BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Virus Virus berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai arti venom yang berarti racun.Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis.

(Wikipedia,2013). Virus memiliki sifat parasit obligat yaitu virus hanya bisa bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvansi dan memanfaatkan sel makhluk hidup. Hal ini dikarenakan virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk melakukan reproduksi sendiri. Virus memiliki sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid,glikoprotein atau kombinasi ketiganya. Virus merupakan elemen genetik yang mengandung salah satu DNA atau RNA yang dapat berada dalam dua kondisi yang berbeda, yaitu secara intraseluler dan ekstraseluler. Kondisi intraseluler yaitu kondisi virus di dalam sel inang, virus merupakan partikel mikroskopis yang terdiri dari asam nukleat yang dikelilingi oleh protein dan pada beberapa virus dikelilingi oleh komponen makromolekul. Kondisi ekstraseluler yaitu kondisi virus di luar sel inang. Virus dikenal dengan nama virion. Virion tidak melakukan aktivitas biosintesis atau respirasi. Pada saat genom virus memasuki sel baru, kondisi intraseluler dimulai. Pada saat keadaan intraseluler, virus bereproduksi. Genom virus dihasilkan dan komponen-komponen pembentuk mantel virus disintesis. Proses masuknya genom virus dalam sel dan bereproduksi disebut sebagai infeksi. Virus mengambil alih mesin dan fungsi metabolik inang untuk menghasilkan komponen-komponen pembentuk virus. (Kusnadi,2000). Virus dapat bertindak sebagai agen penyakit dan agen pewaris sifat. Sebagai agen penyakit, virus memasuki sel dan menyebabkan perubahan-perubahan yang membahayakan bagi sel. Akhirnya, virus dapat merusak atau bahkan menyebabkan kematian pada sel yang diinfeksinya. Sebagai agen pewaris sifat, virus memasuki sel dan tinggal di dalam sel tersebut secara permanen. Perubahan yang diakibatkan tidak membahayakan bagi sel atau bahkan bersifat menguntungkan. Peranan virus sebagai agen penyakit atau agen pewaris sifat tergantung dari sel-sel inang dan kondisi lingkungan. (Kusnadi,2000).

B. Karakteristik Virus  Ukuran dan Bentuk Virus memiliki ukuran sangat renik yaitu antara 25-300 nm. Virus memiliki bermacam-macam bentuk tergantung pada jenisnya. Ada yang berbentuk bulat, batang,

silindris.  Struktur Virus Partikel virus bervariasi dari segi ukuran. selektif. tidak beraturan dan terdapat yang berbentuk huruf T. misalnya membran. Spodoptera litura (ulat grayak) merupakan hama yang bersifat merusak berbagai komoditas pertanian di Indonesia. Splt MNPV (Spodoptera litura-multiple nucleopolyhedrovirus) Splt MNPV (Spodoptera litura-multiplenucleopolyhedrovirus) adalah salah satu jenis virus patogen yang berperan sebagai agensia hayati dalam mengendalikan ulat grayak (Spodoptera litura). predator dan serangga berguna lainnya Virus dapat mengatasi masalah resistensi ulat grayak terhadap insektisida kimia Virus bersifat kompatibel dengan insektisida kimiawi yang tidak bersifat basa kuat . Misalnya.oval. efektif untuk hama-hama yang telah resisten terhadap insektisida dan aman terhadap lingkungan. Virus berbentuk oval. Ulat grayak banyak menyerang tembakau dan tanaman pertanian lain. kulit atau kapsid. kubis dan lain-lain.2010). Lapisan terluar virus disebut sebagai mantel. Virus yang berbentuk batang. Virus telanjang hanya terdiri dari asam nukleat dan kapsomer atau disebut virus nukleokapsid. misalnya virus rabies dan virus yang berbentuk T misalnya virus yang menyerang bakteri (bakteriofage) (Zurnidas. karena bersifat spesifik. Struktur utama virus adalah asam nukleat yang berupa RNA atau DNA. kubus. Beberapa virus memiliki struktur yang lebih kompleks. bawang merah. seperti kedelai. Susunan kapsomer-kapsomer disebut kapsid. kentang. Virus yang memiliki struktur paling rumit yaitu virus bakteriofage. Asam nukleat dikelilingi oleh mantel protein (protein sub unit) yang disebut kapsomer. misalnya virus TMV. Virus yang berbentuk bulat misalnya virus penyebab influenza dan AIDS. yaitu diantaranya     Virus memiliki inang spesifik sehingga aman terhadap organisme bukan sasaran Virus tidak bersifat mempengaruhi parasitoid. cabai. C. bentuk maupun komposisi kimiawinya. virus bakteriofage T4 yang menyerang Escherchia coli memiliki ekor yang merupakan struktur kompleks. Splt MNPV (Spodoptera litura-multiplenucleopolyhedrovirus) memiliki sifat yang menguntungkan menurut Samsudin (2008). kacang tanah. Ekor T4 disusun oleh 20 macam protein dan kepalanya disusun oleh beberapa protein yang lain.

Fase Penetrasi Fage melepas enzim lisozim sehingga dinding sel bakteri berlubang. . sel hewan. (Fase ini sama seperti fase absorpsi pada infeksi secara litik). DNA fage masuk ke dalam sel bakteri setelah dinding sel bakteri terhidrolisis. Fase Penggabungan DNA virus bergabung dengan DNA bakteri membentuk profage. e. b. Perbanyakan Virus Perbanyakan virus atau perkembangbiakkan virus membutuhkan lingkungan sel yang hidup (inang).D. Virus dapat menginfeksi sel bakteri. Fase Absorpsi dan Infeksi Fage menempel di tempat yang tepat yang spesifik pada sel bakteri.  Infeksi Secara Lisogenik a. virus dibedakan menjadi dua macam yaitu infeksi bakteri secara litik dan lisogenik. Pada fase replikasi. c. d. Fase Pembebasan atau lisis Sel bakteri akan pecah (lisis) setelah fage dewasa sehingga fage yang baru akan keluar. sel tumbuhan dan sel manusia. b. Fase Perakitan Komponen-komponen fage akan disusun membentuk fage baru yang lengkap dengan molekul DNA dan kapsid. c. fage menyusun dan memperbanyak DNA bakteri. Fase Penetrasi Bakteriofage memiliki enzim lisosom yang berfungsi merusak dinding sel bakteri. Menurut Zurnidas (2010). Kemudian DNA fage masuk ke dalam sel bakteri. Fage membentuk selubung-selubung protein (kapsid) baru dan baian-bagian fage mulai terbentuk. Pada prinsipnya cara perkembangbiakkan virus pada hewan atau tumbuhan mirip dengan yang berlangsung pada bakteriofag.  Infeksi Secara Litik a. Fase Absorpsi Fage melekat di bagian tertentu dari dinding sel bakteri dengan serabut ekornya. Fase Replikasi dan Sintesis Fage merusak DNA bakteri dan menggunakannya sebagai bahan untuk replikasi dan sintesis.

Proses pemurnian virus harus memperhatikan sterilitas alat yang dipakai. DNA fage (dalam profage) akan terus bertambah banyak jika sel bakteri terus membelah diri. Hal ini dikarenakan zat-zat kimia tersebut dapat merusak struktur tubuh virus. Fase Replikasi DNA fage bereplikasi. Proses pemurnian ini juga tidak memerlukan zat-zat kimia tambahan.d. Pemurnian Virus Pemurnian virus yaitu merupakan suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan satu spesies/jenis dalam satu tabung pemeliharaan kultur virus. E. Hal ini dikarenakan virus sangat mudah menyebar sehingga harus dijauhkan dari tempat pemeliharaan ulat sehat. . Proses pemurnian virus bertujuan untuk mendapatkan jenis/spesies virus dan mengetahui morfologi virus tersebut. selanjutnya bakteri membelah diri menghasilkan dua sel anakan yang masing-masing mengandung profage.

Diakses tanggal 23 April 2013 dari http://ejournal.id/index.Virus._BIOLOGI/19680509199403KUSNADI/BUKU_ COMMON_TEXT_MIKROBIOLOGI.wordpress.org/wiki/Virus Zurnidas.Diakses tanggal 23 April 2013 dari http://zurnidas.2010.dkk/BAB_9A.DAFTAR PUSTAKA Filayani Iqbal.Peningkatan Patogenesis Virus Laten Hasil Isolasi dari Kultur Sel Midgut Larva Spodoptera litura terhadap Larva Spodoptera litura melalui Penginfeksian Berulang.Diakses tanggal 23 April 2013 dari http://id.2013.ac.unesa.files.pdf .2000.Muhammad._PEND.2013.Virus.edu/Direktori/FPMIPA/JUR.Diakses tanggal 23 April 2013 dari http://file.Virus.upi.php/lenterabio Kusnadi._Kusnadi.com/2010/08/buku-kerja-virus.wikipedia.pdf Wikipedia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful