1

PRAKATA


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa, berkat bimbingan dan ridlonya
akhirnya saya bisa menyelesaikan penulisan buku buku ini. Buku ini saya tulis dengan maksud
untuk memenuhi kebutuhan bahan pengajaran pada Sekolah Tinggi Teknologi PLN sebagaimana
ditentukan didalam buku panduan pengajaran bidang studi pengetahuan Pembangkit Thermal pada
program studi D III, dan bidang studi Tehnik Tenaga Uap dan Gas pada program studi S I.
Mengingat buku ini mencakup berbagai jenis pembangkit, dan diperuntukkan untuk
program studi 2 ( dua ) SKS, maka pembahasannya tidaklah begitu mendalam, dan sekedar memberi
gambaran kepada mahasiswa untuk mengenal secara garis besar dari pembangkit pembangkit
tersebut. Untuk lebih mengenal secara lebih detail disarankan agar para pembaca / mahasiswa
membaca pula buku buku terkait dari masing masing jenis pembangkit maupun peralatan terkait
seperti buku: turbin uap, turbin gas, penukar kalor, pompa dlsb.
Akhirnya kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu terselesaikannya buku ini, terutam kepada Civitas Akademika STT PLN yng telah
banyak mendorong kami meneyelesaikan buku ini.

Semoga bermanfaat.

Jakarta 1 Juli 2008

Habib Rochani


















2

DAFTAR ISI


PRAKATA 1
DAFTAR ISI 2

I. PENGUSAHAAN ENERGI LISTRIK 5
II. DASAR-DASAR THERMODINAMIKA 8
2.1 Besaran besaran Termodinamika. 8
2.2 Hukum Pertama Thermodynamika. 8
2.3 Factor Konversi Energy. 9
2.4 Hukum Hukum Gas Ideal. 10
2.5 Proses proses Ideal. 11
2.6 Proses Keliling. 17
2.7 Hukum Thermodinamika II. 14
2.8 Proses Keliling Carnot. 19
2.9 Sifat sifat Air dan Uap. 21
2.10 Tabel Uap. 23
2.11 Diagram Entalpi – Entropi. 23
2.12 Soal –Soal. 23

III. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP 25
3.1 Umum. 25
3.2 Bagian bagian Utama. 25
3.3 Siklus Rankine. 26
3.4 Boiler. 29
3.4.1 Klasifikasi Boiler. 29
3.4.2 Effisiensi & kerugian didalam Boiler. 34
3.4.3 Kelengkapan Boiler. 37
3.4.4 Air Pengisi Boiler. 40
3.5 Turbin. 42
3.5.1 Klasifikasi Turbin. 43
3.5.2 Daya Turbin. 45
3.5.3 Konsumsi Kalor Turbin ( Turbine Heat Rate ). 47
3.5.4 Kelengkapan Turbin. 48
3.6 Kondensor. 52
3.6.1 Klasifikasi Kondensor. 52
3.6.2 Kelengkapan Kondensor. 53
3.6.3 Jalannya proses Perpindahan Panas. 57
3.7 Pemanas Air Pengisi Boiler. 60
3.8 Sistim Kontrol PLTU. 63
3.9 Soal soal. 64



Hal.
3

IV. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI 65
4.1 Umum. 65
4.2 Klasifikasi. 67
4.3 Energi yang dibangkitkan. 69
4.4 Komponen Utama. 69

V. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR 71
5.1 Umum. 71
5.2 Klasifikasi. 71
5.3 Reaksi Nuklir. 72
5.4 Keuntungan dan Kerugian Energian. 75

VI. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS 78
6.1 Umum. 78
6.2 Prinsip kerja Turbin Gas / Siklus Brayton. 79
6.3 Effisiensi Turbin Gas. 80
6.4 Siklus Brayton yang Dimodifikasi. 81
6.5 Klasifikasi Turbin Gas. 84
6.6 Bagian utama Turbin Gas. 85
6.7 Kelengkapan Turbin Gas. 90
6.8 Faktor faktor yang mempengaruhi umur bagian Turbin Gas. 94
6.9 Faktor faktor yang mempengaruhi unjuk kerja ( perfor-
mance ) Turbin Gas. 95

VII PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS DAN UAP 103
7.1 Umum. 103
7.2 Klassifikasi PLTGU. 104
7.3 Siklus Kombinasi. 105
7.4 Bagian bagian utama PLTGU. 106

VIII PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL 109
8.1 Umum. 109
8.2 Cara kerja / Siklus Diesel. 111
8.3 Effisiensi. 115
8.4 Bagian bagian utama Mesin Diesel. 116
8.5 Kelengkapan Mesin Diesel. 121
8.6 Unjuk kerja ( performance ). 127

IX GENERATOR. 132
9.1 Umum. 132
9.2 Prinsip kerja Generator. 132
9.3 Beban Generator. 135
9.4 Generator 3 phasa. 137
9.5 Generator Sinkron. 138
9.6 Penguatan Generator. 139
9.7 Generator beroperasi didalam Jaringan. 141
4

9.8 Batas batas Pengoperasian Generator. 143
9.9 Pendinginan Generator. 144

X PENGOPERASIAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK. 146
10.1 Umum. 146
10.2 Memparalelkan Pembangkit. 146
10.3 Operasi pembangkit dalam Jaringan Interkoneksi. 147
10.4 Faktor faktor Operasi dan Keandalan Pembangkit. 147
10.5 Penentuan Harga Listrik Keluar Pembangkit. 149

XI LIMBAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA THERMAL 150
11.1 Umum. 150
11.2 Batasan Pencemaran. 150

XII LAMPIRAN 158
1. Diagram Mollier 158
























5

I
PENGUSAHAAN ENERGI LISTRIK

Energi listrik sebagaimana dapat dinikmati dirumah tangga, di kantor dan industri-industri
berasal dari berbagai bentuk energi primer yang terdapat didalam alam, sebagaimana dapat dilihat di
dalam tabel 1.1. Didalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa energi listrik dapat diusahakan dari
berbagai macam bentuk energi primer, namun sampai saat ini pengusahaan energi listrik dengan
skala besar hanya dapat dilakukan melalui generator listrik yang digerakkan oleh mesin penggerak.
.
Tabel 1.1 : Berbagai proses perubahan energi primer kedalam energi listrik
ENERGI
PRIMER
Energi Inti Energi Kimia Energi Panas Energi
Mekanik
Energi Listrik

Beda potensial
diantara unsur-
unsur kimia

Panas bumi



Bahan bakar
fosil





Air terjun

Bahan bakar
Nuklir

Angin


Sinar matahari



















Reaktor nuklir

Elemen
galvanis







Pembakaran







Ketel Uap










Penukar
kalor




Ketel matahari





Turbin uap

Turbin
Uap

Turbin
Gas

Motor
Diesel

Turbin air

Turbin uap


Turbin
Angin

Turbin uap





Kutub-kutub
elemen galvanis


Generator

Generator


Generator

Generator

Generator
Generator


Generator

Generator
Sel matahari

Mesin penggerak ( engine ) adalah adalah mesin yang dapat merubah energi primer menjadi
kerja mekanik. Mesin penggerak terbagi menjadi dua golongan utama yaitu mesin penggerak dengan
pembakaran ( combustion engine ) dan mesin penggerak dengan tanpa pembakaran ( non combustion
engine ). Mesin penggerak dengan pembakaran dibagi menjadi dua kelompok yaitu mesin penggerak
dengan pembakaran didalam ( internal combustion engine ) dan mesin penggerak dengan
6

pembakaran diluar ( external combustion engine ). Mesin penggerak dengan tanpa pembakaran
diperoleh dari gerakan gerakan didalam alam seperti angin, air tejun dan gelombang laut. Dengan
gerakan gerakan alam tersebut kemudian dirubah menjadi gerak putar guna memutar generator listrik
dan menghasilkan listrik.
Mesin penggerak yang menggunakan suhu tinggi digolongkan sebagai mesin thermal ( mesin
panas ), karena itu mesin penggerak dengan pembakaran, baik pembakaran didalam ( internal )
maupun pembakaran diluar ( external ) juga disebut sebagai mesin thermal. Yang termasuk kedalam
mesin dengan pembakaran didalam adalah mesin Diesel, mesin Otto, mesin Wankle dan mesin turbin
gas, sedang yang termasuk kedalam mesin dengan pembakaran diluar adalah, mesin uap, turbin uap
dan mesin Sterling.
Energi thermal adalah energi panas yang dapat diperoleh dari pembakaran bahan bakar,
reaksi berantai didalam reactor nuklir, sinar matahari atau langsung dari dalam tanah berupa uap
panas. Pengusahaan energi listrik dari energi thermal dilakukan dengan suatu proses tertentu didalam
berbagai jenis pembangkit tenaga listrik seperti berikut:
PLTD : Pembangkit Listrik Tenaga Diesel
PLTG : Pembangkit Listrik Tenaga Gas
PLTU : Pembangkit Listrik Tenaga Uap.
PLTGU : Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap.
PLTN : Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
PLTP : Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi.
Pada PLTD proses perubahan energi thermal menjadi energi mekanik ( yang kemudian
digunakan untuk menggerakkan generator listrik ) berlangsung dengan menggunakan mesin diesel,
sedang pada PLTG menggunakan turbin gas.
Pada PLTU, PLTN dan PLTP proses perubahan energi thermal menjadi energi mekanik
berlangsung dengan menggunakan turbin uap. Energi mekanik yang diperoleh kemudian digunakan
untuk menggerakkan generator listriknya. Uap sebagai pengge-rak turbin diperoleh dari:
- Pemanasan air didalam boiler oleh pembakaran bahan bakar pada jenis pembangkit PLTU.
- Pemanasan air tidak langsung didalam reaktor nuklir oleh reaksi berantai dari bahan bakar
inti pada jenis pembangkit PLTN.
- Pemanasan air didalam perut bumi oleh panasnya magma pada jenis pembangkit PLTP.

Ketiga jenis pembangkit tsb, mempunyai media dan prinsip kerja yang sama, dan terutama
PLTU dan PLTN dapat dijumpai dalam skala yang besar (sampai 1.300 MW untuk satu unitnya).
Ketiganya mempunyai teknologi yang komplex. Berbagai masalah akan ditemui di dalam
pembangkit ini misalnya korosi, erosi, stress, vibrasi dan lain lain.
7

Pada PLTGU proses perubahan energi thermal menjadi kerja mekanik terjadi baik didalam
turbin gas maupun turbin uap. Disini terjadi bahwa gas panas hasil pembakaran didalam ruang bakar
digunakan untuk menggerakkan turbin dari turbin gas, diteruskan untuk memanaskan air didalam
boiler guna menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin uap.
































8

II
DASAR-DASAR THERMODINAMIKA


2.1 BESARAN BESARAN TERMODINAMIKA.
PLTD dan PLTG menggunakan media kerja udara, sedangkan PLTU, PLTN maupun PLTP
menggunakan media kerja yang sama yaitu air dan uap. Air dan uap mempunyai rumus kimia yang
sama, namun keduanya mempunyai sifat fisik yang berbeda.
Untuk mengenal lebih lanjut tentang peranan media kerja pada masing masing jenis
pembangkit, terlebih dahulu perlu diketahui tentang besaran-besaran thermodinamika. Besaran
besaran tersebut akan terus digunakan didalam pembahasan pembahasan selan-jutnya.
Besaran besaran yang digunakan didalam pembahasan mesin mesin pembangkit ter-mal
antara lain adalah:

V : Total volume m
3
v : Volume spesifik m
3
/kg
p : Tekanan kg/cm
2

t : Suhu
o
C
T : Suhu absolute
o
K (
o
C +273 )
h : Enthalpy dalam kkal/kg
s : Entrophi dalam kkal/kg
o
C
Q : Total energi thermis kkal.
q : Energi thermis kkal / kg
L : Total kerja mekanik kgm.
l : Kerja spesifik kgm / kg.
A : Faktor konversi = 1/427 kkal /kgm
u : Energi dalam kkal / kg.
C
v
: Panas jenis untuk volume konstan kkal / kg
o
C
Cp : Panas jenis pada tekanan konstan kkal / kg
o
C
R : Kontanta keadaan kgm / kg
o
C.

2.2 HUKUM PERTAMA THERMODYNAMIKA.
Hubungan antara energy thermal dengan energy mekanik adalah sesuai dengan hukum
hukum Thermodynamika. Hukum pertama Thermodynamika mengatakan :
9

+ Energi bersifat kekal, tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, melainkan hanya dapat
dirubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain atau sebaliknya. Pada perubahan bentuk
energi tsb atau lebih dikenal dengan transformasi energi dari bentuk yang satu ke bentuk
yang lain, nilai besarannya tetap konstan / tidak berubah.
+ Panas adalah merupakan suatu bentuk energy, seperti halnya bentuk energi potensial atau
energi kinetis.
+ Panas dapat dirubah kedalam bentuk kerja mekanik dan kerja mekanik dapat pula dirubah ke
dalam bentuk panas.

Hukum pertama Thermodynamika di atas dapat di tulis dalam bentuk persamaan sebagai
berikut
dq = du + Apdv …………………………… (2-1)
h = u + Apv ……………………….….. (2-2)
dh = du + Apdv + Avdp
dimana :
du = perubahan energi dalam
= C
v
dT
pdv = kerja mekanik
dq = dh - Avdp …….……..……………… (2-3)
dq
T
q = s ( T
2
– T
1



2.3 FACTOR KONVERSI ENERGI
Perubahan dari energy panas dengan satuan kilo kalori ( kkal ), Kilo Joule ( kJ ) atau British
Thermal Unit ( Btu ) menjadi energy mekanik dengan satuan kilogram meter ( kgm ), kilowatt
hours ( kwh ) atau feet pound ( ftlb ) memerlukan suatu factor konversi tertentu berdasarkan hasil
reasearch yang dilakukan oleh Newton.







= ds ..…….………………....................... (2-4)
10

Tabel 2.1 Konversi dari berbagai jenis satuan energy.

Faktor factor konversi tersebut dan hubungannya dengan masing masing satuan dapat dilihat
dalam tabel 2.1. Faktor konversi ini sangat diperlukan didalam praktek mengingat pembangkit
pembangkit listrik di Indonesia berasal dari berbagai negara dengan standard satuannya masing
masing.

2.4 HUKUM HUKUM GAS IDEAL.
Gas ideal adalah gas yang dapat mengikuti hukum hukum / rumus rumus thermo-dynamika.
Hukum Gas Ideal tersebut antara lain Hukum Boyle Gay Lusac dan Hukum Persamaan Keadaan.
+ Hukum Boyle Gay Lusac:
Hasil kali tekanan dengan volume dibagi temperature absolutnya adalah konstan / tidak
berubah

…………………… ( 2.5 )
+ Hukum Persamaan Keaadaan:
………………….. ( 2.6 )

R = konstanta keadaan, untuk udara = 29,27 kgm / kg
o
C
konstan
2
2 2
1
1 1
= ÷ =
T
pv
T
v p
T
v p
RT pv RT v ;p RT v p = ÷ = =
2 2 2 1 1 1
11

2.5 PROSES PROSES IDEAL.
a. Proses volume tetap ( iso volume / isochoric )
Panas yang diberikan hanya akan menambah besarnya energi dalam.








Gb 2.1 Proses volume tetap v
1=
v
2


…………………………………………… ( 2.7 )
……………………. ( 2.8 )
………………………….. ( 2.9 )
b. Proses tekanan tetap ( isobaric )
Panas yang diberikan akan menambah besarnya energi dalam dan melakukan kerja.Panas yang
diberikan pada proses tekanan tetap semata mata hanya untuk menambah besarnya entalpi (
panas kandung ).

………………………………………………. ( 2.10 )

………………………. ( 2.11 )

................. ( 2.12 )

………… ( 2.13 )

0
1 2
1 2
1
2
1
2
= ÷ = ÷ =
÷ = ÷ = =
=
) v p(v l pdv dl
) T (T c q dt c du dq
;
T
T
p
p
v v
) T R(T ) v p(v l pdv dl
Al ) T (T c q Adl dt c dq
) T (T c q dt c dq
T
T
v
v
v v
p p
1 2 1 2
1 2
1 2
2
1
1
2
÷ = ÷ = ÷ =
+ ÷ = ÷ + =
÷ = ÷ =
=
12


Gb 2.2 Proses tekanan tetap p
1
=p
2

c. Proses temperature tetap ( isothermic )
Panas yang diberikan hanya semata mata untuk melakukan kerja.

……………………… ( 2.14 ).



………… ( 2.15 )


Gb 2.3 Proses temperatur tetap T
1
=T
2






1
2
1
2
1 1
1
2
2
1
2 2 1 1
ln ln 0
v
v
ART
v
v
v Ap Al q
dv
v
pv
dt c Apdv du Adl dq
v
v
p
p
RT v p v p
v
= + = =
+ = + = =
= ÷ = =
13

d. Proses panas ( kalor ) tetap ( adiabatic / isentropic)
Perubahan energi dalam = Perubahan kerja

Avdp CpdT Avdp dh dq
Avdp dq Avdp Apdv du dh
Apdv CvdT Apdv du Apdv du dq
÷ = ÷ ÷ =
+ = + + =
+ = ÷ + = ÷ + =
0
0 0





Gb 2.4 Proses panas / kalor tetap, q
1
=q
2

Jika persamaan tersebut diintegrasikan diperoleh:

……………………. ( 2.16 )

atau ………………. ( 2.17 )

Dari persamaan 2.5 dan disubstitusikan kedalam persaman 2.17 diperoleh:


…………………………. ( 2.18 )

Kerja proses adiabatic:


k k
k
k
k
k
k
k
k k
k
dv pv dv
v
pv
pdv dl
p
p
v
v
T
T
v
v
p
p
v p v p
pv
÷
÷
÷
= = =
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
= ÷ =
=
1
1
1
2
1
2
1
1
2
2
1
1
2
2 2 1 1
konstan
0 = + ÷ = ÷ = =
p
dp
v
dv
k vdp kpdv k
pdv
vdp
-
Cv
Cp
14


| |
| |
( )
2 2 1 1
1 1 2 2
1
1
1
2
1 1
2
1
1
1
1
1
1
1
v p v p
k
l
v p v p
k
l
v v
k
v p
dv pv l
k k
k
k k
÷
÷
=
÷
÷
=
÷
÷
= =
÷ ÷
÷
}


e. Proses politropic
Adalah sembarang proses yang memenuhi persamaan pv
n
= konstan.
Untuk :
n = 0 ÷ v
0
= 1 ÷ p
1
= p
2
÷ ( proses tekanan tetap / isobaric )
n = 1÷ p

v

= konstan; p
1
v
1
= p
2
v
2
÷( proses suhu tetap / isothermic ).
n = k ÷
k
pv = konstan;
k k
v p v p
2 2 1 1
= ÷ ( proses kalor tetap / adiabatic ).
n = ∞ ÷pv

= konstan; v
1 =
v
2
÷ ( proses volume tetap/ isochoric)


Gb 2.5 Proses politrop digambarkan didalam diagram p-v dan T-S

Mengacu pada proses adiabatic, besarnya kerja yang diperoleh:
( )
2 2 1 1
1
1
v p v p
n
l ÷
÷
=
…………………………. ( 2.20 )
Sebagaimana diuraikan didalam proses proses diatas, terdapat besaran C
v
, C
p
dan R yang
nilainya tergantung dari jenis gas yang bersangkutan. Tabel berikut ( tabel 2.1 ) menunjukkan
besaran besaran tersebut untuk berbagai jenis gas.
……………………. ( 2.19 )
15

Tabel 2.2 Sifat sifat berbagai jenis gas.

Jenis Gas
Rumus
Kimia
Berat
Jenis
Kg/m
3
Konstanta
Keadaan R
Kgm/kg
o
C
Panas Jenis
C
p
kkal/kg
o
C
C
v
kkal/kg
o
C

Oxigen
Hydrogen
Nitrogen
Carbon Monoxide
Udara
Carbon dioxide
Acetylene
Methane
Ethylene

O
2
H
2

N
2

CO

CO
2

C
2
H
2
CH
4
C
2
H
4

1,429
0,09
1,251
1,250
1,293
1,963
1,16
0,715
1,25

26,5
420,6
30,26
30,29
29,27
19,28
32,6
52,9
30,25

0,218
3,405
0,249
0,250
0,240
0,202
0,370
0,518
0,361

0,156
2,42
0,178
0,179
0,172
0,157
0,294
0,394
0,290

Contoh soal.
1. 1 kg udara didalam ruang pasangan silinder dan piston dengan tekanan 1 kg/cm2 absolut,
dipanaskan dari suhu 30
o
C menjadi 200
o
C, berapa besarnya panas yang diberikan dan kerja yang
diperoleh jika prosesnya
a. Volume konstan ( isochoric ).
b. Tekanan konstan ( isobaric ).
Jawaban:
a. Pada proses volume konstan, besarnya panas yang diberikan:
q = Cv ( T
2
- T
1
)
= 0,172 ( 200 -30 )
= 29,24 kkal.
Kerja diperoleh dl = pdv → dv = 0
l = 0.
b. Pada proses tekanan konstan, besarnya panas yang diberikan
q = Cp ( T
2
- T
1
)
= 0,240 ( 200 -30 )
= 40,8 kkal.
Kerja diperoleh dl = pdv
l = p ( v
2
– v
1
) →
303
473
273 30
273 200
1
2
1
2
=
+
+
= =
T
T
v
v

=1,56
16

Untuk 1 kg udara pada tekanan atmosfir atau 1kg/cm
2
, berat jenisnya
adalah 1,293 kg/m
3
, sehingga volumenya = =
293 , 1
1
0,7734 m
3

l = 10 000 kg/m
2
x (1,56 – 0,7734 ) m
3

= 5196 kgm

2. 1 m
3
udara dengan tekanan awal 10 kg/cm
2
berexpansi menjadi 5 m
3
.Berapa panas yang
diperlukan dan kerja diperoleh jika prosesnya adalah:
a. Isothermic.
b. Adiabatic.
Jawaban:
a. Proses isothermic,

2
1
2
2
1
p
v
v
p
p
÷ = = 10
2
1
v
v
× = 2 m
3

Panas yang diberikan

1
5
ln 1 100000
427
1
ln
1
2
1 1
× × =
=
q
v
v
v Ap q

= 376,92 kkal.
Kerja yang diperoleh
L =
1
2
1 1
ln
v
v
v p
=
1
5
ln 1 100000 × ×
= 160944 kgm.
b. Pada proses adiabatic, besarnya panas yang diberikan:
dq = 0
q
2
- q
1
=0

Kerja yang diperoleh:
( ) 105 , 0
5
1
1
1
4 , 1
2
1
1
2
2 2 1 1
=
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
= ÷ ÷
÷
=
k
v
v
p
p
v p v p
k
l

05 , 1 105 , 0 10
2
= × = p kg/cm
2

17

( ) 5 10500 1 100000
1 4 , 1
1
× ÷ ×
÷
= l
= 131250 kgm.

2.6 PROSES KELILING.
Dari proses proses yang sudah disampaikan sebelumnya diketahui bahwa setiap expansi gas
akan menghasilkan kerja. Untuk bisa berexpansi maka gas tersebut membutuhkan energy, baik dari
energi dalam yang telah diperoleh sebelumnya atau oleh karena adanya penambahan panas pada
saat proses berlangsung. Jika proses expansi tersebut digambarkan didalam pasangan piston dan
silinder, maka pada akhir proses expansi, piston harus kembali lagi ketitik awal agar mesin terus bisa
berjalan, dan kembalinya piston ketitik awal memerlukan energy tertentu yang berlawanan dengan
proses expansi. Jika didalam proses expansi diperlukan pemberian panas, pada proses sebaliknya
diperlukan pembuangan panas.
Gb.2.6 a menunjukkan proses yang terjadi didalam pasangan piston dan silinder. Proses 1-m-
2 adalah proses expansi dimana gas yang bersangkutan memberikan kerja l
1
( luas 1-m-2-2’-1’-1 ),
dan proses 2-n-1 adalah proses pengembalian piston ketitik awal atau juga disebut sebagai proses
kompressi dan diperlukan kerja l
2
( luas 2-1-1’-2’-2 ). Kerja proses keliling l
0
merupakan selisih dari
kedua luas tsb diatas.
Gb 2.6 b adalah diagram T-s yang menggambarkan bahwa untuk melakukan kerja l
1
pada
proses expansi 1-m-2 diperlukan pemberian kalor q
1
dan untuk melakukan kerja l
2
pada proses
kompressi 2-n-1 diperlukan pelepasan kalor q
2
. Besarnya kalor yang diperlukan ataupun yang
dibuang adalah:

q = T. ds …………………………….. …………….. ( 2-21 )

18


a) b)
Gb. 2.6 Proses keliling dalam diagram pv dan diagram T-s.

Dengan melalui media kerja, panas yang diberikan q
1
( = luas 1-m-2-s
2
–s
1
-1) mengakibatkan
bertambah tingginya “energi dalam” dari media kerja tersebut. Didalam mesin-mesin panas, expansi
media kerja disertai dengan perubahan energi menjadi kerja mekanik. Setelah proses expansi selesai,
media kerja mempunyai kondisi thermodinamic yang berbeda dibanding dengan kondisi sebelum
expansi.
Untuk mendapatkan transformasi energi menjadi kerja mekanik selanjutnya, media kerja
yang sama harus dikembalikan ke kondisi awal. Langkah kembali ini pada kenyataannya tidak bisa
melalui lintasan yang sama 1- m - 2, tetapi harus melalui lintasan yang lain yaitu 2 – n – 1, dan
harus dilepaskan panas q
2
(= luas 2 – n –1- s
1
- s
2
– 2). Selisih antara panas yang diberikan dan panas
yang dibuang / dilepaskan adalah sama dengan kerja mekanik yang dapat diberikan oleh mesin
tersebut.
q
0
= q
1
- q
2
=
A
1
l
0
=
A
1
( l
1
- l
2
)………………….... ( 2-22 )
Proses yang dilakukan oleh media kerja tersebut, terletak di dalam suatu kurva
tertutup 1 - 2 -1 yang disebut sebagai “ Proses keliling ”.




19

2.7 HUKUM THERMODINAMIKA II
Hukum kedua thermodynamika memberi arah dari jalannya proses transformasi energi, yaitu
perubahan dari satu bentuk energi ke bentuk yang lain. Sebagai gambaran adalah bahwa semua
bentuk energi dapat secara penuh dirubah ke dalam bentuk panas, tetapi dari energi panas tidak
dapat seluruhnya dirubah ke dalam bentuk lain, tanpa ada kerugian atau panas sisa. Berdasarkan hal
tersebut maka perubahan energi thermal (panas) kedalam bentuk kerja mekanik berlaku kaidah
sebagai berikut :

- Panas hanya dapat dirubah ke dalam bentuk kerja mekanik jika terdapat penurunan suhu.
- Dari seluruh panas yang diberikan, hanya sebagian saja yang dapat dirubah ke dalam bentuk
kerja mekanik, sisanya tidak dapat digunakan lagi dan harus dibuang.
Hukum kedua thermodynamika merupakan dasar dari teknik pembangkit thermal, dimana
didalamnya dibicarakan masalah proses perubahan energi dari bentuk panas kedalam bentuk kerja
mekanik. Di dalam teknik pembangkit thermal terdapat “panas diberikan”, “kerja diperoleh” dan
“panas dibuang”. Karena adanya panas yang dibuang tersebut maka besarnya kerja yang diperoleh
akan lebih kecil dari panas yang diberikan.


2.8 PROSES KELILING CARNOT.
Mesin panas yang diinginkan adalah yang dapat merubah sebagian besar energi panas yang
diberikan kedalam kerja mekanik. Dari keinginan diatas, maka didalam proses keliling, kerja
mekanik yang diperoleh akan lebih besar apabila pemberian panas berlangsung pada suhu yang
lebih tinggi, dan pembuangan panas berlangsung pada suhu yang lebih rendah. Proses keliling yang
sejalan dengan keinginan tersebut dikenal sebagai proses keliling Carnot ( gb. 2.7 ).
Proses keliling Carnot dibatasi dengan dua proses dengan suhu konstan ( isothermic ) dan
dua proses dengan kalor yang konstan ( adiabatic ), maka besarnya effisiensi (thermis) dapat ditulis :


Kerja yang diperoleh
q
th
=
Panas yang diberikan

q
th
=
1
2 1
q
q q ÷
……………. ( 2-23 )



20

dimana :
q
1
= T
1
.∆ s = luas 1- 2 - 3’ - 4’
q
2
= T
2
.∆ s = luas 4 – 3 – 3’– 4’

diperoleh :

q
th Carnot
=
s T
s T s T
A
A ÷ A
1
2 1



q
th Carnot
= 1 -
1
2
T
T
……………… …… ( 2-24 )


Gb 2.7 Proses keliling Carnot


Contoh : T
1
= 813
o
K

T
2
= 308
o
K


q
th Carnot
= 1 -
K 813
K 308
o
o


= 0,621 = 62,1 %




21

Selanjutnya effisiensi dari suatu proses keliling yang optimal tergantung dari tingginya suhu
dimana panas diberikan dan rendahnya suhu dimana panas dibuang. Karena panas yang dibuang
selamanya tidak pernah mencapai nol, maka effisiensi thermis juga tidak pernah mencapai 100%
baik di dalam proses Carnot maupun di dalam proses yang lain.
Prinsip proses keliling Carnot dimana effisiensi akan semakin tinggi jika saat pemberian
kalor dilakukan dengan suhu yang setinggi tingginya dan saat pembuangan kalor dilakukan dengan
suhu yang serendah rendahnya, akan berlaku untuk setiap jenis proses keliling pada mesin
pembangkit thermal. Untuk hal ini akan dibicarakan lebih lanjut pada bab bab terkait selanjutnya.

2.9 SIFAT SIFAT AIR DAN UAP.
Apabila air dipanaskan pada tekanan konstan maka pertama tama air akan memuai menuju
titik perpindahan phasa ( titik didih ), suhunya bertambah tinggi dan volumenya bertambah besar,
ditunjukkan dengan garis a – b pada gb 2.8
Pemanasan selanjutnya menjadikan air berpindah phasa dari phasa cair menjadi phasa gas (
uap ). Pada kondisi ini volumenya bertambah besar, namun suhunya tetap konstan sampai seluruh
bagian air menjadi uap. Kondisi ini ( b – c ) dikenal sebagi kondisi jenuh atau saturated. Pada titik b
dimana seluruh bagian masih berupa air disebut sebagai air jenuh, dan pada titik c dimana seluruh
bagian telah menjadi uap disebut sebagai uap jenuh. Daerah diantara titik b dan c adalah daerah
dimana terdapat bagian air dan bagian uap bersama sama, dikenal dengan sebutan uap basah yaitu
uap yang mengandung butir butir air. Besarnya bagian uap didalam uap basah disebut dengan derajat
kekeringan uap x yang besarnya antara 0,00 s/d 1,00. Pemanasan selanjutnya menjadikan uap
suhunya bertambah tinggi dan volumenya bertambah besar ( c – d ). Kondisi uap dengan suhu diatas
suhu jenuh disebut sebagai uap panas lanjut ( superheated steam ).

Gb. 2.8 Perubahan keadaan dari air menjadi uap didalam pv dan diagram TS
22

Jika tekanan dinaikkan maka besarnya panas ( heat / kalor ) yang diperlukan untuk merubah
phasa menjadi lebih sedikit, dan jika tekanan terus dinaikkan maka akan dicapai dimana proses
perpindahan phasa menjadi tidak tampak lagi. Titik dimana proses perpindahan phasa menjadi tidak
tampak lagi tersebut disebut sebagai titik kritis. Titik kritis terletak pada tekanan 225,65 kg /cm
2
dan
suhu 374,15
o
C.


Gb 2.9 Diagram h – s (enthalpy – entropy) untuk air dan uap.





23

2.10 TABEL UAP.
Untuk mengetahui besarnya entalpi, entropi dan volume spesifik air dan uap , jika suhu dan
tekanannya sudah diketahui dapat digunakan tabel uap. Dengan tabel uap pula dapat diketahui
besarnya panas penguapan atau panas pengembunan ( latent heat ).
Ada tiga jenis tabel uap yaitu:
- tabel uap jenuh yang merujuk kepada besarnya tekanan.
- tabel uap jenuh yang merujuk kepada tingginya suhu.
- tabel air dan uap panas lanjut.
Ketiga jenis tabel uap tersebut diberikan sebagai lampiran buku ini.

2.11 DIAGRAM ENTALPI – ENTROPI.
Proses pemanasan air menjadi uap dapat digambarkan pula didalam diagram Entalpi
Entropi sebagaimana gb 2.9. Didalam diagram ini sebagai sumbu mendatar adalah besarnya nilai
entropi, dan sebagai sumbu tegak adalah besarnya nilai entalpi. Didalam diagram ini pula terdapat
garis garis tekanan konstan, suhu uap konstan, derajat kekeringan uap konstan, dan untuk diagram
yang lebih lengkap terdapat garis volume spesifik konstan.

2.12 SOAL –SOAL.
1. Udara dengan berat 10 kg, suhu 200
o
C berexpansi adiabatic dari tekanan 10 kg /cm
2
absolut
menjadi tekanan 1 kg/cm
2
absolut. Berapa besarnya:
a. Kerja diperoleh.
b. Suhu terakhir dicapai.
c. Volume awal.
d. Volume akhir.
2. Gas oxygen dikompressi secara polytropic dengan n = 1,2. Tekanan awal 1kg /cm
2
absolut,
tekanan akhir kompressi 120 kg/cm
2
absolut, suhu awal 32
o
C. Berapa besarnya :
a. Kerja diperlukan untuk proses kompressi tersebut.
b. Suhu akhir kompressi.
c. Volume akhir komprssi.
24

3. 300 m
3
air dipanaskan dari suhu 200
o
C menjadi suhu 500
0
C pada tekanan 100 kg/cm
2
.
Berapa besarnya:
a. Panas diperlukan untuk pemanasan tersebut.
b. Panas penguapan pada tekanan tersebut.
c. Entalpi dan entropi pada akhir pemanasan.




















25

III
PEMBANGKIT LISTRIKTENAGA UAP

3.1 UMUM
Pembangkit Listrik Tenaga Uap adalah jenis pembangkit listrik sekala besar yang paling
banyak dijumpai. Kurang lebih 75 persen kebutuhan listrik di Jawa dan Bali disuplai dari jenis
pembangkit ini. PLTU mempunyai banyak kelebihan / keuntungan dibanding jenis pembangkit lain
sebagaimana yang akan diuraikan berikut ini, yaitu :
- Dapat membakar segala jenis bahan bakar.padat, cair maupun gas dapat digunakan disini.
- Dapat dibuat dalam sekala sangat besar, mencapai 1200 MW persatu unitnya.
- Umurnya relatif panjang.
- Harga listrik yang dihasilkan bisa murah jika digunakan bahan bakar yang harga per
kalorinya rendah.
- Tidak terpengaruh banyak oleh kondisi atmosfir.
Disamping mempunyai banyak kelebihan / keuntungan, tetapi juga terdapat banyak
kelemahan / kerugian antara lain:
- Membutuhkan air pendingin dalam jumlah sangat besar, karena itu banyak dipasang ditepi
pantai.
- Karena bahan bakarnya, bisa menimbulkan pencemaran yang relatif tinggi.
- Waktu startnya panjang.
- Respons terhadap perubahan beban lambat.
- Memerlukan lahan yang lebih luas.
- Masa pembangunan lebih lama.
- Tidak bisa start sendiri tanpa bantuan listrik dari luar.
- Diperlukan air penambah dgn kualitas yang tinggi.


3.2 BAGIAN BAGIAN UTAMA
Pembangkit Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) merupakan jenis pembangkit yang menggunakan
air dan uap sebagai media kerjanya.. Pembangkit Listrik Tenaga Uap sederhana digambarkan
didalam gb 3.1 mempunyai bagian
2
utama sebagai berikut:
- Boiler, untuk merubah energi panas dari bahan bakar menjadi energi panas pada uap, terdiri
dari tiga bagian yaitu economizer untuk memanaskan air menuju titik perpindahan phasa,
26

evaporator untuk merubah phasa air menjadi uap dan superheater untuk memanaskan lanjut
uap tersebut sampai shu tertentu.
- Turbin, untuk merubah energi panas didalam uap menjadi energi mekanik pada poros turbin
guna menggerakkan rotor generator.
- Condensor, untuk mengembunkan uap menjadi air kembali dengan menggunakan air
pendingin.
- Generator. Untuk merubah energi mekanik pada rotor generator menjadi energi listrik pada
stator untuk disalurkan kekonsumen.

Gb 3.1 Siklus Rankine ( PLTU sederhana )



3.3 SIKLUS RANKINE
Pembangkit Listrik Tenaga Uap mengikuti sebuah proses siklus ( proses keliling ) yang
disebut siklus Rankine ( gb 3.1 dan 3.2 ), terdiri dari:

1. Proses pemompaan air masuk kedalam boiler ( 3-4 ). Disini tekanan bertambah tinggi dan
suhu sedikit naik.
2. Proses pemberian kalor dengan tekanan yang konstan didalam boiler yang menjadikan air
berubah menjadi uap panas lanjut ( 4-1 ). Disini terjadi bahwa volume bertambah besar, suhu
bertambah tinggi, dan entropi bertambah besar.
27

3. Proses expansi isentropis / adiabatis uap didalam turbin ( 1-2 ) yang menjadikan turbin
berputar guna memutar poros generator untuk menghasilkan listrik. Disini volume uap
bertambah besar, tekanan menurun, suhu menurun dan entropi konstan.
4. Proses pengembunan uap keluar turbin menjadi air kembali didalam kondensor pada tekanan
yang konstan ( 2-3 ). Disini suhu tetap konstan dan volume mengecil.

Proses proses tersebut diatas digambarkan didalam diagram tekanan – volume ( p-v ),
diagram suhu – entropi ( T – S ) dan diagram entalpi – entropi ( h – s ) sebagaimana dapat dilihat
didalam gb 3.2 Selanjutnya seperti sudah dijelaskan didalam siklus Carnot, besarnya effisiensi
thermis siklus Rankine adalah:

Kerja yang diperoleh
q
th
=
Panas yang diberikan

Panas yang diberikan – Panas dibuang
q
th
=
Panas yang diberikan

q
th
=
1
2 1
q
q q ÷




28


Gb 3.2 Siklus Rankine digambarkan dalam diagram p-v,
diagram T-s dan digram h-s.

Besarnya panas yang diberikan adalah sama dengan panas yang diterima oleh air dan uap
didalam boiler atau sama dengan luas 4-5-6-1-2’-3’-4 didalam diagram T- S, sedang besarnya panas
dibuang sama dengan luas 3-2-2’-3’-3. Jadi besarnya kerja diperoleh sama dengan luas 4-5-6-1-2-3-
4. Oleh karena besarnya panas diberikan adalah juga sama dengan besarnya selisih entalpi antara
sebelum dan sesudah panas diberikan, dan besarnya panas dibuang sama dengan selisih entalpi antara
sebelum dan sesudah panas dibuang maka rumus effisiensi diatas dapat ditulis:

q
th
=
( (
( )
) )
4 1
4 2 4 1
h h
h h h h
÷
÷ ÷ ÷

=
4 1
2 1
h h
h h
÷
÷


Pada PLTU - PLTU yang besar dengan daya mampu diatas 100 000 kw, umumnya siklus
yang digunakan bukan siklus Rankine murni seperti diatas tetapi siklus Rankine yang telah
dimodifikasi menjadi siklus Rankine Reheat sebagimana digambarkan didalam diagram T – S dan
diagram h – S ( gb 3.3 ). Selanjutnya sebutan siklus Rankine Reheat biasa hanya disebut dengan
Siklus Reheat saja. Susunan peralatan sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap dengan siklus reheat
secara lebih lengkap dapat dilihat pada gb 3.4
29


a) b)
Gb 3.3 Diagram T- S dan diagram h - S siklus Rankine Reheat
3.4 BOILER.
Boiler merupakan bagian dari PLTU dimana air dirubah menjadi uap melalui pemanasan
yang dilakukan dengan pembakaran bahan bakar. Terdiri dua bagian utama yaitu bagian laluan air
dan uap dan bagian laluan udara dan gas hasil pembakaran. Bagian lauan air dan uap terdiri dari
ekonomiser, evaporator, drum uap, down comer dan su-perheater. Bagian laluan udara / gas panas
terdiri dari ruang bakar, ruang superheater dan ruang economizer.

3.4.1 Klasifikasi Boiler.
Berbagai jenis konstruksi boiler dapat dijumpai yang dapat diklasifikasikan me-nurut jenis
konstruksinya, menurut proses pembakarannya, menurut proses pemanasan uap-nya, menurut jenis
sirkulasi airnya, dan menurut tingkat tekanannya.
Dari segi konstruksi dibedakan:
- Boiler tangki
Didalam boiler jenis ini, air terletak didalam sebuah bejana / tangki tunggal dan didalamnya
terdapat ruang bakar. Jenis boiler ini hanya untuk kapasitas produksi dan tekanan yang
rendah. Tidak digunakan didalam PLTU.
- Boiler pipa api.
Pada dasarnya boiler ini adalah jenis boiler tangki namun luas bidang pemanasannya
diperluas dengan pipa pipa api dengan jumlah yang banyak. Api mengalir didalam pipa
sedang airnya berada diluar pipa. Termasuk kedalam jenis ini adalah boiler lokomotif uap.

30

- Boiler pipa air.
Boiler ini merupakan kebalikan dari boiler pipa api, dimana air berada didalam pipa sedang
api / gas panas berada diluar pipa.
- Boiler water wall.
Boiler ini adalah jenis boiler yang digunakan di PLTU. Terdiri dari pipa pipa air yang
berdiri tegak membentuk dinding dinding dimana ruang diantara dinding dinding tersebut
digunakan sebagai ruang untuk pembakaran bahan bakar. Panas hasil pembakaran bahan
bakar akan dipancarkan kedinding dinding pipa dan selanjutnya diteruskan kedalam air yang
berada didalam pipa. Air didalam pipa akan mendidih / berubah fasa danb ergerak naik
menuju drum pengumpul uap.



Gb.3.4 Pembangkit Listrik Tenaga Uap dengan siklus Reheat





31

Dari segi proses pembakarannya dibedakan:
- Boiler dengan pembakaran stocker ( stocker fired )
Disini bahan bakar padat dilempar masuk kedalam kisi kisi pembakar dalam bentuk ukuran
yang relative besar ( bukan serbuk ). Udara pembakaran datang dari bawah kisi kisi
pembakar sebagai udara primer dan dari atas kisi kisi sebgai udara sekunder.

- Boiler dengan pembakaran batubara serbuk ( pulverizer fired ) ( gb 3.5 ).
Disini batubara digiling menjadi serbuk dan dimasukkan kedalam ruang bakar bersama
sama dengan udara primer. Udara sekunder ditambahkan kedalam ruang bakar dari saluran
lain untuk menyempurnakan proses pembakaran.


Gb.3.5 Boiler water wall dengan bahan bakar batubara serbuk
( pulverized coal boiler )
32

- Fluidized bed fired.
Didalam rangka meniadakan kandungan belerang didalam gas bekas, maka digunakan boiler
jenis ini. Ada dua jenis boiler fludized bed, yaitu Bubble Fluidized Bed dan Circulating
Fluidized Bed. Masing masing menggunakan batu kapur untuk mengikat kadar belerang
yang terdapat didalam bahan bakar. Didalam Bubble Fluidized Bed batubara terbakar

Gb 3.6 Boiler water wall dengan pembakaran fluidized bed

didalam ruang bakar dan bergerak bersama batu kapur laksana air mendidih, naik turun
didalam ruang bakar, sedang didalam Circulating Fluidized Bed, batubara dan batu kapur
bergerak bersama sama dan bersirkulasi dari ruang bakar masuk kedalam Cyclone dan
kembali kedalam ruang bakar. Abu batubara akan tercampur dengan batu kapur dengan
pengikatan unsur belerang oleh batu kapur.




33

- Oil & Gas fired.
Boiler ini khusus digunakan untuk pembakaran bahan bakar minyak atau gas. Oleh karena
sifat proses pembakarannya yang relative lebih cepat dibanding proses pembakaran
batubara, maka ukuran ruang bakarnya menjadi lebih kecil.



Gb 3.7 Boiler water wall dengan bahan bakar minyak dan gas

Dari segi pemanasan uapnya dibedakan:
- Boiler non reheat adalah boiler yang hanya terdiri dari unsur utama saja yaitu ekonomiser,
evaporator dan superheater.
- Boiler reheat, adalah boiler yang padanya ditambahkan bagian pemanasan ulang dari uap
yang telah digunakan di turbin tekanan tinggi.
Dari segi sirkulasi air yang terjadi dibedakan:
- Boiler dengan sirkulasi alam ( natural circulation ), yaitu boiler yang sirkulasi airnya
hanya mengandalkan perbedaan berat jenis antara bagian yang terkena panas dengan
34

bagian yang tidak terkena panas. Tempat dimana air terkena panas dan bergerak naik
disebut sebagai riser dan tempat air tidak terkena panas dan bergerak turun disebut sebagai
down comer. Riser atau juga disebut evaporator merupakan pipa pipa tegak yang
membentuk dinding ( disebut juga sebagai water wall ) yang mengelilingi ruang bakar.
Panas radiasi dari nyala api pembakaran akan memanaskan air didalam pipa dan
merubahnya menjadi uap.
- Boiler dengan sirkulasi paksa ( Forced circulation ).adalah boiler yang sirkulasi airnya
menggunakan pompa.
- Boiler dengan tanpa sirkulasi ( Once through ). Disini air masuk boiler langsung menjadi
uap tanpa ada sirkulasi. Karena itu boiler ini disebut dengan sebutan Once Through ( sekali
lewat ).

Dari segi tekanan uapnya dibedakan:
- Boiler tekanan rendah, yaitu boiler dengan tekanan kurang dari 10 bar.
- Boiler dengan tekanan menengah yaitu boiler dengan tekanan antara 10 s/d 88 bar
- Boiler dengan tekanan tinggi yaitu boiler dengan tekanan antara 88 - 224 bar.
- Boiler dengan tekanan super kritis yaitu boiler dengan tekanan diatas 225 bar.

3.4.2 Effisiensi & Kerugian didalam Boiler
Panas diberikan didalam Boiler.
Untuk membangkitkan uap dengan suhu dan tekanan seperti tersebut dalam 3-1.
diperlukan panas dari hasil pembakaran bahan bakar, baik padat, cair, maupun gas. Panas
yang dapat ditimbulkan oleh pembakaran 1 kg bahan bakar tergantung dari besarnya unsur-
unsur kimia yang terkandung di dalamnya sebagaimana dapat dilihat dalam rumus berikut :

Untuk bahan bakar padat dan cair :
H
u
= 81C + 290 (H - 0/8) + 25S - 6W. k kal/kg……….. ( 3-1 )
dimana:
H
u
= nilai kalor bawah k kal/kg
C = nilai unsur karbon %
H = nilai unsur hydrogen %
O = nilai unsur oxygen %
S = nilai unsur belerang %
W = nilai unsur air %
35


Untuk bahan bakar gas :

H
u
= 30,2 CO+ 25,7 H
2
+ 85,5 CH
4
+ Z C
n
H
m
. kkal/N m
3
… ( 3-2 )

Dimana rumusan C
n
H
m
dan besarnya nilai Z dapat dilihat didalam tabel:
Persamaan ( 3-3 ) disebut nilai kalor bawah yang biasa digunakan dalam perhitungan di negeri
Jerman. Sedang di Amerika dan Inggris digunakan nilai kalor atas yaitu :
Ho = 81C + 290 (H–0/8) + 25S. k kal/kg …………………. ( 3-3 )
Tabel 3.1: Rumusan hidrokarbon dan besarnya nilai Z.
C
n
H
m
Z
C
2
H
2

C
2
H
4

C
2
H
6

C
3
H
6

C
4
H
8

C
6
H
6

136
143,2
153,7
210,7
223,5
271,9
335,2

Persamaan ( 3-3 ) disebut nilai kalor bawah yang biasa digunakan dalam perhitungan di
negeri Jerman. Sedang di Amerika dan Inggris digunakan nilai kalor atas yaitu :
Ho = 81C + 290 (H–0/8) + 25S. k kal/kg ………………… ( 3-4 )
Panas berguna didalam Boiler.
Boiler direncanakan untuk dapat memproduksi uap dengan jumlah, tekanan dan suhu tertentu
dari air dengan jumlah, tekanan dan suhu tertentu pula. Karena itu panas berguna dari sebuah boiler
adalah merupakan jumlah dari masing masing uap keluar boiler dikalikan entalpinya dikurangi berat
air masuk boiler dikalikan entalpinya. Oleh karena besarnya air masuk boiler sama dengan jumlah
uap keluar boiler maka dapat ditulis:
Q
k
= ∑ G
u
(h
u
- h
a
) k kal/jam …………………………. ( 3-5 )

Untuk boiler – boiler yang menggunakan pemanas ulang ( reheater ) adalah :

Q
k
= G
u
(h
u
- h
a
) + G
r
(h
rk
– h
rm
) ……………………….. ( 3-6 )
36


dimana :

Q
k
= panas berguna dalam boiler k kal/jam
G
u
= berat uap keluar boiler kg/jam
h
u
= enthalpi uap keluar boiler kal/kg
h
a
= enthalpi air pengisi masuk boiler k kal
G
r
= berat uap masuk pemanas ulang (reheater) kg
h
rm
= enthalpi uap masuk reheater k kal/kg
h
rk
= enthalpi uap keluar reheater k kal/kg
Harga enthalpi dapat dilihat pada tabel air / uap atau pada diagram enthalpy entropi.

Effisiensi Boiler.
Panas yang dapat dibawa oleh uap masuk kedalam turbin hanyalah sebagian dari panas hasil
pembakaran bahan bakar di dalam boiler. Sebagian lain diperlukan untuk keperluan boiler itu sendiri
misalnya untuk pemanasan bahan bakar (minyak) untuk pemanasan awal udara pembakaran dan
sebagainya. Sisanya merupakan bagian yang tidak dapat dimanfaatkan dan terpaksa harus dibuang
dan ini merupakan kerugian boiler.
Effisiensi boiler adalah perbandingan dari panas yang dapat diserap oleh air/uap di dalam
boiler dengan panas maximum yang dapat diberikan oleh bahan bakar.

6) - (3 ...... 100 =
k
% … x
Gbb.Hu
rk - hrm) a) + Gr (h Gu (hu - h
Qbb
Qk
= q



Effisiensi boiler juga dapat dihitung dari kerugian-kerugian yang terjadi di dalamnya.


% x
Qbb
K - Q
= η
n BB
k
100
¿
............................................. ( 3. 7 )

dimana :
K
n
= kerugian-kerugian di dalam boiler.
Kerugian didalam boiler
Kerugian didalam boiler merupakan panas yang tidak dapat dimanfaatkan untuk
memproduksi uap dan itu terdiri dari dua bagian yaitu :
 Kerugian dalam pembakaran terdiri dari :
1. Kerugian dalam kisi-kisi pembakar.
2. Kerugian karena bahan bakar terbawa dalam abu.
37

3. Kerugian karena gas yang tidak terbakar.
4. Kerugian karena jelaga dan abu terbang.
 Kerugian karena panas hilang :
1. Kerugian panas dalam gas bekas keluar cerobong.
2. Kerugian karena kerak yang mencair.
3. Kerugian karena radiasi dan bocoran.
3.4.3 Kelengkapan Boiler
Disamping bagian utama boiler yang sudah disebutkan diatas, boiler dilengkapi dengan
bagian bagian lain untuk memungkinkan boiler dapat beroperasi dengan lancar, aman dan otomatis.
Bagian bagian tersebut dapat dikelompokkan kedalam sistim sistim yaitu:
- Sistim aliran air pengisi boiler
- Sistim aliran bahan bakar
- Sistim aliran udara dan gas pembakaran.
- Sistim pengendalian suhu uap.
- Sistim pengaman.
- Sistim kontrol.
- Sistim pembersih laluan gas panas.

Sistim aliran air pengisi boiler dan sistim pengendalian suhu uap ( gb 3.8 )
Sistim aliran air pengisi boiler terdiri dari Tangki Air Pengisi, Pompa Air Pengisi, Katup
Pengatur Air Pengisi, dan Pemanas Air Tekanan Tinggi. Air dihisap oleh Pompa Air Pengisi, dari
Tangki Air Pengisi kemudian dipanaskan didalam Pemanas Air Tekanan Tinggi dan selanjutnya
masuk kedalam Economizer. Jumlah air yang dimasukkan kedalam boiler dalam keadaan normal
diatur sesuai dengan besarnya aliran uap yang masuk keturbin, dengan menggunakan katup pengatur
aliran. Pengaturan aliran air pengisi juga bisa dilakukan dengan mengatur putaran Pompa Air
Pengisi.
Suhu uap masuk turbin harus dijaga kestabilannya, dan tidak boleh berubah oleh karena
adanya perubahan aliran uap keluar boiler. Untuk itu suhu uap dikendalikan dengan memberikan
injeksi air yang relative dingin dan dimasukkan kedalam superheater. Aliran air pendingin ini
dikendalikan secara otomatis, yang akan menambah jumlah alirannya jika ada tendensi suhu uap
mengalami kenaikan, dan akan mengurangi jumlah alirannya jika ada tendensi suhu uap menurun.


38


Gb 3.8 Sistim air pengisi boiler dan sistim air pancar pengendali suhu uap.



Sistim aliran batubara dan sistim aliran udara / gas hasil pembakaran ( gb 3.9 )
Sistim aliran bahan bakar padat ( batubara serbuk ) terdiri dari tempat penumpukan,
pengumpan, ban berjalan, bunker, pengukur aliran, penggiling dan pembakar. Batubara dipindahkan
dari tempat penumpukan dengan alat berat ( bulldozer ) menuju ban berjalan yang
menghantarkan batubara menuju bunker untuk diteruskan kepenggiling setelah ditimbang / diukur
jumlahnya oleh pengukur aliran. Selanjutnya didalam penggiling, batubara bertemu dengan udara
pembakaran yang disebut sebagai udara primer dan keduanya secara bersama sama masuk kedalam
pembakar. Ujung pembakar yang letaknya ditepi ruang bakar mengantarkan serbuk batubara masuk
kedalam ruang bakar dan terbakar didalamnya. Udara sekunder diberikan kedalam ruang bakar
untuk menyempurnakan proses pembakaran didalamnya.
Sistim aliran udara pembakaran terdiri dari Saluran Udara Masuk, Kipas Tekan, Pemanas
Udara, Pengukur Aliran, Kotak Angin ( Wind Box ), Pembakar, Penangkap Abu Terbang,
Penangkap Gas Belerang dan Cerobong. Udara pembakaran dihisap dengan Kipas Tekan dari
atmosfir melalui Saluran Udara Masuk, kemudian didorong masuk kedalam Pemanas Udara.
Setelah dipanaskan, sebagian udara masuk kedalam
39


Gb. 3.9 Sistim aliran batubara dan sistim udara / gas hasil pembakaran

Penggiling Batubara ( sebagai udara primer ) dan bersama dengan batubara tergiling masuk kedalam
pembakar; sebagian lainnya masuk kedalam wind box untuk selanjutnya masuk kedalam ruang
bakar sebagai udara sekunder.
Pembakaran bahan bakar akan menghasilkan nyala api dan gas dengan suhu yang tinggi
untuk memanaskan dinding dinding pipa air ( water wall ), pipa pipa super-heater, economizer,
pemanas udara dan menuju cerobong setelah melalui penangkap abu terbang dan penangkap gas
belerang.

Sistim pengaman Boiler
Sistim pengaman boiler terdiri dari pengaman tekanan lebih ( over pressure ), pengaman
suhu uap lebih ( over heat ), pengaman permukaan air dan pengaman nyala api. Pengaman tekanan
lebih berguna untuk mengamankan boiler dari tekanan lebih yang bisa mengakibatkan meledaknya
boiler. Pengamanan dilakukan dengan melengkapi boiler dengan satu atau lebih katup pengaman (
safety valve ) dimana katup pengaman tersebut akan membuka jika batas operasinya terlampaui.
Pengaman suhu uap lebih berguna untuk mengamankan material yang dilalui uap dari
kehilangan kekuatan akibat naiknya suhu. Pengaman ini akan memberikan alarm / peringatan buat
petugas untuk mengambil tindakan yang perlu agar suhu lebih tersebut tidak berlanjut.
Pengaman permukaan air terdiri dari pengaman permukaan air rendah dan pengaman
permukaan air tinggi. Pengaman permukaan air rendah digunakan untuk mengamankan boiler suhu
labih akibat tiadanya air didalamnya. Pengaman ini akan langsung mematikan nyala api jika
permukaan air kelewat rendah. Pengaman permukaan air tinggi digunakan untuk menghindari
40

mengalirnya air masuk kesuperheater dan terus keturbin. Pengaman ini hanya akan memberikan
alarm jika permukaan air kelewat tinggi.
Pengaman nyala api berguna untuk menghentikan aliran bahan bakar jika nyala api didalam
ruang bakar mati. Dengan demikian tidak ada lagi bahan bakar yang masuk kedalam ruang bakar
jika api tidak muncul.

Sistim kontrol
Sistim kontrol atau juga disebut sebagai sistim kendali operasi boiler berguna untuk
mengendalikan jumlah aliran bahan bakar, aliran air pengisi dan aliran udara pembakaran secara
otomatis berdasarkan jumlah aliran uap atau berdasarkan besarnya daya listrik yang dibangkitkan
generator. Terdiri dari pemungut ( sensor ), pemancar ( transmitter ) pengendali ( controller ) dan
pelaksana ( actuator ). Sensor akan mengambil sinyal aliran uap untuk diteruskan ke controller
melalui transmitter. Controller akan memberikan sinyal menambah atau mengurangi besarnya kerja
actuator berdasarkan perbedaan sinyal input dari sensor terhadap setpoint ( penyetelan awal ) yang
dimiliki controller.
Sistim pembersih laluan gas panas
Sistim pembersih laluan gas panas berguna untuk membersihkan abu dan jelaga yang
menempel pada pipa pipa boiler. Abu dan jelaga ini akan mengurangi proses transfer energi dari gas
hasil pembakaran kepada air didalam boiler. Pembersihan dilakukan dengan menyemprotkan uap
pada laluan gas panas ditempat dimana abu dan jelaga bisa menempel. Penyemprotan dilakukan
secara periodik dengan interval waktu tertentu tergantung dari kadar abu dan jelaga ybs.

3.4.4 Air pengisi Boiler.
Agar produksi uap berjalan terus, maka boiler harus diisi dengan air baru meng-gantikan
yang telah menjadi uap dan mengalir keturbin. Air tersebut sebagian besar diperoleh dari
pengembunan uap bekas keluar turbin yang terjadi didalam kondensor. Air boiler harus dirawat agar
tidak menimbulkan korosi dan bebas dari kotoran lainnya yaitu dengan menjaga agar air terbebas
dari oxygen dan menjaga air bersifat sedikit basa serta relative tidak menghantar listrik.
Perawatan air dibagi menjadi dua jenis yaitu perawatan air internal dan perawatan air
external. Dengan perawatan air internal dimaksudkan sebagai perlakuan yang dilakukan terhadap air
yang mengikuti siklus dari kondensor – deareator – boiler – turbin. Perawatan ini meliputi:
- Injeksi Hydrazene ( N
2
H
4
) untuk mengikat Oxygen ( O
2
) sebelum air masuk kedalam
deareator.
- Pemanasn air langsung dengan uap didalam deareator untuk membuang gas / udara yang
larut didalam air selama perjalanannya didalam siklus.
41

- Injeksi Amoniak ( NH
3
) kedalam boiler untuk menaikkan pH air bila diperlukan. Injeksi
amoniak ini tidak disarankan bila pipa kondensor terbuat dari bahan tembaga, karena
amoniak bersifat korosi terhadap tembaga.
- Injeksi Trisodium Phospat ( N
a3
PO
4
) kedalam boiler untuk mengikat kotoran kotoran
didalam air dan mebuangnya melalui saluran blow down.
Perawatan air external meliputi perlakuan terhadap air sebelum air tersebut digunakan
sebagai air penambah didalam siklus kondensor – deareator – boiler – turbin. Oleh karena adanya
kebocoran yang terjadi atau adanya penggunaan uap yang lain diluar yang masuk turbin dan
kebutuhan untuk pembuangan melalui saluran blowdown, maka diperlukan sejumlah air penambah.
Air penambah merupakan air murni yang tidak menghantar listrik, bebas dari keasaman dan
kesadahan. Umumnya air penambah diperoleh dari penyulingan air laut atau dengan cara Reverse
Osmosis untuk menghilangkan garam garamnya dan kemudian dimurnikan lagi didalam instalasi
Demineralizing Plant.
Instalasi Demineralizing Plant terdiri dari tangki tangki ( gb 3.10 ) dengan sebutan masing
masing sbb:
- Tangki saringan karbon, didalamnya berisi bahan karbon aktif untuk menya-ring chlorine,
terutama jika air berasal dari Perusahaan Air Minum.


Gb 3.10 I nstalasi pemurnian air ( demineralizing plant ).

- Tangki penukar cation, didalamnya terdapat resin penukar kation, untuk menangkap ion
ion calsium, magnesium dan sodium. Resin tersebut pada suatu saat tertentu akan menjadi
jenuh dan harus diaktifkan kembali, yaitu dengan mengalirkan asam chlorida.
- Tangki degassifier, untuk mebuang gas gas yang larut didalam air. Untuk membuang gas ini
air dibuat jatuh seperti hujan dan ditiup dengan udara dari arah bawah keatas dengan
bantuan sebuah blower.
42

- Tangki penukar anion, didalamnya terdapat resin anion untuk menangkap ion ion silica,
carbon dioxid, chloride dan sulfat. Jika resin ini menjadi jenuh harus diaktifkan kembali
dengan mengalirkan larutan caustic soda.

3. 5 T U R B I N.
Turbin uap adalah mesin penggerak yang merubah secara langsung energi panas dari uap
menjadi gerak putar pada poros. Proses perubahan energi panas menjadi kerja mekanik berupa
gerak putar tsb dapat dilihat di dalam gb. 3.11.

Gb. 3.11 Cara kerja Turbin Uap

Pertama-tama uap dengan suhu dan tekanan yang ada padanya masuk ke dalam nozzle atau
sudu tetap yang terpasang di dalam rumah turbin. Didalam nozzle, uap berex-pansi ( tekanan turun
dan volumenya bertambah besar ) sehingga diperoleh kecepatan yang tinggi dan masuk kedalam
laluan diantara sudu-sudu jalan. Akibat dari perjalanan yang membelok maka sudu-sudu jalan
tersebut akan terdorong kearah belakang ( tanda panah ).
Turbin mempunyai dua bagian utama yaitu rotor dan stator. Rotor adalah bagian yang berputar,
ditumpu oleh dua bantalan, padanya terpasang sudu sudu jalan yang menerima pancaran uap dari
sudu tetap. Stator adalah bagian yang diam, padanya terpasang sudu sudu tetap yang mengubah
enthalpy uap menjadi kecepatan untuk mendorong sudu jalan, sehingga rotor menjadi berputar. Pada
stator juga terdapat saluran saluran uap pemanas untuk pemanasan air masuk boiler. Juga terpasang
katup uap masuk turbin, perapat poros dll.




43

3.5.1 Klasifikasi Turbin.
Turbin uap diklasifikasikan menurut berbagai segi seperti: proses expansi uap, arah aliran
uap, tekanan uap masuk, tekanan uap keluar turbin, pengaturan uap masuk dan jumlah silinder
casingnya sebagaimana uraian berikut ini.


a)Tingkat impulse b) tingkat reaksi c) tingkat kecepatan d) tingkat reaksi
Gb 3.12 Bentuk sudu turbin impuls dan turbin reaksi
Dari segi proses expansi uap didalam sudu-sudu turbin dibedakan antara turbin impulse dan
turbin reaksi. Turbin impulse adalah jenis turbin yang expansi uapnya hanya terjadi didalam nozzle
atau sudu tetap saja, sedang turbin reaksi adalah jenis turbin yang proses expansi uapnya berlangsung
baik didalam sudu tetap maupun sudu jalan.
Gb 3.12 menujukkan bagaimana proses penurunan tekanan dan proses pertambahan
kecepatan masing masing pada turbin impulse ( juga disebut sebagai turbin tingkat kecepatan ) dan
turbin reaksi ( juga disebut sebagai turbin tingkat tekanan ). Masing masing menggambarkan untuk
jumlah tingkat tunggal dan jumlah tingkat ganda atau lebih.

Dari segi arah aliran uapnya dibedakan antara turbin axial dan turbin radial. Turbin axial adalah
turbin yang aliran uapnya sejajar sumbu poros. Terdapat dua jenis turbin axial yaitu yang arah
alirannya hanya satu arah ( single flow ) dan yang arah alirannya dobel ( double flow ). Turbin radial
adalah turbin yang arah aliran uapnya tegak lurus sumbu poros.
Dari segi tekanan uap masuk turbin , dibedakan berdasarkan standard yang berlaku di Jerman
( DIN 4304 ):
44

- Tekanan super kritis ( ≥225 bar )
- Tekanan tinggi ( 88 -224 bar )
- Tekanan menengah ( 10 - 88 bar ).
- Tekanan rendah ( <10bar )
Dari segi tekanan uap meninggalkan sudu terakhir dibedakan antara turbin tekanan lawan (
back pressure ) dan turbin condensing. Turbin back pressure adalah turbin yang tekanan keluar sudu
terakhir masih mengandung tekanan diatas tekanan atmosfir, dan uap keluar turbin digunakan untuk
keperluan lain misalnya untuk pemanasan atau untuk melakukan suatu proses didalam industri,
sedang turbin condensing adalah turbin yang tekanan keluar sudu terakhirnya berada dibawah
tekanan atmosfir ( vacuum ) dan uapnya langsung diembunkan menjadi air kembali didalam
condenser.
Dari segi pengaturan jumlah aliran uap masuk turbin, dibedakan antara turbin tekanan
konstan dengan pengaturan throttle, turbin tekanan konstan dengan pengaturan kelompok nosel, dan
turbin dengan tekanan berubah ( varabel ).
Dari segi jumlah silinder/casing dibedakan turbin dengan silinder tunggal, silinder ganda
dan seterusnya. Gb 3.13 menunjukkan sebuah turbin PLTU dengan silinder tunggal, terdiri dari dua
tingkat impuls dan 21 tingkat reaksi dengan tekanan 88 bar gauge dan suhu 510
0
C, sedang gb 3.14
menunjukkan turbin dengan tiga silinder / casing yaitu silinder turbin tekanan tinggi, silinder turbin
tekanan menengah dan silinder turbin tekanan rendah.








Gb 3.13 Turbin PLTU dengan silinder tunggal, terdiri dari dua tingkat impuls dan 21
tingkat reaksi dengan 88 bar suhu 510
0
C


45



Gb 3.14 Turbin dengan tiga silinder / casing: silinder tekanan tinggi, silinder tekanan
menengah dan silinder tekanan rendah.


3.5.2 Daya Turbin.
Daya yang bisa dibangkitkan oleh turbin ditentukan oleh jumlah uap yang mengalir dan
besarnya heat drop ( turun entalpi ) uap yang terjadi didalam turbin. Secara ideal proses yang terjadi
didalam turbin adalah proses adiabatic atau proses dengan entropy konstan, yaitu proses yang
berlangsung dengan tidak adanya panas yang masuk maupun panas keluar. Oleh karena adanya
kerugian kerugian didalam turbin maka heat drop ideal tersebut tidak bisa terpenuhi.
Gb 3.15 adalah diagram entalpi entropi ( h – s ) untuk proses uap didalam turbin. Disini
digambarkan tentang heat drop ideal, heat drop aktual dan kerugian kerugian yang terjadi didalam
turbin dan dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Heat drop ideal ( H
i
) adalah turunnya intalpi ideal ( proses adiabatis / entropi konstan ) dari
uap sebelum masuk turbin sampai masuk kondensor digambarkan sebagai garis lurus
kebawah dari titik 0 ketitik 2
i
.
- Heat

drop ideal didalam turbin ( H
i
’) adalah turunnya intalpi ideal ( proses adiabatis / entropi
konstan ) dari uap setelah katup masuk turbin sampai masuk kondensor digambarkan
sebagai garis lurus kebawah dari titik 1 ketitik 2.
- Heat drop aktual didalam turbin ( H
a
) adalah turunnya entalpi aktual dari uap setelah katup
masuk turbin sampai masuk kondensor. Disini proses expansi uap tidak lagi adiabatis /
entropi konstan lagi, tetapi entrpi menjadi bertambah besar, digambarkan sebagai garis
miring kebawah dari titik 1 ketitik 2’. Besarnya heat drop disini merupakan selisih entalpi
antara entalpi uap sesudah katup masuk turbin ( h
1
) dengan entalpi keluar turbin aktual (
h
2
’).
- Kerugian kerugian yang terjadi didalam turbin terdiri dari:
46

a) Kerugian karena throtling ( penyempitan pada katup uap masuk turbin ). Penyempitan
katup menyebabkan tekanan sesudah katup menjadi lebih rendah dari sebelumnya ( p
0
menjadi p
2
). Besarnya kerugian disini digambarkan sebagai selisih entalpi ∆ H.
b) Kerugian didalam nozzle atau sudu tetap .Pancaran uap keluar nozzle atau sudu tetap
akan bergesekan dengan dinding nozzle atau sudu tetap tersebut, sehingga akan
mengurangi dorongan uap terhadap sudu jalan. Kerugian ini digambarkan sebagai k
1.


Gb 3.15 Proses expansi uap didalam turbin dan kerugian kerugian didalam turbin
c) Kerugian gesekan uap didalam sudu jalan. Seperti halnya didalam nozzle atau sudu
tetap, uap didalam sudu jalan juga mengalir dan bergesekan dengan dinding sudu,
karena itu ia akan mengurangi besarnya momentum dan impulse yang diberikan
kepermukaan lengkung sudu. Kerugian ini digambarkan sebagai k
2.

d) Kerugian karena uap lolos pada celah antara poros dan sudu tetap. Karena perbedaan
tekanan antara sebelum dan sesudah tingkat sudu, maka uap akan mengalir melalui
celah tersebut dan tidak bisa dirubah menjadi energi mekanik. Kerugian ini
digambarkan sebagai k
3
.
e) Kerugian karena uap bergerak membalik. Pancaran uap keluar nozzle / sudu tetap
menyebabkan tekanan yang rendah pada ujung keluar nozzle / sudu tetap. Akibatnya
uap keluar sudu jalan sebagian akan bergerak membalik melalui celah diantara sudu
47

jalan dan casing turbin dan menghambat jalannya uap keluar nozzle. Kerugian ini
digambarkan sebagai k
4

f) Kerugian karena kebasahan uap. Butir butir air yang timbul akibat kondisi uap yang
masuk daerah jenuh ( saturated ) akan menghambat aliran uap. Air yang mempunyai
massa lebih tinggi dari uap bergerak lebih lambat, karenanya ia menjadi hambatan bagi
jalannya uap. Kerugian ini belum digambarkan, dan bisa ditambahkan sebagai k
5
.
g) Kerugian karena kecepatan uap meninggalkan sudu terakhir. Uap masih mempunyai
kecepatan ketika meninggalkan sudu terakhir, yang berarti memiliki energi yang tidak
bisa dirubah menjadi energi mekanik. Kerugian ini juga belum digambarkan, dan bisa
ditambahkan sebagai k
6
.

Contoh soal
Jika besarnya aliran uap adalah 300 ton /jam, entalpi uap masuk turbin 800.kkal / kg dan
entalpi uap keluar turbin adalah 200 kkal / kg maka besarnya daya turbin ideal adalah:

( )

h h G
P=
i
u
860
2 0
÷


( )
kwh kkal
kkal kg
/ 860
200 800 300000 ÷
=
= 209302 kwh/jam = 209,302Mw

Jika jumlah kerugian didalam turbin mencapai 200 kkal /kg, maka besarnya daya turbin
yang bisa dibangkitkan menjadi:

( )

k h h G
P=
i
u
860
2 0
¿ ÷ ÷

=
( )
kwh kkal
kkal kkal kg
/ 860
200 200 800 300000 ÷ ÷

= 139535 kwh/jam = 139,535Mw

3.5.3 Konsumsi Kalor Turbin ( Turbine Heat Rate ).
Uap dari boiler masuk kedalam turbin dengan tekanan dan suhu tertentu. Dengan tekanan
dan suhu tsb berarti uap mengandung sejumlah nilai kalor tertentu yang dikenal dengan sebutan
entalpi. Penggunaan jumlah kalor didalam turbin dibanding dengan besarnya output yang dihasilkan
disebut sebagai Turbin Heat Rate. Pada PLTU pengukuran besarnya turbin heat rate dihitung bukan
dari ouput pada poros turbin tetapi dihitung dari output generator. Pada turbin turbin besar
48

pembangkit listrik juga dilengkapi dengan saluran saluran pengambilan uap dari dalam turbin untuk
keperluan pemanasan air pengisi boiler. Karena itu besarnya turbine heat rate dihitung berdasarkan
jumlah kalor bersih yang digunakan didalam turbin dibagi dengan jumlah kwh yang dibangkitkan
dari generator listriknya.
Gb 3.16 menunjukkan neraca kalor ( heat balans ) dari sebuah PLTU dengan daya mampu
( 0utput ) Generator 26860 kw Jika berat uap masuk kedalam turbin perjam diberi simbol G
u
dengan
entalpi h
u
dan berat air pengisi boiler G
ap
dengan entalpi h
ap
maka besarnya Turbine Heat Rate
adalah:
Btu/kwh
, - ,

kitkan kwh dibang
h G h G
t Rate Turbin Hea
ap ap u u
9605
26860
1 339 231600 1 1453 600 231
=
× ×
=
÷
=


Turbin Heat Rate tsb diatas juga disebut dengan Turbin Gross Heat Rate karena belum
dikurangi dengan listrik untuk pemakaian sendiri didalam PLTU, dan disebut sebagai Turbin Nett
Heat Rate jika dihitung dengan menyertakan pengurangan dari pemakaian sendiri didalam
pembangkit ybs.

3.5.4 Kelengkapan Turbin.
Disamping bagian utama yang sudah disebutkan diatas, turbin dilengkapi dengan bagian
bagian lain untuk memungkinkan turbin dapat beroperasi dengan lancar, aman dan otomatis. Bagian
bagian tersebut dapat dikelompokkan kedalam sistim sistim yaitu:
- Sistim pelumasan.
- Sistim perapat poros.
- Sistim pengatur putaran.
- Sistim pengambilan uap ( extraction )
- Sistim pengaman.
Sistim pelumasan turbin berfungsi untuk melumasi dan mendinginkan bantalan karena
panas yang timbul akibat gesekan yang terjadi dengan poros. Karena itu sistim pelumasan harus bisa
mengalir dengan kontinue, bersih dengan suhu yang relative rendah. Untuk itu sistim pelumas
terdiri dari. Pompa Utama, Pompa Pembantu, Pompa Darurat, Pendingin, Saringan dan Perawat
Pelumas.


49


Gb 3.16 Neraca kalor turbin

Sistim perapat poros berguna untuk mencegah keluarnya uap dari celah antara poros dan
casing pada sisi turbin tekanan tinggi dan mencegah masuknya udara kedalam turbin pada sisi
turbin tekanan rendah. Perapatan poros menggunakan uap yang telah diturunkan suhu dan
tekanannya disesuaikan dengan suhu dan tekanan pada sisi turbin ybs. Uap tersebut dihisap masuk
dan diembunkan didalam condenser perapat poros.
Sistim pengatur putaran turbin atau juga
lebih dikenal dengan sebutan “Governor”
berguna untuk memperta-hankan putaran turbin
pada level yang sudah ditentukan. Sistim
pengaturan putaran ini akan menambah jumlah
aliran uap ketika beban turbin bertambah dan
akan mengurangi jumlah uap yang mengalir
jika beban turbin mengalami penurunan. Ada
tiga jenis governor yaitu jenis mekani, jenis
hidrolik dan jenis electrik. Gb 3.17 adalah
sebuah bentuk governor mekanik. Jika putaran
mengalami penurunan akibat beban naik

Gb 3.17 Sistim Governor Turbin
50

maka bandul 1 akan tertarik kedalam, slipper 2 dan pilot 6 bergerak turun, minyak tekanan tinggi
masuk kebawah piston pada silinder 3, dan piston bergerak keatas memperbesar pembukaan katup
uap dan menambah jumlah aliran uap. Dengan demikian putaran turbin tidak berlanjut turun.
Demikian sebaliknya jika putaran turbin mengalami kenaikan akibat berkurangnya beban. Governor
mempunyai karakteristik tertentu yang dikenal dengan sebutan speed droop yaitu berubahnya
putaran turbin dibanding putaran nominal pada perubahan beban 100%.
Dengan bertambah majunya teknologie, governor mekanik seperti diatas telah digantikan
dengan sistim hidrolik ( gb 3.18 ), dimana fungsi bandul digantikan dengan impeller pompa. Pada
governor hidrolik, bertambahnya putaran poros akan mengakibatkan bertambah besarnya tekanan
hidrolik keluar impeller, demikian sebaliknya jika putaran poros menurun maka akan menurunkan
tekanan hidrolik keluar impeller.
Kini sistim governor hidrolik juga sudah mulai ditinggalkan, digantikan dengan sistim
electro hidrolik ( gb 3.19 ), dimana untuk bagian listriknya merupakan rangkaian electronik. Bandul
pada sistim governor mekanik atau impeller pada sistim governor hidrolik digantikan dengan speed
picked up, dimana speed picked up ini akan memberikan sinyal listrik kepada sistim kontrol putaran
turbin ( governor controller ).


Gb 3.18 Sistim governor hidrolik

Output dari governor controller merupakan sinyal listrik yang kemudian dirubah
menjadi sinyal hidrolik oleh E/H converter. Sinyal hidrolik kemudian diteruskan untuk membuka
atau menutup aliran uap masuk turbin.

51


Gb. 3.19 Sistim governor Electro Hidrolik

Sistim pengambilan uap dari turbin dilakukan sedemikian rupa ditempat mana uap dianggap
telah mengalami saturated ( jenuh ) ketika berhubungan dengan casing turbin. Uap ini harus
dikeluarkan untuk menghindari timbulnya butir butir air akibat pengembunan yang terjadi.
Pengeluaran uap ini dimanfaatkan untuk memanaskan air yang mau masuk keboiler. Dengan
demikian suhu air masuk keboiler menjadi lebih tinggi sehingga dapat memperkecil penggunaan
bahan bakarnya. Sistim pengambilan uap dilengkapi dengan katup otomatis penutup cepat untuk
menghindari membaliknya aliran kedalam turbin ketika turbin berhenti seketika ( trip ).
Sistim pengaman turbin berguna untuk mengamankan turbin dari kerusakan berat akibat
tidak berfungsinya kelengkapan turbin. Sistim pengaman turbin terdiri dari:
- Pengaman tekanan pelumas rendah, untuk menghinadari rusaknya bantalan akibat gesekan
kering oleh karena tidak adanya pelumasan.
- Pengaman suhu bantalan tinggi. Gesekan yang terjadi pada bantalan akan mengakibatkan
suhu yang tinggi, dan suhu yang tinggi akan melumerkan metal bantalan, karena itu
kenaikan suhu harus dicegah sebelum metal bantalan menjadi rusak dengan
memberhentikan turbin seketika.
- Pengaman gaya axial tinggi. Dorongan uap kesudu jalan akan mengkibatkan timbulnya gaya
axial pada poros. Dari sisi desain gaya axial ini sudah dieliminasi / dihilangkan, namun
dengan perjalanan waktu bisa timbul gaya axial yang besar yang bisa menjadikan sudu sudu
turbin bergesekan.
- Pengaman getaran tinggi. Walupun pembuatan rotor telah dilakukan secara teliti, namun
pada tahap akhirnya tetap ditemukan adanya ketidak samaan berat antara satu sisi dengan
sisi yang lain ( arah radial ) pada rotor. Ketidak samaan berat ini disebut sebagai unbalans (
tidak seimbang ). Pada rotor baru unbalans ini telah dibuat menjadi balans ( seimbang ),
yang menghasilkan getaran yang kecil. Seiring dengan perjalanan waktu getaran turbin bisa
menjadi besar dan melampaui batas yang ditentukan, karena itu turbin harus diberhentikan
untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.
52

- Pengaman perbedaan pemuaian rotor dan stator tinggi. Pada waktu start pemuaian rotor
akan lebih cepat daripada statornya, karena itu start turbin harus dilakukan dengan cermat
dan hati hati agar pemuaian rotor terhadap stator masih dalam batas yang ditentukan. Jika
pemuaian rotor menjadi diluar batas maka turbin harus diberhentikan seketika guna
mengindari terjadinya gesekan antara rotor dan stator arah axial.
Disamping itu turbin juga dilengkapi dengan tombol darurat untuk memberhentikan turbin
dengan seketika jika diketahui terdapat hal hal yang membahayakan bagi berlangsungnya operasi.


3.6 KONDENSOR.
Fungsi kondensor adalah untuk mengembunkan uap bekas yang keluar dari turbin tekanan
rendah. Pengembunan uap keluar turbin diusahakan pada tekanan yang serendah rendahnya agar
turunnya entalpi uap didalam turbin menjadi tinggi. Semakin tinggi penurunan entalpi uap maka
semakin besar daya turbin yang bisa dibangkitkan. Untuk menghindari kerugian, maka kondensor
dipasang sedekat mungkin dengan sisi keluar turbin, karena itu umumnya kondensor dipasang tepat
dibawah turbin tekanan rendah ( gb 3.20 ). Tergantung dari suhu air pendingin yang ada, kondensor
direncanakan untuk mampu membentuk tekanan rendah antara 0,03 sampai dengan 0,10 bar absolute.

3.6.1 Klasifikasi Kondensor
Dari segi konstruksinya, kondensor dapat dibedakan antara kondensor kontak ( Contact
Condensor ) dan kondensor permukaan ( Surface Condensor ). Pada Kondensor Kontak, air
pendingin dipancarkan langsung pada saluran uap bekas keluar turbin, dan air pendingin bercampur
dengan air kondensat yang terjadi.. Kondensor semacam ini dipakai apabila air kondensat tidak
digunakan lagi didalam sistim sirkulasi air uap, seperti halnya yang terjadi didalam Pembangkit
Listrik Tenaga Panas Bumi.
Pada Kondensor Permukaan, air pendingin terpisah dengan uap bekas maupun air kondensat
yang terjadi. Air pendingin mengalir didalam pipa-pipa yang biasa disebut pipa kondensor, sedang
uap bekas / air kondensat berada diluar pipa. Besarnya kalor dari uap bekas yang harus dibuang pada
tekanan yang serendah-rendahnya menyebabkan diperlukannya luas bidang kontak ( antara
permukaan air pendingin disatu sisi dan permukaan uap dilain sisi) yang besar. Untuk memenuhi hal
tersebut disusun ratusan bahkan ribuan pipa kondensor tergantung dari besarnya jumlah uap bekas
yang akan diembunkan.
Dari segi arah alirannya dibedakan antara kondensor dengan arah aliran tunggal ( single
flow ) dan kondensor dengan arah aliran ganda ( double flow ) atu lebih, dan dari segi material pipa
53

kondensor yang digunakan dibedakan antara pipa kondensor dengan bahan dasar tembaga, bahan
dasar nickel dan bahan titanium.

3.6.2 Kelengkapan Kondensor.
Disamping konstruksi yang sudah disebutkan diatas, kondensor dilengkapi dengan bagian
bagian lain untuk memungkinkan terjadinya proses pengembunan uap berjalan dengan baik
sehingga dapat menghasilkan tekanan didalam ruang uap yang serendah rendahnya. Kelengkapan
kondensor terdiri dari sistim air pendingin, sistim pembuang udara dan sistim pembersih pipa.
Sistim air pendingin.
Sistim air pendingin kondensor adalah suatu instalasi yang digunakan untuk mengalirkan air
pendingin kedalam kondensor. Air pendingin yang dialirkan masuk kedalam kondensor jumlahnya
sangat besar, diperoleh dari air laut, air danau, air sungai atau dari menara pendingin. Air tersebut
harus dialirkan kedalam kondensor dalam keadaan bersih bebas dari sampah. Untuk mencapai
tujuan tersebut sistim pengaliran air pendingin ( selanjutnya disebut sebagai Sistim Air Pendingin
Utama ) dilengkapi dengan Pintu Air, Saringan Kasar , Saringan Putar, Pompa Pencuci Saringan,
Pompa Air Pendingin Utama, Saringan Sampah Sisa, Instalasi Cuci Balik Kondensor , dan beberapa
katup. Gb 3.20 menunjukkan susunan peralatan tersebut dengan penjelasan sebagai berikut:
- Pintu air masuk digunakan sewaktu waktu jika diperlukan perbaikan atau pembersihan
phisik pada bagian bagian sistim air pendingin yang sudah disebutkan diatas.
- Saringan kasar digunakan untuk menyaring sampah sampah besar dan berat. Terdiri dari
pelat pelat strip yang disusun dibelakang pintu air. Saringan kasar ini juga dilengkapi
dengan penggaruk sampah, untuk mengambil sampah yang tertahan dan membuangnya
ketempat penampungan sementara. Selanjutnya dengan truk sampah tersebut diangkut
ketempat pembuangan akhir.
- Saringan putar digunakan untuk menyaring sampah / kotoran yang lolos dari saringan kasar.
Saringan ini berputar secara kontinue jika jumlah sampah yang ikut aliran air pendingin
berjumlah banyak, dan berputar sewaktu waktu jika jumlah sampahnya sedikit. Untuk
membuang sampah yang menempel pada saringan digunakan semprotan air yang diberikan
oleh pompa pencuci saringan.
- Pompa Air Pendingin Utama, adalah pompa air dengan kapasitas besar untuk menghisap
dan mendorong air pendingin masuk kedalam kondensor. Pompa ini dilengkapi dengan
katup penutup aliran guna mengatur aliran air pendingin secara bertahap ketika pompa
distart.
- Saringan sampah sisa ( Debris Filter ) digunakan untuk menangkap sampah yang lolos dari
Saringan Putar.
54



Gb 3.20 Susunan turbin tekanan rendah dan kondensor
55



Gb 3.21 Sistim air pendingin kondensor

- Instalasi Cuci Balik digunakan untuk membuang sampah yang tertahan pada mulut
kondensor. Instalasi ini biasanya tidak dipasang jika instalasinya dilengkapi dengan debris
filter tsb diatas.

Sistim pembersih pipa kondensor
Instalasi pembersih pipa kondesor. Aliran air pendingin dengan jumlah yang sangat besar
juga akan mengandung kotoran halus seperti lumpur yang tidak mungkin disaring oleh saringan
saringan tersebut yang sudah dibahas diatas. Kotoran kotoran ini akan menempel pada dinding pipa
kondensor ( pada kondensor permukaan ) dan akan menghambat jalannya perpindahan panas. Karena
itu kotoran yang menempel ini harus secara periodic atau secara kontinue dibersihkan. Gb 3.22
menunjukkan sebuah instalasi pembersih pipa kondensor yang bisa beroperasi secara kontinue atau
sewaktu waktu sehingga kebersihan pipa kondensor dapat dipertahankan. Instalasi pembersih ini
dikenal sebagai instalasi Tapproge. Adapun cara kerjanya adalah sebagai berikut:
Bola dimasukkan kedalam Tangki Bola 5 dan ditutup rapat, Penangkap bola 9 ditutup, dan
Pompa 8 djalankan. Bola 7 akan bergerak masuk kedalam aliran air pendingin dan masuk kedalam
pipa kondensor. Bola yang bersfat elastis dan dengan ukuran sedikit lebih besar dari diameter pipa
kondensor serta mempunyai permukaan yang kasar akan menyikat permukaan pipa dan dengan
demikian lumpur atau kotoran lain akan terkikis dan terdorong menuju sisi keluar pipa.
Keluar dari pipa bola masuk kedalam Penangkap 9 dan seterusnya masuk kedalam Pompa 8
dan kembali didorong menuju sisi masuk kondensor lagi. Demikian seterusnya sampai pipa
kondensor dinyatakan bersih. Jika proses pembersihan sudah dinyatakan cukup, pergerakan bola
dihentikan / ditahan pada Tangki Bola 5 dan Pompa 8 di stop, Penangkap Bola 5 dibuka dan bola 7
dikeluarkan. Gerakan bola selama bersirkulasi dapat dilihat pada Kaca monitor 6.
56



1. Air pendingin masuk.
2. Saluran pembuangan sampah.
3. Saringan sampah sisa.
4. Kondensor.
5. Tangki bola pembersih
Gb 3.22 Sistim pembersih pipa kondensor

Sistim penghisap udara
Tekanan rendah dibawah tekanan at-mosfir didalam ruang uap kondensor memung-
kinkan udara masuk kedalamnya, dan akan men-jadi pemghambat perpindahan panas. Karena itu
udara atau gas lain yang tidak bisa mengem-bun harus dikeluarkan. Pengeluaran udara dilakukan
dengan menggunakan ejector uap atau pompa hampa. Gb 3.23 menunjukkan sebuah ejector uap,
dimana uap dengan tekanan dan suhu terten-tu masuk kedalam ruang uap kemudian berexpansi
didalam nozel sehingga menghasilkan kecepatan yang tinggi.



6. Kaca monitor
7. Tampang bola pembersih
8. Pompa pelempar bola.
9. Penangkap bola.
10 Air pendingin keluar
57


Gb 3.23 Ejector
Kecepatan uap yang tinggi tersebut menimbulkan tekanan yang rendah pada ruang penghisap
dan karenanya udara tersedot kedalamnya serta terdorong masuk kedalam ruang diffuser terus keluar
keujung bawah ejector.

3.6.3 Jalannya proses perpindahan panas.
Pada kondensor kontak air pendingin akan bercampur dengan air kondensat hasil
pengembunan uap keluar turbin. Besarnya suhu dan entalpi air kondensat dan suhu air pendingin
setelah proses pendinginan menjadi sama besar, karena itu berlaku persamaan sbb:
ap u
ap ap u u
camp
camp ap ap camp u u
G G
h G h G
h
h h G h h G
+
× + ×
=
÷ = ÷ × ) ( ) (

dimana: G
u
= Jumlah berat aliran uap masuk kondensor kg / jam
h
u
= Entalpi uap masuk kondensor kkal /kg.
h
camp
= Entalpi campuran air kondensat dan air pendingin kkal / kg.
G
ap
= Jumlah berat aliran air pendingin masuk kondensor kg / jam.
h
ap
= Entalpi air pendingin masuk kondensor kkal / kg.
58

Untuk entalpi uap dapat dicari dari tabel uap atau dari diagram h – s, sedang untuk entalpi
air dapat dicari juga dari tabel air dan uap atau merupakan hasil kali dari panas jenis air dengan
suhu terkait.
Pada kondensor permukaan air pendingin tidak bercampur dengan air kondensat hasil
pengembunan uap keluar turbin. Pada kondensor jenis ini diperlukan luas bidang pemanas yang
besar, untuk mendapatkan tekanan ruang uap dan suhu air kondensat yang rendah. Disini berlaku
persamaan sbb
r in out ap cond u u
t kF h h G h h G A = ÷ = ÷ × ) ( ) (

dimana: h
cond
= entalpi air kondensat kkal / kg.
h
out
= entalpi air pendingin keluar kondensor kkal / kg.
k = koeffisient perpindahan panas dari uap keair pendingin melalui dinding
pipa kondensor berkisar antara 3000 – 5000 kkal /m
2
jam
o
C
F = Luas permukaan bidang pendingin m
2
.
∆t
r
= perbedaan suhu logaritmik rata rata antara uap dan air pendingin.

out s
in s
in out
t t
t t
t t
÷
÷
÷
=
ln 3 , 2

t
s
= suhu uap dalam ruang uap kondensor
o
C

Contoh soal
1. Kondensor kontak dengan tekanan pada sisi uap = 0,06 kg / cm
2
, aliran uap 200 ton /
jam, suhu air pendingin masuk = 30
o
C.Berapa jumlah air pendingin harus dialirkan?
Jawaban:
Dari tabel uap jenuh, untuk tekanan 0,06 kg / cm
2
, didapat entalpi uap jenuh = 613 kkal
/ kg; suhu jenuh atau = suhu air kondensat = 36
o
C.
Panas jenis air adalah = 1kkal / kg
o
C, maka besarnya h
camp
= 36 kkal /kg.
Dari persmaan
ap u
ap ap u u
camp
G G
h G h G
h
+
× + ×
= →36=
ap
ap
G
G
+
× + ×
200000
30 613 200000

G
ap
=19233333kg/jam = 19233,333m
3
/jam
59

2. Kondensor permukaan dengan suhu air kondensat 40
o
C, aliran uap masuk kondensor
200 ton / jam, suhu air pendingin masuk 30
o
C, keluar 36
o
C.
a) Berapa jumlah air pendingin diperlukan?
b) Berapa luas bidang pemanas diperlukan jika koeffisien perpindahan panas pipa
kondensor k = 4000 kkal / m
2
jam
o
C.
c) Jika panjang pipa kondensor 5 meter dan diameter pipa 25 cm berapa jumlah
pipa diperlukan?
Jawaban:
a. Dari tabel uap jenuh didapat entalpi uap jenuh h
u
= 614,7 kkal, tekanan jenuh=0,075
kg / cm
2
.
Dari persamaan ) ( ) (
in out ap cond u u
h h G h h G ÷ = ÷ × , maka besarnya air pendingin
diperlukan:

) (
) (
in out
cond u u
ap
h h
h h G
G
÷
÷ ×
=


) 30 36 (
) 40 7 , 614 ( 200000
÷
÷ ×
=

= 19156666kg / jam = 19156,666 m
3
/ jam.
b. Perbedaan suhu logaritmik rata rata antara uap dan air pendingin.
∆t
r

out s
in s
in out
t t
t t
t t
÷
÷
÷
=
ln 3 , 2


36 40
30 40
ln 3 , 2
30 36
÷
÷
÷
=

= 2,85
o
C.
Luas bidang pemanas
F =
( )
tr A
÷
k
h h G
cond u u
=
( )
2,85 4000
40 7 , 614 200000
×
÷

= 10082 m
2
60

c. Luas bidang pemanas untuk satu buah pipa kondensor adalah:
f =πdl= 3,14 x 0,254 x 5 = 3,9878 m
2

Jumlah pipa diperlukan:
n =
f
F
=
3,9878
10082
=2528 buah.

3.7 PEMANAS AIR PENGISI BOILER.
Ada dua tujuan penggunaan Pemanas Air Pengisi Boiler yaitu:
1. Untuk meningkatkan effisiensi siklus air – uap.
2. Untuk menghindari kejutan panas ( thermal schock ) dari bagian bagian boiler.
Pemanas Air Pengisi Boiler terdiri dari tiga jenis yaitu Pemanas Tekanan Rendah, Deareator
dan Pemanas Tekanan tinggi. Untuk Pemanas Tekanan Rendah dan Pemanas Tekanan Tinggi
biasanya terdiri dari satu, dua atau tiga buah, tergantung dari besar kecilnya PLTU, sedang untuk
Deareator hanya terdiri dari satu buah. Masing masing pemanas menggunakan uap extraction dari
turbin sebagai media pemanasnya. Uap extraction dari bagian turbin tekanan tinggi untuk Pemanas
Tekanan Tinggi dan seterusnya uap extraction dari bagian turbin tekanan rendah untuk Pemanas
Tekanan Rendah. Disebut sebagai Pemanas Tekanan Rendah bila ia ditempatkan sebelum Deareator
dan disebut Pemanas Tekanan Tinggi bila ia ditempatkan sesudah Pompa Air Pengisi Boiler
sebelum economizer.
Konstruksi Pemanas Tekanan Tinggi terdiri dari pipa pipa baja karbon atau stainless steel
berbentuk U yang ujungnya diroll dan dilas pada tube sheet. Air mengalir didalam pipa sedang
uapnya mengalir pada bagian luar pipa didalam tangki. Umumnya Pemanas Tekanan Tinggi
diletakkan mendatar atau berdiri tegak. Sesuai dengan kondisi uap yang digunakan, maka Pemanas
Tekanan Tinggi terbagi menjadi tiga zona ( gb 3.24 ) yaitu:
a. Zona Desuperheater yaitu zona dimana uap panas lanjut mengalami penurunan suhu
menuju kondisi jenuh. Disini diusahakan agar seluruh bagian uap dapat brsinggungan
dengan sisi keluar pipa pipa yang dilalui air pengisi boiler. Karena itu didalam zona ini uap
dialirkan dengan berbelok belok memotong arah pipa.
b. Zona kondensasi, yaitu zona dimana uap jenuh mengalami pengembunan. Oleh karena
panas yang dapat diserap disini adalah yang terbesar dengan suhu yang konstan maka
diperlukan ruangan yang besar dibanding zona desuperheater.
61

c. Zona Subcooling yaitu bagian dimana air kondensat mengalami penurunan suhu. Seperti
halnya zona desuperheater, disini juga diusahakan agar semua bagian air kondensat dapat
bersinggungan dengan sisi masuk pipa pipa yang dilalui air pengisi.

Gb 3.24 Pemanas Air Pengisi Tekanan Tinggi


Gb 3.25 Diagram suhu – panjang laluan Pemanas Air Pengisi Boiler.


Pemanas Tekanan Rendah mempunyai konstruksi yang sama dengan Pemanas Tekanan
Tinggi, dengan perbedaan ukuran sesuai perbedaan tekanannya. Perbedaan lain adalah
konstruksinya lebih sederhana antara lain pipa pipa airnya terbuat dari pipa lurus bukan pipa U.
62

Deareator disamping berfungsi sbagai pemanas, juga terutama berfungsi untuk membuang
udara / gas yang larut didalam air. Air dipecah pecah menjadi butir butir kecil dan dipanaskan
dengan uap dari extraction turbin. Pemanasan dilakukan sampai mencapai titik didihnya sehingga
bagian gasnya terlepas dan terdorong keluar dibagian atas tangki deareator. Sejalan dengan proses
pemecahan air tersebut, deareator dibedakan antara deareator type tray dan deareator type jet.

Gb .3.26 Deareator type tray

Dengan deareator type tray ( gb. 3.26 ) dimaksudkan bahwa air kondensat dijatuhkan dari
atas ke kisi kisi ( tray ) pertama. Pada kisi kisi pertama tersebut air akan tersebar kekiri kekanan,
kedepan dan kebelakang dan jatuh ke tray kedua. Demikian seterusnya berlangsung sampai tray
yang terakhir. Uap dialirkan dari bawah dan memo-tong jatuhnya air dari setiap tray. Air kondensat
yang telah dipanaskan dan terbuang gasnya ditampung didalam tangki air pengisi untuk selanjutnya
dipompakan kedalam boiler.
63

Dengan deareator nozzle, air kondensat dipancarkan dengan nozzle membentur dinding
tangki deareator sebelah atas dan memantul dalam bentuk hujan / butir butir kecil. Uap juga
dipancarkan sehingga menyebar, memotong dan memanaskan butir butir air kondensat tsb.
Dalam hal pencegahan korosi didalam boiler, injeksi hydrazine kedalam air kondensat
dilakukan sebelum air kondensat masuk kedalam vent cooler, dan gas yang dibuang menjadi berupa
gas nitrogen hasil reaksi dari oksigen dan hydrazene. Gas lainnya yang juga terlepas dari air
kondensat keluar bersama sama melalui saluran ventilasi pada vent cooler.

3.8 SISTIM KONTROL PLTU
Bertambahnya beban listrik, harus diimbangi dengan bertambahnya aliran uap masuk
keturbin, dan bertambahnya aliran uap masuk keturbin juga harus diimbangi dengan bertambahnya
aliran air pengisi boiler, aliran bahan bakar, dan aliran udara pembakaran. Demikian pula sebaliknya
berkurangnya beban listrik harus diimbangi dengan berkurangnya aliran uap masuk keturbin, dan
berkurangnya aliran uap masuk keturbin juga harus diimbangi dengan berkurangnya aliran air
pengisi boiler, aliran bahan bakar, dan aliran udara pembakaran. Semuanya itu harus berjalan secara
serempak, dan untuk itu diperlukan sistim kontrol yang akan mengendalikan perubahan perubahan
aliran tersebut secara otomatis.

Gb 3.27 Sistim control PLTU
64

Gb 3.27 menunjukkan sebuah sistim control PLTU. Perubahan aliran uap ditentukan oleh
penyimpangan putaran turbin dari set point S yang ditentukan ( 3000 rpm ) sebagaimana
sudah dijelaskan dimuka pada sistim governor. Bertambahnya aliran uap akan memberikan sinyal
kepada kontroller aliran bahan bakar bahwa terjadi penyimpangan terhadap set point S aliran bahan
bakar, karena itu kontroller akan memberikan komando kepada katup pengatur aliran bahan bakar
untuk menambah jumlah alirannya. Demikian terjadi hal yang sama pada sistim kontrol air pengisi
dan aliran udara pembakaran.
3.9 Soal soal.
1.




















65

IV
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
PANAS BUMI

4.1 UMUM
Bumi yang kita tempati pada bagian dalamnya mengandung sumber energi yang sangat
besar ( gb 4.1 ), berupa inti magma. Inti magma ini pada tempat tempat tertentu muncul
kepermukaan bumi melalui tempat yang kita kenal sebagai gunung berapi. Pada tempat tempat
tertentu pula kita bisa melihat adanya uap air atau air panas yang keluar dari permukaan bumi. Ini
menandakan bahwa didalam perut bumi terdapat sejumlah kandungan air yang bersinggungan
langsung dengan sumber panas yaitu pada mantel ( berupa lapisan batu keras ) yang porous, dimana
air bisa menyusup langsung sampai kedekat sumber panas magma. Selanjutnya sumber panas akan
menaikkan suhu air tersebut atau jika panasnya cukup akan mengubah air tersebut menjadi uap
dengan tekanan yang relatif tinggi. Sumber air datang dari air hujan yang masuk kedalam tanah
melalui akar akar pohon atau karena adanya tingkat porositas tanah yang tinggi.
Produksi uap didalam perut bumi ternyata dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga
listrik dengan kapasitas yang cukup besar, dan selama sumber airnya dapat selalu diperbaharui,
sumber energi ini tidak akan habis. Karena itu untuk menjaga agar kandungan air tidak menjadi
habis pada proses pembangkit listrik panas bumi, maka uap keluar turbin yang telah diembunkan
didalam kondensor, dipompakan kembali masuk kedalam perut bumi ( gb 4.2 )
Besarnya energi yang terdapat didalam uap diukur dengan berapa besarnya tekanan, suhu,
kandungan air, dan berapa besar aliran yang bisa diberikan. Tingginya. tekanan dan suhu
menentukan besarnya enthalpy yang terkandung didalam uap tersebut. Rumusan rumusan yang
berlaku pada PLTU diluar rumusan rumusan untuk boiler berlaku untuk pula PLTP.
PLTP mempunyai keuntungan disbanding dengan jenis pembangkit lainnya antara lain:
– Merupakan sumber energi yang terbarui, karena sumber panas didalam inti bumi / magma
merupakan sumber panas abadi sehingga sepanjang air dapat masuk kedalam daerah mantel
maka uap tetap dapat dihasilkan.
– Tidak memerlukan biaya bahan bakar.
– Tidak menimbulkan polusi jika konstruksinya adalah binary.

66



Gb 4.1 Susunan lapisan lapisan bumi , kedalaman dan suhu yang terkait dengan
kedalaman




Gb 4.2 Sebuah instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi.


Adapun kerugiannya adalah :
– Tidak bisa ditempatkan disegala tempat, terbatas pada tempat yang ada sumber panas
buminya saja, umumnya berada didaerah pegunungan, jauh dari pusat kota, dan biasanya
juga tidak ada sumber air pendingin, sehingga diperlukan transmisi yang panjang untuk
menyalurkan listriknya dan menara pendingin untk mendinginkan uap keluar kondensor.
– Bahaya yang timbul saat pengeboran. Oleh karena tekanan uap yang tinggi bisa terjadi
semburan uap liar saat pengeboran, karena itu diperlukan tingkat keberhati hatian yang
tinggi.
67

– Pecahnya pipa akibat korosi.Kandungan asam belerang yang dibawa uap dapat
mengakibatkan korosi pada pipa yang dilaulinya,karena itu pemilihan material yang tahan
korosi harus menjadi pilihan, karena itu bayanya menjadi tinggi.
– Uapnya mengandung pollutan seperti asam belerang, partikel padat dan gas beracun.

4.2 KLASIFIKASI
Dari segi sumber panas buminya PLTP dibedakan:
– PLTP hydrothermal, yaitu bahwa uap yang keluar dari perut bumi banyak mengandung air,
dan ini yang paling banyak ditemui. Untuk menggerakkan turbin, butir butir yang ada harus
dibuang terlebih dahulu didalam separator, sehingga uap masuk turbin dalam keadaan
kering.
– PLTP Geopressurized, yaitu bahwa yang keluar dari perut bumi berupa air panas dengan
tekanan yang tinggi, kemudian dengan menurunkan tekanannya diperoleh uap.
– PLTP Hot dry rock. Pada dasarnya lapisan bebatuan panas didalam perut bumi ada yang
bersifat kering / tidak mengandung air ( hot dry ) dan ada yang mengandung air ( wet dry ).
Pada PLTP Hot dry rock, uap panas yang diperoleh berasal dari injeksi air dari permukaan
bumi kedalam lapisan bebatuan panas didalam perut bumi.

Dari segi konstruksi PLTP dibedakan:
– PLTP uap kering ( gb 4.3 ), Dari perut bumi berupa uap kering ( tidak meng-andung air )
dengan tekanan yang tinggi. Uap tersebut setelah melalui saringan / separator kemudian
dimasukkan kedalam turbin untuk mendorong sudu sudu turbin dan menghasilkan tenaga
mekanik untuk menggerakkan generator listrik. Uap keluar turbin diembunkan menjadi air
kembali dan kemudian diinjeksikan lagi kedalam perut bumi.








Gb 4.3 PLTP uap kering
68

– PLTP flash ( gb 4.4 ), Dari perut bumi berupa air panas dengan tekanan yang tinggi. Air
tersebut kemudian dikabutkan kedalam ruang bertekanan rendah sehingga air tersebut
berubah menjadi uap dan kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin.










Gb 4.4 PLTP flash
- PLTP binary ( gb 4.5 ), Uap atau air panas dari perut bumi tidak digunakan langsung
untuk menggerakkan turbin, tetapi digunakan untuk memanaskan fluida didalam heat
exchanger. Fluida tersebut yang memiliki suhu didih yang rendah kemudian menguap
dan menggerakkan sudu sudu turbin. Dengan cara ini turbin dapat dijaga selalu bersih,
dan gas ikutan yang tidak menguntungkan dapat dicegah keluar keudara, tetapi
diinjeksikan kembali kedalam perut bumi.











Gb 4.5 PLTP binary




69

4.3 ENERGI YANG DIBANGKITKAN
Besarnya energi yang bisa dikonversi menjadi tenaga mekanik didalam turbin, tergantung
dari effisiensi instalasi pembangkit listrik yang bersangkutan dan besarnya tekanan uap keluar
turbin. Untuk jelasnya lihat persamaan 2.20 berikut:
E = G( h
1
- h
2
)η.................................... ( 2.20 ).
dimana : E = energi yang bisa dperoleh kJ.
G = berat uap yang mengalir kg/jam.
h
1
= enthalpy uap masuk turbin kJ/kg.
h
2
= enthalphy uap keluar turbin.kJ/kg.
η = effisiensi turbo generator%

Contoh soal.
Sebuah sumber uap panas bumi menghasilkan tekanan uap 9 kg/cm
2
gauge, dengan suhu 350
0
C dan
aliran uap maksimum sebesar 150 ton per jam. Berapa Kwh listrik bisa dihasilkan bila tekanan uap
keluar turbin absolut 0,1 kg/cm
2.
.Effisiensi turbin generator = 85%.

Jawaban.
Tekanan uap 9kg/cm
2
gauge = 10 kg/cm
2
absolut. Entalphy uap pada suhu dan
tekanan tsb adalah ( tabel uap ) = 3158,5 kJ/kg, dengan entropy = 7,3031kJ/ kg
0
C. Proses
didalam turbin adalah proses isentropis / adiabatis = entropy konstan, sehingga, entalpy uap
keluar turbin sesuai tekanan 0,1 kg/cm
2
dan entropy = 7,3031 adalah = 2314,378 kJ/kg.
Besarnya energi yang dihasilkan
E = G( h
1
- h
2
) η
= 150 000 ( 3158,5 – 2314,378)0,85
= 126588300 kJ
= 35163,42 kwh.

4.4 KOMPONEN UTAMA.
– Sumur produksi, adalah bagian bumi yang dibor dan lubang bor tsb mengalir uap atau air
panas yang kemudian disalurkan melalui pipa menuju turbin. Pipa penyalur yang berada
didalam perut bumi harus betul betul tahan korosi terhadap unsur kimia yang terbawa oleh
uap, guna menghindari blow out.
70

– Pipa penyalur, untuk menyalurkan uap menuju turbin. Pipa ini harus diisolasi dengan baik
untuk menghindari terjadinya penurunan suhu dan pengembunan,
– Separator atau demister untuk membuang kotoran padat dan butir butir air sebelum uap
masuk kedalam turbin. Kualitas dan kemampuan separator ini dalam membuang butir butir
air dan kotoran padat sangat menentukan daya mampu dan effisiensi turbin.
– Turbin Uap untuk merubah energi panas dari uap menjadi energi mekanik guna memutar
generator.
– Condensor untuk mengembunkan uap keluar turbin menjadi air kembali dan selanjutnya
diinjeksikan kembali kedalam perut bumi. Umumnya kondensor yang dipakai adalah
kondensor kontak, dimana air pendingin berhubungan langsung dengan uap keluar turbin.
– Menara pendingin ( Cooling Tower ), untuk mendinginkan air pendingin keluar kondensor.
Pendinginan menggunakan aliran udara atmosfir yang dialirkan dengan menggunakan kipas
atau secara alami.

















71

V
PEMBANGKIT LISTRIK
TENAGA NUKLIR

5.1 UMUM
Sebagaimanan PLTU, PLTN menggunakana uap sebagai penggerak turbinnya, hanya disini
uap yang digunakan adalah uap basah, karena pada PLTN tidak dilengkapi superheater. Uap
diperoleh dari pemanasan air didalam bangunan beton kuat. Didalam bangunan beton kuat tersebut
terdapat reactor dimana bahan bakar nuklir bereaksi dan menghasilkan panas. Panas kemudian
diserahkan kepada air yang secara kontinue dialirkan kedalamnya.
Tergantung dari jenis proses yang digunakan, panas yang diperoleh didalam reaktor ada
yang langsung untuk merubah air tersebut menjadi uap, dan ada yang tidak. Yang tidak langsung
dirubah menjadi uap, air panas dari reaktor dialirkan kedalam sebuah penukar kalor ( heat exchanger
), dan panas yang terbawa digunakan untuk merubah air ( siklus kedua ) menjadi uap yang
digunakan untuk memutar turbin.
Uap keluar dari turbin selanjutnya diembunkan menjadi air dan dipompakan kembali masuk
kedalam penukar kalor atau reaktor sesuai proses yang digunakan

5.2 KLASIFIKASI
Berdasarkan jenis transformasi energy yang berlaku, dari reaksi nuklir didalam reactor
sampai menjadi uap untuk menggerakkan turbin, PLTN dibagi menjadi 3 golongan besar yaitu:
1. PWR ( Presurized Water Reactor).
Disini terdapat dua siklus yaitu siklus primer dan siklus sekunder. Siklus primer berfungsi
membawa panas dari dalam reactor menuju penukar kalor. Siklus ini mempunyai tekanan
yang tinggi dan karenanya air yang digunakan didalam siklus ini tidak menguap, tetapi
suhunya naik didalam reaktor dan turun didalam heat penukar kalor. Siklus sekunder adalah
siklus air –uap, dimana uap akan terbentuk didalam penukar kalor,kemudian mengalir
masuk dan menggerakkan turbin. Selanjutnya uap keluar turbin diembunkan dan
dipompakan kembali masuk kedalam penukar kalor.


72

2. BWR ( Boiled Water Reaktor ). BWR
BWR hanya memiliki satu siklus, dimana reaktor sekaligus berfungsi sebagai boiler yang
merubah air menjadi uap. Keuntungan BWR dibanding yang lain adalah tidak
diperlukannya penukar kalor sehingga proses pembentukan uapnya menjadi lebih cepat, dan
instalasinya menjadi lebih sederhana. Kerugiannya adalah jika terjadi kebocoran didalam
reactor maka kadar radioaktifnya akan terbawa langsung keturbin, keluar dari bangunan
beton, dan tentu saja akan terlepas keluar.

Gb 5.1 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

3. HWR ( Heavy Water Reactor ).
Seperti halnya PWR, HWR juga memiliki dua siklus yaitu siklus primer dan siklus
sekunder. Fluida yang digunakan pada siklus primer bukan air biasa seperti didalam PWR
melainkan fluida yang disebut sebagai air berat ( Heavy Water )
Gb 5.1 menunjukkan sebuah PLTN lengkap jenis PWR. Penukar kalor yang diuraikan diatas
didalam gambar tsb disebut sebagai steam generator ( pembangkit uap ), dimana didalmnya uap
dibentuk dari air ( didalam siklus sekunder ) oleh suhu air bertekanan tinggi yang mengalir secara
kontinue dari reactor (siklus primer ).

5.3 REAKSI NUKLIR
. Didalam reactor terjadi reaksi nuklir, yaitu penembakan neutron bebas kepada sebuah inti (
nuclei), sehingga nuclei menjadi kelebihan neutron yang mengakibatkan nuclei terpecah menjadi
dua atau tiga dan melepas dua atau tiga neutron lagi dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Kecepatan yang sangat tinggi ini menyebabkan timbulnya panas yang didalam reaktor kemudian
diserahkan ke dinding reaktor. Kedua neutron bebas tadi akan bertemu dengan nuclei yang lain
73

sehingga nuclei yang lain tersebut terpecah dan melepas neutron bebas juga. Demikian seterusnya
terjadi reaksi berantai dengan kecepatan yang sangat tinggi
Sebagai bahan inti dipakai uranium 235 ( U
235
), yang merupakan bahan olahan dari biji
uranium U
3
O
8
yang biasa dikenal dengan sebutan "Yellow Cake" karena warnanya yang kuning dan
bentuknya yang menyerupai kue. Yellow Cake ini mengandung kadar uranium sebesar 0,7%.Untuk
bisa digunakan sebagai bahan bakar nuklir harus diperkaya dulu sehingga kandungan uraniumnya
mencapai 2-3% dengan rumus kimia menjadi UO
2
dengan bentuk menyerupai tablet atau pellet.
Dibanding dengan batu bara, uranium tidak banyak makan tempat dan tidak menimbulkan
polusi, walaupun pengoperasiannya memerlukan kecermatan yang tinggi karena sifat bahaya radiasi
radioaktifnya. Sebagai gambaran untuk pembangkit listrik
600 MW dengan bahan bakar nuklir akan memerlukan uranium sejumlah 30 ton per tahun.
PLTU batu bara dengan kapasitas yang sama akan memerlukan sejumlah batu bara sebanyak ± 2
600 000 ton.
Gb 5.2 menunjukkan sebuah proses pengolahan uranium dari penambangan sampai
digunakan didalam reaktor sebuah PLTN disertai dengan penyimpanan limbahnya, sementara gb 2.5
menunjukkan reaksi berantai yang telah diuraikan diatas.
Kecepatan reaksi nuklir dapat dikendalikan dengan memasukkan apa yang disebut dengan
"moderator" kedalam reaktor. Keberadaan moderator ini sangat penting untuk reaktor yang
diperuntukkan bagi PLTN mengingat energi nuklir yang dilepas didalam reaktor harus sebanding
dengan energi listrik yang dibangkitkan, sedangkan energi listrik tersebut sangat tergantung dengan
naik turunnya kebutuhan listrik konsumen. Dengan demikian proses pelepasan panas didalam
reaktor harus dikendalikan sesuai permintaan konsumen.. Namun demikian naik turunnya
produksi dari sebuah PLTN merupakan pilihan terakhir setelah pembangkit pembang-kit jenis lain.
Energi yang dilepaskan pada setiap pembelahan inti ( fisi ) atom U
235
adalah = 192 MeV,
sementara untuk pembakaran atom zat arang dengan O
2
hanya menghasilkan 4 eV, karena itu 1
gram U
235
akan lebih kurang sama dengan

6
6
10 . 45 , 2
12
4
:
235
10 192
=
×
gram = ( 2,45 ton) zat arang

Dari perbandingan diatas jelas nampak bahwa penggunaan energi nuklir akan jauh lebih
hemat ditinjau dari segi transportasi bahan bakarnya , karena 1 gram U
235
setara dengan 2,45 ton
batu bara dengan asumsi kadar C batu bara = 100%. Namun demikian masalah pencemaran radiasi
dari sisa reaksi nuklir yang masih mengandung bahan radio aktif menjadi masalah tersendiri yang
memerlukan penanganan yang cermat dengan biaya yang tidak sedikit. Limbah radio aktif tidak
boleh dibuang sembarangan harus disimpan didalam tanah yang tidak mengandung air tanah.

74



Gb. 5.2 Proses pengolahan, pemanfaatan dan daur ulang Uranium.



Gb 5.3 Proses pemecahan inti (nuclei ) didalam reaktor nuklir.

Untuk mengurangi pencemaran radio aktif tsb bahan limbah yang biasanya bermuatan
uranium dalam bentuk UNH diolah kembali menjadi UO
2
melalui proses pengkayaan .Namun
demikian tidaklah semua bahan buangan dapat didaur ulang . Yang tidak bisa didaur ulang tetap
harus disimpan sebagaimana sudah disebutkan diatas.
75

5.4 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
Telah terjadi polemik yang berkepanjangan di Indonesia tentang pembangunan sebuah
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Hal tersebut mungkin disebabkan belum banyak masyarakat
yang tahu tentang keuntungan dan kerugian sebuah PLTN. Dibawah ini disebutkan tentang
keuntungan dan kerugian sebuah PLTN dibanding jenis pembangkit yang lain sebagai bahan
masukan bagi para mahasiswa dan para pembaca umunya.

Keuntungan
• Tidak menimbulkan pencemaran udara. Emisi pembakaran yang terjadi pada PLTU
batubara seperti adanya gas belerang dan gas karbon dioksida tidak terjadi pada PLTN. Gb
5.4 menunjukkan perbandingan emisi karbon dioksida dari berbagai jenis pembangkit di
Jepang dan Swedia, dimana untuk PLTN berada pada kurang dari 1% nya PLTU batubara.
Demikian pula kadar abu yang selalu ada pada PLTU batubara juga tidak ditemukan pada
PLTN.
• Murah biaya bahan bakarnya. Gb 5.5 menunjukkan perbandingan harga dari berbagai jenis
bahan bakar, dimana bahan bakar nuklir adalah yang terendah untuk pembangkitan tenaga
listrik.
• Cadangan yang luas ( Canada & Australia )
Kerugian
• Jika terjadi kecelakaan dampaknya sangat luas. Kecelakaan yang terjadi pada PLTN
Chernobil Rusia merupakan pelajaran yang sangat berharga untuk menge-lola sebuah PLTN.
Karena itu konstruksi dan peralatan peralatan pengaman bagian reaktornya harus betul betul
memenuhi standard yang ditentukan Badan Tenaga Atom Internasional, dan pengoperasiannya
juga
76

h
arus mendapat pengawasan dari badan tersebut.



Gb 5.4 Emisi CO
2
pada berbagai jenis pembangkit.

Gb 5.5 Struktur biaya pada jenis pembangkit gas, batubara dan nuklir.
77

• Limbah nuklir tetap berbahaya dalam ribuan tahun. karena itu harus diproses kembali, dan
yang sudah tidak bisa diproses kembali harus disimpan didalam ruang bawah tanah yang
kedap radiasi.
• Bahan bakar nuklir dapat digunakan untuk memproduksi bom, karena itu penga-wasan oleh
Badan Tenaga Atom Internasional harus dapat berjalan sebagaimana mestinya sehingga
kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam industri nuklir tidak mengarah ke hal yang
negative.
• Biaya investasi, pemeliharaan dan decomissioningnya tinggi. Gb 5.5 menunjuk-kan struktur
biaya pembangkitan tenaga listrik dari pembangkit listrik dengan bahan bakar gas, batubara
dan nuklir.



















78

VI
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
GAS

6.1 UMUM
Pembangkit Listrik Tenaga Gas ( PLTG ) adalah pembangkit listrik yang generator
listriknya digerakkan dengan Turbin Gas. PLTG adalah jenis pembangkit listrik sekala besar kedua
setelah PLTU yang banyak dijumpai, terutama untuk tujuan memikul beban puncak, karena sifatnya
yang cepat dapat distart. PLTG juga mempunyai keuntungan dan kerugian dibanding jenis
pembangkit lain. Adapun keuntungannya ada-lah sebagai berikut.
1. Ringan. Berat PLTG per satuan daya ( kg / kw ) adalah kecil, lebih-lebih pada putaran
yang tinggi, karena itu tidak memerlukan fondasi yang berat.
2. Cepat dapat distart. Dibanding dengan PLTU, PLTG sangat mudah untuk distart dan
cepat menghasilkan daya yang besar, karena itu sangat cocok dioperasikan untuk
memikul beban puncak dan sebagai pembangkit cadangan untuk kepentingan darurat.
3. Tidak memerlukan air pendingin. Dibanding pembangkit jenis lain yang
memerlukan air pendingin seperti PLTU dan PLTD, maka PLTG sangat cocok untuk
daerah-daerah kering dan gurun pasir karena tidak memerlukan air pendingin.
4. Masa pembangunan yang pendek. Dibanding pembangunan PLTU maka
pembangunan sebuah PLTG memerlukan jangka waktu yang lebih pendek, karena itu ia
cocok untuk mengatasi krisis-krisis tenaga listrik disuatu daerah.
5. Murah. Dibanding pembangkit listrik yang lain harga sebuah PLTG merupakan yang
paling murah untuk setiap daya (MW) terpasangnya.
6. Dapat ditempatkan disegala lokasi. Karena sifatnya yang ringan dan tidak
memerlukan air pendingin maka ia dapat ditempatkan disegala lokasi, baik dipantai,
digurun pasir maupun didaerah kutub yang bersalju.

Adapun kerugian yang dimiliki PLTG antara lain adalah:
1. Effisiensinya rendah. Untuk daya terpasang yang sama diantara jenis Pembangkit
Tenaga Listrik maka PLTG memiliki effisiensi yang paling rendah, karena itu biaya
operasinya menjadi tinggi.
2. Umurnya pendek. Oleh karena beroperasi dengan suhu yang tinggi maka umur bagian-
bagin turbin menjadi pendek dan memerlukan penggantian yang lebih sering.
Disamping itu karena beroperasi dengan fluida kerja udara atmosfir dengan volume
yang besar, partikel-partikel padat yang terdapat dalam udara akan mengakibatkan
79

pengotoran dan erosi pada sudu-sudu compressor, sehingga secara berangsur-angsur
daya mampunya akan menurun.
3. Daya mampunya sangat dipengaruhi oleh udara atmosfir. Suhu dan tekanan udara
atmosfir sangat mempengaruhi daya mampu sebuah turbin gas. Makin tinggi suhu udara
maka semakin rendah daya mampunya, demikian sebaliknya semakin rendah suhu
udara, semakin tinggi daya mampunya. Makin tinggi tekanan udara atmosfir maka
tinggi pula daya mampunya, demikian pula sebaliknya makin rendah tekanan udara
atmosfir makin rendah pula daya mampunya.
4. Harga spare partnya mahal. Oleh karena beroperasi pada suhu yang tinggi maka
harus dipilih material dengan kualitas yang tinggi disamping harus digunakan teknologi
yang tinggi pula. Konsekuensinya adalah harganya menjadi mahal.
Untuk mengatasi rendahnya effisiensi beberapa cara dilakukan yaitu dengan
menggabungkan atau memperbaiki siklus termodinamiknya seperti yang dikenal dengan siklus
regenerasi, siklus kombinasi dan lain-lain yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.

6.2 PRINSIP KERJA TURBIN GAS
Turbin gas memiliki tiga buah bagian utama yaitu Kompressor, Ruang Bakar (
Combustor ) dan Turbin, mempunyai cara kerja sbb.


Gb 6.1 Susunan peralatan sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Gas

Udara atmosfir dihisap masuk kedalam compressor dan dikompresssi didalamnya sehingga
tekanannya naik. Selanjutnya udara tersebut 95% mengalir masuk kedalam ruang bakar
80

(combustor), dan yang 5% digunakan sebagai pendinginan sudu turbin. Udara yang masuk kedalam
combustor terbagi menjadi dua bagian, sebagian ( 30% ) disebut sebagai udara primer digunakan
untuk proses pembakaran bahan bakar yang dimasukkan kedalam combustor, sebagian lagi ( 65% )
digunakan sebagai pencampur dan penurun suhu nyala api sehingga nyala api tidak akan membakar
bagian turbin.
Bahan baker dimasukkan secara continue kedalam combustor sehingga penyalaan
didalamnya juga terjadi secara continue dari mulai penyalaan pertama ( yang dilakukan dengan busi
) sampai bahan baker behenti mengalir ( turbin gas distop ). Disebabkan panas yang diberikan oleh
penyalaan bahan baker, maka udara dari compressor tadi memuai dan menghasilkan kecepatan yang
tinggi dan mampu mendorong sudu sudu turbin. Tenaga mekanik yang diperoleh didalam turbin
sebagian besar digunakan untuk memutar kompressornya, dan sisanya digunakan untuk memutar
generator untuk menghasilkan listrik, dan gas panas keluar turbin dikembalikan lagi ke atmosfir.
Pada mesin turbo jet, tenaga mekanik yang dihasilkan hanya khusus diperuntukkan untuk
memutar compressor, sedang sisa gas panas keluar turbin digunakan untuk menghasilkan gaya
dorong guna mendorong badan pesawat terbang bergerak maju kedepan.

6.3 EFFISIENSI TURBIN GAS
Secara ideal Turbin Gas mengikuti proses siklus Brayton ( gb 6.2 ) terdiri dari :
 Kompressi adiabatis / isentropis ( kalor tetap ) terjadi didalam kompressor.
 Pemberian kalor pada tekanan tetap ( isobaris ) terjadi didalam combustor.
 Expansi adiabatis / isentropis terjadi di dalam turbin
 Pembuangan kalor pada tekanan tetap ( isobaris ) terjadi dialam terbuka ( atmosfir ).










Gb 6.2 Proses keliling ( siklus ) turbin gas digambarkan dalam diagram p-v dan T-s
Effisiensi thermis dari siklus sederhana turbin gas dapat ditentukan dengan rumus umum
effisiensi :
81

1
2 1
q
q q
t
÷
= q
Jumlah kalor
1
q dan
2
q secara berturut-turut sama dengan :
( )
2 3 1
T T c q
p
÷ =
dan
( )
1 4 2
T T c q
p
÷ =

Karena itu untuk effisiensi thermis

|
|
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
÷
÷ =
÷
÷
÷ =
1
1
1 1
2
3
2
1
4
1
2 3
1 4
T
T
T
T
T
T
T T
T T
t
q
Untuk proses adiabatic (kalor tetap) 1-2 dan 3-4 dapat ditulis :
k
k
k
k
p
p
T
T
dan
p
p
T
T
1
4
3
4
3
1
1
2
1
2
÷ ÷
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=

Oleh karena p
2
= p
3
dan p
1
= p
4
maka
2
3
1
4
4
3
1
2
T
T
T
T
atau
T
T
T
T
= =
Sehingga rumus diatas dapat ditulis:
2
1
1
T
T
t
÷ = q


k
k
P
P
1
2
1
1
÷
|
|
.
|

\
|
÷ =

Jadi besarnya effisiensi thermis tergantung dari besarnya perbandingan tekanan keluar dan
masuk compressor. Makin tinggi perbandingan tekanan tersebut semakin tinggi pula besarnya
effisiensi thermis, demikian sebaliknya makin rendah besarnya perbandingan tersebut semakin
rendah pula besarnya effisiensi thermisnya.

6.4 SIKLUS BRAYTON YANG DIMODIFIKASI
Untuk memperbaiki effisiensi turbin gas, terdapat berbagai usaha perbaikan yang secara
thermodinamik dapat dilakukan. Perbaikan tersebut berupa memodifikasi siklus Brayton menjadi
siklus-siklus yang dikenal dengan siklus regenerasi, siklus intercooling, siklus precooling, siklus
reheat dan siklus gabungan antara siklus yang satu dengan siklus yang lainnya.
Siklus regenerasi. Siklus ini ( gb 6.3 ) diartikan sebagai usaha memanfaatkan gas panas
keluar turbin yang suhunya masih tinggi untuk digunakan sebagai pemanas udara keluar
82

compressor sebelum masuk ruang bakar. Dengan demikian jumlah bahan bakar yang diberikan
menjadi lebih sedikit untuk daya mampu yang sama, atau dengan kata lain effisiensi turbin gas
tersebut menjadi lebh baik. Proses penyerahan kalor dari gas panas keluar turbin ke udara keluar
compressor dapat dilihat pada diagram TS sebagaimana ditunjukkan oleh gb 6.3b dimana besarnya
nilai kalor yang diserahkan merupakan luas bagian yang diarsir 03-03X-07-07X.

Gb 6.3 Turbin gas dengan siklus regenerasi.

Siklus intercooling. Siklus ini ( gb 6.4 ) dimaksudkan sebagai usaha untuk mengurangi
besarnya energi yang diperlukan untuk mengkompressi udara. Kompressi udara berlangsung secara
bertingkat dimana udara keluar dari compressor tingkat pertama didinginkan dulu sebelum masuk
compressor berikutnya. Proses pengurangan energi untuk kompressi dapat dilihat pada diagram TS
gb 6.4b, dimana besarnya energi yang bisa dihemat merupakan luas bagian yang ditutup oleh garis
01-02-02C.




Gb 6.4 Turbin gas dengan siklus intercooling
83



Gb 6.5 Siklus Reheat

Siklus reheat. Didalam siklus ini turbinnya terdiri dari dua tingkat, yaitu tekanan tinggi dan
tekanan rendah. Gas panas keluar turbin tekanan tinggi yang mengandung udara dalam jumlah besar
diberi bahan bakar kembali ( gb 6.5 ) sehingga menambah besarnya entalpi gas panas tersebut dan
dengan demikian akan mampu memberikan daya yang lebih besar pada turbin tekanan rendahnya.
Proses expansi gas panas didalam turbin dan pemberian bahan bakar kembali dapat dilihat pada
diagram TS gb 2.10 b yaitu berupa garis 04-05-05R-06-
e
0 .

Siklus precooling. Siklus ini didasari atas sifat udara yang akan mempunyai kerapatan
lebih tinggi pada suhu yang rendah dibanding pada suhu yang tinggi. Dengan


Gb 6.6 Turbin gas dengan precooling

84

demikian akan menambah jumlah udara yang masuk kedalam compressor dan dengan sendirinya
akan menambah besarnya daya mampu turbin gas tersebut. Pada lokasi dengan kelembaban yang
rendah proses pendinginan semacam ini dapat dilakukan dengan menginjeksikan kabut air ke sisi
masuk compressor, namun teknik ini akan terbatas pada besarnya selisih suhu “dry bulb dan wet
bulb” udaranya. Pendinginan dengan menggunakan teknik pendinginan (chiller) juga dapat
dilakukan, namun secara keseluruhan hanya akan menjadi effisien apabila energi yang digunakan
untuk mendinginkan menggunakan kalor yang keluar dari gas panas keluar turbin.

Siklus gabungan. Dari beberapa modifikasi siklus Brayton yang telah dikemukakan diatas
digabungkan sedemikian rupa, sehingga membentuk satu kesatuan secara skematis yang dapat
dilihat dalam gb 6.7 dan proses yang terjadi dapat dilihat didalam diagram TS gb 6.7. Dengan siklus
ini diharapkan effisiensi yang rendah yang dimiliki turbin gas dapat lebih diperbaiki lagi.

Gb 6.7 Siklus gabungan dari beberapa modifikasi siklus Brayton.

6.5 KLASIFIKASI TURBIN GAS.
Turbin Gas dapat diklasifikasikan dari berbagai segi, baik dari segi konstruksi maupun segi
penggunaanya.
Dari segi konstruksi Turbin Gas dibagi menjadi:
- Turbin Gas dengan compressor sentrifugal.Disini udara atmosfir dihisap masuk kedalam
compressor melalui laluan sekitar sumbu poros dan keluar compressor dengan arah tegak
lurus sumbu poros. Besarnya tekanan yang diperoleh tergantung besarnya putaran dan
diameter luar impellernya. Makin besar putaran dandiameter makin besar tekanan yang
diperoleh.
- Turbin Gas dengan compressor axial. Disini udara atmosfir dihisap dan masuk kedalam
compressor melalui saluran melingkar poros. Sudu sudu komprssor yeng terpasang
85

melingkar poros dan dengan kecepatan yang tinggi mendorong udara bergerak kedepan.
Tekanan yang dperoleh tergantung benyaknya jumlah tingkat dan kecepatan putaran sudu.
Dari segi penggunaanya turbin gas dibagi menjadi:
- Turbin Gas Aeroengine, yaitu turbin gas untuk mesin pesawat. Putarannya dibuat tinggi
untuk mendapatkan berat yang ringan.
- Turbin Gas Heavy Duty, adalah turbin gas untuk pembangkit listrik, untuk penggerak
compressor pada saluran pipa gas alam, dan untuk keperluan lainnya yang bersifat operasi
kontinnue. Biasanya turbin gas semacam ini mempunyai putaran yang relative rendah dan
berat yang lebih.
- Turbin Gas Aeroderivative. Ini adalah turbin gas jenis mesin pesawat terbang, namun pada
laluan gas panas keluar turbin dipasang turbin baru penggerak generator listrik.

6.6.1 BAGIAN UTAMA TURBIN GAS
Kompressor.
Untuk turbin gas dengan kapasitas kecil digunakan compressor sentrifugal sedang untuk
turbin gas dengan kapasitas besar digunakan compressor axial. Pada compressor sentrifugal ( gb 6.8
), udara masuk pada bagian tengah sejajar poros dan keluar tegak lurus poros. Udara yang masuk
kedalam compressor akan terlempar keluar akibat gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh gerak putar
rotor.









Gb 6.8 Rotor kompressor sentrifugal

Pada compressor axial ( gb 6.9 dan 6.10 ) udara mengalir sejajar poros. Gerak sudu sudu
rotor akibat berputarnya rotor menyebabkan udara terlempar kebelakang. Kecepatan gerakan sudu
menyebabkan kecepatan aliran udara bertambah tinggi atau dengan kata lain mempunyai tekanan
dinamis yang lebih tinggi. Tekanan dinamis ini kemudian dirubah menjadi tekanan statis didalam
sudu tetap ( stator vane ). Tekanan yang diperoleh didalam kompresssor axial tergantung dari jumlah
86

tingkat dan kecepatan putar rototr. Jumlah udara yang masuk kedalam compressor diatur dengan
menggunakan Inlet Guide Vane.

Gb 6.9 Rotor compressor axial



Gb 6.10 Cara kerja compressor axial





87

Ruang bakar.
Ada dua type ruang bakar turbin gas yaitu type ruang bakar tunggal ( gb 6.1 ) dan ruang
bakar banyak melingkar poros yang dikenal dengan sebutan “can type” ( gb 6.11 ). Untuk
menggambarkan bagaimana proses pembakaran didalam ruang bakar berikut adalah uraian proses
yang terjadi didalam “can type”
Suhu nyala api yang ditengah berkisar 3200
0
F ( 6.11 b) jika unit beroperasi dengan beban
penuh. Logam yang digunakan untuk ruang bakar tidak mampu menahan suhu setinggi itu, karena itu
konstruksi ruang bakar dibuat dengan menghadirkan aliran udara yang menyelimuti permukaan
dinding bagian luar dan bagian dalam. Udara mengalir kedalam liner dengan melalui lubang lubang
kecil guna membentuk nyala api selalu ditengah, dan tidak menyentuh dinding liner. Kira kira 82%
aliran udara masuk combustion chamber ( ruang bakar ) digunakan untuk pendinginan dan membuat
bentuk nyala api, dan hanya 18% untuk proses pembakaran.
.











Gb 6.11 Konstruksi ruang bakar “can
type” dan aliran udara didalam masing
masing ruang bakar

Dengan ruang bakar tunggal berarti terdapat banyak nozzle bahan bakar didalam satu ruang
pembakaran, sedang dengan ruang bakar “can type” berarti terdapat banyak ruang bakar dengan
nozzle bahan bakarnya masing masing.

Turbin.
Transformasi energi panas menjadi energi mekanik terjadi didalam turbin. Turbin bisa
berupa jenis turbin impuls maupun jenis turbin reaksi, tergantung dari pertimbangan pabrik pembuat
masing masing,dengan jumlah tingkat antara 1 sampai dengan 5 tingkat. Poros turbin merupakan
sambungan terusan dari poros kompressor ( gb 6.12 ). Pada gb 6.12 tersebut terlihat bahwa








88

masing masing sudu turbin dapat dilepas,untuk tujuan penggantian jika telah mencapai umur
operasinya.

Gb 6.12 Rotor turbin gas.

Sesuai prinsip Carnot yang telah disampaikan pada bab II, effisiensi akan semakin baik jika suhu
pada waktu pemberian kalor dapat dibuat setinggi tingginya, dan suhu pada saat pembuangan kalor
dibuat serendah rendahnya, maka pada turbin gas juga berlaku hal yang sama. Karena itu orang
berusaha agar suhu masuk turbin dibuat setinggi tingginya, namun semuanya itu dibatasi pada
kekuatan material sudu turbin yang digunakan.


Gb 6.13 Konstruksi sebuah sudu tetap ( nozzle ) tingkat I turbin gas dan aliran udara
pendingin.
89

Untuk dapat mempertahankan material sudu turbin dari tingginya suhu gas panas yang
melaluinya maka baik pada sudu tetap maupun sudu jalan turbin mempunyai konstruksi berrongga
dan kepadanya dilewatkan udara dingin yang diambilkan dari tingkat tertentu kompressor. Gb 6.13
menunjukkan bagaimana konstruksi sebuah sudu tetap dan udara pendingin mengalir didalamnya,
sedang gb 6.14 menunjukkan konstruksi sudu jalan dan aliran udara pendingin didalam maupun
diluarnya.
Rotor kompressor dan rotor turbin tersambung menjadi satu dan membentuk satu kesatuan (
gb 6.15 ) Rotor ini akan mengalami pemeriksaan dan penggantian sudu turbin setelah mencapai umur
operasi yang ditentukan yaitu pada saat dilakukannya inspeksi turbin, dimulai dengan penggantian
sudu turbin tingkat I pada inspection turbin pertama dilanjutkan dengan penggantian sudu turbin
tingkat I dan II pada inspection berikutnya. Demikian pula terjadi pada bagian sudu tetap juga
dilakukan dengan kurun waktu yang sama.

Gb 6.14 Konstruksi sudu jalan ( bucket ) tingkat I turbin gas dan aliran udara
pendinginnya


90


Gb 6.15 Rotor turbin gas ( rotor kompressor dan rotor turbin tersambung )



6.7 KELENGKAPAN TURBIN GAS.

Disamping bagian utama yang sudah disebutkan diatas, turbin gas dilengkapi dengan bagian
bagian lain untuk memungkinkan turbin gas dapat beroperasi dengan lancar, aman dan otomatis.
Bagian bagian tersebut dapat dikelompokkan kedalam sistim sistim yaitu:
- Sistim pemutar poros.
- Sistim pelumasan.
- Sistim udara pendingin
- Sistim bahan bakar
- Sistim kontrol.
- Sistim pencucian kompressor.
- Sistim pengaman.
- Bangunan pelindung ( enclosure / compartement )

Sistim pemutar poros turbin gas terdiri dari alat pemutar poros diwaktu turbin gas stand by,
pemutar poros untuk start dan pemindah torsi. Pemutar poros waktu turbin gas standby memutar
poros secara periodik atau kontinue dengan putaran sangat lambat. Pemutar ini digunakan terutama
untuk menghindari terjadinya lendutan poros diwaktu habis beroperasi karena panas. Namun
91

demikian pemutaran poros juga dilakukan menjelang beroperasi jika dikhawatirkan akan terjadi
lendutan sewaktu rotor tidak berputar, karena itu untuk unit yang standby dianjurkan untuk selalu
dioperasikan. Pemutar poros untuk start bisa berupa motor listrik, motor hidrolik atau mesin diesel,
tergantung dari besar kecilnya kapasitas turbin gas yang bersangkutan. Untuk turbin gas besar dan
digunakan untuk pembangkit listrik, generator listriknya bisa berfungsi pula sebagai motor start.
Untuk turbin gas yang menggunakan mesin diesel atau motor listrik sebagai alat start dilengkapi
dengan pemindah torsi, dimana mesin diesel atau motor listrik dengan putaran yang tinggi akan
memindahkan torsinya keporos turbin gas dari putaran nol sampai putaran tertentu dimana nyala api
didalam ruang bakar telah terjadi dan turbin gas telah mampu untuk berputar sendiri.
Sistim pelumasan turbin gas berfungsi untuk melumasi dan mendinginkan bantalan karena
panas yang timbul akibat gesekan yang terjadi dengan poros. Pelumas yang sama juga digunakan
sebagai sarana penggerak hidrolik untuk menggerakkan Inlet Guide Vane ( gb 6.10 ). Sistim
pelumasan harus bisa mengalirkan pelumas dengan kontinue, bersih dengan suhu yang relative
rendah. Untuk itu sistim pelumas terdiri dari. Pompa Utama, Pompa Pembantu, Pompa Darurat,
Pendingin dan Saringan pelumas.. Pendinginan pelumas dilakukan dengan menggunakan air
pendingin yang didinginkan dengan radiator atau langsung dengan radiator yang didinginkan dengan
kipas udara.

Gb 6.16 Sistim bahan bakar cair

Sistim udara pendingin digunakan untuk mengalirkan udara dari kompressor untuk
ditujukan kelubang lubang pendingin sudu turbin. Pengambilan udara dari kom-pressor disesuaikan
dengan tekanan yang ada pada msing masing tingkat sudu turbin. Oleh karena lubang lubang
pendingin pada sudu turbin ukurannya relatif kecil, maka udara pendingin tersebut harus dilewatkan
melalui saringan terlebih dahulu sebelum masuk ke lubang pendingin masing masing sudu turbin.
92

Sistim bahan bakar turbin gas terdiri dari tiga jenis yaitu sistim bahan bakar gas, sistim
bahan bakar cair dan sistim bahan bakar campuran. Gb 6.16 menunjukkan sebuah sistim bahan
bakar cair, dimana minyak diambil dari tangki melalui floating suction ( pipa

hisap apung ) untuk menghindari terhisapnya kotoran dalam tangki. Dari tangki minyak ditransfer ke
unit PLTG dengan pompa transfer, kemudian disring didalam saringan tekanan rendah dan
selanjutnya dipompa dengan pompa tekanan tinggi menuju flow devider melalui saringan tekanan
tinggi. Flow devider adalah pembagi aliran sama untuk masing masing burner pada msing masing
combustor.
Sistim kontrol turbin gas meliputi kontol untuk start ( yang mengatur terjadinya penyalaan
didalam ruang bakar, mengatur aliran bahan bakar untuk start, mengatur pembukaan Inlet Guide
Vane, mengatur pemberhentian alat start dan mengatur penutup-an katup extraction kompressor ),
.kontrol putaran, kontrol suhu dan kontrol beban. Kontrol putaran adalah untu mengatur
putaranturbin tetap berada putaran nominalnya. Kontrol suhu adalah untuk mengatur besarnya beban
turbin gas berdasarkan suhu maximum pembakaran yang ditetapkan, dan oleh karena tidak ada alat
ukur yang langsung dapat mendeteksi suhu langsung pembakaran, sinyal kontrol suhu diambil dari
suhu keluar turbin yang mewakili suhu pembakaran tersebut. Kontrol beban digunakan untuk
memberi beban dasar atau beban puncak pada turbin gas. Dengan beban dasar dimaksudkan bahwa
turbin gas dapat dioperasikan secara kantinue tanpa mengakibatkan pemendekan umur bagian
bagian panasnya, sedang dengan beban puncak dimaksudakan bahwa turbin gas dibebani lebih
tinggi dengan resiko akan terjad pemendekan umur pada bagian bagian panasnya.
Sistim pencucian kompressor digunakan untuk membersihkan sudu sudu kompressor dari
kotoran yang tidak bisa tersaring oleh filter udara masuk. Berupa kotoran debu, uap minyak atau
kotoran dari asap industri. Pembersihan dilakukan dengan air ditambah zat kimia pembersih yang
disemprotkan dimulut kompressor ketika turbin gas sedang beroperasi. Hisapan kompressor akan
membawa butir butir air masuk kedalamnya dan membasuh sudu sudu kompressor. Kecepatan
putaran sudu dan adanya bahan kimia pembersih menyebabkan kotoran yang menempel terlepas.
Sistim pengaman turbin gas berguna untuk mengamankan turbin gas dari kerusakan berat
akibat tidak berfungsinya kelengkapan turbin. Sistim pengaman turbin terdiri dari:
- Pengaman tekanan pelumas rendah, untuk menghinadari rusaknya bantalan akibat
gesekan kering oleh karena tidak adanya pelumasan.
- Pengaman suhu bantalan tinggi. Gesekan yang terjadi pada bantalan akan
mengakibatkan suhu yang tinggi, dan suhu yang tinggi akan melumerkan metal
bantalan, karena itu kenaikan suhu harus dicegah sebelum metal bantalan menjadi rusak
- Pengaman gaya axial tinggi. Penghisapan udara oleh kompressor dan dorongan gas
panas pada sudu turbin akan menyebabkan gaya axial walaupun kedua gaya ini
93

berlawanan dan dibuat relatif seimbang, kerusakan pada sudu turbin atau pengotoran
pada sudu kompressor dapat mengkibatkan gaya yang timbul berlebih kearah tertentu.
dan menjadikan sudu kompressor bergesekan.
- Pengaman getaran tinggi. Walupun pembuatan rotor telah dilakukan secara teliti, namun
pada tahap akhirnya tetap ditemukan adanya ketidak samaan berat antara satu sisi
dengan sisi yang lain ( arah radial ) pada rotor. Ketidak samaan berat ini disebut sebagai
unbalans ( tidak seimbang ). Pada rotor baru unbalans ini telah dibuat menjadi balans
( seimbang ), yang menghasilkan getaran yang kecil. Seiring dengan perjalanan waktu
getaran turbin bisa menjadi besar dan melampaui batas yang ditentukan, karena itu
turbin harus diberhentikan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.
- Pengaman suhu lebih. digunakan untuk mengamankan bagian bagian panas turbin gas
dari kemungkinan kerusakan akibat terjadinya suhu gas panas yang melampaui batas.

Disamping itu turbin gas juga dilengkapi dengan tombol darurat untuk member-hentikan
turbin gas dengan seketika jika diketahui terdapat hal hal yang mebahayakan bagi berlangsungnya
operasi.
Bangunan pelindung meliputi bangunan untuk melindungi mesin turbin gas, generator
listrik, panel kontrol dan lain lain dari hujan dan pengaruh lingkungan lainnya, serta untuk
mempermudah pemadaman api jika terjadi nyala api. Umumnya bangunan ini menempel bersama
sama dengan turbin gas pada base plate yang sama, sehingga jika turbin gas ingin dipindahkan
ketempat lain bangunan tersebut otomatis tidak perlu dilepas tersendiri. Tetapi bagi turbin gas yang
digunakan untuk PLTGU bisa dibuat satu bangunan saja untuk beberapa turbin gas. Gb 6.17
menunjukkan susunan sebuah PLTG dengan bangunan bangunan terkait ( turbine enclosure,
generator encloser, elctrical package, mechanical package, starting package dan lain lain ).
94


Gb 6.17 Susunan PLTG Westinghause W 251


6.8 FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UMUR BAGIAN TURBIN GAS.

Bagian turbin gas terutama bagian yang terkena panas umurnya sangat dipenga-ruhi oleh
intensitas suhu nyala api yang terjadi didalam ruang bakar, dan intensitas suhu nyala api dipengaruhi
oleh jenis bahan bakar yang digunakan dan tingginya pembebanan. Disamping itu umur peralatan
turbin gas juga dipengaruhi oleh baban siklik yang terjadi, dan beban siklik ditentukan oleh jumlah
start dan stop yang dilakukan dan jumlah trip ( stop diluar stop normal ) yang terjadi.
Turbin Gas buatan General Electric type MS6B dan MS7EA menentukan interval
pemeriksaan bagian ruang bakar sebesar 8000 jam atau 400 kali strat mana yang dicapai lebih dulu,
bagian turbin sebesar 24000 jam operasi atau 1200 kali start, dan pemeriksaan seluruh bagian turbin
pada jam operasi 48000 jam atau 2400 kali start. Hal ersebut jika turbin gas dioperasikan dengan
bahan bakar gas. Jika diopersikan dengan bahan bakar minyak distilate , maka interval pemeriksaan
menjadi lebih sering, sebagaimana dapat dilihat pada tabel 6.1.



95


Tabel 6.1 Faktor yang mempengaruhi umur peralatan / interval pemeliharaan.

Jenis Faktor yang mempengaruhi Nilai faktor
Faktor jam operasi
- Bahan bakar gas
- Bahan bakar distilate
- Bahan bakar crude oil
- Bahan bakar residu
- Beban puncak
- Injeksi uap
- Injeksi air
- Jumlah kali start
Faktor start
- Trip dari beban penuh
- Start cepat
- Start sangat cepat ( emergency )


1
1,5
2 atau 3
3 atau 4
6
1
1,9
20

8
2
20

Dari tabel diatas dapat dihitung pada jam operasi berapa turbin gas harus dilakukan overhaul (
inspection ). Untuk jelasnya ikuti contoh soal berikut:

Contoh soal
Sebuah turbin gas dioperasikan dengan minyak distilate, mempunyai jumlah start 100, jam operasi
12000 jam dan trip dari beban penuh 3 kali.. Pada jam operasi berapa lagi turbin gas tersebut harus
dilakukan overhaul bagian turbinnya?.

Jawaban:
Jam operasi equivalent: 1,5 x 12000 + 100 x 20 + 3 x 8 x 20 = 20 460 jam. Sisa jam operasi
menjelang overhaul turbin = 24000 – 20480 = 3520 jam atau kurang lebih = 5 bulan lagi.

6.8.1 FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNJUK KERJA ( PERFOR-
MANCE ) TURBIN GAS.
Turbin gas menggunakan udara atmosfir sebagai media kerjanya, karena itu segala sesuatu
yang mempengaruhi kondisi dan sifat sifat udara atmosfir seperti suhu, tekanan, dan kelembaban
akan berpengaruh terhadap unjuk kerja turbin gas. Yang dimaksud dengan unjuk kerja atau
96

performance adalah besarnya daya mampu maksimum dan konsumsi penggunaan panas yang dapat
dtunjukkan oleh turbin gas yang bersangkutan.
Oleh karena unjuk kerja turbin gas sangat dipengaruhi oleh kondisi udara atmosfir tersebut,
maka unjuk kerja turbin gas harus ditunjukkan dalam kondisi standard yaitu yang disebut sebagai
kondisi ISO ( International Standard Organisation ). Kondisi ISO adalah kondisi udara pada suhu
15
o
C ( 59
o
F ) dan permukaan air laut atau sesuai dengan tekanan barometer 760 mmHg ( = 14,969
psia = 1,033kg/cm
2
dan kelembaban relative = 60%.
Sebagai contoh performance sebuah turbin gas Westinghause yang ditempatkan di Duri
propinsi Riau dengan bahan bakar gas,mempunyai unjuk kerja pada kondisi ISO seperti berikut:

Daya mampu : 120 MW.
Heat rate : 9900 Btu/kwh ( open cycle )
Rotation : 3600 rpm.
Bahan bakar : gas.
Inlet loss : 4,4”H
2
O
Outlet loss : 5,0”H
2
O
Cos ϕ generator : 0,9.

Untuk mengetahui berapa besar unjuk kerja turbin gas tsb pada kondisi setempat diperlukan
faktor faktor koreksi yang digambarkan dalam bentuk grafik sebagaimana yang akan dijelaskan
berikut ini.

Faktor suhu udara:
Suhu udara mempengaruhi kerapatan udara, makin tinggi suhunya semakin rendah
kerapatannya. Kerapatan udara akan mempengaruhi jumlah massa udara yang terhisap masuk
kedalam compressor, sehingga jumlah gas panas yang mendorong turbin juga berkurang. Akibatnya
daya mampu turbin gas tersebut menjadi menurun ( gb 6.18 )

97


Gb 6.18 Faktor koreksi suhu udara atmosfir.

Faktor ketinggian tempat.
Altitude atau ketinggian tempat akan berpengaruh terhadap tekanan udara atmosfir.
Berkurangnya tekanan udara masuk compressor juga akan menurukan kerapatan udara tersebut
sehingga jumlah berat udara yang masuk kedalam compressor akan berkurang. Turunnya tekanan
masuk compressor juga akan menurunkan tekanan keluar kompressor, sehingga daya mampu turbin
gas juga akan mengalami penurunan ( gb 6.19 ).
Ketinggian tempat biasanya ditunjukkan dengan penurunan tekanan barometer sebagaimana
ditunjukkan dalam gb 6.20, yaitu untuk setiap kenaikan altitude 1000 feet, tekan barometer turun ±
0,05 psia.

98


Gb 6. 19 Faktor koreksi ketinggian tempat

Gb 6.20 Faktor konversi tekanan barometer terhadap altitude.
99

Faktor kelembaban udara.
Udara lembab adalah udara yang mengandung uap air. Semakin tinggi kelembaban berarti
semakin tinggi kandungan uap air didalam udara. Kelembaban ini mempunyai pengaruh buruk
terhadap heat rate maupun power output walaupun dalam prosentase yang kecil ( gb 6.21 ).
Sebaliknya pada kondisi udara dengan kelembaban yang rendah pemberian kabut air kedalamnya
dapat menurunkan suhu udara tersebut dan karenanya daya mampu turbin gas dapat ditingkatkan (
6.22 )













Gb 6.21 Faktor koreksi kelembaban udara


Gb 6.22 Pendinginan aliran udara masuk kompressor dengan chilling
dan evaporative ( injeksi kabut air ).
100

Faktor injeksi air kedalam ruang bakar.
Injeksi air kedalam combustor diperlukan untuk menurunkan suhu pembakaran sehingga
dapat mengurangi besarnya gas NO
x
. Injeksi air akan menambah besarnya
fluida yang menggerakkan turbin. Karena itu power output turbin menjadi semakin tinggi dengan
bertambah besarnya injeksi air. Sedang heat ratenya mengalami peningkatan atau bertambah buruk
karena sebagian panas dari bahan bakar digunakan untuk menguapkan air tsb. ( gb 6.23 ).

Gb. 6.23 Faktor koreksi terhadap injeksi air kedalam ruang bakar.

Faktor hambatan pada saluran udara masuk compressor.
Hambatan yang terjadi pada saluran udara masuk kompressor akan menurunkan tekanan
udara disisi masuk kompressor, turunnya jumlah udara yang dihisap dan turun-nya tekanan keluar
kompressor. Akibat selanjutnya adalah turunnya output/power, dan
bertambahnya heat rate ( gb 6.24 ).
Faktor hambatan pada saluran gas keluar turbin
Hambatan yang terjadi pada laluan gas keluar turbin akan meningkatkan tekanan gas disisi
keluar turbin dan menurunkan besarnya selisih entalpi antara gas panas masuk turbin dan gas panas
keluar turbin. Turunnya selisih entalpi tsb atau sering disebut sebagai turunnya heat drop akan
menurunkan daya mampu turbin gas ( gb 6. 25 ). Hal semacam ini biasa terjadi pada turbin
gas yang digunakan pada PLTGU dimana kotoran hasil pembakaran menempel pada pipa pipa
HRSG ( Heat Recovery Steam Generator ) dan mempersempit saluran gas panas keluar turbin.
101


Gb 6.24 Faktor koreksi terhadap tambahan kerugian didalam
saluran udara masuk kompressor
















Gb 6.25 Koreksi terhadap kelebihan kerugian didalam saluran
gas panas keluar turbin inch kolom air

102

Faktor kekotoran kompressor.
Udara atmosfir tidak bisa diharapkan bersih 100%. Udara akan selalu mengandung kotoran
kotoran padat dalam ukuran yang sangat kecil. Kotoran kotoran limbah industri, asap kendaraan
bermotor yang mengandung minyak dan debu akan selalu ikut didalam udara. Kotoran kotoran
dengan ukuran diatas 5 mikron akan dapat disaring didalam saringan yang ditempatkan didepan
kompressor, tetapi kotoran kotoran yang lebih kecil akan lolos dan terbawa masuk kedalam
kompressor. Kotoran kotoran ini akan menempel pada sudu sudu kompressor dan menghambat
jalannya udara untuk melewatinya.
Gb 6.26 menunjukkan turunnya daya mampu dan effisiensi turbin gas ABB GT 13E2 setelah
dilakukan pencucian kompressor. Penurunan daya mampu dan effisiensi ini semata mata akibat
bertambahnya kotoran didalam kompressor.


Gb 6.26 Penurunan daya mampu dan effisiensi akibat bertambahnya kompressor
103

VII
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
GAS DAN UAP


7.1 UMUM
Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap ( PLTGU ) atau juga dikenal sebagai Combined
Cycle Power Plant ( Pembangkit Listrik dengan Siklus Gabungan ) adalah merupakan gabungan
antara PLTG dan PLTU ( gb 7.1 ). Gas panas keluar trubin gas yang suhunya relatif tinggi ( 500
o
C )
digunakan untuk memanaskan air dan memproduksi uap, dan uap tersebut digunakan untuk memutar
turbin generator untuk menghasilkan listrik. Dengan demikian diperoleh effisiensi gabungan yang
lebih tinggi dibanding effisiensi masing masing PLTU maupun PLTG.
Proses pemanasan air dan pembentukan uap terjadi didalam Heat Recovery Steam Generator (
HRSG ) sebagai pengganti boiler pada PLTU. HRSG berfungsi sebagai penukar kalor yang akan
memindahkan panas yang terkandung didalam gas bekas ke air dan uap. Karena fungsinya sebagai
penukar kalor maka HRSG harus dapat menangkap sebagian besar panas yang terkandung didalam
gas bekas, karena itu diperlukan luas permukaan yang besar. Untuk memenuhi tujuan tersebut
konstrukgi HRSG terdiri dari sejumlah pipa yang dilengkapi dengan sirip sirip diseluruh panjang
pipa.

Gb 7.1 Susunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap



104

7.2 KLASSIFIKASI PLTGU
Dari berbagai jenis konstruksi PLTGU, maka dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai
berikut:
– Berdasar pola pembakarannya:
• Fired combined cycle, terdapat tambahan pembakaran pada sisi gas masuk HRSG.
Oleh karena kandungan oxigen keluar turbin gas masih relatif tinggi, tambahan
pembakaran sebelum HRSG tidak memerlukan kipas udara lagi..
• Unfired combined cycle, tanpa tambahan pembakaran pada sisi masuk HRSG.
– Berdasar pada tekanan uap:
• Single pressure.( tekanan tunggal ) ( gb. 7.1 ).
• Double pressure ( tekanan tinggi dan tekanan rendah ).
• Multiple pressure ( tekanan lebih dari 2 )
– Berdasar pada susunan turbinnya:
• Single shaft ( poros tunggal ). Antara poros turbin gas dan poros turbin uap tersambung
menjadi satu.
• Susunan 2-2-1 ( 2 Turbin Gas, 2 HRSG dan 1Turbin Uap ). Dalam susunan ini masing
masing turbin gas memiliki HRSG sendiri sendiri dan dari masing masing HRSG hasil
uapnya kemudian digabungkan menjadi satu untuk menggerakkan satu turbin uap yang
memutar satu generator. Dengan pola semacam ini juga bisa disusun dalam komposisi
3.3.1
• Susunan 2-1-1 ( 2 Turbin Gas , 1 HRSG, 1TurbinUap ). Disini gas panas dari masing
masing turbin gas dimasukkan kedalam sau HRSG dan uap dari HRSG tersebut
digunakan untuk menggerakkan satu turbin uap.

Dibanding jenis pembangkit yang lain, PLTGU mempunya beberapa keuntungan dan kerugian.
Adapun keuntungannya antara lain adalah sbb:
– Effisiensi lebih baik dari jenis pembangkit yang lain.Dibanding PLTU yang mempunyai
effisiensi 40 % dan PLTG 30%, PLTGU bisa memiliki effisiensi sampai 60%.
– Biaya investasi lebih murah. Dibanding PLTU biaya investasinya lebih murah.
– Masa pembangunan yang lebih pendek. Dibanding PLTU dan PLTA, PLTGU memerlukan
waktu pembangunan yang lebih pendek.
– Lebih mudah mengikuti fluktuasi beban. Dibanding dengan PLTU batubara yang
pembakaran bahan bakarnya lambat, dan PLTN yang dikhususkan untuk beban dasar,
PLTGU lebih mudah untuk mengikuti fluktuasi beban.
– Tidak memakan banyak tempat. Untuk kapasitas yang sama, PLTGU memerlu-kan lahan
yang lebih sedikit dibanding PLTU.
105

Adapun kerugiannya antara lain adalah sbb:
– Jenis bahan bakar terbatas pada jenis bahan bakar gas dan cair saja yang harga-nya relatip
lebih mahal.
– Bahan bakar cair memerlukan treatment terlebih dahulu.untuk menghindari korosi suhu
tinggi pada bagian turbin gasnya.
– Umur turbin gas dan HRSG nya lebih pendek dibanding umur PLTU.

7.3 SIKLUS KOMBINASI.
Didalam PLTGU berlangsung dua siklus sekaligus, yaitu siklus udara dan gas panas yang
berlangsung didalam turbin gas dan siklus air dan uap yang berlaku untuk turbin uap. Siklus udara
dan gas panas dikenal sebagai siklus Brayton ( gb 6.2 ) dan siklus air - uap dikenal sebagai siklus
Rankine ( 3.2 ). Gabungan antara keduanya disebut sebagai Siklus Gabungan ( Combined Cycle )
dan digambarkan dengan diagram T-S seperti terlihat pada gb 7.2.
Gb 7.2 a menunjukkan sebuah siklus gabungan dengan tekanan uap tunggal. Besar-nya panas
yang diberikan oleh pembakaran bahan bakar adalah sesuai luas 1”- 2-3-6”-1 dan panas keluar turbin
gas sesuai luas 1”-1-4-6”-1, dan kerja yang diperoleh didalam turbin gas adalah sesuai luas 1-2-3-4-1.
Panas yang keluar turbin gas, dimanfaatkan untuk pemanasan air dan pembentukan uap, dan
besarnya panas yang bisa diserap oleh air dan uap adalah sesuai luas 1”-2’-3’-4’-5’-6”-1”. Panas
yang dibuang didalam siklus air uap adalah sebesar luas 1” -1’ – 6’- 6” – 1”, sehingga besarnya kerja
yang diperoleh didalam siklus air uap adalah sebesar luas 1’-2’-3’-4’-5’-6’-1’.

a) b)
Gb 7.2 Siklus gabungan:
a) dengan tekanan uap tunggal.
b) dengan tekanan uap ganda


106

Dari gb 7.2 terlihat bahwa tidak semua panas yang dilepas turbin gas dapat diserap oleh air dan
uap didalam HRSG, karena sifat alami air dan uap itu sendiri. Panas yang tidak bisa diserap tersebut
adalah sebesar luasan 3’-4-5’-4’-3’.Untuk memperkecil jumlah panas yang tidak bisa diserap
tersebut, maka siklus air uap dibuat menjadi dua tingkat te-kanan yaitu tingkat rendah dan tingkat
tinggi sebagaimana ditunjukkan didalam gb 7.2 b. Untuk lebih memperkecil lagi besarnya panas
yang tidak bisa diserap, maka tingkat tekanan air dan uap dibuat lebih dari dua tingkat atau disebut
juga sebagai multiple pressure. Dengan gb 7.2 ini nampak jelas bahwa siklus gabungan yang berlaku
bagi sebuah PLTGU mempunyai effisiensi yang lebih baik dibanding PLTG maupun PLTU.

7.4 BAGIAN BAGIAN UTAMA PLTGU.
PLTGU terdiri dari dua bagian utama yaitu bagian PLTG dan bagian PLTU. Oleh karena
bagian bagian tersebut telah dibahas dimuka, maka tidak akan dibahas lagi kecuali untuk HRSG yang
mempunyai konstruksi sangat berbeda dengan boiler pada PLTU.
HRSG ( Heat Recovery Steam Generator ) sesuai namanya adalah untuk menyerap panas yang
terkandung didalam gas bekas PLTG. Gas bekas PLTG mengalir memotong pipa pipa HRSG disisi
luar pipa pipa yang berisi air / uap didalamnya. Karena itu panas gas bekas akan menyebabkan air
didalam pipa suhunya bertambah tinggi, menguap dan akhirnya menjadi uap panas lanjut.Uap
tersebut kemudian digunakan untuk memutar turbin. Proses perpindahan panas yang terjadi didalam
HRSG, berlangsung secara konveksi dan konduksi. Oleh karena panas jenis gas bekas disatu sisi jauh
lebih kecil dibanding panas jenis air dilain sisi, maka diperlukan luas bidang permukaan pada sisi
gas panas jauh lebih besar disbanding pada sisi air .Untuk memenuhi hal tersebut bagian luar pipa /
sisi gas bekas dibuat dengan banyak sirip sebagaimana dapat dilihat pada gb 7.3
Dari segi susunan pipa HRSG terdapat pipa pipa dengan susunan horisontal dan pipa pipa
dengan susunan vertikal. Susunan pipa pipa horisontal diperuntukkan bagi aliran gas bekas keluar
turbin yang vertikal, sedang susunan pipa pipa vertikal untuk aliran gas bekas keluar turbin yang
horisontal. Dengan demikian terdapat perpotongan tegak lurus antara gas bekas keluar turbin dengan
susunan pipa pipa ekonomizer, evaporator maupun superheaternya.
107


Gb 7.3 Permukaan pipa HRSG sisi pemanas ( gas bekas turbin gas ).

Gb 7.4 Susunan sebuah PLTGU dengan HRSG pipa vertikal
108


Gb 7.5 Konstruksi HRSG pipa vertikal














109

VIII
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL

8.1 UMUM
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel ( PLTD ) adalah pembangkit listrik yang paling banyak
digunakan diluar pulau Jawa dan daerah daerah terpencil lainnya yang belum dapat dijangkau oleh
jaringan listrik dengan pembangkit bersekala besar. Pembangkit listrik ini digerakkan dengan mesin
Diesel yang merupakan suatu hasil research yang dilakukan oleh Rudolf Diesel di Jerman. Mesin ini
termasuk kedalam golongan mesin dengan pembakaran didalam ( Internal Combustion Engine )
dengan penyalaan yang tanpa menggunakan busi. Penyalaan dilakukan dengan tekanan dan suhu
udara yang tinggi akibat kompressi oleh gerak piston, karena itu mesin ini juga dikenal sebagai mesin
dengan pembakaran dengan kompressi ( compression ignition ). Secara prinsip mesin Diesel dapat
digambarkan seperti gb 8.1 dan secara lengkap mesin Diesel dapat dilihat pada gb 8.2 ( potongan
melintang ) dan gb 8.3 ( potongan memanjang ).
Dibanding mesin mesin penggerak yang lain mesin Diesel mempunyai beberapa keuntungan
antara lain:
– Lebih effisien dibanding dengan turbin gas dan mesin bensin. Karena mempunyai
perbandingan kompressi yang lebih tinggi, maka mesin Diesel menjadi lebih effisien
dibanding turbin gas maupun mesin bensin.
– Mempunyai daya lebih besar dengan ukuran yang sama dengan mesin bensin.
– Mudah dipindah pindah.
– Tidak memerlukan instalasi listrik untuk pembakaran bahan bakarnya. Karena
menggunakan penyalaan dengan kompressi maka pembakaran bahan bakarnya tidak
menggunakan busi, karena itu tidak diperlukan instalasi listrik. Busi pemanas yang ada
didalam gambar hanya digunakan untuk pemanasan awal ketika mesin Diesel masih
dingin dan belum distart.

Adapun kerugiannya antara lain adalah:
– Getaran lebih tinggi dan lebih berisik.Karena perbandingan kompressi yang tinggi
menyebabkan getaran menjadi lebih tinggi, dan gas buang keluar silinder menyebabkan
suara yang lebih keras
– Kapasitas rendah. Dibanding turbin uap dan turbin gas mesin Diesel mempu-nyai
kapasitas / daya mampu yang rendah.
– Karena bahan bakarnya harga listriknya menjadi mahal.
– Memerlukan fondasi yang lebih berat.
– Lebih berat dibanding turbin gas.
110


Gb 8.1 Prinsip sebuah mesin Diesel 1 silinder.














Gb 8.2 Potongan melintang mesin Diesel

111


Gb 8.3 Potongan memanjang mesin Diesel 8 silinder 2 langkah.

8.2 CARA KERJA
Mesin diesel pada umumnya terdiri dari satu sampai banyak silinder, masing masing silinder
mempunyai cara kerja sesuai langkah pistonnya. Cara kerja mesin diesel dibedakan antara mesin
diesel 2 langkah dan mesin diesel 4 langkah. Untuk mesin Diesel 4 langkah mempunyai cara kerja
sebagai berikut ( gb 8 .4 ).


Gb 8.4 Cara kerja mesin Diesel 4 langkah

Langkah hisap ( gb 8.4 a ).Piston bergerak kebawah mulai dari titik mati atas ( TMA ) ketitik mati
bawah ( TMB ). Pada saat yang sama katup masuk membuka menyebabkan udara terhisap masuk
kedalam silinder.
112

Langkah Kompressi ( gb 8.4 b ). Piston bergerak ketas dari Titik Mati Bawah ( TMB ) ke
Titik Mati Atas ( TMA ). Pada saat yang sama katup masuk maupun katup buang dalam keadaan
tertutup. Udara didalam silinder terkompressi oleh gerak piston keatas dan menjadikan udara pada
akhir langkah kompressi mempunyai tekanan dan suhu yang tinggi.
Langkah Kerja ( gb 8.4 c ). Pada akhir langkah kompressi bahan bakar dikabutkan kedalam
silinder. Suhu udara yang tinggi hasil kompressi pada langkah kompressi tersebut menyebabkan
bahan bakar menyala dengan sendirinya, menyebabkan udara tsb memuai dan mendorong piston
kebawah. Pemuaian udara tersebut ditandai dengan gerakan piston kebawah dengan tekanan udara
yang konstan ( gb 8.5 ). Selanjutnya setelah pengabutan bahan bakar berhenti, tekanan didalam
silinder mulai menurun, dan akhirnya pada saat piston mencapai TMB, katup buang membuka, gas
hasil pembakaran keluar dari dalam silinder melalui saluran pembuangan.
Langkah Pembilasan. ( gb 8.4 d ). Piston bergerak dari TMB ke TMA dan katup buang dalam
keadaan terbuka. Gas bekas hasil pembakaran didorong oleh gerak piston keluar silinder,
menjadikan ruang didalam silinder bersih terbebas dari gas bekas dan memungkinkan udara baru
masuk keseluruh ruang silinder ketika piston bergerak ke TMB kembali sebagai langkah pertama (
langkah hisap ).
Langkah langkah tersebut diatas jika digambarkan didalam diagram tekanan dan volume
akan terlihat sebagaimana gb 8.3, dimana langkah hisap ditunjukkan sebagai garis lurus 1-2, langkah
kompressi 2-3, langkah kerja 3-4-5, pembuangan gas 5-6 dan langkah pembilasan 6-1.
Untuk mesin Diesel 2 langkah mempunyai cara kerja sebagai berikut ( lihat gb 8.6 )

Gb 8.5 Diagram p-v untuk mesin Diesel 4 langkah
113


Gb 8.6 Cara kerja mesin Diesel 2 langkah
Proses pembilasan dan pengisian udara baru terjadi sekaligus ketika piston berada di Titik Mati
Bawah. Gas bekas didorong keluar oleh aliran udara baru yang datang dari turbo charger ( gb 8.6 a ).
Langkah kompressi ( gb 8.6 b ) Piston bergerak ketas dari Titik Mati Bawah ( TMB ) ke Titik Mati
Atas ( TMA ). Pada saat yang sama katup buang dalam keadaan tertutup, dan kompressi dimulai
ketika lubang lubang pemasukan udara pada dinding silinder tertutup oleh gerak piston keatas.
Kompressi menghasilkan tekanan dan suhu udara yang tinggi pada akhir langkah piston.
Langkah Kerja ( gb 8.6 c ). Pada akhir langkah kompressi bahan bakar dikabutkan kedalam
silinder. Suhu udara yang tinggi hasil kompressi pada langkah kompressi tersebut menyebabkan
bahan bakar menyala dengan sendirinya, menyebabkan udara memuai dan mendorong piston
kebawah. Pemuaian udara tersebut ditandai dengan gerakan piston kebawah dengan tekanan udara
yang konstan ( gb 8.5 ). Selanjutnya setelah pengabutan bahan bakar berhenti, tekanan didalam
silinder mulai menurun, dan akhirnya sebelum piston mencapai TMB, katup buang membuka dan
gas hasil pembakaran keluar dari dalam silinder. Pengisian udara baru berlangsung ketika piston
telah melewati lubang pemasukan udara pada dinding silinder.




a b c
114

Langkah kompressi dan langkah kerja tersebut jika digambarkan dalam diagram p-v dapat
dilihat pada gb 8.7

Gb 8.7 Diagram p- v untuk mesin Diesel 2 langkah
Mesin Diesel 2 langkah mempunyai beberapa keuntungan dibanding mesin Diesel 4 langkah
yaitu:
- Mempunyai daya yang lebih besar untuk ukuran dan putaran yang sama ( 1,5 – 1,6 kali )
- Mesin lebih ringan dan lebih kecil volumenya.
- Konstruksi lebih sederhana.
Sedang kerugiannya adalah:
- Proses pembilasannya kurang sempurna, sehingga bahan bakarnya lebih boros.
- Untuk mesin Diesel yang memanfaatkan Crankcase ( Karter )nya sebagai suplai udara
masuk kedalm silinder, penggunaan pelumasnya menjadi boros karena banyak pelumas
terbawa oleh udara dan terbakar didalam silinder.



115

8.3 EFFISIENSI.
Effisiensi thermis mesin Diesel dihitung berdasarkan proses keliling ( siklus ) Diesel,
sebagaimana yang sudah digambarkan pada gb 8.7. dimana proses kompressi 1- 2 berlangsung
secara adiabatis, proses pembakaran 2-3 berlangsung pada tekanan konstan ( isobaris ), expansi
setelah pembakaran 3-4 berlangsung adiabatis dan pembuangan kalor 4 -1 pada volume konstan (
isovolume ).
Besarnya kalor yang diberikan:
Q
1
= c
p
( T
3
- T
2
)
Besarnya kalor yang dibuang:\
Q
2
= c
v
( T
4
– T
1
).
sehingga effisiensi thermis mesin Diesel menjadi:

2 3
1 4
2 3 p
1 4 v
T - T
T - T 1
1
) T - T ( c
) T - T ( c
1 × ÷ = ÷ =
k
t
q

ρ
T
T atau ρ
v
v
T
T
2
3
2
3
2
3
= = = ;

1 k
3
4
1 k
1 k
4
3
4
3
δ
T
T atau δ
v
v
T
T
÷
÷
÷
= =
|
|
.
|

\
|
= ;

1 k
1 k
2
1
1
2
ε
v
v
T
T
÷
÷
=
|
|
.
|

\
|
= atau
1 k
3
1 k
2
1
ρε
T
ε
T
T
÷ ÷
= =
dimana ρ =
2
3
v
v
= disebut perbandingan expansi isobaris.
δ =
4
3
v
v
= disebut perbandingan expansi adiabatis
ε =
2
1
v
v
= disebut perbandingan kompressi adiabatis
116

Selanjutnya dapat ditulis:

2 3
1 4
T - T
T - T
=
ρ
1
1
ρε
1
δ
1
ρ
T
T
ρε
T
δ
T
1 k 1 k
3
3
1 k
3
1 k
3
÷
÷
=
÷
÷
÷ ÷ ÷ ÷

δ =
3
1
v
v
=
2
1
v
v
x
3
2
v
v
=
ρ
ε

Dengan demikian dapat ditulis:

2 3
1 4
T - T
T - T
=
1 ρ
1 ρ
ε
1
ρ
1 ρ
ρε
1
ε
ρ
k
1 k
1 k 1 k
1 k
÷
÷
× =
÷
÷
÷
÷ ÷
÷

Karena itu effisiensi thermis dapat ditulis:

1 ρ
1 ρ
ε
1 1
1
k
1 k
÷
÷
× × ÷ =
÷
k
t
q
Jadi effisiensi mesin Diesel ditentukan oleh besarnya perbandingan kompressi dan
perbandingan expansi isobaris. Effisiensi akan menjadi tinggi jika perbandingan kompressinya
besar dan perbandingan expansi isobarisnya kecil., demikian sebaliknya effisiensi menjadi rendah
jika perbandingan kompressinya kecil dan perbandingan expansi isobarisnya besar.

8.4 BAGIAN BAGIAN UTAMA MESIN DIESEL.
Mesin Diesel terbagi menjadi dua bagian utama yaitu bagian yang diam dan bagian yang
bergerak. Bagian yang diam terdiri dari Cylinder Block, Cylinder Liner dan Cylinder Head, sedang
bagian yang bergerak terdiri dari Piston, Connecting Rod, Crankshaft, Flywheel, Valve dan
Penggerak valve.
Cylinder Block atau juga biasa disebut sebagai Frame atau Kerangka, merupakan bagian
yang diikatkan pada fondasi untuk mesin yang tidak bergerak, atau diikatkan pada chasis untuk
mesin kendaraan. Bagian ini dibuat dari baja tuang atau dari baja dengan sambungan las. Padanya
117

terletak cylinder liner sebagai pasangan piston yang bergerak maju mundur melakukan proses
kompressi dan expansi. Padanya juga terpasang bantalan untuk crankshaft dan bantalan untuk cam
shaft. Untuk mesin yang kecil, cylinder liner dituang menjadi satu bagian dengan cyilinder block,
atau dibuat terpisah kemudian dimasukkan kedalamnya, sedang untuk mesin yang besar cylinder
liner dibuat terpisah, dan dapat dilepas dari cylinder block untuk tujuan perbaikan atau penggantian.
Diantara cylinder liner dan cylinder block terdapat rongga untuk air pendingin, guna mendinginkan
cylinder liner dari panasnya pembakaran bahan bakar yang terjadi didalamnya.. Gb 8.8
menunjukkan sebuah cylinder block mesin Diesel type V ( V engine ) dengan konstruksi las, sedang
gb 8.9 menunjukkan cylinder block type lurus ( Straight Line Engine ).


Gb 8.9 Frame Mesin Diesel model lurus ( Straigt Line Engine ) 6 silinder.
Gb 8.8 Frame mesin Diesel model V
( V engine )12 silinder.

118

Cylinder Head ( Kepala Silinder ) adalah bagian penutup silinder. Padanya terletak Inlet
Valve ( katup udara masuk ) , Exhaust Valve ( katup buang gas bekas ), dan Fuel Injector ( injector
bahan bakar ). Padanya juga terdapat rongga rongga untuk saluran air pendingin guna
mempertahankan bagian yang terkena panas agar tidak mengalami panas lebih. Rongga rongga air
ini juga terhubung langsung dengan rongga air yang ada didalam cylinder blok. Pada mesin kecil
cylinder head dibuat menjadi satu bagian untuk seluruh silinder, sedang untuk mesin besar cylinder
head dibuat terpisah sesuai silindernya masing masing.
Piston adalah bagian yang mengkonversi pembakaran bahan bakar didalam silinder manjadi
gerak mekanik. Bagian ini menerima panas pembakaran secara langsung, karena itu harus
mendapat pendinginan secara cukup. Pendinginan piston dilakukan oleh minyak yang mangalir
kepadanya dan oleh udara didalam Crankcase. Untuk memenuhi hal tersebut piston dibuat berongga
dibagian bawahnya, dan dialirkan pelumas kepadanya melalui saluran yang ada didalam connecting
rod (batang piston), lihat gb 8.10. Pada bagian samping piston terpasang ring piston masing masing
sebagai ring kompressi terletak dibagian atas, dan ring pelumas terletak dibagian bawah. Piston
tersambung bebas

dengan batang piston oleh piston pin.

Gb 8. 10 Piston dan batang piston

119

Crankshaft atau poros engkol adalah bagian mesin Diesel yang merubah gerak maju mundur
batang piston menjadi gerak putar. Bentuk dari crankshaft ini ditentukan oleh jumlah silinder dan
urutan pembakaran yang berlaku. Urutan pembakaran ditentukan untuk mendapatkan momen puntir
yang seimbang disepanjang crankshaft ketika mesin beroperasi, karena itu urutan pembakaran (
Firing Order ) tidak berurutan sesuai nomor silinder. Sesuai dengan jumlah silinder masing masing
dan jenis langkahnya urutan pembakaran dapat dilihat pada tabel 8.1.
Gb
8.11 Porosengkol mesin Diesel 6 silinder


Disepanjang crankshaft terdapat lubang saluran pelumas guna mengalirkan pelumas dari
pompa menuju piston. Pelumas ini mengalir dari pompa melalui bantalan, masuk kedalam poros
Tabel 8.1 Susunan urutan pembakaran ( Firing Order ).
120

dan diteruskan keconnecting rod, dan akhirnya kepiston untuk mendinginkan dinding piston dan
melumasi bidang gesek antara piston dan cylinder liner.
Flywheel atau roda gila adalah bagian mesin Diesel yang berfungsi sebagai akumulator
energi, yaitu bersifat menampung dan menyimpan energi ketika piston melakukan langkah kerja,
dan menyerahkannya kembali ketika piston melakukan langkah yang lainnya. Dengan demikian
putaran mesin Diesel menjadi lebih rata.
Pada mesin Diesel 4 langkah, Inlet Valve berfungsi untuk mengatur pemasukan udara
kedalam silinder dan Exhaust Valve berfungsi untuk mengatur pembuangan gas bekas
hasil pembakaran keluar silinder. Pada mesin 2 langkah hanya terdapat Inlet Valve

Gb 8. 12 Susunan Cam Shaft, Push Rod, Rocker Arm dan Valve untuk mesin 2
langkah
atau Exhaust Valve saja, karena fungsi valve lainnya digantikan oleh gerakan pistonnya sendiri.
Pembukaan dan penutupan masing masing valve tersebut adalah sesuai dengan masing masing
proses yang terjadi didalam silinder. Sebagai penggerak valve adalah camshaft ( gb 8.12 ), dimana
gerak putar camshaft menyebabkan push rod ( batang pendorong ) bergerak maju untuk mendorong
rocker arm dan membuka valve, Sebaliknya pegas katup mengembalikan katup keposisi menutup
ketika gerakan putar camshaft menjadikan posisi pushrod mundur. Putaran camshaft tergantung dari
putaran mesin, dimana untuk mesin 4 langkah besarnya adalah setengah dari putaran mesin, sedang
untuk mesin 2 langkah adalah satu kali putaran mesin.
121

8.5 KELENGKAPAN MESIN DIESEL.
Disamping bagian utama yang sudah disebutkan diatas, mesin Diesel dilengkapi dengan
bagian bagian lain untuk memungkinkan mesin Diesel dapat beroperasi dengan lancar, aman dan
otomatis. Bagian bagian tersebut dapat dikelompokkan kedalam sistim sistim yaitu:
- Sistim pemutar poros.
- Sistim pelumasan.
- Sistim air pendingin
- Sistim bahan bakar.
- Sistim saluran udara masuk dan gas buang.
- Sistim kontrol.
- Sistim pengaman

Sistim pemutar poros mesin Diesel digunakan untuk memutar poros diwaktu mesin Diesel
distart dan belum dapat memutar dirinya sendiri. Ada dua jenis pemutar poros mesin Diesel yaitu
jenis motor listrik dan jenis motor udara. Jenis motor listrik banyak dijumpai pada mesin mesin
Diesel untuk kendaraan dan mesin mesin dengan kapasitas rendah, sedang untuk mesin mesin
pembangkit listrik atau yang stasioner dengan kapasitas besar, digunakan motor udara. Motor listrik
digerakkan oleh sumber listrik DC dari battery, dimana battery tersebut setelah digunakan diisi
kembali. Pengisian battery menggunakan pengisi battery ( battery charger ) yang listriknya disupply
dari generator listrik yang digerakkan oleh mesin Diesel terkait. Motor udara digerakkan dengan
udara bertekanan yang diperoleh dari tangki udara, dimana tangki udara ini selalu dijaga tekanannya
dengan kompressor.
Sistim pelumasan mesin Diesel berfungsi untuk melumasi dan mendinginkan bagian
bagian yang bergesekan seperti piston dengan linernya, bantalan crankshaft, bantalan camshaft,
valve dll. Disamping itu pelumas juga digunakan untuk mendinginkan dinding piston yang terkena
langsung oleh panasnya pembakaran bahan bakar seperti sudah dikemukakan dimuka. Gb 8.13
menunjukkan sebuah sistim pelumasan mesin Diesel, dimana mula mula pelumas dihisap dari
crankcase oleh pompa pelumas melalui pipa hisap.
122

Gb
8.13 Sistim pelumasan mesin Diesel
Dari pompa pelumas dialirkan menuju filter ( saringan halus ) untuk menyaring kotoran kotoran
padat yang terbawa, dan selanjutnya dialirkan menuju bantalan dan masuk kedalam lubang saluran
crankshaft, masuk kedalam saluran didalam connecting rod, dan keluar didinding piston dan
connecting pin. Pelumas juga dialirkan menuju rocker arm support, rocker arm, inlet dan exhaust
valve, pushrod dan camshaft. Dari masing masing bagian yang dilumasi pelumas akan jatuh
kebawah kembali kedalam crankcase. Untuk mempertahankan suhu pelumas pada level yang
ditentukan, khususnya pada mesin mesin besar diberikan pendingin pelumas tersendiri.
minyak pelumas mesin Diesel akan terkontaminasi oleh unsur bahan bakar dan proses pembakaran
yang terjadi didalam silinder. Karena itu pelumas mesin Diesel memerlukan penggantian yang lebih
123

sering dibanding pelumas turbin uap maupun turbin gas. Untuk mengurangi besarnya kontaminasi
tersebuat dapasang alat tambahan yang diletakkan diluar mesin. Alat ini yang disebut sebagai “Oil
Purifier” akan menghisap pelumas dari dalam crankcase, membuang kotorannya dan
mengembalikannya lagi kedalam crankcase.
Sistim air pendingin mesin Diesel berfungsi untuk mendinginkan mesin agar tidak terjadi
panas lebih yang bisa menyebabkan keretakan pada cylinder head, cylinder block atau cylinder liner.
Juga untuk mendinginkan udara masuk silinder setelah turbocharger agar daya mesin dapat
dipertahankan pada level yang ditentukan. Air pendingin mengalir dengan sirkulasi tertutup dari
radiator kemesin dan balik lagi keradiator untuk didingin-kan dengan udara atmosfir. Air yang
digunakan haruslah air distillate ditambah bahan penambah ( additive ) untuk menghindari
terjadinya pengerakan dan korosi. Penggunaan air PDAM, atau air kali tidak dianjurkan karena akan
menimbulkan kerak.
Sistim bahan bakar mesin Diesel terbagi menjadi dua bagian yaitu sistim bahan bakar
didalam mesin dan sistim bahan bakar diluar mesin. Sistim bahan bakar didalam mesin meliputi
pompa bahan bakar tekanan tinggi, pengatur aliran bahan bakar dan injektor. Injektor berfungsi
untuk membuat bahan bakar masuk kedalam silinder dalam bentuk terpecah pecah menjadi butir
butir kecil ( kabut ) sehingga mudah dapat bereaksi dengan udara. Untuk mencapai tujuan tersebut
injektor terdiri dari dua jenis yaitu jenis injektor mekanis dan jenis injektor udara. Dengan injektor
mekanis dimaksudkan bahwa pengabutan bahan bakar terjadi atas dasar proses makanis yaitu
dengan tekanan tinggi yang menghasilkan kecepatan tinggi sehingga bahan bakar terpecah menjadi
butir butir kecil ketika bersinggungan dengan udara didalam silinder. Dengan injektor udara
dimaksudkan bahwa pengabutan terjadi atas dasar kecepatan udara yang tinggi, dimana bahan bakar
terbawa dan terpecah masuk kedalam silinder. Jenis injektor semacam ini sekarang sudah
jarang digunakan karena memerlukan tambahan alat berupa kompressor dan tangki udara.
Gb 8.14 menunjukkan sebuah injektor mekanis. Bahan bakar masuk melalui saluran masuk
dengan tekanan yang tinggi. Dengan tekanan tersebut spindle akan terangkat keatas mendorong
pegas penekan, dan karenanya bahan bakar masuk kedalam ruang bakar melalui lubang pengabut (
nozzle ). Nozzle mempunyai banyak bentuk tergantung bentuk dan besar kecilnya ruang
pembakaran sebagaimana dapat dilihat pada gb 8.15.
124


Gb 8.14 Nozzle mekanis

Gb 8.15 Berbagai bentuk nozzle bahan bakar
Pompa bahan bakar tekanan tinggi adalah jenis pompa langkah positip yaitu jenis roda gigi,
jenis sekerup atau jenis plunyer. Pada jenis pompa plunyer, masing masing plunyer berhubungan
langsung dengan masing masing injector didalam silinder. Pompa plunyer ini juga sekaligus
berfungsi sebagai penakar jumlah bahan bakar yang dimasuk-kan kedalam silinder sesuai dengan
besarnya daya mesin yang dikehendaki. Gb 8.16 menunjukkan sebuah pompa plunyer dan injector
yang terkait. Pompa ini mempunyai langkah plunyer yang tetap, tetapi dengan posisi sudut yang bisa
digeser / diputar. Jumlah bahan bakar yang dimasukkan kedalam silinder tergantung kepada posisi
sudut plunyer, semakin besar sudut plunyer semakin besar jumlah bahan bakar yang dialirkan, dan
pompa tidak akan mengalirkan bahan bakar sama sekali jika posisi sudutnya adalah 0 ( nol ).
125




Sistim bahan bakar diluar mesin ( gb 8.17 ) untuk jenis minyak HSD ( solar ) meliputi
instalasi penerimaan, penimbunan dan penyaluran bahan bakar kepompa bahan bakar didalam
mesin. Pada sisi penerimaan terdapat saringan penerimaan, pengukur aliran penerimaan dan
pemompaan kedalam tangki persediaan. Persediaan bahan bakar ditempatkan didalam tangki
persediaan, terdidri minimal 2 buah tangki, dengan maksud satu buah untuk penerimaan dan
pengen-dapan, dan yang lainnya untuk dioperasikan melayani unit yang sedang beroperasi. Dari
tangki persediaan bahan bakar dipompakan masuk kedalam tangki harian yang diletakkan pada
posisi diatas mesin. Posisi tangki harian ini diperlukan untuk menjamin agar mesin masih bisa
berjalan jika terjadi aliran listrik terputus. Selanjutnya dari tangki harian bahan bakar dialirkan
masuk kedalam mesin melalui saringan dan pengukur aliran.

Gb 8.17 Sistim bahan bakar diluar mesin
a b c d e
awal akhir awal akhir awal
langkah langkah langkah langkah langkah
Aliran maximum Aliran normal Aliran 0

Gb 8.16 Pompa plunyer dengan berbagai posisi
126

Sistim bahan bakar diluar mesin untuk minyak jenis MFO ( residu ) memerlukan tambahan
peralatan berupa pemanas dan sentrifugal. Pemanas diperlukan untuk mendapatkan nilai viskositas (
kekentalan ) yang sesuai untuk tujuan pengabutan, sedang sentrifugal diperlukan untuk membuang
air dan kotoran lainnya yang bisa mengganggu proses injeksi dan pembakaran bahan bakar tersebut
didalam silinder.
Sistim saluran udara masuk terdiri dari saringan, saluran, kompressor, pendingin udara
dan inlet manifold. Saringan digunakan untuk menyaring kotoran padat yang terbawa oleh udara
yang bisa mengakibatkan pengotoran atau kerusakan pada bagian kompressor maupun bagian
silinder. Kompressor berfungsi untuk meningkatkan jumlah udara masuk kedalam silinder, guna
meningkatkan daya mesin. Kompressor ini digerakkan oleh turbin yang digerakkan oleh aliran gas
bekas keluar silinder. Pasangan kompressor dan turbin dikenal dengan sebutan turbocharger.
Kompressor juga bisa digerakkan oleh mesinnya sendiri dan untuk ini dikenal dengan sebutan
supercharger. Inlet manifold adalah bagian mesin Diesel yang mendistribusikan aliran udara masuk
silinder dengan jumlah aliran yang sama.
Sistim saluran gas bekas keluar silider terdiri dari exhaust manifold, turbin , exhaust pipe
dan exhaust silencer. Exhaust manifold berfungsi untuk menyalurkan gas bekas keluar masing
masing silinder untuk digabung menjadi satu menuju turbin turbocharger. Gas bekas yang masih
memiliki energi cukup tinggi dimanfaatkan untuk memutar turbin guna memutar kompressor
turbocharger sebagaimana sudah dijelaskan dimuka. Exhaust pipe digunakan untuk menyalurkan gas
bekas dari turbin turbocharger kesilenser guna menurunkan intensitas suara yang ditimbulkan oleh
aliran gas bekas.
Pada mesin yang beroperasi terdapat keseimbangan antara daya, putaran dan beban. Ketika
daya mesin lebih besar dari beban maka putaran mesin akan naik, demikian sebaliknya jika daya
lebih rendah dari beban maka putaran akan turun. Naik atau turunnya putaran akan terus berlanjut
jika tidak disertai dengan perubahan daya guna mendapatkan keseimbangn baru.. Peranan sistim
kontrol adalah untuk menambah daya mesin dengan menambah aliran bahan bakar ketika terjadi
putaran turun dan mengurangi daya mesin dengan mengurangi aliran bahan bakar ketika terjadi
putaran naik, dan sistimkontrol semacam ini disebut governor. Governor mempunyai mempunyai
karakteristik yang dikenal dengan sebutan speeddroop dengan satuan persen.
Speed droop = 100%
kerja putaran
100% beban perubahan pada putaran perubahan
×

127

Sistim pengaman digunakan untuk mengamankan mesin dari kerusakan berat oleh karena
kondisi operasi yang diluar batas. Sistim pengaman harus segera mematikan mesin secara otomatis
jika kondisi operasi telah melampaui batasan yang telah ditentukan. Sistim pengaman terdiri dari
pengaman putaran lebih, pengaman tekanan pelumas rendah, pengaman generator dan stop darurat.
8.6 UNJUK KERJA ( PERFORMANCE ).
Unjuk kerja atau performance mesin Diesel terdiri dari daya indikatif, daya efektif,
pemakaian bahan bakar spesifik dan effisiensi.
Daya indikatif adalah daya mesin yang diperoleh dari hasil pengukuran parameter
parameter operasi dari mesin yaitu tekanan rata rata didalam silinder ( Indicated Mean Effectif
Pressure ), langkah piston, diameter piston, jenis langkah mesin, dan putaran mesin.

Gb 8.18 Mesin I ndikator


Tekanan rata rata didalam silinder diperoleh dari diagram indikator yang menunjukkan
langkah piston dan tekanan didalam silinder sebagaimana ditunjukkan didalam gb 8.18. Tekanan
didalam silinder diperoleh melalui saluran ( i ) dimana tekanan ini diteruskan ke piston ( h ) yang
akan bergerak naik turun didalam liner ( g ) sesuai dengan tinggi rendahnya tekanan didalam silinder.
Gerakan piston diteruskan kepengungkit ( f ) yang menyebabkan pinsil ( d ) bergerak keatas dan
kebawah dan menulis diatas kertas ( c ). Tali ( a ) yang terhubung dengan gerakan poros
menyebabkan drum ( b ) dimana padanya terletak kertas ( c ) bergerak kekiri dan kekanan sesuai
dengan putaran mesin. Gabungan gerakan pinsil dan gerakan kertas menyebabkan terbentuknya
gambar sebagaimana ditunjukkan didalam gb 8.19. Dengan gambar tersebut dapat diketahui
besarnya tekanan rata rata p
i
( IMEP ) didalam silinder.
128


Gb 8.19 Diagram I ndikator
1. Titik Mati Bawah
1’. Awal langkah kompressi.
2. Titik Mati Atas / Awal masa pembakaran
3. Puncak tekanan pada volume konstan
4. Akhir masa pembakaran.
5. Katup buang membuka


Daya indikatif ( yang juga biasa disebut dengan Indicatif Horse Power / IHP ) mesin Diesel
dirumuskan sebagai berikut:

75 60
a z n s d
4
π
p
N
2
i
i
×
× × × × ×
=

N
i
= daya indikatif dlm pk.
p
i
= Tekanan rata rata indikatif dlm kg /cm2.
d = diameter silinder dlm cm.
s = langkah piston dlm m.
n = putaran mesin permenit.
a = jenis langkah mesin
= 1 untuk mesin 2 langkah
= 0,5 untuk mesin 4 langkah.

129

Daya effektif, adalah daya mesin yang diperoleh dari pengukuran momen puntir M
t
pada
poros. Daya efektif yang juga biasa disebut sebagai Brake Horse Power besarnya lebih kecil
daripada Daya Indikatif karena adanya kerugian gesekan didalam mesin. Daya effektif diukur
dengan menggunakan alat ukur rem sebagaimana terlihat pada gb 8.20. Pengukuran dilakukan
dengan mengencangan mur f sampai putaran mesin mengalami sedikit penurunan ( proses
pengereman bekerja ). Proses pengereman ini akan menyebabkan gaya puntir yang ada pada pada
poros diteruskan oleh lengan momen g sebagai gaya puntir W. Dan gaya puntir ini besarnya dapat
ditunjukkan oleh timbangan i atau alat ukur lain yang disediakan.
Selanjutnya besarnya Daya Effektif dihitung sebgaimana rumus berikut


60 75
n 2π l W
60 75
n 2π M
75
ω M
N
t t
e
×
× × ×
=
×
× ×
= =

dimana:
N
e
= daya effectif dlm pk.
M
t
= momen puntir kgm
n = putaran mesin per menit.
W = Gaya puntir yang ditunjukkan oleh timbangan kg.
l = panjang lengan rem dalam meter.

Effisiensi mekanis adalah perbandingan antara daya effektif dengan daya indikatif dalam %.


% 100
N
N
η
i
e
m
× =


130


Gb 8.20 Pengukur Brake Horse Power.
a. Poros mesin
b. Sepatu rem bawah.
c. Baut pengikat rem kanan.
d. Sepatu rem atas.
e. Baut pengikat rem kiri.
f. Mur pengatur pengereman


Effisiensi thermal indikatif, adalah perbandingan antara energi indikatif ( daya indikatif
dalam satu jam ) yang ditunjukkan oleh mesin dengan energi yang diberikan oleh bahan bakar
dengan satuan yang sama


427 H G
60 60 75 N
η
bb bb
i
t
× ×
× × ×
=

G
bb
= Berat bahan bakar per jam
H
bb
= Nilai kalor bahan bakar kkal /kg.
427 = Nilai konversi kkal → kgm

Pemakaian bahan bakar spesifik, adalah jumlah pemakaian bahan bakar dalam kurun waktu
tertentu dibagi dengan energi yang dibangkitkan dengan waktu yang sama.
g. Lengan momen.
h. Batang penerus gaya puntir..
i. Timbangan / pengukur gaya puntir.
j. Panjang lengan momen.
n. Putaran poros
131



kg/pkh
pkh jumlah
G
SFC
bb
=

atau untuk mesin PLTD berlaku:

liter/kwh
kwh jumlah
V
SFC
bb
=



G
bb
= berat bahan bakar yang digunakan dalam waktu tertentu ( kg ).
pkh = jumlah energi yang dibangkitkan dalm kurun waktu yang sama ( pkh ).
V
bb
= Volume bahan bakar yang digunakan dalam waktu tertentu ( liter ).
kwh = jumlah energi listrik yang dibangkitkan dalam kurun waktu yang sama ( kwh )













132

IX
GENERATOR


9.1 UMUM.
Semua transformasi energi dari energi termal menjadi energi mekanik yang terjadi didalam
mesin mesin kalor yang dibahas dimuka pada akhirnya digunakan untuk memutar medan magnet
didalam generator listrik. Listrik yang keluar dari generator mempunyai tegangan yang relatif rendah,
kemudian dengan menggunakan sebuah transformator, tegangan tersebut dinaikkan menjadi
teganagan tinggi atau extra tinggi. Semua pambangkit pembangkit listrik beriterkoneksi didalam
suatu sistim jaringan listrik tegangan tinggi atau extra tinggi.
Dari jaringan listrik teganagan extra tinggi, tegangan diturunkan dan masuk kedalam jaringan
tegangan tinggi, dan dari jaringan tegangan tinggi kemudian tegangan diturunkan dan masuk
kedalam jaringan listrik distribusi. Selanjutnya tegangan listrik kemudian diturunkan menjadi
tegangan pemakaian dan disalurkan kepada konsumen.

9.2 PRINSIP KERJA GENEATOR
Prinsip kerja dari sebuah generator adalah sesuai dengan proses induksi yaitu apabila
sebuah penghantar bergerak memotong suatu medan magnit maka didalam penghantar tersebut akan
timbul tegangan yang disebut tegangan induksi. Apabila kepada kedua ujung penghantar tersebut
dihubungkan dengan sebuah tahanan maka akan timbul arus listrik ( gb 9.1).
Besarnya tegangan yang dihasilkan tergantung dari kekuatan medan magnit, kecepatan
penghantar, panjang penghantar yang memotong medan magnit, atau dengan rumus dapat ditulis :
Φ = B l V

133


Gb 9.1 Prinsip sebuah generator listrik
α = sudut arah gerakan terhadap arah medan magnet
ω = kecepatan sudut gerakan penghantar
r =jari jari gerakan penghantar terhadap sumbu putar

dimana :
Φ = tegangan induksi : Volt
B = kekuatan medan magnik : Gauss
l = panjang penghantar : meter
V = kecepatan penghantar : meter/det
Oleh karena gerakan penghantar didalam generator melingkari sumbu, maka besarnya
tegangan induksi dapat ditulis:
Φ = B l r ω cos α →
dt

ω =

Besarnya tegangan setiap saat.
E = B l r ω
dt
d o cos


= B l r sin ω t
= B l r sin ω t , akan menjadi max, jika sin ω t = l
atau Φ = E max sin ω t

134



Gb. 9-2 Bentuk sinus soida

Jadi tegangan generator merupakan bentuk sinus soida yang besarnya tergantung dari sudut
penghantar terhadap arah medan magnit. Apabila kedua ujung penghantar dihubungkan dengan
tahanan, maka akan mengalir arus yang berbentuk sinus soida pula.
I = I
0
sin ω t
Arus dan tegangan yang keluar dari generator disebut arus / tegangan bolak balik yang
berbentuk sinus soida. Didalam sebutan sehari-hari tegangan dan arus yang dipakai adalah nilai
tegangan atau arus effektif, yaitu tegangan / arus yang menghasilkan daya yang sama dengan arus
searah.

W = I
2
. R ( arus searah )
W
eff
= 0,5 W
= 0,5 I
2
R ( arus bolak balik )
jadi :
I
2
eff
= 0,5 I
2
I
eff
= ½ I 2

Dengan jalan yang sama :
E
eff
= ½ E 2

135

9.3 BEBAN GENERATOR
Beban Generator terdiri dari tiga macam yang masing-masing mempunyai pengaruh yang
berbeda terhadap generator, yaitu beban resistif, induktif dan kapasitif.
1. Beban Resistif.
Beban ini berupa tahanan murni seperti bola lampu pijar dan seterika listrik. Tahanan murni
akan menimbulkan arus yang sejajar dengan arah tegangan ( gb 9-3 ).

Gb. 9-3 Beban Resistif.

2. Beban Induktif.
Beban ini ditimbulkan oleh belitan, seperti terdapat pada motor listrik, transformator dan
sebagainya. Belitan akan menimbulkan arus yang membentuk sudut + 90
0
terhadap
tegangan ( gb 9-4 ).


Gb. 9-4 Beban I nduktif.




136

3. Beban Kapasitif.
Beban ini ditimbulkan oleh kapasitor, yaitu dua penghantar yang sejajar dan saling
berdekatan. Keduanya dimuati listrik yang berbeda, seperti yang terjadi pada kawat
transmisi, kabel listrik dan peralatan yang disebut kapasitor atau kondensator. Kapasitor
akan menimbulkan arus yang terbelakang 90
0
dari tegangan ( gb 9-5 ).


Gb. 9-5 Beban Kapasitif
4. Beban Campuran.
Didalam praktek generator akan dibebani secara bersama-sama dari ketiga jenis beban
tersebut. Disini arus akan membentuk sudut terhadap tegangan antara – 90
o
dan + 90
o
,
tergantung jenis beban mana yang dominan.


Gb. 9-6 Beban campuran

Besarnya beban:
W = E I Cos Φ

137

9.4 GENERATOR TIGA FASA.
Generator 1 fasa menghasilkan putaran rotor yang tidak stabil, dan hal tersebut didalam
putaran yang tinggi merupakan vibrasi. Generator 3 fasa akan menghasilkan putaran yang lebih
stabil, dan getaran yang terjadi dengan sendirinya akan lebih baik. Gambar 9-7a menunjukkan
sebuah generator dengan medan magnit yang berputar dan dengan 3 belitan yang terpasang pada
stator masing-masing terpisah dengan sudut 120
0
.











ddd

Gb. 9-7 a. Pembangkitan dari 3 buah generator arus bolak balik yang
masing-masing terpisah 120°
b. Penggambaran listrik dari gambar -a.
c. Bentuk tegangan induksi dari gambar - a
d. Sambungan ∆ ( delta / segitiga )
e. Sambungan Y ( star / bintang )

Perputaran medan magnit akan menimbulkan tegangan bolak balik pada masing-masing
belitan yang masing-masing juga terpisah 120
0
sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 9-7c. Ketiga
belitan tersebut membentuk apa yang dinamakan Fasa, dan tegangan yang timbul padanya disebut
tegangan fasa.
Titik awal dari ketiga belitan fasa tersebut masing-masing diberi simbol U
1
, V
1
, dan W
1
,
dan titik akhirnya diberi simbol U
2
, V
2
, dan W
2
. Dengan Generator seperti ini maka diperlukan enam
penghantar untuk mencapai beban yang harus dipikul ( gb. 9.7 b ). Apabila beban pada masing-
masing belitan dapat disamakan, maka titik U
2
, V
2
dan W
2
dapat dihubungkan menjadi satu,
sehingga jumlah penghantar cukup empat buah saja. Generator semacam ini akhirnya disebut
sebagai generator 3 fasa.
d e




a b c

138

Penyambungan antara U
2
, V
2
dan W
2
seperti yang dilakukan diatas disebut sambungan
bintang, dimana titik sambung tersebut disebut sebagai titik Netral ( N ) . Jika penyambungan
dilakukan antara U
1
– W
2
, U
2
– V
1
, V
2
– W
1
, maka belitan tersebut disebut belitan segitiga dan
penghantar yang diperlukan hanya 3 buah. Tegangan diantara U
1
– V
1
, U
1
– W
1
dan V
1
– W
1
disebut
tegangan antar fasa dan besarnya :
2 E E
U1N W1 U1
=
÷


Generator dengan sambungan bintang maupun sambungan segi tiga biasa disebut
generator synchron.

9.5 GENERATOR SYNCHRON.
Generator yang dipergunakan didalam pembangkit tenaga listrik bersekala besar adalah
jenis generator synchron. Terdiri dari dua bagian utama yaitu rotor dan stator. Rotor terbuat dari besi
tempa berbentuk silinder. Pada dua pertiga bagian rotor terdapat alur-alur (gb. 9-8a) dimana
penghantar tembaga diletakkan dan membentuk belitan. Pada bagian yang tidak beralur terletak
kutub-kutub magnit yang ditimbulkan oleh arus searah yang mengalir pada belitan selama generator
bekerja. Tegangan dan arus searah ini dikenal sebagai tegangan atau arus penguatan.
Stator terdiri dari pelat-pelat yang sangat tipis yang disusun saling berhimpitan membentuk
sebuah silinder berongga. Pada bagian dalam silinder ini terdapat alur-alur dimana belitan tembaga
diletakkan. Belitan ini terbagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing membentuk 120
o
.
Didalam alur belitan terbagi menjadi 2, yaitu belitan luar dan belitan dalam. Ketiga kelompok
belitan tadi dihubungkan dengan jaringan transmisi melalui 3 buah penghantar. Pada generator ini
putaran rotor akan lebih stabil dari pada bentuk tersebut dalam gb. 9-7.

139




Gb. 9.8 Bentuk dasar sebuah generator synchron dan bentuk belitannya.

9.6 PENGUATAN GENERATOR.
Pada generator-generator kecil, medan magnit yang diperlukan untuk membangkitkan
tegangan cukup diperoleh dari magnit permanent. Pada generator semacam ini besarnya tegangan
tergantung dari besarnya putaran dan beban yang dipikul. Jika putaran bertambah maka tegangan
akan naik, dan demikian sebaliknya jika putaran turun. Demikian pula halnya, jika beban bertambah
maka tegangan juga turun, dan jika beban berkurang maka tegangan akan naik.
Pada generator besar, dimana diperlukan tegangan yang tinggi dan stabil serta arus yang
besar, dipergunakan magnit buatan yang terpasang pada rotor. Besarnya medan magnit yang
diperoleh tergantung dari besarnya tegangan arus searah yang mengalir masuk kedalam belitan
rotor. Tegangan dan arus searah ini disebut tegangan dan arus penguatan ( exitasi ). Sehubungan
dengan arus penguatan ini ada 2 karakteristik yang perlu diketahui yaitu :


140

1. Karakteristik Beban Nol.
Apabila generator telah mencapai putaran kerja maka pemberian arus penguatan diberikan
untuk mendapatkan tegangan pada titik keluar ( U, V, W ) generator. Mula-mula naiknya
tegangan generator sebanding dengan naiknya arus penguatan. Tetapi kemudian tegangan
generator tidak bisa naik lagi walaupun arus penguatan diperbesar. Dalam hal ini inti besi
dimana belitan generator bertaut, telah mencapai titik jenuh. Kondisi jenuh ini diperlukan
untuk menghindari naiknya tegangan yang sangat tinggi jika generator kehilangan beban
akibat gangguan. Pada waktu beban penuh besarnya arus penguatan sebesar 2 – 3 kali arus
penguatan pada beban nol. Karena itu naiknya tegangan akibat hilangnya beban secara
matematis adalah 2 – 3 kalinya. Namun karena sifat jenuh tadi maka naiknya tegangan
hanya akan mencapai ± 40 % saja.

2. Karakteristik Hubung Singkat.
Jika titik keluar generator ( U, V, W ) dihubung singkat kemudian diberikan penguatan,
maka arus penguatan yang diberikan akan menimbulkan arus yang mengalir didalam belitan
stator. Besarnya arus ini sebanding dengan besarnya arus penguatan yang diberikan.
Tegangan didalam belitan stator dapat dikatakan = 0 ( demikian kecilnya sekedar cukup
untuk menimbulkan arus saja ). Didalam belitan stator timbul induksi yang sangat besar
dibanding dengan tahanan R ( L >> R ). Karena itu arus yang mengalir berada ± 90
o

didepan tegangan. Pemberian arus penguatan terlihat tidak akan memberikan titik jenuh
pada stator. Hal ini sama halnya dengan apabila generator dibebani dengan beban induktif.
Arus penguatan menimbulkan medan magnit penguatan, sedang arus yang timbul
pada belitan stator juga akan menimbulkan medan magnit yang bersifat melawan medan
magnit penguatan. Didalam hal karakteristik hubung singkat ini dapat ditulis.

141


Gb. 9.9 Karakteristik penguatan generator

Besaran : i
f
→ Φ
f
→ E
i
=
dt

→ I
s
→ Φ
lawan

Phasa : 0
0
→ 0
0
→ 90
0
→ 180
o
→ 180
o

Dimana : i
f
= Arus penguatan
Φ
f
= Kekuatan medan magnit penguatan
E
S
= Tegangan stator
I
S
= Arus stator
Φ
lawan
= Kekuatan medan magnit lawan

9.7 GENERATOR BEROPERASI DIDALAM JARINGAN.
Gambar 9.10 menunjukkan perputaran kutub-kutub magnit pada rotor generator dalam
berbagai posisi. Didalam rotor tersebut terdapat belitan-belitan penguatan ( digambarkan satu
belitan saja ). Arus searah yang diberikan I
f
menyebabkan timbulnya medan magnit Φ
f
.

142


Gb. 9.10 Perputaran rotor

Tegangan dan arus yang timbul didalam belitan stator juga akan menimbulkan medan
magnit yang bersifat melawan medan magnit rotor. Arah medan magnit rotor mempunyai sudut
yang tetap terhadap belitan rotor, namun arah medan magnit stator sangat tergantung dari jenis
beban yang dipikul dimana ia berpengaruh terhadap kedudukan arus I
s
terhadap tegangan E
s
. Pada
gb 9-10d ditunjukkan kedudukan arah medan magnit rotor Φ
f
dan medan magnit stator Φ
S
, sehingga
resultante dari keduanya Φ
res
membentuk sudut δ dengan arah medan magnit rotor Φ
f
.

Kini jelas bahwa dalam keadaan normal ( tidak ada perubahan beban / gangguan ) maka
antara medan magnit rotor dan medan magnit stator ( kedua-duanya berputar ) terdapat suatu ikatan
tetap. Putaran rotor dan medan magnitnya berjalan bersama-sama ( synchron ) dengan medan magnit
stator dan karena itu disebut generator synchron.
Arah medan magnit rotor dan stator menghasilkan medan magnit resultante Φ
0
, dan ini
merupakan tegangan induksi yang terdapat dalam klem ( titik keluar ) generator. Karena itu
besarnya Φ
0
dengan sendirinya setara dengan tegangan generator yang ditunjukkan oleh Volt meter.
Perubahan beban akan menyebabkan perubahan arus didalam belitan stator I
S
, demikian
pula dengan besarnya medan magnit lawan Φ
S
. Perubahan beban juga akan menyebabkan perubahan
terhadap arus penguatan I
f
serta besar medan magnit penguatan Φ
f
. Sementara itu besarnya medan
magnit resultante adalah konstan. Jadi perubahan beban menyebabkan berubahnya apa yang
dinamakan “ sudut angker δ “.
143

Peristiwa diatas dapat dijumpai pula didalam gb. 9.11 yang disebut “ diagram pembebanan
“. Oleh karena besarnya medan magnet resultante Φ
0
sebanding dengan tegangan generator E
K
didalam gb. 9.10 adalah juga sebanding dengan θ
0
di gb. 9.11 maka arus stator I
S
yang membentuk
medan magnit lawan ( θ
lawan
) adalah penyebab dari besar dan arah apa yang disebut “ daya generator
“ ( sudut φ dan MVA ). Dengan menghubungkan kedua ujung θ
0
dan θ
lawan
maka diperoleh medan
magnit penguatan yang di gambar 9.11 diberi simbol θ
res
, dimana ia sebanding dengan arus
penguatan I
f
.
Untuk beban yang dipikul sebesar P pada putaran n = konstan, momen generator adalah :
M ~ P = 3 E
S
I
S
Cos φ → E
S
= E
N
3 = tegangan fasa

Dari gb. 9-13 : θ
lawan
.

Cos φ = θ
res
. Sin δ
dan θ
lawan

~

I
S


θ
res
~

I
f

maka berlaku : M ~

P ~

I
S.
I
f
. Sin δ

9.8 BATAS BATAS PENGOPERASIAN GENERATOR.
Operasi generator dengan beban kosong , atau beban hubung singkat merupakan hal khusus
dan jarang terjadi ; pengoperaisan yang normal adalah seperti yang tergambar didalam diagram
beban generator ( gb. 9.11 ). Terdapat 3 batas operasi generator yaitu :

Gb. 9.11 Diagram pembebanan Generator
144

1. Batas maksimal pemanasan rotor.
Φ
res
~ I
f
= Constan Φ
res
= Φ
resistif

I
f
= arus penguatan
2. Batas maksimal pemanasan stator.
Φ
lawan
~ I
S
= Constan Φ
lawan
= medan magnit lawan
I
S
= arus stator
~ = sebanding.
3. Batas maksimal stabilitas belitan rotor.
Untuk butir 1 dan 2 jelas dapat dimengerti bahwa arus yang mengalir pada belitan rotor
maupun stator akan menghasilkan panas, dan hal tersebut harus dibatasi sesuai dengan sistim
pendinginan yang digunakan.
Untuk butir 3 berlaku bahwa ( pembebanan kapasitip ) moment terbesar terjadi apabila
sudut menjadi 90
o
( Sin δ = 1 ). Jika sudut ini menjadi lebih besar dari 90
o
, maka moment turbin dan
moment listrik tidak lagi sama, kemudian turbin akan mengalami percepatan dan putarannya
bertambah cepat. Generator tidak lagi synchron dengan jaringan, dan terjadilah gangguan. Kejadian
ini disebut “ Generator Lepas Synchron “.
Dalam hal ini turbin kehilangan beban, sehingga katup masuk uap akan tertutup. Generator
akan berubah fungsi menjadi motor dan memutar turbin. Peristiwa semacam ini akan menyebabkan
kerusakan didalam turbin karena itu tidak boleh terjadi. Untuk menghindari hal itu, generator
dilengkapi dengan rele daya kembali, yang berguna untuk melepas PMT generator, sehingga
generator tidak lagi terhubung dengan jaringan.
Pada umumnya generator tidak boleh dioperasikan sampai mencapai batas stabilitas theoritis
seperti tersebut diatas (sudut δ = 90
o
), tetapi hanya dibatasi sampai dengan batas stabilitas praktis (
aktual ) atas dasar naiknya suhu pada bagian stator yang bertepatan dengan adanya medan magnit
yang paling kuat ( gb. 9.11 ).

9.9 PENDINGINAN GENERATOR
Arus listrik yang mengalir melalui belitan rotor maupun stator pada akhirnya akan
menimbulkan panas. Untuk menghindari terjadinya suhu yang tinggi pada belitan, maka belitan
harus cukup terdinginkan dengan baik. Ada beberapa cara pendinginan belitan generator yaitu:
- Pendinginan dengan udara terbuka.
- Pendinginan dengan udara tertutup.
- Pendinginan dengan gas hydrogen.
- Pendinginan dengan air.
145

Pendinginan dengan udara terbuka dilakukan pada generator generator dengan kapasitas
kecil ( 25 MW kebawah ). Pada pendinginan semacam ini akan banyak kotoran yang terdapat
didalam udara ikut terbawa masuk kedalam generator dan menempel pada belitan. Untuk
mengurangi besarnya intesitas pengotoran maka dipasang saringan halus ( filter ) pada sisi masuk
laluan udara pendingin tersebut. Selanjutnya secara periodik filter tersebut harus dibersihkan atau
diganti baru jika telah menjadi kotor.
Pendinginan dengan udara tertutup akan lebih menjamin kebersihan belitan rotor
maupun stator. Disini udara pendingin didinginkan oleh air pendingin yang didinginkan oleh
radiator atau oleh air pendingin kondensor. Kelemahan dari pendinginan dengan udara tertutup ini
adalah bahwa udara pendingin akan mempunyai suhu yang lebih tinggi daripada pendinginan
dengan udara terbuka, kecuali jika udara pendingin dilakukan dengan air.
Pendinginan dengan gas Hydrogen digunakan untuk generator generator yang lebih besar.
Gas hydrogen mempunyai thermal conductivity hampir 7 ( tujuh ) kali, dan berat jenis 1/14 (
seperempat belas ) kali dari udara. Karena itu penggunaan gas hydrogen sebagai pendingin generator
menjadikan pendinginan lebih effektif dan pengaliran gas yang lebih ringan. Sebagaimana pada
pendinginan dengan udara tertutup, gas hydrogen selanjutnya juga didinginkan dengan air
pendingin.
Kemampuan gas hydrogen mendinginkan mendinginkan generator sangat tergantung dari
kerapatan gas hydrogen tersebut, dan kerapatan tergantung dari tekanannya. Pada gb 9.11
ditunjukkan juga tentang batasan batasan pembebanan generator terkait dengan tekanan gas
hydrogen didalam ruang pendinginan generator.
Oleh karena gas hydrogen merupakan gas yang mudah terbakar, maka diusahakan agar gas
hydrogen tidak berhubungan dengan udara baik pada waktu pengisian maupun pada waktu
beroperasi. Pada waktu pengisisan sebelum gas hydrogen dimasukkan, udara didorong keluar dari
ruang pendinginan dengan gas CO
2,
selanjutnya gas hydrogen baru dimasukkan. Pada waktu
generator beroperasi diusahakan agar gas hydrogen tidak bocor keluar dari ruang pendinginan.
Untuk ini diperlukan perapatan khusus terutama pada celah antara poros dan rumah generator ( gb 9.
12 ).
Pendinginan dengan air secara langsung terhadap belitan stator dilakukan terhadap
generator generator dengan kapasitas sangat besar ( 1200 MW ) keatas, ketika pendinginan dengan
hydrogen dirasa sudah tidak effektif lagi. Disini air pendingin dialirkan diantara penghantar
panghantar listrik yang berfungsi sebagai belitan stator, sehingga dengan demikian panas yang
timbul akibat mengalirnya arus listrik pada belitan dapat langsung dibuang melalui air pendingin ini


146

X
PENGOPERASIAN PEMBANGKIT TENAGA
LISTRIK.

10.1 UMUM
Pengoperasian pembangkit terbagi menjadi dua kategori yaitu operasi tunggal ( single
operation ) dan operasi parallel ( parallel operation.). Pada operasi tunggal pembangkit beroperasi
dengan memikul beban sendirian. Jika pembangkit mengalami kerusakan maka terjadilah
pemadaman. Diluar itu jika terjadi perubahan beban, akan diikuti dengan perubahan frequensi yang
tajam, sehingga mutu listrik yang dihasilkan menjadi kurang baik. Operasi tunggal semacam ini
hanya dapat ditemui di daerah daerah terpencil, dimana jaringan listrik interkoneksi belum ada.
Pada operasi parallel, output generator dari dua pembangkit atau lebih digabung menjadi
satu untuk bersama sama memikul beban. Dengan operasi semacam ini frequensi menjadi lebih
stabil karena setiap perubahan beban akan dipikul bersama sama oleh seluruh pembangkit
Disamping itu rusaknya satu pembangkit tidak perlu terjadi pemadaman karena rusaknya satu
pembangkit akan digantikan oleh pembangkit yang lainnya secara bersama sama.
Kualitas penyediaan tenaga listrik oleh suatu pembangkit ditunjukkan oleh faktor faktor
operasi dan faktor faktor keandalan dan kesediaan, sementara itu besarnya harga penjualan listrik
keluar pembangkit ditentukan oleh beberapa komponen yang akan diuraikan pada paragrap paragrap
berikut.

10.2 MEMPARALELKAN PEMBANGKIT.
Suatu pembangkit untuk bisa operasi paralel dengan pembangkit lain harus memenuhi
syarat syarat sbb:
- Mempunyai tegangan yang sama.
- Mempunyai frequensi yang sama.
- Mempunyai fasa yang sama.
- Mempunyai urutan fasa yang sama.
Untuk mengetahui bahwa empat syarat diatas sudah terpenuhi diperlukan sebuah alat yang disebut
dengan nama “ synchronizer” berupa jarum penunjuk yang akan menunjuk ketitik 0. Synchronizer
juga bisa ditunjukkan oleh sebuah lampu yang akan menunjuk terang sekali, atau sebaliknya
menunjuk gelap.
147


10.3 OPERASI PEMBANGKIT DALAM JARINGAN INTERKONEKSI.
Didalam jaringan interkoneksi terdapat 3 jenis pola pengoperasian pembangkit, masing
masing mempunyai dampak terhadap mutu listrik yang disalurkan sebagaimana akan
diuraikan berikut ini:
- Pembebanan dengan load limit, maksudnya membatasi agar pembangkit yang
bersangkutan tidak berubah bebannya kecuali dilakukan oleh operator Didalam
pengoperasian semacam ini pembangkit tidak akan merespons perubahan perubahan
frequensi kecuali untuk frequensi naik setelah melam-paui nilai setelan tertentu.
- Pembebanan dengan governor, maksudnya pembangkit yang bersangkutan secara
otomatis akan menambah dayanya ketika terjadi frequensi turun, dan sebaliknya akan
mengurangi dayanya ketika terjadi freqensi naik. Dengan demikian frequensi tidak
akan terus merosot atau terus naik ketika terjadi perubahan beban. Namun demikian
frequensi tidak akan kembali normal sebelum operator membantunya dengan
menambah atau menurunkan lagi daya pembangkitnya.
- Pembebanan dengan LFC ( Load Frequensi Control ). Pembangkit akan merespons
perubahan frequensi sesuai speed droop governornya ditambah dengan pemulihan
frequensinya yang dikendalikan oleh Pusat Pengatur Beban.

10.4 FAKTOR FAKTOR OPERASI DAN KEANDALAN PEMBANGKIT.
Faktor faktor ini merupakan suatu ukuran keberhasilan pembangkit didalam menyediakan
dan menjual tenaga listriknya. Faktor faktor ini dilaporkan kepada manajemen perusahaan
pembangkit yang bersangkutan untuk diperbandingakan dengan standard dan keberhasilan
dimasa sebelumnya. Dengan demikian dapat diketahui seberapa jauh penurunan kualitas
pembangkit ybs, untuk kemudian diambil langkah guna merencanakan perbaikannya dan
penentuan biaya yang diperlukannya.
a ) Faktor faktor operasi pembangkit..
1. CF ( Capacity Factor / Faktor Kapasitas )
= % 100
periode jam terpasang Daya
periode jam dalam bruto kwh Produksi
×
×

2. LF ( Load Factor / Faktor beban )
148

= % 100
periode jam tinggi puncak ter Beban
periode jam dalam bruto kwh Produksi
×
×

3. OF (Output Factor / Faktor produksi )
= % 100
operasi jam terpasang Daya
periode jam dalam bruto kwh Produksi
×
×

4. SFC ( Spesific Fuel Consumption / Pemakaian bahan bakar spesifik ):
= kwh. / ) kg ( liter
periode jam dalam kwh Produksi
periode jam dalam bakar bahan Pemakaian


5. SLC ( Spesific Lube Consumption / Pemakaian pelumas spesifik ):

kwh / cc
periode jam dalam kwh Produksi
periode jam dalam pelumas minyak Pemakaian
=



6. Heat Rate ( Pemakaian bahan bakar dalam nilai kilo kalori / kwh:
kwh / kkal
periode jam dalam kwh Produksi
periode jam dalam ) kalor nilai bakar bahan Pemakaian ( ×
=

b ) Faktor faktor keandalan dan kesediaan pembangkit:


1. DF ( Dependable Factor / Faktor Daya Mampu ):

% 100
terpasang Daya
mampu Daya
× =

2. AF ( Availability Factor / Faktor kesediaan ):

% 100
periode jam
mesin standby jam opersi Jam
×
+
=

3. EAF ( Equivalent Availability Factor / Faktor Kesediaan Equivalent ):

% 100
periode jam terpasang daya
derated jam derated kw terpasang daya standby) jam operasi (Jam
×
×
× ÷ × +
=



4. FF ( Failure Factor / Faktor Gangguan ).

149

100%
periode jam
periode jam didalam gangguan jam Jumlah
× =

5. MF ( Maintenace Factor / Faktor Pemeliharaan

% 100
periode jam
periode jam didalam n pemelihraa jam Jumlah
× =

6. SRF ( Starting Reliability Factor / Faktor Keandalan Start ) ( khusus untuk unit
emergency )

% 100
start jumlah
berhasil start Jumlah
× =




10.5 PENENTUAN HARGA LISTRIK KELUAR PEMBANGKIT.
Harga listrik keluar pembangkit terdiri dari 4 komponen yaitu komponen A, komponen B,
komponen C dan komponen D yang akan dijelaskan seperti uraian berikut.
Komponen A adalah komponen biaya yang menyangkut biaya pengembalian modal yang
sudah ditanam.Dihitung berdasarkan jumlah kwh yang dibangkitkan dalam jangka waktu
operasi tertentu. Komponen A ini dibayarkan berdasarkan jumlah kwh listrik yang dikeluarkan
dari pembangkit. Harga listrik dari unsur ini bersifat tetap, tidak berobah dan ditetapkan sesuai
persetujuan antara pembeli dan penjual sebelum pembangkit ybs dibangun.
Komponen B adalah komponen biaya yang menyangkut biaya operasi dan pemeliharaan
yang juga bersifat tetap dan tidak berobah, seperti biaya overhaul, biaya pegawai, biaya
pemeliharaan dan sparepart.
Komponen C adalah komponen biaya bahan bakar. Komponen biaya ini bersifat variable (
berubah ubah ) sesuai dengan harga bahan bakar yang berlaku dipasaran. Komponen biaya ini
juga berubah berdasarkan tingkat pembebanan yang diberikan. Semakin tinggi pembebanannya
maka semakin rendah harganya dan semakin rendah pembebanan maka semakin mahal
harganya.
Komponen D adalah komponen biaya operasi dan pemeliharaan yang bersifat variabel
diluar biaya bahan bakar, seperti untuk biaya pelumas, bahan kimia, biaya untuk start dan stop.
Seluruh komponen biaya tersebut dijumlahkan menjadi satu dan dibayarkan setiap bulan
dari pembeli kepada penjual masing masing yang bersangkutan.

150


XI
LIMBAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
THERMAL

11.1 UMUM
Semua jenis pembangkit thermal disamping menghasilkan listrik juga menghasilkan limbah.
Setiap limbah akan menimbulkan pencemaran bagi lingkungan, kecuali jika limbah tersebut diolah
terlebih dahulu sebelum dibuang. Limbah Pembangit Listrik Tenaga Thermal bisa berbentuk padat,
cair, gas atau panas.
Limbah padat berasal dari kadar abu yang terdapat didalam bahan bakar, dimana abu
merupakan bagian yang tidak terbakar dan ikut mengalir didalam aliran gas hasil pembakaran,
karena itu abu ini harus ditangkap sebelum gas hasil pembakaran keluar kecerobong.
Limbah cair berasal dari tumpahan minyak, deterjen pembersih, bahan kimia untuk
pemurnian air dan bahan cair lainnya yang digunakan didalam Pembangkit Listrik yang
bersangkutan. Limbah cair ini harus dialirkan ketempat pengolahan limbah untuk diolah dan
dinetralkan agar tidak mencemari lingkungan.
Limbah gas berupa gas gas hasil pembakaran keluar dari cerobong. Gas gas keluar cerobong
yang dianggap sebagai pencemar lingkungan adalah gas Oxida Nitrogen dengan rumus kimia NO
x

dan Oxida Belerang dengan rumus kimia SO
x
. Sementara Carbon Dioxida atau CO
2
bukan dianggap
sebagai pencemar lingkungan karena pada dasarnya gas ini akan diserap oleh hijau daun yang
dimiliki oleh pepohonan. Pepohonan ini sebagian besar membentuk hutan, dan dari sanalah Oxigen
baru yang diperlukan untuk kehidupan didunia ini diperoleh. Jika CO
2
tidak cukup terserap oleh
jumlah hutan yang ada maka akan membentuk lapisan diatmosfir dan menimbulkan effek rumah
kaca yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global.
Limbah panas berupa panas sisa hasil pembakaran bahan bakar yang tidak bisa dikonversi
menjadi energi mekanik. Limbah ini dibuang keatmosfir melalui air pendingin atau langsung
keatmosfir melalui cerobong.

11.2 BATASAN PENCEMARAN
Keluarnya limbah dari Pembangkit Tenaga Listrik dan industri lainnya baik berupa limbah
padat, limbah cair maupun limbah gas tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya, namun harus dibatasi
agar tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan. Dalam hal ini pemerintah mengambil
151

peranan yang sangat menentukan, dari mulai menentukan ambang batas limbah terkait sampai
dengan pelaksanaan pengawasannya.
Ambang batas limbah gas buang keluar cerobong PLTU batubara mula mula ditentukan
dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no 13 tahun 1995 tanggal 7 Maret 1995
tentang Baku Mutu Emisi sebagaimana dapat dilihat pada tabel 11-1 dan tabel 11-2 berikut ini.
Tabel 11-1. merupakan batasan yang diberlakukan mulai tahun 1995 sampai tahun 2000, sedang
tabel 11-2 berlaku mulai tahun 2000, dengan batasan batasan yang lebih diperketat.

Tabel 11-1: Baku Mutu Emisi PLTU BATUBARA berlaku efektif tahun 1995

Tabel 11-1: Baku Mutu Emisi PLTU BATUBARA berlaku effektif tahun 2000

152

Untuk memperkecil besarnya emisi gas buang yang keluar dari Pembangkit Listrik Tenaga
Uap Berbahan Bakar Batubara dilakukan dengan cara cara sebagai berikut.
Partikel
Ada tiga cara penangkapan partikel atau kandungan zat padat yang ikut mengalir didalam
gas buang yaitu:
1) Mechanical Collector,
2) Elektrostatic Precipitator dan
3) Bag Filter.
Mechanical Collector ( Pengumpul Mekanik ) menggunakan cara gabungan antara
centrifugal dan grafitasi.. Gas panas dari boiler yang mengandung partikel dialirkan didalam sebuah
silinder tegak dengan arah tangensial. Gerakan didalam silinder disamping melingkar juga mengarah
kebawah, sehingga dengan demikian partikel yang mempunyai berat jenis lebih besar akan
terlempar kesisi luar, dan dengan beratnya sendiri dan

dorongan aliran udara partikel tsb akan jatuh kebawah.. Selanjutnya gas panas bergerak membelok
keatas meninggalkan pertikel yang sudah terlempar kebawah ( gb 11.1 ).

Gb.11.1 Prinsip kerja pembersih gas bekas jenis mechanical collector.
153

Electrostatic Precipitator ( Penangkap Electrostatic ) digunakan didalam semua PLTU
modern, yang menggunakan pembakaran batubara serbuk. Gas panas keluar boiler dialirkan diantara
kutub kutub listrik arus searah dengan tegangan tinggi. Aliran partikel yang berupa abu batubara
akan termuati oleh listrik negatif yang berasal dari kutub listrik negatif yang juga disebut sebagai
discharge electrode. Partikel yang sudah termuati , akan tertarik menuju kutub listrik positif yang
disebut sebagai Collecting Electrode dan terkumpul padanya. Untuk melepas partikel dari Collecting
Electrode ( yang berupa jajaran pelat pelat ) digunakan cara mekanik yaitu secara pariodik
digetarkan sehingga partikel jatuh kebawah dan terkumpul pada pengumpul abu, untuk selanjutnya
disalurkan ketempat pembuangan abu. Electrostatic Pecipitator dapat menangkap abu dengan sangat
effisient yaitu mencapai 99,8%, karena itu untuk PLTU PLTU besar diwajibkan untuk menggunakan
penangkap abu jenis ini.


Gb.11.2 Prinsip kerja pembersih gas bekas jenis Electrostatic Precipitator.

Bag filter adalah saringan yang berupa kantong kantong kain atau fiber. Gas bekas hasil
pembakaran didalam boiler mengalir masuk dari sisi dalam kesisi luar kantong, atau sebaliknya dari
sisi luar kesisi dalam. Partikel abu akan tersaring dan menempel pada kain tersebut. Secara periodik
kantong ini dibersihkan dengan mengalirkan udara bertekanan yang arahnya berlawanan dengan
arah aliran gas bekas ( gb 11.4 a ) Pembersihan kantong juga bisa dilakukan dengan cara
menggoyang- goyangkan salah satu ujung kantong ( gb 11.4 b ) Dengan demikian kotoran akan
terlepas dan jatuh kedalam penampung abu.

154


Gb 11.3 I nstalasi Electrostatic Precipitator

Diperlukan jumlah katong yang sangat banyak, untuk menghindari besarnya turun tekanan (
pressure drop ), yaitu kurang lebih sebanyak 20 kantong per MW, sehingga untuk unit dengan
kapasitas 100 MW diperlukan sejumlah 2000 kantong.

Gb.11.4 Prinsip kerja pembersih gas bekas jenis Bag Filter

155

Sulfur Dioxida ( SO
2
).
Ada tiga jenis cara pencegahan emisi gas belerang atau Sulfur Dioxida yang mengalir
bersama gas bekas yaitu:
1) Memilih bahan bakar yang mengandung kadar belerang rendah.
2) Menggunakan pembersih gas belerang pada saluran gas bekas yang disebut dengan
nama Flue Gas Desulfurization.
3) Menggunakan boiler jenis Fluidized Bed.
Bahan bakar yang memiliki kadar belerang rendah diantaranya adalah gas alam. Gas alam
dapat dieroleh dari sumur sumur gas secara langsung melalui pipa penyalur atau dari kapal
pengangkut yang mengangkut gas tersebut dalam bentuk yang sudah dicairkan. Gas yang sudah
dicairkan ini dikenal dengan sebutan Liquified Natural Gas yang disingkat dengan LNG.
Flue Gas Desulfurisation terdiri dari dua type yaitu type basah dan type kering. Dengan type
basah diartikan bahwa penangkapan kadar belerang didalam gas bekas menggunakan banyak air,
sedang dengan jenis kering boleh dikata tidak menggunakan air sama sekali.
Dengan type basah ( gb 11.5 ) gas bekas dilewatkan pada 3 bagian utama yaitu:
1) Bagian pembasahan. Disini gas bekas yag bergerak dari bawah keatas mendapat
pendinginan dan pembasahan dari kabut air yang disemprotkan kedalamnya. Dengan
demikian kadar belerang yang masih berupa gas berubah menjadi embun dan larut
kedalam butir butir air.
2) Bagian penangkapan. Kadar belerang yang telah larut kedalam butir butir air ditangkap
dengan menginjeksikan larutan batu kapur ( calsium ). Larutan batu kapur ( calsium ) akan
bereaksi dengan belerang ( SO
2
atau SO
3
) menjadi Calsium Sulfat ( CaSO
4
) atau yang
dikenal dengan gibsum, dimana selanjutnya larutan gibsum ini dapat diproses lebih lanjut
menjadi bahan bangunan.
3) Bagian pembuangan kadar air ( mist eliminator ). Gas bekas setelah melalui kedua bagian
diatas akan mengalami kebasahan, karena itu kadar air yang ada harus ditangkap dan
dibuang keluar. Untuk tujuan ini diperlukan lapisan serat fiber glass atau serat nilon yang
berguna untuk menangkap uap air dan melewat-kan gas keringnya.
FGD type basah memiliki beberapa keuntungan antara lain:
- Dapat untuk segala jenis bahan baker dengan kadar belerang rendah sampai tinggi.
- Bahan penangkap relatip harganya murah.
- Effisiensi penangkapan tinggi sampai 90%.
156

Adapun kerugiannya antara lain adalah:
- Menghasilkan banyak kotoran berupa lumpur gibsum.
- Lumpur merupakan suatu benda yang sulit ditangani
- Jika lumpur gibsum tidak diolah lebih lanjut, diperlukan tempat pembuangan tersendiri.

Gb 11.5 Flue Gas Desulfurisation type basah.
FGD type kering tidak menggunakan proses pembasahan / pendinginan gas bekas. Larutan
batu kapur langsung dikabutkan kedalam laluan gas bekas yang masih panas, sehingga bagian air
didalam larutan tersebut menguap dan batu kapur membentuk butiran butiran padat dan menyerap
gas SO
2
dan SO
3
membentuk butiran Calsium sulfat. Selanjutnya butiran butiran Calsium sulfat ini
ditangkap pada Elektrostatic Presipitator atau bagfilter dan dikeluarkan dari aliran gas bekas
sebagaimana proses penangkapan partikel padat
FGD type kering adalah lebih sederhana dibanding type basah, tetapi tidak cocok untuk
jenis batubara yang berkadar belerang tinggi.




157

DAFTAR REFERENSI
1. Habib Rochani ; EFFISIENSI DAN KEANDALAN PLTU.
2. I, SHVETS, THERMAL ENGINEERING, Peace Publishers - Moscow, TECHNICAL.
3. Prof.VV.Sushkov, THERMODYNAMICS, Peace Publishers - Moscow.
4. MODERN POWER STATION PRACTICE, British Electricity International Ltd.
5. Fritz Dietzel, DAMPFTURBINEN, Carl Hauser Verlag, Monchen Wien 1980.
6. P.R.Khajuria, GAS TURBINES, THEORY, DESIGN & APPLICATION Dhanpat Roi &
Sous, Delhi 6 India.
7. GE TURBINE STATE OF THE ART TECHNOLOGY SEMINAR, August 1996.
8. Woodruff, Lammers, & Lammers, STEAM PLANT OPERATION, Mc Graw Hill.
9. W501D5A GAS TURBINE INSTRUCTION MANUAL, Westing House USA.
10. LM2500 GAS TURBINE INSTRUCTION MANUAL, GE, USA.
11. Ir. Abdul Kadir, ENERGY; SUMBER DAYA, INOVASI, TENAGA LISTRIK DAN
POTENSI EKONOMI.
12. Eshbach, HANDBOOK OF ENGINEERING FOUNDAMENTAL, Wiiley Handbook Serries,
New York.
13. Joseph G Sniger, P.E, COMBUSTION FOSSIL POWER, COMBUSTION ENGINEERING,
Inc, Windsor Connecticut 06095.


















158

XII
L A M P I R A N

DIAGRAM MOLLIER
( DIAGRAM H-S UNTUK UAP )

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful