P. 1
sejarah penulisan hadits

sejarah penulisan hadits

5.0

|Views: 4,316|Likes:
Published by Lukman bin Ma'sa

More info:

Published by: Lukman bin Ma'sa on Apr 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

SEJARAH PENULISAN HADITS

(Masa Rasulullah SAW dan Sahabat R.A) 1
Oleh: Lukman Ma'sa

Muqaddimah Tidak dapat disangkal lagi bahwa kegiatan tulis menulis dan juga kegiatan pendidikan di dunia Islam telah berlangsung sejak zaman Nabi SAW masih hidup. Ini dapat dilihat dengan adanya bukti-bukti bahwa ketika nabi masih hidup, para sahabat banyak yang mencatat hal-hal yang diimlakan beliau kepada mereka. Ada juga sejumalah sahabat yang menyimpan surat-surat nabi atau salinannya. Hudzaifah r.a. menutukan bahwa Nabi meminta dituliskan nam orang-orang yang masuk Islam, maka Hudzaifah menuliskannya sebanyak 1500 orang. Selain itu ada juga aturan registrasi nama orang-orang yang mengikuti perang.2 Bahkan seperampat abad sesudah Nabi wafat, di Madinah sudah terdapat gudang kertas yang berhimpitan dengan rumah Utsman bin Affan. Dan menjelang akhir abad pertama pemerintah pusat membagi-bagi kertas kepada para gubernur.3 Rasulullah SAW yang menjadi kepala negara Madinah semenjak tahun pertama Hijriyah hidup di tengah-tengah masyarakat sahabat, para sahabat bisa bertemu dengan beliau secara langsung tanpa adanya birokrasi yang rumit seperti sekarang ini. Rasulullah SAW bergaul dengan mereka di masjid , di pasar, ruma dan dalam perjalanan. Segala ucapan perbuatan dan kelakuan Rasulullah SAW-yang kita kenal sabagai hadits4 – akan menjadi ushwah bagi para sahabat r.a. dan mereka akan berlomba-lomba mewujudkannya dalam kehidupan mereka. Tidak dapat kita sangkal bahwa tidak semua sahabat mendengar satu hadis secara bersamaan, sehingga ada sahabat yang menuliskan hadits dalam shahifah agar tidak tercecer, seperti shahifah Abdullah bin Amru bin Ash. Bagaimana hal ini bisa terjadi sementara hadits dari Abu Said al Khudri meyebutkan

َ‫ع ن أَبِى سعِيدٍ اْل ُدْرى أَنّ رَ ُول ال ّ هِ - صلى ال عل يه و سلم- َالَ « لَ َتكْتُبُوا عَّ ى ومَ ن كَتَ ب عَّ ى غَير‬ ْ ‫َ ن‬ ْ َ ‫ن‬ ‫ق‬ ‫س َ ل‬ ِّ ‫خ‬ َ ْ ... ُ ُ‫اْلقرْآنِ فلْيمح‬ ‫ُ ََْ ه‬
”Jangan kalian tulis apa yang kalian dengar dariku, barangsiapa yang menuliskan selain dari al-Qur’an, hendaklah dihapus”.(H.R. Muslim) Dan ternyata setelah Rasulullah SAW meninggal dunia sahifah-sahifah berisi haditshadits Rasullah SAW seperti sahifah Sa’ad Ibnu Abu Ubadah, Sahifah Jabir Ibn Abdullah,
Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Study Hadits, yang dibimbinh Oleh Dr. Luthfi Fathullah, MA, pada Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam. 2 Muhammad Mustafa Azami, Studes in Early Hadith Literature, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000. Hlm. 103 3 Ibn Abd al-Hakam, Sirah Umar bin Abdul Aziz, yang dikutip oleh M.M. Azami dalam buku beliau Studes in Early Hadith Literature, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000. Hlm. 104 4 Lihat A. Qadir Hasan, Ilmu Musthalah Hadits, Bandung: Dipenegoro, 2007. hlm. 17. ditambahkan dengan sifat-sifat beliau SAW.
1

Sejarah Penulisan Hadits

Samurah Ibn Jundab dan yang lainnya5. Bahkan Muhammad Mustafa Azami PhD menulis dalam tesis doktoralnya yang berjudul Studies in Early Hadits Literature bahwa sejak awal pertama hijriyah buku-buku kecil berisi hadits telah beredar6. Walaupun ada sahifah-sahifah berisi hadits-hadits Rasulullah SAW, kodifikasi hadits ini tidak dilakukan secara formal seperti halnya al-Qur’an sampai abad pertama Hijriyah berlalu, padahal bisa saja para sahabat mengumpulkan hadits-hadits shahih dan mensarikannya dalam sebuah kitab. pengarang fajrul Islam memberi komentar Mungkin hal itu juga terpikirkan oleh sebagian mereka, tetapi pelaksanaannya amat sukar. Sebab mereka tahu sewaktu Nabi SAW wafat jumlah sahabat yag mendengarkan dan meriwatkan dari beliau 114.000 orang. Setiap orang masingmasing mempunya satu, dua hadits seringkali nabi mengatakan sebuah hadits di hadapan segolongan sahabat yang tidak didengar oleh golongan lain7. Adapun dalam perkembangan penulisan hadits telah dicoba mengelompokkannya kedalam beberpa periode, seperti yang dirumuskan oleh M Hasbi Asyiddiqi yang membagi kedalam beberaa periode pada masa Nabi dan sahabat, yaitu pada abad pertama, M Hasbi Asyiddiqi membagi menjadi tiga periode8. 1. Periode Pertama (Masa Rasulullah SAW) Pada periode pertama para sahabat langsung mendengarkan dari Rasulullah SAW atau dari sahabat lain, karena para sahabat tersebar di penjuru negri, ada yang di Dusun, dan ada yang di kota. Adakalanya diterangkan oleh istri-istri rasul seperti dalam masalah kewanitaan dan rasulullah SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menghapal dan menyebarkan hadits-haditsnya diantara sabda beliau yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ”Dan ceritakanlah dariadaku, tidak ada keberatan bagimu untuk menceritakan apa yang kamu dengar daripadaku. Barang siapa yang berdusta terhadap diriku, hendaklah ia bersedia menempati kedudukannya di neraka.” Perlu diketahui bahwa dalam menyampaikan hadits dilakukan dengan dua cara : a. Dengan lafadz asli, yakni menurut laafadz yang mereka dengar dari rasulullah Saw. b. Dengan makna saja, yakni hadits tersebut disampaikan dengan mengemukakan makna saja, tidak menurut lafadz seperti yang diucapkan Nabi. Kecuali itu, pada masa Rasulullah SAW sudah ada catatan hadits-hadits beliau seperti Abdullah bin Amru, dan pernah suatu waktu Rasulullah SAW berkhutbah, setelah seorang dari yaman datang dan berkata. ”Ya Rasulullah tuliskanlah untukku”,tulislah Abu Syah ini.”9

5 6

Rosnawati Ali, Pengantar Ilmu Hadits, Kualalumpur: Ilham Abati Enterprise, 1997. hlm. 67 Muhammad Mustafa Azami, Metodologi Kritik Hadits, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996. hlm. 121 7 Ahmad Amin, Fajrul Islam, Terj. Zaini Dahlan, Jakarta: Bulan Bintang, 1968. hlm. 285 8 M. Hasby Ash Shiddeqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta, 1998. hlm. 47 et Seq 9 Lihat Bukhari dalam Shahihnya kitab Ilm yang diriwayatkan dari Abu Hurairah

2

Sejarah Penulisan Hadits

Kembali kepada pelarangan Rasulullah SAW dalam penulisan hadits. Tujuan Rasulullah adalah agar al-Qur’an tidak bercampur dengan apapun, termasuk erkataan beliau sendiri. Ketika menemukan ternyata ada sahifah-sahifah berisi hadits pada masa Rasulullah SAW kita tidak akan berani mengatakan bahwa para sahabat menghiraukan perintah Rasulullah SAW. Setelah diteliti ternyata ada hadits yang menyatakan bolehnya penulisan hadits, seperti sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan Abu Daud;

.» ‫« اكُْب فَوَاّذِى نَفْ ِى بِيَدِه مَا َيخرُج مِن فمى ِإل حَق‬ ّ ّ ُ ُ ْ ِ ‫س‬ ‫ت ْ ل‬
”Tulislah, maka jiwaku yang berada ditangan-Nya tidaklah keluar dari mulutku kecuali kebenaran” Hadits ini terlihat kontradiktif dengan hadits sebelumnya, berikut ini adalah pendapat para ulama untk mengkomromikan kedua hadits ini; 1. Bahwa larangan menulis hadits itu, telah dimansukh oleh hadits yang memerintahkan menulis 2. Bahwa larangan itu bersifat umum, sedang untuk beberapa sahabat khusus diizinkan 3. Bahwa larangan menulis hadits ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan mencampur adukannya denga al-Qur’an, sedangkan keizinan menulis ditujukan kepada mereka yang dijamin tidak akan mencampuradukannya. 4. Bahwa larangan itu dalam bentuk kodifikasi secara formal seperti mushaf alQur’an, sedang untuk diakai sendiri tidak dilaarang. 5. Bahwa larangan itu berlaku pada saat wahyu-wahyu yang turun belum dihafal dan dicatat oleh para sahabat, setelah dihafal dan dicatat, menulis hadits diizinkan. 2. Periode Kedua (Masa Khalifah Rasyidah) Pada masa erintahan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a., pengembangan hadits tidak begitu pesat, hal ini disebabkan kebijakan kedua khalifah ini dalam masalah hadits, mereka menginstruksikan agar berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Bahkan khalifah Uimar r.a dengan tegas melarang memperbanyak periwayatan hadits. Hal ini dimaksudkan agar al-Qur’an terpelihara kemudiannya dan ummat Islam memfokuskan dirinya dalam pengkajian al-Qur’an dan penyebarannya. Hakim meriwayatkan; pernah suatu malam Abu Bakar r.a merasa bimbang sekali, pagi harinya ia memanggil putrinya Aisya r.a dan meminta kumpulan hadits yang ada padanya lalu Abu Bakar membakarnya. Lain halnya ada masa khalifah Utsman dan Ali r.a, mereka sedikit memberi kelonggaran dalam mengembangkan hadits tetapi mereka masih sangat berhati-hati agar tidak bercampur dengan al-Qur’an, Khalifash Ali r.a, melarang penulisan selain al-Qur’an yang sesungguhnya ditujukan untuk orang-orang awam, karena beliau sendiri memiliki sahiofah yang berisi kumpulan hadits.10

3. Periode Ketiga ( Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar)
10

M. Hasby Ash Shiddeqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits

2

Sejarah Penulisan Hadits

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Ali r.a, ummat Islam dilanda fitna besar, dimana mereka terpecah menjadi 3 golongan; Golongan pendukung Ali (syi’ah), golongan pendukung Muawiyah dan golongan Khawarij. Dalam perkembangannya golongan-golongan ini mulai memalsukan hadits dengan tujuan membenarkan golongan mereka dan menjatuhkan golongan lain. Hal ini mendorong para sahabat dan tabi’in lebih berhati-hati dalam meriwatkan dan mengumpulkan hadits. Tapi walau bagaimanapun belum ada kodifikasi secara formal. Abad pertama seluruhnya mencakup masa sahabat, sebab sahabat-sahabat yang banyak meriwayatkan hadits meninggal pada abad pertama Hijriyah ini, walaupun ada yang meninggal sesudah itu. Tidak dipungkiri bahwa pada abad pertama penulisan hadits yang dilakukan oleh tabi’in juga sudah ada. Oleh karena itu perlu dipisahkan antara hadits-hadits yang di tulis oleh para Sahabat dan hadits-hadits yang ditulis oleh Tabi’in. Dalam pembahasan ini akan dikhususkan pada tulisan para Sahabat. Disini akan dituliskan nama-nama sahabat, serta kegiatan mereka berkenaan dengan penulisan hadits, serta tahun mereka lahir dan kapan wafatnya. Hal ini penting kita ketahui dalam pembahasan sejarah penulisan hadits. 1. Abu umamah al-Bahili Nama aslinya Shudai bin ’Ajlan, RA (10 SH - 81 H). Beliau termasuk yang berpendapat membolehkan penulisan hadits. Hadits-hadits beliau ditulis oleh alQasim al-Syami.11 2. Abu Ayyub al-Ansari Nama aslinya Khalid bin Zaid, RA. (w. 52 H) beliau menulis beberapa hadits Nabi dan dikirimkan kepada kemanakannya, seperti yang dituturkan dalam kitab Musnad Imam Ahmad12. Cucu beliau, yaitu Ayyub bin Khalid bin Ayyub al-Ansari juga meriwayatkan 112 hadits. Yang biasanya hadits yang banyak semacam ini dalam lembaran-lembaran(shahifah). 3. Abu Bakar al-Siddiq, RA. ( 50 SH – 13 H) Dalam suratnya kepada Anas bin Malik, gubernur Bahrain, Abu Bakar mencantumkan beberapa hadits tentang wajibnya membayar zakat bagi orangorang Islam13. Abu bakar juga berkirim surat kepada ’Amr bin al-’Ash, dimana dalam surat itu dicantumkan beberapa hadits Nabi14. 4. Abu Bakrah al-Tsaqafi Nama sebenarnya Nufa’i bin Masruh (w. 51 H). Beliau menulis surat kepada anaknya yang menjadi hakim di Sijistan, dimana beliau mencantumkan beberapa hadits berkaitan dengan peradilan15.

5. Abu Rafi, Mantan Sahaya nabi SAW.
11 ‘Abd al-Razzaq, al Mushannaf, i:50-51 yang dikutip oleh Muhammad Mustafa Azami, Studes in Early Hadith Literature, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, hal. 132 12 Musnad Imam Ahmad, v: 424, Ibid 13 Shahih al-Bukhari, Hadits no. 1454. Ibid 14 Al-Tabrani, al-Mu’jam al-Kabir, i: 5 A. Ibid 15 Musnad Imam Ahmad, v:36. Ibid

2

Sejarah Penulisan Hadits

Beliau wafat sebelum tahun 40 H. Abu Bakr bin Abd Rahman mengatakan, ia diberi kitab oleh Abu Rafi’ yang berisi hadits-hadits tentang pembukaan shalat16. Hadits-hadits dari Abu Rafi’ ditulis oleh Abdullah bin ’Abbas; seperti yang dituturkan Salma, ia melihat Abdullah bin Abbas membawa papan-papan untuk menulis hadits-hadits amaliah Nabi dari Abu Rafi’17. 6. Abu Sa’id al-Khudri Nama aslinya Sa’ad bin malik, RA, (w. 74 H). Beliau dekenal sebagai orang yang melarang murid-muridnya untuk menulis hadit-hadits daripadanya. Tetapi beliau menulis hadits untuk dirinya sendiri, sebagaimana dikutip al-Khatib al-Bagdadi dalam kitab Taqyyid al-’Ilm bahwa belai berkata ”Saya tidak menulis apapun selain al-Qur’an dan tasyahhud18. 7. Abu Syah, orang dari Yaman Ketika Rasulullah SAW menaklukkan kota Makkah, beliau berpidato, lalu Abu Syah memohon kepada Rasulullah agar isi pidato itu dituliskan untuknya. Maka Rasulullah bersabda, ”Tuliskanlah untuk Abu Syah...”19. 8. Abu Musa al-Asy’ari Nama aslinya Abdullah bin Qais, RA (w. 42 H). Konon beliau menentang penulisan hadits Nabi. Tetapi beliau menulis surat kepada Abdullah bin Abbas dengan mencantumkan beberapa hadits nabi20. 9. Abu Hurairah, RA (19 SH – 59 H) Belaiu adalah tokoh orang-orang yang hafal hadits. Pada awalnya Abu hurairah tidak memiliki kitab hadits, tetapi pada masa-masa belakangan beliau menuturkan bahwa beliau mempunyai kitab-kitab hadits, seperti dalam kisah yang diriwayatkan oleh Fadlbin ’Amr bin Umayyah al-Dlamri21. 10. Abu Hind al-Dari, RA Hadits-haditsnya ditulis oleh Ma,khul22. 11. Ubai bin Ka’ab bin Qais al-Anshari, RA (w. 22 H) Beliau adalah tokoh sahabat ahli qira’at. Hadits-hadits beliau ditulis oleh Abu al-’Aliyah Rufai’ bin Mahran dalam sebuah naskah (buku) besar. Hadits-haditsnya menyangkut masaalah penafsiran al-Qur’an23. 12. Asma binti ’Umais, RA (w. Sesudah 40 H) Semula beliau adalah istri Ja’far bin Abu Thalib, lalu menikah dengan Abu bakar, kemudian dengan Ali bin Abi Thalib. Dan dari ketiga suami tersebut beliau melahirkan putra-putra. Beliau nenyimpan sahifah yang berisi hadits-hadits Nabi24. 13. Usaid bin Hudhari al-Ansari, RA

16 17

Al Kifayah, 330-331. Ibid Tabaqat Ibn Saad, ii:2: 123. Thaqyyid al-Ilm, 91-92. Ibid 18 Taqyyid al-ilm, 93. Ibn al-Qayyim, Tahdzib al-Sunan, v:248. Ibid 19 Shahih Bukhari, al-Lugatah, 6, hadits 2434, 6880. Ibid 20 Musnad Imam Ahmad, iv: 396, 414. Ibid 21 Musnad Ibn Wahb, 66 â-B. al Ilal, 120 A. Ibid 22 N. Abbot, Studies in Arabic Literary Papyri, ii: 238. Ibid 23 al-Dzahabi, Tafsir wa al-Mufassirun, i:115. Ibid 24 Tarikh al-Ya’qubi, ii:114. Ibid

2

Sejarah Penulisan Hadits

Beliau wafat pada masa Khalifah Marwan bin al-Hakam. Beliau menulis haditshadits Nabi, keputusan-keputusan hukum yang yang ditetapkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman. Tulisan beliau itu dikirimkannya keada Marwan25. 14. Anas bin Malik, RA. (10 SH – 93 H) Beliau adalah seorang imam, pembantu Nabi dan ahli hadits, sangat pandai menulis. Dalam beberapa riwayat bahwa Anas bin Malik mempunyai banyak kitab. Abu Hubairah berkata, ”Apabila Anas bin Malik hendak mengajarkan haditsnya dan ternyata jumlah muridnya banyak sekali, beliau membawakan kitab-kitabnya, kemudian berkata ”ini adalah hadits-hadits yang saya dengar dari rasulullah SAW, saya menulisnya dari beliau dan kemudian saya perlihatkan kembali kepada beliau26. 15. al-Bara’ bin Azib, RA. (w. 72 H) Murid-murid beliau menulis hadits di hadaan beliau. Seperti keterangan Waki’, ia diberitahu Ayahnya, dari Abdullah bin Hansy, katanya: “Saya melihat para murid itu menulis dengan kayu dan alas tas-tas yang biasa ditaruh di punggung hewan di kediaman al-Bara”27. 16. Jabir bin Samurah, RA. (w. 74 H) Beliau menulis hadits kemudian mengirimkannya kepada ’Amir bin Saad. Kata Amir bin Sa’ad, ”Saya menulis surat kepada Jabir dibawah oleh budakkuyang bernama Nafi’, agar saya diberitahu hal-hal yang ppernah didengarnya dari Rasulullah. Maka Jabir membalas suratku seraya menyebutkan Hadits-hadits Nabi”28. 17. Jabir bin Abdillah bin Amr bin Haram, RA. (16 Sh – 78 H) Beliau adalah sahabat yang wafat paling akhir di Madinah, disamping sebagai penulis buku pada masa-masa awal. Beliau mempunyai kitab tentang masalah haji yang kemudian ditulis kembali oleh Imam Muslim29. 18. Jarir bin Abdullah al-Bajali, RA. (w. 54 H) Beliau menulis hadits dan mengirimkannya akepada Mu’awiyah. Seperti yang dituturkan oleh Abu Ishaq bahwa Jarir bin Abdullah termasuk rombongan yang dikirim ke Amernia. Mereka ditimpa kekurangan pangan. Lalu Jarir menulis surat kepada Mu’awiyah dimana disebutkan, ”Saya mendengar rasulullah bersabda, ”Barang siapa tidak kasih sayang kepada sesama manusia, maka Allah tidak akan mengasihinya”30. 19. Hasan bin Ali, RA. (3 – 50 H) Beliau pernah beresan keada orang-orang yang tidak kuat hafalannya agar menulis hadits. Beliau juga menyimpan fatwa-fatwa Ali yang terhimpun dalam satu sahifah31. 20. Rafi’ bin Khadij al-Ansari, RA ( 12 H – 74 H)
Musnad Imam Ahmad, iv: 226. Ibid Tarikh Wasit, 38. Tarikh al Fasawi, iii:363A. Taqyyid al-‘Ilm, 95-96. disini tidak disebutkan bahwa Anas bin Malik memperlihatkan catatan haditsnya kepad Nabi. Ibid 27 Al-Ilal, i: 42. Abu Khaitsamah, al-Ilm, 144. Ibid 28 Shahih Muslim, al-Amarah, 10 dan al-Fadhail, 105. Ibid 29 Tadzkirah al-Huffadh, 43 Ibid 30 Musnad Imam Ahmad, iv: 361. Ibid 31 Al-Ila, i: 104. Ibid
26 25

2

Sejarah Penulisan Hadits

Beliau menyimpan hadits-hadits Nabi yang tertulis di atas kulit32. 21. Zaid bin Arqom (w. 66 H) Beliau menulis hadits dan mengirimkannya kepada Anas bin Malik. Dalam surat itu Zaid mengatakan, ”saya akan menyampaikan kabar yang menggembirakan dari Allah untukmu.yaitu saya mendengar Rasulullah SAW berdo’a,”wahai Allah, ampunilah dosa orang – orang anshor dan anak-anaknya”33. 22. Zaid bin Tsabit Al- Anshori, RA (w 45 H ) Beliau ahli qira’at dan menjadi sekertaris Nabi. Zaid terbukti menulis Haditshadits Nabi, sebagaimana beliau menulis juga menulis pendapat-pendapatnya sendiri misalnya dalam masalah kakek ( dalam hukum waris ), Zaid menulis hal itu kepada Umar bin Khatthab atas permintaan Umar. Tulisan Zaid itu termasuk buku yang pertama kali ditulis dalam masalah faraid34. 23. Subai’ah al-Aslamiyah Beliau adalah istri Sa’ad bin Kaulah. Meriwayatkan hadits dari nabi SAW. Beliau juga menuliskan hadit untuk para Tabi’in. 24. Sa’ad bin Ubadah al-Anshari, Sayyid al-Khazraj, RA. (w. 15 H) Sejak masa Jahiliyah beliau sudah aktif menulis. Beliau juga memiliki kitab-kitab yang kemudian diriwayatkan oleh beberaa anggota keluarganya. Bahwa didalam kitab-kitab Sa’ad bin Ubadah terdapat keterangan bahwa Raslullah SAW mengadili perkara dengan sumpah ditambah saksi35. 25. Salman al-Farisi, RA (w. 32 H) Beliau menuliskan hadits-hadits Nabi untuk Abu Darda36. 26. al-Sa’ib bin Yazid, RA (2 – 92 H) salah seorang murid beliau, yaitu Yahya bin Sa’id menulis sejumlah hadits yang berasal dari beliau, dan dikirimkannya kepada Ibn Lahi’ah. Ibn Lahi’ah sendiri menuturkan bahwa Yahya bin Sa’id mendengar sendiri hadiots-hadits itu dari alSa’ib bin Yazid37. 27. Samurah bin Jundub, RA (w. 59 H) Beliau menghiompun hadits-hadits Nabi dalam bentk buku. Beliau juga menulis hadits kepada putranya damana dicantumkan banyak hadits-hadits Nabi.38 28. Sahl bin Sa’ad al-Sa’idi al-Anshari, RA (9 SH – 91 H) Hadits-hadits beliau diriwayatkan oleh putranya Abbas, al-Zuhri, dan Abu Hazim bin Dinar. Abu Hazim mengumpulkan hadits-hadits Sahl bin Sa’ad al-Sai’i, kemudian putranya Abu Hazim meriwayatkan hadits-hadits itu39 29. Syaddad bin Aus bin Tsabit al-Anshari, RA. (17 SH-58 H) Beliau adalah ahli fiqih, Saddad bin Aus mengimlakan haditsnya kepada sejumlah pemuda. Beliau berkata ”Saya akan memberitahu tentang hadits yang diajarkan

32 33

Musnad Imam Ahmad, iv: 141. Ibid Musnad Imam Ahmad, iv: 370 . Ibid 34 Ibn Sa’ad, ii/1:115. al-Mustadrak, i:75. Ibid 35 Musnad Imam Ahmad, v:285. al-Tsiqat, 396. Ibid 36 Al-Mizan, iv: 546 . Ibid 37 Al-Amwal, 393, 395. Ibid 38 Tahdzib, iv: 236-237. al-Isti’ab, Ibn al Madini, al-Ilal, 259 B. Ibid 39 Al-Kamil, iii:4 B. al-Razi, ii/2:382. Ibid

2

Sejarah Penulisan Hadits

Nabi SAW kepada kita untuk waktu beergian dan di rumah. Lalu beliau mengimlakannya.40 30. Syamghun al-Anshari, Abu Raihana, RA. Beliau termasuk tokoh penduduk Damaskus, dan orang pertama yang melipat sahifah yang lebar untuk menulis hadits mudraj dan maqlub. Urwah al-â’ma, hamba sahaya bani Sa’ad, menuturkan, pada waktu Abu Raihana naik perahu, beliau membawa sahifah-sahifah hadits.41 31. al-Dhahhak bin Sufyan al-Kilabi, RA. Rasulullah SAW mengirimkan surat kepada al-Dhahhak dan memerintahkan agar istri Asyim al-Dhababi diberi warisan dari diyat(denda pembunuhan) suaminya. Kemudian al-Dhahhak menulis surat keada Umar bin Khattab, menerangkan hadits tersebut.42 32. al-Dhahhak bin Qais al-Kilabi, RA. (wafat terbunuh tahun 64 H atau 65 H) Beliau menulis surat untuk Qais bin Haitsman seraya menyebutkan beberapa hadits Nabi.43 33. Umm al-Mu’minin ’Aisyah binti Abu Bakar al-Siddiq, RA. (w. 58 H) Beliau adalah wanita yang sangat cerdas sangat paham al-Qur’an sunnah dan perkara agama lainnya. Beliau bersama Rasulullah sejak umur 9 tahun sehingga beliau banyak meriwayatkan hadits yang jumlahnya mencapai 2210 buah hadits. Beliau pandai membaca dan sering menerima surat dari orang-orang yang menanyakan sutu masalah dalam agama.44 34. ’Abdullah bin Abu Aufa, RA. (w. 86 H) Beliau adalah Sahabat Nabi yang wafat aling akhir di Kufa. Ada beberapa murid beliau yang menuliskan hadits dari beliau ataupun ada yang memintakan agar dituliskan hadits.45 35. ’Abdullah bin al-Zubair, RA. (2 - 73 H) Beliau menulis surat kepada salah seorang hakimnya yang bernama Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, seraya mencantumkan sebuah hadits Nabi.46 36. ’Abdullah bin ’Abbas, RA. (3 SH - 68 H) Beliau sangat alim, sampai disebut tintanya ummat islam. beliau menulis haditshadits Nabi dan terkadang menyuruh hamba-hambanya untuk menulis hadits.47 37. ’Abdullah bin ’Umar bin al-Khattab, RA(10 SH - 74 H) Beliau adalah alim, dan selalu melakukan hal-hal yang dilakukan Rasulullah baik hal yang kecil maupun yang besar. Dalam surat-suratnya beliau menulis haditshadits Nabi. Beliau juga memiliki buku-buku hadits serta mempunyai naskah kitab sadaqah milik Umar bin Khattab, yang ternya itu adalah naskah kitab sadaqah Nabi SAW.48

40 41

Siyar â’lam al-Nubala, ii:331. Ibid Al-Ishabah. i:157 . Ibid 42 Sunan Ibnu Majah, al-diyat, 12 (hadits no. 2642) Ibid 43 Musnad Imam Ahmad, iii:453 . Ibid 44 Lihat misalnya Shahih Muslim, alhajj, 369. Ibid 45 Musnad Imam Ahmad, iv: 353-354 . Ibid 46 Musnad Imam Ahmad, iv:4. Ibid 47 Ibn Sa’ad, ii/2:123. Ibid 48 Al-Buukhari, Tarikh al-Kabir, i/1:325. Ibid

2

Sejarah Penulisan Hadits

38. ‘Abdullah bin ’Amr bin al-Ash, RA. (27 SH - 63 H) Beliau banyak menuliskan hadit-hadits Nabi, mengimlakan haditsnya kepada muridnya. Dan menulis sebuah sahifah tentang maghazi (kisah peperangan Nabi SAW.49 39. ‘Abdullah bin Mas’ud al Hadzali, (w.32 H) Beliau ahli fiqih yang ulung, diutus ke Kufah sebagai guru dan wazir. Beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa beliau menulis hadits adalah Juwaibir dari alDhahhak dari Abdullah bin mas’ud, katanya “Ketika Nabi masih hidup, saya tidak menulis hadits kecuali hadits tentang tasyahhud dan istikharah. Dan juga diriwayatkan bahwa Abd Rahman bin Abdullah bin Mas’ud pernah memerlihatkan sahifah dan ia bersumpah bahwa sahifah itu tulisan tangan ayahnya.50 40. ‘Utban bin Malik al-Anshari, RA. (wafat pada masa Mu’awiyah RA) Beliau dipersaudarakan dengan Umar bin Khattab. Anas bin Malik pernah menyuruh putranya agar menulis hadits yang diriwayatkan Utban bin Malik.51 41. ’Ali bin Abi thalib, RA. (23 SH - 40 H) Beliau adalah hakimnya ummat Islam, termasuk salah seorang sekertaris Nabi. Beliau memiliki sahifah yang disebutkan dalam banyak sumber. Serta sangat menganjurkan murid-muridnya untuk menulis hadits Nabi.52 42. Umar bin Khattab, RA. (40 SH – 23 H) Beliau adalah wazir Nabi SAW. Menulis hadits-hadits Nabi dalam surat-surat resmi. Abu Ubaidah bin Jarrah juga menulis surat untukUmar, lalu Umar menjawab, dengan mencantumkan beberaa hadits Nabi. Umar juga mengelompokkan hadits-hadits yang khusus membahas Zakat dalam suatu surat.53 43. Amr bin Hamz al-Anshari, RA (wafat sesudah 50 H) Beliau ditugaskan oleh Nabi untuk menjadi kepala daerah Najran. Nabi SAW juga mengirimkan surat kepadanya dimana Nabi SAW menuliskan haditshaditsnya.kemudian Amr bin Hazm membukukan surat-surat Nabi. Buku ini kemudian diriwayatkan oleh putranya. Dan sekarang buku ini dicetak bersama dengan buku ‘î’lam al Sailin ‘an kutub sayyid al-mursalin’ karangan Ibn Tulun.54 44. Fatimah al-Zahra binti Rasulllah SAW (w. 11 H) Beliau menyiman sahifah yang berisi wasiat beliau sendiri. Dalam wasiat itu terdaat juga hadits-hadits Nabi SAW.55 45. Fatimah binti Qais, RA Beberapa hadits beliau ditulis oleh Abu Salamah.56 46. Muhammad bin Maslamah al-Anshari, RA 31 SH - 46 H) Setelah beliau wafat, di dalam sarung pedangnya ditemukan sebuah sahifah yang berisi hadits-hadits Rasulullah SAW.57
49 50

Tabrani, al-Mu’jam al-Kubra, iii:176 Ibid Al Ilal, i:322 dan Jami, bayan al-Ilm, i:66. Ibid 51 Shahih Muslim, al-iman, 54. taqyyid al-ilm, 54-55. Ibid 52 Bisa dilihat antara lain di Musnad Imam Ahmad, i:79. Ibid 53 Lihat, al-Amwal, 393. Bukhari, Tarikh al-Kabir, i/1:218 Ibid 54 Ibn Tulun, I’lam al-Sailin, 48-52 Ibid 55 Musnad Imam Ahmad, vi:283 . Ibid 56 Shahih Muslim, al-Talaq, 39 . Ibid 57 Al-Ramahurmuzi, 56 A . Ibid

2

Sejarah Penulisan Hadits

47. Mu’adz bin Jabal, RA (20 SH – 18 H) Beliau diutus oleh Rasulullah ke Yaman dan dikirimi surat oleh rasulullah yang berisi hadits-hadits tentang zakat. Yang kemudian menjadi kitab Mu’adz (yang berisi surat-surat Nabi SAW).58 48. Mu’awiyah bin Abu Sufyan, RA (w. 66 H) Beliau termasuk sekertaris Nabi. Dan dari Nabi pula beliau belajar membuat titik huruf. Beliau pernah menulis surat kepada Ummul Mukminin Aisya agar dituliskan hadits-hadits yang didengarnya dari Rasulullah. Beliau juga pernah berkirim surat kepada Marwan dimana disebutkan beberapa hadits Nabi SAW.59 49. al-Mughirah bin Su’bah (w. 55 H) Warrad, sekertaris al-Mughira mengatakan bahwa ia menuliskan surat alMughirah yang mendiktekannya dan dikirim kepada Mu’awiyah, dalam surat tersebut terdapat hadits Nabi SAW.60 50. Ummul Mukminin Maimunah binti Harits al-Hilaliyah, RA (w. 51 H) Beliau dinikahi oleh Rasulullah pada tahun 7 H. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh eks hamba-hambanya.61 51. Nu’man bin Basyir al-Anshari, RA (2 – 65 H) Beliau menjadi walikota Hamsh di Syam. Ada tiga orang yang menyimpan tulisan hadits beliau, yaitu: Qais bin al-Haitsam, al-Dahhak bin Qais, Habib bin Salim.62 52. Watsilah bin al-Asqa’, RA (22 SH – 83 H) Beliau mengimlakan hadits kepada murid-muridnya. Seerti yang dikatakan oleh Ma’ruf al-Khayyat, beliau melihat Watsilah mendektekan hadits Nabi dihadapan murid-muiridnya.63

Penutup
Sebagai kesimpulan bahwa adanya larangan untuk menulis hadits pada masa wahyu masih turun, adalah merupakan sikap kehati-hatian Rasulullah dalam menjaga kemurnian al-qur’an yang diikuti oleh para Khalifa Rasyidah dengan memberikan batasan secara ketat dalam penulisan hadits. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang diperbolehkan menulis hadits. Itupun dalam rang memenuhi kebutuhan ummat akan suatu permasalah agama yang belum diketahui. Sehingga kita dapat melihat kegiatan tulis-menulis hadits lebih pada surat kepada Sahabat yang lain. Ataupun hadits-hadits Nabi ditulis sebagai koleksi pribadi Sahabat. Akhirnya kita memohon dan berdo’a kepada Allah agar kita senantiasa dapat mengikuti sunnah-sunnah Rasul-Nya dan Menyebarkannya. Allahumma Amin.

Musnad Imam Ahmad, v:228 . Ibid Musnad Imam Ahmad, iv: 94. Ibid 60 Shahih Bukhari, Adzan, 155. tentang surat Mughirah kepada Mu’awiyah, lihat shahih Bukhari, Da’wat, 18. Ibid 61 Musnad Imam Ahmad, vi:333 . Ibid 62 Musnad Imam Ahmad, iv:277. Tarikh Ibn Abi Kaitsamah, 144-B. Ibid 63 Siyar â’lam al-Nubala, iv:259 . Ibid
59

58

2

Sejarah Penulisan Hadits

Daftar Pustaka
1.

Muhammad Mustafa Azami, Studes in Early Hadith Literature, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000

2. Qadir Hasan, Ilmu Musthalah Hadits, Bandung: Dipenegoro, 2007.
3.

Rosnawati Ali, Pengantar Ilmu Hadits, Kualalumpur: Ilham Abati Enterprise, 1997. Muhammad Mustafa Azami, Metodologi Kritik Hadits, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996.

4.

5. Ahmad Amin, Fajrul Islam, Terj. Zaini Dahlan, Jakarta: Bulan Bintang, 1968. 6. M. Hasby Ash Shiddeqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta, 1998. 7. Bukhari, Shahih Bukhari

2

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->