BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Manusia di bumi ini agar dapat bertahan hidup maka diantaranya harus bernapas, tidak hanya manusia, tetapi semua makhluk hidup lainya juga memiliki ciri yng sama yaitu memerlukan pernapasan selain dari pada makan, berkembang biak, tumbuh Dan lain sebagainya. bernapas merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting dalam menjalani rentetan- rentetan kehidupan atau aktivitas yang kita jalani. Mempelajari sistem pernapasan sangatlah penting karena ilmu dari sistem pernapasan adalah ilmu yang mepelajari fungsi organ dan tubuh mahkluk hidup. Yang erat kaitannya denngan kelansungan hidup manusia. Semua sistem dalam tubuh haruslah seimbang, sama halnya dengan sistem pernapasan dimana manusia setiap detiknya harus menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dalam hidupnya. Dengan memelajari sistem pernapasan kita dapat mengetahui apa- apa saja organ- organ yang terlibat dalam sistem pernapasan, mekanisme pernapasan, jenis- jenis pernapasan bahkan kelainan- kelainan dan penyakit yang sering terjadi pada sistem pernapasan. B. Tujuan Adapun beberapa tujuan dan manfaat mempelajari sistem pernapasan : 1. Memahami pengertian sistem pernapasan pada manusia 2. Mengetahui organ-organ yang ada dalam sistem pernapasan manusia beserta fungsi-fungsinya 3. Memahami dan mengerti mekanisme sistem pernafasan 4. Memahami fungsi sistem pernapasan 5. Memahami dan mengerti kelainan serta penyakit pada sistem pernapasan yang diperoleh dalam

1 | Keperawatan Dewasa

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Penyakit Emfisema 1. Pengertian Emfisema Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara walaupun ekspirasi. Emfisema merupakan morfologik didefisiensikan sebagai

abnormal ruang- ruang paru distal dari bronkiolus terminal dengan destruksi dindingnya. Emfisema adalah penyakit obstruksi kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli. Terdapat 2 jenis emfisema yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru yaitu : a. Emfisema Panlobulor ( Panacinar ) Emfisema panlobulor melibatkan seluruh lobules respiratorius. Bentuk morfologik yang lebih jarang, alveolus mengalami

pembesaran serta kerusakan secara merata mengenai bagian ainus yang sentral maupun yang perifer. Bersamaan dengan penyakit yang semakin parah, semua komponen asinus sedikit demi sedikit menghilang sehingga akhirnya hanya tertinggal beberapa jaringan yang biasanya berupa pembuluh- pembuluh darah. b. Emfisema Sentrilobulor Emfisema sentrilobulor hanya menyerang bagian bronkiolus respiratorius dan duktus alveolaris. Dinding- dinding mulai berlubang, membesar, bergabung dan akhirnya cenderung menjadi satu ruang sewaktu dinding- dinding mengalami integritas. Mula- mula duktus alveolaris dan sakus alveolaris yang lebih distal dapat dipertahankan. Sering menyeranng bagian atas paru dan penyebarannya tidak merata keseluruhan paru.

2 | Keperawatan Dewasa

Penyakit infeksi saluran nafas seperti pneumonia. menghambat fungsi makrofag alveolar. d. Infeksi Infeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat. dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas. dan alergen) pada waktunya akan mengalami gejala-gejala obstruktif kronik. agen-agen infeksius. Individu yang secara ganetik sensitive terhadap faktor-faktor lingkungan (merokok. merokok merupakan penyebab utama emfisema. Genetik Defisiensi Alfa-1 antitripsin. Etiologi Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu: a. Insiden dan angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi. Polusi Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. b. yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema. Tanpa enzim inhibitor ini.2. menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus bronkus. 3| Keperawatan Dewasa . enzim tertentu akan menghancurkan jaringan paru. Akan tetapi pada sedikit pasien (dalam presentasi kecil) terdapat predisposisi familiar terhadap emfisema yang yang berkaitan dengan abnormalitas protein plasma. Cara yang tepat bagaimana defisiensi antitripsin dapat menimbulkan emfisema masih belum jelas. Rokok Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalan nafas. defisiensi antitripsin-alpha1 yang merupakan suatu enzim inhibitor. dapat menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar. c. polusi udara. polusi udara seperti halnya asap tembakau. bronkiolitis akut dan asma bronkiale.

Pada Emfisema obstruksi kongenital bagian paru yang paling sering terkena adalah belahan paru kiri atas. Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstruks sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pada pemasukannya. Pada paru-paru normal terjadi 4 | Keperawatan Dewasa . Hal ini diperkirakan oleh mekanisme katup penghentian. Pada paru-paru sebelah kiri terdapat tulang rawan yang terdapat di dalam bronkus-bronkus yang cacat sehingga mempunyai kemampuan penyesuaian diri yang berlebihan.e. obstruksi dapat disebabkan oleh defek tulang rawan bronkus. mengenai sebagian atau seluruh paru. sehingga terjadi mekanisme ventil. Udara dapat masuk ke dalam alveolus pada waktu inspirasi akan tetapi tidak dapat keluar pada waktu ekspirasi. Etiologinya ialah benda asing di dalam lumen dengan reaksi lokal. tumor intrabronkial di mediastinum. Pada emfisema paru penyempitan saluran nafas terutama disebabkan elastisitas paru yang berkurang. Selain itu dapat juga disebabkan stenosis bronkial serta penekanan dari luar akibat pembuluh darah yang menyimpang. Mekanisme katup penghentian: Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstruksi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih penimbunan udara di alveolus menjadi bertambahsukar dari pemasukannya di sebelah distal dari paru. Pada jenis yang terakhir. Dalam keadaan demikian terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distal dari alveolus. dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi. Patofisiologi Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-alveolus yang tidak dapat pulih. kongenital. Obstruk Saluran Napas Emfisema terjadi karena tertutupnya lumen bronkus atau bronkiolus. 3.

Batuk menahun 5 | Keperawatan Dewasa . Nafas terengah-engah disertai dengan suara seperti peluit e. Hal ini menimbulkan stenosis dan obstruksi saluran napas yang bersifat irreversibel sehingga terjadi pelebaran alveolus yang permanen disertai kerusakan dinding alveoli. Sebagian besar partikel bebas ini akan sampai di alveolus waktu menghisap rokok. Batuk b. Sehingga iritasi pada sel epitel mukosa meningkat. dada berbentuk seperti tong. Bila terpapar iritasi yang mengandung radikal hidroksida (OH-). Keadaan ini ditambah dengan gangguan aktivitas silia. Bibir tampak kebiruan g. Selain itu terjadi pula metaplasi squamosa dan pembentukan lapisan squamosa. Berat badan menurun akibat nafsu makan menurun h. Sesak sampai menggunakan otot-otot pernafasan tambahan d. Parenkim paru yang rusak oleh oksidan terjadi karena rusaknya dinding alveolus dan timbulnya modifikasi fungsi dari anti elastase pada saluran napas. Sputum putih. Hal ini akan lebih merangsang kelenjar mukosa. Partikel ini merupakan oksidan yang dapat merusak paru. otot leher tampak menonjol. Bila oksidasi dan iritasi di saluran nafas terus berlangsung maka terjadi erosi epital serta pembentukanjaringan parut.keseimbangan antara tekanan yang menarik jaringan paru ke laur yaitu disebabkan tekanan intrapleural dan otot-otot dinding dada dengan tekanan yang menarik jaringan paru ke dalam yaitu elastisitas paru. Sehingga timbul kerusakan jaringan interstitial alveolus. Partikel asap rokok dan polusi udara mengenap pada lapisan mukus yang melapisi mukosa bronkus. 4. Pergerakan cairan yang melapisi mukosa berkurang. jika ada infeksi menjadi purulen atau mukopurulen c. Manifestasi Klinik a. Sehingga menghambat aktivitas silia. membungkuk f.

dan untuk mengatasi obstruksi jalan nafas untuk menghilangkan hipoksia. subkutan. nebuliser balon-genggam. penurunan VC dan FEV 6. Bronkodilator Digunakan untuk mendilatasi jaln nafas karena preparat ini melawan baik edema mukosa maupun spasme muskular dan membantu baik dalam mengurangi obstruksi jalan nafas maupun dalam memperbaiki pertukaran gas. Bronkodilator mungkin diresepkan per oral. Fungsi pulmonari (terutama spirometri) : peningkatan TLC dan RV. Atelaktasis f. intravena. Medikasi inhalasi dapat diberikan melalui aerosol bertekanan. a. atau IPPB. Daya tahan tubuh kurang sempurna c. per rektal atau inhalasi. 6| Keperawatan Dewasa . Proses peradangan yang kronis pada saluran nafas e.5. Meningkatkan resiko gagal nafas pada pasien 7. untuk memperlambat kemajuan proses penyakit. Pemeriksaan Penunjang a. Komplikasi a. Tingkat kerusakan paru semakin parah d. Rontgen dada : hiperinflasi. Sering mengalami infeksi pada saluran pernafasan b. isoproterenol dan metilxantin (teofilin.medikasi ini mencakup agonis betha-adrenergik (metaproterenol. Pneumothoraks g. aminofilin). nebuliser dorongan-pompa. yang menghasilkan dilatasi bronkial melaui mekanisme yang berbeda. pendataran diafragma. Penatalaksanaan Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup. inhaler dosis terukur. pelebaran interkosta dan jantung normal b.

batuk meningkat. osteoporosis. H. d. Kortikosteroid digunakan setelah tindakan lain untuk melebarkan bronkiolus dan membuang sekresi. diresepkan. ampisilin. dan mengencerkan sekresi bronkial. Efek samping termasuk gangguan gastrointestinal dan peningkatan nafsu makan. Jangka panjang. Kortikosteroid Kortikosteroid menjadi kontroversial dalam pengobatan emfisema. Ukuran partikel dalam kabut aerosol harus cukup kecil untuk memungkinkan medikasi dideposisikan dalam-dalam di dalam percabangan trakeobronkial. dan Branhamella catarrhalis adalah organisme yang paling umum pada infeksi tersebut. 7 | Keperawatan Dewasa . Pneumonia. seperti dibuktikan dengan sputum purulen. S. mungkin mengalami ulkus peptikum. Prednison biasa diresepkan. Aerosol yang dinebuliser menhilangkan bronkospasme. c. dan demam. miopati steroid. supresi adrenal. menurunkan edema mukosa.b. biasanya amoksisilin. dan memperbaiki fungsi ventilasi. Influenzae. Pengobatan Infeksi Pasien dengan emfisema sangat rentan terhadap infeksi paru dan harus diobati pada saat awal timbulnya tanda-tanda infeksi. Terapi Aerosol Aerosolisasi (proses membagi partikel menjadi serbuk yang sangat halus) dari bronkodilator salin dan mukolitik sering kali digunakan untuk membantu dalam bronkodilatasi. membantu mengendalikan proses inflamasi. Terapi antimikroba dengan tetrasiklin. atautrimetroprim-sulfametoxazol (bactrim) Regimen antimikroba digunakan pada tanda pertama infeksi pernafasan. dan pembentukan katarak. Dosis disesuaikan untuk menjaga pasien pada dosis yang terendah mungkin. Hal ini memudahkan proses pembersihan bronkiolus.

Penderita yang berumur kurang dari 50 tahun dengan : a. Oksigenasi Terapi oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan emfisema berat. 5 tahun kemudian akan terlihat ada perbaikan. 8 | Keperawatan Dewasa . Teknik terapi fisik untuk memperbaiki dan meningkatkan ventilasi paru-paru d. b. Memelihara kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk memfasilitasi pernapasan e. Prognosis Prognosis jangka pendek maupun jangka panjang bergantung pada umur dan gejala klinis waktu berobat. Hipoksemia berat diatasi dengan konsentrasi oksigen rendah untuk meningkatkan PaO2 hingga antara 65 – 85 mmHg. 8. Pemberian terapi untuk meningkatkan ventilasi dan menurunkan kerja napas b.e. Sesak sedang. Mencegah dan mengobati infeksi c. memperlambat perkembangan proses penyakit. 5 tahun kemudian 42 % penderita akan sesak lebih berat dan meninggal. Pendidikan kesehatan pasien dan rehabilitasi 9. Sesak ringan. Pada emfisema berat oksigen diberikan sedikitnya 16 jam per hari. Pendekatan terapi mencakup: a. Dukungan psikologis f. dan mengobati obstruksi saluran napas yang berguna untuk mengatasi hipoksia. dengan 24 jam per hari lebih baik. Pencegahan Penatalaksanaan utama pada pasien dengan emfisema adalah untuk meningkatkan kualitas hidup.

B. Pengkajian a. malaise 2) Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas 3) Ketidakmampuan untuk tidur. tidak berhubungan dengan penyakit jantung 3) Bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada) 4) Warna kulit/membran mukosa: normal atau abu-abu/sianosis 5) Pucat dapat menunjukkan anemia c. disritmia. nafsu makan buruk/anoreksia (emfisema) 2) Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan 3) Penurunan berat badan menetap (emfisema). distensi vena leher 2) Edema dependen. gelisah. peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat. Aktivitas/Istirahat Gejala: 1) Keletihan. Makanan/Cairan Gejala: 1) Mual/muntah. kelelahan. Konsep Keperawatan 1. peningkatan berat badan menunjukkan edema (bronkitis) 9 | Keperawatan Dewasa . insomnia 2) Kelemahan umum/kehilangan massa otot b. perlu tidur dalam posisi duduk tinggi 4) Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan Tanda: 1) Keletihan. Sirkulasi Gejala: pembengkakan pada ekstremitas bawah Tanda: 1) Peningkatan tekanan darah.

.. bau badan e.. cuaca atau episode berulangnya sulit nafas (asma). Hygiene Gejala: Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari Tanda: Kebersihan. serbuk gergaji) 6) Faktor keluarga dan keturunan. edema depende 2) Berkeringat. mis. defisiensi alfa-anti tripsin (emfisema) 7) Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus 10 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . penuruna berat badan. Pernafasan Gejala: 1) Nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala menonjol pada emfisema) khususnya pada kerja. rasa dada tertekan. abses.Tanda: 1) Turgor kulit buruk. Produksi sputum (hijau. buruk. putih dan kuning) dapat banyak sekali (bronkitis kronis) 4) Episode batuk hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun dapat terjadi produktif (emfisema) 5) Riwayat pneumonia berulang: terpajan pada polusi kimia/iritan pernafasan dalam jangka panjang (mis. rokok sigaret) atau debu/asap (mis. ketidakmampuan untuk bernafas (asma) 2) “Lapar udara” kronis 3) Bentuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat bangun) selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun. penurunan massa otot/lemak subkutan (emfisema) 3) Palpitasi abdominal dapat menyebabkan hepatomegali (bronkitis) d. debu atau batu bara.

kesulitan menghentikan merokok. ketidak mampuan membaik/penyakit lama Tanda: 1) Ketidakmampuan pernafasan 2) Keterbatasan mobilitas fisik. dapat lambat. Interaksi sosial Gejala: Hubungan ketergantungan. untuk/membuat mempertahankan suara 11 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . ronki. kegagalan untuk membaik. gerakan diafragma minimal 3) Bunyi nafas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi (emfisema). mengi sepanjang area paru. kurang sistem pendukung. penggunaan alkohol secara teratur. Seksualitas Gejala: Penurunan libido h. Penyuluhan/Pembelajaran Gejala: Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan. Keamanan Gejala: 1) Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan 2) Adanya/berulangnya infeksi 3) Kemerahan/berkeringat (asma) g. f. kelainan dengan anggota keluarga lalu i. menyebar.Tanda: 1) Pernafasan: biasanya cepat. lembut atau krekels. penggunaan otot bantu pernapasan 2) Dada: hiperinflasi dengan peninggian diameter AP. 4) Perkusi: hiperesonan pada area paru 5) Warna: pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku.

alergen. agen-agen infeksius. lingkungan kerja Faktor predisposisi : familial Inflamasi dan pembengkakan bronkhus. Keluhan psikososial . intake nutrisi tidak adekuat. Penyimpangan KDM Faktor predisposisi: merokok. dan keletihan fisik. penggunaan otot namtu pernapasan Gangguan pertukaran gas Respon sistemik dan psikologis Keluhan sistemis. kecemasan. ketidaktahuan akan prognosis   Perubahan pemenuhan nutrisi kerang dari kebutuhan Gangguan pemenuhan ADL   Kecemasan Ketidaktahuan/pemenu han informasi 12 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . polusi udara. Defisiensi enzim alfa 1antitripsin Penurunan kemampuan batuk efektif Kehilangan rekoil elastitas jalan napas. melaise.2. kolaps bronkiolus. hipoksemia secara reversibel Peningkatan usaha frekuensi pernapasan. kelemahan. mual. produksi lendir yang berlebihan. dan poenurunan redistribusi udara ke alveoli   Ketidakefektifan bersihan jalan napas Resiko tinggi infeksi pernapasan Peningktan tahanan jalan napas aliran masuk dan aliran keluar udara dari paru-paru Peningkatan kerja pernapasan.

tidak ada ketidaknyamanan dada. . dan kerja napas. Intervensi Mandiri Mengkaji pola napas Tinggikan kepala tempat tidur. d. 13 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. dispnea. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan tindakan perawat. . Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.Pengiriman oksigen dapat Dorong napas dalam perlahan atau napas individu Anjurkan bicara. bunyi napas bersih tidak ada batuk. Atur jumlah pembesuk pasien.Pakaikan baju yang tipis dan tidak ketat pada pasien. frekuensi nadi 60-100 x/menit dan menghilangnya dispnea. pasien tidak banyak bibir sesuai kebutuhan diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi sekret. . 4.Memungkinkan pasien tidak terlalu banyak berbicara.3. f. Tujuan: Setelah beberapa perawatan pola napas pasien kembali normal dengan kriteria hasil : Frekuensi napas 16-20 x/menit. Rasional . Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan alveolus. c.Pengaturan frekuensi napas lebih mudah dikendalikan dalam .Awasi tanda vital dan irama keadaan tidak bicara. Diagnosa Keperawatan a. Intervensi a.Mengetahui terjadinya kelainan pola napas dan menentukan tindakan yang perlu dilakukan. b. e. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan alveoli. . bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas.

Siapkan pasien untuk dipindahkan ke UPI dan untuk pemasangan ventilasi mekanis. Ajarkan pasien untuk melakukan 14 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . Tujuan : Setelah beberapa hari dirawat bersihan jalan napas menjadi terpelihara dengan kriteria hasil : Sekret berkurang dan suara napas menjadi bersih. b.Oksigen akan memperbaiki atau mencegah hipoksemia. Infektif bersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi sekret. Lakukan postural drainase - Menggunakan gaya gravitasi untuk membantu membangkitkan sekresi sehingga sekret dapat lebih mudah dengan perkusi dan vibrasi. - Memudahkan pergerakan dada. Ventilasi memburuknya dianjurkan biasanya 2 L/menit. perubahan menunjukkan disritmia. Takikardia. Konsultasi kepada dokter gejala-gejala tersebut menetap atau memburuk. mekanis sangat diperlukan untuk membantu pernapasan pasien sampai pasien dapat bernapas sendiri. jika terjadi gagal napas.jantung. kemampuan mengeluarkan sekret. Kolaborasi Berikan oksigen yang dilembabkan pada kecepatan aliran yang . Intervensi Mandiri Kaji bunyi napas dan pasien Rasional - Mengetahui kelainan yang terjadi dan menentukan tindakan yang perlu dilakukan. jika .Gagal pernapasan akut merupakan komplikasi utama yang sering menyertai PPOM. TD efek dan dapat hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.

Intervensi Mandiri . Kolaborasi Memberikan obat expectoran. Dilakukan bila produksi sekret terlalu banyak dan sulit untuk dikeluarkan. Teknik ini akan membantu hingga 3 L/hari sesuai toleransi jantung. memperbaiki ventilasi udara dan untuk mengeluarkan sekret secara efektif. Penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. c. Memberikan nebulizer. Hidrasi membantu mengurangi dan kekentalan mempermudah sekret pengeluaran.Pantau : Masukan dan keluaran tiap Rasional . Melakukan suction Obat expectoran akan membantu menurunkan kekentalan sekret sehingga sekret lebih mudah untuk dikeluarkan. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.teknik batuk efektif. Tingkatkan masukan cairan - dibatukkan atau dihisap. Obat expectoran dapat diberikan dalam nebulizer. Berikan air hangat. Tujuan: Masukan makanan dan cairan menjadi adekuat dengan kriteria hasil : napsu makan baik dan berat badan kembali normal.Untuk mengidentifikasi adanya 15 | K e p e r a w a t a n D e w a s a .

Makan dengan porsi sedikit dapat mengurangi resiko sesat pada saat pasien makan dan resiko mual Bau-bauan dan pemandangan yang tidak menyenangkan selama waktu makan dapat menyebabkan menyenangkan. . . jika setiap porsi makanan yang dikonsumsi selalu kurang dari 30%. Ahli diet merupakan spesialisasi yang dalam dengan dapat membantu pasien makanan dengan dan merencanakan nutrisi usia.Menciptakan suasana yang - kemajuan atau penyimpangan dari tujuan yang diharapkan. .8 jam.Berikan makan dalam keadaan hangat.Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.Timbang berat badan pasien setiap seminggu. anoreksia (tidak nafsu makan) Kolaborasi : Berikan obat makan Merujuk pasien ke ahli diet untuk membantu merencanakan makanan yang akan dikonsumsi. lingkungan yang bebas bau selama waktu pasien makan. Memberikan terapi intravena sesuai dengan anjuran dan melakukan tindakan pencegahan. jika tanpa infus. Untuk mengatasi masalah dehidrasi karena pasien sering mengurangi masukan cairan akibat mengalami sesak napas. perawatan serta penambah napsu Membantu meningkatkan napsu makan pasien. . . Makanan hangat dapat membangkitkan napsu makan.Berikan makan sedikit tapi sering. sesuai kebutuhan sakitnya pembentukan tubuh. 16 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . Memberikan dorongan kepada pasien untuk minum minimal 3 liter per hari.

. Tujuan : Perbaikan dalam toleransi aktifitas dengan kriteria hasil pasien dapat melakukan aktivitasnya secara mandiri tanpa keluhan sesak. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik. . Intervensi . . Keluarga dapat membantu pasien secara mandiri dalam perawatan di rumah.d. Otot-otot yang mengalami exercycle.Mempertahankan terapi oksigen tambahan sesuai kebutuhan.Memberi dukungan pasien dalam menegakkan regimen (penuntun) latihan menggunakan teratur treadmil dengan dan - aktivitas.Memberi dukungan emosional dan semangat. latihan yang teratur. Oksigen tambahan meningkatkan kadar oksigen yang bersirkulasi dan memperbaiki toleransi aktivitas yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh pasien.Libatkan memfasilitasi keluarga pasien dalam untuk Rasional Pemakaian energi berlebihan dapat dicegah dengan mengatur aktivitas dan memberikan jarak waktu yang cukup untuk pulih diantara waktu aktivitas. Latihan yang bertahap 17 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . otot ini peningkatan kelompok menjadi lebih terkondisi dan pasien dapat melakukan lebih banyak kegiatan tanpa mengalami napas pendek. seperti kontaminasi membutuhkan lebih banyak tambahan oksigen dan beban tambahan pada paru-paru. Rasa takut terhadap dapat kesulitan bernapas menghambat peningkatan aktivitas.Setelah abnormal aktivitas. . aktivitas. untuk kaji respons Melalui bertahap.Kaji kemampuan aktivitas yang bisa dilakukan sendiri dan yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh pasien. . berjalan atau latihan lainnya yang sesuai. berjalan perlahan.

Tujuan : Klien dapat beristirahat dengan cukup. Intervensi Kaji penyebab tidak nyenyak tidur. Teknik distraksi dapat membantu pasien mengalihkan perhatiannya terhadaap rasa nyeri. sirkulasi. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri.memutus siklus yang melemahkan ini. Intoleransi aktivitas dapat dikaji dengan mengevaluasi jantung. Mengurangi kegiatan pasien yang dapat meningkatka rasa nyerinya. e. Libatkan memfasilitasi aktivitas yang keluarga pasien tidak dalam untuk dapat dan lakukan Rasional Mengetahui kondisi pasien dan tindakan apa yang perlu dilakukan Tekhnik relaksasi dapat melemaskan otot-otot yang terasa nyeri. Teknik massase dapat merangsang otot dan memperlancar peredaran darah. dan status pernapasan. dilakukan sendiri oleh pasien 18 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . Bimbing pasien untuk melakukan relaksasi Berikan penghangat(seperti balsem atau obat gosok) massase Bimbing pasien untuk melakukan teknik distraksi.

sehingga keluarga dapat bekerja sama dengan perawat dalam tindakan meniadakan gangguan-gangguan. Libatkan keluarga dalam memahami tentang penyakit emfisema perasaan dan 19 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . Intervensi Memberikan pemahaman tentang Rasional Setiap informasi yang diberikan.f. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan tindakan perawat. Memberikan kesemapatan kepada perawatan. pasien dan orang terdekatnya untuk mengekspresikan harapannya. akan dirasakan pasien membantu penyakit emfisema: Gangguan-gangguan yang terjadi pada saluran pernapasan berhubungan - mengurangi kecemasan. Mengurangi kecemasan keluarga. Tujuan: Hilangnya rasa takut/kecemasan pasien berkaitan dengan meningkatnya pengetahuan dan pemahaman pasien mengenai penyakitnya dan rencana tindakan yang diberikan perawat dengan kriteria hasil klien tidak lagi merasa gelisah dan ekspresi wajah rileks. Membantu kemampuan pasien dalam mengatasi masalahnya dengan dengan penyakit emfisema Penanggulangan yang dilakukan untuk mengatasi gangguan Pemeriksaan-pemeriksaan yang harus dipatuhi untuk mengurangi atau - meninggatkan lingkungan yang nyaman dan mendukung.

f. Mendapatkan mekanisme koping yang efektif dan ikut serta dalam program rehabilisasi paru dan nyeri.5. Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan. e. d. Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih/ jelas. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernapasan b. 20 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . c. Kemandirian dalam aktivitas perawatan diri. Evaluasi a. Menunjukkan perilaku/perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/atau mempertahankan berat yang tepat.

Evaluasi penting dilakukan untuk memantau tingkat keberhasilan tindakan dan mencegah terjadinya kesalahan yang disebabkan karena ketidaktahuan tindakan yang dilakukan. Penatalaksanaan medis emfisema dengan pemberian obat. Masalah keperawatan yang timbul pada emfisema adalah ketidak efektifan jalan napas. napas terengah. perawat harus melakukan tindakan akhir yaitu evaluasi. Gejala yang terlihat yaitu : Batuk. kelemahan. dan ketidaktahuan/ pemenuhan informasi. perawat menganalisa data yang didapat dari pengkajian tersebut. Sebelum mendapatkan masalah keperawatan. untuk 21 | K e p e r a w a t a n D e w a s a .BAB III PENUTUP A. kemudian didapatkan masalah keperawatan dan tindakan yang akan dilakukan dalam melakukan perawatan.tanda penyakit emfisema pada awalnya tidak mudah untuk diketahuai tetapi setelah 30. tekanan darah meningkat. Saran Saya menyadari makalah ini kurang sempurna dan banyak kesalahannya. Emfisema dapat menyerang pria dan wanita. merokok. latihan fisik. berat badan menurun. terapi oksigen. Emfisema merupakan akibat kurangnya elastisitas paru dan kerusakan pada alveoli. terutama pembaca untuk menyempurnakan makalah ini. gangguan pemenuhan nutrisi. fisioterapi. Kesimpulan Emfisema adalah Penyakit Paru Obstruksi Kronik.40 tahun gejala semakin berat. dan lain. B. Tanda. dimana alveoli menjadi mengembang dan kaku walaupun setelah ekspirasi. Setelah melakukan tindakan.gangguan pertukaran gas. Setelah melakukan pengkajian. resiko infeksi. rehabilitasi.engah. genetik dan infeksi saluran pernapasan. dan penatalaksanaan umum.lain. Emfisema disebabkan oleh : polusi udara. perawat melakukan tindakan pengkajian. untuk menyempurnakan makalah ini saya sangat berharap bantuan dari semua pihak.

Atas saran dan kritik yang membangun tersempurnanya makalah saya ini.pembaca saya sarankan untuk mencari referensi yang lainnya. karena referensi yang saya dapatkan masuh sangat terbatas. 22 | K e p e r a w a t a n D e w a s a . saya ucapkan terima kasih.