P. 1
PENGENALAN KARAKTERISTIK BAKTERI E. COLI DARI TIAP JENIS LIMBAH CAIR DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN BAGI BIOTA AIR DAN MAKHLUK HIDUP LAIN

PENGENALAN KARAKTERISTIK BAKTERI E. COLI DARI TIAP JENIS LIMBAH CAIR DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN BAGI BIOTA AIR DAN MAKHLUK HIDUP LAIN

|Views: 768|Likes:
makalah yang menelaskan mengenai karakteristik bakteri E. Coli dari tiap jenis limbah cair dan dampak bakteri E. coli bagi biota air maupun makhluk hidup lain.

makalah yang menelaskan mengenai karakteristik bakteri E. Coli dari tiap jenis limbah cair dan dampak bakteri E. coli bagi biota air maupun makhluk hidup lain.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Arghya Narendra Dianastya on Apr 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

PENGENALAN KARAKTERISTIK BAKTERI E.

COLI DARI TIAP JENIS LIMBAH CAIR DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN BAGI BIOTA AIR DAN MAKHLUK HIDUP LAIN

Disusun Oleh : ARGHYA NARENDRA DIANASTYA (111510501105) (Mahasiswa Penerima Beasiswa Unggulan S-1 PS. Agroteknologi Fakultas Pertanian UNEJ)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2012

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk cukup padat yang setiap tahunnya selalu meningkat. Akibatnya ialah timbul berbagai masalah yang erat kaitannya dengan ledakan penduduk. Permasalahan yang sering dibicarakan ialah masalah lingkungan. Lingkungan saat ini telah banyak berubah akibat ulah manusia. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya suatu pencemaran yang tidak diimbangi dengan pelestarian terhadap lingkungan. Oleh karena itu, tingkat pencemaran lingkungan akan semakin tinggi apabila tidak ada tindakan pelestarian. Pencemaran lingkungan terjadi karena masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam lingkungan, sehingga menurunkan kualitas lingkungan. Lingkungan yang dapat tercemari ialah tanah, udara, dan air. Air dikatakan tercemar apabila terjadi penyimpangan dari sifatsifat air normal. Air yang tercemar dikarenakan kemasukan berbagai komponen, misalnya limbah cair. Sehingga, limbah cair dapat menurunkan kualitas air apabila melebihi ambang batas. Pencemaran air menjadi masalah utama dalam kehidupan. Masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin menurun. Kualitas air yang semakin menurun merupakan dampak negatif dari kegiatan industri, domestik, dan kegiatan lain. Hal itu dapat menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi makhluk hidup yang hidupnya bergantung pada sumber daya air. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan dan perlindungan sumber daya air guna menurunkan dampak negatif pencemaran air. Air di alam tidak dalam keadaan murni, namun tercampur dengan berbagai komponen yang mempengaruhi kualitas air, misalnya mikroorganisme. Kandungan mikroorganisme dalam air limbah berbeda karena tergantung pada lokasi dan waktu. Mikroorganisme melakukan adaptasi dengan lingkungannya

guna mempertahankan hidupnya. Adaptasi tersebut dapat terjadi secara cepat, sementara, ataupun permanen, sehingga dapat mempengaruhi bentuk morfologi dan fisiologi secara turun temurun. Oleh karena itu, dalam pembuangan limbah domestik maupun non domestik, sebaiknya dilakukan penataan lokasi pembuangan limbah, agar aliran limbah dari masing-masing pemukiman dapat terkoordinasi dan tidak menimbulkan penyakit bagi penduduk sekitar. Mikroorganisme seperti bakteri selalu ada dalam air, karena air di alam tidak pernah dalam keadaan murni. Bakteri yang sering dtemukan di air ialah bakteri penyebab infeksi pencernaan, diantaranya ialah Vibrio cholarae penyebab penyakit kolera, Salmonella thyposa penyebab tifus, Shigella dysenteriae penyebab disentri, dan Entamoeba histolytica penyebab disentri. Di samping itu juga terdapat bakteri penyebab infeksi pencernaan, yakni E. coli. Bakteri E. coli dapat menurunkan kualitas air apabila jumlahnya melebihi ambang batas. Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk mengetahui jumlah E. coli dari tiap jenis limbah cair, karena tiap limbah cair memiliki jumlah E.coli yang berbeda. 1.2 Tujuan Mengetahui karakteristik bakteri E. Coli dari tiap jenis limbah cair dan dampak bakteri E. coli bagi biota air maupun makhluk hidup lain.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Pada zaman sekarang ini sejalan dengan perkembangan pembangunan di berbagai aspek, terutama di bidang industri timbul berbagai maslah baru. Hal uni terkait dengan pencemaran lingkungan oleh limbah-limbah buangan dari industriindustri yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kesehatan tanaman, hewan, dan manusia. Pencemaran ini terjadi pada perairan, udara, dan tanah akibat berbagai aktivitas di atas (Baroto, 2006). Pencemaran lingkungan meruapakan suatu masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia maupun proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya (Estiningsih dan Mifbakhuddin, 2004). Pencemaran air merupakan bertambahnya suatu material atau bahan dan setiap tindakan manusia yang mempengaruhi kondisi perairan, sehingga mengurangi atau merusak daya guna perairan (Hadi, 2005). Pencemaran air yang disebabkan oleh manusia dan industri sangat diprihatinkan di seluruh dunia. Pertumbuhan penduduk, urbanisasi besar-besaran, pesatnya laju industrialisasi dan teknik modern di pertanian telah mempercepat polusi air dan dapat menurunkan kualitasnya (Mohana et al, 2011). Air yang bersih tidak diukur dari tingkat kemurniannya, tetapi dibandingkan dengan keadaan normalnya (Sugiharto, 1987). Jika air yang dimaksud telah mengalami penyimpangan dari keadaan normalnya, maka air tersebut telah mengalami pencemaran. Perubahan kualitas air tanah dapat terjadi oleh proses alami yang terjadi pada daerah imbuhannya, tetapi perubahan kualitas air tanah sering terjadi karena kegiatan manusia (Siregar, 2005). Pencemaran air merupakan penyimpangan dari sifat-sifat air dari keadaan normal. Ciri-ciri air yang tercemar bervariasi, bergantung pada jenis dan polutan atau komponen yang mengakibatkan polusi atau bahan pencemar (Effendi, 2003).

Kepadatan penduduk berkorelasi positif terhadap munculnya pencemaran air yang disebabkan semakin banyaknya limbah yang dihasilkan baik oleh limbah domestik ataupun limbah industri (Kodoatie, Robert, dan Sjarif, 2010). Pesatnya perkembangan teknologi di bidang industri telah membawa implikasi negatif besar terhadap pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah (cair, padat, dan gas). Kondisi ini diperparah karena industri umumnya belum menerapkan teknik pengendalian limbah yang baik (Sahubawa, 2008). Dampak tersebut terutama berupa pencemaran dan atau menurunnya daya dukung lingkungan dalam memulihkan masuknya bahan pencemar (Anonimous, 2003b dalam Sahubawa 2008). Limbah merupakan salah satu hasil sisa yang tidak dapat dipakai lagi, apabila limbah ini terlalu banyak di lingkungan, maka akan berdampak pada pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar. Berdasarkan sumbernya, limbah dibagi menjadi dua bagian, yaitu limbah yang bersumber domestik (limbah rumah tangga) dan limbah yang berasal dari non-domestik (pabrik, industri, dan limbah pertanian). Bahan-bahan yang termasuk dari limbah harus memiliki karakteristik diantaranya adalah mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif dan lain-lain (Rizka, 2002). Limbah cair adalah sampah cair dari suatu lingkungan masyarakat yang komponen terbesarnya terdiri dari air yang telah digunakan dan kira-kira 1% dari benda-benda organik dan anorganik (Mahida, 1984 dalam Nugroho, 2008). Limbah cair memiliki ciri yang dapat diidentifikasi secara visual dan secara pengujian di laboratorium. Identifikasi limbah cair secara visual dapat diketahui dari kekruhan, warna limbah, rasa, dan bau yang ditimbulkan. Umumnya limbah cair di dalamnya sering ditermukan padatan terlarut, padatan tidak larut, mikroorganisme, serta senyawa kimia organik (Gintings, 1992 dalam Nugroho, 2008). Kandungan mikroorganisme dalam air limbah sangat berbeda, tergantung pada lokasi dan waktu, sehingga kebersihan dan kontaminasi air limbah sangat erat dengan lingkungan sekitar. Untuk mempertahankan hidupnya,

mikroorganisme melakukan adaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi ini dapat terjadi secara cepat dan bersifat sementara, ada juga yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi bentuk morfologi dan fisiologi secara turun temurun. Oleh karena itu, dalam pembuangan limbah baik yang domestik maupun yang nondomestik di daerah pemukiman sebaiknya dilakukan penataan ulang lokasi pembuangan limbah, agar aliran limbah dari masing-masing pemukiman penduduk dapat terkoordinasi dengan baik, dan tidak menimbulkan penyakit yang meresahkan kehidupan penduduk sekitar (Deni, 2004). Populasi mikroba di alam sangat kompleks dan besar. Beratus-ratus spesies dari berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-macam tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Salah satu mikroba tersebut adalah bakteri. Bakteri memiliki tiga macam bentuk yaitu kokus (bulat atau bola), basil (batang), dan spiral (Fardiaz 1989). Berbagai macam mikroorganisme mudah tumbuh dan berkembang dengan cepat pada kondisi kamar (Zubaidah, 2008). Sifat bakteri ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Dikatakan menguntungkan karena bakteri dapat melakukan proses pembusukan sampah agar tidak menumpuk, sebagai antibiotik, indikator pencemaran, dan sebagainya. Sedangkan dikatakan merugikan karena bakteri dapat menimbulkan penyakit untuk beberapa spesies. Walaupun demikian, mikroba khususnya bakteri sengaja ditumbuhkan pada sebuah medium. Medium yang digunakan adalah medium yang ketersediaan nutriennya tercukupi seperti air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh lain untuk pertumbuhan bakteri. Suatu bakteri dikatakan pathogen jika bakteri tersebut telah membentuk suatu koloni. Koloni didapatkan jika berada pada lingkungan buatan, sedangka jika berada di alam. konsentrasi bakteri pathogen menjadi rendah dan sulit untuk dideteksi. Oleh karena itu, dilakukan analisis mikrobiologi untuk mengidentifikasi bakteri pathogen, misalnya uji mikrobiologi air (Fardiaz 1989). Air bersih yang memenuhi syarat kesehatan harus bebas dari pencemaran, sedangkan air minum harus memenuhi standar yaitu persyaratan fisik, kimia, dan biologi, karena air minum yang tidaki memenuhi standar kualitas dapat menimbulkan gangguan kesehatan. E. coli merupakan indikator pencemaran air.

Hal yang menyebabkan menurunnya kualitas air sumur gali diantaranya jumlah E. coli dalam air sumur diluar ambang batas maksimum. Kandungan E. coli pada air sumur yang dipakai mempunyai peranan besar dalam penularan berbagai penyakit. Keadaan kualitas air yang jelek dan manajemen pengaturan limbah padat (manure) maupun limbah cair (air buangan) yang kurang memadai, letak sumur yang terlalu dekat (+ 2 m) dengan tumpukan kotoran hewan dan pembuangan tinja, pada dasarnya disebabkan oleh ketidakcermatan manusia dalam mengatur kebersihan (Siswono, 2001 dalam Boekoesoe, 2010). Uji mikrobiologis air dapat dianalisis berdasarkan organisme penunjuk atau indicator organism. Syarat organisme indikator antara lain yaitu terdapat pada air yang tercemar, mempunyai kemampuan bertahan hidup yang lebih besar dari pathogen, terdapat dalam jumlah lebih banyak daripada pathogen, dan mudah dideteksi dengan teknik laboratorium yang sederhana. Biasanya yang digunakan sebagai indikator yaitu dari jenis Escherichia coli dikarenakan terdapat hanya selalu terdapat dalam tinja (Syamsunir, 1992). E. coli merupakan bakteri yang rentan terhadap suhu tinggi. E. coli mempunyai suhu maksimum pertumbuhan antara 40-45oC, di atas suhu tersebut bakteri E. coli mengalami inaktivasi (Hawa dkk, 2011). E. coli adalah jenis bakteri coliform tinja yang biasanya ditemukan di usus hewan dan manusia. Bakteri E-coli dalam air berasal dari pencemaran atau kontaminasi dari kotoran hewan dan manusia. Kotoran dapat berisi banyak jenis organisme penyebab penyakit. Escherichia coli enterohemoragik (EHEK) adalah salah satu bakteri usus patogen yang dapat menyebabkan diare hemoragik colitis (HC), hemolitic-uremic syndrome (HUS). Bakteri E.coli dalam hal ini dapat menyebabkan diare berkelanjutan dan HUS. Mengingat masih rendahnya tingkat sanitasi lingkungan di negara berkembang, penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri E.coli patogen menjadi masalah penting apabila terjadi wabah. Toksin ini bekerja dengan cara menghilangkan satu basa adenin dari unit 28S rRNA, sehingga menghentikan sintesis protein. Makanan yang terkontaminasi bakteri E.coli khususnya EHEK menyebabkan diare yang disertai pendarahan, karena toksin SLT (Shiga like toxin) yang dihasilkannya (Dadang, 2000).

E. coli berperan penting dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen-pigmen empedu, asam-asam empedu dan penyerapan zat-zat makanan. E. coli termasuk ke dalam bakteri heterotrof yang memperoleh makanan berupa zat oganik dari lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa organisme lain. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO 2, H2O, energi, dan mineral. Di dalam lingkungan, bakteri pembusuk ini berfungsi sebagai pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan (Sri, 2010). Bakteri Escherichia coli yang menyebabkan diare dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, diantaranya ialah sebagai berikut : 1. Escherichia coli enteropatogenik, menyebabkan gastroenteritis akut pada bayi yang baru lahir sampai pada yang berumur dua tahun. Mekanisme kelompok E. coli ini dalam menyebabkan diare masih belum diketahui. 2. Echerichia coli enteroinfasif, menyerang sel-sel epitel usus besar dan menyebabkan sindrom klinis yang mirip sidrom yang disebabkan oleh Shingella. Galur-galur bakteri ini dikenal sebagai enteroinvasif. 3. Echerichia coli enterotoksigenik (yang menghasilkan enterotoksin), menghasilkan salah satu atau kedua macam toksin yang berbeda. Beberapa galur menghasilkan yang tahan panas (TP), sedangkan yang lain sebagai tambahan mensintesis juga toksin yang tidak tahan panas (TTP). Beberapa galur hanya menghasilkan TTP. Ke dua macam toksin tersebut menyebabkan diare pada orang dewasa dan anak-anak (Adi, 2001).

BAB 3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum tentang cara mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri E. coli dilaksanakan pada tanggal 6 November 2012 dimulai pukul 10.00-12.00 WIB di laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat 1. Mikropipet 2. Tabung reaksi 3. Inkubator 4. Laminer 5. Vortex 6. Penutup koran 7. Penangas air 8. Alat penghitung koloni 3.2.2 Bahan 1. Limbah cair pabrik gula, tekstil, rumah tangga, dan karet 2. Natrium agar 3.3 Cara Kerja 3.3.1 Cara Goresan 1. Cairkan nutrien agar dalam penangas air. 2. Dinginkan sampai suhunya sekitar 50oC. 3. Tuangkan medium tersebut dalam cawan petri steril secara aseptis, biarkan sampai dingin. 4. Ambil 1 ose suspensi bahan yang mengandung bakteri dan secara aseptik goreskan pada permukaan medium nutrien agar. Diharapkan pada akhir goresan akan tumbuh koloni-koloni terpisah yang dapat diisolasi lebih lanjut.

5. Setelah selesai digores petridis, tutup kembali dengan posisi terbalik dengan dibungkus dan diinkubasikan pada tempat inkubasi dengan suhu 37oC. 6. Setelah 48 jam, amati pertumbuhan bakteri, yang ditandai tumbuhnya kolonikoloni terpisah. 7. Pilih dari masing-masing tipe koloni yang terpisah tersebut satu koloni yang diperkirakan berasal dari satu jenis bakteri. 8. Amati secara aseptik dengan ose satu koloni yang dikehendaki dan suspensikan dalam air steril untuk diamati dan diuji lebih lanjut bentuk morfologi dan sifat fisiologinya. 3.3.2 Cara Taburan 1. Suspensikan bahan yang mengandung bakteri dengan maksud agar kolonikoloni bakteri dapat terpisah-pisah, sehingga dapat mudah diisolasi. 2. Cairkan nutrien agar dalam penangas air. 3. Dinginkan nutrien agar tersebut ampai suhunya sekitar 50oC, selanjutnya inokulasi dengan 1 ose suspensi bahan yang mengandung bakteri secara aseptik, dan gojok secara hati-hati supaya tercampur merata. 4. Tuangakn ke dalam petridis secara aseptik dan ratakan. 5. Setelah selesai digores petridis, tutup kembali dengan posisi terbalik dengan dibungkus dan diinkubasikan pada tempat inkubasi dengan suhu 37oC. 6. Setelah 48 jam, amati pertumbuhan bakteri, yang ditandai tumbuhnya kolonikoloni terpisah. 7. Pilih dari masing-masing tipe koloni yang terpisah tersebut satu koloni yang diperkirakan berasal dari satu jenis bakteri. 8. Amati secara aseptik dengan ose satu koloni yang dikehendaki dan suspensikan dalam air steril untuk diamati dan diuji lebih lanjut bentuk morfologi dan sifat fisiologinya.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Paramet N o Limba h Ulang an Jumla h Kolon i (Limbah Limbah 1 Cair Pabrik Gula 1 102 Bulat Rata * me nye nga t putih) Kuning kecoklata n (Limbah me 2 146 Bulat Rata * nye nga t putih) Kuning kecoklata n (limbah Bulat, 1 748 Batang Rata * me nye nga t me nye nga t me ungu pekat) coklat Pucat (limbah ungu pekat) coklat Pucat (limbah er Bentuk Koloni Pengama tan Bentuk Tepi Koloni Morfolo gi Sel Ba u Warna

Tabel 1. Hasil Identifikasi Bakteri E.coli pada 4 Jenis Contoh Limbah

Limbah 2 Cair Pabrik Tekstil Bulat, 2 750 Batang 3 Limbah 1 375 Bulat Bulat * Rata *

Cair

bergerigi

Rumah Tangga Limbah Cair Pabrik Karet

2

401

Bulat

Bulat bergerig Rata,berge lombang Rata,berge lombang

*

Bulat, 1 445 Lonjong Bulat, 2 425 Lonjong

4

*

*

nye nga t me nye nga t me nye nga t me nye nga t

abu-abu) coklat Pucat (limbah abu-abu) coklat Pucat (limbah putih) coklat pucat (limbah putih) coklat Pucat

Keterangan: * Tercantum dalam pembahasan

4.2 Pembahasan Dalam kegiatan praktikum tentang identifikasi dan isolasi bakteri E.coli pada 4 jenis limbah, yang meliputi limbah cair pabrik gula, tekstil, rumah tangga dan pabrik karet, positif mengandungbakteri E.coli. Semua itu dapat diketahui melalui parameter pengamatan yang telah dilakukan. Adapun parameter pengamatan tersebut meliputi jumlah koloni, bentuk koloni, bentuk tepi koloni, morfologi sel, bau, dan warna. Sehingga, setelah mengetahui parameter masingmasing, maka kita dapa menentukan suatu limbah dikatakan berbahaya atau tidak. Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa jumlah koloni paling banyak (rata-rata 749 buah) ialah pada limbah tekstil. Hal tersebut dikarenakan limbah tekstil dianggap oleh bakteri Escherichia coli sebagai media yang paling baik dalam pertumbuhannya. Selain itu, sterilisasi dalam proses pengolahan yang dilakukan kurang baik, sehingga tidak banyak bakteri yang mati. Hal tersebut didasarkan pada fungsi sterilisasi yaitu membunuh bakteri. Sedangkan jumlah koloni Escherichia coli paling sedikit (rata-rata124 buah) ialah pada limbah cair pabrik gula. Hal itu dikarenakan bakteri Escherichia coli banyak yang mati akibat proses sterilisasi, namun tidak semuanya mati. Sehingga, masih ada sebagian bakteri Escherichia coli yang mampu bertahan.

Baku mutu atau ambang batas jumlah koloni bakteri E. coli didalam limbah cair atau perairan adalah 0-1/100 ml (kosong) (Susanto dkk, 2009). Ambang batas E.coli dipersyaratkan 01/100ml, karena E.coli dapat menyebabkan penyakit. Berdasarkan pengamatan terhadap keempat contoh limbah cair, diketahui bahwa semuanya positif mengandung bakteri E.coli yang melebihi ambang batas. Sehingga, semua limbah tersebut tercemar secara biologis. Selain itu, limbah tersebut dikatakan tercemar biota air. Bentuk koloni Escherichia coli dari keempat limbah tersebut sama, yaitu berbentuk bulat. Sedangkan bentuk tepi koloni berbeda. Pada limbah cair pabrik gula dan tekstil bentuknya rata. Pada limbah cair rumah tangga bentuknya bergerigi, sedangakan pada limbah cair karet bentuknya bergelombang. Perbedaan bentuk tersebut dikarenakan terdapat perbedaan tempat tinggal dan pengaruh dari faktor luar seperti suhu ataupun pH. Selain itu, juga karena bentuk bakteri tersebut memang berbeda dari morfologi bentuk tepinya. Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui pula morfologi E.coli dari keempat jenis limbah. Dimana bentuk morfologi E.coli dari keempat jenis limbah pada dasarnya sama. Bentuk morfologi tersebut sesuai dengan morfologi yang kami temukan dari beberapa sumber, baik dari buku maupun jurnal penelitian. Namun, sebelum kita membahas morfologi sebaiknya kita mengetahui karakteristik bakteri E.coli secara keseluruhan. E.coli adalah bakteri dari anggota family Enterobacteriaceae. E.coli memiliki ukuran sel dengan panjang 2,0 – 6,0 μm dan lebar 1,1 – 1,5 μm. Bentuk sel dari bentuk seperti coocal hingga membentuk sepanjang ukuran filamentous. Pada E.coli tidak ditemukan spora. E.coli batang gram negatif memiliki sel yang berbeda, ada yang tunggal, berpasangan, dalam rantai pendek, maupun tidak berkapsul. Bakteri ini aerobik dan dapat juga aerobik fakultatif. E.coli merupakan karena kandungan E.coli yang tinggi akan menimbulkan penyakit terhadap makhluk hidup lain, terutama

penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi. Morfologi kapsula atau mikrokapsula terbuat dari asam-asam polisakarida. Mukoid kadang-kadang memproduksi pembuangan ekstraselular yang tidak lain adalah sebuah polisakarida dari speksitifitas antigen K tententu atau terdapat pada asam polisakarida yang dibentuk oleh banyak E.coli, seperti pada Enterobacteriaceae. Selanjutna, digambarkan sebagai antigen M dan dikomposisikan oleh asam kolanik. Pada pengamatan terhadap bau limbah, semua limbah yang diamati memiliki bau yang menyengat. Hal itu dikarenakan terjadi proses kimia dalam limbah yang menghasilkan gas berbau kurang enak. Proses tersebut terjadi akibat reaksi beberapa zat kimia ataupun akibat dari bakteri perombak dalam limbah cair. Sedangkan warna limbah berbeda-beda karena dipengaruhi oleh bahan dasar sebelum dihasilkan limbah. Warna limbah cair pabrik gula dan karet ialah putih, limbah cair tekstil berwarna ungu pekat, dan limbah cair rumah tangga berwarna abu-abu. Di samping itu, warna bakteri tiap limbah cair juga berbeda. Warna bakteri Escherichia coli limbah cair pabrik gula ialah kuning kecoklatan, sedangkan ketiga limbah cair lainnya mengandung bakteri Escherichia coli berwarna coklat pucat. Perbedaan warna tersebut dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya, namun terutama memang dari jenis bakteri Escherichia coli tersebut. Escherichia coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif yang ditemukan oleh Theodor Escherich. Pada umumnya, bakteri tersebut dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Escherichia coli atau biasa disingkat E.coli, adalah bakteri yang umum ditemukan di saluran pencernaan manusia. Bakteri E.coli dapat ditemukan pada usus manusia dan binatang berdarah panas. Escherichia coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia. Oleh karena itu, dikenal juga dengan istilah koli tinja, sedangkan Enterobacter aerogenes biasanya ditemukan pada hewan atau tanaman yang telah mati. Bakteri Escherechia coli merupakan mikroorganisme normal yang terdapat dalam kotoran manusia, baik sehat maupun sakit. Dalam satu gram kotoran manusia terdapat sekitar seratus juta bakteri E. coli.

Berdasarkan klasifikasi makhluk hidup, bakteri digolongkan dalam Divisio Schizomycetes. Escherichia coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif yang menyebabkan masalah kesehatan pada manusia, seperti diare, muntaber serta masalah pencernaan lainnya. Bakteri ini banyak digunakan dalam teknologi rekayasa genetika sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya. Klasifikasi Escherichia coli sebagai berikut: Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species sifat, yaitu : 1.  Sifat fisik Berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 mikrometer dan diamater 0.5 mikrometer,   Volume sel E. coli berkisar 0.6-0.7 micrometer kubik, Bakteri ini termasuk umumnya hidup pada rentang 20-40 o C, optimum pada 37oC,  2. Berbagai strain atau varian yang mempunyai karakteristik yang sedikit berbeda. Sifat Biologis : makanan, air, sediaan tinja, dan bersifat sebagai patogen.  Merupakan bakteri gram negatif, habitatnya dilingkungan akuatik, tanah, : Bacteria : Proteobacteria : Gamma proteobacteria : Enterobacteriales : Enterobacteri aceae : Eschericia : Eschericia coli

Berdasarkan klasifikasi tersebut, bakteri Escherichia coli memiliki beberapa

 Dinding selnya mengandung petidoglikan dan asam teikhoat yang selalu berpasangan membentuk rantai pendek seperti anggur, gram positif biasanya ada di kulit dan hidung yang bersifat sebagai patogen.  Dalam jumlah yang normal, umumnya bakteria ini tidak membawa pengaruh negatif pada manusia, namun jika terinfeksi strain yang berbahaya, maka berakibat buruk pada manusia. Contoh strain jenis O104, yang merupakan strain langka dan mempunyai sifat merugikan bagi manusia. Secara umum, bakteri E.coli memiliki struktur yang sama dengan bakteribakteri lain. Struktur umum bakteri tersusun menjadi dua, yaitu: 1. Struktur dasar sel bakteri a. Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan polisakarida (ketebalan peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri gram negatif bila peptidoglikannya tipis). b. Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun atas lapisan fosfolipid dan protein. c. Sitoplasma adalah cairan sel. d. Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein dan RNA. e. Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang dibutuhkan. 2. Struktur tambahan bakteri: a. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu, bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. b. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. c. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek, kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat

pada bakteri gram negatif. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. d. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. e. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. f. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk di dalam sel bakteri, jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik, dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan menguntungkan, endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Semua bakteri memiliki alat gerak yang memudahkannya dalam berpindah tempat. Sama halnya kaki pada manusia. Alat gerak pada bakteri berupa flagellum atau bulu cambuk yang strukturnya berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Flagellum memungkinkan bakteri bergerak menuju kondisi lingkungan yang menguntungkan dan menghindar dari lingkungan yang merugikan bagi kehidupannya. Flagellum memiliki jumlah yang berbeda-beda pada bakteri dan letak yang berbeda-beda pula. Flagellum terdiri atas 4 jenis, yaitu: 1. Monotrik, bila hanya berjumlah satu, 2. Lofotrik, bila banyak flagellum disatu sisi, 3. Amfitrik, bila banyak flagellum dikedua ujung, 4. Peritrik, bila tersebar diseluruh permukaan sel bakteri. Bakteri E.coli biasanya bergerak dengan flagella petrichous. E.coli memproduksi macam-macam fimbria atau pili yang berbeda, banyak macamnya pada struktur dan speksitifitas antigen, antara lain filamentus, proteinaceus, seperti rambut appendages di sekeliling sel dalam variasi jumlah. Fimbria merupakan rangkaian hidrofobik dan mempunyai pengaruh panas atau organ spesifik yang bersifat adhesi. Hal itu merupakan faktor virulensi yang penting. E.coli

merupakan bakteri fakultatif anaerob, kemoorganotropik, yang mempunyai tipe metabolisme fermentasi dan respirasi, tetapi pertumbuhannya paling sedikit banyak di bawah keadaan anaerob. Pertumbuhan yang baik pada suhu optimal 37oC pada media yang mengandung 1% peptone sebagai sumber karbon dan nitrogen. E.coli memfermentasikan laktosa dan memproduksi indol yang digunakan untuk mengidentifikasikan bakteri pada makanan dan air. E.coli berbentuk besar (2-3 mm), circular, konveks dan koloni tidak berpigmen pada nutrien dan media darah. E.coli dapat bertahan hingga suhu 60oC selama 15 menit atau pada 55oC selama 60 menit. Bakteri E.coli akan hidup dan berkembang dengan baik apabila lingkungan tempat tinggalnya sesuai dengan kebutuhannya. Pertumbuhan bakteri E.coli mempunyai arti yaitu terjadi perbanyakan sel dan peningkatan ukuran populasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau kondisi untuk pertumbuhan optimum adalah sebagai berikut : 1. Suhu, 2. Derajat keasaman atau pH, 3. Konsentrasi garam, 4. Sumber nutrisi, 5. Zat-zat sisa metabolism, 6. Zat kimia Escherichia coli adalah anggota flora normal usus yang berperan penting dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen-pigmen empedu, asam-asam empedu dan penyerapan zat-zat makanan. Escherichia coli termasuk ke dalam bakteri heterotrof yang memperoleh makanan berupa zat oganik dari lingkungannya, karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa organisme lain. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energi, dan mineral. Di dalam lingkungan, bakteri pembusuk ini berfungsi sebagai pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan. Escherichia coli menjadi patogen jika jumlahnya dalam saluran pencernaan meningkat atau berada di luar usus. Escherichia coli menghasilkan

enterotoksin yang menyebabkan beberapa kasus diare. Escherichia coli berasosiasi dengan enteropatogenik menghasilkan enterotoksin pada sel epitel. Escherichia coli yang menyebabkan diare dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu enteropatogenik, enteroinvasif, dan enterotoksigenik : 1. Escherichia coli enteropatogenik, menyebabkan gastroenteritis akut pada bayi yang baru lahir sampai pada yang berumur dua tahun. Mekanisme kelompok E. coli ini di dalam menyebabkan diare masih belum diketahui. 2. Echerichia coli, enteroinfasif menyerang sel-sel epitel usus besar dan menyebabkan sindrom klinis yang mirip sidrom yang disebabkan oleh Shingella. Galur-galur bakteri ini dikenal sebagai enteroinvasif. 3. Echerichia coli enterotoksigenik, (yang menghasilkan enterotoksin) menghasilkan salah satu atau kedua macam toksin yang berbeda. Beberapa galur menghasilkan yang tahan panas (TP), sedangkan yang lain sebagai tambahan mensintesis juga toksin yang tidak tahan panas (TTP). Beberapa galur hanya menghasilkan TTP. Kedua macam toksin tersebut menyebabkan diare pada orang dewasa dan anak-anak. Kebanyakan Echerichia coli tidak berbahaya, tetapi ada pula yang berbahaya, seperti Echerichia coli tipe O157:H7 yang dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia. Keracunan tersebut mengakibatkan diare berdarah karena eksotoksin yang dihasilkan bernama verotoksin. Toksin ini bekerja dengan cara menghilangkan satu basa adenin dari unit 28S rRNA, sehingga menghentikan sintesis protein. Sumber bakteri ini berasal dari daging yang belum masak, seperti daging hamburger. Echerichia coli yang tidak berbahaya dapat menguntungkan manusia dengan memproduksi vitamin K2, atau dengan mencegah baketi lain di dalam usus. Echerichia coli banyak digunakan dalam teknologi rekayasa genetika. Biasa digunakan sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. Echerichia coli dipilih karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya. Bakteri Echerichia coli selain memilik dampak positif juga memiliki dampak negatif. Dampak positif bakteri Echerichia coli yang berada di dalam

usus besar manusia berfungi untuk menekan pertumbuhan bakteri jahat. Selain itu, juga membantu dalam proses pencernaan, termasuk pembusukan sisa-sisa makanan dalam usus besar. Fungsi utama yang lain dari Echerichia coli adalah membantu memproduksi vitamin K melalui proses pembusukan sisa makanan. Vitamin K berfungsi untuk pembekuan darah, misalnya saat terjadi pendarahan seperti pada luka atau mimisan. Sedangkan dampak negatif dari bakteri Echerichia coli ialah sebagai berikut : a. Gangguan sistem pencernaan, b. Gangguan pada ginjal, c. Serangan jantung atau stroke, d. Tekanan darah tinggi.

BAB 5. KESIMPULAN Berdasarkan data hasil pengamatan dan pembahasan tentang identifikasi dan isolasi bakteri Eschericia coli, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Jumlah koloni bakteri Eschericia coli paling banyak yaitu pada limbah pabrik tekstil dan paling sedikit pada limbah pabrik gula. 2. Semakin sedikit jumlah koloni Eschericia coli dalam limbah cair, maka semakin baik sterilisasi yang dilakukan sebelum limbah tersebut dialirkan ke perairan. 3. Bentuk koloni bakteri Eschericia coli dari keempat jenis limbah umumnya bulat, namun ada pula yang bulat batang dan bulat lonjong. 4. Bentuk tepi koloni bakteri Eschericia coli dari keempat jenis limbah berbeda, yaitu ada yang rata, bulat bergerigi, dan rata bergelombang yang dipengaruhi oleh faktor luar seperti tempat hidup maupun dari bakteri itu sendiri. 5. Eschericia coli memiliki ukuran sel dengan panjang 2,0- 6,0 μm dan lebar 1,11,5 μm yang berbentuk seperti coocal hingga membentuk sepanjang ukuran filamentous. Sel Eschericia coli batang gram negatif ada yang tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek, biasanya tidak berkapsul. Eschericia coli bersifat aerobik dan dapat juga aerobik fakultatif.

6. Keempat limbah yang mengandung Eschericia coli E.coli berbau menyengat karena terjadi reaksi kimia dan penguraian oleh berbagai bakteri, sehingga menghasilkan gas yang baunya menyengat. 7. Warna limbah dari keempat jenis limbah berbeda, sedangkan warna Eschericia coli pada media agar ada yang kuning kecoklatan dan coklat pucat. 8. Bakteri Eschericia coli bersifat negatif karena menyebabkan infeksi saluran pencernaan dan bersfat positif karena dapat membusukkan makanan dalam usus manusia maupun hewan. 9. Penanganan atau pengobatan pasien yang terserang bakteri Eschericia coli adalah dengan cara mengetahui tingkat toksisitasnya dan mengetahui jenis penyakit yang ditimbulkan. DAFTAR PUSTAKA Adi, S. 2001. Bakteri E.coli dan pembagian bakteri E.coli. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Baroto dan S.A. Siradz. 2006. Taraf Pencemaran dan Kandungan Kromium (Cr) pada Air dan Tanah di Daerah Aliran Sungai Code Yogyakarta. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, 6 (2): 82-100. Boekoesoe, Lintje. 2010. Tingkat Kualitas Bakteriologis Air Bersih di Desa Sosial Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo. Inovasi, 7 (4): 1112-1123. Dadang, S. 2000. Deteksi Cepat Bakteri Escherichia coli Enterohemoragik (EHEK) dengan Metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Jurnal Risalah Pertemuan Ilmiah Penelitian dan Pengembangan teknologi IsoIop dan Radiasi, 1 (2): 1-7. Deni, L. 2004. Kandungan Mikroorganisme Pada Limbah Cair. Jakarta: Tiga Serangkai. Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air : Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius. Estiningsih, I.K. dan Mifbakhuddin. 2004. Pengaruh Volume Lumpur Aktif dan Waktu Kontrak terhadap Penurunan Kadar BOD Limbah Cair Rumah Sakit. Jurnal Litbang Universitas Muhammadiyah Malang: 32-39.

Fardiaz S. 1989. Mikrobiologi Pangan (Pusat Antar Universitas). Bogor: Institut Pertanian Bogor. Hadi, Anwar. 2005. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan. Jakarta: Gramedia Pustaka. Hawa, L.C. dkk. 2011. Studi Komparasi Inaktivasi Escherechia coli dan Perubahan Sifat Fisik padaPasteurisasi Susu Sapi Segar menggunakan Metode Pemanasan dan tanpa Pemanasan dengan Kejut Medan Listrik. Jurnal Teknologi Pertanian, 12 (1): 31-39. Kodoatie, Robert J., dan R. Sjarif. 2010. Tata Ruang Air. Yogyakarta: Penerbit Andi. Mohana, V.S. et al. 2011. Effect of Treated and Untreated Coffe Wastewater on Growth, Yield, and Quality of Palmorosa Grass (Cymbopogon martini, L.) Var. Motia. International Journal of Research in Chemistry and Environment, 1 (2): 111-117. Nugroho, Rudi, Ikbal, dan N. Sulasmi. 2008. Pengolahan Limbah Cair Industri Percetakan Uang Kertas (Utas) menggunakan Proses Biologi Anaerob. JAI, 4 (1): 28-37. Rizka, P. 2002. Buku Pengantar Lingkungan. Malang: Gramedia. Sahubawa, Latif. 2008. Analisis dan Prediksi Beban Pencemaran Limbah Cair Industri Kayu Lapis PT. Jati Dharma Indah, serta Dampaknya terhadap Kualitas Perairan Laut. J. Manusia dan Lingkungan, 15 (2): 70-78. Siregar, S.A. 2005. Instalasi Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: Universitas Indonesia. Sri, A. 2010. Penelitian Bakteri E.coli pada Air limbah saluran irigasi. Jurnal badan penelitian bidang pertanian, 3 (5): 1-2. Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: Universitas Indonesia. Syamsunir, Adam. 1992. Dasar-Dasar Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Perawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Zubaidah, Elok dkk. 2008. Studi Keamanan Susu Pasteurisasi yang beredar di Kotamadya Malang (Kajian dari Mutu Mikrobiologis dan Nilai Gizi). Jurnal Teknologi Pertanian, 3 (1): 29-34.

Lampiran Gambar 3. Strukt E. coli dengan pili dan flagella ur E.coli Gambar 4. Struktur E.coli

Sumber: Li A (2009) dan Anonim (2009)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->