P. 1
ANALISA SEDERHANA SIFAT FISIKA, BIOLOGI, DAN KIMIA TANAH MELALUI ANALISA LABORATORIUM

ANALISA SEDERHANA SIFAT FISIKA, BIOLOGI, DAN KIMIA TANAH MELALUI ANALISA LABORATORIUM

|Views: 594|Likes:
analisa skala laboratorium untuk menguji sifat dan kualitas tanah secara kimia, fisika, dan biologi
analisa skala laboratorium untuk menguji sifat dan kualitas tanah secara kimia, fisika, dan biologi

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Arghya Narendra Dianastya on Apr 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2014

pdf

text

original

ANALISA SEDERHANA SIFAT FISIKA, BIOLOGI, DAN KIMIA TANAH MELALUI ANALISA LABORATORIUM

Disusun Oleh : ARGHYA NARENDRA DIANASTYA (111510501105) (Mahasiswa Penerima Beasiswa Unggulan S-1 PS. Agroteknologi Fakultas Pertanian UNEJ)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Setiap orang berkepentingan terhadap tanah. Tanah sebagai sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai macam aktivitas guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanah sebagai sumberdaya yang digunakan untuk keperluan pertanian dapat bersifat sebagai sumberdaya yang dapat pulih (reversible) dan dapat pula sebagai sumberdaya yang dapat pulih atau habis. Dalam usaha pertanian tanah mempunyai fungsi utama sebagai sumber penggunaan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, dan sebagai tempat tumbuh dan berpegangnya akar serta tempat penyimpan air yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup tumbuhan. Pada awal budidaya pertanian, hara yang diperlukan untuk produksi tanaman hanya mengandalkan sumber alami dari tanah, baik yang bersumber dari bahan organik dan dari bahan mineral tanah, tanpa adanya pasokan hara dari luar. Petani peladang berpindah memilih tanah sebagai tempat usahanya hanya mendasarkan pada tebal tipisnya lapisan humus dan ketersediaan airnya saja. Setelah hara setempat habis atau produktivitasnya menurun, mereka pergi meninggalkan tempat usahanya untuk mencari lahan yang baru yang mempunyai lapisan humus tebal yang relatif lebih produktif, sehingga akan memberikan harapan terhadap ketersediaan hara untuk budidaya pertanian berikutnya. Sejak manusia melakukan pertanian menetap, mulailah petani mengupayakan pengelolaan kesuburan tanah, yaitu dengan penambahan bahan organik untuk memulihkan kembali status hara dalam tanah. Perkembangan selanjutnya tidak terbatas pada penggunaan pupuk organik, namun juga dengan penggunaan pupuk buatan. Pada tahun enampuluhan terjadilah biorevolosi di bidang pertanian, yang dikenal sebagai revolosi hijau yang telah berhasil merubah pola pertanian dunia secara spektakuler. Petani mulai berpaling meninggalkan penggunaan pupuk organik, berubah ke penggunaan pupuk buatan yang berkonsentrasi hara tinggi. Dengan revolosi hijau tersebut, produksi pangan dunia

meningkat dengan tajam, sehingga telah berhasil mengatasi kekhawatiran dunia akan adanya krisis pangan dalam dua-tiga dasawarsa terakhir. Peningkatan produksi pangan tersebut disebabkan pola input intensive atau teknologi masukan tinggi yang salah satunya dicirikan dengan penggunaan agrokimia yang berupa penggunaan pupuk buatan dan pestisida yang tinggi, dan penggunaan varietas unggul yang dicirikan oleh umur pendek dengan hasil tinggi, sehingga terjadi pengurasan hara dalam kurun waktu yang pendek relatif tinggi. Akibat dari perubahan pola budidaya ini, menyebabkan kebutuhan pupuk dunia melonjak sangat pesat dari tahun ke tahun termasuk Indonesia. Di Indonesia, sejak tahun 1968 terjadi peningkatan kebutuhan pupuk buatan secara tajam. Penggunaan pupuk buatan yang berkonsentrasi tinggi yang tidak proporsional ini, akan berdampak pada penimpangan status hara dalam tanah, sehingga akan memungkinkan terjadinya kekahatan hara lain. Di samping itu, petani mulai banyak yang meninggalkan penggunaan pupuk organik baik yang berupa pupuk hijau ataupun kompos, dengan anggapan penggunaan pupuk organik kurang efektif dan efisien, karena kandungan unsur hara dalam bahan organik yang relatif kecil dan lambat tersedia. Akibat dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan tersebut, akan berdampak pada penyusutan kandungan bahan organik tanah, bahkan banyak tempat-tempat yang kandungan bahan organiknya sudah sampai pada tingkat rawan. Dilaporkan, sekitar 60 persen areal sawah di Jawa kadungan bahan organiknya kurang dari 1 persen. Sementara, sistem pertanian bisa menjadi sustainable (berkelanjutan) jika kandungan bahan organik tanah lebih dari 2 %. Sering kurang disadari oleh petani, bahwa walaupun peran bahan organik terhadap suplai hara bagi tanaman kurang, namun peran bahan organik yang paling besar dan penting adalah kaitannya dengan kesuburan fisik tanah. Apabila tanah kandungan humusnya semakin berkurang, maka lambat laun tanah akan menjadi keras, kompak dan bergumpal, sehingga menjadi kurang produktif . Menyadari dampak negatif pada tanah dari pertanian yang boros energi tersebut, maka berkembanglah pada akhir-akhir ini konsep pertanian organik, yang salah satu langkah untuk pemeliharaan kesuburan tanahnya, adalah dengan penggunaan

kembali bahan organik. Walaupun penggunaan bahan organik sudah bukan bahan yang baru lagi, namun mengingat betapa pentingnya bahan organik dalam menunjang produktivitas tanaman dan sekaligus mempertahankan kondisi lahan yang produktif dan berkelanjutan, maka pembahasan terhadap bahan organik tidak henti-hentinya untuk dikaji. Bahan organik tanah merupakan timbunan binatang dan jasad renik yang sebagian telah mengalami perombakan. Bahan organik ini biasanya berwarna cokelat dan bersifat koloid yang dikenal dengan humus. Humus terdiri dari bahan organik halus yang berasal dari hancuran bahan organik kasar serta senyawasenyawa baru yang dibentuk dari hancuran bahan organik tersebut melalaui suatu kegiatan mikroorganisme di dalam tanah. Humus merupakan senyawa yang resisten berwarna hitam / cokelat dan mempunyai daya menahan air dan unsur hara yang tinggi. Tanah yang mengandung banyak humus atau mengandung banyak bahan organik adalah tanah-tanah lapisan atas atau tanah-tanah top soil. Bahan organik tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman yaitu sebagai granulator yang berfungsi memperbaiki struktur tanah, penyediaan unsur hara dan sebagainya. Yang mana nantinya akan mempengaruhi seberapa jauh tanaman memberikan hasil produktifitas yang tinggi. Berdasarkan hal inilah, maka dipandang penting untuk melaksanakan praktikum bahan organik tanah. 1.2. Tujuan 1. Mengetahui kemampuan tanah yang mengandung bahan organik dan tidak mengandung bahan organik dalam mengikat air. 2. Menduga kemampuan kapasitas tukar kation tanah yang mengandung bahan organik dan tidak mengandung bahan organik. 3. Mengetahui porositas tanah yang mengandung bahan organik dan tidak mengandung bahan organik. 4. Menduga tekstur tanah yang mengandung bahan organik dan tidak mengandung bahan organik.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Bahan organik tanah adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem yang kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman atau binatang yang terdapat didalam tanah yang terus-menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. Bahan organik tanah adalah semua jenis bahan organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus (Soegiman, 1990). Secara umum fungsi bahan organik tanah adalah menyediakan tempat hidup dan makanan bagi jasad hidup tanah, sumber cadangan makanan didalam tanah, meningkatkan stabilitas struktur tanah, serta menyimpan air dan zat makanan. Semua bentuk makanan (nutrisi) dalam tanah dalam bentuk terikat, sehingga untuk mengubah menjadi bentuk tersedia maka nutrisi akan dirubah mejadi senyawa bermuatan (ion/kation). Dengan demikian nutrisi yang mempunyai muatan dapat diserap oleh tanaman untuk pertumbuhannya. Namun tanah yang sedikit mengandung bahan organik maka ion-ion menjadi lebih sedikit diikat oleh tanah, sehingga nutrisi hilang di alam (Soegiman, 1990). Bahan organi memilki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman,sehingga jika kadar jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas juga menurun. Menurunnya bahan organik merupakan salah ssatu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi Negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat (Soegiman, 1990). Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu kerusakan sifat kimia, fisika dan biologi tanah. Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi atau berkurangnya biodiversitas organisme tanah, dan umumnya terjadi bukan kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain (fisik dan kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen

(dalam bentuk ammonium sulfat dan sulfur coated urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebabkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah akan turun dengan drastic (Soegiman, 1990). Bahan organik tanah juga mempengaruhi sifat fisik tanah, diantaranya tekstur tanah. Ciri tanah subur antara lain tekstur dan struktur tanahnya baik, yaitu butir tanahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil; banyak mengandung air untuk melarutkan garam-garaman. Tekstur tanah menunjukkan proporsi relative dari ukuran partikel-partikel tanah. Rentangan ukuran partikel yang terbesar dapat dijumpai dalam kelompok tanah lempung (clay) yang diameter partikelnya mempunyai ukuran 0,0002 mm hingga sebesar molekul. Struktur tanah adalah susunan butir-butir suatu tanah. Pada umumnya, komposisi tanah terdiri dari 90% bahan mineral, 1-5% bahan organik, 0,9% udara dan air (Soegiman, 1990). Bahan orgnik di samping berpengaruh terhadap pasokan hara tanah juga tidak kalah pentingnya terhadap sifat fisik, biologi dan kimia tanah lainnya. Syarat tanah sebagai media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik dan kimia yang baik. Keadaan fisik tanah yang baik apabila dapat menjamin pertumbuhan akar tanaman dan mampu sebagai tempat aerasi dan lengas tanah, yang semuanya berkaitan dengan peran bahan organik. Peran bahan organik yang paling besar terhadap sifat fisik tanah meliputi : struktur, konsistensi, porositas, daya mengikat air, dan yang tidak kalah penting adalah peningkatan ketahanan terhadap erosi. Bahan organik tanah merupakan salah satu bahan pembentuk agregat tanah, yang mempunyai peran sebagai bahan perekat antar partikel tanah untuk bersatu menjadi agregat tanah, sehingga bahan organik penting dalam pembentukan struktur tanah. Pengaruh pemberian bahan organik terhadap struktur tanah sangat berkaitan dengan tekstur tanah yang diperlakukan. Pada tanah lempung yang berat, terjadi perubahan struktur gumpal kasar dan kuat menjadi struktur yang lebih halus tidak kasar, dengan derajat struktur sedang hingga kuat, sehingga lebih mudah untuk diolah. Komponen organik seperti asam humat dan asam fulvat dalam hal ini berperan sebagai sementasi pertikel lempung dengan membentuk komplek lempung-logam-humus (Stevenson, 1982).

Pada tanah pasiran bahan organik dapat diharapkan merubah struktur tanah dari berbutir tunggal menjadi bentuk gumpal, sehingga meningkatkan derajat struktur dan ukuran agregat atau meningkatkan kelas struktur dari halus menjadi sedang atau kasar (Scholes et al., 1994). Bahkan bahan organik dapat mengubah tanah yang semula tidak berstruktur (pejal) dapat membentuk struktur yang baik atau remah, dengan derajat struktur yang sedang hingga kuat. Mekanisme pembentukan egregat tanah oleh adanya peran bahan organik ini dapat digolongan dalam empat bentuk: (1) Penambahan bahan organik dapat meningkatkan populasi mikroorganisme tanah baik jamur dan actinomycetes. Melalui pengikatan secara fisik butir-bitir primer oleh miselia jamur dan actinomycetes, maka akan terbentuk agregat walaupun tanpa adanya fraksi lempung; (2) Pengikatan secara kimia butir-butir lempung melalui ikatan antara bagian–bagian positip dalam butir lempung dengan gugus negatif (karboksil) senyawa organik yang berantai panjang (polimer); (3) Pengikatan secara kimia butir-butir lempung melalui ikatan antara bagianbagian negatif dalam lempung dengan gugusan negatif (karboksil) senyawa organic berantai panjang dengan perantaraan basa-basa Ca, Mg, Fe dan ikatan hidrogen; (4) Pengikatan secara kimia butir-butir lempung melalui ikatan antara bagian-bagian negative dalam lempung dengan gugus positif (gugus amina, amida, dan amino) senyawa organic berantai panjang (polimer) (Seta, 1987). Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam humat lebih bertanggung jawab pada pembentukkan agregat di regosol, yang ditunjukkan oleh meningkatnya kemantapan agregat tanah (Pertoyo, 1999). Kandungan bahan organik yang cukup di dalam tanah dapat memperbaiki kondisi tanah agar tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan dalam pengolahan tanah. Berkaitan dengan pengolahan tanah, penambahan bahan organik akan meningkatkan kemampuannya untuk diolah pada lengas yang rendah. Di samping itu, penambahan bahan organik akan memperluas kisaran kadar lengas untuk dapat diolah dengan alat-alat dengan baik, tanpa banyak mengeluarkan energi akibat perubahan kelekatan tanah terhadap alat. Pada tanah yang bertekstur halus (lempungan), pada saat basah mempunyai kelekatan dan keliatan yang tinggi,

sehingga sukar diolah (tanah berat), dengan tambahan bahan organik dapat meringankan pengolahan tanah. Pada tanah ini sering terjadi retakretak yang berbahaya bagi perkembangan akar, maka dengan tambahan bahan organik kemudahan retak akan berkurang. Pada tanah pasiran yang semula tidak lekat, tidak liat, pada saat basah, dan gembur pada saat lembab dan kering, dengan tambahan bahan organik dapat menjadi agak lekat dan liat serta sedikit teguh, sehingga mudah diolah. Pengaruh bahan organik terhadap sifat fisika tanah yang lain adalah terhadap peningkatan porositas tanah. Porositas tanah adalah ukuran yang menunjukkan bagian tanah yang tidak terisi bahan padat tanah yang terisi oleh udara dan air. Pori pori tanah dapat dibedakan menjadi pori mikro, pori meso dan pori makro. Pori-pori mikro sering dikenal sebagai pori kapiler, pori meso dikenal sebagai pori drainase lambat, dan pori makro merupakan pori drainase cepat (Muhdi dan Diana S.H, 2004). Tanah pasir yang banyak mengandung pori makro sulit menahan air, sedang tanah lempung yang banyak mengandung pori mikro drainasenya jelek. Pori dalam tanah menentukan kandungan air dan udara dalam tanah serta menentukan perbandingan tata udara dan tata air yang baik. Penambahan bahan organik pada tanah kasar (berpasir), akan meningkatkan pori yang berukuran menengah dan menurunkan pori makro. Dengan demikian akan meningkatkan kemampuan menahan air (Stevenson, 1982). Pada tanah halus lempungan, pemberian bahan organik akan meningkatkan pori meso dan menurunkan pori mikro. Dengan demikian akan meningkatkan pori yang dapat terisi udara dan menurunkan pori yang terisi air, artinya akan terjadi perbaikan aerasi untuk tanah lempung berat. Terbukti penambahan bahan organik (pupuk kandang) akan meningkatkan pori total tanah dan akan menurunkan berat volume tanah (Wiskandar, 2002). Aerasi tanah sering terkait dengan pernafasan mikroorganisme dalam tanah dan akar tanaman, karena aerasi terkait dengan O2 dalam tanah. Dengan demikian aerasi tanah akan mempengaruhi populasi mikrobia dalam tanah. Pengaruh bahan organik terhadap peningkatan porositas tanah di samping berkaitan dengan aerasi tanah, juga berkaitan dengan status kadar air dalam tanah. Penambahan bahan organik akan meningkatkan

kemampuan menahan air sehingga kemampuan menyediakan air tanah untuk pertumbuhan tanaman meningkat. Kadar air yang optimal bagi tanaman dan kehidupan mikroorganisme adalah sekitar kapasitas lapang. Penambahan bahan organik di tanah pasiran akan meningkatkan kadar air pada kapasitas lapang, akibat dari meningkatnya pori yang berukuran menengah (meso) dan menurunnya pori makro, sehingga daya menahan air meningkat, dan berdampak pada peningkatan ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman (Scholes et al., 1994). Pada tanah berlempung dengan penambahan bahan organik akan meningkatkan infiltrasi tanah akibat dari meningkatnya pori meso tanah dan menurunnya pori mikro. Peran bahan organik yang lain, yang mempunyai arti praktis penting terutama pada lahan kering berlereng, adalah dampaknya terhadap penurunan laju erosi tanah. Hal ini dapat terjadi karena akibat dari perbaikan struktur tanah yaitu dengan semakin mantapnya agregat tanah, sehingga menyebabkan ketahanan tanah terhadap pukulan air hujan meningkat. Di samping itu, dengan meningkatnya kapasitas infiltrasi air akan berdampak pada aliran permukaan dapat diperkecil. sehingga erosi dapat berkurang (Stevenson, 1982). Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain terhadap kapasitas pertukaran kation, kapasitas pertukaran anion, pH tanah, daya sangga tanah dan terhadap keharaan tanah. Penambahan bahan organik akan meningkatkan muatan negative sehingga akan meningkatkan kapasitas pertukaran kation (KPK). Bahan organik memberikan konstribusi yang nyata terhadap KPK tanah. Sekitar 20 – 70 % kapasitas pertukaran tanah pada umumnya bersumber pada koloid humus (contoh: Molisol), sehingga terdapat korelasi antara bahan organik dengan KPK tanah (Stevenson, 1982). Kapasitas pertukaran kation (KPK) menunjukkan kemampuan tanah untuk menahan kation-kation dan mempertukarkan kation-kation tersebut termasuk kation hara tanaman. Kapasitas pertukaran kation penting untuk kesuburan tanah. Humus dalam tanah sebagai hasil proses dekomposisi bahan organik merupakan sumber muatan negatif tanah, sehingga humus dianggap mempunyai susunan koloid seperti lempung, namun humus tidak semantap koloid lempung, dia bersifat dinamik, mudah dihancurkan dan dibentuk. Sumber utama muatan negatif

humus sebagian besar berasal dari gugus karboksil (-COOH) dan fenolik (OH)nya (Brady, 1990). Muatan koloid humus bersifat berubah-ubah tergantung dari nilai pH larutan tanah. Dalam suasana sangat masam (pH rendah), hidrogen akan terikat kuat pada gugus aktifnya yang menyebabkan gugus aktif berubah menjadi bermuatan positip (-COOH2+ dan –OH2+), sehingga koloid koloid yang bermuatan negatif menjadi rendah, akibatnya KPK turun. Sebaliknya dalam suasana alkali (pH tinggi) larutan tanah banyak OH-, akibatnya terjadi pelepasan H+ dari gugus organik dan terjadi peningkatan muatan negatif (-COO -, dan –O- ), sehingga KPK meningkat (Parfit, 1980). Dilaporkan bahwa penggunaan bahan organik (kompos) memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap karakteristik muatan tanah masam (Ultisol) dibanding dengan pengapuran (Sufardi et al.,1999). Fraksi organik dalam tanah berpotensi dapat berperan untuk menurunkan kandungan pestisida secara nonbiologis, yaitu dengan cara mengadsorbsi pestisida dalam tanah. Mekanisme ikatan pestisida dengan bahan organik tanah dapat melalui: pertukaran ion, protonisasi, ikatan hidrogen, gaya vander Waal’s dan ikatan koordinasi dengan ion logam (pertukaran ligan). Tiga faktor yang menentukan adsorbsi pestisida dengan bahan organik : (1) karakteristik fisika-kimia adsorbenya (koloid humus), (2) sifat pestisidanya, dan (3) Sifat tanahnya, yang meliputi kandungan bahan organik, kandungan dan jenis lempungnya, pH, kandungan kation tertukarnya, lengas, dan temperatur tanahnya (Stevenson, 1982). Pengaruh penambahan bahan organik terhadap pH tanah dapat meningkatkan atau menurunkan tergantung oleh tingkat kematangan bahan organik yang kita tambahkan dan jenis tanahnya. Penambahan bahan organik yang belum masak (misal pupuk hijau) atau bahan organik yang masih mengalami proses dekomposisi, biasanya akan menyebabkan penurunan pH tanah, karena selama proses dekomposisi akan melepaskan asam-asam organik yang menyebabkan menurunnya pH tanah. Namun apabila diberikan pada tanah yang masam dengan kandungan Al tertukar tinggi, akan menyebabkan peningkatan pH tanah, karena asam-asam organik hasil dekomposisi akan mengikat Al

membentuk senyawa komplek (khelat), sehingga Al-tidak terhidrolisis lagi. Dilaporkan bahwa penamhan bahan organik pada tanah masam, antara lain inseptisol, ultisol dan andisol mampu meningkatkan pH tanah dan mampu menurunkan Al tertukar tanah (Nurida dkk., 2007, 2001; Cahyani., 1996; dan Dewi, 1996). Peningkatan pH tanah juga akan terjadi apabila bahan organik yang kita tambahkan telah terdekomposisi lanjut (matang), karena bahan organik yang telah termineralisasi akan melepaskan mineralnya, berupa kation-kation basa. Peran bahan organik terhadap ketersediaan hara dalam tanah tidak terlepas dengan proses mineralisasi yang merupakan tahap akhir dari proses perombakan bahan organik. Dalam proses mineralisasi akan dilepas mineral-mineral hara tanaman dengan lengkap (N, P, K, Ca, Mg dan S, serta hara mikro) dalam jumlah tidak tentu dan relatif kecil. Hara N, P dan K merupakan hara yang relatif lebih banyak untuk dilepas dan dapat digunakan tanaman. Bahan organik sumber nitrogen (protein) pertama-tama akan mengalami peruraian menjadi asam-asam amino yang dikenal dengan proses aminisasi, yang selanjutnya oleh sejumlah besar mikrobia heterotrofik mengurai menjadi amonium yang dikenal sebagai proses amonifikasi. Amonifikasi ini dapat berlangsung hampir pada setiap keadaan, sehingga amonium dapat merupakan bentuk nitrogen anorganik (mineral) yang utama dalam tanah (Tisdal dan Nelson, 1974). Nasib dari amonium ini antara lain dapat secara langsung diserap dan digunakan tanaman untuk pertumbuhannya, atau oleh mikroorganisme untuk segera dioksidasi menjadi nitrat yang disebut dengan proses nitrifikasi. Nitrifikasi adalah proses bertahap yaitu proses nitritasi yang dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas dengan menghasilkan nitrit, yang segera diikuti oleh proses oksidasi berikutnya menjadi nitrat yang dilakukan oleh bakteri Nitrobacter yang disebut dengan nitratasi. Nitrat merupakan hasil proses mineralisasi yang banyak disukai atau diserap oleh sebagian besar tanaman budidaya. Namun nitrat ini mudah tercuci melalui air drainase dan menguap ke atmosfer dalam bentuk gas (pada drainase buruk dan aerasi terbatas) (Killham, 1994).

Pengaruh bahan organik terhadap ketersediaan P dapat secara langsung melaui proses mineralisasi atau secara tidak langsung dengan membantu pelepasan P yang terfiksasi. Stevenson (1982) menjelaskan ketersediaan P di dalam tanah dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan organik melalui 5 aksi seperti di bawah ini: (1) Melalui proses mineralisasi bahan organik terjadi pelepasan P mineral (PO43-); (2) Melalui aksi dari asam organik atau senyawa pengkelat yang lain hasil dekomposisi, terjadi pelepasan fosfat yang berikatan dengan Al dan Fe yang tidak larut menjadi bentuk terlarut, Al(Fe)(H2O)3(OH)2H2PO4 + Khelat ===> PO42-(larut) + Kompleks AL-,Fe- Khelat (3).Bahan organik akan mengurangi jerapan fosfat karena asam humat dan asam fulvat berfungsi melindungi sesquioksida dengan memblokir situs pertukaran; (4).Penambahan bahan organik mampu mengaktifkan proses penguraian bahan organik asli tanah; (5).Membentuk kompleks fosfo-humat dan fosfo-fulvat yang dapat ditukar dan lebih tersedia bagi tanaman, sebab fosfat yang dijerap pada bahan organik secara lemah. Untuk tanah-tanah berkapur (agak alkalin) yang banyak mengandung Ca dan Mg, fosfat tinggi, karena dengan terbentuk asam karbonat akibat dari pelepasan CO2 dalam proses dekomposisi bahan organik, mengakibatkan kelarutan P menjadi lebih meningkat, dengan reaksi sebagai berikut : CO2 + H2O ====== > H2CO3 H2CO3 + Ca3(PO4)2 ====== > CaCO3 + H2PO4Asam-asam organik hasil proses dekomposisi bahan organik juga dapat berperan sebagai bahan pelarut batuan fosfat, sehingga fosfat terlepas dan tersedia bagi tanaman. Hasil proses penguraian dan mineralisasi bahan organik, di samping akan melepaskan fosfor anorganik (PO43-) juga akan melepaskan senyawa-senyawa P-organik seperti fitine dan asam nucleic, dan diduga senyawa P-organik ini, tanaman dapat memanfaatkannya. Proses mineralisasi bahan organik akan berlangsung jika kandungan P bahan organik tinggi, yang sering dinyatakan dalam nisbah C/P. Jika kandungan P bahan tinggi, atau nisbah C/P

rendah kurang dari 200, akan terjadi mineralisasi atau pelepasan P ke dalam tanah, namun jika nisbah C/P tinggi lebih dari 300 justru akan terjadi imobilisasi P atau kehilangan P (Stevenson, 1982). Bahan organik di samping berperan terhadap ketersediaan N dan P, juga berperan terhadap ketersediaan S dalam tanah. Di daerah humida, S-protein, merupakan cadangan S terbesar untuk keperluan tanaman. Mineralisasi bahan organik akan menghasilkan sulfida yang berasal dari senyawa protein tanaman. Di dalam tanaman, senyawa sestein dan metionin merupakan asam amino penting yang mengandung sulfur penyusun protein (Mengel dan Kirkby, 1987). Protein tanaman mudah sekali dirombak oleh jasad mikro. Belerang (S) hasil mineralisasi bahan organik, bersama dengan N, sebagian S diubah menjadi mantap selama pembentukan humus. Di dalam bentuk mantap ini, S akan dapat terlindung dari pembebasan cepat (Brady, 1990). Seperti halnya pada N dan P, proses mineralisasi atau imobilisasi S ditentukan oleh nisbah C/S bahan organiknya. Jika nisbah C/S bahan tanaman rendah yaitu kurang dari 200, maka akan terjadi mineralisasi atau pelepasan S ke dalam tanah, sedang jika nisbah C/S bahan tinggi yaitu lebih dari 400, maka justru akan terjadi imobilisasi atau kehilangan S (Stevenson, 1982). Bahan organik merupakan sumber energi bagi makro dan mikro-fauna tanah. Penambahan bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan aktivitas dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Beberapa mikroorganisme yang beperan dalam dekomposisi bahan organik adalah fungi, bakteri dan aktinomisetes. Di samping mikroorganisme tanah, fauna tanah juga berperan dalam dekomposi bahan organik antara lain yang tergolong dalam protozoa, nematoda, Collembola, dan cacing tanah. Fauna tanah ini berperan dalam proses humifikasi dan mineralisasi atau pelepasan hara, bahkan ikut bertanggung jawab terhadap pemeliharaan struktur tanah (Hakim dkk., 2007). Mikro flora dan fauna tanah ini saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik, kerena bahan organik menyediakan energi untuk tumbuh dan bahan organik memberikan karbon sebagai sumber energi. Pengaruh positip yang

lain dari penambahan bahan organik adalah pengaruhnya pada pertumbuhan tanaman. Terdapat senyawa yang mempunyai pengaruh terhadap aktivitas biologis yang ditemukan di dalam tanah adalah senyawa perangsang tumbuh (auxin), dan vitamin (Stevenson, 1982). Senyawa-senyawa ini di dalam tanah berasal dari eksudat tanaman, pupuk kandang, kompos, sisa tanaman dan juga berasal dari hasil aktivitas mikrobia dalam tanah. Di samping itu, diindikasikan asam organik dengan berat molekul rendah, terutama bikarbonat (seperti suksinat, ciannamat, fumarat) hasil dekomposisi bahan organik, dalam konsentrasi rendah dapat mempunyai sifat seperti senyawa perangsang tumbuh, sehingga berpengaruh positip terhadap pertumbuhan tanaman.

BAB 3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Agroekologi acara 4 yang berjudul Menduga Kandungan Bahan Organik Tanah dilaksanakan di Agrotechno Park Fakultas Pertanian Universitas Jember. Waktu pelaksanaan praktikum kali ini pada hari Jum’at, 20 April 2012 pukul 13.30 WIB – 15.30 WIB. 3.2 Bahan dan Alat 3.2.1 Bahan 1. Tanah yang mengandung bahan organik 2. Pot 3. Air 4. Pupuk Urea 3.2.2 Alat 1. Alat tulis 2. Gelas ukur 3. Indikator lampu 4. Gelas 5. Pengaduk 6. Kamera 7. Pipa Paralon 8. Balon 9. Karet 10. Kantong plastik dengan panjang ± 1 m 3.3 Cara Kerja 3.3.1 Kemampuan Tanah Mengikat Air 1. Mengisi empat buah pot dengan tanah yang dicampur dengan bahan organik dengan empat komposisi, yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15% dari volume pot.

2. Kemudian menyiram masing-masing pot dengan air sebanyak 500 mL, kemudian mengamati jumlah air yang menetes. 3. Di bawah masing-masing pot, menempatkan gelas plastik untuk menampung air. 4. Waktu pengamatan tetesan air selama 3 menit. 5. Mengukur volume tetesan air dengan gelas ukur. 6. Menghitung rata-rata kecepatan perambatan air pada empat pot (atau ke empat jenis tanah) per menit. 3.3.2 Kapasitas Tukar Kation 1. Membuat larutan yang terdiri dari air yang ditambah dengan pupuk urea sebanyak 0, 2, 4, 6, dan 8 g per 200 mL air; dan pupuk organik cair sebanyak 0, 2, 4, 6, dan 8 mL per 200 mL air. 2. Kemudian menduga KTK larutan dengan menggunakan indikator lampu. 3. Mengulangi pengukuran setelah satu hari sampai hari ketiga. 4. Mendokumentasikan nyala lampu dengan menggunakan kamera. 3.3.3 Porositas Tanah 1. Mengisi empat buah pot dengan tanah yang dicampur dengan bahan organik dengan empat komposisi, yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15% dari volume pot. 2. Memasukkan ditengah-tengah pot pipa paralon. 3. Menium balon dengan ukuran (perbesaran) yang relatif sama (asumsinya volume udara di dalam balon juga sama). 4. Menempatkan balon yang telah diisi udara pada ujung pipa paralon. 5. Melepas tali karet secara bersamaan. 6. Mengamati waktu proses kempesnya balon sampai balon terkulai. 3.3.4 Menduga Tekstur Tanah 1. Membuat media yang terdiri atas campuran tanah dengan bahan organik dengan empat komposisi, yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15% dari volume.

2. Memasukkan media campuran tersebut ke dalam kantong plastik dengan panjang sekitar satu meter. 3. Mengisikan kantong plastik dengan media campuran sekitar setengah panjangnya (0,5 m) dan kemudian mengisi kantong plastik dengan air sampai penuh. 4. Menggantungkan pada tempatnya dan goyang-goyang kantongnya sampai media tercampur sempurna dengan tanah. 5. Membiarkan selama kurang lebih 30 menit. 6. Mengamati bagian-bagian yang terpisah dengan cara mengukur panjang masing-masing, kemudian menghitung presentasinya.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Tabel 1. Pengamatan Kecepatan Rambat Air Volume Air Tetesan (mL) dari Pot ke: Tanah Tanah Tanah Tanah Pertanaman Pertanaman Pekarangan Sawah Sayur Jeruk 380 440 480 430 430 480 490 480 500 490 490 500 1310 1410 1460 1410 436,67 470 486,67 470

Ulangan

1 2 3 Jumlah Rata-rata

Tabel 2. Pengamatan Dugaan Besarnya Kapasitas Tukar Kation Larutan Hari ke1 2 3 0 ++ ++ ++ KTK Larutan Urea 20 ++ +++ +++ 30 + ++++ +++ 40 ++++ + ++++ + KTK Larutan Pupuk Organik Cair 0 ++ ++ ++ 1 +++ +++ +++ 2 ++++ +++ +++ 3 +++++ +++++ +++++

Ket: Sangat terang Lebih terang Terang Redup Sangat redup Mati : +++++ : ++++ : +++ : ++ :+ :-

Tabel 3. Pengamatan Porositas Tanah

Ulangan

1

Balon Kempes pada Menit keTanah Tanah Tanah Pertanaman Pertanaman Tanah Sawah Pekarangan Sayur Jeruk 8,27 7,17 10,43 >30

Tabel 4. Pengamatan Tekstur Tanah Tanah Pertanaman Sayur Bahan organik (cm) 0,6 Struktur Tanah Tanah Tanah Pertanaman Pekarangan Jeruk 0,8 1,1

Proporsi

Tanah Sawah

0,2

4.2 Pembahasan Kecepatan rambat air dalam masing-masing jenis tanah akan berbeda. Sehingga, diperlukan suatu pengetahuan tentang kecepatan rambat air dalam tanah karena berperan penting bagi ketersediaan air tanaman. Setiap jenis tanah memiliki daya mengikat air yang berbeda. Daya mengikat air tersebut merupakan suatu ukuran jumlah air yang dapat diikat. Karena setiap tanah memilki perbedaan daya ikat, sehingga terdapat perbedaan pada lolosnya air. Jadi, semakin besar volume air yang lolos, maka semakin kecil kemampuan mengikat airnya. Kecepatan air merambat di dalam tanah akan memengaruhi kemampuan tanah mengikat air. Kemampuan tanah dalam mengikat air dipengaruhi banyak faktor, namun faktor terpenting ialah bahan organik serta keadaan struktur tanah tersebut. Semakin baik keadaan struktur tanah, maka semakin baik pula kemampuan mengikat air. Disamping itu, semakin tinggi bahan organik yang terkandung dalam tanah, maka semakin besar kemampuan tanah mengikat air yang mengakibatkan kecepatan rambat air di dalam tanah semakin lambat (menurun). Oleh karena itu, kemampuan mengikat dan meloloskan air terutama dipengaruhi oleh komposisi bahan organik dan struktur tanah.

Kandungan air tanah terkadang berlebih maupun berkurang. Hal tersebut akan memengaruhi pertumbuhan tanaman. Tanaman akan tumbuh baik jika syarat pertumbuhannya terpenuhi terutama air dan hara. Air dan hara berhubungan erta dengan bahan organik. Semakin tinggi bahan organik, semakin tinggi kemampuan menahan air serta semakin subur tanahnya. Walaupun telah banyak mengandung bahan organik, tetapi tanah tersebut harus dilakukan pengolahan agar daya dukungnya terhadap tanaman tinggi. Terkadang, air maupun nutrisi dapat hilang karena mengalami pelindian / pencucian serta penguapan. Sehingga, walaupun kandungan bahan organiknya tinggi, namun masih perlu dilakukan untuk perbaikan. Berdasarkan hasil praktikum, diketahui bahwa bahan organik memiliki pengaruh terhadap kecepatan rambat air. Hal tersebut dikarenakan kandungan bahan organik tiap jenis tanah berbeda. Tanah yang digunakan terdiri dari empat jenis, yaitu tanah pertanaman sayur dengan pengolahan intensif (dilakukan penambahan BO ketika diolah), tanah pertanaman jeruk dengan pengolahan minimum hanya pada daerah pertanaman (penambahan BO sebulan sekali), tanah pekarangan yang tanpa pengolahan, dan tanah sawah dengan pengolahan sangat intesif (input kimia tinggi). Oleh karena tanah-tanah yang dilakukan percobaan berbeda, maka hasil yang didapatkan juga berbeda. Percobaan yang dilakukan pada tiap jenis tanah ialah dengan memberikan (menyiram) tanah tersebut dengan air sebanyak 500 ml. Penyiraman yang dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan. Tiap penyiraman diukur volume air yang lolos (air yang tertampung pada wadah penampung). Berdasarkan data pengamatan, ternyata keempat jenis tanah tersebut menunjukkan volume air yang tertampung semakin banyak ketika dilakukan pengulangan. Hal tersebut dikarenakan, setiap dilakukan pengulangan dalam menyiram tanah, terdapat kandungan bahan organik yang ikut terbawa oleh air. Disamping itu, tanah pada penyiraman pertama hampir jenuh air, sehingga pada penyiraman berikutnya tanah kurang mampu mengikat air akibatnya air lebih banyak yang lolos. Kemampuan air mengikat tanaman sangat dipengaruhi kandungan bahan organik yang dimilikinya, semakin kecil kandungan bahan organik di dalam tanah maka

semakin kecil kemampuan tanah mengikat air, akibatnya air mudah lolos (rambat air semakin cepat). Tanah pertanaman sayur adalah tanah dengan pengolahan intensif karena setiap pengolahan dilakukan penambahan bahan organik pada tanah tersebut. Tanah pertanaman sayur selalu diolah secara kontinyu setiap minggu, sehingga mengakibatkan rata-rata air yang lolos setelah penyiraman sebanyak 436, 67 mL. Hasil tersebut dikarenakan tanah pertanaman sayur memiliki kandungan bahan organik yang cukup tinggi, sehingga kecepatan rambat air kecil (air tidak mudah lolos). Tanah-tanah yang memiliki kandungan bahan organik tinggi, biasanya mampu mengikat atau menyerap air sampai tiga kali bobot keringnya. Berbeda dengan ketiga tanah yang juga sebagai percobaan, tanah-tanah tersebut memiliki kemampuan meloloskan air yang cukup tinggi, sehingga kemampuan mengikat airnya kecil. Hal itu dikarenakan kandungan bahan organiknya juga kecil. Tanah pertanaman jeruk adalah tanah dengan pengolahan minimum hanya pada bagian yang akan ditanami dan pemberian bahan organik sebulan sekali. Sehingga, dalam pengamatan diketahui rata-rata air yang lolos setelah penyiraman sebanyak 470 mL. Rata-rata air yang lolos pada tanah pertanaman jeruk sama dengan rata-rata air yang lolos pada tanah sawah setelah penyiraman. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua tanah itu mempunyai kandungan bahan organik yang sama atau berbeda tetapi sedikit. Namun, terdapat perbedaan perlakuan antara tanah pertanaman jeruk dengan tanah sawah saat pengolahan. Pengolahan tanah sawah sangat intensif karena penggunaan bahan kimia seperti pupuk kimia dan pestisida yang cukup tinggi. Sedangkan pada tanah pertanaman jeruk, pengolahannya sangat minimum. Pada tanah pekarangan, rata-rata air yang lolos sebesar 486,67 mL. Hal tersebut dikarenakan bahwa tanah pekarangan tidak pernah diolah akibatnya kandungan bahan organiknya sangat rendah. Sehingga, kemampuan meloloskan air sangat tinggi. Kandungan bahan organik yang sangat kecil akan berpengaruh terhadap kemampuan tanah mengikat air. Jadi, tanah pekarangan adalah tanah yang kemampuan mengikat airnya kecil karena kandungan bahan organiknya juga kecil.

Selain kemampuan tanah dalam mengikat air, juga dilakukan pengamatan tentang Kapasitas Tukar Kation (KTK). Pada pengamatan KTK, bahan yang digunakan ialah larutan Urea dan larutan pupuk organik. Kedua bahan ini digunakan dengan maksud mengetahui perbedaan daya hantar listrik keduanya karena dalam pengamatan larutan dihubungkan pada lampu yang telah disediakan. Kapasitas Tukar Kation ialah kemampuan tanah atau suatu bahan untuk mempertukarkan kation yang dimilikinya dengan tanaman. Umumnya, tanahtanah subur memiliki KTK yang sangat tinggi. Sebaliknya, tanah-tanah kurang subur, KTK yang dimilikinya rendah. Kapasitas Tukar Kation menunjukkan besarnya kemampuan tanah dalam mempertukarkan kation. Kapasitas Tukar Kation sangat memengaruhi pertumbuhan tanaman karena semakin tinggi KTK tanah maka semakin baik pertumbuhan tanaman. Hal tersebut dikarenakan tingginya KTK dipengaruhi kesuburan suatu tanah. Daya hantar listrik berhubungan dengan Kapasitas Tukar Kation. Semakin baik daya hantar litrik suatu larutan, maka semakin baik pula KTKnya. Pengukuran KTK menggunakan larutan, baik larutan Urea maupun larutan pupuk organik. Adanya larutan tersebut karena diencerkan dengan air. Hal tersebut dikarenakan ion-ion larut dalam air dan tanpa adanya air maka tidak akan terjadi tukar menukar kation antara tanah dengan tanaman. Tanaman menyerap hara dalam bentuk ion-ion yang terlarut dalam air. Jadi, tanpa adanya air maka tidak akan terjadi tukar-menukar kation. Berdasarkan pengamatan daya hantar listrik larutan Urea, menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi urea pada larutan mengakibatkan daya hantar listriknya semakin kecil bahkan tidak mampu menghantarkan listrik. Pada konsentrasi 0 gram, daya hantar litriknya baik yang ditunjukkan dengan lampu menyala dengan terang. Pada konsentrasi Urea 20 gram, lampu menyala lebih redup. Ketika konsentrasi ditambah menjadi 30 gram, ternyata lampu semakin redup sampai akhirnya mati pada konsentrasi 40 gram. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi Urea dalam air, maka semakin kecil daya hantar listriknya akibatnya Kapasitas Tukar Kation semakin rendah. Hal tersebut dikarenakan, Urea tidak mengion pada konsentrasi 40 gram dan

sedikit mengion pada konsentrasi 20 dan 30 gram. Kapasitas Tukar Kation sangat dipengaruhi oleh banyaknya ion-ion yang terlarut dalam air, semakin banyak ion terlarut maka semakin tinggi daya hantar listriknya. Akibatnya, Kapasitas Tukar Kationnya semakin besar. Pengamatan daya hantar listrik pada larutan pupuk organik sangat berbeda dengan larutan Urea. Pada larutan pupuk organik diketahui bahwa konsentrasi pupuk yang semakin tinggi menunjukkan Kapasitas Tukar Kationnya besar. Hal tersebut dikarenakan pupuk organik akan cepat mengion dalam air. Ion-ion terlarut akan semakin tinggi dengan bertambahnya pupuk organik yang diberikan. Pada konsentrasi 0 mL lampu menyala redup karena daya hantar listriknya kecil. Pada konsentari 1 mL lampu menyala terang dan setiap penambahan konsentrasi pupuk organik, terjadi peningkatan nyala dari lampu sampai lampu tersebut menyala sangat terang. Semakin terangnya nyala lampu dipengaruhi oleh kandungan ion dalam larutan. Semakin tinggi ion yang terlarut (semakin besar konsentrasi pupuk organik yang diberikan), maka daya hantar listriknya besar, sehingga KTK yang dimiliki juga besar. Di dalam tanah terdapat banyak proses yang terjadi selain KTK. Proses dalam tanah yang berhubungan dengan air dan udara ialah porositas tanah. Porositas tanah berhubungan dengan pori tanah, sehingga akan memengaruhi tata udara dan air dalam tanah. Tanah-tanah poros biasanya memiliki ruang pori yang baik sehingga pergerakan udara sangat mudah. Disamping itu, tanah dengan porositas tinggi memiliki kemampuan mengikat air yang besar. Oleh karena itu, porositas tanah dapat diartikan sebagai kemampuan tanah dalam menyerap air. Pengetahuan tentang tinggi rendahnya porositas suatu tanah sangat berguna dalam menentukan tanaman yang cocok ditanam pada tanah tersebut. Porositas tanah erat kaitannya dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Bahan organik mampu mengubah sifat fisik tanah terutama struktur tanah. Pemberian bahan organik pada tanah dengan struktur liat dapat menjadikan tanah tersebut gembur. Akibatnya, porositas dan permeabilitas tanah semakin baik, sehingga aerasi udara meningkat yang bermanfaat untuk menghindari kejenuhan air yang menyebabkan kebusukan akar. Pemberian bahan organik pada tanah pasiran mengakibatkan

tanah menjadi kompak (saling berikatan) karena agregasi meningkat oleh adanya bahan organik. Disamping itu, ruang pori tanah juga meningkat, sehingga kemampuan tanah dalam menyimpan air dan menyediakan ruang udara akan semakin baik atau proporsional. Hal tersebut akan bermanfaat untuk menghindarkan tekanan kekeringan pada perakaran. Berdasarkan hasil percobaan tentang porositas tanah, diketahui bahwa terdapat perbedaan porositas pada masing-masing tanah. Tanah-tanah yang digunakan sama dengan tanah pada percobaan pertama tentang kemampuan tanah mengikat air. Tanah-tanah tersebut digunakan karena memiliki kandungan bahan organik yang berbeda. Keempat jenis tanah yang digunakan adalah tanah pertanaman sayur (pengolahan intensif dan selalu diberikan bahan organik setiap pengolahan), tanah pertanaman jeruk (pengolahan minimum dan pemberian bahan organik hanya sebulan sekali), tanah pekarangan (tanpa pengolahan dan tidak pernah dilakukan penambahan bahan organik), serta tanah sawah dengan pengolahan sangat intesif. Pada keempat jenis tanah tersebut, dilakukan percobaan dengan meletakkan pipa paralon di tengah tanah yang dihubungkan dengan balon yang telah terisi udara dan ukurannya sama. Selanjutnya, balon yang telah di ujung pipa diikat dengan karet di bagian yang menempel pada pipa dan setelah itu diamati kecepatan balon mengempes. Data pengamatan menunjukkan bahwa balon pada tanah pertanaman jeruk paling cepat mengempes dengan waktu 7 menit 17 detik, kemudian balon yang mengempes kedua ialah balon pada tanah pertanaman sayur dengan waktu 8 menit 27 detik. Selanjutnya balon yang mengempes pada urutan ketiga ialah balon pada tanah pekarangan dengan waktu 10 menit 43 detik, dan terakhir ialah balon pada tanah sawah dengan waktu 30 menit. Perbedaan waktu tersebut menunjukkan perbedaan bahan organik yang terkandung dalam masing-masing tanah. Biasanya, semakin cepat balon tersebut mengempes, maka semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Kandungan bahan organik yang tinggi mengakibatkan ruang pori semakin banyak, sehingga aerasi akan brjalan dengan lancar. Berbeda dengan tanah yang kandugan bahan organiknya sedikit yang memiliki aerasi kurang baik.

Porositas memengaruhi banyaknya ruang pori di dalam tanah akibatnya akan memengaruhi tanah tersebut dalam mengikat air. Semakin banyak pori tanah terutama pori mikro, maka semakin tinggi kemampuan mengikat airnya. Hal tersebut dikarenakan pada tanah dengan kandungan bahan organik tinggi memiliki muatan, sehingga kemampuan mengikat airnya besar. Percobaan-percobaan yang telah dilakukan semuanya berhubungan dengan bahan organik. Hal tersebut dikarenakan bahan organik adalah bahan penyubur tanah karena mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Bahan organik berasal dari sisa-sisa tanaman maupun hewan yang mati. Semakin tinggi sisa-sisa tersebut dalam tanah, maka semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Sisa-sisa tanaman maupun hewan tidak langsung menjadi bahan organik melainkan measih melalui proses dekomposisi. Bahan organik yang tinggi dikatakan mampu menyuburkan tanah karena bahan organik adalah penyedia makanan dan tempat tinggal mikroorganisme. Mikroorganisme sangat berperan penting bagi pertumbuhan tanaman. Hal itu karena mikroorganisme mampu menyediakan hara bagi tanaman yang telah diubah olenhya dalam bentuk ion yang dapat ditukarkan. Sehingga, ini berhubungan dengan kapasitas tuka kation. Bahan organik sangat penting bagi kesuburan tanah, sehingga perlu dilakukan upaya pengelolaan bahan organik tanah yang tepat agar tidak terjadi degradasi bahan organik tanah. Penambahan bahan organik secara kontinyu pada tanah merupakan suatu cara pengelolaan tanah yang mudah dan murah. Namun kenyataannya, walaupun pemberian bahan organik pada lahan pertanian telah banyak dilakukan, umumnya produksi tanaman masih kurang optimal. Hal tersebut dikarenakan unsur hara yang disediakan dalam waktu pendek relatif rendah, serta tingkat sinkronisasi antara waktu pelepasan unsur hara dari bahan organik dengan kebutuhan tanaman akan unsur hara juga rendah. Kualitas bahan organik sangat menentukan kecepatan proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Semakin baik kualitas bahan oranik, maka semakin cepat proses dekomposisi dan mineralisasi, akibatnya semakin cepat pula tanh subur. Sehingga, hal itu akan membantu pertumbuhan tanaman semakin baik.

Komponen kualitas bahan organik yang penting meliputi nisbah C/N, kandungan lignin, kandungan polifenol, dan kapasitas polifenol mengikat protein. Kandungan hara N, P dan K sangat menentukan kualitas bahan organik. Nisbah C/N dapat digunakan untuk memprediksi laju mineralisasi bahan organik. Bahan organik akan termineralisasi jika nisbah C/N dibawah nilai kritis 25 – 30, dan jika diatas nilai kritis akan terjadi imobilisasi N, untuk mineralisasi P nilai kritis C/P sebesar 200-300, dan untuk mineralisasi S nilai kritis sebesar 200-400. Bahan organik yang dijadikan pupuk organik harus memiliki nisbah C/N ratio sebesar 16-19 yang berfungsi untuk memperbaiki sifat kimia, fisika, dan biologi. Di bawah maupun di atas nilai tersebut, bahan organik hanya berfungsi sebagai bahan pemantap tanah. Bahan organik dengan kandungan lignin tinggi menyebabkan kecepatan mineralisasi N akan terhambat. Lignin adalah senyawa polimer pada jaringan tanaman berkayu yang mengisi rongga antar sel tanaman, sehingga menyebabkan jaringan tanaman menjadi keras dan sulit untuk dirombak oleh organisme tanah. Perombakan lignin akan berpengaruh pada kualitas tanah dalam kaitannya dengan susunan humus tanah. Dalam perombakan lignin, di samping jamur (fungiligninolytic) juga melibatkan kerja enzim (antara lain enzim lignin peroxidase, manganeses peroxidase, laccases dan ligninolytic). Polifenol berpengaruh terhadap kecepatan dekomposisi bahan organik, semakin tinggi kandungan polifenol dalam bahan organik, maka akan semakin lambat terdekomposisi dan termineralisasi. Proses dekomposisi atau mineralisasi selain dipengaruhi oleh kualitas bahan organiknya, juga dipengaruhi oleh frekuensi penambahan bahan organik, ukuran partikel bahan, kekeringan, dan cara penggunaannya (dicampur atau disebarkan di permukaan). Bahan organik yang masih mentah dengan nisbah C/N tinggi, apabila diberikan secara langsung ke dalam tanah akan berdampak negatip terhadap ketersediaan hara tanah. Bahan organik langsung akan disantap oleh mikroba untuk memperoleh energi. Populasi mikroba yang tinggi, akan memerlukan hara untuk tumbuh dan berkembang. Hara tersebut diambil dari bahan organik dalam tanah yang seharusnya digunakan oleh tanaman. Akibatnya hara yang ada dalam

tanah berubah menjadi tidak tersedia karena berubah menjadi senyawa organik mikroba. Kejadian tersebut disebut sebagai immobilisasi hara. Untuk menghindari imobilisasi hara, bahan perlu dilakukan proses pengomposan terlebih dahulu.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 1. Kemampuan tanah mengikat air sangat dipengaruhi oleh kandungan bahan organik. Semakin tinggi kandungan bahan organik, maka semakin tinggi air yang diikat, sehingga kecepatan rambat air semakin kecil. 2. Kemampuan larutan Urea dan larutan pupuk organik berbeda dalam hal DHL yang berpengaruh terhadap KTK. Semakin tinggi konsentrasi Urea dalam larutan maka DHLnya semakin kecil akibatnya KTKnya juga semakin kecil dikarenakan Urea tidak mengion. Sebaliknya, semakin tinggi pupuk organik dalam larutan, maka semakin tinggi DHLnya, akibatnya KTKnya juga semakin tinggi. 3. Porositas tanah sangat dipengaruhi jumlah dari bahan organik. Semakin tinggi bahan organik dalam tanah, maka semakin poros tanah tersebut. Akibatnya, tanah memiliki ruang pori yang cukup banyak, sehingga aerasinya berjalan baik dan kemampuan mengikat air juga baik. 4. Bahan organik sangat berpengaruh terhadap nkesuburan tanah. Semakin tinggi bahan organik dalam tanah, mak tanah tersebut semakin subur. Bahan organik dengan C/N ratio sebesar 16-19 disebut pupuk organik, sehingga mampu memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi. Selain nilai itu, bahan organik hanya sebagai bahan pemantap tanah. 5.2. Saran Sebaiknya dalam melakukan percobaan harus benar-benar teliti. Hal itu dikarenakan akan memengaruhi hasil. Selain itu, suatu percobaan juga dipengaruhi oleh kemampuan dari praktikan serta bahan yang digunakan harus baik dan sesuai kebutuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, N.C. (1990) The Nature and Properties of Soil. Mac Millan Publishing Co., NewYork. Cahyani, V.R. (1996). Pengaruh Inokulasi Mikorisa Vesikular-Arbuskular Dan perimbangan Takaran Kapur Dengan Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung Pada Tanah Ultisol Kentrong, Tesis. Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta. Dewi, W.S. (1996). Pengaruh Macam Bahan Organik dan Lama Prainkubasinya Terhadap Status P Tanah Andisol. Yogyakarta: MS. Thesis UGM. Hakim, M.L. dkk. 2007. Pengaruh Tekstur Tanah Terhadap Karakteristik Unit Hidrograf dan Model Pendugaan Banjir (Studi Kasus di DAS Separi, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur). Tanah dan Iklim, 26 (1): 29-40. Mengel, K. and Kirby, E.A. (1978) Principles of Plant Nutrition . International Potash Institute. Bern. Swizerland. Muhdi dan Diana S.H. 2004. Pengaruh Penyadaran Kayu dengan Traktor Caterpillar D7G terhadap Porositas Tanah di Hutan Alam. Komunikasi Penelitian, 16 (6): 108-111. Nurida, N.L. dkk. 2007. Perubahan Fraksi Bahan Organik Tanah Akibat Perbedaan Cara Pemberian dan Sumber Bahan Organik pada Ultisols Jasinga. Tanah dan Iklim, 26 (1): 71-84. Partoyo, Joetono, dan Sri Hastuti. 1999. Pengaruh Polisakarida fraksi berat tanah dan asam humat pada pembentukan dan pemantapan agregat regosol. Konggres Nasional VII. HITI. Bandung. Scholes, M.C., Swift, O.W., Heal, P.A. Sanchez, JSI., Ingram and R. Dudal, 1994. Soil Fertility research in response to demand for sustainability. In The biological managemant of tropical soil fertility (Eds Woomer, Pl. and Swift, MJ.) John Wiley & Sons. New York. Soegiman. 1990. Ilmu Tanah. Bandung: ITB Stevenson, F.J., Alanah Fitch. (1997) Kimia pengkomplekan ion logam dengan organik larutan tanah. In Interaksi Mineral Tanah dengan Bahan Organik Dan Mikrobia. (Eds Huang P.M. and Schnitzer, M.) ( Transl. Didiek Hadjar Goenadi), pp. 41-76. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Stevenson, F.T. (1982) Humus Chemistry. John Wiley and Sons, Newyork.

Sufardi, Djayakusuma, A.D., Suyono, T.S.Hassan, 1999. Perubahan karateristik muatan dan retensi fosfor ultisol akibat pemberian amelioran dan pupuk fosfat. Konggres Nasional VII. HITI. Bandung. Tisdale, S.L., and Nelson, W.L. (1975) Soil Fertility and Fertilizers. Third Edition. Mac Millan Pub. Co. Inc. New York. Wiskandar, 2002. Pemanfaatan pupuk kandang untuk memperbaiki sifat fisik tanah di lahan kritis yang telah diteras. Konggres Nasional VII.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->