Nama : Mujaroh Khotimah NIM : 115100900111038 Kelompok: Desiccator (1) DESICCATOR Desikator adalah alat laboratorium yang berbentiuk panci

yang tersusun atas dua bagian bawahnya diisi bahan pengering, dengan penutup yang sulit dilepas dalam keadaan dingin karena dilapisi vaseline. Ada 2 macam desikator : desikator biasa dan vakum. Desikator vakum pada bagian tutupnya ada katup yang bisa dibuka tutup, yang dihubungkan dengan selang ke pompa. Bahan pengering yang biasa digunakan adalah silika gel Ada 2 macam desikator : desikator biasa dan vakum. Desikator vakum pada bagian tutupnya ada katup yang bisa dibuka tutup, yang dihubungkan dengan selang ke pompa. Bahan pengering yang biasa digunakan adalah silika gel. Kegunaan alat ini adalah sebagai tempat menyimpan sampel yang harus bebas air, mengeringkan padatan dan dapat digunakan untuk melestarikan kelembaban -sensitif barang-barang seperti kertas kobalt klorida untuk penggunaan lain. Yang umum digunakan untuk desikator adalah untuk melindungi bahan kimia yang higroskopis atau yang bereaksi dengan air dari kelembaban . Seringkali semacam kelembaban indikator termasuk dalam desikator untuk menunjukkan, dengan perubahan warna, tingkat kelembaban. Indikator-indikator ini dalam bentuk colokan indikator atau kartu indikator. Bahan kimia aktif kobalt klorida (COCl 2). anhidrat kobalt klorida biru. Ketika obligasi dengan dua molekul air, (COCl 2 • 2H 2 O), ternyata ungu. Hasil hidrasi lebih lanjut di kompleks hexaaquacobalt merah muda (II) klorida [Co (H 2 O) 6] 2 +. Hal ini juga memerlukan beberapa waktu untuk mencapai kelembaban rendah. Oleh karena itu mereka tidak sesuai untuk menyimpan bahan kimia yang bereaksi cepat atau hebat dengan kelembaban atmosfer seperti logam alkali. Sebuah glovebox atau Schlenk aparatus-jenis mungkin lebih cocok untuk tujuan ini. Desikator kadang-kadang digunakan untuk menghilangkan jejak air dari sampel yang hampir kering. Apabila suatu desikator sendiri tidak memuaskan, sampel dapat dikeringkan pada suhu tinggi menggunakan pistol Abderhalden mengering Dalam penggunaan laboratorium, desikator yang paling umum adalah lingkaran, dan terbuat dari berat kaca . Biasanya ada sebuah platform dilepas di mana barang yang akan disimpan ditempatkan. Para pengering, biasanya sebuah padat lain-inert seperti gel silika , mengisi ruang di bawah platform. Sebuah kran dapat dimasukkan untuk mengizinkan desikator yang akan dievakuasi. Model tersebut biasanya dikenal sebagai desikator vakum. Ketika vakum adalah untuk diterapkan, itu adalah praktek umum untuk berselang-salib desikator vakum dengan pita, atau untuk menempatkan di belakang layar untuk meminimalkan kerusakan atau cedera yang disebabkan oleh ledakan . Untuk mempertahankan segel baik, vakum minyak biasanya diterapkan pada flensa

"Itu karena tebalnya selaput kuning telurnya. Kami hanya memanipulasi pakan yang diberikan pada ayam petelur dengan suplemen omega-3 selama tiga minggu berturut-turut. Telur ini juga kalau diceplok dibuat telur mata sapi. dan 9 dan kualitasnya lebih bagus dibanding sumber omega-3 dari tumbuhan. yang memang sangat membutuhkan warna kuning telur yang pekat atau lebih gelap untuk memperindah penampilan makanan atau kuenya. Supleman omega-3 tersebut. Selaput kuning telurnya juga lebih tebal dan dapat bertahan diudara tanpa pecah selama 10 sampai 15 menit. "Teknologinya sederhana. Formula supleman omega-3 khusus untuk ayam petelur itu. yang saat ini tengah menyiapkan perternakan ayamnya. 17 Juni 2010 Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan teknologi penghasil telur tinggi DHA rendah kolesterol. jumlah asam lemak omega-3 dalam telur meningkat 10 kali dibanding telur ayam biasa. kuning telurnya akan berada ditengah dan tetap bulat.816 miligram DHA (docosahexaenoic acid). dari Litbang Gizi Departemen Kesehatan Bogor.Ilmuwan IPB Menghasilkan Telur Rendah Kolesterol yudhi XIII." ungkap Iman Rahayu." tambahnya. . 6. Yakni." kata Iman Rahayu. Telur ayam kaya omega-3 pun. di Kampus IPB Baranagsiang. Limbah itu diemulsi dan dispersikan menjadi ekstrak lemak pekat. Perbandingannya. Guru besar pakar unggas tersebut. Bogor. berbahan baku limbah rebusan ikan sardin dan ampas tahu kering. Lalu. Kamis. 1:1. Lebih lanjut Iman Rahayu mengatakan suplemen omega-3 itu akan diproduksi dan dipakai unit usaha dan bisnis IPB. dengan memberi pakan ayam dengan suplemen omega-3 yang berasal dari limbah perebusan ikan sardin dan ampas tahu. Telurnya akan dijual ke masyarakat dengan kemungkinan merek dagang adalah "Telur Omega-3 IPB". "Ini tentu disukai konsumen atau produsen makanan atau kue tertentu. ekstrak tersebut dicampur ampas tahu yang sudah dihaluskan. Dengan konsentrasi sebesar itu. kuning telurnya lebih pekat warnanya. melakukan penelitiannya bersama Dr Komari. kini sudah memiliki sertifikat paten dengan nomor P 0023652. Seratus gram telur ayam dari ayam berpakan suplemen omega-3 mengandung 2. Kandungan kolesterol telur ayam berpakan suplemen omega-3 pun lebih rendah 50 persen (147 miligram) dari telur biasa (295 miligram). Dipilih limbah rebusan ikan sardin karena hasil penelitian meninjukan limbah tersebut banyak mengandung omega-3." kata Prof Dr Ir Iman Rahayu Hidayati Susanto MS. sedangkan 100 gram telur ayam biasa hanya mengandung 239 miligram DHA. pada tahun 2005. "Suplemen omega tersebut dicampurkan dalam pakan komersial ayam petelur dengan konsentrasi lima sampai sepuluh persen. Pencampurannya dengan cara disemprot atau diaduk.

100 per butir." kata Iman Rahayu.500 samapi Rp 2. .Selanjutnya. Telur ayam biasa saat ini Rp 700 sampai Rp 750 per butir. "Kami juga ingin menawarkan formula suplemen tersebut kepada industri perternakan. yang siap pakai. Bisnis telur kualitas prima (mengandung Omega-3) sangat menjanjikan. untuk dijual kepada umum. IPB juga akan memperbanyak produksi suplemen omega-3 khusus untuk pakan ayam petelur tersebut. telur beromega-3 harganya Rp 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times