BAB I PENDAHULUAN 1) Masalah Setiap anak memerlukan pembinaan dan perlidungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan

fisik, mental dan sosial secara utuh, serasi, selaras dan seimbang. Pembinaan dan perlindungan anak ini tak mengecualikan pelaku tindak pidana anak, kerap disebut sebagai “anak nakal”. Anak yang melakukan tindak pidana, dalam hal ini sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 (angka 1) UU No. 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, ialah orang yang telah mencapai 8 tahun tetapi belum mencapai 18 tahun dan belum pernah kawin. Dalam konteks hukum acara pidana, Sudarto (1980) menegaskan bahwa aktivitas pemeriksaan tindak pidana yang dilakukan oleh polisi, jaksa, hakim dan pejabat lainnya haruslah mengutamakan kepentingan anak atau melihat kriterium apa yang paling baik untuk kesejahteraan anak yang bersangkutan tanpa mengurangi perhatian kepada kepentingan masyarakat. Sementara itu dari perspektif ilmu pemidanaan, Paulus Hadisuprapto (2003) meyakini bahwa penjatuhan pidana terhadap anak nakal (delinkuen) cenderung merugikan perkembangan jiwa anak di masa mendatang. Kecenderungan merugikan ini akibat dari efek penjatuhan pidana terutama pidana penjara, yang berupa stigma (cap jahat). Dikemukakan juga oleh Barda Nawawi Arief (1994, pidana penjara dapat memberikan stigma yang akan terbawa terus walaupun yang bersangkutan tidak melakukan kejahatan lagi. Akibat penerapan stigma bagi anak akan membuat mereka sulit untuk kembali menjadi anak ”baik”. 2) Tujuan Jadi dalam makalah ini penulis akan menjelaskan hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam Penajatuhan Pidana dan Pemidanaan terhadapat anak nakal dan penasehat hokum terhadap Penjatuahanb Pidana Kepada Anak Nakal

1

pembahasan yang berkaitan dengan acara pengadilan anak yang secara umum sudah diatur KUHAP sedapat mungkin tidak dibahas lagi (lihat uraian muka). hokum acara yang berlaku (KUHAP) diterapkan pula dalam acara pengadilan anak. Pengadilan Anak dibentuk memang sebagai upaya pembinaan dan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik. selaras. a. militer. serasi. Pengadilan anak yang berarti berdiri sendiri. Sehubungan dengan hal itu. ketentuan mengenai penyelenggaraan pengadilan bagi anak dilakukan secara khusus. dan tata usaha Negara. Kedudukan Dan Kewenangan Pengadilan Anak Pengadilan anak adalah pelaksaan kekuasaan kehakiman yang berada di lingkungan peradilan umum (Pasal 2 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997). Meskipun sebagai pengadilan khusus. Mengenai tugas dan kewenangan peradilan anak (sidang anak) Pasal 3 Undang – undang Nomor 3 Tahun 1997 menyatakan bahwa anak bertugas dan berwenang 2 .BAB II PENJATUHAN PIDANA KEPADA ANAK NAKAL 1. Pengadilan Anak dan Perlindungan Anak Telah disebut di muka bahwa undang – undang yang mengatur Pengadilan Anak adalah Undang –undang Nomor 3 Tahun 1997 yang mulai berlaku 3 Januari 1998 atau satu tahun terhitung sejak tanggal diundangkan undang-undang tersebut. Meperhatikan Pasal 2 di atas. mental. kecuali ditentukan lain dalam Undang – undang Nomor 3 Tahun 1997 (vide Pasal 40). Meskipun demikian. agama. dan social anak secara utuh. Oleh karenanya. paparan berikut menjadi penting untuk disimak. Keberadaan pengadilan anak tetap dalam lingkungan peradilan umum. Memperhatikan klausul tersebut. idealnya jumlah Peradilan Anak sebanyak jumlah Peradilan Negeri. Hal ini sesuai dengan yang tersebut dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 yang menegaskan hanya ada 4 lingkungan peradilan umum. dan seimbang.

Selain itu. Hakim Anak (vide Pasal 1 butir 5. dan harapan keluarga. khususnya berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997. merupakan potensi dan penerus citacita perjuangan bangsa. Anak adalh bagian dari generasi muda sebagai salah satu sumber daya manusia. Pada prinsipnya. merupakan buah hati. tugas dan kewenangan pengadilan anak sama dengan pengadilan perkara pidana lainnya. namun yang tetap harus diperhatikan adalah perlindungan anak merupakan tujuan utama. dan 7) 3) Hakim. serta petugas lainnya dalam siding anak tidak memakai toga atau pakaian dinas (vide Pasal 6) 4) Untuk melindungi kepentingan anak pada prinsipnya pemeriksaan perkara anak dilakukan dalam siding tertutup. Penyidik. Penuntut Umum adalah Penutut Umum Anak. Pasal 21 menegaskan bahwa siding anak berwenang untuk memeriksa. b. 3 . Di situlah letak pentingnya pengadilan anak sebagai salah satu sarana bagi perlindungan anak yang terganggu keseimbangan mental dan sosialnya sehingga menjadi anak nakal. dan Penasihat Hukum. Kecuali dalam hal tertentu dapat dilakukan dalam siding terbuka. antara lain sebagai berikut: 1) Batas umur anak nakal yang dapat diajukan ke siding anak adalah sekurangkurangnya 8 (delapan) tahun tetapibelum mencapai umur 18 (delapan belas) tahundan belum pernah kawin (vide Pasal 4 ayat (1)) 2) Aparat penegak hokum yang berperan dalam proses peradilan anak yaitu Penyidik adalah Penyidik Anak. 6. anak sebagai bagiandari keluarga. Penuntut Umum. Kekhususan Pengadilan Anak Ketentuan mengenai penyelenggaraan pengadilan anak dilakukan secara khusus.memeriksa. dan menyelesaikan perkara anak sebagaimana ditentukan dalam undang-undang. dan melesaikan perkara pidana dalam hal perkara anak nakal. Garis besar kekhususan pengadilan Anak. misalnya perkara pelanggaran lalu lintas dan pemeriksaan perkara di tempat kejadian perkara (vide Pasal 8 ayat (1) dan (2) beserta penjelasannya). Meski prinsipnya sama. memutus. memutus. penerus.

Pasal 24 ayat (1) huruf b) d) Apabila belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau tidak diancam pidana penjara seumur hidup maka anak nakal tersebut dujatuhi salah satu tindakan (vide Pasal 26 ayat (4) jo. c) Apabila belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup. 6) Ketentuan pidana yang dapat dijatuhkan kepada anak yang melakukan tindak pidana/anak nakal. maka anak nakal tersebut dijatuhi tindakan berupa “menyerahkan kepada Negara untuk mengikuti pendidikan. e) Pidana kurungan yang dapat dijatuhkan paling lama 1/2 (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana kurungan bagi orang dewasa (vide Pasal 27 ayat) f) Pidana denda yang dapat dijatuhkan paling banyak 1/2 (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana denda bagi orang dewasa (vide Pasal 28 ayat (1)) g) Apabila denda tidak dapat dibayar maka diganti dengan wajib latihan kerja paling lam 90 hari kerja dan lama latihan kerja tidak lebih 4 jam sehari serta tidak dilakukan pada malam hari (vide Pasal 28 ayat (2) dan (3)) h) Pidana bersyarat dapa dijatuhkan oleh Hakim apabila pidana penjara yang dijatuhakan paling lama 2 (dua) tahun (vide pasal 29 ayat (1)) 4 .5) Pidana dan tindakan yang dapat dijatuhkan hanya yang ditntukan dalam Undangundang Nomor 3 Tahun 1997 (vide Pasal 22). antara lain sebagai berikut: a) Pidana penjara yang dapat dijatuhkan paling lama 1/2 (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa (vide Pasal 26 ayat (1)) b) Apabila melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup. maka pidana penjara yang dapat dijatuhkan paling lama 10 (sepuluh) tahun (vide Pasal 26 ayat (2)). Pasal 24). dan latihan kerja (vide Pasal 26 ayat (3) jo. pembinaan.

Dalam hal ini. 2) Dalam hal anak melakukan tindak pidana pada batas umur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan diajukan ke sidang setelah anak yang bersangkutan melampaui batas umur tersebut. Ketentuan Umur Dapat dipastikan bahwa terdakwa dalam sidang anak adalah anak nakal. Pasal 4 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 menetapkan sebagai berikut: 1) Batas umur anak nakal yang dapat diajukan ke siding anak adalah sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Terdakwa dan Tersangka a. Pengertian anak nakal ini ada dua kelompok yakni anak yang melakukan tindak pidana dan yang melakukan perbuatan yang terlarang bagi anak. atau 2) Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak. Umur dapat berupa umur minimum maupun maksimum. tetap diajukan ke sidang anak. 5 . tetapi belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun. Jelas rumusan di atas. baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hokum lain yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Masalah umur tentunya juga harus dikaitkan dengan saat melakukan tindak pidana. asalkan saat melakukan tindak pidana belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. masalah umur merupakan masalh yang urgen bagi terdakwa untuk dapat diajukan dalam siding anak.2. Salah satu tolak ukur pertanggungjawaban pidana bagi anak nakal adalah umur. Sehubungan masalah umur. bahwa batas umur anak nakal minimal adalah 8 (delapan) tahun dan maksimal 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah kawin. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 telah merumuskan anak nakal ini (Pasal 1 butir 2) yaitu sebagai berikut: 1) Anak yang melakukan tindak pidana. Sedangkan maksimum untuk dapat diajukan ke sidang anak adalh umur 18 tahun.

3) Jika Penyidik berpendapat bahwa anak tersebut tidak dibina oleh orang tua. 3) Anggota ABRI diajukan ke Mahkamah Militer. b.wali.wali. 2) Apabila Penyidik berpendapat bahwa anak tersebut masih dapat dibina oleh orang tua.wali. atau orang tua asuhnya maka diserahkan kepada Departemen Sosial setelah mendengar pertimbangan dari pembimbing masyarakat (vide Pasal 5 ayat (2) dan (3)). atau orang tua asuhnya.wali. 6 . Hak-Hak Tersangka-Terdakwa Terdapat beberapa hak tersangka atau terdakwa yang bersumber dari peraturan Undang-undang Pengadilan Anak. atau orang tua asuhnya maka Penyidik menyerahkan kembali kepada orang tua. Pengalaman praktek membuktikan terjadi tindak pidana sering ada unsur penyertaan (deelneming).Bagaimana apabila tersangka tesebut belum berumur 8 (delapan) tahun? Dengan tetap berpegang pada asas praduga tak bermasalh dan demi kepentingan/perlindungan anak maka Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997. Hak-hak yang dapat diinventarisasi antara lain sebagai berikut: 1) Hak anak yang belum mencapai umur 8 (delapan) tahun untuk diserahkan kembali kepada orang tua. Pasal 5 menentukan sebagai berikut: 1) Jika anak belum mencapai umur 8 tahun melakukan atau diduga melakukan tindakan pidana maka trhadap anak tersebut dapat dilakukan pemeriksaan oleh Penyidik. ditetapkan oleh Pasal 7 sebagai berikut: 1) Anak tetap diajukan ke sidang anak. Penyidik menyerahkan anak trsebut kepada Departemen Sosial setelah mendengar pertimbangan masyarakat. Dalam hal terjadi anak melakukan tindak pidana bersama-sama dengan orang dewasa atau bersama-sama dengan anggota ABRI. Jika tidak dapat dibina oleh orang tua. 2) Orang dewasa diajukan ke sidang bagi orang dewasa.wali. atau orang tua asuhnya. atau orang tua asuhnya untuk dibina.

44. Pengaturan perihal penyidikan pada pokoknya termasuk dalam pada Pasal 41. apabila ditangkap atau ditahan (vide Pasal 51 ayat (3)). 43. atau di tempat tertentu (vide Pasal 44 ayat (6)). 4) Hak untuk disingkat namanya. Penyidik adalah Penyidik Anak. dan social anak selama ditahan (vide Pasal 45 ayat (4)). atau orang tua asuhnya. 6) Hak untuk dirahasiakan selama proses penyidikan (vide Pasal 42 ayat (3)). rohani. penyidikannya dilakukan oleh Penidik anak. Tugas utama Penyidik Anak yaitu melakukan penyidikan terhadap anak nakal. meskipun melakukan tinmdak pidana bersama-sama dengan orang dewasa atau anggota ABRI (vide Pasal 7) 3) Hak diperiksa dalam siding tertutup. Begitu bunyi Pasal 1 butir 5 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997. nama orang tua. jika dilakukan pengucapan putusan pengadilan (vide Pasal 8 ayat (5)). 8) Hak untuk tetap dipenuhi kebutuhan jasmani. 5) Hak untuk diperiksa oleh Penyidik dalam suasana kekeluargaan. 10) Hak berhubungan langsung dengan Penasihat Hukum dengan diawasi tanpa didengar oleh pejabat yang berwenang. 42.wali. 9) Hak mendapatkan bantuan hokum dari seseorang atau lebih Penasihat Hukum sejak ditangkap atau ditahan dan selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemerikasaan (vide Pasal 51 ayat (1)). 7) Rutan. 3. cabang Rutan. misalnya penyisik tidak memakai pakaian dinas dan pendekatan yang simpatik (vide Pasal 42 ayat (1)). dan 7 . Demikian juga kiranya. Tempat tahanan anak harus dipisahkan dari tempat tahanan orang dewasa (vide Pasal 45 ayat (3)). kecuali dalam hal tertentu dan dipandang perlu dapat dilakukan dalam sidang terbuka (vide Pasal ayat (1) dan (2)).2) Hak untuk tetap diajukan dalam sidang anak. Penyidikan Anak Ketentuan seputar hokum acara bagi p[engadilan anak bersifat lexpesialis.

Kualifikasi Penyidikan Anak Pasal 41 ayat(1) Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 menyebutkan bahwa penyidik terhadap anak nakal dilakukan oleh penyidik yang ditunjuk oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia. dan dapat menyelami jiwa anak tetapi tegas. untuk dapat ditetapokan sebagai Penyidik Anak maka syarat-syarat yang harus dipenuhi (Pasal 41 ayat (2)) adalah: 1) Telah berpengalaman sebagai Penyidik tindak pidana yang dilakukan oleh orang dewasa. Biasanya sifat kodrati keibuan yg luwes. dan memahami masalah anak. Berikut dalam Pasal 41 ayat (3) diberikan alternative apabila tidak/belum ada Penyidik Anak sebagaimana perlu. Dari rumusan itu pula disyaratkan Penyidik yang sudah berpengalaman serta mempunyai perhatian. perhatian. perhatian. atau 2) Penyidik lain yang ditetapkan berdasarkan ketentuan undang-undang yang berlaku 8 . Untuk itu. Jelas kualifikasi Penyidik Anak tidak ringan. bagi polisi yang sudah berpengalaman sanagt tepat menjadi Penyidik Anak. dan memahami masalah anak. Penyidik yang dimaksud di atas dapat dipastikan adalah Penyidik Anak dari lingkungan Penyidik Polri. Rumusan itu tidak mensyaratkan kepangkatan Penydik Anak. dedikasi.45 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 yang mengatur masalah penangkapan dan penahanan. Mengenai kualifikasi. itulah yg diperlukan. tugas penyidikan tsb dapat dibebankan kepada: 1) Penyidik yang melakukan tugas penyidikan bagi tindak pidana yang dilakukan oleh orang dewasa. dedikasi. Pengangkatan atau penetapan sebagai Penyidik Anak oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) atau oleh pejabat lain yang ditunjuk. a. 2) Mempunyai minat. masalah kepangkatan tetap tetap mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983.

9 . atau 2) Penyidik polri pada umumnya (Penyidik bagi tindak pidana yang dilakukan oleh orang dewasa). 3) Wajib merahasiakan proses penyidikan terhadap perkara anak nakal. Penyidik tidak memakai pakaian dinas dan pendekatan yang simpatik (Penjelasan Pasal 42). yakni sebagai berikut. 2) Maksudnya adalah agar penyidikan tetapo dapat dilaksanankan walaupun di daerah tersebut ada penunjukan Penyidik Anak. 1) Kewajiban memeriksa tersangka dalam suasana kekeluargaan. atau petugas kemasyarakatan lainnya. Kewajiban Penyidik Anak Ada kewajiban-kewajiban tertentu yang harus dijalankan oleh Penyidik Anak khususnya berdasarkan Pasal 42 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997. secara berurutan yang dapat melakukan penyelidikan anak nakal adalah: 1) Penyidik Anak. pengertian kekeluargaan dalam suasana kekeluargaan antara lain pada waktu memeriksa tersangka. Dalam konteks ini. atau 3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) b. ahli agama. 2) Kewajiban meminta pertimbangan atau saran dari pembimbing kemasyarakatanm dan bila perlu dapat meminta pertimbanagn atau saran dari ahli pendidikan. penjelasan pasal 41 ayat (3) menegaskan sebagai berikut: 1) Hal tertentu adalah dalam hal belum terdapat Penyidik Anak yang persyaratannya pengangkatannya sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997.Maksud Penyidik pada angka 1 (satu) adalah Penyidik Polri pada umumnya. sedangkan angka 2 (dua) adalah Penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). Menelaah rumusan tersebut. ahli kesehatan jiwa.

Selain itu kerja sama dan koordinasi yang positif sangat membantu bagi keberhasilan pelaksanaan tugas dan kewajiban. tentu saja seperti yang termaktub dalam Pasal 7 (1) KUHAP. menganai hak memperoleh bantuan hokum (vide Pasal 51 (2)). Dalam rangka melakukan penyidikan terhadap anak nakal. antara lain sebagai berikut: 1) Melakukan penangkapan anak nakal. Penyidik dalam melakukan penangkapan atau penahanan wajib memberitahukan kepada tersangka dan orang tua.Di luar kewajiban tersebut. 10 . Penyidik menyerahkan berkas perkara yang bersangkutan kepada Penuntut Umum. Penyidik tetap harus meningkatkan kemampuan professional. Kewenangan Penyidik Anak Seiring dengan adanya kewajiban melekat pula kewenangan dari Penyidik Anak. Pejabat yang professional adalah pejabat yang mampu member pelayanan terbaik. Kewajiban lain yang harus diperhatikan adalah jangka waktu 30 (tiga puluh) hari. Penyidik Anak mempunyai kewenangan. maka tersangka harus dikeluarkan dari tahanan demi hokum (Pasal 44 ayat (4) dan (5)) c. guna kepentingan pemeriksaan untuk paling lama 1 (satu) hari (vide Pasal 43) 2) Melakukan penahanan terhadap anak yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. untuk paling lama 20 (dua puluh) hari (vide Pasal 44 ayat (1) dan (2)) Kewenangan selengkapnya dari Penyidik. Meski tidak diatur atas pelanggaran kewajiban. atau orang tua asuh. Apabila jangka waktu 30 (tiga puluh hari) tersebut dilampaui dan berkas perkara belum diserahkan. tahu kewajiban dan mengetahui pula batas-batas kewenangan serta bekerja dengan tepat dan efektif.wali.

Kualifikasi Penuntut Umum Anak Bunyi Pasal 1 butir 6 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 yaitu Penuntut Umum adalah Penuntut Umum Anak. Penuntut Umum Anak a. Menganai siapa yang disebut Penuntut Umum Anak. Inilah salah satu kekhususan siding pengadilan anak.4. dapat disimak dalam rumusan Pasal 53 ayat (1) Undangundang Nomor 3 Tahun 1997. 11 .

Namun jika kondusif bagi kepentingan masa depan anak cukup diberikan tindakan-tindakan berupa pengembalian kepada orang tua kepada negara maupun kepada Departemen Sosial atau Organisasi Sosial Kemasyarakatan dengan disertai syarat tambahan yang ditetapan oleh hakim. 12 . 4. Pelaksanaan pidana terhadap anak nakal harus mengandung unsur reedukasi.BAB III PENUTUP 1) Kesimpulan Dasar pertimbangan hukum hakim dalam mengadili dan memutus perkara anak pelanggaran hak anak dan tindak pidana anak antara lain : 1. Agar diperhatikan laporan penelitian kemasyarakatan yang memuat kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya sehingga ptusan hakim dapat menumbuh kembangkan kecerdasan intelektual emosi dan sosialnya dikemudian hari. Terhadap anak nakal pelaku tindak pidana pertama kali ideal. reharmonisasi dan resosialisasi dengan membedakan antara pidana untuk pelaku kejahatan dengan pelaku pelanggaran. 3. Penegakan hukum pidana pada anak tidak dapat dipisahkan dari penyelesaian permasalahan dalam lingkungan keluarga. sekolah dan masyarakat lingkungan kehidupan sosial anak. 2. dan adilnya diberikan kesempatan untuk mengubah atau memperbaiki perilakunya tanpa harus dijatuhi pidana penjara.

06 tahun 1983 tentang tata Tertib Persidangan dan Tata Ruang siding Peraturan Menteri Kehakiman RI Nomor: M.07. Perawatan Tahanan.UM.09. 1980. dan Penasihat Hukum Undang-Undang republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak 13 .01.01.UM. dan Jaksa Agung RI Nomor: KMA/35/III/1981. Kapita Selekta Hukum Pidana.UM.06 tahun 1983 tentang Pakaian. Atribut Pejabat Peradilal.06 Tahun 1983 tentang Pelimpahan Wewenang Pengangkatan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Surat Keputusan No. Bandung Keputusan Menteri Kehakiman RI Nomor: M.06. Nomor: Pol. Nomor: M.08.07. Nomor: Instr/001/JA/3/1981 tentang peningkatan Tertib Penyidangan dan Penyelesaian Perkara-Perkara Pidana Keputusan menteri Kehakiman RI Nomor: M.PW.01.01.UM.01.10 Tahun 1981.04. Menteri Kehakiman RI. Alumni.06 Tahun 1983 tentang Tata Cara Penempatan.:Ins/17/X/81 tentang Peningkatan Usaha Pengamanan dan Kelancaran Penyidangan Perkara-Perkara Pidana Instruksi bersama Mahkamah Agung RI. dan Tata Tertib Rumah Tahanan egara Peraturan Menteri Kehakiman RI Nomor: M.02.DAFTAR BACAAN Sudarto.: Skep/619/XII/1983 tentang Penentuan Penunjukan Penyidik dan Pengangkatan penyidik membantu dalam Lingkungan Kepolisian RI Peraturan Menteri Kehakiman RI Nomor: M.08 Tahun 1980 tentang Perunjuk Pelaksanaan bantuan Hukum Instruksi bersama Jaksa Agung RI dan Kepala Kepolisian RI Nomor: Instr006/JA/19/1981.UM.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful