1

OPTIMISASI EKSTRAKSI FLAVONOID TOTAL DAUN JATI BELANDA

FARAH UMAR

DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008

2

ABSTRAK
FARAH UMAR. Optimisasi Ekstraksi Flavonoid Total Daun Jati Belanda. Dibimbing oleh LATIFAH KOSIM DARUSMAN dan UTAMI DYAH SYAFITRI. Salah satu tanaman yang biasa digunakan sebagai obat tradisional adalah jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.). Daun jati belanda ini dapat digunakan sebagai obat pelangsing tubuh. Sebagian besar obat tradisional disajikan dalam bentuk ekstrak karena penyajiannya dinilai lebih efisien dan praktis. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi besarnya biaya produksi ialah dengan mengoptimumkan ekstrak yang diperoleh. Bermacam-macam upaya telah dilakukan untuk mengekstraksi flavonoid dari daun jati belanda. Dalam penelitian ini, daun jati belanda diekstraksi dengan metode refluks, pelarut etanol, dan dengan meragamkan 3 parameter ekstraksi, yaitu konsentrasi pelarut 50, 70, dan 90%; waktu ekstraksi 3, 5, dan 7 jam; dan nisbah bahan baku pelarut 1:5, 1:10, dan 1:15. Dalam hal ini dapat dilihat pengaruh konsentrasi pelarut, waktu ekstraksi, dan nisbah bahan baku pelarut terhadap kadar flavonoid total yang dihasilkan. Penelitian menggunakan rancangan fraksional faktorial. Kadar ditentukan dengan menggunakan metode AlCl3 dan diukur dengan spektrofotometer berkas ganda, kadar optimumnya ditentukan dengan metode permukaan respons menggunakan perangkat lunak SAS 9.1. Persamaan kadar flavonoid total yang diperoleh adalah Kadar = -1.20208 – 0.06167(waktu) + 0.00125(waktu)2 + 0.04208(konsentrasi) – 0.0003 (konsentrasi)2 + 0.04383(nisbah) – 0.0034(nisbah)2 + 0.00650(nisbah*waktu) dengan R2 = 99.67%. Kondisi optimum ekstraksi teramati pada konsentrasi pelarut 70%, nisbah bahan bakupelarut 1:10, dan waktu ekstraksi 3 jam.

ABSTRACT
FARAH UMAR. Extraction Optimization of Total Flavonoid from Daun Jati Belanda. Supervised by LATIFAH KOSIM DARUSMAN and UTAMI DYAH SYAFITRI. One of many plants used for traditional medicine is jati belanda. It can be used as an antiobesity. Most of traditional medicine are available practically as an extract ion. One of the efforts to reduce the production cost is optimizing the extract. Various treatments were applied to extract flavonoid from jati belanda leaves. In the research, jati belanda was extracted using reflux method with ethanol as a solvent, at concentrations of 50, 70, and 90%, for 3, 5, and 7 hours, with sample to solvent ratio of 1:5, 1:10, and 1:15. All of this conditions were used to study the effect of solvent’s concentrations, time, and sample to solvent ratio to total flavonoid content. The data were analyzed designed using fractional factorial design. Determination of total flavonoid content was conducted with AlCl3 method and measured with double beam spectrophotometer, and the optimum content was determined by response surface method using SAS 9.1 software. The obtained model was Content = -1.20208 – 0.06167(time) + 0.00125(time)2 + 0.04208(concentration) – 0.0003 (concentration)2 + 0.04383(material ratio) – 0.0034(material ratio)2 + 0.00650(material ratio*time) with R2 = 99.67%. The optimum condition of extraction was obtained at 70% for solvent concentration, 3 hours for extraction time, and 1:10 for the ratio of sample to solvent.

3 OPTIMISASI EKSTRAKSI FLAVONOID TOTAL DAUN JATI BELANDA FARAH UMAR Skripsi sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sains pada Departemen Kimia DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 .

M. MS NIP 13053668 Utami Dyah Syafitri. Dr. drh. Hasim. Latifah K Darusman. DEA NIP 131578806 Tanggal lulus: . Prof. Ir.Si NIP 132311922 Diketahui: Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Dr. Pembimbing II.4 Judul Skripsi : Optimisasi Ekstraksi Flavonoid Total Daun Jati Belanda Nama : Farah Umar NIM : G44203001 Disetujui: Pembimbing I.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW. Bogor. Penulis juga berterima kasih kepada rekan-rekan Analitik 40. Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Ibu Latifah K Darusman. semangat. dan ukhuwah. Pak Dede. segenap staf pengajar di Departemen Kimia FMIPA IPB atas pengajaran yang diberikan. Al-Ghifari atas dukungan dan inspirasinya. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh keluarga atas segala doa. keluarga. Juni 2008 Farah Umar . dan Bu Nunung yang selalu setia mendampingi dan membantu segala keperluan yang menyangkut penyelesaian karya ilmiah ini. semangat. Pusat Studi Biofarmaka dan Departemen Statistika IPB. dan kasih sayang. Pak Ridwan. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Tuti Setiawati Sudjana (almh). MSC atas doa. segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Tema yang dipilih dalam karya ilmiah ini adalah optimisasi ekstraksi. dan Ibu Utami Dyah Syafitri yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah ini. B-14. Pak Engkos. dengan judul Optimisasi Ekstraksi Flavonoid Total Daun Jati Belanda. seluruh staf pegawai Departemen Kimia FMIPA IPB khususnya Pak Eman. Kimia 40.5 PRAKATA Bismillahirrohamanirrohim. dan umatnya hingga akhir zaman. sahabat.

Selama mengikuti perkuliahan. mata kuliah Kimia Analitik II pada tahun ajaran 2006/2007. Penulis pernah aktif di kegiatan organisasi kemahasiswaan. dan 2007/2008. Departemen Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. yaitu sebagai salah satu staf Departemen Kajian dan Jurnalistik Islam DKM Al-Ghifari pada tahun 2006 dan 2007. Penulis merupakan putri pertama dari dua bersaudara. Pada Juli-Agustus 2006 penulis melaksanakan praktik lapangan di PT Indofarma Cibitung dengan judul Kualifikasi Mesin Dissolution Tester Hanson Research Tipe Sr-8 Plus Menggunakan Metode Spektrofotometri. Penulis memilih Program Studi Kimia.6 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Tegal pada tanggal 14 Oktober 1984 dari ayah Umar Said Basalamah dan ibu Zubaedah Umar Al-Kathiri. . Tahun 2003 penulis lulus dari SMU Sekolah Indonesia Jeddah dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. serta mata kuliah Kimia Analitik I pada tahun ajaran 2007/2008. 2006/2007. penulis menjadi asisten mata kuliah Kimia Dasar pada tahun ajaran 2005/2006.

................................................................ Kondisi Ekstraksi................................... SIMPULAN DAN SARAN Simpulan .......................................................... Metode Penelitian .................... Ekstraksi .......... 11 ............7 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................. viii DAFTAR GAMBAR .............................................. viii PENDAHULUAN ........................................................................................ Kadar Flavonoid Total Optimum ....................................................... 1 1 2 3 3 4 4 4 6 6 7 7 7 9 9 9 9 LAMPIRAN ...................................................................................................................................................................................................... Rancangan Fraksional Faktorial .................................. Saran .......................................................................................... Optimisasi Ekstraksi ............... DAFTAR PUSTAKA ............... viii DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. Flavonoid .................................................................... HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Fitokimia ............ BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat ................................................................................................................................................................................................................................................................................................................ TINJAUAN PUSTAKA Jati Belanda ................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... Model dan Analisis Regresi................................................................................................................................................................................................................................................................. Kurva Standar Flavonoid dan Kadar Contoh....................................................................................................................................................................... Hasil Rancangan Fraksional Faktorial........................

...............................................................................1 .................................................................................................................... dan waktu terhadap kadar flavonoid total ................................................ konsentrasi....................................................................................8 DAFTAR TABEL Halaman 1 Hasil uji fitokimia daun jati belanda ....................................................1 dalam pembuatan model kadar flavonoid total ... 16 6 Absorbans standar flavonoid total................ 3 Perbandingan kadar flavonoid total hasil percobaan dengan dugaan . 3 Kurva standar flavonoid total.................................................................................................................. 12 2 Diagram alir ekstraksi flavonoid ............................................................................................................. 6 6 8 8 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Daun jati belanda .................................................. 18 9 Keluaran SAS 9.......................... 13 3 Hasil penentuan kadar air ............................... 2 Kombinasi perlakuan yang dicobakan dari hasil fraksionasi...............................................................................................................................................................................................................................1 dalam penentuan titik optimum ekstraksi flavonoid total ............................. 15 5 Rendemen ekstrak daun jati belanda dari perlakuan yang dicobakan............. 14 4 Kombinasi perlakuan berdasarkan pengacakan dengan SAS 9........................... 2 2 7 8 9 9 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Diagram alir penelitian ....................................................................... 2 Struktur umum senyawa flavonoid .................... 4 Hasil pendugaan kadar flavonoid total untuk kombinasi perlakuan yang tidak dicobakan ......... 6 Peta kontur kadar terhadap konsentrasi pelarut dan nisbah bahan baku-pelarut .. 19 10 Keluaran SAS 9............................ 4 Kurva hubungan antara nisbah.................................................................. 16 7 Kadar flavonoid total dari ekstrak daun jati belanda dari perlakuan yang dicobakan 17 8 Uji keragaman dengan menggunakan chi-square untuk Δ kadar............................................................................... 5 Kurva permukaan respons kadar terhadap konsentrasi pelarut dan nisbah bahan baku-pelarut ......................... 20 ....

). Kondisi ekstraksi yang berbeda dapat menghasilkan senyawa golongan flavonoid dalam jumlah dan jenis yang berbeda pula. ulmifolia Lamk. suhu. dengan permukaan yang kasar. dan kaki bengkak gatal berair. suhu 80 °C. sehingga para pelaku industri obat tradisional kini banyak melirik sediaan ekstrak. Sebagai salah satu negara hutan hujan tropis. nisbah bahan baku-pelarut 1:10. Tanaman ini dimanfaatkan antara lain sebagai pelangsing tubuh. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari kondisi ekstraksi yang dapat menghasilkan ekstrak yang optimum dalam jumlah dan mutu. dan waktu ekstraksi. dan jenis G. dan isoflavon).) yang dikenal juga dengan nama jati londo atau jatos landi telah lama digunakan sebagai obat pelangsing badan. flavonol. dan banyak alur. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut. Masing-masing faktor ini memiliki 3 taraf. dan waktu ekstraksi 3 jam. dan bulat. nisbah bahan bakupelarut. bercabang. untuk dapat mengikuti perkembangan selera konsumen tersebut. jati belanda diklasifikasikan dalam divisi Spermatophyta. serta berwarna hijau keputihputihan. Daunnya tunggal. dan biji. dan nisbah bahan baku (g)-pelarut (ml) pada ekstraksi daun jati belanda terhadap kadar flavonoid total. Kini di Jawa pohon ini ditanam sebagai peneduh di pinggir-pinggir jalan. Namun. batuk rejan. karena seiring perkembangan zaman. Hal ini mendorong para ahli untuk menggali sumbersumber komponen bahan alam dari tumbuhan yang bermanfaat dalam pengobatan berbagai penyakit.1 PENDAHULUAN Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati yang dapat dimanfaatkan dalam semua segi kehidupan manusia. Obat tradisional adalah salah satu bentuk nyata pemanfaatan sumber daya alam hayati tersebut. Bagian tanaman yang digunakan adalah daun. Sebagian besar obat tradisional kini disajikan dalam bentuk ekstrak. suku Sterculiaceae. Karena itu. kelas Dicotyledonae. Pada tahun 2005 Badan Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu juga telah melakukan penelitian mengenai pengaruh konsentrasi etanol dan lamanya waktu ekstraksi terhadap kadar flavonoid total herba tapak liman. Hal ini merupakan pilihan yang menguntungkan karena biaya produksi lebih murah. masyarakat dewasa ini menghendaki sediaan jamu dengan kemasan yang lebih praktis karena penyajiannya dinilai lebih efisien. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi besarnya biaya ekstraksi flavonoid ialah dengan mengoptimumkan proses ekstraksinya. Jati belanda adalah pohon yang dapat tumbuh dengan cepat mencapai 20 m dan didatangkan dari Amerika bagian tengah. Salah satu tanaman yang lazim digunakan sebagai obat tradisional adalah jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk. Dulu sediaan jamu yang diseduh dengan air panas banyak diminati masyarakat karena aromanya yang kuat dan karena adanya fragmen ampas serbuk yang menurut sebagian konsumen dapat menambah cita rasa jamu. Kegunaan jati belanda sebagai obat tidak lepas dari keberadaan senyawa-senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap respons hayati. karena dalam penelitian tersebut digunakan rancangan faktorial lengkap. Kondisi ekstraksi yang optimum juga ditentukan. perut kembung. yaitu konsentrasi pelarut. perut nyeri. Indonesia kaya akan keanekaragaman flora yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. Kedua faktor yang digunakan memiliki 3 taraf sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan yang dicobakan. Adanya beberapa senyawa aktif dalam tanaman yang tidak larut sempurna dalam air seperti flavonoid nonpolar (golongan flavonon. Pengaruh dari tiap faktor tersebut diteliti secara sendiri-sendiri baru kemudian dihasilkan kondisi yang optimum. obat sakit perut/diare. juga membuat penggunaan pelarut organik menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan meskipun biaya produksi menjadi lebih mahal. marga Guazuma. ulmifolia Lamk. yaitu pada konsentrasi pelarut 95%. subdivisi Angiospermae. (2005) mencari kondisi optimum untuk ekstraksi flavonoid dengan meragamkan 4 faktor. . Senyawa golongan flavonoid merupakan salah satu senyawa yang berperan dalam respons tersebut. Xu et al. bulat telur. Secara taksonomi. selera konsumen terhadap sediaan obat tradisional telah mengalami pergeseran. buah. Kondisi optimum untuk ekstraksi flavonoid yang dihasilkan adalah pada konsentrasi etanol 90% dan waktu ekstraksi 6 jam. batuk. waktu ekstraksi. Tanaman ini mempunyai batang yang keras. TINJAUAN PUSTAKA Jati Belanda Jati belanda (G. bangsa Malvales.

dan berwarna cokelat muda. Bijinya kecil. akar. dengan anggapan bahwa flavonoid tersebut tidak dibiosintesis di dalam tubuh mereka (Markham 1988). dan berwarna hijau. tanin. yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh 3 karbon yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga. dan isoflavon. triterpenoid. kasar. A C Gambar 2 Struktur umum senyawa flavonoid (Markham 1988). Akarnya tunggang dan berwarna putih kecoklatan. yaitu flavonoid yang terikat pada gula sebagai glikosida dan flavonoid bebas (aglikon). Fungsi senyawasenyawa dalam jati belanda yang telah diketahui antara lain sebagai pelindung kerusakan hati. biflavonol. Metode yang biasa digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif flavonoid adalah kromatografi cair kinerja tinggi. dan berwarna hitam. Flavonoid juga terkandung pada hewan. Golongan terbesar flavonoid memiliki cincin piran yang menghubungkan rantai tiga-karbon dengan salah satu cincin benzena. Sebanyak 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tanaman diubah menjadi flavonoid atau senyawa yang berhubungan erat dengannya (Markham 1988). fenilpropanoid. glikoflavon. steroid. dan kuinon fenolik (Harborne 1996). panjangnya 10–16 cm. Golongan jenis flavonoid dalam jaringan tumbuhan yang didasarkan pada telaah sifat kelarutan dan reaksi warna meliputi antosianin. aglikon flavonoid terdapat dalam berbagai bentuk struktur. tepung sari. antijamur. Bunganya tunggal. berwarna hijau muda. flavon. Buahnya berbentuk bulat. bunga. semua bagian tumbuhan termasuk daun. Dalam tumbuhan. Beberapa golongan flavonoid yang bersifat polar merupakan senyawa yang larut dalam air. antibakteri. Kandungan senyawa kimia yang telah ditemukan di dalam daun jati belanda adalah flavonoid. tetapi sering kali penerapannya terhambat oleh keterbatasan standar autentik Flavonoid Flavonoid berasal dari kata flavon yang merupakan nama dari salah satu jenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan sering ditemukan di alam. dan di dalam sayap kupu-kupu. Flavonoid terdapat pada . berdiameter sekitar 2 mm. flavonol. proantosianin. propolis (sekresi lebah). dan biji. dengan permukaan berduri. Flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa fenolik di samping fenol sederhana. kulit kayu. buah. berujung runcing. Bentuk morfologis daun jati belanda dapat dilihat pada Gambar 1. dan berseling. Flavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosida. Semuanya mengandung 15 atom C dalam inti dasarnya yang tersusun dalam konfigurasi C6C3-C6. keras. flavonon. misalnya dalam kelenjar bau berangberang. bulat. Bentuk-bentuk ini dapat berada pada satu tumbuhan dalam beberapa bentuk kombinasi glikosida (Harborne 1996). asam fenolat. Metode ini cukup baik untuk proses kuantitasi. B Gambar 1 Daun jati belanda. Flavonoid merupakan kandungan khas tumbuhan hijau. Pengelompokan flavonoid berdasarkan pada cincin heterosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan (Robinson 1995). dengan pangkal berlekuk. kalkon dan auron. dan sebagai antioksidan. Struktur umum flavonoid dapat dilihat pada Gambar 2. yaitu suatu bentuk kombinasi antara gula dan alkohol.2 memiliki permukaan kasar dengan tepi bergerigi. lebarnya 3–6 cm. dan terdapat di ketiak daun. pertulangan menyirip. Pada umumnya ada 2 bentuk flavonoid. dan saponin. nektar. Flavonoid mengandung sistem aromatik yang terkonjugasi sehingga menunjukkan pita serapan kuat pada daerah spektrum ultraviolet (UV) dan tampak (Vis).

kemudahan untuk diuapkan. perlakuannya terdiri atas semua kemungkinan kombinasi taraf dari beberapa faktor yang dicobakan (Montgomery 2001). Perendaman bahan dapat menaikkan permeabilitas dinding sel melalui tiga tahapan: (1) masuknya pelarut ke dalam dinding sel tanaman dan membengkakkan sel. (2) senyawa yang terdapat pada dinding sel tanaman akan lepas dan masuk ke dalam pelarut. Pemilihan teknik ekstraksi untuk mengekstraksi suatu bahan tumbuhan bergantung pada tekstur. Banyaknya kompleks yang terbentuk diketahui dari hasil pengukuran spektrofotometer UV-Vis. bahan tumbuhan. sehingga volume campuran tetap. lalu memisahkan larutan dengan padatan tidak terlarut. tidak bersifat racun. Faktor penting dalam ekstraksi adalah pemilihan pelarut. dan mengembunkan kembali uap yang terbentuk dalam kondensor agar kembali ke labu reaksi. Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi harus dapat menarik komponen aktif dalam campuran. Perlakuan pendahuluan untuk bahan padat dapat dilakukan dengan beberapa cara di antaranya dengan pengeringan bahan baku sampai kadar air tertentu dan penggilingan untuk mempermudah proses ekstraksi dengan memperbesar kontak antara bahan dan pelarut (Harborne 1996). tanpa adanya tambahan energi panas. Perlakuan pendahuluan sebelum ekstraksi bergantung pada sifat senyawa dalam bahan yang akan diekstraksi (Robinson 1995). pemurnian.3 yang tersedia. metode kolorimetri lebih sering digunakan. Maserasi merupakan proses ekstraksi dengan cara merendam contoh dalam pelarut yang sesuai pada waktu tertentu. Setiap perlakuan dalam rancangan faktorial merupakan kombinasi perlakuan yang mungkin untuk setiap taraf dalam faktor yang dicoba. Ekstraksi Ekstraksi adalah peristiwa pemindahan zat terlarut di antara dua pelarut yang tidak saling campur. pemisahan. dan soxhlet. kandungan air. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan pelarut adalah selektivitas. dan harganya yang relatif murah (Gamse 2002). (3) difusi senyawa yang terekstraksi oleh pelarut keluar dari dinding sel tanaman. kemampuan untuk mengekstraksi. refluks. dan banyaknya pelarut yang digunakan (Harborne 1996). yaitu maserasi. baik analisis dalam skala industri maupun skala laboratorium. yaitu jumlah kombinasi perlakuan yang akan dicobakan diminimumkan dengan tidak menghilangkan informasi tentang pengaruh utama dan interaksi tingkat rendah yang merupakan informasi penting dalam percobaan. sifat pelarut. dan analisis pada semua skala kerja. Pengurangan kombinasi perlakuan dapat dilakukan dengan rancangan fraksional faktorial. pengadukan. Refluks merupakan proses ekstraksi dengan cara mendidihkan campuran antara contoh dan pelarut yang sesuai pada suhu dan waktu tertentu. Ada beberapa teknik ekstraksi. suhu yang digunakan. perkolasi. Dalam rancangan faktorial lengkap. Salah satu contohnya adalah rancangan fraksional faktorial tingkat 1/3 . Rancangan Fraksional Faktorial Rancangan faktorial digunakan dalam melakukan suatu percobaan untuk melihat pengaruh dari 2 faktor atau lebih terhadap hasil yang diperoleh. Proses ekstraksi padat-cair dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara sederhana ekstraksi merupakan istilah yang digunakan untuk setiap proses yang didalamnya komponen-komponen pembentuk suatu bahan berpindah dari bahan ke cairan (pelarut). Oleh sebab itu. Teknik ini dapat digunakan untuk kepentingan preparatif. untuk proses analisis rutin. Zat terlarut akan tersebar pada kedua fase pelarut sehingga nisbah konsentrasinya pada suhu tertentu merupakan suatu tetapan kesetimbangan (konstanta distribusi/Kd). di antaranya lamanya ekstraksi. Penentuan flavonoid total berdasarkan parameter standar umum ekstrak tumbuhan obat Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI 2000) dilakukan dengan metode kolorimetri aluminium klorida. Metode sederhana ekstraksi adalah dengan mencampurkan seluruh bahan dengan pelarut. Teknik ekstraksi yang dilakukan pada penelitian ini adalah refluks yang diawali dengan maserasi. dan jenis senyawa yang akan diisolasi. AlCl3 membentuk kompleks yang stabil dengan gugus keto C4 dan gugus hidroksil dari C3 atau C5 pada flavon dan flavonol. Metode ini melibatkan pembentukan kompleks antara flavonoid dan AlCl3. Hukum Lambert-Beer menyatakan perbandingan lurus antara absorbans dan kadar analit.

BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan adalah daun jati belanda yang berumur 2 bulan dan berasal dari kebun percobaan Cikabayan dan standar kuersetin. Perlakuan Pendahuluan Penentuan kadar air contoh sebelum ekstraksi dilakukan berdasarkan ketentuan Departemen Kesehatan RI 1995. Kadar air diperoleh dengan persamaan Kadar air = (X − Y) × 100% X X adalah bobot contoh awal dan Y adalah bobot contoh setelah pengeringan. Ekstrak kloroform dalam tabung reaksi dikocok dengan 10 tetes H2SO4 2 M dan lapisan asamnya dipisahkan dalam . Hubungan ini sering kali tidak diketahui. RSM dapat memberikan hasil yang memuaskan untuk memilih data berdasarkan metode regresi standar berupa model polinomial dengan memberikan masukan untuk mendapatkan luaran yang diinginkan. Penyelesaian optimisasi terfokus pada pemilihan peubah terbaik di antara keseluruhan dan proses metode kuantitatif yang efisien termasuk komputer serta perangkat lunak program komputasi yang tepat dan hemat biaya. kemudian disaring dan filtratnya dimasukkan ke dalam tabung reaksi bertutup. Pembuatan model empiris untuk suatu permukaan respons dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dari suatu rancangan percobaan (Harvey 2000). Model matematis dari suatu permukaan respons dapat berupa model teoretis atau empiris. sehingga yang sering digunakan adalah model empiris. perlakuan pendahuluan. Prosedur ini dilakukan berulang-ulang sampai diperoleh kadar air yang tetap. dan penentuan kondisi optimum. yaitu penyiapan contoh. Uji Fitokimia Uji Alkaloid. Konsep desain optimisasi adalah memperlihatkan semua kemungkinan analisis percobaan. kemudian didinginkan dalam eksikator dan ditimbang bobot keringnya. Rancangan ini dapat mereduksi jumlah perlakuan hingga menjadi sepertiga dari jumlah perlakuan pada rancangan faktorial lengkap. Contoh daun jati belanda sebanyak ± 1 g dimasukkan ke dalamnya lalu dikeringkan lagi dalam oven 105 ºC selama 3 jam. RSM merupakan cara yang efektif untuk melihat sistem respons ketika taraf dari faktor-faktor yang terlibat berubah (Harvey 2000).4 untuk 3 taraf pada masing-masing faktor. Diagram alir penelitian disajikan dalam Lampiran 1. ekstraksi.1 serta Minitab 14. sehingga akan diperoleh model sebagai fungsi respons terhadap peubahpeubah yang berpengaruh signifikan terhadap respons tersebut. penentuan kadar flavonoid total contoh. Penyiapan Bahan Baku Contoh daun jati belanda dikeringkan dalam oven pada suhu 60 °C kemudian digiling dan dihomogenkan ukurannya sehingga diperoleh serbuk daun jati belanda dengan ukuran 300 mesh. Cawan porselen dikeringkan pada suhu 105 ºC selama 30 menit. Faktor penting dalam metode permukaan respons adalah pembuatan model regresi yang menghubungkan respons dengan peubahpeubah bebas. Optimisasi Ekstraksi Optimisasi bertujuan menemukan nilai peubah dalam proses yang menghasilkan nilai terbaik pada syarat-syarat kondisi yang digunakan. Sebanyak 1 g contoh dilarutkan dalam 10 ml kloroform dan beberapa tetes NH4OH. Metode ini telah dikenal dalam kimia dan teknik industri. spektrofotometer UV-Vis Shimadzu 1700. Metamodel Permukaan Respons (RSM) merupakan salah satu metode yang cukup menjanjikan dalam optimisasi ini. perlakuan dapat direduksi menjadi 3k-1 (Lundstedt et al. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap. Apabila rancangan faktorial lengkap menghasilkan 3k perlakuan. Alat-alat yang digunakan adalah perangkat refluks. didinginkan dalam eksikator.1998). dan ditimbang. maka dengan rancangan ini. Model teoretis hanya dapat digunakan jika hubungan fisik dan kimia antara respons dan faktor diketahui dengan pasti. dan perangkat lunak SAS 9.

kemudian ditambahkan 1 ml larutan 2 g AlCl3 dalam 100 ml larutan asam asetat glasial 5% (v/v) (dalam metanol). 6.4 nm. Selanjutnya dianalisis kandungan flavonoid total dengan cara mengukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 366. Kombinasi perlakuan dibentuk dengan bantuan perangkat lunak SAS 9. Fraksi etil asetat dikumpulkan ke dalam labu takar 50 ml dan ditambahkan etil asetat sampai tepat 50 ml.0. Uji saponin dilakukan dengan mengocok 10 ml filtrat dalam tabung reaksi tertutup selama 10 detik kemudian dibiarkan selama 10 menit. dan 24. Selanjutnya campuran diekstraksi. 20 ml aseton. Maserat dalam labu lalu direfluks. Sebanyak 10 ml larutan ini dipindahkan ke dalam labu takar 25 ml. sambil sesekali dikocok. pertama dengan 15 ml etil asetat. Sebanyak 1 g contoh dimasukkan ke dalam gelas piala kemudian ditambahkan 100 ml air panas dan dididihkan selama 5 menit.4 nm. cokelat. Ekstraksi dilakukan dengan meragamkan 3 peubah. waktu (3. Lapisan asam ini diteteskan pada lempeng tetes dan ditambahkan pereaksi Mayer.5 tabung reaksi yang lain. 5.0. Ekstraksi Flavonoid (Depkes RI 2000) Sebanyak 25 g serbuk daun jati belanda dimaserasi selama 24 jam dengan etanol teknis dalam labu bulat 1000ml. Sistem hidrolisis ditambahkan ke dalamnya. Setelah itu. dan 2 ml larutan 25% HCl dalam air. dan amil alkohol. 12. Adanya saponin ditunjukkan dengan terbentuknya buih yang stabil. Larutan asam asetat glasial 5% (v/v) ditambahkan secukupnya sampai tepat 25 ml. lalu ekstrak eter dipindahkan ke dalam lempeng tetes dan ditambahkan 3 tetes anhidrida asam asetat dan 1 tetes H2SO4 pekat (uji LiebermannBuchard). Residu ditambahkan eter. yaitu konsentrasi etanol (50%. kuning. dan jingga pada lapisan amil alkohol menunjukkan adanya flavonoid.0. Refluks diulangi 1 kali lagi dan seluruh hasil refluks digabungkan. dimasukkan ke dalam corong pisah. 1:10. Uji Triterpenoid dan Steroid. Ekstrak dipekatkan dengan penguap putar dan ditimbang untuk menentukan rendemennya. penambahan aseton dan pendidihan ini dilakukan sebanyak 2 kali. dan 1:15). 2 ml alkohol klorhidrat (1 ml HCl 37% dan 1 ml etanol 95%). Campuran hasil hidrolisis lalu disaring menggunakan kapas ke dalam labu ukur 100 ml. dan ditambahkan 20 ml akuades. lalu campuran dipanaskan sampai mendidih selama 30 menit. Uji Saponin dan Flavonoid. Setelah labu takar dingin. dan merah jingga. Ekstrak ditimbang setara dengan 200 mg simplisia lalu dimasukkan ke dalam labu alas bulat. Setelah itu serapan diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 366. larutan disaring dan filtratnya digunakan untuk pengujian. Seluruh filtrat dikumpulkan ke dalam labu takar.1. dan 7 jam). volume ditepatkan dengan aseton sampai 100 ml dan dikocok hingga tercampur sempurna.0 μg/ml. 15. dan nisbah bahan baku (g) per ml pelarut (1:5.5 gram serbuk Mg. Filtrat hasil hidrolisis dalam labu takar diambil sebanyak 20 ml. Selanjutnya larutan dikocok dan diukur serapannya pada panjang gelombang 366. Sebanyak 10 ml filtrat yang lain ditambahkan 0. dan Dragendorf yang akan menimbulkan endapan warna berturut-turut putih. kemudian 2 kali dengan 10 ml etil asetat. Residu kemudian ditambah 20 ml aseton untuk dididihkan kembali sebentar. untuk membuat kurva standar. Rancangan Penelitian Penelitian ini didesain menggunakan rancangan fraksional faktorial 33-1. 70%.1 dan Minitab 14.5% (b/v) heksametilenatetramina. Pengolahan Data Pengolahan data yang dihasilkan dilakukan dengan perangkat lunak SAS 9. Pengolahan data dilakukan dengan cara membuat model regresi yang baik kemudian kondisi optimum ekstraksi . sehingga hanya 9 perlakuan yang dilakukan. Analisis Kuantitatif Flavonoid Total (Depkes RI 2000) Standar kuersetin 50 μg/ml diencerkan dengan asam asetat glasial 5% v/v (dalam metanol) hingga diperoleh konsentrasi 3. Sebanyak 1 g contoh dilarutkan dalam 25 ml etanol panas (50 ºC) kemudian larutan disaring ke dalam pinggan porselen dan diuapkan sampai kering. Terbentuknya warna merah. Wagner. yaitu 1 ml larutan 0. Warna merah atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid dan warna hijau atau biru menunjukkan adanya steroid.4 nm. dan 90%).0.

Waktu Konsentrasi Nisbah Percobaan (jam) Pelarut (%) 1 3 50 1:5 2 3 70 1:15 3 3 90 1:10 4 5 50 1:15 5 5 70 1:10 6 5 90 1:5 7 7 50 1:10 8 7 70 1:5 9 7 90 1:15 . dan nisbah bobot bahan baku terhadap volume pelarut. Karena itu. Pemilihan kombinasi perlakuan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SAS 9.1 dan dihasilkan luaran berupa kombinasi perlakuan yang dilakukan seperti tercantum pada Lampiran 4. hanya 33-1 (9) kombinasi perlakuan yang dicobakan. Tabel 2 Kombinasi perlakuan yang dicobakan dari hasil fraksionalisasi No. yaitu dengan menghitung bobot bahan sebelum dan sesudah dikeringkan pada suhu di atas titik didih air selama periode waktu tertentu (Harjadi 1986).3%. Hasilnya ditunjukkan pada Tabel 1. Bahan yang sama jika dianalisis pada waktu yang sama dapat menghasilkan kadar zat aktif yang berbeda jika kelembapan bahan tersebut berubah. steroid. Uji fitokimia dilakukan untuk menguji keberadaan beberapa komponen aktif seperti alkaloid. bila kadar air bahan berkisar antara 3 dan 7%. Hal ini sesuai dengan monografi ekstrak BPOM (2004) yang menyatakan bahwa untuk daun jati belanda nilai kadar air yang baik adalah tidak lebih besar dari 9. yaitu konsentrasi pelarut. tetapi karena dalam penelitian ini digunakan rancangan fraksional faktorial 1/3. Kadar air contoh diperoleh sebesar 6. interaksi antara pelarut pengekstraksi dan bahan yang diekstraksi menjadi lebih efektif. Kadar airnya ditetapkan dengan gravimetri evolusi tidak langsung. Selanjutnya contoh daun kering digiling dan dihomogenkan ukurannya hingga diperoleh serbuk berukuran 300 mesh. Penentuan kadar air berguna untuk mengetahui ketahanan suatu bahan yang akan disimpan dalam selang waktu yang cukup lama. saponin. Hal ini berkaitan dengan kelembapan bahan tersebut. Tabel 1 Hasil uji fitokimia daun jati belanda Golongan senyawa aktif Alkaloid Flavonoid Steroid Triterpenoid Saponin Tanin Ket: + – Hasil Uji +++ + + + ++ = contoh mengandung senyawa aktif = contoh tidak mengandung senyawa aktif Hasil Rancangan Fraksional Faktorial Dalam penelitian ini terdapat 3 faktor yang diragamkan. maka kestabilan optimum bahan akan tercapai dan pertumbuhan mikrob dapat dikurangi. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Fitokimia Contoh yang kadar airnya besar akan mudah rusak sehingga dalam penyimpanannya diperlukan perlakuan khusus. menurut Winarno (1997). cukup rendah untuk dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Rancangan fraksional faktorial 1/3 dimaksudkan untuk mereduksi jumlah perlakuan yang akan dicobakan tanpa banyak menghilangkan informasi penting.6 ditentukan dengan melihat juga kebaikan dari model yang dibuat. Selain itu. waktu ekstraksi. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah uji fitokimia. Hal ini bertujuan memperluas permukaan bahan sehingga pada tahap ekstraksi.89% (Lampiran 3). triterpenoid. Kombinasi perlakuan yang akan dicobakan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2. Kadar air juga berguna untuk menentukan kadar zat aktif berdasarkan bobot keringnya. contoh daun jati belanda dalam penelitian ini dikeringkan pada suhu 60 °C. karena kandungan air di dalam suatu bahan merupakan medium tumbuh bagi bakteri dan mikroorganisme. setiap faktor tersebut memiliki 3 taraf sehingga terdapat 33 (27) kombinasi perlakuan yang seharusnya dicobakan. flavonoid. karena jumlah air yang terkandung bergantung pada perlakuan yang telah dialami bahan dan kelembapan udara tempat penyimpanan. dan tanin. dan memperlihatkan bahwa daun jati belanda mengandung flavonoid yang selanjutnya akan ditentukan kadar totalnya dalam penelitian ini sebagai respons dari beberapa perlakuan kondisi ekstraksi.

2 0.0329x – 0. yang menunjukkan bahwa konsentrasi mampu menerangkan keragaman absorbans sebesar 99.6 0. dalam penelitian ini pengukuran dilakukan pada 366. dan mencapai optimum pada selang waktu ekstraksi 3–7 jam. 5. Menurut metode ini.1 0 0 5 10 y = 0. Sebagai standar digunakan kuersetin. Hal ini menunjukkan bahwa selisih antara ulangan 1 dan 2 relatif kecil. yaitu waktu ekstraksi (3. dan nisbah bahan baku(g)-pelarut (ml) (1:5. 1:10. dan hanya sekitar 0. dan 7 jam didasarkan pada penelitian Xu et al. dan 1:15).9998 (Gambar 3). Model dan Analisis Regresi Penelitian ini dilakukan dengan 2 kali ulangan. Pembuatan model regresi dilakukan sampai diperoleh model dengan R2 yang tinggi dan parameter yang terlibat berpengaruh signifikan terhadap kadar. dapat ditentukan kadar flavonoid total dari contoh sesuai perlakuan yang dicobakan.8 nm dengan spektrofotometer. Kurva standar yang diperoleh memiliki persamaan garis y = 0. karena berdasarkan uji keragaman (Lampiran 8) didapatkan keragaman Δ kadar kedua ulangan sama dengan 1.4 0.98%. dan data yang diolah adalah data ulangan pertama.9 0. standar kuersetin dengan berbagai konsentrasi diukur pada panjang gelombang 370.7 Kondisi Ekstraksi Metode ekstraksi flavonoid daun jati belanda yang digunakan dalam penelitian ini adalah refluks yang didahului dengan proses maserasi.0121 dengan R2 = 0. 70. larutan . Bantuan energi berupa panas akan membantu proses pemecahan dinding sel sehingga flavonoid intra sel dapat terekstraksi. dan 90% juga didasarkan pada penelitian tersebut yang menunjukkan bahwa kadar flavonoid yang diperoleh cukup tinggi saat diekstraksi dengan etanol yang selang konsentrasinya 50–90%. Proses maserasi dilakukan untuk mengekstraksi flavonoid yang berada di luar sel.3 0. suatu senyawa penciri flavonoid yang telah umum digunakan.9998 absorbans 15 20 25 30 konsentrasi (ppm) Gambar 3 Kurva standar flavonoid total. Etanol juga memiliki daya absorpsi yang lebih baik jika dibandingkan dengan air. HCl juga ditambahkan dalam proses analisis kunatitatifnya untuk menghidrolisis ikatan glikosida yang terdapat pada flavonoid sehingga diharapkan flavonoid bebas yang terekstraksi.4 nm. Selain itu. Dari hasil pemodelan regresi diperoleh model regresi dengan R2 = 99. yaitu Kurva Standar Flavonoid dan Kadar Contoh Pembuatan kurva standar flavonoid didasarkan pada metode AlCl3 (Depkes RI 2000). Ekstraksi flavonoid total dari daun jati belanda dilakukan dengan pelarut etanol. Data absorbans untuk pembuatan kurva standar diberikan pada Lampiran 6. 70. konsentrasi pelarut (50. Pemilihan waktu 3. Namun.67%. Data rendemen selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5. karena sifatnya yang semipolar memungkinkan seluruh jenis flavonoid ikut terekstraksi. Ekstraksi dilakukan dengan meragamkan 3 faktor dan pada masing-masing faktor terdapat 3 taraf. Departemen Kesehatan RI hanya mengizinkan etanol dan air sebagai pelarut obat. 5. (2005) yang menunjukkan bahwa kadar flavonoid akan terus meningkat pada waktu ekstraksi 2– 3 jam. Pergeseran panjang gelombang maksimum ini dapat disebabkan oleh perbedaan kondisi dan alat yang digunakan.0.5 0. dan 7 jam).0121 R2 = 0.09%.8 0. dan 90%). ekstraksi daun jati belanda dilanjutkan dengan proses refluks. 0. karena setelah dilakukan pemayaran pada panjang gelombang 200–400 nm diperoleh serapan maksimum pada panjang gelombang tersebut. Berdasarkan kurva standar.7 0. Hasil selengkapnya disajikan dalam Lampiran 7. Rendemen yang diperoleh berkisar antara 7.0329x . Karena yang akan dioptimumkan dalam penelitian ini adalah kadar flavonoid total.88 dan 16. Analisis yang digunakan adalah analisis respons yang menggunakan pendekatan regresi. Pemilihan konsentrasi pelarut 50.02% yang diterangkan oleh faktor lain. Demikian pula halnya dengan nisbah bahan baku-pelarut.

36 0.26 0.27 0.34 0.2491–0. Tabel 3 Perbandingan kadar flavonoid total hasil percobaan dengan dugaan No. 0. Kedua faktor tersebut berpengaruh secara kuadratik.04208 (konsentrasi) – 0. Selain itu juga dapat dilihat bahwa kadar tertinggi dihasilkan saat digunakan pelarut etanol teknis dengan konsentrasi 70%.36 0.28 0.24 0.33 70 10 0.30 70 5 0.3663 9 0.26 50 5 0.3209 2 0. Akibatnya.5309 6 0.36 70 10 0.4709 Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa secara umum nilai kadar dugaan sama dengan nilai kadar percobaan.25 0. Kadar Kadar Kadar dugaan perc percobaan dugaan pada selang (%) (%) kepercayaan 93% 1 0.21 90 15 0.49 90 5 0.36 0.00650 (nisbah*waktu) Berdasarkan model tersebut dan pengujian parameter (Lampiran 9) pada α = 7% dapat diketahui bahwa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kadar flavonoid adalah konsentrasi pelarut dan nisbah bahan bakupelarut.32 0.04383 (nisbah) – 0. Galatnya hanya 0.20 0.0991–0.8 Kadar = -1. setelah dibandingkan nilai tengah dari masing-masing kadar.3863 3 0. Tabel 4 Hasil pendugaan kadar flavonoid total untuk kombinasi perlakuan yang tidak dicobakan Konsentrasi Nisbah Kadar pelarut (%) dugaan (%) 50 10 0.28 0.42 0.0003 (konsentrasi)2 + 0.30 90 15 0.15 90 10 0.33%.33 0.3563 5 0.0737–0.18 0. konsentrasi. Hal ini dapat terjadi karena waktu yang diragamkan adalah waktu yang digunakan dalam proses refluks.20 3 Waktu 5 7 Gambar 4 Kurva hubungan antara nisbah.1737–0. dan untuk nisbah bahan baku-pelarut 1:15 jumlah pengekstraknya terlalu banyak.20208 – 0.1537–0. dan waktu terhadap kadar flavonoid total.24 Manfaat lain dari model persamaan kadar yang dihasilkan adalah dapat dilakukan pendugaan kadar flavonoid total untuk kombinasi perlakuan yang dicobakan. 3 3 3 3 3 3 5 5 5 5 5 5 7 7 7 7 7 7 Model ini juga dapat digunakan untuk menduga kadar pada kombinasi perlakuan yang tidak dicobakan.27 0.07. Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat bahwa kadar flavonoid total tertinggi dihasilkan pada nisbah bahan baku-pelarut 1:10. karena pada nisbah bahan baku-pelarut 1:5 jumlah bahan yang digunakan lebih banyak sedang pengekstraknya sedikit sehingga tidak mencukupi untuk mengekstrak seluruh flavonoid yang ada.29 70 15 0.3091–0.14 50 15 0. Hal ini menunjukkan bahwa model yang digunakan mempunyai keakuratan yang baik.42 0.39 90 5 0. Perbandingan kadar hasil percobaan dengan dugaan disajikan dalam Tabel 3. atau hasilnya tidak berbeda nyata secara statistika. Tabel 4 menunjukkan .27 50 15 0.2763 7 0.2337–0.17 0. Diduga selama proses maserasi tersebut telah banyak flavonoid yang terekstraksi.26 0.28 0.46 70 15 0. Secara statistik faktor waktu tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar pada α = 7%.32 0.21 0.1637–0.1837–0.3763 4 0. selisih yang terjadi relatif kecil.16 70 5 0. sedangkan pada metode yang digunakan dalam penelitian ini ekstraksi flavonoid didahului oleh maserasi selama 24 jam.36 0. Hal ini terlihat dari nilai-p yang lebih kecil daripada α = 0.25 0.4363 8 0.00125 (waktu)2 + 0.17 50 5 0.17 50 10 0. karena flavonoid lebih banyak terdapat di luar sel tanaman.38 90 10 0.0034 (nisbah)2 + 0.06167 (waktu) + 0.29 0. meskipun ada perbedaan kadar (semakin lama waktu ekstraksi kadar flavonoid semakin meningkat) seperti terlihat pada Gambar 4.34 Nisbah [etanol] Waktu (jam) 5 10 15 50 70 90 kadar 0.21 0.

1 dan Minitab 14.3 0.20 0. tetapi karena faktor waktu tidak berpengaruh signifikan secara statistik maka yang terlihat pada kurva permukaan respons kadar adalah pengaruh faktor konsentrasi pelarut dan nisbah bahan baku-pelarut.5 10. konsentrasi pelarut. Kondisi tersebut ada pada kisaran yang dicobakan. Kadar flavonoid total ekstrak daun jati belanda dapat diketahui dengan memasukkan data absorbans yang diperoleh ke persamaan kurva standar yang telah dihasilkan.0 Nisbah 12. Parameter kondisi ekstraksi yang dioptimisasi dalam percobaan ini adalah waktu ekstraksi. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5 berikut.4 kadar 0. Gambar 5 Kurva permukaan respons kadar terhadap konsentrasi pelarut dan nisbah bahan baku-pelarut. dan waktu ekstraksi 3 jam. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia Volume 1.30 0.5 15. Selain itu perlu dicobakan penelitian lanjutan dengan memperluas kisaran taraf yang lebih luas untuk parameter yang digunakan. .20 0.0 Gambar 6 Peta kontur kadar terhadap konsentrasi pelarut dan nisbah bahan baku-pelarut. Gambar 5 dan 6 menunjukkan bahwa kondisi optimum ekstraksi teramati pada konsentrasi pelarut 70%. dan nisbah bahan baku-pelarut. Titik optimum 70 60 50 5. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa model penentuan kadar yang diperoleh dalam penelitian ini dapat digunakan untuk ragam taraf dari tiap faktor yang masih tercakup dalam permukaan yang dihasilkan. 0.25 0. 2004. Gambar 5 menunjukkan permukaan respons dari masing-masing faktor terhadap kadar total flavonoid yang dihasilkan.0 7. Optimisasi tersebut menggunakan perangkat lunak SAS 9.25 0. [etanol] 90 80 0. sedangkan waktu ekstraksi tidak.42%. dan waktu ekstraksi 3 jam dengan kadarnya adalah 0. nisbah bahan baku-pelarut 1:10.2 75 5 10 N isb ah 60 15 90 [etan ol] Saran Perlu dilakukan validasi terhadap model yang telah diperoleh pada penelitian ini.40 0.35 0.30 0.40 Kadar Flavonoid Total Optimum Analisis kadar flavonoid total daun jati belanda dilakukan dengan metode kolorimetri yang didasarkan pada reaksi pembentukan kompleks antara flavonoid dan aluminium klorida yang diukur dengan spektrofotometer UV-Vis berkas ganda. Kondisi optimum untuk ekstraksi flavonoid total dari daun jati belanda yang diperoleh pada penelitian ini adalah konsentrasi pelarut 70%. DAFTAR PUSTAKA [BPOM RI] Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Jakarta: BPOM RI. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Konsentrasi pelarut dan nisbah bahan baku pelarut berpengaruh nyata terhadap kadar flavonoid total yang dihasilkan. Gambar 6 menunjukkan peta kontur yang dapat mempertegas daerah optimum yang dihasilkan.35 kadar < > 1 0.9 hasil dugaan kadar untuk kombinasi perlakuan yang tidak dicobakan. nisbah bahan bakupelarut 1:10. Dalam hal ini akan terlihat pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kadar flavonoid total.

Ed ke-2. Sopyan I. New York: J Wiley.10 Day RA. Ilmu Kimia Analitik Dasar. 1995. 1998. [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Terjemahan dari: Phytochemical Methods. Zhang R. Liquid-Liquid Extraction and Solid-Liquid Extraction. Fu H. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Depkes. penerjemah. Harborne JB. Petunjuk Operasional Penerapan CPOB. [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pengantar Statistika Ed ke-3. Sidhi IP. Terjemahan dari: Quantitative Analysis. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. 2005. New York: McGraw Hill. 1996. Bandung: Institut Teknologi Bandung. 2002. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Soediro I. Harjadi W. Markham KR. Montgomery DC. Jakarta: Depkes. Graz University of Technology. Harvey D. Ed ke-5. Techniques of Flavonoid Identification. 1997. Gamse T. 2000. 1886. Metode Fitokimia. Sumantri B. Padmawinata K. editor. Studies on the optimal process to extract flavonoids from red-raspberry fruits. Underwood AL. 1995. 1995. J Nat Sci 3:43-46 . penerjemah. Farmakope Indonesia. penerjemah. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2000. 2001. 1988. Robinson T. Xu Y. London: Academic Pr. Walpole RE. Modern Analytical Chemistry. Kimia Pangan dan Gizi. Ed ke-2. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum. Design and Analysis of Experimental Ed ke-5. Bandung: Penerbit ITB. Winarno FG.

11 LAMPIRAN .

12 Lampiran 1 Diagram alir penelitian Simplisia daun Jati Belanda Uji Pendahuluan Ekstraksi Rancangan Percobaan Uji Fitokimia Kadar Air Ragam Ragam Waktu Konsentrasi pelarut Ragam Nisbah bahan bakupelarut Fraksionalisasi Refluks Penentuan Kadar Flavonoid Total Optimisasi Kondisi Optimum .

13 Lampiran 2 Ekstraksi flavonoid Serbuk daun jati belanda + etanol maserasi 24 jam Filtrat maserat direfluks dengan berbagai ragam waktu residu direfluks dengan berbagai ragam waktu Filtrat Filtrat residu digabung dibuang dipekatkan dengan penguap putar ekstrak pekat analisis flavonoid secara kuantitatif .

0023 1.96% = 6.0046 Bobot Contoh Kering (b) (g) 0.87% • Penentuan kadar air rerata ulangan 1 + ulangan 2 + ulangan 3 Kadar air rerata = 3 Kadar air rerata = 6.87 6.9347 Rerata Contoh perhitungan • Penentuan kadar air ulangan 1 Kadar air = Kadar air = Kadar Air (%) 6.96 6.0.0023 Kadar air = 6.9346 0.87% + 6.9334 × 100% 1.89% 3 .0023 .89 a -b × 100% a 1.0033 1.9334 0.85% + 6.14 Lampiran 3 Hasil penentuan kadar air Ulangan 1 2 3 Bobot Contoh Awal (a) (g) 1.85 6.

1 The FACTEX Procedure Design Points Experiment Number konsentrasi waktu nisbah ƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒƒ 1 -1 -1 -1 2 -1 0 1 3 -1 1 0 4 0 -1 1 5 0 0 0 6 0 1 -1 7 1 -1 0 8 1 0 -1 9 1 1 1 The FACTEX Procedure Factor Confounding Rules nisbah = (2*konsentrasi)+(2*waktu) The FACTEX Procedure Aliasing Structure konsentrasi = (2*waktu)+(2*nisbah) (2*konsentrasi) = waktu+nisbah waktu = (2*konsentrasi)+(2*nisbah) (2*waktu) = konsentrasi+nisbah nisbah = (2*konsentrasi)+(2*waktu) (2*nisbah) = konsentrasi+waktu (2*konsentrasi)+ waktu = konsentrasi+(2*nisbah) = (2*waktu)+nisbah konsentrasi +(2*waktu) = (2*konsentrasi)+nisbah = waktu+(2*nisbah) .15 Lampiran 4 Kombinasi perlakuan berdasarkan pengacakan dengan SAS 9.

82 7 90 1:15 25.46 5 50 1:15 25.1590 40.0048 36.7203 41.1075 14.0086 38.2348 41.0024 = 14.1075 .6797 40.52 3 90 1:10 25.86% Keterangan: a = bobot labu+ekstrak (g) b = bobot labu kosong (g) c = bobot contoh (g) Lampiran 6 Absorbans standar flavonoid total Konsentrasi standar (μg/ml) 3 6 12 15 24 Absorbans 0.35 5 90 1:5 25.09 7 70 1:5 25.0736 11.7805 15.6764 40.0421 9.9019 40.37.0033 37.6245 9.86 3 70 1:15 25.88 7 50 1:10 25.478 0.2396 7.0060 37.378 0.184 0.03 Contoh perhitungan: Rendemen = = a -b x 100% c 41.4780 11.16 Lampiran 5 Rendemen ekstrak daun jati belanda dari perlakuan yang dicobakan Waktu Konsentrasi Nisbah Rendemen (jam) Pelarut (%) c (g) b (g) (%) a (g) 3 50 1:5 25.3914 41.0024 37.51 5 70 1:10 25.0048 36.091 0.0386 11.7035 16.0073 37.0053 38.2697 39.0007 36.3914 x 100% 25.1694 38.780 .

42 5 70 1:10 2 0.3546 0.413 3.17 Lampiran 7 Kadar flavonoid total dari ekstrak daun jati belanda untuk perlakuan yang dicobakan Waktu Konsentrasi Nisbah Ulangan A a (g) b (g) c (g) Kadar (jam) Pelarut (%) (%) 3 50 1:5 1 0.399 2.1980 25. dengan y = absorbans x = konsentrasi flavonoid total (μg/ml) x = x = y + 0.0329 0.8388 0.349 4.339 7. dan nisbah bahan baku-pelarut 1:5 y = 0.0424 0. konsentrasi pelarut 50%.470 6.1838 25.08 mg/g = 0.1190 25.26 5 70 1:10 1 0.24 7 90 1:15 1 0.35 3 90 1:10 1 0.0060 0.0060 0.1682 25.216 2.3160 25.374 4.418 4.0017 0.0038 0.0121.0048 0.412 2.0024 g g g x 25 contoh x a x fp Kadar flavonoid total = Kadar flavonoid total = Kadar flavonoid total = 2.9699 0.6088 0.0053 0.0238 0.2127 25.1688 25.7161 0.362 5.5330 0.1008 25.0086 0.0007 0.640 6.0084 0.6035 0.0329 x = 12.0024 0.511 3.0121 0.734 2.92 ppm x 0.347 3.92 ppm kadar ( μ g/ml) x volume b c 12.34 7 70 1:5 1 0.0048 0.0181 0.0121 0.510 1.413 + 0.2312 25.1999 25.3657 0.0081 0.8796 0.2312 25.30 7 50 1:10 1 0.542 2.1280 25.39 5 90 1:5 1 0.2531 25.26 7 70 1:5 2 0.6076 0.33 Contoh perhitungan: Kadar flavonoid total untuk waktu 3 jam.18 5 90 1:5 2 0.7702 0.0126 0.2724 25.7161 0.0033 0.0113 0.36 7 90 1:15 2 0.21 3 50 1:5 2 0.773 2.1182 25.603 5.4551 0.7577 0.3093 25.1440 25.0073 0.27 3 90 1:10 2 0.29 3 70 1:15 2 0.25 5 50 1:15 2 0.8786 0.23 3 70 1:15 1 0.32 5 50 1:15 1 0.4152 0.1627 25.1590 0.1844 25.34 7 50 1:10 2 0.01 l x 3.0008 0.21 % Keterangan: a = bobot ekstrak yang diperoleh (g) b = bobot ekstrak yang diuji (g) c = bobot contoh awal (g) .0329x – 0.

0024 Minimum -0.18 Lampiran 8 Uji keragaman dengan menggunakan chi-square untuk Δ kadar Peubah Δ kadar N 9 Mean 0.0192 χ20.0495 Variance 0.05 (8) = 15.5073.02 StDev 0.1) S σ ( 9 − 1 )( 0 . 0024 ) = 1 = 0.01 Q3 Maximum 0. karena χ2hitung < χ20.12 Hipotesis: H0 : Keragaman sama dengan 1 H1 : Keragaman lebih besar dari 1 χ2hitung = (N .05 (8) maka kesimpulannya terima H0 .03 Q1 Median 0.

00340 0.80 5.04545 0.0843 0.04383 -0.6667 0.1182 0.2314 0.06167 0.58 9.00649 0.01225 0.02345 0.19 Lampiran 9 Luaran SAS 9.9737 Parameter Estimates Variable Intercept Waktu waktu2 etanol etanol2 Nisbah nisbah2 wak_nis Label Intercept Waktu etanol Nisbah DF 1 1 1 1 1 1 1 1 Parameter Estimate -1.00034641 0.00429 0.00015000 Root MSE Dependent Mean Coeff Var 0.00650 Standard Error t Value -9.27237 R-Square Adj R-Sq 0.1165 9 9 0.00125 0.00015000 0.63 0.00217 0.0689 0.20 -2.33 -9.80 -9.04208 -0.20208 -0.00030000 0.51 Pr > |t| 0.81 7.1 dalam pembuatan model kadar flavonoid total The SAS System The REG Procedure Model: MODEL1 Dependent Variable: kadar_1 kadar 1 Number of Observations Read Number of Observations Used Analysis of Variance Source Model Error Corrected Total DF 7 1 8 Sum of Squares 0.9967 0.00823 0.28667 4.04560 Square Mean F Value 43.0646 0.0648 0.0647 0.13063 0.00086603 .00003062 0.29 Pr > F 0.

000086603 0. -6.56 68.001225 .0920 0.53 -9.09 6.1 dalam penentuan titik optimum ekstraksi flavonoid total The SAS System The RSREG Procedure Response Surface for Variable kadar_1: kadar 1 Response Mean Root MSE R-Square Coefficient of Variation Type I Sum of Squares R-Square 0.06 Pr > F 0.67 4.6667 0. 0.15 32.000287 0. .3607 0.000346 0.1002 0.000150 Parameter Intercept Nisbah etanol Waktu Nisbah*Nisbah etanol*Nisbah etanol*etanol Waktu*Nisbah Waktu*etanol Waktu*Waktu DF 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 Estimate -1.58 -7.90 .1317 0.1282 .012247 0.004808 F Value 55.81 0.014467 0.020500 0.000050000 -0.1165 Residual Total Error DF 1 Mean Square 0.045450 0.1239 Label Nisbah etanol Waktu .006000 0 0 Pr > |t| 0.000150 Standard Error t Value 0.012500 0.29 Pr > F 0.1234 0.9967 4.016450 0.0646 0.044167 -0.1756 0.009617 Sum of Mean Square 0. .286667 0.1864 0.008411 0. actor Nisbah etanol Waktu DF 4 3 2 Squares 0.008342 0.87 -3.005799 0.2724 Regression Linear Quadratic Crossproduct Total Model DF 3 2 2 7 F Value 36.9967 Sum of Squares 0.169009 0.008500 0.0852 0.1208 0.33 43.033367 0.0826 0.004822 0.0919 0.039833 -0.61 32.88 5.000037500 0. .4496 0.003400 0.33 28.1288 0.162083 0.042833 0.20 Lampiran 10 Luaran SAS 9.

001748 -0.007580 -0. April 10.361111 69.503470 Stationary point is a saddle point.21 The SAS System 20:18 Tuesday.915459 0. .863980 -0.004444 Waktu 0.000726 0.999971 -0.374335 Eigenvalues 0.005148 Nisbah 0.006183 0. 2007 99 The RSREG Procedure Canonical Analysis of Response Surface Factor Nisbah etanol Waktu Critical Value 7.000287 -0.864002 Eigenvectors etanol 0.503489 0.621075 Label Nisbah etanol Waktu Predicted value at stationary point: 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful