Apa yang Dimaksud dengan Outsourcing? Outsourcing terbagi atas dua suku kata: out dan sourcing.

Sourcing berarti mengalihkan kerja, tanggung jawab dan keputusan kepada orang lain. Outsourcing dalam bahasa Indonesia berarti alih daya. Dalam dunia bisnis, outsourcing atau alih daya dapat diartikan sebagai penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya non-core atau penunjang oleh suatu perusahaan kepada perusahaan lain melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh. Mengapa kita harus mengalihkan pekerjaan yang sifatnya non-core? Karena perusahaan lain dapat mengerjakannya dengan lebih murah, lebih cepat, lebih baik dan yang lebih utama lagi adalah... karena kita punya pekerjaan lain yang sifatnya core yang lebih penting.

Dasar Hukum Outsourcing Dasar hukum outsourcing adalah Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan: Pasal 64 Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa Pekerja/Buruh yang dibuat secara tertulis. Berdasarkan ketentuan pasal di atas, outsourcing dibagi menjadi dua jenis: 1. Pemborongan pekerjaan Yaitu pengalihan suatu pekerjaan kepada vendor outsourcing, dimana vendor bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pekerjaan yang dialihkan beserta hal-hal yang bersifat teknis (pengaturan oerasional) maupun halhal yang bersifat non-teknis (administrasi kepegawaian). Pekerjaan yang dialihkan adalah pekerjaan yang bisa diukur volumenya, dan fee yang dikenakan oleh vendor adalah rupiah per satuan kerja (Rp/m2, Rp/kg, dsb.). Contoh: pemborongan pekerjaan cleaning service, jasa pembasmian hama, jasa katering, dsb. 2. Penyediaan jasa Pekerja/Buruh Yaitu pengalihan suatu posisi kepada vendor outsourcing, dimana vendor menempatkan karyawannya untuk mengisi posisi tersebut. Vendor hanya bertanggung jawab terhadap manajemen karyawan tersebut serta hal-hal yang bersifat non-teknis lainnya, sedangkan hal-hal teknis menjadi tanggung jawab perusahaan selaku pengguna dari karyawan vendor. Untuk pembahasan selanjutnya, istilah outsourcing akan disesuaikan dengan jenis kedua, yaitu outsourcing dalam bentuk penyediaan jasa pekerja/buruh.

5. Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. maka demi hukum status hubungan kerja Pekerja/Buruh dengan perusahaan penerima pemborongan beralih menjadi hubungan kerja Pekerja/Buruh dengan perusahaan pemberi pekerjaan.Pekerjaan yang Dapat Dialihkan Berdasarkan Undang-Undang No. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Tidak menghambat proses produksi secara langsung. Hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dapat didasarkan atas perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu apabila memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59. Hubungan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja secara tertulis antara perusahaan lain dan Pekerja/Buruh yang dipekerjakannya. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama. 9. dan d. maka hubungan kerja Pekerja/Buruh dengan pemberi pekerjaan sesuai dengan hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (7). dan ayat (3). Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. 3. Perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja bagi Pekerja/Buruh pada perusahaan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Perubahan dan/atau penambahan syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. Pasal 66 . Dalam hal hubungan kerja beralih ke perusahaan pemberi pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (8). 2. tidak terpenuhi. Perusahaan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berbentuk badan hukum. 8.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan: Pasal 65 1. Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain dilaksanakan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan. 6. c. 7. 4.

Pekerja/Buruh dari perusahaan penyedia jasa Pekerja/Buruh tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Berdasarkan ketentuan dalam pasal 65 ayat 2 dan pasal 66 ayat 1. 2. dan d. Perjanjian kerja yang berlaku dalam hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada huruf (a) adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 dan/atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. dan huruf (d) serta ayat (3) tidak terpenuhi. kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. Penyediaan jasa Pekerja/Buruh untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi harus memenuhi syarat sebagai berikut : a. . atau dalam istilah bisnis disebut sebagai “noncore”. Perlindungan upah dan kesejahteraan.1. serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa Pekerja/Buruh. syarat-syarat kerja. maka demi hukum status hubungan kerja antara Pekerja/Buruh dan perusahaan penyedia jasa Pekerja/Buruh beralih menjadi hubungan kerja antara Pekerja/Buruh dan perusahaan pemberi pekerja. b. 3. Penyedia jasa Pekerja/Buruh merupakan bentuk usaha yang berbadan hukum dan memiliki izin dari instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan. PENTING: Perusahaan harus memastikan bahwa pekerjaan yang dialihkan memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum dalam pasal 65 dan pasal 66 untuk menghindari terjadinya perubahan status hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan pemberi pekerja. 4. Perjanjian antara perusahaan pengguna jasa Pekerja/Buruh dan perusahaan lain yang bertindak sebagai perusahaan penyedia jasa Pekerja/Buruh dibuat secara tertulis dan wajib memuat pasal-pasal sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini. 4. Adanya hubungan kerja antara Pekerja/Buruh dan perusahaan penyedia jasa Pekerja/Buruh. pekerjaan yang dapat dialihkan adalah pekerjaan yang bersifat penunjang dan tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. ayat (2) huruf (a). huruf (b).

3.Cara Menentukan Core atau Non-core Suatu Pekerjaan Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: KEP. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan dimaksudkan untuk memberi penjelasan tentang cara melaksanakan pekerjaan agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pemberi pekerjaan. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama baik manajemen maupun kegiatan pelaksanaan pekerjaan. Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. c. d. b.220/MEN/X/2004 Tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain: Pasal 6 1. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 6 di atas. 2. proses pelaksanaan pekerjaan tetap berjalan sebagaimana biasanya. Tidak menghambat proses produksi secara langsung artinya kegiatan tersebut adalah merupakan kegiatan tambahan yang apabila tidak dilakukan oleh perusahaan pemberi pekerjaan. suatu pekerjaan dikategorikan sebagai core atau non-core adalah sepenuhnya ditetapkan oleh perusahaan. Perusahaan membuat alur kegiatan proses secara keseluruhan dan menetapkan kegiatan/pekerjaan apa saja yang dikategorikan sebagai core atau non-core. Berdasarkan alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) perusahaan pemberi pekerjaan menetapkan jenis-jenis pekerjaan yang utama dan penunjang berdasarkan ketentuan ayat (1) serta melaporkan kepada instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan setempat. . artinya kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang mendukung dan memperlancar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan alur kegiatan kerja perusahaan pemberi pekerjaan. Perusahaan pemberi pekerjaan yang akan menyerahkan sebagian pelaksanan pekerjaannya kepada perusahaan pemborong pekerjaan wajib membuat alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan. Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan pemborong pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Posisi atau Pekerjaan yang Tidak Seharusnya Dialihkan Posisi penting seperti supervisor atau manajer sebaiknya tidak dialihkan kepada vendor outsourcing karena perusahaan membutuhkan komitmen penuh dari mereka untuk mengawasi pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Alur kegiatan ini kemudian dilaporkan kepada dinas tenaga kerja setempat sebagai landasan penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada vendor outsourcing.

daripada menghabiskan sumber daya perusahaan yang terbatas untuk menangani persoalan ketenagakerjaan? 2. perusahaan dapat fokus pada corebusiness mereka. pekerjaan atau fungsi bisnis apa pun diluar kompetensi utama perusahaan dapat dijadikan kandidat untuk outsourcing. semakin kecil biaya per-produk yang dikeluarkan. Keuntungan Melakukan Outsourcing Beberapa keuntungan utama yang menjadi dasar keputusan untuk melakukan outsourcing adalah: 1. Penghematan dan pengendalian biaya operasional Salah satu alasan utama melakukan outsourcing adalah peluang untuk mengurangi dan mengontrol biaya operasional. Hal ini terjadi karena vendor outsourcing bermain dengan “economics of scale” (ekonomi skala besar) dalam mengelola SDM. mesin dan peralatan kerja. Bagi . Sama halnya dengan perusahaan manufaktur. Perusahaan yang mengelola SDM-nya sendiri akan memiliki struktur pembiayaan yang lebih besar daripada perusahaan yang menyerahkan pengelolaan SDM-nya kepada vendor outsourcing. maka dapat dipastikan perusahaan akan kehilangan kemampuan untuk bersaing di pasar dan mengalami kerugian yang sangat besar. Setiap pekerjaan atau fungsi bisnis yang dianggap strategis dan menjadi bagian dari kompetensi utama perusahaan tidak seharusnya dialihkan. semakin banyak produk yang dihasilkan. Posisi dengan tingkat pengetahuan seperti ini harus dipertahankan sebagai karyawan tetap perusahaan. Perusahaan akan mendapatkan keuntungan dengan memfokuskan sumber daya ini untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaharui strategi dan merestrukturisasi sumber daya (SDM dan keuangan) yang ada. karakteristik bahan baku. Fokus pada kompetensi utama Dengan melakukan outsourcing. Sebaliknya. serta bagaimana melakukan suatu pekerjaan dengan benar. karena bila ternyata dialihkan dan gagal. bukankah lebih baik anda fokus pada core-business anda membuat produk atau jasa berkualitas tinggi yang dapat memuaskan keinginan pasar. Jika perusahaan anda adalah perusahaan manufaktur atau jasa. dengan cara mengalihkan pekerjaan penunjang diluar core-business perusahaan kepada vendor outsourcing dan memfokuskan sumber daya yang ada sepenuhnya pada pekerjaan strategis yang berkaitan langsung dengan kepuasan pelanggan atau peningkatan pendapatan perusahaan. sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam mengenai produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan.Posisi supervisor keatas biasanya adalah karyawan yang sudah mengabdi lama di perusahaan. karena nilainya yang tinggi dan sulit digantikan.

Krisis yang disebabkan oleh kerapuhan dan ketidakpastian ekonomi serta politik global menyebabkan pendapatan perusahaan terus menurun. Namun saat pertumbuhan negatif. perusahaan dapat melakukan penghematan biaya dengan menghapus anggaran untuk berbagai investasi di bidang ketenagakerjaan termasuk mengurangi SDM yang diperlukan untuk melakukan kegiatan administrasi ketenagakerjaan. semakin banyak SDM yang dikelola. Kemampuan ini didapat melalui pengalaman mereka dalam menyediakan dan mengelola SDM untuk berbagai perusahaan. Dengan mengalihkan penyediaan dan pengelolaan SDM yang bekerja diluar core-business perusahaan kepada vendor outsourcing. vendor outsourcing memiliki sumber daya dan kemampuan yang lebih baik dibidang ini dibandingkan dengan perusahaan. Saat menjalin kerjasama dengan vendor outsourcing yang profesional. perusahaan yang baru berdiri atau perusahaan dengan HRD yang kurang baik dari sisi jumlah maupun kemampuan. perusahaan akan mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan keahlian vendor outsourcing tersebut untuk menyediakan dan mengelola SDM yang dibutuhkan oleh perusahaan. Dengan mengalihkan masalah ketenagakerjaan kepada vendor outsourcing. Pernahkan anda melakukannya? PHK besar-besaran ini sebenarnya dapat dihindari apabila perusahaan dapat mengoptimalkan SDM-nya untuk bekerja di core-business saja dan mengalihkan SDM yang bekerja diluar core-business perusahaan kepada vendor outsourcing. pengelolaan SDM dapat menimbulkan masalah dan kerugian yang cukup besar bagi . efisiensi dalam mengelola SDM menjadi perhatian utama vendor outsourcing. biaya SDM umumnya bersifat tetap (fixed cost). 3. hal ini akan sangat memberatkan keuangan perusahaan. perusahaan dapat mengendalikan biaya SDM dengan mengubah fixed cost menjadi variable cost.vendor outsourcing. dimana jumlah SDM disesuaikan dengan kebutuhan core-business perusahaan. Hal ini diperparah dengan munculnya kompetitor-kompetitor baru yang membuat persaingan pasar menjadi tidak sehat. hal ini tidak akan bermasalah. Untuk perusahaan kecil. Memanfaatkan kompetensi vendor outsourcing Karena core-business-nya dibidang jasa penyediaan dan pengelolaan SDM. Hal ini tentunya akan mengurangi biaya overhead perusahaan dan dana yang dihemat dapat digunakan untuk proyek lain yang berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas produk/jasa. karena masalah ketenagakerjaan adalah core-business. semakin kecil juga biaya per-orang yang dikeluarkan. vendor outsourcing dapat memberikan kontribusi yang besar bagi perusahaan. Karena bila tidak ditangani dengan baik. Saat perusahaan mengalami pertumbuhan positif. Pentingnya mengendalikan biaya SDM dapat kita lihat saat ini. Selain itu. Bagi kebanyakan perusahaan. Situasi ini menyebabkan perusahaan-perusahaan baik besar maupun kecil berusaha keras untuk tetap bertahan hidup dengan cara melakukan PHK besar-besaran untuk mengurangi fixed cost yang umumnya berada dikisaran 60-70% dari total biaya rutin.

Meningkatkan efisiensi dan perbaikan pada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya non-core Saat ini banyak sekali perusahaan yang memutuskan untuk mengalihkan setidaknya satu pekerjaan non-core mereka dengan berbagai alasan. banyak membuang waktu. Sedangkan jika situasi bisnis sedang memburuk dan harus mengurangi jumlah karyawan. pendapatan dan keuntungan perusahaan. menghitung dan membayar gaji. Setelah melakukan outsourcing. beberapa perusahaan bahkan dapat mengurangi jumlah karyawan mereka secara signifikan karena banyak dari pekerjaan rutin mereka menjadi tidak relevan lagi. Mengalihkan pekerjaan-pekerjaan ini kepada vendor outsourcing yang lebih kompeten dengan memberikan sejumlah fee sebagai imbalan jasa terbukti lebih efisien dan lebih murah daripada mengerjakannya sendiri. lembur dan tunjangantunjangan. Berbekal pengalaman yang panjang dalam melayani berbagai jenis perusahaan. Kecepatan merespon pasar ini menjadi competitive advantage (keunggulan kompetitif) perusahaan dibandingkan kompetitor. perusahaan tinggal mengurangi jumlah karyawan outsourcingnya saja. baik besar maupun kecil. bahkan dalam beberapa kasus mengancam eksistensi perusahaan. Dengan melakukan outsourcing. .perusahaan. dan dipilih yang intinya saja. Jika dilakukan dengan baik. sehingga beban bulanan dan biaya pemutusan karyawan dapat dikurangi. vendor outsourcing dapat meminimalisir masalah-masalah yang mungkin timbul terkait dengan penyediaan dan pengelolaan SDM. Jika situasi bisnis sedang bagus dan dibutuhkan lebih banyak karyawan. Mereka umumnya menyadari bahwa merekrut dan mengkontrak karyawan. maka kebutuhan ini tetap dapat dipenuhi melalui outsourcing. Resiko perselisihan dengan karyawan bila terjadi PHK pun dapat dihindari karena secara hukum hal ini menjadi tanggung jawab vendor outsourcing. outsourcing dapat membuat perusahaan menjadi lebih ramping dan lebih gesit dalam merespon kebutuhan pasar. 5. memberikan pelatihan. 4. pasti memiliki keterbatasan sumber daya. perusahaan mampu mempekerjakan lebih sedikit karyawan. Perusahaan menjadi lebih ramping dan lebih gesit dalam merespon pasar Setiap perusahaan. pikiran dan dana yang cukup besar. Mengurangi resiko Dengan melakukan outsourcing. Hal ini menjadi salah satu upaya perusahaan untuk mengurangi resiko terhadap ketidakpastian bisnis di masa mendatang. 6. administrasi umum serta memastikan semua proses berjalan sesuai dengan peraturan perundangan adalah pekerjaan yang rumit. perusahaan dapat mengalihkan sumber daya yang terbatas ini dari pekerjaan-pekerjaan yang bersifat non-core dan tidak berpengaruh langung terhadap pendapatan dan keuntungan perusahaan kepada pekerjaan-pekerjaan strategis corebusiness yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.

Peran dan tanggungjawab antara klien dan vendor yang tidak jelas. Kekhawatiran karyawan perusahaan akan adanya PHK. Kurangnya komitmen. Kekhawatiran outsourcing dapat merusak budaya yang ada.Penyebab Gagalnya Proyek Outsourcing 1. 5. Adanya penentangan dari karyawan atau serikat pekerja. Hal ini terjadi karena perusahaan gagal memilih vendor yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Outsourcing dimulai tanpa visi yang jelas dan pondasi yang kuat. Kurang baiknya cara mengkomunikasikan rencana outsourcing kepada seluruh karyawan Komunikasi harus dilakukan secara efektif dan terarah agar tidak muncul rumor dan resistensi dari karyawan yang dapat mengganggu kemulusan proyek outsourcing. Harapan perusahaan terhadap vendor tidak jelas. hal ini malah menjadikan outsourcing sebagai keputusan yang beresiko tinggi. Perusahaan tidak siap menghadapi perubahan proses. e. 2. Jika tidak. proyek outsourcing akan berjalan tanpa arahan yang jelas dan bahkan menyimpang dari strategi dan tujuan awal perusahaan. Tanpa visi yang jelas dan pondasi yang kuat. Proses pengambilan keputusan untuk outsourcing harus dilakukan dengan hati-hati. Perusahaan tidak membuat patokan kinerja sebelum pengalihan kerja ke vendor. Tidak adanya dukungan internal. keputusan diserahkan sepenuhnya kepada vendor. d. Terburu-buru dalam mengambil keputusan outsourcing. g. f. Kekhawatiran bahwa kinerja vendor dalam melakukan pekerjaan yang dialihkan ternyata tidak sebaik saat dikerjakan sendiri oleh perusahaan. c. tujuan dari proyek outsourcing tidak akan tercapai karena: a. b. 4. dukungan dan keterlibatan pihak manajemen dalam pelaksanaan proyek outsourcing Tanpa keterlibatan dari pihak manajemen dalam mencapai tujuan jangka pendek maupun jangka panjang proyek outsourcing. akibatnya adalah timbul perselisihan antara perusahaan dengan vendor terkait pelaksanaan outsourcing. . Kekhawatiran akan hilangnya kendali terhadap pekerjaan-pekerjaan yang dialihkan. Misalnya jika perusahaan tidak mengevaluasi penawaran dan kontrak secara hati-hati. b. terencana dan mempunyai metodologi yang jelas dan teratur. Resistensi ini muncul karena: a. Lemahnya manajemen proyek. Lemahnya komunikasi atau manajemen internal. e. d. 3. c. Kurangnya pengetahuan mengenai siklus outsourcing secara utuh dan benar Kurangnya pengetahuan akan outsourcing secara utuh dan benar dapat mengakibatkan proyek outsourcing gagal memenuhi sasaran dan bahkan merugikan perusahaan.

Ernst & Young melakukan survei untuk melihat gambaran tren outsourcing di Eropa dengan melibatkan 600 orang pembuat keputusan di perusahaan-perusahaan besar Eropa. Tabel: Outsourcing berdasarkan fungsi Fungsi Bisnis Perawatan (Maintenance) Distribusi/Logistik/Transportasi TI/Telekomunikasi Sumber Daya Manusia % tingkat respon 76 % 73 % 68 % 59 % . ada baiknya anda menggali data-data mengenai outsourcing yang banyak tersedia di internet. sedangkan fungsi sumber daya manusia menempati posisi keempat. sebuah perusahaan jasa profesional dan akuntansi internasional yang bermarkas di London. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar perusahaan masih belum bisa mengalihkan fungsi-fungsi penting yang menjadi keunggulan perusahaan untuk ditangani oleh perusahaan lain. Di tahun 2008. Berbagai lembaga internasional telah mempublikasikan hasil survei mereka mengenai outsourcing di website mereka. data yang akan dibahas adalah hasil survei oleh Ernst & Young.Survey Outsourcing Untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan objektif sebelum mengambil keputusan untuk outsourcing. Untuk menjaga objektivitas. Tabel: Outsourcing berdasarkan negara Negara % tingkat respon Rata-rata Eropa 70 % Belgia 81 % Spanyol 77 % UK 71 % Jerman 70 % Itali 67 % Perancis 63 % Fokus utama outsourcing adalah fungsi-fungsi penunjang bisnis dengan fungsi perawatan (maintenance) di posisi pertama dengan nilai 76%. Fungsi penting yang berhubungan langsung dengan pelanggan perusahaan menempati posisi terakhir. Hasil survei menunjukkan bahwa 7 dari 10 perusahaan di Eropa telah mengalihkan sedikitnya satu fungsi bisnis mereka. yaitu pengembangan produk/manufaktur dan penjualan/pemasaran/komunikasi.

Administrasi/Keuangan 56 % Pengembangan Produk/Manufaktur 46 % Penjualan/Pemasaran/Komunikasi 29 % Penghematan biaya dan peningkatan produktivitas menjadi alasan utama dari hasil keputusan melakukan outsourcing. Salah satu penyebabnya adalah karena kekhawatiran karyawan perusahaan akan adanya PHK karena posisi mereka terancam tergantikan oleh karyawan outsourcing. Seiring dengan pengalaman. Tabel: Keuntungan Outsourcing Keuntungan % tingkat respon Sedikitnya satu keuntungan 94 % Penghematan biaya dan peningkatan produktivitas 49 % Kualitas yang lebih baik 33 % Perbaikan pengaturan /organisasi strategis 28 % Lebih fleksibel 25 % Masalah berkaitan dengan staf menjadi hambatan terbesar (12%) di awal implementasi outsourcing. . Tabel: Kesulitan Awal Outsourcing Kesulitan % tingkat respon Sedikitnya satu kesulitan 44 % Masalah berkaitan dengan karyawan 12 % Menemukan partner yang tepat 9% Masalah manajemen perubahan 8% Masalah teknis dan IT 6% Masalah hukum 5% Lainnya 15 % Tidak ada 45 % Siklus Outsourcing Berikut adalah diagram siklus outsourcing yang sebaiknya harus anda ikuti untuk menghindari kegagalan outsourcing. yaitu sebesar 49%. Diagram ini memberikan gambaran sistemik bagaimana cara mengembangkan rencana outsourcing. hal ini kemungkinan besar terjadi karena kurang baiknya strategi dan cara mengkomunikasikan rencana outsourcing kepada karyawan sehingga muncul resistensi dari karyawan. mulai dari studi kelayakan hingga evaluasi vendor. Seperti pada penjelasan sebelumnya. efektivitas dan efisiensi proses-proses yang terjadi didalamnya harus terus dianalisis dan diperbaiki.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful