Amalan di Bulan Rajab

Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena pada saat ini kita telah memasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab. Apa saja yang ada di balik bulan Rajab dan apa saja amalan di dalamnya? Insya Allah dalam artikel yang singkat ini, kita akan membahasnya. Semoga Allah memberi taufik dan kemudahan untuk menyajikan pembahasan ini di tengah-tengah pembaca sekalian. Rajab di Antara Bulan Haram Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman, َ ‫ل َرض من‬ َ ‫ر‬ َ َ ‫ن ا ع‬ ّ ‫عد ّةَ ال‬ ‫م‬ َ ‫م‬ ٌ َ‫رب َع‬ ِ ‫ر‬ ِ ‫ن‬ ِ ‫وا‬ ِ ّ ‫ب الل‬ َ ِ ‫ف ي ك‬ ِ ‫را‬ َ ْ ‫ه اث‬ ِ ّ ‫عن ْد َ الل‬ ُ ‫ة‬ ّ ِ‫إ‬ ٌ ‫ر‬ َ ْ‫ه ي َرو‬ ّ ‫ق ال‬ َ ‫س‬ َ َ ‫خل‬ َ ْ ِ َ ْ ْ ‫وا‬ ِ ‫ت ا‬ ُ ‫ش‬ ُ ‫ححح‬ ْ ‫ه ا أ‬ َ ‫ت‬ َ ‫م ا‬ ً ْ‫شه‬ َ ‫ش‬ ِ ‫هرو‬ َ ْ َ ْ ُ َ َ َ ‫م‬ ‫ك‬ ‫س‬ ُ ‫ف‬ ‫ن‬ ‫أ‬ ‫ن‬ ‫ه‬ ‫في‬ ‫مروا‬ ‫ل‬ ‫ظ‬ ‫ت‬ ‫ل‬ ‫ف‬ ‫م‬ ‫ي‬ َ ‫ق‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫دي‬ ‫ال‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫ذ‬ ِ ِ ْ ِ َ ّ ّ ْ َ ُ ُ ّ ِ ُ “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (Qs. At Taubah: 36) Ibnu Rajab mengatakan, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202) Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, َ ‫ من‬، ‫شهرا‬ َ َ َ ‫ن ا ع‬ ‫ة‬ َ ‫م‬ ٌ َ ‫ ث َل َث‬، ‫م‬ ٌ َ‫رب َع‬ ُ َ ‫سن‬ َ ْ ‫ة اث‬ ِ ‫روا‬ ِ ِ ‫ر ك َهَي ْئ َت‬ ُ ‫ة‬ َ َ ‫ست‬ ُ ‫م ا‬ ّ ‫ال‬ ٌ ‫ر‬ َ ْ‫ه ي َرو‬ ّ ‫ ال‬، ‫ض‬ ّ ‫ق ال‬ ْ ‫ن قَدِ ا‬ َ ‫س‬ َ َ ‫خل‬ َ ‫ز‬ َْ ِ َ ‫ر‬ ُ ‫ح‬ ْ ‫ه ا أ‬ ً ْ َ ‫ر‬ َ ‫ش‬ ْ ‫وال‬ َ ‫ت‬ َ ‫م‬ َ ‫دا‬ ّ ْ ْ ْ َ َ‫د ى و‬ ُ ُ ‫ن‬ ‫ج‬ ‫ن‬ ‫ي‬ ‫ب‬ ‫ذ ى‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫ض‬ ‫م‬ ‫ب‬ ‫ج‬ ‫ر‬ ‫و‬ ، ‫م‬ ‫ر‬ ‫ح‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫وا‬ ‫ة‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ذو‬ ‫و‬ ‫ة‬ ‫د‬ ‫ع‬ َ ‫ق‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ذو‬ ‫ت‬ ‫ي ا‬ ‫ل‬ ‫روا‬ ‫ت‬ ‫م‬ ِ ِ ِ ِ ِ َ َ ‫ب ا‬ َ ْ ‫شع‬ َ ‫م ا‬ ُ ْ َ َ ُ َ َ ّ َ ْ َ ُ َ ٌ َ َ ُ ََ ّ ُ َ َ َ ُ “Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679) Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Di Balik Bulan Haram Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orangorang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut.
1

207) Bulan Haram Mana yang Lebih Utama? Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap diharamkan ataukah sudah dimansukh (dihapus hukumnya). Di antaranya adalah haramnya peperangan ketika bulan haram (termasuk bulan Rajab).Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan. dan dinamakan ‘atiiroh atau Rojabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap berlaku ketika datang Islam ataukah tidak. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim. “Pada bulan-bulan haram. 210) Begitu juga dengan menyembelih (berkurban). dari Abu Hurairah.” (Latho-if Al Ma’arif.” (HR. dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya. 1976). Bukhari no. 203). sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Ibnu Rajab mengatakan. Al Hasan Al Bashri mengatakan. “Tidak diketahui dari satu orang sahabat pun bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram.” (Latho-if Al Ma’arif. tafsir surat At Taubah ayat 36) Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan. dianggap sebagai bulan suci. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepakat tentang dihapusnya hukum tersebut. 214) Ibnu ‘Abbas mengatakan. “Tidak ada lagi ‘atiiroh dalam Islam. sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Mayoritas ulama menganggap bahwa hukum tersebut sudah dihapus.” (Lihat Zaadul Maysir. ‘Atiiroh hanya ada di zaman Jahiliyah. Sufyan Ats Tsauri mengatakan. lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ‘atiiroh pada bulan tersebut. Di zaman Jahiliyah dahulu. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ‘atiiroh sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing. aku sangat senang berpuasa di dalamnya. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘atiiroh sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam. “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram. Hukum yang Berkaitan Dengan Bulan Rajab Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab amatlah banyak. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab. sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar. َ ‫رة‬ ِ َ ‫رعَ وَل َ ع‬ َ ‫تي‬ َ َ‫ل َ ف‬ “Tidak ada lagi faro’ dan ‘atiiroh. 5473 dan Muslim no. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ‘ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis2 .” (Lathoif Al Ma’arif. ada beberapa hukum yang sudah ada sejak masa Jahiliyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. padahal ada faktor pendorong ketika itu.

” Ibnu ‘Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ‘ied. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. 2/125-126) 3 . jika dijadikan sebagai ‘ied dan perayaan. Namun ketika berbuka mereka tidak mampu untuk makan banyak. Ada sebuah riwayat. “Sungguh. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. ّ ‫ص‬ َ . Selain hari-hari tadi. Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu). juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut. kok tidak bersemangat seperti melaksanakan shalat ini?! Namun shalat ini di kalangan awam begitu urgent. yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan. “Intinya. surat Al Qadr 3 kali. padahal ‘ied (perayaan) kaum muslimin hanyalah Idul Fithri. Idul Adha dan hari tasyriq. Ibnul Jauziy rahimahullah mengatakan. surat Al Ikhlash 12 kali. Shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. ‘Atiiroh sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ‘ied (sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha).manis atau semacamnya ketika itu. maka itu berarti telah berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (alias bid’ah). hanya sampai pada Ibnu ‘Abbas (mauquf). Padahal dalam shalat Raghaib. Tiga hari ini adalah hari raya dalam setahun. orang yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Roghoib dengan sebelumnya melakukan puasa. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali. ‘Abdur Rozaq.” ( Al Mawdhu’aat li Ibnil Jauziy. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaib. Sedangkan ‘ied setiap pekannya adalah pada hari Jum’at.” (Latho-if Al Ma’arif. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu. Sampai-sampai orang yang biasa tidak hadir shalat Jama’ah pun ikut melaksanakannya. Idul Adha dan hari tasyriq. Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. bacaannya tasbih begitu lama. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dan Ath Thobroniy dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’. Mengkhususkan Shalat Tertentu dan Shalat Roghoib di bulan Rajab Tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali. begitu pula dengan sujudnya. 213) Hukum lain yang berkaitan dengan bulan Rajab adalah shalat dan puasa. padahal siang hari pasti terasa begitu panas. Dan kita dilarang membuat ‘ied selain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam.” (HR. Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat tarawih. ‫دا‬ َ ‫ه ى‬ ِ َ ‫خذ‬ ِ ّ ‫ن ل َ ي َت‬ ِ ،‫ه‬ ِ ّ ‫ب ك ُل‬ ِ ‫عن‬ ِ ْ ‫ه ع َل َي‬ ً ْ ‫عي‬ ْ َ‫ل‬ َ ‫ر‬ َ ‫ص‬ َ ‫ك ا‬ َ ‫و‬ َ ّ ‫سل‬ ُ ‫ل ي الل‬ ٍ ‫ج‬ َ ْ ‫م ي َن‬ َ ‫ ي‬ َ ِ ‫ي ام‬ َ ‫ه‬ ّ ِ ‫ن الن ّب‬ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai ‘ied. tidaklah dibolehkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan suatu hari sebagai ‘ied selain apa yang telah dikatakan oleh syari’at Islam sebagai ‘ied yaitu Idul Fithri.

dan Muharram. para tabi’in. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta. maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa. 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. (Lihat Majmu’ Al Fatawa. 122. dan salafush sholeh –semoga rahmat Allah pada mereka-. setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya. Ketika bulan Rajab.” ( Al Hawadits wal Bida’. “Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil) Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulanbulan haram yaitu bulan Rajab. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah. 242) Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan.”(Majmu’ Al Fatawa. “Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan. Dzulqo’dah.Shalat Roghoib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis. 242) Ath Thurthusi mengatakan. Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan. ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa). 215) Ringkasnya. lalu beliau katakan. َ َ ُ‫ل ت‬ ‫ن‬ َ ‫ض ا‬ َ ‫م‬ َ ‫ر‬ ُ ّ ‫شب‬ َ ِ ‫هروهُ ب‬ “Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan. ( Latho-if Ma’arif.” Imam Asy Syafi’i mengatakan. Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab. hal. maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ‘Umar bin Khottob. “Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ini. maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. “Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut. 25/290-291) Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan. berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut: 4 . Dzulhijjah. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. 25/291) Imam Ahmad mengatakan. (Al Bida’ Al Hawliyah.” Beliau berdalil dengan hadits ‘Aisyah yaitu ‘Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan.

tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya. 235-236) Perayaan Isro’ Mi’roj Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak. lalu bagaimanakah hukum merayakannya? masih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan.” (Zaadul Ma’ad. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. “Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab.” (Zaadul Ma’ad. “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. 25/298) 5 . 2. 3. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut. 274) Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri diperselisihkan. tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya.1. “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha. apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab? Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab.” Abu Syamah mengatakan. ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya. lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya. 1/54) Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan. Oleh karena itu. pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi). perlu kita tinjau terlebih dahulu.” ( Al Bida’ Al Hawliyah. Namun itu semua tidaklah shahih. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib). hari ke-8 Dzulhijjah. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini. perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj).” ( Majmu’ Fatawa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan. hal. 130-131. “Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. 1/54) Ibnu Rajab mengatakan. (Lihat Al Hawadits wal Bida’. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan. awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih.

Selesai disusun di Wisma MTI. Ibnu Suniy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. “Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diadaadakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah. 5 Rajab 1430 H 6 . “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon [Ya Allah. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369). Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Imam Ahmad. berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan]“. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan.Ibnul Haaj mengatakan. Semoga Allah menunjuki kita ke jalan kebenaran. Demikian pembahasan kami mengenai amalan-amalan di bulan Rajab dan beberapa amalan yang keliru yang dilakukan di bulan tersebut.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah kepada kaum muslimin. 275) Catatan penting: Banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin sebuah riwayat dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. “Ketika tiba bulan Rajab. Hadits ini dikatakan dho’if (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218). Namun perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) karena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful