BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Otonomi berasal dari dua kata : auto berarti sendiri, nomos berarti rumah tangga atau urusan pemerintahan. Otonomi dengan demikian berarti mengurus rumah tangga sendiri. Dengan mendampingkan kata otonomi dengan kata Daerah, maka istilah “mengurus rumah tangga sendiri” mengandung makna memperoleh kekuasaan dari pusat dan mengatur atau menyelenggarakan rumah tangga pemerintahan daerah sendiri. Berdasarkan Keputusan Mendagri dan Otonomi Daerah Nomor 50 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi menjadi dasar pengelolaan semua potensi daerah yang ada dan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh daerah yang mendapatkan hak otonomi dari daerah pusat. Kesempatan ini sangat menguntungkan bagi daerah-daerah yang memiliki potensi alam yang besar untuk dapat mengelola daerah sendiri secara mandiri, dengan peraturan pemerintah yang dulunya mengalokasikan hasil hasil daerah 75% untuk pusat dan 25% untuk dikembalikan kedaerah membuat daerah-daerah baik tingkat I maupun daerah tingkat II sulit untuk mengembangkan potensi daerahnya baik secara ekonomi maupun budaya dan pariwisata.

1

Dengan adanya otonami daerah diharapkan daerah tingkat I maupun Tingakat II mampu mengelola daerahnya sendiri. Untuk kepentingan rakyat demi untuk meningkatkan dan mensejahtrakan rakyat secara sosial ekonomi.

1.2 Tujuan Tujuan ditulisnya makalah ini adalah agar pembaca dapat mengetahui hal-hal menegenai otonomi daerah.

2

Definisi Otonomi Daerah Pengertian "otonom" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) secara bahasa adalah "berdiri sendiri" atau "dengan pemerintahan sendiri"." dan pengertian lebih luas lagi adalah wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri mulai dari ekonomi. Sementara itu daerah otonom dalam UU No.1.BAB 2 PEMBAHASAN 2. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut 3 . politik. Otonomi daerah menurut UU No. budaya.32 tahun 2004 Pasal 1 ayat 5 adalah hak. dan ideologi yang sesuai dengan tradisi adat istiadat daerah lingkungannya. 32 tahun 2004 Pasal 1 ayat 6 dijelaskan selanjutnya yang disebut daerah. Sedangkan "daerah" adalah suatu "wilayah" atau "lingkungan pemerintah". dan pengaturan perimbangan keuangan termasuk pengaturan sosial. wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Secara istilah "otonomi daerah" adalah "wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri.

moneter. pertahanan keamanan. peradilan.prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. pemerataan. dan agama. Pelaksanaan otonomi daerah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang meliputi kemampuan si pelaksana. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. seperti politik luar negeri. Pelaksanaan otonomi daerah merupakan titik fokus penting dalam rangka memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah berdasar pada prinsip demokrasi. dan kemampuan dalam berorganisasi. 3. Dalam otonomi daerah ada prinsip desentralisasi. Bidang-bidang tersebut tetap menjadi urusan pemerintah pusat. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. kemampuan dalam keuangan. keadilan. ketersediaan alat dan bahan. Pengembangan suatu daerah dapat 4 . Otonomi daerah tidak mencakup bidang-bidang tertentu.32 tahun 2004 sebagai berikut: 1. fiskal. dekonsentrasi dan pembantuan yang dijelaskan dalam UU No. dan keanekaragaman. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerinta kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.

otonomi daerah menjadi kebijakan yang dibuat untuk bisa membangun tata kelola baru yang lebih baik dibanding masa sebelumnya. Maju atau tidaknya suatu daerah sangat ditentukan oleh kemampuan dan kemauan pemerintah daerah.2. Melalui reformasi.disesuaikan oleh pemerintah daerah dengan potensi dan kekhasan daerah masingmasing. daerah tidak dapat menjalankan di luar batas-batas wilayahnya. Pemerintah daerah bebas berkreasi dan berekspresi dalam rangka membangun daerahnya. Prinsip itu adalah: 1. Desentralisasi dipilih sebab ia memiliki kelebihan dibanding sentralisasi negara yang melahirkan problem bernegara. tentu saja dengan tidak melanggar ketentuan perundang-undangan. Otonomi daerah memiliki prinsip-prinsip yang harus ada untuk bisa mencapai tujuan. 5 . 2. Adanya pemberian kewenangan dan hak kepada pemerintah daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri 2. Ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi pemerintah daerah untuk membuktikan kemampuannya dalam melaksanakan kewenangan yang menjadi hak daerah. Dalam menjalankan wewenang dan hak mengurus rumah tangganya. Prinsip Otonomi Daerah Otonomi daerah diselenggarakan untuk menterjemahkan gagasan desentralisasi sebagai kritik atas kuatnya sentralisasi yang diselenggarakan pada masa pemerintahan rezim Soeharto.

membangun sistem dan pola karir politik dan administrasi yang kompetitif. Penyelenggaraan otonomi daerah dirumuskan dalam tiga ruang lingkup interaksi yang utama yakni politik. 6 . Penyelenggaraan otonomi daerah harus dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. Memungkinkan berlangsungnya penyelenggaraan pemerintahan yang responsif terhadap kepentingan masyarakat luas dan memelihara suatu mekanisme pengambilan keputusan yang taat pada asas pertanggung jawaban publik. ekonomi serta sosial dan budaya : 1. 4. Bidang politik. serta mengembangkan sistem manajemen pemerintahan yang efektif. Otonomi daerah adalah sebuah proses untuk membuka ruang bagi lahirnya kepala pemerintahan daerah yang dipilih secara demokratis. pelayanan yang prima. Penyelenggaraan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemampuan daerah dan dilaksanakan secara bertanggung jawab untuk mensejahterakan masyarakat. Otonomi daerah juga berarti kesempatan membangun struktur pemerintah yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Pelaksanaan otonomi daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah.3. keadilan. 5. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman daerah.

Beberapa persoalan itu adalah: 1. memudahkan proses perijinan usaha dan membangun berbagai infrastruktur yang menunjang perputaran ekonomi di daerahnya. Banyaknya permasalahan yang muncul menunjukan implementasi kebijakan ini menemui kendala-kendala yang harus selalu dievakuasi dan selanjutnya disempurnakan agar tujuannya tercapai. Kewenangan yang tumpang tindih Pelaksanaan otonomi daerah masih kental diwarnai oleh kewenangan yang tumpang tindih antar institusi 7 . otonomi daerah akan memungkinkan lahirnya berbagai prakarsa pemerintah daerah untuk menawarkan fasilitas investasi.2. Dengan demikian otonomi daerah akan membawa masyarakat ke tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi untuk masyarakat daerah 3. Bidang ekonomi. 2. Permasalahan Otonomi Daerah Implementasi Otonomi daerah bukan tanpa masalah. Otonomi daerah harus menjamin lancarnya pelaksanaan kebijakan ekonomi nasional di daerah sekaligus terbukanya peluang bagi pemerintah daerah mengembangkan kebijakan regional dan lokal untuk mengoptimalkan pendayagunaan potensi ekonomi di daerahnya. Dalam konteks ini.3. Ia melahirkan banyak persoalan ketika diterjemahkan di lapangan. Bidang sosial budaya Otonomi daerah digunakan untuk menciptakan dan memelihara harmoni sosial dan pada saat yang sama memelihara nilai-nilai lokal yang dipandang bersifat kondusif terhadap kemampuan masyarakat merespons dinamika kehidupan masyarakat.

lebih cenderung mencerminkan kepentingan elit daripada kepentingan masyarakat. Banyak terjadi juga Pemerintah daerah mengalami kelebihan PNS dengan kompetensi tidak memadai dan kekurangan PNS dengan kualifikasi terbaik. Apakah kewenangan itu ada di kabupaten kota atau provinsi. Di sisi yang lain juga banyak terjadi persoalan kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam penyusunan APBD yang merugikan rakyat. Ini disebabkan rendahnya kompetensi PNS daerah dan tidak jelasnya standar pelayanan yang diberikan. 8 . Sementara pemerintah daerah lemah dalam kebijakan menarik investasi di daerah.pemerintahan dan aturan yang berlaku. Tapi dalam prakteknya. baik antara aturan yang lebih tinggi atau aturan yang lebih rendah. keinginan masyarakat akan selalu bertabrakan dengan kepentingan elit sehingga dalam penetapan anggaran belanja daerah. Belum lagi rendahnya akuntabilitas pelayanan yang membuat pelayanan tidak prima. 2. Anggaran Banyak terjadi keuangan daerah tidak mencukupi sehingga menghambat pembangunan. 3. Di sisi yang lain tidak sedikit juga gejala mengedepankan ”Putra Asli Daerah” untuk menduduki jabatan strategis dan mengabaikan profesionalitas jabatan. Peletakan kewenangan juga masih menjadi pekerjaan rumah dalam kebijakan ini. Pelayanan Publik Masih rendahnya pelayanan publik kepada masyarakat. Dalam otonomi daerah. paradigma anggaran telah bergeser ke arah apa yang disebut dengan anggaran partisipatif.

Akibatnya meski kewenangan itu ada. 7. Ini disebabkan oleh kurangnya kompetensi anggota DPRD. Persoalan lain juga adalah banyak terjadi campur tangan DPRD dalam penentuan karir pegawai di daerah. Pemekaran Wilayah Pemekaran wilayah menjadi masalah sebab ternyata ini tidak dilakukan dengan grand desain dari pemerintah 9 . termasuk kurangnya pemahaman terhadap peraturan perundangan. tidak berefek terhadap kebijakan yang hadir untuk menguntungkan publik. Otonomi daerah diwarnai oleh kepentingan elit lokal yang mencoba memanfaatkan otonomi daerah sebagai momentum untuk mencapai kepentingan politiknya dengan cara memobilisasi massa dan mengembangkan sentimen kedaerahan seperti ”putra daerah” dalam pemilihan kepala daerah. Politik Identitas Diri Menguatnya politik identitas diri selama pelaksanaan otonomi daerah yang mendorong satu daerah berusaha melepaskan diri dari induknya yang sebelumnya menyatu. Lembaga Perwakilan Meningkatnya kewenangan DPRD ternyata tidak diikuti dengan terserapnya aspirasi masyarakat oleh lembaga perwakilan rakyat. Orientasi Kekuasaan Otonomi daerah masih menjadi isu pergeseran kekuasaan di kalangan elit daripada isu untuk melayani masyarakat secara lebih efektif. 6.4. Otonomi daerah dibayang-bayangi oleh potensi konflik horizontal yang bernuansa etnis 5.

pusat. Pilkada langsung sebenarnya tidak diatur di UUD. Pokok – Pokok Penyelenggaraan Otonomi Daerah Penyelenggaraan otonomi daerah diharapkan bisa memacu prakarsa dan kreativitas pemerintah daerah untuk bisa menjalankan pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Disamping itu. Tapi yang terjadi adalah prakarsa dan inisiatif pemekaran itu berasal dari masyarakat di daerah. Semestinya desain itu dengan pertimbangan utama guna menjamin kepentingan nasional secara keseluruhan. Untuk itu diperlukan keseriusan agar 10 . pilkada langsung juga telah menimbulkan moral hazard yang luas di masyarakat akibat politik uang yang beredar. Padahal kondisi sosial masyarakat masih terjebak kemiskinan. sebab yang diatur untuk pemilihan langsung hanyalah presiden. Pilkada Langsung Pemilihan kepala daerah secara langsung di daerah ternyata menimbulkan banyak persoalan. Tidak hanya itu pilkada langsung juga tidak menjamin hadirnya kepala daerah yang lebih bagus dari sebelumnya.4. 2. Ini menimbulkan problem sebab pemekaran lebih didominasi oleh kepentingan elit daerah dan tidak mempertimbangkan kepentingan nasional secara keseluruhan. Jadi prakarsa pemekaran itu harus muncul dari pusat. 8. Pilkada langsung menimbulkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pelaksanaan suksesi kepemimpinan ini.

pertahanan. Penyerahan kewenangan pemerintahan dalam hubungan domestik kepada daerah. bukan tingkatan. 2. 3. pembinaan dan pengawasan. Pokok-pokok penyelenggaraan otonomi daerah meliputi: 1. keagamaan serta beberapa bidang kebijakan pemerintahan yang bersifat strategis nasional. Otonomi terbatas berarti adanya ruang yang tersedia bagi pemerintah pusat untuk melakukan operasi di daerah propinsi. kecuali untuk bidang-bidang yang dikecualikan tadi. peradilan. Kecuali untuk bidang keuangan dan moneter. Otonomi penuh berarti tidak adanya operasi pemerintahan pusat di daerah kabupaten dan kota. Karena sistem otonomi tidak bertingkat (tidak ada hubungan hierarki antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota). selain berstatus kepala daerah otonom. Gubernur juga melakukan supervisi terhadap pemerintah kabupaten/kota atas pelaksanaan berbagai kebijakan 11 .kebijakan ini bisa berhasil dijalankan. gubernur mengkoordinasikan tugas-tugas pemerintahan antar kabupaten dan kota di wilayahnya. politik luar negeri. Dalam otonomi pemerintahan daerah terbagi atas dua ruang lingkup. maka hubungan provinsi dan kabupaten bersifat koordinatif. juga sebagai wakil pemerintah pusat. maka pada dasarnya semua bidang pemerintahan yang lain dapat didesentralisasikan. Sebagai wakil pemerintah pusat. Gubernur propinsi. yaitu daerah kabupaten dan kota yang diberi status otonomi penuh dan propinsi yang diberi otonomi terbatas.

5. Selain itu untuk memfungsikan peran pemberdayaan dan penyalur aspirasi masyarakat yang sebenarnya. pembagian revenue dari sumber penerimaan yang berkait dengan kekayaan alam. serta optimalisasi upaya 12 . serta tata cara dan syarat untuk pinjaman dan obligasi daerah. pengatura pembagian sumber-sumber pendapatan daerah. 6. Perwujudan desentralisasi fiskal melalui pembesaran alokasi subsidi dari pemerintah pusat yang bersifat ”block grant”. selaras dengan kondisi daerah serta lebih responsif dengan kebutuhan daerah.pemerintah pusat serta bertanggung jawab mengawasi penyelenggaraan pemerintah berdasarkan otnomi daerah di dalam wilayahnya. 4. Otonomi daerah memberi kewenangan untuk mempertegas DPRD dalam menilai keberhasilan atau kegagalan kepemimpinan kepala daerah. pajak dan retribusi. Adanya penguatan peran DPRD dalam pemilihan dan penetapan kepala daerah. pemberian keleluasaan kepada daerah untuk menetapkan prioritas pembangunan. 7. Peningkatan efektivitas fungsi-fungsi pelayanaan eksekutif melalui pembenahan organisasi dan institusi yang dimiliki agar lebih sesuai dengan ruang lingkup kewenangan yang telah didesentralisasikan setara dengan beban tugas yang dipikul. Peningkatan efisiensi administrasi keuangan daerah serta pengaturan yang jelas atas sumber-sumber pendapatan negara dan daerah.

d. 2. No. ada pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan daerah yang diatur menurut UU No. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. 5. Yustisi. Penanganan bidang kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. 32 Tahun 2004): 1.pemberdayaan masyarakat melalui lembaga-lembaga swadaya pembangunan yang ada. dan pengawasan tata ruang. 8. 4. pemanfaatan. pertahanan. politik luar negeri. Dalam otonomi daerah. 8. 6. moneter dan fiskal nasional. agama. dan f. Pembagian wewenang itu meliputi: 1. b. 13 . Kewewenangan pemerintah pusat (Pasal 10 ayat 3) meliputi: a. Penyediaan sarana dan prasarana umum. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota. Pembinaan dan pemberdayaan lembaga-lembaga dan nilai-nilai lokal yang bersifat kondusif terhadap uapaya memelihara harmoni sosial dan solidaritas sosial suatu bangsa. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. 3. Keamanan. 2. 7. Kewenangan Pemerintah Provinsi meliputi (Pasal 13 ayat 1 UU.32 tahun 2004. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. c. e. Perencanaan.

14. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota . Pelayanan kependudukan. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. usaha kecil.5.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah UU No. 2. Pengendalian lingkungan hidup.34/2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 13. 11.9. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. 16. 12. 15. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. Fasilitasi pengembangan koperasi.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah 14 . 10. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan.25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah  UU No. Regulasi Otonomi Daerah Undang-Undang   UU No. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. dan catatan sipil.

22/2003 tentang Rakyat.  UU No.10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan UU No. Otonomi Daerah di Aceh Aceh adalah daerah provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.17/2003 tentang Keuangan Negara UU No.1/2004 tentang Perbendaharaan Negara UU No.6. Dewan Permusyawaratan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah    UU No. Susunan dan Kedudukan Majelis Dewan Perwakilan Rakyat. Pengakuan Negara atas keistimewaan dan kekhususan daerah Aceh terakhir diberikan melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang 15 . yang dipimpin oleh seorang Gubernur.22/1999 2.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah Menggantikan UU N0. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara  UU No.

3.Pemerintahan Aceh (LN 2006 No 62. 5. Pengaturan dalam Qanun Aceh maupun Kabupaten/Kota yang banyak diamanatkan dalam UU Pemerintahan Aceh merupakan wujud konkret bagi terselenggaranya kewajiban konstitusional dalam pelaksanaan pemerintahan tersebut. Tatanan otonomi seluas-luasnya yang diterapkan di Aceh berdasarkan UU Pemerintahan Aceh ini merupakan subsistem dalam sistem pemerintahan secara nasional. Implementasi formal penegakan syari’at Islam dengan asas personalitas ke-Islaman terhadap setiap orang yang berada di Aceh tanpa membedakan 16 . Hal-hal mendasar yang menjadi isi UU Pemerintahan Aceh ini antara lain: 1. 4. Pemerintahan Aceh adalah pemerintahan daerah provinsi dalam sistem NKRI berdasarkan UUD Tahun 1945 yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing. UU Pemerintahan Aceh ini tidak terlepas dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 dan merupakan suatu bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan sosial. serta politik di Aceh secara berkelanjutan. ekonomi. TLN 4633). 2. Pengaturan perimbangan keuangan pusat dan daerah tercermin melalui pemberian kewenangan untuk pemanfaatan sumber pendanaan yang ada.

dan kehutanan. Tercatat setidaknya ada tiga peraturan penting yang pernah diberlakukan bagi keistimewaan dan kekhususan Aceh yaitu Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor 1/Missi/1959 tentang Keistimewaan Provinsi Aceh. diharapkan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan di Aceh untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan yang berkeadilan dan keadilan yang berkesejahteraan di Aceh. Pengakuan sifat istimewa dan khusus oleh Negara kepada Aceh sebenarnya telah melalui perjalanan waktu yang panjang. dan UU 18/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.57 km2 dengan posisi ( letak geografis ) 2 derajat – 6 derajat lintang utara dan 95 derajat -98 derajat bujur timur dan berada dalam pulau sumatra dan memiliki 21 kabupaten.365. 17 . pertanian dan perkebunan.kewarganegaraan. Lambang dari provinsi Nanggroe aceh Darussalam adalah pancacita. Dengan dikeluarkannya UU Pemerintahan Aceh. Luas wilayah provinsi ini ± 57. kedudukan. industri. UU 44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh. peternakan. 24 Tahun 1956 yang beribukota Banda aceh. dan status dalam wilayah sesuai dengan batas-batas daerah Provinsi Aceh. Provinsi Aceh berdiri pada tanggal 7 Desember 1959 dengan landasan pendirian berdasarkan UU No. Provinsi ini mempunyai potensi yang sangat besar baik itu dari segi perikanan. pertambangan.

Data tahun 1997 menunjukkan bahwa hasil perikanan laut mencapai 110.778. Tujuan demokrasi akan memposisikan pemerintah 18 . pemerataan.436. Sedangkan pada tahun 1998 hasil produksi perikanan laut mencapai 114. tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. nyata dan bertangung jawab.4 ton dan perikanan darat mencapai 23. Aceh merupakan provinsi yang mempunyai potensi perikanan dan kelautan yang cukup besar. keadilan. Hasil potensi perikanan di Aceh akan lebih banyak lagi jika perikanan tersebut dikembangkan dengan menggunakan peralatan yang modern dan canggih. Hasil perikanan di Aceh terdiri dari perikanan darat dan laut.7 ton. Potensi perikanan. serta potensi dan keanekaragaman Daerah.228. Secara filosofis.4 ton. ada dua tujuan utama yang ingin dicapai dari penerapan kebijakan desentralisasi atau otonomi daerah yaitu tujuan demokrasi dan tujuan kesejahteraan.817. Potensi perikanan laut di daerah Aceh cukup potensial. Sekitar 60% dari total potensi perikanan yang dimiliki oleh provinsi Aceh belum termanfaatkan an 40% lainnya juga belum termanfaatkan secaa optimal. Aceh sejak tahun 1999 telah menerapkan otonomi daerah dal kepemerintahannya. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas.Provinsi Aceh adalah salah satu provinsi yang telah menerapkan otonomi daerah dengan landasan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 dan prinsipprinsip pemberian Otonomi Daerah dalam UU 22/1999 yaitu Penyelengaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. termasuk perikanan laut di kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) belum dimanfaatkan secara optimal.1 ton dan perikanan darat mencapai 24.

daerah sebagai instrumen pendidikan politik di tingkat lokal yang secara agregat akan menyumbang terhadap pendidikan politik secara nasional sebagai elemen dasar dalam menciptakan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara serta mempercepat terwujudnya masyarakat madani atau civil society. Hal ini akan membuat pemerintah daerah merasa diberlakukan dengan adil tanpa harus ada terjadinya kesenjangan-kesenjangan dengan pemerintah pusat. Selain itu pendapatan yang didapatkan oleh pemerintah daerah 80% kembali ke daerah yang digunakan sebagai kas daerah. efesien. Salah satu aspek yang mempunyai potensi di Nanggroe Aceh Darussalam adalah perikanan dan kelautan yangterdiri dari perikanan darat yang meliputi budidaya dan perikanan laut yang meliputi pengangkapan dan juga budidaya. Adapun peraturan daerah yang mengatur perikanan dan kelautan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di sesuaikan dengan keadaan provinsi tersebut sehingga tidak bertentangan dengan hukum 19 . Otonomi daerah ini berarti pemerintah daerah mempunyai wewenang penuh dalam mengelola potensi yang dimiliki dan pembangunan. Tujuan kesejahteraan mengisyaratkan pemerintahan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui penyediaan pelayanan publik secara efektif. pembangunan dan lain sebagainya dan 20% di salurkan kepemerintahan pusat. Peraturan adat yang berlaku di Aceh di dikenal dengan nama hukom laot. Peraturan yang mengatur perikanan di Aceh bersumber pada 2 hal yaitu hukum adat dan perda ( peraturan daerah ) yang mana hal ini dikarenakan otonomi daerah sehingga daerah mempunyai wewenang untuk mengeluarkan peraturan yang menyangkut dengan daerahnya.

Dengan adanya hukom laot ini dapat meminimalisir 20 .adat. melaksanakan ketentuan-ketentuan adat dan mengelola upacara-upacara adat kenelayanan. Pada tahun 1990. yang menyebutkan bahwa Panglima Laôt adalah orang yang memimpin adat istiadat. fungsi dan kedudukannya belum dijelaskan secara detail. Pemerintah Aceh menerbitkan Peraturan Daerah No. menetapkan waktu penangkapan ikan di laut. sekarang pemerintah daerah. 1/1977 tentang Struktur Organisasi Pemerintahan di Daerah Pedesaan Aceh Besar). 2/1990 tentang Pembinaan dan Pengembangan Adat Istiadat. Hukum adat yang ada diketuai oleh panglima laot. yang bertugas memimpin persekutuan adat pengelola Hukôm Adat Laôt. Panglima Laot merupakan suatu struktur adat di kalangan masyarakat nelayan di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hukôm Adat Laôt dikembangkan berbasis syariah Islam dan mengatur tata cara penangkapan ikan di laut (meupayang). menyelesaikan perselisihan antar nelayan serta menjadi penghubung antara nelayan dengan penguasa (dulu uleebalang. kebiasaan yang berlaku di bidang penangkapan ikan di laut. Struktur adat ini mulai diakui keberadaannya dalam tatanan kepemerintahan daerah sebagai organisasi kepemerintahan tingkat desa di Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1977 (Surat Keputusan Bupati Aceh Besar No. Akan tetapi. Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat beserta Lembaga Adat. Dengan adanya peraturan daerah yang dibuat diharapkan pemerintah dan segenap komponen masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam dapat memanfaatkan potensi yang ada dengan optimal tanpa harus mengakibatkan ekploitasi yang berlebihan .

21 .terjadinya ekploitasi yang berlebihan terhadap penangkapan ikan dan mencegah terjadi kepunahan ikan karena tata cara dalam menangkap ikan sudah diatur dalam hukom laot ini.

1. Kemudian UU 5/1974 menganut prinsip otonomi daerah yang nyata dan bertanggung. 22 . Seperti yang kita ketahui Negara Indonesia memiliki daeah yang sangat luas yang terbagi dalam provinsi-provinsi. Sedangkan saat ini di bawah UU 22/1999 dianut prinsip otonomi daerah yang luas. UU 1/1945 menganut sistem otonomi daerah rumah tangga formil. UU 22/1948 memberikan hak otonomi dan medebewind yang seluas-luasnya kepada Daerah. otonomi daerah menjadi salah satu topik sentral yang banyak dibicarakan dan diterapkan di kepemerintahan daerah. Kesimpulan Beberapa waktu belakangan semenjak bergulirnya gelombang reformasi. Semenjak awal kemerdekaan sampai sekarang telah terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kebijakan Otonomi Daerah. Selanjutnya UU 1/1957 menganut sistem otonomi ril yang seluasluasnya.BAB 3 PENUTUP 3. Sebenarnya “otonomi daerah” bukanlah suatu hal yang baru karena semenjak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia . konsep otonomi daerah sudah digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. prinsip-prinsip otonomi sebagian sudah diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. nyata dan bertanggungjawab. Bahkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

kabupaten-kabupaten. 23 . kecamatan-kecamatan dan sebagainya. Dengan adanya desentralisasi melalui penerapan otonomi daerah di harapkan dapat mengoptimalkan pengelolaan daerah dan memeratakan pembangunan di daerah.

PT Bumi Qaksara. Sadu dan Ondo Riyani. Dalam Angka: Banda Aceh. Kaloh. 2005. 2002. Kewarganegaraan Kurikulum 2004 Kelas 3 SMA.Citra Umbara: Bandung Wasistiono. Cholisin. Kewarganegaraan SMA/MA kelas XI. 2001. Rineka Cipta: Bandung.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Aceh. Mencari Bentuk Otonomi Daerah. 2005. No. Etika Hubungan Legislatif-Eksekutif dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah. Mediatama:Surakarta J. 32 dan 33 Tahun 2004) . Jakarta Undang-Undang Otonomi Daerah ( UU. 2005. Suprapto.dkk. Pusat Kajian Pemerintahan STPDN: Bandung 24 . dkk.