P. 1
Struktur Ekonomi Indonesia

Struktur Ekonomi Indonesia

|Views: 93|Likes:
Published by Eka Sry W Binventy

More info:

Published by: Eka Sry W Binventy on Apr 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Latar Belakang Masalah
  • 1.2.Perumusan Masalah

Struktur Ekonomi Indonesia

Share on email Share on linkedin Share on facebook Share on twitter More Sharing Services 46

Gambaran perekonomian suatu negara dapat dilihat melalui beberapa aspek, baik itu dari aspek
kinerja perekonomiannya maupun dari aspek strukturnya. Postingan sebelumnya kita telah
membahas salah satu cara untuk melihat bagaimana kinerja perekonomian melalui penghitungan
pertumbuhan ekonomi. Pada postingan kali ini kita akan mencoba untuk membahas tentang
struktur perekonomian, khususnya struktur ekonomi Indonesia.

PDB, Indikator Penting untuk Mengukur Perekonomian Negara

Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan salah satu indikator yang banyak digunakan peneliti
untuk menganalisis keadaan makro ekonomi. Data PDB memiliki peran yang cukup penting
dalam menganalisis suatu permasalahan makro ekonomi sebagai dasar dalam pengambilan
kebijakan. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, diantara kegunaan data PDB antara lain
adalah untuk menentukan laju pertumbuhan ekonomi dan struktur ekonomi. Selain itu, dari data
PDB ini juga dapat diturunkan menjadi beberapa indikator ekonomi lainnya. Sebelum kita
membahasnya secara lebih detail, mari kita bahas tentang PDB itu sendiri, bagaimana
pendekatan

penghitungannya

dan

cara

menghitungnya.

Penghitungan

PDB

dilakukan

dengan

3

pendekatan,

yaitu:

1. Pendekatan Produksi
PDB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit
produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit
produksi tersebut dikelompokkan menjadi 9 sektor, yaitu :
-

Pertanian,

peternakan,

kehutanan

dan

perikanan,

-

Penrtambangan

dan

penggalian,

-

Industri

pengolahan,

-

Listrik,

gas

dan

air

bersih,

-

Konstruksi,

-

Perdagangan,

hotel,

dan

restoran,

-

Pengangkutan

dan

komunikasi,

-

Keuangan,

real

estate

dan

jasa

perusahaan,

-

Jasa

jasa

termasuk

jasa

pelayanan

pemerintah,

2. Pendekatan Pendapatan
PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor – faktor produksi yang ikut serta
dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa faktor produksi
yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan, semuanya
sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. PDB mencakup juga
penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi).

3. Pendekatan Pengeluaran/Penggunaan
PDB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari :

- Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta (PC).

-

Pengeluaran

konsumsi

pemerintah

(GC).

-

Pembentukan

modal

tetap

(TCF).

-

Perubahan

inventori/stok

(S).

- Ekspor neto (ekspor (EX) dikurangi impor (IM)).

Dalam persamaan matematis dapat dituliskan sebagai berikut :

Y = PC + GC + TCF + S + (EX-IM)

Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan hasil yang sama. Jadi jumlah
pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama
pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi. Dari data PDB yang ada, juga
dapat diturunkan beberapa indikator ekonomi lainnya, antara lain Produk Nasional Bruto (PNB),
Produk Nasional Neto atas dasar harga pasar dan atas dasar biaya faktor biaya produksi serta
indikator

angka-angka

per

kapita.

Struktur

Ekonomi

Indonesia,

Analisis

Deskriptif

Struktur ekonomi dapat diartikan sebagai komposisi peranan masing-masing sektor dalam
perekonomian baik menurut lapangan usaha maupun pembagian sektoral ke dalam sektor primer,
sekunder dan tersier. Gambaran kondisi struktur ekonomi Indonesia dapat dilihat melalui
kontribusi setiap sektor ekonomi terhadap pembentukan PDB. Struktur ekonomi dikatakan
berubah apabila kontribusi/pangsa PDB dari sektor ekonomi yang mulanya dominan digantikan
oleh

sektor

ekonomi

lain.

Dalam analisis deskriptif ini, kita akan melihat bagaimana kondisi struktur ekonomi Indonesia
dari tahun 1983 sampai 2010. Untuk memudahkan analisis, sektor-sektor dalam perekonomian
akan dikelompokan menjadi 3 sektor yaitu sektor primer, sekunder dan tersier. Sektor primer
merupakan gabungan dari sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan dan sektor
pertambangan dan penggalian. Sektor sekunder merupakan gabungan dari sektor industri
pengolahan, sektor listrik, gas dan air dan sektor konstruksi. Sedangkan sektor tersier merupakan
gabungan dari sektor perdagangan, hotel, restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor
keuangan,

real

estate

dan

jasa

perusahaan

serta

sektor

jasa-jasa.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berlangsung secara berkesinambungan pada periode
sebelum krisis ekonomi (pertumbuhan tidak pernah berada di bawah 6,40 persen) dan semakin
meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat secara agregat, ternyata memberi kemajuan yang
cukup berarti terhadap perubahan struktur ekonomi Indonesia. Perubahan struktur ekonomi ini
terlihat dari perubahan komposisi sektor ekonomi atas kontribusinya terhadap PDB dalam jangka
waktu tahun 1983-2010.

Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia Tahun 1983-2010

Dilihat dari lapangan usaha utama, kontribusi sektor primer terhadap PDB pada tahun 1983
adalah sebesar 43,64 persen dan pada tahun 2010 tinggal 26,49 persen. Sementara itu, kontribusi
sektor sekunder yang semula hanya sebesar 19,08 persen pada tahun 1983 menjadi sekitar 35,89
persen pada tahun 2010. Sedangkan sektor tersier mengalami perubahan yang relatif konstan,
kontribusi sektor ini terhadap PDB pada tahun 1983 sebesar 37,29 persen dan pada tahun 2010
sebesar 37,62 persen, tidak jauh berbeda dengan tahun 1983. Hal ini menunjukkan telah terjadi
transformasi perekonomian atau perubahan struktur ekonomi Indonesia yang ditandai dengan
semakin menurunnya peran sektor primer dalam sumbangannya terhadap PDB dan semakin
meningkatnya

peran

sektor

nonprimer.

Terlihat bahwa telah terjadi perubahan pada struktur ekonomi Indonesia. Hal ini terlihat dari
semakin menurunnya pangsa sektor primer dan semakin meningkatnya pangsa sektor nonprimer
terhadap PDB dari periode 1983-2010. Perkembangan kontribusi sektor ekonomi terhadap PDB
pada periode sebelum krisis ekonomi (1983-1996) menunjukkan bahwa dominasi produk yang
dihasilkan perekonomian Indonesia mulai bergeser dari sektor primer ke sektor sekunder dan
tersier.

Pada tahun 1983 pangsa sektor primer masih cukup tinggi dibandingkan sektor lainnya, yaitu
sebesar 43,64 persen, sedangkan sektor sekunder sebesar 19,08 persen dan sektor tersier sebesar
37,29 persen. Pangsa sektor primer terhadap PDB kemudian berangsur-angsur turun hingga
hanya sebesar 25,33 persen pada tahun 1996, sedangkan sektor sekunder justru terus mengalami
peningkatan. Pangsa sektor sekunder terhadap PDB pada tahun 1996 menjadi 34,80 persen,
meningkat 15,72 persen dari tahun 1983. Sektor tersier mengalami perkembangan yang relatif
konstan selama periode 1983-1996. Selama periode tersebut tercatat pangsa sektor tersier
terhadap PDB berkisar pada angka 37,29 persen sampai 42,44 persen.

Pada periode terjadinya krisis ekonomi (tahun 1997-1999) struktur perekonomian Indonesia
relatif tidak mengalami perubahan yang berarti, kecuali sektor pertanian. Pada tahun 1997, sektor
primer memiliki pangsa sebesar 24,94 persen terhadap PDB dan meningkat cukup besar pada
tahun 1998 menjadi 30,67 persen dan kemudian turun kembali menjadi 29,61 persen pada tahun
1999. Pangsa sektor sekunder terhadap PDB pada periode tersebut tidak mengalami perubahan
yang berarti, pangsa sektor ini sebesar 35,48 persen pada tahun 1997, 32,64 persen pada tahun

1998 dan meningkat menjadi 33,36 persen pada tahun 1999. Sedangkan sektor tersier memiliki
pangsa terhadap PDB berkisar antara 36,69 persen sampai 39,58 persen selama periode krisis
ekonomi

ini.

Setelah melewati krisis ekonomi, perubahan struktur Indonesia terlihat dari semakin menurunnya
pangsa sektor primer dari tahun 2000 sampai 2004. Pangsa sektor primer terus mengalami
penurunan dari 27,67 persen pada tahun 2000 menjadi 23,28 persen pada tahun 2004. Pada
periode yang sama, pangsa sektor sekunder terhadap PDB justru cenderung mengalami
peningkatan dari 33,86 persen pada tahun 2000 menjadi 35,69 persen pada tahun 2004, walaupun
pada tahun 2003 sempat mengalami penurunan sebesar 0,2 persen dibandingkan tahun
sebelumnya. Pangsa sektor tersier pada tahun 2000-2004 tidak mengalami perubahan yang cukup
berarti, pada tahun 2000-2001 pangsa sektor ini mengalami penurunan, namun pada tahun 2002-
2003 mengalami kenaikan. Pada tahun 2003 pangsa sektor tersier adalah sebesar 41,07 persen,
meningkat 1,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan turun 0,03 persen pada tahun 2004.

Selama tahun 2005-2010, sektor yang terlihat cenderung meningkat pangsanya terhadap PDB
adalah sektor primer. Pangsa sektor primer pada tahun 2010 adalah sebesar 26,49 persen,
meningkat jika dibandingkan tahun 2005 yang memiliki pangsa sebesar 24,27 persen saat itu.
Pada tahun 2008-2010 sektor sekunder dan tersier terlihat memiliki pangsa yang relatif mirip
terhadap PDB yaitu berkisar antara 35,89 persen sampai 37,62 persen. Namun, secara umum
pangsa sektor primer masih tetap berada di bawah pangsa sektor sekunder dan tersier.

Jika kita lihat dari hasil analisis deskriptif di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa
telah terjadi perubahan struktur ekonomi di Indonesia selama tahun 1983-2010. Sejak tahun 1985,
peran sektor primer telah digeser oleh sektor tersier, kemudian pada tahun 1993 sektor primer
kembali digeser oleh sektor sekunder. Pada tahun 2009 sektor sekunder merupakan sektor yang
memiliki peran paling besar terhadap PDB, namun pada tahun 2010 kembali digeser oleh sektor
tersier. Sampai tahun 2010 peran sektor primer masih berada di bawah sektor tersier dan
sekunder. Hal ini menunjukan bahwa proses transformasi struktur ekonomi Indonesia telah
menuju ke arah industrialisasi, dimana peran sektor primer mulai digantikan oleh peran sektor
lainnya, terutama sektor sekunder yang mengalami peningkatan kontribusi cukup besar dan
signifikan hampir di tiap tahun dibanding sektor lainnya.

http://ekanurdiyanto.blogspot.com/2012/04/struktur-ekonomi-indonesia.html

Struktur Perekonomian Daerah

Dituliskan di kategori: Ekonomi | Dibaca 843 kali

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sleman selama tahun 2011 sebesar 4,84 %, dan tahun 2010
sebesar 4,11%. Perkembangan pertumbuhan ekonomi pada grafik sebagai berikut:

Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2009-2011

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Sleman Tahun 2009-2011

No

Lapangan Usaha

Pertumbuhan (%)

2009

2010 2011*

1. Pertanian

1,75

0,80

0,23

2. Pertambangan

-4,84

6,40

4,51

3. Industri Pengolahan

1,93

2,08

3,44

4. Listrik, Gas, dan Air

6,21

5,29

6,24

5. Bangunan

6,51

7,34

6,41

6. Perdagangan, Hotel & Rest

5,99

5,14

6,75

7. Pengangkutan

5,40

6,33

6,24

8. Keuangan

5,47

4,33

6,14

9. Jasa

4,70

4,33

5,39

Sumber: Badan Pusat Statistik Kab. Sleman. :*) = angka sementara

Sektor Pendukung

Ada 4 sektor pendukung utama perekonomian di Kabupaten Sleman pada tahun 2009 yaitu:
sektor perdagangan, hotel, dan restoran(23,24%); sektor jasa-jasa(17,95%); sektor industri
pengolahan (15,77%); dan sektor pertanian(17,28%). Dua sektor lain yang cukup siginifikan
kontribusinya adalah sektor bangunan (11,88%) dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa
keuangan(10,80%).

Selama 5 tahun terakhir, kontribusi sektor primer terus mengalami penurunan dari 17,86% pada
tahun 2005, menjadi 17,78% pada tahun 2006, 17,22% tahun 2007, 17,22% tahun 2008, dan
17,43% tahun 2009. Kontribusi sektor sekunder meningkat dari 27,18% tahun 2005, menjadi
27,45% tahun 2006, 27,76% tahun 2007, 27,77% tahun 2008, dan 27,43 % tahun 2009.

Konstribusi sektor tersier cenderung konstan sebesar 54,91% pada tahun 2005, 54,69% tahun
2006, 54,47% tahun 2007, 55,01% tahun 2008, dan 55,17% tahun 2009.

http://www.slemankab.go.id/3331/struktur-perekonomian-daerah-2.slm

Kota Pekanbaru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Kota Pekanbaru

Sumatera Riau

Lambang

Moto: BERTUAH (Bersih, Tertib, Usaha Bersama, Aman dan
Harmonis)

Lokasi Kota Pekanbaru di Pulau Sumatera

Kota Pekanbaru

Letak Kota Pekanbaru di Indonesia

Koordinat: 0°28′53.50″N 101°28′7.23″E

Negara

Indonesia

Pemerintahan

- Walikota

H. Firdaus, ST, MT

- DAU

Rp. 738.107.469.000.- (2013)[1]

Luas

- Total

632,26 km2

Populasi (2011)[2]

- Total

937,939

- Kepadatan

1.483,5/km²

Zona waktu

WIB (UTC+7)

Kode telepon

+62 761

SNI 7657:2010

PKU

Kecamatan

12

Desa/kelurahan 63

Situs web

www.pekanbaru.go.id

Kota Pekanbaru adalah ibu kota dan kota terbesar di provinsi Riau, Indonesia. Kota ini
merupakan kota perdagangan dan jasa,[3]

termasuk sebagai kota dengan tingkat pertumbuhan,

migrasi dan urbanisasi yang tinggi.[4]

Pekanbaru mempunyai satu bandar udara internasional, yaitu Bandar Udara Sultan Syarif Kasim
II,dan terminal bus terminal antar kota dan antar provinsi Bandar Raya Payung Sekaki, serta dua
pelabuhan di Sungai Siak, yaitu Pelita Pantai dan Sungai Duku.

Saat ini Kota Pekanbaru sedang berkembang pesat menjadi kota dagang yang multi-etnik,
keberagaman ini telah menjadi modal sosial dalam mencapai kepentingan bersama untuk
dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakatnya.[5]

Daftar isi

1 Sejarah
2 Geografi
3 Kependudukan
o 3.1 Agama
4 Pemerintahan
o 4.1 Pasca PRRI
o 4.2 Orde baru
o 4.3 Otonomi daerah
o 4.4 Pemilihan langsung
o 4.5 Perwakilan
5 Perekonomian
6 Kesehatan
7 Pendidikan
8 Pelayanan umum
9 Perhubungan
10 Pariwisata
11 Olahraga
12 Pers dan Media
13 Galeri
14 Rujukan
15 Pranala luar

Sejarah

Sultan Siak beserta Dewan Menteri serta Kadi Siak tahun 1888

Perkembangan kota ini pada awalnya tidak terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai sarana
transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau
ke wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah Senapelan di tepi Sungai Siak,
menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang dari dataran tinggi Minangkabau.[6]

Seiring dengan
berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi tempat pemukiman yang ramai. Pada tanggal
23 Juni 1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri" dari Kesultanan Siak, yang terdiri dari
datuk empat suku Minangkabau (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan ini
dinamai dengan Pekanbaru, dan dikemudian hari diperingati sebagai hari jadi kota ini.[7][8]

Berdasarkan Besluit van Het Inlandsch Zelfbestuur van Siak No.1 tanggal 19 Oktober 1919,
Pekanbaru menjadi bagian distrik dari Kesultanan Siak. Namun pada tahun 1931, Pekanbaru
dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang controleur yang
berkedudukan di Pekanbaru dan berstatus landschap sampai tahun 1940. Kemudian menjadi
ibukota Onderafdeling Kampar Kiri sampai tahun 1942.[9]

Setelah pendudukan Jepang pada
tanggal 8 Maret 1942, Pekanbaru dikepalai oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung.

Selepas kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tanggal
17 Mei 1946 Nomor 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau
Kotapraja.[8]

Kemudian pada tanggal 19 Maret 1956, berdasarkan Undang-undang Nomor 8
Tahun 1956 Republik Indonesia, Pekanbaru (Pakanbaru) menjadi daerah otonom kota kecil
dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.[10]

Selanjutnya sejak tanggal 9 Agustus 1957
berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Republik Indonesia, Pekanbaru
masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau yang baru terbentuk.[11]

Kota Pekanbaru resmi menjadi
ibu kota Provinsi Riau pada tanggal 20 Januari 1959 berdasarkan Kepmendagri nomor Desember
52/I/44-25[8]

sebelumnya yang menjadi ibu kota adalah Tanjung Pinang[12]

(kini menjadi ibu kota

Provinsi Kepulauan Riau).

Geografi

Secara geografis kota Pekanbaru memiliki posisi strategis berada pada jalur Lintas Timur
Sumatera, terhubung dengan beberapa kota seperti Medan, Padang dan Jambi, dengan wilayah
administratif, diapit oleh Kabupaten Siak pada bagian utara dan timur, sementara bagian barat
dan selatan oleh Kabupaten Kampar.

Kota ini dibelah oleh Sungai Siak yang mengalir dari barat ke timur dan berada pada ketinggian
berkisar antara 5 - 50 meter di atas permukaan laut. Kota ini termasuk beriklim tropis dengan
suhu udara maksimum berkisar antara 34.1 °C hingga 35.6 °C, dan suhu minimum antara
20.2 °C hingga 23.0 °C.[13]

Sebelum tahun 1960 Pekanbaru hanyalah kota dengan luas 16 km² yang kemudian bertambah
menjadi 62.96 km² dengan 2 kecamatan yaitu kecamatan Senapelan dan kecamatan Limapuluh.
Selanjutnya pada tahun 1965 menjadi 6 kecamatan, dan tahun 1987 menjadi 8 kecamatan dengan
luas wilayah 446,50 km², setelah Pemerintah daerah Kampar menyetujui untuk menyerahkan
sebagian dari wilayahnya untuk keperluan perluasan wilayah Kota Pekanbaru, yang kemudian
ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1987.[14]
Kemudian pada tahun 2003 jumlah kecamatan pada kota ini dimekarkan menjadi 12
kecamatan.[13]

[tampilkan]Cuaca untuk Kota Pekanbaru dan sekitarnya

Kependudukan

Suasana perayaan tahun baru Imlek di kota Pekanbaru

Komposisi etnis di Kota Pekanbaru

Etnis

Jumlah (%)

Minangkabau

37,96

Melayu

26,10

Jawa

15,70

Batak

11,06

Tionghoa

2,50

Lain-lain

6,68

Sumber: Sensus 2000

Sejak tahun 2010, Pekanbaru telah menjadi kota ketiga berpenduduk terbanyak di Pulau
Sumatera, setelah Medan dan Palembang. Laju pertumbuhan ekonomi Pekanbaru yang cukup
pesat, menjadi pendorong laju pertumbuhan penduduknya.

Etnis Minangkabau merupakan masyarakat terbesar dengan jumlah sekitar 37,96% dari total
penduduk kota.[16]

Mereka umumnya bekerja sebagai profesional dan pedagang. Jumlah mereka
yang cukup besar, telah mengantarkan Bahasa Minang sebagai salah satu bahasa pergaulan yang
digunakan oleh penduduk kota Pekanbaru[17]

selain Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia.

Selain itu, etnis yang memiliki proporsi cukup besar adalah Melayu, Jawa, Batak, dan Tionghoa.
Perpindahan ibu kota Provinsi Riau dari Tanjungpinang ke Pekanbaru tahun 1959, memiliki
andil besar menempatkan Suku Melayu mendominasi struktur birokrasi pemerintahan kota,
namun sejak tahun 2002 hegemoni mereka berkurang seiring dengan berdirinya Provinsi
Kepulauan Riau dari pemekaran Provinsi Riau.

Masyarakat Jawa awalnya banyak didatangkan sebagai petani pada masa pendudukan tentara
Jepang, sebagian mereka juga sekaligus sebagai pekerja romusha dalam proyek pembangunan rel
kereta api. Sampai tahun 1950 kelompok etnik ini telah menjadi pemilik lahan yang signifikan di
Kota Pekanbaru. Namun perkembangan kota yang mengubah fungsi lahan menjadi kawasan
perkantoran dan bisnis, mendorong kelompok masyarakat ini mencari lahan penganti di luar kota
namun banyak juga yang beralih okupasi.

Berkembangnya industri terutama yang berkaitan dengan minyak bumi, membuka banyak
peluang pekerjaan, hal ini juga menjadi pendorong berdatangannya masyarakat Batak. Kelompok

etnik ini umumnya bekerja sebagai karyawan, dan memiliki ikatan emosional yang kuat terutama
jika semarga dibandingkan kelompok etnis lain yang ada di Kota Pekanbaru. Pasca PRRI
eksistensi kelompok etnis ini menguat setelah beberapa tokoh masyarakatnya memiliki jabatan
penting di pemerintahan, terutama pada masa Kaharuddin Nasution menjadi Penguasa Perang
Riau Daratan
.

Sementara masyarakat Tionghoa dengan rata-rata bakat entrepreneur yang kuat menguasai
perdagangan skala besar di Kota Pekanbaru. Kopi Kim Teng saat ini menjadi trademark kopi
asal Pekanbaru, yang dirintis oleh Kim Teng, seorang veteran pejuang Tionghoa masa
kemerdekaan di Pekanbaru.

Tahun 1930 1954 1961 1971 1990 2000 2005 2006 2007 2008 2010

Jumlah

penduduk 2.990 28.314 70.821 145.030 398.694 587.842 720.197 754.467 779.899 799.213 897.76

7

Sejarah kependudukan kota Pekanbaru

Sumber:[18][19][20]

Agama

Komposisi agama di Kota Pekanbaru

Agama

Jumlah (%)

Islam

84,8

Kristen

9,6

Buddha

3,46

Katolik

1,25

Lain-lain

0,89

Sumber: Sensus 2010

Agama Islam merupakan salah satu agama yang dominan dianut oleh masyarakat Kota
Pekanbaru, sementara pemeluk agama Kristen, Buddha, Katolik, Khonghucu dan Hindu juga
terdapat di kota ini.

Sebagai bagian dalam pembangunan kehidupan beragama, Kota Pekanbaru tahun 1994, ditunjuk
untuk pertama kalinya menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat nasional
yang ke-17. Pada perlombaan membaca Al-quran ini, jika sebelumnya diikuti oleh satu orang
utusan, untuk setiap wilayah provinsi, maka pada MTQ ini setiap provinsi mengirimkan 6 orang
utusan.[21]

Pemerintahan

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar Wali Kota Pekanbaru

Pasca PRRI

Kota Pekanbaru secara administratif dipimpin oleh seorang wali kota. Efektifitas pemerintahan
kota di Pekanbaru adalah setelah berakhirnya peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik
Indonesia, walau pada 14 Mei 1958 OKM Jamil telah ditunjuk menjadi Walikota Pekanbaru,
namun pengaruh perang saudara membuat roda pemerintahan jadi tidak menentu. Pada 9
November 1959, kembali ditunjuk Datuk Wan Abdul Rahman sebagai wali kota berikutnya,
yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati Kampar. Selanjutnya pada 29 Maret 1962, digantikan
oleh Tengku Bay, yang sebelumnya juga menjabat sebagai Bupati Indragiri.

Orde baru

Dimulainya dengan menguatnya pemerintahan Orde Baru, membawa beberapa perubahan pada
sistem pemerintahan dalam Provinsi Riau, termasuk Kota Pekanbaru. Dominasi militer mulai
mengambil peran dalam pemerintahan serta ditambah dengan munculnya hegemoni satu
kekuatan politik juga mewarnai pemerintahan Kota Pekanbaru. Selanjutnya pada 1 Juni 1968,
diangkat Raja Rusli B.A. sebagai wali kota sampai tanggal 10 Desember 1970, dan digantikan
oleh Drs. Abdul Rahman Hamid, yang memeintah lebih dari 10 tahun.

Kemudian pada masa berikutnya mulai diterapkan penertiban periode pemerintahan kota, dan
pada 5 Juli 1981, terpilih Ibrahim Arsyad, S.H., pada 21 Juli 1986 digantikan oleh Drs. Farouq
Alwi, berikutnya pada 22 Juli 1991 terpilih H. Oesman Effendi Apan, S.H., memerintah selama
dua periode.

Otonomi daerah

Memasuki era pemerintahan otonomi daerah yang lebih luas, telah menimbulkan euforia yang
berlebihan pada beberapa kelompok masyarakat di Pekanbaru, kecendrungan tertentu terutama
berkaitan dengan politik dan ekonomi, mendorong masyarakatnya berlaku diskriminasi. Klaim
beberapa kelompok masyarakatnya atas keutamaan mereka dibandingkan kelompok lainnya,
dapat menjadi api dalam sekam, jika dibiarkan akan dapat menimbulkan disintegrasi pada
masyarakat Kota Pekanbaru.[22]

Pada tahun 2001 terpilih Drs. H. Herman Abdullah M.M. sebagai wali kota, memerintah selama
dua periode, ia termasuk salah satu wali kota yang berhasil dalam menertibkan sistem birokrasi
pemerintahan Pekanbaru, sehingga mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakatnya.[23]
Namun pada tahun 2010 berdasarkan survei persepsi kota-kota di seluruh Indonesia oleh
Transparency International Indonesia (TII), kota ini termasuk kota terkorup di Indonesia bersama
dengan Kota Cirebon. Hal ini dilihat dari Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK-Indonesia)
2010 yang merupakan pengukuran tingkat korupsi pemerintah daerah di Indonesia. Pekanbaru
mendapat nilai IPK sebesar 3.61, dengan rentang indeks 0 sampai 10.

Pemilihan langsung

Pada tanggal 21 Juni 2006 dilaksanakan pemilihan wali kota dan wakil wali kota secara langsung,
dengan dua pasangan calon yang ikut serta yaitu Erwandy Saleh - Ayat Cahyadi yang diusung
oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Herman Abdullah - Erizal Muluk yang diusung oleh
Golkar.[24]

Pada tanggal 18 Mei 2011 untuk kedua kalinya diselenggarakan pemilihan wali kota dan
wakilnya secara langsung oleh masyarakat Pekanbaru, H. Firdaus S.T., M.T. terpilih dengan
suara terbanyak,[25]

namun berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia hasil
tersebut dibatalkan dan mesti diadakan pemungutan suara ulang (PSU).[26]

Untuk mengisi

kekosongan pemerintahan kota, Gubernur Riau Drs. H. Rusli Zainal mengangkat Dr. H.
Syamsurizal S.E., M.M., sebagai pelaksana tugas (Plt) Walikota Pekanbaru.[27]

Kemudian berdasarkan PSU tanggal 21 Desember 2011,[28]

Firdaus kembali memenangi
pemilihan kepala daerah Kota Pekanbaru ini, walau dalam pelaksanaan PSU tersebut hanya
253.232 masyarakat atau 49 % saja yang menggunakan hak pilihnya.[29]

Perwakilan

Dari hasil Pemilu Legislatif 2009, jumlah anggota DPRD kota Pekanbaru adalah sebesar 45
orang[30][31]

yang tersusun atas perwakilan 12 partai.[32]

Kemudian untuk struktur pimpinan
DPRD Kota Pekanbaru disusun atas ketua (Fraksi Partai Demokrat), dan tiga wakil ketua (Fraksi
PG, Fraksi PKS dan Fraksi PAN).[33]

DPRD kota Pekanbaru
2009-2014

Partai

Kurs
i

Partai Demokrat9

Partai Golkar

9

PKS

5

PAN

5

PPP

4

PDS

4

PDI-P

2

PKB

2

Partai Hanura

2

PBB

1

Partai Gerindra

1

PDK

1

Total

45

Sumber:[32]

Perekonomian

Mal SKA

Perkembangan perekonomian Pekanbaru, sangat dipengaruhi oleh kehadiran perusahaan minyak,
pabrik pulp dan kertas, serta perkebunan kelapa sawit beserta pabrik pengolahannya. Kota
Pekanbaru pada triwulan I 2010 mengalami peningkatan inflasi sebesar 0.79%, dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 0.30%. Berdasarkan kelompoknya, inflasi terjadi
hampir pada semua kelompok barang dan jasa kecuali kelompok sandang dan kelompok
kesehatan yang pada triwulan laporan tercatat mengalami deflasi masing-masing sebesar 0.88%
dan 0.02%. Secara tahunan inflasi kota Pekanbaru pada bulan Maret 2010 tercatat sebesar 2.26%,
terus mengalami peningkatan sejak awal tahun 2010 yaitu 2.07% pada bulan Januari 2010 dan
2.14% pada bulan Februari 2010.[34]

Posisi Sungai Siak sebagai jalur perdagangan Pekanbaru, telah memegang peranan penting
dalam meningkatkan pertumbuhan ekomoni kota ini. Penemuan cadangan minyak bumi pada
tahun 1939 memberi andil besar bagi perkembangan dan migrasi penduduk dari kawasan lain.
Sektor perdagangan dan jasa saat ini menjadi andalan Kota Pekanbaru, yang terlihat dengan

menjamurnya pembangunan ruko pada jalan-jalan utama kota ini. Selain itu, muncul beberapa
pusat perbelanjaan modern, diantaranya: Plaza Senapelan, Plaza Citra, Plaza Sukaramai, Mal
Pekanbaru, Mal SKA, Mal Ciputra Seraya,[35]

Lotte Mart, Metropolitan Trade Center, The
Central, Ramayana dan Giant. Walau di tengah perkembangan pusat perbelanjaan modern ini,
pemerintah kota terus berusaha untuk tetap menjadikan pasar tradisional yang ada dapat bertahan,
di antaranya dengan melakukan peremajaan, memperbaiki infrastruktur dan fasilitas
pendukungnya.[36]

Beberapa pasar tradisional yang masih berdiri, antara lain Pasar Bawah, Pasar
Raya Senapelan (Pasar Kodim), Pasar Andil, Pasar Rumbai, Pasar Limapuluh dan Pasar Cik
Puan.[37]

Sementara dalam pertumbuhan bidang industri di Kota Pekanbaru terus mengalami peningkatan
dengan rata-rata pertumbuhan pertahun sebesar 3,82 %, dengan kelompok industri terbesar pada
sektor industri logam, mesin, elektronika dan aneka, kemudian disusul industri pertanian dan
kehutanan. Selain itu beberapa investasi yang ditanamkan di kota ini sebagian besar digunakan
untuk penambahan bahan baku, penambahan peralatan dan perluasan bangunan, sebagian kecil
lainnya digunakan untuk industri baru.[38]

Kesehatan

Kota Pekanbaru memiliki beberapa rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, pemerintah Pekanbaru mencoba
melengkapi sarana dan prasarana yang ada saat ini diantaranya akan membangun gedung baru
untuk Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad yang saat ini baru memiliki 264 kamar untuk
rawat inap. Dengan selesainya bangunan tersebut, kapasitas rawat inap RSUD Arifin Achmad,
akan bertambah menjadi 400 kamar.[39]

Sementara kehadiran rumah sakit yang dikelola oleh
pihak swasta di kota ini cukup signifikan antara lain Rumah Sakit Santa Maria yang sebelumnya
bernama Balai Pengobatan Santa Maria,[40]

Rumah Sakit Ibnu Sina yang didirikan oleh YARSI

Riau kemudian dikelola oleh PT. Syifa Utama,[41]

Rumah Sakit Awal Bros,[42]

Rumah Sakit Bina

Kasih, Pekanbaru Medical Centre (PMC) dan Eka Hospital.

Sampai tahun 2006 penyebaran dan pelayanan puskesmas di kota Pekanbaru masih belum merata
terhadap masyarakatnya yaitu dengan ratio 1,99. Sementara persentase kunjungan penduduk
memanfaatkan puskesmas baru sekitar 19 %. Hal ini dimungkinkan telah banyaknya rumah sakit
swasta yang memberikan pelayanan yang lebih baik.[43]

Pendidikan

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perguruan Tinggi di Pekanbaru

Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Gedung Perpustakaan Soeman HS milik Provinsi Riau, di pusat kota Pekanbaru.

Beberapa perguruan tinggi juga terdapat di kota ini, di antaranya adalah Universitas Riau, UIN
Suska, Universitas Muhammadiyah Riau, Universitas Islam Riau, dan Universitas Lancang
Kuning. Sampai tahun 2008, di Kota Pekanbaru baru sekitar 13,87 % masyarakatnya dengan
pendidikan tamatan perguruan tinggi, dan masih didominasi oleh tamatan SLTA sekitar 37,32 %.
Sedangkan tidak memiliki ijazah sama sekali sebanyak 12,94 % dari penduduk Kota Pekanbaru
yang berumur 10 tahun ke atas.[44]

Perpustakaan Soeman Hs merupakan perpustakaan pemerintah provinsi Riau, didirikan untuk
penunjang pendidikan masyarakat Pekanbaru khususnya dan Riau umumnya. Perpustakaan ini
terletak di jantung Kota Pekanbaru, termasuk salah satu perpustakaan "termegah di Indonesia",
dengan arsitektur yang unik serta telah memiliki koleksi 300 ribu buku sampai tahun 2008.[45]
Nama perpustakaan ini diabadikan dari nama seorang guru dan sastrawan Riau, Soeman
Hasibuan.[46]

Pendidikan
formal

SD atau
MI
negeri
dan
swasta

SMP
atau MTs
negeri
dan
swasta

SMA
negeri
dan
swasta

MA
negeri
dan
swasta

SMK
negeri
dan
swasta

Perguruan
tinggi

Jumlah
satuan

456

300

90

34

56

70

Data sekolah di kota Pekanbaru

Sumber:[47][48]

Pelayanan umum

Untuk mengantisipasi kebutuhan energi listrik dimasa mendatang, pemerintah kota Pekanbaru
telah mengusahakan pembebasan lahan seluas 40 ha untuk pembangunan PLTU Tenayan
Raya.[49]

Sementara untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Pemerintah kota melalui PDAM
memanfaatkan air permukaan dari Sungai Siak yang mempunyai kapasitas 5000 liter/detik
sebagai sumber air baku bagi Instalasi Pengolah Air Bersih, yang terpasang dengan kapasitas 380
liter/detik. Selanjutnya sistem pengolahan penuh dan chlorinasi digunakan untuk memproduksi
air bersih dengan kapasitas 350 liter/detik. Dari kapasitas produksi yang ada, telah terdistribusi
dalam 18.660 unit Sambungan Rumah (SR) dan 45 Hidran Umum (HU). Setiap SR rata-rata
digunakan 5 – 6 orang dan HU dapat digunakan 100 orang. Fasilitas ini memang belum
mencukupi kebutuhan keseluruhan masyarakat kota ini, sehingga sebagian besar masyarakat
masih memanfaatkan secara langsung air permukaan dari sungai Siak tersebut.[50]

Saat ini pemerintah kota telah menetapkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di 2 lokasi
dengan metode open dumping, yaitu kawasan Limbungan seluas 5 Ha dengan jarak dari kawasan
pemukiman 19 km dan Kulim seluas 3 Ha dengan jarak dari kawasan pemukiman 8 km. Selain
itu gerobak sampah masih digunakan untuk pengumpulan tak langsung, jumlah total gerobak
yang ada saat ini adalah 305 buah dengan kapasitas rata-rata 1 m³ untuk melayani pengumpulan
individual pada 5 wilayah pengumpulan. Sarana pemindahan yang ada berupa bak sampah
pasangan batu-bata dan pelat baja sebanyak 32 buah dengan daya tampung 157.5 m³. Saat ini
kapasitas penampungan TPS baru mencapai 8 % terhadap total timbunan yang ada. Untuk
armada angkutan pengambilan sampah langsung digunakan truk bak terbuka, jumlah
pengangkutan yang dilakukan adalah 2 – 3 kali per harinya, sehingga kapasitas pengangkutan
baru mencapai 20 %. Sedangkan setiap harinya terdapat 170 m³ timbunan sampah, sehingga
jumlah sampah yang telah dikelola dan terangkut sampai ke TPA baru mencapai 120 m³/hari
atau sekitar 60 %.[50]

Daerah kota Pekanbaru yang memiliki ketinggian antara 1 sampai 20 meter dengan curah hujan
dalam klasifikasi sedang, yaitu antara 100-200 per bulan. Secara umum permasalahan banjir di
kota ini adalah masalah genangan air, baik akibat adanya limpasan dari saluran drainase yang
ada maupun akibat terhambatnya pengaliran air. Saluran drainase yang ada saat ini baru
mencakup 13.930 Ha, yang terdiri dari sistem drainase besar sepanjang 10.123 meter, sistem
drainase kecil sepanjang 15.456 m dan sistem drainase tersier sepanjang 7.789 m.[50]

Pemerintah kota saat menetapkan pengembangkan kawasan permukiman perkotaan ke arah ke
selatan, timur dan barat kota (kecamatan Tampan, kecamatan Marpoyan Damai, kecamatan
Bukit Raya, kecamatan Tenayan Raya, dan kecamatan Payung Sekaki). Sedangkan Kecamatan
Senapelan, Kecamatan Sukajadi, Kecamatan Sail dan Kecamatan Limapuluh sebagai kawasan
perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan regional dan internasional, perumahan perkotaan
(town house dan apartemen), yang diintegasikan dengan sistem jaringan transportasi massal dan
sistem jaringan transportasi regional melalui jalan tol, akses ke bandara dan pelabuhan di Sungai
Siak.

Perhubungan

Jalan Tuanku Tambusai, salah satu jalan utama di Pekanbaru

Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Pekanbaru dihubungkan oleh jaringan jalan yang tersambung dari arah Padang di sebelah barat,
Medan di sebelah utara, dan Jambi di sebelah selatan. Terminal Bandar Raya Payung Sekaki
merupakan pusat pelayanan transportasi antar kota dan antar provinsi, yang telah direncanakan
pemerintah setempat menjadi sarana orientasi dan perpindahan antar moda transportasi dengan
akses ke sistem jaringan transportasi regional, bandara, dan pelabuhan.

Bandara Sultan Syarif Kasim II menjadi salah satu bandar udara tersibuk di Sumatera dan
dicanangkan akan menjadi salah satu bandara internasional di pulau Sumatera. Berdasarkan data
yang diperoleh dari Angkasa Pura II pada tahun 2011 penumpang yang melalui bandara ini
mencapai angka 1.259.993 penumpang per tahun.[51]

Pelabuhan Pekanbaru yang terletak di tepi Sungai Siak dan berjarak 96 mil ke muara sungai,
menjadi sarana transportasi untuk komoditi ekspor seperti kelapa sawit. Selain itu, pelabuhan ini

juga menghubungkan Pekanbaru dengan kawasan di Kepulauan Riau, seperti Tanjungpinang dan
Batam.

Selain itu, Transmetro Pekanbaru merupakan sarana transportasi massal jalur darat di Kota
Pekanbaru, sekaligus sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi tingkat kemacetan di kota
ini.

Pada masa pendudukan tentara Jepang, dilakukan pembangunan rel kereta api yang
menghubungkan Pekanbaru menuju Padang melalui Sawahlunto. Proyek ini sebelumnya telah
direncanakan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda dan diselesai pada 15 Agustus 1945,[52][53]
walau sampai sekarang jalur ini tidak pernah diaktifkan lagi.

Pariwisata

Perayaan Tabuik di Jalan Tuanku Tambusai

Kota Pekanbaru memiliki beberapa bangunan dengan ciri khas arsitektur Melayu diantaranya
bangunan Balai Adat Melayu Riau yang terletak di jalan Diponegoro, Bangunan ini terdiri dari
dua lantai, di lantai atasnya terpampang beberapa ungkapan adat dan pasal-pasal Gurindam Dua
Belas karya Raja Ali Haji sastrawan keturunan Bugis.[54]

Pada bagian kiri dan kanan pintu masuk
ruangan utama dapat dibaca pasal 1 - 4, sedangkan pasal 5 – 12 terdapat di bagian dinding
sebelah dalam ruangan utama. Kemudian di jalan Sudirman terdapat Gedung Taman Budaya
Riau, gedung ini berfungsi sebagai tempat untuk pagelaran berbagai kegiatan budaya dan seni
Melayu Riau dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sementara bersebelahan dengan gedung ini terdapat
Museum Sang Nila Utama, merupakan museum daerah Riau yang memiliki berbagai koleksi
benda bersejarah, seni, dan budaya. Museum ini menyandang nama seorang tokoh legenda dalam
Sulalatus Salatin, pendiri Singapura. Selanjutnya Anjung Seni Idrus Tintin salah satu ikon
budaya di Kota Pekanbaru, merupakan bangunan dengan arsitektur tradisional, menggunakan
nama seorang seniman Riau, Idrus Tintin, dibangun pada kawasan yang dahulunya menjadi
tempat penyelengaraan MTQ ke-17.

Pada kawasan Senapelan terdapat Masjid Raya Pekanbaru yang sebelumnya dikenal dengan
nama Masjid Alam,[55]

dibangun sekitar abad ke-18 dengan gaya arsitektur tradisional dan

merupakan masjid tertua di Kota Pekanbaru.[56]

Sementara Tradisi Petang Megang disaat
memasuki bulan Ramadhan telah dilakukan sejak masa Kesultanan Siak masih tetap
diselenggarakan oleh masyarakat Kota Pekanbaru.

Pada tahun 2011, masyarakat Pariaman untuk pertama kalinya mengadakan pesta budaya Tabuik
di Pekanbaru. Seperti hal di daerah asalnya, perayaan ini diselenggarakan pada bulan Muharram,
untuk memperingati peristiwa Pertempuran Karbala. Meski bukan tradisi lokal, hal ini
menunjukkan keanekaragaman sekaligus salah satu iven untuk pengembangan sektor
pariwisata.[57]

Sementara setiap tahunnya, komunitas Tionghoa di Pekanbaru juga
menyelenggarakan perayaan Tahun Baru Imlek, kemudian ditutup dengan perayaan Cap Go Meh.
Pesta ini umumnya dipusatkan di kawasan Senapelan terutama pada beberapa vihara di antaranya
Vihara Dharma Loka atau Vihara Tridharma Dewi Sakti.

Olahraga

PSPS Pekanbaru merupakan klub utama sepak bola yang dimiliki oleh kota ini, dan bermarkas di
Stadion Kaharudin Nasution Rumbai. Namun pada tahun 2010 stadion ini direnovasi, karena
stadion ini juga persiapkan sebagai salah satu venue pada Pekan Olahraga Nasional XVIII 2012
Riau. Sehingga pada kompetisi LSI, PSPS untuk sementara waktu pada pertandingan kandang
menggunakan Stadion Agus Salim[58]

dan Stadion Kuansing.[59]

Sejak tahun 2009 kota ini mulai membenahi berbagai fasilitas olahraga setelah provinsi Riau
terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara Pekan Olahraga Nasional XVIII dan kualifikasi Piala
Asia U-22 tahun 2012, serta Islamic Solidarity Games 2013. Untuk menyambut perhelatan akbar
tersebut, Pekanbaru membangun Stadion Utama Riau dengan kapasitas 43.923 kursi.[60]

Selain itu, Lapangan Golf tersebar di beberapa tempat pada kawasan kota ini, antara lain
Pekanbaru Golf Course Country Club di Kubang Kulim, Simpang Tiga Golf Course di
Kompleks AURI, Rumbai Golf Course di Kompleks IKSORA Rumbai, dan Lapangan Golf
Labersa di Kompleks Labersa.

Pers dan Media

Di Kota Pekanbaru telah berdiri TVRI Riau sejak tahun 1997, sementara Pekanbaru TV
merupakan stasiun televisi swasta pertama di kota ini, walau sempat mengudara pada tahun 2000,
namun beberapa tahun kemudian ditutup karena masalah keuangan. Riau TV yang berada dalam
konsorsium Group Jawa Post, mengudara sejak tahun 2001, beberapa tahun kemudian berafiliasi
dengan RTM-1 milik Malaysia.

RRI Pekanbaru merupakan stasiun radio penyiaran milik pemerintah yang didirikan tahun 1959,
dan memainkan peranan penting selepas berakhirnya PRRI. Sementara beberapa stasiun radio
swasta juga terdapat di kota ini yang tergabung dalam PRSSNI Riau.

Genta merupakan surat kabar lokal pertama yang terbit di Pekanbaru tahun 1979, surat kabar ini
beroplah 2 ribuan dan disponsori oleh pemerintah provinsi Riau waktu itu.[61]

Saat ini beberapa
media cetak jenis surat kabar yang cukup banyak dikenal masyarakat Kota Pekanbaru antara lain:
Haluan Riau, Riau Pos, Tribun Pekanbaru, Pekanbaru Pos, Pekanbaru MX dan Koran Riau.

Selain itu di Pekanbaru juga banyak hadir media-media online salah satunya adalah :
Gotoriau.com yang menampilkan info-info populer seputar Pekanbaru pada khususnya dan Riau
pada umumnya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pekanbaru

Pergeseran Sistem Ekonomi Hasil Amandemen

Posted on December 23, 2008 by dumadia

Rate This

Pergeseran Sistem Ekonomi Hasil Amandemen
By Sri Adiningsih
11:07 WIB, July 31, 2007
Pergeseran Sistem Ekonomi Hasil Amandemen UUD 19451

Dr. Sri Adiningsih
Dosen dan Peneliti Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada

Abstract
The 1945 Constitution experienced major modifications after amended four times between 1999-
2002. Likewise, the sector amendment brought important modifications on the role of the state in

economic affairs. Constitutionally Indonesia’s economic system has shifted from socialist

oriented economic system to mix economic system or social-market economic model. Although
article 33 has put efficiency as indicator of market economy as well as article human right that
put private property right. The article related to social welfare, article 34, that demand the
existence of social security article 31 on education that demand big role of government to
financed the implementation of education system. Thus, the 1945 Constitution covers all related
aspects on the governance of democratic and welfare state. This includes the article on regard the
economic, social welfare, and education, as well as article on international agreement (article 11)
and the independency of Central Bank (article 23d). Reading the amendment related to economic,
social welfare and education, It is clear that the amendment if fully understood and consistently
implemented will contribute to the mission of developing prosperous nation state of Indonesia

that is full social justice. So thus the need to have the 5th amendment on this matter should be
reconsidered.

Latar Belakang
Perkembangan ekonomi suatu negara banyak ditentukan oleh sistem ekonomi yang dianutnya.
Meskipun demikian secara umum perekonomian dunia terpecah oleh dua sistem ekonomi, yaitu
sosialisme dan kapitalisme. Namun demikian sistem ekonomi sosialis ataupun kapitalis murni
secara umum sudah tidak ada yang mengaplikasikannya. Bahkan derivasi dari kedua kubu sistem
ekonomi tersebut berkembang dengan pesat sehingga akhirnya melahirkan sistem ekonomi
campuran yang diterapkan di semakin

1 Dikembangkan dari paper yang disampaikan oleh penulis dalam beberapa kesempatan.
banyak negara akhir-akhir ini. Indonesia pun juga tidak ketinggalan. Hasil amandemen Undang-
Undang Dasar 1945 yang telah dilakukan hingga empat kali telah menggeser sistem ekonomi
yang dianut oleh Indonesia. Meskipun tidak berarti bahwa pengelolaan ekonomi Indonesia akan
berubah dari yang selama ini sudah diimplementasikan.
Dalam beberapa dekade terakhir ini terjadi gap dalam pengelolaan ekonomi Indonesia antara
yang diimplementasikan dengan yang termuat dalam konstitusi. Dimana dalam UUD 1945
sebelum diamandemen jelas-jelas mencantumkan bahwa sistem ekonomi yang dianut oleh
Indonesia adalah sosialis, dapat dilihat dari pasal-pasal yang terkait dengan ekonomi. Namun
dalam kenyataan kehidupan sehari-hari kita tidak melihat penerapan sosialisme dalam
pengelolaan ekonomi Indonesia. Unsur-unsur pasar dan kapitalisme justru yang berkembang
subur dalam perekonomian kita. Dimana solusi dari masalah besar ekonomi seperti what, how
dan for whom jelas-jelas ditentukan oleh mekanisme pasar. Pemerintah ataupun negara pada
umumnya tidak mengatur barang apa yang harus diproduksi oleh masyarakat, ataupun
menentukan bagaimana memproduksinya, serta bagaimana pendapatan dibagikan. Hampir
semuanya ditentukan oleh mekanisme pasar. Demikian juga hak milik pribadi terhadap hampir
semua faktor produksi bahkan tanah dapat dimiliki oleh masyarakat atau pribadi-pribadi. Jelas
itu bukan sistem ekonomi sosialis seperti yang kita kenal di textbook. Sehingga ada gap yang
besar antara sistem ekonomi yang termuat dalam konstitusi dan kenyataan hidup seharihari.
Tentu saja hal itu menjadi masalah serius karena berarti melanggar konstitusi adalah hal yang
biasa, tidak perlu ada tindakan hukum yang perlu diambil terhadap semua pihak yang
melanggarnya. Jelas ini menjadi pangkal dari kebiasaan kita untuk menabrak berbagai produk
hukum yang lebih rendah lainnya. Kalau melanggar UUD saja tidak ada tindakan hukum apalagi
melanggar produk hukum lainnya yang lebih rendah, tentu tidak perlu ada proses hukum yang
perlu ditegakkan. Pesan yang salah ini jelas membuat penegakkan hukum menjadi sulit
dilakukan di Indonesia, khususnya dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu amandemen UUD
1945 yang sudah dilakukan telah mengurangi/mengatasi hal tersebut. Dimana sistem ekonomi
ataupun pengelolaan ekonomi pada umumnya agar supaya selaras dengan pengaturan hukum
yang ada.
Meski hasil amandemen UUD 1945 telah diundangkan lebih dari 5 tahun yang lalu, namun
sampai sekarang masih banyak pihak yang belum memahaminya dengan baik. Meskipun MPR
juga telah banyak melakukan sosialisasi hasil amandemen tersebut ke banyak pihak di seluruh
Indonesia. Namun nampaknya pemahaman masyarakat pada konstitusi hasil amandemen masih
rendah. Khususnya pasal-pasal dalam bidang ekonomi yang banyak diamandemen baik yang
secara langsung terkait dengan ekonomi, ataupun terkait tidak langsung dengan ekonomi.

Pemahaman adanya perubahan dalam sistem ekonomi Indonesia juga banyak yang tidak
memahaminya. Oleh karena itu dalam wacana amandemen kelima UUD 1945 ada baiknya kita
pahami dulu dengan baik perubahan yang sudah berlaku agar supaya kita tidak melakukan
kesalahan dalam memahami konstitusi hasil amandemen, sehingga tidak mewacanakan barang
yang salah.

Perkembangan Sistem Ekonomi Dunia
Sistem perekonomian yang digunakan oleh berbagai negara di dunia ini mengalami dinamika
yang amat beragam. Meskipun demikian secara umum sistem ekonomi yang banyak digunakan
adalah berdasarkan atas sosialisme ataupun kapitalisme. Namun demikian perlu dicatat bahwa
kedua kubu sistem ekonomi tersebut ternyata akhirakhir ini juga mengalami evolusi. Seperti
diketahui bahwa sistem ekonomi dunia yang pada awal abad 20 didominasi oleh dua kubu,
sosialis dan kapitalis ternyata tidak dapat bertahan lagi. Kubu sosialis yang didominasi oleh Uni
Soviet dan China sudah kolaps, demikian juga kubu kapitalis murni sudah tidak ditemui lagi di
dunia. Pada masa kini sistem ekonomi dunia berada diantara kedua titik ekstrim tersebut. Soviet
dan China sudah mengadopsi sistem pasar, bahkan China nampaknya akan lebih mendekatkan
perekonomiannya pada kapitalisme dengan akan mengakuinya hak milik pribadi dalam
perekonomiannya dalam undang-undang tentang properti (dimana selama ini tanah tidak
mungkin dimiliki oleh pribadi, menjadi hak milik negara). Demikian juga Amerika Serikat dan
Eropa Barat juga banyak melibatkan pemerintah dalam pengelolaan ekonominya (peranan
pemerintah dalam perekonomian semakin besar). Peranan negara dalam perekonomian dilihat
dari besarnya pengeluaran negara di negara industri meningkat dari 12% pada tahun 1913
menjadi 45% pada tahun 1995. Pada umumnya peranan negara dalam perekonomian negara
maju sekitar dua kali dibandingkan dengan negara sedang berkembang (Tanzi, IMF Working
Paper WP/97/ 114). Hal ini menunjukkan adanya perubahan fundamental dalam pengelolaan
ekonomi di banyak negara akhir-akhir ini.
Meningkatnya peranan negara dalam perekonomian negara maju yang semula menganut
kapitalisme banyak dipengaruhi dari pemikiran sosialis yang menekankan pentingnya negara
mengambil peranan dalam redistribusi pendapatan. Sehingga banyak negara pada akhirnya
mengambil jalan tengah dengan mengadopsi mixed economy, dimana peranan pasar penting
dalam perekonomian, namun demikian negara perlu masuk ke pasar dalam rangka redistribusi
pendapatan ataupun selaras dengan pendapat Keynes, negara perlu intervensi dalam rangka
mengurangi siklus perekonomian yang tajam dengan melakukan intervensi di pasar jika
diperlukan. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang yang memiliki banyak
kelemahan masih memerlukan peranan negara dalam mengelola ekonominya. Peranan negara
diperlukan dalam rangka supplement the market dan mengoreksi imperfections dari pasar. Tidak
sempurnanya pasar biasanya bersumber dari informational deficiencies, mobilitas sumber daya
yang terbatas, dan tidak seimbangnya kekuatan ekonomi. Oleh karena itu peranan negara perlu
dalam rangka untuk meningkatkan efisiensi pasar melalui peningkatan daya saing, mengelola
pasar agar supaya dapat berfungsi dengan efisien, meningkatkan akses informasi, dan
melindungi kepentingan semua pelaku pasar dengan adil. Selain itu peranan negara dalam
perekonomian di negara sedang berkembang seperti Indonesia juga penting dalam rangka
redistribusi pendapatan agar supaya tidak ada ketimpangan tingkat kehidupan yang tajam antar
kelompok masyarakat, serta dalam rangka menjaga agar supaya tidak ada fluktuasi yang tajam
dalam perekonomian. Namun juga perlu diperhatikan bahwa banyak bukti menunjukkan
economic freedom atau kebebasan ekonomi (pajak yang lebih rendah, peran negara secara

langsung yang lebih kecil dalam perekonomian, deregulasi pasar dan perdagangan, inflasi yang
rendah, dll) mendukung pertumbuhan ekonomi khususnya peningkatan pendapatan per kapita
(Berggren dan Klitgaard dalam Economic Effects of Political Institutions, with Special
Reference to Constitutions).
Ini artinya bahwa peranan negara dalam perekonomian harus optimal, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Bagaimana dengan Indonesia?
Sistem ekonomi Indonesia mestinya didasarkan pada Pembukaan UUD 1945 yang memuat
pokok-pokok pikiran penting dari pendiri Negara Indonesia akan masa depan Indonesia. Namun
demikian kita juga harus melihat perkembangan yang sudah dan sedang terjadi serta
mengantisipasi perkembangan yang akan datang yang terkait secara langsung ataupun tidak
langsung dengan bidang ekonomi baik yang berasal dari domestik maupun internasional.
Dari Pembukaan UUD 1945 yang memuat pokok-pokok pikiran dari pendiri bangsa ini untuk
mencapai cita-cita kemerdekaan dapat diturunkan beberapa pokok pikiran yang penting dalam
bidang ekonomi (hasil diskusi di ISEI) :
a. Melindungi kepentingan ekonomi Indonesia dalam kerangka liberalisasi pasar global
b. Melindungi hak-hak ekonomi warga negara
c. Menjaga kesatuan ekonomi Indonesia dalam kerangka otonomi daerah
d. Mengembangkan suatu sistem ekonomi yang dapat meletakkan peranan negara lebih efektif
dalam meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia secara berkelanjutan.
e. Memberikan perlindungan pada kelompok masyarakat/daerah yang tersisihkan.
f. Memiliki sistem keuangan dan fiskal yang mendukung pencapaian cita-cita kemerdekaan
dengan mekanisme kontrol yang tepat.
g. Memiliki format kontrol yang efektif bagi DPR terhadap kebijakan ekonomi yang diambil
oleh otoritas ekonomi maupun terhadap lembaga-lembaga yang terkait dengan bidang ekonomi.
Oleh karena itu sistem ekonomi Indonesia mestinya didasarkan dari pokok-pokok pikiran yang
tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut. Selain itu sistem ekonomi yang dipakai suatu
negara akan banyak dipengaruhi perkembangan baik dari domestik maupun internasional baik
ekonomi dan non ekonomi. Perkembangan penting yang banyak mempengaruhi kehidupan kita
pada saat ini adalah proses demokratisasi dan market economy di banyak negara, juga
perkembangan teknologi informasi yang banyak mengubah kehidupan dan perekonomian dunia.
Selain itu perubahan penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam bidang ekonomi adalah
adanya liberalisasi pasar pada tingkat global dan regional, bahkan pasar bebas bilateral antar
negara. Indonesia sudah mengikatkan diri dengan AFTA, APEC dan WTO yang tentunya semua
komitmen yang dibuat tersebut perlu dihormati. Begitu juga Economic Partnership Agreement
(EPA) dengan Jepang sudah disepakati akan diberlakukan. Demikian juga Indonesia ataupun
AFTA nampaknya akan semakin melebarkan pembukaan pasarnya ke lebih banyak negara atau
kawasan. Free trade area di berbagai kawasan yang melibatkan Indonesia tersebut akan membuat
batas-batas ekonomi negara menjadi semakin menghilang yang pada akhirnya proses
konvergensi akan melibas hampir semua bidang kehidupan kita terutama yang terkait dengan
ekonomi. Sehingga tatanan ekonomi akan mengalami perubahan yang mendasar. Selain itu
tuntutan masyarakat akan otonomi daerah dan peningkatan peranan masyarakat luas dalam
perekonomian diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia
secara berkelanjutan. Dengan demikian manajemen ekonomi diharapkan lebih bersifat bottom up
dengan memberikan perhatian yang lebih besar pada tuntutan masyarakat luas sesuai dengan

dinamika yang berkembang di Indonesia. Meski demikian otonomi daerah berpotensi
menimbulkan ancaman baru, terutama yang terkait dengan terhambatnya mobilitas sumber daya
ekonomi ataupun masalah koordinasi perekonomian pada tingkat nasional ataupun propinsi
sehingga dapat menghambat pembangunan ekonomi. Oleh karena itu perlu adanya rambu-rambu
yang mengatur hal-hal tersebut sehingga tujuan mencapai masyarakat adil dan makmur sesuai
dengan cita-cita founding fathers dapat dicapai.
Peranan Negara dalam Perekonomian
Amandemen dalam bidang ekonomi yang dilakukan oleh MPR meliputi banyak pasal baik yang
terkait secara langsung ataupun tidak langsung dengan perekonomian kita. Amandemen UUD
1945 terhadap pasal-pasal yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan
bidang ekonomi perlu dilakukan agar supaya pasal-pasal UUD dapat menerjemahkan pokok-
pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945. Selain itu amandemen diharapkan dapat mengikuti
dinamika masyarakat serta dapat menampung perkembangan kehidupan ekonomi, politik, sosial,
budaya baik domestik maupun regional dan global pada masa kini dan yang akan datang serta
dapat memanfaatkan hasil pembangunan (yang positif) yang sudah dicapai. Sehingga cita-cita
kemerdekaan bangsa Indonesia dapat dicapai dengan lebih cepat dengan efektif.
Pasal-pasal yang diamandemen dalam UUD 1945 dalam bidang ekonomi tidak hanya terhadap
pasal yang langsung terkait dengan ekonomi. Namun pasal-pasal lainnya yang tidak secara
langsung terkait dengan bidang ekonomi namun bila relevan juga diamandemen jika diperlukan.
Namun demikian diharapkan amandemen yang dilakukan adalah selain dapat mengoreksi
kesalahan masa lalu ataupun mengatasi masalah yang dihadapi oleh Indonesia pada saat ini juga
dapat mengantisipasi perkembangan ekonomi, sosial, politik baik domestik ataupun internasional
yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia pada masa kini dan yang akan datang.
Undang-Undang Dasar adalah merupakan hukum dasar bagi semua undang-undang dan
peraturan lainnya. Oleh karena itu diharapkan dapat bertahan selama mungkin (diperkirakan
sekitar 50 tahun) meskipun tidak menutup kemungkinan amandemen terhadap pasal-pasalnya
dapat dilakukan jika dianggap sudah tidak dapat mengikuti dinamika masyarakat lagi. Oleh
karena itu dalam mengamandemen konstitusi sebaiknya jangan hanya responsif terhadap
masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada saat ini tetapi juga dapat antisipatif
terhadap perubahan yang akan terjadi baik dalam skala lokal, nasional maupun internasional.
Demikian juga dalam amandemen pasal-pasal Undang-Undang Dasar dalam bidang ekonomi
sebaiknya menggunakan pola seperti itu.
Dari pasal-pasal UUD 1945 sebelum diamandemen, ada 4 pasal, yaitu BAB VII tentang HAL
KEUANGAN pada pasal 23 yang terdiri atas 5 ayat, BAB X tentang WARGA NEGARA pada
pasal 27 ayat (2), BAB XIV tentang KESEJAHTERAAN SOSIAL pada pasal 33 terdiri dari 3
ayat, dan pasal 34 tentang jaminan sosial bagi masyarakat yang terdiri dari 1 ayat, adalah bab,
pasal ataupun ayat yang secara langsung berkaitan dengan bidang ekonomi. Namun demikian
hasil amandemen UUD telah memunculkan pasal-pasal dan ayat baru yang terkait secara
langsung ataupun tidak langsung dalam bidang ekonomi. Sehingga hasil amandemen UUD 1945
telah menghasilkan lebih banyak pasal ataupun ayat yang terkait dengan ekonomi. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa hasil amandemen tersebut telah membuat pengelolaan ekonomi
telah terumuskan dengan lebih jelas karena lebih detil dari sebelumnya. Selain itu perlu juga
dipahami bahwa hasil amandemen di bidang ekonomi ternyata juga telah mengubah sistem
perekonomian yang dianut oleh Indonesia dalam mengelola ekonominya.
Pasal ataupun ayat yang terkait secara langsung ataupun tidak langsung dalam perekonomian
sekarang terumuskan lebih banyak. Konsititusi kita sekarang semakin kaya dalam merumuskan

pengelolaan ekonomi oleh Negara, bahkan pasal mengenai independensi bank sentral juga ada.
Sehingga selain pasal ataupun ayat lama yang diamandemen juga muncul pasal atapun ayat baru
yang terkait dengan ekonomi baik secara langsung ataupun tidak langsung. Sehingga selain pasal
23, 27, 33 dan 34, sekarang ini pengelola ataupun otoritas ekonomi di Indonesia harus juga
melihat pasal 28 yang terkait dengan hak asasi manusia, pasal 11 yang memuat tentang
perjanjian internasional, serta pasal 31 tentang pendidikan yang terkait dengan bidang ekonomi.
Demikian juga pasal 18A tentang Pemerintah Daerah, Pasal 20A tentang DPR, pasal 22D
tentang DPD juga terkait dengan pengelolaan ekonomi.
Pasal-pasal ataupun ayat baru yang muncul terkait dengan bidang ekonomi seperti pasal 28D (2)

yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan dan
perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”, pasal 28H ayat (1) yang berisi “Setiap

orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan

hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Demikian juga dalam
pasal 28H (4) tertulis “Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut
tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun”. Jelas pengakuan hak milik
pribadi ini merupakan unsur dari kapitalisme yang diakui oleh negara. Selain itu dalam rangka
menjaga kepentingan ekonomi nasional juga telah dirumuskan pada pasal 11, khususnya dalam

ayat (2) tertulis “Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan

akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan
Negara, dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukkan undangundang harus dengan

persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. Selain itu dalam pasal 31 (2) juga tertulis “Negara

memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran
pendapatan dan belanja Negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk

memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”. Jelas munculnya ayat ini

membawa konsekuensi yang mengikat pada DPR ataupun pemerintah yang menyusun RAPBN
dalam mengalokasikan anggaran pendidikan tiap tahunnya. Sayangnya sampai sekarang selalu
tidak dapat dipenuhi. Dari amandemen yang sudah dilakukan oleh MPR dapat dilihat bahwa
konstitusi hasil amandemen memuat pasal dan ayat bidang ekonomi yang lebih kaya. Sehingga
membuat adanya perubahan yang signifikan peranan negara dalam perekonomian.
Amandemen dalam UUD 1945 telah mengubah sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia.
Dimana dalam UUD 1945 sebelum diamandemen sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia
adalah sosialis. Namun demikian sama seperti perkembangan yang terjadi di banyak negara
sosialis, dalam UUD 1945 hasil amandemen sudah lebih banyak unsur ekonomi pasarnya
(kapitalisme). Hal ini dapat dilihat mulai diakuinya hak milik pribadi pada pasal 28H ayat (4),
demikian juga munculnya ayat (4) dalam pasal 33, ataupun munculnya berbagai hak warga
Negara yang dijamin oleh Negara dalam beberapa pasal ataupun ayat yang telah dibahas
sebelumnya. Meskipun secara umum sistem ekonomi Indonesia dapat dilihat dalam bab yang
memuat Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Rakyat yang dicantumkan dalam Bab XIV

pasal 33 dengan judul “PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT”

dengan rumusan yang dapat dibaca berikut ini :
Bab XIV Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Rakyat
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta
dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.
Munculnya unsur efisiensi berkeadilan dalam ayat 4 telah memberikan ruang gerak bagi
bekerjanya mekanisme pasar yang selama ini telah diaplikasikan di Indonesia dan diyakini di
banyak negara menjadi alat penting dalam mencapai efisiensi dalam suatu perekonomian.
Meskipun dalam kasus Indonesia, pencapaian efisiensi mestinya tidak meninggalkan unsur-unsur
keadilan.
Selain itu unsur kapitalisme yang muncul dalam amandemen adalah diakuinya hak milik pribadi
oleh negara. Demikian juga hak-hak warga negara lainnya dalam bidang ekonomi juga
dilindungi oleh negara, diantaranya adalah hak warga negara memiliki kesempatan yang sama
untuk menjalankan aktivitas ekonominya untuk dapat hidup layak. Indonesia nampaknya
menggunakan The International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights yang
merupakan hak warga negara dan merupakan suatu kesatuan dari Universal Declaration of
Human Rights dan The International Covenant on Civil and Political Rights sudah
dideklarasikan pada tanggal 16 Desember 1966 dan mulai diberlakukan sejak 3 Januari 1976,
yang sudah diratifikasi oleh 146 negara pada 1 Juli 2003. Dimana dalam pasal 11-nya
menyatakan sebagai berikut :
The right to an adequate standard of living Article 11
1. The States Parties to the present Covenant recognize the right of everyone to an adequate
standard of living for himself and his family, including adequate food, clothing- and housing,
and to the continuous improvement of living conditions. The States Parties will take appropriate
steps to ensure the realization of this right, recognizing to this effect the essential importance of
international cooperation based on free consent.
2. The States Parties to the present Covenant, recognizing the fundamental right of everyone to
be free from hunger, shall take, individually and through international cooperation, the measures,
including specific programmes, which are needed:
(a) To improve methods of production, conservation and distribution of food by making full use
of technical and scientific knowledge, by disseminating knowledge of the principles of nutrition
and by developing or reforming agrarian systems in such a way as to achieve the most efficient
development and utilization of natural resources;
(b) Taking into account the problems of both food-importing and food-exporting countries, to
ensure an equitable distribution of world food supplies in relation to need.
Dalam UUD 1945 yang sudah diamandemen 4 kali juga memuat bab baru yang selaras dengan
kovenan diatas, Bab XA Hak Asasi Manusia yang termuat dalam pasal 28A sampai dengan pasal
28J (ada 10 pasal) yang dibuat pada saat amandemen kedua ditetapkan pada 18 Agustus 2000.
Dari berbagai ulasan ini dilihat bahwa adanya pergeseran yang cukup signifikan dalam
pengelolaan bidang ekonomi pasca amandemen dalam konstitusi kita. Dimana peranan Negara
tetap penting namun demikian peranan privat ataupun masyarakat dalam perekonomian juga
diakui.
Kesimpulan
Hasil amandemen UUD 1945 di bidang ekonomi yang sudah dilakukan empat kali oleh
Indonesia ternyata telah membawa perubahan yang besar pada peranan negara dalam
perekonomian. Sistem ekonomi Indonesia telah bergeser agak ke tengah dari sisi kiri, dimana
sebelum diamandemen Indonesia menganut sistem perekonomian sosialis, namun perubahan

yang sudah dilakukan dengan memperkaya pasal ataupun ayat yang baru telah menggeser sistem
ekonomi Indonesia sehingga menjadi lebih dekat ke mixed economy atau pasar sosialis. Dimana
peranan pasar (efisiensi berkeadilan), hak asasi manusia termasuk hak milik pribadi diakui,
namun unsur sosialismenya juga kental termuat dalam pasal 34 yang sudah semakin diperkaya
dengan secara eksplisit mencantumkan perlu adanya sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Demikian juga konstitusi hasil amandemen juga memuat pasal-pasal yang terkait dengan
ekonomi juga semakin kaya, diantaranya mengenai perjanjian internasional (pasal 11) ataupun
anggaran pendidikan (pasal 31) dimuat dalam pasal-pasalnya. Bahkan independensi bank sentral
juga dimuat dalam pasal 23D. Itu semua jelas membuat pengelolaan ekonomi menjadi lebih jelas
rambu-rambunya, sehingga bisa menjadi rambu-rambu bagi semua pihak ataupun otoritas
ekonomi. Meskipun tentu saja banyak diantaranya yang perlu dilengkapi dengan peraturan yang
lebih rendah.
Ada pergeseran cukup signifikan peranan negara dalam bidang perekonomian di Indonesia
setelah adanya amandemen UUD 1945 yang keempat kali. Dimana peranan negara dalam
perekonomian tetap penting, namun demikian peranan swasta ataupun masyarakat juga diakui.
Dengan lebih kayanya pengaturan ekonomi dalam konstitusi Indonesia diharapkan akan dapat
memberikan arah yang lebih jelas bagi otoritas ekonomi ataupun semua pihak yang terkait.
Sedangkan wacana amandemen kelima UUD 1945 sebaiknya didasarkan pada pemahaman
konstitusi hasil amandemen yang lebih baik, agar jangan sampai kita salah langkah. Semoga.

Sebagai pelengkap terlampir pasal-pasal di UUD 1945 hasil amandemen yang terkait dengan
ekonomi.
Lampiran
BAB, pasal dan ayat yang ada kaitannya dengan ekonomi:
Pasal 11
(1) Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat
perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. ****)
(2) Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang
luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara, dan/atau
mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat. ***)
(3) Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan Undang-Undang.
BAB VI
PEMERINTAH DAERAH
Pasal 18A
(1) Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah propinsi, kabupaten,
dan kota atau antara propinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan undangundang dengan
memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. **)
(2) Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya
lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan
selaras berdasarkan undang-undang. **)
BAB VII
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
Pasal 20A

(1) Dewan Perwakilan Rakyat memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan.
**)

BAB VIIA ***)
DEWAN PERWAKILAN DAERAH
Pasal 22D
(1) Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan
undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah,
pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan
daerah. ***)
(2) Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan
otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan, pemekaran, dan penggabungan
daerah; pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan
keuangan pusat dan daerah; serta memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat
atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-
undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama. ***)
(3) Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang
mengenai : otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan
pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan
anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta menyampaikan
hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan untuk
ditindaklanjuti. ***)
BAB VIII
HAL KEUANGAN
Pasal 23
(1 ) Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara
ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung
jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. ***)
(2) Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh Presiden
untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Daerah. ***)
(3) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran pendapatan dan
belanja negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara tahun yang lalu. ***)
Pasal 23A
Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-
undang. ***)
Pasal 23B
Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang. ****)

Pasal 23C
Hal-hat lain mengenai keuangan negara diatur dengan undang-undang. ***)

Pasal 23D
Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab,
dan independensinya diatur dengan undang-undang. ****)

BAB VIIIA ***)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
Pasal 23E
(1) Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan satu
Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri. ***)
(2) Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sesuai dengan kewenangannya. ***)
(3) Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai
dengan undang-undang. ***)

Pasal 23F
(1) Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden. ***)
(2) Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan dipilih dari dan oleh anggota. ***)

Pasal 23G
(1) Badan Pemeriksa Keuangan berkedudukan di ibu kota negara, dan memiliki perwakilan di
setiap propinsi. ***)
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Pemeriksa Keuangan diatur dengan undangundang.
***)
BAB X
WARGA NEGARA DAN PENDUDUK **)
Pasal 27
(1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
(2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

BAB XA **)
HAK ASASI MANUSIA
Pasal 28C
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak
mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. **)
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara
kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. **)
Pasal 28D
(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. **)
(2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak
dalam hubungan kerja. **)

Pasal 28F
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran
yang tersedia. **)

Pasal 28H
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. **)
(2) Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan
manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. **)
(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara
utuh sebagai manusia yang bermartabat. **)
(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil
alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun. **)

BAB XIII
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN****)
Pasal 31
(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. ****)
(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
****)
(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. ****)
(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari
anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah
untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. ****)
(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilainilai
agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. ****)

BAB XIV
PEREKONOMIAN NASIONAL DAN
KESEJAHTERAAN SOSIAL****)
Pasal 33
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta
dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. ****)
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.****)
Pasal 34
(1) Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. ****)

(2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan
masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. ****)
(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak. ****)
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. ****)

*) Perubahan Pertama
**) Perubahan Kedua
***) Perubahan Ketiga
****) Perubahan Keempat

http://dumadia.wordpress.com/2008/12/23/pergeseran-sistem-ekonomi-hasil-amandemen/

G20, Peran Strategis Indonesia Di Tengah Pergeseran Perekonomian Dunia

3 10 2009

Sebuah kesempatan emas akhirnya datang bagi Indonesia untuk menunjukkan eksistensinya di
dunia internasional. Indonesia menjadi peserta G20 summit, Pertemuan para pemimpin dari 20
negara maju dan berkembang yang diadakan selama 2 hari, 24-25 September 2009 di Pittburgh,
Amerika Serikat. Negera-negara G20 merepresentasikan 85 persen perekonomian dunia. Negara-
negara G20 terdiri dari Argentina, Australia, Brasil, Kanada, China, Perancis, dan Jerman. Lalu
India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, serta Korea Selatan.
Kemudian Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa yang diwakili oleh negara yang
memegang dewan kepemimpinan dan Bank Sentral Eropa. Pertemuan ini akan membahas
berbagai masalah global seperti isu pemanasan global dan krisis ekonomi global. Dalam
pertemuan ini pula, secara resmi G20 ditetapkan sebagai pengganti G8, kelompok yang terdiri
dari 8 negara maju dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia.

Digantikannya G8 dengan G20 telah menunjukkan adanya pergeseran perekonomian dunia.
Sebelumnya, Perekonomian dunia dikendalikan oleh negara-negara maju di benua Amerika dan
Eropa. Namun, setelah terjadinya krisis ekonomi global, raksasa-raksasa ekonomi dari benua
Asia seperti China dan India mulai tampil dan ikut mengendalikan perekonomian dunia. Nah, di
sini pula Indonesia sebagai wakil dari negara berkembang, negara paru-paru dunia, serta negara
dengan penduduk muslim terbesar dunia ikut ambil peran. Indonesia memiliki peran strategis
sebagai wakil negara berkembang untuk ikut mengendalikan pertumbuhan ekonomi dunia agar
seimbang antara negara maju dan berkembang serta mengawasi langkah-langkah pemberian
stimulus ekonomi untuk mengatasi krisis ekonomi global. Sebagai negara paru-paru dunia,
Indonesia dapat berperan dalam memperkuat kesepakatan baru yang akan digunakan untuk
menggantikan protokol Kyoto. Protokol Kyoto akan berakhir pada 2012. Indonesia juga
berkesempatan untuk menyampaikan pandangannya tentang isu-isu timur tengah serta terorisme
di hadapan dunia dari sudut pandang sebagai negara dengan umat Islam terbesar di dunia.

Hubungan Islam dan Barat dapat dijembatani oleh Indonesia. Dari G20 summit ini diharapkan
agar Indonesia tidak sekedar tampil di kancah internasional saja, tetapi juga dapat menjalankan
peran aktifnya dengan baik. Dengan demikian, politik luar negeri bebas aktif yang menjadi cita-
cita bersama dapat terwujud.

http://kuliahinformatika.wordpress.com/2009/10/03/g20-peran-strategis-indonesia-di-tengah-
pergeseran-perekonomian-dunia/

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Asia
» Selasa, 11 Desember 2012 | 09:16:41 WIB | Dibaca: 1426

Oleh: Hendra Kusuma*, Taufik N**

(Dosen Universitas Muhammadiyah Malang)

Ekonomi Asia berkembang dengan tingkat pertumbuhan yang sangat mengesankan dalam kurun
waktu hampir tiga puluh tahun. Pertumbuhan PDB di wilayah Asia dihitung dalam Purchasing
Power Parity
(PPP) naik dari sekitar 3,3 triliun US Dollar pada tahun 1980 menjadi sekitar 24,5
triliun US Dolar pada tahun 2009. Dibandingkan dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi dunia
yang tumbuh sebesar 3 kali lipat dalam periode yang sama, pertumbuhan ekonomi Asia jauh
lebih tinggi yaitu hampir 7,5 kali lipat dalam tiga dekade. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di
Asia, telah meningkatkan pendapatan riil per kapita lebih dari 4 kali lipat selama periode tersebut.
Sementara rata-rata kenaikan pendapatan per kapita global kurang dari dua kali lipat dalam
periode yang sama. Pada tahun 1980, pendapatan rata-rata Asia hanya sekitar seperempat dari
rata-rata dunia, kemudian meningkat menjadi dua pertiga dari pendapatan rata-rata dunia.

Untuk melihat determinan pertumbuhan Ekonomi Asia, penelitian yang dilakukan oleh (Lee,
Hong 2012), dengan menggunakan kerangka penghitungan pertumbuhan menghasilkan bahwa
perekonomian Asia tumbuh secara cepat selama tiga dekade karena peningkatan yang cepat
dalam akumulasi kapital. Kontribusi pendidikan dan Produktifitas Faktor Total terhadap
pertumbuhan dalam periode 1981-2007 di wilayah Asia relatif terbatas.

Sumber utama pertumbuhan dari beberapa negara Asia yaitu Cina, Hongkong, India, Indonesia,
Korea Selatan, Malaysia, Pakistan, Filipina, Singapura, Taipei, Thailand dan Vietnam. Selama
tahun 1981-2007, akumulasi kapital (kapital/pekerja) memberikan kontribusi terbesar terhadap
pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia. Diantara sumber-sumber pertumbuhan tersebut,
pertumbuhan modal manusia (human capital) memberikan kontribusi terkecil terhadap
pertumbuhan GDP hampir di semua negara tersebut yang sebagian besar berada di bawah satu
persen, kecuali beberapa negara seperti Malaysia, Singapura dan Taipei berada di atas satu
persen tetapi tidak lebih dari dua persen.

Pertumbuhan tenaga kerja mengalami trend yang menurun dalam menciptakan pertumbuhan
GDP Asia kecuali untuk beberapa negara yang mengalami fluktuasi yaitu India, Pakistan dan
Vietnam. Dari tabel di atas, pertumbuhan produktifitas total (TFP) dari beberapa negara memiliki
keragaman. Pertumbuhan TFP dalam menciptakan pertumbuhan output perekonomian terbesar
dialami oleh Cina dengan trend yang selalu meningkat yaitu sebesar 3,02 persen selama periode
1981-1990 menjadi 3,72 persen selama 1991-2000 dan 6,06 persen selama 2000-2007 dengan

rata-rata pertumbuhan 1981-2007 sebesar 4,07. Berbeda dengan Cina dan beberapa negara asia
lainnya, pertumbuhan TFP dalam kontribusinya terhadap pertumbuhan GDP beberapa negara
Asia seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan dan Filipina secara rata-rata selama 1981-2007
bahkan tidak mencapai satu persen.

Melihat fenomena determinan pertumbuhan ekonomi Asia, muncul pertanyaan mampukah teori
pertumbuhan yang ada menjelaskan proses pertumbuhan di Asia? Secara sederhana kita dapat
menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan model pertumbuhan Solow. Dalam kasus
beberapa negara Asia tersebut, akumulasi kapital merupakan determinan utama dari
pertumbuhan ekonomi (Lihat grafik)

Grafik.1 Sumber-sumber Pertumbuhan Negara-Negara Asia,1981-2007

Sumber : Lee,Hong 2010

Sesuai dengan Model Solow, pertumbuhan ekonomi akan terjadi selama akumulasi kapital terus
berlangsung hingga mencapai kondisi steady state dan kemudian stagnan. Pertumbuhan
selanjutnya sepenuhnya akan ditentukan oleh technical progress dengan indikator Produktifitas
Faktor Total. Dari tabel di atas terlihat bahwa sumber utama dari pertumbuhan negara-negara
Asia berasal dari modal per pekerja dengan trend yang selalu meningkat. Kontribusi
produktifitas faktor total (TFP) dan sumber daya manusia (human capital) relatif kecil terhadap
pertumbuhan output, sementara pertumbuhan terus terjadi dengan nilai yang relatif tinggi,
sehingga untuk kasus beberapa negara Asia tersebut perekonomian masih belum mencapai
steady state dimana pertumbuhan akan berkesinambungan sejalan dengan kenaikan produktifitas
faktor total (TFP).

Jika menggunakan model pertumbuhan endogen untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi Asia
untuk saat ini, maka teori ini akan menjadi lebih relevan apabila digunakan untuk memproyeksi
pertumbuhan Asia ke depan setelah perekonomian mencapai steady state. Sesuai dengan teori
pertumbuhan endogen dengan model dua sektor, maka pertumbuhan akan terus berlanjut dan
berkesinambungan jika negara-negara Asia meningkatkan investasi di sektor pendidikan dan
riset tanpa mengasumsikan pergeseran eksogen dalam fungsi produksi.

Kesimpulan

Pertumbuhan ekonomi Asia yang cukup pesat selama tiga dekade yaitu sejak 1981-2007
secara sederhana dapat dijelaskan dengan menggunakan Model Pertumbuhan Solow dimana
akumulasi kapital merupakan determinan penting bagi sebuah pertumbuhan. Penggunaan Model
Solow dalam menjelaskan pertumbuhan ekonomi Asia didukung oleh data yang secara rinci
menunjukkan bahwa pertumbuhan modal per pekerja memberikan kontribusi terbesar terhadap
pertumbuhan GDP untuk seluruh negara Asia yang dianalisis, sedangkan kontribusi pendidikan
(human capital) masih relatif terbatas.

Rekomendasi kebijakan agar pertumbuhan Asia dapat berkesinambungan difokuskan
kepada peningkatan investasi dalam riset dan pendidikan sehingga meningkatkan produktivitas
input faktor baik kapital maupun tenaga kerja. Fenomena convergensi yang menyebabkan
pertumbuhan stagnan pada saat steady state dapat di atasi melalui perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang merupakan variabel endogen sebagaimana dijelaskan oleh teori
pertumbuhan endogen.

DAFTAR PUSTAKA

Dornbusch Rudiger, Fischer Stanley, Startz Richard, 2008. Makroekonomi edisi ke sepuluh
(terjemahan).
PT. Media Global Edukasi Jakarta.

Fischer. Manfred, 2010. A Spatial Mankiw-Romer-Weil Model: theori and evidence Springer-
Verleg.

Lee. JW, Hong Kiseok, 2012. Economic Growth in Asia : Determinants and Prospects. Japan
and the World Economy 24 (2012) 101-103.

Mankiw. N.Gregory, 2006. Makroekonomi Edisi ke enam (terjemahan). Erlangga Jakarta.

Romer David, 2006. Advanced Macroeconomics third edition. McGraw-Hill companies- New
York.

http://www.umm.ac.id/id/detail-23-analisis-pertumbuhan-ekonomi-asia-opini-umm.html

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di
Indonesia Periode Tahun 1984 - 2003. Skripsi S1 Ekonomi Pembangunan

BAB I
PENDAHULUAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->