PP

-

/XII.3/2008

PETUNJUK TEKNIS PEMERIKSAAN ATAS PENGELOLAAN LIMBAH RSUD (KONSEP)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 2008

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD

Daftar Isi

DAFTAR ISI
Halaman BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Maksud dan Tujuan C. Lingkup Pembahasan D. Sistematika Penulisan GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH A. Kerangka Hukum B. Pengertian dan Dokumen C. Klasifikasi RSUD D. Limbah RSUD E. Dampak Limbah RSUD terhadap Lingkungan F. Pengelolaan Limbah RSUD PETUNJUK PEMERIKSAAAN A. Petunjuk Umum B. Petunjuk Perencanaan Pemeriksaan C. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan D. Petunjuk Pelaporan Hasil Pemeriksaan PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU A. Dasar Pengendalian dan Penjaminan Mutu B. Pengertian Pengendalian dan Penjaminan Mutu C. Proses Pengendalian dan Penjaminan Mutu D. Pendokumentasian Proses Penjaminan Mutu PEMANTAUAN TINDAK LANJUT LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN A. Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan B. Pemberitahuan Tertulis tentang Kewajiban Tindak Lanjut C. Reviu Atas Jawaban/Keterangan Pemerintah Daerah D. Pelaporan Atas Pemantauan Tindak Lanjut E. Pemantauan Tindak Lanjut Pada Saat Pemeriksaan PENUTUP A. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Pemeriksaaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD B. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD C. Pemantauan Petunjuk Teknis Pemeriksaaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD LAMPIRAN-LAMPIRAN 1 1 2 2 2 3 3 4 6 7 8 9 15 15 18 23 24 27 27 27 27 30 31 31 31 32 32 32 33 33 33 31

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB V

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD

Bab I

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
01 Berdasarkan UUD 1945 pasal 23, BPK merupakan pemeriksa eksternal pemerintah. Mandat ini diperkuat dengan diterbitkannya UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara pasal 2 ayat (2) yang menyatakan BPK melaksanakan pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. Sementara itu, sesuai UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, pemerintah menguasai sumber daya alam untuk dikelola dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah wajib mengelola lingkungan hidup tersebut secara terpadu dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam nonhayati, perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Selain perlu dikelola dengan dengan baik, pemerintah perlu pula mengupayakan pelestarian lingkungan hidup sehingga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup dapat dipertahankan. Pentingnya pelestarian lingkungan hidup juga diperkuat dengan ditetapkannya amandemen UUD 1945 pasal 33 ayat (4) yang berbunyi: ‘Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi’. 02 Dengan demikian jelas terlihat adanya kaitan antara mandat BPK untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan keuangan negara dengan pemerintah sebagai pengelola kegiatan pembangunan ekonomi nasional dengan lingkungan hidup. BPK sebagai lembaga pemeriksa eksternal pemerintah mempunyai peran yang sangat penting dalam mengawasi jalannya pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan serta upaya mewujudkan tata kelola lingkungan yang baik (Good Environment Governance). Dalam hal ini lembaga/badan pemeriksa dibutuhkan untuk menilai efektivitas program dan menguji kepatuhan terhadap akta perjanjian, peraturan maupun perundang-undangan tentang lingkungan hidup. Untuk menjalankan peran penting terkait lingkungan hidup tersebut, BPK telah menetapkan dalam rencana strategik untuk melakukan audit lingkungan yang mencakup kegiatan pemeriksaan yang dapat memberikan penilaian terhadap program atau kegiatan yang berprespektif lingkungan dengan terus mengembangkan metodologi dan kerja sama dengan pihak terkait. Rencana strategik ini kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam tematik pemeriksaan lingkungan setiap tahun. Berkaitan dengan tematik pemeriksaan lingkungan, maka petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD perlu disusun untuk mengakomodasi peran BPK terkait pemeriksaan atas pengelolaan lingkungan hidup
BPK mempunyai peran yang sangat penting dalam mengawasi jalannya pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan serta upaya mewujudkan tata kelola lingkungan yang baik BPK mempunyai mandat yang kuat untuk melaksanakan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara

03

Audit lingkungan oleh BPK mencakup: penilaian terhadap program dan kegiatan berperspektif lingkungan, mengembangkan metodologi dan kerjasama dengan pihak terkait

04

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

1

dan lampiran. Sistematika Penulisan 08 Petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD terdiri atas enam bab sebagai berikut: Bab I Pendahuluan Bab II Gambaran Umum Pengelolaan Limbah RSUD Bab III Petunjuk Pemeriksaan Bab IV Pengendalian dan Penjaminan Mutu Bab V Pemantauan Tindak Lanjut Bab VI Penutup Referensi Lampiran-Lampiran Juknis atas pengelolaan limbah RSUD terdiri atas 6 bab. pelaksanaan. c. memberikan pedoman kepada pemeriksa sehingga perencanaan. Tujuan penyusunan juknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD untuk mengefektifkan pelaksanaan pemeriksaaan C. Tujuan penyusunan petunjuk teknis tersebut adalah untuk: a. mengefektifkan pelaksanaan pemeriksaan agar mencapai hasil pemeriksaan yang optimal sesuai dengan standar pemeriksaan. pemeriksaan pengelolaan Maksud penyusunan juknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD adalah untuk memberikan pedoman yang mutakhir bagi pemeriksa 06 b. menyamakan pemahaman atas limbah RSUD. referensi. Lingkup pembahasan juknis adalah kebijakan dan program/kegiatan pengelolaan limbah RSUD D. dan pelaporan hasil pemeriksaan dapat selaras dan dapat mudah dikompilasi. Lingkup Pembahasan 07 Petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD ini digunakan untuk pemeriksaan atas seluruh kebijakan dan program/kegiatan yang ditetapkan baik oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terkait pengelolaan limbah RSUD yang telah dilaksanakan oleh manajemen RSUD. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2 . Maksud dan Tujuan 05 Maksud penyusunan petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD ini adalah untuk memberikan pedoman yang mutakhir bagi pemeriksa dalam menyusun program pemeriksaan dan pelaksanaan pemeriksaan di lapangan sehingga terdapat kesamaan tindakan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab I B.

13 Tahun Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3 . 4. Kepmenkes. Keputusan Menteri Kesehatan No. Kep Kepala Bappedal. Peraturan Menteri Kesehatan No. Kepmen LH. 2. 12. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. 928/Menkes/Per/IX/1995 tentang penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Bidang Kesehatan. 2002 tentang Pengelolaan limbah RSUD dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang terdiri atas Peraturan Pemerintah. Peraturan Pemerintah No. 16. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah dengan Keppres No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Peraturan Pemerintah No. Keputusan Presiden No. Undang-undang No. 27 Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan. Keputusan Menteri Kesehatan No. dan peraturanperaturan daerah terkait lainnya 3. 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. Keputusan Menteri Kesehatan No. 11. 8. 15. Peraturan Menteri Kesehatan. 7 Tahun 2007. 7. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan No. 10. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 6. Kerangka Hukum 01 Pengelolaan limbah RSUD. 228 Tahun 2002 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit yang Wajib Dilaksanakan Daerah. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. 13. 17. Keputusan Menteri Kesehatan No. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II BAB II GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH A. 1277 Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. 1217 Tahun 2001 tentang Pedoman Pengamanan Dampak Radiasi. 40 Tahun 2001 tentang Pedoman Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit Daerah. Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 27 Tahun Keselamatan Pengelolaan Limbah Radioaktif. 64 Tahun 2000 tentang Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir. Peraturan Pemerintah No. 14. Peraturan Pemerintah No. 5. 1333 Tahun 1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit. dilakukan berdasarkan peraturan sebagai berikut: 1. 9.

42 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan. 3. B. dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup. sinar-X dan neutron. Limbah rumah sakit adalah sernua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat. 22. 50 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebauan. 24. cair dan gas. 5. Radiasi non-pengion adalah jenis radiasi yang tidak akan menyebabkan efek ionisasi apabila berinteraksi Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4 Pengertian umum terkait pengelolaan limbah RSUD . 25. 18. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. 17 tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan proses ionisasi (terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila berinteraksi dengan materi. Keputusan Kepala Bappedal No. sinar gamma. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 4. 21. Pengertian dan Dokumen 02 Pengertian umum yang perlu diketahui terkait dengan pengertianpengertian pengelolaan limbah rumah sakit diantaranya adalah: 1. kelangsungan hidup manusia serta mahkluk hidup lain. Yang termasuk dalam jenis radiasi pengion adalah partikel alpha. Rumah Sakit adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 19. Keputusan Menteri Kesehatan No. Peraturan–peraturan daerah terkait lainnya. Radiasi adalah transmisi gelombang. 58 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit. Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Kepala Bapeten Tahun 2000 tentang Pembinaan dan Pengawasan Pemanfataan Tenaga Nuklir di Bidang Kesehatan. Radiasi terdiri dari Radiasi Pengion dan Radiasi Non Pengion. objek atau informasi dari sebuah sumber ke medium atau tujuan sekitarnya. Kep-03/Bappedal/09/1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. dan 26. 20. Limbah adalah hasil buangan dari suatu kegiatan yang juga merupakan suatu bentuk materi yang menurut jenis dan kategorinya mempunyai manfaat atau daya perusak untuk manusia dan lingkungannya. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung. kesehatan. 2.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II 1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak. 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. 23. partikel beta. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup.

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II dengan materi. ANDAL. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Radiasi non-pengion tersebut berada di sekeliling kehidupan kita. Yang termasuk dalam jenis radiasi non-pengion antara lain adalah gelombang radio (yang membawa informasi dan hiburan melalui radio dan televisi). Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) adalah dokumen yang isi pokoknya mengenai upaya penanganan dampak kegiatan di bidang kesehatan terhadap lingkungan hidup yang tidak ada dampak pentingnya dan/atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. sinar inframerah (yang memberikan energi dalam bentuk panas). 11. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. cahaya tampak (yang bisa kita lihat). 13. Dokumen-dokumen Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5 . Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan atau kegiatan. RPL. IPAL atau Instalasi Pengolah Air Limbah adalah instalasi pengolah limbah cair sebelum disalurkan ke lingkungan bebas. Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adalah dokumen yang isi pokoknya mengenai upaya pemantauan dampak kegiatan di bidang kesehatan terhadap lingkungan hidup yang tidak ada dampak pentingnya dan/atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. RKL. 10. Kerangka Acuan ANDAL adalah suatu kerangka untuk menentukan lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam studi ANDAL (proses pelingkupan) 8. Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 9. sinar ultraviolet (yang dipancarkan matahari) 6. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. 14. 7. gelombang mikro (yang digunakan dalam microwave oven dan transmisi seluler handphone). 12. 03 Dokumen yang digunakan di dalam pengelolaan limbah rumah sakit diantaranya adalah dokumen Kerangka Acuan ANDAL. UKL dan UPL.

2. C dan D 06 Rumah sakit kelas C wajib menyusun dan memiliki dokumen UKL dan UPL Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 6 . kesehatan anak. serta kebidanan & kandungan. THT. dan jantung. 3. Berdasarkan kelasnya. terdiri atas RS kelas A. tetapi diwajibkan oleh Departemen Kesehatan untuk menyusun dan memiliki dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II C. 4 spesialistik luas yaitu mata. 4. Rumah Sakit kelas C dan D tidak wajib menyusun dan memiliki dokumen AMDAL. 05 Rumah sakit kelas A dan B berkewajiban menyusun dan memiliki dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) yang terdiri atas dokumen Kerangka Acuan ANDAL. serta 3 pilihan spesialistik lainnya yaitu kulit kelamin. paru. gigi & mulut. kesehatan anak. RSUD diklasifikasikan kedalam 4 (empat) kelas. bedah syaraf. dan kebidanan & kandungan. bedah. Rumah Sakit Kelas D Rumah Sakit Kelas D merupakan rumah sakit yang memiliki fasilitas yang sangat sederhana. dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). bedah. jiwa. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). Klasifikasi RSUD 04 Penetapan kelas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dilakukan oleh Menteri Kesehatan berdasarkan fasilitas kemampuan pelayanan medik yang mencerminkan luas lingkup kegiatan pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh Rumah Sakit yang bersangkutan. Rumah sakit kelas A dan B wajib menyusun dan memiliki dokumen AMDAL Klasifikasi RSUD berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan medik. Rumah Sakit Kelas C Rumah Sakit kelas C mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurang-kurangnya 4 spesialistik dasar lengkap yaitu penyakit dalam. orthopedi. Rumah Sakit Kelas A Rumah Sakit kelas A mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialisasi dan sub spesialistik luas. B. yang terdiri atas 4 spesialistik dasar yaitu penyakit dalam. Rumah Sakit Kelas B Rumah Sakit kelas B mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik minimal 11 jenis spesialistik. yaitu: 1. syaraf. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).

pisau bedah. 5. Limbah padat terdiri atas: Limbah padat medis yaitu limbah padat yang terdiri atas limbah infeksius. Limbah radioaktif adalah bahan bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radionucleida. Berdasarkan sifatnya. bekas cucian tangan. anggota badan yang dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi. Limbah gas yaitu semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan pembakaran di rumah sakit antara lain pembakaran insinerator. Jenis limbah RSUD terdiri atas limbah cair. farmasi dan radioaktif. Limbah cair nonmedis dapat berupa air hujan. bahan kimia beracun. Limbah RSUD 07 Dalam melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan. laboratorium. 4. Limbah padat yaitu semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit. air cucian dapur dan limbah cair dari kegiatan kantor. yang berdasarkan sifatnya dapat diklasifikasikan menjadi: 1.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II D. limbah sitotoksis dan limbah kimiawi. limbah RSUD terdiri atas limbah infeksius. 08 Limbah medis RSUD merupakan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). limbah farmasi. limbah kontainer bertekanan. 2. pecahan gelas. RSUD menghasilkan 3 (tiga) jenis limbah. perkantoran. 6. Limbah padat nonmedis yaitu limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur. dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. sitotoksis. 2. dapur. Limbah kimia yaitu limbah yang dihasilkan dari penggunaan kimia dalam tindakan medis. limbah patologi. taman dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya. dan pembuatan obat sitotoksik. sisi ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit. perlengkapan generator. 7. Limbah cair medis dapat berupa buangan dari pasien. Limbah farmasi yaitu limbah yang berasal dari obat-obatan. limbah radioaktif. Limbah benda tajam adalah obyek atau alat yang memiliki sudut tajam. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7 . yaitu: 1. dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan. limbah benda tajam. jaringan tubuh. Limbah sitotoksis yaitu limbah dari bahan yang terkontaminasi dari persiapan dan pemberian obat sitotoksik untuk kemoterapi kanker yang mempunyai kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup. Limbah cair terbagi atas limbah medis dan limbah nonmedis. Limbah infeksius yaitu limbah yang terkontaminasi organisme pathogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan. seperti jarum. perlengkapan intravena. pipet pasteur. 3. bekas cucian peralatan. anastesi. Limbah jaringan tubuh padat yang meliputi organ. limbah dari obat-obatan cair yang mengandung berbagai bahan kimia baik yang beracun maupun yang tidak beracun. Limbah cair yaitu semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme. benda tajam. proses sterilisasi dan riset. kimia. tetesan darah. limbah padat (yang terbagi menjadi jenis limbah padat medis dan nonmedis) serta limbah gas - 3. veterinari.

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD

Bab II

E. Dampak Limbah RSUD Terhadap Lingkungan
09 Limbah RSUD jika tidak tertangani dengan baik akan berdampak bagi manusia, mahluk hidup, serta lingkungan di sekitar RSUD. Dampak tersebut yaitu: 1. Dampak Pencemaran Air a. air menjadi tidak bermanfaat untuk keperluan rumah tangga (misalnya air minum, memasak, mencuci), industri, pertanian (misalnya: air yang terlalu asam/basa akan mematikan tanaman/hewan); b. air menjadi penyebab penyakit menular, air yang telah tercemar oleh senyawa organik maupun anorganik menjadi media berkembangnya berbagai penyakit dan penularan langsung melalui air (misalnya Hepatitis A, Cholera, Thypus Abdominalis, Dysentri, Ascariasis/Cacingan, dan sebagainya); c. air menjadi penyebab penyakit tidak menular, penyakit tidak menular dapat muncul terutama karena air lingkungan telah tercemar oleh senyawa anorganik terutama unsur logam (misalnya keracunan air raksa/merkuri)
Limbah RSUD jika tidak dikelola dengan baik dapat membahayakan manusia dan lingkungan

2. Dampak Pencemaran Daratan Pencemaran daratan pada umumnya berasal dari limbah padat yang dibuang atau dikumpulkan di suatu tempat penampungan. Tempat penampungan ini dapat bersifat sementara atau tetap. Dampak pencemaran daratan terdiri atas: a. Dampak langsung. Dampak pencemaran daratan yang secara langsung dirasakan adalah timbulnya bau busuk karena degradasi limbah organik oleh mikroorganisme. Dampak langsung lainnya yaitu timbunan limbah padat dalam jumlah besar akan menimbulkan kesan kumuh dan kotor, yang secara psikis akan mempengaruhi penduduk di sekitar tempat penumpukan sampah tersebut; b. Dampak tak langsung, contohnya tempat pembuangan limbah padat baik Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan menjadi pusat perkembangbiakan tikus dan serangga yang merugikan manusia seperti lalat dan nyamuk. Penyakitpenyakit yang ditimbulkan dengan perantaraan tikus, lalat dan nyamuk di antaranya adalah pest, kaki gajah, malaria, demam berdarah dan sebagainya. 3. Dampak Pencemaran Udara Dampak pencemaran udara merupakan masalah yang serius. Dampak pencemaran udara sangatlah merugikan karena tidak hanya berakibat langsung terhadap kesehatan manusia, tetapi juga berpengaruh kepada hewan, tanaman dan sebagainya. Berikut uraian komponen pencemar udara: a. Karbon Monoksida (CO) Karbon monoksida apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolis, ikut bereaksi secara metabolis dengan darah. b. Nitrogen Oksida (Nox) Konsentrasi gas NO yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf yang mengakibatkan kejangkejang, bila keracunan ini terus berlanjut akan
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 8

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD

Bab II

menyebabkan kelumpuhan. c. Belerang Oksida (Sox) Pencemaran Sox menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan. Hal ini karena gas Sox yang mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan, dan saluran pernafasan lain sampai ke paruparu. Serangan gas tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena. d. Partikel Udara yang telah tercemar oleh partikel dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernafasan/pneumokoniosis 4. Pencemaran Debu Kapas Pencemaran debu kapas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru menimbulkan penyakit bisinosis. Tanda-tanda awalnya adalah sesak nafas, apabila sudah lanjut dan berat bisa menimbulkan bronkhitis kronis.

F. Pengelolaan Limbah RSUD
1. Penanggung Jawab Kegiatan 10 Pengelolaan limbah RSUD pada umumnya merupakan tanggung jawab Unit Pengelola Limbah yang mempunyai tugas pokok antara lain: a. Menyusun kebijakan pengelolaan limbah dan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan tersebut; b. Menyusun pedoman pelaksanaan dan prosedur tetap pengelolaan limbah dan melakukan evaluasi terhadap pedoman pelaksanaan dan prosedur tetap tersebut; c. Menyusun program kerja dan kerangka acuan program pengelolaan limbah serta melakukan evaluasi pelaksanaan program tersebut;
Pengelolaan limbah RSUD menjadi tanggung jawab unit pengelola limbah. Namun, nama serta kedudukan unit tersebut pada setiap RSUD berbeda-beda

d. Mengadakan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan pengelolaan limbah; e. Mengadakan inspeksi/pemantauan pengelolaan limbah di rumah sakit; f. Membuat telaahan staf pengelolaan limbah; dan terhadap penyelenggaraan masalah berkaitan terhadap
Unit pengelola limbah RSUD mempunyai nama dan berada pada divisi yang berbeda-beda pada setiap rumah sakit

g. Mengadakan pengendalian mutu penyelenggaraan pengelolaan limbah. 11

Unit pengelola limbah ini pada setiap rumah sakit mempunyai nama dan berada pada divisi yang berbeda-beda. Contohnya, pada RSUD Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan, pengelolaan limbah dilakukan oleh Instalasi Keselamatan Kesehatan Kerja dan Limbah (IK3L) yang merupakan suatu unit kerja di bawah Divisi Perencanaan, di bawah Wakil Direktur Pengembangan. Sedangkan pada RSUD Sanjiwani Kabupaten Gianyar Bali, pengelolaan limbah dilakukan oleh Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS) yang berada di bawah Wakil Direktur Penunjang, dan pada RSUD Jayapura pengelolaan limbah dilakukan oleh Instalasi Sanitasi yang berada di bawah Wakil Direktur Umum, Keuangan, dan Operasional.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

9

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD

Bab II

2. Kebijakan 12 Kegiatan pengelolaan limbah RSUD biasanya tercermin dari Rencana Strategis RSUD yang bersangkutan. Renstra RSUD memuat misi, visi strategi, kegiatan dan indikator yang berkaitan diantaranya dengan kesehatan lingkungan, termasuk pengelolaan limbah. Renstra RSUD yang berkaitan dengan pengelolaan limbah dijabarkan dalam kegiatan/program diantaranya Program Penyehatan Lingkungan. Selain itu, RSUD juga memiliki dokumen AMDAL yang terdiri atas Kerangka Acuan ANDAL, ANDAL, RKL dan RPL atau UKL dan UPL (tergantung pada kelas Rumah Sakit).
Kebijakan pengelolaan limbah tecermin di dalam Rensta serta dokumen AMDAL RSUD yang bersangkutan

13

14

3. Perencanaan 15 Penyusunan RKL dan RPL disesuaikan dengan kondisi lingkungan RSUD yang bersangkutan dengan mempertimbangkan hal-hal yang antara lain berkaitan dengan jenis, dampak, kuantitas limbah yang dihasilkan dan SDM pengelola limbah yang dimiliki. Rencana anggaran pendapatan yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan limbah yang berasal dari instansi/lembaga penghasil limbah di luar RSUD dan rencana anggaran kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan serta pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan sarana pengelolaan limbah RSUD dituangkan dalam Rencana Kegiatan Anggaran (RKA). RKA tersebut kemudian dibahas oleh Panitia Anggaran di Pemerintah Daerah. Hasil pembahasan atas RKA kemudian ditetapkan menjadi Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dengan Peraturan Daerah.
Perencanaan

16

4. Prosedur 17 Prosedur pengelolaan limbah RSUD per jenis limbah adalah sebagai berikut : a. Prosedur pengelolaan limbah cair 1). Saluran pembuangan air limbah dipisah untuk saluran air hujan dan saluran limbah cair; 2). Air hujan disalurkan melalui saluran air hujan dan dibuang ke lingkungan tanpa melalui IPAL; 3). Limbah cair disalurkan ke IPAL melalui saluran tertutup, kedap air, dan dapat mengalir lancar; 4). Limbah cair diolah dalam IPAL setiap hari; 5). Hasil pengolahan dipantau melalui pemeriksaan effluent (air limbah olahan) dengan parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi sebelum dibuang ke lingkungan. b. Prosedur pengelolaan limbah padat nonmedis 1). Pemilahan/pemisahan limbah padat nonmedis anorganik yang berbentuk logam, kaca, kertas, plastik (sampah kering), dan organik berupa sampah makanan dan tanaman (sampah basah); 2). Pengemasan dan pengumpulan limbah padat nonmedis dengan menggunakan kantong plastik berwarna hitam; 3). Pengangkutan limbah padat nonmedis dari ruangan/instalasi ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) RSUD dilakukan 2 (dua) kali sehari dan pengangkutan dari TPS RSUD ke Tempat Pembuangan
Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 10

Prosedur pengelolaan limbah

Prosedur pengelolaan limbah padat medis 1). suhu pembakaran minimal 1000°C untuk pemusnahan bakteri pathogen. c. Secara umum. Untuk pembakaran dengan insinerator. Dilengkapi alat untuk mengurangi emisi gas. proses pengelolaan limbah dapat digambarkan pada diagram berikut: 18 19 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 11 . 4). 6). virus. dioksin. dan mengurangi emisi gas dan debu. Pemisahan/pemilahan antara limbah padat medis tajam dan tidak tajam. Pengawasan di lapangan dilakukan secara berkala sesuai jadwal. Abu hasil pembakaran diangkut ke TPA oleh petugas Dinas Kesehatan. Pengawasan di lapangan dilakukan secara berkala sesuai jadwal. 3). Pengangkutan limbah padat medis dari ruangan ke selasar yang telah ditentukan kemudian diangkut ke insinerator dengan troli setiap pagi dan sore hari. 2). TPS dibersihkan setelah limbah padat nonmedis diangkut ke TPA. 6). Pengolahan limbah padat nonmedis dilakukan oleh Dinas Kebersihan. sedangkan limbah padat medis tajam ditempatkan dalam tempat khusus (safety box) yang tahan benda tajam. Melakukan penghijauan dengan menanam pohon yang banyak memproduksi gas oksigen dan dapat menyerap debu. Khusus untuk limbah radioaktif yang dapat berupa limbah cair maupun limbah padat ditampung atau dikumpulkan untuk kemudian dikembalikan kepada produsen untuk didaur ulang. 4). 2). Pengolahan limbah medis padat dengan insinerasi/pembakaran di insinerator dilakukan setiap hari. 5). 5). 3). Pengemasan dan pengumpulan limbah padat medis tidak tajam ditempatkan ke kantong plastik berwarna kuning.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II Akhir (TPA) dilakukan oleh Dinas Kebersihan. Prosedur pengelolaan limbah gas 1). d.

kantong plastik warna hitam. gerobak/troli. Untuk pengelolaan limbah cair berupa saluran air hujan. spool hook.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II PENGELOLAAN LIMBAH RSUD $ Sakit Rumah Limbah Cair Gas Limbah Padat Limbah Cair Non Medis Limbah Cair Medis Limbah Padat Medis Limbah Padat non Medis Tajam Tidak tajam Menggunakan saluran air hujan Menggunakan Saluran Limbah RS Menggunakan Alat Pengurang Emisi Gas Menggunakan Safety Box Menggunakan kantong kuning Menggunakan kantong hitam IPAL Incenerator TPS Pemeriksaan Baku Mutu Diangkut oleh Petugas dari Dinas Kebersihan Lingkungan TPA 20 Dalam pengelolaan limbah. tempat pengumpulan khusus limbah padat tajam (safety box). c.1 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 12 . pakaian dan kacamata pelindung. sarung tangan dan pakaian khusus. sarung tangan. Untuk pengelolaan limbah gas berupa alat untuk mengurangi emisi gas dan debu serta pohon untuk penyerapan. topi/helm pelindung. Tempat penampungan Sementara (TPS). IPAL dan saluran pembuangan limbah ke lingkungan. b. Persyaratan dan tata laksana pengelolaan limbah rumah sakit dapat dilihat pada lampiran 2. topi/helm pelindung. sarana dan prasarana yang digunakan RSUD terdiri atas: a. Untuk pengelolaan limbah padat nonmedis berupa tempat sampah. kantong plastik warna kuning. d. bak kontrol. Tempat Penampungan Sementara (TPS). sepatu. saluran limbah cair. insinerator. bak gelontor. sepatu. Untuk pengelolaan limbah padat medis berupa tempat sampah medis. gerobak/troli.

dan kebauan pada sarana atau instalasi pengelolaan limbah. kebocoran. Dokumen pengadaan barang dan jasa berkaitan dengan sarana pengelolaan limbah. pemisahan. prosedur penampungan. penampungan. Pencatatan 21 Dokumentasi kegiatan pengelolaan limbah RSUD antara lain : Pencatatan  Berita Acara Pengelolaan Limbah mulai dari kegiatan Pemisahan Jenis Limbah. Berita Acara Pengambilan Sampel oleh tenaga ahli (pihak luar RSUD) atau yang dilakukan sendiri oleh tenaga ahli yang dimiliki oleh unit/tim pengelolaan limbah. Catatan harian debit air limbah dan kuantitas limbah padat medis dan nonmedis. overflow. Menangani kantong dengan hanya memegang lehernya saja.        6. dan penggunaan alat pelindung. Penampungan Sementara Limbah. Berita Acara Pemeliharaan. kebakaran. Perbaikan. Memastikan bahwa pengikat pada kantong limbah tidak akan putus pada saat pengangkutan. Personalia 22 Semua staf RSUD yang terkait dengan pengelolaan limbah RSUD harus memiliki kualifikasi dan mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang memadai mengenai penanganan. Catatan mengenai keadaan darurat yang pernah terjadi seperti banjir. Berita Acara Pemusnahan Obat-obatan Kadaluarsa beserta dokumen pendukungnya yaitu dokumen pengajuan penghapusan obat-obatan dari Panitia Penghapusan Barang RSUD ke Pemerintah Daerah. Berita Acara Penyimpanan dan Pembuangan Hasil Olahan Limbah yang masih mengandung B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun. Pengangkutan Limbah Padat Medis ke tempat pembakaran atau insinerator sampai dengan pengangkutan limbah padat nonmedis ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sebagai contoh: petugas pengangkut kantong limbah RSUD harus mendapat pelatihan dan pelatihan untuk : Staf RSUD terkait dengan pengelolaan limbah harus memiliki kualifikasi dan mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang memadai tentang pengelolaan limbah 23     Memeriksa apakah kantong telah tertutup. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 13 .Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II 5. Mengetahui prosedur yang harus dilakukan bila terjadi tumpahan. dan dokumen persetujuan atas penghapusan obatan-obatan dari Kepala Daerah. Penggantian Komponen atas insinerator atau Instalasi Pengolahan Limbah Cair.

Laporan pemeliharaan dan perbaikan sarana atau instalasi pengelola limbah. Selain itu Bappedalda juga melakukan pengujian. Triwulanan. Semesteran. pemantauan terhadap pengelolaan limbah antara lain limbah rumah sakit Pengawasan dilakukan oleh APIP Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 14 . Laporan pengadaan barang dan jasa atas pengelolaan limbah. dan Tahunan yang antara lain memuat : Unit pengelola limbah membuat laporan secara periodik         Laporan pelaksanaan AMDAL untuk RSUD kelas A dan B.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab II 7. baik yang dilakukan oleh APIP maupun BPK-RI. 8. Laporan kejadian darurat dan luar biasa. Hasil uji laboratorium atas pengelolaan limbah. Laporan anggaran dan realisasi kegiatan serta pendapatan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah. serta melakukan pemantauan tindak lanjut atas hasil pemeriksaan sebelumnya. Pengawasan Intern 25 Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan operasional RSUD termasuk pengelolaan limbah RSUD. Kegiatan pengelolaan limbah. atau UKL dan UPL untuk RSUD kelas C dan D. Pelaporan 24 Laporan yang harus dibuat oleh Unit Pengelola Limbah terdiri atas Laporan Bulanan. dan Laporan kesehatan dan keselamatan kerja.

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD

Bab III

BAB III PETUNJUK PEMERIKSAAN

A. Petunjuk Umum
1. Dasar Hukum Pemeriksaan
01 Pemeriksaan atas pengelolaan limbah rumah sakit merupakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu dengan mengacu kepada: a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, Pasal 31 tentang Keuangan Negara; b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, Pasal 56 tentang Perbendaharaan Negara; c. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004, Pasal 2 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;
Petunjuk umum pemeriksaan atas Pengelolaan limbah RSUD meliputi :  Dasar Hukum Pemeriksaan  Standar Pemeriksaan  Panduan Manajemen Pemeriksaan  Petunjuk Teknis Pemeriksaan  Metodologi Pemeriksaan  Tujuan Pemeriksaan  Lingkup Pemeriksaan  Waktu Pemeriksaan

d. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006, Pasal 1 tentang Badan Pemeriksa Keuangan; e. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.

2. Standar Pemeriksaan
02 Standar pemeriksaan atas Pengelolaan Limbah RSUD adalah Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang mengatur Standar Umum, Standar Pelaksanaan Pemeriksaan dan Standar Pelaporan.
Standar Pemeriksaan adalah standar pemeriksaan yang ditetapkan BPK

3. Panduan Manajemen Pemeriksaan
03 Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) atas Pengelolaan Limbah RSUD adalah PMP yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang mengatur Perencanaan Pemeriksaan, Pelaksanaan Pekerjaan, Pelaporan Pemeriksaan, Tindak Lanjut Pemeriksaan dan Evaluasi Pemeriksaan. 4. 04
Panduan Manajemen Pemeriksaan adalah panduan yang ditetapkan BPK

Petunjuk Teknis Pemeriksaan
Petunjuk teknis pemeriksaan atas Pengelolaan Limbah RSUD meliputi petunjuk teknis kertas kerja pemeriksaan, petunjuk teknis penjaminan mutu pemeriksaan, petunjuk teknis pengujian sistem pengendalian intern, petunjuk teknis uji petik pemeriksaan, petunjuk teknis penjaminan mutu pemeriksaan dan petunjuk teknis pelaporan hasil pemeriksaan.
Petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

15

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD

Bab III

5. Metodologi Pemeriksaan
05 Metodologi yang digunakan dalam pemeriksaan Pengelolaan limbah RSUD secara ringkas meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan hasil pemeriksaan yang meliputi 16 langkah/kegiatan. Di dalam proses pemeriksaan tersebut, ukuran atau kriteria yang digunakan adalah standar pemeriksaan, PMP serta tujuan dan harapan penugasan. Di dalam proses tersebut, supervisi serta pengendalian dan penjaminan mutu pemeriksaan dilakukan sepanjang proses tersebut. Secara ringkas, metodologi pemeriksaan adalah sebagai berikut
Metodologi Pemeriksaan meliputi 16 langkah dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan

TAHAP PEMERIKSAAN ATAS PENGELOLAAN LIMBAH RSUD
Ukuran Mutu Pemeriksaan : Ukuran Kinerja Pemeriksaan: - Standar Pemeriksaan - Standar Pemeriksaan - Panduan Manajemen Pemeriksaan - Panduan Manajemen Pemeriksaan - Tujuan & Harapan Penugasan - Tujuan & Harapan Penugasan

PERENCANAAN PEMERIKSAAN
2. Pemenuhan Kebutuhan 1. Pemahaman Tujuan 1. Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Pemeriksa Pemeriksaan dan Harapan Penugasan Penugasan 4. Pemantauan Tindak Lanjut 3. Pemahaman Entitas Laporan Hasil Pemeriksaan 2.atas Pemahaman atas Entitas Sebelumnya 5. Pemahaman3. Sistem 6. Pemahaman Pemahaman Resiko dan Penilaian Pengendalian Intern Risiko

PERENCANAAN PEMERIKSAAN

PELAKSANAAN PEMERIKSAAN PELAKSANAAN PEMERIKSAAN

PELAPORANHASIL HASIL PEMERIKSAAN PELAPORAN PEMERIKSAAN

11. Pelaksanaan Pengujian Analitis Terinci

12. Pengujian Sistem Pengendalian Intern

13. Pengujian Substantif Atas Transaksi & Saldo Akun: - Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan - Aset, Kewajiban, dan Ekuitas Dana - Arus Kas

8. Pengujian Terinci

20. Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan

13. Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan

9. Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan
14. Penyelesaian Penugasan: - Reviu Kewajiban Kontinjensi

21. Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Dengan Penanggung Jawab Pemeriksaan

14. Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Dengan Penanggung Jawab Pemeriksaan

4. Pemahaman dan Pengujian Sistem Pengendalian 7. Penetapan Materialitas Intern
Awal dan Kesalahan Tertolerir

10. Pembahasan Dengan Pejabat Entitas Yang - Reviu Kontrak Jangka Panjang Berwenang - Identifikasi Kejadian Setelah Tanggal Neraca
15. Penyusunan Ikhtisar 16. Penyusunan Konsep 11. Perolehan TanggapanTemuan Resmi & Tertulis Koreksi Pemeriksaan 17. Pembahasan Dengan 18. Perolehan Tanggapan Pejabat Pemerintah Daerah Resmi & Tertulis 12. Berwenang Penyampaian Temuan Pemeriksaan Yang

22. Penyampaian Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Kepada Kepala Daerah

8. Penentuan Metode Uji Petik

23. Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Dengan 15. Penyampaian dan Pembahasan Konsep Laporan Pejabat Pemerintah Daerah Yang Berwenang

5. Pemenuhan Kebutuhan Pemeriksa
9. Pelaksanaan Prosedur Analitis Awal

Hasil Pemeriksaan Dengan Pejabat Entitas yang Berwenang
24. Perolehan Surat Representasi

6. Penentuan Pengambilan Sampel 7. Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program Kegiatan Perorangan Program Kerja Perorangan
10. Penyusunan Program Pemeriksaan dan

25. Konsep Akhir dan Penyampaian Laporan Hasil 16.Penyusunan Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian Laporan Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan

19. Penyampaian Temuan Pemeriksaan

SUPERVISI – KENDALI DAN PENJAMINAN MUTU DOKUMENTASI PEMERIKSAAN (Supervision, Quality Control & Assurance)

SUPERVISI – KENDALI DAN PENJAMINAN MUTU (Supervision, Quality Control & Assurance)

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

16

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD

Bab III

06

Langkah-langkah tersebut dijelaskan dalam petunjuk perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan dalam bab ini, serta untuk supervisi dijelaskan dalam bab berikutnya. Pemeriksaan Pengendalian Pencemaran Udara dari Sumber Bergerak dalam proses diatas dilaksanakan dengan menggunakan metodologi pemeriksaan sebagai berikut : 1) Evaluasi dan analisa data dan dokumen yang diberikan oleh Unit Kerja Yang Diperiksa (Unit Kerja). Pemeriksaan Pengendalian Pencemaran Udara dari Sumber Bergerak yang dilakukan adalah pemeriksaan atas kegiatan yang telah selesai dilaksanakan oleh unit kerja yang diperiksa (Post Audit). Pemeriksa mendasarkan pemahaman dan pembuktian atas kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan data dan dokumentasi yang diberikan oleh Unit Kerja. 2) Pengamatan Fisik di lapangan (observasi) Sebagai upaya untuk menyakinkan pengendalian pencemaran udara, Pemeriksa juga melakukan uji petik secara terbatas. 3) Wawancara Pemeriksa juga melakukan pengumpulan informasi terkait pengendalian pencemaran udara dari sumber bergerak dengan melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait. 4) Uji Petik (sampling) Pemeriksaan menggunakan mekanisme sampling dengan memperhatikan faktor-faktor seperti jumlah personil auditor, waktu, dan risiko terjadinya ketidakpatuhan. Pendekatan uji petik ini dilakukan dalam menentukan daerah yang akan diuji petik, dokumen-dokumen yang akan dibahas dan kegiatankegiatan yang akan diuji.
Metodologi Pemeriksaan 1. evaluasi dan analisa data 2. penamatan fisik di lapangan 3. wawancara 4. uji petik (sampling)

07

1. Tujuan Pemeriksaan
08 Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai (1) apakah sistem pengendalian intern atas pengelolaan limbah RSUD telah didesain dan diselenggarakan secara memadai, (2) apakah Rumah Sakit Umum Daerah telah merencanakan, melaksanakan, melaporkan, dan memantau pengelolaan limbah rumah sakit sesuai dengan peraturan perundangan.
Tujuan pemeriksaan

2. Lingkup Pemeriksaan
09 Lingkup pemeriksaan Pengelolaan limbah RSUD meliputi (1) kegiatan perencanaan; pengumpulan; penyimpanan; pemindahan; pengolahan dan pembuangan; serta pemantauan dan pengawasan pengelolaan limbah, (2) realisasi pelaksanaan anggaran kegiatan pengelolaan limbah, dan (3) pengendalian Intern atas pengelolaan limbah. 3. 10
Lingkup pemeriksaan meliputi kegiatan pengolahan limbah dan realisasi pelaksanaan anggaran kegiatan pengelolaan limbah RSUD serta pemahaman dan pengujian SPI

Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD dilaksanakan sesuai dengan Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) dengan mengacu pada Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) dan harapan penugasan. Jangka waktu tersebut meliputi pemeriksaan lapangan sampai dengan penyampaian pelaporan hasil pemeriksaan kepada DPRD dan Pemerintah Daerah.
Badan Pemeriksa Keuangan

Waktu Pemeriksaan

Direktorat Litbang

17

Pemenuhan Kebutuhan Pemeriksa 6. Contoh dokumentasi harapan penugasan dapat dilihat pada Lampiran 3. dan (7) penyusunan program pemeriksaan dan penyusunan program kerja perorangan. 2. (4) pemahaman dan pengujian sistem pengendalian intern.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III B. Pemeriksa harus memperoleh harapan-harapan penugasan secara tertulis dari pemberi tugas melalui suatu komunikasi yang intensif. Hal ini untuk menghindari harapan-harapan yang tidak dapat dipenuhi oleh pemeriksa. Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan Tujuan pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD bertujuan untuk meyakinkan bahwa RSUD telah melakukan pengelolaan limbah rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 6. Perencanaan pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD meliputi 7 tahapan sebagai berikut 1. Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program Kegiatan Perorangan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 18 . (2) pemahaman atas entitas. Pemahaman atas Entitas 3. Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut.1. Pemahaman atas Risiko 12 4. Penentuan Pengambilan Sampel 7. Petunjuk Perencanaan Pemeriksaan 11 Perencanaan pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD meliputi 7 (tujuh) tahapan sebagai berikut: (1) pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan. Harapan dari pemberi tugas tersebut harus didokumentasikan. (6) penentuan pengambilan sampel. (5) pemenuhan kebutuhan pemeriksa. Dokumentasi atas harapan penugasan menjadi salah satu dasar dalam penyusunan program pemeriksaan dan penentuan kebutuhan pemeriksa. penugasan atas pemeriksaan dengan tujuan tertentu memiliki harapanharapan (expectation) dari pemberi tugas. Pemahaman dan Pengujian Siatem Pengendalian Intern 13 5. (3) pemahaman risiko.

berupa proses perencanaan. penyimpanan. Contoh dokumentasi pemahaman pemeriksa atas entitas dapat dilihat pada Lampiran 3. Pemahaman atas entitas tersebut meliputi pemahaman atas organisasi. Pemahaman risiko yang ditimbulkan dari aktivitas pengelolaan limbah RSUD dapat dilihat dalam lampiran 3. hasil komunikasi dengan pemeriksa tahun sebelumnya dan database aplikasi dosir 15 16 17 3. Pemahaman pemeriksa atas entitas harus didokumentasikan dalam KKP.2. Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) tahun sebelumnya. Hal ini terkait dengan kemungkinan temuan-temuan pemeriksaan yang berulang. Pemahaman entitas dapat diperoleh dari survai pendahuluan. kegiatan/program utama entitas. Pemantauan tersebut meliputi tindak lanjut rekomendasi yang diberikan terkait dengan efektivitas sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. pengolahan dan pembuangan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III 7. Hasil pemahaman atas entitas bermanfaat untuk langkah pemahaman atas Sistem Pengendalian Intern dan pemahaman atas resiko. informasi LHP sebelumnya. pejabat terkait sampai dengan satuan kerja dan kejadian luar biasa yang berpengaruh terhadap kegiatan pengelolaan limbah RSUD. 14 Pemahaman atas Entitas Pemahaman atas entitas dapat diperoleh dari survai pendahuluan atau informasi dalam laporan hasil pemeriksaan sebelumnya. lingkungan yang mempengaruhi. Pemahaman Risiko 18 Pemahaman dan penilaian risiko adalah untuk memahami risiko yang ditimbulkan dari aktivitas pengelolaan limbah RSUD yang dipakai sebagai pendekatan pengujian substantif. pengumpulan. pemindahan. hasil komunikasi dengan pemeriksa tahun sebelumnya dan database yang ada pada unit kerja pemeriksaan. serta pemantauan dan pengawasan pengelolaan limbah. serta pemantauan tindak lanjut pimpinan entitas atas laporan hasil pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD tahun sebelumnya terkait dengan pelaksanaan rekomendasi yang diberikan. Pemeriksa harus meneliti pengaruh tindak lanjut terhadap pengelolaan limbah RSUD yang diperiksa.3 Pemahaman dan penilaian risiko adalah untuk memahami risiko yang ditimbulkan dari aktivitas pengelolaan limbah 19 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 19 . KKP tahun sebelumnya.

peraturan daerah. pemeriksa mengevaluasi apakah sistem pengendalian intern telah didesain secara memadai dan dapat meminimalisasi penyimpangan terhadap peraturan perundangan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III 4. Pemahaman dan Pengujian Sistem Pengendalian Intern 20 Pemeriksa harus memahami sistem pengendalian intern yang didesain dan diselenggarakan oleh entitas. pengujian implementasi sistem pengendalian intern dilakukan dengan melihat pelaksanaan pengendalian pada kegiatan pengelolaan limbah oleh instalasi pengelola limbah. Petunjuk pengujian pengendalian meliputi pengujian yang dilakukan pemeriksa terhadap efektivitas desain dan implementasi sistem pengendalian intern dalam rangka pengelolaan limbah. Pemahaman atas desain pengendalian intern dilakukan dengan melihat peraturan perundang-undangan dan kebijakan tertulis/formal menteri/pimpinan lembaga terkait dengan sistem pengendalian intern. dan (3) mendesain prosedur pengujian substantif.5. Pengujian sistem pengendalian intern dilakukan berdasarkan pemahaman atas sistem pengendalian intern pada tahap perencanaan/ persiapan pemeriksaan. dan implementasinya 21 22 23 24 25 26 27 28 Direktorat Litbang . Pemahaman sistem pengendalian intern meliputi pemahaman atas komponen-komponen sistem pengendalian intern. Rincian pengujian pengendalian atas pengelolaan limbah RSUD dapat dilihat pada Lampiran 3. Dalam pengujian desain sistem pengendalian intern. Pengujian sistem pengendalian intern merupakan dasar pengujian terinci selanjutnya. Badan Pemeriksa Keuangan 20 Pemahaman sistem pengendalian intern. biaya pengurangan pencemaran. dan biaya penanggulangan jika pencemaran telah terjadi. Pemahaman atas penyelenggaraan pengendalian intern dilakukan dengan melihat praktik pengendalian intern pengelolaan limbah RSUD. (2) mendesain pengujian sistem pengendalian intern. Pemahaman atas sistem pengendalian intern tersebut membantu pemeriksa untuk (1) mengidentifikasi jenis potensi kesalahan. Hasil pengujian sistem pengendalian intern tersebut digunakan untuk menentukan strategi pengujian pengelolaan limbah. desain. pemeriksa perlu mengidentifikasi kelemahan-kelemahan signifikan atau area-area kritis yang memerlukan perhatian mendalam. Pemahaman sistem pengendalian intern baik desain dan penyelenggaraannya didokumentasikan dalam KKP seperti dalam Lampiran 3. Pengujian pengendalian meliputi pengujian terhadap unsurunsur pengendalian pada instalasi limbah yang juga dikaitkan dengan pengendalian entitas RSUD secara keseluruhan. keputusan/peraturan kepala daerah dan kebijakan tertulis. Pemahaman sistem pengendalian intern dilakukan terhadap pengelolaan limbah RSUD yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. seperti: (1) apakah pengelolaan limbah telah sesuai dengan peraturan perundangan dan (2) apakah penggunaan anggaran dan pendapatan untuk/dari pengelolaan limbah sesuai dengan peraturan perundangan termasuk biaya pengadaan dan pemeliharaan sarana pengelolaan limbah. Selain itu. Sementara.4.

Kualifikasi tim pemeriksa harus memiliki pengalaman dan/atau pemahaman yang cukup atas pengelolaan limbah dan/atau pengelolaan lingkungan Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional. pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan pengelolaan limbah harus memenuhi kualifikasi tambahan yaitu memiliki keahlian di bidang auditing. Pemenuhan Kebutuhan Pemeriksa a. memenuhi persyaratan pendidikan berkelanjutan dan memenuhi persyaratan kemampuan/keahlian pemeriksa. maka pengendali teknis tersebut harus memiliki pengetahuan dan pengalaman pemeriksaan terkait dengan pengelolaan limbah RSUD dan atau lingkungan. Selain itu. Berdasarkan hal tersebut di atas maka dalam rangka pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD dapat ditentukan kebutuhan atas kuantitas dan kualifikasi pemeriksa sebagai berikut: 1). Ketua Tim harus memiliki pengalaman yang memadai paling tidak 1 (satu) kali melakukan pemeriksaan dan/atau telah mendapatkan diklat pengelolaan limbah dan/atau lingkungan. 30 31 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 21 . memahami peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah pada entitas yang diperiksa dan sebaiknya telah mengikuti pelatihan atas pemeriksaan audit berperspektif lingkungan. 2). Persyaratan Kemampuan/Keahlian 29 Standar Pemeriksaan mengatur bahwa pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan. Tim pemeriksa secara kolektif harus memiliki pemahaman yang cukup tentang peraturan perundang-undangan terkait pengelolaan limbah dan/atau lingkungan hidup dengan melakukan pendidikan dan pelatihan (diklat).Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III 5. 3). Apabila di dalam tim pemeriksa dibutuhkan pengendali teknis. dan atau pernah menjadi ketua tim pemeriksa yang terkait paling tidak 1 (satu) kali.

Penentuan pengambilan sampel yang akan diuji di laboratorium 36 37 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 22 . Penentuan pengambilan sampel pada pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD dilakukan untuk menguji apakah hasil pengolahan limbah telah sesuai dengan peraturan perundangan-undangan terkait yang menetapkan baku mutu parameter yang diuji. ekstern. harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi. 4) debu/abu hasil olahan insinerator. antara lain: 1) limbah cair masukan (influent) pada inlet instalasi pengolahan air limbah (IPAL).Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III 4). dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya. 2) hasil olahan limbah cair (effluent) pada outlet IPAL. Penentuan Pengambilan Sampel 35 Penentuan pengambilan sampel dilaksanakan apabila pemeriksa tidak meyakini keandalan informasi dalam laporan pengujian limbah yang dilakukan oleh entitas atau Bapedalda. Jika pemeriksa yang terlibat dalam pemeriksaan Pengelolaan limbah RSUD diragukan tingkat independensinya maka harus membuat surat pernyataan gangguan independensi untuk mendapatkan pertimbangan atas penugasannya dan Penanggung Jawab harus mempertimbangkan dampak dari kondisi tersebut terhadap pemeriksaan yang dilakukan. Persyaratan Independensi 32 Standar Pemeriksaan mengatur bahwa dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan. b. 6) udara ambien pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan insinerator atau berdasarkan hasil observasi dan pertimbangan profesional pemeriksa.6. Penanggung jawab pemeriksaan adalah seseorang yang memangku jabatan struktural/fungsional dan memiliki pengetahuan dan/atau pengalaman yang memadai untuk melakukan pemeriksaan limbah dan/atau lingkungan. 3) tingkat kebauan pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan IPAL atau berdasarkan hasil observasi dan pertimbangan profesional pemeriksa. Surat Pernyataan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 3. 7) limbah cair sebelum disalurkan ke inlet IPAL pada Instalasi Gizi dan Laundry. Pengujian laboratorium yang akan dilakukan saat pelaksanaan pemeriksaan. organisasi pemeriksa dan pemeriksa. 33 34 6. 5) emisi cerobong insinerator.

3) Memperhitungkan laboratorium anggaran biaya pengujian 39 7. (3) Entitas yang diperiksa. (4) Tahun anggaran/tahun buku yang diperiksa. (8) Sasaran yang diperiksa. Berdasarkan program pemeriksaan yang ditetapkan oleh Tortama/Kepala Perwakilan. (10) Jangka waktu pemeriksaan. (7) Metodologi pemeriksaan. (11) Susunan tim pemeriksaan. pemeriksa menyusun program pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD. Program pemeriksaan atas Pengelolaan limbah RSUD dan Program Kerja Perorangan disusun berdasarkan persiapan pemeriksaan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 23 . dan (13) Kerangka isi laporan. Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan Berdasarkan persiapan pemeriksaan di atas. Bentuk Program Pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan mengacu pada Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP). Program pemeriksaan mengungkapkan antara lain (1) Dasar pemeriksaan. (5) Identitas dan data umum entitas yang diperiksa. (9) Pengarahan pemeriksaan. ketua tim pemeriksa membuat pembagian tugas dan anggota tim menyusun program kerja perorangan dan disampaikan kepada ketua tim untuk mendapatkan persetujuan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III 38 Pemeriksa harus mengusulkan pengujian laboratorium dengan cara: 1) Mendapatkan informasi tentang tenaga ahli yang independen untuk menguji hasil pengolahan limbah dan/atau laboratorium di luar RSUD. (12) Instansi penerima hasil pemeriksaan. 2) Menentukan waktu pengambilan sampel sampai dengan diterimanya hasil laboratorium yang disesuaikan dengan jangka waktu pemeriksaan. (2) Standar dan pedoman pemeriksaan. (6) Tujuan pemeriksaan.

Pengujian tersebut memperhatikan efektivitas sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. e. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan 40 Pelaksanaan pemeriksaan atas Pengelolaan limbah RSUD meliputi 5 (lima) tahapan. g. Kegiatan pengadaan barang dan jasa atas pengelolaan limbah. yaitu: (1) Pengujian terinci. Rincian pengujian terinci dapat dilihat pada Lampiran 3. 9. Pembahasan dengan Pejabat Entitas yang Berwenang 42 11. Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan 10. f.7. Kegiatan pengumpulan limbah. (4) Perolehan Tanggapan Resmi & Tertulis. serta pelaporannya dalam laporan unit pengelola limbah. (5) Penyampaian Temuan Pemeriksaan. (2) Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan. Kegiatan pengurangan pencemaran. Penyampaian Temuan Pemeriksaan 43 Pengujian terinci meliputi pengujian aktivitas serta penggunaan anggaran pengelolaan limbah Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 24 . Kegiatan pembuangan limbah olahan. penggunaan anggaran dan pendapatan untuk pengadaan dan pemeliharaan sarana pengelolaan limbah. Kegiatan penanggulangan jika sudah terjadi pencemaran. Pengujian terinci meliputi pengujian pada: a. (3) Pembahasan dengan Pejabat Entitas yang Berwenang. h. Kegiatan pemeliharaan sarana pengelolaan limbah. Pengujian Terinci 1. Pelaksanaan pemeriksaan meliputi 5 kegiatan berikut: 8. Kegiatan pengolahan limbah. b. Perolehan Tanggapan Resmi & Tertulis 12. c.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III C. Pengujian Terinci 41 Pengujian terinci meliputi pengujian atas aktivitas pengelolaan limbah. d. Kegiatan perencanaan penanganan limbah.

Konsep Temuan Pemeriksaan meliputi ketidakefektivan SPI dan kecurangan/penyimpangan serta ketidakpatuhan pada ketentuan perundangan 45 3. Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan 44 Konsep Temuan Pemeriksaan atas pengelolaan limbah merupakan permasalahan yang ditemukan oleh pemeriksa yang perlu dikomunikasikan kepada RSUD. 51 D. Pembahasan dengan Pejabat Entitas yang Berwenang 46 47 Pemeriksa melakukan pembahasan atas Konsep Temuan Pemeriksaan dengan pejabat entitas yang berwenang dalam hal ini Direktur RSUD. Oleh karena itu. Pemeriksa tidak dibebani tanggung jawab atas suatu kondisi yang terjadi setelah tanggal pekerjaan lapangan tersebut. Pelaporan hasil pemeriksaan meliputi 4 kegiatan sebagai berikut. (2) Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Penanggungjawab Pemeriksaan. 4. (3) Penyampaian dan Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Pejabat Entitas yang Berwenang. Penyampaian Temuan Pemeriksaan 50 Pemeriksa dalam hal ini ketua tim menyampaikan Temuan Pemeriksaan kepada Direktur RSUD dan Kepala Daerah terkait. Penyampaian Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Limbah RSUD tersebut merupakan akhir dari pekerjaan lapangan pemeriksaan Pengelolaan Limbah RSUD. Temuan pemeriksaan atas Pengelolaan limbah RSUD diserahkan oleh ketua tim kepada Direktur RSUD dan Kepala Daerah terkait. Konsep Temuan Pemeriksaan tersebut disampaikan ketua tim pemeriksa kepada pejabat RSUD yang berwenang untuk mendapatkan tanggapan tertulis dan resmi.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III 2. Pembahasan tersebut akan dimintakan tanggapan dari pejabat entitas yang berwenang. tanggal penyampaian temuan pemeriksaan tersebut merupakan tanggal laporan hasil pemeriksaan. Petunjuk Pelaporan Hasil Pemeriksaan 52 Pelaporan hasil pemeriksaan atas Pengelolaan Limbah RSUD meliputi (1) Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan. dan (4) Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan. Contoh Konsep Temuan Pemeriksaan mengacu pada Juknis Pelaporan Hasil Pemeriksaan. Tanggapan tersebut akan diungkapkan dalam Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Limbah RSUD. Permasalahan tersebut meliputi: (1) ketidakefektivan sistem pengendalian intern dan (2) kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 25 . Perolehan Tanggapan Resmi dan Tertulis 48 49 Pemeriksa memperoleh tanggapan resmi dan tertulis atas Konsep Temuan Pemeriksaan dari pejabat entitas yang berwenang dalam hal ini Direktur RSUD. Hal ini merupakan batas tanggung jawab pemeriksa terhadap kondisi pengelolaan limbah yang diperiksa. Tanggapan resmi dan tertulis atas konsep LTP diperoleh dari pejabat RSUD yang berwenang 5.

(2) tujuan pemeriksaan. Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Penanggung Jawab Pemeriksaan Setelah dibahas bersama pengendali teknis. Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Penanggung Jawab Pemeriksaan 15. Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan 54 2. Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan 1. Hasil Pemeriksaan Pengelolaan Limbah RSUD yang memuat tentang (1) hasil pemeriksaan atas pelaksanaan pengelolaan limbah. personalia/sumber daya manusia. (9) batasan pemeriksaan. Keseluruhan hasil pemeriksaan tersebut masing-masing dilengkapi dengan tanggapan dari Direksi RSUD dan rekomendasi BPK terhadap temuan pemeriksaan yang termuat di dalam konsep hasil pemeriksaan tersebut. (4) pengelolaan limbah yang meliputi mekanisme pengelolaan per jenis limbah dan sumber daya yang terkait dengan pengelolaan limbah. (2) jenis limbah yang dihasilkan RSUD.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III 13. dan (10) kriteria pemeriksaan. Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan 52 53 Konsep laporan hasil pemeriksaan disusun oleh ketua tim pemeriksa dan disupervisi oleh pengendali teknis. (3) dampak limbah. (2) hasil pemeriksaan atas pengawasan/pemantauan pengelolaan limbah. pencatatan. (7) jangka waktu pemeriksaan. Materi dari pembahasan tersebut adalah konsep hasil pemeriksaan yang telah didiskusikan tim pemeriksa dengan pengendali teknis. (8) metode pemeriksaan. (5) obyek pemeriksaan. Kesimpulan atas pembahasan KHP dengan penanggung jawab pemeriksaan dituangkan dalam konsep resume hasil pemeriksaan. (6) periode yang diperiksa. dan (5) hasil penilaian terhadap sistem pengendalian intern pengelolaan limbah yang meliputi organisasi. Pengelolaan Limbah RSUD yang memuat tentang (1) gambaran umum RSUD. Seluruh hasil pembahasan didokumentasikan dalam Risalah Pembahasan yang disimpan di dalam KKP. Konsep resume hasil pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari konsep hasil pemeriksaan. Pembahasan Konsep Hasil Pemeriksaan dilaksanakan secara berjenjang sampai dengan penanggung jawab 56 3. Penyampaian dan Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Pejabat Entitas yang Berwenang (Direksi RSUD) Konsep hasil pemeriksaan yang telah disetujui penanggung jawab disampaikan kepada direksi RSUD untuk dimintai tanggapannya atas simpulan pemeriksaan pengelolaan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 26 . Penyampaian Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Pejabat Entitas yang Berwenang 16. (3) alasan pemeriksaan. Gambaran Umum Pemeriksaan yang memuat tentang (1) dasar hukum pemeriksaan. 14. (4) sasaran pemeriksaan. b. perencanaan. pembahasan KHP dilanjutkan dengan pembahasan bersama penanggung jawab pemeriksaan dan diikuti oleh pengendali teknis. kebijaksanaan. ketua tim dan anggota tim pemeriksaan. prosedur kerja. pelaporan. dan pengawasan intern. Hasil Pemeriksaan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Limbah RSUD menjelaskan kepatuhan terhadap Standar Pemeriksaan Keuangan Negara dan berpedoman kepada Panduan Manajemen Pemeriksaan serta terdiri atas: a. c.

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab III Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 27 .

Pengendali Teknis melakukan supervisi atas Ketua Tim. melakukan supervisi atas Pengendalian mutu dilaksanakan melalui 2 bentuk pengendalian. Pengertian Pengendalian dan Penjaminan Mutu 03 Pengendalian mutu merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa proses pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan pemeriksaan dan harapan penugasan pemeriksaan. dan sistem pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang berkompeten. Terkait dengan hal tersebut maka dalam rangka pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD dibutuhkan adanya pengendalian mutu dan penjaminan mutu.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV BAB IV PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU A. b. Proses Pengendalian Mutu 05 Pengendalian mutu dilaksanakan melalui dua bentuk pengendalian. Sedangkan penjaminan mutu merupakan tindakan untuk memastikan bahwa proses pengendalian mutu telah dilaksanakan. yaitu (1) pengendalian mutu oleh Tim secara berjenjang dan (2) pengendalian mutu oleh penanggung jawab penugasan 06 Supervisi dilaksanakan secara berjenjang Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 27 . c. yaitu (1) pengendalian mutu oleh tim secara berjenjang dan (2) pengendalian mutu oleh penanggung jawab penugasan. Pengendalian mutu memastikan bahwa proses pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan pemeriksaan dan harapan penugasan serta telah memenuhi SPKN 04 Penjaminan mutu memastikan bahwa proses pengendalian mutu telah dilaksanakan C. Penjaminan mutu oleh Tim merupakan proses supervisi yang dilakukan secara berjenjang oleh Kasub Tim/Ketua Tim. Ketua Tim melakukan supervisi atas anggota tim pada saat pelaksanaan pekerjaan lapangan dengan mendasarkan pada Program Kerja Perorangan (PKP). dan sistem pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang berkompeten 02 B. serta telah memenuhi SPKN. Pengendali Teknis dan Penanggung Jawab Tim. Proses supervisi meliputi: a. Dasar Pengendalian dan Penjaminan Mutu 01 Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dalam pernyataan standar umum keempat mensyaratkan bagi setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan SPKN untuk memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai. Standar Umum keempat SPKN mensyaratkan setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan SPKN untuk memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai. Proses Pengendalian dan Penjaminan Mutu 1. Penanggung Jawab Pengendali Teknis.

supervisi pada masing-masing jenjang diungkapkan dalam tulisan atau catatan dengan warna yang berbeda.1 Supervisi oleh ketua tim. dan sebagainya. Pelaksanaan supervisi secara berjenjang tersebut dilakukan dengan mengisi laporan perkembangan pelaksanaan pemeriksaan. dan Penanggung Jawab meliputi memberikan saran dan memantau pelaksanaan metodologi pemeriksaan 08 09 10 11 12 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 28 . Contoh Review Sheet dapat dilihat di Lampiran 4. dalam supervisi perlu ditekankan pada: (1) pemenuhan tujuan dan harapan penugasan. (2) pelaksanaan program pemeriksaan.2 Untuk menjamin kesimpulan yang sama terhadap permasalahan yang sama. Apabila memungkinkan. pengendali teknis. Sebagai contoh adalah pemberian pendapat mengenai kriteria pemeriksaan yang dapat dipakai untuk suatu indikasi temuan pemeriksaan tertentu. (2) pelaksanaan program pemeriksaan. serta (3) penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan. dan penanggung jawab meliputi pemberian saran bagi tim pemeriksa apabila menemukan kendala dalam pemeriksaan dan pemantauan implementasi metodologi pemeriksaan. Contoh laporan perkembangan pelaksanaan pemeriksaan dapat dilihat di Lampiran 4. Pengendali Teknis. orang yang melakukan supervisi tersebut mengikuti konsolidasi pelaksanaan dan pelaporan hasil pemeriksaan. penambahan langkah-langkah prosedur pemeriksaan. Laporan perkembangan tersebut antara lain mengungkapkan kesesuaian atau pencapaian pelaksanaan pemeriksaan dengan tujuan dan harapan penugasan serta program pemeriksaan. Dengan demikian. serta penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan Tugas supervisi oleh Ketua Tim. Supervisi meliputi supervisi pemenuhan tujuan dan harapan penugasan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV 07 Pelaksanaan kegiatan supervisi didokumentasikan dalam lembar Review Sheet. pemberian saran terkait dengan temuan pemeriksaan berdasarkan pengalaman profesionalismenya. hal-hal yang perlu dilakukan dalam supervisi meliputi supervisi atas (1) pemenuhan tujuan dan harapan penugasan. pelaksanaan program pemeriksaan. Dengan demikian. serta (3) penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan.

Untuk menjamin agar penilaian masing-masing orang yang melakukan supervisi bisa seragam terhadap kriteria supervisi.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV a. Supervisi tersebut dilakukan pada kegiatan anggota tim antara lain melalui reviu kertas kerja pemeriksaan. Selanjutnya. Apabila terjadi penyimpangan dari tujuan dan harapan penugasan. 14 15 16 17 18 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 29 . pengendali teknis dan atau penanggung jawab menanyakan latar belakang. Pengendali teknis melakukan supervisi atas pemenuhan tujuan dan harapan penugasan atas kegiatan supervisi ketua tim. Hal ini dilakukan dengan mereviu hasil pekerjaan ketua tim di dalam mereviu kertas kerja anggota tim pemeriksaan dan secara uji petik melakukan reviu kegiatan anggota tim tersebut. penanggung jawab melakukan supervisi kegiatan pengendali teknis. Pengendali Teknis. Pengendali teknis dan atau penanggung jawab menggunakan program pemeriksaan dan formulir harapan penugasan sebagai kriteria penilaian. serta mengambil kesimpulan apakah menerima penyimpangan tersebut atau tidak. dan Penanggung Jawab untuk melihat pemenuhan tujuan pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD dan pemenuhan harapan penugasan yang tertuang dalam formulir pemenuhan harapan penugasan Supervisi pemenuhan tujuan dan harapan penugasan dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan dapat atau telah memenuhi tujuan dan harapan penugasan. alasan. Hasil supervisi dituangkan dalam kertas kerja pemeriksaan yang sesuai dengan pengungkapan persetujuan atau catatan disertai paraf dan tanggal. dan sebabnya. Hal tersebut meliputi pemenuhan tujuan pemeriksaan untuk menilai apakah pengelolaan limbah RSUD telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan pemenuhan harapan penugasan seperti tertuang dalam formulir pemenuhan harapan penugasan. Supervisi pemenuhan penugasan. 13 tujuan dan harapan Supervisi pemenuhan tujuan dan harapan penugasan dilakukan oleh Ketua Tim. Ketua tim pemeriksaan bertanggung jawab untuk melakukan supervisi atas pekerjaan pemeriksa dengan melakukan reviu pelaksanaan pemenuhan tujuan dan harapan penugasan. orang yang melakukan supervisi tersebut harus menggunakan harapan penugasan sebagai acuan.

dan penanggung jawab secara berjenjang 20 21 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 30 . Hasil supervisi pengendali teknis diungkapkan dalam program pemeriksaan yang akan dijadikan kertas kerja pemeriksaan (yang telah disupervisi ketua tim pemeriksaan) dengan membubuhkan catatan dan paraf serta tanggal supervisi dilakukan. dan tanggal pelaksanaan supervisi dalam program pemeriksaan yang telah diberikan catatan oleh pengendali teknis dan ketua tim. Penanggung jawab mereviu pekerjaan pengendali teknis atas supervisi program pemeriksaan dan melakukan reviu secara uji petik hasil supervisi tersebut. Pengendali teknis menguji hasil supervisi yang dilakukan oleh ketua tim terhadap pelaksanaan program pemeriksaan serta mereviu secara uji petik atas langkah pemeriksaan dalam program pemeriksaan tersebut dan melihat hasil pemeriksaan apakah telah sesuai dengan program pemeriksaan. pengendali teknis. Supervisi juga dilakukan terhadap substansi yang dihasilkan dalam pelaksanaan pemeriksaan. paraf. Supervisi pelaksanaan program pemeriksaan dilakukan oleh ketua tim. maka akan didiskusikan dengan pemberi catatan untuk memperoleh keputusan selanjutnya yang diparaf oleh pemberi catatan. Apabila catatan-catatan tersebut tidak dapat atau tidak mungkin dilaksanakan. Supervisi pelaksanaan program pemeriksaan 19 Supervisi pelaksanaan program pemeriksaan dilakukan oleh ketua tim dengan membubuhkan tick mark atau catatan dengan paraf dan tanggal pada program pemeriksaan yang dijadikan kertas kerja pemeriksaan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV b. Hasil supervisi diungkapkan dengan membuat catatan.

LKPL ditempatkan pada map yang menjadi sampul pengantar berkas KHP beserta konsep surat keluar. Proses penjaminan mutu harus didokumentasikan untuk memudahkan dalam proses reviu oleh pihak lain yang berkompeten Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 31 . maka ketua tim pemeriksa bertanggung jawab menyusun risalah pemantauan yang diparaf oleh pengendali teknis dan penanggung jawab. Pendokumentasian Proses Penjaminan Mutu 30 Proses penjaminan mutu harus didokumentasikan untuk memudahkan dalam proses reviu oleh pihak lain yang berkompeten. Unit kerja pengawasan internal BPK-RI dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh Tim untuk memastikan bahwa pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan telah memenuhi persyaratan yang dimuat dalam SPKN. penjaminan mutu dapat dilaksanakan pula oleh unit kerja pengawasan internal BPK-RI dan pihak lain yang kompeten. dan (5) waktu pelaporan.3. Pengendali teknis dan atau penanggung jawab melakukan supervisi penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD baik melalui catatan dalam konsep laporan tersebut atau dalam pemberian pendapat atau arahan dalam pemantauan laporan tersebut. Penanggung jawab memastikan bahwa seluruh proses pengendalian mutu oleh Tim telah dilaksanakan. Hasil supervisi berupa persetujuan atau catatan di dalam konsep laporan hasil pemeriksaan yang disertai dengan paraf dan tanggal. pedoman. Contoh check list pengendalian mutu dan penjaminan mutu dapat dilihat pada Lampiran 4. Bentuk LKPL dimuat dalam Lampiran 4. Supervisi penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan 22 Ketua tim melakukan supervisi proses penyusunan dan bertanggung jawab atas susbstansi konsep laporan hasil pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD. Pelaksanaan reviu pengendalian mutu oleh organisasi pemeriksa ekstern yang berkompeten tersebut harus memenuhi persyaratan yang dimuat dalam SPKN. (2) materi laporan. Supervisi tersebut meliputi (1) kesesuaian dengan standar. Untuk pendapat atau arahan. (3) keakuratan angka. petunjuk pelaksanaan.4. (4) tata bahasa. Selain oleh Penanggung Jawab pemeriksaan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab IV c. Pihak lain yang berkompeten dapat melakukan reviu atas desain pengendalian mutu dan pelaksanaan pengendalian mutu yang dikembangkan oleh BPK-RI. Penjaminan mutu dilaksanakan oleh penanggung jawab penugasan. dan petunjuk teknis yang terkait. Untuk mengendalikan mutu pelaporan digunakan Lembar Kendali Penyelesaian Laporan (LKPL) yang digunakan untuk memonitor ketepatan waktu penyelesaian laporan pemeriksaan. Catatan atas konsep laporan harus diparaf dan diberi tanggal. unit kerja pengawasan internal BPK-RI dan pihak lain yang berkompeten Pengendali teknis dan atau penanggung jawab melakukan supervisi penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD Ketua tim melakukan supervisi proses penyusunan dan substansi konsep laporan hasil pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD 23 24 25 26 27 28 29 D.

15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab V Pemantauan Tindak Lanjut BAB V PEMANTAUAN TINDAK LANJUT LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN A. dan (4) melakukan pemantauan tindak lanjut pada saat pemeriksaan. Tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan merupakan kewajiban manajemen entitas yang diperiksa 02 03 B. Hasil pemantauan dalam pemeriksaan digunakan untuk pengembangan prosedur pemeriksaan selanjutnya. (2) mereviu jawaban/keterangan dari manajemen entitas yang diperiksa. antara lain: (1) memberitahukan secara tertulis kewajiban tindak lanjut tersebut kepada manajemen entitas yang diperiksa. (3) melaporkan pemantauan tindak lanjut. Pemantauan tersebut dilakukan setelah menerima jawaban/ keterangan dimaksud atau pada saat pemeriksaan yang akan datang seperti diungkapkan dalam petunjuk perencanaan pemeriksaan. Pemberitahuan tersebut dilakukan dengan menyampaikan surat dari Kepala Perwakilan BPK-RI kepada pemerintah daerah mengenai kewajiban memberikan penjelasan/keterangan tindak lanjut hasil pemeriksaan. Pemantauan tindak lanjut tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan. Pemberitahuan tertulis tersebut dapat dilakukan melalui surat pengantar penyampaian laporan hasil pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD dalam satu paragraf akhir surat atau melalui surat terpisah setelah penyampaian laporan hasil pemeriksaan dimaksud. Entitas menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan BPK atas pengelolaan limbah RSUD dan memberikan jawaban/keterangan mengenai tindak lanjut tersebut paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak laporan hasil pemeriksaan tersebut diterima. 05 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 31 . Pemberitahuan Tertulis tentang Kewajiban Tindak Lanjut 04 Pemberitahuan tertulis tentang kewajiban tindak lanjut merupakan informasi kepada pejabat berwenang untuk melakukan penjelasan tindak lanjut hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan sesuai dengan Pasal 20 UU No. selama temuan belum ditindaklanjuti maka pemeriksa perlu terus memantau tindak lanjut. Pemeriksa memantau tindak lanjut hasil pemeriksaan. Tidak ada batasan tahun LHP yang ditindaklanjuti. Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan 01 Tindak lanjut hasil pemeriksaan dilakukan oleh manajemen entitas yang diperiksa. Hasil pemantauan setelah menerima jawaban/keterangan tersebut disampaikan kepada DPRD. Pemberitahuan tertulis tentang kewajiban tindak lanjut merupakan informasi kepada pejabat berwenang untuk melakukan penjelasan tindak lanjut hasil pemeriksaan .

Reviu atas jawaban/keterangan pemerintah daerah dilakukan tim pemeriksa untuk melihat kesesuaian pelaksanaan tindak lanjut dengan rekomendasi BPK 07 D. Hasil pemantauan tindak lanjut pada saat pemeriksaan mengembangkan prosedur pemeriksaan selanjutnya. atau (3) belum ditindaklanjuti. dan disampaikan kepada DPRD. (2) belum sesuai dengan rekomendasi. Reviu Atas Jawaban/Keterangan Pemerintah Daerah 06 Reviu atas jawaban/keterangan pemerintah daerah dilakukan pelaksana yang ditunjuk untuk melihat kesesuaian pelaksanaan tindak lanjut dengan rekomendasi BPK dalam laporan hasil pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD. Hasil pemantauan tindak lanjut tersebut dituangkan dalam laporan hasil pemantauan tindak lanjut E. Kesimpulan reviu tersebut antara lain (1) telah sesuai dengan rekomendasi. Pemantauan Tindak Lanjut Pada Saat Pemeriksaan 09 Pemeriksa wajib melakukan pemantauan atas tindak lanjut yang dilakukan oleh pemerintah daerah terhadap laporan hasil pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD yang telah dilakukan sebelumnya. dan (3) belum ditindaklanjuti. (2) belum selesai sesuai rekomendasi. kegiatan ini merupakan bagian dari pemahaman entitas seperti dijelaskan dalam Bab 3. Hasil reviu tersebut disampaikan kepada atasan pelaksana yang ditunjuk secara berjenjang sampai dengan Kepala Perwakilan. Hal tersebut meliputi antara lain atas kemungkinan terjadinya temuan yang berulang. Laporan Pemantauan Tindak Lanjut ditandatangani oleh Kepala Perwakilan. Pelaporan atas Pemantauan Tindak Lanjut 08 Hasil pemantauan tindak lanjut tersebut dituangkan dalam laporan hasil pemantauan tindak lanjut dengan kesimpulan (1) selesai sesuai dengan rekomendasi.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab V Pemantauan Tindak Lanjut C. Kepala Daerah dan APIP entitas yang diperiksa. Pemeriksa wajib melakukan pemantauan atas tindak lanjut yang dilakukan pemerintah daerah 10 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 32 . Bentuk laporan tindak lanjut sesuai dengan PMP.

pemantauan atas juknis ini akan dilakukan oleh tim pemantauan juknis pemeriksaan. Juknis pemeriksaan ini mulai berlaku sejak tahun 2008 B. Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan Negara Badan Pemeriksa Keuangan. (021)-5704395 pesawat 327 Email: litbangpdtt@bpk. dan kondisi lain. Direktorat Utama Perencanaan. Pengembangan. Evaluasi. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD 02 Pemutakhiran petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD dapat berupa perubahan petunjuk teknis dimaksud atau penjelasan atas substansi petunjuk teknis tersebut.go.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Bab VI BAB VI PENUTUP A.id Pemantuan juknis pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD dilakukan oleh Bidang Litbang Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 33 . masukan atau pertanyaan terkait dengan petunjuk teknis ini dapat disampaikan kepada: Sub Direktorat Litbang Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Direktorat Penelitian dan Pengembangan Direktorat Utama Perencanaan. Selain itu. Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan Negara Lantai II Gedung Arsip. Perubahan atas petunjuk teknis ini akan disampaikan secara resmi melalui Surat Keputusan Kaditama Revbang tentang Perubahan Petunjuk Teknis dimaksud. Direktorat Penelitian dan Pengembangan. Oleh karena itu. Evaluasi. Pemantauan Petunjuk Teknis Pemeriksaan Pengelolaan Limbah RSUD 05 Petunjuk teknis ini merupakan dokumen yang dapat berubah sesuai dengan perubahan peraturan perundang-undangan. Pengembangan. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD 01 Petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD berlaku sejak tahun 2008 sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Ditama Revbang. Penjelasan atas substansi petunjuk teknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD disampaikan secara tertulis oleh Sub Direktorat Penelitian dan Pengembangan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu. Gatot Subroto 31 Jakarta 10210 Telp. BPK-RI Jl. standar pemeriksaan. Pemutakhiran juknis pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD dapat berupa perubahan juknis atau penjelasan substansi 03 04 C.

Arsip Lantai II Jl.go. Gatot Subroto No. 31 Jakarta Pusat 10210 Telp. : 021-5704395 Ext.id . : 021-5705376 e-mail : litbang@bpk.657/104 Fax.Direktorat Penelitian dan Pengembangan Badan Pemeriksa Keuangan Gd.

Apabila rumah sakit tidak mempunyai jarum yang sekali pakai (disposable).10. 4) Jarum dan syringes harus dipisahkan sehingga tidak dapat digunakan kembali. 2) Setiap rumah sakit harus mengelola dan mengawasi penggunaan bahan kimia yang berbahaya dan beracun. Wadah tersebut harus anti bocor.1 PERSYARATAN DAN TATA LAKSANA PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH SAKIT (Berdasarkan KEPMENKES RI NO. 5) Limbah medis padat yang akan dimanfaatkan kembali harus melalui proses sterilisasi sesuai Tabel 1. 2) Limbah yang akan dimanfaatkan kembali harus dipisahkan dari limbah yang tidak dimanfaatkan kembali. 4) Setiap peralatan yang digunakan dalam pengelolaan Iimbah medis mulai dari pengumpulan. 3) Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah tanpa memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya. limbah jarum hipodermik dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui proses salah satu metode sterilisasi pada Tabel 1. b Pemilahan. pengangkutan.10 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1 . PERSYARATAN 1. 6) Limbah jarum hipodermik tidak dianjurkan untuk dimanfaatkan kembali. 3) Setiap rumah sakit harus melakukan pengelolaan stok bahan kimia dan farmasi. dan pemusnahan harus melalui sertifikasi dari pihak yang berwenang . Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang 1) Pemilahan Iimbah harus dilakukan mulai dari sumber yang menghasilkan Iimbah.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2. 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit) A. Limbah Medis Padat a Minimisasi Limbah 1) Setiap rumah sakit harus rnelakukan reduksi limbah dimulai dari sumber. Untuk menguji efektifitas sterilisasi panas harus dilakukan tes Bacillus stearothermophilus dan untuk sterilisasi kimia harus dilakukan tes Bacillus subtilis. Pewadahan. anti tusuk dan tidak mudah untuk dibuka sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat membukanya.

anti bocor. 2) Cara dan teknobgl pengolahan atau pemusnahan lirnbah medis padat disesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dean jenis limbah medis padat Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2 . e Pengolahan dan pemusnahan 1) Limbah medis padat tidak diperbolehkan membuang langsung ke tempat pernbuangan akhir limbah domestik sebelurn aman bagi kesehatan. c Pengumpulan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2. dan Penyimpanan Limbah Medis Padat dl lingkungan Rumah Sakit 1) Pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan penghasil limbah menggunakan troli khusus yang tertutup.1 7) Pewadahan limbah medis padat harus memenuhi persyaratan dengan penggunaan wadah dan label seperti pada Tabel 1. Pengemasan dan Pengangkutan ke Luar Rumah Sakit 1) Pengelola harus mengumpulkan dan mengemas pada tempat yang kuat 2) Pengangkutan limbah ke luar rumah sakit menggunakan kendaraan khusus.11 8) Daur ulang tidak bisa dilakukan oleh rumah sakit kecuali untuk pemulihan gerak yang dihasilkan dari proses film sinar X 9) Limbah sitotoksis dikumpulkan dalam wadah yang kuat. d Pengumpulan. dan diberi label bertuliskan 'Limbah Sitotoksis'. Pengangkutan. 2) Penyimpanan limbah medis padat harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam.

Limbah Gas Standar lirnbah gas (emisi) dari pengolahan pemusnah limbah medis padat dengan insinerator mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep13/MenLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Surnber Tidak Bergerak.1 yang ada. 2) Dalam keadaan normal harus dilakukan pengendalian serangga dan binatang pengganggu yang lain minimal satu bulan sekali. dan Pengangkutan 1) Bila di tempat pengumpulan sementara tingkat kepadatan lalat lebih dari 20 ekor per-block grill atau tikus terlihat pada siang hari.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2. 4. b) Bila kepadatan lalat di sekitar tempat limbah padat melebihi 2(dua) ekor perblock grill. b Pengumpulan. 2) Tempat pewadahan a) Setiap tempat pewadahan limbah padat harus dilapisi kantong plastik warna hitam sebagai pembungkus lirnbah padat dengan Iambang "domestik' warna putih. c Pengolahan dan Pemusnahan Pengolahan dan pemusnahan lirnbah padat non-medis harus dilakukan sesuai persyaratan kesehatan. harus dillakukan pengendalian. Limbah Cair Kualitas limbah (efluen) rumah sakit yang akan dibuang ke badan air atau lingkungan harus memenuhi persyaratan baku mutu efluen sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep-58/MENLH/12/1995 atau peraturan daerah setempat. Limbah Medis Padat a. Penyimpanan. Minimisasi limbah 1) Menyeleksi bahan-bahan yang kurang rnenghasilkan limbah sebelum membelinya. Limbah Non Medis Padat a Pemilahan dan Pewadahan 1) Pewadahan limbah padat non-medis harus dipisahkan dari limbah medis padat dan ditampung dalam kantong plastik warna hitam. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3 . dengan pemanasan menggunakan otoklaf atau dengan pembakaran menggunakan insinerator. perlu dilakukan pengendalian lalat. 2. Tata Laksana 1. 3) Mengutamakan metode pembersihan secara fisik daripada secara kimiawi. B. 2) Menggunakan sedikit mungkin bahan-bahan kimia. 3.

limbah sitotoksis. misalnya fiberglass. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4 . tahan karat. 9) Mengecek tanggal kadaluarsa bahan-bahan pada saat diantar oleh distributor. kedap air. 2) Tempat pewadahan limbah medis padat : Terbuat dari bahan yang kuat. Pemilahan. 7) Menggunakan bahan-bahan yang diproduksi lebih awal untuk rnenghindari kadaluarsa. Kantong plastik diangkat setiap hari atau kurang dari sehari apabila 2/3 bagian telah terisi limbah. dan kontainer. 4) Alat-alat lain yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasl adalah radionukleida yang telah diatur tahan lama untuk radioterapi seperti pins. needles. Di setiap surnber penghasil limbah medis harus tersedia tempat pewadahan yang terpisah dengan limbah padat non-medis. limbah patologi. Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang 1) Dilakukan pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang terdiri dari limbah infeksius. limbah farmasi. limbah benda tajam. jarurn hipodermik. 3) Bahan atau alat yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi meliputi pisau bedah (scalpel). c. syringes. cukup ringan. limbah kontainer bertekanan. 8) Menghabiskan bahan dari setiap kemasan. Tempat Penampungan Sementara 1) Bagi rumah sakit yang mernpunyai insinerator di lingkungannya harus membakar limbahnya selambat-larnbatnya 24 jam. 5) Apabila sterilisasi yang dilakukan adalah sterilisasi dengan ethyleneoxide. botol gelas. Oleh karena gas tersebut sangat berbahaya maka sterillasi harus dilakukan oleh petugas yang terlatih. Sedangkan sterilisasi dengan glutaradehyde lebih aman dalam pengoperasiannya tetapi kurang efektif secara rnikrobiologi. 6) Memesan bahan-bahan sesuai kebutuhan. dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya. limbah radioaktif. maka tanki reaktor harus dikeringkan sebelum dilakukan injeksi ethylene oxide. 5) Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku sampai menjadi limbah bahan berbahaya dan beracun. Pewadahan.1 4) Mencegah bahan-bahan yang dapat menjadi limbah seperti dalam kegiatan perawatan dan kebersihan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2. Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada tempat khusus (safety box) seperti botol atau karton yang aman. b. atau seeds. limbah kimiawi. 6) Upaya khusus harus dilakukan apabila terbukti ada kasus pencemaran spongiform encephalopathies. Tempat pewadahan Iimbah medis padat infeksius dan sitotoksik yang tidak langsung kontak dengan limbah harus segera dibersihkan dengan larutan disinfektan apabila akan dipergunakan kembali. sedangkan untuk kantong plastik yang telah dipakai dan kontak langsung dengan limbah tersebut tidak boleh digunakan lagi. dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi.

000ºC. dan g) Sarung tangan khusus (disposable gloves atau heavy duty gloves). dan inersisasi. e. residunya dapat dibuang ke tempat pembuangan B3 atau dibuang ke landfill jika residunya sudah aman. dan Pembuangan Akhir Limbah Padat 1) Limbah Infeksius dan Benda Tajam a) Limbah yang sangat infeksius seperti biakan dan persediaan agen infeksius dari laboratorium harus disterilisasi dengan pengolahan panas dan basah seperti dalam autoclave sedini mungkin. d. dan degradasi kimia. supaya dimusnahkan melalui insinerator pada suhu di atas 1.1 2) Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai insinerator. b) Pembuangan yang dianjurkan adalah dikembalikan ke perusahaan penghasil atau distributornya. b) Benda tajam harus diolah dengan insinerator bila memungkinkan. sanitary landfill. b) Masker. insinerasi pada suhu tinggi. c) Pelindung mata. 2) Kantong limbah rnedis padat harus aman dari jangkauan manusia maupun binatang. Tetapi dalam jumlah besar harus di menggunakan fasilitas pengolahan yang khusus seperti rotary kiln. dibuang ke sarana air limbah atau inersisasi. 2) Limbah Farmasi a) Limbah farmasi dalam jumlah kecil dapat diolah dengan insinerator pirolitik (pyrolytic incinerator). Pengolahan. e) Apron untuk industri. d) Pakaian panjang (coverall). Untuk limbah infeksius yang lain cukup dengan cara disinfeksi. c) Setelah insinerasi atau disinfeksi. harus rnenggunakan alat pelindung diri yang terdiri atas: a) Topi/helm. 3) Limbah Sitotoksis a) Limbah sitotoksis sangat berbahaya dan tidak boleh dibuang dengan penimbunan (landfill) atau ke saluran limbah umum. Pemusnahan. dan dapat diolah bersama dengan limbah infeksius lainnya. 3) Petugas yang menangani limbah.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2. maka limbah medis padatnya harus dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit lain atau pihak lain yang mempunyai insinerator untuk dilakukan pemusnahan selambatlambatnya 24 jam apabila disimpan pada suhu ruang. kapsulisasi dalam drum logam. Bahan yang belum dipakai dan kemasannya masih utuh karena kadaluarsa harus Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5 . Kapsulisasi juga cocok untuk benda tajam. sedangkan bila dalam jumlah sedikit dan tidak memungkinkan dikembalikan. Transportasi 1) Kantong limbah medis padat sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut harus diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutup. b) Limbah padat farmasi dalam jumlah besar harus dikembalikan kepada distributor. rotary kiln (dikubur bersama secara aman). f) Pelindung kaki/sepatu boot.

000ºC dengan waktu tinggal 5 detik di tungku kedua sangat cocok untuk bahan ini dan dilengkapi dengan penyaring debu. tumpahan atau cairan biologis yang terkontaminasi agen antineoplastik. atau inersisasi dapat dipertimbangkan sebagai cara yang dapat dipilih. penghilangan nitrogen dengan asam bromida. i) Insinerasi maupun degradasi kimia tidak merupakan solusi yang sempurna untuk pengolahan limbah. c) Insinerasi pada suhu tinggi sekitar 1. kapsulisasi. atau ditimbun (landfill). suhu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan limbah kimia berbahaya : j) Apabila cara insinerasi maupun degradasi kimia tidak tersedia.1 dikembalikan ke distributor apabila tidak ada insinerator dan diberi keterangan bahwa obat tersebut sudah kadaluarsa atau tidak lagi dipakai. kapsulisasi Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 6 . c) Pembuangan Limbah Kimia Berbahaya Dalam Jumlah Besar Tidak ada cara pembuangan yang aman dan sekaligus murah untuk limbah berbahaya. dan garam tertentu dapat dibuang ke saluran air kotor. atau reduksi dengan nikel dan aluminium. e) Insinerator juga harus dilengkapi dengan peralatan pembersih gas. atau dikirim ke negara lain yang mempunyai peralatan yang cocok untuk mengolahnya. Namun demikian. Oleh karena itu.200ºC dibutuhkan untuk menghancurkan semua bahan sitotoksik. d) Insinerator pirolitik dengan 2 (dua) tungku pembakaran pada suhu 1. Insinerasi pada suhu rendah dapat menghasilkan uap sitotoksik yang berbahaya ke udara. dan pH. rumah sakit harus berhati-hati dalam menangani obat sitotoksik. Limbah tertentu yang bisa dibakar seperti bahan pelarut dalam jumlah besar seperti pelarut halogenida yang mengandung klorin atau florin tidak boleh diinsinerasi kecuali insineratornya dilengkapi dengan alat pembersih gas. f) Insinerator dengan satu tungku atau pembakaran terbuka tidak tepat untuk pembuangan limbah sitotoksis. asam amino. Insinerasi juga memungkinkan dengan rotary kiln yang didesain untuk dekomposisi panas limbah kimiawi yang beroperasi dengan baik pada suhu di atas 850 ºC. 4) Limbah Bahan Kimiawi a) Pembuangan Limbah Kimia Biasa Limbah kimia biasa yang tidak bisa didaur ulang seperti gula. d) Cara lain adalah dengan mengembalikan bahan kimia berbahaya tersebut ke distributornya yang akan menanganinya dengan aman.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2.200ºC dengan minimum waktu tinggal 2 detik atau suhu 1. Pembuangannya lebih ditentukan kepada sifat bahaya yang dikandung oleh limbah tersebut. pembuangan tersebut harus memenuhi persyaratan konsentrasi bahan pencemar yang ada seperti bahan melayang. b) Pembuangan Limbah Kimia Berbahaya Dalam Jumlah Kecil Limbah bahan berbahaya dalam jumlah kecil seperti residu yang terdapat dalam kemasan sebaiknya dibuang dengan insinerasi pirolitik. h) Cara kimia relatif mudah dan aman meliputi oksidasi oleh kalium permanganat (KMnO4) atau asam sulfat (H2SO4). g) Metode degradasi kimia yang mengubah senyawa sitotoksik menjadi senyawa tidak beracun dapat digunakan tidak hanya untuk residu obat tapi juga untuk pencucian tempat urin tumpahan dan pakaian pelindung.

b) Cara pembuangan yang tidak diperbolehkan adalah pembakaran atau insinerasi karena dapat meledak. Limbah kimia disinfektan dalam jumlah besar tidak boleh dikapsulisasi karena sifatnya yang korosif dan mudah terbakar. 7) Limbah Radioaktif Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7 . • • • 5) Limbah dengan Kandungan Logam Berat Tinggi a) Limbah dengan kandungan mercuri atau kadmium tidak boleh dibakar atau diinsinerasi karena berisiko mencemari udara dengan uap beracun dan tidak boleh dibuang ke landfill karena dapat mencemari air tanah. udara bertekanan. 6) Kontainer Bertekanan a) Cara yang terbaik untuk menangani limbah kontainer bertekanan adalah dengan daur ulang atau penggunaan kembali. • Kontainer yang masih utuh Kontainer-kontainer yang harus dikembalikan ke penjualnya adalah: Tabung atau silinder nitrogen oksida yang biasanya disatukan dengan peralatan anestesi.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2. Agen halogenida dalam bentuk cair dan dikemas dalam botol harus diperlakukan sebagai limbah bahan kimia berbahaya untuk pembuangannya. Limbah kimia berbahaya dalam jumlah besar tidak boleh ditimbun karena dapat mencemari air tanah. Limbah padat bahan kimia berbahaya cara pembuangannya harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada instansi yang berwenang. karbon dioksida. hidrogen. Bila tidak memungkinkan. • Kaleng aerosol Kaleng aerosol kecil harus dikumpulkan dan dibuang bersama dengan limbah biasa dalam kantong plastik hitam dan tidak untuk dibakar atau diinsinerasi. Tabung bertekanan untuk gas lain seperti oksigen. dan asetilin. Bila hanya dalam jumlah kecil dapat dibuang dengan limbah biasa. limbah dibuang ke tempat penyimpanan yang aman sebagai pembuangan akhir untuk limbah industri yang berbahaya. Cara lain yang paling sederhana adalah dengan kapsulisasi kemudian dilanjutkan dengan landfill.1 • Limbah berbahaya yang komposisinya berbeda harus dipisahkan untuk menghindari reaksi kimia yang tidak diinginkan. b) Cara yang disarankan adalah dikirim ke negara yang mempunyai fasilitas pengolah limbah dengan kandungan logam berat tinggi. siklopropana. Tabung atau silinder etilin oksida yang biasanya disatukan dengan peralatan sterilisasi. nitogen. Kaleng aerosol dalam jumlah banyak sebaiknya dikembalikan ke penjualnya atau ke instalasi daur ulang bila ada. • Kontainer yang sudah rusak Kontainer yang rusak tidak dapat diisi ulang harus dihancurkan setelah dikosongkan kemudian baru dibuang ke landfill. Apabila masih dalam kondisi utuh dapat dikembalikan ke distributor untuk pengisian ulang gas. Limbah ini tidak boleh dimasukkan ke dalam kantong kuning karena akan dikirim ke insinerator. gas elpiji.

- - g) lnformasi yang harus dicatat pada setiap kontainer limbah : Nomor identifikasi. laboratorium. Sumber tertutup atau terbuka seperti sumber tertutup yang dihabiskan. cocok untuk penyimpanan pelapukan. Kategori yang rnemungkinkan adalah: - Umur paruh (halftime) seperti umur pendek (short lived).1 a) Pengelolaan limbah radioaktif yang aman harus diatur dalam kebijakan dan strategi nasional yang menyangkut peraturan. Kuat dan saniter.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2. - h) Kontainer untuk Iimbah padat harus dibungkus dengan kantong plastik transparan yang dapat ditutup dengan isolasi plastik Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 8 . dan kontainer limbah tersebut harus : Secara jelas didentifikasi Ada simbol radioaktif ketika sedang digunakan Sesuai dengan kandungan limbah. Sistem pencatatan yang baik akan rnenjarnin pelacakan limbah radioaktif dalam pengiriman maupun pernbuangannya dan selalu diperbarui datanya setiap waktu. d) Instrumen kalibrasi yang tepat harus tersedia untuk monitoring dosis dan kontaminasi. pengkondisian. beracun). Orang yang bertanggung jawab. Radionuklida. Aktifitas (jika diukur atau diperkirakan) dan tanggal pengukuran. c) Tenaga tersebut bertanggung jawab dalam pemakaian bahan radioaktif yang aman dan melakukan pencatatan. f) Setelah pemilahan. Angka dosis permukaan dan tanggal pengukuran. setiap kategori harus disimpan terpisah dalam kontainer. Aktifitas dan kandungan radionuklida. (misalnya umur paruh 4100 hari). b) Setiap rumah sakit yang menggunakan sumber radioaktif yang terbuka untuk keperluan diagnosa. Tidak hornogen (seperti mengandung lumpur atau padatan yang melayang). organisasi pelaksana dan tenaga yang terlatih. Kandungan limbah seperti limbah yang mengandung bahan berbahaya (patogen. penyimpanan. Cair: berair dan organik. Bentuk fisika dan kimia. dan pembuangan. terapi atau penelitian harus menyiapkan tenaga khusus yang terlatih khusus di bidang radiasi. atau tempat lain). infeksius. Padat: mudah terbakar/tidak mudah terbakar (bila ada) dan dapat dipadatkan/tidak mudah dipadatkan (bila ada). Dapat diisi dan dikosongkan dengan aman. e) Limbah radioaktif harus dikategorikan dan dipilah berdasarkan ketersediaan pilihan cara pengolahan. Asal limbah (ruangan. infrastruktur.

cukup ringan. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 9 . Limbah yang rnasih dapat dimanfaatkan hendaknya dirnanfaatkan kembali untuk limbah padat organik dapat diolah menjadi pupuk. dan mernpunyai permukaan yang mudah dibersihkan pada bagian dalamnya. mengubah bentuk atau memusnahkan limbah padat dilakukan pada sumbemya. 3) Terdapat minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan kebutuhan.1 i) Limbah padat radioaktif dibuang sesuai dengan persyaratan teknis dan peraturan perundang-undangan yang berlaku (PP Nomor 27 Tahun 2002) dan kemudian diserahkan kepada BATAN untuk penanganan lebih lanjut atau dikembalikan kepada negara distributor. 2) Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan. Limbah Padat Non Medis a Pemilahan Limbah Padat Non Medis 1) Dilakukan pemilahan Iimbah padat non medis antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali 2) Dilakukan pemilahan limbah padat non medis antara limbah basah dan limbah kering b Tempat Pewadahan Limbah Padat Non Medis 1) Terbuat dari bahan yang kuat. d Tempat Penampungan Limbah Padat Non Medis Sementara 1) Tersedia tempat penampungan limbah padat non medis yang sementara dipisahkan antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. c Pengangkutan Pengangkutan limbah padat domestik dari setiap ruangan ke tempat penampungan sementara menggunakan troli tertutup. Tempat tersebut tidak merupakan sumber bau dan lalat bagi lingkungan sekitarnya dan dilengkapi saluran untuk cairan lindi. 4) Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 3 x 24 jam atau apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah. bertutup dan selalu dalam keadaan tertutup bila sedang tidak diisi serta mudah dibersihkan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2. tahan karat. 2. kedap air. e Pengolahan Limbah Padat Upaya untuk mengurangi volume. maka harus diangkut supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang penganggu. misalnya fiberglass. atau badan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. f Lokasi Pembuangan Limbah Padat Akhir Limbah padat umum (domestik) dibuang ke lokasi pembuangan akhir yang dikelola oleh pemerintah daerah (Pemda). 2) Ternpat penampungan sementara limbah padat harus kedap air. Semua jenis Iimbah medis termasuk limbah radioaktii tidak boleh dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah domestik (landfill) sebelum dilakukan pengolahan terlebih dahulu sampai memenuhi persyaratan. 4) Dikosongkan dan dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam. 3) Terletak pada Iokasi yang mudah dijangkau kendaraan pengangkut limbah padat.

Frekuensi pemeriksaan kualitas lirnbah cair terolah (effluent) dilakukan satu bulan sekali untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.1 3. c. volume. kedap air. dan dioksin dilakukan minimal satu kali setahun. d. Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus dilengkapi/ditutup dengan grill.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 2. Melakukan penghijauan dengan menanam pohon yang banyak memproduksi gas oksigen dan dapat menyerap debu. yang dihasilkan. 4. Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau terkena zat radioaktif. Monitoring limbah gas berupa NO2. Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersama-sama secara kolektif dengan bangunan di sekitamya yang memenuhi persyaratan teknis. S02. Dilengkapi alat untuk rnengurangi emisi gas dan debu. dan limbah harus mengalir dengan lancar. Pengelolaan limbah medis rumah sakit secara rinci mengacu pada pedoman pengelolaan limbah medis sarana pelayanan kesehatan. apabila belum ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah perkotaan. dan prosedur penanganan dan penyimpanannya. d. dan mengurangi jelaga. a. bila tidak mempunyai IPAL harus dikelola sesuai ketentuan yang berlaku melalui kerjasama dengan pihak lain atau pihak yang berwenang. Limbah Cair Limbah cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia dan radiologi. Air limbah yang berasal dari labatorium harus diolah di lnstalasi Pengolahan Air Limbah f. g. Saluran pembuangan limbah harus rnenggunakan sistem saluran tertutup. b. Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang dipergunakan oleh rumah sakit yang bersangkutan. dioksin. c. 5. b. h. virus. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 10 . Suhu pembakaran minimum 1000°C untuk pemusnahan bakteri patogen. Limbah Gas a. serta terpisah dengan saluran air hujan. Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian limbah e. logam berat. (IPAL). pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan BATAN.

pemeriksa pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD berdasarkan SPKN.1 PEMAHAMAN TUJUAN DAN HARAPAN PENUGASAN (Contoh) I. . Teliti lebih lanjut pertanggungjawaban pengelolaan limbah yang berpengaruh kepada lingkungan hidup Teliti lebih lanjut pelaksanaan kegiatan pengelolaan limbah apakah telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan memenuhi prinsip ekonomis. • • Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 1 .. II...Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.... 3... o 3... yang perlu diteliti lebih lanjut: o 1. o 2... .. • Tindak lanjut pemeriksaan sebelumnya. Tujuan Penugasan Tujuan pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD untuk menilai apakah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) telah melakukan pengelolaan limbah rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Fokus dan Sasaran Pemeriksaan Berdasarkan hasil pemeriksaan atas pengelolaan limbah RSUD periode sebelumnya... efisien dan efektif... Jadwal Waktu Pemeriksaan Pemeriksaan pengelolaan limbah RSUD dilaksanakan sesuai dengan rencana kerja pemeriksaan dengan mempertimbangkan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) dan harapan penugasan. .. Standar Pemeriksaan 2. melakukan 1. Jangka waktu tersebut meliputi pemeriksaan lapangan sampai dengan penyampaian pelaporan hasil pemeriksaan kepada DPRD dan Pemerintah Daerah. pemeriksa menentukan sasaran dan fokus pemeriksaan. Harapan Penugasan Dalam rangka pencapaian tujuan pemeriksaan di atas.

.......... . Ketua Tim......... Pengendali Teknis............ ............ Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 2 ..... Rencana Pencapaian Hasil Pemeriksaan yang Diharapkan Rencana pencapaian hasil pemeriksaan diarahkan untuk dapat memenuhi harapan BPK dalam mendukung pelestarian lingkungan hidup dengan memberikan rekomendasi yang bermanfaat bagi pengguna laporan hasil pemeriksaan dan masyarakat Penyelesaian pemeriksaan dan laporan hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut Kegiatan Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD (pengujian substantif) Penyampaian Temuan Pemeriksaan Waktu Keterangan Sudah termasuk pembahasan dengan pejabat yang berwenang dan sudah diperoleh tanggapan resmi dan tertulis........ .............................................Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.....1 III. .......... Penanggung Jawab.. Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan Pengelolaan Limbah RSUD Jakarta....

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Kekuatan Lingkungan III. serta Lembaga Lain Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1 . Tren yang Signifikan IV. Gambaran Jelas Mengenai Bidang Kerja Entitas II. Hubungan dengan DPRD dan BPK.2 PEMAHAMAN ENTITAS I.

Dampak dari Lingkungan Entitas terhadap Risiko Bidang Kerja Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2 . Masyarakat IX. Faktor Sosial dan Politik yang Mempengaruhi RSUD VIII.2 V. Dasar Hukum dan Peraturan yang Mempengaruhi VII. Sumber Pendapatan dan Pembiayaan VI.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Pengaruh Stakeholder (Pemangku Kepentingan): DPRD.

Pejabat Nama Jabatan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3 .Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.2 X.

(SEBELUMNYA) Pemantauan Tindak Lanjut No. tetapi belum selesai (dipantau) Belum Ditindaklanjuti sesuai rekomendasi & Alasannya Pengaruh terhadap pengelolaan limbah yang diperiksa Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4 .Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Rekomendasi BPK-RI Sudah Ditindaklanjuti Sesuai Rekomendasi Sudah Ditindaklanjuti. tetapi belum sesuai rekomendasi Sudah ditindaklanjuti.2 PEMANTAUAN TINDAK LANJUT LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS PENGELOLAAN LIMBAH RSUD TAHUN ….

jika terlalu banyak akan menghambat kerja bakteri pengurai) Aerasi tidak berlangsung optimal Sedimentasi akan mengurangi kapasitas bak pengolah Parameter limbah cair olahan (effluent) melebihi baku mutu Parameter lumpur kering hasil residu IPAL melebihi baku mutu Kapasitas berlebih limbah cair dibandingakan pengolah air limbah (IPAL) atau overflow sarana   3 Proses pengolahan limbah          Pencemaran badan air dan pencemaran udara di sekitar IPAL Tidak memiliki izin pengolahan limbah cair dari instansi yang berwenang Limbah Padat Medis: Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1 . kapasitas bak/kontainer/kantong penampungan sementara tidak memadai (tidak kuat atau tidak tahan bocor). medis bercampur dengan limbah padat   2 Proses pengumpulan limbah      3 Proses penyimpanan limbah   terjadi kebocoran berupa materi dan bau. UKL-UPL mengakibatkan manajemen RSUD tidak mempunyai dasar yang memadai dalam proses pengambilan keputusan tentang kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sesuai dengan yang dipersyaratkan Ada urutan/prosedur penanganan yang sengaja dihilangkan atau tidak dimasukkan ke dalam manual perencanaan Ada upaya/rencana bypassing langsung ke lingkungan tanpa proses pengolahan/netralisasi limbah padat bercampur dengan limbah cair. dan ceceran pada saat penyimpanan limbah padat medis (contoh: obat-obatan dan perlengkapan medis yang tidak/telah terpakai) pemungutan sampah medis maupun nonmedis oleh pihak ketiga (misalnya: pemulung) tempat berkembang biaknya bakteri Limbah Cair: Komponen pengolahan tidak berfungsi Khlorinasi/desinfeksi tidak berlangsung optimal (jika pemberian disinfektan terlalu sedikit masih terdapat kuman berbahaya.Juknis Pemeriksaan Limbah RSUD Lampiran 3.3 PEMAHAMAN RISIKO YANG DITIMBULKAN DARI AKTIVITAS PENGELOLAAN LIMBAH RSUD No. limbah padat nonmedis. 1 Jenis Kegiatan Kegiatan perencanaan penanganan limbah  Risiko Tidak adanya AMDAL. terjadinya penyumbatan pada saluran menuju inlet IPAL penumpukan limbah padat medis di tempat penyimpanan terjadinya pengemasan ulang. pemberian/penggunaan kembali untuk pasien. kontaminasi penyakit menular antar pasien.

perbaikan dan 4 Proses pemantauan dan pengawasan pengelolaan limbah    Tidak dilakukannya pemeriksaan air limbah (inlet dan outlet). Tidak tersedianya biaya pemeliharaan. Jenis Kegiatan      Risiko tidak dilakukan pemusnahan pemusnahan tidak dilakukan pada incinerator Pemusnahan dengan dilaksanakan setiap hari menggunakan tidak incinerator terisolir/jauh tidak dari incinerator/tempat pemusnahan komunitas atau fasilitas RSUD incinerator tidak layak/tidak berfungsi/kurang sehingga menimbulkan pencemaran berfungsi  parameter emisi hasil pembakaran pada incinerator melebihi baku mutupembuangan abu/debu incinerator yang masih mengandung logam berat atau B3 tidak layak sehingga masih menimbulkan pencemaranTidak memiliki izin pengolahan limbah B3 dari instansi yang berwenang. lumpur kering hasil residu IPAL. Kemahalan harga pengadaan. emisi insenerator dan udara ambien secara berkala kepada laboratorium setempat. 5 Proses pengadaan barang dan jasa untuk pengelolaan limbah RSUD    Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2 . penambahan kapasitas pengelolaan limbah. Kekurangan personil dalam tim/unit pengelola limbah yang melakukan pemantauan dan pengawasan. Sarana pengelolaan limbah yang telah diadakan tidak dimanfaatkan. Kekurangan pekerjaan.3 No.Juknis Pemeriksaan Limbah RSUD Lampiran 3.

1. Organisasi a.4a Contoh Pemahaman SPI (dengan pendekatan OKP6*) No. apakah budaya Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1 . pimpinan RSUD telah menetapkan jumlah pegawai yang sesuai dengan kebutuhan. pengalaman dan pelatihan guna pelaksanaan tugas mereka terutama yang terkait dengan pengelolaan limbah. baik formal maupun informal. pimpinan RSUD dan para pegawainya memiliki pengetahuan. langsung maupun tidak langsung telah dilakukan secara efektif dan dapat memberikan informasi yang memadai kepada para pimpinan RSUD (10)Apakah (11)Apakah (12)Apakah b. mekanisme pelaporan pengelolaan limbah yang ada. Struktur Organisasi Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan (1) (2) Apakah RSUD mempunyai unit kerja/tim yang secara khusus bertanggung jawab atas pengelolaan limbah Apakah RSUD mempunyai unit kerja yang secara khusus bertanggung jawab atas pemantauan baku mutu hasil pengolahan limbah (3) Apakah pimpinan RSUD menganggap penting fungsi unit pengelolaan limbah (4) (5) (6) (7) (8) (9) Apakah pimpinan RSUD telah menyesuaikan unit tersebut dengan ukuran dan sifat kegiatan pengelolaan limbah Apakah pimpinan RSUD telah memberikan kejelasan wewenang dan tanggung jawab dalam kegiatan pengelolaan limbah Apakah uraian tugas pengelolaan limbah pada unit kerja tersebut dibuat dengan jelas Apakah pimpinan RSUD telah memberikan kejelasan hubungan dan jenjang pelaporan intern dalam kegiatan pengelolaan limbah Apakah ada koordinasi yang jelas antara unit-unit kerja yang terkait dengan pengelolaan limbah Apakah pimpinan RSUD telah melaksanakan evaluasi dan penyesuaian secara periodik terhadap struktur organisasi sehubungan dengan perubahan lingkungan stratejik.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Integritas dan Nilai Etika (1) Apakah pimpinan RSUD telah menyusun dan menerapkan aturan perilaku (kode etik) terutama dalam pengelolaan limbah (2) Apakah kode etik tersebut telah disosialisasikan kepada seluruh personil (3) (4) Apakah para personil memahami tindakan yang etis dan atau tidak etis dan mengetahui apa yang harus dilakukan dalam menyikapi penyimpangan tersebut? Apabila tidak ada kode etik tertulis.

Personalia a. Kebijaksanaan a. pengangkutan) limbah padat medis dan non medis. bertatap muka. f. Apakah RSUD mempunyai kebijakan mengenai pengelolaan limbah.4a No. promosi dan penggajian pegawai pengelolaan limbah Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2 . atau pelanggaran terhadap aturan perilaku yang mengganggu efektivitas pengelolaan limbah Apakah pimpinan RSUD telah menjelaskan dan mempertanggungjawabkan atas adanya intervensi atau pengabaian pengendalian intern yang mengganggu efektivitas pengelolaan limbah Apakah pimpinan RSUD telah peluang/godaan untuk berperilaku tidak etis menghilangkan (7) (8) (9) Apakah pimpinan RSUD memberikan tindakan disiplin yang memadai terhadap pelanggaran kode etik tindakan disiplin tersebut dikomunikasikan secara luas sehingga menimbulkan dampak menjerakan (deterrent effect) tindakan tersebut didokumentasikan dan dijelaskan secara memadai (10)Apakah (11)Apakah 2. pelatihan. Apakah RSUD memiliki kebijakan pelaporan pengelolaan limbah kepada instansi yang terkait e. atau contoh dalam kegiatan seharihari) dapat mendorong terciptanya integritas dan perilaku bermoral Ya Tidak Catatan (5) (6) Apakah pimpinan RSUD telah memberikan keteladanan atas pelaksanaan aturan perilaku tersebut di atas kepada setiap tingkatan dalam organisasi Apakah pimpinan RSUD telah menegakkan tindakan disiplin yang tepat. Apakah RSUD telah mengevalusasi pelaksanaan kebijakankebijakan tersebut 3. c.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. pengolahan. Apakah RSUD mempunyai kebijakan perencanaan pemilihan bahan-bahan ramah limbah. d. atas penyimpangan terhadap kebijakan/prosedur. seperti SOP pengelolaan (pengumpulan. dsb Apakah RSUD mempunyai kebijakan mengenai baku mutu hasil pengolahan limbah Apakah RSUD memiliki pengelolaan limbah kebijakan rekrutmen personil kegiatan b. Kebijakan dan Praktik Sumber Daya Manusia (1) (2) Apakah kepala RSUD melakukan pengujian tentang bagaimana pelaksanaan rekrutmen dan mempertahankan pegawai pengelolaan limbah yang handal Apakah terdapat prosedur dan kebijakan tertulis dalam penggunaan. SOP pengelolaan limbah cair. Pemahaman SPI manajemen (misalnya melalui komunikasi lisan pada saat rapat.

misi. misi. tujuan. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan (3) Jika tidak ada praktik dan kebijakan tertulis. Komitmen terhadap Kompetensi (1) Apakah telah terdapat job description yang menjelaskan tugas pegawai pengelolaan limbah Apakah manajemen RSUD telah melakukan analisa perlu/tidaknya supervisi atau pelatihan mengenai pengelolaan limbah Apakah terdapat ketentuan mengenai tingkat kompetensi (pengetahuan dan keahlian) yang dibutuhkan untuk pegawai pengelolaan limbah Apakah ada bukti yang dapat meyakinkan bahwa seorang pegawai pengelolaan limbah telah ditempatkan sesuai keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan (2) (3) (4) 4. dan sasaran tersebut cukup spesifik dan dapat diaplikasikan pada unit tersebut (3) Apakah rencana strategis mendukung visi. (10)Apakah (11)Apakah nilai etika dan integritas merupakan kriteria dalam penilaian kinerja ada pengecekan yang memadai terhadap latar belakang calon pegawai pengelolaan limbah. apakah manajemen RSUD mengkomunikasikan ekspektasi tentang orang yang akan dipekerjakan atau berpartisipasi secara langsung dalam proses pemilihan tersebut (4) (5) (6) (7) (8) Apakah setiap pegawai pengelolaan limbah menyadari tanggung jawab dan ekspektasi terhadap mereka Apakah pegawai pengelolaan limbah yang baru diberikan pengertian tentang tanggung jawab dan ekspektasi terhadap mereka Apakah para supervisor dan pimpinan RSUD bertemu dengan para pegawai secara berkala guna mereviu kinerja mereka dan memberikan saran-saran perbaikan Apakah terdapat tindakan manajemen RSUD yang memadai untuk merespon penyimpangan terhadap kebijakan dan prosedur yang ada Apakah para pegawai mengerti bahwa kinerja yang buruk memiliki dampak bagi organisasi (9) Apakah kebijakan personalia mengacu pada standar etika yang memadai.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. khususnya menyangkut pekerjaan yang pernah dilakukan calon pegawai tersebut b. tujuan. dan sasaran (2) Apakah visi.4a No. misi. Penetapan Tujuan Organisasi (1) Apakah pimpinan RSUD telah menetapkan tujuan umum unit pengelolaan limbah dalam bentuk visi. Perencanaan a. tujuan. dan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3 .

Prosedur a. Pendokumentasian (1) Apakah seluruh hasil pelaksanaan pengelolaan limbah telah didokumentasikan dengan baik (2) Apakah dokumentasi tersebut selalu tersedia kepentingan pengendalian dan pengawasan untuk Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4 . apakah manajemen RSUD (6) Apakah (7) Apakah 5. Memisahkan tugas atau fungsi (1) (2) c.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Pemahaman SPI sasaran unit pengelolaan limbah Ya Tidak Catatan (4) Apakah (5) Apakah b.4a No. rencana strategis memperhatikan alokasi sumber daya dan skala prioritas penyusunan dan persetujuan rencana strategis dan anggaran melalui berbagai tingkatan manajemen RSUD Penetapan Tujuan Operasional Entitas (1) Apakah (2) Apakah semua aktivitas pengelolaan limbah sudah sejalan dengan tujuan operasional RSUD semua aktivitas pengelolaan limbah telah direviu secara periodik untuk memastikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut tidak menyimpang dari tujuan operasional dan rencana strategis RSUD tujuan pengelolaan limbah sudah konsisten dengan best practices sumber daya yang diperlukan untuk mendukung pencapaian tujuan pengelolaan limbah sudah diidentifikasikan sudah mempunyai rencana untuk memperolehnya (3) Apakah (4) Apakah (5) Jika sumber daya belum tersedia. Apakah ada pemisahan kewenangan dan tanggungjawab pegawai pengelolaan limbah Apakah penugasan telah dilakukan dengan memperhatikan efektifitas mekanisme chek and balance. Menetapkan dan memantau indikator dan ukuran kinerja kepala RSUD sudah mengidentifikasikan hal-hal yang harus dicapai untuk mencapai tujuan pengelolaan limbah ada pemantauan kinerja pengelolaan limbah secara reguler oleh kepala RSUD (1) Apakah (2) Apakah indikator dan ukuran kinerja pengelolaan limbah telah dibuat dan ditetapkan indikator tersebut telah direviu dan divalidasi secara periodik (3) Apakah ada pembandingan antara tujuan/target yang akan dicapai dengan kinerja aktual (4) Apakah hasil pembandingan tersebut dianalisa b.

berguna bagi proses evaluasi. (3) (4) KESIMPULAN: *) OKP6 : Organisasi. perkiraan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Perencanaan. 8. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5 . Apakah kegiatan pengelolaan limbah dilaporkan secara periodik kepada kepala RSUD Apakah informasi yang dilaporkan tesebut tepat waktu dan tepat guna sehingga membantu kepala RSUD dalam mengidentifikasi permasalahan pengelolaan limbah Apakah informasi pengelolaan limbah tersedia sewaktu-waktu yang memungkinkan pemantauannya oleh manajemen c. Apakah ada mekanisme pelaporan kegiatan pengelolaan limbah dan pemantauan baku mutu hasil pengolahan limbah Pelaporan a. dan Pengawasan. analisa dan pengendalian. Prosedur. Ya Tidak Catatan d. b. Pelaporan/Pertanggungjawaban. Pelaporan (1) 7. baik tertulis maupun secara elektronis. Apakah ada mekanisme reviu dari kepala RSUD atau manajemen untuk mengawasi pencapaian kinerja unit pengelolaan limbah Apakah kepala RSUD atau manajemen mengawasi pencapaian kinerja unit pengelolaan limbah berdasarkan mekanisme tersebut Apakah tindak lanjut hasil pengawasan dilaksanakan oleh unit pengelolaan limbah Fungsi Internal Auditor (1) (2) Apakah ada auditor internal dalam RSUD Apakah auditor internal melakukan audit dan reviu atas kegiatan pengelolaan limbah Apakah pekerjaan auditor internal ditujukan pada perbaikan organisasi dan apakah telah ditetapkan prosedur yang mengatur tindak lanjut atas hasil pengawasannya.4a No. Kebijakan. rekomendasi dan konsultasi kepada manajemen. Pelaksanaan reviu oleh manajemen pada tingkat atas (top-level reviews) (1) (2) (3) b. Pengawasan a. Apakah fungsi auditor internal termasuk juga mereviu sistem dan kegiatan pengelolaan limbah serta menyediakan informasi. Pencatatan. Pegawai/Personil. Pemahaman SPI (3) Apakah dokumentasi tersebut. analisa.

1. Pemahaman SPI Lingkungan Pengendalian a. Integritas dan Nilai Etika Ya Tidak Catatan (1)Apakah (2)Apakah pimpinan/manajemen RSUD memiliki komitmen terhadap integritas dan nilai etika RSUD komperhensif memiliki kode etik yang bersifat (3)Apakah kode etik tersebut secara periodik disosialisasikan pada seluruh pegawai (4)Apakah para pegawai memahami tindakan yang etis/tidak etis dan mengetahui apa yang harus dilakukan dalam menyikapi penyimpangan (5) Apakah pimpinan/manajemen RSUD mampu memberi contoh yang baik sesuai kode etik (6) Apakah pimpinan/manajemen RSUD memberikan respon yang memadai terhadap pelanggaran kode etik (7)Apakah (8)Apakah (9)Apakah tindakan disiplin terhadap dikomunikasikan secara luas sehingga dampak menjerakan (deterrent effect) pelanggaran menimbulkan manajemen telah memiliki aturan yang jelas mengenai kemungkinan pengambilan kebijaksanaan yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku kebijaksanaan tersebut didokumentasikan dan dijelaskan secara memadai penyimpangan dari ketentuan yang ada telah diselidiki dan didokumentasikan (10)Apakah b. mengenai jenis pekerjaan dan perlu/tidaknya supervisi atau pelatihan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1 .4. baik formal maupun informal.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Komitmen terhadap Kompetensi (1)Apakah telah terdapat job description yang menjelaskan tugas suatu pekerjaan/posisi tertentu dalam pengelolaan limbah (2)Apakah manajemen entitas telah melakukan analisa.b Contoh Pemahaman SPI (dengan pendekatan COSO*) No.

Tanggung Jawab dan Wewenang (1)Apakah pimpinan RSUD telah mendelegasikan wewenang Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2 . Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan (3)Apakah terdapat ketentuan mengenai tingkat kompetensi (pengetahuan dan keahlian) yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan pengelolaan limbah (4)Apakah ada bukti yang dapat meyakinkan bahwa seorang pegawai telah ditempatkan pengetahuan yang dibutuhkan sesuai keahlian dan c. pengalaman dan pelaksanaan tugas mereka limbah memiliki pelatihan guna pelaporan yang ada. baik formal maupun informal.4. khususnya untuk kapasitas supervisor maupun manajemen (6) (7)Apakah (8)Apakah para manajer dan supervisor memiliki waktu yang memadai untuk menjalankan tanggung jawabnya secara efektif d. ke bawah maupun kepada seluruh kegiatan terkait pengelolaan limbah (4)Apakah (5)Apakah manajemen pengelolaan pengetahuan. (1)Apakah (2)Apakah pimpinan RSUD telah memahami sepenuhnya tanggung jawab pengendalian yang mereka miliki struktur organisasi menyediakan informasi yang manajemen yang dimiliki mampu memadai bagi seluruh (3)Apakah struktur tersebut dapat memfasilitasi arus informasi ke atas.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Struktur Organisasi Struktur organisasi tidak boleh terlalu sederhana sehingga pemantauan terhadap kegiatan entitas tidak akan memadai dan tidak boleh pula terlalu kompleks yang dapat mengganggu kelancaran arus informasi. langsung maupun tidak langsung telah dilakukan secara efektif dan dapat memberikan informasi yang memadai kepada manajemen sesuai tanggung jawab dan wewenang masing-masing Apakah ada mekanisme evaluasi dan kemungkinan perubahan struktur organisasi secara berkala sehubungan dengan perubahan kondisi lingkungan jumlah pegawai pengelolaan limbah yang ada telah memadai.b No.

b No. termasuk job description masing-masing pegawai pengelolaan limbah (5)Apakah job description tersebut mengatur juga tanggung jawab pengendalian (6) Apakah manajemen sudah secara terus menerus dan berkesinambungan menanamkan kesadaran kepada semua pegawai bahwa tanggung jawab pengelolaan limbah tidak hanya terletak pada bagian pengelolaan limbah saja tetapi juga pada semua pegawai? Apakah semua pegawai sudah memahaminya? e. Kebijakan dan Praktik Sumber Daya Manusia Lakukan pengujian bagaimana kebijakan manajemen dalam merekrut dan mempertahankan pegawai yang handal guna melaksanakan rencana-rencana unit pengelolaan limbah dalam rangka mencapai tujuan entitas (1)Apakah pimpinan entitas telah menetapkan kebijakan dan prosedur sejak rekrutmen sampai dengan pemberhentian dan pensiunan pegawai (2)Apakah pimpinan entitas telah melakukan penelusuran latar belakang calon pegawai pengelolaan limbah dalam proses rekrutmen (3)Apakah pimpinan entitas telah melakukan supervisi secara periodik yang memadai terhadap pegawai pengelolaan limbah (4)Apakah (5)Jika ada prosedur dan kebijakan tertulis dalam penggunaan. sesuai dengan tanggung jawabnya Ya Tidak Catatan (2)Apakah pejabat/pegawai pengelolaan limbah yang ditunjuk.4. pelatihan. memahami bahwa wewenang dan tanggung jawab yang diberikan terkait dengan pihak lain (3)Apakah pejabat/pegawai pengelolaan limbah yang ditunjuk. Pemahaman SPI kepada pejabat/pegawai pengelolaan limbah dengan tepat. memahami bahwa pelaksanaan tanggung jawab dan wewenang terkait dengan penerapan sistem pengendalian intern (4)Apakah ada standar dan prosedur yang terkait dengan pengendalian.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. promosi dan penggajian pegawai pengelolaan limbah tidak ada praktik dan kebijakan tertulis. apakah manajemen mengkomunikasikan ekspektasi tentang orang Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3 .

Kegiatan Pengawasan (1)Apakah ada mekanisme reviu dari kepala RSUD atau manajemen untuk mengawasi pencapaian kinerja unit pengelolaan limbah (2) Apakah kepala RSUD atau manajemen mengawasi pencapaian kinerja unit pengelolaan limbah berdasarkan mekanisme tersebut (3)Apakah tindak lanjut hasil pengawasan dilaksanakan oleh unit pengelolaan limbah (4)Apakah fungsi auditor internal termasuk juga mereviu sistem dan kegiatan unit pengelolaan limbah serta menyediakan informasi. apakah manajemen telah memberikan penjelasan kepada para pekerja bahwa mereka telah diberikan perlindungan secara memadai atas keselamatan kerjanya? f.4.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. rekomendasi Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4 .b No. perkiraan. Apakah manajemen telah memberikan perlindungan yang memadai atas resiko tersebut? (13)Apabila manajemen sudah memberikan asuransi kesehatan dan asuransi keselamatan kerja yang memadai. analisa. Pemahaman SPI yang akan dipekerjakan atau berpartisipasi langsung dalam proses pemilihan tersebut secara Ya Tidak Catatan (6)Apakah (7)Apakah (8)Apakah setiap pegawai pengelolaan limbah menyadari tanggung jawab dan ekspektasi terhadap mereka personil baru diberikan pengertian tanggung jawab dan ekspektasi terhadap mereka tentang para supervisor bertemu dengan para pegawai pengelolaan limbah secara berkala guna mereview kinerja mereka dan memberikan saran-saran perbaikan (9)Apakah terdapat tindakan manajemen yang memadai untuk merespon penyimpangan terhadap kebijakan dan prosedur yang ada (10)Apakah (11)Apakah para pegawai pengelolaan limbah mengerti bahwa kinerja yang jelek memiliki dampak bagi organisasi ketentuan promosi dan dan kenaikan gaji dijelaskan secara rinci sehingga setiap pegawai pengelolaan limbah mengetahui apa yang diharapkan oleh manajemen? (12) Para pekerja pada unit pengolahan limbah memiliki resiko terkena dampak langsung dari limbah itu sendiri.

misi. Penetapan Tujuan Organisasi (1)Apakah (2)Apakah (3)Apakah pimpinan organisasi telah menetapkan tujuan umum unit pengelolaan limbah dalam bentuk visi.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. dan sasaran visi.4. tujuan. tujuan. apakah pimpinan entitas sudah mempunyai rencana untuk memperolehnya (6)Apakah pimpinan entitas sudah mengidentifikasikan hal-hal yang harus dicapai untuk mencapai tujuan operasional unit pengelolaan limbah (7)Apakah tujuan operasional pengelolaan limbah yang signifikan memperoleh perhatian yang khusus dari pimpinan entitas dan apakah sudah ada pemantauan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5 . dan sasaran tersebut sejalan dengan program yang telah ditetapkan oleh lembaga legislatif visi. dan sasaran tersebut cukup spesifik dan dapat diaplikasikan pada unit tersebut (4)Apakah rencana strategis mendukung visi. Penilaian Risiko a. Ya Tidak Catatan 2. Pemahaman SPI dan konsultasi kepada manajemen. dan sasaran unit pengelolaan limbah (5)Apakah rencana strategis memperhatikan alokasi sumber daya dan skala prioritas (6)Apakah rencana strategis dan anggaran didesain melalui berbagai tingkatan pimpinan organisasi (7)Apakah asumsi yang dibuat dalam menyusun rencana strategis dan anggaran sudah konsisten dengan pengalaman organisasi masa lampau dan sekarang b. misi. misi. Penetapan Tujuan Operasional Unit Pengelolaan Limbah (1)Apakah semua aktivitas yang signifikan sudah sejalan dengan tujuan operasional unit pengelolaan limbah (2)Apakah semua aktivitas telah direviu secara periodik untuk memastikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut tidak menyimpang dari tujuan operasional dan rencana strategis unit pengelolaan limbah (3) Apakah tujuan setiap aktivitas pendukung sudah ditetapkan? kunci dan aktivitas (4)Apakah sumber daya yang diperlukan untuk mendukung pencapaian tujuan unit pengelolaan limbah sudah diidentifikasikan (5)Jika sumber daya belum tersedia. tujuan. tujuan. misi.b No.

b No. dianalisa. Pejabat Pemerintah. ketidakcukupan kompensasi dan benefit untuk dapat tetap kompetitif dengan pegawai sektor swasta Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 6 . evaluasi. dan diminimalisir sudah dikomunikasi kepada staf (3)Apakah diskusi tentang risiko yang teridentifikasi dilakukan pada tingkat manajemen (4)Apakah (5)Apakah (6)Apakah risiko yang teridentifikasi sudah diperhitungan dalam rencana jangka pendek dan rencana strategis jangka panjang risiko yang teridentifikasi dijadikan pertimbangan dari temuan pemeriksaan. Identifikasi Risiko Ya Tidak Catatan (1)Apakah (2)Apakah sudah digunakan metode penilaian risiko untuk menentukan urutan risiko tidak terkelolanya limbah risiko yang diidentifikasikan. diurutkan. Pemahaman SPI kinerjanya secara reguler c.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. maupun Publik (8)Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko sebagai akibat dari ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan baru (9)Apakah sudah diperhitungkan risiko-risiko bagi entitas sebagai akibat dari bencana alam maupun tindak kejahatan (10)Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang terkait dengan kontraktor dan supplier utama (11) Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko sebagai akibat dari penciutan unit pengelolaan limbah sudah diidentifikasikan risiko-risiko yang berkaitan dengan pendesainan ulang operasi pengelolaan limbah sudah dipertimbangkan risiko-risiko akibat dari terganggunya proses sistem informasi sudah diidentifikasikan risiko-risiko personil yang kurang kualified dan kurang terlatih akibat (12)Apakah (13)Apakah (14)Apakah (15) Apakah sudah diidentifikasikan risiko-risiko akibat akses pegawai terhadap aset-aset yang rentan (16)Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko yang berkaitan dengan SDM. atau penilaian lainnya unit pengelolaan limbah sudah memperhatikan risiko-risiko yang berkaitan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi (7)Apakah sudah ada pertimbangan tentang risiko yang timbul dari perubahan kebutuhan atau ekspektasi dari DPR.4. seperti rencana suksesi.

sedang. Pemahaman SPI Ya risiko-risiko yang Tidak Catatan (17)Apakah sudah diidentifikasikan berkaitan dengan kelanjutan program (18)Apakah manjemen telah mempertimbangkan risiko-risiko yang berkaitan dengan kegagalan di masa lalu dalam mencapai visi. serta apakah ada pemantauan atas implementasinya e. misi.b No. dan tinggi (3)Apakah tingkat manajemen dan staf sudah terlibat dalam analisa risiko (4)Apakah risiko yang diidentifikasi dan dianalisa relevan dengan tujuan operasional unit pengelolaan limbah perkiraan (5) Apakah analisa risiko sudah termasuk kemungkinan dan frekuensi terjadinya (6)Apakah (7)Apakah sudah ada penentuan tentang bagaimana mengelola atau meminimalkan risiko dengan baik termasuk tindakan-tindakan yang harus diambil pendekatan terhadap pengelolaan dan pengendalian risiko sudah sesuai dengan sifat unit pengelolaan limbah (8)Apakah pendekatan terhadap risiko sudah didisain untuk menjaga tingkat risiko pada tingkat yang dapat ditolerir (9)Apakah sudah ditetapkan aktivitas pengendalian untuk mengelola dan meminimalisasi risiko tertentu pada level operasional unit pengelolaan limbah. Analisa Risiko (1)Apakah pimpinan entitas telah menetapkan proses formal untuk menganalisa risiko termasuk berdasarkan aktivitas sehari-hari proses informal (2)Apakah telah ditetapkan kriteria dalam menetapkan tingkat risiko rendah.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. pelanggaran prinsip pengendalian dana.4. Mengelola Risiko Akibat Perubahan (1)Apakah (2)Apakah sudah diperhitungkan seluruh operasional unit pengelolaan limbah yang dapat dipengaruhi oleh perubahan perubahan-perubahan yang rutin sudah diperhitungkan dalam proses identifikasi dan analisa risiko yang sudah baku (3) Apakah risiko-risiko akibat kondisi yang berubah secara Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7 . tujuan dan sasaran atau kegagalan dalam menyikapi keterbatasan anggaran (19)Apakah sudah dipertimbangkan risiko-risiko akibat dari belanja program yang tidak tepat. atau ketidakpatuhan lainnya d.

Pemahaman SPI signifikan sudah diperhitungkan sebagai risiko yang tinggi bagi entitas sehingga akibatnya dapat diperhitungkan dan diantisipasi? Ya Tidak Catatan (4)Apakah (5)Apakah (6)Apakah unit pengelolaan limbah telah memberikan perhatian terhadap risiko akibat rekrutmen pegawai baru yang menempati posisi penting atau tingkat penggantian pegawai yang tinggi terdapat mekanisme untuk menilai risiko akibat pengenalan sistem informasi yang baru dan risiko yang melibatkan pelatihan pegawai untuk menggunakan sistem baru manajemen sudah memberikan pertimbangan khusus tentang risiko akibat pertumbuhan dan ekspansi yang cepat atau penciutan entitas serta pengaruhnya terhadap kemampuan sistem dan revisi atas rencana strategis. tujuan. (1)Apakah terdapat mekanisme reviu pada manajemen unit pengelolaan limbah untuk menelaah kinerja aktivitas/fungsi terhadap rencana yang telah dibuat suatu (2)Apakah (3)Apakah c. dan sasaran unit pengelolaan limbah sudah ada pertimbangan tentang risiko akibat pengenalan teknologi dan aplikasi baru (7)Apakah 3. (3)Apakah b. tingkat fungsional/aktivitas oleh manajemen pada (functional/activity-level reviews).b No. (1) manajer yang terkait menelaah permasalahan tersebut sesuai mekanisme yang ada tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit pengelolaan limbah Mereviu pengelolaan SDM Apakah ekspektasi manajemen terhadap pencapaian tujuan telah didokumentasikan dan dikomunikasikan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 8 .Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.4. Pelaksanaan reviu oleh manajemen pada tingkat atas (top-level reviews) (1)Apakah terdapat mekanisme reviu dari pejabat tinggi atau manajer untuk mengawasi pencapaian unit pengelolaan limbah terhadap rencana yang telah dibuat. visi. Reviu tindak lanjut hasil reviu dilaksanakan oleh unit pengelolaan limbah dan unit terkali lainnya. (2)Apakah pejabat tinggi atau manajer mengawasi pencapaian unit pengelolaan limbah terhadap rencana yang telah dibuat sesuai mekanisme yang ada. Aktivitas Pengendalian a. misi.

d.b No. Memisahan tugas atau fungsi (1)Apakah (2) kewenangan untuk aktivitas kunci dipisahkan. (5) Apakah sistem kompenasi telah memadai dan terdapat insentif khusus yang dapat mendorong pegawai bekerja secara maksimal. Mereviu pengelolaan informasi untuk memastikan tingkat keakuratan dan kelengkapan informasi (1)Apakah pendokumentasian pelaksanaan kegiatan pengelolaan limbah dilakukan secara sekuensial. Mereviu otorisasi kepada personil tertentu dalam melakukan suatu kegiatan (1)Apakah suatu aktivitas hanya dilakukan oleh orang yang memiliki wewenang dan dilakukan kewenangan yang bersangkutan. (6) Apakah terdapat mekanisme suksesi (promosi dan mutasi) yang jelas.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. mengendalikan seluruh Apakah penugasan telah dilakukan dengan memperhatikan efektifitas mekanisme cek and balance. sesuai dengan (2)Apakah prosedur otorisasi telah dikomunikasikan kepada seluruh pegawai termasuk kapan otorisasi tersebut dapat digunakan. training dan dukungan lainnya dalam rangka menjalankan tugasnya. (3) Apakah data mengenai kinerja aktual senantiasa ditandingkan dengan tujuan yang akan dicapai dan jika ada perbedaan akan dilakukan analisa. f. (2) Apakah terhadap indikator tersebut telah dilakukan review dan validasi secara periodik. (4)Apakah pegawai pengelolaan limbah telah diberikan orientasi.4. (3) Apakah akses ke data dan dokumen lain dikendalikan. g. Menetapkan dan memantau indikator dan ukuran kinerja (1)Apakah indikator dan ukuran kinerja telah dibuat untuk setiap bagian dan level dalam unit pengelolaan limbah sampai kepada individu. Pemahaman SPI kepada seluruh pegawai pengelolaan limbah Ya Tidak Catatan (2)Apakah terdapat rencana strategis mengenai pengelolaan pegawai pengelolaan limbah (3)Apakah telah terdapat prosedur guna memastikan bahwa personil yang direkrut maupun dipertahankan adalah mereka yang benar-benar memiliki kompetensi. (2)Apakah kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan persyaratannya. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 9 . e.

4. Mereviu pencatatan kegiatan/aktivitas. berguna bagi proses evaluasi. semua aktivitas/kegiatan dan kejadian penting lainnya telah didokumentasikan secara memadai.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. diperoleh. diproses dan dilaporkan melalui suatu sistem informasi? (2)Apakah informasi yang diperoleh dari sumber ekstern dan intern tersebut relevan (3)Apakah terdapat mekanisme untuk memperoleh informasi eksternal (seperti hasil pengujian baku mutu oleh Bapedalda. dengan menguji apakah: (1)Apakah i. Informasi dan Komunikasi a. analisa dan pengendalian.b No. selalu tersedia untuk (2) Apakah dokumentasi tersebut kepentingan pengujian. keluhan masyarakat atas pembuangan limbah RSUD)? (4)Apakah informasi internal diidentifikasi dan secara teratur dilaporkan terkait pencapaian tujuan pengelolaan limbah termasuk fator-faktor keberhasilan? (5)Apakah (6)Apakah (7)Apakah (8)Apakah manajemen RSUD memperoleh informasi yang dibutuhkan guna melaksanakan tanggung jawabnya? mekanisme penyediaan informasi yang ada telah memadai membantu unit pengelolaan limbah melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien? manajer unit pengelolaan limbah memperoleh informasi analitis dalam mengidentifikasi tindakan yang perlu diambil? informasi yang jelas dan tepat tersedia bagi berbagai tingkatan manajemen RSUD? (9)Apakah informasi dirangkum secara memadai? (10)Apakah informasi tersedia sewaktu-waktu yang memungkinkan pemantauan yang efektif terhadap suatu aktivitas dan kejadian? Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 10 . Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan h. Informasi (1)Apakah informasi terkait pengelolaan limbah diidentifikasi. (3) Apakah dokumentasi tersebut. 4. setiap kegiatan/aktivitas telah didokumentasikan secara memadai sehingga mendukung pengendalian operasi dan pengambilan keputusan. Pendokumentasian (1)Apakah sistem pengendalian intern. baik tertulis maupun secara elektronis.

baik secara formal maupun informal telah dilaksanakan secara memadai? setiap pegawai pengelolaan limbah mengetahui tujuan kegiatan masing-masing dan cara mencapai tujuan tersebut? setiap pegawai pengelolaan limbah mengerti bagaimana tugas mereka berpengaruh ataupun dipengaruhi oleh tugas pegawai yang lain? (5)Apakah terdapat saluran komunikasi bagi setiap pegawai untuk melaporkan adanya dugaan penyimpangan? (6) Apakah para pegawai benar-benar menggunakan saluran komunikasi yang ada? (7)Apakah (8)Apakah terhadap pegawai yang melaporkan dugaan penyimpangan disediakan umpan balik dan diberi kekebalan terhadap tuntutan balik? manajemen menerima dengan baik saran yang diberikan oleh pegawai dalam rangka peningkatan produktifitas. pegawai untuk (9) Apakah terdapat mekanisme bagi menyampaikan saran-saran perbaikan? (10)Apakah manajemen memberikan penghargaan kepada para pegawai yang memberikan saran yang baik? (11) Apakah komunikasi antar bagian telah dilakukan secara memadai? (12)Apakah manajemen mengkomunikasikan kepada pihak luar tentang standar etika yang dimiliki RSUD? Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 11 . kualitas atau sejenisnya. Komunikasi sumber daya yang memadai (pada level manajemen dan level pegawai pelaksana kegiatan dengan kompetensi yang tepat dan memadai) tersedia sesuai kebutuhan? (1)Apakah tugas dan tanggung jawab pegawai pengelolaan limbah dikomunikasikan melalui jaringan komunikasi yang efektif? (2)Apakah (3)Apakah (4)Apakah komunikasi. baik manusia maupun keuangan? (14)Apakah b. Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan (11)Apakah pengembangan atau perbaikan sistem informasi dilaksanakan informasi? berdasarkan rencana strategis sistem (12) Apakah prioritas dan kebutuhan ditentukan oleh manajemen? akan informasi (13) Apakah manajemen RSUD mendukung pengembangan sistem informasi melalui komitmen terhadap sumber daya yang memadai. seperti pada saat pelatihan. rapat atau dalam pelaksanaan pekerjaan.b No.4.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.

Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan (13)Apakah pihak ketiga mengetahui standar etika dan ekspektasi dalam rangka hubungan mereka dengan pihak RSUD? (14) Apakah pegawai senantiasa melaporkan masalah yang terjadi dan laporan tersebut ditindaklanjuti/diinvestigasi? (15) Apakah tindak lanjut atas penyimpangan dikomunikasikan kepada sumbernya? (16)Apakah manajemen sadar akan sifat dan jumlah keluhan yang masuk? c. Pemantauan Berkelanjutan (ongoing monitoring) (1)Apakah manajemen RSUD memiliki strategi untuk menjamin efektifitas pelaksanaaan pemantauan berkelanjutan? Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan: (a) (b) Apakah strategi yang dimiliki manajemen RSUD menjamin umpan balik (feed back) secara rutin. memorandum.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. akurasi. dan dikomunikasikan telah sesuai dengan materi. dipelihara. arahan manajemen.4. pemberitahuan. pemantauan kinerja dan pencapaian tujuan SPI? Apakah strategi pemantauan mencakup metode yang memberi penekanan kepada pejabat pelaksana atau manajer operasi unit pengelolaan limbah dalam memantau efektivitas SPI? Apakah strategi pemantauan mencakup (c) Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 12 . Bentuk dan alat komunikasi (1) Apakah manajemen RSUD menggunakan metode komunikasi efektif yang antara lain meliputi manual kebijakan dan prosedur. dan diperkenalkan untuk membantu organisasi untuk merespon lebih cepat dan efisien? (5) Apakah manajemen RSUD memonitor secara kontinu kualitas informasi yang diperoleh. dievaluasi.b No. dan pidato-pidato? (2) Apakah terdapat rencana strategis sistem informasi yang sejalan dengan rencana strategis organisasi? (3) Apakah terdapat mekanisme untuk kebutuhan informasi yang mendesak? mengidentifikasi (4) Apakah peningkatan dan keunggulan teknologi dimonitor. dan akses yang dibutuhkan? (6) Apakah terdapat dukungan manajemen bagi pengembangan teknologi informasi yang ditunjukkan dengan komitmen organisasi dalam menyediakan sumberdaya manusia dan keuangan? 5. e-mail. situs internet dan intranet. pesan-pesan melalui video-tape. dianalisa. waktu. Pemantauan a.

apakah pegawai memperoleh informasi mengenai berfungsi tidaknya SPI? Beberapa informasi yang dapat dipertimbangkan adalah: (a)Apakah pejabat pelaksana atau manajemen operasi membandingkan baku mutu sebelum dan sesudah limbah diolah dan informasi lainnya yang didapatkan dari kegiatan rutin serta menindaklanjuti setiap masalah yang diketemukan? (b)Apakah (3)Apakah pegawai pelaksana diharuskan untuk bertanggungjawab atas kebenaran dan kelengkapan laporan kegiatannya? pihak ketiga juga dilibatkan dalam pelaksanaan pemantauan kegiatan? (a) Apakah keluhan-keluhan masyarakat dan pihak lain dapat segera diketahui penyebabnya? (b) Apakah komunikasi dengan berkepentingan dilakukan? pihak yang (c)Apakah manajemen menginformasikan hal-hal yang terkait dengan kepatuhan atau hal lain yang menggambarkan berfungsinya SPI? dilakukan pengujian untuk mengetahui aktivitas SPI yang tidak berfungsi dengan baik? (d)Apakah (4) Apakah struktur organisasi dan kegiatan supervisi yang ada dapat membantu pemantauan terhadap fungsi SPI? (5)Apakah auditor intern adalah badan yang independen dan mempunyai kewenangan untuk melaporkan langsung kepada manajemen RSUD? secara (6) Apakah tanggapan atas rekomendasi auditor baik internal maupun eksternal ditujukan untuk memperkuat/perbaikan pengendalian intern? (7)Apakah (8) pejabat pelaksana unit pengelolaan limbah mempunyai kewenangan memberi keputusan mengenai rekomendasi yang akan diimplementasikan? Apakah terdapat mekanisme pertemuan dengan para pegawai dalam rangka memperoleh umpan balik mengenai efektifitas SPI? saran-saran dari pegawai terkait dengan pengendalian intern dipertimbangkan dan dilaksanakan secara proporsional? (9)Apakah (10) Apakah manajemen mendorong para pekerjanya untuk mengidentifikasi kelemahan pengendalian intern dan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 13 .Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.b No. Pemahaman SPI identifikasi kegiatan operasi utama unit pengelolaan limbah yang membutuhkan review dan evalusi tersendiri? Selanjutnya apakah strategi juga meliputi perencanaan untuk evaluasi berkala atas aktivitas pengendalian bagi kegiatan atau operasi utama tersebut? Ya Tidak Catatan (2)Dalam pelaksanaan tugas rutinnya.4.

4. kemampuan dan Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 14 . perubahan yang signifikan pada operasi atau informasi anggaran? (c) (d) (e) (2)Apakah (a) (b) (c) (d) metodologi untuk mengevaluasi pengendalian intern telah memadai dan logis? Apa metodologi yang digunakan checklist.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Pemahaman SPI melaporkan kepadanya dalam rangka pengawasan? (11) Apakah para pegawai secara rutin diminta untuk menyatakan secara eksplisit mengenai kesesuaian perilaku mereka terhadap kode etik? (12) Apakah para pegawai secara berkala diminta untuk melaksanakan kode etik? Ya Tidak Catatan (13)Apakah kegiatan auditor intern telah efektif? kompetensi dan (a)Apakah auditor intern tingkat pengalaman di bidangnya? (b) Apakah lingkup. apakah mereka memiliki sumber daya. ekspansi usaha. tanggung jawab dan perencanaan audit intern memenuhi kebutuhan organisasi? b.b No. Evaluasi Terpisah (Separate Evaluation) (1) Apakah lingkup dan frekuensi pelaksanaan terhadap pengendalian intern telah memadai? evaluasi (a) (b) Apakah lingkup dan frekuensi evaluasi ditentukan dengan mempertimbangkan hasil penilaian risiko dan efektivitas pemantauan berkelanjutan Apakah seksi atau bagian tertentu pengendalian intern dievalusi secara periodik? Apakah lingkup dan kedalaman cakupan sudah cukup? Apakah evaluasi dilakukan oleh pegawai dengan keahlian yang dibutuhkan? Apakah dilakukan evaluasi atas kejadiankejadian tertentu seperti perubahan rencana atau strategi manajemen yang mendasar. kuisioner atau metode lain)? (seperti Apakah evaluasi tersebut mencakup review atas design pengendalian dan pengujian langsung terhadap aktivitas pengendalian intern? Apakah tim evaluasi juga dilibatkan dalam merencanakan proses evaluasi? Apakah proses evaluasi dipimpin oleh eksekutif yang mempunyai kewenangan. keahlian dan pengalaman yang dibutuhkan? (3) Apabila evaluasi ini dilakukan oleh auditor intern.

b No.4. lingkup pekerjaan. apakah manajemen mampu menunjukkan bahwa temuan atau rekomendasi tersebut tidak valid ataupun tidak bisa dilaksanakan? Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 15 . Pemahaman SPI independensi yang memadai? Hal-hal berikut perlu menjadi bahan pertimbangan: (a) Apakah auditor intern mempunyai kompetensi dan pengalaman yang dapat melakukan pekerjaan evaluasi? Apakah secara organisasi. dan rencana audit auditor intern dapat memenuhi kebutuhan organisasi? Apakah penyimpangan yang ditemukan dalam evaluasi ini telah dilaporkan ke pimpinan RSUD dan telah diselesaikan secara tepat? Apakah terdapat kecukupan proses evaluasi? Beberapa hal berikut dapat dijadikan pertimbangan: Ya Tidak Catatan (b) (c) (d) (e)     c. Apakah evaluator mempunyai kecukupan pemahaman terhadap aktivitas RSUD khususnya unit pengolahan limbah? Apakah evaluator memiliki pemahaman terhadap bagaimana sistem seharusnya bekerja dan bagaimana sistem bekerja? Apakah evaluator melakukan analisis dengan menggunakan hasil evaluasi sebagai pengukuran terhadap kriteria yang telah ditetapkan? Apakah pekerjaan evaluasi didokumentasikan secara memadai? Penyelesaian hasil audit (1)Apakah terdapat mekanisme yang dapat menjamin bahwa telah dilakukan penyelesaian secara tepat terhadap temuan-temuan audit ataupun review lainnya? Antara lain: (a)Apakah manager melakukan review dan mengevaluasi temuan-temuan audit ataupun review lainnya termasuk penyimpangan-penyimpangan dan kemungkinan perbaikannya? (b) Apakah manajemen menentukan hal-hal yang perlu dilakukan dalam menanggapi temuan dan rekomendasi? (c) Apakah tindakan perbaikan dilakukan dalam jangka waktu yang telah ditentukan? (d)Dalam hal terjadi ketidaksetujuan terhadap temuan atau rekomendasi.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. auditor intern independen dan melaporkan hasil evaluasi kepada manajemen RSUD? Apakah tanggung jawab.

b No. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 16 . Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan (e)Apakah manajemen mempunyai pemikiran untuk melakukan konsultasi kepada auditor dan percaya bahwa hal tersebut akan membantu proses penyelesaian hasil audit? (2)Apakah (a) manajemen tanggap terhadap temuan dan rekomendasi audit ataupun review lainnya yang bertujuan untuk perbaikan pengendalian intern? Hal tersebut dapat terlihat dari: Apakah eksekutif yang berwenang mengevaluasi temuan dan rekomendasi serta menentukan tindakan yang tepat untuk memperbaiki atau meningkatkan pengendalian? Apakah tindakan pengendalian intern yang diinginkan ditindaklanjuti dalam rangka verifikasi pengendalian? (b) (3)Apakah (a) (b) tindak lanjut terhadap temuan dan rekomendasi audit ataupun review lainnya telah dilakukan secara memadai? Antara lain dapat diketahui dari: Apakah masalah-masalah pada aktivitas/kegiatan RSUD khususnya unit pengelolaan limbah dikoreksi secara tepat? Apakah penyebab permasalahan yang terjadi dapat diselidiki oleh manajemen? Apakah tindak lanjut yang diperlukan telah dilakukan? Apakah manajemen RSUD selalu mendapatkan informasi terhadap status dan posisi penyelesaian hasil audit? (c) (d) KESIMPULAN: *) COSO (Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission). merupakan organisasi swasta sukarela yang didirikan pada tahun 1985 yang ditujukan untuk pengembangan kualitas laporan keuangan melalui etika bisnis.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. pengendalian intern yang efektif serta penguasaan perusahaan.4.

Pengujian Lingkungan Pengendalian adalah pengujian yang dilakukan atas kondisi yang mempengaruhi efektivitas pengendalian intern dalam organisasi RSUD terutama unit pengelola limbah. 2) Teliti apakah pernah terjadi penyimpangan atas pelaksanaan kode etik tersebut dan selanjutnya analisa sebab akibat yang ditimbulkan atas penyimpangan yang dilakukan. Peraturan Daerah dan/atau Keputusan Kepala Daerah yang mengatur peningkatan dan/atau penetapan Kelas RSUD yang diperiksa. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1 . yang memastikan bahwa: a) Apakah integritas dan nilai etika sudah ditegakkan. 2) Pelajari Peraturan atau Keputusan Menteri Kesehatan. penilaian risiko.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. e) Apakah terdapat pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat. 3) Lakukan konfirmasi apakah penegakan disiplin telah diterapkan jika terjadi atau ditemukan penyimpangan atas aturan perilaku 4) Teliti apakah terdapat intervensi dari pihak-pihak tertentu atau pengabaian atas penegakan integritas dan nilai etika yang diterapkan dalam pengelolaan limbah b) Apakah terdapat komitmen terhadap kompetensi. dengan cara: 1) Teliti apakah kegiatan unit/tim pengelola limbah telah dijabarkan secara rinci dalam Standar Operating Procedure (SOP) yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur. dengan cara: 1) Pelajari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang mengatur tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit. PENGUJIAN PENGENDALIAN ATAS PENGELOLAAN LIMBAH Ikhtisar pengujian pengendalian atas pengelolaan limbah adalah sebagai berikut: sebelum melakukan pengujian sistem pengendalian intern (SPI) atas pengelolaan limbah.5 A. dengan cara: 1) Lakukan konfirmasi apakah pimpinan atau manajemen RSUD telah mempertimbangkan risiko dalam pengambilan keputusan terhadap pengelolaan limbah 2) Teliti apakah penerapan kegiatan pengelolaan limbah telah memenuhi prinsipprinsip yang berbasis kinerja 3) Pelajari hubungan organisasi antara unit/tim pengelola limbah dengan unit/instalasi lain penghasil limbah di lingkungan RSUD d) Apakah pembentukan struktur organisasi sesuai kebutuhan dan. kegiatan pengendalian. dengan cara: 1) Pelajari dokumen yang mengatur tentang Kode Etik perilaku yang harus diterapkan oleh seluruh manajemen dan sumber daya RSUD termasuk kode etik yang berlaku khusus pada unit pengelolaan limbah. informasi dan komunikasi dan pemantauan yang digunakan oleh manajemen untuk memberikan jaminan bahwa tujuannya dapat dicapai. yang menjadi bagian dari sasaran kesehatan lingkungan yang ingin dicapai. pahami lebih dahulu SPI tersebut dengan cara menelaah data dan informasi yang telah diperoleh mengenai pengendalian intern yang meliputi: lingkungan pengendalian. 2) Teliti apakah standar kompetensi pada unit pengelola limbah berupa program kegiatan pengelolaan limbah. telah didokumentasikan dalam bentuk cara untuk melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan kegiatan 3) Lakukan konfirmasi apakah terdapat pendidikan dan latihan berkala yang diberikan kepada personil pengelola limbah untuk meningkatkan kompetensi pekerjaannya c) Apakah terdapat kepemimpinan yang kondusif. Pengujian atas SPI berdasarkan pemahaman tersebut dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut: PENDEKATAN COSO: 1.

2) Teliti kualifikasi pengalaman dan pendidikan pejabat yang memimpin unit/tim pengelola limbah apakah sudah definitif. Puskesmas Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 2 . h) Apakah terdapat hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah lain terkait. 4) Teliti apakah unit/tim pengelola limbah tersebut telah ditetapkan dan diatur dalam Peraturan Daerah serta diatur secara lebih rinci tentang tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) dalam Keputusan/Peraturan Kepala Daerah 5) Teliti apakah keberadaan unit/tim pengelola limbah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah dan Keputusan/Peraturan Kepala Daerah sesuai dengan peraturan perundangan atau juknis yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan 6) Pelajari hubungan organisasi antara unit/tim pengelola limbah dengan unit/instalasi lain penghasil limbah di lingkungan RSUD 7) Teliti sebab dan akibat jika keberadaan/struktur organisasi unit/tim pengelola limbah tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang mengatur tentang struktur organisasi RSUD.5 3) Pelajari struktur organisasi dan identifikasi keberadaan unit atau tim pengelola limbah di dalam struktur organisasi RSUD tersebut. dengan cara: 1) Pelajari Surat Keputusan berupa pengangkatan dan penetapan pejabat dan pegawai untuk melaksanakan tupoksi pada unit/tim pengelola limbah. pelaksana harian/tugas. 2) Teliti dokumen perjanjian. peraturan tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit yang mengatur kualifikasi pendidikan dan pengalaman Sumber Daya Manusia yang ditugaskan pada unit/tim pengelola limbah. 4) Teliti notulen rapat atau surat edaran dari Direksi RSUD atas program penyehatan lingkungan terutama pengelolaan limbah. SOP atau Protap pengelolaan limbah oleh/yang berasal dari instansi/lembaga lain di luar RSUD seperti: Dinas Lingkungan Hidup mengenai pengelolaan limbah padat non medis serta Puskesmas. selanjutnya rumuskan temuan pemeriksaannya. 2) Pelajari hasil pemeriksaan sebelumnya oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) atas pengelolaan limbah RSUD dan teliti hasil tindak lanjut atas rekomendasi APIP. dengan cara: 1) Pelajari SOP atau Protap atas Pengawasan Intern terhadap pengelolaan limbah. dengan cara: 1) Periksa dokumen perjanjian antara RSUD dengan lembaga/instansi yang berkaitan dengan pemenuhan kriteria yang dipersyaratkan dalam AMDAL seperti: Bapedal dan Bappedalda. 5) Analisa permasalahan dan kendala-kendala yang dihadapi oleh unit/tim pengelola limbah dalam melaksanakan tupoksinya. 4) Analisa jumlah staf/pegawai pengelola limbah dengan beban kerja/kuantitas limbah yang harus dikelola berdasarkan catatan harian debit air limbah dan kuantitas limbah padat medis dan non medis. f) Apakah terdapat penyusunan dan penerapan kebijakan pembinaan sumber daya manusia yang sehat. dan rumuskan temuannya. g) Apakah terdapat perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah. atau pejabat sementara. 3) Teliti kualifikasi pengalaman dan pendidikan staf/pegawai pada unit/tim pengelola limbah. 3) Analisa tupoksi Satuan Pengawas Intern (SPI) yang dimiliki oleh RSUD dan teliti pengawasan intern yang telah dilakukan atas pengelolaan limbah. serta Peraturan Daerah dan/atau Keputusan/Peraturan Kepala Daerah yang mengatur Sumber Daya Manusia pada unit/tim pengelola limbah. 5) Analisa sebab dan akibat jika pejabat dan personil tidak memenuhi kualifikasi pengalaman dan pendidikan serta kuantitas seperti ditetapkan dalam peraturan perundangan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.

5 Pembantu (Pustu). Misi. Rumah Sakit. Pengujian terhadap penilaian risiko yang lebih rinci diuraikan dalam pengujian substantif atas pengelolaan limbah dengan pendekatan risiko (Risk-Based Audit) 3. Peraturan Daerah dan/atau Keputusan Kepala Daerah yang mengatur peningkatan dan/atau penetapan Kelas RSUD yang diperiksa. sterilisasi dan desinfeksi. Kebijaksanaan a) Pelajari Rencana Strategi (Renstra) yang memuat Visi. Pengujian atas Pemantauan PENDEKATAN OKP6 Pengujian atas Sistem Pengendalian Intern dilaksanakan antara lain dengan prosedur sebagai berikut: 1. penyehatan air termasuk kualitasnya. penyehatan tempat pencucian linen. 2. sasaran. perlindungan radiasi. Organisasi a) Pelajari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang mengatur tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit. dan instansi/lembaga lainnya melimpahkan pengelolaan limbah padat medisnya ke RSUD terperiksa. dan penanganan limbah medis. c) Pelajari struktur organisasi dan identifikasi keberadaan unit atau tim pengelola limbah di dalam struktur organisasi RSUD tersebut. pengendalian serangga dan tikus. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3 . Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) yang wajib dimiliki oleh RSUD Kelas A atau Kelas B. non medis dan limbah cair. dan rumuskan temuannya.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. kegiatan. c) Pelajari dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang terdiri dari Kerangka Acuan. Pengujian atas Informasi dan Komunikasi 5. Pengujian atas Kegiatan Pengendalian 4. b) Pelajari Peraturan atau Keputusan Menteri Kesehatan. dan indikator yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan rumah sakit terutama pengelolaan limbah. penyehatan makanan dan minuman. Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL). penyuluhan kesehatan lingkungan. di antaranya : penyehatan bangunan dan ruangan. yang 2. khususnya tujuan. d) Teliti apakah unit/tim pengelola limbah tersebut telah ditetapkan dan diatur dalam Peraturan Daerah serta diatur secara lebih rinci tentang tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) dalam Keputusan/Peraturan Kepala Daerah e) Teliti apakah keberadaan unit/tim pengelola limbah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah dan Keputusan/Peraturan Kepala Daerah sesuai dengan peraturan perundangan atau juknis yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan f) Pelajari hubungan organisasi antara unit/tim pengelola limbah dengan unit/instalasi lain penghasil limbah di lingkungan RSUD g) Teliti sebab dan akibat jika keberadaan/struktur organisasi unit/tim pengelola limbah tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang mengatur tentang struktur organisasi RSUD. strategi atau cara mencapai tujuan. b) Dapatkan Program dan Kegiatan Penyehatan Lingkungan yang disusun oleh RSUD beserta rincian kegiatannya.

Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah beserta perubahannya. peraturan/juknis mengenai Pengusulan. seperti contoh: peraturan mengenai Pedoman Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit Daerah. b) Teliti dokumen. dan saluran air hujan. dan Pedoman Pengelolaan Barang Daerah. dibahas oleh Panitia Anggaran di Pemerintah Daerah. dan Pedoman Perizinan Sarana Pengelolaan Limbah. 2) Penampungan Sementara Limbah. selanjutnya rumuskan temuan dengan cara membandingkan kondisi dengan kriteria atau peraturan perundangan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 4 . alat pembakar sampah medis (incinerator). Prosedur a) Pelajari peraturan atau pedoman berkaitan dengan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. seperti contoh SOP atau Protap: 1) Pemisahan Jenis Limbah. serta dituangkan dalam DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran).Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Bappedal dan/atau Bappedalda. b) Pelajari peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyusunan rencana anggaran dan kegiatan RSUD. f) Teliti apakah kegiatan unit/tim pengelola limbah telah terinci dijabarkan dalam Standard Operating Procedure (SOP) yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur. dan Tata Cara Pengelolaan Keuangan Unit Swadana Daerah. 4. gambar situs. peraturan mengenai pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLU). c) Teliti apakah Standard Operating Procedures (SOP) pengelolaan limbah sesuai dengan AMDAL yang terdiri dari Kerangka Acuan. antara unit/tim pengelola limbah dengan unit/bagian yang menjalankan tupoksi Perencanaan dan Anggaran pada RSUD. Penetapan. d) Teliti SOP atau Prosedur Tetap (Protap) pengelolaan limbah yang menjadi tupoksi unit/tim pengelola limbah dan telah ditetapkan oleh Direksi RSUD. pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan sarana pengelolaan limbah RSUD. e) Teliti sebab dan akibat jika RSUD Kelas A dan B tidak mempunyai AMDAL. dan manual yang memuat spesifikasi sarana pengolahan limbah seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Perencanaan a) Pelajari dokumen RKL dan RPL untuk meyakini apakah telah mendukung tujuan pengelolaan limbah. 3. penyusunan dan penetapan anggaran kegiatan dan pendapatan. c) Teliti hubungan kerja berkaitan dengan perencanaan. atau RSUD Kelas C dan D tidak mempunyai UKL-UPL. RKL dan RPL serta UKL dan UPL. alat/bak penampungan sementara/kontrol. sebelum anggaran kegiatan tersebut ditetapkan menjadi RKA (Rencana Kegiatan Anggaran). ditetapkan dengan Peraturan Daerah dan Peraturan/Keputusan Kepala Daerah. septic-tank. Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). ANDAL.5 d) Pelajari dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) dan UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan) yang wajib dimiliki oleh RSUD Kelas C dan D. e) Teliti rencana anggaran pendapatan yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan limbah yang berasal dari instansi/lembaga penghasil limbah di luar RSUD. d) Teliti rencana anggaran belanja berkaitan dengan pemeliharaan.

kebocoran. 12) Penanganan Debit Air Limbah Berlebih (overflow atau debit air limbah lebih besar dari kapasitas IPAL/septic-tank). e) Teliti SOP atau Protap yang menjadi tupoksi instalasi/bagian lain penghasil limbah spesifik/khusus di lingkungan RSUD seperti SOP atau Protap: 1) Penanganan limbah radiologi. selanjutnya rumuskan temuan pemeriksaannya. Kepala Bagian/Instalasi/Unit terkait dengan pengelolaan limbah. 5) Penyimpanan Limbah Padat Medis sebelum diolah dalam incinerator.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. g) Teliti sebab dan akibat RSUD tidak mempunyai Protap pengelolaan limbah atau jika isi/uraian dalam Protap tersebut tidak sesuai dengan peraturan perundangan. Puskesmas Pembantu (Pustu). sampai dengan Pengangkutan Limbah Padat Non Medis ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 4) Penanganan limbah dari Ruang Patologi Anatomi.5 3) Pengangkutan Limbah Padat Medis ke Tempat Pembakaran (incinerator). dan instansi/lembaga lainnya. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5 . dan banjir. d) Teliti dokumen pencatatan atau Berita Acara kegiatan pengelolaan limbah dari kegiatan Pemisahan Jenis Limbah. 5) Penanganan limbah farmasi berupa obat-obatan kadaluwarsa atau tidak habis dipakai oleh pasien. 7) Penanganan limbah yang mengandung detergen di Instalasi Laundry sebelum disalurkan ke inlet IPAL. f) Teliti dokumen perjanjian. 6) Pengoperasian dan Pemeliharaan Incinerator. Pencatatan a) Pelajari SOP atau Protap atas pendokumentasian kegiatan pengolahan limbah RSUD setiap hari. 3) Penanganan limbah dari Ruang Hemodialisa (pencucian darah). Pengangkutan Limbah Padat Medis ke Tempat Pembakaran (incinerator). 7) Pengoperasian Instalasi atau Sarana Pengolahan Limbah Cair. 10) Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). 8) Pembuangan Limbah Cair Olahan. 9) Penyimpanan atau Pembuangan Debu/Abu Incinerator Olahan. 11) Penanganan Keadaan Darurat jika terjadi kebakaran. SOP atau Protap pengelolaan limbah oleh/yang berasal dari instansi/lembaga lain di luar RSUD seperti: Dinas Lingkungan Hidup. 6) Penanganan limbah yang mengandung lemak di Instalasi Gizi sebelum disalurkan ke inlet IPAL. 2) Penanganan limbah laboratorium rumah sakit. 4) Pengangkutan Limbah Padat Non Medis ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) sebelum diangkut oleh Dinas Kebersihan Kota/Kabupaten ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). dan pendokumentasian penerimaan atau pengiriman limbah dari/ke instansi/lembaga di luar RSUD. b) Pelajari peraturan tentang prosedur penghapusan barang daerah. Penampungan Sementara Limbah. Puskesmas. 5. Rumah Sakit. c) Pelajari catatan atas notulen rapat Direksi.

dan kebauan pada sarana atau instalasi pengelolaan limbah. pelaksana harian/tugas. atau pejabat sementara. h) Teliti catatan harian debit air limbah dan kuantitas limbah padat medis dan non medis i) j) Teliti catatan berupa pernah terjadi keadaan darurat. serta Peraturan Daerah dan/atau Keputusan/Peraturan Kepala Daerah yang mengatur Sumber Daya Manusia pada unit/tim pengelola limbah. peraturan tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit yang mengatur kualifikasi pendidikan dan pengalaman Sumber Daya Manusia yang ditugaskan pada unit/tim pengelola limbah. 4) debu/abu hasil olahan incinerator. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 6 . Personalia a) Pelajari Surat Keputusan berupa pengangkatan dan penetapan pejabat dan pegawai untuk melaksanakan tupoksi pada unit/tim pengelola limbah. g) Teliti catatan berupa Berita Acara Penyimpanan atau Pembuangan Hasil Olahan Limbah yang masih mengandung B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). 6) lumpur kering hasil residu IPAL. Teliti catatan berupa Berita Acara Pemeliharaan. Perbaikan. kebocoran. 7) udara ambien pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan incinerator dan/atau sesuai dengan observasi dan pertimbangan professional tenaga ahli. 8) limbah cair sebelum disalurkan ke inlet IPAL pada Instalasi Gizi dan Laundry. 1) limbah cair masukan (influent) pada inlet IPAL. f) Teliti catatan berupa Berita Acara Pemusnahan Obat-Obatan Kedaluwarsa beserta dokumen pendukung berupa: 1) Dokumen pengajuan penghapusan obat-obatan dari Panitia Penghapusan Barang RSUD ke Pemerintah Daerah. 3) tingkat kebauan pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan IPAL. k) Teliti catatan berupa dokumen pengadaan barang dan jasa berkaitan dengan sarana pengelolaan limbah. d) Analisa jumlah staf/pegawai pengelola limbah dengan beban kerja/kuantitas limbah yang harus dikelola berdasarkan catatan harian debit air limbah dan kuantitas limbah padat medis dan non medis. 6. banjir. c) Teliti kualifikasi pengalaman dan pendidikan staf/pegawai pada unit/tim pengelola limbah. 2) hasil olahan limbah cair (effluent) pada outlet IPAL. 5) emisi cerobong incinerator.5 e) Teliti catatan berupa Berita Acara Pengambilan Sampel oleh tenaga ahli (pihak luar RSUD) atau yang dilakukan sendiri oleh tenaga ahli yang dimiliki oleh unit/tim pengelolaan limbah. overflow. 2) Dokumen persetujuan atas penghapusan obat-obatan dari Kepala Daerah dan/atau Panitia/Pejabat Berwenang atas Penghapusan Barang di Daerah. b) Teliti kualifikasi pengalaman dan pendidikan pejabat yang memimpin unit/tim pengelola limbah apakah sudah definitif. kebakaran.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Penggantian Komponen atas Incinerator atau Instalasi atau Sarana Pengolahan Limbah Cair. untuk pengujian laboratorium atas. selanjutnya rumuskan temuan pemeriksaannya. e) Analisa sebab dan akibat jika pejabat dan personil tidak memenuhi kualifikasi pengalaman dan pendidikan serta kuantitas seperti ditetapkan dalam peraturan perundangan.

5) debu/abu hasil olahan incinerator. c) Teliti hasil laporan tindak lanjut pihak RSUD atas rekomendasi tenaga ahli laboratorium.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Pelaporan a) Teliti laporan formal yang disampaikan oleh tenaga ahli laboratorium kepada RSUD berkaitan dengan pengujian baku mutu atas: 1) limbah cair masukan (influent) pada inlet IPAL. e) Analisa permasalahan dan kendala-kendala yang dihadapi oleh unit/tim pengelola limbah dalam melaksanakan tupoksinya. 6) Laporan kejadian darurat dan luar biasa. c) Analisa tupoksi Satuan Pengawas Intern (SPI) yang dimiliki oleh RSUD dan teliti pengawasan intern yang telah dilakukan atas pengelolaan limbah. 4) Laporan Pengadaan Barang dan Jasa atas pengelolaan limbah. 2) Kegiatan pengelolaan limbah. 7) udara ambien pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan incinerator. Semesteran dan Tahunan Unit/Tim Pengelola Limbah yang antara lain memuat: 1) Laporan pelaksanaan AMDAL untuk RSUD Type A dan B atau UKL dan UPL untuk RSUD Type C dan D. 8) limbah cair sebelum disalurkan ke inlet IPAL pada Instalasi Gizi dan Laundry. 5) Laporan anggaran dan realisasi kegiatan serta pendapatan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7 . d) Teliti Laporan Bulanan. 2) hasil olahan limbah cair (effluent) pada outlet IPAL. 7) Laporan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). b) Pelajari hasil pemeriksaan sebelumnya oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) atas pengelolaan limbah RSUD dan teliti hasil tindak lanjut atas rekomendasi APIP. 4) tingkat kebauan pada fasilitas RSUD yang paling dekat dengan IPAL. d) Teliti notulen rapat atau surat edaran dari Direksi RSUD atas program penyehatan lingkungan terutama pengelolaan limbah.5 7. 6) emisi cerobong incinerator. 3) lumpur kering hasil residu IPAL. Pengawasan Intern a) Pelajari SOP atau Protap atas Pengawasan Intern terhadap pengelolaan limbah. 3) Laporan Pemeliharaan dan perbaikan sarana/instalasi pengelola limbah. b) Analisa hasil laporan formal dari uji laboratorium tersebut atas parameter-parameter yang melebihi baku mutu dan rekomendasi dari tenaga ahli yang harus ditindak lanjuti oleh RSUD atas penyimpangan baku yang terjadi. 8. Triwulanan.

6 SURAT PERNYATAAN GANGGUAN INDEPENDENSI Kepada Yth. ………………………………………………………………………………………… 2.. maka independensi saya tidak sepenuhnya terjamin. (nama penanggung jawab) (nama) NIP (nama lengkap) NIP Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan . Mengetahui. Apabila saya menerima penugasan pemeriksaan tersebut.(nama penugasan) dengan ini menyatakan bahwa saya memiliki gangguan independensi seperti yang diatur di dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Penanggung Jawab Pemeriksaan.. ………………………………………………………………………………………… 3. Mohon dipertimbangkan untuk meninjau kembali posisi penugasan saya dalam pemeriksaan ……………………………(nama penugasan).Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD \ Lampiran 3.……………. Penanggung jawab pemeriksaan ………… (nama penugasan) Saya yang bertanda tangan di bawah ini dalam rangka pemeriksaan……………. ………………………………………………………………………………………. Menyetujui. Jakarta. yaitu sebagai berikut : 1. Pengendali Teknis/ Ketua Tim. Yang Menyatakan.

dengan tujuan untuk mengetahui secara pasti jenis limbah padat medis dan non medis serta instalasi penghasil setiap jenis limbah padat medis dan non medis. dan frekuensi pemantauan. Teliti struktur organisasi (unit/instalasi/tim) yang dibentuk untuk menangani pengelolaan dan pengendalian dampak lingkungan termasuk unit/instalasi/tim pengelola limbah berikut uraian tugas. metode pemantauan. lay out rumah sakit. jangka waktu. peta pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Teliti rencana pengelolaan limbah padat yang dimuat dalam RKL atau UKL. tanggung jawab dan wewenang masingmasing pejabat serta petugas tersebut. Dapatkan Dokumen Anggaran dan teliti apakah kegiatan pemeliharaan. parameter lingkungan yang dipantau. dan disesuaikan dengan kondisi instalasi serta perkembangan kegiatan pelayanan rumah sakit. Dapatkan dan analisa ijin-ijin pengelolaan limbah yang diberikan oleh instansi yang berwenang kepada RSUD seperti ijin pengoperasian sarana pengolahan limbah cair. RKL dan RPL yang wajib dimiliki oleh RSUD Type A dan B atau Dokumen UKL dan UPL yang wajib dimiliki oleh RSUD Type C dan D Adanya Program kerja tahunan atas pengelolaan dan pengendalian dampak lingkungan terkait pengelolaan limbah Terdapat struktur organisasi yang dibentuk untuk menangani pengelolaan limbah             Direktorat Litbang . Badan Pemeriksa Keuangan 1  Adanya dokumen AMDAL. gambar situs sarana/instalasi pengelolaan limbah. Teliti program kerja pemantauan yang dilakukan melalui kegiatan pemeriksaan laboratorium serta supervisi lingkungan yang dibuat untuk dua tahun anggaran terakhir. Dapatkan dan analisa layout sarana pengolahan limbah cair serta minta penjelasan lengkap dari unit/instalasi/tim pengelola limbah untuk mengetahui bagian/instalasi sumber penghasil limbah cair serta jaringan penyalurannya dari sumber ke sarana pengolahan. perbaikan dan pengolahan limbah telah dianggarkan. Tujuan Pengujian Apakah proses perencanaan pengelolaan limbah RSUD telah berjalan efektif dan sesuai dengan peraturan perundangan Area Kunci Risk-Based Audit  Tidak adanya AMDAL. sumber dampak. lokasi pemantauan.7 Ikhtisar Pengujian Terinci atas Pengelolaan Limbah RSUD No.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. atau dokumen UKL dan UPL (untuk RSUD Kelas C dan D). jenis dan karakteristik limbah serta bagan proses kegiatan pengelolaan limbah. 1. dan ijin penggunaan incinerator. Dapatkan dan analisa dokumen pendukung seperti peta situasi lingkungan. apakah apakah program kerja tersebut disusun dengan mengacu pada RKL atau UKL. RKL dan RPL. Teliti dengan cermat rencana pemantauan yang tercantum dalam dokumen UKL dan UPL (untuk RS tipe C dan D) dengan tujuan untuk memastikan dampak penting yang harus dipantau. UKLUPL mengakibatkan manajemen RSUD tidak mempunyai dasar yang memadai dalam proses pengambilan keputusan tentang kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sesuai dengan yang dipersyaratkan Ada urutan/prosedur penanganan yang sengaja dihilangkan atau tidak dimasukkan ke dalam manual perencanaan Ada upaya/rencana bypassing langsung ke lingkungan tanpa proses pengolahan/netralisasi  Pengujian Subtantif Dapatkan dan Analisa dokumen AMDAL (untuk RSUD Kelas A dan B) yang terdiri dari dokumen ANDAL.

apabila akan dipergunakan kembali. kapasitas bak/kontainer/kantong penampungan sementara tidak memadai (tidak kuat atau tidak tahan bocor). Tujuan Pengujian Area Kunci Risk-Based Audit  Pengujian Subtantif Dapatkan dan analisa program kerja tahunan atas pengelolaan limbah serta data alokasi anggaran kegiatan dan pendapatan untuk masing-masing kegiatan pengelolaan limbah tersebut baik anggaran biaya operasi dan pemeliharaan maupun anggaran biaya modal. dan Ruang Hemodialisa (pencucian darah). limbah padat medis bercampur dengan nonmedis terjadi kebocoran berupa materi dan bau. dan teliti lebih lanjut sebab dan akibat yang ditimbulkan jika partikel padat. Periksa apakah saluran atau jaringan limbah cair dari sumber penghasil limbah sampai ke bak penampungan telah layak secara teknis.7 No.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Periksa lebih lanjut tempat pengumpulan sementara limbah padat medis apakah tempat pengumpulan segera dibersihkan dan dilakukan disinfeksi setelah dikosongkan. kuat dan anti bocor. Badan Pemeriksa Keuangan 2 2. memadai. apakah perlakuan khusus terhadap pengumpulan limbah pada instalasi-instalasi dimaksud telah dilaksanakan sesuai ketentuan Teliti lebih lanjut apakah bak kontrol limbah cair telah didesain untuk memudahkan penanggulangan penyumbatan jika limbah cair bercampur dengan limbah padat. lambang. buih detergen masuk ke dalam sarana pengolahan limbah (IPAL) Periksa apakah hasil penyaringan lemak dan partikel padat dikumpulkan untuk selanjutnya ditangani menjadi limbah padat non-medis. terjadi penyumbatan pada saluran menuju inlet IPAL              Direktorat Litbang . Instalasi Patologi Anatomi. lemak. dan aman. dan teliti lebih lanjut sebab akibat jika terjadi penyumbatan Periksa apakah kantong plastik tempat pengumpulan limbah padat medis dan non medis telah diangkat setiap hari (pengambilan limbah dari tempat pengumpulan sementara) atau kurang dari sehari apabila 2/3 bagian telah terisi limbah. serta dalam kondisi aman. dan warna sesuai kategori limbah untuk menghindari kesalahan identifikasi yang dapat menimbulkan terganggunya kesehatan dan keselamatan kerja. Apakah proses pengumpulan limbah RSUD telah berjalan efektif dan efisien serta sesuai dengan peraturan perundangan  Adanya SOP/Protap proses pengumpulan limbah dan implementasi atas SOP/Protap tersebut Tanggung jawab masing-masing bagian/instalasi penghasil limbah dalam melaksanakan pengumpulan limbah cair (contoh: bak kontrol lemak di Instalasi Gizi sebelum ke Inlet IPAL) serta limbah padat medis dan non medis   limbah padat bercampur dengan limbah cair. Periksa pengumpulan limbah padat dan cair pada instalasi khusus seperti: Instalasi Laboratorium. Lakukan identifikasi apakah limbah cair maupun limbah padat medis dan nonmedis telah dikumpulkan sementara terlebih dahulu secara layak di tempat dimana limbah tersebut dihasilkan sebelum disimpan atau dipindahkan. Instalasi Radiologi. Periksa dan teliti lebih lanjut apakah limbah padat medis telah ditempatkan dalam tempat pengumpulan seperti kontainer dan/atau kantong plastik dengan tulisan. Periksa apakah bak penampungan sementara limbah cair terutama pada instalasi gizi telah memiliki penyaringan lemak dan partikel padat dan pada instalasi laundry telah memiliki penyaringan buih dan partikel padat.

Tujuan Pengujian Area Kunci Risk-Based Audit Pengujian Subtantif  Lakukan observasi di setiap instalasi untuk mengetahui apakah pada setiap kamar atau setiap radius 10 meter dan setiap radius 20 meter pada ruang tunggu terbuka disediakan tempat penyimpanan limbah padat non medis yang terbuat dari bahan yang kuat. Periksa pengangkutan limbah padat medis dan non medis dari tempat pengumpulan limbah ke tempat penyimpanan sebelum diolah. teliti lebih lanjut sebab dan akibatnya. cukup ringan. yaitu kereta dorong terbuka untuk limbah padat non-medis dan kereta/ gerobak dari stainless steel tertutup untuk limbah padat medis. dan analisa dampak yang ditimbulkan jika pemindahan limbah padat medis melalui area pasien dan area bersih lainnya Lakukan pemeriksaan atas penanganan/pengiriman limbah B3 yang bersifat semi cair (seperti darah) yang penanganannya seperti limbah padat medis. Periksa lebih lanjut sebab dan akibatnya bila alat angkut yang dipakai dan cara pengangkutannya terjadi penyimpangan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Badan Pemeriksa Keuangan 3 3. Apakah proses pemindahan limbah padat RSUD telah berjalan efektif dan sesuai dengan peraturan perundangan  Adanya SOP/Protap atas proses pemindahan limbah padat dan implementasi atas SOP/Protap tersebut Upaya pencegahan dan penanggulanga n pencemaran yang terjadi pada saat pemindahan limbah padat Tanggung jawab petugas pemindahan limbah padat medis dari tempat penampungan sementara (TPS) ke tempat penyimpanan sebelum diolah atau limbah padat non medis dari TPS ke Tempat     limbah padat medis dan nonmedis tercecer area yang dilewati sewaktu terjadi pemindahan terkontaminasi kerusakan alat pengangkutan salah penanganan dan mengganggu Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)          Direktorat Litbang . Lakukan pemeriksaan fisik secara mendadak di TPS limbah padat non medis untuk mengetahui dan memastikan bahwa limbah padat yang dibuang di TPS tersebut tidak termasuk limbah padat medis. Lakukan observasi untuk mengetahui ketertiban pengangkutan (pengambilan) limbah padat non medis dari TPS di Rumah Sakit ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang dilakukan tidak tertib (tidak setiap hari) dan terjadi penumpukan/ceceran limbah. kedap air dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Teliti apakah rute spesifik yang ditempuh dalam pemindahan/ transportasi limbah melintasi area pasien dan area bersih lainnya. didesain untuk mencegah kebocoran. apakah dilakukan sesuai jadwal dan tidak terjadi ceceran.7 No. Alat angkut tersebut harus dapat menampung limbah secara memadai. dan dibuat dengan material yang dapat dibersihkan dan didisinfektasi secara efektif. dan teliti lebih lanjut sebab dan akibatnya terhadap kesehatan di lingkungan sekitarnya. Analisa apakah jadwal pemindahan telah memadai jika dibadingkan dengan kapasitas limbah padat yang dihasilkan Teliti apakah alat angkut yang dipakai telah sesuai dengan yang ditetapkan dalam dokumen RKL atau UKL yang dituangkan lebih rinci dalam SOP atau Protap. Bila ditemukan limbah tersebut. tahan karat. apakah penanganannya/ pengirimannya dilakukan dengan SOP/Protap dan ketentuan yang berlaku.

Teliti bagaimana pembuangannya ke tempat penampungan lain. Apakah proses pengolahan dan pembuangan limbah pada RSUD telah berjalan secara efisien dan efektif serta sesuai dengan peraturan perundangan  Limbah Cair: Limbah cair:   Komponen pengolahan tidak berfungsi Khlorinasi/desinfeksi tidak berlangsung optimal (jika pemberian disinfektan terlalu sedikit masih terdapat kuman berbahaya. Lakukan pengujian BOD dan COD oleh tenaga ahli laboratorium independen pada penampungan sementara limbah cair non-medis pada instalasi gizi dan laundry. dan analisa sebab dan akibatnya terhadap lingkungan atas penyimpanan limbah padat medis yang tidak layak Periksa apakah terdapat pihak-pihak tidak berwenang (seperti pemulung) yang melakukan kegiatan pengumpulan limbah padat medis dan nonmedis dari tempat sampah maupun tempat penampungan sementara      5. serta terjadi penumpukan limbah padat medis. Apakah proses penyimpanan limbah telah berjalan efektif dan sesuai dengan peraturan perundangan  SOP/Protap atas penyimpanan limbah dan implementasi terhadap SOP/Protap tersebut Upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran yang terjadi pada saat penyimpanan Tanggung jawab petugas penyimpanan limbah padat medis sebelum diolah SOP/Protap atas pengolahan dan pembuangan limbah serta implementasi atas SOP/Protap tersebut Pemantauan atas pengolahan limbah dan pembuangan limbah hasil   penumpukan limbah padat medis di tempat penyimpanan terjadinya pengemasan ulang. apakah telah disimpan secara layak pada ruangan/bak/kontainer tertutup yang kuat dan anti bocor serta diberi tanda bahaya ”biohazard” Teliti apakah tempat penyimpanan limbah padat medis telah dibuat batas yang jelas dan tidak dapat diakses selain petugas yang berwenang Periksa jika terjadi penyimpanan limbah padat medis terlalu lama karena tidak sesuai dengan jadwal pembakaran pada incinerator. saluran pematusan yang menyatu air hujan. atau saluran pembuangan penampungan lain. analisa sebab dan akibat bila di atas baku mutu Badan Pemeriksa Keuangan 4     Direktorat Litbang . termasuk kegiatan penyimpanan limbah padat medis yang berasal dari luar RSUD Teliti tempat penyimpanan sementara limbah padat medis sebelum diolah di incinerator. Tujuan Pengujian Area Kunci Pembuangan Akhir (TPA) Risk-Based Audit Pengujian Subtantif 4. serta tidak memperhitungkan kapasitas limbah padat medis. kontaminasi penyakit menular antar pasien. pemberian/penggunaan kembali untuk pasien. teliti lebih lanjut apakah air limbah tersebut telah disalurkan ke salah satu saluran pembuangan. saluran ke septic tank. Perhatikan bahwa tidak diperbolehkan apabila saluran air hujan digunakan untuk saluran pembuangan air limbah. jika terlalu banyak akan menghambat kerja bakteri pengurai) Aerasi tidak berlangsung  Periksa apakah limbah cair non-medis yang berasal dari dapur/gizi dan laundry telah dilakukan klasifikasi berdasarkan tinggi rendahnya kadar BOD dan COD nya.7 No.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. dan ceceran pada saat penyimpanan limbah padat medis (contoh: obat-obatan dan perlengkapan medis yang tidak/telah terpakai) tempat berkembang biaknya bakteri pengumpulan/pengambilan limbah padat medis dan non medis oleh pihak yang tidak berwenang (misalnya pemulung)     Periksa apakah kegiatan penyimpanan limbah telah sesuai dengan SOP/Protap yang mengacu pada RKL atau UKL. misalnya: IPAL. Apabila sudah.

7 No. jumlah maksimal limbah cair per tempat tidur per hari yaitu 0. Phospat (PO4). suhu. Dapatkan informasi mengenai pelimpahan yang terjadi pada musim hujan dan tanyakan tinggi genangan maksimal dan apakah ada pencemaran yang terjadi karena genangan tersebut. aerasi (biologi) . Ammonia (NH3). Lakukan pengambilan sampel pemeriksaan atas limbah masukan (influent) pada inlet IPAL dan limbah olahan (effluent) pada outlet IPAL dan lumpur kering residu IPAL dengan bantuan tenaga ahli laboratorium independen. dan Total Coliform. BOR (Bed Occupancy Ratio/Rasio Pemakaian Tempat Tidur). COD (Chemical Oxygen Demand/Kebutuhan Oksigen Kimiawi).5m3/bed/day berdasarkan perhitungan International Code Plumbing dan Environmental Engineering. dan kapasitas IPAL RSUD. Teliti apakah pada saluran pematusan telah dipasang alat ukur debit atau laju air limbah dan teliti apakah alat ukur tersebut telah digunakan sebagai dasar untuk mencatat debit harian limbah cair dan dilaporkan kepada yang berwenang dhi. Periksa apakah proses penyaringan (fisik). Dinas Kesehatan dan/atau Dinas Lingkungan Hidup. sedimentasi. selanjutnya analisa sebab akibat jika debit air limbah melebihi kapasitas IPAL (overflow). selanjutnya analisa sebab akibat jika proses tersebut tidak/kurang dilakukan. TSS (Total Suspended Solution/Total Zat Tersuspensi). Badan Pemeriksa Keuangan 5          Direktorat Litbang . BOD (Biological Oxygen Demand/Kebutuhan Oksigen Biologis). Lakukan analisa kapasitas instalasi pengolahan air limbah. Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium independen terhadap sampel limbah cair tersebut berdasarkan parameter limbah cair seperti: pH. serta khlorinasi (kimiawi) pada instalasi pengolahan air limbah diterapkan secara memadai untuk limbah cair. lengkapi dengan Berita Acara Pengambilan Sampel Limbah Cair. Bapedalda. apakah instalasi pengolahan air limbah yang ada dapat menampung seluruh limbah cair yang dihasilkan rumah sakit berdasarkan tingkat dan indikator hunian seperti: jumlah tempat tidur. Periksa apakah semua limbah cair medis termasuk limbah cair beracun dan infeksius serta limbah tinja telah disalurkan melalui pipa khusus atau instalasi khusus yaitu Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) jika tidak ada bagaimana limbah tersebut disalurkan oleh Rumah Sakit. Tujuan Pengujian  Area Kunci olahan Hasil uji laboratorium atas limbah hasil olahan Upaya pencegahan dan penanggulanga n pencemaran yang terjadi saat pengolahan dan pembuangan limbah Tanggung jawab petugas pengolahan dan pembuangan limbah  Risk-Based Audit optimal Sedimentasi akan mengurangi kapasitas bak pengolah Parameter limbah cair olahan (effluent) melebihi baku mutu Parameter lumpur kering residu IPAL melebihi baku mutu limbah cair berlebih dibandingakan kapasitas sarana pengolah air limbah (IPAL) atau overflow pencemaran badan air dan pencemaran udara di sekitar IPAL Pengujian Subtantif     Analisa sebab dan akibat jika ada saluran pembuangan air hujan yang menyatu dengan saluran pematusan di dalam komplek Rumah Sakit.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. lengkapi dengan Berita Acara analisa bersama ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji.

seperti: Ammonia (NH3) dan Hidrogen Sulfida (H2S) di sekitar IPAL (udara ambient) atau fasilitas umum/RSUD yang terdekat dengan IPAL atau tempat yang sesuai dengan observasi dan pertimbangan profesional auditor. penyimpanan dan pembuangannya. Tujuan Pengujian Area Kunci Risk-Based Audit  Pengujian Subtantif Lakukan pengujian dan analisa bersama tenaga ahli laboratorium independen terhadap sampel lumpur kering Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium independen terhadap parameter tingkat kebauan. Analisa sebab dan akibat jika parameter air permukaan tersebut tidak sesuai dengan baku mutu. pH. Phospat. DO (Dissolved Oxygen/Oksigen Terlarut). BOD. serta parameter lain sesuai dengan ketentuan. Periksa kegiatan pemeliharaan sarana pengelolaan limbah cair yaitu: bak kontrol/penampungan. selanjutnya analisa sebab dan akibat jika pemeliharaan tersebut dilakukan tidak optimal serta sebab dan akibat jika komponen-komponen tersebut mengalami kerusakan atau tidak berfungsi normal. Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium independen terhadap parameter air permukaan seperti: suhu. Analisa sebab dan akibat jika parameter limbah cair dan tingkat kebauan tersebut tidak sesuai dengan baku mutu. lengkapi dengan Berita Acara analisa bersama ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji. komponen-komponen IPAL dan outlet IPAL. apakah telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dan memperhatikan ketentuan serta SOP/Protap yang berlaku        Limbah Padat Medis: Direktorat Litbang Limbah Padat Medis: Badan Pemeriksa Keuangan 6 . Lakukan pengambilan sampel atas air permukaan (jika RSUD menggunakan air permukaan seperti air sumur bor untuk keperluan RSUD) dengan bantuan tenaga ahli laboratorium independen guna mengetahui apakah pengelolaan limbah cair telah menurunkan kualitas air permukaan. residu tersuspensi. lengkapi dengan Berita Acara analisa bersama ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji. pengolahan. saluran perpipaan. lengkapi dengan Berita Acara pengambilan sampel atas air permukaan. inlet IPAL. Periksa pengelolaan limbah cair radioaktif sejak penampungan di setiap instalasi yang menggunakan zat radioaktif. residu terlarut. COD.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Ammonia.7 No.

partikel. apakah ada kemungkinan karena tidak adanya pemisahan limbah padat medis dan non medis pada saat pengumpulan maupun pengangkutan limbah Lakukan pengambilan sampel atas emisi cerobong incinerator dibantu oleh tenaga ahli laboratorium independen. selanjutnya. lengkapi dengan Berita Acara analisa bersama ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji. Hidrogen Sulfida (H2S). opasitas atau kepekatan. jika ya. pemukiman atau fasilitas RSUD lainnya incinerator tidak layak/tidak berfungsi/kurang berfungsi sehingga menimbulkan pencemaran incinerator juga digunakan untuk mengolah limbah padat non medis parameter emisi hasil pembakaran pada incinerator melebihi baku mutu pembuangan abu/debu incinerator yang masih mengandung logam berat atau B3 tidak layak sehingga masih menimbulkan pencemaran  Pengujian Subtantif    Lakukan pemeriksaan fisik lokasi pengelolaan limbah padat medis berupa incinerator dan/atau tempat pembakaran untuk membuktikan bahwa lokasinya berada pada area bebas banjir dan jarak antara lokasi dengan fasilitas RSUD dan fasilitas umum lebih dari 50 meter. Analisa sebab dan akibat jika parameter emisi cerobong incnerator tersebut  -        Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7 . Nitrogen Dioksida (NO2). Seng/Zinc (Zn) dan Timah Hitam/Plumbum (Pb). teliti apakah persyaratan-persyaratan berikut telah terpenuhi: - Memiliki sistem penjagaan sesuai dengan SOP/Protap sistem penjagaan RSUD selama 24 jam Mempunyai penerangan yang memadai Memiliki tanda peringatan yang mudah terlihat dari jarak 10 meter Mempunyai peralatan penanggulangan darurat dan menyediakan peralatan yang menjamin Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Memiliki tempat penampungan sementara sebelum limbah padat medis dibakar di incinerator Lakukan observasi atas kondisi fisik dan kelayakan operasi incinerator dan bandingkan dengan dokumen yang menjelaskan spesifikasi incinerator serta manual tata cara pemeliharaan dan pengoperasian incinerator. Sulfur Dioksida (SO2). seperti parameter bukan logam yaitu: Ammonia (NH3). Cadmium (Cd). Antimon/Stambum (Sb). Lakukan observasi dan teliti apakah incinerator juga digunakan untuk mengolah limbah padat non medis. Arsen (As). Hidrogen Fluorida (HF). Hidrogen Klorida (HCl). Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium independen terhadap parameter emisi cerobong incinerator. analisa sebab dan akibat jika kondisi fisik dan kelayakan operasi incinerator tidak sesuai dengan ketentuan. Gas Klorin (Cl2). lengkapi dengan Berita Acara Pengambilan Sampel. Tujuan Pengujian Area Kunci  Risk-Based Audit tidak dilakukan pemusnahan pemusnahan tidak dilakukan pada incinerator incinerator/tempat pemusnahan tidak terisolir/dekat dari instalasi rawat jalan/inap.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. serta parameter logam berat yaitu: Air Raksa/Hidrargirum (Hg). teliti sebab dan akibatnya. Selain itu.7 No.

Timah Hitam (Pb) lengkapi dengan Berita Acara Analisa bersama ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji. Pemantauan atas pengelolaan limbah medis dan non medis Pemeriksaan air limbah (inlet dan outlet IPAL) Bandingkan hasil kegiatan itu dengan program kerja. Antimon/Stambum (Sb). b.7 No. apakah tidak terjadi penyimpangan. Analisa sebab dan akibat jika parameter udara ambien tersebut melebihi baku mutu. Carbon Monoksida (CO). teliti lebih lanjut sebab dan akibatnya. Bila terjadi penyimpangan. Lakukan pemeriksaan untuk mengetahui pelaksanaan dari program kerja pemantauan lingkungan/ pemeriksaan laboratorium tersebut. Air Raksa/Hidrargirum (Hg). debu total. Nitrogen Dioksida (NO2). Lakukan pengambilan sampel atas abu/debu hasil pembakaran pada incinerator dibantu oleh tenaga ahli laboratorium independen lengkapi dengan Berita Acara pengambilan sampel. perbaikan dan penambahan kapasitas pengelolaan limbah. Mangan (Mn). Badan Pemeriksa Keuangan 8     6. Cobalt (Co). Tujuan Pengujian Area Kunci Risk-Based Audit melebihi baku mutu. Periksa cara penanganan abu/debu incinerator yang tidak boleh dibuang ke TPA tetapi harus disimpan atau ditimbun (landfilling) sesuai dengan peraturan perundangan. Arsen (As). Tidak dilakukannya pemeriksaan air limbah (inlet      Direktorat Litbang . lokasi pemantauan. Dapatkan dan pelajari dokumen hasil kegiatan pemantauan tersebut antara lain: a. Hidrokarbon (HC). parameter yang dipantau maupun frekuensi pemantauannya. O3 (Oksidan atau ozon di permukaan). Chrom (Cr). Cadmium (Cd). Apakah proses pemantauan dan pengawasan pengelolaan limbah RSUD telah sesuai dengan peraturan perundangundangan. selanjutnya analisa sebab dan akibat jika debu/abu incinerator tidak ditangani sesuai dengan ketentuan. Pelaksanaan pemeriksaan laboratorium  Tidak tersedianya SOP pemantauan dan pengawasan pengelolaan limbah Tidak tersedianya biaya pemeliharaan. Pengujian Subtantif  Lakukan pengujian dan analisa atas udara ambien oleh tenaga ahli laboratorium independen di sekitar incinerator atau fasilitas umum/RSUD yang terdekat dengan incinerator atau tempat yang sesuai dengan observasi dan pertimbangan profesional auditor terhadap parameter udara ambien seperti parameter: Sulfur Dioksida (SO2). baik jadwal waktu. Lakukan pengujian dan analisa bersama dengan tenaga ahli laboratorium independen terhadap parameter logam berat yang terkandung dalam abu/debu incinerator seperti contoh: Besi/Ferrum (Fe). debu jatuh dan logam berat Timah Hitam (Pb) lengkapi dengan Berita Acara Analisa bersama ataupun hasil pengujian dari laboratorium penguji. partikel. Aluminium (Al).Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.  Standard Operating Prosedure atas pemantauan dan pengawasan pengelolaan limbah. Seng/Zinc (Zn) dan Timah Hitam/Plumbum (Pb).

apakah dipelajari oleh pihak yang membawahi unit/instalasi/tim tersebut dan dijadikan dasar pelaporan dari Direktur RSUD kepada instansi pengendali dampak lingkungan setempat. Teliti keberadaan personil yang melakukan pemantauan dan pengawasan pengelolaan limbah. Lakukan pemeriksaan terhadap laporan yang disusun oleh unit/instalasi/tim pengelola limbah tersebut. Bila ada.  Personil pengelola limbah yang mempunyai kecakapan dalam memantau dan mengawasi proses pengelolaan limbah  Risk-Based Audit dan outlet) emisi insenerator dan udara ambien secara berkala kepada laboratorium setempat. teliti lebih lanjut apakah tim/instalasi/unit pengelola limbah telah mengawasi dan menanggulangi kondisi tersebut. Bila belum dilakukan tindak lanjut. teliti lebih lanjut alasannya. Teliti masa berlaku ijin atas pengelolaan limbah dari instansi tekait Badan Pemeriksa Keuangan 9           Direktorat Litbang . Tanyakan apakah personil yang melakukan pemantauan dan pengawasan tersebut telah mendapatkan pelatihan pengelolaan limbah khususnya penanganan limbah B3 Lakukan wawancara dengan masyarakat sekitar apakah ada keluhan terhadap pencemaran lingkungan di sekitar badan air dan tempat pemukiman serta apakah ada keluhan dan pengaduan masyarakat kepada pihak yang terkait/berwenang. Lakukan pemeriksaan untuk membuktikan bahwa tim/instalasi/unit pengelola limbah telah memenuhi kewajiban menyampaikan laporan hasil pemantauan selama berkala (triwulanan) kepada pihak yang membawahi unit/instalasi/tim tersebut. Teliti apakah instansi tersebut pernah memberikan teguran atas kelalaian dalam penyampaian laporan. Pengujian Subtantif  Teliti seluruh hasil kegiatan pemantauan dan pemeriksaan laboratorium selama dua tahun anggaran terakhir dan apakah hasil tersebut telah diperbandingkan sebagai landasan untuk evaluasi. Wakil Direktur. emisi insenerator dan udara ambien. Tujuan Pengujian Area Kunci untuk air limbah. Bila sudah. Bapedalda Propinsi/Kabupaten/Kota mengenai pengelolaan dampak lingkungan pada rumah sakit yang diperiksa dan pemberian ijin pengelolaan limbah.7 No. teliti sebab dan akibatnya. Kekurangan personil dalam tim/unit pengelola limbah yang melakukan pemantauan dan pengawasan. Dapatkan informasi dari instansi pengendali dampak lingkungan di daerah dhi. contoh. dapatkan hasil evaluasi tersebut dan teliti apakah hasil evaluasi itu telah efisien dan efektif dalam pengelolaan lingkungan Periksa apakah telah dilakukan tindak lanjut untuk perbaikan terhadap hasil pemantauan/ pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan penyimpangan baku mutu dan yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Bila tidak ada. Bila ijin pengelolaan limbah tidak ada.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. Tidak ada laporan yang dibuat terkait kegiatan pengelolaan limbah. teliti lebih lanjut sebab akibatnya.

teliti apakah hasil pengadaan tersebut telah sesuai dengan rencana yang diusulkan oleh tim/instalasi/unit pengelola limbah tahun anggaran yang diperiksa. Kemahalan harga pengadaan.              Direktorat Litbang 10 . Uji ke anggaran perawatan/pemeliharaan. Lakukan pengujian atas kecukupan anggaran dan realisasi biaya untuk mengelola limbah cair dan padat medis dalam setiap tahapan proses serta biaya pemeliharaan dan perbaikan atau penambahan kapasitas pengelolaan limbah Perhatikan spesifikasi incinerator yang digunakan (serta dapatkan manual guide). Bandingkan antara realisasi keuangan dan realisasi fisik atau non fisik apakah dana yang dikeluarkan sebanding dengan hasil yang dicapai (efektivitas pencapaian sasaran). Tujuan Pengujian Area Kunci Risk-Based Audit  Pengujian Subtantif Kesesuaian perijinan yang diterbitkan dengan kelengkapan pengolah limbah yang dimiliki. Dapatkan daftar hasil pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah. Telaah apakah sarana dan prasarana pengelolaan limbah yang diadakan telah dimanfaatkan secara optimal dan jika tidak. teliti kendala-kendala yang dihadapi. Lakukan pemeriksaan fisik terhadap barang yang dibeli baik kualitas maupun kuantitasnya. apakah telah sesuai dengan harga pasar atau standarisasi harga yang dibuat oleh pemerintah. antara lain tenaga operator. efisiensi dan efektivitas. bila ada tanyakan penyebabnya Periksa apakah prosedur pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang dan jasa bagi instansi pemerintah.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3. apakah terdapat rencana pengadaan barang yang tidak dapat dilaksanakan. apakah telah dilakukan pengawasan dan pemeriksaan oleh tim/panitia pemeriksa barang.7 No. Ketidaksesuaian antara spesifikasi pekerjaan dalam kontrak dengan yang sebenarnya. teliti dokumen hibah/pinjampakai atas mesin pengolahan limbah yang berasal dari hibah dan atau hanya bersifat pinjam pakai.  Perencanaan anggaran pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah telah disesuaikan dengan kebutuhan. Dikaitkan dengan manajemen asset. untuk memastikan bahwa mesin pengolah limbah tersebut di operasikan dan di rawat dengan baik. Jika terdapat perbedaan dengan spesifikasi dalam kontrak. daya dan komponen pendukung lainnya Periksa apakah biaya pemeliharaan yang dianggarkan mendukung pemeliharaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah dan telah direalisasikan sesuai Badan Pemeriksa Keuangan 7.  Sarana pengelolaan limbah yang telah diadakan tidak dimanfaatkan. Pelaksanaan pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah telah memperhitungk an nilai ekonomis. Uji lagi ke anggaran realisasi biaya perawatan/pemeliharaan. Apakah proses pengadaan barang dan jasa untuk pengelolaan limbah RSUD telah sesuai dengan peraturan perundangundangan. Lakukan analisis terhadap kewajaran harga atas pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah.

Tujuan Pengujian Area Kunci Risk-Based Audit peruntukannya. Pengujian Subtantif Direktorat Litbang 11 Badan Pemeriksa Keuangan .Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 3.7 No.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan ..Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.20… … Ketua Tim ………………………………… NIP………………………… …...1 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Review Sheet Ketua Tim No Indeks KKP Risalah Hasil Pembahasan Tindak Lanjut/Tanggal …………….………….

.…………. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan .1 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Review Sheet Pengendali Teknis No Indeks KKP Risalah Hasil Pembahasan Tindak Lanjut/Tanggal ……………..Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4..20… … Pengendali Teknis ………………………………… NIP………………………… ….

20… … Penanggung Jawab ………………………………… NIP………………………… ….1 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Review Sheet Penanggung Jawab No Indeks KKP Risalah Hasil Pembahasan Tindak Lanjut/Tanggal …………….………….. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan ..Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4..

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan .2 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia LAPORAN PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PEMERIKSAAN Kriteria Penilaian Laporan Perkembangan Pelaksanaan Pemeriksaan PERENCANAAN PEMERIKSAAN Pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan Pemenuhan kebutuhan pemeriksa Pemahaman atas entitas Pemantauan tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan sebelumnya Pemahaman sistem pengendalian intern Pemahaman risiko Penentuan pengambilan sampel yang akan diuji laboratorium Pelaksanaan prosedur analitis awal Penyusunan program pemeriksaan dan penyusunan program kerja perorangan PELAKSANAAN PEMERIKSAAN Pengujian Sistem Pengendalian Intern Pengujian Substantif Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan Pembahasan Konsep Temuan Pemeriksaan dengan Pejabat Entitas yang Berwenang Perolehan Tanggapan Resmi dan Tertulis Penyampaian Temuan Pemeriksaan PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Penyampaian Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan kepada Pejabat Entitas Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Pejabat Entitas Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan Kesesuaian dengan tujuan dan harapan penugasan serta program pemeriksaan Belum Sudah Sesuai Sesuai No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 Keterangan: Kolom kesesuaian dengan tujuan dan harapan penugasan serta program pemeriksaan diisi dengan membubuhkan tick mark (√) pada kolom yang tepat.

.20. Penanggung Jawab……… di………………………… ………………………… NIP……………………...2 ……………. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan ..Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.………….

Penanggung jawab Pengendali Teknis Ketua Tim Pengendali Teknis : : : Penanggung Jawab : …………. ……………..3 LEMBAR KENDALI PENYELESAIAN LAPORAN Tanggal pemeriksaan dimulai Tanggal pemeriksaan selesai Tanggal TP ditandatangani Tanggal pembahasan TP selesai Proses Penyelesaian KHP Nama Entitas Semester Tahun Anggaran : : : : : : : Rekapitulasi jumlah hari penyelesaian KHP No Penyelesaian Laporan oleh Tim Pengendali Teknis Penanggung Jawab 1. 20…. 2.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.. 3. ………………….. Penanggung Jawab …………… di …… …………………… NIP……………… Keterangan : Kolom pada Proses Penyelesaian KHP diisi dengan tanggal saat terakhir penyelesaian pada setiap penanggung jawab yang bersangkutan Satu kolom berisi satu tanggal Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan .

• Dikomunikasikan dengan seluruh anggota tim pemeriksaan. Pengendali Teknis dan Ketua Tim).4 CHECKLIST PENJAMINAN MUTU PEMERIKSAAN Penanggung Jawab Pengendali Teknis Ketua Tim Pemeriksaan Entitas yang diperiksa Tahap penyelesaian Tanggal mulai reviu Tanggal akhir reviu Pembahasan temuan Nama Pereviu* * Jika dilakukan oleh pihak di luar Tim Kami. Penanggung Jawab Pengendali Teknis Ketua Tim Ketua Sub Tim (jika ada) Pereviu* Tanggal * Jika dilakukan oleh pihak di luar Tim Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 1 .Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4. yang bertandatangan di bawah ini. menyatakan bahwa temuan di dalam reviu ini telah: • Dibahas dengan manajemen (Penanggung Jawab.

berikan tanda tick () pada kolom ‘Ya’.  Apakah dilaksanakan pemahaman entitas yang diperiksa untuk membantu perencanaan pemeriksaan. KK Keterangan Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 2 . penanggung jawab pemeriksa dan wakilnya yang bertanggung jawab atas reviu perencanaan pemeriksaan harus melaksanakan reviu untuk menentukan masalah berikut ini: Uraian/Langkah Kerja  Apakah perencanaan pemeriksaan dilakukan sesuai dengan kebijakan pemeriksaan. SPKN. Checklist Perencanaan Pemeriksaan Bagi pengendali teknis. panduan pemeriksaan dan praktek yang berlaku di BPK. saran DPR/DPRD.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4. dikembangkan suatu Reviu Pengendalian dan Penjaminan Mutu.  Apakah ada sumber informasi seperti media. Untuk itu. Pereviu tidak dibatasi pada unsur-unsur yang dimasukkan di dalam checklist ini dan segala hal yang mungkin mempunyai dampak terhadap kualitas pemeriksaan harus dipertimbangkan. temuan aparat pemeriksaan internal.4 Pendahuluan: Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mensyaratkan bagi setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan SPKN untuk memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai. pereviu silang. permintaan pemerintah dan pihak lain sebagai latar belakang pemeriksaan. Seluruh pertanyaan sedapat mungkin harus diberikan rujukan pada KKP yang berkaitan dalam file pemeriksaan tersebut. disertai dengan penjelasan yang memadai. berikan tanda tick () pada kolom ‘Tidak ada’.  Apakah ada informasi relevan terkait ketentuan/peraturan perundangundangan yang berdampak secara signifikan pada tujuan pemeriksaan. Apabila temuannya negatif. Selain itu perlu dibuat suatu rujukan baik pada risalah pembahasan temuan dengan manajemen atau pada laporan final QAR (Quality Assurance Reviu). inspeksi dan badan pengatur lain. disertai dengan alasan/penjelasan yang memadai dalam kolom yang disediakan.  Apakah tujuan dan lingkup pekerjaan pemeriksaan telah ditentukan. Ya Tidak Tidak Ada Ref. Apabila pertanyaannya tidak dapat diterapkan. DPD. Apabila temuan dari pertanyaan tertentu positif. berikan tanda tick () pada kolom ‘tidak’. dan sistem pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang berkompeten.

 Apakah elemen-elemen kunci sistem pengendalian dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang wajib dipatuhi oleh entitas yang diperiksa telah teridentifikasi.  Apakah telah dilakukan evaluasi terhadap SPI entitas yang diperiksa.  Apakah konsultan atau tenaga ahli diperlukan.  Apakah masalah penting yang diketahui pada saat perencanaan pemeriksaan telah diungkapkan.  Apakah metode uji petik telah ditentukan.  Apakah sumber daya manusia yang diperlukan bagi pelaksanaan pemeriksaan memenuhi kriteria kompeten .  Apakah terdapat prosedur lain dan praktek yang dipergunakan dalam tahap perencanaan pemeriksaan.  Apakah prosedur analisis telah diterapkan secara tepat. Checklist Pelaksanaan Pemeriksaan Bagi pengendali teknis.  Apakah anggaran dan penjadwalan waktu untuk pemeriksaan telah ditentukan. pereviu silang. penanggung jawab pemeriksa dan wakilnya yang bertanggung jawab atas reviu pelaksanaan pemeriksaan harus melaksanakan reviu untuk menentukan masalah berikut ini: Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 3 . Ya Tidak Tidak Ada Ref. KK Keterangan  Apakah konsultan atau tenaga ahli dipilih dengan tepat. independen.4 Uraian/Langkah Kerja  Apakah prosedur pemeriksaan telah dibuat secara memadai.  Apakah risiko audit telah ditetapkan. dan memiliki integritas .  Apakah program pemeriksaan telah meliputi tindak lanjut hasil pemeriksaan sebelumnya .  Apakah seluruh anggota tim pemeriksa memiliki pemahaman yang jelas dan konsisten mengenai program pemeriksaan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.

 Apakah semua pertanyaan yang timbul selama pemeriksaan telah diselesaikan sepatutnya. penentuan materialitas.  pemeriksaan prosedur yang rutin. Ya Tidak Tidak Ada Ref.  Apakah P2S yang dibuat telah memadai untuk perolehan bukti yang memadai.  Apakah terdapat penjelasan yang memadai untuk langkah-langlah dalam P2S yang tidak dilaksanakan.  Apakah sumber daya (waktu. obyektivitas dan mutu data pendukung yang relevan. evaluasi risiko.  Apakah kertas kerja yang memadai telah diperoleh mengenai:  evaluasi sistem pengendalian intern. kemampuan personil.  pengujian substantif Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 4 .  Apakah terdapat persetujuan yang sepatutnya untuk deviasi signifikan dari pelaksanaan P2S.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4.  reviu analitikal dan pengujian kepatuhan. dan biaya) untuk pemeriksaan sebagian besar sesuai dengan yang telah direncanakan.  Apakah teknik dan prosedur pemeriksaan yang yang dipergunakan telah tepat untuk mencapai tujuan pemeriksaan Apakah pengujian-pengujian yang dipergunakan telah tepat untuk mengevaluasi keandalan pengendalian intern dan kepatuhan pada ketentuan peraturan perundang-undangan.  Apakah metode sampling yang digunakan sesuai dengan SPKN dan panduan manajemen pemeriksaan BPK. KK Keterangan   Apakah prosedur analitikal yang digunakan telah tepat.4 Uraian/Langkah Kerja  Apakah semua tahap pemeriksaan sudah dilaksanakan sebagaimana direncanakan dan disetujui.  pengujian pengendalian.  Apakah prosedur analitikal yang digunakan dapt menjamin keandalan.

dampak pelanggaran terhadap keuangan negara. disetujui dan didukung bukti yang memadai. tujuan. KK Keterangan Checklist Pelaporan Pemeriksaan Bagi pengendali teknis. ketepatan waktu penyampaian laporan dan lain sebagainya. alamat yang dituju.4 Uraian/Langkah Kerja  Apakah KKP telah memuat referensi silang.  Apakah bentuk dan isi laporan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan yaitu mengenai judul. Ya Tidak Tidak Ada Ref. pereviu silang.  Apakah prosedur lain dan praktik yang dipergunakan dalam pelaksanaan pemeriksaan memadai. KK Keterangan  Apakah terminologi dalam laporan dapat dengan mudah dimengerti oleh stakeholder dan istilah-istilah teknis telah semuanya dijelaskan dalam laporan.  Apakah semua temuan pemeriksaan telah dievaluasi dari segi materialitas.  Apakah semua kekeliruan. tandatangan.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4. ketidakakuratan dan ketidakberesan lainnya. dasar hukum.  Apakah pemeriksaan telah memuat bukti kompeten tentang ketentuan peraturan perundangan-undangan yang dilanggar. lingkup pekerjaan. kekeliruan. estimasi (potensi) kerugian keuangan. simpulan dan rekomendasi. Ya Tidak Tidak Ada Ref. tanggal. penanggung jawab pemeriksa dan wakilnya yang bertanggung jawab atas reviu pelaksanaan pemeriksaan harus melaksanakan reviu untuk menentukan masalah berikut ini: Uraian/Langkah Kerja  Apakah pelaporan sesuai dengan SPKN dan PMP.  Apakah pekerjaan konsultan dan tenaga ahli lain telah dipantau sepatutnya dan hasil pekerjaannya mendukung simpulan pemeriksaan. kekurangan/ Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 5 .  Apakah checklist penyelesaian pemeriksaan terinci telah diselesaikan dengan lengkap.

Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4. dilaksanakan oleh pemeriksa kompeten yang independen.  Apakah tanggapan pimpinan entitas yang diperiksa dimuat dalam laporan hasil pemeriksaan.4 Uraian/Langkah Kerja defisiensi. Ya Tidak Tidak Ada Ref. didokumentasikan sepatutnya dan dicerminkan memadai dalam simpulan laporan. dan masalah yang tidak biasa telah diidentifikasi sepatutnya.  Apakah hanya temuan pemeriksaan yang cukup material dimasukkan dalam laporan pemeriksaan.  Apakah semua temuan.  Apakah laporan pemeriksaan final telah memuat semua hal yang mencerminkan tujuan pemeriksaan.  Apakah tanggapan dari manajemen entitas yang diperiksa atas hasil pemeriksaan telah diterima oleh tim pemeriksa tepat pada waktunya. komprehensif.  Apakah tim pemeriksa telah mengevaluasi secara cermat tanggapan tersebut. relevan dan beralasan (reasonable).  Apakah observasi dan simpulan dalam laporan telah didukung dan didokumentasikan dengan baik untuk meyakinkan kelengkapan.  Apakah laporan telah disampaikan tepat waktu.  Apakah jika ada kecurangan signifikan atau penyimpangan lain telah diberitahukan kepada pejabat yang Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 6 . akurasi dan validitas kertas kerja. simpulan dan rekomendasi yang diberikan tanggapan oleh pimpinan entitas yang diperiksa telah dievaluasi sepatutnya. cukup. didokumentasi dan telah diselesaikan dengan memuaskan.  Apakah laporan telah memuat atau menyatakan kelemahan-kelemahan pengendalian dan ketidakpatuhan dan disampaikan kepada manajemen entitas yang diperiksa tepat pada waktunya. KK Keterangan  Apakah evaluasi dan simpulan telah didasarkan pada pertimbangan profesional yang sehat dan didukung oleh bukti pemeriksaan yang kompeten.

Direktorat Litbang PDTT Badan Pemeriksa Keuangan 7 . Ya Tidak Tidak Ada Ref.Juknis Pemeriksaan Atas Pengelolaan Limbah RSUD Lampiran 4. baik internal maupun ekternal. KK Keterangan  Apakah arsip permanen (permanent file) pada KKP telah dimutakhirkan dan dipisahkan dari kertas kerja berjalan (currrent file) serta disimpan teratur.  Apakah prosedur lain dan best practices telah diterapkan dalam tahap pelaporan.4 Uraian/Langkah Kerja berwenang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful