P. 1
k3 ( kesehatan dan keselamatan kerja )

k3 ( kesehatan dan keselamatan kerja )

|Views: 327|Likes:
Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak dapat
diduga. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena kondisi yang tidak membawa
keselamatan kerja, atau perbuatan yang tidak selamat. Kecelakaan kerja dapat
didefinisikan sebagai setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat
mengakibatkan kecelakaan. Berdasarkan definisi kecelakaan kerja maka lahirlah
keselamatan dan kesehatan kerja yang mengatakan bahwa cara menanggulangi
kecelakaan kerja adalah dengan meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan atau
mengadakan pengawasan yang ketat. (Silalahi, 1995)
Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan
kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan meneliti
apakah pengendalian secara cermat dilakukan atau tidak.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrument yang
memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari
bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang
wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan
menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh
dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang
menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai
bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada
masa yang akan datang.
Bagaimana K3 dalam perspektif hukum? Ada tiga aspek utama hukum K3
yaitu norma keselamatan, kesehatan kerja, dan kerja nyata. Norma keselamatan kerja
merupakan sarana atau alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak
diduga yang disebabkan oleh kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak
kondusif. Konsep ini diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga
mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja, kemudian mencegah
terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja. Konsep ini juga mencegah
pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja.Norma kesehatan
kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan memelihara
derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya.
K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja,
misalnya kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban udara, dan lain-lain
yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran, gangguan pernapasan,
kerusakan paru-paru, kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet,
kanker kulit, kemandulan, dan lain-lain. Norma kerja berkaitan dengan manajemen
perusahaan. K3 dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan jam kerja,
shift, kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam lembur, dll.
Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak dapat
diduga. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena kondisi yang tidak membawa
keselamatan kerja, atau perbuatan yang tidak selamat. Kecelakaan kerja dapat
didefinisikan sebagai setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat
mengakibatkan kecelakaan. Berdasarkan definisi kecelakaan kerja maka lahirlah
keselamatan dan kesehatan kerja yang mengatakan bahwa cara menanggulangi
kecelakaan kerja adalah dengan meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan atau
mengadakan pengawasan yang ketat. (Silalahi, 1995)
Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan
kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan meneliti
apakah pengendalian secara cermat dilakukan atau tidak.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrument yang
memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari
bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang
wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan
menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh
dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang
menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai
bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada
masa yang akan datang.
Bagaimana K3 dalam perspektif hukum? Ada tiga aspek utama hukum K3
yaitu norma keselamatan, kesehatan kerja, dan kerja nyata. Norma keselamatan kerja
merupakan sarana atau alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak
diduga yang disebabkan oleh kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak
kondusif. Konsep ini diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga
mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja, kemudian mencegah
terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja. Konsep ini juga mencegah
pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja.Norma kesehatan
kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan memelihara
derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya.
K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja,
misalnya kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban udara, dan lain-lain
yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran, gangguan pernapasan,
kerusakan paru-paru, kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet,
kanker kulit, kemandulan, dan lain-lain. Norma kerja berkaitan dengan manajemen
perusahaan. K3 dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan jam kerja,
shift, kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam lembur, dll.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Pipit Pitrianingsih Suryana on Apr 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2014

pdf

text

original

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3 ) Bidang Kelistrikan

Dibuat Sebagai Persyaratan Untuk Menyelesaikan Mata Kuliah Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik ListrikPoliteknik Negeri Sriwijaya

Disusun Oleh : Nama Kelas NIM : Syuratman : 6 LB : 0607 3031 0172

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG 2011

1. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja Menurut Mangkunegara (2002, p.163) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur. Menurut Suma’mur (2001, p.104), keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan. Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja . Mathis dan Jackson (2002, p. 245), menyatakan bahwa Keselamatan adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum. Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6), mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Jackson (1999, p. 222), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologisfisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan. Menurut Mangkunegara (2002, p.170), bahwa indikator penyebab keselamatan kerja adalah: a) Keadaan tempat lingkungan kerja, yang meliputi: 1. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya yang kurang diperhitungkan keamanannya. 2. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak 3. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya. b) Pemakaian peralatan kerja, yang meliputi:

1. Pengaman peralatan kerja yang sudah usang atau rusak. 2. Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengaman yang baik pengaturan penerangan. Tujuan Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja : Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak dapat diduga. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena kondisi yang tidak membawa keselamatan kerja, atau perbuatan yang tidak selamat. Kecelakaan kerja dapat didefinisikan sebagai setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Berdasarkan definisi kecelakaan kerja maka lahirlah keselamatan dan kesehatan kerja yang mengatakan bahwa cara menanggulangi kecelakaan kerja adalah dengan meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan atau mengadakan pengawasan yang ketat. (Silalahi, 1995) Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan meneliti apakah pengendalian secara cermat dilakukan atau tidak. Menurut Mangkunegara (2002, p.165) bahwa tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut: a. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis. b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik baiknya selektif mungkin. c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya. d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai. e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja. f. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja. g. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja

Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrument yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang. Bagaimana K3 dalam perspektif hukum? Ada tiga aspek utama hukum K3 yaitu norma keselamatan, kesehatan kerja, dan kerja nyata. Norma keselamatan kerja merupakan sarana atau alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diduga yang disebabkan oleh kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak kondusif. Konsep ini diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja, kemudian mencegah terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja. Konsep ini juga mencegah pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja.Norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya. K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja, misalnya kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban udara, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran, gangguan pernapasan, kerusakan paru-paru, kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet, kanker kulit, kemandulan, dan lain-lain. Norma kerja berkaitan dengan manajemen perusahaan. K3 dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan jam kerja, shift, kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam lembur, analisis dan pengelolaan lingkungan hidup, dan lain-lain. Hal-hal tersebut mempunyai korelasi yang erat terhadap peristiwa kecelakaan kerja. Eksistensi K3 sebenarnya muncul bersamaan dengan revolusi industri di Eropa, terutama Inggris, Jerman dan Prancis serta revolusi industri di Amerika Serikat. Era ini ditandai adanya pergeseran besar-besaran dalam penggunaan mesinmesin produksi menggantikan tenaga kerja manusia. Pekerja hanya berperan sebagai

Veiligheids Reglement (Peraturan Keamanan Kerja di Pabrik dan Tempat Kerja). Selanjutnya. Penggunaan mesin-mesin menghasilkan barang-barang dalam jumlah berlipat ganda dibandingkan dengan yang dikerjakan pekerja sebelumnya. K3 belum menjadi bagian integral dalam perusahaan. Kepedulian Tinggi Pada awal zaman kemerdekaan. Revolusi IndustriNamun. kesadaran K3 sebenarnya sudah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda. aspek K3 belum . Ini dapat menyebabkan cacat fisik dan kematian bagi pekerja. Staatsblad 1930 No. Muhammad: 2002). Schepelingen Ongevallen Regeling 1940 (Ordonansi Kecelakaan Pelaut). bukan tanggung jawab perusahaan. pemerintah kolonial Belanda menerbitkan beberapa produk hukum yang memberikan perlindungan bagi keselamatan dan kesehatan kerja yang diatur secara terpisah berdasarkan masingmasing sektor ekonomi. Staatsblad No. Pada era in kecelakaan kerja hanya dianggap sebagai kecelakaan atau resiko kerja (personal risk). dan masyarakat umum yang berada di luar lingkungan kerja. Juga dapat menimbulkan kerugian material yang besar bagi perusahaan. dan sebagainya. dampak penggunaan mesin-mesin adalah pengangguran serta risiko kecelakaan dalam lingkungan kerja.operator. pada 1908 parlemen Belanda mendesak Pemerintah Belanda memberlakukan K3 di Hindia Belanda yang ditandai dengan penerbitan Veiligheids Reglement. Beberapa di antaranya yang menyangkut sektor perhubungan yang mengatur lalu lintas perketaapian seperti tertuang dalam Algemene Regelen Betreffende de Aanleg en de Exploitate van Spoor en Tramwegen Bestmend voor Algemene Verkeer in Indonesia (Peraturan umum tentang pendirian dan perusahaan Kereta Api dan Trem untuk lalu lintas umum Indonesia) dan Staatblad 1926 No. dan risk assumption (asumsi resiko) (Tono.Dalam konteks bangsa Indonesia. Revolusi industri juga ditandai oleh semakin banyak ditemukan senyawasenyawa kimia yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan fisik dan jiwa pekerja (occupational accident) serta masyarakat dan lingkungan hidup. fellow servant rule (ketentuan kepegawaian). Misalnya. 406 Tahun 1910. buruh/pekerja. 334. Pandangan ini diperkuat dengan konsep common law defence (CLD) yang terdiri atas contributing negligence (kontribusi kelalaian). Pada awal revolusi industri. 225. Kemudian konsep ini berkembang menjadi employers liability yaitu K3 menjadi tanggung jawab pengusaha.

dan lain-lain. regulasi yang berkaitan dengan K3 juga dijumpai dalam sektor-sektor lain seperti pertambangan. Banyak perusahaan multinasional hanya mau berinvestasi di suatu negara jika Negara bersangkutan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup. dan buruh. sedangkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan sebelumnya seperti UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang Kerja. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja tidak menyatakan secara eksplisit konsep K3 yang dikelompokkan sebagai norma kerja.Setiap tempat kerja atau perusahaan harus melaksanakan program K3. industri manufaktur (pabrik). Hal ini dapat dipahami karena Pemerintahan Indonesia masih dalam masa transisi penataan kehidupan politik dan keamanan nasional. di permukaan tanah. Misalnya. UU No. Juga kepekaan terhadap kaum pekerja dan masyarakat miskin. Sementara itu. pertanian. menempatkan ini pada urutan pertama sebagai syarat investasi. UU No. konstruksi. Pengaturan hukum K3 dalam konteks di atas adalah sesuai dengan sektor/bidang usaha.Di era globalisasi saat ini. Hal ini tertuang dalam UU No. Persaingan global tidak hanya sebatas kualitas barang tetapi juga mencakup kualitas pelayanan dan jasa. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU No. 1 Tahun 1070 tentang Keselamatan Kerja. kemiskinan. 13 Tahun 1992 tentang Perkerataapian. di udara maupun di ruang angkasa. baik di darat. . 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan beserta peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. di dalam tanah. pembangunan nasional sangat erat dengan perkembangan isu-isu global seperti hak-hak asasi manusia (HAM). Perkembangan tersebut mendorong pemerintah melakukan regulasi dalam bidang ketenagakerjaan. dalam air.menjadi isu strategis dan menjadi bagian dari masalah kemanusiaan dan keadilan. UU No. perikanan. termasuk pengaturan masalah K3. Tempat kerja dimaksud berdimensi sangat luas mencakup segala tempat kerja. K3 baru menjadi perhatian utama pada tahun 70-an searah dengan semakin ramainya investasi modal dan pengadopsian teknologi industri nasional (manufaktur). pergerakan roda ekonomi nasional baru mulai dirintis oleh pemerintah dan swasta nasional. lingkungan hidup. Karena itu bukan mustahil jika ada perusahaan yang peduli terhadap K3. Selain sekor perhubungan di atas.

n. jendela sehubungan dengan pencahayaan dalam ruang. Induksi e. Manusia yang lengah terhadap risiko dan SOP. dekorasi dll. Pemasangan fan di dalam lift. Membantu penampilan visual melalui kesesuaian warna. (secara berkala diukur dengan Luxs Meter) . Perencanaan digunakan. Arus berlebih f.Penggunaan tirai untuk pengaturan cahaya dengan memperhatikan warna yang . Bencana alam atau buatan manusia. Faktor fisik dan kimia. Binatang pengerat bisa menyebabkan kerusakan sehingga terjadi hubungan pendek. Kebocoran instalasi h. Korosif kabel g. l. Jaringan elektrik dan komunikasi (penting agar bahaya dapat dikenali) : a. Kualitas Pencahayaan (penting mengenali jenis cahaya) : Mengembangkan sistim pencahayaan yang sesuai dengan jenis pekerjaan untuk membantu menyediakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. Angin dan pencahayaan (cuaca) m. Hubungan pendek d. Penggunaan lampu emergensi (emergency lamp) di setiap tangga. Campuran gas eksplosif i. Internal b. Menegembangkan lingkungan visual yang tepat untuk kerja dengan kombinasi cahaya (agar tidak terlalu cepat terjadinya kelelahan mata). Over voltage c. k.Perencanaan jendela sehubungan dengan pergantian udara jika AC mati. Eksternal j. Faktor mekanik.

kualitas udara. display unit (tata ruang dan alat). Dinding isolator khusus untuk ruang genset. Perlindungan terhadap kabel dengan menggunakan pipa pelindung. Ergonomik aspek antara manusia dengan lingkungan kerjanya. Tempat untuk istirahat dan shalat. Kontrol terhadap kebisingan : a. Ratio ruang pekerja dan alat kerja mulai dari tahap perencanaan. pemeliharaan maupun aspek lain mengenai penggunaan komputer. luas untuk perubahan posisi. Penggunaan stop kontak yang sesuai dengan kebutuhan (tidak berlebihan) hal ini untuk menghindari terjadinya hubungan pendek dan kelebihan beban. daerah gelombang elektromagnetik. kebisingan. psikososial. Ruang tempat penampungan arsip sementara. pemeliharaan dan adaptasi. kualitas pencahayaan. c. Baik perhatian terhadap konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanannya maupun terhadap jaringan elektrik dan komunikasi. Di depan pintu ruang rapat diberi tanda " harap tenang. . Idealnya ruang rapat dilengkapi dengan dinding kedap suara. ada rapat . Pengaturan tata letak jaringan instalasi listrik termasuk kabel yang sesuai dengan syarat kesehatan dan keselamatan kerja. hygiene dan sanitasi. Hak-hal lainnya sudah termasuk dalam perencanaan konstruksi gedung dan tata ruang. d. PENUTUP Dalam pelaksanaan K3 perkantoran perlu memperhatikan 2(dua) hal penting yakni indoor dan outdoor. Workshop station (bengkel kerja). Pantry dilengkapi dengan lemari dapur. b. Konsep disain dan dan letak furniture (1 orang/2 m²). Hal diatas tidak hanya meningkatkan dari sisi kesehatan maupun sisi keselamatan karyawan/pekerja dalam melakukan pekerjaan di tempat kerjanya. Display unit (tata ruang dan letak) : Petunjuk disain interior supaya dapat bekerja fleksibel. fit. Perhatikan adanya bahaya radiasi.Rekomendasi Penggunaan central stabilizer untuk menghindari over/under voltage.

Ruang lingkup pelaksanaan K-3 ditentukan oleh 3 unsur: a. Pengorganisasian. disana terdapat Ruang Lingkup Pelaksanaan. K3LL (Keselamatan & Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan) dan SSHE (Security.) atau di beberapa perusahaan juga disebut EHS. . Kewajiban Memasuki Tempat Kerja. Dasar Hukum Ada minimal 53 dasar hukum tentang K3 dan puluhan dasar hukum tentang Lingkungan yang ada di Indonesia. Tetapi. tetapi juga berdasarkan Output. Environment).Harapannya rekomendasi ini dapat dijadikan sebagai acuan ataupun perbandingan dalam rangka meningkatkan pelaksanaan K3 khususnya di perkantoran. Health. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja. Panitia Pembina K-3. Pembinaan. SHE. di Perusahaan yang mengeksploitasi Sumber Daya Alam ditambah dengan peran terhadap Lingkungan (Lindungan Lingkungan). Adanya bahaya kerja di tempat itu. Tentang Kecelakaan. Safety. dalam Undang-Undang (UU) No. Semua itu adalah suatu Departemen atau bagian dari Struktur Organisasi Perusahaan yang mempunyai fungsi pokok terhadap implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) mulai dari Perencanaan.Membicarakan HSE bukan sekedar mengetengahkan Issue seputar Hak dan Kewajiban. Environment. b. Penerapan dan Pengawasan serta Pelaporannya. Inti dari UU ini adalah. yaitu korelasinya terhadap Produktivitas Keryawan. Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja. Safety. Pengawasan. Adanya Tempat Kerja untuk keperluan suatu usaha. HSE HSE (Health. ES. Adanya Tenaga Kerja yang bekerja di sana c. Belum lagi antisipasi kecelakaan kerja apabila terjadi Kasus karena kesalahan prosedur ataupun kesalahan pekerja itu sendiri (naas). Kewajiban Pengurus dan Ketentuan Penutup (Ancaman Pidana). Sementara. Syarat Keselamatan Kerja. ada 4 dasar hukum yang sering menjadi acuan mengenai K3 yaitu: Pertama.

1 tahun 1970 pasal 1 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2918. berfungsi sebagai Pedoman Penerapan Sistem Manajemen K-3 (SMK3). telah 137 negara (lebih dari 70%) Anggota ILO meratifikasi (menyetujui dan memberikan sanksi formal) ke dalam Undang-Undang. Kedua.org). Per.” Sedangkan Kewajiban penerapannya ada dalam pasal 87: “Setiap Perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Perusahaan.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen K3. Saat ini. UU No. salah satunya adalah point 3 yaitu baik UU No. korsleting dan kebakaran dari Listrik dan peralatan Mesin lainnya). 3 Tahun 1951 dan UU No. Pasal 86 ayat 1berbunyi: “Setiap Pekerja/ Buruh mempunyai Hak untuk memperoleh perlindungan atas (a) Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Rumah Sakit. 4309. 81 Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce (yang mana disahkan 19 Juli 1947). dll) yang menggunakan Instalasi Listrik dan atau Mekanik. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ada 4 alasan Indonesia meratifikasi ILO Convention No. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. tidak hanya bidang Usaha bermotif Ekonomi tetapi Usaha yang bermotif social pun (usaha Rekreasi. termasuk Indonesia (sumber: www. khususnya Paragraf 5 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Ketiga. mirip OHSAS 18001 di Amerika atau BS 8800 di Inggris. UU No. 81 ini. 1 Tahun 1970 keduanya secara eksplisit belum mengatur Kemandirian profesi Pengawas Ketenagakerjaan serta Supervisi tingkat pusat (yang diatur dalam pasal 4 dan pasal 6 Konvensi tersebut) – sumber dari Tambahan Lembaran Negara RI No.” Aspek Ekonominya adalah Pasal 86 ayat 2: ”Untuk melindungi keselamatan Pekerja/ Buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 21 tahun 2003 tentang Pengesahan ILO Convention No. pasal 86 dan 87.” Keempat.Dalam Penjelasan UU No. . Dalam Permenakertrans yang terdiri dari 10 bab dan 12 pasal ini.ILO. juga terdapat bahaya (potensi bahaya tersetrum.

Perlengkapan ini melindungi mata dari bram dan partikel kecil di bengkel.SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KESELAMATAN DAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA Bekerja di bengkel Kacamata pengaman Resiko mata terluka selamanya ada di bengkel atau laboratorium. Perlengkapan ini melindungi mata dari bram dan partikel kecil di bengkel. Salah satu yang paling lumrah ialah kacamata biasa dengan kaca anti pecah. Jenis khusus dari kacamata pengaman dibuat untuk pekerjaan khusus seperti mengelas. beberapa alat Kacamata telah dibuat untuk melindungi mata dalam situasi kerja. Jenis lain Kacamata khusus Pandangan lebih luas . Luka pada mata Alat pelindung Karena luka pada mata mungkin berakibat fatal. Rangka kacamata menutup mata dengan sempurna. Salah satu yang paling lumrah ialah kacamata biasa dengan kaca anti pecah. Jenis kacamata ini memberikan perlindungan yang lebih baik untuk bekerja di bengkel. Jenis khusus dari kacamata pengaman dibuat untuk pekerjaan khusus seperti mengelas. Rangka kacamata menutup mata dengan sempurna. Jenis kacamata ini memberikan perlindungan yang lebih baik untuk bekerja di bengkel.

Mengebor dengan bor tangan atau bor mesin .Mengoperasikan mesin seperti : Membubut Memfrais Menyekrap Menggerinda Memahat Menggergaji Mengebor Pekerjaan mesin .SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KESELAMATAN DAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA Penggunaan kacamata pengaman Hendaknya selalu mengenakan kacamata pengaman jika : .Menggergaji dengan jenis gergaji logam .Memahat dengan pahat dan palu .

Khusus Kacamata ini memerisai mata dari sinar dan percikan api. Dibandingkan dengan las listrik dalam mengerjakan las asetilin pekerjaan memerlukan kedua tangan : satu untuk memegang gagang las (brander) dan yang Memerisai lain memegang kawat las. Oleh sebab itu kacamata pelindung harus dipasang secara mantap pada kepala. Perisai berfungsi seperti jendela yang dapat dibuka dan ditutup. Perisai dipegang oleh tangan Perlindungan yang tidak digunakan untuk Mata memegang elektroda. Menggunakan kedua tangan Las listrik Dalam mengerjakan las listrik Memasang sebuah perisai digunakan untuk melindungi mata.SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KESELAMATAN DAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA Las asetilin Pada pekerjaan las asetilin Kacamata dipakai kacamata jenis khusus. Perisai bukan hanya melindungi Perisai las listrik mata dari sinar yang kuat dari las listrik. tapi juga melindungi kepala dari percikan pi dan bram. Memegang perisai .

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KESELAMATAN DAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA Jenis pelindung lain Gambar samping menunjukkan Berbagai jenis lain dari pelindung mata. Dalam banyak situasi yang memerlukan banyak pekerjaan diatas kepala. Helm atau topi yang kuat dipakai dalam situasi kerja. Gabungan helm dan pengaman lain . kacamata pengaman. Disarankan untuk menentukan jenis kacamata pengaman atau kedok muka yang cocok untuk pekerjan khusus tersebut. resiko mata terluka jauh lebih besar daripada biasanya. sarung tangan dan sepatu lars diperlukan dalam situasi seperti pemadaman kebakaran dan kecelakaan akibat bahan beracun. misalnya di lokasi pembangunan atau di pelataran kawasan industri. Jenis lain Pilih yang sesuai untuk pekerjaan tertentu Situasi kerja Helm Gabungan helm. perisai. dimana terdapat kemungkinan benda jatuh.

Mudah patah Pencegahan . Misalnya : .Ganti bagian ragum yang sudah rusak agar jepitannya tetap kuat dan menghindari lepas saat pengerjaan. bila perkakas itu dipakai secara baik dan dirawat dengan benar. Pencegahan adalah lebih baik daripada penanggulangan.KESELAMATAN DAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA Perkakas tangan Pekerjaan dengan perkakas tangan mengandung resiko minimal. Hal ini dapat melindungi mereka dari bram yang berhamburan kesekelilingnya. .Pasanglah ram kawat diatas bangku kerja diantara para pekerja pada ragum bangku yang saling berhadapan. Luka mata dan tangan merupakan bahaya yang paling sering timbul. Palu Bagian yang mudah patah pada palu adalah : . Resiko Kecelakaan Luka Tindakan preventif yang sederhana dapat membantu menciptakan tempat kerja menjadi lebih aman.Gagang .Penghubung antara gagang dan kepala palu.

Kunci pas selamanya aman bila Pegangan lubangnya sesuai dengan ukuran mur. Kunci pas Kunci pas digunakan untuk mengencangkan dan mengendorkan mur dan baut. Mur ini menunjukkan hasil kerja yang tidak trampil dalam penggunaan perkakas. Jenis ini akan merusak alur dan membahayakan. Ukuran yang merupakan pekerjaan yang Sesuai kurang aman. Gambar ini menunjukkan beberapa bentuk daun yang salah sehingga tidak pas ke dalam alur.SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KESELAMATAN DAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA Gambar menunjukkan posisi aman dalam alur dan bentuk daun. KURANG AMAN Terbuang . Tidak adanya pegangan membuatnya tidak bisa dipakai lagi untuk selanjutnya. Kebanyakan kunci pas terbuat dari baja kualitas tinggi untuk menghindarkan kerusakan bentuk atau pegangannya. Bentuk daun Bentuk yang Salah Membahayakan Kunci pas Mulut pada kunci pas harus bersesuaian dengan ukuran mur yang biasanya tertera pada cakram/mulut dari kunci pas itu. Lubang jarak Memakai kunci tabung (sok) Mur atau kunci pas yang lubangnya tidak sesuai dengan ukuran mur.

Bahaya utama dari batu gerinda ialah pasangannya lepas dari senter/poros. Batu gerinda menghasilkan bram yang sangat halus dan percikan api yang berbahaya terhadap mata. Roda gerinda harus dilengkapi perisai mata yang dapat digerakkan. Perkakas senantiasa diasah menentang arah rotasi. Biasanya batu gerinda berputar pada kecepatan tinggi.SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KESELAMATAN DAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA Roda gerinda Diantara sumber bahaya yang dekat di bengkel ialah batu gerinda dan jenis peralatan gerinda lainnya. Batu gerinda Kecepatan tinggi Bram halus Landasan gerinda Perisai Keluar dari posisi senter . Harus tersedia jarak maksimal 1.5 mm antara landasan dan batu gerinda. Benda kerja tertarik ke dalam celah di antara landasan dan batu gerinda. Karena terdapatnya bagian gaya yang tidak sama. batu bisa pecah. Roda gerinda terbuat dari biji-biji abrasive yang direkat sekaligus. Benda kerja yang digerinda harus diletakkan pada landasan mesin gerinda.

Untuk menggerinda benda kerja yang besar diperlukan sarung tangan. benda kerja itu jangan dipegang dengan tangan telanjang. Tapi bagaimanapun harus diperhatikan agar pemakaiannya tetap sama pada kedua sisi dari batu gerinda. tang atau kunci dapat dipakai untuk memegang benda kerja. tetapi pada permukaan lingkarannya. Selama gaya yang keluar dari benda kerja makin kuat.SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KESELAMATAN DAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA Menggerinda Benda yang akan digerinda diletakkan pada landasan dan digerakkan dari samping ke samping sesuai dengan bentuk yang dikehendaki. Sisi-sisi tersebut jangan sampai cekung. Landasan Gerinda Sarung tangan Tang kunci Sisi roda gerinda . jangan pada bidang sampingnya. Diasah menentang arah rotasi. Jika menggerinda benda kerja kecil. Bagian samping roda gerindapun dapat dipakai untuk menggerinda.

6) Ahli keselamatan kerja. di mana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk suatu keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber sumber bahaya sebagai mana terperinci pada pasal 2. ialah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen enaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja. 3) Pengusaha ialah : a. termasuk tempat kerja semua ruangan. lapangan. Orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik sendiri dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja.1. UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA a. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja 1) Tentang Istilah Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1) Tempat kerja. halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut. jikalau yang diwakili berkedudukan di luar Indonesia. Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan sesuatu usaha bukan miliknya dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja. Orang atau badan hukum yang di Indonesia mewakili orang atau badan hukum termaksud pada a) dan b). . bergerak atau tetap. b. ialah tiap ruangan atau lapangan. c. 2) Pengurus ialah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagian yang berdiri. ialah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar epartemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk engawasi ditaatinya undang-undang ini. 5) Pegawai Pengawas. 4) Direktur ialah pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk melaksanakan undang-undang ini. Undang-undang No. tertutup atau terbuka.

h. Dikerjakan bongkar muat barang muatan kapal. l. Dilakukan pekerjaan di dalam tangki. g. hanyut atau terpelanting. di dalam air. Dilakukan usaha : pertanian. d. stasiun atau gudang. pembersihan atau pembongkaran rumah. logam atau bijih logam lainnya. k. terkena pelantingan benda. perkebunan. menimbulkan infeksi. mudah terbakar. dipergunakan. pembukaan hutan.2) Ruang Lingkup Pasal 2 1) Yang diatur oleh undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja. melalui terowongan. gas minyak atau mineral lainnya. diperdagangkan. Dibuat. peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan. bersuhu tinggi. Dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu yang tinggi dan rendah. i. dermaga. pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya. binatang atau manusia. Dilakukan usaha perkembangan dan pengolahan emas. baik di darat. e. diangkut atau disimpan bahan atau barang yang dapat meledak. Dilakukan pekerjaan pada ketinggian di atas permukaan tanah atau perairan. j. perikanan dan lapangan kesehatan. Dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah. Dikerjakan pembangunan. Dibuat. saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau dimana dilakukan pekerjaan persiapan. dicoba. di permukaan air. yang berada dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. maupun di dasar perairan. di permukaan air. batu-batuan. beracun. dipakai. Dilakukan penyelaman. pesawat. c. dek. baik dipermukaan atau di dalam bumi. kebakaran atau peledakan. peternakan. dalam air maupun di udara. 2) Ketentuan pada ayat (1) tersebut berlaku pada tempat kerja di mana : a. Dilakukan pengangkutan barang. alat. di dalam tanah. gedung atau bangunan lainnya yang termasuk bangunan perairan. dipakai atau dipergunakan mesin. kejatuhan. perkakas. diolah. . b. perahu. menggigit. f. perbaikan. sumur atau lubang. terjatuh atau terperosok. perawatan. pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air.

o. pembinaan. sinar atau radiasi. kotoran. Dibangkitkan. minyak atau air.m. e. Dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah. dipertunjukan sandiwara. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu. Terdapat atau menyebar suhu. percobaan. h. gas. g. 3) Dengan peraturan perundang-undangan dapat ditunjukkan sebagai tempat kerja. dikumpulkan. atau diselenggarakan rekreasi lainnya yang memakai peralatan. uap. radar.kelembaban. instalasi listrik atau mekanik. gas. cuaca. hembusan angin. debu. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan d. suara atau getaran. api. Mencegah. asap. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun phychis. mengurangi dan memadamkan kebakaran. Memberi alat perlindungan diri kepada para pekerja. ruangan atau lapangan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan atau kesehatan yang bekerja dan atau berada di ruangan atau lapangan itu dapat diubah perincian tersebut pada ayat (2) 3) Syarat-syarat Keselamatan Kerja Pasal 3 1) Dengan peraturan perundang-undangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk : a. kotoran. Mencegah dan mengurangi kecelakaan. peracunan. p. r. Diputar film. q. Dilakukan pendidikan. Dilakukan pemancaran. listrik. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian lain yang berbahaya. diubah. b. penyiaran atau penerimaan radio. asap. kelembaban. c. penyelidikan atau riset (penelitian) yang menggunakan alat teknis. debu. Memberi pertolongan pada kecelakaan f. cuaca sinar atau radiasi. gas. n. dibagi-bagikan atau disalurkan. infeksi dan penularan. televisi atau telepon. suara dan getaran. disimpan. uap. . hembusan angin.

Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai. n. produk teknis dan aparat produksi guna menjamin keselamatan barang-barang itu sendiri. bahan. . j. k. l. barang. barang produk teknis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. pengujian dan pengesahan pengepakan atau pembungkusan. penggunaan pemeliharaan dan penyimpanan bahan. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja.i. perdagangan. pengolahan dan pembuatan. lingkungan. Memelihara kebersihan. pemakaian. r. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat. 2) Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur. pemberian tanda-tanda pengenal atas bahan. alat kerja. Pasal 4 1) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya. tanaman atau barang. m. peredaran. q. (2) Dengan peraturan perundangan dapat diubah perincian seperti tersebut pada ayat (1) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknik dan teknologi serta pendapat baru di kemudian hari. pembuatan. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup. pengangkutan. cara danproses kerjanya . perlakuan dan penyimpanan barang. keselamatan tenaga kerja yang melakukannya dan keselamatan umum. o. jelas dan praktis yang mencakup bidang konstruksi. binatang. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik. perlengkapan alat-alat perlindungan. kesehatan dan ketertiban.

4) Pengawasan Pasal 5 1) Direktur melakukan pengawasan umum terhadap undang-undang ini. kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat pekerjaan yang diberikan padanya. Pasal 6 1) Barang siapa tidak dapat menerima direktur dapat mengajukan permohonan banding kepada panitia Banding. 3) Keputusan Panitia Banding tidak dapat dibanding lagi. 2) Tata permohonan banding. 2) Wewenangan dan kewajiban direktur. Pasal 7 Untuk pengawasan berdasarkan undang-undang ini. tugas panitia Banding dan lainnya ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja. .3) Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut pada ayat (1) dan (2). Pasal 8 1) Pengurus diwajibkan memeriksa kesehatan badan. dengan peraturan perundangan ditetapkan siapa yang berkewajiban memenuhi dan mentaati syarat-syarat keselamatan kerja tersebut. pengusaha harus membayar menurut ketentuan-ketentuan yang akan diatur dengan peraturan perundangan. pegawai pengawasan dan ahli keselamatan kerja dalam melaksanakan undang-undang ini diatur dengan peraturan perundangan. susunan Panitia Banding. sedang para pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya undang-undang ini dan membantu pelaksanaannya.

2) Pengurus diwajibkan memeriksa semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya. pula dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan. 3) Norma-norma mengenai pengujian kesehatan ditetapkan dengan peraturan erundangan. (2) Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenanga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah mengalami syarat-syarat tersebut di atas (3) Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang di bawah pimpinannya dalam mencegah kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja. tugas dan lainnya ditetapkan . (4) Pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat dan ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankan. saling pengertian dan partisipasi efektif dari pengusaha atau dan tenaga kerja di tempat kerja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban bersama dibidang keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka melancarkan usaha berproduksi. b) Semua pengamanan dan alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerjanya. 6) Panitia Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pasal 10 (1) Menteri tenaga Kerja berwenang membentuk Panitia Pembina keselamatan dan Kesehatan Kerja guna memperkembangkan kerja sama. c) Alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan. 4) Pembinaan Pasal 9 1) Pengurus diwajibkan menunjuk dan menjelaskan kepada setiap tenaga kerja baru entang : a) Kondisi dan bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerjanya. secara berkala kepada dokter yang ditunjuk oleh pengusaha dan dibenarkan oleh direktur. (2) Susunan Panitia Keselamatan dan Kesehatan Kerja. d) Cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.

(3) Memenuhi dan mentaati semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan (4) Meminta kepada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. 10) Kewajiban Pengurus Pasal 14. . kepada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.oleh Menteri Tenaga Kerja. 7) Kecelakaan dan Cara Melaporkan Pasal 11 (1) Pengurus diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerja yang dipimpinnya. 8) Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja Pasal 12 (1) Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai dan atau ahli keselamatan kerja. (2) Tata cara melaporkan dan memeriksa kecelakaan oleh pegawai termaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundangan. (5) Menyertakan keberatan kerja pada pekerja dimana syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas yang masih dapat dipertanggungjawabkan. pada tempat yang mudah dilihat dan dibaca dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. 9) Kewajiban bila memasuki tempat kerja. (2) Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan. (contoh terlampir). undang-undang ini dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang bersangkutan. Pasal 13 Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja. diwajibkan menaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan. Pengurus diwajibkan : (1) Secara tertulis menempatkan di tempat kerja yang dipimpinnya semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan.

bergerak atau tetap. persekutuan. pada tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. (3) Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan. (2) Kejadian berbahaya lainnya ialah suatu kejadian yang potensial. tertutup atau terbuka. peledakan dan bahaya pembuangan limbah. atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri . (3) Menyediakan secara cuma-cuma semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut. (5) Pegawai pengawas adalah pegawai sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 ayat (5) UU No.(2) Memasang di tempat kerja yang dipimpinnya. atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya. (6) Pengurus adalah : a) Orang perseorangan. b) Orang perseorangan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. b. semua gambar keselamatan kerja diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya. yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja kecuali kebakaran. (4) Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri. atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber-sumber bahaya. di mana tenaga kerja bekerja. disertai petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dirmaksud dalam huruf a) dan b) yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. persekutuan. persekutuan. . 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. 03/MEN/98 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan 1) Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : (1) Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. c) Orang perseorangan.

(2) Pengurus atau pengusaha yang belum mengikutsertakan pekerjaannya pada program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 3. Pasal 3 Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) berlaku bagi pengurus atau pengusaha yang telah dan yang belum mengikutsertakan pekerjaannya ke dalam program jaminan sosial tenaga kerja berdasarkan Undang-undang No. c) Kejadian berbahaya lainnya. . (2) Kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : a) Kecelakaan Kerja. 2) Tata Cara Pelaporan Kecelakaan Pasal 2 (1) Pengurus atau pengusaha wajib melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerja dipimpinnya. PER-05/MEN/1993. melaporkan kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf a) dan b) dengan tata cara pelaporan sesuai peraturan Menteri Tenaga Kerja No. b) Kebakaran atau peledakan atau bahaya pembuangan limbah.(7) Menteri adalah Menteri yang membidangi ketenagakerjaan. melaporkan kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf a) dan b) dengan tata cara pelaporan sesuai peraturan Menteri Tenaga Kerja No. (2) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara lisan sebelum dilaporkan secara tertulis. c) dan d) kepada Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja setempat dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam terhitung sejak terjadinya kecelakaan dengan formulir laporan kecelakaan sesuai contoh bentuk 3 KK2 A lampiran 1. Pasal 5 (1) Pengurus atau pengusaha yang telah mengikutsertakan pekerjaannya pada program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 3. b). 3 tahun 1992. Pasal 4 (1) Pengurus atau pengusaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 wajib melaporkan secara tertulis kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf a).

Pasal 7 Pegawai pengawas dalam melaksanakan pemeriksaan dan pengkajian mempergunakan formulir laporan pemeriksaan dan pengkajian sesuai lampiran II untuk kecelakaan kerja. kebakaran dan bahaya pembuangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 limbah dan lampiran V untuk bahaya lainnya. (3) Pemeriksaan dan pekerjaan kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja memerintahkan pegawai pengawas untuk melakukan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan. Pasal 8 (1) Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 pada tiap-tiap akhir bulan menyusun analisis laporan kecelakaan dalam daerah hukumnya dengan menggunakan formulir sebagaimana lampiran VI peraturan ini. dan pasal 5. (2) Analisis kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat untuk tiap bulan . lampiran III untuk penyakit akibat kerja. lampiran IV untuk peledakan. Pasal 9 (1) Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja berdasarkan analisis laporan kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 menyusun analisis kecelakaan dalam daerah hukumnya dengan menggunakan formulir sebagaimana lampiran VII peraturan ini. (2) Pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaksanakan terhadap setiap kecelakaan yang dilaporkan oleh pengurus atau pengusaha. 3) Pemeriksaan Kecelakaan Pasal 6 (1) Setelah menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1). (2) Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja harus menyampaikan analisis laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja setempat selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.PER-04/MEN/1993.

5) Pengawasan Pasal 13 Pengawasan terhadap ditaatinya Peraturan Menteri ini dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. pasal 4 ayat (1). PER-04/MEN/1993 dan Peraturan Menteri No. PER. IV. diancam dengan hukuman sesuai dengan ketentuan pasal 15 ayat (2) UU No.(3) Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja harus segera menyampaikan analisis kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri atau Pejabat yang ditunjuk. Pasal 11 Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan berdasarkan analisis laporan kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) menyusun analisis laporan kekerapan dan keparahan kecelakaan tingkat nasional.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja 1) Ketentuan Umum Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : . Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. maka formulir bentuk 3 KK2 dalam Peraturan Menteri No. PER05/MEN/1993 dinyatakan tidak berlaku. VI. dan VII sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (1). c. 4) S a n k s i Pasal 12 Pengurus atau pengusaha yang melanggar ketentuan pasal 2. V. Pasal 10 Cara pengisian formulir sebagaimana dimaksud dalam lampiran II. III. 6) Ketentuan Penutup Pasal 14 Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri ini. pasal 8 ayat (1) dan pasal 9 ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan.

4) Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang mempekerjakan pekerja dengan tujuan mencari laba atau tidak. bergerak atau tetap. di permukaan air.1) Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disebut Sistem Manajemen K3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi. baik milik swasta maupun milik negara. prosedur. dan dilaksanakan secara efektif dan cocok untuk mencapai kebijakan dan tujuan perusahaan. 3) Audit adalah pemeriksaan secara sistematik dan independen. tertutup atau terbuka. di dalam air maupun di udara yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. 1 Tahun 1970. 6) Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan adalah pegawai teknik berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri. untuk menentukan suatu kegiatan dan hasil-hasil yang berkaitan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan. di dalam tanah. proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan. 7) Pengusaha adalah : a) Orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik sendiri dan untuk keperluan itu mepergunakan tempat kerja. penerapan. perencanaan. 5) Direktur ialah pejabat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No. atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya baik di darat. efisien dan produktif. pelaksanaan. c) Orang atau badan hukum yang di Indonesia mewakili orang atau badan hukum termaksud pada huruf a) dan b). jika kalau yang diwakili berkedudukan di luar Indonesia. 2) Tempat kerja adalah setiap ruangan atau lapangan. pencapaian. . tanggung jawab. b) Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan sesuatu usaha bukan miliknya dan untuk keperluan itu mepergunakan tempat kerja. 8) Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung tempat kerja atau lapangan yang berdiri sendiri. pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan krja guna terciptanya tempat kerja yang aman. di mana tenaga kerja bekerja.

3) Penerapan Sistem Manajemen K3 Pasal 3 1) Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan. Pasal 4 . kebakaran. kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja. tenaga kerja.9) Tenaga kerja adalah tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan. 2) Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilaksanakan oleh Pengurus. efisien dan produktif. baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 12) Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang ketenagakerjaan. pencemaran dan penyakit akibat kerja. wajib menerapkan Sistem Manajemen K3. 10) Laporan Audit adalah hasil audit yang dilakukan oleh Badan Audit yang berisi fakta yang ditemukan pada saat pelaksanaan audit di tempat kerja sebagai dasar untuk menerbitkan sertifikat pencapaian kinerja Sistem Manajemen K3. 11) Sertifikat adalah bukti pengakuan tingkat pemenuhan penerapan peraturan perundangan Sistem Manajemen K3. Pengusaha dan seluruh tenaga kerja sebagai satu kesatuan. 2) Tujuan dan Sasaran Sistem Manajemen K3 Pasal 2 Tujuan dan sasaran Sistem Manajemen K3 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsusr manajemen. serta terciptanya tempat kerja yang aman.

Perusahaan wajib melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : a) Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dan menjamin komitmen terhadap penerapan Sistem Manajemen K3. d) Pengendalian dokumen . 2) Audit Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi unsur-unsur sebagai berikut : a) Pembangunan dan pemeliharaan komitmen . memantau dan mengevaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan kerja serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan. . 2) Pedoman penerapan Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud ayat (1) sebagaimana tercantum dalam lampiran I Peraturan Menteri ini. tujuan dan sasaran penerapan keselamatan dan kesehatan kerja. b) Merencanakan pemenuhan kebijakan. c) Peninjauan ulang desain dan kontrak . d) Mengukur.1) Dalam penerapan Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud dalam pasal 3. e) Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan Sistem Manajemen K3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja. c) Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan. perusahaan dapat melakukan audit melalui badan audit yang ditunjuk oleh Menteri. e) Pembelian . tujuan dan sasaran keselamatan dan kesehatan kerja. f) Keamanan bekerja berdasarkan Sistem Manajemen K3 . b) Strategi pendokumentasian . 3) Audit Sistem Manajemen K3 Pasal 5 1) Untuk pembuktian penerapan Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud pasal 4.

h) Pelaporan dan perbaikan kekurangan . 6) Mekanisme Pelaksanaan Audit Pasal 7 1) Audit Sistem Manajemen K3 dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali dalam tiga tahun. i) Pengelolaan material dan pemindahannya . Badan Audit harus : a) Membuat rencana tahunan audit b) Menyampaikan rencana tahunan audit kepada Menteri atau Pejabat yang ditunjuk. l) Pengembangan keterampilan dan kemampuan. 4) Pedoman teknis audit Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sebagaimana tercantum dalam lampiran II Peraturan Menteri ini. 3) Perubahan atau penambahan sesuai perkembangan unsur-unsur sebagaimana dimaksud ayat (2) diatur oleh Menteri. pengurus tempat kerja yang akan diaudit dan Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja setempat . k) Pemeriksaan sistem manajemen . 5) Kewenangan Direktur Pasal 6 Direktur berwenang menetapkan perusahaan yang dinilai wajib untuk diaudit berdasarkan pertimbangan tingkat risiko bahaya. . c) Mengadakan koordinasi dengan Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja setempat . 2) Untuk pelaksanaan audit. j) Pengumpulan dan penggunaan data .g) Standar Pemantauan .

4) Berdasarkan hasil evaluasi dan penilaian tersebut pada ayat (3). b) Menginstruksikan kepada Pegawai Pengawas untuk mengambil tindakan apabila berdasarkan hasil audit ditemukan adanya pelanggaran atas peraturan perundangan. Direktur melakukan evaluasi dan penilaian. 8) Pembinaan dan Pengawasan Pasal 10 Pembinaan dan pengawasan terhadap penerapan Sistem Manajemen K3 dilakukan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. 3) Setelah menerima laporan Audit Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud ayat (2). ditanda tangani oleh Menteri dan berlaku untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun.3) Pengurus tempat kerja yang akan diaudit wajib menyediakan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pelaksanaan audit Sistem Manajemen K3. 2) Jenis sertifikat dan bendera penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebagaimana tercantum dalam lampiran IV Peraturan Menteri ini. . Direktur melakukan hal-hal sebagai berikut : a) Memberikan sertifikat dan bendera penghargaan sesuai dengan tingkat pencapaiannya atau. Pasal 8 1) Badan Audit wajib menyampaikan laporan audit lengkap kepada Direktur dengan tembusan yang disampaikan kepada pengurus tempat kerja yang diaudit. 2) Laporan audit lengkap sebagaimana dimaksud ayat (1) menggunakan formulir ebagaimana tercantum dalam lampiran III Peraturan Menteri ini. 7) Sertifikat K3 Pasal 9 1) Sertifikat sebagaimana dimaksud pasal 8 ayat (4) huruf a).

gunakan kaca mata Tanda-tanda ini mempunyai gambar diatasnya sehingga dapat diketahui apa maksudnya walaupun pekerja tidak bisa bahasa Inggris dengan baik. Gambar Simbol Keselamatan Kerja Gambar simbol keselamatan adalah tanda yang ditampilkan pada tempat kerja untuk : • • Tanda Larangan / Pencegahan kecelakaan . Contoh. Contoh. Gambar putih diatas warna dasar biru.9) Pembiayaan Pasal 11 Biaya pelaksanaan audit Sistem Manajemen K3 dibebankan kepada perusahaan yang diaudit. tempat PPPK Tanda Perintah/Pemberitahuan kepada pekerja dimana perlengkapan keselamatan khusus harus dipakai. Gambar lingkaran dengan diagonal merah diatas warna dasar putih. Manfaatkan gambar simbol keselamatan untuk tempat kerja dari Departemen Tenaga Kerja untuk mempelajari semua standar tanda keselamatan yang dpergunakan ditempat kerja. Berbentuk segi empat . dilarang merokok. Contoh. mudah terbakar atau awas api • • Tanda Pemberitahuan /Tempat perlengkapan keadaan darurat tersimpan. seperti berikut ini : . Tanda Peringatan bahaya keselamatan dan kesehatan kerja. Ini penting bahwa setiap pekerja mengetahui tanda keselamatan tanpa ragu-ragu. Contoh. Berbentuk segi tiga dengan warna hitam diatas warna dasar putih. C.

Polusi Dari Serat dan Debu 1) Penyebab polusi Debu dapat ditimbulkan dari proses kerja seperti debu dari serat bahan gelas atau debu dapat masuk ketempat kerja karena di kirim yaitu melalui kantong tepung kimia. Pada bagian berikut dijelaskan masing-masing polusi dan pencegahannya. . yaitu : Polusi dari serat (fiber) dan debu. POLUSI PADA INDUSTRI Pada umumnya ada tiga bentuk polusi yang mempengaruhi pekerja pada tempat kerja di industri. gas atau partikel padat yang sangat halus disebarkan oleh udara. a. 2) Mengapa serat dan debu berbahaya : • Debu dan serat dapat terhisap kedalam paru-paru. • Beberapa debu mineral dapat menggores paru-paru dan menyebabkan penyakit • Alergi dan kesulitan bernafas dapat terjadi • Kanker dapat berkembang 3) Bagaimana bahaya dapat dicegah dan dikontrol : • • • Alat pembuangan gas (exhaust) dan ventilasi pembuangan dapat membuang debu dan serat partikel.4. polusi dari bahan kimia. kandungan yang terbakar (peranan bahan bakar) atau asap. dan polusi kebisingan. Aerosol dapat berupa cairan. Debu partikel padat terbawa oleh udara. dimana tersebarnya partikel jelaga di udara. Serat mineral yang berbahaya seharusnya dapat diganti dengan yang aman. Aerosol mungkin datang dari semprotan cairan (cat aerosol). Penggunaan alat tangan dapat mengurangi debu dibandingkan alat listrik.

Area kerja seharusnya terjaga kebersihannya untuk menghindari debu dan serat yang terbentuk. Maka dari itu jangan sembarangan jika menggunakan bahan kimia dalam proses kerja atau menanganinya. Tetapi hal tersebut tidak selalu mudah untuk mendeteksi polusi kimia lebih dini. tindakan harus segera diambil. seperti kanker atau sakit liver kronis. Alat pernafasan diperlukan untuk penggunaan temporer atau dalam keadaan darurat. Jangan mengira tidak membahayakan. Pekerja dapat melakukan pekerjaan yang bervariasi untuk mengurangi kontak secara terus menerus dengan debu dan serat.• • • • • • • Alat listrik harus punya ventilasi pembuangan setempat yang pas. Pemantauan udara untuk melihat tingkatan serat seharusnya dilakukan. Pembuangan serat seharusnya ditempatkan dalam kontainer yang bersegel. 1) Beberapa cara polusi kimia menyerang secara perlahan pada pekerja : • • • Gas yang tidak berwarna atau tidak berbau dapat terbentuk pada ruang terbatas dan bias menyebabkan mati lemas. Polusi dari Bahan Kimia Bahan kimia yang keras. Serbuk kimia yang ditangani bertahun-tahun dapat berefek jelek dikemudian hari. bau yang tajam atau mempunyai warna tersendiri dan pemberian label yang jelas dapat menjadi peringatan kepada pekerja tentang apa zatnya. b. atau karena telah bekerja bertahun-tahun menggunakan bahan kimia dan belum pernah mencelakakan. Uap dengan bau yang enak dapat membuat mabuk. Masker seharusnya dipakai oleh pekerja yang kontak langsung dengan bahaya serat dan debu hingga tempat kerja dapat dibuat lebih aman. jika tingkatan serat diatas standar yang ditetapkan. . sehingga berefek mematikan dalam beberapa menit. sebab bahan kimia tidak berbau.

sangat bermanfaat melindungi diri pekerja. 3) Tumpahan. • Secara berkala kesehatan pekerja dimonitor. Menutupi proses kerja atau penyimpanan kontainer untuk kandungan bahan kimia (yaitu menutupi wadah. Peranan lembaran data keamanan bahan (Material Safety Data Sheet / MSDS) cukup penting. Gas toxic secara ceroboh tertumpah keudara. . Beberapa alasan mengapa bocoran dan tumpahan bahan kimia harus diperlakukan dengan tepat : • • Jika kandungan bahan kimia tumpah atau bocor. mengalir kedalam drainase. Pakaian dan perlengkapan pelindung seperti masker muka. Sistim ventilasi industri dirancang dengan baik. alat pernafasan dan pelindung kepala (helm) dipakai hingga tempat kerja aman. penanganan dari jauh/ pakai remote). dapat berefek pada kesehatan banyak orang di masyarakat. Adanya ahli K3 ditempat kerja yang dapat membantu untuk membaca dan memahami informasi ada MSDS. hal itu akan mengotori saluran air masyarakat. agar dapat menghilangkan asap dan uap. dengan mengikuti semua petunjuk yang dibolehkan untuk penggunaan bahan kimia. Semua pelindung roda gigi harus sesuai standar yang aman. Bocoran dan sisa pembuangan Tumpahan dan bocoran kandungan bahan kimia yang berbahaya harus selalu diperlakukan dengan cara yang tepat. sesuai penjelasan pada MSDS. Udara ditempat kerja harus dimonitor dan semua udara kotor dinetralkan. 3) Langkah pencegahan dan pengontrolan polusi kimia : • • • • • Bila mungkin.Pekerja seharusnya mengetahui aturan yang berhubungan dengan risiko bahan kimia yang digunakan. Ganti bahan kimia dengan yang aman kandungan zatnya. hentikan penggunaan bahan kimia berbahaya ditempat kerja.

di jalan dan ditoko menyebabkan keluhan sejumlah besar orang. Undang-undang telah mengatur kontrol dan standar kebisingan yang diizinkan untuk mengatur orang-orang yang menimbulkan ketidak amanan dan anti-sosial tingkat kebisingan. sedangkan bagi orang-orang dari sekitar pinggiran merupakan suatu yang menyakitkan. Suara kendaraan bermotor konstan diterima orang disekitar kota.• Gas toxic dihasilkan dari bahan kimia yang terbakar. • Memainkan musik keras dirumah. Potensi risiko untuk masyarakat biasanya dari sumber alami yang penting. seperti udara dan air. sebagai perbandingan tingkat kebisingan adalah : . 2) Tingkat kebisingan Desibel (dB) adalah ukuran intensitas suara. Pada MSDS diberikan petunjuk cara pembuangan yang harus diikuti sesuai peraturan. kompresor. Kebisingan 1) Sumber kebisingan • Setiap orang punya perbedaan pendapat tentang kapan kebisingan dianggap terlalu keras dan apa jenis kebisingan yang dapat diterima. Harus dipahami bahwa bekerja dengan bahan kimia meliputi tanggung jawab untuk melindungi semua masyarakat dari timbulnya bahaya. • Industri di banyak tempat telah menjadi begitu bising sehingga hampir semua pekerja industri mengalami tingkat kebisingan yang berbahaya dari suara mesin pon. Pembuangan bahan kimia bekas harus dikontrol secara tepat. dan kebisingan industri lainnya. • • Ledakan cairan yang mudah terbakar pada pabrik yang terbakar dapat dengan serius membahayakan pemadam kebakaran dan wilayah hunian terdekat. Untuk waktu lama dapat terjadi gangguan kesehatan. dapat menyebabkan kerusakan kulit dan gangguan pernafasan. karena merasa terganggu. Polusi harus dipertanggungjawabkan pada semua tempat kerja untuk memastikan bahwa standar keselamatan sesuai peraturan untuk melindungi pekerja dan masyarakat luas. c. secara berangsur-angsur menjadi biasa dengan tingkat kebisingan tersebut.

Tindakan Keamanan Kerja Banyak aktivitas berikut yang menjadi pertimbangan untuk bekerja dengan aman • • • • • Memodifikasi peralatan atau mesin tanpa kewenangan. a. walaupun metoda bekerja dengan aman telah dikembangkan. . Bila bahaya tidak dapat dihindari langkah yang harus diambil adalah mengurangi risiko cedera.• Pesawat terbang take off 180 dB • Melewati / ambang batas pendengaran 130 dB • Truk besar 120 dB • Disco 110 dB • Kebisingan pabrik 100 dB • Kebisingan jalan raya 80 dB • Kebisingan kantor 60 dB • Gemerisik daun 20 dB • Sunyi sepi (batas tidak dapat didengar) 0 dB 3) Mengatasi kebisingan. atau khususnya saat perawatan dan situasi darurat. Melakukan pekerjaan yang tidak dilatih untuk dilakukan. Pada bagian berikut ini dijelaskan empat cara dasar untuk mengatasi kebisingan : • Perencanaan tata ruang yang baik • Penggunaaan bahan bangunan dan akustik yang tepat • Pembuatan penyekat atau bagian pembendung • Penggunaan getaran suara 5. Keselamatan pribadi ditempat kerja dapat terjamin dengan dihindarinya faktor bahaya sebelum menyebabkan cedera. Perlengkapan dan pakaian pelindung harus selalu dipakai untuk keselamatan ditempat kerja. Tidak memperhatikan aturan keselamatan sebab menurut pribadi hal itu menjadi penghambat dalam melakukan pekerjaan. Melakukan pekerjaan yang keterampilannya atau kewenangan tidak dipunyai. Melakukan pekerjaan selalu dengan cara sendiri. KESELAMATAN PRIBADI Semua pekerja perlu menyadari keselamatan pribadi mereka ditempat kerja.

Kerja sama dan partisipasi dalam program ini membuat tempat kerja aman. Jadi jelaslah bahwa semua aktivitas tersebut tidak aman dan sangat potensial menimbulkan bahaya. Laporkan semua kecelakaan dan cedera sekecil apapun jika kemungkinan terjadi. walaupun jalan pintas tersebut melanggar petunjuk prosedur bekerja yang aman. • • • • • • • • • • • Pikirkan tentang apa yang dapat terjadi sebelum melakukannya. Tidak menggunakan alat pengaman walaupun diperlukan waktu mengerjakan pekerjaan.• • Mengambil jalan pintas dalam melaksanakan. Perlengkapan dan Pakaian Pelindung Pekerja serta Program di Tempat Kerja 1) Perlengkapan dan Pakaian Pelindung Pekerja Perlengkapan dan pakaian pelindung digunakan untuk melindungi pekerja dari kontak langsung dengan bahan kimia atau perantaranya yang dapat membahayakan kesehatan. Ketahui tanda peringatan dan pahami maksudnya dan lakukan seperti yang disarankan. perlengkapan dan praktik kerja dapat dibuat aman. Jangan melakukan sesuatu yang belum dilatih. b. Jangan melakukan sesuatu yang dapat melukai diri sendiri atau orang lain. . Ini adalah daftar untuk bekerja dengan aman. Selalu mengunakan peralatan dan perlengkapan dengan benar untuk melakukan pekerjaan. tidak punya keterampilan atau kewenangan melakukannya. Laporkan praktik kerja dan situasi yang diperkirakan tidak aman. Ikuti aturan dan petunjuk keselamatan dan kesehatan kerja. Laporkan kesalahan atau peralatan dan perlengkapan yang tidak aman. Berikan gagasan tentang bagaimana mesin. Hal berikut ini seharusnya dipelajari dengan seksama dan dipraktikan secara rutin.

serat atau jenis kotoran lainnya. tergantung apakah pekerja kontak dengan bahan kimia. Bentuk pelindung pendengaran. dan seharusnya dipilih berdasarkan ukuran tingkat kebisingan pada lokasi kerja. sesuai untuk tempat kerja dan pekerjaan. perisai muka dan helm dapat melindungi sensitif area mata dari kerusakan. kaca pengaman. Alat pernafasan seharusnya diperiksa secara tetap untuk kebersihan umumnya dan khususnya kerusakan katup. pancuran air untuk keselamatan (safety showers) dan pencuci mata darurat (emergency eye wash) juga disediakan sebagai penjagaan pertama dalam kasus kegagalan pelindung. tali pengikat dan penjepit. Alat pernafasan seharusnya diperiksa setiap waktu sebelum digunakan. menjaga rambut pada tempat kerja sehingga tidak membahayakan. Penyaring yang benar diperlukan pada alat pernafasan. debu. Alat pernafasan harus dipaskan secara perorangan dan dipilih sesuai kondisi tempat kerja. saringan udara dan alat pernafasan engan pembersih udara digunakan untuk melindungi paru-paru dan sistim pernafasan. Alat ini harus dibersihkan sesudah digunakan untuk menghindari penularan dan disimpan pada kantong plastik tertutup. Masker las dan perisai seharusnya tidak berkabut. Kaca plastik yang tahan tumbukan dan perisai muka akan melindungi dari pecahan yang beterbangan serta perisai tahan zat kimia diperlukan ketika menangani bahan kimia. seal. peluru. • • Pelindung kaki : Sepatu boot (safety boots) melindungi kaki Pelindung kepala : Jaring rambut dan penutup.• Pelindung telinga : Pelindung telinga atau sumbat melindungi pendengaran dari bahaya tingkat kebisingan. lembaran penutup. Pakaian harus di pas dengan baik. Pakaian pelindung. Pakaian kerja dari kulit atau metalik cocok melindungi seluruh tubuh dan jas kerja digunakan untuk melindungi badan. Tempat lemari uap (fume cabinets). . • Pelindung pernafasan : Penutup muka. Masker las dipakai dengan benar untuk pengelasan. • Pelindung mata : Kaca mata. • Pelindung kulit : Sarung tangan pengaman dan krim pelapis melindungi kulit dari kerusakan dan menahan peresapan bahan kimia kedalam tubuh.

1. Gambar Helm Nama 2. Respirator 3. Kaamata . Alat Pelindung Diri (APD) yaitu : • • • • • • • • Pelindung Kepala Pelindung mata dan wajah Pelindung tangan Pelindung badan Pelindung telinga Alat Bantu pernapasan Sabuk Pengaman Pelindung kaki No.perlengkapan (seperti alat pernafasan dan lemari uap) dan fasilitas dasar pertolongan pertama seharusnya tersedia ditempat kerja.

Face Shield 8. Jaket Pelampung 10. Ear Plug 7.4. Sapu Tangan 5. Pelampung 6. Safety Harness 9. Arpon .

11. Safety Shoes . Pakaian Kerja 12.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->