P. 1
GULMA PADA TANAMAN KEDELAI DAN CARA MENGATASINYA

GULMA PADA TANAMAN KEDELAI DAN CARA MENGATASINYA

|Views: 3,794|Likes:
gulma dan cara pengendaliannya pada tanaman kedelai
gulma dan cara pengendaliannya pada tanaman kedelai

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Arghya Narendra Dianastya on Apr 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2014

pdf

text

original

MAKALAH

GULMA DAN CARA PENGENDALIANNYA PADA TANAMAN KEDELAI

Oleh : ARGHYA NARENDRA DIANASTYA (111510501105) (Mahasiswa S-1 Penerima Beasiswa Unggulan P.S Agroteknologi Fakultas Pertanian UNEJ)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2012

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kedelai merupakan bahan baku pembuatan tahu, tempe, dan kecap bagi industri pengolahan pangan di Indonesia. Tingkat kebutuhan konsumsi kedelai mencapai lebih dari 2,24 juta ton tiap tahunnya. Namun pada kenyataannya, kapasitas produksi nasional tahun 2000 hanya mampu menghasilkan 1,19 juta ton dari areal pertanaman kedelai seluas 967.002 hektar. Sehingga, terjadi ketergantungan suplai kedelai impor setiap tahunnya yang bisa mencapai di atas 1,16 juta ton. Sementara tahun 1998, Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 343.124 ton. Lonjakan importasi kedelai disebabkan peningkatan konsumsi, sehingga menghabiskan devisa sebanyak 200 - 300 juta US$ setahunnya. Konsumsi kedelai oleh masyarakat Indonesia dipastikan akan terus meningkat setiap tahunnya mengingat beberapa pertimbangan, seperti bertambahnya populasi penduduk, peningkatan pendapatan per kapita, dan kesadaran masyarakat akan gizi makanan. Dibandingkan protein hewani, protein yang berasal kedelai adalah murah dan terjangkau oleh kebanyakan masyarakat. Kedelai merupakan sumber protein rendah kolesterol, sehingga kedelai dapat dijadikan alternatif di tengah merebaknya kolesterol. Permasalahannya ialah bahwa sampai saat ini negara Indonesia masih mengimpor kedelai, sedangkan kita tahu kalau lahan di Indonesia cukup luas untuk ditanami kedelai. Meskipun setiap tahunnya terjadi peningkatan produksi kedelai nasional, tetapi tetap tidak dapat menyusul laju permintaan kedelai dalam negeri. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya produktivitas tanaman yang hanya 1,1 ton/ha dan laju peningkatan jumlah penduduk yang tinggi. Produktivitas kedelai Indonesia masih rendah. Hal itu disebabkan oleh pemakaian benih asalan, penerapan tenologi yang kurang khususnya petani desa, teknik budidaya yang kurang baik, serta teknik pengendalian OPT yang masih kurang. Semua faktor tersebut sangat memengaruhi produktivitas kedelai, namun yang menjadi masalah utama dalam budidaya kedelai ialah adanya OPT. Serangan OPT akan menurunkan produktivitas tanaman kedelai. Organisme pengganggu tanaman kedelai sangat banyak dan bervariasi. Namun, yang paling penting ialah keberadaan gulma di sela tanaman kedelai. Gulma adalah spesies tanaman yang masih sulit dikendalikan karena gulma mudah tumbuh kapan saja, sehingga sangat sulit untuk mengatasi keberadaan gulma yang menjadi pesaing tanaman kedelai. Keberadaan gulma diantara tanaman budidaya dapat menjadi pengganggu karena gulma dapat menurunkan prouktivitas tanaman kedelai. Besarnya tingkat

kerugian akibat persaingan tanaman kedelai dengan gulma sangat bervariasi, tergantung pada populasi dan macam spesies gulma yang ada diantara tanaman budidaya tersebut. Gulma yang sering dijumpai di pertanaman kedelai dan termasuk kategori noxious weed (gulma berbahaya dan sangat merugikan), serta sulit dikendalikan oleh herbisida maupun penyiangan, yaitu alang-alang dan teki. Oleh karena gulma sangat merugikan bagi manusia karena mampu menurunkan produktivitas tanaman kedelai, maka diperlukan pengendalian gulma secara baik dan benar serta efisien.

1.2 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain untuk : 1. Mengetahui spesies gulma pada pertanaman kedelai; 2. Mengetahui pengaruh keberadaan gulma pada pertanaman kedelai; 3. Mengetahui pengendalian gulma pada pertanaman kedelai.

1.3 Manfaat Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu agar mahasiswa dapat memahami tentang berbagai macam gulma pada tanaman kedelai dan pengaruhnya bagi produktivitas tanaman serta tehnik pengendalian yang baik, benar, dan efisien.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Organisme pengganggu tanaman atau sering disingkat OPT merupakan organisme-organisme yang dapat merusak tanaman baik secara langsung ataupun tidak langsung. Kerusakan tersebut dapat menimbulkan kerugian baik dari segi kualitas ataupun kuantitas panen, sehingga merugikan secara ekonomi. Untuk menghindari kerugian karena serangan OPT, tanaman harus dilindungi dengan cara mengendalikan OPT tersebut. Dengan istilah "mengendalikan", OPT tidak harus diberantas habis. Apabila usaha pengendalian kerusakan karena OPT ditekan serendah mungkin, maka secara ekonomis akan menguntungkan (Djojosumarto, 2004). Organisme penggangu tanaman banyak macamnya. Bila ditinjau dari sifatnya ada dua, yaitu penggangu biorik dan abiotik, sedangkan bila ditinjau dari jenisnya ada tiga yaitu hama, patogen, dan gulma. Gulma adalah spesies tumbuhan yang menjadi pesaing tanaman budidaya. Menurut Rao dalam Budi (2009), gulma dapat menjadi kompetitor dan merupakan faktor pembatas penting bagi produktivitas kedelai. Besarnya tingkat kerugian akibat persaingan dengan gulma sangat bervariasi bergantung pada populasi dan macam spesies gulma yang ada (Polosakan dalam Budi, 2009). Gulma yang sering dijumpai di pertanaman kedelai dan termasuk kategori noxious weed (gulma berbahaya dan sangat merugikan) serta sulit dikendalikan oleh herbisida maupun penyiangan, yaitu alang-alang dan teki. Berdasarkan pengertian gulma di atas, maka terdapat dua kelompok pengertian gulma, yaitu gulma yang berifat subyektif dan umum. Gulma yang bersifat subyektif (berdasarkan kepentingan manusia/Anthroposentris) ialah tumbuhan yang salah tempat, tumbuhan yang tidak diinginkan, tumbuhan yang tidak dikehendaki, tumbuhan yang tidak diusahakan, tumbuhan yang merugikan, tumbuhan tidak sedap dipandang mata, tumbuhan yang mempunyai nilai negatif lebih besar daripada nilai positifnya, serta umbuhan yang belum diketahui manfaatnya. Bila ditinjau dari sifat umumnya, gulma adalah tumbuhan yang telah beradaptasi dengan habitat buatan dan menimbulkan gangguan terhadap segala aktivitas manusia karena berkaitan dengan budidaya tanaman. Gulma adalah tumbuhan yang keberadaannya dapat menimbulkan gangguan dan kerusakan bagi

tanaman budidaya maupun aktivitas manusia dalam mengelola usahataninya (Kastono, 2004). Pembagian spesies gulma dapat didasarkan dari sifat morfologi, daur hidup, habitat, cara tumbuh, dan struktur batang. Spesies gulma berdasarkan sifat morfologi dibagi menjadi tiga, yaitu : a. Grasses (rumputan) termasuk famili Gramineae; b. Sedges (tekian) termasuk famili Cyperaceae; c. Broadleaf weeds (daun lebar) yaitu selain rumputan dan tekian. Rerumputan dan tekian memiliki beberapa persamaan, yaitu termasuk tumbuhan monokotil, akar serabut, batang tidak bercabang, titik tumbuh tidak selalu muncul (kelihatan), daun berbentuk pita atau garis. Sedangkan perbedaannya ialah pada batang. Batang teki berbentuk segitiga, sehingga apabila suatu spesies gulma berbatang segitiga, maka itu termasuk golongan teki. Berdasarkan daur hidup atau umur, gulma dibagi menjadi tiga golongan, yaitu 1. Annual weeds (gulma semusim) Gulma semusim adalah gulma yang umurnya kurang dari setahun. Umumnya, organ perbanyakannya menggunakan biji karena produksi biji melimpah. Contohnya ialah Eleusine indica, Cyperus iria, dan Phyllanthus nirur. 2. Biennial weeds (gulma dua musim) Gulma dua musim ialah spesies gulma yang memiliki umur 1-2 tahun, tahun pertama membentuk organ vegetatif dan tahun kedua menghasilkan biji. Contohnya ialah Typhonium trilobatum dan Cyperus difformis. 3. Perennial weeds (gulma tahunan) Gulma tahuna adalah spesies gulma yang berumur lebih dari 2 tahun. Biasanya perbanyakannya secara vegetatif dan generatif. Organ vegetatif bersifat dominansi apikal yaitu cenderung tumbuh pada ujung, bila organ vegetatif terpotong-potong, maka semua tunasnya mampu tumbuh. Contohnya ialah Imperata cyllindrica, Chromolaena odorata, dan Cyperus rotundus. Berdasarkan habitat atau tempat tumbuh, gulma dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Terrestrial weeds (gulma darat)

Gulma darat ialah spesies gulma yang tumbuh di lahan kering dan tidak tahan genangan air. Contohnya oalah Axonopus compressus, Ageratum conyzoides, dan Cyperus rotundus. 2. Aquatic weeds (gulma air) Gulma air adalah spesies gulma yang sebagian atau seluruh daur hidupnya di air, umumnya bila kekeringan gulma tersebut akan mati. Contohnya ialah Pistia stratiotes (Floating Weeds), Monochoria vaginalis (Emergent Weeds), Ceratophyllum demersum (Submergent Weeds), dam Polygonum piperoides (Marginal Weeds). Berdasarkan tipe atau cara tumbuhnya, gulma dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu : 1. Erect / tumbuh tegak, misalnya Boerhavia erecta 2. Creeping / tumbuh menjalar, misalnya Paspalum conjugatum 3. Climbing / memanjat, misalnya Meremia hirta Berdasarkan struktur batangnya, gulma dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu : 1. Herba atau tidak berkayu, misalnya Panicum repens 2. Vines atau sedikit berkayu, misalnya Mikania micrantha 3. Woody weeds atau berkayu: Kerugian yang timbul akibat gulma relatif besar karena dengan adanya penurunan hasil kedelai hingga sebesar 19-53% (Erida dan Hasanuddin, 1996) dan bahkan penurunan hasil dapat mencapai 80% (Moenandir, 1985). Hal ini terjadi sebagai akibat adanya kompetisi cahaya, air, unsur hara dan ruang tumbuh antara gulma dan kedelai, dan gulma dapat juga sebagai inang hama penyakit (Sastroutomo, 1990; Moenandir, 1993). Beberapa jenis gulma penting pada budidaya kedelai setelah padi ialah Eleusine indica, Amaranthus spinosus, Cynodon dactylon, dan Portulaca oleraceae. Pada pertanian konvensional, pengendalian gulma pada pertanaman kedelai dapat dilakukan melalui pengolahan tanah dan penyiangan atau pengendalian manual, tetapi pengolahan tanah secara konvensional memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Pada tanah dengan tekstur lempug berpasir, lempung berdebu, dan liat, kedelai yang dibudidayakan tanpa olah tanah memberikan hasil yang sama tingginya dengan yang dibudidayakan dengan pengolahan tanah konvensional (Widiyati et al. 2001 dalam Fadhly, 2004).

Umumnya, gulma pada pertanaman kedelai tanpa induksi olah tanah dapat dikendalikan dengan herbisida. Sebelum kedelai ditanam, herbisida disemprotkan untuk mematikan gulma yang tumbuh diareal pertanaman atau biasa disebut pengendalian pratumbuh. Kemudian, setelah kedelai tumbuh, gulma masih perlu dikendallikan untuk melindungi tanaman. Pengendalian pada fase ini dapat dilakukan dengan cara manual seperti penyiangan dengan tangan, penggunaan alat mekanis, dan secara kimiawi dengan penyemprotan herbisida. Akan tetapi, penggunaan herbisida secara berlebihan akan merusak lingkungan. Untuk menekan atau meniadakan dampak negatif penggunaan herbisida terhadap lingkungan, penggunaannya perlu dibatasi degan memadukan dengan cara pengendalian lainnya (Fadhly et al, 2004). Kehadiran gulma dalam siklus hidup tanaman tidak selalu berpengaruh negatif terhadap tanaman budidaya. Dalam hal ini, terdapat suatu periode dimana tanaman budidaya peka terhadap kehadiran gulma di dalam lingkungan hidup tumbuh tanaman. Periode waktu ini umumnya dikatakan sebagai periode kritis. Pada periode atau selang waktu tersebut tanaman sangat peka terhadap kecaman dari lingkungan, baik ruang tumbuh, unsur hara, air atau cahaya matahari. Oleh sebab itu, pada periode kritis tersebut kehadiran gulma akan sangat mengganggu tanaman, dan apabila tanaman kalah bersaing dalam memanfaatkan faktor-faktor lingkungan tersebut maka produksi akhir tanaman akan sangat menurun. Pada periode inilah gulma harus dikendalikan agar tidak mengganggu siklus hidup dan metabolisme tanaman budidaya. Pengetahuan mengenai periode kritis tanaman yang akan dibudidayakan memiliki kolerasi yang positif terhadap persaingan gulma. Sehingga, pengetahuan ini merupakan salah satu langkah yang penting dalam menyusun rencana pengendalian yang tepat, efektif dan efisien.

BAB 3. PEMBAHASAN

Kedelai adalah tanaman penghasil protein yang paling murah, sehingga mampu memenuhi kebutuhan protein masyarakat bawah. Namun, walaupun murah ternyata Indonesia belum mampu memenuhi kebebutuhan kedelai nasional, sehingga kebutuhan tersebut masih dipenuhi dengan impor. Masalahnya ialah gangguan gulma pada lahan pertanaman kedelai yang mengakibatkan produktivitas kedelai menurun. Gulma adalah tanaman pengganggu yang menjadi pesaing bagi tanaman budidaya dalam memperebutkan hara, ruang tumbuh, cahaya, air, dan karbondioksida. Adanya persaingan tersebut mengakibatkan pertumbuhan tanaman kedelai akan menurun, sehingga produksinya pun menurun. Persaingan antara gulma dan tanaman kedelai dapat dinyatakan dengan derajat persaingan yang akan berpengaruh terhadap baik buruknya pertumbuhan tanaman pokok yang pada akhirnya berpengaruh pada hasil dari tanaman pokok tersebut.

Besar kecilnya persaingan antara gulma dan tanaman pokok di dalam memperebutkan air, hara, cahaya dipengaruhi beberapa faktor, yaitu : 1. Kerapatan gulma Semakin rapat gulma yang ada diantara tanaman kedelai, maka persaingan yang terjadi antar keduanya akan semakin hebat, sehingga pertumbuhan tanaman menurun dan berakibat pada hasil yang juga menurun. 2. Macam gulma Setiap gulma memiliki kemampuan bersaing masing-masing, sehingga hambatan terhadap pertumbuhan tanaman kedelai akan berbeda dan hasil dari tanaman kedelai pun juga berbeda. 3. Waktu kemunculan gulma Semakin awal saat kemunculan gulma, maka persaingan yang terjadi semmakin hebat yang berakibat pertumbuhan tanaman menurun , sehingga hasilnya juga menurun. 4. Lama keberadaan gulma atau periode kompetisi Semakin lama gulma bersaing dengan tanaman pokok, maka semakin besar penurunan hasil pada tanaman pokok karena persaingannya semakin hebat dan pertumbuhan tanaman pokok semakin menurun

5. Kecepatan tumbuh gulma Semakin cepat pertumbuhan gulma, maka semakin cepat pula persaingannya. Akibatnya pertumbuhan tanaman menurun dan hasilnya juga menurun. 6. Habitus gulma Gulma yang lebih tinggi dan daunnya lebih lebar serta lebih dalam dan luas akarnya, maka kemampuan bersaingnya lebih besar, sehingga pengaruhnya cukup besar bagi pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil yang besar pula. 7. Jalur fotosintesis gulma (C3 atau C4) Gulma yang memiliki jalur fotosintesis C4 lebih efisien, sehingga persaingannya lebih hebat. Akibatnya pertumbuhan tanaman menurun dan hasilnya juga menurun. 8. Allelopati Bagi gulma yang mampu mengeluarka allelopat atau senyawa beracun, maka kemampuan bersaingnya sangat besar, sehingga dapat menurunkan produktivitas dan hasil yang besar pula. Gulma setiap pertanaman berbeda-beda dan memiliki daya bersaing yang berbeda pula. Akibatnya penurunan hasil pada tanaman kedelai juga berbeda. Namun, apabila jumlah spesies gulma dalam pertanaman kedelai cukup banyak, maka tingkat penurunan hasil semakin besar. Biasanya dalam setiap pertanaman tanaman memiliki jenis gulma yang berbeda dan tingkat pengaruh yang berbeda pula. Beberapa jenis gulma penting pada budidaya kedelai setelah suatu lahan ditanami padi ialah Eleusine indica, Amaranthus spinosus, Cynodon dactylon, dan Portulaca oleraceae. Selain itu, terdapat gulma lain pada pertanaman kedelai, namun pengaruhnya tidak cukup besar. Gulma tersebut ialah Pistia stratiotes (Kayu apu), Portulaca oleraceae (Krokot), Salvinia molesta (Jukut cai), Marsilea crenata (Semanggi), Ageratum conyzoides (Babadotan), Echinochloa colona (Tuton), Echinochloa crusgalli (Jajagoan), Pasphalum distichum (kakawatan). Jenis gulma pada pertanaman kedelai cukup banyak, sehingga hal utama yang perlu dilakukan ialah adanya pengendalian. Pengendalian gulma dilakukan karena gulma mampu menurunkan hasil sampai 80%. Nilai tersebut sangat tinggi karena akan mengakibatkan defisiensi kedelai di Indonesia. Semakin tinggi kemampuan bersaing suatu gulma, maka semaki besar tingkat penurunan hasilnya bahkan bisa gagal panen. Oleh karena itu, hal utama yang harus dilakukan ialah dilaksanaknnya pengendalian terhadap serangan gulma.

Keberhasilan pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penentu tercapainya tingkat hasil kedelai yang tinggi. Gulma dapat dikendalikan melalui berbagai aturan dan karantina. Secara biologi pengendalian gulma degan menggunakan organisme hidup. Sedangkan secara fisik, pengendalian gulma dengan membakar dan menggenagi, melalui budidaya dengan pergiliran tanaman, penigkatan daya saing dan penggunaan mulsa. Secara mekanis, pengendalian gulma dapat dilakukan dengan mencabut, membabat, menginjak, menyiangi dengan tangan, dan mengolah tanah dengan alat mekanis bermesin dan nonmesin. Sedangkan secara kimiawi, pengendalian gulma dilakukan dengan menggunakan herbisida. Gulma pada pertanaman kedelai umumnya dikendalikan dengan cara mekanis dan kimiawi. Pengendalian gulma secara kimiawi berpotensi merusak lingkungan, sehingga perlu dibatasi memalui pemaduan dengan cara pengendalian lainya. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan zat kimia berupa kerusakan tanah, matinya organisme buka target, polusi air, serta menggangu kesehatan baik hewan maupun manusia. Oleh karean itu, diperlukan pengendalian yang efektif, efisien, dan tidak berbahaya. Pengendalian gulma dapat berbentuk pencegahan dan pemberantasan. Mencegah biasanya lebih murah, tetapi tidak selalu lebih mudah. Sehingga diperlukan konsep yang mudah dan murah untuk mengatasi keberadaan gulma. Pengendalian gulma pada pertanaman kedelai dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : 1. Preventif (pencegahan) Pencegahan adalah suatu cara yang ditujukan terhadap spesies-spesies gulma yang sangat merugikan dan belum tumbuh pada pertanaman kedelai. Sehingga, terdapat beberapa cara untuk mencegah masuknya gulma tersebut, yaitu: a. pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma; b. pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang; c. pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumput makanan ternak; d. pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan; e. pencegahan pengangkutan tanaman beserta tanahnya. Apabila hal-hal tersebut di atas tidak dapat dilaksanakan dengan baik, maka kemampuan gulma tumbuh akan kecil, sehingga daya saingnya juga kecil dengan tanaman kedelai. Selain itu, hal yang perlu dilakukan ialah mencegah agar gulma

tidak berbuah dan berbunga. Di samping itu, perlu dilakukan pencegahan pada gulma tahunan (perennial weeds) agar tidak dapat berbiak, terutama dengan cara vegetatif. 2. Pengendalian gulma secara fisik Pengendalian gulma secara fisik dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya ialah sebagai berikut : a. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dengan menggunakan alat-alat seperti cangkul, garu, bajak, serta traktor juga berfungsi untuk memberantas gulma. Efektifitas alat-alat pengolah tanah di dalam memberantas gulma tergantung dari beberapa faktor, seperti siklus hidup dari gulma, penyebaran akar, umur dan ukuran gulma, serta jenis dan topografi tanah dan iklim. b. Pembabatan Pembabatan umumnya hanya efektif untuk mematikan gulma setahun dan relatif kurang efektif untuk gulma tahunan. Efektivitas cara tersebut tergantung pada waktu pemangkasan, interval atau ulangan dan sebagainya. Pembabatan biasanya dilakukan di perkebunan yang mempunyai tanaman berupa pohon atau tanaman lain yang berukuran besar. Pembabatan sebaiknya dilakukan pada waktu gulma menjelang berbunga atau pada waktu daunnya sedang tumbuh dengan hebat. c. Penggenangan Penggenangan efektif untuk memberantas gulma tahunan. Caranya dengan menggenangi sedalam 15 - 25 cm selama 3 - 8 minggu. Gulma yang digenangi harus cukup terendam, karena bila sebagian daunnya muncul di atas air maka gulma tersebut umumnya masih dapat hidup. d. Pembakaran Pembakaran secara terbatas masih sering dilakukan untuk membersihkan tempattempat dari sisa-sisa tumbuhan setelah dipangkas. Pembakaran umumnya banyak dilakukan pada tanah-tanah yang non pertanian, seperti di pinggir-pinggir jalan, pinggir kali, hutan dan tanah-tanah industri. Keuntungan pembakaran untuk pemberantasan gulma dibanding dengan pemberantasan secara kimiawi adalah pada pembakaran tidak terdapat efek residu pada tanah dan tanaman. Keuntungan lain dari pembakaran ialah ihama dan patogen juga mati. Namun, keburukan dari pembakaran ialah bahaya kebakaran bagi sekelilingnya, mengurangi kandungan humus atau mikroorganisme tanah,

dapat memperbesar erosi, biji-biji gulma tertentu tidak mati, serta asapnya dapat menimbulkan alergi. e. Mulsa (penutup seresah) Penggunaan mulsa dimaksudkan untuk mencegah agar cahaya matahari tidak sampai ke gulma, sehingga gulma tidak dapat melakukan fotosintesis, akhirnya akan mati dan perkecambahannya dapat dicegah. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mulsa antara lain jerami, pupuk hijau, sekam, serbuk gergaji, kertas dan plastik.
3. Pengendalian gulma dengan sistem budidaya

Cara pengendalian ini juga disebut pengendalian secara ekologis dikarenakan menggunakan prinsip-prinsip ekologi, yaitu mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan pertanaman, tetapi merugikan bagi gulmanya. Di dalam pengendalian gulma dengan sistem budidaya ini terdapat beberapa cara yaitu : a. Pergiliran Tanaman Pergiliran tanaman bertujuan untuk mengatur dan menekan populasi gulma dalam ambang yang tidak membahayakan. Contoh : padi - tebu - kedelai, padi -padi tembakau. Setiap tanaman tertentu memiliki jenis gulma yang berbeda dikarenakan setiap gulma akan tumbuh pada kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya. Misalnya gulma teki (Cyperus rotundus) yang sering menjadi pengganggu pertanaman tanah kering yang berumur setahun, seperti tomat, cabe, dan kedelai. Namun, dengan pergiliran tanaman, kondisi mikroklimat akan dapat berubah-ubah, sehingga hidup gulma tidak akan teratur. b. Budidaya pertanaman Penggunaan varietas tanaman yang cocok untuk suatu daerah merupakan tindakan yang sangat membantu mengatasi masalah gulma. Penanaman rapat agar tajuk tanaman menutupi seluruh ruang kosong merupakan cara yang efektif untuk menekan pertumbuhan gulma. Pemupukan yang tepat merupakan suatu cara untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, sehingga mempertinggi daya saing pertanaman terhadap gulma. c. Pemberian naungan dengan tumbuhan penutup (cover crops) Adanya tanaman penutup tanah mengakibatkan pertumbuhan gulma menurun karena ruang tumbuhnya semakin sempit. Sehingga, persaingan antara tanaman pokok dengan gulma semakin kecil. Akibatnya, produksi semakin meningkat. 4. Pengendalian gulma secara biologis

Pengendalian gulma secara biologis (hayati) ialah pengendalian gulma dengan menggunakan organisme lain, seperti insekta, fungi, ternak, ikan. Pengendalian biologis yang paling intensif ialah dengan menggunakan insekta atau fungi. Organisme tersebut biasanya hanya ditujukan terhadap suatu spesies gulma yang telah menyebar secara luas. Contoh pengendalian biologis dengan insekta ialah pengendalian kaktus Opuntia spp. di Australia dengan memakai Cactoblastis cactorum, dan pengendalian Salvinia sp. dengan memakai Cyrtobagous singularis. Demikian pula dengan eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang dapat dikendalikan secara biologis dengan kumbang penggerek Neochetina bruchi dan Neochetina eichhorniae. Sedangkan jamur atau fungi yang berpotensi dapat mengendalikan gulma secara biologis ialah Uredo eichhorniae untuk eceng gondok, Myrothesium roridum untuk kiambang, dan Cerospora spp. untuk kayu apu. 5. Pengendalian gulma secara kimiawi Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Herbisida adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma, baik secara selektif maupun non selektif. Terdapat berbagai macam herbisida yang dapat dipilih secara kontak maupun sistemik. Selain itu, penggunaannya bisa pada saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif, terutama untuk areal yang luas. Namun kerugian penerapan cara tersebut ialah bahaya keracunan tanaman dan mempunyai efek residu terhadap alam. Dikarenakan pengendalian gulma secara kimiawi sangat berbahaya, maka cara tersebut harus dijadikan pilihan terakhir apabila cara lain tidak mampu mengatasi.
6. Pengendalian gulma secara terpadu

Pengendalian gulma secara terpadu yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Cara tersebut ialah gabungan dari bebagai cara yang diharapkan akan lebih efektif dan efisien dalam mengatasi keberadaan gulma diantara pertanaman budidaya.

BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan Gulma adalah spesies tanaman kedelai yang sampai saat ini masih menjadi masalah yang serius. Hal itu dikarenakan tanaman kedelai memiliki sifat pertumbuhan yang relatif lambat, sehingga kurang dapat bersaing dengan gulma. Oleh karena itu, lahan budidaya kedelai harus bebas dari gulma selama waktu tanam. Gulma yang terdapat pada tanaman kedelai meliputi, gulma rumputruputan, gulma teki-tekian dan gulma berdaun lebar. Contohnya ialah Eleusine indica, Amaranthus spinosus, Cynodon dactylon, Portulaca oleraceae , Pistia stratiotes (Kayu apu), Portulaca oleraceae (Krokot), Salvinia molesta (Jukut cai), Marsilea crenata (Semanggi), Ageratum conyzoides (Babadotan), Echinochloa colona (Tuton), Cynodon dactylon (Griting), Echinochola crus-galli (Jajagoan). Teknik pengendalian gulma pada tanaman kedelai dapat dilakukan dengan cara preventif, fisik, sistem budidaya, mekanik, kultur teknis, biologi, dan kimia (herbisida), dan pengendalian terpadu.

4.2 Saran Makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi penulisan maupun dari segi isinya, sehingga mohon dikritik dan diberikan saran yang bersifat membangun dari bapak untuk menyempurnakan makalah kelompok kami ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ashton, F. M. adnd T. J. Monaco. 1991. Weed Science: Principles and Pratice. 3rd Ed. John Wiley and Sons, Inc.: New York. 466 p.

Budi, Gayuh P. dan Oetami Dwi H. 2009. Kemampuan Kompetisi beberapa Varietas Kedelai (Glycine max) terhadap Gulma Alang-alang (Imperata cylindrica) dan Teki (Cyperus rotundus). Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah, 17 (2): 127-132.

Effendi, S. 1977. Bercocok Tanam Jagung. CV. Yasaguna, Jakarta. 95 hal Klingman, G.C. 1965. Crop Production in the South. John Willey and Sons, Inc. London. pp. 350-360.

Eprim, Yeheskiel Sah. 2006. Periode Kritis Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Terhadap Kompetisi Gulma Pada Beberapa Jarak Tanam di Lahan Alang-alang (Imprata cylindrica (L.)Beauv.). Skripsi. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Fadhly, A.F. dan Tabri, F. 2004. Pengendalian Gulma pada Pertanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. Goldsworthy, P. R. dan N.M. Fischer. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. 874 hal.

Pitojo, setijo.2007. Seri Pengakaran:Benih Kedelai. Yogyakarta: Kanisius

Sudarmo, RM. 1997. Pengendalian Serangga Hama Sayuran dan Palawija. Jakarta: Kanisius.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->