Hubungan penggunaan Steroid jangka panjang terhadap gangguan jiwa

I. PENDAHULUAN Pandangan umum Kortikosteroid merupakan obat yang sangat banyak dan luas dipakai dalam dunia kedokteran. Kortikosteroid adalah obat yang meniru kortisol , suatu hormon yang diproduksi oleh tubuh (Kelenjar adrenal). Mereka mengurangi peradangan dan menekan sistem kekebalan tubuh. Dokter

meresepkan obat kortikosteroid seperti kortison dan prednisoneuntuk mengobati gangguan autoimun seperti lupus dan rheumatoid arthritis. Tapi itu hanya beberapa dari banyak penggunaannya sebab kortikosteroid memiliki 2 efek utama, yaitu dalam metabolisme dan inflamasi. (9) Kortikosteroid berfungsi dalam proses glukoneogenesis di hati, lipolisis dan mobilisasi asam amino (sebagai subtract untuk glukoneogenesis). Serta menghambat/inhibisi ambilan glukosa diotot dan jaringan adipose. Sedangkan untuk efek anti-inflamasinya, efek tersebut terjadi melalui penekanan pembentukan berbagai mediator inflamasi (fosfolipase A, cyclooxiginase, degranulasi sel mast), menghambat fungsi makrofag dan bekerja dalam inflamasi akut maupun kronik. (9) Begitu luasnya penggunaan kortikosteroid ini bahkan banyak yang digunakan tidak sesuai dengan indikasi maupun dosis dan lama pemberian, Untuk menghindari hal tersebut diperlukan pemahaman yang mendalam dan benar tentang kortikosteroid baik farmakokinetik, physiologi didalam tubuh maupun akibat-akibat yang bisa terjadi Dan dari beberapa akibat yang terjadi salah satunya adalah efek psikologis. Kortikosteroid pertama kali dipakai untuk pengobatan pada tahun 1949 oleh Hence et al untuk pengobatan rheumatoid arthritis. Sejak saat itu kortikosteroid semakin luas dipakai dan dikembangkan usaha-usaha untuk membuat senyawa-senyawanya yang lebih besar kerjanya, namun efek samping dari Kortikosteroid belum menjadi prioritas serta dalam tahap penelitian hingga menghambat keyakinan serta meningkatkan kewaspadaan orang-orang dalam menggunakannya.

Steroid Psikosis

Kolesterol adalah jenis lain lemak sterol yang umum dijumpai. tergantung pada pra-ada kondisi medis pasien. Peningkatan kadar dopamin menyebabkan gejala seperti depresi. . dan estrogen. baik berupa lanosterol pada hewan atau fungsi. Steroid merupakan kelompok senyawa yang penting dengan struktur dasar sterana jenuh. mania. (4) MEKANISME KERJA 1. progesteron. masing-masing terbenam diatas ginjal dalam suatu kapsul lemak. (8) II. PATOFISIOLOGI Steroid merupakan hormon Steroid adalah senyawa organik lemak sterol tidak terhidrolisis yang dapat dihasil reaksi penurunan dari terpena atau skualena. Semua steroid dibuat di dalam sel dengan bahan baku berupa lemak sterol. (8) Dosis yang diperlukan untuk pengendalian penyakit sering tinggi (misalnya. Kedua jenis lemak sterol di atas terbuat dari siklisasi squalena dari triterpena. Kelenjar Adrenal terdiri dari (2) dua bagian : Bagian (lapisan) luar yang menyusunkorteksadrenal mengeluarkan berbagai hormon steroid. Kortikosteroid juga menurunkan kadar serotonin di otak yang akhirnya memperburuk gejala depresi pasien. Pilihan pengobatan bervariasi. 1 mg / kg atau lebih besar). dan terapi dapat dipertahankan untuk jangka waktu dari minggu ke bulan. Senyawa yang termasuk turunan steroid. Para peneliti percaya psikosis steroid terjadi ketika kortikosteroid dosis tinggi menyebabkan peningkatan dopamin di otak. KELENJAR ADRENAL Pada tubuh manusia terdapat dua (2) kelenjar adrenal. Dan Bagian dalam yaitu Medula adrenal yang mengeluarkan Katekolamin. delirium. maupun berupa sikloartenol pada tumbuhan. misalnya kolesterol. Kata Adrenal berarti disamping ginjal. perubahan suasana hati dan psikosis. (1) Bicara tentang steroid maka kita bicara tentang fungsi dari salah satu bagiannya yaitu korteks adrenal. dan depresi. ergosterol. satu dari setiap dua sampai tiga pasien diresepkan steroid dapat mengembangkan gejala kejiwaan termasuk psikosis.Steroid psikosis adalah gangguan psikotik yang disebabkan oleh penggunaan obat kortikosteroid. Pada umumya steroid berfungsi sebagai hormon. Orang yang terkena atau mengalami gejala kejiwaan seperti depresi danmania . Dalam pengaturan ini.

Mensekresi Mineraloskortikoid (Aldosteron) Zona fasikulata . Sekresi keduanya di atur oleh sumbu hipotalamus-hipofisis (HP axis) lewat hormone adrenokotikotropik (ACTH). ini semua disekresikan oleh Korteks adrenal. Zona fasikulata. (3) . Beberapa di antaranya memiliki sedikit sekali aktivitas biologis dan terutama berfungsi sebagai prekursor. (3) Produktivitas Dua jenis Hormon Steroid adrenal (Adrenokortikal) yang utama yakni Mineralokortikoid danGlukortikoid. Steroid-steroid hormon dapat diklasifikasi menjadi: steroid yang memiliki efek penting dalam metabolisme perantara(glucocorticoid). (2:2) Lapisan Korteks Adrenal mempunyai 3 lapisan berbeda. dan zona retikularis. 3 lapisan kita sinonimkan dengan sebuah zona yakni : Zona glomerulosa. Mensekresi Glukokortikoid (kortisol) dan sejumlah kecil androgen dan esterogen adrenal. glucocorticoid utama adalah cortisol (Kortisol) dan Mineralocorticoid yaitualdosterone.Korteks Adrenal (Adrenocortcosteroid) Latar belakang Korteks adrenal merilis sejumlah besar steroid ke dalam sirkulasi. Mensekresi Androgenic dan esterogenic 2. Glucocorticoid yang diberikan terus-menerus dapat menekan rilis ACTH.  Zona retikularis . Fungsinya akan dibahas dan dijabar sebagai berikut:   Zona glomerulosa . STEROID JANGKA PANJANG (2) Glukocortikoid mempunyai efek penting terhadap system saraf. Secara kuantitatif Androgenic dan esterogenic adalah dehydroepinndrosterone(DHEA). dan steroid yang memiliki aktivitas (androgenic atau estrogenic). dan hal ini dapat dihubungkan dengan terjadinya Depresi psikiatris. Insufiensi adrenal (Ketidakmampuan fungsi adrenal) dapat menyebabkan adanya keterlambatan yang jelas pada irama EEG. steroid yang mempunyai aktivitas utama pada retensi garam(mineralocorticoid). Pada manusia. dan terdapat beberapa yang belum diketahui fungsinya.

PITUITARY-ADRENAL (HPA AXIS) . protein dan lemak. Sebagai contoh. (4) Patofisiologi kortikosteroid-psikosis yang diinduksi masih kurang dipahami. otot lurik. meskipun secara umum diterima bahwa kelainan dari sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) akibat penggunaan steroid kerja panjang dapat mengakibatkan gangguan mood. dan gejala yang konsisten dengan gejala depresi neurovegetative. Adalah contoh Sindrom Cushing terkait dengan kecemasan. Korteks adrenal ber-fungsi homeostatik. NaCI dalam jumlah cukup banyak dan ternperatur sekitarnya dipertahankan dalam batasbatas tertentu.1. dan mempengaruhi juga fungsi sistem kardiovaskular. ginjal. Peran kortikosteroid dalam kerjasama ini disebut permissive effects yaitu kortikosteroid diperlukan supaya terjadi suatu efek hormon lain. depresi. dan psikosis. FAAL DAN FARMAKODINAMIK Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme karbohidrat. sindrom yang melibatkan produksi kortisol yang berlebihan atau tidak memadai dapat memiliki manifestasi kejiwaan. Dengan demikian. sedangkan penyakit Addison dapat menghasilkan kelelahan. artinya penting bagi organisme untuk dapat mempertahankan diri dalam menghadapi perubahan lingkungan. Tetapi disamping itu juga ada keterkaitan kerja kortikosteroid dengan hormon-hormon lain. Fungsi kortikosteroid penting untuk kelangsungan hidup organisme.sistem saraf dan organ lain. nafsu makan menurun. energi rendah. Efek kortikosteroid kebanyakan berhubungan dengan besarnya dosis. makin besar dosis terapi makin besar efek yang didapat. (4 ) SUMBU HIPOTALAMUS. euforia. hewan tanpa korteks adrenal hanya dapat hidup apabila diberikan makanan yang cukup dan teratur.

Sumbu HPA juga terlibat dalam gangguan kecemasan. CRH dan vasopresin merangsang sekresi hormon adrenokortikotropik(ACTH). dan penyimpanan penggunaan energi. depresi klinis. emosi. kelelahan dan sindrom iritasi usus besar. di mana ia cepat merangsang biosintesis kortikosteroid dari kolesterol. Ini adalah mekanisme untuk satu set interaksi antara kelenjar. yang berisi neuron neuroendokrin yang mensintesis dan mengeluarkan vasopresin serta corticotropin-releasing hormon (CRH). ACTH diangkut oleh darah ke korteks adrenal kelenjar adrenal.suasana hati.  Secara khusus. Spesies dari manusia ke organisme berbagi komponen dari sumbu HPA paling kuno. Mereka diangkut ke hipofisis anterior melalui sistem pembuluh darah portal dari tangkai hypophyseal. Anatomi Elemen-elemen kunci dari sumbu HPA adalah:  Paraventrikular dari hipotalamus. gangguan bipolar. Ada. pascatraumatic stress disorder. sistem kekebalan tubuh . CRH dan vasopresin yang dilepaskan dari terminal saraf neurosecretory di eminensia median. . ACTH pada gilirannya bekerja pada adrenal korteks yang menghasilkan hormon glukokortikoid (terutama kortisol pada manusia) dengan stimulasi ACTH. seksualitas. hormon dan bagian otak pertengahan yang memediasi sindrom adaptasi umum. CRH dan vasopresin bertindak sinergis untuk merangsang sekresi ACTH yang tersimpan dari sel corticotrope.Sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA axis) adalah bagian utama dari sistem neuroendokrin yang mengontrol reaksi terhadap stres dan memiliki fungsi penting dalam mengatur berbagai proses tubuh seperti pencernaan.

Informasi sensorik tiba di aspek lateral amigdala diproses dan disampaikan ke inti pusat. insomnia . tetapi bila berlebihan dapat merusak. Kekurangan dari hippocampus dapat mengurangi sumber daya memori yang tersedia untuk membantu tubuh merumuskan reaksi yang tepat terhadap stres. .Kortisol memiliki efek pada banyak jaringan dalam tubuh.waktu 30-45 menit. kelelahan.  Sumbu HPA terlibat dalam neurobiologi gangguan mood dan penyakit fungsional. dan hipotalamus memfasilitasi aktivasi dari sumbu HPA. Salah satu target penting dari glukokortikoid adalah hippocampus. mencapai palung selama tengah malam. termasuk gangguan kecemasan. termasuk pada otak. Di otak. dengan tingkat kortisol darah dan oleh siklus tidur / bangun. gangguan bipolar. kortisol meningkat pesat setelah bangun tidur yang hingga mencapai puncaknya dalam. dan ini diungkapkan oleh berbagai jenis neuron. memungkinkan tubuh untuk mencoba penanggulangan. Pada individu sehat. termasuk modulasi reaksi stres. Gambar (6)  Peningkatan produksi kortisol menengahi reaksi alarm stres. Fungsi Pelepasan CRH dari hipotalamus dipengaruhi oleh stres. dan kelelahan . kortisol bekerja pada dua jenis reseptor – reseptor mineralokortikoid dan reseptorglukokortikoid. depresi klinis. ketakutan-sinyal impuls mengaktifkan kedua sistem saraf simpatik dan sistem modulasi dari sumbu HPA. memfasilitasi fase adaptif dari sindrom adaptasi umum di mana reaksi alarm ditekan. hipokampus. naik lagi pada sore hari. Koneksi anatomis antara amigdala. Pada hipotalamus. Sebuah siklus normal rata kortisol sirkadian telah dikaitkan dengan sindrom kelelahan kronis. sindrom kelelahan kronis dan sindrom iritasi usus besar. Atrofi dari hippocampus pada manusia dan hewan terkena stres berat diyakini disebabkan oleh paparan  yang terlalu lama untuk konsentrasi tinggi glukokortikoid. yang proyek ke beberapa bagian otak yang terlibat dalam respon terhadap rasa takut. Tingkat cortisol kemudian jatuh pada larut malam. Ini kemudian secara bertahap mengurangi sepanjang hari. yang merupakan pusat pengendali utama dari sumbu HPA. pasca-traumatic stress disorder.  Glukokortikoid memiliki fungsi penting.

PEMBAHASAN Kortikosteroid dapat mempengaruhi susunan saraf pusat baik secara tidak langsung maupun langsung. Stres bisa dari berbagai jenis. depresi dan cepat tersinggung bahkan psikosis. Akibat terapi steroid dosis suprafisiologis Selain supresi aksis HPA akibat pemberian dosis suprafisiologis banyak kelainan-kelainan lain yang bisa terjadi. sistem sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Akibat yang bisa terjadi pada penghentian terapi steroid adalah   Kambuhnya kembali penyakit yang kita obati Yang paling berat adalah insuffisiensi adrenal akut akibat penghentian terapi mendadak setelah terapi steroid yang lama sehingga pada akhirnya terjadi supresi aksis HPA (Hypothalamus-PituitaryAdrenal) yang tidak dapat segera berfungsi dengan baik terdapat variasi dari tiap individu mengenai berat dan lama supresi adrenal sesudah terapi kortikosteroid sehingga sulit menentukan resiko relatif untuk terjadinya krisis adrenal pada tiap individu. namun kedua jenis tetap mengaktifkan aksis HPA. Adanya efek steroid pada susunan saraf pusat ini dapat dilihat dari timbulnya perubahan mood. Pasien penyakit Addison dapat menunjukkan gejala apatis. EEG dan kepekaan otak pada mereka yang sedang menggunakan kortikosteroid terutama untuk waktu lama atau pada pasien penyakit Addison. (5) MATA RANTAI ANTARA GLUKOKORTIKOID DAN HPA AXIS Toksisitas Glukokortikoid: Ada dua kategori efek toksik akibat dari pemakaian glukokortikoid:   Akibat penghentian terapi steroid Akibat penggunaan dosis tinggi ( suprafisiologis ) dan lama 1. meskipun melalui jalur yang berbeda. lingkah laku. III. Gejala tersebut dapat . Beberapa neurotransmiter monoamina penting dalam mengatur sumbu HPA. 1. terutama dopamin. dan efek mereka pada aksis HPA dalam situasi yang berbeda banyak. Pengaruh tidak langsung disebabkan efeknya pada metabolisme karbohidrat.Penelitian eksperimental telah menyelidiki berbagai jenis stres. dalam studi eksperimental pada tikus. serotonin dan norepinefrin (noradrenalin). meskipun hal yang terakhir ini belum dapat dipastikan. perbedaan sering dibuat antara “stres sosial” dan “stres fisik”.

(4) Penelitian . Beberapa penyelidik mengatakan bahwa timbulnya gejala-gejala ini disebabkan adanya gangguan keseimbangan elektrolit dalam otak sehingga mempengaruhi kepekaan otak. Glukokortikoid dosis tinggi dalam waktu lama dapat menimbulkan gejala pseudotumorcerebri karena tekanan intrakranial yang meningkat.diatasi dengan kortisol. Semua kelainan Ini bersifat reversibel bila pemberian hormon dihentikan atau sindrom diobati secara efektif. Gangguan psikitrik ini dapat timbul dalam beberapa bentuk antara lain nervositas. Kortisol juga dapat menimbulkan depresi. bau dan bunyi. Pasien yang sebelumnya pemah mengalami ganguan jiwa sering memperilihatkan reaksi psikotik. Gejala-gejala ini lebih sering timbul pada pasien yang sebelumnya pernah menderita psikosis atau bentuk nervositas lain dan kelainan kepribadian. Kecenderungan bunuh diri sering timbul. Pada pasien sindrom Gushing sering terdapat neurosis dan psikosis. insomnia. Perubahan ambang rangsang ini dapat diatasi dengan kortisol. Pada hiperkortisisme terjadi keadaan sebaliknya. Pada insufisiensi adrenal dapat terjadi penurunan ambang rangsang untuk persepsi rasa. perubahan mood dan jiwa serta timbulnya tipe psikopati manik-depresif atau skizofrenik. Gangguan jiwa akibat hormon ini dapat hilang segera atau dalam beberapa bulan setelah obat dihentikan. kegelisahan dan peningkatan aktivitas motorik. Pada hiperkortisisme umumnya terjadi peningkatan kepekaan jaringan saraf. Penggunaan glukokortikoid untuk waktu lama dapat menimbulkan serangkaian reaksi yang berbeda-beda. Meskipun demikian penyakit yang sangat berbahaya obat ini dapat diteruskan. nampaknya perubahan tersebut berhubungan dengan perubahan kadar elektrolit di otak. Sebagian besar mengalami perbaikan semangat (mood) yang mungkin disebabkan hilangnya gejala penyakit yang sedang diobatiyang lain memperilihatkan keadaan euforia. (7) Efek Samping Steroid Jangka Panjang Penggunaan steroid untuk waktu yang lama merupakan komplikasi yang berbahaya dan sering terjadi. Sebaliknya pemberian kortisol dapat meningkatkan kepekaan otak tanpa mempengaruhi kadar Na dan K otak. sedangkan pada keadaan yang ringan dosis obat harus segera dikurangi. insomnia.

depresi sering dipicu oleh penarikan steroid. DIAGNOSIS KASUS KLINIK Insufisiensi adrenokortikal (penyakit Addison) Insufisiensi adrenokortikal kronis ditandai dengan hiperpigmentasi. telah kejadian yang semakin besar dari gangguan mental: psikosis. delusi dan / atau kekerasan. gejala kejiwaan tercatat pada 1. bahaya minor. dan di 18. Mereka juga menemukan bahwa rata-rata dosis prednison dalam 21 pasien yang menunjukkan gangguan mental adalah 60 mg / d. kelemahan. Pada insufisiensi adrenal primer. kelelahan. dari terendah hingga tertinggi. Juga menyebutkan bahwa sementara mania adalah jawaban yang paling sering untuk penggunaan steroid.  Boston Collaborative Surveillance Program (1972) (BCDSP). dengan jumlah pemberian ditingkatkan selama masa stres. Pada individu tersebut. meningkatkan dosis kortikosteroid meningkatkan risiko gangguan mental. hipotensi. mania dan depresi. Temuan ini tidak hanya menunjukkan bahwa kortikosteroid memang dapat menyebabkan gangguan mental. Dengan mengontrol dua variabel subyek penelitian adalah lebih homogen. Sindroma Cushing Sindroma Cushing merupakan akibat hiperplasia adrenal bilateral yang bcrsifat sekunder karena suatu adenoma pituitari yang memproduksi ACTH (penyakit Gushing) tetapi kadangkala disebabkan oleh tumor atau hiperplasia noduler di kelenjar adrenal atau produksi ACTH ektopik oleh tumor yang lain. dalam 4. menunjukkan korelasi yang meyakinkan statistik yang signifikan antara dosis dan kejadian kortikosteroid-diinduksigangguan mental. Di antara 718 pasien yang diobati dengan prednison. hanya pasien yang memakai prednison dimonitor dan semua pasien bebas dari penyakit kejiwaan sebelum pengobatan. Kelainan .6% (8 / 175) dari mereka yang menerima 41-80 mg / d. berat badan turun. dan ketidakmampuan mempertahankan kadar gula darah selama berpuasa.4% (7 / 38) dari mereka yang menerima lebih besar dari 80 mg / d. 6 (29%) sebagai manik dan 2 (10%) sebagai depresi. trauma. Dalam studi (1972) BCDSP. atau rangsangan infeksi dapat menyebabkan insufisiensi adrenal akut dengan syok sirkulasi bahkan kematian.3% (6 / 463) dari pasien yang menerima 40 mg atau kurang per hari.Pada studi 1972 oleh Program Surveilans Boston Obat Kolaborasi di mana pasien yang mengambil dosis berbeda dari Prednisone (kortikosteroid). Dari 21 pasien. Dengan demikian. yang secara signifikan lebih tinggi dari 31 mg / d pada pasien tanpa efek samping. 13 (62%) digambarkan sebagai halusinasi yaitu psikotik. tetapi juga bahwa kejadian tersebut berhubungan dengan dosis. Manifesi yang tampak berhubungan dengan terdapatnya glucocurttcoid yang berlebih. sekitar 20-30 mg hydrocortisol harus diberikan per hari.

PENUTUP Kesimpulan  Penggunaan obat steroid jangka panjang (Kortikosteroid) ternyata mempunyai dampak gangguan jiwa. karena penurunan dosis secara cepat dapat menimbulkan gcjala penarikan(withdrawal).  kortikosteroid memang dapat menyebabkan gangguan mental tetapi hasil penilitian. dan penyimpanan penggunaan energi. dan diabetes. Farmakologi. Wolkowitch 1994. (7:2) o Gejala afekif adalah reaksi yang paling sering diamati terhadap kortikosteroid. o Waktu/onset munculnya gangguan mental pada pengguna pengobatan kortikosteroid tercepat adalah hari kedua pengobatan. Dosis tersebut harus diturunkan perlahan sampai kadar pcnggantian normal. Apabila sudah dilakukan adrenalektomi. (7:2) o Kortikosteroid dengan dosis besar dapat menekan Axis HPA hingga mengganggu proses keseimbangan sekresi hormone stress hingga mengakibatkan stress hingga depresi. seksualitas. HPA Axis juga memiliki fungsi penting dalam mengatur berbagai proses tubuh seperti pencernaan. emosi. pengaruh langsung dan umpan balik interaksi antara kelenjar hipotalamus dan kelenjar adrenal (atau suprarenalis ) kelenjar (kecil. karena penurunan dosis secara cepat dapat menimbulkan gcjala penarikan (withdrawal). serta Psikofarmakologi yang dikuatkan dengan bukti penelitian ilmiah (Boston Collaborative Surveillance Program 1972. sistem kekebalan tubuh .suasana hati. termasuk . Ini dibuktikan dengan mekanisme kerja (efek) secara Fisiologi. (3:3) IV. Kelainan tersebut diobati dengan pembedahan untuk mengangkat tumor yang memproduksi ACTH. termasuk demam dan rasa sakit pada sendi. Dosis hydrocortisone yang mudah larut sampai 300 mg dapat diberikan sebagai infus intravena yang bcrkelanjutan pada hari operasi dilakukan. hipertensi. efek samping kortikosteroid sangat berhubungan dengan dosis. Interaksi antara organ-organ ini merupakanaksis HPA. Pasien tersebut harus menerima dosis cortisol dalam jumlah besar selama dan sesudah prosedur operasi. Adalah seperangkat kompleks. bagian utama atau jalur dari sistem neuroendokrin yang mengontrol reaksi terhadap stres. Dosis kortikosteroid harus diturunkan perlahan sampai kadar pcnggantian normal.serius lainnya termasuk gangguan jiwa. Depresi sering diamati pada pasien tentang penyakit atau efek samping fisik obat. Dilanjutkan dengan reaksi pengembangan depresi hingga pasien merasa bersalah hingga ingin mengakhiri hidupnya. Mark and Barker 1967 dan Cade et al 1973 ). Upaya peningkatan dosis kortikosteroid sangat meningkatkan risiko gangguan mental (Hence et al). Efek euphoria bervariasi dalam derjat dan kesesuaian. o HPA.  Pada rensi off. organ berbentuk kerucut di atas ginjal). dilanjutkan dcngan pemcliharaan jangka panjang serupa dengan yang telah diuraikan pada insufisiensi adrenal di depan.

(4) Juga Penghentian terapi Steroid (Glukortikoid) yang sudah berlangsung lama tidak boleh dilakukan secara mendadak karena dapat menyebabkan gejala insuffisiensi adrenal (Disfungsi adrenal) yang akhirnya merusak sistim HPA Axis (Jalur umpan balik) yang pada akhirnya terjadi reaksi tak beraturan oleh hormon yang bertanggung jawab akan psikologis (Serotonin. Norepinefrin .demam dan rasa sakit pada sendi. Dopamin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful