A.

Pengertian Masalah (Problem) Sosial Masalah sosial dalam perspektif sosiologis sering disebut sebagai problem sosial (social problems). Masalah sosial merupakan suatu gejala (fenomena) sosial yang mempunyai dimensi atau aspek kajian yang sangat luas atau kompleks, dan dapat ditinjau dari berbagai perspektif (sudut pandang atau teori). Oleh karena itu banyak dijumpai beragam pengertian atau definisi tentang masalah sosial (social problems) yang dikemukakan oleh para ahli. Dari beragam pengertian tentang masalah sosial, dapat disimpulkan bahwa suatu fenomena atau gejala kehidupan dikatakan sebagai masalah sosial (social problems) adalah apabila: 1. sesuatu yang dilakukan seseorang itu telah melanggar atau tidak sesuai dengan nilai-norma yang dijunjung tinggi oleh kelompok; 2. sesuatu yang dilakukan individu atau kelompok itu telah menyebabkan terjadinya disintegrasi kehidupan dalam kelompok; dan 3. sesuatu yang dilakukan inidividu atau kelompok itu telah memunculkan kegelisahan, ketidakbahagiaan individu lain dalam kelompok. Karena studi masalah sosial itu begitu kompleks, maka analisis tentang suatu fenomena sosial dikatakan sebagai masalah (problem) juga dapat diinjau dari beragam perspektif (beragam teori), misalnya sesuatu dikatakan problem menurut teori fungsional struktural akan berbeda dengan menurut teori

konflik, atau teori interaksionis simbolik, atau teori integrasi (dalam kajian berikut akan disinggung masing-masing teori). Menurut Parrilo (dalam Soetomo, 1995), untuk dapat memahami pengertian masalah sosial perlu diperhatikan empat hal, yaitu: 1. masalah itu bertahan untuk suatu periode waktu tertentu; 2. dirasakan dapat menyebabkan beragam kerugian secara fisik dan non fisik pada individu dan kelompok; 3. merupakan pelanggaran terhadap nilai atau standar sosial atau sendi-sendi kehidupan masyarakat; dan 4. menuntut adanya usaha untuk dicarai pemecahannya.

B. Masalah Sosial Dalam Perspektif Teoritis Dalam perspektif sosiologi, dijumpai berpuluh-puluh teori yang digunakan untuk memahami fenomena sosial. Berikut ini hanya dikemukakan empat teori dalam mencermati atau memahami tentang fenomena sosial, yaitu; 1. teori fungsional struktural; 2. teori konflik; dan 3. teori interaksionis simbolik. Karena keterbatasan ruang/tempat maka pandangan keempat teori tersebut dalam makalah ini hanya dijelaskan konsep-konsep dasarnya saja, dan diharapkan para pembaca bisa mendalami lebih lanjut pada pustaka yang menjadi rujukan kajian ini.

Persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi sosial di dalam sistem sosial adalah proses internalisasi dan sosialisasi. sosial. dan 4.Pertama. antara lain: 1. Individu atau aktor biasanya menjadi penerima pasif dalam proses sosialisasi. 3. konsep kultur. dipandang sebagai sistem simbol yang terpola. Sistem bergerak dalam proses perubahan yang teratur (evolusi). berpribadi. konsep integrasi. apabila ada konflik internal. Berikut ini dikemukakan pandangan teori fungsional struktural versi Parsons dalam memahami fenomena sosial. bersosialisasi dalam sistem sosial. proses perubahan yang terjadi akan mengarah pada keseimbangan (equilibrium) dalam sistem sosial. Dalam proses sosialisasi. nilai dan norma diinternalisasikan (norma dan nilai menjadi bagian dari „kesadaran‟ aktor). konsep perubahan. Jadi. Teori ini memandang bahwa: a. sehingga aktor mengabdi pada kepentingan sistem sebagai suatu kesatuan. 2. kultur akan menjadi faktor eksternal untuk menekan pola tindakan individu dalam kelompok. teratur yang menjadi orientasi para individu untuk bertindak. teori fungsional struktural. perlu dicari upaya-upaya untuk tetap terjaga keseimbangan dalam sistem. . Ada beragam versi teori fungsional struktural. Sistem memiliki properti keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. Sistem cenderung bergerak ke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan hidup dalam kelompok (integrasi sosial). konsep sistem.

berikut ini hanya dikemukakan teori konflik versi Dahrendorf. menuju keseimbangan hidup. Kedua. Ada banyak versi teori konflik. apabila terjadi perubahan struktural. maka akan terjadi perubahan dalam kultur normatif sistem sosial bersangkutan (perubahan sistem nilai-nilai terpenting) Dari beberapa pokok pandangan atau asumsi teori fungsional struktural tersebut dapat diambil pemahaman bahwa sesuatu fenomena sosial dikatakan sebagai masalah (problem) sosial apabila: sesuatu itu bertentangan dengan budaya sebagai sistem simbol yang dijadikan sebagai orientasi untuk berpola perilaku.b. perubahan evolusi masyarakat adalah mengarah kepada „peningkatan kemampuan adaptasi‟. dan c. antara lain: 1. Berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan. . sesuatu itu menyebabkan terjadinya disintegrasi atau memudarkan jalinan antar unsur dalam suatu sistem. Beberapa konsep dasar pandangan teori konflik Dahrendorf dalam memahami fenomena sosial. Apapun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di lapisan atas. perubahan sosial yang terjadi bersifat revolusioner akan menghasilkan ketidakseimbangan dalam sistem sosial. setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. teori konflik.

otoritas individu ini tunduk pada kontrol yang ditentukan masyarakat. 6. yaitu konflik dan konsensus Bahwa masyarakat tidak ada tanpa konsensus dan konflik. teori konflik menekankan peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. sanksi dapat dijatuhkan pada pihak yang menentang. Kita tak akan punya konflik kecuali ada konsensus sebelumnya. 3. hubungan konflik dengan perubahan adalah bahwa konflik merupakan realitas sosial. 7. keduanya menjadi persyaratan satu sama lain. . Otoritas tidak terletak di dalam individu. dan konflik berfungsi sebagai penyebab terjadinya perubahan dan perkembangan (konflik yang hebat akan membawa perubahan dalam struktur sosial). bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis. 4. bahwa masyarakat mempunyai dua wajah. tetapi melekat pada posisi.2. Bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas yang beragam. Karena otoritas adalah absah. Otoritas yang melekat pada posisi adalah unsur kunci dalam analisis fenomena sosial. sebaliknya konflik dapat menimbulkan konsensus dan integrasi. masyarakat terlihat sebagai asosiasi individu yang dikontrol oleh hierarki posisi otoritas. 5.

Apa yang nyata bagi manusia tergantung pada definisi atau interpretasi atau pandangan individu itu sendiri. Ketika individu menghadapi situasi. termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial (tindakan sosial) berdasarkan makna yang terkandung dalam objek tersebut. Bahwa masyarakat sebagai suatu organisasi . sehingga kurang menciptakan dinamika kehidupan sosial. Bahwa Individu merespons suatu situasi simbolik. Jiwa. Individu merespons lingkungan. Realitas sosial yang sejati itu tidak pernah ada di dunia nyata. tidak juga ditentukan oleh objek itu (eksternal seperti pandangan teori fungsional struktural dan teori konflik). Pikiran‟ individu dalam menginterpretasikan atau mendefinisikan situasi. Beberapa konsep dasar pandangan teori interaksionis simbolik H. melainkan ditentukan oleh „Diri. pikiran sifatnya dinamik. Mead dalam memahami fenomena sosial atau tindakan individu. jiwa. responnya bukan bersifat mekanis. Ketiga. teori interaksionis simbolik. (b) otoritas aktor (individu) tidak tunduk pada kontrol yang ditentukan oleh masyarakat. dan (3) konsep pandangan tentang masyarakat.Dari beberapa pokok pandangan atau asumsi teori konflik tersebut dapat diambil pemahaman bahwa sesuatu fenomena sosial dikatakan sebagai masalah (problem) sosial apabila: (a) sesuatu itu tidak sesuai dengan kebijakan otoritas penguasa yang berfungsi untuk mempertahankan ketertiban masyarakat. dan diri. dan (c) perubahan sosial yang terjadi bersifat evolusi. (2) konsep pandangan tentang „individu‟. melainkan secara aktif diciptakan ketika manusia bertindak „di dan terhadap‟ dunia. antara lain: (1) konsep realitas sosial.

Pola aktivitas sosial itu sendiri memiliki aspek kreatif dan spontan. Dengan demikan masyarakat secara terus menerus akan terjadi perubahan. Masyarakat juga tergantung pada kapasitas diri individu. individu adalah rasional dan produk dari hubungan sosial (interaksi sosial). 1982. Dari beberapa pokok pandangan atau asumsi teori interaksionis simbolik tersebut dapat diambil pemahaman bahwa sesuatu fenomena sosial dikatakan sebagai masalah (problem) sosial apabila: (a) sesuatu itu tidak didasarkan pada pandangan. Sikap dan emosi individu dan kelompok dipelajari melalui bahasa. Sumber Masalah Sosial Dalam Pendekatan Individu dan Pendekatan Kelompok . Interaksi sosial meliputi pikiran. Realitas sosial adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik. 2003). menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari individu.M.interaksi. dan (b) sesuatu itu hasil dari tekanan struktural (kekuatan eksternal) yang bersifat statis. Masyarakat adalah dinamis dan berevolusi. tergantung pada pikiran individu. Interaksi sosial mengarah pada komunikasi non verbal. karena pikiran individu terus berubah melalui interaksi simbolik (Abraham. Jadi. F. tujuan yang ada pada Diri. bahasa dan kesadaran akan diri sendiri. C. Ritzer dan Goodman. motivasi. Jiwa dan Pikiran individu dari proses menangkap simbol-simbol dalam interaksi.

pendekatan individu. pendekatan kelompok. yaitu: (a) kondisi individu menyimpang karena faktor biologis (fisik) yang mendorong untuk menyimpang. Pendekatan ini memandang bahwa sumber masalah sosial disebabkan oleh faktor: (a) desain perencanaan pembangunan tidak disusun baik. (b) adanya kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat yang begitu besar. para ahli mengelompokkan tentang sumber masalah sosial kedalam dua sudut pandang atau pendekatan. yaitu: (1) pendekatan individu (faktor internal). dan (2) pendekatan sosial atau kelompok (faktor eksternal). (c) terjadinya pemberontakan atau peperangan atau koflik politik dan militer (disintegrasi sosial-politik). (d) terjadinya bencana alam yang membawa kehancuran infrastruktur.Berdasarkan uraian masalah sosial ditinjau dari perspektif teoritik di atas. Pendekatan ini lebih berorientasi pada teori interaksionis simbolik. Pendekatan ini lebih berorientasi pada teori fungsional struktural dan teori konflik. Pertama. Kedua. dan (e) . Dalam pendekatan ini memandang bahwa sumber masalah sosial (problem sosial) adalah disebabkan oleh kondisi internal individu yang „eror‟ atau „menyimpang‟. Misalnya lingkungan keluarga yang disintegratif. atau pelaksanaan pembangunan telah menyimpang dari perencanaan yang ada. dan (b) kondisi individu menyimpang karena faktor sosialisasi sub budaya menyimpang. dan faktor mentalitas (kejiwaan) negatif yang mendorong periaku menyimpang. Kondisi individu yang menyimpang ini dibedakan menjadi dua.

atau sebaliknya. Tjokrowinoto. Konsep kemiskinan relatif ini dirumuskan berdasarkan atau memperhatikan dimensi tempat dan waktu. yaitu pangan. Beragam Masalah Sosial Dalam Pembangunan 1. (3) kemiskinan subjektif. A. papan dan sandang. 2004). Konsep kemiskinan sbjektif ini dirumuskan berdasarkan perasaan individu atau kelompok miskin. Besarnya ukuran setiap negara berbeda. Kita menilai individu atau kelompok tertentu miskin. Liliweri. W. . tetapi kelompok yang kita nilai menganggap bahwa dirinya bukan miskin. Asumsi ini. Masalah Kemiskinan Dalam kajian sosiologi pembangunan. yaitu: (1) kemiskinan absolut (a fixed yardstick). Konsep kemiskinan absolut ini dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu yang kongkit. bahwa kemiskinan di daerah satu dengan daerah lain tidak sama. Konsep kemiskinan ketiga inilah yang lebih tepat apabila memahami konsep kemiskinan dan bagaimana langkah strategis dalam menangani kemiskinan (Usman. 2005). D. konsep kemiskinan dibedakan menjadi tiga macam. demikian juga antara waktu dulu dengan sekarang berbeda.struktur kekuasaan negara yang bersifat absolut atau otoriterianisme atau berkembangnya sistem diskriminasi (Soetomo. (2) kemiskinan relatif (the idea of relative). S. 1998. 1995.. Ukuran ini lazimnya berorientasi pada kebutuhan dasar dalam kehidupan sehari-hari.

boros. Kedua.Secara sosiologis. Konsep kemiskinan dalam perspektif struktural adalah kemiskinan yang terjadi karena dampak dari faktor-faktor struktur masyarakat (faktor eksternal). hal ini berarti kemiskinan karena jumlah anak dalam keluarga sangat besar. yaitu: (1) tingkatan individu. dan (2) perspektif struktural atau situasional (situational perspective). kemiskian merupakan salah satu problem sosial yang paling serius dialami oleh negara-negara berkembang. dan (3) tingkatan masyarakat. (2) pelaksanaan kekuasan pemerintahan (birokrasi pemerintah) yang korup. metode dan pendekatan yang berbeda dalam menganalisis tentang kemiskinan. Secara umum kajian tentang kemiskinan dapat ditinjau dari dua perspektif. apatis. (4) sistem . Konsep kemiskinan dalam perspektif kultural dikelompokkan menjadi tiga tingkatan analisis. yaitu terjadinya kemiskinan karena: (1) program atau perencanaan pembangunan yang tidak tepat. Pertama. dan tergantung (mentalitas negatif). yaitu: (1) perspektif kultural (cultural perspective). hal ini berarti kemiskinan kerena tidak terintegrasinya kaum miskin dengan institusi-institusi masyarakat secara efektif. perspektif struktural. pasrah. hal ini berarti kemiskinan karena mentalitas individu yang malas. (2) tingkatan keluarga. fatalistik. (3) kehidupan sosial-politik yang tidak demokratis atau otoriter. perspektif kultural. Kedua perspektif tersebut mempunyai asumsi. dengan pola budaya keluarga yang tidak produktif.

(6) kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat sangat tinggi. menurut perspektif struktural kemiskinan itu terjadi karena faktor ekternal. (2) melaksanakan program pembangunan di segala bidang. 1998. (3) meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara maksimal sesuai dengan amanat UUD 1945. 2004). W. (7) globalisasi ekonomi dan pasar bebas. perilaku menyimpang remaja adalah semua bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di . 2004) 2. Ari (Ed). Jadi. Tjokrowinoto. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kemiskinan antara lain: (1) menyusun perencanaan pembangunan yang tepat dan integral. W. Tjokrowinoto. sedangkan menurut perspektif kultural kemiskinan itu terjadi karena mentalitas individu atau kelompok (Usman. (5) berkembangnya teknologi modern atau industrialisasi yang mekanistik disemua aspek. Jadi. 2003. (4) reformasi birokrasi (transparansi.ekonomi liberalistik atau kapitalistik. S. yang berbasis kerakyatan. (5) menegakkan kepastian hukum dan berkeadilan. dan (6) meningkatkan peran serta lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan media massa dalam proses pembangunan (Dwipayana. efisiensi dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya pembangunan). Masalah kenakalan remaja atau perilaku menyimpang remaja Pengertian perilaku menyimpang (deviasi sosial) adalah semua bentuk perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada.

(c) alkoholisme. narkotik. yaitu penyimpangan yang sifatnya temporer. yaitu penyimpangan yang dilakukan secara kelompok. dan (d) . misalnya geng untuk berkelahi. misalnya tindakan kriminal. Bentuk penyimpangan perilaku remaja dapat dibedakan menjadi empat. Diantara bentuk atau macam-macam perilaku menyimpang remaja antara lain: (a) tawuran antar pelajar. sementara.masyarakat. (c) penyimpangan kelompok. dan bentukbentuk tindakan kriminalitas lainnya. Kenakalan remaja pada umumnya diawali dari munculnya gejalagejala. (2) adanya kecenderungan sikap untuk suka mengganggu teman lainnya. (4) kurang fokus atau perhatian terhadap suatu agenda kegiatan tertentu. (e) kebut-kebutan di jalan raya. antara lain: (1) sikap apatis terhadap kewajiban-kewajiban normatif yang melekat pada dirinya. (3) sikap kecewa yang berlebihan karena tidak terpenuhinya keingian tertentu. (b) penyimpangan seksual meliputi homoseksual. 1995). yaitu penyimpangan yang dapat merugikan atau mengancam keselamatan orang lain. dan masyarakat masih bisa mentolerir. dan hubungan seksual sebelum nikah. dan (6) ketidakmampuan untuk berperan dalam kelompok atau sikap „manja‟ yang berlebihan (Sudarsono. (5) sikap takut yang berlebihan terhadap sesuatu yang dianggap merugikan dirinya. (b) penyimpangan sekunder. (f) pencurian atau penipuan. (d) penyalahgunaan obat terlarang atau narkotika. lesbianisme. yaitu: (a) penyimpangan primer.

1984.R.W and Cressey. (c) akibat proses sosialisasi nilai-nilai subkebudayaan menyimpang. Faktor-faktor penyebab terbentuknya perilaku menyimpang remaja. (h) dorongan yang berlebihan untuk dipuji. norma yang dipegang antara ayah dan ibu dalam mendidik anak. J. (2) menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis (hubungan antara ayah. (e) sikap mental yang tidak sehat. (g) pelampiasan rasa kecewa yang berlebihan. ibu dan anak terjalin dengan baik). (5) memberikan perhatian secara proporsional terhadap beragam kebutuhan anak. (6) memberikan pengawasan secara wajar atau proporsional . (j) dorongan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang salah. 1995). (i) proses belajar yang menyimpang. (b) adanya ikatan sosial yang berlainan dengan yang dimiliki. (d) akibat kegagalan dalam proses sosialisasi. (3) mewujudkan kesamaan nilai. dan (k) pengaruh lingkungan dan media masa yang negatif (Coleman. Diantara langkah strategis untuk meminimalkan terjadinya kenakalan remaja antara lain: (1) menciptakan kehidupan rumah tangga yang beragama (menunjung tinggi nilai spiritual). D. (f) keluarga yang broken home atau keluarga yang disintegrasi. (4) memberikan kasih sayang secara wajar atau proporsional (tidak memanjakan anak).penyimpangan individu. antara lain: (a) ketidaksanggupan menyerap norma budaya. Sudarsono. yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan secara sendiri.

S.terhadap pergaulan anak di lingkungan masyarakat atau teman bermainnya. 1984. nasional dan bahkan dunia. pemanasan global. baik pencemaran tanah. tanah longsor dan sebagainya. Masalah Lingkungan Hidup Problem atau masalah lingkungan hidup harus menjadi perhatian yang sangat serius. Proses pembangunan dan industrialisasi di negara-negara maju dan berkembang ternyata membawa dampak munculnya masalah pencemaran lingkungan. D. pencemaran laut atau air. dan (2) kegagalan dalam menangani persoalan lingkungan akan membawa dampak negatif disemu sektor kehidupan. dan setiap pemberian layanan pada aak diarahkan pada upaya membentuk karakter atau mentalitas positif (Coleman. misalnya: terjadinya bencana banjir. pencemaran udara. (2) kualitas kesuburan tanah dan ekosistem lingkungan fisik terancam. Meningkatnya pencemaran lingkungan tersebut secara langsung atau tidak langsung mendorong munculnya beragam problem kehidupan di berbagai aspek. baik dalam level lokal. 3.R. dan (7) memberikan contoh tauladan yang terbaik pada anak. karena persoalan lingkungan adalah: (a) menyangkut jaminan kualitas kelangsungan kehidupan generasi dimasa-masa yang akan datang. (3) kualitas air sebagai sumber kehidupan semakin . Wilis. J.W and Cressey. 1994). misalnya: (1) tingkat kualitas kesehatan masyarakat semakin terancam.

ada beberapa faktor kekuatan sosial (perilaku manusia) yang menyebabkan terjadinya penceran dan ancaman kelestarian lingkungan. karena polusi industri. Ada beberapa langkah strategis dalam menangani masalah pencemaran lingkungan hidup. dan sebagainya. antara lain: (1) pertumbuhan penduduk yang pesat dan mengakibatkan meningkatnya permintaan akan makanan.tercemar. yaitu teknologi yang ramah lingkungan. (2) konsentrasi penduduk di daerah perkotaan (urbanisasi) menyebabkan munculnya beragam limbah yang dapat merusak ekosistem. (4) melakukan inovasi teknologi. yaitu: (1) menerapkan sistem hukum secara tegas dan berkeadilan terhadap setiap pelaku penceramaran lingkungan. (3) melakukan kontrol dan pengendalian terhadap pertumbuhan penduduk. energi dan beberapa kebutuhan lainnya. (2) melakukan gerakan perlawanan terhadap pencemaran lingkungan hidup pada semua lapiran masyarakat. (3) proses pembangunan dan modernisasi yang meningkatkan pengunaan tekbologi modern yang bersifat konsumerisme dan mengabaikan keselamatan lingkungan. (4) terjadinya pencemaran udara. dan melakukan daur ulang. menjalankan konservasi. (5) membudayakan gaya hidup masyarakat yang konsumeris dan mekanis . Menurut Eitzen. misalnya gerakan reboisasi. bekerja tanpa pertimbangan keselamatan atau kelestarian lingkungan hidup. dan (4) aktivitas dan mekanisme pasar. dalam Soetomo (1995).

(eds). (b) anggota suku.(orientasi kekinian) berubah pada orientasi hidup pada kelangsungan generasi mendatang (orientasi masa depan). Usman. agama. perasaan dan tindakan untuk meraih tujuan yang saling memaksakan atau menghancurkan. (e) mereka yang terlibat konflik merasa belum puas karena kebutuhan mereka belum terpenuhi. S. Ciri-ciri konflik SARA adalah: (a) bersifat alamiah. antar kelompok yang terlibat konflik cenderung lebih terdorong untuk melakukan konflik berikutnya untuk kepentingan kelompoknya. 1996. 2004). (b) ada tujuan yang menjadi sasaran konflik. Agama. Masalah Konflik SARA Masalah konflik Suku. dan (c) ada perbedaan pikiran. Nugroho. dan (f) konflik . (d) sering diiringi dengan kekerasan yang berlangsung dalam ruang dan waktu tertentu. dan (6) mengembangkan pendidikan kelestarian lingkungan di setiap jenjang pendidikan (Soetomo. bagi negara-negara berkembang yang multikultural (termasuk Indonesia) adalah problem yang sewaktu-waktu bisa muncul. ras. F. dan tujuan tersebut sebagai sumber konflik. S. dan dapat mengganggu kelancaran proses pembangunan. Unsur-unsur konflik SARA adalah: (a) ada dua pihak atau lebih yang terlibat konflik. (c) umumnya terjadi antara SARA mayoritas dengan minoritas. Ras dan Antar kelompok (SARA). 1998) 4. Oleh karena setiap desain pembangunan dan pelaksanaan pembangunan harus betul-betul meminimalkan terjadinya konflik SARA (Warnaen. 2002.

Manajemen konflik adalah: “tindakan konstruktif yang direncanakan. diorganisasi. sehingga terjadi disintegrasi sosial-budaya. Sumber-sumber konflik SARA. 2003. 1995. 2005). (g) karena latar belakang historis yang tidak baik. (b) tertutupnya pintu komunikasi antar masing-masing pihak sehingga tidak bisa saling memahami pola budaya. Ada delapan konsep dalam melakukan manajemen konflik. dkk.. yaitu: (a) pengakuan diri bahwa dalam setiap masyarakat selalu ada konflik. (d) menentukan pendekatan konflik yang dapat dijadikan model penyelesaian. dan (h) kesenjangan sosialekonomi (Soetomo. yaitu: (a) perbedaan orientasi nilai budaya dan masing-masing saling memaksakan kehendak. (c) kepemimpinan yang tidak efektif. Liliweri. baik langsung . (f) terjadinya perubahan sosial budaya yang bersifat revolusioner. sehingga kebutuhan kelompok tidak terpenuhi.. melakukan manajemen konflik. A. (e) membuka semua jalur-jalur komunikasi. pengambilan keputusan yang tidak adil. digerakkan dan dievaluasi secara teratur atas semua usaha demi mengakhiri konflik”. (d) ketidakcocokan peran-peran sosial. antara lain: Pertama. Liliweri. Strategi penyelesaian konflik. yang disertai dengan pemaksaan kehendak. A. (e) produktivitas masing-masing pihak rendah dalam kelompok. (b) analisis situasi yang menyebabkan konflik. 2005).melibatkan dua kelompok kepentingan yang saling memperebutkan kebutuhan hidup (Suryadinata. L. (c) analisis pola perilaku pihak-pihak yang terlibat konflik..

alternatif. Ketiga. dkk. Diantara strategi pendidikan komunikasi lintas budaya adalah memberlakukan pendidikan multikultural yang terintegrasi pada setiap mata pelajaran di setiap satuan pendidikan. (f) melakukan negoisasi atau perundingan dengan pihak-pihak yang terlibat konflik. Inti pendidikan multikultural adalah. dan (e) menggambarkan situasi khusus yang terjadi dalam kondisi kekinian dan meprediksi kondisi keakanan.atau tidak langsung. dan (h) hiduplah dengan penuh motivasi kerja dengan konflik. (c) melakukan interpretasi terhadap konflik etnik dengan melihat sebab-sebabnya. konfirmasi relasi sampai tekanan. Tujuan penelitian ini adalah: (a) akan dapat melacak sejarah etnik. yaitu melakukan penelitian tentang pola budaya antar etnik atau kelompok yang sedang konflik. Suryadinata. L. Semua konflik tidak mungkin dihilangkan sama sekali. Kedua. (g) rumuskan beberapa anjuran. 5. humanisasi dan pluralis (Sutrisno. Masalah Kriminalitas Kriminalitas atau tindakan kriminal merupakan problem sosial yang bersifat laten (selalu ada dalam kehidupan masyarakat atau negara . L. karena sejarah budaya etnik sangat menentukan karakter etnik masing-masing. 2003). melakukan pendidikan komunikasi lintas budaya. yang bisa hanya diminimalkan. melakukan analisis konflik. 2003. (b) menjelaskan faktor penyebab konflik antar etnik. (d) mengelaborasi nasionalisme etnik dan peranannya dalam eskalasi konflik sosial.. demokratisasi.

Tindakan kriminal sering dikategorikan sebagai tindak pidana atau tindakan yang melanggar hukum pidana. sebagai akibat kesalahan strategi atau perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan. atau banyak muncul penjahat kerah putih (white collar crime) di setiap departemen pemerintah atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga ekonomi. ekonomi yang bersifat revolusi. karena alat-alat penegak hukum tidak tegas atau tidak ada kepastian hukum di masyarakat. perkosaan. (5) meningkatnya jumlah penduduk yang tidak terkendali. Hal-hal yang mendorong terjadinya perilaku menyimpang dalam bentuk tindakan kriminal antara lain: (1) terjadinya perubahan sosial. penculikan. konsumersitis. namun tindakan kriminal bukanlah penyimpangan perilaku yang dibawa sejak lahir. (3) adanya peluang atau kesempatan untuk terjadinya tindakan kriminal. (4) pemerintah yang lemah (tidak bersih) dan aparat pemerintah yang korup. misalnya: hedonistis. dan (7) berkembangnya sikap mental negatif. suka menempuh jalan pintas dalam meraih . tetapi tindakan kriminal merupakan hasil dari sosialisasi sub budaya menyimpang. sindikat narkotik atau penyalahgunaan obat terlarang. perampokan. misalnya terjadi peperangan.manapun). Diantara contoh tindakan kriminal adalah: korupsi. pencurian. (6) kondisi kehidupan keluarga yang disintegratif. penipuan atau pemalsuan. politik. sehingga jumlah pengangguran dan urbanisasi meningkat. (2) terjadinya kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat yang begitu besar. pembunuhan.

dan menuntut adanya perhatian khusus dalam pemecahannya. J. pergolakan daerah. Masalah aksi protes. yaitu cara pencegahan melalui pemberian informasi (penyuluhan). 6. dan pelanggaran HAM Aksi protes.R. seperti di Indonesia. merupakan masalah sosial yang cukup kompleks. 1995). Diantara sebab terjadinya aksi protes. atau adanya pemaksaan kehendak antar kelompok di masyarakat. 1984. pergolakan daerah dan pelanggaran HAM.tujuan dan sejenisnya (Coleman. pergolakan daerah dan pelanggaran HAM. Soetomo. (3) terjadinya perebutan antar kelompok di masyarakat . D. 1994). Metode terbaik dalam menangani tindak kriminal adalah metode preventif (Wilis. Telebih kondisi sosial budaya masyarakat yang multikultural.W and Cressey. Pendekatan atau metode yang dapat ditempuh untuk mencegah terjadinya tindakan kriminal adalah: (a) metode preventif.S. (b) metode represif. pendidikan. Hampir setiap hari terjadi aksi protes dan demonstrasi di daerah-daerah. Hal ini tentu dapat mengganggu proses perubahan atau pembangunan masyarakat. pelaksanaan program pembangunan yang benar. penangkapan dan pemenjaraan sampai pada penembakan. yaitu cara pencegahan melalui pemberian hukuman. (2) terjadinya kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat yang sangat tinggi. antara lain: (1) terjadinya dominasi mayoritas kepada minoritas disertai dengan tindakan sewenang-wenang dalam berbagai aspek kehidupan.

pengembangan rasionalitas. sikap kesetiakawanan sosial. terpadu dan terkoordinasikan. dinamis-berkelanjutan. produktivitas. (5) proses pelaksanaan pembangunan masyarakat hendaknya dilakukan secara . menyeluruh. (3) program yang disusun di sektor pembangunan masyarakat.tentang sumber-sumber mata pencaharian hidup. kreativitas. betul-betul memperhatikan kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat. harus lebih meningkatkan kearah otonomi daerah dan otonomi masyarakat yang lebih berkualitas. antara lain: (1) merumuskan pokok-pokok kebijakan pembangunan masyarakat. tindak kriminal. (b) pembangunan harus memanfaatkan secara baik sumber daya masyarakat dan meningkatan partisipasi peran masyarakatnya. (4) proses pembangunan sosial. Ada beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan dalam proses pembangunan masyarakat Indonesia. dengan memperhatikan skala prioritas dan kondisi lingkungan fisik serta sosio-budaya masyarakatnya. ekonomi dan politik masyarakat. antara lain: (a) pembangunan harus memihak rakyat. (4) adanya pemaksaan ideologi kelompok satu kepada kelompok lainnya (berkembangnya sikap eksklusifisme/primordialisme). dan pelanggaran HAM. untuk meminimalkan terjadinya aksi protes. demonstrasi. dan kemampuan menegakkan kemandirian untuk berkarya. dan (5) adanya tradisi masa lalu sebagai warisan sejarah tentang konflik antar kelompok atau antar ethnik. yaitu membangun ketaatan pada prinsip-prinsip moral (hukum) dan agama. (2) memprioritaskan pembangunan SDM.

P.R. 2004) Coleman. 1984 Sztompka. dan (6) karena basis ekonomi masyarakat Indonesia adalah pertanian. transparansi dan akuntabel dalam pengelolaan keuangan. maka program pembangunan harus berbasis pada pembangunan teknologi pertanian di pedesaan (Usman. Ari (Ed). 1982 Ritzer dan Goodman. 1993.M. J. 2003.W and Cressey.demokratis. 2003 . Tjokrowinoto. F.. S. Dwipayana. 2003 Abraham. D. 1998. Ritzer dan Goodman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful