P. 1
Heru sigit purwanto - Struktur geologi mempengaruhi peningkatan kalori batubara di daerah Bintuni Papua Barat

Heru sigit purwanto - Struktur geologi mempengaruhi peningkatan kalori batubara di daerah Bintuni Papua Barat

|Views: 140|Likes:
Published by Dedi Fatchurohman
Eksplorasi batubara di daerah Tisihu, Bintuni dan sekitarnya adalah untuk menentukan singkapan batuan, singkapan batubara, unsur struktur geologi dan hubungannya peningkatan kalori batubara di daerah telitian. Satuan batuan daerah penyelidikan didominasi Batulempung dan Batupasir dengan Lapisan Batubara di daerah Tisihu memiliki kedudukan lapisan berarah Barat-Timur, Baratlaut-Tenggara, dan kemiringan perlapisan batubara secara umum ke arah Selatan. Lapisan batubara didaerah telitian umumnya warna hitam , hitam cerah, brittle, gores coklat kehitaman,kusam – mengkilap, konkoidal, getas.
Struktur yang dijumpai berupa struktur sesar mendatar barat laut-tenggara dan sesar turun berarah utara-selatan. Arah kedudukkan umum kekar : N 330º-345O E / 78º, N 250º-260O E / 86º dengan arah tegasan, σ1 = N 310º E atau N 130º E dan Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º, N 280º E / 80º , Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E dibagian timur Kedudukan umum kekar N 300O-310O E / 76º dan N 020O-035O E / 86º , arah tegasan σ1= N 355º E dan N 175º E.
Data singkapan batubara di daerah Tisihu dianalisa dan didapatkan 5 seam utama batubara, dengan ketebalan rata-rata seam antara 0,5 – 4 meter dengan nilai kalori batubara berkisar antara 3255 – 5010 kal.
Eksplorasi batubara di daerah Tisihu, Bintuni dan sekitarnya adalah untuk menentukan singkapan batuan, singkapan batubara, unsur struktur geologi dan hubungannya peningkatan kalori batubara di daerah telitian. Satuan batuan daerah penyelidikan didominasi Batulempung dan Batupasir dengan Lapisan Batubara di daerah Tisihu memiliki kedudukan lapisan berarah Barat-Timur, Baratlaut-Tenggara, dan kemiringan perlapisan batubara secara umum ke arah Selatan. Lapisan batubara didaerah telitian umumnya warna hitam , hitam cerah, brittle, gores coklat kehitaman,kusam – mengkilap, konkoidal, getas.
Struktur yang dijumpai berupa struktur sesar mendatar barat laut-tenggara dan sesar turun berarah utara-selatan. Arah kedudukkan umum kekar : N 330º-345O E / 78º, N 250º-260O E / 86º dengan arah tegasan, σ1 = N 310º E atau N 130º E dan Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º, N 280º E / 80º , Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E dibagian timur Kedudukan umum kekar N 300O-310O E / 76º dan N 020O-035O E / 86º , arah tegasan σ1= N 355º E dan N 175º E.
Data singkapan batubara di daerah Tisihu dianalisa dan didapatkan 5 seam utama batubara, dengan ketebalan rata-rata seam antara 0,5 – 4 meter dengan nilai kalori batubara berkisar antara 3255 – 5010 kal.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Dedi Fatchurohman on Apr 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/16/2013

pdf

text

original

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 4, No.

8, Juli 2011

STRUKTUR GEOLOGI MEMPENGARUHI PENINGKATAN KALORI BATUBARA DI DAERAH BINTUNI PROPINSI PAPUA BARAT Heru Sigit Purwanto Pasacasarjana Teknik Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta

Abstrak Eksplorasi batubara di daerah Tisihu, Bintuni dan sekitarnya adalah untuk menentukan singkapan batuan, singkapan batubara, unsur struktur geologi dan hubungannya peningkatan kalori batubara di daerah telitian. Satuan batuan daerah penyelidikan didominasi Batulempung dan Batupasir dengan Lapisan Batubara di daerah Tisihu memiliki kedudukan lapisan berarah BaratTimur, Baratlaut-Tenggara, dan kemiringan perlapisan batubara secara umum ke arah Selatan. Lapisan batubara didaerah telitian umumnya warna hitam , hitam cerah, brittle, gores coklat kehitaman,kusam – mengkilap, konkoidal, getas. Struktur yang dijumpai berupa struktur sesar mendatar barat laut-tenggara dan O sesar turun berarah utara-selatan. Arah kedudukkan umum kekar : N 330º-345 O E / 78º, N 250º-260 E / 86º dengan arah tegasan, σ1 = N 310º E atau N 130º E dan Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º, N 280º E / 80º , Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E dibagian timur Kedudukan umum kekar O O O O N 300 -310 E / 76º dan N 020 -035 E / 86º , arah tegasan σ1= N 355º E dan N 175º E. Data singkapan batubara di daerah Tisihu dianalisa dan didapatkan 5 seam utama batubara, dengan ketebalan rata-rata seam antara 0,5 – 4 meter dengan nilai kalori batubara berkisar antara 3255 – 5010 kal. Abstract Coal exploration in the Bintuni area is inventory field datas and coal outcrops and the objectives of this exploration study is to collect or inventory the newest field datas for completing the morphology and topography condition, coals presence, lateral and vertical coal beds distribution and structural control releted with high calory of coal. All data collected going to be a study material or technical evaluation for starting an economical and profitable mining activity. This exploration study carried out with some detail surface mapping, such as; morphology observation, measured lines section, structures geology, coal outcrops profil measured. Based on the briefly explanation above, the rock succesion within the study area can be divided into three (3) un-formally lithostratigraphy units, from the older to the younges section as follows carbonate unit, claystone unit and sandstone. From the measurements data structural geology elements, such as joints, fault plane, can be interpretated that joints of the Tisihu area have recorded a various strike/dip of the structural geology O O O O O O element for compresion joint N 330 E/7 5 , N 020 E/ 75 and N 350 E/ 70 , N O O O 060 E/ 80 . Tension joint or extentional have general strike/dip are N 280 E/ O O O O O 75 , N 300 E/ 80 and N 005 E/ 75 . While strike slip fault have strike/dip about O O O N 345 -350 E/ 75 exist cross over the north-south trend of the study area. Direction of maximum compression are σ1= N 315º E and N 135º E in Eastern and Western σ1= N 355º E atau N 175º E. There are five (5) coal seams, everade 0,5 – 4 m and with calory between 3255 – 5010 cal. 1

sedangkan secara Geografis berada pada posisi : Kesampaian pada daerah eksplorasi dapat ditempuh melalui jalan darat menggunakan kendaraan 4 WD dari Manokwari – Ransiki (jalan aspal) – Memei – Km.Harna Inti Mandiri. Penetlitian ini mencoba memfokuskan pada daerah atau lokasi lapisan batubara yang banyak dipengaruhi kekar dan kalorinya berbeda dalam satu lapisan batubara. Pendahuluan Batubara di daerah Bintuni. Vol. Kabupaten Teluk Bintuni. 68 menuju lokasi camp melalui Desa Tisihu dengan berjalan kaki selama 2 jam.1. 68 (jalan logpond HPH Djajanti) dengan waktu tempuh antara 7-8 jam. kemudian disusul oleh fase regresi yang terjadi pada kala Eosen Akhir bagian atas sampai Oligosen Akhir yaitu sampai pada pembentukan 2 . Tujuan penelitian ini diantaranya untuk keilmuan yaitu meneliti kandungan kalori batubara yang berubah-ubah serta urutan seam batubara didaerah telitian. yaitu dengan pengamatan morfologi. Berdasarkan kalori yang berbeda-beda dan dalam satu lapisan batubara menyebabkan kekhawatiran beberapa pengusaha yang mempunyai rencana untuk menambang. Kabupaten Teluk Bintuni. Secara geologi daerah telitian banyak dipengaruhi oleh adanya kekarkekar dan beberapa sesar mendatar yang memotong beberapa perlapisan batuan dan perlapisan batubara. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan cara pemetaan permukaan detail. Propinsi Papua Barat.Jurnal Ilmiah MTG. Fase transgresi pertama diduga terjadi pada kala Eosen Awal hingga Eosen Akhir bagian bawah dicirikan dengan terbentuknya Batugamping Faumai (Tef). Propinsi Papua Barat secara umum menunjukkan kenampakan yang baik memenuhi syarat untuk di tambang dengan kalori yang berbeda-beda. Selanjutnya dari data stratigrafi terukur dan beberapa profil singkapan dibuat penampangpenampang untuk mengetahui ketebalan dan cadangan batubara serta sebagai dasar menghitung lapisan penutup batubara ( overburden ) dan stripping ratio. lintasan-lintasan terukur struktur geologi. 1. daerah ini termasuk ke dalam SubCekungan Ayamaru yang terbentuk pada awal zaman Tersier dan merupakan bagian dari Cekungan Salawati (Van Bemmelen. 1. 4. sedangkan daerah telitian termasuk pada area atau kawasan IUP dari PT. 1949). batuan dasar (basement) dari cekungan ini terdiri dari batuan beku. Tahap pengolahan data dilakukan dengan penarikan penampangpenampang untuk penghitungan cadangan dan analisis struktur. Geologi Regional Daerah Telitian Daerah telitian secara fisiografi. batuan volkanik dan batuan metasedimen yang berumur Pra-Tersier. Lokasi dan pencapaian daerah penelitian Secara administratif lokasi penyelidikan termasuk wilayah Kecamatan Bintuni. 2. Juli 2011 1.8. pengukuran profil singkapan batubara dan analisis kimia beberapa contoh batubara. selanjutnya dari Km. No. Perkembangan Sub-Cekungan Ayamaru mengalami dua kali siklus transgresi dan regresi.2. Secara umum penelitian ini masih bersifat awal dan perlu nantinya dilanjutkan dengan detil atau grid detil.

Satuan Batugamping Satuan batugamping ini tersusun oleh batugamping sebagai penyusun utama serta batulanau sebagai sisipan. Satuan Batupasir (Tpss) dan Batupasir Anggota Tusuwai (Tpt). Berdasarkan data Geologi Bawah Permukaan Pertamina (Gafoer. pembagian berdasarkan litostratigrafi tidak resmi. Terjadinya periode tektonik Miosen-Pliosen. diawali dengan proses pengangkatan pada kala Miosen Tengah yang membentuk Blok Tinggian Arfak. 2. kedua daerah tersebut dibatasi oleh Jalur Sesar Ransiki yang berarah sumbu barat-timur.S dan Atmawinata. Batugamping terebu merupakan batugamping bioklastik berlingkungan neritik. Fase regresi kedua yang terjadi di daerah ini dimulai pada kala Pliosen Awal. kekerasan agak keras sampai keras. Daerah lekukan dan tinggian (zona depresi) diduga terbentuk akibat aktifitas tektonik yang berlangsung pada zaman Kapur. a.1. (Pieters. Vol. warna lapuk coklat tua.1992). yaitu pada saat pembentukan batugamping Kais (Tmkl) dan Formasi Sekau (Tms) hingga mencapi puncaknya menjelang akhir pengendapan Formasi Klasafet (Tmk) pada kala Miosen Akhir. saat pengendapan Formasi Steenkool yang terdri dari Satuan Batulempung (Tpsm). P.S.Jurnal Ilmiah MTG. 1949). 1986) diduga bahwa jalur dari Sorong kearah barat hngga Manokwari merupakan suatu tinggian yeng terbentuk pada awal Tersier Awal.Hakim. Aktifitas tektonik tersebut berlangsung hingga kala Pliosen Awal. Batulanau berwarna segar coklat 3 . yaitu penamaan satuan batuan yang dapat diamati di lapangan meliputi jenis batuan dan posisi antar satuan batuan. Secara megaskopis. Fase transgresi berikutnya diperkirakan terjadi pada kala Miosen Awal dicirikan oleh terbentuknya paparan karbonat yang cukup luas. diduga merupakan bagian atas dari satuan batuan ini. batugamping berwarna kuning kecoklatan. sedangkan di daerah selatannya terbentuk daerah depresi yang merupakan tempar diendapkannya material-material rombakan dari batuan Pra-Tersier. Sub-Cekungan Ayamaru gejala ini menghasilkan bentuk-bentuk ketidakselarasan setempat (Van Bemmelen. 4.A. Beberapa tempat terbentuk terumbu yang banyak mengandung foram besar. Kegiatan tektonik berikutnya terjadi pada kala Miosen-Pliosen. Satuan batuan didaerah telitian terdiri dari satuan batugamping. Juli 2011 endapan sedimen klastik berlingkungan darat dari Formasi Sirga (Tos). mengandung kalkarenit. yang menghasilkan lipatan serta dilanjutkan denga proses pensesaran berupa sesar naik berarah relatif barat-timur. Sedangkan penamaan satuan batuan yang saling berselingan. No. mengandung banyak fosil. pemberian nama satuan didasarkan pada jenis batuan yang paling dominan. maka tatanan geologi di dalam SubCekuangn Ayamaru sekarang adalah merupakan produk rombakan dari tatanan geologi pada awal pembentukan sub-Cekungan ini. kemudian diikuti oleh pembentukan sesar-sesar mendatar yang berarah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara. hingga terbentuknya endapan sediment klastik darat dari Formasi Befoor pada kala Plistosen atau awal zaman Kuarter. satuan batulempung dan satuan batupasir. sebab di tempat lain mash terjadi genang laut. hal tersebut semakin memperjelas perbedaan fisiografi Tinggian Sorong-Manokwari dengan fisiografi daerah depresi yang berada di sebelah selatnnya.E. Stratigrafi daerah telitian Batuan penyusun utama daerah ini adalah batuan sedimen.8. fase regresi hanya bersifat setempat.

maka satuan batulempung ini merupakan bagian dari anggota Batulempung Formasi Steenkool (Tpsm) yang berumur Pliosen dan diendapkan pada lingkungan tertutup. O O O O kilap lilin. warna lapuk coktat tua. karbonan. O O O O kedudukan umum lapisan N 080 -100 E/ 10 -20 Satuan ini menempati satuan geomorfologi perbukitan landai. Lingkungan pengendapan satuan batulempung ini dapat ditentukan berdasarkan aspek fisika.Jurnal Ilmiah MTG. Vol. struktur sedimen laminasi sejajar.6m – 2m (Foto 2. struktur sedimen laminasi sejajar. dari penjelasan diatas. mineral bijih. dapat ditarik kesimpulan bahwa satuan batulempung ini diendapkan pada lingkungan payau atau rawarawa yang tertutup. lokasi komposisi batuan. Juli 2011 muda. non karbonatan. warna lapuk abu kehitaman. Satuan batulempung ini tersebar sekitar 40 % dari seluruh luas daerah penelitian yang terhampar di sebelah barat hingga ke bagian sebelah timur daerah penelitian serta sebelah selatan berbatasan dengan satuan batupasir. kedudukan umum N 100 -150 E/20 -45 . maka satuan batugamping dapat disebandingkan dengan batugamping Formasi Kais (Tmkl) yang berumur Miosen dan diendapkan pada lingkungan Neritik. Foto 2. Satuan batulempung ini merupakan perselingan antara batulempung dan batupasir. batulempung ini tergolong ke dalam Mudstone. warna gores coklat kehitaman. 4 .8. dan kandungan fosil Sungai Tuhmoho foraminifera bentoniknya. kekerasan lunak sampai agak keras. kedudukan O O O O lapisan secara umum N 080 -120 E/ 10 -20 . di beberapa tempat ditemukan laminasi silang siur (cross lamination) pada batupasir. b. Struktur sedimen yang berkembang adalah laminasi sejajar (paralel lamination). kekerasan agak keras – keras. Ditinjau dari ciri-ciri litologinya. keras – sangat keras. kimia dan biologi dari batuan itu sendiri. Ditinjau dari ciri-ciri litologinya. dengan sisipan batubara. brittle. Batulempung berwarna segar abu muda. satuan batulempung ini terdapat lensa-lensa batulanau (lenticular). Satuan Batulempung Satuan batulempung ini tersusun oleh batulempung sebagai penyusun utama batubara serta batulanau sebagai sisipan. Batulanau berwarna segar coklat muda. terdapat beberapa lapisan sisipan batubara pada satuan batulempung dengan ketebalan bervariasi yaitu antara 0.1). Sehingga. warna lapuk coktat tua. fragmen batuan. 4. Batubara barwarna segar hitam.1. satuan batulempung ini diendapkan pada lingkungan dengan kondisi dipengaruhi kondisi reduksi. Satuan Batulempung Berdasarkan sifat fisik. No.. terdapat banyak kekar. keras – sangat keras. non karbonatan. Batulempung disusun oleh fragmen mineral yaitu feldspar. Singkapan yang relatif baik tersingkap namun sebagian besar merupakan singkapan masif yang tidak menunjukkan perlapisan yang jelas.

Secara umum kedudukan lapisan batubara di satuan batuan pasir ini O O O O adalah lapisan N 080 -110 E/ 20 -30 . Dijumpai lapisan batubara pada satuan batupasir dengan ciri banyak retakan bahkan hancuran dengan ketebalan bervariansi antara 0. dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa satuan batupasir ini diendapkan pada lingkungan fluvial. non karbonatan. laminasi silang silur (cross lamination). 4. tidak ditemukan adanya fosil foraminifera baik planktonik maupun bentonik. di beberapa tempat ditemukan laminasi silang siur ( cross lamination). berbetuk butir menyudut tanggung sampai membundar tanggung. keras – sangat keras. kekerasan agak keras – keras. Secara megaskopis.8. Satuan batupasir ini umumnya memiliki ukuran butir dari pasir kasar sampai pasir sedang. keras O O O O sampai sangat keras. tidak karbonatan. karbonan. kilap lilin Penentuan umur satuan batupasir ini didasarkan oleh kesebandingan dengan peta regional yang ada. mengingat dari beberapa sampel yang dicuci serta di analisis. batupasir berwarna segar coklat muda hingga coklat . Berdasarkan hasil penyesuaian sifat dan ciri litologi serta posisi stratigrafi. fragmen mineral (seperti kuarsa dan feldspar). 5 . dengan bentuk butir umumnya menyudut tanggung. feldspar dan batuan. No. struktur sedimen yang berkembang adalah laminasi sejajar ( paralel lamination). kemas terbuka. terpilah sedang sampai baik. kedudukan umum lapisan N 080 -110 E/ 10 -30 . Satuan batupasair ini disebandingkan dengan anggota Batupasir Formasi Steenkool (Tpss) yang memiliki umur Pliosen.2. warna lapuk coktat tua. Vol. Berdasarkan sifat fisik serta komposisi batuan dan kandungan fosil foraminifera bentoniknya. tersusun atas fragmen batuan. non karbonatan. Batulanau berwarna segar coklat muda. Batulempung berwarna segar abu muda warna lapuk abu kehitaman. satuan ini dapat disebandingkan dengan anggota batupasir dalam Formasi Steenkool (Tpss). Foto 2. batulempung ini termasuk ke dalam Mudstone. satuan batupasir ini diinterpretasikan diendapkan pada lingkungan dengan kondisi reduksi. Sehingga. lokasi Sungai Tiko terdapat banyak kekar. brittle.Jurnal Ilmiah MTG. Juli 2011 c. berukuran butir pasir sedang sampai pasir kasar. warna lapuk coklat kehitaman. struktur sedimen yang berkembang adalah laminasi sejajar ( paralel lamination). Batulempung disusun oleh mineral yaitu feldspar. Satuan Batupasir Satuan batupasir ini tersusun oleh batupasir dan batupasir sisipan batulempung. kekerasan lunak sampai agak keras. O O kedudukan secara umum N 100 -110 O O E/ 20 -30 Batubara barwarna segar hitam.8m – 2m dan ada satu seam dengan ketebalan 4 meter akan tetapi kemenerusannya tidak konstan. warna gores coklat kehitaman. Satuan Batupasir. batupasir ini disusun oleh fragmen mineral yaitu kuarsa. struktur sedimen laminasi sejajar. Batulanau serta batubara. fragmen batuan dan mineral bijih.

pada LP 09 Foto 2. Satuan ini menempati satuan geomorfologi perbukitan bergelombang yang memiliki morfologi perbukitan yang memanjang. Singkapan sebagian besar merupakan singkapan massif yang tidak menunjukkan perlapisan batuan. Foto 2. N 010 -020 E/70 -80 dan N 280 -290 E/70 -80 (Lampiran data pengukuran).Jurnal Ilmiah MTG. Juli 2011 Satuan batupasir ini tersebar sekitar 40 % dari seluruh luas daerah penelitian. 2. Satuan ini terhampar di sebelah barat . 4.5 Kedudukan kekar-kekar O O sistematis N 330 E-N255 E pada litologi batupasir. hal ini disebabkan aktifitas subduksi dari utara dan bagian zona tengah papua terdapat pegunungan. No.2 Struktur Geologi Daerah Telitian Struktur geologi daerah telitian secara umum dikontrol oleh adanya O O O O kekar-kekar yang secara umum berkedudukan N 330 -345 E/80 . Kedudukan kemiringan lapisan batuan dan batubara di bagian selatan relatif bersudut besar sedangkan di bagian utara relatif datar atau bersudut kecil.8.3 Kedudukan zona sheared O O N 345 E/80 LP 06 pada litologi batubara Foto 2. N 060 O O O O O O O O O O 075 E/80 . Vol. Di sebelah utara berbatasan dengan satuan batulempung. di LP 18 6 .4 Kedudukan kekar-kekar sitematis pada litologi batulempung O O N 330 E dan N 280 E.timur pada bagian selatan daerah penelitian.

hal tersebut membuktikan bahwa. sisipan batubara. Lapisan batubara secara umum terdapat diantara satuan batulempung.7 m. terjadi penebalan dan penipisan batubara walaupun masih dalam satu lapisan batubara.Tiko O O N 088 E/10 . Satuan batuan O O O O umumnya mempunyai kedudukan N 080 -120 E/ 10 -20 . Data bor didapatkan ketebalan batubara yang bervariasi.8.7 Singkapan batubara dengan tebal 2. Analisis Struktur Geologi daerah Telitian LP 06 359878 . O N 250º-260 E / 86º.3 m.di anak sungai Tiko dengan tebal Batubara ± 50 cm. No. 3. Lapisan batubara di daerah telitian ketebalannya ada yang mencapai 2. Foto 2. Arah kedudukkan umum kekar : N 330º-345 E / 78º.7 m berdasarkan data permukaan (singkapan). dengan lapisan bawah batulempung. ada yang sampai 3.Jurnal Ilmiah MTG. di LP 92 Satuan batulempung.6 Kedudukan kekar-kekar O O O sistematis N280 E/80 dan N 350 E/ O 85 pada batupasir. abu-abu kehitaman. Juli 2011 Foto 2. σ1 = N 310º E atau N 130º E 7 . Batubara di daerah Tisihu umumnya diapit oleh litologi batulempung. di anak S. batuan O bawah tidak tersingkap. Vol. Arah tegasan. O coklat kekuningan kedudukan lapisan batuan tersebut secara umum N 100 O O O 150 E/20 -45 di daerahTisihu dan semakin ke arah selatan kemiringannya semakin terjal. Selanjutnya terendapkan diatasnya satuan batupasir yang terdiri dari batupasir perlapisan . 4.Lapisan atas berupa soil.9817373-53m Ditemukan singkapan Batubara dengan kedudukan N 120º E / 07º.

N 280º E / 80º . Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E LP 36 358110-9818048-316 m Singkapan Batupasir dengan kedudukan N 110º E / 12º. Kedudukkan umum kekar : N 315º-3205 E / 86º. O N 020º-030 E / 89º. di daerah anak sungai Tiko. dan sisipan batubara di O daerah anak sungai Tiko. Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º. Juli 2011 LP 18 359321-9817842-285 m Dijumpai singkapan Batupasir perselingan dengan Batulempung dengan kedudukan N 089º E / 15º. Vol. Arah umum= N 315º E atau N 135º E. 4. No.8. arah tegasan σ1= N 350º E atau N 170º E 8 .Jurnal Ilmiah MTG.

di daerah anak sungai Tiko.8. No. Berdasarkan sampel OC 11A pada zona kekar nilai kalorainya 4733 kal dan OC 11B dalam satu seam tetapi tidak dalam zone kekar hasil nilai kalorinya 4243 kal.Jurnal Ilmiah MTG. Vol.9817718-267 m Ditemukan singkapan Batupasir dengan kedudukan N 100 E / 13º. 9 . dengan O sisipan batubara di daerah anak sungai Tiko. arah tegasan σ1= N 355º E atau N 175º E LP 92 360522 . akan tetapi hal ini perlu diteliti lanjut dengan grid sampling untuk menunjukkan peningkatan konstans kalori batubara dari aspek struktur geologi. sisipan batubara 10cm – O O O O 30cm. selanjutnya pada sampel OC 14 hasil kalorinya 5010 kal.5 m. Juli 2011 LP 59 358530 . Kedudukkan umum kekar N 280 -290 E / 80º dan N 350 -360 E / 85º. Arah tegasan σ1= N 320º E dan N 140º E Hasil analisis batubara dari beberapa sampel yang diambil didekat zona kekar menunjukan nilai kalori tinggi dibandingkan dengan batubara yang tidak di zona kekar walaupun masih dalam satu lapisan atau satu seam. Peningkatan kalorinya relatif tinggi yaitu antara 200 – 500 kalori.9817583-194 m Ditemukan singkapan Batupasir perlapisan dengan kedudukan N 129 E / 06º. sedangkan pada seam yang sama tidak pada zone kekar hasilnya 4878 kal. 4.Tebal Batupasir ± 1. Kedudukan umum kekar N 300 O O O 310 E / 76º dan N 020 -035 E / 86º.

74 45.14 41.77 0.85 1.73 47.64 0.79 39.45 5. Vol.86 0.6 m – 4 m.42 OC. N 280º E / 80º .07 42. σ1 = N 310º E atau N 130º E dan Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º. Hasil analisa kimia beberapa sampel batubara di daerah telitian Sample Code ANALYSIS FREE MOISTURE TOTAL MOISTURE PROXIMATE MOISTURE VOLATILE MATTER FIXED CARBON ASH TOTAL SULPHUR HGI CALORIFIC VALUE % % % % % % % adb adb adb adb adb adb adb 23.46 27. satuan batulempung dan satuan batupasir O O O O dengan kedudukan secara umum dibagian utara N 080 -120 E/10 -20 dan O O O O dibagian selatan N 100 -130 E/20 -30 .11 86 4243 22.72 48. Unsur struktur geologi yang dijumpai berupa kekar – kekar dan adanya O indikasi sesar.43 OC. dan kemiringan perlapisan batubara secara umum ke arah Selatan. N 250º-260 E / 86º dengan arah tegasan. kalori hasil analisis kimia dari sampel yang diambil berkisar antara 3255 – 5010 kal 10 . 12 28. 4. 3. Kalori batubara di daerah telitian secara umum terdapat peningkatan apabila berada di zona kekar . keduduak umum kekar daerah telitian adalah N 330º-345 E / O 78º.00 33.90 45.74 65 3255 23. Batubara di daerah telitian terdapat 5 seam dengan ketebalan 0.69 6.1. 14 28. Juli 2011 Tabel 3. Litologi umum ditemukan pada daerah telitian berupa satuan batugamping. Kesimpulan 1.Jurnal Ilmiah MTG.38 4.8.35 39.04 0. berdasarkan data lapangan diendapkan dalam lingkungan rawa.25 100 4733 33.53 45.03 0. Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E dibagian timur Kedudukan umum O O O O kekar N 300 -310 E / 76º dan N 020 -035 E / 86º . 2.90 30. yaitu antara 3255 kal – 5010 kal. Kalori batubara berfariasi yang diinterpretasikan karena pengaruh struktur geologi. 11-A 27. Lithostratigrafi daerah penyelidikan didominasi Batulempung dan Batupasir dengan Lapisan Batubara di daerah Tisihu memiliki jurus berarah BaratTimur. arah tegasan σ1= N 355º E dan N 175º E. 13 22.81 OC.95 0. 4. 11-B 18.51 31.70 44. Baratlaut-Tenggara.90 OC.24 2. No.27 36 4878 UNIT % % BASIS ar ar OC.30 78 5010 32. peningkatan berkisar antara 200 kal – 500 kal.15 40.

1989. L.. Bumi Merapi Energi. Jakarta. dan A. . Peta Geologi Lembar Ransiki. 1974. Kec. 2007.. . Atmawinata. pages 77 – 110. Tim Geologi PT.2007) Daerah Sungai Kungkilan. . Lahat. Laporan Final Eksplorasi Detail (KW.. Departemen Pertambangandan Energi Republik Indonesia. IPA. . PT.E. Pusat Penelitian dan Pengenbangan Geologi. . Con. 3 Ann.13. Pieters. . S. . Vol. Laporan Ekplorasi daerah Tisihu dan sekitarnya.HIM . Merapi Barat.8. . Coster. No. 4. . .LHT. P.02. . G.S. The Geology of Central and South Sumatera Basin : rd Proc.Jurnal Ilmiah MTG. Juli 2011 Daftar Pustaka . 2007 11 . Kab. Propinsi Sumatera Selatan. de. Hakim . Irian Jaya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->