P. 1
Wild a Aaaaaaaaaaaa

Wild a Aaaaaaaaaaaa

|Views: 99|Likes:
Published by Nur Asiiyah

More info:

Published by: Nur Asiiyah on Apr 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2014

pdf

text

original

Sections

  • 1.Rendering
  • 1. Wet rendering 2. Dry rendering
  • 2.2.1 Pemisahan gum (de – gumming)
  • 2.2.2.1 Alkali bereaksi dengan Free Fatty Acid (FFA) membentuk sabun
  • 2.2.2.2 Pemucatan (Bleaching)
  • 2.2.2.3 Deodorisasi
  • 2.3.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Hidrogenasi
  • 2.3.2 Katalisator Yang Digunakan Pada Proses Hidrogenasi
  • 2.3.3 Pembuatan Hidrogen
  • 2.4 Interesterifikasi
  • 2.5.1 Produk Winterisasi
  • 2.5.2 Tujuan Proses Winterisasi
  • 2.5.3 Prinsip dari Proses Winterisasi
  • 2.5.4 Proses Winterisasi pada Minyak Biji Kapas

PENGILANGAN MINYAK NABATI

Proses pengolahan minyak nabati bergantung pada sifat alami minyak atau lemak dan juga tergantung dari hasil akhir yang dikehendaki. Untuk mendapatkan minyak yang benar-benar murni dan baik dikonsumsi maka dalam proses penghilangan impuritisnya harus benar-benar maksimal.. Berikut adalah diagram pengolahan minyak secara umum. Ekstraksi

Penjernihan

Pemucatan

Deodorisasi

Hidrogenasi

winterisasi

Pemucatan

Deodorisasi

Deodorisasi

Interesterifikasi

Plasticizing EKSTRAKSI Pengertian Proses Ekstraksi

Pemurnian

Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnyabahan alami)tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya saja,karena komponennya saling bercampur secara sangat

erat, peka terhadap panas,beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah. Dalam hal semacam. itu, seringkali ekstraksi adalah satu-satunya proses yang dapat digunakan atau yang mungkin paling ekonomis. Sebagai contoh pembuatan ester (essence) untuk bau-bauan dalam pembuatan sirup atau minyak wangi, pengambilan kafein dari daun teh, biji kopi atau biji coklat dan yang dapat dilihat sehari-hari ialah pelarutan komponen-komponen kopi dengan

menggunakan air panas dari biji kopi yang telah dibakar atau digiling. Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam memilih ekstraksi jenis apa yang digunakan, yaitu: - berbentuk padat atau cair - kadar minyak yang terkandung dalam bahan bakunya berdasarkan referensi

Ekstraksi minyak atau lemak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak.Adapun ekstraksi minyak atau lemak itu bermacam-macam,yaitu rendering (dry rendering dan wet rendering),mechanical expression dan solvent extraction. Klasifikasi Ekstaksi Ekstraksi minyak atau lemak itu bermacam-macam,yaitu: 1) rendering (dry rendering dan wet rendering) 2) mechanical expression 3) solvent extraction Berikut adalah bagan jenis-jenis ekstraksi yang digunakan dalam proses pengolahan minyak nabati. Minyak / Lemak Trigliserida

Ekstraksi

Rendering Wet rendering Dry rendering

Mechanical Expresion

Solvent ekstraksi

Sokletasi 1.Rendering

Maserasi

Perkolasi

Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi.Pada semua cara rendering,penggunaan panas adalah sesuatu yang spesifik,yang bertujuan untuk menggumpalkan protein pada dinding sel bahan dan untuk memecahkan dinding sel tersebut sehingga mudah ditembus oleh minyak atau lemak yang terkandung didalamnya. Menurut pengerjaannya rendering dibagi dengan dua cara,yaitu : 1. Wet rendering 2. Dry rendering

a. Wet Rendering Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan sejumlah air selama berlangsungnya proses tersebut.Cara ini dikerjakan pada ketel yang terbuka atau tertutup dengan menggunakan temperature yang tinggi serta tekanan 40 sampai 60 pound tekanan uap (40-60psi).Penggunaan temperature rendah pada wet rendering dilakukan jika diinginkan flavor netral dari minyak atau lemak.Bahan yang akan diekstraksi ditempatkan pada ketel yang diperlengkapi dengan alat pangaduk,kemudian air ditambahkan dan campuran dipanaskan perlahan-lahan sampai suhu 50°C sambil diaduk.Minyak yang terekstraksi akan naik keatas akan naik keatas dan kemudian dipisahkan.Proses wet rendering

Ampas bahan yang telah diambil minyaknya akan diendapkan pada dasar ketel. Pengepresan hidraulik (hydraulic pressing) 2.dengan menggunakan temperature rendah kurang begitu popular.Peralatan yang digunakan adalah autoclave atau digester.Bahan yang diperkirakan mengandung minyak atau lemak dimasukkan kedalam ketel tanpa penambahan air. Dry Rendering Dry rendering adalah proses rendering tanpa penambahan air selama proses berlangsung.Pengepresan Mekanik (mechanical expression) Pengepresan mekanis merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak. b.dipergunkan untuk menghasilkan minyak atau lemak dalam jumlah yang besar.Pemanasan dilakukan pada suhu 220°F sampai 230°F (105°C-110°C).Minyak atau lemak yang dihasilkan dipisahkan dari ampas yang telah mengendap dan pengambilan minyak dilakukan dari bagian atas ketel.Perlakuan pendahuluan tersebut mencakup pembuatan serpih.Air dan bahan yang akan diekstraksi dimasukan kedalam digester dengan tekanan uap air sekitar 40 sampai 60 pound selama 4-6 jam.Bahan tadi dipanaskan sambil diaduk.sedangkan proses wet rendering dengan mempergunakan temperature yang tinggi disertai dengan tekanan uap air. Pengepresan berulir (expeller pressing) .terutama untuk bahan bahan yang berasal dari biji-bijian. Dua cara umum dalam pengepresan mekanis.yaitu: 1. 2.Dry rendering dilakukan dalam ketel yang terbuka dan dilengkapi dengan steam jacket serta alat pengaduk (agitator).perajangan dan penggilingan serta tempering atau pemasakan.Pada pengepresan mekanis ini diperlukan perlakuan pendahuluan sebelum minyak atau lemak dipisahkan dari bijinya.Cara ini dilakukan untuk memisahkan minyak dari bahan yang berkadar minyak tinggi(30-70%).

serta kandungan minyak dalam bahan asal.Sedangkan banyaknya minyak yang tersisa pada bungkil bervariasi antara 4 sampai 6 persen. Pengepresan Hidraulik (Hydraulic Pressing) Pada cara hydraulic pressing.2 Skema cara memperoleh minyak dengan pengepresan .a.6 kg/cm = 136 atm).1 hydraulic press Tahap-tahap yang dilakukan dalam proses pemisahan minyak dengan cara pengepresan mekanis dapat dilihat pada gambar Bahan yang mengandung minyak perajangan penggilingan Minyak kasar pengepresan Ampas/bungkil Pemasakan/ pemanasan Gambar.tekanan yang dipergunakan. Gambar.bahan di pres dengan tekanan sekitar 2000pound/inch2 (140.Banyaknya minyak atau lemak yang dapat diekstraksi tergantung pada lamanya pengepresan.tergantung dari lamanya bungkil ditekan dibawah tekanan hidraulik.

Pada cara ini dihasilkan bungkil dengan kadar minyak yang rendah yaitu sekitar 1 persen atau lebih rendah.b. Pengepresan Berulir (Expeller Pressing) Cara expeller pressing memerlukan perlakuan pendahuluan yang terdiri dari proses pemasakan atau tempering. Gambar.5°C) dengan tekanan sekitar 15-20 ton/inch2.benzene dan n-heksan.karena sebagian fraksi bukan minyak akan ikut terekstraksi.sedangkan bungkil yang dihasilkan masih mengandung minyak antara 4-5 persen. 3.Ekstraksi Dengan Pelarut (Solvent extraction) Prinsip dari proses ini adalah ekstraksi dengan melarutkan minyak dalam pelarut minyak dan lemak.Kadar air minyak atau lemak yang dihasilkan berkisar sekitar 2. .5-3.seluruh system solvent extraction perlu diteliti lagi.Pelarut minyak atau lemak yang biasa digunakan dalam proses ekstraksi dengan pelarut menguap adalah petroleum eter.karbon tetra klorida.3 expeller pressing Cara lain dalam mengekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak adalah gabungan dari proses wet rendering dengan pengepresan secara mekanik atau dengan sentrifusi.Proses pemasakan berlangsung pada temperature 240°F (115.dan mutu minyak kasar yang dihasilkan cenderung menyerupai hasil dari expeller pressing.Perlu perhatikan bahwa jumlah pelarut menguap atau hilang tidak boleh lebih dari 5 persen.5 persen.gasoline carbon disulfide.Bila lebih.

Ekstraksi yang dilakukan menggunakan metoda sokletasi. . Adapun prinsip sokletasi ini adalah Penyaringan yang berulang ulang sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Untuk mendapatkan minyak nabati dari bahagian tumbuhannya. Air Keluar Kondensor Air Keluar Soklet Thimble Labu Didih Mantel Pemanas Gambar. Bila penyaringan ini telah selesai. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ). Minyak nabati merupakan suatu senyawa trigliserida dengan rantai karbon jenuh maupun tidak jenuh. maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode sokletasi menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan tersebut.4 Rangkaian Alat Sokletasi Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. yakni sejennis ekstraksi dengan pelarut organik yang dilakukan secara berulang ulang dan menjaga jumlah pelarut relatif konstan dengan menggunakan alat soklet. dapat dilakukan dengan metoda sokletasi menggunakan pelarut yang sesuai. seperti heksan dan benzen. Minyak nabati umumnya larut dalam pelarut organik. tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak diinginkan.Salah satu contoh solvent extraction ini adalah metode sokletasi.

5. Dimulai dengan pelarut heksana. eter. eter. Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan. kemudian dilanjutkan dengan alkohol dan . Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan secara berurutan pelarut – pelarut organik dengan kepolaran yang semakin menigkat. 4. Ekstraksi sinambung dengan menggunakan alat soklet merupakan suatu prosedur ekstraksi kontituen kimia tumbuhan dari jaringan tumbuhan yang telah dikeringkan. Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi. Pelarut tidak melarutkan senyawa yang diinginkan. Syarat syarat pelarut yang digunakan dalam proses sokletasi : 1. 7. 6. Pelarut terbaik untuk bahan yang akan diekstraksi. maka cara yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. petroleum eter.secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Titik didih pelarut rendah. petroleum eter. atau kloroform untuk memisahkan senyawa – senyawa trepenoid dan lipid – lipid. metil klorida dan alkohol 2. 3. maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang diinginkan. Dengan cara pemanasan. polar atau nonpolar. Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu zat padat. Pelarut yang mudah menguap Ex : heksan.sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan membasahi sampel.tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini.

3. Alat sokletasi tidak boleh lebih rendah dari pipa kapiler. Waktu yang digunakan lebih efisien. Tidak baik dipakai untuk mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang mudah rusak atau senyawa senyawa yang tidak tahan panas karena akan terjadi penguraian. karena ada kemungkinan saluran pipa dasar akan tersumbat. 2. Sampel diekstraksi dengan sempurna karena dilakukan berulang ulang. Keunggulan sokletasi : 1. Dibanding dengan cara terdahulu ( destilasi ). Pelarut organik dapat menarik senyawa organik dalam bahan alam secara berulang kali. hingga dikatakan sampel tidak alami lagi. Jika sampai terkena sinar matahari. maka metoda sokletasi ini lebih efisien. Pelarut lebih sedikit dibandingkan dengan metoda maserasi atau perkolasi. Hal ini akan menimbulkan senyawa baru yang disebut senyawa artefak. Kelemahan sokletasi : 1. 5. Pelarut tidak mengalami perubahan yang spesifik. karena: 1. . senyawa dalam sampel akan berfotosintesis hingga terjadi penguraian atau dekomposisi. Proses sokletasi berlangsung cepat. 4. cara ini seringkali tidak menghasilkan pemisahan yang sempurna dari senyawa – senyawa yang diekstraksi.etil asetat untuk memisahkan senyawa – senyawa yang lebih polar. Walaupun demikian. sampel yang digunakan dalam sokletasi harus dihindarkan dari sinar matahari langsung. Pelarut organik dapat mengambil senyawa organik dalam bahan berulang kali. 2. Cara menghentikan sokletasi adalah dengan menghentikan pemanasan yang sedang berlangsung. 3. Jumlah sampel yang diperlukan sedikit. Juga tidak boleh terlalu tinggi dari pipa kapiler karena sampel tidak terendam seluruhnya. Jumlah pelarut yang digunakan sedikit. 4. Sebagai catatan.

Pemurnian Tujuan utama pada proses pemurnian minyak adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak. serat-serat yang berasal dari kulit. Cu. wagner. dan reagen reagen lainnya. Na. lender dan getah. penyaringan dan sentrifusi. Lemak hewan seperti lemak babi dan lemak susu (butter flat) yang diperoleh dengan proses rendering atau sentrifusi. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah. sehingga mudah menguap .2. 3. warna yang tidak menarik dan memperpanjang masa simpan minyak sebelum dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan mentah dalam industry. dengan menggunakan pereaksi meyer. yaitu dengan cara pengendapan. yaitu :  Kotoran dalam minyak Kotoran yang terdiri dari biji atau pertikel jaringan. Pada umumnya minyak untuk bahan pangan dimurnikan melalui proses sebagai berikut : 1. 4. Kotoran ini dapat dipisahkan dengan beberapa cara mekanis. 2. Pemisahan ALB dengan cara netralisasi Dekolorisaasi dengan proses pemucatan Deodorisasi Pemisahan gliserida jenuh (stearin) dengan cara pendinginan (chilling) Disamping itu kadang-kadang dilakukan penambahan flavor dan zat warna sehingga didapatkan minyak dengan rasa serta bau yang enak dan warna yang menarik. . serta air dalam jumlah kecil. Harus dilakukan identifikasi setelah penyarian. 3. Kotoran yang terdapat dalam minyak terdiri dari 3 golongan. abu atau mineral yan terdiri dari Fe. dapat dikonsumsi langsung tanpa melaluli proses pemurnian. Mg dan Ca.

terutama pada proses netralisasi. zat warna yang terdiri dari karotenoid. misalnya biji lin yang digunakan untuk pembuatan lak (lacquer). dan mengurangi minyak yang hilang selama proses pemurnian.  Kotoran yang Terlarut dalam Minyak (Fat Soluble Compound) Kotoran yang termasuk dalam golongan ini terdiri dari asam lemak bebas. Untuk memudahkan proses pemurnian selanjutnya. Zat warna lainnya yang dihasilkan dari proses oksidasi dan dekomposisi minyak yang terdiri dari keton. Pada proses deodorisasi. Salah satu proses perlakuan pendahuluan yang umum dilakukan pada minyak yang akan dimurnikan adalah proses pemisahan gum(de – gumming). sentrifusi atau penyaringan dengan menggunakan adsorben. klorofil. Kotoran yang Berbentuk Suspensi Koloid dalam Minyak Kotoran ini terdiri dari fosfolipid. mono dan digliserida yang dihasilkan dari hidrolisa trigliserida. Proses pemisahan gum dilakukan pada minyak untuk tujuan tertentu. senyawa yang mengandung nitrogen dan senyawa kompleks lainnya. elektrolisa disusul dengan proses mekanik seperti pengendapan. Perlakuan pendahuluan Tujuan perlakuan pendahuluan adalah: Menghilangkan kotoran dan memperbaiki stabilitas minyak dengan mengurangi jumlah ion logam terutama besi dan tembaga. dan mustard oil mengandung ester dari asam iso-thiosianat dan etil alcohol. karbohidrat. aldehida dan resin serta zat lain yang belum dapat diidentifikasi. Selain kotoran tersebut diatas. hidrokarbon. beberapa jenis minyak mengandung senyawa beracun. Kotoran ini dapat dihilangkan dengan menggunakan uap panas. . sterol. misalnya seperti minyak biji kapas mengandung gossypol. pertambahan jumlah asam pada minyak akibat perlakuan pendahuluan lebih kecil dibandingkan dengan tanpa perlakuan pendahuluan.

karbohidrat. residu. Mencegah crude oil tertinggal selama penyimpanan dan pemindahan 3. minyak jagung. Proses Pennwalt melibatkan pengolahan asam fosfor satu tingkat dan pengolahan air panas satu tingkat diikuti oleh penghilangan secara terus-menerus getah-getah terhidrat dalam super sentrifusi super degumming. protein. Aplikasi proses tersebut dapat digunakan untuk minyak kacang. Getah-getah (gum) dalam minyak nabati perlu dihilangkan untuk menghindari perubahan warna dan rasa selama langkah rafinasi berikutnya. Mengurangi kehilangan minyak pada tahap netralisasi Proses-Proses Degumming Ada 6 tipe proses deguming dalam industri minyak nabati. minyak sawit.2. serta penyerapan dengan filter. Memisahkan dan membuang asam 2.1 Pemisahan gum (de – gumming) Degumming adalah suatu proses pemisahan getah atau lendir-lendir yang terdiri dari fosfatida. Tujuan dari proses degumming adalah : 1. Lemak dan minyak mengandung senyawa kompleks phospor organik yang berhubungan dengan phospolipid (phospatida) atau biasanya gum. Secara teknis degumming berhubungan dengan operasi pemurnian minyak yang mana normalnya mengandung kotoran dalam bentuk koloid maupun terlarut dalam minyak itu sendiri. dengan sentrifugasi. dan lain-lain. Pemurnian secara fisik 5. Mencegah pengasaman oleh gum 4. air dan resin tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak. penggunaan bahan kimia dan kandungan dari phospatida dalam crude minyak nabati. Dry Degumming .2. Tipe-tipe degumming adalah: 1. Phospatida dibuang dengan berbagai macam pengolahan yang diikuti dengan pengendapan. Perbedaan dari masing-masing tipe adalah pada metoda dari prosesnya. minyak kapas.

4. 2. Tipe minyak yang digunakan pada proses ini adalah minyak kacang kedelai dan minyak lobak. Dalam proses ini air digunakan sebagai bahan utama untuk menghilangkan phospatida yang dapat terhidrasi dari minyak nabati serta dapat dilakukan pada keadaan batch atau continous tergantung pada tipe minyak yang akan dilakukan proses degumming atau jumlah minyak yang akan diproses. Keuntungan dari enzymatic degumming tidak ada busa yang terbentuk sehingga tidak ada minyak yang hilang yang melalui pemisahan busa. EDTA-degumming . Proses ini menggunakan minyak rendah phospatida dan cocok untuk persiapan minyak untuk physical refining. Pada metoda ini gum bisa dihidrasi pada suhu tinggi dari 40°C. Enzymatic Degumming Enzymatic degumming adalah degumming khusus yang dipertinggi dengan menggunakan beberapa enzim makanan. Dalam proses kilang organik asam sitrat sering digunakan dan pembuangan phospatida sisa melaui bleaching menggunakan silika hydrogel. Water Degumming Water degumming adalah proses dari pembuangan gum melalui proses presipitasi menggunakan hidrasi air murni crude oil melalui pemisahan sentrifus. Pada proses water degumming ini efek dari penambahan air dan perbedaan level temperatur (pemanasan) akan sangat berpengaruh pada kualitas pemurnian. Metoda ini digunakan untuk mengesktrak gum untuk produk lecithin. minyak kedelai dan crude oil yang mengandung phospor dengan konsentrasi 200 ppm. Acid Degumming Dalam proses ini gum dipresipitasi dengan proses beberapa kondisi asam dan dihilangkan menggunakan pemisahan dengan metoda sentrifus. 5. 3.Proses dry degumming melibatkan pembuangan gum melalui proses presipitasi dalam kondisi asam.

Proses ini melibatkan pemisahan sempurna phospatida dengan bahan pengkelat yaitu ethylene diamine tetra acetic acid(EDTA). Membran degumming Proses membran degumming biasanya digunakan dalam industri ekstraksi. Phospatida yang dapat dihidrasi bisa dihilangkan dengan mudah dengan menambahkan air pada proses dengan menggunakan aliran cepat pada suhu yang terus meningkat atau aliran lambat pada suhu rendah. . Phospatida dapat dibuang dari trigleserida di dalam bentuk miscell menggunakan membran permeabel yang sesuai dengan proses degumming. Pemisahan dengan membran merupakan pemisahan ukuran eklusi dan tekanan. Ada 2 jenis phospatida yaitu yang dapat dihidrasi dan yang tidak dapat dihidrasi. Proses ini umumnya digunakan Phospatida. 6. Proses ini membagi komponen-komponen yang berbeda menurut berat molekulnya atau ukuran partikel serta bergantung pada interaksi dengan permukaan membran dengan campuran komponen minyak. Bahan-bahan tersebut merupakan senyawa-senyawa yang tidak diinginkan dalam suatu kilang. karbohidrat dan komponen koloid yang memiliki pengaruh buruk untuk menjaga kemurnian minyak. protein.EDTA degumming proses kimia-fisika degumming.

Flowchart Proses Degumming Blok diagram untuk proses diatas adalah : .FLOWCHART PROSES DEGUMMING Gambar 4.

dan lain sebagainya yang bertujuan untuk mengikat gum dari minyak. Selanjutnya. dan sebagian lagi tetap tinggal di reactor 1. terjadi pemisahan antara gum dengan minyak. kemudian dialirkan dengan menggunakan pompa yang dilengkapi dengan flow meter ke degumming reactor 1. sedangkan sebagian yang lain dialirkan menuju degumming sentrifuge. Pada reactor 1 ini ditambahkan reagen asam seperti H3PO4. sebagian crude oil yang keluar dari reactor 1 dialirkan menuju degumming reactor 2. H2C2O4. . Lalu. H2SO4. Sehingga produk keluaran dari degumming sentrifuge ini adalah minyak yang bebas dari gum dan gum itu sendiri. sebagian keluaran dari reactor 2. Blok Diagram Proses Degumming Crude oil dari proses sebelumnya dialirkan ke tanki penampungan.Gambar 5. Pada degumming centrifuge ini. Pada reactor 2 ini dialirkan air panas dengan suhu 800C. tujuannya adalah untuk optimalisasi pengikatan gum. tetap tinggal di dalam reactor.

dan karotenoid hanya sebagian kecil dapat dikurangi dengan netralisasi.1 Netralisasi Netralisasi adalah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas (ALB) dari minyak atau lemak.2 Tahap – Tahap Pemurnian 2.2. dan suspensi dalam minyak yang tidak dapat dihilangkan dengan proses pemisahan gum. Reaksi antara asam lemak bebas dengan NaOH adalah sebagai berikut: Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan zat warna dan kotoran seperti fosfatida dan protein. Proses Netralisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara. protein. vitamin E.2. Netralisasi menggunakan kaustik soda akan menyabunkan sejumlah kecil trigliserida. Dengan cara hidrasi dan dibantu dengan proses pemisahan sabun secara mekanis maka netralisasi dengan menggunakan kaustik soda dapat menghilangkan fosfatida.2. karena lebih efisien dan lebih murah dibandingkan dengan cara netralisasi lainnya. Selain itu penggunaan kaustik soda membantu dalam mengurangi zat warna dan kotoran yang berupa getah dan lendir dalam minyak.yaitu :  Netralisasi dengan Kaustik Soda (NaOH) Netralisasi dengan kaustik soda banyak dilakukan dalam skala industri.2. Molekul mono dan digliserida lebih mudah bereaksi dengan . resin . dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehinggga membentuk sabun (soap stock) dengan tujuan memurnikan minyak. khlorofil. dengan cara membentuk emulsi sabun atau emulsi yang terbentuk dapat dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifuce. Pemisahan asam lemak bebas juga dapat dilakukan dengan cara penyulingan yang dikenal dengan istilah de-asidifikasi. Komponen minor dalam minyak berupa sterol.

persenyawaan alkali. Oleh karena itu harus dipilih konsentrasi dan jumlah kaustik soda yang tepat untuk menyabunkan asam lemak dalam minyak. yaitu perbandingan antara kehilangan total karena netralisasi dan jumlah asam lemak bebas dalam lemak kasar. Reaksi penyabunan mono dan digliserida dalam minyak terjadi sebagai berikut : Efisiensi netralisasi dinyatakan dalam refining factor. Pemakaian larutan kaustik soda dengan konsentrasi terlalu tinggi akan bereaksi sebagian dengan trigliserida sehingga mengurangi rendemen minyak dan menambah jumlah sabun yang terbentuk. Dengan demikian penyabunan trigliserida dan terbentuknya emulsi dalam . Sebagai contoh ialah netralisasi minyak kasar yang mengandung 3 persen asam lemak bebas. menghasilkan minyak netral dengan rendemen sebesar 94 persen. karena mengalami kehilangan total (total loss) sebesar (100-94) persen = 6 persen Refining factor = = =2 Makin kecil nilai refining factor. maka efisiensi netralisasi makin tinggi.

Jumlah Minyak Netral (Trigliserida) yang Tersabunkan Diusahakan Serendah Mungkin Makin besar konsentrasi larutan alkali yang digunakan. sehingga dihasilkan minyak netral dengan rendemen yang lebih besar dan mutu minyak yang lebih baik. Warna Minyak Netral Makin encer larutan alkali yang digunakan. Suhu Netralisasi Suhu netralisasi dipilih sedemikian rupa sehingga sabun (soap stock) yang terbentuk dalam minyak mengendap dengan kompak dan cepat. makin besar pula konsentrasi alkali yang digunakan 2. Jumlah Minyak Netral yang Terdapat dalam Soap Stock Makin encer larutan kaustik soda. Konsentrasi dari Minyak Kasar Konsentrasi dari alkali yang digunakan tergantung dari jumlah asam lemak bebas atau derajat keasaman minyak. Makin besar jumlah asam lemak bebas. 3.minyak dapat dikurangi. 5. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih konsentrasi larutan alkali yang digunakan dalam netralisasi adalah sebagai berikut : 1. makin besar tendensi larutan sabun untuk membentuk emulsi dengan trigliserida. Pengendapan yang lambat akan memperbesar kehilangan minyak karena sebagian minyak akan diserap oleh sabun. kemungkinan terjadinya penyabunan trigliserida dapat diperkecil. akan tetapi kehilangan minyak bertambah besar karena sabun dalam minyak akan membentuk emulsi. . Dengan menggunakan larutan alkali encer. 4. maka kemungkinan jumlah trigliserida yang tersabunkan semakin besar pula sehingga angka refinning factor bertambah besar. makin besar jumlah larutan yang dibutuhkan untuk netralisasi dan minyak netral yang dihasilkan berwarna lebih cepat.

Hal ini akan mengurangi jumlah adsorben yang dibutuhkan pada proses pemucatan. dipanaskan pada suhu 35-400C dengan tekanan lebih rendah dari atmosfir. Gas CO2 yang dibebaskan akan membentuk busa dalam sabun yang terbentuk dan mengapung partikel sabun di atas permukaan minyak. Netralisasi dengan Natrium Karbonat (Na2CO3) Keuntungan menggunakan persenyawaan karbonat adalah trigliserida tidak ikut tersabunkan. sehingga memperbaiki mutu terutama warna minyak. Gas tersebut dapat dihilangkan dengan cara mengalirkan uap panas atau dengan cara menurunkan tekanan udara di atas permukaan minyak dengan pompa vakum. sehingga nilai refining factor dapat diperkecil. Netralisasi menggunakan natrium karbonat biasanya disusul dengan pencucian menggunakan kaustik soda encer. Suatu kelemahan dari pemakaian senyawa ini adalah karena sabun yang terbentuk sukar dipisahkan. Selanjutnya ditambahkan larutan natrium . Pada umumnya netralisasi minyak menggunakan natrium karbonat dilakukan di bawah suhu 500C. Cara Netralisasi : Minyak yang akan dinetralkan . sehingga seluruh asam lemak bebas yang bereaksi dengan natrium karbonat akan membentuk sabun dan asam karbonat. Hal ini disebabkan karena gas CO2 yang dibebaskan dari karbonat akan menimbulkan busa dalam minyak. dengan reaksi sebagai berikut : Pada pemanasan asam karbonat yang terbentuk akan terurai menjadi gas CO2 dan H2O.

05 persen. Kemudian kecepatan pengadukan dikurangi 15-20 rpm dan tekanan vakum diperkecil selama 20-30 menit. kemudian diaduk selama 10-15 menit dengan kecepatan pengadukan 65-75 rpm. Minyak dalam sabun yang telah mengendap dapat dipisahkan dengan cara menyaring menggunakan filter press. Asam lemak bebas yang telah membentuk sabun (soap stock) dapat diperoleh kembali jika sabun tersebut direaksikan dengan asam mineral.karbonat. misalnya natrium sulfat atau natrium silikat. Dengan cara tersebut gas CO2 yang terbentuk akan menguap dan asam lemak bebas yang tinggal dalam minyak kurang lebih sebesar 0. . atau mencucinya dengan air panas. Setelah dipisahkan dari minyak selanjutnya dilakukan proses pemucatan. Sabun yang terbentuk dapat diendapkan dengan menambahkan garam.

Keuntungan netralisasi menggunakan natrium karbonat adalah sabun yang terbentuk bersifat pekat dan dapat dipakai langsung untuk pembuatan sabun bermutu baik. Minyak yang dihasilkan mutunya lebih baik, terutama setelah mengalami proses deodorisasi. Di samping itu trigliserida tidak ikut tersabunkan sehingga rendemen minyak netral yang dihasilkan lebih besar. Kelemahannya adalah karena cara tersebut sukar dilaksanakan dalam praktek, dan di samping itu untuk minyak semi drying oil seperti minyak kedelai, sabun yang terbentuk sukar disaring karena adanya busa yang disebabkan oleh gas CO2.  Netralisasi minyak dalam bentuk “miscella” Cara netralisasi ini digunakan pada minyak yang diekstrak dengan menggunakan pelarut menguap (solvent extraction). Hasil ekstraksi merupakan campuran antara pelarut dan minyak disebut miscella. Asam lemak bebas dalam miscella dapat dinetralkan dengan menggunakan kaustik soda atau natrium karbonat. Penambahan bahan kimia tersebut ke dalam miscella yang mengalir dalam ketel ekstraksi, dilakukan pada suhu yang sesuai dengan titik didih pelarut. Sabun yang terbentuk dapat dipisahkan dengan cara menambahkan garam, sedangkan minyak netral dapat dipisahkan dari pelarut dengan cara penguapan.  Netralisasi dengan etanol amin dan amonia Etanol amin dan amonia dapat digunakan untuk netralisasi asam lemak bebas. Pada proses ini asam lemak bebas dapat dinetralkan tanpa menyabunkan trigliserida, sedangkan amonia yang digunakan dapat diperoleh kembali dari soap stock dengan cara penyulingan dalam ruangan vakum.

 Pemisahan asam (de-ecidification) dengan cara penyulingan Proses pemisahan asam dengan cara penyulingan adalah proses penguapan asam lemak bebas langsung dari minyak tanpa mereaksikan dengan larutan basa, sehingga asam lemak yang terpisah tetap utuh. Minyak kasar yang akan disuling terlebih dahulu dipanaskan dalam alat penukar kalor (heat exchanger). Selanjutnya minyak tersebut dialirkan secara kontinu ke dalam alat penyulingan dengan letak horizontal. Di sepanjang dasar ketel terdapat pipa-pipa berlubang tempat

menginjeksikan uap air ke dalam minyak yang sudah dipanaskan pada suhu kurang lebih 2400C. Kadang-kadang ke dalam ketel disemprotkan superheated steam bersama air, yang akan berubah menjadi uap air panas pada tekanan rendah (kurang lebih 25 mmHg), sehingga asam lemak bebas menguap bersama-sama dengan uap panas tersebut. Hasil sulingan berupa campuran uap air dan asam lemak bebas untuk menghindari kerusakan minyak selama proses penyulingan karena suhu yang terlalu tinggi, maka asam lemak bebas yang tertinggal dalam minyak dengan kadar lebih rendah dari 1 persen harus dinetralkan dengan menggunakan persenyawaan basa. Minyak kasar dengan kadar asam lemak bebas yang tinggi umumnya mengandung fraksi mono dan digliserida yang terbentuk dari hasil hidrolisa sebagian molekul trigliserida. Selama proses penyulingan, asam lemak akan mengadakan reaksi reesterifikasi dengan mono dan digliserida sehingga membentuk trigliserida, dengan reaksi sebagai berikut :

Pada umumnya kadar asam lemak bebas dalam minyak setelah penyulingan kira-kira 0,1-0,2 persen, sedangkan hasil kondensasi masih mengandung kira-kira 5 persen trigliserida. Jadi penggunaan uap pada proses penyulingan akan membawa sejumlah kecil fraksi trigliserida. Pemisahan asam lemak bebas dengan cara penyulingan digunakan untuk menetralkan minyak kasar yang mengandung kadar asam lemak bebas relatif tinggi, sedangkan minyak kasar yang mengandung asam lemak bebas lebih kecil dari 8 persen, lebih baik dinetralkan dengan menggunakan persenyawaan basa.  Pemisahan asam dengan menggunakan pelarut organik Perbedaan kelarutan antara asam lemak bebas dan trigliserida dalam pelarut organik digunakan sebagai dasar pemisahan asam lemak bebas dari minyak. Pelarut yang paling baik digunakan untuk memisahakan asam lemak bebas adalah furfural dan propane. Piridine merupakan pelarut minyak dan jika ditambahkan air dalam jumlah kecil, maka trigliserida akan terpisah. Trigliserida tidak larut dalam piridine,

Bilangan asam adalah jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam-asam lemak bebas dari satu gram minyak atau lemak.9. Caranya adalah dengan jalan melarutkan sejumlah minyak atau lemak dalam alkohol eter dan diberi indikator phenolpthalein. Minyak dapat dipisahkan dari pelarut dengan cara dekantasi. Besarnya bilangan asam tergantung dari kemurnian dan umur dari minyak atau lemak tadi. maka faktor tersebut menjadi 39.sedangkan asam lemak bebas tetap larut sempurna.1 adalah bobot molekul larutan KOH. Dengan menggunakan alkohol sebagai pelarut. sehingga pemisahan antara asam lemak bebas dari trigliserida lebih sukar dilakukan. yaitu: . Bilangan asam Dari rumus diatas.  Pengujian Asam Lemak Bebas Pengukuran jumlah asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak atau lemak dapat digunakan bilangan asam. Apabila dipergunakan NaOH untuk titrasi. maka kelarutan trigliserida dalam alkohol akan bertambah besar dengan bertambahnya kadar asam lemak bebas. faktor 56. Penambahan larutan alkali ke dalam minyak mentah akan menyebabkan reaksi kimia maupun fisik.  Aplikasi netralisasi minyak o Proses Pembuatan Minyak Ikan Proses netralisasi dilakukan dengan menambahkan larutan alkali atau pereaksi lainnya untuk membebaskan asam lemak bebas dengan membentuk sabun dan membentuk koagulasi bahan-bahan yang tidak diiinginkan. Kemudian dititrasi dengan larutan KOH 0.5 N sampai terjadi perubahan warna merah jambu yang tetap. sedangkan pelarut dipisahkan dari asam lemak bebas dengan cara penyulingan.

o Proses Pembuatan Minyak Sawit Proses netralisasi konvensional dengan penambahan soda kaustik merupakan proses yang paling luas digunakan dan juga proses purifikasi terbaik yang dikenal sejauh ini.2. Setelah itu air yang terpisah dibuang. 2. Penambahan larutan alkali ke dalam CPO menyebabkan beberapa reaksi kimia dan fisika sebagai berikut: 2. Bahan-bahan yang tidak larut akan terperangkap oleh material terkoagulasi.4 Pigmen mengalami degradasi. 3.2. Untuk menghilangkan sabun-sabun yang masih tersisa. 2. 4.1 2.2.2. Selanjutnya minyak yang telah dinetralkan dibiarkan beberapa saat supaya terjadi pemisahan sabun yang terbentuk. Kemudian sabun tersebut diambil. terserap oleh gum atau larutan oleh alkali. pada minyak ikan ditambahkan air panas sambil diaduk dan kemudian dibiarkan supaya terjadi pemisahan minyak dan air. Pemucatan ini dilakukan dengan cara fisika yang menggunakan berbagai absorben. Alkali akan bereaksi dengan asam lemak bebas dan membentuk sabun.2. 2.2 Pemucatan (Bleaching) Pemucatan (bleaching) adalah suatu tahap proses pemurnian untuk menghilangkan zat-zat warna yang tidak disukai dalam minyak.2. seperti tanah serap (fuller earth).1.2.2. lempung aktif (activated clay) dan arang aktif atau dapat juga . Bahan-bahan yang tidak teratur yang terdapat dalam minyak akan menggumpal.2 Alkali bereaksi dengan Free Fatty Acid (FFA) membentuk sabun. Bahan-bahan warna terdegradasi. Gum menyerap air dan menggumpal melalui reaksi hidrasi.2. Lapisan sabun berada pada lapisan bawah dan lapisan minyak pada bagian bawah.2. Fosfatida mengabsorb alkali dan selanjutnya akan terkoagulasi melalui proses hidrasi. akan terabsorbsi oleh gum.3 2.

Oksigen dalam minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagai asam karboksilat. 3. eter. Kandungan oksigen bisa terus naik apabila produk itu lama berhubungan dengan udara. misalnya dalam gasoline dapat menyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau berair). anhidrida. . ester. 2. Selain warna. sedangkan yang mempunyai berat molekul yang tinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer. senyawa bersulfur dan logam-logam berat.  Zat-Zat Pengotor yang sering terdapat dalam minyak bumi 1. Kandungan nitrogen terbanyak terdapat pada fraksi titik didih tinggi. keton. Kandungan tertinggi terdapat pada tipe Asphalitik. senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol. Biasanya pemucatan dilakukan setelah proses pemurnian alkali.1-0. aldehida dan keton.menggunakan bahan kimia. pemucatan juga berperan mengurangi komponen minor lainnya seperti aroma. yaitu 0. Sebagai asam karboksilat berupa asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asam alifatik. Senyawaan Nitrogen Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah. Nitrogen klas dasar yang mempunyai berat molekul yang relatif rendah dapat diekstrak dengan asam mineral encer. Pada proses pemucatan hanya sedikit komponen yang dihilangkan. Nitrogen mempunyai sifat racun terhadap katalis dan dapat membentuk gum / getah pada fuel oil. karena terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran gasoline) dan air. Selain itu.%. Keberadaan Sulfur dalam minyak bumi sering banyak menimbulkan akibat. pemucatan juga dapat mengurangi produk hasil oksidasi lemak seperti peroksida. Senyawa Sulfur Crude oil yang densitynya lebih tinggi mempunyai kandungan Sulfur yang lebih tinggu pula. Senyawa Oksigen Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2 % dan terus naik dengan naiknya titik didih fraksi.

Penambahan adsorben dilakukan pada saat minyak mencapai suhu 70-80oC. menyebabkan turunnya titik lebur campuran sehingga merusakkan refractory itu. Adsorbsi negatif. Adsorbsi positif. yaitu :  Pemucatan Secara Fisika Pemucatan Minyak dengan Adsorben Ada dua bentuk adsorbsi yaitu : a. misalnya oil-fired gas turbine. terutama nikel dan vanadium pada proses catalytic cracking mempengaruhi aktifitas katalis. Zat warna dalam minyak akan diserap oleh permukaan adsorben dan juga menyerap suspensi koloid (gum dan resin) serta hasil degradasi minyak.  Klasifikasi Proses Pemucatan Proses pemucatan terbagi dua. b. Minyak yang akan dipucatkan dipanaskan pada suhu sekitar 105oC. misalnya peroksida. tembaga. Adsorben yang digunakan untuk memucatkan minyak terdiri dari tanah pemucat (bleaching earth) dan arang (bleaching carbon). yaitu penyerapan substart yang tidak diinginkan sehingga bahan relatif tidak mengandung substart tersebut. Pada power generator temperatur tinggi. menghasilkan banyak gas dan pembentukkan coke.4. sebab dapat menurunkan produk gasoline. Pemucatan minyak menggunakan adsorben umumnya dilakukan dalam ketel yang dilengkapi dengan pipa uap. selama 1jam.0- . adanya konstituen logam terutama vanadium dapat membentuk kerak pada rotor turbine. dan jumlah adsorben kurang lebih sebanyak 1. Dalam hal ini pelarutannya yang dipisahkan dari substart yang tidak diinginkan cara ini jarang dilakukan karena dianggap tidak efektif. Abu yang dihasilkan dari pembakaran fuel yang mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi dengan refactory furnace (bata tahan api). Konstituen Metalik Logam-logam seperti besi. yaitu proses penyerapan pelarut dari substart yang tidak diinginkan.

5 persen dari berat minyak. Selanjutnya minyak dipisahkan dari adsorben dengan cara penyaringan menggunakan kain tebal atau dengan cara pengepresan dengan filter press. Sebagai contoh ialah Bleaching Clay yang berasal dari Rusia.0 22.1 6. Perbandingan komposisi antara dua jenis Bleaching Clay Komponen Kimia (%) SiO2 AL2O3 Fe2O3 CaO MgO Jenis adsorben Landau raw clay 59.3 3. William (1962) .5 11. air.20.4 0.C.2 Florida clay 8 56.5 persen dari berat minyak yang dihasilkan setelah proses pemucatan. Tabel 1. Bleaching Clay (bleaching earth) Bleaching Clay pertama kali ditemukan pada abad ke-19 di Inggris dan Amerika. magnesium oksida. Bahan pemucat ini merupakan sejenis tanah liat dengan komposisi utama terdiri dari SiO2.9 1.1. Macam-macam Adsorben: Adsorben yang biasa digunakan untuk memucatkan minyak terdiri dari bleaching clay. Al2O3.3 Sumber: Andersen A. dan besi oksida. Kanada dan Jepang dikenal dengan nama gluchower kaolin.J.N.9 3. Minyak yang hilang karena proses tersebut kurang lebih 0.6 3. dan P. a. ion kalsium. Dalam perdagangan Bleaching Clay mempunyai nama dan komposisi kimia yang berbeda. arang dan arang aktif.

Daya pemucat bleaching clay disebabkan karena ion Al3+ pada permukaan partikel adsorben. garam Ca dan Mg yang menutupi pori-pori adsorben. tetapi bau lapuk tersebut akan hilang pada proses deodorisasi. Disamping itu activated clay yang bersifat asam akan menaikkan kadar asam lemak bebas dalam minyak dan mengurangi daya tahan kain saring yang digunakan untuk memisahkan minyak dari adsorben. yang dapat mengadsorbsi partikel zat warna. Pemakaian asam mineral untuk mengaktifkan adsorben bleaching clay menimbulkan bau lapuk pada minyak. ukuran partikel halus dan pH adsorben mendekati netral. Daya pemucat tersebut tergantung dari perbandingan komponen SiO2 dan Al2O3 dalam bleaching clay. Aktivitas adsorben dengan asam mineral (HCl atau H2SO4) akan mempertinggi daya pemucat karena asam mineral tersebut larut atau bereaksi dengan komponen berupa tar. Daya penyerapan terhadap warna akan lebih efektif jika adsorben mempunyai bobot jenis yang rendah. Adsorben yang terlalu kering menyebabkan daya kombinasinya dengan air telah hilang. Arang (Bleaching Carbon) Arang merupakan bahan padat yang berpori-pori dan pada umunya diperoleh dari hasil pembakaran kayu atau bahan yang mengandung unsur karbon. Umumnya arang mempunyai daya adsorbsi yang rendah terhadap zat warna dan daya adsorbsi tersebut dapat diperbesar dengan cara mengaktifkan arang menggunakan uap atau bahan kimia.Jumlah adsorben yang dibutuhkan untuk menghilangkan warna minyak tergantung dari macam dan tipe warna dalam minyak dan sampai berapa jauh warna tersebut akan dihilangkan. sehingga mengurangi daya penyerapan terhadap zat warna. . kadar air tinggi. b. Disamping itu asam mineral melarutkan Al2O3 sehingga dapat menaikkan perbandingan jumlah SiO2 dan Al2O3 dari (2-3) : 1 menjadi (5-6) : 1.

dan arang yang bermutu baik adalah arang yang mengandung kadar karbon tinggi. Unsur-unsur kimia dari persenyawaan yang ditambahkan akan meresap ke dalam arang dan membuka permukaan yang mula-mula tertutup oleh komponen . Bahan kimia yang dapat digunakan sebagai pengaktif adalah HNO3. SO2. Pengarangan dianggap sempurna jika asap tidak terbentuk lagi. H3PO4. Komposisi Kimia Arang Kayu Keras Komponen (%) Air Bahan menguap Abu “fixed carbon” Kering Udara 9.0 2. Ca3(PO4)2. c.C.J.2 88.abu. William (1962) Sumber lain dari arang berasal dari bahan nabati atau hewani antara lain serbuk gergaji. Ca(OH)2. ZnCl2. NaOH. Na2SO4. Arang Aktif (Aktivated Carbon) Aktivasi karbon bertujuan untuk memperbesar luas permukaan arang dengan membuka pori-pori yang tertutup. Na2CO3. Pada proses pengarangan akan terjadi penguapan air disusul dengan pelepasan gas CO2 dan selanjutnya terjadi peristiwa eksotermis yang merupakan tahap permulaan proses pengarangan. Pada umumnya pengarangan dilakukan pada suhu 300-500 °C.0 80. tempurung.8 Sumber: Andersen A. dan tulang.0 Kering Oven 9. tongkol jagung.air. Suhu pengarangan pada ruangan tanpa udara dilakukan pada suhu 600-700 °C. sianida. Pori-pori dalam arang biasanya diisi oleh tar. sehingga memperbesar kapasitas adsorbsi terhadap zat warna. ampas tebu. dan uap air pada suhu tinggi. CaCl2. persenyawaan yang mengandung nitrogen dan sulfur.1 2.N.9 8. dan P. hidrokarbon dan zat-zat organik lainnya yang terdiri dari fixed carbon.Tabel 2.

dan adsorbsi akan terjadi karena adanya perbedaan energi potensial antara permukaan arang dan zat yang diserap. perbedaan potensial sifat kimia dan perbedaan potensial karena panas. Perbandingan daya pemucat antara arang aktif dan activated clay pada proses pemucatan minyak kelapa seperti tercantum dalam gambar 5. sedangkan penyerapan terhadap bahan non-elektrolit tidak dipengaruhi oleh keasaman atau sifat kebasaan arang sebagai adsorben. sifat arang secara alamiah. Dengan cara tersebut atom karbon tidak mengalami proses oksidasi. Berdasarkan adanya perbedaan energi potensial. adsorbsi kimia dan adsorbsi termis. jenis bahan pengaktif yang digunakan dan kadar air. maka jenis adsorbsi terdiri dari adsorbsi listrik. Persenyawaan hidrokarbon yang menutupi pori-pori yang dapat dihilangkan dengan cara oksidasi menggunakan oksidator lemah sperti CO2 yang disertai dengan air. adsorbsi mekanis. perbedaan tegangan permukaan. ukuran partikel. Efisiensi adsorbsi oleh arang tergantung dari perbedaan muatan listrik antara arang dan zat atau ion yang diserap. Daya adsorbsi arang aktif disebabkan karena arang mempunyai pori-pori dalam jumlah besar. Mekanisme Adsorbsi Zat Warna oleh Arang Adsorbsi adalah suatu peristiwa fisik padat permukaan suatu bahan. sifat kimia permukaan arang. Sifat adsorbsi tersebut masing-masing disebabkan karena perbedaan muatan listrik. volume dan luas penampang kapiler. Mutu arang aktif yang diperoleh tergantung dari luas permukaan partikel. Jumlah arang aktif yang digunakan untuk menyerap warna berpengaruh terhadap jumlah warna yang diserap (gambar 4). Dari gambar .kimia sehingga luas permukaan yang aktif bertambah besar. yang tergantung dari specifik affinity antara adsorben dan zat yang diadsorbsi. Bahan yang mempunyai muatan listrik positif akan diserap lebih efektif oleh arang dalam larutan yang bersifat basa dan sebaliknya.

2 persen dari berat minyak. Keuntungan penggunaan arang aktif sebgai bahan pemucat minyak ialah kerena lebih efektif untuk menyerap warna dibandingkan dengan bleaching clay. Arang aktif Gambar 6. karena arang aktif dapat menyerap zat warna sebanyak 95-97 persen dari total zat warna yang terdapat dalam minyak. Jumlah warna yang diserap (%) . sehingga arang aktif dapat digunakan sebagai bahan pemucat biasanya berjumlah lebih kurang 0. 1953). Arang aktif dapat juga menyerap sebagian bau yang tidak dikehendaki dan mengurangi jumlah peroksida sehingga memperbaiki mutu minyak.1-0.tersebut dapat diketahui bahwa daya pemucat arang aktif lebih baik dari activated clay. Hubungan Antara Arang Aktif Yang Ditambahkan Dengan Jumlah Warna Yang Diserap (hassler.

Perbedan Antara Daya Pemucatan Antara Arang Aktif Dan Activated Clay (Anderson.  Pemucatan minyak secara kimia Cara pemucatan ini banyak digunakan terhadap minyak untuk tujuan bahan pangan (edible fat). Adsorben yang telah bercampur dengan minyak dapat dipisahkan dengan cara penyaringan menggunakan filter press.5 kg/cm2. yaitu kain goni (jute) pada bagian bawah dan kain katun (kapas) atau nilon pada bagian atas filter. ozon. Kerugiannya ialah karena kemungkinan terjadi reaksi antara bahan kimia dan trigliserida. 1953) Keburukannya adalah karena minyak yang tertinggal dalam arang aktif jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan minyak yang tertinggal dalam activated clay.Gambar 7. akan tetapi asam lemak tidak jenuh cenderung membentuk peroksida atau drying oil karena proses oksidasi dan polimerisasi. Keuntungan penggunaan bahan kimia sebagai bahan pemucat adalah karena hilangnya sebagian minyak yang dapat dihindarkan dan zat warna diubah menjadi zat tidak berwarna. Bahan kimia yang digunakan sebagai bahan pemucat adalah persenyawaan peroksida dikromat. klorin dan klorin dioksida. Biasanya dalam filter press terdapat dua macam kain saring. yang tetap tinggal dalam minyak. dan proses otooksidasi terjadi lebih cepat pada minyak yang dipucatkan dengan menggunakan arang aktif (activated carbon). karena pemucatan secara kimia lebih baik dibandingkan dengan menggunakan adsorben.0-3. yaitu: a. . Pemucatan dengan bahan kimia pada umumnya dibagi atas dua macam reaksi pemucatan. dengan tekanan dalam filter press kurang lebih 3. Pemucatan dengan cara oksidasi Oksidasi terhadap zat warna akan mengurangi kerusakan trigliserida. sehingga menurunkan flavor minyak.

karena pereaksi tersebut dapat menimbulkan karat pada logam.Pemucatan dengan peroksida: konsentrasi larutan peroksida yang digunakan biasanya 30-40 persen dan jika konsentrasi peroksida lebih tinggi. Cara ini kurang efektif terhadap minyak yang . dengan reaksi sebagai berikut: Na2Cr2O7 + 4 H2SO4 atau Na2Cr2O7 + 8HCl 3 O + 6 HCl 2 NaCl + 2CrCl3 3 H2O + 3 Cl2 + 4 H2O + 3O NaSO4 + Cr2(SO4)3 + 4H2O + 3O Setelah pereaksi ditambahkan. kalsium peroksida atau benzoil peroksida. rape oil dan minyak ikan. b. Tangki pemucat yang terbuat dari logam harus diberi pelapis anti karat. Zat warna akan mengendap setelah pengadukan dihentikan. Hidrogen peroksida dapat bereaksi dengan ion logam. selanjutnya diaduk. minyak wijen. Oksigen bebas bereaksi dengan asam klorida (HCl) akan menghasilkan klor (Cl2) yang berfungsi sebagai bahan pemucat. Reaksi antara dikromat dan asam akan membebaskan oksigen. mempunyai pengaruh pemucatan. aluminium. Pemucatan dengan pemanasan Pemanasan minyak dalam ruangan vakum pada suhu relatif tinggi. maka minyak cendrung akan mengalami kerusakan karena proses oksidasi. Jenis peroksida yang sering digunakan ialah natrium peroksida. Pemucatan dengan dikromat dan asam Bahan kimia yang digunakan ialah natrium atau kalium dikromat dalam asam mineral (an-organik). atau stainless steel. c. sehingga wadah yang digunakan pada proses pemucatan harus dilapisi dengan email. Minyak yang dipucatkan dengan peroksida tidak perlu disaring: peroksida baik digunakan untuk memucatkan minyak kacang tanah. Pada umumnya warna ungu dalam minyak tidak dapat hilang. sehingga cara pemucatan dikromat banyak digunakan terhadap minyak untuk tujuan pembuatan sabun.

Bahan kimia yang dapat mereduksi zat warna terdiri dari garam-garam natrium bisulfit atau natrium hidrosulfit yang dikenal dengan nama blankite. selanjutnya pelarut organik tersebut dipisahkan dari minyak dengan . karena pemanasan terhadap bahanbahan tersebut merupakan katalisator dalam proses oksidasi. Sebagai contoh ialah penggunaan campuran larutan natrium bisulfit 1. b. Pemakaian zat pereduksi ini biasanya dicampur dengan bahan kimia lain dengan perbandingan tertentu. Minyak yang diperoleh lebih kurang sebanyak 70-75 persen dari jumlah minyak yang terdapat dalam adsorben. Pemucatan dengan cara reduksi Pemucatan dengan cara reduksi kurang efektif karena warna yang hilang dapat timbul kembali jika minyak tersebut terkena udara. Cara pemucatan ini umumnya dilakukan terhadap minyak yang digunakan untuk pembuatan sabun. Umumnya ada dua cara yang dapat digunakan untuk memperoleh kembali minyak yang tertinggal dalam adsorben yaitu sebagai berikut: a.0 . Sebelum dilakukan pemanasan. Lemak dipisahkan dari adsorben dengan menggunakan larutan alkali encer yang dipanaskan pada suhu air mendidih (kira-kira 100oC) dengan tekanan 1 atmosfer. sebaiknya minyak terlebih dahulu dibebaskan dari ion logam terutama ion besi.mengandung pigmen klorofil.1. Larutan alkali dengan tegangan permukaan yang lebih rendah dan daya pembasah yang lebih besar akan mencuci minyak yang tergabung dalam adsorben. Ekstraksi minyak yang tertinggal dalam adsorben Cara yang sederhana untuk mengestraksi minyak yang tertinggal dalam adsorben ialah mencampurkan adsorben tersebut dengan bahan yang akan diekstraksi minyaknya. sabun. (soap stock) dan hasil-hasil oksidasi seperti peroksida. Ekstraksi dengan Pelarut Organik Pelarut organik dapat melarutkan dan mencuci minyak yang terdapat dalam adsorben. d.5 % dan larutan asam sulfat. Pemisahan minyak dengan Menggunakan Surface Active Agent Surface Active Agent yang digunakan adalah larutan alkali.

maka penggunaan pelarut organik mempunyai beberapa keuntungan.cara penyulingan pada suhu titik didih pelarut organik yang digunakan. yaitu sebagai berikut:  Minyak yang dihasilkan mutunya lebih baik dan kadar minyak yng diperoleh mencapai 90-95 persen dari jumlah minyak yang terdapat dalam adsorben. karena minyak tersebut jika dioksidasi pada suhu tinggi akan membentuk persenyawaan polimer yang berwarna gelap. PEMUCATAN (BLEACHING) FISIKA KIMIA Menggunakan Adsorben Oksidasi Reduksi Menggunakan Dikromat dan Asam Pemucatan dengan panas Bleaching Clay Arang Arang Aktif Gambar 8. Kontak minyak dengan oksigen udara perlu dihindarkan terutama pada minyak yang mudah mengering ( drying oil). Skema dari Proses Bleaching  Kelebihan dan Kelemahan Proses Pemucatan 1. Jika dibandingkan dengan cara pemisahan minyak menggunakan Surface Active Agent.  Pengaruh uap air dan oksigen udara dapat dihindarkan sehingga kecil kemungkinan terjadinya proses hidrolisa dan oksidasi minyak. Kelemahan dan kelebihan proses pemucatan dengan adsorben .

Kelebihan penggunaan bahan kimia dapat menghindari hilangnya sebagian minyak dan zat warna dapat dihilangkan mnjadi zat tidak berwarna. Kemudian setelah bleacher. Blok diagram Bleaching BLEACHING EARTH MIXER cpo BLEACHER FILTER BPO HE BLEACHING EARTH Umpan berupa CPO yang telah melewati tahap pemurnian yaitu degumming masuk ke dalam mixer static sebanyak 20 %. Pada alat mixer tersebut suhu yang digunakan sekitar 40-60oC. Kelebihannya tidak ada reaksi samping antara adsorben dan minyak. Kemudian didalam mixer di aduk semapai CPO tersebut bercampur merata dengan absorben bleaching earth yang telah ditambahkan.Adanya kehilangan minyak dan daya pemucatannya kurang bagus jika dibandingkan dengan proses kimia. Kelemahan dan kelebihan proses pemucatan dengan bahan kimia Kelemahannya adanya kemungkinan terjadinya reaksi antara bahan kimia dan trigliserida sehingga menurunkan flavor minyak. Didalam mixer static tersebut ditambah bleaching earth sebagai absorben yang berfungsi menghilangkan impurities. Kemudian hasil dari alat mixer dan HE dilanjutkan ke dalam alat bleacher. CPO dan absorben yang telah bercampur dipisah kan melalui . karena adsorben hanya bertindak sebagai zat penjerap. Dalam alat ini suhu berkisar antara 100-130oC untuk mendapatkan proses bleaching yang optimum. 2. Kemudian umpan sebanyak 80 % dimasukkan ke dalam Heat Exchanger agar suhu dari CPO tersebut meningkat menjadi 90-130oC.

sterol dan tokoferol. Proses deodorisasi perlu dilakukan terhadap minyak yang akan digunakan untuk bahan pangan. dan minyak olive.fliter niagra.2. rape seed. slurry melewati lembaran filter dan bleaching earth terjebak dalam lembaran filter. misalnya lemak susu. Senyawa tersebut terdiri dari hidrokarbon tidak jenuh. Sebenarnya. lemak coklat. Flavor yang Dihasilkan dari Kerusakan Minyak atau Bahan yang Mengandung Minyak . Flavor dalam Minyak 1. Flavor Alamiah (natural flavor) Flavor secara alamiah terdapat dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut terekstrak pada proses pemisahan minyak dengan cara pengepresan.3 Deodorisasi Deodorisasi adalah suatu tahap proses pemurnian minyak yang bertujuan untuk menghilangkan bau dan rasa (flavor) yang tidak enak dalam minyak. Minyak yang berbau sengit (pungent odor) dan rasa getir disebaban oleh glukosida dan allyl thio sianoida. Temperatur dijaga pada 80 – 120 oC untuk proses filtrasi yang baik. Senyawa ini banyak terdapat dalam minyak yang berasal dari biji-bijian. Setelah dipisahkan akan terbentuk akan terbentuk BPO (bleached palm oil). misalnya minyak brassica. sehingga tidak memerlukan proses deodorisasi . 2. Prinsip proses deodorisasi yaitu penyulingan minyak dengan uap panas dalam tekanan atmosfir atau keadaan vakum. lemak babi. Beberapa jenis minyak yang baru diekstrak mengandung flavor yang baik untuk tujuan bahan pangan. Pada filter Niagara. 2. bleaching earth harus bersih dari filter Niagara setelah 45 menit operasi untuk mendapatkan filtrasi yang baik. pigmen karotenoid. rendering atau dengan ekstraksi menggunakan pelarut menguap. colza dan mustard. terpena.2.

Cara Deodorisasi Proses deodorisasi dilakukan dalam tabung baja yang tertutup dan dipasang vertikal. Penurunan tekanan selama proses deodorisasi akan mengurangi jumlah uap yang digunakan dan mencegah hidrolisa minyak oleh uap air. pengangkutan. adanya kotoran dalam minyak dan pada proses pemurnian. maka minyak tersebut perlu divakumkan pada tekanan yang turun lebih rendah. yang menghasilkan asam lemak bebas. Senyawa yang terbentuk merupakan hasil degradasi trigliserida dalam minyak. penyimpanan. sehingga komponen tersebut diangkut dari minyak bersama-sama uap panas. alkohol dan sebagainya. Proses deodorisasi dilakukan dengan cara memompakan minyak ke dalam ketel deodorisasi.Kerusakan tersebut terjadi selama pengolahan. Jika masih ada uap air yang tertinggal dalam minyak setelah pengaliran uap selesai. komponen yang menimbulkan bau dalam minyak akan lebih mudah menguap. Bau tengik dan rasa getir mulai dapat dirasakan jika komponen tersebut terdapat dalam minyak dengan jumlah lebih dari 0. Pada suhu yang lebih tinggi. .1 persen dari berat minyak. dikarbonil. Kemudian minyak tersebut dipanaskan pada suhu 200-250oC pada tekanan 1 atmosfer (gauge) dan selanjutnya pada tekanan rendah (lebih kurang 10 mmHg) sambil dialiri dengan uap panas selama 4-6 jam untuk mengangkut senyawa yang dapat menguap. aldehida dan keton.

Pipa pengeluaran air kondensasi pipa kondenser yang 10. mikroba. Corong pemasukan uap ke dalam kondensor 8. 3.Keterangan : 1. Zn yang merupakan katalisator dalam proses oksidasi minyak. hidrolisa. 3 9. 2. Fraksi tidak tersabunkan yang terdiri dari klorofil. 5. Ketel deodorisasi Tedeng (sekat) Katup pengeluaran udara dari dalam minyak 7. Pipa vakum penghubung ke pompa 6. dengan reaksi sebagai berikut: .015 – 0. dan ion logam seperti Cu. Pipa uap ke kondensor Setelah proses deodorisasi sempurna. Kerusakan minyak yang telah mengalami proses deodorisasi dapat disebabkan oleh proses oksidasi. peroksida akan berkurang dan jumlah yang tertinggal lebih kurang 0. Mg. Logam tersebut dapat membentuk persenyawaan kompleks dengan hasil oksidasi asam lemak dan berubah menjadi radikal bebas. minyak harus cepat didinginkan dengan mengalirkan air dingin melalui pipa pendingin sehingga suhu minyak turun menjadi lebih kurang 84oC dan selanjutnya ketel dibuka dan minyak dikeluarkan dari ketel. Pipa pemasukan air dingin dari bagian atas kondensor 4. hidrokarbon (terutama sequalene dan sterol) akan berkurang sebanyak kira-kira 60 persen dari jumlah fraksi tidak tersabunkan. Corong pengeluaran minyak Pipa penghubung antara ruang kosong di atas permukaan minyak dengan ad. vitamin E. Ujung terendam air 11.030 persen. Asam lemak bebas dapat menguap.

sehingga logam tidak dapat aktif dalam proses pembentukan radikal bebas. maka akan terbentuk kompleks dengan ion logam. Block diagram Deodorisasi BPO HE DEODORIZER KOLOM VACUUM RBDPO .Dengan menambahkan metal inactivator seperti asam sitrat. Hasil minyak yang telah dimurnikan sedapat mungkin dijaga agar tidak banyak mengalami kerusakan dengan memperhatikan faktor-faktor suhu. cara penanganan dan kemasan yang dipakai. asam tartarat dan asam fosfat.

015-0. kecepatan hidrolisa dari minyak sama dengan kecepatan penguapan asam lemak pada waktu dialiri uap. asam tartrat sehingga minyak tersebut lebih tahan terhadap oksidasi. sehingga menambah daya tahan minyak dan lemak terhadap proses oksidasi. Kontaminasi logam yang dapat menyebabkan kerusakan minyak atau lemak. Penggunaan steam langsung (direct steam) menjamin pembuangan residu FFA. Pada batas nilai ini. klorofil dan vitamin E akan berkurang dalam jumlah kecil. maka setelah proses deodorisasi kandungan dari sterol. hidrokarbon dan zat warna terutama karotenoid dapat terpisah dalam jumlah besar. Panas bleaching minyak terjadi pada temperatur ini melalui perusakan termal pigmen karotenoid. Berat molekul yang lebih rendah dari fatty acid yang teruapkan naik ke kolom dan tertarik keluar oleh sistem yang vakum. Hasil minyak yang telah dimurnikan sedapat mungkin dijaga agar tidak banyak mengalami kerusakan dengan memperhatikan faktor-faktor suhu. ditambahkan antioksidan seperti asam fosfat. maka pada waktu proses deodorisasi. Setelah itu masuk ke dalam deodorizer. Peroksida dan peroksidan yang terdapat pada minyak akan turut terpisah. karena logam dan lemak akan mempersingkat waktu penyimpanan .BPO dari tahap Bleaching dimasukkan ke dalam heat exchanger dengan suhu awal 80-120 oC menjadi 210-250oC. Lalu dihasilkan minyak nabti yang telah hilang rasa dan baunya. Pada proses deodorisasi. a. Setelah itu di masukkan kedalam kolom vakum pad suhu 240-280oC dengan tekanan dibawah 10 torr. asam sitrat. Pengaruh Deodorisasi Terhadap Komposisi Minyak dan Lemak Jika minyak mengandung asam lemak bebas. cara penanganan dan kemasan yang dipakai. aldehida dan keton yang tidak diharapkan rasa dan baunya. dilakukan dengan status tinggi. maka setelah dproses deodorisasi jumlah asam lemak bebas tersebut sekitar 0.03 persen. Bila komponen yang tidak tersabunkan dari minyak atau lemak nabati telah terpisah sebelumnya. Untuk mempertinggi mutu minyak yang dihasilkan.

2 2. yaitu pada 200oC). dan dialiri uap selam 0.6 1. karena secara alamiah minyak nabati mengandung anti-oksidan (vitamin E dan anti-oksidan lainnya). Akan tetapi anti-oksidan jarang ditambahkan ditambahkan pada minyak nabati.6 50. Proses deodorisasi biasanya dilakukan dengan memanaskan minyak pada temperatur 200oC-250oCdengan tekanan sebesar 1-6 mmHg. Minyak yang telah mengalami deodorisasi tidak lagi mengandung senyawa polimer atau masih terdapat dalam jumlah yang tidak berarti.05 Mengurangi waktu penyimpanan setengahnya Mangan Besi Kromium Nikel Seng Alumunium 0.Tabel 3 Hubungan Antara Konsentrasi Logam yang Terdapat dalam Lemak Babi.0 Idem Idem Idem Idem Idem Idem Penggunaan anti-oksidan sangat penting dalam pengolahan minyak untuk mencegah kehilangan flavor dari minyak.6 0. dengan Lama Penyimpanannya Jenis Logam Konsentrasi (ppm) Pengurangan waktu penyimpanan Tembaga 0.3-12 jam. Suhu rendah dan tekanan tinggi diperlukan pada waktu pengaliran uap untuk mencegah proses polimerisasi oleh panas (proses deodorisasi dilakukan pada temperatur yang lebih redah. Selama .2 19.

Steam . b. pengurangan warna. prooxidant metal ion. Temperatur dalam bleacher harus sekitar 100-130 oC untuk mendapatkan proses bleaching optimum untuk periode bleaching 30 menit. Diagram alir Proses Pemurnian Minyak Nabati secara Fisika dalam Industri Degumming CPO sebagai umpan untuk proses bleaching menuju bleacher. trace metals. produk oksidasi) dari CPO dan akan memperbaiki rasa aslinya. Deodorisasi Secara Fisika Dalam Industri Gambar 9.proses deodorisasi. komponen monogliserida dan digliserida yang terdapat pada minyak akan diubah menjadi trigliserida. ada 20 % slurry dan 80 % CPO yang didegumming dicampur bersama dan proses bleaching terjadi. Hal ini juga membantu mengatasi masalah proses berikutnya dengan adsorpsi trace sabun. bau akhir. Proses bleaching termasuk penambahan bleaching earth untuk menghilangkan beberapa impurities yang tidak diinginkan (semua pigment. Dalam bleacher. dan adsorb impurities minor. dekomposisi peroxide. dan kestabilan oksidasi produk.

Pada kolom. Mendinginkan minyak sebelum meninggalkan sistem. Semua material adalah stainless steel. Pada umumnya. Dearasi minyak. Temperatur dijaga pada 80 – 120 oC untuk proses filtrasi yang baik. dan proses destilasi vakum. Vakum kurang dari 10 torr biasanya dijaga oleh ejector dan booster. Deodorisasi pada temperature tinggi. Adanya bleaching earth mencemari deodorizer. Sebenarnya. 2. Karena itu. Schmidt plate heat exchanger dan spiral (termal minyak: 250-305 oC) heat exchanger memanaskan BPO dari 80 – 120 oC sampai 210 – 250 o C. 4. Memanaskan minyak. minyak umumnya dipanaskan kira-kira 240 – 280 oC di bawah vakum. bebas dari partikel bleaching earth. Slurry mengandung minyak dan bleaching earth kemudian melalui filter Niagara agar bersih. beberapa koreksi dapat diambil secepatnya. proses deacidification dan deorization terjadi secara bersamaan. Dalam kolom pre-stripping dan deodorizing. dicheck pada filter kedua. Steam strips minyak. slurry melewati lembaran filter dan bleaching earth terjebak dalam lembaran filter. BPO keluar dari filter dan melalui rangkaian sistem pengembalian panas (heat recovery system). menghilangkan bau menghasilkan produk yang stabil dan bau yang berkurang. Panas bleaching minyak terjadi pada temperatur ini melalui perusakan . vakum yang tinggi. Operasi deodorizer dengan alat: 1. perangkap filter yang digunakan dengan filter Niagara untuk menjamin bahwa tidak ada bleaching earth lolos terjadi. Pada filter Niagara. Bleached palm oil (BPO) dari filter Niagara dipompa menuju tank buffer yang sebagai storage sementara sebelum proses lebih lanjut. 3. BPO panas dari spiral heat exchanger kemudian diproses ke tahap selanjutnya dimana FFA dan warna dikurangi dan lebih penting. bleaching earth harus bersih dari filter Niagara setelah 45 menit operasi untuk mendapatkan filtrasi yang baik. mengurangi stabilitas oksidasi dari produk minyak dan berlaku sebagai katalis untuk aktifitas dimerizaition dan polimerisasi.dengan tekanan rendah dimasukkan dalam bleacher untuk menggerakkan slurry berkonsentrasi untuk kodisi bleaching yang lebih baik.

deodorized palm oil (RBDPO). Produk bawah (bottom product) dari pre-stripper dan deodorizer adalah refined. RBDPO panas (250-280 oC) dipompa melalui Schimidt Heat Exchanger untuk memindahkan panasnya ke BPO yang masuk dengan temperature rendah. Lalu. Uap fatty acid meninggalkan deodorizer didinginkan dan dikumpulkan dalam kondensor fatty acid sebagai fatty acid. bleached. by produk dari proses refinery. aldehida dan keton yang tidak diharapkan rasa dan baunya. sehingga akan mengurangi tingkat ketidakjenuhan minyak atau lemak. (Galz-dari Refinery of Palm Oil) 2. Fatty acid kemudian didinginkan dalam fatty acid cooler dan dikeluarkan menuju storage tank fatty acid dengan temperature sekitar 60 – 80 oC sebagai destilat asam lemak kelapa sawit (palm fatty acid distillate/ PFAD). Proses hidrogenasi dilakukan dengan menggunakan hydrogen murni dan ditambahkan serbuk nikel sebagai katalisator. Berat molekul yang lebih rendah dari fatty acid yang teruapkan naik ke kolom dan tertarik keluar oleh sistem yang vakum.3 Hidrogenasi Hidrogenasi adalah proses pengolahan minyak atau lemak dengan cara menambahkan hidrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak. melalui perangkap filter lainnya untuk mendapat minyak akhir (120 – 140 oC) untuk mencegah earth trace dari reaching tangki produk.termal pigmen karotenoid. Setelah itu. . RBDPO dipompa ke storage dengan temperatur 50 – 80 oC. Penggunaan steam langsung (direct steam) menjamin pembuangan residu FFA. sehingga membuat minyak tersebut menjadi tahan lama. RBDPO melalui RBDPO cooler dan plate heat exchanger untuk memindahkan panas ke umpan CPO. Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjenuhkan ikatan rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak atau lemak.

Penambahan tekanan dan kemurniaan gas hidrogen yang dipergunakan akan menaikkan kecepatan reaksi proses hidrogenasi. yaitu lemak dengan derajat ketidakjenuhan lebih tinggi akan lebih mudah terhidrogenasi. copper chromite). Reaksi pada proses hidrogenasi terjadi pada permukaan katalis yang mengakibatkan reaksi antara molekul-molekul minyak dengan gas hidrogen. Juga dengan hilangnya ikatan rangkap. Hidrogenasi suatu lemak bersifat selektif. Nikel juga mengandung sejumlah kecil Al dan Cu yang berfungsi sebagai promoter dalam proses hidrogenasi minyak. yaitu lemak dengan derajat ketidakjenuhan lebih tinggi akan lebih mudah terhidrogenasi. akan menjadikan minyak atau lemak tersebut tahan terhadap proses oksidasi.Mekanisme proses Hidrogenasi : H2 R – CH = CH – CH2 – COOHR Asam lemak tidak jenuh Ni R . Misalnya hidrogenasi lemak yang mengandung linoleat. Hidrogenasi suatu lemak bersifat selektif. konversi linoleat menjadi oleat atau isomer – isomernya lebih banyak daripada konversi asam olet menjadi asam stearat. Dalam proses hidrogenasi tersebut karbon monoksida dan sulfur merupakan katalisator beracun yang sangat berbahaya. hidrogenasi lemak yang mengandung linoleat. platina. Hal ini karena nikel lebih ekonomis dan lebih efisien daripada logam lainnya. Pada temperature sekitar 400oF (2050C) dicapai kecepatan reaksi yang maksimum. Pemanasan akan mempercepat jalannya reaksi hidrogenasi.CH2 – CH2 – CH2 – COOH asam lemak jenuh Adanya penambahan hidrogen pada ikatan rangkap minyak atau lemak dengan bantuan katalisator akan mengakibatkan kenaikatn titik cair. Nikel merupakan katalis yang sering digunakan dalam proses hidrogenasi daripada katalis yang lain (palladium. Misalnya. konversi linoleat menjadi oleat atau .

Beberapa kondisi (seperti suhu yang tepat. serta asam linoleat diubah menjadi asam oleat.isomer – isomernya lebih banyak daripada konversi asam olet menjadi asam stearat. yang akan menjadikan minyak atau lemak tersebut tahan terhadap proses oksidasi dan juga bersifat plastis.1-0. Setelah proses hidrogenasi selesai. Hidrogenasi akan mengakibatkan hilangnya ikatan rangkap. Proses hidrogenasi akan merubah asam linolenat menjadi asam linoleat. Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras. dan tidak cocok digunakan untuk pemanggangan kue (baking powder). Tahap hidrogenasi juga akan menurunkan kadar asam lemak bebas sampai sekitar 0.1986) Linolenat Linoleat Oleat Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai karbon asam lemak pada lemak atau minyak. Untuk memperoleh tekstur akhir yang diinginkan. anda perlu menghidrogenasi cukup banyak ikatan. Minyak bisa dikeraskan (ditingkatkan titik lebur) dengan cara menghidrogenasinya dengan bantuan katalis nikel. ada manfaat kesehatan yang mungkin diperoleh ketika memakan lemak atau minyak tak-jenuh-tunggal atau tak-jenuh-majemuk ketimbang lemak atau minyak yang jenuh. Minyakminyak nabati sering memiliki kandungan lemak (minyak) tak jenuh tunggal (mono-unsaturated) dan tak jenuh majemuk (polyunsaturated) yang tinggi.(Ketaren. Kandungan lemak dan minyak yang tinggi ini membuat minyak-minyak nabati mudah tersebar tidak beraturan pada bahan makanan seperti roti. Akan tetapi. atau lamanya waktu hidrogen dilewatkan ke dalam minyak) harus dikontrol dengan hati-hati sehingga beberapa (tidak harus semua) ikatan karbonkarbon rangkap mengalami hidrogenasi. tergantung pada derajat kejenuhan.3 %. minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan disaring . Prosedur ini menghasilkan sebuah "minyak yang terhidrogenasi parsial" atau "lemak yang terhidrogenasi parsial". sehingga semua ikatan karbon-karbon . olehnya itu minyak-minyak nabati berwujud cair pada suhu kamar.

Lemak trans merupakan minyak yang diolah melalui proses hidrogenasi parsial (yakni dengan menambahkan hidrogen ke dalamnya). ozon. asam nitrat dan beberapa senyawa organic nitro dan aldehid aromatic. Lemak trans lebih sering dijumpai dalam margarin. Dalam bahan yang mengandung minyak/lemak. lemak trans juga terbentuk dalam rumen atau . adanya katalis atau bahan pengoksidasi seperti peroksida. Kekurangan hidrogen sebagai sebuah bahan untuk mengeraskan lemak dan minyak Gambar 10. Diagram alir berikut menunjukkan proses hidrogenasi sempurna dari sebuah minyak tak-jenuh-tunggal yang sederhana. Pengolahan ini dilakukan untuk meningkatkan stabilitas oksidatif agar tak mudah mengalami proses oksidasi. Sebetulnya proses hidrogenasi parsial dilakukan industri pangan untuk membuat margarin. perasid. konstituen yang paling mudah mengalami oksidasi adalah asam lemak tidak jenuh. Semakin tinggi suhu pemanasan maka terjadinya oksidasi minyak akan semakin cepat.rangkap yang ada dalam minyak tersebut tidak perlu dihidrogeasi semuanya. Proses hidrogenasi pada minyak juga bertujuan untuk menstabilkan minyak sehingga masa simpannya lebih panjang. Secara natural. Proses hidrogenasi dari minyak tak jenuh tunggal Lemak yang dikandung minyak atau margarin merupakan trigliserida yang tersusun atas lemak jenuh (saturated fat) dan tak jenuh. Selain itu oksidasi juga akan dipercepat oleh adanya radiasi misalnya oleh panas atau cahaya. Proses oksidasi pada minyak terjadi karena aksi oksigen dari udara terhadap minyak.

3. Sehingga akan menimbulkan beberapa risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan akibat memakan lemak atau minyak yang terhidrogenasi. Para konsumen mulai menyadari hal ini. dan asam linolenat. serta asam linoleat diubah menjadi asam oleat. akan dihidrogenasi terlebih dahulu. jika dilakukan prose hidrogenasi berlebih yang bertujuan untuk mengeliminir asam linoleat dan mereduksi asam linoleat hingga berkurang 25 persen dari jumlah semula. Pemisahan dan pembentukan asam isooleat akan dibantu dengan pemanasan pada suhu tinggi. Asam lemak tidak jenuh yang terpenting dari minyak makan adalah asam oleat. Ini membuat susunan kimiawinya yang sejajar menjadi berseberangan dan berbahaya bagi kesehatan. Biasanya pada pembutan mentega putih dengan cara hidrogenasi ini.lambung ternak besar seperti sapi. asam yang terdapat pada minyak sebagai sisa dari proses pengolahan sebelumnya. .1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Hidrogenasi Hidrogenasi asam-asam lemak dalam trigliserida tidak merupakan suatu funsi sari letak asam leamk tersebut. Dan pada proses hidrogenasi ikatan rangkap minyak tadi mengalami isomerisasi dari konfigurasi cis menjadi trans. tetapi pada kondisi hidrogenasi yang sesuai. asam oleat cenderung akan membentuk asam isooleat. Proses hidrogenasi mengubah asam lemak linolenat menjadi asam linoneat. Jadi. 2. Persentase berat dari asam lemak dalam 2 posisi tidak merubah selam hidrogenasi. produk-produk seperti mentega atau susu mengandung lemak trans dalam jumlah 2-5%. asam linoleat. dan pabrik-pabrik yang memproduksi makanan juga terus mencari cara-cara alternatif untuk mengubah minyak menjadi padatan yang bisa dioleskan pada makanan. konsentrasi katalisator yang tinggi serta pengadukan dan penggunaan tekanan yang rendah. terbentuknya asam isooleat dapat dihindarkan. Persentase berat asam lemak pada 2 posisi sedikit berubah. Sebelum asam oleat tesebut diubah menjadi asam stearat.

sifat dan konsentrasi katalis. 2.3. kondisi dipilih sedemikian rupa sehingga akan menghasilkan asam stearat dengan jumlah maksimum dan asam isooleat berjumlah minimum. suhu. Nikel juga mengandung sejumlah kecil Al dan Cu yang berfungsi sebagai promoter alam proses hidrogenasi minyak. Proses elektrolisa yang dilakukan sangat sederhana.3. gas biru yang terbentuk dari uap akan menghembus melaui alat pemanas dan terus menembus melalui besi panas untuk mereduksi logam besi yang telah teroksidasi. dan frekuensi pengadukan. yaitu dengan larutan natrium hidroksida encer. .5oC – 926. platina. Oksigen pada uap akan bercampur dengan besi dan akan membebaskan hidrogen. 2.3 Pembuatan Hidrogen Hidrogen yang digunakan pada proses ini dibuat dengan proses elektrolisa dan proses steam iron.2 Katalisator Yang Digunakan Pada Proses Hidrogenasi Nikel merupakan katalis yang sering digunakan dalam proses hidrogenasi daripada katalis yang lain (palladium. Pada tahap akhir dari siklus usap. Kelebihan dari reduksi gas dialirkan melalui besi panas dan dibakar dalam checkerwork.Kecepatan reaksi tergantung pada sifat alamiah substansi yang dihidrogenasi. konsentrasi hidrogen. Cara ini dapat menghasilkan hydrogen murni. tekanan. Pada pembuatan mentega putih.5oC). Cara steam iron adalah proses pembuatan hidrogen yang mengikutsertakan proses reduksi dan oksidasi dari besi panas dalam dapur api yang dipanaskan pada suhu 1500oF – 1700oF (815. Hal ini karena nikel lebih ekonomis dan lebih efisien daripada logam lainnya. copper chromite). Pengurangan gas dilakukan dengan jalan mengalirkan gas tersebut melalui bagian bawah dapur api. Uap yang dipergunakan dialirkan secara berlebihan melalui besi panas.

3 gliserol. karbondioksida dan karbon monoksida. 2. karena mengandung komponen-komponen sulfur. Hal ini dapat terjadi karena asam lemak tidak jenuh yang tadinya berada pada posisi C2 serta diapit oleh asam lemak jenuh pada posisi C1. Perubahan letak posisi asam lemak secara reaksi interesterifikasi akhirnya digunakan untuk merekayasa lipida yang tersabunkan menjadi sumber bahan makan yang bermanfaat bagi kesehatan. Proses modifikasi lainnya adalah blending.3 dan berbentuk padat akan menjadi lebih cair apabila pada posisi C1 atau C3 berupa asam lemak tidak jenuh.2. sehingga dengan demikian kandungan padatan minyak / lemak tersebut yang terukur secara pulsa NMR akan menurun.4 Interesterifikasi Interesterifikasi merupakan salah satu proses modifikasi untuk mengubah karakteristik fisiko kimiawi lemak dan minyak. Reaksi Interesterifikasi pada lemak dan minyak akan menyebabkan pertukaran antara satu asam lemak dengan asam lemak yang lain didalam molekul trigliserida atau antara trigliserida yang dapat mengubah sifat kimia dan fisika pada lemak. Hal ini telah dibuktikan untuk mempertukarkan posisi Eikosapentanoat dari posisi C1 atau C3 ke posisi C2 atau sebaliknya.Hidrogen yang dihasilkan pada proses steam iron kurang murni untuk dipakai pada proses hidrogenasi minyak dan lemak makan. Ester asam lemak dalam bentuk trigliserida sering dilakukan reaksi interesterifikasi antara 2 lemak yang padat dengan minyak yang cair untuk mengubah posisi asam lemak tersebut yang teresterkan pada gugus hidroksil dari C1. fraksinasi. dan hidrogenasi. Trigliserida di dalam tubuh manusia hanya terhidrolisa oleh enzim pankreas pada posisi C1 dan C3 sedangkan C2 tetap . Sedangkan hidrogen sulfide dapat dipisahkan dengan jalan melewatkan gas melalui ketel pemurnian yang diisi dengan besi sulfide (FeS) . Pemisahan karbon monoksida dapat dilakkan dengan mereaksikan hidrogen dengan uap pada suhu tinggi.

8% gliserol. gagal pencernaan.2 . farmasi dan kosmetik maka harus dilakukan destilasi molekuler.dalam bentuk esternya. Ester yang masih terikat dengan gliserol pada posisi C2 sepanjang apapun rantainya tetap dapat diserap oleh tubuh sebagai sumber energi. Contohnya pada pembuatan Pengganti Mentega Coklat melalui proses interesterifikasi antara minyak kelapa dengan stearin kelapa sawit yang diperkaya Omega-3 asam lemak ikan sardencis dengan menggunakan katalis natrium etoksida. Hanya saja proses ini menghasilkan campuran yang terdiri atas 40 . Lipida seperti ini disebut sebagai Medium Chain Triglicerides (MCT).70%. 5 .9% asam lemak bebas dan 4 . Oleh karena itu trigliserida melalui reaksi transesterifikasi dengan gliserol diubah menjadi monogliserida dan digliserida dengan bantuan katalis seperti natrium metoksida dan basa Lewis lainnya. 30 . liver ataupun bagi seseorang yang dalam proses penyembuhan dari pembedahan serta dapat juga digunakan untuk orang yang memiliki permasalahan alergi terhadap bahan makan tertentu. Untuk mendapatkan monogliserida yang murni yang akan digunakan dalam bahan makan.40% digliserida.80% monogliserida. sedangkan asam lemak bebas hasil hidrolisa pada posisi C1 dan C3 apabila berantai panjang sulit terabsorbsi oleh tubuh. Trigliserida juga banyak diubah menjadi monogliserida dan digliserida. Dalam hubungan untuk meningkatkan perolehan hasil monogliserida maka dilakukan reaksi bertingkat secara transesterifikasidengan gliserol yang kemudian diikuti dengan reaksi interesterifikasi dengan metilester asam lemak. . sehingga monogliserida yang diperoleh dapat mencapai 60 . karena baik monogliserida dan digliserida luas penggunaannya sebagai bahan pengemulsi. 0.10% trigliserida. yang mana dapat digunakan untuk mengobati pasien pengidap penyakit HIV. Dalam hubungan ini telah disintesis trigiliserida yang pada posisi C1 dan C3 berupa asam lemak rantai pendek seperti C8 dan C10 yang banyak terdapat pada minyak kelapa.

Dengan menganalisa berbagai perbandingan modifikasi Omega-3 (n.18%) pada suhu tubuh tetapi memiliki struktur padat pada suhu kamar. Interesterifikasi dapat digambarkan sebagai pertukaran gugusan antara dua buah ester dimana hal ini hanya dapat terjadi apabila terdapat katalis. mentega coklat yang baik yaitu yang padat pada suhu kamar dan meleleh pada suhu tubuh serta memiliki kandungan lemak padat yang rendah. Berdasarkan persyaratan bahan pangan.Dengan menganalisa berbagai perbandingan hasil interesterifikasi minyak kelapa dengan stearin kelapa sawit (70gr: 30gr) diperoleh kandungan lemak padat yang rendah (4. maka interesterifikasi antara minyak kelapa dengan stearin kelapa sawit dan dimodifikasi dengan Omega-3 (n-3) etil ester asam lemak ikan sardencis menggunakan katalis natrium etoksida memenuhi persyaratan sebagai pengganti mentega coklat.29%) pada suhu tubuh dan padat pada suhu kamar dan memenuhi syarat sebagai pengganti mentega coklat. Katalis yang sering digunakan untuk reaksi ini adalah logam natrium atau kalium dalam bentuk metoksilat atau etoksilat. .3) Etil Ester Asam Lemak Ikan Sardencis dengan melakukan interesterifikasi dengan menggunakan katalis natrium etoksida diperoleh perbandingan minyak kelapa dengan stearin kelapa sawit dan Omega-3 (70gr: 30gr: 10gr) memiliki kandungan lemak padat yang lebih rendah (2. Dalam reaksi ini ion logam natrium atau kalium akan menyebabkan terbentuknya ion enolat yang selanjutnya diikuti dengan pertukaran gugus alkil. Dilakukan modifikasi Omega-3 (n-3) Etil Ester Asam Lemak Ikan Sardencis pada perbandingan hasil interesterifikasi minyak kelapa dengan stearin kelapa sawit (70gr: 30gr).

Karena trigliserida mengandung 3 gugus ester per molekul.7oC – 121oC) pada kondisi udara yang lembab sampai tercapai kesetimbangan reaksi. sehingga menghasilkan bahan pangan dengan rupa dan konsistensi yang lebih baik. Campuran kemudian dipanaskan pada suhu 190oF – 250oF ( 87. Monogliserida ini bersifat aktif di bagian permukaan minyak atau lemak dan dapat diperunakan untuk menyempurnakan dispersi lemak dalam adonan. maka peluang untuk pertukaran tersebut cukup banyak. Pembuatan monogliserida sangat sederhana. Gugus asil dapat bertukar posisinya dalam satu molekul trigliserida. atau di antara molekul trigliserida. gliserol dan katalisator natrium metoksida (sekitar 0.+ ∕∕ R* → O R – C – O – R* Biasanya interesterifikasi dengan bentuan katalisator natrium metoksida menghasilkan minyak atau lemak berbentuk plastis dengan tekstur labih baik. Mentega putih dibuat dengan penambahan monogliserida seringkali disebut super gliserinated shortening. yaitu dengan mencampurkan minyak. .1 % dari berat minyak). Proses interesterifikasi dilakukan untuk pembuatan mentega putih. Interesterifikasi (penukaran ester atau transesterifikasi) menyangkut pertukaran gugus asil antartrigliserida. margarine dan enrobing fat. Pada keadaan tersebut katalisator dipisahkan dan hasil reaksi tadi didinginkan dengan cepat untuk mendapatkan kadar monogliserida yang tinggi.O ∕∕ NaOCH3 Na + R – C – O – R’ → ∕∕ O ∕∕ O - R – C – O – Na + R – C O Metoksilat IonEnolat Ester Natrium O ∕∕ R – C – O.

Dengan interesterifkasi ini . . Winterisasi merupakan bentuk dari fraksinasi atau pemindahan materi padat pada suhu yang diatur. Reaksi interesterifikasi dilakukan secara kontinyu dengan menggunakan reaktor packed bed. Interesterifikasi pada hakikatnya merupakan proses perbaikan kualitas dari produksi minyak nabati yang mana memiliki tujuan untuk mengubah titik cair lemak dengan menggunakan prinsip jika lemak dipanaskan dengan adanya suatu katalisator (biasanya Natrium Ethoxida atau Natrium Methoxida) sampai temperatur 110 – 1600C. Pada suhu rendah. karena komponen”2-monogliserida” akan berisoerisasi menjadi komponen ”1-monogliserida. trigliserida padat tidak dapat larut dalam trigliserida cair. Hal ini termasuk pemindahan jumlah kecil dari materi terkristalisasi dari minyak yang dapat dimakan dengan filtrasi untuk mencegah cairan fraksi mengeruh pada suhu . Sistem reaktor untuk reaksi interesterifikasi menggunakan reaktor packed bed 2.maka asam lemak jenuhnya dapat diubah menjadi asam lemak tak jenuh.Pada pembuatan monogliserida secara besar-besaran. Gambar 11. dilakukan penyaringan bertahap yang gunanya untuk mendapatkan monogliserida dalam konsentrasi yang tinggi.5 Winterisasi Winterisasi adalah proses pemisahan bagian gliserida jenuh atau bertitik cair tinggi dari trigliserida bertitik cair rendah. maka gugusan asam lemak dapat berubah posisi.

Pendinginan dihentikan dan minyak atau campuran kristal didiamkan selama 6-8 jam. adalah trigliserida sebuah glyceryl ester dari asam stearat. dan dikenal dengan nama stearin. memiliki titik didih atau titik cair lebih tinggi daripada asamasam lemak jenuh rantai pendek. Minyak didinginkan secara perlahan pada suhu sekitar 6oC selama 24 jam. Trigliserida atau gliserida yang terbentuk dari asam lemak jenuh dengan rantai yang panjang. Ini juga dapat ditemukan dalam tanaman tropis seperti kelapa.Bagian yang membeku pada suhu rendah (disebut stearin) dipisahkan melalui penyaringan (dilakukan dalam chill room) sedangkan minyak yang tetap cair disebut winter oil. Gliserida bertitik cair tinggi kadang-kadang mengandung sejumlah asam stearat dan dapat terpisah pada suhu rendah (pendinginan). Demikian juga dengan asam-asam lemak tak jenuh.pendinginan. sedangkan pada musimdingin akan kelihatan seperti susu yang umumnya mengandung sejumlah tristearin. Bermacam-macam lemak berwujud cair pada musim panas. berasal dari lemak hewan diciptakan sebagai produk sampingan dari pengolahan daging sapi. . Kemudian minyak disaring sehingga akan menghasilkan 75-80% minyak dan produk stearine yang akan digunukan untuk shortening pada industri. Stearin atau tristearin.

akibatnya titik leleh asam lemak jenuh lebih tinggi. Gambar 12. Kestabilan asam lemak jenuh mudah dipengaruhi oleh temperatur.Tabel 4. Jenis minyak yang memiliki asam lemak tidak jenuh yang tinggi memiliki sifat mengering yang kuat bila dibandingkan dengan minyak memiliki asam lemak tidak jenuh yang tinggi tetapi tidak berkonjugasi. Tabel titik cair asam asam lemak Asam lemak jenuh lebih stabil dibandingkan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tak berkonjugasi dan berkonjugasi . Berikut ditampilkan asam lemak tak berkonjugasi dan berkonjugasi.

Salah satu proses pembuatan minyak kedelai yaitu dengan proses winterisasi yang merupakan salah satu dari tahap pemurnian. warna yang tidak menarik dan memperpanjang masa simpan minyak sebelum dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan mentah dalam industri. Kotoran yang tidak terlarut dalam minyak dapat dibuang dengan menggunakan filtrasi. Kotoran ini harus dibuang dengan cara pemurnian. Minyak kedelai kasar terdiri dari kotoran tidak terlarut dalam minyak dan yang terlarut dalam minyak.  Contoh proses winterisasi yang terjadi pada pembuatan minyak kedelai Pembuatan minyak kedelai dilakukan dalam beberapa tahap. karena sangat mempengaruhi produk hasil hidrolisa trigliserida dan destilasi asam lemak. khususnya minyak kedelai. Titik cair yang dimiliki minyak kedelai sangat tinggi.Penggolongan minyak dan lemak seperti ini sangat diperlukan. . Berikut ini adalah teknik pemurnian yang biasa digunakan dalam industri yang memproduksi minyak. Sedangkan yang terlarut dalam minyak dapat dibuang dengan beberapa teknik dibawah ini dimana sering digunakan dalam industri untuk memproduksi minyak kedelai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utama dalam proses pemurnian minyak adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak. yaitu sekitar -16oC dan biasanya berbentuk padat (solid) pada ruang yang mempunyai suhu tinggi.

1 Produk Winterisasi . Gliserida bertitik cair tinggi yang kadang-kadang mengandung sejumlah asam stearat dan dapat berpisah pada suhu rendah didinginkan secara perlahan pada suhu sekitar 6oC selama 24 jam.Keterangan : D= deodorization. Setelah dilakukan proses hidrogenasi pada minyak dengan penambahan hydrogen. 2. W= winterization. Bagian yang membeku pada suhu rendah dipisahkan melalui penyaringan sehingga akan menghasilkan 75-80% minyak dan produk stearine yang akan digunukan untuk shortening pada industri. H2= hydrogenation Pada proses diatas yang ditujukan oleh panah yang diberi tanda W & D adalah proses winterisasi. maka dilanjutkan dengan winterisasi. Proses ini dilakukan dalam chill room.5. S= solidification. Sedangkan minyak yang tetap cair disebut winter oil. Pendinginan dihentikan dan minyak atau campuran kristal didiamkan selama 6-8 jam dan hasilnya disebut stearin.

Didinginkan ke 550F (12. produk yang diperoleh adalah bentuk lemak baru yang terdiri dari triglisserida yang komposisinya lebih seragam daripada campuran yang diperoleh dengan jalan mencampur lemak asalnya. Tahan terhadap suhu rendah dalam jangka waktu yang lama 2. Nucleation Berdasarkan komposisi trigliserida pada minyak yang ingin diwinterisasi b. waktu. 2. Pada titik ini. Kandungan asam lemak jenuhnya berkurang 2.20C) dalam waktu 12-18 jam dengan mengurangi cooling rate. 2-40F(1.3 Prinsip dari Proses Winterisasi Winterisasi merupakan pemisahan thermomechanical proses dimana komponen trigliserida dari lemak dan minyak dikristalkan dari bentuk cairnya. dan mechanichal power input/agitation 2. diharapkan produk: 1.1-26.20C) panas yang meningkat harus diamati 4. sekitar 420F(5. Setelah mengalami proses winterisasi.80C) dalam waktu 6-12 jam (pada saat kristal pertama biasanya terbentuk) 3. Crystal growth Berdasarkan temperature kristalisasi. Proses tersebut memerlukan lemak netral anhidrat dengan kandungan perosida minimum.4 Proses Winterisasi pada Minyak Biji Kapas 1.70C) 2.60C) dipertahankan . Refined dan bleached minyak biji kapas ditransfer ke chilling unit pada 70-800F (21. Setelah temperatur minyak turun sedikit demi sedikit.1-2.5.5. Didinginkan ke 450F (7. Esterifikasi tidak mempengaruhi nilai nutrisi zat penyusunnya.5. Kristalisasi terbagi dalam 2 tahap: a.2 Tujuan Proses Winterisasi Proses Winterisasi ini dilakukan dengan tujuan supaya pada saat minyak disimpan pada suhu rendah tidak mengalami pembekuan.Setelah menjalani proses winterisasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->