Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 4, No.

8, Juli 2011

STRUKTUR GEOLOGI MEMPENGARUHI PENINGKATAN KALORI BATUBARA DI DAERAH BINTUNI PROPINSI PAPUA BARAT Heru Sigit Purwanto Pasacasarjana Teknik Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta

Abstrak Eksplorasi batubara di daerah Tisihu, Bintuni dan sekitarnya adalah untuk menentukan singkapan batuan, singkapan batubara, unsur struktur geologi dan hubungannya peningkatan kalori batubara di daerah telitian. Satuan batuan daerah penyelidikan didominasi Batulempung dan Batupasir dengan Lapisan Batubara di daerah Tisihu memiliki kedudukan lapisan berarah BaratTimur, Baratlaut-Tenggara, dan kemiringan perlapisan batubara secara umum ke arah Selatan. Lapisan batubara didaerah telitian umumnya warna hitam , hitam cerah, brittle, gores coklat kehitaman,kusam – mengkilap, konkoidal, getas. Struktur yang dijumpai berupa struktur sesar mendatar barat laut-tenggara dan O sesar turun berarah utara-selatan. Arah kedudukkan umum kekar : N 330º-345 O E / 78º, N 250º-260 E / 86º dengan arah tegasan, σ1 = N 310º E atau N 130º E dan Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º, N 280º E / 80º , Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E dibagian timur Kedudukan umum kekar O O O O N 300 -310 E / 76º dan N 020 -035 E / 86º , arah tegasan σ1= N 355º E dan N 175º E. Data singkapan batubara di daerah Tisihu dianalisa dan didapatkan 5 seam utama batubara, dengan ketebalan rata-rata seam antara 0,5 – 4 meter dengan nilai kalori batubara berkisar antara 3255 – 5010 kal. Abstract Coal exploration in the Bintuni area is inventory field datas and coal outcrops and the objectives of this exploration study is to collect or inventory the newest field datas for completing the morphology and topography condition, coals presence, lateral and vertical coal beds distribution and structural control releted with high calory of coal. All data collected going to be a study material or technical evaluation for starting an economical and profitable mining activity. This exploration study carried out with some detail surface mapping, such as; morphology observation, measured lines section, structures geology, coal outcrops profil measured. Based on the briefly explanation above, the rock succesion within the study area can be divided into three (3) un-formally lithostratigraphy units, from the older to the younges section as follows carbonate unit, claystone unit and sandstone. From the measurements data structural geology elements, such as joints, fault plane, can be interpretated that joints of the Tisihu area have recorded a various strike/dip of the structural geology O O O O O O element for compresion joint N 330 E/7 5 , N 020 E/ 75 and N 350 E/ 70 , N O O O 060 E/ 80 . Tension joint or extentional have general strike/dip are N 280 E/ O O O O O 75 , N 300 E/ 80 and N 005 E/ 75 . While strike slip fault have strike/dip about O O O N 345 -350 E/ 75 exist cross over the north-south trend of the study area. Direction of maximum compression are σ1= N 315º E and N 135º E in Eastern and Western σ1= N 355º E atau N 175º E. There are five (5) coal seams, everade 0,5 – 4 m and with calory between 3255 – 5010 cal. 1

68 menuju lokasi camp melalui Desa Tisihu dengan berjalan kaki selama 2 jam. Secara umum penelitian ini masih bersifat awal dan perlu nantinya dilanjutkan dengan detil atau grid detil. 1. batuan volkanik dan batuan metasedimen yang berumur Pra-Tersier. Kabupaten Teluk Bintuni. sedangkan secara Geografis berada pada posisi : Kesampaian pada daerah eksplorasi dapat ditempuh melalui jalan darat menggunakan kendaraan 4 WD dari Manokwari – Ransiki (jalan aspal) – Memei – Km. 4. Perkembangan Sub-Cekungan Ayamaru mengalami dua kali siklus transgresi dan regresi.Jurnal Ilmiah MTG.8.2. Juli 2011 1. Selanjutnya dari data stratigrafi terukur dan beberapa profil singkapan dibuat penampangpenampang untuk mengetahui ketebalan dan cadangan batubara serta sebagai dasar menghitung lapisan penutup batubara ( overburden ) dan stripping ratio. batuan dasar (basement) dari cekungan ini terdiri dari batuan beku. No. Secara geologi daerah telitian banyak dipengaruhi oleh adanya kekarkekar dan beberapa sesar mendatar yang memotong beberapa perlapisan batuan dan perlapisan batubara. Propinsi Papua Barat secara umum menunjukkan kenampakan yang baik memenuhi syarat untuk di tambang dengan kalori yang berbeda-beda. 1. daerah ini termasuk ke dalam SubCekungan Ayamaru yang terbentuk pada awal zaman Tersier dan merupakan bagian dari Cekungan Salawati (Van Bemmelen. Pendahuluan Batubara di daerah Bintuni.Harna Inti Mandiri. lintasan-lintasan terukur struktur geologi. sedangkan daerah telitian termasuk pada area atau kawasan IUP dari PT. selanjutnya dari Km. Penetlitian ini mencoba memfokuskan pada daerah atau lokasi lapisan batubara yang banyak dipengaruhi kekar dan kalorinya berbeda dalam satu lapisan batubara. Fase transgresi pertama diduga terjadi pada kala Eosen Awal hingga Eosen Akhir bagian bawah dicirikan dengan terbentuknya Batugamping Faumai (Tef). Geologi Regional Daerah Telitian Daerah telitian secara fisiografi.1. yaitu dengan pengamatan morfologi. Berdasarkan kalori yang berbeda-beda dan dalam satu lapisan batubara menyebabkan kekhawatiran beberapa pengusaha yang mempunyai rencana untuk menambang. Kabupaten Teluk Bintuni. kemudian disusul oleh fase regresi yang terjadi pada kala Eosen Akhir bagian atas sampai Oligosen Akhir yaitu sampai pada pembentukan 2 . Lokasi dan pencapaian daerah penelitian Secara administratif lokasi penyelidikan termasuk wilayah Kecamatan Bintuni. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan cara pemetaan permukaan detail. Vol. 1949). 2. Tujuan penelitian ini diantaranya untuk keilmuan yaitu meneliti kandungan kalori batubara yang berubah-ubah serta urutan seam batubara didaerah telitian. Tahap pengolahan data dilakukan dengan penarikan penampangpenampang untuk penghitungan cadangan dan analisis struktur. Propinsi Papua Barat. pengukuran profil singkapan batubara dan analisis kimia beberapa contoh batubara. 68 (jalan logpond HPH Djajanti) dengan waktu tempuh antara 7-8 jam.

8. Stratigrafi daerah telitian Batuan penyusun utama daerah ini adalah batuan sedimen. yaitu pada saat pembentukan batugamping Kais (Tmkl) dan Formasi Sekau (Tms) hingga mencapi puncaknya menjelang akhir pengendapan Formasi Klasafet (Tmk) pada kala Miosen Akhir. sebab di tempat lain mash terjadi genang laut. 1986) diduga bahwa jalur dari Sorong kearah barat hngga Manokwari merupakan suatu tinggian yeng terbentuk pada awal Tersier Awal. Terjadinya periode tektonik Miosen-Pliosen. a.Hakim. Juli 2011 endapan sedimen klastik berlingkungan darat dari Formasi Sirga (Tos).A. maka tatanan geologi di dalam SubCekuangn Ayamaru sekarang adalah merupakan produk rombakan dari tatanan geologi pada awal pembentukan sub-Cekungan ini. Fase transgresi berikutnya diperkirakan terjadi pada kala Miosen Awal dicirikan oleh terbentuknya paparan karbonat yang cukup luas. warna lapuk coklat tua. Satuan batuan didaerah telitian terdiri dari satuan batugamping. Batugamping terebu merupakan batugamping bioklastik berlingkungan neritik. Beberapa tempat terbentuk terumbu yang banyak mengandung foram besar. kemudian diikuti oleh pembentukan sesar-sesar mendatar yang berarah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara.S. hal tersebut semakin memperjelas perbedaan fisiografi Tinggian Sorong-Manokwari dengan fisiografi daerah depresi yang berada di sebelah selatnnya. Kegiatan tektonik berikutnya terjadi pada kala Miosen-Pliosen. Aktifitas tektonik tersebut berlangsung hingga kala Pliosen Awal.E. sedangkan di daerah selatannya terbentuk daerah depresi yang merupakan tempar diendapkannya material-material rombakan dari batuan Pra-Tersier. 2. pemberian nama satuan didasarkan pada jenis batuan yang paling dominan. mengandung banyak fosil. yaitu penamaan satuan batuan yang dapat diamati di lapangan meliputi jenis batuan dan posisi antar satuan batuan. Daerah lekukan dan tinggian (zona depresi) diduga terbentuk akibat aktifitas tektonik yang berlangsung pada zaman Kapur. Vol. (Pieters. Sedangkan penamaan satuan batuan yang saling berselingan. fase regresi hanya bersifat setempat. saat pengendapan Formasi Steenkool yang terdri dari Satuan Batulempung (Tpsm). Fase regresi kedua yang terjadi di daerah ini dimulai pada kala Pliosen Awal. hingga terbentuknya endapan sediment klastik darat dari Formasi Befoor pada kala Plistosen atau awal zaman Kuarter. yang menghasilkan lipatan serta dilanjutkan denga proses pensesaran berupa sesar naik berarah relatif barat-timur.Jurnal Ilmiah MTG.1992). No. Batulanau berwarna segar coklat 3 . batugamping berwarna kuning kecoklatan. 4. Satuan Batupasir (Tpss) dan Batupasir Anggota Tusuwai (Tpt). Secara megaskopis. Satuan Batugamping Satuan batugamping ini tersusun oleh batugamping sebagai penyusun utama serta batulanau sebagai sisipan. kedua daerah tersebut dibatasi oleh Jalur Sesar Ransiki yang berarah sumbu barat-timur. P. Sub-Cekungan Ayamaru gejala ini menghasilkan bentuk-bentuk ketidakselarasan setempat (Van Bemmelen. satuan batulempung dan satuan batupasir. diduga merupakan bagian atas dari satuan batuan ini.1. pembagian berdasarkan litostratigrafi tidak resmi. 1949).S dan Atmawinata. kekerasan agak keras sampai keras. Berdasarkan data Geologi Bawah Permukaan Pertamina (Gafoer. mengandung kalkarenit. diawali dengan proses pengangkatan pada kala Miosen Tengah yang membentuk Blok Tinggian Arfak.

kekerasan agak keras – keras. warna gores coklat kehitaman. satuan batulempung ini terdapat lensa-lensa batulanau (lenticular).1..Jurnal Ilmiah MTG. non karbonatan.8. kedudukan O O O O lapisan secara umum N 080 -120 E/ 10 -20 . Foto 2. 4. Batulempung berwarna segar abu muda. lokasi komposisi batuan. maka satuan batugamping dapat disebandingkan dengan batugamping Formasi Kais (Tmkl) yang berumur Miosen dan diendapkan pada lingkungan Neritik. mineral bijih. warna lapuk abu kehitaman. O O O O kedudukan umum lapisan N 080 -100 E/ 10 -20 Satuan ini menempati satuan geomorfologi perbukitan landai. terdapat beberapa lapisan sisipan batubara pada satuan batulempung dengan ketebalan bervariasi yaitu antara 0. kekerasan lunak sampai agak keras. Batulempung disusun oleh fragmen mineral yaitu feldspar. Sehingga. Struktur sedimen yang berkembang adalah laminasi sejajar (paralel lamination). Batulanau berwarna segar coklat muda. non karbonatan. Satuan Batulempung Berdasarkan sifat fisik.1). Vol. O O O O kilap lilin. kedudukan umum N 100 -150 E/20 -45 . Satuan Batulempung Satuan batulempung ini tersusun oleh batulempung sebagai penyusun utama batubara serta batulanau sebagai sisipan. b. Ditinjau dari ciri-ciri litologinya. Singkapan yang relatif baik tersingkap namun sebagian besar merupakan singkapan masif yang tidak menunjukkan perlapisan yang jelas. keras – sangat keras. struktur sedimen laminasi sejajar. Satuan batulempung ini merupakan perselingan antara batulempung dan batupasir. struktur sedimen laminasi sejajar. keras – sangat keras. batulempung ini tergolong ke dalam Mudstone. fragmen batuan. brittle. dapat ditarik kesimpulan bahwa satuan batulempung ini diendapkan pada lingkungan payau atau rawarawa yang tertutup. terdapat banyak kekar. dan kandungan fosil Sungai Tuhmoho foraminifera bentoniknya. No. kimia dan biologi dari batuan itu sendiri. Satuan batulempung ini tersebar sekitar 40 % dari seluruh luas daerah penelitian yang terhampar di sebelah barat hingga ke bagian sebelah timur daerah penelitian serta sebelah selatan berbatasan dengan satuan batupasir. Lingkungan pengendapan satuan batulempung ini dapat ditentukan berdasarkan aspek fisika. Batubara barwarna segar hitam. satuan batulempung ini diendapkan pada lingkungan dengan kondisi dipengaruhi kondisi reduksi. karbonan. 4 . warna lapuk coktat tua. maka satuan batulempung ini merupakan bagian dari anggota Batulempung Formasi Steenkool (Tpsm) yang berumur Pliosen dan diendapkan pada lingkungan tertutup. warna lapuk coktat tua. di beberapa tempat ditemukan laminasi silang siur (cross lamination) pada batupasir. dengan sisipan batubara. Ditinjau dari ciri-ciri litologinya. Juli 2011 muda.6m – 2m (Foto 2. dari penjelasan diatas.

feldspar dan batuan. kedudukan umum lapisan N 080 -110 E/ 10 -30 . Batulanau berwarna segar coklat muda. karbonan. kekerasan lunak sampai agak keras. brittle. Batulempung berwarna segar abu muda warna lapuk abu kehitaman. kilap lilin Penentuan umur satuan batupasir ini didasarkan oleh kesebandingan dengan peta regional yang ada. kekerasan agak keras – keras. tidak ditemukan adanya fosil foraminifera baik planktonik maupun bentonik. dengan bentuk butir umumnya menyudut tanggung. warna lapuk coktat tua. Secara umum kedudukan lapisan batubara di satuan batuan pasir ini O O O O adalah lapisan N 080 -110 E/ 20 -30 . O O kedudukan secara umum N 100 -110 O O E/ 20 -30 Batubara barwarna segar hitam.8. keras O O O O sampai sangat keras. Satuan Batupasir. mengingat dari beberapa sampel yang dicuci serta di analisis. non karbonatan. Vol. fragmen batuan dan mineral bijih. Berdasarkan hasil penyesuaian sifat dan ciri litologi serta posisi stratigrafi. satuan ini dapat disebandingkan dengan anggota batupasir dalam Formasi Steenkool (Tpss). terpilah sedang sampai baik. warna lapuk coklat kehitaman. struktur sedimen laminasi sejajar. struktur sedimen yang berkembang adalah laminasi sejajar ( paralel lamination). warna gores coklat kehitaman. satuan batupasir ini diinterpretasikan diendapkan pada lingkungan dengan kondisi reduksi. dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa satuan batupasir ini diendapkan pada lingkungan fluvial. non karbonatan. 4. tidak karbonatan. Secara megaskopis. keras – sangat keras. Sehingga.Jurnal Ilmiah MTG. batupasir ini disusun oleh fragmen mineral yaitu kuarsa. batulempung ini termasuk ke dalam Mudstone.2. berukuran butir pasir sedang sampai pasir kasar. fragmen mineral (seperti kuarsa dan feldspar). Berdasarkan sifat fisik serta komposisi batuan dan kandungan fosil foraminifera bentoniknya.8m – 2m dan ada satu seam dengan ketebalan 4 meter akan tetapi kemenerusannya tidak konstan. Satuan Batupasir Satuan batupasir ini tersusun oleh batupasir dan batupasir sisipan batulempung. laminasi silang silur (cross lamination). Dijumpai lapisan batubara pada satuan batupasir dengan ciri banyak retakan bahkan hancuran dengan ketebalan bervariansi antara 0. Batulempung disusun oleh mineral yaitu feldspar. Juli 2011 c. batupasir berwarna segar coklat muda hingga coklat . di beberapa tempat ditemukan laminasi silang siur ( cross lamination). Batulanau serta batubara. Foto 2. Satuan batupasir ini umumnya memiliki ukuran butir dari pasir kasar sampai pasir sedang. struktur sedimen yang berkembang adalah laminasi sejajar ( paralel lamination). 5 . Satuan batupasair ini disebandingkan dengan anggota Batupasir Formasi Steenkool (Tpss) yang memiliki umur Pliosen. berbetuk butir menyudut tanggung sampai membundar tanggung. tersusun atas fragmen batuan. lokasi Sungai Tiko terdapat banyak kekar. No. kemas terbuka.

4 Kedudukan kekar-kekar sitematis pada litologi batulempung O O N 330 E dan N 280 E.3 Kedudukan zona sheared O O N 345 E/80 LP 06 pada litologi batubara Foto 2. Vol. 2.timur pada bagian selatan daerah penelitian. Di sebelah utara berbatasan dengan satuan batulempung.Jurnal Ilmiah MTG. Satuan ini menempati satuan geomorfologi perbukitan bergelombang yang memiliki morfologi perbukitan yang memanjang. 4. di LP 18 6 . pada LP 09 Foto 2. hal ini disebabkan aktifitas subduksi dari utara dan bagian zona tengah papua terdapat pegunungan. N 010 -020 E/70 -80 dan N 280 -290 E/70 -80 (Lampiran data pengukuran).8. Singkapan sebagian besar merupakan singkapan massif yang tidak menunjukkan perlapisan batuan. Satuan ini terhampar di sebelah barat . N 060 O O O O O O O O O O 075 E/80 .5 Kedudukan kekar-kekar O O sistematis N 330 E-N255 E pada litologi batupasir. Foto 2.2 Struktur Geologi Daerah Telitian Struktur geologi daerah telitian secara umum dikontrol oleh adanya O O O O kekar-kekar yang secara umum berkedudukan N 330 -345 E/80 . No. Kedudukan kemiringan lapisan batuan dan batubara di bagian selatan relatif bersudut besar sedangkan di bagian utara relatif datar atau bersudut kecil. Juli 2011 Satuan batupasir ini tersebar sekitar 40 % dari seluruh luas daerah penelitian.

Foto 2. batuan O bawah tidak tersingkap. O N 250º-260 E / 86º. O coklat kekuningan kedudukan lapisan batuan tersebut secara umum N 100 O O O 150 E/20 -45 di daerahTisihu dan semakin ke arah selatan kemiringannya semakin terjal.Lapisan atas berupa soil. Satuan batuan O O O O umumnya mempunyai kedudukan N 080 -120 E/ 10 -20 . Analisis Struktur Geologi daerah Telitian LP 06 359878 . Vol.7 m. 4. 3. Selanjutnya terendapkan diatasnya satuan batupasir yang terdiri dari batupasir perlapisan . di LP 92 Satuan batulempung.8. dengan lapisan bawah batulempung. Lapisan batubara di daerah telitian ketebalannya ada yang mencapai 2. Batubara di daerah Tisihu umumnya diapit oleh litologi batulempung.7 Singkapan batubara dengan tebal 2. Juli 2011 Foto 2. σ1 = N 310º E atau N 130º E 7 .di anak sungai Tiko dengan tebal Batubara ± 50 cm. ada yang sampai 3. Lapisan batubara secara umum terdapat diantara satuan batulempung. hal tersebut membuktikan bahwa. di anak S. abu-abu kehitaman.Tiko O O N 088 E/10 .6 Kedudukan kekar-kekar O O O sistematis N280 E/80 dan N 350 E/ O 85 pada batupasir.7 m berdasarkan data permukaan (singkapan). terjadi penebalan dan penipisan batubara walaupun masih dalam satu lapisan batubara. Arah tegasan.3 m.9817373-53m Ditemukan singkapan Batubara dengan kedudukan N 120º E / 07º. No. Data bor didapatkan ketebalan batubara yang bervariasi.Jurnal Ilmiah MTG. sisipan batubara. Arah kedudukkan umum kekar : N 330º-345 E / 78º.

di daerah anak sungai Tiko. Juli 2011 LP 18 359321-9817842-285 m Dijumpai singkapan Batupasir perselingan dengan Batulempung dengan kedudukan N 089º E / 15º. Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E LP 36 358110-9818048-316 m Singkapan Batupasir dengan kedudukan N 110º E / 12º. 4. No. N 280º E / 80º . dan sisipan batubara di O daerah anak sungai Tiko. Kedudukkan umum kekar : N 315º-3205 E / 86º. Vol. Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º. Arah umum= N 315º E atau N 135º E. O N 020º-030 E / 89º. arah tegasan σ1= N 350º E atau N 170º E 8 .Jurnal Ilmiah MTG.8.

arah tegasan σ1= N 355º E atau N 175º E LP 92 360522 . 4. selanjutnya pada sampel OC 14 hasil kalorinya 5010 kal.9817583-194 m Ditemukan singkapan Batupasir perlapisan dengan kedudukan N 129 E / 06º. di daerah anak sungai Tiko. 9 .9817718-267 m Ditemukan singkapan Batupasir dengan kedudukan N 100 E / 13º.5 m. Arah tegasan σ1= N 320º E dan N 140º E Hasil analisis batubara dari beberapa sampel yang diambil didekat zona kekar menunjukan nilai kalori tinggi dibandingkan dengan batubara yang tidak di zona kekar walaupun masih dalam satu lapisan atau satu seam. sedangkan pada seam yang sama tidak pada zone kekar hasilnya 4878 kal. Kedudukkan umum kekar N 280 -290 E / 80º dan N 350 -360 E / 85º. akan tetapi hal ini perlu diteliti lanjut dengan grid sampling untuk menunjukkan peningkatan konstans kalori batubara dari aspek struktur geologi.Jurnal Ilmiah MTG. Kedudukan umum kekar N 300 O O O 310 E / 76º dan N 020 -035 E / 86º. Juli 2011 LP 59 358530 .8. sisipan batubara 10cm – O O O O 30cm. No. Vol.Tebal Batupasir ± 1. Berdasarkan sampel OC 11A pada zona kekar nilai kalorainya 4733 kal dan OC 11B dalam satu seam tetapi tidak dalam zone kekar hasil nilai kalorinya 4243 kal. dengan O sisipan batubara di daerah anak sungai Tiko. Peningkatan kalorinya relatif tinggi yaitu antara 200 – 500 kalori.

03 0.72 48.51 31.74 65 3255 23. arah tegasan σ1= N 355º E dan N 175º E. Hasil analisa kimia beberapa sampel batubara di daerah telitian Sample Code ANALYSIS FREE MOISTURE TOTAL MOISTURE PROXIMATE MOISTURE VOLATILE MATTER FIXED CARBON ASH TOTAL SULPHUR HGI CALORIFIC VALUE % % % % % % % adb adb adb adb adb adb adb 23.Jurnal Ilmiah MTG. 3. No. 4.00 33.43 OC.14 41.74 45. Juli 2011 Tabel 3. Kesimpulan 1. satuan batulempung dan satuan batupasir O O O O dengan kedudukan secara umum dibagian utara N 080 -120 E/10 -20 dan O O O O dibagian selatan N 100 -130 E/20 -30 .15 40. N 280º E / 80º . Baratlaut-Tenggara. 13 22.8.35 39.27 36 4878 UNIT % % BASIS ar ar OC. 14 28.24 2.45 5.25 100 4733 33.53 45.42 OC.90 OC. dan kemiringan perlapisan batubara secara umum ke arah Selatan. 11-B 18. Batubara di daerah telitian terdapat 5 seam dengan ketebalan 0.38 4. kalori hasil analisis kimia dari sampel yang diambil berkisar antara 3255 – 5010 kal 10 . 12 28.46 27.04 0.07 42. yaitu antara 3255 kal – 5010 kal. Vol. Kalori batubara berfariasi yang diinterpretasikan karena pengaruh struktur geologi. 4.90 30. σ1 = N 310º E atau N 130º E dan Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º.6 m – 4 m.90 45.77 0. keduduak umum kekar daerah telitian adalah N 330º-345 E / O 78º. 2.95 0. berdasarkan data lapangan diendapkan dalam lingkungan rawa.1. peningkatan berkisar antara 200 kal – 500 kal. Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E dibagian timur Kedudukan umum O O O O kekar N 300 -310 E / 76º dan N 020 -035 E / 86º . Lithostratigrafi daerah penyelidikan didominasi Batulempung dan Batupasir dengan Lapisan Batubara di daerah Tisihu memiliki jurus berarah BaratTimur.64 0. Litologi umum ditemukan pada daerah telitian berupa satuan batugamping.73 47. 11-A 27.86 0.30 78 5010 32. Kalori batubara di daerah telitian secara umum terdapat peningkatan apabila berada di zona kekar .70 44.11 86 4243 22.85 1. Unsur struktur geologi yang dijumpai berupa kekar – kekar dan adanya O indikasi sesar.69 6.79 39. N 250º-260 E / 86º dengan arah tegasan.81 OC.

The Geology of Central and South Sumatera Basin : rd Proc. Atmawinata. 4.13. .HIM . 2007 11 . IPA.LHT. de. .. dan A. Pusat Penelitian dan Pengenbangan Geologi. Kec.. 2007. Lahat. Jakarta. Hakim . pages 77 – 110. Coster. Kab. P.S. PT. L. Irian Jaya. 1974. . G. Juli 2011 Daftar Pustaka . Laporan Ekplorasi daerah Tisihu dan sekitarnya. Bumi Merapi Energi. Peta Geologi Lembar Ransiki. Pieters. S. . . Vol. 1989.02. Departemen Pertambangandan Energi Republik Indonesia. Merapi Barat. . . No. .E.2007) Daerah Sungai Kungkilan. Tim Geologi PT..8. . Propinsi Sumatera Selatan. Con. 3 Ann. Laporan Final Eksplorasi Detail (KW.Jurnal Ilmiah MTG. . .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful