Ajari Aku Mencintai Nya

Musyarrafah Jamil

Namanya Furqan. Dia adalah satu-satunya murid laki-laki di sekolah ini yang
tidak terpesona padaku. Oke, karena tidak ada yang tidak terpesona padaku, maka kukatakan dia adalah satu-satunya murid laki-laki di sekolah ini yang BELUM terpesona padaku.

Sebelumnya perkenalkan orang-orang memanggilku Honey. Itulah sebutanku di sekolah ini. Mungkin karena kecantikanku dan kemanisan wajahku ini. Bisa dibilang aku adalah murid tercantik dan terpopuler di antara semua murid cewek di sekolah ini bahkan senior kelas XII sekalipun. Dengan kepopuleran itu selama bersekolah hampir dua tahun di SMA ini, tidak ada murid laki-laki di sekolah ini yang tidak mengakui kecantikanku. Mereka memuji kecantikanku, dan tentu saja terpesona padaku. Setiap hari lokerku dipenuhi coklat dan surat warna pink dari mereka yang menyukai ku dan berninat menjadikanku pacarnya. Tidak hanya coklat dan surat cinta, mereka yang nekat bahkan mengadakan semacam cara gila untuk menyatakan perasaannya padaku mulai dari aksi romantis ‘berlutut di depanku di depan umum’ sampai pakai acara mau bunuh diri. Dan kebanyakan dari mereka harus patah hati.

Nama itu entah mengapa ketika kusebut. Namanya saja Furqan. sekian dariku. Oke. entah mengapa ada saja halangannya. aku bisa memakai jilbab itu dan mengaplikasikannya di dalam penampilanku dan kepribadianku. Aku hanya menginginkan suatu saat ketika aku berjilbab. Dia kelas XI IPS D. Dia cowok yang kalau bisa dibilang benar-benar-benar-benar shaleh. aku juga tidak pernah di luar rumah di atas pukul 7 malam. Aku bukan gadis pemakai jilbab walaupun memang kuakui aku Islam. Hone (baca: han)’ Walaupun aku bukan pemakai jilbab. aku selalu merasakan perasaan yang aneh. ketika aku menyampaikan cita-citaku itu pada Rina. Dan yang terpenting. aku juga menetapkan beberapa standar dan hanya sedikit orang yang bisa memenuhi standar itu. Tidak ketinggalan cowok tercupu di sekolah ini pun tidak terlewatkan. Aku gadis yang baik. Pernah sekali aku berpacaran dengan Ketua Osis yang merupakan cowok terpopuler di sekolah. tapi kurasa kelakuanku juga tidak seperti yang dipikirkan orang-orang. itu semua hanya dilakukan di siang menjelang sore hari. Betapa pun aku ingin memulainya. Menurutku. . Kerjanya. Benar-benar sesuatu yang nyaris mustahil. Seperti. Furqan. aku tidak pernah mengambil pacar orang. Sekarang Furqan. banyak cewek yang memakai jilbab tapi tetap saja kelakuannya bahkan jauh lebih rendah dari pada yang tidak berjilbab. Kalaupun aku berkencan dengan pacar-pacarku selama ini. Furqan.Asal kalian tahu saja. Apa yang terjadi ketika aku cerita tentang ‘cita-cita’ku itu? Diluar dugaan dia malah menertawaiku dan malah mengatakan ‘lo kesurupan apa. Furqan. Pernah juga aku berpacaran dengan Ketua Tim Basket yang juga merupakan cowok terkeren di sekolah. cewek yang KUKIRA sahabatku. aku juga tidak pernah berpacaran dengan cowok-cowok yang pergaulannya ‘rusak’.

Sudah kupastikan. Seketika seisi kelas memandangiku dan Furqan secara bergantian. Sangat jarang atau bahkan sudah tidak ada di seantereo Bandung ini. Pernah juga dia kudapati membagikan nasi bungkus pada gelandangan yang terletak di persimpangan sana. “Furqan ada?” aku menengok ke dalam kelas XI IPS D saat jam istirahat. Pernah kudapati saat aku dalam perjalanan menuju sekolah. aku malah lebih betah di mushollah setiap pulang sekolah memerhatikan sosok Furqan yang sedang membaca AlQurannya. Tanpa kusadari setiap aku lewat di depan kelasnya. Mungkin dia adalah orang yang bisa merubahku menjadi diriku yang kuinginkan. semakin aku terjebak oleh pesona religius Furqan. ia memberhentikan sepedanya dan membantu seorang nenek renta menyeberang jalan. Tapi. Semakin lama kuperhatikan. Dan sosok Furqan yang sangat religius itulah yang membuatku sangat terpesona sekaligus sangat penasaran padanya. Tanpa kusadari juga. Aku juga tidak pernah melihatnya tanpa kopiah atau pun dengan Al-quran mini di tangannya. ah! Susah dijelaskan. Tidak pernah sekalipun aku melihatnya bersentuhan tangan bahkan duduk dengan cewek mana pun dalam radius 10 meter.kalau bukan di mushallah sekolah pasti ada di perpustakaan bagian sejarah Islam dan hukum-hukum Islam. Bukan sekedar baik. Anak yang benar-benar religius. Dia anak yang baik. Furqan. lagi-lagi dengan sepeda tuanya. Furqan pasti sedang membaca Al-qurannya di pojok ruangan dekat jendela. Aku ingin menjadi wanita mushlimah seutuhnya. kepalaku selalu menengok ke dalam kelasnya mencari sosok Furqan dengan alasan ingin melihat-lihat stok cowok XI IPS D. .

dia malah akan menertawaiku. di luar dugaanku. Sudah kubilang dia itu tampan. aku juga merasa aneh. ia berbeda dengan yang lain. Bisa kau membantuku?” Furqan menampakkan ekspresi heran sesaat dan akhirnya dia tersenyum. ia malah akan membantuku. Kami berdua hanya duduk tanpa tahu harus memulai dari mana percakapan ini. Aku duduk kira-kira 7 meter di depan Furqan. Sudah kubilang dia itu tampan. Dia anak SMA jurusan IPS yang sangat religius. Entah mengapa saat kukatakan aku ingin menjadi wanita muslim seutuhnya. aku datang menemuinya di kelas untuk mengembalikan buku ibunya. Memang aku yakin dia akan membantuku. pesona. Entah mengapa saat ini aku baru menyadari kekerenan. “hmm…” aku berdehem “aku ingin menjadi wanita mushlimah seutuhnya. dan ketampanan Furqan. semua .The School’s Princess one bertemu dengan The School’s Religious one. Bisa kau membantuku?” Furqan menampakkan ekspresi heran sesaat dan akhirnya dia tersenyum. Dan sebenarnya kalau boleh jujur. “dengan senang hati akan aku bantu” Aku berdehem “aku ingin menjadi wanita mushlimah seutuhnya. Aku yakin itu dan memang. berarti ada sesuatu yang penting” jawabnya dengan nada datar. Kemarin. aku sadar. “kalau kau bicara seperti itu. Dia berbeda dengan yang lain. tapi bisa saja dengan image-ku selama ini. “dengan senang hati akan aku bantu” Aku masih saja terbayang dengan percakapan pertamaku dengan Furqan kemarin. “maaf mengganggumu dan menyita waktumu” aku bicara tanpa melihatnya dan malah memerhatikan bunga-bunga yang ada di sekelilingku. Semua merasa aneh dengan itu.

Furqan memberitahuku semua yang ia ketahui tentang menjadi seorang muslimah yang baik. sekarang status ku sedang tidak berada dalam status jomblo. .. kali ini dengan kehadiranku di sini. sekedar info saja. jadilah kegiatan Furqan berubah. Oke. dan aku juga tidak lagi mengumbar senyum sana sini bahkan aku menjadi salah satu anggota remaja mushollah di sekolahku. Tapi. Mulai cara berbusana sampai cara bersikap semua ia ajarkan padaku. Termasuk hukum berpacaran dalam Islam yang tidak pernah kuketahui dari dulu. Kuharap Ryan tidak tahu ini. Yang parahnya lagi. Sadar atau tidak. Ia bagaikan guru kepribadian bagiku. Aku juga tidak lagi menggunakan pakaian yang terlalu ketat. Tapi. aku tersenyum dan mengucapkan salam. “untuk menjadi seorang muslimah yang kau inginkan. Setiap aku bertemu dengan teman-temanku. Bertemu dengan orang lain saja aku harus melapor padanya. pacarku saat ini over protectif padaku. walaupun ini nyaris mustahil. aku mulai mengucapkan assalamualaikum dalam menjawab teleponku.orang pasti memerhatikan kami dan pasti berita itu akan tersebar sampai seantereo sekolah. jangan sampai Ryan yang mengetahui itu. setidaknya kumohon.” seperti biasa Furqan sedang berada di perpustakaan membaca buku-buku agama lainnya.

“aku sangat suka nama itu” Furqan berbalik ke arahku dan berkata“bagaimana menurutmu Uswahtun Hasanah?” . Kemudian aku dan Furqan hanya sibuk dengan pikiran kami masing-masing. intinya semua ini memberiku banyak perubahan yang sangat sangat bermanfaat bagiku. Dia juga menjawabnya dengan biasa. Entah itu cuman khayalanku semata atau memang dia sepertinya memerlakukanku berbeda dengan yang lainnya.Dengan perubahan ini. “Uswahtun Hasanah” Furqan membuatku kaget dengan gumamannya. Spontan aku langsung menuju halte bus terdekat dan berteduh di sana. Aku tahu itu Furqan dan aku mengucapkan salam seperti biasa. Sekarang mengenai Furqan. Walaupun itu berarti sebagian tubuhnya harus terkena hujan. Saat pulang sekolah. aku mulai merasa tenang. dan akh! Susah dijelaskan. Furqan sedikit ke samping untuk memperluas jarak kami. Siapa sangka di sana sudah berdiri Furqan yang juga sedang menunggu hujan berhenti. Sekarang ia sudah mulai bersahabat denganku. Apakah ini hanya perasaan ku atau bukan aku juga tidak tahu pasti. tiba-tiba saja hujan langsung turun dengan lebatnya. Mungkin Furqan risih dengan keberadaanku dalam jarak kurang dari 5 meter darinya. Sudah hampir dua tahun aku tidak pernah mendengar kata itu. damai.

karena nama itu istimewa. saat aku baru saja ingin berbalik. Aku tidak pernah menyangka Furqan yang ini adalah Furqan yang itu. Hhhh! Aku hanya mendesah mendapat kenyataan ini. Uswah?” Semua terasa seperti mimpi. Nama yang bahkan guru sekalipun sudah lupakan. Furqan. “kau lebih cocok menggunakan nama itu. bagaimana mungkin ia tahu nama asliku.Aku kaget luar biasa kaget. Bagaimana mungkin. nama yang sudah tergantikan dengan nama pemberian teman-teman SMP ku. “apa benar kau melupakan aku. bisa mengetahui itu? “setelah kau melupakanku. Kalau ia Furqan yang itu. Hanya mendesah berat dan tidak berbuat apa-apa karena aku memang tidak bisa berbuat apa-apa. Uswah?” aku masih tidak berkata-kata mendengar kalimat yang ditanyakan Furqan. mataku langsung menangkap sosok Furqan dengan sepeda tuanya. nama yang bahkan hampir kulupakan. bagaimana dengan ‘perubahanku-menjadi-muslimah-yangkuinginkan?’ apakah lagi-lagi harus berhenti di tengah jalan? Keesokan paginya begitu aku melewati gerbang sekolah. ia malah melihatku. apakah kau bahkan melupakan nama aslimu.” Furqan melepas kacamatanya. Ingin rasanya aku menghilang tapi. Aku tidak sadar dan mungkin tidak pernah sadar dengan siapa sebenarnya Furqan itu. “kadangkala masa lalumu justru datang disaat masa lalu itu sudah terlupakan” dan kata-kata nenek dulu benar. . Astaga! Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Benar-benar perubahan yang mencolok dari seorang Honey. kumohon buat Furqan melupakan percakapan kami kemarin. Lantas apa yang kulakukan? Bukan Honey namanya kalau tidak melakukan perlawanan dan mematikan orang-orang yang berkata begitu. Aku senang bukan berarti semua ini terjadi begitu saja tanpa perjuangan yang keras. Ya. seperti yang diajarkan Furqan. He-eh? Tersenyum? Aku berbalik ke belakang memastikan siapa sebenarnya yang sedang ia senyumi. Seorang yang dulunya terkenal dengan image cantik. Kalau boleh jujur aku senang dengan perubahanku ini. entah terbentur dimana. Awalnya. cewek-cewek centil yang dulu selalu bergaul dengan ku juga bilang aku kesambet setan entah darimana. banyak mantan. seolah percakapan kami kemarin tidak pernah terjadi. banyak pacar. Saat ini hanya ada satu alasan dalam hatiku. Sekarang. Kain putih yang kugunakan untuk menutup auratku. Aku berjalan ke Furqan dan aku tersenyum padanya “Assalamualaikum…” “assalamualaikum” aku menyapa dan tersenyum pada Furqan dengan hati riang. Semuanya harus kuhadapi. Dan aku mendapati tidak ada orang disana. . orang tuaku sendiri bahkan bilang aku sepertinya terkena amnesia. mantan-mantanku mengatakan bahwa aku salah pilih jalan. Tapi. Tidak terasa satu tahun sudah aku mengenakan jilbab ini.Apa yang harus kulakukan? Dia tersenyum padaku. itu dulu. Dan paling parahnya lagi. semuanya akan indah jika dilandaskan dengan ketulusan dan keikhlasan serta ditopang dengan kesabaran. percakapan kami. dan entahlah apalagi.

itu membuatku sadar akan suatu hal. banyak pacar. Lantas apa perasaan Furqan padaku? Bagaimana perasaan seorang Furqan pada ku? Aku masih sibuk menerka-nerka seperti apa perasaan Furqan padaku. Sekarang.Aku mengerti apa yang Furqan katakan dan melakukan semuanya. Yang pasti. Siapa yang bilang itu? Entahlah tidak ada yang tahu. banyak mantan tapi menjadi seorang Uswahtun Hasanah yang muslimah. aku menyebut perasaan ini sebagai sesuatu yang berada antara kagum. sahabat. Kurasa. Intinya. Sebenarnya. Aku adalah pasangan yang cocok untuk Furqan. apa perasaanku pada Furqan? Hanya seorang teman. . Masih mengambang. Tidak jelas siapa yang bilang pertama. Aku merasa perasaanku pada Furqan lebih dari sepasang sahabat dekat. Itulah perasaanku pada Furqan. Sayangnya. Dan sekarang. sampai siang ini. aku bukan lagi Honey yang cantik. Apa itu? Perasaan ku pada Furqan. sahabat. aku pikir begitu. atau lebih? Aku masih bingung. dan cinta. aku tidak pernah memikirkan perasaanku pada Furqan seperti itu. berkat Furqan aku bias melalui semua itu dengan baik. ya. Tidak jelas. sahabat dekat. beralih ke tema lain. Merupakan pasangan yang cocok untuk Furqan. atau sejak kapan gossip itu beredar.

setidaknya. Ya. “Assalaamualaikum“ sapaku pada Furqan dengan senyuman seperti biasa Furqan tidak menjawab salamku dan sibuk dengan tatapannya yang menatap… ke arahku! Mendapati aku sedang ditatap oleh Furqan aku menunduk.Bel pulang berbunyi. Furqan menggeleng sebentar dan akhirnya dia menjawab salamku “Waalaikum salam“ “Ada apa? “ “Tidak ada apa-apa. Pemandangan yang langka melihatnya tertawa. Ibuku menyuruhmu untuk dating ke pengajian itu. Siapa sangka Furqan sudah berada di depan pintu kelasku. Kami membicarakan banyak hal. ada pengajian di rumahku. aku sibuk memasukkan semua buku-bukuku dalam tas dan hendak pulang. Aku menggeleng sebentar dan menjawab “Ya?“ Furqan menunduk sebentar dan memberhentikan langkahnya. Furqan. kudapati Furqan tertawa .“ Aku belum pernah menyatakan perasaanku . Bahkan. mendengar ceritaku tentang pendapat orang tuaku mengenai jilbab ku ini. berusaha menyembunyikan wajah ku yang memerah lantaran malu. “ Jelas Furqan siap “Kau tidak ada acara bukan?“ Aku menggeleng pelan seraya berkata tentu saja tidak Akhirnya kami berdua berjalan beriringan. Apa yang dia lakukan? Tentu saja menungguku. “Uswah“ panggil Furqan padaku. dan aku. lebih banyak dari yang dulu. aku hanya mengingatkanmu. “Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Nada bicaranya agak aneh. bada ashar nanti. sepeda tuanya. Tanpa sadar aku menatap Furqan.

Aku menghentikan langkahku. Padahal. Aku belum siap. Aku tidak bisa menerima perasaanmu itu Furqan. Aku belum bias mencerna apa yang dikatakan Furqan. Bismillahhirrahmanirrahim “aku juga punya perasaan yang sama . ini jam sekolah.pada perempuan mana pun. “Lalu? Bagaimana perasaanmu padaku?“ Tanya Furqan lagi. Aku ingin focus pada cita-citaku dan cinta-Nya.“ Jawabku dengan senyuman juga.“ Otakku berjalan lebih lambat dari biasanya. Aku bahkan bias mendengar dentingan detik jam tangan Furqan saking heningnya. “Maksudmu?“ “Aku tidak bisa menerima perasaanmu itu. Furqan tersenyum masam. Kuperhatikan keringat dingin mengalir dari leher dan dahi Furqan. Aku masih perlu banyak belajar dengan kemuslimahanku ini. aku ingin focus Furqan. ini cobaan lainnya. Uswahtun Hasanah. itulah aku berkat kau. Alhamdulillah.“ Kata-kata itu langsung keluar dari mulutku begitu saja. begitu juga dengan Furqan. Mendengar itu Furqan terkejut begitu pula aku. mobil saling membunyikan klakson bersahut-sahutan. Refleks. Motor.“ “Ya. Hening. Aku harap kau bersedia menerima perasaanku padamu. Setegang itukah dia? “Lalu?“ “Maaf saja. “Kau benar-benar berubah.“ Jantungku berdegup kencang mengatakan itu. Aku bingung harus berkata apa. “Tidak bisa. jika aku menyatakan perasaanku padamu tidak seperti mantanmantan mu yang lalu. Sekarang ini.

Hanya sampai disitu. REUNI SMA Negeri 3 Bandung tahun angkatan 2011/2012. Menyadari keinginan ku itu. Berusaha menenangkan pikiranku setelah hampir 6 jam disibukkan mengajar anak TK ini. Hhhh! Aku menutup mata pelan. Disaat itulah aku melihatnya lagi. Harus kuakui. Hhhh!! Kuharap aku masih punya kesempatan lagi. Terlebih lagi ponselku yang berisi nomer ponsel Furqan pun raib dicuri. Aku melihat kejadian ketika Furqan menyatakan perasaannya padaku. Ini akan dilakukan 3 hari lagi.padamu“ dan aku berlari kecil meninggalkan Furqan yang masih mematung dengan jawaban ku tadi. Aku dan Furqan semacam kehilangan kontak sama sekali. Setidaknya untuk melihat Furqan. REUNI. Aku membaca pelan undangan reuni SMA ku ini. . Padahal aku memiliki perasaan yang sama dengannya. Dan betapa bodohnya aku. aku malah menolak Furqan. Aku membuka mata dan mengambil undangan reuni itu. Mungkin Furqan akan dating di sana. Terakhir bertemu dengannya saat aku pamitan akan kembali ke Aceh mengikuti Nenekku.

rumah ini sudah dijadikan rumah kos-kosan. Ku rasa seminggu itu cukup. Sampai dirumah. akhirnya aku sampai di Bandung. Aku menuju ke rumah orang tuaku dulu. semestinya aku tidak pergi ke Aceh. Semestinya aku tidak menolak Furqan. Aku berdoa dalam hati agar Furqan bisa hadir dalam Reuni ini. Aku diantar oleh Rasma. yang menyewa kos-kosan di rumahku mengantar ku ke SMA ku tempat reuni itu. Insya Allah. Sampai acara dimulai aku terus saja mencari Furqan. Aku memasuki aula tempat reuni itu. Aku mengucapkan terima kasih.Tanpa tunggu lagi. Hatiku deg-degan membayangkan bagaimana Furqan sekarang ini. Dan siapa sangka kepsek memberikan cuti seminggu. Akhirnya hari yang kutunggu-tunggu pun tiba. Sekarang penyesalan membumbung tinggi dalam hatiku. Pasalnya. aku langsung mengambil baju dan memasukkannya ke dalam tas tangan yang cukup besar. Ya. Mudah-mudahan saja. Aku ingin minta cuti. Aku berencan untuk tinggal disana beberapa hari. Aku mendesah mendapati kenyataan bahwa tidak ada Furqan di sini bahkan setelah acara reuni ini selesai. dan berharap ada kamar kosong yang bisa kugunakan untuk tinggal beberapa hari ini. Dan jadilah reuni yang kutunggutunggu menjadi hal yang tidak begitu penting lagi. setidaknya aku juga bisa melihat keadaan rumah peninggalan mendiang ayah dan ibu. aku langsung mengambil tasku dan menuju ke ruang kepsek. Setelah beberapa hari perjalanan. dan semestinya ponselku .

“Tidak ada yang salah“. Bahkan aku sampai menyalahkan orang tua ku yang meninggal di saat yang tidak tepat. Pelan-pelan air mataku terus jatuh hingga akhirnya mengalir dengan deras. Ayo. Astagfirullah. Furqan. Aku mengucapkan kalimat itu sambil menyeka air mata yang terus mengalir di pipiku . “Furqan? “ “Ya ini aku. aku mengucapkan kalimat itu berulang kali hingga aku menitikkan air mata.tidak hilang. “Tidak ada yang salah kecuali aku.“ Aku menurut saja ketika Furqan memberikan ku isyarat agar mengikutinya.“ Aku masih terdiam dan terus memandangi wajah Furqan. Aku benar-benar menyesal“ “Uswah? Apa itu benar kau? “ Aku berbalik mendapati suara yang tidak asing lagi di telinga aku. Spontan aku pun berhenti. Aku sudah mencari-carimu kemana-mana. . Aku berusaha menyalahkan semuanya. “Apa yang kau lakukan di sini. Aku masih sibuk memandangi punggung Furqan yang masih berjalan ketika tiba-tiba ia berhenti. Aku terduduk di taman dimana aku dan Furqan dulu pertama kali bicara. kuantar kau pulang. Aku khilaf. Senyumku merekah walau dengan air mata yang masih mengalir begitu mengetahui orang itu adalah Furqan.

“Aku sudah menunggu terlalu lama. Hening. aku bersedia. Agar kau bisa lebih mengAjari Aku Mencintai-Nya“ . Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Ketika Furqan menyatakan perasaannya padaku dan aku menolaknya.“ Furqan menunjukkan 10 jarinya “aku takkan basa basi lagi. Aku dilamar Furqan? Ini sama sekali tidak ada dalam banyanganku. 10 tahun lalu. restu Allah. “Bismillahirrahmanirrahim ya. Dan malah membuatku menyesal. 10 tahun Uswah. Dengan seluruh kesadaranku. dan restu Orang tua ku“ Furqan berhenti bicara dan menarik napas dalam “Bismillahirrahmanirrahim mau kah kau menjadi pendampingku sampai Tuhan mencabut nyawa kita masing-masing?“ Aku tidak pernah membayangkan ini. Sampai-sampai aku bisa mendengar dentingan detik jam tangan Furqan sama seperti dulu.