negara. Aturan-aturan yang ada dalam masyarakat yang “memberi celah (loop holes)” kepada terjadinya banyak kasus tentang kekerasan terhadap perempuan. karena terjadinya saling pengaruh dan adopsi di antara berbagai aturan tersebut satu sama lain. 1983). Berbagai Self Regulation dalam arena-arena sosial tersebut sangatlah rumit. secara khusus di dalam kehidupan rumah tangga.pembicaraan tentang masuknya suatu instrumen hukum yang bertujuan memajukan hak asasi perempuan dan keadilan gender. Arena sosial itu sendiri memiliki hakekat adanya kapasitas untuk menciptakan aturanaturan sendiri beserta sanksinya. Hukum sangat erat kaitannya dengan budaya di mana hukum itu berada. Itu sebabnya arena sosial tersebut disebut sebagai SemiAutonomous Social Field (Moore. Dalam hal ini aturan aturan tersebut tidak hanya bersumber dari adat. maka tidak mengherankan apabila hukum yang dimunculkan adalah . Budaya hukum yang patriarkhis ini juga bersemai dalam institusi penegakan hukum sebagai bagian dari masyarakat. agama dan kebiasaan kebiasaan lain. harus dilakukan secara hati-hati. Suatu aturan tidak pernah tidak setelah ditetapkan karena aturan tersebut akan terus dimodifikasi oleh masyarakat. Dalam Socio-Legal Perspectives. Moore juga mengatakan bahwa di antara aturanaturan hukum yang saling bertumpang tindih di dalam arena sosial tersebut. sangat disadari bahwa aturan-aturan yang hidup dalam masyarakat. dikarenakan himpitan hukum negara dengan kentalnya budaya patriarkhi. ini bukan berarti bahwa hukum negara menjadi satu-satunya hukum yang paling ditaati.

Sukar untuk mereka bayangkan bahwa ada hukum lain yang lebih dapat diandalkan daripada hukum yang mereka miliki sendiri. bahwa bila hukum sudah dibuat. diwariskan secara turuntemurun dan mudah diikuti dalam praktik sehari-hari. Sebagian Sarjana Hukum percaya. Pendekatan Sosiologi Hukum menunjukkan bahwa hukum negara bukanlah satu-satunya acuan berperilaku dalam masyarakat. berkedudukan superior dan terpisah dari hukum-hukum yang lain. dengan mempercayai bahwa hukum yang objektif dan netral akan memberikan keadilan bagi setiap warga masyarakat.hukum yang tidak memberi keadilan terhadap perempuan. yang mengklaim diri sebagai otoritas tertinggi yaitu negara. Dalam kenyataannya. yang disebutnya jiwa masyarakat atau jiwa bangsa atau volksgeist yaitu kesamaan pengertian dan keyakinan terhadap sesuatu. sudah dapat diatasi atau bahkan dianggap selesai. Dalam hal ini. Hukum negara merupakan entitas yang jelas batas-batasnya. terlebih bila hukum itu datang dari domain yang “asing”. maka berbagai persoalan dalam masyarakat berkenaan dengan apa yang diatur dalam hukum tersebut. sumber hukum adalah jiwa . “hukum-hukum” lain yang menjadi acuan berperilaku tersebut justru diikuti secara efektif oleh masyarakat. Maka menurut aliran ini. Frederich von Savigny tidak dapat menerima kebenaran anggapan tentang berlakunya hukum positif yang sekali dibentuk diberlakukan sepanjang waktu dan tempat. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai objektivitas dan netralitas dalam hukum. dikarenakan hukum itulah yang mereka kenal. Menurut Savigny. hidup dalam wilayah sendiri. masyarakat merupakan kesatuan organis yang memiliki kestuan keyakinan umum. Dalam hal ini mereka mengartikan hukum sebatas Undang-undang yang dibuat oleh negara. budaya menempatkan perempuan dan laki-laki dalam hubungan kekuasaan yang timpang dan hukum melegitimasinya.

pihak aparat penegak hukum hanya dapat bersifat pasif. . Dalam hal suatu tindak pidana dikualifikasikan sebagai delik atau tindak pidana aduan. Hukum tidak dapat dibentuk melainkan tumbuh dan berkembang bersama dengan kehidupan masyarakat. masa depan anakanak terancam dan lain-lain. dan isinya adalah aturan tentang kebiasaan hidup masyarakat. menunjukkan pendirian pembentuk undang-undang Indonesia bahwa kepentingan yang dilindungi oleh ketentuan ini lebih bersifat pribadi dari pada publik. Pengkualifikasian suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana sebagai delik aduan. Bahwa dengan ditetapkannya berbagai perbuatan sebagai tindak pidana (dikategorikan sebagai delik aduan ) di dalam UU PKDRT. dan penegakan ketentuan di dalam undang undang ini lebih banyak bergantung pada kemandirian dari setiap orang yang menjadi sasaran perlindungan hukum undang-undang ini. kehilangan nafkah hidup karena suami masuk penjara. delik aduan merupakan delik atau tindak pidana penuntutannya di pengadilan digantungkan pada adanya inisiatif dari pihak sikorban. dan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi atau campur tangan dalam suatu urusan warga masyarakat yang secara yuridis dinyatakan sebagai masalah domestik. karena beberapa akibat yang muncul dari laporan tersebut adalah perceraian. Undang-undang dibentuk hanya untuk mengatur hubungan masyarakat atas kehendak masyarakat itu melalui negara. maka pihak korban atau keluarganyalah yang harus bersikap proaktif untuk mempertimbangkan apakah peristiwa yang baru dialaminya akan diadukan kepada pihak berwajib untuk dimintakan penyelesaian menurut ketentuan hukum pidana. Permasalahan yang muncul dari Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 adalah bahwa keengganan seorang istri yang menjadi korban kekerasan melaporkan kepada pihak yang berwajib. Konsekuensi logis dari perumusan perbuatan kekerasan dalam rumah tangga sebagai delik aduan di dalam UU PKDRT ini ialah.masyarakat. dalam hal ini polisi. secara konseptual.

sebagaimana disebutkan di bagian depan. Merujuk pada teori sistem Friedman. Negara sepatutnya kembali melihat pada kenyataan dalam masyarakat Indonesia yang sangat patriarkhis untuk selanjutnya dapat menilai dengan lebih bijak mengenai langkah lain yang patut diambil untuk dapat membuat keberlakuan UU PKDRT menjadi efektif di dalam prakteknya dan pada akhirnya dapat berujung pada tujuan pengundangan UU PKDRT. Oleh karena itu. . nilai nilai kultural yang terdapat di dalam masyarakat berkaitan dengan kehidupan rumah tangga itu. kembali kepada ide dasar penggunaan hukum pidana sebagai sarana terakhir dalam upaya penanggulangan kejahatan (ultimum remedium). dalam kaitan ini yang dimaksudkan adalah upaya untuk mendidik moralitas seluruh lapisan warga masyarakat ke arah yang lebih positif berupa terwujudnya masyarakat yang bermoral anti kekerasan dalam rumah tangga. maka keberadaan UU PKDRT harus lebih ditekankan pada upaya optimasi fungsi hukum administrasi negara dalam masyarakat.Dengan kondisi seperti tersebut maka dilihat dari segi sosiologi hukum. Upaya mengoptimalkan fungsi hukum administrasi negara. yaitu menghapuskan atau setidaknya meminimalisir kasus-kasus KDRT terhadap perempuan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Dengan Perumusan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga dengan segala kompleksitas permasalahannya sebagai tindak pidana aduan. faktor kesulitan penegakan hukum itu justru bersumber pada komponen substansi hukumnya sendiri. peluang keberhasilan penegakan hukum UU PKDRT ini sanagat sulit untuk mencapai keberhasilan maksimal. menjadikan tindakan-tindakan yang mengarah pada upaya pemidanaan pelakunya justru akan mengarah pada timbulnya dampak-dampak kontra produktif terhadap tujuan dasar pembentukan UU PKDRT itu sendiri.

Tidak sedikit seorang suami yang sifat seperti itu. Untuk mempertahankan sebuah hubungan. seperti membaca buku yang memang isi bukunya itu bercerita tentang bagaimana cara menerapkan sebuah keluarga yang sakinah. Seperti halnya dalam berpacaran. maka mudah bagi kita untuk melakukan aktivitas. Jika tidak ada rasa kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu yang kadang berlebih dan rasa curiga yang kadang juga berlebihlebihan. Kurang bergaul dan berbaur dengan orang lain. Jika di dalam sebuah rumah tangga tidak ada keharmonisan dan kerukunan diantara kedua belah pihak. Jika sudah ada rasa saling percaya. Begitu juga halnya dalam rumah tangga harus dilandasi dengan rasa saling percaya. itu juga bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan dalam rumah tangga.BAB III PENUTUP A. butuh rasa saling percaya. saling menghargai dan sebagainya. di mana kebutuhan itu sangat mempengaruhi keinginan kedua belah pihak yang bertentangan. Di dalam sebuah rumah tangga butuh komunikasi yang baik antara suami dan istri. Seharusnya seorang suami dan istri bisa mengimbangi kebutuhan psikis. Ini adalah dampak dari sikap seorang suami yang memiliki sifat . agar tercipta sebuah rumah tangga yang rukun dan harmonis. KESIMPULAN Seharusnya seorang suami dan istri harus banyak bertanya dan belajar. mawaddah dan warahmah. terkadang suami juga melarang istrinya untuk beraktivitas di luar rumah. Seorang suami atau istri harus bisa saling menghargai pendapat pasangannya masing-masing. pengertian. jika sudah begitu kegiatan seorang istri jadi terbatas. Karena mungkin takut istrinya diambil orang atau yang lainnya.

Maka dari itu. Suhaebi. Sifat rasa cemburu bisa menimbukan kekerasan dalam rumah tangga. di dalam sebuah rumah tangga kedua belah pihak harus sama-sama menjaga agar tidak terjadi konflik yang bisa menimbulkan kekerasan. Dimana dalam kasus KDRTnya ini. Kabupaten Bogor. CONTOH KASUS Contoh Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga yang terjadi dimasyarakat : Contoh kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga yang kami ambil adalah Kekerasan dalam Rumah Tangga yang dialami oleh Cici Paramida. Cici kemudian turun dari mobil. Namun kejadian ini . marilah kita berkaca pada diri kita sendiri. Sebelum kita melihat kesalahan orang lain. Peristiwa itu sendiri berawal ketika Cici yang mencurigai suaminya membawa perempuan lain mencoba mengejar mobil suaminya hingga ke kawasan puncak. wajah Cici Paramida babak belur akibat peristiwa penabarakan yang diduga dilakukan suaminya. Banyak contoh yang kita lihat dilingkungan kita. Dari contoh kasus diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa seorang suami seharusnya menjaga kepercayaan yang diberikan oleh istrinya. Sebenarnya apa yang terjadi pada diri kita. mobil Cici menyalip. Jalan Raya Puncak. tiba-tiba mobil digas sehingga menyerempet Cici. Akibatnya Cici Paramida tampak terluka di bagian wajah dan lengan seperti bekas tersenggol. Cisarua. Kemudian atas Kekerasan yang dilakukan oleh Suhebi. Suatu hubungan akan berjalan harmonis apabila sebuah pasangan dilandasi dengan percaya kepada pasangannya. kajadian seperti itu. bisa suami maupun istri. Saat kedua mobil tiba di kawasan Gang Semen.cemburu yang terlalu tinggi. sehingga menimbulkan perubahan sifat yang terjadi pada pasangan kita masing-masing. Tidak hanya satu pihak yang bisa memicu konflik di dalam rumah tangga. “Saat dia mau mendekati mobil itu. Cici melaporkan tindakan kekerasan itu polisi.

Hartono. Apakah benar ia bersama perempuan lain atau hanya sekedar rekan kerjanya.F. SARAN Demikian yang dapat kami jelaskan semonga bemanfaat bagi pembaca dan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan. Diskriminasi dan Beban Kerja Perempuan: Perspektif Gender. Susanto. Mansour.G. Bandung. Beberapa Asoek Sosiologi Hukum. . Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis. DAFTAR PUSTAKA Esmi Warassih. Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional . B. Bandung: Alumni. Fakih. Semarang. 1991. oleh karena itu kami senantiasa menerima saran dan kritik yang sifatnya membangun. Yogyakarta: CIDESINDO. C. Sunaryati. Suryandaru utama.tidak akan terjadi apabila sang istri menanyaka secara baik-baik kepada suaminya. Alumni. Otje Salman. 1998. Anton F.

23 tahun 2004.com/2012/12/makalah-kdrt. #erwinmiradi. Pasal 7 UU 13/2006 menyatakan bahwa Korban melalui LPSK berhak mengajukan ke pengadilan berupa: a. b.com/kenapa-laki-l.com Kekerasan pada Istri dalam rumah tangga http://maureenlicious. . bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (“KDRT”) telah diatur dalam ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga . Kemu dian.. Selain itu. Suheaby diperiksa Polisi http://syscomnet.id/sites/default/files/tmp/PEREMPUAN&KDRTMAKALAH%20PPM%20KDRT_0.html http://staff.Undang-undang tentang Penghapusan KDRT No.blogspot.ac. Pasal 5 ayat (2) UU 13/2006 menyatakan.. hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada saksi dan/atau korban tindak pidana dalam kasus-kasus tertentu sesuai dengan Keputusan LPSK.html/ http://midwifejaniezt. hak atas kompensasi dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berat. hak atas restitusi atau ganti kerugian yang menjadi tanggung jawab pelaku tindak pidana. Kenapa Laki-Laki Melakukan Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)? http://www. Seperti diketahui.erwinmiradi.info/kdrt-cici-paramida-suhaeby-diperiksa-polisi.pdf @@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@ KDRT Hak Korban KDRT Atas Perlindungan dari LPSK Bagaimanakah sinkronisasi bentuk perlindungan hukum terhadap korban KDRT dengan perlindungan saksi dan korban? Ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (“UU 13/2006”) menyebutkan hak seorang saksi dan korban.uny.com/2011/04/28/kekerasan-pada-istri-dalam-rumah-tangga/ KDRT Cici Paramida. hal ini juga terkait dengan ketentuan Pasal 4 UU 13/2006 yang menyatakan bahwa Perlindungan Saksi dan/atau Korban bertujuan memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban dalam memberikan keterangan pada setiap proses peradilan pidana. Kemudian. Ketentuan Undang-Undang tersebut telah mengatur sejumlah delik pidana yang dapat terjadi dalam tindakan kekerasan dalam rumah tangga.wordpress.

berhak memperoleh hak sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 5 dan Pasal 7 dalam UU 13/2006.Dengan demikian. Dasar hukum: 1.or. sinkronisasi dalam hal ini adalah terkait. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga 2.id/wp-content/uploads/2010/12/Launching-Kasus-SPEKHAM-to-Pers-Rilis.com/klinik/detail/lt5080e549b11da/hak-korban-kdrt-atasperlindungan-dari-lpsk http://www. terutama saksi dan korban kekerasan dalam rumah tangga yang menghadapi situasi yang sangat mengancam jiwanya.hukumonline. dan tentunya berhak mendapat perlindungan dari LPSK.komnasperempuan. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban http://www.pdf @@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@ . setiap saksi dan korban dalam tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful