P. 1
Mesin Bubut

Mesin Bubut

|Views: 144|Likes:

More info:

Published by: Rizqi Camellia September on Apr 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2013

pdf

text

original

LAPORAN TUGAS AKHIR STUDY TENTANG CUTTING FORCE MESIN BUBUT (DESAIN DYNAMOMETER SEDERHANA

)

HALAMAN PERSETUJUAN

Tugas Akhir ini telah disetujui oleh Pembimbing Tugas Akhir untuk dipertahankan di depan Dewan Penguji sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana S-1 Teknik Mesin dijurusan Mesin Fakultas Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta, pada :

Hari : Tanggal :

DisusunTugas Oleh :Akhir ini Disusun Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Laporan Gelar Sarjana Teknik Pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Nama : Fajar Kurniawan Universitas Muhammadiyah Surakarta NIM : D 200 030 004 Judul : Study Tentang Cutting Forces Disusun Oleh : Pada mesin Bubut FAJAR KURNIAWAN (Desain Dynamometer Sederhana). D 200 030 004

Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping Universitas Muhammadiyah Surakarta 2008
( DR. Ir Supriyono, MT ) ( Ir. Ngafwan, MT )

i ii

HALAMAN PENGESAHAN

Tugas Akhir ini telah disyahkan oleh Dewan Penguji sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana S-1 Teknik Mesin dijurusan Mesin Fakultas Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta, pada : Hari : Tanggal :

Dewan Penguji Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota

(DR. Ir Supriyono, MT) Penguji

(Ir. Ngafwan, MT)

(Muh Alfatih H, ST)

Mengetahui, Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta

Universitas Muhammadiyah Surakarta

( Ir. H. Sri Widodo, MT ) ( Marwan Effendy, ST, MT )

iii

Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat.8) ? Barang siapa diuji. kerjakanlah dengan sungguhsungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap “ (QS : Al Insyiqaaq : 6 . didzalimi lalu memaafkan dan berbuat dzalim lalu istighfar. maka keselamatan dan merekalah orang-orang yang memperoleh hidayah “ (HR BAihaqi) v . lalu bersabar. diberi lalu bersyukur. kecuali orang-orang yang khusyu “ (QS : Al Baqarah : 45) ? “ Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.MOTTO ? “ Jadikanlah sabar dan sholat itu sebagai penolongmu. Maka apabila kamu telah salesai (dari suatu urusan).

Almamaterku UMS. dan kebersamaannya. Huda. Teman-temanku diwisma Akhsan (Didik. atas dukungan dan semangat yang diberikan supaya cepat menyelesaikan kuliah. Sahabatku tersayang Putri Ira Arum Sari.Ajiz) serta rekan-rekan Teknik Mesin 2003 yang tidak sempat aku tulis satu persatu. Kakak-kakakku (Mas Aris dan Mas Mahfud) yang telah memberikan solusi untuk memecahkan masalah dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini. menemani dalam setiap perjalananku. Somat. semoga selalu mendapat naunganNya serta bahagia dialam sana. Genduk Nika engkau yang selama ini mendukungku. vi . penyemangat hidupku dalam setiap risau. Andi. Tiyan. terima kasih atas do’anya.HALAMAN PERSEMBAHAN Tugas Akhir ini kupersembahkan kepada : Ibu dan Bapakku yang telah berjuang tanpa ada rasa letih guna memenuhi Kebutuhanku dalam meraih cita-cita. yang telah mendahului menghadap sang Kholiq. Gama. Terima kasih atas do’a. tempat berbagi dalam setiap kesenangan dan kesusahan.

Sri Widodo. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir yang berjudul “Study Tentang Cutting Forces Pada mesin Bubut (Desain Dynamometer Sederhana)”. segala puji hanya kepada Allah SWT. namun berkat bantuan. serta bimbingan selama penyusunan Tugas Akhir ini. MT. ST. selaku Dosen Pembimbing kedua. arahan. Dalam penyusunan Tugas Akhir ini. diselasela kesibukannya masih sempat memberikan petunjuk. selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. H. Bapak Marwan Effendy. penulis banyak mengalami hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian skripsi ini. karena atas rahmat dan hidayah – Nya. yang telah memberikan petunjuk dan bimbingan selama penyusunan Tugas Akhir ini. Untuk itu dalm kesempatan ini. selaku Dosen Pembimbing Pertama. 4. atas kekuatan dan kedamaian pikir yang diberikan. MT. serta bimbingan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan yang timbul dapat teratasi.KATA PENGANTAR Bismillahirrohmaanirrohiim Assalaamu’alaikum Warohmatullahi wabarokaatuh Alhamdulillahirobbil’alamiin. dorongan. Ngafwan. Bapak Ir. penulis sampaikan rasa terima kasih kepada yang terhormat : 1. MT. Ir Supriyono. Bapak DR. MT. arahan. 3. dorongan. vii . Bapak Ir. 2.

Amiin. Seluruh keluarga yang selalu memberikan doa dan semangat selama ini 10. 9.5. Bapak Heru selaku ketua Lab Mesin SMK Negeri 5 Surakarta. penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun Tugas Akhir ini dengan sebaik – baiknya. Seluruh Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah membekali ilmu yang berguna bagi penulis untuk menghadapi masa depan. dan dunia ilmu pengetahuan. Seluruh staff dan karyawan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Juni 2008 Penulis viii . Akhirnya harapan penulis semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri. MT. Wassalaamu’alaikum Warohmatullahi wabarokaatuh Surakarta. 7. namun penulis menyadari masih banyak kekurangan maupun kesalahan. yang telah memberi kesempatan untuk menggunakan Laboratorium proses produksi. 6. para pembaca. Dengan segala kemampuan yang ada. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan selama proses perkuliahan. Bapak Ir. 8. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini. Pramuko Ilmu Purboputro.

................... Batasan masalah..........................3......…………..........................1............. vii DAFTAR ISI................................................. vi KATA PENGANTAR.............. 12 2........... xii ABSTRAKSI............................................................................................................ 2 1...2...................................................3.......................................................................1.............. 2 1......................................................... Material Pahat.................. Perumusan Masalah...........................2.......... 1 1..............................................................5................................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN.... 1 1...........................5....1....................................................... iii HALAMAN SOAL. Landasan Teori.................................... Dial Indicators.. 7 2..............................................2....................................................... 5 2.......................................... 3 BAB II LANDASAN TEORI.............. Elemen-elemen Dasar Pemotongan Pada Proses Bubut.............. 2 1...............6.........2............... 7 2........................................................ v HALAMAN PERSEMBAHAN........... Sistematika Penulisan..... Mesin Bubut.....4............... 5 2..... Tinjauan Pustaka......... Tujuan Penelitian.............. Klasifikasi Proses Permesinan.............4................. xi DAFTAR TABEL........................2............................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN................................................................ Latar Belakang ...DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL……………………………………………………… i HALAMAN PERSETUJUAN………………………………..................................................... 16 2.............................................................................................................................2................................... iv MOTTO....................................... 9 2.....2............. ix DAFTAR GAMBAR..... 2 1................. Manfaat Penelitian....................................2...................... 21 ix ..................................................................................

......2..4..... 32 4..........3............................... Kesimpulan................................................................... Data Hasil Penelitian.................... 32 3.......................3..........................2.....BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................. 32 4... 29 3. 29 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................. Pengesetan Alat...........................................1.... 27 3.................................................... 29 3.................................................................. 28 3.....................................2.....2.. 38 5.............. 36 BAB V PENUTUP.................... 38 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN x ....................................... Alat dan Bahan Penelitian................................................. Saran.. 38 5.....................................3. Diagram Alur Penelitian.... 28 3............................................2.............. Peralatan Yang Digunakan.................................................................. 28 3... Tempat Penelitian... Persiapan Bahan..........................................4...1........................... Pembahasan Hasil Penelitian.............. Prosedur Penelitian. Bahan Penelitian.....1........1...4............ 28 3....1.....

...4.......1..DAFTAR GAMBAR Gambar 2............ 31 xi ............5.....3..... Penampang Benda Kerja Sebelum Dibubut yang Telah Diberi Center Drill……………………....... Diagram Alur Penelitian................ Proses Bubut.... 30 Gambar 3.......... 7 Gambar 2... 10 Gambar 2.......... Dial Indicator atau Dynamometer....................................... Dial Indicator Saat Pembebanan………………………… 30 Gambar 3. Beberapa Macam Proses Permesinan............................4................. Penampang Benda Kerja………………………………… 28 Gambar 3............... Pengesetan Dial Indicator............... 13 Gambar 2......... 11 Gambar 2....... 24 Gambar 3..........................1...............2.......1..2...5................ Spesifikasi Dimensi Mesin Bubut. Bagian-bagian Mesin Bubut............ 29 Gambar 3............... Dial Indicator Menunjukkan Besarnya Defleksi Pahat Pada Saat Proses Bubut Berlangsung…………….....................................................................................3.... Gaya-gaya Pemotongan. 8 Gambar 2..6. 27 Gambar 3....

.... 32 Tabel 4.......... Hasil Perhitungan Unit Horse Power Untuk Material ST 37 (AISI 1010)……………………………………… 35 Tabel 4...... Data Hasil Penelitian Pembebanan Pada Dial Indicator dengan Beban 100gr.........4.....4. Hasil Pengujian Kekerasan Ketiga Material …………… 36 xii ...DAFTAR TABEL Tabel 2..1.. Nilai Unit Horse Power Rata-rata berbagai material…… 25 Tabel 4.... Hasil Perhitungan Unit Horse Power Untuk Material ST 60 (AISI 1030)……………………………………… 35 Tabel 4... Hasil Perhitungan Unit Horse Power Untuk Material Baja VCN (AISI 1050)………………………………… 36 Tabel 4...1........2.........3.

dan Gaya Longitudinal (gaya pada pemakanan ). yaitu Gaya pada kedalaman potong). terdapat gaya pemotongan (cutting force). gerak pemakanan (feed rate). Kata kunci : Cutting Force. Material yag digunakan adalah baja ST 37. serta gerak pemakanan sebesar 0. Yani Tromol Pos 1 Pabelan. Angka pada dynamometer menunjukkan besarnya defleksi pahat. Penelitian ini mengukur gaya potong pada pahat mesin bubut dengan menggunakan dynamometer sedrhana (Dial Indicator). Ngafwan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. Gaya Tangensial (gaya pada kecepatan Radial (gaya potong). digunakan untuk mencari besarnya gaya potong Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Unit Horse Power (Uhp) yang diperoleh besarnya sesuai dengan nilai Uhp pada tabel yang telah ada. Faktor yang mempengaruhi gaya potong diantaranya yaitu kedalaman pemotongan (depth of cut). Kartasura ABSTRAKSI Dalam proses bubut. Dynamometer. A. baja ST 60 dan baja VCN dengan kedalaman potong sebesar 2 m. dan kecepatan pemotongan (cutting speed).08 mm/rev. Supriyono. Unit Horse Power xiii . Sehingga bisa disimpulkan bahwa Dynamometer dapat dijadikan sebagai alat pengukur gaya potong pada mesin bubut.Study Tentang Cutting Forces Pada mesin Bubut (Desain Dynamometer Sederhana) Fajar Kurniawan.

Pada pahat potong. mesin fraismilling ( machine ). gunanya untuk membentuk benda kerja dengan cara menyayat. mesin gerinda grinding ( machine ). Di bidang industri. Terutama di dalam industri permesinan. Misalnya dalam industri otomotif.1. baut. diketahui bahwa resultan gaya terdiri atas tiga komponen dasar. poros. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah merencanakan dan mengaplikasikan dial indicator untuk mengukur gaya potong pada pahat mesin bubut. yaitu FT (Gaya Tangensial / Gaya pada kecepatan potong).2. dengan cara mencari besarnya nilai Uhp pada setiap material. FR (Gaya Radial / Gaya pada kedalaman pemotongan). mesin gergaji s ( awing machine ) dan mesin-mesin yang lainnya. 1. 1 . Latar Belakang Mesin bubut adalah mesin yang dibuat dari logam. mesin bubut berperan dalam pembuatan komponen-komponen kendaraan. keadaan mesin bubut sangat berperan. Penggunaan mesin bubut juga dapat dihubungkan dengan mesin lain seperti mesin bordrilling ( machine ). gerakan utamanya adalah berputar. Gaya tangensial ini adalah gaya yang paling tinggi dari ketiga gaya tersebut. mesin sekrap shaping ( machine ). roda gigi. dan FL (Gaya Longitudinal / Gaya pada pemakanan atau gerak makan).BAB I PENDAHULUAN 1. seperti mur. tromol dan lain sebagainya.

.2 1. Kedalaman potong sebesar 2 mm. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas. Dial indicator sebagai alat ukur. Bagaimana agar sistem tersebut dapat bekerja secara tepat dan akurat? 1. dan gerak makan sebesar 0. Sebuah mesin bubut dengan nomor mesin 837 N BC 87087 3. 4.3. Bagaimana untuk dapat membuat alat pengukur gaya potong pada mesin bubut dengan desain yang sederhana? 2.08 mm. Batasan Masalah Agar penelitian ini fokus dan tidak melebar. 2. maka masalah yang dibatasi adalah : 1. baja ST 60 dan baja VCN.4. maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana sistem kerja alat tersebut? 3. Pada bahan uji diasumsikan tidak terjadi defleksi karena defleksi yang terjadi sangat kecil. 6. 5. Material yang digunakan adalah baja ST 37. Gaya yang dihitung adalah gaya tangensialnya saja 7. Menggunakan Pahat Karbida Widya YG 6.

. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini penulis dapat menambah pengetahuan akademik tentang mesin bubut yaitu mengetahui elemen – elemen dasar. dan sistematika penulisan.3 1. Manfaat lain dari penulisan penelitian ini adalah tercipta sebuah desain sistem alat pengukur gaya potong pada mesin bubut yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. selanjutnya dapat dilakukan penelitian eksperimental lebih lanjut. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini berisi tentang diagram alur penelitian. tujuan penelitian. dan optimasi proses mesin bubut. pahat. mesin yang digunakan.6. Sistematika Penulisan Sistematika laporan tugas akhir ini memuat tentang isi bab-bab yang dapat diuraikan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini berisi tentang latar belakang. BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini berisi tentang teori-teori yang diambil dari buku-buku yang dipakai untuk kelancaran penelitian ini. pembubutan spesiman. cara pengoperasian.5. 1. manfaat penelitian. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini berisi tentang data hasil penelitian dan berisi tentang pembahasan dari data hasil penelitian. pembuatan spesimen. batasan masalah.

.4 BAB V PENUTUP Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian ini dan saran-saran yang mungkin bisa bermanfaat bagi para pembaca. LAMPIRAN Berisi tentang lampiran-lampiran yang berhubungandengan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Berisi tentang buku-buku yang dijadikan referensi dalam pelaksanaan penelitian ini.

5 . menyatakan bahwa proses permesinan merupakan suatu proses untuk menciptakan produk melalui tahapan-tahapan dari bahan baku untuk diubah atau diproses dengan cara-cara tertentu secara urut dan sistematis untuk menghasilkan suatu produk yang berfungsi.BAB II LANDASAN TEORI 2. dan jenis proses permesinan. gerakan dari mesin perkakas. menyatakan bahwa keausan pahat dipengaruhi geometri pahat. Suatu hal yang tidak dapat kita hindari adalah terjadi penyimpangan – penyimpangan selama proses pembuatan. Tinjauan Pustaka Marsyahyo (2003). kedalaman pemotongan. Rochim (2003). bentuk yang sempurna. Dalam praktek tidaklah mungkin kita membuat suatu komponen dengan karakteristik geometri yang ideal. sehingga akhirnya produk tidak mempunyai geometri yang ideal. selain itu juga dipengaruhi oleh semua faktor yang berkaitan dengan proses permesinan. dan permukaan yang halus. antara lain : jenis material benda kerja dan pahat. temperatur. kondisi pemotongan (kecepatan potong. metode pengukuran. cairan pendingin. Suatu komponen mesin mempunyai karakteristik geometri yang ideal apabila komponen tersebut sesuai dengan apa yang kita kehendaki. keausan dari pahat. dan gerak makan). mempunyai ukuran atau dimensi yang tepat. dan gaya-gaya pemotongan.1. Faktor-faktor penyimpangan didalam proses pemotongan logam yaitu : penyetelan mesin perkakas.

ke benda kerja dan ke pahat. Lenturan yang terjadi pada benda kerja ataupun bagianbagian mesin lainnya akan mengurangi ketelitian dari produk. Kekuatan dan kekakuan dari mesin perkakas maupun benda kerja adalah sangat penting utuk mengurangi deformasi yang diakibatkan oleh gaya-gaya yang terjadi sewaktu pemotongan. yaitu FT (Gaya Tangensial / Gaya pada kecepatan potong). . Meskipun deformasi ini kecil tapi harus kita perhitungkan jika ingin membuat produk yang ideal. Kemungkinan sumbu spindle dari mesin bubut menjadi tidak sejajar dengan mejanya ataupun terjadi perubahan tingginya.6 Sewaktu pemotongan berlangsung. UMIST (2003) menyebutkan adanya pengaruh pada gayagaya pemotongan terhadap ketelitian suatu produk. FR (Gaya Radial / Gaya pada kedalaman pemotongan). dan FL (Gaya Longitudinal / Gaya pada pemakanan atau gerak makan). diketahui bahwa resultan gaya terdiri atas tiga komponen dasar. Demikian pula panas yang terjadi akibat gesekan pada sistem transmisi daya dari mesin perkakas (roda gigi) akan merambat ke komponen-komponen sehingga akan terjadi perbedaan temperatur atau pemuaian antara bagian-bagian mesin tidak sama rata. akibatnya akan terjadi deformasi. biasanya dilakukan pemanasan mesin terlebih dahulu sebelum mulai produksi. temperatur yang tinggi akan terjadi pada mata pahat. Pada pahat potong. PT Mativenga. Panas ini sebagian akan mengalir ke geram. Oleh karena itu untuk mengurangi kesalahan geometris akibat dari deformasi karena temperatur ini. Gaya tangensial ini adalah gaya yang paling tinggi dari ketiga gaya tersebut.

gaya-gaya pemotongan FR : Gaya pada kedalaman pemotongan FT : Gaya pada kecepatan potong FL : Gaya pada pemakanan (gerak makan) Berdasarkan keterangan bahwa terdapat gaya pemotongan maka perlu adanyaalat ukur gaya potong pada mesin bubut sehingga kita bisa menganalisis berapa besar gaya yang dibutuhkan untuk memproses suatu material. .1. Rochim (2001) menyatakan bahwa kecermatan alat ukur harus dijamin seimbang dengan ketelitian pemakaiannya dalam proses pengukuran.7 FT FR FL Gambar 2. Ketepatan atau keterulangan hasil pengukuran perlu diperhatikan.

antara lain : a. Milling c. Boring f. Grinding d.2.8 2. Landasan Teori 2. Broaching e. Beberapa macam proses permesinan . Turning b.1. Drilling Gambar 2.2.2. Klasifikasi Proses Permesinan Marsyahyo (2003). menyebutkan ada beberapa cara untuk menghasilkan suatu produk yang diinginkan yaitu dengan suatu proses permesinan.

2. 2. Spindel : bagian yang berputar (terpasang pada headstock) untuk memutar chuck ( pencekam benda kerja). . Operasi dasar dari mesin bubut adalah melibatkan benda kerja yang berputar cutting dan toolnya bergerak linier. Mesin Bubut Turning ( ) Marsyahyo (2003). Bed : meja dimana headstock. Headstock : bagian dimana transmisi penggerak benda. Tailstock : bagian yang berfungsi untuk mengatur center atau pusat atau titik tengah yang dapat diatur untuk proses bubut parallel maupun taper. menyatakan bahwa mesin bubut merupakan mesin perkakas untuk proses pemotongan logam metal-cutting ( process ).2.1.2.2. 5. Kekhususan operasi mesin bubut adalah digunakan untuk memproses benda kerja dengan hasil atau bentuk penampang lingkaran atau benda kerja berbentuk silinder. 3. tailstock. 2. Carriage (sadel) : bagian ini berfungsi menghantarkan cutting tool (yang terpasang pada tool post) bergerak sepanjang meja bubut saat operasi pembubutan berlangsung. Bagian utama mesin bubut 1. dan bagian lainnya terpasang kuat dimeja ini.2. 4.9 Dalam hal ini penulis menggunakan salah satu cara dari permesinan diatas yaitu proses bubut turning ( ).

3.10 Gambar 2.3.2.2. semakin panjang ukuran meja semakin panjang benda kerja yang dapat dibubut. 2. . Bagian-bagian mesin bubut 2. Maksimum panjang benda kerja yang dapat dicekam (jarak headstock spindel dan tailstock spindel). semakin besar diameter pada pencekam semakin besar diameter poros benda kerja yang dapat dibubut. Maksimum diameter benda kerja yang mampu dicekam pada workholder (chuck). Maksimum panjang meja (panjang lintasan carriage/tool post).2. Faktor untuk menentukan spesifikasi performa operasional mesin bubut : 1.

Range kecepatan spindel (jumlah tingkat kecepatan transmisi roda gigi pada headstock). 5. Spesifikasi dimensi mesin bubut . semakin bervariasi jangkauan kecepatan spindel semakin lengkap pengaturan kecepatan potong benda kerja yang dibubut.4. maksimum diameter yang dicekam (S). Daya motor penggerak (penggerak transmisi spindel).11 4. Gambar ilustrasi mesin bubut dibawah ini menunjukkan maksimum jarak antara pusat chuck dan pusat tailstock (C). semakin besar daya motor semakin besar torsi yang dihasilkan untuk memutar benda kerja. dan panjang meja (L). Gambar 2.

untuk itu perlu kita pahami lima elemen dasar permesinan bubut.12 2.kecepatan penghasilan geram rate ( of metal removal ) : z (cm/min) 3 Elemen dasar dari proses bubut dapat diketahui atau dihitung dengan menggunakan rumus yang dapat di turunkan dengan memperhatikan gambar 2.di mana di dalam gambar teknik dinyatakan spesifikasi geometrik suatu produk komponen mesin yang di gambar.5 berikut: .yaitu : .gerak makan ( feed rate ) : f (mm/rev) .setelah itu harus dipilih suatu proses atau urutan proses yang digunakan untuk membuatnya.3. komponen mesin. dan alat – alat menggunakan mesin bubut akan ditemui dalam setiap perencanaan proses permesinan. Salah satu cara atau prosesnya adalah dengan bubut.waktu pemotongancutting ( time ) :t c (min) . Elemen – Elemen Dasar Pemotongan Pada Proses Bubut Elemen – elemen pada dasar pemotongan pada proses bubut dapat diketahui dengan rumus yang dapat diturunkan dengan memperhatikan gambar teknik.kecepatan potong cutting ( speed ) : v (m/min) .2.kedalaman pemakanan depth ( of cut ) : a (mm) . pengerjaan produk.

(mm) Pahat: k : sudut potong utama. Kecepatan potong cutting ( speed ) Kecepatan potong adalah panjang ukuran lilitan pahat terhadap benda kerja atau dapat juga disamakan dengan panjang tatal yang terpotong dalam ukuran meter yang .2.( r o ) γo: sudut geram.3.13 Gambar 2.o ( ) Mesin bubut : a : kedalaman potong/ pemakanan. (mm) f : gerak makan : (mm/rev) n : putaran poros utama/ benda kerja.1.(mm) λt : panjang permesinan. Proses bubut Benda kerja : od : diameter mula – mula (mm) d m : diameter akhir.5. (rad/min) 2.

Karena ukuran benda kerja berbeda – beda. π 2. Hal ini berarti spindel mesin perlu berputar supaya ukuran mata lilitan pahat terhadap benda kerja (panjang tatal) sepanjang 30 meter dalam waktu putaran satu menit.nd Kecepatan potong ditentukan dengan rumus : V 1000 = Di mana : V : adalah kecepatan potong .untuk menghitung kecepatan gerak pemakanan dapat kita rumuskan sebagai berikut : .. maka : π .(m/min) π : adalah konstata. Kecepatan tersebut dihitung tiap menit.14 d : diameter rata – rata Di mana d = ( d0 + m d) n : kecepatan putar poros utama. Untuk menghitung kecepatan gerak pemakanan didasarkan pada gerak makan (f). baja lunak dapat dipotong sepanjang 30 meter tiap menit.seharga 3.3.2. maka x d atau keliling benda kerja dibagi dengan 1000. Untuk memperoleh kecepatan gerak pemakanan yang kita inginkan kita bisa mengatur gerak makan tersebut. Kecepatan Gerak Pemakanan Kecepatan gerak pemakanan adalah kecepatan yang dibutuhkan pahat untuk bergeser menyayat benda kerja tiap radian per menit.14 diperkirakan apabila benda kerja berputar selama satu menit. Sebagai contoh.(rpm) Karena diameter dinyatakan dalam milimeter. Gerak makan ini biasanya disediakan dalam daftar spesifikasi yang dicantumkan pada mesin bubut bersangkutan. dan kecepatan potong dalam meter.2.

2.3. Kedalaman pemakanan Kedalaman pemakanan adalah rata – rata selisih dari diameter benda kerja sebelum dibubut dengan diameter benda kerja setelah di bubut. Waktu pemotongan Waktu pemotongan bisa diartikan dengan panjang permesinan tiap kecepatan gerak pemakanan.3. Satuan waktu permesinan adalah milimeter.(mm) 0 dm : diameter akhir. waktu pemotongan dirumuskan dengan : λ t=c t vf . (mm/rev) n : putaran benda kerja. Kedalaman pemakan dapat diatur dengan menggeserkan peluncur silang melalui roda pemutar (skala pada pemutar menunjukan selisih harga diameter). (rad/min) 2.4. Panjang permesinan sendiri adalah panjang pemotongan pada benda kerja ditambah langkah pengawalan ditambah dengan langkah pengakhiran. Kedalaman pemakan dirumuskan sebagai berikut : a = 0 − 2 mdd dimana : a : kedalaman pemakanan (mm) d : diameter awal.15 v =f.3. Kedalaman pemakanan dapat diartikan pula dengan dalamnya pahat menusuk benda kerja saat penyayatan atau tebalnya tatal bekas bubutan.2.n Dimana : v : kecepatan gerak pemakanan (m/min) f : gerak makan.( mm) 2.

16 Dimana : t : waktu pemotongan.(min) c tλ : panjang permesinan.4. Untuk menjamin kelangsungan proses ini maka jelas diperlukan material pahat yang lebih unggul dari pada material benda kerja. mengurangi laju keausan. .Ketahanan beban kejut termal diperlukanbila terjadi perubahan temperatur yang cukup besar secara berkala. untuk mengurangi afinitas benda kerja terhadap pahat. Keunggulan tersebut dapat dicapai karena pahat dibuat dengan memperhatikan berbagai aspek – aspek berikut ini : .Keuletan yang cukup besar untuk menahan beban kejut yang terjadi sewaktu permesinan dengan interupsi maupun sewaktu memotong benda kerja yang mengandung bagian yang keras.Sifat adhesi yang rendah. .2. dibutuhkan demi untuk memperkecil laju keausan akibat mekanisme. Material Pahat Proses pembentukan geram dengan cara permesinan berlangsung dengan cara mempertemukan dua jenis material. serta penurunan gaya pemotongan. (mm) vf : Kecepatan pemakanan. yaitu benda kerja dengan pahat. (mm/min) 2. . . .kekerasan yang cukup tinggi melebihi kekerasan benda kerja tidak saja pada temperatur ruang melainkan pada temperatur tinggi pada saat proses pembentukan geram berlangsung.Daya larut elemen atau komponen material yang rendah.

2. Hot hardness danRecovery hardness yang cukup tinggi pada pahat HSS dapat dicapai dengan adanya unsure paduan W. Paduan cor non ferro. V. Karena sifat keuletanya yang relatif baik maka sampai saat ini pahat HSS masih digunakan. kekerasanya akan cukup tinggi sehingga dapat digunakan pada kecepatan potong yang tinggi. Intan 2. Melalui proses penuangan (Wolfram metallurgi ) kemudian diikuti pengerolan ataupun penempaan. yaitu : 1. dan Co. Setelah proses laku panas dilaksanakan. High Speed Steels (HSS) 3.17 Secara berurutan material pahat akan di bahas mulai dari yang paling lemah tetapi ulet sampai yang paling keras tapi getar. keramik 6. Mo. 4. Cubic Baron Nitrides 7. Baja Karbon 2. Apabila telah aus pahat HSS dapat diasah sehingga mata potongnya menjadi tajam kembali. karbida 5. Pahat HSS Pahat high steels (HSS) terbuat dari jenis baja paduan tinggi dengan unsur paduan krom (Cr) dan tungsten atau wolfram (W).4. pengaruh unsur– unsur tersebut pada unsur dasar besi (Fe) dan karbon (C) adalah sebagai berikut : .1. Pada kondisi lunak bahan tersebut dapat diproses secara permesinan menjadi berbagai bentuk pahat potong. Cr. Baja ini dibentuk menjadi batang atau silinder.

akan tetapi krom menaikan sensitivitas terhadap overheating. Vanadium juga merupakan elemen pembentuk karbida . dengan jalan mempertinggi hot hardness. Crom merupakan elemen pembentuk karbida.Vanadium Vanadium akan menurunkan sensitivitas terhahadap overheating serta menghaluskan besar butir.HSS ) dapat dihasilkan HSS yang mampu dikeraskan di udara. Selain itu.9 % Mo dalam HSS dengan paduan utama W ( W.Tungsten atau Wolfram Tungsten atau Wolfram dapat membentuk karbida yaitu paduan yang sangat keras yang menyebabkan kenaikan temperatur untuk proses hardening dan tempering. .18 . Kejelekanya adalh lebih sensitif terhadap overheating (hangusnya ujung – ujung yang runcing) sewaktu dilakukan proses heat treatment. Mo HSS lebih liat sehingga HSS mampu menahan beban kejut. .4 – 0. .Molybdenum (Mo) Molybdenum mempunyai efek yang sama seperti wolfram akan tetapi lebih terasa. Yaitu dengan menambah 0.Chromium (Cr) Chromium menaikan harden ability dan hot hardness.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->