Pengembangan Kelembagaan dan Pembentukan Modal Sosial

1. Pengembangan Kapasitas Kelembagaan, Modal Sosial

James Christenson dan Jerry Robinson tahun 1980 seperti dikutip oleh Lyon (1987:114) menyatakan bahwa dalam pembangunan masyarakat, komunitas digambarkan sebagai elemen-elemen pokok: (i) masyarakat, (ii) yang ada dalam batas geografis tertentu, (iii) mengembangkan interaksi sosial, dan (iv) dengan ikatan-ikatan psikologi satu sama lain dan dengan tempat mereka tinggal. Selanjutnya James Christenson mengidentifikasi tiga pendekatan dalam pengembangan masyarakat: (i) Menolong diri sendiri (self-help), (ii) Pendampingan teknik (technical assistance), (iii) Pendekatan konflik

Menolong diri sendiri (self-help)

Masyarakat menjadi partisipan yang aktif dalam proses pembangunan. Agen-agen pembangunan menjadi fasilitator. Komunitas (local residents) memegang tanggung jawab utama dalam hal: (i) memutuskan apa yang menjadi kebutuhan komunitas, (ii) bagaimana memenuhi kebutuhan itu, dan (iii) mengerjakannya. Tujuan agen pembangunan adalah melembagakan pola pengambilan keputusan horisontal dan implementasinya. Tugas-tugas khusus ditentukan oleh komunitas. Hal yang paling penting dari pendekatan ini adalah proses mengantar komunitas pada kebersamaan.

Perencana seolah-olah ditugasi oleh masyarakat setempat untuk mengembangkan sikap rasionalitas mereka.Pendampingan teknik (technical assistance)    Mendasarkan pada perkiraan kebutuhan oleh para perencana yang dapat mengantarkan dan mengevaluasi proses pengembangan masyarakat. pengembangan sistem pelayanan sosial dan kordinasi atas pelayanan yang ada. Pengembangan masyarakat dari pespektif ini bersifat spesifik mencakup pengembangan ekonomi. .

Untuk itu dibutuhkan perubahan struktur komunitas untuk menciptakan pemerataan.Pendekatan konflik  Menekankan pada perubahan kepercayaan agen pembangunan bahwa terdapat ketidakadilan dalam struktur yang ada dalam komunitas. .

Dalam konteks seperti itu maka pembangunan merupakan gerakan masyarakat. seluruh masyarakat. bukan proyek pemerintah yang dipersembahkan kepada rakyat di bawah. .Pembangunan yang berorientasi pada kerakyatan    Syarat pembangunan kerakyatan menurut Corten (1990: 110) adalah tersentuhnya aspek-aspek keadilan. keseimbangan sumberdaya alam dan adanya partisipasi masyarakat. Pembangunan adalah proses dimana anggota-anggota suatu masyarakat meningkatkan kapasitas perorangan dan institusional mereka untuk memobilisasi dan mengelola sumberdaya untuk menghasilkan perbaikanperbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai aspirasi mereka sendiri.

Hal ini mengandung beberapa implikasi (Eade. dan menjadi perencana pembangunan bagi diri mereka (Eade. 1997: 3) .Pengembangan kapasitas    Pengembangan kapasitas merupakan suatu pendekatan pembangunan dimana semua orang memiliki hak yang sama terhadap sumberdaya. juga mencari dukungan organisasi untuk bekerja demi keadilan sosial yang berkelanjutan. Jadi. ekonomi. Pengembangan kapasitas masyarakat bertujuan untuk mengkombinasikan fokus yang lebih rinci pada setiap situasi dengan visi strategi yang luas dalam jangka panjang. sementara terdapat kapasitas dasar tertentu (sosial. politik dan praktek) dimana pembangunan itu bergantung. 1997: 2-3).

Upaya mendukung organisasi untuk menjadi katalis dialog politik dan atau memberikan kontribusi dalam mencari alternatif pembangunan . 1997: 34-35): 1. 2. Menjadikan suatu lembaga lebih efektif mengimplementasikan proyek-proyek pembangunan.Isu Pokok Pengembangan Kapasitas (Eade.

masuk akal dan terpenuhi. dan kegiatan organisasi. membantu mitra kerja menjadi lebih mandiri dan aktor otonom dalam hubungan jangka panjang atau penyertaan donor dan agen-agen yang relevan lainnya . strukturnya dan aktivitasnya. misi organisasi yang berimbang. 2. 3. Kriteria efektivitasnya akan berhubungan dengan faktor luar dimana misi itu dirasakan tepat. proses. mengembangkan hubungan antara struktur.3. Kriteria efektivitas terkonsentrasi pada dampaknya di tingkat lokal. dan pertautannya dengan lingkungan eksternalnya. Fokusnya adalah: 1.

   Pengembangan kapasitas masyarakat menurut Maskun (1999) merupakan suatu pendekatan pembangunan yang berbasis pada kekuatan-kekuatan dari bawah secara nyata. kapasitas kelembagaan swasta dan kapasitas masyarakat desa terutama dalam bentuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam menghadapi tantangan pengembangan potensi alam dan ekonomi setempat. Organisasi-organisasi lokal diberi kebebasan untuk menentukan kebutuhan organisasinya dan kebutuhan masyarakat . Kapasitas lokal yang dimaksud adalah kapasitas pemerintahan daerah. Kekuatan-kekuatan itu adalah kekuatan sumberdaya alam. sumberdaya ekonomi dan sumberdaya manusia sehingga menjadi suatu local capasity.

 Dalam konteks seperti itu otonomi dan pembangunan masyarakat oleh masyarakat adalah suatu konsep yang sejalan. Karena itu kebutuhan penting di sini adalah bagaimana mengembangkan kapasitas masyarakat. Dalam konteks seperti itu pemerintah memiliki fungsi menciptakan strategi kebijakan sebagai landansan bagi organisasi lokal untuk mengembangkan kreaktivitasnya . yang mencakup kapasitas institusi dan kapasitas sumberdaya manusia.

1997: 65-76): . Selanjutnya dinyatakan bahwa suatu pendekatan pengembangan kapasitas terhadap pembangunan berkonsentrasi pada upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat mengatasi tindakan diskriminasi yang membatasi kesempatan hidup mereka. Hal itu dapat dilakukan melalui upaya-upaya sebagai berikut (Eade.

memperkuat identitas budaya dan penengahan konflik.1. memperoleh pelayanan dan pendidikan. 2. Mendorong keadilan jender melalui: organisasi wanita. pengembangan pengetahuan dan jaringan kerja. . Mendukung kapasitas etnik dan kebudayaan minoritas: mendukung hak manusia untuk bekerja.

5. Mendukung kapasitas tokoh masyarakat untuk mengorganisasikan perubahan. dan meciptakan sistem pelayanan domestik bagi anak-anak. Terhadap anak-anak: meningkatkan kesejahteraan fisik dan sosial. .3. rehabilitasi berbasis komunitas. 4. lingkungan dan perumahan dan program bantuan darurat. dan Mendukung kapasitas golongan tak mampu (disabilities). mengembangkan kapasitas anak jalanan. pendidikan. organisasi sosial bagi anak jalanan. dan pengembangan jaringan. pengembangan pendidikan. pelatihan dan keterampilan: membangun kerja kelompok.

1. Medan sosial jaringan sosial dengan satu figur sebagai fokus interaksi pada suatu kondisi tertentu. . 3. Medan sosial berdasarkan lingkup pekerjaan dimana hubungan antara anggotanya tidak permanen. Medan sosial berdasarkan teritori.Medan sosial   Pada tingkat komunitas simpul-simpul interaksi itu membentuk suatu pusat interaksi yang disebut medan sosial. dimana masyarakat hidup dalam satu lokalitas tertentu dengan eksistensi yang jelas. tetapi mempunyai intensitas interaksi yang tinggi dalam suatu waktu tertentu. Barnes dikutip oleh Frankenberg (1973: 243) membedakan tiga medan sosial. 2.

kesukuan (daerah asal) dan sebagainya. dan  Komunitas primordial: suatu ikatan atas dasar persamaan ciri-ciri sosial yang mendasar dan sulit untuk dirubah seperti kesamaan agama.  Komunitas profesional/okupasional: suatu ikatan atas dasar persamaan profesi atau pekerjaan.  Melalui medan sosial itu kemudian terbentuk jaringan kerja. . Setiap medan sosial itu menghasilkan satu tipe komunitas yang unik yang oleh Wirutomo (1996: 120) dikelompokkan dalam tiga tipe komunitas. yaitu:  Komunitas spasial: suatu ikatan yang berdasar pada kesamaan tempat tinggal. Jaringan kerja adalah proses berkeinginan untuk saling mendengarkan dan saling belajar satu sama lain. ras.

Melalui kesertaan dalam suatu jaringan sosial atau struktur sosial lainnya orang dapat menjamin perolehan manfaat dari interaksinya itu. .   Menurut Portes (1998:3) jaringan sosial bukanlah sesuatu yang alamiah melainkan harus dikonstruksikan melalui penentuan strategi yang berorientasi pada hubunganhubungan kelembagaan dalam kelompok. Hubungan kelembagaan itu dapat digunakan sebagai sumberdaya yang dapat dipercaya menghasilkan sumberdaya lain.

yang mementingkan keanggotaan. dan formalitas. Dengan demikian jaringan kerja merupakan perwujudan dari tindakan berorganisasi. pada umunya terdapat dua jenis jaringan. yakni: fungsional. Menurut Prijono dalam Prijono dan Pranarka (1996: 116-117). . dan 2. relevansi dan pragmatisme. 1. yang mementingkan partisipasi. koordinasi. institusional.

yaitu: 1. Modal Sosial Organisasi Lokal dan Pengembangan Masyarakat   Secara umum modal sosial didefinisikan sebagai informasi.2. kepercayaan dan normanorma timbalbalik yang melekat dalam suatu sistem jaringan sosial Woolcock (1998: 153). Woolcock menggolongkan modal sosial menjadi 4 (empat) tipe utama. tipe ikatan solidaritas (bounded solidarity). Dengan mengulas pandangan beberapa ahli. . yaitu pranata yang melahirkan pertukaran antar para pelaku. dimana modal sosial menciptakan mekanisme kohesi kelompok dalam situasi yang merugikan kelompok: tipe pertukaran timbal-balik (reciprocity transaction). 2.

yakni gagasan dan nilai. . dan tipe membina kepercayaan (enforceable trust). 4. moral yang luhur.3. bahwa institusi formal dan kelompok-kelompok partikelir menggunakan mekanisme yang berbeda untuk menjamin pemenuhan kebutuhan berdasarkan kesepakatan terdahulu dengan menggunakan mekanisme rasional (Woolcock . dan komitmen melalui hubungan-hubungan kontraktual dan menyampaikan tujuan-tujuan individu dibalik tujuan-tujuan instrumental. 1998: 161). tipe nilai luhur (value introjection).

yaitu pertukaran yang saling menguntungkan dan rasa saling percaya (Portes.  . 1998: 8).  Sumber dari modal sosial itu dapat bersifat consummatory. dan dapat pula bersifat instrumental.Keempat tipe modal sosial di atas selalu terkait dengan penggunaan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu dan bersifat timbal balik. yaitu nilai-nilai sosial budaya dasar dan solidaritas sosial.

Sumber-sumber modal sosial itu muncul dalam bentuk tanggung jawab dan harapan-harapan yang tergantung pada kepercayaan dari lingkungan sosial. kemampuan aliran informasi dalam struktur sosial dan norma-norma yang disertai sanksi (Coleman.   Menurut Putman dan Fukuyama (Webstarmaster. . 1998: 6) konsep modal sosial tidak saja diterapkan pada tingkat individu. 1998 dalam Dasgupta dan Serageldin. Komunitas membangun modal sosial melalui pengembangan hubungan-hubungan aktif. tetapi juga pada kelompok. komunitas bahkan nasional. partisipasi demokrasi dan penguatan pemilikan komunitas dan kepercayaan. 1999: 13).

klaim berlebihan atas keanggotaan kelompok. .Konsekuensi Positif dan Negatif Modal Sosial   Portes menyatakan bahwa modal sosial memiliki konsekuensi positif dan konsekuensi negatif. dan penyamarataan norma bagi semua anggota (konformitas). Konsekuensi negatif berupa pembatasan peluang bagi pihak lain (eksklusifitas). dan sumber manfaat sosial ekonomi melalui jaringan sosial luar. Konsekuensi positif: berupa sumber pengawasan sosial. pembatasan kebebasan individu. sumber dukungan bagi keluarga.

Kerekatan pada tingkat mikro merujuk pada ikatanikatan intra komunitas dan pada tingkat makro merujuk pada hubungan negara dan masyarakat. 1998: 164). . Otonomi pada tingkat mikro merujuk pada jaringan antar komunitas.  Woolcock: konsep modal sosial menjangkau aspek yang lebih luas sehingga dapat mengatasi konsekuensikosekuensi negatif yang dimaksudkan oleh Portes. dengan apa yang disebutnya sebagai “embeddednes” (kerekatan) dan “aoutonomy” (otonomi) yang mencakup tingkat mikro dan tetapi tingkat makro. dan pada tingkat makro merujuk pada pengembangan kapasitas dan kredibilitas (Woolcock.

kelompok akar rumput dan lain-lain istilah yang menunjuk pada pengelolaan oleh masyarakat setempat. Di sinilah pentingnya membahas organisasi lokal.  Berdasarkan uraian di atas maka anlisis modal sosial dapat digunakan untuk menjelaskan konteks kehidupan masyarakat secara holistik dalam perspektif jaringan baik secara horisontal maupun secara vertikal. segala bentuk kelompok masyarakat yang diorganisasikan melalui mekanisme dari bawah . paguyuban. Banyak istilah mengenai organisasi lokal seperti asosiasi.

Mereka melayani masyarakat atas dasar solidaritas. Lingkup aktivitasnya lebih luas daripada organisasiorganisasi ekonomi. sosial dan perubahan-perubahan kebudayaan. tetapi sering kali mencari jalan untuk memberikan pelayanan kepada publik. 1993: 60). kelompok seperguruan dan gerakan sosial (Rulen and Ladavalya. karena fungsinya tidak saja mendorong dan melindungi kepentingan-kepentingan anggotanya. Organisasi yang dimaksud memiliki komitmen terhadap pelayanan publik atau pribadi atau terhadap penyakitpenyakit ekonomi. organisasi amal. . Organisasi-organisasi itu tertutama didorong oleh motivasi kemanusiaan dari pada tujuan-tujuan pribadi.    Asosiasi dalam atmosfir sosial (Social sphere) termasuk organisasi pemerintah.

1993: 607) telah membagi organisasi lokal menjadi empat tingkatan. 1992: 5.  tingkat kelompok (group level) dan  tingkat rumahtangga (household). yaitu:  tingkat lokalitas (locality level).  Keempat tingkat organisasi ini berhubungan secara fungsional.  tingkat komunitas (community level). Uphoff (1986: 44. . Karena itu dipandang sebagai suatu sistem kelembagaan lokal yang mempengaruhi kehidupan komunitas.

Community level.    Locality level. Lingkup organisasi yang lebih kecil adalah keluarga. misalnya lingkup pekerjaan. dengan satu pusat interaksi sebagai pusat pertumbuhan. Group level sebagai kesatuan masyarakat yang mengidentifikasi diri berdasarkan karakteristik tertentu. kekerabatan dan lain-lain. digambarkan sebagai unit interaksi sosial ekonomi yang lebih menunjuk pada sistem administrasi/teritorial yang lebih rendah. . jender. Organisasi ini tunduk pada pengaruh dari ketiga tingkat organisasi di atas. dicirikan oleh kesatuan komunitas yang mempunyai relasi sosial dan ekonomi.

organisasi keluarga complementery. seperti organisasi dalam kegiatan usahatani keluarga. namun saling mengisi satu sama lain sebagai satu kesatuan aktivitas. dimana aktivitas suami dan isteri tidak ada pembedaan. Pada tingkat keluarga organisasi menurut Elizabeth Bott sebagaimana dikutip oleh Frankenberg (1973: 19) terdiri dari tiga jenis. baik dalam waktu yang sama maupun dalam waktu yang berbeda. joint organization. yang dicirikan oleh kegiatan suami dan isteri masing-masing berdiri sendiri. 2. maka terdapat pemisahan peran yang tegas antara laki-laki dan perempuan. sehingga tidak terjadi interaksi antara keduanya dalam lingkup pekerjaan. . jika dalam suatu masyarakat lebih dominan terjadi tipe organisasi pertama dan kedua. 1. 3. organisasi keluarga independent. dimana aktivitas suami dan isteri berbeda.

. jaringan kegiatan dalam organisasi maupun medanmedan interaksi.   Memahami beragam tipe jaringan hubungan sosial di atas. keterkaitan penting antara tekanan populasi dan pembangunan pedesaan terletak pada susunan kelembagaan. dan administrasi pemerintahan. maka dapat pula difahami bahwa setiap individu dalam perilaku sehari-hari tak terlepas dari kesatuan unit sosial lokal baik berdasarkan sistem kelembagaan. Menurut McNicoll dan Cain (1989: 87). Konfigurasi kelembagaan/institusi yang menjadi perhatian utama dalam hal ini adalah hubungan antara kepemilikan dan tenaga kerja. yang tersusun dalam pola keluarga. organisasi lokal.

Sistem jender. menunjuk pada bagaimana mengalihkan kepemilikan antar generasi. peran berdasarkan jenis kelamin dan pola produksi. sudah termasuk dalam pengertian sistem keluarga. menyangkut pola organisasi. dan sistem internasional. administrasi pemerintahan lokal. demografi dan budaya juga dipengaruhi oleh organisasi komunitas. demografi dan budaya dalam masyarakat. kontrol mereka terhadap pembentukan keluarga baru. dan mempertahankan perbedaan-perbedaan peranan antara laki-laki dan perempuan. Sistem keluarga juga secara khusus memiliki ketahanan dalam menghadapi perubahan-perubahan ekonomi. . Perubahan-perubahan ekonomi.   Sistem keluarga.

dan kebanyakan berfungsi dalam lingkungan dukuh atau lapisan bawah masyarakat dusun. karena kaitan kebutuhan (antar institusi) yang masih kuat (Tjondronegoro dalam Koentjaraningrat 1982: 237-241) . Ciri utamanya adalah kepekaan yang tinggi terhadap norma dan sosialisasi menyeluruh.  Merujuk pada hasil penelitian Tjondronegoro di pedesaan Jawa bahwa unit sosial yang memiliki ikatan yang kuat terdapat pada tingkat pedukuhan atau kampung dimana orientasi penduduk lebih cenderung pada teritorium tempat tinggal bersama. Kesatuan masyarakat kecil itu yang disebut sodality – sebagai bidang silang antara masyarakat mutakhir dan masyarakat tradisional .

Merujuk pada Portes (1998). maka pada tingkat dusun itu terkonsentrasi modal sosial.  itu terfokus pada kecenderungan bertambahnya kemampuan perorangan berdasarkan partisipasi dalam kelompok dan usaha membangun hubungan harmonis bagi pencapaian modal sosial itu  .  Dalam hal ini konstruksi sodality merupakan unsur penting dalam konsep modal sosial.

Jadi modal sosial adalah kemampuan untuk mempertahankan keunggulan suatu unit sosial yang diperoleh melalui keanggotaan dalam struktur jaringan dan struktur sosial lainnnya. dan  (2) jumlah dan kualitas sumberdaya itu. . yang dapat diurai menjadi:  (1) relasi sosial itu sendiri yang memungkinkan individu memiliki akses terhadap sumberdaya yang dimiliki suatu kelompok.

(2) ikatan solidaritas. . (3) adanya pertukaran timbal balik yang saling meguntungkan dan (4) saling pengertian yang terus menerus untuk melaksanakan kewajiban masing-masing (Portes. 1998: 7-8).Sumber dari modal sosial itu adalah: (1) nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian konsep modal sosial maupun konsep sodality menunjuk pada keterkaitan antara lingkungan sosial dan dan lingkungan fisik.

. Kedua konsep di atas (modal sosial dan sodality) digunakan untuk membedah jaringan interaksi anggota komunitas baik dalam organisasi komunitas maupun dengan organisasi atau kelompokkelompok strategis di luar komunitas. Jaringan interaksi ini dapat terkait dengan atau pun terlepas dari relasi jender.

   Modal sosial yang ada pada tingkat komunitas dapat menjadi energi dalam pelayanan kepada masyarakat. . faktor yang terkait dengan keefektifan model dikaji berdasarkan kerangka pemikiran Sarwono (1993) mengenai faktor internal dan faktor eksternal yang mungkin mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pelayanan. Dalam kaitan dengan model yang telah dirumuskan. Peran modal sosial dalam hal ini adalah sebagai perekat atau mediator antar pelaku dalam proses pelayanan.

umur. status perkawinan. 2. mencakup variabel-variabel demografis (seks. . Faktor-faktor yang memungkinkan. Model Anderson yang menilai penggunaan pelayanan formal dan nonformal terdiri dari: faktor yang berpengaruh. Faktor kebutuhan 1. mencakup: pendapatan/penge-luaran. dan 3. bersama-sama dengan variabel struktur sosial seperti pendidikan dan lokasi tempat tinggal.