P. 1
Halusinasi Pendengaran Blm Slese

Halusinasi Pendengaran Blm Slese

|Views: 72|Likes:
Published by RajuDdin Kwonnie
halusinasi
halusinasi

More info:

Published by: RajuDdin Kwonnie on Apr 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan. Kesehatan jiwa bukansekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal yang di butuhkan olehsemua orang. Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagai mana adanya. Serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. (Menkes, 2005) Menurut Sekretaris Jendral Dapertemen Kesehatan (Sekjen Depkes), H. Syafii Ahmad,kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap negara termasuk Indonesia. Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya pada masyarakat. Di sisi lain, tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyusuaikan dengan berbagai perubahan, sertamengelola konflik dan stres tersebut. ( Diktorat Bina Pelayanan Keperawatan dan PelayananMedik Dapertemen Kesehatan, 2007) Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat.Pada study terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-negara berkembang,sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa parah tidak dapat pengobatan apapun pada tahunutama(Hardian, 2008). Masalah kesehatan jiwa merupakan masalah kesehatan masyarakat yang demikian tinggi dibandingkan dengan masalah kesehatan lain yang ada dimasyarakat. Dari 150 juta populasi orang dewasa Indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan(Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan mental emosional. Sedangkan 4 % dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya layanan untuk penyakitkejiwaan ini. Krisis ekonomi dunia yang semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia khususnya kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25%dari juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa (Nurdwiyanti, 2008).

Bagaimana pohon masalah dari halusinasi? 7. Mengetahui tahapan-tahapan halusinasi. Tujuan Khusus a. Mengetahui tanda-tanda atau gejala dari halusinasi. Mengetahui rentang respon halusinasi f. Tujuan 1. c. Mengetahui pengertian halusinasi. Apa penyebab dari halusinasi? 3. 2. e. Mengetahui penyebab dari halusinasi. B. Apa gejala dari halusinasi? 4. Apa yang dimaksud dengan halusinasi? 2. tahun 2008 ( januari-maret) jumlahpasien 2294 dengan halusinasi sebanyak 1162 orang. Mengetahui asuhan keperawatan dari halusinasi pendengaran . tahun 2007 jumlahpasien 9245 dengan halusinasi sebanyak 4430 orang (49%). Rumusan Masalah 1. Bagaimana asuhan keperawatan halusinasi pendengaran? C. Agar perilaku kekerasan tidak terjadi pada klien halusinasi maka sangat di butuhkan asuhan keperawatan yang berkesinambungan. d.Berdasar kan data dari medical record BPRS dari makasar provinsi 2ulawesi selatan menunjukan pasien halusinasi yang dirawat pada tiga tahun terakhir sebagai berikut: pada tahun2006 jumlah pasien 8710 dengan halusinasi sebanyak 4340 orang (52%). Bagaimana rentang respon halusinasi? 6. b. Mengetahui pohon masalah dari halusinasi g. Tujuan Umum Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa dan diharapkan mahasiswa mampu memahami seputar halusinasi pendegaran. Bagaimana tahapan dari halusinasi? 5.

hewan. Lesi pada daerah frontal. suara mesin yang tidak ada hubungannya dengan stimulus yang nyata (Stuart dan Sundeen. 2009). seolah-olah mendengar suara manusia. psikotik ataupun histerik (Maramis. faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah : 1. Pengertian 1. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut : 1) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Halusinasi adalah tanggapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) dari luar diri (eksternal). Etiologi Menurut Stuart (2001). Halusinasi pendengaran adalah persepsi yang salah dari indra pendengaran. dasarnya mungkin organik. temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. Halusinasi pendengaran Halusinasi dengar merupakan adanya persepsi sensori pada pendengaran individu tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata. Halusinasi Halusinasi adalah penyerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indra sesorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun. tanpa sumber rangsangan eksternal. . (Stuart. 1995).BAB II PEMBAHASAN A. 2. B. 2001). Faktor predisposisi (pencetus) a. Biologis Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami.

c. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien. Menurut Stuart (2001). 2. faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah : a. yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam . Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak. bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.2) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia. Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem). kerusuhan. b. pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. 3) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. ditemukan pelebaran lateral ventrikel. Psikologis Keluarga. perasaan tidak berguna. isolasi. tekanan. putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat. Faktor Presipitasi (penyulut) Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis. Sosial Budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan. konflik sosial budaya (perang. atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). 2006).

Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara. Sumber koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor. Respon verbal yang lambat. C. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai. 4. Gerakan mata abnormal. Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan. 5. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Stress lingkungan Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. Penyempitan kemampuan konsenstrasi. . 10. 12. Gejala Halusinasi Menurut Stuart dan Sundeen (1995). 13. pernafasan dan tekanan darah. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan nadi. 3. b. 7. 9. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya daripada menolaknya. 6. Diam.otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan. 11. 2. c. 8. Mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas. Dipenuhi dengan pengalaman sensori. seseorang yang mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan gejala-gejala yang khas yaitu: 1.

14. rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk dan agitasi. asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realita. 22. diam dan asyik sendiri. pergerakan mata yang cepat. Tahapan halusinasi Menurut Stuart (2001) tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase dan setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda. Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai. 2. 18. Tremor. menggerakkan lidah tanpa suara. 3. pernapasan dan tekanan darah). 17. 21. Fase I Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas. Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks. 16. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang D. 19. 15. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain. Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain. Perilaku menyerang teror seperti panik. Fase III Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Berkeringat banyak. Menarik diri atau katatonik. kesepian. 20. . Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung. yaitu: 1. Fase II Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan.

E. . Persepsi akurat : yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam maupun diluar dirinya. tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang. Fase IV Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. tremor. logis : yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren. 4. Rentang Respon Halusinasi Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi. tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang lain. Kondisi klien sangat membahayakan.berkeringat. agitasi. Rentang respon neurobiologi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. menarik diri. Di sini terjadi perilaku kekerasan. 2.

6. Emosi konsisten : yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar di sertai banyak banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama. Perilaku sesuai : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya umum yang belaku.3. Menarik diri : yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain. Proses pikir kadang tergantung (ilusi): yaitu menifestasi dari persepsi implus eksternal melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada area tertentu diotak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah dialami sebelumnya. 7. Perilaku atau tidak sesuai atau biasa : yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyesuaian masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sesial atau berbudaya umum yang berlaku. 8. 9. menghindari hubungan dengan orang lain. . 4. 11. 10. 5. Emosi berlebihan atau kurang : yaitu manifstatasi perasaan atau afek keluar berlebihan atau kurang. individu dan kelompok dalam bentuk kerja sama. Perilaku aneh atau tidak biasa : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya umum yang berlaku. Hubungan sosial harmonis : yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu dan individu. Isolasi sosial : menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dalam berinteraksi.

Pohon Masalah .F.

jenis kelamin. 6) Orang tua yang membandingkan anak – anaknya. pekerjaan. b. gejala yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. c. minum dan rasa aman. Pengkajian 1. status. pendidikan. tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi. orang tua yang otoritas dan komplik orang tua. 2. suku. agama. sakit kronis.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. Identitas klien dan penanggung Yang perlu dikaji yaitu: nama. Faktor predisposisi a. 3. 2) Tidak ada komunikasi. Faktor perkembangan terlambat 1) Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan. umur. dan alamat. cacat. Faktor sosial budaya Isolasi sosial pada yang usia lanjut. terganggu karena perilaku klien dan hal lain. Alasan masuk rumah sakit Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga merasa tidak mampu merawat. . Faktor komunikasi dalam keluarga 1) Komunikasi peran ganda. tidak terpenuhi kebutuhan otonomi. 2) Usia balita. 4) Komunikasi dengan emosi berlebihan 5) Komunikasi tertutup. 3) Tidak ada kehangatan. 3) Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan.

mudah putus asa. perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik. Pengalaman halusinasi menjadi masalah untuk dibicarakan dengan orang lain. e. banyak pasien kemudian enggan untuk menceritakan pengalaman-pengalaman aneh halusinasinya. menutup diri. berupa : atrofi otak. Faktor biologis Adanya kejadian terhadap fisik. krisis peran. f. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda-tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekewdar mengetahui jenis halusinasinya saja. Faktor psikologis Mudah kecewa. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi: 1) Isi halusinasi yang dialami oleh pasien 2) Waktu dan frekuensi halusinasi 3) Situasi pencetus halusinasi 4) Respons pasien.d. g. kecemasan tinggi. ideal diri tinggi. harga diri rendah. gambaran diri negatif dan koping destruktif. Perilaku Pasien yang mengalami halusinasi sering kecewa karena mendapatkan respons negative ketika mereka menceritakan halusinasinhya kepada orang lain. Oleh sebab itu. Kemampuan untuk bercakap-cakap tentang halusinasi yang dialami oleh pasien penting untuk memiliki ketulusan dan perhatian yang penuh untuk dapat memfasilitasi percakapan tentang halusinasi. . Faktor genetik Adanya pengaruh herediter (keturunan) berupa anggota keluarga terdahulu yang mengalami skizofrenia dan kembar monozigot. identitas diri tidak jelas. pembesaran vertikel.

Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak. 4. kecemasan berat atau panic. delirium berhubungan dengan riwayat demam dan penyalahgunaan obat 4) Riwayat skizofrenia dalam keluarga 5) Fungsi system tubuh a) Perubahan berat bada. j.kurang motivasi koping. ruang kebersihan diri atau tidak mandi. sikap negatif dan bermusuhan. pendengaran. perasaan bersalah atau malu.h. Fisik 1) ADL Nutrisi tidak adekuat bila halusinasi memerintah untuk tidak makan. Status Intelektual Gangguan persepsi. hypertemia(demam) b) Neurologikal:perubahan mood. atau kegiatan ganjil. penggunaan obat-obatan dan zat halusinogen dan tingkah laku merusak diri. . pencviuman dan kecap. suka berkelahi . 2) Kebiasaan Berhenti dari minuman keras.disorientasi c) Ketidakefektifan endoktrin oleh peningkatan temperature i. tidak logis dan sukar diikuti atau kaku. 3) Riwayat kesehatan Skizofrenia.penglihatan. Status Emosi Afek tidak sesuai. perabaan. isi piker tidak realitas. agitasi gerakan. Faktor presipitasi Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi: a. tidur terganggu karena ketakutan. tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan aktivitas fisik yang berlebihan.

Mengetahui masalah yang dialami oleh klien. membalas salam. c. Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme penerimaan abnormal). Intervensi 1. orang lain dan lingkungan. Ekspresi wajah bersahabat. Dorong klien mengungkapkan perasaannya. Adanya hubungan yang bermusuhan. 2. mau duduk dekat perawat. 2.b. Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi perawat dan klien. Diagnosa Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan C. perkenalkan nama perawat. putus asa dan tidak berdaya. Tujuan umum: Tidak terjadi perilaku kekerasan yang diarahkan kepada diri sendiri. perasaan tidak berguna. tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai. INTERVENSI 1. baik secara verbal maupun non verbal. jujur dan menepati janji. Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran. tekanan. . bersikap empati dan menerima klien apa adanya. jelaskan tujuan pertemuan. Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/ komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah. Tujuan khusus: TUK 1: a. RASIONAL 1. isolasi. B. Klien dapat membina hubungan saling percaya b. klien nampak tenang. mau berjabat tangan.

2. INTERVENSI 1. Halusinasi harus kenal terlebih dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi. Klien dapat mengenal halusinasinya. Dengarkan klien dengan penuh perhatian dan empati. Peran serta aktif klien rasa percaya klien. Observasi segala perilaku klien verbal 2. Diskusikan dengan klien faktor a. Agar klien merasa diperhatikan b. b. b. 3. Klien dapat mengontrol halusinasi. dahulu agar intervensi efektif membantu dalam melakukan intervensi keperawatan. Diskusikan dengan klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan situasi. b. tapi tidak nyata bagi perawat. . Dengan diketahuinya faktor predisposisi membantu dalam mengontrol halusinasi. Meningkatkan realita klien dan nyata bagi klien. TUK 3: a. Adakan kontak sering dan singkat. RASIONAL 1. Terima halusinasi klien sebagai hal yang 3. predisposisi terjadinya halusinasi.3. TUK 2: a. 3. Klien dapat menyebutkan situasi yg dapat menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi. Klien dapat membedakan antara nyata dan tidak nyata. a. Menghindari waktu kosong yang dapat menyebabkan timbulnya halusinasi. Klien dapat menyebutkan tindakan yang dapat dilakukan apabila halusinasinya timbul. 4.

Meningkatkan pengetahuan klien tentang cara memutuskan halusinasi. INTERVENSI Diskusikan dengan klien tentang obat untuk mengontrol halusinasinya. . Mengetahui yang dilakukan bila halusinasinya timbul. Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya. minum obat secara teratur. c. Klien mau minum obat dengan teratur. Dorong klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasi. Klien akan dapat menyebutkan cara memutuskan halusinasi yaitu dengan melawan suara itu dengan mengatakan tidak mau mendengar. dan lapor pada perawat pada saat timbul halusinasi a. hasil diskusi sebagai bukti dari perhatian klien atas apa yg dijelaskan. RASIONAL Meningkatkan pengetahuan klien tentang fungsi obat yang diminum agar klien mau minum obat secara teratur. Meningkatkan harga diri klien. dilakukan mengontrol halusinasinya. Klien dapat memanfaatkan obat dalam mengontrol halusinanya. lakukan kegiatan : menyapu/mengepel. a. b. 2.INTERVENSI RASIONAL tindakan dalam yang 1. Berikan reinforcement positif atas keberhasilan kembali halusinasinya TUK 4 : klien cara menyebutkan memutuskan c. a. Diskusikan dengan klien tentang tindakan 1. b. b.

2.TUK 5: a. Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien. 2. setelah pulang kontrol 1 x dalam sebulan. Klien menunjukkan kemampuan mandiri untuk mengontrol halusinasi 2. Kaji kemampuan keluarga tentang tindakan yg dilakukan dalam merawat klien bila halusinasinya timbul. INTERVENSI 1. Mampu melaksanakan program pengobatan berkelanjutan 3. RASIONAL 1. Implementasi E. Keluarga mampu menjadi sebuah sistem pendukung yang efektif dalam membantu klien mengatasi masalahnya. Evaluasi Asuhan keperawatan klien dengan halusinasi berhasil jika : 1. Klien mendapat sistem pendukung keluarga dalam mengontrol halusinasinya. Mengetahui tindakan yang dilakukan oleh keluarga dalam merawat klien. selalu berinteraksi dengan klien. Diskusikan juga dengan keluarga tentang cara merawat klien yaitu jangan biarkan klien menyendiri. anjurkan kepada klien untuk rajin minum obat. . D. b. Klien mendapat sistem pendukung keluarga.

barang. mesin. B.PENUTUP A. baik dalam aplikasi praktik di lingkungan rumah sakit maupun di lingkungan sekitar sendiri. hewan. merasakan sensasi palsu berupa suara. . Kesimpulan Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut. Halusinasi pendengaran seperti mendengar suara manusia. Semoga makalah ini bermanfaat buat kehidupan pembaca. pengecapan. kejadian alamiah dan musik dalam keaadan sadar tanpa adanya rangsangan apapun. Halusinasi pendengaran adalah persepsi sensorik yang keliru melibatkan panca indra pendengaran yang merupakan gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi. penglihatan. Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada. Saran Melalui makalah ini kelompok mengharapkan agar pengetahuan mengenai halusinasi sebagai gejala dari skizofrenia dapat diketahui oleh para pembaca. perabaan atau penghiduan.

EGC.J. Buku Saku Keperawatan Jiwa . Willy F . Budi Anna. Jakarta. Principle And Practice Of Psychiatric Nursing Edisi 6. St Louis : Mosby Year Book. 2006. S. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa .Jakarta . Maramis. EGC. 2001. Stuart. G. . 1995.Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2. Surabaya.. Principles and Practice of Psychiatric Nursing (5thed) St louis :Mosby Year Book. Stuart dan Sundeen .DAFTAR PUSTAKA Stuart dan Laraia. Keliat .W. 1995. Edisi 3. dan Sundeen.2009.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->